Iblis Sungai Telaga Jilid 25

 
Jilid 25

Hebat pula peristiwa terhadap keluarga Liok diwilayah sungai Siang Kang. Dan Beng Theng Liok Cim, orang Kang Ouw kenamaan, yang sudah lama mengasingkan diri didalam satu malam habis seluruh keluarganya yang terdiri dari beberapa puluh jiwa! Penyerangnya menggunakan pedang mestika dan piauw beracun. Cuma Liok Cim sendiri yang selamat jiwanya tetapi sebelah lengannya terluka.

Berita itu sudah menggoncangkan dunia Kang Ouw. Ketua Bu Tong Pay, Gouw Hian Tojin sudah lantas pulang dari kuil Siauw Lim Sie di Siong San, guna mengurus pembunuhan para murid-muridnya itu. Sedangkan ketua Siauw Lim Sie sendiri, Pek Cut Taysu telah mengutus Ang Sian Taysu, adik seperguruannya yang berkedudukan sebagai Ciang Ih, untuk pergi merantau mencari Tio It Hiong untuk menyampaikan surat yang ditulis oleh Pat Pie Sin Kit, In Gwa Sian.

Hubungan diantara Hoay Giok dan It Hiong luar biasa kekalnya, maka juga ia mendengar berita tersebut. Anak muda ini bingung bukan main. Itulah sangat aneh dan sukar dipercaya! Toh berita ini agaknya sangat pasti. Tan Hong juga goncang hatinya. Ia sangat menghargai dan mencintai It Hiong. Dan ia kenal baik kegagahannya anak muda itu.

Sekarang tersiar berita hebat itu! Benarkah itu?

Karena ini, keduanya sambil melakukan perjalanannya itu lantas mencoba melakukan penyelidikan. Mereka menghendaki bukti yang nyata. Pada suatu hari Hoay Giok tiba didusun Keng Liong tin ditepian propinsi Sucoan. Tiba-tiba ia dan Tan Hong mendengar suara sangat berisik, terus mereka menyaksikan orang lari serabutan, berebut saling mendahului. Agaknya seperti ada bencana besar mengancam mereka itu.

Tan Hong heran dia mencegat beberapa orang untuk diminta keterangan. Ia mendapat jawaban berupa semua orang yang ditanya bungkam, mereka cuma mengeluarkan lidah dan menggeleng-gelengkan kepala! “Gila!” teriak Tan Hong penasaran. “Kakak Whie tunggu sebentar, aku akan pergi sebentar buat melihat apa yang sebenarnya terjadi!”.

Hoay Giok memikir lain.

“Baik kita pergi kepasar untuk terus mencari tempat istirahat,” katanya, Buat apa kita usil dengan orang lain?”

Belum lagi Tan Hong memberi jawaban, tampak seorang pemuda yang punggungnya terikat pedang tampak lari cepat sekali, bahkan dia lari disisinya si nona, sehingga nona itu harus menyampingkan tubuhnya supaya tidak terlanggar dan ketika ia melihat muka orang tersebut, iapun berpaling da memanggil : “Adik Hiong! Adik Hiong!”

Anak muda itu terus lari bagaikan terbang, lekas sekali dia menghilang disebuah gang. Tan Hong melengak hingga tak ingat ia untuk menyusul, baru kemudian ia berkata : “Orang itu mempunyai wajah sangat sama dengan adik Hiong! Hanya, kalau dia benar adik Hiong, kenapa dia melihat kita bertiga tapi dia kabur terus? Aneh!”

Hoay Giok tengah berjalan terus, ia tak sempat melihat wajah orang, ia cuma melihat sesudah orang lari lewat. Maka ia menjawab si nona, “Didalam dunia memang ada orang yang segalanya mirip satu dengan lain Nona Tan, kau melihat hanya sekelebatan, mana dapat kau mengenalinya dengan baik?”

Beng Kee Eng dipunggungnya Hoay Giok mendengar pembicaraan muda-mudi itu. “Kau benar anak Giok, tapi Nona Tan benar juga,” katanya. “Mari lekas kita cari tempat beristirahat, di sana baru kita mencari keterangan….”

Tan Hong terdiam, ia hanya mempercepat langkah kakinya.

Setibanya dipasar maka di depan sebuah restoran ia melihat seorang pria setengah tua sedang duduk ditanah sambil memejamkan mata. Dia tengah mengatur pernapasannya, baju didekat dadanya tampak berlumuran darah, tanda dari sebuah luka. Di belakang dia terpisah kira-kira setombak lebih, tiga orang roboh sebagai mayat….

Ketika Whie Hoay Giok sudah dapat menyusul Tan Hong, hingga mereka datang dekat pada sekalian mayat itu, si anak muda mengenali orang yang terluka itu ialah Go Tauw Kong, murid ahli warisnya Pauw Pok Tojin dari partai Ceng Shia Pay. Ia terkejut.

“Eh, cianpwe Go Tauw Kong!” sapanya, “Kau kenapakah?”

Pertanyaan itu tidak mendapat jawaban, maka ia mengulanginya namun orang masih berdiam saja, hingga saking herannya, ia bertanya dan bertanya lagi.

Akhirnya orang itu membuka matanya, setelah melihat Hoay Giok dia lantas berkata kasar dan sengit : “Tidak kusangka, muridnya sebuah partai persilatan yang sangat kenamaan tapi berprilaku kejam bukan main! Sudah dia mencuri pedang pusaka Ceng Shia Pay, diapun membunuh tiga orang adik seperguruan kami! Kau adalah manusia sebangsa ular dan tikus, bagaimana kau masih dapat berpura- pura merasa kasihan dan menanyakan aku begini macam?

Hm!” Whie Hoay Giok melengak, terang itulah cacian atau teguran untuk partainya, ia jadi berpikir, “ Benarkah semua perbuatan busuk dan kejam itu perbuatannya adik Hiong, ditengah jalan baru aku mendengar berita saja, tapi sekarang aku mendapat buktinya. Mustahil Go Tauw Kong memfitnah? Tak mungkin! Ah!. ” ia menghela napas.

Tapi iapun penasaran, ia berkata pula pada orang she Go itu, “Cianpwe aku harap cianpwe jangan salah paham! Aku mohon  sukalah  cianpwe   membuat   penyelidikan dahulu… menurut aku tak mungkin perbuatan ini

perbuatannya Tio It Hiong, adik perguruanku itu….” Matanya Go Tauw Kong mendelik.

“Tutup bacotmu!” bentaknya gusar bukan kepalang. “Tak dapat kau berpura-pura untuk mengibul orang! Apakah kata- katamu ini hanya untuk menutupi kejahatannya Tio It Hiong? Apa yang telah dia lakukan atas kami ini telah didahului dengan segala perbuatan keji dia yang lainnya! Dia sudah membakar kuil Sam Goan Kiong! Dia telah membunuh murid Siauw Lim Pay! Diapun telah membunuh keluarga Liok!

Sekarang mencuri pusaka kami, membunuh saudara- saudaraku ini, juga melukai bahuku! Tak sempat aku bicara denganmu, maka pergilah kau!”

Habis berkata begitu, dengan menahan nyerinya. Tauw Kiong berjingkrak bangun terus dengan tubuh masih limbung ia berjalan pergi dari situ!

Kembali Hoay Giok melongo, tak sempat ia bicara pula. Lagipula apa yang dapat ia ucapkan? Ia Cuma bisa merasa heran dan bingung. Ia hanya berjalan menggendong gurunya menghampiri rumah penginapan. Di sana ia mendapati Tan Hong sedang menangis dengan sangat sedih, mukanya penuh air mata….

Kee Eng dipunggung muridnya batuk-batuk perlahan. “Kalian anak-anak muda, kalian tak dapat menguasai hati

kalian.” Katanya perlahan. “Hati kalian mudah sekali tergoncang! Dengan kurangnya ketenangan, mana dapat kalian hidup dalam dunia Kang Ouw? Untuk menghadapi mereka yang licik dan jahat, orang membutuhkan kesabaran….”

Kata-kata jago tua ini menyadarkan Hoay Giok dan Tan Hong, bahkan si nona sudah lantas berhenti menangis.

Wajahnya Hoay Giok pun tak seseram semula.

“Locianpwe,” si nona lantas bertanya : “Bagaimanakah pendapat locianpwe tentang peristiwa ini?”

“Jangan bingung nona,” berkata Kee Eng, “Kita bicara sebentar didalam kamar.”

Tan Hong suka menyabarkan diri, aka Hoay Giok segera memesan kamar. Mereka pun membersihkan tubuh, habis itu duduk bersantap. Dengan cepat sang waktu lewat, meeka baru dapat kesempatan bicara setelah tengah malam.

Tan Hong hampir hilang sabarnya. Ia sangat mengkuatirkan keselamatan It Hiong. Kalau benar pacarnya itu tersesat, sungguh hebat akibatnya nanti….

“Anak-anak mari kita bicara tenang,” kata Kee Eng sabar. “Bukankah kita berpisah baru sepuluh hari lebih, bahkan sekarang mungkin dia sedang melayani pihak Losat Bun dengan Barisannya yang hebat! Dapatkah dia turun dari gunung musuh itu? Kalau toh dia berhasil apa mungkin dalam waktu sependek itu dia dapat melakukan semua perbuatannya itu seperti berita yang tersiar diluaran. Menyerbu, merampas dan membunuh orang? Lagi pula aku tahu baik sekali sifatnya anak Hiong. Dia tulus dan jujur, dia sangat menghormati gurunya, jadi aku tidak percaya dia dapat melakukan semua perbuatan yang merusak namanya sendiri serta  perguruannya! Bukankah semua pihak yang bersangkutan itu : Siauw lim Pay, Bu tong Pay, keluarga Liok dan lainnya semua adalah kawan dan sahabat gurunya? Barusan kita melihat dia, katanya dia merampas barang pusakanya Ceng Shia Pay serta membunuh murid-muridnya. Walaupun demikian aku tetap bersangsi! Kalau toh kita harus kuatir, kita justru mengkuatirkan keselamatannya di Ay Lao san! Bagaimana dengan pertempuran itu? Dia selama bertempur berhari-hari menang atau kalah? Kalau dia menang dimana adanya dia sekarang? Kalau dia kalah bagaimana dengan nasibnya? Maka itu, kita baik kesampingkan soal lainnya….”

Hoay Giok membenarkan pandangan itu.

“Hanya suhu,” tanyanya, “Habis siapakah orang yang mirip adik Hiong itu? Kenapa dua orang demikian mirip segalanya?”

“Jangan-jangan dialah musuhnya adik Hiong” berkata Tan Hong. “ Kalau orang tadi benar adik Hiong, kenapa bertemu dengan kita dia kabur terus? Ah, kalau saja aku sempat bertemu pula dengan orang itu, pasti menanya tegas-tegas kepadanya!”

Beng Kee Eng menarik napas dalam-dalam.

“Kau baik sekali teradap anak Hiong, Nona Tan,” katanya. “ Disamping itu aku minta sukalah kau bersabar dan berhati-hati menghadapi manusia licik kita harus waspada. Menurut perkiraanku, orang tadi bukan sembarang orang, dia pasti lihai sekali. Sayang aku lagi keracunan hingga aku menjadi tak punya guna apa-apa, jika tidak demikian akan kucari sampai keujung langit guna menyingkirkannya!”

Tan Hong berdiam, begitupun Hoay Giok.

Ketika itu mungkin sudah jam tiga. Dari luar jendela, sinarnya sang puteri malam tampak indah sekali, seluruh penginapan sangat tenang.

Kee Eng menguap.

“Sudah jauh malam nona, silahkan kau kembali kekamarmu dan beristirahat,” katanya.

Tan Hong berpaling ke arah jendela, ia melihat cahaya rembulan. Justru itu, ia melihat bayangan orang berkelebat hitam.

“Siapa?” tegurnya segera, sedangkan sebelah tangannya dikebutkan pada lilin untuk memadamkannya. Dilain pihak ia segera menyiapkan senjatanya dan tubuhnya bergerak gesit untuk munduk dibawah jendela.

Hoay Giok dapat menerka apa artinya itu, dengan golok ditangan ia menempatkan diri di depan pembaringan guna melindungi gurunya.

Tiba-tiba berkilauan satu sinar pedang yang melesat kedalam kamar dengan melintasi mulut jendela. Itulah sinar pedang yang bergerak kedalam mendahului tubuh pemiliknya, siapa telah berlompatan langsung ke arah Beng Kee Eng. Hoay Giok telah memasang mata, ia sudah siap sedia, selekasnya ujung pedang meluncur ia menangkis dengan goloknya. Tapi pedang itu mendadak ditarik pulang guna menangkis ke belakang untuk menyelamatkan dirinya. Sebab sama cepatnya seperti dia sendiri, Tan Hong berdiri dan menyerang padanya!

Kedua senjata beradu keras tapi Sanho pang tak tertabas kutung. Senjata itu licin dan pedangpun meleset karenanya. Tapi sipemilik pedang menjadi sangat gusar. Dia merasa bahwa dirinya dibokong, tanpa menyadari dialah yang lancang masuk kedalam kamar orang serta terus menyerang ke arah Kee Eng! Dia lantas menyerang kepada si nona.

Sudah tentu Tan Hong bersiap melayani karena ia hendak melindungi Kee Eng. Disamping itu iapun merasa gusar karena orang menyerang secara tiba-tiba dengan cara licik.

Penyerang itu tampaknya gusar sekali. Dia menyerang dengan hebat, rupanya dia penasaran sebab maksudnya terhalang.

Sementara Hoay Giok masih tetap berjaga, dia tidak berani menjauhkan diri dari pembaringan.

Didalam kamar demikian sempit, ada kursi dan meja sehingga sipenyerang merasa tidak leluasa bergerak. Lagipula lawannya pun dua orang. Setelah ia gagal menusuk senjatanya ke arah Tan Hong, ia terus meloncat kejendela untuk melarikan diri. Selama itu ia tak pernah membuka mulutnya, sedang kamar gelap gulita karena lilin sudah dipadamkan hingga mukanya tidak kelihatan. Apa yang bisa diduga hanya itu potongan tubuhnya sama seperti potongan tubuh It Hiong!

Tan Hong melompat keluar kamar untuk mengejar orang itu. Ia penasaran sekali siapa penyerang gelap itu? Kalau benar itu It Hiong, iapun ingin mengetahui apa sebabnya dia menjadi berubah seperti itu.

Kedua orang berlari-lari dengan pesat, ilmu ringan tubuh mereka tampaknya seimbang. Sesudah lari tujuh delapan lie, mereka tiba disebuah bukit kecil. Disitu penyerang gelap itu memperlambat larinya, dia lari keatas bukit itu.

Tan Hong mempunyai nyali yang besar, ia terus mengejar. Ia pun mendaki bukit itu. Rembulan masih bersinar sehingga ia bisa melihat orang itu berhenti berlari dan duduk dibawah sebatang pohon cemara yang akarnya menonjol keluar. Dia duduk dengan sebelah tangan dilututnya dan sebelah yang lain pada dagunya, dilihat dari samping dia mirip It Hiong.

Selagi lari menghampiri, hatinya Tan Hong goncang, ia menerka-nerka apa benar orang itu si adik It Hiong. Selagi mendekati, ia berjalan perlahan matanya terus mengawasi dengan tajam.

Siapakah orang itu kalau bukannya Tio It Hiong, pacar idamannya yang tampan dan gagah? Iapun percaya akan kilauan pedangnya si pemuda yang merupakan pedang mestika. Ia maju sampai tinggal lima kaki dari orang tersebut, dia masih duduk diam seperti tengah berpikir keras.

“Siapakah kau?” Tanya Tan Hong kemudian, “Kenapa kau berdiam saja?”

Baru setelah ditegur orang itu mengangkat kepalanya untuk memandang si nona, ia lantas menghela napas.

“Habis aku harus bilang apa?” sahutnya balik bertanya. Tan Hong maju lagi dua tindak, ia menatap. “Ah……” serunya tertahan, orang itu It Hiong adanya. Maka ia lantas bertanya pula : “Eh, kau kenapakah? Kau memikirkan apa? Coba kau ceritakan itu padaku, maukah kau?”

Mendengar suara lebih jauh dari si nona, orang itu berkata

: “Kakak, apakah kakak belum tahu bahwa aku telah melakukan sesuatu yang merusak nama, yang aku lakukan selama hatiku kacau?”

Tan Hong melengak, ia tampak sangat berduka. “Kenapa kau lakukan perbuatan itu?” tanyanya pula.

“Apakah itu disebabkan kesadaranmu telah dikacaukan oleh Kwie Tiok Giam Po?”

Tan Hong bertanya demikian karena goncangan hatinya itu, tapi ia justru terperangkap. Sebab pemuda dihadapannya itu bukannya It Hiong melainkan Hong Kun yang menyamar dengan sempurna sekali. Pantas It Beng memuji tinggi kepandaiannya menyamar itu, sampai Tan Hong sendiri kena disesatkan.

Hong Kun tidak kenal nona ini, maka juga dia tak mau sembarangan bicara karena si nona membahasakan diri kakak, dia dapat menerka sedikit hubungan diantara It Hiong dan nona ini, maka ia juga lantas mengikuti arah angina. “ Aku Tio It Hiong, sejak aku memasuki dunia Kang Ouw belum pernah aku melakukan sesuatu yang buruk, tapi setelah aku terkena racunnya Kwie Tiok Giam Po, pikiranku menjadi kacau, diwaktu begitu asal aku melihat orang, hendak aku menyerang dan membunuhnya dan hatiku baru puas sesudah aku melihat darah orang. Kakak kau tolonglah aku…..” Tan Hong mengawasi, ia heran.

“Adik Hiong,” tanyanya, “Bukankah kau membawa obat hosing ouw serta pil mujarab dari pendeta tua dari Bie Lek Sie? Kenapa kau tidak mau makan obat itu guna menghilangkan pengaruh racun tersebut?”

Ditanya begitu Hong Kun melengak, tapi hanya sebentar, dia lantas menjawab : “Selama aku tak sadar disebabkan terkena racun, semua barangku telah dirampas, waktu sadar hendak aku bunuh diri tapi aku batal Karena aku ingat kau kakak. Sebenarnya aku mau denganmu menjadi sepasang burung yang dapat terbang bersama untuk hidup didunia yang bebas dan damai…

Hebat niatnya Hong Kun, ia tertarik dengan nona ini dan ingin merampas milik orang yang paling berharga karena dengan begitu iapun dapat membalas dendam terhadap It Hiong. Sebenarnya ia juga membenci nona ini yang telah mengerjainya itu. Kalau sudah kehormatan si nona diambil, ia juga hendak merampas jiwanya.

Bagaikan orang buta Tan Hong percaya benar pemuda di depannya adalah It Hiong yang asli. Hingga tak ada kecurigaannya kepada si anak muda. Ia seperti lupa segala, sambil tertawa ia bertanya : “Dapatkah kau melupai kedua kakakmu Kiauw In dan Giok Peng?”

Orang yang ditanya tidak menjawab, hanya dia bangkit mendatangi, kedua tangannya lantas meraba ketubuh orang.

“Kakak!” katanya manis.

Tan Hong terkejut, biar bagaimana ia adalah seorang nona, ia mencintai It Hiong bukan Cuma disebabkan It Hiong tampan dan gagah, terutama gerak geriknya yang sopan santun. Selama ia berkenalan dengan It Hiong, belum pernah It Hiong berlaku kurang ajar atau ceriwis, tapi sekarang ini.

Mendadak Tan Hong ingat pesannya Beng Kee Eng utnuk waspada. Mendadak saja ia sadar, maka segera ia mengeluarkan senjatanya.

“Kau siapa?” tanyanya membentak. “Kenapa kau berlaku begini kurang ajar?”

Sanho pang segera dilayangan ketubuh orang!

Hong Kun lihai, mudah saja ia berkelit, ia tidak marah malah sebaliknya ia tertawa ceriwis.

“Eh kakak, apakah kau sudah menjadi gila?” tanyanya. “Kau begini manis, kenapa kau tidak mengerti tentang kelembutan dan kenikmatannya? Ah, jangan nanti kau menyesal….”

Tan Hong mengawasi tajam. Sekarang ia percaya benar bahwa orang ini It Hiong palsu. Pasti dialah yang merusak namanya It Hiong, sang adik yang dicintai. Ia menjadi sengit, ia hampir diperdayakan. Hampir ia mengulangi serangannya, namun tiba-tiba ia ingat untuk membuka kedok orang dahulu.

Hong Kun mengawasi nona itu, menerka-nerka apa yang lagi dipikirkannya. Hampir ia berkata pula namun ia pun ingat nona di depannya ini adalah si nona yang dirumah makan di Tiancu tiu yang sudah merampas Hauw Yan dari tangannya. Ia tidak kenal Tan Hong namun pernah mendengar tentang Nona Tan Hong dari Hek Keng To, bagaimana cantiknya dan apa senjatanya. Maka itu mendadak timbullah rasa bencinya serta keinginannya membalas sakit hati nya dahulu itu! Buat sesaat mata tajam Hong Kun meyala mengawasi nona di depannya itu, tapi dasar cerdik dan licik masih dapat ia menguasai dirinya. Begitulah dengan suara sabar ia berkata : “Kakak, adikmu sungguh sangat bersyukur kepadamu sebab dengan susah payah kau telah berhasil menolong Hauw Yan dari tangan orang jahat. Kakak, dengan begitu kau membuat aku bertambah cinta kepadamu. Itulah sebabnya kenapa barusan aku berlaku sembrono, kakak kau maafkanlah aku…..”

Didalam sekejap Hong Kun nampak lesu dan menyesal.

“Aneh!” pikir Tan Hong. “Dia benar-benar adik It Hiong atau bukan? Kalau bukan, kenapa dia dapat bicara tentang Hauw Yan?”

“Itulah tidak berarti….” Katanya, namun mendadak ia ingat satu orang :”Ah! Apa bukannya Gak Hong Kun?” maka ia segera membentak : “Gak Hong Kun! Jangan kau main gila!

Apa kau kira dapat mengelabuiku!” dan ia menatap tajam sekali.

Hong Kun terperanjat, parasnya berubah dengan tiba-tiba.

Akan tetapi dia tabah dan cerdik, lantas dia mendapat akal. Maka dia mengangkat kepalanya, menatap puteri rembulan, habis itu ia berkata perlahan : “Gak Hong Kun adalah musuhku dalam urusan asmara…..aku justru mau cari dia guna membuat perhitungan, maka menyebut nama dia, apakah dia muncul disini?”

Tan Hong tetap mengawasi, ia menjadi waswas : Hong Kun atau It Hiong?

Gak Hong Kun juga mengawasi tajam, dia mengerti bahwa orang telah mencurigainya, maka ia hendak mendahului turun tangan, ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil, terus dibuka dan dikibaskannya, membuat isinya tersebar sambil ia berkata nyaring : “Kakak, kau lihat harum bau apa! Dapatkah kau menciumnya?”

Tan Hong terperanjat karena orang memanggilnya itu , ketika ia terperanjat justru hidungnya telah mencium bau bubuk harum itu, terus ia berseru tertahan dan tubuhnya roboh tidak sadar lagi!

“Hm!” Hong Kun tertawa iblis. “Sekarang baru kau tahu rasa budak bau! Berapa kali sudah kau menjual jiwamu untuk It Hiong, selalu menggagalkan usahaku maka sekarang hendak aku memuaskan hatiku atas dirimu! “

Tanpa ayal pula si anak muda berjongkok untukmengangkat tubuh orang, buat dipondong dan dibawa lari ke arah bukit yang penuh dengan pepohonan dan terdapat sebuah kali kecil. Dahan-dahan dan daun pohon membuat tempat itu tak tembus oleh sinar rembulan.

Untuk girangnya si anak muda, dia justru melihat beberapa buah gubuk ditepi kali itu. Tidak ada cahaya api didalam gubuk tentu penghuninya sedang tidur pikirnya. Itulah yang ia kehendaki, dia pikir, asal tuan rumah dapat dikekang dia pasti bebas melakukan apa yang dia sukai.

Melihat cahaya rembulan, Hong Kun menerka waktu sudah mendekati jam empat, ia menghampiri sebuah gubuk terus menolak daun pntunya. Ia mendapat kenyataan pintu itu tak terkunci. Tanpa pikir panjang lagi ia masuk kedalam rumah. Lebih dahulu ia menyalakan api, hingga ia melihat sebuah ruangan dengan segala perabotannya, kursi, meja dan lainnya yang terbuat dari kayu dan bamboo dan semuanyapun bersih. Terus ia menyulut lilin yang berada diatas meja, setelah itu ia letaki tubuh si nona diatas kursi bambu, ia sendiri duduk dikursi satunya untuk beristirahat.

Sambil beristirahat itu, Hong Kun memandang kedinding, maka ia melihat sebuah holouw atau buli-buli tergantung didinding di depannya. Ia bangkit untuk menurunkan buli-buli itu, waktu ia membukanya ia membaui arak yang harum.

“Sungguh menarik hati!” katanya dalam hati. “Sudah ada wanita cantik, ada juga arak harum! Tak disangka Gak Hong Kun , didalam rumah gubuk ini , kau bakal mendapat sesuatu yang sangat nikmat!”

Mulut holouw lantas dibawa kemulutnya untuk ditegak isinya dalam beberapa teguk. Terus Hong Kun duduk lagi, tangan kirinya tetap memegang tempat arak, matanya mengawasi si nona manis diatas kursi. Tanpa terasa pengaruh arak membuat napsu birahinya tambah menyala….

“Inilah saatku…..” pikirnya. Maka ia bangun untuk memondong nona guna dibaa masuk kedalam kamar di depannya tanpa ia mau memeriksa terlebih dahulu kamar itu!

Saat si anak muda melewati ambang pintu, tiba-tiba kepalanya terasa pusing, terus tubuhnya terhuyung-huyung kemudian dia roboh bersama-sama nona yang dipondongnya1 Dia roboh tanpa ingat apa juga….

Berbareng dengan itu dari kamar terdengar suara tawa nyaring yang sangat gembira, terus terlihat munculnya seorang dengan sabuk hijau dan baju panjang hijau juga. Dia beralis gomblok dan bermata bundar dan mukanya brewokan tebal. Melihat tampangnya dia tentu berusia kira-kira lima puluh tahun. “Hai tikus!” katanya sambil menunding tubuh Hong Kun. “Dasar tikus rakus, tidak kuat minum, kau mencuri arak orang!”

Lalu orang itu mengambil lilin dari atas meja buat dipakai menerangi dua tubuh yang tak bergerak itu, hingga ia melihat tegas sepasang muda-mudi tapi yang membuatnya terkejut sampai ia berseru tertahan, ialah waktu ia mengenali si anak muda Tio It Hiong adanya, ia melongo mengawasinya.

Ketika itu dari sebuah kamar lain, lari keluar seorang perempuan muda dengan pakaian merah tua yang singsat, rambutnya panjang turun kebahu dan punggungnya, rambut dikepalanya dijepit dengan jepitan emas dengan gambar burung hong terbang. Dia seorang nona yang manis. Dia menghampiri si orang tua untuk terus mengawasi muda mudi itu, ketika ia menatap si anak muda ia tampak girang, ia menggertak gigi perlahan, setelah itu sambil menepuk bahu si orang tua dia bertanya : “Jie Suheng, kau kenalkah pemuda ini?”

Orang tua itu terkejut mendengar suara orang yang dibarengi dengan tepukan tangan kepada bahunya itu. Ia justru lagi meneliti sepasang muda mudi yang seperti lagi tidur nyenyak itu. Si nona datang dengan cepat tapi hati-hati  hingga tak tahu orang sudah ada disisinya. Dan si nona yang menjadi adik seperguruannya ini memang jail sekali.

“Ah, budak setan!” tegurnya sambil menoleh.

Kiranya orang tua itu adalah Jie Koay atau Jie Mo Lam Hong Hoan si siluman atau bajingan nomor dua diantara Cit Me tujuh bajingan dari To Liong To, pulau naga melengkung. Sedangkan si nona adalah Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan nomor tujuh atau sibungsu dari tujuh bajingan itu. Bersama kedua saudara seperguruan itu masih ada Ngo Mo Bok Cou Lauw, bajingan nomor lima, sebab mereka bertiga sedang menerima tugas dari pimpinannya, kakak seperguruannya yang tertua, guna pergi keberbagai tempat dan mengundang orang-orang kosen kaum sesat, agar mereka itu nanti sama-sama menghadiri pertemuan besar dunia persilatan digunung Tay san untuk membantu pihaknya. Kebetulan saja mereka lewat ditempat itu. Siauw Wan Goat tertarik dengan ketenangan tempat itu, dia mengajak kedua saudaranya singgah disitu dengan menempati rumah gubuk tersebut. Tidak tahunya yang punya rumah gubuk itu justru Beng Leng Cinjin, ketua dari Hek Keng To. Karena mereka sama-sama kaum sesat, Beng Leng Cinjin suka menerima ketiga tamunya itu.

Sebenarnya ketika itu, Beng Leng Cinjin sudah berpikir untuk mengundurkan diri dari dunia Kang Ouw akibat serbuannya ke Siauw Lim Sie dimana diruang Lohan Tiong dia kena dirobohkan Pek Cut Taysu yang mengalahkannya dengan ilmu Tay Poan jiak atau Prajana Luhur yang membuatnya sadar, begitulah akhirnya dia pilih tempat terpencil itu, sunyi damai hingga dia menerima Lam Hong Hoan bertiga. Dia mengalah dan pindah kegubuk paling belakang, disitu tetap dia hidup menyendiri tak bergaul dengan bajingan-bajingan dari To Liong To itu.

“Kakak,” kata Wan Goat sambil melirik It Hiong palsu. “Pemuda ini apa bukannya Tio It Hiong murid dari Pay In Nia yang kita temukan dibawah puncak Heng San?” dimulut si nona bertanya, dihati ia girang bukan main. Ia menganggap barang makanan mengantarkan diri…. “Bocah ini malang!” kata Lam Hong Hoan tertawa. “Dia roboh oleh arak buatanku ini dengan begitu dengan sendirinya berkurang musuh kita di Tay San nanti….”

Wan Goat tertawa dan berkata : “Sebenarnya aku matangi arakmu ini buat membikin kau sinting lupa daratan, siapa tahu bocah itu datang menggantikanmu. Dasar untungmu bagus, sekarang kakak, apakah kau ingin menyingkirkan jiwanya ini?”

“Tentu saja!” sahut sikakak. “Cuma wanita ini kalau melihat dari senjatanya, mestinya dia dari Hek Keng To, mengenai dia kita harus teliti dahulu….”

Timbul segera rasa cemburu si nona.

“Seorang nona malam-malam berada bersama seorang pria, apakah dia masih mempunyai muka?” tanyanya. “Perempuan busuk ini buat apa kita pedulikan siapa adanya dia? Baik sekalian saja kita bereskan!”

Berkata begitu nona siauw mengayun tangannya kekepala Tan Hong. Lam Hong Hoan terkejut, dia menyampok tangannya si nona, dengan begitu serangan itu menukar arah mengenai pinggiran kursi hingga Cuma rambutnya Tan Hong yang terkena anginnya.

Ketika Tan Hong terkena racun, ia hanya membaui sedikit. Disamping itu dengan ilmu Mo Tang ka telah sempurna sekali maka selang sekian lama tenaga dalamnya sendiri berhasil mengusir racunnya Hong Kun. Selagi kesadarannya mau pulih itu, ia justru tersampok angin pukulan Wan Goat hingga kesadarannya dipercepat. Sekejap saja ia sudah melompat bangun, matanya terus mengawasi Kam Hong Hoan dan Wan Goat untuk sejenak rupanya ia merasa heran. Hong Hoan membawa lilin mendekati Nona Tan untuk menatapnya.

“Nona?” tanyanya kemudian, “Bukankah kau Nona Tan Hong dari Hek Keng To?”

Tan Hong mengawasi tajam, ia segera mengenali Hong Hoan.

“Oh, Lam Cianpwe, sudah lama kita tak bertemu!” sahutnya, “Memang aku yang muda Tan Hong adanya.”

Hong hoan trus menatap, tampak dia merasa heran sekali. “Nona,” tanyanya pula sambil menunjuk Hong Kun.

“Kenapa nona ada bersama bocah ini?”

Tan Hong memandang ke arah yan ditunjuk itu. Ia melihat pemuda yang lagi rebah itu mirip It Hiong. Ia bersangsi hingga ia berdiri menjublak saja. Ia terus menggunakan pikirannya untukmengingat-ingat.

“Dasar Jie Suheng tolol!” berkata Wan Goat menyelak. “Orang toh berpasangan tengah malam buta, mereka lancang memasuki tempat kita, apalagi maksudnya? Buat apa banyak bicara? Mari aku mewakili kau menajwab : Pasti untuk berpelesiran semalam suntuk1”

Tak cukup dengan ejekan itu, nona Siauw pun memperdengarkan suara tawa dinginnya.

Tan Hong membuka lebar matanya, hatinya panas.

“Siauw Wan Goat mulutmu tidak bersih!” tegurnya. “Jangan menghina orang lain jika kau tidak ingin dirimu dihina! Bukankah kau juga seorang gadis remaja. Apa kau benar tak tahu malu?”

Hong Hoan tertawa dan menyela : “Harap jangan gusar nona! Sudah biasanya adikku ini suka berjumawa dan bergurau menjaili orang! Eh nona, apakah kau datang kemari buat mencari kakak seperguruanmu Beng Leng Cinjin?”

Sebagai orang cerdik bahkan licin, Hong Hoan tahu bagaimana harus mengalihkan pembicaraan supaya kedua nona itu tidak bentrok.

Benar, akhirnya Tan Hong menjadi sabar.

“Apakah kakak seperguruanku yang tertua berada disini?” tanyanya.

“Beberapa buah gubuk ini semua milik kakak seperguruanmu itu nona,” sahut Hong Hoan, “Inilah tempat dimana dia tengah mengasingkan diri. Ketika kami kemarin lewat disini, kami bertemu dengannya, maka kami lalu singgah disini beberapa hari.

Tan Hong heran berbareng girang.

“Aku memang ingin menemui kakak seperguruanku itu,” katanya. “Dimanakah adanya ia sekarang?”

“Kakak nona itu berada digubuk belakang.” Sahut Hong Hoan,” Mari nona, mari aku yang tua memimpinmu kepada kakakmu itu.”

Berkata begitu, orang she Lam itu melirik Hong Kun, terus ia memesan Wan Goat setelah itu ia bertindak pergi mengajak Nona Tan Hong. Ia membawa terus lilinnya. Wam Goat menanti orang sudah berlalu, lantas ia mengambil air dengan apa ia menyembur mukanya Hong Kun hingga ia membuat It Hiong palsu lantas mendusin dari pingsannya akibat keracunan arak istimewa itu. Ia mengawasi heran kepada nona di depannya itu, sebab orang bukannya Tan Hong, tapi ia cerdik sekali, tahu ia bagaimana menghadapi seorang wanita.

“Kakak!” lantas ia memanggil dengan suara perlahan. Luar biasa dua orang ini, Wan Goat mengenali It Hiong ,

maka ia menyangka pemuda di depannya ini It Hiong tulen adanya. Hong Kun sebaliknya mengenali nona itu, Siauw Wan Goat dari To liong To. Sewaktu berada ditengah jalan dikecamaTan Hongbwe mereka pernah bertemu dan dia dicaci maki nona itu. Dan itulah peristiwa yang masih diingatnya dengan baik.

Wan Goat merasa manis dipanggil kakak, mukanya menjadi merah.

“Kakak It Hiong1” berkata dia. “Apakah kau masih belum mau berangkat pergi dari sini? Kalau sebentar kakakku yang nomor dua keburu datang, pasti akan berabelah kau.”

Hong Kun bangkit untuk bangun.

“Tak dapat aku meninggalkan kau kakak,” katanya perlahan. Mendadak ia menyambar tangan si nona.

Hatinya Wan Goat memukul, parasnya merah. Biarpun ia centil,ia toh likat, ia melirik terus tunduk. “Kakak Hiong,” tanyanya perlahan, “Kau berniat berbuat apa?”

Hong Kun mengawasi muka orang. Nona itu sedang mengangkat mukanya, ia memberi isyarat supaya nona itu mengikutinya. Nona itu kalah cerdik, iapun telah diganggu ditarik, iapun turut berjalan keluar…..

Dibawah sinar rembulana mudi itu berjalan bagaikan bayangan dibawah pepohonan. Mereka melangkah disepanjang tepian kali, sampai mendekati sebuah desa. Mereka mendengar ayam-ayam mulai berkokok membangunkan orang tidur. Hanya Wan Goat yang belum sadar dari mabuk asmaranya…..

Hong Kun mengajak orang berlari, ia tahu selekasnya terang tanah, tak dapat ia mempuasi hatinya terhadap nona siauw ini. Ia harus merebut waktu. Tegasnya ia mesti memisahkan diri biar jauh dari gubuk si nona. Tak berani ia kembali ke Liong peng, takut Tan Hong nanti menjadi rintangan baginya.

Di depan mereka ada jalan pegunungan yang berliku-liku, tanpa pikir panjang Hong Kun mengajakl Wan Goat lari kesana.

Wan Goat berlari-lari disamping si anak muda, hatinya tidak berpikir lainlagi kecuali tentang anak muda itu. Beberapa kali ia meliriknya. Ia Cuma ingat Tio It Hiong.

Segera juga sang surya muncul dengan sinar paginya yang indah. Masih Wan Goat mendampingi pemuda yang diidamkannya itu. Ia tidak tahu bahkan tidak memikirkan kemana ia sudah dibawa pergi. Kali ini karena sudah terpisah cukup jauh, Hong Kun tidak berlari lagi, ia hanya mengajak nona disisinya berjalan berputaran ditanah pegunungan itu, bagaikan orang tengah berpesiar. Ia pandai membawakan dirinya membuat si nona senantiasa merasa tenang dan tak curiga apa-apa. Baru setelah magrib mulai tiba, ia mengajak nona itu turun dari gunung yang tidak dikenal itu.

Hong Kun membawa orang kekecamatan Na Kue, ia memasuki kota dan lantas mencari rumah penginapan. Ia memesan barang hidangan dan arak untuk bersama Wan Goat bersantap didalam kamar yang disewa itu.

Bukan main puasnya Hong Kun, kalau ia berhasil mengganggu Wan Goat itu, berarti ia telah melampiaskan kebenciannya terhadap kaum wanita. Wan Goat tidak mencurigainya dan tidak menyangka apa-apa, bahkan ia senang sekali berjamu bersama “kekasihnya” itu….

Sang waktu lewat dengan cepat tanpa terasa.

Ketika kentongan terdengar tiga kali, mukanya Wan Goat sudah merah pengaruh air kata-kata. Ia justru semakin cantik dan menggiurkan, saban-saban ia melirik “To It Hiong” dan tersenyum manis.

“Kakak Hiong” katanya perlahan, “Sudah jauh malam, pergi kau kekamarmu untuk beristirahat, aku sudah minum banyak, kepalaku terasa pusing, akupun mau tidur…”

Berkata begitu lantas si nona bangun untuk pergi kepembaringan dimana ia duduk disisinya, terus kepalanya diletaki diatas bantal. Hong Kun tahu itulah kesempatan baik, ia lantas berpura mulai mabuk dengan berjalan tak tetap ia menghampiri pembaringan terus memegangi paha si nona.

“Adik Wan Goat, apakah kau sudah mabuk?” tanyanya sengaja.

“Ah!” berkata si nona yang menolak tangan orang. “Kakak Hiong jangan nakal!...”

Hong Kun menatap.

“Aku mau…..aku mau menungui kau, adik….” Katanya, “Sesudah kau pulas barulah hatiku lega….”

Wan Goat tertawa, hatinya berdenyut kencang, ketika sinar matanya beradu dengan si anak muda, ia lantas menoleh kelain arah. Justru itu tiba-tiba ia ingat sesuatu.

“Apakah artinya ini?” demikian katanya dalam hati. Ia melihat api lilin yang menyala. “Apakah artinya perbuatanku ini? Bukankah adik Hiong bakal menganggap aku serupa dengan bunga ditengah jalan? Oh, tidak, tidak!”

Tiba-tiba si nona turun dari pembaringannya, ia berbalik memegang lengannya It Hiong tiruan.

“Kakak Hiong, kau juga sudah mabuk!” katanya, “Lekas pergi kekamarmu! Kalau mau bicara, besok dapat kita lanjutkan lagi.” Terus ia menarik orang kepintu dan menolak tubuhnya hingga dilain saat ia sudah menutup pintu dan memalangnya.

It Hiong palsu berdiri menjublak dibalik pintu, ia tersenyum iblis. “Hm!” terdengar suaranya yang tawar dan perlahan, “Ah budak bau, apa kau kira dapat mempermainkan tuan besarmu? Tidak! Kau lihat saja nanti!” Maka ia lantas berkata agak keras “Adik, kau tidurlah! Aku kekamarku!” lalu ia sengaja memperdengarkan suara langkah yang berat.

Wan Goat menyahuti, terus ia padamkan api, habis membuka bajunya ia naik pula keatas pembaringannya. Sebenarnya ia sangat mencintai It Hiong. Rasa cinta itu muncul semenjak pertemuan mereka berdua dikaki gunung Heng San. Hanya sejak itu tak ada kesempatan buat ia menemui pemuda yang cakap ganteng itu. Tapi sekarang mereka dapat berkumpul bersama….

“Ah, mengapa aku menyuruhnya keluar?” pikir Wan Goat sebelum ia pulas. “Ini adalah saat yang paling baik, kenapa aku menyia-nyiakannya? Bagaimana kalau dia keliru menyangka aku tidak mencintainya?...”

Letih si nona berpikir panjang, arak pun membuatnya pusing. Diakhirnya tanpa terasa ia toh tidur pulas juga. Ia tidur nyenyak sekali. Tak tahu ia telah tidur berapa lama. Bahkan samara-samar ia bermimpi suatu kejadian yang belum pernah ia mimpikan. Ia merasa sangat bahagia. Hanya itu ketika kemudian ia mendusin dari tidurnya, ia telah berubah menjadi bukan gadis lagi. Dari seorang nona ia menjadi nyonya. Segera ia merasakan sesuatu yang tak biasanya.

Ketika ia melihat sinar matahari di jendela, ia bangkit untuk bangun, namun ia heran karena tangannya merasa memegang sesuatu. Ia membuka matanya, dari kedap kedip menjadi lebar, lantas iapun terperanjat. Disisinya, diatas pembaringannya, ia melihat sesosok tubuh pria tengah rebah dan tidur menggeros. Ia pun kaget ketika mengenali orang itu ialah si “Kakak Hiong”. Maka sadarlah bahwa ia bukannya bermimpi, namun itulah kenyataan! Ia kaget berbareng girang.

“Bangun!” katanya sambil meraba tubuh orang untuk digoyang-goyang, ia terus menatap muka orang itu, airmatanya sendiri berlinang karena bahagianya, “Telah aku serahkan tubuhku yang putih bersih terhadapmu, maka sekarang selanjutnya bagaimana kau hendak perlakukan diriku?”

It Hiong palsu mengawasi nona itu. Si nona lembut dan agak mendatangkan rasa kasihan. Tapi ia berpikir lain.

“Hm!” ia mengeluarkan suara dinginnya. “Hm, apa yang ditangisi? Apakah kau tidak bunyi pepatah yang mengharuskan wanita itu menurut dan bijaksana?”

Wan Goat heran.

“Kakak Hiong apa katamu?” ia bertanya.

Hong Kun menjawab dengan keras : “Sejak saat ini kau harus mendengar dan menurut kata-katakku! Jika kau membandel dan menantangnya, jangan heran kalau aku tidak mengenal kasihan lagi padamu!”

Berkata begitu, pemuda itu turun dari pembaringan, membetulkan pakaiannya dan memasang pedang Kie Koat pada punggungnya.

Wan Goat terkejut, hatinya terasa nyeri. Hebat kata-kata yang berupa seperti tikaman itu. Hampir ia pingsan karenanya, ia pun turun dari pembaringan untuk merapikan pakaiannya juga. Sambil berpakaian itu ia mengawasi tajam muka orang, masih air matanya berlinang dikedua belah matanya. Ia mendapat perasaan “Kakak Hiong” dari hari kemarin beda dengan sekarang ini. Tapi ia berkata : “Tak peduli keujung langit dan pojok laut, aku akan ikut kau!”

“Hahaha!” Hong Kun tertawa nyaring, “He, budak bau!

Siapakah yang menghendaki kau tergila-gila begini rupa? Tak tahu malukah kau?”

Wan Goat melengak, ia heran sekali lalu hatinya menjadi panas.

“Aku toh istrimu!” katanya keras, “Kenapa kau berubah begini rupa?”

“Jangan rewel!” bentak Hong Kun, matanya melotot. “Inilah kutukan atas dirimu sendiri! Inilah penyakit yang kau cari!

Siapa suruh kau mencintai aku hingga kau membuatku berbahagia satu malam? Siapa yang harus dipersalahkan?”

Wan Goat gusar hingga tak tahu harus berbuat apa, ia menubruk untuk memegang baju orang sambil ia menangis terisak-isak.

Naik darahnya Hong Kun, sebelah tangannya melayang menggaplok telinga orang hingga orang roboh, sambil menunding ia berkata sengit : “Telah cukup aku dipermainkan wanita! Hari ini ialah pembalasanku yang pertama! Maka kau, hitung-hitung saja nasibmu yang lagi apes! Maka kau harus menerima nasibmu!”

Habis berkata begitu, Hong Kun melompat keluar jendela, buat kabur, tak mau ia berdiam lama-lama sebab itulah rumah penginapan. Pikirannya Wan Goat kacau, ia pun melompat menyusul.

Celaka untuknya, begitu ia tiba, ia dipapaki satu hajaran hingga ia menjerit, “Aduh!” tertahan. Terus ia roboh pula pingsan. Sedangkan Hong Kun sudah lantas melenyapkan diri.

Sampai besok paginya barulah Wan Goat terasadar dari pingsannya, ia rebah diatas pembaringan dan ada orang yang tengah mengurusnya. Ketika ia mengawasi, ia kenali orang itu adalah Tan Hong, si nona yang malam itu datang bersama- sama “It Hiong”. Lantas ia berpikir:”Nona ini datang bersama “It Hiong”, dia mesti mempunyai hubungan erat luar biasa dengan pemuda itu. Apakah itu seperti hubungan eratnya tadi malam? Maka tiba-tiba timbullah cemburunya, sehingga bukannya berterima kasih, ia justru menjadi gusar. Ia menolak dengan kasar tangan Tan Hong, terus ia bangun untuk duduk dan berkata dingin : “Kakak Hiong sudah pergi! Kau berbuat begini baik hati, kepada siapa kau hendak pertontonkan itu?”

Tan Hong melengak, itulah teguran yang tak ia mengerti. “Nona Siauw, apa kau kenal aku?” tanyanya, “Kenapa kau

terluka begitu parah?”

Suara nona itu perlahan dan prihatin, hatinya Wan Goat menjadi tergerak. Ia lantas menangis, tapi ia memaksakan diri untuk tertawa, hingga ia jadi tertawa sedih. Masih hatinya panas, katanya dingin : “Kalau kau hendak susul dia, kau susullah lekas! Tak usah kau berdiam lama disini berpura bermurah hati!”

Bingung Tan Hong mendapat perlakuan itu. Biar bagaimana, ia merasa kurang puas, akan tetapi masih ia dapat menahan diri, ia melirik dan tertawa dengan paksa.

“Kau rupanya tidak mengerti maksud baikku,” katanya, “ aku melihat persahabatan antara partai kita, aku juga mengutamakan keharusan diantara sesame Kang Ouw untuk saling tolong. Demikianlah ketika aku melihat kau rebah pingsan sendirian saja, sedang kaupun terluka, mana dapat aku berdiam saja tidak menolongmu? Begitulah aku lantas tolong dirimu!”

Berkata begitu Tan Hong hening sejenak dan menatap muka orang.

“Nona Siauw,” katanya kemudian. “Rupanya kau telah kena tipu orang dan diperhina hingga kau menjadi penasaran sekali. Namun kita adalah wanita Kang Ouw, buat apa kita membawa diri seperti wanita kebanyakan? Itu artinya menyiksa diri sendiri!”

Wan Goat menangis sedih, airmatanya bercucuran deras.

Sekian lama ia berdiam menenangkan diri, kemudian ia menghapus air matanya. Msih ia sesegukan, ketika ia berkata

: “Kakak, kau toh tidak menggusari aku bukan?”

Tan Hong tidak menjawab, ia hanya merogoh obat pulung dari dalam sakunya untuk dimasukkan kedalam mulut orang.

“Adik jangan kau menganggap aku sebagai orang asing.” Katanya sabar. “Aku lihat kau tentu mempunyai suatu sebab, maka kau menjadi berduka begini, tidak adik! Aku tak menggusari kau.”

Perlahan-lahan Wan Goat dapat menguasai diri. “Malam itu, kakak,” katanya bertanya, “Ketika kakak

bersama It Hong datang kegubuk kami, kalian datang dari manakah?” Tan Hong dapat menerka orang mencintai It Hiong, bahwa nona ini pasti telah kena tipu, maka ia lantas mengasi keterangan halnya ia mengejar orang mulai dari rumah penginapan di Liong peng sampai ia kena dibikin tak sadarkan diri, hingga ia tak tahu apapun yang telah terjadi, sampai ia tahu-tahu disadarkan oleh Lam Hong Hoan.

“Kalau aku melihat orang itu, perbuatan dia beda seperti langit dan bumi dengan sifatnya Tio It Hiong,” ia menambahkan kemudian, “Hanya sampai sekarang masih aku belum memperoleh kepastian. Mungkin dialah Tio It Hiong palsu, tapi kenyataannya?”

Mendengar keterangan itu, Wan Goat merasai tubuhnya bagaikan tergetar dan menggigil keras, telinganya seperti ditulikan guntur.

“Kakak,” tanyanya heran. “Apa kakak tidak mendustai aku? Darimana kakak mendapat alasan dan menerka dialah Tio It Hiong palsu.”

Tan Hong menatap nona ini.

“Ketika aku pertama kali bertemu dengannya, akupun menerka dialah Tio It Hiong.” Ia menjawab kemudian, “Aku baru menaruh curiga setelah aku mendengar penjelasan Locianpwe Beng Kee Eng. Ketika kami meninggalkan gunung Ay Lao San, adik Hiong masih berada diatas gunung tengah melayani Kwie Tiok Giam Po. Karena itu, mana dapat ia telah melakukan segala perbuatan busuknya itu dalam waktu yang demikian pendek!”

“Tetapi, kakak,” kata Wan Goat, “Biarlah segala soalnya kakak Hiong itu. Yang aku ingin tahu sekarang ialah apa yang membedakan yang tulen dengan yang palsu? Dapatkah kakak menjelaskannya?”

Tan Hong mengawasi nona itu, ia tertawa.

“Bukankah diantara To Liong To dan Pay In Nia terdapat permusuhan, kenapa adik nampaknya sangat bingung dan begini mendesak ingin mengetahui bedanya It Hiong palsu dan tulen?”

Wan Goat melengak, mukanya merah, tatap ia bersedih. “Aku sama dengan kau, kakak.” Sahutnya, “Seperti kau,

aku juga ingin ketahui dia itu Kakak It Hiong atau bukan!. ”

Kali ini Wan Goat menerka bahwa Tan Hong juga sudah jadi korbannya si “Kakak Hiong” seperti dia sendiri.