Iblis Sungai Telaga Jilid 29

 
Jilid 29

Sia Hong dan Lam Hong Hoan berdiri melongo, mengawasi lawannya kabur. Mereka tidak dapat mengejar. Selekasnya halimun racun itu lenyap, maka lima sosok tubuh lantas berlari-lari turun gunung, larinya sangat cepat. Merekalah orang-orang yang paling prihatin terhadap Tio It Hiong, Cio Kiauw In, Pek Giok Peng, Tan Hong dan Siauw Wan Goat, yang kelima ialah si pemuda Cukat Tan, yang paling mengagumi Tio It Hiong !

Sementara itu sunyilah medan pertempuran. Dengan berlalunya Gak Hong Kun si pengacau, pertempuran juga telah tidak dilanjuti lagi. Lam Hong Hoan menghela nafas melihat gadis seperguruannya itu kabur menyusul Tio It Hiong, terus ia menoleh berniat kembali kepada rombonganya, rombongan kaum sesat atau ia lantas menjadi berdiri melongo !

Kiranya rombongan itu sudah mengangkat kaki secara diam-diam, tak seorang juga yang tinggal ! Yang menjadi kecuali ialah Teng Hiang yang lagi menangis sedih sambil memeluki tubuhnya Thian Cie Lojin dan Cek hong-cu Cin Tong dari Hek Keng To bersama Bok Cie Lauw lagi berdiri diam disisi mereka. Beberapa orang yang roboh karena racunnya Gak Hong Kun telah tiada pula.

Kapan Kiu Lam It Tok menyaksikan semua itu, dia mendongkol sekali. Dia bukannya mengumbar hawa amarahnya, dia justru tertawa terbahak-bahak. Dia lantas memberi hormat kepada Lam Hong Hoan sambil berkata : "Sampai jumpa pula !" Terus dia pun lari mengangkat kaki.

Lam Hong Hoan bertindak menghampiri Teng Hiang.

"Nona Teng, bagaimana kau hendak urus mayat gurumu ini

?" tanyanya.

Teng Hiang menepas air matanya.

"Bukankah lebih baik akan menguburnya di puncak Koan JIt Hong ini ?" katanya menjawab pertanyaan itu. "Dengan begini, sekalian kuburannya dapat dijadikan peringatan peristiwa di sini !" Lam Hong Hoan mengangguk lalu dengan dibantu Cia Tong dan Bok Cie Lauw, ia menggali tanah buat mengubur Thian Cie Lojin. Mereka memilih tempat di dalam rimba.

Selesai dengan upacara penguburan yang sangat sederhana itu, Hong Hoan mengajak si nona bersama Bok Cie Lauw dan Cin Tong pergi ke tengah lapang, ia menghadapi ke arah barat, ke tempatnya kaum lurus untuk berkata nyaring : "Aku minta Pek Cut Taysu dari Siauw Lim Sie keluar untuk bicara."

Ketika itu pihak lurus tidak lantas meninggalkan tempat pertemuan dan Pek Cut Taysu repot membantu In Gwa Sian dengan menggunakan "Tay Poan-jiak Siam-kang" yaitu ilmu keagamaan Prajna besar, jalan darah dan pernapasannya si pengemis dibuat lurus hingga dia sadar dari pingsannya. Dia mendengar suaranya Hong Hoan, di saat itu dia letih sekali sebab ia mesti menguras semua tenaga dalamnya. Tapi dialah pemimpin disitu dan dia yang diminta, terpaksa tanpa menanti beristirahat dahulu, dia muncul dengan dipayang Liauw In dan Ang Sian berdua. Dia bertindak perlahan-lahan. Kapan dia sudah melihat Hong Hoan berempat itu, dia kata sabar. "Pertemuan besar ini tak perduli siapa yang kalah, dengan ini telah ditutup, karena itu Lam sicu ada pengajaran apakah lagi dari diri kalian ?"

Dengan tampang sungguh-sungguh, dengan suara keren Lam Hong Hoan berkata : "Dalam pertempuran ini tanpa dijelaskan pula, terang pihak kami yang kalah, tetapi kali ini ketua kami dari To Liong To tidak dapat hadir. Karena itu  kelak di belakang hari, pastilah To Liong ToCit Mo akan mencari kalian untuk mencari keputusan ! Pendeta tua, kau mempunyai nyali atau tidak akan menerima tantangan kami ini

?" Pek Cut Taysu memuji sang Buddha. "Bukankah kita sama- sama orang rimba persilatan ?" katanya bertanya. "Kenapakah permusuhan hendak terus menerus diperpanjang ? Demi menghindarkan bencana rimba persilatan, bukankah lebih baik untuk menanggalkan itu ?"

Tapi Lam Hong Hoan tetap gusar, kata dia bengis : "Sakit hati dari kebinasaannya Locianpwe Thian Cie Lojin serta penasaran dari terkutungnya tangan dari Yan Tio Siang Bian, dapatkah itu dihabiskan dengan kata-kata sederhana seperti kata-katamu ini ? Inilah hutang darah yang mesti kami tagih. Lain tahun pada hari ini ketua dari To Liong To pasti akan memimpin orang-orang gagah dari luar lautan datang ke kuil Siauw Lim Sie kalian di Siong San guna membuat perhitungan

! Pendeta tua, kau lihatlah !"

Habis mengucap itu Lam Hong Hoan lantas mengajak Teng Hiang bertiga berlari-lari turun gunung. Pek Cut Taysu menarik nafas melihat orang berlalu itu. Dengan munculnya sang surya, dengan cahayanya terang dan hangat lembut maka sekarang pulihlah keremangan puncak Koan JIt Hong seperti sedia kala.

Habis memandangi cuaca Pek Cut Taysu berkata kepada Ang Sian Siang-jin, menyuruh adik seperguruan itu menitahkan beberapa orang murid pergi mencari kayu, bambu dan rotan untuk membuat semacam joli guna mengangkut In Gwa Sian pulang. Ang Sian Siangjin menyahuti, lantas ia pergi untuk bekerja.

Bersama Liauw In, Pek Cut Taysu kemudian menghampiri rombongannya yang tengah berkumpul di kaki puncak, diatas tanah yang penuh berumput, setelah memandang semua orang, ia berkata : "Dengan bantuan besar dari tuan semua, dalam pertemuan ini kita memperoleh kemenangan, walaupun kemenangan kecil. Hanya kejadian ini sayang belum bisa menghapuskan bencana rimba persilatan. Thian Cie Lojin telah menerima bagiannya tetapi In Losicu In Gwa Sian telah mendapat luka parah. Hal ini amat mendukakan pihak kita, sedangkan barusan, Lam Hong Hoan sudah mengancam dengan tangannya. Memang benar kita tak usah takut tapi pun benar bahwa kita harus waspada. Karena itu tuan-tuan, lolap memohon kerja sama lebih jauh dari kalian, untuk kita berjaga-jaga supaya kita jangan mengijinkan ada bajingan yang menyelusup ke Tionggoan untuk membuat kekacauan.

Tuan-tuan, disaat kita bakal berpisah ini, tolong kalian memberikan petunjuk kalian, petunjuk-petunjuk yang ada faedahnya untuk kita semua."

Sang Hiang Tojin berbangkit, ia mengangguk memberi hormat. "Harap janganlah kau sungkan, Toheng," berkata rahib itu. "Buat menghindari bencana rimba persilatan, kami takkan menampik segala apa. Dengan ini kami berjanji, asal kami menerima surat dari Toheng, segera pinto akan memimpin anggota kami untuk datang menerima segala titah. Nah, toheng, perkenankanlah kami meminta diri !"

Benar-benar Sang Hiang mengajak rombongannya berlalu setelah mereka memberi hormat pada Pek Cut Taysu beramai. Lalu Pauw Pok Tojin dari Beng Shia Pay berbangkit dan sembari memberi hormat kepada Pek Cut Taysu, ia berkata : "Pinto mohon bertanya, bagaimana dengan Tio It Hiong murid pandai dari Tek Cio Totiang ? Gerak gerik dia menjadi satu teka teki ? Kenapa dia sebentar palsu, sebentar asli ? Kuil Leng Siauw Koan kami telah dikacau olehnya serta beberapa muridku pun terbinasa dan dilukai. Pinto minta sukalah Toheng membuat penyelidikan, supaya kutu busuk kaum rimba persilatan itu bisa disingkirkan. Buat ini lebih dahulu pinto menghaturkan banyak terima kasih. Nah, Toheng, ijinkanlah kami mengundurkan diri !"

Imam itu lantas mengajak rombongannya memberi hormat, terus mereka pergi turun gunung.

Pek Cut Taysu membalas hormat, ia mengucap terima kasih seraya memberi selamat jalan. Habis itu, ia tampak masgul.

Itulah karena soal Tio It Hiong yang membingungkan itu.

"Jika benar semua kejahatan itu diperbuat oleh anaknya itu, akan aku binasakan dia !" berkata In Gwa Sian yang gusar bukan main.

"Sobat Losicu," Pek Cut Taysu menghibur pendeta itu yang baru terasadar itu, tak selayaknya si pengemis bergusar. "Sekarang ini baiklah Losicu merawat diri lebih dahulu. Akan lolap membuat penyelidikan, guna membikin soal menjadi terang dan jelas."

Sampai disitu, para tetamu atau kawan lainnya berganti memohon diri, buat berpamitan hingga mereka tak usah kembali dahulu ke kuil. Dilain saat, Ang Sian Siangjin sudah kembali bersama joli daruratnya. Diwaktu naik ke joli, In Gwa Sian tidak melihat Kiauw In dan Giok Peng, ia tanya kemana perginya nona-nona itu.

"Mereka lagi menyusul Tio Sicu." Pek Cut Taysu memberikan keterangan.

Lantas mereka turun gunung, buat berjalan pulang.

Sementara itu Kiauw In berlima, setibanya mereka di kaki puncak, mereka telah kehilangan orang yang disusulnya.

Mereka tak dapat menyandak tadi sebab mereka tidak berani datang terlalu dekat, mereka jeri terhadap bubuk beracun yang jahat dari pemuda yang dicurigai itu.

"Sudah, adik, tak usah kita menyusul terus." kata Kiauw In kemudian sambil ia menahan larinya Giok Peng. "Paman In terluka parah, mari kita melihat padanya, mari kita pulang !"

"Di sana ada Pek Cut Taysu yang merawati, aku percaya luka Paman In tidak berbahaya," kata Nona Pek. "Aku berpikir buat menyusul lebih jauh, buat melihat bagaimana sebentar."

Ketika itu Tan Hong, yang lari belakangan, menyandak kedua nona. Ia memberi hormat dan berkata : "Kakak, kenapa kakak berhenti disini ? Bagaimana penglihatan kakak, apakah benar ia tidak Hiong yang terkena racun hingga tabiat atau kelakuannya menjadi berubah demikian rupa ?"

Berkata begitu, Tan Hong hanya memandang Kiauw In, tak terhadap Giok Peng.

Giok Peng memandang tajam kepada Tan Hong, bukannya dia menjawab pertanyaan nona itu, bahkan ia dengan suaranya yang tak sedap berkata : "Kau bersama adik Hiong telah pergi bersama ke Ay Lao San, apakah kau bikin di sana ? Bukankah kau yang membujukinya hingga dia menjadi berubah demikian macam ? Aku justru hendak meminta keteranganmu !"

Bukan main berdukanya Tan Hong. Ia bermaksud baik, orang keliru menerimanya. Terhadap nona Pek, tak dapat dia bergusar menuruti tabiatnya. Maka itu, dia menjadi sedih sendirinya.

"Tentang kepergianku ke Ay Lao San bersama adik Hiong," kata ia sambil menangis, "ada suheng Whie Hoay Giok serta cianpwe Beng Kee Eng yang mengetahuinya. Kalau kakak salah mengerti, silahkan kakak tanyakan mereka itu berdua."

"Hm !" Giok Peng membentak. "Merekalah orang laki-laki, mana mereka ketahui tentang kepandaianmu, budak setan ? Kalau sampai terjadi sesuatu atas dirinya adik Hiong kau yang harus bertanggung jawab !"

Tan Hong berdiam, dia menangis sedih sekali hingga tubuhnya menggigil.

Kiauw In berkasihan melihat orang demikian berduka. Ia berkesan baik sekali terhadap nona itu yang seperti dia, sangat mencintai Tio It Hiong. Dia menghampiri, akan menggenggam tangan orang. " Nona Tan, janganlah kau berduka karena kata-katanya adik Giok Peng." ia menghibur. " Kita bertiga toh memikir sama semua buat kebaikannya adik Hiong. Apakah kau pun ada soal, bukankah baik untuk kita mengatakannya dengan sejujurnya ?"

Berkata begitu Kiauw In menarik Giok Peng. "Adik Peng, janganlah kau salah paham terhadap Nona Tan" kata ia pula. "Nona ini pun telah berjasa kepada adik Hiong."

Tadi Giok Peng tengah panas hati, dia bicara keras, sekarang melihat sikapnya Kiauw In dengan luwes, dia sadar. Dia malu sendirinya. Dia memangnya jujur.

"Barusan aku berbuat salah." kata dia mengakui. "Itu semua sebab kecerobohan kakakmu ini, maka itu suka apalah kau memakluminya."

Tan Hong bersyukur mendengar kata-kata halus dari Kiauw In, sekarang ia mendengar Giok Peng meminta maaf. Legalah hatinya, hilang kesedihannya. Ia lantas menepas air matanya. "Terimakasih kakak berdua, kalian sangat menyayangi aku." kata dia yang lantas dapat bersenyum. "Kakak, Tan Hong akan ukir kebaikan kalian ini dalam hatinya. Demi adik Hiong, aku tak akan mundur walaupun aku mesti menghadapi lautan api ! Kakak apakah ajaran kakak untukku ?"

"Buat mencari adik Hiong, usaha kita harus dipecah menjadi dua." kata Kiauw In. "Pertama-tama kita harus cari tahu dimana adik Hiong sekarang ini, terutama guna mengetahui tentang keselamatan dirinya. Yang kedua ialah memberi tahu siapa sebenarnya orang muda tadi. Segala ia sama dengan adik Hiong kecuali gerak geriknya. Kalau dia benar adik Hiong, dia tentunya menjadi korban semacam obat atau racun yang merusak sifat asalnya. Di dalam hal ini, ia membutuhkan pengobatan dan perawatan yang cepat dan tepat. Nah, bagaimana kalian pikir ?"

"Baik rupa maupun pakaiannya, orang itu tidak ada bagian- bagiannya yang mencurigai," kata Giok Peng, "apa yang beda ialah caranya dia menyamai adik Hiong. Sebenarnya aku bingung sekali."

Kiauw In diam berpikir sampai dia ingat satu hal. "Adik Tan." katanya kemudian kepada Tan Hong, "coba kau tuturkan hal ikhwal kalian semenjak atau selama kalian pergi ke Ay Lao San sampai peristiwa yang paling akhir yang kau ketahui. Kau ceritakan segala apa dengan jelas, mungkin dari situ dapat memikir sesuatu."

Berkata begitu nona Cio mengajak kedua kawan itu pergi berduduk di atas batu di tepi gunung.

Tan Hong mengikuti, dia duduk dibatu. Lebih dahulu dia merapikan rambutnya yang kusut tertiup angin. Dia pun tunduk dahulu mengingat-ingat. Setelah itu baru dia memberikan keterangannya. Dia menutur segala apa dengan jelas terutama disaat mereka mau berpisahan sebab Tio It Hiong pergi mendaki gunung seorang diri guna menggempur kaum Losat Bun.

"Sejak itu aku tidak tahu apa-apa lagi mengenai adik Hiong" kata ia kemudian. "Adalah kemudian di Liong Peng aku bertemu pemuda yang mirip adik Hiong itu dan malamnya dirumah penginapan dia datang menyerbu cianpwe Beng Kee Eng hingga aku mengejarnya. Hampir aku bercelaka ditangannya. Aku terkena bubuknya yang jahat, yang membuatku roboh tak sadarkan diri. Dia membawa aku ke sebuah gubuk dimana aku secara kebetulan ditolongi Lam Hong Hoan. Belakangan lagi di kecamatan Iap lee di rumah penginapan aku bertemu dengan Siauw Wan Goat yang kena diakali oleh pemuda itu, dia telah dicemarkan dan dilukai."

Tan Hong menghela nafas. "Adik Hiong menjanjikan aku buat kami bertemu pula di gunung Tay San." ia menyambungi akhirnya. "Adik Hiong jujur, dia pasti memegangi janjinya.

Disamping itu dia benci perbuatan jahat, aku percaya dia pasti akan menghadiri pertemuan besar itu, sebab itulah saatnya guna mengakhiri bencana rimba persilatan. Tapi malam ini, adik Hiong tidak hadir. Hal itu membuatku bingung dan berkuatir."

Dua-dua Kiauw In dan Giok Peng berpikir keras, mereka berkuatir dan bingung. Itulah sebab Tio It Hiong mendaki gunung Ay Lao San seorang diri. Sekian lama mereka berdiam saja.

Tan Hong juga terus membungkam. "Setelah mendengar penuturan kau, Nona Tan," akhirnya Kiauw In berkata : "aku berkesimpulan pemuda di Kuan JIt Hong tadi bukanlah adik Hiong, dia pasti seorang lain yang memalsukan dirinya. Dia pula bukannya orang dari golongan sesat yang hendak mengacau. Dia mestinya musuh dari adik Hiong yang menyamar dan bertindak guna menimpakan segala dosa kepada adik Hiong !"

Giok Peng dan Tan Hong mengawasi nona itu. "Bagaimana kakak," tanyanya, "bagaimana sekarang ?"

"Menurut aku, baik kita bekerja dengan memisah diri." sahut nona Cio. "Adik Tan, coba kau pergi ke Ay Lao San guna membuat penyelidikan di sana guna mencari jejaknya adik Hiong. Aku bersama adik Peng, aku akan pergi menyelidiki pemuda yang mencurigai itu. Setelah setengah bulan, kita akan bertemu pula di rumah di belakang gunung Siong San itu. Apakah kalian setuju ?"

Tan Hong adalah wanita Kang Ouw, dia lompat bangun paling dulu.

"Akan aku turut perintahmu, kakak !" katanya pada Kiauw In. "Nah, adikmu berangkat lebih dahulu ! Sampai kita berjumpa pula !"

Ia lari turun gunung, akan terus menghilang cepat.

Giok Peng mengawasi orang berlari-lari. "Ah, anak tolol !" katanya tertawa.

"Dia sudah tahu bahwa adik Hiong sudah mempunyai kau dan aku, kakak. Kenapa dia masih tergila-gila demikian rupa ? Memangnya di kolong langit ini sudah tidak ada pertanyaan lagi ?"

Kiauw In tersenyum, matanya melirik nona itu. "Inilah mungkin yang dibilang hutang dari limaratus tahun dahulu !" kata ia sabar. "Adik Tan itu bolehlah dikata seorang yang harus dikasihhani. "

Giok Peng mengawasi kakak itu. "Tetapi kakak." katanya. "Disisi pembaringan kita, dapatkah kita membiarkan lain orang tidur menggores ? Kakak bicara dengan seenaknya ! Kakak berpura menjadi orang baik hati !"

Kiauw In tidak melayani bicara, ia hanya menengadah langit. Sang waktu berjalan terus.

"Mari !" ia mengajak adik itu.

Giok Peng mengikuti, maka pergilah mereka berdua.

Ke empat nona itu dan Cukat Tan telah jadi permainannya Gak Hong Kun. Dia tahu dia dikejar, itulah artinya berabe.

Maka setibanya di kaki gunung, dia menyelinap ke samping, masuk di tempat pepohonan lebat dimana ada batu karang yang besar. Di situ tanpa terlihat dari sebelah luar, dia merebahkan diri. Sempat dia melihat lewatnya lima orang yang mengejarnya itu, hampir dia keluar dari tempat persembunyiannya, akan menyusul Giok Peng sebab melihat nona Pek timbul pula cinta bahkan jelusnya hingga dia ingin memiliki nona itu. Dia membatalkan niatnya itu sebab lantas dia melihat datangnya Lam Hong Hoan sekalian kemudian beruntun yang lain-lain, yang meninggalkan puncak Koan JIt Hong. Baru sesudah semua orang lewat, dia keluar dari tempatnya bersembunyi itu. Selama itu dia rebah saja. Setelah tiba di jalan umum, dia berlari-lari, niatnya menyusul Giok Peng.

Sementara itu Cukat Tan sudah berlaku cerdik. Sesudah menyusul sekian lama tanpa hasil, timbullah kecurigaannya hingga ia berpikir : "Mengimbangi dengan lari kita, tak mungkin orang itu tak dapat disusul. Mestinya dia bersembunyi di tengah jalan. Baik aku tungu dia disini. " Dan

ia pergi ke tepi jalan dimana terdapat gerombolan rumput tebal dan tinggi, disitu dia menyembunyi-kan diri.

Tak lama terlihatnya orang-orang yang berjalan pulang dari tempat pertemuan. Paling belakang, terlihat juga orang yang dicarinya, berlari-lari melewatinya. Ia puas sekali. Diam-diam ia lantas menguntit.

Tio It Hiong palsu baru berhenti berlari dan berjalan perlahan, itu sudah magrib. Dengan berani dia memasuki kota karena dia menerka Giok Peng semua singgah di dalam kota itu. Dia ingat pelajaran yang dapat dari Koay To Ciok Pek dikota Kay hong ketika diserang, maka dia takut menemui orang, kuatir nanti menjadi berabe. Dia sengaja mencari sebuah jalan yang sepi serta rumah penginapan kecil dan buruk perlengkapannya.

Cukat Tan terus membuntuti dan ia pun singgah di penginapan itu. Dengan demikian terus ia bisa memasang mata.

Perhatiannya anak muda she Cukat itu terlalu dipusatkan kepada pemuda yang ia bayang itu, diluar tahunya ditengah jalan tadi ia terlihat oleh Teng Hiang, si nona yang pikirannya menjadi kacau sebab kematian gurunya, hingga ia menjadi sebatang kara. Dia telah memisah diri dari Lam Hong Hoan. Melihat si anak muda, semangatnya menjadi terbangun. Sejak di tempat pertandingan tadi, dia sudah sangat tertarik oleh pemuda yang tampan itu yang kepandaian pedangnya dia telah uji sendiri. Dia lantas mengikuti dan masuk juga di penginapan yang sama. Hanya dia tak mau berlaku sembrono akan segera menyapa pemuda itu.

Cukat Tan baru mendapat tahu orang menguntitnya setelah mereka sudah memasuki rumah penginapan. Ia tidak tahu maksud orang tetapi ia bercuriga maka diam-diam ia berwaspada. Ia pula berpura tak lihat nona itu. Teng Hiang mendapat meja di sebelah timur karena Cukat Tan duduk di meja sebelah barat. Tetapi setelah beberapa tetamu berlalu dia pindah ke dekat meja si anak muda.

Habis memesan barang makanan, diam-diam Teng Hiang mengawasi si anak muda. Dimatanya, pemuda itu tampan sekali, hingga hatinya menjadi sangat tergiur. Hingga ingin dia supaya anak muda itu segera berada didalam rangkulannya.

Dia lantas berpikir keras. Apa daya akan dapat berbicara dengan pemuda itu. Mereka ada dari laIn Golongan bahkan baru saja mereka bertempur sebagai lawan satu dengan lain. Dia sebenarnya cerdas, hingga dia dapat "merokoki" It Hiong dengan Giok Peng, tetapi buat urusannya sendiri ini, pikirannya menjadi ruwet. Sulitnya ialah dia mau menjaga derajat supaya si pemuda tidak mengatakan centil dan ceriwis.

Cukat Tan minum seorang diri, ia pun berpikir keras. Ketika itu, orang yang dikuntit dan diintainya menyekap diri di dalam kamar. Satu kali ia menuang araknya malahan hingga terkena bajunya. Teng Hiang tertawa melihat orang kelabakan sebab bajunya terkena arak itu.

Cukat Tan terperanjat mendengar si nona tertawa, ia menoleh. Teng Hiang mengawasi pemuda itu hingga sinar mata mereka berdua seperti beradu satu sama lain. Ia tersenyum, ia memperlihatkan wajah manis.

Cukat Tan hendak membersihkan bajunya waktu ia mendapati sebuah saputangan dilemparkan kepadanya dan si nona berkata sambil tertawa : "Kau susutlah dengan saputangan ini ! Sebenarnya arak tidak membuat orang sinting, hanya oranglah yang sinting sendirinya !'

Si pemuda menyambuti saputangan itu, ia menyusuti bajunya, kemudian setelah memerasnya kering, ia bertindak menghampiri si nona.

"Terima kasih !" katanya sambil mengembalikan saputangan itu.

Teng Hiang tertawa.

"Kita sama-sama orang Kang Ouw, jangan kita berlaku sungkan !" katanya manis. "Ya, kalau kita tidak bertempur, kita tak bakal kenal satu pada lainnya ! Cukat kongcu, kiranya kau baru sampai disini !"

"Kongcu" adalah panggilan terhormat tuan untuk seorang muda.

Cukat Tan tertawa. Di dalam keadaan seperti itu, tak dapat ia berlaku bengis atau memusuhkan si Nona Tanpa alasan.

"Maaf, Nona Teng Hiang !" ia berkata. "Nona pun singgah disini ?"

Teng Hiang mengangguk. Itulah pembicaraan permulaan mereka, lantas selanjutnya mereka dapat memasang omong tanpa canggung lagi. Teng Hiang demikian pandai membawa diri hingga lenyaplah keragu-raguan pemuda itu terhadap dirinya. Ia memangnya tidak bermaksud jahat bahkan baik. Sebab ia ingin mencapai cinta kasihnya si anak muda.

Dari berpisah meja, berdua mereka lantas duduk bersama- sama. Dan mereka makan dan minum sampai cukup setelah mana Cukat Tan kena dibujuk akan memasuki kamar si nona, buat mereka melanjuti memasang omong dengan asyik.

Banyak soal yang dibicarakan sampai kepada halnya Tio It Hiong.

Cukat Tan dengan polos mengutarakan kekagumannya terhadap Tio It Hiong, akan kemudian ia tanya nona di depannya itu : "Nona, kau telah banyak menjelajah, apakah kenal Tio It Hiong ?"

Sebelumnya menjawab, si nona tersenyum dan melirik si anak muda. "Ah, kenapa kau masih saja memanggil aku nona, nona lagi ?" katanya. Ia menegur tetapi tidak gusar. "Apakah dengan begitu kau tak kuatir derajatmu akan turun ? Memang pergaulan kita masih sangat baru tetapi aku merasa kita sudah sangat akrab satu dengan lain, maka itu aku tak menyukai panggilanmu ini ! Tak dapatkah kau memanggil kakak kepadaku ?"

Cukat Tan melengak. "Dia asal sesat tetapi begitu rupa kita saling berbahasa, apakah kelak guruku tak akan menegurku ?" pikirnya bingung. "Hebat kalau aku dipersalahkan. " Tapi si

nona cantik sekali dan suaranya merdu maka tergeraklah "hati batunya", ia berpikir keras hingga tak dapat ia segera memberikan jawabannya. Teng Hiang mengawasi, dia tertawa terus dia menepuk bahu orang.

"Bagaimana, eh ?" tanyanya, "Menyebut kakak saja begini susah ! Apakah kau memandang hina kepadaku ?"

Tiba-tiba si nona menjadi sedih, air matanya meleleh keluar. Itulah perubahan sejenak, itu pula kepandaiannya seorang wanita yang cerdik.

Tak dapat Cukat Tan mempertahankan diri lagi. "Kakak !" panggilnya. "Kakak, kau. "

Bukan main girangnya Teng Hiang tetapi ia tidak segera utarakan itu pada wajahnya. Perlahan-lahan ia mengangkat mukanya, menatap anak muda itu.

"Adik, apakah katamu ?" tanyanya.

"Aku menyesal, kakak." sahut si anak muda itu. "Aku menyesal telah membuatmu berduka." Ia nampaknya likat.

Teng Hiang tersenyum.

"Tak akan aku sesalkan kau, adik." bilangnya. "Adik yang baik, jangan kau pikirkan itu. "

Pemuda itu mengawasi lampu, ia berdiam saja. Teng Hian pun berdiam, ia cuma mengawasi, lewat sesaat barulah ia memecahkan kesunyian itu.

"Eh, adik, bukankah tadi kau menanyakan aku tentang Tio It Hiong ?" tanyanya.

Cukat Tan melengak, ia bagaikan baru mengingat sesuatu. "Ya, kakak." sahutnya. "Aku menanya kau kenal Tio It Hiong atau tidak. "

Mendengar disebutnya nama Tio It Hiong, Teng Hiang masgul. Lantas ia ingat peristiwa pada suatu malam di Lek Tiok Poo, itulah ketika ia menempur salah seorang lawan dan jatuh dari atas genting tetapi Tio It Hiong menyanggah tubuhnya hingga ia kena terpeluk dan menjadi tak kurang suatu apa, itulah kejadian yang tak dapat dilupakan. Itulah suatu budi.....

Masih ada suatu hal lain yang Teng Hiang ingat benar.

Itulah katanya Tio It Hiong bahwa si anak muda akan memperlakukan ia sama seperti terhadap Pek Giok Peng. Kata-kata itu ia mengartikan banyak, itulah kata-katanya seorang pria pada seorang gadis belia, Itu waktu pun Tio It Hiong, si anak muda memanggilnya "adik" itu pun yang menyebabkan ia berduka dan kabur dari Lek Tio Po sebab dia merasa tak mungkin ia melayani pemuda itu bersama-sama Giok Peng yang mudah jelus itu. Maka ia kabur dan kebetulan sekali ia bertemu dengan Thian Cie Lojin si jago tua yang lihai hingga ia berguru padanya. Sekarang gurunya menutup mata dan ia menjadi sebatang kara pula. Tapi ia tidak takut merantau seorang diri. Ia telah berpengalaman dan bernyali besar. Selama mengikuti Giok Peng merantau, ia sudah melihat dan mendengar banyak. Tapi sekarang di depannya itu ada seorang pemuda lain yang tak kalah tampan dan gagahnya. Pikirannya lantas berubah.

"Tio It Hiong ?" dia menegaskan tiba-tiba, lalu dia tertawa. "Bukan saja kakakmu ini mengenalnya,  bahkan  kami pernah. " Mendadak saja budak bengal ini berhenti bicara. Hampir ia membuka rahasianya. Syukur ia lantas ingat peristiwa itu bisa membangkitkan kesan tak baik dalam hatinya Cukat Tan.

"Apakah itu kakak ?" tanya Cukat Tan polos.

"Kami pernah berkenalan, dalam waktunya pendek sekali." sahut si nona yang terpaksa menderita.

"Kakak" tanya pula si anak muda, "Kalau kakak kenal dia kenapa kemarin ini di Koan JIt Hong, kakak tidak menyapanya. Aneh bukan, Tio It Hiong justru bertempur dengan tunangan atau istrinya ! Aku maksudkan dengan Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng. Hal itu membuatku heran sekali. "

Teng Hiang mau menunjuki pengetahuannya yang luas, ia juga ingin membuat senang anak muda itu, ia lantas menjawab perlahan, "Kau tidak tahu adik didalam dunia Kang Ouw terdapat banyak sekali akal muslihat yang licik ! Di atas puncak Koan JIt Hong itu dapat orang menyamar dan menipu orang lain tetapi tidak kakakmu ini !"

Cukat Tan heran, ia mendelong menatap nona cantik manis di depannya itu.

"Ah, kakak maksudkan dialah Tio It Hiong palsu ?" tanyanya. "Habis kakak, siapakah dia sebenarnya ?"

"Dialah Gak Hong Kun, murid dari Heng San Pay !" "Gak Hong Kun ?" Cukat Tan mengulangi nama orang.

Mendadak saja pintu jendela terpentang, satu tubuh berloncat masuk, sebatang pedang menyambar pada nona Teng, sembari menyerang secara mendadak itu, si penyerang pun memperdengarkan suara bengis : "Teng Hiang budak bau, kau cari mampus ya ?"

Kaget Teng Hiang juga Cukat Tan tetapi sempat mereka berlompat memisahkan diri, menyingkir dari ujung pedang itu, setelah mana mereka menghunus pedangnya masing-masing. Keduanya balik mengawasi si penyerang gelap itu. Mudah saja akan mengenali orang ialah Tio It Hiong si pengacau puncak Koan JIt Hong.

"Kau siapa ?" Cukat Tan menegur.

"Jangan usil aku siapa !" sahut orang itu membentak. "Gak Hong Kun !" berkata Teng Hiang yang tidak takut.

"Jangan kau main gila ! Apakah kau sangka rahasiamu dapat

ditutup terhadap Teng Hiang ?"

Hatinya Gak Hong Kun tergetar. Dia memang paling takut orang membeber rahasianya.

Tapi dia tidak takut, sebaliknya dia jadi membenci Teng Hiang juga Cukat Tan. Maka muncullah keinginannya untuk menyingkirkan sepasang muda mudi itu. Tapi dia licik sebelum dia turun tangan ingin dia mengorek dahulu keterangannya nona itu.

Berapa banyak si nona telah mengetahui rahasianya. Maka ia tertawa terkekeh-kekeh. "Eh, budak bau, jangan kau menghina orang." tegurnya. "Apakah kau sangka tuan besarmu benar takut akan ancamanmu ini ? Nah, kau bicaralah !" Kecerdikannya Teng Hiang tak kalah dari kecerdikannya si anak muda, ia menangkap maksud hati orang. Ia kata jumawa. "Sudah cukup bagiku yang aku ketahui kaulah orang Tio It Hiong palsu ! Buat apa bicara banyak pula ?"

Cukat Tan gelap bagi tampangnya Tio It Hiong dan Gak Hong Kun berdua. Sekarang ia hanya merasa pasti bahwa orang adalah It Hiong palsu. Maka itu ia terus mengawasi tajam anak muda di depannya itu yang matanya bersinar mengandung sifat kekejaman atau kegemaran akan pembunuhan. Diam-diam ia merasa bergidik sendirinya.

Diam-diam pula ia melirik dan mengedipi mata pada Teng Hiang, mengisikkan untuk si nona berwaspada. Gak Hong Kun ingin membinasakan dua orang muda ini tetapi ia masih memikirkan bagaimana caranya. Berat usahanya kalau muda mudi itu bekerja sama. Kepandaiannya Teng Hiang ia telah ketahui, tidak demikian kepandaiannya Cukat Tan. Maka ia pikir baik ia ancam saja Teng Hiang.

"Ah, kenapa aku lupa" pikirnya kemudian, mendadak ia ingat sesuatu. "Bukankah selama di Heng San pernah dia menunjukkan cintanya padaku ? Kenapa sekarang aku tidak mau pakai itu sebagai umpan ? Dengan mendapati tubuhnya, aku pun bisa terus peralat padanya."

Setelah memikir begitu, Gak Hong Kun lantas merubah sikapnya.

"Adik yang baik" katanya sabar, "bukankah kau telah melihat sendiri bagaiman Tio It Hiong telah merampas pacar orang ? Habis kenapakah kau hendak membantunya buat membuka rahasiaku ? Coba kau pikir apakah kebaikannya Tio It Hiong terhadapmu." Teng Hiang mengawasi dengan berdiam saja. Ucapan itu memang membangkitkan cintanya terhadap Tio It Hiong.

Gak Hong Kun pandai melihat selatan. Ia sudah maju satu tindak, hendak ia maju lebih jauh. Ia tertawa dan kata pula, "Demikan, adik aku jadi gemar berdandan sebagai dianya. Aku ingin menarik perhatian supaya kau makin mencintai aku !

Nah, demikian rupa aku menggilai kau, adik, kau tahu atau tidak ?"

Coba Gak Hong Kun bersikap begini sebelumnya Teng Hiang bertemu dengan Cukat Tan, pasti akan mudah saja ia dapat merebut hati si nona. Sekarang tidak. Bahkan sikapnya itu menimbulkan kesan sebaliknya. Teng Hiang justru menerka orang mau merusak pergaulannya dengan pemuda she Cukat itu.

"Apakah artinya penyamaranmu ini ?" tanya si nona tawar. "Apakah artinya semua perbuatanmu itu ? Kau bicara begini rupa terhadap aku, berapa tebal mukamu ? Apakah kau tak kuatir orang justru membencimu ?"

Gak Hong Kun terkejut. Tak dia sangka bahwa dia bakal dapat perlakuan sebaliknya dari pada apa yang dia harap- harap. Dia lantas melirik kepada Cukat Tan saingannya itu !

"Jika kau tak sudi menerima aku, adik, tidak apa." kata ia. "Sekarang aku minta sukalah kiranya kau menyimpan rahasiaku ini."

"Atas nama persahabatan kita dahulu hari !" "Kalau kau menampik, hm !" Tak puas Teng Hiang. Orang bicara tak karuan. Kata- katanya orang itu pula dapat menggoncangkan kepercayaannya Cukat Tan ! Kalau anak muda itu bercuriga ? Maka ia mau mencegah.

"Aku Teng Hiang, aku ada seorang putih bersih !" kata ia keras. "Apakah hubungan kau dengan aku ? Kapannya kita bersahabat ? Jangan kau mengoceh saja ! Awas, pedang nonamu tak akan mengampunimu !"

Habis dayanya Gak Hong Kun, habis pula sabarnya.

Mendadak saja dia menghunus pedangnya hingga sinarnya itu berkemilau diseluruh ruang itu.

"Teng Hiang !" bentaknya. "Kau suka menerima atau tidak, terserah kepadamu ! Mengingat persahabatan kita, telah aku memberikan kau satu jalan hidup ! Kau tahu atau tidak, siapa ketahui rahasiaku, dia tak dapat hidup lebih lama pula !"

Cukat Tan menjadi gusar sekali. Orang telah mendesak nona yang ia cintai. Maka bangkit bangunlah sepasang alisnya.

"Kiranya kaulah seorang jahat !" teriaknya. "Kalau kau benar gagah, kau sambutlah beberapa jurusku !"

Begitu ia menantang, begitu si anak muda menyerang. Ia menikam !

"Tahan!" Teng Hiang maju sama tengah. "Kalau kita mau mengadu jiwa, mari kita cari tempat yang sepi. Kita tidak dapat mengganggu ketenteraman disini !"

Itulah yang Gak Hong Kun inginkan. Memang ia takut nanti ada orang lain yang muncul disitu dan orang itu mengenalinya. "Bocah bau," katanya jumawa, "kalau benar kau berani, pergilah kau keluar pintu kota timur, di Go Gu Po ! Ditanjakan itu akan aku nantikanmu untuk mengantarkan kau pergi berpulang. "

Kata-kata itu disusul dengan lontaran tubuh pesat keluar jendela.

Malam itu Gak Hong Kun keluar buat mencari tahu tentang Giok Peng, kebetulan ia melihat api dikamarnya Teng Hiang. Ia lantas datang mencintai, maka lebih kebetulan pula ia menemui pemudi itu bersama si pemuda. Mulanya ia tidak menghiraukan segala apa, hendak mengangkat kaki, akan tiba-tiba ia mendengar namanya disebut-sebut dan Teng Hiang membuka rahasianya. Dalam gusarnya ia lantas masuk kekamar orang, niat membinasakan muda mudi itu atau ia bersangsi sebab ia belum tahu kepandaiannya pemuda she Cukat itu. Pula di dalam penginapan, tak berani ia membuat onar. Keributan bakal merugikannya. Demikian ia menahan sabar dan menantang untuk berkelahi di luar kota.

Hatinya Cukat Tan masih panas, hendak ia melompat menyusul, tapi Teng Hiang menarik ujung bajunya.

"Jangan kena dipancing, adik !" mencegah si nona. "Jangan susul dia !"

"Tadi kita sudah berjanji, kakak." kata si anak muda polos. "Janji kaum rimba persilatan harus dipenuhi. Mana dapat sudah berjanji, tapi kita tidak muncul. "

Teng Hiang tertawa. "Seorang laki-laki tak dapat membiarkan dirinya diperdayakan !" kata ia. "Terhadap manusia jahat, buat apa kita mengukuhi kehormatan kita ? Paling benar kita jangan ladeni dia !"

Tapi Cukat Tan sedang bersemangatnya. "Tetapi, kakak," kata dia, "dapat menyingkirkan seorang jahat juga menjadi salah satu tugas kaum rimba persilatan ! Aku Cukat Tan sekalian saja hendak aku menguji kepandaian orang itu !"

Tak mau Teng Hiang mengadu mulut dengan orang yang dia cintai itu.

"Sungguh kau gagah, adik !" katanya sambil memuji. "Menghormati kepercayaan justru menjadi peganganku, hal itu membuatku gembira. Cuma biar bagaimana harus kita waspada ! Kita harus berjaga-jaga dari akal busuknya !"

Keduanya lantas bersiap, habis memadamkan api, mereka meninggalkan kamar dengan jalan meloncati jendela. Mereka berlari-lari keluar kota. Teng Hiang kira ketika itu sudah jam empat.

Selekasnya muda mudi ini mendekati Go Gu Po, di sana mereka melihat sinar pedang bergerak-gerak bagaikan bayangan memain diantara bayangan pepohonan.

"Mari lekas !" Cukat Tan mengajak. Di sana ada pertempuran, hendak ia melihat siapa mereka itu. Ia perkeras larinya.

Teng Hiang lari keras menyusul pemuda itu.

Diatas tanjakan itu, dua orang tengah bertempur seru, yang satu ialah Siauw Wan Goat dari To Liong To, yang lainnya si Tio It Hiong palsu. Siauw Wan Goat kecewa, bersusah hati dan gusar. Ia telah dipermainkan pemuda itu. Ia jadi nekad dan bersedia mati bersama si pemuda. Sejak di Koan JIt Hong ia mencari anak muda itu, sampai kebetulan ia melihat si anak muda berlari-lari ke pintu kota timur itu. Ia menyusul dan menyandak, ditanyakan itu lantas ia menyerang.

Maka itu bertarunglah mereka berdua.

Siauw Wan Goat berkelahi dengan menggunakan ilmu ringan tubuh dari To Liong To namanya "Kwio Siam Tong Hiang" artinya ilmu "Bajingan berkelit". Ia bergerak-gerak dengan sangat pesat dan lincah dan tidak ada suaranya juga.

Mulanya ditikam Gak Hong Kun dapat berkelit, walaupun itulah bokongan. Inilah sebab dia lihai sekali.

"Kau cari mampus !" dia membentak setelah dia menoleh dan mengenali jago wanita dari pulau naga melengkung itu.

Siauw Wan Goat makin gusar, dia menyerang pula. Maka itu, berdua mereka menjadi bertempur sampai tibanya Cukat Tan dan Teng Hiang. Dalam ilmu silat, Gak Hong Kun menang satu tingkat, tetapi si nona nekad. Dia terdesak maka satu kali, karena ayal sedikit saja ujung pedang si nona sudah berhasil menggores iga kirinya hingga bajunya robek dan kulitnya tergores hingga darahnya mengalir keluar.

Hal ini membuatnya gusar sekali. Belum pernah orang melakukan secara demikian. Maka ia balik menyerang hebat sekali. Ia menggunakan jurus silat "Su Yan Hong In" atau "Badai di Empat Penjuru."

"Traaang," demikian terdengar satu suara nyaring sesudah jurus-jurus dikasihh lewat. Siauw Wan Goat kaget sekali. Pedangnya kena dipapas kutung pedang mustika lawannya yang dia benci itu. Sudah begitu pedang lawan terus meluncur ke kepalanya. Tapi sempat ia berkelit, memindahkan diri ke belakang orang, maka terus saja dengan pedang buntungnya ia menghajar  punggung musuhnya. Ia menggunakan pedang seperti senjata rahasia !

Gak Hong Kun terkejut, selekasnya si nona lenyap dari depannya. Ia lantas menerka akan datangnya serangan dari belakang, ia lantas memutar tubuh sambil mendak seraya dengan pedangnya menangkis ke belakang. Maka tepat ia kena menghajar pedang buntung hingga pedang itu terpental jauh setombak lebih.

Siauw Wan Goat hilang napsu berkelahinya. Tanpa pedang ia pasti tak dapat berbuat apa-apa. Tanpa ragu lagi, ia putar tubuhnya dan lari turun tanjakan. Gak Hong Kun panas hati, ia ingin binasakan nona itu, maka ia mengejar, tetapi orang tidak mau memberi ketika padanya. Tiba-tiba saja Cukat Tan menghadang di depannya.

Teng Hiang mengenali Siauw Wan Goat, ia membiarkan si nona lewat sambil ia menanya : "Adik Wan Goat, siapakah orang yang mengejarmu ?"

Siauw Wan Goat berlari terus tetapi dia menoleh dan menjawab : "Dialah Tio It Hiong !"

Teng Hiang tertawa di dalam hati.

"Dasar budak tolol !" pikirnya, "Dia cari penyakit sendiri ! Si palsu dikatakan si tulen !" Sementara itu Cukat Tan yang memegat Tio It Hiong palsu segera membentak : "Orang she Gak, tahan ! Cukat Tan menepati janji !"

Gak Hong Kun menahan diri dengan ia lompat jumpalitan mundur. Setelah ia hadapi si anak muda she Cukat, terus ia berkata nyaring : "Bocak cilik, kau mau mati ya ? Lekas kau minggir ! Tuan Gak kamu hendak menyingkirkan kau budak bau itu, habis dia baru aku akan berurusan dengan aku !"

Teng Hiang tertawa haha-hihi, dengan tangannya menunjuk ke bawah tanjakan dimana Siauw Wan Goat sedang berlari-lari. Didalam waktu yang lekas, Nona Siauw tampak sudah seperti bayangan, yang terus melenyap.....

"Gak Hong Kun, kau lihat !" berkata pula Nona Teng. "Berapa lihainya ilmu ringan tubuhmu ? Dapatkah kau menyusul nona itu ?"

Ketika itu pula cuaca remang-remang.

Gak Hong Kun melihat lenyapnya Siauw Wan Goat, hatinya semakin panas, maka mau ia memindahkan kemarahannya terhadap muda mudi di depannya itu. Ia mengawasi mereka dengan sorot mata bengis.

"Kamu berdualah yang dikatakan ada jalan ke sorga kamu tidak ambil, kamu justru menuju neraka !" katanya keras.

Cukat Tan gusar.

"Lihat pedang !" serunya dan terus ia menikam. Dia tahu sang lawan menggunakan pedang mustika, tak sudi ia memberi ketika akan pedang musuh memapas kutung pedangnya, tak sudi ia memberi ketika akan pedangnya, maka itu ia berkelahi dengan waspada. Asal ditangkis dia dahului menarik pulang pedangnya. Cepat sekali dia menusuk berulang-ulang sebab dia menggunakan "Soat Hoa Kiam hoat" ilmu pedang "Bunga Salju."

Gak Hong Kun tidak memandang mata pada anak muda itu dan ia tidak lari walaupun orang ada berdua bersama Teng Hiang. Ia percaya mudah saja ia kaan mengalahkan pemuda itu. Bukankah ia bersenjatakan Kie Koat, pedang mustikanya ? Maka adalah diluar dugaannya yang pemuda itu cerdik sekali dan sangat gesit, bergeraknya sangat lincah.

Cukat Tan menang diatas angin.

Teng Hiang menonton pertempuran dengan merasa kagum untuk pemuda she Cukat itu sebab orang dapat melayani Gak Hong Kun dengan baik sekali. Beberapa kali anak muda she Gak itu mencoba membabat pedang orang gagal bahkan ada kalanya habis membabat, dia repot sendirinya sebab setelah berkelit Cukat Tan terus melakukan penyerangan pembalasan.

Maka berimbanglah kekuatan mereka berdua. Lama-lama Cukat Tan toh kalah ulat. Ia lebih muda dan kalah pengalaman, ia menjadi kalah tenaga. Perlahan-lahan gerak geriknya menjadi lambat. Gak Hong Kun gusar, dia penasaran, tetapi dia pun merasa letih. Menurut keinginannya ingin ia dengan satu gebrak saja menyudahi pertempuran itu dengan lawan dapat dirobohkan. Keinginan itu tak mudah dipenuhi.

Cukat Tan tetap dapat berkelahi walaupun gerak geriknya sudah kendor.

Selama itu berdua mereka bermandikan peluh pada dahinya, apa panaspun mengendus. Teng Hiang terus menonton, dia bermata tajam, dia bisa melihat keadaan. Setelah mendapati Cukat Tan sudah letih, tak mau dia berdiam saja. Ia berkuatir pemuda itu salah tangan dan roboh ditangan musuh. Itulah berbahaya. Pemuda itu bisa terbinasakan atau sedikitnya terluka parah. Maka ingin dia membantunya.

"Adik, kau beristirahatlah !" akhirnya dia berseru. "Kau kasihlah kakakmu yang membereskan si manusia jahat !"

Dengan hanya satu kali berloncat masuk sudah si nona dalam kalangan pertempuran dan dengan dua tiga kali serangan saja, dia membuat dirinya menang diatas angin. Cukat Tan merasai keletihannya, bagus si nona menggantikan. Dengan lantas ia lompat mundur untuk beristirahat.

Gak Hong Kun menjadi mendongkol sekali. Belum tercapai maksudnya membinasakan si anak muda itu, sudah datang nona ini, satu tenaga baru. Ia juga telah merasa letih.

"Kalau aku berkelahi terus, bisa-bisa aku roboh." pikirnya, maka itu sambil melayani Teng Hiang dia berkata : "Aku ingat akan persahabatan kita, maka kali ini suka aku mengampuni jiwamu, Teng Hiang ! Kau sebenarnya bukan satu manusia yang baik-baik ! Kau berhati-hatilah ! Ingat olehmu, kekasih yang baru tak sama dengan kekasih yang lama ! Ha ha ha haaa. !"

Tak kepalang mendongkolnya Teng Hiang sampai ia berkhayal dan pedangnya kena terasampok. Syukur bukannya ditebas pedangnya menjadi tidak sampai terkutungkan.

Tengah ia terperanjat, lawannya sudah lompat mundur, untuk terus memutar tubuh dan lari mendaki tanjakan.

Teng Hiang melengak mengawasi orang kabur. Ia tidak mau mengejar, sebaliknya ia masuki pedangnya kedalam sarungnya. Ia dongak melihat langit, sang pagi sudah tiba, sang matahari mulai muncul......

Ketika itu, Cukat Tan sedang duduk mengatur pernafasannya. Dengan perlahan si nona bertindak menghampiri, untuk terus bertanya dengan suaranya yang menyatakan dia sangat prihatin, "Adik, apakah kau terluka di dalam ?"

Cukat Tan menggelengkan kepala. Dia tidak menjawab, bahkan dia duduk terus dan matanya tetap dipejamkan. Teng Hiang tahu selatan, tak mau ia mengganggu. Menanya pula dan tidak. Dia bertindak ke sisi si anak muda untuk berdiri diam disitu, matanya melihat kelilingan. Sembari berdiam itu dia seperti menjagai si anak muda dengan berbareng dia pun beristirahat.

Belum lama beristirahat dari bawah tanjakan terlihat dua orang berlari-lari mendatanginya. Cepat larinya mereka itu, cepat sekali mereka sudah datang mendekati. Mereka adalah Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng !

Kiauw In heran menyaksikan Teng Hiang berdiri disisinya Cukat Tan yang lagi beristirahat itu, hingga dia mengawasi saja. Tidak demikian dengan Giok Peng walaupun nona Pek pun heran.

"Eh, Teng Hiang, apakah kau bertempur dengan sahabat Cukat ini ? " tanya nona itu, nona bekas majikan.

Teng Hiang jengah. Sekarang mereka ada dari laIn Golongan. Walaupun demikian masih melekat rasanya suasana pergaulan majikan dan pegawainya. Maka atas teguran si nona, dia lebih dahulu memberi hormat, baru ia menjawab : "Jangan salah mengerti nona. Sekarang ini Teng Hiang dengan tuan Cukat ini adalah sahabat-sahabat Kang Ouw."

Tiba-tiba si nona merasai mukanya panas hingga kata- katanya terputus......

Kiauw In melihat selatan, lekas-lekas dia mengedipi Giok Peng, lalu ia berkata tertawa. "Nona Teng Hiang, selagi kau turun gunung dari Koan JIt Hong, ada atau tidak kau melihat seseorang yang segalanya mirip dengan Tio It Hiong ?"

"Ah, kakak In !" kata Teng Hiong tertawa. "Kenapa kakak begini sungkan terhadap aku si Teng Hiang ?" Dia hening

sedetik lalu meneruskan : "Adik Cukat ini baru saja menempur orang yang kakak sebutkan itu. Mereka bertempur sama sekali. Dia itu. "

Hampir Teng Hiang memberitahukan bahwa orang itu adalah Gak Hong Kun, baiknya dia lantas ingat disitu ada Giok Peng. Kalau dia menyebutkannya, bekas nonanya itu tentulah bersusah hati.

"Eh, Teng Hiang," tegur Giok Peng yang menjadi tidak sabaran, "sejak kapan kau belajar bicara main terputus-putus begini ? Apakah di depanku kau masih mau main gila ?"

Teng Hiang cerdik, ia memutar haluan, sahutnya : "Orang itu baru saja lari mendaki tanjakan ini, kalau nona mau mencari dia baik lekas susul padanya !"

Ketika itu Cukat Tan sudah pulih kesegarannya, dia dapat mendengar pembicaraan orang, lantas ia berbangkit bangun, matanya pun dibuka. "Nona-nona, aku yang rendah telah menemui orang itu sejak tadi malam." ia berkata tanpa diminta lagi. "Dialah orang yang menyamar-nyamar menjadi saudara Tio. Menurut aku dialah Gak. "

"Kau biarkan kakakmu yang bicara ! " Teng Hiang memotong si anak muda, sebab anak muda itu mau menyebutkan namanya Hong Kun. "Nona, orang itu benar Gak Hong Kun !"

Kali ini sudah terlanjur, Teng Hiang menyebut terang namanya si orang she Gak. Mukanya Giok Peng menjadi pucat, dia melengak, matanya dibuka lebar-lebar.