Iblis Sungai Telaga Jilid 15

 
Jilid 15

"Nona" katanya, "jika benar kau telah insyaf dan hendak merubah cara hidupmu untuk membersihkan dan menyayangi diri sendiri sungguh itu suatu hal yang menggirangkan yang harus diberi selamat ! Sampai itu waktu siapakah diantara sahabat-sahabat kaum Kang Ouw yang tak akan memandangmu dengan pandangan mata yang lain dari pada umumnya ? Cumalah hendak aku memberikan penegasan kepadamu, apabila kau hanya menggunakan akal muslihat untuk menipu adik Hiong, itulah harapan yang akan sia-sia belaka !"

Tan Hong masih mengeluarkan air mata dan sesegukan. "Memang aku ini asal kalangan rendah dan sesat" kata ia

mengakui keadaan dirinya. "Itulah sebabnya, walaupun aku menaruh hormat dan cinta terhadap Tuan Tio, aku masih merasa bahwa aku tidak mempunyai rejekinya. Buatku sekarang ialah tinggal harapan asalkan kalian suka mengijinkan aku memanggil kakak kepada kalian dan menyebut adik kepada adik Hiong ! Sebegitu saja, lain tidak !"

Berkata begitu terlihat tegas Tan Hong sangat berduka dan tak berdaya.

"Dimulut kuda tumbuh gigi gajah, itulah yang sukar terlihat dan terdengar !" ejek Giok Peng keras dan tajam. "Menyesal dan merubah kelakuan buat menjadi orang baru ! Itulah bukan kata-kata yang dapat diucapkan belaka ! Nona Tan, jika kau hendak bersahabat dan bergaul dengan kami, maka itu akan harus dibuktikan dahulu. Sekarang dan di belakang hari

!" Tan Hong mengeluarkan sapu tangannya akan menepis air matanya.

"Kakak berdua, akan aku perhatikan benar nasihat kalian" katanya perlahan. "Tetapi datangku malam ini terutama berhubung dengan kitab ilmu pedang yang hilang dari adik Hiong. Aku menyesal sekali sebab kitab itu hilang mulanya disebabkan aku, karenanya aku memikir buat memberikan tenaganya guna mendapatkan pulang kembali ! Tenagaku mirip tenaga kapas tetapi hendak aku mencoba menebus kesalahanku. Aku mau menjadi penunjuk jalan dari perjalanan kalian ke Huyong ciang, Kiu Kiong San ! Dapatkah ?"

It Hiong yang berdiam sekian lama baru sekarang membuka mulutnya buat turut bicara.

"Nona Tan, aku bersyukur atas kebaikanmu ini !" demikian katanya. "Ditangannya Tio It Hiong ada pedang Kang Hong Kiam panjang maka itu tak aku takuti sekalipun kandang naga dan gua harimau ! Bagaimanakah bedanya kalau kuil Siang Ceng Koan dari Hu yong ciang dibandingkan dengan vihara Kim Hse King dari Ngo Im Hong ? Buat kau nona, lebih baik nona pulang ke Hek Keng To dimana kau dapat mengunci pintu guna merenungkan segala perbuatanmu yang sudah- sudah !"

Tan Hong tertawa sedih.

"Baik, adik Hiong !" sahutnya. "Tak perduli kau perlakukan aku bagaimana juga tetapi hati kakakmu ini telah kuserahkan kepada kau ! Akan aku dengar kata-katamu ! Jika kau tidak menghendaki aku pergi ke Kiu Kiong San, baik, akan aku tidak pergi !" Berkata begitu airmatanya jago betina dari Hek Keng To itu berjatuhan deras sekali.

Giok Peng mengawasi tajam, tak ada sedikitpun jua rasa terharunya. Bahkan ia masih bersikap keras. Dengan gusarnya dia membentak : "Tan Hong, kenapa kau tidak mau bicara dengan kakak In dan aku ? Kenapa kau hanya perlihatkan lagakmu ini pada adik Hiong ? Kau cuma membuat supaya dirimu terlihat disayang orang ! Apakah kau tak kuatir orang nanti mengejekmu ?"

It Hiong berdiam mendengar kata-katanya Giok Peng itu. Baik terhadap nona ini terutama terhadap Kiauw In tidak mau ia sembarang bicara. Kedua nona itu berarti banyak baginya. Tak mau ia menyebabkan mereka salah mengerti. Maka ia melihat dan mengawasi saja ke atas rumah. Ia bagaikan tak melihat dan mendengar ketiga nona itu.

Diam-diam Kiauw In berkesan baik terhadap Tan Hong, ia memang berhati halus dan pandangannya juga jauh hingga melihat dan mendengar dan mengimbanginya. Ia terharu kalau ia mencapai orang yang putus asa. Demikian maka ia bisa menempati diri disisinya Giok Peng yang bertabiat keras itu, yang sangat membenci perilaku yang dianggapnya sesat dan buruk itu. Cuma disebabkan ia masih memandang Giok Peng, terhadap Tan Hong tak mau ia sembarang bertindak mengiringi suara hatinya. Nona Peng terang terpengaruh kejelusannya, dia pasti berketetapan : "Disisi pembaringannya, tak dapat dia mengijinkan lain orang turut pulas menggeros bersama !"

Maka disitu, diantara empat orang itu, ada pikirannya masing-masing sendiri. Maka, setelah yang satu berdiam, yang lain membungkam juga. Maka juga, untuk sejenak itu sunyi senyaplah ruang dimana mereka berada hingga dari kejauhan terdengar alunan kentongan tanda waktu dari sang malam...

Lewat lagi sekian lama, Kiauw In yang memecah kesunyian. "Nona Tan, sudah larut malam" katanya perlahan, "silahkan

kau pulang untuk beristirahat. Jika kau dapat memperbataskan dirimu dan menyayanginya, baiklah, mari kita menjadi sahabat-sahabat satu dengan lain ! Nah, sampai bertemu pula !"

Tan Hong agak terkejut. Ia sampai memperdengarkan suara "Oh !" Lantas ia mengawasi tajam Kiauw In, It Hiong dan Giok Peng, terutama terhadap si pemuda.

"Sampai jumpa pula" katanya selang sesaat, lantas tubuhnya mencelat keluar ruang dimana dia lenyap didalam kegelapan dari sang malam !

Giok Peng menghela napas lega seperginya jago betina dari Hek Keng To itu kemudian dengan perlahan ia menepuk bahunya It Hiong selagi si anak muda diam menjublak.

"Dia telah pergi !" katanya tertawa. "Buat apa kau masih berdiam saja, adik Hiong ?"

It Hiong terperanjat karena tepukan ke pundaknya itu. Ia justru tengah kesengsem memikirkan Tan Hong. Apa dan anggapan orang lain, ia melihat Tan Hong bersungguh- sungguh terhadapnya. Kecuali berasal dari Hek Keng To, pulau ikan lodan, nona itu tak ada kecelaannya : muda, cantik dan manis !"

"Apakah kakak ?" tanyanya dalam kagetnya itu. Giok Peng berdiam. Tapi Kiauw In menghela napas dan berkata : "Beginilah hidup manusia didalam dunia... Tak dapat kita memisahkan diri dari kedukaan dan kegirangan, keduanya mesti berkumpul bersatu padu dan mencar bercerai berai !

Tan Hong harus dikasihhani... Dia bertemu dengan adik Hiong, lantas ia terjebak dalam lautan asmara, tergugat dalam gelombang pusar cinta. Guru kita telah berkatai bahwa adik Hiong sangat terikat kutukan pembunuhan dan asmara.

Memang guru kita itu sangat pandai dan jauh pandangannya, guru kita mengetahui segala apa jauh di muka "

"Aa. kakak apakah kata-katamu itu ?" tanya Giok Peng

tertawa. "Apakah bencana asmara adik Hiong itu dapat diserahkan kepada sang takdir atau nasib ? Tidak ! Kita manusia yang harus membuat dan menetapinya, kita harus mempunyai kekuatan untuk mengaturnya ! Kalau kakak menggunakan kimpay untuk mengekangnya, apakah yang dapat ia perbuat ? Dapatkah dia dibiarkan sekehendak hatinya

?..."

Hatinya It Hiong bergetar mendengar suaranya Giok Peng itu. Ia baru saja ingat halnya selama ia merawat diri di Pek Sek Touw bersama Tan Hong. Untuk membikin tenang hatinya si nona terutama Kiauw In, ia lantas berkata, "Kakak untuk selanjutnya didalam segala hal, akan aku mendengar kata- kata kalian berdua. Aku harap aku tidak sampai melakukan sesuatu yang melawani garis."

Giok Peng mengawasi si adik terus ia menoleh kepada Kiauw In tangannya dia tarik sembari tertawa dia kata : "Lihat kakak ! Lihat makin lama dia makin bermuka tebal ! Hanya kata-katanya makin lama makin sedap didengarnya."

Kiauw In tidak menjawab, ia melainkan tersenyum.

Demikian halus budi Pekertinya. Kalau toh kemudian ia membuka mulutnya, inilah kata- katanya.

"Sekarang sudah bukan siang lagi, mari kita beristirahat. "

Dan ia menarik Nona Pek buat diajak memisahkan diri dari It Hiong.

Malam itu orang menumpang di rumahnya Liok Cim.

Esok paginya baru ayam berkokok, ketiga tamu-tamu ini sudah bangun dari tidurnya untuk mencuci muka, bersisir dan berkemas-kemas akan akhirnya berpamitan dari Ba Eng Cung Liok Cim dan mengajak dua orang Lek Tiok Po berangkat menuju Kiu Kiong San, gunung mana berada diperbatasan kedua propinsi Ouwpak dan Kungsy.

Sedangkan Lek Tiok Po pernahnya dialiran bawah sungai Tiang Kang, di Siang Cui Pa di belakang bukit Siauw Kok San.

Maka juga mereka berlima dapat berjalan bersama-sama dari Lao sie pang diluar kota kecamatan Lui yang Oawlam, Giok Peng hendak pulang ke Lek Tiok Po, It Hiong mau pergi ke Kiu Kiong San dari itu sesampainya di Hongyang Ouwpak, habis melewati kota itu, mereka berpisah.

Sekarang marilah kita ikuti dahulu Tio It Hiong bersama nona Cio Kiauw In. Pada suatu hari, tiba mereka sudah di jalan besar yang terpisahnya dari Kiu Kiong San tinggal kira lima lie. Disini buat sedetik mereka merunduk ditepi jalan. Itulah disebabkan mendadak saja mereka melihat seorang penunggang kuda yang kabur mendatangi, terus melewatinya sambil dia itu mengawasi si pemuda. Dia bertubuh besar dan pakaiannya ringkas. It Hiong merasa mengenali orang itu cuma ia tidak lantas mengingat-ingat. Justru itu penunggang kuda itu telah kembali dan tiba di depannya, dia menghentikan kudanya terus dia lompat turun untuk memberi hormat sambil menyapa, "Tio Sute ! Sejak kita berpisah apakah kau baik-baik saja ? Kau membuat kakakmu bersengsara mencarimu !"

Sute.. itu ialah panggilan buat adik seperguruan.

Mendengar suara orang itu, It Hiong berdiri berendeng bersama Kiauw In untuk mengawasi orang itu, selekasnya ia telah melihat tegas, ia nampak tercengang saking girang.

"Whie Suheng !" serunya. "Bagaimana ! Bagaimana kita dapat bertemu disini ? Apakah paman Beng baik-baik saja ?"

Orang itu ialah Whie Hoay Giok. Dia tidak segera menjawab hanya dia mengeluarkan sapu tangan akan menghapus peluh serta debu di mukanya. Setelah itu dia nampak lelah sekali, karena berduka. Dia menghela napas.

"Suhu ?" katanya balik bertanya. "Jiwa suhu sekarang sedang terancam, bahkan dia mungkin merembet-rembet kau, sute.. panjang untuk menuturkannya..."

"Suhu" ialah bapak guru.

Hoay Giok berhenti bicara untuk menatap muka orang. Agaknya sulit dibuatnya berbicara terus. Tentu sekali itu membingungkan It Hiong.

Kiauw In banyak pengalamannya, ia dapat menerka hati orang. "Adik" kata ia kepada It Hiong, "mari kita pergi ke dusun itu, ke sebuah warung. Supaya di sana leluasa kau bicara dengan kakak seperguruanmu ini."

"Bagus ! Bagus !" berseru Hoay Giok sebelum suara si nona berhenti. "Mari"

It Hiong mengangguk. Maka bertiga mereka berjalan bersama, Hoay Giok menuntun kudanya.

Hanya sebentar, tiba sudah mereka didusun di depan itu.

Langsung mereka memasuki sebuah rumah makan lantas mereka memesan barang santapan serta sepoci arak. Syukur tamu-tamu lainnya hanya dua tiga orang saja.

Habis menenggak secawan anggur, It Hiong mulai bicara. "Suheng, kenapa kau tiba disini ?" demikian tanyanya. "Ada

tejadi apakah atas diri Paman Beng? Apakah ia kembali diganggu kawanan kuku garuda itu ?"

Yang dipanggil Paman Beng itu ialah Beng Kauw alias Koa Eng.

"Bukan..." sahut Hoay Giok yang pun habis mengeringkan cawannnya, "suhu bukan diganggu kawanan garuda hanya ia terjatuh dibawah pengaruhnya bajingan Jalan Hitam yang memaksanya untuk berdaya mencari sute yang mereka itu tantang berkelahi..."

It Hiong terkejut berbareng bersusah hati sampai meneteskan air matanya. Kata ia seorang diri perlahan : "Paman Beng adalah tuan penolongku satu-satunya, jika atas dirinya terjadi sesuatu meski aku pertaruhkan jiwaku mesti aku menolongnya. " Maka terus ia bertanya, "Suheng, lekas kau bicara ! Siapakah kawanan bajingan itu ? Apakah sebabnya maka Paman Beng terjatuh dibawah pengaruhnya ? Dan kenapakah aku turut terbawa-bawa ?"

Kembali Hoay Giok menghela nafas.

"Nanti aku tuturkan dari mulanya, adik" sahutnya. "Ketika itu hari, suhu berpisah dari kau di lembah Pek Hai Kok lantas suhu tinggal berobat dirumahnya tetua Yan San it Tiauw Ngo Pak San. Suhu sembuh selewatnya dua bulan. Lantas suhu mengatakan mau pergi ke Kwan hwa buat suatu urusan guna memenuhi janji dan aku diperintahkan merantau buat mencari pengalaman. Berselang setengah tahun, pada suatu hari aku tiba dikaki gunung Ciong Lam San, dimana secara kebetulan aku bertemu dengan Ga Tauw Kong murid bukan imam dari Pauw Pok Toa tiang dari Ceng Shia Pay. Ia tengah mengejar seorang laki-laki yang cara berdandannya aneh, beda daripada kita. Dia mempunyai kepala dan mata yang kecil. Aku pegat dia dan merobohkannya dengan satu totokan jalan darah.

Atas pertanyaan dia mengaku bahwa dialah orang cebol dari jalan hitam dan habis melakukan pembunuhan dan dia kepergok Ga Tauw Kong maka dikejar itu. Dia mengaku sebagai muridnya partai Lo Sat Bun di Ay Luo San. Dialah yang memberitahukan bahwa guru kita telah terkurung didalam goanya partai itu."

It Hiong terkejut berbareng heran.

"Kalau suhu pergi ke Kwa gwa kenapa sebaliknya ia tertawan di Ay Luo San ?" tanyanya.

"Itulah anehnya !" sahut Hoay Giok. "Aku menyangsikan keterangannya penjahat itu. Kemudian aku pergi mencari keterangan tetapi aku tidak memperoleh kepastian..." Hoay Giok menenggak pula araknya guna mencoba melenyapkan pepat hatinya.

Kiauw In menunda sumpitnya.

"Kenapa saudara Whie tidak pergi langsung ke Ay Lao San

?" tanyanya. "Bukankah itu lebih mudah untuk memperoleh kepastiannya ?"

Hoay Giok menatap si nona.

It Hiong segera berbangkit dan kata, "Maaf suheng, karena pikiranku kacau, belum sempat aku mengajar kenal kepada kalian. Inilah kakak Kiauw In, kakak seperguruanku."

Menyebut "kakak seperguruan" itu, It Hiong rada likat, mukanyapun bersemu merah. Ia merasa tak enak hati sebab ia tidak bicara terus menjelaskan bahwa si nona adalah tunangannya. Ia likat.

Kiauw In pun tunduk, mukanya pun bersemu merah.

Hoay Giok cerdas, ia dapat menerka tetapi ia tidak mengatakan apa-apa.

"Sebenarnya aku memikir seperti katamu Nona Cio" ia melanjuti keterangannya. "Telah aku pergi ke Ay Lao San. Malu buat memberitahukan kalian, aku tidak punya guna, di sana didalam satu pertempuran aku kena dikalahkan..."

It Hiong melihat muka orang merah jengah.

"Jangan menyesal, kakak" katanya menghibur. "Memang kepandaian seseorang tidak ada batasnya, seperti gunung yang satu lebih tinggi dari pada gunung yang lain. Kekalahan bukan hal yang memalukan. Kakak, siapakah itu yang kakak tempur dan dia dari partai mana ?"

Lagi-lagi Hoay Giok menarik napas panjang.

"Dialah tongcu, ketua nomor empat dari Lo Sat Bun" ia mengasi keterangan. "Dia Lou Hong Hai gelar Lap Ciu Koan Im atau Koan Im galak. Dia lihai sekali. Telah aku melayani dengan menggunakan seratus dua puluh jurus Lohan Ciang dan ilmu golok Lohan Kun hoat, selewatnya kira dua jam, akhir aku kena dirobohkan. Dia telah menggunakan dua rupa ilmunya yaitu tangan Im Yang Ciang dan Lo Sat Khiekang. "

Lo Sat Bun ialah partai Rakas atau raksasa.

"Toh kakak dapat lolos dan kabur dari gunung itu ?" tanya It Hiong heran.

Hoay Giok minum pula araknya. Ia menepuk meja ketika ia menjawab adik seperguruannya itu.

"Whie Hoay Giok kalah tetapi dia bukannya si manusia yang takut mati, yang cuma mau hidup saja !" katanya keras. "Juga nasib guru kita masih belum diketahui, mana dapat aku berhenti berdaya dan meninggalkannya pergi ? Bahkan aku memikir buat mengadu jiwa asal suhu dapat ditolongi !"

"Kalau begitu" kata It Hiong, "Karena kau tidak sanggup melawan wanita kosen itu bukankah kau telah menggunakan akal ? Nah, akal apakah itu ?"

"Kau cerdas adik, kau dapat menerka walaupun belum seluruhnya !" Hoay Giok memuji. "Bahkan dari mulutnya Lap Chiu Koan Im aku mendengar halnya Kiu Cie Hai Hoan Keng Su sudah masuk kedalam partai itu. " "Keng Su itu sangat jahat" berkata It Hiong. "Semasa digedung hamba di Hap hui telah aku tebas kutung masing- masih sebelah lengan dan kakinya maka itu seorang cacat sebagai dia, masihkah dia dapat melakukan kejahatan ?"

"Sabar adik" berkata Hoay Giok. "Nanti aku memberikan penjelasanku, setelah itu kita akan pikir bagaimana baiknya membantu suhu..."

It Hiong bersedia mendengari keterangan kakak seperguruannya itu, maka bersama-sama Kiauw In, ia memasang telinga.

Menurut Hoay Giok, ketika ia sampai digunung Ay Lauw San, selagi ia mau menyerbu masuk kedalam gua, ia bertemu dengan Lap Chiu Koan Im Lon Hong Hai, ketua nomor empat dari Lo Sat Bun, kaum "raksha" itu, maka berduel mereka lantas bertarung selama hampir dua jam. Ia baru kena dikalahkan sesudah Lou Hong Hai menggunakan tipu-jurus silatnya Im Yang Ciang dan Lo Sat Khie Kang. Saking berduka, ketika itu ia menggigil seluruh tubuhnya. Hampir ia nekad membuang diri ke jurang. Di saat genting itu, ia ingat gurunya, maka batal ia berlaku nekad. Hendak ia mencari tahu dahulu tentang gurunya itu. Karena itu ia tidak menggunakan kekerasan, ia memikir menggunakan cara halus. Demikian sesudah melarikan diri, ia kembali ke mulut gua. Di sini ia berteriak berulang-ulang : "Kiu Cie Hai Hoan Keng Su mari keluar ! Mari kau menepati janji!"

Lou Hong Hai yang muncul pula. Datang-datang dia membentak : "Eh, bocah ! Bukannya kau pergi kabur, kau berkaok-kaok disini ! Apa maumu ?" "Aku ingin bertemu dengan Keng Su." Hoay Giok bertahan.

Ia tidak perduli yang ia bentak bekas lawannya itu. "Kami berdua telah berjanji menjelaskan urusan kami. Tolong Lou Tongcu menyampaikan kabar kepada Ken Su supaya dia keluar menemui aku. Sukakah tongcu menolong?"

Lou Hong Hai membenci orang berlaku kasar maka itu mendengar suara halus bekas pecundangnya, suka dia melayani bicara.

Begitulah dia bertanya, "Sebenarnya, siapakah kau ? Kau mempunyai sangkutan apa dengan Kiu Cie Hai Hoan Keng Su

?"

Hoay Giok suka berlaku terus terang. Ia menyebut namanya sendiri serta nama gurunya.

"Ha ha ha !" tertawa tongcu nomor empat itu. "Beng Koa Eng ? Dia sudah kena diperdayakan Keng Su ! Dia telah dikurung disini !"

Panas hatinya Hoay Giok, dia mengertak gigi sebisa-bisa menahan sabar. Dia tahu, percuma dia berkeras. Sudah terang dia kalah dari orang she Lou itu.

"Tidak, aku tidak percaya !" kata dia, menggunakan akal. "Dengan sepasang Thin pit senjatanya yang berupa alat tulis itu, guruku telah menjagoi di dalam dunia Sungai Telaga, mustahil dia roboh ditangannya Keng Su ? Aku harap Lou Tongcu tidak bicara secara sembarangan saja !"

Kembali Hong Hai tertawa. Dengan jumawa ia kata, "Tak usah Keng Su menggerakkan tangannya sendiri buat dia sudah cukup asal dia mengatur tipu dayanya yang istimewa !" "Memang gurumu seorang Kang Ouw kawakan dan tersohor tetapi dia toh roboh mirip seorang bocah hingga dia terkurung disini. Coba pikir bukankah itu lucu ? Ha ha ha ha."

"Lou Tongcu" kata Hoay Giok, "benarkah kata-katamu ini ?

Kalau benar dapatkah kau memberi buktinya ?" "Bocah, kau cerdik !" kata Hong Hai tertawa. "Baiklah, akan aku mengasi lihat padamu !"

Tongcu nomor empat ini lantas berpaling kepada budaknya buat mengatakan sesuatu dengan sangat perlahan, atas mana budak itu segera mengundurkan diri.

Tidak lama maka terdengarlah suara besi beradu dengan lantai, menyusul itu tampak tibanya seorang yang tubuhnya besar dan jangkung yang mukanya bengis dan licik.

Dia mengenakan lengan kanan dan kaki kirinya dengan besi pancangan hingga dia sukar berjalan dengan tindakan kaki seperti biasa, dia mesti lompat berjingkrakan sekali dengan sekali atau acul-aculan !

Hoay Giok belum pernah melihat Keng Su, ia mengawasi dengan bengong kepada orang yang baru muncul itu yang tampangnya aneh.

"Heng Tongcu telah datang !" terdengar suara Lou Hong Hui. "Nah, bocah ingin aku ketahui kau mempunyai urusan apa dengannya yang hendak kau bereskan ?"

Keng Su sementara itu membawa sikapnya acuh tak acuh.

Dengan suara tawar, ia menyapa Hoay Giok. "Eh, bocah, apakah kau muridnya Beng Koa Eng ?" demikian tanyanya. "Apakah orang semacam kau tepat untuk berurusan dengan musuhnya si orang tua ialah Tio It Hiong si bangsat kecil muridnya Tio Cio si imam tua bangka ?"

"Oh, bangsat tua she Keng !" membentak Hoay Giok gusar. "Kau telah memperdaya guruku, kau telah memancingnya hingga guruku datang kemari masih kau bilang kita berdua tidak mempunyai urusan ?"

Habis berkata anak muda ini menghunus goloknya seraya melompat maju.

Kiu Cie Hui Hoan tertawa dingin dan menyeramkan. "Coba tanya pada dirimu sendiri berapa tinggi sudah

kepandaianmu hingga kau sanggup berkelit dari gelang

terbangku ?" kata dia mengejek. "Baiklah jika kau memikir buat mampus ! Akan aku pakai senjata guru pit besi Tin pai hong untuk melayani kau beberapa jurus saja !"

Berkata begitu Keng Su menggerakkan tangannya berbalik maka dilain saat tangannya itu telah tergenggam sepasang alat tulis dari besi yang dinamakan Bung Ciang pit !

Melihat senjata itu, Hoay Giok ingat kepada senjata gurunya, yang buat beberapa puluh tahun senantiasa menjadi genggaman gurunya. Ia menjadi gusar sekali. Ia lantas menerka mungkin benar gurunya telah orang celakai. Saking bersedih dan berkuatir, tanpa merasa ia mengeluarkan airmata. Disitu ia berdiri menjublak.

Kiu Ciu Hui Hoan mengawasi, ia tertawa dingin. "Eh, bocah buat apa kau menangis ?" ejeknya. "Gurumu masih belum kehilangan jiwanya." Tak sanggup Hoay Giok mengendalikan diri lagi. Ia berlompat maju untuk mulai dengan penyerangannya. Dengan goloknya sebatang ia menggunakan tipu bacokan, "Sang Badai Menyampok Hujan Menyamping" membacok pundak orang berwajah bengis itu.

Keng Su melihat golok menyambar ia menanti sampai senjata itu hampir mengenai sasarannya, ia berlompat berkelit berbareng dengan mana sebelah pitnya - yang kiri - dipakai menangkis keatas niatnya untuk membuat senjata lawan itu terbang pergi.

Kedua senjata beradu dengan keras sampi meletiklah percikan apinya.

Hoay GIok mundur tiga tindak, tangan kanannya bergemetaran sesemutan.

Keng Su pun berlompat mundur dengan kaki besinya itu. Ia merasakan tenaga si "bocah" bukan sembarang tenaga.

Habis itu Hoay Giok maju pula menyerang dengan sebuah tipu dari golok Lohan To hoat atau lima golok arhat, namanya Batu Bandel Mengangguk.

Keng Su tahu orang bertenaga besar tak sudi ia mengadu tenaga pula. Ia berkelit kesisi darimana segera ia memperdengarkan suaranya nyaring : "Aku si orang tua tak sempat melayani kau main-main, tetapi jika kau ingin menyelamatkan jiwanya si orang she Beng, kau mesti dengar kata-kataku !"

Mendengar demikian si anak muda tak mendesak lagi. "Siluman tua she Keng kau hendak bicara apa ?" tegurnya. "Kau bicaralah !"

Keng Su tertawa seram.

"Baik kau ketahui bocah !" katanya. "Aku si orang tua dengan si bangsat kecil Tio It Hiong itu aku mempunyai permusuhan hutang darah dan itu harus diberus, diselesaikan, cuma sekarang ini aku tidak mempunyai waktu luang buat mencari dia guna membereskannya, karenanya terpaksa aku menggunakan akal membekuknya. Aku membuatnya menjadi manusia tanggungan ! Asal si bangsat kecil Tio It Hiong datang kemari, akan aku segera bebaskan dia !"

Selekasnya Keng Su berhenti bicara terdengar pula suara besi beradu dengan lantai seperti suara datangnya dia tadi lantas dilain saat dia sudah tak tampak lagi. Habis bicara itu dia kembali masuk ke dalam gua, ke dalam sarangnya !

Menutur sampai disitu Hoay Giok mendongkol bukan kepalang, mukanya menjadi merah padam, ototnya sampai- sampai pada menonjol keluar, mandadak dia menepuk meja membuat cawan menari berjingkrakan, araknya tumpah, cawannya hancur di lantai !

Sepasang alis It Hiong juga bangun berdiri, tetapi ia tak berdiri diam saja. Hanya sesaat kemudian tampak airmatanya berjatuhan. Inilah karena ia membayangkan bagaimana penderitaannya Beng Koa Eng di dalam Lo Sat Tong. Gua Raksa dari Keng su di Ay Lao San, sedangkan ia menyayangi orang she Beng itu bagaikan ayahnya sendiri. Ia menjadi bingung, sudah mesti mencari kitab pedang gurunya, sekarang muncul perkara orang kosen kepada siapa ia berhutang budi besar. Kalau ia ayal-ayalan mungkin Hian Ho sempat berlari jauh dan menyembunyikan diri hingga sukar dicari atau Kao Eng akan terbinasa ditangan musuh. Atau lagi kalau Hian Ho mendapat cukup waktu ada kemungkinan dia sempat mempelajari ilmu pedang Sam Cay Kiam itu. Hian Ho bukan seorang bodoh bahkan pintar dan cerdik ! Dan kalau dia pandai Sam Cay Kiam itu membahayakan pertemuan di Tay San pada tanggal lima belas bulan kedelapan nanti !

Dalam bingungnya It Hiong terus menatap Hoay Giok.

Kiauw In mengawasi adik Hiongnya itu. Ia dapat menerka kesangsian si adik. Mengurus pamannya dahulu atau mencari kitab ilmu pedang ? Ia cerdas lantas saja ia mendapat pikiran. Maka ia tertawa dan kata, "Adik Hiong, di dalam keadaan seperti orang harus berlaku tabah ! Bukankah kau kenal pepatah yang berkata, Tiba berlaksa kesulitan, orang harus membesarkan nyalinya ? Kenapa sekarang kau bersangsi saja

?"

Hatinya It Hiong memukul mendengar kata-katanya kakak In nya. Ia lantas berpaling kepada si kakak dan menghela nafas.

"Aku seorang yang kasar dan kurang pengalaman." kata ia mengakui. "Kesukaran paman Beng membuatku putus asa. Di lain pihak aku dibingungkan urusan kitab ilmu pedang kita.

Kitab itu tak kurang pentingnya. Bagaimana aku harus bertindak ? Kakak In tolong kau memberikan petunjuk padaku. "

Ketika itu, Hoay Giok berkata pula. Dia sangat menguatirkan keselamatannya Kao Eng. Dilain pihak dia belum tahu artinya Sam Cay Kiam bagi It Hiong bertiga.

"Adik, apakah yang kau sangsikan pula ?" demikian katanya suaranya nyaring. "Suhu tengah terkurung, dia berada ditangannya orang-orang jahat dan kejam ! Kawanan bajingan itu tak mengenal kasihan ! Kita tak akan dapat hidup lebih lama pula andiakata terjadi sesuatu yang tak dikehendaki atas diri suhu ! Adik, mari kita pergi dahulu ke Ay Lao San ! Habis itu baru kita urus yang lainnya !"

It Hiong mengagumi kakak seperguruannya itu, yang semangatnya tebal. Sendirinya semangatnya terbangun juga. Maka ia dapat lantas mengambil keputusan.

"Kakak, mari kita pergi ke Ay Lao San !" katanya.

Kiauw In tersenyum melihat sikap orang itu serta keputusannya sesudah sekian lama si anak muda terbenam dalam kesangsian.

"Kakak Whie dan adik Hiong" demikian katanya sabar, "aku minta janganlah kalian begini bernapsu. Berlakulah tenang dan membuatlah kepala kalian dingin. Tak dapatlah kalau kita memikirkan pula dengan seksama ?"

Darahnya It Hiong dan Hoay Giok bagaikan tenaga bergejolak, keduanya menoleh mengawasi nona Cio.

Kiauw In tertawa, sikapnya tenang dan wajar.

"Kakak Whie dan adik Hiong, tenanglah" demikian katanya sabar sekali. "Dalam hal ini kita harus berlaku sabar dan teliti, harus kita memecahkan persoalan dengan cermat. Tidak ada faedahnya kita bekerja dengan ragu-ragu..."

Hoay Giok tidak puas.

"Nona mempunyai daya apakah ?" tanyanya. "Aku minta sukalah nona menjelaskannya !" Kiauw In mengawasi pemuda itu.

"Saudara berdua mau pergi ke Ay Lao San buat membantu paman Beng. Itulah tugas suci kalian" katanya sabar, "walaupun demikian, tak usah saudara-saudara tergesa-gesa sekali. Menurut pandanganku, jiwanya paman Beng tidak terancam langsung, tidak dalam waktu yang pendek ini.

Bukankah ia tidak bermusuhan besar dengan Keng Su ? Kalau umpamanya Keng Su hendak merampas jiwanya, tak nanti dia menanti sampai sekarang ini ! Buat apakah dia berlarut-larut ? Musuh Keng Su ialah adik Hiong ! Dia telah kehilangan sebelah lengan dan kakinya, pasti dia tak lagi dapat bergerak dengan bebas ! Dengan kelemahannya itu mana dapat dia merantau mencari adik Hiong ? Disebelah itu, masih ada soal ilmu silatnya. Taruh kata dia telah melatih diri dengan hebat, dia tetap kurang kepercayaan atas dirinya bahwa ia akan sanggup mengalahkan adik Hiong. Maka itu, guna menuntut balas, dia mengharapi bantuannya kaum Lo Sat Bun, terutama hendak mengandalkan pelbagai alat rahasia partai raksasa itu ! Dia harus membuat orang bercelaka kalau dia mau berhasil membuat pembalasan ! Begitulah dia menggunakan akalnya ini, menawan dan menahan paman Beng kalian itu, membuat pamanmu itu sebagai manusia tanggungan ! Adik Hiong mau diumpamakan ikan yang nanti menyebar pancing dan menelannya. Kalau ikan belum makan pancing, mana mungkin umpannya dibinasakan terlebih dahulu ? Nah, kalian pikirilah, benar atau tidak pikiran ini..."

Hoay Giok dapat berpikir. Ia melihat alasan si nona tepat. "Jadi, nona" kata ia sabar, "menurut nona kita pergi dahulu

ke Kui Kiong San ?"  Kiauw In mengangguk. "Ya, kita bekerja dengan mengimbangi keadaan" sahutnya. "Buat bekerja, kita harus pilih mana yang lebih penting dan mana yang harus didahulukan ! Umpamanya kitab pedang Sam Cay Kiam. Ilmu pedang itu bisa melukai orang banyak kalau sampai dapat dipahamkan orang jahat. Bicara tentang orang banyak, itulah tak ada batas jumlahnya. Waktunya pula mendesak ! Makin lama kitab berada ditangan orang, makin banyak kesempatan buat dia mempelajarinya dan makin banyak kesempatan buat mempelajarinya hingga sempurna ! Bagaimana dia dapat dikekang kalau dia telah menjadi lihai sekali ? Celakalah dunia persilatan yang lurus. Maka itu, perlu kita pergi dahulu ke Kui Kiong San. Buat pergi ke gunung itu kita membutuhkan waktu tidak sampai dua hari maka kita akan tiba di sana dalam waktu yang sesingkat. Sesampai di vihara Siang Ceng Koan di Hoyong ciang itu kita akan bekerja secara seksama. Aku harap dengan waktu hanya lima atau tujuh hari, akan sudah selesai usaha kita ini. Bagaimana andiakata kita pergi dahulu ke Ay Lao San yang jauhnya enam atau tujuh ratus lie yang dibutuhkan waktu sepuluh sampai setengah bulan ? Tungkul kita pergi ke Ay Lao San maka ada kemungkinan Hian Ho telah kabur dan bersembunyi entah kemana. Habis kemanakah kita harus mencarinya ?"

It Hiong kagum sekali. Sungguh beralasan kata-katanya kakak In itu.

"Kakak, kita berdua benar-benar bangsa kasar" katanya pada Hoay Giok. "Mana kita sanggup memikir teliti seperti kakak In ini ? Maka itu sekarang, bagaimana pikiran kakak ? Setujukah kita pergi dahulu ke Kiu Kiong San ?"

Hoay Giok telah mulai tenang diri, maka itu dapat ia lantas menjawab : "Baik" sahutnya. "Baik kita turut pikirannya kakak In !" Nona Cio tertawa.

"Masih ada satu pikiranku" katanya. "Entah bagaimana kakak Whie.."

"Aku dan saudara Tio ada seumpama saudara kandung" kata Hoay Giok sungguh-sungguh, "kalau ada sesuatu yang aku harus kerjakan kalian bilanglah, tidak ada halangannya buatku !"

"Kakak Whie, kenalkah kakak dengan adik Pek Giok Peng ?" Kiauw In tanya.

"Apakah dia Nona Pek Giok Peng yang dikenal sebagai Siauw Yan Jie si walet mungil dari Lek Tiok Po ?" Hoay Giok balik bertanya.

"Tidak salah !"

"Tentang nona itu aku cuma baru dengar namanya. Belum ada kesempatanku bertemu dengannya..."

"Eh, kakak In, apakah maksudmu ?" sela It Hiong heran. "Tidak apa-apa !" sahut si nona tertawa. "Aku cuma

memikir meminta kakak Whie pergi ke Kiu Kiong San guna mencari tempat penginapan, buat dia menanti tibanya adik Peng itu. Setelah bertemu, berdua meraka lantas berangkat menyusul kita, buat mereka memberikan bantuannya. Kita harus jaga supaya kita tak putus hubungan satu dengan lain !"

It Hiong setuju. Lantas dia memberitahukan Hoay Giok tentang kakak Peng nya itu yang pulang ke Liok Tiok Po dalam beberapa hari ini pasti sudah kakak itu akan pergi Kiu Kiong San, karenanya haruslah mereka ada bersama.

Hoay Giok mengerti akan tugasnya itu, dia mengangguk- angguk, bahkan segera saja mengambil selamat berpisah buat berangkat terlebih dahulu.

Gunung Kiu Kiong San terletak melintang diantara kedua propinsi Hangsay dan Ouwoak, panjangnya beberapa ratus lie puncaknya tinggi, ada curamnya, ada lembah-lembahnya yang sunyi ada pula hutan serta jalan kecilnya yang berliku-liku.

Disitu ada bagian-bagiannya yang tak pernah orang datangi. Pula kabut biasa bagaikan menutup jalan sebab orang sukar melihat apa-apa, hingga selekasnya berada di gunung itu sukar mengenali arah....

It Hiong dan Kiauw In tiba di kaki gunung besoknya tengah hari. Itulah kaki gunung bagian selatan. Mereka tidak kenal puncak Hu yong ciang, karenanya mereka mesti tanya pada pencari kayu. Tapi beberapa orang yang ditanyakan semua menggeleng kepala. Hal itu menyulitkan mereka. Maka Nona Cio mesti menggunakan otaknya berpikir : "Kawanan tukang kayu tak dapat mendaki gunung lebih daripada setengahnya, tidak heran jika mereka tak kenal Huyong ciang" katanya. "Aku menerka pada bagian tertinggi atau teratas dari puncak utama. Maka itu adik, mari kita mendaki terus !"

Berkata begitu tanpa menanti lagi jawaban "Ya", Kiauw In lantas menarik tangan orang buat diajak berlari-lari naik.

It Hiong turut berlari.

Bagi mereka itu berdua jalanan sulit tidak menjadi soal. Dua-dua mereka sudah mahir sekali pelajaran mereka ilmu ringan tubuh Tangga Mega. Dan mereka berlari terus selama dua jam diwaktu mana barulah mereka tiba di pinggang gunung. Di sini mereka lantas melihat kelilingan. Mega dan kabut membuat mereka tak dapat melihat dengan tegas bahkan jalanan yang tadi mereka ambil pun seperti menyelinap hilang.

Untuk beristirahat mereka duduk diatas sebuah batu besar, merekapun sekalian mengisi perut mereka dengan rangsum kering yang dibekalnya. Sembari makan itu sering mereka memandang kesekitarnya. Terutama untuk melihat cahaya matahari yang telah mulai doyong ke barat tanda dari sang lohor.

"Mari, kita maju lagi !" kata si nona kemudian pada kawannya sembari ia tertawa menandakan kegembiraannya. "Mari kita lihat ada atau tidak vihara diatas gunung ini. Kalau tidak kita mencari gua untuk berlindung melewati sang malam..."

It Hiong berdiam nampak dia berpikir.

"Aku berpikir buat kita meneruskan perjalanan di waktu malam" katanya kemudian.

"Perjalanan malam boleh tetapi ingat inilah hutan dan disini pasti banyak binatang hanya terutama bangsa ular." berkata si nona. "Itulah bukannya perjalanan yang tiada bahayanya.

Laginya kita masih belum tahu dimana letaknya Huyong ciang. Apakah itu bukannya berarti perjalanan sia-sia belaka ?"

Berkata begitu, nona Cio bangkit berdiri, ia melihat pula kelilingan. Ketika itu angin gunung lagi bertiup-tiup kepada pepohonan hingga terdengar suaranya sayup-sayup. Kecuali suara sang angin diantara pepohonan itu seluruh gunung sunyi sekali. Justru didalam keadaan sunyi senyap itu tiba-tiba mereka berdua mendengar suara genta samar-samar..."

"Ah !" seru si nona gembira sekali. "Suara itu datang dari barat daya. Tentu di sana ada vihara atau rumah berhala !"

It Hiong memasang telinga. Masih sempat ia mendengar alunan genta itu, ketika ia berpaling kepada Kiauw In, ia melihat wajah kakak itu sangat gembira hingga kecantikannya mentereng sekali, kulit mukanya merah dadu, ayu dan agung. Itulah wajah yang mendatangkan kekaguman dan cinta kasih.

Tanpa merasa si anak muda melihat dan melihat lagi tak hentinya.

Kiauw In melihat orang menatapnya demikian rupa tanpa merasa hatinya berdenyut bukan main ia merasa bunga hingga mukanya menjadi seperti bertambah dadu.

"Eh, oh, kau kenapa ?" tegurnya. "Memangnya kau belum pernah melihat mukaku ini ?"

It Hiong bagaikan terasadar dari tidurnya. Ia jengah. "Tidak" sahutnya likat. Ia kuatir kakak itu gusar. "Hanya

aku lihat kakak pada pipimu yang kiri ada sujannya."

Nona itu bersenyum terus ia tunduk. Ia likat sendirinya ! "Mari !" kata si nona kemudian sesudah ia menarik pemuda

yang tampan itu. "Kau lihat sang maghrib akan segera tiba !"

Dan ia bertindak lebih dahulu. It Hiong mengebuti bajunya lantas mengikuti. Ia berjalan di belakang si nona hingga ia melihat satu petakan tubuh yang ramping sekali.

Berdua muda mudi itu berlari-lari ke arah dari mana suara genta terdengar tadi. Tidak ada yang bicara tetapi mereka manis sekali. Tanpa banyak lagak tetapi cinta mereka cinta murni...

Mereka berjalan terus sampai tanpa merasa si puteri malam mulai muncul. Entah berapa puncak dan rimba yang telah mereka lewati. Tiba-tiba mereka mendengar pula suara genta seperti tadi. Hal itu sangat menggairahkan hati mereka itu.

Teranglah akhirnya mereka tiba di tempat tujuan. Tiba-tiba saja semangat mereka mendapat kejutan luar biasa, bukan main gembiranya mereka.

Di depan mereka ada segundukan pepohonan lebat, suara genta datang dari dalam situ. Kesana mereka maju.

"Dua kali genta berbunyi" kata It Hiong perlahan. "Kakak, adakah itu pancingan untuk kita atau hanya kebetulan saja ?"

Kiauw In tersenyum.

"Mungkin itulah tanda waktu dari penghuni-penghuni rumah suci itu" sahutnya. "mungkin itu tanda mulai atau habisnya upacara sembahyang. Bagi kita itulah sangat kebetulan kita menjadi memperoleh arah kemana kita harus menuju."

Selagi bicara mereka sudah mulai memasuki tempat pepohonan itu, hutan pohon rimba yang bayangannya memain diantara cahaya rembulan yang bergeraknya lunak itu. Tak jauh dari kumpulan pepohonan itu lantas tampak sebuah jalanan yang terbuat dari batu kolar yang teratur rapi, yang menanjak naik dan berliku-liku. Di kiri dan kanan masih merupakan hutan bambu. Habis hutan itu adalah sebidang tanah terbuka yang bundar lebar yang terkurung dengan gunung. Ditengah-tengah itu terdapat bangunannya, ialah sebuah vihara yang tidak terlalu besar yang formasinya mengandal pada gunung.

Dari jauh tampak bangunan merupaka tiga gundukan, tengah dan kiri dan kanan. Yang kiri dan kanan itu tentulah tempat kediaman orang para beribadat dari vihara itu.

Dengan berani sepasang muda mudi ini berjalan terus menginjakkan kaki diantara Pekarangan rumput di depan vihara. Tembok Pekarangan ini kebetulan pintu kiri terbuat dari batu hijau. Di atas daun pintu sekali, pada tembokan batu hijau juga, terlukiskan dengan huruf-huruf besar air emas namanya vihara itu ialah vihara Kie Lek Hud. Di kiri dan kanan pintu pada batu hijau juga atau granit, terukirkan gambar dari pelbagai macam seperti rumput dan bunga, kutu dan ikan.

Daun pintu bercat hitam seluruhnya dan waktu itu sedang terkunci rapat. Berdiri di hadapan pintu, bayangan muda mudi itu terpetakan oleh sinarnya si putri malam. Buat sesaat, mereka berdua berdiri sambil berpikir : mengetuk atau jangan, untuk menumpang bermalam. Tentu sekali, sambil menumpang itu, mereka mau mencari tahu jalan untuk pergi ke Huyong ciang. mereka bersangsi sebab mereka pun mau mau menerka jangan-jangan vihara ini menjadi vihara terdepan, atau mata-mata dari kuil Siang Ceng Koan yang mereka hendak datangi. Kalau terkena hal itu berarti mereka memasuki gua harimau dan mudahlah mereka nanti dibikin celaka dalam gelap. It Hiong yang habis sabar.

"Kakak, buat apa kita berdiri menjublak disini ?" katanya kepada Kiauw In. "Baiklah kita ketuk pintu dan menjelaskan maksud kita ingin menumpang bermalam. Asal terus kita berwaspada !"

"Aku juga tidak dapat memikir lainnya jalan," sahut si nona. "Hanya ada satu soal, andia kata vihara ini bukan sarang penjahat dapatkah mereka mengijinkan orang perempuan bermalam disini?"

"Orang beribadat berhati murah mustahil ada semacam larangan !" kata It Hiong keras-keras.

Kiauw In tertawa.

"Kau lupa adik ! Bagaimana waktu kita bermula kali tiba di Siauw Lim Sie ?" katanya. "Bukankah waktu itu adik Peng dan aku dilarang menumpang bahkan dilarang memasuki pendopo lebarnya ?"

It Hiong ingat soal itu, ia jadi berpikir.

"Jika benar ada larangan semacam itu" katanya kemudian, "baik kita tanya saja jalanan ke Huyong ciang. Memangnya kita tidak memikir buat menumpang bermalam disini."

Begitu berkata tanpa menanti jawaban si nona, It Hiong melompat ke depan pintu sekali untuk ia meluncurkan tangannya kepada gelang pintu yang bermuka binatang, maka dilain saat berisik sudah suaranya gelang beradu pada daun pintu berulang-ulang. Setelah itu ia berdiri diam menantikan. Lewat sekian lama tidak ada orang yang muncul untuk menegur atau membukakan pintu. Habis suara berisik itu vihara sunyi seperti semula.

It Hiong jadi tidak puas maka ia membunyikan gelang pintu itu dengan terlebih keras hingga suara berisik itu mengalun jauh ke sekitar gunung, memecahkan kesunyian malam itu.

Lewat lagi sekian lama masih kesunyianlah menyambut ketokan pintu It Hiong itu. Tentu sekali hal ini membuatnya penasaran hingga hendak ia mengetuk pula sekeras-kerasnya. Tepat itu waktu, Kiauw In lompat pada si anak muda untuk mencegahnya.

"Kenapa sih tak sabaran begini macam ?" katanya. "Sudahlah !"

Baru berhenti suaranya Kiauw In atau ia dan kawannya dikejutkan suara tiba-tiba yang terdengar dari arah belakang mereka.

"Para tan wat, selamat pagi !" demikian satu suara sapaan. "Tan wat" ialah penderma atau pengamal dan oleh para

pendeta bisa digunakan sebagai panggilan umum kepada

orang yang ditemuinya.

Muda mudi itu memutar tubuh dengan kaget, tetapi mereka dapat menenangkan hati. Mereka lantas melihat orang yang menegurnya, yang mulanya mirip satu bayangan anak kecil.

Ternyata dialah seorang kacung pendeta. Dia menghadapi muda mudi itu sembari memberi hormat dengan merangkap kedua tangannya.

Berdua mereka lantas memberi hormat. "Tak usah banyak hormat bapak guru kecil !" berkata si nona yang terus menyambar lengannya It Hiong buat diajak turun beberapa undakan tangga.

It Hiong tidak puas maka juga ia kata didalam hatinya, "Kau pendeta cuma suaramu saja sedap didengar ! Kenapa kau tidak membuka pintu mengundang kami masuk hanya kau muncul secara tiba-tiba dengan diam-diam ? Lihatlah bagaimana caranya kau mengundang kami masuk ke dalam.

Ia tidak menjawab undangan itu.

Kacung pendeta itu lantas berkata pula, "Para tanwat, ketua kami mengundang tanwat masuk kedalam untuk minum teh !"

Kiauw In sebaliknya. Nona cantik yang luwes itu berkata : "Kami justru lagi minta menumpang barang satu malam !

Tolong bapak guru kecil memimpin kami..."

"Silahkan !" berkata pula kacung pendeta itu seorang suebie yang terus saja berlompat menaiki tangga hingga ia berada di muka pintu sekali diwaktu mana dengan satu gerakan tangannya, ia membuat daun pintu gerbang itu terbuka terpentang. Ia berdiri disisi pintu sambil mempersilahkan pula kedua tamunya, "Silahkan masuk !"

It Hiong lantas bertindak masuk diikuti Kiauw In. Semasuknya dari pintu gerbang itu pendopo pertama yang

It Hiong berdua memasuki adalah Wio To Tian, pendopo Veda

yang gelap dan sunyi.

Setelah mereka masuk kedalam, pintu gerbang tertutup sendirinya. Ketika itu cuma dari belakang pendopo itu tampak sedikit sinar terang. Maka It Hiong lantas mengeluarkan sumbunya buat menyalakannya, untuk dengan itu mereka bisa melihat jalanan. Si kacung pendeta sebaliknya lantas mengeluarkan sesuatu dari sakunya setelah ia kibaskan itu ditangannya tampak sebuah lentera mungil. Yang heran walau lentera itu - tongloleng- dapat menyala sendiri dan lilinnya dapat memberi penerangan sejauh dua tombak.

Dengan membawa lenteranya itu si kacung berjalan di muka. Kata ia sembari berjalan, "Para tanwat datang malam- malam kemari mungkin ada urusan penting yang hendak dibicarakan dengan ketua kami, bukankah ?"

"Tidak ! tidak ada urusan penting." sahut It Hiong. "Kami cuma ingin mohon bermalam disini !"

Heran pendeta cilik itu. Dia tertawa.

"Oo, seorang laki-laki sejati, kenapakah bicaranya ragu- ragu ?" Demikian katanya.

Mendengar demikian It Hiong segera berpikir : "Kacung ini masih sangat muda tetapi dia sudah cerdik sekali !" Sedangkan terhadap si kacung ia berkata : "Aku berbicara sejujurnya, tidak aku mendusta, harap bapak guru kecil dapat maklumkan kami !"

Kacung itu tidak bicara pula, dia hanya berjalan cepat menuju kedalam, ketika toh terdengar suaranya ia berkata- kata seorang diri dengan suaranya yang kurang lancar dan tegas : "Ilmu sakti Bii Cong dari suhu malam ini mungkin keliru." Kiauw In melengak mendengar kata-kata orang yang ia dapat tangkap dengan tegas.

"Bapak guru kecil," tanyanya, "apakah gelaran dari bapak guru kau itu ? Dapatkah kau memberitahu kepada kami ?"

"Mohon tanwat memaafkan aku, tak dapat aku memberitahukannya" sahut kacung pendeta itu. "Biasanya orang menyebut saja Lo hwesio, bapak pendeta yang tua, maka itu silakan tanwat berdua menyebutnya begitu saja."

Ketika itu mereka sudah tiba dihalaman dalam, yang berupa latar kosong, terus berjalan sampai di muka pintu tunsit, kamar peranti membuat obat. Di muka pintu sekali si kacung pendeta berdiri seraya mengangkat tinggi lenteranya, terus ia berkata dengan nyaring : "Suhu, kedua tamu yang terhormat sudah sampai !"

Dia memanggil "suhu" bapak guru pada gurunya itu. "Silahkan undang masuk !" terdengar suara dari dalam,

jawaban yang berupa perintah.

kacung itu menolak daun pintu untuk bertindak masuk. Ia mempersilahkan kedua tetamunya.

It Hiong dan Kiauw In bertindak masuk ke dalam kamar itu.

Di situ diatas pembaringan tanpa kelambu, mereka lantas mendapat lihat seorang pendeta tua sedang duduk bersila, pendeta mana mempunya wajah yang mengasi kesan sangat baik, yang janggutnya putih panjang sampai di dadanya. Dia pula nampak agung hingga siapa saja yang melihatnya pasti muncul rasa hormatnya. Sepasang muda mudi itu bertindak maju untuk memberi hormat. It Hiong yang berkata : "Aku yang muda Tio It Hiong dan Cio Kiauw In mengharap kebahagiaan bapak guru !"

Pendeta tua itu tertawa manis.

"Jangan pakai banyak aturan, tanwat berdua !" katanya halus. "Silahkan duduk !" Ia pula mengundang minum teh yang terus disuguhkan muridnya.

Dengan mengucap terimakasih, It Hiong berdua duduk disisi si pendeta. Mereka minum teh.

Ketika si anak muda hendak memberitahukan maksud kedatangannya, pendeta itu mendahului ia dengan berkata : "Tak usah tanwat menjelaskannya, aku si pendeta tua sudah ketahui ! Silahkan duduk, nanti aku pikirkan dahulu..."

It Hiong dan Kiauw In saling melirik. Mereka membungkam.

Pendeta tua itu duduk bersila, ia berdiam bagaikan tengah bersamadhi. Kira sehirupan baru terdengar tawanya, tak nyaring tetapi sedap didengar telinga. Setelah itu ia membuka mulutnya.

"Tan wat berdua mau pergi ke Hayong ciang, apakah tanwat sudah ketahui perihal kuil Sang Ceng Koan itu ?" demikian tanyanya.

It Hiong menggeleng kepala.

"Pengalamanku masih sangat sedikit, tentang itu belum dapat aku memikirkannya." sahutnya terus terang. "Siapa tahu lawan, dia tahu dirinya sendiri, itulah menyebabkan orang seratus kali berperang seratus kali menang !" berkata si pendeta tua. "Tentang pepatah itu baiklah tanwat perhatikannya dengan seksama. Maafkan jika aku si pendeta tua banyak mulut. Itulah pelajaran utama bagi siapa yang hendak memasuki dunia Sungai Telaga. Di dalam dunia Sungai Telaga terdapat banyak sekali kesesatan dan kesulitan..."

It Hiong berbangkit menjura.

"Aku yang rendah bodoh sekali" katanya hormat, "pendengaran dan penglihatanku sangat sedikit, maka itu aku mengharap bapak guru tidak berkeberatan akan memberi pengajaran atau petunjuk padaku.."

"Aku yang tua sudah mensucikan diri, maka juga telah lima puluh tahun lebih aku tidak campur lagi urusan dunia persilatan seumumnya." kata pendeta itu sabar. "Pula kamar obatku ini juga biasanya tidak menerima kunjungan tamu- tamu bukan orang beribadat. Barusan kebetulan aku tengah melatih ilmu Bii Cong maka tahulah aku tentang tibanya dua orang murid pandai dari Tek Cio To tiang. Ini berarti bahwa kalian telah memenuhi panggilan karma atau tanda dari permulaan dari kutukan pembunuhan kaum persilatan.