Iblis Sungai Telaga Jilid 28

 
Jilid 28

Cio Kiauw In berdua mendesak. Itulah saatnya buat dapat menang diatas angin. Mereka pun sebal terhadap kedua lawan itu, ingin mereka lekas-lekas merobohkannya. Leng Gan dan Leng Ciauw kalah ketika, terpaksa mereka membiarkan diri mereka terdesak hingga mereka repot menangkis, tak hentinya mereka berlompatan akan menjauhkan diri ke kiri atau kanan dia, ke segala arah. Mereka menjadi sangat kaget dan gusar sekali. Mereka penasaran sekali. Tapi gusar dan penasaran tinggal gusar dan penasaran, mereka tetap tidak dapat segera membebaskan diri dari desakan. Beruntung bagi mereka, mereka masih tetap bisa bertahan.

Semua penonton kagum. Di pihak lurus, orang berbareng girang melihat pihaknya menang angin. Di pihak sesat, selagi mengagumi pertempuran mereka menguatirkan kawannya nanti kena dikalahkan. Dengan berlangsung terus pertempuran, kedua saudara Leng seperti sudah dikurung sinar pedangnya kedua pedang nona-nona lawannya itu. Itu berarti malapetaka tengah mengancam.......

Tan Tio Ciam pun penasaran sebab sampai sebegitu jauh tak dapat mereka membentur pedang lawan sedang niat mereka ialah membuat kedua pedang itu terkutungkan. Kiauw In dan Giok Peng tahu golok lawan tajam luar biasa, mereka berlaku cepat sekali. Tak mau mereka membiarkan senjata mereka beradu dengan bagian tajam dari golok. Pek Cut Taysu dan In Gwa Sian menonton dengan perhatian, si pendeta melirik si pengemis, lantas dia bersenyum. Mereka puas sebab nona-nona itu telah mempertunjuki kepandaiannya yang mengagumkan.

Cukat Tan dilain pihak menjadi sangat kagum, dia seperti lupa pada diri sendiri. Pikirnya : "Ilmu pedang Bunga Salju guruku lihai sekali, tetapi dibanding dengan ilmunya nona- nona itu, kepandaianku masih kalah setingkat. "

Tengah jago muda dari Ngo Bie Pay itu bagaikan ngelamun, tiba-tiba dia mendengar jeritan hebat. Segera dia menoleh ke arah lapangan dimana sudah terjadi satu perubahan. Yan Tio Siang Cian repot bukan main. Mereka cuma bisa membela diri. Leng Tiauw penasaran dan bingung. Sudah tujuh delapan puluh jurus pihaknya tetap berada dibawah angin. Itulah tidak menguntungkan, bahkan berbahaya. Saking bingung, dia menjadi tak dapat menguasai lagi dirinya. Diam-diam merogoh keluar senjata rahasianya yang istimewa "Hong Go Tok Piauw", yaitu piauw tawon beracun, yang beracun. Selekasnya dia mendapat kesempatan, dia lantas menimpuk Giok Peng. Itulah bokongan, perbuatan curang.

Pedangnya Nona Peng berputar terus, piauw itu kena terasampok hingga terpental balik. Sialnya senjata rahasia itu makan tuan, ialah menancap di pergelangannya sendiri, nancap dalam setengah dim. Dia menjerit, membuat Leng Gan, kakaknya kaget sekali. Sebabkan ketahui, piauw beracun itu piauw maut, akan meminta jiwa setelah racunnya mengalir sampai kerongkongan. Di dalam satu jam racun akan meresap ke seluruh anggota tubuh terutama bagian perut. Ini artinya tak ada pertolongan pula. Maka juga kakak ini menggertak gigi, dengan telengas dia membabat kutung lengan adiknya itu, guna mencegah menjalarnya racun.

Kalau tadi Leng Ciauw menjerit tertahan, sekarang dia berteriak sekerasnya saking nyerinya tubuhnya terhuyung beberapa tindak. Dia mesti memegang kehormatan dirinya. Semampunya dia bertahan. Dengan begitu tak sampai dia roboh. Cuma jeritannya itu yang membuat orang mendengar dan mengetahui hal jeritannya itu.

Kiauw In melihat kejadian itu. Segera nona itu berlompat mundur. Dia menghormati aturan kaum Kang Ouw, tak mau dia menggunakan kesempatan itu membinasakan musuh. Malah melihat Giok Peng masih menyerang Leng Gan, dia menyerukan akan si adik menunda perkelahiannya itu.

Nona Pek mendengar kata, dia menahan serangan pedangnya, tetapi disaat dia mau mengundurkan diri, tiba-tiba beberapa cahaya menyambar ke arahnya ! Itulah bokongannya Toa Cian Leng Gan yang bersakit hati karena adiknya dilukai, bukannya dia menyerang Kiauw In, dia justru membokong Giok Peng yang lengah, tak siap sedia itu.

Dengan tangan kirinya dia menimpukkan piauw-nya yang beracun itu. Ketika itu si nona tengah membalik belakang. Sedangnya piauw maut itu mau merampas jiwa orang, satu sinar pedang berkelebat menyampoknya jatuh ke tanah berumput. Itulah perbuatannya Kiauw In yang membantu adiknya. Hal itu membuat gusar nona yang sabar itu yang terus mencelat ke depan Toa Cian, bahkan terus saja ia menyerang dengan satu luncuran pedang dengan ilmu "Burung Air Mematuk Ikan."

Toa Cian kaget sekali. Ia mau menyerang lawan, siapa tahu ia pun diserang. Repot ia mengelakkan diri. Ketika ia menggerakkan lengan kirinya, tepat lengan itu terbabat pedangnya si nona. Maka ia pun menjerit seperti adiknya itu, lengan kirinya itu putus dan jatuh ke tanah !

"Jika kalian tidak puas, mari maju pula !" Kiauw In kata sambil ia menuding dua saudara Leng itu, si Sepasang Ganas.

Leng Gan menotok tubuhnya sendiri, guna menghentikan darah yang mengucur keluar dari lengannya itu, dengan sinar mata penuh kebencian, dia mengawasi tajam Nona Cio kemudian ia kata sengit : "Sakit hati lengan buntung ini pasti akan datang harinya yang aku akan tagih dari kau, budak !" Berkata begitu jago dari Yan tio itu menjemput kedua potong tangan mereka, lalu sambil menarik tangan saudaranya lalu pergi mengundurkan diri.

Pek Cut Taysu lantas mengasih dengar suaranya yang nyaring : "Losicu Thian Cia, terima kasih yang kau telah sudi mengalah !"

Dari dalam rombongan sesat itu bukannya Thian Cia yang menyambut sang pendeta, hanya satu suara yang cempreng. Katanya : "Inilah belum berarti apa-apa ! Segera juga tongcu nomor satu dari Losat Bun kami dari Ay Lao San, Hong Hwio Lui Siu Pek Lie Cek akan mengajukan dirinya. Pendeta tua berhati-hatilah kau memilih orang untuk melayaninya !"

Tongcu yang disebut namanya itu sudah lantas muncul bersama sepotong senjatanya yang luar biasa yaitu Tok kak Tong-jin, boneka perunggu dengan kaki sebuah, lima jalan darahnya tersimpankan senjata rahasia beracun. Panjangnya boneka itu empat kaki dan beratnya empat puluh kati.

Pek Lie Cek mempunyai kepala besar dan mata bundar, hidungnya hidung singa dan mulutnya besar lebar, pipinya berewokan dan dagunya berjanggut panjang. Dia pula bertubuh besar. Dia mengenakan baju kuning panjang sampai dimulut dan sepatunya sepatu ringan warna hitam. Tiba di lapangan dia berdiri tegak hingga sikapnya menjadi keren sekali, kata orang mirip dengan malaikat penjaga pintu....

"Siapa bernyali besar, mari muncul akan terima binasa !" demikian orang itu membuka suara. Suaranya keras, sikapnya jumawa. Suara itu bagaikan guntur kerasnya.

Pek Cut Taysu lantas mengawasi orang-orang pihaknya. "Bagaimana kalau aku si tua yang melayani dia ?" tanya Pat Pin Sin Kit yang tak biasanya menjadi sungkan.

Pendeta dari Siauw Lim Sie itu menggeleng kepala sambil berkata : "Jangan tergesa-gesa Losicu, sebentar akan muncul lawan yang tangguh. "

Belum berhenti suaranya sang pendeta Gouw Hoat Taysu sudah muncul dan sembari memberi hormat berkata pada ketuanya, "Suheng, dapatkah adikmu yang keluar ?"

Pek Cut Taysu mengangguk dengan perlahan, maka Goay Hoat Taysu lantas berlompat ke tengah lapangan sambil ia membawa sianthung, tongkatnya yang panjang mirip toya. Bahkan segera dia memperdengarkan suaranya terhadap pihak lawan, "Sicu Peklie Cek, apakah sejak perpisahan kita, sicu masih sehat-sehat saja ? Apakah sicu masih mengenali padaku si pendeta dari dua belas tahun yang lampau ?"

Peklie Cek mengawasi pendeta itu. Lantas ingat ia kepada peristiwa dahulu di jalan di perbatasan propinsi Siamsee - Kamsiok. Ketika itu dalam satu bentrokan dia telah merasai lengan "Lohan Cian" dari si pendeta.

"Hm !" dia lantas memperdengarkan suara dinginnya. "Sungguh berbahagia ! Sungguh berbahagia disini kita berjumpa pula !"

Berkata begitu ia lantas memutar senjatanya yang luar biasa itu, hingga anginnya menderu-deru. Ia tidak takut. Dua belas tahun yang lalu ia kalah, tetapi setelah itu ia masuk dalam rombongan Losat Bun dan belajar lebih jauh dibawah pimpinannya Kwie Tiok Giam Po, maka ia bukanlah Peklie Cek yang dahulu. Ia sengaja berlaku jumawa guna memancing keluarnya si pendeta yang ia tak menyebut namanya secara langsung.

Segera setelah kedua pihak berdiri berhadapan, Gouw Hoat Taysu mulai dengan penyerangannya. Peklie Cek menyambut serangan itu dengan satu tangkisan keras, maka sebagai akibat bentrokan itu, keduanya sama-sama mundur tiga tindak. Gouw Hoat Taysu tak menghiraukan tenaga lawan yang bertambah itu, ia maju pula kembali ia menyerang.

Peklie Cek tertawa. Dia mundur ke samping satu tindak, kepalanya diegoskan. Selewatnya tongkat lawan, dia membalas menghajar dengan hebat, niatnya membikin tongkat terpental terlepas dari cekalan lawan. Gouw Hoat Taysu dapat menerka maksud lawan itu. Ia mengelit tongkatnya, tetapi bukan ditarik pulang hanya diteruskan dipakai menyerang ke pinggang si orang takabur.

Peklie terkejut. Dia tidak menyangka si pendeta demikian cepat. Terpaksa dia harus waspada. Habis berkelit dia berseru

: "Kepala gundul, kau sambutlah ini !" Dan dia menyerang dengan jurusnya "Membelah Bambu".

Gouw Hoat penasaran yang orang masih membelah. Ia menyambut dengan sekuat tenaganya. Ilmu silat yang dipakai ialah "Kie Kee Thian Ho" atau "Jembatan di Kaki Langit".

Hebat bentroknya kedua senjata berat itu. Percikan apinya muncrat. Lengan kanannya Peklie Cek terasa kesemutan dan nyeri, tubuhnya terpental mundur lima tindak. Sebaliknya adalah Gouw Hoat Taysu, yang kuda-kudanya tangguh. Dia melesak kakinya tiga dim dan tubuhnya limbung, bergoyang beberapa kali. Dengan cepat dia berlompat maju kepada lawan, tongkatnya dipakai menyerang pula. Sembari menyerang itu, ia berkata nyaring : "Hong hwe Lui-siu, kau juga sambutlah tongkatku ini !"

Peklie Cek tidak takut. Masih ia mau menguji tenaga lawan.

Ia percaya kekuatannya masih akan bertahan. Segera ia menangkis dengan bonekanya itu. Lagi-lagi kedua senjata beradu keras, suaranya sampai memekakkan telinga. Tapi kedua jago tetap sama tangguhnya. Maka mereka terus melanjuti pertempuran mereka. Seperti tanpa terasa, mereka sudah melalui kira tiga puluh jurus. Sekarang ini lengan mereka masing-masing terasa kaku dan darah seperti bergolak di dalam dada mereka.

Satu kali mereka bentrok keras lantas keduanya sama-sama mundur. Ketika itu dipakai buat mengatur pernapasan masing- masing, berniat menyerang pula tetapi mereka berjaga-jaga kalau-kalau nanti kena didahului.

Diluar kalangan maka tongcu Losat Bun yang nomor dua habis sabar. Dialah Sam Chiu Pia Kauw Hu Leng, si Kera Bertangan Tiga. Dia habis sabar sebab menanti terlalu lama hingga dia kuatir kawannya nanti kalah sebab sudah selama itu sang kawan belum berhasil merebut kemenangan. Dia pula bukannya maju akan membantu kawannya itu, hanya dengan tiba-tiba secara diam-diam dia menyerang Gouw Hoat Taysu dengan senjata rahasianya yang diberi nama Tengkorak Badsi. Senjata itu menyambar dari atas ke bawah, menungkrap kepala.

Melihat menyambarnya senjata rahasia lawan, dari dalam rombongan pihak lurus menyambar pula serentetan dari enam buah Liam Cu, mutiara biji tasbih kaum pendeta agama Buddha, semua menyerang kepada senjata rahasia lawan itu. Tepat serangan itu ! Hancurlah senjata rahasia lawan, besinya muncrat ke empat penjuru, akan tetapi bubuknya yang berwarna merah tua justru turun dengan perlahan-lahan, turun ke arah Gouw Hoat Taysu yang sudah tak berdaya.

Apakah yang telah terjadi ? Kenapakah Gouw Hoat Taysu roboh ? Inilah akibat bentrokan si pendeta dengan lawannya, bentrokan yang terakhir. Habis mereka berjaga-jaga, mereka mengadu kekuatan pula. Peklie Cek meyerang, keduanya roboh sama-sama, sebab kepala mereka pusing, dada mereka bergolak, tenaga mereka habis. Mereka pula muntah darah.

Justru bubuk beracun itu turun. Ang Sian Taysu dapat melihatnya. Pendeta ini menerka kepada bubuk jahat. Ia lompat keluar dari kalangan, ia menyerang dengan pukulan angin Loahan Ciang. Maka buyarlah bubuk itu terkena angin keras dari pukulan itu. Ketika itu Hu Leng juga sudah masuk ke dalam kalangan. Ia mengangkat bangun tubuh Peklie Cek, buat diajak mengundurkan diri. Tiba-tiba Cukat Tan lompat menghampiri, anak muda ini terus menyerang orang she Hu itu, yang ditikam punggungnya.

Hu Leng tidak melihat datangnya orang, dia pula tidak tahu orang menyerangnya. Tapi justru itu, dari rombongan sesat ada sesosok tubuh yang membalas, menangkis membuat pedang si anak muda terpental, berbareng dengan orang itu menegur : "Eh, bocah, kau tahu aturan rimba persilatan atau tidak ?"

Cukat Tan mundur satu tindak, dia mengawasi orang yang menghalangi serangannya itu.

Kiranya orang itu ialah Tan Hong dari Hek Keng To. "Barusan orang menyerang dengan senjata rahasianya !" si

anak muda balik menegur. "Apakah itu berarti dia menghormati aturan kaum rimba persilatan ? Aku hanya menurut buat ! Kalau kau berani, mari kau melayani ilmu pedang dari Ngo Bie Pay barang beberapa jurus ! Beranikah kau ?"

Di saat itu dari kedua belah pihak ada tujuh atau delapan orang yang berlompat keluar, bersiap buat bertarung guna membantai pihaknya masing-masing. Pek Cut Taysu sudah lantas berseru meminta pihaknya mengundurkan diri dan menyuruh murid-murid Siauw Lim Sie segera membantu Gouw Hoat buat dibawa balik ke dalam rombongan. Sampai disitu Thian Cie Lojin muncul dengan tindakan perlahan.

Dia tertawa dan kata. "Kali ini pertempuran seri pula ! Nah, pendeta tua, bagaimana kalau kita mulai dengan bunpie ?"

Licik jago tua ini, tak mau ia menyebutkan soal serangan gelapnya Hu Leng itu yang mulai melanggar aturan rimba persilatan. Malah dengan cerdik ia hendak menukar bertarung mereka. Setelah bun pie, mengadu tenaga dengan cara keras, sekarang ia hendak mulai dengan bun pie, cara halus.

"Terserah kepadamu, sicu pinlap selalu sedia untuk melayani" sahut Pek Cut Taysu tenang.

Thian Cie sudah lantas mengulapkan tangannya maka muncullah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Lee San di pulau Haylam.

Dengan sinar matanya yang bengis jago wanita itu menyapu ke arah pihak lurus, lalu dia berkata dengan suaranya yang dingin yang berada jumawa : "Tuan siapakah yang mempunyai kegembiraan untuk mendengarkan lagu Toat Hun Im Po dari tenaga dalamku ?" Ilmunya Ang Gan Kwie Bo itu berarti "Gelombang Lagu Merampas Roh."

Leng Hian Tojin dari Bu Tong Pay sudah lantas menggerakkan tubuhnya menghadapi ketua Siauw Lim Pay, ia menjura sambil bekata : "Bagaimana kalau kali ini pici yang menunjuki keburukanku ?"

Pek Cut Taysu mengangguk.

Lantas Leng Hian bertindak menghampiri lawan, yang terus tertawa tawar dan kata seenaknya saja. "Eh, Leng Hian hidung kerbau, benarkan kau mempunyai kepercayaan yang ilmu Hian bun Lio Kam Cin Kie dari Bu Tong Pay kamu dapat bertahan dari ilmuku ? Nah, kau berhati-hatilah !"

Ilmu Bu Tong Pay yang disebutkan Ang Gan Kwie Bo itu adalah ilmu tenaga dalam yang berdasarkan patkwa, delapan diagram.

Leng Hian tidak menjawab, hanya sambil bersenyum dia mengerahkan tenaga dalamnya. Ia berdiri tegak mengawasi lawan yang takabur itu. Sejenak kemudian, ia mengulur sebelah tangannya, baru setengah jalan, ia sudah berseru perlahan : "Kau sebutilah !"

Ang Gan Kwie Bo menggerakkan pinggangnya untuk berjaga-jaga, lalu ia mengibas sebelah tangannya, memapak tangan lawan itu. Ia menggerakkan tangannya dengan perlahan tetapi berbareng dari mulutnya terdengar suara tertawa yang nyaring dan tajam seumpama kata suara bajingan. Itulah Toat Hun Im Po !

Kedua tangan mereka lantas beradu satu sama lain, nampaknya mereka seperti main-main. tak tahunya kedua belah pihak tengah mengerahkan tenaga dalam mereka. Mereka tengah menguji kekuatan masing-masing. Tubuh mereka lantas menggigil, tangan mereka bergemetaran.

Selama itu Ang Gan Kwie Bo terus tertawa makin lama suaranya makin keras makin tinggi, terdengarnya tajam sekali hingga telinga orang terasa bagaikan tertusuk-tusuk.

Kedua rombongan terpisah dari dua orang itu sepuluh tombak lebih tetapi mereka yang tenaga dalamnya belum sempurna, mereka merasakan kehebatan tawa itu. Itulah yang diumpamakan "Tangisan keras di selat Bu Kiap, tangisan berdarah burung cockoo, nyanyian iblis dikuburan musim gugur atau tangisan diwaktu malam dari seorang janda."

Toh semua itu masih kalah hebatnya. Semangat orang dapat buyar karenanya.

Pek Cut Taysu sudah lantas memerintahkan murid atau kawannya yang tenaga dalamnya kurang untuk bergerak munduk belasan tombak supaya mereka tak usah menjadi korban konyol. Di sana pun mereka harus menjaga diri baik- baik. Di pihak sesat juga orang telah bergerak mundur sendirinya.

Di tengah lapangan, kepalanya Leng Hian dan Ang Gan telah sama-sama mengeluarkan uap putih bagaikan halimun. Suaranya si sesat tak lagi terus menerus, hanya suka terputus- putus akan tetapi nada dan iramanya tak sedap buat sang telinga. Suara itu membuat hati orang berdebaran.

Di dalam keadaan seperti itu, sekonyong-konyong saja Leng Hian Tojin bersiul nyaring dan panjang, hingga siulannya itu berkumandang di lembah dan sekitarnya. Siulan itu pula bagaikan menutup tawanya lawan. Tak lama siulan itu, lalu berhenti tetapi berbareng dengan itu lenyap juga tawanya Ang Gan Kwie Bo. Maka itu sunyilah medan pertempuran itu. Dua dua lawan tampak berdiri diam. Uap diatas kepala mereka sudah berkurang. Tangan mereka tapinya masih terus menempel satu pada lain, tak bergeming sedikit juga.

Gouw Hian Tojin, ketua Bu Tong Pay menjadi bingung. Ia tahu bahwa pertempuran segera akan sampai pada detik terakhir. Inilah sangat berbahaya. Dan ia menguatirkan keselamatannya sang sute, adik seperguruannya. Buat membantu, ia tidak berani. Itulah akan melanggar aturan rimba persilatan dan nama baiknya bakal tercemar karenanya. Maka ia menjadi tidak karuan rasa, berulang kali ia mengepal- ngepal tangannya serta menggedruk-gedruk tanah !

Selagi sunyi senyap itu tiba-tiba terdengar suaranya Pek Cut Taysu : "Kali ini kita yang kalah ! Leng Hian Totiang, silakan mengundurkan diri !" Terus ia mementangkan tangannya, untuk segera dirapatkan pula.

Atas itu maka tubuhnya Leng Hian, mirip boneka kayu, bergerak ke arah rombingannya, datang kepada tangannya si pendeta. Karena Pek Cut Taysu telah menggunakan ilmu "Liap Hun Ciu Siu Kang", Menarik Roh" guna membantu si imam.

Ketika itu terlihat Thian Cia Lojian tahu-tahu sudah berada di tengah lapangan untuk menekan jalan darah sin tong dan thian cu di punggungnya Ang Gan Kwie Bo, guna membantu wanita tua itu menyalurkan napasnya. Sebab juga nyonya itu telah sampai pada saat mati hidupnya....

Di pihak Siauw Lim Pay, Gouw Hian juga sudah lantas membantu Leng Hian, adiknya. Selama kedua pihak saling menolong kawan itu, kesunyian tetap berlangsung, cuma deburan angin yang terdengar.

Rembulan sudah mulai doyong ke barat. Mungkin waktu itu sudah jam empat mendekati fajar.

"Inilah pertempuran yang menjengkelkan, yang memepatkan hati." kata Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian yang menjadi tak sabaran.

Hanya sejenak, segera terdengar tawanya Thian Cie Lojin.

Ketua pihak sesat itu sudah lantas berkata : "Bun pie yang pertama sudah berlalu ! Terima kasih ! Terima kasih kalian sudah mengalah ! Nah, pendeta tua, masih ada pertandingan yang kedua ! Siapakah dari pihakmu yang bakal maju ?"

Belum lagi Pek Cut Taysu menjawab, atau Pat Pie Sin Kit sudah bertindak keluar dari dalam rombongan, terus dia membentak : "Siluman tua, jangan tertawa ! Beranikah kau malayani aku, si orang tua ?"

Thian Cie Lojin mengawasi, ia membuat main bibirnya, lalu dengan dingin menjawab : "Baik ! Baik ! Supaya tulangmu yang sudah tua tidak hancur berantakan, bagaimana kalau kita main-main dengan batu licin itu ? Setujukah kau ?"

In Gwa Sian tertawa lebar. "Kita sudah berusia hampir seratus tahun, kalau kita mati, kita tidak mati muda !" katanya. "Kau tidak suka keras lawan keras, baiklah, akan aku turuti kehendakmu ! Apakah kepandaianmu itu ? Kau keluarkanlah !"

Tanpa berkata apa-apa Thian Cie Lojin bertindak ke dinding bukit di kaki puncak, In Gwa Sian berjalan bersama.

Rombongan di kedua pihak lantas turut mengikuti mereka itu, guna masing-masing mengambil tempat. Batu yang disebutkan Thian Cie itu berupa seperti tembok, lebar satu tombak persegi, bagian mukanya rata licin, bekas dipapas dengan golok atau kapak. Jadi itulah buatan manusia.

"Di sini kita mencoba khie kang kita !" berkata Thian Cie tertawa sambil tangannya menunjuk dinding rata itu. "Siapa yang kalah, dia harus hapus buat selamanya, agar dia tak muncul pula ! Pengemis tua, beranikah kau berjanji demikian

?"

In Gwa Sian tertawa.

"Siluman tua, apa juga kau katakan, aku terima baik !"

Thian Cie Lojin lantas berdiri di depan dinding batu itu, tenaganya lantas dikerahkan hingga terdengar otot-ototnya pada meretak. Ia mengeluarkan napas, ia maju beberapa tindak, terus ia mundur beberapa tindak pula. Ini cara pengerahan tenaga. Ia ulangi beberapa kali lalu mendadak ia melenggak hingga pinggangnya melengkung keluar dan kepalanya dongak terangkat ke atas. Habis itu mendadak saja ia mengajukan diri, agaknya ia hendak menerjang batu besar itu, atau mendadak pula ia menghentikan tindakannya. Ia mengangkat pula kepalanya dan mukanya diarahkan kepada batu itu, terus ditempelkan. Selagi berdiri diam itu, segera juga tampak keluar dari arah mukanya. Pinggang dan kakinya diluruskan tetapi kedua belah pihak tangannya bergerak-gerak seperti bergemetar. Selama itu tampak mukanya seperti melesak kepada permukaan dinding.

Hanya sekira kesadaran mati, mendadak jago tua kaum sesat itu berlompat mundur, tubuhnya terhuyung beberapa tindak sebelumnya dia dapat berdiri tetap tegak. Ia berdiri dengan memejamkan mata, terus ia mengembuskan napas panjang. Di lain saat ia mementang matanya dan kata nyaring

: "Telah aku pertunjuki kepandaianku yang buruk. Nah ini dia ilmuku yang dijuluki Sam In Sin kang, pada dinding batu itu tertinggal tanda melesak dari mukaku ! Pengemis tua bagaimana perasaanmu sekarang ? Panas hatimu atau tidak ?"

Memang, orang banyak melihat mukanya Thian Cie telah bertapak dan berbekas didinding batu lebar yang rata itu.

Petaan itu tegas dan jelas sekali, sehingga semua orang menjadi sangat kagum. Di pihak lurus orang berkuatir buat Pat Pie SIn Kit. Musuh demikian lihai, dapatkah dia diatasi atau sedikitnya menyamai ?

In Gwa Sian telah menyaksikan gerak geriknya lawan itu, selama orang masih membawa aksi terus berdiam saja tapi selekasnya orang membuka suara jumawa itu, ia menyambutnya dengan tertawa berkakakan. "Hai siluman tua

!" ktanya nyaring. "Sam Im Sin kang mu ini tak dapat dicela banyak, sayangnya pada bagian mukamu itu tidak ada bekas kumis janggutnya."

Suara itu menusuk tajam telinga Thian Cie Lojin si pria bukan wanita bukan.....

Dari tindakan ayal-ayalan, In Gwa Sian bertindak menghampiri dinding itu dari mana lawannya sudah mengundurkan diri guna dia memberikan giliran padanya. Ia berhenti di depan batu terus ia menghadapinya sambil berdiri tegak untuk segera mengumpulkan tenaga dalamnya. Itulah tenaga dalam dari ilmu Tong Cu Kang, ilmu kanak-kanak atau "Jaka".

Cepat luar biasa mukanya si pengemis menjadi merah umpama kata seperti api, giginya atas dan bawah gemeretak nyaring, kumis dan jenggotnya lantas bergerak-gerak sendirinya tanpa angin, berdiri kaku bagaikan jarum perak. Matanya yang dipentang sebentar dipejamkan memperlihatkan cahaya tajam sekali. Berdiri sebagai itu mukanya In Gwa Sian hampir menempel pada dinding. Lain tiba saatnya ia memperdengarkan serunya yang nyaring, lantas mukanya didekatkan pada batu hampir nempel hingga kumis  janggutnya itu mengenai dinding rata dan licin itu. Gerakkan itu diulangi beberapa kali, saban kalinya si pengemis memperdengarkan serunya itu. Ia baru berhenti beraksi sesudah pada batu itu tampak bekas-bekas kumis janggut.

Semua orang melengak, mata mendelong, mulut ternganga. Semua kagum dan heran. Itulah ilmu tenaga  dalam yang mereka belum pernah dengar, jangan kata menyaksikannya. Sudah Thian Cie hebat, sekarang ada pula yang lebih hebat. Namanya itu bun pie, ujian lunak atau halus, kesudahannya itulah tenaga yang kuat sekali.

Sementara itu It Yap Tojin yang menyaksikan pertandingan itu, tahu apa akibatnya adu tenaga dalam diantara Thian Cie dan In Gwa Sian. Akibat itu ialah kedua orang tersebut sudah mengobral tenaganya, hingga masing-masing sudah mendapat luka di dalam, luka yang parah, yang sukar obatnya. Tapi hal itu membuatnya puas. Kelemahan kedua jago itu berarti bahwa ia berkurang saingannya dengan dua orang. Buat manjagoi, ia bagaikan mendapat jaminan. Ia berada diantara sesat dan lurus. Di saat ini mendadak timbul niatnya buat menjadi jago Bu Lim, akan menjuarai rimba persilatan. Maka ia tertawa perlahan, tawa puas lalu diam- diam ia mengangkat kaki.

Sementara itu Tan Hong di satu pihak telah menanti dengan tidak sabaran. Sudah mendekati jam empat, masih belum ia melihat munculnya Tio It Hiong, pacar dalam cita- citanya. Sendirinya ia menjadi bingung, Ada niatnya menghampiri Kiauw In, buat minta keterangannya nona Cio, ia ragu. Bersama Kiauw In ada Giok Peng dan berani ia mendekati nona yang galak itu. Ia takut nanti terbit salah paham. Ia memikir buat berlalu, tetapi hatinya tak mengizinkan. Biar bagaimana ingin ia melihat It Hiong. Maka terpaksa ia berlaku sabar. Ia berdiri seorang diri saja. Di sana ada banyak orang tetapi ia kesepian.....

In Gwa Sian sendiri tahu yang ia telah mengobral tenaga dalamnya hingga ia menjadi letih sekali, akan tetapi di depannya Thian Cie Lohin tak mau ia menunjuki itu. Di lain pihak, ia ingin sekali mengadu jiwa dengan jago tua itu agar orang tak dapat menjagoi dan mengancam dunia rimba persilatan. Kalau ia menang, syukur atau sedikitnya, biarlah mereka berdua mati bersama.....

"Eh, siluman tua" kata ia yang sengaja tertawa nyaring. "Pertandingan kita ini sangat menarik hati ! Sayang belum ada kepastiannya ! Bagaimana, apakah kau berani menyambut tanganku ?"

Ketika itu beda daripada lawannya yang masih dapat berdiri, Thian Cie sudah duduk numprah ditanah, sebab hendak ia mengatur pernafasannya. Ia insyaf yang ia telah menggunakan semua tenaga dalamnya hingga menjadi letih sekali. Ia mendengar tantangannya si pengemis, hatinya menjadi gentar. Ia bakal mati atau terluka parah. Hanya, bagaimana kalau ia tidak menyambuti tantangan itu ?

Bukankah ia justru mau menjadi jago rimba persilatan ? Mana bisa ia mengangkat muka ? Maka itu ia berpikir keras.

Perlahan-lahan jago tua itu berbangkit bangun, matanya mengawasi kedua rombongan. Ia berlaku ayal-ayalan untuk menang waktu. Kemudian ia tertawa dan kata : "Ya, kitalah dua orang tua yang tak mau mampus, kapan lagi kesempatan buat kita bergembira ria kalau bukan sekalian saja malam ini ? Mari, pengemis bangkotan, mari ! Sebelum ada akhirnya, jangan kita berhenti ! Mari !'

"Nah, berhati-hatilah menyambuti tanganku !" Berseru In Gwa Sian selekasnya lawan itu menerima tantangannya. Ia lantas menyerang dengan satu jurus dari Han Liong Hok Mo Ciang, pukulan Menaklukan Naga Menundukkan Harimau. Dan itulah pengerahan tenaga yang terakhir.

Thia Cie Lojin terkejut sekali. Begitu orang bersuara, begitu angin serangannya sudah lantas tiba. Ia licik tapi tak sempat mengelakkannya. Terpaksa ia mengerahkan tenaga terakhirnya menangkis serangan itu. Hebat suara nyaring yang menjadi kesudahan dari beradunya tangannya kedua jago itu. Mereka sendiri pada mengeluarkan suara tertahan. Kontan Thie Cie Lojin roboh terguling untuk terus berguling.

Pat Pie Sin Kit terhuyung-huyung beberapa tindak, tak dapat ia bertahan terus, ia roboh terduduk. Pek Cut Taysu memuji Sang Buddha, ia lompat kepada kawannya itu. Kiauw In dan Giok Peng turut lompat bersama, hingga ketiganya lantas berada disisinya si pengemis luar biasa.

In Gwa Sian duduk bercokol dengan tenang, mukanya tersungging senyuman, napasnya berjalan dengan perlahan. Melihat keadaan orang itu, Pek Cut Taysu yang biasanya tabah menjadi terkejut dan pucat mukanya. Dan lekas-lekas ia mengeluarkan obat "Ban Biauw Leng Tan" buatan Siauw Lim Pay dan masuki beberapa butir ke dalam mulutnya jago tua itu sembari ia menekan jalan darah beng hun dipunggungnya.

Kiauw In dan Giok Peng memegangi In Gwa Sian dikiri dan di kanan, mereka mengucurkan air mata melihat keadaannya paman itu yang napasnya tinggal satu kali dan satu kali tarikan saja tarikannya sangat lemah.

"Paman In ! Paman !" mereka memanggil-manggil. "Paman In, bagaimana kau rasa ?..."

Juga semua orang lainnya kaum lurus menjadi sangat berduka.

Thian Cie Lojin juga telah digotong pergi oleh rombongannya, yang tak mempunyai harapan lagi atau kelanjutan jiwanya.

Menyaksikan keadaan itu Jie Mo Lam Hong Hoan, bajingan nomor dua dari To Liong To berkata keras : "Hm !" Beginilah tingkahnya orang-orang partai-partai besar dari Tionggoan ! Tingkahnya mirip lagak wanita saja ! Apakah yang aneh kalau orang bertempur dan binasa ? Apakah cukup dengan ditangiskan saja ? Hayo bilang kalian berani atau tidak untuk bertempur dengan kami ?"

Sengaja Lam Hong Hoan berkata demikian karena ia melihat pihak kaum sesat sudah kalah semangat disebabkan runtuhnya Thian Cie Lojin, orang yang sangat diharapkan oleh golongannya. Ia hendak membantu mukanya.

Ketika itu Pek Cut Taysu tengah membantu In Gwa Sian, ia mengerahkan tenaga dalamnya. Tak dapat ia melayani orang bicara, maka ia melirik dan mengedipi mata pada Liauw In, adik seperguruannya itu yang menyambuti orang bicara.

Belum lagi pendeta itu muncul atau Leng Hian Tojin dari Bu Tong Pay sudah mendahuluinya. Rahib itu maju dan mengangguk kepada Lam Hong Hoan, dan sembari tertawa bertanya hormat : "Ada pepatah berkata ular tanpa kepala tak dapat jalan. Maka itu, Lam Sicu, selagi Thian Cie Lojin telah menerima keruntuhannya, punyakah kau tenaga atau kemampuan untuk menggantikannya memimpin kawanan dari luar lautan kamu, untuk membuat pertandingan ini dilanjutkan

?"

Ditanya begitu Lam Hong Hoan bungkam, hingga ia berdiri diam saja.

Teng Hiang dengan air mata bercucuran bertindak maju. Berdiri di sisinya Lam Hong Hoan terus dia menuding Leng Hian untuk berkata keras : "Hidung kerbau, jangan berbicara takabur ! Tentang sakit hatinya guruku ini, aku Teng Hiang, aku bersumpah akan aku perhitungkan dengan kau sekalian ! Hari ini biarlah suka aku mengasi lewat kepada kamu tetapi nanti sesudah lewat satu tahun akan aku cari kamu buatku mencari keadilan !"

Ketika itu sinarnya si putri malam sudah mulai suaram, selagi baru saja si nona berhenti bicara dari atas puncak tempak satu bayangan orang berlompat turun sembari lompat itu, bayangan itu memperdengarkan suaranya yang keras. " Buat apa menunggu sampai satu tahun lagi ? Tak dapatkah itu dilakukan malam ini juga ?"

Segera terlihat orang itu ada seorang muda dengan jubah panjang, di belakangnya tergendol pedangnya. Dia berwajah tampan dan gagah. Kiranya dialah Tio It Hiong.

Melihat anak muda itu datang secara tiba-tiba Pek Giok Peng lantas berbangkit hendak ia berlari menghampirinya, tetapi baru ia berseru "Adik Hiong !" atau ia sudah ditarik oleh Kiauw In yang segera ia berkata padanya perlahan. "Sabar adik ! Lihat dulu dia yang palsu atau bukan !" Luar biasa nona Cio. Sekalipun ia sangat memikirkan It Hiong dan mengharap-harapnya di dalam keadaan sulit seperti itu masih dapat ia berwaspada. Di saat itu maka dari sisi dinding puncak pun tampak munculnya satu tubuh yang langsing yang terus menghampiri It Hiong di depan siapa dia tertawa manis dan menyapa merdu : "Adik Hiong. Mengapa baru sekarang kau datang ?"

Pada punggungnya nona itu tampak senjatanya yaitu sanho pang. Maka tak salah lagi dialah Tan Hong dari Hek Keng To. Dan dia datang langsung pada si anak tanpa ragu-ragu lagi.

Tak puas Giok Peng melihat tingkahnya Nona Tan. Seperti biasanya rasa jelusnya muncul tanpa dapat dicegah, hanya dia dapat tidak sembarang bertindak. Ia cuma berkata nyaring kepada si anak muda : "Paman In terluka parah sekali. Dia saat mati hidupnya. Lekas kau membantu membantunya !

Kenapa kau ayal-ayalan ?"

"Oh !" It Hiong memperdengarkan suaranya lantas ia berpaling kepada Lam Hoang Hoan dan Teng Hiang untuk melirik sesudah itu, dia menghampiri In Gwa Sian.

Pek Giong Peng mau memapaki si anak muda itu. Lagi-lagi ia dicegah Kiauw In. Ia menjadi tidak puas. Maka ia menoleh kepada kakak itu, akan menatap matanya. Atau ia melihat Nona Cio terdiam mengawasi tajam kepada si anak muda. Tio It Hiong bertindak turut kepada In Gwa Sian. Selekasnya dia datang dekat, bukannya dia menghampiri ayah angkat itu, guna menyapa atau membantunya, mendadak dia menggerakkan tangannya untuk menyerang.

"Kurang ajar !" demikian satu bentakan nyaring halus yang dibarengi dengan serangannya kepada tangannya si anak muda, guna menghadang serangannya dia itu. Menyusul itu bangun berdirilah nona yang berseru itu yang menyerang dengan tangan kirinya kepada orang sambil dia mendamprat : "Hai, bangsat yang tak tahu malu ! Bagaimana kau begini kejam menyerang kepada orang tua yang lagi tak berdaya ?"

Kata-kata itu adalah campuran panas hati dan menyesal, ketika Giok Peng mendengar itu, dia bagaikan terasadar. Pek Cut Taysu lagi menolong In Gwa Sian, ia toh menoleh mengawasi si anak muda. In Gwa Sian sudah sadar, ia turut mengawasi juga.

Semua orang pihak lurus itu menjadi heran, kenapa It Hiong bersikap demikian aneh ? Kenapa dia menyerang ayah angkatnya sendiri ? Kenapa dia bentrok dengan nona Cio ?

Giok Peng pun heran hingga ia berdiri bengong saja.

In Gwa Sian mengawasi sebentar walaupun matanya rada kunang, ia toh lantas mengenali anak pungutnya itu. Ia menjadi gusar sekali. Dengan suara tak tegas, ia berkata keras

: "Anak Hiong tahan ! Apakah artinya perbuatan anehmu ini. ?"

Saking mendongkol, napasnya jago tua itu menjadi sesak.

Ia pingsan seketika.

"Paman In jangan bergusar !" Kiauw In berseru. "Dia ini It Hiong palsu."

Mendengar suaranya Kiauw In, Giok Peng dan Tan Hong bagaikan dihajar guntur lantas mereka sadar. Sebaliknya para hadirin semakin heran.

Tiba-tiba Cukat Tan murid Ngo Bie Pay berseru : "Dia yang telah menyerang ayah angkatnya sendiri, dia juga menempur tunangannya, dia sama jahatnya dengan satu bajingan. Maka itu jangan perdulikan dia yang tulen atau yang palsu. Mari kita bekuk dia ! Bekuk dia baru bicara !" Dan ia mendahului lompat maju guna membantu Kiauw In.

Suaranya Cukat Tan mendapat sambutan hangat. Sejumlah anak muda lantas menghunus masing-masing senjatanya, terus mereka itu maju menghampiri. Tio It Hiong, ya Tio It Hiong palsu melihat suasana buruk itu. Dengan tiba-tiba dia berlompat ke tengah tanah lapang ke arah Nona Tan.

Tan Hong masih ragu-ragu ketika ia melihat si anak muda berlompat itu tetapi tidak ayal lagi, ia menyerang dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya menyambar ke muka orang. Niatnya buat membetot kulit muka orang, kulit yang menyamai wajahnya It Hiong sejati. Hong Kun dapat menerka maksud orang. Ia tidak menangkis tangan kanan nona itu, bahkan sengaja ia biarkan mukanya kena diraba, setalah mana ia berlompat mundur.

Tan Hong heran bukan main. Ia bukannya meraba topeng atau lainnya. Hanya kulit dan daging yang lunak, licin dan hangat. Jadi itulah bukan topeng. Hong Kun mundur bukannya buat mundur pergi, dia hanya menggunakan tipu daya. Dia mau membikin Tan Hong menjadi bersangsi betul-betul. Tapi justru dia mundur itu, satu serangan tangan segera meluncur ke arahnya !

Itulah Siauw Wan Goat, bajingan bungsu dari To Liong To yang menyerang secara tiba-tiba. Dia mempuaskan penasarannya terhadap It Hiong, dia berlompat maju dan menyerang. Hong Kun berkelit tetapi kurang cepat. Iganya terhajar hingga ia merasakan nyeri. Untung baginya serangan Wan Goat dilakukan dengan setengah hati. Nona itu membenci tetapi hanya separuh, sebab tetap dia masih menyinta. Sambil menyerang itu dia membentak : "Manusia tak berbudi ! Nonamu hendak mengadu jiwa denganmu !"

Panas hati Hong Kun. Ia memandang si nona. Dia tidak bergusar tetapi dengan airmata menggenang. Ia menjadi sebal. Tak ingin ia digurambangi nona itu. Maka timbullah rasa bencinya. Ia pula tak ingin nanti terkepung dan terbekuk oleh orang lurus. Itu sebab rahasianya bakal terbuka. Tapi ia cerdik sekali, ia kata nyaring : "Siauw Wan Goat, jangan salah paham. Cinta kita dalam bagaikan lautan ! Mari kita pergi !"

Nona Siauw heran hingga ia menjadi melongo. Justru ia berdiam itu, Hong Kun maju menikam padanya ! Pemuda itu hendak merampas nyawa orang. Selagi si anak muda itu menyerang, dua sosok tubuh lompat berbareng kepadanya. Yang satu menyerang dengan senjata roda sepasang Ji Goat Siau lun yang lain dengan cambuk joan pian, dengan begitu beradulah senjata mereka. Roda sepasang yaitu Ji Goat Siau lun kena terpapat kutung, hingga pemiliknya menjadi berdiri bengong.

Wan Goat melihat penolongnya itu ialah kedua kakaknya, kakak nomor dua Lam Hong Hoan dan kakak nomor lima Bok Cee Lauw itu yang senjatanya terkutung sekejap itu, meluaplah hawa amarahnya. Maka ia lantas menikam Hong Kun. Dalam nekad ia bersedia mati bersama.....

Hong Kun melayani serangan itu tetapi karena ia kuatir nanti kena terkepung, setelah mendapat kesempatan, ia berlompat mundur akan terus lari turun gunung. Ketika si anak muda mau kabur itu ia mendengar tawa yang dalam dan dingin lantas seorang tua merintangi larinya. Dia itu seorang tua dengan jubah panjang dan janggut mancung seperti janggutnya kambing gunung. "Eh, Tio It Hiong bocah !" bentak orang tua itu. "Mana kegagahanmu selama di Ay Lao San. Apa dengan cara begini saja kau hendak kabur ?"

Kata-kata itu ditutup dengan serangan dua belah tangan kosong. It Hiong palsu, ia tidak menangkis, ia juga tidak lantas melawan. Ia hanya mundur dua tindak.

"Siapa kau ?" bentaknya. Orang tua itu tertawa.

"Kau berpura-pura ya ?" tegurnya. "Bocah, akulah Kiu Lam It Tok ! Aku datang menghaturkan obat pemunah racun buat pamanmu ! Jika kau benar kosen mari layani aku."

Lagi sekali orang tua itu mengulangi serangannya. Hong Kun datang ke Tay San dengan maksud mengacau, tak perduli terhadap pihak mana ia hendak menerbitkan salah paham, supaya orang terus bentrokan. Siapa tahu dua-dua pihak justru memusuhinya. Ia menyesal yang niatnya gagal. Tapi satu hal ia telah lihat tegas semua pihak tak ada yang berkesan baik dan senang terhadap musuhnya.

Hal ini membuatnya sedikit girang. Tetapi sekarang Kiu Lam It Tok menghadangnya, timbullah rasa jemunya. Diam- diam ia mengeluarkan racunnya yang berbahaya itu, ia mengebut si orang tua setelah itu ia lari ke arah kaum sesat, buat juga melepaskan bubuk beracunnya itu !

Hanya sebentar saja, enam atau tujuh orang kaum sesat itu telah roboh karena kena mencium bubuk beracun. Yang lainnya ada yang menangkis dengan sampokan, ada yang lompat berkelit. Dengan begitu, kaum sesat itu menjadi kacau. Ang Gan Kwie Bo dari Ngo Cie San mempunyai seorang murid bernama Cio Hoa, murid itu tidak tahu selatan, hendak dia membokong penyebar maut itu, dengan berani dia lompat menerjang atau dia lantas terkena bubuk beracun, kontan dan roboh tak sadarkan diri.

Ang Gan Kwie Bo terkejut. Lekas-lekas ia menutup jalan darahnya sendiri, ia menahan napas, sambil berbuat begitu ia lompat ke depan untuk menjemput, memondong muridnya itu, buat dibawa pergi. Hanya belum lagi ia mengangkat kaki, satu sinar pedang sudah berkelebar ke arahnya. Ia berkelit dengan memutar tubuhnya, hingga ia bisa lantas melihat penyerangnya itu, ialah Tio It Hiong palsu. Ia menjadi gusar sekali, ia lantas membalas menyerang dengan tangan kiri, terus ia membuka suara, akan menyanyikan lagu yang lihai itu, lagu Toat Hun Im Po, Gelombang Irama Merampas Nyawa

!

Mendengar suara itu, kontan It Hiong palsu menggigil, pernapasannya menjadi tidak karuan, tubuhnya terus terhuyung-huyung. Lekas-lekas dia berdiam diri, guna menetapkan hati, buat mengatur pernafasannya. Dengan begitu, tak dapat ia berkelahi lebih jauh. Ang Gan Kwie Bo bingung, hendak ia membantu muridnya, melihat orang tidak bergerak lebih jauh, ia menghentikan suaranya, ia bawa muridnya itu masuk ke dalam rimba.

Lam Hong Hoan dan Siauw Wan Goat mengejar si anak muda, selagi mendatangi, mereka mendengar suaranya jago wanita dari Ngo Cie San itu, pikiran mereka kacau, lekas-lekas mereka berhenti berlari guna mengatur pernafasan mereka.

Selekasnya suara berhenti dan si nyonya tua lari terus, baru mereka mengejar pula. Hong Kun panas hati dan penasaran menyaksikan ia masih dikejar Hong Hoan dan Wan Goat, lantas ia menyambuti, mendahului menikam si orang she Lam. Hoang Hoan juga gusar. Ia melancarkan joan pian hingga cambuk itu menjadi kaku dan panjang seperti tombak, menikam ke dadanya si anak muda. Hong Kun menangkis dengan satu tebasan, niatnya supaya cambuk lawan bisa ditebas kutung. Tapi Hong Hoan lihai, dapat ia menarik pulang senjatanya untuk dipakai mengulangi serangannya, dengan begitu dapat ia mendesak lawan, yang terpaksa berkelahi sambil mundur.

Menyaksikan si anak muda terdesak, Siauw Wan Goat tidak maju membantui kakaknya. Dia hanya berdiri diam untuk menonton. Rasa tak tega terhadap si anak muda membuat hatinya goncang dan serba salah. Sesudah Hong Kun mundur tiga tombak lebih, mendadak Kiu Lam It Tok muncul pula, jago itu terus berlompat maju sambil menyerang sembari dia menyerukan : "Lihat tanganku !"

Hong Kun repot. Ia dikepung dari depan dan belakang. Sementara itu, ia sudah bermandikan peluh. Satu kali ia berlompat sambil menyerang, di saat Hong Hoan berkelit ia berlompat terus. Maka tibalah ia disebelah barat tanah lapang itu, ditempat rombongannya kaum lurus.

Tepat itu waktu Tan Hong berlompat maju pula. Si nona penasaran, maka ingin dia ketahui, It Hiong itu It Hiong palsu atau tulen. Di lain pihak dia melihat Kiauw In berdua Giok Peng tengah mengawasi tajam kepada It Hiong, rupanya mereka itu tengah meneliti anak muda itu. Maka berpikirlah dia, "Mereka itu istrinya It Hiong. Mereka dapat berlaku sabar, kenapakah aku tidak ? Kalau aku maju terus, bukankah orang akan mentertawakan aku ? Baiklah, aku bersabar. " Maka

dia mundur pula. Ketika itu terdengar suaranya Giok Peng berkata kepada Kiauw In, "Kakak, kalau dia bukannya adik Hiong, kenapa dia menyerang pihak sana ? Wanita dari To Liong To itu seperti juga mempunyai hubungan yang tak layak dengan dia !

Bagaimanakah pandangan kakak ?"

Tan Hong menoleh ke arah darimana suara itu datang. Dia melihat Kiauw In menarik tangannya Giok Peng dan berulang kali menggelengkan kepala, mulutnya bungkam, matanya tetap menatap It Hiong.

Kiu Lam It Tok Sia Hong bersama Lam Hong Hoan sudah mengambil sikap mengepung bersama akan tetapi sepasang tangan kosongnya tidak dapat menandingi golok Kia Hoat dari Hong Kun, tak berani tangan berdarah daging itu menyentuh pedang yang tajam itu, bahkan pedang mustika, maka sering dia merubah serangannya atau berlompatan berkelit. Maka juga lantas juga dia terdesak menjadi pihak yang diserang.

Karena dia terdesak itu, dia membuat sulit juga pada Lam Hong Hoan, kawannya hingga cambuk panjang she Lam itu tak berani sembarangan diluncurkan, kuatir nanti mencelakai kawan sendiri. Dengan demikian It Hiong palsu menjadi mendapat angin.

Selagi bertempur itu, Hong Kun masih sempat melirik ke sekitarnya hingga ia melihat ada ancaman bahwa ia nanti kena terkurung. Para "penoton" agaknya semakin mendekati, ia melihat di barat Kiauw In bersama Giok Peng, ditimur Siauw Wan Goat bersama Bok Cee Lauw. Di bagian tengah ada Tan Hong. Justru mereka itu bertiga yang dikuatirkan bakal melucuti kedoknya. Celaka kalau dia terkurung, pasti rahasianya akan terbuka dan itu berarti namanya terutama nama perguruannya bakal runtuh. "Aku harus menyingkir !" demikian ia mengambil keputusan. Maka juga dia lantas menyerang Kiu Lam It Tok yang dia desak dengan tikaman atau sabetan berantai lima kali tak hentinya.

Terpaksa, Sia Hong telah terdesak mundur. Lam Hong Hoan penasaran, dia mencoba mendesak, cambuknya memain turun dan naik, cepat dan berbahaya. Selagi dia mendesak itu mendadak ada orang lain yang berlompat masuk ke dalam kalangan pertempuran, orang mana sambil memperdengarkan suara yang bengis. "Manusia jahat, serahkan nyawamu !" Dan dialah Cukat Tan, murid Ngo Bie Pay.

Hebat pemuda she Cukat itu. Begitu dia menyerang, begitu dia mendesak, pedangnya menyambar-nyambar tak hentinya tiga kali beruntun. Hong Kun repot, hingga tanpa merasa ujung bajunya terhajar cambuknya Hong Hoan dan robek. Dia menjadi kaget, tak mau dia membuang waktu lagi. Lantas dia menjatuhkan diri dengan jurus "Tidur Mabuk diatas pasir". Dia menggulingkan tubuh buat menjauhkan diri sampai tiga tombak, setelah mana dia berlompat bangun sambil terus mengayun sebelah tangannya, melepaskan bubuk beracunnya yang seperti halimun musim semi itu. Dengan senjata rahasia itu, dia menghadang orang mengejarnya. Dia sendiri terus lari turun gunung.