Iblis Sungai Telaga Jilid 14

 
Jilid 14

"Aku melihat dia lari bersembunyi ke belakang pohon kayu besar itu." Giok Peng memalangi kakaknya menyahuti. "Karena dia tidak mau keluar, kami membakar pohon itu, niatnya untuk memaksa dia menyusul dari tempatnya bersembunyi. Diluar kehendak kami justru menerbitkan kebakaran ini."

Orang tua itu nampak tidak senang.

"Kalian mempunyai kepandaian apa maka kalian berani mencampur tangan dalam urusan merampas kitab pedang Sam Cay Kiam ?" tegur orang tua itu. "Kamu berani membakar disini ! Tahukah kamu aturan tempat kami ini Lao sie peng ?"

Ditegur secara demikian Nona Pek menjadi tidak senang. "Lao sie peng toh bukannya istrinya Raja Langit ?" katanya

keras. "Dalam hal itu juga, nona kamu tak memperdulikan apa jua, juga tidak aturan di Lao sie peng ini !"

Matanya orang tua itu bersinar.

"Siapa main gila di Lao sie peng ini, ia mesti membuntungi sendiri tangannya !" katanya nyaring. "Siapa sudah menguntungi tangannya baru dia dapat berlalu dari sini !"

Kiauw In kuatir ketegangan itu memuncak. Itulah artinya berabe. Maka lantas ia menyela. Sembari memberi hormat ia kata sabar, "Sabar, paman ! Segala apa dapat kita damaikan. Inilah adikku, ia kurang pandai bicara. Paman menanyakan tentang imam picak itu, apakah maksudnya ? Sudikah paman memberikan keterangan padaku ?" Mendengar suaranya nona ini amarahnya si orang tua menjadi lantas berkurang.

"Buat apa si imam tua dicari kalau bukan buat urusan kitab pedang Sam Cay Kiam itu ?" demikian dia menjawab.

"Imam tua itu justru bersembunyi didalam semak di belakang pohon kayu besar itu" kata Kiauw In cepat. "Paman kenal baik tempat ini, bagaimana kalau kami turut bersama pergi mencarinya ?"

Tiba-tiba orang tua itu tertawa.

"Ah, anak, kau bicara mudah saja !" katanya. "Dia setolol kau ini !"

Berkata begitu, si orang tua menoleh ke arah api. Di sana orang kampung tengah memerangi memadamkan si ayam jago merah.

"Jika kalian hendak mencari dia" kata orang tua itu kemudian, "kalian harus pergi ke Ho yong ciang di gunung Kui Kiong San, didalam kuil Siang Ceng Koan ! Hanya, sebelum kalian pergi kalian harus bereskan dahulu urusan disini ! Kalian sudah bersalah menerbitkan kobaran itu ! Untuk itu kalian harus menebus dosa. "

Nona Cio mengendalikan dirinya untuk tidak menunjukkan kegusarannya.

"Aku mohon supaya kami diberi maaf karena kami kesalahan berbuat tanpa maksud sengaja" katanya, "jika toh dianggap ada kerugiannya kami bersedia menggantikannya secara pantas ! Kita sesama kaun rimba persilatan bukankan dapat kalau paman memberi muka kepada kami ?"

Tetapi orang tua itu membentak : "Apa yang aku ucapkan tak dapat itu diubah lagi ! Eh, bocah, kau siapakah ? Tepatkah orang semacam kau bicara secara lohan ?" Dia membahasakan dirinya lohan, artinya si orang tua.

Giok Peng habis sabar.

Sreeet ! demikian ia menghunus pedangnya. "Pedangku ini tidak mengenal segala aturan !" katanya

keras.

Kiauw In bertindak maju, menghalang diantara kawan itu dan si orang tua. Ia memandang si orang tua dan berkata sabar : "Kita tidak bermusuh satu sama lain, kita hanya baru pernah bertemu ditengah jalan ini, oleh karena itu buat apa kita menanam bibit permusuhan ? Aku minta dengan hormat agar paman menarik pulang aturan paman itu, supaya apa sudilah kau berlaku sabar luar biasa..."

"Hai anak-anak, apakah kalian pernah tengah main sandiwara ?" tanya si orang tua dingin. "Lohan tidak mempunyai banyak ketika akan melayani kalian ! Jika kalian kenal gelagat, lekas kalian kuntungi sendiri lengan kalian. Jika tidak, Hmm !"

Kata-kata itu diakhiri dengan satu gerakan tongkatnya, hingga terdengar siurannya angin tongkat itu.

Kiauw In berlompat mundur dua tindak. "Dilihat begini, tidak dapat tidak, kita mesti beradu tangan..." pikirnya, masygul. Lantas ia berpikir lebih jauh, matanya sampaikan berputar. Kemudian ia maju pula untuk berkata : "Baiklah, paman kami bersedia menuruti perintahmu untuk kami menanyakan she dan nama paman, supaya kami berdua mengenalnya !"

Orang tua itu menatap Kiauw In, wajahnya dingin sekali. "Baik !" sahutnya kaku. "Kalian dengar baik-baik dan

berhati-hatilah ! Akulah Siang Kung Bu Eng Thung Cim ! Nah,

tahukah kalian ?"

"Siang Kung" ialah nama tempat atau nama sungai dan "Bu Eng Thung" adalah gelaran yang berarti "Tongkat Tanpa Bayang", diambil dari arti, saking hebatnya tongkat itu digeraki sampai bayangannya pun tidak nampak.

Mendengar nama itu Giok Peng segera ingat kepada nama dari sahabat ayahnya. Maka segera ia masuki pedangnya kedalam sarung lantas sambil tertawa ia bertanya : "Bukankah paman masih ingat kepada Siauw Yan Jie dari Lek Tiok Po ?"

Liong Cim menatap nona itu, otaknya bekerja. Dia mengawasi dari atas ke bawah dan sebaliknya, agaknya dia hendak menegas benar-benar.

"Nona, kau pernah apakah dengan saudara Pek Lian Jie dari Lek Tiok Po ?" akhirnya dia tanya menegaskan.

"Ia adalah ayahku yang rendah" sahut si nona hormat.

Orang tua itu mengetahui anak sahabatnya, lantas dia tertawa. "Kami baru berpisah sepuluh tahun, siapa sangka sahabatku telah mempunyai seorang putri remaja sebesar kau, anak !" katanya. "Dan kau muncul pula dalam dunia Sungai Telaga ! Apakah ayahmu baik-baik saja ?"

"Terima kasih, paman !" sahut si nona. "Dengan berkah paman, ayah tak kurang suatu apa ! Tapi, paman jika tidak ada titah apa-apa lagi dari paman, perkenankanlah aku memohon diri !"

Liong Cim terdiam, ia seperti ingat sesuatu apa.

"Ah !" serunya kemudian. "Aku ingat sekarang ! Anak, tak carai itu terasangkut sekarang kau harus mampir dahulu ke gubukku. Kebetulan ada orang Lek Tiok Po datang, perempuan mencari kau..."

Giok Peng terperanjat.

"Apakah mereka masih ada dirumah paman ? " tanyanya. "Entah mereka sudah berangkat pergi atau belum. Paling

benar ialah kalian turut aku."

Selama itu api telah dapat dikendalikan, tetapi Hian Ho tak tampak, orangnya tidak, mayatnya tidak juga .

"Pesan mereka itu kalau api sudah padam betul, mereka boleh pulang" kata Liok Cim pada salah seorang bawahannya yang disuruh pergi kepada orang-orang yang asyik memadamkan api, "Aku mau pulang lebih dahulu."

Orang itu menyahuti "ya" dan berlalu. "Nah, anak, mari kita berangkat !" Orang tua itu mengajak Giok Peng dan Kiauw In.

Nona Cio sendiri sudah menemui orang tua itu dari baru, lalu ia memberi hormat, seraya memperkenalkan diri kemudian dengan ditarik oleh Giok Peng, ia berjalan berendeng dengan kawannya itu mengintil di belakang si orang tua.

Lao sie peng adalah sebuah dusun dikaki bukit, rumahnya ada yang merupakan gua-gua karang, penduduknya seratus keluarga lebih, warungnya dua atau tiga puluh buah, jalan besarnya cuma satu terbentang ditengah-tengah. Yang lainnya jalan kecil.

Setibanya didalam dusun, sembari jalan Liok Cim memberi keterangan kepada kedua nona tentang dusunnya itu. Tanpa merasa berjalan dan tiba-tiba dari sebuah rumah makan muncul seorang muda yang berlari ke arah mereka !

Kiauw In adalah yang dahulu melihat pemuda itu, ia terperanjat hingga ia mengeluarkan seruan tertahan setelah mana ia berlompat maju untuk memapaki guna menyamber tangan orang.

"Adik Hiong !" serunya.

"Ah, kakak !" si anak muda pun berseru. Karena dialah It Hiong yang ketika itu pikirannya kurang terang. Disatu pihak  ia ingin menyusul Hian Ho Cinjin dilain pihak ia menyingkir dari Tan Hong. Dia sebenarnya tidak melihat Nona Cio sampai si nona menghadang dan menyapanya. Sudah tentu dia terkejut berbareng girang bertemu kakak In nya. "Kakak kenapa kau disini ?" tanyanya setelah lenyap herannya.

Giok Peng sementara itu sudah lantas menghampiri.

"Adik Hiong !" tegurnya tanpa memperhatikan wajah orang, "bagaimana sih pikiranmu ? Kenapa kau berlalu tanpa mengatakan sesuatu ? Kau membikin kami sangat memikirkan dan menguatirkanmu, tahu ?"

Justru itu nona ini ingat kepada Liok Cim yang menyusulnya yang sudah lantas di belakangnya, mukanya menjadi merah sendirinya. Ia jengah yang ia berlaku demikian akrab dengan anak muda itu.

It Hiong girang bukan kepalang meliha kedua "kakak" itu, banyak yang ingin utarakan dan tanyakan, akan tetapi melihat diantaranya ada seorang tua, ia dapat mengendalikan hatinya.

Giok Peng segera mengajar kenal kedua belah pihak, It Hiong dengan si orang tua.

"Sungguh kebetulan !" berkata Liok Cim girang sekali. "Kalian telah bertemu di Lao sie peng ini! Nah, silahkan kalian turut aku ke gubukku, harap jangan sungkan !"

It Hiong menerima baik undangan itu, ia menghaturkan terima kasih.

Si orang tua lantas berjalan di muka memimpin mereka itu. It Hiong memikir untuk menampik undangan itu tetapi

Kiauw In, yang melihat gerak geriknya sudah lantas kepadanya : "Adik Hiong jangan tergesa-gesa ! Kami sudah diketahui dimana beradanya kitab ilmu pedang kita ! Paman ini baik sekali, jangan tolak kebaikannya, mari kita pergi ke rumahnya dimana kita dapat omong-omong dengan leluasa. Juga ada orang dari Lek Tiok Po yang mencari adik Peng dan mereka sekarang berada dirumahnya paman..."

It Hiong heran juga.

"Baiklah ! "sahutnya. Ia mengucap terima kasih kepada orang tua itu, lantas ia berjalan mengikuti. Ia menerka mestinya Kiauw In hendak membicarakan sesuatu kepadanya. Memangnya ia paling menghargai kakak seperguruan ini.

Belum lama, habis menikung disebuah pengkolang, tibalah mereka di depan sebuah rumah besar yang berPekarangan banyak pepohonan hingga mirip terkurung rimba. Pekarangan itu luas.

Ketika itu lewat lohor, burung-burung sudah mulai pulang ke sarangnya masing-masing dan bunga-bunga mulai mekar, pemandangan alam menjadi indah. Suasana yang tenang sekali hingga siapa juga merasa nyaman dan pikirannya terbuka.

Tuan rumah mengundang ketiga tetamunya memasuki ruang tamu-tamu dan mempersilahkan duduk bersama, sedang pegawainya sudah lantas datang menyuguhkan air teh, hingga mereka lantas dapat membasahkan kerongkongan mereka.

Habis itu Giok Peng lantas minta tuan rumah memanggil keluar orang dari Lek Tiok Po buat ia segera menemuinya dan menanyakan apa maksudnya datang mencarinya.

"Ha, hampir aku lupa !" berkata Liok Cim tertawa. Lantas ia menoleh kepada kacungnya yang ia suruh lekas memanggil datang orang dari Lek Tiok Po itu. Sembari tertawa kemudian ia kata pula : "Keponakanku, tabiatmu sama dengan tabiat ayahmu ! Maka itu melihat kau, anak, aku bagaikan melihat sahabatku itu !"

Giok Peng tersenyum. "Paman bisa saja !" katanya.

Ketika itu muncullah orang dari Lek Tiok Po, dua orang. Setelah melihat nona, mereka itu lantas memberi hormat sambil yang seorang berkata : "Nona, kami dititahkan mencari nona ! Kami telah pergi ke sekitar Sam Siang tak tahunya kita bisa bertemu disini. "

Mendadak hamba itu berhenti bicara. Ia menoleh kepada It Hiong, agaknya dia ragu-ragu.

"Lekas bicara !" Giok Peng mendesak. "Sebenarnya ada urusan apakah ?"

Masih dua orang itu bersangsi, masih mereka suka mengawasi si anak muda.

It Hiong menerka sesuatu, lantas ia kata hambar : "Saudara, bicaralah terus terang tak peduli urusan mengenakan diriku ! Jangan takut, tak akan aku sesalkan kau

!"

Kiauw In berdiam sekian lama, segera ia bisa menerka.

Maka ia tertawa dan turut bicara.

"Bukankah urusanmu itu disebabkan Gak Hong Kun telah datang mengacau ke Lek Tiok Po ?" demikian tanyanya. Giok Peng terkejut. Dia lantas membanting kaki.

"Urusan apakah ?" tanyanya keras. "Kenapa kamu beragu- ragu ? Bicara ! Kamu mau main gila, ya ?"

"Benar, urusan mengenai Gak Hong Kun." sahut orang Lek Tiok Po itu akhirnya. Nampak ia menyesal. Karena nonanya itu malah bergusar, mereka lantas tak berayal pula memberi keterangannya.

Duduk halnya ialah begini. Gak Hong Kun putus asa sesudah mencuri kitab pedang Sam Cay Kiam mencintainya. Urusan itu membuatnya bergusar salah bergirang tak bisa. Pikirannya menjadi kacau hingga dia menjadi mendongkol tanpa sebab.

Toh tetap dialah seorang yang berotak cerdas. Dia insyaf kesukaran hatinya itu bisa mencelakai dirinya sendiri. Maka tak dapat ia membiarkan hatinya dipengaruhi terus menerus. Lantas dia mengambil satu keputusan. Jalan meninggalkan gunung Heng San dan memasuki dunia Sungai Telaga.

Perantauan mungkin akan melegakan hatinya.

Diluar keinginannya, di Ouwlam barat dia justru bertemu dengan Giok Peng yang lagi bertempur dengan Cin Tong dan rombongannya. Sendirinya dia memberi bantuannya hingga Cin Tong beramai dapat diusir pergi. Ketika itu ingin dia membaiki pula nona itu atau usahanya gagal sebab Giok Peng segera diajak pergi oleh Kiauw In. Mulanya hendak dia menyusul nona itu atau disaat terakhir dia mengambil keputusan pergi ke Siang caipo Kangjee untuk mencari Tiat See Cian Pek Kui Jie ayahnya si nona, untuk berbicara dengan orang tua itu, guna menutur rahasia hatinya. Tapi dia sedang mendongkol, hatinya panas pikirannya kacau, ketika dia tiba di Lek Tiok Po dia justru mengacau... Memang umumnya, siapa tengah uring-uringan mudah dia bergusar dan melakukan sesuatu diluar pikiran sehat...

Selekasnya Hong Kun tiba di Siang cui po lantas dia memperlahan jalannya kudanya. Maka binatang tunggangan itu jalan bagaikan setindak demi setindak menghampiri Lek Tiok Po yang mempunyai jalanan batu putih yang rada sempit. Sebenarnya Hong Kun kembali ke tempat yang lama yang segalanya berada bagaimana sediakala tetapi dipandangan matanya, semua itu berubah semuanya mendatangkan perasaan yang lain daripada biasanya. Keindahan alam tak dapat mempengaruhi pikirannya yang pepat, kedukaan membuatnya dia melihat lain macam. Segalanya tampak tawar dan tak menarik hati, semuanya sunyi. Bahkan tempat dimana dahulu dia bersama Giok Peng suka berkumpul dan

beromong-omong dengan manis sekarang seperti juga duri yang menusuk matanya hingga sebab dia melihatnya.

Bercokol diatas punggung kudanya dengan perlahan dia terus memasuki Lek Tiok Po sampai ke pintu Pekarangan. Disini dia melupakan aturan Lek Tiok Po yang berbunyi "Di muka pintu orang harus turun dari kudanya dan berjalan kaki". Dia justru maju terus, maju untuk memasuki dan melintasi pintu Pekarangan itu !

Pintu Pekarangan itu ada orang yang menjaganya. Dia itu dari jauh-jauh sudah melihat ada orang datang bahkan dia kenali, maka dia berlari-lari menghampiri, terus dia mencekal las kuda seraya berkata : "Tuan Gak ! Tuan Gak ! Silahkan turun !"

Hong Kun mengawasi orang itu. Ketika itu tengah seperti orang lupa ingatan. Tak heran kalau di depan matanya seperti Giok Peng yang tebayang yang menyambutnya. Diluar kesadarannya, dia menggelindur : "Oh, adik Peng, kau menyambut aku..." Baru dia berkata begitu, baru dia insyaf orang itu hanya pengawal Lek Tiok Po !

Orangnya Pek Kui Jie itu heran.

"Tuan Gak !" kata dia, "aku minta tuan suka turun dari kudamu ! Harap tuan suka mentaati aturan dari Lek Tiok Po kami..."

Hong Kun melengak. Mestinya dia menganggap permintaan itu seperti perintah atau kata-kata orang hanya bentakan.

"Aku tak pedulikan aturan kamu !" dia membentak dan tangannya terayun membuat cambuknya menyabet si penjaga pintu !

Penjaga pintu itu terkejut, syukur dia jeli dan cepat, ketika cambuk itu tiba dia sambar itu dan cekal dengan keras terus dia tarik. Tiba-tiba saja tubuh Hong Kun kena terbetot, hingga ia terjatuh dari atas kudanya cuma taklah ia sampai roboh. Ia dapat menaruh kakinya dengan baik.

Pegawai itu lekas menghampiri untuk membayangnya. "Maaf tuan Gak" katanya tertawa. "Silahkan masuk !"

Hong Kun tidak menjawab sebaliknya dia mengusir orang supaya mundur lalu dengan tindakan lebar dia jalan memasuki Pekarangan itu untuk menghampiri rumah terus ke Toa thia yaitu ruang depan.

Pegawai itu sendiri yang mengikuti berhenti di ceracapan dimana dia memperdengarkan suara nyaring memberitahukan orang di dalam rumah datangnya tamu-tamu. Dia sendiri tidak berani lancang masuk. Tatkala itu tuan rumah Pek Kiu Jie lagi main catur dengan Tong Wie Lam, sahabat karibnya. Selekasnya ia mendengar laporan, lantas ia berbangkit dan bertindak keluar.

"Oo.. Gak laolan !" ia menyambuti tetamunya. Ia agak heran. "Sudah lama kita tidak bertemu ! Silahkan duduk ! Mari kita minum teh !"

Hong Kun memperlihatkan wajah dingin. Dia membalas hormat tetapi dia berkat. "Apakah Lo poocu banyak baik ? Aku yang muda hari ini datang kemari buat mencari adik Peng guna memperoleh keputusan !"

Anak muda itu memanggil lo poocu artinya pemilik atau tuan rumah yang tua dari dusun keluarga Pek itu. Habis berkata dia bertindak masuk terus dia duduk. Terhadap Tong Wie Lam si guru silat dia melirik pun tidak.

Tuan rumah melengak. Tak dapat ia menerka orang mau apa, atau apa maksudnya...

Maksud baik atau buruk. Maka ia cuma bisa berkata pula, "Laote tentu banyak caPek habis berjalan jauh ! Silahkan minum teh dahulu, nanti kita bicara perlahan-lahan."

Memang orangnya tuan rumah sudah lantas menyuguhkan teh.

Seperti semula, Kiu Jie memanggil laote kepada si anak muda. Panggilan itu berarti adik yang tua.

Tong Wie Lam tidak puas terhadap sikapnya anak muda itu. Memang ia telah tidak berkesan baik. Kali ini keadaannya makin buruk. Dahulu Wie Lan menjadi penghubung antara It Hiong dan Giok Peng yang jodohnya hendak ia rangkap, tetapi "ketemubatunya" kegagalan itu membuatnya ia berkata tak nanti ia sudi datang pula ke Lek Tiok Po, tetapi sekarang toh datang juga. Inilah disebabkan ia mendengar halnya It Hiong sudah "menikah" dengan Giok Peng dan telah memperoleh anak, hingga sirnalah penasarannya, jadi tak sudi datang dia jadi sering berkunjung dan persahabatannya dengan Pek Kiu Jie pulih seperti sedia kala, ia telah diundang ketika Giok Peng pulang bersama anaknya Hauw Yan, supaya guru silat itu melihat ibu dan anak yang manis itu. Kedua sahabat itu gemar minum arak bersama dan main catur. Hanya itu hari ini diluar dugaan. Hong Kun telah datang berkunjung dan orang she Gak itu telah tidak memperdulikan si guru silat yang ia kenal baik.

Hanya sebentar sebuah meja perjamuan sudah diatur rapi.

Kiu Jie lantas mengundang tamunya duduk bersantap. Cian Ling dan Siauw Hoaw kedua tuan rumah yang muda duduk menemani. Mereka duduk disebelah bawah.

Mulai dengan perjamuan itu Kiu Jie mengangkat cawan araknya dan berkata : "Sungguh diluar dugaanku yang Gak Laote telah datang menjenguk aku. Kau baik sekali, aku berterima kasih ! Nah, mari kita minum dan makan bersama !"

Tuan rumah terus menghirup araknya. Ia berbicara tanpa menyebut Giok Peng atau It Hiong. Hal itu membuatknya likat sendirinya.

Hong Kun berbangkit dan menghirup kering cawannya, ia memandang pada hadirin lainnya terus ia berduduk pula.

Agaknya ia likat. Ketika ia bicara sikapnya sangat merendah. Seterusnya ia duduk minum seorang diri. Ketika ia sudah menenggak tiga cawan yang besar, ia menghela nafas dan kata : "Lopoocu, maafkan aku yang muda. Aku lagi berduka, kebetulan arak ini dapat mencoba melenyapkan kedukaan itu, dapat juga menghilangkan penasaranku..."

Tuan rumah tertawa.

"Gak Laote, apakah kesukaranmu itu ?" dia bertanya. "Nampaknya kau berduka sekali. Dapatkah kau menerangkannya kepada kami ?"

Hong Kun menyeringai.

"Lopoocu, kau tahu halnya tetapi buat apa kau menanyakannya ?" dia membaliki. "Sekarang aku yang muda mohon bertanya bagaimanakah dengan janji lopoocu dahulu soal dihadapan, masih itu masuk hitungan atau tidak ?"

Kiu Jie segera sadar akan urusan jodohnya Giok Peng. Hal itu menyulitkannya. Tapi ia memaksakan diri buat tertawa dan kata : "Itulah urusan pribadi anakku sendiri, aku minta agar urusan itu tak dibicarakan pula. Laote menjadi pria muda laksana binatang kielin, kau murid pandai dari Heng San Pay kau terkenal dalam dunia Sungai Telaga, karena sebagai seorang laki-laki sejati dimanakah yang kau bakal tak mempunyai istri yang setimpal ? Dlam hal kita ini adalah anakku yang tidak berbakti dan tidak punya rejeki besar, dia telah membuat kekeliruan yang tak dapat diperbaiki lagi !

Dahulu memang aku si orang tua berniat menjodohi kalian berdua, apa lacur minatku tak dapat tercapai. Oleh karena itu aku cuma dapat memohon maaf dari kau, laote.."

Malu Kui Jie mengatakan itu tetapi terpaksa ia mengatakannya juga.

Hong Kun memperlihatkan tampang sangat berduka.

Dengan suara dalam, ia berkata : "Dasar untungku yang tipis, hingga aku cuma bisa menyesalkan diriku sendiri. Tetapi sekarang dapat aku memaksa adik Peng itu pula urusan seumur hidup dari adik Peng ! Cuma aku tidak mengerti karena aku tahu adik Peng bukannya seorang manusia yang tak berbudi ! Aku percaya disini tentu ada pengacaunya ! Dia tidak saja membuatku menyesal seumur hidupku, dia juga membuat lopoocu menjadi mendapat malu !"

"Itulah terpaksa laote" kata Kiu Jie menyesal. "Aku sudah berusia lanjut, tak dapat aku memberatinya lagi. Tapi aku percaya kalau kawan-kawan kaum Kang Ouw mengetahui hatiku ini, aku percaya mereka dapat maklum dan memaafkannya. Aku minta laote janganlah kau berduka karena urusanku ini"

Sementara itu Tong Wie Lam tidak puas akan sikapnya Hong Kun ini. Si anak muda terlalu mendesak dia sampai seperti tak tahu malu...

Karena tak tahan sabar, guru silat ini campur bicara.

Katanya : "Keponakan Giok Peng sudah menikah, dia pula sudah punya anak bahkan dia telah tinggal jauh dari Lek Tiok Po ini, karena itu lote, apakah faedahnya buat kau mengumbar ganjalan hatimu disini ?"

Hong Kun mengangkat kepalanya, sepasang alisnya terbangun.

"Datangku ini kemari adalah untuk mencari adik Peng !" sahutnya nyaring. "Hendak aku tanya dia depan berdepan, dia telah memindahkan cintanya itu apakah itu karena sukarelanya sendiri atau bukan !"

Wie Lam semakin tidak puas, anak muda itu benar kurang ajar, demikian anggapannya. Maka ia berkata keras : "Kalau benar karena sukarelanya bagaimana ? Kalau bukannya bagaimana ?"

Mendadak Hong Kun berjingkrak bangun.

"Tua bangka, apakah katamu ?" tanyanya keras. "Kau galak tak karuan ya ? Inilah urusanku tak dapat kau mencampurinya. Biar pun aku mesti menginjak Lek Tiok Po rata seperti bumi, mesti aku tanyakan sendiri adik Peng, mesti aku memperoleh jawabannya."

Dalam panasnya hati anak muda ini menggebrak meja hingga mangkuk dan sumpit mencelat berhamburan dan arak bermuncratan.

Wie Lam pun gusar, maka dia mencelat bangun.

"Anak bau, bagaimana kau berani berlaku kurang ajar di depanku si orang tua ? tegurnya.

Hong Kun tidak takut, bahkan dia jadi semakin gusar. "Marilah kau coba sambut tanganku" katanya tertawa

dingin.

Kiu Jie bingung, dia masgul sekali. Bersama kedua anaknya, dia langsung maju sama.

Thian Liong dan saudaranya tidak campur bicara, walaupun sebenarnya mereka pun tidak puas. Habis menyapih itu, mereka mengajak Wie lam pulang ke kamarnya sembari jago tua itu dibujuki.

Hong Kun berduka, hatinya panas, tetap ia tak dapat makan dan minum, hanya arak ia tengak terlebih banyak, hingga otaknya makin kacau. Cepat sekali ia terjatuh dibawah pengaruh tak kesadaran. Suka ia tertawa, suka ia menangis sendirinya ! Tingkahnya mirip seorang otak miring.

"Kau sudah pusing laote" berkata Kiu Jie yang sendirinya masgul sebab ia menyesal atas kejadian ini. "Baiklah kau pergi ke kamar tetamu untuk beristirahat, besok kita bicara pula."

Lantas tuan rumah ini menyuruh seorang kacungnya memimpin tamunya ini pergi ke kamar tetamu.

Tiba-tiba Hong Kun menggaplok kacung yang mendekatinya.

"Bukannya kau meminta nonamu datang menyambut aku, kau justru mau mengajak aku pergi!" demikian tegurnya bengis. Memangnya air kata-kata pun sudah mempengaruhinya. "Kemana kau hendak membawaku ?"

Kacung itu kaget dan kesakitan. Nyeri gaplokan itu. "Apakah nonamu itu menyembunyikan diri ?" kata pula

Hong Kun sama kerasanya. "Apakah dia mengira aku tidak berani pergi loteng mencarinya ?"

Kiu Jie masgul dan bingung. Orang seperti sudah lupa ingatan.

"Duduk laote" ia membujuk. "Anakku si Peng tidak ada di rumah, dia pergi merantau. Dia bukannya bersembunyi sebab tidak mau menerimamu... Pergi kau beristirahat, sebentar kita nanti bicara pula " Kemudian tuan rumah ini menyuruh kacungnya lekas menyediakan sari buah dingin buat dikasihh tetamunya minum agar tetamunya sintingnya berkurang.

Mau Hong Kun minum sari buah itu, habis itu dia nampak lebih tenang. Dia duduk diam menarik nafas panjang dan pendek. Bahkan lewat sesaat lagi dia tidur pulas dan menggeros. Karena itu satu malam itu Kiu Jiterpaksa menemani dia beristirahat di dalam ruang besar itu.

Besok paginya Kiu Jie mendusin dengan terkejut. Ia dibanguni kacungnya yang tergopoh-gopoh mengabarkan halnya Gak Hong Kun yang sudah "menyerbu" ke loteng Ciat Yan Lauw tempatnya Giok Peng, bahwa di sana si anak muda telah merusak pintu, jendela, kursi, meja dan buku serta alat tulis lainnya. Bahkan Nyonya Kiu Jie tak dapat mencegah anak muda itu, dari itu tuan tua ini diminta datang untuk mengurus atau mengekangnya.

"Ah.." seru jago tua itu, kaget dan heran. Seketika itu juga ia lari ke dalam terus ke loteng putrinya. Baru tiba di ruang dalam, telinganya sudah mendengar suara berisik yang disebabkan dihajarnya barang-barang perabotan rumah tangga serta teriakan-teriakan atas bentakan-bentakan dari si anak muda yang menjadi tamunya itu. Dan kapan dia ada diatas loteng, lantai sudah penuh barang rongsokan sebab pecahnya cangkir dan lain-lain dan kursi meja pada bertumpuk berjumpalitan. Disisi kamar tampak Ban Kim Hong, si nyonya rumah yang tua, berdiri bengong dengan wajahnya merah padam sebab dia gusar tanpa dapat berbuat apa-apa.

Bukan main mendongkolnya Kiu Jie, maka dia mengajukan diri sambil membentak. Hampir dia menyerang kalau tidak kedua anaknya malang dihadapannya, mencegahnya menggunakan kekerasan. "Gak Laote, kenapa kau berlaku begini tidak tahu aturan ?" tegurnya. "Berhenti !"

Belum berhenti suaranya jago tua ini atau mendadak Siauw Houw memperdengarkan suara tertahan diteruskan dengan robohnya tubuhnya ! Mulanya dia terhuyung beebrapa tindak, setelah tak dapat mempertahankan diri, dia roboh dengan muntah darah !

Thian Liong melompat maju, guna membantu saudara itu. "Adik, apakah lukamu parah ?" tanya kakak ini.

"Aku terhajar pada bahu kiriku" sahut sang adik, napasnya memburu. "Aku telah menghadang di depannya paman Tong buat melindunginya dari serangan Hong Kun.."

Ban Kim Hong, si nyonya rumah, gusar menyaksikan putranya terluka. Berbareng, ia pun berkuatir dan bersedih hingga air matanya meleleh keluar tanpa ia merasa. Ia menggertak gigi dan berkata sengit : "Gak Hong Kun, nyonyamu hendak mengadu jiwa denganmu !" Dan lantas ia merogoh sakunya mengeluarkan kim ciam, senjata rahasianya yang berupa jarum emas untuk menghajar pemuda itu !

"Jangan ibu !" mendadak Thian Liong mencegah sambil ia menarik tangan ibunya itu. "Tak usah ibu campur, biar ayah yang mengurusnya sendiri."

Tong Wie Lam si guru silat sekali hingga kumis janggutnya bagaikan pada bangun berdiri, sambil membentak, dia menyerang dengan kedua belah tangannya hingga ketika Hong Kun menyambutnya melayani padanya, berdua mereka jadi bertarung seru dalam seketika. Hanya, walaupun ia kesohor ia bukanlah lawan dari si anak muda muridnya It Yap Tojin yang lihai, baru dua puluh jurus, permainan silatnya sudah kalah sendirinya. Sia-sia belaka ia menggunakan pelbagai macam tipu. Ia yang terpaksa mundur setindak demi setindak, hingga keadaannya menjadi berbahaya....

Pek Kui Jie jujur, dialah seorang yang terhormat, mengenai jodoh puterinya dengan Kong Kun itu, ia jengah sendirinya, tetapi sekarang, menyaksikan si anak muda demikian kurang ajar dan ganas, ia menjadi tidak puas. Tapi ia tetap adalah seorang jago tua, bagaimanapun ia bergusar masih dapat ia menguasai dirinya sendiri.

"Hong Kun !" ia berseru, "kau telah turun tangan, kau juga sudah melukai orang, apakah itu berarti kau menghendaki aku mengadu jiwa denganmu ?"

"Saudara Pek !" Wie Lam menyela, "jangan sungkan terhadap binatang ini !"

Tapi, belum suaranya berhenti, mendadak jago ini roboh dikarenakan satu tinju dari si anak muda yang mendesak membuatnya repot sampai tak sanggup menangkis....

Kini dia terkejut sambil menitahkan orang-orangnya membantu sahabatnya itu, ia maju menghadang si anak muda sambil ia membentak : "Gak Hong Kun ! Sebenarnya kau mau apakah ? Kau bilanglah terus terang. Apakah kau sangka aku orang tua takut padamu ?"

Agaknya otak Hong Kun rada sadar, suaranya tuan rumah membuatnya dapat berpikir. Lekas-lekas dia memberi hormat.

"Tidak, aku tidak berani" katanya. "Aku yang muda datang ke loteng untuk mencari adik Peng, guna menanya dia satu hal. Diluar keinginanku, aku telah bertempur melawan orang hingga aku sudah melakukan suatu perbuatan yang kurang hormat. Buat kesalahanku itu, aku minta lopoocu memaafkan aku !"

Kui Jie menunjuk ke lantai dimana berantakan segala macam perabotan yang rusak disebabkan sepak terjangnya pemuda itu, ia berkata : "Kau lihat ! Macam apakah itu ?

Apakah artinya ini ? Anak Peng sudah tidak tinggal di loteng ini, buat apa kau cari dia ? Lek Tiok Po tidak dapat ketempatan orang tidak tahu aturan semacam kau ini, maka itu, silahkan kau lakukan perjalananmu !"

Itulah pengusiran !

Hong Kun mengawasi kerusakan dan kekalutan lotengitu, dia mengoceh seorang diri : "Ah, aku bersalah terhadap adik Peng... Kenapa aku merusak kamarnya ini."

Lantas dia menjatuhkan diri, duduk numprah, menangis sambil menutupi mukanya.

Menyaksikan lagak orang itu, Kiu Jie mendongkol berbareng geli di hati. Ia pun merasa berkasihan.

"Telah aku bilang !" katanya suaranya dalam, "bahwa anak Peng tidak ada disini. Dia pula sudah punya anak ! Mana dapat urusanmu diperbaiki pula ? Maka kau padamkanlah hatimu !"

Hong Kun menangis terus dia sesegukan. "Aku tahu" sahutnya. "Di jaman ini tak lagi ada harapan buatku hidup bersama-sama adik Peng tapi ingin bertemu muka dengannya sendiri untuk aku menanyakan sesuatu. Setelah itu, meski tubuh ragaku hancur menjadi abu, akan aku rela dan puas !" Ban Kim Hong melirik anak muda, ia menghela napas. "Benarkah didalam dunia ada bocah setolol ini ?" tanyanya. Lalu bersama Thian Liong ia memperpanjang Siauw Hoaw buat diajak berlalu dari atas Loteng.

Kiu Jie kewalahan.

""Gak Laote" katanya kemudian, sabar. "Jika memang mesti kau ingin bertemu dengan anak Peng, nah kau berdiamlah disini, asal kau terus bersikap tenang, nanti aku mengirim orang mencari anakku itu supaya dia pulang dan menemanimu. Kau tunggu saja dengan sabar."

Mendadak Hong Kun berlompat bangun, terus ia menjura kepada jago tua itu.

"Akan aku yang muda mendengar katamu cianpwe" katanya sabar. "Biar aku berdiam di loteng ini menantikan kembalinya adik Peng ! Dapat aku mananti sampai sepuluh tahun sekalipun ! Asal aku bisa bicara dengannya satu kali saja, segera aku akan berpamitan dan pergi dari sini !"

Demikian si anak muda berdiam di Lek Tiok Po dan Kiu Jitelah mengirim dua orangnya mencari Giok Peng sampai kedua pesuruh itu tiba ditempatnya Liok Cim dimana dengan kebetulan mereka bertemu dengan kedua nona itu begitu dengan It Hiong. Demikian pula mereka memberikan penuturannya yang jelas itu. Dia akhirnya pegawai yang memberi penuturan itu katanya : "Tuan dan Nyonya memesan agar nona cepat-cepat pulang supaya urusannya si anak muda gila itu dapat segera dibereskan supaya dia bisa lekas disuruh pergi !" 

Habis berkata dua orang itu berdiri hormat disini. Biar bagaimana Giok Peng merasa terharu mendengar Hong Kun demikian tergila-gila terhadapnya tetapi perbuatan orang merusak lotengnya membuat hatinya panas sehingga ia membungkam sebab tak tahu ia mesti tertawa atau berduka. Dengan mulut bungkam itu ia mengawasi It Hiong dan Kiauw In.

Tiba-tiba kesunyian dipecahkan oleh suara keras dan berpengaruh dari tuan rumah.

"Hm !" demikian suaranya Liok Cim yang terang merasa tak puas atau mendongkol : "Tak kusangka yang Hong San Kiam kek yang demikian tersohor sudah mengajari seorang muda yang begitu tak tahu malu !"

"Ketika aku bertemu dia di Lek Tiok Po, aku mendapatkan dia sebagai yang polos dan gagah" berkata It Hiong, "karenanya kau menghargai dan menghormatinya. Mengenai urusan jodoh kita, kita sebenarnya merasa malu hati, terhadapnya aku simpati, aku merasa berkasihan kepada nasibnya, aku maka didalam segala hal menghadapi dia aku senantiasa mengalah, aku berlaku murah hati. Sama sekali tak tega aku melukai dia, jangan kata membunuhnya. Tapi dia berbuat hal yang menyebabkan. Di kota raja dia telah membantu pembesar negeri, dia telah membunuh Ciat-kang Siang Kitab, itu berarti hutang jiwa. Aku melepaskan dia sebab aku masih ingat dialah sahabatnya kakak Peng, siapa tahu sekarang dia menjadi begini kurang ajar, bukannya dia menyesal dan merubah tingkah lakunya, dia justru mengacau dan merusak di Ciat yan Lauw ! Kakak Peng, mari aku temani kau pulang, akan kau bikin darahnya muncrat meluluhan !"

Berkata begitu, wajah anak muda ini merah padam, tanda dari kegusarannya. Giok Peng bersusah hati mendengar kata-kata orang itu, airmatanya berlinang-linang.

"Kenapa kau begini bergusar buat urusan sekecil itu, adik Hiong ?" tanyanya perlahan. "Dalam hal ini, akulah yang harus disesalkan."

Belum habis si nona berbicara, atau ia sudah menangis sesegukan, kepalanya terus ditunduki.

Kiauw In menghampiri. Ia meraba bahu orang, sedang tangannya yang lainnya dipakai mengeluarkan sapu tangannya guna menghapus airmata kawan itu.

"Kau kenapakah, adik Peng ?" katanya halus. "Kau bersabarlah menghadapi urusan ini, buat apa menuruti hati dan menjadi begini berduka ?"

It Hiong mencoba mengendalikan kemurkaannya kapan ia melihat Nona Pek demikian bersedih. Ia terus berkata sambil tertawa : "Aku sangat bergusar hingga aku terlepasan bicara, hingga kau bersusah hati, kakak harap kau maafkan aku." Habis berkata anak muda itu lantas menjura terhadap si nona.

Kiauw In tertawa melihat lagak orang.

"Kau terlalu" katanya. "Ya, kau jadi makin nakal dan tebal kulit mukamu ! Darimana kau dapat pelajari tingkah polahmu ini ?"

Lekas sekali, hilang sudah kedukaannya Giok Peng menyaksikan tingkahnya It Hiong itu, maka juga meski airmatanya belum hilang, ia dapat tersenyum terus tertawa. Karena jengah, ia membuang muka. Liok Cim heran menyaksikan gerak gerik muda mudi itu. Inilah disebabkan ia belum tahu hubungan apa ada diantara mereka itu, terus ia berdehem.

"Tentang peristiwa di Lek Tiok Po itu" katanya kemudian, '"aku si tua tak tahu suatu apa, karena itu, harap dimaklumi, tak dapat aku mencampur bicara, baik kalian mendamaikan sendiri saja. Perkenankanlah aku mengundurkan diri dahulu..."

Walaupun demikian, tuan rumah tidak lantas bertindak pergi. Masih ia menambahkan : "Jangan sungkan, anak-anak dan harap maklum yang perjalanan kami tidak sempurna !

Malam ini baiklah kalian berdiam disini, sebentar sore akan aku menyambut kalian didalam suatu perjamuan yang sederhana..."

Kali ini dia terus bertindak pergi.

Giok Peng lantas menyuruh kedua orangnya mengundurkan diri, buat mereka itu beristirahat. Sebenarnya ia hendak menjawab atau mengatakan sesuatu atas kata-katanya tuan rumah itu, sayang Liok Cim sudah pergi jauh. Ia mengawasi punggung orang sampai ia tidak melihatnya lagi. Habis itu ia berpaling pada It Hiong, matanya dideliki.

"Apakah kau tak malu ?" katanya manja. "Awas kalau lain kali kau berlaku tebal muka seperti sekarang ini, akan aku beri ajaran padamu ! Tak nanti kau dapat ampunan !"

Kemudian nona ini berpaling pada Kiauw In. "Kakak !" katanya "guru kita telah memberikan kau

pertanda yang menugaskan kau dapat mewakilkannya

menjatuhkan dan menjalankan hukuman, sekaranglah tiba saatnya buat kau keluarkan itu buat kau mengajar adat pada murid ini !" Dan ia menunjuk It Hiong tetapi dengan wajah tersungging senyuman.

Mendengar hal pertanda itu kim pay It Hiong terkejut. Ia ingat halnya gurunya selain memberi kimpay kepada Kiauw In juga ia dibekali dengan diserahkannya sejilid kitab ilmu pedang beserta tiga buah kim long yaitu surat yang tertutup hingga itu merupakan surat wasiat. Sekarang kitab ilmu pedang itu sudah lenyap telah berada ditangannya si imam tua Hian Ho. Sedangkan kim long yang pertama harus dibukanya nanti disaat "sepasang rembulan saling memancarkan diri".

Apakah artinya sepasang rembulan saling memancarkan diri itu ? Kata-kata asli itu ialah Siang Goat Kauw Hoi.

Maka ia menjadi berdiri menjublak, otaknya bekerja, mulutnya berkelemak kelemik, hampir tak terdengar suaranya yang sangat perlahan.

Kiauw In kenal baik adik Hiong itu yang sangat menghormati gurunya, maka itu si anak muda dapat keliru mengartikan kata-katanya Giok Peng barusan. Dia mungkin menerka ia bakal menggunakan kimpay guru mereka itu sebab kata-katanya si Nona Pek. Maka ia mau melegakan hati orang. Lebih dahulu ia tertawa baru ia berkata : "Eh, adik Hiong kau kenapakah ? Kau tahu adik Peng bicara main-main saja !

Kenapakah kau menganggap itu sungguh-sungguh ?" It Hiong melengak lalu ia mengangkat kepalanya.

"Kakak" katanya. "Tahukah kalian apa artinya sepasang rembulan saling memancarkan diri itu?" "Eh... kau ini orang aneh" Giok Peng menegur. "Kenapa disitu saat kulit mukamu tebal atau dilain saat kau menjublak tidak karuan ?"

Kiauw In dengan tampang sungguh-sungguh pun berkata : "Adik Hiong, kau sebenarnya memikir apa ? Cobalah kau jelaskan !"

It Hiong mengawasi kedua nona bergantian, otaknya bekerja.

"Selamanya aku telah memikir mengajak kakak berdua pulang ke Lek Tiok Po" kata ia, "di sana kita tegur Gak Hong Kun, kita usir dia pergi, andiakata dia menolak terpaksa kita harus membikin darahnya muncrat di ujung pedang kita.

Sekarang aku memikir dua hal penting yang aku mesti segera kerjakan karenanya aku batal turut mengikut pulang ke Lek Tiok Po. Aku minta kakak Peng maafkan aku..."

"Hal apakah yang kau ingat, adik ?" Kiauw In tanya.

"Tadi kakak Peng menyebut kimpay dari guru kita" sahut si anak muda, "lantas aku kepada kitab silat yang hilang itu. Aku menganggap kitab itu perlu lekas dicari dan didapatkan pulang. Yang lainnya ialah kim long, surat wasiat dari guru kita itu, terutama yang pertama yang berkatai harus dibuka disaat sepasang rembulan saling memancarkan diri. Perlu kita mengerti maksudnya kata-kata yang tersembunyi itu. Itulah sebab kenapa aku menanyakan kalian, kakak."

"Oh, ya !" Giok Peng seperti orang yang baru ingat. "Guru kita luar biasa, pesannya pesan tersembunyi, maka tidak dapat dengan mudah saja kita menerka artinya. ?" "Memang guru kita lihai sekali, tak mudah mengerti pesannya itu" Kiauw In turut bicara. "Jika kita terka saja, mungkin kita tidak akan memperolah hasil tentang kimlong itu,baik kita bicarakan belakangan. Yang penting sekarang ialah urusan kembali ke Lek Tiok Po serta soal mencari kitab ilmu pedang kita ! Nah, bagaimana kita harus bekerjanya ?"

“Kakak berdua berpendapat bagaimana ?" It Hiong tanya. "Aku bersedia mencuci telinga mendengarnya."

Giok Peng tertawa.

"Ada-ada saja kau !" katanya manis. "Sampai-sampai mesti mencuci telinga mendengar ! Bagaimana kau dapat memikir mengeluarkan kata-kata merdu itu ?"

Kiauw In tersenyum.

"Sudah, adik Peng, jangan kau bergurau." kata dia. "Mari kita berpikir dan bermufakatan ! Bukankah itu jauh terlebih baik ?"

Nona Peng melengak.

"Begitu pun baik" sahutnya. "Diantara dua urutan kita, aku anggap mencari kitab ilmu pedang adalah yang lebih perlu ! Bukankah Hian Ho kabur pulang ke Siang Ceng Koan di Hu yong ciang, Kiu Kiong San ? Entah ada siapa lagi orang jahat yang bersembunyi di sana. Maka itu kakak, aku pikir, baik kakak turut adik Hiong pergi menyusul kesana. Tentang Gak Hong Kun, biar aku yang urus sendiri, aku percaya tidak bakal terjadi sesuatu yang berupa keonaran."

It Hiong tidak setuju dengan pendapatnya Giok Peng itu. Ia berkuatir. Ia tahu Hong Kun pandai berakal dan Giok Peng lemah hatinya, jadi ada kemungkinan kakak ini nanti dilagui pemuda itu. Itulah berbahaya. Onar bisa terjadi karenanya.

"Aku kurang akur, kakak" bilangnya. "Begini saja, kita pergi bertiga ke Lek Tiok Po"

Kiauw In cerdas sekali. Ia dapat membaca hatinya. It Hiong sebenarnya kuatir nanti terbit kelakon baru. Apa kata seandianya Giok Peng terlibat pula dalam soal asmara lama.

"Baiklah, adik !" ia berkata, "aku setuju dengan perkataanmu ! Dengan begini kau jadi tak usah kuatir, supaya hatimu tetap tenang saja. "

Giok Peng melengak. Ia menatap nona Cio.

"Apa katamu kak ?" tegurnya. Ia menyangka ia lagi digodia. "Apakah kakak berkongsi dengan si dungu ini ?" Dan dengan sebuah jari tangannya, ia menunjuk It Hiong yang ia terus tegur, "bagaimana, eh, dengan kau ? Kapannya kau belajar menjadi begini berhati-hati ? Bukannya kau urusi perkara penting, kau justru "

Hampir si nona menyahut  "urusan  perempuan". "Bukan. bukan begitu kakak !" kata It Hiong lekas. "Aku

hanya menguatirkan nanti kena orang lagui. "

"Sudah, sudah !" Kiauw In datang sama tengah. "Sudah kita jangan perpanjang pembicaraan kita ini ! Kita turut pikirannya adik Peng ! Adik Peng sendiri akan pulang ke Lek Tiok Po dan kita berdua ke Kui Kiong San ! Kalau adik Peng selesai terlebih dahulu, dia lantas menyusul kita ! Dengan mengandal kepada kim pay, aku mengambil keputusan ini !" Menutup kata-katanya itu yang terang dan tegas, Nona Cio lantas menatap It Hiong. Ia memancarkan sinar matanya yang jeli.

Mendengar demikian, It Hiong tunduk. Ia bungkam.

Giok Peng berkuatir orang berduka. Ia menghampiri separuh menghibur. Ia berkata, "Kakakmu ini dahulu benar ada punya urusan dengan Gak Hong Kun tetapi urusan itu sudah lama habis bagaikan alir mengalir ke timur karenanya janganlah kau buat kuatir. Aku pun telah menjadi ibu orang, ibu yang masih harus merawati anaknya ! Mungkinkah aku masih jadi seperti si pemuda yang gemar berkecimpung dalam urusan asmara dan hatiku mudah berubah ? Nah, kau tetapkan hatimu !" Ia hening sejenak, untuk segera menambahkan. "Kakakmu ini hidup dia menjadi hambanya keluarga Tio, mati dia menjadi setannya keluarga Tio juga ! Di dalam keadaan bagaimana pun leher kakakmu ini dapat dipenggal tetapi hatinya tak akan tertunduki. Akan aku lindungi tubuhku yang putih bersih supaya nanti aku kembalikan kepada kau adik. Masihkah kau memikir yang tidak-tidak ? Nah, berlakulah tabah !"

It Hiong mengangkat mukanya, sepasang alisnya bangkit bangun.

"Aku tak memikir yang tidak-tidak kakak" katanya. "Tidak nanti aku membuatmu malu. Cuma, bicara terus terang, orang she Gak itu sangat licik, dia banyak akalnya, maka dengan kau pulang seorang diri, kakak aku minta sukalah kau berlaku dengan sangat berhati-hati !"

Berkata begitu pemuda ini lantas menoleh kepada Kiauw

In. "Baiklah kakak, aku turut pikiranmu !" katanya. "Nah, mari kita berdua pergi ke Kiu Kiong San !"

Tepat menyusuli kata terakhir dari It Hiong itu, dari luar ruang besar terdengar suara nyaring, "Pernah aku pergi ke Hu yong ciang di gunung Kiu Kiong San itu, karenanya dapat atau tidak jika adikmu yang kecil ini menjadi pengantar untuk membuka jalan ?"

Berbareng dengan terhentinya suara itu, suatu bayangan orang nampak berkelebat, lantas mereka disitu tambah dengan seorang Nona Tanpa suara apa-apa lagi !

Dan kapan It Hiong bertiga, yang sedikit terperanjat, berpaling, maka mereka sama-sama melihat Tan Hong, si nona manis yang kosen, yang dandanannya singsat-ringkas, dipunggungnya tertancapkan ruyungnya, ruyung sanho pang yang istimewa itu !

Giok Peng segera berlompat mundur, tangannya terus menghunus pedangnya ! It Hiong rada bingung, dia melirik kakak Peng-nya itu.

Adalah Kiauw In, yang dapat berlaku tenang, bahkan ia pula yang mendahului membuka suara.

"Selama di gunung Siauw Sit San" katanya tawar, "nonamu sudah berlaku baik sekali terhadapmu, sekarang kau menyusul kemari, apakah maksudmu ?"

Tan Hong memperlihatkan tampang manis yang tersunggingkan senyuman ramah tamah.

"Harap Nona Cio tidak keliru mengerti" katanya sabar dan merdu setelah mana ia bertindak perlahan menghampiri It Hiong, kembali sembari tersenyum dan melirik ia menyapa : "Eh, adik Hiong, mengapa terhadap kakakmu ini kau begini acuh tak acuh ?"

It Hiong bingung sekali. Sebelum sempat ia menjawab Giok Peng sudah berlompat maju dan "Sreett !" pedangnya telah ditebaskan ke arah nona she Tan itu sembari menyerang itu iapun membentak : "Kau memanggil adik Hiong tepatkah itu, budak hina dina ? Kau malu atau tidak ?"

Mudah saja Tan Hong berkelit dari tebasan pedang yang mengancam batang leher yang putih halus. Ia tidak menghunus pedang atau membalas menyerang. Lagi-lagi ia tertawa dengan manisnya.

"Bukankah kau telah mengalah membiarkan Kakak Kiauw In biasanya menyebutnya adik Hiong?" kata ia. Kembali dia tertawa. "Karena itu tidak dapatkah kalau kau pun membiarkan aku turut memanggilnya adik Hiong juga ?"

Tanpa menanti habisnya kata-kata orang itu, Giok Peng sudah menikam dengan pedangnya. Ia mendongkol dan panas hati. Bahkan kali ini ia mengulangi menikam dan menebas hingga tiga kali ketika serangannya yang kedua ini pun gaya seperti semula. Karena ia menyerang berulang-ulang sinar pedangnya sampai berkeributan diantara api lilin diruang  besar itu.

Masih selalu Tan Hong mengelak diri, tak ia menangkis atau hanya menghunus pedangnya. Sebaliknya, ia tetap tertawa manis, sikapnya sangat ramah tamah.

"Ah, kakak Peng !" katanya agak heran. "Kenapa cuma sebab aku memanggil adik Hiong kau menjadi begini bergusar

? Tak dapatkah kau bersabar dan menanti sampai aku telah selesai bicara? Sampai itu waktu akan aku biarkan kau menebas dan menikam aku sepuasmu !"

Kiauw In segera merasakan sesuatu yang tak biasanya.

Maka ia lantas menyela sama tengah. Kata ia pada nona she Tan itu : "Diantara kami dan kau keadaan ada seumpama api dan air sebab jalan kita ialah lurus dan jalan sesat !

Sebenarnya dari pihakmu ada kata-kata apakah yang maksudnya baik ?"

"Kakak Kiauw jangan dengarkan ocehannya !" Giok Peng kata keras. "Dimana ada orang Hek Keng To yang hatinya baik

?"

Walaupun dia berkata demikian, nona Pek sudah mengembalikan pedangnya kedalam sarungnya. Ia tak lagi menuruti suara hatinya seperti semula.

Tan Hong berdiri diam. Tiba-tiba ia menangis sebelum suaranya terdengar, air matanya mendahului meleleh keluar membasahkan kedua belah pipinya yang putih halus.

"Siapa berasal dari pihak sesat, itu artinya penyesalan seumur hidupnya" kata ia sesegukan. "Karena itu aku telah mengambil keputusan buat menukar cara hidupku dahulu hari itu supaya aku dapat mulai hidup baru tetapi jalan buat bersahabat dengan kalian itu rupanya sangat sulit lebih sukar daripada mendaki langit. "

Kiauw In melengak. Lantas ia menunjuki tampang sungguh-sungguh.