Iblis Sungai Telaga Jilid 13

 
Jilid 13

Hanya sekelebatan saja, maka mengucurlah darah dari tangannya Gouw Beng, sebab tanpa daya lagi dia terlambat sebuah jeriji tangannya hingga jeriji itu dapat kutung!

Mendapat hasil itu semangat Nona Tan berkobar, hanya disaat ia hendak menyusuli Leng Bin Hud dengan lain serangan untuk membuatnya mati daya, tiba-tiba ada sambaran angin di belakangnya. Ia tahu itulah tikamannya Hian Ho yang mau menghajar dirinya sambil menolong sipendeta. Dengan cepat ia berkelit ke kiri.

Hian Ho menyerang dengan jurus “hujan lebat dan taufan”, ujung pedangnya menabas kebahu lawan. Waktu serangannya itu yang mirip pembokongan gagal karena si nona berkelit, tak menanti sesaat, ia lantas menyusuli dengan satu serangan tangan kosong. Tangan jahat, angin yang mendahuluinya menyambar kemuka lawan yang lagi berkelit itu.

Bukan main kagetnya Tan Hong, ia baru saja lolos dari ancaman pedang maut itu, kakinyapun baru saja diletaki, maka kali ini ia tak dapat lolos lagi. Ia kurang cepat, pukulan angin itu walaupun kurang telak mengenai sasaran telah membuat ia terhuyung-huyung, tubuhnya limbung sesudah delapan tindak baru dapat ia berdiri diam. Selain kaget dan nyeri, iapun marasakan darahnya bergolak pada seluruh tubuhnya.

Hian Ho Cianjin tertawa berkakakan.

“Nah, budak bau!” katanya mengejek, sekarang baru kau ketahui lihainya tangan mautku! Jika kau masih membandel dan tak sudi menyerahkan kitab pedang itu padaku, akan aku bikin darahmu berhamburan disini!”

Diam-diam Tan Hong mencoba menenangkan hatinya dan mengerahkan tenaganya, berbareng dengan itu ia melirik lawannya. Ia membungkam, tapi sinar matanya menyatakan kegusarannya. Hanya sejenak saja setelah itu ia sudah melompat maju menyerang kepada si imam.

Sementara itu Leng Bin Hud sempat mengobati tangannya, membikin darahnya berhenti mengalir keluar. Ketika itu wajahnya merah padam saking mendongkol dan gusar. Ketika si nona berlompat menerjang si imam, dia melihat satu kesempatan yang baik sekali. Dia memang dapat bersiap sembarang waktu. Demikianlah secara tiba-tiba dia menyerang si nona. Untuk itu dia melompat maju dan serangannya dilakukan selagi nona itu hampir menaruh kaki ketanah. Dia menggunakan pukulan Sian Thian Bu Kek Khiekang. Sasarannya adalah punggung lawan yang dibencinya itu.

Senjata Tan Hong dan senjata Hian Ho beradu dengan keras. Itu karena ketika si nona menghajar, si imam telah bersiap-siap dan berhasil menangkis dengan tepat. Setelah bentrokan, tubuh si nona kontan turun ketanah! Saat itu, ia terkejut sekali karena merasakan sambaran hawa dingin mirip es merangsang seluruh tubuhnya. Tak sempat ia berdaya pula. Serangan hawa dingin meresap masuk kedalam tubuhnya dan menyerang uluhatinya, seketika ia roboh pingsan. Serangan itu didetik pertama membuat gemetar dan menggigil seluruh tubuhnya, terus ia jatuh dan tak berkutik lagi!

Selekasnya orang roboh, Leng Bin Hud melompat kedada si nona untuk berjongkok disisinya, guna mengulur kedua belah tangan dan merogoh kedalam sakunya hingga didetik lain kitab pedang Sam Cay Kiam sudah berada didalam genggamannya! Saking girangnya, Gauw Beng tertawa terbahak-bahak, hanya belum lagi tawanya itu berhenti, ia dikejutkan dengan berkelebatnya satu bayangan tubuh manusia. Ketika ia menoleh, ia melihat berdiri lima kaki disampingnya itu seorang anak muda yang tampangnya tampan dan gagah, yang dipunggungnya menggembol sebuah pedang!

Melihat si anak muda, Leng Bin Hud bediri tercengang. Hian Ho si imam juga sama herannya seperti sipendeta! Sebab mereka sama-sama mengenalinya sebagai Tio It Hiong muridnya Tek Cio Siangjin. Selekasnya mereka sadar dan mengeluarkan seruan tertahan “Oh…!” Mereka memandang satu dengan lain lalu kemudian mereka mengawasi pula anak muda itu.

Habis mengawasi tajam kepada dua orang dari kalangan suci itu, It Hiong lantas menegur: “Apakah kitabnya Tan Hong kalian yang ambil?”

“Apakah anehnya mengambil kitab pedang itu” sahut Leng Bin Hud tawar, “Jiwamu juga hari ini kurampas!”

Hian Ho mmengawasi sangat tajam, terus membentak: “Disinilah musuh-musuh saling bertemu! Maka itu sakit hati ini ingin aku bayar dengan jiwamu!” Terpaksa, It Hiong jadi naik darah, mukanya menjadi merah.

“Jadi kalian tidak mau memberitahukan padaku siapa yang merampas kitab pedang!” katanya bengis, “mari, jangan kalian mengharap akan dapat meninggalkan tempat ini dengan masih hidup segar bugar! Dengan begitu juga akan bereslah segala urusan dengan kalian! Nah, kalian berdua majulah dengan berbareng!”

Sambil menantang itu, si anak muda juga sudah lantas menghunus pedangnya untuk bersedia menyambut serangan. Dengan begitu juga ia telah memberikan kesempatan kepada imam dan pendeta itu untuk maju bersama.

Untuk sejenak Hian Ho dan Leng Bin Hud bersangsi. Sama- sama mereka merasa jeri atau segan, karena mereka berdua, masing-masing pernah lolos dari ancaman pedangnya anak muda yang pemurah itu. Mereka berdua tidak lekas angkat kaki karena mereka pikir inilah kesempatan yang paling baik buat mereka bekerja sama menyerang pemuda itu! Dua lawan satu! Mustahil mereka kalah! Maka mereka melengak sedetik, lantas mereka saling lirik dan mengedipi mata, menyusul mana keduanya maju sambil mengangkat senjatanya masing- masing.

Satu pedang Ceng Kong Kiam - satu tongkat rotan Coa Teang Thung! Dengan sama-sama menggunakan jurus silat yang istimewa, mereka menyerang dengan berbareng!

Dengan ilmu pedang Khie bun Pat Kwa Kiam, It Hiong melayani dua musuh. Ia berlaku gesit dan waspada, awas mata, jeli telinga dan cepat tangan kaki! Iapun menggunakan ilmu silat “Hang Liong Hok Mo Kun” disaat yang perlu. Maka disitu sering terdengar senjata-senjata beradu, tubuh-tubuh berkelit dan berlompatan, bahkan ada yang terpental jauh. Bertiga…atau lebih tepat disebut berdua, sebab satu dikeroyok dua orang…mereka mengadu kepandaian atau jiwa…

Sementara itu dengan sendirinya pengalaman dari It Hiong mengenai ilmu silat Khie bun Pat Kwa Kiam membuatnya bertambah maju. Dengan demikian dengan mudah ia sanggup menghadapi pengepungan itu, apalagi ia dibantu oleh pedang mestikanya serta ilmu ringan tubuh “Lompatan Tangga Mega” hingga secara umum ia berada diatas angin. Pertempuran itu berjalan dengan seru, jurus-jurus habis dengan cepat, hingga dilain saat seratus jurus telah dilewati. Selama itu It Hiong tetap gagah, pengaruh darah belut emas telah banyak membantunya. Ia menjadi kuat dan ulet serta dapat bertahan lama tanpa mudah letih. Walaupun demikian sesudah melewati banyak jurus itu, ia menjadi berpikir juga. Tak dapat ia lama-lama berkelahi secara demikian. Kedua musuhnya bukan orang sembarangan, lama-lama ia bisa kalah tenaga.

Dua-duanya, Leng Bin Hud dan Hian Ho Cinjin menggunakan seluruh kepandaiannya, mereka juga hendak merebut kemenangan untuk memuaskan hati mereka. Tengah mereka bertempur seru itu, mendadak Leng Bin Hud kena dikakinya sehingga ia kaget sekali, justru ia sedikit lalai sehingga ujung senjatanya yang istimewa kena terbabat pedang Keng Hong Kiam hingga ujungnya kutung sedikit! Ia mundur satu tindak untuk melihat senjatanya, habis mana mendadak ia melompat maju sambil membalas menyerang menjambak tangan si anak muda. Ia dapat merangsek sebab dilain pihak, Hian Ho juga sedang menyerang lawannya itu.

It Hiong dapat menerka maksud kedua lawannya itu. Ia tidak takut bahkan hatinya tak gentar. Ia tetap berlaku tenang. Ia juga menantikan waktunya yang baik. Waktu ia dijambak itu, ia memapaki dengan tebasan pedangnya ketangan lawan! Leng Bin Hud terkejut, sampai ia menarik pulang tangannya guna menyelamatkannya dari ancaman kutung. Pertempuran berlangsung terus. Hian Ho selalu menyerang secara berbahaya. Leng Bin Hud mengikuti jejak kawannya itu. Dipihak lain It Hiong tetap waspada dan gesit, ia tetap melayani dengan seksama.

Satu kali Gouw Beng kaget bukan main. Itulah sebab pedang lawan menyambar lengan kanannya disebabkan ia ayal sedikit…

“Hm!” It Hiong memperdengarkan ejekan, lalu terus ia mengulangi serangan mautnya. “Sambut pedangku!” demikian ia bentak Hian Ho.

Imam itu terperanjat jeri kepada pedang mestika itu, ia lompat mundur dua tindak, tetapi ia mundur bukannya buat menyingkir jauh. Dari samping ia lantas membalas menyerang pula. Mulanya dengan Im Sat Ciang, terus dengan tikaman pedangnya ke arah bahu lawan. It Hiong melihat ancaman itu, ia berkelit ke kiri, pedangnya dipakai melindungi diri.

Selekasnya kaki kirinya menginjak tanah, kaki kanannya diangkat naik melayang ke punggung lawan. Semua gerakan dilakukan dengan sangat cepat! Lagi-lagi Hian Ho lompat mundur. Kembali ia gagal. Syukur ia masih cukup cepat, maka ia selamat dari tendangan maut itu. Ayal sedikit saja berarti ia bakal terluka.

Sementara itu Tan Hong sadar sendirinya walaupun perlahan. Segera ia melihat bagaimana kedua pendeta dan imam itu tengah mengepung It Hiong dan mereka itu tengah berkelahi mati-matian. Kapan ia melihat si anak muda, bagaimana manisnya ia merasa, hingga dalam detik itu ia lupa akan nyeri pada bahunya, mendadak ia berjingkrak bangun. Ia terhuyung dua kali sebelum ia dapat berdiri tetap. “Oh adik Hiong, kau datang…?” serunya dengan napas memburu.

It Hiong tengah berkelahi, akan tetapi mendengar suara si nona yang ia kenali, ia toh melirik, hingga ia mendapati nona itu berada sejauh dua tombak lebih dari mereka bertiga.

“Siapakah yang mencuri kitab itu?” tanyanya kepada si nona itu.

Ditanya tentang kitab itu, Tan Hong sadar dan terkejut, tangannya lantas meraba kedadanya, hingga kesudahannya ia menjadi terkejut sekali. Kitab itu sudah lenyap. Untuk sedetik ia terdiam.

“Tadi aku dirobohkan hingga pingsan oleh pukulan dingin Sam Im Ciang si keledia botak Leng Bin Hud” katanya memberi keterangan. “Karena sekian lama aku tak sadarkan diri, tak tahu aku kitab itu ada ditangan siapa…” Ia terus mengawasi pendeta dan imam itu, untuk meneruskan berkata: “Mestinya satu diantara mereka berdua ini yang merampas kitab itu! Adik Hiong bereskanlah mereka berdua, jangan kasi ada yang lolos!”

Selama bicara dengan si nona, dua kali It Hiong mesti meloloskan diri dari serangan berbahaya lawannya. Hal itu membuat ia terkejut sekali hingga berbareng iapun berpikir keras. Demikian pikirnya: “Aku Tio It Hiong mesti berhasil merampas kitab ilmu pedang guruku! Kenapa aku mesti melayani mereka berkelahi lama? Itu berarti aku membuang- buang waktu yang berharga! Bagaimana kalau mereka berlaku licik dan kabur?” Mendadak, setelah ingat itu, It Hiong sudah lantas menyerang dengan hebat. Semangatnya seperti terbangun secara mendadak. Ia menyerang dengan pelbagai jurus silat pedangnya yang semuanya terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Ia mendesak dan menyerang secara bertubi-tubi!

Segera juga Leng Bin Hud menjadi repot sekali, bahkan peluhnya lantas bercucuran, dengan sendirinya ia merasa jeri dan memikirkan cara untuk angkat kaki dan ia merasa menyesal kesempatan untuk itu belum tiba. Terpaksa ia mesti bersabar sambil terus waspada.

Akhirnya datang juga saat yang dinantikannya itu. Yaitu saat Hian Ho Cinjin mencecar si anak muda dan It Hiong mesti melayaninya. Hian Ho menikam selagi si anak muda sedang menghadapi sipendeta. Tengah It Hiong menangkis, si imam Leng Bin Hud mendadak menyerang secara hebat yaitu tongkat rotannya bagaikan diterbangkan kepada lawannya.

Dilain pihak, dia memutar tubuhnya buat kabur dari sana!

It Hiong repot membela diri dari serangan imam dan pendeta itu, maka ketika ia melihat sipendeta meninggalkannya kabur,namun ia tidak mau mengerti, lantas ia lompat lari sambil berseru: “Kepala gundul! Hendak lari kemana kau?”

Gouw Beng mendengar suara orang ia menjadi bingung. Itu artinya orang telah mengejarnya! Ia cuma tahu lari buat menjauhkan diri. Ia tidak ingat ia bakal melewati Tan Hong yang sedang menderita. Hanya beberapa tindak dari si nona mendadak ada bayangan sesuatu yang menyambarnya!

Kiranya itulah tongkat Sanhopang dari Nona Tan!

Leng Bin Hud bertangan kosong, karena senjatanya telah ia lempar dan tak sempat diambil lagi. Sekarang ia mendapat serangan tiba-tiba, terpaksa ia menggerakkan kedua tangannya guna melindungi dadanya sedang tubuhnya ditegakkan. dibiarkannya dadanya itu. Ia terus menjatuhkan diri untuk terus lompat melenting. Karena itulah tipu menjatuhkan diri buat menyingkir dari serangan maut. Baru ia lolos dari serangan itu, serangan susulan sudah tiba, kali ini yang mengancamnya adalah pedang Keng Hong Kiam, bukan main kagetnya dia. Walaupun ia coba berkelit namun pedang toh menancap dibahunya. Ia kaget dan kesakitan, sampai roboh berguling, ia merasa bahwa ia sukar buat lolos namun  ia tak mau menyerah, tak sudi ia mengembalikan kitab pedang orang. Ia keluarkan kitab itu lalu dengan seluruh tenaganya ia lemparkan kepada Hian Ho sambil berseru lemah: “Toheng sambut! Ingatlah tolong balaskan sakit hatiku ini!” Habis berkata begitu, ia tidak menanti suaranya berhenti, ia  menotok dirinya sendiri guna menghentikan darahnya keluar terus. Sesudah itu ia menubruk It Hiong, kedua tangannya dipiting. Maksudnya ialah menerkam si anak muda guna mati bersama supaya Hian Ho sempat kabur.

Si imam berhasil menyambut kitab itu terus memutar tubuhnya dan lari. Tan Hong melihat orang hendak lari, ia lompat menyusul hendak mencegah, tapi ia disambut serangan Hian Ho. Ia sedang terluka, maka begitu ia dipapaki dengan serangan Im Sat Ciang beberapa kali, iapun roboh tanpa berdaya!

It Hiong melihat kitab dilemparkan sipendeta kepada si imam, ia hendak pergi menyusul imam itu, namun mendadak Leng Bin Hud lompat menerkamnya… Mau tdak mau ia mesti membela diri dan caranya ialah dengan memapaki serangan. Iapun gusar menyaksikan perbuatan pengecut dari pendeta itu. Maka waktu ia menggerakkan Keng Hong Kiam, Gouw Beng roboh tanpa berdaya, tubuhnya terkulai tak berkutik pula! Sementara itu si anak muda telah menyia-nyiakan waktu. Ketika itu Tan Hong sudah roboh dan Hian Ho sudah kabur, bahkan imam itu lari luar biasa cepatnya, sehingga sudah tak nampak bayangannya. Rupanya dia kabur ketempat yang lebat dimana dia menyingkir dan menyembunyikan diri.

Dalam keadaan seperti itu, It Hiong mengeluarkan suara nyaring guna melegakan hatinya kemudian sesudah memasuki pedang kedalam sarung, ia bertindak menghampiri Tan Hong. Nona itu sudah dapat duduk, ia tengah beristirahat. Lukanya parah tapi hanya dibahu sehingga dapatlah ia bertahan.

Mungkin dalam waktu beberapa hari ia akan sembuh kembali. Ia melihat si anak muda bertindak ke arahnya. Ia terperanjat cukup heran dan bingung dalam hati. Dilain pihak ia mnyesal sekali, kitab si anak muda tak dapat dilindungi. Karenanya air mukanya jadi suaram. Iapun berduka bareng malu sendirinya.

Mulanya It Hiong sangat gusar terhadap nona ini yang telah mencuri kitab pedangnya itu, kemudian hawa amarahnya reda sesudah ia membaca suratnya si nona yang ditinggalkan untuknya. Sebab Tan Hong mencuri kitab pedang bukan untuk dimiliki, melainkan guna memancing kedatangannya kepulau Hek Keng To. Ia dapat memaklumi perasaan hati si nona. Kembali ia menghadapi libatan asmara, nona itu jadi dapat dimaafkan karena dia mencuri saking terpaksa.

Tan Hong mengulangi perbuatannya Teng Hiang mencuri kitab di Pay In Nia. Teng Hiangpun berbuat karena dorongan asmara. Sedangkan tadi Nona Tan roboh ditangan Hian Ho sebab dia hendak merintangi kaburnya si imam itu. Setelah datang dekat pada si nona dan mata mereka saling mengawasi. Hatinya It Hiong menjadi lebih berubah lagi. Sinar mata nona itu sangat lunak dan mendatangkan rasa kasihan. Hingga disaat itu, entah kemana sudah perginya hawa amarahnya…

“Tan Hong!” tanyanya, “Apakah lukamu parah?”

Nona itu berlega hati mendengar suara orang halus dan wajahnyapun tenang. Ia lantas mengasih tampang payah, sambil menghela napas, ia menjawab tak langsung: “Semuanya salahku, aku bersandiwara tapi kesudahannya menjadi kenyataan…Aku menyebabkan hilangnya kitab pedangmu. Buat itu sudah wajar kalau darahku terciprat disini…”

Kata-kata itu makin melunaki hatinya si anak muda. “Kau terluka apamu?” tanyanya. “Kau dapat bangun dan

berjalan tidak? Tidak baik kau mendeprok saja ditengah jalan

seperti ini! Kau setujukah kalau aku membawa kau kerumah penginapan dimana kau dapat merawat dirimu?”

Bukan main girangnya Tan Hong, tapi dia berpura-pura. “Kau baik sekali,” katanya “Tapi baiknya kau lekas

menyusul si imam itu untuk merampas pulang kitab pedangmu, supaya hatimu menjadi tentram…”

It Hiong memperlihatkan tampang sungguh-sungguh, alisnya bergerak bangun.

“Apakah kau sangka Tio It Hiong seorang tak berbudi?” bilangnya. “Buat kepentinganku kau roboh terluka, mana dapat aku membiarkan saja dirimu? Buat merampas kitab pedang itu, tak usah kita terburu-buru, Nah mari kau bangun!” Si anak muda mengulurkan tangannya yang kanan buat membantu orang berdiri namun belum apa-apa ia sudah menarik tangannya dengan cepat…

Melihat begitu, diam-diam Tan Hong girang dalam hati. “Ikan” itu sudah makan umpan. Ia lantas bersandiwara terus, kecuali berpura nyeri, iapun membawa lagak sukar bangun berdiri. Sia-sia saja ia menggerakkan kedua tangannya membikin kakinya beridri. Ia terhuyung dua tindak dan mulutnya menjerit “Aduh…!” terus tangannya menyambar si anak muda guna berpegangan pada bahunya, hingga dilain saat ia sudah bergelendot pada tubuh pemuda itu!

Mukanya si anak muda jadi merah, dia jengah sekali. Celakanya buat dia, tidak berani dia menolak tubuh orang karena dia tak tega, dia malu sendirinya, dia likat. Terpaksa dia diam saja, pikirannya tak keruan rasa.

Ketika itu angin halus datang berhembus.

“Adik Hiong, kau kenapakah?” tanya Tan Hong hampir berbisik. “Bukankah tadi kau hendak membawa aku ketempat penginapan supaya aku bisa merawat diri di sana?”

It Hiong tidak lantas menjawab, ia justru berpikir, “Dia adalah orang Keng To yang terkenal kejam! Bagaimana aku dapat bersahabat dengannya? Pula disiang hari bolong seperti ini, mana dapat aku bersama-sama dengannya? Bagaimana kata orang jika aku harus memayangnya begitu rupa?

Menyesal tadi aku telah ketelepasan kata, bagaimana sekarang aku harus menjawabnya? Mana dapat aku menarik pulang kataku?”

Sesudah berdiam sebentar itu, otak It Hiong tak sepepat semula. Ia dapat mengambil keputusan tidak menghiraukan cintanya nona itu. Tinggal janjinya untuk membawanya ketempat penginapan, bagaimana? Ini sulit, maka akhirnya ia pikir terpaksa mesti lekas membawa nona itu pergi dari situ. Disaat ia hendak berangkat, tiba-tiba ia ingat “hosin ouw”, obat mujarab itu.

“Bukankah lebih baik aku berikan dia obat itu supaya aku tak usah memayangnya!” pikirnya.

Hanya sejenak pemuda itu berpikir, lantas ia mengambil keputusannya. Ia lalu melepaskan tangan nona yang memegangnya. Tan Hong melengak, ia menatap muka si anak muda. Kemudian ia berkata sambil menangis: “Tan Hong adalah budak hina dina, tak pantas ia berjalan bersama-sama seorang pemuda terhormat, karena itu baiklah, aku akan jalan sendiri perlahan-lahan, tak perduli andiakata aku terjatuh….”

Benar-benar nona ini berjalan, tapi baru dua tindak ia sudah berpura-pura terhuyung terus ia jatuh mendeprok.

It Hiong terkejut, sambil menjerit tertahan ia menubruk untuk mengangkatnya bangun.

“Dasar kau….” katanya.

Tan Hong bersandiwara terus, ia tidak menoleh kepada si anak muda tapi airmatanya meleleh turun dikedua belah pipinya, ia menangis sesegukan perlahan.

It Hiong bingung, ia dipengaruhi rasa kasihan.

“Kau terluka dalam, perlu kau lekas berobat.” katanya perlahan, “Jangan kau bersedih, itu akan menambah parah lukamu.” Nona itu menangis.

“Tak usah kau pedulikan aku” katanya. “Kau ambillah jalanmu sendiri.”

It Hiong menyerahkan sapu tangannya.

“Mungkin aku salah,” katanya. “Aku membuat kau berduka, tapi tidak ada maksudku sengaja. Kau susutlah air matamu, nanti aku obati kau.”

Bagus sekali Tan Hong bersandiwara. Sebenarnya ia tak merasa nyeri sedikit juga, ia cuma mempergunakan akal wanita pada umumnya. Ia melihat bahwa ia telah memperoleh kemenangan! Didalam hati ia girang bukan main tapi di depan si anak muda ia tampak berduka dan lesu. Ia berkeputusan membuat anak muda itu menjadi budaknya…Ia mengawasi orang tanpa membuka suara, kemudian ia sambuti saputangan itu.

Empat buah mata saling bertemu. Wajah si nona perlahan- lahan tampak tersenyum hingga ia menjadi manis dan cantik sekali. It Hiong yang merasa jengah menjadi tak senang hati. Sedikit juga ia tak menyangka bahwa nona di depannya itu lagi main sandiwara. Sebaliknya ia mengira nona itu tentunya ingin ia yang tolong menghapus airmatanya… Tak ingin ia melakukan itu, tapi ia takut si nona nanti menangis lebih jauh. Maka terpaksa ia mengambil pulang saputangannya, terus ia menyusuti airmata orang…

Habis berbuat begitu anak muda ini tertunduk. Ia bagaikan orang yang merasa bersalah sendirinya. Inilah karena ia masih muda dan terlalu polos, belum ada pengalamannya sama sekali. Malah kemudian ia menghela napas sendiri… Tiba-tiba saja Tan Hong tertawa sendirinya. Hanya sehabis itu mendadak dia menjerit “Aduh!” terus alisnya dikerutkan, tingkahnya seperti orang kesakitan.

It Hiong terperanjat, berbareng ia merasa kasihan. Justru itu ia diingatkan pada obat mujarabnya tadi. Lekas-lekas ia merogoh sakunya dan menarik keluar kotak kayunya yang indah buatannya.

“Nona, kau makanlah obat ini dua lembar,” katanya. “Habis itu perlahan-lahan kau boleh bernapas dan mengerahkan tenaga buat membantu kekuatan obat tersebut, setelah kau beristirahat dua tiga jam, nanti kau sembuh seluruhnya…”

“Obat apakah itu?” si Nona Tanya, tampangnya lesu. Ia seperti lagi menderita.

It Hiong membuka bungkusan kotaknya, ia mengambil dua lembar obatnya terus ia angsurkan pada si nona.

“Inilah obatnya, lekas kau makan!” ia menganjurkan. Nona Tan menggelengkan kepala. Dia tertawa perlahan,

matanya sementara itu menatap tajam muka sipemuda.

“Tak tahu aku kau berpikir bagaimana terhadap aku!” katanya, “mana dapat aku lancang makan obatmu ini?”

Anak muda itu memperlihatkan tampang sungguh- sungguh.

“Inilah obat mujarab yang istimewa!”katanya. “Inilah terutama untuk menyembuhkan luka, tak mudah aku memberikannya kepada orang lain, hanya…” “Hanya apa?” tanya si nona tertawa. “Bukankah kau tak dapat memberitahukan kepadaku nama obat ini? Selagi nama obat belum aku ketahui, mana dapat aku sembarang makannya? Tak tenang hatiku.”

“Inilah obat Cian Sian Ho sin ouw!” berkata si anak muda. “Sekarang kau tentu senang memakannya, bukan?”

Bagaimana besar rejekinya Tan Hong sampai dia dapat makan obat mujarab ini! berkata si nona, “Teranglah sudah bagaimana kau berlaku sangat baik kepadaku.”

“Jangan omong saja!” berkata sipemuda tidak sabar, “Lekas makan obat ini, lantas kau beristirahat sambil menyalurkan pernapasanmu!”

Masih Tan Hong belum mau memakannya.  “Tahukah kau pantangannya memakan Ho sin ouw?”

tanyanya sambil menatap dan sikapnya sangat bersungguh- sungguh.

It Hiong melengak.

“Benarkah ada pantangannya?” tanyanya heran. “Apakah itu? Pengetahuan dan pengalamanku masih sedikit sekali, coba kau tolong beritahu aku!”

Tan Hong tertawa perlahan. Tawanya itu sedap sekali. “Dahulu guruku pernah omong tentang Ho sin ouw,

katanya obat itu tidak boleh terkena hawa tangan wanita atau khasiatnya bakal lenyap, karena itu tak dapat aku memegangnya.” It Hiong terdiam. Lantas ia ingat halnya waktu ia mengobati ayah angkatnya, ia sendiri yang menyuapi obat kemulut ayahnya itu, In Gwa sian.

Tapi sekarang? Mereka adalah pria dan wanita. “Hendak aku tanya kau,” katanya kemudian kepada si

nona, “pernah tidak gurumu memberitahukan bagaimana caranya memakai obat ini untuk wanita supaya khasiatnya tidak sampai hilang!”

“Ada!” sahut si nona tersenyum. ” Cukup asal kau yang memasukkan obat itu kedalam mulutku…” Ia lantas mengangkat kepalanya untuk didongakkan sedikit, sedangkan mulutnya segera dibuka bersedia untuk menerima obat untuk dimakan. Ia memiliki mulut kecil, mulut yang dinamakan mulut buah engloh.

It Hiong jujur, tak pernah ia menyangka bahwa orang sedang menggoda atau mempermainkannya. Maka tanpa mengatakan sesuatu ia mengulur tangannya membawa obat kemulut orang untuk menyuapinya. Tan Hong menyambuti obat sedang hatinya lega bukan main, ia terus mengunyah dan menelannya. Lekas sekali mukanya tak sepucat tadi. Ialah disamping khasiat obat, hatinyapun sangat bahagia dan girang tak kepalang, sehingga dia makin tampak cantik dan manis.

It Hiong mengawasi selagi ia menyuapkan obatnya. Ia melihat nona itu berdiri diam saja dengan mata menatap dirinya serta kedua pipinya yang tampak merah dadu.

“Kau beristirahatlah!” katanya, “Kau duduklah disisi jalan itu dan salurkan napasmu, aku percaya sebentar juga kesehatanmu akan pulih.” Tan Hong menurut. Ia pergi kepinggir jalan untuk duduk disitu dan bersemedi. Iapun memejamkan kedua matanya. Selang setengah jam, ia memperdengarkan suara “Hh!” dan wajahnya tampak kecewa, sepertinya ia menyesalkan obat itu belum dapat terasalurkan benar-benar. Lalu terlihat ia membuka kedua matanya.

“Adik Hiong!” katanya kemudian. “Jalam darah dibahuku ini masih seperti tertutup, coba kau tolong bukakan. Dapatkah kau menolongku?”

Si anak muda yang lagi menantikan atau menjaga itu tercengang.

“Bagaimana?” tanyanya heran. “Apakah obat mujarab itu masih belum bekerja?”

“Entahlah!” sahut si nona pula. “Napasku tetap belum mau berjalan lurus dan didalam masih terasa sedikit nyeri, adik maukah kau membantui aku?”

Dalam dunia persilatan, membantu orang supaya napas dapat berjalan lurus adalah yang sulit, buat yang ditolong sangat besar feadahnya sedang yang menolong tenaganya banyak terbuang dan tubuhnya Bisa menjadi letih karenanya. Hanya kalau pertolongan diberikan oleh seorang pria terhadap seorang wanita atau sebaliknya, itu rasanya berabe. Sebabnya ialah kedua orang yang menolong dan yang ditolong harus duduk berhadapan dan tubuh mereka, sedikitnya tangan mereka harus saling bertempelan. Dari segi kesopanan jelas kurang bagus dipandang, apalagi kalau dilakukan ditengah jalan dimana sembarang orang dapat berlalu lintas. Inilah yang menyulitkan It Hiong, apalagi si wanita terkenal sebagai jago wanita kaum sesat. Apa nanti kata orang banyak? Ketika itu sudah mendekati magrib, ditengah jalan itu tak tampak orang berlalu lalang. Walaupun demikian, si anak muda berdiri menjublak. Ia bimbang walaupun terhadap si nona tak sedikit juga ia mengandung maksud tak baik. Ia justru menghendaki habis memberi obat itu untuk segera berlalu memisahkan diri. Kalau ia memberikan bantuan tenaga dalamnya, bagaimana andiakata ada orang yang memergokinya?

Cerita jelek bisa menyebar, apalagi kalau yang melihatnya adalah pihak yang tak menyukainya. Maka itu, daripada nanti terbit salah mengerti, ia ingin mencari satu jalan lain yang sempurna.

Tan Hong memikir sebaliknya. Ho sin ouw telah membuatnya sembuh, tapi ia masih menghendaki lebih daripada kesembuhannya. Ingin ia menempel dan mendapatkan si anak muda yang tampan dan gagah, yang hatinya mulia itu. Maka inilah kesempatan yang baik untuk mereka berdua bisa berada berdekatan lama-lama.

Melihat orang berdiam saja, Nona Tan segera mendesak. “Kenapa kau masih berdiri menjublak saja?” tegurnya

manis. “aku toh cuma minta bantuan sedikit dari tenaga

dalammu, mengapa kau mesti memikirkannya lama-lama?”

“Bukan begitu,” berkata si anak muda ayal-ayalan. “Aku lagi memikirkan bagaimana kalau orang mmergoki kita berdua disini? Orang bisa salah mengerti. Bagaimana kalau kau makan pula Ho sin ouw lagi?”

Didalam hati Tan Hong tertawa geli. Tapi ia tak putus asa.

Hendak ia mencoba lebih jauh. “Apa gunanya Ho sin ouw?” tanyanya. “Aku telah memakannya cukup banyak. Kekuatiran kau tidak beralasan. Lihat, saat magrib akan segera tiba! Lihat, disini tidak ada orang lain siapa juga! Siapakah nanti yang melihat kita? Lagi pula, adik, kaulah orang Kang Ouw sejati, buat apa kau bertingkah seperti wanita?”

It Hiong kena didesak. Pertama karena ia percaya orang sangat membutuhkan tenaga bantuannya itu. Kedua ia ingin lekas-lekas meninggalkannya. Lebih baik ia membantu daripada ia berdiam saja bersama nona itu. Kalau orang melihat mereka maka akan menimbulkan kecurigaan. Kalau ia membantu dia dengan segera ia bisa cepat berlalu. Maka akhirnya ia bertindak menghampiri nona itu, untuk duduk di belakangnya. Kedua tangannya diletaki dipunggung orang.

Mulanya ia menggertak gigi guna menguatkan hatinya buat menahan rasa malu atau likatnya. Seterusnya ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk terus disalurkan kedalam tubuh orang.

Tan Hong diam saja, hatinya berbunga-bunga. Akalnya telah berhasil dengan baik, bukan kepalang puasnya. Ia menerima saluran tenaga dalam dengan perasaan melayang- layang.

Sang waktu berjalan cepat. Lewat kira-kira satu jam, It Hiong menarik pulang kedua tangannya, terus ia bangun, sesudah menghela napas, ia lompat memisahkan diri sejauh lima kaki lebih. Disitu ia berdiri sambil mengawasi si nona!

“Kau telah sembuh seluruhnya, nona!” katanya, “Nah, perkenankanlah aku memisahkan diri!” Tan Hong terkejut, ia mengawasi anak muda itu, perlahan- lahan ia bangkit untuk merapikan pakaiannya, ia tampak lesu dan heran.

“Bagaimana, eh adik.” tanyanya. “Kenapa kau mau pergi begini cepat?”

“Telah aku tolong obati kau, nona” kata It Hiong. “Sekarang kau telah sembuh, karena itu buat apa aku berdiam lebih lama pula disini! Lagipula..”

Mendadak si anak muda menghentikan kata-katanya. Tan Hong mendelong mengawasinya.

“Adik” katanya, “Apapun yang kau ucapkan, tak nanti aku sesalkan kau. Kenapa kau agak bersangsi? Bicaralah, jangan kuatirkan aku.”

It Hiong ingin lekas pergi, mendengar ucapan si nona, ia tak dapat beragu-ragu lagi.

“Lagipula kita berbeda, golongan kita berbeda jalan satu dengan lain.” ia melanjuti, “Aku dari pihak lurus, kau sebaliknya, hingga ada kemungkinan dalam pertemuan digunung Tay San nanti apakah kita bakal menjadi kawan atau lawan satu sama lain masih belum dapat ditentukan dari sekarang! Biarlah kita bertemu pula kelak!”

Nona itu tampak sangat berduka.

“Sayang aku berasal dari golongan sesat.” katanya berterus terang. “Memang, mana bisa aku bersahabat dengan murid terpandai dari Tek Cio Siangjin, ahli pedang terkenal dijaman kita ini? Hanya pertemuan kita ini membuatku tak dapat melupakannya, terutama tadi pertolonganmu. Aku hanya itu seorang wanita, ilmu silatku tidak berarti, akan tetapi walaupun demikian, kelak dikemudian hari, aku akan membalas budimu ini. Sekarang kau terimalah dulu ucapan terima kasihku…”

Dengan air mata berlinang, Tan Hong merangkapkan kedua tangannya memberi hormat pada si anak muda. Air matanya itu benar-benar bercucuran.

It Hiong terperanjat dan heran.

“Itulah urusan kecil, nona jangan kau buat pikiran,” katanya, “Kau anggaplah pertemuan kita ini sebagai pertemuan secara kebetulan dalam sekilas waktu saja. Hatiku sedang pepat sekali, ingin aku lekas mendapat pulang kitab pedangku, maka itu nona harap kau merawat dirimu baik- baik!”

Habis mengucap demikian, It Hiong memutar tubuhnya dan berlalu dengan tindakan lebar.

Tan Hong membanting kaki.

“Ada yang lebih baik,” serunya, “Aku masih hendak bicara!

Habis aku bicara, barulah kau pergi, dapat bukan?”

Mau tak mau It Hiong menoleh ke belakang dan menghentikan tindakannya.

“Nona mau bicara apa?” ia menegaskan. Tan Hong menghampiri beberapa tindak. “Dalam hal kitab pedang itu, aku yang bersalah,” ia mengaku perlahan. “Karenanya walaupun kau sudi memaafkan aku, hatiku terus tak enak dan tak tenang. Bagamana adik, dapatkah kau mengijinkan aku terus mendampingimu supaya aku bisa bekerja sekuatku untuk mendapatkan pulang kitab ilmu pedang itu? Dengan jalan itu saja barulah aku dapat menebus kesalahanku ini…”

Mendengar suara orang itu, parasnya It Hiong berubah menjadi gemas dan kasihan bergantian. Mengingat hilangnya kitab pedang itu ia mendongkol tapi melihat wajah si nona ia merasa kasihan. Nampak jelas si nona benar-benar menyesal, bahwa orang asalnya sesat tetapi liangsimnya, hati sanubarinya masih putih bersih.

“Kau baik sekali nona, terima kasih.” katanya. “Tio It Hiong bodoh, tapi sejak dia memunculkan diri, dia telah berketetapan untuk hanya bersama sebatang pedangnya menyapu semua orang sesat yang merintanginya, tak biasa dia menerima bantuan orang atau orang-orang yang berkedudukan sebagai lawan dari pihakku. Jika sampai itu terjadi, mungkin orang itu tak merasa malu, tapi aku. Aku jadi memperhina pihakku sendiri!”

Tan Hong tertawa kecil.

“Adik yang baik, maafkan aku bicara sejujurnya!” katanya. “Ketika kau mengacau , kecuali Kim Hee Kiong dipuncak Ngo Im Hong, bukankah Tok Niocu Yauw Siauw Hoa ada mengintil di belakangmu dan dia membantumu? Cumalah, Yauw Siauw Hoa dari kalangan mana, aku tidak tahu sama sekali!”

Kata-kata itu membungkam It Hiong. Maunya Bicara tapi gagal. Sedetik itu ia lantas membayangi bagaimana waktu itu Yauw Siauw Hoa telah bekerja hebat untuknya, hingga budinya menjadi besar sekali. budi mana tak dapat ia melupakannya. Siauw hoa telah membantunya secara mati- matian. Sekarangpun, mengingat nona itu, ia merasa terharu dan bersyukur sekali. Kiranya juga dalam golongan hitam ada seorang wanita yang demikian tulus dan ikhlas. Dan sekarang dihadapannya ini, muncul seorang Tan Hong.

Masih lewat beberapa saat, sebelum It Hiong dapat menenangkan hatinya! Sulit untuknya mengambil keputusan.

“Oh It Hiong!” pikrnya kemudian, “It Hiong kaulah laki-laki sejati! Dapatkah menerima dirimu dijagai wanita? Bagaimana pandangan orang mendapatkan kau bersama seorang nona dari kalangan sesat? Tidakkah mereka akan mentertawakanmu?”

Karena memikir begini, ia terus menjawab si nona: “Tentang Yauw Siauw hoa, aku menyesal sekali. Bukankah pepatah berkata “Peristiwa lama jangan dilupai, tak dapat dilupai dan peristiwa baru, yang belakangan bakal terjadi dapat mengambilnya sebagai teladan” Maka itu nona, tak berani karena urusanku, aku nanti membahayakan dirimu!” Habis berkata begitu, ia lantas memberi hormat, terus membuka tindakan lebar dan berjalan pergi.

Tan Hong terkejut saking bingung. Ia lompat menyusul dan mendahuluinya, terus ia menghadang di depan orang.

“Maafkan kakakmu yang bicara terus terang.” katanya. Suaranya menandakan dia mendongkol berbareng berdosa dan menyesal, “Maaf kalau aku membuat kau bergusar. Hanya mengenai urusan mencari pulang kitab pedang itu, aku masih hendak menanyakan sesuatu. Tahukah kau Hian Ho si imam tua kemana perginya dia?” It Hiong heran hingga ia melengak.

“Imam hidung kerbau itu, bukankah dia telah lari pulang ke Kam Hee Kiong di Ngo Im Hong?” dia balik bertanya.

Mendengar jawaban itu si nona menghela napas. “Saudaraku yang baik!” katanya, “Kalau sekarang kau

menyusul dia ke Ngo Im Hong, kau bakal melakukan perjalanan sia-sia belaka…Sejak kau merusak Kam Hee Kiong, imam tua itu sudah kabur kegunung Kiu Hiong San, kekuil Siang Ceng Hiong, dideretan bukit karang Hu Yong Ciang.”

“Oh, begitu!” seru si anak muda, “Habis kenapakah bukannya dia bersembunyi di Kiu Hiong San untuk menutup diri dan memikirkan segala perbuatannya yang salah, dia justru kelayapan ke Pek Sek Touw? Dia mau bikin apakah?”

Tan Hong tertawa geli.

“Perbuatannya orang-orang rimba persilatan mana dapat ditentukan dari muka?” sahutnya balik bertanya, “Sekarang ini saat jago dari luar lautan dan dalam negara saling berebutan kekuasaan! Bukankah saatnya pertemuan persilatan digunung Tay San sudah tak jauh lagi? Maka itu menurut terkaanku, pasti imam tua itu tengah mendapat perjalanan mencari kawan sesamanya dan kebetulan saja ia lewat disini…”

It Hiong berdiam sejenak, baru ia bertanya pula cepat: “Kenapa imam tua itu mengetahui perihal kitab ilmu pedang itu terjatuh ketanganmu dan dia datang menghadang perjalanan untuk merebutnya?” Tan Hong agak sengit. Katanya,”Apakah kau tak pernah mendengarnya? Hal itu sudah terjadi karena sepak terjangnya sibudak setan Teng Hiang muridnya Thian Bin Lojin!”

It Hiong menganggap sudah tak perlu lagi ia berbicara lebih lama pula.

“Nah, sampai jumpa pula!” katanya seraya terus tubuhnya melompat ke depan tanpa menoleh lagi.

Tepat tubuhnya bergerak, bergerak pula tubuhnya si nona, maka dalam sedetik itu lenyaplah dua bayangan orang didaLam Sang gelap gulita.

Sekarang marilah kita menoleh pula kepada Nona-nona Kiauw In dan Giok Peng yang berada ditengah jalan ke arah barat, yang sudah menghajar kabur Cin Tong sibajingan dari pulau Hek Keng To dan telah melepaskan diri dari Gak Hong Kun, maksud utama mereka berdua ialah mencari Tio It Hiong.

Mereka itu mau mengajak sipemuda pergi ke Hek Keng To guna mencari Tan Hong buat meminta pulang kitab pedang istimewa. Malam itu mereka di Lai yang dan terus mencari penginapan. Kapan satu malam telah dilewatkan, pagi-pagi sekali mereka sudah bangun tidur, berkemas dan berangkat. Karena mereka hendak mengambil jalan kaki, mereka menitipkan kuda mereka kepada jongos sambil memesan untuk merawatnya dengan baik. Dalam waktu singkat, mereka sudah sampai di Lao sie pang sebuah tempat terpisah tanjakan.

Adalah diatas tanjakan itu terdapat sebuah pohon kayu yang besar, yang tumbuhnya entah sudah berapa banyak tahun. Akar kedua pohon itu melingkar-lingkar menutup jalanan. Pohonnya tidak terlalu tinggi, besarnya sepelukan sepuluh orang! Pohon pun subur sekali, banyak cabangnya dan lebat daunnya hingga dilihat dari jauh pohon bagaikan payung yang tengah terpentang. Hingga sekitarnya menjadi teduh. Perkampunganpun berada tak jauh dari pohon besar itu dan itu merupakan sebuah pasar kecil.

Berdua Kiauw In dan Giok Peng duduk berteduh dibawah pohon raksasa itu, mata mereka diarahkan kekampung hingga mereka dapat melihat orang berlalu lalang atau mondar mandir. Sampai mendadak mereka mendapati satu orang berlari-lari ke arah tanjakan atau lereng itu dan larinya cepat hingga lekas sekali dia itu sudah sampai.

Kedua nona itu melihat seorang tosu atau imam yang sebelah matanya picak yang tubuhnya besar dan kekar. Bahkan Giok Peng mengawasi dengan penuh perhatian.

“Kakak” katanya pada Kiauw In perlahan dan sambil menarik tangan orang. “Aku rasanya mengenali dia. Ingatkah kakak siapa dia?”

“Bukankah dia sipendeta tua dari Kim Hee Kiong di Ngo Im Hong?” sahut Kiauw In sambil meneliti wajah orang. “Kita harus waspada!”

Juga si imam agaknya terperanjat ketika melihat kedua nona itu. Hanya sebentar lantas dia menghunus pedangnya dan membentak:

“He, bocah perempuan, kau pernah apa dengan Pat Pie Sin Kit sipengmis tua bangkotan? Cara bagaimana kalian berdiri disini memenggat jalanku?” Imam itu ialah Hian Ho Cinjin. Dia kabur sesudah terjadi perampasan kitab silat. Dia jeri betul terhadap It Hiong dan selama lari menyingkir itu dia sangat takut ada yang menghadang dan mengganggunya. Demikianlah waktu ia melihat kedua nona itu. Kecurigaannya muncul dengan sendirinya. Sejenak itu dia belum tahu siapa kedua nona itu tetapi dia merasa seperti mengenalnya. Dia ingat-ingat lupa. Demikianlah dia menegur, teguran yang seperti juga membuatnya membuka rahasia sendiri. halnya dia sedang ketakutan…. 

Kiauw In sangat cerdas, ia dapat menerka jelek. “Kau membuat apa ditengah jalan ini?” ia balas

membentak. “Kalau kau tidak memberi keterangan yang jelas, jangan harap kau dapat lewat disini!”

Hian Ho membalingkan pedangnya. Matanyapun menatap bengis. Dengan perlahan dia bertindak maju, tampangnya sangat garang. Nampaknya dia sangat mengancam.

“Bagaimana kepandaian kamu berdua jika dibanding dengan kepandaiannya Tan Hong dari Hek Keng To?” dia tanya nyaring. “Cara bagaimana kamu berani merintangi Toya kamu? rupanya kamu sudah bosan hidup!”

Dengan “To-ya” dia membahasakan dirinya. Artinya ialah imam yang suci atau kesohor.

Kiauw In tidak mengambil peduli akan lagak orang itu. “Kau telah merampas kitab ilmu pedang dari tangannya

Tan Hong!” katanya memancing. “Beranikah kau menyangkal itu! Kau kenalkah aku? Aku Cio Kiauw In, muridnya Tek Cio Siangjin! Lekas kau serahkan kitab Sam Cay Kiam itu pada kami!”

Giok Peng lantas menyelak, katanya keren, “Siapa yang tak ingin orang ketahui perbuatannya, tak ada jalan lain daripada jangan melakukan perbuatan itu!”

Hian Ho mengira orang tahu jelas perihal perampasan kitab pedang di Pek Sek Touw, dia tertawa dingin. Dia membesarkan nyalinya. Kata dia keras dan menantang: “Ya! Kitab pedang itu ada pada Toya kamu! Aku tidak takut dengan kawanan budak, kamu mempunyai kepandaian buat merampasnya atau tidak?”

Kiauw In puas mendengar suara orang itu. Jadi untuknya tak ada lagi keragu-raguan tentang imam dari Kim Hee Kiong itu. Maka iapun menghunus pedangnya.

“Jangan kau bergalak-galak!” tegurnya. “Jangan kau bertingkah! Hendak aku tanya kau, bagaimana kepandaian ilmu pedangmu apabila dibandingkan dengan kepandaian ketua kamu?”

Hian Ho habis sabar.

“Sudah!” bentaknya. “Nah, kau sambutlah pedangku ini!” Dia benar-benar maju menyerang dengan jurus “Angin musim rontok menyapu daun” pedangnya menabas ke arah pinggang nona Cio.

Sementara itu Giok Peng yang girang menyaksikan kecerdasan Kiauw In hingga si imam mudah saja seperti membuka rahasia mengenai kitab pedang mestika yang dipersengketakan itu, telah memasang mata tajam. Ia tertawa dan berkata: “Eh, hidung kerbau! Tanpa dihajar, kau telah membuka rahasiamu sendiri!”

Hian Ho membungkam, cuma pedangnya yang digeraki, ketika Kiauw In menyambut, maka keduanya lantas bertarung. Hebat si imam menyerang, karena dia ingin lekas-lekas merebut kemenangan, supaya dia tak usah menyia-yiakan waktu.

Kiauw In tahu imam itu lihai-dialah lawan dari kelas satu, maka itu ia tidak mau berlaku sembrono. Lebih baik tak ingin ia keras lawan keras. Karenanya ia segera menggunakan Te In Ciong, ilmu lompat dan ringan tubuh Tangga Mega. Didesak lawan secara hebat itu, ia melayani dengan lebih banyak loncat sana dan loncat sini, kebanyakan ia berkelit saja.

Hian Ho megharap segera memperoleh kemenangan, kesudahannya hatinya menjadi kurang tentram. Kewalahan dia melayani kegesitan dan kelincahan si nona. Tak dapat dia mendesak orang hingga orang suka melayani dia sama serunya. Tapi dia tidak putus asa. Dia mendesak terus, dia ingin lekas pulang kekuilnya.

Giok Peng menonton dipinggiran, otaknya bekerja: “Ilmu pedangnya imam ini tidak dapat dipandang ringan. Kalau dia dilayani secara begini sampai kapan pertempuran akan berakhir?” Ia lantas memikir buat turun tangan, tapi ia malu sendiri. Bagaimana dapat ia main keroyok? Dia akhirnya cuma menonton terus, tetapi pedangnya ia hunus.

Masih pertempuran berlangsung, kedua pihak sama unggulnya. Yang satu keras yang lain lunak, tapi silunak tak sampai terdesak kepojok. Lewat delapanpuluh jurus masih Hian Ho belum sempat meloloskan dirinya. Hal ini membuatnya mendongkol berbareng sibuk sendirinya. Hatinya tak tenang, lantaran ini dia memikir akal. Kebetulan ketika satu kali si nona balas menikam padanya, dia berkelit dengan lompat kesamping sebuah pohon besar, untuk terus berlindung dan menghilang di belakang pohon itu. Akar pohon banyak dan muncul berlengketan, sedangkan pohonnya juga ada durinya dan ada pohon rotan yang mengelilitnya. Bagian atas pohon itu dapat pula menjadi tempat sembunyi yang baik sekali.

Melihat orang berkelit itu, Kiauw In hendak menyusul, namun mendadak ia ingat pepatah yang mengatakan “Penjahat terdesak, jangan dikejar” Sendirinya ia lantas menunda maksudnya mengejar itu.

Giok Peng dilain pihakpun berseru: “Kakak jangan susul dia! Awas dia menggunakan tipu daya licik!”

“Ya, dia licik sekali!” sahut Kiauw In penasaran. “Dapatkah kita tak berbuat sesuatu atas dirinya?”

Giok Peng tertawa. Dia berpengalaman, dia dapat mengendalikan dirinya.

“Musuh ditempat gelap, kita ditempat terang, itulah berbahaya buat kita,” katanya sabar, “Karena sudah pasti kitab ditangannya, kita sabar saja. Mustahil dia dapat memilikinya buat selama-lamanya? Mustahil pula dia dapat pergi sembunyi keatas langit?”

Kiauw In mengawasi ke belakang pohon raksasa itu, yang lebat dengan dahan-dahan dan daunnya, hingga sukar melihat menembusinya. Kemudian ia berpaling pada kawannya dan berkata, “Bagaimana kalau kita bakar saja? Dapatkah dia lolos?” “Bagus kakak!” Giok Peng berseru. “Kita menggunakan api membakarnya! Bagus!”

Lantas kedua nona bekerja mengumpulkan daun-daunan kering terus ditumpuk ditepi pepohonan lebat itu, disisi pohon kayu besar. Setelah itu mereka menyalakan api. Tidak lama maka api sudah mulai menyala besar, berkobar dan asapnya mengepul-ngepul. Bahkan mereka berdua berdiri dikepala angin untuk berulang-ulang mengebut ke arah api itu untuk membantunya berkobar!

Sebagai akibatnya dari nyala api itu, burung-burung pada beterbangan pergi dan tikus serta binatang kecil lainnya lari serabut. Api makin besar dan panas dan asap makin tebal. Karena itu kedua nona lompat turun kebawah tanjakan, menyingkir dari hawa panas dan asap itu. Dari tempat jauh mereka memasang mata.

Dari jauh api dan asap terlihat tegas, belum lama maka berdatanganlah orang-orang kampung disekitar situ guna melihat dan kalau perlu membantu memadamkan api. Suara jadi riuh dengan bunyi kentongan dan gembreng.

Menyaksikan kesibukan penduduk situ, Kiauw In menyesal sudah membakar pepohonan itu. Artinya mereka sudah meyusahkan penduduk setempat. Maka bersama Giok Peng ia berlari-lari memapaki rombongan orang kampung itu.

Orang yang lari di depan rombongan itu adalah seorang pria tua dengan rambut ubanan, tangannya mencekal tongkat, janggutnya bertebaran diantara tiupan angin. Dia sudah tua tapi dia dapat berlari keras. Tak lama tibalah orang itu beserta kawan-kawannya. “Jangan-jangan api itu disebabkan siluman ini…” si orang tua itu berkata didalam hati, selekasnya dia melihat kedua nona berlari ke arahnya. Melihat jurusannya ia menerka darimana nona itu datang, yaitu dari tempat pohon kayu besar itu!

Setelah datang dekat satu dengan lain, Giok Peng mendahului menyapa: “Paman bagaimana caranya memadamkan api itu?” Iapun seperti Kiauw In tetap merasa tak enak hati.

Orang tua itu mengawasi kedua nona bergantian. “Apakah nona-nona sedang berlalu lalang disini?” dia balik

bertanya, “Apakah barusan nona dapat melihat seorang imam lewat sini? Matanya hilang sebelah dan tubuhnya menggembol pedang?”

Nona Peng melengak. Ia bukan dijawab malah balik ditanya. Karena ini ia tidak lantas memberikan jawaban. Ia justru mengawasi.

Orangtua itu menatap.

“Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanyanya, tampangnya tak puas.

Kiauw In segera melangkah maju, ia memberi hormat. “Maaf paman,” katanya mewakili kawannya . “Paman

menanyakan tentang imam bermata satu, apakah paman

maksudkan Hian Ho Cinjin dari Kim Hee Kiong, Ngo Im Hong?” “Benar!” sahut orang tua itu, “Apakah kalian melihat dia?” 
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).