Iblis Sungai Telaga Jilid 03

 
Jilid 03

Hebat bekerjanya pikiran kedua nona itu, sampai fajar tiba tak ada diantaranya yang dapat memejamkan mata dan tidur pulas.

Adalah Houw Yan yang tidur nyenyak telah membuka matanya. Kapan ia mengawasi ibunya, ia tersenyum. Ialah bocah yang belum tahu apa-apa...

Kiauw In yang lebih dahulu lompat turun dari pembaringan, ia bertindak menghampiri Giok Peng hingga bisa melihat Nona Pek sedang rebah mendelong saja. Lantas ia tertawa perlahan. Segera ia mendekati telinga orang untuk berkata perlahan juga "Sang surya sudah naik tinggi !"

"Oh !" seru Giok Peng perlahan, terkejut lantas ia turun dari pembaringannya. Ia masih pepat pikirannya tetapi bisa ia tersenyum. Lekas-lekas ia menyisir rambutnya dan mencuci muka, untuk terus pergi ke dapur.

Kiauw In mengempa Hauw Yan, sembari tertawa ia kata pada ibu si anak : "Aku duga tadi malam dia pun sukar tidur nyenyak, maka itu naik kau lekas, panggil dia masuk untuk sarapan pagi !"

Giok Peng tersenyum, dengan sabar dia bertindak ke kamarnya It Hiong. Pagi itu indah. sisa embun bergemerlapan diantara sinar matahari. Sang angin bersiur membawakan harumnya bunga, buah dan rumput. Gubuk pun sangat tenang dan damai.

Selekasnya Giok Peng melihat pintu kamarnya It Hiong, ia terperanjat. Kedua daun pintu terbuka separoh, maka dia mengernyitkan kedua belah alisnya yang lentik dan berkata didalam hati : "Ah, dia lalai sekali. Kenapa dia tidur tanpa mengunci pintu ? " Ia berjalan terus, ia berpikir pula :"Kalau toh dia sudah bangun, seharusnya dia menengok kakak In, aku dan Houw Yan. "

Dilain saat, si nona sudah berada di dalam kamar. Kali ini ia terperanjat saking heran bercampur kaget. Ia melihat pembaringan kosong, tetapi pembaringan itu rapi. Sisa api sudah padam. Ketika ia berpaling ke dinding disitu tak tampak Kong Hong Kiam, pedang yang mengagetkan Bianglala.

Tanpa terasa Nona Pek berlompatan ke pembaringan, maka disitu ia melihat sehelai kertas yang ada tulisannya yang tertindih bantal kepala. Segera ia membaca :

"Kakak In dan kakak Peng yang baik ! Kitab pedang karya guru kita bukan cuma lihai tetapi juga menyangkut soal kehidupan kaum rimba persilatan seumumnya, tetapi diluar tahuku telah aku membuatnya Bielang hatiku dengan sendirinya menjadi tidak tenang. Lebih-lebih karena janji pertemuan di Tiong Gok telah mendekati, tinggal lebih kurang waktu dua bulan. Maka itu didalam waktu singkat ini, hendak aku berbuat semampuku mencari dan mendapatkannya pulang. Aku hendak mencarinya walaupun aku tahu harapannya sangat tipis. Hatiku lega sesudah aku berdaya semampuku. Lain tahun pada tanggal lima belas bulan pertama pasti aku akan berada di Tiong Gok. Kakak berdua, seharusnya aku menemui kalian guna memberitahukan maksud hatiku ini tetapi karena aku kuatir kalian mencegah terpaksa aku ambil ini jalan, pergi tanpa pamitan lagi.”

"It Hiong"

Masih sekian lama Giok Peng berdiri menjublak mengawasi suratnya si adik Hiong itu, selekasnya dia sadar, dia lari kepada Kiauw In.

Nona Cio heran melihat orang datang sambil berlari-lari dan mukanya pucat. Ia melompat bangun.

"Bukankah adik Hiong sudah pergi ?" tanyanya. Itulah terkaannya yang paling dahulu.

Giok Peng mengangguk.

"Benar," sahutnya sambil ia mengangsurkan suratnya It Hiong. "Inilah suratnya, silahkan kakak baca !"

Kiauw In menyambuti surat itu dan membacanya dengan cepat.

"Dia tak dapat melenyapkan sifat kekanak-kanakannya," kata Nona Cio kemudian. "Dia toh tak punya endusan sama sekali ! Habis, kemana dia mau pergi mencari ?"

"Bagaimana sekarang ?" tanya Giok Peng, pikiran kacau disebabkan kekuatirannya bagi It Hiong.

"Perlu atau tidak kita memberitahukan Paman In ? Kita dapat minta paman memohonkan bantuannya kedua Siauw Lim Sie supaya kedua itu mengirimkan murid-muridnya mencari keperbagai penjuru. "

Kiauw In menggelengkan kepala. Ia menghela napas. "Adik Hiong pergi sejak tadi malam, dia tentu telah melalui

perjalanan seratus lie atau lebih" katanya. "Jangan kata kita dapat menyusulnya, taruh kata dia tersusul belum tentu dia mau diajak pulang. Kecuali kalau paman In sendiri menyandaknya. "

Giok Peng berdiam matanya menatap sang kakak, siapa sebaliknya memandang ke arahnya hingga mereka saling mengawasi.

"Habis apakah kita membiarkan saja dia pergi ?" kemudian Nona Pek bertanya berduka tetap tak tenang.

Kiauw In tertawa walaupun nadanya berduka.  "Apakah dayanya untuk tak membiarkannya pergi ?" ia

balik bertanya. "Hanya dengan kepergiannya, bukan saja ia

sulit baginya untuk mendapatkan pulang kitab itu, ia juga merusak rencana yang hendak kita atur. Tidak ada jalan lain daripada kita bersabar menanti sampai lain tahun, sampai pertempuran di gunung Tiong Gak itu. "

Giok Peng berdiam. Ia menyambuti pulang suratnya It Hiong. Kemudian ia mengempo anaknya untuk terus duduk menghadapi Kiauw In. Di depannya sudah sedia satu meja barang santapan guna santapan pagi, tetapi tidak ada satu diantaranya yang tertelan mengisi perutnya.

Cuma It Hiong yang mereka pikirkan dan kuatirkan. Sang waktu berjalan cepat, sang tengah hari tiba dengan segera. Ketika itu Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian kembali ke rumah gubuk. Kedua nona telah mengambil keputusan tidak berani mereka menyembunyikan kepergiannya It Hiong itu. Maka mereka lantas memberitahukannya.

Si pengemis menepuk meja.

"Anak itu sangat sembrono !" katanya keras. "Nanti aku pergi susul dia !"

"Adik Hiong telah pergi sejak tadi malam, paman." Kiauw In mengasi tahu. "Mana dapat paman menyusulnya ? Lagipula paman tidak tahu akan tujuannya."

In Gwa Sian diam untuk berpikir.

"Benar juga." katanya kemudian. "Aku si pengemis tua hendak membantui Pek Cut Siansu menyambut para undangan. Walaupun waktu yang ditetapkan ialah tanggal limabelas bulan pertama, ada kemungkinan dalam beberapa hari ini akan sudah datang sejumlah tamu-tamu, ialah mereka yang formasi tempatnya paling dekat dengan Siauw Lim Sie. Mereka itu rata-rata kawan atau sahabatnya Pek Cat tetapi diantaranya pasti juga ada sahabat-sahabat kekalku sedangkan mereka semua pada mempunyai adat atau tabiat atau kebiasaan yang luar biasa, yang angkuh dan dingin hingga sulitlah untuk menyambut dan melayaninya jika terjadi salah bicara sedikit saja, bisa-bisa mereka nanti angkat kaki pula. Karenanya, tak dapat aku pergi dari sini."

Dia jagi tua ini menghela napas. Ia mendongkol berbareng berduka. Hanya sejenak ia menambahkan : "Beberapa orang sahabatku itu adalah orang-orang yang sudah sekian lama mencuci tangan yang telah mengundurkan diri, hingga ada kemungkinan orang -orang muda sekarang ini cuma beberapa orang saja yang kenal atau ketahui asal usul mereka itu. Sejak malam itu aku menempur Toian Cie Loid si kepala bajingan itu, aku memperoleh kenyataan bahwa segerombolan setan cilik itu sesungguhnya tak dapat dipandang ringan.

Demikianlah, tak dapat tidak, perlu aku mengundang kawan- kawanku itu !"

"Siapakah para tetua itu, paman ?" Kiauw In tanya. "Entah pernah anakda mendengeranya dari guruku atau tidak..."

Ditanya begitu, In Gwa Sian tertawa terbahak-bahak. Dia girang sekali.

"Orang-orang undanganku itu sangat jarang bergaulan dengan gurumu si hidung kerbau itu !" sahutnya gembira. Tak pernah dia lupa menyebut nyalu : "sihidung kerbau." Kalau lain oarng menyebutnya itulah ejekan untuk kaum imam (tosu atau Tojin), tetapi buat ia, itulah caranya bergurau. Dia

sendiri-sendiri selalu menyebut dirinya si pengemis tua, atau si bangkotan pemabukan. "Karena itu tidaklah heran jika dia belum pernah atau tak pernah di depanmu. Dimata gurumu itu, sahabat-sahabatku terhitung sebagai orang-orang malang ditengah, jahat bukan, lurus bukan, sebab mereka tak suak memikir mendalam siapa salah siapa benar, mereka mudah bergirang, tapi juga gampang marah. Setahuku selama hidup mereka belum pernah mereka itu melakukan kejahatan besar, ada juga sebagai macam kejahatan atau kekejian kecil. Kalau gurumu si hidung kerbau malu bergaul dengan mereka maka mereka itupun belum tentu sudi menaruh mata kepada gurumu yang layaknya kaya dewa alim ! Ringkasnya mereka keuda pihak mirip api dengan air yang saling tak sudi memberi ampun. " "Paman" berkata si nona Cio, "ingin keponakanmu berbesar hati menambah sedikit dari pandangan paman, ialah mengenai guruku. Memang diluarnya guruku tampak pendiam dan alim bagaikan dewa serta berwibawa juga, tetapi sebenarnya guruku sangat luwes dan pemarah !. "

In Gwa Sian menggelengkan kepala dan tertawa.

"Tok Cio si hidung kerbau itu" katanya, "walaupun ia pandai ilmu silat luar biasa tetapi yang membuat orang menghormatinya adalah sifatnya yang putih bersih, yang tak tamak akan nama besar dan kedudukan. Harus diakui, siapa yang lihai ilmu silatnya dan merasa dirinya dapat menjagoi kalangan rimba persilatan, kebanyakan mereka itu memandang ringan pada nama besar dan kedudukan tinggi, sebaliknya, hati mereka tawar. Dilain pihak lagi, ada orang yanglihai semacam itu tetapi tokh tak dapat mengalahi niatnya tetap berada diatas lain orang. Demikian dengan aku si pengemis tua, kalau bukannya aku mendengar kabar halnya Pek Cio Siangjin di Kiu Hoa san memiliki ilmu pedang yang  luar biasa istimewa, tidak nanti aku mendatangi Pay In Nia untuk menantangnya bertanding. "

Pengemis itu berhenti sejenak, untuk menarik napas perlahan-lahan melegakan dadanya

"Di masa itu aku si pengemis tua, aku istimewa sekali" ia melanjuti. "Bicara sebenar, aku sangat tidak puas yang gurumu disohorkan sebagai orang gagah luar biasa yang nomor satu dalam dunia rimba persilatan maka itu aku telah menempur dia sampai tiga hari dan tiga malam, diantara kita tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang, sampai akhirnya gurumu menunda gerakan pedang dan menganjurkan aku untuk menghentikan pertarungan itu.

Kemudian barulah aku pikirkan tentang pertandingan itu, lantas aku insyaf bahwa setelah bertanding selama seratus jurus aku telah kalah didalam satu jurus diantaranya. Ketika itu setahuku, ilmu Hian-bun Sian Thian Khje kang dari gurumu itu belum sempurna, begitupun belum sempurna ilmu pedangnya Patkwa Kiu bun Kiam dan ilmu ringan tubuh lompat tinggi Te In Ciong, loncatan Tangga Mega, tiga puluh tahun telah berlalu siapa tahu selain semua ilmunya itu sekarang diapun menciptakan ketiga ilmu pedangnya yang digabung menjadi satu itu yaitu Thaykeka Liang Gie Kiam, sedangkan aku, sebaliknya, aku bagaikan si nakan panah yang telah diluncurkan..."

Kiau In berkuatir. Ia melihat diwaktu berkata terakhir itu wajahnya si pengemis guram sekali, suata tanda bahwa dia insyaf dan menyesal. Maka ia lekas-lekas berkata : "Paman, kaum rimba persilatan menyebut paman sebagai Pat Pie Sin Kit, bukankah julukan itu besar dan harum tak kalah daripada namanya guruku ?"

In Gwa Sian tertawa hambar.

"Aku si pengemis tua, telah tua kau..." katanya masgul.

Mendadak dia berbangkit bangun terus bertindak keluar dengan perlahan.

Kiauw In dan Giok Peng melengak. Belum pernah dia melihat jago tua itu demikian berduka dan kelakuannya demikian aneh. Maka mereka menerka bahwa perubahan itu pastilah disebabkan selama tahun-tahun yang belakangan ini hidupnya si pengemis aneh terlalu sunyi....

Kiauw In masih mau omong lebih banyak pula tetapi karena sang paman guru sudah pergi keluar, terpaksa ia mesti menunda, walaupun demikian, ia toh lantas berjalan mengikutinya. Giok Peng dengan mengempo Kauw Yan mengintil di belakang si kakak In.

Kedua nona itu berjalan tanpa suara, mereka mengikuti paman itu sampai diluar gubuk sejauh seratus tombak lebih, sampai disitu baru mereka berhenti.

In Gwa Sian berjalan terus dengan tak pernah ia menoleh walaupun hanya satu kali. Nampaknya seperti ia tidak tahu yang kedua keponakan murid itu telah mengantar keluar.

Terus Kiauw In dan Giok Peng mengawasi kepergian sang paman yang berjalan terus dan baru menghilang disuatu pengkolan gunung...

Tiba-tiba Nona Pek merasakan sesuatu, yang menggugah hatinya, maka tanpa merasa airmata itu berjatuhan ke muka anaknya...

Kiauw In mendapatkan serupa duka itu, matanya lantas menjadi merah dan mengembangkan air, hanya dia memilih dapat meneguhkan hatinya mencegah airmata itu mengucur keluar...

Lantas juga kedua nona itu berdiri diam saja, yang satu menepis air matanya, yang lain mencoba menguasai hati, buat melegakan diri.

Giok Peng terasadar paling dahulu karena tiba-tiba saja Hauw Yan memanggil : "Mama ! Mama !" Maka insaflan ia atas keadaan mereka. Dari itu, lekas-lekas ia menarik tangannya Kiauw In.

"Kakak, mari kita pulang !" ia mengajak . "Ah.. !" Nona Cio mengeluh. "Sejak aku kenal paman In, belum pernah aku melihat ia seduka barusan..." Lalu tanpa mengatakan sesuatu lagi, ia memutar tubuh untuk pulang ke gubuk mereka.

Giok Peng yang tadinya menarik tangan orang, berjalan mengikuti di belakangnya.

Cepat lewatnya sang waktu. Sepuluh hari berlalu seperti tanpa terasa. Selama itu In Gwa Sian belum pernah kembali. Maka itu, untuk menggunakan waktu sebaik-baiknya, sambil merawat Hauw Yan, kedua nona rajin berlatih guna menyempurnakan ilmu pedangnya itu. Ilmu pedang itu perlu dengan latik tak putus-putusnya untuk menjadi sempurna betul-betul.

Sementara itu In Gwa Sian sebenarnya sedang repot luar biasa hingga ia umpama kata tak dapat memecah dirinya.

Namanya Pek Cut Siansu dari Siauw Lim Sie sangat kesohor, nama diapun tak kalah pamornya. Sekarang mereka berdua membuat undangan umum. Undangan mereka itu membuat mereka yang diundang menjadi memperoleh kehormatan besar, hingga siapa yang menerima itu hatinya menjadi girang. Benar seperti diduga si pengemis sahabat-sahabat yang tempat kediamannya paling dekat dengan Siauw Lim Sie telah datang siang-siang. Diantaranya haruslah disebut seorang Sungan Telaga Kang Ouw yang dianggap luar biasa, yang tinggal menyendiri bagaikan bersembunyi disuatu tempat yang bernama Kim Kok Wan, taman lembah emas, di wilayah kota Lok yong. Ia telah membuat seluruh rumah besar (cung ie) yang pintunya senatiasa tertutup karena ia menampik datanya tamu-tamu, bahkan kunjungan orang rimba persilatan, Bu Lim ia tolak juga. Karena itu lama kelamaan, jadi jarang orang menjenguknya, hingga akhirnya ia dilupakan kaun Kang Ouw dan Bu Lim.

Jago itu she Ngai bernama Eng Eng. Di masanya dia malang melintang, namanya sangat tersohor. Orang segani dia kerena dua rupa kepadiaannya, yaitu ilmu ringan tubuh berlompat tinggi dan jauh, Kang Kang Tae Ciong Sat dan senjata rahasianya yang dijulukinya Teratai Thio lian cie, yang berjumlah seratus delapan biji. Pada empat puluh tahun yang lalu, pernah dengan seorang diri dia menempur lima ketua Kam Im dari Siauw Lim Sie, sebab ialah ia telah mencuri kitab silat tangan kosong dan ilmu pedang Siauw Lim Sie yang disimpan didalam Coang Kok Kok, lauwiang tempat menyimpan kitab. Ia pun telah bertempur dengan Pek Cut Siansu sendiri selama tiga ratus jurus tanpa ada yang kalah atau menang. Ketika itu Pek Cut belum diangkat menjadi ketua Siauw Lim Sie dan dia mempunyai seorang paman seperguruan yang terlebih tua. Kapan paman itu melihat dia tidak bisa merobohkan musuh, si paman turun tangan sendiri. Dialah Ceng In Taysu, pendeta satu-satunya yang kedudukannya setingkat lebih tinggi daripada Pek Cut.

Sedangkan gurunya Pek Cut sendiri ialah Go In Taysu.

Tatkala itu usianya Ceng In sudah seratus tahun lebih, selama hidupnya jarang dia tinggal menetap di Siauw Lim Sie. Dia lebih gemar merantau. Selama tiga sampai lima tahun, tak pernah ia pulang ke kuilnya. Hanya disaat Pek Cut bertempur dengan Eng Eng kebetulan dia baru pulang. Menyaksikan Pek Cut keteter, dia menyuruh si keponakan murid mundur, untuk dia yang menggantikan melayaninya.

Sebenarnya selama tigaratus tahun, Ceng In adalah jago Siauw Lim Sie satu-satunya. Go In sendiri masih kalah dengannya. Hanya tabiatnya saja yang aneh, tak betah dia tinggal didalam kuil. Benarlah, setelah dia maju belum tigapuluh jurus, Eng Eng sudah kena ditotok hingga tak berdaya.

Pek Cut menyayangi Ngai Eng Eng, ia memintakan keampunan, maka Eng Eng dibiarkan pergi setelah dia diberi nasihat. Tapi Eng Eng ingat budi, disaat Peng Cut mengantarkannya turun gunung, dikaki puncak Siauw li Hiong, mereka berdua mengikat janji persahabatan. Sejak itu belum pernah mereka bertemu pula, sampai selewatnya tiga tahu Pek Cut diangkat menjadi hongthio atau ciang bunjin, ketua Siauw Lim Sie, baru Eng Eng datang untuk memberi selamat.

Kedua sahabat bertemu dengan sangat gembira. Inilah pertemuan sesudah belasan tahun mereka terpisah. Malam itu, mereka berdua bicara asyik sekali. Eng Eng berkatai hatinya, ia sudah bosan dengan dunia Kang Ouw dan ingin hidup menyendiri di Kim Kok Wan, maka lain waktu ia minta Pek Cut suka berkunjung ke rumahnya itu. Kata-katanya telah dibuktikan. Demikia ia mencuci tangan dan membangun rumahnya di Kim Kok Wan tiu. Bahkan ia sampai menampik kunjungannya sahabat atau orang Bu Lim lainnya. Pek Cut menyetujui dan meuji keputusan sahabat itu mengundurkan diri, sebab memang benar dunia Kang Ouw sangat berbahaya.

Cuma satu malam sahabat itu beromong-onong, selanjutnya mereka berpisah pula.

Selanjutnya, selama Eng Eng tinggal di Kim Kok Wan, hubungan kedua sahabat bagaikan terputus. Tapi disini itu Pek Cut merasa aneh, ia seperti mencurigai Eng Eng. Ia mendapat perasaan sahabatnya itu menyimpan sesuatu rahasia entah apa. Apakah perlunya rumah atau halaman demikian besar di Kim Kok Wan itu ? Hanya itu pernah Pek Cut memikir menanyakan keterangannya si sahabat tetapi selalu ia gagal saja, ia ragu-ragu mulainya sukar dibuka. Dan Eng Eng selama dia tidak ditanya dia pura-pura tidak tahu apa-apa.

Mulanya masih kedua sahabat suka berkunjung dengan lain, tahun lewat tahun saling berkunjung itu berkurang bahkan selama dua atau tiga tahun tak pernah sekali jua. Hingga mereka seperti sudah saling melupakannya. Tapi sekarang setelah Siauw Lim pay menghadapi ancaman pertempuran mati hidupnya ini tiba-tiba Pek Cut ingat sahabatnya lama itu dan segera mengirimkannya surat undangan.

Terpisahnya kota Lok yang dengan Tiong Gak cuma kira ratus lie, buat orang yang mengerti silat hal itu tidak dapat menjadi alangan suatu apa orang dapat pergi pagi dan pulang sore. Pek Cut mengirim utusan murid Siauw Lim Sie yang terpilih maka suratnya tiba dalam satu hari.

Semenjak dilepasnya surat-surat undangan Siauw Lim Sie menjadi repot membuat persiapan menyambut kawan dan juga lawan, kamar-kamar disediakna penjagaan diseluruh halaman kuil diperketat. Tak ada jalan yang tak dijaga.

Sementara itu marilah kita melihat dahulu kepada In Gwa Siang sejak dia meninggalkan Kiauw In dan Giok Peng berdua. Jago tua ini merasa hatinya sangat tidak tenang. Sudah hilang kitab ilmu pedang walaupun itu bukan kitab karyanya sendiri telah pergi pula anak angkatnya tanpa pamitan lagi. Terutama ia berduka sekali. Seharusnya ia menuju ke barat, buat kembali ke Siauw Lim Sie, lantaran pikirannya kusut itu ia terasasar. Sesudah jalan kira tujuh lie baru ia ketahui bahwa ia kesasar. Tentu sekali ia harus memutar tubuh buat kembali.

Tetapi itu waktu di depan ia, ia melihat dua pasang sepatu mana berserakan diatas rumput. Segera timbul perasaannya ingin tahu, maka dengan satu kali lompat sampailah ia pada ke empat buah sepatu itu. Kali ini dia bukan lagi heran, hanya heran bercampur kaget.

Diantara rumput itu tampak rebah dua tubuh pendeta yang jelas nyata dari jubahnya warna abu-abu dan disisi kedua mayat itu menggeletak masing-masing singathung, yaitu tongkat panjang dan kay To golok mereka itu. Tetapi yang paling hebat ialah kedua pendeta itu hilang kepalanya masing- masing sebatas leher !

Tak usah disangsikan lagi bahwa kedua mayat itu ialah dua orang pendeta yang ditugaskan menjaga jalan dan sebuah jalan cagak.

Sebagai seorang jago, apapula jago tua In Gwa Siang cuma kaget sebentar. Lantas dia sadar dan dapat menerka artinya penemuan mayat-mayat itu,. ialah kedua pendeta itu roboh sebagai korban-korbannya tangan-tangan jahatt. Tepatnya musuh !

Segera Pat Pie Sin Kit menghampiri mayat-mayat itu, guna meneliti terlebih jauh. Melihat dari darah yang tidak mengucur banyak, tahulah dia bahwa kedua pendeta itu mulanya kena tertotok jalan darahnya, lalu sedang mereka tak sadar, leher mereka ditebas kutung-kutung. Dalam penasaran, ia meraba dada orang. Maka ia menemui masih ada denyutan jantung orang. Maka itulah bukti bahwa orang baru saja dibunuh !

Melihat formasinya tongkat dan golok, In Gwa Sian pun mendapat kesan kedua senjata sengaja diletakkan disisi mereka itu. Maka itu lantas otaknya bekerja : "Dia atau mereka itu, pasti bukan sembarang orang. Tak mudah merobohkan dua orang hingga orang tak berdaya dan mayatnya dipindahkan ke tempat yang bala dengan rumput tebal dan tinggi itu dan sepatu mereka bagaikan dipertontonkan ! Kenapa kepala orang pun dikutungkan dan dibawa pergi ? Untuk apakah ? Bukankah itu bukti bahwa musuh berada atau bersembunyi disekitar sini guna melakukan pembunuhan gelap terhadap para pendeta ? Atau mungkin kalau yang jatuh bukan cuma kedua pendeta yang malang nasibnya ini... "

Tengah pendeta ini berpikir begitu, tiba-tiba ia mendengar suara berkeresek rumput di belakangnya, belum lagi ia menoleh atau melirik, kupingnya lantas mendengar ini suara yang rada parau : "Saudara, bukankah saudara ialah Pat Pie Sin Kit In Gwa Sian yang namanya tersohor dalam dunia Sungai Telaga ?"

Cepat bagaikan kilat, In Gwa Sian memutar tubuhnya. Ia sudah lantas bersiap sedia. "Tidak salah !" sahutnya cepat. "Ya, inilah si pengemis tua ! Dan kau, tuan yang terhormat, siapakah kau ?"

Di depan pengemis ini, cuma sejarak bebeapa kaki, tampak seseorang tua yang kumis janggutnya telah putih semua bagaikan perak, tubuhnya jangkung kurus, karenanya jubahnya panjang juga, sedangkan wajahnya menunjuki dia berwibawa. Yang aneh ialah ditangan kirinya dia itu tertenteng dua kepala orang yang terikat menjadi satu dengan rotan dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat yang terbuat dari perunggu. Walaupun demikian dengan muka berseri-seri dia lantas menjawab pertanyaan orang. "Aku yang rendah ialah Ngay Eng Eng dan aku datang ke Tiong Gak ini karena aku menerima undangannya pendeta Pek Cut serta kau kakak In !"

Tingkatnya In Gwa Sian tingkat tinggi, jarang orang Bu Lim rimba persilatan yang memanggilnya saudara, kakak atau adik, maka itu, mendengar orang she Ngay ini memanggil ia kakak, ia merasa tidak senang. Walaupun demikian ia tidak mau menunjuk rasa tak puasnya itu. Orang toh berkatai ia bahwa orang datang karena menerima undangannya. Tak mau ia berlaku kurang hormat.

"Maaf aku kurang hormat" katanya sambil merangkap kedua tangannya. "Kakak kau membawa-bawa kepala orang, kepala siapakah itu ?"

In Gwa Sian sengaja menanya meski juga ia sudah melihat tegas sekali dua kepala itu tiada rambutnya, jadi itulah kepalanya dua orang pendeta, bahkan itulah kepalanya dua orang murid Siauw Lim Sie yang tubuhnya baru ia ketemukan.

Ngay Eng Eng menghela napas.

"Aku menyesal yang aku datang terlambat satu tindak !" katanya sengit "karena itu kedua bapak pendeta ini telah kena orang bokong hingga mereka menerima kehilangannya secara hebat dan menyedihkan ini."

Kedua matanya In Gwa Sian mengerluarkan sinar bengis. "Dengan begitu kakak Ngay kau telah melihat sendiri si

orang jahat ?" tanyanya, "entah bagaimanakah macamnya

pembunuh itu ?"

"Mereka terdiri dari dua orang" sahut Eng Eng. "Tubuh mereka kecil dan sangat gesit, telah aku susul ia sejauh beberapa lie, aku tidak berhasil menyandaknya. Setelah aku menyerang mereka berulang-ulang dengan teratai besiku, barulah mereka meninggalkan dua kepala orang ini. Bicara terus terang, aku menyesal dengan kegagalanku ini..." In Gwa Sian heran tapi belum sempat ia menanya pula, ia melihat tibanya Liauw In Taysu bersama dua orang pendeta tingkat tinggi dari Tatmo ih. Mereka itu datang sambil berlari- lari.

Mulanya Liauw In melihat mayatnya kedua pendeta yang rebah tak berjiwa dan tanpa kepala, baru ia mengawasi kepala orang di tangan Ngay Eng Eng, tidak ayal lagi ia mengangkat sebelah tangannya sambil memperdengarkan pujinya.

"Siacu" tanyanya kemudian kepada Eng Eng, "apakah kedua kepala orang itu kepalanya murid-murid kami ini ?"

Pendeta itu sangat jarang berada didalam kuilnya karena itu ia tidak kenal Ngay Eng Eng dan tidak tahu juga persahabatannya orang she Ngay itu dengan ketuanya, karena ini, melihat orang membawa-bawa kepalanya dua murid Siauw Lim Sie, ada dirinya ia menjadi bercuriga.

Ditanya begitu rupa, Ngay Eng Eng tertawa hambar, ia memangnya bertabiat dingin dan jumawa, pertanyaan itu yang nadanya luar biasa, membuatnya tak puas. Ia seperti dapat menerka bahwa orang mencurigainya. Tapi ia menjawab sambil tertawa hambar : "Kecuali orang-orang Siauw Lim Sie di Tiong Gak sini dimana ada pendeta-pendeta lain ?"

Mendadak pendeta itu menjadi gusar, walaupun biasanya ia sabar dan tenang. Inilah disebabkan hebatnya apa yang ia lihat kedua orang muridnya rebah terkapar tanpa kepala dan kepalanya justru terikat dan tercekal ditangan orang yang tidak kenal, sedangkan orang itu bersikap angkuh. Tanpa pikir panjang lagi ia mengangkat tongkatnya melintang dan dengan murka, "Jika demikian, maka Siculah yang menjadi pembunuhnya kedua murid kami ini." Ngay Eng Eng menengadah langit dan tertawa lebar. Kata dia : "Membunuh orang dan berbuat jahat bukanlah urusan yang terlalu berat, tak ada perlunya kalau orang menjadi kaget dan menjadi banyak berisik karenanya !"

Liauw In juga tertawa dingin.

"Sicu berani membunuh orang, rupa-rupa sicu tak takut untuk mengganti jiwa ?" tanyanya pula, tetap keras. Karena habis sudah kesabarannya, ia tegas menggerakkan tongkatnya untuk menerjang.

"Tahan !" berseru In Gwa Sian yang segera mencegah gerakan tangan orang.

Liauw In melengak saking heran. Ia pun segera melihat pengemis itu berlompat maju, menghadang di depannya. Hanya sambil menghadang itu, In Gwa Sian terus berkata : "Aku si pengemis tua sudah lama mendengar nama besar dari kau, kakak Ngay, sayang tak dari siang-siang kita bertemu satu dengan lain, hari ini kau melihatmu, benarlah kau seorang gagah perkasa !"

Eng Eng tertawa bergelak.

"Pujian, hanya pujian !" katanya. "Nama kakaklah justru yang besar dan telah menggemparkah seluruh Sungai Telaga ! Sudah lama aku mengkangeni nama kakak, beruntung sekali hari ini kita dapat bertemu muka hingga dengan demikian dapatlah aku penuhkan pun harapanku !" Ia diam sejenak terus ia menambahkan : "Didalam dunia ini tak sedikit peristiwa-peristiwa melepas budi dan penasaran dan semua ada yang terjadi karena sang kebetulan, demikian dengan taysu ini karena ia melihat aku memegangi kepala orang kontan aku dituduh sebagai pembunuhnya ! Dalamhal ini biar bagaimana aku menjelaskan rasanya sulit buat aku membersihkan diri, susah buat melenyapkan salah mengerti karenanya, karena urusan ada begini rupa, aku pikir terlebih baik bagiku untuk tidak mengadu lidah !"

Habis mengucap itu jago tua itu berpaling untuk mengawasi Liauw In dan mulutnya berulang kali mengawasi dengan tawa dingin.

Liauw In membanting kaki. Dialah seorang sadar, maka tiba-tiba saja dia insaf akan kekeliruannya. Maka itu lantas ia sesalkan In Gwa Sian.

"Eh, pengemis bangkotan, kau jahat sekali. Hampir-hampir kau membuat kau berbuat salah terhadap seorang sahabat !" katanya sengit.

Si pengemis tersenyum.

"Kakak Ngay ini adalah tamu undangannya ketua Siauw Lim Sie kama." katanya sabar. "Siapa suruh kau tidak mengenalnya ?"

Liauw In menggerakkan tongkatnya dari atas ke bawah, maka pancapnya tongkatnya itu kedalam tanah hingga tanahnya muncrat, setelah mana dia merangkap tangannya memberi hormat pada Eng Eng.

"Maaf, pinceng tidak mengenali kau sicu" katanya.

Eng Eng segera membalas hormat, ia melihat usia si pendeta sudah lanjut, ia percaya pendeta itu jadi salah seorang tertua dari Siau Lim Sie dan kedudukannya pasti tidak rendah. "Akupun minta diberi maaf." katanya sambil tertawa. "Lantaran malasku, sangat jarang aku berkunjung ke Siauw Lim Sie, hingga kecuali ketua Pek Cut, bapak pendeta lainnya sangat sedikit yang kukenal."

Kembali Liauw In membalas hormat dan berkata merendah, sesudah mana ia menitahkan kedua kawannya membawa pulang kedua mayat itu, supaya mereka itu segera  melaporkan kepada ketua-ketua mereka sekalian memohon petunjuk.

"Sekarang mari kita melihat-lihat disekitar ini. " In Gwa Sian mengajak.

Pemeriksaan itupun menjadi pemikirannya Liauw In, mka itu berdua mereka lantas pergi berputaran, tetapi karena tidak ada hasilnya terus mereka pulang ke Siauw Lim Sie. Baru sampai dipintu gerbang, mereka sudah disambut Pek Cut sendiri.

Bukan main girangnya kedua belah pihak, keduanya tertawa riang.

Habis saling memberi hormat, Pek Cut berkata : "Kakak Ngay sudah mengundurkan diri, seharusnya tak dapat aku mengganggumu akan tetapi urusan luar biasa penting, terpaksa aku mengirim surat juga kepadamu. Inilah sebab kawanan bajingan luar lautan lihai semuanya tak dapat mereka dihadapi oleh kaum rimbah persilatan seumumnya."

Eng Eng tertawa.

"Sudah beberapa puluh tahun kita bersahabat, selama itu belum pernah kita saling minta bantuan, " kata ia, "sekarang kau telah mengundang aku, aku sangat berterimakasih. Itulah pertanda bahwa kau masih belum melupakan sahabat lamamu. Karena itu juga begitu aku menerima suratmua, begitu aku berangkat kemari, hanya sayang aku toh terlambat satu tindak, aku tiba tanpa mampu menolong kedua muridmu itu. Karena itu, sesungguhnya aku malu sekali. "

Parasnya Pek Cut berubah menjadi suaram dengan mendadak. Ia menjadi sangat berduka.

"Itulah baru permulaan dari peristiwa-peristiwa hebat menyedihkan." katanya menghela napas, "dan itu tidak sampai disini saja ! Silahkan kalian masuk kedalam, nanti kalian mendapat tahu, terutama kau, sahabatku."

Sepasang alisnya In Gwa Sian terbangun. Ia menerka pada suatu kehebatan lain. Sebenarnya ia hendak meminta keteranga, atau dapat ia mencegah membuka mulutnya. Maka dengan membungkam ia turut bertindak masuk. Pek Cut memimpin dan Ngay Eng Eng mengikuti.

Ketua Siauw Lim pay mengajak kedua teman lamanya langsung ke Tatmoto. Ruang Bodhidarma, untuk memasuki sebuah kamar sisi yang terbuat dari batu merah. Itulah sebenarnya, kamar peranti berobat atau istirahatnya pendeta- pendeta yang terluka disebabkan kecelakaan-kecelakaan latihan. Baru mendekati tujuh atau delapan kaki dari kamar, bertiga mereka sudah mendengar rintihan tak hentinya, rintihan saling susul dari mereka yang tengah menderita. Itu pula pertanda bahwa orang yang lagi menderita itu tak sedikit jumlahnya....

Di muka pintu ada dua orang pendeta yang bertubuh tinggi dan besar yang mengawal, selekasnya mereka melihat Pek Cut, lantas mereka memberi hormat kepada ketua itu, terus lekas-lekas mereka membukakan pintu.

In Gwa Sian menjadi tidak sabaran, dialah yang mendahului bertindak masuk, maka itu lantas ia melihat delapan orang yang masing-masing rebah diatas pembaringan kayu cemara, tubuh mereka itu dikeredongi selimut putih hingga tak tampak lukanya masing-masing.

Pek Cut mengawasi si pengemis dan sahabatnya Eng Eng, wajahnya suaram saking berduka.

"Selama beberapa ratus tahun, belum pernah Siauw Lim Sie mengalami peristiwa hebat dan menyedihkan seperti kali ini." kata suaranya sedih. "Sungguh tak kusangka, justru dibawah pimpinanku bisa terjadi semua ini. Itulah bukti dari pimpinanku yang tidak bijaksana karena aku tidak mempunyai kemampuan hingga aku menyebabakan para murid ini menderita. Kalau nanti aku beruntung dapat kembali dari perjalanan kesarang bajingan luar lautan itu akan aku mengundurkan diri dan mengambil keputusan guna aku mengatur maaf kepada para leluhur dan partaian. "

Sementara itu In Gwa Sian heran. Ia tidak melihat tanda- tanda darah pada kain keredong yang berwarna putih itu.

Maka ia kata didalam hati :" Rintihan mereka menyatakan tentunya mereka terluka parah habis kenpa tak ada tanda daranya barang setitik juga ?" Saking herannya, tapa merasa sebelah tangannya diulur dipakai menyingkap kain kerebong puting dari penderita yang terdekat dengannya.

Begitu ia melihat sang penderita begitu In Gwa Sian sendiri melengak, matanya mendelong, mulutnya ternganga. Toh Pit Pin Sin Kit menjadi pengemis konsen dan luas pengalamannya. Pendeta yang lagi menderita itu memejamkan kedua belah matanya, mukanya telah berubah menjadi biru pucat ! Itulah yang menggetarkan hatinya si jago tua.

Pek Cut menyaksikan keadaannya sahabat pengemis itu, ia menghela napas.

"Tadi aku menerima laporan, " berkata ia sabar,"katanya dua orang kami yang berjaga-jaga diarah Barat daya, di jalan genting yang penting, kedapatan roboh tak berdaya dan merintih terus terusan, kelihatannya mereka seperti terkena racun. Mulanya aku mengira mereka itu kurang berhati-hati dan telah kena terpagut binatang beracun maka kau memerintahkan pihak Tatmo Ih mengirim orang-orang buat membantu mereka serta berbareng menempatkan dua orang penggantinya. Baru aku memberikan perintah itu, lantas datang lain-lain laporan yang serupa, bahwa orang-orang kami roboh tak berdaya dengan tubuh bengkak dan mukanya pucat pasi kehitam-hitaman. Kami tidak tahu apa yang  menyebabkan kecelakaan itu. Karena itu aku minta beberapa Tianglo dari Tiam Ih serta adik Liauw In pergi melakukan pemeriksaan guna mencari sipenyerang. "

Liauw In merapatkan kedua tangannya dan berkata : "Panco sudah menerima titah itu dan telah pergi dengan mengajak dua orang murid Tatmo Ih, tatkala kami tiba ditempat jagaan sebelah selatan, kami mendapatkan bahwa dua orang kita yang bertugas di sana sudah binasa dibunuh. "

Pek Cut menarik napas.

"Bagaimanakah duduknya itu ?" tanya. Kemudian setelah memperoleh jawaban, ia kata pada Eng Eng, "Kakak Ngay, dapatkah kau mengira-ngira kedua orang musuh itu berasal dari mana ?"

Ngay Eng Eng menggeleng kepala.

"Aku tidak kenal mereka itu, " sahutnya. "Aku cuma melihat mereka itu bertubuh kecil dan gerak geriknya sangat gesit.

Muka merekapu ditutup dengan topeng. Jika aku tidak keliru menerka, mestinya mereka itu orang-orang perempuan. "

"Apa ? Orang perempuan ?" tanya In Gwa Sian heran. "Ya !" Eng Eng tetapkan. "Rasanya mataku tidak keliru

melihat ! Senjata mereka juga bukan senjata yang umumnya

dipakai bangsa pria !" "Senjata apakah itu ?"

"Yang satu membekal pedang, hanya pedang itu jauh lebih pendek daripada pedang yagn biasa, panjang kira-kira cuma dua kaki. Yang lainnya menggunakan sepasang pisau belati panjang kira-kira satu kaki. Pasti sudah mereka masuk hitungan jago silat kelas tinggi, sebab mereka gesit dan lihai dari ilmu ringan tubuhnya mahir sekali. Waktu aku memburu kepada mereka, mereka sudah berhasil membinasakan kedua orang kurbannya dan ketika aku mengejar, mereka kabur tanpa dapat dicandak, hingga aku menggunakan senjata rahasiaku, baru mereka meninggalkan dua kepala kurbannya itu."

"Mulanya dua kali aku menghajar mereka dengan pukulan Tangan Udara kosong. Aku percaya kepandaianku dalam ilmu itu sudah enam bahagian sempurna, seranganku beras diatas lima ratus kati, tetapi heran, mereka itu dapat menangkis dengan baik. Entah mereka menggunakan tipu, entah kenapa, sehabis menyambuti dua kali seranganku itu, mereka memutar tubuh dan kabur keras sekali hingga akhirnya mereka lolos. "

Berkata sampai disitu, jago tua ini berhenti sebentar. Ia mengawasi bergantian kepada In Gwa Sian dan Pek Cut Siansu. Kemudian ia menghela napas, rupanya untuk melegakan hatinya yang pepat.

"Aku si tua, aku sangat bersyukur sudah mengundang aku," ia melanjuti kemudian. "Sebagaimana kalian ketahui, telah beberapa puluh tahun sejak aku mengundurkan diri. Siapa sangka kalian masih mengingatkan dan telah  mengundangnya. Terang kalian sangat menghargai aku. Tapi aku menyesal sekali, dihadapanku, orang membuatku gagal mencegah kecelakaan sampai ada orang-orang yang bercelaka. Itulah hal yang membuatku malu hingga tak ada tempat buat aku menaruh mukaku. Coba mereka itu berhasil membawa pergi kepalanya kedua bapak pendeta itu, pasti tak ada mukaku buat menemui kalian, tak dapat aku memasuki kuil ini. Syukurlah aku mengerti ilmu lari cepat Delapan Tindak Mengejar Tonggeret. Ilmu mana aku tidak sia-siakan selama aku hidup mengasingkan diri. Sejauh dua tiga lie, masih aku menjadi bingung sendiri. Ketika itu aku makin percaya mereka bukanlah sembarangan orang. Diakhirinya terpaksa aku serang mereka dengan biji Teratai besiku. Kalau ini aku tidak gagal seluruhnya. Mereka itu terkena teratai besi, lantas mereka melepaskan dua kepala korbannya, tetapi mereka sendiri kabur terus dan lolos. "

"Saudara Ngay mengandalkan kepada pengetahuanmu yang luas, tak dapatkah menerka-nerka mereka sebenarnya dari golongan mana ?" Pek Cut tanya.

Eng Eng menggelengkan kepala. "Tak dapat aku mengenali mereka sebab pertama-tama kami tidak sampai bertempur dan kedua mereka mengenakan topeng."

Tiba-tiba In Gwa Sian menyela : "Saudara Ngay, melihat keterangan kau ini, mungkin mereka bukan asal Tionggoan, mestinya mereka orang luar lautan juga. Sayang aku si tua, aku datang terlambat satu tindak, jika tidak tentu aku akan mencoba membekuk satu diantaranya, guna mengorek keterangan perihal mereka !"

Sampai disitu, Liauw In pun campur bicara,

"Dalam pertempuran setengah bulan yang lalu" kata ia, "walaupun pihak bajingan tidak memperoleh hasil, kita juga bukannya mendapat kemenangan, karena itu, benarlah kata- katanya saudara In, kita harus ketahui jelas perihal mereka itu. Setahuku, memang kita belum mendengar perihal dua oarang pembunuh itu seperti yang dilakukan saudara Ngay."

"Mereka itu lihai, merekapun belum ketahuan siapa adanya, itulah satu soal" berkata Pek Cut. "Soal lainnya ialah murid- murid kami yang terluka ini. Tubuh mereka bengkak dan muka mereka matang biru, tak tahu kami mereka terkena racun apa. Sama sekali mereka tidak terluka. Bagaimanakah kita harus menolong mereka itu ? Aku rasa ilmu pengobatan kami sulit menolongnya, jika mereka terkena senjata rahasia biasanya yang kecil dan halus seperti jarum, mesti ada tanda atau bekas-bekasnya."

In Gwa Siang dan Ngay Eng Eng menundukkan kepala, mencoba mencium-cium ke dekat tubuh para korban itu. Mereka tidak mendapat hasil apa-apa. Bau yang mereka dapati cuma bau baCin seperti biasa, baunya luka yang umum. Toh merekalah orang-orang tua, orang-orang Kang Ouw kawakan. Maka mereka jadi diam.

Lewat sekian lama, In Gwa Sian menghela napas. "Seumur aku hidup di dalam Sungai Telaga," kata ia,

"segala macam senjata rahasia hampir aku kenal semuanya, bahkan senjata rahasia hebat dari beberapa jago, aku ketahui dengan baik sekali. Ada senjata rahasia beracun yang aku belum tahu, toh pernah aku mendengarnya."

"Menurut aku, para bapak pendeta ini pasti bukan disebabkan senjata rahasia" kata Eng Eng. "Aku percaya mereka dilukai oleh suatu pukulan tangan rahasia yang beracun. Dalam hal ilmu pukulan ini aku tahu tentang Yan Tio Siang Can serta Kim Lam It Tok. Kecuali mereka itu bertiga, aku rasa sukar mencari orang pandai semacam mereka yang ke empat."

Jago tua itu menyebut tiga orang ahli menggunakan pukulan beracun itu. Yang Tio Siang yaitu "Sepasang malaikat kejam dari Yan Tio" (Honak dan Lhoasay) dan Kim Lam It Tok yakni si "Tunggal Beracun dari Kwio ciu Selatan".

In Gwa Sian menggeleng-geleng kepala.

"Kalau Yan Tio Siang Can, itulah rasanya tak mungkin" kata dia. "Denganku si pengemis tua, kami mempunyai pergaulan tawar tidak tawar, rapat tidak rapat, dan berhubung dengan kepergian kita keluar lintas ini, aku telah bersedia-sedia mengirim undangan mengharap bantuannya. Mengenai Kim Lam It Tok, aku cuma pernah dengar namanya, bahwa gerak geriknya sangat terahasia, hingga hampir tak ada orang Kang Ouw yang ketahui tindak tanduknya. Pernah aku pergi ke Kwi ciu mencarinya tetapi aku gagal menemuinya. Aku sangsi kalau inilah hasil perbuatannya. "

Eng Eng tertawa.

"Sebenarnya setiap rekan rimba persilatan mengetahui perihal Kim Lam It Tok," kta ia, "cuma benar, melainkan beberapa orang saja yang pernah bertemu muka dengannya. Aku mempunyai peruntungan baik, pernah satu kali aku melihatnya."

In Gwa Sian menarik nafas dalam-dalam.

"Kim Lam It Tok terkenal diseluruh negara, tetapi tak ada orang yang tahu she dan namanya yang benar." katanya pula, "orang cuma mendengar gelarannya tetapi belum pernah melihat sendiri orangnya, maka itu saudara, kalau kau pernah bertemu dengannya dapatkah kau melukiskan tentang wajahnya, tubuh dan usianya ? Semoga kalau dilain ketika aku melihat dia, dapat aku mengenalinya. Hendak aku si pengemis tua berkenalan dengan dia."

Eng Eng tersenyum.

"Dialah seorang biasa saja, tidak ada ciri-cirinya yang luar biasa atau berlainan dari orang kebanyakan." sahutnya. "Tentang usianya dia seimbang dengan usiaku."

Selama dua orang itu bicara, Pek Cut dan Liauw In berdiam saja. Sebenarnya mereka kurang setuju orang bicara melulu tetapi mereka malu hati untuk melarangnya, karenanya terpaksa mereka tunduk mendengarkan dengan hati mereka risau tidak karuan. Kebetulan Pat Pie Sin Kit mendapat lihat kedua pendeta itu, tahulah ia apa sebabnya orang berdiam dengan tampang berduka itu.

"Aku mendapat satu pikiran." katanya kemudian. "Kedua muridnya Tek Cio si hidung kerbau mempunyai obat hosin- ouw, entah obat itu dapat dipakai menolong membasmi racun atau tidak..."

Sebelum Pek Cut menjawab, Eng Eng sudah mendahuluinya.

"Obat itu tersohor mujarab, boleh sekali kita mencobanya," kata jago tua itu. "Dengan adanya obat itu, hendak aku mencoba membuat obat pemusnah racun itu."

"Jadinya kau mengerti ilmu pengobatan, saudara Ngay ?" In Gwa Sian tegaskan.

Eng Eng tertawa.

"Bersama Kim Lam It Tok pernah aku tinggal buat suatu waktu" ia menjawab memberikan keteranga. "Dia baik sekali terhadapku, dia telah mewariskan caranya pembuatan beberapa obat pembasmi racun, sayang akulah yang tolol, tak dapat aku mempelajari semua. Inilah sebabnya kau tidak mengerti sebab musabab dari penderitaannya para bapak pendeta ini, hanya itu aku merasa, andiakata kita memiliki hosin ouw, mungkin pengobatannya tak seberapa sulit. Nah, silahkan saudara pergi mengambil obat itu nanti aku berdaya mencoba meringankan penderitaannya mereka ini. "

In Gwa Sian mengangguk. Ia memutar tubuh buat pergi keluar, tetapi baru beberapa tindak, mendadak Eng Eng memanggilnya. "Saudara In, tunggu ! Sekarang aku tahu bagaimana harus mengobati mereka ini, tak berani aku merepotkan pula padamu !"

Pat Pie Sin Kit menoleh. Ia merasa heran. Begitu cepat perubahannya si orang Ngay ini. Ia pun lantas melihat bagaimana Eng Eng sudah lantas bekerja, sedangkan Pek Cut dan Liauw In mendampinginya disisi pembaringan.

Eng Eng mengenakan sarung tangan pada tangan kirinya, tangan kanannya mencekal sebuah pisau kecil yang tajam mengkilat, dengan pisau itu ia mengkurat lengan kiri seorang pendeta, membuat luka sepanjang satu dim lebih, hingga luka itu lantas mengalirkan darah yang merah kehitaman.

In Gwa Sian segera datang menghampiri. "Apakah saudara sudah dapat menerka racun ini racun apa?" tanyanya.

Ngay Eng Eng tersenyum.

"Tadi aku lalai" sahutnya, "hampir aku terpedayakan meraka itu ! Sekarang setelah aku melihat darahnya, aku merasa pasti bahwa semua bapak pendeta ini telah keracunan. Ya semacam ular. "

"Jadi benarkah mereka terpagut ular ?" In Gwa Sian menanya tegas.

Eng Eng tertawa, ia mengangguk.

"Jangan kata para bapak pendeta ini yang mengerti ilmu silat" katanya, "sekalipun orang biasa saja, asal dia bersenjata dia dapat membela dirinya. Apa pula mereka ini berbareng kena diracuninya. Karena ular itu ular biasa, darimana datangnya ular sedemikian banyak dan munculnya pun hampir berbareng dipelbagai tempat ? Maka itu dapat diterka bahwa musuh menggunakan racun yang mulanya mereka kumpul atau simpan dahulu didalah sebuah selubung atau pipa besi istimewa, kapan mulut selubung dibuka, lantas racun ini ditimpukan seperti orang menyerang dengan senjata rahasia. Dalam hal ini, racun itu racun dicelupkan pada jarum atau pasir, setelah jarum atau pasir beracun itu mengenakan atau menempel pada tubuh, racunnya lantas bekerja mengalir ke seluruh tubuh, meresap ke dalam darah daging hingga si korban kontan bakuh beku tubuhnya dan kulitnya lantas berubah matang biru lalu didalam waktu dua belas jam tubuhnya bengkak, racun masuk ke jantung dan putuslah jiwa orang..."

In Gwa Sian heran mendengar keterangan itu. "Dengan begini saudara Ngay" katanya, "teranglah kau

pandai ilmu pengobatan keracunan..."

Eng Eng tertawa pula.

"Saudara In memuji padaku !" katanya. "Aku cuma belajar kulitnya saja dari Kim Lam It Tok, tak dapat aku dibilang mengerti atau pandai..." Ia terus merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah botol, ketika ia buka tutup botol itu dari situ tersiar bau sangat tak sedap yang menyerang hidung membuat orang hendah tumpah-tumpah.

Menyaksikan semua itu In Gwa Sian, Pek Cut dan Liauw In pada mengerutkan kening.

Eng Eng kembali tertawa.

"Bicara sejujurnya saudara-saudara" kata ia, "isinya botolku ini ialah racunnya kodok siam uh. Bukannya aku jumawa, apabila dipadu dengan racun musuh, racunku ini jauh lebih beracun, hanya kalau kedua racun dicampur menjadi satu sifatnya lantas berubah menjadi lunak sedang. Demikian sekarang hendak aku memakai racun siam uh untuk membantu para bapak guru ini..."

Sementara itu pendeta itu bernafas perlahan sekali bagaikan lagi menantikan tibanya sang maut...

Pek CUt dan Liauw In tidak mencegah orang she Ngay itu. Mereka berdiri disisi seperti lagi menonton. Demikian pula Pat Pie Sin Kit.

Eng Eng melanjuti usaha pertolongannya. Racun siam uh itu berwarna kuning, air beracun itu dituangkan sedikit keluka guratan dilengannya sipendeta pertama, lalu menyusul dengan cepat percobaan pertolongan itu kepada tujuh orang pendeta lainnya. Semua mereka inipun digores dahulu sedikit kulit lengannya, sesudah darahnya yang beracun mengalir keluar baru mereka dipakaikan obat racun itu. Diakhirnya Eng Eng memberikan Pek Cut sebotol kecil obat warna putih sembari tertawa ia kata : "Kalau sebentar satu jam kemudian mereka terasadar diri dari pingsannya, segera kasih mereka makan dua butir obat ini dengan diantar dengan air dingin.

Setelah itu biarkanlah mereka beristirahat. Lewat tiga hari, dengan setiap harinya mereka makan pula dua butir, semoga mereka sudah sembuh seluruhnya. Sebaliknya apabila pertolonganku ini gagal, kedelapan bapak guru ini tak akan hidup melewati malam ini." 

Pek Cut menyambuti obat sambil ia menghaturkan terima kasih, lalu menyerahkan itu lebih jauh kepada seorang muridnya yang ditugaskan menjaga dan merawati orang- orang yang lagi menderita itu. Kepada si tuan penolong, ia menambahkan :"Saudara Ngay, jangan menguatirkan apa- apa, jika obat ini tidak menolong mereka terserah kepada Sang Buddha, manusia mati atau hidup sudah tertakdirkan, kita manusia tak dapat memaksakan..."

Eng Eng tersenyum.

"Tetapi toh aku percaya bahwa pengobatanku ini tidak keiru !" katanya.

"Amida Buddha !" Pek Cut memuji sambil merapatkan tangannya. "Saudara datang dari tempat yang jauh siapa sangka saudara lantas menghadapi peristiwa tak beruntung ini, maka setelah sekarang selagi pertolongan pertama ini silahkan saudara mengikutku ke dalam untuk kita berduduk beromong-omong supaya dapat aku melakukan kewajibanku sebagai tuan rumah terhadap tetamunya."

Eng Eng mengucap terimakasih. Ia menerima baik undangan itu.

Liauw In segera berjalan di depan, untuk meninggalkan ruang Tatmo Ih itu guna memimpin tamunya ke kamar ketua.

Seorang sue bie kacung pendeta lantas muncul menyuguhkan air teh.

Habis menghirup tehnya, In Gwa Sian yang mulai  membuka suara. Kata dia : "Dilihat dari peristiwa ini, nyata sekali kawanan bajingan masih belum berlalu dari wilayah kita ini bahkan mungkin sekali, mereka segera akan mengulangi pembokongannya dengan senjata racun yang jahat itu. Karena itu, menurut pikiranku, baiklah kita lebih dahulu melakukan penggeledahan secara besar-besaran, guna membersihkan bagian dalam, lalau kita mengirim orang-orang secara menyamar ke kaki gunung buat memata-matai musuh disetiap dusun atau kampung disekitar kita. Dengan begitu, mereka juga bisa sekalian menyambut datangnya tamu-tamu undangan kita."

Eng Eng menyetujui usul itu, yang bahkan ia puji. Pek Cut menghela napas.

"Karena keadaan ialah menjadi begini rupa, baiklah, akan aku turut saran kedua saudara" katanya, berduka. Karena sebagai seorang beribadat, ia sebenarnya tak menyetujui pertempuran apa juga.

Habis berbicara, mereka bersantap. Burung, udang, semuanya sayuran rasanya lezat. Sesudah itu barulah ketua Siauw Lim Sie mulai mengatur orang-orangnya.

Tatmo Ih diminta memilih lima puluh orang murid pilihan, supaya mereka itu dipecah menjadi lima, setiap rombongan dikepalai oleh Liauw In bersama kelima tianglo dari Tatmo, ketua dari ruang Tohan Tong dan pengurus Chong Kong Kok. Mereka ditugaskan menggeledah seluruh wilayah Siauw Lim Sie sekalian mengatur pula pelbagai pos penjagaan, supaya setiap jalan masuk terjaga rapi. Dua puluh orang murid lainnya yang terpilih cerdik, dikirim berpencaran turun gunung guna sambil menyambut memasang mata kepada kawan dan lawan.

In Gwa Sian dan Ngay Eng Eng membiarkan bantuannya, mereka akan membantu ke pelbagai arah. Untuk didalam kuil, Pek Cut yang bertanggung jawab sendiri.

Dengan cara demikian, Siauw Lim Sie bagaikan salin rupa. Beberapa hari sudah lewat, tidak terjadi suatu apapun.

Penyerangan gelap tak terulang pula. Eng Eng dan In Gwa Sian penasaran, sendirinya mereka menjelajah gunung, memeriksa setiap gua dan lainnya, seluas beberapa puluh lie, mereka juga tidak menemukan apa-apa. Dilain pihak, tamu- tamu undangan mulai tiba, mereka disambut dengan baik dan diberikan tempat serta pelayanan sempurna. Kalau tamu yang datang tamu teman lama, Pek Cut dan In Gwa Sian sendiri yang melayaninya.

Begitulah Siauw Lim Sie, yang tadinya sepi menjadi ramai.

Penghuninyapun menjadi beraneka ragam disebabkan bedanya cara berdandan pelbagai tamu-tamu itu.

Tanpa merasa, satu bulan telah berlalu. Tetap tak terjadi gangguan pihak lawan.

Sementara itu, delapan pendeta yang terkena racun sudah mulai sembuh seluruhnya.

Pada suatu hari, Pek Cut datang ke kamarnya In Gwa Sian.

Ia hendak mendamaikan cara bekerja untuk menghadapi lawan nanti.

In Gwa Sian nampak repot menyambut ketua Siauw Lim Sie. Setelah mempersilahkan duduk, ia pula mendahului menanya keadaan kedelapan pendeta korban racun musuh itu.

Pek Cut bersyukur orang sangat memperhatikan murid- muridnya.

"Syukurlah tibanya saudara Ngay" kata ia menjawab pertanyaan, "kalau tidak pasti mereka itu tak akan dapat ditolong lagi..." "Apakah saudara Ngay dapat mengatakan atau menerka siapa musuh penyerang gelap itu ?" tanya pula Pat Pie Sin Kit. "Mungkinkah mereka adalah murid-muridnya Cit Mo dari pulau To Ling To ?"

"Cit Mo" ialah "tujuh bajingan" jago-jago dari To Liong To. "Belum" sahut Pek Cut. "Aku pun keras memikirkannya

tanpa hasilnya. Anehnya kenapa sesudah berselang begini lama, masih belum ada tindakan lainnya dari mereka itu ?"

"Apakah Siansu menerka kepada pihaknya Kim Lam It Tok

?" In Gwa Sian tanya.

Ketua Siauw Lim Sie itu merapatkan kedua belah alisnya, ia pun menarik napas berduka.

"Jika dugaannya saudara Ngay tidak keliru, Kim Lam It Tok sudah kena tertarik kawanan bajingan itu" sahutnya menyesal. "Kalau benar dialah adanya, makin sulit buat kita   melayaninya "

In Gwa Sian heran melihat pendeta itu berduka demikian rupa, sedang ia tahu Pek Cut adalah seorang jago. Berbareng dengan itu, ia berkesan baik sekali terhadap pendeta ini. Maka juga mengawasi si pendeta ia menatap tajam hingga matanya bagaikan bersinar menyala.

"Aku si pengemis tua, aku tidak percaya mereka itu mempunyai kepandaian sedemikian lihai hingga mereka sanggup menjagoi Tionggoan !" katanya keras. "Asal aku si pengemis tua masih bernapas, tak nanti aku ijinkan mereka bertingkah polah !" "Kau dan kawan-kawanmu saudara In, memang kalian mempunyai kepercayaan yang kuat sekali" berkata si pendeta, "cumalah, buat bicara terus terang, To Liong To Cit Mo serta Kim Lam It Tok benar-benar tak dapat dipandang terlalu ringan. Ketujuh bajingan atau siluman itu sudah dua puluh tahun lamanya belum pernah terdengar menginjak pula tanah Tionggoan, maka itu, sekarang ini, mungkin mereka sudah meyakinkan entah ilmu gaib apa. Yang paling dikuatirkan adalah Kim Lam It Tok seorang. Sudah sejak tiga puluh tahun yang lampau, belum pernah dia tampak atau terdengar pula namanya dibuat sebutan. Menurut kabar angin, dia tinggal menyendiri di dalam rimba lebat terasing dikaki bukut puncak Il Kiam Hong di gunung Bin San dimana dia setiap hari hidup berdekatan dengan pelbagai macam binatang beracun, yang jadikan binatang piaraannya, hingga taklah heran andiakata dia pakai racun sebagai alat senjatanya yang istimewa. Benar sulit andiakata betul-betul dia turut memusuhi kita..."

Perkataannya ketua Siauw Lim Sie itu membuat si pengemis tua berpikir keras.

"Seumurku, aku cuma pernah mendengar nama dia tetapi belum pernah bertemu dengan orangnya sendiri." katanya kemudian. "Siansu, tahukan Siansu akan asal usulnya ?"
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(