Iblis Sungai Telaga Jilid 24

 
Jilid 24

Beberapa puluh orang berseragam itu kaget dan jeri hati, lantas mereka berseru-seru saling mengisyaratkan. Mereka juga lantas memutar tubuh dan lari menyelamatkan diri.

Sebaliknya It Hiong bertiga lantas berkumpul. Hoay Giok tidak berlari terus karena musuh telah tumpas dan kabur.

Ketika itu sang magrib pun mulai tiba.

It Hiong menyuruh Hong Hui duduk ditanah. Ia menotoknya membuat orang tak dapat bergerak, kemudian baru ia masuki pedangnya ke dalam sarungnya. Baru sekarang ia menghela nafas lega.

"Kakak Whie, bagaimana dengan Paman ?" tanyanya. Ia lantas duduk untuk beristirahat.

Sunyi di sekitar mereka, cuma ocehan sang burung yang terdengar.

"Guruku tak kurang suatu apa," Hoay Giok menjawab. "Takut Nona Tan datang disaat yang tepat hingga aku bebas dari ancaman si bajingan yang telengas sekali. Dia mendesak hebat kepadaku !"

It Hiong berpaling kepada Tan Hong, wajahnya menunjuki dia sangat bersyukur, hendak ia mengucapkan sesuatu tetapi dia batal. Inilah sebab dia bersangsi, tak berani dia sembarang bicara. Dia takut dengan menghaturkan terima kasih, si nona nanti tersinggung dan ia bakal bersusah hati. Hal itu pernah terjadi beberapa kali. Maka itu, cuma sinar matanya yang menunjukkan terang bahwa dia bersyukur sekali.

Selagi si pemuda mengawasinya, Tan Hong juga lagi memandangi si anak muda itu. Dengan begitu sinar mata mereka seperti bentrok satu dengan lain. Maka juga kontaklah hati mereka. Keduanya sama-sama berdiam. Tan Hong merasa hatinya sedap sekali, terpaksa, ia bersenyum.

Sungguh ia cantik manis.

Sementara itu Kee Eng telah menyaksikan apa yang terjadi. Saking tidak berdaya, ia berdiam saja. Tenaganya telah hilang dan belum mau pulih kembali. Melihat It Hiong menjadi demikian gagah, ia kagum sekali, hatinya lega. Benar hebat keponakan itu.

"Inilah yang dibilang gelombang sungai Tiang kang yang di belakang mendorong ombak yang di depan." kata ia menghela nafas saking kagumnya itu. "Kau telah memiliki ilmu silatmu ini, anak Hiong. Di belakang hari apa yang diimpi-impikan kelak kau pastilah akan memegang pimpinan rimba persilatan. Dengan begitu maka saudaraku Siu Pek akan memperoleh turunannya yang sejati !"

Saking lega hatinya jago tua itu meneteskan air mata kegirangan. Di dalam hati It Hiong puas karena paman itu memujinya, tetapi yang menggerakkan hatinya ialah disebut nama "saudaraku Siu Pek" itu. Selama beberapa tahun belum pernah ia mendengar lain orang menyebut nama ayahnya, hanya kali ini oleh Kee Eng saking kagumnya. Justru ia mendengar nama ayahnya itu, terbangunlah semangatnya. Ia menjadi ingat punahnya keluarganya, peristiwa yang sangat menyedihkan dan menyakitkan itu. Ia telah berhasil menuntut balas tetapi ia toh ingat halnya ia telah berpisah dari ayah bundanya itu. Ia sadar tetapi ia lantas seperti membayangi peristiwa terjadi. Ia menjadi bersedih, air matanya meleleh tanpa merasa... 

Berempat mereka berduduk di rumput, semuanya berdiam saja. Mereka berpikir masing-masing. Selama berdiam, mereka mengingat sesuatu. Angin magrib pun bershilir halus meniup pergi hawa panas sang siang mendatangkan hawa nyaman.

Tan Hong melihat tibanya sang sore lantas ia mengeluarkan rangsumnya dan membagi-bagikannya.

"Malam ini kita harus dapat turun dari Ay Lao San ini" kata ia sembari tertawa. "Mungkin akan terjadi pula pertempuran dahsyat. Maka itu perlu kita makan dengan cukup !"

Mendengar suaranya si nona, parasnya It Hiong berubah.

Selagi beristirahat buat sedetik ia seperti melupakan diri masih berada di tempat berbahaya itu. Maka ia lantas berkata memesannya: "Aku percaya Kwie Tiok Giam Po lihai sekali, seandianya aku mesti bertempur dengannya asal kita bergebrak, aku minta kakak bersama suheng lantas melindungi paman menyingkir dari sini supaya lekas-lekas kalian dapat turun gunung. Tentang bagaimana akan aku meloloskan diri, jangan kalian pikirkan !"

"Aku mengerti adik," sahut Tan Hong mengangguk, suaranya perlahan dan air matanya tergenang.

It Hiong makan dengan cepat, lantas ia bangun berdiri. "Sudah tiba saatnya !" berkata dia. "Mari kita turun gunung

!" Dia terus menotok Hong Hui buat membikin orang supaya dapat bergerak, terus dia menuntunnya pergi berjalan.

Hoay Giok merapikan gendongan dan turut berangkat diiringi oleh Tan Hong. Lari belum lama sampai sudah mereka di depan sarangnya Losat Bun. Di sana tampak bayangan dari banyak orang bergerak-gerak dan terlihat juga kilauannya pelbagai macam senjata.

It Hiong membawa sikapnya seorang laki-laki sejati. Dia tidak lantas maju untuk menyerang hanya dia berdiri di muka pintu gerbang, untuk memperdengarkan suaranya yang nyaring, "Kauwcu dari Losat Bun, mari kita membuat pertemanan ! Sukalah kau memperlihatkan diri !"

"Tunggu !" berseru seorang Losat Bun yang menjaga pintu. "Kenapa kita tidak mau menyerbu dan pergi selagi si nenek

tua belum muncul ?" tanya Tan Hong berbisik pada si anak muda.

"Kau lihat itu di kiri dan kanan, kakak," berkata It Hiong sambil tangannya menunjuk. "Aku percaya di sana telah tersembunyikan banyak orang untuk memegat dan merintangi kita. Lihat saja, mereka begini tenang. Mestinya mereka sudah mengatur perangkap.

Tak nanti Kwie Tiok Giam Po demikian baik budi membiarkan kita meninggalkan gunung dengan dia tak mengambil suatu tindakan. Maka itu baik kita menemukan dulu baru kita bertindak."

Selagi mereka bicara, diambang pintu gerbang sudah bermunculan orang-orang Losat Bun, pria dan wanita semua berseragam, senjatanya golok dan pedang dan sebelah tangannya pada memegang obor terang-terang. Jumlah mereka itu lima atau enam puluh orang. Langsung mereka memasuki lapangan dimana mereka terus memecah diri di dua Barisan kiri dan kanan. Obornya diangkat tinggi hingga seluruh lapangan menjadi terang sekali.

Menyusul pasukan pertama itu muncul lagi seBarisan kecil dari dua belas orang nona-nona, rambutnya yang terbuka memakai ikat rambut berkembang. Semua mereka mengenakan jubah panjang dengan kaki telanjang juga.

Sebagai senjata pedang panjang ditancap di punggung mereka. Empat orang yang paling belakang membawa lentera yang biasa dipakai di dalam istana raja-raja.

Merekalah yang mengiringi seorang wanita tua. Itulah si nenek Kwie Tiok Giam Po, ketua dari Losat Bun.

"Cis" Tan Hong meludah. "Segala Losat Bun saja memakai aturan bau semacam ini !"

Nona Tan sebal dan jumawa sekali.

Si nenek tua berjalan terus tanpa menghiraukan rombongan It Hiong, setibanya ditengah lapangan, lantas ia menjatuhkan diri untuk berduduk di atas kursi, yang terus ada yang menyediakannya. Lantas empat pengiringnya mendampingi di kiri dan kanan. Dan dua belas nona-nona lainnya itu berkumpul ditengah lapangan itu, tapi hanya sekejap, lantas mereka memecah ke empat penjuru, mengatur diri tanpa bersuara.

Selesai itu dengan satu bentakan muncullah seorang anggota Losat Bun pria. Dia bertindak maju untuk memberi hormat kepada ketua atau raja agamanya. Habis itu dia kembali, untuk menghampiri It Hiong. Sambil menuding dia kata bengis pada si anak muda : "Kauwcu mengundang engkau !"

It Hiong melirik Tan Hong dan Hoay Giok, lantas ia serahkan Hong Hui pada Nona Tan. Ia sendiri bertindak maju, mengikuti orang Losat Bun itu.

Diterangnya obor tampak wajahnya Kwie Tiok Giam Po tidak memberi kesan lain kecuali dingin. Lantas dengan dingin juga dia berkata keren : "Eh ! Bocah cilik. Inilah kau sendiri yang lancang memasuki Ay Lao San, maka inilah saatnya kau menerima hukuman mati ! Nah, ada apakah pesanmu yang terakhir ?"

It Hiong tidak jeri sama sekali. Ia dapat mengerti sikap atau adat luar biasa dari raja agama Losat Bun ini. Di dalam hati ia merasa lucu dan tertawa karenanya. Dengan suara nyaring ia menjawan : "Aku yang muda, aku biasa melakukan sesuatu dengan tidak merembet-rembet lain orang, demikian juga kali ini, akulah yang bertanggung jawab sendiri ! Katanya kau  lihai, kauwcu, aku bersedia akan belajar kenal dengan kepandaianmu itu tetapi lebih dahulu hendak aku menanya tegas-tegas kepadamu, bagaimana dengan sahabatku ini ?"

"Apakah mereka itu memikir akan turun dari gunung ini dengan masih hidup ?" balik tanya si nenek.

Tapi It Hiong membentak : "Kauwcu ! Kaulah seorang tua dan bekenamaan, kenapa sekarang sepak terjangmu ini tak membedakan hitam dari putih dan putih dari hitam ? Apakah kau tidak takut dunia rimba persilatan nanti mentertawakanmu

? Ingat kauwcu, jiwanya Lou Tongcu masih berada di tanganku !" Kauwcu itu berdiam. Dia berpikir keras. Lantas parasnya nampak berubah. Ia tak sebengis semula.

"Kau mau berbuat apakah atas dirinya ?" tanyanya. "Kau menghendaki apakah ?"

It Hiong menjawab cepat dan tegas, "Kau membiarkan kawan-kawanku turun gunung dengan selamat, lantas aku juga membebaskan tongcumu ini !"

Kwie Tiok Giam Po, si nenek tertawa. "Jika aku menolak ?' tanyanya.

It Hiong menjawab nyaring : "Segera akan aku bunuh Lou Hong Hui !"

Nenek itu menatap tajam si anak muda. Lantas ia menjadi sabar.

"Bocah, kau bersemangat laki-laki !" katanya perlahan. "Baiklah, aku terima baik keinginanmu itu !" Lalu terus ia menggapaikan tangannya memanggil salah seorang anggotnya kepada siapa ia bicara bisik-bisik atas mana anggota itu segera berlalu pergi dengan berlari-lari !

Menyusul itu orang-orang Losat Bun lantas memisahkan diri ke pinggiran, buat membuka jalan.

It Hiong segera berseru : "Kakak Whie ! Kakak Tan Hong ! Lekas kalian turun gunung, jagalah baik-baik Paman Beng !"

"Ya !" sahut Nona Tan yang lantas saja membuka langkahnya turun dari gunung mendampingi Hoay Giok yang menggendong gurunya. Sebagai seorang yang berpengalaman, tak mau ia melepaskan Hong Hui, tangan siapa ia terus cekal erat-erat hingga mereka bisa berjalan bersama-sama. Ia pula tidak mau berlari-lari, sebaliknya ia berjalan dengan perlahan-lahan.

Setiba ditangan lapangan, Tan Hong berpaling kepada It Hiong untuk berkata dengan suara sedih : "Adik Hiong, kau berhati-hatilah. Kami berangkat lebih dahulu !"

It Hiong menghampiri akan menggantikan mencekal tangannya Hong Hui....

"Paman Beng, pergilah turun gunung !" kata ia pada pamannya. "Jangan takut apa-apa, tak usah menguatirkan anak Hiong !"

Beng Kee Eng seorang laki-laki sejati, ia insyaf akan gawatnya keadaan itu maka itu disaat seperti itu, tak sudi ia menggempur semangatnya keponakan itu, maka ia jawab dengan gagah : "Ya !" Kepada Hoay Giok ia kata : "Lekas berangkat !"

Baru saja jauh setombak lebih Tan Hong sudah berpaling pula. "Adik Hiong !" katanya. "Sampai kapan saja akan aku menantikanmu !"

"Aku tahu kakak !" sahut si anak muda singkat. "Kakak pergilah !"

Berkata begitu anak muda ini diam-diam mengawasi kepergiannya tiga orang itu sampai mereka turun gunung dan lenyap diantara gelapnya sang malam. Ia tahu bahwa kata- katanya Tan Hong itu mengandung makna terlebih dalam, hingga tanpa terasa ia berpikir keras. Ia sadar ketika ia merasa Hong Hui lepas dari cekalannya dan waktu ia melihat kesekitarnya ia mendapati ia sudah dikurung di empat penjuru oleh orang-orang yang berseragam rambut panjang riap- riapan ke punggung dan bahunya serta dahinya dilibat dengan semacam sabuk. Itulah serombongan dari dua belas orang nona-nona, yang semua tangannya memegang pedang.

Cara berdirinya mereka itu menandakan bahwa mereka telah mengatur diri dalam tiu, Barisan rahasia, Su Ciang Tiu rangkap Pat Kwa Tiu. Ia insyaf akan ancaman itu maka ia mengumpulkan semangatnya supaya pikirannya menjadi tetap dan mantap.

Sekian lama anak muda itu berdiri tegak tetapi tenang, ia melihat lawan belum bergerak sama sekali. Ia heran hingga ia menerka-nerka.

"Entah mereka hendak menunggu apa ?" pikirnya. "Lebih baik aku mendahului mereka. Aku harus mendahului keluar dari kurungan tiu ini !"

Begitu ia berpikir begitu It Hiong menghunus Keng Hong Kiam, hingga terdengar suara menyeresetnya yang nyaring serta tampak sinarnya berkeredepan, begitu juga ia lantas menyerang seorang nona yang berada di depannya sekali !

Hebat nona itu, luar biasa cepatnya dia berkelit. Dia berlompat ke samping, pedangnya diputar melengkung. Selekasnya It Hiong menarik pulang pedangnya, tempat kosong nona itu sudah diisi seorang kawannya, sedangkan dia sendiri menggeser mengganti tempat kawan itu Dan masih mereka berdiam terus. Hingga tiu pun tetap diam tak bergerak.... Menyaksikan sikap orang itu, It Hiong tak mau banyak pikir lagi. Sudah pasti keputusannya ! Keluar dahulu dari dalam kurungan tiu itu !

Kali ini si anak muda tidak menyerang seperti tadi. Ia menjejak tanah sambil berseru terus tubuhnya loncat mencelat. Inilah sebab ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Ia berlompat tinggi dua tombak, pedangnya di depan dadanya. Ia berlompat ke arah Pat Kwa Tiu... Barisan segi delapan. Setelah tubuhnya turun, baru ia menikam nona di depannya. Asal si nona berkelit pikirnya mau ia menerobos keluar !

Aneh si nona. Dia tidak mengikuti kawannya tadi. Dia bukannya lompat ke samping hanya mundur empat tindak, menyusul mana kawannya lantas menggantikan lowongannya itu untuk dia sebaliknya terus mengisi lowangan si kawan.

Habis itu lagi-lagi mereka berdiam !

It Hiong mendongkol. Jadinya ia cuma hendak di kurung bukan buat diserang dan dirobohkan atau ditawan. Hampir ia menuruti hawa amarahnya dan menerjang pula, baiknya ia ingat pantangan tak boleh keras hati dan sembrono atau ia bakal kena dikalahkan lawan. Maka itu ia menenangkan diri berdiri diam sambil tangannya memegangi gagang pedang mustikanya, matanya melihat dan melirik ke segala arah.

Menyusul itu maka dari luar tiu terdengar suara bangsi nadanya, mendesak keras, seumpama teriakan seekor kuda tengah kabur berlari-lari, suaranya tajam membuat telinga orang ketulian seperti berbunyi mengacau.

Mendengar it tahulah It Hiong bahwa itu ada suara bangsi lagi "Cie Ciu Toan Hua" Menyesatkan Yang Asli, Memutuskan Nyawa. Pasti itulah lagunya Kwie Tiok Giam Po yang hendak mengasih pertunjukan apa. Ia lantas merasakan hatinya goncang dan darahnya bergolak. Lekas-lekas ia menenangkan diri dengan Hian Bun Sian Thian Khie kang, mulutnya berkelemik mengucapkan sesuatu hingga lekas juga ia memperoleh ketenangannya kembali.

Suara bangsi sementara itu telah menyebabkan tiu bergerak-gerak. Empat nona-nona dari Siu Cian Tiu lantas berjalan pesat mengitari si anak muda, rambut mereka teriap- riap. Sang angin dan pedang mereka berkeredepan, menyilaukan mata. Segera mereka itu ditelan oleh delapan nona-nona dari Pat Kwa Tiu, yang merupakan kurungan luar, hanya itu mereka itu berjalan berputaran dengan perlahan- lahan dan mutarnyapun dari arah yang berlawanan. Maka itu, itulah gabungan tiu yang aneh.

Selagi It Hiong tetap berdiam, hatinya tenang dan terbuka dan matanya berwaspada. Nona-nona dari Su Ciang Tiu berputaran makin cepat makin cepar sampai tubuh mereka tampak mirip bayangan saja, membuat mata kabur melihatnya. Adalah di saat itu sekonyong-konyong ke empat nona berseru dengan berbareng dan berbareng juga pedang mereka berkelebat menyerang orang

yang dikurungnya !

It Hiong sudah siap sedia, ia tidak menjadi bingung, dengan tak kurang cepatnya ia memutar pedangnya sambil tubuhnya ikut berputar juga, membela diri dari pelbagai tikaman itu. Oleh karena ke empat nona berputaran terus, tikamannya juga datang bertubi-tubi tak hentinya. Hebatnya ialah pedang mereka itu sukar dapat diatas pedang mustika kalau tidak pastilah semua sudah kena dikutungkan. Pertempuran berlangsung terus. Tetap si anak muda dikurung, saban-saban ia ditikam, selalu ia menangkis menghindar diri dari bahaya. Belum berapa kali ia mencoba membalas menyerang, senantiasa ia gagal. Nona-nona itu sangat lincah.

Maka berlarut-larut pertempuran itu, tampak saja orang berputaran dan sinar-sinar pedang berkelebatan. Rupanya si anak muda mau dibikin letih. Tapi percobaan lawan gagal. Si anak muda, berkat darah belut emas menjadi luar biasa.

Lewat sekian lama maka terlihatlah suatu perubahan. Gerak geriknya nona-nona itu mulai menjadi kendor. Teranglah bahwa mereka kalah kekuatan. Hal ini dapat dihati si anak muda. Ia lantas menggunakan kesempatan. Maka lewat pula beberapa waktu, keadaan lantas menjadi berbalik. Dari pihak penyerang nona-nona itu menjadi pihak yang diserang.

Hingga mereka harus membela diri saja.

Selain kalah giat, nona itu juga kalah lihai dalam ilmu pedang. Kalau tadi mereka menang diatas angin, itulah sebab mereka mengandalkan kedudukan tiu serta tenaga kurungan, mereka dapat bekerja sama dengan sempuna.

"Aduh !" mendadak ke empat nona-nona itu menjerit dengan berbareng. Itulah sebab It Hiong menyerang dengan tiba-tiba, membabat kutung ujung pedang mereka itu disaat mereka repot mengurung diri. Dengan terpaksa mereka melompat mundur empat tindak, kalaupun tidak, mereka bisa menjadi korban ujunnya Keng Hong Kiam.

Selekasnya ke empat nona itu mundur maka delapan nona dianara Pat Kwa Tiu lantas menggantikan tempatnya, terus saja mereka itu maju mengurung sambil menyerang. Penyerangan teratur sama-sama seperti Su Ciang Tiu tadi. Bahkan mereka berdelapan orang !

Menyusul pengepungan Pat Kwa Tiu itu suara bangsi terdengar pula. Kembali Kwie Tiok Giam Po memperdengarkan lagunya yang menggoncangkan hari itu, bahkan kali ini nadanya berlainan dari tinggi dan keras menjadi halus dan sedih, bagaikan kera-kera sesamputan di dalam lembah.

It Hiong telah mengerahkan tenaga dalamnya ia dapat berlatih Hian Bun Sian Thian Khie kang dengan sempurna. Ia tidak menghiraukan lagu yang hebat itu, ia hanya melayani dengan seksama kedelapan lawannya.

Mereka itu tenaga-tenaga baru, mereka terlebih hebat dari Su Ciang Tiu tadi.Kembali tak ada pedang yang bentrok satu sama lain saking pandainya si nona menggunakan masing- masing genggamannya.

Kembali yang tampak hanya bayang-bayangan yang berkelebatan dan sinar-sinar pedang yang berkeredepan. It Hiong dapat bertahan walaupun ia dikepung hebat.

Pedangnya lihai dan tenaganya cukup. Ia melayani dengan tak kalah gesitnya.

Disamping itu suara bangsi masih tetap mengalun.

Rupanya Kwie Tiok Giam Po penasaran, dan mencoba terus lagunya itu guna meruntuhkan semangat orang.

Belum terlalu lama atau seruan nyaring, merdu terdengar riuh, lantas ke empat nona dari Su Ciang Tiu yang tadi beristirahat maju pula guna membantui kawan-kawannya dari Pat Kwa Tiu. Dengan demikian It Hiong menjadi dikepung selusin nona-nona itu. Pertempuran dahsyat itu membikin heran dan kagum orang-orang Losat Bun yang berkumpul diluar tiu. Bahkan Kwie Tiok Giam Po sendiri tidak menjadi kecuali hingga wajah berkeriputannya menjadi semakin menjadi-jadi. Disatu pihak dia ingin menjatuhkan si anak muda, di lain pihak dia menyayangi kepandaian orang yang luar biasa itu tetapi disebelah itu, dia pula sangat penasaran, sebab dia tidak dapat segera merobohkan lawan itu. Dan sang penasaran membuat hatinya panas. Hingga dia memikir buat menggunakan lain macam ilmu kepandaiannya yaitu "Siu lo It

Khie kang" atau "Kekuatan Bajingan Asmara" Itulah suatu lagu lain daripada "Bie Ciu Toan Hua" yang lihai tadi.

Ketika itu sang putri malam sudah bergeser ke tengah- tengah langit, cahaya putih peraknya memenuhi jagad hingga segala apa di medan pertempuran dan sekitarnya itu tampak terang sekali. Sudah begitu dari segala penjuru ada sinarnya banyak obor.

Lagi-lagi It Hiong menghadapi kesukaran yang membuatnya pening dan penasaran. Buat melindungi keselamatan dirinya ia telah keluarkan kepandaian ajaran gurunya dan juga yang dari kitab pusaka. Buat sementara ia tidak bisa berbuat apa-apa kecuali membela diri dengan waspada.

Si nyonya tua agak bingung ketika dia memperoleh kenyataan pengepungan kali ini jika tidak lantas memberikan hasil bahkan ia kuatir kedua belas muridnya itu nanti keburu kehabisan tenaga seperti empat muridnya yang pertama.

Kalau mereka itu gagal, itu semuanya sia-sia, berarti kedua tiunya itu tak dapat ditambal lagi, bahkan akan musnah karenanya hingga namanya bakal turut runtuh.... Dengan tiba-tiba saja suara bangsi dihentikan, diakhirkan dengan dua tekukan suara seperti suaranya burung bajingan. Menyusul itu kedua belas nona-nona juga sudah lantas berhenti bersilat secara berbareng, semua lantas berdiri diam dalam kedudukannya masing-masing, tak bergerak, tak bersuara.

It Hiong heran hingga ia pun berdiri diam bahkan tercengang. Tak tahu ia lawan mau menggunakan cara apa lagi. Sebenarnya ada niatnya akan menerobos tetapi ia ragu- ragu karena kuatir musuh nanti mempunyai perangkap lainnya. Ia pula ingat walaupun ia tangguh, ia merasa letih juga. Ia sudah berkelahi terlalu lama dan telah menggunakan banyak sekali tenaga. Ia pula segera ingat pepatah yang berupa pantangan kaum rimba persilatan : "Musuh tidak bergerak, kita tidak bergerak. Kalau musuh mau bergerak, kita harus mendahului". Maka tidak ayal lagi ia menjatuhkan diri untuk duduk bersila guna meluruskan jalan nafasnya buat beristirahat sambil mengumpulkan tenaganya, ia berwaspada supaya ia tidak sampai dibokong lawan.

Begitulah, karena kedua belah pihak berdiam, sunyilah medan pertempuran itu, kecuali siurannya sang angin malam. Sinar rembulan membuat semua pedang kadang-kadang berkilauan.

Lewat waktu sesantapan lamanya, tiba-tiba suara bangsi terdengar pula. Kali ini suara itu tinggi dan tajam, tajam seumpama kata dapat "Menjeblos mega dan memecah batu", suara itu bagaikan mengalun naik ke langit. Siapa mendengar lagu itu, telinganya terasa nyeri.

Sebagai susulan dari suara bangsi, pihak Losat Bun tidak menggerakkan tiu-nya seperti semula tadi. Orang-orang Losat Bun itu benar pada bergerak hanya bukan buat maju menyerang tetapi justru buat berbaris kembali ke sarang mereka, bahkan Cie Ciu Koan In

Lau Hong Hui turut mundur bersama. Hingga di dalam waktu yang pendek semua mereka tak nampak lagi bayangannya. Kecuali kedua belas nona-nona dari Su Ciang Tiu dan pat Kwa Tiu serta pemimpinnya si nenek keriputan yang lihai itu. Tapi kedua belas nona itu pun tidak berdiri seperti patung hanya mereka telah melepaskan ikat rambut di dahi mereka akan memakai pengikat itu buat membungkus kepala mereka berikut telinganya masing-masing rupanya guna mencegah gangguan lagu aneh itu. Sebab mereka menutup juga muka mereka, sekarang mereka nampak mirip bangsa iblis.

Selagi kawanan Losat Bun membuat gerak gerik yang aneh itu, It Hiong juga sudah selesai beristirahat, hingga pulihlah kesegarannya. Ia mendapat lihat gerak gerik orang, ia heran. Ia menerka mungkin bakal terjadi lagi sesuatu. Maka ia bersiap sedia.

Hanya ia tidak bangun berdiri. Ia tetap duduk bersila.

Diam-diam saja ia memasang mata dan telinganya.

Lagu Siulo I Khie kang dari Kwie Tiok Giam Po jahat sekali. Itu bukan lagu belaka, hanya racunnya dia telah sebar dengan jalan lagunya itu. Siapa mendengar lagu itu, sendirinya ia telah kemasukan racun tanpa ia merasa, riangnya orang bisa menjadi kalap, hebatnya mati dalam waktu beberapa jam kemudian, tanpa ada obatnya...

Mulanya lagu itu tak keras tak lemah, lembut bagaikan nyanyian burung, mirip seumpama air mengalir atau mega melayan-layang. lagu itu beda pula disambutnya oleh kedua belas nona-nona tadi. Tiba-tiba mereka bergerak-gerak menurut lagu, mirip orang lagi menari sambil berlompatan, untuk saling menukar kedudukan, seperti lawan kupu-kupu terbang berpindahan, hanya setelah itu barulah mereka berputaran memutari si anak muda. Pedang mereka berkilauan tetapi mereka tidak menyerang si anak muda itu.

It Hiong menggunakan tenaga dari Hian Bun SIna Thina Khie kang guna menentang lagunya si nenek keriput. Ia berhasil menyelamatkan diri dari lagu beracun itu. Hanya ia tidak tahu tentang bahanya itu sebab ia tak kenal akan ilmu jahat si nenek bajingan. Terus ia berdiam, terus memasang mata. Si nenek sebaliknya penasaran. Tiba-tiba dia telah merubah nada lagunya itu menjadi keras sekali bagaikan badai, bagaikan gelombang dahsyat seperti bergeraknya tentara dari berlaksa jiwa.

Kali ini It Hiong terkejut. Hien Bun Sian Thian Khie kang tangguh tetapi dalam halnya latihan, ia kalah lama daripada si nenek. Lama-lama ada juga racun yang menyerang masuk ke antara tiga puluh enam jalan darahnya. Tiba-tiba saja ia merasakan kesehatannya terganggu dan jalan darahnya tak lurus lagi, lalu sebelum ia tahu apa-apa, tubuhnya roboh tak sadarkan diri !

Kwie Tiok Giam Po melihat lawan roboh, ia bersenyum iblis.

Sementara itu tapi juga kedua belas nona-nona muridnya pada roboh sendirinya, semua pingsan seperti si anak muda. Kapan dia melihat murid-muridnya itu, dia terperanjat.

"Ah !" sesalnya. "Karena aku hendak menempur bocah ini, aku sampai melupakan semua muridku. Mana mereka dapat bertahan dari laguku yang istimewa ?"

Lalu ia meninggalkan It Hiong, ia bertindak kepada sekalian muridnya, ingin ia membantu mereka. Dengan menghampiri murid itu si nenek mesti datang dekat kepada It Hiong yang seperti terkurung para muridnya itu.

Perlahan-lahan majunya Kwie Tiok Giam Po justru ia baru sampai pada murid-muridnya mendadak It Hiong berlompat bangun, mukanya merah, matanya menyala, bersiul nyaring, dia lompat menyerang musuh itu !

Si nenek terkejut, ia tidak tahu bahwa si anak muda sudah terpengaruhkan lagunya. Berkat ketangguhannya Hian Bun Sian Thian Khie kang serta khasiatnya darah belut emas, It Hiong tidak lantas roboh terbinasa. Toh, dia itu semuanya berada dalam keadaan separuh sadar separuh kalap. Justru ia sedang sadar itu, ia menyerang musuhnya.

Kwie Tiok Giam Po terkejut tetapi ia masih mempunyai kesehatan untuk berkelit, ia menggunakan tipu "Bayangan setan", tubuhnya melejit babas dari ujung pedang mustika. Ia berkelit sambil lekas-lekas menoleh akan melihat lawan itu atau mendadak ia menjadi heran sekali.

Habis menyerang itu It Hiong bukan mengulangi serangannya yang gagal, ia justru berlompat lari ke arah dinding gunung !

"Kurang ajar" teriak si nenek saking gusar. Maka lupalah ia pada murid-muridnya itu, terus ia lompat untuk lari menyusul anak muda.

It Hiong kabur dengan merasakan tubuhnya panas seperti bara, tetapi jantung dan nadinya belum kemasukan racun, ia tetap sebentar sadar, sebentar kalap. Adalah diwaktu sadar ia mengerti akan keadaan dirinya itu, maka ingat yang utama ialah selekasnya bisa lari turun dari Ay Lao San, sebaliknya disaat kalap dia lari terus ke dinding gunung diluar tahunya. Demikian tanpa merasa ia sampai ditepinya jurang, didalam mana terdengar suara air mengerocok keras. Lantas ia ingat untuk mandi guna menghilangi rasa panas hebat itu. Tanpa berpikir lagi ia loncat ke dalam jurang itu sebab ia percaya itulah tentu sebuah kali !

Kwie Tiok Giam Po dapat lari keras tetapi dia tidak sanggup menyusul si anak muda, segera setelah satu tikungan ia kehilangan si anak muda itu. terpaksa ia tidak bisa lari dan mesti berjalan dengan perlahan-lahan guna mencari musuhnya. Ia mengikuti tepian puncak, memasuki rimba dan setiap gua besar atau kecil. Sia-sia saja ia mencari sampai fajar tiba, hingga dengan mudah ia bisa melihat segala apa dengan nyata disekitarnya itu.

"Hei, bocah !" katanya sengit. "Kau dapat lolos dari tanganku tetapi tidak nanti dari racunku ! Apakah kau menyangka kau masih dapat berlalu dengan masih hidup dari gunungku ini ? Hm !"

Lalu dia tertawa berkakakan. Setelah itu dia ngeloyor pergi untuk pulang ke sarangnya, markas Losat Bun.

Sekarang kita kembali dahulu pada Pek Giok Peng, habis ia "membujuki" Gak Hong Kun agar pemuda she Gak itu mau mencari Hauw Yan, anaknya yang diculiknya itu. Hong Kun agak tenang, tetapi dia selalu mencari ketika akan terus mendekati bekas kekasihnya itu. Sebaliknya ia mencoba selalu menghindar diri dari Pek Thian Liong dan orangnya.

Pada suatu hari, waktu tiba disebuah tempat yang dipanggil Liong poat diperbatasan kedua propinsi Ouwlam dan Ouwpak. Mereka bertemu seorang setengah tua yang punggungnya menggendol sepasang pukang, orang mana bukan lain daripada Teng It Beng, saudara angkatnya Hong Kun. Dia baru kembali dari daerah perbatasan dan tengah mencari saudara angkatnya ini.

Dari jauh-jauh, It Beng sudah dapat melihat rombongannya Hong Kun itu. Hong Kun berdampingan dengan Giok Peng, di belakang mereka turut pula seorang muda serta beberapa pengiringnya yang berseragam hitam serta membekal golok. Mereka ini ialah Thian Liong dan orang-orangnya itu.

"Adik Hong Kun ! Adik Hong Kun !" It Beng lantas memanggil-manggi sambil dia berdiri ditepi jalan.

Hong Kun segera mengangkat kepalanya.

"Oo... Kakak It Beng !" serunya keras. "Kakak, kapan kau kembali ?"

It Beng menjawab : "Sepulang dari daerah perbatasan aku menuju langsung ke Heng San. Di sana aku menemukan tempat kosong, adikku. Gurumu, It Yap Totiang telah turun gunung. Tak kusangka disini aku bertemu denganmu " Kemudian dia mengawasi Giok Peng, nampaknya dia heran, terus dia tanya : "Adik, kau berdua bersama Nona Pek sekalian, kemanakah kalian hendak pergi ?"

Hong Kun menghela nafas.

"Peruntunganku buruk." katanya masgul. "Aku gagal dalam urusan asmara."

It Beng tertawa.

"Bukankah sekarang kau ada bersama Nona Pek ?" tanyanya heran. Ada apakah diantara kalian berdua ?" terus ia menatap si nona. Alisnya Giok Peng terbangun. Tak puas ia dengan kata- katanya pemuda she Gak itu. Ia pula tak senang terhadap gerak geriknya It Beng. Maka ia kata gusar : "Orang she Tang, kalau kau bicara hargailah derajatmu. Kenapa kau bicara sembarangan begini ? Apa kau tak takut nanti turun  derajatmu sebagai pahlawan istana ?"

It Beng heran, ia menerka kepada sesuatu yagn tak beres. Maka lenyaplah tawa atau senyumnya itu. Ia pun segera kata pada adik angkatnya itu : "Adik, mari turut aku mencari satu tempat dimana kita bisa memasang omong semalam suntuk !" Terus saja dia menarik tangan orang buat diajak pergi.

Giok Peng berlompat maju guna menghadang. "Tahan !" bentaknya. Ia pun menghunus pedangnya.

It Beng menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.

"Apa ?" dia tanya.

"Tak dapat aku membiarkan Hong Kun pergi !" berkata si nona keras. "Dia telah menculik anakku ! Tak boleh dia kabur

!"

Thian Liong dan orang-orangnya sudah lantas menghampiri. It Beng heran hingga ia melengak. Lantas dia mengawasi Hong Kun. Adik angkat itu tunduk dan bungkam, tampangnya likat. Dia lantas menerka pada sesuatu. Maka dia memberi hormat pada Giok Peng seraya berkata : "Nona, aku minta sukalah kau memberi muka padaku ! Bagaimana kalau urusan anakmu itu kau serahkan tanggung jawab padaku ?" "Nonamu tidak berurusan dengan siapa juga" sahut Giok Peng kaku. "Selama dia belum mengembalikan anakku, Hong Kun tidak dapat meninggalkan aku !"

Panas hatinya It Beng hingga ia menghunus pedangnya. "Pek Giok Peng !" katanya sengit, "kau tanyaitu dirimu,

sanggupkah kau menentang pedangku yang panjang ini ?"

Giok Peng gusar hingga ia lantas menikam bekas pengawal kaisar itu.

It Beng menangkis dengan keras, niatnya buat membikin pedang si nona terpental guna memperlihatkan ilmu pedangnya yang lihai.

"Trang !" demikian suara pedang beradu keras. Lantas It Beng terperanjat. Ia melihat si nona mundur satu tindak tetapi ia sendiri mundur satu tindak juga. Itulah bukti berimbangnya tenaga mereka berdua. Sudah begitu, si nona sudah lantas menikam pula !

"Tahan adik Peng !" Hong Kun berseru mencegah. "Baik kau bunuh Hong Kun saja. Buat apa kau menjadi gusar begini

?" Dan ia lompat maju untuk menghadang pedang !

Tidak ada niatnya Giok Peng membinasakan pemuda itu. Ia cuma ingin anaknya didapat pulang. Melihat orang mengajukan tubuhnya, ia menarik pulang pedangnya.

"Tak kusangka kau begini hina dina !" bentaknya. "Kau berani melindungi orang dengan jiwamu ! Hm !"

Tanpa merasa si nona meneteskan airmatanya saking jengkelnya. Teng It Beng berdiri menjublak, ia heran sekali menyaksikan pemandangan di depan matanya itu.

Pek Thian Liong dan rombongannya pun terdiam. Tak ada perlunya buat mereka campur bicara. Justru itu dari kejauhan dari arah belakang mereka terlihat datangnya serombongan penunggang kuda yang mendatangi secara cepat sekali.

Ketika Pek Thiang Liong mengawasi, ia mengenali adiknya Siauw Houw datang bersama delapan orangnya yang semua membekal golok. Segera ia lari menyambut.

"Ada kabar tentang Hauw Yan ?" kakak ini mendahului menegur.

Siauw Houw mengawasi kepada Hong Kun, ia lantas menarik tangan kakaknya itu, untuk dibisiki atas mana si kakak memperlihatkan tampang senang.

"Adik !" ia lantas berkata pada Giok Peng. "Karena saudara Teng ini suka bertanggung jawab terhadap anak Hauw Yan, kau terimalah tawarannya ! Buat orang Kang Ouw sejati, sepatah katanya berarti seribu kati emas ! Biarkan saudara Gak turut padanya. Tak usah kita berbuat kerukunan kita terganggu karenanya. " Kemudian mengawasi It Beng, ia

meneruskan :

"Saudara Teng, kaulah seoarang yang dapat dipercaya, aku percaya kau tak bakal membuat adikku kecewa dan menyesal

! Nah, saudara Teng silakan !"

It Beng tidak dapat menerka kabarnya Siuaw Houw kabar apa itu, tetapi ia lantas menjawab : "Akan aku membuat penyelidikan, nanti pastilah aku akan datang memberi kabar. Nah, maaf tak dapat aku menemani kalian terlebih lama pula

!"

Berkata begitu It Beng menarik tangannya Hong Kun buat diajak berjalan dengan cepat.

Pemuda she Gak itu berpaling kepada Giok Peng, mau ia bicara tetapi batal. Cuma wajahnya menunjukkan dia likat, jengah sendirinya.

Giok Peng mengawasi orang berlalu. Ia membiarkan orang pergi karena ia percaya Siauw Houw si kakak nomor dua membawa berita baik. Bukankah Thian Liong nampak girang ?

Selekasnya It Beng dan Hong Kun sudah pergi jauh, Siauw Houw mengajak kakaknya menghampiri Giok Peng si adik buat menyampaikan beritanya. Itulah halnya ia yang mencari Houw Yan si keponakan cilik setibanya di Siulam telah bertemu dengan

Tan Hong si nona yang bersenjatakan sanho pang serta di rumah makan dan penginapan bertemu dengan Whie Hoay Giok, kakak seperguruannya It Hiong. Dia akhirnya ia kasih tahu juga halnya Tan Hong mau menyerahkan Hauw Yan pada It Hiong sendiri.

"Maka itu adik, perlu kau lekas menyusul mereka itu !" kata Siauw Houw.

Sementara itu Giok Peng telah menerka bahwa orang yang telah menculik Hauw Yan dari tangannya Hong Kun di rumah makan adalah Tan Hong cuma ia belum mendapat kepastian. Sekarang ia mendengar keterangannya Siauw Houw, ia menjadi girang berbareng terkejut. Terkejut karena kekuatiran. Girang sebab berada ditangannya Tan Hong, Houw Yan pasti tak kurang suatu apa. Yang ia kuatirkan ialah Tan Hong nanti "merampas" It Hiong, sebab nona she Tan itu pastilah demikian baik hati melulu guna mengambil hatinya si pemuda. Maka itu, dengan rupa perasaan itu bercampur menjadi satu, ia sampai tak dapat berkatai apa-apa atas wartanya Siauw Houw itu....

"Adik" kata Thian Liong kemudian. "Nona Tan Hong itu orang kaum sesat, dia baik dengan kau dan saudara It Hiong, dapatkah kau menerka kalau-kalau tindakannya itu disebabkan sesuatu maksud ?"

Ditanya kakaknya itu, Giok Peng bagaikan terasadar. "Kakak, Hauw Yan tak akan kurang suatu apa" kata ia yang

tak mau menjawab pertanyaan orang, "meski demikian hendak aku menemukan adik Hiong supaya hatiku menjadi tenang. Baiklah kakak berdua pulang saja."

"Aku ingin menemani kau, adik" berkata Siauw Houw, "supaya dimana yang perlu dapat aku membantumu. Aku pula telah berjanji dengan saudara Whie Hoay Giok untuk bertemu dikaki gunung Kiu Kiong San. Lebih daripada itu, hatiku baru lega benar-benar, sesudahnya Hauw Yan kembali dalam pelukanmu !"

Giok Peng tidak dapat menolak kakaknya itu, maka lantas Thian Liong memberikan dua orang pengiring buat kedua adik itu, ia sendiri terus pulang, bersama sekalian pengiringnya adik.

Di hari besoknya Giok Peng dan rombongannya sudah dalam perjalanannya ke Kiu Kiong San. Untuk girangnya ibu ini telah bertemu dengan putranya yang ada bersama Kiauw In. Cuma walaupun girang hatinya toh belum lega seluruhnya. Sebab ia masih pikirkan urusannya Tan Hong. Karena bujukan hatinya sangat keras dengan mesti ia tanyakan Kiauw In tentang Nona Tan dari golongan sesat itu....

Kiauw In tertawa.

"Adik Peng" katanya manis. "Kita kaum wanita, mata kita harus dibuka sedikit lebih lebar, dengan cara demikian barulah kita akan mendapati atau menikmati kebahagiaan yang sejati. Kau sekarang berpikir begini rupa bukankah itu berarti kau mencari keruwetan pikiranmu sendiri ? Kau kenal baik adik Hiong, dia bukan pria yang kemaruk dengan bunga-bunga.

Kenapakah kau berpikir tidak karuan ?"

Giok Peng jujur, ia memiliki sifat laki-laki, mendengar suaranya Nona Cio yang begitu sabar dan halus, ia jengah sendirinya. Ia merasa bahwa ia sangat cupet kalau dipadu dengan nona itu. Kiauw In polos dan hatinya lapang, ia sebaliknya, ia suka merasa jelus hingga ia sudah bercemburu....

"Kakak benar !' katanya kemudian tertawa sambil mengawasi nona yang cantik luwes itu. "Kakak, kata-katamu adalah kata-kata emas. Sungguh kaulah guruku yang pandai

!"

Kiauw In bersenyum.

"Adik, apakah kau ada menerima petunjuk dari Paman In ?" tanyanya.

"Tidak" sahut Giok Peng cepat. "Apa kabar dari Paman In

?" "Di tengah jalan, aku bertemu dengan pendeta murid  Siauw Lim Pay" kata Kiauw In. "Dia menyampaikan pesan lisan dari Paman In, katanya karena saat pertemuan besar di Tay San sudah mendatangi semakin dekat, maka kita bertiga dianjurkan untuk lekas kembali ke Siauw Sit san. Tinggal halnya adik Hiong. Ia pergi ke Ay Lao San, guna membantu pamannya, entah bagaimana hasilnya, tak tahu ia bakal lekas kembali atau tidak. "

Giok Peng berdiam, untuk berpikir, kemudian ia berkata : "Kalau begitu, sekarang terserah kepada kau, kakak. Kita berdua pulang dahulu ke Liok Tiok Po atau kita berangkat langsung ke Siauw Sit San, atau kita menyusul ke Ay Lao San ! Bagaimana pendapat kakak ?"

Kiauw In berpikir keras.

"Sudah lama adik Hiong pergi ke Ay Lao San, kalau kita menyusul ke sana, mungkin kita menyia-nyiakan waktu saja" sahutnya kemudian. "Bagaimana kalau kita pergi dahulu ke Siauw Sit San, untuk di sana kita mendengar apa katanya Paman In ? Kitapun jadi tak usah membuat paman mengharap-harap kita. "

"Mama !" Hauw Yan menyela, selagi ia dipeluk ibunya. "Mama, mana nenek ? Aku pun ingin main-main bersama kakak Kuil. "

Mendengar suaranya sang keponakan, Siauw Houw mendapat pikiran.

"Adik" berkata dia, "saat ini saat banyaknya urusan kaum Kang Ouw, dengan kau membawa-bawa Hauw Yan, mana dapat kau menghadiri pertemuan di gunung Tay San itu ? Aku pikir baiklah aku yang ajak Hauw Yan pulang, supaya ibu yang merawatinya. Bukankah itu lebih sempurna ?"

"Begitu pun baik." sahut Giok Peng. Memang berasa akan ia membawa-bawa anaknya itu, yang belum tahu apa-apa tetapi waktu

ia menyerahkan anaknya itu, ia merasa berat. Kata ia pada anaknya : "Hauw Yan, anak baik, pergilah kau pulang bersama pamanmu ini, untuk menemui nenekmu dan kakak Kuil..."

Hauw Yan membuka matanya lebar-lebar. Ia mengasi ibunya dan juga Kiauw In.

"Mama !" panggilnya. "Mama !"

Siauw Houw lantas menyambuti keponakannya itu, ia mengucapkan selamat berpisah dari adiknya itu dan Nona Cio, terus bersama dua orang pengiringnya, ia berangkat pulang. Syukur keponakan itu mendengar kata dan tak ribut memanggil ibunya.

Giok Peng berdua Kiauw In mengawasi sampai orang sudah pergi jauh, baru mereka pun melanjuti perjalanan mereka dengan tujuan Siauw Sit San.

Sementara itu Hong Kun, yang diajak It Beng, hari itu setelah melakukan perjalanan belasan lie, baru mereka mampir disebuah dusun, untuk mencari penginapan, buat mandi, bersantap didalam kamar mereka, sembari mengisi perut, mereka bicara banyak tentang masing-masing selama perpisahan mereka berdua.

"Kita berpisah baru beberapa bulan, adik" berkata It Beng, "sekarang aku melihat kesehatanmu seperti sangat terganggu. Kau tak segagah dahulu ! Adik, itulah hebat asmara. Karena itu, baiklah kau singkirkan itu dari hatimu ! Kau tahu sendiri, sangat banyak nona-nona yang cantik !"

Hong Kun meletakkan cawan araknya. Dia menghela nafas. "Aku bukannya setan paras elok, kakak !" katanya. "Cuma

cinta itu ada yang tunggal ! Sulit buat aku membebaskan diri

dari itu ! Aku pula tidak puas Tio It Hiong telah merampas pacarku ! Inilah sebab yang membuat kesehatanku, lahir dan batin menjadi begini rupa "

"Tio It Hiong dan Pek Giok Peng telah menjadi suami isteri, umum mengetahuinya" kata It Beng pelan. "Taruh kata karena Giok Peng mengingatmu dan dia meninggalkan It Hiong, masih tidak dapat kau menikah dengannya ! Itulah tak dapat terjadi, saudaraku, Kalaupun berbuat demikian, nama baikmu bakal menjadi runtuh ! Kenapa mesti menyiksa diri sendiri ?"

Hong Kun berdiam. Dia mengangkat kepalanya, dia meneguk araknya. Nampak dia jengah, malu sendirinya.

"Habis, kakak, kau ingin aku berbuat apakah ?" tanya dia. Ditanya begitu It Beng melengak.

"Sekarang ini, adikku, kau lupakan dahulu soal asmaramu ini." katanya kemudian. "Mari kita lakukan sesuatu, supaya tak kecewa kepandaian kita ini !"

"Kau benar, kakak, ingin aku menuruti nasehatmu. Cuma aku, Gak Hong Kun, aku dapat membedakan budi dan penasaran ! Biar bagaimana, tak dapat aku lupakan halnya pacarku telah dirampas orang !" "Mari minum, adik !" kata It Beng yang mengangkat cawannya. "Adik, asal kau dapat melupakan Pek Giok Peng, aku mempunyai jalan buat kau melampiaskan penasaranmu ini !"

Hong Kun agak tertarik hatinya. "Benarkah itu, kakak ?" tanyanya. It Beng tertawa.

Hong Kun melengak sejenak, lekas-lekas ia mengiringi cawannya. Ia merasa sudah ketelepasan bicara. It Beng laki- laki sejati, tidak nanti dia mendusta, apapula terhadap ia sendiri.

It Beng mengawasi orang dengan tampang sungguh- sungguh.

"Kita bagaikan saudara kandung satu dengan lain, tak nanti bergurau denganmu, adik !" katanya kemudian. "Kau tahu, dalam perjalananku kali ini aku berhasil mendapatkan serupa ilmu untuk merubah wajah orang. Aku anggap ilmuku ini ada faedahnya untukmu adik !"

Hong Kun nampak girang.

"Coba kau jelaskan, kakak" pintanya. "Apakah faedahnya itu ?"

"Kau tahu saudaraku, kepandaianku ini jika kau gunakan, faedahnya itu merupakan sebuah batu mendapatkan dua ekor burung !" kata sang kakak angkat menjelaskan. "Percaya aku, faedahnya akan bukan main besarnya !" Lantas kakak angkat ini berbisik ditelinga adiknya itu. Hong Kun bertepuk-tepuk tangan.

"Bagus ! Bagus sekali !" dia berseru kegirangan. "Sungguh bagus akalmu ini, kakak. Hahaha !"

"Hanya adikku" berkata pula It Beng. "Jika kau hendak melakukan itu, kau harus dengan tekad bulat, dengan rada kejam ! Di sini bakal diadakannya pertemuan besar di gunung Tay San itu, kau membuat kacau dunia rimba persilatan, kaum sadar dan lurus setelah itu maka lantaslah Tio It Hiong, lawanmu dalam laut asmara itu, bakal menjadi manusia yang paling dibenci dan dikutuk laksaan orang selama ribuan tahun, dia bakal menjadi orang berdosa besar kaum rimba persilatan

! Inilah pasti akan lebih memuaskan daripada turun tangan sendiri menyingkirkan jiwanya. "

"Kakak" tanya Hong Kun setelah mengangguk-angguk. "Berapa lamakah waktu yang dibutuhkan olehmu guna kau membuat obatmu itu hingga dapat aku gunakan ?"

It Beng tertawa.

"Jangan tak sabaran, adikku !" katanya. "Kedua rupa bahan obatnya telah aku sedia dan membuatnya pun mudah sekali."

Hong Kun girang tetapi toh ia mengerenyitkan sepasang alisnya.

"Wajahku dapat aku rubah, tetapi bagaimana dengan pedangku ?" tanya perlahan. "Pedangku tak dapat disamakan pedang Keng Hong Kiam. " It Beng menghirup araknya, alisnya terbangun.

"Itupun mudah, saudaraku" katanya tertawa. "Dari daerah perbatasan, aku telah memperoleh pedang Kia Koat, dapat aku pinjamkan. Itu pedangmu. Pedang itu pedang tua dan tajamnya luar biasa, pasti dapat dibandingkan dengan Keng Hong Kiam. Melihat sinarnya saja orang sudah terkejut hingga aku percaya tak mudah orang mengenalinya."

It Beng mengeluarkan pedangnya itu dan menghunusnya.

Benar-benar cahaya berkilau menyilaukan mata. Setelah memasuki pedang kembali ke dalam sarungnya, ia serahkan itu pada kawannya sambil bertanya, "Nah, saudara, apa lagi yang kau kuatirkan ?"

Hong Kun menyambuti pedang, girangnya bukan buatan hingga ia menjura dalam pada kakak angkat itu sambil berkata

: "Kalau nanti aku berhasil melampiaskan penasaranku, itulah pemberian kau, kakak ! Aku tidak dapat mengucap terima kasih padamu, maka kau terima saja hormatku itu !"

It Beng tertawa, kedua tangannya dipakai mengasi tangan adik angkat itu.

"Kau sungkan, adik ! Sudah lama kita berpisah, mari kita minum dahulu hingga puas !"

Hong Kun menerima baik undangan itu, maka mereka mulai duduk pula, akan bersantap sambil minum sepuasnya. Dalam girangnya, pemuda she Gak itu sampai bicara seenaknya saja, hingga ia lupa bahwa mereka berada di tempat minum. Mereka tidak ingat bahwa tembok pun ada telinganya. Tiba-tiba sesosok tubuh langsing dan lincah berkelebat mengintai diluar jendela, dengan begitu dia dapat mendengar semua pembicaraan diantara kedua saudara angkat itu.

Setelah merasa sudah mendengar cukup, orang itu lantas mengangkat kaki !

Siapakah orang itu ? Baiklah kita meninggalkannya lebih dahulu, buat mendahului menengok kepada Whie Hoay Giok yang membawa pergi gurunya yang menjadi korban racun itu. Bersama atau dibawah perlindungannya Tan Hong berhasil, berhasil ia turun dari Ay Lao San. Rencana mereka adalah dari propinsi Ouwlam baru ke Holam, akan pergi ke kuil Siauw Lim Sie di gunung

Siong San, guna mencari Liauw In, kakak gurunya buat minta tolong agar gurunya diobati. Justru baru mereka tiba didekat perbatasan propinsi soecoan, mereka mendengar berita yang mengherankan dan mengejutkan mereka. Itulah kabar hebat sekali !

Bunyinya berita itulah begini :

Tio It Hiong, muridnya Tek Cio Siangjin sudah menyatroni gunung Bu Tong San. Di sana Tio It Hiong sudah menyerang dan membinasakan belasan murid Bu Tong pay serta membakar vihara Sam Goan Kiong, sedangkan di Ouwpak selatan, Tio It Hiong sudah membinasakan secara kejam empat orang Siauw Lim Pay !