Iblis Sungai Telaga Jilid 09

 
Jilid 09

"Bagus, bagus !" katanya. "Bagus kita bertemu disini, adik !

Inilah aku tidak sangka ! Tetapi adik, inilah pertemuan kita yang paling akhir !"

Tan Hong terkejut hingga dia melengak.

"Kakak !" katanya sangat heran. "Kakak, apakah kau sakit ?

Kenapa kakak berkata begini ?" Beng Leng berdiam. Kembali ia tidak menjawab. Ia tak lagi seriang, segagah seperti biasanya. Lalu ia memperdengarkan suara bagaikan gerutuan : "Meletakkan golok jagal menoleh ialah tepian..." Dan ia ulangi itu beberapa kali. Tampak ia seperti lagi mengingat-ingat segala apa yang telah lalu.

Tan Hong berdiri terpaku mengawasi kakaknya seperguruan itu, bukan main ia tak mengertinya.

Maka kedua saudara itu sama-sama berdiri menjublak, yang satu mengawasi tanpa berkedip, yang lain memandang ke depan dengan mendelong.

Masih lewat beberapa saat sebelum Beng Leng terbengong- bengong itu, baru keliahatan wajahnya yang dari pendiam menjadi bersungguh-sungguh, terus dia berkata dengan sungguh-sungguh juga : "Adik, pergi kau bersama adik Cin Tong, lekas pulang ke Hek Keng To ! Di sana kalian tinggal aman dan damai, jangan lagi kalian campur urusan dunia Sungai Telaga !"

Lagi-lagi Tan Hong terperanjat.

"Kakak !" katanya Bingung. "Kakak... !" Beng Leng memutus kata-kata adik seperguruan itu : "Meletakkan golok jagal, menoleh ialah tepian ! Kau ingat baik-baik kata-kata ini, adik ! Kau sampaikan juga kepada adik CIa Tong ! Nah, kakakmu pergi !"

Tanpa menanti suaranya berhenti, Beng Leng sudah lantas berlompat maju untuk berlari-lari di jalan pegunungan itu, hingga dilain detik dia lenyap dalam remang-remang !

Tan Hong melongo, tak ingat ia akan menyusul kakaknya itu ! Sekarang ini marilah kita melihat dahulu kepada Kiauw In dan Giok Peng. Mereka telah berkemas-kemas untuk selekasnya fajar tiba mulai berangkat pergi. Inilah sebabnya kitab pusaka mereka hilang ditangannya It Hiong dan It Hiong sudah meninggalkan gunung secara diam-diam guna mencari kitab itu. Mereka berniat mencari Gak Hong Kun, orang yang dicurigai telah mencuri kitab. Adalah diluar dugaan justru itu malam kawanan dari luar lautan sudah datang menyerbu pula kuil Siauw Lim Sie, hingga mereka mesti menempur kawanan bajingan itu. Sampai fajar baru mereka pulang, untuk melihat Hauw Yan, anak yang ditinggal sendirian didalam rumah gubuk. Selekasnya mereka meloloskan pedang mereka, mereka lari kedalam kamar.

"Mama !" demikian suara Hauw Yan, yang telah mendusin dari tidurnya.

Giok Peng berlompat kepada mustikanya itu, untuk mengangkat dan merangkulnya sambil ia mencium pipi orang.

"Anak !" katanya menyayang. Kiauw In pun segera menghampiri.

"Kau telah mendusin, anak manis ?" tanyanya sambil mengusap-usap kepala orang.

Hauw yan mengangguk dan tertawa manis. "Bagaimana ?" kemudian Nona Cio tanya Giok Peng,

"apakah kita berangkat sekarang ?" Nona Pek tertawa. "Kita baru habis bertempur semalam suntuk, aku merasa letih" sahutnya. "Aku pikir baik kita beristirahat dahulu sebentar, tengah hari, setelah bersantap, baru kita berangkat.." Ia hening sejenak, lalu ia melanjutkan : "Kakak, kita mau pergi mencari kitab, itu berarti kita bakal pergi buat waktu yang tak menentu cepat atau lama, atau mungkin kita bakal menderita, maka itu, bagaimana pikiranmu jika kita menitipkan dahulu Hauw Yan di Lek Ogk Po ? Dengan demikian anak ini tak usah turut menderita, supaya dia tak merepotkan kita."

"Pikiran yang baik, adik" sahut Kiauw In, "Cuma, kalau adik Hong pulang, apa katanya nanti ?"

"Ah, kakak selalu menguatirkan dia tak tenang hati !" kata Giok Peng. "Kakak, baik kakak jangan pusing itu ! Aku pun memikir merubah sedikit rencana kita..."

"Bagaimana, adik ?"

"Aku pikir lebih baik kita pergi dahulu mencari Gak Hong Kan" kata Nona Pek. "Sesudah itu baru kita pergi ke Pay In Nia menjenguk adik Hong. Bagaimana pikiran kakak ?"

"Buatku sama saja" sahut Kiauw In tertawa. "Aku percaya ditengah jalan nanti, kita akan bertemu dengan adik Hiong. Yang perlu ialah asal kita bertindak dengan melihat sajalah."

Senang hati Giok Peng. Maka itu, mereka lantas beristirahat.

Tengah hari, habis bersantap, kedua nona sudah lantas bersiap pula. mendadak mereka mendengar suara orang tertawa diluar rumah, atau In Gwa Sian tampak bertindak masuk. Dia mengawasi ketika dia melihat persiapan nona- nona itu.

"Kalian mau turun gunung ?" tanyanya. "Buat urusan apakah ?"

Kiauw In sudah lantas menyuguhkan teh kepada paman itu.

"Terima kasih atas perhatianmu, paman In" katanya tertawa. "Kami mau pergi buat satu urusan sekalian untuk mencari adik Hiong."

"Kalian hendak menuju kemana ?" In Gwa Sian tanya. "Dapatkah kalian memberitahukannya kepada pamanmu ini ?"

"Pertama-tama kami mau perdi ke Lok Tiok Po" Giok Peng menerangi jawaban. "Dari sana kita akan menuju ke Hong San untuk membereskan sesuatu. Habis itu baru kami mencari adik Hiong. Diakhirnya, kami berniat pulang ke Pay In Nia."

"Ooo.. !" In Gwa Sian memperdengarkan suara heran. "Buat kepergian kami ini " Kiuaw In menambahkan, "kami

tidak mau berpamitan lagi dari Pek Cut Taysu beramai. Kamu

kurang bebas. Maka kami minta paman saja yang tolong menyampaikannya nanti !"

In Gwa Sian sudah lantas berbangkit.

"Kalian mau berangkat, berangkatlah !" katanya. "Asal ditengah jalan kalian harus berhati-hati ! Nah, aku si tua mau mengundurkan diri." Pengemis itu lantas memutar tubuh dan bertidak pergi. Baru beberapa tindak dipintu luar, ia sudah lantas berhenti dan berpaling.

"Kapan kiranya kalian akan kembali ?" tanyanya.

Kedua nona berjalan bersama, mereka pun sudah sampai diluar.

"Mungkin buat sepuluh atau lima belas hari." sahut Kiauw In. "Kami berniat kembali supaya dapat menghadiri pertemuan tanggal lima belas nanti."

Giok Peng sudah menutup pintu. Mereka menggendol pedang dan membekal buntalan berikut rangsum kering, sedangkan kantung piauw mereka berada dipinggangnya masing-masing. Hauw Yan ada pada ibunya, saban-saban ia memanggil mama kepada ibu itu serta Kiauw In. 

Lekas juga kedua nona sudah berdiri menghadapi In Gwa Sian guna memberi hormat akan mohon berpamitan, setelah mana keduanya berlari-lari turun gunung...

Pat Pie Sin Kit mengawasi sambil menggeleng kepala. Ketika itu sudah mendekati maghrib. Tiba di kaki puncak

Siauw SIt Hong kedua nona berada di dalam rimba. Itulah tempat dimana Tan Hong bertemu dengan Beng Leng Cinjin. Jarak waktu diantara mereka cuma berselang satu jam. Tan Hong masih berdiri menjublak. Ia memikirkan kakak seperguruannya itu, ia heran kenapa hati dan gerak gerik kakak itu demikian berubah. Karena kedua nona-nona Cio dan Pek berlari-lari dengan cepat, mereka sudah lantas melihat kepada Tan Hong. Kiauw In yang melihat paling dahulu dan segera mengenali nona dari luar lautan itu. "Hati-hati adik Peng !" ia lantas memperingati Giok Peng. "Kau lihat wanita disebelah depan itu ? Dialah Tan Hong dari Hek Keng To. Dia berada disini, maka itu entah ada berapa banyak kawan-kawannya didekat-dekat kita. "

Berkata begitu Nona Cio sudah lantas menghunus pedangnya maka perbuatan itu diturut adik Pengnya. Giok Peng menempati diri di belakang kakak itu.

Kedua nona bertindak dengan cepat, selekasnya mereka datang dengan Tang Hong mereka berlompat maju ke depan orang.

Tan Hong lihai, walaupun ia tengah menjublak telinganya mendengar suara berkesiurnya angin maka ia lantas menoleh hingga ia melihat kepada kedua nona itu. Ia segera berlompat menghampiri sembari membentak ia mendahului menyerang dengan sanhopang tongkat panjangnya yang istimewa itu.

Giok Peng mengempo Hauw Yan dengan tangan kiri, pedangnya ditangan kanan atas datangnya serangan sebab Tan Hong menyerangnya terlebih dahulu, ia segera menangkis. Ia pun membentak :" Wanita jahat, kau masih banyak lagak ? Kau toh baru kabur lolos dari tangannya kakakku !"

Tan Hong sudah berusia dua puluh enam tahun, dia masih belum menikah, pandangannya tinggi, dia suka sekali orang mengangkat-angkatnya, sebaliknya, dia tak suka ditegur orang. Maka itu, suaranya Nona Pek membuatnya gusar.

Tanpa berkata-kata lagi, dia maju sambil memutar tongkatnya, yang berkilau-kilauan sinarnya guna membikin kabur pandangan matanya Giok Peng, sesudah mana ia menghajar ke arah Hauw Yan ! Giok Peng terkejut, ia sangat kuatir anaknya terluka, maka itu terpaksa ia lompat mundur setombak lebih lalu sambil mengepit pedangnya, ia mengawasi anak itu yang ia usap- usap kepalanya.

Hauw Yan tidak kaget bahkan ia tersenyum dan tertawa.

Maka itu legalah hati sang ibunya.

Kiauw In gusar sekali menyaksikan orang demikian telengas. Dia bukan menyerang si ibu hanya anak. Maka ia lompat sambil terus menyerang Tan Hong menebas ke arah lengan menyusul mana ia membacok pula bahunya si rase kemala.

Tan Hong dapat melihat serangan itu ia berkeliat dengan satu gerakan melengak sambil terus berjumpalitan. Itulah tipu "Jembatan Besi". Dengan pedangnya ia menyampok guna menangkis karena mana kedua pedang beradu satu dengan lain hingga terdengar suaranya yang nyaring.

Kiauw In tidak berhenti sampai disitu. Ia menyerang secara berantai.

Tan Hong segera juga kena terdesak hingga ia mesti berkelahi dengan main mundur. Sejak pertempuran tadi malam ia sudah tahu nona lawannya itu lihai sedangkan sekarang si nona hendak mengumbar panasnya hatinya. Tapi dialah seorang berkepala besar ia bandel walaupun jatuh dibawah angin tak sudi ia cepat-cepat mengangkat kaki.

Demikian mereka jadi bertempur seru, walaupun yang satu terdesak. Kiauw In menggunakan jurus-jurus dari ilmu pedang Khia Bun Patwa Kiam. Ia mendesak sampai orang mundur empat atau lima tombak jauhnya. Napasnya Tan Hong pun memburu keras. Dia bermandikan peluh pada dahinya, tak dapat ia melakukan penyerangan membalas. Karena ini, kemudian ia berpikir nekad. Tiba-tiba dia menjatuhkan diri untuk berguling menghampiri lawan untuk segera berlompat bangun guna menghajar pinggang dengan kepalan kiri !

Hebat serangan mendadak itu, tak sempat Kiauw In menangkis, maka iapun menggunakan cara yang terakhir. Seperti Tan Hong ia jatuhkan diri sambil melengak disusul sebelah kakinya melayang mendepak lengan kiri orang !

Tang Hong ingin menyerang dengan hebat tak ia sangka lawan sedemikian lihai. Ia menjadi terkejut ketika ia merasai lengannya kena terdepak hingga seluruh lengan itu bergemetar. Walaupun demikian dia tabah sekali. Dia lantas menjatuhkan diri sambil membacok dengan tongkatnya !

Kembali Kiauw In terancam bahaya. Jago luar lautan itu lihai sekali, ia lantas menggulingkan tubuh buat menjauhkan diri, sesudah mana ia melejit bangun. Terus ia lompat maju pula guna menyerang lagi, ia melakukan pula serangan berantai. Selain ia membuat mata orang kabur. Ia juga mencoba mengekang tongkat sanhopang lawannya itu.

Tan Hong tahu bahaya mengancam, ia menjadi nekad, maka ia berkelahi secara mati-matian.

Pedang dan tongkat beradau berkali-kali, saban-saban meletikkan percikan apinya.

Di dalam keadaan seimbang itu Tan Hong telah menggunakan otaknya yang cerdas. Ia lantas mendapat akal. diam-diam dengan tangan kirinya ia merogoh kedalam sakunya dimana ia menyimpan peluru liauwgoan tan bahan peledak buatan istimewa pihak Hek Keng To. Secara mendadak ia menimpuk ke arah lawannya. Ia pun menimpuk berulang-ulang.

Nona Cio melihat orang menggunak senjata rahasia, ia membela diri dengan salah satu jurus dari Hang Liong Hok Houw Ciang, ilmu silat tangan kosong "Menaklukan Naga Menundukkan Harimau". Ia menyambuti senjata rahasia untuk segera dilemparkan ke samping, sedangkan dengan pedangnya ia mengekang tongkat lawan.

Peluru jatuh ke rumput dan meledak seketika. Ketika itu digunakan nona licik itu buat pergi berlompat mundur terus berlari pergi menghilang diantara lebatnya pepohonan dalam rimba itu. Kiauw In yang menjadi terkejut tak sempat mengejarnya. Ia pun tidak memikir buat menyusul orang.

"Adik Peng, mari kita lanjuti perjalanan kita !" katanya. "Sekarang sudah tak siang lagi !" Ia memasuki pedangnya kedalam sarungnya.

Giok Peng menghampiri kakak itu.

"Tidak kusangka disini kita mesti melakukan pertempuran dahsyat ini" katanya tertawa. "Bangsat perempuan itu lihai dan telengas, hampir dia mencelakai anak kita. "

Hauw yan tertawa.

"Mama, enak main-main ya ?" katanya.

Kiauw In dan Giok Peng tertawa. Lucu anak belum tahu apa-apa itu. Mereka berjalan terus dengan cepat. Ditengah jalan, mereka bergurau dengan anak mereka. Lewat jam dan tibalah mereka dalam kecamatan Yong hong di propinsi Holam.

Lenggang mereka memasuki kota yang tidak besar tetapi lalu lintasnya hidup itulah kotanya menjadi ramai. Segera mereka mencari penginapan dimana Hiauw Yan ribut lapar, karena mana, mereka lantas minta disediakan barang hidangan.

"Tuan kecil ini lucu !" berkata jongos yang menyajikan barang makanan. Ia tertarik dengan lagak lagunya Hauw Yan. Anak itu manis dan lincah, siapapun suka bermain-main dengannya.

"Dia rada bandel..." kata Giok Peng.

"Nona-nona datang begini terlambat. Apakah nona-nona datang dari Siauw Sit San ?' tanya si jongos yang mengalihkan pembicaraannya. Ia belum mendapat jawaban atau ia menabok mulutnya sendiri : "Ngaco belo, harus dihajar" katanya.

Kiauw In dan Giok Peng tertawa. Mereka menganggap jongos itu jenaka.

Lantas si jongos memberi penjelasan tanpa diminta. "Siauw Sit San menjadi tempat formasi kuil Siauw Lim Sie, tempat formasi kuil Siauw Lim Sie, tempat bersembahyangnya Sang Buddha yang maha suci dan mulia, mana dapat nona-nona berdiam di sana ? Dasar aku yang doyan ngoceh ! Masa aku menanyakan nona-nona datang dari sana ? Bersalah mulutku harus ditabok ?"

Kiauw In tertawa. "Tidak karuan-karuan kau menyebut Siauw Sit San" katanya. "mungkinkah kau ada hubungannya dengan kuil di sana itu ?"

Jongos itu lekas-lekas menggonyangi tangan. "Harap tidak salah mengerti nona." sahutnya. "Aku

menyebut-nyebut Siauw Sit San sebab kemarin ini kebetulan

kami kedatangan mereka tamu-tamu yang katanya datang dari Siauw Sit San dan tengah malam buta mereka telah berkelahi, maka itu, memasuki kamar ini, aku jadi jelas halnya mereka itu."

Habis berkata, jongos itu lantas ngeloyor keluar. Tiba-tiba Kiauw In ingat sesuatu.

"Kakak pelayan, mari !" ia lantas memanggil. "Mari, hendak aku menanyakan sesuatu."

Jongos itu segera kembali.

"Orang-orang macam apakah yang kemarin itu datang disini ?" Giok Peng tanya. Ia pun mendapat ingatan seperti Kiauw In. "Kenapa mereka berkelahi ?" Ia cedik. Ia lantas meletakkan sepotong perak diatas meja, menambahkan

:"Uang ini buat kau minum arak ! Nah, lekas kau bicara !"

Melihat perak yang berkilau itu, pelayan itu maju dan tindak, tangannya menyamber, wajahnya tersungging senyuman.

"Terima kasih nona !" ucapnya. "Kalau nona ingin menanyakan apa-apa, silahkan." "Bukankah barusan telah aku tanyakan ?" Giok Peng membaliki tertawa. "Orang-orang yang datang dari Siauw Sit San itu, bagaimana cara dandanan mereka, bagaimana macam tampangnya, dan kenapa mereka berkelahi ?"

"Merekalah dua orang pria dan dua-duanya masih muda." sahut san pelayan yang benar-benar suka bicara. "Kelihatannya mereka seperti sahabat baik satu dengan lain. Tibanya mereka ialah saling susul."

"Jadi merekalah orang-orang muda," kata Giok Peng. "Bagaimana cara dandannya mereka ? Bagaimanakah macamnya, potongan badan dan sikap duduknya ? Dapatkah kau melukiskannya ?"

Pelayan itu menggaruk-garuk kepala. Ia mencoba mengingat-ingat.

"Ya, aku kini ingat !" katanya ayal-ayalan. "Lekas !" Nona Pek mendesak. "Bicaralah !"

Kiauw In yang mengempo Hauw Yan bersikap tenang.

"Kakak pelayan, jangan kau kuatir" katanya tersenyum. "Kami menanyakan mereka sebab kami ingin tahu kalau-kalau kami kenal atau tidak kedua pemuda itu."

Sembari berkata Nona Cio diam-diam mengedip mata pada Giol Peng.

Nona Pek mengerti pertanda itu, ia lantas berkata pula. "Benar ! Kau bicaralah. Tak usah kau berbicara seperti orang mendongeng !" Dari tertawa, jongos itu lantas mengasi lihat tampang sungguh-sungguh.

"Pemuda yang datang terlebih dahulu itu tampan, sikapnya risau sekali, ia mulai bercerita. "Dia sangat pendiam. Tetapi sepasang matanya itu toh sungguh menakutkan.:

"Kau takut apa ?' tukas Giok Peng. "Apakah dia dapat menelanmu ?"

"Bukan begitu nona. Sebenarnya ketika aku takut masuk kedalam kamar itu melayaninya. Ketika aku tanya dia memerlukan apa, dia diam saja, sikapnya tawar sekali..."

"Masih ada apa lagi tentang dia ?" Giok Peng mendesak. "Hayolah kau bicara !"

Jongos ini membuat main tangannya, ia pun mengusap mukanya.

"Ketika kemudian aku datang mengantarkan barang makanan daun pintu hanya ditutup dirapatkan." Ia mengasi keterangan lebih jauh. "Aku menyajikan barang makanan diatas meja. Ketika itu ia sedang merebahkan diri diatas pembaringan, matanya yang terbuka tengah mengawasi langit-langit rumah. Sekilas aku melihat disudut matanya airmatanya mengalir. Saking heran, tanpa terasa aku memperdengarkan suara dengan berkata :"Seorang laki-laki cuma mengalirkan daran tetapi tidak air mata ! Ah, mengapakah ia mirip seorang wanita...?"

Menyebut "wanita" jongos itu menoleh kepada kedua tamu- tamunya. Dia terkejut dan agak likat. Rupanya dia insyaf yang dia telah ketelepasan omong. "Bicara terus !" mengundurkan Kiauw In tertawa. "Kami tak akan persalahkan kau !"

Lega hatinya si jongos. Dia lantas melanjuti : "Sebenarnya tak puas aku melihat pemuda itu menangis, hendak mengundurkan diri. Justru aku memutar tubuh, tiba-tiba aku melihat diatas lantai terletak sebuah buku, entah kitab apa..."

Giok Peng terperanjat hingga ia menyerukan : "Oh !" Lantas dia bertanya :" Buku apakah itu ?"

"Aku pungut buku itu" si jongos menjawab. "Aku mengawasinya sebentar. Waktu aku hendak mengembalikannya kepada si anak muda, tiba-tiba dia merampasnya, terus aku digaplok ! Oh, sunggguh nyeri ! Hebat gaplokkannya itu ! Begitulah apesnya orang yang menjadi pelayan..."

"Apakah yang kau lihat pada buku itu ?" Kiauw In tanya. "Apakah ada tulisannya ?"

Jongos itu menggaruk-garuk pula kepalanya. Dia berpikir keras.

"Aku melihat empat buah huruf." sahutnya kemudian. "Sayang aku tidak tahu surat. Akulah dari keluarga melarat, aku cuma dapat bersekolah selama satu tahun, sembari bersekolah, aku mengembalakan kerbau juga..."

"Sudahlah !" Giok Peng menyela. "Aku bukan tanyakan hal sekolahmu ! Aku tanya tentang buku ! Apakah yang tertera pada buku itu ? Berapa hurufkah yang kau kenal ?"

Jongos itu tidak marah bahkan dia tertawa. "Kenapa nona sangat tak sabaran ?" dia bertanya. Dia berdiam pula untuk berpikir. "Dari empat huruf itu aku cuma dapat membaca yang dua, yang lainnya tidak sebab terlalu banyak coretannya. Yang dua itu yaitu Sam Cay..."

Dua dua Kiauw In dan Giok Peng melengak. Mereka dikejutkan dua huruf yang disebutkan itu. Lantas mereka saling memandang. Terang sudah buku itu buku mereka.

Selang sesaat, Kiauw In menanya pula : "Bagaimana dengan itu pemuda yang datang belakangan ?"

Jongos itu sudah berpengalaman dalam tugasnya, gerak gerik kedua nona membuatnya dapat berpikir, karenanya dia menduga apa-apa, hingga dia juga ingin berlaku cerdik.

Sahutnya : "Maaf, nona-nona. aku telah ketelepasan bicara ! Aku minta dengan sangat supaya hal ini nona-nona tidak sampaikan kepada siapa juga !"

"Jangan kau kuatir !" berkata Giok Peng. "Lekas kau tuturkan perihal anak muda yang datang belakangan itu !"

Masih jongos itu menatap kedua nona bergantian. Baru setelah itu, maka dia bicara.

Katanya : "Pemuda yang datang belakangan itu lebih muda dari pada pemuda yang datang lebih dahulu. Dia pun tampah gagah tampangnya, malah dia bertangan terbuka, dia telah memberi presen sepotong perak kepadaku. Dia menanya aku siapa-siapa saja yang malam itu menumpang didalam penginapan kami. Aku beritahu diantaranya tentang pemuda yang datang lebih dahulu itu. Lantas dia menanya banyak mengenai tetamu itu, dia tampangnya seperti juga dialah seorang petugas negara..." Tepat itu waktu terdengar suara pemilik penginapan memanggil jongosnya, maka jongos itu lantas minta perkenan buat segera mengundurkan diri.

Giok Peng mengunci pintu kamarnya.

"Kakak" katanya perlahan, "terang kedua pemuda itu Gak Hong Kun dan adik Hiong. Bukankah kakakpun menerka sama seperti aku ?"

Liauw In meletakkan Hauw yan yang tidur dalam empoannya. Ia mengangguk.

"Memang" sahutnya selang sejenak. "Dan terang sudah yang kitab pedang guru kita telah dicuri Hong Kun !"

Giok Peng menghampiri pembaringan, untuk duduk disisinya.

"Bagaimana sekarang ?" tanyanya.

"Kita harus cepat." sahut orang yag ditanya. "Aku percaya adik Hiong tengah menyusul Hong Kun ! Besok kita membeli dua ekor kuda, untuk berangkat lekas ke Lok Tiok Po, habis menitipkan Hauw Yan, segera kita menyusul ke gunung Hoang San."

"Bagus rencanamu ini, kakak." Giok Peng menyatakan setuju. "Cuma, apakah kita tak bakal terlambat sampai di Hong San ?"

"Kita tidak mempunyai jalan lain lagi" kata Kiauw In. "Terburu-buru juga tak ada faedahnya. Yang penting yaitu asal disepanjang jalan kita senantiasa mencari keterangan. Mustahil kita tak dapat menemukan mereka itu."

Giok Peng dapat menyabarkan diri. Maka itu terus mereka beristirahat. Besoknya, mereka bangun pagi-pagi untuk terus berkemas. Di dalam kota Tenhong mereka membeli dua ekor kuda dengan begitu dengan cepat mereka menuju ke Lok Tio Po, buat menuju ke Hong San. Pada suatu hari mereka tiba di Tiangsee ibukota propinsi Oawlam. Kota ramai sekali, jalan besar penuh dengan orang dan pelbagai kendaraan. Tapi mereka tidak mau singgah dikota itu, maka dari pintu kota yang satu mereka nyeplos di pintu kota yang lainnya.

Di sepanjang jalan, mereka mencoba mendengar. Sekarang mereka menuju ke Oawlam Barat, mengikuti jalan umum.

Ketika itu, baru saja lewat tengah hari jam ngo sie dan mulai memasuki jam hio sie mendekati lohor. Ditengah jalan tak putusnya lalu lintas ada orang berjalan kaki, ada kereta, kuda dan keledia.

Tengah kedua nona itu melanjuti terus perjalanannya itu, tiba-tiba dari arah depan mereka melihat memandanginya dua orang penunggang kuda yang sedang mengaburkan kudanya. Penunggang kuda yang di depan seorang wanita muda dan yang di belakang seorang pria tua. Mereka terperanjat sebab mereka juga sedang mengasi kuda mereka lari keras. Debu sampai mengepul naik. Dibagian jalanan itu keadaan lalu lintas sedang ramai.

Lekas sekali, kedua belah pihak sudah melalui satu sama lain. Hampir mereka bertabrakan. Ialah diantara Giok Peng dan wanita di depan itu. Selagi berpapasan itu wanita itu berseru kaget segera dia menahan kudanya untuk diputar balik, buat menyusul Nona Pek. "Nona !" dia memanggil.

Giok Peng tidak mendengar suara itu, ia larikan terus kudanya.

Wanita itu mencambuk kudanya buat menyusul. "Siauw Yan Sie !" dia memanggil pula, keras suaranya.

"Nona Pek !"

Baru sekarang Giok Peng mendengar panggilan kepadanya itu. Segera ia menahan kudanya dan menoleh untuk mengawasi. Lekas juga ia menjadi heran.

Penunggang kuda itu adalah seorang nona, pakaiannya serba merah, modelnya luar biasa, tak seperti pakaian yang kebanyakan. Orangnya sendiri juga berdandan luar biasa. Dengan semacam gelang emas, dia mengekang rambutnya yang dilepas panjang terurai ke punggungnya hingga rambut itu memain diantara debaran angin. Dia pula memakai pupur medok, hingga dia tampak genit sekali.

"Oh.." sernua saking heran. Ia mengenali Tong Hiang. Nona itu tertawa haha hihi.

"Bagaimana nona ?" tanyanya tertawa pula. "Apakah nona sudah mengenali budak pelayanmu ? Nona agaknya tergesa- gesa, kemana nona hendak pergi ?"

Giok Peng masih melengak, hingga tak dapat ia menjawab cepat-cepat.

Tong Hiang mengawasi, mukanya berseri-seri. "Tuan muda Tio sudah pergi kelain tempat !" katanya pula tanpa dimulai keterangannya. "Buat apa nona pergi ke Hong San ?"

Nona Pek melengak. Ia jadi berpikir.

"Heran kenapa budak ini ketahui kami mau pergi ke Hong San ?" tanya ia pada dirinya sendiri. Ia mencoba menenangkan hatinya."Tong Hiang, kenapa kau ketahui Tuan Tio sudah pergi kelain tempat ? Benarkan dia tak ada digunung Hong San ?"

Ketika itu Kiauw In yang telah memutar kudanya menghampiri Giok Peng hingga mereka berdua merendengi kuda mereka. Ia mengenali Tong Hiang yang ia pernah lihat di Pay In Nia dan ketahui orang memasrahkan diri dikalangan yang sesat, dari itu ia bersikap waspada. Ia kuatir Giok Peng nanti kena dibokong...

Tong Hiang melirik pada Nona Cio. Dia tertawa manis. "Kelihatannya kalian mencurigakan aku !" katanya.

"Rupanya kalian menganggap Tong Hiang bukan seperti

manusia umumnya ! Aku untuk memberitahukan sesuatu kepada kau, nona, supaya kalian tak usah melakoni perjalanan jauh yang tak ada faedahnya, yang akan membuat kalian membuang waktu yang berharga. Nona mau percaya atau tidak, terserah !"

Mengatakan tidak, Giok Peng mesti berlaku hati-hati. "Habis kemanakah pergi Tuan Tio ?" ia tanya. "Dapatkan

kau memberi keterangan padaku ?" Tong Hiang tertawa geli. "Demi kitab pedang Sam Cay Kiam. Tuan Tio sudah lihat wanita itu pergi lari." sahutnya. "Ada kemungkinan dia mengejar terus ke Hek Kong To !"

Giok Peng melengak. Dia heran berbareng terkejut. "Tong Hiang !" katanya keras-keras bernada menegur,

"benarkah kata-katamu itu ?"

"Tong Hiang ! Tong Hiang !" demikian terdengar suaranya si orang tua yang menjadi kawan si budak memanggil-manggil Dia menahan kudanya tetapi tidak pergi menghampiri. Dia cuma memutar tubuhnya.

Tong Hiang memutar kudanya, sebelah tangan diulapkan. "Perkataan budakmu ini nona" sahutnya. "Benar atau palsu

kau pikir saja sendiri. Nah, sampai jumpa pula ! " Lantas dia mencambuk kudanya yang dikedut dikasihh kabur guna menyusul si orang tua kawannya itu.

Tak dapat Giok Peng mencegah orang berangkat, karenanya berdua Kiauw In, ia saling mengawasi. Kedua- duanya terbenam didalam kesangsian : Mana Hiang bicara benar-benar atau main-main ? Budak itu mendusta atau bagaimana ? Percaya, mereka sangsi, tidak percaya mereka ragu-ragu.

Bukankah benar It Hiong tengah menyusul kitab pusaka guru mereka ? Mengapa It Hiong bukannya menyusul Gak Hong Kun hanya wanita dari Hek Kong To, pulau ikan Lohan Hitam itu ? Kenapa kitab jadi berada ditangannya Tan Hong nona itu ? Bukankah itu buat dipercaya ? Masih sekian lama, keduanya berdiri diam saja. Mereka bingung.

Sekarang marilah kita melihat dahulu kepada Tio It Hiong, sejak saat itu ia kehilangan kitab lima pedang Sam Cay Kiam yang membuatnya kaget dan berduka bukan main. Itulah kitab pusaka gurunya. Tak mestinya kitab itu lenyap, lebih- lebih tidak lenyap dari tangannya. Maka keras ia memikir, menerka-nerka siapa si pencurinya. Ia lantas ingat tiga orang yang dapat dicurigai, ialah Tong Hiang, budaknya Giok Peng, Cin Tong dari Hek Kong To dan Gak Hong Kun, sahabat tetapi saingan dalam percintaan.

"Tiga orang itu memiliki kepandaian akan mencuri Sam Cay Kiam, " demikian pikirnya, "tetapi diantara mereka bertiga, cuman Tong Hiang yang pernah mencurinya di Pey In Nia baru-baru ini. Ketika itu Tong Hing suka mengembalikan kitab itu sebab dia dinasihati Giok Peng, yang berlaku murah hati terhadapnya. Mungkinkah Tong Hiang yang datang pula dan mencuri lagi kitab itu ? Kalau andiakata Cin Tong yang mencuri, ada kemungkinan dia dianjurkan Tong Hiang atau diperintah budak itu.

Mengenai Gak Hong Kun, ia lebih-lebih beragu-ragu.

It Hiong jujur, tak berani ia sembarang menuduh orang. Bukankah Hong Kun muda dan gagah ? Mustahil Hong Kun mau mencuri barang sahabat baiknya ? Ia menganggap ia adalah sahabat baik orang she Gak itu. Kalau Hong Kun mencuri, tak malukah dia menghadapi rekan-rekannya kaum dunia persilatan ? Kalau tokh benar Hong Kun mencuri, itu mungkin disebabkan urusan asmara, cintanya terhadap Giok Peng hingga otaknya menjadi keras. Atau Hong Kun mau gunakan kitab itu guna memaksa Giok Peng menyerah terhadapnya. Satu malam It Hiong berpikir, masih ia belum dapat mengambil keputusan. Kitab pedang itu tidak cuma menyangkut gurunya, yang paling penting ialah akibatnya nanti terhadap dunia persilatan. Celakalah kalau kitab pedang itu jatuh didalam tangannya orang jahat yang berhasil mempelajari itu hingga sempurna.

Demikian, walaupun ia belum dapat menerka siapa si pencuri, mendekati fajar It Hiong meninggalkan Kiauw In dan Giok Peng kepada siapa ia cuma meninggalkan surat. Ia turun dari gunung Siauw Sit San. Dengan kepandaiannya lompat tinggi dan ringan tubuh, didalam waktu tiga jam, dapat It Hiong turun dari gunung itu, akan tetapi ia mau menduga si pencuri boleh jadi masih ada didalam wilayah gunung itu, maka itu ia lantas melakukan pemeriksaan, menggeledah setiap gua atau bagian rimba yang lebat. Baru sesudah lewat lohor, karena usahanya tidak memberikan hasil, ia turun terus, akan melanjuti perjalanannya, sampai akhirnya ia tiba dikecamatan Tong Hong dimana ia terus mencari rumah penginapan.

Kebetulan sekali bagi anak muda ini, dari mulutnya jongos yang melayaninya, ia dapat tahu Hong Kun justru berada dirumah penginapan yang sama dan mengambil sebuah kamar diruang belakang. Untuk sejenak, ia menjadi bingung pula.

Segera menemui pemuda she Gak itu atau jangan.

"Apakah baik aku lantas bicara secara terus terang padanya

?" demikian ia berpikir. "Bagaimana kalau Hong Kun mengakui mencuri dan lalu mengajukan syarat untuk mengembalikannya

? Aku menerima syarat itu atau jangan ? Sebenarnya cukup asal dia mengembalikan dan kita tetap bersahabat... Hanya bagaimana caranya aku bicara langsung dengannya ? Dipihakku, aku tidak punya alasan atau bukti ? Itu artinya Bielang sahabat berbareng menambah seorang musuh...!"

Kemudian setelah memikir masak-masak, It Hiong putuskan buat melakukan penyelidikan secara diam-diam.

Pemuda ini memasuki rumah penginapan sesudah lewatnya jam pertama selesai dia membersihkan muka, jongos sudah menyediakan barang hidangan. Jongos ini doyan sekali bicara. Dia omong ini dan itu untuk menarik perhatian si tetamu.

Tentu sekali ia melakukan tugasnya dengan baik itu supaya orang suka pada penginapannya dan nanti memberi hadiah. Sayang untuknya, pikiran It Hiong lagi kalut dia dibiarkan ngoceh sendirian saja.

"Tuan" kata si jongos kemudian sesudah dia melihat temannya itu agak lagi berpikir keras. Dia pun ingat sesuatau, "Tuan, apakah sahabat tuan tetamu kami yang tinggal di ruang belakang itu?"

Benar-benar perhatiannya di anak muda menjadi tertarik. "Apakah katamu ?" tanyanya.

"Jika tuan bersahabat dengan tuan itu, tuan Gak," kata si jongos menjelaskan, "harap tuan berlaku hati-hati..."

It Hiong heran hingga ia melongo.

"Apakah artinya kata-katamu ini ?" tanyanya pula.

Senang si jongos yang perhatian tetamunya itu sudah tertarik. "Sebab tuan, sebab tamuku itu aneh tabiatnya" dia menerangkan lebih jauh. "Tuan Gak itu telah menamparku tanpa aku bersalah. Dia lebih banyak merebahkan diri sambil mengeluarkan airmatanya. Dia pula mempunyai sejilid kita yang atasnya bertuliskan empat huruf. "

It Hiong makin tertarik. Hatinya tercekat.

"Apakah kau tahu apa bunyinya ke empat huruf dari buku itu ?" tanyanya.

Jongos itu mengawasi, dia tersenyum tetapi dia tidak menjawab.

It Hiong pun mengawasi pelayan itu. Ia cepat menangkap mau orang, maka ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sepotong perak .

"Kau ambil ini untuk kau membeli arak" katanya. "Sekarang coba kau pikir, empat huruf itu huruf-huruf apa. ?"

Tanpa malu-malu jongos itu menyambut sepotong perak itu, terus dia masuki kedalam sakunya. Dia tertawa pula.

"Tuan baik sekali !" bilangnya. "Terima kasih banyak !" Habis berkata tapi dia diam pula. Dia mengasi lihat tampang sedang berpikir keras.

"Dari emapt huruf itu, aku cuma kenal dua" sahutnya kemudian. "Itulah dua huruf Sam Cay. Dua yang lainnya aku tidak kenal. "

It Hiong menerka kepada Sam Cay Kiam. Darahnya lantas bergolak. Ia mendongkol berbareng berduka hati. Terang Hong Kun adalah si pencuri kitab, sungguh tak terpikirkan olehnya ! Hong Kun yang gagah dan bersahabat dengannya !

"Benarkah Hong Kun berbuat demikian hina ?" pikirnya berulang-ulang. Ia terbengong dalam kesangsian. "Benarkah dia ada sedemikian tak tahu malu ?"

Selagi si anak muda berpikir keras itu, jongos penginapan terus berdiri diam.

"Pergilah kau minum arak !" perintahnya. "Aku hendak beristirahat !"

Mendengar perintah itu, barulah si jongos bebenah dan mengundurkan diri.

Selewatnya jam tiga sunyi sudah seluruh hotel. Penerangan di sana sini telah dipadamkan.

It Hiong belum tidur. Ia berlompat turun dari pembaringannya terus ia menyingsatkan pakaiannya. Dengan menggendol pedangnya, diam-diam ia keluar dari kamarnya. Ia bertindak ke ruang belakang. Tak sukar buatnya mencari kamarnya Hong Kun. Ia berdiri di depan pintu berniat akan mengetuknya atau ia bersangsi sesaat. Diantara ia dan pemuda itu ada ganjalan diluar kehendaknya. Diantara mereka berdua ada budi dan perasaan.....

Tanpa merasa anak muda ini membayangi pula peristiwa di Lok Tio Po. Itulah hal sangat menyedihkan. Bukankah itu sama saja ia telah merampas pacar orang ? Hal itu membuatnya malu kepada dirinya sendiri, ia malu kepada orang she Gak itu. Sedangkan ketika Giok Peng sakit parah di Siauw ongpo, Hong Kun juga yang pergi mencarikan obat hosin ouw, obat mujarab itu. Hong Kun melakoni perjalanan ribuan lie akan mendapatkan obat itu dari tangan kekasihnya Perlan Hiong si bunga rajah putih bersih. Jiwa Giong Peng telah tertolong, itulah budi besar. Hal itu pula membuatnya sangat mengagumi dan menghormati pemuda she Gak itu.

Lalu terbayang pula peristiwa lain. Kali ini halnya Hong Kun sudah membinasakan Ciatkang Siang Kiat, kedua jago dari Ciatkang itu yang mati kecewa. Dalam hal itu Hong Kun sudah kesudian menjadi kaki tangannya pembesar negeri, sendirinya menyia-nyiakan dan melenyapkan kehormatannya sebagai orang Kang Ouw sejati.....

Dan yang terbelakang ini Hong Kun pula tak malu menyelundup masuk ke Siauw Sit San, ke kuil Siauw Lim Sie, dan secara tak terhormat sudah memancing Giok Peng membuat pertemuan rahasia dengannya. Peristiwa itu dapat ia sudahi, maka ia memaafkan pemuda itu, tetapi apa celaka, dia justru mencuri kitab Sam Cay Kiam !

Itulah kitab sangat penting karya susahnya dari gurunya, dan akibatnya dapat merusak rimba persilatan...

Maka ditimbang bolak balik, Hong Kun berbuat lebih banyak kejahatan daripada kebaikan. Kebaikan terhadap Giok Peng dan dirinya. Itulah soal pribadi. Menjadi keburukan ialah bekerja dibawah perintahnya pembesar negara yang borok dan mencuri kitab ilmu pedang, itulah kejahatan. Dan akibatnya pencurian kitab ilmu pedang itu, akibatnya dapat meruntuhkan rimba persilatan.

Akhirnya gusarlah anak muda ini, maka lantas dapat ia mengambil keputusan. Ia bertindak mendekat daun pintu, tangannya diulurkan, maka dengan satu suara keras terbuka dan menggubraklah pintuk kamari itu. Sembari bertindak masuk kedalam kamar ia berseru : "Kakak Gak, bangun ! Adikmu ingin bicara denganmu !"

Habis berkata ia mengeluarkan sumbunya untuk disulut menyala hingga kamar itu menjadi terang.

Hong Kun mendusin. Sebenarnya dia terkejut, tetapi segera ia dapat mengendalikan diri. Dia berlaku sabar sebab ia dapat mengenali suaranya si pemuda she Tio. Ia bergerak untuk duduk tak mau dia segera menyingkap kelambu. Dari dalam kelambu itu dia berkata tenang-tenang. "Kiranya ada tamu yang datang tengah malam begini ! Tetamu dari manakah yang demikian baik hati datang menjengukku ? Silahkan duduk dahulu, hendak aku memakai pakaian !"

It Hiong berdiri, ia menanti sambil mengendalikan diri. Lewat sesaat maka tersingkaplah daun kelambu. Disitu It

Hiong muncul dengan sikapnya yang tenang. Tentu saja dia lantas melihat It Hiong yang lagi berdiri tegak dengan wajah muram, sebab hati si anak muda sedang panas sekali.

"Kiranya kau kakak Tio !" katanya, nadanya dingin. "Kakak datang secara begini tergesa-gesaan sampai mendobrak dan merusak pintu tentunya ada urusan sangat penting bukan ? Saudara ada pengajaran apakah dari kau ?"

Selagi ia berkata-kata itu si anak muda menyantel pedangnya dipinggangnya.

Walaupun hatinya sedang panas saking gusarnya, It Hiong tidak berani lantas menuduh bahwa orang telah mencuri kita ilmu pedang gurunya. Sebisa-bisanya ia menekan hawa amarahnya itu. "Aku dengar kakak mempunyai sejilid buku yang bagus, sengaja aku datang untuk meminjamnya" katanya sabar.

Gak Hong Kun berpura tertawa.

"Aku sedang melakukan perjalanan," sahutnya. "Aku pula sedang ada urusan sangat penting. Disini dimana aku mempunyai buku ? Harap saudara Tio tidak salah mengerti."

It Hiong mengawasi tajam.

"Kakak Gak, kaulah seorang jujur, kenapa kau mendusta ?" tanyanya. Itulah teguran.

Mendadak saja Hong Kun memperlihatkan kemarahannya. "Saudara Tio, jangan kau memaksa orang !" bentaknya.

"Darimana kau pernah melihat aku memiliki sesuatu kitab ?" It Hiong juga tak dapat mengendalikan diri lagi.

"Aku paling tak dapat melihat perbuatan tak tahu malu semacam ini !" ia pun membentak. "Siapa tidak ingin ketahui perbuatannya, maka janganlah orang melakukan perbuatannya itu."

It Hiong berlompat maju ke depan pembaringan, ia menyingkap kelambu dan membongkar bantal kepala.

"Hai perbuatanmu ini perbuatan apakah ?" tegur Hong Kun gusar. "Aku Gak Hong Kun, biarnya aku muncratkan darahku dalam lima tindak tak nanti aku membiarkan orang memperhina diriku macam begini !"

Dan "Sret !" dia menghunus pedangnya. It Hiong dapat mendengar suara pedang dihunus. Ia menoleh seraya terus lompat ke samping pintu kamar, dari situ ia mengawasi bengis pada si anak muda.

"Apakah kau menyangka aku cuma menerka-nerka saja ?" tanyanya gusar. "Apakah kau kira kau cuma menangkap angin membekuk bayangan ? Ada orang yang menyaksikan bagaimana kau menangis dan air matamu bercucuran sedangkan buku Sam Cay Kiam itu jatuh ke lantai !"

Heng Kun melengak, tetapi hanya sedetik lantas ia memperlihatkan pula wajahnya yang dingin.

"Memang aku mempunyai kitab semacam itu !" katanya nyaring. "Aku tidak hendak meminjamkan buku itu padamu, habis kau mau apa ?"

It Hiong melengak. Ia heran akan sikapnya pemuda di depannya itu.

"Aku ingat persahabat kita maka juga barusan hendak aku dari kau, kakak." katanya. Ia menjadi sabar pula. "Tapi baiklah kakak ketahui, kitab itu kitab karyanya guruku. Kau telah mencuri itu, bagaimana kau masih hendak menyangkalnya ?

Jika kau tidak mau mengembalikan itu secara baik-baik, maaf, terpaksa aku akan berlaku kurang hormat terhadapmu !"

Berkata begitu, anak muda ini lantas menghunus pedangnya, hingga terdengar suaranya yang nyaring anak muda. Yang pertama dilembah Pek Keng Kok dan yang kedua kali di gunung Siauw Sit San, maka tahulah ia kelihaian orang muda itu. Sedangkan Kong Hong Kiam adalah pedang mustika yang tajam luar biasa. Tapi dialah seorang muda beradat tinggi, yang bangga akan kepandaiannya sendiri, dia tak takut ! Pula, selama ia gagal dalam urusan asmaranya dengan Pek Giok Peng, ia pun bersakit hati, dalam kekecewaan dan mendongkol, ingin ia mengadu kepandaian dengan saingannnya itu. Sekarang rahasianya dibuka tentang ia mencuri kitab, kemarahannya sampai di puncaknya. Ia malu dan mendongkol, ia jadi seperti mata gelap.

"Baiklah, boleh kau andalkan ujung pedangmu untuk mendapatkan pulang kitab ilmu pedangmu !" teriaknya menantang. Tapi ia bukan cuma memperdengarkan suara besar itu, ia bahkan mendahului menyerang. Itulah jurus "Pohon Bunga Bwe Mengeluarkan Pasu" dan sasarannya ialah ulu hatinya It Hiong.

Bukan main gusarnya pemuda she Tio itu sebab sudah terang orang berasal orang toh menyangkal dan mengotot, lalu diakhir mengaku salah tetapi sudi meminta maaf akan memperbaiki kesalahannya itu. Dalam murkanya, bersedia ia melayani orang mengadu kepandaian cuma ia tak mau segera mengandalkan pedang mustikanya. Dengan masih dapat mengendalikan diri, selagi tikaman datang ia berlompat keluar pintu kamar, terus ke halaman yang kosong. Di situ ia berdiri menantikan.

Hong Kun lompat menyusul. Ia putar pedangnya hingga sinarnya berkilauan, lalu ia maju untuk menyerang. Dalam sengitnya, ia menyerang secara berantai hingga tiga jurus.

It Hiong tidak menangkis atau membalas menyerang. Ia juga tetap belum mau menggunakan pedangnya. Maka itu, tiga kali ia berkelit terus menerus.

"Kakak Gak" katanya dengan sabar, "jika kau suka mengembalikan kitabku itu, suka aku memulihkan persahabatan kita. Kau setuju bukan ?" Hong Kun tidak menjawab, dia justru menikam.

It Hiong melihat tidak ada tempat lagi buat ia main berkelit mundur, ia pula sangat memikirkan kitab silatnya. Sampai disitu habis sudah sabarnya. Maka itu ia lantas berkelit ke sisi darimana segera ia mulai melakukan pembalasan. Ia menikam dengan jurus "Kunang-kunang terbang menari-nari". Jurus itu pula setelah serangannya yang pertama lantas disusul perubahannya, semua sampai delapan tikaman dan tebasan lainnya.

Hong Kun dapat berkelit dari serangan yang pertama itu lantas dia berkelit tak hentinya dengan demikian dengan sendirinya ia kena terdesak mundur beberapa tindak.

Malam itu si putra malam sudah berada diarah barat, sinarnya telah mulai sirna. Di tempat itu, es putih beterbangan menyeluruh. Cahaya pedang yang bergerak tak hentinya bagaikan memahat diatas es putih itu.

Hebat adalah dua anak muda itu, sama-sama muridnya jago-jago silat yang kenamaan. Guru mereka ialah Thian Hee Te It Kiam, jago pedang nomor satu dikolong langit dan Hong San Kiam Lek, jago pedang dari gunung Hong San. Mereka pula murid-murid pilihan.

Bentrokan-bentrokan pedang mendatangkan suara sangat berisik, maka juga banyak tamu-tamu lainnya yang mendusin dari tidurnya, mulanya mereka terkejut kemudian semua pada mencari menonton. Hati mereka berkedutan saking hebatnya pertempuran itu. Jongos hotel muncul dengan ketakutan, dia merasa jeri sendirinya. Berulang-ulang dengan tidak lancar dia berkata : "Tuan-tuan, harap kalian jangan berkelahi disini. "

Tiada orang yang menggubris pemintaan itu. Kedua anak muda bertarung terus, tetap sama hebatnya.

Kembali si jongos berteriak-teriak, sampai akhirnya suaranya itu terdengar juga. dengan berbareng kedua anak muda berlompat mundur.

"Saudara Tio !" kata Hong Kun yang menantang : "Saudara kalau tetap kau menghendaki kembalinya kitab ilmu pedangmu kau harus menggunakan kepandaianmu yang sejati. Jika kau benar bernyali besar, lima hari lagi, aku menantikan kau diatas gunung Hong San ! Di sana nanti aku belajar kenal dengan ilmu silat pedang nomor satu di kolong langit ! Baranikah kau bukan ?"

Habis mengucap itu, sekonyong-konyong Hong Kun menjejak tanah untuk berlompat naik ke atas genteng guna mengangkat kaki.

It Hiong lompat menyusul, maka didalam waktu sekejap, lenyaplah dua bayangan dari mereka, ditelan sang malam yang gelap itu.

Hong Kun kabur terus menerus, sampai ia beranda diluar kota Tonghong, Setelah melintasi perjalanan duapuluh lie lebih, ia berada disebuah jalanan yang sunyi. Sang fajar telah tiba, maka juga sang surya mulai muncul diufuk timur. Sinar matahari pagi indah dan hangat, angin pun bertiup halus, membuat orang merasa nyaman. Sampai disitu, pemuda she Gak ini tidak berlari-lari lagi. Ia tidak melihat It Hiong mengejarnya terus. Ia berjalan selama dua jam, tibalah ia di danau Yo kee cip. Biar bagaimana hatinya tidak tenang. Rupa-rupa perasaan mengacaukan otaknya. Ia tidak takuti It Hiong, ia hanya tak tenang hati. Ia pikirkan Giok Peng. Memang niatnya ialah, dengan mencuri kitabnya It Hiong, hendak ia gunakan itu guna mendesak dan mempengaruhi Nona Pek itu. Ia masih menyintai si nona...

Hong Kun adalah sudah berpikir buat kembali ke Siauw Sit San, supaya ia bisa menggunakan kesempatan akan bertemu pula dengan Giok Peng. Hanya masih ada juga kekuatirannya kalau-kalau ia akan kepergok It Hiong, itu artinya berabe dan maksudnya bakal gagal. 

Selagi berpikir itu, pemuda ini sudah sampai di depan restoran Hok Lay Rejeki. Datang tanpa merasa, ia bertindak memasuki rumah makan itu. Ia lantas minta barang makanan dan arak. Ingin dengar air kata-kata ia melenyapkan kekacauan pikirannya itu. Tentu sekali ia mesti minum seorang diri. Tak hentinya mulutnya meneguk araknya. Pikirannya juga tak berhenti bekerja, ia sudah mengiringi lima poci arak tetapi nasi dan barang santapannya belum pernah tersentuh sumpitnya....

Sekian lama itu jongos itu selalu mengawasi tetamunya ini.

Ia dapat menerka kenapa orang minum saja tak makan tak berkata-kata. Akhirnya ia datang menghampiri.

"Tuan !" tegurnya sembari tertawa, "tuan telah minum arak pilihan kami, silahkan coba juga barang makanan kami yang lezat-lezat !"

Hong Kun berpaling kepada pelayan itu. "Tambahkan dua botol lagi ! katanya keras. "Jangan mengoceh tidak karuan !"

Jongos itu kebengongan.

Justru itu dari meja disampingnya meja Hong Kun itu terdengar seorang berkata begini : "Arak tidak membuat orang sinting, orang yang membikin dia sinting sendirinya ! Bunga tidak memelet orang lupa daratan, orang lupa datang sendiri !"

Orang yang berkata itu adalah seorang imam, tubuhnya tinggi besar dan kekar, disela leher bajunya tertancap hudtim, kebutannya. Ditangannya ia memegang sebuah cangkir arak. Ia dahului kata-katanya itu dengan gelak tawa, habis itu ia menenggak araknya itu sampai cawannya kering. Lantas ia berkata pula, menyambungi : "Meletakkan golok jagal, menoleh ialah tepian... !"

Diakhirnya imam itu mengetuk-ngetuk mejanya, mulainya memperdengarkan nyanyian perlahan-lahan.

Hong Kun dapat mendengar kata-kata orang itu, tak peduli ia sedang risau. Ia tahu mengerti maksudnya itu. Telah ia merasa seperti tertikam. Karena itu ia membentak : "Darimana datangnya si manusia yang kurang ajar, yang bacotnya mengoceh tidak karuan ?"

Imam itu seperti tidak mendengar suara orang itu, ia masih memperdengarkan nyanyiannya, berulang-ulang ia minum araknya ayal-ayalan, sedang tangannya pun tak berhenti mengetuk-ngetuk mejanya bagaikan irama nyanyiannya itu...

Hong Kun menjadi habis sabar. Dia menjadi gusar. "Tutup bacotmu !" ia membentak mendamprat. "Apakah kau hendak mencoba-coba ilmu pedang Hong San pay ? Mari bangun !" Dan ia berjingkrak bangun dari kursinya, ia berpaling kepada si imam sambil matanya mendelik, mengawasi bengis.

Mendengar tantangan itu, si imam tidak menjadi marah.

Dia malah tertawa lebar sampai suaranya itu terdengar diluar rumah makan. Dia tertawa sambil melenggak. Setelah berhenti tertawa, dia berkata : "Seorang anak muda begini bertabiat keras, itu cuma akan mendatangkan keruwetan pikiran sendiri ! Buat apa membangga-banggakan ilmu pedang Hong San Pay ? Buat apa bertingkah pula seperti juga disisimu tak ada lain orang ? Cobalah kau tanya dirimu sendiri, dapatkah kau melayani ilmu pedang Khie Bun Pat Kwa Kiam dari Pay In Nia ? Hahahahahahaha !"

Bukan kepalang mendongkolnya Hong Kun. Dia lantas mengunjuki tampang takabur.

"Kitab pedang Sam Cay Kiam dari Tek Cio Siangjin telah berada ditanganku !" katanya jumawa. "Murid terpandai dari dia itu pun tak mampu merampasnya pulang dari tanganku ! Kau pikir ilmu pedang siapa yang lebih sempurna ?"

"Oh, begitu ?" kata si imam tertawa. "Jangan kau mendusta dihadapanku Beng Leng Cinjin !"

Gak Hong Kun terkejut. Kiranya orang ini adalah satu diantara ketiga bajingan dari Hek Kong To. Ia merasa bahwa ia sudah ketelepasan bicara.

Ketika itu diundakan tanggapun terdengar tindakan kaki orang. Lantas tampak munculnya seorang wanita muda pakaian luar biasa, sangat berbeda daripada pakaian wanita seumumnya sedangkan mukanya terpupurkan medok makanya itu makin bercahaya disebabkan warna pakaiannya merah seluruhnya. Nona itu bagaikan mega merah.

Rambutnya yang dikekang dengan gelang emas tergerai panjang dipunggungnya dimanapun tergendol pedangnya. Tampak wanita itu sangat centil, matanya memain dengan tajam. Dia bertindak naik dengan lambat-lambat. Tiba diatas, lantas dia mengambil tempat duduk. Segera dia memanggil jongos, minta disediakan barang santapan berikut sepoci arak.

Melihat si nona, si imam tertawa dan menegur : "Eh, nona Tong Hiang kau juga datang kemari, ya ?"

Tong Hiang demikian nama nona itu, lantas berpaling. Mengenali Beng Leng Cinjin, ia lantas memberi hormat.

"Karena terlambat oleh sesuatu hal, budakmu jadi lewat disini" sahutnya. Dia membahasakan diri sebagai budak.

Imam itu menghela napas. Kata ia masgul : "Nona, tolong kau sampaikan kepada Thian Cio Cianpwe bahwa hatinya  Beng Leng sudah jadi seperti air yang berhenti mengalir hingga tak ada lagi kegembiraannya untuk turut hadir dalam rapat besar guna merundingkan soal ilmu pedang di Tiong Gak nanti. Nah, sampai jumpa pula kelak di belakang hari !"

Berkata begitu, si imam membayar uang kepada jongos terus ia bertindak pergi. Tapi ia berjalan sambil tertawa gelak dan mengucapkan : "Meletakkan golok jagal, menoleh..." Suaranya itu lenyap sendirinya dengan berlalunya semakin jauh...