Iblis Sungai Telaga Jilid 27

 
Jilid 27

"Terima kasih !" bilangnya. "Lolap hendak lekas kembali ke kuil akan membunyikan genta, isyarat serta menitahkan

murid-muridku segera mencari atau memegat orang jahat itu."

In Gwa Sian menengadah langit. Ia melihat fajar telah tiba. "Pendeta tua, tak usah kau berbuat demikian lagi."

cegahnya. "Itulah percuma saja. Orang itu sangat sempurna ilmu ringan tubuhnya, dia tentu sudah lama turun gunung. Manusia jahat bakal menerima nasibnya sendiri, demikian dengan penjahat tadi, tak nanti dia lolos dari hukumannya !"

Pek Cut mengangguk. Ia menggerakkan tangannya. "Kedua tanwat, silahkan kembali untuk beristirahat" ia

mempersilahkan. "Lolap meminta diri !"

In Gwa Sian tampak berpikir, lalu dia kata kepada kedua nona : "Nanti kalau sudah ada kesempatannya, aku si tua akan menjenguk kalian berdua untuk membicarakan soal anak Hiong. Sekarang kalian jangan banyak pikir, cuma akan memusingkan kepala saja ! Paling benar biar rajinlah kalian berlatih, bersiap sedia menyambut hari pertemuan besar nanti

!"

Habis berkata, ia lantas bertindak mengikuti ketua Siauw Lim Sie itu.

Semenjak itu maka Pek Cut Taysu telah mengasi titah baru, siapa pun datang ke Siauw Lim Sie, dia harus dilaporkan dahulu dan tidak dapat dia dibiarkan masuk dengan bebas seperti Tio It Hiong palsu itu. Penjagaan pun dipesan untuk diperketat. Hong Kun sementara itu dapat keluar dengan bebas dari pelbagai pos penjagaan Siauw Lim Sie, sebab ia tetap masih menyamar sebagai Tio It Hiong dan diluar pengejarannya In Gwa Sian, dia bersikap tenang-tenang saja. Sampai jauh dari kaki gunung SiongSan, baru dia duduk diatas sebuah batu untuk beristirahat, untuk sekalian menyesali usahanya yang gagal itu. Ia menjadi mendongkol dan penasaran sekali, hingga timbul niatnya untuk melakukan lain pembunuhan guna  melampiaskan kebusukan hati itu. Sekali ia benar-benar menjadi seorang manusia sesat.

Selagi It Hiong palsu ini beristirahat itu, beberapa orang rahib tampak tengah mendatangi. Waktu itu sudah fajar.

Mereka itu pada menggendol pedang dan mendatanginya dengan berlari-lari. Merekalah rombongan Pauw Pok Tojin dari Ciang Shia Pay bersama beberapa orang muridnya, yang datang memenuhi undangan untuk pertemuan besar di gunung Tay San nanti. Diantara murid-muridnya itu terdapat Gu Tauw Kong yang baru sembuh dari lukanya. Dia ini melihat Hong Kun, dia lantas mengenalinya, maka lantas saja ia lompat maju, dia menghunus pedang sambil memperdengarkan suara dingin tanpa mengucap sepatah kata terus dia menyerang anak muda yang menjadi musuhnya itu.

Hong Kun lihai, dengan mudah dia lompat berkelit. Dia menghunus pedangnya. Dia pula segera mengenali penyerangnya itu ialah imam dari Ceng Shia Pay yang dia telah lukakan di Liong peng.

"Hai, roh gelandangan diujung pedang !" dia membentak, "masih berani kau datang menerima kebinasaanmu !" Lantas dia maju untuk membalas menyerang. Bahkan dia mendesak, menyerang terus hingga tiga kali !

"Tahan !" berseru Pauw Pok Tojin. "Tauw Kong, siapakah orang ini ?" Tauw Kong berlompat mundur.

"Suhu, dia inilah yang melukakan murid serta membinasakan bebeapa orang adik seperguruanku !" sahutnya. "Dialah Tio It Hiong yang menyerbu gunung dan mencuri pusaka kita !"

Pauw Pok segera berpaling kepada si anak muda. Ia ada cukup besar, hendak dia menanyakan sesuatu, atau mendadak serangannya si anak muda itu telah tiba. Terpaksa ia menyampok dengan kebutannya sambil membentak : "Manusia ganas ! Kau mengandalkan pedang mustikamu dengan apa kau tak memandang orang ya ?"

Bersama Pauw Pok berada juga Pauw Goan Tojin, adik seperguruannya. Dia ini gusar, maka dia maju ke depan kakak seperguruannya, untuk segera menuding Hong Kun sambil tertawa : "Bocak busuk, jika berani, nyalimu besar, sebutkanlah nama gurumu ! Pinto akan tak pedulikan siapa tua siapa muda, bersedia pinto melayanimu bertempur !"

Tak berani Hong Kun menyebut nama perguruannya dan biarpun dia bernyali besar, dia juga takut memakai namanya Tek Cio Siangjin, maka itu dengan kelicikannya dia menjawab saja : "Jangan kau bertingkah dengan ketua-bangkaanmu !

Jika kau mempunyai kepandaian, kau keluarkanlah itu untuk ku merampas pulang pusaka parta Ceng Shia Pay kamu !"

Mendengar disebutnya pusaka mereka, semua murid Ceng Shia Pay menjadi gusar sekali, maka semua maju serentak sambil mereka menghunus senjatanya masing-masing. Empat diantara mereka itu sudah lantas mengambil kedudukan mengurung di empat penjuru. Gu Tauw Kong adalah yang memegang pimpinan sebab itulah semacam tiu, Barisan istimewa dari Ceng Shia Pay, namanya Keng Hoan Thian Pauw Kiam Tiu. Cocok dengan namanya Barisan itu, "Barisan pedang" kiam tiu.

Segera juga It Hiong palsu sudah mulai diserang dari empat penjuru. Itulah serangan yang teratur sempurna. Ke empat batang pedang maju bergantian atau berbareng, menikam atau menebas atau membacok. Dia tak takut tetapi dia toh repot. Tak mudah akan meloloskan diri, jangankan buat melakukan penyerangan membalas.

Seru sekali pertempuran itu. Kelima buah pedang berkilauan, anginnya menghembus kemana-mana, suara bentroknya nyaring. Sampai sekian lama itu, kedua pihak terus berkutat saja. Gu Tauw Kong berempat tak berhasil merobohkan musuh yang lihai itu dan Hong Kun tak sanggup meloloskan diri dari pengurungan, ia cuma berhasil membela diri saja.Pauw Pok Tojing menonton terus. Ia melihat  hebatnya pertempuran. Terpaksa, ia menguatirkan keselamatan murid-muridnya. Ia mendapat kenyataan pemuda itu lihai sekali. Ia menjadi menyayangi kepandaian orang itu.

Maka juga akhirnya ia berkata nyaring :

"Hei bocah, jika kau mengembalikan pusaka gunung kami, suka pinto membuka jalan lolos bagimu !"

Hong Kun sudah lantas menunjuki kecerdikannya. Dia mengerti kalau dia bertempur terus ada kemungkinan dia nanti kalah ulet. Sudah sekian lama pertempuran berlangsung dan dia belum berdaya sama sekali. Maka pikirnya. "Baiklah aku bersabar ! Laginya buat apa segala benda pusaka orang." Tetapi dia menghendaki kepastian.

"Totiang" demikian serunya. "Apakah totiang bersungguh- sungguh ?" Sambil berkata begitu, pemuda ini merogoh ke sakunya dan terus mengulapkan tangannya itu, akan memperlihatkan benda pusaka orang yang dia rampas. Itulah yang dipanggil Pek Giok Siam uh, atau "Kodok Gemula" yang berkhasiat menyembuhkan luka. Habis mengasi lihat itu, ia kembalikan benda itu ke dalam sakunya.

Pauw Goan Tojin mendongkol sekali. Terang orang itu menunjuki kelicikannya.

"Lekas menggunakan It Kie Thian lo !" Ia menyerukan ke empat muridnya. "Perketat kepungan ! Binasakan dia !"

Perintah itu dituruti, ke empat murid Ceng Shia Pay menyerang pula, "It Kie Thian lo" berarti "Jaring Langit senyawa". Pula penyerangan dilakukan dengan keras luar biasa. Maka itu selagi pedang-pedang lawan berkilauan dan anginnya menderu, It Hiong palsu menjadi repot sekali mencoba menyelamatkan dirinya.

Tetapi muridnya It Yap Tojin tidak takut. Dia berani dan cerdik. Lantas tangan kirinya merogoh pula sakunya, kali ini buat mengeluarkan Pek Giok Siam uh bersama bubuk pulasnya yang beracun, Bie Hun Tok Han, sembari melemparkan itu ke arah Gu Tauw Kong, ia berseru : "Terimalah pusakamu ini !" Menyusul seruan itu maka terbang berhamburanlah bubuknya yang lihai itu !

Dilain pihak, Pauw Pok Tojin yang jujur melihat orang mau melemparkan pusakanya, sudah lantas menyerukan orang- orangnya

"Lepaskan pengurungan ! Berikan dia jalan hidup !" Ke empat murid itu sudah lantas berhenti mengurung sedangkan Gu Tauw Kong terus menyodorkan tangannya guna menyambuti pusakanya atau segera ia kena mencium bubuk racun itu, seketika juga tubuhnya limbung terus roboh pingsan, sementara kedua kawannya yang dapat mencium sedikit, terhuyung mundur dengan kepala sedikit pusing,

lekas-lekas mereka menyampok ke depan, akan membuyarkan bubuk, setelah mana ketiganya menjatuhkan diri untuk duduk bersila, buat mengatur pernafasannya.

Di lain pihak lagi, Gak Hong Kun yang cerdik telah menggunakan kesempatan buat angkat kaki, tetapi dasar dia licik dan juga ganas, dia berlompat kepada Gu Tauw Kong sambil mengayun pedangnya. Dia memikir sekalian saja membunuh musuh itu walaupun oarng sudah rebah pingsan.

Sementara itu Pauw Goan Tojin yang berpengalaman, lantas menerka jelek selekasnya ia melihat robohnya Tauw Kong itu maka justru Hong Kun menyerang dengan kecepatan yang luar biasa, dia sudah menyambut serangan busuk dari pemuda itu.

Hong Kun terperanjat, ia mencoba berkelit dengan Tiat Poam Kio, jurus silat Jembatan Papan Besi, akan tetapi biar bagaimana, ia toh terlambat maka juga bajunya robek terpapas pedang dan darahnya mengalir keluar membasahi bajunya itu !

Selagi penyerangan itu berlaku Pauw Pok telah menyerukan adik seperguruannya : "Sute, tahan!"

Pauw Goan mentaati kata-kata kakak seperguruannya, ia masukkan pedangnya ke dalam sarungnya, matanya mengawasi It Hiong palsu yang kabur seketika, hilang lenyap di tempat jauh. Habis itu, ia menghampiri Tauw Kong untuk ia menjemput Pek Giok Saim Uh yang ia terus letaki diatas hidung orang, sedangkan dengan tangannya yang lain ia menotok, menekan dan menguruti dada dan perut si pingsan, guna memberikan pertolongannya.

Luar biasa khasiatnya benda pusaka itu yang bisa menyingkirkan racun dan menyembuhkan, karena dilain detik, Gu Tauw Kong mendusin dengan tidak kurang suatu apa.

Hampir berbareng dengan itu, ketiga yang lainnya pun dapat berbangkit sebab mereka bisa menyelamatkan diri dengan usaha penyaluran pernapasannya itu.

Pauw Pok Tojin menyimpan benda pusakanya, sesudahnya Gu Tauw Kong berempat dapat berjalan bersama-sama mereka mulai pula bertindak ke arah Siauw Lim Sie. Sembari jalan Pauw Pok penuh keragu-raguan. Inilah sebab ia melihat ilmu silatnya It Hiong tak mirip dengan ilmu silat Kie Bun Pat Kwa Kiam dari Pay In Nia dan gerakan ringan tubuhnya tak sama dengan ilmu ringan tubuh Te In Ciong, Tangga Mega.

Walaupun demikian, ia cuma merasa heran, tidak ia utarakan itu. Ia melihat tetapi ia menutup mulut........

Selagi Tio It Hiong palsu kabur meninggalkan gunung Siong San, maka It Hiong yang dapat celaka berbalik menjadi memperoleh keberuntungan, hingga tidak saja jiwanya tak lenyap di jurang di Ay Lao San itu, sebaliknya ia memperoleh buku silat pedang Gie Kiam Sut.

Tanpa ia ketahui, It Hiong terjatuh di dalam jurang dengan ia tercebur ke dalam air hingga saking terkejut ia kena menengaknya. Justru karena itu, karena hawa dingin ia lantas terasadar. Ia melihat gelap disekitanya. Air dingin luar biasa dan perih rasanya terkena mata. Maka ia lantas memejamkan pula matanya itu serta menyalurkan pernafasan dengan ilmu Hian Bun Sian Thian Khie kang, sedangkan kedua tangannya digerak geraki tak hentinya untuk berenang. Ia terus menahan nafas. Ia tahu, ia terjatuh ke air dan tenggelam, entah berapa dalam. Maka ia ingin muncul dipermukaan air itu.

Tidak lama muncul juga ia dipermukaan air. Ia berenang terus sampai tangannya memegang stalaktit. Sekarang ia bisa membuka matanya tetapi disekitarnya gelap, tak dapat ia melihat apa-apa. Ia pula merasa seluruh tubuhnya gatal, hingga ia menjadi terkejut. Disebelah itu ia telah biasa dengan dingin itu. Ketika ia pusatkan tenaga matanya ia cuma bisa melihat sejauh tiga kaki.

Tiba-tiba si anak muda ini melihat sinar kuning emas berkelebat di depannya bergerak maju dan mundur. Waktu ia mendekati kiranya itulah sekumpulan ikan yang sisiknya mengeluarkan cahaya seperti kunang-kunang. Dan kumpulan ikan itu berkumpul di mulutnya sebuah goa. Dengan berani ia masuk ke dalam goa itu hingga kakinya kena injak lumut yang tebal dan licin sekali. Goa itu mendaki naik. Ia lantas bertindak seperti merayap, kedua tangannya sekalian dipakai sebagai mata, sebab tetap ia berada di dalam gelap gulita. Ia pula merasa yang ia mendaki berputar. Jadi terowongan itu tidak terus lempang. Waktu ia angkat tangannya ke atas, tangan itu membentur langit-langit goa, terpisah goa dari kepala cuma satu kaki. Ditempat seperti itu, terang tak dapat ia duduk atau kepalanya akan sundul dengan langit-langit. Terpaksa ia beristirahat sambil rebah diam saja. Selekasnya ia merasa letihnya berkurang, ia mulai merayap pula hingga tangan dan kakinya bekerja sama.

Makin jauh ia merayap, It Hiong merasai terowongan mendaki terus. Tentu sekali tak tahu ia berapa jauh ia sudah berjalan merayap itu. Makin ia merayap makin ia mendaki tinggi. Kembali ia merasa bahwa ia telah merayap memutari. Hanya kali ini segera ia merasa debarannya angin dan waktu ia membuka matanya, ia melihat sedikit sinar terang. Sementara itu ia merasa letih bukan main, cuma dengan menguatkan hatinya dapat ia merayap lagi kira-kira tiga puluh tombak. Disini ia merasa gua makin lebaran dan juga langit- langitnya tinggi, cari duduk dan berjongkok ia dapat berdiri tanpa kepalanya sundul.

"Ah !" demikian ia menghela nafas, lalu ia meluruskan jalan nafasnya. Ia berduduk akan beristirahat. Kali ini ia duduk bersemedi dengan membuka matanya supaya ia bisa melihat segala apa. Ia merasakan nadinya bagaikan tertutup, itulah penghalang untuk mengatur pernafasannya. Cuma ia merasa hatinya tenang, ia lantas ingat bahwa ia telah jadi korban racunnya lagu bangsi dari Kwie Tiok Giam Po. Maka lekas- lekas ia merogoh sakunya, mengeluarkan peles hijaunya buat mengeluarkan pil dari pendeta tua dari Bie Lek Sie, untuk terus dimakannya. Bahkan sekali telan, ia menelan enam butir. Sesudah itu ia menyenderkan tubuhnya pada dinding dan matanya dipejamkan. Tanpa merasa, ia tidur kepulasan.

Entah berapa lama sudah sang waktu lewat. Tatkala It Hiong mendusin, pakaiannya sudah separuh kering sendirinya. Yang menggirangkan hatinya ialah waktu ia mendapat kenyataan tenaganya sudah pulih dan otaknya sudah jernih seperti biasa. sekarang ia ingat akan rasa lapar. Untung baginya, rangsum bekalannya tidak lenyap, hingga ia bisa mengeluarkan itu dan mulai mengisi perutnya.

Lalu tibalah saatnya yang anak muda ini berbangkit, untuk mulai berjalan. Ia mengikuti jalanan yang banyak pengkolannya. Ia mengharap-harap bisa tiba di mulut goa. Ia pula merasa aneh, goa itu bebas dari tikus atau ular atau binatang lainnya. Satu hal ia kuatirkan juga, kalau jalan keluar masih jaun, ia bisa kehabisan rangsum dan celakalah bila ia sampai kelaparan. "Bak !" tiba-tiba terdengar satu suara keras dan It Hiong terperanjat. Ia berjalan sambil berpikir keras, matanya sampai tak memperhatikan jalan disebelah depan itu, maka diluar tahunya ia membentur dinding. Lantas ia mengawasi, ia menjadi girang sekali. Ia melihat sinar matahari ! Bukan main girangnya ! Lantas ia lari ke arah darimana cahaya itu datang. Berdiri di mulut goa, It Hiong berpaling ke belakang. Ia melihat goa itu cukup lebar. Tadi dari dalam, tak dapat ia melihat lebih tegas.

Ia melihat pembaringan dan kursi batu. Benda lainnya tapinya tak ada.

"Pasti goa ini pernah orang pakai buat bertapa" pikirnya. "Karenanya mulut goa ini pastilah jalan keluar. "

Dengan tenang It Hiong mengawasi dinding. Ia mendapat lihat dinding yang rata seperti buatan manusia, lebar kira satu tembok. Mungkin itu hasil papasan dengan golok atau kapak. Dinding lainnya tak rata.Sesudah pikirannya menjadi lega itu, It Hiong cepat kembali ketenangannya. Disitu tak ada benda lainnya. Ia jadi tertarik dengan dinding yang rata itu. Lantas ia bertindak menghampiri sampai dekat sekali, untuk meneliti.

Samar-samar ia melihat huruf-huruf, hanya sebab cahaya kurang tak dapat ia melihat nyata, hingga juga tak dapat ia membaca huruf-huruf itu. Ia ingat api lekapannya tetapi tak dapat ia menyalakan itu karena sumbunya basah bekas kerendam.

Saking masgul It Hiong pergi ke pembaringan batu. Ia naik diatas itu dan duduk beristirahat guna menenangka hatinya. Mulanya ia tetap berpikir keras. Dengan begitu tak dapat ia duduk tenteram. Pikirannya tertarik pada dinding licin itu. Ia turun dari pembaringan, ia berjalan mondar mandir. "Bagaimana aku harus berdaya buat bisa melihat dan membaca huruf-huruf itu ?" pikirnya berulang-ulang.

Masih lewat pula beberapa saat sampai mendadak saja ia ingat sesuatu.

"Ah, mengapa aku menjadi tolol ?" akhirnya ia kata sambil menepuk tangan. Ia lantas mengambil sumbunya yang tadi ia lemparkan

ke tanah sebab tak dapat disulut nyala. Buat mendapatkan api, ia mencabut pedangnya. Ia pakai itu buat mengetuk dinding, hingga pelatikannya merupakan api. Kali ini sesudah berulang-ulang dapat juga ia menyalakan sumbu itu hingga selanjutnya sumbu itu menggencang terus hingga bisa dipakai menyalai.

Ada bagian lain yang telah tumbuh lumut lantas lumut itu dikorek,disingkirkan. Untuk kegirangannya, ia melihat tiga huruf yang berbunyi "Gie Kiam Sut" Ilmu Mengendalikan Pedang. Itulah ilmu pedang yang sudah lenyap dari perbendaraan dunia persilatan selama setengah abad paling belakang. Orang umumnya menyebut itu sebagai ilmu "Pedang Terbang". Huruf-huruf lainnya adalah cara mempelajari ilmu pedang yang istimewa itu.

It Hiong telah mengerti ilmu pedang walaupun Gie Kiam Sut sulit setelah ia membaca berulang-ulang, dapat ia menangkap artinya. Hal itu membuatnya girang bukan main. Lupa segalanya, ia terus membaca dan membacanya sampai ia sanggup mengapalkan itu diluar kepala, hingga ia lupa lapar dan haus ! Untuk melatih diri dengan ilmu pedang yang baru ini, maka It Hiong berdiam di dalam goa itu. Ia tidak menyia-nyiakan waktu kecuali buat makan dan beristirahat sewaktu-waktu, terutama buat tidur. Di waktu malam ia tidur sampai waktu sudah larut, untuk besoknya bangun pagi-pagi. Selama itu ia telah menghabiskan semua bekalan rangsum keringnya.

Bahkan disaat ia menghadapi kesempurnaan latihannya itu, ia mengisi perut dengan beberapa lembar daun hosin ouw sebab tak mau ia membuang waktu sedetik juga !

Dengan memakan hosin ouw obat mujarab itu, It Hiong dapat menahan lapar. Di sebelah itu, khasiat obat membuatnya bertambah hingga ia menjadi lebih ringan, kesaktiannya bertambah hingga ia menjadi sangat bersemangat, ia pula merasa bahwa matanya dapat melihat dengan terlebih terang.

Mula pertama It Hiong dapat menerbangkan pedangnya setinggi tiga tombak lebih dan sejauh belasan tombak. Itulah hasilnya dua bulan, tetapi hasil itu adalah hasil belasan tahun buat orang biasa. Ia memperoleh kecepatan sebab bakat dasar baik ilmu silatnya sendiri, pengaruh obat dan rejekinya. Tapi hasil itu belum memuaskan. Ia ingin memperoleh lebih. Toh ada sebab-sebab yang memaksanya meninggalkan goa terlebih cepat. Itulah soal pamannya, urusan pertemuan besar kaum persilatan di gunung Tay San, memikirkan Kiauw In, Giok Peng dan anaknya. Pula janjinya dengan Tan Hong.

Tentunya ia diliputi urusan famili, partai, dan asmara. Maka akhirnya ia mengambil keputusan buat berangkat pulang.

Pagi itu masih It Hiong berlatih, selesai itu dan beristirahat sebentar, terus ia berjalan menuju ke mulut goa, akan keluar dari situ, hingga ia melihat dinding gunugn disekitarnya.

Dinding itu tinggi seratus tombak lebih. Matahari sudah muncul akan tetapi hal mana belum buyar seluruhnya. Sejauh tiga puluh tombak kabut tebal.

Setelah mengawasi ke atas sekian lama, It Hiong mengerahkan tenaganya. Ia mesti mendaki dinding itu. Untuk ini ia mesti menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega.

Saban-saban ia meminta bantuan pedangnya guna menikam dinding, guna menancapkan pedangnya itu supaya ia bisa meminjam kekuatan pedang guna saban-saban mengapungi tubuhnya naik terus. Ketika akhirnya ia tiba diatas gunung, ia girang bukan main. Ia menghirup pula hawa segar di tempat terbuka. Ia mengawasi ke pelbagai arah habisnya sambil bersiul nyaring ia lari turun gunung.

Di detik itu tak tahu ia arah tujuannya. Yang penting ialah asal ia tiba dulu di kaki gunung. Disini ia akan bisa memilih jalan atau menanya orang.

Sementara itu pada hari itu, pagi-pagi habis para pendeta melakukan ibadatnya, telah diadakan sebuah rapat dimana hadir semua orang anggota dari kuil Siauw Lim Sie serta para tamunya yang terdiri dari beberapa orang ketua partai dan orang-orang rimba persilatan. Di kursi baris kedua hadir para pendeta dan murid dari tingkat kedua. Ruang rapat itu memang tempat khutbah, jumlah hadirin seratus orang lebih tetapi suasana tenang dan sunyi. Tidak ada orang yang bicara. Semua berdiam.

Segera juga Pek Cut Taysu ketua Siauw Lim Sie berbangkit dari tempat duduknya. Ia merangkap tangannya sembari hormat pada semua hadirin sambil mulutnya mengucapkan doa puji, setelah mana ia menatap keseluruh hadirin. Dengan demikian ia melihat diantara sekalian hadirIn Goaw Han Tojin dari Bu Tong Pay bersama Pauw Goan Tojin adik seperguruannya, Cio Sim Tojin dari Kun Lun Pay, Cukat Tan dan Hea Poan Liong dari Ngo Bie Pay juga In Gwa Sian serta lainnya sejumlah tiga puluh orang lebih ahli silat kenamaan. Tiga orang lagi tidak hadir disebabkan pantangan keagamaan dari Siauw Lim Sie ialah Beng Sio Sanhay dari Kun Lun Pay serta Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng, walaupun mereka telah berada diatas gunung.

Dengan tenang tetapi bersungguh, Pek Cut Taysu mengutarakan sebab musabab atau keperluannya Tay Su Tay Hwan. Pertemuan Besar di gunung Tay Su nanti, ialah guna menentang bencana rimba persilatan, guna menyelamatkan dunia persilatan lurus dan ancaman pihak yang sesat. Maka itu para hadirin terutama harus sadar seluruhnya, diminta suka nanti bekerja sama menumpas para bajingan itu.

"Begitulah, maka lolap bersama Sicu In Gwa Sian sudah mengirim surat undangan kepada pelbagai pihak yang sama tujuan, guna kita membuat pertemuan di Lam Thian bun digunung suci Tay San. Sekarang sudah tanggal sepuluh bulan delapan, saatnya sudah mendesak. Disebelah kanan kiri kita menyusun kekuatan, kita juga perlu ketahui kekuatan pihak lawan, supaya kita bisa menempatkan pepatah : 'Tahu lawan, tahu diri sendiri. Seratus kali perang, seratus kali menang.' Maka itu para hadirin yang terhormat, tolong kalian membantu memberikan petunjuk supaya kita dapat bekerja dengan sempurna."

In Gwa Sian tidak menanti suara orang berhenti, sembari menepuk meja dia berkata keras : "Eh, pendeta tua, buat apa sih kau bicara merendah panjang lebar begini ? Kalau kita menghadapi kawanan bajingan jin, kita hajar saja, tak usah kita banyak berpikir lagi ! Buat aku si orang tua, aku cuma akan menyediakan dua tangan ini." Demikian tabiatnya si pengemis, yang tidak sabaran.

Memang biasanya kalau ia bicara dengan orang, atau orang- orang sebayanya tak sudi ia pakai adat istiadat atau aturan. Ia membawa caranya sendiri, baik ditempat umum atau di tempat resmi. Sekalipun Pek Cut Taysu ketua dari Siauw Lim Sie, suci dan dihormati oleh semua orang, bagi ia sama saja. Ia bicara tanpa bahasa pengertian.

Masih lugas ia memanggil imam tua, sedangkan Tek Cio Siangjin, tabib kenamaan gurunya It Hiong, ia kerap panggil dengan sebutan si hidung kerbau ! Diantara hadirin ada

murid-muridnya yang masih muda yang semangatnya meluap- lupa, mereka ini bertepuk tangan dan berseru menyambut suaranya si pengemis itu.

Setelah suasana sunyi kembali, Pauw Pok Tojin dari Ceng Shia Pay berbangkit. Ia mengangguk kepada para hadirin, istimewa mengangguk kepada In Gwa Sian, sembari menyingkap janggutnya yang panjang, ia berkata sabar : "In sicu benar, hanya itu aku pikir, kalau kita berlaku sabar sedikit dan kita merundingkan tentang kekuatan pihak sana, mungkin itu ada baiknya juga. Pernah pada tiga puluh tahun dahulu pinto bertemu dengan Thian Cia si imam tua si biang kejahatan. Itulah pertemuan di tengah jalan di Holo. Dalam pertemuan itu pinto menginsyafi lihainya ilmu Sam Im Khie kang dan Sam Ciang hoat yang dimilikinya. Setelah sekarang lewat puluhan tahun, entah berapa jauh sudah kemajuannya kedua ilmunya itu. Atau mungkin dia telah menambah dengan lain macam kepandaian yang jauh terlebih lihai. Maka itu, lawan sebagai dia itu sungguh tak dapat dipandang ringan !" Habis berkata, rahib itu mengawasi para hadirin, lalu mengangguk terus berduduk pula.

Setelah itu Cukat Tan, murid kepala Ngo Bie Pay, berbangkit dan berkata : "Sayang guruku Leng In Tojin tak dapat datang hadir dalam rapat ini, sebab ialah ia kebetulan lagi menutup diri. Karena itu aku yang rendah telah dikirim kemari guna minta maaf, buat aku menerima segala titah agar aku dapat berbuat apa-apa untuk kita semua."

Habis berkata, Cukat Tan mengawasi para hadirin, lalu ia bertanya : "Taysu, telah aku mendengar tentang saudara Tio It Hiong murid pandai dari Tek Ciok Siangjin dari Pay In Nia, halnya dia telah membantu mengusir kawanan bajingan yang telah menyerbu kemari, bahwa kepandaiannya luar biasa lihai. Aku kagum sekali mendengar halnya itu. Tapi sekarang manakah saudara Tio itu, kenapa ia tidak turut hadir disini ?"

Pemuda itu menanya polos, tetapi itu justru menyulitkan Pek Cut Taysu hingga ia berdiam saja. Maka ia dapat menjawab karena ia sendiri tidak tahu dimana adanya pemuda yang ditanyakan itu.

Sementara itu sejumlah hadirin yang tak mengerti maksud pertanyaannya Cukat Tan pada menoleh mengawasi murid Ngo Bie Pay itu. Alis panjang dari Pek Cut Taysu bergerak, agak bersangsi ia berkata juga. "Sebenarnya sekarang ini Tan wat Tio It Hiong sedang pergi ke Ay Lao San berhubung dengan urusan pamannya, Tanwat Beng Kee Eng tetapi lolap rasa bila tiba saatnya pertempuran ia tentu akan datang tepat pada waktunya. Tentang Tio Tanwat itu harap sicu tak usah buat kuatir."

Justru baru pendeta itu habis berkata muncullah seorang kacung muridnya dengan laporannya ini.

"Kakak Beng Kee Eng dengan masih sakit telah tiba dan ia menantikan perintah Su cun."

Kata-kata Su cun itu berarti guru yang terhormat. Mendengar laporan berduka, ia girang sebab murid itu datang dan berduka lantaran orang lagi sakit. Ia lantas memberikan perintahnya. "Tempatkan ia di Ruang Bawah. Kalau ada bicara lainnya, tunggu sampai sebentar malam !"

Kacung murid itu mengangguk lantas dia mundur.

Pek Cut menahan sabar. Sebenarnya ingin ia segera bicara dengan murid Siauw Lim Sie itu. Ia berbangkit pula dan berkata :

"Sebenarnya sulit buat kita mengetahui tentang kekuatan lawan maka itu benar seperti katanya In Lo sicu, kita baik menyambutnya dengan kekuatan kita. Sekarang hendak lolap menitahkan. Ang Sian Sute berangkat bersama dua puluh orang murid sebagai rombongan pertama. Mengenai pelbagai partai, lolap minta para ciangbunjin untuk mengatur masing- masing orangnya sendiri. Kita sendiri para hadirin, akan berangkat pada tanggal tiga belas yang mendatang. Karena itu, silahkan sicu semua bersiap-siap !"

Semua hadirin segera berbangkit. "Baiklah !" kata mereka serempak.

Maka sampai disitu selesai sudah rapat itu dan semua orang lantas bubaran.

Malam itu juga Pek Cut mengajak Liauw In dan In Gwa Sian pergi ke Ho In pendoponya yang disebut Ruangan Bawah itu untuk melihat Beng Kee Eng. Mereka disambut Whie Hoay Giok yang selalu mendampingi dan merawat gurunya itu.

Kemudian anak muda pintu menggendong gurunya, buat diajak keluar dari kamarnya akan membuat pertemuan di ruang tamu.

Kee Eng tetap belum dapat berdiri maka ia memberi hormat dengan mengangguk saja kepada gurunya bertiga itu. Ia pun memohon maaf.

Terharu Liauw In melihat keadaan muridnya itu. "Muridku, kau terkena racun siapa ?" tanyanya memotong

kata-kata si murid. "Dan sicu Tio It Hiong, dimanakah adanya

dia sekarang ?"

Kee Eng memberikan keterangannya, bagaimana mulanya ia dipancing Kie Cie Hoan Heng Su, bagaimana ia terkena racunnya ular oleh Kin Lam It Tok sampai It Hiong datang menolong bersama Hoay Giok serta Tan Hong dari Hek Keng To.

"Apa kabar kemudian mengenai Tio sicu ?" tanyanya Pek Cut yang memuji sang Buddha.

Kee Eng tidak dapat memberi keterangan kecuali hanya di dusun Liong Peng tiu di pinggiran propinsi Secuan, ia telah bertemu orang yang mirip It Hiong yang sudah melukakan murid-murid dari Ceng Shia Pay dan malamnya ia bertiga telah diserang secara menggelap hingga Tan Hong pergi mengejar penyerang gelap itu, bahwa sejak itu Nona Tan belum kembali.

"Ha, binatang itu berubah !" teriak In Gwa Sian yang bergusar dengan secara mendadak matanya mendelik, alisnya terbangun. "Sabar In Locianpwe," Kee Eng meminta. "Dengan kepalaku ini aku yang muda berani menjamin anak Hiong tak nanti melakukan sesuatu yang dapat membuat malu gurunya ! Yang harus dipikirkan justru keselamatan dirinya karena ia berada di gunung Ay Lao San sendiri saja. "

Pek Cut Taysu mengernyitkan alisnya.

"Dalam hal itu cuma keselamatannya Tio Tanwat yagn harus dipikirkan." katanya. "Dalam hal itu mesti ada terasangkut sepak terjang orang jahat yang bekerja mengalihkan bencana buat mencelakai orang !"

Pendeta itu lantas menuturkan halnya itu malam ada orang yang menyamar sebagai Tio It Hiong sudah datang mendatangi kamar suci di gunung belakang Siauw Lim Sie dan memperdaya Pek Giok Peng. Karenanya ia mau menyangka benar It Hiong sebenarnya lagi menghadapi bahaya, mungkin dia terkurung di Ay Lao San atau ditangah jalan telah dirintangi orang jahat.

Mendengar semua itu, In Gwa Sian tidak lagi bergusar.

Terpaksa, ia menjadi berduka. Sambil menyentil-nyentil meja, ia memperdengarkan suara bagaikan ngelamun.

Pek Cut berduka sekali, tetapi di depannya In Gwa Sian ia mencoba berlaku tenang.

"Bagaimana kalau lolap mencoba meramalkan keadaannya Tio Tanwat ?" ia tanya kemudian.

In Gwa Sian menjadi seorang luar biasa, ia tak percaya ilmu tenung, maka dia kata dalam hatinya : "Orang hidup atau mati sudah takdir. Mana aku percaya segala nujummu ? Mana orang ketahui apa yang terjadi di tempat jauh ratusan lie ? Dasar si pendeta tua banyak tingkahnya."

Walaupun dia memikir demikian Pat Pie Sin Kit toh tak menolak kata-katanya sang pendeta.

"Kau, kau cobalah !" katanya tawar. "Kau membuat capek dirimu saja, pendeta tua !"

Pek Cut lantas duduk bersila sambil memejamkan mata, mulutnya komat kamit, entah apa yang ia ucapkan. Habis membaca jampi tangan kirinya dimasuki ke dalan tangan baju yang kanan, terus ia berdiam bagaikan orang bersemedi.

Lewat sesaat mendadak ia membuka matanya yang bersinar terang terus ia memperlihatkan wajah girang terus ia berkata nyaring kepada In Gwa Sian: "In Sicu, jangan kuatir ! Barusan ramalanku adalah ramalan yang baik sekali ! Memang Tio Tanwat menghadapi ancaman bencana tetapi dia selamat, bahkan dari dalam ancaman bahaya dia memperoleh kebaikan. Dia justru harus diberi selamat !"

In Gwa Sian bersangsi, separuh percaya separuh tidak. Kemudian ia menghela nafas. "Syukur kalau seperti katamu itu, pendeta tua ! Buatku tidak ada lain keinginanku agar anak itu tak kurang suatu apa !"

Ayah angkat ini menyayangi anak itu. Dalam keadaan berduka itu, ia tetap memanggil Pek Cut si pendeta tua, sedangkan pendeta itu selalu menghormatinya dengan memanggil ia In Sicu. Sicu itu berarti pengamal, penderma.

Liauw In sementara itu mendukakan muridnya, yang ia lihat keadaan parah sekali. Bagaimana racun ular itu dapat disingkirkan, supaya murid ini bisa sembuh hingga kesehatannya pulih seluruhnya. Ia adalah seorang pendeta tetapi saking berdukanya, air matanya menetes beberapa butir. Tetapi mendengar kata-katanya Pek Cut, sang suheng, kakak seperguruan, ia lantas tanya kakak seperguruan itu, "Suheng, dapatkah ramalanmu itu terbukti ?"

"Ya, benarkah ramalanmu itu tepat ?" In Gwa Sian turut bertanya.

Pek Cut tertawa.

"Kalau aku gagal, akan aku bertapa lagi sepuluh tahun !" In Gwa Sian tertawa.

"Aku cuma bergurau !" katanya.

Pek Cut mengawasi Kee Eng, lalu ia tanya Liauw In, bagaimana dia lihat sakitnya murid itu.

"Barusan aku memeriksa dia" sahut Liauw In. "Muridku terkena racun jahat, pada ketiga jalan darahnya yang paling berbahaya. "

Pendeta ini, sang sute, adik seperguruan, bicara pada kakak seperguruannya itu sambil menjura. Ia tampak sangat suaram.

""Ha !" mendadak In Gwa Sian berseru. "Eh, pendeta tua, apakah lupa bahwa didalam kuilmu ini ada ahli pengobatan racun ular ? Nah, lekas kau undang si tua bangka she Ngay datang kemari buat dia mengobati keponakan muridmu ini ! Apakah yang harus ditunggu lagi ?"

Kata-kata ini menyadarkan Liauw In dan kakaknya, lantas saja ia berlompat untuk terus lari keluar. Untung bagus buat Kee Eng, segera setelah ia dirawat Ngay Eng Eng, racunnya telah bisa diusir, cuma buat ia sehat kembali seperti biasa, harus beristirahat selama satu tahun. Biar bagaimana, keadaan seumumnya toh membuat hati orang lega.

Pada malam tanggal lima belas bulan delapan, rembulan indah luar biasa. Diwaktu begitu di rumah-rumah orang sedang asyik merayakan pesta Tiong Cia pertengahan musim gugur, berkumpul diantara sanak keluarga, saling memberi selamat. Tapi di gunung Tay San, orang bergerak-gerak didalam rombongan besar, sebagaimana besar juga jumlahnya mereka masing-masing. Diatas puncak, segala apa tampak mirip siang hari, sedangkan sang angin bertiup bersiur-siur.

Pohon-pohon cemara memain diantara sang angin, dahan- dahannya bergerak bagaikan bayangan bergerak, bagaikan bersaing dengan golok dan pedang ditangannya dua rombongan orang itu.

Itulah kawanan jago-jago kaum lurus dan sesat yang telah datang menghadiri pertemuan besar rimba persilatan guna merebut pengaruh. Di pihak lurus sadar guna menegakkan keadilan buat kesejahateraan khalayak ramai. Di pihak sesat buat menjagoi guna nanti memperluas pengaruh. Mereka berkumpul di puncak datar dari Koan Kit Hoang, puncak Melihat Matahari.

Diluar dari kedua rombongan besar itu adalagi satu rombongan lain, hanya jumlahnya sangat kecil karena mereka cuma berdua, satu pria dan satu wanita. Yang satu tua, yang lainnya muda. Yang pria berdandan sebagai Agama To, To Kauw, jenggotnya panjang, punggungnya tergendolkan pedang. Yang wanita berdandan ringkas, pada punggungnya tergemblokan sanho pang. Sebab mereka itulah It Yap Tojin ahli pedang dari Heng San Pay dan Tan Hong, si cantik dari Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam. It Yap Tojin termasuk orang separuh sesat, separuh sadar, kali ini dia mengambil sikap sebagai kampret, jadi ada ketegasan terakhir. Tan Hong kaum sesat tetapi ia mencintai Tio It Hiong, ya dia menggilainya maka dia telah mengambil ketetapan buat berubah cara hidupnya, buat meninggal-kan kesesatan, guna hidup lurus selanjutnya. Dia datang untuk menjenguk Tio It Hiong dengan siapa dia belum pernah bertemu pula sejak perpisahan mereka di Ay Lao San. Dia bahkan tak tahu si anak muda berada dimana dan bagaimana keadaannya.

Di pihak sadar, rombongan dipimpin oleh Pek Cut Taysu, ketua Siauw Lim Pay, ia muncul dari rombongan dengan diapit oleh Ang Sian dan Liauw In, kedua adik seperguruannya.

Dengan jubah suCinya dia nampak tenang dan agung. Dengan mengangkat tangannya, ia memberi hormat pada pihak lawan, lalu berkata dengan suara dalam. "Para sahabat rimba persilatan, selamat datang. Pin lap mohon sudi apalah pemimpin para sahabat suka keluar dari rombongan kalian untuk kita berbicara !"

Kata-kata "pin-lap" itu seperti "pin-jeng" adalah "aku" buat kaum pendeta Hed Kauw Agama Buddha.

Di dalam rombongan pihak sesat itu lantas terdengar suara "Hm !" yang dingin menyusul itu muncullah orang yang menyuarakannya. Kiranya dialah Thian Cie Lojin. Dia diiringi muridnya yaitu Tong Hiang, serta Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan nomor tujuh, si bungsu dari To Liong To, pulau Naga Melengkung.

Si orang tua, yang dandanannya pria bukan wanita bukan, sudah lantas membuka suaranya : "Eh, pendeta tua, apakah kau masih belum naik ke nirwana ? Nah, ada pesan terakhir apakah dari kau ? Silahkan mengatakannya, tak ada halangannya."

Ucapan itu kontan membangkitkan amarah sejumlah orang kaum lurus itu. Orang tua mirip orang banci itu terlalu kasar, dia menghina sangat.

Pek Cut Taysu sebaliknya melawan kekasaran dengan senyuman. "Tak usah kita mengadu mulut" katanya tertawa. "Buat menjadi jago untuk merebut pengaruh orang masih harus mempertunjuki kepandaiannya yang berarti ! Nah, losiancu tolong kau utarakan pendapatmu mengenai pertemuan besar kita ini. Silahkan !"

Thian Cie Lojin tertawa terkekeh.

"Aku ?" tanyanya jumawa. "Buat aku berkelahi satu sama satu atau main keroyokan sama saja! Aku bersedia menyambut kamu dengan cara apapun ! Cuma kalau bertempur tanpa syarat itulah tidak menarik. Bagaimana kalau membataskan umpama sampai sepuluh kali ? Di dalam sepuluh itu tiga untuk bu pie dan tujuh bun pie ! Aku percaya dengan begini seandianya pihakmu yang kalah, kamu akan kalah dengan menutup mulut kamu, kalah dengan puas !"

"Amida Buddha !" berseru Pek Cut.

"Baiklah, aku menerima baik saranmu ini." sahutnya. "Sebutkanlah bagaimana caranya yang pertama. Lebih dahulu bn pie atau bun pie ?"

"Lebih dahulu bu pie tiga kali !" sahutnya. "Dengan itu kita akan uji kepandaianmu yang sesungguh-sungguhnya. Habis itu barulah bun pie. Nanti, sehabisnya pertandingan yang keenam, maka kamu dapat memikir-mikir ! Andiakata kamu sudah tidak punya tenaga lagi, empat pertandingan yang selanjutnya boleh disudahi dengan begitu saja."

Mendengar suara orang itu, Pat Pie Sin Kit gusar bukan main. Ia lantas saja berlompat maju.

"Siluman bangkotan !" bentaknya. "Kau keluarkan ilmu Sam Im Ciang mu, kau pakai itu menyambut Hang Liong Hok Houw ku untuk mencoba-coba !"

Setelah berkata tadi Thian Cio sudah lantas memutar tubuhnya buat kembali kedalam rombongannya, waktu ia mendengar bentakan itu lantas ia menoleh.

"Eh, pengemis tua, sang waktu masih banyak sekali !" berkata dia, tawar. "Jangan kau tergesa-gesa !"

Pek Cut Taysu menarik ujung baju kawannya itu.

"Jangan layani dia bicara" katanya sambil ia terus mengajak keuda adik seperguruannya mundur.

In Gwa Sian menurut.

Sejenak itu, sunyilah medan laga itu. Sang putri malam terus bersinar indah. Dari pihak sesat lantas tampak majunya satu tubuh kecil dan langsing yang cara berlompatnya lincah sekali. Selekasnya ia tiba ditengah lapangan lantas ia berkata dengan suaranya yang nyaring halus, "Aku yang muda adalah Teng Hiang, aku ingin belajar kenal dengan kepandaian istimewa dari orang-orang yang berilmu."

Melihat gayanya itu, hatinya Giok Peng panas. "Nanti aku yang keluarkan mengajar adat pada anak itu !" katanya pada Kiauw In sengit.

Nona Cio mencekal lengan orang. "Sabar" katanya. "Kita dengar dahulu suaranya Pek Cut Taysu."

Justru itu sang pendeta mengawasi pihaknya sambil menanya siapa yang bersedia maju melayani nona itu. Cukat Tan dari Ngo Bie Pay muncul sebelum sang pendeta menutup matanya. Ia memberi hormat pada ketua itu terus ia lompat ke tengah lapangan menghampiri si nona penantang.

Murid Ngo Bie Pay ini baru berusia dua puluh lebih, tampan dan gagah orangnya. Dia mengenakan baju biru yang singkat dan sepatunya sepatu ringan. Dengan pedang di punggungnya, dia tampak menarik hati.

Hatinya Teng Hiang menggetar ketika melihat pemuda itu, kontan ia tertarik hati, lantas matanya memain, tetapi kemudian ia tertawa dan berkata dengan bentakannya : "Jika kau bernyali besar, berani menyambut pedang nonamu, maka haruslah kau memberitahukan dahulu namamu !"

Alisnya si anak muda berbangkit.

"Aku Cukat Tan dari Ngo Bie Pay !" sahutnya nyaring. "Kau catatlah !"

Berkata begitu si pemuda menghunus pedang terus menikam sambil ia memberi peringatan. "Awas ! Lihat pedangku !"

Teng Hiang bergerak mundur satu tindak. Ia tidak segera menghunus pedangnya. Sebaliknya ia tertawa manis dan kata merdu. "Kau berhati-hatilah menyambutku !" Baru sekarang dengan cepat ia mencabut pedangnya dan menusuk.

Barusan itu Cukat Tan menyerang untuk menggertak saja.

Setelah pedangnya diluncurkan separuh, ia menarik pulang kembali. Justru itu tibalah pedang si nona, maka terpaksa ia menangkis tusukan itu. Karena itu beradulah pedang mereka berdua, suaranya nyaring, percikan apinya muncrat, hingga keduanya saling mencelat mundur menyingkir dari percikan itu.

Cukat Tan merasai besarnya tenaga lawan, ia menjadi waspada. Ketika ia menyerang pula, ia menggunakan "Soat Hoa Kiam hoat" ilmu silat "Bunga Salju", ilmu itu gerakannya ialah : satu beruntun menjadi tiga.

Teng Hiang melayani dengan seksama. Ia hendak membuat anak muda itu mengagumi ilmu silatnya, maka ia berlaku keras. Segera ia menyerang dengan jurus Melintang Mengusap, yang terus diubah menjadi "Badai Menggulung Salju".

Di dalam hati Cukat Tan terkejut. Ia tidak menyangka seorang nona mempunyai tenaga demikian besar. Tanpa ayal lagi, ia melayani dengan ilmu pedang "Bunga hujan berhamburan". Dengan demikian kedua pedang jadi bergerak sama cepatnya, cuma cahayanya yang tampak, pedangnya tidak !

Para penonton kedua belah pihak kagum menyaksikan pertempuran seru itu, semua menonton dengan berdiam, tanpa suara, mata mereka mengawasi tajam.

Tengah kedua pihak bertempur hebat itu, mendadak tubuh Teng Hiang mencelat tinggi. Pedangnya diarahkan ke kepala lawan. Ia bermaksud supaya lawan menangkis serangan itu, hingga tubuh orang lowong dan ingin mendepaknya, itulah jurus silat "Burung Belibis Turun Di Pasir Dasar"

Cukat Tan menangkis dengan jurus silat "Menggoyang- goyang langit Memisahkan Mega" tak sempat ia mundur, maka buat melindungi dadanya, ia mengulur kakinya menyambuti kaki lawan.

Teng Hiang melihat ancaman bahaya, ia menangkis tangan orang dengan tangan kirinya. Tiba-tiba ia terkejut. Tangannya si anak muda keras sekali dan ia merasa lengannya nyeri dan kaku. Tetapi yang hebat ialah ujung sepatunya telah terasambar lawan, hingga guna membebaskan diri, mesti ia tebas tangannya orang. Ia melakukan itu dengan cepat sekali.

Cukat Tan melepaskan cekalannya. Ia lihat pedang berkelebat hendak menebas tangannya itu. Justru itu, dengan kecepatan luar biasa, si nona mengulurkan tangannya ke kepala orang ! Kaget sekali pemuda itu, ia mencoba mengelik kepalanya, ia toh sedikit ayal, kopiahnya telah kena terasambar !

Selagi si pemuda lompat mundur, s pemudi turut berlompat mundur. Keduanya saling mengawasi dengan berdiri bengong. Ternyata kepandaian mereka seimbang.

Hanya sejenak, maka gegerlah orang-orang di kedua belah pihak. Mendadak mukanya Cukat Tan menjadi merah. Ia tahu apa artinya tawa itu. Orang mentertawakannya sebab ia masih memegangi sepatunya si nona. Sedangkan Teng Hiang melongo disebabkan sepatunya itu copot kena dirampas lawan

! "Nah, ini aku kembalikan sepatumu !" katanya kemudia.

Dan ia melemparkan sepatu ditangannya itu.

Teng Hiang menyambuti, matanya mendelik kepada si anak muda. Rupanya ia mendongkol. Setelah itu ia pun melemparkan kopiah orang yang ia telah kena cabut dari kepala orang dan merampasnya.

"Ini, sambutlah !" ia berseru.

Hebat jalannya pertempuran dan jenaka juga tetapi kesudahannya seri. Setelah itu sama-sama mereka mengundurkan diri kedalam rombongannya masing-masing.

Dari dalam kalangan sesat segera muncul dua orang lain.

Kiranya dialah Yan Tio Siang Cian si sepasang ganas dari tanah Yan Tio dua saudara yang masing-masing bernama dan bergelaran Toa Cian Leng Gan, si Telengas Besar dan Siauw Cian Leng Ciauw, si Telengas Kecil. Untuk wilayah utara merekalah dua orang kejam kaum Hek To, Jalan Hitam.

Selamanya kalau mereka mencuri mereka berdua saja dan biasanya pula mereka tak meninggalkan korban hidup, mesti korban mati. Dan kalau mereka berselisih, mereka mesti menuntut balsa dengan membinasakan semua musuhnya Yang paling mereka senangi ialah menganiaya, membuat orang tersiksa. Itulah kekejaman yang membuat mereka memperoleh julukan "Cian" ialah kejam atau telengas dan "Siang" sepasang.

Dua bersaudara itu bertubuh kate dan gumu mukanya, berdaging tak rata, matanya bersinar bengis. Senjata mereka yaitu golok bengkok melengkung yang istimewa, yang umum menyebutnya "Bima To" atau golok Birma. Ilmu golok mereka juga istimewa sebab selamanya mereka berkelahi berdua bersama, goloknya dicekal ditangan kiri dan kanannya masing- masing seperti kita menggunakan golong sepasang. Siauw Cian yang memegang golok dengan tangan kiri dan Toa Cian dengan tangan kanan.

Setibanya di tengah lapangan keduanya mengulapkan golok mereka, untuk pun berkata dengan berbareng. "Tadi orang melawan satu dengan satu tetapi kami berdua saudara, kami menghendaki dua lawan dua. Tangan kami sudah gatal sekarang. Kami mau mencari orang yang darahnya dapat dipakai mencuci golok kami ini ! Nah, siapakah yang bernyali besar hendak mencoba-coba golok kami ?"

Tantangan itu dikeluarkan dengan suara yang dikurung pengerahan tenaga dalam, maka juga terdengarnya nyaring bagaikan genta membuat telinga bagaikan berbunyi pengang.

Kedua rahib dari Bu Tong Pay, Leng Hian dan Seng Hian hendak menyambuti tantangan itu tetapi sebelumnya sampai mereka keluar dari dalam rombongan, dua sosok tubuh orang lainnya sudah mendahului, mereka berlompat mirip bayangan, hanya dua orang itu lompat ke depannya Pek Cut Taysu atau memberi hormat sambil berkata : "Lo Siansu, dapatkah kami berdua kakak beradik yang menyambut tantangan pihak sana itu ?"

Itulah Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng.

Pek Cut Taysu menoleh kepada In Gwa Sian baru ia memberikan jawabannya sambil ia mengangguk. "Baiklah tanwat berdua, asal kalian berhati-hati !"

Kedua nona lantas berlompat maju, tangan mereka masing-masing pada gagang pedang mereka. Dengan menuruti kebiasaan kaum Bu Lim rimba persilatan lebih dahulu mereka menyapa dengan hormat kepada kedua lawan itu.

Toa Cian Len Gan tertawa bergelak.

"Bagaimana nyaring namanya kelima partai besar rimba persilatan di tionggoan." demikian ejeknya, " siapa sangka ini yang muncul hanya dua orang nona cilik ! Justru kami berdua saudara tak mempunyai rasa kasihan terhadap nona-nona manis. Nona-nona baiklah kamu pulang saja, akan mencicipi penghidupan berbahagia di rumah kamu ! Janganlah kamu hanya membuat malu saja disini."

Hatinya Giok Peng panas sekali mendengar hinaan itu.

Kiauw In yang sabar pun tidak puas. Lantas keduanya tanpa membuka suara lagi menghunus pedang mereka, untuk menyerang dari jurus Kie Bun pat Kwa Kiam hoat. Yan Tio Sian Cian tetap memandang sebelah mata kepada kedua nona itu, mereka juga sangat mengandalkan golok mereka yang tajam seperti golok mestika. Mereka lantas menangkis dengan maksud membacok kutung pedang lawan. Tapi mereka terkejut. Mereka menangkis angin, sebab nona dengan cepat sekali sudah menarik pulang ke arah pundak lawan.Terpaksa, kedua saudara itu berkelit mundur dan tindak ! Baru sekarang mereka sadar bahwa nona-nona itu tidak dapat dipandang ringan.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(