Iblis Sungai Telaga Jilid 26

 
Jilid 26

Tan Hong berpikir sebelumnya ia menjawab. Ia malu akan menutur terus terang hal ikhwalnya dengan It Hiong palsu itu, sebab ia hampir menjadi korban. Ia menghela nafas.

"Dalam hal memperhatikan adik Hiong, kita berdua sama saja." sahutnya kemudian. "Cuma halnya dalam keberuntungan aku kalah dari kau, adik. Kau berbahagia sekali."

"Kakak" Wan Goat menyela, suaranya tajam. "Kakak, aku minta sukalah kau bicara dengan sebenar-benarnya."

Tan Hong bersikap sungguh-sungguh. "Adik" sahutnya. "Kita ada sesama wanita, buat apa kau sampai menegas begini ? Mana dapat aku mendustakan kau."

Wan Goat menjerit perlahan, dia menangis pula, air matanya mengucur deras. Ia mendekam.

"Oh, aku mau mati !" katanya. "Mana ada muka aku hidup didalam dunia ?"

Tan Hong menepuk-nepuk bahu orang.

"Anak tolol !" katanya. "Manakah semangatmu sebagai wanita Kang Ouw ? Bukankah belum ada kepastiannya orang ada It Hiong yang palsu atau yang tulen ? Apakah soalmu dapat dibereskan dengan hanya menangis saja ?"

Bagaikan tersentak Wan Goat bergerak bangun untuk berduduk.

"Kakak, kau ajarilah aku !" katanya, matanya masih penuh air. "Hatiku sudah hancur. Bagaimana sekarang ?"

Tan Hong mengenggam tangan orang.

"Jika orang itu benar Tio It Hiong." kata ia sungguh- sungguh, "bukankah percuma kau mengucurkan air matamu ini ? Kalau sebaliknya, dialah si manusia palsu, maka adalah tugasmu untuk menuntut balas ! Maka itu sekarang mari kita membuat perjalanan guna mencari dia buat menyelidiki hal yang sebenarnya ! Buat apa berlaku tolol, bicara tentang mati. Itu cuma bakal mendatangkan tertawaan orang !"

Nona Siauw melengak, lantas ia menghapus airmatanya. "Kakak benar !" katanya kemudian. "Ah, kenapa aku jadi tolol begini ?" Ia menggerakkan tubuhnya akan turun dari pembaringan. Selagi bergerak itu ia merasakan lengannya masih sakit dan dadanya pun nyeri. Ia lantas menggosok- gosok dadanya. Ia merasa nyeri berbareng di hatinya dan karena lukanya itu

"Siauw Wan Goat bersumpah tak akan menjadi manusia kalau dia tak dapat membalas sakit hati ini !" demikian katanya keras.

Tepat itu waktu, dari luar terdengar suara ketukan dengan pintu disusul dengan datang masuknya dua orang, ialah Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw.

Malam itu Hong Hoan kaget, selekasnya dia melihat adik seperguruannya lenyap, lantas dia menerka adik itu telah diculik oleh si pemuda, sebab pemuda itu hilang juga. Maka lantas ia ajak Cee Lauw pergi mencari hingga mereka mesti berputaran, hingga baru sekarang mereka menemui adik itu. Adanya Tan Hong bersama si adik membuatnya heran.

Melihat kedua saudara seperguruan itu, Wan Goat menangis sebagai anak kecil. Ia menubruk dan merangkul Hong Hoan, ia menangis bukan main sedihnya.

Tan Hong merasa bahwa tak dapat ia berdiam lebih lama disitu, maka ia menghadapi Lam Hong Hoan dan berkata : "Lam Cianpwe, sukalah kau menghiburi adikmu ini, haraplah kau melindungi nama besar dari To Liong To ! Kebetulan sekali cianpwe tiba disini ! Nah, ijinkanlah aku mengundurkan diri !"

Tanpa menanti jawaban lagi, wanita jago dari Hek Keng To itu lantas bertindak pergi. Lam Hong Hoan menerka kata-katanya Nona Tan itu mesti ada artinya sebab adik seperguruannya itu menangis saja. Ia rada gugup maka juga ia mendelong mengawasi orang pergi.

Bok Cee Lauw juga heran, hingga ia menggeleng-geleng kepala.

"Cit-sumoay" tanyanya kemudian kepada adik seperguruannya yang ketujuh itu yang bungsu, "apakah budak Tan Hong berani main gila terhadapmu ?"

Wan Goat lagi menangis, tak dapat ia menjawab kakak seperguruan itu.

"Adikku, kau bicaralah !" Cee Lauw mendesak. Masih Wan Goat sesegukan saja.

"Hm !" Cee Lauw bersuara sengit. "Apakah bocah Tio It Hiong itu kau jadi "

Dia sebenarnya mau mengatakan "kau jadi bentrok dengan Tan Hong" atau ia kena dicela si nona yang sudah lantas mengangkat mukanya menoleh kepadanya.

"Cis" demikian nona itu. "Aku tak mempunyai kegembiraan seperti kau yang gemar menggodia orang. "

Berkata begitu Wan Goat menekan dadanya. Ia merasa nyeri.

Hong Hoan menerka adik itu terluka di dalam. "Hayo, kita pulang dulu !" ia mengajak. "Kita perlu lekas mengobati adik kita ini !"

Habis berkata begitu, kakak seperguruan itu lantas menggendong adiknya itu. Ia terus lari keluar. Maka Bok Cee Lauw pun lari menyusulnya.

Sementara itu Gak Hong Kun si Tio It Hiong palsu sudah menyingkarkan jauh-jauh dari tempat dimana ia hajar pingsan Siauw Wan Goat. Ia puas sekali atas perbuatannya itu. Ia mendapat dua rupa kepuasan, puas karena bisa melampiaskan kebenciannya kepada wanita, puas karena sudah mencicipi kenikmatan hidupnya dengan seorang nona cantik. Kenyataan ini membuatnya ketagihan. Ia memikir buat melanjutkannya perbuatannya serupa itu. Lalu ia memikirkan siapa harus dijadikan korban nomor dua, wajar saja ia segera ingat Pek Giok Peng pacarnya itu yang katanya sudah dirampas Tio It Hiong. Ingat namanya Pek Giok Peng, Hong Kun tertawa bergelak sendirinya.

"Sekarang aku mau melihat bukti penyamaranku ini !" katanya hatinya puas. "Setelah melihat aku, ingin aku lihat dia bakal terjatuh dalam rangkulanku atau tidak ! Pasti dia akan menyerahkan dirinya dengan suka rela.....

Lantas ia pikirkan dimana adanya Giok Peng sekarang. Di vihara Siauw Lim Sie atau di Lek Tiok Po ? Segera ia mengambil keputusan. Ia terus menyewa perahu akan berangkat ke timur dengan mengikuti sungai Tiang Kang, ia melintasi Siangyang untuk tiba di Kayhong.

Di itu hari yang pemuda ini tiba di kota kayhong dimana ia terus mengambil hotel, ia lantas mendengar halnya pelbagai partai tengah membuat perjalanan atau penyelidikan guna mencari Tio It Hiong. Ia mendengar berita itu dengan hati puas. Hasil perbuatannya itu sudah menerbitkan kegemparan dan Tio It Hiong telah menjadi hinaan orang banyak. Cuma ada satu hal yang membuatnya sulit, ia masih menyamar sebagai Tio It Hiong, karena Tio It Hiong lagi dicari, ia mudah terlihat orang yang mengenalnya. Karena ini, diwaktu siang tak mau ia keluar dari kamarnya, bahkan diwaktu malam ia lebih sering berdiam didalam gelap. Ia mau menjaga jangan sampai ada orang melihat dia.

Kekuatirannya Gak Hong Kun bukan tidak beralasan. Selagi ia lewat di Siangyang, ia telah dapat dilihat oleh muridnya seorang Bu Lim yang ternama. Jago Bu Lim itu ialah Koay To Ciok Peng, si golok kilat yang pada tiga puluh tahun dulu namanya menggemparkan kalangan rimba persilatan yang disebelah selatan dan sebelah utara.

Bahkan dialah sahabat karib dari Bu Eng Thung Liok Cim. Maka juga habis lolos dari bahaya maut, Liok Cim telah pergi ke rumah sahabatnya itu, buat menumpang disitu hingga kepada sang sahabat ia telah menuturkan malang yang menimpa diri dan keluarganya itu.

Ciok Peng bersedia membantu sahabat itu serta membalaskan sakit hatinya si saudara angkat. Maka dia telah menanyakan terang-terang wajah dan potongan tubuhnya It Hiong serta cara berpakaiannya, sesudah mana dia menitahkan beberapa orang muridnya pergi membuat penyelidikan.

Demikian itu hari, selekasnya ia menerima laporan salah seorang muridnya, Ciok Peng lantas mengajak See Sie, murid kesayangannya berangkat dari Siangyang, menyusul terus ke Kayhong, lantas ia membuat penyelidikan yang tepat, sesudah itu baru ia mengambil keputusan akan bertindak di waktu malam. Malam itu Hong Kun merebahkan diri sambil berjaga-jaga, ia sudah pulas namun ia terasadarkan dengan kaget oleh satu suara berkeresek pada daun jendela yang terus terpentang terbuka. Justru ia kaget, justru ia mendengar bentakan nyaring dari luar jendela, "Jahanam Tio It Hiong, kau keluarlah untuk terima binasa !"

Tak mau Hong Kun memperdengarkan pula suaranya.

Diam-diam ia merosot turun dari pembaringannya, matanya dipasang untuk melihat siapa orang diluar kamar itu.

Karena ia berdiam itu, ia mendengar pula suara diluar. "Tio It Hiong, akulah Koay To Pang ! Aku tidak mau main sembunyi-sembunyi maka juga aku memanggil kau keluar !

Mari kau harus membuat perhitungan buat Bu Eng Thung Liok dan keluarganya ! Bangsat kau berdiam saja, menyembunyikan diri apakah artinya itu ?"

Mulanya terkejut lantas hatinya Hong Kun menjadi panas. "Tua bangka itu mencari mampusnya." pikirnya sengit. Ia

tidak takut. Dengan mencekal erat-erat pedangnya, ia

berlompat melewati jendela sebelum ia meletakkan kakinya ditanah, pedangnya sudah diputar di depannya. Terus saja ia berkata nyaring, "Hendak aku mencoba golok kilatmu dapat bergerak bagaimana cepatnya !"

Ciok Peng dapat melihat sinar pedang orang. Ia tahu itulah sebuah pedang mustika maka tak mau ia berlaku sembrono. Bahkan ia lompat mundur dulu. Untuk berlaku lalai, ia kata, "Koay Toa Ciok Peng tidak biasanya membinasakan setan tanpa nama karena itu jahanam kau sebutkan dulu namamu !"

It Hiong palsu tertawa terkekeh. "Tua bangka !" sahutnya. "Kau sendiri bilang kau belum kenal aku, cara bagaimana kau dapat berkata bahwa kau datang guna membuat perhitungan, buat membalaskan sakit hati orang ? Tidakkah kau bakal ditertawakan kaum Kang Ouw andiakata perbuatanmu sekarang ini sampai tersiar diluaran ?"

Ciok Peng merasai mukanya panas. Ia menyesal sudah bicara seenaknya saja. Tapi ia tetap gusar, maka juga ia berdiri sambil mengawasi tajam.

Tiba-tiba terdengar suara golok dihunus dan terlihat sinarnya berkelebat, disusul dengan suara ini : "Suhu, jangan layani dia ! Ijinkan muridmu yang mencoba jahanam itu !"

Kiranya itulah gerak-geriknya See Sie, sang murid, yang panas hatinya sebab lawan sangat temberang. Dia maju terus untuk menyerang It Hiong palsu.

Hong Kun tidak lantas menangkis, ia hanya berkelit. Masih ia berkelit terus waktu serangan diulangi dan diulangi lagi.

Untuk sementara ia cuma melindungi saja tubuhnya. Sebegitu jauh, pedangnya pun belum berhasil bentrok dengan goloknya si penyerang.

"Aku mesti bertindak !" pikirnya selewat lagi beberapa jurus. Ia tahu ia bisa terancam kalau Ciok Peng sendiri turun tangan. Sambil menutup diri itu, diam-diam ia mengeluarkan racun Hun Tok Han, racunnya yang dapat membuat orang pingsan seketika, lantas sehabisnya itu, ia menanti kesempatan. Begitu dia dapat angin, dia menyebar bubuknya yang beracun ! Ciok Peng dapat melihat gerakan tangan kiri musuh itu, lekas-lekas ia menyerukan muridnya : "See Sie, lekas putar golokmu ! Tutup napasmu dan mundur !"

See Sie mendengar dan lantas ia mundur dengan pesat sekali, hingga ia berhasil membebaskan diri dari bubuk jahat itu.

Tapi It Hiong palsu sangat cerdik dan licik, justru orang lompat mundur, justru ia mencelat ke belakang, untuk lantas lompat naik ke atas genting dimana ia menghilang dalam gelap gulita. Maka wajar saja, selagi berlompat, ia tertawa nyaring buat mengejek lawannya !

Lega hatinya Ciok Peng terhadap akan muridnya tidak kurang suatu apa, karenanya terus ia lompat pula ke atas genting guna mengejar pemuda itu. Atau ia segera mendengar suara keras disebelah depannya : "Tio It Hiong ! Kau mau lari ? Lihat tanganku !"

Ia percepat larinya hingga ia melihat Tio It Hiong dihadang seorang imam tua dengan janggut panjang dan punggung tergemblokkan pedang. Beruntun tiga kali imam itu sudah menyerang dan orang yang diserangnya senantiasa berkelit walaupun dia memegang pedang, tak berani atau tak mau dia menggunakan pedangnya itu.

Setelah datang dekat, Ciok Peng mengenali It Yap Tojin dari Heng San.

Imam tinggal imam tetapi pikirannya It Yap Tojin pendek dalam urusan muridnya dengan It Hiong yang dikalahkan It Hiong itu dia tak puas bahkan dia membenci si anak muda she Tio hingga timbul niatnya mengajar adat. Hanya mengingat dia adalah pihak lebih tua dan dari tingkat lebih tinggi tak berani dia sembarang turun tangan. Kebenciannya kepada It Hiong bertambah setelah dia mendapat keterangan halnya It Hiong sudah merampas Giok Peng pacarnya muridnya. Maka baginya datanglah ketika yang baik, selekasnya dia mendengar berita ramai tentang Tio It Hiong sudah berbuat kejam dan busuk, hingga kemurkaan kaum Bu Lim telah dibangkitkan karenanya. Maka bulatlah tekadnya akan binasakan It Hiong buat membalaskan sakit hati muridnya itu.

Sungguh kebetulan bagi It Yap Tojin, malam itu ia berada di tempat dan dapat melihat Ciok Peng lagi mengintil It Hiong palsu. Terang ia tidak mengenali muridnya yang telah merubah wajahnya itu justru orang kabur dan menghina Ciok Peng, ia keluar dari tempatnya sembunyi dan lantas menyerang hingga tiga kali serangan.

Hong Kun bingung mengenali penghadangnya itu adalah gurunya sendiri. ia memberitahukan guru itu bahwa dia adalah sang murid atau ia mesti membatalkan itu sebab Ciok Peng keburu tiba. Ia repot sekali. It Yap sedang gusar dan semua serangannya berbahaya.

Untungnya buat Hong Kun, ia sudah mewariskan kepandaian gurunya itu hingga biar bagaimana sulit juga, masih dapat ia menyelamatkan dirinya.

Ciok Peng terus berdiri menonton. Tak berani ia turun tangan. Ia kuatir perbuatannya itu nanti menyebabkan kemarahannya It Yap Tojin. Ia tahu jago dari Heng San ini separuh sesat, separuh lurus. Ketika See Sie menyusul ia juga melarang muridnya maju menyerang Hong Kun.

Beberapa kali Hong Kun mau membuka rahasia, saban- saban ia membatalkannya. sebabnya itu ialah hadirnya Ciok Peng serta murid disitu. Kalau ia membuka rahasia, habis sudah nasibnya ! Gurunya mungkin mengerubutinya. Ia sudah lantas bermandikan peluh. Tapi ia harus membela dirinya.

Diakhirnya ia mendapat satu akal. Demikian selagi menghindar diri dari satu serangan, ia menghunus pedangnya, terus ia menggerakkan tiga rupa gerakan ilmu pedang Heng San Pay sembari berbuat berita, ia menatap gurunya. Sebenarnya itulah satu isyarat kaum Heng San Pay dan artinya : "Aku adalah Gak Hong Kun, murid Heng San Pay !"

Sementara itu It Yap Tojin telah menjadi sangat penasaran.

Ia telah menduga dengan tiga jurus saja ia bakal dapat merobohkan pemuda itu, ia tidak menyangka bahwa orang yang demikian lincah dan gesit dan bisa bertahan dari pelbagai serangannya itu. Ketika ia melihat orang menghunus pedang, tanpa merasa ia tertawa dingin dan kata di dalam hatinya : "Kau mau mampus terlebih cepat, ya ?" Habis itu lantas ia menjadi heran. Ia melihat orang memberi isyarat cara Heng San Pay itu. Ia pula merasa aneh akan sinar matanya orang itu. Tanpa merasa ia berlambat bergerak, pedangnya juga bakal ia hunus.

It Hiong palsu sangat cerdik, ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan yang paling baik itu. Justru sang guru berlambat, justru ia lompat jauh dan terus kabur, untuk melenyapkan diri dalam gelapnya sang malam.

"Ah !" berseru Ciok Peng, menyesal. Lantas ia lompat untuk mengejar. Atau :

"Saudara Ciok, tahan !" demikian seru guru dari Heng San. "Aku bercuriga terhadap bocah itu !"

Ciok Peng membatalkan niatnya untuk mengejar. "Apakah totiang mencurigakan bahwa bocah jahanam itu bukannya Tio It Hiong dari Pay In Nia?" ia tanya.

It Yap Tojin tidak menjawab. TIba-tiba saja ia merasa bahwa ia sudah keliru bicara. Lekas-lekas ia berpura batuk- batuk.

"Aku si tua heran kenapa bocah itu tidak mau melawan dengan menangkis pelbagai seranganku.." sahutnya kemudian.

Ciok Peng tidak berkata apa-apa, tetapi ia heran yang lagak si imam tak wajar dan kata-katanya itu sendiri bertentangan dengan gerak geriknya semula.

"Sampai jumpa pula" kata ia yang terus memberi hormat dan mengajak muridnya berlalu pergi. Ia pikir tidak ada gunanya buat meminta keterangan imam itu.

It Yap Tojin membiarkan Koay Tong berlalu kemudian ia pun berlalu meninggalkan tempat itu, ia hanya berlalu dengan pikiran bekerja keras. Ia sudah mulai mendapat meraba-raba. Biar bagaimana ia menyayangi muridnya dan sebaliknya sangat membenci Tio It Hiong....

Hong Kun sementara itu sudah pergi dengan hatinya lega. Ia lolos dari ancaman maut, tak lagi ia merasa takut. Ia pula tidak menyesali semua perbuatannya itu. Sebaliknya, ia memuji kecerdikannya sendiri, dapat mengelabui gurunya.

Sekeluarnya dari wilayah kayhong, ia menuju langsung ke Siong San, guna mencari Giok Peng, sasarannya yang nomer dua, supaya hancur lebur ikatan cinta kasih It Hiong dan isterinya itu ! Ketika itu gunung Siong San atau lebih tepat Siauw Lim Sie, telah menjadi repot sekali. Telah datang tak sedikit orang- orang partai Rimba Persilatan yang menerima undangan, sedang para murid yang bertugas merondia gunung bekerja siang dan malam, sebab disamping penjagaan, mereka selalu dapat menyambut tamu-tamu disembarang saat. Di pihak dalam, semua murid Siauw Lim Pay dimasihkan berlatih dengan keras terutama untuk melatih Lohan Tiu, Barisan istimewanya. Pek Cut Taysu sendiri yang memimpin latihan pasukan isitimewa itu.

Di lain pihak, Pek Cut sendiri selalu mengharap-harap lekas tibanya pemuda Tio It Hiong, guna anak muda itu membantu ia membebaskan Siauw Lim Sie atau Siauw Pay, dari ancaman malapetaka. Sementara itu, satu hal pun membuatnya Bingung dan juga kuatir. Itulah berita halnya Tio It Hiong sudah melakukan pelbagai pembunuhan dan perampasan.

Mungkinkah itu ? Pula, beberapa orang muridnya yang diutus ke pelbagai arah guna menyelidiki pemuda she Tio itu, belum ada yang pulang dengan laporannya. Baru sesudahnya Cio Kiauw In dan Pek Giok Peng tiba, ia mendengar halnya Tio It Hiong masih berada di Ay Lao San, tengah menghadapi Kwie Tiok Giam Po, si nenek lihai dengan bangsinya yang luar biasa itu. Ia merasa aneh dan bercuriga, walaupun ia adalah seorang pendeta tua dan beribadat, toh hatinya terguncangkan juga.....

Kiauw In dan Giok Peng telah mengambil tempat di gubuk, di gunung belakang. Mereka sangat mengharap-harap kembalinya It Hiong. Buat menyambut pertemuan besar kaum persilatan itu, mereka perlu lekas-lekas melatih ilmu silat pedang Sam Cay Kiam. Ilmu mana tak dapat dipelajari tanpa It Hiong. Sam Cay dari Sam Cay Kiam berarti langit, bumi dan manusia, dan itu berarti pula tiga orang. Kiam ialah pedang. Pada suatu malam nan terang bulan, Giok Peng muncul di muka jendela akan memandangi si putri malam yang tetap permai, yang cahayanya terang bersih dan sinarnya lembut. Seluruh daerah pegunungan tampak terang dan tegas, suasana sunyi sekali. Justru itu, mendadak ia menarik napas dalam-dalam dan terus meneteskan air matanya. Tak ada lagi napsunya menikmati malam yang indah itu. Maka hendak ia memutar tubuhnya buat meninggalkan jendela itu atau mendadak ada orang yang menepuk bahunya.

"O, adik Peng. " demikian tiba-tiba suaranya Nona Kiauw

In. "Adik, kau kenapakah ? Apakah kau kuatir Tan Hong nanti merampas adik Hiongmu ? Aku lihat kau selalu berduka. "

Giok Peng menepis air matanya.

"Oh, kakak tegakah dengan kata-katamu ini ?" ia balik bertanya, "bukankah keselamatannya adik Hiong berarti keselamatanmu juga ?"

Kiauw In sangat mencintai It Hiong dan senantiasa memikirkannya tetapi ia sabar dan hatinya sangat tenang dan mantap, tidak sebagai Giok Peng yang hatinya mudah goncang itu. Mendengar pertanyaan itu, ia menghela nafas.

"Semoga adik Hiong dilindungi Tuhan supaya ia lekas kembali !" katanya sungguh-sungguh. "Dengan kembalinya adik Hiong maka akan terang jelaslah itu semua berita buruk dan bebas !"

Giok Peng terdiam. Ia ada sangat berduka. Maka keduanya jadi berdiam terus.

Lewat sekian lama, Kiauw In menarik tangan orang. "Malam begini indah" katanya, "mari kita melatih Sam Cay Kiam..." Dan tanpa menanti jawaban, ia sudah lantas mengambil pedang meraka yang digantung ditembok untuk dibawa keluar dari kamar, buat pergi ke Pekarangan yang luas yang dikitari pagar pepohonan.

Giok Peng mengiringi kehendak kakaknya yang luwes itu, maka dilain saat berdua mereka sudah mulai melatih ilmu pedangnya itu menuruti ajarannya Tek Cio Siangjin selama Kiauw In masih berada di gunungnya. Sayangnya kedudukan huruf "Thian" Langit kosong, sebab tidak adanya It Hiong hingga tinggal dua kedudukan "Tan" Bumi dan "Jia" Manusia. Biarnya mereka dapat berlatih dengan baik, kekosongan itu terasa sekali.

Tengah mereka berlatih itu mendadak terlihat satu bayangan berlompat masuk dengan melewati pagar pepohonan, lantas orang itu berdiri tegak di dalam Pekarangan. Telihat sebatang pedang menggemblok pada punggungnya.

Kiauw In dan Giok Peng berhenti berlatih dengan segera.

Tentu sekali berbareng mereka pun teruslah untuk mengawasi dengan tajam.

"Siapa ?" tegur Nona Cio.

Mendadak saja Giok Peng menjadi sangat girang. "Adik Hiong ! Kau pulang !" serunya seraya lantas ia

berlompat lari kepada suaminya itu !

"Adik Peng" balas memanggil orang itu, "kau.." Mendadak dia berhenti berbicara terus, sebab tiba-tiba dia insyaf bahwa dia telah salah menggunakan panggilan. Dia pun tidak berani memanggil Kiauw In. Tapi dia masih ingat akan berpura batuk-batuk sambil dia tunduk....

Giok Peng sudah lantas memegang lengan orang untuk digoyang-goyang.

"Adik, kau kenapakah ?" tanyanya, agaknya sangat menyayangi. "Ada apakah ? Mari kau turut pada kakakmu. "

Kiauw In sementara itu melengak. It Hiong memanggil adik pada Giok Peng ! Ia tahu, panggilan itu biasanya ialah kakak. Ia pula heran, kenapa It Hiong tidak menyapanya, ia selain sangat mencintai, It Hiong pun sangat menghormatinya.

Kenapa sekarang adik atau adik tidak seperguruannya itu diam saja ? Karenanya ia terus berdiri diam, matanya mengawasi tajam, pada si anak muda. Terangnya sang rembulan membuatnya dapat melihat orang dengan tegas.

Ketika itu It Hiong palsu telah berkata perlahan : "Selagi di Ay Lao San, adikmu telah terkena racunnya Kwie Tiok Giam Po. Syukur aku masih dapat melarikan diri. Sampai sekarang, setiap dua hari sisanya racun masih tetap menganggu kesehatanku dan setiap kali aku terganggu, kesadaranku hilang, lantas aku menjadi kasar dan kalap kehendakku selalu ingin menyerang dan membunuh orang-orang, habis itu baru hatiku tenang pula. Aku sudah melakukan perbuatan keliru dengan membinasakan beberapa orang...... ah !. "

Giok Peng terkejut, tetapi ia lantas ingat hosin ouw, obat mujarab itu.

"Kau mempunyai hosin ouw, kau telah makan itu atau tidak

?" tanyanya. Ia meraba muka orang dengan perlahan sekali. "Oh, kau menjadi terlebih kurus. ". Berkata begitu mendadak

si nona ingat sesuatu, segera sambil mengawasi ia kata : "Adik, kenapa kau tidak gunakan ilmu tenaga dalam Hian Bun Sian Thian Khie kang guna mengusir racun di dalam tubuhmu itu ?"

Prihatin suaranya si nona dan air matanya sudah lantas menggenang.

It Hiong menengadah langit, ia berdiam saja. Itulah caranya guna mengelakkan pertanyaannya Giok Peng, yang ia tidak dapat jawab. Kalau ia menjawab sembarangan saja ia kuatir nanti rahasianya terbuka. Ia tahu penyamarannya sempurna tetapi ia berwaspada.

Selama itu, Kiauw In masih terus memasang mata. Ia melihat It Hiong sebagai It Hiong yang tulen, cuma gerak gerik orang yang berbeda. Ia menerka-nerka. Apakah itu disebabkan racunnya Kwie Tiok Giam Po ?

It Hiong palsu menengadah langit tetapi diam-diam ia melirik pada Nona Ciu. Ia merasa hatinya tidak tenang sebab nona itu terus mengawasi padanya. Ia kuatir nona itu yang sabar luar biasa, nanti mencurigainya. Ia pun lantas berpikir apa yang ia harus lakukan supaya ia tak terus berada dalam kekuatiran. Dengan lantas ia mendapat akal. Terus ia berpura menggigil dan berkata dengan suara tak tegas, "Ah, ah, racun dalam tubuhku mulai bekerja pula ! Kakak, tolong aku !"

Giok Peng kaget.

"Apa aku mesti perbuat, adik ?"tanyanya Bingung. "Aku nanti lakukan segala apa katamu ! Bilanglah !"

Hong Kun memandang ke depan, kepada Kiauw In. "Ia ada di sana, aku tidak berani menyebutkannya..." katanya perlahan sekali.

Benar-benar Giok Peng sangat bingung. Dia terpengaruhkan sangat oleh ketakutan bahwa It Hiong nanti bercelaka karena keracunannya itu. Dia sampai melupakan segala apa, sampai lupa Kiauw In siapa. Dia juga menyangka karena It Hiong mau bicara sendiri padanya, itu tentu disebabkan si anak muda sangat mencintainya. Maka ia lantas kata pada Kiauw In, "Kakak, racun dalam tubuh adik Hiong bekerja pula, tolong kau pergi mengambil air dingin ! Maukah kau ?"

"Apakah air dingin dapat melenyapkan racun ?" tanya Kiauw In, lalu dengan perlahan-lahan juga ia bertindak menghampiri.

Hong Kun bingung. Dia kuatir tipu dayannya itu gagal. Dia mencoba menenangkan diri. Makin keraslah niatnya untuk menyingkirkan nona Cio. Terpaksa ia berlaku sabar dan kata perlahan : "Kakak, kenapa kakak tidak memperhatikan aku ? Jiwaku bakal tak dapat bertahan lebih lama pula. Tegakah

kau kakak ?"

Kiauw In mengawasi tajam.

"Apakah kau sesalkan kakakmu ini tega, adik ?" tanyanya. "Kaulah justru yang tega terhadap adik Peng !" Berkata begitu ia maju pula dan tindak sinar matanya menatap muka orang. Selagi berjalan tangannya si nona merogoh ke dalam sakunya mengeluarkan sebutir obat pula, kemudian sembari mengangsurkan itu, ia kata : "Apakah kau melupakan obat pemunah racun yang mujarab dari Bie Lek Sie ? Nah, lekas kau makan ini !" Hong Kun tidak tahu tentang obat itu, tak berani ia banyak bicara, tak berani ia menanya apa-apa. Ia menyambuti obat itu dan memakannya.

Melihat orang makan obat itu, kecurigaannya Kiauw In menjadi bertambah kuat. Obat Kay Tok Tan dari pendeta dari Bie Lek Sie cuma ada pada It Hiong dan disimpannya di dalam peles batu hijau, ia sendiri tidak memilikinya. Obatnya barusan adalah obat biasa saja.

"Adik" ia berkata pula, "kau telah makan obat itu, lekas kau duduk beristirahat untuk mengatur pernafasanmu. Kau gunakan tenaga Hian Bun Sian Thian Khie kang guna membikin obat bekerja ke seluruh anggota tubuhmu, supaya racun dapat diusir keluar."

"Racun sudah menyerang ke tan-tian, tak dapat aku meluruskan lagi pernafasanku..." sahut si licik.

Kiauw In berpikir keras.

"Adik" katanya pula, "kalau begitu cobalah kau berlatih diri dengan ilmu silat Hang Liong Hok Houw Ciang hoat dari Paman In. Ilmu itu dapat membikin darah mengalir dengan baik..."

Hong Kun kaget bagai disambar guntur. It Hiong pandai ilmu silat itu, tetapi ia sejuruspun ia tidak mengerti, mana dapat ia menjalaninya ? Maka ia berpura terus, ia mengernyitkan alis dan mengerutkan muka, nafasnya dibikin memburu. Ia kata : "Sekarang..... ini..... tenagaku......

habis...... Apakah Pa..........man..... In. ada di dalam

.....?" Ada maksudnya Hong Kun maka ia bertanya begitu. Ia kuatir In Gwa Sian berada didalam gubuk itu. Itulah berbahaya. Tapi justru karena ia menanya itu, ia telah membuka rahasia. Orang menyebut Paman In, ia menyebut paman pula ! In Gwa Sian adalah ayah angkatnya It Hiong bukannya paman.

Mendengar itu bukan main panas hatinya Kiauw In. Ia telah mendapat bukti bahwa It Hiong ini It Hiong palsu. Tapi ia masih dapat mengendalikan hatinya. Maka ia dapat memperlihatkan tampang muka yang sangat berduka dan prihatin terhadap pemuda di depannya itu.

"Kau tidak dapat meluruskan nafasmu, adik. Kau juga tidak bisa berlatih" katanya perlahan dan menyesal, sikapnya menyayangi. "Kalau begitu marilah masuk ke dalam untuk merebahkan diri buat beristirahat. Paman In tidak ada disini, ia telah pergi ke Siauw Lim Sie untuk mendamaikan sesuatu, mungkin ia tak sempat pulang. Adik Peng, kau payanglah dia kedalam. "

Diam-diam Hong Kun bergirang mendengar kata-kata si nona. Itulah yang ia kehendaki. Tidak adanya In Gwa Sian di gubuk itu berarti ia dapat bergerak dengan bebas. Bukan saja Giok Peng, mungkin Kiauw In juga bakal terjatuh ke dalam pelukannya. Ia ada demikian girang hingga ia dapat jalan setindak demi setindak sampai ia lupa bahwa ia baru berpura sakit sekali.

Giok Peng memperpanjang orang sampai didalam kamar, ia menggantung pedangnya si anak muda di dinding, ia membantui juga membukai baju luarnya orang muda itu. Yang ia rebahkan dengan berhati-hati diatas pembaringan.

"Adik Hiong, bagaimana kau rasai tubuhmu ?" tanyanya. Hong Kun menggeleng kepala, mukanya meringis, ia malah lantas merintih.

"Adik" berkata Kiauw In, "kalau racun bekerja hingga kalapmu bakal kumat, hingga kau mau membunuh orang, kau harus beritahukan itu kepada kami supaya kami bisa bersiap sedia menyingkirkan diri."

"Jangan kau berkuatir kakak" sahut It Hiong palsu. "Habis makan obatmu barusan aku merasa jalan darahku rada longgar, aku merasa jauh lebih ringan."

Ia mengucap begini karena ia kuatir nona-nona itu nanti meninggalkannya.

Giok Peng lantas menanyakan tentang pertempuran di Ay Lao San, atas itu Hong Kun menjawab dengan isapan jempolnya.

Selama itu Kiauw In duduk disisi, diam mendengari maka ia dapatkan banyak keterangan yang mencurigakannya. Ketika si anak muda berdiam sekian lama tiba-tiba ia campur bicara dengan menanya, "Adik, setelah kau terkena racun, kau dapat lari turun gunung, habis bagaimana dengan Paman Beng ?

Apakah pamanmu itu masih tetap terkurung di Ay Lao San ?"

Hong Kun telah melihat Kee Eng di Liong peng, ia menjawab tanpa ragu : "Tidak ! Paman Beng sudah lolos dari Ay Lao San !"

Kiauw In menanya pula : "Adik, kau tidak dapat melawan racunnya Kwie Tiok Giam Po, habis bagaimana caranya kau membantu Paman Beng ?" Hong Kun berpura mau muntah. Tak dapat ia menjawab pertanyaan itu. Ia bergerak berbalik kedalam. Terus ia tidak menyahuti.

Ketika itu Giok Peng melihat malam sudah lewat jauh. "Sudah jam tiga kakak" kata ia pada Kiauw In. "Baik kakak

kembali ke kamarmu. Sesudah makan obat, aku rasa adik

Hiong sudah bebas dari ancaman racunnya. Aku kuatir kakak nanti terlalu letih dan kantuk..."

Kiauw In menyahuti dengan perlahan, seperti perlahan juga langkahnya. Katanya di dalam hati: "Adik Peng, kau terlalu polos. Manusia palsu kau percaya sebagai suamimu, apakah kau tak takut nanti kena terpedaya ? Baiklah hendak aku saksikan kepandaiannya jahanam ini !"

Memasuki kamarnya yang berada disebelah kamarnya Giok Peng, sengaja Nona Ciu memperdengarkan suara tertutupnya pintu, terus dengan diam-diam ia kembali ke kamarnya sang adik. Ia dapat menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega hingga ia tidak memperdengarkan suara apa. Ia mendekam di bawah jendela sambil mengintai ke dalam.

Sekian lama kamarnya Nona Pek tetap sunyi saja.

Ketika itu Hong Kun sudah menggerakkan tubuhnya buat duduk, ia membawa jeriji tangannya ke bibirnya buat memberi isyarat supaya Giok Peng jangan bersuara. Habis itu ia menggapaikan.

Giok Peng duduk dikursi, ia berbangkit dan menghampiri untuk duduk ditepi pembaringan. "Bagaimana, adik ?" tanyanya perlahan. "Kau tak merasakan apa-apa lagi ? Apakah kau ingin makan sesuatu ?"

Hong Kun tertawa, sebelah tangannya diletaki dibahu si nona. Giok Peng melirik, ia tunduk.

Dengan telunjuknya, It Hiong palsu menolak dagu orang.

Dia tertawa.

"Kau menjadi terlebih kurus, adik Peng." katanya. "Ini tentu disebabkan kau terlalu memikirkan aku. "

Giok Peng menolak tangan orang, ia melirik : "Adik, tidurlah." katanya. "Besok akan aku mohon Paman In minta obat dari Locianpwe Ngay Eng Eng. Jago tua itu kabarnya ahli pemunah racun !"

Hong Kun tidak berkata apa-apa, hanya tangannya merapah repeh. Ia bersenyum berseri-seri, kali ini disebabkan kegirangannya yang sangat. Segera juga tiba saatnya ia akan merasakan kenikmatan seperti disaat ia mempermainkan Siauw Wan Goat...

Giok Peng merasa heran. Tak biasanya It Hiong berbuat demikian. Mendadak ia berbangkit bangun, lalu memutar tubuh dan menatap si anak muda.

"Adik" tanyanya, "dari mana kau pelajari cara ceriwismu ini

? Apakah kau tidak menyayangi dirimu ? Bukankah kau tengah keracunan parah ?"

Habis berkata begitu, nona ini mau kembali ke kursi di jendela.

Hong Kun kembali menarik tangan orang. "Kau gusar, adik Peng ?" tanyanya.

Giok Peng terperanjat. Orang memanggil dirinya "Adik Peng

!" Tadi pun ia mendengarnya tetapi ia tidak perhatikan. Kali ini suara itu terdengarnya lain. Tapi tetap ia belum bercuriga.

"Adik" katanya, "apakah pikiranmu masih kacau ?

Bagaimana kau rasai tubuhmu ? Apa racun jahat itu bekerja pula ?"

Hong Kun menarik kedua tangan orang, memaksa si nona duduk pula. Ia bersenyum. Lantas ia kata : "Perpisahan tak lama memang jauh daripada saat pengantin baru ! Adikku, apakah kau berpura-pura saja ? Apakah kau tengah mempermainkan aku ?"

Giok Peng tunduk, ia tidak mengatakan apa-apa hanya tertawa perlahan. Ia seperti sudah mulai limbung dalam laut asmara.....

Kiauw In diluar jendela telah melihat semua itu, ia merasa saat sangat gawat sudah tiba, perlu ia bertindak. Dengan lantas ia kembali ke kamarnya. Ia mengambil jinsom untuk memeras itu lalu mengaduknya dengan air dingin di dalam mangkuk, setelah mana ia lekas kembali ke kamarnya Nona Pek. Ia telah mengetuk pintu sambil memanggil dengan perlahan.

Giok Peng membukai pintu. Di dalam hati ia kurang puas.

Nona itu seperti menganggunya. Tapi ia lekas-lekas menanya : "Ah, kakak ! Sudah jauh malam kenapa kakak masih belum tidur ?" "Aku tak dapat tidur" sahut Kiauw In mendusta. "Aku selalu memikirkan sakitnya adik Hiong, aku kuatir racunnya nanti kumat. Diwaktu malam seperti ini dimana kita bisa dapatkan obat pemunah racun ? Maka itu aku lantas membuatkan air jinsom ini. Baik adik Hiong meminumnya buat menguatkan tubuhnya. "

Kiauw In tidak menyerahkan mangkuk obat kepada Giok Peng, hanya ia menyerahkannya kepada Hong Kun, sembari ia berkata : "Adik, habis minum ini kau singkirkan segala pikiranmu yang tidak-tidak, kau beristirahatlah ! Kau tahu sendiri kalau kau berfikir yang bukan-bukan, kesesatan bakal membahayakan jiwamu !"

Kata-kata itu dapat diartikan dua maksudnya itu bisa berupa juga nasihat berikut ancaman. Mendengar itu gentar hatinya Hong Kun. Tidak demikian dengan Giok Peng. Nona Pek menganggap Kiauw In berbuat baik demikian mungkin disebabkan nona itu mengiri terhadapnya....

Hong Kun kuatirkan jinsom itu adalah racun atau obat pingsan untuknya. Di dalam hati ia mengutuk Kiauw In : "Budak bau, kau mau main gila ya ! Kau masih terlalu hijau bagiku ! Kau kira dapat kau perdayakan aku."

Pemuda ini menyambuti mangkok, ia menggerakkan tubuh buat duduk, sambil berbuat begitu ia membikin mangkok terbalik maka tumpahlah air obat ke lantai, ia berpura-pura kaget, lalu dengan tampang likat ia mengawasi Kiauw In dan kata : "Maaf kakak, aku menyia-nyiakan capek lelahmu ini.

Dasar aku tidak punya rejeki. "

Tak puas Giok Peng, sengaja dia menyindir : "Kakak bermaksud baik terhadapmu ! Aku tidak sanggup berbuat seperti kakak ini." Kiauw In tidak memperdulikan suara kawan yang mudah tersinggung itu, yang keras jelusnya. Ia justru berkata kepada Hong Kun, "Adik, dimanakah kau taruh kitab Sam Cay Kiam hadiah dari guru kita ? Mari kau keluarkan kasih pada aku, dapatkah ?"

Hong Kun kaget, lekas-lekas dia tunduk dengan perlahan, dia kata : "Menyesal kakak, kitab itu hilang di Ay Lao San selagi aku melarikan diri. "

Giok Peng menyela : "Urusan kitab itu baik besok saja kita bicarakan ! Kakak, jangan kau ruwetkan pikirannya adik Hiong

!"

Nona ini bertindak menghampiri pembaringan akan duduk dipinggirannya.

Di waktu itu Hong Kun berpikir keras. Ia menerka Kiauw In telah mencurigainya. Inilah berbahaya. Makin lama makin mudah rahasianya terbuka. Celaka kalau kedoknya lucut. Maka ia lantas bertindak. Dengan berpura-pura hendak pergi ke kakus, ia turun dari pembaringannya, ia mengenakan baju luarnya, setelah itu dengan tiba-tiba ia lompat ke dinding, akan menyambar pedangnya kemudian dengan sama cepatnya ia lompat balik kepada Giok Peng untuk menotok jalan darah thay yang nona itu, buat membuatnya pingsan ! Ia berniat memondong nona itu buat dibawa kabur seperti dahulu hari dia melarikan Wan Goat.

Kiauw In tapinya sudah siap sedia.

Dengan tangan kirinya ia menolak Giok Peng sampai si nona mundur dua tindak, dengan tangan kanannya dia menyambuti tangan kanan pemuda itu yang dipakai menyerang Nona Pek. Ia menghajar dengan satu pukulan sebuah jurus Hang Liong Giok Houw Ciang.

"Bangsat ! Kalau kau laki-laki, beritahukanlah namamu !" bentaknya.

Pek Giok Peng kaget sekali, berbareng menjadi sangat gusar. Ia lantas mengerti maksudnya Kiauw In dan tahu It Hiong itu It Hiong palsu. Mukanya lantas jadi merah sendirinya. Ia jengah kalau ia ingat bagaimana barusan ia dipermainkan pemuda tak dikenal itu. Dengan alis berdiri dan mata mendelik, ia menyambar sebuah kursi dan dipakai untuk menghajar si orang busuk !

Tak sempat Hong Kun menghunus pedangnya, ia menangkis dengan pedangnya yang masih bersarung itu, hingga kursi pecah rusak. lalu kesempatan itu dipakai olehnya buat berlompat keluar jendela. Setibanya diluar dengan berani dia menantang : "Kalau kamu bernyali besar, mari keluar. Kita bertempur buat beberapa jurus !"

Giok Peng gusar bukan main, ia lompat ke tembok akan mengambil pedangnya, disaat ia mau lompat keluar jendela, Kiauw In menarik ujung bajunya.

"Jangan menempur dia seorang diri !" kata kakak ini. "Dia bukan sembarang orang. Mari kita melayaninya berdua buat melihat asal usul ilmu silatnya !"

oooooOooooo

Giok Peng menurut. Ketika kemudian ia berdua Kiauw In lompat keluar, si manusia jahat sudah hilang tak karuan pula. Ia mendongkol sekali, mau ia pergi mencari. "Sudah adik !" berkata Kiauw In. Ia mencegah. "Kita cuma berdua kalau kita mengejar, bagaimana andiakata dia menggunakan tipu daya, memperangkap kita ? Bukankah itu berbahaya? Buat membuat perhitungan, kita jangan tergesa- gesa. "

Dan kakak ini menarik adik itu masuk ke dalam gubuk mereka.

Saking mendongkol, Giok Peng menangis, ia menjatuhkan diri dalam rangkulannya Kiauw In. Ia menyesali dirinya.

"Dasar aku yang tolol !" katanya. "Kenapa aku tidak mengenali orang ? Bagaimana nanti aku harus menemui adik Hiong ?"

"Jangan berduka, adik" Kiauw In menghiburi. "Kau belum menjadi korbannya jahanam itu ! Kau tahu setiap saat aku berjaga-jaga terhadapnya. Tadi pun aku mengintai dari luar jendela hingga aku melihat tegas sepak terjangnya. Tentang kesucian dirimu adik, aku yang bertanggung jawab!"

Giok Peng menyusuti air matanya. Ia menarik napas panjang.

"Aku yang harus mati !" katanya.

"Syukur ada kau, kakak, yang melindungi aku, kalau tidak mana ada muka melihat orang-orang."

Kiauw In mengusap-usap rambut indah nona itu. "Sabari hatimu adik, kau berlaku tenang." ia menghiburi

pula. "Bukankah kita sudah seperti saudara kandung ? Mana ada perbedaan diantara kita ? Sebenarnya telah sekian lama aku mencurigai orang itu tetapi karena aku ingin bukti, aku bersabar terus, aku seperti membiarkan kau dijadikan korban. Bukankah kau sudi memaafkan aku ?"

Giok Peng berbangkit akan merapihkan rambutnya.

"Mana berani aku menyesalkan atau menggusari kau, kakak

?" katanya.

"Aku justeru berterima kasih kepadamu ! Kakak, aku sangat mengagumi kecerdikanmu !"

Lewat lagi sekian lama, barulah Giok Peng dapat menenangi diri.

Sekarang ia dapat berpikir.

"Kakak" katanya, "bagaimana sebabnya maka kau ketahuilah dialah adik Hiong palsu ?"

Kiauw In bersenyum.

"Siapa yang hatinya sedang sangat terpengaruhkan sesuatu mungkin saja dia lupa segala apa." sahutnya. "Ketika itu orang pintar bisa menjadi bodoh. Kau sangat memikirkan adik Hiong, adik. Lantas mendadak kau melihat dia, maka itu juga mendadak juga terbangunlah semangatmu. Kau menjadi sangat girang secara mendadak sekali hingga kau tak sempat berpikir lainnya. Di dalam keadaan seperti itu, mana dapat kau berpikir jernih ?"

"Tetapi, kakak." kata pula nona Pek, "bukankah kau juga memikirkan keras adik Hiong sebagaimana yang aku pikirkan ? Inilah yang aku tidak mengerti !" "Adik, aku harap kau tidak menerka keliru" berkata Nona Cio sabar. "Siapakah orang yagn tidak mencintai suaminya ? Bukankah setiap orang mencintainya ? Kita tapinya beda daripada orang kebanyakan. Kitalah wanita Kang Ouw. Maka kalau kita menghadapi sesuatu, harus kita bersikap lebih tenang. Aku sudah merasa heran, selekasnya dia memanggil kau 'adik Peng', maka diam-diam aku lantas perhatikan padanya. Makin lama kecurigaanku makin bertambah. Dia gagal memperlihatkan Hian Bun Sian Thian Khie kang dan Hang Liong Hok Houw Ciang hoat. Itu masih tidak apa sebab dia baru terkena racun, mungkin dia lemah tak berdaya.

Lantas hal obatnya pendeta dari Bie Lek Sie ! Bukankah obat itu ada pada adik Hiong ? Obat yang aku berikan adalah obat biasa saja, toh dia percaya ! Dengan begitu, dia seperti membuka rahasianya sendiri. "

"Tetapi kakak," kata Giok Peng "toh benar kalau orang terkena racun dia jadi lupa segala apa ? Ada kemungkinannya bukan ?"

"Tetapi biasanya," Kiauw In menjelaskan lebih jauh, "siapa terkena racun yang jahat, dia benar-benar melupakan segala apa, matanya seperti buram, gerak geriknya tidak biasa pula. Didalam keadaan begitu, mana orang dapat ingat akan kesenangan hidup suami istri ?"

Mukanya Giok Peng merah.

"Tadi," Kiauw In tanya, "selama berduaan saja, apakah kau tidak melihat sesuatu yang mencurigai ?"

"Ya, ada. " sahut Giok Peng, kembali mukanya merah.

Kiauw In tersenyum. "Itulah lucu adik ! Kenapa orang tak tahu kebiasaan suaminya."

Giok Peng menubruk kakak itu, untuk mendekam dibahunya.

"Ah, kakak, kau menggodia aku !" katanya. Ia malu tapi toh ia tertawa.

Selagi kakak beradik itu bergurau, tiba-tiba ada asap bertiup masuk dari luar jendela, hanya lantas asap itu buyar kembali menyusul mana dari luar terdengar bentakan keras suara yang nona-nona itu mengenali seperti suaranya In Gwa Sian.

Kiauw In dan Giok Peng dapat mencium sedikit asap itu, yang baunya harum tetapi lekas-lekas mereka menahan napas, maka itu cuma pusing sedikit, mereka lantas pulih pula. Lantas mereka saling memandang terus mereka berlompat keluar jendela.

Tepat di dalam Pekarangan pagar, di sana tampak Pek Cut Tasyu ketua Siauw Lim Pay tengah berdiri tegak.

Kedua nona datang menghampiri, buat mengunjuk hormat. "Apakah loSiansu dapat melihat orang jelas ?" tanya

mereka.

Belum lagi pendeta itu menjawab atau Pat Pie Sie Kie sudah tiba. Dia lantas tertawa nyaring dan kata : "Bangsat itu memiliki dua buah kaki yang tak dapat dicela, dia berhasil meloloskan diri dari tanganku !" Kemudian dia menoleh kepada kedua nona dan kata sambil tertawa pula : "Kalian berdua sangat temaha akan tidur nyenyak ! Kalau aku si tua bangka datang terlambat satu tindak saja, apakah itu bukan artinya celaka ?"

"Ah, paman bisa saja !" berkata Giok Peng. Dia jengah berbareng penasaran.

"Paman tahu, jahanam itu sudah datang sekian lama dan datangnya dengan menyamar sebagai adik Hiong. Sesudah sekian lama, baru kami ketahui dialah manusia palsu maka kami mengusirnya ! Siapa sangka, dia bernyali sangat besar, dia berani datang pula ! Bahkan dia menggunakan obat pulas

!"

Pek Cut memperdengarkan pujinya.

"Apakah tan wat berdua telah melihat tegas ?" tanyanya.

Kiauw In menjura dan menjawab, "Tampang dan pakaian dia semuanya mirip dengan adik Hiong. Kami mengetahui kepalsuannya setelah kami berbicara dengannya dan menguji ilmu silatnya !"

"Habis kalian kena terpedayakan atau tidak ?" tanya In Gwa Sian yang tiba-tiba, wajahnya jadi sungguh-sungguh.

"Tidak !" menjawab kedua nona, cepat dan bebareng.

Mendapat jawaban itu, mendadak wajahnya si pengemis menjadi terang pula.

"Kalau begitu muridnya si hidung kerbau tak dapat dicela !" katanya. "Paman In" kemudian Kiauw In tanya, "ada urusan apa malam-malam paman datang kemari ? Adakah ada didapat sesuatu isyarat ?"

In Gwa Sian meloloskan buli-bulinya untuk menenggak araknya. Ia mengusap-usap mulutnya.

"Adalah si pendeta yang menarik, membetot aku." sahutnya kemudian, perlahan. "Nah, kau tanya saja padanya

!"

Pek Cut taysu bersenyum tanpa menanti sampai ditanya si nona ia sudah lantas diberikan keterangan.

Sebenarnya beruntun-runtun ketua Siauw Lim Sie itu telah menerima laporan Tio It Hiong sudah kembali ke Siauw Sit San. It Hiong pernah menolong Siauw Lim Sie dari bencana besar, setiap anggotanya kenal atau mengenalinya. Karena It Hiong datang dengan jalan bertarung dalam hal ini ialah Hong Kun yang menyamar It Hiong palsu, ia tidak ada yang hadang. DI beberapa tempat penjagaan, dia dapat lewat dengan bebas.

Pek Cut Taysu menerima semua laporan itu dengan girang. Ia ingin segera menemui pemuda yang dianggapnya sebagai penolong itu. Maka ia cari In Gwa Sian yang sudah datang terlebih dahulu dan mengajaknya ke belakang gunung, ke tempatnya Kiauw In dan Giok Peng. Tepat mereka datang mendekati rumah gubuk, mereka dapat melihat satu bayangan orang bergerak. Pendeta dan pengemis itu memang bermata sangat celi, lebih-lebih Pat Pie Sin Kit si orang Kang Ouw kawakan. Bahkan ia lantas dapat menerka maksud orang.

Tidak ayal lagi dia berlompat maju, menghampiri bayangan itu dan menghajarnya. Itulah saatnya Hong Kun menceploskan bubuk beracunnya yang berupa seperti asap itu. Hebat muridnya It Yap Tojin ini. Dia mendapat tahu ada serangan gelap. Dia menarik pulang tangannya sambil berkelit, hingga dia lolos dari kejaran itu, selekasnya dia mengenali si pengemis, dia kabur tanpa ragu lagi. Demikian dia lolos dihutan lebat, dipuncak kemana dia lari. Tak dapat In Gwa Sian menyusulnya. Itulah sebabnya, waktu kedua nona lari menyusul, pertama mereka cuma menemui ketua Siauw Lim Sie dan belakangan barulah si Paman In muncul.

"Sesudah mendekati usia seratus tahun, baru inilah yang pertama kali lociap menemui orang jahat yang melakukan penyamaran dan melakukan kejahatan istimewa ini." Pek Cut menambah-kan keterangannya. Kemudian ia berpaling kepada In Gwa Sian, untuk berkata : "Kalau begini, In Sicu, terang sudah bahwa Tio Tanwat telah orang fitnah dan si manusia jahat adalah pemuda barusan !"

Matanya In Gwa Sian bersinar, kulit mukanya bergerak- gerak, terus ia mengangguk-angguk. Tapi ia tidak mengatakan sesuatu.

Sampai disitu, Giok Peng memberi hormat kepada si pendeta.

"Silahkan loSiansu dan Paman In mampir dahulu untuk minum teh !" ia mengundang.

Pek Cut Taysu membalas hormatnya dengan sebelah tangannya. 
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(