Iblis Sungai Telaga Jilid 18

 
Jilid 18

“Semua ini salahku” katanya menyesal dan masgul sekali. “ Tak selayaknya aku bersahabat dengan bocah edan she Gak itu! Kau kakak, kau sampai terluka, sedang ayah ibu dan paman Tong menjadi pusing karenanya.”

Kakak yang dimaksud si nona adalah kakaknya yang kedua, Siauw Houw, sedang mengenai Tong Wie Lam, ia menyebutnya paman yang telah dirobohkan oleh Hong Kun.

Selagi menyebut itu, saking gusarnya, tubuhnya sampai gemetar sendirinya, sebab ia mesti menguasai hawa marahnya.

Thian Long bangkit da mengusap-ngusap rambut adiknya itu. “Sudah adikku.” Dia menghibur. “Sudah jangan kita pikirkan pula bocah edan itu! Cuma kalau adik Tio pulang bersama, pastilah bocah edan itu jeri terhadapnya….”

Giok Peng mengeluarkan sapu tangannya guna menghapus airmatanya.

“Tatkala kami mendengarkan peristiwa ini, ketika itu kami lagi berada dirumah paman Liok Cim,” kata Giok Peng. “Ketika itu adik Hiong gusar tak terkirakan segera dia mengajakku pulang supaya orang edan she Gak itu dapat dihajar! Aku kuatir urusan menjadi besar dan dapat mengguncangkan dunia Kang Ouw. Bukankah karena itu bisa bentrok dengan pihaknya dia itu? Bukankah sekarang justru sedang banyak urusan? Ketika itupun kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam dari gurunya adik Hiong telah dicuri Hong Kun yang membuatnya jatuh kedalam tangannya Hian Ho si imam siluman dari Kim Hee Kiong. Hebat akibatnya andiakata imam itu dapat kesempatan mempelajari ilmu pedang itu, maka itu perlu adik Hiong lekas mencari dan merampasnya kembali. Kitab itu seterusnya jatuh ketangan imam-imam dari Kiauw Kiong San, supaya kitab itu dapat dirampas pulang, adik Hiong telah pergi bersama kakak Kiauw In. Kitab itu sangat penting, karena itu aku tak berani mengganggu waktu yang sangat berharga buat adik Hiong, maka juga sekarang aku pulang seorang diri.

Kalau urusan disini sudah beres, aku memikir untuk pergi menyusul adik Hiong dan kakak In itu.”

“Oh, begitu?” kata Thian Liong yang melengak sebentar, terus dia tertawa. “Maaf aku keliru menyesali adik Hiong!”

Wie Lam gusar mendengar halnya Hong Kun mencuri kitab ilmu pedangnya Tek Cio Siangjin, sampai ia menggebrak meja. “Bangsat cilik itu benar-benar manusia yang berwajah binatang!” katanya sengit. “Tidaklah keterlaluan kalau kalian bikin dia mampus!”

“Anak Peng” berkata Kiu Jie sabar, “Kau habis melakukan perjalanan jauh, pergilah kau beristirahat. Pergi kau menemui ibumu dahulu! Jangan kau pergi ke Ciat Yan Siaw, sigila itu!”

Giok Peng menurut, ia memohon perkenan terus ia mengundurkan diri. Ketika ia bertindak kedalam, hatinya berat, pikirannya kacau. Ia berjalan dengan perlahan dengan demikian ia bisa melihat segala sesuatu didalam rumahnya itu, yang mengingatkan segala apa, dari segala perabotan sampai pohon-pohon kembang. Hanya saat itu ia tak sempat memperhatikannya, ia menuju kedalam dimana ia menemui ibunya, Ban Kim Hong.

“Mama!” ia berseru memanggilnya seraya terus menubruk merangkul ibunya itu, selekasnya ia mengngkat kedua belah tangannya memberi hormat, kemudian ia lantas menangis tersedu-sedu.

“Ah,anak...” berkata sang ibu yang terus mengelus elus rambut putrinya itu. “Kau baru pulang anak? Kenapa kau berduka begini rupa? Apakah kau merasai sesuatu penasaran…?”

Dengan air mata berlinangkat mukanya, mengawasi ibunya. “Aku menyesal buat urusan Gak Hong Kun, ibu” sahutnya

berduka. “Dialah si iblis pengganggu jiwa ragaku! Kenapa dia

selalu menyusahkanku, membuatku taka man?”

Diapun sekalian menuturkan halnya pemuda she Gak itu sudah mencuri kitab ilmu pedang. “Sudahlah anak, sudah” ibu yang baik hati itu menghibur. “Kau jangan pikirkan pula orang edan itu. Yang paling perlu adalah memperhatikan suami dan anakmu. Anakmu baik-baik saja. Kau justru harus melewatkan hari-harimu yang menggembirakan! Jangan pedulikan soal kecil, hanya utamakan saja kesehatamu. Mengenai Gak Hong Kun, setelah kau pulang ini, ibu da ayahmu tahu bagaimana harus mengambil tindakan….”

Justru waktu itu seorang budak perempuan mendatangi bersama Hauw Yan. Si anak yang baru saja disebut dan baru mulai belajar, bahkan dengan caranya yang lucu anak itu berkata pada neneknya: “Nenek – nenek, kakak ini tak mau mengajak aku main-main…dia…dia…dia mengajak pulang.”

Sang nenek tertawa.

“Dia tak mau bermain dengan mu tidak mengapa”, katanya. “Kau boleh bermain-main dengan nenek! Nah, kau lihat ini! Siapakah ini?”

Nyonya tua itu menunjuk puterinya.

Hauw Yan mengawasi ibunya, matanya dibuka lebar-lebar. “Ma…mama…!” segera ia memanggil.

Bukan main girangnya Giok Peng, ia lompat pada anaknya itu untuk lantas menyambarnya buat diangkat dan dipeluk.

“Anak manis!” serunya sambil terus menghujani ciuman, “Anakku!”

Maka sekejap itu buyarlah kesusahan hati ibu ini. Ban Kim Hong sementara itu memerintahkan budaknya yang barusan memomomg Hauw Yan: “Kau beritahukan semua budak lainnya tentang pulangnya nonamu ini, jangan sampai beritahukan pada orang she Gak itu! Mengertikah kau?”

“Mengerti, nyonya!” sahutnya sang budak, yang terus memberi hormat dan mengundurkan diri.

Giok Peng terus melayani anaknya yang manis itu.

Besok siangnya, nona Peng memberitahukan ayah ibunya bahwa ia hendakmenemui Gak Hong Kun. Orangtuanya setuju, namun harus ditemani ibunya serta kakak tertuanya, Thian Long.

Tiba di muka loteng Ciat Yan Lauw, Giok Peng berkata pada ibu dan kakaknya: “Ibu dan kakak jangan turut masuk dahulu, tunggu saja disini dahulu, biar aku yang menemuinya, hendak aku lihat tingkahnya. Kalau sampai terjadi pertempuran barulah ibu dan kakak masuk membantu.”

Ibu dan kakak itu mengangguk, maka menantila mereka diluar.

“Asal kau berhati-hati, anak!” pesan ibunya.

Giok Peng lantas bertindak memasuki ruang depan. Ia melihat sebuah ruang yang kosong. Tak ada kursi, meja dan perabot lainnya. Ditembok juga tak tergantung barang apapun juga. Hal ini membuat ia jadi mendongkol. Ruang itupun sangat sunyi, Hong Kun tak tampak sekalipun bayangannya.

“Gak Hong Kun!” ia lantas memanggil, “Gak Hong Kun!” Dari dalam kamar-kamar tidur terdengar suara bagaikan orang terasadar, terus itu disusul suara cacian “Ah, budak mana yang begini kurangajar, berani memanggil-manggil aku dengan namaku saja. Dia harus dihajar…!”

“Manusia bermuka tebal, kau keluarlah!” Giok Peng membentak gusar, “Mari keluar, beranikah kau menemui aku Pek Giok Peng!”

Hong Kun memperdengarkan suara kaget dan heran, lantas orangnya melompat keluar.

“Oh adik Peng, adik Peng, kau pulang?” serunya, “Maafkan buat kata-kataku barusan…”

Ia berlari menghampiri si nona yang ia sambar kedua tangannya untuk ditatap mukanya!

Giok Peng menepis tangan orang hingga anak muda itu terpelanting.

“Kau pakailah aturan!” bentaknya. “Mari kita bicara, buat apa kau minta maaf, kalau kau berlaku sangat kejam terhadapku?”

Nona itu melangkah kekursi dipojok di sana ia terus menjatuhkan diri untuk duduk. Ia masih dapat menguasai dirinya. Dari situ ia mengawasi si anak muda. Pakaian Hong Kun tidak rapi, rambutnya juga kusut kecuali ia tampak bengong saja, kesehatannya tidak terganggu. Dia berdiri diam dengan mata mengawasi si nona, nyata dia tak wajar lagi. Dia menjadi tenang setelah Kiu Jie menjanjikan akan mengirim orang pergi menyusul dan mengajak Giok Peng pulang. Agaknya dia memperoleh harapan. Cuma selain pendiam ia juga tidak menghiraukan pula perawatan dirinya.

Habis menatap si nona, Hong Kun pergi duduk, kedua tangannya dipakai membuat main rambutnya. Beberapa kali ia tunduk, lalu kembali mengawasi nona di depannya itu. Sekian lama itu ia tetap membungkam. Giok Peng pun mengawasi tanpa mengucap sepatah kata, menyaksikan kondisi sipemuda, timbullah rasa kasihannya.

Sebab anak muda itu menjadi kacau pikirannya disebabkan gagal dalam soal asmara dengannya. Tapi kapan ia ingat orang telah berlaku kurang ajar dan mengacau, timbul pula hawa marahnya. Bukankah ayah bundanya telah diperhina dan kakaknya dilukai pemuda edan itu?

Cinta itu pikirnya kemudian, cinta ialah taman firdaus muda mudi, tetapi itupun tempat makamnya si anak-anak muda.Memikir demikian nona ini menghela napas panjang.

Demikian muda mudi ini sampai sekian lama saling berdiam saja, Cuma kadang-kadang terdengar helaan napas mereka.

Akhirnya Giok Peng disadarkan oleh batuk-batuk ibunya diluar jendela.

“Gak Hong Kun!” demikian sapanya. “Gak Hong Kun kau telah datang kemari katanya mencari aku, lagakmu seperti orang gila, mau apakah kau? Sekarang aku berada disini dan kita sudah bertemu muka, kenapa kau berdiam saja?

Bicaralah!”

Suara nona itu keras dan tandas.

Hong Kun tetap membungkam, kedua tangannya memegangi kepalanya, wajahnya diam tak berubah. “Apakah yang kau pikir tentang perbuatanmu disini?” Giok Peng berkata pula. “Mengertikah kau bahwa itulah perbuatan buruk sekali? Jika kau insyaf dan tidak dapat mengatakan sesuatu, terserah kepada kau, aku tidak mau bila ada apa-apa lagi! Supaya aku tak usah bertemu pula denganmu!”

Tiba-tiba saja Hong Kun mengangkat kepalanya, dengan kedua mata dipentang lebar ia mengawasi tajam kepada nona di depannya itu.

“Jadi kau begini tega hati terhadap aku?” demikia tanyanya. “Kau tahu sendiri aku Gak Hong Kun, apa yang aku lakukan seua buat kebaikanm! Kau lihat sekarang, orang sampai menganggap aku seorang gila! Aku dianggap tak tahu malu! Sekarang kau datang, kau juga tak mau mengingat persahabatan kita dahulu, kau mengusirku! Kenapa kau tidak mau menghiburku? Kalau demikian baiklah kau bunuh saja aku, supaya tak usah setiap pagi dan sore aku memikirkan dirimu! Kau tahu hatiku terasa ditusuk-tusuk saja!”

Nona Pek menghela napas.

“Gak Hong Kun,” katanya. “Kau bukan lagi seorang anak kecil, kau pintar dan cerdas, kenapa sekarang pikiranmu gelap begini rupa? Kau toh tahu cinta tidak dapat dipaksakan?”

Pemuda itu mengangguk.

“Adik Peng” katanya sabar. “Walaupun Gak Hong Kun bodoh, diapun tahu cinta tak dapat dipaksakan, akan tetapi harus ingat saat sebelum kau bertemu dengan saudara Tio itu! Bukankah kita sering berpesiar bersama, mendayung perahu dan menunggang kuda dan berbincang dibawah sinar puteri malam? Atau kita berkumpul diantara terangnya sinar api? Ketika itu , kau memanggilku kakak dan aku memanggil kau adik, hati kita bagaikan bersatu. Apakah ketika itu Gak Hong Kun telah berbuat salah? Adik dengar! Hari ini tak peduli bagaimana sikapmu terhadapku, aku tetap mencintai kau!

Justru demimu aku telah datang kemari! Kau bialng tentang hubunganmu dengan adik Tio? Itu adakah karena anjuran orang atau karena kerelaanmu? Jawablah!”

Dan dia menatap tajam dan bengis, matanya tak pernah berkedip!

Giok Peng diam berpikir. Pertanyaannya pemuda itu tepat sekali, maka ia jadi membayangkan hubungan mereka dahulu.

Gak Hong Kun menantikan, lalu dia tertawa dingin : “Aku tahu bahwa rejekiku tipis sekali,” katanya pula.

“Dimasa ini selama hidup kita tak ada harapanku lagi untuk hidup bersama denganmu adik Peng. Inilah yang dibilang air mengalir ketimur tanpa kembali.”

“Apalagi yang dapat kubilang? Aku Cuma merasa menyesal telah terlalu percaya bahwa cinta itu putih bersih bahwa Cinta tak dapat diminta dengan paksa! Inilah yang membuatku menyesal dan penasaran seumur hidupku! Coba dahulu hari aku mencontoh perbuatan saudara Tio di loteng Ciat Yan Lauw ini, tak nanti terjadi urusan kita sekarang ini.”

Pikiran Giok Peng kacau, kata-kata Hong Kun membuat otaknya bekerja keras, tapi mendengar kata-katanya itu hatinya menjadi panas. Orang telah mencela It Hiong! Iapun turut terembet!

“Tutup mulutmu!” mendadak ia membentak. “Adik Tio adalah seorang laki-laki sejati, dia tak berhati kotor sepertimu! Aku justru telah melihat kelicikanmu, maka aku menjauhkan diri darimu! Tentang hubunganku dengan adik Hiong, kau tanyakan Teng Hiang, kau nanti tahu dengan jelas sekali! Kenapa kau menuduh yang tidak-tidak? Kenapa kau memfitnah adik Hiong?”

Hong Kun menghela napas panjang.

“Semua hal sudah lewat, tak mau aku menimbulkannya pula,” katanya perlahan. “Cuma hendak aku bertanya, adik Peng bagaimanakah perasaanmu pada saat pertama kita bertemu? Kenapa kau menjauhkan diri? Apakah aku pernah melakukan kesalahan terhadapmu? Hari ini adik, aku bilang terus terang tak peduli apa sikapmu terhadapku aku tetap mencintaimu dan untuk kebaikan kita, maka aku telah datang kemari, bukan anjuran dan tipu muslihat orang? Apakah sebab memang kau rela?”

Kembali si anak mda menatap tajam. Ia bilang urusan dapat dilewati namun dia masih menegasi!

Giok Peng tertawa tawar.

“Aku terima kebaikan hatimu!” katanya sama tawarnya. “Urusanku dengan adik Hiong tidak ada sangkut pautnya

dengan kau!”

Mata Hong Kun terbuka lebar.

“Kau tidak bicara menurut suara hatimu!” bentaknya, “Selama aku masih hidup, kau nanti lihat!”

Giok Peng mencelat bangun. “Kau berani berbuat kurang ajar!” bentaknya.

Hong Kun tunduk, dia terdiam. Rupanya dia tengah berpikir, karena kemudian sambil mengangkat kepalanya dia bertanya : “Saat ayahmu membuat persiapan tentang persiapan pernikahan kita, kenapa kau tidak menentangnya? Kenapa setelah tiba hari pernikahan kau berpura sakit dan menunda harinya? Kenapa keu menyuruh Teng Hiang menemui aku untuk kita membuat pertemuan diluar desa?

Dengan begitu, bukankah kau mempermainkan cintaku, kau menjual aku Gak Hong Kun? Kalau tidak, kau pastilah sudah kena didesak Tong Wie Lam si tua bangka….!”

Mau tak mau Giok Peng tertawa.

“Gak Hong Kun, kau berpikir berlebihan!” tegurnya, “Mana dapat kau main menerka-nerka dan menuduh saja? Baiklah aku teus terang, Jodohku dan adik Hiong sudah terangkap selama berada dikota Hap Hui, disebabkan satu tusukan pedang! Pada bahuku masih ada tandanya! Apakah kau hendak melihatnya, baru hatimu puas?”

Tubuh Hong Kun menggigil mendengar keterangan Giok Peng itu, mukanyapun pucat. Ia berdiri diam bagaikan boneka kayu.

Pada saat itu, dari luar ruangan terdengar tindakan kaki perlahan dibarengi tawanya seorang anak kecil, lalu meyusul masuk seorang budak perempuan yang masih kecil dengan Hauw Yan dalam rangkulannya.

“Nona!” memanggil sibudak yang bernama Kui Hoa, “Tuan kecil ini ribut mencari nona!” Hauw Yan sibocahpun sudah lantas memanggil: “Mama! Mama!” dan lantas dia mengulurkan kedua belah tangannya untuk minta dirangkul ibunya itu, kemudian didalam rangkulan sang ibu dia masih mengoceh saja….

Sambil memeluk anaknya itu, Giok Peng melirik Hong Kun. “Hong Kun!” tanyanya, “Kau hendak bicara apalagi? Aku

akan pergi!”

Orang yang ditanya itu berdiam, Cuma kepalanya digelengkan. Dia tampak sangat putus asa.

Giok Peng membawa anaknya bertindak ketangga loteng, tiba di muka tangga ia memutar tubuh, lalu berkata pada si anak muda :”Peristiwa kita yang lampau sekarang sudah elas dapat dimengerti! Kaulah seorang cerdas, pasti kau dapat mengenali salah paham diantara kita itu! Karena itu janganlah karena kecewa dan bersusah hati kau terjerumus kedalam laut penasaran yang luas. Dengan wajah dan ilmu silat yang kau miliki, tak usah kau kuatir dalam dunia ini tidak ada seorang nona yang akan mencocoki hatimu! Aku bilang terus terang padamu, Giok Peng tidak ada kelebihannya, bahkan sekarang dia adalah seorang ibu yang telah mempunyai anak, karena itu tidak ada harganya lagi untuk kau menggilainya….”

Tiba-tiba Hong Kun mengangkat mukanya menatap si nona atau lebih tepat nyonya! Dia menatap sebentar saja, lantas dia merangkapkan kedua tangannya untuk memberi hormat dan berkata: “Adik Peng, kata-katamu ini mengenai hatiku yang cupat dan pepat, jangan kau sangka Gak Hong Kun adalah seorang yang hina dina, yang Cuma menggemari muka yang berpupur! Sebenarnya wajahmu adik, sudah tertera didalam hatiku dan tak mudah dihapus! Bicara tentang kecantikan, kau kalah setingkat dari Pek Lah Hoa, sedang dalam kecerdikan dan pandai melayani kau kalah dua kali lipat dari Teng Hiang sibudak, tetapi…. Ah, sudahlah aku Gak Hong Kun, aku telah kehilangan landasan asmaraku, maka tidak ada jalan lain lagi daripada pergi menjadi pendeta….”

Giok Peng terharu mendengar kata-kata itu. Hatinya guncang, tanpa terasa air matanyapun mengembang, maka ia lantas berkata perlahan: “Beginilah hidup manusia….kita menjadi permainan cinta….. Baiknya kau jangan menyulitkan dirimu sendiri, jangan menjadi tawar hati, jangan karena aku seorang wanita biasa, kau merusak hari depanmu yang penuh pengharapan!. ”

Hong Kun gelak tertawa.

“Ya, kita hidup sebagai permainan cinta!” serunya, lalu ia menghela napas dan menambahkan: “Bagaimana adik Peng? Dapatkah kau menemani aku minum arak barang satu cawan saja buat melewati detik malam ini, sebagai kata selamat jalan? Dapatkah?”

Giok Peng berpikir keras, ia mengangguk.

“Baik, akan aku temani kau minum satu cawan arak,” sahutnya. “Aku harap dengan secawan arak itu nanti kau cuci bersih semua lakon yang telah lau, supaya selanjutnya kita menjadi sahabat-sahabat orang Kang Ouw yang baru!”

Terus si nona berpaling kepada budaknya buat menyuruh dia lekas membawakan arak berikut barang hidangannya.

Tatkala itu sudah mendekati magrib. Diatas meja loteng itu sudah tersedia perjamuan lengkap. Hauw Yan mengiler melihat barang hidangan yang masih mengepul itu.

Giok Peng menjepit sepotong daging ayam terus disuapi kemulut anaknya, kemudian sambil menyerahkan si anak kepada Kui Hoa, ia berkata: “Anak yang baik, pergi kau ikut Kui Hoa untuk menemui nenekmu, sebentar mama akan menemani kau bersantap!” sedangkan kepada sibudak ia menambahkan: “Bawalah tuan kecilmu ini turun…”

Kiu Hoa menurut, ia lantas berlalu bersama Hauw Yan.

Dilain saat kedua muda mudi itu duduk berhadapan menghadapi barang hidangan.

Hong Kun mengisikan cangkir si nona dan cangkirnya sendiri, lalu ia mengangkat cangkirnya itu sambil berkata : “ Adik Peng, aku bersyukur karena kau begini baik hati terhadapku, maka dengan jalan ini juga aku mohon pamitan dari kau! Mari minum!”

Giok Peng mengangkat cawannya, dia tertawa da berkata: “Akupun mau memberi selamat jalan padamu! Kakak Hong Kun semoga kau berhasil dan bahagia!”

Bukan main senangnya Hong Kun mendengar ucapan “Kakak Hong Kun” hatinya nyeri sekali. Segera ia mengangkat kepala dan cawannya untuk menegak dan mengeringkan isinya, sesudah mana ia cepat mengisikannya pula.

Giok Peng mengawasi pemuda itu, ia melihat wajah orang bercahaya lalu suaram pula. Lantas ia sadar akan kekeliruannya sudah memanggil “Kakak Hong Kun” itu. Karena itu ia lekas-lekas berkata nyaring: “Seorang laki-laki dia harus memandang jauh ke depan, jika Cuma berkecimpung didalam asmara dia akan kehilangan sifat jantannya! Itulah yang dibilang pinter keblinger! Benar , bukan?”

Hong Kun mmenyeringai sedih.

“Adik Peng kau membawa tingkahnya siguru sekolah yang lagi memberikan kuliahnya….” Katanya lesu. “Tak berani Hong Kun menerima itu, usaha itu kosong melompong! Harta bagaikan mega yang melayang-layang! Mana dapat dibandingkan dengan seseorang yang rindu akan cinta dan selalu didampingi kekasihnya? Siapa menyayangi cinta kasihku itu, barulah namanya bahagia!”

“Telah aku bilang!” kata Giok Peng. “Aku hanya itu seorang ibu yang telah mempunyai anakku, Hauw Yan! Bagiku soal asmara ialah masa lalu, maka itu baiknya jangan kita bicarakan lagi. Itu Cuma menambah keruwetan pikiran saja!”

Hong Kun menghela napas.

“Tak apa untuk tidak membicarakannya,” katanya berduka. “Hanya itu…..” sang gunting tak sanggup mengguntingnya putus….Gak Hong Kun harus merasa malu karena dia tak mempunyai kemampuan untuk mengatasinya….. Ia lantas mengangkat cawannya untuk terus berkata: “Malam ini mari kita minum sampai habis kegembiraan kita! Bukankah menghadapi arak orang harus mabuk? Peduli apa kita akan soal esok hari!”

Anak muda ini menghirup pula cawanya itu, diisi lagi dan dihirup lagi beruntun sampai lima cawan!

Giok Peng melihat poci arak sudah kosong, tapi ia berpikir untuk meloloh orang dan membuatnya rebah tak berdaya, maka ia tertawa, “Ya, kalau kau begini gembira baiklah akan aku panasi arak Pek Lo Cun untukmu, sekalian buat mengucap selamat jalan padamu!”

Segera si nona memanggil seorang kacung yang menanti dibawah loteng buat menyuruhnya lekas memanaskan arak yang ia sebutkan itu dan dibawa kepada mereka.

Ketika itu lilin telah dinyalakan hingga ruang mungil dari loteng dimana mereka duduk berhadapan tampak terang sekali. Hatinya Giok Peng tidak tenang, tetapi pada wajahnya ia menunjukkan tampang sabar sekali. Sebisa-bisa ia berlaku tentram.

Hong Kun sebaliknya, dia tampak bergembira.

Giok Peng mengangkat poci arak untuk mengisi cawannya pemuda itu.

“Kau cobailah arak Pek Lo Cun ini,” katanya tertawa. “Bagaimana tentang harum dan lezatnya?. ”

Hong Kun menghirup arak itu, tiba-tiba dia tertawa bergelak da matanya bersinar tajam galak, terus dia menatap si nona di depannya. Matanya itu bersinar dingin menakutkan…

“Kau kenapa ah?” tanyanya. “Apakah arak itu kurang keras?”

Hong Kun menyeringai.

“Araknya baik sekali” sahutnya, “Itu hanya membangkitkan aku….”

Nona Pek mengawasi. “Apakah itu?” tanyanya, “Dapatkah kau menuturkannya?

Barangkali dapat aku membantu kau untuk memecahkannya…”

Hong Kun mengawasi nyalanya licin.

“Itulah aneh!” katanya menjawab si nona. “Kita bersama- sama berada diatas loteng Ciat Yan Lauw ini, kau menemani aku bersantap dan minum arak, adik tetapi dengan kau terpisah bagaikan langit dan bumi!” demikian katanya.

Giok    Peng    mendelong. “Ah!. apa katamu?” tanyanya.

Hong Kun tertawa pula, tertawa sedih.

“Buat apa mengatakannya?” katanya. “Beberapa tahun lalu, saudara Tio bersama adik Peng makan dan minum arak bersama disini, dan dia telah berhasil seperti seorang calon yang telah lulus memenangkan ujian tertinggi! Tapi sekarang kau dan aku bersama minum disini, tapi arak sekarang berlainan dengan arak yang dulu itu! Kalau dulu orang berbahagia, kita sekarang justru bersusah hati soalnya kita bakal segera berpisah! Oh, sungguh kejam Tuhan mengatur jalan hidup Gak Hong Kun!”

Walaupun mengatakan hal demikian, si anak muda tetap tertawa bergelak, hanya berbareng dengan itu air matanya keluar dua tetes dari matanya….

Giok Peng mengawasinya dan tertawa.

“Kau sudah mabuk!” katanya nyaring, “Sudah jangan minum lebih banyak lagi! Pergilah masuk kedalam kamar!” Biar bagaimana tak tega hatinya menyaksikan penderitaan sipemuda.

Tubuh Giok Kum menggigil.

“Semoga aku mabuk tak sadarkan diri!” katanya. Dan kembali ia minum araknya, hanya kali ini lantas kepalanya mendekam diatas meja hingga sumpit dan cawannya berserakan jatuh kelantai.

Giok Peng lantas berbangkit hendak menghampiri si anak muda buat mengangkat tubuhnya, buat dibantui pindah kekamarnya, mendadak Thian Liong muncul diambang pintu.

“Adik kau pulanglah!” demikian kakak itu berkata, “Nanti aku yang membantunya naik keatas pembaringannya!”

Si adik melengak tapi dia menurut tanpa berkata suatu apa. Ia keluar dari ruang itu dan turun dari tangga yang disambut oleh ibunya yang mengajaknya pulang kerumah besar.

Thian Liong dengan dibantu seorang kacung memondong tubuhnya Hong Kun kedalam kamar dimana dia direbahin setelah mana dia ditinggalin seorang diri.

Paginya Hong Kun tampak duduk simpruh diatas pembaringan memikirkan apa yang terjadi tadi malam. Arak membuatnya tidur lupa daratan tapi setelah sadar, dapat ia mengingat-ingatnya. Ia merasa pikirannya makin kacau.

“Apakah setelah sadar begini aku lantas pergi angkat kaki?” kemudian dia Tanya pada dirinya sediri. Lantas dia berpikir keras. Angin pagi berhembus kedalam kamar, meniup dan mengerak-gerakkan gambar lukisan yang tergantung didinding kamar. Mendengar suara bergerak-gerak si anak muda terkejut, segera ia menoleh maka ia melihat perihalnya gambar lukisan itu, “Co Beng Tek Melintangkan Tombak” yang diikuti syairnya, lukisan itu bagaikan hidup dan tulisan hurufnya bagus sekali, entah siapa pelukisnya.

Hong Kun terpelajar, tahulah ia siapa Co Beng Tek itu, yaitu Co Coh si perdana menteri dorna jaman kerajaan Han, bahkan ia ingat juga kata-katanya dorna itu: “Biarlah aku mengecewakan orang dikolong langit, jangan orang dikolong langit yang mengecewakan aku.” Mengingat itu tiba-tiba tergeraklah hatinya, maka katanya seorang diri: “Apakah aku Gak Hong Kun dapat bersabar menerima perbuatan orang yang mengecewakanku? Dapatkah aku menerima hinaan dari Tio It Hiong yang telah merampas kekasihku? Dapatkah aku menerimanya semua itu dengan tunduk kepala saja! Tak peduli apa juga aku mesti membikin adik Peng berada kembali dalam rangkulanku! Biarlah aku turut kata-katanya Co Coh, biarlah aku mengecewakan orang dikolong langit! Aku harus lakukan itu sekehendak hatiku! Sepuasku!.

Adalah biasa bahwa seseorang suka berbuat keliru, karena kekeliruannya disatu saat hingga tertutuplah kesadaran hati sanubarinya yang putih bersih hingga akhirnya celakalah tubuh raganya, hingga berakhir dengan kesudahan yang menyedihkan. Demikian dengan Gak Hong Kun ini.

Dia telah terjerat dengan kata-katanya Co Coh itu karena kalah bersaing asmara, dia hendak melakukan pembalasan dan tak memikirkan akibatnya nanti.

Segera setelah mengambil keputusan, maka Hong Kun lantas memikirkan cara atau jalannya pembalasan yang hendak diperbuatnya itu. Ia memikirkan diri Giok Peng sampai ia ingat kepada Hauw Yan, anaknya yang masih kecil itu.

Pikirnya, “Lenyapnya Sam Kiam tidak membuatmu sibuk, hanya si orang she Tio yang repot mencarinya kembali, tapi Hauw Yan adalah buah hatinya, kalau dia terjatuh kedalam tanganku mustahil kau tak bakal tunduk dan menurut saja segala kehendakku?”

Memikir demikian, maka bersemangatlah anak muda itu, mendadak ia lompat turun dari pembaringannya, dengan cepat merapikan pakaiannya dan mengambil pedangnya. Dan bergerak turun dari loteng Ciat Yan Lauw.

Sudah banyak hari Hong Kun tinggal di Lek Tiok Po, maka ia kenal baik rumah itu dan sekitarnya. Maka itu seturunnya dari loteng, ia berjalan diantara pohon-pohon bunga dengan hati-hati.

Ia menyingkir dari pandangan siapapun penghuni rumahnya Giok Peng dengan begitu dia berhasil lompat naik ketembok halaman dalam dimana dia lantas mendekam untuk menyembunyikan diri.

Diwaktu demikian semua pegawai pria dan wanita tengah berdiam didalam rumah. Itulah sebabnya kenapa Hong Kun tak terpergoki. Dengan sendirinya diapun jadi bebas bergerak.

Sambil mendekam anak muda ini melihat kesekitarnya.

Tatkala itu seluruh Lek Tiok Po sunyi sekali, maka juga orang lantas dapat mendengar nyata ketika tiba-tiba ada suara anak kecil bernyanyi-nyanyi: “Matahari muncul ditimur, bunga harum, kupu-kupu repot beterbangan….” Nyanyian itu kadang-kadang terhenti sebentar. Hong Kun lantas melompat kesebuah pohon da bersembunyi diantara dahan-dahan dan daun. Dia melihat kebawah, ke arah darimana suara nyanyian itu datang.

Segera tampak Hauw Yan lari mendatangi dengan tindakan perlahan, tangannya dituntun seorang budak perempuan kecil. Sibudak yang bernyanyi mengajari sibocah cilik itu….

Bukan main girangnya Hong Kun ketika ia melihat Hauw Yan dan budaknya itu, Kui Hoa. Disaat mereka itu menikung disebuah jalan kecil, ia berlompat turun diatas sebuah pohon. Tubuhnya yang ringan dan lincah membuatnya menginjak tanah tanpa bersuara. Lalu ia menguntit dengan hati-hati.

Belum jauh, maka Hong Kun memungut sebuah batu kecil, terus ia timpukkan ke depan Hauw Yan bedua sejarak tiga kaki di muka mereka itu. Karena caranya ia menimpuk, ia membuat batu berkisar seperti berputar.

“Bagus sekali!” Hauw Yan berseru sambil bertepuk tangan. “Kakak Kui Hoa, lihat, katak hijau itu bagus sekali…!”

Dia mengatakan katak, sebab ia tak dapat segera mengenalinya.

Kui Hoa hendak menjawab anak asuhannya itu namun mendadak mulutnya dibekap dari belakang, hingga ia tak dapat membuka mulutnya. Sedangkan satu totokan pada jalan darah hek tiam di belakang kepalanya membuat ia tak sadarkan diri.

Itulah Hong Kun yang telah menurunkan tangannya yang lihai sebelum sibudak memergokinya. Sesudah itu ia lompat kepada Hauw Yan untuk merangkulnya sambil menutup mulut si anak. Segera anak itu dibawa lari ketembok Pekarangan dan berkat larinya yang gesit dan pesat ia sudah berada diluar wilayah Lek Tiok Po.

Giok Peng dan ibunya yang duduk bersantap, waktu itu mereka mendengar laporan dari kacungnya yang membawa makanan buat Hong Kun bahwa loteng itu sudah kosong.

Giok Peng mengangguk dan tertawa.

“Kau boleh mengundurkan diri!” katanya pada sikacung, setelah mana ia meneruskan pada ibunya: “Mama, selanjutnya kita tak usah pusing-pusing lagi! Rupanya Gak Hong Kun tidak mempunyai muka untuk bertemu dengan kita, maka dia pergi tanpa pamitan lagi, benarkah itu?”

“Selama beberapa hari kita telah diganggnya hingga kita menjadi merasa tidak aman,” berkata sang ibu, “Maka itu lebih cepat dia berlalu lebih baik pula!”

Sang putri tersenyum.

Habis bersantap, Giok Peng ingat anaknya. Biasanya setelah bangun pagi, Hauw Yan diajak Kui Hoa kedalam taman untuk bermain atau jalan-jalan sebentar. Setelah itu barulah anak itu sarapan. Tapi sampai sekarang, lebih siang dari biasanya, si anak dan sibudak belum juga muncul, sang ibu berpikir: “Mungkin mereka terlalu gembira bermain-main maka mereka terlambat pulang…” Tapi ia teap berkata pada ibunya: “Ah, si Kui Hoa dia main entah apa! Sampai begini hari belum juga mengajak Hauw Yan pulang untuk bersantap…”

Berkata begitu, ibu ini lantas bertindak keluar. Ia tak mau menyuruh orang mencarinya, ia mau pergi melihat sendiri. Ia berjalan perlahan-lahan. Lantas ia menjadi heran karena tidak melihat siapa-siapa dan juga tak terdengar suaranya Hauw Yan atau Kui Hoa.

“Ah, kemanakah mereka?” pikirnya, setelah mana ia berteriak nyaring memanggil: “Hauw Yan, Hauw Ya anak manis, mari pulang, anak kau belum bersantap! Kau bermain dimana?”

Pertanyaan atau panggilan itu juga tiada jawabannya. “Aduh!” pikir ibu itu yang lantas tercekat hatinya, karena ia

mulai berkuatir sebab ia lantas menduga jelek. Dengan sendirinya ia lantas bertindak cepat memasuki taman bunga.

Taman sunyi disitu, tak nampak siapapun juga. “Ku Hoa! Kui Hoa!” Giok Peng memanggil-manggil. Kembali tiada jawaban, taman tetap sunyi senyap.

“Mungkinkah Kui Hoa membawa Hauw Yan keruang besar untuk bermain dengan kakeknya?” pikirnya pula. “Hanya biasanya diwaktu pagi begini, mereka tak suka pergi ke depan…..”

Maka ibu ini berjalan terus dengan langkah dipercepat.

Baru setelah menikung dipengkolan ia melihat punggungnya Kui Hoa yang lagi berdiri diam saja.”

“Kui Hoa! Kui Hoa!” ia memanggil manggil pula sambil berlari menghampiri. Kekuatirannya timbul sebab Hauw Yan tak nampak dan cara berdirinya sibudak tampak aneh.

Segera setelah datang dekat, Giok Peng menjadi kaget sekali, sebab Kui Hoa itu berdiri bagaikan patung sebab terkena totokan. Maka kekuatirannyapun mencapai puncaknya, sebab ia mengkuatirkan keselamatan Hauw Yan. Tanpa ayal lagi ia membuka totokan Kui Hoa.

Hanya sedetik, Kui Hoa terasadar, bingung mirip orang yang mendusin dari mimpinya. Dan selekasnya ketika tidak melihat Hauw Yan, ia lantas menjerit menangis!

“Kui Hoa, jangan menangis!” Giok Peng lantas menghibur, “Mana Hauw Yan?”

Kui Hoa takut bukan main, dia menangis terus, ditanya begitu dia hanya menggelengkan kepalanya.

Giok Peng dapat menenangkan diri, ia mengusap rambut bocah itu dan berkata: “Kui Hoa jangan takut,” katanya perlahan. “Tak nanti aku persalahkan kau, kau bilanglah apa yang terjadi?”

Lama-lama bisa juga budak itu menenangkan diri, ia menepis air matanya. Rupanya sikap manis dari majikannya itu membuat hatinya tentram.

“Barusan aku mengajak tuan kecil Hauw Yan bermain-main disini,” sahutnya perlahan. “Tiba-tiba aku melihat…..”

“Kau lihat apa Kui Hoa?” Tanya Giok Peng tetap sabar. “Apakah kau melihat orang? Dia laki-laki atau wanita? Lekas bilang!”

Kata-kata yang terakhir itu ditanyakannya dengan cepat. Kui Hoa menangis pula. “Aku melihat katak hijau….” Katanya sukar. “Katak itu bergerak-gerak…..kiranya hanya baru kecil….”

Dan ia menunjuk batu yang dilihatnya seperti katak hijau itu.

Giok Peng bertindak ke arah batu kecil itu dan memeriksanya.

“Apa katamu barusan?” ia menegaskan. “Kenapakah batu ini?”

“Batu itu bergerak berlompatan seperti katak hijau…” sahut sang budak, “Aku dan tuan kecil mengawasinya, bahkan tuan kecil bertepuk tangan saking girangnya. Tapi belum lama,

tiba-tiba aku tidak melihat lagi tuan kecil dan batu itu….” Giok Peng mengasah otaknya dan menerka-nerka.

“Kui Hoa coba bilang,” katanya kemudian. “Cobalah kau pikir benar-benar. Apakah kau melihat atau mendengar ada suara orang atau tindak kakinya di belakangmu?”

Kui Hoa menggeleng kepala. “Tidak!. ” sahutnya.

Giok Peng menatap budaknya itu, budak masih kecil yang tak ia sangsikan kejujurannya. Melihat sibudak ditotok orang dia sudah menduga, bahkan ia segera ingat Hong Kun.

Bukankah pemuda itu lenyap tak keruan pula. Dalam bingungnya ia lantas lari pulang dan mencari ibunya untuk menuturkan lenyapnya Hauw Yan. Kali ini nona ini tak dapat menahan perasaannya. Ia lantas menangis dan air matanya meleleh keluar dengan deras….

Nyonya Pek tua pun kaget.

“Kui Hoa yang mengajak Hauw Yan, kau lekas tanyakan dia!” katanya.

“Dia tak dapat menerankan apa juga.” Kata Giok Peng, “Dia kutemukan dalam keadaan menjublak seperti patung disebabkan totokan hingga tak dapat ia bergerak, berbicara atau melihat …..dia tak tahu apa-apa!”

Kembali nyonya tua itu kaget sekali, hanya kali ini berbareng dia gusar. Segera dia memerintah mengumpulkan semua bujang laki-laki dan perempuan, guna didengar keterangannya.

Maka dilain saat berkumpullah semua hamba dari Lek Tiok Po.

Giok Peng menangis tapi tidak lama. Sebagai orang Kang Ouw dia cepat menguasai dirinya. Dia menghapus air matanya, sekarang dia justru bergusar.

“Menurut dugaan anakmu, ini tentu perbuatan Gak Hong Kun!” katanya mengutarakn terkaannya.

“Benarkah binatang itu berani berbuat gila semacam ini terhadap Lek Tiok Po?” Tanya sinyonya tua heran.

Ketika itu semua sudah berkumpul dan atas pertanyaan Nyonya Pek itu mereka menerangkan tidak melihat siapa juga, tak ada orang asing yang datang atau melintas. Di Toa-thia ruang besar, diapit kedua putranya Thian Liong dan Siauw Houw. Giok Peng duduk disisi ibunya.

Pada saat itu datang laporan dari pegawainya yang bertugas menjaga pintu gerbang. “Tadi aku melihat tuan Gak Hong Kun bersama tuan kecil Hauw Yan keluar dari Lek Tiok Po. Atas pertanyaanku Tuan Gak kata dia mau pesiar bersama tuan kecil. Aku memberitahukan bahwa menurut aturan kita disini, siapa mau keluar dari wilayah rumah kita, dia membutuhkan perkenan, tapi disaat aku bicara itu tuan Gak lantas omong besar dan menyerang kami hingga kena dirobohkan. Lantas dengan membawa tuan kecil dia segera pergi dan aku segera datang kesini untuk memberi laporan ini….”

Kiu Jie gusar sekali, hingga tubuhnya menggigil dan giginya berkerutukan, tanpa disengaja dia menggebrak meja hingga pingiran meja itu pecah rusak, sebab dia pandai Tiat See Ciang, ilmu kekuatan tangan pasir besi. Dia terlebih gusar daripada saat diganggu kelima “bajingan” untuk mengacaukannya.

Giok Peng bergusar berbareng bersusah hati. Inilah sebab ia menyaksikan kegusaran luar biasa dari ayahnya itu. Tanpa merasa ia melinangkan air mata.

“Sudah, ayah jangan gusar.” Ia mencoba menghibur. “Sekarang hendak aku menyusul dia, tak perduli sampai diujung langit akan aku binasakan manusia tak berprikemanusiaan itu!”

“Akupun mau sekarang juga pergi ke Heng San!” berkata Kiu Jie dalam sengitnya. “Hendak aku menemui It Yap Tojin guna minta keadilan, kalau perlu akan aku korbankan jiwa tuaku ini, supaya aku bisa mendapatkan pulang cucuku!” “Sabar, saudara Pek….” Berkata Wie Lam menghela napas. “Urusan ini masih harus dipikirkan dahulu dengan tenang, jangan kita menuruti saja bujukan hawa amarah…”

“Tong Loyacu,” Nyonya Pek turut bicara, “Cobalah tolong pikirkan data apakah yang rasanya paling baik?”

Nyonya Pek Kiu Jie tidak memanggil paman kepada sahabat suaminya itu, hanya “loyacu”, suatu ucapan yang penuh kehormatan. Paman hanya ucapan biasa saja. Wie Lam pun berusia terlebih tua daripada Kiu Jie.

Wie Lam menatap semua hadirin.

“Menurut pendapatku sekarang ini,” berkata ia kemudian. “Sekarang juga baiklah kedua keponakan thian Liong dan Siauw Houw segera pergi menyusul secara berpisahan kepada orang she Gak itu! Demikian juga kau keponakanku.

Disamping itu kita juga segera mengirim kepelbagai sahabat rimba persilatan guna memberitahukan peristiwa ini seraya memohon bantuan mereka mencari tahu kemana perginya anak celaka she Gak itu!”

Giok Peng mengangguk.

“Paman benar,” katanya. “Baik, mari kita lekas berangkat!”

Belum sampai nona ini berbangkit namun ia berseru tertahan: “Oh! Aku lupa! Akupun mesti mengrim orang ke Kiu Kiong San guna menyampaikan kabar ini kepada adik Hiong dan kakak In, supaya mereka itu turut membantu mencari Hauw Yan!” Berkata begitu, nona ini lantas menyuruh kacungnya segera menyiapkan pedang dan buntalannya yang berisikan uang dan pakaian seperlunya.

Sementara itu Nyonya Pek melarang suaminya pergi ke Heng San, buat mencari It Yap Tojin, katanya suaminya perlu berdiam didalam rumah untuk mengurus sesuatu. Bukankah anak mereka telah pergi semua dan rumah menadi kosong.

Kiu Jie dapat dikasih mengerti, ia suka membatalkan kepergiannya ke Heng San.

Ketika itu Thian Liong yang telah berpikir turut bicara, kata dia: “Menurut terkaanku, Gak Hong Kun berbuat begini untuk memancing adik Peng pergi menyusulnya seorang diri. Kalau adik Peng menyusul dia, ia pasti bakal kena terpancing dan terjebak. Karena itu aku pikir baik aku pergi berdua adik Peng, sedangkan adik Houw pergi bersama beberapa orang kita.

Asal Hong Kun ketahuan jejaknya, salah seorang mesti lekas pulang memberi kabar”

Kiu Jie mengangguk.

“Begitupun baik” bilangnya. “Cuma kalian semua harus berhati-hati!”

Lantas ayah ini mengatur orangnya :”Empat pegawai ditegaskan turut bersama Giok Peng dan Thian Long dan delapan orang ikut Siauw Houw, segera mereka dititahkan berangkat”

Wie Lam dan nyonya Pek menyetujui cara bekerja seperti itu. Sementara itu Gak Hong Kun yang menculik Hauw Yan sekeluarnya dari wilayah Lek Tiok Po dia lalu tiba dipelabuhan sungai Tiang Kang dan lantas membeli seekor kuda untuk melanjutkan perjalanannya. Dia tak mau menyingkir secara cepat-cepat, tapi dengan menunggang kuda dia merasa lebih leluasa. Ini disebabkan dia mesti mengasuh Hauw Yan, sedangkan dia adala seorang laki-laki, dia nanti kuatir orang mencurigainya. Dengan bercokol diatas kuda sehingga seolah- olah mereka tengah berpesiar…

Disepanjang jalan Hauw Yan dibujuki, diajak bicara sambil tertawa-tawa, hingga anak itu tidak ingat apa-apa. Dilain pihak diam-diam dia memasang mata, kuatir Giok Peng atau lainnya menyusul….

Biar bagaimanapun hati pemuda ini tidak tenang. Kalau dia sedang sadar, dia malu sendiri, sebab dia sebagai seorang laki-laki sejati telah melakukan perbuatan hina dina itu.

Diapun kuatir Giok Peng menyusulnya. Dilain pihak lagi dia sangat ingin bertemu nona itu…

“Dengan Hauw Yan ditanganku, mesti dia akan turuti segala kehendakku….” Demikian dia melamun.

Selang dua hari Hong Kun sudah sampai dikecamaTan Hong Bwe, dia singgah semalam. Tidak juga dia melihat Giok Peng yang dia harapkan datang menyusul. Karena dia sengaja mengambil jalan memutar guna memperlambat perjalanannya untuk menantikan nona Pek…..

Hari itu diwaktu lohor, Hong Kun tiba di Thian Kee Tiu.

Itulah sebuah kota perdagangan yang tak besar tapipun tak kecil. Perumahannya Cuma enam tujuh puluh pintu. Tapi sebagai kota perdagangan lalu lintasnya ramai sekali. Diluar itu adalah segundukan rimba pohon yangliu dan bunga toh hoa yang indah pemandangannya. Didalam rimba itu diantara sinar sang surya, Hong Kun menjalankan kudanya perlahan. Keindahan sang alam hendak dinikmati supaya hatinya tenang dan lega.

Tiba-tiba saja kesunyian sang rimba diganggu oleh bentakan berulang ulang serta bentrokan nyaring diantara senjata tajam yang datangnya dari sebelah dalam rimba itu. Hong Kun terkejut, apalagi ketika dia lantas mendengar suara seorang wanita yang mirip dengan suaranya Giok Peng. Dia lantas memasang telinganya, tapi tak dapat dia mendengar lagi suara wanita itu. Lalu dengan ragu-ragu dia melarikan kudanya kedalam rimba, ke arah dimana suara pertempuran terdengar.

Setelah memasuki rimba sejauh sepuluh tombak lebih, kembali Hong Kun mendengar beradunya senjata, hanya kali ini dia lantas mendengar juga suara orang bertanya: “Nona, apakah nona datang dari Lek Tiok Po!”

Sejenak itu bergetarlah hatinya si orang she Gak. “Dia pasti Giok Peng!” pikirnya. Dia ragu-ragu, toh dia

mencambuk kudanya untuk disuruh lari.

Meskipun kuda dilarikan keras, Hauw Yan dalam usia lima tahun tidak takut sama sekali, sebaliknya dia tertawa. Dia menjadi sangat girang. Ini disebabkan dia bertubuh kekar dan bernyali besar dan selama di Pay In Nia dia sering mengikuti Giok Noaw berlari-lari ditanah pegunungan.

Setelah menikung beberapa kali, Hong Kun tiba disebuah tempat terbuka kecil yang tanahnya penuh berumput, di sana dia melihat dua orang lagi bertarung, yang satu pria dan satu wanita. Yang pria berumur lima puluh tahun lebih, bajunya panjang senjatanya tongkat bambu, sepatunya sepatu ringan. Dia adalah Ngay Eng Eng dari lembah Kian kok Wan di Lokyang. Sementara yang wanita dandanannya ringkas dan rambutnya berponi, senjatanya sepasang ruyung Sae ho pang, dialah Tan Hong dari Hek Keng To, pulau ikan lodan. Hanya terhadap nona itu, Hong Kun tidak kenal. Dia cuma heran suara orang sama dengan suaranya Giok Peng.

Selagi si orang she Gak menjublak menyaksikan pertempuran itu, Hauw Yan justru bersorak-sorak tangannya ditepuk-tepuk dengan sangat kegirangan.

Tatkala itu Ngay Eng Eng sebenarnya sedang repot. Setelah membantu pihak Siauw Lim Pay mengusir kawanan bajingan yang menyerbu kesana lalu disebabkan ada janji pertempuran digunung Tay san, dia repot mondar mandir mengundang sahabat-sahabat guna membantu pihak Siauw Lim Pay.

Kebetulan saja lohor itu selagi ia lewat dirimba itu, dia bertemu dengan Tan Hong, segera dia menghadang nona itu. Sebabnya ialah dia telah mendengar berita halnya Tan Hong sudah mencuri kitab ilmu pedangnya It Hiong. Jadi dia mau merampas pulang kitab itu untuk dikembalkan kepada si anak muda. Tan Hong sebaliknya panas hati, sebab meski ia sudah memberi keterangan berulang-ulang, si jago tua ngotot tak mau mengerti. Maka habislah sabarnya dan bertempurlah mereka berdua.

Selagi bertempur itu masih dapat Nona Tan menguasai dirinya, maka sambil melayani berkelahi dalam hal mana ia lebih banyak bertahan sambil menjelaskan perihalnya ia kenal Giok Peng dan lainnya dan baru belum lama ini ia berpisah dari nona Pek itu. Karena ia menyebut kenal Giok Peng, Eng Eng menyangka ia datang dari Lek Tiong Po.