Iblis Sungai Telaga Jilid 20

 
Jilid 20

Siauw Houw menganggap lucu bahwa orang ngotot mengakui Hauw Yan sebagai anaknya. Dari mendongkol dia menjadi tertawa lebar. Maka dia Tanya: “Baik! Kau mengakui anak ini sebagai anakmu! Nah bilanglah, siapakah namanya ayah dari anak ini? Siapakah dia?”

Parasnya si nona menjadi merah, ia telah salah bicara hingga orang menanya dia sedemikian rupa. Justru itu Hoay Giok turut bicara pula.

“Saudara Pek, buat apa melayani dia bicara?” katanya. “Kaum laki-laki bukankah dapat mempunyai satu atau dua istri? Ini toh tidak aneh! Lagipula adik seperguruanku itu gagah da tampan!”

Berkata begitu dia tertawa.

Tan Hong melirik anak muda itu..

“Cis!” ia perdengarkan suara perlahan sedangkan didalam hati ia merasa manis. Kata-kata Hoay Giok cocok dengan rasa hatinya….

“Mama!Mama!” kembali Hauw Yan memanggil.

Siauw Houw terkejut mendengar suara keponakannya itu, mendadak dia melompat maju, goloknya diputar.

Hoay Giok turut maju, tapi dia menghadang di depan anak muda itu.

“Urusan si anak baiknya diserahkan padaku?” katanya. “Kau setuju bukan? Urusan ini tak dapat dipecahkan dengan kekerasan!”

Siauw Houw heran, dia mengawasi orang she Wie itu. “Apakah artinya kata-katamu ini, saudara Wie?” tanyanya. Hoay Giok tertawa.

“Menurut penglihatanku, kalian berdua bukanlah orang asing satu dengan lain” katanya. “Bahkan sebaliknya kalian mirip orang dalam, karena itu baiklah kita bicara dengan hati yang tenang. Dengan ketenangan tidak ada soal yang tidak dapat dibereskan. Sekarang begini saudara Pek. Silahkan kau lekas pulang ke Pek Tiok Po. Kau beritahukan hal ini kepada adikmu itu, lantas kau minta dia segera datang kemari menyusul kami! Aku sendiri akan temani Nona ini pergi ke Kui Kiong San buat mencari adik seperguruanku itu. Andiakata anak ini hilang, aku yang akan bertanggung jawab! Nah, bagaimana pikiran saudara? Akur tidak?”

Pek Siauw Houw berdiam untuk berpikir.

Sebaliknya Tan Hong, dia lantas berkata pada Hoay Giok, “Kau baik sekali saudara Wie, dengan begini kau dapat memecahkan urursan ini, terlebih dahulu terimalah ucapan terima kasihku!” Dia lantas memberi hormat, terus menambahkan: “Cuma ada satu hal yang memberatkan aku. Aku adalah seorang perempuan, tak leluasa buatku berjalan bersama-sama kau. Maka itu mengenai Hauw Yan, baiknya kau percayakan dia padaku. Pasti aku akan antarkan dan menyerahkannya pada adik It Hiong! Kitalah orang-orang Kang Ouw, apa yang kita satu dibilang satu tidak dua! Kalian percayakan padaku?”

“Baiklah!” menjawab Hoay Giok. Dia jujur, dia mudah menaruh kepercayaan.

Tan Hong menggunakan kesempatan itu untuk bertindak keluar dengan cepat. Beberapa orang Lek Tiok Po mau mencegahnya, tapi Siauw Houw melarang mereka. Dengan demikian dapatlah dia berlalu tanpa rintangan.

“Sampai berjumpa pula!” kemudian Siauw Houw berkata- kata pada Hoay Giok, kepada siapa ia memberi hormat terus dia mengajak delapan orang pengikutnya meninggalkan rumah makan itu..

Hoay Giok membalas hormat. Ia mengawasi orang pergi. Ia bernapas lega. Habis itu ia membayar uang makan, terus ia juga berlalu menuju kegunung Kiu Kiong San…

Tio It Hiong bersama Cio Kiauw In sementara itu sudah turun dari gunung Kiu Kiong San bagian selatan, mengambil jalan besar dimana dahulu ia bertemu dengan Wie Hoay Giok, maksudnya ialah setelah bertemu dengan kakak seperguruan itu, hendak mereka bersama-sama pergi ke Ay Kao San guna menolong Beng Kee Eng sang paman. Setelah mendapatkan kembali kitab Sam Cay Kiam, hatinya It Hiong lega sebagian besar. Ia berkata pada Kiauw In, “Kakak, aku kuatir terhadap paman Beng, maka itu mari kita lekas menemukan kakak Wie serta kakak Peng, setelah itu baru kita singgah untuk bersantap. Setujukah kakak?”

Kiauw In tertawa, ia mengangguk. Ia sangat sabar, ia taidak banyak pikir, mudah saja ia menyatakan persetujuannya.

Ketika itu jalanan sepi, lantas mereka lari dengan menggunakan Te In Ciong, ilmu lari ringan tubuh Tangga Mega. Belum lama mereka berlari, mereka lantas melihat disebelah depan mereka ada dua orang penunggang kuda lagi mendatangi dengan cepat. Hingga tidak heran apabila lekas sekali kedua pihak sudah tiba satu pada yang lain.

Dengan matanya yang tajam, It Hiong melihat kedua penunggang itu berseragam hitam ringkas, dipunggung mereka tergantung golok tunggal. Mereka itu selalu mengawasi ke kiri dan ke kanan, beberapa kali mereka terlihat berhenti untuk bertanya kepada orang di pinggir jalan.

“Kakak aku rasanya mengenali seragam mereka,” kata It Hiong selagi orang masih mendatangi. “Dapatkah kakak menerka siapa mereka itu?”

Belum si nona menjawab, kedua penunggang kuda itu sudah tiba, bahkan keduanya lantas lompat turun dari kudanya masing-masing untuk memapaki muda mudi itu. Sambil memberi hormat, yang satu segera bertanya: “Mohon bertanya saudara, apakah saudara ini Tio It Hiong?”

It Hiong menarik bajunya Kiauw In, ia lekas-lekas membalas hormat.

“Aku yang rendah benar Tio It Hiong,” sahutnya terus terang. "Dapatkah aku ketahui saudara berdua dari pihak mana dan ada petunjuk apa dari saudara untukku?”

“Kami yang rendah lagi melakukan perintahnya Pek Pocu dari Lek Tiok Po, sahut seorang diantaranya, “Kami mau pergi ke Kiu Kiong San buat mencari tuan Tio untuk menyampaikan suatu berita penting tidak disangka kita dapat bertemu disini.”

Orang agaknya mau bicara lebih jauh, tetapi dia melirik ke arah Kiauw In.

Beberapa kali dia melirik si nona.

Bercekat hatinya It Hiong, ia mau menerka tentu ada terjadi sesuatu atas dirinya Giok Peng, maka lekas-lekas ia berkata: “Nona ini… nona ini ialah nona Cio Kiauw In, ia kakak seperguruanku. Kakakku ini pernah bersama kakak Peng datang ke Lek Tiok Po. Apakah saudara-saudara ini telah melupakan nona ini? Nah, kalau ada urusan silahkan bicara terus terang!”

Kedua orang itu memberi hormat kepada Kiauw In. “Maaf nona, buat mata kami yang kurang awas!” kata

mereka dengan hormat.

Kiauw In tersenyum, ia memandang mereka itu. “Apakah berita dari Pek Pocu itu?” tanyanya. “Silahkan

tuan-tuan menyebutkannya, tak usah kalian mengunakan adat peradatan.”

Orang Lek Tiok Po itu lantas bicara, mulanya ia menutur tentang pulangnya Giok Peng yang lantas menemui Hong Kun. Bahwa pertemuan keduanya berjalan baik dan Hong Kun mengutarakan niatnya untuk meninggalkan Pek Tiok Po.

Namun ternyata pemuda she Gak itu berhati tidak baik, besok paginya dia menghilang dengan membawa lari tuan kecil Hauw Yan. Sehingga Giok Peng bersama Thian Liong dan Siauw Houw serta orang-orangnya telah pergi menyusul dan mencari dengan berpencaran, sedangkan mereka berdua ditugaskan untuk menyusul ke Kiu Kiong San sekaligus turut menyelidiki perihal anak yang hilang itu.”

Mendengar keterangan itu, It Hiong kaget sekali. Anaknya diculik orang! Tentu saja ia menjadi kuatir dan bingung serta gusar. Sejenak itu ia berdiri menjublak saja.

Kiauw In juga terperanjat dan gusar, sepasang alisnya yang lentik sampai bangun berdiri, tapi ia sabar dan cerdas. Cepat ia mendapatkan ketenangannya dan lantas berpikir. “Sekarang ini dimanakah adanya adik Peng?” tanyanya, “Tahukah kalian?”

“Segera setelah ketahuan lenyapnya tuan kecil, tindakan sudah lantas diambil. Nona Peng berangkat bersama tuan muda Thian Liong menyusul ke Hong Bwe koan sedang tuan muda Siauw Houw kelain arah, karena itu sekarang kami tidak tahu dimana mereka itu…..”

It Hiong menganggap sudah tidak perlu bicara lagi, maka ia menghadapi kedua orang itu dan memberi hormat sambil berkata: “Terima kasih telah merepotkan kalian! Tolong sampaikan kepada Pocu tua, bahwa Tio It Hiong telah mengetahui urusan cucunya terculik itu. Bahwa sekalipun Gak Hong Kun jahat, dia tidak akan dapat berbuat terhadap anakku, dari itu tolong minta supaya pocu tua jangan kuatir!

Nah silahkan kalian pulang!”

Dua orang itu memberi hormat.

“Baiklah!” katanya. “Cuma, tuan Tio, Nona Peng ada memesan dalam hal ini urusan apa juga lainnya diminta tuan menundanya, supaya urusan tuan kecil Hauw Yan didahulukan!”

“Aku tahu!” jawab si anak muda.

Seberlalunya dua orang itu, Kiauw In menoleh kepada It Hiong, ia mendapati anak muda itu berdiam saja, matanya memandang langit. Ia segera menarik ujung baju orang.

“Adik Hiong, mari!” ajaknya.

Tanpa mengucap sepatah kata, It Hiong turuti kakak itu, hingga mereka dapat lari berbareng. Selang kira-kira dua jam, sampai sudah mereka disebuah desa, terpisah dari Kiu Kiong San kira-kira lima puluh lie. Mereka lantas mendatangi rumah makan dimana It Hiong dan Wie Hoay Giok membuat janji. Si anak muda memikir akan mendengar kata-kata dari saudara seperguruannya itu.

Sebenarnya It Hiong sudah lapar, akan tetapiriknya, dia menunda sumpitnya dan sambil tertawa ia berkata: “Adik, lupakah kau akan peribahasa ‘bahwa urusan yang harus dibereskan tapi tak dibereskan, itu berarti perbuatan orang bodoh!’ , maka itu apalagi yang kau pikirkan? Mari makan!”

It Hiong menoleh, mengawasi istrinya itu, lalu ia menghela napas.

“Rupanya adikmu ini ditakdirkan menjadi barang mainan segala bajingan!” katanya masgul. “Lihat, segala peristiwa tak disangka-sangka datang susul menyusul! Ombak yang satu belum reda, sudah tiba gelombang lainnya, membuat aku repot sekali!”

Kiauw In memandang tajam pemuda itu. Lalu ia berkata dengan sungguh-sungguh. “Kalau kita menghadapi berlaksa urusan, kita menyambutnya pula dengan berlaksa perubahan dan itulah perbuatan seorang laki-laki sejati! Baru dua urusan seperti ini, mengapa kau biarkan dirimu dipengaruhi begini rupa?”

Mendengar ucapan si nona, tubuh It Hiong menggigil, mendadak saja ia sadar.

“Kau benar, kakak!” katanya lantas. “Kata-kata kakak mirip lonceng diwaktu fajar! Aku tolol, urusan ini membuatku bagaikan kehilangan ingatan!” Lantas pemuda ini makan dengan cepat. Kiauw In senang, ia tertawa.

“Nah adikku,” katanya habis bersantap. “Bagaimana sekarang hendak kau bertindak?”

It Hiong minum tehnya.

“Justru aku hendak menanyakan pikiran kakak,” sahutnya. “Baik adik dulu mengutarakan pikiranmu untuk kita

rundingkan,” katanya kemudian. It Hiong dapat berpikir cepat.

“Menurut pikiranku, urusan, urusan Hauw Yan dapat ditunda,” jawabnya. “Paling dulu kita pergi ke Ay Lao San untuk menolong paman Beng!”

Nona Cio heran, ia melengak.

“Bagaimana kau berpikir demikian, adik?” tanyanya, “Kau jelaskan!”

It Hiong mengawasi nona cantik di depannya itu.

“Didalam segala hal kita harus mengambil keputusan cepat. Kitapun harus dapat membedakan kalau urusan bukan Cuma satu, terutama kita harus mengambil keputusan sendiri! Dalam hal ini, tak usah aku menjelaskan sebab sebabnya keputusanku ini!”

Mendengar demikian Kiauw In tertawa. “Kalau begitu, adik bertindak sesukamu saja, kau tak memikir banyak lagi! Itulah tindakan yang tidak tepat. Didalam urusan yang penting pada saat kita menyesal sudah kasip. Aku meminta penjelasanmu justru karena aku ingin melihat jalan pikiranmu.”

“Memang aku tidak memikir panjang, kakak,” sahut si anak muda. “Aku Cuma pikir ada budi mesti dibalas, dan budinya paman Beng besar sekali, maka itu aku ingin pergi membantu dia terlebih dahulu baru kita urus urusa anak kita. Paling utama aku tidak mau mendapat sebutan ‘Melupakan budi, menyia-nyiakan kebijaksanaan’!”

Kiauw In menatap tajam suaminya itu. Ia melihat bagaimana orang sangat bersemangat! Diam-diam dia sangat girang, tapi ia ingin mencoba hati orang.

“Bagaimana kau dapat membiarkan urusan puteramu itu?” demikian tanyanya. “Bagaimana kalau anakmu itu menghadapi ancaman bahaya jiwa? Sekarang kau hendak pergi dulu ke Ay Lao San! Bagaimana nanti kau bicara terhadap adik Peng?”

Kembali It Hiong menatap si nona, lalu ia tertawa. “Anak Hauw Yan tidak terancam bahaya jiwa.” Katanya. Kiauw In tersenyum, ia menyingkap rambutnya.

“Keputusanmu ini terlalu cepat, adik. Kau tahu kejamnya Hong Kun. Bukankah ia gagal dalam urusan cinta? Bagaimana dia dapat membiarkan pikirkan dulu dalam-dalam.”

It Hiong tetap bersemangat. “Prak!” ia menepuk meja.

“Tio It Hiong bukannya seorang hina dina!” katanya keras. “Aku bukannya orang yang mengutamakan urusan pribadi!

Aku tak sudi menjadi manusia tak berbudi. Biarpun Hauw Yan bakal hilang jiwanya, aku tetap hendak menolong dahulu paman Beng! Lagipula aku masih muda, ada kemungkinan lagi beberapa tahun aku akan dapat anak pula! Kakak, kenapa kakak demikian sibuk memikirkan Hauw Yan?”

Diam-diam hati nona Cio girang luar biasa, itulah yang ingin ia dengar dari suaminya yang tampan dan gagah itu. Ia puas, maka ia tertawa dan  berkata: “Ah adik, bagaimanakah kau ini? Kakakmu Cuma ingin mengetahui kecerdasanmu.”

It Hiong pun dapat lekas menenangkan diri, ia turut tersenyum.

“Dalam kecerdasan, aku tak dapat menyusuli kakak!” katanya.

Kiauw In tersenyum pula.

“Nah, mari kita berangkat!” ia mengajak.

It Hiong berbangkit, ia membayar uang lalu ia turut kakak itu keluar dari rumah makan untuk melanjutkan perjalanan mereka. Tepat mereka tiba diuung jalan besar, mata jeli dari Kiauw In melihat Tan Hong lagi berdiri sedang dalam gendongannya terdapat Hauw Yan. Ia segera menarik ujung bajunya It Hiong yang lalu bersama-sama mereka berlompat lari. Hingga dilain detik mereka sudah berada di depan nona dari Hek Keng To itu! “Nona Tan hendak pergi kemanakah kau?” Kiauw In menanya.

“Oh, kau?” seru Tan Hong terperanjat, “Kau, kakak Cio, mana adik….”

Kata-kata itu tak diteruskan, dia mau menanyakan “adik Hiong” tapi si adik justru berdiri di belakangnya Kiauw In. Bukan main girangnya ia melihat pemuda yang ia buat pikiran siang dan malam itu. Tanpa terasa merahlah mukanya, karena itu kata-katanya pun turut tertahan.

Hauw Yan melihat Kiauw In, ia segera memanggil : “Mama!

Mama!” Diapun tertawa.

Nona Cio tidak menjawab Tan Hong, hanya ia lantas menghampirinya, untuk merangkul bocah manis itu, yang terus ia hujani dengan ciuman. Setelah mana ia menoleh kepada It Hiong dan berkata sambil tersenyum.

“Adik Hiong, kau harus mengucapkan terima kasih kepada Nona Tan ini , yang telah melepas budi membantu anakmu!”

“Ah, kakak malu-malu saja!” berkata Tan Hong cepat tetapi rada likat. “Ini tidak berarti apa-apa!” Walaupun demikian, ia melirik si anak muda.

It Hiong menghampiri nona dari Hek Keng To itu, dengan sungguh-sungguh ia menjura memberi hormat seraya berkata: “Nona Tan, terlebih dahulu aku menghaturkan banyak-banyak terima kasih padamu yang telah menolong Hauw Yan.

Tentang budimu ini, It Hiong akan ingat didalam hatinya, nanti kelak di belakang hari anak ini berdaya membalasnya!” Wajah berseri-seri dari Tan Hong lenyap, matanya sebaliknya tergenang air, ia mengangkat kepalanya guna mencegah mengalirnya airmata itu. Toh ia tak dapat menahan hatinya.

“Adik Hiong, begini asingkah kau terhadapku?” katanya, “Ah…..”

Tak dapat ia mencegah lagi air matanya yang terus bercucuran mengalir dikedua belah pipinya yang putih halus. Hingga ia mirip dengan bunga per yang ada air hujannya.

Tampangnya sangat mendatangkan rasa kasihan orang. Lekas-lekas ia menoleh kesamping sambil berkata: “Tan Hong adalah seorang budak keluaran kaum sesat, walaupun ia mencoba dengan sesungguh hatinya bersahabat dengan murid yang pandai dari Pay In Nia, pada akhirnya dia Cuma mendapat malu saja….”

Kiauw In yang menggendong Hauw Yan dengan tangan kiri, menggunakan tangan kanannya mengeluarkan saputangan lalu menghapusi air matanya nona dari pulau ikan lodan hitam itu. Sambil berbuat begitu, ia berkata sambil tertawa: “Eh, Nona Tan kau kenapakah? Kita adalah orang- orang wanita Kang Ouw, kalau ada hal-hal keliru yang kami lakukan, tolong jelaskan secara terus terang. Kenapakah kau agaknya begini berduka?”

Tan Hong terus tunduk, ia menangis sesegukan.

Kiauw In menoleh kepada It Hiong yang ia kedipi mata, maksudnya menganjurkan si anak muda. Sedang anak muda “berkepala batu” itu tak biasa ia mengalah. Dilain pihak berat ia menolak kehendak Kiauw In, kakak seperguruannya yang baik hati. Dalam keadaan sulit itu, ia berdiri diam sambil tunduk saja… Maka sejenak itu bertiga mereka berdiri melintang ditengah jalan itu. Syukurlah Kiauw In lekas dapat memecahkan kesunyian itu.

“Anak, kau ciumlah bibimu,” katanya pada Hauw Yan. “Lekas kau menghaturkan terima kasih dan minta supaya Bibimu jangan bersusah hati…” Iapun mengembalikan sibocah kedalam rangkulan Tan Hong.

Hauw Yan menurut, dengan kedua tangannya yang halus, dia memegangi pipinya Tan Hong dan menciumnya, lalu dengan kata-kata terputus, ia berkata: “Mama…jangan bersusah hati….” Dan jenakanya, kata-kata “bibi” ia tukar dengan “mama", seperti biasanya ia memanggil…

Mau tidak mau Tan Hong jadi tertawa.

“Ah, Hauw Yan anak yang baik…” katanya girang. Meski begitu ia rada jengah, mukanya menjadi merah. Cuma didalam hati ia merasa sangat bahagia….

Kembali Kiauw In mengawasi It Hiong, mulutnya dibuat main untuk menganjurkan pula, kali ini sambil ia terus berkata: “Hauw Yan, anak yag baik. Bibi Tan ini adalah penolong jiwamu, tak apa kau memanggilnya mama, Cuma ingat jangan kau memanggil mama kepada setiap orang!

Tahukah kau?”

Ada artinya kenapa nona Cio mengucap demikian. Dialah seorang yang polos dan ada minatnya menyempurnakan keinginannya Tan Hong itu, terutama untuk membuat hati orang terbuka…. It Hiong terdesak oleh kakak seperguruannya itu, yang hatinya demikian suci murni, tanpa terasa ia mendekati Tan Hong dua tindak untuk berkata perlahan: “Nona Tan, kalau adikmu ini ada mengatakan sesuatu yang keliru, aku mohon supaya kau memaafkannya…..”

Tan Hong mengawasi anak muda itu.

Kembali wajahnya menjadi ramai dengan senyuman. Ia tertawa dan berkata: “Adik Hiong, tak usah kau pakai banyak peraturan, sudah cukup asal kau ingat kepada kakakmu ini!”

Kali ini si nona lantas mengangsurkan Hauw Yan kepada pemuda itu, hingga ia berada dekat sekali dengannya, lalu berkata: “Adik, ini aku kembalikan anakmu. Semoga tidaklah sia-sia belaka apa yang telah aku lakukan ini…”

Belum sempat It Hiong berkata apa-apa, ia sudah dikejutkan dengan suara tindakan kaki yang cepat yang mendatangi, ketika ia menoleh, ia terkejut saking herannya.

“Wie suheng!” serunya.

Belum berhenti suara itu, Wie Hoay Giok sudah berdiri di depannya ketiga muda-mudi itu. Dengan kegirangan luar biasa ia berkata nyaring: “Tidak kusangka disini aku dapat menemukan kalian!” Ia melihat It Hiong lagi menggendong Hauw Yan, sedangkan Kiauw In dan Tan Hong berdiri berendeng mengawasi dirinya. Sebagai orang jujur ia lantas menghadapi Nona Tan untuk memberi hormat sambil berkata gembira: “Nona, sungguhlah kau seorang yang dapat dipercaya! Sekarang sudah terbukti kau sampai dengan mendahului aku, kau sudah lantas menyerahkan anak ini kepada ayahnya! Nona, aku sangat berterimakasih dan sangat mengagumimu!” Heran It Hiong mendengar kata-kata kakak seperguruannya itu.

“Suheng,” katanya, “Apakah terlebih dahulu daripada ini, kau sudah bertemu Nona Tan ditengah jalan?”

Hoay Giok tertawa bergelak.

“Kita kaum Kang Ouw, dimana saja kita dapat bertemu!” sahutnya. “Kalau mau dibicarakan ceritanya panjang! Aku sudah berlari-lari hingga perutku kosong sekali, maka itu mari kita cari rumah makan dahulu, habis bersantap baru kita bicara pula!”

Dan tanpa menanti jawaban orang, ia menarik tangannya It Hiong buat diajak pergi kesebuah rumah makan!

Dengan terpaksa tapipun dengan gembira, It Hiong menerima baik ajakan kakak seperguruannya itu. Maka itu Kiauw In dan Tan Hong lantas mengikuti mereka sampai mereka duduk bersama menghadapi sebuah meja makanan.

“Nona mari minum!” Hoay Giok mengajak Tan Hong. Dia sangat menghargai nona itu yang dapat memegang janji.

Sebagai seorang jujur, ia girang sekali berhadapan dengan seorang yang dapat dipercaya. Ia berkesan sangat baik, hingga ia tidak merasa likat. Ia tidak tahu bahwa Tan Hong berlaku demikian sebab si nona ada maksudnya…

Habis menegak beberapa cawan arak, barulah Hoay Giok dapat bicara dengan gembira, maka menuturlah ia tentang pertemuannya dengan Tan Hong dan Siauw Houw, ia menceritakan segalanya dengan jelas. It Hiong menghela napas lega.

“Jika bukannya aku disibukkan urusan kitab pedang guruku dan lekas-lekas pergi ke Kiu Kiong San,” berkata dia, “Pasti waktu itu aku menemani kakak Peng pulang ke Lek Tiok Po dan pastilah Hong Kun tak dapat melakukan segala perbuatannya! Kasihan kakak Peng, dia menjadi mendapat banyak pusing dan bercapek lelah…”

“Tidak Cuma menyusahkan adik Peng tapi juga nona Hong…” Kiauw In menambahkan.

Tan Hong tertawa, senang ia mendengar kata-katanya nona Cio itu.

“Jika kau tidak mengasihani aku, kakak panggillah aku adik,” pintanya pada Kiauw In, “ Dan aku minta supaya aku tak usah diangkat-angkat saja….”

Berkata begitu dia melirik kepada It Hiong.

Justru itu si anak muda lagi mengawasi nona itu, maka bentroklah sinar mata mereka hingga hatinya jadi tergetar, ia masgul sekali mendapat kenyataan Nona Tan demikian tergila- gila terhadap dirinya. Kali ini nona itu telah melepas budi demikian besar terhadapnya. Ingin ia berbicara tapi ia malu hati. Disitu ada Hoay Giok si suheng yang berhati terbuka dan Kiauw In yang berhati emas. Maka ia menyimpang soal.

“Suheng,” katanya, “Kejadian atas dirinya Paman Beng membuatku tak enak makan dan tidur, maka itu ingin aku Tanya kau kapan kita pergi ke Ay Lao San dan bagaimana cara kita menolongnya? Coba suheng memberikan aku petunjuk!” Mendengar disebut tentang gurunya, Hoay Giok menunda cawan araknya, tangannya gemetar, segera cawan itu diletaki diatas meja. Wajah gembiranya pun berubah menjadi lesu.

“Celaka kakakmu ini!” katanya menyesalkan diri. “Kenapa disini aku gila arak sedangkan guru kita didalam bahaya? Kau benar adikku, mari kita berangkat!” dan ia berjingkrak bangun.

Tan Hong tidak tahu duduknya hal ini, ia heran Hoay Giok bersikap begini aneh, begitu bergirang dan lekas menjadi berduka! Sampai-sampai ia tertawa.

“Saudara wie, kau kenapa?” tanyanya.

“Kenapa kata-kata adik Hiong membuat kau melupakan perut laparmu dalam sejenak?”

It Hiong pun memegang tangan orang untuk ditarik. “Duduk dulu saudara,” katanya, “Kita tidak boleh tergesa-

gesa, sebaliknya kita harus memikir dan bicara dahulu! Dengan tergesa-gesa tidak keruan mana kita akan memperoleh hasil? Kau makan dulu baru kita berunding!”

Hoay Giok dapat dikasihh mengerti, maka ia duduk lagi untuk terus makan hingga ia merasa cukup, hanya tak lagi ia minum puas-puasan.

Baru setelah itu, It Hiong bicara, “Tentang berbahayanya gunung Ay Lao San, pernah suheng memberitahukan aku. Sekarang aku ingin bertanya, kecuali Cie Ciu Koan Im Lee Hong Hui dan Kiu Cie Hoan Keng Su, ada siapakah lagi jagoan lihai di sana? Apakah suheng dapat menjelaskan perihal alat- alat rahasianya?” Ditanya begitu Hoay Giok memperdengarkan suara “Oh…”. Agaknya ia merasa kecewa, lalu ia menambahkan: “Ketika aku pergi kepintu goa Lo Sat Tong dari pihak Lo Sat Bun, aku cuma menuruti hawa amarahku saja, sama sekali aku tidak memikir buat melakukan penyelidikan. Aku pikir asal Kiu Cie Hoan Keng Su dapat dibekuk, guru kita bakal segera dapat ditolong….”

Saat itu Hauw Yan tidur pulas dalam rangkulan Kiauw In, si nona mendengar suaranya orang she Wie itu, lantas turut bicara: “Suheng pikiranmu itu terlalu sederhana, rombongan Lo Sat Bun menjagoi di Ay Lao San sudah belasan tahun. Jika mereka tidak memiliki kepandaian tinggi, mana dapat mereka bertahan begitu lama? Bukankah mereka sangat terkenal sebagai jago-jago yang jahat? Mereka jadi sangat berani sebab kedudukan tempat mereka yang bagus serta jumlah pengikutnya yang banyak! Kita sebaliknya, jumlah kita kecil sekali. Maka itu kita harus dapat menggunakan akal.”

Baru sekarang Tan Hong mengerti duduk persoalannya.

Pamam It Hiong atau gurunya Wie Hoay Giok terkurung dalam gunung Ay Lao San dan mereka ini mau membantu, maka tertawalah dia.

“Jika kalian hendak menggunakan akal, aku bersedia membantu sebisaku!” katannya. “Kebetulan aku kenal dengan rombongan Lo Sat Bun itu….”

Hoay Giok memberi hormat pada nona itu.

“Jika Nona Tan sudi membantu kami, aku sangat bersyukur!” katanya yang terus menghaturkan terima kasih.

Tan Hong sebenarnya hendak merapatkan diri pada It Hiong, maka ia bersedia memberikan tenaganya. Dari itu ia girang sekali Hoay Giok segera menerima bantuan tenaganya itu. Diam-diam ia melirik kepada si anak muda dan juga kepada Kiauw In.

It Hiong masih mengukuhi nama perguruannya yang putih bersih, tak ingin ia bersama dengan Tan Hong, tapi Hoay Giok sudah mendahului menerima baik tawaran si nona. Ia tidak bisa berbuat lain daripada turut menerimanya. Karenanya hatinya menjadi tidak tenteram. Dengan tampang likat ia mengawasi Kiauw In, ia ingin mendengar pandangan kakak seperguruannya itu.

Nona Cio sangat cerdas, ia mengerti maksudnya It Hiong. Ia pun dapat menerka hatinya Tan Hong. Ia bersimpati pada Nona Tan, tak perduli nona itu dari rombongan Hek Keng To.

Bahkan ia ingin si nona mencapai angan-angannya. Maka ia lantas berkata dengan sungguh-sungguh. “Didalam suatu usaha besar kita jangan menggubris segala urusan kecil, jadi walaupun adik Tan Hong asal dari Hek Keng To, ia tetaplah sahabat-sahabat kita. Karena ia suka membantu kita, itulah hal yang kita mintapun sebenarnya sukar terjadi. Adik Hiong, janganlah kau menyia-nyiakan kebaikan hatinya adik Tan Hong!”

Bukan main girangnya Tan Hong mendengar perkataan Kiauw In, namun ia menyembunyikan kegirangannya itu, lekas-lekas ia mengangkat tangannya berpura menyingkap rambutnya, hingga mukanya teraling tangannya itu.

Hatinya It Hiong pun berubah setelah ia mendengar suara Kiauw In itu. Maka berkatalah ia: “Kakak benar! Baiklah mari kita mengharapkan tenaga bantuannya Nona Tan! Sekarang bagaimana dengan Hauw Yan? Dapatkah ia dibawa bersama ketempat yang berbahaya itu?” Kiauw In tertawa.

“Mengenai Hauw Yan telah aku pikirkan, kalian bertiga berangkat lebih dulu, aku sendiri akan pergi ke Lek Tiok Po dengan membawa anak ini untuk menemui adik Peng sekalian memulangkan Hauw Yan, kemudian bersama adik Peng itu, aku akan menyusul kalian, bukankah itu baik?”

“Kau benar sekali nona Cio!” Hoay Giok memuji girang. “Tidak ada jalan yang lebih baik daripada itu! Aku sangat memuji pada nona! Nah adik Tio, sebelum malam tiba, mari kita berangkat!”

Begitulah keputusan mereka, maka lantas mereka berangkat pergi. Cuma nona Cio sendiri yang mengambil lain arah karena ia mengajak Hauw Yan bersamanya.

It Hiong bersama Hoay Giok dan Tan Hong mengambil jalan dipropnsi Secuan untuk memasuki propinsi inlam.

Mereka melakukan perjalanan cepat, sehingga dalam sembilan hari mereka sudah tiba dikaki gunung Ay Lao San.

Selama didalam perjalanan itu, hatinya Tan Hong terbuka bukan main. Ia gembira sekali karena dapat berdekatan dengan pemuda yang diidam-idamkannya. Tiada waktu yang tidak ia bersuka ria, tersenyum atau tertawa. Kegembiraannya itu diam-diam seperti membantu membangun semangatnya kedua anak muda.

Tiba dikaki gunung, hatinya It Hiong terutama Hoay Giok menjadi tegang sekali. Buat Hoay Giok ini berarti ia telah kembali ketempat yang ia kenal baik, tetapi yang sangat berbahaya dan mengancamnya. Toh ia maju terus tanpa rintangan, berkat tempat yang pernah ia kenal itu. Tidak ada tempat perangkap maupun cegatan lawan.

Sesudah mengikuti jalanan yang berliku-liku, tibalah mereka di depan Lo Sat Tong atau pintu gua raksasa. Disitu Hoay Giok memberi tanda kepada kedua kawannya untuk duduk istirahat disebuah batu karang.

“Lembah di depan itu, yang tak jauh dari sini, itulah Lo Sat Tong,” ia memberi keterangan.

It Hiong mengangkat kepalanya menatap ke depan, ketempat yang ditunjuk kakak seperguruannya itu. Ia melihat mulut lembah dikaki puncak, kecuali batu-batu aneh, disitupun ada tedapat rumput yang hijau. Hanya sepi saja, tak tampak seorang juga.

“Kenapa di muka gua tidak ada orang yang menjaga?” Tanya It Hiong.

Tan Hong juga heran.

“Kakak Wie, apakah kau tidak keliru?” Tanya dia. “Tidak, aku tidak akan salah mata!” jawab Hoay Giok

dengan segala kepastian.

“Sebentar, kalau kita maju lebih jauh, pasti akan muncul orang yang bakal menghadang kita!”

“Jika begitu, biarlah aku yang maju dahulu seorang diri,” Tan Hong berkata, “Aku akan berpura-pura membuat kunjungan kepada ketua dari Lo Sat Bun! Kalian setuju bukan?” It Hiong memikir lain, dengan sungguh-sungguh ia berkata: “Baiklah kita berkunjung secara terus terang menuruti aturan kaum Kang Ouw dan berterus terang juga kita memberitahukan bahwa kita datang memenuhi janji untuk membereskan urusan kita. Buat apa kita takuti, sekalipun Lo Sat Tong merupakan sarang naga atau harimau!”

Lalu tanpa menanti persetujuan kedua kawannya, anak muda ini lantas bertindak maju, guna berjalan di muka. Maka terpaksa Hoay Giok dan Tan Hong menyusul, mengikutinya.

Benar seperti dugaan Hoay Giok tadi, mendekati pintu belum ada belasan tindak, mereka sudah dirintangi oleh dua orang yang muncul secara tiba-tiba.

“Tahan!” mereka itu berseru.

It Hiong mengawasi tajam, ia melihat dua orang berdiri berendeng, baju mereka itu seragam berkembanng, juga kopiahnya sedang punggungnya menggembol golok.

“Kamilah Wie Hoay Giok bersama sute Tio It Hiong!” si orang she Wie segera memperkenalkan diri. Suaranya nyaring, sikapnya gagah. “Kami datang kemari memenuhi undangannya Keng Su buat membereskan perhitungan kita, maka itu tolong tuan-tuan berdua mengabarkan perihal datangnya kami ini!”

Kedua orang itu mengawasi ketiga tamunya itu, lantas mereka merogoh saku mereka dan mengeluarkan semacam pluit, lalu mereka meniupnya maka segera terdengar suaranya yang nyaring. Hingga dilain saat dari dalam lembah muncul juga serombongan orang bertubuh besar yang seragamnya serupa dan dipaling belakang tampak seorang wanita yang dandanannya sangat perlente dan tampangnya sangat centil. Hoay Giok segera mengenali wanita itu ialah Cia Ciu Koan Im atau Dewi Koan Im yang telengas dan namanya Lou Hong Hui.

Dengan sikap dingin Lou Hong Hui mengawasi ketiga tetamunya itu, lantas dia menegur takabur: “Apakah kamu bertiga murid-muridnya Beng Kee Eng? Kamu mempunyai nyali datang kemari membuat perhitungan, kamu sungguh berani! Tapi kepandaian kalian, bagaimanakah itu? Dapatkah kalian melintasi lembah kami yang dinamakan Lok Hun Kok, Lembah Roh Berjatuhan? Kalian harus berpikir masak-masak! Siapa memasuki lembah kami biasanya belum pernah ada yang bisa keluar pula dengan masih bernyawa!”

Sudah suaranya jumawa, skapnyapun sangat temberang. Sungguh tak sedap untuk mengawasi tingkah pola semacam itu.

Tan Hong berlompat maju ke depan, lantas ia meluncurkan sebelah tangannya. Segera ia menggunakan ilmu lunak Mo Teng Ka dari Hek Keng To. Sambil menyerang ia membentak: “Bagaimanapun lihainya Lok Han Kok, nonamu hendak mencobanya!”

Lou Hong Hui memandang ringan terhadap serangan itu, ia tidak merasakan hembusan angin yang keras seperti biasanya suatu serangan yang hebat. Ia menyambut secara sembarangan saja. Kedua tanganpun beradu tanpa terdengar suara nyaring, hanya setelah kedua tangan menyampok satu dengan lain, barulah Hong Hui menjadi kaget sekali.. Dia tertolak keras hingga dia mundur enam tujuh tindak, namun dia dapat mempertahankan diri tak sampai roboh terguling.

Baru sekarang dia kaget berbareng gusar, maka matanya mengawasi dengan sorot bengis. Sambil mengawasi dengan jengekan “Hm!” mendadak dia mau menyerang Nona Tan!

Jago wanita dari Hek Keng To itu mendapat angin, justru ia mau maju terus, begitu diserang ia lantas menyambut, malah ia menggunakan kedua belah tangannya dengan jurus silat “Siang Hee Kauw Tay” atau atas dan bawah saling menyambut. Tangan yang satu mencari jalan darah hoakay didada, sedang yang lain meluncur kejalan darah tantian diperut lawannya itu. Ia berpendirian untuk mempercepat pertempuran, semua itu cuma buat “adik Hiong”.

Hong Hui menjadi salah satu tongcu dari Losat Bun, dia bukan sembarang orang. Begitu bentrokan pertama itu lantas dia insyaf bahwa lawannya bukan sembarang lawan. Segera dia berlaku waspada. Dia melihat si nona mengeluarkan dua buah tangannya dia dapat menerka maksudnya itu. Maka dia menyambut dengan kedua tangannya juga dengan ilmu Im Yang Ciang, tangan Im Yang. Itulah semacam khiekang, ilmu tenaga dalam dari Losat Bun.

Tan Hong bisa melihat gelagat, matanya jeli, tangannya lincah. Ia tidak menyingkir dari sambutan yang sekalian merupakan serangan balasan dari lawan itu, ia justru menyambutnya hingga mereka menjadi mengadu kekuatan tenaga dalam mereka. Lou Hong Hui cerdik. Tak sudi dia mengadu tenaga, cepat luar biasa ia merubah gerakan tangannya dan memotong tangan lawannya itu! Tan Hong pun bermata jeli dan gesit, ia membarengi menyerang pula menolak dengan tenaga dalam Mo Teng Ka. Tenaga dalam itu lunak dan ringan nampaknya, anginnyapun bersiur halus, tapi sekali menemui perlawanan lantas jadi keras luar biasa.

Hong Hui kenal baik tenaga dalam itu, ia tak sudi melayaninya. Ia lompat satu tombak, sesudah tenaga itu hilang ia menyerang kebawah, kembali ia menggunakan tangan Im Yang Ciang. Tan Hong melihat tubuh lawan turun kepala dibawah dan kaki diatas, ia ingin mencoba pula tenaga dalam lawan itu. Maka ia menyambut dengan jurus silat “Dengan Tangan Mengelilingi Langit”

Kembali bentroklah kedua tangan hingga terdengar suara nyaring. Kali ini Hong Hui tak sempat menyingkir lagi, bahkan telapak tangannya bagai tersedot hawa lawan. Untuk membebaskan diri ia menyerang dengan tangan kanannya.

Kedua wanita itu belum kenal satu dengan lain, mereka juga tidak bermusuhan. Kalau mereka bentrok, yang satu mau membela kaumnya sedang yang lain bekerja untuk pemuda yang dicintainya….

Tan Hong nampaknya terdesak, tapi sebenarnya dialah yan menolak lawan membikin tenaga lawan berkurang, asal lawan kalah tenaga maka lawan bakal celaka. Ternyata mereka seimbang, maka itu kelihatannya mereka seperti tengah melakukan pertunjukkan, hingga menarik hati untuk ditonton. Tan Hong berjalan berputar, mukanya diangkat, nampak ia bersungguh-sungguh.

Mulanya Hong Hui bersikap biasa saja, mungkin ia memandang ringan kepada lawannya itu, namun sekarang mukanya menjadi merah dan dahinya dibasahi peluh. It Hiong bersama Hoay Giok dan orang-orang Losat Bun tercengang menyaksikan pertempuran tersebut. Syukur Hoay Giok sadar terlebih dahulu.

“Sute mari kita maju!” ia mengajak It Hiong, suara mana mengejutkan Tan Hong. Hingga si nonapun menyadari dirinya, demikian juga dengan Hong Hui, serentak mereka sama-sama mundur lima tindak. It Hiong sudah melompat maju ketika melihat Tan Hong mundur dengan tubuh limbung ia lantas menahan tubuh nona itu.

“Kau terluka kakak?” tanyanya.

“Tidak,” sahut si nona, ia memang tidak terluka, ia menjadi limbung sebab undurnya secara mendadak. Ia merasa sangat bahagia mendengar si adik Hiong memanggilnya kakak. Justru saat dia disangga itu sengaja ia menyenderi tubuhnya  dilengan yang kuat si anak muda. Iapun memejamkan mata. Habis menjawab baru ia buka matanya untuk menambahkan kata-kata : “Adik, aku sebenarnya membela mengadu jiwa ini untukmu….” Dan ia menatap si anak muda, parasnya menunjukkan bagaimana ia sangat memperhatikan anak muda itu.

Hatinya It Hiong memukul.

“Kau duduklah kakak,” katanya cepat, “kau istirahatlah.”

Ia masih memegangi, membantui orang duduk, kemudian ia mengeluarkan saputangan untuk menyusuti peluh didahi si nona.

Dipihak sana, Lou Hong Hui pun mundur dengan limbung, bahkan ia segera jatuh terduduk karena tidak sanggup mempertahankan diri, lekas-lekas ia menyalurkan pernapasannya. Hoay Giok menyaksikan keadaan nona Lou itu, ia berseru sambil melompat maju kepada nona, hingga ia membuat kaget pada orang-orang Losat Bun. Serentak mereka itu melompat maju untuk menghadang. Melihat itu, ia lantas mundur pula, ia telah berhasil memisahkan dua jago wanita itu. Ia kembali kepada kawannya seraya terus menanya It Hiong apa Tan Hong terluka parah. Ia prihatin terhadap nona itu dan mengawasi mukanya yang elok. It Hiong menggeleng kepala.

“Ia tidak terluka, ia cuma terlalu banyak mengeluarkan tenaga,” sahutnya yang terus memandang Tan Hong untuk melanjuti :”Kakak baik sekali, entah bagaimana aku membalasnya nanti……” kata-kata itu ditujukan seperti terhadap si nona dan juga terhadap Hoay Giok.

Hoay Giok diam melengak, tak mengerti ia akan arti kata- katanya anak muda itu. Ia Cuma pikir: “Sungguh beruntung adik Hiong, orang sudah mempunyai dua enso(ipar) dan sekarang akan tambah dengan satu Tan Hong ini. Ia Tanya dirinya: “Bagaimana meeka diaturnya nanti?”

Tak lama maka Hong Hui bangkit berdiri. Dengan cepat tenaganya telah pulih kembali. Terus ia melihat cuaca dan mengawasi rombongannya It Hiong dan berkata jumawa: “Lo Han Kok bukannya tempat yang dapat kalian masuki sembarangan! Masihkah kalian tak mau lekas pergi dari sini?”

Mendengar itu, alisnya It Hiong terbangun, Dia justru melompat maju.

“Lou Tongcu!” katanya nyaring, “Jika benar kau menghendaki kami pergi, silahkan kau bebaskan dahulu Beng Bee Kee pamanku itu!”

Nona itu memperlihatkan tampang menghina. “Bocah kau tidak menerima kebaikan hati orang!”

bilangnya, “Orang she Beng itu berada didalam penjara Losat Bun yang berada disebelah kanan pendopo pusat kami, jika kalian berani kalian majulah kependopo kami itu.” It Hiong mendongkol.

“Kau tidak tahu diri!” bentaknya. Barusan selagi kau beristirahat, kami tidak menyerbumu! Kami tahu aturan Kang Ouw dan mematuhinya! Kenapa sekarang sikapmu begini, jika kau tak sudi membiarkan kami masuk, baiklah mari coba rasakan pedangku!”

Lantas si anak muda menghunus Keng Hong Kiam, hingga terdengar suaranya yang berisik disertai sinar berkilauan.

Hong Hui terkejut oleh suara dan sinar itu.

“Pasti bocah ini bukan sembarang orang,” pikirnya. “Aku baru saja beristirahat, mana tepat aku melayani tenaga baru?...” Maka berputarlah matanya dan bekerja pula otaknya. Terus dia mengejek, “Apakah kau hendak menempur aku bergantian? Apakah itu cara orang Kang Ouw sejati?”

It Hiong tahu orang licik dan sengaja mengatakan demikian, hendak ia menjawabnya namun Tan Hong sudah mendahuluinya. Nona Tan melompat maju ke depan si anak muda sambil terus berkata pada lawan. “Kalau Lou Tongcu takut nanti dilawan dengan bergilir, baiklah nonamu yang melayani pula padamu!” lantas ia maju lebih jauh sambil mengangkat sanhopang senjatanya itu.

Hong Hui segera meloloskan senjatanya, yaitu sabuk sulam emas yang melibat pinggangnya. Selekasnya ia kibaskan itu sabuk menjadi panjang satu tombak lebih, kaku mirip sebatang tombak. Sebab ujungnya mempunyai ujung tombak yang tajam. Diapun terus berkata menantang. “Budak bau!

Kalau kau mempunyai kepandaian buat melayani aku sepuluh jurus, aku akan ijinkan kau memasuki lembah kami ini.” Tan Hong berpengalaman, tahu ia bagaimana harus melayani senjata lawan itu. Ia menyambut tantangan sambil terus melompat maju dengan loncatan Walet Menyambar Air, sedang setibanya di depan lawan, ia segera menyerang dengan jurus silat Guntur dan Kilat saing berbunyi, senjatanya ruyung Sanho pang segera menyerang ditiga arah, atas, tengah dan bawah.

Hong Hui terkejut buat serangan mendadak itu, hingga ia mundur dengan mencelat, menyusul mana sebelah tangannya menyambar ujung sabuknya yang terlepas, hingga tangannya mencekal kedua ujung sabuknya, niatnya guna dipakai mengekang ruyung lawan.

Tan Hong mendak, selekasnya ruyung menyambar kekaki lawan…

Itulah serangan hebat, merupakan Loh bwe atau kuda runtuh, “Tipu daya seperti menjatuhkan diri”

Hong Hui terkejut ia lompat mundur. Segera ia insyaf lihainya sang lawan. Maka lekas-lekas ia memutar tangannya mencoba melibat tubuh lawan. Ia bisa bergerak dengan bebas. Lantas juga Tan Hong yang terancam bahaya, sabuk lawan membuatnya repot. Asal ruyungnya terlibat, ia bisa mendapat susah.

Maka kembali ia menggunakan tipu, ia menjatuhkan diri dalam jurus silat, CaCing Menggulung Pasir, dengan tubuh bergulingan ia menghampiri lawannya kemudian mendadak ia berjingkrak bangun sambil membarengi menyerang iga lawan, itulah jurus silat “Guntur Berbunyi ditanah datar”

Buat membantu si adik Hiong, Tan Hong dengan lantas mengeluarkan kepandaiannya, cara berkelahinya itu mengagumkan siapa yang manyaksikannya. Dilain pihak Hong Hui bukan sembarang nona, ia insyaf akan lihainya lawan itu yang malah ia katakan telengas. Ia tidak melompat mundur, sebaliknya ia terus memasang kuda-kuda rendah dengan kaki kiri bertahan dan kaki kanan mendahului menyambar, itulah tendangan Kaki Menyapu Awan.

Tan Hong menyelamatkan diri dengan lompat jumpalitan sebanyak tujuh atau delapan kali. Itulah Lompatan Bayangan Burung Yang Menyerbu Langit. Setelah berjumpalitan itu, tubuhnya turun ketanah. Namun sabuk lawan memapaki tubuhnya itu. Ujung tombak bagaikan kepala ular menyambar bau orang, mirip gerakan ular menyemburkan racun….

Tan Hong terperanjat. Nyata lawan lihai dan telengas juga.

Disaat sangat mengancam tadi, ia sampai membela diri dengan jalan mengelit bahaya itu. Ia mengira sudah lolos dan lawannya tidak akan sempat berdaya lebih jauh, siapa tahu tobak diujung sabuk lawan terus mencari sasarannya, kali ini punggung orang!

Tan Hong dapat berjumpalitan dengan waktu lebih lama dari biasanya, itulah disebabkan mahirnya ia dengan ilmu tenaga dalam dari Hek Keng To. Sesudah lewat ancaman bahaya itu, ia meneruskan turun dengan cepat tangan kirinya menyerang, sedang tangan kanannya melindungi diri.

Lou Hong Hui sudah berkecimpung dalam dunia Kang Ouw selama sepuluh tahun lebih, sampai ia memperoleh julukan “Cia Ciu Koan Im” belum pernah ia menemukan lawan seperti nona ini. Ia tidak menyangka bahwa serangannya barusan bisa gagal, hingga sekarang ialah yang berbalik terancam. Ia menjadi repot. Dalam tergesa-gesa, ia menolak dengan tangan kiri, ia berhasil. Tapi setelah itu datang pula tangan kanan lawannya mengancam dada! Kembali ia menjadi repot, secara tergesa-gesa ia menangkis dengan sabuknya, menyusul mana kakinya menendang.

Kedua pihak sama-sama terancam bahaya bergantian. Disaat itulah Tan Hong yang terancam bahaya, kaki kirinya baru saja menginjak tanah ketika serangan lawan datang. Ia berkelit miring, berbareng dengan itu lagi-lagi iapun menendang dengan kaki kanannya.

Sebagai orang Kang Ouw ulung, masih bisa Hong Hui menyelamatkan diri. Ia mundur sejauh lima kaki. Hanya dala tergesa-gesanya itu, ia membuat senjatanya terlepas dari tangannya.

Tan Hong tidak menyerang terus, ia hanya mengawasi. Ia melihat sabuk lawan menggeletak ditanah, ia lantas tertawa dan berkata: “Terima kasih Lou Tongcu, karena kau sudi mengalah! Sepuluh jurus sudah lewat….”

“Budak jangan menghina orang!” Hong hui membentak. “Kapan kau menang?”

Tan Hong tertawa pula.

Dia menunjuk kepada sabuk ditanah itu.

“Bukankah sabukmu itu senjatamu?” Tanyanya. “Kau lihat!

Apakah itu bukan berarti bahwa kau sudah kalah?” Merah mukanya Hong Hui, ia malu sekali.

“Baik!” serunya mendongkol. “Kau sungguh beruntung!

Sekarang aku ijinkan kamu bertiga melintasi lembah Lok Han Kok, Ular Melingkar, kita nanti bertempur pula!” Habis berkata, nona Lou memberi isyarat dengan tangannya, terus ia mengundurkan diri diikuti orang-orangnya. It Hiong bertiga mengawasi lawan itu masuk kedalam lembah dan lenyap didalam waktu singkat.

Tatkala itu sudah jam satu kira-kira dan rembulan sedang bersinar terang, sunyi sekitar mereka.

“Kakak, kau capek,” kata It Hiong menghampiri si nona.

Senang Tan Hong mendengar si anak muda memanggilnya kakak, tidak nona lagi.

Itulah hasil usahanya menempur Lou Hong Hui tadi. Ia tertawa dan berkata: “Ah tidak! Demi kau adik Hiong, tak apa aku mesti mengeluarkan sedikit tenagaku atau mengucurkan beberapa tetes peluh.”