Iblis Sungai Telaga Jilid 04

 
Jilid 04

Mendapat pertanyaan itu, tiba-tiba Pek Cut ingat kepada Ngay Eng Eng, maka pikirannya : Kenapa kau tidak mau mengundang dia datang kemari supaya dialah yang memberi penjelasan? Dia kenal Kim Lam It Tok, mungkin dia banyak mengetahui tentangnya. “Saudara In, kau menyadarkan aku. Bukankah saudara Ngay yang telah menolong jiwa para muridku? Ia pernah mengatakan bahwa ia pernah belajar tentang racun dari Kim Lam It Tok yang ia kenal baik, karena itu kenapa kita tidak mau minta keterangan darinya?

In Gwa Sian mengangguk.

“Benar! Dari keterangannya mungkin kita bisa meraba-raba pada jago racun itu.” Pek Cut lantas menitahkan seorang kacungnya pergi untuk mengundang tamunya tersebut.

Setelah satu bulan tinggal bersama disatu tempat didalam kuil, pergaulan diantara In Gwa Sian dan Ngay Eng Eng tak lagi main sungkan, bahkan sangat erat satu dengan lain.

Demikianlah ketika tamunya tersebut muncul diambang pintu, dan ketika ia melihat hanya ada dua orang di sana, yaitu hanya tuan rumah dan si pengemis tua, maka ini agak membuat sitamu sedikit heran, ia lantas bertanya : “Entah ada urusan apa maka Siansu dan saudara In memanggilku datang kemari?”

In Gwa Sian menghargai tamunya itu, begitu lekas ia melihat orang muncul, ia lantas berdiri buat memberi hormat sambil mengundang duduk. Pek Cut pun menyambut secara terhormat, walau dilain pihak ia harus menjaga derajat dan kehormatannya sebagai tuan rumah.

Bersama In Gwa Sian, Eng Eng melangkah masuk kedalam kamar untuk duduk berkumpul dan tanpa basa-basi lagi Pek Cut langsung memohon keterangan perihal Kim Lam It Tok.

Eng Eng bersedia memberikan penuturannya. Iapun telah merasa sejak semula bahwa keracunannya para pendeta mirip dengan racun yang digunakan jago dari Kwieciu Selatan itu.

Beginilah ceritanya. Ketika Eng Eng berusia dua puluh tahun lebih, ia telah hidup merantau, maka banyak sekali kenalannya baik dari kalangan hitam maupun putih. Iapun kadang-kadang melakukan perbuatan baik, menolong siapa yang harus ditolong. Ia dikenal karena ilmu ringan tubuhnya yang mahir dan teratai besi Thi Lian Cie nya yang lihai yang ia peroleh  dari seorang gagah. Kemudian ketika ayah bundanya meninggal dunia warisan sawah kebunnya ia serahkan pada kakaknya, ia sendiri terus merantau. Pada satu waktu dalam usia tigapuluh tahun lebih, ia sampai digunung Tok San di Kwieciu, kota terbesar kedua di propinsi Inlam. Kwieciu kota yang besar, banyak penduduknya dan ramai. Penduduknya kecuali bangsa Han asli juga banyak suku Biauw, Yauw dan Koso. Suku-suku itu dimasa itu masih dianggap separuh sopan dan tinggalnya berpencaran dan cara hidupnya ialah membawa hasil hutan yang berupa obat-obatan kekota untuk dijual atau ditukar dengan minyak, garam , bahan pakaian dan lain-lain.

Terjadilah pada suatu hari, ketika ia sedang menunggang kuda, Eng Eng melintasi jalan besar dipegunungan Tok san itu. Ketika itu hawa udara panas menyengat, maka disatu tempat terpisah lima atau enam lie dari kota, ia singgah untuk beristirahat dan berteduh. disitu terdapat tak sedikit para pelancong lainnya. Ia memasuki sebuah hutan kecil dan menambatkan kudanya pada sebuah pohon, terus ia duduk bercokol diatas sebuah batu hijau bersih. Hawa dan angin disitu mendatangkan rasa sejuk. Selagi ia beristirahat itu, mendadak ia mendengar suara berisik sedikit jauh di belakangnya, dibawah sebuah pohon besar. Ia lantas menoleh dan menghampiri lalu menyelak didalam kerumunan orang banyak. Ia melihat seorang lagi menjerit ketakutan dan menangis. Itulah seorang wanita suku Biauw yang lagi memegangi seorang pria bangsanya yang pingsan. Disisinya ada dua buah bekal yang penuh barang makanan dan bahan pakaian. Si orang pingsan mengeluarkan darah dari mulutnya dan mukanya pucat kehitam-hitaman.

Dengan melihat sekelebatan saja, Eng Eng tahu bahwa orang ini telah keracunan, hanya ia tak tahu racun apa itu. Segera timbul rasa kasihannya dan keinginannya buat menolong. Ia memang membekal obat, maka dari kantong obatnya ia mengeluarkan sebuah pil. Ia serahkan obat itu pada si wanita yang ia suruh masuki kedalam mulutnya si pria yang dibukanya dengan paksa. Setelah itu tubuh si pria dipondong dan direbahkannya dibawah pohon.

Wanita itu sangat berterima kasih kepada Eng Eng. Ia ternyata mengerti juga bahasa han, maka ia mengerti ketika sipenolongnya itu menanyakan kenapa si pria terkena racun dan apa hubungannya dengan si pria itu. Ia menerangkan bahwa pria itu adalah suaminya dan entah kenapa barusan mendadak dia roboh pingsan keracunan.

“Obatku itu manjur.” kata Eng Eng. “Lihat sebentar lagi lewat satu jam, suamimu akan dapat tertolong. Aku hendak tanya kau. Bukankah kalian datang belanja diwaktu pagi, kenapa baru sekarang suamimu keracunan?”

“Memang kami pergi kekota pagi-pagi dan kamipun sehat- sehat saja,” kata wanita itu.

“Aku tak melihat tanda apa-apa, maka itu mungkin tadi selagi berjalan pulang dia telah menyedot hawa beracun….”

“Hawa beracun? Memangnya ditempatmu ada suatu racun?”

“Kami tinggal dikaki gunung Tiam Chong San. Di belakang tempat kediaman kami ada sebuah selokan dalam berupa jurang. Baru satu bulan lalu disitu kedapatan seekor laba-laba yang besar luar biasa dan beracun, setiap pagi dia suka menyemburkan hawa beracunnya itu yang mirip uap atau halimun yang bisa mencelakai orang atau binatang yang kebetulan lewat dan terkena semburannya itu. Sudah tak sedikit orang atau ternak yang mati karena racunnya…”

Mendengar keterangan itu, Eng Eng terdiam, ia merasa obatnya tak akan sanggup memunahkan racun laba-laba itu. Tengah ia berpikir tiba-tiba ia mendengar suara orang bernapas disisinya, segera ia menoleh dan mendapati si pria Biauw itu mendusin, kedua matanya dibuka perlahan-lahan, kaki tangannya pun turut bergerak lalu seterusnya dia merintih dan mengeluh!

“Ha! obatku bekerja!” pikirnya girang. Maka ia lalu berkata pada si wanita : “Syukur suamimu sadar, itulah pertanda bahwa obatku bekerja. Sekarang lekas kau mengajaknya pulang. Semoga aku bisa mengobatinya sampai sembuh betul.”

Nyonya itu mengawasi penolongnya dan mengucapkan terima kasih banyak.

Eng Eng tidak menolong kepalang tanggung, sebab pria itu belum bisa berjalan dan istrinya tak kuat menggendongnya, ia lalu memondong dan menaikinya keatas kudanya, lalu ia menuntun kuda itu. Si wanita jalan di muka sebagai penunjuk jalan.

Jalannya berliku-liku, kira-kira satu jam barulah mereka sampai dikaki gunung, untuk jalan lebih jauh mereka harus memasuki sebuah lembah. Selagi mendekati kampung, ada tiga puluh orang desa datang berlari-lari seperti mau menyambut, sebab mereka heran mendengar suara kaki kuda. Dan mereka benar-benar heran sesudah melihat keadaan si pria yang tergolek dipunggung kuda.

Seorang pria Biauw yang pakaiannya rapi dan kumisnya pendek muncul diantara rombongan, ketika si wanita melihatnya dia lari pada pria itu buat berbicara, rupanya guna menuturkan perihal suaminya serta penolongnya itu. Setelah itu si wanita mengajak kenal dengan Eng Eng. Kiranya dialah ketua suku Biauw dikampung itu dan namanya Minai.

Segera ketua itu menyuruh beberapa orang menolong pria yang keracunan itu, untuk digotong pulang kerumahnya dengan istrinya, dia turut bersama kemudian berbicara dengan Eng Eng. Maka tahulah penolong ini bahwa kampung itu bernama Ceng Hong Cay dan penduduknya ialah suku “siok” Biauw artinya suku Biauw yang sudah maju disebabkan mereka bisa bergaul dengan bangsa Han, sehingga banyak yang mengerti bahasa Han dan cara hidupnya banyak yang mengikuti cara hidup bangsa Han juga. Jadi mereka beda dengan suku “Song” Biauw, suku yang masih tertinggal yang hidupnya dipedalaman dan sulit buat bergaul karena masih menutup diri.

Eng Eng pun diundang kerumah siketua. Sebenarnya itu bukanlah sebuah rumah melainkan goa.

Disini Minai membicarakan urusan laba-laba beracun itu, yang baik siang maupun malam suka menyemburkan hawanya yang beracun hingga tak sedikit orang dan binatang ternak yang mati sebagai korban racunnya. Sia-sia belaka orang menggunakan berbagai macam obat pemunah, hingga sudah satu bulan lebih mereka terancam racun itu. Hanya baru selang beberapa hari Minai menemui seorang yang katanya dapat membasmi racun itu, orang mana telah diundang tinggal bersama didalam dusun itu. “Siapakah orang itu dan dimana adanya dia sekarang?” tanya Eng Eng menyela.

“Obatnya orang itu benar-benar manjur,” sahut Minai yang tak menjawab langsung,” Sejak dia datang setiap orang yang keracunan dapat ditolong jiwanya. Siapa minum obatnya lantas muntah sedikit air kuning yang bau. Dia she Sia, untuk membasmi laba-laba itu mulanya dia minta diantarkan kejurang tempat mengeramnya laba-laba itu, setelah itu dia pergi sendirian saja. Dia pergi setiap lewat tengah hari.

Menurutnya, untuk membinasakan binatang beracun itu dia harus menanti saat yang tepat.”

Eng Eng heran, ia menyangsikan kepandaian orang she Sia itu. Lalu ia mengutarakan keinginannya buat menemui orang itu untuk belajar kenal dan minta sikepala suku mengantarkannya sebagai perantara.

Tengah mereka berbicara itu, seorang pemuda Biauw datang pada ketuanya dan berbicara beberapa patah kata, setelah itu dia lantas berlalu pula. Tak tahu Eng Eng apa yang disampaikan pemuda itu karena ia tak mengerti bahasa Biauw, tapi tuan rumah sudah lantas berkata padanya :“Pemuda barusan bernama Shapi. Dia adalah keponakanku, ia mengatakan tentang orang yang keracunan yang tuan tolong itu, katanya korban itu pernah muntah lagi tapi tetap pingsan, maka keponakanku datang meminta obatnya Tuan Sia”

“Habis, kenapa kau tidak berikan obat itu?”

“Obat itu tak ada padaku, obat itu selalu dibawa tuan Sia” “Orang itu perlu segera ditolong, biar aku yang pergi

menemui orang she Sia itu!” Eng Eng menawarkan jasanya. “Tuan tidak kenal dia, taruh kata tuan bisa menemuinya, mungkin usaha tuan akan gagal,” kata siketua. “Bagaimana kalau kita pergi bersama?”

Eng Eng setuju, maka pergilah mereka berdua. Jalanan di belakang gunung itu sukar juga tetapi mereka dapat melaluinya. Tibalah mereka dilembah sebelah kanan gunung, lembah mana sebenarnya terapit tiga buah gunung dan luasnya kira-kira satu bahu sawah. Disebelah kanan itulah terletak sebuah jurang dalam belasan tombak yang gelap hingga tak nampak apa-apa. Berada didekat jurang dimana angin halus berhembus, sudah tercium bau tak sedap dan amis.

Sampai disitu, Minai tak berani maju lebih jauh, katanya : “Laba-laba itu bersembunyi didasar jurang ini, didalam sebuah goa. Nanti aku coba memanggil-manggil, entah tuan Sia berada ditempat atau tidak….”

Lalu dua kali ketua kampung ini berteriak memanggil.

Tidak ada jawaban, tetapi tidak lama tampaklah seorang setengah tua dengan baju hijau muda muncul dibawah sebatang pohon cemara, terus dia mendaki dengan cepat, gerakannya mirip gerakan seekor kera.

Eng Eng segera memasang mata, hingga ia bisa menerka orang sudah berusia kira-kira tiga puluh tahun, berkumis pendek, dahinya lebar dan matanya tajam. Pada pinggangnya tergantung sebuah kantong piauw, paling dahulu ia memandang Minai, barulah beralih ke Eng Eng.

Minai lantas menunjuk pada Eng Eng dan berkata pada orang tua itu :“Tuan ini tadi ditengah jalan sudah membantu seorang penduduk kampung kami yang keracunan, sekarang ia minta aku mengantarkannya kemari untuk melihat bagaimana tuan akan membinasakan si laba-laba beracun”

Orang itu tidak menjawab, hanya mengawasi kedua orang itu, nampaknya dia masgul.

Melihat demikian, Eng Eng memecah kesunyian, katanya

:“Tuan, apakah tuan telah melihat binatang beracun itu? Dalam hal menolong jiwa sesamanya, bersedia aku mengeluarkan tenagaku yang tak berarti, maka seandianya tuan membutuhkan kawan pembantu, tuan perintahkan saja aku!”

Mendengar kata-kata itu, orang setengah tua itu kelihatan lenyap kemasgulannya, wajahnya menjadi sedikit terang.

“Kau baik sekali, saudara” katanya. “Justru hari ini aku sedang memikirkan untuk turun tangan dan lagi kekurangan seorang pembantu, jika tuan sudi membantu, itulah bagus sekali!”

“Jangan sungkan tuan” Eng Eng menjawab,”Bilang saja apa yang harus aku lakukan!”

“Terima kasih!” kata orang itu.

Sampai disitu keduanya lantas belajar kenal satu dengan yang lain. Eng Eng tambah menghargai orang setengah tua itu sebab dialah kiranya Sia Hong dengan gelar Cek sian ciang si Tangan Merah yang tersohor.

Sementara itu Minai lantas minta obat kemudian pulang terlebih dahulu. Setelah ketua suku itu pergi, Sia Hong berkata pada Eng Eng, “Binatang beracun itu bakal muncul tak lama lagi, kita harus bersiap sedia sekarang, mari tuan turut padaku!”

Eng Eng mengangguk, maka keduanya lantas turun kejurang sambil merembet diatara pohon rotan. Lewat beberapa tombak jalanannya makin sukar dan sekitarnyapun mulai remang-remang.

Sesaat kemudian, Sia Hong berdiam diatas sebuah batu karang besar, sebelah tangannya terus menunjuk ke depan sambil berkata :“Lihat arah yang kutunjuk itu, didinding tembok gunung itu ada sebuah gua kecil, itulah tempat si laba-laba bersembunyi.”

Eng Eng mengawasi, ia dapat melihat goa itu yang tertutup rumput, goa itu tak akan tampak kalau tidak diperhatikan benar.

“Binatang beracun itu yang dinamakan siu cu,” Sia Hong menjelaskan, “Entah mengapa dia bersarang disini, sulitnya sekarang dia telah menjadi sangat besar dan racunnya menjadi sangat beracun, hingga untuk dapat didekati….”

Eng Eng mengerutkan kening.

“Habis saudara Sia, bagaimana kau hendak turun tangan?” tanyanya.

“Telah sekian lama aku awasi binatang itu, dia biasa keluar lewat magrib buat mencari makan. Keluarnya satu hari satu kali. Barang makanannya ialah segala kutu dan ular yang lebih dahulu ia sembur dengan racunnya yang mirip uap itu hingga bakal mangsanya menjadi pingsan dan beku. Jika terbawa angin, uap itu dapat melayang jauh dan jika mengenai orang atau binatang yang kebetulan berada dibawah angin, maka orang itu akan celaka tanpa tahu apa sebabnya. Uap itu bagaikan hawa, tak boleh tersedot oleh hidung dan bekerjanya sangat cepat, orangnya pingsan terus mati….”

Baru sekarang Eng Eng mengerti kenapa Salim, orang Biauw itu pingsan mendadak.

“Saudara, untuk membinasakan laba-laba itu, apakah telah kau sediakan obat pemunahnya?” tanyanya kemudian.

“Ya” sahut Sia Hong. “Telah aku gunakan waktu beberapa hari mencari bahan obatnya, lalu terus aku membuatnya menjadi obat pulung, inilah dia obat itu!” Ia merogoh kantong obatnya dan mengeluarkan sebutir pil warna kuning tua sebesar telur burung gereja, sambil mengangsurkannya pada sahabat barunya itu, ia lalu berkata “Telan ini untuk mencegah serangan uap beracun itu.”

Eng Eng menyambut obat tersebut yang terus ia masuki kedalam mulutnya.

“Saudara bagaimana caranya kau hendak membasmi laba- laba itu?” katanya.

“Itu dia sulitnya! Walaupun aku sudah sedia obat penawarnya aku masih takut datang terlalu dekat untuk menebas atau menikamnya dengan pedang. Kalau dia sedang gusar dan menyemburkan racunnya secara hebat, itu sangat berbahaya….”

“Bagaimana kalau kita serang dia dengan piauw atau panah tangan?” Itulah jalan satu-satunya, hanya dalam hal ini kita harus menjaga supaya dia kena telak, karena kalau hanya terluka dia akan mengamuk dan itu sangatlah berbahaya. Bicara terus terang, aku kuatir aku tak mampu menggunakan senjata itu dengan sempurna….” “Bagaimana jika aku mempertunjukkan sedikit kepandaianku yang tak berarti, yaitu aku membantu saudara dengan peluruku?”

“Baiklah,” jawab Sia Hong. Hanya Biear bagaimanapun mereka baru kenal, sehingga ia rada sangsi.

Selama itu, sang waktu terus berjalan, sang surya mulai doyong kebarat, mereka berdua terus mengawasi goa itu.

Dilain saat, sang magrib sudah tiba, ketika jagat mulai gelap, maka dari mulut goa tampak sesuatu yang tak terlihat tadi siang. Itulah sinar hijau yang lembut, yang makin lama makin terang. Dan ketika jagat mulai benar-benar gelap maka sinar itu lantas menjadi sepasang cahaya hijau mencorong sekali. Karena itulah sepasang mata sebesar biji buah persik yang berada diwajah seekor laba-laba raksasa, yang sangat besar kepala dan tubuhnya berwarna hitam sedangkan kaki tangannya yang panjang semua berbulu kuning.

Sia Hong lantas menyiapkan keluar beberapa batang piauwnya (kongpiauw), sedangkan Eng Eng segera menyiapkan pelurunya.

Dengan cepat laba-laba itu sudah muncul diluar goa dengan seluruh badannya. Selagi Eng Eng mengawasi tajam, tahu-tahu Sia Hong sudah mulai menyerang ke arah perut binatang itu.

Sang laba-laba tak mengira ada orang mengintai dan menyerangnya, dua batang kongpiaw menancap pada perutnya tetapi tidak lantas membunuhnya, dia merasa sangat nyeri dan menjadi gusar karenanya, tak ampun lagi, dia menyemburkan racunnya yang jahat yang berwarna kuning.

Tepat saat beberapa puluh biji peluru pun datang menghujaninya.

“Lekas lompat berkelit!” terdengar suara Sia Hong. “Jangan menghadapinya, racunnya itu tak dapat dihadang!”

Baru Eng Eng mau bergerak, ia merasa lengan kirinya ditarik, maka ia meneruskan ikut melompat kesamping sejauh beberapa tombak, karena mereka terus berlompatan dan ketika mereka berdiri diam untuk menoleh ke belakang, sempat mereka lihat buyarnya uap kuning itu, makin lama makin tipis, sedangkan sang laba-laba sudah roboh menjadi bangkai sebab seluruh tubuhnya penuh terhajar peluru teratai besi.

Rumput dimulut goa itu pada rebah, rupa-rupanya bekas diamuk kaki tangannya si laba-laba raksasa itu.

Masih sekian lama Sia Hong diam mengawasi, baru kemudian berkata :“Syukur binatang berbahaya itu telah dapat dibinasakan, sekarang marilah kita pulang buat mengatakan kepada penduduk Biauw supaya mereka menyuruh orang untuk memendam bangkai ini.

Eng Eng setuju, maka berdua lantas berjalan pulang.

Bukan main girangnya Minai dan warganya, mereka lantas menjamu kedua orang tamunya dan mereka sangat dihormati dan dipuji, kemudian mereka berdua diminta suka berdiam beberapa hari lagi dikampung tersebut. Selama itu hubungan antara Sia Hong dan Eng Eng makin erat, lalu Eng Eng mendapat tahu bahwa si sahabat benar- benar seorang ahli hewan beracun, hingga iapun memperoleh pengetahuan banyak tentang perihal racun, dan semua penuturan si sahabat ia ingat baik-baik.

Lewat beberapa hari barulah kedua orang itu berlalu dari Tiam Cong San, lalu mereka berduapun berpisah untuk melanjutkan perjalanan masing-masing.

Sesudah lewat beberapa tahun Eng Eng mendengar dunia Kang Ouw memuji nama Sia Hong sebagai Kim Lam It Tok, Si Tangan Beracun dari Kwiecu Selatan. Ingin ia menemui sahabatnya itu, sayang orang tersebut tak menentu tempat tinggalnya hingga sukar mencarinya. Karena itu belum pernah kedua sahabat itu saling bertemu lagi, sampai terjadi peristiwa hebat dikuil Siauw Lim Sie itu, sehingga Eng Eng jadi ingat pula pada sahabatnya itu, demikianlah penuturannya.

In Gwa Sian dan Pek Cut telah mendengarkan dengan penuh perhatian, dan akhirnya Pek Cut mengerutkan alisnya dan berkata masgul :“Dengan begitu teranglah Kim Lam It Tok seorang yang lurus, kenapa sekarang dia ikut kawanan bajingan dari luar lautan itu? Sungguh aku tidak mengerti.”

“Memang itu aneh tetapi sekarang kita belum mengetahui sebab musababnya.” berkata Eng Eng. “Dahulupun aku tak sempat bertanya perihal gurunya, tak tahu aku tabiatnya secara mendalam. Mungkin ada sebab musabab yang membuat pikirannya berubah…”

“Siapa lurus siapa sesat, itu cuma soal satu tindak kaki,” kata Pat Pie Sin Kit. “Sia Hong mempunyai kepandaian istimewa itu, ia sudah kena terpikat si sesat yang hendak memanfaatkannya.” Sampai disitu mereka berbicara, tidak ada keputusan apa- apa, lalu Pek cut mengajak Eng Eng mengundurkan diri dari kamarnya si pengemis luar biasa.

Besoknya tengah hari, Pek Cut menerima berita tibanya Go Hian Tojin bersama dua orang saudara seperguruannya serta empat orang muridnya. Go Hian adalah ketua partai Bu Tong Pay dipropinsi Hopak dan kedua saudaranya itu Seng Hian dan Leng Hian. Bu Tong Pay cuma kalah ternama sedikit dari Siauw Lim Sie. Tingkatnya Go Hian sama dengan Pek Cut sedangkan namanya tersohor berimbang dengan nama In Gwa Sian. Ketika undangan dikirim yang diharap ialah Go Hian akan mengirim beberapa orang wakilnya, siapa sangka dia datang sendiri. Inilah diluar dugaan. Maka Pek Cut dan In Gwa Sian menjadi heran. Walaupun demikian tanpa ayal mereka menyambut dengan hormat kedatangan Go Hian, bahkan Pek Cut mengajak para Tianglo dari Kam Ih dan Tatmo Ih.

Yang luar biasa, walaupun mereka sama-sama ternama, ketiga orang itu belum pernah bertemu satu dengan lain, artinya mereka belum pernah berkenalan.

Pek Cut beramai menyambut ditempat yang jauhnya lima lie dari kuilnya. Selagi menantikan, ia dan rombongannya melihat bagaimana dua orang muridnya yang bertugas menjaga diarah itu tengah memimpin rombongan tamu- tamunya, tujuh orang imam yang mengenakan Topauw, jubah keimaman serta punggungnya masing-masing menggendong pedang, cepat jalannya para tamu itu seperti lari, hingga kedua penyambutnya yang mesti mendahului mereka pada bermandikan keringat, padahal waktu itu musim dingin.

Setibanya rombongan itu, Pek Cut maju paling depan untuk menyambut, ia sudah lantas berhadapan dengan seorang imam tua dengan janggut panjang hingga ke dada dan jubahnya hijau muda, sembari tertawa ia berkata :“Lolap toh berhadapan dengan Go Hian Totiang, bukan? Maaf muridku telah tak jelas membawa berita, hingga lolap tak tahu bahwa yang tiba totiang sendiri hingga tak dari jauh-jauh lolap menyambutnya…”

Imam itu tersenyum, ia membalas hormat sambil menjura. “Tak berani, tak berani pinto menerima kehormatan

demikian besar!” kata dia merendah. “Pinto datang bersama

dua saudara seperguruanku serta ke empat muridku, supaya mereka itu mudah diperintah-perintah.”

“Lolap tak berani, lolap malu akan mendengar kata-kata diperintah-perintah itu.” berkata Pek Cut merendah, “Kedatangan totiang saja sudah membuat kami sangat girang dan bersyukur dan kami mengharap semoga berkat nama totiang yang besar kita dapat membasmi kawanan bajingan luar lautan itu supaya kita dapat melindungi kesejahateraan rimba persilatan seluruh tionggoan!”

Go Hian merendah, kemudian ia perkenalkan kedua sute, adik seperguruannya itu, maka Pek Cut pun saling memberi hormat dengan Seng Hian dan Leng Hian yang baru berusia empat puluh lebih, rambutnya hitam , matanya tajam. Setelah itu ia yang ganti memperkenalkan para Tianglonya serta Pat Pie Sin Kit juga.

Go Hian semua pernah mendengar nama besar si pengemis aneh, ia tertawa sambil mengurut-urut janggutnya, dengan ramah ia berkata :“Sudah lama pinto tak dengar nama Tayhiap banyak disebut orang, kali ini karena ancaman terhadap kaum rimba persilatan, tayhiap sudi hadir disini, pinto bersyukur sekali. Pasti kaum rimba persilatan juga akan bersyukur seperti pinto!”

Imam itu memanggil Tayhiap kepada pengemis cabang atas itu.

“Sebenarnya namaku itu nama kosong belaka!” In Gwa Sian merendah. “Tak berani aku si pengemis tua menerima panggilan Toheng ini. Adalah kami yang sangat bersyukur bahwa Toheng sebagai seorang ketua partai yang namanya besar bagaikan gunung Tay San, telah sudi menghargai kami dengan kehadiran Toheng beramai disini guna bekerja untuk kaum rimba persilatan tionggoan!”

Tiba-tiba Go Hian menghela napas.

“Sebenarnya pihak kamipun telah mendengar perihalnya kaum bajingan luar lautan itu sudah mendatangi Tionggoan,” katanya masgul. “Hanya diluar dugaan kami bahwa bergeraknya mereka begini cepat. Siauw Lim Sie dan Bu Tong berasal dari satu kaum, kita bagaikan gigi dan bibir, maka itu jangan kata Siauw Lim Pay yang mengundang, biarpun cuma Pek Cut Taysu sendiri, Bu Tong Pay sudah seharusnya dapat memberi jasanya yang tak berarti. Itulah sebabnya kenapa pinto setelah menerima surat undangan, sudah lantas berangkat kemari!”

“Terima kasih, terima kasih!” Pek Cut balas menjawab. “Toheng beramai sudah melakukan perjalanan jauh, itulah artinya penderitaan, maka itu silahkan kita pergi kegubuk kami supaya kami dapat menyambutnya sebagaimana layaknya tuan rumah. Perkenankanlah lolap memimpin jalan!” Berkata begitu, benar-benar Pek Cut memutar tubuh buat bertindak pergi, maka In Gwa Sian lantas mengikutinya, hingga mereka lantas diikuti oleh para tamunya.

Disepanjang jalan, asal bertemu pendeta, semua pendeta itu menghunjuk hormat dan mengucapkan selamat datang. Mereka ini mengagumi pihak Bu Tong Pay, sebab mereka tahu nama Seng Hian dan Leng Hian sangat tersohor sebagai ahli- ahli pedang, kalau mereka itu lihai, pasti lihai pula Go Hian sebagai suheng dan cianbunjin partai.

Pak Cut mengajak tamunya berkumpul di Tatmo dimana sudah lantas disajikan barang barang hidangan , delapan orang kacung bersiap melayani mereka, sedang diluar ruangan berkumpul dua ratus orang pendeta sebagai pengawal kehormatan. Pula telah diperdengarkan bunyi tetabuhan diwaktu mereka menyambut tetamu, semua memuji :“Amidha Budha!”

Itulah cara penyambutan besar dari Siauw Lim Sie terhadap tetamunya yang dipandang agung, melihat hal itu Go Hian beramai bangkit untuk mengatakan dengan merendah bahwa ia tak sanggup menerima penghormatan itu.

“Inilah melulu disebabkan bersyukurnya kami, karena seorang ketua partai besar seperti Bu Tong Pay telah sudi datang mengunjungi Tiong Gak,” kata Pek Cut. “Silahkan duduk, mari mengeringi tiga cawan!”

“Biar bagaimana kedatangan kami ini adalah hal yang biasa,” berkata Go hian, “Tadinya pinto sudah mengambil keputusan buat hidup menyendiri, guna menyingkir dari segala keruwetan tetapi sekarang tidak.” “Demikian juga maksud kami dari Siauw Lim Pay,” kata Pek Cut, “Murid-murid kami banyak yang merantau, tetapi mereka itu telah dipesan untuk tidak sembarangan melakukan pembunuhan, siapa tahu kami toh disatroni kawanan bajingan luar lautan itu…”

Lantas ketua Siauw Lim Sie menjelaskan bagaimana murid- muridnya kena dibokong dengan racun bahkan ada dua yang dipenggal batang lehernya!

Mendengar keterangan itu, alis Go Hian terbangun, itulah tanda dari kemurkaannya.

“Kawanan bajingan itu tinggal terpisah dari kami jauhnya laksaan lie, tetapi siapa tahu mereka toh datang menyatroni,” Pek Cut melanjutkan, “Maka itu teranglah maksud mereka bukan untuk membasmi Siauw Lim Sie saja. Itulah sebabnya kami membuat undangan umum buat mengajak sesama kaum persilatan bekerja sama guna menantang dan mencegah berhasilnya maksud jahat rombongan itu.”

“Itupula sebabnya kenapa kami datang kemari.” Go Hian memberi kepastian. Kami mengerti ilmu silat cuma kulitnya saja, karenanya kami bersedia menerima pelbagai perintah.

“Toheng hanya merendah,” berkata Pek Cut, “Siapa yang tak pernah mendengar nama Bu Tong Siang Kiam?

Kedatangan Toheng beramai ini membuat kami merasa sangat mendapat muka!”

“Bu Tong Siang Kiam” ialah sepasang jago pedang dari Bu Tong Pay.

Berkata begitu Pek Cut menghela napas, lalu ia menambahkan: “Sebenarnya, apabila tidak ada In Tayhiap yang mendesak kami, tak berani kami turut membuat undangan umum ini…..”

Go Hian mengalihkan pandang matanya dari pendeta itu kepada si pengemis tua, lekas-lekas ia berkata: “Pinto malas sekali, sudah beberapa puluh tahun tak pernah pinto merantau, karena itu pinto cuma mendengar saja nama tayhiap banyak disebut orang, tapi hari ini kita dapat bertemu muka, sungguh pinto banyak bersyukur!”

In Gwa Sian tersenyum,

“Namaku si pengemis cuma nama kosong belaka,” bilangnya. “Tak berani aku menerima pujian dari Toheng.”

“Dijaman ini siapakah yang tidak kenal Tek Cio Siangjin, Heng San Kiamkek dan Pat Pie Sin Kit tiga orang besar?” kata pula imam dari Bu Tong Pay itu. “Pinto pun telah mendengar halnya saudara In bersahabat erat dengan Tek Cio Totiang, maka itu dalam urusan kita ini tentunya Siangjin pun turut diundang. Kapankah kiranya Siangjin bakal tiba, supaya pinto dapat bertemu dengannya?”

“Tek Cio sihidung kerbau adalah orang paling aneh,” sahut In Gwa Sian, yang menghela napas.

“Sudah sejak setengah tahun lalu dia telah pergi jauh.” Tiba-tiba saja pengemis ini menghentikan kata-katanya itu.

Itulah disebabkan ia ingat akan sebutan “sihidung kerbau” itu. Ia sudah keterlepasan ngomong. Bukankah ketujuh tamunya ini imam seperti Tek Cio sahabatnya itu? Ia tersenyum jengah, terus ia menutup mulutnya. Agaknya Go Hian tidak menghiraukan kata-kata “sihidung kerbau” itu, dia tersenyum ketika dia melanjuti bicara. Kali ini dia tanya. Heng San Kiamkek turut diundang atau tidak.

“Katanya dia sangat lihai dengan sebatang pedangnya,” ia menambahkan, “Kalau dia turut diundang, pasti kita akan berhasil membasmi kawanan bajingan luar lautan itu.”

“Kami memikir buat mengundang Heng San Kiamkek, tapi tak dapat,” Pek Cut mewakili In Gwa Sian menjawab. “Sekarang ini ia tak ketentuan tempatnya, jadi sukar untuk mengirimkan undangan kepadanya.”

Go Hian agak menyesal, tetapi ia tidak bilang apa-apa. Demikian mereka berjamu sembari memasang omong.

Selang satu jam, perjamuan itu ditutup, terus Pek Cut

mengantarkan para tetamunya kekamar yang sudah disediakan buat mereka itu. Hingga selanjutnya Go Hian semua berdiam didalam kuil Siauw Lim Sie itu.

Waktu berjalan dengan cepat, tibalah tanggal sembilan bulan pertama. Sekalian pendeta yang diutus menyampaikan surat undangan sudah pada pulang dengan saling susul.

Sedangkan para undangan telah datang silih berganti. Diantaranya adalah Uan Tio Siang Can yang belum tiba. Cuma mereka itu terhitung orang-orang dari kalangan sesat bukan luruspun bukan..”

Pada suatu hari In Gwa Sian pergi ke belakang gunung, kegubuk kedua nona. Selekasnya dia masuk kedalam gubuk, dia jadi terkejut saking herannya. Ini disebabkan dia mendapati mereka itu lagi bersiap berkemas untuk berangkat. “Eh, eh, anak-anak!” tegurnya heran, “Kemana kalian hendak pergi?”

Kiauw In dan Giok Peng tidak menjawab pertanyaan itu, mereka terus berkemas-kemas.

Pengemis tua itu mengawasi tajam, lalu dia menengadah ke langit dan tertawa lebar.

“Kalian berdua, kalian sangat nakal” katanya nyaring. Dia tidak gusar walaupun dia seperti dipermainkan. “Sekarang kalian menjadi gagu agaknya. apakah kalian mau main gila? apakah kalian memberikan teka-teki kepadaku si pengemis tua supaya aku menerkanya?”

Sekali lagi dia tertawa.

Kiauw In mencibir mulutnya. Tiba-tiba diapun tertawa. “Aku tidak gagu!” sahutnya. Dan ia tertawa pula. “Jika

paman hendak menebak silahkan menebak!”

Giok Peng sementara itu berulang kali mengedipkan matanya pada si kakak, maksudnya mencegah orang membocorkan “rahasia” supaya rencana mereka jangan gagal, akan tetapi Kiauw In berpura-pura tidak melihatnya, ia tetap dengan tingkahnya itu hingga membuat si adik Peng heran dan ragu-ragu. Dengan sepasang matanya yang jeli Giok Peng terus mengawasi kakaknya itu.

In Gwa Sian sebaliknya tidak memperhatikan atau lebih tepat tidak memperdulikan gerak geriknya Giok Peng itu, bahkan dia sudah lantas mengulurkan tangannya mencekal Kiauw In sembari berkata keras: “Anak In, apakah kau sangka aku tidak tahu? Hm! Kalau kalian berdua bukannya hendak pergi mencari dia, siapa lagi?”

Kiauw In tertawa seenaknya saja.

“Dia siapa?” tanyanya. Sedikitpun ia tak nampak likat atau jengah.

Si pengemis tua tertawa lebar.

“Dia siapa?” ia mengulangi, “Siapa lagi! Dialah anak Hiong!” Kedua nona saling mengawasi, mereka tersenyum.

“Mana dapat kalian mendustai aku si orang tua?” berkata In Gwa Sian. “Janganlah berpikir demikian! Ketika anak Hiong meninggalkan gunung, didalam suratnya sudah ditulis jelas bahwa lain tahun bulan pertama tanggal lima belas dia bakal kembali ke Tiong Gak, maka jika kalian hendak pergi asal- asalan untuk mencarinya, pikiran kalian itu pikiran tolol!”

“Paman keliru!” berkata Giok Peng, “Walaupun benar kami hendak mencari seseorang, tapi dia bukanlah adik Hiong!”

Pat Pie Sin Kit melengak sejenak, terus dia berpikir. “Habis anak Peng, siapakah yang hendak kalian cari?”

tanyanya, “Lekas bilang!”

Si nona tapinya menggeleng kepala.

“Anak tak akan memberitahukan,” sahutnya. Pengemis tua merasa aneh. Ia mengawasi kedua nona bergantian, kebetulan Giok Peng tunduk untuk merapikan bajunya, ia lalu tarik lengan Kiauw In buat diajak pergi keluar.

“Anak In, apakah kalian hendak pergi bersama?” dia tanya sungguh-sungguh setibanya dihalaman luar. “Jangan kau membohongi padaku!”

“Anak cuma akan mengantarkan dia,” sahut Nona Cio. “Anak sendiri mempunyai tempat tujuan lain?”

In Gwa Sian menjadi heran, ia bingung. Ia mengurut-urut kumisnya dengan tidak tahu harus bilang apa, ia berdiam saja.

“Anak telah bicara jelas!” berkata Kiauw In menegaskan. “Paman tak akan bertanya tanya pula, bukan?”

Lantas si nona membalik tubuh untuk kembali kedalam, terus ia menurunkan pedang yang tergantung ditembok lalu diletakkannya dimeja, kemudian ia membantu Giok Peng merapikan buntalannya.

In Gwa Sian sudah lantas kembali kedalam sambil bertolak pinggang, ia berdiri di depan kedua nona.

“Karena kalian tidak mau bicara, aku juga tidak akan memaksa!” katanya dengan suara tinggi.

“Tapi sekarang kalian harus terangkan padaku, kalian hendak berangkat hari ini atau besok?”

Giok Peng mengangkat kepalanya.

“Kami akan berangkat besok!” sahutnya singkat. In Gwa Sian menghela napas.

“Kalian mau pergi juga, nah pergilah, kalian bebas!” katanya. “Hanya kalau nanti anak Hiong kembali kesini, apakah kata kalian? Kalian ada pesan atau tidak? Bicaralah!”

“Tidak!” menjawab kedua nona berbareng, singkat.

Mendengar itu, tanpa terasa si pengemis menggeleng kepala, dan tanpa bilang apa-apa lagi dengan perlahan ia bertindak keluar….

Selekasnya orang berlalu, Kiauw In tertawa, bahkan sambil bertepuk tangan, katanya: “Adik Peng, hari ini kita dapat menggoda paman In!”

“Tetapi paman mengatakan hal yang benar” Giok Peng bilang. “Kalau benar adik Hiong pulang dalam beberapa hari ini, bagaimana?”

“Mungkinkah dia akan pergi mencari kita?”

Kiauw In menenangkan. “Adik Peng, kau cuma memikirkan dia seorang, kau sampai melupakan urusan besar!”

Giok Peng menubruk kakaknya itu. “Kakak, kakak, aku tidak mau!” katanya.

“Kakak kau permainkan aku! Ah, aku tak mau pergi!”

Kiauw In lantas merangkul adiknya itu, hendak ia menggoda namun dibatalkannya. Karena Hauw Yan yang lagi tidur membalik tubuh untuk menyingkap selimutnya, terus anak itu bangun akan duduk sambil ia memanggil: “Mama! Mama!”

Giok Peng melepaskan diri, ia lari kepada anaknya itu yang baginya bagaikan mestika. Sambil memeluk anak itu ia berkata: “Anak, ibumu disini! Apakah kau ingin makan?”

Hauw Yan merangkul leher ibunya itu.

“Mama, kenapa ayah masih belum kembali?” tanyanya. Ditanya lain, ia menjawab lain. “Mama, lekas cari ayah, ajak ayah pulang! Hendak aku mengajak ayah pergi kegunung memetik buah!”

Kiauw In menghampiri ibu dan anak itu, menepuk-nepuk lengan Hauw Yan.

“Hauw Yan” katanya sabar, “Besok bersama ibumu akan aku ajak pergi mencari ayahmu, sekarang jangan kau ganggu ibumu.”

“Aku tidak mau ikut” kata anak itu yang merangkul terus pada ibunya, “aku hanya ingin mama mencari ayah!”

Kiauw In menyilangkan tangan di muka bocah itu. “Kau lihat,” katanya, “Kau sekarang telah berusia lima

tahun! Tak malukah kau selalu mencari ayah dan ibumu?”

Hauw Yan memegang tangan orang, untuk dibawa kemulutnya buat digigit!

“Haha!” tertawa Kiauw In. “Kau nakal ya? Bagaimana kau hendak menggigit tangan otang?” “Habis aku dilarang mencari ayah….” kata anak itu.

“Huss!” Giok Peng mengasih dengar suara Hauw Yan lantas tertawa.

Malam itu Giok Peng meniduri anaknya, lalu ia duduk bersama Kiauw In, membicarakan rencana mereka.

Sebenarnya mereka itu disamping rencana mereka, juga mau bekerja masing-masing.

Rencananya Kiauw In begini : Kiauw In menerka Hong Kun yang mencuri kitab, ia ingin Giok Peng yang mengambilnya kembali, caranya yaitu Giok Peng harus bersikap baik terhadap Hong Kun dan memberinya pengertian. Kitab itu mesti didapat pulang, kesatu supaya tidak hilang, kedua agar mereka  bertiga dapat bersama-sama memahami dan meyakininya. Tak dapat isi kitab itu dipelajari orang lain karena akan sangat berbahaya bagi rimba persilatan. Pertemuan diantara Giok Peng dan Hong Kun itupun perlu guna memutuskan tali asmara diantara mereka berdua, supaya It Hiong tidak terganggu lebih jauh. Mulanya Giok Peng menolak rencana tersebut, akhirnya ia kena bujuk dan menyetujuinya. Mereka akan pergi bersama, tetapi Kiauw In mau terus pulang ke Pay In Nia guna mendapat kepastian, It Hiong telah pulang kegunungnya atau tidak. Mereka mengharap akan kembali ke Tiong Gak tanpa terlambat, agar mereka dapat menghadiri rapat besar demi membantu Pek Cut. Rencana itu tak mau dibocorkan walaupun terhadap In Gwa Sian. Merekapun akan berangkat besok pagi secara diam-diam.

Selesai bicara mereka memadamkan api dan terus tidur.

Tengah malam itu datang angin utara yang hebat, hingga saling beterbangan membuat hawa menjadi dingin luar biasa. Angin itu tak mau berhenti, daun jendela diserbu berulang- ulang. Hauw Yan tak dapat tidur, sebentar-sebentar dia memanggil ibunya, hingga Giok Peng turut menjadi sukar tidur pula.

Kiauw In pun mendusin dengan terperanjat.

Ia menanti sampai jam lima. Diluar dugaan angin menderu- deru lebih kencang hingga hawa menjadi dingin hampir tak dapat dilawan.

Akhirnya Giok Peng lompat turun dari pembaringannya, ia iangin menyalakan api. Tiba-tiba dari arah pintu gerbang kuil, terdengar riuh suara genta hingga membisingkan telinga, memecah kesunyian malam dan membuat hati orang gentar…

Mengerti bahwa itulah genta kuil yang merupakan tanda bahaya, Giok Peng lantas menolak tubuh Kiauw In untuk dibangunkan, terus membisiki sang kakak agar sang kakak memasang telinga.

Alis nona Cio rapat satu dengan lain, dengan cepat ia meniup dan memadamkan api untuk terus membisiki kawannya: “Pastilah kawanan bajingan dari luar lautan itu telah datang menyerbu pula secara membokong! Lekas kau gendong Hauw Yan, aku sendiri mau keluar untuk melihat- lihat!”

“Kakak lebih baik kita pergi bersama.” Giok Peng berkata. “Aku kira tidak ada halangannya kalau kita membiarkan Hauw Yan tidur seorang diri…” Ia lantas menghampiri anaknya untuk membisiki telinganya, kemudian ia menjemput dua batang pedang diatas meja, satu dikasihhkan pada kakaknya. Kiauw In menyambuti. Lantas keduanya pergi keluar. Habis menutup pintu mereka memecah diri ke kiri dan kanan berlalu sambil saban-saban mendekam.

Giok Peng pergi ke kiri, habis memutari rimba ia menuju kepondokan belakang yaitu Lohan Tong. ruang Arhat tempat para pendeta belajar silat yang lantainya beralaskan batu persegi, hanya ubinnya sudah tidak rata bekas latihan keras dari banyak tahun. Syukur ia pandai ilmu ringan tubuh dan matanya awas, ubin tak rata itu tidak menyusahkannya.

Ruang itupun mendapat penerangan dari cahaya rembulan, sebab saat itu si putri malam sedang terangnya. Lentera didalam ruang tidak dinyalakan rupanya sudah dipadamkan, tetapi ditubuh delapan belas patung arhat nampak cahaya cukup nyata, semua berdiam ditempatnya masing-masing dalam kesunyian ruang itu. Diluar situpun tidak ada orang, kecuali angin yang menggoyang-goyang pohon-pohon bambu dan menimbulkan suara gesekannya.

Ketika itu suara genta sudah berhenti, rupanya gantinya adalah suara berlarinya sepatu dari beberapa puluh pendeta dari dua pendopo depan berlari-lari kehalaman luar. Suara itu tak lama lantas hilang.

Disaat Giok Peng hendak melintasi pendopo Tay Hiong Po- thian mendadak ia ingar putranya, ia menjadi ragu-ragu, tengah ia berpikir matanya melihat satu bayangan berkelebat disebelah kiri pintu Pekarangan, bergeraknya sangat pesat hingga sukar dilihat dengan jelas, karena itu ia menjadi curiga, segera ia melompat menyusul, pedangnya diputar guna melindungi dirinya.

Setelah melewati pintu, Nona Pek melihat sebuah taman kecil yang berdampingan dengan sekelompok kamar pendeta. Itulah halaman barat. Ia melintasi halaman itu, dari sini ia memutar ke pendopo Tay Hiong Po-thian dan di depan sana letaknya pintu gerbang. Ia lompat naik keatas genteng terus melintasinya. genteng itu penuh salju, lantas ia tiba ditepian payon. Dibawah itu ada sebuah pohon bwe yang bunganya putih sedang mekar. Disini sinar putih dari salju membuat sekitarnya terang.

Selagi Giok Peng hendak lompat turun, mendadak kakinya yang sebelah terpeleset salju, berbareng dengan mana dari samping menyambar segumpal benda. Ia menerka kepada bokongan orang jahat. Maka ia berteriak: “Jahanam, jangan curang!” sambil membentak ia berkelit seraya melompat turun kehalaman. Baru ia meletakkan kakinya, serangan sudah datang lagi, kali ini terus bertubi-tubi. Celakanya halaman itu penuh dengan es hingga sulit menaruh kaki disitu.

Pada saat terancam itu, Giok Peng berlaku cerdik dan cepat. Ia putar pedang di depannya, menghalau setiap serangan gumpalan salju, dilain pihak ia lompat mundur kepohon guna melindungi diri di belakang pohon itu. Ia berlompatan dengan gerakan “Walet pulang sarang”.

Hebat serangan gelap itu, walaupun senjatanya cuma gumpalan es, batang pohon terhajar hingga terdengar suara berisik dan cabangnya pada bergoyang-goyang, hingga salju diatasnya berjatuhan bagai hujan.

Untuk menghindarkan diri lebih jauh, nona Pek berlompatan lagi kesamping, kali ini dengan gerakan “Walet Menembus Tirai”. Ia jadi berada di depan sebuah pendopo. disitu tergantung sebuah genta yang besar yang biasa digunakan sebagai pertanda untuk para pendeta bersantap pagi dan sore. Disitu Giok Peng berpikir dengan cepat. Tay Hiong Po-thian sunyi, demikian juga pendopo kiri kanannya. Kemanakah perginya semua pendeta? Bukankah musuh tengah menyerbu? Apakah mereka terkena tipu daya musuh “Memancing Harimau Meninggalkan Sarang”? Itulah berbahaya. Itu artinya kuil kosong. Maka ia memikirkan untuk membunyikan genta.

Tapi terlalu berbahaya jika ia harus mengambil tambang yang dikaitkan sebuah martil kecil alat untuk memukul genta, ia lalu mengayun kakinya menjejak genta itu!

Segera terdengar suara nyaring berisik, berulang-ulang yang terdengar sampai ketempat yang jauh.

Hanya belum berhenti suara genta itu, tiba-tiba dari belakang pohon terdengar sebuah suara menghina: “Nona kecil, para pendeta sudah kabur semuanya, maka itu kau biarlah aku yang melayani.”

Giok Peng terkejut. Inilah yang tidak ia sangka. Ia menerka, suara itu tentulah dikeluarkan bayangan tadi. Belum lagi ia memberi jawaban, kembali ia dibuat kaget sekali, kali ini dengan menyambarnya seutas tali yang panjang, yang mengancam menjerat lehernya.

Dalam kagetnya, Giok Peng membela diri. Ia menunduk sambil pedangnya disabetkan keatas ke arah tali itu untuk memapasnya putus. Ia menggunakan tipu tebasan “Membisakan Awan dan Halimun”, karena ia mendongkol, iapun mendamprat: “Jahanam tak punya muka! Lihat senjata nonamu!”

Orang yang bersembunyi itu tertawa mengejek, terus ia berkata: “Haha, malam ini aku datang sengaja untuk menjengukmu nona! nona yang baik, kau tahu sendiri, para pendeta itu adalah bangsa orang suci yang tak menghendaki istri, mereka itu beda dengan aku, Haha! Nona baiklah kau ikut aku ke pulau To Liong To untuk hidup senang dan bahagia! Pulauku itu jauh lebih hebat dari pada kuil sunyi ini. Dan kau akan jauh lebih berbahagia daripada mengikuti kawanan pendeta itu!”

Kata-kata orang itu membuat nona Pek gusar sekali, hatinya amat panas, hampir ia membalas mendamprat tapi ia batalkan begitu mendengar disebutnya nama To Liong To, pulau naga melengkung. Jadi benar penyerbu ini orang luar lautan, pastilah datang dalam jumlah besar. Maka mereka itu tidak boleh dipandang ringan. Para pendeta pun belum pada kembali.

“Baiklah aku layani dia bicara, barangkali saja aku bisa mendapat tahu siapa dia sebenarnya…” demikian pikirannya. Maka tenanglah hatinya. Maka ia melanjutkan menjejak lagi genta itu dilain pihak ia membuka suaranya, katanya: “Kalau kau benar orang kosen dari To Liong To, kenapa kau memasuki kuil seperti maling? Bukankah selain kau masih ada konco-koncomu yang lain?”

Orang didalam gelap itu telah menarik kembali talinya, ia tahu setelah gagal kali yang pertama, yang kedua kali pasti tak ada gunanya. Ia ternyata berada diatas pohon, dari atas itu ia mengeluarkan juga suaranya: “Eh nona, apakah kau tak kenal sebuah pepatah kuno “Perang tak pantang haram”. Kau harus ketahui, kami yang datang maksud kami tidak baik tak nanti dia datang menyambuti. Mari nona, tuan besarmu Cut Tong Kauw, Thie Siong Kang tak dapat menanti lama!

Mendengar suara orang itu, tahulah Giok Peng bahwa manusia ceriwis itu ialah si “Ular Naga Keluar dari Gua” (Cut Tong Kauw), tapi belum sempat memberi jawaban musuhnya itu sudah menggunakan pula tali bandringannya. Hanya kali ini dia bukan mengarah leher melainkan hanya melayangkan talinya dari kiri ke kanan untuk melilit tubuh.

Mulanya Giok Peng mau menebas, namun ia melihat ujung tali itu tanpa kepalanya yang bundar, ia lantas menerka kepada tipu daya jago To Liong to itu. Maka ia batal menebas. Ia menjejak genta untuk membuat tubuhnya melesat. Begitu lekas ia menyingkir, begitu lekas juga genta itu kena terlibat tali musuh dan tertarik keras hingga gentanya berbunyi nyaring.

Menyaksikan hal itu tahulah si nona bahwa Thie Siong Kang bertenaga besar sekali. Iapun lantas memikirkan daya buat berlalu dari situ. Dengan musuh berdiam diatas dan ia dibawah , ia terancam bahaya. sebab ia kalah kedudukan yang baik. Ia lantas memutuskan untuk menanti kembalinya para pendeta…

Tanpa ragu lagi Giok Peng berlompat sejauh dua tombak hingga ia berada dekat dengan pintu gerbang, lagi satu lompatan ia akan berada disebelah luar. Tapi ketika ia melihat pintu, ia heran. Disitu telah bertumpuk banyak batang pohon yang panjang dan pendek. Umpama kata mirip bukit. Pasti berabe sekali andiakata ia mesti singkirkan semua rintangan itu. Terpaksa ia mencari jalan keluar lainnya. Begitulah ia putar pedangnya sambil ia membentak:

“Jahanam hendak aku mengadu jiwa denganmu!” Walaupun demikian ia menempelkan tubuhnya pada tembok sambil jalan dan melindungi dirinya disisi tiang pendopo.

Setelah itu ia lompat untuk sampai dipendopo Tay Hiong Po- thian. Ia hendak lewat pendopo belakang guna melintasi deretan kamar dan keluar dari situ…. Thie Siong Kang ternyata pintar sekali. Dia telah menduga si nona telah tertutup jalan majunya dan pasti bakal mundur teratur, maka dia lantas menjaga dipendopo. Untuk itu dengan gesit dia lompat turun dari atas pohon dan terus menempatkan dirinya. Maka ketika Giok Peng datang mendekat, mendadak dia menggunakan tali bandringannya sambil dia berseru: “Nona yang baik, baiklah kau letaki pedangmu, supaya dengan baik kau turuti aku! Percayaitu aku Cut Tong Kauw, tidak nanti akan menyia-nyiakanmu. Pulau To Liong To gunungnya indah permai, barang makanannya lengkap dan lezat! Semuanya sedia untuk kau cicipi dan makan sepuasnya! Anginnyapun sejuk dan gelombangnya tenang, hingga pastilah kita bergembira andiakata kita berdua naik perahu akan berpesiar bersama-sama! Setiap hari akan aku temani kau selalu! Nah, marilah kita…

Tak sudi Giok Peng kena ringkus tali itu, juga tak mau ia menyambutinya dengan pedangnya, hanya setelah menanti hampir tibanya ujung tali, mendadak ia lompat mencelat untuk menjauhkan diri. Pedangnya diputar buat melindungi diri.

Itulah salah satu jurus dari ilmu pedang Khie Bun Pat Kwa Kiam. Selekasnya ia bebas dari ancaman tali bandringan itu, iapun lompat melesat justru ke arah musuh itu, jago To Liong To itu justru sedang terbuka dadanya sebab dia lagi membandring si nona. Tapi dia benar-benar kosen, walaupun seperti dibokong itu masih dapat ia mengelakkan diri.

“Bagus” dia berseru. Bukannya dia menangkis, dia justru mencelat pergi, berkelit dari serangan yang berbahaya itu. Segera dia bertindak dan menatap lawannya, mtanya melirik tajam. Menyusul itu dia bertindak maju sambil tertawa dia menantang: “Nona yang baik, jangan kelewat kasar! Mari maju lagi!” Kembali Siong Kang menggunakan tali bandringannya yang lihai itu. Nampaknya dia ingin memberi hormat, sebenarnya dia bersiap untuk melanjutkan serangannya. Disaat itu dia bersikap sombong dan wajahnya menunjukkan kejumawaannya.

Giok Peng mengawasi dengan tajam. Ia mengerti bahwa ia terancam bahaya kalau ia kurang jeli dan kurang gesit. Ia mendongkol maka mukanya menjadi bersemu merah.

Siong Kangpun mengawasi si nona itu yang dimatanya tampak semakin cantik dan manis. Dia memang seorang bajingan yang berparas elok. Dipulaunya, aturannya keras, tak berani dia sembarang main gila, tidak demikian apabila dia berada diluar wilayahnya. Dia menjadi bebas bebas, dialah si tukang menghina wanita. Memang dia bertugas meronda dibagian luar, jadi ia sering meninggalkan pulaunya, menyeberang buat beberapa lama untuk mencari kesempatan memuaskan nafsunya. Demikian juga ketika ia melihat Giok Peng, dia tertarik bukan main dan berniat mengganggu nona itu. Dia sampai mengeluarkan iler.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(