Iblis Sungai Telaga Jilid 21

 
Jilid 21

Kami sangat berterima kasih kepadamu, Nona Tan" Hoay Giok terus bicara. "Sungguh besar bantuanmu ini ! Nanti setelah guru kami dapat dibebaskan dari tangan kaum Losat Bun, akan aku menghaturkan pula terima kasihku. "

"Kakak Wie, aku minta janganlah kau memandang aku sebagai orang luar !" berkata si nona. "Bahkan menjadi satu kehormatan yang Tan Hong dapat membantu dalam usaha menolong Beng Locianpwe !"

It Hiong melihat langit.

"Selekasnya kakak sudah beristirahat, kita akan segera memasuki Poan Coa Kok" katanya. "Setujukah kakak ?" Tan Hong melirik pemuda itu.

"Kakakmu tidak terlalu letih." katanya tertawa. "Tak ada halangannya buatku ! Aku selalu mengiringi kau, adik !"

Tetapi It Hiong lantas duduk diatas rumput. "Kita beristirahat sebentar" bilangnya.

Malah mereka lantas mengisi perut mereka dengan rangsum kering yang dibekalnya.

Kira jam dua, rembulan nampak makin terang. It Hiong berlompat bangun, tangannya pada gagang pedangnya.

"Malam ini juga kita mesti sampai di pendopo pusat Losat Bun !" kata ia. "Mari !"

Tan Hong tapinya tunduk. Dia berpikir.

"Kakak Whie", tanya ia pada Hoay Giok, "sebelumnya ini pernahkah kau masuk kemari ? Pernahkah kau tiba di Poan Coa Kok ?"

Orang yang ditanya menggeleng kepala.

"Malu untuk mengakuinya," sahutnya. "Bahkan sebelum melintasi Lok Hun Kok telah aku dirobohkan jurus silat Imyang ciang dari Cie Cia Koan Im..."

"Peduli apa mereka mempunyai banyak lembah atau perangkap !" berkata It Hiong. "Peduli apa disarang gua harimau atau sarang naga ! Mari kita maju guna membantu paman Beng ! Sebelum maksudku berhasil, aku sumpah tak akan keluar dengan masih hidup dari gunung Ay Lao San !"

Gagah bicaranya anak muda ini yang demi pamannya menjadi tidak kenal takut.

Tan Hong tertawa. Ia menepuk bahu orang.

"Sungguh kau gagah, adik !" pujinya. "Nah, mari kita maju

! Asal kita berhati-hati buat segala tipu daya musuh... !" Hoay Giok pun tertawa.

"Kamu begini gagah, kamu membuat malu !" katanya yang terus berlompat maju, untuk mendahului berjalan di muka.

Dengan beriringan, ketiga muda mudi ini berjalan memasuki lembah. Cahaya rembulan membuat mereka melihat banyaknya batu disepanjang tempat yang dilalui mereka. Di kiri dan kanan sebaliknya tampak dinding tembok gunung yang tinggi. Jalanan menuju mendaki.

Satu jam sudah mereka bertiga berjalan cepat, telah melalui kira sepuluh lie. Kiranya lembah itu panjang. Sunyi disekitar mereka. Yang berisik melainkan suara angin gunung.

Tanpa merasa mereka telah tiba di pinggang gunung !

Disitu mereka menikung disebuah pengkolan. Lantas mereka menyaksikan sebuah jurang, kedua tepinya dihubungi satu dengan yang lain dengan sebuah batu besar dan panjang yang melintang mirip penglari. Di bawah itu tak tampak batu atau lain macam barang. Seluruhnya gelap. Dinding juga tak berpohon apa jua. It Hiong menghampiri tepi jurang. Ia melihat jembatan mirip penglari itu. Tak bersangsi pula, ia lompat ke batu itu untuk jalan diatasnya. Ia mendahului kedua kawannya.

Tan Hong dan Hoay Giok mengikuti.

Di lain tepi, pada dinding gunung terdapat banyak lubang gua kecil dan besar hingga mirip sarang tawon. Dari gua yang besar terlihat molosnya sinar api mirip dengan cahanya kunang-kunang.

"Mari kita memasuki gua dan melihatnya." It Hiong mengajak. Ia berani sekali. Ia pula kembali jalan disebelah depan.

Gua yang dimasuki itu, ditempat dalam belum sepuluh tombak sudah terhadang sebuat batu besar sekira seperdirian orang. Pada dinding sisinya dengan huruf-huruf yang bersinar mirip terangnya kunang-kunang terlihat ukiran dari tiga huruf besar "Poan Coa Kok" artinya Lembah Ular Melingkar.

Melihat pertanda itu Tan Hong berlari ke depan, menghampiri It Hiong, ujung baju siapa ia lantas tarik terus dengan perlahan ia kata : "Lekas menempel di dinding !

Kitapun harus sering mendekam ! Kita mesti bersiaga dari serangan senjata gelap dari musuh !"

It Hiong bersyukur, ia bagaikan disadarkan si nona. Lantas ia mepet pada dinding berjalan dengan merapatkan diri terus menerus. Demikian pun dengan kedua kawannya itu.

Tepat mereka datang dekat pada batu besar dan tinggi penghadang, mereka lantas mendengar suara melesatnya panah api tiga kali, panah itu bukan melesat ke depan hanya ke belakang mereka sejauh satu tombah dan nancap di dinding, hingga ketiganya mirip obor !

Menyusul itu maka dari balik sebelah batu besar terdengar suara dingin bagaikan es ini : "Bocah yang baik ! Masihkah kau hendak menyembunyikan dirimu ? Kalau kau benar pandai mari sambut golokku ini !"

Dengan golok, orang itu maksudkan "Liu kio-to" yaitu golok tipis dan ringan. Nama itu berarti "golok daun Yang-liu".

Dan menyusul itu sembilan buah golok tersebut menyambar kepada It Hiong bertiga, seorang menjadi sasarannya tiga batang golok yang suara menyambarnya terdengar nyata dan goloknya sendiri berujung berkilauan

Diantara ketiga orang itu yang kepandaiannya paling lemah ialah Whie Hoay Giok tetapi dia menang pengalaman, dengan mudah saja dia dapat menyelamatkan dirinya yaitu dengan maju ke depan sambil mendekam, hingga ketiga golok lewat di belakang penggungnya dan nancap pada dinding.

It Hiong lain lagi. Dia mengandal kepada tenaga "Hang Liong Hok Houw Ciang" dengan satu tolakan jurus silat itu ia membuat ketiga golok runtuh berjatuhan ke tanah.

Tan Hong sebaliknya keras lawan keras. Dengan sanho pang ia menangkis meruntuhkan ketiga golok yang mengancamnya itu, hingga tiga kali terdengar suara bentrokan nyaring.

It Hiong berlaku cepat. Ia bermata sangat celi. Ia berlompat ke arah belakang batu sambil membarengi menyerang dengan pukulan "Now Sie Toat Hian" yang roboh dengan muntah darah. Tan Hong lompat menyusul, ia terus mendengar satu suara menjerit sesudah waktu ia tiba dibalik batu. Ia melihat It Hiong sedang memegangi tangan seorang berseragam lain, yang mukanya meringis kesakitan. Orang itu berlutut, tubuhnya bergemetar, peluhnya membasahi dahinya.

"Ampun" masih terdengar ratapannya.

"Bilang, kau jadi apa di Poan Coa Kok ini ?" Tan Hong tanyanya.

Tak dapat orang itu menjawab. Maka It Hiong menamparnya jatuh sambil terus berkata bengis : "Lekas kau bicara kalau kau masih menyayangi jiwamu !"

Masih orang itu tidak dapat membuka mulutnya. Dia rebah telentang mata mengawasi si anak muda dan mudi.

"Mana lagi anggota kalian yang lain ?" It Hiong tanya. "Siapakah yang menjadi tongcu kamu ?"

"Aku cuma dapat menjawab satu kali !" cibirnya, orang itu membuka juga suaranya dingin. "Tong cu dari Pan Coa Kok bernama Sioaw Kit gelar Cian Ciu Longkun, si Tangan Seribu Yang, lainnya sebab aturan kami sangat keras, tak dapat aku bocorkan !"

"Beranikah kau tidak bicara ?" bentak Tan Hong. "Kau tahu ruyung nonamu in biasa tak mengasihani orang yang bacotnya keras !"

Orang itu tertawa sedih. "Nyawaku sudah hilang!" sahutnya. "Kalau aku membuka rahasia disini, maka tubuh tak dapat bertahan dari siksaan besi panas. Kalau aku tidak bicara, aku tak akan lolos dari tangan kalian ! Maka itu lebih baik aku menutup mulut dan terima binasa ditanganmu !"

It Hiong kagum buat sikapnya orang itu.

"Nah, kau pergilah !" kata dia akhirnya. "Aku beri ampun padamu !"

"Segala manusia jahat buat apa dikasihh tinggal hidup ?" berkata Tan Hong.

"Kita bukannya penggemar melakukan pembunuhan terhadap sesamanya !" kata It Hiong tertawa. "Membunuh lebih satu jiwa bagi kita tidak ada faedahnya. Dimana bisa harus kita mengampuni orang...Kakak, mari !"

Berkata begitu si anak muda lantas mengikuti orang tawanannya yang telah dibebaskan itu yang terus berlari pergi.

Hoay Giok menyusul, begitu pun Tan Hong.

Mereka keluar dari dalam gua itu dan tiba disebuah lembah sempit dengan dinding batu gunung dikiri dan kanam, luasnya cuma satu tombak. Menengadah ke langit, orang melihat si putri malam. Karena suasananya sangat sunyi mereka mendapat dengar tindakan dari kaki tawanan yang dibebaskan itu.

Sempit dan berliku-liku, nama lembah itu mirip sekali, Pan Coa Kek atau lembah ular melingkar. Tikungannya ada yang besar dan kecil. Sampai kira tiga jam, tetap mereka masih berada di lembah itu. Disini lembah gelap sebab cahaya rembulan tak tembus.

It Hiong sementara itu heran. Bukankah mereka berjalan cepat ? Kenapa lembah seperti tak ada akhirnya ? Pula kenapa sampai sebegitu jauh mereka tak menemukan lain rintangan pula ? Kenapakah ?

Sebenarnya mereka telah kehilangan tawanan mereka pun berlari-lariputar balik disitu-situ juga.

"Tahan !" berseru Tan Hong yang heran seperti si anak muda, hingga dia lantas menggunakan otaknya.

It Hiong berhenti berlari dan menoleh. "Kau melihat musuh kakak ?" tanyanya.

"Mari adik !" kata si nona. "Mari kita bicara !" It Hiong segera menghampiri nona itu.

"Ada apakah ?" tanyanya.

Tan Hong menyalakan api sumbunya untuk menyuluhi batu yang ia injak, sembari menunjuk batu itu, ia menjawab : "Lagi berlari-lari beberapa kali aku telah kena injak ini batu koral sebesar telor gangga. Batu ini besar dan licin, setiap kena menginjaknya hampir aku terpeleset jatuh. Karena aku menginjaknya beberapa kali, apakah itu bukan berarti kita berlari-lari sia-sia saja ?"

It Hiong berdiam, otaknya bekerja. Ia ingat bahwa iapun tadi pernah menginjak batu itu. Pula aneh batu serupa berada hanya disitu. Akhirnya ia bagaikan terasadar. "Kau benar kakak !" kata ia. "Mestinya lembah ini mempunyai jalan keluar lainnya. Bukankah orang tadi telah hilang dan tak terdengar juga suara larinya ?"

Ketika itu Hoay Giok pun datang menghampiri. Dia bernafas memburu.

"Ada apakah ?" tanya dia yang terus menyampok memadamkan api ditangannya si nona.

Nona Tan memberi keterangan perihal kecurigaan itu. "Lembah begini gelap, inilah sulit !" kata Hoay Giok

kemudian. "Kalau kita terus menyalakan api itulah berbahaya. Adalah satu pantangan kalau musuh gelap dan kita terang."

It Hiong mengangkat kepalanya. Tinggi dinding mungkin seratus tombak. Dari sinar rembulan, dapat diduga mungkin itu waktu sudah jam empat kira-kira.

"Baik kita duduk beristirahat disini" katanya kemudian. "Kita menanti sampai terang tanah baru kita lihat bagaimana baiknya."

Tan Hong tertawa.

"Bukannya tak dapat kita melewati waktu sambil beristirahat disini !" kata ia. "Cuma apakah orang tak akan menertawakan kita kalau murid utama dari Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia menunjuki kelemahannya terhadap kaum Losat Bun ?"

Kata-kata itu membangunkan semangatnya si anak muda she Tio, sampai ia lupa kepada pantangan "Pria dan wanita tak dapat berpegangan tangan". Ia telah memegang erat-erat tangannya si nona seraya berkata : "Kakak benar ! Terima kasih untuk kebaikan kau ini !"

Tan Hong bersenyum. Ia merasakan telapak tangan si anak muda berhawa panas hingga bagaikan terkena tenaga listrik, tubuhnya menggigil sendirinya. Tidak tahu ia, ia kaget atau girang. Ia mendekati telinganya si anak muda dan berkata perlahan : "Asal saja kau tidak menyia-nyiakan kakakmu ini, adik. "

It Hiong terkejut. Ia insyaf bahwa ia telah berbuat berlebihan terlalu terpengaruhkan rasa hatinya yang polos. Sebenarnya ia justru hendak menyingkir dari urusan asmara.

"Kakak Whie" ia lekas menyimpangi pembicaraan, "apakah pendapat kakak ?"

Berkata begitu, ia lekas-lekas menarik pulang tangannya. "Mari kita pikir bersama !" sahut Hoay giok yang tengah

menyusuti peluhnya. Memangnya ia belum memikir sesuatu.

Tan Hong tertawa. kata ia, "Orang tawanan kita barusan bisa menghilang. Itulah pertanda bahwa disini mesti ada satu jalan keluar, sebuah jalan rahasia. Bagaimana kalau kita mencari berbareng kita maju sambil kita terus berpegangan tangan ? Mungkin pada dinding ada jalan rahasia itu ! Dan ini batu koral kita jadikan tanda, apabila kita menemuinya pula, itu bukti bahwa kita sudah jalan satu putaran. Bukankah baik kalau kita jalan dahulu disebelah kanan ?"

"Nona benar. "Hoay Giok menyatakan setuju. "Cuma, apakah tak baik kita jalan berbareng tetapi misah dikiri dan kanan ? Bukankah itu berarti menghemat waktu ?" "Aku hanya menguatirkan apabila kita menemuinya jalan keluar terjaga musuh atau ada pesawat perangkapnya" kata Nona Tan. "Aku kuatir kalau kita berpisahan selagi ada ancaman bahaya kita sukar saling tolong. Baik kita jalan disebelah kanan saja. Aku percaya jalan keluar itu berada dikanan kita !"

Nona ini melihat tak mungkin jalan rahasia berada di sebelah kiri.

Diam-diam mengagumi nona itu yang gagah dan cerdas. Ia tidak berkata apa-apa lagi hanya harus ia membungkuk akan mengumpuli batu koral agar menjadi tanda yang mudah dikenali.

"Nah, mari kita mulai" ia mengajak. "Kita ambil jalan kanan."

Lantas bertiga mereka mulai bekerja, masih sambil meraba- raba, maju dengan perlahan. Sampai sebegitu jauh apa yang tangan mereka sentuh adalah batu atau batu karang yang keras-keras. Belum ada sesuatu yang membuat mereka curiga. Maka mereka maju terus dengan sabar.

Mungkin sudah melampaui selama satu jam atau mendadak It Hiong berseru : "Ah ! Aku telah menemukannya !"

Tan Hong sudah lantas menyalakan sumbunya dan Hoay Giok dengan tangan bajunya mengalinginya ! Sama-sama mereka memasang mata ke arah tangannya si anak muda yang bersuara itu.

Pada dinding itu terdapat beberapa buah batu besar, yang diatur mirip gigi anjing yang merupakan sebuah lubang yang besarnya cukup buat tubuh seorang. Terang itulah batu buatan manusia.

It Hiong menyambuti api dari tangannya Tan Hong.

"Nanti aku yang merayap masuk !" katanya. "Kalian menantikan pertanda dari aku, baru kalian menyusul !"

Tan Hong dan Hoay Giok bersiap menantikan.

Dilain saat, begitu mereka sudah melintasi jalan rahasia itu hingga mereka menghadapi pula sebuah lembah lainnya.

Mulai lembah-lembah belasan tombak dan penuh dengan rumput tinggi-tinggi. Teranglah itu sebuah lembah yang sudah bertahun-tahun jarang di sana manusia.

It Hiong menyingkap rumput tebal itu, sampai ia menemukan sebuah jalan yang tak berumput dimana terdapat banyak tapak kaki orang. Sembari tertawa dan menunjuk jalanan itu, ia kata kepada kedua kawannya "Lihat !

Bagaimana cerdiknya kawanan Losat Bun ! Bukankah kita tak usah takut ? Mari kita ikuti jalan ini !"

Pemuda ini maju dengan diikuti kedua kawannya. Lewat sejauh empat puluh tombak, tiba-tiba mereka mendengar bentakan : "Anak-anak bernyali besar yang sembrono ! Kalian pendamlah tulang-tulang kalian di lembah Holouw Kok ini ! Ha ha ha !"

Nyata itulah Lembah Buli-buli atau Holouw Kok, seperti bentakan itu.

Menyusul itu sebatang panah api menyambar ke dasar lembah mengenai rumput terus menyala dan apinya lantas merembet perlahan, mendekati ke belakang It Hiong bertiga. Api itu pun menutup mulut lemah.

Dengan menyalanya api, lembah bisa tertampak jelas mirip siang hari. Dasar lembah itu makin lama makin lebar dan dalam seratus tombak lebih, macamnya mirip dengan buli-buli (ho louw), penuh rumput, tiada pohonnya. Disekitarnya tidak ada jalanan, jadi itulah lembah mati....

Makin lama api merembet makin mendekati. Banyak tikus dan ular lari serabutan sebab panasnya hawa api.

Tan Hong berpengalaman, tetapi toh ia jeri, sendirinya ia menyender pada It Hiong.

"Bagaimana sekarang, adik ?" tanyanya.

"Celaka !" berseru Hoay Giok sebelum It Hiong menjawab si nna. "Hai begini mengancam, jalan tidak ada Bukankah ini

berarti kita terancam kematian ?"

It Hiong mengangkat kepalanya, dia bersiul nyaring, hingga dia mirip harimau menderung. Kumandangnya itu bagaikan menggetarkan seluruh lembah, mengalunnya lama.

"Seorang laki-laki sejati, mati atau hidup itulah takdir !" berkata dia, gagah dan sungguh-sungguh. "Dihadapan lawan, tak dapat kita menunjuk kelemahan ! Biarnya api hebat, belum tentu dia mengancam jiwa kita. Selama kita masih bernapas, kita mempunyai harapan ! Mari tenangkan diri, untuk kita dapat berpikir !"

Habis berkata, pemuda ini menjatuhkan diri, untuk duduk numprah, matanya mengawai api. Ia seperti tak menghadapi bencana apa jua, saking tenangnya.

Tan Hong dan Hoay Giok mendapat emposan semangat, lantas mereka turut duduk berdiam seperti kawannya yang gagah berani itu, terus mereka mengasah otak mereka.

Selama itu, mereka tidak mendengar suara bentakan orang tadi. Cuma suara api yang membakar rumput, terdengarnya meretak dan terus mendatangi makim lama makin dekat sampai lagi hampir lima tombak jauhnya hingga bisa dimengerti apabila hawa panasnya mulai terasa ketiga muda mudi itu.

Tan Hong dapat berduduk dengan tenang. Dia tak takut mati bahkan dia senang berada bersama It Hiong kepada siapa didalam hatinya dia telah menyerahkan seluruh tubuh nyawanya. Dia memejamkan mata. Dia percaya habis pada si anak muda. Disamping berdiam diapun berpikir keras mencari daya.

Hoay Giok terganggu hawa api, hatinya menjadi tidak tenteram. Ia membuka matanya melirik It Hiong dan Tan Hong. Ia mendapati orang berduduk tak bergeming maka iapun mencoba menentramkan hatinya itu.

Api merembet terus, sekarang tinggal lagi kira tiga tombak dan hawanya sudah terasa panas bukan main. Tepat itu waktu It Hiong berjingkrak bangun.

"Kalian turut aku !" serunya. Dan terus ia membuka langkahnya.

Tan Hong berlompat bangun, juga Hoay Giok. Tanpa menanya mereka lantas mengikut berjalan pergi. It Hiong berlari-lari ke tempat kemana api jauh belum sampai sejauh sepuluh tombak. Disitulah dia berhenti.

"Disini kita melepas api !" berkata dia.

"Inilah buat mempercepat habisnya rumput ini !" Dan terus ia bekerja. Rumput di dekatnya dibakar setelah itu dia membuat beberapa gulungan rumput buat menyulut itu buat dipakai membakar dilain-lain bagian. Habis itu ia menyingkir ke tempat dimana tidak ada api.

Tan Hong menurut buat ia bekerja seperti si anak muda walaupun ia belum mengerti jelas akan maksud orang.

Tinggallah Hoay Giok yang berdiri menjublak saking heran....

Ia melihat It Hiong dan Tan Hong melakukan pentebaran melintangi lembah itu membuat api menuju ke arah dasar atau tengah-tengahnya lembah.

Segera juga ketiga orang itu berdiri diam ditempat yang bagian depan dan belakangnya penuh dengan api berkobar- kobar, jauhnya api sekira sepuluh tombak.

Hoay Giok jeri menyaksikan api mengancam akan menembus mereka. "Sute", akhirnya dia tanya adik seperguruannya itu, " kita melepas api ini buat menolong atau membunuh diri ? Kakakmu ini masih belum mengerti maksudmu."

It Hiong tertawa lebar. "Jangan kuatir suheng !" sahutnya sambil bersenyum. Inilah daya untuk menyelamatkan diri sendiri ! Jika kita bertiga tidak dapat memikir jalan keluar dari lembah ini, maka kita bertiga bakal mati tertambun disini !" Justru pemuda ini menjawab kakak seperguruannya, justru pikirannya Tan Hong terbuka, hingga ia dapat menangkap mukanya It Hiong. Dengan lantas ia pun tertawa. Bahkan ia segera berkata : "Oh, adik Hiong yang baik ! Sungguh kau cerdas ! Di saat menghadapi bahaya kematian seperti ini kau dapat menggunakan otakmu begini sempurna !"

Hoay Giok mendelong. Dia tetap bingung. "Bukankah kita lagi menghadapi lantas apa ?" katanya. "Bukankah masih ada soal kita akan dapat lolos atau tidak ? Kenapa kau berkata begini, nona ? Aku minta sukalah kau memberikan penjelasan

!"

Tan Hong bersenyum mengawasi It Hiong. "Adik Hiong, tolong kau jelaskan kepada kakak Whie tentang ilmu hitunganmu itu !" kata dia.

It Hiong mengangguk. "Inilah soal mudah suheng, "kata dia pada Hoay Giok. "Cuma baru-baru saja ancaman api membuat kita bingung hingga pikiran kita menjadi tertutup rapat. Kita terancam api, habis dimana kita harus menaruh kaki kita di tempat yang aman ? Tak ada jalan lain daripada kitapun membakar rumput ini, guna mempercepat musnahnya rumput disekitar kita. Dimana tidak ada rumput disitu tidak ada api atau api akan padam sendirinya. Lihat di sana itu, tempat mulainya api ! Bukankah setibanya ditempat tidak ada rumput, api lantas berhenti dan mati sebab dia tak dapat merambar lebih jauh ? Kesana kita pergi ! Mari !"

Dan si anak muda bertindak jalan sambil tertawa.

Hoay Giok mendelong setibanya ia ditempat tidak ada api sebab rumputnya sudah padam dan hawa panas api pun lenyap. Baru sekarang ia mengerti. Sebaliknya, api yang dilepas si anak muda masih merambat terus ke tengah atau dasarnya lembah itu, menghabiskan tempat yang dilandanya....

Sementara itu dengan selewatnya sang waktu, fajar mulai tiba. Perlahan-lahan tampak udara terang. Kalau tadi It Hiong bertiga mengandalkan sinar api untuk melihat tegas ke sekitarnya, sekarang mereka ditolong matahari. Lantas mereka bertindak ke mulut lembah. Di sana dinding tinggi seratus tombak ! Mana mereka dapat memanjatnya ? Maka mereka jalan kembali.

Sekarang ini mereka pikirkan soal jalan keluar. Mereka baru berhenti bertindak selekasnya It Hiong melihat tumpukan batu yang tadi malam ia buat ! Tanpa merasa ia tertawa sendirinya.

Tan Hong sebaliknya melihat ke sekitarnya, ia memasang mata tajam. Jauh lima tombak dari tumpukan batu itu tampak sebuah batu besar mirip daun pintu nempel pada dinding.

Pintu itu tak terlihat tadi malam selagi mereka terbenam dalam kegelapan. dengan berlompatan, ia menghampiri batu mirip pintu itu, bahkan dengan kedua tangannya, ia lantas menolak dengan keras.

"Plak !"

Demikian terdengar suara pada pintu itu hingga percikan batu dan hancurannya berterbangan, tetapi pintunya sendiri tidak bergeming.

Hoay Giok nampak heran. "Mungkin inilah jalan keluar !" berkata dia. "Sute, apakah yang kau lihat ?"

It Hiong mengawasi tajam. Tidak ada sesuatu yang mendatangkan rasa curiganya. Maka ia mengawasi terus. Dari pintu dan semua pinggirannya ia memasang mata terus ke sekitarnya. Dua kaki dari pintu itu ada sebuah batu yang mirip tanduk kambing tergantung pada tembok dinding itu tingginya kira sebatas pundak. Ia lantas menghampiri batu itu, terus ia memegangnya dan memutarnya menarik ke kiri dan kanan.

Mendadak saja terdengar suara nyaring, tahu-tahu daun pintu batu itu telah terbuka sendirinya hingga diambang pintu itu nampak sebuah jalan.

Hoay Giok bersorak tertawa sambil bertepuk tangan. "Dasar orang baik dilindungi Thian !" serunya. "Siapa

sangka mudah saja kita menemui jalan keluar."

Tan Hong pun bergirang, ia bersenyum melirik si anak muda.

It Hiong lantas bertindak ke pintu buat memasukinya. Hoay Giok dan Tan Hong mengikuti.

Pintu rahasia itu memimpin mereka ke sebuah tempat terbuka yang berupa seperti punggung gunung. Dari situ mereka dapat memandang ke sekitarnya, semua puncak atau rentetan pegunungan yang penuh dengan pepohonan. Di waktu pagi, sang angin mendatangkan rasa nyaman. Di kaki puncak yang tertinggi di tempat yang rata terlihat segunduk bangunan yang gentingnya memberi cahaya kilau keemasan.

"Mungkin itu sarangnya Losat Bun !" berkata Tan Hong sambil menunjuk. "Baik kita beristirahat dahulu disini, baru kita hampiri mereka. Setujukah kau ?"

Dua-dua It Hiong dan hoay Giok setuju. Memang setelah si nona bicara, mereka seperti mendadak saja merasa letih. Mereka tidak tidur semalam suntuk, mereka habis berjalan jauh dan berpikir keras. Jalan jauh sebab mereka berputaran disitu-situ juga !

Lantas ketiganya duduk untuk mengisi perut dengan rangsum kering, habis mana mereka berdiam bersemedhi.

Di dalam waktu satu jam It Hiong telah mengembalikan seluruh tenaganya luar dan dalam hingga ia menjadi segar sekali, sehat lahir dan bathin. Ketika ia berbangkit bangun, Tan Hong dan Hoay Giok masih terus duduk mematung. Ia tidak mau menganggu mereka itu, ia hanya berdiri sambil mengawasi ke sekitarnya. Secara demikian, ia pun secara diam-diam tengah melindungi kedua kawan itu.

Mereka berada di tempat terbuka, tidaklah heran kalau lewat lagi sekian lama mereka kena dipergoki orang Losat Bun yang lagi tugas meronda, maka atas seruan dia lantas muncul serombongan kawannya yang berseragam diantara siapa orang yang menjadi pemimpin adalah orang usia setengah tua, jubahnya panjang, pinggangnya dilibat sabuk. Dia bermuka putih dan bersih hingga dia tampak seperti seorang pelajar. Cuma sepasang matanya tajam dan bersinar mirip mata tikus serta kopiahnya yang membuatnya mirip seperti sastrawan. Kopiahnya kopiah kembang juga kopiah seragam.

Dialah Cian Pek Longkun Sutouw Kit si Sastrawan Seribu Lengan. Di belakang dia terlihat Cia Cu Koan Im Lou Hong Hui karena merekalah sepasang suami istri yang menjadi anggota- anggotanya dari Losat Bun Hong Hui adalah yang menganjurkan suaminya menempur ketiga musuh itu yang dia benci sebab dia dikalahkan mereka itu.

Beda daripada istrinya itu Sutouw Kit bertabiat tinggi, suka mengungguli diri. Dia pula sangat cerdik dan licik. Kalau dia mencelakai orang, dia ingin berbareng memperoleh sama karenanya.

Demikianlah sebabnya kecuali melepas api di Poan Coa Kok, dia seperti membiarkan orang dari malam sampai pagi itu sampai orang terpergok perondanya. Dia tidak menyangka orang tak mati terbakar sedangkan tadinya dia sudah kegirangan siang siang dan percaya orang akan mati semua hangus menjadi abu.

Sutouw Kit mengawasi ketiga orang itu. Nampak tegas dia heran.

"Hai, manusia bau !" dia membentak selekasnya dia datang dekat, "kamu sudah tidak mampus terbakar, bukannya kamu kabur untuk menolong jiwa kamu, kenapa kamu masih berdiam disini ? Mau apakah kamu, mempunyai berapa banyak batok kepala ?"

It Hiong tidak menjadi gusar walaupun orang bersikap galak itu. Ia malah memberi hormat seraya berkata sabar, "Tuan, partaimu dan aku yang rendah tidak bermusuh, kenapa sekalipun sekarang kita baru bertemu, tuan telah menjadi begini bergusar ? Aku harap tuan dapat ketahui bahwa kami datang kemari adalah karena mentaati janjinya Kui Cie Hoan Keng Su, guna kami ialah dia dan aku membereskan urusan kami. Aku percaya tuan adalah yang menjadi cianpwe kaum Kang Ouw,maka itu kenapa dengan tiba-tiba saja tuan mencampuri urusanku dengan Keng Su ?"

Hoay Giok dan Tan Hong terasadarkan karena suara keras dari Sutouw Kit, mereka membuka mata dan melihat tibanya musuh, dengan lantas mereka menghampiri It Hiong bersiap sedia untuk turun tangan. Wajahnya Sutouw Kit berubah selekasnya dia mendengar suara halus dari si anak muda. Ia pun telah diangkat menjadi cianpwe, orang dari angkatan tua. Itulah suatu kehormatan untuknya.

"Kau bicara manis, anak" katanya tertawa. "Ya, kata- katamu beralasan juga. Cuma tahukah kau aturan kami disini

? Siapa lancang masuk ke tempat kami hukumannya ialah hukuman tanpa ampun lagi ! Kamu sudah memasuki Lok Han Kok dan sekarang Poan Bon Kok, dua lembah, jika aku Sutouw Kit tidak menjalankan aturan kami itu, mana dapat aku memberikan pertanggungan jawabku ?"

Diam-diam It Hiong bergirang. Telah ia dengan akalnya mengangkat orang memakai topi tinggi-tinggi. Maka lagi ia memberi hormat dan berkata hormat seperti tadi : "Kita kaum rimba persilaran, yang kita utamakan ialah kepercayaan dan hormat menghormati, dapat kita membedakan budi dari perasaan, terutama harus kita bedakan permusuhan lama dan permusuhan baru, supaya dua-duanya itu dapat diputuskan pada waktu gilirannya. Karena itu aku yang rendah, aku minta supaya aku dapat membereskan dahulu perhitunganku dengan Keng Su, supaya aku dapat menolong Paman Beng kami. Habis itu, cianpwe, apa juga yang kau kehendaki, bersedia kau mengiringinya !"

Lou Hong Hui panas hati. Dia menyela, "Sakit hati di Lok Hun Kok kemarin tak dapat aku lepaskan ! Maka itu, budak, apakah katamu ?" Dia lantas menuding Tan Hong, matanya mendelik bengis.

Tan Hong berpengalaman. Ia dapat menerka kenapa It Hiong bersikap demikian merendah. Karena itu, tak suka ia menyambut kegalakan Hong Hui dengan kekerasan.

Sebaliknya, ia lantas tertawa. "Harap kau tidak keliru mengerti, Lou Tongcu" ia berkata hormat. "Apa yang terjadi di Lok Hun Kok itu adalah tongcu yang memberi pengajaran padaku, bukannya tongcu keliru menangkis, tetapi kalau tongcu masih merasa kurang puas, baiklah, aku bersedia menghaturkan maafku ! Nah, kakak, terimalah hormatnya adikmu !"

Tepat seperti gerak geriknya It Hiong, Tan Hong memberi hormat kepada wanita jago Losat Bun itu.

Hung Hui berdiam. Dia memang suka diangkat sebagaimana suaminya.

It Hiong puas melihat suasana itu. Ia maju satu tindak terus ia memberi hormat pula pada suami istri itu seraya ia berkata : "Sekarang ini aku yang rendah mohon diberi ketika, akan menghadap kepada ketua kalian untuk memohon petunjuknya, dengan cara bagaimana urusan dengan Keng Su dapat diputuskan. Bagaimana kalau aku minta perantara kedua tongcu ? Adat itu terlebih dahulu aku mengucap banyak banyak terima kasih !"

Di mulut It Hiong berkata hormat tetapi dalam perbuatan dia bertindak menurut rencananya sendiri ialah tanpa menanti jawaban kedua tongcu itu, terus ia bertindak maju, perbuatan mana diturut oleh Tan Hong dan Hoay Giok.

Tanpa merasa Sutouw Kit tertawa, terus ia memberi isyarat kepada rombongannya itu membuka jalan bagi ketiga tetamu yang tak diundang itu. Hingga It Hiong bertiga bisa maju tanpa rintangan bahkan mereka lantas mempercepat jalan mereka. Habis melewati sekelompok rimba, It Hiong tiba di depan pintu gerbang dari sebuah bangunan yang tinggi dan besar yang tadi mereka lihat dari jauh. Di muka tangga tampak penjagaan delapan anggota berseragam dari Losat Bun, pemimpin siapa tadi It Hiong menyebutnya "ketua".

Sebenarnya ketua Losat Bun itu adalah kauwcu semacam raja agama. Para penjaga itu mengenakan kopiah dan pakaian seragam dan pinggangnya masing-masing tergantungkan sebuah golok partainya yang seragam juga.

Di atas pintu gerbang tedapat tiga huruf besar : "Lo Sat Bun". Tembok berwarna merah, jubahnya putih. Halaman luar itu luas. Di kiri dan kanannya terpancang bendera partai yang berkibaran diantara setinggi empat tombak.

Dilihat sekilar, tempat itu mirip markasnya seorang jendral !

It Hiong bertiga lantas bertindak ditangga batu itu. Dia lantas disusul Sutouw Kit yang terus menitahkan ketiga tetamunya berhenti untuk menanti disitu, katanya dia hendak melaporkan dahulu dan harus menanti kesudahannya laporan itu. Habis berkata dia segera bertindak masuk dengan cepat.

Hoay Giok heran terhadap apa yang dia lihat itu, kata dia : "Pernah aku menyaksikan ini dalam kaum Kang Ouw tapi juga cara Ay Lao San ini adalah suatu yang baru untukku !"

"Partai sesat dan orang-orangnya semuanya memang beda daripada partai dan orang yang kebanyakan" berkata Tan Hong. "Mereka semua bersikap aneh, karena itu perlu guna mengelabui mata orang banyak ! Karena itu kakak Whie, janganlah kau heran. Yang terang ialah kita harus waspada sebab aku percaya sebentar kita akan mengalami suatu pertumpahan darah !" "Tetapi kita harus sabar !" It Hiong turut bicara. "Kita datang kemari buat membantu paman Beng, jadi tak usah kita bertempur selekasnya kita melihat orang. Jangan kita menanam bibit permusuhan dengan kaum sesat !"

Tan Hong dan Hoay Giok mengangguk.

Ketika itu muncullah seorang kacung yang berseragam juga. Dia menggapai pada It Hiong dan kata : "Tetamu she Tio, silahkan masuk !"

Itu pun cara mempersilahkan tamu-tamu yang beda sekali dengan caranya kaum Kang Ouw di Tionggoan. It Hiong tidak mengatakan apa-apa dengan tangan kanan dipegangnya Keng Hong Kiam, dia bertindak maju dengan sikapnya yang gagah. Tan Hong dan Hoay Giok mengintil di belakang kawan itu.

Selewatnya pintu gerbang tiba sudah mereka disebuah halaman berlantai bata, di kiri dan kanannya adalah beranda didalam mana terdapat ukiran dari dewa-dewa atau malaikat- malaikat yang aneh macamnya. Ada wanita, ada pria, ada juga pelbagai macam binatang. Bahkan ada ukiran orang tanpa pakaian !

Di muka Toa tian yaitu pendopo besar terdapat patung kayu yang tinggi dan besar, tubuhnya tubuh manusia, kepalanya binatang, rambutnya merah dan riap-riapan mukanya biru, matanya tajam seperti mata singa, sedangkan mulutnya merah seperti darah. Di kedua gigi mulutnya tumbuh gigi yang merupakan caling yang tajam. Sebagai penutup tubuh adalah jubah suci kaum agama Tao dan kakinya telanjang. Pada tangan dan kaki terdapat gelang emas.

Mengawasi patung aneh itu, orang heran dan siapa yang nyalinya kecil hatinya bisa menjadi ciut. Di bawah patung aneh itu terdapat dua buah meja terbuat dari kayu semacam pohon aren. Di atas meja tidak ada tempat abu atau cipok, cuma ada sebuah para dari kayu yang panah tertancap lengkie yaitu bendera-bendera kecil pertanda pelbagai perintah. Disamping para-para bendera itu terdapat sebuah tempat air dingin dimana tampak sebilah pisau belati yang tajam mengkilat.

Ditengah-tengah pendopo ada sebuah kursi emas, diatas kursi itu duduk bercokol seorang wanita tua yang rambutnya sudah putih, semua mukanya keriputan, tangannya memegang sebuah seruling hitam mengkilat. Di belakang kursi kebesaran itu berdiri enam orang nona, pakaiannya berkembang seragam, kepalanya ditutup kain penutup berkembang juga hingga ke dahinya. Rambut mereka juga riap-riapan. Selagi senjata dipinggang mereka terdapat goloknya masing-masing.

Di kiri dan kanan terdapat lima buah kursi, dua di kanan, tiga di kiri. Dua kursi di kanan yang serupa perlengkapannya, kosong, tidak ada yang duduk. Adalah yang dikiri diduduki oleh Sutouw Kit, Lou Hong Hui dan Keng Su.

Kacung tadi memimpin ketiga tetamunya sampai dipendopo besar itu, sembari membungkuk. Ia kata pada si nyonya tua : "Melaporkan kepada Kauwcu, para tetamu sudah tiba !" Habis itu dia mundur dengan hormat.

It Hiong baru saja hendak memberi hormat atau dia didahului wanita tua dan keriputan itu yang berkata keras : "Bocah she Tio tak usah kau bawa lagak hormatmu ! Tentang maksud kedatanganmu, aku si wanita tua sudah mendapat tahu dari muridku, jadi tak usah kau bicara banyak lagi !

Hanya sekarang kau harus turut agama kami, kau harus menusuk diri mengeluarkan darahmu buat menghormati Couwsu kami, setelah itu baru kita bertindak buat membereskan perhitungan !"

It Hiong tidak menjawab atau mengutarakan sesuatu. Ia hanya berkata dengan sungguh-sungguh. "Sekarang ini dimana adanya Tin Pet Hong Kee Eng yang menjadi pamanku

? Aku minta diberitahukan."

"Tutup mulut !" bentak si nenek gusar.

Tan Hong segera maju dan tindak untuk menghadang di depannya It Hiong. Ia tidak menanti anak muda ini sempat bertindak.

"Kwie Tiok Giam Po Ciok Kauwcu !"kata ia. "Kenalkah kau akan Tan Hong dari Hek Keng To ?"

Nona itu tahu aturan Losat Bun yang aneh-aneh, maka juga langsung ia memanggil orang dengan sebutan "kauwcu".

Matanya Kwik Tiok Giam Po lantas mengawasi si nona. Mata itu bersinar sangat dingin. Ia tidak lantas menjawab hanya balik bertanya : "Terhadap Beng Leng Cinjin, bagaimanakah kau membahasanya ?"

"Dialah Toasuheng ku !" sahut Tan Hong singkat. Toa suheng ialah kakak seperguruan kesatu.

"Kau telah datang ke tempat kami ini dengan siapakah kau bersangkut paut ?" tanya pula si nenek.

"Yang utama ialah akan menanyakan kesehatan dari Ciok Kauwcu !" Nenek itu membuka matanya, kembali mata bersinar tajam.

"Hai budak setan !" mendadak dia membentak. "Bagaimana kau berani mendusta terhadap aku si orang tua ? Jika aku tidak memandang muka kakak seperguruanmu itu, pasti sudah akan mengalir lidahmu yang tajam. Lekas bicara terus terang !"

Maka si nenek yang julukannya itu Kwie Tiok Giam Po berarti si Nyonya Giam Bang si Bajingan nampak menjadi sangat bengis seperti suaranya pun keren sekali. Tetapi Tan Hong tidak jeri. Mulanya si nona terperanjat parasnya sampai berubah, hanya sedetik dia mendapat pulang ketenangannya. Bahkan dia tertawa.

"Jangan salah paham, Ciok Kauwcu !" katanya seenaknya saja. "Dengan sebenarnya selainnya menunjukkan kesehatan kauwcu, masih ada dua buah soalku, dua rupa permintaan !"

Matanya Kwie Tiok Giam Po dikasihh turun. Ia tidak sebengis semula.

"Apa yang kau pikir hendak minta itu ?" tanyanya. Tan Hong memberikan jawaban cepat dan langsung.

"Permintaan kesatu" demikian sahutnya. "Inilah supaya Beng Kee Eng dibebaskan !" Ia hening sejenak akan melihat sikap orang. Lantas ia meneruskan, "yang kedua ialah soal upacara memuja Couwsu kalian yang diharuskan kepada adik Hiong ku ini, dalam hal mana adik Hiong mengeluarkan darahnya ! Aku minta supaya dia dibebaskan !"

Mendengar itu si nenek tertawa. Itulah tawanya yang sangat jarang orang dengar. "Hai budak setan, kau sangat cerdik !" katanya. "Kau membuat aku si orang tua sangat menyukaimu ! Sekarang soal kedua permintaanmu itu ! Dan soal itu bergantung kepada kepandaian kalian !"

It Hiong tak sudi mendengari lebih lama pula pembicaraannya dua orang itu. Dengan suara nyaring ia kata : "Aku memohon keadilan Kauwcu ! Inilah dalam perkaranya pamanku Beng Kee Eng yang telah ditawan dan dikurung di Kiu ci Hui Hoan Keng Sa !"

Nenek itu tidak menjawab hanya ia mengibasi tangannya ke belakang atas mana salah seorang pengiringnya si nona berseragam baju berkembang maju kemeja suci untuk menjemput sebatang lengkie yang terus ia bawa ke depan kursinya. Mulanya ia menjura dalam setelah berdiri pula dengan tegak, ia memutar tubuhnya seraya terus berkata nyaring : "To cu Keng Su, terimalah lengkie ini ! Lantas kau boleh membereskan perselisihanmu dengan tamu she Tio ini

!"

Keng Su sudah lantas berbangkit untuk berkata terang dan tegas : "Hambamu ini bukanlah lawannya bocah ini, karena itu hambamu ini mohon belas kasihan Kauwcu atas cacatnya tubuhku supaya tugas itu diserahkan kepada lain orang saja !"

"Keng Su !" berkata si raja agama heran. "Musuhmu ini kaulah yang mengundang dan menjanjikan maka sudah selayaknya kalulah yang menyambut dia buat membereskan perhitungan kalian. Couwsu sudah mengeluarkan perintahnya, apakah kau benar demikian berayal buat berani menolaknya ? Jika kau tidak dapat merobohkan lawanmu, aku si wanita tua dapat membalaskan sakit hatimu ! Nah, pergilah kau mati dengan hatimu tenang !" Mendengar penolakan ketuanya itu muka Keng Su menjadi pucat, sembari tunduk, ia menyambuti lengkie dari tangannya hamba wanita itu, kemudian dengan mengangkat kaki palsunya dengan memperdengarkan suara nyaring, dia maju melompat berjingkrakan ke halaman di muka tangga.

It Hiong melihat gerak geriknya Keng Su, lantas ia nyaring berkata kepada ketua dari Losat Bun, "Dalam hal urusanku ini aku yang rendah telah membuat rencanaku ! Jika aku Tio It Hiong kalah akan kupatahkan pedangku ! Jika apa untung aku yang menang, aku minta supaya Paman Beng segera dibebaskan. Bagaimana kauwcu ? Aku minta kau memberikan persetujuanmu!"

Kwie Tiok Giam Po menjawab dengan cepat : "Baik, aku terima kehendakmu ini ! Sudah jangan banyak bicara lagi !"

Mendengar suara itu It Hiong segera memutar tubuhnya, hendak ia pergi menghadapi Keng Su atau ia melihat satu bayangan berkelebat disusul dengan suara beradunya senjata tajam yang nyaring sekali !

Apakah yang telah terjadi ?

Itulah karena Whie Hoay Giok telah mendahului turun tangan.

Ketika Keng Su pergi ke halaman muka itu, dia sudah lantas mengeluarkan senjatanya. Itulah Tiat pit atau pit besi dan Hoay Giok segera mengenali senjata istimewa dari gurunya, hingga habislah sabarnya sedetik itu, terus saja dia melompat maju dan menyerang kepalanya Kiu Cio Hot Hoan ! Lengan kanan dan kaki kiri dari Keng Su telah ditebas kutung oleh It Hiong ketika terjadi pertempuran di kaslor sewaktu di Haphui, dia telah mengganti itu dengan besi hingga dia mempunyai lengan dan kaki besi. Dengan pergantian itu maka kelincahannya berkurang, tetapi ilmu silatnya tetap lihai. Bahkan dibanding dengan Hoay Giok, dia terlebih lihai satu tingkat, tetapi dalam gusarnya si anak muda lupa segala apa.

Girangnya Keng Su melihat orang berlompat kepadanya. Dia memang benci anak muda itu, hingga dia berkeinginan membinasakannya buat melampiaskan penasarannya.

Demikian ketika dia diserang dengan golok dia mengangkat tiat pit kanan dengan apa dia menangkis dengan keras, berbareng dengan itu, tiat pit kirinya dibarengi diluncurkan ke dada orang ! Kalau dengan tangan kanan dia menggunakan jurus silat "Membakar langit Memberaikan mata" dengan tangan kirinya dia memakai jurus "Langsung Menyerbu Istana Naga Kuning". Dia bersikap telengas, ini karena dia percaya sangat akan ketangguhannya.

Hoay Giok sedang sangat bergusar ketika ia menyerang secara mendadak itu, toh ia terkejut waktu ia mendapatkan sambutan demikian keras hingga tangannya menggetar dan terasakan nyeri. Tapi yang membuatnya lebih kaget ialah waktu ia merasai sambaran angin dan melihat senjata lawan yang kiri mengarah dadanya, dengan gugup ia terpaksa menggunakan goloknya melakukan penangkisan. Hingga dengan susah payah bisa juga ia menyelamatkan dirinya. Ia lantas mundur lima tindak !

Keng Su tidak mau mengerti, sudah penasaran ia pun diserang terlebih dahulu. Maka ia lantas berlompat maju membalas menyerang ! Hoay Giok juga penasaran, ia menyambut serangan itu, dengan demikian, keduanya jadi bertarung seru. Ia tahu ia kalah lihai tetapi ia nekad. Ia keluarkan dua-dua kepandaiannya, ilmu golok Lohan To dibantu dengan ilmu tangan kosong Lohan Ciang. Maka itu dapat ia bertahan.

Karena pertempuran terjadi secara demikian mendadak, ketua dari Losat Bun sampai diam saja, begitu juga It Hiong dan Tan Hong. Kedua pihak bahkan jadi menonton.

Lewat sekian lama kedua pihak masih terus saling menyerang dengan hebat sekali. Keng Su kecele, sedang menurut pikirannya dia akan berhasil merobohkan lawan dalam waktu tiga sampai lima jurus. Karena kecele hatinya menjadi bertambah panas. Maka tibalah saatnya yang dia mengeluarkan seluruh tenaganya. Golok disampok tiat pit !

Hoay Giok terkejut. Ia kalah gesit, goloknya kena terhajar.

Hebatnya golok itu terlepas dari cekalan dan terpental !

Keng Su melihat ketika baiknya dia meneruskan menyerang pula ke arah pampilingan lawan atau dia segera menjadi kaget. Serangannya itu disambut dengan satu sinar putih berkelebat, lalu tahu-tahu senjatanya sudah kena terkutungkan dan di depannya berdiri seorang muda yang tampan dan gagah.

Itulah It Hiong yang membantu kakak seperguruannya. Ia datang pada saatnya yang tepat.

Keng Su melengak. Lebih dulu dari pada itu tangkisan si anak muda membuatnya terkejut dan mundur dua tindak. Hanya habis melengak ia lantas menunjuki kemarahannya. Matanya pun sampai bersinar berapi. "Kau berani melanggar pantangan kaum Kang Ouw menyelak diantara orang yang lagi berkelahi satu sama satu ?" tegurnya dingin. Dia pula lantas mengasi keluar joan pian yaitu ruyung lunaknya.

It Hiong bersenyum.

"Kau menjanjikan tuan kecilmu datang kemari buat membereskan hutang lama kita !" sahutnya lantang. "Sekarang aku telah tiba disini, inilah urusan kita ! Sekarang aku beri ketika kepadamu untuk kau yang mulai menyerang supaya kalau sebentar kau roboh, kau roboh dengan puas, kau menerima nasibmu !"

Keng Su sudah siap sedia, joan pian ditangan kiri, hui hoan gelang terbangnya ditangan kanan. Ia telah membuang tiat pit rampasan dari Beng Kee Eng. Sebab senjatanya itu tak dapat dipakai melayani lawannya yang muda ini. Ia pun tidak sudi banyak omong lagi. Maka ia geraki joan pian dari atas ke bawah, menyerang kerongkongan si anak muda. Jurus  silatnya ialah yang dinamakan "Ikan terbang melintasi gelombang."

"Bagus !" berseru It Hiong yang berkelit ke samping, untuk meneruskan membalas membacok pedangnya naik ke atas terus turun ke bawah mengarah batok kepala lawan itu ! Ia cuma berkelit setengah tindak membebaskan diri dari senjata lawan itu.

Keng Su melihat ancaman bahaya, ia mundur dua tindak.

It Hiong tak sudi memberi ketika lagi pada lawannya begitu orang mudur, begitu ia merangsak. Ia lantas menggunakan ilmu silat pedang Khie bun Pat Kwa Kiam. Keng Su mempunyai pengalaman dari tiga puluh tahun, sekarang dia keluarkan semua itu. Dia insyaf salah sedikit saja, jiwanya bisa melayang. Dia bergerak gesit bagaikan naga sebab dia telah melihat sinar pedang lawan sudah seperti mengurungnya.

Semua orang Losat Bun menonton dengan prihatin. Rata- rata mereka ngeri menyaksikan bergeraknya pedang lawan itu.

Keng Su berkelahi sambil berpikir keras. Ia tahu yang pasti ia menang waktu. Di samping mendesak ia selalu mencari kesempatan yang baik. Ketika itu tiba lewat beberapa jurus pula. Disaat datang satu bacokan yang sangat hebat, ia lantas berkelit habis itu, ia lantas membalas dengan ruyung lunaknya. Tapi ia tidak cuma membalas, ia membarengi menyerang. Hanya ia memakai tangannya yang lain dan dengan menerbangkan gelang mautnya ! Sekali menimpuk, ia melepaskan tiga buah gelang yang menyambarnya berupa benda hitam ! Sasarannya ialah dada, perut dan kaki !
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(