Iblis Sungai Telaga Jilid 22

 
Jilid 22

It Hiong berkelahi dengan keras, tetapi berhati-hati sempat ia melihat lawan menggerakkan tangan kirinya. Ia dapat menerka maksud lawan. Tak mau ia berlaku sembarangan.

Lantas ia menjejak tanah dan lompat tinggi dengan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Satu kali tubuhnya melesat naik, bebaslah dia dari ancaman gelang maut itu yang semuanya menyerang kesasaran kosong.

Melihat lawan menggunakan senjata rahasia, hatinya It Hiong menjadi panas. Kalau ia kurang awas dan terlambat sedikit saja ia bisa roboh konyol. Maka ia memandang musuh itu dengan sinar mata menyala, terus dari atas ia melesat turun dengan gerakan capung menyambar, sedangkan dengan pedangnya ia menikam kedada lawan dengan tikaman “Burung Air Mematuk Ikan.”

Semua gerakan itu dilakukan dengan sangat cepat. It Hiong tahu tak dapat lawan diberi kesempatan menyingkir. Keng Su sebaliknya melongo ketika mendapatkan hajarannya gagal semua. Ia mendapatkan tubuh musuh bagaikan lenyap dari depan matanya. Justru ditengah keheranan itu, serangan balasan dari si anak muda telah tiba.

Ia kaget sekali, dengan gugup ia menangkis dengan joanpian!

“Tass!” terdengar satu suara dan putuslah senjata lunak itu yang tak dapat merintangi pedang, sehingga ujung pedang itu meluncur terus kedada lawan yang jadi sasaran! Keng Su mengeluar-kan jerit tertahan, tubuhnya lantas roboh terkulai. Ia kehilangan jiwa tanpa berdaya lagi.

It Hiong mengawasi tubuh musuh-musuh, terus ia memasuki pedangnya kedalam sarung. Adalah disaat itu ia mendengar suara menyambar dari belakangnya. Ia menerka kepada serangan gelap. Ia berlompat maju satu tindak sambil terus memutar tubuhnya berbalik ke belakang sambil ia menolak dengan tangannya. Satu suara nyaring terdengar.

Itulah akibat serangan yang kena terbendung.

Karena hebatnya bentrokan kedua pihak sama-sama mundur dua tindak! “Curang!” demikian teriakan nyaring tetapi halus. Itulah suara Tan Hong yang melompat maju menyerang kepada pembokongnya si anak muda.

It Hiong segera mengenali penyerangnya itu, ialah Cian Pek Long kun Sutouw Kit salah seorang tongcu, ketua seksi dari Losat Bun. Ia menjadi heran, pikirnya: “Kenapa dia main bokong? Bukankah dia telah berlaku sebagai cianpwe hingga aku menghargainya?”

Kiranya Sutouw Kit berbuat demikian saking tak tahannya menyaksikan kebinasaan Keng Su, sesama tongcu. Ia menganggap kematian itu memalukan Losat Bun, maka hendak ia mencoba memperbaiki citra partainya.

Iapun merasa jeri menyaksikan ilmu pedang si anak muda demikian mahir hingga lantas ia memikir untuk membokong adalah cara yang baik. Tapi Tan Hong melihat orang berbuat curang, tak dapat si nona mengendalikan diri lagi. Iapun maju menyerang hingga mereka berdua jadi bergebrak. Dalam waktu yang pendek, mereka sudah lantas bertarung secara seru sekali.

“Tahan!” terdengar suaranya Kwie Tiok Giam Po. Seruan itu tajam bagi siapa yang mendengarnya.

Menyusul itu, tubuhnya Sutow Kit mencelat meninggalkan kalangan pertempuran untuk kembali kedalam ruangan.

Tan Hong tidak mengejar, dia hanya tertawa dan berkata kepada It Hiong: “Musuh telah terbinasa, Beng Locianpwe dapat ditolongi!”

Tapi It Hiong berkata perlahan: “Aku masih menyangsikan kejujuran pihak Losat Bun ini, aku kuatir mereka menggunakan akal licik. Karenanya jangan kita dibutakan oleh kemenangan kita ini. Berhati-hatilah!”

Berkata begitu si anak muda menarik ujung bajunya si nona untuk kembali kedalam pendopo. Hoay Giok sudah lantas mengikuti, selekasnya dia memungut goloknya yang tadi terlepas jatuh.

“Perhitunganku dengan Keng Su sudah dapat diselesaikan,” berkata si anak muda kepada ketua Losat Bun, “Oleh karena itu aku minta sudi apalah Kauwcu memenuhi janji dengan membebaskan Paman Beng! Dapatkah?”

“Kata-katanya Losat Bun tegak bagaikan kiu-teng!” menjawab sinenek dengan keras dan dingin nadanya. “Mana dapat aku menghilangi kepercayaanku terhadap kau, bocah jika kau mempunyai kepandaian, pergilah kau kegua batu di belakang puncak sana, sambutlah sendiri pamanmu itu!”

It Hiong tidak mau membuang waktu, ia bahkan tanpa berkata apa-apa lagi, setelah emberi isyarat tangan kepada Tan Hong dan Hoay Giok, ia mengundurkan diri dari pendopo besar itu, terus diikuti kedua kawannya. Tapi begitu ia menindak dianak tangga, tiba-tiba dari belakang ia mendengar suara nyaring: “Anak she Tio, kau kembalilah!”

Itulah suaranya sinenek. Kontan It Hiong dan dua kawannya menduga-duga. Entah apa maunya raja agama Losat Bun tu? Si anak muda menghentikan langkahnya dan memutar tubuh untuk menghadapi sinenek itu.

“Ada pengajaran apakah dari Kauwcu?” “Mari, kemari!” berkata sinenek bengis. “Aku hendak memberitahukan kau satu hal yang ada kebaikannya untukmu!”

It Hiong bertindak maju, ia mengawasi tajam semua orang Losat Bun.

“Ada bicara apa, Kauwcu? Silahkan!” katanya singkat. “Oh, bocah bau!” Lou Hong Hui menyela.

“Kau baru menang sedikit, lantas kau bersikap begini sombong terhadap ketua kami! Kau kurang ajar!”

Sepasang alisnya sipemuda bangun berdiri, tapi dia menahan sabar. Ia Cuma mengawasi bengis pada wanita itu da berkata :

“Kau boleh mengatakan apa yang kau suka, tak sempat aku melayanimu!”

“Eh, anak she Tio, jangan tergesa-gesa!” sinenek berkata : “Aku si tua belum habis bicara!” Dia berhenti sebentar sesudah mana baru dia meneruskan : “Sudah sepatutnya aku memenuhi janjiku kepadamu! Urusannya Keng Su sudah beres, tinggal urusanmu sendiri! Kau telah lancang memasuki tampat kami ini! Kau telah melanggar aturan kami! Tahukah kau apakah hukumannya buat pelanggaran itu?”

It Hiong gusar, orang hendak mempermainkannya. “Kauwcu hendak menghukum bagaimana kepadaku?”

tanyanya, “Coba jelaskan!” Sinenek menatap tajam. “Siapa lancang memasuki tempat ini, hukumannya ialah hukuman mati!” Katanya seram. Lagi ia berhenti sejenak. “Tapi ditanganku si orang tua, suka memberi satu kesempatan kepadamu supaya kau dapat jalani hidupmu!”

It Hiong terus mengawasi. Tak mau ia segera menjawab. “Jalan hidup itu,” kata sinenek melanjuti : “Kau harus

meyambut sepuluh jurus dari masing-masing tongcu kami. Habis itu kau mesti mendengar sebuah lagu dari tanganku yang kuberi nama BIE CIN TOAN HUN MENYESATKAN YANG BENAR DAN MEMUTUSKAN ROH. Sekarang ini tongcu kami yang nomor satu dan dua kebetulan tidak hadir, sebab mereka lagi menghadiri rapat pertandingan ilmu pedang digunung Tay San, hingga sekarang tinggallah tongcu nomor tiga dan nomor empat, yaitu Satouw tongcu dan Lou tongcu. Hal ini memudahkan kau, sebab kau hanya harus melayani dua puluh jurus….”

It Hiong tidak takut, ia suka menerima syarat itu. Maka ia berkata : “Tio It Hiong mempunyai nyali mendatangi gunung ini, pasti dia bernyali juga untuk menyambuti jurus-jurus kamu! Nah, tongcu yang mana yang hendak paling dahulu menjalankan peraturan kamu, silahkan maju! Jangan kalian banyak rewel lagi!”

Sutouw Kit gusar sekali.

“Bocah jangan takabur!” bentaknya.

“Tunggu dahulu!” berkata Kwie Tiak Giam Po dingin. “Partai kami harus mentaati peraturannya, maka itu kamu pergi dahulu menolong si orang tua she Beng, habis itu barulah kamu datang kemari untuk menjalankan hukuman! Asal kamu masih mempunyai jiwa kamu1” Hoay Giok pun sengit.

“Sute,” katanya pada It Hiong. “Jangan layani mereka mengoceh! Mari kita lekas-lekas pergi menolong suhu!”

Hoay Giok senantiasa ingat gurunya.

It Hiong merapatkan kedua tangannya.

“Jika kauwcu tidak mempunyai ajaran lainnya, dengan ini aku yang rendah mohon diri!”

Walaupun dia berkata demikian, It Hiong memutar tubuhnya dan berlalu tanpa menanti jawaban lagi.

Tan Hong mendelik terhadap Sutouw Kit dan Lou Hong Hui, setelah itu sambil mengasi suara menghina “Hm!” ia menyusul si anak muda, maka iapun disusul Hoay Giok.

Sekeluarnya dari pintu gerbang. It Hiong beramai memperhatikan letak bangunan yang menjadi sarang Losat Bun itu. Dengan begitu mereka bisa menyaksikan gunung di belakang gedung itu, yang puncaknya berentet-rentet terutama puncak utamanya yang tinggi sekali. Dari jauh itu, mereka cuma melihat sebuah jalan naik. Dari situ, tak kelihatan gua dimana guru atau paman mereka dikurung.

Sudah sinenek tidak memberi keterangan, merekapun tidak menanyakan.

Tan Hong mengawasi si adik Hiong itu, “Sudah adik,” katanya perlahan. “Buat apa kita memutar otak memikirkan letaknya gua itu? Lihat di muka pintu gerbang itu, bukankah disitu ada orang? Bukankah mereka adalah petunjuk jalan kita yang telah tersedia?” Nona itu memonyongkan mulutnya ke arah beberapa orang berseragam itu, yang bertugas di muka pintu gerbang.

It Hiong menggeleng kepala.

“Tak dapat.” Katanya keras kepala, tak menyukai menggunakan kekerasan yang merendahkan martabatnya. “Itu namanya main paksa-paksa!”

“Kenapa tidak adik” Tanya si nona heran. “Lebih dahulu dengan hormat kita minta keterangan mereka itu, lalu kalau mereka menyangkal kita bekuk satu diantaranya1 Musahil mereka tak takut mati?”

It Hiong memperlihatkan tampang sungguh-sungguh. “Kakak maafkan, kali ini aku tak dapat menerima baik

saranmu ini!” kata dia. “Dua jalan itu tak akan ada faedahnya, kalau kita bicara hormat mereka tak akan mempedulikan dan kalau kita memaksa kita bakal dicela orang! Mustahil kita bertiga tak mampu mencari gua itu? Mari!”

Pemuda ini terus emutar tubuh, bertindak ke arah belakang gedung besar itu.

Tan Hong dan Hoay Giok terpaksa mengikuti. Selagi memutar tubuhnya, si anak muda berkata pada si nona: “Memang pendapatnya Tio sute mengatasi kita satu tingkat! Aku sangat mengaguminya! Bagaimana dengan kau, Nona Tan?”

Selalu pemuda ini memanggil nona kepada pemudi itu.

Tan Hong tesenyum, ia cuma mengangguk tidak menjawab. It Hiong berjalan terus, ia tidak menghiraukan dua orang kawannya itu. Sebentar saja ia sudah melalui belasan tombak. Maka mau tidak mau Tan Hong dan Hoay Giok lari menyusul!

Selanjutnya mereka berlari-lari. Dalam keuletan, It Hiong unggul banyak. Itulah karena kasiatnya darah belut. Iapun menang latihan ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Makin lama ia lari main pesat. Itulah sebab semangatnya, didorong keinginannya lekas-lekas menyelamatkan pamannya!

Tan Hong menjadi jago dari Hek Keng To, diapun dapat lari keras, dia mencoba menyusul pemuda yang dicintainya itu.

Tidak demikian halnya dengan Wie Hoay Giok. Dia ini ketinggalan, meskipun dia sudah termasuk hitungan kelas satu. Dia mencoba menyusul hingga lekas juga pakaiannya basah dengan peluhnya. Dimata dia Tan Hong terutama It Hiong mirip bayangan saja….

Tiga puluh lie sudah dilalui, jalanan makin sukar. Ada gangguan pohon lebat, pohon berduri dan juga otot-otot rotan. Jalannya pun berliku.

“Ah…” It Hiong memperdengarkan suaranya. Terus berhenti bertindak, matanya diarahkan kesekitar.

Tak ada gua yang nampak, yang ada hanya itu batu-batu karang, rumput dan pohon rotan. Disamping itu gunung sunyi sekali.

“Apakah aku salah mengambil jalan?” pikir anak muda ini, “Apakah kaum Losat bun sengaja menipu kita?”

Berpikir begini, anak muda ini menyesal juga telah menolak sarannya Tan Hong untuk minta keterangan orang-orang Losat Bun sebagai petunjuk jalan. Sekarang ia jadi memperlambat pertolongannya.

Selagi pemuda ini berpikir terus, tiba-tiba ia mendengar suaranya Tan Hong : “Adik Hiong….adik Hiong….adik Hiong!” suara itu terbawa angin… hingga kadang-kadang terputus.

Hanya melengak sebentar, ia lantas lari balik hingga ia melihat si nona sedang berdiri diatas sebuah batu besar dan tangannya menggapai ke arahnya, Diantara tiupan angina yang santer, tampak rambut hitam nona itu bagaikan gelombang sutera, sungguh indah dipandang.

Lekas sekali It Hiong telah tiba pada si nona. “Kakak,” tanyanya segera, “Apakah kakak mendapati

guanya?”

Tan Hong menunjuk ke arah kiri, pada dinding gunung yang ditutup akar-akar rotan.

“Barusan saja aku melihat satu bayangan manusia berkelebat di sana.” Sahutnya memberi keterangan. “Ketika aku menyusul sampai disini, bayangan itu sudah lenyap, Kau lihat pohon rotan demikian lebat, mungkin mulut gua ketutup pohon itu…”

It Hiong mengawasi tempat yang ditunjuk itu. Ia juga menoleh ke belakang kesarangnya sinenek tua. Untuk pergi ketempat itu ia terpaksa jalan balik….

“Mari!” katanya, lalu dengan terpaksa ia jalan kembali. Tepat disebuah tikungan, mereka berpapasan dengan Hoay

Giok yang ketinggalan jauh. Kasihan pemuda itu, ia bermandi peluh dan napasnya memburu keras. Melihat simuda-mudi dia menjadi heran. Dia lantas melihat dirinya.

“Eh, eh kenapa kalian kembali?” tanyanya Bicara susah.

Tanpa menantikan jawaban dia menjatuhkan diri untuk duduk menghilangkan lelah.

Tan Hong mengawasi It Hiong.

“Kita membuang-buang waktu…” katanya.

It Hiong sebaliknya mengawasi sang suheng.

“Suheng, apakah kau kurang sehat?” tanyanya. “Dahulu dilembah Pek Keng Kok kau kuat lari puluhan lie dan bahkan masih dapat berkelahi dengan musuh tangguh! Kenapa sekarang kau tampak payah?”

Tan Hong melirik sipemuda, terus dia berkata : “Kau menggunakan Te In Ciong hingga kau lari bagaikan terbang, masih kau mengatakan orang lain tak punya guna? Mana dapat!”

It Hiong mengerti, maka lantas ia tampak jengah.

“Maaf suheng,” katanya sabil memberi hormat kepada Hoay Giok. “Aku sangat memikirkan Paman Beng sampai aku lari tanpa kira-kira, hingga aku membuat suHeng Sangat capek…”

Hoay Giok tidak gusar, bahkan ia melompat bangun sambil tertawa.

Habis istirahat sebentar, ia menjadi segar pula. “Yang salah ialah aku yang tidak punya guna.” Katanya kemudian, “Tidak dapat aku menyesalkan kau, bahkan dengan begini aku jadi dapat menghemat lariku…”

Mau tidak mau It Hiong tersenyum, juga Tan Hong.

“Tapi inilah pengalaman!” berkata si nona. “Sekarang kita boleh berlari sedikit perlahan. Kita ambil jalan disisi dinding itu untuk pergi kedinding karang di sana yang mungkin ada lobang guanya…”

Hoay Giok heran.

“Kalian belum mendapatkan gua itu?”

“Belum,” sahut It Hiong, sedangkan Tan Hong menuturkan perihal bayangan yang dilihatnya

“Kalau begitu, pastilah itu sebuah gua yang dirahasiakan…” kata Hoay Giok.

Bertiga mereka berjalan bersama. Mereka mesti jalan perlahan. Sesudah melalui kira-kira lima puluh tombak sampai juga mereka dikaki dinding itu, yang dibawahnya terdapat sumber air.

“Tadi aku melihat bayangan orang di sana.” Tan Hong memberitahukan sambil menunuk tempat orang melenyapkan diri. “Karena jaraknya masih sangat jauh, sukar aku melihat dia tegas-tegas.”

It Hiong memperhatikan tempat yang ditunjuk itu juga keatasnya. Dinding tinggi cuma ada akar rotan dan pohon- pohon kecil. Sumber air muncrat dari dinding, airnya berhamburan. Dibawah sekali barulah ada sumber air itu. Ada sebuah kolam kecil tempat air itu berkumpul. Kolam itu terpisah jauh dari sumber air mungkin seratus tombak.

Dengan melihat gerak-gerik bayangan orang yang dilihat Tan Hong itu, It Hiong menerka mesti ada lobang atau gua rahasia didekat situ. Ia kasih tau apa yang ia duga itu, maka bersama-sama mereka memasang mata mencari lubang gua itu.

Sebegitu jauh Cuma tampak akar rotan dan daun-daun, tiada sesuatu yang mencurigakan, Hoay Giok menjadi penasaran.

“Mungkin nona keliru melihat bayangan” katanya. “Disini dimana ada tempat untuk orang bersembunyi? Buat apa kita berdiam lebih lama disini?”

“Kenapa kau menjadi tak sabaran, kakak Wie?” Tanya Tan Hong tertawa. “Memang sulit mencari lubang gua itu, tetapi aku merasa pasti, disini kita bakal menemui orang Losat Bun…”

It Hiong memandang nona itu dan juga Hoay Giok.

“Kau pasti merasa letih suheng, baiknya kau duduk menanti disini.” Katanya kemudian pada kakak seperguruannya itu. “Nanti aku mencoba mendaki dinding gunung itu, untuk memeriksa akar rotan yang menutupinya.”

Kata-kata itu ditujukan juga pada Tan Hong. Habis berkata si anak muda lantas melompat tinggi dengan lompatan Te In Ciong, sebab ilmu ringan tubuh itu tidak melulu buat lari jauh dan cepat tapi juga untuk melompat tinggi. Maka dalam sekejap tubuhnya mencelat lincah dan pesat seumpama burung terbang. Tengah It Hiong mendaki itu, mendadak dari dinding ditempat dimana dia tiba, ada kepala orang yang nongol, orang itu terlepas rambutnya, mukanya hitam begitupun sinar matanya tajam sekali. Selekasnya dia melihat orang, dia menyambar tangannya yang sebelah, buka untuk menangkap hanya buat melepaskan senjata rahasia, senjata itupun hitam warnanya.

Hampir berbareng dengan It Hiong, juga Tan Hong dan Hoay Giok yang lagi menanti sambil menyaksikan temannya melompat naik, telah mendapat serangan serupa. Hanya serangan ini datangnya dari tempat tidak seberapa jauh dari tempat pertama. Penyerangnyapun hitam muka dan sinar matanya sangat tajam.

It Hiong kaget karena serangan mendadak itu, tapi dia tidak bingung. Dengan cepat dia berhasil menyampoknya. Ia hanya terkejut pula setelah mendapatkan kenyataan senjata rahasia itu berupa seekor ular beracun! Tan Hong pun bebas dari serangan gelap itu. Dia melihat serangan datang sambil berkelit. Dia menghajar dengan sanhu pang. Maka senjata rahasia itu juga roboh mati dengan mengeluarkan darah sebab badannya remuk.

Tidak demikian dengan Hoay Giok, pemuda ini sedang duduk diam sambil matanya dipejamkan, ia mendusin dengan terkejut ketika merasakan angina menyambar ke arahnya.

Lantas ia berkelit, tapi terlambat sedikit, tahu-tahu bahu kirinya telah kena terpagut senjata rahasia yang istimewa itu.

“Aduh!” ia menjerit perlahan, tanan kanannya terus dipakai menyampok, tapi tangan itu juga disambut dengan pagutan bahkan kali ini nyerinya luar biasa sampai keulu hati. Ular licik itu habis menggigit dia menjatuhkan diri dan menghilang diantara rumput tebal!

Hebat Hoay Giok. Dia roboh seketika, mukanya menjadi pucat, mulutnya mengeluarkan rintihan, bakan tangan dan kakinya terus menggigil.

Tan Hong menyaksikan kawannya itu, dia menjadi kaget sekali.

“Kakak Wie, kau kenapa?” tanyanya, terus ia cepat menghampiri untuk memeriksa lukanya yang berada didua tempat, bahu kiri dan tangan kanan. Disaat ia hendak membangunkan tubuh kawannya itu, mendadak dua bayangan orang melompat kepadanya, masing-masing menyerang dengan golok dan cambuk.

Walaupun ia kaget, ia lompat berkelit membebaskan diri dari bacokan dan cambukan. Setelah itu ia membalas dengan senjatanya. Lebih dahulu ia lompat kepada lawan yang bersenjata cambuk, untuk mendesaknya mundur sebelum orang sempat menggunakan lagi senjatanya. Habis itu ia melompat ke arah Hoay Giok, yang sedang dihampiri musuh yang bersenjata golok, yang mau membacoknya. Satu sampokan ruyung membuat golok musuh terpental dan tubuhnya tertolak mundur dua tindak!

Setelah mengawasi kedua penyerangnya, Tan Hong heran, kiranya mereka orang-orang suku Biatuw yang mukanya hitam-hitam, juga matanya, rambut riap-riapan. Kakinya tanpa sepatu, tubuh bagian atas telanjang dan bagian bawahnya tertutup semacam kain. Usia mereka rata-rata tiga puluhan. Karena terpukul mundur, kedua orang Biauw itu melengak, tapi hanya sebentar lantas keduanya maju pula. Sambil berseru-seru mereka mengurung si nona.

Tan Hong menjadi sangat mendongkol, mukanya menjadi merah berapi. Sudah dikerubuti tadipun dibokong. Tak ayal lagi ia mengeluarkan ilmu silat pulau Hek Keng To dan balas menyerang. Ia bergerak lincah berputaran sebab ia selalu mesti menjauhkan diri dari cambuk. Setelah jauh lalu mendesak. Kalau ia terus merenggangkan diri, ia menjadi repot. Itulah maunya cambuk hingga ia bisa dicambuki tanpa henti. Dilain pihak dengan ruyung tak dapat ia membuat kutung cambuk itu.

Ternyata dua orang Biauw itu bukan sembarang orang, mereka dapat bersilat dengan baik dengan masing-masing senjatanya itu. Mereka pun sangat bersemangat dan cerdik, sebab mereka tak membiarkan senjata mereka terhajar ruyung si nona! Mereka dapat maju dan mundur dengan cepat.

It Hiong sementara itu habis menyampok ular terus menyambar akar rotan, hingga dia dapat mempertahankan dirinya tak jatuh. Tepat waktu itu, telinganya mendengar suara mendatangi. Datang dari bawahnya! Maka segera ia melihat Tan Hong tengah dikepung dua orang musuh dan Hoay Giok rebah tak berkutik ditanah.

Ia terkejut dan segera ia melepaskan tangannya untuk lompat turun bahkan tanpa mengatakan sesuatu, dengan pedangnya ia terus menyerang orang Biauw yang bersenjata cambuk itu. Hanya dengan satu gebrakan, orang Biauw itu sudah kaget sekali. Cambuknya kutung, saking jerinya dia memutar tubuh dan menjauhkan diri. It Hiong tidak mengejar hanya terus ia menghadapi orang itu dan bertanya : “Siapakah kau?”

Anak muda ini tidak ketahui bahwa orang Biauw itu bernama Michi dan kawannya yang bersenjata golok Shali. Mereka adalah murid-muridnya Kiu Lam It Tok Sia Hong, Si Tunggal Beracun dari Kwiecu Selatan.

Sia Hong menjadi ahli racun ular. Semua senjatanya empunyai racun, maka orang berikan dia gelar tersebut, jago ahli racun satu-satunya. Dia tinggal menyepi di Kwiecu Selatan, hidup diantara ular-ular jahat.

Karena ia sering memasuki wilayah suku Biauw, ia jadi kenal bangsa itu dan mengetahui adapat kebiasaannya hingga akhirnya ia menerima dua orang muridnya itu, yang ia ajari ilmu silat dan cara menggunakan racun. Sebenarnya Sia Hong hidup diantara dua golongan sesat dan lurus. Diapun bersahabat dengan Kwie Lok Giam Po. Pertemuannya dengan ketua Losat Bun terjadi waktu dia mengejar seekor ular beracun sampai di Ay Lao san, dimana dia tinggal beberapa bulan lamanya dan telah bertemu dengan orang Losat Bun yang mengajaknya kenal dengan sinenek, hingga mereka itu menjadi sahabat erat.

Bersama dua muridnya itu, Sia Hong tingal didalam gua, guna memperdalam kepandaiannya menggunakan racun ular. Guanya itu ia beri nama “Sarang Ular” tempat melatih racun. ketika Beng Kee Eng kena dipancing Keng Su mendatangi Ay Lao San, ia kena racunnya Sia Hong hingga ia menjadi kehilangan tenaganya hingga tertawan dan dikurung didalam gua batu.

“Aku Mikhi!” sahut orang Biauw itu yang bersenjata cambuk. Dia bicara keras dan bersikap bengis. “Kalau kau berani mendekati aku satu langkah lagi. Awas, akan aku berikan kau racun jahat dari guruku Kin Lam It Tok!”

Mendengar disebutnya gelar Kin Lam It Tok itu, alisnya It Hiong berbangkit, terus ia berpikir. Pernah ia dengar nama itu entah dari siapa, ia lupa. Maka ia lantas mengingat-ingatnya. Dua kali ia mnyebut gelaran itu serta menerka-nerka dia orang macam apa… 

Tengah si anak muda berpikir, ia mendengar jeritan “Aduh!” dan melihat orang Biauw bersenjata golok itu roboh dengan mulutnya mengeluarkan darah sebab dia terhajar Tan Hong hingga terluka dalam.

Menyusul itu Tan Hong berkata keras : “Adik Hiong, lekas tolongi kakak Wie! Kenapa kau masih bicara saja dengan orang Biauw itu?”

It Hiong terkejut. Ia lantas lompat mendekati Hoay Giok serta memegangi tubuhnya buat dibangunkan. Ia melihat muka orang merah dan panas, matanya dipejamkan, mulut mengeluarkan busa, sedangkan napasnya tersengal-sengal. Tampak kedua lengannya bengkak dan melar dua kali lipat.

“Kakak! Kakak!” Ia memanggil-manggil, “Kakak! Kau kenapakah?”

Hoay Giok tidak menjawab, dia diam saja, tubuhnya sangat lemas san tak kuat ia berdiri.

Tan Hong menghampiri.

“Dia pasti terkena racun ular!” kata si nona. “Tadi aku lihat dia roboh setelah terpanggut ular yang dilempar ke arahnya, Adik Hiong dapatkah obat Hosin Ouw menolong dia?”

Ketika itu It Hiong bingung bukan main, sampai ia mengeluarkan air mata. Masih ia memanggil-manggil sang kakak, sampai suara Tan Hong menyadarkannya. Karena itu , ia lantas ingat obat untuk melawan racun hadiah dari pendeta tua dari Bie Lek Sie digunung Kiu Kiong San.

“Tertolong!Tertolong!” serunya berulang-ulang kegirangan. Tan Hong menggantikan memegang Hoay Giok.

“Lekas! Lekas keluarkan obat itu!” dia menganjurkan It Hiong, diapun sangat kuatir melihat kondisi kawannya itu.

It Hiong merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah botol kecil dari kaca hijau, ia lantas membuka tutupnya dan mengeluarkan enam butir obat pulung yang langsung diremas dalam kepalannya, setelah itu ia menotok jintiong, hisungnya Hoay Giok, terus memaksa membuka mulutnya untukmemasukkan obat tersebut. Tapi saat itu Hoay Giok tak dapat mengunyah sehingga obat tetap terkumur saja!

Tan Hong merebahkan tubuh Hoay Giok ditanah. “Adik Hiong, coba paksa memasukkan obat itu dengan

tenaga dalammu!” katanya.

Dia bingung, tapi dia cerdas dan bisa berpikir cepat. Diapun lantas membantu dengan menekan tangan kanannya pada jalan darah teng-bun dari pemuda yang keracunan tersebut. It Hiong menurut, ia lantas bekerja. Ia membungkuk membawa mulutnya ke depan mulut Hoay Giok sesudah mana ia segera mengemposkan tenaga dalamnya.

Ternyata usaha itu memberi hasil. Obat dapat terdorong masuk kedalam tenggorokannya. Lalu tak berselang satu jam, perutnya anak muda itu berbunyi keruyukan nyaring. Itulah tanda obat sudah bekerja dengan baik.

Menyusul itu lekas sekali tampak Hoay Giok membuka kedua matanya dan kaki tangannyapun bergerak-gerak. Karena itu It Hiong lantas menghentikan bantuannya.

“Kakak! Kakak Wie!” ia memanggil-manggil.

Tan Hong menarik pulang tangannya dan membantu orang buat diangkat bangun guna duduk menyandar pada sebuah batu besar.

Lewat sekian lama baru Hoay Giok dapat membuka mulutnya.

“Sute aku mual sekali…” katanya sukar. Dan belum suaranya habis lantas dia muntah mengeluarkan cairan hitam yang bau.nyaksikan itu, It Hiong dan Tan Hong lega, itu artinya semua racun sudah dapat dikeluarkan hingga tidak lagi mengancam jiwa Hoay Giok.

“Kakak wie, bagaimana kau rasa sekarang?” Tanya Tan Hong.

“Sekarang aku tidak merasakan apa-apa kecuali letih.” “Kalau begitu kakak istirahatlah!” kata It Hiong, “Lebih baik

lagi kalau kau meluruskan pernapasanmu.” Hoay Giok menurut, ia mencoba duduk dengan tegak.

Baru sekarang It Hiong ingat musuh. Ia mendapati lawannya Tan Hong lagi duduk meluruskan dirinya, sedangkan lawannya, yaitu Mikhi telah pergi entah kemana, rupanya dia sudah kabur dari tadi.

Tan Hong menunjuk orang Biauw itu, katanya pada It Hiong : “Dialah yang membantu kita mencari mulut gua itu!”

Si anak muda mengangguk. Ketika itu sudah mendekati magrib, setelah melirik Hoay Giok, iapun duduk dibatu dan nampaknya lesu.

Tan Hong menghampiri seraya membawa kue kering. “Mari makan!” kata nona itu tertawa.

“Kakak Wie mengalami bencana, kelihatannya Kin Lam It Tok benar-benar lihai. Entah dia memiliki racun apa lagi yang lebih dahsyat.”

It Hiong makan kue itu, tak dapat ia menjawab, lalu ia minum dari kantungnya.

“Tak usah kita takut padanya!” katanya kemudian. “Dunia Kang Ouw boleh memuji dia tapi kita membekal obat mujarab dari pendeta tua Bie Lek Sie.”

Tan Hong mengangguk.

“Kau benar adik, cumalah tak ada salahnya kita waspada…” katanya. It Hiong mengawasi nona it, ia terharu untuk kebaikan hatinya.

“Kau baik sekali kakak,” katanya sungguh-sungguh. “Kau telah membantu kami tanpa menghirauka ancaman bencana, tak tahu aku bagaimana membalas budimu ini?”

Tan Hong tersenyum, ia merasaka hatinya sangat bahagia.

Ia memandang pemuda itu lalu tertunduk.

“Dengan kata-katamu ini adik, kau seperti memandang aku sebagai orang luar…” katanya perlahan. Dari duduk ia berdiri lalu membalikkan tubuhnya. Lantas juga terdengar bisiknya perlahan.

It Hiong melengak, ia lantas berdiri dan menghampiri nona itu dan memegang bahunya.

“Oh kakak,” katanya, “Aku meyesal karena kata-kataku tadi kau berduka, apa salahku? Harap kau sudi memaafkan aku…” Dia a maju ke depan nona itu buat menjura.

Tan Hong berbalik, air matanya berlinang. Ia menatap si anak muda hingga sinar mata mereka bentrok, keduanya berdiam saja.

Hati mereka yang bekerja masing-masing.

Tiba-tiba Tan Hong tertawa, dengan saputangannya lekas- lekas ia menghapus air matanya dan melirik si anak muda.

“Bukankah telah aku katakan, adik?” katanya kemudian, suaranya rada menggetar. “Buatku sudah cukup asal kau tidak menyia-nyiakan hatiku…” It Hiong terdiam. Ia bukannya tak mengerti maksud orang.

Hanya keadaan menyulitkannya. Diam-diam ia menggigil sendirinya, kenapa selalu asmara mengganggunya? Kenapa setiap wanita yang ditemuinya menyukainya? Kenapa orang ska membantu dia dengan mempertaruhkan jiwanya? Maka itu, tegakah ia menampik budi kebaikan itu? Pasti ia akan jadi manusia tak berbudi, tak mempunyai perasaan kemanusiaan…

Dalam masgul, anak muda ini Cuma bisa menghela napas… “Kau kenapa, adik?” Tanya Tan Hong yang mengawasi

orang. “Aku rasa aku dapat menebak hatimu itu. Aku ingat pepatah kuno : Dapat satu, mengetahui diri sendiri matipun tak meyesal. Kakakmu ini justru mau bekerja untukmu, biarpun darahku harus muncrat digunung sunyi ini aku akan tersenyum diaLam Sana! Sebaliknya aku tak suka mendengar kau mengucapkan terima kasih atau bersyukur terhadapku, itulah artinya kau mengaanggap aku orang asing! Sudah, jangan memikir terlalu banyak, kau membikin ruwet dirimu sendiri!”

It Hiong menarik napas dalam dalam, ia tidak mengatakan sesuatu.

Sang angin bersiur perlahan, membuat ujung lengan baju mereka bergerak-gerak. Anginpun membawakan harum tubuh si nona memasuki hidung It Hiong, hingga sipemuda tak keruan rasa. Ia mengendalikan diri, ia mengangkat kepala memandang langit, mengawasi malam. 

Tanpa merasa sang malam telah tiba. Malam sunyi seperti diwaktu siang, hanya kali ini mendadak ada satu suara yang menggangunya. Sebuah siulan lama dan nyaring membuat gunung bagaikan bergetar dan berkumandang ke empat penjuru lembah. Menyusul itu dua bayangan orang tampak berlari mendatangi. Orang yang pertama sampai itu lantas menghampiri si orang Biauw yang masih duduk diam. Terus tubuhnya diangkat dan dibawa pergi.

It Hiong melompat maju, ia menyerang punggung orang dengan satu serangan tangan kosong.

Orang itu berkelit, terus membalas menyerang dengan senjata rahasia, terus lari lebih jauh. Tapi It Hiong sudah melompat lagi menghadang di depannya.

“Jika kau benar gagah, mari sambut pukulan Hang Liong Hok Houw ku!” tantangnya, dan terus ia menyerang pula.

Orang itu terdesak, kalau ia terhajar pasti akan mendapat luka dalam.

Dasar ia lihai berkelit, dengan lompat kesisi jauh satu tombak lebih. Sekarang dia tak lari lebih jauh, hanya dia berdiri diam sambil tertawa berulang kali, suaranya tak sedap didengar. Habis itu dia berkata tawar : “Hm! Hm! Bocah! Kau pernah apakah dengan Pat Pie Sin Kit? Kenapa kau berani banyak tingkah dengan Hiang Liong Hok Houw Ciang di depan aku si orang tua?”

It Hiong heran hingga ia melengak. Segera ia mengawasi orang itu hingga sekarang ia dapat melihatnya dengan jelas. Dia ternyata seorang tua dengan tubuh sedang, tampangnya bersih , tatapan matanya tajam, sinarnya berkilau. Dia memelihara kumis dan janggut “kambing gunung”, bajunya baju kasar, sepatunya ringan. Pada pinggangnya, kiri dan kanan, ia gantungkan beberapa karung, entah apa isinya semua itu. Dan dipunggungnya ada semacam benda, dikatakan seruling bukan seruling, warnanya hitam mirip pipa panjangnya tiga kaki lebih. Ia bersikap jumawa, wajah dan tampangnya mendatangkan perasaan tegang.

Selekasnya dia sadar, It Hiong merasa kurang puas, maka ia juga menjawab nyaring :”Akulah Tio It Hiong dan Put Pie Sin Kit In Gwa Sian adalah ayah angkatku! Kau sudah berusia lanjut tapi lagakmu tak menghormati diri sendiri! Kenapa kau mudah saja bicara keras?”

Mendengar itu, sepasang alis si orang tua bangun. Segera ia berkata dengan dingin : “Bocah, kau dengar! Kamu sudah melukai muridku, tapi sekarang kau masih berani putar lidah dihadapanku! Nampaknya kaulah si orang mampus! Nah, coba kau rasai tangannya Kin Lam It Tok!”

It Hiong terperanjat mendengar orang memperkenalkan diri. Kiranya inilah si racun tunggal dari Inlam selatan, jago atau ahli racun ular. Ia segera ingat pamannya, maka bukannya menyambut tantangan malah ia bertanya : “Apakah paman Beng ku dikurung olehmu didalam guamu?”

Kin Lam It Tok tidak menjawab, ia hanya tertawa dingin, keras dan nyaring. “Eh, bocah! Kalau kau berpikir untuk membebaskan si orang she Beng dari guaku sarang ular, sama saja kau menyia-nyiakan jiwamu! Aku si orang tua menyayangkan usiamu yang masih muda, dan kaupun nampaknya bukan sembarang orang Kang Ouw karena nyalimu besar! Nah, bocah, meskipun kau sudah melukai muridku, suka aku memberi ampun padamu! Jika kau tahu diri pergilah kau turun gunung!”

It Hiong tak puas dengan tingkahnya orang tua itu. “Kebaikan hatimu ini orang tua, aku terima dengan baik!”

Katanya. “Akan tetapi aku mempunyai pendirian lain. Seorang laki-laki dia harus tahu budi dan wajib tahu membalasnya! Apakah kau sangka It Hiong adalah seorang yang takut dan cuma memahami hidup? Tidak! Aku bukan manusia rendah semacam itu! Jika aku tak mempunyai kepandaian untuk menolong pamanku, tidak nanti aku datang kegunung Ay Lao San ini. Aku sudah berkeputusan tidak akan meninggalkan tempat ini selama aku masih bernyawa! Ada berapa banyak racun dalam sarang ularmu yang dapat menghadang aku memasukinya!”

Kin Lam It Tok menjawab dengan jumawa :”Tidak banyak!

Tidak banyak! Julukanku It Tok, si tunggal racun, tapi walaupun tunggal kau bakal merasakan cukup banyak!” Ia berhenti sedetik lantas menambahkan : “Guaku itu berada diatas dinding itu, jika kau benar mempunyai nyali besar, naiklah kesana kau boleh coba-coba racunku!”

Habis berkata itu , dia menjemput pula muridnya dan terus mengangkat kaki. Perlahan-lahan jalannya.

It Hiong kuatir orang nanti meracuni pamannya, hendak ia mencegahnya, maka lantas ia berkata pula : “Orang tua, namamu menggetarkan dunia Kang Ouw, tapi kenapa kau berbuat begini macam terhadap aku. Bukankah kita tidak saling kenal dan tidak bermusuhan? Sungguh sayang, kau termasyur tapi kau kesudian menjadi andalannya pihak Losat Bun! Kenapa kau mengurung Paman Beng yang telah melepas budi besar padaku? Aku datang kemari buat menolong orang guna membalas budinya itu, karena itu terpaksa aku telah mendatangi wilayahmu ini! Orang tua karena kaulah seorang tersohor, bersediakah kau menjanjikan sesuatu? Supaya hatiku Tio It Hiong menjadi puas dan takluk!”

Kin Lam It Tok menunda langkahnya dan berkata dingin : “Bocah kembali kau hendak main-main! Apakah kau sangka kau sederajat denganku hingga kau menantang janji menghendaki aku menawarkan syarat kepadamu?”

“Itu bukan maksudku orang tua!” It Hiong berkata. “Yang kukehendaki adalah satu cara lain! Hendak aku mengutarakan itu, kau suka menerima baik atau tidak, terserah padamu!”

Si Tunggal Racun heran hingga dia mendelong. “Eh, bocah kau sebutkanlah!”

It Hiong menunjuk tampang sungguh-sungguh dan berkata

: “Kami tidak hendak merintangi kau menolong muridmu! Bahkan sebaliknya mungkin aku dapat mengobati lukanya itu…..!”

Kin Lam It Tok memotong kata-katanya dengan tertawa.

Dengan lagak san suara memandang remeh dia berkata : “Syaratnya itu ialah aku membebaskan si orang she Beng? Benarkah?”

It Hiong tidak menjawab langsung, katanya sabar : “Kita tidak bermusuhan satu sama lain, atas nama dunia Kang Ouw, dapatkah kau lakukan itu, orang tua! Walaupun demikian itulah syarat yang tak aku kehendaki!”

Orang tua itu agak habis sabar.

“Eh bocah!” bentaknya, “Kenapa kau bicara setengah- setengah?”

Alisnya It Hiong bangkit berdiri lantas ia berkata dengan gagah : “Kau harus berjanji akan tidak mencelakai pamanku itu, setuju!” It Tok tertawa dingin.

“Oh, kiranya begitu?” katanya. “Jika aku tidak suka berjanji, habis kau mau apa? Apa kau sangka kau dapat mencegah aku si orang tua?”

Tepat waktu itu, diantara sinar rembulan terlihat satu bayangan orang berkelebat, terus terdengar suara nyaring tapi merdu , “It Tok! Kalau kau benar jago, beranikah kau merampas muridmu dari tanganku?”

Berbareng dengan suaranya, orangnya sudah berada di depannya jago tua dari Kwiecu Selatan itu. Dialah si Nona Tan Hong, yang dengan kecerdikannya sudah merampas Michi yang ia pegang nadinya atau urat kematiannya. Dengan tak dapat berkutik, orang Biauw itu mandah dituntun.

Kit Lam It Tok berdiam, dia melihat suasana tidak baik, lalu ia batuk-batuk.

“Bagaimana dengan syaratmu kalau itu ditukar dengan muridku ini?” tanyanya kemudian.

It Hiong menjawab dengan cepat dan secara polos. “Kalau itu yang kau kehendaki orang tua, terserah!”

Tan Hong tertawa terkekeh-kekeh, katanya : “Dengan syarat ini orang tua, kau telah menang diatas angin! Masihkah kau tak mau menerima dengan baik?”

It Tok menjawab dengan cepat : “Baik, beginilah janji kita!

Aku tak akan mencelakai pamanmu itu!” “Tapi kami tidak menerima dengan baik!” mendadak datang satu suara keras dan galak, menyusul mana muncullah orangnya berlompat datang.

Merekalah Tok Pie Longkun Sutouw Kit dan Cie Ciu Koan Im Lou Hong Hui. Mereka lantas berdiri di depan It Tok dan rombongan It Hiong.

Lantas Sutouw Kit mengawasi It Tok untuk berkata : “Kami dari Losat Bun, kami orang-orang yang tak suka melakukan sesuatu yang gelap! Kami datang kemari untuk mengambil jiwanya si orang she Beng! Inilah saatnya buat membalas darah yang dimuncratkan. Locianpwe, buat apa kau melayani mereka ini?”

Mendadak parasnya It Tok berubah menjadi seram, dengan dingin ia berkata : “Aku si orang tua, aku bisa mengatakan satu tapi tak pernah menjadi dua. Dengan bocah ini aku telah berunding dan berjanji! Perkataanku telah keluar, aku harus membuktikan itu! Dalam urusanku ini, apakah kalian sangka ada orang diluar yang dapat campur tangan? Tidak! Nah kedua tongcu, kalian ada bebas, kalian dapat melakukan apa yang kalian suka asal itu urusan masing-masing! Nah, maaf aku si orang tua tak dapat melayani kalian lebih lama!”

Menutup katanya itu, jago tua ini menyambuti Mikhi dari tangan Tan Hong untuk dipondong dan dibawa pergi! Kali ini dia berlalu sambil berlari-lari hingga dilain saat lenyap sudah bayangannya!

It Hiong pandai melihat suasana. Ia lantas mendapat kekuatiran Sutouw Kit dan Lou Hong Hui nanti pergi kesarangnya It Tok untuk mencelakai pamannya, lekas-lekas ia berkata pada Tan Hong! “Kakak, sebenarnya buat apa kita datang kegunung Ay Lao San ini?” Tan Hong heran mendengar pertanyaan itu, tapi ia dapat berpikir cepat, dan dapat menangkap maksud It Hiong. Maka dengan cepat juga ia memberikan jawaban : “Kita datang kemari guna menolong Beng Locianpwe bebas dari dalam kurungan !”

“Sekarang ada orang hendak mencelakai Beng Locianpwe itu.” Kata pula It Hiong, “Maka itu apa yang harus kita lakukan?”

Tan Hong menjawab nyaring : “Orang yang ingin mencelakai Beng Locianpwe itu ialah musuh besar kita, maka kita basmi saja tanpa ampun!”

Suara nyaring si nona sampai menyadarkan Wie Hoay Giok yang sekian lama itu terus bersemadi memulihkan kesehatannya. Dia melompat bangun dan lari menghampiri.

Selekasnya dia melihat Sutouw Kit berdua, dia mengawasi mereka itu dengan bengis.

Lou Hong Hui gusar, dia membentak : “ Kamu dua mahluk celaka, jangan kamu banyak bicara yang tidak-tidak! Kamu tahu gunung Ay Lao San ini adalah tempat kuburanmu semua!”

Kata-kata nyonya ini ditutup dengan satu serangan joanpian kepada It Hiong.

Si anak muda tidak menangkis atau mundur. Ia justru melompat maju dua tindak terus ia balas menyerang dengan dua tangan berbareng. Ia menggunakan dua jurus dari ilmu silat Hiong Liong Hok Ciang, Tangan Menaklu Naga Menundukkan Harimau. Tangan kanan dengan jurus “Didalam Awan Mengambil Bulan, sasarannya ialah jalan darah siuteng sedang tangan kiri dengan jurus “Dengan Sebelah Tangan Menawan Naga” yang bergerak untuk menangkap tangan lawan yang memegang joanpian itu.

Hong Hui terperanjat. Ia menyerang siapa tahu ia justru yang didahului. Ia menjadi repot sebab sulit buat ia menggunakan terus senjatanya itu. Ia justru harus menyelamatkan diri untuk mundur atau berkelit juga sukar. Maka terpaksa ia lantas menggunakan jurus “Tian Poan Kio” Jembatan Papan Besi. Ia bebas dari sambaran tangan kanan lawan tapi anginnya itu membuat mukanya terasa panas.

Dilain pihak ia menurunkan tangan kanannya dengan kaget sambil menggerakkan senjatanya untuk melindungi diri.

Barulah setelah itu ia dapat melompat mundur dua tindak.

It Hiong tidak mau memberi hati. Orang mau membinasakan pamannya, ia menjadi gusar. Setelah musuh itu mundur, ia maju menyusul kembali menyerang, kedua tangannya bergerak tak hentinya.

Karena dia telah terdesak, Hong Hui menjadi sangat repot. Tak berdaya dia dengan senjatanya itu. Diapun merasa tangan lawannya bergerak secara luar biasa. Tapi diapun tersohor sebagai siganas, dia tidak takut lantas menggertak gigi.

Segera ia menggunakan ilmu silat Im Yang Ciang, ilmu tenaga dalam Losat Bun. Dengan begini diapun menggunakan kedua tangannya. Tangan kirinya lantas berubah menjadi bayangan- bayangan dari seratus lebih tangan yang semua eluncur kepada si anak muda, kemuka, dada dan perut.

Demikianlah, maka bertempurlah kedua macam ilmu silat dari kedua partai lurus dan sesat.

Tenaga dalam Hian Bun Sian Thian Khie kang melawan Losat Bun dan Hong Hok Louw Ciang melawan Im Yang Ciang. Bahkan sebenarnya It Hiong sendiri mewakili dua partai, yaitu Pay In Nia dan Pat Pie Sin Kit.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).