Iblis Sungai Telaga Jilid 17

 
Jilid 17

"Lihat itu !" kata Kiauw In kepada suaminya sambil tangannya menunjuk. "Ini dia yang pepatah berkatai, kalau kita mencari sesuatu, sampai sepatu besi kita rusak, masih kita tidak dapat mencarinya, tetapi sebaliknya, kalau mau bertemu, dapat diketemukannya dengan mudah saja ! Aku percaya, itulah Siang Ceng Koan !"

"Aku pun percaya kita tidak menerka keliru." berkata It Hiong girang. "Kemaren kita tiba sesudah magrib, terus sampai sore dan malam kita sukar melihat apa-apa, sekarang langit begini cerah, segala sesuatu tampak terang dan jelas. Aku percaya bahwa kita diberkahi Thian Yang Maha Kuasa ! Mari, kakak, mari kita percepat perjalanan kita... !"

Kiauw In mengangguk. "Tidak disangka Siang Ceng Koan berada di kaki puncak." kata ia. "Jadi dari sini jaraknya sangat dekat. Adik, segera kita bakal sampai di sana. Harap kau berhati-hati !"

"Aku tahu kakak" sahut anak muda yang berterima kasih kepada istrinya itu. Sebagai kakak seperguruan si nona turut menyayangi adik seperguruannya itu. Sedangkan merekalah suami istri, bahkan pengantin baru.

Berdua muda mudi ini melakukan perjalanan yang tak mudah. Sebab inilah bukan jalanan hanya tanah pegunungan, banyak batu berselangkatan, banyak pohon tumbuh serabutan. Dilihat dari telaga nampaknya SInag Ceng Koan dekat, tetapi setelah dihampiri letaknya cukup jauh. Itulah sebab jalanan turun naik dan berliku-liku, tak dapat orang berlari langsung. Mereka juga mesti menghadapi dirintangan lembah.

Syukur ilmu ringan tubuh mereka sudah sempurna dan latihannya membuat mereka seperti tak kenal lelah. Selang dua jam tibalah sudah mereka diluar rimba, didalam mana Siang Ceng Koang berdiri tegak sebagai bangunan yang besar dan megah.

Hutan itu umumnya terdiri pohon-pohon cemara dan jie, entah kapan tumbuhnya sebab rata-rata sudah besar, tinggi dan tua, dahan-dahannya banyak dan daunnya lebar hingga suasana disitu menjadi tenang sekali.

Selekasnya memasuki rimba dan keluar dilain bagian. It Hiong dan Kiauw In melihat sebuah halaman yang lebar, yang penuh dengan rumput, hingga sekarang tampak tegas kuil-kuil agama kho yang besar, kekar dan angker kelihatannya. Tiga huruf "Siang Ceng Koan" yang besar tampak tegas sekali di muka pimtu gerbang, saking besarnya, itu terlihat dari jauh-jauh.

Suami istri itu berjalan dihalaman rumput itu, akan menghampiri pintu gerbang. Di muka tangga mereka berhenti sejenak, untuk melihat keliling, guna mencari kalau-kalau ada orangnya kuil itu yang kebetulan berada diluar.

Tidak terlihat siapapun juga, kecuali pintu yang besar dan lebar dan bercat hitam. Yang luar biasa adalah pintu terbentang lebar, hingga orang bisa melihat ke arah kedalaman, kepada pendopo pertama yang disebut Wie To Tian, yaitu pendopo Veda.

"Heran." pikir Kiauw In. "Kuil Siang Ceng Koan di Huyong ini tersohor busuk didalam dunia Sungai Telaga, ini jadinya bukan tempat orang-orang baik-baik, sedangkan tadi malam ada isyarat panah api, kenapa sekarang pintuk gerbang dipentang lebar-lebar ? Kenapa juga tiada seorang jua yang menjaga di muka pintu ? Apakah maksud para pendeta disini

?"

It Hiong mengawasi istrinya yang berdiam berpikir itu kemudian ia bertanya : "Kakak, bagaimana kakak pikir kuil ini bagaikan kuil kosong melongon ! Apakah baik kita langsung masuk kedalamnya tanpa menghiraukan mereka memasang jebakan atau tidak dan tanpa memperdulikan mereka mengatur tipu daya tersembunyi ? Apakah tak baik kita maju dengan melihat selatan saja?"

"Semua orang Siang Ceng Koan terhitung orang-orang sesat" sahut sang istri. "Mereka terkenal telangas dan kejam, tetapi sekarang mereka bersikap begini rapi, terang sudah mereka mempunyai rencana yang tersembunyi ! Entah apa dayanya itu, lubang jebakan atau penjagaan gelap ? Aku percaya sengaja mereka mengatur begini bukan memancing kita lancang masuk kedalam perangkapnya ! Maka itu, kalau kita berlaku sombong, mudah kita dijebak mereka ! AKu pikir, baik kita juga menggunakan akal tua-tua dan lumrah sekali ! Kita menggunakan batu menimpuk kedalam kuil ! Kau akur bukan ?"

It Hiong mengangguk. Bahkan segera ia bekerja. Dengan mengerahkan tenaga dalam Sian Thian Hian Buk Khie kang, dengan jari-jari tangannya ia menutuk kepada dinding gunung, demikian ia dapat mencongkel beberapa potong batu karang sebesar kepalan, terus batu ditimpukkan ke arah patung Veda di pendopo itu.

Satu suara nyaring yang keras adalah akibat timpukan itu, terus patung itu bergerak sendirinya, segera dari dalam tubuh patung itu melesat berhamburan anak-anak panah dan golok- golok pendek. Jadi disitulah adanya senjata rahasia yang tersembunyi, celakalah siapa lalai dan berani menyentuh patung itu dengan tenaganya !

Kiauw In cerdik dan cepat, selekasnya ia melihat patung bergerak, ia menarik ujung bajunya It Hiong buat diajak berkelit bersama hingga semua senjata rahasia itu tidak mengenai sasarannya.

Selekasnya semua golok dan panah rahasia itu habis, meluncur dari sebelah dalam ruang segera muncul empat orang tosu atau imam yang rata-rata berusia kira empat puluh tahun, tubuhnya tertutup jubah suci, tangannya masing- masing menyekal pedang panjang, matanya terpentang lebar dan bersorot bengis. "Hai, bocah cilik !" salah seorang imam membentak, "kemarin mudah kau melukakan murid kami yang lagi melakukan Pekerjaan meronda sekarang kamu datang dengan mengacau ke kuil kami !"

It Hiong berlaku sabar. Dengan merangkapkan kedua tangannya ia memberi hormat

"Totiang, harap totiang sudi dengar perkataanku" katanya tenang.

"Hm !" si imam menanggapi, jumawa.

"Totiang," kata pula si anak muda. Totiang ialah panggilan terhormat untuk seorang imam, tosu atau Tojin. "Totiang, kedatangan kami ke kuil totiang ini sebenarnya guna mencari Hian Ho Cinjin dari Kim Hee Kiong guna kami minta pulang kitab ilmu pedang guru kami. Oleh karena itu, kami memohon sudi apakah totiang memberitahukan kami, Hian Ho ada didalam kuil totiang atu tidak dan kalau ada tolonglah beritahukan dia agar dia mengembalikan kitab pedang kami itu."

"Aku tak perduli kamu mengoceh apa juga !" membentak imam itu kasar. "Kamu sudah melukakan orang kami, maka itu kami mau membuat pembalasan dan kami mau minta itu dari kamu !"

Masih It Hiong dapat mengendalikan dirinya ! "Totiang, tolong totiang mengabarkan ketua totiang

tentang tibanya kami !" ia memohon pula. "Kepada ketua totiang itu kami akan menghaturkan maaf kami."

Imam itu melengak buat kesabaran orang. Dia menatap. "Bocah, coba bilangi nama perguruan atau partaimu !" kata dia akhirnya. "Nanti Toya kamu pikir-pikir bagaimana kami harus bertindak !"

It Hiong segera memperkenalkan dirinya. Dengan suara terang dan jelas ia menjawab : "Aku yang rendah bernama Tio It Hiong dan inilah kakak seperguruanku Cio Kiauw In. Kami adalah murid-murid dari Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia Kui Hoa San."

"Hm !" lagi-lagi si imam memperdengarkan suara dingin yang bernada mengejek. "Pantaslah kamu berani datang ke Huyong ciang ini dan lancang melukakan orang !" Ia mengimplang bergantian pada si muda mudi baru dia melanjuti : "Sekarang Toya kamu hendak menguji pihak Pay In Nia mempunyai kepandaian apa yang luar biasa ! Jika kamu dapat melewati pedang Toya kamu, baru nanti aku mengasi laporan kedalam ! Bagaimana ?"

Sampai disitu Kiauw In menyela.

"Aku pikir totiang," katanya sabar, "baiklah tak usah kita sampai mengadu kepandaian. Kami cuma memohon kebaikan kalian buat melaporkan kepada ketua totiang tentang kedatangan kami ini guna mencari Hian Ho Cinjin dari Kim Hee Kiong guna kami meminta pulang kitab ilmu pedang kami habis itu segera kami akan turun gunung buat terus pulang.

Diantara kita toh tidak ada dendam atau permusuhan, buat apa kita sampai mengadu tenaga ?"

"Anak perempuan, banyak bacot ya ?" bentak imam itu. "Apakah itu ada karena ajarannya si imam tua Tek Cio ?" Sampai disitu meluap sudah hawa amarahnya It Hiong.

Gurunya telah diperhina.

"Eh, imam, berapa tinggi kepandaianmu maka kau berani menghina guru kami ?" tegurnya. Dan lantas ia menghunus pedang Keng Hong Kiam dan tanpa mengatakan apa-apa lagi, segera ia menikam !

Imam itu bukan sembarangan imam, matanya juga sangat awas. Dengan melihat cahaya berkelebatnya pedang, tahulah ia yang pedang si anak muda pedang mustika. Maka itu tak sudi ia mengadu senjata. Begitu ditikam, begitu ia lompat mundur, begitu juga ia menghunus pedangnya, buat meneruskan membalas menebas pinggangnya si anak muda.

Hebat imam itu, habis menebas dan gagal karena It Hiong berkelit, ia melanjuti menebas dan menikam pula, bergantian dengan berulang-ulang. Sama sekali ia tak sudi mengasi ketika pada si anak muda. It Hiong dapat membalas tetapi lawan terus berkeliat. Dalam hal itu, imam itu lincah dan awas sekali matanya.

Maka, seperti tanpa merasa mereka lekas juga telah bertempur sampai tiga puluh jurus ! Setelah itu barulah si imam seperti kehilangan kesempatan yang baik, menggerakkan pedangnya, terpaksa dia malah mundur. Maka dengan demikian juga, dia mulai terancam bahaya.

Lagi satu jurus, mendadak It Hiong berseru, pedang menyambar membarengi seruannya itu. Serangan itu dilakukan dengan si penyerang berlompat maju, sinar pedangnya berkilauan. Yang menjadi sasarannya ialah kepalanya si imam sebab tipu pedang yang digunakan yaitu "Burung Air Mematuk Ikan." Bukan main kagetnya si imam, tak sempat dia berkelit, terpaksa dia menangkis. Kesudahannya dia menjadi kaget pula. Pedangnya kena dibuat buntung ! Maka syukurlah buat dianya selagi terancam maut itu, ketiga orang kawannya meluruk bersama, menyerang si anak muda guna membantu padanya agar dia tak terdesak lebih jauh. Gerakannya ketiga imam itu ialah yang dinamakan "Mengurung Negara Wee Untuk Menolong Negara Tio."

It Hiong memutar pedangnya untuk sekaligus menyampok ketiga pedang lawan !

"Apakah janji kamu janji belaka ?" ia menegur. "Kamu sudah kalah, apakah kamu belum mau melaporkan kepada koancu kamu ?"

"Koan Cu" ialah ketua kuil atau imam kepala.

"Apakah kau tidak dapat melihat ?" seorang imam balik menegur. "Di sana kakak seperguruanku telah pergi untuk memberi laporan !" Tapi dia penasaran, sembari berkata itu, dia maju dengan serangannya ! Dia menebas dengan hebat !

It Hiong tidak menangkis, ia hanya lompat berkelit. "Masihkah kamu tidak mau berhenti menyerang ?"

tegurnya. "Apakah kamu menghendaki supaya darah kamu muncrat berhamburan ?"

Imam itu penasaran, dia berkepala besar.

"Jika kau benar laki-laki, mari kau tempur pula Toya kamu bertiga !" demikian tantangannya, suaranya dingin. "Kau nanti lihat siapa yang nanti roboh numprah dengan darahnya muncrat berhamburan !" Lalu tanpa menanti jawaban lagi, imam itu maju menyerang pula dibarengi kedua kawannya, hingga bertiga mereka meluruk pula dari tiga arah dengan cara teratur dan pedang-pedang mereka meluncur berbareng. Dengan demikian It Hiong terus kena dikurung. Bahkan habis tikaman yang pertama itu menyusul yang lainnya tikaman dan tebasan atau bacokan !

Tidak ada si anak muda akan melayani ketiga imam itu tetapi sekarang terpaksa ia melayani juga karena orang memaksanya dan hatinya menjadi panas dibuatnya. Bagus untuk ketiga imam itu lawannya tidak memikir menanam permusuhan jadi tidak dilawan secara telengas.

Oleh karena ketiga imam menyerang hebat sekali kesudahannya mereka sendiri yang menjadi lelah terlebih dahulu, napas mereka lantas memburu keras, peluh mereka mulai mengucur. Dengan begitu juga gerak gerik mereka menjadi kendor sendirinya. Sebaliknya adalah lawan mereka yang berkelahi keras tetapi tetap tenang.

Akhirnya It Hiong kata mengancam : "Jika kamu masih tetap tak mau berhenti menyerang aku, awas, jangan kamu nanti mengatakan aku tidak mengenal kasihan !" Lalu ia putar pedangnya buat mengurung diri. Itulah tipu pedang "Badai Menyapu Salju" hingga sinar pedang merupakan mirip kurungan berkeredepan.

Barulah sekarang ketiga imam itu kaget sekali, tanpa berkata apa-apa mereka berlalu dengan berbareng, mereka melompat mundur untuk lari kabur kedalam kuil mereka !

It Hiong berhasil bersilat, pedangnya dimasuki kedalam sarungnya. Ia mengawasi dengan sabar kaburnya ketiga lawan itu, sesudah lenyap dibalik pintu atau tembok Pekarangan baru ia bertindak perlahan menghampiri Kiauw In yang semenjak tadi berdiam saja menonton pertempuran itu.

"Kakak" tanyanya, "apakah baik kita susul mereka itu atau bagaimana ?"

"Baiklah kau beristirahat dahulu, adikku" menjawab si nona sabar dan prihatin, "Kita lihat dulu ada apa lagi gerak gerik sesudah itu..."

It Hiong suka mendengar pikirannya sang kakak, ia mengangguk.

Tak usah lama muda mudi ini menantikan, dari arah sebelah dalam pintu gerbang kuil sudah terdengar tawa yang nyaring beberapa kali, tatkala daun pintu terpentang dengan menerbitkan suara keras, maka diambang pintu gerbang itu tampaklah munculnya enam orang Tosu atau imam yang jalannya saling susul diantara siapa ada seorang To-kouw ialah imam wanita, sedangkan yang jalan paling depan adalah Tiang Heng Hojin, imam tua usia lebih kurang enam puluh tahun. Dia bertubuh kasar dan kekar, lebar mukanya, putih kumisnya, janggutnya jarang. Yang hebat adalah sepasang matanya--mata kecil seperti mata tikus tetapi tajam dan cahayanya mengundang kekejaman. Dia pula mengenakan jubah merah api dan bahannya dari bahan yang mahal serta sulamannya ialah lambang Patkwa yang terbuat dari sutra emas. Ditangannya dia mencekal sebatang Giok jit ie, semacam tongkat lambang kesucian yang terbuat dari batu kemala, warnanya kehijau-hijauan mengkilat. Dan suara tawa tadi adalah suara tawanya yang disalurkan dengan bantuan tenaga dalamnya. Imam yang kedua berusia kira lima puluh tahun, jubah kuning, punggungnya menggendol pedang panjang. Dia berwajah halus berbayang otot-ototnya yang merah, sedang sepasang matanya tajam galak, membuat siapa yang melihatnya menjadi jeri. Dialah Kim Leng Tojin.

Di belakang Kim Leng ini ialah si To-kouw, yang usianya baru empat puluh lebih. Nama suci dia ialah Gouw Ceng yang berarti "Imam putih bersih". Tubuh dia ramping dan mukanya bundar dan elok mirip bulan purnama, hanya pipinya montok, pupurnya tebal serta sepasang alisnya bersikap tegas. Kalau imam yang pertama bermata bengis, maka mata dia ini bersinar tajam galak karena kegenitan seperti juga seluruh tampang wajahnya. Senjatanya ialah sebatang kebutan.

Tiga orang imam lainnya ialah ketiga koancu dari Kim Hee Kiong yaitu Hian Siu, Hian Ho dan Hian Ciu. Mereka mengintil di belakangnya ketiga imam tuan rumah itu. Mereka berdiam di Siang Ceng Koan semenjak Kim Hee Kiong, kuil yang menjadi sarangnya, diobrak abrik It Hiong.

Tiang Heng Tojin bertindak dengan perlahan, setiap tindakannya berat. Ia turun diundakan tangga, sampai diundakan yang terakhir, berdiri di tanah yang berumput. Dengan lantas ia mengawasi tajam It Hiong dan Kiauw In. Terang wajahnya menunjuki ia merasa heran.

"Eh, kedua bocah, apakah kau datang ke gunung ini dengan mendaki dan melintasi lembah Huyong ciang yang sempit ?" demikian tanyanya. Ia heran sebab sesudah orang berada disitu satu jam atau lebih, kedua-duanya masih sehat tak kurang suatu apa, tak ada tanda-tandanya terkena hawa gunung yang beracun. It Hiong sementara itu diam-diam memasang mata terhadap Hian ho Cinjin si imam yang hilang mata kirinya, ia mencoba menyabarkan diri sebab hatinya merasa panas. Ia ingin lantas mendapat pulang kitab ilmu pedangnya tetapi iapun menerka Hian Ho akan tak secara mudah sudi menyerahkannya karena itu kata-katanya Tiang Heng itu tak ada dalam perhatiannya. Ia mendengar tetapi bagaikan tidak.

Tiang Heng menjadi tidak puas. Inilah kentara pada perubahan parasnya.

"Hei, bocah cilik !" dia membentak. "To ya kamu menanyakan kau, kau dengar atau tidak ? Kenapa kau tidak terpaksa berani menjawab pertanyaanku ?"

Kali ini suara itu keras dan tajam, keras mirip guntur.

It Hiong terperanjat, ia bagaikan orang terasadar, maka ia berpaling kepada imam itu. Hendak ia memberikan jawabannya atau Kiauw In sudah mendahuluinya.

Nona Cio maju satu tindak.

"Kami mendaki Huyong ciang sejak kemarin." sahutnya sabar. "Maksud kami adalah membuat kunjungan, akan tetapi..."

"Tutup mulutmu !" Gouw Ceng Tokouw menyela, hingga kata-kata orang menjadi terputus. "Bukankah kamu sudah memperdayai murid kami yang merondia gunung, yang kamu telah bujuk menyerahkan obat pemunah racun, setelah mana kamu menggunakan tangan jahat melukai para murid kami itu

?"

Kiauw In tidak gusar. Sebaliknya ia tertawa manis. "Akulah Cio Kiauw In !" sahutnya sabar. "Tidak nanti aku melakukan perbuatan yang tidak pantas itu yang dapat memalukan perguruan kami !"

"Oh !" si imam wanita mengasi suara dengar suara tertahan perlahan. Ia seperti ingat sesuatu.

"Eh, bocah !" kemudian ia tanya. "Kau she Cio, apakah kau ada hubungannya dengan Cio Hay Auw ?"

Kiauw In heran ditanya begitu. Sebagai seorang jujur yang pertama ia ingat ialah mungkin imam ini kenalan atau sahabat ayahnya. Maka ia lantas merubah sikapnya.

"Cio Hay Auw itu adalah nama ayahku almarhum." sahutnya hormat. "Mohon tanya cianpwe, apakah nama atau gelaran cianpwe ?"

"Cianpwe" ialah orang atau panggilan buat orang dari angkatan lebih tua.

Selagi nona Cio berlaku hormat itu mendadak si imam wanita memperlihatkan wajah suaram atau muram mendongkol karena penasaran, ketika ia membuka mulut pula ia membentak dengan bengis sekali.

"Hai budak bau !" demikian suaranya yang kasar. "Kiranya kaulah anak perempuan dari si orang she Cio, manusia yang tak berbudi itu ! Baiklah, nanti nyonyamu memberi pelajaran kepadamu, supaya sekalian aku dapat melampiaskan penasaranku selama belasan tahun !" Kata-kata itu ditutup dengan orangnya berlompatan maju kepada nona kita, jangankan dia lantas hajar dengan satu cambukan kebutannya !

Kiauw In waspada dan bermata jeli. Selekasnya mendengar suara orang yang kasar itu sudah bercuriga, apa pula ia melihat si imam menjejak tanah untuk berlompat kepadanya. Belum lagi ujung kebutan mengenakan padanya, ia sudah mencelat mundur satu tindak. Walaupun ia diperlakukan kasar itu ia tidak lantas menjadi gusar. Tetapi ia berlaku sabar dan tak mau ia membalas menyerang.

"Cianpwe" katanya, "kalau dahulu hari ayahku almarhum ada melakukan sesuatu yang tidak selayaknya terhadap cianpwe, aku mohon sudilah cianpwe menjelaskan padaku apabila ternyata benar ayahku itu keliru, dengan segala senang hati suka aku menghaturkan maaf untuknya..."

Mendengar suara orang itu, maka Gouw Ceng menjadi merah dan pucat bergantian. Agaknya dia jengah berbareng mendongkol atau bergusar. Tak sudi dia memberikan keterangan, karena dia merasa malu akhirnya. "Hei, budak bau !" dia membentak pula.

"Pergilah kau pulang dan tanyakan sendiri pada orang she Cio yang harus dibacok beribu kali itu. Kau tanya dia apa yang dia lakukan pada delapan belas tahun yang lampau di kota Kayhong ! Jika kau tanyakan nanti ketahui jelas perbuatan tak berbudi apa yang dia telah perbuat."

Kembali si imam wanita menunjukan tampang gusar, kembali dia maju sambil dia menyabet pula dengan kebutannya itu yang merupakan genggamannya. Buat kedua kalinya Kiauw In melompat mundur, hanya kali ini, hatinya menjadi panas juga. Orang terlalu menghina padanya sedangkan ia telah berlaku sabar dan mengalah.

"Ayahku almarhum adalah seorang lelaki Kang Ouw sejati !" demikian ia kata, suaranya tegas. "Manakah ayahku mau memandang mata kepada seorang wanita semacam kau ?

Jangan kau lancang menyebut orang darah ! Jangan kau mengoceh tidak karuan !"

"Kang Ouw" ialah Sungai Telaga sebagaimana "Lok Lim" Rimba Hijau dan "Bu Lim" Rimba Persahabatan.

Sepasang alis si Tokouw bangkit bangun, matanya bersinar sangat tajam dan galak, itulah tanda bahwa dia sangat penasaran dan gusar. Lantas terdengar tawa dinginnya berulang kali.

"Budak kurang ajar !" bentaknya pula.

Dan dia maju pula dengan serangan kebutannya tu, yang lemas-lemas kaku, bahkan kali ini dia turut menyerang sampai dua belas kali, sebab setiap kali si nona menyingkirkan diri !

Sekarang tibalah serangan terakhir dari Gouw Ceng yang mengumbar nafsu amarahnya, sekarang tidak lagi Kiauw In sudi mengalah terus, terpaksa ia menangkis dan membalas menyerang. Dengan segera ia menggunakan tiga puluh enam jurus Khie bun Pat Kwa Kiam, jurus-jurus pilihan untuk mengimbangi serangan kebutan.

Saking sengitnya pertempuran, kedua wanita itu seperti nampak hanya bayangannya saja, mereka membuat mata orang bagaikan kabur. It Hiong menonton sekian lama. Tahulah ia sebabnya pertempuran itu. Itulah pasti soal lama, yang hanya diketahui Gouw Ceng sendiri, sebab segalanya gelap bagi Kiauw In. Si nona bertempur saking terpaksa, sebab ia harus bela diri.

Tentu sekali, It Hiong tidak dapat berdiam saja. Mereka berdua datang guna meminta pulang kitab ilmu pedang dan sekarang Hian Ho berada dihadapannya. Karena ia melihat bahwa ia tak usah berkuatir bagi Nona Cio, ia lantas maju ke hadapannya Hian Ho, tangannya diulur dengan satu gerakan "Chong Hay Na Liong" atau "Didalam Laut Menangkap Naga" suatu jurus dari "Hang Liong Hok Houw". Ia menyambar bahunya si imam untuk menjambret jalan darah hang hu !

Hian Ho terkejut, dia terdesak sekali. Tidak sempat dia menangkis, maka terpaksa dia berkelit sambil mendak, mengasi lewat tangan penyerangnya.

Sementara itu Tiang Heng Tojin tidak dapat berdiam saja. Rupanya keadaan membuatnya bertangan gatal. Bukannya dia berbicara dahulu, dia justru berlompat maju dengan senjatanya yang istimewa itu, ia sampok tangannya It Hiong !

"Bocah, tanganmu telengas !" dia membentak. "Tidak kusangka, seorang guru yang tersohor dapat mewariskan seorang murid rendah begini."

It Hiong mengelit tangannya sambil tubuhnya berkisar. Ia tidak melayani si imam tua itu, ia juga tidak terus menyerang kepada Hian Ho. Memang barusan ia sudah menyerang separuh membokong, atas itu ia merasa jengah sendirinya. Di lain pihak, kata-katanya si imam menyakiti telinganya. Ia percaya pasti si imam tak tahu sebabnya ia bersikap keras demikian sebab keinginannya yang keras agar lekas mendapat pulang kitab ilmu pedang gurunya. "Totiang, terima kasih" kata ia kepada si imam. Ia berlaku sabar dan memberi hormat pula.

"Tapi ada sebabnya kenapa barusan aku mengambil sikapku itu. Totiang ketahui, Hian Ho sudah mencuri kitab ilmu pedang guru kami dan sekarang kami datang untuk memintanya pula. Sekarang aku minta totiang tolong memberikan pertimbangan mereka kami bisa memiliki pula kitab ilmu pedang kami itu !"

Sementara itu kitab pedang itu sudah berada ditangannya si imam dari Siang Ceng Koan itu maka juga mendengar pemintaannya si anak muda Tiang Heng menjadi berdiam. Ia malah merasa likat. Sejenak itu, tak dapat dia membuka mulutnya.

Sebenarnya ketiga koancu dari Siang Ceng Koan itu ialah Tiang Heng, Kim Leng dan Gouw Ceng bukannya saudara seperguruan satu dengan lain, mereka berkenalan dan bersahabat disebabkan dengan asmara dan satu tujuan.

Tiang Heng Tojin bertubuh tinggi dan besar dan kekar tetapi dia ada kekurangan dalam hidupnya ialah ia telah kehilangan tenaga kelaminnya. Maka sia-sia saja dia menjadi seorang laki-laki. Itu pula yang menyebabkan dia memilih nama suCinya itu. Tiang Heng berarti penyesalan atau penasaran seumur hidup. Sedang begitu nafsu birahinya berkobar-kobar. Maka itu kebetulan sekali ia berkenalan dengan Gouw Ceng si wanita nakal maka juga berdua mereka nama dan tampangya suci, hatinya lain.

Gouw Ceng itu pada delapan belas tahun yang lampau menjadi seorang nona usia dua puluh lima atau dua puluh enam tahun, dia cantik dan ilmu silatnya baik demi kesenangan dirinya itu waktu dia repot mencari seorang pria yang sudi menjadi kekasihnya, ia ingin seseorang yang gagah perkasa.

Terjadilah suatu hari selagi berada di dalam kota Kayhong, Gouw Ceng bertemu dengan Cio Hay Auw ayah almarhum dari nona Cio. Cio Hay Auw tidak tahu siapa Gouw Ceng. Berdua mereka bermain api asmara. Baru belakangan ia ketahui sifatnya wanita itu yang hatinya mudah berubah yang cintanya tidak untuk satu. Lantas ia memisahkan diri. Gouw Ceng penasaran, dia pergi mencari. Dia berhasil menemukannya.

Lantas dia menggerembengi Hay Auw hingga Hay Auw menjadi kewalahan dan habis sabar lantas dia diserang sehingga luka tangannya. Hal itu membuat dia sakit hati, dia gilai Hay Auw tetapi bukan sesuci suci hatinya, melulu untuk memuaskan nafsu birahinya saja. Berpisah dari Hay Auw selama belasan tahun dia terus hidup berfoya-foya dengan siapa saja yang ia sukai atau siapa saja yang menyukainya. Sekarang didalam usia empat puluh tahun lebih kurang dia justru bersahabat dengan Tiang Heng Tojin dan Kim Leng Tojin. Inilah kebetulan sebab mereka sama-sama orang yang beragama walaupun cuma namanya saja. Disamping kedua imam itu ia juga main gila dengan Hian Ho Cinjin. Inilah perhubungan mereka berdua yang membikin Hian Ho dapat berdiam di Siang ceng Koan.

Habis memperoleh kitab pedang Sam Cay Kiam, Hian Ho lantas kembali ke Siang Ceng Koan. Ia berlaku cerdik sekali. Kitab itu ia persembahkan kepada Tiang Heng Tojin. Katanya buat menghunjuk penghargaan serta membalas budi.

Bukankah ia telah diberi menumpang tinggal di dalam kuil orang ? Sebenarnya dengan begitu hendak ia melindungi diri dengan mengajukan Tiang Heng andia kata Tio It Hiong datang mencarinya. Kalau It Hiong dan Tiang Heng bertempur dan It Hiong kalah dan terbinasa ia selamat dan tetap tenanglah kedudukannya.

Tiang Heng Tojin senang menerima kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam itu. Dia memang gemar mengumpulkan barang- barang berharga umpama batu permata. Hanya ada satu hal yang memberatkan padanya, ia menganggap diri sebagai seorang koancu maka ia harus menghargai diri. Sekarang sekali ini It Hiong datang meminta pulang kitab Sam Cay Kiam, ia jadi merasa sulit. Tak dapat ia menyangkal tapi juga tak sudi mengembalikan kita itu ! Habis, bagaimanakah ? Lalu ia batuk-batuk, terus ia menyerukan Gouw Ceng untuk menghentikan pertempuran.

Gouw Ceng mendengar kata, selekasnya dia mendengar suaranya ketua itu, dia menangkis satu serangan, terus lompat keluar dari kalangan pertempuran. Kiauw In pun berhenti menyerang, bahkan ia terus bertindak ke sisinya It Hiong. Dari sini, bersama-sama adik seperguruannya itu, ia mengawasi para lawan, guna mendengari apa katanya mereka itu.

Sekian lama sudah lewat. Tiang Heng masih berdiam saja. It Hiong menjadi tidak sabaran, maka ia kata kepada imam itu

: "Totiang, jika totiang tidak dapat berlaku adil dalam urusan kitab pedang kami itu, harap totiang jangan persalahkan aku apabila aku terpaksa mesti menggunakan kekerasan guna turun tangan sendiri !"

Dan benar-benar anak muda ini maju satu tindak ke arah Hian Ho sedangkan pedangnya sudah lantas dihunus.

Ketiga imam dari Kim Hee Kiong pernah dikalahkan pemuda itu, mereka sudah jeri sendirinya. Hanya kali ini mereka berada ditempat terbuka, disarang kawannya sendiri, terutama di muka umum, mereka bersitegang.

Hian Siu melihat kakaknya berayal-ayalan ia tidak puas ia pun menjadi gusar sekali.

"Eh, bocah, jangan jumawa !" bentaknya. "Sakit hati dari tangan buntung justru harus diminta pertanggung jawabnya dari kau ! Itulah hutang darah yang harus ditagih dan dibayar

!"

Imam ini berlompat maju selekasnya dia habis berkata, tangan kanannya menghunus pedang.

"Hm !" It Hiong memperdengarkan suara menghinanya. Ia sebal menyaksikan lagak orang. "Bagaimana kalau kau kalah pula ? Kau hendak mengembalikan kita pedang atau tidak ? Kau ajukanlah caramu !"

Gusar tinggal gusar. Hian Siu tahu dia bukanlah lawan dari si anak muda. Tapi dia menebalkan muka. Dia sudah mencabut pedangnya tetapi tak mau dia lantas maju menyerang. Dia kata : "Kitab ilmu pedangmu yang tak berarti itu berada ditangan Tiang Heng Toheng ! Jika kau mempunyai kepandaian bocah, kau mintalah sendiri !"

Kata-kata kawan itu membuat mukanya Tiang Heng merah. Itulah justru hal yang dia tak sukai. Tapi dia mesti membuka suaranya. Maka dengan dingin dia berkata : "Tentang kitab pedang itu harus dicari tahu terlebih dahulu siapa benar siapa salah. Tentang itu Toya kamu tidak mau mengambil peduli !

Baik kalian memutuskannya dengan tenaga kalian sendiri !"

Imam ini tidak mau merendahkan diri maka ia membahasakan dirinya "Toya kamu". "Sudah jangan bicara saja dari hal tidak karuan !" bentak It Hiong yang habis sabarnya, maka ia menjadi menuruti hawa amarahnya dan telah bicara besar. Ia menambahkan : "Kalian dari Kim Hee Kiong, kalian adalah arwah-arwah bergelandangan yang baru lolos dari ujung pedang, maka itu, baik kalian semua majulah dengan berbareng !"

Hian Siu, Hian Ho dan Hian Ciu bertiga menjadi sangat terdesak. Mereka lantas saling melirik. Di dalam keadaan seperti itu mereka jadi buntu jalan, mereka menjadi nekad. Terpaksa mereka memikir akan kalah atau berbicara bersama musuh....

Dengan satu siulan berbareng, ketiga imam dari Kim Hee Kiong berlompat maju dengan berbareng juga serentak mereka menyerang si anak muda, maka juga sinar pedang mereka seperti menjadi satu berkelebat ke arah si anak muda, semua mencari sasarannya masing-masing.

It Hiong dengan bersiap sedia atas tibanya serangan itu, ia menggerakkan pedangnya untuk menghalau ancaman bencana. Pedangnya pun berkelebat berkilauan. Karena sangat mendongkol, ia ingin menjauhi pertempuran secepat mungkin. Maka juga, habis diserang itu ia segera membuat pembalasan. Dengan satu emposan semangat maka tenaganya telah dikerahkan pada kedua belah tangannya terutama tangan kanan dan tubuhnya bergerak dengan lincah.

Ketiga koancu termasuk orang-orang kelas satu tetapi hati mereka telah diciutkan pedang Keng Hong Kiam dari lawannya. Biar bagaimana mereka merasa jeri juga. Saking terpaksa sekarang mereka melawan dengan mati-matian, dengan begitu merekapun menjadi tangguh. Hian Siu kehilangan tangan kirinya, dengan hanya menggunakan tangan kanan, tak mereka ia menggunakan ilmu silat pedang simpanannya, Im sat-ciang. Hian Ho lenyap sebelah matanya, dalam hal penglihatan, dia pula kurang leluasa. Hian Ciu sebaliknya, ilmu silatnya masih kalau jauh dari kedua kakak seperguruannya itu, ia juga turut bergerak tetapi sangat terbatas. Adalah kenekatan mereka bertiga yang menyebabkan mereka dapat bertahan.

Oleh karena kedua belah pihak berkelahi dengan keras, jurus-jurus juga dilewatkan sama cepatnya. Hanya sebentar, dua puluh jurus telah berlalu. Habis itu, It Hiong lantas dapat memperhatikan setiap lawannya, satu demi satu, kemudian ia terutama perhatikan Hian Siu, si mulut kasar itu.

Dalam murka, Hian Ciu melihat lowongan pada tubuh lawan. Tak ayal lagi, ia maju menikam, ia memang tidak mau memberi ketika kepada musuh yang ia benci itu.

It Hiong lihat bahaya mengancamnya, dengan cepat ia mengegos ke sisi, selekasnya ujung pedang lawan ia meluncurkan tangan kirinya dengan apa ia menangkap lengan lawan. Itulah jurus silat "Tangan Menawan Naga". Tepat ia berhasil dengan sambaran atas cekalannya itu !

Bukan kepalang kagetnya Hian Siu. Itulah berbahaya untuk saudaranya. Ia berlaku cepat, tangannya ditarik terus pedangnya diayun guna menikam iga kiri lawan.

It Hiong tidak menjadi bingung, ia bahkan berlaku sangat cepat. Guna menghindarkan diri dari ujung pedang, ia menggeser tubuh sambil menyempar tubuhnya Hian Ciu menyusul mana kaki kanannya dikasih melayang naik !

Sedangkan pedangnya, berbareng digerakkan ! Benar-benar darah sudah lantas berhamburan, muncrat dari tubuh yang terluka sebab pedang It Hiong tidak kepalang tanggung menyambar yang satu diteruskan kepada yang lain.

Hian Siu dan Hian Ciu roboh tak berdaya lagi, selagi kena terhajar berteriakpun mereka hampir tak sempat ! Kedua imam itu mau saling tolong tetapi mereka justru menjadi korbannya si anak muda yang menjadi lawannya itu.

Hian Ho adalah korban yang paling hebat, dia merangsak maju justru keduanya sudah roboh terkulai, justru dia datang dekat, dia disambut It Hiong dengan satu bacokan hebat, maka juga pecahlah kepalanya, tubuhnya rebah disisi Hian Siu.

Hian Ciu tapinya beruntung. Dia cuma kena tertendang hingga muntah darah, selekasnya dia roboh dan berlompat bangun untuk lari pergi, ketika It Hiong membebat padanya ia menangkis maka dengan beradunya kedua pedang, Keng Hong Kiam membabat kutung pedang lawan. Dalam kaget dan takutnya, Hian Ciu terus kabur, menghilang di belakang kuil Siang Ceng Koan. Ia sipat kuping tanpa berani menoleh pula, tanpa menghiraukan pula dua saudaranya !

Tiang Heng Tojin bertiga Kim Leng dan Gouw Ceng berubah pucat parasnya, mereka berdiri melengak menyaksikan It Hiong dalam satu rintasan itu telah merobohkan ketiga lawannya. Itulah hebat sekali.

It Hiong tidak mengejar Hian Ciu, hanya ia bertindak ke depannya Tiang Heng Tojin, koancu utama dari Siang Ceng Koan.

"Totiang, aku minta suka apalah totiang memegang janji !" demikian katanya, halus tetapi berwibawa. "Sekarang aku yang rendah minta supaya kitab ilmu pedang kami dibayar pulang, seterimanya itu kami berdua segera akan turun gunung dan berlalu dari sini !"

Ketika itu Kim Leng Tojin yang sadar paling dahulu, dia memandang si anak muda dan juga Kiauw In, terus dia tertawa dengan menunjuki wajahnya yang licik. Kata dia : "Untuk mengembalikan kitab ilmu pedang mesti ada syaratnya

!"

"Apakah janji kalian tak masuk hitungan ?" It Hiong menanya menegaskan. "Masih ada syarat apakah lagi ?"

Kembali Kim Leng memperdengarkan tawanya yang tak sedap terus dia menunjuk Nona Cio.

"Syarat itu mudah sekali !" jawabnya. "Ialah ini nona harus ditinggalkan disini ! Kitab ilmu pedang harus ditukar dengan dia !"

Sepasang alisnya It Hiong berdiri, ia gusar bukan main. "Kau gila !" bentaknya. "Lekas serahkan kitab kami itu !"

Menutup kata-katanya, anak muda ini berlompat maju ke depan orang, pedangnya ditebaskan !

Kim Leng Tojin terkejut, tetapi dia tak menjadi gugup.

Karena dia tak sempat menghunus pedangnya buat menangkis terpaksa dia lompat mundur. Dia cuma lompat sambil mengibaskan tangan kirinya. Tapi disisi dia, Tiang Heng Tojin membantu saudaranya itu dengan ia melakukan satu serangan tangan kosong yang hebat ke arah tubuh si anak muda, sedangkan Gouw Ceng juga tak berdiam saja. Dia ini turut menyerang dengan kebutannya, menghadang di depannya Kim Leng Tojin hingga imam pria itu terhindar dari ancaman maut !

It Hiong merasai terjangan angin yang dahsyat, cepat  sekali ia berlompat mundur. Tiba-tiba saja insaf bahwa tak ada gunanya untuk melayani imam itu secara mati-matian.

Kim Leng Tojing tidak kabur terus, setelah lolos dari bahaya, ia kembali, ia hanya sekarang tangannya sudah lantas menggenggam dua buah senjata rahasianya ia ia beri nama "jie ie" menuruti kehendak hati" senjata mana biasa ia simpan didalam sakunya. Inilah semacam peluru yang dapat menyiarkan hawa beracun yang bisa membuat orang tak sadarkan diri maka lengkapnya ialah hia hun hio atau peluru asap yang mempingsankan. Segera ia menimpuk ke arah Kiauw In. Dalam hal menimpuk itu, ia sudah melatih diri dengan sempurna. Kedua peluru dibikin bentrok satu dengan lain terus meledak dengan berbunyi cukup nyaring.

Jie ie tan meledak tepat diatas kepala Nona Cio, lantas menghembuskan asapnya warna ungu, buyar ke pelbagai arah mengikuti tiupannya angin, baunya harum sangat menusuk hidung dan memusingkan kepala.

Kiauw In kena mencium bau asap itu, kontan dia limbung dua tindak terus roboh tak sadarkan diri.

Gouw Ceng tahu maksudnya Kim Leng merobohkan si nona, ia tidak sudi mengalah, maka juga tanpa menghiraukan halnya mereka lagi menghadapi lawan tangguh ia justru menegur kaka seperguruannya yang nomor dua itu Jie suheng.

"Eh, kakak bagaimana eh ?" demikian tanyanya. "Kau.." Kim Leng tidak menghiraukan pertanyaan itu menyusuli robohnya Kiauw In, ia lompat melesat kepada nona itu, kedua tangannya diulur maksudnya guna menjambret tubuh si nona guna digampit buat dibawa lari.

Berbareng dengan gerakan gesit imam itu, dia juga telah memperdengarkan jeritan dari kesakitan yang menyayatkan hati, tubuhnya telah terpental dan roboh terkulai dengan mandi darah, darahnya berhamburan disekitarnya. Sebab justru dia lompat kepada Kiauw In justru orang menyambut kepadanya, tubuhnya dipapaki dihajar dengan tinju tangan berbareng tubuhnya itu tertolak mundur. Tapi yang paling celaka ialah waktu ada sesosok tubuh lain yang mencelat ke arahnya sambil memperlihatkan sinar pedang berkelebatan dan sinar pedang itulah yang merampas rohnya dan membuatnya mandi darah.

Apakah yang sebenarnya terjadi ?

Kiauw In terkena asap beracun, kepalanya pusing dan tubuhnya limbung terus dia roboh tetapi itu bukannya berarti ia pingsan. Obat pemunah racun kuat melindungi kesadarannya bahkan setelah merasai kepalanya pusing, insaf ia akan jahatnya asap ungu itu maka dengan kecerdikannya terus ia menggunakan akal berpura roboh lalu diwaktu rebah diam-diam ia memasang mata, selekasnya Kim Leng tiba ia menghajar dengan satu tinju dari lima "Heng Liong Hok Mo Ciang" membuat si imam terhajar hebat hingga muntah darah dan tubuhnya terpental balik, justru itu tiba juga tubuhnya It Hiong !

Si anak muda melihat segala apa ia terkejut, ia menyangka kakak seperguruannya roboh di tangan musuh, maka itu, agar dapat membantu ia lompat menghampiri Kim Leng Tojin, tanpa banyak pikir lagi ia sambut imam itu dengan pedangnya yang tajam. Kemudian maka sampailah Kim Leng Tojin yang ceriwis dan cabel itu pada ajalnya hingga tamat sudah lakon hidupnya yang mesum !

Dua-dua Tiang Heng Tojing dan Gouw Ceng Tokouw menjadi kaget sekali. Sudah menyaksikan kebinasaannya Hian Siu dan Hian Ho sekarang mereka mesti melihat tanpa berdaya kematian saudara seperguruannya itu sedangkan tadinya hati mereka sudah girang sebab nona lawannya itu kena dibikin roboh. Bedanya cuma mereka kalau Tiang Heng girang sesungguhnya, Gouw Ceng hanya sesaat dan segera timbul jelus dan cemburunya terhadap sang Jie suheng. Tapi setelah jie suheng itu terbinasa, kembali dia kaget dan hatinya mencelos. Habis kaget, dua-duanya menjadi gusar, maka itu dengan muka merah dan mata mendelik mereka maju menyerang It Hiong.

"Bocah, serahkan jiwamu !" bentak Gouw Ceng yang menyerang dengan kebutannya.

Sementara itu It Hiong sudah lompat kepada Kiauw In dengan berniat mengasi bangun kakak seperguruan itu. Ia girang akan mendapat kenyataan si kakak tak kurang suatu apa. Karena mau menolong Nona Ciu, ia tidak menyangka jelek kepada Tiang Heng dan Gouw Ceng hingga tahu-tahu si imam wanita sudah menerjang ke arahnya.

"Kakak.." ia memanggil Kiauw In atau segera ia merasai serbuan anginnya serangan gelap. Ia mengerti bahwa itulah ancaman bahaya, tanpa ragu pula ia menjatuhkan diri dengan jurus silat "Harimau lapar Menerkam Kambing" menyusul mana kakinya menyapu dengan jurus silat "Kaki Ekor Harimau" hingga dengan demikian selamatlah ia dari kebutannya si imam wanita. Di pihak lain, Gouw Ceng juga menjerit kaget. Inilah sebab geraka kaki dari jurus silat "Kaki Ekor Harimau" dari si anak muda yang hampir mengenai perutnya. Syukur ia gesit sekali dan dapat mengegos diri.

It Hiong berlompat bangun, ia menuding si imam wanita sambil berkata keras : "Jika kau benar mempunyai kepandaian, kau bertempurlah secara terang-terangan ! Kau main menyerang secara menggelap, tidakkah itu membuat orang memandang hina kepadamu ?"

Gouw Ceng berdiri diam, ia melengak sejak ia bebas dari ancama petaka. Tegurannya si anak muda juga membuatnya bungkam, sebab tidak ada alasan untuk menyangkal atau membantah. Disamping itu ia jeri terhadap pedang mustika si anak muda serta kegagahannya yang ia telah saksikan sendiri.

Ketika itu Teng Hiang Tojin telah lantas menunjuki kecerdikannya. Ia memangnya beraninya cuma terhadap yang lemah dan takut kepada yang kuat, ia pula merasa lega sebab Gouw Ceng tidak kurang suatu apa. Sebenarnya ia mempunyai latihan dari beberapa puluh tahun serta juga mengerti ilmu silat sesat yang disebut "Pan Bun To To", tetapi terhadap It Hiong ia ragu-ragu atau kurang gunakan. Maka itu sampai itu waktu segera ia merogoh sakunya mengeluarkan kitab Sam Cay Kiam, yang mana terus ia angsurkan kepada si anak muda. Tetapi supaya ia tidak kalah gertak, ia tertawa dingin dan kata : "Ini kitabmu, ambillah ! Toya kamu tak membutuhkan kitab semacam ini !"

It Hiong menyambut, tangannya sampai bergemetar saking girangnya. Karena orang menyerahkan kitab itu, ingin ia mengucapkan kata-kata sungkan, baru ia mau mengajak Kiauw In turun gunung. Atau si imam telah mendahuluinya. "Di dalam peristiwa hari ini, itulah bukan karena Toya kamu jeri terhadap kamu !" kata koancu dari Siang Ceng Koan jumawa. "Yang benar ialah aku tidak mau turun tangan terhadap kamu, kawanan anak kecil ! Taruhlah aku menang, kemenangan bukanlah kemenangan kegagahan ! Mampusnya mereka itu juga menyenangkan hatiku, sebab dengan demikian maka adik seperguruanku bakal dengan setulusnya hati mencintai aku ! Kau telah ketahui, cukup sudah !"

Dengan adik seperguruan itu Tiang Heng maksudnya su moay, adik seperguruan yang wanita ialah Gouw Ceng Tokauw si imam wanita yang berbareng menjadi kekasih atau gula-gulanya.

It Hiong dan Kiauw In melengak mendengar perkataannya imam tua itu. Itulah kata-kata atau sikap yang mereka tak sangka sama sekali hingga mereka dibuat heran karenanya. Sesadarnya mereka, tanpa mengatakan sesuatu lagi, berdua mereka mengangkat kaki meninggalkan Kiu Kiong San.

Waktu sudah tengah hari selagi mereka berlari-lari. Seluruh gunung sunyi kecuali oleh deru angin diantara pepohonan.

Mereka terus berlari keras sampai mereka tiba di jalan yang memasuki lembah Huyong ciang yang sempit itu. "Kakak" berkata si anak muda yang menghentikan larinya, "kakak, mari kita beristirahat disini sambil mengisi perut...'

"Aku kuatir kakak sudah letih."

Memang anak muda ini menyayangi kakak itu, rasa bersatunya telah menjadi sangat erat. Sekarang mereka bukan kakak beradik lagi, bukan su cie dan sute, hanya tunangan satu dengan lain. Kiauw In sudah lantas turut menghentikan larinya, ia berbalik melirik adik seperguruan itu, senyumannya berpeta, lalu sambil mengangguk, ia pergi ke sebuah batu untuk berduduk disitu.

It Hiong menghampiri, keduanya terus duduk berendeng.

Si nona mengeluarkan bekalan rangsum keringnya, ia membagi kepada si anak muda, maka dengan begitu berdua mereka mulailah bersantap.

Beberapa kali Kiauw In menyingkap rambutnya yang dibuat main sang angin.

"Adik, apakah kau telah simpan baik-baik kitab pedang itu

?" kemudian si Nona Tanya sembari ia tertawa.

It Hiong meraba ke dadanya.

"Jangan kuatir, kakak" sahutnya. "Akan aku jaga baik-baik kitab ini, yang akan aku hargai melebihi jiwaku !"

"Sebenarnya" kata pula si nona, "dengan berhasilnya perjalanan kita ke Huyong cian ini harus kita berterima kasih kepada bapak pendeta dari vihara Bie Lek Sin. Bapak pendeta itu telah memberikan kita obat pemunah racun hingga kita bebas dari gangguan racun itu."

"Dan juga..." berkata ItHiong yang tiba-tiba terhenti kata- katanya.

Si nona heran, dia menatap muka orang. Kiauw In cantik manis, halus kulit mukanya, dia luwes sekali. Ketika itu, disaat hatinya terbuka, dia pula tampak ramah sekali.

"Dan.." katanya bersenyum, "kita harus bersyukur juga pada malam dari muara Giok Poan Tha itu disaat Siang Goat Kouw Hui, Sepasang si putri malam saling memancarkan cahayanya yang indah permai. Itulah saat yang menyempurnakan cita-cita kita, kakak. Benar bukan kakak ?"

Kiauw In melirik.

"Cis !" ia kasih dengar suaranya. "Adik, kapannya kau belajar jail begitu rupa ? Kau mulai nakal ya ? Ah, kau begini gembira, apakah kau telah melupai Paman Beng mu serta adik Peng atau kakak Peng mu itu ?"

Ditanya begitu It Hiong berdiam, wajahnya tak lagi tersungging senyuman seperti barusan. Ya, ia lantas ingat Paman Beng nya, orang yang telah melepas sangat banyak budi terhadapnya, juga kakak Giok Peng nya itu terutama si Paman Beng yang lagi terkurung di Ay Lao San, yang perlu segera ditolongi. Di lain pihak, ia juga ingat keruwetan diantara si kakak Giok Peng dengan Gan Hong Kun, hingga didalam sekejap ia dapat membayangi pula semua peristiwa di Lek Tiok Po dahulu hari. Bagaimanakah semua itu harus dipecahkan ?

Selagi It Hiong memikirkan kakak Giok Peng itu sebab ia diingatkan oleh si kakak Kiauw In, maka Giok Peng sendiri sementara itu bersama dua orangnya telah kembali ke Lek Tiok Po, ke rumahnya. Di ruang besar, ia menemui ayahnya serta dua orang kakaknya, begitupun sang paman emPek, yaitu paman tua Tong Wie Lam. Paling dahulu ia memberi hormat dan menanyakan kesehatan ayah serta sekaliannya itu, baru pembicaraan beralih ke lain-lain urusan sampai akhirnya tiba kepada halnya Gak Hong Kun.

"Bocah she Gak itu nampak seperti orang gila hingga dia sangat memuakkan." berkata Pek Kiu Jie, sang ayah. "Bahwa dia telah pergi kabur siang-siang itu adalah hal yang baik sekali. Anak Peng kalau nanti kau bertemu pula dengannya, jangan kau memandang-mandang lagi, jangan kasih hati, supaya tak usahlah dia nanti mengerocoki pula kita disini !"

"Hm !" Tong Wie Lam memperdengarkan suara dihidung. "Seumurku aku menjelajah dunia Kang Ouw, belum pernah aku bertemu dengan bocah bermuka tebal tak kenal malu seperti dianya ! Keponakan Peng, jika nanti kau bertemu dengannya, kau berhati-hatilah terhadap akal muslihatnya yang licik, supaya kau tak usah sampai kena terjebak !"

"Ayah, paman, terima kasih buat nasihat ini." berkata sang anak atau keponakan, "aku dapat membawa diriku baik-baik. Andia kata dia berani main gila terhadapku, tak nanti aku beri hati padanya, aku akan menghajarnya !"

Kemudian nona menghampiri Pek Siauw Hoaw, kakaknya yang nomor dua.

"Kakak" tanyanya, "apakah kesehatan kakak sudah pulih kembali ?"

"Sudah, adik" sahut kakak itu, "tak usah kau mengkhawatirkan aku."

"Kakakmu malu pada dirinya sendiri" Thian Liong, si kakak tertua berkata. "Karena ilmu silatku tidak berarti maka telah terjadi peristiwa mengecewakan ini, hingga nama baiknya Lek Tiok Po turut tercemarkan oleh anak edan she Gak itu ! Eh, adik. mengapakah kau tidak pulang bersama-sama adik Tio ?"

Dengan "adik Tio" itu, Thiang Liong menyebutnya "moay hu" yaitu "suami dari si adik", suaminya Giok Peng. Ia memanggil demikian karena menuruti aturan kekeluargaan walaupun pernikahan Giok Peng dan It Hiong itu secara luar biasa sekali.

Giok Peng tidak menjawab kakaknya yang tua itu, sebaliknya tanpa merasa ia mengucurkan airmata, ia berduka kalau ia ingat terlukanya kakaknya nomor dua itu serta "suasana" di ruang itu tatkala Hong Kun mengacau, ia seperti dapat membayanginya.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(