Iblis Sungai Telaga Jilid 02

 
Jilid 02

Kiauw In mengawasi dua orang itu, yang perhatiannya nampak tertarik, ia tertawa. "Dilihat sekilas, semua gambar ini tidak ada bedanya satu dari lain, "ia berkata, "yang sebenarnya tidaklah demikian!

Coba perhatikan saja baknya. Menurut penglihatanku air bak itu ada yang lama ada yang baru ada yang bedanya banyak tahun dan bulan.

Tentu sekali perbedaan itu tak dapat dilihat oleh orang bukan pelukis atau penulis. Menurut penglihatanku jika mataku tidak keliru itu arhat yang separuh rebah dengan arhat yang belum rampung itu perbedaan pembuatannya masih berjarak sedikitnya lima tahun lamanya.

Air bak yang disebutkan Kiauw In ialah tinta tionghoa.

It Hong menjadi semakin heran "Aneh !" Serunya "sungguh menarik hati. Kenapa orang membuat gambar arhat dengan perbedaan banyak tahun?"

Giok Peng heran tetapi ia tertawa.

"Itulah mungkin disebabkan ketika pendeta tua itu melukis gambarnya, ia menundanya sebab kebetulan ia lagi memahamkan kitabnya atau kepalanya pusing. Maka ia

mencoret sejadi jadinya dan menundanya pula, demikian seterusnya. "

"Kau benar, adik Peng" berkata Nona Cio.

"Jelasnya Lukisan delapan belas arhat ini dilakukan bukan terus menerus terutama itu yang belum rampung, jangka waktu tertundanya sekali, mungkin sampai satu tahun lebih, lihat perbedaan waktu air baknya itu."

Sampai disini It Hiong dan Giok Peng tidak mengatakan apa-apa lagi, Cuma tinggal rasa herannya. Merekapun tidak memperhatikan lebih jauh. Bahkan si pemuda terus minta kakak In nya menjelaskan kepadanya perihal ilmu pedang Thay Kek Liang Sam Cay Kiam itu.

"Ketika aku ditolongi guruku dari dalam jurang maut di belakang Kim Hoa Kiong di Leang Lam itu" Ia berkata " Aku langsung dibawa pulang ke Kun Hoa San dimana segera aku dikeram didalam kamar obat duduk menghadap tembok selama tiga tahun.

Sekeluarnya aku dari kamar obat itu terus aku diganggu oleh pengacauan musuh-musuh yang tangguh hingga kejadiannya tak ada kesempatan saat aku memeriksa kitab ilmu pedang dan kakak berdua sebaliknya, kalian tentu telah membaca habis dan sudah melatihnya juga. Maka itu sekarang silakan menjelaskan kepadaku gerak geriknya pelbagai lukisan itu, nanti besok barulah aku mulai diajari cara berlatihnya"

Kiauw In tertawa sebelumnya ia menjawab, "hebat kitab ilmu pedang guru kita ini! Sangat banyak perubahannya yang luar biasa hingga meskipun aku dan adik Peng telah diajari oleh guru kita, aku masih belum paham seluruhnya. Kami cuma mengerti tiga puluh enam jurus Cay Kek Kiam dan dua puluh empat jurus Liang Gie Kiam dengan kedua ilmu pedang itu mungkin kami dapat melayani musuh andiakata kami dihadang.

Sulitnya ialah pelbagai perubahannya seperti yang aku sebutkan. Mengenai Sam Cay Kiam yang terdiri hanya dari dua belas jurus, sejuruspun kami tidak mengerti. Anehnya mulanya kami memahamkan, kami menerka mestinya mudah saja, walaupun gambarnya sederhana nampaknya. Siapa tahu setelah kami mencoba melatihnya kami dihadapi kesulitan makin lama makin sulit hingga sekarang ini sebenarnya kami tak dapat mengerti satu jurus pun."  

Halaman 7/8 Hilang

Kiauw In dan Giok Peng merasa sangat tertarik hati, Nona yang duluan tertawa. "Guru kita suka mengajari kau ilmu tenaga dalam itu pasti ia melihat bahwa kau berbakat dan telah memenuhi syaratnya semua." katanya, "sebenarnya juga didalam halnya bakat kau menang dari kami berdua sedang juga kau sudah pandai ilmu pedang Khie Bun

Patkwa Kiam, sehingga bagi kau pasti itu memudahkan mempelajari Sam Cay Kiam. Kalau Liang Gie Kiam membutuhkan juga sepasang pedang, tidak kemudian dengan Sam Cay Kiam, Sam Cay Kiam bisa dipakai sendiri dan juga bertiga berbareng, Tegasnya sebuah pedang dibantu dua yang lainnya. Selagi ada guru kita, kami berdua dapat turut melatih dengan baik asal tidak ada guru lantas kami lupa lagi, Maka  itu baiklah kita bekerja sama bertiga. Setelah menempur Beng Leng , aku insyaf perihal banyaknya orang gagah lainnya, aku percaya dengan pergi keluar lantas kita bakal melakukan pertempuran hebat, sebab itu pasti bakal jadi pertempuran paling dahsyat. Kalau kita menang, nama kita naik, sebaliknya kalau kita kalah kita runtuh! Ah, entah berapa banyak korban akan roboh dan darah bakal berhamburan "

Kiauw In berduka hingga tanpa merasa air matanya meleleh keluar.

It Hiong menghela nafas.

"Dasar kakak sangat murah hati" ia memuji. Ia terharu buat kemurnian dan kewelasan hatinya bakal istri itu." Kakak aku berjanji akan memahamkan sungguh-sungguh ilmu pedang guru kita ini, semoga Tuhan yang Maha Kuasa membantu aku supaya kita berhasil melindungi keutuhannya kaum persilatan dari Tionggoan, supaya ilmu silat kita tak punah pamornya."

Berkata begitu, anak muda ini terdiam. Diam-diam ia memuji kepada gurunya dan memohon doa yang Maha Kuasa. Kemudian ia berkata nyaring, "Biarlah Tio It Hiong tidak menyia-nyiakan harapan suhu. Semoga ia nanti dapat mengangkat nama baik Kim Hoa San!"

"Suhu" berarti bapak guru. Itu sebutan untuk seorang guru kepada muridnya.

Dua-dua Kiauw Im dan Giok Peng menatap tunangannya itu. Mereka mengawasi tajam wajah si anak muda yang ketika itu selain tampan, tampak sangat bersemangat dan gagah!

Sedetik Tio It Hiong bagaikan telah menjalin rupa, wajahnya membuat orang kagum dan menghormatinya.

Giok Peng mendekati Kiauw In untuk berbisik: "Kau lihat kakak! Bagaimana bengis tampangnya adik Hiong! Dia bagaikan hendak membunuh orang!"

Kiauw In berdiam. Ia cuma mengangguk.

Baru lewat sedetik lantas It Hiong sadar dengan sendirinya bahwa ia telah memperlihatkan tampang yang beda daripada biasanya.

Lantas ia tersenyum, maka segera lenyap juga tampang bengisnya itu, hingga tampak tampan dan halus seperti sediakala.

Kiauw In tetap menatap wajah orang, setelah itu ia cekal tangan Giok Peng buat diajak keluar secara diam-diam. It Hiong sudah lantas membeber kitab ilmu silat gurunya itu " Thay kek Liang Gie Sam Cay Kiam. Ia menyaksikan gambar dan berbagai catatan. Ia meneliti gambar-gambar itu dan membaca. Berbeda dengan Nona Cio dan Pek, ia mudah mengerti. Ini berkat kecerdasannya, karena ia telah paham Hian Bun Sian Thian Khie Kang. Selagi memusatkan perhatiannya, hilanglah segala pikiran lain dari otaknya.

Dengan sendirinya terbukalah pintu kecerdasannya.

Mulanya It Hiong memeriksa Thay kek Kiam dengan tiga puluh enam jurusnya. Ia merasakan lihainya ilmu pedang itu, yang dari tiga puluh enam jurus dapat berubah-ubah menjadi tiga tikaman atau babatan lainnya. Diwaktu memikirkan berbagai gerakan, ia memejamkan mata, ia memeta-metakan dengan tangan dan kakinya, dengan gerakan tubuhnya.

Dibagian-bagian yang sulit, ia menunda, ia memikirkan lebih jauh. Ya, ia bagai bersemadhi memikirkannya.

Paling akhir anak muda ini menutup rapat kitabnya. Ia pikir, lebih baik dia beristirahat sebentar untuk membaca dan memahamkan.

Tengah ia duduk berdiam itu mendadak ia merasakan kepalanya pusing. Tanpa terasa, tubuhnya limbung ke kiri dan ke kanan. Lekas ia mencoba menguasai diri, iapun menolak daun jendela untuk memandang keluar rumah.

Malam itu gelap, ia mengira sudah jam permulaan. Maka tahulah ia, ia baru menyelesaikan lima jurus, waktu yang digunakan sudah empat atau lima jam. ia sampai tidak merasakan bahwa lilin diatas mejanya telah ada yang menyulutnya. Lalu ia berjalan keluar rumah. Masih terasa kepalanya sedikit pusing. Ia mengira itu, disebabkan barusan ia menggunakan otaknya secara berlebihan. It Hiong tidak merasa bahwa selama beberapa jam itu ia seperti sudah menggunakan otak selama tiga hari dan tiga malam. Ia mengangkat kepala, mendongak melihat langit. Bintang-bintang bertaburan dilangit yang hitam. Sang angin menderu dari pohon-pohon cemara. Ketika ia menoleh ke kanan ia melihat sinar api keluar dari dalam rumah. Itu pertanda bahwa bahwa Kiauw In dan Giok Peng masih belum tidur.

Mungkin disebabkan hawa malam tiba-tiba anak muda ini merasa lapar, sedangkan sebenarnya karena dipusatkan pada pelajaran pedang tadi ia lupa segala apa, jangan kata makan, minum air seteguk pun belum. Karena ini, ia lantas kembali ke dalam.

Belum lama tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka. Ia menoleh dengan cepat. Maka ia melihat munculnya nona-nona itu yang berjalan dengan perlahan. Ia tersenyum kepada mereka. Lalu ia berkata, "Tadi aku lupa mengatakan Pek Cut Taysu untuk disediakan barang makanan, maka sekarang ini mungkin kita bakal.."

Giok Peng tertawa memutuskan kata-kata orang. "Bagaimana, eh ? "tegurnya. "Perutmu sudah lapar ?

Tengah malam begini mana ada barang hidangan ? Aku pikir

baiknya malam ini kita ikat perut biar kenyang..."

Kiauw In tersenyum, tetapi ia lantas berkata, "Beras, tepung dan lain keperluan dapur semua telah disediakan. Pek Cut Siansu telah mengirimkan orang membawanya kemari.

Nasipun sudah dimasak matang.

Bersama adik Peng tadi aku datang kemari, buat mengundang kau makan, tetapi kami melihat kau sedang tekun mempelajari ilmu pedang, kami tidak mau mengganggu. Adik Peng yang menyalakan api. Habis itu, dengan diam-diam kami keluar pula. Barang makanan untukmu telah kami siapkan didalam kamar kami, kalau kau sudah lapar mari kau pergi kesana ! Cuma kami mesti membuat kau melakukan perjalanan..."

It Hiong tersenyum tanpa mengatakan sesuatu, ia turut kedua tunangannya itu pergi kekamar kedua nona itu.

Kamar kedua nona itu telah dirawat baik sekali, hingga beda dari semula tadi. Di atas mejapun mengepul asap yang keluar dari barang makanan. Diatas pembaringan, Hauw Yan sedang tidur dengan nyenyak. Sinar api lilin membuat kamar tenang dan nyaman.

Habis memandangi seluruh ruangan, It Hiong tertawa. "Bagus kakak!" ia memuji. "Kamar yang tadinya nampak

buruk sekarang berubah bagaikan baru dan menarik hati." Kiauw In tertawa.

"Sudah jangan memuji saja!" tegurnya. "Hayo lekas kau makan!"

Kembali si anak muda tersenyum; Ia menghampiri meja, untuk mengangkat mangkuk kosong, guna diisikan nasi.

"Bagaimana pengamatanmu atas kitab suhu itu ?" tanyanya. "Mudahkah kau mengerti ?"

It Hiong menjawab secara terus terang, "Mulanya beberapa jurus, nampaknya tidak sukar hanya makin lama, makin tambah jurusnya, mulai sulit pecahannya. Pelbagai jurus itu seperti juga tidak ada hubungan satu dengan lain kakak, rupanya perlu aku dengar pelbagai petunjuk kalian berdua. "

"Mengenai kesulitannya kau benar, adik" berkata Kiauw In, "Tiga jurus yang pertama mudah dipelajarinya, mulai yang ke empat, lantas lambat kemajuannya, benar bukan?"

It Hiong mengangguk "Tidak salah." sahutnya. "didalam tiga- empat jam, aku cuma mengerti sampai jurus ketiga, mulai jurus ke empat, aku rasanya jurus ketiga dan ke empat tak ada hubungannya, bahkan seperti memudahkan lawan memperoleh lowongan guna menyerang kita. " Nona Cio

menggeleng kepala, tetapi ia tertawa.

"Demikianlah kelihatannya. Kalau kau perhatikan jurus- jurus selanjutnya, hal tatkala demikian, tetapi setelah jurus- jurus selanjutnya, segera akan tampak kefaedahannya.Ketika bermula aku berlatih bersama adik Peng, kami mengalami kesulitan serupa seperti kau ialah kelambatannya, tetapi setelah mengerti, kelambatan itu justru penting sekali!"

It Hiong tengah memegangi mangkuk nasinya ketika ia mendengar perkataan si nona yang terakhir. Tiba-tiba saja ia meletakkan mangkuknya itu." Aku mengerti sekarang !" katanya separuh berseru " Kelambatan itu sengaja, guna mementingkan lawan mendapat kesempatan menyerang, setelah itu kita pakai jurus yang kelima, guna merubah, demikian selanjutnya ya, kakak itulah itulah kelebihannya Thay Kek Kiam dari Khia-bun Patkwa Kiam. "

Baru ia berkata begitu, mendadak anak muda ini menjerit. "Ah, celaka" terus tubuhnya mencelat bangun, terus dia kabur ke kamarnya sendiri ! Kiauw In dan Giok Peng kaget. Mereka sangat heran.

Kenapakah pemuda itu ? Tak sempat saling bertanya, mereka pun lari menyusul.

It Hiong kaget dan lari ke kamarnya sebab mendadak ia ingat yang kitab gurunya telah ia lupakan, ia tinggalkan itu menggeletak dimejanya. Tatkala kedua nona sampai di kamar pemuda itu, mereka menjadi lebih heran pula.

It Hiong tampak lagi berdiri menjublak, matanya mendorong ke satu arah ! Wajahnya menunjukkan dia berduka atau putus asa.

"Kau kenapakah ?" tegur Giok Peng mendekati perlahan.

Nona ini, juga Kiauw In heran bukan main.

It Hiong tidak menjawab, hanya airmatanya meleleh keluar. "Aku harus mati !" mendadak dia berseru sambil

membanting kaki.

Kiauw In yang cerdas dapat menerka duduknya hal, ia juga kaget sekali, tetapi dapat berhari tenang, dapat ia menguasai dirinya.

Dengan hati memukul, ia mendekati si anak muda, dan ketika ia berbicara, suaranya lembut.

"Apakah bukan kau kehilangan kitab silat Thaykek Liang Gia Sam Cay Kiam ?" demikian tanyanya prihatin.

"Ya" sahut si anak muda, suaranya hampir tak terdengar. "Karena aku sangat lalai, karena aku tinggalkan diatas meja ini." Tiba-tiba anak muda ini ingat senjata mustikanya. Segera ia menoleh ke tembok.

Di sana Keng Hong Kiam tampak tergantung di tempatnya. Masih bersangsi, It Hiong lompat mencelat ke tembok,

guna mengulur tangannya menurunkan pedang mustika itu terus ia menghunusnya. Baru sekarang hatinya menjadi sedikit lega. Itulah pedang yang tulen. Tadinya ia menyangka pedang yang dipalsukan. Cahaya pedang itu menyinari seluruh ruang, hawanya terasa dingin.

Sekonyong-konyong saja It Hiong mengibaskan pedangnya itu menebas ke samping ! "Jika aku ketahui siapa pencurinya kitab ilmu pedangku, akan aku bunuh dia dengan ujung pedang ini !" demikian ia berkata nyaring dan sengit.

Belum berhenti kata-kata si anak muda atau mereka bertiga mendengar tawa nyaring dan lama dari luar rumah menyusul mana diantara sinar api lilin terlihat satu tubuh berlompat masuk seperti melayang, atau segera ampak Pat Pie Sin Kit di dalam rumah.

Hanya segera pengemis ini mendelong mengawasi It Hiong.

"He, kau bikin apakah ?" tanyanya heran.

Tak dapat anak itu mendusta, ia menarik nafas panjang. "Anakmu harus mati ayah" sahutnya perlahan. "Aku telah

membikin lenyap kitab pusaka pedang Thay Kek Liang Gia Sam Cay Kiam karya guruku. " Pat Pie Sin Kit kaget. Tetapi dasar jago tua, dapat ia segera menetapkan hati.

"Bagaimana lenyapnya itu ? tanyanya cepat. "Lekas terangkan padaku !"

Sambil menanya itu jago tua ini menoleh kesekitarnya.

It Hiong memasuki pedang ke dalam sarungnya. Kembali ia menghela nafas. Habis itu baru ia memberikan keterangannya.

In Gwa Sian pun menghela nafas.

"Terang orang mencurinya justru kau sedang pergi bersantap." katanya. "Menurut terkaanku si pencuri bukannya orang yang baru tiba dan lantas ia mencurinya. Aku percaya dia sudah lama berada di sini lalu dia mengintai kalian menunggu ketika buat turun tangan. Nyatanya dia berhasil!"

Terkaan itu masuk diakal. Pula anehnya, kenapa cuma kitab itu yang dicurinya ? Kenapa tak sekalian pedangnya ?

Kiauw In mengawasi It Hiong, ia terharu. Ia merasa kasihan. Tapi ingin ia menghibur. Walaupun hatinya sendiri berat ia paksakan bersenyum.

"Kitab suhu kitab luar biasa" kata ia, "maka itu walaupun si pencuri lihai, tak nanti dia dapat mempelajari itu didalam waktu yang singkat. Baik kau jangan terlalu bingung. Paling benar kita mencarinya. Coba kita periksa kamar ini, ada atau tidak sesuatu yang mencurigai.."

In Gwa Sian tertawa.

"Kau benar, anak !" pujinya. "Nah, mari kita lihat !" Tanpa ayal lagi, berempat mereka memisah diri menggeledah seluruh rumah gubuk.

Sembari memeriksa itu Kiauw In berpikir, "Kitab suhu ini rampung belum lama, tak mungkin ada orang rimba persilatan yang mengetahuinya bahkan aku percaya kecuali kita berempat tak ada seorang lain juga yang tahu itu ! Si penjahat mungkin telah mencuri dengar pembicaraan kita atau kebetulan saja dia mendengarnya maka dia lantas mencurinya. Dia sampai tak memikir membawa sekalian pedang mustika. Orang itu dapat mencuri dengar pembicaraan kita, dia pasti lihai sekali. Atau dia hanya orang yang kita tak perhatikan. "

Oleh karena berpikir demikian. Nona Cio lantas menerka- nerka siapa pencuri itu. Ia sangat cerdas, lekas juga di depan matanya seperti berbayang si pencuri kitab itu. Dia menyangka pada seorang wanita muda yang cantik, yang tingkahnya agak centil.

"Bukankah Giok Peng pernah menceritakan halnya Teng Hiang mencuri kitab ilmu pedang?", pikirnya lebih jauh. Maka lantas ia menerka kepada budak pelayan itu. "Bukankah dianya si budak setan itu?"

Hanya sebentar pikiran nona itu berubah. Bukannya kawanan bajingan telah kabur semuanya? Mungkinkah Teng Hiang seorang diri berani berdiam lama di dekat-dekat Tiong Gak ini. Kalau benar dia berada disini, pasti dia akan kepergok para pendeta.

Karena kesangsiannya ini mengenai Teng Hiang. Kiaw In berpikir lain! "Tak mungkinkah ini perbuatan salah seorang pendeta dari Siauw Lim Sie?" Ia mengingat begini, karena pernah terjadi beberapa orang seebie menyaksikan ia berdua Giok Peng melatih diri dengan ilmu Thay kek dan Liang Gie Kiam. Sebenarnya beberapa seebie itu bukan menyaksikan hanya mencuri menonton. Ia tahu itu, ia membiarkan saja. Ia anggap seorang seebie bisa apa. hanya sekarang, timbullah kecurigaannya.

Sambil otaknya bekerja itu. Kiaw In terus membuat penyelidikan. Ia sampai di luar rumah, di dalam halaman yang ada pohon-pohonnya. Tiba-tiba sinar matanya bentrok dengan satu benda putih di atas rumput yang ada di bawah sebuah pohon cemara yang besar. segera ia lompat kepada benda putih itu, yang ternyata adalah sehelai sapu tangan putih.

Lantas ia menjemputnya.

Walaupun malam, sapu tangan itu tampak cukup jelas. Kiauw In membeber untuk memeriksa. Ia melihat sulaman benang hijau yang merupakan dua ekor burung kecil. Tentu sekali ia lantas mengenali itulah barangnya Giok Peng. Ia menjadi heran tapi ia berpikir terus.

"Sungguh aneh!" demikian pikirnya. "Belum pernah adik Peng berpisah dari aku kenapa sapu tangannya jatuh di sini?"

Berpikir demikian nona ini mencelat naik ke atas pohon guna dari atas itu melihat kesekelilingnya. Tiba-tiba saja ia mengerti!. Pohon itu menghadap kamarnya It Hiong, bahkan karena bantuannya api, dari situ orang dapat melihat tegas ke dalamnya, kepada kursi mejanya.

"Tidak salah lagi!" pikirnya, "pasti dia terus bersembunyi di sini! Dari sini dia dapat mengawasi gerak gerik adik Hiong!

Pasti selekasnya dia melihat adik Hiong pergi, dia datang menyatroni kemari, dia jalan memutari gubuk dan masuk ke dalam, terus dia cari kitab pusaka itu. Dia dapat menghilang dari sini dengan pertolongan pohon-pohon lebat. Dengan bersembunyi di sini, siapakah dapat memergokinya?"

Hanya si nona masih memikir keras menerka-nerka siapa pencuri itu. Ia tetap heran bahwa saputangannya Giok Peng bisa berada di tempat terbuka itu. Tengah Kiauw In berpikir keras itu, tiba-tiba ia mendengar suaranya In Gwa Sian : "Kalau si pencuri bersembunyi di atas pohon cemara besar itu, bukan saja dia dapat melihat jelas kepada gubuk dan bagian dalamnya, dia sendiri dapat bersembunyi dengan aman, tak nanti orang dapat melihat padanya."

Kiranya In Gwa Sian sampai di bawah pohon bersama-sama It Hiong, Kiauw In tidak melihatnya karena ia sedang mengawasi ke arah gubuk dan pikirannya lagi bekerja keras.

Habis mendengar suaranya sang paman guru, terus ia melompat turun.

"Paman tak menerka keliru" katanya setelah melompat turun itu guna membikin dua orang itu tidak menjadi kaget. "Siapa bersembunyi di atas pohon ini, dia dapat melihat jelas kamarnya adik Hiong, hingga diapun dapat mengawasi gerak gerik orang.."

Hampir nona ini memberitahukan hal didapatnya saputangan Giok Peng itu, ia membatalkannya ketika ia ingat baiklah ia bersabar dahulu. Maka saputangan itu ia simpan di dalam sakunya.

In Gwa Sian memandang nona Cio sejenak lantas ia berkata: "habis pertempuran, kawanan bajingan itu telah pergi mengangkat kaki sedangkan orang-orang Siauw Lim Sie tidak nanti ada yang berani melakukan pencurian ini. Siapakah pencuri itu? Sungguh sulit untuk menerkanya.." Tetap itu waktu, Giok Peng pun tiba. Maka berkumpullah mereka berempat menjadi satu. Kiauw In mengawasi Nona Pek.

"Adik, apakah mendapat sesuatu petunjuk?" tanyanya. Ia tersenyum walaupun mereka tengah berduka.

Nona Pek menggelengkan kepala.

"Aku mencari dari jurusan utara itu, aku tidak memperoleh sesuatu" sahutnya.

Senyumannya Kiauw In lenyap dalam sekejap. Ia ingin menanya pula madunya itu, tetapi ia batalkan tiba-tiba.

Sebaliknya, ia menghela nafas perlahan. Seterusnya ia bungkam.

In Gwa Sian penasaran, ia lompat naik ke atas pohon. Dari situ ia memandang keliling. Lekas juga ia loncat turun lagi.

"Tidak salah lagi" katanya, "orang pasti bersembunyi di atas pohon ini! Mari kita kembali ke rumah, untuk berbicara di sana".

Dan jago tua ini mendahului membuka langkahnya. It Hiong mengikuti, diturut oleh Kiauw In dan Giok Peng.

Tiba di rumah, mereka berkumpul di kamarnya si anak muda.

Giok Peng lantas menuang air teh buat sang paman, setelah itu ia duduk di sisinya Kiauw In.

Pat Pie Sin Kit menghirup teh itu. "Aku si pengemis tua belom pernah melihat kitab Thay Kek Liang Gie Sam Cay Kiam itu" katanya.

"Tetapi aku merasa pasti itulah kitab ilmu pedang istimewa, yang buat kaum rimba persilatan merupakan ilmu yang langka. Ketika malam itu aku melihat kalian berlaga berdua menempur Beng Leng Cinjin aku kagum sekali. Aku telah menyaksikan gerak-gerik yang aneh dari pedang kalian. Jadi itulah kitab pedang yang hilang?"

Kiauw In mengangguk membenarkan, tetapi ia menambahkan : "Sebenarnya yang aku dan adik Peng gunakan ada bahagian Liang Gie Kiam satu di antara tiga ilmu pedang yang tersimpan di dalam kitab pusaka itu"

Im Gwa Sie berdiam agaknya dia berpikir: "Aku lihat ilmu pedang itu lebih lihai dari pada Khia bun Pat Kwa Kiam ciptaan terdahulu dari guru kalian si imam hidung kerbau itu"

Katanya. "Maka itu kalau kitab itu tidak dapat dicari pulang, itu berbahaya sekali..."

Berkata begitu pengemis ini memejamkan matanya, alisnya dan berkenyit. Nampaknya ia berpikir keras. Kali ini tidak seperti biasa, ia tidak menyebut pula Tek Cio Siang jin sebagai si imam hidung kerbau. Itulah kebiasaannya yang ia tidak bisa buang, sedangkan terhadap imam-imam lain umpamanya It Yap Tojin, ia biasa menyebut si imam campur aduk, imam capcay...

It Hiong berdiam saja. Tak berani ia mengganggu jalan pikiran ayah angkatnya itu. Kiauw In dan Giok Pek turut berdiam pula. Lewat sehirupan teh, baru kelihatan Pat Pie Sin Kit membuka matanya.

"Sekitar lima ratus lie dari Siauw Lim Sie ini ada orang- orangnya yang bertugas meronda" kata ia kemudian, "Terutama diwaktu malam penjagaan keras sekali, maka itu hal ini tak dapat tidak, perlu kita beritahukan kepada Pek Cut Siansu supaya kita dapat minta dia memberitahukan murid- muridnya menggeledah seluruh wilayahnya itu. Dengan begitu kita akan peroleh mendusan."

Alisnya Kiauw In bergerak bangun.

"Pencuri kitab itu pastilah bukan sembarang orang" katanya, "mestinya ia mengenal baik dengan wilayah ini, atau paling sedikitnya dia tentu sudah membuat penyelidikan sebelumnya dia melakukan pencuriannya ini, kalau tidak, tidak nanti dia berhasil dengan cara demikian mudah, demikian juga diwaktu berlalunya."

"Bagaimanakah ?" tanya In Gwa Sian heran. "Mungkinkah kau mencurigai orang Siauw Lim Sie sendiri ?"

Nona Cio menggoyang kepala.

"Mulanya benar aku pernah menerka demikian" sahutnya, "tetapi sekarang tidak..."

Kiauw In hendak menyebut juga halnya saputangan yang ia ketemukan itu atau lagi-lagi ia membatalkannya. Ia pikir saatnya belum tiba. Cuma kendati demikian, ia belum dapat memikir sebabnya kesangsiannya itu. In Gwa Sian bermata sangat tajam, pengalamannya pun luas sekali, maka itu ia lantas dapat melihat keragu-raguannya nona. Ia hanya heran kenapa nona itu beragu-ragu.

"Hm, bocah !" katanya kemudian dingin. "Nyalimu sungguh besar ya ! Kenapa terhadap aku si pengemis tua kan masih main teka-teki ? Lekas kau bilang, kau sebenarnya ada menemukan sesuatu apa ?" Sambil berkata demikian lalu Pat Pie Sin Kit juga menatap tajam.

It Hiong dan Giok Peng heran, sendirinya mereka turut mengawasi nona Cio. Kiauw In menjublak, inilah ia tidak sangka. Habis itu ia duduk.

"Sebenarnya aku memikir" katanya kemudian perlahan, "kalau toh pencurian dilakukan oleh orang dalam, itu bukan perbuatannya salah seorang Tianglo diantaranya. Kalau orang mencuri kitab, kenapa ia tidak sekalian mencuri pedangnya adik Hiong ? Kenapa kitab melulu yang dibawa pergi? Laginya tentang kitab ini, orang mengetahuinya hampir tak ada.

Menurut aku, inilah bukan pencurian secara kebetulan saja. Orang juga mesti lihai ilmu ringan tubuhnya, kalau tidak, tidak nanti dia lolos dari pandangan mata kita, apa pula adik Hiong, tak mungkin dia kena dikelabui. Setelah memiliki Hian-bun siang Thian Khie-kang, mata dan telinganya adik Hiong luar biasa jeli dan tajam. Maka si pencuri mestinya bertubuh sangat ringan dan lincah ! Siapa pandai lari diatas rumput dan baru dia dapat memasuki gubuk kita. Sebab ini, aku tak dapat mencurigai orang dalam."

Berbicaranya si nona beralasan. In Gwa Sian yang cerdik turut mempercayainya. Hanya It Hiong yang mengerutkan sepasang alisnya. "Kakak" tanyanya, "kau pandai menerka, di dalam hal ini, bagaimanakah pandanganmu ?"

Habis bersamadhi paling belakang, It Hiong mendapat kenyataan Kiauw In cerdas luar biasa, si nona cerdik, bernyali besar, hatinya mantap. Di dalam hal itu, ia dan Giok Peng harus mengaku kalah.

Kiauw In bisa melihat bingungnya tunangan itu. Ia berkasihan tetapi ia dapat berlaku sabar. Untuk menghibur, ia berkata : "Kitab pedang suhu itu istimewa, sulit buat dimengerti, taruh kata orang dapat dibawanya kabur, didalam waktu beberapa bulan saja, tak nanti orang dapat memahaminya. Sekarang ini baiklah kita jangan bingun, kita harus berlaku sabar. Perlahan-lahan saja kita mencarinya..."

Ia pula jawaban tak langsung bagi In Gwa Sian, maka si pengemis tua lantas mana menghela nafas, ia tak bertanya terus. Hanya didalam hati ia merasa sangat tidak puas.

Bukankah ia seorang ternama dan sangat disegani ? Selama beberapa puluh tahun belum pernah ia menemui lawan setimpal, baru sesudahnya bertanding dengan Thian Cie Lojin dari luar, pikirannya berubah sedikit tak lagi ia berkepala besar seperti tadi-tadinya. 

Sedangkan paling belakang pertempurannya dengan Hang Sam Kiam Kek membuatnya mesti berpikir panjang-panjang. Sekaranglah ia insyaf, kepandaian silat tak ada batas habisnya, batas kesempurnaannya. Entah masih ada siapa lagi orang lihai yang ia belum tahu. Tek Cio SIngjin sendiri membuatnya kagum bukan main.

Selagi berpikir itu lantas ia ingat akan halnya wantu ia mengantarkan Hing ke Kiu Hoa San supaya anak itu diterima sebagai murid oleh Tek Cio, disaat itu si imam telah memberikan ia nasehat untuk ia mengundurkan diri guna hidup tenang dan damai. Hanya ketika itu nasihatnya si imam diberikan secara samar-samar.

Mengandal kepandaiannya yang lihai dan menuruti tabiatnya yang jujur tetapi keras mengingat kepada tugasnya sebagai manusia yang harus menolong sesama manusia mulanya, In Gwa Sian tidak memperdulikan nasehat Tek Cio itu, tetapi sekarang terutama disebabkan hasil pertempurannya dengan It Yap, ia mulai insyaf. Berbarengan ia juga mau percaya mungkinlah Thaykek Liang Gia

Sam Cay Kiam telah diciptakan Tek Cio guna mengamankan dunia persilatan guna membasmi atau menundukkan kawanan bajingan dari luar lautan itu. Maka itu, bagaimana pentingnya kitab silat itu dan bagaimana celakanya apabila kitab tak dapat dicari dirampas kembali....

Hanya itu, sia-sia belaka mereka berpikir, kitab telah lenyap, bahkan pencurinya masih belum ketahui siapa adanya...

Jago tua itu duduk bersila sambil memejamkan matanya. Ia berdiam saja. Giok Peng berdua It Hiong duduk berhadapan, tampang mereka berduka, pikiran mereka kacau. Kiauw In juga bingun walaupun diluarnya ia tampak tenang, inilah karena ia mencoba menguasai diri. Ia memikir bagaimana ia harus bertindak.

Maka itu, sunyilah kamar.

In Gwa Sian yang paling dahulu membuka matanya dan berjingkrak bangun sudah lewat sekian lama. "Kau benar anak In !" kata dia nyaring. "Memang kehilangan kitab ini tak dapat diumumkan, sebaliknya kita harus mencarinya secara diam-diam. Siauw Lim Sie mempunyai aturan keras. Tetapi muridnya sangat banyak, siapa tahu kalau diantaranya ada salah satu yang buruk !"

Berkata begitu, jago tua ini bertindak keluar, jalannya perlahan. It Hiong bangkit, terus ia menyusul ayah angkat itu, waktu ia sampai di pintu, sang ayah sudah menghilang, tak ada bayangannya lagi. Rupanya sekeluar dari ambang pintu, dia lantas menggunakan ilmu ringan tubuhnya.

Kiauw In berpaling kepada si anak muda, ia tersenyum.

Katanya perlahan : "Kitab sudah lenyap, percuma kita bingung tidak karuan. Sekarang mari kita melegakan hati supaya kita dapat tidur. Besok baru kita berunding pula. Dengan tubuh dan pikiran segar, mungkin kita dapat memikir sesuatu..."

Berkata begitu nona itu menarik tangan Giok Peng buat diajak ke kamar mereka.

It Hiong menengadah ke langit, ia menghela nafas. Tak dapat ia berkata apa-apa. Toh ia menyesal dan mendongkol sangat. Maka ia mengangkat kepalanya mengawasi langit. Otaknya bekerja kera. Saking masgul, ia menghela nafas.

Ketika itu wajahnya muram dan suram. Di dalam hati ia kata : "Berbulan begitu kita disimpan Kiauw In, kitab itu selamat tak kurang suatu apa tetapi ditanganku belum satu malam, sudah hilang lenyap dicuri orang !"

Sekembalinya ke kamar mereka, Kiau In menutup pintu. Ia rupanya sudah memikir tetap sebab lantas ia mengeluarkan sapu tangan putih yang ia dapat pungut itu sembari mengibarkan itu di mukanya Giok Peng, ia tanya sambil tertawa : "Adik Peng, adakah sapu tangan ini kepunyaanmu?" Giok Peng mengawasi sapu tangan itu. Dengan lantas ia mengenalinya. Ia mengulur tangannya guna menyambutinya. Ia tertawa dan kata, "Terima kasih kakak ! Aku gila sekali, entah dimana aku hilangnya !"

Kiauw In menyerahkan saputangan itu tetapi ia menghela nafas.

"Coba pikir dengan sabar adik, kapankah kiranya lenyapnya saputanganmu ini ?" kata ia, sabar. "Di dalam satu atau dua hari ini kau pernah memakainya tidak ?"

Ditanya begitu, hati Nona Pek tercekat. Maka ia lantas meneliti saputangan itu. Ia merogoh sakunya dan mengeluarkan sehelai saputangan yang serupa, yang ia awasi juga. Berbareng dengan itu, otaknya bekerja.

"Kakak, dimanakah kau dapatkan ini ?" kemudian ia tanya, agaknya ia heran. "Aku tidak ingat dimana pernah aku taruh atau membuatnya lenyap. Mungkinkah saputanganku ini ada sangkut pautnya dengan hilangnya kitab silat pedang itu ?"

Sebagai seorang yang cerdas, Nona Pek sudah lantas dapat menerka. Memang lenyapnya saputangan itu gelap baginya dan heran juga ia Kiauw In dapat menemukannya.

Kiauw In dapat bergurau. Ia tertawa. "Buat sekarang ini, sukar untuk memastikannya." sahutnya.

"Hanya tempat dimana saputangan ini diketemukan olehku sungguh mengherankan hingga itu dapat menimbulkan kecurigaan. Adik, cobalah kau pikir secara seksama, mungkin dari saputangan ini kau dapat menerka-nerka." Lantas Nona Cio memberitahukan dimana ia menemuinya saputangan itu. Giok Peng memikir lama juga, akhirnya ia menggeleng kepala.

"Sungguh tak aku ingat dimana dan kapan lenyapnya saputanganku ini." katanya. "Ada kemungkinan jatuhnya waktu kita pindah, yaitu dihalaman luar kuil."

Paras Kiauw In berubah, agaknya ia kaget.

"Kalau benar saputangan ini jatuhnya di halaman luar kuil," kata ia, "maka si pencuri kitab pedang tanpa disangsikan pula mesti salah seorang pendeta disini ! Kalau dugaan ini benar, tak sulit buat mencari pencuri itu ! Cukup asal kita minta Paman In menyampaikannya kepada Pek Cut Siansu untuk mohon Siansu memeriksa para kacungnya. Maka yang penting sekarang ialah kepastian pikiranmu apa benar-benar saputanganmu ini jatuh di halaman luar kuil."

Giok Peng berpikir pula. Keras ia menguras otaknya. Tiba- tiba alisnya bangun berdiri dan parasnya pun menjadi merah.

"Apakah bukannya dia ?" dia berseru bertanya, giginya dirapatkan keras satu dengan lainnya, suaranya sengit sekali.

Kiauw In sebaliknya. Dia tenang-tenang saja. Bahkan ia dapat bersenyum.

"Kau maksudkan Gak Hong Kun, bukankah ?" tanyanya sabar.

Giok Peng heran hingga ia melengak.

"Kakak, kakak..." katanya, "Kakak, cara bagaimana kau dapat menerka bahwa aku maksudkan Gak Hong Kun?" "Tak sulit menerkanya, adik," sahut nona yang ditanya. "Begitu aku menemukan saputangan ini lantas aku menduga dia. Itulah sebab saputangan ini tersulamkan tanda atau lambang semasa kau gemar merantau. Siapa tak mengenalmu, tidak nanti ia menyimpan saputangan ini. Atau sedikitnya orang yang telah melihat dan mengetahui tentang dirimu. Bukankah Hong Kun sangat tergila-gila padamu dan nampaknya dia tidak mau melepaskan kau ? Maka juga mestinya dialah yang menyimpan saputangan ini, sampai dia membuatnya hilang..."

Nona Cio menghela nafas, hingga kata-katanya itu jadi terputus tetapi setelah itu ia meneruskan : "Hong Kun menyebalkan tetapi cintanya terhadapmu tebal sekali, orang yang cintanya demikian keras pantas juga dihargai. "

"Hmm !" Giok Peng memperdengarkan hinaannya. "Kakak, manusia tak dapat dilihat dari macamnya saja ! Hong Kun mirip seoarang sopan santun tetapi hatinya ngurak dan buruk

! Ketika itu hari dia memancing aku ke lembah di belakang gunung mulanya dia bersikap sabar dan hormat, selewatnya itu dia perlihatkan kebiadabannya! Dia berani mencoba memeluk aku ! Rupanya disaat itulah dia telah sambar saputangan ini. Selagi aku mendongkol dan gusar, wajarlah kalau aku tidak perhatikan tangan jahatnya itu !"

Kiauw In tertawa pula.

"Tetapi bagus ia mencurinya !" katanya. "Kalau dia tidak mencuri sapu tangan ini, mana dapat dia meninggalkannya ? Pastilah kita tak dapat menerka dia. "

Giok Peng mengangguk. "Dalam hal ini, kakak kau benar juga." bilangnya. "Lagipula lain orang tentu tak mempunyai keberanian dan kepandaian untuk menyatroni gubuk kita ini sampai kita tidak mengetahuinya..."

Nona Pek berdiam sejenak, otaknya bekerja.

"Hanya sulitnya..." tambahnya kemudian, "kemana kita harus cari dia ? Dia tidak punya rumah tangga dan rumahnya ialah empat penjuru lantas..."

Kiauw In tidak tertawa lagi, sekarang ia bicara secara sungguh-sungguh.

"Ya, memang sulit juga, "katanya. "Selain dari itu, kitapun belum memperoleh kepastian bahwa dialah si pencuri. Aku pikir dugaan kita ini jangan dahulu diberitahukan kepada Paman In dan adik Hiong. Paman In beradat keras, bisa-bisa dia langsung pergi ke Hong San mencari It Yap Tojin bangsa keras kepala, kalau ia menyangkal, dia bisa bentrok pula dengan paman. Itulah berbahaya buat paman atau sedikitnya keduanya bisa celaka bersama. Adik Hiong menang ilmu silatnya, latihan tenaga dalamnya masih kurang, ia sukar dipastikan tentang kalah menangnya. Disebelah itu kita pula bakal menghadapi pertempuran mati hidup dengan pihak- pihak jago luar lautan, kita jadi harus mengumpulkan tenaga. Maka itu saat ini bukan saat yang tepat untuk kita melakukan pertempuran mati-matian. Masih ada satu hal lain.

Diumpamakan benar Gak Hong Kun yang mencuri kitab belum pasti dia berani pulang ke gunungnya, malah mungkin sekali dia pergi menyembunyikan diri disebuah bukit atau lembah atau hutan guna dia hidup menyendiri untuk mempelajari isinya kitab. Maka itu adik, buat sementara sukarlah kita mencari kitab itu..." Giok Peng berduka sekali, hingga sepasang alisnya rapat satu dengan lain, paras mukanya kucal dan muram.

"Hanya kakak," katanya kemudian perlahan, "mustahil kita lantas tak berdaya mencari kitab itu..."

Kiauw In juga menghela nafas.

"Sabar adik," dia membujuk dang menghiburi. "It Yap bangsa dingin dan angkuh, inilah tentu dikenal baik oleh Hong Kun, maka itu aku lebih percaya lagi yang Hong Kun tak akan pulang ke gunungnya. Asal kitab tidak terjatuh ketangannya imam itu, kita jangan berkuatir terlalu, kita jangan bingung.

Aku percaya dengan kepandaiannya itu, tak nanti Hong Kun dapat pecahkan artinya setiap jurus dari kitab itu, apapula dalam waktu yang pendek. Maka itu adik, bersabarlah. Kita toh tidak dapat mencari kitab dengan menjelajah seluruh negara ?"

"Habis bagaimana ?" Giok Peng masih mengotot. "Apakah kita mesti duduk bertopang dagu sampai nanti orang datang sendiri menggantinya ?"

"Benar adik. Biarlah dia nanti terjeblos di dalam jebakan atau dia nanti membukakan palang sendiri ! Kalau kita pergi mencari dia, itulah sulit. Hanya, buat menanti sampai dia suka menghantarkan sendiri, kita harus mengandalkan kau, adik..."

Giok Peng heran hingga ia melengak.

"Apa ?" tegaskannya ia. "Daya apakah aku punya ?" Atau mendadak ia melengak pula. Tiba-tiba ia ingat sesuatu. Lantas ia menambahkan : "Gak Hong Kun sangat licin, aku kuatir dia tak akan makan umpan pancing..." "Kita harus mengatur daya supaya dia tidak curiga apa- apa" kaa Nona Cio, yang mengasah otaknya. "Dalam hal ini, kitapun terpaksa harus mendustai adik Hiong, agar ia tidak tahu apa-apa, hingga kalau perlu ia bagaikan mendusta diluar tahunya !"

Giok Peng mengawasi tajam. "Daya apakah itu, kakak ?" Kiauw In membalas menatap.

"Aku memikir untuk memakai kau sebagai umpan, adik" katanya kemudian, "supaya Hong Kun menaruh kepercayaan besar dan suka datang padamu. Hanya saja daya apa itu, aku harus memikirkannya dahulu. Biar bagaimana, asal kau suka berkorban sedikit, adik. Kau harus insyaf, inilah demi kitabnya guru kita, jadi tak apa asal kau dapat bersabar dan menahan malu..."

Nona Pek tertawa hambar.

"Jangan kuatir, kakak !" jawabnya tegas. "Untuk mendapatkan pulang kitab itu aku bersedia melompat ke dalam api berkobar-kobar sekali !"

Kiauw In tersenyum.

"Aku cuma memikir" katanya. "Tak akan aku membuat kau menderita. Atau kalau kau pun menderita juga, itulah cuma untuk batas waktu yang pendek. Kitab lenyap ditangannya adik Hiong, apabila kemudian ini diketahui bahwa kau menderita untuk mendapatkan pulang kitab itu, mungkin dia akan merasa kasihan terhadapmu dan cintanya main mendalam." Giok Peng merasai mukanya panas. Pasti mukanya itu merah sekali. Tapi ia lantas berkata, "Demiku, adik Hiong telah menderita banyak, sedangkan kau kakak, kau memerlukan  aku sebagai adik kandungmu sendiri. Dilain pihak, budinya guru kita besar bagaikan bukit. Maka itu jangan kata baru menderita sedikit, biarpun tubuh ragaku hancur lebur, aku rela. Aku bersedia berkorban jiwa ! Nah kakak, apakah dayamu itu ? Kau bilanglah ! Kau perintahlah aku !"

Nona Cio menghela nafas perlahan, itulah pertanda bahwa hatinya dirasakan berat.

"Ah, inilah cuma sebab aku membesarkan nyaliku" katanya. "Karenanya aku memberanikan diri membuat kau menjadi umpan pancing. Ini pula disebabkan aku ingat harga besar dari kitab pedang itu. Bukankah itu karya guru kita yang membuatnya dengan susah payah ? Bukankah juga kitab itu bakal mengenai nasibnya kaum rimba persilatan seumumnya ? Gak Hong Kun cerdas dan cerdik, kalau dia menyekap diri dalam gunung atau lembah sunyi, paling lambat sepuluh tahun pasti dia dapat pahamkan ilmu pedang itu. Syukur kalau dia berbalik menjadi berbaik hati, jika sebaliknya celakalah semua orang jujur sebab sekalipun adik Hiong sudah pandai Hian boa sin Thian Khie-kang belum tentu dia dapat mengalahkan Hong Kun. Kalau adik Hiong tidak sanggup, siapa lagi yang dapat menggantikannya ?"

"Hong Kun menjemukan, tetapi aku lihat dia masih mengenal perikemanusiaan" kata Giok Peng masgul. "Memang dia sangat membenci aku dan adik Hiong, tetapi untuk dia menjadi demikian jahat hingga dia mencelakai kaum rimba persilatan seumumnya, mungkin tak nanti..."

Kiauw In tersenyum. "Gak Hong Kun itu" katanya, "jika tidak ada anggapannya bahwa adik Hiong merampas kekasihnya hingga ia menjadi sangat sakit hatinya, ada kemungkinan besar menjadi seorang gagah yang berhati mulia. Dia berbakat baik dan cerdas, gurunya pun lihai, mudah buatnya meningkat naik. Sayang dia tidak cukup kuat hati buat menekan sakit hatinya itu. Ya soalnya itu memang soal sulit dan kerenanya hatinya keras, diapun sulit buat dikasih mengerti. Kita telah menjadi kakak beradik. Aku pikir tidaklah halangannya apabila kita berbicara secara terus terang. Sejak aku masih kecil sekali, rumah tanggaku sudah mengalami bencana hebat. Ibuku menutup mata siang-siang dan ayahku berasa ia gunanya kurang.

Sudah pergii mengucilkan diri. Syukur bagiku, aku dikasihhani guru kita setelah sudi menerima padaku menumpang padanya. Pay In Nia tinggi dan kecil, sangat jarang orang mendakinya. Di sana aku hidup menyendiri, dalam kesunyian dan ketenangan. Tempat itu cocok bagiku. Aku memang gemar ketentraman. Karena keadaanku itu, aku telah bercita- cita mencari tempat mencil dan sunyi, guna membangun sebuah gubuk di sana guna hidup menyendiri melewati tanggal, hari, bulan dan tahun. Aku merasa hidup secara demikian akan menyenangi hatiku. Siapa tahu aku justru telah bertemu dengan adik Hiong ! Adalah itu jodoh atau hutang lama yang harus dilunasi ? Selekasnya aku melihat ia, aku jatuh Cinta padanya, demikian juga dia terhadapku. Dengan demikian maka dia telah merusak atau menggagalkan cita- citaku itu. Sekalipun didalam mimpi aku senantiasa ingat padanya. Demikianlah sampai terjadi itu pertempuran dahsyat di Lek Tiok Po. Coba tidak ada paman In yang membantu dia, mungkin tubuhku sudah lama terkubur didalam tanah. Dia pula yang membuatku membabat angan-anganku buat menjadi seorang suci, hingga sekarang aku hidup terombang- ambing di dalam dunia yang ramai dan penuh bahaya ini, guna membantu dia dari kekacauan besar, buat melindungi dan memajukan dunia rimba persilatan yang sejati. Demikian hatiku yang tadinya tawar sekarang menjadi bergelora "

Giok Peng menghela nafas berduka mendengar kakak itu membuka rahasia hatinya.

"Dasar kakak berbakat, cerdas dan cerdik" ia memuji. "Bukan seperti aku yang hatinya gelap. Aku lain daripada kau kakak. Setelah itu hari aku melihat adik Hiong, lantas aku menjadi bagaikan orang edan, aku selalu membayanginya, seperti malam itu aku duel dia sampai dikuil tua, sampai aku tertikam pada lenganku. Terang adik Hiong tidak menyinta aku, aku sendiri yang terus tak dapat melupakan padanya.

Maka tibalah saatnya yang Teng Hiang si budak licin menggunakan akalnya membuat adik Hiong lupa dengan kesadarannya hingga malam itu terjadilah peristiwa yang sangat menyesalkan di loteng Ciat Yan Lauw. Malam itu kakak, sebenarnya aku sendiri sadar sesadarnya, tetapi entah kenapa aku tidak dapat menolak keinginannya selagi dia tak sadar diri itu. "

Giok Peng berhenti bicara dengan tiba-tiba mukanya menjadi merah. Ingat peristiwa itu, ia malu sendirinya. Ia menyesal. Itulah peristiwa yang membuatnya melahirkan Hauw yan, anaknya yang manis itu.

Kiauw In tertawa. Nona ini tak lagi merasa jengah.

"Kita bukan manusia luar biasa, tetapi kita toh tidak tolol" katanya. "Apa yang kita alami itu rupanya ialah yang dinamakan takdir. Bicara tentang kita, kita pun harus bicara perihal Gak Hong Kun. Aku seperti merasai bagaimana dia menyesal, penasaran dan berduka. " "Demikian adalah hal, kakak. Cuma apa aku bisa bilang ? Telah aku serahkan diriku pada adik Hiong, bahkan sekarang aku telah mempunyai anak. Tak dapatkah Hong Kun menyadari kedudukanku ? Kenapakah dia seperti juga belum mau melepaskan diriku ?"

"Bicara dari hal kepantasan memang Hong Kun tak dapat menganggu pula kau, adik. Hanya kita harus bicara dari lain sudut. Hong Kun bukan seorang manusia biasa, maka itu pasti tabiatnya juga luar biasa. Dia cerdas dan gagah, adatnya tinggi, tak heran kalau dia selalu mau menang sendiri, selayaknya itu kalau dia tak sudi mengalah terhadap siapa juga. Orang semacam dia asal dia menghendaki sesuatu tak mudah dia mundur sendirinya. Benarnya sebelum hilang nyawa belum dia mau berhenti. Hong Kun tahu kau telah mempunyai anak, dia toh tak meau melupaimu. Inilah soal yang sulit. Maka bicara tentang dia, ada dua kemungkinannya, sudut baik dan sudut buruk. Sudut baiknya itulah cintanya terhadapmu cinta suci dan kekal abadi, tak dapat dia melupaimu. Asal dia melihat kau, cintanya muncul. Sudut buruknya ialah dia sangat membenci adik Hiong dan karenanya berniat menuntut balas, guna memuasi sakit hatinya itu. Buat apa baru dia puas kalau kau dan adik Hiong sudah pecah belah atau bercelaka. Dalam hal ini dia harus dibuat takut sebab pasti dia dapat melakukan segala apa asal maksudnya dapat tercapai. Karena dia cerdik dia dapat memikir segala apa, sekalipun akal yang paling buruk. Dia dapat menjadi pendekar, dia juga dapat menjadi cabang atas jahat. Karena dia manusia luar biasa, dia harus dipandang tidak seperti manusia biasa. Maka itu sekarang bagi kita pertama-tama kita harus dapat menjaga diri baik-baik dan kedua supaya secepat mungkin kita bisa mendapati kembali kita ilmu pedang kita itu !" Giok Peng berpikir keras, memikirkan kata-kata sang kakak.

Kiauw In bicara dari hal yang benar yang beralasan kuat. Agaknya Nona Cio mengenal baik sifatnya Hong Kun. Maka hal itu tidak dapat diabaikan.

"Kakak benar." katanya kemudian, mengangguk. "Benarlah, biar bagaimana kitab itu harus dicari dan didapat pulang.

Bagaimana pikiran kakak ? Apakah kakak telah dapat memikirkan sesuatu ? Coba tolong beritahu aku. "

"Aku telah memikirkan sesuatu hanya rasanya itu masih kurang sempurna. Masih ada bagiannya yang harus teliti. Jadi tak dapat aku pastikan pikiran itu dapat dilaksanakan atau tidak. Kau setuju memberikan aku waktu satu hari lagi, bukan

?"

"Tentu kakak !" sahut Giok Peng tertawa, walaupun tawanya hambar. Ia tidak menanya menanyakan lebih jauh. Inilah karena ia telah kenal tabiatnya kakak itu.

Dengan satu kibasan tangan Kiauw In memadamkan penerangan didalam kamarnya itu, maka juga habis itu keduanya terus naik keatas pembaringan buat merebahkan diri.

Sebelum pulas, masing-masing mereka itu berpikir sendiri- sendiri. Kiauw In memikirkan bagaimana harus mengatur keruwetan diantara Giok Peng dan It Hiong, serta bagaimana caranya buat membikin Hong Kun mendengarnya dan nanti suka datang memakan pancing. Dan Giok Peng memikirkan apa tipunya Kiauw In itu yang mau membuatnya menjadi sebagai umpan agar Hong Kun datang membantu, serta bagaimana andiakata tipu itu, tipu belaka hasil menjadi kebenaran atau kenyataan ? Dan ia sendiri, bagaimana nanti jadinya ? Apakah kelak dikemudian hari tak nanti orang Sungai Telaga menertawakannya ?