Iblis Sungai Telaga Jilid 23

 
Jilid 23

Bertarung belum lama Hong Hui terperanjat sendirinya. Ia mendapat kenyataan lama-lama gerak gerik tangan kirinya tak cocok dengan gerakan tangan kanannya yang mencekal joanpian. Ia cerdik, hendak ia menggunakan akal. Hendak ia melayani tetap pada It Hiong dengan dilain pihak berniat melepaskan joanpian hanya bukan diledaki dengan begitu saja tetapi sambil dipakai menyerang secara menggelap kepada pihak musuh! Pada musush yang lagi menonton dipinggiran yang tak bersiap sedia!

Akan tetapi Tan Hong yang dijadikan sasaran adalah seorang yang berpengalaman ia jeli telinganya awas matanya ia lantas melihat ada bayangan melesat ke arahnya dengan cepat ia berkelit sambil membungkuk dalam sedangkan dengan tau ho pang ia menangkis katas. Maka itu joanpian lawan terhajar menggeletak ditanah!

Hong Hui menyesal akan kegagalannya itu, tetapi dia tak dapat berpikir lagi, dia mesti mengutamakan perlawanannya terhadap It Hiong. Dia melayani selama lima puluh jurus masih dia tak berdaya merobohkan lawan. Maka dia menjadi nekad. Diam diam dia mengerahkan tenaganya pada lengan kirinya setelah itu dia menyerang sehebat habatnya sambil menyerukan lawan : "Eh bocah kalau kau berani sambtlah tanganku ini !" Hanya lebih dahulu dia menyerang dengan tangan kanannya.

"Mari coba" menjawab It Hiong berani. Hong Hui girang. menyusuli tangan kanannya itu menyeranglah ia dengan tangan kirinya dengan dahsyatnya sebab ia telah menguras semua tenaganya.

Tak ampun lagi beradulah kedua belah tangan dengan benturan yang keras. Akibatnya itu yaitu Hong Hi terpental mundur sejauh tujuh tindak tubuhnya limbung turus roboh terkulai karena tubuhnya bagian dalam telah bergetar hebat.

It Hiong pun terpental tiga tindak tetapi dia segera berdiri tegak sambil meluruskan jalan darahnya menyalurkan pernapasannya.

Tan Hong terkejut dia segera lompat ke sisi si anak muda. "Adik, apakah kau mendapat luka didalam?" tanyanya

prihatin.

It Hiong membuka matanya yang tadi ia pejamkan Habis menyalurkan diri itu ia merasa kesehatannya tidak terganggu. Maka ia lantas tertawa.

"Tidak!" sahutnya perlahan.

Tepat itu waktu It Hiong melihat dan mendengan sesuatu dengan berbareng ia melihat bayangan orang berkelebat bersama berkelebatnya cahaya berkilau terus terdengar suara barang terasampok disusul jatuhnya golok ketanah. Lalu akhirnya tubuhnya Hoay Giok berlompat ke arahnya. Hoay Giok yang nafasnya tersengal-sengal.

Apakah yang telah terjadi?

Hoay Giok menonton pertempuran dengan asyik. selekasnya ia melihat Hong Hui roboh ia lompat kepada wanita itu goloknya diayun Ia hendak membunuh orang saking panasnya hatinya karena ia berniat hebat membalas dendam gurunya. Berbareng dengan dia berlompat juga Cian pwee Longkun SuToaw Kit Dia ini melihat istrinya roboh hendak ia menyelamatkan. Tapi dia berbareng melihat orang hendak membinasakan istrinya itu cepat luar biasa dia menangkis Hoay giok membuat golok terlepas jatuh dan orangnnya termasgul ke arah It Hiong.

Pemuda she Tio itu lantas melihat bagaimana SuToaw Kit tengah mencoba menolong Hong Hui dan Hoay Giok berdiri bernapas membara disisinya. Ia dapat mengerti duduknya kejadian.

"Kau kena terhajar musuh kakak?" Ia tanya.

"Tidak ada artinya!" sahut Hoay Giok sangat mendongkol. "Masih bagus nasibnya wanita siluman itu, sayang kepandaianku masih rendah hingga golokku kena dibikin orang terpental. "

"Malam ini mereka itu berdua harus dibereskan" berkata Tan Hong perlahan, habis dia melirik SuToaw Kit dan Lan Hong Hui " Demi keselamatannya paman Beng, tak dapat tidak kita harus berlaku keras, bukankah benar demikian adik Hong?

It Hiong berpikiran lain menjawab. "Asal mereka tahu diri dan rela mengundurkan dirinya tak usah kita ambil jiwanya."

"Tetapi adik!" kata Hoay Giok matanya mendelik "toh ada pepatah yang mengatakan bahwa siapa tidak berkeras hati dialah bukan laki laki sejati! Bermurah hati terhadap lawan berarti berlaku kejam terhadap diri sendiri Kau toh ketahui itu bukan?" Selagi It Hiong belum menjawab Tan Hong sudah pergi memungut goloknya Hoay Giok untuk diserahkan pada pemiliknya. Ia melihat dua orang itu lagi berdiri diam saling mengawasi. Lantas ia kata: "Kenapa kalian berdiam saja? Bukankah kita sedang menghadapi musuh musuh yang kejam?"

It Hiong mengangkat kepalanya memandang nona itu "Aku tengah memikirkan kata katanya kakak Hoay Giok

bagaikan emas hendak aku ukir itu di dalam hatiku supaya tak sampai dapat dilupakan!" Terus dia menjura pada si kakak dan kata: "Kakak Giok kata katamu menyadarkan aku membuatku dapat menghilangkan sifat lemah hati wanita dari dalam kalbuku! Kakak aku sangat kagum terhadapmu."

"Jangan berkata begini adik" kata Hoay Giok cepat. "kita bagaikan saudara kandung satu dengan yang lain jangan berlaku sungkan."

Tan Hong mengawasi orang yang ditanyai itu ia tertawa geli. Ia menganggap lagak orang jenaka.

It Hiong menoleh mengawasi si nona bersungguh sungguh. "Jangan tertawakan aku kakak!" katanya " Selanjutnya aku

akan bersikap menuruti kata kata emas dari kakak Hoay Giok

akan aku buang sifatku yang lemah itu"

Memang kekurangannya seseorang muda ialah terlalu keras otak terlalu lemah hingga ia tak dapat berlaku sama tengah mana itu jalan yang mudah dan sukar. Dikira mudah Tapi itu pula jalan yang sulit. Co Kiauw In yang luwes menghendaki si adik Hiong berlaku murah hati supaya dia bebas dari "kutukan" dimana yang bisa agar It Hiong dapat mengampuni orang. Karenanya si anak muda menjadi gagah tetapi lemah hati mudah merasa kasihan Sekarang ia justru mendengar kata kata gagah dari Whi Hoay Giok Kakak ini muda tetapi pengalamannya tidak banyak dia tahu segala apa.

Maka itu terbangunlah semangatnya. Ia memang membenci kejahatan maka sekarang ia menganggap si sesat tetap sesat dia berdoa atau tidak.

Sementara itu Lou Hong Hui telah sadarkan diri berkat bantuan suaminya. ia membuka matanya, ia mengeluarkan napas lega terus ia bangun berdiri.

Tatkala itu si petani malam sudah menunjuki saat kira jam tiga, langit bersih sekali hingga puncak dan rimba tampak jelas dan di depan mata sejauh tiga tombak atau lebih, orang bisa melihat segala apa dengan nyata. Demikian Hong Hui bisa melihat It Hiong bertiga sedang berkumpul bersama.

Mendadak munculk kegusarannya sambil berseru ia bergerak menghampiri si anak muda, musuhnya itu. Ia mau mencari balas Sutouw Kit menghadang istri itu.

"Lukamu masih belum sembuh" kata sang suami. "jangan kau turuti hawa amarahmu! Mana dapat kau berkelahi pula ? Itulah larangan kaum rimba persilatan! Sekarang kau duduklah beristirahat nanti aku sendiri yang membereskan mereka itu.

Berkata begitu suami ini merogoh sakunya mengeluarkan sebutir pil yang ia terus masuki kedalam mulut istrinya kemudian ia berkata di telinga istrinya itu: " Dari mereka bertiga rupanya si anak muda yang paling lihai. Bocah yang bersenjata golok itu biasa saja kepandaiannya akan tetapi mereka berdua nampaknya sangat erat hubungannya. Maka itu kalau kita bisa bekuk bocah itu kawan kawannya tentu akan tunduk dan menyerah atas kehendak kita!.”

Sebagai seorang Kang Ouw yang berpengalaman Sutaw Kit pandai melihat dan berikir maka juga ia dapat menerka tepat dan terus mendapat ide itu untuk membekuk dan menguasai Hoay Giok.

Hong Hui mengangguk membenarkan pendapat suaminya itu, Ia bernapas lega.

Segera Sutauw Kit berteriak ke arah It Hiong bertiga.

Kembali dia membawa tingkahnya seorang Cianpwe orang yang usianya lebih tua serta tingkatannya llebih tinggi. Dia berhenti sejenak satu tombak dari mereka itu terus ia mengelurkan suara lantang :"Eh bocah bau yang tahu langit tinggi dan bumi tebal! Losu! Bun sudah berlaku murah terhadap kamu kenapa kamu berani banyak tingkah di sini? kamu berani melukai Lou tongcu! Kamu bosan hidup disini ya?

Sepasang alisnya It Hiong bangkit matanya menyala. "Manusia yang tidak menepati janji!" bentaknya

"bagaimana berani kamu datang kemari untuk mencelakai pamanku? mari jika hendak belajar kenal dengan dengan seribu tanganmu! Mari kita lihat siapa sebenarnya yang sudah bosan hidup!"

"Anak muda ini menyebut "seribu tangan" sebab itulah artinya gelaran dari Sutauw Kit "Cian Pie Longkun" orang dengan seribu bahu" (cian pie) "Tutup bacotmu!" Sutauw Kit membentak Dia tampak tetap bengis. Lantas dia maju menyerang. Benar hebat tangannya itu, sebab tangan dua tetapi bergerak dalam banyak bayangan saking cepatnya.

It Hiong heran melihat gerakan tangan lawan itu, ia tidak takut sebaliknya ia menjadi mendongkol dan penasaran. Ia lantas menyambut selekasnya ia mengerahkan tenaga dalamnya, siap sedia untuk mengadu tangan itu dengan lain. Tangan kiri dipakai menjaga diri tangan kana dipakai menyerang dan pukulan pukulan tangan. Menaklukkan Naga menundukkan Harimau. dengan jurus "menyingkap Mega Mengambil Rembulan" Itulah siasat "Penyerang dia balas dengan menyerang".

Sutaw Kit heran hingga ia lantas lompat mundur. Belum pernah ia menemui lawan berani seperti pemuda ini. Kalau dia menyerang terus mungkin ia berhasil, tetapi pun sudah pasti ia sendiri bakal bahaya. Ia menganggap mundur dahulu paling selamat. Demikian dia mengalah.

It Hiong jemu dengan lagak orang. begitu berhasil merangsak ia meneruskan mendesak tiga kali ia menyerang terus menerus.

Sutauw Kit benar-benar lihai. Dapat dia mengelak. Segera dia membalas. Kali ini dengan "Poa Lui Ciang Hoat" pukulan- pukulan tangan kosong "guntur" Ia menyerang berulang ulang hingga tujuh puluh dua kali.

It Hiong terus menangkis atau berkelit dari semua hajaran itu Ia ditolong oleh Tou In Ciong, lompatan "Tangga Mega" ilmu ringan tubuh yang lihai sekali itu. Maka itu pertarungan jadi berjalan cepat dan seru sampai puluhan jurus mereka masih sama unggulnya. Sutauw Kit menjaga diri baik baik supaya tak kena terhajar Ia melihat bukti pada istrinya yang terluka demikian parah. Sebaliknya ingin sekalian berhasil menyerang mengenai sasarannya, guna membalas sakit hati istrinya itu. Dia mengharap harap supaya lawannya kehabisan tenaga.

Pengharapannya jago Losat Bun itu pengharapan yang beralasan. Lawan toh masih muda lawan selayaknya kalah ulet daripadanya. Dia sendiri termasuk jago tua dan tahu baik akan kekuatan dirinya. Tapi It Hiong dapat bertahan. Terpaksa ia mesti bertahan juga.

Semua penonton kagum, mereka tak dapat membedakan mana kawan dan mana lawan saking cepatnya dan orang itu berlompatan menyerang dan mengulat.

Selagi mendekati jurus yang keseratus Sutauw Kit merasa hatinya tak tenang. Inilah sebab ia mendapat kenyataan lawan muda itu tetap gesit dan tangguh. Ia sendiri sebaliknya merasa tenaganya mulai berkurang dan inilah berbahaya untuknya.

"Aku mesti mendahului dia!" demikian pikirnya. Lantas ia mengambil keputusan dan bertindak luar biasa bengisnya ia mendesak lawannya terpaksa It Hiong mesti mundur sampai dua tindak. Justru lawan ..... menyerangnya dengan jurus

dari poa jui Ciang yaitu "Sinar Kilat Api bara" hanya itu selekasnya dirubah menjadi cengkraman kepada bahu.

Hoay Giok kaget sekali ketika ia tengah kesengsem menyaksikan perlawanannya It Hiong yang sangat mengagumkan padanya ,.... (tidak terbaca).. SuToaw Kit tercekat dengan tangannya itu gagal dengan serangannya yang pertama ia menyusuli dengan yang lain tapi kali ini pasti gagal pula. Kali ini Tan Hong yang menggagalkannya. Nona itu menghajar tangannya dengan ruyung Ia menjadi terkejut berbareng penasaran. Lantas

ia menyambar yang sisinya buat. seru keras supaya

pemilik ruyung ........

Tan Hong berlaku waspada dan Cepat Ia menarik pula ruyungnya buat terus dipakai menyerang pula kepem...........

lawan. Tapi ia disambut lawan. Kali ini SuToaw Kit juga menyambut dengan dua dua tangannya inilah yang ia kehendaki ia memang mau mengguna tipu Bahkan sengaja ia melancarkan ruyung sedikit jauh supaya dapat tersentuh lawan itu. Dengan begitu Hoay Giok jadi mendapat ketika menjaga dirinya.

Hampir Cian Pie Longkun dapat mencekal ujung ruyung atau mendadak lawan mnyerangnya dengan keras sekali maka itu kedua tangannya tersentuh ujung ruyung itu Tapi yang mengagetkan ia adalah tangannya terasa kaku.

Akibat sentuhan itu Untuk menyelamatkan diri lantas ia menendang si nona.

Tan Hong justru mengeluarkan tenaga dalam Mo Teng Ka ketika tendangan mengancamnya terpaksa ia berkelit dengan lompat mundur sendiri dengan kaget menarik pulang ruyungnya menarik pulang sambil disontakkan ke arah lawan.

Seketika itu juga terjadilah dua hal hampir berbareng Sutaw Kit berdiri limbung hingga ia mundur dua tindak terus dia memuntahkan darah disebelah dia Hoay Giok pun mendadak roboh dengan sendirinya terus dia bergulingan ditambah dengan tangannya yang satu memegangi bahu tangannya yang lain hingga menyaksikan itu Tan Hong kaget sekali.

Itulah kejadian diluar dugaannya si nona Kiranya Loa Hong yang berduduk diam menyalurkan pernapasannya telah melihat jalannya pertempuran itu mengetahui suaminya berada dibawah angin Ketika itu pula Hoay Giok maju untuk membacok suaminya.

Untuk menolong suaminya itu tidak ada jalan lain lantas ia menjemput batu hancur dan memakai itu sebagai gantinya senjata rahasia menyerang si anak muda.

Dia berhasil sebab Hoay Giok terhajar lengan kanannya lengan itu patah dan goloknya jatuh ketanah terjatuh robohnya tubuhnya hingga ia bergulingan saking ngerinya.

It Hiong telah menyaksikan semua

Tak keburu ia menolong kakak seperguruanya itu ia pun menjadi sangat gusar Matanya hendak ia memburu si kakak untuk membantu atau mendadak ia memikir lain.

Ia sudah berlompatan ia merubah arahnya terus ia lompat kepada SuToaw Kit dan menghajarnya dengan satu hajaran yang keras dan mengenai punggung jago Losat Bun itu tanpa si jago sampai berdaya

Tan Hong melengak menyaksikan semua kejadian. Semua terjadi dengan sangat cepat.

Hong Hui lompat kepada suaminya untuk memayangnya buat mencoba membantu.

Suaminya itu terus muntah muntah darah. It Hiong sebaliknya lompat kepada Hoay Giok untuk mengasi dia bangun serta paling dahulu memberikan dia obat pemunah racun.

Jago wanita dari pulau ikan Lodan Hitam tidak melengak lama. Segera dia lompat kepada Loa Hong Hui dan menghajarnya dengan ruyungnya.

SuToaw Kit mendapat lihat datangnya serangan kepada istrinya. Dia sudah terluka parah akibat serangan satu jurus.

Dari Hang Liong Hok Kouw Ciang. Dia masih memuntahkan darah tetapi melihat istrinya itu terancam bahaya hendak dia menolongnya dengan sisa tenaganya Maka dia meronta lantas dia maju dengan dua duanya guna menangkis serangan dia pun sambil berseru "istriku lekas menyingkir! jangan kau hiraukan aku lagi...!"

Cuma begitu jago Lohat Bun ini mengeluarkan kata katanya segera dia roboh terkulai tanpa berkutik lagi karena tak dapat dia bertahan dari pukulan kematian dari Nona Tan. Dia lain pihak Hong Hui sudah lantas kabur menuruti anjuran suaminya Hanya sebentar saja ia telah menjauhkan diri empat tombak seraya terus menuju ke bawah gunung.

Tan Hong hendak mengejar musuh itu atau hendak ia membatalkan pikirannya itu, Ia sangat It Hiong lagi membantu Hoay Giok hingga kedua anak muda itu tak dapat di tinggal pergi dikuatirkan waktu muncul musuh atau musuh musuh yang mestinya berada disekitar tempat itu. Begitulah habis mengawasi tubuhnya Sutow Kit ia menghampiri It Hiong dan Hoay Giok. Selekasnya dia menelan obatnya si pendeta tua dari Bie Lek Sie. Hoay Giok merasa nyerinya berkurang. Obat itu dapat mengoobati luka luka dan racun. Ia tak lagi merintih dan mukanya pun berubah menjadi merah pula tak sepucat semula.

Lega hatinya It Hiong menyaksikan kemustajaban obat itu.

Ia sekarang memikirkan lengan yang patah dari kakak seperguruannya itu. Obat apakah harus dipakai tak usah lama ia berpikir lantas ia mendapat akal. Ia mengeluarkan pil yang lain ia mengunyah itu terus ia borehkan ditempat yang luka pada lengannya sang suheng. kemudian luka itu dibabat dengan robekan ujung sang baju. habis membalut luka ia meneruskan dengan mengempos tenaga dalamnya ketubuh Hoay Giok guna menyalurkan darahnya dengan baik supaya daging dan tulang berambung pula dengan tepat seperti sedia kala.

Ketika Tan Hong datang menghampiri kedua anak muda itu lagi sama sama berdiam Hioay Giok tengah bersemadhi meneriam bantuan ternaga dalam It Hiong lagi mengemposkan tenaga dalamnya itu. Ia berdiam saja disisi mereka itu mengawasi sambil berjaga jaga kuatir musuh datang membokong.

Sang waktu terus berjalan tak hentinya. Fajar tiba sudah Cahaya terang mulai tampak diufuk timur terus keseluruh jagad Di atas pohon burung burung mulai bercowetan.

Hoay Giok menghela napas terus membuka matanya terus ia berbangkit bangun berdiri. Dengan perlahan sekali ia mencoba menggerakan tangan kanannya yang terluka.

Ia tidak merasa nyeri. Ia mencoba menggerakkan lebih jauh dengan pelbagai gerakan ke kiri dan kanan, ke atas dan bawah. Untuk girangnya ia merasai tangannya itu bergerak bebas seperti biasa. Maka bukan main girangnya.

"Sute !" katanya. "Darimana kau mendapatkan obat yang mujarab sekali ini ? Sute, lukaku telah sembuh !"

It Hiong tidak lantas menjawab kakak seperguruan itu. Ia justru berdiam sebagai orang lagi bersemadhi. Inilah karena ia perlu beristirahat habis ia mengemboskan terlalu banyak tenaga dalamnya yang membuatnya letih.

Adalah Tan Hong yang tertawa dan berkata : "Syukur kau telah sembuh kakak Whie. Kau bukan ditolong oleh obat melulu tetapi juga karena bantuan tenaga dalam adik Hiong ! Kalau tidak, kesembuhanmu tak secepat ini !"

Hoay Giok mengawasi It Hiong yang duduk bersila sambil memejamkan mata dan tubuhnya tak berkutik. Ia menghela napas dan berkata : "Sungguh baik hatinya Tio sute. Aku bersyukur bukan main !"

Tan Hong bersenyum.

Selagi sang waktu terus berjalan merayap, kesunyian terus menguasai tanah pegunungan itu. Tan Hong bertiga merasa aman. Tak pernah datang pula musuh. Mungkin Kiam Lam It Tok repot membantu kedua muridnya dan Losat Bun tengah menantikan si jago muda yang diharuskan datang pula guna menjalankan syarat atau aturan partainya itu.........

Selekasnya It Hiong pulih seperti biasa, tanpa banyak omong lagi ia mengajak kedua kawannya mencari lobang gua. Mereka hendak lekas menolong Beng Kee Eng. Sekarang tak ada lagi rintangan. Mereka mengingat-ingat dari mana datangnya bokongan tadi. Mereka pun melihat dari mana Kim Lam It Tok muncul dan kemana ia pergi.

Tidak terlalu lama mereka menggunakan waktunya. Sarang Ular itu lantas dapat ditemukan. Letaknya tak seberapa jauh dari mulut sumber air. Mulut gua itu teraling rapat oleh akar rotan, pantas sukar dicarinya.

It Hiong menghunus Keng Hong Kiam. Dengan itu membabati sekalian akar yang merintanginya. Setelah itu dengan berani ia memasuki lobang itu. Tan Hong dan Hoay Giok ia ajak bersama. Lobang itu berupa seperti terowongan. Di langitnya terdapat stalaktit. Dari situ menetes terus air seperti butiran-butiran air es. Karenanya, tanahnya lembab. Sejauh lima tombak di sebelah depan tampak sinar terang dari sebuah lentera yang digantung di dinding. Cahaya itu hanya cukup buat orang mengenali jalanan.

Ketiganya maju dengan perlahan, senjatanya masing- masing siap sedia. Selewatnya belasan tombak, mereka melihat makhluk bergerak-gerak di tanah.

"Ular !" seru It Hiong yang berjalan di muka. Tangannya dipakai mencegah kedua kawannya maju lebih jauh.

Tan Hong dan Hoay Giok berhenti. Mata mereka mengawasi kepada makhluk itu.

Di sana ada sekumpulan ular besar dan kecil, ada yang kuning, hijau dan merah dan belang juga. Selainnya yang bergerak-gerak, ada yang mengangkat kepalanya dan mengulur memain lidahnya, sedangkan semua matanya bercahaya bengis. Risau rasanya mengawasi sekalian binatang dengan sikapnya yang mengancam itu........ "Sekarang bagaimana, adik Hiong ?" tanya Tan Hong. Ia gagah tetapi ia jeri terhadap binatang merayap itu. Dia tak bebas seluruhnya dari tabiat wanita, takut akan ular. "Hebat sarangnya Kiu Lam It Tok ! Ular melulu !"

Tanpa malu-malu si nona merapatka tubuhnya pada It Hiong dan menyendernya.

It Hiong bersikap tenang. Setelah mengawasi sekian lama, tangannya merogoh sakunya mengeluarkan peles obatnya. Ia mengulapkan itu di muka si nona.

"Buat apa takut, kakak ?" katanya. "Kita toh mempunyai obat dari pendeta tua dari Bie Lek Sie itu. Mana dapat ular beracun ini mencelakai kita ? Sia-sia saja segala akalnya Kiu Lam It Tok terhadap kita !"

Lantas si anak muda membuka tutup peles dan mengambil isinya. Ia memberikan tiga butir masing-masing pada si nona dan Hoay Giok. Ia sendiri mengambil tiga butir pula untuk bersama-sama memakannya.

Hoay Giok pernah merasai pagutan ular beracun. Walaupun ia telah menelan obat, hatinya masih cemas. Ia berjalan dengan berhati-hati sekali. Matanya dipasang tajam-tajam.

"Ular memenuhi jalanan, mana dapat sekali gua semuanya dibinasakan. " kata ia bersangsi. "Biar bagaimana kita sukar

luput dari pagutan satu diantaranya. Biarnya kita sudah

makan obat, kita toh harus waspada. Sute, aku pikir

harus kita mencari jalan paling mudah untuk melewatinya. " Perlahan-lahan Tan Hong mendapat pulang ketabahan hatinya. Ia berpikir selekasnya ia mendengar kata-katanya Hoay Giok.

"Kakak Whie, kenapakah kita tidak mau menggunakan api

?" katanya kemudian. "Bukankah ular dan binatang buas lainnya takut api ?"

"Benar, benar !" menjawab Hoay Giok girang hingga ia menepuk-nepuk tangan. "Sungguh kau cerdik Nona Tan !"

It Hiong berdiam, ia menggeleng kepala, alisnya dikerutkan.

"Kau takuti apa, sute ?" tanya Hoay Giok heran.

"Api dan asap dapat mengusir ular." sahut si anak muda. "Tetapi asap pun dapat membuat Paman Beng sukar bernafas hingga ia terancam bahaya lain. "

"Tapi kita harus dapat mengira-ngira menggunakannya." kata Tan Hong bersenyum. "Bagaimana kalau kita membuat sejumlah obor dari kayu atau cabang-cabang kering. Kita sulut dan ombang-ambingkan itu sembari kita berjalan maju ? Aku bukan maksudkan kita membakar habis semua ular ini. "

Selagi bicara itu, Nona Tan tampak gembira sekali.

It Hiong memandang nona itu, lalu ia tunduk dan berkata dengan perlahan : "Kembali seorang Kakak Cio Kiauw In. "

Manis Tan Hong merasa mendengar pujian itu. Ia disamakan dengan Kiauw In, si cantik, sabar dan cerdas. "Ah, adik. Kau lagi mempermainkan aku !" katanya bersenyum. "Mana dapat aku dipadu dengan Kakak Kiauw In mu itu ?"

It Hiong berdiam. Kata-katanya nona itu bercabang dua. "Mari kita bekerja seperti katanya Nona Tan !" Hoay Giok

menyela.

Dan dia lantas memutar tubuh, buat lari balik untuk keluar dari mulut gua.

Tan Hong menyusul, disusul juga oleh It Hiong.

Di lain detik, ketiga orang itu sudah kembali ke dalam terowongan. Masing-masing mencekal beberapa ikat bahan api. Mereka menyalakan api dan menyulut obor istimewa itu hingga terowongan terang dengan cahaya apinya. It Hiong dan Tan Hong berjalan maju berendeng, obor di tangannya senantiasa di goyang-goyang ke kiri dan ke kanan.

Hoay Giok berjalan di belakang, membawa cekalan obor lainnya untuk menggantikan setiap obor yang sudah padam. Cara itu memberi hasil. Melihat api dan mencium bau asap, semua ular lantas bergerak. Semua berebut lari ke sebelah dalam terowongan. Mereka itu ketakutan dan berlomba keluar. Dengan ular itu berebutan lari, It Hiong dapat maju dengan terlebih cepat.

Terowongan mungkin panjang tiga puluh tombak. Habis itu terlihat gua merupakan ruang, ada pembaringan, kursi dan mejanya. Semua terbuat dari adukan batu hancur. Hanya ruang ini kosong, tidak ada penghuninya. Sampai disitu, entah semua ular menghilang kemana....... "Suhu ! Suhu !" Hoay Giok memanggil-manggil.

Tidak ada jawaban, cuma terdengar kumandang yang keras. It Hiong dan Tan Hong mencoba turut memanggil- manggil tetapi cuma kumandang menjadi jawabannya. Setelah itu mereka berdiam, mata mereka dipasang ke seluruh ruang. Mereka mengharapi melihat sesuatu.....

Tiba-tiba dari satu pojok, dimana tampak rebung batu terdengar suatu suara perlahan.

"Ah !" seru Tan Hong tertahan, lalu terus ia menarik ujung bajunya It Hiong. Anak muda itu memasang mata.

Tan Hong bukan cuma menarik. Ia juga bertindak. Maka bersama-sama berdua mereka pergi ke pojok itu. Kiranya di belakang rebung batu itu terdapat sebuah ruang kecil yang penuh terhamparkan rumput kering. Di situ terdapat sesosok tubuh orang yang rebah tak berdaya. Melihat orang itu, It Hiong berlompat maju lantas ia mengangkat dan memondongnya, dibawa ke dalam ruang buat diletaki dengan hati-hati diatas pembaringan batu.

Orang itu ialah Beng Kee Eng, paman atau guru mereka.

Dia membuka matanya yang lemah, mukanya pucat pasi dengan mata yang guram itu dia mengawasi tiga orang yang berdiri terpaku di hadapannya. Inilah sebab tegangnya hati mereka itu.

Akhirnya It Hiong mencekal lengan sang paman, air matanya turun meleleh.

"Paman !" panggilnya. "Paman !" Bee Kee Eng berdiam saja. Ia mendengar seperti tak mendengar, melihat seperti tak melihat. Ia tetap hanya mendelong ! Hoay Giok berlutut di depan gurunya itu. Air matanya bercucuran.

"Suhu !" panggilnya. "Suhu, kau kenapa ? Kenapa suhu berdiam saja ? Apakah suhu tidak mengenali kami ?"

Murid itu lantas menangis dan It Hiong turut terus mengucurkan air matanya. Di dalam keadaan seperti itu, mereka bingung hingga seperti tak dapat berpikir dengan tenang. Keadaan Beng Kee Eng sungguh mengharukan, pantas membuat orang tak berdaya. Tan Hong tidak kenal Beng Kee Eng, ia tak bersitegang hati seperti kedua anak muda itu. Mau juga pikirannya tetap tenang. Ia cuma terharu dan merasa berkasihan. Ia tidak bingung. Ia dapat berpikir.

Melihat keadaannya pemuda yang seperti lumpuh itu, Tan Hong berlaku mantap dan cepat. Paling dahulu ia menotok kedua pemuda itu pada masing-masing jalan darah hek tiam. Inilah guna menenangkan mereka itu supaya kesadaran mereka mudah pulih. Hendak ia mengambil hatinya It Hiong dengan melakukan sesuatu. Setelah menotok kedua anak muda itu, lantas Tan Hong mengawasi Beng Kee Eng.

Bagaikan mayat, Beng Kee Eng rebah tak bergeming. Dia tak dapat bicara. Melihat keadaannya mungkin itulah akibat totokan lawan pada jalan darahnya. Karena itu Nona Tan lantas memperhatikan seluaruh tubuh orang guna mencari kebenaran dari dugaannya itu.

Tak sulit akan mendapat kenyataan kecuali telah ditotok kedua jalan darah hun hiat dan ahiat yang menyebabkan orang tak sadar dan gagu, Beng Kee Eng pun ditotok jalan darah sinToan di punggung, jalan darah hoktouw di belakang pinggang juga jalan darah siang kiok di perut. Di semua tempat tertotok itu terdapat tetesan darah.

Menyaksikan itu, Tan Hong sebal benar terhadap Kiu Lam It Tok. Ia menganggap jago racun itu kejam sekali. Tapi ia harus bekerja. Maka ia mengumpul tenaga dalamnya pada tangannya, terus ia menepuk hun hiat dan hiat. Untuk tiga jalan darah lainnya yang mengeluarkan darah ia menunda sebab ia tidak mengerti dan kuatir nanti mencelakai jago itu.

Lewat sesaat, sadar sudah Beng Kee Eng. Hanya belum dapat dia menggerakkan tubuhnya. Maka itu ia cuma bisa mendelong mengawasi si nona yang dia tak kenal itu. Ia merasa aneh.

"Locianpwe." Tan Hong lantas menyapa. "Kenalkah locianpwe akan dua orang itu ?" Ia terus menunjuk kepada It Hiong dan Hoay Giok yang lagi rebah di pembaringan batu itu.

Beng Kee Eng menoleh. Maka ia melihat keponakan dan muridnya yang terasayang lagi tidur nyenyak. Ia memperlihatkan rupa tak mengerti atau kaget, terus saja dia menghela napas dan mengeluh. "Habislah. " Tapi sedetik

kemudian, mendadak tampangnya menjadi bengis. "Siapakah kau ?" ia tegur Tan Hong, gusar.

Tan Hong girang mendapat jago itu sudah sadar benar.

Maka tanpa mau melayani teguran orang, justru pergi menepuk-nepuk dahulu jalan darah It Hiong dan Hoay Giok membuat kedua anak muda itu lantas mendusin setelah mana ia menyesalkan si pemuda she Tio dengan mengatakan : "Adik Hiong, mengapa nyalimu lemah tidak karuan ? Paling penting ialah menolong dahulu Paman Beng !" It Hiong dapat dikasihh mengerti. Segera ia menahan sedih hatinya. Ia berlompat bangun sambil memanggil keras : "Paman !" Terus ia lari kepada paman itu memelukinya.

Beng Kee Eng heran dan girang sampai ia mengeluarkan air mata.

"Aku tidak sangka bahwa aku masih dapat menemui kalian, anak-anak. " katanya terisak-isak.

"Adik Hiong, jangan bicara saja !" Tan Hong menyela. "Telah aku periksa tiga buah jalan darah penting dari Paman Beng telah kena terpagut ular beracun. Maka itu paling perlu ialah kau mengobatinya dulu."

Beng Kee Eng mendengar itu, dia menarik napas dalam- dalam. Lantas dia kata lemah : "Ketiga luka jalan darah itu bukan karena totokan atau pagutan ular, hanya disebabkan tusukan jarum emas yang ada racunnya. Sudah lama aku ditusuknya dan racun sudah bekerja lama menyelusup ke nadi maka juga walaupun ada obat mujarab mungkin waktunya sudah terlambat. "

"Jangan kuatir suhu." berkata Hoay Giok. Ia pun menghampiri gurunya itu. "Orang baik diberkahi Tuhan Yang Maha Kuasa. Adik Hiong mempunyai obat pemunah racun yang sangat mujarab. Walaupun racun ular jahat sekali, obat masih dapat memunahkannya."

Bagaikan baru terasadar It Hiong segera merogoh ke dalam saku bajunya. Ia mengeluarkan peles obatnya dan mengambil enam butir diantara obat itu dan dengan lantas ia memasuki obat ke dalam mulut pamannya untuk dikunyah dan ditelan sedangkan tiga butir lainnya dihancurkan dengan air untuk dipakai memborehkan luka pada tiga jalan darah yang membahayakan itu.

"Sabar Paman. Segera paman akan sembuh." ia menghibur pamannya itu yang ia minta berdiam jangan bergerak guna mengasi ketika obat berjalan dan bergerak.

Kee Eng menurut. Ia rebah dengan berdiam saja. Selang satu jam ia bergerak karena mual. Ia muntah-muntah mengeluarkan bau yang amis sekali. Bukan cuma itu saja, juga ditempat yang luka lantas muncul kepalanya tiga batang jarum ! It Hiong bertiga kaget berbareng girang. Hebat obatnya si pendeta tua.

Tanpa ayal lagi pemuda she Tio itu menggunakan dua jari tangannya akan menjepit dan mencabut ketiga jarum itu satu demi satu, setelah mana lubang-lubang luka mengeluarkan darah hitam. Jarum-jarum itu sendiri yang panjang tiga dim bersinar kuning emas kebiru-biruan.

Kee Eng menarik napas dalam-dalam. Masih ia nampak lesu. Masih dia berduka. Kata dia perlahan : "Semua jarum telah keluar dan rasa nyerinya telah lenyap tetapi aku masih sangat lemah, tenagaku tidak pulih. Tak dapat aku menggunakannya. Nampaknya  usaha  kalian  sia-sia belaka. "

"Janganlah berkecil hati, locianpwe." Tan Hong menghibur. "Jika benar-benar kami tidak berhasil menolong locianpwe, akan kita bawa locianpwe turun dari gunung Ay Lao San ini guna mencari tabib yang pandai guna menolong terlebih jauh

! Sekarang locianpwe sabar saja dan beristirahatlah dengan tenang !" Beng Kee Eng dapat dibujuki. It Hiong dan Hoay GIok pun membantunya.

Malam itu dilewatkan mereka berempat di dalam sarang ular itu. Selama menantikan sang waktu, Kee Eng dibantu dengan pengurutan seluruh tubuhnya. Hanya kali ini obat belum juga bekerja. Sampai pagi, jago tua ini belum dapat pulang tenaganya, tak dapat ia bangun sendiri.........

It Hiong semua bingung. Mereka berpikir keras sampai mereka ingat kepada Kiu Lam It Tok. Bahwa mereka harus mencoba mencari jago Kwieciu Selatan itu buat mendapatkan pertolongan-nya walaupun secara paksa. Ada pepatah yang berkata : "Buat membebaskan orang dari ikatan mesti dipakai tenaganya orang yang mengikatnya”

"Beng Locianpwe." Tan Hong lantas tanya Kee Eng. "Tahukah locianpwe dimana Sia Hong menyembunyikan dirinya ?"

"Malam itu sepulangnya Sia Hong, dia repot mengobati kedua muridnya." Kee Eng memberikan keterangan. "Habis itu dia menotok dan menjarumi aku hingga aku tidak tahu apa- apa lagi. "

Benar-benar sulit.

It Hiong bertiga menggeledah seluruh ruang itu untuk mencari obat selama satu jam sia-sia saja. Mereka tidak mendapatkan sesuatu tetapi pemuda she Tio itu penasaran, dia mencari terus. Ia mengikuti setiap dinding. Akhirnya dia menemukan sebuah lubang yang tertutup tapi didalam situ tersembunyi sebuah kotak kecil terbuat dari kayu yang atasnya berukiran tiga buah huruf, bunyinya "Kay Tok Tan" artinya pil pemunah racun. "Aku berhasil !" ia berseru dalam girangnya. Lantas ia membuka tutup kotak atau segera ia berdiri menjublak saja !

Kotak itu kosong melompong ! Ada juga segumpal kertas kecil yang bertuliskan : "Racun ular pada tubuhnya si orang she Beng dapat menyambung jiwanya sampai tiga bulan.

Sampai di Rapat di gunung Tay San. Jika kalian benar mempunyai kepandaian, obat pemunahnya akan didapatkan. Sia Hong."

Hoay Giok menggertak gigi saking mendongkol. Lantas ia mencaci maki Kiu Lam It Tok yang dikatakan kejam dan licik. Tak ada perasaannya sebagai orang Kang Ouw sejati !

"Si bajingan tukang main racun sudah kabur, percuma kita mencaCinya." berkata Tan Hong. "Sekarang ini paling perlu kita melindungi Beng Locianpwe berlalu dari gunung ini."

Itulah benar. It Hiong dan Hoay Giok pun dapat menyabari diri.

"Kakak benar." kata It Hiong. "Kita terusl menuruti saja suara hati kita hingga kita melupakan tugas kita."

"Si bajingan berkata kita masih mempunyai waktu tiga bulan. Mungkin dia dapat dipercaya." kata Tan Hong pula. "Syukur, waktu itu cukup lama. Maka yang penting sekarang ialah kita harus menghadapi pihak Losat Bun. Setelah berhasil meninggalkan gunung ini, selanjutnya pasti locianpwe akan dapat ditolongi ! Nah, mari kita bekerja !"

Hoay Giok dan It Hiong setuju. Hoay Giok segera menghampiri gurunya. Ia membuka ikat pinggangnya guna memakai itu melibat tubuh sang guru yang ia angkat dan gendong. Ia minta sang guru suka bersabar dan bertahan.

"Mari !" kata anak muda ini selesai berdandan. Goloknya ia cekal di tangan kanan.

Tan Hong dan It Hiong mengikuti, tetapi It Hiong sambil berkata : "Kakak Whie, kau jalan di muka. Aku telah berunding dengan kakak Tan, ia akan ikut kau buat melindungi kalian.

Aku sendiri akan jalan di belakang buat menjaga kalau-kalau musuh datang mengejar. Apa juga terjadi atas diriku, kau jangan pedulikan. Kalian lari terus asal paman selamat !"

Itulah kata-kata mirip pesan terakhir. Hoay Giok mengerti.

"Dimana nanti kita bertemu ?" tanyanya.

"Aku pikir tempat itu ialah Siauw Lim Sie di Siong San." sahut It Hiong. "Di manapun ada ayah angkatku, itulah tempat yang aman ! Nah, sampai kita berjumpa pula di gunung itu !"

"Tetapi aku. " tiba-tiba Tan Hong berkata, suaranya

tertunda.

"Memang kakak tidak dapat pergi ke Siauw Lim Sie." berkata It Hiong. "Baik kakak mengantar paman sampai di tempat yang aman. Selanjutnya terserah kepada kakak sendiri

! Kakak telah banyak melepas budi padaku. Aku, Tio It Hiong akan aku ingat itu untuk membalasnya !"

Bukan main berdukanya Tan Hong. Ia mesti berpisah dari adik itu sedang sampai sebegitu jauh mereka bertiga telah seperti sehidup semati. Tapi ia tahu suasana. Itulah perpisahan yang sukar dihindari. Dengan lesu, bahkan sedih ia berkata : "Adik, kau memandang aku sebagai orang luar.

Dengan perpisahan ini, sampai kapan kita akan jumpa pula. Entah aku masih mempunyai untung baik menemukan kau pula atau tidak."

It Hiong melengak. Ia terharu. Hanya sekejap, terbangun pula semangatnya. Lantas ia berkata sungguh-sungguh. "Kakak, kau telah pertaruhkan jiwa ragamu membantu kami mencari dan membantu Paman Beng, budimu yang sangat besar itu tak nanti aku lupakan. Hanya sekarang, suasana memaksa kita berpisah ! Kakak, biar kita berpisah buat sementara waktu saja ! Jangan kakak bersusah hati !

Bukankah bakal lekas tiba saatnya Rapat Besar di gunung Tay San ? Nah, waktu rapat itu ialah waktu pertemuan kita pula. Bukankah itu bagus ?"

Tan Hong diingatkan akan rapat besar itu Tay San Tay Hwe. Ia nampak girang.

"Bukankah rapat itu bakal diadakan nanti bulan delapan tanggal lima belas ?" kata ia bertanya.

"Benar, kakak !" sahut It Hiong. "Sekarang sudah bulan enam tanggal pertengahan, maka ini waktu perpisahannya tidak lama lagi !"

Hoay Giok mendengari pembicaraan itu.

"Mari !" ia mengajak, sebab pembicaraan pun telah selesai.

Maka berlalulah mereka dengan cepat, meninggalkan sarangnya Sia Hong itu. "Hoay Giok," kata Kee Eng selagi mereka menuju ke mulut gua. "Di dasar terowongan ini ada jalan rahasia, jadi tak usah kalian ambil jalan mulut gua yang sukar itu. Mari aku tunjuki jalannya."

Itulah bagus. Maka orang menuruti kata-kata orang tua itu. Lantas mereka mengubah tujuan ke dasar gua. Jalanan gelap dan berliku-liku, sempit dan sulit sekali.

Tan Hong cerdik. Untuk mengatasi jalan yang gelap, ia mengambil sebuah lentera dari dalam raung hingga selanjutnya mereka memakai penerangan yang membuat mereka dapat berjalan jauh terlebih cepat.

Lewat satu jam mereka lantas melihat cahaya matahari. Bukan main leganya hati mereka. Telah mereka keluar dari sarang ular. Matahari sudah berpindah ke barat. Ketika itu kira-kira jam tiga atau empat lohor.

It Hiong memandang ke sekitarnya akan melihat arah buat mencari jalan meninggalkan gunung itu. Ia lantas menuju ke arah kiri, Hoay Giok dan Tan Hong mengikutinya. Terpaksa ia yang mesti membuka jalan. Waktu mereka sampai di tempat tadi malam mereka menempur Cian Piu Longkau Sutouw Kit, mayatnya tongcu dari Losan Bun itu sudah tidak ada, tinggal darahnya saja di atas rumput.

"Ah..." ia menghela napas. Terus ia bersiul buat melegakan hatinya.

Baru berhenti siulannya anak muda ini atau dari suatu pojok gunung, mereka melihat munculnya serombongan orang, ialah serombongan orang berseragam topi dan pakaiannya berkembang yang semuanya membekal golok. Cepat sekali mereka itu sudah memegat jalan. "Kakak Hoay Giok !" berkata It Hiong. "Kakak Hong ! Kalian teruslah tetapi kalian harus berhati-hati !"

Lantas anak muda ini dengan pedang terhunus berlompat maju ke depan guna menghampiri orang Losat Bun itu, mau membuka jalan supaya kedua kawannya dapat menerobos rombongan penghadang itu guna pergi meloloskan diri. Ia pula tahu karena lawan berjumlah besar, ia memerlukan pertempuran dengan waktu singkat dan demi itu, mesti bersikap telengas.

Kawanan Losat Bun itu berjumlah kira-kira tiga puluh orang, mereka berbekal golok dan juga pedang. Yang menjadi kepala tiga orang, berada paling muka. Yang satu ialah Lou Hong Hui. Dari dua yang lain, merekalah seorang touwlo atau rahib dan seorang tua. Si rahib yang kepala dan rambutnya dilibat gelang emas bermata gede dan beralis gemplok, daging di mukanya pada menonjol dan senjatanya ialah sebatang tongkat kuningan. Dan si orang tua yang berkulit mukanya gelap memiliki mata tikus yang bersinar tajam dan di punggungnya tergemblok senjatanya, golok sepasang. Kiranya mereka itulah murid-murid murtad dari Siauw Lim Sie : Tiat Lo han Loe Liong dan Co siang Hui Kan Tie Uh.

Sebenarnya mereka itu berdua lagi melakukan perjalanan mencari kawan guna menghadiri Tay Sam Tay Hwea. Mereka main hasut sana dan hasut sini. Kebetulan mereka tiba di Ay Lao San. Mereka menemui anaknya Sutauw Kit terbinasakan. Lantas mereka menyatakan suka memberi bantuan buat membalaskan kepada musuh terus mereka menemani Lou Hong Hui. Lebih dahulu daripada itu, mata-mata Losat Bun telah mencari tahu tentang rombongannya It Hiong itu. Maka mudah saja mereka ini dipegat.

Karena kedua belah pihak sudah menjadi musuh yang saling mengenal dengan yang lain, pertempuran segera dimulai. Dimulai oleh Hong Hui yang memberi isyarat lirikan mata kepada kedua kawannya hingga kedua kawan itu maju dengan segera, menyerang kepada It Hiong.

It Hiong membentak : "Bagus kamu bertiga maju berbareng !" Terus ia menggerakkan pedangnya dan menyambut serangan. Lantas ia menggunakan Khie bun Patkwa Kiam. Hanya kali ini ia bergerak ketiga arah sebab musuhnya tiga orang !

Kee Liong sangat mengandalkan tenaga dalamnya yang istimewa dan juga senjatanya yang berat. Dengan berani dia menyambut It Hiong. Niatnya buat menyampok terpental pedangnya pemuda itu.

Selekasnya kedua senjata beradu, percikan apinya bermuncratan. Suaranya terdengar nyaring, lantas si rahib menjadi sangat kaget. Gagal senjatanya yang dia buat andalan itu bahkan tangannya yang kanan bergemetaran hingga hilang tenaganya. Terpaksa dia mundur satu tindak.

Justru itu Kan Tie Uh berlaku licik. Dia justru menyerukan mereka itu : "Saudara-saudara ! Kalian lihat bocah itu ! Aku si tua hendak membereskan kawan-kawannya !" Terus dia berlompat untuk Hoay Giok yang menggendong gurunya, bahkan dia segera menyerang dengan bacokan yang hebat.

Sama-sama dari pihak Siauw Lim Sie, Hoay Giok kenal ilmu silatnya rahib itu. Yang sulit untuknya ialah ia lagi menggendong gurunya hingga ia tak bebas menggunakan goloknya. Tapi ia tidak putus asa. Ia tahu bagaimana harus mengendalikan diri. Maka dia menjauhkan dirinya secara lincah.

Kan Tie Uh penasaran. Dia mendesak terus. Sebentar saja dia sudah membacok lima kali saling susul. Sampai di situ dia barulah dihadang Tan Hong. Nona ini menghadang sambil terus menusuk matanya dengan sanhopang. Dia terkejut. Dia berkelit. Karenanya bebaslah Hoay GIok.

Kan Tie Uh berkelit dengan jurus silat "Jembatan Papan Besi", hampir pipinya tersentuh ruyung. Tetapi toh ia merasai giris. Ia menjadi kaget berbareng gusar. Karena ia kenal si nona, ia lantas saja mendamprat : "Hai budak bau dari Hek Keng To ! Kau hendak mencari laki ?

Muka Tan Hong menjadi merah. Ia dikatakan mencari laki !

Maka terbangunlah sepasang alisnya terus dia membentak : "Siapakah yang menentang partai ? Kau toh tahu sendiri bukan ? Bagus kau mempunyai muka akan menegur lain orang ! Kau lihat senjataku !"

Nona ini tidak takut. Ia maju sambil menikam.

Kan Tie Uh memuat perlawanan. Dia menggunakan jurus silat Lohan To, Golok Arhat yang dia robah menjadi ilmu golok kaun Bwe Hoa Hun. Dia pula berlaku bengis. Dia sangat membenci si nona dan berniat merampas jiwanya. Sesudah si nona binasa, pikirannya mudah saja dia nanti merobohkan Hoay Giok dan membekuk Beng Kee Eng.

Walaupun ia berani, Tan Hong tidak mau melawan keras dengan keras. Ia insyaf bahwa ia kalah tenaga. Maka sebaliknya ia melawan keras dengan kelunakan. Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga lunak dari Mo Teng Ka, ilmunya dari pihak Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam. Dengan kelincahannya, ia seperti bersilat berputaran di sekitar lawan ganas itu.

Tengah mereka berdua bertempur itu, mendadak mereka dikejutkan satu jeritan yang menyayatkan hati. Tanpa merasa keduanya berhenti berkelahi hampir berbareng. Mereka berpaling ke arah dari mana jeritan itu datang.

Di sana tampak Kee Liong rebah mandi darah. Darah masih menyembur keluar dari dadanya yang terkena padang Keng Hong Kiam dari It Hiong. Sebab si anak muda tidak suka memberi hati padanya dan merobohkannya dengan cepat.

Bahkan It Hiong berhasil juga membekuk Lou Hong Hui, tangan siapa dicekal erat-erat hingga nyonya itu berdiam sambil mukanya meringis menahan nyeri cekalan itu ! Dia pun bermandikan peluh pada mukanya.

It Hiong menjadi sengit. Biar bagaimana ia mesti menolong menyelamatkan pamannya. Maka itu ia tahu yang ia mesti berkelahi cepat. Itu artinya ia mesti bersikap keras. Karena ini dengan lantas ia menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega yang sangat diandali itu. Dengan begitu, ia bisa bergerak dengan sangat gesit. Dengan begitu juga berhasil mendesak lawan-lawannya. Dia selalu menggunakan tangan kirinya akan menyerang dengan jurus-jurus Hong Liong Hok Houw Ciang dari ayah angkatnya.

Kee Liong lihai, selain bekas orang partai Siauw Lim Pay, ia pula ketua Tay Sora Ban dan latihannya latihan dari beberapa puluh tahun. Dia termasuk orang kelas satu. Di lain pihak, dia dibantu Lou Hong Hui, wanita kaum Kang Ouw ilmu silat tangan kosong Im Yang Ciang, dia jadi berbesar hati. Hanya sayang dia justru menghadapi muridnya Tek Cio Siangjin atau anak pungutnya In Gwa Sian. Dia seperti bertemu binatang pawangnya. Di lain pihak lagi It Hiong pula tak sudi membuang-buang waktu yang berharga.

Begitulah kapan telah tiba saatnya senjata mereka beradu setelah mereka bertempur lima puluh jurus lebih, It Hiong menggunakan siasat membalas penyerangan dengan penyerangan. Dengan keras ia menyampok tongkat lawan hingga tongkat terpental, lantas ia meneruskan menikam ke arah dada Kee Liong. Kee Liong mati daya, dadanya terkena pedang yang tajam itu. Maka menjeritlah dia dan tubuhnya roboh dengan bermandikan darah itu !

Hong Hui kaget menyaksikan kawannya roboh binasa, tetapi ia tidak menjadi takut dan lari. Justru It Hiong belum bersedia, dia membarengi menyerang dengan pukulan Im Yan Ciang. Tak terkecewa dia digelarkan si kejam.

It Hiong menyambar pedangnya dari tubuhnya Kee Liong ketika serangannya si nyonya itu tiba. Tidak dapat serang itu ditangkis dengan senjata. Terpaksa ia berkelit terus tangan kirinya dipakai membalas menyerang. Hanya mendadak ia merubah serangannya menjadi tangkapan, ialah ia menyambuti menangkap tangan si nona dengan jurus "Di tengah Laut Menawan Naga". Ia berhasil dengan tangkapannya itu. Ia berubah pikiran karena ia ingat belum tentu Hoay Giok dapat lolos. Andiakan pemuda itu dan gurunya kena ditawan Losat Bun, Hong Hui bisa dipakai sebagai orang tukaran. Jika tidak, mudah saja ia merampas nyawanya si nyonya nanti !

"He, murid murtad dari Siauw Lim Pay. Masihkah kau tidak mau mengangkat kaki ?" bentak It Hiong melihat Kan Tie Uh masih membandel. Ia menarik tangannya Hong Hui buat diajak berjalan. Kan Tie Uh takut sekali. Dua kawannya telah mati atau tertawan. Tidak ayal sedetik juga, ia memutar tubuh dan lari menghilang di dalam sebuah tikungan.