Iblis Sungai Telaga Jilid 06

 
Jilid 06

Gouw Ceng tidak segera mengundurkan diri.

“Bapak Ketua,” katanya, “Aku bersedia mengorbankan diri, tak nanti aku mundur walaupun ada ancaman berlaksa kematian!”

Pek Cut mengulapkan tangannya. “Amidha Budha!” pujinya.

“Aku mengerti kau!” Terus ia berpaling kepada Liauw In dan berkata: “Liauw In, kau ajaklah dia pergi!” Liauw In menurut, habis mengangguk, ia menghampiri Gouw Ceng untuk memegang.

“Sute kau harus dengar kata-kata bapak ketua.” katanya, “Mari beristirahat!”

Lalu adik seperguruannya itu ditarik, diajak kependopo belakang.

Pek Cut menoleh kepada Go Hian Tojin kemudian berkata: “Totiang, bukankah Thio Siong Kang itu salah seorang bajingan kepala dari pulau To Liong To? Apakah totiang pernah mendengar tentang mereka?”

Go Hian membalas hormat.

“Maaf, pendengaran pinto tentang dunia Kang Ouw sangat terbatas,” sahutnya. “Memang dahulu pernah pinto mendengar perihal bajingan kepala dari pulau itu, bahwa mereka itu suka melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak halal, bahkan pernah ada beberapa orang rekan yang datang kepada pinto untuk mengajak pinto pergi menyerang mereka, katanya guna membantu rakyat dari gangguan mereka itu.

Terpaksa pinto tolak ajakan itu sebab ketika itu pinto berpendapat partai kami tidak mencari urusan diluaran, kalau orang tidak mengganggu kami, kamipun tidak mau mengganggu orang. Karena itu pinto tidak tahu jelas perihal bajingan-bajingan itu.”

Pek Cut tahu dari pihak Bu Tong Pay ini, ia tidak dapat mengharap keterangan jelas, kalau toh ia menanyakan Go Hian, itulah disebabkan sebagai tuan rumah tak boleh ia lupa menunjukkan penghargaan dan rasa hormatnya pada tetamunya itu, yang telah begitu memerlukan datang untuk membantu pihaknya. Maka ia mengangguk dan berkata: “Terima kasih totiang! Syukur bahwa totiangpun mengetahui bahwa mereka itu telah melakukan perbuatan-perbuatan yang tidak halal. Sebenarnya perbuatan itu sudah lama mereka kerjakan dan orang jauh dan dekat rata-rata pernah mendengarnya.”

“Sayang malam tadi aku tidak bertemu sendiri dengan jahanam itu!” berkata Eng Eng sengit. “Kalau sebaliknya, walau kepandaianku tidak berarti, hendak aku mencoba membekuknya.”

“Ngay Tayhiap berbicara secara terus terang, senang aku mendengarnya!” In Gwa Sian menimbrung.

Setelah itu muncullah dua orang pendeta muda, yang masing-masing membawa satu buntalan hitam serta sehelai atau tambang panjang terbuat entah dari rotan atau benda lainnya. Mereka itu muncul dari depan dan masuknya secara tergopoh-gopoh, langsung mereka mendekati Gouw jin Taysu, salah satu dari Ngo Lo, kelima Tianglo. Mereka memberi hormat, lantas mereka menyerahkan barang-barang yang dibawanya itu sambil mengucapkan kata-kata dengan perlahan.

Gouw Jin menyambut sambil mengangguk-ngangguk, lantas dia berbangkit dan membawa kedua rupa barang itu kehadapan Pek Cut untuk dipersembahkan, sambil memberi hormat, ia berkata: “Harap bapak ketua ketahui bahwa Ceng Leng dan Beng Wan berdua sudah menerima perintah pergi kekaki Ngo Leng Hong dekat Siauw Yan Kie, dimana mereka membuat penyelidikan. Menurut penduduk sana, pada dua bulan yang lalu kampung mereka kedatangan seorang pria pertengahan, yang tinggal dengan membuat gubuk dikaki gunung dan Pekerjaannya setiap hari ialah mencari kayu buat dijual kepada penduduk kampung, bahwa kadang-kadang dia menanyakan penduduk tentang segala hal perihal kuil kita. Tadi malam orang itu nampak pulang entah apa sebabnya. Mendengar itu Ceng Leng bercuriga, maka ia pergi kegubuk orang itu dan memeriksanya. Ia cuma menemukan tali panjang ini, lainnya segala perabotan dapur saja. Beng Wan sebaliknya menemui bungkusan ini dibawah pohon cemara tua ditepi kali, tergeletak ditanah, terus dia membawanya pulang. Harap bapak ketua sudi memeriksanya.”

Semua mata hadirin segera diarahkan kepada kedua barang itu. Pek Cut mengawasi sekian lama, lantas bungkusan itu ia serahkan pada Go Hian Tojin, untuk si imam melihatnya.

“Sungguh bungkusan yang besar.” kata Imam dari Bu Tong Pay itu, “Seorang manusiapun dapat dibungkus dengan ini!”

“Jahitannya bukan seperti jahitan biasa.” Pek Cut menambahkan, pendeta ini heran.

In Gwa Sian menyambuti bungkusan itu untuk diteliti. Dia bermata tajam, lantas katanya: “Menurut aku, bungkusan inipun bekas direndam dahulu dengan getahnya suatu pohon dan bekas dijemur kering hingga kain ini tidak nyerap air dan dapat dipakai sebagai pakaian menyelam. Kalau kalian tidak percaya, cobalah!”

Ngay Eng Eng turut memeriksa benda itu lalu dia menunjuki jempol tangannya.

“Saudara In benar!” katanya. “Inilah pasti milik Thio Siong Kang sibajingan itu!”

—- Hal 09 S/D 16 hilang —— menjadi jurus “Belibis Turun di Pasir” Pedangnya menjadi meluncur kebahu kiri lawan. Pedang itu bersinar berkilau.

Sia Hong terancam bahaya, untuk menyelamatkan diri ia berkelit sambil melompat jungkir balik dengan jurus “Ular Naga Berjumpalitan” Toh ia terlambat juga, ia masih kalah cepat. Hanya untung baginya cuma bajunya yang terobek- robek! Dengan lompatan itu ia menyingkir sejauh dua tombak.

“Imam siluman, benar lihai pecut emasmu itu!” Seng Ciang berseru.

Sia Hong mengeluarkan peluh dingin. Meski selamat, ia sudah kalah, maka mukanya menjadi pucat pasi dan merah padam. Ia malu dan penasaran.

Selagi saudara seperguruannya itu berdiri diam. Hek Hong berlompatan maju sambil menunding dengan goloknya, golok Pun Tiat To. Ia berseru: “Siluman, benar lihai ilmu pedangmu! Mari pinto juga hendak belajar kenal denganmu!” Menyusul itu ia menyerang membacok ke arah jalan darah hoa kay si lawan.

Seng Ciang melihat datangnya ancaman, ia menangkis dengan keras hingga senjata mereka bentrok dan bersuara nyaring. Setelah itu ia membalas menikam iga kiri si imam. Mau tidak mau Hek Hong mesti berloncatan mundur. Balasan lawannya itu hebat sekali. Sambil mundur itu, ia menghajar pedang guna memunahkan serangan itu. Maka pedang dan golok beradu keras berisik dan percikan apinya bermuncratan.

Bentrokan itu hebat Hek Hong, goloknya hampir lepas dari tangannya dan jeriji tangannya hampir terpotong, walaupun demikian ia tidak mau berhenti sampai disitu. Ia penasaran. Ia merasa dirinya seperti sedang menunggang harimau hingga tak dapat ia berlompatan turun. Sambil menggertak giginya dan menyerang pula, mulanya menusuk lalu mendak dan membabat lawan.

Seng Ciang menangkis tusukan itu, dilain pihak sambil menjejak tanah, dia lompat guna menyelamatkan kakinya, tapi selekasnya dia menaruh kakinya, dia balas membacok dari atas kebawah. Tak berhasil dia mengenai lawan tapi pedangnya menghajar golok demikian telak dan keras, hingga golok dari tangan Hek Hong mental dan selagi lawan itu menjadi kaget dan bengong, dia berlompatan maju dengan susulan tikamannya!

Tanpa senjata dan sedang bingung sedang tangannyapun nyeri, maka Hek Hong tidak berdaya terhadap serangan kali ini. Tak ampun lagi bahu kirinya kena tertikam hingga ia terluka, sambil menjerit robohlah tubuhnya.

Koaw Hong berlompat maju, dia kaget bercampur gusar.

Kaget buat saudara seperguruannya dan gusar terhadap lawan itu. Sambil menunding dan berteriak: ” Kau berani melukai adik seperguruanku, Awas!” Dan dia segera menghajar dengan Bu Hwe Pian, cambuk baja yang dinamakan “Ekor Harimau”. Itulah pukulan “Kacung Tay Sie Menindih Kepala”.

Melihat senjata orang agaknya berat, Seng Ciang berlaku hati-hati. Begitulah ia menghindar ke kiri darimana ia membarengi membabat ke kanan mencari bahu lawan. Koaw Hong pun berkelit, habis berkelit ia menyerang pula, cambuknya dibabat untuk sekalian melibat tubuh musuh. Seng Ciang mendak, dengan begitu cambuk lewat diatas kepalanya. Sekali lagi ia membalas kembali kebahu lawannya itu. Koaw Hong berkelit sambil berlompatan dengan penasaran, maka kembali iapun menyerang dengan menyabet kebawah. Seng Ciang menjejak tanah melompat tinggi setombak lebih dan setelah ia mendarat ia telah terpisah tujuh delapan kaki dari lawannya. Tapi ia disusuli si imam yang menyerangnya dengan jurus “Naga Hitam Keluar Dari Gua” sasarannya ialah jalan darah “heng han” dipunggung Seng Ciang. Jago luar lautan mendengar suara aneh akibat bekerjanya cambuk, ia berkelit sambil mendak ke kanan darimana lagi-lagi ia membabat bahu lawannya.

Didalam delapan belas senjata, cambuk terhitung yang nomor tujuh dan dipelajarinya paling sulit, siapa pandai menggunakannya, dia akan jadi lihai sekali. Koaw Hong cukup lihai tetapi dia kalah licin dari Seng Ciang, yang ilmu pedangnya baik sekali. Maka juga didalam waktu tigapuluh jurus, jago luar lautan itu tetap lebih unggul. Bahkan sehabis itu, perlahan-lahan, si Imam mulai terkurung sinar pedangnya. Kalau dia melawan terus dapat susah dia. Karenanya lantas ia menggunakan akal, mendadak ia menyabet kebawah dengan jurus “Angin Puyuh Menyapu Salju”.

Dengan memaksakan diri Seng Ciang lompat mundur, atas mana Koaw Hong lompat ke kanannya. Menampak demikian ia menerka si imam hendak menyerang dia dengan senjata rahasia, maka ia lantas memasang mata. Sengaja ia menegur: “Eh imam siluman, kita belum menang atau kalah, kenapa kau mau mundur?” Lalu terus ia lompat menyusul pedangnya dilancarkan.

Benarlah terkaan jago luar lautan itu, saking terpaksa, Koaw Hong hendak menggunakan senjata rahasianya, cepat ia merogoh kesakunya dan menimpukkan dua batang jarum emas, mengarah kemuka dan dada. Seng Ciang bermata tajam, dan lagi dia sudah bersiaga, maka itu ketika ia melihat bahu si imam bergerak, ia dapat menerka kemana arah serangannya. Ia telah memasang mata, lantas ia menyerang. Ia juga membekal senjata rahasia yang berupa paku dan dengan itulah ia menyambut jarum lawan.

Suara nyaring terdengar akibat bentrokan senjata rahasia yang dua-duanya lantas jatuh ketanah. Menyusul itu Seng Ciang bertindak lebih jauh. Tanpa ragu dan tanpa ayal. Kalau tadi ia menimpuk dengan tangan kanan, sekarang ia menimpuk pula dengan tangan kiri. Kalau tadi ia menggunakan paku, sekarang senjata rahasia yang dinamakan Thie Lian Cie atau teratai besi. Dan teratai yang pertama meluncur ke belakang kepala si imam.

Koaw Hong kaget bukan main, ia mendengar bunyi senjata beradu, ia tahu bahwa penyerangan gelapnya sudah gagal, maka dalam hati ia berseru: ” Celaka!” dan belum sempat ia berdaya telinganya sudah mendengar sambaran angin di belakangnya, dengan cepat ia tunduk sambil mendak sedikit. Dengan begitu senjata rahasia itu lewat diatas kepalanya.

Tetapi itu belum semua. Seng Ciang menyerang dengan menggunakan tipu daya. Serangannya kebatok kepala cuma akal belaka guna memancing kelengahan lawan. Selekasnya timpukannya yang pertama itu segera menyusul yang kedua, lalu menyusul yang ketiga. Dua yang belakangan ini dengan kecepatan luar biasa dan arah tujuannya berlainan.

Kaow hong sudah lantas menjerit. Tak berdaya ia waktu teratai yang kedua menancap di jalan darah co in dibetisnya bagian belakang kaki kanannya, sambil menjerit “Aduh!” tubuhnyapun roboh. Dia merasa nyeri dan kaki kanannya itu lantas menjadi kaku. Untung baginya, teratai yang ketiga lolos karena ia keburu roboh. Menyusul robohnya si imam, muncullah Ngay Eng Eng yang lantas menghadapi Seng Ciang guna menghadang andiakata jago luar lautan itu hendak merampas jiwa lawannya. Ngay Eng Eng datang dengan meluncur dari tempat yang tinggi.

“Hm!” Eng Eng mengasih dengar ejekannya. “Kalian gagah sekali sehingga dapat merobohkan beberapa bapak imam!

Tapi kalian jangan berpuas diri dahulu! Aku Ngay Eng Eng dengan tanganku yang berdarah daging ini, hendak aku melayani kalian. Aku hendak melampiaskan penasarannya bapak-bapak ini…!”

Belum berhenti suaranya, Lie Seng sudah menikam padanya. Dengan hanya satu kali bergerak, maka Eng Eng sudah berkelit hingga segera berada di belakang penyerang yaitu Lie Seng, si Ular Naga Mendekam, lantas ia membalas menyerang dengan kedua belah tangannya dengan menggunakan ilmu silat “Tangan Membalik Mega”. Sasarannya ialah kedua bahu lawan.

Lie Seng terkejut tetapi dia sanggup menyelamatkan diri. Sambil mendak sedikit dia menjejak tanah, berkelit dengan melompat sejauh tiga tombak. Melihat orang menyingkir begitu jauh, Eng Eng tertawa.

“Manusia jahat, jika kau bernyali, mari maju pula!” tantangnya. Lalu bukannya ia berdiam menanti orang menghampirinya, ia justru melompat ke kiri untuk lari mendekati tanjakan!

Lie Seng menjadi sangat gusar, sambil membentak ia lari mengejar. Jago tua itu sengaja hendak mempermainkannya, ia tidak segera melayani melainkan hanya lari berputaran seperti lagi main petak, kemudian barulah ia lari mendaki menuju puncak. Ketika itu ia menoleh ke belakang, ia melihat si Ular Naga Mendekam masih terus menyusulnya dan ketinggalan tak jauh darinya.

Dengan lekas jago dari luar lautan itu dapat menyusul dan dengan sengit dia lantas menikam untuk itu dia sampai berlompat. Eng Eng masih tidak hendak menyambuti, ia hanya berkelit. Karenanya ia jadi telah memberi kesempatan buat lawannya itu kembali menikam! Masih jago tua itu tidak mau melawan, dan hanya berkelit menghindar. Kali ini dia lari terus mendaki bukit dan barulah diatas bukit itu ia berdiri menanti.

Lie Seng menyusul terus, kedatangannya dibarengi dengan tusukan, karena dia semakin gusar maka serangannyapun makin hebat. Pedangnya itu selain berkilau kehijau-hijauan anginnyapun terdengar tajam. Eng Eng menduga senjata lawan adalah senjata mestika maka tak mau ia memandang enteng. Sebaliknya ia mengerahkan tenaga dalam ditangannya, setelah berkelit ia melayani bertempur sambil berlompatan mundur dan kesisi kanan berlompatan tinggi.

Dengan tangannya ia bersilat dengan ilmu silat Kim Na Kong yang istimewa untuk menangkap senjata atau serangan  lawan. Ia sudah berusia lanjut tetapi ia dapat bergerak dengan gesit sehingga ia seperti sedang bermain diantara kilauan pedang.

Sudah lama sekali Ngay Eng Eng tidak menggunakan senjata tajam. Kalau bertempur ia selalu menggunakan sepasang tangannya. Demikian pula kali ini, tak peduli pedang si Ular Naga Mendekam menyerang dengan luar biasa, ia selalu dapat melayani dengan mudah sekali. Dengan cepat dua puluh jurus telah berlalu, seperti semula tadi tetap mereka tak ada yang kalah atau menang. Sebaliknya Lie Seng semakin penasaran, ia menggunakan seluruh kepandaiannya sebab niatnya adalah merobohkan musuh. Sementara lawannya tetap melayani dengan tenang seperti semula. Maka sepuluh jurus lagi telah dilewatkan.

Tengah mereka bertempur bagaikan main-main itu, mendadak Eng Eng mementang kedua tangannya, terus tubuhnya mencelat sejauh tiga tombak, sebab ia menggunakan ilmu silat lompat tinggi dan jauh “Elang Menyerbu Langit”. Ia menyingkir kesebelah kanan. Lie Seng membentak nyaring, tubuhnya membarengi berlompat juga menyusul. Dia seperti tidak mau memberi kesempatan. Kali ini Eng Eng lari terus terusan, sampai melewati empat puncak.

Dipuncak yang ke empat ini ia tiba disebuah pohon yang besar dan tua, yang tinggi dan banyak dahan-dahannya sedang daunnya berupa mirip payung. Disitu ia berhenti dan mengawasi lawannya sambil tersenyum.

Lie Seng mengejar terus tapi sekarang dia telah bermandi peluh dan napasnyapun tersengal sengal, cuma semangatnya yang tak kunjung padam, tapi dia masih menuruti suara hatinya, yaitu marah. Selekasnya dia datang mendekat maka tak ampun lagi dia menikam lawannya itu! Dengan tangan kosong, Eng Eng tidak mau menyambuti pedang. Buat kesekian kalinya ia berkelit luar biasa gesit, tahu-tahu ia sudah berada di belakang penyerangnya. Dengan sama hebatnya ia menyerang dengan kedua tangannya. Ia menggunakan jurus Melintang Menghajar Dahan Emas, walaupun demikian ia menggunakan tenaga lima bagian.

Lie Seng lihai, masih dapat ia menyelamatkan diri dengan lompat ke depan sejauh dua tombak. Cuma iganya tersentuh sedikit, sedang maksud lawannya adalah membuatnya roboh pingsan disebabkan tulang-tulangnya pada patah. Panas si jago dari luar lautan, setelah menaruh kaki, dia memutar tubuh buat maju menghampiri lantas menikam pula, hebat niatnya untuk membalas lawannya. Heran juga Eng Eng, biasanya jarang ia gagal dengan serangan semacam itu. Hajarannya itu mampu menciderai orang yang kebal sekalipun, namun Lie Seng malah masih mampu menyerangnya. Tapi ia tak gentar. Ia menanti, segera setelah ujung pedang hampir sampai, ia berkelit ke kiri hingga ia jadi berada disebelah kanan lawannya. Disini ia lantas menyerang. Tentu sekali sekarang ia tambah tenaganya hingga menjadi tujuh bagian.

Kali ini Lie Seng tidak lolos seperti tadi, punggungnya telah terhajar telak, maka tubuhnya tersuruk ke depan sejauh satu tombak. Tapi dia kuat sekali, dia tak roboh mencium tanah, bahkan dia lekas-lekas memperbaiki diri. Maka itu kembali dia dapat maju pula guna melakukan serangan balasan. Dia menggunakan ilmu pedang “Dengan Obor Membakar Langit”.

Kembali Eng Eng menjadi heran. Ia heran atas kekebalan dan ketangguhan lawannya itu. Orang telah mengeluarkan banyak sekali tenaga dan barusan telah kena terhajar walaupun cuma tersentuh iganya lalu terhajar punggungnya. Kenapa dia dapat bertahan sedemikian rupa?

Tak usah lama jago tua itu berpikir, lantas ia ingat sesuatu, hingga ia bagaikan orang yang baru sadar dari tidurnya. Itulah sebabnya kenapa tubuh lawan terasa seperti lunak-lunak keras atau lembek kokoh, hingga hajarannya tak mengenai secara hebat. Maka itu, mungkin orang itu mengenakan lapisan atau pelindung yang istimewa ditubuhnya. Entah….

“Orang licin!” pikirnya. Lalu, melihat sebuah pohon Pek disebelah kanannya, ia mendapat akal. Dengan segera ia menjejak tanah dan lompat naik keatas pohon itu. Berdiri satu kaki dengan sikap “Ayam Emas Berdiri Dengan Satu Kaki” Melihat sikap orang itu, Lie Seng gusar sekali. Dia membentak lantas melompat naik guna menyusul dan langsung menyerang tanpa ampun lagi dengan tikaman “Naga Hijau Masuk Kelaut” mengarah ke dada lawannya. Memang niatnya Eng Eng dengan aksinya itu adalah untuk merampas pedang lawan. Ia bersikap tenang, ketika ia ditikam itu, ia menanti sampai orang hampir mendapat hasil, mendadak ia berpura-pura terpeleset hingga tubuhnya terguling dari dahan dimana ia menaruh sebelah kakinya. Ia mengait dengan kakinya hingga tubuhnya bergelantungan bagaikan orang bermain ayunan. Dengan cepat tangan kanannya menyambar dahan itu untuk dipegang erat-erat buat bertahan hingga tubuhnya tak jatuh kebawah, menyusul kemudian sebelah kakinya menendang lengan lawan, lengan yang dipakai menikam.

“Aduh!” Lie Seng menjerit, kaget dan nyeri. Cekalannya sudah lantas terlepas hingga pedangnya jatuh ketanah. Saking nyerinya dia mesti memegangi lengannya itu. Karena ini dia menjadi jeri dan terpaksa lompat turun dari pohon untuk terus lari dan kabur! Eng Eng tidak mau mengerti. Ia tak sudi membiarkan lawan lolos, begitu melihat orang lari, ia lompat turun terus mengejar. Ia memang dapat lari lebih cepat, sebentar saja ia sudah berhasil menyusul. Maka bergeraklah ia bagaikan elang. Kedua tangannya dipentang menyambar ke iga lawan.

Lie Seng tahu datangnya ancaman itu, namun tangannya tak berdaya sehingga ia menjadi kuatir, tapi ia masih memiliki tangan kiri. Sambil mendak untuk berkelit dari sambaran, ia memutar tubuhnya lalu cepat dengan tangan kirinya itu ia menyerang keperut musuh. Ia menggunakan pukulan “Tangan Pasir Besi” yang lihai dan mengarah perut musuh. Ia bersedia mati bersama… Eng Eng tidak menjadi bingung, sebaliknya ia mendahului. Dengan sebelah tangannya dan dengan ujung lengan bajunya ia menyampok muka lawan. Si Ular Naga Mendekam kaget sekali. Tak dapat ia berkelit atau menangkis. Tapi hebat kebutan itu, walaupun cuma ujung baju. Ia merasai mukanya nyeri sekali seperti terasampok lembaran besi. Kali ini tak ampun lagi, ia berteriak kesakitan lantas terjengkang dan roboh pingsan!

Sementara itu Mie A Lun sudah menyusul hingga ia sempat menyaksikan robohnya saudara angkatnya itu, guna menolong saudaranya yang ia kuatir dibunuh musuh, ia menyerang musuh dengan satu ayunan tangan dan meluncurlah senjata rahasianya, sebatang kongpiauw disusul oleh dua yang lain.

Senjata itu melesat dengan mengeluarkan suara yang tajam. Eng Eng tahu datangnya serangan itu, dengan tabah ia mengebut berulang-ulang membuat ketiga senjata rahasia itu berjatuhan ketanah.

Mie A Lun terperanjat saking herannya atas kelihaian lawannya. Ia menjadi penasaran sekali, maka ia menyerang pula sekarang dengan lebih gencar, ia menyerang keatas tiga kebawah empat. Maka tujuh buah sinar terang meluncur ke arah lawannya. Eng Eng mengenali senjata rahasia itu ialah semacam panah tangan yang bukan terbuat dari besi atau emas, melainkan terbuat dari akar kayu pinang yang dilengkapi dengan baja dan seluruhnya sudah direndam dalam air beracun juga ditambahi dengan sebuah per hingga bisa melesat dengan cepat sampai sejauh tujuh delapan tombak dan setiap pipanya memuat tujuh batang. Kembali ia menunjukkan kegesitan dan kelihaiannya. Sambil melompat ia mengebut setiap panah tangan itu sehingga berjatuhan ketanah dan ia terbebaslah ia dari ancaman maut. Panas hatinya Mie A Lun melihat senjata rahasianya gagal, sambil berseru ia maju menyerang dengan tangan kirinya untuk menggertak sementara kepalan kanannya meninju hebat kedada. Eng Eng berkelit ke kiri, tangan kirinya membacok lengan penyerangnya itu. Ia bukan membacok dengan senjata tajam, melainkan dengan pergelangan telapak tangannya. Itulah bacokan yang dinamakan “Menyambut Palang Pintu Besi”

A Lun gesit, dapat ia menggeser lengannya itu. Ia gagal menyerang tapi lengannyapun selamat. Tapi Eng Eng berlaku cepat sekali, ia menyerang pula dengan kedua tangannya mencari sepasang mata lawannya. Serangan mana membuat lawannya berkelit sambil memutar tubuh, hingga ia berada disisi kiri, maka ia lalu meluncurkan tangannya ke iga jago tua itu. Itulah serangan “Tawon Galak Masuk Kesarang” Eng Eng berkelit, tangan kirinya menolak, demikianlah mereka saling serang.

Kiranya Mie A Lun menggunakan ilmu silat “Naga Berenang”. Maka itu ia dapat bersilat pesat kedelapan penjuru hingga ia tampak mirip bayangan saja. Tapi Eng Eng bukan sembarang lawan. Jago tua ini dapat menandingi kegesitan jago dari luar lautan itu. Dengan demikian mereka telah bertempur lebih dari tiga puluh jurus. A Lun penasaran sekali, sebab ia tak mampu mengalahkan lawannya, mendadak ia lari berputaran, lalu lompat keluar lapangan untuk memasang kuda-kudanya. Selekasnya ia mengerahkan tenaganya ditangan kanan, tiba-tiba ia menyerang sambil berseru nyaring. Ia menggunakan pukulan “Harimau Hitam Mencengkeram Hati”

Eng Eng dapat mengegos tubuh dari pukulan dahsyat itu. Ia menjadi gusar hingga kumis dan janggutnya bangun berdiri seperti duri landak. Disaat serangan lewat ia berlompatan merangsek untuk balas menghajar. Ia bukan memukul atau menusuk hanya menjambret kedua bahu lawannya itu guna mencengkeram tulang-tulangnya buat ditarik dengan kuat dan keras. Sebab ia menggunakan jurus silat “Cakar Elang”. Kalau ia berhasil maka patah dan rusaklah tulang bahu lawannya.

A Lun mengenal bahaya itu, ia berkelit dengan gerakan dari Naga Berenang. Ia berkelit ke kiri ke kanan, darimana ia mengirim serangan balasan ke kiri bahu lawan. Ia menyerang pula dengan pukulan “Harimau Hitam Mencengkeram Hati” dan sasarannya ialah jalan darah cang cok dari Eng Eng.

Celaka, siapa yang terhajar jalan darah tersebut akan mati seketika, seringannya akan sakit batuk dan susah napas bertahun-tahun sebelum akhirnya menutup mata. Eng Eng mengerti akan ancaman bahaya itu maka ia menyelamatkan dirinya dengan kelitan “Angin Meniup Gelombang Pohon Yangliu”

Dua Kali gagal menyebabkan hawa amarahnya memuncak.

Dengan sengit kepalan kirinya menghajar muka lawannya. Tapi kali ini dia dilawan keras dengan keras, serangan itu disambut dengan serangan juga. Maka bentroklah kepalan mereka berdua dan kesudahannya mereka sama-sama terpukul mundur.

Habis berkelahi lama dan menggembor kegusarannya itu, A Lun telah menggunakan tenaganya berlebihan, maka habis bentrok ini, napasnya lantas memburu, hingga mukanya penuh dengan butiran peluh. Ternyata dia kalah ulet. Sedang ia masih mengatur napasnya yang memburu, lawannya berseru sambil maju menyerangnya dengan tidak memberikan kesempatan untuk beristirahat. Serangan datang bertubi-tubi, sebab gagal yang satu, menyusul yang lain, tangan dan kaki bergantian. Bukan main repotnya A Lun untuk membela diri. Dalam repotnya itu, ia mencoba berlompat minggir tujuh tindak lalu dengan cepat sekali mengeluarkan senjatanya yang termasuk senjata istimewa. Senjata itu sepasang terbuat dari besi, batangnya sebesar biji buah persik sedang panjangnya dua kaki delapan dim dan ujungnya merupakan seperti lima jari tangan yang lancip.

Eng Eng segera mengenali senjata itu yang disebut Jit Goat Sian Jin Ciang “Tangan Dewa berpokok Matahari dan Rembulan” atau “CaCing Duri Badak Matahari dan Rembulan”. Tentu sekali tak mudah ia mempertahankan perkelahian dengan tangan kosong terus menerus, melihat orang menggunakan senjata, dengan cepat ia menghunuskan pedang yang tergantung dipunggungnya.

“Sambut!” A Lun berseru seraya dia mementang sepasang senjatanya yang luar biasa itu, untuk meluncurkan senjatanya yang kiri. Itu hanya itu gertakan belaka, selekasnya lawan berkelit ia membarengi menyerang pula dengan tangan kanan dan mengancam jalan darah lengtay. Eng Eng berkelit ke kiri, setelah bebas ia balas menyerang. Ia menebas lengan lawannya itu, gerakannya ialah gerakan “Belibis Turun di Pasir Datar”

A Lun menarik tangan dan tubuhnya buat mengangkat kaki kiri menggeser kesamping musuh dari sisi, sebelum musuh menarik pulang tangannya, ia coba mendahului menyerang pula. Dengan dua senjata berbareng, hanya serangannya masing-masing keatas dan kebawah. Itulah jurus “Gouw Kong Menumbang Pohon Kayu Manis” dengan begitu kedua belah pihak sama-sama berlaku keras dan gesit, mereka saling balas secara kontan. Eng Eng menyingkir dari senjata lawan.

Setelah itu ia membalas pula, menikam dengan jurus “Menunggang Naga Memancing Burung Phoenik” Mie A Lun juga dapat menyelamatkan dirinya. Dengan sepasang senjatanya, dia menangkis pedang lawan. Jago she Ngay itu menarik pulang pedangnya. Ia memutar tubuhnya kesamping, dari situ ia menyerang dengan jurus “Rajawali Emas Membuka Sayap” Tapi serangan itu sia-sia belaka, lawannya mampu melayaninya. Kembali lawannya menyerang balik dengan senjatanya mencari jalan darah khie-hay di pundak kiri. Untuk mencegah serangan itu, Eng Eng mengancam tangan lawan itu, ia menusuk tangan yang memegang Sian Jin Ciang. A Lun menarik senjatanya. lalu dengan cepatnya dia balas menyerang dengan jurus silat “Bajingan Galak Memasuki Pintu Neraka” sasarannya ialah jalan darah thay-yang yang berada dibawah iga Eng Eng.

Jago tua itu tidak melompat menyingkir, dia hanya menyedot hawa membuat tubuhnya menjadi menyusut, sehingga senjata lawan tak sampai sasarannya.

“Kena!” ia berseru. Itulah karena habis berkelit ia menyerang.

A Lun bermata jeli dan gesit, dapatlah ia berkelit dari ancaman pedang itu, ia menangkis dengan tangan kiri seraya tangan kanannya dipakai menyerang musuh. Eng Eng lompat ke kiri untuk terus mengancam iga lawan. Kali ini A Lun terancam bahaya besar, syukur dia tidak menjadi gugup. Dia tidak berkelit ke belakang atau ke kiri kanan, sebaliknya dia justru merangsek maju. Pedang lawan ia tempel, supaya ujung pedang tidak menyentuh tubuhnya, berbareng dengan itu senjatanya yang sebelah lagi menghajar dada musuhnya mencari jalan darah khie-bun. Tangkisan dan serangannya itu dinamakan jurus silat “Bidadari Menenun” Eng Eng melompat sejauh lima kaki lalu mengawasi musuhnya dengan tajam, sesudah itu keduanya sama saling mendekati. Ia lantas menyerang dengan gencar dan hebat, sehingga berbalik ia menjadi pihak yang menyerang, pihak penyerbu tahu diri, dan dapat melihat gelagat sehingga berlaku dengan waspada. A Lun memanfaatkan dengan maksimal keunggulan senjatanya yang mempunyai empatpuluh sembilan jurus dan duapuluh empat diantaranya untuk menghajar jalan darah. Memang senjata itu jarang terlihat di muka umum saking langkanya.

Buat sementara Eng Eng tampak unggul, ia dapat mengandalkan pedangnya yang tajam. Iapun selalu menggunakan tangan kirinya untuk menusuk jalan darah lawan. Tak dapat A Lun lalai atau ayal bergerak, bisa-bisa dia jadi korban. Souw Tay Liong melihat kawannya tidak berhasil merebut kemenangan, dia jadi berpikir keras. Sekian lama diapun berdiri menonton saja, melihat keadaan dia lantas mengambil keputusan.

“Adik, kau mundurlah!” Dia berseru kemudian kepada A Lun, “Biar kakakmu yang membereskan lawanmu ini!”

Walaupun dia berkata begitu, si Harimau Gunung ini tidak menanti saudaranya mundur dulu, ia trus melompat maju untuk menyerang musuh. A Lun mendengar dan melihat begitu kakaknya itu maju, dia melompat keluar dari kalangan meninggalkan lawannya. Eng Eng sempat mengawasi lawan barunya yang bersenjatakan golok Gan Leng To - Sayap Belibis. Namanya “Sayap Belibis” tetapi kenyataannya golok itu beratnya kira-kira empatpuluh kati. Itulah senjata berat yang jarang dipakai orang dan siapa yang memakainya selain tenaganya besar kemungkinan ilmu silatnyapun mahir.

Walaupun demikian ia tidak jeri, bahkan sebaliknya, ketika musuh datang mendekat secepatnya ia mendahului menikam. Souw Tay Liong melihat serangan itu lantas berkelit.

Walaupun senjatanya berat, namun tak mau ia memakainya dengan sembarangan. Dia berkelit ke kiri. Dari sini barulah dia membalas membacok iga kiri. Itulah ilmu golok “Sang Nelayan Menebar Jala”. Sasarannya ialah iga kiri lawan. Sambil berkelit ke kanan, Eng Eng menangkis. Ia berlaku cepat hingga lawan tidak sempat menarik pulang goloknya, dengan begitu pedang dan golok beradu keras satu dengan yang lain, hingga suaranya memekakkan telinga dan kedua senjata mengaung sampai lama.

Benturan itu membuat Souw Tay Liong mengetahui bahwa lawan memiliki tenaga yang besar. Hal ini membuatnya berpikir. Ia tahu mereka berada diwilayah musuh, sehingga dari segi kedudukan pihak sana lebih unggul. Karena itu pihaknya perlu secepatnya untuk merebut kemenangan. Kalau lawan sampai memperoleh bantuan, tentulah berbahaya bagi mereka. Karena itu tak ayal lagi ia mulai mencoba mendesak. Ia berkelahi dengan menggunakan “Pek Houw To” yaitu ilmu golok Harimau Putih, yang semuanya terdiri dari delapan puluh satu jurus, semua dengan gerak gerik harimau dan pula biasanya semua serangannya berantai dan belum berhenti kalau musuh belum dikalahkan….

Satu keistimewaan lain dari ilmu golok Harimau Putih itu ialah bisa digunakan untuk melayani berbagai senjata dan selama dipergunakan ditempat luas, sinarnya terlihat berkilauan. Dan biasanya kalau musuh tak lihai maka hanya dalam sepuluh jurus dapat dirobohkan. Eng Eng kenal Pek Houw To, maka itu melihat lawan menggunakan ilmu golok yang lihai itu, ia tidak bersangsi pula. Ia juga menggunakan ilmu pedangnya Bu Kek Kiam - pedang Tanpa Batas, yang telah ia latih selama lima puluh tahun, ilmu ini mirip dengan ilmu Thay Kek Kiam yaitu bertujuan melawan kekerasan dengan kelembutan. Sinar pedangnya mengurung seluruh tubuhnya dengan rapat.

Begitulah Pek Houw To dilayani oleh Bu Kek Kiam, ilmu goloknya menjadi tak dapat bergerak dengan leluasa, sampai pada jurus yang ketujuhpuluh lima, yaitu “Harimau Lapar Menggoyang Kepala” dan “Harimau Hitam Menerkam Bumi” mendadak goloknya diputar melintir lalu mendadak dia juga membacok lawannya pada tiga arah!

Tidak ada jalan lain bagi Eng Eng untuk menyelamatkan diri selain melompat menyingkir, dengan begitu semua bacokan yang keatas dan kebawah tidak mengenai sasaran. Ia melompat ke kiri, selekasnya ia menaruh kaki, ia balas menyerang. Ia bukannya menabas melainkan menikam kemuka lawan.

Souw Tay Liong terperanjat juga. Ia seharusnya terus mencecar musuhnya supaya semua jurusnya dapat di jalankan habis, namun sekarang tidak, bahkan ia harus menyelamatkan dirinya. Maka ia berkelit kesamping, tangan kirinya dipakai menolak sedang golok ditangan kanannya membacok dengan jurus “Harimau Menggeliat”

Bukannya Eng Eng terancam bahaya, melainkan inilah yang ditunggu-tunggunya, ia mendahului menghajar belakang golok musuhnya dengan jurus pedang “Ular Sakti Muntahkan Tikus” dengan mengerahkan tenaganya. Tay Liong kaget sekali, tangannya terasa nyeri dan tiba-tiba goloknya terlepas dan terpental keudara dan jatuh hingga delapan kaki jauhnya dengan suara berdentangan nyaring.

Cie Seng Ciang dan Mie A Lun kaget sekali hingga mereka berseru tertahan! Mereka menerka pasti lawan akan melanjutkan serangan susulannya. Sementara itu Tay Liong masih kelihatan tergetar sambil memegang tangannya yang terasa sangat nyeri.

Namun dugaan mereka ternyata salah. Setelah kemenangannya Eng Eng tidak menggunakan kesempatan itu untuk terus mendesak musuh, sebaliknya dia terus melompat mundur sambil memberi hormat dengan memegangi terus pedangnya, sambil tertawa ia berkata: “Sahabat aku mengucapkan terima kasih karena kalian sudi mengalah. Ini cuma kekeliruan gerakan tangan, belum ada yang menang atau kalah! Silahkan ambil golokmu itu! Tak usahlah kalian mencoba menjagoi disini!”

Perkataan Eng Eng ini membuat lawannya menjadi gusar sekali. Ia sudah kalah dan merasa malu, tetapi kata-kata orang membuat merah muka dan telinganya. Ia menganggap dirinya diejek atau dihina, katanya dalam hati: ” Makhluk mau mampus! Kau belum kenal senjata rahasiaku yang asal digunakan pasti meminta jiwa!”

Memang si Harimau Gunung pandai dua macam senjata rahasia, yang pertama ialah yang terdapat didalam kantong kulit yang tergantung dipinggangnya. Kantong itu berisi Hui Hie Cie yaitu tempuling ikan yang terbuat dari baja mengkilat, panjangnya tiga dim, ujungnya lancip, seluruh tubuhnya bersisik tajam mirip duri. Apalagi tempuling itu bekas direndam didalam racun yang ganas, siapa kena terluka maka dia mesti binasa. Yang lainnya ialah piauw berantai yang tersimpan dalam lengan bajunya, tajamnya luar biasa. Kedua macam senjata rahasia itu biasa digunakannya setelah ia terdesak, maka dari tadi ia ingin menggunakannya namun dibatalkannya sendiri. Ia tidak menyangka, orang yang usianya sudah meningkat ternyata sedemikian kosen.

Sekarang saatnya sudah tiba, mendadak ia berseru dan tangan kirinya terayun menimpukkan tiga buah piauw secara beruntun. Lalu tanpa menantikan bagaimana hasil serangannya itu, tangannya terus meraba kantong kulitnya dan mengambil tujuh batang tempulingnya…

Eng Eng tidak menyangka bahwa orang gusar dan terus menyerang dirinya, tetapi ia selalu siap sedia, bahkan ia sempat melihat lawan merogoh kantong kulitnya. Maka sambil berkelit dari ketiga piauw, ia tak lengah, terus ia menatap tangan musuhnya dan ia menduga pada senjata rahasia beracun. Selepasnya senjata itu ditimpukkan , ia putar pedangnya untuk menangkis. Tubuhnya bagaikan tertutup pedang. Tiga kali terdengar suara tang ting tong, terus ketiga piauw sudah jatuh ketanah.

Dilain pihak dengan tangan kirinya ia mengeluarkan Thie Lian Cie, teratai besinya. Dua biji untuk disembunyikan didalam lengan baju. Tak dapat ia berlaku ayal, segera ia melihat tujuh sinar terang meluncur ke arahnya, empat diatas, tiga dibawah. Tak dapat ia menyampok semua senjata itu yang ia terka senjata rahasia adanya. Maka guna menyelamatkan diri ia membuang tubuhnya kesamping untuk terus bergulingan. Itulah jurus silat “Go Tae Liong” atau “Naga Tidur Ditanah”. Dilain pihak, dengan pedangnya barulah ia menyampok tiga yang kebawah itu hingga ketiga tempuling itu terasampok mental!

Souw Tay Liong terkejut hingga hatinya gentar menyaksikan ketangkasan lawannya. Sedang menurut dugaannya, musuh tak akan lolos dari salah satu dari sepuluh senjata rahasianya, terutama tempulingnya yang beracun. Ia menjadi sangat penasaran, sambil kertak giginya ia menyerang pula dengan lima biji tempulingnya yang telah ia keluarkan dengan sangat cepat dari kantongnya. Kali ini Eng Eng pun sudah siap sedia. Setelah menjatuhkan diri ia lantas bangun. Ketika kelima senjata rahasia tiba, ia sampok runtuh semuanya, ia putar pedangnya rapat mengurung dirinya.

Tay Liong makin gusar, ia menyimpan goloknya dipunggungnya, terus menggunakan kedua tangannya untuk meraup senjata rahasianya. Kiranya disamping tempuling Hui Hie Cie, iapun membekal Hui Hong Ciam, jarum “Belalang Terbang”. Ia lalu menggenggam masing-masing tujuh buah terus menyerang bagaikan hujan. Ia sudah merasa pasti kali ini tidak akan gagal pula….

Jago dari luar lautan ini tidak pernah menyangka bahwa Ngay Eng Eng adalah seorang ahli dalam soal menghindari senjata rahasia, baik dengan berkelit maupun dengan pedangnya. Dan kali ini Eng Eng memutar tubuhnya bagaikan gangsing, pedangnya turut berputar melindungi seluruh tubuhnya. Maka nyaringlah suara bertemunya senjata rahasia itu dengan pedangnya, yang pada jatuh langsung ketanah atau terpental jauh!

Tay Liong terkejut menyaksikan lihainya lawan, hingga ia melongo. Justru itu Eng Eng melompat ke arahnya dan menebas ke arahnya. Tanpa tahu apa-apa, pedang lawan sudah menebas kutung batang lehernya hingga robohlah tubuh dan kepalanya secara terpisah dan darahnya muncrat bagai air mancur. Cie Seng Ciang kaget menyaksikan kebinasaan adiknya itu, dia menjadi sangat gusar sehingga dia lupa pada lawannya yang gagah luar biasa.

Dia lantas mengeluarkan suara kemarahannya: “Kurang ajar! Bagaimana kau berani membinasakan adik angkatku? Aku Cie Seng Ciang akan mengadu jiwa denganmu!” Lantas dia keluarkan senjata rahasianya, sebab dia tak mau menggunakan pedangnya. Dia menurunkan sebuah bungkusan kuning dari punggungnya, dari situ dia menarik keluar sepasang Cu Bo Wanyo Kauw, Kaitan “Bebek Mandarin” Kaitan ini beda sekali dari kaitan “Kepala Harimau” yang biasa orang miliki. Yang kiri panjang dua kaki delapan dim, yang kanan lebih panjang empat dim, besarnya sebesar jari tangan dan di belakangnya dilapisi emas hingga bersinar gemerlapan menyilaukan mata. Ujung atau kepala kaitan bercagak tiga, yang ditengah mirip tombak cagak, yang kiri dan kanan mirip jie-ie, yaitu semacam tongkat lambang agama Sang Buddha. Gagangnya disertakan besi pelindung, guna melindungi tangan yang memegangnya dari serangan senjata lawan.

Pelindung itu bukan mirip tombak cagak tapi sama seperti kaitan melengkung, pada ujung gagang diikatkan pita yang berkibaran tertiup angin.

Begitu melihat orang memegang kaitan itu, Eng Eng menyadari kalau Seng Ciang benar-benar lihai. Kaitannya sendiri sudah hebat, apalagi pitanya itupun dapat dipakai untuk melibat senjata musuh! Segera Eng Eng bersiap, demikian juga lawannya.

Cie Seng Ciang maju setindak.

“Sahabat, lihat senjataku!” katanya nyaring. Sambil melangkah maju, ia mulai penyerangannya. Dengan cagak kiri ia mengancam, sedang serangan yang sebenarnya ialah cagak kanan yang menuju keiga lawan.

Eng Eng sudah siap, mudah saja ia menghindar, berbarengan dengan musuh, pedangnyapun menyambar kelengan kanan guna membabat lengan itu dengan jurus pedang “Membuka Penglari Menukar Tiang” Seng Ciang mundur sambil mendak, terus tubuhnya berputar untuk selekasnya menggempur pedang lawan dengan jurus silat “Kipas Besi Menyambut Angin” keras ia menggempurnya.

Eng Eng menyambut dengan gerakan “Elang Kelabu Membuka Sayap”, selekasnya lolos ia mendak, guna terus menyerang pula membabat kebawah beruntun hingga tiga kali pulang pergi dengan jurus pedang “Angin Timur Mencuci Jembatan”

Dengan sepasang kaitannya Seng Ciang membebaskan diri dari ancaman pedang, terus ia membalas menyerang. Mulanya ia melompat maju, setelah datang dekat lawan sambil memiringkan tubuhnya ia menikam. Eng Eng mesti berlaku awas. Tak mau ia memberi kesempatan pedangnya terkait atau terlibat. Ia menggeser kaki kirinya ke belakang tubuhnya untuk mundur, dengan begitu senjata lawan tidak mengenai sasaran dan iapun bebas. Belum sempat ia menenangkan diri, sepasang kaitan musuh sudah tiba pula, maka lantas ia mundur setindak sambil kakinya terus dijejakkan untuk membuat tubuhnya mencelat mundur lebih jauh, inilah yang dinamakan tipu “Di Tepi Jurang Menahan Kuda”

Hebat Seng Ciang, gagal serangan pertama menyusul serangan berikutnya. Demikian ia sudah mengulangi serangannya tanpa henti, ia ingin pedang musuh terlibat dan terlepas dari cekalan atau terpental jauh. Ketika musuh mundur ia merangsek, hingga ia mengikuti lawan bagai layang-layang putus. Lalu dengan kaitannya lagi-lagi ia menyerang jalan darah Beng Bun.

Selagi melompat mundur, Eng Eng sudah memperhitungkan kemungkinan lawan menyusul membayanginya, maka ia juga telah siap sedia. Dengan kecepatan luar biasa, ia memutar tubuh, buat menghadapi lawan. Tubuhnya mendak sedang pedangnya menangkis. Ia memutar tubuh dengan gerakan “Naga Kuning Membalik Badan”, terus ia berseru bengis: “Kena!” Dan pedangnya menusuk dari bawah keatas dengan jurus “Menolak Mega Mengejar Rembulan” Ia membabat sebelah lengan lawannya yang ganas itu.

Seng Ciang terperanjat. Tak disangka olehnya bahwa lawan demikian lihainya. Ia lantas menarik tangannya yang dipakai menyerang itu, sebaliknya dengan tangan kirinya yang mencoba mengkait pedang lawan. Eng Eng membebaskan pedangnya dengan gerakan “Membalik Kepala Memandang Si Putri Malam” habis itu ia membalas dengan membabat kaki kiri orang she Cie itu.

Seng Ciang terkejut. Maka ia menyelamatkan dirinya dengan menangkis dengan sepasang kaitannya, membuat kedua senjata beradu keras menerbitkan suara nyaring.

Saking kerasnya senjata beradu, hingga kedua pihak pun merasakan tubuhnya bergetar.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(