Iblis Sungai Telaga Jilid 12

 
Jilid 12

Tepat itu waktu anak muda ini melihat sehelai sapu tangan diatas meja. Ia heran. Ia lantas menghampiri dan mengulur sebelah tangannya, menjemput itu. Ia lantas melihat dua baris huruf yang tertulis pada sapu tangan itu. Bunyinya :

"Kitab pedang aku pinjam untuk dibaca ! Silahkan datang ke Hek Keng To.

Kalau kau memanggil kakak padaku akan kukembalikan kitabmu itu."

Dibawah itu ada tanda-tandanya dua huruf : "Tan Hong"

Membaca surat itu It Hiong kaget. Segera ia mendekap dadanya. Maka kembali ia kaget, kali ini kagetnya bukan main

! Kitabnya hilang !

"Celaka !" serunya. Lantas ia menjadi gusar sekali.

Saputangan itu dilemparkan ke tanah. Kendati begitu, ia toh berdiri menjublak.

"Biar akan aku menginjak-injak Hek Keng To rata seperti bumi ! Budak hina dina, aku akan susul dan cari kau !" katanya sengit. Dilain detik pemuda ini sudah menyambar pedangnya terus ia lari keluar untuk pergi menyusul si nona. Ia tak bikin banyak berisik lagi.

Sekarang marilah kita melihat dahulu kepada Teng Hiang, habis dia berpisah atau ditinggal pergi oleh Tan Hong di kecamatan Hengyang itu. Dalam perjalanan menemui gurunya, ia bertemu guru itu. Thian Cio Lojin ditengah jalan, maka selanjutnya ia turut gurunya itu menuju ke Tay San.

Di jalan besar di Ouwlam barat, rombongan Teng Hiang ini bertemu dengan rombongan Kiauw In dan Giok Pek. Ia ingat Teng Hiang ingin ia melampiaskan kesebalannya terhadap sahabat itu, maka juga kedua nona, nona Cio dan Pek itu, ia memberi bisikan bahwa It Hiong sudah pergi menyusul Tan Hong ke Hek Keng To guna anak muda itu mencari ilmu kitab pedangnya. Maka mereka dianjurkan untuk lekas pergi menyusul.

Berdua Giok Peng, Kiauw In berunding. Biar bagaimana mereka kuatir Teng Hiang nanti mendustakan mereka.

Sekarang ini Teng Hiang lain daripada Teng Hiang yang dahulu. Sekarang Teng Hiang menjadi lihai gerak geriknya...

Tengah nona-nona ini masih ragu-ragu dari sebelah depan mereka melihat menandatanginya dua orang penunggang kuda yang kemudian ternyata adalah Cek Hong Siancu Cin Tong si dewa angin merah serta Ba Cu Liang. Yang belakangan itu adalah muridnya Beng Cinjin. 

Cin Tong melihat kedua nona, lantas dia tertawa bergelak. "Kamu kedua budak !" katanya sembari tertawa nyaring,

tingkahnya ceriwis sekali. "Hari ini kamu jangan memikir pula akan lolos dari ujung pedang kakekmu !" Lantas ia teriaki Cu Liang untuk lompat turun dari kudanya, dia sendiri mendahului berlompat.

Kiauw In berdua Giok Peng tahu bahwa mereka tidak dapat menghindari diri dari pertempuran maka merekapun turun, untuk menghadapi jago luar lautan yang galak itu. Sambil menuding, Nona Cio berkata nyaring, "Jahanam ! Ketika di Siauw Sit San kau bisa lolos, bukannya kau terus pulang ke pulaumu, untuk menutup diri memikirkan segala perbuatan salah kamu, sekarang kau berkeliaran disini ! Masih beranikah kau main gila ?"

Ba Cu Liang tidak mau banyak bicara, dia maju sambil membacok Giok Peng dengan golok Biau-Tonya yang tajam.

Nona Pek berkelit tetapi ia bukannya terus menyingkir, hanya ia berbalik maju guna membalas menyerang. Ia menggunakan enam jurus beruntun dan yang keenam ialah Berlaksa Bunga Mekar Berbareng. Maka juga lawannya seperti di kurung pedang dari kiri dan kanan, dari atas dan bawah.

Ba Cu Liang menjadi murid alwarisnya Beng Leng Cinjin dalam angkatan kedua, dialah anggota Hek Keng To yang paling lihai dari itu tidak heran kalau dia dapat melayani Giok Peng bahkan dengan goloknya yang istimewa itu ingin ia membabat kutung pedang si nona.

Giok Peng tidak mempunyai niat berkelahi, ia lebih memikirkan It Hiong yang lagi dicari itu tetapi karena jago luar lautan ini mendesak dan melibatnya, terpaksa ia melayani dengan sungguh-sungguh.

Cu Liang keras dan telengas tidak berhasil dia merobohkan si nona. Sebaliknya, lama-lama dialah yang terdesak. Dia kuat tetapi kalah bertahan. Lewat tiga puluh jurus terpaksa dia maju mundur repot dia membela diri, tak peduli goloknya sangat tajam.

Cin Tong berkuatir juga menyaksikan keponakan murid itu terdesak sedemikian rupa sampai dia kewalahan menangkis pelbagai serangan lawannya, maka itu hendak dia memberikan bantuannya. Justru dia mau bergerak maju justru bahaya sudah lantas mengancam si jago muda.

Pedang Giok Peng meluncur ke-iga kanan lawan itu. Cu Liang menangkis dengan keras ingin dia supaya kedua senjata beradu, pedang nanti tertebas puntung. Giok Peng sebaliknya tak mengijinkan pedangnya terbabat lawan. Ia memutar pedangnya itu untuk dikelitkan sekalian dipakai menebas lengan kiri.

Celakalah Cu Lian, tak sempat ia menangkis atau berkeliat, mestinya lengannya itu terbabat buntung atau disaat menghadapi bencana itu, Trang ! pedang si nona ada yang tangkis !

Nona Pek terperanjat tetapi segera ia melihat itulah Cin Tong yang membantu temannya. Ia menjadi marah sekali, maka ia lantas menyerang si Dewa Angin Merah.

Sebagai kesudahan dari serangannya Giok Peng, pedangnya bentrok dengan keras tetapi untuk herannya ia mendapat kenyataan pedangnya itu justru beradu dengan pedang Kiauw In. Sebenarnya itulah tidak heran. Ketika Cin Tong bergerak membantu Cu Liang, Kiauw In juga berlompat menerjang padanya.

Dia lihai, disamping menangkis pedang Nona Pek dapat ia menyelamatkan diri. Atas datangnya pedang Nona Cio, dia berkelit dengan cepat sekali. Karena itu selagi dia lolos, pedangnya Nona Cio beradu dengan pedangnya Giok Peng !

Kedua nona kaget hingga mereka sama-sama berlompat mundur.

Cin Tong dapat menyelamatkan diri dengan ia menjatuhkan dirinya dengan terus bergelindingan, kalau tidak pastilah ujungnya kedua pedang akan menancap ditubuhnya. Ia menyingkir jauh setombak lebih.

Kiauw In mendongkol.

"Roh gelandangan dari Hek Kang To kemana kau hendak menyingkir ?" bentaknya. Ia lompat mengejar.

Cin Tong meletik bangun. Dia juga gusar tetapi dia tidak membuka mulutnya, dia hanya menyambut serangan si nona, sesudah mana dia lantas membalas hingga tiga kali saling susul.

Kiauw In berpikir sama seperti Giok Peng, tak mau ia melayani lama ia kedua lawan itu, sebab mereka mempunyai urusan penting mereka sendiri, kalau ia toh menyerang maksudnya supaya musuh tahu diri dan pergi menyingkir. Cin Tong sebaliknya memikir lain. Jago luar lautan ini memang hendak mengganggu nona-nona itu, dia mau membalas sakit hatinya kawannya di Siauw Si San maka dia berkelahi dengan bengis.

Demikian mereka bertarung dengan seru. Ketika itu mendekati maghrib, ditengan jalan itu masih ada orang-orang yang berlalu lalang, diantaranya ada orang yang berkereta, tetapi karena ada orang yang berkalahi itu, mereka itu pada berhenti jauh-jauh dan semua pada menonton.

Belum lama maka datang pula dua penunggang kuda lainnya, di belakang mereka itu berdua, ada seorang yang berjubah panjang yang mendatangi sembari berlari-lari.

Nampaknya dia seperti lagi mengejar dua penunggang kuda itu. Dan dua penunggang kuda itu tak seperti melihat orang lagi bertarung, terus mereka melarikan kuda mereka, sekeras- kerasnya !

Kiranya dua penunggang kuda itu adalah murid-murid dari To Liong To ialah Coan kun-kah Mie A Lun dan Ciau sui kauw Lie Seng, si tenggiling dan ular naga mendekam. Cu Liang melihat mereka itu, kontan dia berteriak-teriak : "Kawan- kawan mari lekas. Mari kita bekuk budak perempuan ini !"

Kedua belah pihak itu ada dari kepulauan yang berlainan tetapi mereka kenal satu dengan lain dan bersahabat. Mereka memang asal satu golongan.

A Lun dan Lie Seng menahan kuda mereka, lantas mereka mengawasi kedua nona itu terutama Giok Peng yang mereka kenali. Lie Seng tertawa tergelak.

"Inilah kebetulan !" serunya nyaring. "Kita bertemu pula !"

Kata-kata itu ditujukan terhadap Nona Pek dan diucapkan berbareng dengan lompat turunnya dia dari atas kuda, guna terus menyerang nona itu !

Tapi Lie Seng menyerang secara mendadak itu, tepat datang tangkisan pedang dari sisinya, setelah kedua senjata bentrok nyaring, golok Gan leng To terlepas dari cekalannya jago To Liong To itu, terpental jauh dua tombak bahkan saking kerasnya tangkisan itu, sipemilik golok sendiri terpelanting roboh memegang tanah !

Sementara itu Giok Peng terkejut mendengar suaranya Bu Cu Liang, suara itu berarti ada bala bantuan untuk lawannya atau lebih jelas lagi ia bakal mengalami kesulitan. Maka segera ia memikir buat berkelahi cepat. Begitu ia melihat orang membacok padanya dengan kecepatan luar biasa ia melompat ke samping, untuk dari situ menangkis sambil menghajar dengan hebat. Demikianlah kesudahannya, golok lawan terbang dan tubuh lawan itu pun roboh.

Melihat lawan terjatuh, Nona Pek menggunakan kesempatan yang baik. Lagi sekali ia bergerak sangat cepat, sambil lompat maju ia melancarkan satu tikaman ke arah lawan. Ia ke arah Bu Cu Liang yang terkejut melihat kawannya yang membantu padanya, terhuyung roboh. Dia mencoba berkelit, tetapi dia kalah cepat, tahu-tahu bahu kirinya sudah kena tertusuk, hingga dia merasakan sangat nyeri dan roboh seketika.

Selagi si nona menyerang dan merobohkan lawannya itu, Lie Sang sudah berbangikit bangun, melihat nona itu merobohkan kawannya dia maju pula hendak menyerang guna membantu kawan itu. Tapi Giok Peng mendapat dengar suara orang bergerak, ia lantas menoleh ke belakang, selekasnya ia melihat aksinya Lie Seng itu, ia mendahului bergerak pula. Ia membenci dan bergusar terhadap pembokongnya itu maka ia menyambut dengan satu tikaman.

Kali ini tanpa mengeluarkan jeritan Lie Seng lantas roboh terkulai untuk tidak berkutik pula. Dia cuma kaget dan lantas roboh. Sebab Nona Pek sudah berlompat kepadanya dengan cepat luar biasa sambil menikam dengan jurus pedang "Diperairan pulau mematuk ikan". Dan Lie Seng tak berdaya terhadap sambutan itu yang membuatnya kaget dan gugup. Maka robohlah dia sebagai korban kegalakannya !

Giok Peng bergirang berbareng menyesal sesudah ia merobohkan dua lawan itu. Ia girang sebab ia menang dan bebas. Yang menyesalkan ialah karena ia telah melukai dua orang, walaupun itu dilakukan dengan terpaksa guna membela dan membebaskan diri dari ancaman maut ! Ia merasa bahwa ia telah berlaku terlalu keras....

Kemudian Giok Peng melihat kelilingnya. Ia mendapatkan Kiauw In tengah bertarung seru sekali dengan Cin Tong. Masih ada satu rombongan lain yang lagi bertempur hebat. Hanya ketika ia melihat pihak yang melawan musuh itu ia tercengang. Ia heran masgul dan girang dengan berbareng.

Di pihak itu pemuda yang bersenjatakan pedang, kiranya Gak Hong Kun adanya !

Karenanya hilangnya kitab ilmu pedang Giok Peng pergi mencari itu. Ia pun hendak melakukannya diluar tahunya It Hiong, inilah sebab ia hendak mencari Gak Hong Kun kemudian ia mendengar berita hal kitab ilmu pedang sudah terjatuh kedalam tangannya Tan Hong. Berita itu membuatnya sedikit girang. Dengan begitu tak usah ia menemui Hong Kun, tak perlu ia mencari pula pemuda itu. Ia boleh langsung mencari Nona Tan. Siapa tahu disini secara kebetulan ia bertemu si anak muda, bahkan orang telah membantui pihaknya. Mana dapat ia tak menemuinya? Dapatkah ia tak usah berbicara dengan dia itu ? Maka juga bingunglah ia, hatinya menjadi tak tenang...... Pertempuran diantara Kiauw In dan Cin Tong tetap berjalan hebat hanya makin lama desakannya sudah makin rapat.

Inilah sebab nona ini insyaf tak usah berkelahi secara bertele- tele itu akan merugikan. Hanya ia merasa kesal sebab lawannya itu tangguh dan tak mudah untuk dikalahkan.

Tengah Nona Cio berkelahi sambil berpikir keras itu ia dan Cin Tong dikejutkan oleh teriakannya Bu Cu Liang yang menjadi korban pedang Giok Pek. Hanya si nona terkejut untuk terus bergirang. Si pria kaget berbareng berkuatir.

Inilah karena dia memperoleh kenyataan, yang menjerit itu adalah Bu Cu Liang yang menjadi lawannya. Lantas hatinya menjadi ciut, lenyap sudah pengharapannya. Selagi si nona mendesak, dia maju mundur--mundur, mendekati Cu Liang. Selekasnya dia sudah datang cukup dekat, sekonyong- konyong dia lompat pada si sahabat, yang dia sambar tubuhnya, terus dibawa lari ke kudanya, terus dia membawanya lompat naik keatas kudanya itu, buat segera pergi kabur !

Tentu sekali Kiauw In melengak karena perbuatan lawan itu sampai tak sempat ia mengejarnya.

Ketika itu Mie A Lun sudah terdesak oleh Hong Kun. Baru dua puluh jurus dia sudah kewalahan mengerak-geraki Jit Goat Sianjin ciang, senjatanya yang aneh itu dan terus dia berkelahi sambil mundur. Dia membantu Cin Tong karena kebetulan saja siapa tahu sahabatnya Lie Seng, telah dilukai lawan hingga dia menjadi bingung berbareng menyesal apabila setelah mendapatkan Cin Tong kabur dengan membawa Bu Cu Liang hingga dia ditangkap bersama Lie Seng yang terluka itu...

Lagi beberapa jurus maka bulat sudah tekad A Lun untuk menyingkirkan diri. Dia mundur ke arah kudanya, niatnya untuk berlompat naik keatas punggung kuda itu, guna kabur juga. Tapi ia terdesak, dia repot dan berkuatir sekali.

Lawannya, sebaliknya, mendesak semakin keras. Maka tibalah saatnya dia berlaku ayal sedikit. Tiba-tiba senjatanya kena tersontek, terlepas dari cekalannya dan terpental. Dia kaget hingga dia mengeluarkan peluh dingin. Mana dapat dia melawan terus sedangkan dengan bersenjata dia sudah kalah angin. Terpaksa dia lompat lari kepada kudanya, dengan niat melompatinya naik dan kabur.

Gak Hong Kun tidak mau membiarkan orang pergi, ia berlompat maju menyusul. Tiba-tiba ia terperanjat. Ia melihat ada bayangan pedang, berkelebat ke arahnya dan telinganya mendengar ini teriakan nyaring merdu "Gak Hong Kun !

Biarkan dia kabur "

Hong Kun heran, batal ia melangsungkan tikamannya, maka sampailah Mie A Lun kabur bersama kudanya ! Ia lekas menoleh, hingga ia melihat dan mengenali Giok Peng.

"Adik Peng !" serunya girang bukan kepalang. Ia pun memutar tubuh, lari menghampiri.

Giok Peng berdiri diam, tampangnya sangat muak. Tak sepatah ia membuka mulutnya.

Ketika Kiauw In pun datang menghampiri, ia lantas berdiri berendeng dengan Nona Pek, tetapi matanya mengawasi si anak muda.

Hong Kun melengak melihat sikap Nona Pek, tapinya dia tak berdiam lama.

"Adik Peng !" sapanya sembari tertawa. "Aa.. kenapa kau berada disini ? Bagaimana dengan Hauw Yan ?" Si nona menatap sungguh-sungguh. Dia mengangkat kepalanya.

"Inilah karena kau.. !" katanya atau mendadak dia berhenti.

Dia merasa salah omong, dia menjadi canggung sekali.

Hong Kun sebaliknya. Dia malah tertawa.

"Ah, kiranya kau masih ingat padaku ?" katanya. Tapi tak dapat dia berbicara terus.

"Beginilah macamnya murid dari Heng San Pay !" tiba-tiba Kiauw In menyela. "Begini tak tahu malu ? Cis !"

Merah padam muka si anak muda, dia terkejut dan malah dia pun jengah.

Gak Hong Kun berkata, "Giok Peng", tak kurang kerasnya, hingga ia memegat si anak muda yang agaknya berniat membuka mulut. "Aku mencari kau karena kau telah mencuri kitab ilmu pedang guru kami !"

Hong Kun lantas menenangkan diri.

"Oh !" serunya tertahan, terus mukanya menjadi merah, tetapi hanya sekejap saja.

Terus dia menjawab, tak langsung, dia bahkan menyampaikan soal.

"Selama ditengah jalan, kau bertemu dengan budak Teng Hiang atau tidak ?" demikian ia balik menanya. "Kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ?" tukas si nona.

"Teng Hiang ketahui tentang kitab ilmu pedang itu !" kata Hong Kun. Kembali dia mengegosi pertanyaan.

"Kepada siapa kau serahkan kitab ilmu pedang itu ?" tanya Kiauw In, terpaksa.

Nona Cio sangat tidak puas, dia habis sabar.

Hong Kun tidak mengambil mumet nona itu, dia hanya mengawasi Giok Peng.

"Adik Peng, dapatkah aku menemani kau pergi mencari kitab pedang itu ?" demikian dia tanya. Dia bukannya menjawab hanya bertanya. Selalu dia bicara dengan hawa maunya sendiri. Sebab sengaja dia berbuat demikian untuk menggoda hati orang. Hanya kali ini, habis menanya begitu, dia menghela napas, tampangnya menjadi lesu.

"Tak usah kau pergi bekerja sendiri !" berkata Giok Peng yang terpaksa menjawab pertanyaan orang. "Kita harus menyingkir dari kesan umum ! Bilang terus terang padaku, dimana adanya kitab ilmu pedang itu !"

Si anak muda berdiam, kemudian terdengar suaranya bagaikan gerutu.

"Aku tidak sangka kau begini tidak berbudi " demikian

katanya perlahan. Dia tunduk.

Melihat sikap orang itu, terpaksa, Giok Peng membayangi hari-hari yang telah lewat sebelum ia bertemu dengan It Hiong. Ketika itu ia dan anak muda ini bergaul rukun dan akrab sekali. Tapi hanya sedetik, ia dapat menguasai pula hatinya. Mestinya segala apa sudah lewat.

"Jangan bicara tidak karuan !" bentaknya.

"Dimana adanya kitab pedang itu sekarang. Kalau tidak, kau mesti memberikan keterangan ! Kau harus bertanggung jawab !"

Hong Kun menutupi mukanya dengan kedua belah tangannya.

"Kitab itu sudah dikembalikan kepada Tio It Hiong..." katanya perlahan.

Giok Peng melengak. Itulah tak ia sangka. Kemudian ia hendak menanya pula ketika Kiauw In menarik ujung bajunya seraya berkata, "Dia lagi mengulur waktu untuk melibatmu ! Sekarang sudah mendekati sore. Mari kita berangkat !"

Nona Pek menurut, maka ia ikut kawannya itu. Mereka menaiki kuda mereka, cuma satu kali mereka menoleh pada Hong Kun, lantas mereka mencambuk kuda mereka itu dan pergi !

Hong Kun mengawasi dengan terbengong. Lewat sekian lama, baru dia bagaikan sadar akan dirinya. Ketika itu Giok Peng sudah pergi jauh. Disitu tidak ada orang lain kecuali kudanya Lie Seng, maka dia lantas pakai kuda itu dengan apa ia pergi meninggalkan tempat itu guna menyusul kedua nona...

Sekarang kita kembali dulu kepada Tan Hong si Raja Sakti Bermuka Kemala, itu nomor dua Hek Keng To, pulau ikan Lodan Hitam. Dengan membawa kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam, ia kabur dari kecamatan Heng yang, terus menuju kecamatan Cimkoan. Di sana sengaja ia singgah satu hari, maksudnya untuk menantikan It Hiong. Ia tidak mengharap memiliki kitab pedang itu disebabkan ia menghendakinya, ia hanya jatuh cinta terhadap si anak muda yang tampan dan gagah itu, yang halus gerak geriknya. Kitab cuma mau dipakai sebagai jalan untuk memperat perkenalan dan pergaulan. Ia heran setelah satu hari ia tidak mendapatkan si anak muda menyusulnya. Terpaksa dihari kedua ia melanjutkan perjalanannya dengan perlahan-lahan. Maka juga diwaktu tengah hari baru ia sampai ditempat penyebrangan Pek Cio Toaw, sebuah tempat yang letaknya sudah dekat dengan propinsi Ouwlam.

Hilang kegembiraannya jago wanita dari Hek Keng To ini.

Ia berhenti disebuah warung teh, pikirannya ialah untuk medengar-dengar keterangan dari orang-orang yang berlalu lalang perihal Tio It Hiong mungkin ada yang membawa ceritera tentangnya.

Belum terlalu lama maka tibalah seorang pendeta yang tubuhnya katai dan kecil dan kurus kering, tangannya sebelah membawa tongkat rotan. Dia memasuki warung teh dengan tindakan lebar.

Warung itu kecil, mejanya cuma lima buah dan semua meja berikut kursinya boleh dibilang sudah butut.

Pendeta itu memilih sebuah meja, begitu dia menyapu dengan matanya kepada semua meja lainnya hingga sendirinya dia melihat kepada Tan Hong. Dia mempunyai mata yang bersinar dan wajah sangat dingin hingga siapa yang melihatnya dapat berperasaan segan atau jeri. Habis menghirup tehnya pendeta itu lantas memperdengarkan suaranya yang serak.

Ia berbicara dengan Tan Hong yang ia hadapinya, "Ehh, anak, sepasang tongkat batu dipunggungmu itu tampak sangat menyolok mata, apakah kau murid dari Hek Keng To ?"

Tak puas Tan Hong melihat lagak dan mendengar kata orang itu. Dia itu seperti mengandalkan ketuaan tingkat derajatnya.

"Kalau benar bagaimana, kalau bukan bagaimana ?" Ia menjawab tetapi sambil kontan membalas menanya.

Tak senang pendeta itu mendapat pertanyaan itu, parasnya yang tak mengasih mendadak menjadi guram.

"Aku, si pendeta tua menanya kau cara bagaimana kau berani tak menjawabku ?" tegurnya bengis.

Tan Hong pun mendadak menjadi gusar.

"Nonamu tidak suka menjawab, maka dia tak menyahut

!"demikian balasnya, keras dan sambil menolak pinggang, setelah mana ia segera berbangkit, berdiri tegar. "Dapatkah kau melakukan sesuatu atas diriku ?"

Si pendeta kurus kering tertawa pula, dingin.

"Eh, anak, kau jangan galak !" katanya menegur. "Aku si pendeta hendak menanya dahulu biar jelas terhadapmu, baru akan aku persilahkan kau, guna kau melanjuti perjalananmu

!..."

Si nona juga tertawa dingin. "Beranikah kau bertindak terhadapku ?" tanyanya menantang. "Nonamu tidak percaya pendeta kau bernyali besar, berani menghina orang Hek Keng To !"

Pendeta itu sudah memejamkan matanya ketika dia membukanya dengan tiba-tiba, sinar matanya itu dengan tajam menatap orang dihadapannya. Kembali ia tertawa dingin.

"Ooh, karena kau mengakui diri sebagai orang Hek Keng To," dia menegaskan, "apakah kau yang dipanggil Tan Hong

?"

"Mau apa kau menanyakan namaku ?" Tan Hong membentak.

Lantas pendeta katai dan kurus itu kata keren ! "Kalau begitu kitab ilmu pedangnya Tek Cio Siangjin berada ditanganmu ! Lekas kau keluarkan itu untuk aku lihat !"

Mendengar disebutnya kitab Sam Cay Kiam, Tan Hong melengak. Lantas ia pun ingat yang It Hiong sampai itu waktu masih belum juga menyusul. Karena ini ia mau menerka mungkin si pendeta pernah mendengar tentang pemuda itu. Maka duduk pula ia dikursinya dengan perlahan-lahan ia menghela napas.

"Bapak guru datang dari mana ?" tanyanya. "Dan apakah julukan suci dari bapak guru ?"

"Hmm !" si pendeta memperdengarkan suara dingin ! "Oh, anak yang cerdik ! Baiklah aku memberitahukan kau terus terang, supaya kau tak usah bercapai hati menerka-nerka. Aku si pendeta tua, akulah Gouw Beng yang kaum Kang Ouw menyebutnya Leng Bin Hud ! Hari ini aku datang dari Tiangsen

! Nah, ragukah kau, bukan ?" ia berdiam sejenak, lalu ia mengulurkan sebelah tangannya, untuk menambahkan : "Nah, kau serahkan Sam Cay Kiam kepadaku !"

"Perlahan, taysu !" sahut Tan Hong tertawa. "Sabar !

Nonamu masih hendak menanyakan sesuatu !"

"Apakah yang hendak kau tanyakan ?" kata si pendeta tak sabaran. "Tanyakanlah, kau jangan banyak bicara ! Tapi tak usah kau buka mulut lagi, mungkin aku ketahui pertanyaanmu itu ! Mari aku beritahukan ! Aku ketahui dari tentang kau mencuri Sam Cay Kiam dari Teng Hiang muridnya Thian Cie Lojin, hanya bukan aku mendengarnya langsung dari sungai telaga. Jadi urusan itu bukan cuma aku sendiri yang mengetahuinya tetapi banyak orang lain. Hayo, kau serahkan kitab pedang itu padaku ! Apakah kau masih memikir yang tidak-tidak ?"

Tan Hong menggeleng kepala.

"Itulah bukan pertanyaan yang si nonamu hendak ajukan kepadamu !" sahutnya. "Selama dalam perjalananmu dari Tiangsen, apakah kau pernah melihat atau menemui seorang muda she Tio, usia kira dua puluh tahun yang pada punggungnya tergandol sebatang pedang ?" 

"Apakah yang kau maksudkan Tio It Hiong, muridnya si imam tua she Tio ?" pendeta balik bertaya. "Hm ! Aku si pendeta tua justru tengah mencarinya untuk membuat perhitungan dengannya !"

Mendengar jawaban itu, matanya si nona berputar sedangkan di dalam hatinya ia berpikir : "Kiranya keledia gundul ini musuhnya adik Hiong ! Baiklah hendak kau bunuh dia supaya adik Hiong senang hati padaku !" Maka lantas sepasang alisnya bangkit berdiri terus ia tertawa dingin dan kata menantang "Kitab pedang Sam Cay Kiam itu benar berada padaku ! Jika kau rasa kau mempunyai kepandaian untuk mengambilnya, kau ambillah sendiri !"

Tanpa merasa Leng Bin Hud si Buddha Bermuka Dingin menjadi naik darah, mendadak dia menggerakkan tongkat rotannya yang berkepala ular dengan itu dia menyerempang kaki si nona sambil dia membentak. "Jika kau berani kau sambutlah aku dalam beberapa jurus !" 

Tan Hong melompat berkelit sekalian ia menyambar sebuah kursi yang terus ia pakai menyampok menangkis maka "Prak!" rusaknya kursi itu terhajar tongkat hebat potong-potongannya terbang berhamburan !

Penjual teh menjadi bingung, dia menggoyang-goyangkan tangan seraya berkata dengan suara menggetar, "Bapak pendeta, kalau bapak mau berkelahi silahkan pergi keluar. Aku minta janganlah bapak pendeta merusak usahaku ini !"

Tan Hong sementara itu telah mengeluarkan Sanho pang ruyungnya yang istimewa itu.

"Eh, Leng Bin Hud !" katanya menantang, "kalau kau menghendaki seluruh tehnya menjadi dingin beku dan semua pelanggan bergelandangan disini, nah marilah kau turut si nonamu pergi keluar sana supaya kita jangan membikin rusak barang-barang disini !"

Habis berkata begitu si nona terus mendahului bertindak keluar. Leng Bin Hud gusar sekali, dia menyambut tantangannya itu maka dia pun pergi menyusul si nona itu. Dengan demikian betempurlah mereka ditanah rata ditepi gunung dekat penyeberangan Pek sek touw. Mereka mengadu kepandaian tanpa banyak omong lagi.

Leng Bin Hud memandang ringan kepada lawannya karena ia melihat si nona masih sangat muda. Ia telah memikir dengan tongkatnya yang panjang itu dalam dua atau tiga jurus saja ia akan sudah berhasil merobohkannnya. Lantaran ini juga, ia tidak lantas mengeluarkan kepandaiannya ilmu Sian Thian Bu kek Khie-kang. Ia cuma memutar pergi pulagnnya tongkatnya mencari pelbagai jalan darah si nona.

Tan Hong adalah salah seorang dari Sam Koay-Tiga Jin dari Hek Keng To, bukan cuma ilmu silatnya bukan sembarang ilmu, senjatanya juga senjata luar biasa. Sanho pang kokoh kuat bagaikannya besi bercampur baja dapat dipakai menjajar batu hancur lebur.

Pula senjata itu ada ilmunya sendiri. Maka itu begitu bergebrak, ia dapat melayani si pendeta ia berhasil mendesak. Leng Bin Hud repot bertahan dari desakan si nona, baru sekarang dia insyaf yang wanita remaja dan cantik manis itu tidak dapat dipandang ringan maka baru sekarang juga secara tergesa-gesa menggunakan ilmu kepandaiannya, yaitu ilmu Sian Thian Bu kek Khie kang itu. Hingga selanjutnya dapatlah ia berkelahi dengan mengimbangi nona itu, dapat juga ia mencoba balik mendesak.

Tengah mereka berdua bertempur seru itu mendadak dari luar kalangan terdengar suara cempreng dari seorang wanita, suara yang mirip dengan bunyi kelenengan perak : "Lihat, lihat si pendeta kurus itu ! Lihat, dia tak sanggup melayani lawannya ! Lihat, tongkat rotannya sudah mulai kacau !" Heran Leng Bin Hud karenanya, walaupun sedang berkelahi ia lantas mencari ketika dan melirik kesisi, guna melihat wanita itu akan mendapat tahu siapa dia - nona atau nyonya - ia kenal atau tidak...

Terpisah dua tombak lebih dari tempat pertarungan, dua orang tengah berdiri menonton pertempuran. Mereka wanita dua-duanya, yang satu seorang tua yang lainnya seorang nona kecil. Kalau si wanita tua sudah putih semua rambut dikepalanya, adalah wajahnya masih memperlihatkan sisa-sisa kecantikannya, masih menarik hati sebab mukanya masih merah dadu, sedangkan pakaiannya termasuk pakaian yang luar biasa sebab pakaiannnya itu yang berwarna merah tersulamkan gambar kupu-kupu. Dilihat dari tampangnya dia mungkin baru berumur lebih kurang empat puluh tahun...

Si Nona Tanggung baru berumur tiga atau empat belas tahun, rambutnya yang hitam panjang dilepas terurai ke punggungnya, kakinya tidak memakai sepatu, sedang bajunya hampir sama dengan pakaian si wanita tua juga tersulamkan kupu-kupu yang mengasih dengar suara nyaring itu adalah si anak tanggung itu.

"Eh, budak perempuan, nyalimu besar ya ?" tegur Leng Bin Hud. "Bagaimana kau menilai ? Awas, sebentar sang Buddha kamu akan memotong kutung lidahmu !"

Nona kecil itu tertawa geli.

"Bagaimana, eh ?" tanyanya tertawa pula. "Kakak itu saja kau tidak mampu robohkan, bagaimana kau berani memotong lidahku ? Cis, tak tahu malu !" Dan ia membawa jari-jari tangannya ke mukanya sendiri untuk mengejek secara bermain-main. Bukan main panas hatinya si Buddha Bermuka Dingin.

Dengan lantas ia menangkis keras senjatanya lawan. Itulah tipu tongkat "Membangkitkan badai dan guntur". Menyusul itu, ia lompat mundur tujuh kaki meninggalkan lawannya untuk sebaliknya mendekati si nona jail.

"Siapakah kau ?" tegurnya bengis.

Si Nona Tanggung belum menjawab, atau kawannya yang tua sudah mendahuluinya.

"Hm !" nyonya tua itu memperdengarkan suaranya. "Hm ! Akulah Ang Gan Kwie Bo dari gunung Ngo Cie San ! Apakah benar kau bagaikan mempunyai mata tetapi tidak mengenal gunung Tay san yang suci dan agung ?"

Nama "Ang Gan Kwie Bo" itu mempunyai arti "Ibu bajingan berwajah merah", tetapi mendengar itu Leng Bin Hud tidak takut atau jeri, bahkan ia mengasi lihat wajah dingin ketika dia menjawab dengan tak kalah dinginnya. "Tongkat rotan Buddha kami ini tidak mengenal kamu !"

Ang Gan Kwie Bo melengak, dia tertawa tergelak gelak. Suara tawanya itu keras, nyaring dan tajam seumpama kata bagaikan menusuk telinga atau menikam uluhati. Terpaksa hatinya Leng Bin Hud menggetar juga rasanya nyeri. Bahkan Tan Hong yang terpisah jauh dua tombak lebih turut merasakan getaran itu.

Sebenarnya tawanya Ang Gan Kwie Bo itu bukan sembarang tawa. Itu hanya ada semacam ilmu pengaruh yang dia beri nama Tot Pek Im Po atau gelombang suara merampas nyawa. Habis tertawa itu, dia tampak tenang. "Baiklah" kataya sabar, "mari kita mencoba menyambut beberapa jurusmu, taysu ! Ingin aku belajar kenal dengan ilmu silat yang istimewa !"

Diam-diam Leng Bin Hud terperanjat. Tahulah dia bahwa wanita itu sudah mempunyai tenaga latihan yang telah mencapai puncak kesempurnaan tenaga dari Sian Thian Bu Kek Khie-kang. Maka mengertilah ia halnya sulit bagi dia dapat bertahan dari nyonya itu. Karena itu juga suaranya pun jadi berubah lunak ketika dia menyambut si nyonya. Katanya, "Aku si pendeta tua tidak mempunyai waktu untuk menyambut kau

! Sekarang ini aku hendak membereskan dahulu ini budak liar

!"

Dan berkata begitu, kembali ia mendesak wanita jago dari Hek Keng To itu.

Sebenarnya Ang Gan Kwie Bo sudah berusia delapan puluh tahun lebih. Dia bukan asal suku Han hanya suku Lei atau Leejin dan tempat asalnya ialah Ngo Cie San, gunung lima jeriji tangan. Dimana secara kebetulan dia menemui "Sian Hin Hun" jamur dewa. Siapa yang makan jamur itu, usianya nanti dapat tambah banyak, tubuhnya sehat dan tak mempan penyakit. Setelah mendapati jamur itu dia lantas membuat obar "tak bisa tua" atau awet muda. Memang tadinya dia berparas cantik, dengan makan obatnya itu, mukanya menjadi selalu bersemu merah dadu. Dia bagaikan tak dapat menjadi tua, kecuali rambutnya yang telah berubah putih. Semakin banyak dia makan obatnya, dia tampak makin segar dan mentereng. Lalu diapun mempelajari ilmu silat berikut ilmu sesat. Dia bertabiat aneh dan telengas, demikian dia memperoleh nama atau julukannya itu. karena itu juga kaum Kang Ouw jeri terhadapnya, dimana-mana dia disegani bahkan ditakuti. Dia biasa bekerja seorang diri, gemar merampok dan merampas dalam hal mana suka dia tak membiarkan korban hidup, dia main bunuh orang.

Walaupun menjadi jago Ang Gwan Kwie Bo cuma dapat berpengaruh di tujuh propinsi selatan sampai pada tiga puluh tahun dahulu dia roboh ditangannya Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian yang terhadapnya menggunakan ilmu silat Hiang Liok Ho Mo Kun. Setelah itu dia pergi menyendiri di Ngo Cie San dimana dia telah melatih diri dalam ilmu Sian Thiang Bu Kek Khie-kang ilmu tenaga dalam yang dihubungi dengan ilmu Toat Pek Im Po itu.

Thian Cin Lojin kenal Ang Gwan Kwie Bo. Maka itu guna menambah tenaganya maju gerakan Siauw Lim Pay jago tua itu sendirinya pergi berkunjung ke Ngo Cie San, mengundang kepada wanita jago ini dan Ang Gwan Kwie Bo menerima undangan baik itu sampai baru beberapa hari yang terbelakang ini dia meninggalkan gunungnya. Sampai dipenyebrangan Pek Sek To ini kebetulan sekali dia menemui Leng Bin Hud lagi menempur Tan Hong. Bersama muridnya Cio Hoa dia berdiri menonton. Nyata sang murid gatal mulutnya. Selama mengikuti gurunya belum pernah Cio Hoa turun gunung, bahkan kali inilah yang pertama kali ia turut gurunya melakukan perjalanan. Ia tertarik hati melihat pertempuran seru itu hingga ia ingin mencoba kepandaiannya sendiri. Apalagi ia justru mengejek Leng Bin Hud, sampai si Buddha Bermuka Dingin menjadi tidak senang dan panas hati. Demikian mereka berselisih.

Leng Bin Hud tahu wanita itu lihai sekali, tak sudi dia melayani, bersedia dia mundur teratur. Dalam hal ini dia pandai membawa diri, kelicikannya membuat dia dapat menuruti angin. Begitulah dia merendah terhadap si wanita jago dan terus mundur guna menghadapi Tan Hong pula. Biar bagaimana tak ingin ia meninggalkan kitab silat Sam Cay Kiam.

Tan Hong menyaksikan dua orang itu berbicara, ia mendapat kenyataan bagaimana Leng Bin Hud jeri terhadap si nyonya tua itu, jadi memandang orang makin rendah, maka itu waktu ia melihat orang datang pula padanya, ia mendahului bentaknya : "Eh, manusia tak punya muka, tak tahu malu, masih kau tak mau menggelinding pergi !" Ia pun mengangkat tongkatnya untuk mengancam.

Leng Bin Hud mendongkol kata dia dengan suara dalam yang sedap didengarnya : "Ah ! Kau hendak mencoba-coba sepasang Sing Im Ciong ku !" Dan benar-benar dia lantas menggerakkan kedua belah tangannya, untuk dipakai menolak dengan keras. Dengan begitu dia telah memakai tenaga dari ilmu Sian Thian Bu kek Khie kang yang ia telah latih lama itu. Maka juga segelombang hawa sangat dingin sudah mendesir kebadannya Tan Hong !

Nona menggigil seketika. Hawa dingin itu terasa terlalu meresap kedalam tubuhnya. Lekas-lekas ia mengerahkan tenaga dalamnya untuk bertahan, terutama guna menutup semua jalan darahnya. Ia pula mengerahkan tenaga dalam lunak dari ilmu Hek To yaitu Mo Teng Kee. Hingga didalam waktu yang singkat, dapat ia menolak keluar serangan hawa dingin lawan itu. Dengan mencekal sanho-pang, ia berdiri tegak menghadapi si lawan yang tangguh.

Si Buddha Bermuka Dingin heran menyaksikan lawan nona itu. Dia telah melihat sendiri tubuh orang menggigil, ia tidak mengerti kenapa orang pulih dalam waktu yang demikian singkat, apapula lawan itu adalah seorang perempuan yang masih sangat muda sedang khiekangnya itu telah ia latih selama puluhan tahun. Ilmu itu ia beri nama Sian Thian Bu kek Khie-kang, sedang serangannya barusan menurut ilmu tangan dingin beracun Han Tok Siang Im Ciang yang diciptakan dari Khie kang tersebut. Selama di lima propinsi utara, ilmu khie kang itu belum pernah gagal, cuma satu kali di dalam peristiwa di gedung gubernur jendral propinsi Anhui gagal terhadap Tio It Hiong yang pernah minum darah belut yang mujizat. Ia tidak dapat menerka, Tan Hong menggunakan ilmu apa untuk bertahan darinya.

Tengah pendeta ini berdiam saking herannya itu maka disebelah belakang dia, dia dengar pula tawa nyaring yang tadi dikasihh dengar si anak tanggung. Kali ini anak itu tertawa sambil berkata.

"Sungguh ilmu Siang Im Cian yang hebat sekali ! Tapi segera ternyata ilmu itu justru dapat dipakai cuma buat mengebut debu dan menepuk lalat. "

Bukan main mendongkol dan bergusarnya si Buddha Bermuka Dingin. Ia menyesal sekali yang ia tidak dapat segera menghajar bocah yang jaih dan kurang ajar itu, untuk sedikitnya merobek mulutnya atau menamparnya beberapa kali ! Disebelah itu ia sangat jeri terhadap Ang Gan Kwie Bo, sedangkan ia mengerti bunyi pepatah yang berkata, tak dapat bersabar dalam urusan kecil bakal merusak usaha besar.

Maka ia lantas tertawa, sebab dengan kecerdikannya, dapat ia lantas memikir jalan guna meluputkan dirinya dari kesulitan itu. Begitulah sembari menoleh pada si nona kecil, ia kata, "Nona, sungguh kaulah seorang yang pandai yang banyak pengetahuannya ! Tapi baiklah kau ketahui yang aku si pendeta, aku tak ingin bentrok dengan orang Hek Keng To maka aku cuma menggunakan Han Tok Siang Im Ciang dengan tenaga dua bahagian, melulu guna memberi peringatan terhadapnya agar dia lekas-lekas mengeluarkan dan menyerahkan kitab pedang Sam Cay Kiam itu. Jadi tak pernah aku memikir menggunakan tangan berat terhadap dirinya !"

Dengan kata-katanya ini, Leng Bin Hud mengundang maksud buruk. Ia membuka rahasia tentang kitab pedang pusaka, supaya Ang Gan Kwie Bo mendengarnya, agar jago wanita tua itu tertarik hati dan nanti menggantikan ia merampasnya dari tangannya Tan Hong. Nyatanya ia belum kenal Ang Gan Kwie Bo. Nyonya itu bertabiat tinggi dalam pernah dia menguasi benda orang, baik kitab ilmu pedang atau kitab ilmu pukulan tangan kosong. Bahkan kata-katanya itu menimbulkan kesan sebaliknya.

"Ah, taysu !"berkata si nyonya yang dapat menangkap pikiran orang yang sebenarnya, "kenapa kau telah tidak menghargai kehormatan dirimu sebagai orang usia dan tingkat derajatnya lebih tinggi ? Kenapa kau tak malu merampas kitab ilmu pedang lain orang ? Buat apa kau mengeluarkan kata- katamu ini, seperti juga kau menempatkan emas di mukamu sendiri ?'

Tan Hong girang mendengar kata-kata orang itu. Rupanya Ang Gan Kwie Bo berada dipihaknya. Lantas ia campur bicara, katanya, "Benar apa yang cianpwe bilang ! Bagaimana kalau kita mengeluarkan syarat ? Jika didalam tiga puluh jurus kau dapat menangkan aku satu atau setengah jurus, maka aku akan menyerahkan kitab pedang itu pada kau. Jika sebaliknya yaitu kau tidak memperoleh kemenangan kau harus meletakkan tongkat rotanmu itu dan pergi kabur sendiri, seperti juga kau dapat melanjuti perjalananku dengan bebas. Bagaimana kalau kita minta cianpwe ini menjadi saksinya ?"

Nona Tan memanggil "cianpwe" orang tua yang dihormati kepada si nyonya tua. Si bocah Cio Hia sudah lantas menepuk-nepuk tangan secara gembira sekali.

"Bagus ! Bagus !" serunya. "Cuma aku kuatir si bapak pendeta nanti jeri..."

Leng Bin Hud Gouw Beng merasa mukanya panas, sedang kulit mukanya itu segera bersemu merah. Dia malu dan panas hati, orang bagaikan mengejeknya.

"Tan Hong !" ia membentak si nona dari Hek Keng To, "dengan caramu ini kau mencari susah sendiri ! Jangan kau menyesal kalau nanti aku telah menurunkan tangan terlalu berat !"

Menyusul kata-katanya itu menuruti hawa amarahnya, Gouw Beng sudah lantas memutar tongkat rotannya dengan apa dia bagaikan mengurung tubuhnya si nona !

Tan Hong tahu orang bergusar sampai pada puncaknya, mungkin lebih maka tak mau ia menyentuh senjatanya pendeta itu, hanya terus ia memperlihatkan kelincahan tubuhnya. Bagaikan ular licin ia berkelit atau lompat sana lompat sini, menyelamatkan diri dari senjata lawan. Tapi ia bukan berkelit terus-terusan, ia juga menggunakan tongkatnya, setiap ada ketika ia menyodok bagian-bagian kosong dari lawannya itu.

Demikian mereka berdua bertarung dengan seru, walaupun pertempuran baru saja dimulai. Selagi pihak yang satu berlaku keras, yang lain lunak tetapi cepat.

Selagi itu Ang Gan Kwie Bo dan Cio Hong terus menonton dengan perhatian. Saking hebatnya penyerangan jurus-jurus dilewatkan dengan cepat sekali. Dengan begitu tanpa merasa batas jurus yang disebutkan tiga puluh jurus telah dilewatkan !

"Sudah cukup ! Sudah lebih daripada tiga puluh jurus !" tiba-tiba Ang Gan Kwie Bo berseru, "Leng Bin Hud Taysu kau telah kalah !"

Bagaikan orang tak mendengar Gouw Beng masih menyerang terus. Dia bagaikan lupa atau kalap.

"Taysu, masihkah kau tidak mau berhenti berkelahi ?" tanya si nyonya tua yang wajahnya tapinya masih seperti muda dan manis.

Leng Bin Hud tetap membudek, sebaliknya dengan Tan Hong. Nona kontan lompat mundur tujuh atau delapan tindak. Masih si pendeta penasaran, dia lompat menyusul untuk mengulangi serangannya bertubi-tubi, baru dia berhenti dengan terkejut ketika mendadak ia merasai kedua tangannya bergetar dan gemetar bagaikan terhajar hajaran berat seribu kati, lengannya pun terasakan nyeri dia bagaikan kaku, maka mendadak pula ia berlompat mundur, matanya menatap bengis kepada Ang Gan Kwie Bo untuk terus membentak : "Hm, jurus pemisah yang jempol ! Kenapakah kau membokong aku si pendeta tua ?'

Si nyonya balik mengawasi. Dia memperlihatkan tampang dingin. Dengan suara dingin juga dia menjawab : "Bukankah janji tiga puluh jurus sudah lewat ? Baiklah taysu menepati janji kita dan mengaku kalah !"

Masih pendeta itu penasaran. "Siapa suruh kau membokong aku ?" tanyanya bengis.

Pendeta ini mengotot, orang memisahkannya secara keras dia menuduhnya membokong.

"Hai, kau berlaku galak ya ? Jika kau tetap tidak puas marilah kau turun tangan atas diri nonamu ini ! Mari !"

Dan nona cilik itu lompat maju sambil melayangkan sebelah telapakan tangannya !

Tak jeri Leng Bin Hud terhadap bocah itu. Ia sedang bergusar sekali. Ia pula melupai hadirnya Ang Gan Kwie Bo disitu. Dengan memindahkan tongkatnya ke tangan kiri dengan tangan kanannya ia menyampok menggempur tangan si nona cilik. Ia memikir membuat orang mendapat luka didalam.

Di luar terkaan si pendeta, Cio Hoa bermata tajam dan cedas sekali. Ia seperti bisa membaca maksud lawan. Maka juga selagi menyerang itu, ia merobah tangan terbukanya. Kelima jari masih tetap dibuka hanya sekarang kelimanya direnggangkan dan bukan lagi ia menggampar atau menggaplok hanya menotok ke tangan lawan yang hendak menangkisnya itu. Ia menotok tengah-tengah telapakan tangan dibagian yang lemah. Dan selekasnya kedua tangan beradu ia meneruskan mencelat mundur !

Giauw beng terkejut. Dia telah kena diperdayakan sibocah bau kencur ! Dia tertotok tak sampai terluka parah toh dia merasa telapakan tangannya itu tergetar dan kaku kaku gatal

! Tentu sekali ia mendongkol maka hendak ia lompat menyusul akan tetapi belum lagi dia menjejak tanah atau berlompat maju, tiba-tiba telinganya sudah mendengar tawa nyaring garing bagaikan suara genta perak, suara mana mirip dengan tusukan pada telinga atau tikaman pada ulu hati ! Dan rasanya sangat sukar akan bertahan dari gangguan itu hingga dia menjadi kaget tak terkirakan. Dengan terpaksa ia lompat mundur dua tombak !

Itulah tawanya Ang Gan Kwie Bo siapa telah senantiasa memasang mata mengawasi gerak gerik si pendeta hingga dia melihat tegas bagaimana orang dipermainkan Cio Hoa. Dia mengawasi dengan tampang memandang sangat rendah setelah mana dengan memegang tangan si anak tanggung, dia mengajak pergi ke penyeberangan.

Gauw Beng berdiam mengawasi orang berlalu, sesudahnya dua orang itu pergi jauh, ia menghela napas melegakan hatinya yang pepat, ketika kemudian ia berpaling, ia mendapatkan bahwa ia pun sudah ditinggal pergi oleh Tan Hong. Nona itu sudah berjalan sejauh belasan tombak.

Walaupun demikian dengan mendadak ia berlompat untuk menyusul !

Tan Hong sementara itu berlari dengan keras. Ia tidak ingin rewel dan terganggu oleh Gauw Beng Taysu maka juga ia terus meninggalkan jauh sekali pendeta itu selagi si pendeta diganggu Cio Hoa dan Ang Gan Kwie Bo. Ia ingin mencari It Hiong sebab si anak muda belum juga tiba.

Sampai disebuah tikungan, wanita jago dari Hek Keng To ini dikejutkan oleh berkelebatnya sesosok bayangan orang yang hampir bertabrakan dengannya. Ia dapat lekas memindahkan tindakan kakinya serta menggeser tubuhnya hingga mereka saling lewat, umpama kata hampir saling membentur bahu. Ia terkejut dan menoleh selekasnya mereka berdua sudah melewati satu pada lain. Justru ia menoleh itu, ia melihat orang pun memutar tubuh seraya terus merangsek padanya sebelah tangannya diayunkan ke arahnya. Terang orang hendak menepuk punggungnya. Karena ia sudah menoleh dan dapat melihat, ia segera mencelat ke samping, membebaskan diri dari serangan gelap itu.

Sekarang terlihat tegas, penyerang itu adalah seorang tosu, atau imam dari To Kauw, agama To dari Nabi Lo Cu. Dia mengenakan jubah putih seluruhnya, dia seperti umumnya kaum tosu, punggungnya menggendol sebatang pedang, Imam itu bertubuh tegap dan kekar, hanya sebelah matanya - mata yang kiri - tak dapat melihat.

"Ha, budak !" demikian si imam menegur, "kenapa kau sangat sembrono ? Kau tak boleh mendapat ampun ! Lekas bilang, kau asal partai mana ? Toyu kamu hendak memberi ajaran adat kepadamu !"

Berkata demikian mata si orang suci sempat mencilat berkilau !

Tang Hong pun gusar sekali. Memangnya karena dibokong itu ia sudah mendongkol bukan main. Ia tidak kenal imam itu dan merasa tidak bersalah. Jamak kalau mereka hampir bertabrakan sebab sama-sama mereka lagi lari-lari dengan kerasnya.

"Hmm!" ia memperdengarkan suara dinginnya. "Tan Hong dari Hek Keng To ! Kau kenal atau tidak?"

Menurut panas hati, nona ini bersikap jumawa.

"Bagus ! Bagus !" imam itu berseru berulang-ulang. "Akulah Hian Ho Cinjin ! Aku memang tengah mencarimu ! Jika kau tahu gelagat, lekas kau tinggalkan kitab silat Sam Cay Kiam, nanti aku beri ampun kepada jiwamu ! Jika tidak, hm awas kau !" Mendengar orang menyebut nama suCinya, tahulah Tan Hong bahwa imam dihadapannya ini adalah salah seorang dari vihara Kim Ho Kiong di puncak Ngo Im Hong digunung Kauw Loaw San, penghuni atau koancu yang nomor dua. Memang ia tak kenal si imam tetapi pernah ia dengar namanya. Ketika dahulu saat Tio It Hiong menyerang Kim Ho Kiong, imam ini telah terhajar sebelah matanya yang kiri, sekarang ternyata matanya itu terus buta. Ia mendongkol kapan ia mengingat orang hendak mendapati kitab pedang Sam Cay Kiam itu.

Bukankah mereka sesama golongan ? Sudah si imam ketahui ia adalah orang Hek Keng To, toh ia masih menghendaki kitab ilmu pedangnya itu ! Itulah perbuatan keterlaluan. Maka dalam murkanya mata si nona menjadi merah, dengan bengis ia mengawasi lalu dengan tawar ia kata keras : "Totiang, jika kau benar koancu kedua dari Kim Ho Kiong, suka aku mempersembahkan kitab pedang itu kepada kau hanya sayang melihat wajahmu ini, nonamu terasangsi, dia meragukanmu !"

Diluar sangkaan mendengar demikian, si imam menjadi cepat sedangkan tadi tidak karu-karuan, dia bergusar.

Begitulah dia bergusar. Begitulah dia tanya perlahan : "Entahlah, nona dalam hal apa nona menyangsikan pinto ?"

Tan Hong sengaja tertawa. Ia menjawab wajar : "pernah aku mendengar keterangan Beng Leng Cinjin, kakak seperguruanku bahwa Jie Koancu Hian Ho dari Kim Ho Kiong adalah seorang pertapa yang tampan dan tiada cacatnya pada anggota-anggota tubuhnya, tetapi sekarang, totiang, kau telah buta matamu yang kiri ! Jika totiang benar bukanlah imam yang palsu, tolong kau jelaskan kepadaku, kenapa sekarang kau buta sebelah matamu itu ?" Muka Hian Ho menjadi merah, ia melengak karena jengah atau dilain detik, ia menjadi sangat gusar.

"Hai budak nakal !" bentaknya. "Bagaimana kau jadi begini kurang ajar ? Lihat pedang !" Dan ia menghunus pedangnya dengan apa ia segera menebas si nona.

Tan Hong pun tidak panas, tetapi ia cerdas ia memikir. Ia tidak jeri terhadap imam itu bahkan ia memandang tak mata sebab ia ingat orang pernah roboh ditangan Tio It Hioang.

Begitulah ia berniat "menghajar adat" pada Hian Ho dengan membuat pedang itu patah. Begitu ditebas, ia menangkis dengan sanho pang !

Kedua senjata beradu keras, sebab kedua pihak mereka telah mengerahkan tenaga dalam mereka. Karena beradunya itu, keduanya sama-sama mundur beberapa tindak dan tangan mereka bergetar sesemutan. Benar saja ujung pedang kena tergompalkan !

Tepat itu waktu disitu muncullah Leng Bin Hud. Pendeta itu yang menyusul terus terusan akhirnya dapat menyandak orang yang disusulnya karena dia ini tertunda perjalanannya.

Gouw Beng mendatangi sambil berseru : "Hian Ho Totiang, jangan kasih budak itu lolos ! Kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam berada ditangannya." Dan bentakan itu diakhiri dengan serangan tongkat rotannya yang diarahkan ke arah pinggang !

Hian Ho melengak mulutnya memperdengarkan suara seperti geraman. Belum pernah orang membuat pedangnya bercacat seperti itu di dalam satu gebrakan sja. Ia girang ketika ia mendengar suaranya Leng Bin Hud dan melihat mendatanginya pendeta itu. Maka ia percaya, inilah saatnya guna ia merampas pulang muka terangnya. Dalam hal ini ia sampai lupa maju, sebab ia tak perduli lagi bahwa mereka berdua mengepung satu orang bahkan si lawan adalah seorang wanita muda. Ia tak ingat lagi yang kaum Kang Ouw bakal menertawakannya.

"Mari kita bersama membekuk budak ini !" demikianlah ia malah berseru dan terus dengan pedangnya ia mengulangi serangannya.

Tan Hong melakukan perlawanan. Didalam waktu yang singkat ia sudah lantas terdesak.

Kalau ia melawan satu sama satu yang mana saja, dari Hian Ho dan Gouw Beng sanggup ia melayani sampai seratus jurs, sekarang lain, semua lawan juga berkelahi dengan keras sekali sebab dua-duanya sedang mendongkol dan marah besar. Dengan terpaksa ia menggunakan ilmu silat sanho pang yang terdiri dari tujuh puluh dua jurus. Berkilauan cahaya senjatanya itu bagaikan mengurung tubuhnya.

Pertarungan berlangsung seru. Tan Hong berlaku sungguh- sungguh dan waspada, matanya dipasang benar-benar. Inilah yang menyulitkan kedua pengepung itu untuk lekas merebut kemenangan.

Leng Bin Hud penasaran sekali, hatinya menjadi semakin panas maka satu kali dia menyerang dengan "Menyerbu Terus Langsung Ke Istana Kuning" suatu jurus silat simpanannya.

Dengan demikian dada atau ulu hatinya Tan Hong terasa terbebat sebab dilain pihak ada ancaman dari Hian Ho.

Nona itu tabah hatinya, ancaman tak membuatnya terkejut bahkan ia memperkeras hatinya mempertebal semangatnya. Ia pun sengit sekali. Ketika senjata lawan tiba, ia menangkis sambil mencoba melibat dengan senjatanya yang kiri berbareng dengan mana senjatanya yang kanan ia membalas menyerang dengan membarenginya. Kalau lawan menggunakan "Gerak gerik Naga" maka ia jurus silat "Ular Hijau Melilit Pohon" dan ia bukannya menyerang muka atau tubuh lawan hanya tangannya yang mencekal tongkat rotan itu.