Iblis Sungai Telaga Jilid 11

 
Jilid 11

Pendeta dari Siauw Lim Sie itu bingung juga menyaksikan apa yang dipandangnya itu, ia berkesan baik terhadap sipemuda. Ia memuji nama Buddha, lalu ia berkata kepada si nona: “Oh nona apa-apaan kau mendesak begini rupa kepada Tio Sicu? Kau bermaksud baik terhadapnya, bukan? Kenapa kau tidak mau menanti sampai Tio Sicu selesai mendapatkan kitab ilmu pedangnya itu?”

Disebutnya hal kitab ilmu pedang itu membuat It Hiong terasadar, segera ia menatap Tan Hong, lantas ia berkata kepada sipendeta: “Taysu, mari kita berangkat!” Dan dia mendahului lompat turun ketepian jurang!

Pendeta itu menurut, ia lompat menyusul. Maka pergilah mereka menuju ke Hwe Gan Hong. Mereka tak peduli cahaya bintang yang guram, mereka jalan hingga tanpa terasa sudah melalui belasan lie. Angin dan hawa dingin makin menjadi-jadi tapi itu tak dihiraukan. Mereka maju terus! It Hiong lari dengan cepat sekali. Tak ingin ia disusul Tan Hong, ia jengah sendiri.

Dengan petunjuk sipendeta, pada waktu terang tanah, It Hiong sudah tiba di depan Co In Ih.

Kasihan pendeta itu yang tiba belakangan. Dia bernapas memburu, peluhnya membasahi kepala, muka dan jubahnya.

“Kita sudah sampai Sicu,” katanya sambil meluruskan pernapasannya. Hanya waktu masih pagi begini, tak dapat kita mengganggu tuan rumah. Ia tentu sedang menjalankan ibadatnya. Baiklah sambil beristirahat, kita menanti sekian waktu lagi…

It Hiong setuju, ia mengangguk. Lantas ia mencari batu besar diatas mana ia duduk.

Lewat sekian lama, pintu besar terdengar bersuara terus terpentang. Diambang pintu muncul seorang kacung imam yang sebelah tangannya membawa keranjang bunga, dia langsung berlari-lari ke arah jembatan. Dia melihat kepada dua orang itu tetapi sambil tunduk, dia lari pergi menghilang dibalik sebuah tikungan gunung.

“Selamat pagi kakak kecil!” It Hiong berseru menyapa kacung itu. Ia melompat bangun dan mengawasi sikacung. “Maaf kakak kecil, aku mohon bertanya, Apakah It Yap Totiang berada didalam? Kami minta sukalah kau mengabarkan tentang kedatangan kami ini”

Kacung itu memutar tubuhnya.

“Kau she dan nama apa tuan?” tanya dia. “Beberapa orang tuan dari To Liong To sudah pergi meninggalkan gunung Siong San ini…”

“Kami datang dari Siauw Lim Sie,” sambut pendeta mewakili It Hiong menjawab, “Kami tengah menjalankan perintah guru kami untuk menemui It Yap Totiang guna membicarakan suatu urusan.”

Kacung itu bukannya menjawab sipendeta malah mengomel seorang diri: “Heran! Kenapa dalam beberapa hari ini Go In Ih mendapat kunjungan sekian banyak orang?”

“Aku bernama Tio It Hiong,” It Hiong memperkenalkan diri, “Aku datang kemari buat memenuhi janji dengan kakak seperguruanmu, Gak Hong Kun….”

Kacung itu menggoyang tangannya.

“Aku tidak peduli kalian mencari siapa.” kata dia. “Kalian tunggu saja sebentar! Aku lagi buru-buru hendak memetik bunga segar!” Habis berkata dia terus lari pergi.

It Hiong mendongkol. Ia mengawasi kawannya. “Bocah itu kurang ajar!”

“Kita jangan layani dia,” berkata sipendeta, “Kita tunggu saja!”

Sang matahari mulai naik tinggi, halimun pagi mulai sirna dan burung-burung mulai ribut berkicauan memecah kesunyian pagi.

Kacung tadi tampak lari mendatangi, selagi mendekat dia berkata: “Maaf aku membuat tuan-tuan menanti lama! Sekarang juga akan aku kasih kabar pada guruku!” Dan ia lari mendaki jembatan terus masuk kedalam rumah.

Hanya sebentar kacung itu sudah muncul kembali dan segera terdengar suaranya yang nyaring: “Bapak pendeta dari Siauw Lim Sie silahkan masuk untuk minum teh! Dan tuan Tio It Hiong tamu kami yang terhormat, harap suka menanti sebentar lagi!”

It Hiong heran, ia menoleh kepada sipendeta yang juga mengawasinya.

“Taysu, pergilah masuk!” katanya “Urusan Taysu penting sekali.”

Pendeta itu mengangguk-ngangguk, lantas ia mengikuti sikacung berjalan masuk. Belum lama ia sudah kembali, terlihat tegas wajahnya tak gembira, pertanda ia putus asa. Setelah dekat dengan si anak muda, ia berkata menyesal: “Sungguh aneh, Ketua kami menulis surat sendiri mengundang It Yap Totiang tapi ia menampik undangan itu, bahkan dari lagak suaranya barusan, aku menerka ia justru akan berpihak kepada pihak lawan! Sekarang pinceng mau lekas pulang guna menyampaikan berita supaya ketua kami dapat memikirkan pula bagaimana baiknya. Kalau Sicu masuk kedalam, waspadalah! Sampai jumpa pula!”

Tanpa berayal lagi pendeta itu berlari-lari turun gunung.

It Hiong menanti sekian lama, kacung tadi masih belum muncul juga, ia menjadi heran hingga hatinya menjadi tidak puas.

“Kau tidak mengundang aku masuk, baiklah!” pikirnya sengit. “Aku akan masuk dengan paksa! Jangan kau katakan aku tidak tahu sopan santun!” Lantas ia melangkah memasuki rumah itu.

Diruang tamu keadaannya sunyi. Ruang tamu itu kosong.

Dalam kegusarannya tak sempat lagi ia memperhatikan perlengkapan ruangan itu. It Hiong berkata nyaring

“Aku Tio It Hiong! Aku datang untuk memenuhi janji!

Suruhlah Gak Hong Kun keluar menemuiku!”

Tidak ada jawaban. It Hiong mengulang tantangannya beberapa kali! Akhirnya muncul juga kacung tadi.

“Buat apa membuka suara membikin ribut disini?” tegurnya, “Apakah Go In Ih dapat membiarkan kau berlaku begini tidak tahu aturan? Kakakku Gak Hong Kun menyuruh kau menggelinding masuk!” Dan dia lantas lari masuk, sejenak dia berpaling dan katanya keras: “Apakah kau mempunyai nyali besar buat turut aku masuk?”

It Hiong tengah panas hati, ia turut masuk tanpa mengatakan sesuatu. Ia kemudian sudah berada dalam sebuah kamar mirip obat. Disitu ia mendapatkan It Yap Tojin tengah duduk bersemedi diatas pembaringan sedangkan Gak Hong Kun berdiri disisi gurunya. Ia menghampiri pembaringan sampai dekat, lantas merangkapkan dua tangan untuk memberi hormat sambil menjura pada imam itu. Katanya: “Tio It Hiong datang menghunjuk hormat! Semoga totiang sehat- sehat saja!” Biarpun hatinya mendongkol tak mau ia melupakan adat kesopanan.

It Yap Tojin membuka kedua belah matanya mengawasi si anak muda. “Apakah kau muridnya Tek Cio Siangjin dari Pay In Nia?” tanyanya dingin. “Kenapa kau lancang memasuki Go In Ih dan membikin ribut disini?”

It Hiong tetap berlaku sabar dan hormat.

“Benar, Tek Cio Siangjin adalah guruku,” sahutnya. “Hari ini aku datang untuk memenuhi janji kakak Gak, muridmu yang telah mengundang aku datang kemari. Maksudku ialah buat mengambil pulang kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam karya guruku. Bagaimana urusan kami berdua hendak diselesaikan terserah kepada totiang?”

“Hm!” tukas Gak Hong Kun dengan suaranya yang dingin dan bernada mengejek. Dia mendahului gurunya, “Eh, orang she Tio, bagaimana kau berani berlaku begini kurang ajar dihadapan guruku?”

It Hiong tidak menggubris lagak orang itu, ia hanya berkata: “Saudara Gak, kepribadainmu dan kepandaian silatmu biasanya aku sangat mengaguminya, tetapi kitab ilmu pedang guruku telah terjatuh kedalam tanganmu, karena itu tak dapat tidak, aku mesti datang kemari guna memintanya pulang dari kau!”

Belum lagi Hong Kun menjawab, gurunya sudah menyela. Kata It Yap Tojin: “Memang kitab itu menjadi karya gurumu, tapi aku dengar kitab itu diserahkan kepada anak Hong oleh salah seorang dari kalian dari Pay In Nia! Maka hak apa yang kau andalkan untuk memintanya pulang?”

It Hiong melengak, ia menahan sabar.

“Kalau seorang laki-laki berbuat sesuatu, dia mesti lakukan itu secara baik-baik juga!” katanya, lanjutnya “Saudara Gak, aku mohon tanya, siapakah yang telah memberikan kitab itu kepadamu?”

Gak Hong Kun tertawa dingin.

“Dialah Pek Giok Peng?” sahutnya tegas.

Itulah fitnah, maka habislah kesabaran It Hiong.

“Ngaco belo!” bentaknya. “Kau telah curi kitab ilmu pedang itu! Kau juga yang menantang aku datang ke Hwe Gan Hong buat mengadu ilmu pedang! Siapa sangka justru mengandung maksud jahat! Kau sengaja hendak membikin rusak persahabatan kita! Benarkah kau begini tidak tahu malu?”

“Hei Anak Hong, bagaimana ini?” bentak It Yap Tojin. “Lekas omong terus terang! kita adalah kaum Heng San Pay, kita memiliki ilmu pedang kita sendiri! Siapakah yang kemaruk dengan kitab pedang Pay In Nia?”

Melihat gurunya gusar, Hong Kun membawa sikap hormat dan sungguh-sungguh.

“Suhu!” katanya, “Anak she Tio ini terlalu mengandalkan pedang Keng Hong Kiam, sudah berulangkali dia menghina muridmu ini, maka juga aku telah tantang dia datang kegunung kita supaya dapat aku mengadu kepandaian pedang dengannya dihadapan suhu.”

“Hendak aku mencari keputusan siapa menang siapa kalah!”

Dasar licik, pemuda itu mencoba mengalihkan pertanyaan gurunya. Tapi It Hiong tidak puas, ia menegur: “Saudara Gak, kenapa bicaramu ini seperti menyembunyikan kepala menongolkan ekor? Bukankah kau menantang aku datang kemari buat kita mengadu pedang, bahwa sehabisnya itu kau berjanji hendak mengembalikan kitab ilmu perguruanku.”

“Apakah kau percaya betul bahwa dengan ilmu pedangmu kau dapat mengalahkan aku?” katanya jumawa. “Jangan kau terlalu menghina orang!”

Sampai disitu tahulah It Yap Tojin bahwa yang salah ialah muridnya itu, akan tetapi ia membawa sifatnya sendiri, menyayangi murid secara keterlaluan dan suka memenangkan Hong Kun, sedangkan Hong Kun itu murid terasayangnya.

Maka ia lantas minta kitab ilmu pedang itu dari muridnya kemudian ia berkata: “Siapa benar siapa salah tak usah kita pertengkarkan lagi! Karena kalian sudah berjanji hendak mengadu ilmu pedang, baiklah kalian lakukan itu. Aku juga hendak menyaksikan bagaimana macamnya ilmu pedang Pay In Nia!”

Berkata begitu, imam ini bergerak turun dari atas pembaringannya, untuk terus pergi keluar dari kamarnya itu. Hong Kun mengikuti gurunya, maka It Hiong terpaksa turut juga.

Disepanjang jalan mereka semua menutup mulut. It Yap Tojin membawa kedua anak muda itu ke belakang tempat kediamannya itu, di sana ada sebuah halaman mirip sebuah taman kecil. Disekitarnya terdapat pot-pot bunga yang terbuat dari batu gunung dimana tertanam aneka bunga yang indah- indah dan harum baunya. Ditanah terlihat banyak bunga merah yang sudah gugur. Dihalaman kosong itu tumbuh rumput hijau luasnya kira-kira dua puluh tombak persegi.

“Nah, disinilah kalian berdua mengadu ilmu pedang!” berkata si imam setelah dia menghentikan tindakannya. Siapa yang menang satu atau setengah jurus saja, dialah yang mendapatkan kitab ini!”

Terang guru ini memihak muridnya, ia justru memakai kitab sebagai hadiah!

Hong Kun lantas berkata: “Dia menggunakan Keng Hong Kiam! Pedang itu tajam luar biasa, kalau pedangku beradu dengan pedangnya bukankah itu berarti aku rugi dan kalah?”

Tapi It Hiong tidak takut, ia lantas berkata: “Kalau aku memakai pedangku ini, menangku bukanlah menang dengan penuh kehormatan. Totiang aku minta sukalah aku dipinjamkan sebatang pedang yang lain!”

It Yap Tojin tertawa.

“Bagus!” serunya memuji. “Kau memiliki semangat rimba persilatan!” Dan lantas ia memberi pinjam pedangnya sendiri.

It Hiong menyambut sambil mengucapkan terima kasih, terus ia maju ketengah lapangan rumput itu. Hong Kun mengikuti, di depan gurunya dia jadi bernyali besar.

Keduanya sudah lantas menghunus pedangnya masing- masing, dan langsung mengambil posisinya.

“Kakak Gak, silahkan mulai!” It Hiong berkata. Dalam mendongkolnya ia tetap membawa prilakunya seorang terhormat yang tahu sopan santun. “Maafkan aku!” berkata Hong Kun yang juga berlaku hormat, hanya begitu dia mengucapkan kata-katanya itu, dia lantas menyerang dengan jurus “Bangau Putih Melintasi Sungai”. Pedangnya menebas pinggang lawan. menyusul mana dia terus menyerang berulang-ulang, tak sudi ia memberi kesempatan kepada lawannya yang selalu masih main menangkis dan berkelit, main mundur dan berlompatan ke kiri dan kanan. Dia pergunakan ilmu pedangnya yang terdiri dari duapuluh empat jurus secara beruntun!

It Hiong masih menghargai It Yap Tojin. Di depan guru besar itu, ketua sebuah perguruan, tak mau ia berlaku kurang hormat atau jumawa, ia menaati pesan gurunya buat berlaku tenang dan sopan. Untuk menyelamatkan diri dari serangan lawan, maka ia mempergunakan jurus Tan In Ciong, ilmu ringan tubuh Lompatan Gesit Tangga Mega. Maka ia terlihat sangat gesit dan lincah, kemana pedang musuh tiba, dari situ ia menghilang, tubuhnya bergerak gerak bagaikan bayangan.

Maka dalam waktu yang pendek mereka telah bertempur tigapuluh jurus lebih. Selama itu, pemuda tuan rumah itu selalu jadi penyerang dan lawannya hanya membela diri, cuma beberapa kali saja ia mengancam guna membebaskan diri dari desakan lawan.

Pedang merekapun sering kali beradu satu dengan yang lain, memperdengarkan suara nyaring atau memuncratkan percikan api, hingga pemandangannya menjadi menarik hati, mirip dengan kembang api.

It Yap Tojin menonton dengan hati puas dan kagum sambil mangut-manggut. Ia mendapati sepasang anak muda ini telah mencapai kepandaian yang sempurna. Tentu sekali ia girang mempunyai murid yang lihai, yang dapat mewarisi kepandaiannya.

Jurus-jurus berjalan terus. Selama ini, It Hiong tidak lagi mengalah seperti sebelumnya sebab itu berbahaya. Kalau ia salah satu tindak saja atau tangannya kurang cepat, ia bisa celaka. Iapun tidak menggunakan pedangnya sendiri. Dipihak Hong Kun, ia tak perlu jeri lagi terhadap Leng Hong Kiam maka hatinya menjadi besar dan tabah. Lagipula di depan gurunya hendak ia perlihatkan ketangkasannya.

Mereka berdua berimbang, sebab yang satu lunak yang lain keras. Yang lunak ialah It Hiong. Ia masih berpikir panjang dan tak mau mengalahkan Hong Kun dengan mudah. Karena hal itu dapat membuat It Yap Tojin kehilangan muka. Ia mau mencari kemenangan dengan satu atau setengah jurus supaya pamornya Heng San Pay dapat terlindungi. Tapi karena hal ini, ia jadi mesti berkelahi keras sekali, sebab ia mesti meladeni Hong Kun yang sudah kalap itu.

Dari pertempuran biasa, kedua pihak sudah memasuki babak dimana tenaga dalam digunakan. Itu bukan lagi pibu biasa, kali ini mereka berkelahi untuk merampas hidup. It Hiong dipaksa mengikuti musuhnya, karena ia harus menang dan tak mau celaka. Maka ia berlaku waspada, awas dan gesit.

Tibalah saatnya It Hiong membalas menyerang dengan tebasan “Burung Air Mematok Ikan”

Hong Kun tidak mau menangkis, sebaliknya begitu berkelit ia mendak, terus membalas dengan jurus “Ular Hijau Melintas Pohon” Ujung pedangnya lurus mengancam ulu hati lawan. Inilah saat yang berbahaya buat It Hiong jika tidak mundur maka dadanya dapat dijadikan sate sedang akibatnya bagi Hong Kun adalah batang lehernya atau kepalanya terbabas kutung.

Namun It Hiong benar-benar lihai, tak kecewa ia menjadi murid terpandai Tek Cio Siangjin. Ia tidak melompat mundur. Ketika ujung pedang meluncur ia mengangkat sebuah kakinya mendepak lengan lawan yang dipakai menyerangnya itu, sedangkan pedangnya diteruskan menabas.

Hong Kun terkejut. Sudah tentu ia terpaksa mesti merubah jurusnya. Depakan lawan membuat serangan mautnya itu gagal. Dengan mendak tadi, dapatlah ia melindungi kepala atau batang lehernya. Tangannyapun tidak sampai keras terdupak, sempat ia memutar lengannya itu dan menggunakan pedangnya untuk menyampok pedang lawan.

Buat kesekian kalinya kedua pedang beradu dengan keras. Selagi pedang beradu, It Hiong tidak berdiam saja. Ia justru bergerak terus membarengi menyerang pula. Hanya kali ini ia tidak memakai pedangnya, ia cuma melayangkan kaki kirinya keiga lawan. Hong Kun terperanjat, tapi dapatlah ia menyelamatkan diri. Yang terbuka adalah iga kirinya, maka ia lantas menyampok kaki lawan yang menuju keiganya itu menggunakan tangan kirinya. Habis itu ia lompat mundur.

It Hiong tidak sudi memberi ampun, ia terus lompat mengejar untuk menyusul. Ia membacok dengan pedangnya dengan jurus pedang “Memutar Dunia”, menyusul mana ia mendesak dengan tigapuluh enam jurus dari Khie bun Pat Kwa Kiam. Maka itu pedangnya seperti berputaran dengan senantiasa berkilau tajam. Menyaksikan cara menyerang si anak muda, It Yap Tojin kagum berbareng terkejut. Ilmu silat itu hebat dan berbahaya. Hong Kunpun segera mengeluarkan jurus-jurus simpanan dari ilmu silat Heng San Pay, guna melindungi diri yang lagi terancam itu. Ia berkelit, melompat dan mendekam ditanah. Segala macam gerakan mesti digunakannya untuk meloloskan diri dari desakan musuhnya. Dia akhirnya berhasil juga meloloskan diri dengan susah payah, sehingga serangan It Hiong tidak memperoleh hasil. Namun sekarang hatinya mulai menjadi ciut. Sekarang ia insyaf benar bahwa kepandaian lawan lihai luar biasa, sedangkan dahinya telah mengeluarkan peluh pertanda ia telah mengeluarkan segenap tenaganya.

Selain itu ia juga sadar ilmu silat Heng San Pay juga tidak dapat dipandang ringan, karena itu timbullah kebanggaan dan kejumawaannya. Justru begitu timbul pula penasaran dan gusarnya, lantas ia ingin membuat pembalasan. Begitulah ia berseru dan menyerang dengan hebat. Ia ingin dengan satu gerakan saja dapat mematahkan atau mengutungkan pedang lawan.

It Hiong sendiri telah berbesar hati. Ia telah menang diatas angin. Ketika ia diserang itu, ia menangkis dan Hong Kun lantas menempel pedangnya. Menyaksikan demikian, It Hiong dapat menebak maksud lawan, Hong Kun mau melibat pedangnya untuk mengadu tenaga dalam supaya pedangnya dapat dipatahkan. Tak ayal lagi ia mengerahkan tenaga dalamnya, menyambut tantangan lawan, tenaganya terkumpul pada pedang dan lengannya.

Selagi pedang pedang saling menempel, pikiran kedua jago dipusatkan, tangan kiri mereka juga dikerahkan guna membantu tenaga pada tangan kanan. Kuda-kuda mereka tertancap kuat. Kalau toh kuda-kuda itu bergerak, itu cuma untuk memperkuatnya. Sikacung merebahkan diri di bangku, dia menonton dalam keheranan dan kekaguman. Satu kali ia bertepuk tangan saking gembiranya. Kedua pemuda itu sama gagahnya dan sama pandainya, tetapi It Hiong tetap berada satu tingkat lebih atas. Dia memiliki tenaga dalam yang luar biasa, sebab ia pernah meminum darah belut emas. Darah binatang itu membuat tenaganya bertambah sedang tubuhnya ringan dan lincah. Ilmu silatnya sendiri oleh gurunya ia diajari tenaga lunak sedang ayah angkatnya mengajarkan Hang Liong Hok Mo Kun membuat ia bisa bertindak keras. Dan semua itu disempurnakan dengan minat, tekad dan tekunnya belajar dan berlatih.

Berjalannya sang waktu membuat muka It Hiong menjadi bersemu merah. Itulah bukti dari hebatnya pengerahan tenaga dalamnya. Walaupun demikian ia tetap tenang dan waspada, sedang nafasnya tetap seperti semula. Tidaklah demikian keadaan Hong Kun, mukanya telah berpeluh dan sekarang ia bermandikannya. Pula tertampak napasnya mulai memburu. Namun ia tetap bertahan sebab niatnya sangat keras guna merobohkan lawan yang dibencinya itu. Lawan yang menjadi saingannya dalam urusan asmara!

Tengah kedua belah pihak ngotot berkutat itu, tak ada salah satu pihak yang mau menyerah kalah, mendadak dari luar tembok Pekarangan tampak sebuah bayangan kecil hitam menyambar kedada Gak Hong Kun, arahnya yaitu punggung kiri anak muda itu.

It Yap Tojin melihat datangnya serangan gelap itu. “Anak Hong hati-hatilah! Senjata rahasia!” demikian

teriaknya. Hong Kun mendengar tegas peringatan gurunya itu, ia terkejut hingga ia melengak sejenak. Justru detik itu ia berhenti pula mengerahkan tenaga dalamnya. Maka tak ampun lagi “Trang!” kutunglah pedangnya. Ia kaget dan mencelat kesamping dengan begitu berbareng iapun lolos dari bayangan hitam kecil yang menyambarnya itu. Senjata rahasia itu melesat terus menancap dinding batu. Ia kaget dan bergusar, tetapi iapun heran hingga jadi berdiri menjublak.

Parasnya It Yap Tojin guram seketika. Itulah disebabkan ia menyaksikan pedang muridnya kutung dan ujungnya jatuh menggeletak ketanah. Tapi senjata rahasia itu ada baiknya juga untuk menutupi kekalahan muridnya itu.

It Hiong meninggalkan Hong Kun. Ia menghampiri It Yap Tojin buat memberi hormat, seraya berkata: “Inilah hal diluar dugaan! Saudara Gak telah kutung pedangnya tapi itu bukan berarti kekalahannya. Kita belum tentu menang kalahnya.

Maka itu saya yang rendah mohon petunjuk totiang, apakah mengulangi pertarungan ini atau bagaimana…”

Pertanyaan anak muda itu ada baiknya bagi It Yap Tojin untuk mengutarakan pikirannya. Dengan sendirinya wajahnya yang tadinya muram jadi lega. Lantas ia tertawa dan berkata: “Benar, memang belum ada yang menang atau kalah,tapi kalian perlu istirahat! Pertempuran kalian demikian lama dan meminta tenaga berlebihan, baiklah urusan disudahi saja!”

Menutup kata-katanya ini, si imam lantas mengulurkan tangannya mengembalikan kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam. Hong Kun yang melihat perbuatan gurunya itu sebenarnya merasa tidak puas, hatinya terasa nyeri tapi ia tutup mulut. Terhadap gurunya, tidak berani ia banyak bicara. tidak demikian terhadap lawannya. Maka guna lampiaskan penasarannya, dengan dingin ia berkata pada It Hiong: “Memang buntungnya pedang bukan berarti menang atau kalah! Aku taat pada guruku, maka itu orang she Tio, aku beri ampun padamu! Nantipun kelak akan datang harinya kita berdua bertemu pula untuk menuntaskan urusan ini! Kita berdua tak dapat berdiri tegak bersama!”

It Hiong tidak sudi melayani orang mengadu lidah, diterimanya kitab pedang itu, ia berseru: “Sampai jumpa pula!” terus ia memutar tubuh melompat naik melewati tembok, buat berlalu dari Go In Ih.

Apakah senjata rahasia yang kecil dan mirip bayangan itu? Siapa yang melepaskannya? Tak lain adalah Tan Hong, salah satu iblis dari Hek Kong To. Sebab dia terus menyusul dan menguntit It Hiong, walaupun si anak muda tak suka memberi muka padanya. Ia mengambil jalan dari belakang Go In Ih.

Jadi kebetulan sekali baginya, segera ia menyaksikan kedua pemuda itu sedang bertarung. Maka ketika tiba saat genting itu, saat ia merasa heran, kagum dan berbareng kuatir, ia memberikan bantuan kepada It Hiong. Dalam hal itu ia sampai melanggar aturan kaum persilatan. Ia menjemput sepotong batu krikil, terus ia timpukkan ke arah Hong Kun. Habis itu ia menunduk untuk sembunyi. Ya sembunyi sambil menonton terus. Hingga ia menyaksikan kemenangan It Hiong, pemuda yang ia gilai itu. Dan ketika It Hiong angkat kaki, tanpa ayal lagi iapun keluar dari tempat persembunyiannya itu guna menyusul anak muda itu.

Bagus untuk nona itu. It Yap Tojin tidak mencari atau mengejarnya. Imam itu justru masgul melihat muridnya berdiam diri saja, mukanya pucat dan tampangnya sangat lesu, bagaikan orang yang gugur semangatnya. “Anak Hong” katanya menghibur, “Jangan kau bersusah hati! Dalam pertempuran siapa menang atau siapa kalah, itulah lumrah! Jangan kau menggoda hatimu. Nah pergilah beristirahat…!”

“Kepandaianku tidak berarti, suhu” sahut murid itu perlahan. “Sekalipun darah bermuncratan aku rela. Cuma aku menyesal telah dibokong orang dengan senjata rahasia, hingga pemusatan tenagaku runtuh dan pedang pun patah kerenanya. Kalau sakit hati ini tak aku balas, mana ada muka aku menemui banyak orang?”

Mendadak It Yap Tojin seperti disadarkan, maka ia lantas bertindak ketembok untuk melihat senjata rahasia tadi.

Kiranya itu adalah batu krikil biasa yang terdapat dimana- mana. Karena itu dia jadi menduga-duga, siapa penyerang gelap itu, serta apa pula maksudnya menenyerang dengan batu itu.

“Ada kemungkinan penyerang gelap itu sipendeta Siauw Lim Sie tadi” Hong Kun mengutarakan terkaannya.

“Perasaan aku melihat satu bayangan orang dengan tubuh langsing” sikacung nyeletuk.

Hong Kun berpikir menerka-nerka. Tak dapat ia membedakannya. Tapi ia penasaran, maka ia lantas berkata pada gurunya: ” Suhu, muridmu berpikir untuk turun gunung guna mencari tahu penyerang gelap itu, untuk membuat pembalasan!”

Dimulut Hong Kun mengatakan demikian, yang sebenarnya ialah senantiasa ia ingat Giok Peng, jadi ia ingin pergi untuk membuat Giok Peng dan It Hiong terpecah-pecah. Ia sendiri mau jadi sinelayan yang memperoleh hasil tanpa berpikir. Tak ada niatnya yang keras buat mencari pembokongnya itu…

Biar bagaimana, It Yap Tojin sangat menyayangi muridnya ini, karena itu tak sampai hati ia mencegahnya.

“Jangan terburu nafsu, anak” kata dia. “Sang waktu masih banyak! Baiklah kau istirahat dahulu sedikitnya satu malam! Kau berangkat besok saja!”

It Yap Tojin baru menutup mulutnya, belum lagi muridnya mengatakan sesuatu, sekonyong-konyong mereka melihat satu bayangan orang melompat masuk dari atas tembok, bahkan segera terlihat nyata dialah Teng Hiang si nona manis yang menjadi centil tingkahnya. Dengan langkah berlenggang, dia menghampiri It Yap Tojin buat memberi hormat, sambil bertanya: “Mohon tanya totiang, apakah tuan Tio It Hiong telah datang ketempat totiang ini?”

Melihat nona itu, Hong Kun menerka dialah sipembokong. Mendadak ia menjadi marah, tanpa menanti jawaban gurunya, ia mendamprat: ” Budak nyalimu sungguh besar! Bagaimana kau masih berani datang kemari dengan lagak pilonmu ini?” Menyusul sebelah tangannya melayang kemuka orang!

Teng Hiang terkejut. Inilah diluar dugaannya. Tetapi ia bukan sembarang orang, sempat ia menangkis, tatkala tangan mereka beradu keras, keduanya sama-sama mundur sendiri setindak.

“Tahan!” bentak It Yap Tojin, yang terus menatap nona dengan dandanannya yang luar biasa, sejenak kemudian, barulah dia bertanya: “Siapakah kau? Apa perlunya kau datang kemari?” Diperlakukan kasar oleh Hong Kun dan dibentak imam tua itu, Teng Hiang tidak gusar, dia tertawa manis.

“Aku yang rendah Teng Hiang, muridnya Thian Cie Lojin,” sahutnya ramah. Tanpa menanti jawaban si imam, dia menoleh kepada Hong Kun untuk mengawasi tajam sambil berkata keren: “Tuan Gak, apakah kau sangka Teng Hiang adalah orang yang dapat kau hina? Kenapa datang-datang kau menyerang aku, perbuatanmu sangat kurang ajar!”

Hong Kun gusar.

“Hai, budak!” serunya. “Kau telah membantu Tio It Hiong membokong aku dengan senjata rahasia, bagaimana kau dapat mengatakan aku yang kurang ajar? Lihat tanganku ini!” Kembali dia menyerang!

Dengan gesit Teng Hiang berkelit. Dia menjadi gusar juga, maka itu alisnya lantas berbangkit berdiri dan kedua matanya dibuka lebar-lebar.

“Kapan aku bokong kau?” ia tanya bengis, “Jika aku tidak memandang kepada gurumu, hmmm, jangan kau nanti katakan aku tidak kenal kasihan!”

Hong Kun bertambah murka, ia melompat maju untuk mengulang serangannya. Kali ini dia menyerang dengan dua tangan terbuka.

Teng Hiang telah menjadi seorang yang luar biasa. Didalam murkanya, ia masih dapat tertawa, maka itu dia marah atau gusar tampangnya sama saja.

Demikian juga kali ini, dia bukan mendamprat melainkan tertawa bergelak-gelak, hingga suara tawanya itu mendengung ditelingnya si anak muda. Sambil tertawa, dia lantas menyerang si anak muda itu.

Hong Kun lagi gusar, dia melayani. Dengan begitu bergebraklah mereka bahkan secara hebat.

Lewat sepuluh jurus, Hong Kun menjadi heran. Teng Hiang sangat lincah dan gesit. Bermacam serangannya juga beda dari orang kebanyakan, ia menjadi gentar hati dan berpikir:

“Heran budak ini! Waktu lewat belum lama, Kenapa sekarang dia menjadi begini lihai?”

Diantara muda mudi itu tidak ada sangkut paut juga, bahkan selama di Lek Tiok Po si, pemuda sebagai tetamu biasa dilayani sipemudi yang ketika itu masih menjadi pelayan hingga disaat yang kebetulan dan dia datang tepat saat Hong Kun baru dikalahkan It Hiong. Sedangkan sipemuda lagi mendongkol dan bersusah hati, hingga ia disangka sebagai orang yang membokongnya. Sekarang sesudah bertempur banyak jurus itu, perlahan-lahan hati Hong Kun berubah, amarahnya reda, iapun diherankan ilmu silatnya si nona. Maka itu mendadak ia lompat mundur meninggalkan medan pertempuran. Diluar kalangan ia diam-diam mendelong mengawasi si nona.

Teng Hiang tidak lompat menyusul melanjutkan penyerangan. Dia berdiri diam, balik mengawasi.

“Bagaimana, Eh!” tanyanya tertawa. “Kenapa kau tidak menyerang terus?”

Hong Kun masih berdiam, dan masih mendelong. “Tahukah kau akan maksud kedatanganku kemari?” Teng Hiang tanya pula. Kembali dia tertawa. “Aku datang dengan maksud baik. Aku mengkuatirkan kalian berdua, supaya ganjalan dilenyapkan! Aku kuatir sekali disebabkan ilmu pedang itu kau dan tuan Tio nanti mengadu jiwa! Diluar sangkaku, kau jadi seperti edan, datang-datang kau menyerang aku!”

Berkata begitu nona ini berpaling kepada It Yap Tojin, maka untuk herannya ia mendapatkan si imam sudah menghilang dari hadapan mereka berdua!

Masih Hong Kun tidak dapat menjawab.

Teng Hiang berkata pula. “Aku kira dapat menebak delapan sembilan bagian tepat! Aku terus terang! Kau rupanya tidak mempunyai semangat laki-laki. Itulah cuma sebab kau kehilangan pacar! Kau tahu, nona kami Nona Giok Peng belum pernah aku melihat ia berduka seperti kau sekarang ini!”

Hong Kun bingung, orang melukai hatinya dengan menyebut ia kehilangan pacar!

Iapun berduka. Tiba-tiba tubuhnya menggigil dan akhirnya dia menghela napas.

“Teng Hiang!…” katanya. “Aku minta janganlah kau menyebut-nyebut pula hal itu….dapatkah?”

Teng Hiang tertawa geli. Dia bercekikikan. Dia mengawasi dengan wajah tersungging senyum.

“Tuan Gak!” katanya kemudian. “Baik kau dengar kata- kataku! Kau toh laki-laki sejati? Buat apa kau membawa tingkahnya seorang wanita? Kenapa hatimu sangat mudah tergerak dan terpengaruh? Bukankah kau kenal dengan pepatah “Hilang Tong go, dapat Siang Jie”? Kalau kau telah kehilangan Giok Peng, apakah sudah tidak ada lain wanita lagi?”

Kata-kata itu ada maksudnya yang dalam dan diucapkannyapun secara sangat menggiurkan hati. Teng Hiang cantik manis dan ketika itu Hong Kun merasakan hatinya berat bagaikan diganduli batu besar, walaupun demikian sebagai orang yang cerdas, ia tahu apa maksud Teng Hiang dengan kata-kata itu serta gerak geriknya yang lemah lembut tetapi menggoda. Di Yo Kue Cip juga pernah ia mendengar nona ini secara samar-samar mengutarakan suara hatinya itu terhadapnya. Biar bagaimana hatinya tergerak juga sedikit.

Cuma karena ia bertabiat tinggi dan menganggap diri dari kalangan atas, mana sudi ia menerima seorang bekas budak menjadi istrinya? Hanya didetik ini, setelah menerima pukulan yang keras hingga hatinya berguncang dapatlah ia merasakan cintanya Teng Hiang itu. Apa juga dibilang, nona ini telah memberi hiburan terhadapnya dan membantu membangun semangatnya.

Asmara memang aneh, sehingga orang sukar meloloskan diri daripadanya, sekali orang telah terlibat susah untuk melepaskan diri. Diwaktu demikian, orang sukar mengenal tabiat atau cacat. Demikian pula Hong Kun, cintanya pada Giok Peng lain, sukanya pada Teng Hiang ini pun lain pula.

Masih sekian lama pemuda she Gak ini berdiam saja. Ia bukan memikirkan apa baik ia terima cintanya budak ini, ia justru memikirkan peristiwa di Lek Tio Po bersama Giok Peng. Ketika itu pergaulan mereka berdua sangat akrab, ia berdiam tapi matanya menatap nona di depannya ini… Karena Hong Kun berdiam diri, Ia mengira pemuda itu sedang memikirkan dirinya sehingga ia bergirang sendiri. Maka itu ia menghampiri sampai dekat sekali dan menyenderkan tubuhnya ditubuh si anak muda.

“Kakak Hong…” katanya perlahan.

Hong Kun tengah berkhayal ia sedang bersama Giok Peng, rasanya manis bukan main. ia terbuka matanya tetapi tidak melihat jelas orang disisinya itu. Ia mendengar panggilan “Kakak Hong” dan menyangka itulah suaranya si nona Pek.

“Oh Adik Peng, kau toh datang juga….” katanya, terus ia mengulur kedua lengannya untuk memegang bahu nona itu…

Disaat ini karena pikirannya terbuka karena ia sangat girang, maka Hong Kun bebas dari khayalannya dan kagetlah dia setelah melihat tegas, nona itu bukannya Giok Peng hanya Teng Hiang sibekas budak!

“Oh!…” serunya sambil ia mencium tubuh orang.

Teng Hiang tak enak hati orang memanggilnya “Adik Peng” dan bukannya “Adik Hiang”. Setiap orang memang mempunyai rasa harga dirinya sendiri. Maka itu ia merasa tersinggung. Ia merasa terhinakan, maka mendadak ia menghunus pedangnya.

“Mahkluk tak tahu budi!” serunya. “Berani kau menghinaku sampai begini!”

Kata-kata bengis itu disebabkan hatinya yang panas disusul dengan tikaman yang dahsyat! Hong Kun mendengar bentakan dan melihat serangan si nona, ia berkelit. Namun terlambat sedikit, sebaliknya si nona bergerak sangat cepat. Tidak ampun pula baginya, bahunya tergores hingga bajunya sobek dan kulitnya tergores dan darah mengucur keluar.

“Bagus!Bagus!” bersorak sikacung imam yang menyandarkan dirinya dipojok. Dia memang belum mengundurkan dirinya sejak berlalunya gurunya secara diam- diam tadi.

“Bagus! Habis bertempur lalu berbicara! Habis berbicara lalu bertempur pula! Bagus!”

Teng Hiang mendongkol mendengar suaranya bocah itu, mukanya menjadi merah tapi dia bukan marah pada sikacung melainkan ia justru mengulang serangannya terhadap si anak muda, dia menikam dan membabat berulang-ulang!

Hong Kun kaget dan gusar, ia anggap nona ini terlalu sesat. Kenapa dia mudah tertawa dan gampang murka? Kenapa dia demikian telengas? Maka ia memikir untuk menghajar adat sekaligus melampiaskan kedongkolannya! Maka iapun lantas menyerang!

Teng Hiang masih saja gusar, ia menangkis terus melanjutkan serangannya. Dengan begitu berdua mereka jadi bertempur, yang satu bersenjata pedang yang lain bertangan kosong. Yang satu bergusar, yang lain sebab ingin melampiaskan kedongkolannya dan ditambah lagi salah mengerti. Maka keduanya jadi seperti juga musuh bebuyutan dan ingin mengadu jiwa secara sengit.

Tengah orang bertempur seru itu, satu bayangan orang melompat datang untuk memisahkan. “Berhenti!” bentak bayangan itu.

Dialah It Yap Tojin yang muncul secara tiba-tiba.

Satu gempuran telah membuat kedua muda mudi ini mundur dengan sendirinya, hingga mereka dapat melihat si imam berdiri dengan wajah muram saking gusarnya.

“Kau datang buat mencari Tio It Hiong atau sengaja untuk mengacau disini?” tanya si imam itu bengis, dia menatap dan menunding si nona.

Mulanya Teng Hiang melengak, lalu dia tertawa dingin. “Terserah padamu, kau mau bilang apa!” jawabnya berani. It Yap masih dapat menyabarkan diri.

“Jika maksudmu mencari It Hiong” katanya, “Suka aku memberi petunjuk, bocah itu sudah mendapatkan kembali kitabnya dan sudah berlalu dari gunung ini!”

Teng Hiang tertawa.

“Sebenarnya ini harus dikatakan siang-siang!” katanya. “Hanya ini muridmu….”

“Masih kau tak mau pergi!” It Yap membentak. “Jika aku tidak memandang muka gurumu, hari ini tak usah kau harap bisa berlalu dari gunungku ini dengan masih hidup!” Ia lantas menoleh kepada muridnya untuk menambahkan: “Anak Hong, kau masuklah untuk beristirahat!” Teng Hiang tidak menggubris guru dan murid itu, dia menunding Hong Kun sambil berkata keras: “Orang she Gak! hari ini kau menghina aku begini rupa, kau lihat nanti!” Lalu dengan satu enjotan tubuh dia melompat pergi melintasi tembok dan menghilang.

Hong Kun berjalan terus kedalam dan gurunya berdiam saja.

Sementara ini marilah kita melihat It Hiong yang berlalu dari gunung Heng San dengan membawa kitab ilmu pedang gurunya. Ia girang sekali sebab akhirnya ia bisa mendapatkan kembali kitab itu. Ia melakukan perjalanan dengan cepat.

Tengah malam dilewati dalam perjalanan, maka setelah tiba sang pagi ia telah berada di kaki gunung Heng San dikecamatan Heng Yan.

Cara berjalannya anak muda ini yang tak perduli waktu siang atau malam, menyulitkan Tan Hong yang terus mengintil di belakangnya. Dia mahir ilmu ringan tubuh, tapi dibanding dengan It Hiong ia masih kalah satu tingkat. Dilain pihak sipemuda juga melakukan perjalanan dengan hati terbuka hingga dia bagaikan dapat tambahan tenaga. Dia tidak menghiraukan jalanan sukar. Maka itu waktu sampai dikecamatan itu napasnya si nona tersengal-sengal dan peluhnya membasahi seluruh tubuhnya.

It Hiong lantas mencari rumah penginapan. Ia minta sebuah kamar. Baru sekarang ia mikir buat istirahat. Maka ia minta barang hidangan untuk mengisi perutnya. Terlebih dahulu ia hendak membersihkan tubuh baru bersantap terus merebahkan diri untuk istirahat. Ia tidak biasa minum, tapi kali ini ia minta arak untuk membantu memulihkan kesegarannya. Selama memesan barang makanan itu, ia menggantungkan pedangnya didinding terus ia membuka baju luarnya. Kitabnya ia simpan dibaju dalam, lalu ia mengunci pintu buat mandi.

Mirip alap-alap Tan Hong senantiasa memasang mata. Ia melihat si anak muda memasuki penginapan, tahulah ia bahwa orang mau istirahat.

Ketika itu masih pagi, diam-diam dia girang sekali. Tak nanti kau terbang lolos, pikirnya.

Diwaktu pagi itu, lalu lintas sudah ramai. Supaya tidak mendatangkan kecurigaan, si nona berjalan perlahan-lahan mendatangi rumah penginapan itu. Tadinya ia ketinggalan jauh, dari itu ia mengintainya dari jauh juga.

Sebagai seorang yang sering merantau, ia tahu bagaimana harus berbuat kalau orang memasuki rumah penginapan.

Demikianlah, ketika ia bertindak masuk dihotel, tanpa menanti orang menyambutnya dan bertanya dia membutuhkan apa, dia melempar sepotong perak keatas meja sambil berkata: “Inilah untuk kalian minum arak!” kemudian menambahkan: “Barusan anak muda yang membawa-bawa pedang itu, dia mengambil kamar mana?”

Pengurus hotel menyambar uang sambil tertawa manis. “Nona mau cari tuan itu?” katanya. “Mari aku antarkan!” Ia

pun menyebutkan kamar It Hiong.

“Tak usah” kata si nona tertawa, “Cukup asal menyediakan kamarku disebelah kamarnya.”

Tan Hong duduk dalam kamarnya sambil berpikir bagaimana caranya ia nanti mencuri kitab pedangnya pemuda itu. Tak lama terdengar suara jongos, mendadak Tan Hong dapat satu pikiran. Ia bangkit dan menghampiri jongos itu.

“Memangnya tuan Tio pergi kemana?” tanyanya tertawa manis. “Apakah ia sedang tidur?”

Jongos itu mengenali nona yang memberi persen, dia tertawa dan menjawab: “Tadi aku lihat dia pergi kekamar mandi, tak nanti dalam waktu sependek ini ia sudah tidur. Mungkin dia sedang mandi.”

Matanya si nona berputar.

“Kalau begitu baiklah barang hidangan ini kau bawa kekamarku” katanya tersenyum, “Kalau kau suguhkan sekarang, nanti keburu dingin, buat dianya kau dapat menyediakan yang baru lagi.”

Berkata begitu, Nona Tan menyodorkan sepotong perak. Melihat uang, bukan main girangnnya si jongos.

“Baik, nona baik!” katanya, lalu terus ia sajikan barang makanan itu dikamarnya si nona. Habis itu ia pergi keluar.

“tunggu!” si nona memanggil.

“Ada apa nona?” tanya jongos itu, dia berhenti dan menoleh.

“Aku tidak minum arak” kata si nona itu. “Maka itu, kalau sebentar kau membawakan barang makanannya tuan Tio itu, kau mampir kesini untuk mengambil arak ini.jadi tak usah kau mengambil arak yang baru.” “Baik nona!” kata jongos itu dan terus berlalu.

Tan Hong menutup pintu kamarnya. Ia hanya berpikir sejenak, langsung dikeluarkannya pat po long, kantong “Delapan Mestika” atau tegasnya kantong serba guna. Sebab disitu ia simpan segala macam barang yang ia butuhkan dalam perantauan, hanya kali ini ia mengeluarkan satu botol obat tidur, yang ia tuangkan sedikit isinya kedalam poci arak. Ia hendak mencuri kitab itu disaat It Hiong tidur dengan lupa daratan! Dan dengan memegang kitab itu, ia hendak mendesak dan memaksa si anak muda suka mengikuti kehendaknya…

Tak usah terlalu lama nona ini berdiam didalam kamarnya karena ia mendengar suara dari dibukanya pintu kamar sebelah. Lekas lekas ia mengintai. Tahulah ia si anak muda sudah kembali kekamarnya. Maka ia merapati pintu kamarnya sendiri dan duduk menanti di muka pintu, menanti si jongos datang mengambil arak. Ia menanti supaya jongos itu tak usah mengetuk pintu kamarnya.

Kali inipun ia tak usah menanti lama. Segera ia mendengar jongos mendatangi membawa barang makanan. Ia mendengar sebab jongos itu berjalan sambil bernyanyi perlahan, rupanya karena girang sekali sudah mendapat persenan. Ia menggapaikan tangannya dan suruh si jongos menanti. Ia malah memberi isyarat buat jongos itu menutup mulut. Dengan cepat ia menaruh guci arak keatas nampannya si jongos yang terus masuk kekamarnya It Hiong.

Si anak muda sedang lapar, selekasnya jongos menyajikan barang makanan, ia lantas makan dengan lahapnya. Ia tidak menenggak arak. Ia tidak biasa minum. Ia lupa araknya itu, walaupun minuman itu tersedia diatas mejanya. Habis minum air, ia naik kepembaringan tanpa membuka baju luar lagi, terus tidur.

Tan Hong menanti sekian lama, sampai ia tak mendengar suara apa juga dikamar sebelah. Ia percaya orang tentu sudah tidur nyenyak disebabkan bekerjanya obat pulas. Tanpa ayal lagi, ia pergi kekamar sebelah itu, Ia membekal pisau belati.

Ingin dia mencongkel pintu dengan memakai pisau itu. Namun ia girang ternyata daun pintu cuma dirapatkan. Maka, mudah saja ia masuk kedalam kamar orang.

“Orang lalai!” katanya dalam hati. Ia tersenyum. “Orang Kang Ouw tak boleh teledor begini, sampai pintu kamar lupa dikunci. Kalau ada musuh datang bukankah itu berarti celaka?”

Berada didalam kamar Nona Tan lantas melihat kesegala arah. Ia melihat poci arak masih ada diatas nampan. Ia sangat teliti, maka ingin ia tahu apakah si anak muda sudah menenggak arak berapa banyak. Ia menghampiri meja, ia jemput poci arak itu untuk diperiksa. Ia melengak arak itu belum diminum sama sekali.

“Ah, dia sangat cerdik…” pikirnya. Maka terhadap It Hiong ia penasaran berbareng menyukai, sebab tipu dayanya gagal. Ia suka karena anak muda itu tampan, gagah, jujur dan cerdas.

Lekas-lekas Tan Hong kembali kekamarnya. Ia merebahkan diri sambil berpikir, bagaimana ia harus bekerja supaya kitab pedang itu dapat pindah ketangannya? Kitab itu tak nampak, tentunya kitab berada dalam saku baju si anak muda. Tak berani ia sembarang meraba tubuh anak muda itu. Pasti ia bakal terasadar dengan kaget. Ia menengadah kelangit-langit kamar untuk mengasah otak. Sampai lama masih belum ia memperoleh akal. Letih otaknya, maka tanpa terasa iapun ketiduran dengan pulasnya. Memang ia sendiripun letih, tak heran kalau ia tidur lama. Waktu mendusin sendirinya, itulah waktunya lampu dinyalakan. Sang malam telah tiba.

“Ah!” ia menyesalkan dirinya sendiri. “Aku pun lalai!” Tapi yang membuat hatinya kuatir ialah kalau-kalau It Hiong sudah melanjutkan perjalanannya! Maka ia lantas keluar kamarnya untuk melongok kekamar sebelah. Dikertas jendela dari kamar It Hiong tampak sinar api lilin yang bermain tak hentinya.

Seketika itu legalah hatinya. Api lilin itu menjadi tanda bahwa si pemuda belum berangkat pergi.

Sang waktu berjalan terus, tiba waktunya penerangan dipadamkan. Sang malam pergi, sang tengah malam datang. Seluruh halaman hotel gelap dan sunyi. Malam memangnya gelap.

Tan Hong menanti saatnya, lantas ia turun dari pembaringannya. Dari kantung wasiatnya ia menarik keluar serupa barang. Lalu dengan kertak gigi, ia berkata perlahan: “Kau cerdik dan waspada, kau tidak minum arak, tapi aku mau lihat apa kau dapat lolos dari asapku, inilah si “Tidur Nyenyak!”

Si “Tidur Nyenyak” atau Hauw Bong Jie adalah semacam hio atau dupa istimewa buatan kawanan dari Hek Kang To, Pulau ikan lodan hitam itu. Kalau hio itu disulut, asapnya berbau harum, tapi siapa kena sedot asap itu, meskipun sedang tidur maka dia bakal kontan tidur nyenyak. Lupa segala hal, sesudah lewat dua jam dia akan mendusin sendiri. Siapa menyedot hio dan kemudian mendusin, sesudah terasadar dia masih tak merasakan sesuatu hingga dia tak tahu baahwa dia telah kena asap itu. Demikian dengan membawa dupanya itu, Tan Hong menghampiri jendela kamar It Hiong. Disulutnya hio itu dan dimasukkannya kedalam kamar itu. Ia menanti sekian lama, sampai ia merasa obat pulas itu sudah bekerja. Perlahan-lahan ia membuka daun pintu. Mudah saja ia memasuki kamar orang. Segera ia menyalakan api. Maka tampaklah terlihat sipemuda tengah tidur nyenyak, napasnya menggeros keluar dari hidungnya. Tanpa ragu-ragu ia lantas mencari kitab, mencari sana-sini sampai ia menggeledah baju orang, kantung dan bawah bantal.

Kitab ilmu pedang Sam Cay Kiam tidak ada!

“Aneh!” pikirnya. “Ah, tidak salah lagi, tentu dia simpan itu didalam baju dalamnya!”

Giok Bin Sian Ho, si rase Sakti Bermuka Kemala menjadi orang sesat, dia pula telengas, akan tetapi dia tetaplah seorang gadis putih bersih. Dalam usia duapuluh lima tahun, dia tetap gadis remaja. Maka timbul rasa malu atau likatnya terhadap bangsa pria. Merahlah kulit mukanya, ketika ia memikir mesti menggeledah tubuh It Hiong. Hatinya goncang, memukul tak hentinya. Beberapa kali ia mengulur tangannya guna meraba tubuh si anak muda, beberapa kali pula ia menarik tangannya kembali. Ya, ia malu, ia likat! Ia jengah sendirinya! Ia menjublak mengawasi wajah si anak muda yang lagi tidur dengan tenang…

Sang waktu berjalan terus, tanpa terasa pagi hampir tiba. ayam jago telah berkokok pertanda sang fajar. Hal ini membingungkan si nona. Usahanya masih belum berhasil. Ia masih diganggu dengan rasa likatnya!

“Ah!” serunya kemudian. Kembali ia kertak gigi, kali ini guna menguatkan hatinya, lantas ia meraba dadanya si anak muda buat merogoh kedalam saku dari baju dalamnya. Dan ia berhasil memegang kitab yang ia cari itu, maka ia keluarkan itu, terus dimasukannya kedalam saku sendiri! Bukan main lega hatinya. Lekas-lekas ia bertindak kepintu kamar. Ia sudah mengulur tangannya buat memegang daun pintu untuk dibuka lalu ia berhenti. Ia berpikir keras, tak lama ia mengeluarkan saputangannya, diatasnya ditulis dua baris huruf, setelah meletakkan sapu tangannya itu diatas meja, barulah ia pergi keluar kamar. Ia tidak kembali kekamarnya, hanya pergi kehalaman terbuka untuk melompat naik keatas genteng.

Disini ia melihat kesekitarnya.

Pagi itu tetap sunyi, belum ada orang yang mendusin atau keluar dari kamarnya. Jongospun belum ada yang muncul.

Ditimur tampak langit bersinar putih samar-samar. Masih Tan Hong berdiri diam diatas genteng itu. Ia ingat saat meraba dada si anak muda guna mengambil kitab orang itu. Ia merasakan manis, hingga diluar tahunya pipinya merah sendiri.

Angin pagi sejuk sekali, meresap kedalam tubuh. Nona Tan menggigil, tapi waktu itu ia merasakan ada angin yang meniup batang lehernya. Ia terperanjat, insyaflah dia, bahwa telah berlaku lalai saking kesengsemnya, cepat ia menoleh.

Di depannya, tampak Teng Hiang sedang berdiri mengawasi!

“Hey budak!” tegurnya, “Kau lagi bikin apakah!”

“Melihat tampang mukamu, rupanya kau telah melakukan sesuatu yang bagus!” Teng Hiang membaliki. lalu dilanjutkannya perlahan, “Apakah kau hendak mendustai aku?” Tan Hong tertawa.

“Tidak ada halangannya untuk memberitahukan itu padamu!” sahutnya. “Soal apa lagi kecuali halnya kitab ilmu pedang!”

Teng Hiang melirik, dia tertawa. Aneh suara tawanya itu. “Aku lihat kau bukannya maksudkan melulu kitab ilmu

pedang itu saja!” katanya. Ia tertawa pula, “Bukankah sebenarnya kau hendak mendapatkan dirinya Tuan Tio It Hiong sendiri?”

Muka Nona Tan menjadi bersemu merah, dia merasai pipinya panas.

“Oh, adik yang baik” katanya, “Bagaimana kau hendak menggodia aku? Kau memfitnah ya?”

Teng Hiang tersenyum.

“Bagaimana kalau aku mendapat bagian sedikit?” katanya, “Boleh bukan?”

Tan Hong tidak menjawab.

“Sampai jumpa pula!” serunya. Mendadak dia lompat dan terus lari.

Teng Hiang tidak mengejar, dia hanya mengawasi setelah orang lenyap, dia berkata dalam hati: “Habis aku menyambut guruku, akan aku susul tuan Tio! Kau lihat saja nanti!” Dan iapun pergilah. Pagi itu It Hiong mendusin dan mendapatkan sinar matahari dijendela sudah bewarna merah. Ia lantas bangkit turun dari pembaringannya terus menguap dan mengulet.

“Ah, kenapa aku tidur begini nyenyak?” katanya seorang diri.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).