Iblis Sungai Telaga Jilid 16

 
Jilid 16

"Semoga kita menerima berkahnya Sang Buddha, supaya siang-siang kawanan setan nanti menerima bagiannya supaya dunia rimba persilatan lekas aman sentosa ! Baru saja aku si pendeta tua selesai membaca doa maka juga aku dapat menyuruh muridku mengundang tanwat berdua datang kemari untuk kita beromong-omong." "Kami datang kemari kami mau mencari dan mendapati pulang kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam dari guru kami." Kiauw In turut berkata. "Kami mau pergi ke Huyong ciang tanpa kami menghiraukan ancaman malapetaka. Entah di kuil Siang Cung Koan itu ada perangkap apa serta orang lihai bagaimana. "

Pendeta itu tertawa.

"Semua itu tak dapat lantas dijelaskan satu demi satu !" sahutnya. "Hanya dapat aku terangkan, ketika barusan aku meramalkan ternyata tanwat berdua bakal mengalami kekagetan tetapi tidak merebutnya. "

Biasanya orang berlaku manis budi. It Hiong tapinya kurang puas. Ia menghargai penjelasan bukannya kata-kata yang artinya tersembuyi. Maka dengan tampang sungguh ia berkata, "Aku yang tendah tak memikirkan soal mati dan hidup dan datang kami kesini selain ingin menumpang melewatkan sang malam juga sekalian untuk mohon diberi petunjuk jalanan guna pergi ke Huyong ciang. Petunjuk itu saja sudah cukup bagi kami, itu akan sangat memuaskan !"

Pendeta tua itu memperdengarkan puji Sang Buddha. "Tio tanwat sungguh jujur, harap maafkan aku si pendeta

tua yang tak lekas mengetahuinya." katanya. "Baiklah, besok

akan aku titahkan muridku mengantarkan kalian pergi ke Huyong ciang ! Sekarang silahkan tanwat berdua pergi beristirahat."

Begitu berkata pendeta itu memejamkan matanya. It Hiong tahu bahwa pembicaraaan sudah selesai. Berdua Kiauw In, ia memberi hormat. Lantas mereka mengikuti si kacung pendeta yang memimpinnya ke kamar dimana mereka dapat beristirahat. Atau mendadak terdengar suaranya si pendeta tua itu : "Tanwat, tunggu sebentar ! Mari hendak aku si pendeta tua menghadiahkan sesuatu yang tak berharga..."

It Hiong berdua kembali, mereka menghampiri pendeta itu.

Sang pendeta memegang sebuah peles kecil, ia angsurkan pada tamu-tamunya yang muda itu sembari ia berkata : "Ilmu silatnya si tua tidak berarti, tak dapat aku memberikan sesuatu, karena itu sudi apakah kiranya tanwat menerima ini barang mainan yang tak berharga. Khasiatnya obat ini ialah untuk melawan segala macam racun. Sebelumnya memasuki Huyong ciang, baik tanwat telan dahulu tiga butir, obat ini pasti ada faedahnya. "

It Hiong menyambuti sambil menghaturkan terima kasih.

Kembali ia memberi hormat. Lalu terus ia turut si kacung pendeta pergi ke kamar peristirahatan.

Besok paginya si kacung pendeta menyuguhkan barang makanan sangat sederhana. Mereka mengisi perut, habis itu berdandan. Mereka mau pergi ke kamar obat, untuk berpamitan dari si pendeta tua, atau si kacung yang telah muncul pula kata pada mereka, "Tak usah tanwat menemui guruku lagi, sekarang juga kita berangkat !"

Itu artinya si pendeta telah memesan buat orang segera berangkat.

Muda mudi itu tidak memaksa malah mereka lantas mengikuti kacung itu yang memimpin keluar kuil. Ketika itu matahari baru saja muncul, sinarnya terang tetapi masih lunak. Angin pagi sejuk sekali.

Kacung pendeta itu membuka jalan terus saja, dia berjalan dengan cepat. Dia pendia ilmu lari ringan tubuh. Maka It Hiong berdua mengikuti dengan berlari-lari juga. Saking kerasnya lari mereka tak sempat mereka memperhatikan pemandangan di kiri dan kanan sepanjang jalan yang dilalui itu. Setelah kira delapan puluh lie barulah mereka beristirahat. Tak lama, mereka sudah berjalan pula. Kira satu jam, tibalah mereka di Huyong Ciang, di kaki bukit.

"Tio tanwat, kita sudah sampai," kata si seebie sambil dia menunjuk dengan tangannya. "Silakan kalian maju terus di jalan depan itu kira-kira sepuluh lie, nanti tampak sebuah selat sempit di pinggang bukit. Itulah Huyong ciang. Kalau tanwat jalan lagi kira tiga lie, akan tanwat tiba di Siang Ceng Koan.

Sekarang ini menurut pesan guruku, hendak aku menyampaikan beberapa patah kata-kata kepada tanwat berdua."

Kacung itu berhenti bicara untuk menatap muda mudi itu. It Hiong tertawa dan kata : "Ada apa dengan gurumu itu,

bapak guru kecil ?" katanya manis. "Pengajaran apa itu dari

gurumu yang harus disampaikan kepada kami ? Silahkan disebut !"

Masih si kacung menatap orang, tampangnya sungguh- sungguh.

"Selat sempit di pinggang gunung itu ialah Huyong ciang" ia memberitahukan. "Lembah itu, kecuali jam cu sie dan ngo sie, akan mengeluarkan uap yang beracun yang warnanya merah dadu, tampak mirip halimun suaram, hingga seluruh lembah kena tertutup. Manusia ataupun binatang, asal kena menyedot uap itu, akan keracunan dan di dalam waktu satu jam, akan terbinasa tanpa tertolong lagi."

"Oh, uap itu demikian jahat ?" kata Kiauw In. "Habis mana dapat kami melaluinya ? Tidak dapatkah kami jalan mutar untuk sampai di kuil Siang Keng Koan itu ?"

Seebie itu tertawa.

"Nona memikir secara wajar sekali !" kata dia. "Kalau ada jalan lainnya, tidak nanti aku mengajaknya kemari. Kawanan imam jahat dari Siang Ceng Koan itu justru menggunakan uap itu sebagai pelindung dirinya. Kuil mereka juga berdiri di tempat yang tidak ada jalannya, jangan kata manusia, bangau tak dapat mendakinya !"

"Kalau begitu, buat pergi ke Siang Ceng Koan, kita mesti ambil jalan dilembah itu." kata It Hiong. "Habis bagaimana caranya untuk meluputkan diri dari serangan uap beracun itu ? Tolong bapak guru kecil berkatainya."

"Jangan sungkan, tanwat" berkata si kacung pendeta. "Tetapi ini pun cuma pesan guruku tadi, pesan yang harus disampaikan kepada tanwat berdua." Ia berhenti sedikit, terus ia melanjuti. "Seluruh lembah Huyong ciang itu ditumbuhi pohon bunga "Huyong", maka itu didapatkannya namanya itu. Tadinya lembah itu penuh dengan hawa beracun, kemudian hawa beracun itu kena disedot bunga huyong yang baunya harum dan punahlah racun itu hingga siapa lewat disitu dia tak akan menghadapi ancaman malapetaka. akan tetapi sejak sepuluh tahun yang lalu, dengan datangnya kawanan imam busuk itu yang membangun kuilnya, setelah mereka tahu khasiatnya bunga huyong itu, bunga itu lantas dipetik habis hingga karenanya timbul pula uap beracun itu. Hingga sendirinya huyong ciang menjadi sangat berbahaya ! Selama tahun-tahun yang belakangan ini entah sudah roboh berapa banyak korban yang tidak tahu ancaman racun yang hebat itu..."

Sebagai penutup keterangannya si seebie menyebut nama Sang Buddha.

It Hiong berdua berdiam. Diam-diam mereka memikirkan uap jahat itu.

"Obat yang guruku kasihkan pada tanwat itu" lewat sesaat si kacung pendeta berkata pula, "khasiatnya selain dapat mencegah atau menghapus racun yang beruap itu juga untuk menyembuhkan penyakit atau luka di dalam. Guruku memesan wanti-wanti akan aku menyaksikan tanwat berdua memakan obatnya tiga butir setelah mana barulah tanwat dapat memasuki lembah. Hanya ingat sesudah matahari turun, jangan sekali-kali memasuki lembah, itulah berbahaya !

Sekarang maafkan aku banyak rewel. Hendak aku menyaksikan tanwat berdua menelan obat guruku itu supaya aku dapat segera berangkat pulang guna menyampaikan laporan."

It Hiong menarik keluar peles kecil warna hijau dari dalam sakunya, ia membuka tutupnya. Lantas ia dapat mencium bau obat yang harum, yang mendesak hidung setelah mana ia merasa lega dan nyaman sekali. Bersama-sama Kiauw In ia makan obat itu.

"Bapak guru kecil, ada pesan apakah lagi buat kami ?" kemudian It Hiong tanya si kacung pendeta. "Silahkan sebutkan !" Seebie itu menurunkan kantong yang digendolnya dipunggungnya sembari menyerahkan itu kepada si anak muda, ia menjawab : "Inilah rangsum kering dan air minum buat tanwat berdua. Inilah tanda hormat dari aku sendiri dan aku memujikan supaya tanwat itu ! Sekarang ijinkanlah aku berangkat pulang !"

Berkata begitu, kacung pendeta itu memberi hormat terus ia memutar tubuh dan berjalan pergi. It Hiong sangat bersyukur, ia mengawasi orang berlalu tanpa ia sempat mengucapkan sesuatu.

Kedua pendeta itu, guru dan muridnya sangat baik hati. "Bapak guru kecil, tunggu dahulu !" tiba-tiba Kiauw In

memanggil. Sebegitu jauh nona ini membungkam saja. Seebie itu menghentikan langkahnya dan berpaling. "Ada perintah apakah tanwat ?" tanyanya.

Nona Cio menarik tangannya It Hiong buat diajak menghampiri pendeta cilik itu, sembari memberi hormat sambil menjura ia berkata kepada si pendeta, "Lebih dahulu kami menghaturkan terimakasih kami kepada bapak guru kecil serta gurumu yang mulia itu yang telah memberikan obat kepada kami serta pelbagai petunjuk yang berharga ! Kami berjanji, sepulangnya kami akan mampir dulu dikuil kalian buat menyatakan syukur kami !"

"Ah, tanwat cuma memuji saja kepada kami !" kata si seebie tertawa. "Kami orang-orang yang lagi mensucikan diri, kami tak biasa dengan segala aturan umum...!" Berkata begitu, ia memutar tubuhnya, berniat segera berlalu. Atau mendadak dia berbalik pula untuk terus berkata : "Hampir aku lupa ! Di atas bukit dekat huyong ciang ini benar tidak terdapat hewan dan burung tetapi ada terdapat semacam ular yang beracun yang gemar memagut manusia atau yang lainnya benda. Tegasnya dia pasti menyerang setiap sesuatu yang dapat bergerak ! Karenanya, selagi memasuki lembah, baiklah sicu berlaku waspada, berlaku hati- hati sekali !"

It Hiong merangkap kedua tangannya.

"Terima kasih, bapak guru kecil !" ucapnya. "Kami akan berhati-hati, harap bapak guru kecil jangan kuatir."

Dengan satu kali mengucap "Sampai jumpa pula !" maka ngeloyorlah kacung pendeta itu hingga lekas juga dia lenyap diantara bayangan pepohonan.

It Hiong mengawasi sampai orang itu lenyap, terus ia dongak matahari. Ia menerka pada jam sio sie, antara jam 9 sampai jam 11. Maka ia lantas kata pada kawannya, "Kakak, mari kita lekas berangkat ! Justru tengah hari, kita harus dapat melintasi Huyong ciang !" Segera sambil memegang gagang Kong Hong Kiam, pedangnya yang tajam, ia menarik tangan si nona buat diajak bertindak pergi.

Tadi si kacung pendeta memberitahukan jam yang berbahaya ialah kedua jam cu sie dan ngo sie. Cu sie ialah jam 11 dan 12 malam dan ngo sie ialah jam 11 dan 12 tengah  hari.

Kiauw In mengikuti tanpa bicara. Perjalanan kira sepuluh lie telah dilalui tanpa banyak sukar oleh dua orang kakak beradik seperguruan itu, tak peduli tempat-tempat yang dilalui sangat sukar. Itulah tanah pegunungan tanpa jalanan umumnya. Mereka mesti menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega, dengan apa mereka dapat berlari keras dan berlompat pesat. Dalam waktu yang pendek, tiba sudah mereka dimulut lembah yang berbahaya itu karena uap racunnya.

Kiauw In menghentikan tindakannya untuk memandang tajam ke depan, ke kiri dan kanan. Ketika itu tepat tengah hari. Tak ada uap, cuma dibalik cahaya matahari tengah hari itu terlihat asap merah dadu yang bergerak-gerak perlahan mengikuti siuran angin. Gunung mempunyai dua buah puncak yang tajam lancip memasuki mega. Dipuncak itu tak terdapat pohon kayu atau rumput. Hawa sumPek terbawa angin menyampoki muka, hawa itu tak berbau busuk, tapi rasanya tak menyenangi.

"Sampai saat ini, hawa beracun itu belum juga lenyap." kata Kiauw In, "maka itu baik kita makan dulu, baru kita memasuki lembah. Kita pun harus makan pula obat."

It Hiong akur.

"Baik, kakak" sahutnya.

Lantas mereka duduk berhadapan, akan membuka bungkusan rangsum kering, untuk bersantap sekalian makan obat. Masih mereka duduk berdiam sekian lama, baru inilah mereka bertindak ke arah lembah dan memasukinya. Jalanan rada mulai banyak batu koralnya. Guna melompat asap jahat, mereka berlari-lari keras. Mereka pula tidak berani bicara, supaya mereka tak usah menyedot hawa beracun itu. Syukurlah mereka tidak menemui binatang jahat, umpama kata ular. Hanya hawa tanah yaitu hawa gunung, dari bawah dari kaki menghembus-hembus ke atas, terasanya meresap tajam. Mereka juga tidak memperdulikan segala apa dikiri dan kanan, mereka lari terus maka akhirnya berhasilah mereka melalui lembah yang berbahaya itu hingga dilain saat mereka telah tiba dipinggang gunung di karang muncul.

Di sini angin bertiup bagaikan mendatangkan hawa baru yang nyaman dan menyegarkan. Disini pula mereka dapat bernapas lega setelah sekian lama mereka menahan napas guna mencegah serangannya hawa beracun. Walaupun telah makan obat, mereka tetap berhati-hati.

Habis duduk beristirahat, perlahan-lahan mereka berbangkit berdiri.

Ketika itu matahari mulai doyong ke barat. Mereka melihat rimbah cemara dan lainnya pohon yang hidup di tanah berkarang itu. Daun yang hijau membuat orang bagaikan merasa berada di dunia yang lain...

Kiauw In melirik It Hiong.

"Adik, sudah letihkah kau ? Aku kira sudah tak jauh lagi untuk tiba di kuil Siang Ceng Koan."

Si anak muda menggeleng kepala.

"Tidak" sahutnya. "Kita harus bersyukur kepada pendeta tua dari vihara Bie Lek Sin itu yang telah memberikan kita obat dan pelbagai keterangan mengenai keadaan disini, juga perihal imam-imam dari Siang Ceng Koan. Kalau mau kakak dapat duduk beristirahat lebih lama pula." Kiauw In menarik keluar saputangannya akan menyeka mukanya. Ia pun duduk diatas rumput.

"Dasar tenaga dalamku yang kurang sempurna" kata ia tertawa. "Aku telah mengeluarkan sedikit peluh..." Ia pun merapihkan rambutnya yang tertiup kusut oleh sang angin.

Hatinya It Hiong sangat tergiur melihat si nona tertawa. Ia menyaksikan sepasang sujen yang manis menarik hati. Ia merasa kasihan berbareng sangat tertarik.

"Lenyapnya kitab pedang guru kita adalah karena kesalahanku," kata ia. "Aku menyesal karena hal itu, aku membuat kakak turut menderita capek hati dan membuang tenaga bahkan disini kita lagi menghadapi malapetaka. Kakak tak tenang hati adikmu ini, aku mohon maaf, harap kakak sudi memakluminya."

Tidak cukup dengan memohon maaf saja, si anak muda pun menjura dalam.

Nona Cio tertawa geli.

"Ada saja kau adik !" katanya. "Aku toh telah menyerahkan segala apa kepadamu !"

"Demi kau, apakah aku mesti jerikan segala capek lelah ? Tidak ! Bahkan sekarang kita harus lekas pergi ke Siang Ceng Koan guna menyelesaikan tugas kita !"

It Hiong bersyukur.

"Setelah kakak beristirahat cukup, kita akan lantas pergi kesana." katanya sungguh-sungguh. Kiauw In menatap adik seperguruannya itu. "Coba bilang adik,"tanyanya, "kau memikir buat membuat kunjungan terus terang guna meminta pulang kitab silat kita itu atau kita masuk menyelundup diluar tahu mereka secara mendadak ?"

"Buatku, aku tidak perduli itu jalan berterang atau menggelap !" sahut It Hiong sungguh-sungguh hingga dia nampak sangat bersemangat. "Jika Hian Ho tidak sudi mengembalikan kitab pedang kita itu dengan mengandal pada Keng Hong Kiam akan aku membuat darahnya muncrat berhamburan !"

Berkata begitu tanpa merasa anak muda ini bersiul nyaring hingga terdengar kumandangnya di seluruh lembah. Justru suara itu baru berhenti atau suara lain yang lekas menyusulnya.

Dari arah kiri dimana terdapat sebuah jalanan terdengar bentakan nyaring dan bengis.

"Siapakah yang sudah berani datang kemari dengan banyak lagak ?"

Teguran itu disusul dengan datangnya dua orang tosu atau imam penganut agama Tao yang warna putih rembulan dan pedangnya tergendol di masing-masing punggungnya.

Usia mereka masing-masing tiga puluh lebih. yang hebat ialah tampang mereka yang bengis-bengis serupa dengan sikapnya yang galak itu.

Setelah datang dekat, kedua imam itu mengawasi tajam sepasang muda mudi tampan dan cantik serta dandanannya berwajah gagah hingga lekas sekali mereka merubah sikap mereka sendiri.

Tanpa kehendaknya, satu diantaranya bertanya, "Sicu berdua dari kalangan mana ? Tolonglah beritahukan kami supaya kami lekas menyediakan obat pemunah racun serta mengabarkan kepada koancu kami."

Koan cu ialah ketua kuil. Imam itu mengatakan akan menyediakan obat pemusnah racun sebab menurut anggapan umum dari mereka, siapa memasuki Huyong ciang dia pasti terserang uap beracun dan kalau dia dari satu golongan, dia mau segera ditolongi setelah mana dia harus beristirahat sedangkan pihak kaoncu mesti lantas menerima laporan.

It Hiong lantas memberi hormat.

"Totiang berdua, terimalah hormat kami !" katanya. "Aku yang muda ialah Tio It Hiong dan kunjungan kami kemari adalah buat mencari Hian Ho Cingjin. Tolong totiang memberi keterangan kepada kami dan sudi apalah mengajak kami menemuinya !"

Imam itu tidak membalas hormat. Kecuali dia menunjuki sikap jumawa. Dia hanya menanya, "Tio sicu sudi apakah kau memberitahukan kami tentang golongan atau perguruanmu." It Hiong tidak berkeberatan memperkenalkan diri. Jawabanya, "Kami berdua murid-muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia Kio Hoa San. Inilah kakak seperguruanku Cio Kiauw In. Jelas sudah bukan?"

Mendadak saja kedua imam itu tertawa bergelak.

"Sungguh murid-murid pandai dari jago suatu jaman !" kata yang satu. "Ah, janganlah kau pakai nama termashur guru kalian untuk menakut-nakuti orang ! Dengan kami tidak memberikan kalian obat pemunah jangan harap kalian akan dapat turun gunung dengan masih hidup ! Nah, silakan kalian menggali liang kubur kalian sendiri disini. Ha ha ha ha !"

It Hiong menjadi gusar. "Orang takabur dan jahat. Jika kalian tidak sudi menolong mewartakan kedalam jangan sesalkan kami kalau kami menyerbu !" ia mengancam. Ia pun menyambar tangannya Kiauw In untuk ditarik buat diajak menyerbu !

Kedua imam itu tertawa terbahak-bahak mereka segera menghunus pedang mereka.

"Pedang Toya kalian ini tidak mengenal orang !" kata yang satu tetap jumawa. "Jika kalian berani menerobos masuk, jangan sesalkan kami apabila kami tak menaruh belas kasihan lagi !"

It Hiong pun tertawa. Dari mereka dapat ia menyabarkan diri.

"Dengan tangan kosongku, bersedia aku belajar kenal dengan ilmu pedang kalian !" katanya sengaja bersikap jumawa.

Kedua imam itu saling melirik, setelah itu yang disebelah kiri berkata, "Kak, coba kau minggir satu tindak ! Kau biarkan adikmu yang membekuk." Menyusul katanya itu, imam itu sudah lantas menikam It Hiong, gerakannya sangat gesit dan arahnya ialah ulu hati.

Si anak muda tidak berkelit, tidak ke kiri atau ke kanan  atau ke belakang. Ia tetap berdiri tegak. Ketika ujung pedang lawan tiba, ia sambut itu dengan japitan dua jeriji telunjuk dan tengahnya, sedangkan dengan luncuran tangan kirinya dengan satu gerakan dari jurus silat Hang Ling Hok Wouw Ciang, Menaklukan Naga Menundukan Harimau, ia menyampok telinga orang hingga si imam terpelinting beberapa tindak ! Bahkan terus dia memuntahkan darah hidup

!

Imam yang satunya yang sedari tadi berdiri saja, lantas berlompat maju, akan menyambar kawannya, sang sute adik seperguruan untuk dipegangi, guna mencegah dia itu roboh. Sementara itu wajahnya sendiri menunjuki dia gusar berbareng jeri. Wajahnya itu merah padam dan matanya celingukan seperti mata tikus. Toh ia menghadapi It Hiong dan kata : "Kau sudah melanggar aturan kami, kau juga telah menyerang orang ! Hm, kau nanti lihat !" Habis itu, segera ia berlalu dengan mengajak sutenya itu !

It Hiong gusar, hendak ia mengejar untuk menghajarnya.

Atau:

"Adik Hiong, jangan !" demikian terdengar suaranya Kiauw In, siapa sudah lantas menyusul hingga dia berdiri di sisinya, untuk menyambungi dengan perlahan : " Mereka kabur, inilah kebetulan ! Kita jadi dapat susul mereka, yang seperti menjadi penunjuk jalan sukarela membawa kita ke Siang Ceng Kuan ! Buat apa kita melayani mereka ?"

It Hiong dapat dikasih mengerti. Ia malah mengangguk dan tertawa perlahan. Diam-diam ia memuji kakak In itu yang pandai menggunakan otak.

Kedua imam itu mempunyai ilmu ringan tubuh yang baik.

Yang satu sudah terluka tetapi dia dapat lari keras seperti kakaknya. Sebentar saja mereka sudah melalui empat puluh tembok, terus mereka menikung disebuah pengkolan. Dua dua It Hiong dan Kiauw In menggunakan kepandaiannya Lompatan Tangga Mega, mudah saja mereka berdua menyusul dan mengguntingnya terpisah sejarak enam atau tujuh tombak, mereka mengintil terus.

Ketika menikung kedua imam itu berpaling ke belakang, menimpukkan tiga batang panah tangan, habis mana mereka menghilang tanpa memperdulikan serangannya yang berhasil atau tidak. Disitu terdapat batu-batu karang yang besar dan banyak renggangannya.

Dua dua It Hiong dan Kiauw In berlompat minggir, menjauhkan diri dari anak panah, menyusul mana mereka berlompat menyusul. Tapi mereka sampai ditikungan, disitu dihadapan batu karang yang besar, sudah menantikan empat orang imam lainnya, jubah mereka seragam, senjata mereka serupa yaitu pedang yang digendol di punggung mereka.

Mereka berdiri dengan tenang. Selekasnya mereka dihampiri muda mudi itu, imam yang menjadi pemimpin menyapa dengan tawar : "Kamu berdua tidak tahu yang diri kamu tinggal ditunggu waktu saja, kenapa kamu masih galak begini rupa ? Hm ! Tahukah kau bahwa Kiu Kiong San tak dapat membiarkan orang lancang mendatangi dan main gila disini ?"

Kiauw In menarik tangan It Hiong mundur dua tindak. "Kami datang ke Seng Ceng Koan ini untuk mencari Hian

Ho Cinjin." berkata si nona sabar. "Kami hendak meminta pulang kitab pedang kami. Tentang maksud kedatangan kami ini telah kami jelaskan kepada imam tadi, siapa tahu mereka tidak mau memakai aturan, mereka berlaku keras dan kasar terhadap kami bukan saja mereka tak sudi menolong memberi laporan, mereka justru mendahului menyerang kami hingga terpaksa kami bertindak membela diri. Demikianlah telah terjadi, mereka sudah mencari celakanya sendiri. Sekarang kami ingin memasuki Siang Ceng Koan, kami mau bertemu dengan Hian Ho Cinjin, kalau disini ada aturannya tolonglah bilangi kami."

Imam itu tetap tidak senang.

"Eh, anak perempuan." tegurnya. "Kau telah melukai orang kami yang telah melakukan tugas meronda menurut aturan kami, buat pelanggaran itu kalian harus dibekuk untuk nanti menantikan pemeriksaan dan hukuman !"

Baru imam itu menutup mulutnya atau tiga orang kawannya sudah mencelat ketiga arah buat mengambil sikap mengurung muda mudi itu, gerakan mereka sangat cepat.

It Hiong mengawasi ke empat imam itu, ia mendapat perasaan bahwa satu pertempuran tak dapat dihindarkan pula, karena itu ia menjadi sangat tidak senang dengan sepasang alisnya bangkit berdiri, ia kata bengis : "Tak perduli kamu mengatur Barisan rahasia apa, tak nanti kamu dapat bertahan melawan kami sebanyak tiga puluh jurus, maka itu baiklah aku sendiri saja dengan sebatang pedangku ini yang akan mencoba menemani kamu main-main ! Bukankah Barisanmu ini yang dipanggil Su Cio Kiam Tio ?"

Barisan rahasia itu Su Cio Kiam Tio adalah Barisan pedang Empat Ekor Gajah. Dengan latihan yang baik dan bersatu padu, empat orang yang bersenjatakan pedang bisa mengurung dan mengepung seorang lawan baikpun lawan yang tangguh.

"Jangan mengoceh saja bocah !" membentak imam yang menjadi pemimpin itu. "Dan bocah wanita itu, biarnya dia berada diluar kurungan, jangan harap dia bakal dapat lolos turun gunung !"

Kiauw In tidak membalas apa-apa, ia hanya mengawasi It Hiong, saat anak muda itu memberi isyarat dengan lirikan matanya atas mana ia lantas berdiri diam untuk menanti sambil menonton. Ia hanya memasang mata secara diam- diam. Ia bertenang hati karena melihat pemudanya tenang- tenang saja.

Ke empat imam habis sabar, begitu mereka bergerak berbareng begitu mereka maju merangsek, sinar pedang mereka bergerak-gerak bagaikan kilat menyambar-nyambar.

Begitu ia diserang, begitu It Hiong mendak begitu ia putar pedangnya membabat ke segala arah, dengan begitu ia paksa musuh-musuhnya berlompat mundur dengan kaget. Pedang mereka itu hendak dipapas kuntung dalam satu gebrakan.

Tapi imam-imam itu lihai, dapat mereka menyelamatkan pedangnya masing-masing. Dengan begitu terbukti halnya mereka sudah berlatih baik.

Pertempuran berlangsung terus, ke empat imam tidak berdiam tetap disatu arah. Mereka berputaran atau bergantian mengambil kedudukan, semua gerakan mereka teratur rapi, begitu pun maju dan mundurnya yang penting hebat ialah kegesitan mereka, tubuh mereka hampir tak tampak tegas...

Mulanya repot It Hiong melayani pengepungan itu. Mula- mula matanya bagaikan kabur hingga disekitarnya ia melihat lawan melulu. Empat senjata bergerak bagaikan delapan  buah. Semua pedang lawan itu juga sukar untuk disentuh buat ditebas kutung. Maka untuk membela diri, ia segera menggunakan Khie bun Pat Kwa Kiam. Ia melawan sambil menutup diri, maka itu hebatlah pertempuran mereka berlima enak ditontonnya, tetapi berdebaran hatinya siapa yang melihatnya.

Lama pertempuran berlangsung, ke empat imam tetap melakukan pengurungan. Nyata mereka sanggup melayani Khie bun Pat Kwa Kiam, bahkan It Hiong kena dibikin repot hingga anak muda ini mesti menggunakan kelincahannya buat menyingkirkan diri dari setiap tikaman atau tebasan pedang- pedang tak hentinya.

Demikianlah sudah terjadi, si anak muda tak dapat mengalahkan musuh, malah keluar dari kurungan pun sulit, sebaliknya ke empat imam itu tidak dapat merobohkan seorang lawannya walaupun keinginan mereka adalah lekas merobohkan atau membekuknya....

Kiawu In menonton. Ia merasa tertarik, tetapi ia pun tak sabaran bahkan sibuk. Ia merasa tak ada gunanya It Hiong bertempur bertele-tele seperti itu. Maka diakhirnya terpaksa ia campur mulut. Ia teriaki pemudanya : "Adik Hiong !

Bertindaklah dengan tindakan To cay Cit Chea Pou dan gerakilah pedangmu dengan jurus kesembilan dan kedua belas dari Khie bun Pat Kwa Kiam !"

Sebagai penonton, matanya si nona terlebih awas dan otaknya lebih mudah berpikir.

Mengenai "tio" atau Barisan rahasia, Kiauw In ada mempunyai pengertian yang mendalam dan itu dibantu dengan kecerdasannya, maka itu, sesudah menonton sekian lama, bisa ia menangkap arti Barisan "Su Chio Kiam Tio" dari kawanan imam itu. It Hiong lihai tetapi ia masih membutuhkan pengalaman, sedang keistimewaannya ialah ilmu Hian Bau Sian Thian Khie kang. Si nona berkat kecerdasannya, dapat menggunakan otak atau kecerdikannya. Demikian ia sadarkan adik seperguruannya itu.

It Hiong mendusin, selekasnya ia mendengar suara kakak seperguruan. Dengan lantas ia mengumpul semangatnya, memusatkan perhatiannya, setelah mana ia bergerak dengan jurus pedang "Anak Panah Menikam Saluran Merah" dan Bianglala menutupi Langit" yang mana disusul dengan suara nyaring, "Traaang ! dua kali terus pedangnya kedua imam terbabas kutung dan kutungannya runtuh ke tanah, hingga mereka yang kaget sekali pada berlompat mundur lima tombak, sedangkan dua yang lain terus berlompat ke pinggir sebab mereka itu kaget menyaksikan pedang kawan- kawannya kena dipapas buntung !

Habis itu, It Hiong tidak bersilat terus. Ia berdiri diam ditengah kalangan, pedangnya dirapatkan pada tubuhnya. Ia mengawasi tajam kepada empat imam itu sambil berkata : "Apakah lagi kepandaian kalian ? Silahkan keluarkan semuanya ! Aku bersiap sedia melayani pula pada kalian !"

Imam yang menjadi pemimpin itu melemparkan pedang buntungnya, kata ia : "Ilmu pedang Pay In Nia benar-benar lihai, sekarang kami telah belajar kenal dengannya ! Hanya sayang walaupun kalian begini gagah, itulah tidak ada faedahnya ! Tanpa lewat lagi satu jam, racun jahat bakal bekerja maka di gunung Kiu Kong San inilah tubuh dan tulang belulang kalian bakal terkubur!"

Habis berkata begitu, si imam tertawa terbahak-bahak. Dia kalah tetapi dia merasa puas. Kawan-kawannya berdiam sambil bersenyum. Setelah itu, serentak mereka bergerak untuk menyingkirkan diri. "Berhenti !" mendadak It Hiong membentak dengan sikap bengis.

"Ada apakah ?" si imam berpaling seraya terus bertanya. "Jika kalian memikir untuk meminta obat pemunah racun, jika kalian mempunyai nyali, nah, kalian naik dan pergilah ke Siang Ceng Koan !"

Belum lagi It Hiong berkata pula, Kiauw In sembari tertawa manis sudah mencelat maju hingga ia berdiri berendeng dengan pemudanya itu terus ia memperdengarkan bentakannya. "Siapakah yang kesudian obatmu itu ? Kalian sudah kalah maka kalian harus memimpin kami pergi ke Siang Ceng Koan ! Jika tidak, kalian harus tahu sendiri !"

Imam itu gusar.

"Kalian jangan keterlaluan !" katanya nyaring. "Kami mengingat diantara kita tidak ada permusuhan, kami juga menyayangi ilmu kepandaian kalian, apapula kalian masih begini muda, kalian orang-orang yang penuh pengharapan, maka kami merasa berkasihan terhadap kalian, kami suka memberi petunjuk hidup ! Dengan memakan obat pemunah racun, kalian tak akan mati ! Apakah kalian menyangka kami takut kepada kalian ? Hmm." Dan dia berlompat maju, sebelah tangannya diluncurkan.

It Hiong berlompat maju juga, sebelah tangannya diangkat untuk menyambuti serangan itu. Sengaja dia tidak menggunakan pedangnya, tetapi itulah salah satu pukulan hang Liong Hok Hoaw Biong !

Kontan si imam menjerit, kontan dia roboh terjengkang, darah muncrat dari mulutnya, sebab anggauta dalam tubuhnya tergetar hingga darahnya menyembur keluar ! Melihat demikian, imam yang tiga lagi lantas memutar tubuh dan kabur diantara sela-sela karang yang merupakan jalanan untuk mendaki gunung. It Hiong mendongkol, ia berlompat mengejar atau :

"Tahan" demikian terdengar cegahannya Kiauw In.

Adik seperguruan itu mendengar kata, ia kembali dengan segera.

"Ada apa, kakak ?" tanyanya.

"Kita harus waspada, adik" berkata si nona. "Bukankah musuh berada ditempat tersembunyi dan kita di tempat terbuka ? Itulah berbahaya untuk kita. Siapa tahu kalau musuh menyembunyikan apa-apa diantara karang yang besar- besar itu ? Apakah adikku sudah lupa pantangan memasuki rimba dalam-dalam ?"

It Hiong mengangguk, ia berdiam. Kakak itu benar.

Ketika itu sang magrib hampir tiba. Selagi yang gunung tinggi menjulang kelangit, sang matahari sudah berada jauh rendah di bawah. Cuacapun remang-remang, walaupun mereka berdua berada ditengah pegunungan terbuka. Tapi kakak beradik itu lagi berdiam sambil mata mereka mengawasi keatas gunung, tiba-tiba mereka melihat melesat naiknya sejumlah anak panah berapi, yang sesampainya ditengah udara dapat pecah berbunyi sendirinya, suaranya nyaring.

Itulah panah yang diberikuti dengan petasan dor dor yang apinya bercahaya Biru mengkilat.

Satu kali It Hiong menoleh ke belakang, maka di sana tak lagi ia melihat si imam yang tadi telah dilukainya. Imam itu rupanya sudah ditolongi secara diam-diam tanpa ketahuan pihak lawan.

Lantas si anak muda memikirkan panah api barusan. Ia menerka-nerka.

"Kalau kita maju di jalan seperti ini," katanya kemudian, "kita selalu berada ditempat terbuka hingga mudah apabila kita diserang secara menggelap. Disepanjang jalan naik pasti ada musuh-musuh yang bersembunyi. Kalau kita saban-saban dirintangi, bukankah itu akan memperlambat waktu kita dan kita jadi senantiasa terancam bahaya. Sampai kapankah kita akan tiba dikuil ?"

Kiauw In tertawa.

"Jalan diantara karang-karang ini mungkin adalah jalan yang terpendek" katanya. "Tidak apa jika kita ambil jalan yang penuh bahaya asal kita lekas sampai..."

It Hiong berpikir, matanya berkeliaran melihat kesekitarnya dan keatas juga.

Tiba-tiba melesat pula panah api ke tengah udara, sampai disuatu tempat disambut oleh beberapa lainnya. Sinar biru itu terus pula dan lenyap.

Selagi si anak muda berpikir, memikirkan artinya tanda panah api itu, Kiauw In yang cerdas berkata : "Adik Hiong, lihat itu tempat dimana panah api muncul ! Menurut aku itu justru pusatnya penghuni gunung ini atau di sana ada tempat penjaganya. Aku pikir asal kita dapat menyingkir dari tempat- tempat itu, kita pun jadi tak usah menemui bahaya." It Hiong mengawasi ke tempat dimana tadi panah api bermunculan.

"Kau benar, kakak !" katanya kemudian, gembira. "Baiklah, mari kita lekas pergi !'

Lantas keduanya berangkat. Mereka tidak mengambil jalan umum hanya menyamping. Dapat mereka berlompatan atau berlari keras. Disini tidak ada jalanan, ada juga pepohonan atau tanah kosong yang penuh bebatuan. Di dalam waktu tiga jam mereka sudah melalui kira dua puluh lie. Benarlah, tak pernah mereka menemui rintangan. Ketika itu si putri malam sudah berada ditengah-tengah langit. Apa yang terdengar ialah suaranya burung malam atau daun-daun cemara yang termainkan sang angin. Sudah suasana sunyi, seram pula rasanya, siapa yang nyalinya kecil, pasti sudah bangun bulu tampangya...

It Hiong dan Kiauw In bergerak-gerak bagaikan layangan. Sekarang mereka berada diatas sebuah tanah berkarang yang luas dimana tak ada pepohonan hanya rumput melulu atau lumut yang licin yang terasa demam. Di depan itu tempat buntu sudah.

Sambil berdiri berendeng, muda mudi itu mengawasi ke depan. Mereka mau mencari jalanan maju. Diantara cahaya rembulan mereka melihat sinar berkilauan disebelah kiri mereka. Kiranya itulah sebuah telaga atau pengempang.

Dengan menarik baju si nona dan si pemuda lari ke tempat air berkumpul itu. Bagian itu adalah belakang gunung dan dinding gunung tampak banyak lubang atau gua, hingga mirip lubang sarang tawon besar dan kecil tak rata.

Keduanya berhenti di tepi telaga sekali hingga mereka merasai ademnya hawa air. Mulai berada ditengah langit, si putri malam perlahan-lahan doyong ke barat. Air telaga sangat bening hingga mirip kaca hingga bayangan muda mudi itu tampak tegas sekali. Sang rembulan berkaca di muka air, nampaknya sangat indah hingga sangat menggiurkan untuk dipandang.

Memandangi keindahan sang alam itu mendadak It Hiong ingat sesuatu.

"Kakak !" segera ia tanya Kiauw In, "Kakak diantara tiga surat wasiat guru kita bukankah ada satu yang berbunyi "Siang Goat Hui" dan itu dipesannya untuk dibuka disaat Siang Goat Kauw Hui seperti ini ?"

"Siang Goat Kauw Hui" berarti "Sepasang rembulan saling memancarkan keindahan cahayanya" dan dengan disaat itu si putri malam bagaikan berkaca di muka telaga tepatlah bunyinya pesan itu. Rembulan dilangit dan bayangannya dipermukaan air berarti satu pasang...

Kiauw In melirik si anak muda.

"Baiklah aku beritahukan kau adik" sahutnya perlahan. "Sebenarnya guru kita meninggalkan empat tabung surat wasiat kepada kakakmu dan yang ada tanggal bulannya telah aku baca bagian depannya. Disitu kecuali pesan menjalankan perintah sebagai wakil guru, yang berupa kim pay juga ada sehelai surat yang dilampirkannya..."

Berkata begitu si nona tertawa dan tunduk. It Hiong nampak sangat tak sabaran. "Kakak" katanya, "apakah pesan bapak guru kita itu ? Kenapa kakak sudah melihatnya sekian lama tetapi kakak masih belum memberitahukan aku ?"

Si nona tertawa pula.

"Guru kita menulis tentang pentingnya kim pay itu." sahutnya. "Tidak ada soal lainnya. Aku menganggap kapan saja aku beritahukan hal itu kepada kau adik. Itulah sama !"

"Bukannya begitu kakak" kata si pemuda sungguh- sungguh. "Kalau kakak memberitahukan aku siang-siang, bukankah itu terlebih baik ?"

"Guru kita menyebut tentang kau, adik" kata kakak itu terpaksa. "Bapak guru berkatai halnya kau menghadapi beratnya bencana asmara dan pembunuhan dan aku dipesan untuk menjagai kau sedapat-dapatnya. Aku tidak mau memberitahukan hal itu kepadamu karena kuatir kau nanti berduka supaya semangatmu tidak jadi terganggu karenanya. Demikian sekian lama ini aku hanya mengawasi kau secara diam-diam saja. Itulah sebabnya kenapa aku berayal membicarakannya denganmu. Kalau ada lain urusan yang penting, tak nanti aku berani menyembunyikannya terhadapmu."

It Hiong mengerti orang menyukainya karenanya ia menjadi lebih menghormati kakak itu yang baik hatinya yang lemah lembut gerak geriknya.

"Kakak" katanya, "selanjutnya terhadap kata-kata kakak akan aku mendengarnya sebagai kata-kata guru kita, akan aku turutkan supaya kutukanku itu bisa berkurang."

Kiauw In tersenyum. "Kau bicara berlebihan adik !" katanya. "Cukup asal kau mengerti dan dapat membatasi diri."

It Hiong lantas tandas akan melihat ke permukaan air. "Kakak" katanya, "melihat rembulan yang dua itu aku jadi

ingat pesan guru kita tentang Siang Goat Kauw Hui itu. Kakak

bagaimana pendapatmu, bukankah kata-kata itu cocok dan tepat sekali?"

Kiauw In mengawasi bayangan rembulan itu, ia bagaikan menjublak kemudian ia merogoh sakunya akan menarik keluar surat wasiat gurunya, ia membolak balik surat, ia sangsi akan membukanya.

It Hiong bertindak mendekati kakak itu. Ia sudah mengulur tangannya akan mengambil surat itu atau mendadak ia menarik pulang tangannya. Ia ingat tak dapat ia membuka itu, itulah tugasnya sang kakak.

Kiauw In mengira sang adik seperguruan hendak membuka surat wasiat itu, siapa tahu It Hiong mendadak membatalkan siasatnya, ketika si pemuda mengulur tangannya ia sudah menyodorkannya selekasnya surat dipegang It Hiong ia melepaskannya, maka waktu anak muda itupun melepaskan pegangannya surat lantas terlepas dan jatuh bahkan melayang terbawa angin jatuh ke telaga !

Dua duanya muda mudi itu terperanjat, waktu kertas melayang keduanya lompat menyambar tetapi gagal. It Hiong tidak mau menyerah, ia berlompat terus dengan menggunakan ilmu ringan tubuh Lompatan Tangga Mega.

Tatkala itu kertas sudah sampai di air, maka ia pun jatuh ke telaga, ketika ia berhasil memegang kertas, pakaiannya basah, maka dengan pakaian kuyup ia lompat naik ke darat. Pula, dengan sendirinya sampul surat telah terbuka.

"Kakak" kata adik seperguruan ini yang menghampiri kakaknya sembari mengangsur surat itu, "Kakak, bagaimana kalau kakak buka dan baca pesan guru kita ini ?"

Kiauw In menyambuti sebelum ia membuka surat itu, ia memandang dulu si anak muda.

"Pakaianmu basah seluruhnya, adik" kata ia sambil mengawasi. "Di sini angin besar dan hawa angin. Itulah kurang baik bagi kesehatanmu. Bagaimana kalau kita cari dahulu sebuah gua untuk kau mengeringkan pakaianmu itu ?"

Berkata begitu si nona mengawasi ke dinding gunung buat mencari gua dimana It Hiong dapat membuka pakaiannya untuk diperas dan dikeringi dengan diangin-anginkan. It Hiong setuju dan ia turut melihat kedinding gunung itu.

"Mari !" kata si kakak seperguruan kemudian. Ia menarik tangan orang, untuk dibawa ke sebuah gua disamping telaga. Dimulut sebuah gua, yang mulutnya lebar, ia menolak tubuh si anak muda seraya menyuruh masuk, ia sendiri berdiri menantikan di luar itu, bahkan segera ia membeber surat wasiat gurunya, buat membacanya diterangnya si putri malam.

Tek Cio Siangjin, sang guru menulis empat buah huruf yang bunyinya syair bukanya syair, sedangkan dipaling bawah ada catatannya sebaris huruf-huruf, bunyinya :

"Untuk Anak In dan Anak Hiong" Bunyinya pesan itu begini : "Pada malam sepasang rembulan saling memancarkan sinarnya.

Itulah waktunya jodoh ditetapkan ditelaga mirip nampan kumala.

Malam ini menjadilah malam dari lilin berbunga. Kesampaianlah maksud hati dibukit Kiu Kiong San. Jangan menentang pesan ini !

Jangan lewatkan saat indah !"

Membaca itu mengertilah Kiauw In akan maksud gurunya. Surat wasiat itu menunjukkan dan mengharuskan ia menikah dengan Tio It Hiong disitu malam juga, dibukit Kiu Kiong San itu, ditepinya telaga atau muara Giok Poan Tha--demikian telaga itu yang namanya berarti Nampan Kumala. Sendirinya ia girang berbareng jengah hingga jantungnya memukul dadanya berombak. Ia girang sebab tercapailah cita-citanya berpasangan dengan Tio It Hiong. Ia lantas ingat bagaimana dahulu hari sewaktu perpisahan dari It Hiong yang turun gunung buat mencari musuhnya guna menuntut balas di kaki Pay In Nia, mereka berdua mengikat janji bagaimana berat rasanya perpisahan itu, hingga semenjak itu tak pernah ia melupakan si anak muda. Ia pula bertambah girang waktu dahulu ia memperoleh jaminan dari paman In nya yang menguatkan perjodohannya itu.

Semenjak itu, ia dan It Hiong adalah calon suami istri.

Hanya itu saat pernikahannya yang masih belum ditetapkan. Pertama-tama It Hiong tengah merantau, kedua guru mereka sedang berpesiar dan ketiga si Paman In Gwa Sian repot dengan pengembaraannya. Dan ia sendiri, ia pun turut menjelajah dunia Kang Ouw sungai telaga buat mencari pengalaman. Tapi malam ini adalah malam yang tepat yang dipilih dan ditetapkan guru mereka. Inilah malam diluar dugaan mereka, sebab surat wasiat justru dibuka digunung yang menjadi wilayah musuh. Hanya dasar wanita, ia gagah dan polos atau tidak ia toh merasa malu sendirinya. Begitulah sendirinya, tanpa ia merasa mukanya menjadi bersemu merah dadu, demikian juga kedua telinganya....

Sambil memegangi surat wasiat itu, Nona Cio berdiri menjublak. Ia seperti membiarkan angin gunung yang halus meniup-niup membuat main anak rambutnya sedangkan si putri malam membuatnya seperti berkaca di permukaan air telaga. Bayangannya di muka air membuatnya seperti Goat Kiong Siansu si putri rembulan...

Masih lama Kiauw In berdiri diam saja itu sampai kemudian ia mendengar suara sabar dari It Hiong yang keluar dari dalam gua. "Eh, kakak In, kakak telah memikirkan apakah ? Kenapa kakak berdiri menjublak saja. ?"

Nona Cio terperanjat, ia lantas menoleh.

It Hiong bertindak mendatangi, selagi datang semakin dekat, dia berkata pula : "Kakak, apakah yang guru kita tulis ? Petunjuk apakah diberikan kepada kita ? Bolehkah aku membaca pesan itu ?"

Segera si pemuda datang dekat dan tangannya terus diulur guna menyambuti surat.

Kiauw In melengak. Ia jengah dan bingung hingga tak tahu apa ia harus bilang. Maka ia cuma mengangsurkan surat wasiat guru mereka itu, setelah mana ia memutar kepalanya, melihat ke arah lain. Ia lihat sekali sebabnya jantungnya memukul... It Hiong sudah lantas membaca surat gurunya itu. Ia girang bukan main bagaikan anak kecil, ia lompat berjingkrakan. Ia lantas berpaling pada kakak seperguruannya.

"Kakak ! Kakak !" serunya. "Kakak, kau.." Mendadak ia terdiam. Ia mendapati kakak itu tunduk dan likat, mulutnya bungkam, kedua tangannya yang halus membuat main ujung bajunya.

"Eh, kakak kau kemanakah ?" tanya si pemuda heran. Ia mendekati sampai dekat sekali.

Sang kakak terus berdiam, kepalanya tetap tunduk, mulutnya tetap bungkam...

It Hiong dapat menerka sebab dari sikap kakak seperguruan itu, ia lantas memegang dan menggenggam tangan halus si nona, ia tertawa ketika ia berkata : "Urusan pernikahan adalah urusan sangat penting bagi kita kakak. Buat apakah kau malu-malu ? Bukankah itu merupakan cita- cita kita yang telah terwujud ? Kakak adalah orang rimba persilatan, tak layaknya kakak bersikap seperti nona-nona yang kebanyakan !"

Kata-kata itu benar dan membangunkan semangat. Kiauw In segera mengangkat kepalanya mengawasi si anak muda wajah siapa terang bercahaya sebab kegembiraannya. Ia sendiri air matanya masih berlinang tetapi ialah air yang jernih sekali. Keduanya saling menatap. Akhirnya mereka bersenyum dan tertawa !

It Hiong tetap sangat bergembira.

"Sungguh lihai guru kita !" kata ia dengan pujiannya. "Guru kita pandai silat berbareng juga mengerti ilmu siam in dapat menghitung -hitung sang waktu dengan tepat sekali ! Bukankah aneh guru dapat menunjuki pertemuan kita ditelaga ini guna mecekoki jodoh kita ? Dan justru di malam mana terang bulan seperti ini, tanpa menghiraukan disinilah tempat musuh ! Malam ini gua kita jadikan kamar pengantin kita, bagaikan sepasang walet yang terbang pulang ke sarangnya ! Entah bagaimana beruntung adikmu ini kakak..."

Sang malam berlalu terus. Segera juga tiba jam empat. Diwaktu begitu si putri malam menggunclang makin terang indah lemah lembut tampaknya, cahayanya membuat sepasang muda mudi itu bagaikan bayangan. Sambil berpegangan tangan dengan perlahan mereka bertindak memasuki gua dimana hawa hangat. Maka disitulah sepasang muda mudi yang saling mencinta telah menyempurnakan angan-angan hidupnya.

Di dalam gua di gunung seperti Kiu Kiong San itu, tidak terdapat ayam atau lebih benar si ayam jago tukang menceritakan tibanya sang fajar, walaupun demikian, cuaca pagi tampak tegas, sedangkan sebagai gantinya sang ayam, burung bercowetan, bernyanyi menuruti caranya sendiri. Dan di pagi hari itu maka dari dalam gua muncullah sepasang mempelai, berjalan bergandengan tangan menghampiri tepian telaga Giok Poan Tha, untuk mereka mencuci muka dan mulut buat membersihkan tubuh mereka untuk kemudian beruda mereka duduk berendeng diatas sepotong batu ditepi telaga itu yagn menjadi saksi dari terikatnya jodoh mereka.

Mereka masih mempunyai bekalan rangsum kering, bersama-sama mereka mengisi perut mereka, sembari bersantap mereka berbicara bersenyum dan tertawa. Mereka saling mengawasi dengan sinar mata mereka memain, wajah mereka terang dan ramai alis mereka bergerak gerak... Adalah hal yang menyenangkan mereka berdua sejak kemarin maghrib sampai malam tadi terus sampai fajar itu, mereka tidak mendapat rintangan dari imam atau imam-imam dari Siang Ceng Koan. Rupanya imam-imam itu tidak menyangka yang muda mudi itu bermalam digunungnya.

"Sekarang sudah tidak pagi lagi" lewat sesaat It Hiong berkata. Mereka sudah makan dan beristirahat cukup. "Marilah kita pergi ke Siang Ceng Koan ! Tapi kakak kau letih atau tidak

?"

Kiauw In tersenyum. Biar bagaimana ia nampak masih sedikit jengah. Ia tunduk ketika ia menjawab. "Kakakmu tidak letih, mari kita berangkat !" Dan terus ia bangkit berdiri.

Dengan tangan pada gagangnya pedang Keng Hong Kiam, It Hiong jalan mengitari sebuah telaga yang berukuran lebar kemudian ia bertindak jalan dari mana kemaren magrib mereka datang.

Kiauw In bertindak merendengi suaminya itu. Pernikahan mereka tidak wajar tetapi sah sebab pernikahan itu telah memperoleh pengakuan dari pihak-pihak yang menguasai diri mereka. Tek Cio Siangjin dan In Gwa Sian sang guru dan ayah angkat. Selagi meninggalkan telaga, mereka masih menoleh sekali lagi sebagai pertanda mengambil selamat berpisah.

Hanya sejenak wajah mereka itu guram.

"Inilah telaga yang seumur kita tak dapat kita lupakan !" kata It Hiong. "Bukankah benar begitu kakak ?"

Masih anak muda ini memanggil kakak kepada istrinya itu sebagai mana juga istri itu tetap memanggil adik kepada suaminya. Mereka pun tetap su cie dan sute, kakak dan adik seperguruan. Kiauw In tertawa manja.

"Asal saja kau ingat, adik !" katanya.

Sampai itu waktu, mereka sudah turun dari halaman batu karang yang tinggi dan luas itu. Matahari pagi cerah sekali, langit bersih bagaikan habis dicuci. Diatas gunung tak ada mega sedikit juga. Karena ini tidak heran kalau dari jauh-jauh dua-dua Kiauw In dan It Hiong dapat melihat samar-samar bangunan kuil jauh disebelah kanan depan mereka. Kuil itu berada disebelah kanan, diantara pepohonan dan wuwungannya bersusun-susun.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(