Iblis Sungai Telaga Jilid 30

 
Jilid 30

"Benarkah kata-katamu ini, Teng Hiang ?" tanyanya kemudian. "Apakah yang mencurigakan kau maka kau mengenali penyamarannya itu ?"

Teng Hiang mau bicara dengan sebenar-benarnya, maka ia tuturkan hal pembicaraan diantara Tong It Beng dan Gak Hong Kun semasa di rumah penginapan di kecamaTan Hong bwe, bagaimana It beng menganjurkan Hong Kun menyamar menjadi It Hiong guna memfitnah pemuda she Tio, buat mengacaukan dunia Sungai Telaga. Ia jelaskan juga yang It Hiong palsu itu telah memakai cat muka buatan luar negeri hingga Hong Kun menjadi mirip sekali dengan It Hiong.

Mendengar itu Giok Peng membanting-banting kaki. "Memang aku telah menerka bangsat itu." katanya sengit.

"Cuma sampai sebegitu jauh, belum ada jalan untuk membuka rahasianya." "Dan kalian berdua," kata Kiauw In pada Teng Hiang dan Cukat Tan, "kenapa kalian bertempur dengan Gak Hong Kun

?"

Pertanyaan itu membuat canggung dua dua Teng Hiang dan Cukat Tan, hingga muka mereka menjadi bersemu dadu, hingga mereka saling melirik tanpa dapat memberikan jawaban. Memang sulit buat mereka menceritakan halnya tadi malam mereka sedang berbicara dengan asyik sampai diganggu Hong Kun.

"Sebenarnya Hong Kun benci aku." kata Teng Hiang kemudian. "Dia membenci aku takut aku membuka rahasianya, maka itu dia hendak membunuh kami berdua. Begitulah kami berjanji bertempur disini."

Kiauw In cerdas sekali. Ia lantas mendapat satu pikiran. Dengan sungguh-sungguh ia memegang tangannya Teng Hiang dan kata halus : "Adik Teng ! Kau telah ketahui rahasianya Hong Kun yang busuk itu. Dapatkah kau membantu adik Hiong membersihkan dirinya ? Kalau kau sudi dapat kau menyebar perbuatan busuknya ini di muka umum dan dengan demikian lenyap sudah penasaran adik Hiong."

Teng Hiang berpikir, matanya berputaran. "Kakak In," katanya kemudian, "dapatkah kau menanti sebentar bersama adik Cukat ini ? Hendak aku bicara dahulu dengan Nona  Pek. "

Kiauw In mengangguk. Teng Hiang menghampiri Giok Peng buat diajak menyingkir sedikit jauh. Keduanya lantas bicara perlahan sekali satu dengan lain. Habis itu Giok Peng kembali ke tempatnya. "Kakak mari !" Ia memanggil Kiauw In, tangannya menggapai.

Kiauw In mengangguk dan menghampiri. Cukat Tan heran hingga ia mengawasi dengan mendelong. Ia cuma bisa melihat kedua nona saling berbisik.

Kiranya Teng Hiang mengajukan syarat untuk ia dapat menerima baik permintaannya Nona Cio dan syaratnya itu ialah supaya Giok Peng menjadi perantara untuk mencomblangi jodohnya dengan jodohnya Cukat Tan. Dalam hal ini yang sukar yaitu soal menginsyafkan Len In Tojin, ketua Ngo Bie Pay, gurunya Cukat Tan, agar guru itu senang menerima Teng Hiang sebagai istri muridnya itu. Maka juga perlu Nona Cio berunding dengan Nona Pek.

"Adik Peng, terimalah syarat ini." Kiauw In menganjurkan Giok Peng sesudah ia mengasi keterangan pada nona itu, yang nampak rada bersangsi. "Di dalam hal ini yang paling penting ialah urusan adik Hiong, supaya perkaranya menjadi terang dan dia bebas dari fitnah."

Giok Peng tidak melihat lain jalan maka ia mengangguk.

Dengan begitu, berdua mereka menghampiri muridnya Thian Cie Lojin itu, Giok Peng sudah lantas menepuk bahunya budak pelayan.

"Teng Hiang," katanya, "urusanmu menjadi tanggung jawab kami berdua kakak beradik, suka kami menerima syaratmu itu ! Sekarang bagaimana dengan permintaan kami. Sukalah kau menerimanya dan melakukan itu ?"

Teng Hiang menjawab lantas, dengan sungguh-sungguh ia kata : " Untuk membeberkan rahasianya Gak Hong Kun, Teng Hiang akan segera melakukannya. Buat itu ia bersedia menyerbu api. Nah, beginilah janji kita, tak akan ada yang menyesal dan melanggarnya !"

Habis berkata begitu bukan main bunga hatinya Nona Teng ini hingga wajahnya terang dengan senyuman hingga kecantikannya nampak mentereng sekali.

Tinggallah Cukat Tan yang ketika mengetahui urusan jodohnya itu mukanya menjadi merah. Ia girang tetapi toh ia likat. Di lain pihak diam-diam ia berkuatir gurunya nanti menentang dan menguasirnya sebab ia telah memilih seorang nona dari kaum sesat. Kalau gurunya menampik dan dia digusur.........

"Nah, disini kita berpisah dahulu," kata Kiauw In kemudian kepada Teng Hiang dan Cukat Tan. "Aku pikir kita berdua pihak bekerja masing-masing."

Lalu tanpa membuang waktu lagi, nona Cio ajak Giok Peng berangkat.

Segala-segalanya yang terjadi itu baik perbuatan terkutuk dari Gak Hong Kun maupun jalannya pertempuran di gunung Tay Sa, Tio It Hiong tidak tahu sama sekali. Ia turun gunung dengan melihat matahari. Tanpa ia merasa, ia sudah meninggalkan jauh markas Losat Bun. Ia telah melintasi beberapa puncak, jalannya berliku-liku dengan jarak berbeda kali. Ia bukan pergi ke tempat darimana ia datang, justru sebaliknya. Ia justru menuju ke arah gunung Cu Liang San di propinsi In lam, di sebelah baratnya propinsi itu.

Selama itu apa yang diingat It Hiong ialah pertemuan besar di gunung Tay San serta keselamatan pamannya. Ia pun ingin meminta obat pemunah racun dari Kiu Lam It Tok, guna membersihkan racun didalam tubuhnya. Soal lain ialah soal asmara, tentang istri dan anaknya. Ditengah pengunungan itu, ia lebih banyak menggunakan Te Ciong Sut, ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Kalau tidak, entah berapa sulitnya ia mesti melakukan perjalanannya itu. Ia lupa atau sebenarnya tak tahu arah, ia menuju seenaknya saja, sampai ia sadar itu dan menjadi terkejut karenanya. Sekian lama itu, ia belum mendapati jalan umum. Ia juga tak bertemu dengan siapapun di tanah pegunungan itu. Akhirnya ia berhenti berlari-lari.

Sambil berdiri diam, ia memandang sekitarnya, matanya melihat, otaknya berfikir.

"Ah, aku telah berjalan satu hari penuh !" pikirnya. Ia tetap berada di tanah pegunungan. Hari pun sudah magrib. Mana jalanan untuk turun gunung ? Tapi tak dapat ia berdiam saja, terpaksa ia pergi mencari gua untuk berlindung malam itu.

Di depan ada sebuah pohon yang tengah berbuah. Melihat buat itu, datanglah rasa laparnya. Ia ingat sudah lewat dua minggu yang ia makan dua helai hosin ouw, baru sekarang ia ingin makan pula. Maka ia petik buah itu dan memakannya sebagai pengganti nasi. Sebab tak dapat ia sembarangan menghamburkan obatnya yang manjur dan banyak khasiatnya itu.

Tak tahu It Hiong buah itu buah apa namanya. Macamnya seperti buah toh, mirip buah kiekwee atau kesemak, besarnya sebesar kepalan, kulitnya merah menggiurkan. Diluar kulitnya yang keras, ada bulunya yang halus. Belum pernah ia melihat buah semacam itu. Untuk memakannya, ia harus pecahkan kulitnya yang berbatok. Isi buah putih terang dan bentuknya bundar. Ketika ia telah memakannya, terasa buah itu harum, lezat dan adem. Ia makan terus sampai sepuluh biji. Cukup sudah, lenyap lapar dan dahaganya. Untuk bekal, ia memetik lagi. Ia mengisikan penuh kantungnya. Buat itu ia sampai berlompatan naik ke atas pohon. Di saat anak muda ini mau meninggalkan pohon buah itu, tiba-tiba ada bayangan hitam dari sesosok tubuh berlompat ke depannya. Mulanya ia mengira seekor kera, kiranya itulah seorang bocah perempuan usia lima atau enam tahun, wajahnya manis dan diatas bibir kirinya ada tai lalatnya hitam. Dia memelihara rambut panjang, yang teriap ke punggungnya. Sagai pakaiannya ialah semacam rok, yang dari bahu sampai ke lututnya, hingga tampak hanya sepasang lengan dan betisnya. Kedua tangan dan kedua kakinya memakai gelang emas.

Semunculnya, bocah itu terus berdiri diam. Matanya mengawasi pemuda itu. Matanya itu kebiru-biruan dan sinarnya indah. Ia mengawasi orang dari atas ke bawah dan sebaliknya.

Dengan adanya bocah itu, It Hiong menerka didekat-dekat situ tentulah ada rumah orang atau kampung pemburu. Ia menghampiri bocah itu dua tindak dan sembari tertawa ia menyapa : "Eh, nona kecil, apakah kau tinggal disini ?"

Nona itu tidak menjawab hanya dia menatap tajam, terus dia menanya dingin : "Kau telah mencuri makan buah liok- jiak-ko kami ! Berapa bijikah kau telah habiskan ?"

Ditegur begitu, It Hiong melengak. Belum pernah ia mencuri barang orang. Ia makan buah ini sebab mengira itulah buah hutan, tak ada yang memilikinya. Ia menjadi likat.

"Harap kau tidak salah paham, nona kecil." katanya kemudian. "Aku tersesat di dalam hutan ini, aku lapar. Waktu aku melihat buah itu, aku lantas petik dan makan. Berapakah harganya buah ini? Akan aku ganti. " Ia terus merogoh sakunya, mengeluarkan sepotong perak, terus ia menganggukan itu.

Tanpa sungkan-sungkan anak itu kata tawar : "Kau tentu menganggap buah ini tak ada pemiliknya yang menjagai, lantas kau lancang memetik dan memakannya secara mencuri, lalu setelah kau tertangkap basah, kau hendak menggantinya dengan uang ! Apakah dengan cara licin ini kau anggap dapat kau membebaskan diri dari dosamu sebagai pencuri ?"

It Hiong sabar tetapi ia tidak puas. Nona itu ngotot dan berlaku kasar. Ia melepaskan uangnya hingga jatuh ke tanah, terus ia kata kasar : "Terserah kepada kau, kau terima uang ini atau tidak ! Aku tidak mempunyai waktu untuk bicara lama- lama denganmu !" Ia terus memutar tubuhnya buat berlalu dari rimba itu.

Nona itu tertawa geli. "Adat keras !" katanya. "Sebentar kapan, tiba saatnya kau hendak meminta obat pemunahnya, baru kau lihat !"

It Hiong melongo. Ia terkejut. Mendengar kata-kata si bocah tentang obat pemunah, ia menjadi berpikir. "Apakah buah ini buah beracun ? Bocah ini masih terlalu kecil, tak mungkin dia mendusta. "

Tanpa merasa si anak muda bergidik sendirinya. "Nona kecil," tanyanya, "apakah gunanya buahmu ini ?

Apakah beracun ?"

Nona itu bersikap jenaka, baik wajahnya maupun tangannya, yang dia bawa kemukanya, tangan kiri untuk menutupi muka, tangan kanan buat menowel pipi. "Eh....eh..., kau masih belum mau pergi ?" tanyanya mengejek. "Apakah kau tak membawa lagi adatmu ? Hm ! Mari, nonamu beritahukan padamu ! Buah yang menor itu bernama liok jiak ko ! Bukankah barusan aku telah berkatai kau ? Buah itu tidak beracun, hanya mempunyai khasiat yang luar biasa dalam hal membangunkan nafsu birahi. Setelah lewat dua jam habis orang memakannya, datanglah nafsunya itu. Walaupun kau seorang kakek kakek atau nenek nenek yang sudah loyo, tak akan kau sanggup menahan dorongan nafsumu itu ! Kecuali kau minta obat pemunahnya dari aku !"

"Liok jiak ko" itu berarti buah dari enam nafsu birahi. Habis berkata begitu, si nona cilik nampak sangat puas,

mata dan alisnya memain, wajahnya manis dan menggiurkan.

Mendengar keterangan itu, lega hatinya It Hiong. Ia pikir, kalau cuma gangguan nafsu birahi, itulah mudah. Ia kata didalam hati : "Kalau saatnya tiba dan aku tidak dapat obatnya, cukup aku menceburkan diri ke dalam air dan berdiam di sana sampai aku kedinginan. Jadi tak usah aku minta dari anak nakal ini !"

Dengan tampang sabar tapinya anak muda kita toh kata pada nona itu : "Nona, kalau nona berkenan akan menolongku, bagaimana andiakata kau memberikan aku obat pemunahnya ? Dapatkah ?" Ia terus memberi hormat.

Boleh dibilang tepat selagi ia berkata itu, tiba-tiba It Hiong melihat tubuhnya si nona cilik berubah menjadi besar dan tinggi, mirip dengan seorang nona usia delapan atau sembilan belas tahun, dengan senyuman manis dia mengawasi si anak muda. It Hiong heran hingga ia mengedip-ngedipkan matanya, lalu mengucek-uceknya. Ia menyangka matanya kabur seketika. Ia pula mengerahkan tenaga dalamnya untuk memperkokoh batinnya.

Ketika itu mungkin sudah jam permulaan, rembulan bersinar suaram. Tidak salah It Hiong melihat seorang nona elok dan manis sekali yang tubuhnya langsing bukan lagi bocah kecil tadi. Nona tiu mempunyai wajah sama seperti si bocah cuma tubuhnya menjadi tinggi dan besar. Bahkan tai lalat hitam di ujung bibir kirinya tetap tak lenyap. Pakaiannya juga tak berubah.

Saking heran, It Hiong mengawasi. Bingung ia akan perubahan tubuh orang itu. Kalau bukannya ia mungkin orang menyangka nona itu seorang siluman atau jejadian. Karena menyangka nona bukan orang dari golongan baik-baik, diam- diam It Hiong meluruskan pikirannya dan mengerahkan ilmu Hian Bun Sian Thian Khie kang buat bersiap sedia dari segala kemungkinan.

"Nona," kata ia kemudian, "sukakah nona memberikan obat pemunah itu padaku ? Nona jawab saja dengan satu perkataan atau aku akan segera berlalu dari sini !"

Bukannya menjawab, si nona tertawa. "Siapakah namamu ?" dia balik bertanya.

"Aku yang rendah Tio It Hiong muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia !" sahut It Hiong terus terang. "Dapatkah aku menanyakan nama nona ?"

"Oh ! " kata si nona tertahan, lalu dia merapihkan rambutnya yang panjang. "Aku Touw Hwe Jie." It Hiong sedikit melengak. Nama itu pernah ia dengar entah dimana. Nama itu rada aneh sebab artinya "anak aci." Maka ia berpikir keras. Segera ia ingat pesan ayah angkatnya In Gwa Sian. Di propinsi In lam ada seorang wanita buruk, namanya Touw Hwe Jie, orangnya cantik tetapi centil dan kejam. Gemar sekali mengumbar nafsu birahi gunanya selagi berplesiran dia menghisap darah orang. Wanita itu katanya dapat lari keras seperti terbang dan kepandaian silatnya lihai. Siapa menemui wanita itu, jangan harap dia lolos dari bahaya. Wanita itu, saking kejamnya digelari "Kip Hiat Hong Mo" atau si bajingan edan, tukang menghisap darah. Sejak tiga puluh tahun dahulu namanya wanita itu sudah terkenal dan ditakuti. Entah kenapa dia menyembunyikan diri selama beberapa puluh tahun hingga orang melupakannya. Selama itu maka amanlah wilayah perbatasan propinsi Ilam dan Kwieciu itu. Siapa sangka sekarang dia muncul di depannya anak muda itu.

"Mungkin dia sudah berumur tujuh atau delapan puluh tahun." si anak muda berpikir pula . "Kenapa sekarang dia menjadi seorang nona remaja ? Kenapa tadi aku melihatnya sebagai seorang bocak cilik ?"

"Nona Touw Hwe Jie." kemudian ia tanya saking herannya itu, "nona bukankah gelaran nona ialah Kip Hiat Hong Mo ?"

Pertanyaan itu membuat si nona melengak. "Kenapa kau ketahui gelaranku itu ?" dia balik bertanya.

It Hiong tertawa. "Pernah aku yang rendah mendengar orang menyebut-nyebut tentang Kip Hiat Hong Mo Touw Hwe Jie." sahutnya. "Katanya dialah seorang tua usia tujuh atau delapan puluh tahun ! Kenapa nona sebaliknya begini muda ? Bukankah apa yang aku dengar itu bertentangan dengan kenyataan ? Karena itu, aku lancang menanya. " Wanita itu tertawa nyaring. Rupanya dia gembira sekali mendengar pertanyaan itu. "Kalian dapat dibilang sebagai orang yang kurang penglihatan tetapi banyak rasa herannya !" kata dia.

It Hiong melengak. Ia memikir. Lekas juga ia berkata pula, "Jika nona bukannya mengerti ilmu membuat diri menjadi muda, kaulah seorang yang telah memalsukan namanya Cianpwe Toaw Hwe Jie itu !"

Sekarang si wanita menunjukan tampang tidak puas. Tetapi dia masih dapat tertawa, kata dia, "Kau boleh bilang sesukamu hal itu, tidak ada halangannya denganku !"

It Hiong menganggap si nona luar biasa. Ia lantas memikir, buat apa ia usil orang. Touw Hwe Jie atau bukan, yang terang dia tentulah wanita cantik dan cabul, jadi perlulah lekas-lekas ia meninggalkannya.

"Ah, hari sudah tak siang lagi, aku yang rendah hendak memohon diri !" katanya.

"Ya, sudah lewat jam dua." kata wanita itu, suaranya tenang sekali. "Racun dari buah yang kau makan itu, sebentar jam tiga akan bekerja. Dari itu kau masih dapat jalan jauh juga. "

Tak puas It Hiong mendengar lagu suaranya orang itu. "Nona membekal obat pemunah, tetapi nona tak sudi

memberikan itu padaku, dan apa yang bisa aku bilang ?"

katanya mendongkol. "Aku mempunyai jalan buat menyelamatkan diriku."

Begitu ia berkata, begitu si anak muda bertindak pergi. Nona itu berjalan mengikuti, sembari jalan ia berkata berduka : "Kau bertabiat tak sabaran, kau tidak mengerti maksud orang. Nonamu memang ada membekal obat itu, walaupun demikian hendak aku menanti dahulu sampai racun sudah bekerja, baru aku akan memberikan obat padamu!"

It Hiong berjalan, tanpa menoleh. Biasanya, telinganya tak dapat diakali. Kali ini lain, orang mengikuti tanpa suara tindakan kaki. Itulah hebat, ia mendengar suara orang tetapi tidak suara tindakan kakinya. Dalam herannya, ia toh menjawab. "Aku tak membutuhkan obatmu." katanya. "Mau apa kau mengikuti aku ?"

Nona itu terdengar tertawa. "Aku ingin melihat caranya kau membebaskan dirimu dari racun buah itu !" kata dia. "Andiakata kau gagal, kau membutuhkan obatku atau tidak ?"

"Tidak !" sahut It Hiong, singkat dan kaku.

Atas itu terdengar suara jumawa si nona : "Kau tak membutuhkan ? Kau bakal kalap dan berputar ! Kau nanti mati melingkar ! Coba kau pikirkan, bagaimana sengsaranya akan terbinasa dengan siksaan hebat semacam itu ?"

Belum sempat menjawab atau berpikir, It Hiong sudah mulai merasakan dadanya sesak dan darahnya mulai berjalan cepat, hawa nafsunya terus mendesak dan pikirannya bekerja tidak karuan, menyusul mana matanya seperti melihat sesuatu yang berkhayal. Ia terkejut. Tahulah ia yang buah liok jiak ko telah mulai bekerja. Lekas-lekas ia mengatur pernafasannya hendak ia menggunakan Hian Bun Sian Thian Khie kang yang barusan ia tak siap siagakan lagi karena selalu melayani orang bicara. Tapi ia kalah cepat. Racunnya buah bekerja terlebih cepat daripada pikirannya itu. Ia merasai dua jalan darahnya, jim dan tok, tak wajar lagi. Maka tak berjalanlah ilmunya itu. Sebaliknya ia merasakan yang nafsu birahinya telah muncul.

Aneh racun itu. Kalau racun lain yang bahayanya dapat ditolak Hian bun Sian Thian Khie kang, kali ini pengerahan tenaga dalam itu bahkan mempercepat bekerjanya racun liok jiak ko.

Mukanya It Hiong lantas menjadi merah, seluruh tubuhnya serasa panas. Ia mencoba mengekang nafsunya itu. Masih ada satu jalan darahnya, dim-keng yang masih terlindung berkat khasiatnya darah belut emas hingga pikirannya tak segera menjadi kacau hingga ia ingat dirinya. Tanpa memilih jalan lagi, ia lari sekeras-kerasnya. Ia beniat mencari telaga atau rawa, dimana ia bisa menceburkan diri untuk berendam guna mendinginkan tubuhnya itu.

Aneh Tou Hwe Jie. Dia dapat mengintil terus selama mana dia berkata-kata sambil tertawa-tawa guna menggoda si anak muda. Lama-lama It Hiong menjadi habis sabar. Kata-kata orang membuatnya sebal. Selekasnya ia menahan larinya dan memutar tubuh sambil menyerang dengan satu jurus dari Heng Liong Hok Houw Ciang.

Hebat nona itu. Dia terserang secara mendadak tapi ilmu ringan tubuhnya sangat mahir. Dia tidak menangkis, hanya mendadak ia menjatuhkan diri setelah mana barulah dia mencelat bangun untuk menyiapkan diri.

It Hiong tidak menyerang pula. Ia hanya lari lagi sampai ia mendengar mendebarnya suara air tumpah yang terbawa angin, maka kesanalah ia menuju dengan mempercepat langkahnya. Ia menikung di sebuah tempat sesudah itu ia lantas melihat curuk itu, yang airnya putih bagaikan perak karena sinar suaram dari si putri malam. Airpun bermuncratan seperti turunnya hujan.

It Hiong lari ke kaki gunung, ke dinding di mana air tumpah itu turun menjadi satu hingga merupakan sebuah kolam, airnya jernih dan terang, seumpama kaca. Tidak bersangsi sejenak juga, ia terjun kedalam kolam itu !

Kiranya kolam dangkal, cuma tiga atau empat kaki dalamnya. Pula airnya bukan air dingin hanya air hangat. Maka itu ia merendam di dalam air itu. It Hiong merasai tubuhnya hangat bahkan lama-lama panas. Maka juga nafsunya bukan berkurang tetapi justru bertambah !

"Celaka !" pikirnya.

Segera It Hiong lompat ke tepian ke darat. Untung baginya otaknya tetap sadar. Ia lantas duduk diatas sebuah batu besar untuk memejamkan matanya, guna memperkokoh hatinya. Ia ingin mengusir racun dengan jalan bersemadhi. Sementara itu si nona terus mengikuti.

Dia tidak berbuat apa-apa, hanya menempati diri di sisi si anak muda. Ia mulai memperdengar-kan suara nyanyiannya. Suara itu merdu dan sedap memasuki telinga.

It Hiong tetap bertahan tetapi belum lama ia membuka matanya maka tampaklah di depannya beberapa orang yang ia kenal baik. Kiauw In, Giok Peng dan Tan Hong, juga Teng Hiang dan Siauw Wan Goat. Lebih lanjut ia pun mendapatkan beberapa nona yang ia pernah lihat. Hanya sekarang ini, semua nona-nona itu justru lagi memperlihatkan gaya centil dan ceriwis, semuanya genit-genit ! Masih It Hiong ingat akan dirinya. Hampir ia menjadi putus asa. Ia mengangkat tangannya dan pakai itu menepuk kepalanya, ia ingin supaya dengan begitu ia mendapat hati, agar ia sadar seluruhnya. Berbuat begitu ia berbangkit untuk berdiri.

Sekarang si anak muda membuka matanya. Ia melihat Touw Hwe Jie berdiri di depannya terpisah cuma tiga kaki. Nona itu tengah menari-nari dan menyanyi-nyanyi, suaranya tetap merdu sangat menggiurkan hati, sedangkan tari-tarian, gerak geriknya sangat menggiurkan......

Di dalam keadaan tersiksa batin itu, It Hiong berkata perlahan sekali : "Aku tak berdaya melenyapkan racunnya liok jiak ko. Maukah nona memberikan aku obat pemunahnya ?

Pertolongan nona ini akan aku ukir dalam hati sanubariku."

Mendengar demikian dengan lantas si nona menghentikan nyanyian dan tarinya.

Ia menghampiri sampai dekat pemuda itu. Ia tertawa. "Jadi tak berhasil sudah daya upayamu guna membebaskan diri dari racun buah nafsu itu ?" katanya. "Obat itu berada ditubuhku. Nah, kau ambillah sendiri !"

Dengan matanya yang jeli, Touw Hwe Jie menatap mukanya si anak muda. Pada wajahnya tampak jelas kegenitannya.

It Hiong merasakan darahnya panas, nafsunya bergejolak.

Ia pun mengawasi si nona cantik yang keelokannya sangat menggiurkan hati. Tanpa merasa, ia mendekati si nona, untuk merangkulnya. "Nona..... nona. mana obatmu ?" tanyanya. Dalam hal

obat pemunah, ingatannya kuat sekali. "Dimanakah kau taruhnya ?"

Nona itu tertawa perlahan. "Pengaruhnya buah itu adalah membantu mendorong nafsu birahi laki-laki" kata ia. "Itulah dorongan untuk orang dapat berplesiran dengan kepuasan. Obat pemunahnya ? Itulah tubuh wanita ! Masihkan kau belum mengerti ? Oh, kakak tolol !"

Kata-kata itu diantar dengan satu ciuman hangat.

It Hiong kaget sekali, ia tahu artinya kata-kata orang itu.

Sendirinya dia lantas mengeluarkan keringat dingin. Kagetnya itu hatinya terbuka hingga ia lantas berpikir. "Aku Tio It Hiong. Akulah laki-laki sejati. Mana dapat aku main gila dengan wanita ini ? Hilang jiwa tak berarti bagiku, tetapi kalau aku merusak nama guruku, itulah hebat ! Biarlah aku menguatkan hatiku ! Tak dapat aku mengiringi kehendaknya wanita ini !"

Dengan cepat It Hiong melepaskan rangkulannya dan mundur setindak.

Touw Hwe Jie maju satu tindak. Tak ingin ia melepaskan ikan yang sudah terkena pancingnya. Ia maju sambil menggertak gigi, ia menyenderkan tubuhnya di dadanya si anak muda dan meletakkan kepalanya di bahu orang. Kata ia dengan perlahan, "Aku tak menyayangi tubuhku yang putih bersih, suka aku menyerahkannya padamu. Dengan begitu juga aku jadi membantu kau dari pengaruhnya buah keplesiran itu ! Itu kau tahu aku sangat mencintaimu ! Kenapa kau masih tidak mengerti adikmu ini ?" Berkata begitu si cantik mengelus-elus pipinya si anak muda. Ia berkata dulu merdu. "orang tolol, apakah kau masih belum mengerti kebaikan hati orang ?"

Berdekatan dengan si cantik It Hiong mencium bau yang harum menyerang hati, tanpa merasa, terbangun pula nafsunya, ia memegangi bahu orang.

"Kau baik sekali, adik, aku mengerti." katanya. "Tetapi kitalah sama-sama orang yang terhormat, tak dapat kita melakukan sesuatu yang menyaitui adat istiadat. Bagaimana kalau perbuatan kita ini tersiar di muka umum ? Nona, apakah tak ada lain jalan untuk membebaskan aku dari racun buah liok jiak ko itu ?"

"Hmm" Touw Hwe Jie memperdengarkan suaranya, sambil dia menggigit bibirnya. "Tak kusangka kau seorang Kang Ouw tetapi lagumu mirip seorang guru sekolah ! Kami wanita begini polos tetapi kau pula kau memikir terlalu jauh ! Sungguh lucu

!"

It Hiong tidak melayani bicara, ia hanya memejamkan matanya, sedangkan hatinya bekerja keras tetapi sia-sia belaka ia hendak menenangkan diri itu. Pikirannya justeru menjadi kacau dan di depan matanya kembali berbayang tingkah polah genit dan ceriwis dari beberapa nona-nona serta pria. Masih ia sadar, maka sebisa-bisa ia mencoba melawan gangguan itu.

Pengaruhnya liok jiak ko bekerja terus dan tiba pada puncaknya, disaat mana terdengar tawa merdu dari Touw Hwe Jie. "Kenapa kau tertawa, nona ?" tanya It Hiong yang pikirannya mulai kacau. "Apa yang menyebabkan kau begini gembira ?"

Si nona berhenti tertawa tetapi sebagai gantinya ia menatap orang. "Aku tertawa bukan disebabkan aku sangat gembira." katanya. "Aku tertawa sebab lagakmu mirip pelajar tolol. Bukankah peribahasa berkatai bahwa bunga mekar harus dipetik dan jangan menanti sampai rontok hingga tangkainya menjadi sundal ? Bukankah sedetik berarti seribu tail perak dan ketika yang baik sukar ditemukan ? Kau begini, bukankah itulah menandakan ketololanmu !"

Dan si nona tertawa pula.

Dalam kacaunya pikirannya, senang It Hiong mendengar suara orang yang merdu meresap itu.

"Adik yang baik, kau harus mencari sebuah tempat dimana kau dapat menolong aku menyingkirkan pengaruh buah liok jiak ko itu. " katanya perlahan ditelinga orang.

Touw Hwe Jie melirik, terus ia memandang ke depannya dimana ada dinding puncak.

"Kita pergi kesana." katanya. "Di sana ada gua batu. "

It Hiong mengangguk, jantungnya memukul. Touw Hwe Jie mencekal tangan orang, lalu sambil berendeng mereka menuju ke dinding puncak itu. Sudah mendekati jam empat, selagi rembulan guram, muda mudi itu merasai siuran angin gunung. Suasana pun sunyi.

Tiba-tiba terdengar suaranya seekor burung jenjang, yang memecahkan kesunyian. Suara burung itu agaknya sedih. Tubuhnya It Hiong menggigil, ia bergelendot pada tubuhnya si nona, yang terus memegang dan memayangnya.

Touw Hwe Jie mengeluarkan liur. Ia bagaikan harimau yang menghadapi anak kambing. Pikirannya terbuka. Ketika itu tubuh mereka nempel rapat satu pada lain. Tiba-tiba ia merasa sesuatu yang keras di pinggangnya si anak muda.

"Apa isinya kantung ini ?" tanya si nona heran.

Ditanya begitu It Hiong terperanjat. Ia ingat kantungnya itu terisi buah liok jiak ko bekalannya ! Ia menjadi mendongkol.

Tanpa ragu pula, ia tuang semua buah itu ! Hal itu membuat kemendongkolannya berkurang.

Sementara itu sang waktu tetap berjalan terus. Selama itu, dengan sendirinya, It Hiong sudah menderita cukup lama.

Dengan lewatnya sang waktu berkurang juga pengaruh kekuatannya racun liok jiak ko. Perlahan dengan perlahan, berkurang pula desakan nafsu biarahinya, dengan berkurangnya desakan tiu, jantungnya tak lagi memukul keras seperti tadi. Itu pula berarti ketenangan. Dengan berdiam anak muda kita itu menjadi terbuka pikirannya. Ia menjadi sadar.

Biasanya seorang pria tak dapat mempertahankan diri dari godaan semacam itu sekalipun ia cuma makan sebiji buah.

Dengan It Hiong keadaan lain, ia kuat batin dan lahir sebab ia mempunyai banyak keuntungan. Pertama-tama latihannya telah sempurna, dapat ia memusatkan pikirannya. Asal ia dapat mengatur pernafasannya dan bersemadhi, ia cepat memperoleh ketenangan hatinya. Disebelah itu, ia dibantu khasiatnya darah belut serta hosin ouw dan paling belakang latihan ilmu pedang Gie Kiam Sut. Selekasnya ia sadar, It Hiong ingat obat Kay Tok Tan Yoh, hadiah pendeta tua dari kuil Bie Lek Sie. Tidak ayal lagi, ia mengeluarkan peles obatnya itu, untuk mengambil beberapa butir isinya, terus ia masuki kedalam mulutnya dan menelannya. Habis makan obat itu, pelesnya disimpan pula.

Touw Hwe Jie melihat orang makan obat, cuma ia tidak tahu obat itu obat apa, ia menatap si anak muda dan berkata sambil tertawa manis, "Kakak yang baik, mari aku beritahu kau ! Racunnya buah liok jiak kok cuma dapat dilenyapkan oleh tubuh wanita, obat lainnya juga tak akan menolongnya ! Maka itu sia-sia saja kau makan obatmu !"

Ketika itu mereka sudah berjalan sampai di dinding gunung.

"Lihat gua itu" berkata Touw Hwe Jie sambil tertawa seraya tangannya menunjuk. "Bukankah itu sebuah gua yang indah ? Kakak, mari kita memasukinya !" Dan ia mencekal erat-erat tangan si pemuda buat diajak berjalan memasuki gua itu.

Mereka tetap berjalan berendeng.

It Hiong mengikuti. Ia membutuhkan waktu supaya obatnya keburu larut di dalam perutnya. Agar obat itu dapat mengusir racun .

Tiba di dalam gua, si nona sudah lantas menyalakan lilin yang berada di atas meja. Hingga It Hiong bisa melihat tegas keadaan dalam gua itu, yang luas kira empat tombak persegi. Ada meja dan kursinya yang semua terbuat dari batu.

Pembaringan terbuat dari batu juga, hanya pembaringan itu berkelambu. Kasurnya tertutup seperti sulam, demikian juga bantal dan kepalanya. Semuanya indah. Semua perlengkapan lainnya seperti perlengkapan kamarnya seorang hartawan.

Yang lebih menarik hati, pembaringan itu menyiarkan bau harum. Teranglah semua itu disediakan Touw Hwe Jie untuk setiap waktu ia bersenang-senang dengan pria yang bakal menjadi korbannya.

Touw Hwe Jie heran waktu ia mengawasi It Hiong. Anak muda ini berdiam saja mengawasi seluruh kamar, dia tak "kalap" seperti pria yang, sudah yang lantas membawanya ke pembaringan. Ia memegang tangan orang, untuk ditarik, diajak duduk diatas pembaringan.

It Hiong sementara itu merasai panas tubuhnya sudah berkurang banyak dan darahnya tak bergolak seperti tadi- tadinya. yang paling menyenangkannya ialah ia merasa otaknya jauh terlebih tenang. Maka itu selagi berpikir hendak ia mendapati bukti wanita ini benar Touw Hwe Jie atau bukan, ia membiarkan ia diajak duduk diatas pembaringan. Justru dengan begitu ia menjadi memperoleh kesempatan untuk diam-diam mempersiapkan tenaga Hian Bun Sian Khie kang.

Si cantik itu mencium pipi si anak muda terus ia turun dari pembaringannya, akan membuka bajunya hingga dilain saat ia telah menjadi separuh telanjang hingga tampak kulitnya yang putih dan halus. Tubuhnya itupun menyiarkan bau harum.

It Hiong duduk tetap, waktu ia melihat tubuh si nona hatinya goncang. Masih ada sisanya racun. Tak mau ia memejamkan mata supaya orang tidak mencurigainya.

Touw Hwe Jie naik pula ke pembaringan, akan duduk di sisi si pemuda.

"Eh," tegurnya tertawa, "aku telah siap memberikan obat pemunah racun padamu kenapa kau tidak mau lekas memakainya ?" It Hiong menguasai dirinya menahan gejolak jantungnya yang memukul keras. Lekas-lekas ia mengeluarkan obatnya buat menelan pula beberapa butir.

Kali ini si nona dapat melihat peles obat orang.

"Oh !" serunya. "Kiranya kau makan obatnya si kepala gundul dari Bie Lek Sie !" Ia lantas menyambar peles orang sembari ia kata : "Mari sini aku lihat !"

It Hiong menolak tangan orang dengan begitu ia membentur tangan si nona. Ia merasai sebuah tangan yang halus dan lunak, ia merasakan sesuatu yang membuat hatinya goncang pula. Tapi ia sudah sadar. Mendadak ia berbangkit akan turun dari pembaringan itu. Dengan cepat luar biasa, ia menelan tiga butir obatnya.

"Lekas bilang !" akhirnya ia menegur, "kau pernah apa dengan Kip Hiat Hong Mo ?"

Nona itu menoleh dan mengangkat kepala, dia tertawa manis.

"Bukankah telah aku bilang tadi." katanya. "Akulah Touw Hwe Jie. Apa yang kau buat kuatir ?"

It Hiong terus melayani bicara. Ia mau menang waktu supaya obatnya selesai bekerja agar sisa racun terusir semuanya.

"Bukankah Locianpwe Touw Hwe Jie sudah berusia delapan puluh tahun lebih ?" katanya. "Kau sendiri nona, kau begini muda ! Sebelum aku kenal atau mengetahui kau dengan baik, tak berani aku bergaul erat-erat denganmu. " Nona itu melengak sejenak, terus ia tertawa pula.

"Jodoh kita jodoh selewat jalan" katanya. "Kita bukannya suami istri. Lelaki siapakah yang tak menghendaki kesenangan semacam ini ! Tapi kau, dari siapakah kau mendapat pula ajaran tolol ini ? Heran, kuCing tidak sudi makan ikan. "

Tiba-tiba si nona menarik ujung bajunya si pemuda, matanya menatap. "Mari kakak." katanya merdu. "Mari, sungguh aku tak tahan. "

It Hiong melepaskan tangan bajunya itu, ia mundur. "Seorang nona berbuat seperti kau ini, apakah kau tak

malu ?" tanyanya.

Nona itu maju satu tindak ia menekan dahi orang.

"Ah, kau pria tak mempunyai jantung !" katanya sengit. "Kau menyia-nyiakan kebaikanku !"

It Hiong menatap tajam. Disaat ini ia merasa sehat benar- benar. Maka ia percaya tubuhnya sudah bersih dari sisa racun liok jiak ko. Sekarang berubahlah pandangan matanya. Tak lagi rasa tergiurnya walapun ia melihat terang tubuh yang jangkung putih. Ia merasa jemu akan kelakuan centil itu.

Maka sekarang ia tak memperdulikan lagi nona itu Touw Hwe Jie yang tulen atau yang palsu. Kata ia keras : "Karena nona tidak mau memberitahukan tentang dirimu yang sebenarnya, maafkan aku. Aku mohon diri !"

Terus anak muda ini lompat turun dari pembaringan untuk bertindak keluar gua dengan langkah lebar. Touw Hwe Jiterperanjat. Inilah ia tidak sangka. Dengan begini ia insyaf yang It Hiong bukan kebanyakan pria korbannya. Maka sia-sialah ihtiarnya sebegitu jauh akan merobohkan hati orang. Karena pemuda ini mau pergi meninggalkannya, tiba-tiba hatinya menjadi panas.

"Aku mesti binasakan dia. " pikirnya. Lekas-lekas ia

mengenakan pula bajunya sedangkan dari bawah kasur ia menjumput sepotong sesuatu yang hijau, ia lantas libat pada pinggangnya, kemudian dengan tersipu-sipu ia lari keluar guna menyusul si anak muda.

Masih ada cahaya sisa rembulan. Kecuali suara angin tanah pegunungan itu sunyi sekali. Di sebelah depan terlihat tubuh It Hiong bagaikan bayangan yang lagi bergerak cepat. Si nona tidak mengejar, hanya dia lari ke lain arah.

It Hiong sudah menyingkir kira tiga puluh tombak lebih dari gua, baru ia menoleh. Ia tidak melihat Touw Hwe Jie mengejarnya.

"Sunguh berbahaya. " katanya di dalam hati. Sendirinya

ia menggigil kalau ia ingat detik-detik berbahaya tadi. Ia berdiam sebentar guna menenangi diri, setelah itu ia berjalan dengan perlahan memutari kaki gunung. Selekasnya ia muncul dari sebuah tikungan, kira-kira tiga tombak di depannya, ia melihat sebuah batu besar diatas mana seorang tampak sedang duduk bersila. Ia menunda langkahnya, untuk terus mundur satu tindak. Ia lalu mengawasi sangat tajamnya sambil hatinya bekerja, "Jangan-jangan aku bertemu pula dengan wanita siluman itu."

Orang di depan itu memang seorang wanita, kundianya melingkar tinggi bagaikan naga, pipinya montok, mukanya bundar seperti bulan purnama dan sepasang alisnya lentik. Dia tengah duduk berdiam, matanya dipejamkan. Tubuhnya tertutup oleh sabuk hijau. Kedua lengannya yang putih tampak tegas. Menurut dandanan dialah seorang nona remaja akan tetapi dilihat dari seumumnya, dialah seorang nyonya muda.

"Ah, masa bodoh dia siapa. " pikir si anak muda yang mau

terus melewatinya dengan cepat. Tak ada perlunya buat ia mencari tahu atau menegurnya.

"Berhenti !" mendadak wanita itu berseru cepat selagi si anak muda lewat di sisinya.

It Hiong mengangkat kepala. Untuk kagetnya, ia tidak melihat wanita yang baru saja bercokol di atas batu. Selagi ia keheran-heranan dari sebelah depannya ia mendengar suara wanita keras sebagai berikut : "Eh, bocah, apakah kau memikir meninggalkan Cang Lo Ciang dengan nyawamu masih berada ? Coba kau tanya dirimu, berapa tingginya ilmu kepandaianmu."

It Hiong menoleh. Ia melihat seorang wanita lain. Wanita ini cantik dan tampangnya gesit dan sinar matanya menunjuki bahwa dia berkepadiaan silat tinggi. Maka tak mau ia berlaku sembarangan, ia lantas memberi hormat dan bertanya sabar.

"Cianpwe memegatku ada pengajaran apakah dari cianpwe untukku yang muda ?"

Wanita itu tertawa.

"Melihat dari wajahmu, suatu wajah, bukan sembarang wajah, maka aku memberi ampun pada jiwamu !" berkata dia. "Mari kau turut aku supaya kita bisa sama-sama menikmati kesenangan istimewa ! Kau setuju bukan ?" Hatinya It Hiong tercekat. Lantas timbul rasa tak puasnya. Kembali ia menemui wanita muka tebal. Walaupun demikian ia menekan hawa amarahnya.

"Sebenarnya, kau siapakah cianpwe ?" tanyanya sabar. Wanita itu menjawab cepat, suaranya tawar.

"Siapa lancang lewat di Ceng Lo Ciang ini, masih dia tak ketahui namanya Touw Hwe Jie ?"

It Hiong heran, kembali Touw Hwe Jie. "Bukankah Touw Hwe Jie ialah si nona yang mengganggunya satu malam suntuk ? Kenapa nyonya ini menyebut dirinya Touw Hwe Jie juga ? Habis ada berapa orangkah Touw Hwe Jie ?"

"Cianpwe, tolong cianpwe beritahukan gelaran cianpwe ?" tanyanya.

"Kip Hiat Hong Mo !" sahut wanita itu singkat. It Hiong heran bukan main.

"Ini pula satu Kip Hiat Hong Mo !" katanya, seorang diri mengulangi nama orang.

Wanita itu turun dari atas batu, untuk menghampiri, untuk secara tiba-tiba menyambar tangan orang.

"Mari turut aku !" katanya.

It Hiong terkejut sebab ia lantas merasai tangannya kesemutan, tetapi ia tidak takut. Ia hanya mengagumi kehebatan nyonya itu. Segera ia bertahan dengan sebuah tipu dari ilmu silat pedang Gie Kiam Sut. Ia mengawasi wanita itu dengan alisnya terbangun.

"Cianpwe !" tegurnya. "Secara diam-diam cianpwe menangkap tanganku. Apakah perbuatan itu tidak menurunkan derajatmu ?"

Wanita itu heran. Ia melihat si anak muda tidak kaget atau meringis kesakitan sedangkan ia tahu cekalannya itu hebat sekali. Setelah melengak sejenak, ia menambah tenaganya, terus ia menyambar tangan orang sambil ia berkata : "Robohlah kau !"

Tubuhnya It Hiong terpelanting tetapi ia tidak roboh seperti kehendaknya si nyonya, sebaliknya dengan mengimbangi diri, tangan kirinya mencekal itu sekalian dikebaskan sembari mulutnya pun menyerukan : "Robohlah kau !"

Bukan main kagetnya si nyonya. Bukannya si anak mudah yang roboh, adalah dia sendiri yang kena tertarik, banyak syukur, dia pun lihai, selekasnya tangan si anak muda terlepaskan dia dapat bertahan, dia cuma terhuyung dua tindak. Dia lantas berdiri tegak terus ia memandang sinar matanya yang bengis suatu tanda dia sangat mendongkol.

Tanpa mengucap sepatah kata dia meloloskan sabuknya yang berwarna hijau mengkilat. Kiranya itulah seekor ular hijau, panjang tiga kaki. Bagaikan kilat, dia meluncurkan ular itu ke mukanya si anak muda sambil dia berseru : "Bocah, kau tidak minum arak pemberian selamat, kau justru mau menengak arak dendaan, maka kau rasailah makhlukku ini !"

It Hiong melihat senjata lawan itu ialah seekor ular hidup. Ia kuatir kalau ular itu beracun, tak mau ia menyentuh dengan tangannya, dengan berkelit sambil menjejak tanah, ia lompat tiga tindak ke samping. Hebat ular itu ! Setelah gagal dengan serangannya yang pertama itu, tubuhnya terus bergerak menggeliat ke samping, untuk menyambar pula, sambil menyemburkan racunnya, untuk memagut si anak muda !

Menampak orang bertindak keterlaluan, hatinya si anak muda menjadi panas. Ia meraba gagang pedangnya untuk "Sret !" menghunus senjatanya yang tajam luar biasa itu untuk menyambut dengan satu tebasan ! Maka terdengarlah satu suara putusnya semacam benda, terus tubuhnya ular itu terkutungkan dan ujungnya jatuh ke tanah !

Nampaknya si wanita terkejut, tetapi dia tabah dan cepat.

Cepat luar biasa, potongan tubuh ular yang jatuh itu dia pungut dan tempelkan potongan yang ada di tangannya, terus ia pakai pula untuk mengulangi serangannya. Anehnya ular itu dapat bergerak-gerak seperti masih hdiup !

"Cianpwe" tegur It Hiong, "kita tidak kenal satu pada lain.

Kita juga tidak bermusuh, kenapa cianpwe berlaku begini keterlaluan padaku ?"

Wanita itu tidak menjawab. Dia menggerakkan tubuhnya hingga terdengar pinggangnya bersuara, terus tangan kanannya dilancarkan. Aneh tangan itu, yang tampak berubah lebih besar dari tadinya, terus meluncur dengan lima buah jerijinya menjambak, nampaknya lima menjambak, nampaknya kelima jari tangan itu mirip cagak cagak besi.

It Hiong terperanjat saking heran. Wanita itu bagaikan bajingan jadi-jadian. Ia lantas putar pedangnya, untuk membabat ke belakang, sambil berbuat begitu, tubuhnya turut berputar juga. Itulah suatu gerakan dari jurus silat Gie Kiam Sut, maka dengan bergeraknya itu, tubuhnya terus melesat ke depannya dimana terdapat sebuah jurang !

Selama itu, sang matahari sudah muncul tanpa terasa. Itulah sebab sang waktu telah berlalu secara diam-diam. Karena itu dari tepian, tampak bagian bawahnya jurang. Di bawah itu ada sebuah jalanan yang berliku-liku berputar. Maka ingatlah It Hiong akan kata-kata si wanita tadi. Tempat itu disebutnya Ceng Lo Ciang dan "cenglo" artinya keong.

Jalanan dibawah itu berputar seperti macamnya sang keong, seperti jalanan kucar. Kalau ia ambil jalan itu, mungkin ia akan kembali kepada si wanita. Maka ia lantas mengambil jalan lalu. Dengan satu gerakan pesat, tubuhnya mencelat tinggi tiga tombak, meluncur ke lain arah, hingga ia berada di bawahnya lainnya dinding puncak. Itulah lompatan Gie Kiam Sut.

Di bawah dinding puncak itu terdapat sebuah kali kecil yang airnya mengalir deras hingga terdengar suara berkericiknya yang berisik, alirannya berliku-liku dan airnya jernih sekali hingga tampak dasarnya. It Hiong menghampiri kali kecil itu, untuk meraup airnya untuk diminum hingga beberapa kali. Air adem sekali, meminum itu rasanya sangat nyaman hingga pikirannya terbuka.

"Jalanan disini sukar" pikir It Hiong kemudian. "Baiklah aku turun ke air dan mengikuti alirannya, mungkin aku akan menemukan jalan keluar "

Pikiran itu diwujudkan. Anak muda kita turun ke air dan berjalan mengikuti alirannya. Ia jalan berliku-liku. Ia merasa jalannya makin lama makin rendah. Selang sekian lama, ia tiba dimulutnya sebuah lembah dimana terdapat banyak batu karang dan pepohonan. Dari lembah itu tampak beberapa puncak. Air kali itu tumplak pada sebuah gua. Dengan begitu aliran itu buntu. It Hiong berdiri diam, otaknya bekerja, telinganya mendengari suaranya air. Untuk jalan di air itu, tak mungkin lagi. Tengah ia berdiam, tiba-tiba ia mendengar suara orang sebentar terdengar sebentar tidak. Sebab itulah suara yang terbawa sang angin dan angin bersiur terputus-putus.

Mendengar suara orang, It Hiong menjadi bersemangat. Ia mendapat harapan walaupun ia belum tahu orang itu jahat atau orang itu baik......

Tanpa berpikir lagi, segera ia bertindak menuju ke arah darimana suara datang. Jalanan tidak ada tetapi itu bukanlah soal. Di tanah pegunungan itu memangnya tidak ada jalanan manusia.

Selagi menghampiri itu, kadang-kadang It Hiong mendapat dengar suara. Ia menerka orang berbicara sendiri atau dua orang berbicara saling sahut sembari mereka bersantap. Ia berjalan terus hingga selanjutnya ia mendengar pula suara orang itu. Tak mudah akan melihat lantas orangnya, orang mungkin teraling batu karang yang besar.

"Paha kambing itu gemuk dan empuk." terdengar satu suara, "dan ayam panggang itu gurih sekali. Mari minum, mari minum !"

It Hiong heran, tak dapat ia mencari orang itu, suaranya terdengar terang, orangnya tak segera tampak. Ia mesti berputaran mencarinya. Kadang-kadang suara terdengarnya disebelah belakang. Di situ terdapat banyak batu karang, hingga tempat itu seumpama hutan batu.....

"Aneh !" pikirannya. Hampir ia menggempur sebuah batu besar yang menghadang di depannya saking penasaran. Ia membatalkan niat menyerang itu karena ia mendapat pikiran hancuran batu bisa mencelakai orang, baik orang itu orang lihai atau orang biasa saja.

"Ah, kenapa kau tolol begini ?" akhir-akhirnya ia memaki dirinya sendiri.

Segera juga anak muda itu menjejak tanah untuk berlompat mengapung diri naik ke atas sebuah batu karang yang tinggi, hingga dari atas batu itu ia bisa memandang ke sekelilingnya.

"Ah !" serunya pula, kali ini dengan napas lega. Sekarang ia bisa melihat orang yang suaranya ia dengar sekian lama itu.

Di bawah batu besar itu terlihat sebuah tempat sepuluh tombak luasnya, tanahnya rendah. Di sekitarnya orang itu terdapat banyak batu karang yang kecilan. Dia tengah duduk seorang diri. Dialah tua yang berdandan sebagai seorang rahib To Kauw Agama Lo Cu, rambutnya terkundiakan dan tubuhnya tertutup jubah. Dia telah berusia lanjut. Dia duduk diatas sebuah batu hijau, menghadapi setumpukuan "Cio lo" besar dan kecil. Tangan kiri dia itu memegang sepasang sumpit  yang belang bentong dan tangan kanannya menjumput Ciolo, untuk dimakan tak hentinya.

Saban-saban dia bicara seorang diri, bicaranya mirip dua orang bicara satu dengan lain.

"Heran..." pikir si anak muda. Ia melihat orang makan Ciolo "telur batu" dengan lahap sekali. Bagaimana Ciolo dapat dijadikan barang makanan dan dia memakannya begini lahap

? Kalau dia bukannya seorang bajingan, pasti dialah seorang pandai luar biasa yang sedang hidup menyendiri. Biar bagaimana, dia mestinya seorang ahli silat. Tengah dia keheranan itu, It Hiong melihat si orang tua mengangkat cawannya. Dia tidak mengangkat juga kepalanya, untuk berdongak mengawasi kepadanya tetapi dia toh berkata nyaring. "Eh, laote. Kau begini berjodoh, marilah turun kemari

! Maukah kau minum bersama-sama aku ?"

It Hiong heran bukan kepalang. Ia pun dipanggil "lao te", adik yang tua. Akan tetapi ia tertarik hati dan ia pun tidak takut. Tanpa ragu pula, ia lompat turun akan menghampiri orang tua itu, untuk berdiri sejarak tiga kaki terpisahnya.

Ia lantas mengangkat kedua tangannya untuk memberi hormat sambil berkata : "Maaf, totiang. Aku yang muda ialah Tio It Hiong. Aku menyesal telah datang kemari hingga aku mengganggu ketenangan totiang."

Rahib itu memandangi si anak muda, lantas ia menunjuk sebuah batu disisinya sambil tersenyum ia berkata : "Laote, silahkan duduk. Aku si oarang tua masih mempunyai sisa dua potong paha kambing. Itulah tepat buat dipakai mengundang tetamu bersantap bersama !"
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(