Iblis Sungai Telaga Jilid 10

 
Jilid 10

Teng Hiang mengawasi berlalunya imam cabang atas dari luar lautan itu, baru ia memandang sekitarnya. Ketika itu tamu-tamu lainnya lagi berkasak-kusuk membicarakan tingkah lakunya Beng Leng yang mirip orang edan. Dengan melihat keseluruh ruang si nona jadi mendapat lihat juga pada Hong Kun, yang duduk tenang-tenang saja, tangannya membolak balik lembarannya sejilid buku.

Lantas si Nona Tong berbangkit dan bertindak menghampiri.

"Tuan Gak, masihkah kau mengenali Teng Hiang budak pelayan dari Lok Tiok Po ?" sapanya.

Hong Kun menoleh. Ia melengak ketika mendengar suaranya si budak pelayan, lebih-lebih sesudah ia mengenali nona itu. Mulanya tadi ia tidak memperhatikan, ia tidak mengenali nona itu karena orang berdandan secara luar biasa hingga ia beda dengan Teng Hiang semasa dia di Lok Tiok Po masih mengikuti Giok Peng. Teng Hiang sekarang dan Teng Hiang dahulu sangat jauh berbeda.

"Apakah Locianpwe Pek Kin Jie di Lok Tio Po ada banyak baik ?" ia tanya. Ia tanpa menjawab lagi pertanyaan si wanita muda : "Apakah nona datang kemari untuk mencari Nona Pek Giok Peng? Benarkah ?"

Mulanya Teng Hiang berdiri di depan orang tapi sekarang, sebelum menjawab ia lantas menjatuhkan diri, duduk dikursi, di depan anak muda itu. Ia mengawasi Hong Kun yang tangannya menggenggam kitabnya itu. "Nona Giok Peng ?" kemudian ia menjawab, suaranya bagaikan mengasi. "Sekarang ini nona itu berada di Siauw Sit San tinggal bersama-sama Tuan Tio ! Merekalah sepasang burung mandaria yang hidup rukun dan manis ! Dan aku ?

Aku hidup sebatang kara, luntang lantung di dalam dunia yang luas ini. Mana mereka itu sudi memperhatikan padaku si Teng Hiang ? Akulah orang yang telah masuk dalam kalangan sesat, apa perlunya mereka itu memperhatikan lagi padaku ?"

Hong Kun tercengang.

"Kau sudah meninggalkan Lok Tiok Po ?" tanyanya.

Teng Hiang tidak menjawab, ia hanya mengganda tertawa. Lalu tiba-tiba saja ia meluncurkan sebuah tangannya dengan sangat cepat, hingga tahu-tahu buku ditangannya si pemuda sudah berpindah ke tangannya sendiri.

"Kau sedang membaca buku apa ?" tanyanya, tingkahnya acuh tak acuh, bagaikan orang bergurau. Diapun sudah lantas membalik lembarannya buku itu.

Hong Kun terkejut sekali. Inilah diluar biasa ia mengulur tangannya, guna merampas pulang buku itu.

Teng Hiang pun berlaku sangat cerdik dan cerdas, dengan kehebatan luar biasa juga, ia menarik tangannya yang memegang buku itu sedangkan dengan tangannya yang lain, ia menyambar dan mencekal tangan orang !

Hong Kun kaget, ia terasadar dari pusingnya yang disebabkan arak. "Kenapa Teng Hiang menjadi begini lihai ?" pikirnya. Lalu ia kata sibuk : "Pulangkan buku itu padaku ! Aku sangat membutuhkan buku ilmu pedang itu !"

"Sibuk buat apakah ?" Teng Hiang tanya tertawa. "Aku tak membutuhkan buku macam begini ! Laginya buku ini pernah terjatuh kedalam tanganku. !"

Hong Kun tidak menggubris kata-kata orang, dia membutuhkan sangat kitab ilmu pedang itu, maka tanpa menjawab, dia meluncurkan pula tangan guna merampas !

Teng Hiang menyambut tangan pemuda itu, hingga dia itu kaget dan lekas-lekas menariknya pulang. Setelah itu, kembali ia mencoba merampas.

Teng Hiang berkelit, lantas dia angkat tangan kirinya yang memegang buku itu.

"Kau kenapa kah ?" tanyanya tawar. "Buat apa kau bingung tak karuan ? Sudah aku bilang, aku tidak membutuh buku ini ! Hanya terlebih dahulu hendak aku tanya kau ! Kenapa kau bilang kau sangat membutuhkannya ?"

Hong Kun bilang juga. Si nona terlalu cerdik dan licin. Tapi ia perlu buku itu ! Lantas ia menggunakan akal. Ia mencoba cara halus, Teng Hiang tidak dapat dilawan keras. Ia malah berlaku terus terang !

"Buku ini aku butuhkan supaya aku dapat pakai guna mendapatkan kembali Giok Peng" sahutnya. "Aku ingin dia kembali kedalam rangkulanku ! Nah kau pikir, bukankah aku segera membutuhkan buku ini ?" Teng Hiang tertawa geli. Ia kembalikan buku itu dengan jalan melemparkannya.

"Oh !" katanya. "Sungguh tak ku sangka murid Heng San Kiam kek yang sangat tersohor dalam dunia Kang Ouw tetapi dia telah menggunakan caranya ini untuk mendapatkan buku orang ! Inilah cuma demi sang asmara !"

Hong Kun tertawa.

"Kau belum pernah merasai cinta !" katanya. "Kau belum pernah dilandanya maka kau bicara seenaknya saja !"

Ketika itu jongos datang dengan barang hidangan dan araknya si nona, yang dia atur diatas meja.

Teng Hiang menuangi arak pada cawannya Hong Kun, lalu cawanya sendiri.

"Tuan Gak, mari minum !" kta Teng Hiang seraya mengangkat cawannya itu. "Hari ini hendak aku mewakilkan Nona Giok Peng menghormati kau dengan satu cawan !" Dan lantas ia meneguk araknya.

Hong Kun pula tetapi dia menjadi lihai sekali. Inilah sebab kelakuannya si bekas budak yang demikian bebas tak ubah dengan lagak laguknya seorang pria.

Demikian berdua mereka makan dan minum.

Selama itu Teng Hiang mendapat kenyataan walaupun si anak muda sedang kacau pikirannya, dia tetap tampan dan menarik hati, hingga hatinya tergiur juga maka satu kali sambil tertawa ia kata : "Baiklah kau berpijak kepada kata-kata bahwa dari pada masih mengingat-ingat peristiwa yang lama lebih baik mengambil orang di depan mata ! Bukankah itu yang terlebih baik ? Jangan kau kacau sendiri tak karuan !"

Hong Kun mengawasi tajam. Kata dia sungguh-sungguh. "Tahukah kau akan pepatah bahwa siapa berada di laut, dia sukar mendapatkan air ? Apakah kau menyangka aku si orang she Gak seorang biasa saja ? Orang dapat mengatakan apa juga kepadaku tetapi aku bawa diriku sendiri ! Akan aku berdaya sampai nanti aku mati. !"

Lalu ia menghela napas panjang. Keduanya berdiam sekian lama.

"Habis Tuan Gak" kemudian Teng Hiang tanya, "apa saja yang kau niat lakukan ? Dapatkah kau beritahukan itu kepadaku ?"

Hong Kun suka bicara terus terang.

"Aku sudah berjanji dengan Tio It Hiong untuk bertempur di Hong San" sahutnya. "Selesai mengadu kepandaian, hendak aku pergi ke Siauw Sit San mencari Giok Peng guna memberitahukan dia apa yang telah terjadi."

"Kalau tuan mau pulang ke Heng San inilah kebetulan." berkata si nona. "Itulah jalan yang sama yang aku hendak ambil ! Bagaimana kalau budakmu ini mengantarkan barang satu lintasan?"

Hong Kun mengangguk. Itulah tanda ia setuju.

Ketika itu sudah cukup mereka makan dan minum. Lantas keduanya berbangkit, selesai membayar uang kepada jongos, mereka bertindak keluar, untuk pergi ke pasar guna membeli kuda. Dengan demikianlah mereka melakukan perjalanan mereka.

oooOooo

Satu hari mereka berjalan terus, lalu mereka memutar menuju ke propinsi Ouwlam. Disini, ditengah jalan mereka bertemu dengan Cin Tong dan Tan Hong, kedua jago dari Hek Keng To, luar lautan. Sampai Teng Hiang memisahkan diri dari si anak muda, untuk ia turut bersama Tan Hong dan Cin Tong berdua.

Cin Tong dan Tan Hong itu tengah dalam perjalanan mencari Beng Leng Cinjin kakak merangkap ketua mereka. Mereka mau membujuki supaya ketua itu suka pulang ke pulau mereka. Dengan Teng Hiang, mereka dari satu kaum, maka itu dapat mereka berjalan bersama.

"Adik Teng Hiang" tanya Tan Hong, "tadi kau ada bersama dengan bocah itu, siapakah dia ?"

"Dialah Gak Hong Kun, muridnya Heng San Kiamkek," sahut Teng Hiang. "Tadi aku bertemu dia di Yop Kee jip maka kami berjalan bersama."

Sekalian bicara, budak yang gemar bicara itu lantas menutur lakon asmara diantara Giok Peng dan It Hiong, bahwa karena kedua pemuda itu mengganjal hati satu dengan lain, maka juga mereka berjanji akan mengadu pedang di Heng San.

Tan Hong tertawa mendengar cerita itu. "Aku lihat pemuda itu tampan, kenapa di kena dikalah si orang she Tio ?" tanyanya. "Kenapakah sampai pacarnya itu kena orang rampas ?"

"Sayang kau belum pernah melihat Tuan Tio itu, kakak Hong" berkata Teng Hiang menjawab pertanyaan orang lain. "Dalam hal rupa dan kepandaian, dia melebihi lain orang satu tingkat. Dialah yang dibilang, siapa melihatnya tentu menyukainya ! Tak heran kalau nonaku dahulu tergila-gila terhadapnya. Kalau kakak bertemu dengannya, pasti kakak pun bakal kena tersesatkan!"

Tan Hong tertawa pula.

"Adik" katanya, "bukankah kau pun menaruh hati kepada anak muda she Tio itu ? Benar, bukan?"

Teng Hiang tunduk, lalu menghela napas.

"Inilah yang dibilang, air mengalir bunga gugur dan musim semi pergi berlalu !" sahutnya. "Aku telah kehilangan kesempatanku."

"Kalian bangun wanita," Cin Tong campur bicara, "di dalam hati dan pada mata kalian yang dipikirkan dan terlihat kaum pria melulu ! Kalian sampai tak memikirkan orang toh ada masing-masing pikiran dan penglihatannya !"

Tan Hong melirik mendelik pada pria itu, kemudian ia mengawasi pula Teng Hiang untuk berkata lagi : "Ada pepatah yang berkata, siapa berjodoh maka walaupun jauh seribu lie, orang akan bertemu juga akhirnya. Urusan di dunia pun begitu, berubah tak hentinya, seperti berubahnya awan diatas langit. Sang waktu, sang kesempatan masih banyak, kau tahu

?" Teng Hiang terdiam, ia menutup mulut. Ia mengedut tali kudanya, membikin ia dapat mengasi lari kuda mereka berendeng dengan jago wanita dari luar lautan itu.

Cin Tong sementara itu sudah membiarkan kudanya lari disebelah depan, mendahului lima atau enam tombak.

Ketika itu ada permulaan musim panas, kadang-kadang turun hujan. Bertiga mereka mengikuti jalan besar. Dikiri dan kanan mereka tampak sawah melulu dengan pohon padinya yang tumbuh subur seluas hanya bersama hijau segar. Itulah yang umumnya dibilang, "Di Kanglam rumput panjang burung- burung pada beterbang."

Tang Hong dan Teng Hiong tertarik keindahan alam persawahan itu, mereka pula bicara banyak, tanpa merasa, mereka memperlambat larinya kuda mereka.

Tiba-tiba saja muncullah sang angin yang terus meniup- niup membuat ujung baju mereka bermain-main karena sampokkannya, sedangkan di udara, terlihat perubahan sang mega, yang dari terang menjadi mendung, sedangkan dari permukaan bumi lantas muncul hawa panas mengkedus.

Dari sebelah depan lantas terdengar suara nyaring dari Cin Tong, "Hujan besar lagi mendatangi! Mari lekas kita mencari tempat meneduh !"

Kedua nona juga melihat bahwa sang hujan bakal lekas turun, mereka menjadi bingung ! Disitu hanya jalan besar, kiri dan kanan tampak cuma sawah saja ! Kemana mereka dapat pergi untuk melindungi diri ? Tidak lain, terpaksa mereka memecut kuda mereka untuk membuatnya lari terus. Baru mereka berlari-lari empat puluh tombak, air langit jarang-jarang sudah mulai berjatuhan. Maka mereka itu mengaburkan terus kuda mereka, sampai mereka menikung disebuah tikungan. Sekarang, di depan mereka, mereka melihat sebuah tanjakan dimana terdapat beberapa rumah gubuk. Itulah tempat petani menyimpan alat-alat pertaniannya.

Bertiga mereka kabur semakin keras ke sebuah gubuk.

Hujanpun lantas turun dengan lebatnya. Angin bertiup semakin keras. Lekas sekali pakaian mereka bertiga menjadi basah. Barulah itu waktu mereka tiba digubuk itu, yang tak ada manusianya. Disitu mereka turun dari kuda mereka, buat berlindung lebih jauh dari sang hujan dan angin. Paling dahulu mereka mencoba mengurus baju mereka. Disitu mereka pada berduduk di tanah. Mereka juga tidak berani membuat tabunan, kuatir nanti kesalahan kena membakar gubuk itu.

Di luar gubuk, sang hujan dan angin dan guntur bercampur menjadi satu, dan gubuk bergerak-gerak hingga bersuara berkresekan. Hawa sangat dingin hingga ketiga orang itu yang pakaiannya basah, menderita gangguan.

Dalam keadaan seperti itu, mendadak ada bayangan seseorang bergerak masuk kedalam gubuk. Segera ternyata dialah seorang muda, dipunggung siapa tergondol sebatang pedang. Dia basah kepala dan pakaiannya sembari menyeka air hujan pada mukanya, dia kata hormat : "Bolehkah aku ikut berteduh di dalam gubuk ini..."

Anak muda itu berkata tanpa melihat lagi siapa yang berada di dalam gubuk itu, ia repot menyeka air hujan dan tak sempat meneliti orang. Tidak demikian dengan Cin Tong si Dewa Angin Merah. Dia mengenali orang dengan siapa dia pernah bertempur di Pay In Nia. Dia bisa melihat tegas, sebab dia sudah lama berada di dalam gubuk dan mukanya kering dari air. Lantas dia berlompat bangun sambil menghunus pedangnya.

Tan Hong tidak kenal pemuda itu, ia tak perdulikan.

Tapi Teng Hiang mengenalnya, dalam girang mendadak ia berseru : "Tuan Tio ! Oh, kau juga datang kemari ? Benar- benar di dalam dunia ini di tempat mana saja orang tak bertemu orang !" Ia lantas bangun berdiri dan bertindak menghampiri.

It Hiong, demikian pemuda itu telah menyusut bersih air di mukanya dan menggebruki pakaiannya, terus ia mengawasi ketiga orang didalam gubuk itu.

"Kiranya Teng Hiang, kau pun berlindung disini." katanya sabar. Terus ia bertindak ke ambang pintu.

Hatinya Tan Hong tergerak mendengar Teng Hiang memanggil "Tuan Tio" pada orang yang baru datang itu, tidak ayal lagi ia lantas membuka lebar matanya dan mengawasi dengan tajam.

It Hiong mau pergi keluar tapi ia bersangsi. Hujan turun makin deras.

"Kakak Hiong !" Tan Hong menyapa pula, sekarang sambil tertawa manis, "apakah kakak tengah menuju ke Heng San ?"

Hatinya It Hiong panas mendengar orang merubah memanggil ia kakak dan lagu suara orang demikian merdu dan akrab, ingin ia menegur atau segera ia dapat menahan sabar. Ia ingat tak perlunya ia bergusar. Teng Hiang pun bertiga, itulah akan merepotkan ia andiakata nona itu dan kawan-kawannya bergusar. Untuk mengendalikan diri ia berdiam saja.

"Kakak Hiong !" Teng Hiang berkata pula, lagi-lagi dia tertawa. "Teng Hiang toh bukannya orang luar ? Kenapakah kakak ? Kau nampaknya asing terhadapku ini ! Coba kakak ingat-ingat, apa yang pernah ucapkan semasa kita berada di Lok Tiok Po. "

It Hiong berdiam. Ia ingat apa katanya dahulu hari itu.

Memang pernah dia bilang bahwa ia tak membedakan orang, ia anggap Giok Peng dan Teng Hiang sama saja. Bahkan ketika itu ia memanggil "adik" pada si budak yang sekarang telah berubah menjadi begini centil dan genit. Ia menjadi kurang enak hati karena si budak membangkitnya.

"Jangan kau salah mengerti Teng Hiang." katanya sabar. "Kalau aku tengah memperhatikan suara urusan, aku tak ingat lagi lain-lainnya apapula yang telah lama lewat."

Tiba-tiba Tan Hong campur bicara, katanya :"Orang di dalam dunia ini, makin dia bicara manis, makin ternyata dialah si orang tak berbudi dan tipis perasaannya ! Adik Hiang, kau bilang benar atau tidak kata-kataku ini ?"

Berkata begitu ia menatap kepada si anak muda. Makin lama ia melihat makin nyata pada wajah si anak muda itu.

Teng Hiang berpaling kepada Tan Hong, ia tertawa perlahan. Kemudian ia menoleh pula pada si anak muda yang ia awasi.

"Apa yang kau pikir dalam hatimu kakak, semua aku tahu !" katanya pula. "Bukankah kau sedang menyibuki kitab ilmu pedangmu yang lenyap itu ?" It Hiong tidak dapat menyangkal, ia mengiakan.

"Karena lenyapnya kitab pedang itu, hatiku ruwet bukan main !" sahutnya.

Teng Hiang menatap terus.

"Apakah kakak kuatir nanti tak dapat melayani Gak Hong Kun ?" dia tanya.

"Itulah bukannya soal tak kau pikirkan itu." sahut si anak muda. "Aku hanya kuatir kitab itu tidak berada ditangannya Gak Hong Kun bahwa sebenarnya kau tengah dipancing dia untuk mendatangi Heng San !"

"Dalam perjalananku ini, di Yo kee cip pernah aku bertemu Gak Hong Kun." Teng Hiang memberitahukan. "Jangan kuatir kakak, jangan kau ragu-ragu lagi, kitab ilmu pedang itu memang berada padanya. Aku telah melihatnya sendiri."

Mendengar keterangan itu yang ia percaya hatinya, It Hiong menjadi lega. Ia lantas melongok keluar. Hujan sudah mulai mereda bahkan matahari tampak pula sinarnya. Lalu ia berpaling pula kedalam hingga sinar matanya bentrok dengan sinar mata ketiga orang itu. Ketika ia melihat Tan Hong ia terkejut. Sinar matanya nona itu sangat tajam.

"Nah, sampai kita jumpa pula !" katanya tiba-tiba lantas tubuhnya mencelat keluar berlari kabur tanpa menoleh lagi.

Tan Hong melongo dan Teng Hiang kecele, Cin Tong berlega hati sebab ia tak usah bertempur pula dengan pemuda itu. Karena hujan sudah reda sekali tinggal gerimis sedikit tiga orang itupun keluar dari gubuk melanjuti perjalanan mereka. Hanya kali ini mereka lantas memencar diri . Teng Hiang hendak mencari Thian Jie Lo jin gurunya, Cin Tong hendak mencari Beng Leng Cinjin kakaknya itu, batal ia pulang ke luar lautan. Dan Tan Hong ? Nona ini tak dapat melupakan pula pada It Hiong yang tampangnya ganteng, yang sikap duduknya gagah. Maka tanpa mengatakan sesuatu, ia menuju ke arah Heng San, guna menyusul anak muda itu. Tak tahu ia, apa ia telah dipengaruhi mata penglihatan pertama kali atau bukan.

It Hiong sementara itu dihari kedua maghrib sudah sampai di kecamaTan Hong yang, langsung ia memasuki kota yang tak besaran juga tak kecil. Di saat itu orang sudah mulai menyalakan api. Langsung ia mencari rumah penginapan untuk lantas bersantap, sesudah mana ia menutup pintu kamarnya untuk menyekad diri dengan beristirahat.

Malam itu lewat tanpa suatu kejadian. Pagi hari It Hiong sudah mendusin dan terus berkemas, maka dilain saat ia sudah berada dalam perjalanan ke Heng San. Dari jauh ia sudah melihat gunung itu dikitari banyak gunung kecil dan banyak pepohonannya. Nampak gunung itu angker.

Kapan si anak muda tiba di kaki gunung ia menindak. Dari situ tak tahu ia mesti menuju kemana. Ia tidak tahu dimana pernahnya gubuk dari Hong Kun atau Hong Kun akan menantikan ia dibagian mana dari gunung tersohor itu.

Berdiri menjublak saja, didalam hati anak muda ini mengagumi Heng San, yang lebih dikenal dengan nama Lam Gak --Gunung Selatan. Gunung itu menyambungi kedua kawan dan Tiongan san dan Hengen. Ia menerka gubuknya Heng San Kiam Kek tentunya berada di tempat yang paling suci atau dipuncak tertinggi. Itulah tempat hartanya Heng San Kiam Kek It Yap Tojin, mana dapat ia mencari secara bersahaja ? Kalau begitu ia mesti mendaki semua tujuh puluh dua puncak Heng San !

Puncak utama ialah Hwe Gan Hong, puncak burung belibis.

Puncak yang tertinggi dan tertutup awan atau halimun yang mungkin keadaannya lebih berbahaya dari pada Pay In Nia, tempat bersemayamnya gurunya di gunung Kiu Hoa San.

"Sayang..." katanya masgul. Ia lupa menanya tegas alamatnya Hong Kun. Terutama ia tak ingat halnya lebih baik ia ikut atau jalan berbareng dengan pemuda itu.

Di tanah pegunungan itu tak hentinya It Hiong merasai siurannya angin dan telinganya pun senantiasa mendengari gemuruh daun-daun pohon cemara serta mendengungnya air tumpah. Semua itu membuatnya seperti melupakan bisiknya dunia pergaulan. Ia bukan mau pesiar. Ia toh terpesona akan keindahan gunung. Walaupun demikian ia memasang mata untuk mencari jalan mendaki. Itulah pokok tujuannya.

"Baiklah, aku duduk beristirahat dahulu" pikirnya kemudian. Ia mengharap-harap munculnya seorang tukang mencari kayu guna dimintai keterangannya. Maka ia menghampiri sebuah batu di tepi jalan diatas mana ia berduduk.

Sang waktu berjalan tanpa menghiraukan apa jua. Capai rasanya, tengah hari sudah lewat dan orang mulai mendekati sang lohor. Gunung tetap sunyi, seorang pun tak pernah melintas.

Kesabarannya It Hiong tengah diuji. Ia ingin maju tetapi ragu-ragu. Masih ia duduk berdiam, sampai tiba-tiba ia melihat seorang bagaikan bayangan tengah berlari mendatangi. Ia menjadi bersemangat, hingga ia menjadi girang sekali. Bahkan ia berlompat bangun dan bertindak maju guna memapaki orang itu.

Hanya sebentar kedua belah pihak sudah datang dekat atau enam tombak, It Hiong mendapati ia berdiri berhadapan dengan seorang pendeta yang tubuhnya tinggi besar, yang parasnya tampan usianya lebih kurang empat puluh tahun.

Orang beribadat itu mengenakan jubah putih dan sebuah golok Kay co tergantung di pinggangnya. Dia memakai sepatu rumput dengan apa dia lari keras tanpa menerbitkan suara berisik. Dia berlari keras tetapi nampak dia bersikap tenang.

It Hiong mengangkat kedua tangannya memberi hormat pada pendeta itu.

"Selamat siang, taysu !" sapanya. "Aku mohon bertanya, apakah taysu datang ke Heng San ini untuk mengunjungi salah seorang pertapa disini ?"

Pendeta itu menghentikan tindakannya dan membalas hormat. Sebelumnya menjawab, dia mengawasi dahulu si anak muda melihat ke atas dan ke bawah.

"Maaf sicu" sahutnya, "Sicu menanya begini kepadaku, entah ada apakah maksud sicu ? Harap sicu sudi menjelaskan terlebih dahulu."

It Hiong berpikir, "Aku hendak mengadu pedang dengan Gak Hong Kun, mana dapat kau beritahukan itu pada lain orang !" Karenanya terpaksa ia mendusta. Sahutnya, "Aku yang rendah ini datang kemari memenuhi undangannya seorang sahabat, hanya sayang sekali, aku lupa menanyakan alamatnya yang jelas. Sahabat itu cuma menyebut saja gunung Heng San." Pendeta itu tertawa.

"Sicu kecil nampaknya kau cerdas sekali" kata dia manis, "kenapa buktinya sicu begini sembrono ?"

It Hiong jengah. Memang ia telah berbuat lalai.

"Taysu benar." sahutnya. "Taysu, apakah taysu ketahui dimana letaknya tempat bertapa dari Heng San Kiam Kek It Yap To jin ? Sudikah taysu memberi petunjuk kepadaku yang rendah ?"

Pendeta itu mengawasi. Nampak dia heran. "Mohon tanya, sicu kecil." kata ia pula, sebelum ia

menjawab pertanyaan orang. "Bukankah sicu menjadi

muridnya Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian ? Pinceng merasa mengenali pada sicu..."

It Hiong berlaku jujur.

"Sebenarnya aku yang rendah adalah muridnya Tek Cio Siangjin dari Kin Hoa San" sahutnya, "In Gwa Sian itu adalah ayah angkatku."

"Amida Buddha !" pendeta itu memuji. "Kiranya sicu adalah penolong besar dari Siauw Lim Sie! Sayang pada saatnya terjadi penyerbuan kepada kuil dan gunung kami, pinceng kebetulan berada didalam perantauan hingga pinceng tak dapat ketika akan menyaksikan kegagahan sicu itu yang demikian lihainya ! Sicu adalah kemudian, setelah mendengar berita tentang penyerbuan itu lekas-lekas pinceng membuat perjalanan pulang tetapi sesampainya di gunung pinceng cuma dapat melihat sicu satu kali saja. Hal itu sebenarnya membuatku menyesal..."

Pendeta itu berhenti sejenak baru ia menambahkan : "Sekarang ini pinceng tengah menjalankan perintah ketua kami untuk menyampaikan surat undangan kepada It Yap Tojin supaya imam itu suka turut menghadiri pertemuan besar yang bakal diadakan itu. Sebenarnya pinceng melainkan ketahui It Yap Tojin tinggal di puncak Hee Gan Hong, tetapi belum pernah pinceng pergi ke sana."

Keterangan itu menggirangkan juga It Hiong.

"Kalau begitu, mari kita pergi bersama !" katanya gembira. "Dapatkah aku yang muda mengikuti taysu ?" Ia memberi hormat.

Pendeta itu membalasi.

"Dengan segala senang hati sicu !" katanya. "Balikan ini membuatku bersyukur dan beruntung!"

"Terima kasih !" kata si anak muda yang lantas melihat langit. Sang sore lagi mendatangi, "Mari, taysu !"

Tidak ayal lagi, keduanya melanjutkan perjalanan dengan berlari-larian. It Hiong dari di sebelah depan, si pendeta mengikutinya. Lewat delapan lie, mereka mulai mendaki dan jalanan mulai sukar. Mereka maju terus sampai mereka mulai memasuki tempat lebat dengan pepohonan. Itulah rimba.

Pendeta itu memiliki ilmu ringan tubuh yang tak lemah, selama berjalan bersama itu ia ketinggalan lebih dari empat atau lima tombak. Rimba itu, rimba pohon cemara, panjang lima atau enam lie, pepohonannya besar-besar dan tinggi hingga umpama kata menutupi matahari dan tumpukan daun isinya tebal kira satu dim. Sehabisnya rimba lantas tampak sebuah tempat terbuka penuh dengan rumput luas dua puluh tombak lebih, ujungnya lapangan rumput itu adalah jurang yang membuat jalanan buntu. Disebelah depan jurang ada sebuah puncak tinggi.

Ketika matahari sudah jauh turun ke barat, karuan cahayanya terhalang puncak, disitu cuaca mulai gelap. Yang molos hanya sedikit sinar layung merah.

"Bagaimana, taysu ?" It Hiong tanya, "kita jalan terus atau cari gua untuk beristirahat ?"

"Pinceng memikir baik kita singgah disini untuk makan rangsum kering." sahut orang yang ditanya, "habis itu, kita melanjutkan perjalanan kita. Apakah sicu akur ?"

It Hiong mengangguk seraya terus menghentikan gerakannya.

Maka itu, diatas rumput mereka duduk numprah. Si pendeta mengeluarkan rangsum keringnya, untuk mereka bersantap bersama.

It Hiong menghaturkan terima kasih.

Pendeta itupun mengeluarkan sabuknya buat menyusut peluhnya.

"Sicu, sungguh hebat ilmu ringan tubuh sicu !" kata si pendeta memuji. "Tak kecewa yang aku bermandikan peluh karena telah aku menyaksikan kepandaian sicu itu." Habis memuji, ia tertawa sendirinya.

It Hiong hendak merendahkan diri ketika ia mendengar satu suara yang datangnya dari pojok jurang : "Eh, pendeta hutan, apa yang kau tertawakan ? Menyebut-nyebut ilmu ringan tubuh itu, apanyakah yang aneh ?"

Ilmu ringan tubuh yang dipuji si pendeta ialah Te In Ciong atau lompatan Tangga Mega. Dan menyusul kata-kata itu, tiga orang tampak berlari-lari. Hanya sebentar tiba sudah mereka dihadapan si pendeta dan si anak muda.

Dari tiga orang itu, yang jalan di muka adalah seorang dengan alis tebal, mata bundar, kumis janggutnya kaku bagaikan tombak cagak, brewoknya sampai disisi telinga, menyambung dengan cacentangnya. Dia mengenakan kopiah hijau dengan jubah hijau, juga pada pinggangnya terselipkan joan pian, cambuk lunak terbuat dia besi bercampur baja.

Orang yang kedua tubuhnya sedang dan sudah kepalanya botak lanang kepala itu pun besar bagaikan gantang, hingga mirip dengan sebuah labu yang diletaki diatas leher ! Dibawah sepasang alisnya yang sudah putih terdapat dua biji mata kecil, mirip mata tikus, yang cahayanya bercilakan. Pakaiannya ialah jubah kuning sebatas dengkul dan celana kuning juga.

Sebagai senjatanya ialah sepasang roda Jit goan lun yang dia gendolnya di punggungnya.

Orang yang ketiga adalah seorang wanita muda, nona dengan usia kira dua puluh empat tahun, bajunya merah tua, rambutnya yang panjang terlepas, ujungnya dipakaikan gelang emas, gelang mana ditabur dengan semacam tusuk kundia burung hong (phoenix). Selagi si nona berjalan, burung- burungan itu bergoyang-goyang. Dia berparas cantik dan ada sujennya juga. Dia pula bermata jeli, hanya sayang, sinar matanya tajam entah licik entah genit. Dia membekal pedang, yang ditaruh dipunggungnya. Rencanya pedang itu, yang berwarna kuning, memain diantara siurannya sang angin.

Kiranya mereka itu bertiga diantara To Liong To Cit Mo atau tujuh bajingan dari Pulau Naga Melengkung (To Liong) ialah bajingan yang nomor dua Lom Hong Huan, bajingan kelima Bok Cee Lauw dan bajingan bunga Siauw Wan Goat.

To Liong To berada jauh diluar lautan, kenapa ketiga bajingannya ini berada didaratan Tionggoan? Kenapa  sekarang mereka muncul di Heng San ? Itulah karena ada sebabnya. Karena mereka tengah ditugaskan kakak atau ketua mereka bajingan yang nomor satu, guna mengundang It Yap Tojin yang mau diminta suka masuk ke dalam kalangan Cit Mo, tujuh bajingan, guna mereka nanti sama-sama menentang ke empat partai rimba persilatan yang terbesar.

Ketua Cit Mo itu ialah Kung Teng Thian yang namanya mempunyati arti luar biasa, ialah Teng Thian-Menelan Langit. Dan pada tiga puluh tahun dahulu bajingan itu pernah bertemu It Yap Tojin ditengah jalan dimana mereka bentrok hingga mereka bertempur selama tiga ratus jurus tanpa ada yang kalah atau menang, hingga kesudahannya mereka berhenti berkelahi sendirinya dan terus perkelahian itu diubah menjadi persahabatan. Ketika itu It Yap diundang pergi ke pula Naga Melengkung dimana ia berdian setengah bulan, baru ia pulang ke gunungnya.

Cit Mo, Sam Koay dan It Yaw Tujuh Bajingan, Tiga Jin itu (dan satu Mambang) muncul pula di dalam dunia Kang Ouw Sungai Telaga, maksudnya ialah untuk kembali menjagoi rimba persilatan. Toa Mo Kang Teng Thian tahu It Yap Tojin yang lihai itu memaruahkan diri si lurus dan si sesat, karenanya mengandalkan persahabatannya, hendak ia mengundangnya bekerja sama.

Dia percaya imam itu akan menerima baik undangannya itu. Demikian dia mengutus tiga saudaranya itu mengunjungi puncak Hwe Gan Hong.

Lam Hong Hoan bertiga sampai di Heng San satu hari lebih dahulu daripada It Hiong. Mereka bermalam di Go In Ih diatas puncak. Tempat itu, kuil imam bukan, vihara pendeta Budha pun bukan. Temboknya yang dibuat dari batu granit melindungi tiga undakan rumahnya yang dibangun di pinggang gunung bahagian yang rata tanahnya. Bagian belakangnya bagaikan menyender pada puncak gunung yang tinggi. Di bagian depannya ada pemgempangnya buatan manusia lebar persegi dua puluh tombak lebih yang airnya didapat dari air gunung yang disalurkan ke situ. Di tengah empang dibangun sebuah jembatan kecil mungil yang melengkung bagaikan pelangi. Ujung jembatan yang satu menghadapi pintu besar, disitu dibuat sebuah jalan yang kecil yang kedua sisinya ditanami banyak pohon bunga. Hingga seluruhnya tempat menjadi tenang, nyaman dan menarik hati terutama bagi mereka yang menyukai keindahan alam.

Ketika mereka itu bertiga sampai di Gio In Ih, justru itulah saatnya It Yap Tojin belum lama pulang dari Siauw Sit San habis dia menempur Pat Pie Sin Kit dan terluka karenanya. Dia lantas duduk bersemedhi untuk memelihara diri. Dia heran waktu dia mendengar tibanya tamu-tamu dari luar lautan itu, tetapi lekas-lekas dia keluar untuk menyambut.

Kedua pihak membuat pertemuan di ruang pertengahan, habis belajar kenal dan minum teh, Lam Hong Hoang lantas menghaturkan surat ketuanya sambil menjelaskan maksud kedatangannya itu. It Yap Tojin tersenyum.

"Sudah tiga puluh tahun kita berpisah, tidak kusangka yang kakak kalian masih ingat pada pinto." berkata imam lihai itu. "Sungguh pinto bersyukur sekali ! Hanya sangat disayangkan, tak dapat pinto menerima baik undangannya ini disebabkan pinto tengah merawat lukaku. Di dalam hal ini pinto mohon maaf saja."

"Totiang lihai ilmu silatnya dan nama ilmu pedang Heng San pun sangat tersohor," berkata Lam Hong Hoan sungguh- sungguh. "Siapakah yang tidak menghormati totiang ?

Karenanya kenapakah kesehatan totiang malah terganggu hingga kau perlu dirawat ? Sudikah totiang memberikan keterangan kepada kami supaya pengetahuan kami jadi bertambah ?"

Sekonyong-konyong It Yap Tojin tertawa keras dan lama sampai tempat kediamannya itu seperti tergetar. Dengan tertawa semacam itu ia hendak melampiaskan hawa yang seperti menutup dadanya. Baru setelah itu ia memberikan keterangannya.

"Malu untuk menuturkan duduknya hal."kata ia. "Pada setengah bulan yang baru lalu pinto berada di Siauw Sit San, di sana pinto sudah beradu tenaga dengan In Gwa Sian si pengemis bau, kesudahannya kedua belah pihak sama terluka tubuhnya bagian dalam. Itulah penasaran hebat yang selama hidupku hendak aku melampiaskan !"

"Si pengemis tua yang bau itu terlalu mengandalkan ilmu tenaga dalamnya yang dinamakan Sian Thian It Goan Khie- kang." Cit Mo Siauw Wan Goat turut bicara. "Karena itu dia menjadi berkepala besar, dia berjumawa dan suka berbuat sekendaknya sendiri. Dia pula pandai ilmu silat tangan Hang Liong Hok Mo Ciang hoat. Apakah yang aneh dari ilmunya itu ? Jika dia nanti ketemu kakak tua kami, ilmu tangan kosong Bun Eng Sin Kun dari dari kakak akan membuatnya hilang muka !"

"Bun Eng Sin Kung" ialah ilmu silat tangan kosong tanpa bayangan.

Ngo Mo Bok Cee Lauw si bajingan kelima juga turut mengasih dengar suaranya selekasnya sepasang alisnya bergerak-gerak. Dia berkata : "Salahnya ialah totiang sangat bermurah hati ! Coba ketika itu totiang segera menggunakan ilmu pedang Heng San Kiam hoat, dapatkah si pengemis tuan yang bau itu meloloskan dirinya ?"

Senang It Yap Tojin mendengar pujian itu, ia sampai tertawa lebar.

"Ilmu pedang pinto ini," kata ia, "seingatku sudah pinto yakinkan beberapa puluh tahun lamanya, maka juga pinto telah memikir buat sekali mengadunya dengan Khie Bun Pat Kwa Kiam dari Tek Cian Siangjin. Sangat ingin pinto mencari keputusan dengan Tek Cio siapa lebih tinggi, siapa lebih rendah..."

Puas Lam Hong Hoang yang katanya telah membangkitkan hawa amarah tuan rumahnya itu, maka lantas berkata pula : "Kali ini kami bergerak bersama-sama. gerakan kami ini sudah menggetarkan seluruh rimba persilatan, maka itu kami sangat mengharap supaya dengan gerakan ini kita pasti sanggup membakar topengnya kawanan ke empat partai besar itu yang memiliki nama kosong belaka ! Oleh karena itu totiang, inilah saatnya totiang mempertunjuki Heng San Kiam hoat, supaya dunia tahu dan kaum muda nanti menghargai dan menghormati totiang !" "Saudara Lam, berat kata-katamu ini !" berkata It Yap tertawa. "Nah, totiang kalian sampaikan kepada kakak kalian itu bahwa selekasnya lukaku sembuh, lantas pinto akan cepat- cepat menyusul ke Tiong Gak untuk di sana pinto menerima sekalian perintah kalian !"

Itulah pertanda bahwa undangan sudah diterima baik, maka itu Lam Hong Hoan bertiga girang bukan main. Lantas mereka menghaturkan terima kasih habis mana mereka memohon diri. Dan adalah dalam perjalanan pulang itu ditengah berumput itu bertiga mereka bertemu dengan Tio It Hiong dan pendeta dari Siauw Lim Sie. Mereka mendengar disebutnya ilmu Te In Ciong, Tangga Mega, mereka tahu itulah ilmu kepandaian Tek Cio Siangjin, karenanya mereka menduga anak muda itu muridnya si imam jago dari Kuil Hoan San. Mereka galak, mereka menjadi membawa sikap galaknya itu. Begitulah si pendeta di hina dan ilmu Te In Ciong orang dipandang rendah.

Kemudian Lam hong Hoan berkata dingin dan takabur : "Kepandaiannya Tek Cio si hidung kerbau itu tidak berarti ! Eh, pendeta liar, bagaimana kau dapat memikir memakai kepandaiannya si hidung kerbau buat menggertak orang ?"

It Hiong menjadi sangat gusar. Mulanya ia sudah menerka bahwa rombongan itu rombongan manusia kasar, kalau ia tidak sudi melayani pikir, itulah sebab kedua belah pihak baru pernah bertemu satu dengan lain, tetapi sekarang di depannya sendiri orang menghina dan mendamprat gurunya, tak dapat ia bersabar lebih jauh.

"Hai, roh pergelandangan dan setan durjana, kenapa kalian mudah saja mencaci orang tanpa sebabnya ?" ia menegur. "Jika benar kalian mempunyai kepandaian, mari maju untuk mencoba-coba ! Ilmu pedang Pay In Nia tidak dapat dipakai menggertak orang tetapi sanggup membuat kepala terpisah dari batang leher kalian !"

Bok Cee Lauw gusar melewati batasnya, maka lantas saja dia berlompat maju, sepasang roda Jit Goat Lun dipakai menghajar lawan. Ia menggunakan ilmu "Menangkal Matahari dan Rembulan" dan arahnya ialah kedua buah bahu orang !

It Hiong menyingkir dari serangan berbahaya itu, sesudah itu baru ia menghunus Keng Hong Kiam hingga terdengar suara anginnya yang kerasa. Ia terus membalas menyerang, menebas pinggang lawan.

Bok Cee Lauw kaget saking hebatnya serangan itu dia lompat mundur dua tindak.

It Hiong menggunakan kesempatan yang baik itu, selagi lawan mundur, ia mendesak.

Syukur bagi Bok Cee Lauw, dia bukan sembarang jago dari To Liong To, walaupun sudah terdesak, sebab dia kena didahului dia toh dapat memberikan perlawanan dengan baik. Dia pandai ilmu "Toi Lui Kang" si Keong, dapat dia sangat terdesak. Cara berkelahi cocok dengan sepasang rodanya itu. Biasanya menghadapi musuh lainnya dia sudah berhasil dalam lima jurus saja. Kali ini dia menghadapi It Hiong, dia repot sendirinya.

It Hiong berkelahi dengan waspada, sesudah beberapa kali bacokan atau tikamannya gagal sebab licinnya lawan itu.

Setelah bertempur sekian lama, Bok Cee Lauw lupa yang pedang lawannya pedang mustika yang tajamnya luar biasa, untuk membalas mendesak, ia menghajar dengan roda kirinya disasarkan ke dada lawan itu.

Sekarang tidak ampun lagi, kedua senjata beradu satu dengan lain. Buat kagetnya si bajingan, ia mendapat kenyataan rodanya kena ditebas kutung ! Tentu sekali, ia kaget bukan main.

Ilmu silat yang digunakan Bok Cee Lauw adalah "Matahari dan Rembulan Berebutan Sinar, ia percaya ia bakal berhasil, tak tahunya ia sendiri yang juga menjadi sangat kaget. Itulah meragukannya, sebab gerakan tubuhnya menjadi rada lambat. Ia mencoba lompat mundur dengan berjumpalitan, masih ia gagal. Orang tidak dapat melihat bagaimana pedang bekerja tetapi waktu jago dari To Liong To itu dapat bangun berdiri, terlihat bajunya didadanya sobek kira tidak dan darahnya tampak mengucur keluar dari liang robekan itu !

Lam Hong Hoan lantas lompat pada adiknya itu, untuk memeganginya. Sebab badan si saudara rada limbung.

"Bagaimana, adik ?" tanyanya. "Parahkah lukamu ini ?" "Tidak apa" sahut sang adik yang nomor lima, nafasnya

mendesak. "Cuma luka ringan saja !"

Hong Hoan lantas memeriksa luka saudaranya itu dan terus memakaikannya obat.

It Hiong tidak melanjuti serangannya, hanya sambil berdiri mengawasi, ia kata nyaring : "Jika kalian penasaran, aku bersedia melayani lagi kalian semua !"

Atas kata-kata berani itu, Siau Wan Goat mengajukan diri masuk ke dalam kalangan, ia mengawasi si anak muda, yang ia awasi keseluruhannya, atas dan bawah, habis itu baru kata

: "Suka aku menerima pengajaran dari kau, ingin aku belajar kenal dengan Khie Bun Pat Kwa Kiam!"

Nona itu berkata sembari tertawa kemudian ia menghunus pedangnya.

"Cuma sebegini saja ilmu kepandaian dari To Liong To !" It Hiong berkata pula sama nyaringnya. "Karena pedang Keng Hong Kiam yang tajam luar biasa baiklah kalian maju beramai- ramai saja !"

Siauw Wan Goat tidak menjadi mendongkol atau bergusar, ia dapat tertawa manis.

"Buat maju berramai-ramai, tak usah !" sahutnya. "Mari kita bertempur berpasangan saja."

It Hiong mendongkol.

"Budak perempuan !" bentaknya. "Siapa mau berpasangan denganmu ? Sungguh tak tahu malu!"

Dalam gusarnya, si anak muda lantas mendahului turun tangan. Ia menikam dengan gerakan "Menyerbu Teras ke Istana Naga Kuning."

Siauw Wan Goat tidak menangkis, ia hanya berkelit, cepat dan lincah sekali. Dia memang mahir didalam ilmu ringan tubuh "Bajingan berkelit". Tahu-tahu dia sudah berada di belakang lawannya sembari tertawa dia kata : "Hai, murid terpandai dari Pay In Nia, apakah ini bukan berarti nonamu berkasihan terhadapmu ? Mana dia ilmu Tangga Megamu itu

?" Pendeta dari Siauw Lim Sie yang menyaksikan pertempuran itu kaget sekali. Si nona sangat lihai dan It Hiong terancam bahaya.

It Hiong terkejut. Memang ia mendapati selagi pedangnya meluncur, lawan menghilang. Ia tidak sangka orang berkelit lompat ke belakangnya. Maka selagi orang memperdengarkan suaranya, ia sudah lantas memernahkan diri agar tidak kena dibokong.

Siauw Wan Goat licin sekali. Ia berada di belakang orang tetap ia tidak mau segera menyerang hanya sengaja ia memperdengarkan kata-katanya itu saat mengejek lawan. Ia merasa pasti kalau ia menikam lawan bakal menangkis. Itulah berbahaya buat pedangnya yang akan terancam buntung.

"Rupanya kau jeri kepada pedangku ?" kata It Hiong tawar. Ia telah memutar tubuh dan melihat si Nona berdiri diam saja mengawasi ia dengan air mukanya tersungging senyuman.

Nona itu memang cantik menarik. "Apakah baik kita menggunakan tangan kosong saja ? Dengan memakai pedangku, kemenanganku bukan kemenangan yang terhormat

!"

Dan lantas ia memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.

Siauw Wan Goat melirik. Ia pun memasuki pedangnya ke dalam sarungnya.

"Begini bagus !" katanya. "Aku memikir akan memakai ilmu silatku Bajingan Berkelit akan melayani ilmumu Tangga Mega

!"

"Sudah, jangan banyak bicara !" It Hiong membentak. "Kau majulah !" Nona itu menerima baik tantangan itu. ia lantas maju setindak. Itulah gerakan "Bajingan Berkelit" dicampur dengan ilmu "Seribu Perubahan" !

It Hiong menyambuti serangan si nona. Baru beberapa gebrakan ia sudah lantas mulai mendapatkan lawan bangsa lemah itu ternyata sangat gesit dan lincah. Secepat itu Wan Goat sudah berlompatan ke pelbagai penjuru, tubuhnya tampak seperti sulala berkelebatan sedangkan kedua belah tangannya saban-saban menyambar bagaikan bayangan.

"Pasti inilah ilmu silat tercampur ilmu sesat" pikir anak muda itu yang lantas berkelahi dengan waspada. Tak mau ia sembarang turun tangan, sebaiknya ia berlaku waspada dan gesit ! ia pun menggunakan ilmu ringan tubuh Tangga Mega serta jurus-jurus dari Ilmu Menaklukan Naga Menundukkan Harimau, Hang Liong Hok Houw.

Itulah pertarungan To Liong To kontra Pay In Nia, tangan bertemu tangan, ringan bertemu ringan, atau lebih benar lagi, lurus kontra sesat, hingga seorang biasa saja sukar melihat siapa yang memukul atau menangkis atau sebaliknya.

Tiga orang yang menyaksikan pertempuran berdiam dengan kagum, mata mereka tak berkedip.

Saking cepatnya orang bergerak-gerak, jurus-kurus pun dikasih lewat dengan gencar hingga dari belasan sampai puluhan lalu naik seratus dan seratus lebih. Sesudah jurus yang kedua ratus barulah terlihat pihak pria memang unggul. It Hiong tetap mantap, tidak demikian dengan Wan Goat. Si nona mulai lamban bergeraknya dan nafasnya mulai memburu. Nyatalah dia kalah urat. Lam Hong Hoang berkuatir melihat adiknya kalah angin, tanpa memikir panjang lagi ia meraba cambuk lunaknya, terus ia lompat kedalam kalangan pertempuran akan membantui adiknya itu. Mula kalinya ia menggunakan ilmu cambuk "Kiri dan Kanan Bertemu Sumbernya", cambuk itu menyambar ke kiri dan kanan.

Sang pendeta melihat kawannya dikepung, ia pun lompat maju sambil menggerakan goloknya. Ia tidak puas sebab ia menyangka orang-orang Kang Ouw itu tak tahu malu sudah main keroyok.

Hong Hoan terkejut. Segera ia menarik pulang cambuknya.

Kalau tidak cambuk itu bisa terbacok buntung. Ia pun berlompat mundur. Tak ada niatnya menempur pendeta itu, ia maju cuma guna meringankan adiknya dari desakan sipemuda.

Pendeta itu berdiri berdiam. Ia mengawasi lawannya itu, ia tanya tertawa : "Sicu apakah sicu tak memandang mata pada ilmu golok Lohan To dari Siauw Lim Pay ?"

Hong Hoan menjawab tenang : "Masih banyak kesempatan akan belajar kenal ilmu silat golokmu itu, taysu. Sekarang sudah lewat jam pertama, kitapun berada diatas gunung, aku pikir baiklah kita mencari dahulu tempat untuk beristirahat Jika taysu mau memaksakan, baiklah aku Lam Hoang Hoan dari To Liong To, aku bukannya seorang pengecut !"

Cuma dengan terpaksa Hoang Hoan berkata demikian, supaya orang tidak tahu halnya ia merasa jeri.

Selama pertempuran terhenti karena aksinya Hong Hoan itu. Siauw Wan Goat terus memandangi It Hiong sering ia tampak tersenyum, ada kalanya ia seperti orang berpenasaran....

It Hiong tidak prai, tetapi ia tidak marah. Kata ia bengis : "Kalian menerbitkan gara-gara sendirinya ! Kalian cuma mengandalkan kepandaian kalian ! Nah, sekarang apakah faedahnya itu ? Pertempuran sudah berhenti masih kalian tak mau pergi ? Apakah yang hendak kalian nantikan ? Mau apakah sebenarnya kalian ?"

Siauw Wan Goat yang memberi jawaban. Lebih dahulu, dia tertawa manis.

"Kapannya kau mempelajari ilmu mendamprat orang menurut caramu ini ?" dia membaliki. "Bukankah kita berimbang, tidak kalah dan tidak menang ? Kenapa sekarang kita tak mau bersahabat saja ?"

Sebelum It Hiong memberikan jawabannya, sang pendeta dari Siauw Lim Sie sudah mendahuluinya sambil berkata : "Jika nona sudi merubah cara hidup nona beramai, sungguh, itulah bukan main bagusnya !"

Tapi Bok Cee Lauw gusar. Kata dia keras : "Kakak kedua !

Adik ketujuh ! Buat apa ngoceh tak karuan dengan ini kawanan ruh gelandangan dan setan liar ? Mari kita pergi !" Dia lantas berbangkit untuk terus menuding It Hiong sambil menambahkan : "Anak busuk, luka tusukan pedang ini akan tiba saatnya aku perhitungkannya ! Kau lihat saja nanti !" Dia berkata garang, tetapi dia juga yang mendahului membuka tindakan lebar, untuk berangkat pergi...

Lam Hong Hoan menyusul saudaranya itu, Siauw Wan Goat turut pergi sesudah kedua saudara itu pergi setombak lebih jauhnya, hanya selagi mau memutar tubuh ia melirik It Hiong dan berkata perlahan sekali : "Aku menyesal sudah tak bertemu sejak..”

It Hiong membiarkan orang pergi, ia mengawasinya dengan mendelong meskipun kemudian orang sudah pergi jauh.

Sang pendeta berdehem, kata dia seorang diri : "Segala kehendak dan napsu, itu semua saitan belaka ! Sang Buddha kami maha pengasih dan penyayang, pikirnya jernih bagaikan kaca !"

Mendengar suara itu, hatinya It Hiong tergetar, ia lantas menoleh kepada sipendeta maka ia melihat orang beribadat itu sudah duduk bersila diatas rumput, kedua matanya dipejamkan. Tanpa mengatakan sesuatu ia bertindak menghampiri lalu dalam detik ia sudah duduk bersila juga, akan beristirahat bersama.

Lewat jam dua, angin terasa mulai keras, hawa udara dingin.

Ketika itu cukup sudah It Hiong beristirahat, kesegarannya sudah pulih. Hanya pikirannya yang belum tenang. Itulah sebab lantas ia ingat kepada Kiauw In, kepada Giok Peng lalu Teng Hiang dan Tok Nio Cu Yauw Siauw Hoa. Mereka itu berlainan tampang dan sifatnya, pertemuannya dengan mereka pun dalam pelbagai keadaan yang jelas ialah mereka semua menyintai dan menaruh hati terhadapnya, semua suka membantu padanya hingga mereka itu pada melupai diri sendiri. Demi dirinya nona-nona itu berani berkorban apasaja ! 

Terhadap mereka itu, ia bersukur. Ia bergirang tetapi pun, ia malu sendirinya. ia menyesal berbareng bersuka cita kalau ia membayang peristiwa diloteng Ciat Yan Lauw lakonnya dengan Giok Peng. Syukurlah paman gurunya, In Gwa Sian suka bertanggung jawab buat kesesatan yang diluar kekuasaannya itu. Kalu tidak entah bagaimana hebatnya urusan akan berakhir, ia lalu jagai sikap gurunya. Maka ia makin percaya gurunya itu pandai meramal.

Tapi lakon asmaranya itu nampak belum juga habis. Diluar dugaannya, muncul lagi dua orang yang menaruh hati terhadapnya ialah Tan Hong dan Siauw Wan Goat, satu dari Hek Keng To, pulau Ikan Lodan Hitam satu lagi dari To Liong To, pulau naga melengkung. Ia tidak memberi hati kepada mereka itu berdua tetapi gerak gerik mereka luar biasa. Ia bertanya-tanya dalam hatinya entah bagaimana gerak gerik terlebih jauh dari mereka itu, entah bagaimana ia bakal terlihat atau digerembengi...

Karena Tan Hong dan Siauw Wan Goat muncul paling belakang, mereka itu masih saja meninggalkan kesan, mereka itu seperti juga terus berbayang-bayang...

"Ah !. " akhirnya ia menghela napas masgul.

Di saat itu, mendadak It Hiong ingat kitab ilmu pedang gurunya yang ia keja hilang, yang sekarang berada ditangannya Gak Hong Kun. Celaka kalau Hong Kun sampai memepelajari ilmu pedang itu. Sudah ia mendapat malu akibatnya buat kaum rimba persilatan juga sukar dibayangi. Bencana apa akan terbit andiakata Hong Kun menjadi kosen sukar dikalahkan siapa juga ? Bukankah itu berarti bahwa dialah yang berdosa besar ? Maka itu, kokoh kuatlah tekadnya untuk mendapatkan kembali kitab pedang itu, tak perduli apa yang ia bakal lakukan. Ia mesti mencegah ancaman petaka di belakang hari. Pendeknya Heng San harus dijelaskan seluruhnya guna mencari Gak Hong Kun. Karena ini, terbangunlah semangatnya anak muda ini hingga ia menunjukkan tampang sungguh-sungguh serta kedua matanya dibuka lebar-lebar. Hingga ia nampak keren sekali.

Tatkala itu bintang banyak tetapi cahayanya lemah.

It Hiong tengah duduk sambil matanya mengawasi ke depan, waktu ia dikejutkan oleh berkelebatnya satu bayangan tubuh manusia, bayangan mana lantas berhenti di depan sejarak lima kaki.

"Siapakah kau ? " tegur si anak muda sambil ia mengawasi tajam.

"Bagaimana cepat kau telah melupakan aku ?" ada jawaban bayangan atau orang di depan itu. Suaranya halus dan merdu. "Aku Tan Hong.."

It Hiong berjingkrak bangun, ia lantas mengenali si cantik dari luar lautan itu. Justru baru saja ia memikirkannya.

"Mau apa nona datang kemari ?" tanyanya keren, tangannya berada pada gagang pedangnya. "Malam ini, angin keras sekali dan dingin ! Kalau kau tengah melakukan perjalanan, nah, persilahkanlah !"

Pendeta dari Siauw Lim Sie terbangunkan suara keras si anak muda. Ia membuka matanya dan melihat. Lantas ia memuji Sang Buddha.

Tan Hong tertawa walaupun ia telah ditegur. Ia menjawab manis : "Habis berlindung dari hujan dirumah gubuk itu, aku lantas menyusul kau. Aku mengikutimu. Bukankah kau hendak mendaki gunung Heng San buat mencari kitab ilmu pedangmu itu ? Aku memikirkan tak memperdulikan bencana apa yang muncul asal bisa membantumu."

It Hiong mengendalikan hatinya, supaya tidak bergusar. "Kau baik sekali nona, aku menerima baik kebaikanmu itu"

sahutnya sabar. "Tapi kau menganggap baiklah aku jangan mengharapi bantuan nona itu. Aku merasa bahwa aku sendiri masih sanggup mencari kitabku itu. Bagaimana dapat aku merepotkan kau ? Silahkan nona kembali, jangan nona memikir yang lainnya yang tidak-tidak... Nona tahu, aku putih bersih, tak dapat aku kasi diriku."

"Hm, orang putih bersih !" berkata si nona hambar. Tetapi ia tertawa manis, "Kau memang putih bersih, hanya saja, sesudah di sana ada janji dengan kakak seperguruanmu Cio Kiauw In, toh masih terjadi juga lakon diatas loteng Ciat yan ! Bagaimanakah itu ?"

Mukanya It Hiong menjadi merah. Ia malu dan mendongkol.

"Apakah kau datang hanya buat menggodia aku ?" tanyanya.

Tan Hong tetap tertawa manis.

"Aku mau artikan bahwa kaulah pria yang tak mau menyia- nyiakan waktu !" sahutnya. "Aku mau omong terus terang.

Aku Tan Hong, aku dapat berbuat sebagaimana Pek Giok Peng-satu rupa !"

It Hiong menjadi gusar. Hampir ia habis sabar. "Budak hina tak tahu malu !" dampratnya. "Makin lama kau menjadi makin tidak karuan ! Kau mau pergi atau tidak !" dan ia mencabut pedangnya.

Nona itu tidak mau pergi.

"Aku bermaksud baik" sahutnya, masih membandel. "Kenapa kau menjadi begini galak ? Buat apakah ?"

It Hiong mengibaskan pedangnya.

"Aku tak perduli kau bermaksud baik !" katanya sengit. "Soalnya ialah aku ingin berlalu dari sini!"

Nona itu sungguh bandel.

"Kau begini galak" katanya perlahan. "Apakah dengan begini dapat kau menggertak aku ? Tidak, aku tidak mau pergi

! Ini batang leherku, hendak aku mencoba berapa tajamnya pedangmu!"

Berkata begitu, Nona Tan bertindak menghampiri si anak muda, untuk datang lebih dekat !

It Hiong kewalahan. Ia jadi berpikir : "Dia melihat aku, dia tidak tahu malu, tapi sebenarnya dia tidak bermaksud jahat. Untuk menyuruh dia pergi tak dapat aku menghajar atau membinasakan-nya. Bukankah aku seorang laki-laki sejati ? Bagaimana kalau aku membunuh seorang wanita yang justru sangat mencintai aku dan minta dicintai ? Apakah orang tak akan tertawakan aku ? Tak malukah aku ?"

Dalam bingungnya, anak muda ini berdiri diam saja. Pedangnya telah dikasih masuk pula kedalam sarungnya. Melihat orang diam saja, puas Tan Hong. Ia tahu bahwa ia telah peroleh angin. Maka ia bertindak lebih jauh, datang lebih dekat pada anak muda itu.

"Bunuh, bunuhlah aku !" kata ia sengaja. Ia mengajukan kepalanya. "Lebih baik aku mati bermandikan darah diujung pedangmu daripada akan mencari hidup sendiri didalam dunia ini tetapi tanpa kebahagiaan "

It Hiong tetap diam. Dilawan bandel dan mengalah itu ia kewalahan. Apa ia bisa berbuat terhadap wanita yang tidak mau melawannya ?
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(