Iblis Sungai Telaga Jilid 19

 
Jilid 19

Tan Hong mempunyai telinga yang Peka dan mata yang awas, sedangnya bertempur itu telinganya lantas mendengar suara kuda berlari-lari disusul dengan tawa riang dari anak kecil. Segera ia menangkis satu serangan dari Eng Eng, lantas ia lompat mundur beberapa tindak, untuk menoleh ke arah darimana datangnya suara kuda dan tawa, hingga ia lantas mendapat lihat Hong Kun diatas kudanya lagi memeluki si bocah riang gembira itu. Ia heran hingga ia terus mengawasi saja.

Selama It Hiong dan Hong Kun mengadu kepandaian di kuil Go In Ih di Heng San, Nona Tan Hong telah mencintainya maka itu ia tahu dan mengenali Gok Hong Kun, sekarang ia melihat pemuda itu bersama seorang bocah, mengawasi siapa ia merasa bahwa ia rada-rada mengenalnya.

"Ah, siapakah bocah itu ?" pikirnya.

Karena orang berlompat mundur, karena datangnya si anak muda dan si bocah, Ngay Eng Eng juga menunda penyerangannya. Bahkan ia lantas menghadapi Gak Hong Kun untuk bertanya : "Saudara, apakah kaulah murid pandai dari It Yap Totiang dari Heng San ?"

Hong Kun merangkapkan kedua belah tangannya. "Tenaga ingatan dari Ngay Locianpwe kuat sekali."

sahutnya sambil memberi hormat itu. "Kita sudah berpisah beberapa tahun tetapi locianpwe tetap masih ingat kepadaku, Gak Hong Kun, murid dari Heng San Pay."

Jago tua itu tertawa. "Bagaimana dengan gurumu, saudara, adakah ia baik-baik saja ?" tanyanya. "Sudah beberapa tahun aku tidak bertemu dengannya."

"Terima kasih, locianpwe, guruku sehat-sehat saja." sahut si pemuda.

Eng Eng menunjuk Hauw Yan.

"Saudara Gak, adakah anak itu puteramu ?" ia tanya pula. "Sungguh seorang anak yang tampan sekali !"

Ditanya begitu, Hong Kun tergugu. Tak dapat ia menjawab "ya" tapi juga tak boleh ia menyebut anaknya Giok Peng atau It Hiong. Terpaksa, ia berpura-pura batuk.

Eng Eng menghela nafas. Kata ia perlahan.

"Ketika beberapa tahun yang lampau itu, aku si orang tua berkunjung ke Go In Ih, saudara Gak, kau masih seperti seorang bocah, maka tidaklah disangka sang waktu mengalir lewat cepat sekali. Sebentar saja beberapa tahun sudah berlalu, atau sekarang saudara adalah ayah dari seorang anak

! Haa !"

Tak ada maksudnya Eng Eng akan menggodia orang atau mengejek, tetapi kata-kata dan tawanya itu membuat merah muka dan telinga Hong Kun. Dia ini malu sendirinya hingga dia mencari alasan untuk menoleh ke lain arah.

Ketika Hauw Yan telah melihat Tan Hong, tiba-tiba dia memanggil : "Mama ! Mama !"

Eng Eng mendengar suara bocah itu, ia heran. Ia ingat sikapnya Hong Kun barusan yang agak jengah. Maka mau ia menerka yang wanita itu adalah istrinya si anak muda. Hal ini membuatnya likat sendirinya. Sebab sebagai seorang dari angkatan tua, ia sudah menghadang istrinya seorang dari angkatan muda.

"Oh, saudara Gak, harap sudi apalah kau memaafkan aku" katanya kemudian. "Aku hendak membantu mencari kitab ilmu pedangnya Tio It Hiong, maka barusan aku telah berlaku keliru, sudah bertempur dengan Nyonya Gak.."

Tan Hong pun melengak karena bocah itu memanggil mama kepadanya. Ia mengingat-ingat kapannya dan dimana pernah ia melihat si bocah. Sekarang ia mendengar suaranya si jago tua, ia menjadi tidak senang. Ia bukan istrinya Hong Kun ! Maka berbangkitlah sepasang alisnya melentik!

"Orang she Ngay, jangan kau mengaco tidak karuan !" bentaknya. "Jangan kau beragak dengan ketuabangkaanmu ! Siapa bilang aku istrinya dia ? Kau tahu, dia justru lagi kebingungan sebab dia gagal dalam urusan asmaranya dengan Pek Giok Peng !"

Mendengar suaranya si nona, Hong Kun segera memutar kudanya untuk terus dikasih lari kembali ke arah dari mana dia datang tadi, dia merasakan suasana tidak baik bagi dirinya.

Dalam bingungnya dia berlalu tanpa menyapa lagi Ngay Eng Eng !

Sementara itu Tan Hong selekasnya ia menyebut namanya Giok Peng, sekonyong-konyong ia ingat tampangnya bocah tadi, bocah mana pernah ia lihat di gunung Siauw Sit San ketika di sana ia bertemu dengan Giok Peng.

Selagi ia menempur Nona Pek, nona itu telah mengempo seorang anak kecil dan anak itu mirip dengan anak ini. Mengingat ini lantas ia ingat juga bahwa anaknya Pek Giok Peng adalah anaknya Tio It Hiong !

"Oh !" Kenapa anaknya It Hiong berada di tangannya Gak Hong Kun ?" demikian pikirnya atau kecurigaan berkelebat di benak otaknya nona ini.

Inilah heran ! Inilah aneh !

Maka berpikirlah ia dengan keras.

"Gak Hong Kun aneh ! Mungkinkah dia tengah main gila ?" demikian Tan Hong pikir pula.

"Hatiku telah aku serahkan pada adik Hiong. maka itu perlu aku ketahui urusan ini !"

"Aku mesti susul Hong Kun guna memperoleh kepastian tentang anak itu !"

Maka itu segera setelah mengambil keputusan ia memberi hormat pada Ngay Eng Eng seraya berkata : "Locianpwe" katanya. "Locianpwe hendak membantu Tio It Hiong mencari kitab ilmu pedangnya yang hilang, karena itu hendak aku menanya, tahukah locianpwe anaknya It Hiong itu siapa namanya ?"

Itulah pertanyaan diluar sangkaan, Eng Eng heran hingga ia menunduki kepalanya untuk berpikir.

"Kalau tidak keliru, anak itu bernama Hauw Yan" sahutnya kemudian. "Mau apakah kau menanyakan tentang anaknya It Hiong itu ?" Setelah memperoleh keterangan itu, Tan Hong berkata diluar jawaban yang ia harus berikan kepada si jago tua. Katanya singkat. "Demi urusannya adik Hiong mesti aku ludas menyusul Gak Hong Kun ! Maka itu maafkan aku tak dapat menemani locianpwe lebih lama pula !"

Dan berhenti kata-kata itu, si nona sudah berlompat lari hingga dilain detik ia sudah lenyap ditelan sang rimba.

Lagi-lagi Eng Eng melengak. Dialah seorang jago tua tetapi dia kena dibikin bingung tindak tanduknya Tan Hong dan Hong Kun itu. Karena dia tidak dapat menyusul pemuda dan pemudi itu, terpaksa dengan lega dia pun pergi melanjuti perjalanannya.

Tan Hong kabur ke Thian-keetin, ia sampai di pasar sesudah cuaca gelap. Di sana sini, rumah-rumah sudah menyalakan api terutama rumah-rumah makan. Sekalipun malam, keadaan ramai sekali. Ada banyak orang masih mondar mandir. Ia melalui beberapa jalan besar tidak juga ia menemukan Hong Kun.

"Mungkinkah dia melewati tempat ini ?" pikirnya kecewa berbareng penasaran. Di depan situ justru seorang jongos lagi memelihara seekor kuda. Ia masih mengenali itulah kudanya Hong Kun tadi.

Sekarang si nona mendapat kenyataan itulah penginapan merangkap rumah makan. Dengan tindakan perlahan, ia memasuki ruang restoran. Matanya diam-diam dialihkan ke seluruh penjuru. Maka legalah hatinya waktu di satu pojok terlihat Hong Kun ada bersama Hauw Yan tengah menghadapi barang santapan. Meja itu berada di dekat jendela. Untuk memperoleh kepastian anak itu Hauw Yan atau bukan kalau benar Hauw Yan dialah putranya It Hiong atau Giok Peng lantas ia bertindak menghampiri terus secara tiba- tiba ia memanggil : "Hauw Yan ! Hauw Yan ! Mama datang !"

Anak itu tengah dibujuki Hong Kun untuk menmakan nasinya, ia mendapat dengar panggilan itu secara mendadak ia mengangkat kepalanya dan menoleh.

"Mama !" ia lantas memanggil. "Mama !" dan lantas tanpa menghiraukan nasinya, hendak ia berlompat turun dari kursinya !

Hong Kun terkejut, dia heran. Dia menahan bocah itu dan membujukinya. Ketika dia menoleh, dia mengenali nona yang tadi bertarung dengan Ngay Eng Eng di dalam hutan. Dia tidak kenal nona itu, dia makin heran. Kenapa nona itu memanggil Hauw Yan ? Tadi didalam rimba juga heran yang Hauw Yan memanggil mama kepada wanita itu.

"Itulah bukan mamamu" kata ia kepada si anak. "Dialah seorang moler ! Hauw Yan anak manis, makanlah. Mari !

Lekas makan !"

Kata-kata Hong Kun tidak keras, tetapi karena jarak antara ia dan Tan Hong dekat, si nona mendapat dengar dengan nyata. Seketika juga merahlah mukanya. Ia dikatakan "moler". Bukan main gusarnya ia. Di pihak lain, sekarang ia memperoleh kepastian anak itu ialah anaknya It Hiong dan Giok Peng, maka hendak ia merampas si anak dari tangannya pemuda itu. Tapi ia adalah seorang nona Kang Ouw yang berpengalaman, tak peduli usianya masih muda. Ia tidak mau segera menunjuki kemurkaannya. Maka ia menghampiri meja yang dekat dengan mejanya Hong Kun. Ia kata pada jongos yang menghampirinya. Ia menyebut beberapa rupa sayuran.

Hong Kun terus membujuki Hauw Yan yang ia layani dengan telaten. Ia mengeluarkan sapu tangan guna menyusuti mulut si anak dan menyeka kedua tangannya. Sembari berbuat begitu, ia pun menggunakan ketika untuk makan dan minum.

Sembari menantikan barang hidangan, Tan Hong mengasah otaknya. Mulanya dia berniat berlompat kepada Hauw Yan untuk memeluknya dan terus melompat pergi guna mengangkat kaki. Hanya sesaat ia merobah pikirannya itu. Ia kuatir percobaan itu gagal. Ia percaya Hong Kun bukan sembarangan orang. Pasti tak mudah baginya bertempur sambil mendukung Hauw Yan. Ia tentu tidak dapat lari pesat dan bakal tersusul kalau Hong Kun mengejarnya. Pula masih ada satu soal lain : Bagaimana kalau Hauw Yan kaget dan menangis ?

Maka ia menyabarkan diri seraya terus memutar otaknya, mencari pikiran dan kesempatan yang baik.

Hong Kun sendiri, berat dia merasai pikirannya. Karena si nona tidak bertindak terlebih jauh dan Hauw Yan pun diam saja, tak dapat dia berbuat apa-apa terhadap nona yang tidak dikenal itu. Dia berdiam tetapi otaknya bekerja terus. Biar bagaimana, dia mencurigai nona itu.

Hauw Yan sendiri tak dapat duduk berdiam saja. Entah apa yang dipikirkannya. Dia mengawasi Hong Kun, yang matanya mendelong ke satu arah, kedua tangannya ada pada pipi dan telinganya yang dia garuk-garuk tanpa dia merasa gatal.

Tan Hong terus memasang mata secara diam-diam. Tak lama datanglah jongos dengan barang hidangan yang dipesannya. Justru itu si nona mendapat satu pikiran. Tidak ayal pula, ia mencoba mewujudkan itu. Secara diam-diam ia mengisyaratkan jongos itu membawa semangkok daging ayam ke mejanya Hong Kun, ia sendiri secara diam-diam berbangkit bangun, bertindak mengintil di belakang jongos itu yang kebetulan bertubuh besar dan gemuk. Selekasnya ia sudah datang dekat Hauw Yan, dengan kecepatannya yang luar biasa, ia mengulur tangannya dan menyambar bocah itu, terus ia berlompat lari keluar !

Hauw Yan menyangka orang bermain-main dengannya, ia bukan takut atau kaget, ia justru tertawa, maka Tan Hong lekas-lekas membekap mulutnya. Setibanya di luar, nona itu berlompat naik ke atas genteng.

"Tuan, mari cobai daging masakan kami ini !" berkata si jongos kepada Hong Kun sambil ia meletakkan mangkuk ayam di depannya pemuda itu. Dia bicara sambil bersenyum.

Dia menuruti kehendaknya si nona sebab menuruti kebiasaannya menyangka tentulah muda mudi itu mau main pacar-pacaran hingga ia bakal mendapat hadiah berarti. "mari cobai, tuan, itulah si nona di sana yang memesannya untuk tuan..."

Hong Kun tengah berpikir hingga pikirannya itu terintang, ia mengawasi jongos itu yang kembali berkata padanya : "Lekas cobai, tuan ! Jangan tuan sia-siakan kebaikan nona itu..."

Kali ini si jongos menoleh, akan menunjuk kepada Tan Hong, atau dia lantas berdiri menjublak sebab si nona tak nampak sekali pun bayangannya ! Hong Kun juga terperanjat. Ia tidak melihat nona yang ditunjuk itu. Yang hebat ialah ketika ia menoleh ke kirinya Hauw Yan, bocah itu tidak ada di tempatnya !

"Celaka !" serunya. Lantas ia menolak tubuh si jongos buat terus berlompat keluar. Dia tahu yang dia telah kena orang akali. Dia menyesal sekali yang dia seperti buta mata dan pikiran sebab dia terlalu keras mengasah otaknya hingga dia tidak melihat Hauw Yan telah orang sambar !

Tepat diambang pintu, Hong Kun berhadapan dengan seorang tua.

"Eh, eh, saudara Gak, kau tergesa-gesa kenapakah ?" tanya si orang tua ialah Ngay Eng Eng yang baru saja tiba.

Mulanya Hong Kun melengak atau segera dia menanya : "Locianpwe, apakah barusan locianpwe mendapat lihat nona yang kita ada urusan di dalam rimba tadi ?"

Eng Eng menggeleng kepala. "Tidak" sahutnya.

Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Hong Kun lompat ke samping orang tua itu, buat terus lari keluar guna menyusul Tang Hong. Maka dilain saat, lenyap sudah ia di jalan besar yang gelap, yang tak disampaikan cahaya api.

Tan Hong berlaku cerdik sekali. Sengaja ia lompat naik ke atas genteng. Ia percaya Hong Kun pasti menerkanya sudah kabur terus. Ia pula tidak lari terus, hanya sambil mendekam diatas wuwungan, ia mengintai ke arah pintu penginapan hingga ia melihat si anak muda lari keluar itu, mungkin untuk terus meninggalkan Thian-keetin !

Sampai sekian lama, jago wanita dari Hek Keng To itu masih mendekam saja dan Hauw Yan ia peluki terus. Setelah mendapatkan Hong Kun belum juga kembali, legalah hatinya. Tapi yang paling membuatnya lega ialah waktu ia mendapat kenyataan bocah di dalam pelukan atau empoannya itu sudah tidur pulas !

Rupanya bocah itu senang sekali dipeluki seorang wanita yang membuatnya merasa hangat, apa pula itulah wanita yang dia panggil mama !

Dengan berhati-hati Tan Hong berjalan di atas wuwungan menuju ke ujung genteng dimana terdapat sebuah gang yang gelap. Di situ dia berlompat turun. Ia tidak terpergoki siapa juga. Di dalam gang itu ia berjalan cepat melalui tiga tikungan baru ia muncul di jalan besar.

Selama si nona berdiam di atas genteng sang waktu berlalu dengan cepat. Maka itu waktu mungkin sudah jam dua. Di jalanan umum itu sangat sedikit orang yang masih berlalu lalang. Dengan cepat ia kembali ke rumah makan tadi, kali ini untuk meminta kamar, maka selanjutnya ia tidur pulas bersama-sama puteranya It Hiong itu.

Selama itu Nona Tan ini sudah memikirkan tentang Hong Kun. Ia berpengalaman dan teliti. Ia dapat menerka apa yang Hong Kun bakal lakukan sesudah anak muda itu gagal menyusulnya. Ia menerka mesti Hong Kun menyusul keluar kota. Maka itu dengan berani ia ke hotel bahkan untuk tidur nyenyak. Itulah yang dinamakan tipunya "Kakak tua pulang ke sarangnya". Dan dengan demikian Hong Kun kena diperdayakan ! Besok paginya Tan Hong mendusin dari tidurnya, buat seterusnya membawa sikap tenang-tenang saja. Dapat ia membuat Hauw Yan tidak banyak rewel, sebab anak itu memangnya anak baik. Paling dahulu ia ajak si bocah bersantap lantas ia membayar uang penginapan dan santapan baru ia bawa Hauw Yan meninggalkan rumah penginapan itu.

Sekarang ini Tan Hong sudah memikirkan masak-masak. Hendak ia menyerahkan Hauw Yan kepada It Hiong sendiri supaya senang dan puaslah hatinya pemuda yang ia gilai itu. Ia percaya kapan Giok Peng ketahui ialah yang membantu anak mereka, nona itu tentulah berkesan baik terhadap dirinya. Ia tidak jelas bersedia ia bersuamikan It Hiong tak perduli pemuda itu telah mempunyai istri. Asal It Hiong menerimanya puas sudah hatinya.

Dengan membawa Hauw Yan, nona cantik dari pulau Ikan Lodan Hitam itu menuju Kiu Kiong San.

Selagi Nona Tan melakukan perjalana itu, baiklah kita menoleh dahulu kepada Gak Hong Kun.

Benar seperti terkaan Tan Hong, dia lari terus keluar kota. Inilah sebab didalam kota sendiri semua jalan besar dan gang sudah ia jelajahi dan nona itu bersama Hauw Yan sudah tak tampak. Dia masgul dan mendongkol sekali. Di luar kota, dia menghampiri rimba yang gelap. Disini siuran angin malam membuatnya bagaikan terasadar. Dia menggigil lantas sirna pengaruh alkohol yang membutakan pikirannya. Lantas dia berdiri diam dan berpikir. Ia memperhatikan keadaan di sekitarnya. Ia melihat jalanan. Ia juga menduga-duga kemana si nona telah mengambil jalan. Di luar kota itu sama ada sebuah jalan besar yang jalanannya berliku-liku sampai ke rimba itu. Tak ada jalan lainnya. Di waktu malam seperti itu rimba gelap. Itulah saatnya untuk orang bersembunyi dengan aman.

Lantas Hong Kun menggunakan akal liciknya. Berkatalah ia seorang diri dengan perlahan. "Eh, budak bau berapa tinggikah kepandaianmu ? Mana dapat kau lolos dari mata dan telingaku ? Lihat, akan aku bekuk kau."

Habis berkata, ia berdiam sebentar.

Itulah tipu menakut-nakuti orang yang bersembunyi andiakata dia benar mengumpatkan diri disitu. Lewat sesaat karena tidak ada hasil dari gerakannya itu, ia lari memasuki rimba buat mulai menggeledah rimba itu !

Sampai kepalanya bermandikan keringat tak juga Hong Kun berhasil dengan usahanya itu. Ia mendongkol berbareng bingung. Mendesak Giok Peng ia tidak berhasil, mencuri kitab Sam Cay Kiam gagal dan kali ini menculik Hauw Yan bocah itu kena orang bawa kabur di depan matanya, sia-sialah segala dayanya maka sekarang ia menjadi uring-uringan sendiri sampai tubuhnya bergemetaran...

Masih anak muda ini berjalan mundar mandir, masih dia mencoba mencari Tan Hong. Ia mirip orang yang otaknya terganggu. Satu kali dia bersiul nyaring sekali hingga burung- burung kaget dan terbang.

Tidak lama rasanya terdengar sudah suara turun burung kucica bernyanyi dan itulah tanda dari tibanya sang fajar. Anak muda ini kantuk, letih dan pening kepalanya, pikirannya kacau, napasnya memburu. Ia menembusi hutan menuju ke jalan umum, jalan tanpa tujuan. Tengah hari itu, ia tiba kembali di kecamaTan Hong bwe. Dengan surat cekat, terdengar dari mulutnya : "Anak Hauw Yan ! Adik Peng !" Ia berjalan dengan kepala tunduk. Maka itu, diwaktu ia membelok disebuah pengkolan, hampir ia bertabrakan dengan seorang wanita, sampai telinganya mendengar cicitan : "Orang buta ! Kau main gila, ya ?" Dan tangannya wanita itu melayang !

Hong Kun terperanjat, ia mengangkat kepalanya, melihat datang serangan, ia berkelit. Lantas ia berdiri mengawasi.

Maka ia melihat seorang nona dengan baju merah serta pedang di punggung, rambutnya yang panjang tergerai di punggungnya dan matanya mendelik terhadapnya !

Di dalam keadaan seperti itu, matanya Hong Kun bagaikan kabur, maka juga ia melihat si nona seperti Tan Hong. Ia menjadi gusar.

"Budak bau !" bentaknya. "Apakah kau sangka kau dapat lolos dari tangannya Tuan Gak mu ini? Ha !" Dia lantas maju satu tindak, kedua tangan berbareng diluncurkan.

Nona itu bukannya Tan Hong, ialah Cit Mo Siauw Wan Goat, bajingan wanita nomor tujuh dari pulau To Liong To. Dia sebenarnya tengah dalam perjalanan bersama kedua orang kakaknya yaitu Lie Mo Lam Hong Hoan, bajingan nomor lima. Mereka bertiga mau pergi ke Heng San buat mengundang It Yap Tojin guna sudi membantui mereka. Di tengah jalan pengunungan Heng San, Wau Goat kebetulan bertemu dengan Tio It Hiong kontan di jatuh cinta terhadap pemuda tampan dan gagah itu. It Hiong mirip pulau suci di tengah lautan, mudah dipandangi sukar dijamah, hingga ia menjadi bersusah hati dan kesusahan hatinya itu cuma dapat disimpan di dalam dada. Dengan hati tidak karuan rasa dia mengajak kakak seperguruannya berpesiar kemana dia suka. Dia berniat melegakan hati, siapa tahu justru dia berpapasan dengan Hong Kun, Dia tidak kenal si anak muda yang justru adalah muridnya It Yap Tojin karena ia menyangka pemuda itu ceriwis, dia lantas mendamprat dan menyerang !

Lantas Nona Siauw menjadi marah sekali. Orang bukan minta maaf tapi justru menyerangnya. Dengan gerakan jurus silat "Bajingan berkelebat", ia berkelit terus ke belakang orang guna dari situ balik menghajar.

Hong Kun bukan sembarang orang, tak kena ia diserang secara begitu. Cepat luar biasa ia membalik tubuh guna menghajar balik pada nona itu. Maka beradulah tangan mereka berdua hingga keduanya sama tertolak mundur separoh terpelanting.

Justru itu tibalah Lam Hong Hoan dan Bok Cee Lauw yang berjalan belakangan. Mereka itu terkejut sebab mereka mengerti muridnya It Yap Tojin, sedangkan imam itu adalah orang yang bantuannya mereka harapkan. Sambil lari menghampiri mereka berseru : "Su-moay tahan !"

Su-moay ialah panggilan yang berarti adik seperguruan wanita.

Siauw Wan Goat mengangkat mukanya mengawasi anak muda itu atau si anak muda mendahului berlompat pula, menyerang lagi padanya. Itu pula serangan dahsyat sekali . Ia berniat berkelit atau rambut kepalanya kena terasampok hingga jepitan rambutnya yang berkepala burung pong kena terasampok jatuh. Ia menjadi sangat gusar, ia lantas menghunus pedangnya. Justru itu waktu ia mendengar cegahan kedua saudara seperguruannya itu, terpaksa ia menyimpan pedangnya dan mundur setindak akan menoleh kepada kedua saudara itu.

Hong Hoan dan Cee Lauw sudah lantas tiba. Mereka itu menggoyang -goyangi tangannya.

"Jangan bertempur !" mereka kata. "Kita ada orang sendiri

!"

Hong Kun mendelong mengawasi dua orang yang baru tiba

itu mulutnya bungkam.

Hong Hoan mengawasi anak muda itu dan memandang adiknya, ia menyangka diantara dua orang itu ada suatu perselisihan untuk dapat mendamaikan ia terus bersenyum kepada mereka kemudian sembari tertawa ia kata kepada si anak muda, "Gak Laote dengan memandang muka tipis dari aku yang mengenal gurumu yang terhormat dan kau sendiri, aku minta sukalah kau memaafkan adikku ini andiakata dia telah melakukan sesuatu yang tak menyenangimu..." Kemudian kepada Wan Goat ia lantas menerangkan. "Su moay, inilah saudara Gak murid pandai dari It Yap Totiang ! Hahahaha ! Kalau tidak bertempur kalian tentulah tak kenal satu dengan yang lain."

Suara tawa orang membuat Hong Kun dapat berpikir hingga ia tak lagi seperti orang lupa ingatan. Ia lantas mengawasi Hong Hoan bertiga terutama Hong Hoan, terus ia berkata : "Oh, kakak Lam sudah lama kita tak berjumpa !"

Meski ia mengucap demikian pemuda ini belum sadar seluruhnya. Maka itu ia lantas nampak keheran-heranan.

Bok Cee Lauw melihat gerak gerik orang ia menarik ujung bajunya Wan Goat dan bertanya perlahan, "Sumoay, kenapa kau bentrok dengannya ?" Ditanya kakaknya merah mukanya si nona. "Cis !" katanya sengit. "Dia nampak sopan tetapi dia ceriwis sekali !"

Cee Lauw bersenyum, ia menggodia adik seperguruannya itu. "Kau cantik bagaikan bunga, jangan heran kalau kupu- kupu beterbangan mengitari ataupun menowelmu.

Hahahaha."

Nona itu merasa likat, dia menoleh kelain arah. Dengan begitu dia tidak mengambil kata-kata kakaknya yang nomor dua.

Lam Hong Hoan melihat suasana masih keruh itu, lantas ia memberi hormat pada Hong Kun untuk berkata pula. "Gak Laote, sampai jumpa pula !"

Lantas ia menoleh kepada dua kawannya untuk mengedipi mata setelah mana ia bertindak mengajak dua saudara itu melanjuti perjalanan mereka.

Siauw Wan Goat berlalu dengan ogah-ogahan bahkan ia menjebih terhadap si anak muda yang dianggapnya ceriwis itu.

Gak Hong Kun melengak sebentar lalu mendadak ia berseru. "Saudara Lam tunggu dulu !"

Hong Hoan membalik tubuh. Ia berdiri menanti. "Ada apakah Gak Laote ?" tanyanya.

Hong Kun masih berpikir sejenak sebelumnya ia tanya, "Saudara Lam, apakah tadi ditengah jalan kau bertemu dengan seorang nona dengan baju hitam ?" Pertanyaan itu membikin Hong Hoan lantas menerka bahwa si nona berpakaian hitam itu adalah pacarnya anak muda ini yang nampak lagi bingung sekali, bahwa mungkin mereka itu berdua tengah bertengkar maka ia tertawa dan menjawab, "Tidak, saudara, aku tidak menemui nona seperti yang kau tanyakan itu. Baiklah saudara jangan bingung. Kau harus ketahui sifatnya wanita ! Mungkin dia sedang bergurau  dengan saudara ! Baiklah saudara lekas susul, barangkali kau akan lekas dapat menyandaknya."

Habis berkata Hong Hoan membalik pula tubuhnya buat melanjuti perjalanannya, dengan cepat menyusul kedua saudaranya.

Hong Kun sebaliknya menganggap kata-kata orang benar adanya tanpa berpikir lagi ia pun melanjuti perjalanannya sekarang dengan cepat.

Segala sesuatu bisa terjadi, demikian dengan Hong Kun ini, disaat ia mendekat Hong bwe koan ditangah jalan besar ia justru berpapasan dengan rombongannya Pek Giok Peng dan Pek Thian Liong, dan selekasnya Nona Pek melihat si anak muda, naiklah darahnya. Dengan mata merah dibuka lebar ia menghunus pedangnya.

"Mana Hauw Yan ?" ia menegur dengan tebasan pedangnya itu.

Hong Kun terkejut, dia tak sempat berlompat mundur maka dia melengak dengan jurus silat Thia Poan Kio, Jembatan Besi. Masih dia terlambat sedikit, baju didadanya kena terpapas hingga ke kulitnya hingga kulitnya itu terluka dan mengeluarkan darah. Mulanya dia terkejut akhirnya dia tertawa. Sekarang dikenali nona di depannya justrulah si adik Giok Peng, yang ia buat pikiran siang dan malam ! Lupa dia pada bajunya yang robek dan kulitnya yang terluka itu, dia kata sambil tertawa.

"Oo, adikku ! Kenapa baru saja bertemu denganku kau menyerang secara begini telengas."

Habis menyerang itu, Giok Peng menatap. Ia tidak lihat Hauw Yan ditangannya pria itu. Ia melihat ke kiri dan kanan, tak juga ada puteranya itu. tiba-tiba ia menjadi sangat berkuatir, hingga ia lantas menangis !

"Mana Hauw Yan ?" teriaknya. "Lekas kembalikan anakku !"

Mendengar disebutnya nama anak itu, Hong Kun bingung bukan main, dia kaget dan malu tanpa merasa tubuhnya menggigil, peluhnya membasahi tubuhnya, dia berdiri diam saja, matanya mendelong terhadap si nona. Memang selagi pikirannya kacau itu, tak dapat berbicara.

Pek Thian Liong tidak turut berbicara tetapi ia sudah lantas memencar semua pengikutnya akan mencari Hauw Yan disekitar tempat itu. Ia menyangka Hong Kun menyembunyikan keponakannya itu.

Giok Peng berhenti menangis. Ia insyaf bahwa itulah bukan waktunya. Ia menghadapi pula si anak muda.

"Hong Kun !" bentaknya. "Kalau kau tidak kembalikan Hauw Yan kepadaku, akan aku adu jiwaku denganmu !"

Meski begitu ia maju lebih jauh untuk menikam. Kali ini dengan jurus pedang "Anak panah menyerang sasarannya."

Hong Kun berkelit pula. Tak berani ia menangkis atau balas menyerang. "Aku tengah mencari Hauw Yan !" sahutnya kemudian. "Sudah satu malam dan setengah harian aku mencarinya !"

oooOooo

Giok Peng mengawasi. Ia mendapat kenyataan anak muda itu mirip orang linglung hingga timbul kekuatirannya, jangan- jangan ditengah jalan pemuda telah membinasakan puteranya. Ia bingung dan berkuatir sekali.

"Kakak" kata ia kepada Thian Liong. "Jangan-jangan Hauw Yan sudah mendapat kecelakaannya di tangan manusia busuk ini ! Mari kita bereskan dia !"

Kembali si nona menyerang, dalam kuatir dan bingung, tangannya bergemetar.

Hong Kun berkelit lagi. Kali ini ikat kepalanya kena ditebas ujung pedang, hingga rambutnya terlepas dan awut-awutan. Masih ia tidak berani melakukan perlawanan. Dia merangkap kedua tangannya memberi hormat seraya berkata : "Adik Peng, jangan berduka ! Hauw Yan tidak kurang suatu apa, dia cuma... dia cuma..."

Ketika itu semua pengikut sudah kembali, laporannya ialah kosong.

Thian Liong bingung juga dari bingung ia menjadi gusar. Maka ia menghunus pedangnya menuding anak muda itu.

"Hong Kun, dimanakah kau sembunyikan Hauw Yan ?" tanyanya bengis. "Jangan kau tidak memberikan keteranganmu, jangan harap kau bisa berlalu dari sini dengan masih hidup." Kata-kata itu diikuti dengan satu loncatan untuk datang dekat pada si anak muda, untuk mengancam hendak menyerang.

Empat orang pengikut turut bergerak juga, mereka maju mengurung.

"Cuma... cuma apa ?" tanya Giok Peng. "Kau mau katakan atau tidak ?"

Muka Hong Kun pucat, lalu menjadi merah. Ia berkuatir dan menyesal, dia mulai mendongkol. Dia merasa orang memaksanya, hal itu membuatnya tidak puas.

"Menyesal adik, aku lalai." katanya kemudian. "Lantas lalai, selagi berada diatas loteng rumah makan di Thian kee tin, aku telah membuat Hauw Yan lenyap.."

Berkata begitu, si anak muda lantas menangis mengerung- gerung dan memukul juga dadanya.

"Aku menyesal, adik " katanya pelan. "Aku telah membikin anakmu itu hilang ! Memang Gak Hong Kun harus mati ! Nah, kau bunuh !"

Pek Thian Liong heran.

"Benarkah katamu ini ?" tanyanya. Ia mau cari keponakannya bukan buat membunuh orang.

"Kakak, jangan percaya dia !" teriak Giok Peng. "Jangan kita percaya ocehannya !"

Lagi-lagi si nona menyerang ! Hong Kun tidak berkelit atau menangkis, dia berdiri tegak. Dia cuma mengawasi si nona dan selanjutnya berkata : "Aku puas mati ditangannya orang yang aku cintai.."

Thian Liong menangkis pedang adiknya.

"Tenang, adik !" ia kata. "Kalau dia dibunuh mati, mana mungkin kita mencari Hauw Yan ?" terus ia menoleh kepada Hong Kun untuk menanya, "kalau kau benar mencintai adikku, lekas bilang Hauw Yan terjatuh ke dalam tangan siapa ? Lekas

!"

Hong Kun mengangkat kepalanya, dia berpikir keras.

Sekian lama dia membungkam, kemudian baru dia berkata : "Ke dalam tangannya si nona berbaju hitam..."

"Apakah kau bilang ?" Giok Peng tegaskan.

"Seorang wanita muda berpakaian baju hitam." sahut Hong Kun pelan.

"Siapa wanita itu ?" Thian Liong tanya menegaskan. "Apakah kau kenal dia ? Habis merampas Yan, dia lari kemana

?"

Selagi kakaknya menanya itu, Giok Peng menatap si anak muda. Ia mendapat kenyataan orang seperti sadar dan tidak.

"Ambil air !" Ia memerintahkan orang, maka dilain saat ia telah membanjur pemuda yang bicaranya selalu tak tegas dan sikapnya seperti orang linglung.

Basahlah pakaiannya Hong Kun karena banjuran dia, tetapi justru karena disiram itu dia sadar seketika. Dia terus menatap si nona, habis menarik napas panjang diapun lantas berkata : "Adik, lantaran aku terlalu mencintaimu hingga aku putus asa dan menderita karenanya, dua kali sudah aku melakukan perbuatan-perbuatannya yang memalukan itu, hingga aku membikin kau turut bercapek lelah dan bersusah hati karenanya..."

"Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Hauw Yan, kau harus mengganti jiwa !"

"Hong Kun !" Thian Liong turut bicara, "lekas kau jelaskan bagaimana caranya kau membuat Hauw Yan hilang !"

Hong Kun mengusap mukanya yang masih basah.

"Aku membuat Hauw Yan hilang di dalam rumah makan di Thian kee tin." sahutnya. "Aku membujuki Hauw Yan makan, aku sendiri minum arak buat melegakan hati yang pepat dan kacau. " Ia berhenti akan mengawasi si nona baru ia

melanjuti : "Tengah aku minum itu jongos datang membawakan makanan katanya itulah makanan yang disuruh si nona baju hitam untukku. Bertepatan dengan itu, Hauw Yan hilang, waktu aku menoleh nona itu juga sudah tidak ada. Aku lantas pergi keluar akan mencari dan satu malam suntuk aku mencarinya secara sia-sia. Demikian aku mencari terus sampai sekarang aku berada disini, tengah mencari terlebih jauh.

Tidak kusangka disini aku bertemu dengan kalian "

"Nona berbaju hitam itu berusia berapa kira-kira dan dia membekal senjata apa ?" Giok Peng tanya.

Hong Kun berpikir sebelumnya dia menjawab. "Kira-kira dua puluh empat atau dua puluh lima tahun" sahutnya sejenak kemudian. "Dia membawa senjata atau tidak itulah aku tidak perhatikan.."

Giok Peng dan Thian Liong saling mengawasi. Mereka pun tunduk untuk berpikir guna menduga-duga. Siapakah nona berbaju hitam itu ? Dia golongan mana ? Kenapa dia merampas Hauw Yan ?

Mendadak Giok Peng bagaikan terasadar. Ia mengangkat kepalanya dengan cepat dan mengawasi si anak muda dengan tajam.

"Hong Kun !" katanya keras. "Kau mengarang cerita !

Apakah kau sangka dengan demikian dapat kau mengelabui aku ? Sebenarnya kau perbuat apakah atas diri Hauw Yan. Bilang secara terus terang ! Ingat, akan aku bikin darahmu muncrat !"

Masih si nona mengawasi dengan tajam, matanya berkilauan karena air matanya mulai mengembang pula. Ia pun mengancam dengan pedangnya.

Hong Kun menarik nafas panjang, ia tunduk. "Karena asmara Hong Kun sudah roboh" sahutnya

perlahan. "Karena itu dimata kau adik, dia menjadi seorang yang tak tahu malu ! Apa yang aku bisa bilang lagi ? Tapi buat melakukan pemeriksaan bagaimana kalau kita pergi bersama ke Thian kee-tin ?"

"Gak Hong Kun !" menegur Thian Liong. "Kau bisa mengungguli diri cerdas kenapa sekarang karena seorang wanita kau menjadi begini roboh tak berdaya ? Ya, kanapakah

?" Hong Kun berdiam, terus ia tunduk, mukanya merah.

"Adik, " tanya Thian Liong pada saudaranya. "Kau banyak mengembara, ingatkah kau di dalam dunia Kang Ouw, wanita siapakah yang gemar mengenakan pakaian hitam ?"

"Mereka yang gemar pakaian hitam banyak jumlahnya." sahut si adik, "jadi untuk mengenalinya lebih penting andiakata kita tahu senjata yang dipakainya..."

Thian Liong berpikir.

"Apakah dia bukannya Teng Hiang ?" tanyanya. "Cuma Teng Hiang yang kenal Hauw Yan..."

"Tak mungkin !" berkata Giok Peng. "Mustahil Hong Kun tak kenal dia."

Karena terkaan buntu, rombongan ini jadi saling berdiam di tengah jalan itu. Tak dapat mereka menerka siapa perampas atau penculiknya Hauw Yan itu.

Ketika itu sudah mendekati magrib, burung-burung mulai pulang kesarangnya, beberapa orang Thian Liong menjadi tidak sabaran maka yang satu kata pada majikan mudanya itu

: "Tuan muda, kita berdiri diam saja disini buat apakah ? Buat apa kita membiarkan saja orang she Gak yang setengah gila itu ? Lebih baik kita bereskan dahulu dia kemudian baru kita pergi mencari tuan kecil Hauw Yan ! Sekarang ini langit sudah mulai gelap. "

Thian Liong mengawasi orang itu, ia melihat langit. "Adik" katanya kemudian pada saudaranya, "baik kita kembali dahulu ke Hong bwe atau terus ke Thian kee tin ?"

Giok Peng berpaling, ia berpikir. Kemudian dia menuding dengan pedangnya kepada Hong Kun seraya berkata bengis : "Sebelum Hauw Yan dapat kutemukan, jangan kau lari dari kami walaupun sejauh setengah tindak !" Kemudian ia berpaling kepada kakaknya untuk meneruskan : "Kakak, aku pikir kita pergi dahulu ke Tian kee tin, akan minta keterangannya jongos rumah makan di sana."

Mendengar itu, Hong Kun turut bicara.

"Pikiranku sudah kacau sekali, " berkata ia, "tetapi buat pergi ke Tiankee tin, itulah paling baik ! Di sana adik bersama kakakmu, kau minta keterangannya jongos hotel, mungkin dia dapat memberi keterangan penting. Di sanapun kau akan dapat bukti bahwa aku tidak bicara dusta ! Nah, marilah !"

Lantas pemuda ini mendahului bertindak pergi, dia terus lari.

Giok Peng terkejut. Ia mengira orang mau kabur, lantas ia berlompat mengejar sampai ia menggunakan lari ringan tubuh Tangga Mega. Selekasnya ia menyandak, ia samber leher baju anak muda sambil berkata keras :" Kau hendak menggunakan akal bulus ya ? Apakah dengan begini kau dapat lolos dari aku

?"

Thian Liong sekalianpun dapat menyusul, lantas dua orang ditugaskan mengiringi pemuda yang nampaknya sudah habis daya itu. Mereka berjalan terus. Pada jam dua lewat, mereka sudah duduk bersantap di rumah makan yang ditunjuki Hong Kun, dimana Hong Kun kehilangan Hauw Yan. Menurut keterangan si jongos itu, senjatanya si nona yang dia layani berupa semacam ruyung mengkilat seperti berbahan beling. Pakaian dan potongannya nona itu, cocok dengan lukisannya Hong Kun.

Giok Peng berpikir keras akan ketahui senjata itu senjata apa. Ia menerka pada sanho pang. Masih lama ia mengasah otaknya, lantas ia menduga pada Tan Hong dari Hek Keng To, pulau Ikan Lodan Hitam.

"Kalau benar dia, Hauw Yan tidak dalam bahaya jiwa." pikir ibu yang muda itu, "Hanya aneh, apa perlunya Tan Hong merampas anakku itu dari tangannya Hong Kun ? Oh, bukankah inipun soal asmara ? Kalau benar, di jurusan itu, penghidupanku masih ada kesulitannya..."

Nona ini tidak mau memberitahukan Hong Kun tentang nona yang ia terka itu. Ia kuatir si anak muda juga terasangkut soal asmara. Buat ia ialah, selama ia belum menemukan Hauw Yan, Hong Kun ini tak akan dibiarkan bebas...

Malam itu Giok Peng semua bermalam di rumah makan merangkap hotel itu. Besoknya pagi habis bersantap mereka berangkat. Hong Kun dipaksa turut bersama. Maka bersama- sama juga mereka pergi mencari Hauw Yan ke segala tempat atau arah.

Sementera itu Tan Hong seperti yang telah dipikirnya sudah membawa Hauw Yan langsung ke Kiu Kiong San. Karena ada bersama bocah, ia tidak dapat berjalan cepat, bahkan  terpaksa diperlahankan. Begitulah di Kay Pay, mereka dapat dilihat rombongannya Siauw Houw. Paman itu sudah lantas mengenali keponakannya. Tapi Tan Hong lihai, dia melihat gerak gerik orang, sebelum sempat Siauw Houw menegurnya atau menegur Hauw Yan, ia mendahului kabur. Siauw Houw penasaran, dia menyusul. Selang dua puluh lie, ia telah bermandikan peluh dan nafasnya tersengal-sengal, sedangkan delapan pengikutnya ketinggalan jauh di belakang.

"Hebat ilmu ringan tubuh wanita ini" pikir pemuda she Pek ini yang memaksakan diri mengejar terus.

Dari Kay pay, Siauw Houw menyusul terus sampai di Sintan Po. Di sini Tan Hong memasuki sebuah rumah makan. Siauw Houw menyusul ke rumah makan itu, sesudah ditengah jalan ia meninggalkan tanda untuk orang-orangnya.

Rumah makan itu tidak besar, tetamunya cuma beberapa orang. Hauw Yan lagi dibujuki Tan Hong untuk bersantap.

Dengan lantas bocah itu melihat pamannya, lantas juga ia memanggil "Paman ! Paman !"

"Hauw Yan !" menyambut sang paman yang terus menghampiri bahkan dia mengulur tangannya guna memegang keponakan itu.

Tan Hong menghadang. Ia menolak orang hingga terpelanting.

"Siapakah kau ?" tegurnya. "Kenapa kau hendak merampas anak orang ?"

Alis Siauw Hoaw terbangun.

"Bagus benar ya !" ia balik menegur. "Bagaimana dan berani mengakui anak orang sebagai anakmu ? Apakah kau seorang nona tak tahu malu ?" Muka Tan Hong menjadi merah. Dia memang keliru omong, Tapi dia pun tidak senang.

"Kau jangan usil !" bentaknya.

"Hm !" Siauw Houw mengasi suara dinginnya. Suaranya pun keras. "Aku tak dapat usil ? Kau tahu siapakah aku ? Akulah Pek Siauw Houw, pamannya anak ini ! Dialah Hauw Yan keponakanku yang lagi cari. Aku justru mau membekuk penculiknya !"

Tan Hong tidak mau mengalah. Diapun tertawa dingin. "Penculik itu adalah kau bukannya aku" teriaknya. "Kau

memalsukan diri sebagai paman. Dapatkah kau mengelabui nonamu ?"

Tepat itu waktu kedelapan orangnya Houw tiba, mereka lantas mengurung.

Siauw Houw mengambil keputusan. Dia maju dekat. "Budak, tak sudi tuanmu mengadu lidah denganmu !" katanya keras.

Terus dia bertindak. Dengan tangan kanan, dia menyampok muka si nona, dengan tangan kiri dia menyambar keponakannya.

Tapi dia tidak berhasil. Di dalam sekejap dia kehilangan si nona dan si anak.

Luar biasa cepat Tan Hong berkelit, sambil menyambar Hauw Yan. Dia pindah ke meja yang lain. Tak sudi dia berkelahi. Dia tahu sekarang Pek Siauw Houw ialah saudaranya Pek Giok Peng. Hanya dia tak ingin menyerahkan keponakan itu kepada lain orang kecuali kepada Tio It Hiong. Maka ia memutar otak memikirkan jalan untuk dapat menyingkirkan diri.

"Eh, orang tak tahu malu !" kata dia pula. "Dengan mengandalkan jumlah yang banyak kau hendak memperhina seorang perempuan ! Tak takutkah orang nanti tertawakanmu

?" Berkata begitu dia maju menerobos. Tapi dua orang Lek Tiok Po menghadang. Dia batal.

"Hai, budak bau !" seru Siauw Houw, "jika kau tidak serahkan Hauw Yan keponakanku itu, jangan harap kau bisa meninggalkan tempat ini !"

Parasnya Tan Hong merah, dia gusar sekali.

"Hm !" ia kasih dengar suara dingin. "Karena aku memandang adikmu, Nona Pek Giok Peng, suka aku mengalah. Tapi kau mendesak aku ! Apakah kepandaianmu hingga kau berani menghadang nonamu ini ?"

"Kau coba saja Tiat See Ciang dari Lek Tiok Po !" kata Siauw Houw singkat. "Tiat See Ciang" yaitu pukulan tangan pasir besi. Habis berkata dia maju pula niat menyerang.

Justru itu dari pojok kamar terdengar satu suara nyaring. "Kalian dari Lek Tiok Po, kalian pernah apakah dengan Nona Pek Giok Peng ?" Menyusul itu orangnya berlompat maju menghalang diantara si anak muda dan si pemudi. Dia bertubuh besar, alisnya tebal, matanya gace. Dipunggunggnya dia menggendol sebatang golok. Menghadapi muda mudi itu dia memberi hormat. Tan Hong mengawasi orang itu, ia berkemak kemik tetapi tidak mengatakan sesuatu.

Tidaklah demikian dengan Siauw Houw. "Aku yang rendah adalah Pek Siauw Houw dari Lek Tiok Po." dia berkenalan. "Mohon tanya tuan adakah kau sahabat kaum Kang Ouw dari adikku Giok Peng itu ?"

Orang bertubuh besar itu nampak terkejut. "Aku yang rendah ialah Whie Hoay Giok" dia

memperkenalkan diri. "Aku sekarang singgah disini sebab aku ini mewakilkan adik seperguruanku Tio It Hiong menantikan tibanya Nona Pek Giok Peng, supaya kita berangkat bersama- sama ke Kiu Kiong San. Tuan apakah adikmu itu turut tiba disini ?"

Siauw Houw tidak lantas menjawab pertanyaan orang itu, ia hanya menunjuk Hauw Yan ditangannya Tan Hong sambil berkata : "Anak ini adalah anaknya adik seperguruanmu itu, dia dibawa lari oleh budak ini ! Kakak Whie, maukah kau bekerja sama denganku merampas pulang anak ini ?"

Hoay Giok memperlihatkan tampang heran. Ia mengawasi Tan Hong dan Hauw Yan dan Siauw Houw juga otaknya bekerja : "Apa yang aku lihat tunangannya Tio sute ialah nona Cio dan mereka belum lagi menikah ! Kenapa anak ini bolehnya anak sute ? Dan kenapa anak ini didapatnya dari Nona Pek Giok Peng ? Kalau tidak demikian kenapa Pek Siauw Houw mengaku dirinya sebagai paman dari anak itu ?"

Lagi-lagi ia mengawasi ketiga orang itu bergantian.

Tan Hong tertawa dingin. Kata dia berani : "Di dalam dunia Kang Ouw kalau ada manusia-manusia yang tak menghendaki lagi mukanya itulah kalian berdua ! Yang satu mengaku diri sebagai kakak seperguruannya Tio It Hiong dan yang lain sebagai pamannya Hauw Yan ! Tak lain tak bukan kalian cuma memikir menculik anak ini ! Kepandaian semacam ini mana dapat dipakai menipu nonamu ini ?"

Hoay Giok jujur dan keras hati, tak dapat dia perhina secara demikian. Lantas saja ia menunjuki kegusarannya.

"Budak hina, jangan sembarangan ngoceh !" bentaknya. Tan Hong tertawa dingin.

"Apa yang nonamu bilang ada buktinya !" katanya berani. "Kau tidak dapat menipuku lantas kau buka suara keras-keras

! Apakah dengan begitu kau hendak membikin kaget dan takut nonamu ini !"

Hoay Giok makin gusar.

"Budak berlidah tajam !" teriaknya. "Apakah kau hendak mencari usahamu sendiri ?"

Menuruti hawa amarahnya Hoay Giok berlompat maju sambil melancarkan sebelah tangannya yang terbuka menyampok tangannya si nona !

Tan Hong mundur setengah tindak dengan begitu amanlah pipinya. Ia tidak gusar hanya tertawa dan kata : "Lihat, lihat ! Sang rase telah memperlihatkan ekornya !"

Hoay Giok menahan tubuhnya sebab ia melihat orang berkelit itu, ia heran. Tan Hong melirik, dia tertawa dan kata : "Barusan kau menyerang aku dengan satu jurus dari Lohan Ciang hoat dari Siauw Lim Pay ! Kau pula menggendol golok pada punggungmu ! Toh kau menyebut dirimu sebagai kakak seperguruan dari Tio It Hiong ! Tek Cio Totiang dari Pay In Nia mana dapat mengajari murid dengan ilmu silat semacam yang dimilikimu ini ? Maka juga aku kata ekormu tampak ! Benar atau tidak ?"

Hoay Giok melengak, memang ilmu silatnya ilmu silat Siauw Lim Pay. Gurunya ialah Tiat Pit Tin Pat Hong Beng Kauw dan kakek gurunya adalah Siauw In, adik seperguruan dari Siauw Lim Pay itu. Memang ilmu silatnya beda daripada ilmu silatnya Tek Cio Siangjin. Kalau ia dan It Hiong menjadi saudara seperguruan satu dengan lain, itu ada sebab lainnya. Tentu saja hubungan itu tak dapat dan tak perlu ia beritahukan Tan Hong. Karenanya ia cuma bisa mendongkol sekali.

Siauw Houw mengawasi orang she Whie itu. Dia pun heran mengetahui orang adalah kakak seperguruannya It Hiong.

Tapi dia mempunyai urusannya sendiri, tak dapat dia usil urusan lain orang. Maka selagi Hoay Giok berdiam saja, dia menuding Tan Hong sambil kata bengis : "Budak bau, lidahmu tajam ! Tapi aku tak perduli itu ! Lekas kau serahkan Hauw Yan padaku ! Kalau tidak..."

Tan Hong tertawa geli.

"Kau juga orang Kang Ouw," katanya, "sekarang aku minta kau tenangkan dirimu. Kau tahu, bukankah banyak orang berbahaya dalam dunia Kang Ouw ? Kau menyebut diri sebagai pamannya Hauw Yan, lantas aku dengan mudah saja harus menyerahkan darah dagingnya Tio It Hiong kepadamu ? Nonamu tak setolol kau, mengerti ?" Siauw Houw bungkam, hingga dia berdiam bersama Hoay Giok. Karena mereka berdiam itu, yang lain-lain berdiam juga. Dengan demikian sejenak itu sunyilah ruang rumah makan itu yang barusan ramai berisik. Walaupun demikian, Nona Tan telah terkurung.

Sampai sebegitu jauh, Hauw Yan tidak berdiam saja sebagaimana biasanya. Dia mencoba meronta dari pelukannya Tan Hong.

"Mama ! Mama !" katanya berulang-ulang.

"Hauw Yan anak baik !" berkata Tan Hong membujuki, "anak baik dengar aku ! Mari kita pergi bersama kepada ibumu

! Kau mau bukan ?"

Berkata begitu si nona memikir buat berlompat melawan para pengurung, tetapi baru ia bergerak, kedelapan orang Lek Tiok Po lantas maju merangsak. Kembali ia membatalkan niatnya. Bukannya ia takut, ia hanya kuatir Hauw Yan nanti terluka atau lolos...

Dengan hati panas, Tan Hong mengawasi sekalian penghadang itu. Ia memegang Hauw Yan ditangan kiri dan menyediakan sanho pang di tangan kanan. Lantas ia mengancam. "Diantara kalian semua, siapa berani merintangi nonamu, jangan menyesal ! Asal kamu bergerak pula, jangan salahkan nonamu tak mengenal kasihan ! Awas dapatkah kamu bertanggung jawab kalau Hauw Yan sampai terluka ?"

Setelah berdiam sekian lama itu, Hoay Giok dapat menenangi diri. Ia memang telah banyak pengalamannya walaupun ia masih muda. Ia insaf sungguh berbahaya kalau kedua pihak berlaku keras sama keras. Lantas ia maju satu tindak akan memberi hormat kepada Tan Hong sambil berkata

: "Nona sabar, kita dapat bicara dengan baik-baik !"

Tan Hong mengawasi anak muda itu. Ia tak membiarkan orang bicara. Kata ia : "Kamulah yang tidak pakai aturan ! Kenapa kamu hendak merampas anak orang ?'

"Nona" berkata pula Hoay Giok, "kalau benar kau mempunyai hubungan persahabatan dengan Tio sute, adik seperguruanku itu, maka ingin aku minta kau dengan memandang dia untuk berbicara dengan jelas tentang duduknya urusan ini. Maukah kau ? Andiakata nona berselisih dengan adik seperguruanku itu, baiklah urusan diselesaikan dengan dia sendiri, janganlah nona hubungan itu dengan anaknya ini ! Bukankah anak ini masih belum tahu apa-apa ?"

Anak muda itu bicara beralasan, tidak ada jalan buat Tan Hong bersikap keras lebih jauh tetapi mana dapat ia membuka rahasia hatinya kepada lain orang ? Mana ada muka buat ia berkatai bahwa ia mencintai It Hiong ? Maka terpaksa, ia mesti terus bersikap keras. Maka berkatalah ia : "Inilah mestikaku ! Dapatkah kalian merawat mestikaku ini ?"
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).