Iblis Sungai Telaga Jilid 05

 
Jilid 05

"Nona yang baik, aku Cut Tong Kay, aku kenal aturan," kata dia mencoba bersikap sabar.

"Aku tahu kau tuan rumah dan aku tetamu, dan aku tahu pula pepatah yang berkata, tamu-tamu tak dapat memaksa, kau tuan rumahnya! Begitulah sekarang ini, aku suka mengalah didalam tiga jurus, tak akan aku membalas menyerang padamu tetapi jika dalam tiga jurus kau tak mampu mengalahkan aku, bagaimana?" Giok Peng mendongkol dan gusar, tak sudi ia melayani bicara. "Siapa mau mengalah dari kau sekalipun buat tiga jurus!" bentak si nona.

"Aku akan layani kau sampai seratus jurus ..."

Siong Kang menyela dengan tawa nyaring, bandering ditangannya diulapkan.

"Nona, jangan kau memandang enteng taliku ini!" katanya. "Taliku ini sama dengan aku sendiri ialah sudah lama

tersohornya! Mari aku bilangi kau secara terus terang! Taliku ini bernama Twle Hun Toat Beng So, artinya tali pengejar roh dan perampas nyawa! Taliku lebih hebat daripada Kwa Sian So, tali peranti meringkus dewa, dan selama sepuluh tahun entah berapa banyak orang kangouw kosen yang telah kuringkus bagaikan babi dan kambing untuk diseret ke Po Liong To dimana mereka dibunuh dan kulitnya dibeset mayatnyapun ludas! Hanya kalau orang sebagai kau yang begini cantik manis, aku Cut Tong Kay suka bermurah hati, takkan ku hukum mati kepadamu sebaliknya akan aku ambil kau sebagai ..." Benci rasanya Giok Peng mendengar orang mengoceh makin lama makin tak keruan.

"Jahanam! selanya. "Jahanam, hari ini kau mengakui kejahatanmu sudah meluap! Entah berapa banyak wanita yang telah menjadi korban kebiadabanmu! Kalau kau tak datang kemari, itulah untungmu, tetapi sekarang kau sudah mengantarkan jiwa, inilah kebetulan bagiku! Memang aku hendak membasmi manusia biadab semacammu! Akulah yang akan mengejar roh dan merampas jiwamu! Sudah, jangan banyak mulut kau. “Lihat pedangku!" Begitu ia mengakhiri kata-katanya itu, begitu Nona Pek maju ke garis "Bun" dari Patkwa menyimpang satu tindak untuk menginjak garis "Twee".

Itulah gerakan dari Khie Bun Patkwa Kiam untuk maju menyerang.

Inilah sebab Siong Kang kebetulan berdiri di garis "Kian Kiong".

Siong Kang mengawasi gerak gerik si nona. Dia tak mengerti artinya tindakan maju itu. Dia justru merasa sangat girang sebab dia menyangka hatinya si nona sudah berubah menjadi lunak.

Tanpa merasa dia berseru: "Bagus nona!" Baru saja seruan itu keluar atas pedangnya, Giok Peng seudah meluncur kemuka orang. Tadinya pedang itu bersikap bukan menebas bukan menikam, membuat si pria mata keranjang tak dapat menerka-nerka. Tahu-tahu dia sudah kaget.

Maka guna menyelamatkan dirinya, dia lompat berjumpalitan dengan jurus silat "Thie Poan Kio", jembatan papan besi. Melihat orang lolos, Giok Peng menyerang pula dengan satu susulan cepat.

Ia mendadak ke Kian Kiong, pedangnya menikam kemuka orang, disaat orang itu berkepala di bawah berkaki di atas.

Segera terdengar satu suara nyaring, dari beradunya ujung pedang dengan benda keras! Nona Pek terperanjat.

Tikamannya itu tepat, hanya tadinya kalau ia menyangka mengenai sasarannya, kiranya hampir menancap di batu bata! Dan tengah ia keheran-heranan, ia mendengar tawanya si orang she Thio yang terus berkata: "Aku berada disini menantikanmu!" Dengan cepat Giok Peng kepalanya, Siong Kang berjongkok diatas meja tempat memasang dupa, banderingannya terlibat pada kuping hio louw, tempat abu.

Dia tampak gembira. Diam-diam si nona terperanjat. Benar- benar lawan itu lihai.

Siong Kang menepuk-nepuk meja sembari tertawa dia berkata: "Nona, ilmu ringan tubuhmu benar mahir! Dan ilmu pedang juga tak dapat dicela! Nah, hayo kau menyerang pula. Tinggal satu jurus lagi! Bukankah aku menjanjikan tiga jurus padamu?" Giok Peng tidak menjawab.

Ia sedang diganggu rasa herannya. Ialah kenapa tidak ada pendeta yang muncul sedangkan ia sudah membunyikan genta berulang-ulang. Apa mungkin semua pendeta sudah pergi keluar berikut Pek Cut Siauw dan In Gwa Siau, pamannya itu? Kalau benar pastilah di luar kuil sudah terjadi sesuatu yang hebat. Ia pula memikirkan Kiauw In.

Bagaimana dengan kakak itu? Kemana perginya sang kakak? Apakah kakak itupun tak menghadapi lawan yang lihai? Karena pikirannya itu terganggu, ia jadi diam sambil mengawasi saja lawannya itu. Siong Kang manatap tajam, ia mempuasi mata keranjangnya terhadap kecantikan nona di hadapannya itu. Ia merasa orang makin dipandang menjadi makin cantik, hingga kembali liurnya meleleh keluar ....

Akhirnya Giok Peng sadar, hatinya pun panas sekali.

"Cut Tong Kauw!" bentaknya smabil menuding: "Kaulah si ular naga yang biasa keluar dari sarangnya, kenapa kau tidak mau jantan nongol? Kalau aku lihat macammu sekarang ini kau justru mirip dengan Hok Au Coa, ulat yang mendekam diatas meja! Beranikah kau turun dari meja dan diam dekat padaku untuk melayani pedangku ini?" Siong Kang tertawa lebar menjawab tantangan itu.

"Masih ada satu jurus!" katanya jumawa, bukannya dia menjawab, dia justru memperingati akan janji yang diberikannya.

"Kau tahu, kalau seorang budiman mengeluarkan perkataannya, empat ekor kuda tak dapat mengejarnya! Kau percaya aku, aku tidak mau menghina kau dengan melanggar janjiku!" Giok Peng berlaku sabar.

Ia memang berniat menggunakan akal memancing orang melompat turun akan ia membarengi menyerang atau kalau ia gagal, hendak ia lompat keluar guna mencari siasat selanjutnya. Siong Kang tidak tahu dirinya di akali. Ia nongkrong terus diatas meja sembahyang itu. Ketika ia mendapat kenyataan si nona tidak mau menyerangnya pula, baru ia membuka mulut lebar-lebar untuk tertawa.

Dengan sikap acuh tak acuh, ia berkata: "Setelah kau selesai menyerangku tiga kali, barulah aku akan membalas menyerangmu! Kalau ada yang datang tetapi tidak dibalasi, itu namanya tidak kenal adat istiadat. Nona yang baik, benar atau tidak kata-kataku ini?" Baru sekarang si nona mau melayani bicara.

"Katamu mau mengalah tiga jurus dari aku," katanya, "sudah dua jurus dan masih ada satu jurus sisanya yang penghabisan, tetapi kau berlaku licik? Kenapa kau main berkelit saja? Itu namanya bukan mengalah, hanya kau melindungi dirimu yang licin. Dengan caramu ini, jangan kata tiga jurus, tiga ratus juruspun tidak ada artinya!" Nona Pek sudi melayani bicara karena ia pikir untuk memperlambat waktu, selama ia mengharap-harap kembalinya para pendeta yang ia sangka akan tiba tak lama lagi, siapa tahu jago dari pulau Naga Melengkung itu tak kena diakali.

Dia itu tak sudi turun, cuma matanya terus mengawasi. "Hai, makhluk hina dina!" bentak Giok Peng kemudian. "Masih kau tidak mau turun untuk kita bertempur terus?"

"Hmm!" Siong Kang mendengus dingin, terus dia berlompat jungkir balik untuk meloloskan tali kaitannya dari kuping tempat abu yang besar, untuk lekas-lekas dia menyimpannya. Setelah itu barulah dia menghunus pedangnya sambil dia berlompat turun guna bersiap siaga.

Nona Pek langsung melompat maju sambil menikam kerongkongan orang. Siong Kang tertawa dingin, dengan pedangnya ia memberi perlawanan. Dia menebas pedang orang dengan jurus "Garuda Mementang Sayap." Karena ini kedua senjata beradu keras dan mengeluarkan letikan percikan seperti kembang api. Dengan berbareng kedua pihak melompat mundur. Dengan cepat tahulah mereka akan tenaga kekuatan masing-masing.

Hanya sebentar, Cut Tong Kauw segera membentak sambil dibarengi tubuhnya melompat maju untuk menikam si nona. Dia incar jalan darah hiam kie di dadanya nona itu. Itulah satu serangan ceriwis! Setelah mengetahui tenaga lawan, Giok Peng tidak mau buat kedua kalinya mengadu tenaga pula. Ia tertawa sambil melompat maju ke arah lawannya, iapun membacok ke arah lengan kiri lawan itu. Itulah tikaman "Badai dan guntur". Ia mencari jalan darah Pek Jie. Siong Kang tertawa dingin. Dia berkelit sambil memutar tubuh, pedangnya terus ditikamkan pula. Kali ini dia menggunakan tipu "Menyibak Rumput Mencari Ular" dan pedangnya mencari sasaran jalan darah beng bun di punggung si nona.

Giok Peng terkejut juga. Sambil mengegos tubuh, ia lompat ke samping, dari situ ia menyontek dengan pedang kemuka lawan, membikin lawan itu kaget dan lekas-lekas membela diri. Melihat lagak orang itu, si nona tertawa. Tapi ia tidak hanya tertawa, ia menyusuli dengan satu tikaman lain. Kali ini ke dada, ke sasaran yang berupa jalan darah ciang tay.

Siong Kang pun terkejut. Ia melihat bagaimana si nona selalu mencari jalan darahnya yang berbahaya, yang dapat membahayakan nyawanya. Ia menjadi panas hati. Segera ia membuat pembalasan. Dua kalinya menikam saling susul bengis sekali. Giok Peng menjadi repot dibuatnya.

Tak kurang cepatnya, ia menangkis ke kiri dan ke arah darimana tikaman-tikaman datang. Ia mendapat kenyataan serangan si Naga Keluar dari Sarang mengancam sekali sinar putih dari pedangnya dia itu berkelabatan putih dan suara anginnya menghembus-hembus. Maka ia berlaku tenang, ia melayani dengan jurus dari Kie Bun Patkwa Kiam. Karena ini mereka berdua menjadi bergerak-gerak dengan cepat sekali. Mereka berkelit dan berlompatan, mereka maju dan mundur silih berganti.

Tanpa merasa, saking cepatnya pertempuran sudah berlangsung dua puluh jurus. Selama itu si nona merasai bagaimana musuhnya kuat dan alot. Selama itu ia cuma mampu melayani, tak dapat ia mendesaknya. Syukur ia cerdas dan bermata tajam. Maka tak mau ia larut melayani keras dengan keras. Segera ia menggunakan akal.

Ia menggunakan ketajaman lidahnya, akan mendamprat dan mengejek lawan itu, membuatnya panas hati dan gusar. Akal ini memberikan hasil. Hatinya Siong Kang panas bukan main, ia menyerang sengit sekali. Ia telah menggunakan seluruh kepandaiannya akan merobohkan si nona.

Dalam murkanya, ia lupa halnya si nona cantik manis dan tadi ia hendak ganggu dan perkosa. Sekarang ia menyerangnya sebagai musuh yang dibenci! Dengan Kie Bun Patkwa Kiam, Giok Peng layani musuh yang tangguh dan telengas ini.

Dimana perlu ia menyingkir ke sekitar lawan, tak lagi ia mau melawan sama kerasnya. Maka itu, kembali telah lewat dua puluh jurus. Hingga selama empat puluh jurus, mereka masih sama tangguhnya. Segera tampak Siong Kang tak lagi menyerang keras sebagai tadi-tadinya.

Gerakannya mulai lamban, seperti dua tangannya tak dapat mengimbangi hawa amarahnya.

Baru sekarang dia mengerti bahwa sebenarnya nona itu bukanlah sembarang lawan, sedang pada mulutnya dia memandang ringan dan hendak mempermainkannya. Kiranya dia memang unggul disebabkan desakannya dengan talinya yang lihai itu. Tapi dia masih tidak mau menyerah kalah, bahkan dia penasaran. Dia toh belum dikalahkan, dia baru dibikin tak mampu merobohkan musuhnya. Sekarang jago dari To Liong To mau menggunakan akalnya. Dia main mundur saja.

Selang sembilan tindak, diam-diam dia merogoh kesakunya menyiapkan senjata rahasianya. Dia menggunakan tangan kiri sebab tangan kanannya selalu menggunakan pedangnya guna melayani lawan, ternyata ia meggunakan Hui Hie Piauw, yaitu senjata rahasia Ikan Terbang. Tiga kali beruntun dia menyerang si nona selagi nona itu tidak bersiap sedia. Tapi itulah bukan senjata rahasia maut yang dapat mematikan, itu hanya tipuan belaka guna membuat lawan kaget dan repot.

Selagi menimpuk itu, selagi si nona terkejut, tangan kanannya berganti meraba ke pinggangnya dimana ada tersiapkan lain macam senjata rahasia, ia delapan belas biji Hui Seng Tan, peluru Bintang Terbang. Asalkan alat rahasianya ditekan, peluru melesat saling susul menyerang musuh! Giok Peng kaget dan repot. Itulah senjata-senjata rahasia yang asing baginya. Makanya ia menyampoknya, ketiga Hui Hie Piauw.

Yang hebat adalah delapan belas buah peluru itu, yang menyerang ke atas dan ke bawah, masing-masing sembilan biji. Itulah tipu senjata rahasia yang dinamakan "Hujan Bunga Sejagat". Untuk menyelamatkan diri, ia menggunakan kemahiran kegesitan dan kelincahan tubuhnya. ia berkelit dan berlompatan ke segala arah hingga ia tampak mirip daun-daun yang berjatuhan.

Kalau ia berlompatan ke kiri dan kanan, ia lompat tak lebih dari tujuh kaki. Itulah ilmu yang dinamakan "Tonggeret Bersedia di antara Daun Rontok." Selekasnya delapan belas senjata habis dipakai menyerang, bebaslah Nona Pek dari ancaman bencana maut itu. Tidak ada sebiji peluru juga yang mengenai tubuhnya. Setiap peluru cuma mendekati ia tiga dim lalu terasampok menyasar.

Bukan main mendongkol dan gusarnya Cut Tong Kauw, tanpa mengatakan sesuatu ia menyerang pula. Dia mengumbar hawa amarahnya. Kali ini dia menyerang dengan senjata rahasianya yang ketiga ialah Cit Chao So In Nauw, panah tangan Tujuh Bintang Memecahkan Mega. Diapun berbesar hati karena sebegitu jauh yang dia tahu setiap menyerang dengan senjata ini mesti-mesti dia berhasil. Tiap batang panah tangan itu panjangnya tujuh dim batangnya, bagian yang tajam ujung ditancapkan empat batang jarum yang mampu menembus sekalipun orang yang tubuhnya kebal, menembus ke daging menancap ke tulang. Saking halusnya, panah tangan itu sulit dikelit. 

Tapi yang paling celaka adalah ujungnya setiap jarum pernah dicelupkan racun hingga asal mengenai darah, racun itu lantas bekerja, membuat orang binasa seketika! Thio Siong Kang kosen, semua tiga senjata rahasianya itu jarang dia gunakan, lebih-lebih panah tangan itu. Biasanya dia gunakan terhadap lawan yang tangguh.

Demikian kali ini sesudah kewalahan melayani si nona yang mulanya ia pandang ringan. Begitu dalam amarahnya, dia menyerang Giok Peng. Nona Pek selalu waspada. Ia mendengar suara menghembus lalu melihat sinar-sinar halus berkelebatan ke arahnya. Tanpa berayal lagi, ia memutar pedangnya maka itu berhasillah ia menyampok jarum dan runtuh ketujuh jarum maut itu! Siong Kang melengak di dalam hati, hawa marahnya lantas meluap dan karenanya itu luar biasa ia menggunakan senjata rahasianya yang terakhir sama- sama lihainya, yaitu Hui Ciam yang istimewa, "Panah dan Jarum".

Makanya ia menyerang dengan ilmu silat, cara menyerangnya membuat panah itu menyerang ke lima sasaran empat penjuru dan tengah hingga mirip dengan bunga bwe lantas disusul dengan sembilan batang jarum, dari luarnya satu panah itu terbuat dari besi pula, cara menyerangnya sebanyak tiga kali. Setiap ujung panah beracun dan bagian cagaknya tajam sekali. Jika lima batang yang pertama gagal, menyusul sepuluh batang lainnya, kalau masih gagal pula menyusullah yang terakhir bahkan ini terdiri dua belas batang. Hingga semuanya berjumlah dua puluh tujuh batang panah beracun! Penyerangan yang kedua dan ketiga racun berubah arah lagi, sesuai cara menyerangnya! Kali ini Siong Kang percaya bahwa dia tidak akan gagal pula! Nona Pek berseru "Bagus!" ketika ia melihat musuh menghujani ia dengan anak panah istimewa itu, dengan lantas ia memutar pedang bagaikan kitiran hingga tubuh terlindung rapat sampai hujan dan angin tak dapat menembusinya, hanya terdengar suara anginnya dan terlihat sinar pedang berkilauan. Suara lainnya adalah bunyinya ujung yang tajam bentrok dengan badan pedang dengan kesudahannya anak panah jatuh berserakan di lantai.

Si nona pun habis sabarnya sesudah ia diserang berulang- ulang itu maka ia hendak pembalasan tetapi justru ia mau menghampiri lawan, Siong Kang mendahuluinya kabur ke dalam pepohonan lebat di dekat situ, tatkala dia dikejar terus, dia pun kabur terus-terusan sampai akhirnya dia lenyap dari pandangan mata. Hingga sia-sia belaka si nona mendaki puncak untuk melihat ke segala arah. Sebenarnya Siong Kang menyingkir di tempat-tempat yang rapat dengan pepohonan, dengan cepat dia menuju ke kali Siong Yang Kee.

Di tengah jalan dia terkejut. Tiba-tiba ia mendengar suara riuh dan berisik. Lekas dia menengok ke belakang. Maka tampak banyaknya api obor mendatangi dari puncak Ngo Leng Hong di arah kanan kuil Siauw Liem Sie. Dia dapat menerka tentunya para pendeta lagi berjalan pulang, supaya dia tidak terlihat atau terpergok mereka itu, lekas-lekas dia lari pula ke tempat lebat dengan pohon, disini dia tetap lari terus mengikuti tepian rimba itu ....

Sebenarnya tempat lebat itu merupakan rimba-rimba kecil dan banyak tikungannya dan di setiap gundukan rimba ada hidup sebuah pohon tua yang umurnya di atas sertaus tahun yang dahan-dahan dan daunnya bagaikan mengelilingi langit- langit menambah gelapnya rimba. Jangan kata malam, siangpun gelap dan orang disitu tak dapat membedakan empat penjuru, timur dan barat selatan dan utara! Di dalam rimba itu mudah bagi orang terasasar.

Tidak demikian cabang atas dari luar lautan ini. Sebabnya ialah dia sudah membuat persediaan, yaitu sejak satu bulan yang lalu dia sudah mendatangi puncak Ngo Leng Hong dan membuat sebuah gubuk di dalam dimana dia tinggal dengan menyamar sebagai seorang tukang cari kayu, untuk menjelajah rimba guna mengenali setiap bagiannya supaya jika ada kesempatan dia dapat mengintai kuil Siauw Liem Sie.

Dia pula berani bergaul dengan penduduk gunung disekitar itu, hingga dia bisa mendengar dari setiap penduduk andiakata ada gerak-geriknya kuil yang molos keluar. Bahkan di waktu malampun, dia dapat mondar-mandir dengan bebas di dalam rimba itu. Demikianlah kali ini menyingkir dari kuil.

Di dalam waktu yang pendek dia sudah tiba di kali Siauw Yang Kie, di tepi mana dia cepat melompat menaiki sebuah pohon kayu besar untuk mengambil satu buntalan besar untuk sambil membawa buntalan itu dia lompat turun pula.

Hanya kali ini segera dia mendengar pertanyaan dari luar rimba, "Siapa di sana?" Mendengar suara itu, Siong Kang terkejut. Suara itu aneh datangnya, seperti dari tempat yang jauh tetapi tibanya, yaitu terdengarnya cepat sekali. Suara itu mirip anak panah yang melesat datang. Walaupun demikian dia berlaku tabah dan tenang. Dia berdiam saja. Tak mau dia menyahut. Sebaliknya dia membuka buntalannya dan mengeluarkan sebuah barang setelah dia membukanya nyata itulah sepotong baju renang panjang lima dim lebar tiga dim, terbuatnya dari kulit lunak tapi kuat hingga tak mudah dirusak senjata tajam. Itulah pakaian To Liong To yang memerlukannya sebab mereka berdiam di atas sebuah pulau dan setiap waktu harus bergerak di air, berenang atau menyelam. Dengan cepat Siong Kang menggunakan baju mandinya itu, kemudian dari dalam bungkusannya dia menarik sepasang Ngo Bie Cie, yaitu senjata mirip kaitan yang diberi nama "Alis Angkasa".

Itulah senjata yang bisa dipakai di dalam air dan di dalam air itulah senjatanya pengganti pedang yang berat. Seluruh kaitan terbuat dari besi, kuat dan ringan sebab besi bajanya tak besar.

"Siapa itu di dalam rimba?" terdengar pula tegur selagi si jago To Liong To berdandan itu.

Suara itu keras tetapi seperti suara seorang tua. Dan pertanyaan terus diulangi beberapa kali sebab selain dia itu tidak memperolah jawaban. Meski juga ia mendengar, Siong Kang bagaikan berpura tuli. Tetap ia tidak menyahut balik, cuma dengan perlahan ia tertawa dingin. Toh ia bersiap sedia, kaitannya dipentang, disiapkan guna menyambut musuh!

Teguran tidak terdengar lagi, sebagai gantinya ada suara kaki mendatangi. Itulah suara yang disebabkan injakan kaki pada daun-daun kering bunyinya berserakan. Sampai disitu dengan tetap waspada, Siong Kang mengeluarkan suara seperti babi.

Diluar rimba, tindakan kaki terdengar mendatangi makin dekat makin dekat. Lagi terdengar suaranya seorang tua: "Siapa di dalam rimba? Lekas keluar! Jangan kau main sembunyi saja!" Kembali Siong Kang mengeluarkan suara mirip babi tadi. "Suhu!" terdengar suara diluar, mirip anak muridnya, seorang wanita yang memanggil gurunya.

"Barangkali itu suaranya Binatang. Coba dengar!" Di dalam hatinya, Siong Kang tertawa. Ia menerka bahwa orang kena ia akali. Karenanya, ia mengulangi suaranya itu, lebih nyaring lagi.

Sebab ia "berbunyi", kaitannya digoreskan kepada tanah, suaranya seperti babi lagi mencakar dengan kakinya. Setelah suara kecil halus itu terdengar suara si tua tadi: "Di waktu salju dan angin besar seperti ini, di waktu tengah malam gelap gulita, binatang liar juga tak berani keluar mencari makan!

Muridku, kau berhati-hatilah!" "Biar aku yang masuk melihatnya!" terdengar suara lain lagi.

"Jika benar binatang liar, akan aku bunuh dengan kay tao ku ini supaya penduduk sini bebas dari gangguannya!" Siong Kang menerka di luar rimba ada tiga orang, satu tua, satu anak tanggung dan yang ketiga seorang pendeta.

Dia itu menyebut kay tao. Ialah golok istimewa yang merupakan senjata dari kaum penganut agama Sang Buddha. Si anak tanggung tentunya seorang kacung karena pendeta dan si orang tua pasti pendeta tua.

Ia memasuki tepian kali tanpa membuat suara, pikrinya "Sekarang kamu bertiga kepala-kepala gundul, kebetulan kamu datang, dasar kamu mau mengantarkan jiwa kamu! Dengan begini kalau nanti aku pulang, dapat aku menangih jasa dari kakakku!" Segera setelah mengambil keputusan, Siong Kang mengeluarkan pula suaranya hingga dua kali, setelah itu ia lompat ke tepi kali. Memang benar ketiga orang itu pendeta semua. Yang tua adalah Gouw Ceng, salah satu dari Siauw Liem Ngo Lo, lima Tetua Siauw Liem Sie, senjatanya ialah sebatang hong puan- san, yang mirip sekop. Dia mengajak Gouw Hong, adik seperguruannya dan si kacung pendeta Ceng Ceng.

Mereka datang dari puncak Ngo Leng Hong dan di sepanjang jalan terus melakukan pemeriksaan dan penggeledahan. Pek Cut Siansu telah memerintahkan separuh muridnya pulang dan separuh lagi melakukan pemeriksaan umum dan untuk memeriksa di Siauw Yang Kee itu diperlukan lima enam puluh orang. Gouw Ceng pernah terluka hingga ia merasa malu karenanya , karena itu ia ingin membasmi para penyerbunya itu, maka juga ia yang mengajukan diri meminta tugas ronda dan memeriksa itu.

Pek Cut menerima baik permintaan itu sebab ia tahu sebelah hilir Siauw Yang Kee menjadi jalan masuk sebelah kiri Siauw Liem Sie dan dialah itu perlu dijaga oleh seorang yang lihai, cuma ia memesan untuk Gouw Ceng barhati-hati, setiba fajar dia mesti lekas kembali. Tugasnya akan diganti oleh orang lain. Demikian bertiga mereka pergi ke Siauw Yang Kee dan mereka justru bertemu dengan si licik Thio Siong Kang.

Hanya itu mereka menyangka bahwa mereka benar bertemu dengan babi hutan hingga mereka sudah berlaku sembrono dan melanggar pantangan, "Bertemu rimba jangan memasukinya".

Beng Khong maju di muka. Gouw Ceng dan Ceng Ceng mengikuti dia. Dia menjadi heran. Dia cuma melihat kali, tiada manusia tiada binatang.

Sambil menunju ke kali, dia kata: "Barusan terang-terang aku melihat ada sesuatu yang muncul di permukaan air yang terus selam pula. Sekarang bayangannya pun lenyap "

Berkata begitu, pendeta ini berjalan.

Dia pun menuju ke sebelah kanan, di situ ada sebuah pohon cemara yang lebat bercampur pohon-pohon rotan dan rumput yang tinggi hingga siapa berjalan di situ dia bisa muncul dan lenyap disebabkan tinggi dan lebatnya rumput itu. Melihat Beng Khong maju, Ceng Ceng menyusul, Gouw Ceng berusaha mencegah tetapi berdua mereka terus melangkah, terpaksa ia membiarkan mereka pergi. Atas segera juga ia mendengar dua jeritan yang menyayatkan! Ia menjadi kaget sekali, ia mengikuti jejak dari situ segera ia berlompat lari untuk mencari tahu suara siapa itu. Hanya sebentar, pendeta ini telah tiba di tepian kali. Di sana tak tampak Beng Khong dan Ceng Ceng, segala apa sunyi kecuali air sungai berombak bergoyang-goyang ....

Sambil memegangi senjatanya, Gouw Ceng berjongkok guna melihat pinggiran kali guna mencari tapak atau bekas- bekas kedua kawannya itu. Untuk terkejutnya, ia melihat tanda darah merah baru, di atas dahan sebuah pohon  terdapat baju yang dikenalinya sebagai milik kacungnya Ceng Ceng, ia menjadi kaget pula. Lantas ia lalu memasang mata di tepian itu guna menyusul atau atau mencari kedua kawannya itu. Sepatutnya Ceng Ceng tak ia bawa bersama. Baru pendeta ini lari belasan tombak jauhnya, mendadak ia mendengar suara air berbareng melihat munculnya kepala seseorang, malahan ia lantas kenali si kacung pendeta.

"Ceng Ceng!" ia memanggil.

"Ceng Ceng!" Tidak ada jawaban, sebaliknya kepalanya Ceng Ceng itu mendadak selam tenggelam pula masuk ke dalam kali! Itulah aneh! Gouw Ceng menjadi curiga. Dia maju dua tindak sambil dia menegur: "Penjahat siapa yang telah mencelakai muridku? Lekas muncul!" Ia pun menghajar permukaan air.

Menyusul itu, tiba-tiba tampak munculnya kepala orang, ketika Gouw Ceng mengawasi, disamping kaget sekali, iapun mengeluh.

Itulah kepalanya Beng Khong, adik seperguruannya!

Bagaikan orang kalap, Gouw Ceng melompat ke air, senjatanya dipakai menyerang dengan hebat.

Ia pula berseru: "Jahanam, akan aku adu jiwaku!" Hajaran itu membuat air muncrat, hasilnya tidak ada.

Kepalanya Beng Khong terus tak muncul pula. Tapi dilain saat, di muka air sejauh setombak lebih, timbullah dua kepala orang dengan berbareng kedua kepala itu bergoyang tak henti-hentinya. Itu pula kepalanya Bneg Khong dan Ceng Ceng! Dilihat dari gerak-geriknya itu, terang kedua kepala orang itu ada yang menggerak-geriknya, yakni dibuat main ....

Dalam gusarnya, Gouw Ceng seperti lupa segala apa. Ia lantas bergerak menghampiri kedua kepala orang itu. Karena air kali dalam, ia mesti berenang. Ketika itu, air tak membeku. Sebaliknya, air mengalir deras. Itulah Thio Siong Kang, yang telah memancing Ceng Ceng dan Beng Khong yang telah ia dapat binasakan, sesudah mana lebih jauh mencoba memancing Gouw Ceng. Ia ada bagaikan siluman air. Ia dapat bergerak dengan leluasa di dalam kali. Ia girang ketika ia mengetahui si pendeta sudah mencebur ke air apalagi ia selekasnya memperoleh kenyataan pendeta itu tak pandai berenang. Kepalanya Ceng Ceng dan Beng Khong segera ditarik pula ditenggelamkan sebagai gantinya itu tangannya dia dipakai mencabut cagak atau kaitan Ngo Bie Cie yang ia selipkan di pinggangnya, dengan itu ia lantas menyerang.

Di dalam air, Gouw Ceng tidak dapat bergerak dengan bebas. Ia menunggu di atas, di bawah kurang perhatian. Justru itu, ia dapat merintangi kaitan yang satu, tidak lainnya. Senjatanya Cut Tong Kauw memangnya tidak ampun lagi, paha kanannya kena tertikam hingga darahnya lantas bocoran dan lukanya nyeri. Ia kaget dan merasa nyeri, dalam kagetnya, ia menyerang ke arah dimana ia rasa musuh berada. Gerakannya itu cepat luar biasa. Cut Tong Kauw tak dapat membela atau melindungi diri sepenuhnya, ujung senjata lawannya mengenai kemprolannya disebabkan gerakannya sedikit lambat. Bukan main ia merasakan nyeri, ia lantas menyelam lari! Habis menyerang itu, Gouw Ceng lekas- lekas kembali ke darat.

Tak usah ia berdiam lama, di permukaan air ia tampak timbulnya pula Thio Siong Kang karena cabang atas dari luar lautan itu hendak membinasakan lawannya. Ia muncul untuk terus menantang secara jumawa: "Eh, darimana sih datangnya ini keledia kepala gundul dari Siauw Liem Sie?

Kalau kau benar laki-laki sejati, mari turun ke kali!" Baru sekarang Gouw Ceng melihat musuh curang itu, yang selalu main dalam air. Dia mirip siluman air sebab yang tampak mukanya saja. Di dalam air itu, dia seperti dapat berdiri tegak. Itulah bukti dari lihainya ilmu berenangnya.

Ia mengerti kalau ia berkelahi di dalam air, sukar buat ia merebut kemenangan tetapi gusarnya bukan bukan main, sukar buat ia menahan sabar. Maka itu ia lantas menjemput batu dan menyerang dengan timpukan. Batu itu dapat digunakan dengan ilmu melemparkan "Panah Bulu Terbang bagaikan Belalang". "Jahanam, jangan lari!" iapun membarengi berteriak.

"Bagus!" Siong Kang berseru terus ia menyelam hingga tak tampak lagi.

Gouw Ceng putus asa hingga ia menarik nafas dalam- dalam. Sekarang ia ingat kepada luka di pahanya, yang darahnya masih mengucur maka dengan kedua jeriji tangannya, ia menekan pinggiran luka itu guna menahan keluarnya darah, sembari berbuat begitu ia menghadap ke arah barat sambil membaca mantra "Menghentikan Darah", menyusul itu ia menekan lukanya itu. Maka di lain saat berhenti sudah keluarnya darah. Itulah mantra warisannya Tatmo Couwsu. Baru Gouw Ceng menghentikan darahnya, ia melihat Siong Kang muncul pula.

Kali ini jago luar lautan itu berkata nyaring, "Pendeta gundul, aku tahu kau pasti tidak berani turun ke air! Karena itu tuan besarmu tak mau melayanimu lebih lama pula!" Habis orang berkata itu, Gouw Ceng memburu ke tepian.

Ia gusar sekali. Ia berkata sengit, "Jahanam, sayang tadi aku tidak menghajar mampus padamu! Beranikah kau naik ke darat ini buat menempur aku tiga ratus jurus?" Siong Kang tertawa lantang.

"Sampai ketemu pula di belakang hari!" kata dia mengejek. "Akan tiba satu hari yang tuan besarmu akan

mengantarkan kau pergi ke Barat! Ke Nirwana! Keledia gundul, kau ingat kata-kataku ini!" Kata-kata yang memanaskan hati ini ditutup dengan orangnya menyelam, dari gerakan air masih terlihat bahwa dia berenang ke hilir hingga dia terbawa arus yang deras itu. Gouw Ceng mengawasi dengan melongo terus ia menghela napas. Ia tak berdaya sama sekali. Mayat kedua kawannya pun tak dapat ia cari. Sesudah menjublek sekian lama, baru ia pergi dengan tindakan berat dengan wajah lesu.

"Dasar aku yang kurang teliti!" ia menyesalkan dirinya sendiri.

"Kecewa Beng Khong dan Ceng Ceng, akulah yang seperti mengantarkan jiwanya. Mana aku ada muka untuk kembali ke kuil menemui ketua dan saudara-saudara lainnya? Tidak bisa lain, aku mesti cari mayatnya Beng Khong berdua, pulang ke kuil adalah soal lain " Maka itu terus pendeta ini berjalan di

tepian itu.

Tatkala itu angin sudah mulai berhenti menghembus dan ufuk timur mulai nampak sisanya, guram-guram terang pertanda tibanya sang fajar. Terus Gouw Ceng berjalan sampai akhirnya ia tiba di sebuah tempat yang berada di aliran bawah sungai Siuaw Yang Kee. Di sana terdapat banyak sawah yang menjadi miliknya kuil sampai sperti tak terlihat ujung perbatasannya.

Kebanyakan sawah itu diusahakan oleh para pendeta sendiri, yang lainnya digarap oleh penduduk kampung itu. Di antaranya ada sawah yang sudah diubah menjadi kebun sayur. Dengan berdiri diam, Gouw Ceng melihat ke sekitarnya, ia tidak mendapati siapa juga. Ia mendongkol, iapun berduka. Maka ia lantas duduk bersila di bawahnya sebuah pohon cemara pada mana menyandarkan tubuhnya. Ia mengeluarkan sepatunya Ceng Ceng dan mengawasi itu berulang kali ia menghela napas sambil menggeleng-geleng kepala, ia bagaikan kelalap ke dalam pikiran kusutnya sampai ia tak tahu ada orang muncul dari belakang pohon, sampai orang itu menegurnya, "Eh, barang apakah itu?" Maka kagetlah ia, terus ia mencelat bangun untuk segera memutar tubuh.

Barulah hatinya tenang sesudah mengenali orang yang ialah Lauw In. Di lain pihak dengan gugup, ia mencoba menyimpan sepatu ke dalam jubahnya! Liauw In mencegah.

"Sute," katanya, "bukankah itu sebuah sepatu?" "Sute" berarti adik seperguruan dan Gouw Ceng adalah sute-nya yang ke empat (si-sute).

"Bu ... bukan Toa-suheng ..." sahut adik seperguruan itu bingung dan gugup hingga suaranya tak lancar.

"Apakah Toa-suheng seorang diri saja?" "Toa-suheng" adalah kakak seperguruan yang tertua.

Kiauw In mengawasi. Ia melihat satu wajah yang pucat- guram.

"Kau kenapakah, sute?" kakak itu tanya.

"Kau seperti hendak menyembunyikan sesuatu kepadaku? Sepatu siapakah itu? Aku minta janganlah kau membohong".

Bukan main bingungnya pendeta itu, hatinya pepat. Tiba- tiba ia terjatuh duduk dengan sendirinya! Ia berdiam saja.

Liauw In heran. Ia mendekati, akan menongkrong di depan adik seperguruan itu.

"Di sini cuma ada kita berdua, sute" katanya sabar.

"Kau mempunyai urusan apakah? Tak ada halangan untuk memberitahukan itu kepadaku" Gouw Ceng Beng tidak lantas menjawab, hanya kali ini ia justru menarik keluar sepatu yang ia sembunyikan itu untuk dilemparkan, setelah mana ia menutupi mukanya dan membungkam.

Liauw In pergi menjemput sepatu itu untuk memeriksanya dengan seksama. Selama itu ia pun berdiam saja, cuma hatinya yang bekerja menerka-nerka.

Selang sesaat dengan tangan bergemetar ia bawa sepatu itu ke mukanya Gouw Ceng untuk menanya dengan suara tak lancar: "Bukankah ini sepatunya Ceng Ceng? Dia kena apakah?" Untuk kesekian kalinya, adik seperguruan itu tetap membisu.

Liauw In penasaran, ia menanya dan menanya pula. Ia mendesak.

Sampai itu waktu, baru Gouw Ceng mengangkat kepalanya untuk memandang kakak seperguruannya itu.

"Dia ... dia sudah ..." sahutnya sukar.

"Juga Beng ... Khong " Liauw In terkejut sekali, hatinya

menggetar. Ia menatap.

"Apakah mereka sudah mati?" tanyanya.

"Siapakah yang?" Sekarang tak dapat adik seperguruan itu menutup mulut lebih lama maka ia tuturkanlah pengalamannya tadi sampai Ceng Ceng dan Beng Khong menyusul ke dalam rimba, ke tepi kali, dimana mereka itu cuma terlihat kepalanya sebagai mayat sedangkan Ceng Ceng ketinggalan sebelah sepatunya yang didapatkan di tempat yang ada darahnya. Habis itu ia ceritakan "pertempurannya" dengan musuh di dalam air yang lihai itu yang telah pergi menghilang menyelam sambil menjanjikan akan bertemu pula nanti.

Liauw In terkejut. Ia mencekal sute itu untuk mengangkatnya bangun. "Sute! Inilah hebat!" katanya nyaring, hatinya tegang.

"Mari kita lekas pulang untuk mengabarkan kepada bapak ketua untuk kita mengambil keputusan! Peristiwa ini tidak boleh dibiarkan saja. Bahkan kita tidak dapat bertindak lambat!" "Gouw Ceng tidak, hendak aku turun gunung," katanya.

"Hendak aku mencari Thio Siong Kang, kepala bajingan itu guna menuntut balas buat adik Bneg Khong dan Ceng Ceng. Sebelum berhasil aku membalas dendam, aku sumpah tidak mau aku pulang ke kuil".

Gusarnya Liauw In menjadi padam. "Sute, kau benar," berkata dia terus terang.

"Benar Beng Khong dan Ceng Ceng telah terbinasa tetapi mereka pasti terbinasa karena dicurangi, sebagaimana kau sendiri hampir celaka kena dibokong lawanmu. Dalam peristiwa ini, kau tak bersalah sama sekali. Buat apa kau meninggalkan kuil kita? Musuh kita itu pastilah salah seorang bajingan dari luar lautan, dari To Liong To. Dia dapat bersembunyi di sekitar kali ini, itulah berbahaya. Itu pula menandakan lihainya. Bukankah kita tidak pernah memergoki kita? Karena itu aku percaya, dia mestinay bukan baru malam ini saja tiba di sini. Sebab telah terbukti penjagaan kita kurang sempurna, selanjutnya kita mesti lebih waspada dan memperketatnya. Maka itu, perlu hal ini dilaporkan kepada ketua kita. Perihal urusan kita tiap tahun, untuk itu kita masih punya waktu satu bulan lebih. Sekarang inipun para undangan tengah terus mendatangi, kita harus menantikan mereka supaya dengan bantuan mereka itu dapat kita membasmi musuh kita. Kawan-kawan yang termasuk orang lain suka membantu kita, apapula kau seorang dari Ngo Lo. Jika kau pergi tanpa pamitan, bukan saja ketua kita bakal menyesalkan kau, tenaga kitapun menjadi berkurang. Maka itu sute, tak dapat kau pergi." Gouw Ceng dapat dikasihh mengerti maka ia mengangguk-angguk.

Lalu ia lantas menyimpan pula sepatunya Ceng Ceng dan berkata: "Marilah kita pulang, sepatu ini aku akan jadikan barang bukti kalau bapak ketua dan saudara-saudara kita melihatnya pasti makin keras tekadnya buat menentang musuh dari luar lautan itu! Kau jangan kuatir, sute kau tak bakal dipersalahkan, kau akan dimaklumi." Gouw Ceng berdiam maka Liauw In lantas pegang tangannya, ditarik buat diajak meninggalkan tempat itu.

Dengan tangan yang satu ia sentuh bahunya adik seperguruannya itu.

"Jangan menyesal dan berduka sute," kakak itu masih membujuk.

"Kau lihat cepat atau lambat sakit hati ini pasti bakal terbalaskan! Marilah!" Dan mereka menuju pulang ke kuil.

Sekarang kita melihat dahulu Nona Cio Kiauw In seperginya dia dari Nona Pek Giok Peng. Kalau Nona Pek menuju ke kiri, ia ke kanan dimana terdapat sebuah ruang diam, kamar- kamar peranti bersemadhi yang bangunannya lebih besar daripada ruang lainnya di dalam kuil itu. Inilah tempat yang diperuntukan para tamu. Ketika itu ruang tersebut sangan sunyi, semua pintu sudah dirapatkan, rupanya orang telah pada beristirahat. Tanpa ragu-ragu ia lompat naik ke atas genteng untuk melintasi ruang itu.

Dari atas wuwungan, ia melihat jauh ke sebelah depan hingga ia menyaksikan pelbagai tanjakan dan bukit-bukit kecil di sebelah bawahnya. Ia juga melihat Ngo Leng Hong, lima puncak di arah barat itu. Setelah mengawasi sekian lama, nona ini menjadi bimbang.

"Malam begini gelap dan puncak demikian," demikain pikirnya, "aku sebaliknya seorang diri, habis aku menuju ke arah mana?" Lalu ia memikir sebaliknya.

Ia sudah keluar, tak dapat ia kembali. Masih ia berpikir itu ketika ia mendengar suara genta nyaring dan berisik, suaranya seperti dekat seperti jauh. Ia menerka kepada pertanda untuk berkumpulnya para pendeta. Terkaan ini membuat hatinya tenang. Bukankah pendeta itu berjumlah besar dan juga ada ahli-ahli silat kenamaan. Tanpa itu, taruh kata musuh banyak, tak mudah mereka itu dapat menerobos masuk atau banyak tingkah. Maka ia pikir baiklah ia pergi melakukan perondaan, umpamakan ia menemui musuh, harus ia hajar musuh itu supaya ia dapat membuat jasa dan nanti memperoleh muka terang! Begitu keputusan itu diambil, begitu si nona melompat pergi.

Ia menjelajahi pelbagai bukit kecil yang berupa seperti tanjakan, terus sampai di kaki puncak Ngo Leng Hong. Di sini ia berhenti sebentar, sekalian beristirahat, matanya memandang ke kaki puncak. Ia mendapati rimba di antara mana lapat-lapat tampak beberapa gua. Karena ini ia berlaku waspada. Setelah beristirahat itu, Kiauw In lompat naik ke atas sebuah pohon tua, dari situ ia berlompatan terus. Ia dapat bergerak dengan leluasa karena ia menggunakan ilmu ringan tubuh "Burung Wlaet Menembusi Tirai".

Ia bergerak maju ke kiri dan ke kanan, sampai ia berada di pinggang gunung dimana barulah ia lompat turun ke tanah untuk terus mengawasi ke bawah gunung ke segala penjuru. Tempat dimana si nona berdiam ialah depannya sebuah gua besar yang tingginya dua tombak, yang mulutnya lebar bagaikan ikan lodan mulut mana madap nyamping.

Bergelantungan pada itu ada banyak stalaktit dan akar-akar rotan. Ada juga terdengar suara menetes air. Dari luar ada cahaya silau mencorong ke dalam membuat mata silau.

Dengan mencekal pedangnya, dengan tindakan perlahan Kiauw In berjalan memasuki gua itu.

Selekasnya si nona berada di dalam gua, segera ia merasakan tubuhnya hangat. Hawa di situ sangat beda dengan hawa dingin di luar gua. Karenanya mendadak saja ia merasa segar dan bersemangat. Ia memejamkan mata sebentar lalu dipentangnya pula hingga ia dapat melihat  denag terlebih tegas sedangkan telinganya segera mendengar suara plak plok perlahan tak hentinya. Ia melihat banyak bayangan hitam berterbangan bolak-balik, di antara ada yang saban-saban membentur dinding dan jatuh karenanya. Kiranya itulah kawanan kampret yang rupanya menjadi kaget karena datangnya orang dan lantas terbang berserabutan.

Lantas Nona Cio berpikir: "Di sini ada banyak kampret, pasti di sinipun tidak ada orang. Baiklah aku keluar dahulu melihat di luaran". Maka iapun bertindak keluar.

Lantaran ia mengawasi daerah Timur dimana tampak dua buah puncak di atas satu diantaranya terlihat ada banyak sekali sinar-sinar warna terang kehijau-hijauan mirip kunang- kunang yang sedang terbang mondar-mandir dan turun naik. Mengawasi pemandangan itu, makin lama Kiauw In merasa makin aneh. Selagi begitu, ia mendengar dengungan genta dari kejauhan (itulah saat dimana Giok Peng menendang genta berulang-ulang).

Ia tidak perhatikan itu, ia tidak menyangka jelek atau mencurigainya. Suara itu toh datang dari tempat yang jauh. Ia justru memusatkan perhatiannya kepada kunang-kunang itu, yang berterbangan tetapi tetap berkumpul, bergumulan di satu tempat. Ia menyesal karena ia terpisahnya terlalu jauh, tak dapat ia melihat lebih tegas. Untuk menghampirinya, iapun merasa sulit.

Maka Kiauw In mengawasi saja sampai selang seketika ia mendapati sinar terang itu bagaikan berpindah turun dan cahayanya pun seperti berkelap-kelip. Seperti cahaya api yang sebentar hidup sebentar padam. Nampaknya seperti kunang- kunang itu ada yang maju pergi.

"Ah, itu bukannya kunang-kunang!" tiba-tiba ia berkata, satu katanya itu keterlepasan.

"Di atas gunung tak sama dengan di kaki bukit, di atas gunung tidak ada tempat yang semak-semak, biasanya di tempat kering tak ada kumpulan kunang-kunang sebanyak itu. Itu juga tentu bukannya cahaya dari kawah. Habis cahaya apakah itu? Kalau itu api kunang-kunang yang terasampok angin, kenapa pindahnya turun ke bawah tak tertiup ke puncak yang lain? Itulah aneh! Ah, biarlah aku pergi ke sana melihat " Setelah mengambil putusan ini, sukar atau tidak

Nona Cio lantas bergerak ke arah api yang aneh itu.

Bagaikan sang kera, ia pindah dari satu pohon ke pohon yang lain. Sebab sulit untuk jalan atau berlari-lari di bawah tanah. Tidak terlalu lama sampai sudah ia di puncak yang kedua. Di sini baru ia mencari jalanan. Ia mendapati sebuah jalan kecil yang berliku-liku maka ia lantas berlari-lari.

Karenanya, ia mesti lari berputaran. Ia lari keras sekali. Kali itu ia tiba di puncak yang ke empat hingga di depannya tampak puncak yang paling besar. Ia senang melihat puncak itu. Di puncak itu tampaknya terdapat lebih banyak gua. Tanpa ragu ia maju terus. Kalau perlu ia merayap naik dengan bantuannya akar-akar rotan.

Dengan sukar akhirnya ia toh tiba juga di atas puncak. Di sini ia berdiri, memandang ke lain arah, ke bawah puncak. Maka tampaklah di situ sebuah kali, lebar dan agaknya dalam. Kali ini memisah puncak ini dengan puncak sebelah sana, puncak kelima. Maka juga puncak itu dapat dipandang tetapi tak dapat segera disampai ....

Keras Nona Cio berpikir. Bagaimana caranya untuk pergi ke seberang itu? Biar bagaimana , iapun telah merasa letih.

Sambil separuh beristirahat itu, terus ia memandang ke sekitarnya. Akhirnya setelah menghela napas dan bangun berdiri, ia bertindak ke sebuah gua kecil di depannya, memasukinya dan lantas duduk di atas sebuah batu besar. Ia memejamkan mata seperti lagi bersemadhi, napasnyapun disalurkan dengan perlahan.

Di saat itu, sulit buat Kiauw In untuk menenangkan diri. Pikirannya terasa kusut. Ia meram dan melek dan meram pula. Entah berapa lama ia sudah duduk diam saja seperti itu. Lalu, tiba-tiba ia terperanjat.

"Kakak In?" demikian ia mendengar secara mendadak.

Cepat ia membuka matanya.

Untuk herannya, ia melihat Giok Peng di hadapannya. "bagaimana?” tanyanya segera. "Apakah kau menemukan musuh?" Giok Peng sudah lantas menuturkan pengalamannya, bagaimana ia telah bertemu Thio Siong Kang si jago luar lautan yang lihai itu, yang kosen tetapi licik.

"Sia-sia belaka aku mengejar dan mencarinya." Nona Pek menambahkan kemudian.

"Dia memiliki kepandaian ringan tubuh yang mengagumkan. Sia-sia saja aku mencarinya selama beberapa jam." "Akupun tidak menemukan barang seorang musuh." Kiauw In memberitahukan.

"Mungkin dia atau mereka sudah lari kabur. Adik Peng, Hauw Yau ditinggal lama, entah dia sudah mendusin atau belum. Mari kita lekas pulang!" Berkata begitu Nona Cio segera berlompat bangun dan bertindak keluar. Giok Peng pun ingat anaknya itu maka ia segera mengikut.

Sekeluarnya dari puncak ke empat, mereka itu menghadapi sebuah kali besar, kali tanah pegunungan yang airnya deras sekali, yang saban-saban menerjang batu-batu besar sehingga makin menerbitkan suara nyaring dan berisik, suara berisik mana diperbuat oleh suaranya sebuah curahan air tumpah yang tinggi. Disitu kedua nona menghentikan tindakannya.

Mereka tidak melihat jalan yang dapat dilalui. Kauw In menunjuk ke depan dan berkata kepada Giok Peng:

"Adik, lekas cari jalan. Lihat, fajar lagi mendatangi!

Mungkin sampai tengah hari juga kita sukar sampai di kuil!" Giok Peng berjalan sampai di tepian kali.

Ia menoleh ke kiri dan kanan, yaitu ke hulu dan ke ke hilir.

Sekian lama dia berdiam, tiba-tiba ia berkata: "Aku ingat sekarang! Ini kan puncak ke empat? Maka puncak yang tadi kita lihat dari atas mesti puncak yang paling belakang. Mari kita kembali, dari sana baru kita dapat berjalan pulang." Kauw In berpikir.

"Tadi, apakah kau melihat cahaya api yang berkelak-kelik?" tanyanya.

"Bukan melainkan cahaya api tapi api para pendeta" sahut Giok Peng.

"Jumlah mereka sedikitnya seratus orang lebih. Mereka itu mencari dan menggeledah di atas dan di kaki gunung dengan berpencaran."

"Benarkah itu?" Kauw In menegasi.

Awalnya dia heran. "Ah" ia menambahkan, "Kalau demikian, benar-benar kita mesti kembali!"

Lantas nona Cio mendahului bertindak hingga Giok Peng mesti mengikutinya. Dengan banyak susah mereka tiba pula di puncak dan mulut gua tadi, dari sini, dari atas mereka dapat memandang ke bawah.

Masih mereka belum juga melihat jalanan. Tiba-tiba Nona Cio menebas berulang-ulang kepada pohon cemara.

"Kenapa itu kakak?" tanya Giok Peng heran. Kauw In menuding ke arah kali.

"Kita harus menyebrangi kali, tetapi kita tidak dapat berenang" sahutnya.

"Maka kita mesti menebang pohon ini buat dijadikan batangnya sebagai perahu, mari kau membantu aku menebangnya!" Tepat itu waktu dari dalam gua terdengar suara orang: "Eh, hati-hati! Di luar gua ada orang!" Giok Peng terkejut, serta merta ia menghunus pedangnya dan lompat mencelat ke mulut gua.

Kauw In pun melompat menyusul kawannya itu ketika dari salam gua tampak munculnya dua orang pendeta, yang segera dikenali Gouw Jin dan Gouw Gie adanya, tangan mereka membekal tongkat, tampang mereka tegang.

"Taysu, kami disini!" Kauw In segera meneriaki.

"Kami hendak pulang tetapi kami belum berhasil mendapati jalannya." Kedua pendeta melihat kedua nona, lekas-lekas mereka memberi hormat.

"Mari kami mengantarkan nona-nona pulang" kata Gouw Jin.

"Terima kasih" Nona Cio mengucap.

Gouw Jin mendahului memutar tubuh, buat kembali ke dalam gua, kedua nona mengikuti. Gouw Gie mengikuti paling belakang.

"Hati-hati!" terdengar suara Gouw Jin setelah mereka jalan selintasan.

Giok Peng mengawasi ke depan dimana terdapat dinding yang penuh akar rotan. Disitu tampak sebuah liang besar, Gouw Jin membungkuk masuk ke dalam liang itu, yang merupakan sebuah pintu. Gouw Jin maju akan membetot akar rotan tang menghadangnya. Sekarang Giok Peng berdua melihat sebuah alat, yaitu sebuah pintu besi yang daunnya tergantung tinggi. Selekasnya mereka masuk, daun pintu itu menggebrak jatuh dengan memperdengarkan suara nyaring berisik.Diam- diam kedua nona merasa aneh. Lama mereka mengikuti si pendeta jalan di sebuah terowongan yang cuma muat satu orang. Sekitarnya batu dan tingginya terowongan cuma tiga kaki sehingga orang harus membungkuk-bungkuk.

Terowongan pula gelap. Mereka mesti jalan berbelok-belok beberapa kali sampai mereka mulai merasa hembusan angin lalu tampak sinar terang, pertanda datangnya fajar.

Di paling ujung itulah mulut terowongan itu berada.

Sekeluarnya dari mulut gua, Giok Peng berdua baru dapat melihat tegas-tegas. Di depan mereka, puncak gunung bagaikan menembus ke langit. Mega seperti menutupinya, di ufuk timur cahaya matahari masih lemah sekali. Puncak yang tadi malam mereka lihat berada dekat sekali di depan mereka.

"Taysu, apakah ini puncak yang kelima?" Kauw In tanya Gouw Jin.

"Ya" sahut pendeta itu mengangguk.

"Dari sini kita pulang, jalannya dekat sekali."

"Semula aku menyangka kami dapat pulang dengan jalan puncak pertama itu" kata Giok Peng.

Gouw Jin menggeleng kepala lalu dia menutur perihal jalanan di kelima puncak disitu. Ada banyak jalanan, banyak juga yang buntu. Tanah datar lebih banyak daripada guanya. Kali tak dapat dilewati kalau airnya banjir, yaitu di musim hujan.

Di sebelah situ, ada pula gangguan halimun atau uap yang tebal. Terowongan itu adalah buatan ketua mereka terdahulu. Masih ada beberapa terowongan lain yang jarang dipakai. Di akhirnya Gouw Jin memberi penjelasan bahwa tadi mereka tengah melakukan pemeriksaan ketika mereka melihat kedua nona itu maka juga mereka lantas menghampirinya. Diam- diam kedua nona mentertawakan diri. Lantaran tak kenal jalanan, mereka jadi tersesat. Sekarang dengan dipimpIn Gouw Jin berdua, lekas sekali mereka kembali ke kuil.

Di pendopo Tay Hiong Po-tian, orang tengah berkumpul. Disitu Pek Cut Taysu sebagai ketua duduk di kursi pertama, ditemani oleh Gouw Hian Tojin dari Butong Pay serta ke empat adik perguruannya sendiri. Di sebelah kiri duduk Pat Pie Sin Kit bersama Ngay Eng Eng, Ang Siau Siangjin, Liauw Lo, Gouw To dan Gouw Hoat Taysu. Melihat orang berkumpul dan tampangnya mereka itu, Kiauw In berdua menerka mesti telah terjadi sesuatu.

Lekas-lekas mereka maju mendekati buat memberi hormat pada Pek Cut semua setelah mana mereka mendampingi paman guru mereka, si pengemis sakti.

"Gouw Ceng, coba kau tuturkan pengalamanmu tadi malam bertemu dengan musuh," berkata Pek Cut Taysu habis kedua nona menjalankan kehormatan.

Rupanya orang baru saja berkumpul. Kiauw In berdua menoleh kepada Gouw Ceng yang paling dulu menghormati ketuanya, baru dia memberi hormat pada para tamu dan paman gurunya, setelah itu dia mulai menceritakan penuturannya yang jelas sekali.

"Tadinya aku tak niat pulang lagi," ia tambahkan kemudian seraya mengasi tahu bagaimana Liauw In, yang menemukannya, membujuk dan memberi pengertian kepadanya kepada bahaya yang mengancam Siauw Liem Sie serta dunia rimba persilatan semuanya.

"Sekarang aku menerima salah, bersedia aku menerima hukuman dari bapak ketua." Mengakhiri kata-katanya itu, Gouw Ceng menghampiri Pek Cut, untuk berdiri sambil tunduk di depan ketuanya itu, tampangnya sangat berduka.

"Aku sudah tahu" berkata ketua itu.

"Pergilah mundur dan beristirahat! Jangan kau bersusah hati. Beng Khong dan Ceng Ceng sembrono, mereka menerima bagiannya maka biarlah mereka nanti disambut  oleh sang Buddha kita di Tanah Barat. Bagi kita, dunia kosong! Sekarang soalnya ialah musuh besar berada di depan kita dan keselamatan Siauw Liem Sie terancam, kita harus berdaya membebaskan diri. Lagi sekali aku beritahukan, jangan kau bersusah hati. Pergilah kau mundur!"