Iblis Sungai Telaga Jilid 32

 
Jilid 32

Mendengar kata-kata orang itu, Touw Hwe Jie kata dingin, "Kursi ini disediakan buat sahabat yang datang bersamamu." Terus ia berbangkit, sembari menoleh ke tempat It Hiong bersembunyi, ia kata nyaring : "Sahabat yang menyembunyikan diri di belakang batu, hayo, jangan kau bersikap sempit pikiran ! Buat apa kau malu sembunyi- sembunyi. Marilah keluar, mari kita minum bersama!"

Begitu ia mendengar suara orang itu, begitu It Hiong muncul dari tempatnya sembunyi. Ia juga merasa malu mengumpatkan diri. Dengan satu lompatan Tangga Mega, tiba ia di depan meja, sembari ia kata nyaring : "Tio It Hiong mempunyai kegembiraan minum arak sambil menghadapi rembulan yang indah. Dia hanya bersedia menyingkirkan kutu busuk dunia rimba persilatan ! Kalian boleh berpesta pora, aku akan menantikan sampai berakhirnya. "

Touw Hwe Jie melirik si anak muda.

"Hm !" ia perdengarkan suaranya. "Kiranya murid pandai dari Tek Cio Totiang dari Pay In Nia ! Maaf, maaf. Sahabat Tio, kau telah berlalu dengan menggunakan ilmu pedangnya yang istimewa, bukannya kau meninggalkan Cenglo Ciang dan pergi pulang, kau justru kembali kemari mencari permusuhan !

Bukankah diantara kita tidak ada budi, tak ada ganjalan ? Kenapa kau memaksa menyeterukan aku si wanita tua ? Tapi tak apalah, kalau kau tidak mau minum arak. Kau dapat minum teh, bukan ?

Nyonya rumah ini memberi isyarat mengundang tetamunya berduduk, ia sendiri terus menjatuhkan diri di kursinya.

It Hiong tidak mendapat alasan buat turun tangan, terpaksa ia duduk di kursi yang disediakan itu dan Ya Bie segera menyuguhkan air teh sembari mempersilakan orang minum, dia melihat dengan manis.

Put Lo kuatir nanti akan dicurangi si wanita tua, dia tidak makan dan minum seperti diundang. Maka itu dia diam duduk saja. It Hiong heran melihat kawan itu berdiam saja, tak dapat ia menerka sang kawan itu mau menantikan apa. Ia sendiri, ia mendongkol sekali terhadap wanita tua itu. Habis sabarnya, ia menanya bengis : "Touw Hwe Jie, di dalam lembah aku melihat banyak rangka atau tengkorak manusia hitung ratus. Apakah mereka semua korban-korban hisapan darah olehmu ? Adakah itu hasilnya kekejaman ilmu Sek Bie Tay Hoatmu itu ?"

Kip Hiat Hong Mo tertawa bergelak. "Sudah tiga puluh tahun aku si orang tua tak pernah setengah tindak pun keluar dari Cenglo CIang !" katanya. "Semua mereka itu datang padaku sesudahnya aku hidup menyendiri ditempatku ini dan mereka semua datang karena hendak menguji Sek Bie Tay hoat, kepandaianku itu. Mereka semua menyebut diri sebagai orang-orang gagah tetapi sayang belum sampai melampiaskan nafsu birahinya, baru saja mereka melihat paras elok, mereka sudah runtuh sendirinya. Mereka membuang jiwa seperti kawanan serangga yang menyerbu api ! Mereka mencari matinya sendiri. Habis apa mau dibilang ? Mereka tak dapat menyesalkan atau menyalahkan siapa juga !"

Habis berkata begitu Touw Hwe Jie mengawasi Couw Kong Put Lo, dia tertawa tawar. Tingkahnya seperti menunjuki bahwa dihadapannya ada seorang lagi yang rela mengantarkan diri atau jiwanya !

It Hiong tetap tak puas, amarahnya tidak menjadi reda. "Kau telah menghisap habis darahnya banyak orang,"

katanya, "kau telah membinasakan jiwa mereka. Semua itu

cuma untuk menambah ilmu kepandaianmu yang jahat dan kejam itu. Kau boleh kata mereka itu mengantarkan diri sendiri, tetapi itu tetap kejahatanmu ! Apakah kau tak takuti kutukan Thian ?" Nyonya itu melengak. Kemudian ia kata perlahan, seperti pada dirinya sendiri, "Biasanya kalau aku menghisap darah, aku lakukan itu terhadap segala binatang dan belum pernah aku menggunakan paras elokku membujuk atau memancing orang bangsa pria. Eh, sahabat Tio, janganlah kau memfitnah aku. "

It Hiong gusar sekali.

"Lidahmu sangat tajam !" teriaknya. "Alasanmu itu bagus sekali ! Sekarang mari aku tanya, siapakah yang didalam gua sudah menggunakan keelokannya buat membujuki aku Tio It Hiong ? Siapakah ?"

Nyonya itu kembali melengak.

"Benarkah ada kejadian serupa itu ?" tanyanya.

"Kau sedang muda dan gagahnya, sahabat Tio !" katanya. "Kau menghadapi paras elok itu, dapatkah kau bertahan ?

Kalau benar katamu itu mana dapat kau bisa datang kemari dengan masih hidup ? Sungguh, sukar akan mempercayai kata-katamu ini. !"

"Sudah jangan mengoceh saja !" Couw Kong Put Lo menyela. "Eh, Touw Hwe Jie lekas bilang, kau hendak menyuruh siapa menguji ilmu So Lie Kang ku ? Nah, kau suruhlah dia keluar !"

Nyonya itu tertawa. Dia tak menjawab. Dia hanya mengangkat poci araknya dan menuangi cawannya si pria tua. Ia pun menuangi cawannya sendiri. Habis itu barulah dia berkata : "Aku seorang tua adalah wanita terhormat, tak mau aku berlaku secara menggelap. Arak ini yang dinamakan Sit Kui Tok jiang, arak beracun peranti merendam tulang." Ia menunjuk buah merah menor diatas piring dan menambahkan, "Dan buah ini ialah liok jiak ko, buah untuk membangunkan nafsu birahi ! Siapa habis minum arakku ini dan makan buah itu tetapi hatinya tetap tenang tak bergerak, dialah baru dapat melawan ilmu Sak Bie Tay hoat dari nyonyamu ini ! Nah, sekarang kalian pikirkan masak-masak. Kalian berani mencoba arak ini dan makan buah itu atau tidak

?"

Touw Hwe Jie berbicara dengan bergaya ia seperti bergurau terhadap Couw Kong Put Lo tetapi juga bagaikan menggertak.

Put Lo merasai mukanya panas. "Aku si tua tidak memikir mencoba arak atau buahmu ini." sahutnya. "Aku cuma hendak menguji ilmu kepandaianmu !"

"Baiklah !" menjawab si nyonya cepat. "Akan aku membuatmu puas supaya kau insyaf akan kelayakanku !" Terus ia menekuk bibirnya untuk memperdengarkan siutan beberapa kali kemudian dia menambahkan : "So Han Cian Li, mari keluar !"

Dari dalam rumah batu segera muncul seekor kera perempuan yang besar sekali, diikuti oleh seekor harimau yang betina. Si kera berbulu kuning emas dan bulunya panjang-panjang, matanya bersinar bengis, semua giginya tajam, tampangnya sangat galak. Si harimau adalah harimau loreng yang galak yang biasa dinamakan seebiu houw, harimau tukang gegares manusia.

Kedua ekor binatang itu lantas mengawasi tajam kepada kedua orang asing itu. Mereka berdiri diam tak bergerak, mereka seperti tengah menantikan perintah. Touw Hwe Jie menunjukkan kepada kera dan harimaunya yang jinak dan mengerti itu, sembari dia kata pada Couw Kong Put Lo, "Merekalah yang aku namakan So Han Cian Li, si wanita cantik penyedot roh manusia, sekarang terserah kepadamu untuk memilih yang mana ! Cuma hal yang aku minta, yaitu suka apalah kau menaruh belas kasihan terhadap mereka itu. "

Couw Kong Put Lo menjadi gusar. Dia datang guna menguji ilmu kepandaian si wanita tua, sekarang dia disuruh melawan dua ekor binatang. Itulah penghinaan ! Bukankah dengan begitu berarti dia dipandang sebagai binatang juga ?

"Perempuan siluman, kau sangat kurang ajar !" dampratnya, sedangkan tangannya dikibaskan hingga habis tersumpurlah semua barang diatas meja di depannya. Habis itu dia bertindak meninggalkan meja, bersiap akan menantikan musuhnya.

Touw Hwe Jie tidak bergusar, sebaliknya dia tertawa terkekeh.

"Couw Kong Put Lo !" katanya nyaring. "Usiamu bukan muda lagi dan pertapaanmu bukan sedikit tahun, kenapa kau belum insyaf apa yang dinamakan pantangan paras elok ?

Sengaja aku memerintahkan mereka ini muncul dalam diri asalnya, itulah guna membuat hatimu tenang, supaya kau tak usah membuang jiwamu ! Jika memangnya tidak puas, baiklah, biar aku menggunakan ilmuku Hoan Kak Bie Cia, buat melenyapkan perasaan dan memalsukan yang tulen, guna membikin mereka menyalin rupa menjadi cantik manis seperti yang kau kehendaki !" Tiba-tiba terdengarlah satu suara tawa yang nyaring dan tajam sekali hingga hati orang tergetar, menyusul mana tiba- tiba lenyaplah kera dan harimau itu dan sebagai gantinya ditempat itu tampak sepasang nyonya muda yang elok sekali, rambut mereka terurai di belakangnya, tubuhnya tertutup pita hitam tetapi tangan dan kaki mereka telanjang, muka mereka tersunggingkan senyuman ramai.

Melihat kedua wanita itu Couw Kong Put Lo berdiri menjublak, agaknya dia kagum sekali dan tertarik hatinya.

Kedua nyonya itu mengawasi dengan sinar mata memain terus, mereka bertindak menghampiri si orang tua, untuk menempatkan diri di kiri dan kanannya guna memegang kedua tangan orang buat akhirnya ditarik, diajak masuk ke dalam rumah batu.

Menampak demikian, hatinya It Hiong goncang. Segera ia mengerahkan Hian Bun Sian Thian Khie kang, akan mengumpulkan semangatnya, guna menguatkan hatinya.

Dengan cara demikian, ia berhasil membuat matanya tak seperti kabur dan hatinya menjadi tenang. Setelah itu, ia memikirkan keselamatan kawannya, tak perduli si kawan sebenarnya bukan orang lurus. Ia telah memberikan janji bantuannya bukan ? Sekaranglah saat bantuannya itu menyingkirkan si wanita tua, yang berilmu aneh itu ! Lantas ia menghunus pedangnya dan berlompat, untuk lari masuk ke dalam rumah batu.

Touw Hwe Jie berlompat bangun, untuk berlompat lebih dahulu ke depan pintu kamar batunya dimana dia berdiri menghadang.

"Sahabat Tio, tahan !" serunya mencegah. It Hiong gusar, ia lantas menikam dada orang. Itu serangan berantai tiga kali. Touw Hwe Jie tidak menangkis, ia cuma selalu berkelit setelah itu kembali ia berdiri di ambang pintu.

"Eh, siluman tua !" bentak It Hiong, "kalau kau tidak kenal selatan dan tak mau menyingkir, jangan nanti kau salahkan pedangku ini yang tak kenal kasihan !"

Si nyonya tak menggubris peringatan itu. Dia tetap tertawa manis.

"Sabar, sahabat Tio ! "katanya. "Tua bangka itu tak akan hilang jiwanya!"

"Aku tidak percaya kau !" bentak It Hiong. "Dia datang bersamaku, tak dapat aku membiarkannya menempuh ancaman bencana !"

"Apa yang nyonya tua bilang," kata pula si wanita itu, "satu tetap satu, dua tetap dua, tak nanti aku memperdayai kau !

Jika kau masuk kedalam rumahku itu bukan saja kau tak bakal berhasil membantu dia, sebaliknya asal kau melihat kalapnya nafsu birahinya, bakal lenyaplah  rasa  hormatmu terhadapnya. "

Kata-kata nyonya itu membangkitkan ragu-ragunya si anak muda.

"Dia bukan orang lurus, dia sama sesatnya seperti wanita tua ini." kemudian pikirnya. "Baik, aku biarkan mereka berdua sama roboh, paling akhir baru aku yang turun tangan membasmi mereka itu."

Si nyonya mengawasi, ia menarik nafas. "Sahabat Tio, kau percaya aku atau tidak ?" tanyanya sabar agak menyesal, "bersediakah kau mendengar beberapa perkataan pula dari aku ?"

It Hiong berfikir sejenak. "Coba kau ucapkan itu !" katanya kemudian. Lantas si nyonya mengasi lihat sikap sungguh- sungguh.

"Aku si perempuan tua, aku sangat menghargai Tek Cio Siangjin yang menjadi gurumu itu," demikian katanya. "Dialah orang lurus dan lihai seperti kau sendiri, bukan orang sesat.

Kau gagah berani bahkan kau sangat benci kejahatan. Aku suka sekali mewariskan kepandaianku Hoan Kak Bie Cia guna membantu usahamu dalam dunia Kang Ouw ! Apakah kau suka menerima ilmu itu ?"

It Hiong menatap sambil otaknya bekerja. Ia telah menyaksikan sendiri anehnya ilmu wanita itu. Ia merasa keberatan. Tak sudi ia menerima pelajaran dari kaum sesat. Ia menunjuk rupa senang sembari memberi hormat, ia memberikan jawabannya, "Sebelum aku menerima ijin dari guruku, tidak dapat kau menerima pelajaran dari lain perguruan. Kau baik sekali, aku berterima kasih padamu."

Touw Hwe Jitertawa. Dia seperti mengerti maksud orang, maka dia tak menjadi kurang senang. Ia berkata pula : "Aku si wanita tua bercita-cita menyembunyikan diri, sudah puluhan tahun aku tak muncul dalam dunia Kang Ouw, tetapi melihat kau muda belia dan bakatmu begini bagus, tertariklah hatiku. Tak sayang-sayang hendak aku mewariskan kepadamu, maka itu sungguh diluar dugaan, kau tidak menghargai aku. Kau sudah menampik dengan kata-kata dustamu. Ah, sayang- sayang, kaupun dapat bicara bohong. " It Hiong mengawasi wanita itu. Nada bicara orang beda sekali daripada nada bicaranya semula. Dia benar-benar menjadi seorang wanita tua.

"Mungkin dia bicara jujur. " pikirnya. Tapi tak senang ia

yang orang mengatakannya mendusta, maka ia kata sungguh- sungguh. "Jangan kau sembarang bicara ! Aku Tio It Hiong, belum pernah aku membohong !"

Touw Hwe Jitetap bersabar. Kata dia, "Kalau kau tidak mendusta, habis bagaimana dengan ilmu pedang Gie Kam Sut mu itu ? Apakah kau pelajari itu sesudah kau memperoleh ijin dari gurumu ?"

It Hiong berdiam diri. Memang ilmu itu ia pelajari tanpa mengasi tahu gurunya, tanpa meminta perkenan lagi. Di dalam keadaannya seperti itu, mana ada kesempatan buat ia pulang dahulu dan memohon ijin dari gurunya itu ?

Touw Hwe Jie menghela nafas. "Walaupun aku si wanita tua telah masuk ke dalam jalan sesat dan telah mempelajari ilmu tidak lurus," kata dia masgul, "aku bukan seperti katanya Couw Kong Put Lo bahwa aku menggunakan penggunaan paras elok guna mencelakai orang, untuk menghisap darah dan membinasakannya. Sebenarnya aku tak sejahat dan sekejam itu. Maukah kau mendengar sebab musababnya ?"

Tio It Hiong tidak menjawab ya atau menolak, ia hanya kata, "Kenyataan dari kebenaran memenangi sangkalan atau bantahan. Di dalam dunia Kang Ouw, orang bekerja harus dengan cara jujur, berani berbuat berani mengakuinya ! Apa yang tersiar diluaran mungkin berlebihan tetapi untuk menyangkalnya mesti ada bukti kenyataannya !" Touw Hwe Jie merasai mukanya panas. "Aku si wanita tua, kau tahu aku tetap adalah gadis belia yang suci murni" kata dia. "Hanya untuk membuktikan itu yang kurang leluasa.

Jadi. " Ia lantas memperlihatkan lengannya dimana ada

tanda merah dadu yang dinamakan sie kiong see, tanda dari kesucian kehormatan diri.

It Hiong heran. Habis melengak sejenak, ia lantas bertanya

: "Bagaimana dengan gelaran atau itu - Kip Hiap Hong Mo-- dan itu semua rangka atau tengkorak manusia di dalam lembah ? Dapat kau dibilang bahwa kau tak ada sangkut pautnya dengan semua itu ?"

Kembali si nyonya menghela nafas. "Itulah justru soal yang hendak aku jelaskan duduk perkaranya kepadamu." sahutnya.

It Hiong tidak berkatai apa-apa, hanya ia mengawasi wanita tua itu.

Kembali Touw Hwe Jie menarik nafas, lau dia kata : "Memang benar aku si wanita tua mempelajari ilmu  menghisap darah ketika aku belum menyendiri di Cenglo Ciang ini, semua korbanku adalah pelbagai binatang liar atau bukan. Lain soalah setelah aku berhasil menyempurnakan ilmu  rahasia yang dinamakan Bie Cong Hoan Kak Bie Cia. Ketika itu aku saban diganggu oleh kedatangannya orang-orang sesat kaum Bu Lim Rimba Persilatan. Mereka datang untuk menganggu kesucian diriku. Mereka itu sama dengan si Couw Kong Put Lo itu. "

Nyonya itu berhenti guna menatap si anak muda. Dia seperti mau melihat perubahan sikapnya pemuda itu. Lalu ia meneruskan, "Aku gusar terhadap kawanan pria hidung belang itu, maka aku memikir membuat mereka hilang jiwa karena orang paras elok tetapi supaya mereka puas. Karenanya aku memikir menangkap pelbagai binatang seperti beruang, kera, harimau dan ular, semuanya yang betina yang terus aku amprokinya dengan kawanan pria busuk itu. Maka terjadilah, semua pria itu mati karena darahnya terhisap.

Sebaliknya aku lantas menyedot darahnya sekalian beserta binatang itu, seperti barusan beruang hitam itu..." Dia lantas menunjuk korban beruang yang masih terkulai di tanah itu.

Terpaksa, hatinya It Hiong kena tergerakkan. Mau percaya keterangan itu. Toh ia masih ragu-ragu.

"Dengan demikian" katanya, "jadi semua rangka dan tengkorang itu adalah milik orang rimba persilatan yang busuk itu."

"Memang ! Barusan toh aku telah menyebutkannya, aku si wanita tua selama tiga puluh tahun, belum pernah aku melangkah setindak juga keluar dari wilayah Cenglo Ciang ini. Kalau bukannya mereka sendiri yang datang mencari mampus, mana bisa kau mendapatkan sedemikian banyak rangka dan tengkorak."

Kemudian si nyonya menunjuk Ya Bie, si nona cantik. "Muridku satu-satunya, yang bakal jadi ahli warisku," kata

dia, "ialah dia Ya Bie namanya. Aku harus mengajari dia Sin

Kut Kang, belum aku mendidik dia dalam ilmu Hoan Kak Bie Ciu dan Sek Bie Tay hoat itu. Aku berkuatir buat usianya yang masih muda, takut kalau-kalau dia tak sanggup bertahan dari godaan nafsu birahi... Godaan itu lebih bisa mencelakai daripada mendatangkan kebaikan untuk dirinya !"

Mendengar keterangan paling belakang itu It Hiong tertawa. "Aku yang muda, masih muda sekali." kata ia, "aku pula pria. Bagaimana aku dapat mempelajari Hoan Kak Bie Cia, bagaimana andiakata aku jadi main gila sekehendak hatiku ? Tidakkah begitu hebat sekali ?"

"Pertanyaan yang bagus sekali !" berkata Touw Hwe Jie. "Sungguh seorang anak muda yang cerdas dan berpikir panjang ! Tapi harus kau ingat anak muda, bukankah aku telah menguji kekuatan imanmu ? Apakah kau tak tahu itu ?"

It Hiong mengawasi tajam. "Bukankah kita baru bertemu malam ini ?" tanyanya. "Dimanakah kau pernah menguji aku

?"

Touw hwe Jitertawa. Dia tak lantas menjawab. Hanya dia menoleh kepada muridnya, untuk berkata, "Ya Bie pergi masuk kedalam. Kau suruh mereka itu --So Huan Cian Li-- berlalu, sedangkan kepada tua bangka tak tahu mampus itu, kau berikan sebutir obat Ceng Sim Tan !"

Si nona Ya Bie menyahuti sambil menjura, lantas dia mengundurkan diri.

Setelah murid itu berlalu, Touw Hwe Jie kata pada anak muda di depannya : "Bukan aku sendiri yang menguji kau, hanya Ya Bie muridku itu. Malam itu dikebun buah, dia bertemu denganmu. Dia melihat kau muda dan tampan sekali, hatinya sangat tertarik. Kontan setan cilik itu mencintai kau.

Dari masih kecil dia hidup di tanah hutan dan pegunungan ini, dia tak mengerti adat istiadat, perihal pantangan pergaulan pria dan wanita diluar garis, dia lantas menggodia kau dengan ilmu Sin Kut Kang ! Yang dia belum paham sempurna.

Demikian di dalam gua, berulang kali dia mengganggumu, buat membangunkan nafsu birahimu, tetapi dia tak berhasil memancingmu. Tentang itu, dia menceritakan padaku, maka itu aku menjadi mendapat tahu kaulah orang satu-satunya yang tepat untuk menjadi muridku, guna menerima warisan Hoan Kan Bie Ciu itu. Nah, sahabat Tio, kau telah dengar semua, maka jawablah, benarkah peristiwa itu ?"

It Hiong melengak.

"Benar !" sahutnya selang sejenak. Ia ada terlalu jujur buat menyangkal, meski sebenarnya ia jengah.

Touw Hwe Jitertawa berkakak, sampai rambutnya yang kusut beterbangan. Lama dia tertawa, baru dia berhenti.

"Sekarang," katanya, "tak perduli kau suka menerima atau tidak, mesti aku mengajari Hoan Kek Bie Ciu kepadamu. !"

It Hiong menjublak, lalu ia merasa tak puas. Pikirnya : "Aneh, didalam dunia ini ada orang yang begini memaksakan diri hendak mewariskan ilmu kepandaiannya !"

Tengah ia berpikir itu, It Hiong lantas melihat di depannya ada beberapa Touw Hwe Jie hingga ia menjadi bingung.

Justru itu ada sebelah tangan yang meluncur ke arahnya, untuk menekan jalan darahnya, jalan darah beng bun.

Di dalam keadaan biasa, tak perduli Touw Hwe Jie sangat gesit dan cepat, tak nanti dia dapat menowel tubuhnya si anak muda. Kali ini keadaan lain. Kali ini anak muda itu justru terpengaruhkan ilmu Hoan Kak Bie Cin yang membuat mata orang kabur.

Tiba-tiba It Hiong merasai tubuhnya kaku dan pada jalan darah beng bun itu terasakan terasalurkan hawa dingin bagaikan es. Tanpa ia merasa, ia menggigil kedinginan. Tapi ia masih sadar, maka ia mendongkol sekali. "Touw Hwe Jie" bentaknya, "kau menyerang secara membokong, apakah artinya perbuatanmu ini ?"

Tapi si nyonya tua berkata dengan sungguh-sungguh, "Aku si tua hendak menyalurkan masuk tenaga latihanku beberapa puluh tahun ke dalam tubuhmu supaya aku bisa membantumu di dalam waktu yang sangat singkat mempelajari sempurna ilmu Hoan Kak Bie Cin ! Apakah kau tidak puas dan tak sudi menerimanya ? Lekas kau duduk bersila dan dengan tenang mengatur pernafasanmu ! Kau pejamkan mata !"

It Hiong tidak puas. Masih ia berkata : "Kau terima baik dahulu dua rupa permintaanku, baru aku suka menerima pelajaran ilmu dari kau ini !"

"Apakah syaratmu itu ?" tanya si nyonya. "Lekas bilang !" "Yang pertama," sahut It Hiong yang mengemukakan

syaratnya. "Kalau lain kali ada orang keliru mendatangi Cenglo Ciang ini, kau harus nasehati dia secara baik dan antarkan dia keluar dengan tidak kurang suatu apa ! Sebaliknya, jangan kau aniaya atau membinasakannya !"

"Dan apakah itu yang kedua ?" Touw Hwe Jie tanya pula.

It Hiong berpikir dahulu baru dia berkata : "Diantara kita tidak ada soal guru dengan muridnya ! Kau telah melepas budi memberikan pelajaran padaku, budi itu aku ingat di dalam hati sanubariku. Di belakang hari akan aku balas budimu ini. Tetapi kalau nanti kemudian kita bertemu pula dalam dunia sungai telaga, kau harus berdiri dipihakku ! Aku Tio It Hiong !"

"Apakah masih ada permintaan lainnya ?" Touw Hwe Jie tanya pula. "Tidak ada lagi." sahut It Hiong. "Hanya itu jiwanya Couw Kong Put Lo, aku minta kau suka mengasihaninya !"

"Semua syaratmu aku si wanita tua menerimanya !" sahut Touw Hwe Jie. "Sekarang kau duduklah biar tenang dan meluruskan nafasmu dengan baik, untuk kau menerima pelajaranku !"

It Hiong tidak berkata apa-apa lagi, ia terus duduk dengan tenang. Ia menyalurkan tenaga Hian Bun Sian Thian Khie kang dari gurunya, membuat dirinya tenang, maka juga dilain saat ia sudah berada didalam keadaan sempurna untuk segala keadaan, sedangkan selama belajar pedang Gie Kiam Sut, kedua nadinya jim dan tok telah terasalurkan selesai.

Demikian ketika hawanya Touw Hwe Jiterasalurkan masuk, maka dua hawa dingin dan panas bercampur menjadi satu menjadi hangat dan rasanya nyaman menyenangkan sekali.

Hawa itu menjalar ke seluruh jalan darah, memasuki apa yang dinamakan Hian kwan, pusat kehidupan dan kematian.

Tiba-tiba terdengar Touw Hwe Jitertawa dan kata : "Eh, kiranya kedua nadimu jim dan tok sudah terasalurkan sempurna, pantas kau lihai ! Itu artinya mempermudah untuk kau menyempurnakan Hoan Kak Bie Ciu !"

It Hiong membuka matanya, ia melihat cuaca sudah terang. Barulah ia ketahui yang tanpa merasa sang waktu sudah lewat dengan cepat. Sebentar saja berlalulah waktu empat jam lamanya. Ia lantas berbangkit.

"Nah, sekarang ada pelajaran apa lagi ?" tanyanya. "Atau apakah sekarang aku sudah selesai ?" Touw Hwe Jie mengeluarkan sejilid buku kecil dari sakunya, sembari menyerahkan itu kepada si anak muda, ia berkata : "Kau sudah berhasil ! Inilah hasil yang cepat luar biasa !

Sekarang, kau bacalah kitab ini lalu melatihnya. Maka segera kau dapat berbuat apa saja yang kau suka dengan ilmu Hoan kak Bie Cin ini !"

It Hiong menyambuti menerima kitab itu, ia membaca selewatan lantas ia masuki itu kedalam sakunya.

"Kau..." katanya, atau mendadak ia merendah.

"Apa ?" tanya Touw Hwe jie, agak heran. "Diantara kita telah terjalin budi menyerahkan dan

menerimanya," kata si pemuda ragu-ragu. "Karena itu, apa atau bagaimanakah aku harus membahasakan kau ?"

Touw Hwe Jitertawa.

"Aku si wanita tua sudah berusia delapan puluh lebih," katanya, "kau panggil saja cianpwe padaku !"

Justru itu It Hiong menoleh kesamping mana si nona, diatas kursi batu ia melihat Couw Kong Put Lo, yang tengah berduduk. Tak tahu ia kapan kawan itu muncul. Dia duduk menyandar, napasnya sengal-sengal, mukanya pucat pasi dan berkerut. Karena dia telah kembali kepada muka asalnya, wajah dari seorang tua. Ia terperanjat.

"Cianpwe !" ia tanya Touw Hwe Jie, "kenapa Couw Kong Put Lo menjadi demikian rupa ?"

Wanita itu menjawab dingin : "Itulah hasil atau akibatnya, dia main-main asmara ! Dia telah berjalan di jalan kematian tetapi dia berhasil mendapati pulang nyawanya. Darah didalam sumsumnya telah tersedot tak sedikit oleh Sa Hun Cian Li, dia makan obatku, obat Ceng Sim Tan, yang menetapkan hati, dia tak akan berkhayal lagi, berfikir yang tidak-tidak. "

Lega hatinya It Hiong mendapati Couw Kong Put Lo tidak hilang jiwa, ia lantas menghampirinya dan menanya, "Locianpwe, kau toh tak kurang sesuatu apa ?"

Orang tua itu mengangkat kepalanya, mengawasi si anak muda.

"Aku si orang tua roboh dalam demam asmara." katanya masih belum tentram juga. "Aku merasa tersiksa lebih menderita dari pada mati."

It Hiong menghibur. "Sekarang locianpwe, kau harus istirahat ! Jangan locianpwe putus asa. Bukankah ada pepatah yang mengatakan, asal sang gunung hijau, kita tak akan kekurangan kayu bakar ?"

Mukanya Couw Kong Put Lo bersemu sedikit merah, pertanda dia malu berbareng mendongkol, mendadak dia mengerahkan tenaganya untuk berlompat bangun, guna berlari-lari turun gunung. Tapi dia masih sempat menoleh dan berkata keras : "Sakit hati ini harus dibalas !" Dia lari terus.

It Hiong mengawasi sampai orang lenyap dari pandangan matanya. Ia tidak bilang apa-apa. Ia tidak menyusul atau pergi, ia hanya terus berdiam bersama Touw Hwe Jie buat melatih Hoan Kak Bie Ciu dibawah petunjuk dan penilikan wanita tua itu. Dengan demikian ia menjadi berdiam terus dirumah batu di lembah Goh Cit Kok itu sampai beberapa hari. Selekasnya ia sudah selesai, ia keluar dari Cenglo Ciang dengan diantar oleh Ya Bie yang menunjuki jalan sampai di jalan umum. Hanya ketika keduanya mau berpisah, Ya Bie agaknya merasa berat.....

Sekeluarnya dari tanah pegunungan itu, gunung Bu Lian San, It Hiong segera keras memikirkan pula pamannya yang terancam bahaya racun ular itu. Hal kedua yang ia ingin tahu ialah kesudahannya pertempuran di gunung Tay San. Dan akhirnya soal ketiga urusan pribadinya ialah soal asmara.

Hari itu It Hiong tiba di daerah pegunungan In Bu San dipropinsi Kwiuciu. Karena waktu baru tengah hari tepat, ingin ia singgah di kecamatan Tengkoan saja.

Ketika itu ada di pertengahan musim gugur, diwaktu tengah hari matahari panas seperti api membakar, maka ia lantas berhenti dibawah sebuah pohon di tepi rimba di kaki gunung. Ia duduk diatas akar pohon yang berbongkol besar, matanya dipejamkan. Angin yang bersiur-siur membuatnya merasa nyaman. Baru kemudian ia membuka mata untuk terus melepaskan nafas lega kemudian lagi tangannya merogoh kepinggangnya guna mengambil kantong air, sebab ia merasa berdahaga atau segera ia ingat yang ditengah jalan tadi, airnya telah terminum habis. Maka ia berbangkit dan berjalan akan mencari sumber air, guna mengisikan kantong airnya itu.

Sekarang ini tubuh It Hiong jauh terlebih ringan daripada biasanya. Kedua nadinya jim dan tok yang telah terbuka telah disempurnakan oleh Touw Hwe Jie si nyonya tua yang aneh sikapnya itu, maka itu ia dapat berjalan jauh lebih ringan dan cepat. Ia sudah melewati sebuah lembah tetapi ia tetap masih berada ditepian rimba. Rupanya rimba itu luas dan panjang hitung lie. Tidak ada sumber air yang diketemukan, tidak telaga, tidak curug. Maka ia memikir buat kembali saja atau tiba-tiba sang angin membawakannya suara air tumpah. Segera ia memasang telinga akan mendengar lebih jauh. Suara air datangnya dari dalam rimba, air seperti tengah memukuli batu....

Tanpa ragu lagi, si anak muda bertindak cepat ke dalam rimba. Ia sudah memasuki jauh juga, sang air masih belum diketemukan. Ia maju lebih jauh sampai di depannya tampak mengapungnya sebuah dinding gunung tinggi sepuluh tombak dan sela-sela dinding gunung itu terlihat air mengucur turun, jatuhnya ke bawah menimpa batu-batu besar. Air berbunyi nyaring dan bermuncratan, tetapi tadi, kalau tidak dibawa sang angin, suaranya itu tak terdengar sama sekali.

Segera It Hiong menghampiri air itu. It Hiong merasakan ketenangan rimba itu, tidak heran kalau lantas ia mendengar suara oarng berbicara, ia heran. Lantas ia memasang telinga. Suara itu sering berhenti. Ia merasa orang yang mengeluarkan suara itu seorang ahli tenaga dalam.

"Kenapa di dalam rimba ini, diapit gunung, ada demikian banyak orang ?" pikirnya lebih jauh. Ia mendengar bukan suaranya satu orang hanya lebih. "Siapakah mereka ? Mereka tengah melakukan apakah ? Baik aku melihatnya."

Maka ia merapikan kantung airnya, terus ia bertindak keras ke arah suara itu.

It Hiong berjalan dengan tindakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Maka ia dapat melangkah cepat dan tanpa suara apa-apa. Selekasnya sudah melalui tiga puluh tombak lebih, di depannya ia melihat belasan orang sedang duduk berkumpul dibawah sebuah pohon besar, dimana mereka itu asyik berbicara, mereka pria dan wanita, ada yang berjubah suci, ada yang biasa saja dan bekal senjatanya pedang dan golok. Mereka duduk bersila dalam sebuah bundaran.

Melihat caranya orang berduduk saja, It Hiong merasa heran. Itulah cara duduknya kaum rimba persilatan. Dengan berduduk demikian, orang tak usah tengok sana tengok ini untuk melihat andiakata ada orang luar yang datang ke arah mereka. Sebab mereka masing-masing sendirinya sudah melihat ke sekitar mereka.....

It Hiong tidak mau kena dipergoki. Ia ingin ketahui dahulu, siapa mereka itu. Mereka orang lurus atau sesat, maksudnya baik atau buruk. Ia pula tak ingin dicurigai, sebab itulah berbahaya. Celaka kalau ia disangka sebagai mata-mata. Maka lantas ia lompat naik ke atas pohon, akan bersembunyi diantara dahan-dahan daun-daun yang lebat. Dengan berhati- hati ia merayap diatas pohon itu supaya ia bisa datang lebih dekat. Dari tempat jauh tak dapat ia mendengar tegas pembicaraan orang. Dengan berada lebih dekat, ia pun bisa melihat lebih nyata pada mereka itu.

Karena formasi tempat persembunyiannya itu, It Hiong jadi menghadapi beberapa orang, sebaliknya beberapa orang membelakangi padanya. Kebetulan baginya, orang yang paling dahulu ia lihat, ia kenali sebagai Heng San Kiam khek It Yap Tojin, gurunya Gak Hong Kun. Rahib itu mudah dikenali dari kundia dan janggutnya yang panjang dan jubahnya serta pedang yang menggemblok di punggungnya.

It Yap Tojin diapit di satu sisi oleh seorang tua yang bertubuh besar dan berwajah keras, alisnya gombiok, matanya tajam dan berewokan pula. Di sisi dia itu berduduk seorang nona yang cantik yang dikenalnya, Siauw Wan Goat adanya. Di sisi yang lain ada seorang wanita usia empat puluh tahun lebih, mukanya merah, air mukanya menarik tetapi rambutnya sudah putih semua, bajunya dengan pundak terbuka, bajunya itu tersulamkan banyak gambar kupu-kupu.

It Hiong mengenali pria itu ialah Tocu pemilik atau tertua dari To Liong To, ialah Kang Teng Thian, sedangkan si nyonya setengah tua adalah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Ngi Cie San dikepulauan Haylam.

Dan orang yang menarik perhatiannya anak muda itu ialah dua orang tua yang tampangnya luar biasa. Mereka itu katal torokmok, mukanya penuh dengan daging tak rata. Mereka itu bermata tajam dan galak, senjatanya ialah golok. Rupanya mereka bersaudara. Yang paling aneh ialah yang satu kutung lengan kirinya, yang lain buntung lengan kanannya.

Seorang lain yang It Hiong kenali ialah Kim Lam It Tok yang mukanya ia lihat sebagian saja. Mereka yang membelakanginya, sulit buat melihat atau mengenalinya.

Pembicaraan mereka itu berlangsung terus sampai It Hiong mendengar suaranya It Yap Tojin. Kata imam itu : "Kekalahan di Tay San disebabkan Thian Cie Toheng terlalu memandang ringan kepada pihak lawan. Pinto tidak turun tangan tetapi pinto merasa kecewa dia membuang jiwanya!"

Imam itu bicara dengan lagak jumawa, agaknya dia puas jauh dia tidak turut di dalam pertemuan atau pertemuan besar itu.

Suara jumawa itu mendapatkan sambutan seorang wanita yang suaranya nyaring bagaikan kelenengan. Begini sambutan itu : "Benar, guruku itu bercelaka tetapi dia toh membuat si pengemis terluka parah ! Totiang, kau bicara dengan caramu ini, kalau begitu kemanakah perginya persahabatan diantara kau dan guruku itu ?"

"Hm !" si imam memperdengarkan suara dinginnya. "Budak, jangan kau sembarang menggoyang lidahmu ! Tahukah kau akan maksudnya pertemuan kita ini ? Pinto justru hendak membangun Bu Lim Cit Cun, guna membalaskan sakit hatinya gurumu ! Rombongan yang menyebut dirinya kaum lurus itu harus dimusnahkan seluruhnya !"

It Hiong mengenali wanita itu ialah Teng Hiang.

Sampai disitu maka Kang Teng Thian lantas campur bicara.

Tanya dia, "It Yap Totiang, dapatkah kau memberikan penjelasan bagaimana caranya memilih Bu Lim Cit Cun itu ?"

Bu Lim Cit Cun itu berarti Tujuh Jago.

It Yap Tojin tertawa lebar. "Pemilihan itu mudah saja asal dicari dahulu orang atau orang-orang yang bersatu tujuan dengan kita" sahutnya kemudian. "Disebelah itu mereka haruslah yang ilmu silatnya tinggi. Pinto memikir untuk meminta kalian memilih atau menyebut beberapa nama.

Mereka itu dapat mereka yang sekarang hadir disini atau tidak."

"Bagaimana andiakata jumlah yang dipilih lebih daripada tujuh orang ?" tanya Ang Gan Kwie Bo.

Si orang tua yang tangan kirinya kutung mencela, "Kalau sampai terjadi begitu, aku pikir tidak ada halangannya kita merubah sebutan menjadi Pat Cun atau Cap Cun !"

Pat ialah delapan dan Cap ialah sepuluh. Suara itu mendatangkan suara dingin "Hm" daripada hadirin, maka juga orang tua itu serta saudara, ialah Yan Tio Siang Cian menjadi jengah, wajahnya pucat dan suaram bergantian.

Kang Teng Thian lantas berkata pula. "Totiang kau berpengetahuan luas dan ilmu silatmu lihai. Aku percaya totiang telah mempunyai rencanamu, maka itu tolong kau memberi pengutaraan. Silakan lekas bicara, tak usah totiang bersangsi-sangsi !"

It Yap Totiang bersikap ayal-ayalan. Ia mengurut pula janggutnya. Ia tertawa dahulu baru ia berkata : "Kang To cu terlalu memuji aku ! Tak dapat pinto menerima pujian itu ! Niatku ialah begini. Kita mengumpul sebanyak kita bisa, lantas kita memilih tujuh diantaranya."

Mendengar demikian sunyi sidang itu. Orang saling mengasi

"Seperti telah pinto katakan, namanya badan kita itu mesti tetap bernama Bu Lim Cit Cun," kata pula si imam habis memandangi semua hadirin. "Kita memilih mereka yang paling lihai, lalu satu diantaranya kita angkat menjadi bengcu kepala kemudian kepala itu nanti memberi nama apa saja kepada enam sebawahannya itu, terserah."

Lantas terdengar suara dingin dari seorang wanita, "Tapi totiang, bagaimana kau hendak memilih tujuh orang itu ?

Bagaimanakah caranya supaya mereka yang tidak terpilih nanti merasa puas dan suka tunduk kepada segala perintahnya ? Kita harus berlaku adil dan mempuasi semua pihak !" Kiranya pembicara itu ialah Kwie Tiok Giam Po dari Losat Bun, Ay Lao San.

"Itulah justru yang barusan aku minta It Yap Totiang menyebutkannya !" berkata pula Kang Teng Thian yang suara dalam.

"Aku menghendaki cara pemilihan yang dapat diterima semua orang."

"Cara itu ialah kita mengadu kepandaian kita." It Yap Tojin menjawab. "Umpama kata kepandaianku tidak berarti, dengan segala senang hati aku akan mengalah. Apa yang aku minta ialah setelah menjadi Bu Lim Cit Cun, orang tetap berlaku agung, tak berat sebelah ke pihak mana juga supaya semua orang tunduk dan puas ! Bagaimana pendapat para hadirin ?"

Diwaktu bicara itu, imam ini bersikap gagah sekali bahkan rada pemberang. Rupanya dia merasa bahwa dia yang bakal menjadi bengcu dari Bu Lim Cit Cun itu. Sebelum orang mau menjawab, dia sudah berkata pula : "Seperti aku kata barusan, kita memilih orang dengan mengadu kepandaian.

Kita menetapkan satu tempat dan waktunya, di sana siapa yang berminat menjadi Bu Lim Cit Cun hadir untuk diuji. "

Ang Gan Kwie Po menyela, "Cara ini memang sederhana tetapi aku anggap kesudahannya dapat merusak kerukunan diantara kita ! Pula kaki dan tangan sukar dikendalikan sepenuhnya, bagaimana kalau ada yang keterlepasan gerakannya dia melakukan lawannya. Maka itu aku pikir, walaupun sederhana tiada pemilihan ini tak dapat diambil. "

It Yap Tojin menoleh kepada nyonya itu, matanya dibuka lebar. "Tunggulah sampai pinto sudah bicara habis !" katanya. "Setelah itu semua orang memikirkan dan memberikan pertimbangannya."

Dia mengangkat bahunya dan menyambungi. "Tak usah dijelaskan lagi bahwa orang yang dipilih sebagai Bu Lim Cit Cun mesti seorang kepala partai atau sedikitnya yang kepandaiannya lihai luar biasa. Sesudah diuji barulah dapat diketahui orang pandai sampai dimana ! Kepandaian itu tak terbatas kepada ilmu keras atau lunak atau dengan bersenjata, yang penting ialah dia mengatasi semua orang. Aku percaya, orang semacam itu pasti akan ditaati. "

Semua orang setujui pikiran ini, mereka pada bertepuk tangan.

It Yap Tojin menunjuk tampang puas. "Jika para hadirin sudah setuju, nah, silakan tolong tunjuki nama-nama orang yang dipilih itu ! " katanya kemudian. "Akan pinto mencatat nama mereka itu, untuk kemudian kita memilih tempat dan tanggal pertemuan guna melakukan ujian."

It Hiong mendengari pembicaraan itu dengan merasa girang berbareng mendongkol. Girang sebab ia ketahui maksudnya It Yap Tojin. Mendongkol sebab terang mereka itu berkomplot buat mengganggui dan mencelakai kaum lurus.

Jadinya mereka itu hendak mengacau saja. Inikah yang dinamakan bencana rimba persilatan ?

Satu hal melegakan hatinya It Hiong. Dari pembicaraan mereka ini dapat diterka yang dalam pertemuan besar di Tay San, kaum sesat itu sudah tidak memperoleh hasil bahwa Thian Cie Lojin, ketuanya, menerima bagiannya yang hebat itu. Hanya, entah bagaimana dengan pihak lurus..... Dengan berlaku sabar, It Hiong terus sembunyi memasang telinga dan mata.

Pembicaraan rombongan itu dilakukan terus, ramai suara mereka. Selang hampir setengah jam baru mereka menjadi reda. Justru didalam kesunyian, sekonyong-konyong Kwie Tiok Giam Po dari Losat Bun berkata terkejut : "Ah, aku si wanita tua lupa ! Aku melupakan namanya seorang yang berilmu tinggi ! Dialah Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie dari Cenglo Ciang dari Bu Liang San ! Dia lihai sekali hingga dari aku harus mengalah tiga bahagian dari dianya. "

Nyata namanya Kip Hiat Hong Mo masih asing bagi kebanyakan hadirin itu, banyak yang melongo mendengarnya. Semua lantas mengawasi jago Losat Bun itu.

It Yap Tojin kenal Touw Hwe Jie. Pada kiranya empat puluh tahu dahulu, pernah dia menemuinya satu kali. Kang Teng Thian kenal nama tetapi tak pernah bertemu, jangan kira, kenal pada orangnya.

Setelah berpikir sejenak It Yap Tojin berkata : "Ya, aku kenal Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie. Dia pandai ilmu silat Sin Kut Kang. Pada empat puluh tahun, pernah aku menemuinya di perbatasan propinsi Inlam. Ketika itu dialah seoang nona yang gemar mengenakan kain hitam. Kemudian pinto dengar wajahnya itu bukan wajah yang asli. Sampai sekarang ini dia tentunya telah berusia delapan atau sembilan puluh tahun. Apakah dia masih hidup ?"

"Aku si perempuan tua penah kenal dengannya," berkata Kwie Tiok Giam Po. "Beberapa waktu yang lampau ada orang yang mencari pohon obat-obatan di gunung Bu Liang San dan pernah bertemu dengan muridnya. Katanya dia dilembah Gah Cit Kok di Cianglo Ciang dan dia masih sehat walafiat." It Yap Tojin memperlihatkan tampang ragu-ragu, sedangkan didalam hati ia kata : "Mana dia itu diundang ! Dia pasti terlebih lihai daripada aku..." Kemudian ia kata, "Dia sudah mengundurkan diri puluhan tahun, dia telah hidup menyendiri begitu lama, tak mudah akan mengundang dia turun gunung. "

Teng Hiang masih tidak puas sebab si rahib menghina gurunya, maka dia campur bicara dan berkata nyaring : "Yang kita kehendaki jalan kemenangan, yang hendak kita balas ialah dendam sakit hati ! Karena itu selagi di depan kita ada orang sedemikian lihai, kenapa kita tidak mau pergi mengundangnya ?"

Nona ini bicara secara gagah, ia mendatangkan kesan baik dari para hadirin. Setelah berkata begitu, ia minta Kwie Tiok Giam Po mengajaknya pergi mengundang ahli Sin Kut Kang itu. Ia kata ingin sekali ia jalan-jalan ke Cenglo Ciang.

Untuk sekian lama orang berdiam, maka Kang Teng Thian berkata pula, "Tuan-tuan bagaimana? Apakah tuan-tuan bersedia untuk memilih tempat serta tanggal bulannya pemilihan akan dilakukan ?"

Kiu Lam It Tok telah berdiam saja tetapi kali ini tak dapat dia membungkam terus. Kata dia, "Baiklah tanggal bulan itu kita tepatkan hari raya Tiong Yang dan tempatnya ialah ini gunung In Bu San di puncak utamanya ! Bukankah urusan selesai sudah ?"

Kang Teng Thian campur bicara. Ia bersikap sabar dan berkata tenang. "Aku fikir hari raya Tiong Yang sudah terlalu dekat. Mungkin kita tidak keburu berkumpul bersama.

Sekarang sudah lewat pertengahannya musim gugur, untuk sampai kepada hari raya Tiong Yang itu harinya tinggal sepuluh hari kira-kira ! Aku fikir baik kita mundur sampai pertengahan bulan pertama tahun yang akan datang, disaat pesta Cap Gome ! Bukankah itu terlebih bagus ?"

Pikirannya ketua dari To Liong To ini mendapat kesetujuan umum. Maka hari dipilihnya itu telah ditetapkan. Sesudah berjanji untuk nanti berkumpul pula dipuncak utama In Bu San mereka lantas bubaran.

It Hiong menanti sampai orang sudah bubar semua, baru ia keluar dari tempatnya sembunyi. Dengan lekas ia mengambil keputusan. Ia mesti lekas pulang ke Siauw Lim Sie memberi kabar pada pihak Siauw Lim Pay perihal bahaya yang lagi mengancam ini. Sungguh kebetulan, ia mendengarnya. Maka tanpa ayal lagi, ia juga meninggalkan tempat itu. Ia lari keras dengan ilmu ringan tubuh Tangga Mega sebab ketika itu sudah lohor. Ia berlaku hati-hati agar jangan sampai ia terlihat orang atau orang-orang rombongan tadi.

Terpisahnya gunung In Bu San di kecamatan Kwieteng cuma kira tiga puluh lie. Waktu begitu, jalanan juga sudah sepi. Lebih-lebih ditengah, tak seorang tampak. Tiba di dalam kota, It Hiong melihat cuaca magrib. Nyata kota itu ramai sebab Kwieteng adalah kota hidup untuk menuju ke Ouwlam.

Tengah pemuda kita mencari penginapan, ia berpapasan dengan dua orang yang tadi hadir dipertemuan di dalam rimba. Yang satu ialah si orang tua yang alisnya gomplok dan berewokan yang tubuhnya tinggi besar dan yang lainnya satu nona yang bukan lain daripada Siauw Wan Goat dari To Liong To.

Nona Siauw berpakaian serba merah, rambutnya dijepit gelang pada mana ada tusuk konde burung-burungan. Ketika mereka berpapasan dekat, matanya It Hiong dan matanya si nona bentrok satu dengan lain. Ia lewat terus dengan berpura-pura tak memperhatikan si nona itu.

It Hiong sementara itu tidak tahu halnya Gak Hong Kun sudah menyamar sebagai dianya bahwa dikecamatan Lapkeng didalam penginapan, Hong Kun sudah permainkan Siauw Wan Goat. Ia sama ingat halnya digunung Heng San, Wan Goat telah menggoda padanya tanpa ia mengerti duduknya hal. Ia menyesal berpapasan dengan nona itu, yang nampaknya tergila-gila padanya.

Habis bertemu Nona Siauw itu, It Hiong berjalan cepat sekali. Masih ia memikirkan hal nona itu waktu ia tiba disebuah rumah penginapan merangkap rumah makan.

Selama itu hari sudah malam dan tamu-tamu restoran telah berkurang.

Lebih dahulu It Hiong memesan barang makanan sekalian dengan araknya. Ia sudah berjalan jauh, hendak ia menyegarkan diri dengan minum sedikit, supaya setelah letihnya hilang, dapat ia tidur nyenyak.

Tepat sedangnya si anak muda mengangkat cawan araknya, Siauw Wan Goat tiba bersama si orang tua. Mereka itu mengambil tempat di meja didekatnya. Habis memesan barang makanan, Wan Goat berbisik pada si orang tua yang menjadi kawannya itu. Selagi berbisik, ia terus melirik anak muda kita.

It Hiong bersantap sambil menunduki kepala. Ia tidak menyangka yang si nona dan si orang itu mengikutinya. Ia heran ketika tiba-tiba si orang tua menghampirinya dan sembari memberi hormat dia menyapa : "Tuan, adakah kau Tuan Tio It Hiong, murid dari Pay In Nia ?" Orang tua itu bicara dengan tenang tetapi suaranya sungguh-sungguh. Terang ia tengah menguasai diri, supaya ia tak terpengaruh hawa amarahnya. Ia mau memegang derajatnya sebagai seorang tua, sebagai ketua dari satu golongan. Dialah Kang Teng Thian pimpinan dari To Liong To. Ia sekarang hendak melindungi dan berbuat baik untuk Siauw Wan Goat, adik seperguruannya itu.

It Hiong bangkit untuk mengawasi orang yang menyapanya itu, yang ia tidak kenal, walaupun ia nampak heran, ia toh lekas-lekas membalas hormat sambil memberikan jawabannya, "Aku yang rendah benar Tio It Hiong. Siapakah kau, bapak ? Apakah she dan nama yang mulia dari bapak ?

Ada pengajaran dari bapak untukku ? Silahkan duduk ! Mari minum !"

It Hiong mempersilahkan duduk sambil ia menuangkan air teh.

Orang tua itu menunjuki wajah padam, dari mulutnya juga terdengar suara "Hm!". Ia berduduk dengan perlahan-lahan.

"Aku si orang tua adalah Kang Teng Thian dari To Liong To," demikian ia perkenalkan diri. "Aku mempunyai seorang adik seperguruan yang ketujuh namanya Siauw Wan Goat. Apakah saudara Tio kenal padanya ?"

Berkata demikian Teng Thian menoleh dan menunjuk pada sumoaynya itu.

It Hiong melengak tetapi ia lantas berpaling ke arah nona yang ditunjuk itu. Ia mendapati Siauw Wan Goat tengah mengawasinya. Dari sinar matanya si nona terang si nona itu sangat prihatin terhadapnya. Itulah rasa cinta yang bercampur penyesalan atau penasaran. Mata nona itu tergenangkan airmatanya.....

Saking heran It Hiong melengak. Sekian lama ia teringat akan lagak si nona baru-baru ini, suatu hal yang ia tak mengerti.

Teng Thian nampak tak sabaran, ia mesti menanti sekian lama.

"Hm !" kembali terdengar suara dinginnya. "Saudara Tio, mengapa kau tidak menjawab pertanyaanku si orang tua ? Apakah karena melihat adik seperguruanku itu maka lantas mengerti akan kesalahanmu sendiri ?"

Si anak muda makin heran, dari melengak dia menjadi bingung.

"Sebenarnya aku yang muda pernah bertemu dengan nona Siauw yang menjadi adik seperguruanmu itu," sahutnya kemudian terpaksa. "Apakah yang hendak kau tanyakan, Keng cianpwe ? Aku mohon suka apalah kau menunjuki."

Kumis dan janggutnya Teng Thian bergerak sendirinya.

Itulah bukti ia tengah menguasai dirinya, guna mengendalikan hawa amarahnya. Tak mau ia segera bentrok dengan anak muda di depannya ini.

"Saudara Tio, kau cuma pernah bertemu satu kali dengan sumoayku ?" berkata dia menahan sabar. Tetapi suaranya bernada keras dan ketus. "Bahkan kau pernah menghinanya ! Masihkah kau tak hendak mengakuinya ?"

It Hiong heran sekali tetapi ia berpikir, "Orang-orang To Liong To termasuk kaum sesat. Mungkin sikapnya orang tua itu disebabkan peristiwa di gunung Heng San hingga mereka menjadi mendendam dan sekarang mencari gara-gara guna melampiaskan dendamnya itu. "

"Aku mempunyai urusan penting buat pulang ke Siong San, tak ada kesempatan buatku untuk melayani orang tua ini. ".

Maka ia lantas menjawab sabar, "Bapak, secara kebetulan saja aku bertemu dengan sumoaymu itu, apa yang telah terjadi adalah diluar kehendakku. Karena kita sama-sama tak unggulkan itu taklah dapat dibilang bahwa aku telah menghina saudaramu itu. Tapi jika Kang cianpwe tetap menganggap aku bersalah, bagaimana kalau aku matur maaf padamu ?"

Lantas It Hiong bangkit, ia mundur sedikit terus menjura pada orang tua itu. Ia menjura dalam.

Justru orang minta maaf, justru Kang Teng Thian menjadi gusar sekali. Ia pun tidak senang mendengar si anak muda mengatakan tak menghinai adik seperguruannya itu.

"Hei, bocah !" bentaknya, "sebenarnya kau memikir bagaimanakah terhadap adik seperguruanku itu ? Lekas kau bicara terus terang di depanku si orang tua ! Kalau tidak. Hm

!"

 

Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(