Iblis Sungai Telaga Jilid 01

 
Jilid 01

"Benar kalau kau bilang dia berbakat sangat sempurna, "bilangnya" Walaupun demikian, didalam waktu sepuluh tahun, ada sangat sulit baginya untuk mencapai kepandaian itu. Lebih benar dibilang bahwa di dalam segala hal dia menemui hal yang kebetulan, dia telah menemui jodohnya.

Seumur aku si pengemis tua tidak percaya tentang nasib atau peruntungan, tetapi melihat gerak geriknya Tek Cio si imam hidung kerbau selama setahun ini, diam-diam aku harus mengakui kelihaiannya. Didalam sepuluh tahun Tek Cio dapat membuat It Hiong menjadi seperti sekarang ini, itulah jasanya si hidung kerbau, jasa utama.

Cuma satu hal jangan dilupakan hal penemuannya yang diluar dugaan. Pada sepuluh tahun terdahulu di telaga Po Yang Ouw di kay hong secara tiba-tiba anak Hiong dapat minum darahnya seekor belut emas yang usianya mungkin sudah seribu tahun. Khasiat darah itu membuat dia kuat dan ulet luar biasa melebihi hasilnya latihan sepuluh tahun.

Lalu, dia berentengan memperoleh guru pandai dalam dirinya Tek Cio si hidung kerbau itu yang mewariskan padanya ilmu pedang Khiu Bun Patkwa Kiam yang telah diciptakan dan diyakininya separuh seumur hidupnya, sedangkan dalam ilmu ringan tubuh, dia mewariskan Loncatan tenaga Mega yang luar biasa itu.

Selama ini, menurut penglihatanku, Tek Cio memperoleh kemajuan pesat, hingga dia mungkin menjadi seperti dewa atau sedikitnya separuh dewa. Belakangan, anak Hiong diajari juga ilmu tenaga dalam Hau Bun Sian Thian Kiekang, ilmu mana tinggal dia mematangkannya. Benar-benar sekrang sekarang ini sampai dimana sudah kemajuan anak Hiong aku tidak tahu!"

Pak Cu menjadi kagum sekali. Dia tertawa. "Kemarin aku si pendeta tua menyaksikan perlawanan niocu terhadap Beng Leng Ciu jiu," katanya. "Aku melihat didalam halnya tenaga dan kecerdasan, niocu tak berada di bawah angin. Maka itu, melihat dari kepandaian niocu, aku merasa semua tujuh puluh dua ilmu silat Siauw Lim Sie tak akan dapat dibandingkan dengan kepandaian Tek Cio Sengjin."

Im Gwa Sian menggeleng kepala. "Itulah belum tentu" bilangnya. "Mengenai Tek Cio si imam hidung kerbau, dia memang luar biasa. Selama beberapa puluh tahun dia tak pernah meninggalkan puncak Pay Im Nia di Kim Hoa San. Mungkin dia sedang meyakinkan sesuatu yang lainnya lagi. Pelajaran Hian bun Sian Thian Khiekang itu mirip ilmu semedhi. Untuk mempelajari itu perna anak Hion menyekap diri tiga tahunlamanya. Diwaktu begitu dia tak dapat diganggu sampai aku sendiri si pengemis tua dilarang menemuinya.

Karena itu pernah aku memikir mungkin si imam hidung kerbaru lagi mempelajari ilmu sesat."

Pek Cui tertarik hati, ia menghela naps kagum. "Tak perduli dia mempelajari ilu ssat atau bukan" katanya. "tetapi dia telah dianggap sebagai orang pandai dan gagah luar biasa yang nomor satu di jaman ini, sebutan itu tak memalukan dan mengecewakannya. Menyesal sekali lolap tidak pernah mempunyai ketika akan bertemu muka dengan sengjin, maka kalau kelak dikemudian hari lolap beruntung menemuinya, pasti akan lolap menghindari (tidak jelas) tujuh puluh

dia ilmu silat partai itu memohon pengajarannya!"

Kata-kata "mohon pengajaran" itu diartikan dalam artian umum, itu dimaksudkan menantang secara terhormat untuk bertanding.

In Gwa Sian tertawa mendengar suaranya pendeta itu. "Tek Cio si hidung kerbau itu sangat cerdas dan banyak

pengalamannya" katanya. "Dapat dimengerti bahwa tak mudah untuk dia memperoleh semua kepandaiannya itu. Setahuku dia telah menyekap diri di dlam gunung Kui Hoa San buat beberapa puluh tahun, tak pernah dia turun gunung umpama kata sekalipun satu tindak. Selama tigapuluh tahun, dua kali seudah dia menutup diri setiap kalinya buat beberapa tahun lamanya. Malah dia tak pernah meninggalkan kamar samadhinya itu, yang sekrang menjadi kamar obatnya"

Pek Cui tersenyum. "Kami dari pihak siau Lim Sie, kamipun mempunyai kebiasaan menutup diri itu" katanya, "kami cuma tidak membutuhkan waktu demikian lama seperti yang diperbuat Tek Cio Totiang"

In Gwa Sian menggeleng kepala, memotong pendeta itu," Kita tunda halnya Tek Cio itu, tunggu saja nanti sampai kau berhasil menemuinya. Sekarang ialah soal terpenting.

Bagaimana kalian hendak mengurus itu?"

"Apakah kau menghendaki kami turut denganmu, untuk kita bersama-sama melepas undangan umum kepada seluruh kaum Rimba Persilatan guna mengajak mereka berangkat keluar lautan?" tanya Pak Cui.

"Tak usah!" sahut si pengemis tertawa. "Soal itu tak prnah lepas dari hatiku si pengemis tua. Asal kau mupakat, segera kita mengirim orang menyampaikan surat undangan. Jika kau tidak setuju, sekarang juga aku si pengemis tua hendak berpamitan darimu!"

"Lolap meminta Tio Sicu datang kemaripun guna membicarakan urusan itu." berkata Pek Cui. "Kawanan bajingan dari luar lautan itu datang mengacau wibawa kami disini tanpa alasan, hingga mereka mendatangkan malapetaka. Perbuatannya itu tidak dapat dibiarkan saja. Lolap telah menghimpun para Tianglo dari Tatmo Ih dan Kam Ih, begitu kami berbicara putusan telah lantas diambil.

"Jika demikian, kita mesti bekerja cepat!" berkata In Gwa Sian yang dalam hal ini hilang kesabarannya. Dia memotong kata-kata orang sebelum Pek Cui bicara habis. "Sekarang juga kita bekerja, kita menulis dan mengirim surat undangan, bagaimana?"

"Perihal surat undangan telah lolap memerintahkan lekas ditulisnya," berkata pula si pendeta, "Soalnya ialah kita harus memilih siapa-siapa saja yang di undang."

Itulah benar. In Gwa Sian setuju, maka itu mereka lantas memikirkan kawan dan kenalan untuk dipilih siapa yang kiranya pantas diundang. orang itu harus lihai dan sepaham, tak dapat sembarang orang mengingat lihainya pihak lawan.

Pembicaraan atau pemikiran itu meminta waktu, sebab nama-nama yang disebut harus dipilih lebih jauh, selesai memilih orang, nama-nama mereka itu lantas ditulis, tak diduganya Pek Cui mengajukan duapuluh orang pendeta muda dan lincah menyiarkan kesegala penjuru. Di dalam surat undangan disebut tanggal bulannya, yang tinggal dua bulan lagi.

Seperginya para pendeta pesuruh itu, barulah lega hatinya In Gwa Sian. Tadinya dia tegang sendiriny akarena dia tak sabaran, sekarang dapat dia tertawa.

"Tadi malam aku menempur It Yap Tojin si imam campuraduk diatas puncak Siauw SIt Hong," katanya. "Kami mengadu tangan hingga tiga kali. Kesudahannya aku kalah satu. Walaupun demikian, si hidung kerbau tak menang seluruhnya. Kami sampai kehabisan tenaga, maka itu kami lantas pada duduk bersila untuk beristirahat sekian lama. Ketika itu aku gunakan meminta ia mengundangnya turut pergi ke luar lautan guna menemui para bajingan!"

"Habis, dia menerima baik undangan itu atau tidak?" Pek Cui tanya lekas. "Jjika Heng San Kiam-kek memberikan persetujuan tak sukar buat membasmikawanan bajingan itu. "

In Gwa Sian tertawa sebelum dia menjawab. Kata dia," Si imam campur aduk itu masih penasaran atas kekalahannya dari Tek Cio diwaktu mengadu pedang, dia tidak menjawab menerima baik undanganku itu, dia cuma tertawa dingin beberapa kali, terus saja dia mengeloyor pergi turun dari puncak!"

"Ah!" Pek cui menghela nafas," Manusia umumnya menganggap dalam hidupnya ada empat buah godaan yang paling sukar diatasi, ialah harta, paras elok, nama, dan kedudukan tinggi, tetapi diantara itu menurut pandangan lolap, nama lah yang paling banyak mencelakai orang.

Demikian dengan It Yam Tojin. Dia dipengaruhi dengan kekalahannya dari Tek Cio Sengjin itu, dia merasa namanya runtuh, maka dia menjadi penasaran, karenanya ia sampai melupakan kesulitan dan bahaya yang mengancam keselamatannya banyak sesama rekan kaum Rimba Persilatan. "

Mendadak pendeta ini berhenti bicara, terus dia tertawa nyaring.

"Amida Buddha!" pujinya. "Ah, aku si pendeta jadi berpikir sebagai manusia seumumnya!. " Mendengar kata-kata si pendeta, hatinya It Hiong gentar sendirinya. Mendadak ia ingat sesuatu, maka juga ia kata didalam hatinya: "Gak Hong Kun tergila-gila terhadap kakak Giok Peng, dia bagaikan orang edan dilihat dari tingkahnya itu dia seperti juga bersedia mengorbankan jiwa demi sang cinta! Aku bagaikan merampas kekasihnya itu, aku bersalah. Pantas dia sangat membenci aku!. "

Memikir begini tawarlah hatinya si anak muda. Ia tetap merasa sulit...

Pembicaraan telah selesai sampai disitu. In Gwa Sian merasa bahwa ia telah beristirahat cukup maka dia berpamit diri. Dia masih letih perlu beristirahat! It Hiong pun menggunakan saat itu untuk mengundurkan diri hanya ia menggunakan kesempatan terlebih jauhnya. Ia berdusta bahwa keluar wilayah kuil demi untuk pergi ke tempatnya Kiauw In dan Giok Peng.

Tatkala itu kedua nona sedang duduk berdua saja depan berdepan di depannya di atas meja terletak Keng Hong Kiam pedang mustika Mengejutkan Pelangi. Nampaknya kakak beradik itu sedang asyik sekali. Sebab mereka sangat akur satu dengan yang lain. Walaupun demikian mereka segera dapat melihat ketika It Hiong muncul diambang pintu kamar mereka. Pemuda itu melangkah dengan perlahan berindap- indap.

Kiauw In melirik dan tertawa. "Mau apa kau datang secara sembunyi-sembunyi bagaikan bajingan?" tegurnya. It Hiong tertawa.

"Kalian tengah membicarakan urusan apa?" dia balik bertanya. "Agaknya kalian asyik sekali! Dapatkan aku ini turut mendengarnya?" Giok Pek melirik, nampak dia rada jengah.

Kiauw In menunjuk kepada pedang mustika diatas meja. "Apakah artinya ini ?" tanyanya. "Sampai pun senjata tak

dikehendakinya."

"Aku menyerahkan itu kepada kakak Giok Peng dengan permintaan ia tolong menyimpan dan menjaganya," sahutnya. "Siapakah yang bilang aku tidak menghendakinya ?"

Pemuda ini bersikap wajar.

Kiauw In mengawasi, Giok Peng sebaliknya menghela napas.

"Aku tahu, di dalam hatimu, kau sangat penasaran terhadapku," katanya. "Dengan kakak In ini, aku justru tengah membicarakannya !"

Si pemuda menggeleng kepala.

"Bukankah urusan itu urusan umum ?" katanya sambil tertawa. "Apakah yang menarik dalam urusan ini ? Mana dia Gak Hong Kun ?"

"Dia sudah pergi !" sahut nona Pek.

"Kenapa kau tak mengajaknya datang kemari untuk berduduk dan memasang omong ? Terhadap kita, terhadapmu dan terhadapku, dia telah melepas budi besar."

"Hm !" si nona memperdengarkan suara penasaran atau mendongkol. "Tadinya aku menganggap dia orang baik-baik maka aku suka bergaul dengannya sampai akhirnya aku bentrok dengan pemuda seh Gak itu, yang marah mengharap cintanya, karena ia menganggap itu tak tepat." Maka ia meneruskan, "Siapa tahu, terhadapmu dia mendendam kebencian yang sangat."

It Hiong menghela napas panjang.

"Itulah sudah sewajarnya." katanya menyesal. "Mana dapat dia dipersalahkan atau disesalkan."

Giok Peng melongo. Kata-kata si pemuda itu diluar dugaannya.

"Apakah maksudmu ?" ia tegaskan It Hiong tertawa.

"Kakak, jangan kau banyak pikiran itu !" katanya. "Aku Tio It Hiong, aku bukannya si orang yang cupat pandangannya. Mulanya dia baik sekali padamu lantaran ada aku, dia menjadi terluka hatinya dan berduka karenanya. Selama tahun-tahun yang lewat, tak pernah dia melupakan kau. Seharusnya dia membencimu tetapi karena cintanya yang sangat, itu tak dapat dia lakukan. Karena itu ia berbalik membenciku !"

Parasnya nona Pek menjadi pucat, lalu berubah menjadi merah.

"Apakah kau bilang ?" tegurnya keras. "Apakah kau ngaco belo ?"

It Hiong tidak bergusar. Sebaliknya dia tertawa. "Kakak, sabar" katanya. "Kau dengar dahulu perkataanku. Tak perduli bagaimana perasaan atau kesanmu terhadap Hong Kun, dia sebaliknya sangat menyintaimu hingga dia tersesat dan tak dapat sadar. Bicara dari asal mulanya, memang aku yang bersalah. Jika aku tidak bertemu denganmu, tidak nanti Gak Hong Kun menjadi gagal dalam percintaannya. "

Giok Peng mendongkol, tetapi toh dia berduka. "Mengapa kau tidak mau berkata bahwa aku telah

memeletmu membikin kau berbuat keliru dan menyesal ?. "

katanya, airmatanya terus turun meleleh.

It Hiong bingung.

"Kakak !" katanya. "Kakak jangan kau salah mengerti ! Aku tahu kau mencintai aku dengan sangat."

Mendengar sampai disitu, Kiauw In membuat main bibirnya yang dimoncongkan. Ia lantas campur bicara.

"Tak dapatkah kau tidak mempupuri mukamu ?" tanyanya. "Siapa sih yang mencintai kau dengan sangat ?"

Giok Peng mandi airmata, tetapi mendengar kata-katanya Kiauw In, dia tertawa.

It Hiong menghela nafas. Ia tidak melayani nona Cio.

Hanya dengan sabar ia kata, "Aku tak tahu dosa bagaimana yang telah aku lakukan sebelum aku terlahir ke dunia, maka juga sekarang ini kakak berdua telah begini mencintai aku hingga cinta itu setebal berlapis-lapis gunung. "

Kiauw In tersenyum, ia melirik kepada Giok Peng. "Adik, kau dengar !" katanya. "Lihat makin lama kulit muka dia makin tebal ! Dengan kata-kata apapun dia dapat keluarkan ! Rupanya dia menganggap bahwa kita sangat menyintai dia. "

Giok Peng memupus air mata dipipinya.

"Ya, kulit muka dia sekarang berobah setebal tembok !" sahutnya. "Makin dia bicara makin tebal jadinya."

It Hiong tersenyum. Ia mengawasi kedua nona itu bergantian.

"Jika bukannya aku yang melakukan perampasan, tidak nanti Gak Hong Kung membenci aku" katanya. "Biar bagaimana aku toh merasa malu sendiri. Itulah sebabnya kenapa terhadap dia, aku tidak membenci sedikit juga. Kakak, jika Tio It Hiong bukan bicara dengan suara hati nuraninya, dia pasti bakal terkutuk Thian."

Giok menghela napas. Ia pun merasa bagaimana Hong Kun senantiasa bersikap baik terhadapnya.

"Apakah maksudmu maka kau bicara begini rupa kepadaku

?" ia tanya. "Aku kurang mengerti. "

Itulah pertanyaan yang tak disangka-sangka It Hiong.

Sejenak ia bungkam, tak dapat ia menjawabnya.

Giok Peng menoleh ke pembaringan dimana Haw Yang sedang tidur nyenyak Ia tertawa hambar.

"Jangan berpura pintar !" katanya. "Jangan kau sangka

apa-apa yang kau pikir itulah tepat. Memang terhadapku Hong Kun belum pernah melampauinya, maka juga aku terima undangannya pergi ke lembah itu, buat berbicara sekian lama. Perbuatanku itu memang kurang tepat, jangan kata kau yang melihatnya menjadi gusar. Aku sendiri sadar akan kekeliruanku. Tak perduli apa yang dia pikir tentang aku, tetapi aku sendiri "

Mendadak Nona Pek merasai mukanya panas. Mungkin menjadi marah. Ia lantas menoleh kepada Kiauw In, untuk berkata :" Kakak, jangan kau tertawakan aku ! Sejak masih kecil aku biasa mengikuti ayah merantau, sendirinya tabiatku menjadi rada berandalan dan terhadap pergaulan pria dengan wanita, aku tak bersikap keras menurut adat istiadat seperti kebanyakan wanita lain. "

Nona Cio tertawa.

"Asal hati kita putih bersih dan lurus, tidak masalah kita terlalu menurut kehendak adat istiadat." katanya.

Wajahnya Giok Peng suaram.

"Biar bagaimana, di satu saat itu aku lalai." bilangnya. "Aku telah berkelakuan terlalu menuruti suara hatiku, tidak heran apabila dia menjadi curiga atau cemburu. "

"Dengan dia" nona ini maksudkan It Hiong.

Si anak muda segera mengulap-ulapkan tangannya. "Kakak, kau keliru !" katanya cepat. "Kenapa kau menerka

begini rupa terhadapku ?"

“Kau membuatku penasaran !" Kiauw In melirik tajam kepada muda mudi di depannya itu, terus ia mengawasi Giok Peng.

"Gak Hong Kun mengundang kau datang ke lembah itu, apakah yang dia bicarakan denganmu?" tanyanya. "Mungkinkah dia berkulit demikian tebal masih dia membujukimu atau mendesak hendak menikahimu ?"

"Pada mulanya, dia memang masih dapat berlaku sopan santun." sahut Nona Pek terus terang.

Sepasang alis Nona Cio bergerak.

"Lalu ?" tanyanya pula, menegaskan. "Mungkinkah dia berani berlaku kurang ajar atau ceriwis terhadapmu ?"

"Sampai disitu, belum berani dia melakukannya." sahut Giok Peng, "Namun kemudian kata-katanya samar-samar mulai menjurus ke arah itu... "

Berhenti kata-katanya Nona Pek, mukanya pun menjadi merah sekali.

Dengan perlahan Kiauw In menarik napas lega.

"Dia menjemukan tetapi seorang yang mencinta," katanya perlahan, "sedang bicara dari hal kepandaian terutama ilmu silat, dia tak mudah dicari lawannya. Sebenarnya dia si orang muda yang banyak nona-nona cantik mengharapinya. Dia tampan dan gagah, cintanya pun cinta abadi. Terhadapmu, walaupun telah lewat beberapa tahun hatinya tetap tak berubah. "

Giok Peng menggeleng dengan cepat. "Kakak" katanya, "Kenapa kakak berkata begini ? Aku justru benci kepadanya !"

Kiauw In menengadah langit-langit rumah. Ia tertawa hambar.

"Adik, tak ada maksud menertawai kau." katanya sungguh- sunguh. "Aku bicara sejujurnya. Aku sendiri sejak kecil sekali, aku menjadi besar diatas gunung, tak biasa aku menerima pujian atau kekang adat istiadat. Bicara terus terang, adat istiadat ada terlalu keras, banyak larangannya. Yang umum atau yang paling sederhana, adalah soal pernikahan. Kaum pria boleh beristri sampai tiga dan bergundik sampai empat. tetapi kita kaum wanita ? Kita dikekang oleh apa yang dinamakan tiga menurun dan empat kebijaksanaan dan lainnya. Bahkan ada yang menganggap bicara dengan sembarang pria saja sudah tak pantas sekali. Kalau diingat- ingat, kita kaum wanita sungguh dirugikan banyak !"

Mendengar kata orang-orang, It Hiong tertawa.

"Kakak berdua tenangkanlah hati kalian !" katanya. "aku tak akan menggunakan segala aturan peradatan itu untuk mengekang kalian berdua !"

Kiauw In menoleh kepada pemuda itu, matanya dibuka lebar dipelototkan.

"Aku bicara wajar saja ! Siapa mau bergurau denganmu ?" katanya.

It Hiong mengangkat bahunya. Ia tertawa.

"Aku juga bicara wajar sebagaimana kau" bilangnya. "Jika kalian tak percaya aku, kakak, terserah !" "Hm !" Giok Peng memperdengarkan suara dihidungnya. "Kau lihat, bagaimana tampangnya ! Nampaknya dia menganggap seperti benar ada sesuatu perbuatan kita yang tak memuaskan padanya !"

It Hiong melihat suasana buruk baginya, tanpa ragu pula, dengan cepat dia ngeloyor keluar !

Dengan satu gerakan tubuh yang gesit, Kiauw In lompat maju menghadang di ambang pintu.

"Eh, kau hendak pergi kemanakah ?" tegurnya.

"Ayah menantikan aku buat satu urusan penting." si anak muda mendusta. "Aku datang kemari melongok kalian dengan aku mencuri waktu sedetik saja !"

"Aku tidak percaya !" Nona Cio bilang. "Kata-katamu pasti kata-kata setan belaka !"

"Jika kau tidak percaya, bagaimana kalau kau turut aku menemui ayahku ?" si anak muda menantang. Tak sudi ia kalah gertak. Tapi ia bicara sembari tertawa.

"Tak apa buat aku turut pergi menemui ayahmu !" kata pula si nona. "Kau tentunya bakal dapat upah comelan !"

It Hiong menatap kekasih yang cantik manis itu, air mukanya berubah.

"Sebenarnya," katanya sungguh-sungguh, "aku mencuri waktu datang kemari dengan niat mengobrol dengan kalian, siapa tahu aku justru mendatangkan kecurigaanmu..." Kiauw In dapat melihat tampang orang bagaikan orang yang tengah menghadapi sesuatu kesulitan, maka insyaflah ia bahwa tadi kata-katanya rada keras. Ia memang bertabiat halus dan luwes. Maka ia lantas tersenyum, dengan tangannya yang lunak ia mencekal lengan anak muda itu buat ditarik.

"Mari duduk !" ia mengundang. It Hiong tidak menentang.

"Kau bilang kau datang untuk berbicara denganku." kata si nona. "Kenapa sebelum bicara kau sudah mau pergi pula ?

Apakah kau gusar ?"

Si anak muda tertawa.

"Nampaknya kakak berdua gusar." sahutnya, "mana aku berani melayani ?"

Kiauw In bergerak halus menuang air teh yang ia terus letakkan di depan orang.

"Nah, kau minumlah, juga membuyarkan amarahmu" bilangnya tertawa. "Sekarang kami bersiap mendengari apa katamu !" dan ia duduk disisi si anak muda.

Giok Peng pun menghampiri dengan tindakan perlahan- lahan untuk duduk disebelah kanan.

It Hiong menoleh ke kiri dan kanan, hingga terbukalah dihatinya. Karena disampingnya kiri dan kanan itu ia melihat tampang-tampang yang manis, kalau Giok Peng elok agresif, Kiauw In cantik luwes, lagipula disaat itu, kedua-duanya tengah bersenyum berseri-seri, hingga kecantikannya menjadi mentereng sekali. Atau dengan lain perkataan Kiauw In mirip bunga teratai yang muncul di permukaan air dan Giok Peng bagaikan bunga hoaw tau (paony) yang semua sedang mekar semarak.

Memandangi kedua nona hampir It Hiong lupa akan dirinya, ia bagaikan tersadar kaget kapan ia mendengar tawa merdu dari Kiauw In.

"Eh, kau sedang memikirkan apa ?" tegur nona itu. "Tak hentinya kau menoleh ke timur dan barat, apakah kau tak kuatir nanti lehermu salah urat ?"

Anak muda itu melengak karena jengah, belum sempat ia menjawab ia sudah mendengar suara merdu lainnya. Kali ini Giok Peng yang tertawa dan berkata :" Nah kakak kan lihat, ah. Sekarang dia jadi nakal dan kulitnya menjadi tebal, walaupun kakak maki dia, mukanya tak menjadi merah!"

"Ya, memang begitu," tambahkan Nona Cio. "Kulit mukanya makin lama makin jadi tebal !"

"Maka kalau nanti Houw Yan menjadi besar dan tingkahnya seperti dia, akan aku hajar dia setiap hari tiga kali." kata Giok Peng pula, tetapi dia tertawa.

It Hiong melihat ke kiri dan kanannya, ia menggeleng- gelengkan kepala.

"Sungguh hebat !" katanya. "Aku datang kemari untuk berbicara dengan baik-baik dengan kalian, lantas sekarang kalian mengganggu aku... !"

"Ha ha !" Kiauw In tertawa. "Agaknya kau telah dibikin penasaran bukan ? Nah, bilanglah apakah urusanmu itu." It Hiong tertawa.

"Telah terjadi perkembangan baru dan sangat penting" katanya kemudian. "Pek Cut Sian an dan ayahku sudah bekerja sama dengan mereka, mereka telah menyebar surat undangan ke seluruh negara mengundang sesama rekan rimba persilatan untuk nanti orang berkumpul di Tiong Gak, buat berapa merundingkan soal menghadapi kawanan bajingan dari luar lautan. Tanggal yang ditetapkan ialah tanggal lima belas bulan pertama, maka juga kita masih mempunyai waktu kira dua bulan. Karena itu kitapun tidak dapat terus tinggal disini selama dua bulan itu."

Kiauw In berdiam, otaknya bekerja.

"Bagaimana kalau kita pulang dahulu ke Kiu Hoa San ?" tanyanya. "Setelah tiba saatnya baru kita pergi ke tiong Gak. Tak akan telat bukan ?"

"Waktu dua bulan sekejap saja aku sudah sampai" Giok Peng turut bicara. "Daripada pulang ke Kui Hoa San, kita menjadi menyia-nyiakan waktu saja. Aku pikir baiklah kita menggunakan waktu kita guna memahamkan ilmu pedang Thay-Kek Liang Gia Sam Cay Kiam. Nama paman ia dan Pak Pek Cut Siansu tersohor, pasti bakal datang banyak orang- orang tersohor, dan pasti juga pertempuran bakal menjadi dahsyat sekali, karena itu jadi ada gunanya kalau kita sekarang melatih diri memahamkan ilmu pedang itu hingga sempurna."

Dua-dua It Hiong dan Kiauw In mengangguk. Mereka sangat setuju dengan pikirannya Nona Pek itu.

Giok Peng puas, ia tertawa. "Kalau begitu," katanya. "Mari kita bicara dengan paman In, untuk memberitahukan pikiran kita ini guna memohon paman tolong mintakan kepada Pek Cut Siansu agar kita diberikan sebuah tempat yang tenang disini, dimana kita dapat melatih ilmu pedang itu."

It Hiong segera berbangkit. Ia tertawa.

"Kita harus bekerja cebat, maka itu kira sekarang juga kau mau pergi pada ayahku." katanya. "Aku juga ingin mendengar dari ayah, ayah sudah mempunyai rencana atau belum."

Habis berkata pemuda ini segera meninggalkan sepasang kekasihnya itu. Tiba di kamar ayahnya ia mendapati sang ayah tengah bersemadhi. Tak mau ia mengganggu, maka ia berdiam dipinggiran, matanya mengawasi ayah angkat itu.

In Gwan Sian duduk tegak, mukanya penuh peluh, rambutnya sedikit bergerak-gerak. Terang sudah ia bukan cuma tengah bersemadhi hanya ia lagi mengerahkan tenaga dalamnya untuk menyembuhkan lukanya. Ya, luka bekas pertempurannya dengan It Yap Tojin.

Diam-diam murid ini terkejut. Maka ia mengawasi terus.

Lewat beberapa menit maka tampak si pengemis membuka matanya perlahan-lahan, ia berpaling hingga ia melihat anak angkat itu. Lantas ia tertawa.

"Tenaga tangannya It Yap Tojin lihai luar biasa" kata ia. "Kecuali gurumu maka seumur hidupku dialah lawanku satu- satunya yang sangat tangguh."

It Hiong nampak masgul, ia menghela napas perlahan. "Ayah, apakah ayah terluka parah ?" tanyanya prihatin. Ayah angkat itu mengangguk.

"Aku terhajar tangannya hingga aku mendapat luka di dalam." sahutnya terus terang. "Hanya sekarang, setelah mengerahkan tenaga dalamku, aku sudah sembuh banyak."

It Hiong melirik wajah ayahnya. Ia melihat suatu muka yang meringis pertanda orang tengah melawan rasa nyerinya. Kembali ia terkejut. Ia tahu baik tabiat ayahnya itu yang keras yang tidak mau mengalah yang memandang segala apa secara enteng saja. Bukankah sekarang ayah itu tengah menderita dari lukanya ?

In Gwa Sian melihat anaknya berdiri diam

In Gwan Sian melihat anaknya berdiri diam itu, ia dapat menerka kekuatiran orang. Maka ia tertawa, walaupun tawanya hambar. "Bukannya kau melihat bahwa hari ini kesehatanku beda daripada hari hari biasa? Tanyanya. "Ya, ayah," sahut anak itu jujur, "Belum pernah anak melihat ayah menderita seperti hari ini. " In Gwa Sian menarik napas

panjang. "Ya , aku si pengemis tua, benar benar aku sudah tua. " katanya.

"Ayah terluka sedikit," kata si anak angkat, : “aku percaya It Yap Tojin terluka juga. Ayah sudah berkelahi setengah malam, pasti ayah letih, sudah begitu ayah menempur dia sebagai tenaga, tidak heran apabila ayah kalah gesit. Aku percaya jika sama sama seger, tak nanti ayah kalah dari dia."! Mendengar kata kata anaknya itu, In Gwan Sia tertawa bergelak. "Selama beberapa puluh tahun”, katanya "kecuali gurumu , tidak ada orang lain juga yang membuat kau kagum dan takluk, maka jika orang sungai telaga menyebut gurumu aku si pengemis tua, dan It Yap si imam bulu campur aduk, sebagai Bu Lim San Toa koy. Ialah tiga orang kosen luar biasa rimba persilatan, tetapi dimataku, kecuali gurumu itu, aku sendiri tidak mempercayai bahwa aku berhak atau berderajat untuk mendapat sebutan itu, dan terhadap Hong San Kiamkek, aku merasa lebih lebih tak puas.

Aku telah melihat dengan mataku sendiri bagaimana dia dikalahkan oleh gurumu , sedangkan aku sendiri, melawan gurumu itu selama tiga hari tiga malam tanpa ada yang kalah atau menang. Baru kemudian aku merasa mungkin gurumu sengaja mengalah padaku, tetapi mengalahnya itu aku kena dibuat beranggapan keliru "

Pengemis jago ini berhenti sejenak, ia menghela napas. "Setelah kemarin malam aku bertempur melawan It Yap Si

imam bulu campur aduk itu. "ia menambahkan kemudian, "baru insyaf bahwa aku kalah seurat. " " Tetapi ayah "

sang anak menghibur, "jangan ayah berduka karena kegagalan ayah itu, siapa tahu jika lukanya It Yap jauh terlebih parah daripada luka ayah ini !" Bekata begitu anak ini merogo sakunya untuk mengeluarkan sebuah pil Pek Coa Hoan Hun Tin. Anak ada membekal ini obat buatan guruku" Katanya tertawa, "Maukah ayah memakannya?"

In Gwa Sian menyambuti obat itu, terus ia telan setelah mana ia duduk terus dengan memejamkan mata dan berdiam saja. It Hiong mengawasi ayah angkat itu, hatinya bercekat ia mengerti lukanya ayah itu parah sekali. Dengan berhati hati ia lari keluar kuil, untuk langsung kembali kepada kedua kekasihnya. Kiauw In dan Giok Peng heran melihat tunangan dia pergi dan kembali demikian cepat, bahkan mereka mendapat tampang orang bingung dan berduka.

Mereka maju memapak. Dengan matanya yang jeli, Kiauw In menatap anak muda itu. "bagaimana?" tanyanya perlahan, setelah mereka sudah berdiri berhadapan dekat sekali, "kau nampak masgul sekali, apakah kau mendapat marah dari paman in? It Hong menggoyangkan kepala. "Bukan ," sahutnya " Sebenarnya , ayahku telah  mendapat  luka parah. " Kiauw In terkejut, begitu pula Giok Peng,

Mereka sampai mengigil bagaikan orang kedinginan, lalu keduanya berdiri tercengang. "Bagaimana ia terlukanya?" Tanya mereka kemudian. Dengan wajah muram. It Hiong

mengawasi kedua nona itu. "Ayah mengadu tenaga dengan It Yap Tojin, ia mendapat luka didalam. " Saking terkejut dan

berkuatir, kedua nona lantas saja mengucurkan air mata.

Mereka ingat budinya pengemis tua itu, sebagai muridnya Tek Cio Siangjin, Kiauw In tapinya dapat lebih cepat menenangkan diri. "Adik," ia Tanya Giok Peng, "Dimanakah kau simpan Hosin Ouw?" Giok Peng bagai dikejutkan, tanpa menjawab pertanyaan itu, ia lari masuk ke kamarnua, hanya sebentar ia sudah kembali bersama kotak kumalanya yang indah. Terus tangan nya yang putih dan halus, ia angsurkan . It Hiong mengulur tangan menyambuti obat mujarab itu, terus ia memutar tubuh buat berlari pergi.

"Tunggu!" Kiauw In Memanggil, "Jangan kau bingung tidak karuan!" Si nona pun melesat menghadang anak muda itu. It Hiong heran, ia menahan diri, belum sempat ia menanya nona itu mau apa, nona Kiauw In sudah mendahului: "Dapatkah aku bersama adik Giok pergi menjenguk ayahmu itu ?" It Hiong segera mengerutkan alisnya, Sejak jaman dahulu, aturan Siauw Lim Sie keras sekali," sahutnya. "Kaum wanita terlarang masuk keruang dalam. tapi, kalau kalian berdua statusnya

lain, sebagai suami-isteri,

Kalian telah menolak musuh dan menolong mereka dari ancaman musuh besar, maka itu kalau kakak berdua memaksa mau pergi, aku percaya mereka tidak akan mencegah , hanya inilah perbuatan memaksa, inilah kurang selayaknya. "kau bicara banyak banyak, pulang pergi kau melarang aku turut padamu, kata Giok Peng tak sabaran. "dalam urusan lain kita dapat berunding tetapi dalam urusan ini, tidak! Kami harus turut masuk! "Tapi " Kata It Hiong tertahan, ia menghela

napas. Kiauw In menarik tangan Giok Peng, "Jangan kau mempersulit dia. " katanya.

Mendadak Giok Peng tertawa sedih, lalu air matanya meleleh keluar. "Paman In sangat baik terhadap aku," katanya sedih. Budinya besar laksana gunung, sekarang aku tidak dapat merawati padanya, bagaimana hatiku tenang?. It

Hiong terpaksa membiarkan " Istrinya " itu , ia perlu segera kembali kepada ayah angkatnya, guna memberikan itu obat mujarab, maka juga melihat Giok Peng ditarik Kiauw In , ia lantas berlompat untuk terus lari sehingga dilain saat dia sudah berada diluar. Lalu ia kabur secepat cepatnya menuju kekamar In Gwa Sian, hingga ia sampai didalam kamar, ia segera menekuk kedua tangannya diansurkan keatas.

Pat Pie Sin Kit sedang duduk bersemedhi, tubuhnya tak bergeming, matanya dirapatkan. Tenaga dalam pengemis ini telah sampai puncak kesempurnaannya, ia memiliki tenaga dalam yang diberi nama Kan Goan Khi Kang, selekasnya dia mengerahkan tenaganya, seluruh tubuhnya keras bagai besi atau batu, segala macam alat senjata tidak mempan terhadapnya. Siapa pelajaran silatnya belum sempurna, jangan kata melukai dia, memukulnya selagi ia bersemadhi saja dia akan gagal. Maka itu hebat tangannya Heng San Kiamkok sebab dia berhasil melukai di dalam tubuhnya seorang yang demikian kadot. Hanya itu walaupun In Gwa Sian terluka parah di dalam, It Yap Tojin sendiri terluka tak ringan.

Disaat pertempuran itu dan In Gwa Sian kena terhajar, sebenarnya darah di dalam perutnya sudah mengalir, tetapi ia malu memperlihatkan dirinya muntah darah, dengan sekuat tenaga ia menahan menyemburnya darah dari mulutnya itu. Inilah yang membuatnya terluka lebih parah, karena darah dan napasnya tertahan, sedangkan seharusnya darah dan napas itu dapat keluar. Lebih celaka, selagi bertempur itu, In Gwa Sian juga tidak mendapat kesempatan guna menenangkan diri buat meluruskan napas dan jalan darahnya itu sedangkan setelah bertemu dengan Pek Cut Siansu, bukannya ia menunda pembicaraan mengundang bala bantuan, ia membuang waktu dengan berbicara panjang lebar.

Hingga itu menambah memberatkan luka di dalamnya itu.

Ia tahu lukanya mengancam, ia masih tidak mau memberitahukan siapa juga, ia bertahan sampai pembicaraannya selesai, maka itu setibanya didalam kamarnya, keadaannya menjadi parah sekali. Barulah setelah itu ia duduk bersemadhi, ia menggunakan tenaga dalamnya guna mengusir penyakitnya itu yang sudah hampir kedalam.

Kepandaian Kun Goan Khin-kang dari Pat Pie Sin Kit telah mencapai batas kesempurnaan, sudah begitu dia dibantu dengan ilmu silatnya bertangan kosong yang dinamakan CIt cap jie Sie Hang Liong Hok Hoaw Ciang hoat, yaitu ilmu menaklukan Naga Menunjuk terdiri dari tujuh puluh dua jurus, itulah ilmu silat yang menjagoi dalam Rimba Persilatan.

Selama ia merantau, belum pernah ada orang mengalahnya kecuali waktu ia menguji kepandaian TekCio Siangjie, ini pula yang membuat ia menjadi beradat tinggi atau berkepala besar, bertabiat tawar dan aneh, hingga gerak geriknya mirip orang edan.

Adat tinggi itu membuatnya menerka keliru akan kepandaian It Yap Tojin, sehingga sekarang ia terluka parah. Ia merasai sangat nyeri di dalam seluruh tubuhnya bagian dalam ketika bermula kali ia bersemadhi, untuk mengerahkan tenaga dalamnya. Itulah saatnya yang ia insyaf bahwa lukanya parah sekali. Baru itu waktu ia menghela napas dan menyesal. Tentu saja penyesalan tak datang di muka. Maka ia jadi seperti putus asa.

Baru sekarang ia sadar dan di dalam hatinya berkata : "Aku si pengemis tua, telah banyak aku membunuh orang, tapi aku merasa pasti belum pernah aku membinasakan orang baik- baik, maka itu jika Thian Yang Maha Kuasa mengetahuinya, hambamu mohon supaya si pengemis tua ini diperpanjang pula usianya ! Biarlah setelah selesai hambamu ini membasmi kawanan bajingan dari luar lautan itu baru hambamu mati...

Bukankah itu belum terlambat."

Habis memuji itu kembali In Gwa Sian mencoba mengerahkan tenaga dalamnya. Tiba-tiba ia menjadi sangat kaget. Darah didalam tubuhnya bagaikan bergolak-golak, nyerinya bukan main. Sukar untuk memperhatikan diri maka terpaksa ia menghentikan pengerahan tenaga dalam itu, membiarkan lukanya menguasai dirinya. Ia tetap bersemedi saja. Ia terus memejamkan matanya dan duduk tenang sedapat-dapatnya.

Itulah keadaannya si pengemis yang sedang menghebat itu, waktu It Hiong datang hingga anak angkat ini kaget tak terkirakan hingga kemudian dia memberikan obatnya. Pek Coa Hoan Hun Tin itu. Selagi ayah angkat itu berdiam si anak pergi keluar untuk menemui Kiauw In dan Giok Peng, hingga akhirnya ia kembali pula dengan membawa hosin ouw. Dengan hati-hati anak ini membuka tutup kotak hingga lantas tersiar bau yang harum dari obat mujizat itu memenuhi ruang kamar.

In Gwa Sian membuka matanya ketika ia merasai bau yang luar biasa itu. Ia melihat kepada anaknya, tetapi segera juga ia memejamkan pula matanya.

Sejak ia mengenal ayah angkatnya belum pernah It Hiong melihat ayahnya lesu begini rupa, maka juga hatinya miris, tanpa terasa air matanya bercucuran. Ia terus berlutut sambil mengangsurkan kotak obatnya, ia memanggil perlahan : "Ayah !"

In Gwa Siang membuka pula matanya, ia tertawa hambar. "Kau ingin bicara anak ?" tanyanya lemah. "Kau bangunlah

!..."

Tak dapat It Hiong menguasai diri, ia menangis. "Ayah" katanya, "mari ayah makan dua helai obat ini.

Barusan aku mendapatkan hosin ouw dari kakak Peng..."

Pat Pie Sin Kit menarik nafas perlahan. Ia mengulur tangannya, akan menjemput dua helai obat yang diangsurkan itu. Ia memakannya dengan lantas. Ia mengunyah dan menelannya.

"Beristirahatlah, ayah" kata It Hiong yang terus menutup dan menyimpan pula kotak obatnya. Tapi ia tidak lantas mengundurkan diri, hanya ia berdiri diam disisi sang ayah. Matanya terus mengawasi ayah itu guna menyaksikan perubahan apa bakal terjadi.

In Gwa Sian terus bersemedi, tubuhnya tak bergerak matanya tak terbuka. Nampak dia tenang sekali. Baru sesudah lewat banyak menit, mendadak dia membuka mulutnya dan menumpahkan darah hingga dua kali.

It Hiong kaget sampai ia menjerit.

Justru itu In Gwa Sian mementang matanya dan tertawa. "Anak Hiong, pergilah kau beristirahat !" katanya. Itulah

kata-katanya yang pertama. "Sekarang aku sudah sembuh. "

Anak angkat itu menangis.

"Jangan ayah mendustai anakmu. " katanya. Biar

bagaimana anak ini ragu-ragu. "Ayah. "

In Gwa Sian tertawa pula.

"Kau lihat aku muntah darah, anak" katanya tersenyum. "Bukankah menganggap itu sebagai pertanda dari lukaku yang parah sekali ?"

It Hiong mengangguk. Belum sempat ia membuka mulutnya, ayah angkatnya itu sudah berkata pula : "Aku dilukai It Yap Tojin si imam campur aduk, inilah darahku yang tertahan sekian lama yang menyebabkan keadaanku parah, sekarang darah sudah keluar, aku sudah sembuh sebagian besar. Asal aku dapat beristirahat dua tiga hari lagi, aku akan sembuh seluruhnya. Sekarang pergilah kau beristirahat." It Hiong mengawasi darah yang dimuntahkan itu, darah mati, baru hatinya lega. Lantas ia membersihkan darah itu, terus ia pamitan untuk mengundurkan diri.

Tiga hari sudah lewat, selalu It Hiong merawati ayah angkatnya itu. Tak pernah ia berkisar jauh dari ayah itu. Selama itu tiga kali Peng Cut dan Kiauw In datang menjenguk dan Kiauw In bersama Giok Peng melongok hingga dua kali, hanya nona-nona ini tidak datang di siang hari tetapi sesudah jauh malam dan juga dengan menyelundup dengan loncat meloncati tembok !

Selewatnya tiga hari ini benar-benar kesehatannya In Gwa Sian telah pulih seluruhnya, maka itu It Hiong meminta kepada Pek Cut supaya ayahnya dapat pindah ke ruang luar.

Pek Cut Siansu tertawa dan berkata : "Dapat, itulah dapat ! Di belakang puncak ada sebuah gubuk yang bersih dan sunyi. Itulah gubuk bekas dahulu almarhum guruku, setelah usia tua maka gubuk itu tak terpakai pula, walaupun demikian setiap bulan lolap memerintahkan orang pergi membersihkan dan merawatnya. Gubuk hanya gubuk bambu tetapi tempatnya tenang sekali. Jika sicu menyukai ketenangan silahkan pindah kesana."

It Hiong pun tertawa.

"Tempat itu bekas tempatnya bapak guru, almarhum, mana dapat aku yang rendah menempatinya ?" tanyanya merendah. "Tidaklah itu suatu kelancangan dari aku ?"

Kembali Pek Cut tertawa.

"Hal tidaklah demikian adanya, sicu. Gubuk itu telah disia- siakan selama banyak tahun, didalam keadaan biasa belum pernah dipakai lainnya. Kalau sicu setuju mari lolap mengantarkan sicu kesana untuk melihat dahulu, nanti baru sicu putuskan sicu suka berdiam di sana atau tidak..."

Pendeta itu bersikap sangat ramah tamah.

"Bapak guru sangat sungkan" berkata It Hiong. "Baiklah kau suka pergi ke sana ! Tapi tak usah bapak guru sendiri yang mengantarkan, cukup asal bapak memerintahkan salah seorang lainnya."

"Gubuk itu tak dikunjungi oleh lain orang kecuali lolap sendiri." Pek Cut memberikan keterangan. "Untuk mengawasinya, lolap cuma menugaskan seorang seebie"

Lagi-lagi si anak muda tertawa.

"Kalau demikian tolong bapak guru menyuruh bapak guru cilik saja yang mengantarkan aku !" katanya. "Tak usah bapak guru sendiri yang mencapikkan hari !"

Pek Cut berbangkit, Tiba-tiba ia menghela napas. "Seebie itu sudah kembali kepada Sang Buddha kami."

katanya masgul. "Dia sudah pergi ke Nirwana di Tanah Barat

itu..."

It Hiong terkejut, hatinya tercekat.

"Bagaimana, eh ?" tanyanya heran. "Jadi bapak guru cilik itu sudah pergi ke lain dunia ?"

"Benar..." dan Pek Cut mengangguk dengan perlahan. "Dia berangkat ke lain dunia karena dia diantar pergi ke ujung kebutannya Beng Leng Ciujin..." Sembari berkata itu, pendeta ini sembari berjalan, maka juga ia sudah lantas berada diluar kamarnya sendiri.

Diam-diam It Hiong memperhatikan wajahnya pendeta tua. Ia mendapati oarang sangat berduka, maka ia menjadi terharu sekali. Ia seperti turut merasai kesulitannya si pendeta.

Karena ini ia jadi membayangi pertempuran hebat malam itu. Pikirnya :" Kalau malam itu aku tiba lebih siang, mungkin seebie itu tidak sampai mengantarkan jiwanya ditangan Beng Leng Ciujin..." Maka Ia terus mengintil tanpa membuka suara.

Seperti biasa dimana ia lewat, Pek Cut selalu dihormati para muridnya.

Pek Cut membawa si anak muda melewati beberapa jalan gunung, untuk itu mereka harus menggunakan ilmu ringan tubuh, sebab sulitnya jalan yang dilalui. Walaupun demikian, mereka tak terburu-buru.

Lewat waktu sepenanakan nasi, tiba sudah mereka dikaki puncak Siauw Sit Hong. Dari bawah, puncak tampak setinggi udara. Puncak itu mengatasi tingginya pelbagai puncak lainnya.

"Itulah Siauw Sit Hong." kata Pek Cut memberikan keterangan. Ia tertawa. "Gubuk almarhum guruku berada ditengah-tengah itu, diatas sebuah tanah datar berkarang."

Berkata begitu, pendeta ini menyingkap jubahnya, buat segera mulai mendaki.

It Hiong menggunakan ilmu ringan tubuh mengikuti terus di belakang sang pendeta. Mereka harus jalan mengitar. Si anak muda melihat banyak pepohonan, hingga sulit buat melihat sasarannya. Ada pula rumput-rumput yang kering.

Selang sesaat, habis melintasi rimba pohon cemara, maka pemandangan alam disitu berubah seluruhnya. Di depan mereka ada tanah datar yang caglok dan di sana berdirilah gubuk yang dimaksud itu, terbuat bambu seluruhnya dan atapnya atap rumput, kedua daun pintunya tertutup. Di belakang itu terdapat jurang yang dalam seratus tombak lebih. Lebar tempat mungkin seratus tombak bundar. Sungguh suatu tempat yang tenang dan menyenangkan.

Pek Cut membuka pintu sambil tertawa. Kata dia : "Sudah satu bulan gubuk ini belum sempat dirawat. Kalau sicu setuju, akan lolap memerintahkan orang membersihkannya."

It Hiong melihat ke sekitar gubuk, Pekarang yang berpagar bambu, cukup lebar, itulah pagar bambu hidup, maka tumbuhnya tinggi dan rapat. Ada lagi pagar bambu lainnya, yang memisahkan Pekarangan luar dari Pekarangan dalam. Di halaman dalam tertanam banyak pohon bunga, hanya dimusim dingin begitu daun-daunnya pada rontok.

Gubuk terpecah dalam dua ruang, yang satu berkamar tiga, yang lain berkamar dua. Yang dua ini disebelah kanan dan yang tiga itu seperti menyandar pada dinding gunung.

Pek Cut membuka pintu tengah, mengundang tetamunya masuk.

It Hiong bertindak masuk untuk segera memandang di sekitar ruang. Paling dahulu ia melihat tergantungnya di tembok sehelai Lo Han Touw, yaitu gambarnya pelbagai lohan atau arhat. Ada yang duduk, ada yang rebah dan lainnya sikap. Lukisannya tidak indah tetapi bentuknya serasi. Terang itu bukan karyanya seorang pelukis pandai. Meja dan kursi, juga pembaringan, penuh berdebu. Jadi benar seperti katanya si pendeta, gubuk itu sudah lama tak terawat.

Mengawasi pula Lo Han Touw, ada sesuatu yang membuat si anak muda berpikir. Gambar itu tidak lengkap delapan belas arhat. Baru rampung enam belas, dan yang ketujuh belas baru selesai separuh, bahkan buatannya sangat buruk. Pada itupun tidak ada nama pelukisnya.

Pek Cut melihat orang berdiam mengawasi gambar itu, ia dapat menebak apa yang orang pikirkan. Maka ia lantas menunjuk gambar itu dan berkata sambil tertawa: "Itulah lukisannya almarhum guruku. Beliau tidak pandai menggambar, tetapi entah kenapa ia toh melukiskan itu.

Sayang, sebelum selesai beliau membuat gambarnya, ia keburu pulang ke langit Barat. "

Mendengar bahwa lukisan itu karyanya ketua Siauw Lim Sie terdahulu, It Hiong tidak mau berkata apa-apa lagi, cuma sembari tertawa ia berkata: "Bapak guru almarhum itu harus dipuji. Walaupun tidak pandai menggambar, toh lukisan beliau indah bentuknya."

"Guruku ini gemar menulis huruf tetapi tak suka melukis gambar," kata Pek Cut tertawa, "Maka itu, walaupun gambar belum selesai, lolap sengaja menggantungnya di sini selaku tanda peringatan. Inilah gubuk tempat guruku menutup diri dan memahamkan pelbagai kitab, bahkan guruku itu telah memesan agar tanpa perintah, siapa pun dilarang lancang datang dan masuk ke mari.

Di saat guruku mau menutup mata, baru ia pulang ke kuil dan menghimpunkan para murid, selesai memberikan pesannya, malamnya ia berpulang dengan tenang. Selesai menguruskan jenazah guruku itu, baru kami datang ke mari untuk membenahi segala sesuatu sampai kami menemukan Lo Han Touw ini. Lima tahun guruku tinggal menyendiri di sini, cuma dua kali pernah beliau memanggilku untuk diberikan khotbah. Murid-murid lainnya belum pernah ada yang datang ke mari, maka juga tak diketahui kapan dimulainya pembuatan gambar-gambar ini. "

Setelah itu pendeta itu mengajak It Hiong memasuki ruang yang lainnya. Perlengkapan sama sederhananya: sebuah pembaringan, sebuah meja serta empat buah kursi. Semua kamar ada kursi mejanya. Maka itulah kamar yang cocok buat It Hiong bersama Kiauw In dan Giok Peng.

"Bagaimana, sicu?" tanya Pek Cut tersenyum. "Cocokkah ini?"

"Bagus, bagus sekali!" It Hiong menjawab dengan gembira. "Terima kasih, bapak guru! Besok kami akan pindah ke mari!"

"Baiklah, sicu. Sebentar lolap akan memerintahkan orang untuk membersihkannya."

"Tak usah banyak berabe, bapak. Biar kami yang membersihkannya sendiri besok."

Selesai memeriksa gubuk itu, keduanya pulang. Pek Cut lantas mengirimkan empat orang kacungnya pergi membersihkan seluruh gubuk buat menyediakan ini dan itu yang menjadi kebutuhan sehari-hari.

It Hiong sendiri pergi kepada ayah angkatnya untuk memberitahukan hal didapatnya gubuk itu buat ia bersama Kiauw In sekalian menumpang sementara waktu. "Bagus!" seru sang ayah girang. "Untuk mempelajari ilmu pedang memang baik kalian mendapati tempat yang terpencil dan sunyi itu."

It Hiong puas.

Besoknya, diantar oleh Pek Cut sendiri, It Hiong mengajak Kiauw In dan Giok Peng pindah ke gubuk itu. Kiauw In dan Giok Peng memilih kamar sebelah kanan sebab yang kiri itu bekas gurunya Pek Cut. Karena itu, It Hiong yang menggunakan ruang yang terlebih besar itu, yang kamar tidurnya sampai tiga buah.

Pilihannya si nona-nona memuaskan Pek Cut. Ia memang kurang setuju kalau mereka memilih kamar bekas gurunya, cuma tadinya ia tidak berani berkata apa-apa.

Seluruh gubuk telah dibersihkan, alat-alat telah tersediakan lengkap, juga perabotan dapur dan lainnya.

Selesai mengantarkan, Pek Cut mengundurkan diri.

Selekasnya ia tidak ada, Kiauw In dan Giok Peng pergi ke kamar tidurnya It Hiong, maka mereka segera melihat gambar-gambar Lo Han Touw yang tidak lengkap itu. Mereka pun tidak mengerti. Saking herannya, mereka pada merapatkan alis mereka. Hanya karena saking lucunya, maka juga mereka tertawa.

"Aneh lukisan para arhat ini," katanya. "Siapakah pelukisnya?"

It Hiong tertawa. Ia mengasih keterangan bahwa itulah karya ketua Siauw Lim Si terdahulu, yaitu gurunya Pek Cut Siansu. "Maka itu, kakak, di depan lain orang harap kalian jangan sembarangan membicarakannya," pesan pemuda itu.

Kiauw In tertawa hambar.

"Eh, eh, apakah kau hendak menasehati aku?" tanyanya. "Bagaimana, eh?" It Hiong membaliki. Ia pun tertawa,

"Memangnya aku omong salah?"

Kiauw In tidak menjawab. Kembali ia mengawasi gambar lukisan itu.

"Gambar belum terlukis sempurna, tak sedap untuk digantung di sini," katanya. "Baiklah, besok akan aku melukis melengkapinya."

Nona Cio memang pandai melukis, bahkan ia pandai juga memperbarui lukisan-lukisan lama. Hal itu It Hiong ketahui.

"Mana itu dapat dilakukan, kakak," katanya. "Orang memajang lukisan ini selaku tanda peringatan kepada almarhum gurunya. Kalau kau melukis melengkapinya, tidakkah itu jadi bertentangan dengan maksudnya si pemajang?"

Nona Cio tidak memperdulikan si anak muda, tetap ia menatap lukisan arhat itu, lukisan yang belum rampung. Nampak dia sangat tertarik hatinya sehingga sekian lama ia menatap terus dengan membisu.

It Hiong dan Giok Peng mengawasi, keduanya merasa sangat heran. Kenapa Kiauw In demikian tersengsem? Selang seperempat jam, baru Nona Cio bagaikan terasadar, terus ia menggeleng-geleng kepala dan berkata-kata seorang diri: "Aneh! Aneh! Mustahil lukisan macam begini masih belum juga dapat diselesaikan sesudah menggunakan waktu beberapa tahun?"

Giok Peng heran mendengar suara kakaknya, hingga ia mengangkat alisnya.

"Kakak," katanya bagaikan menegur. "Apakah artinya kata- kata ini? Kenapa kau mengoceh seorang diri saja? Kau membuat orang heran!"

Kiauw In tengah menatap Lo Han Touw, lalu ia menoleh kepada adik itu. Ia pun tertawa.

"Aku berkata-kata karena aku mengherankan gambar para arhat ini!" sahutnya. "Pikirkan saja olehmu, adik! Lukisan sudah diperbuat bertahun-tahun, kenapa masih ada arhat yang belum rampung?"

Dua-dua It Hiong dan Giok Peng mengawasi tajam semua arhat itu satu demi satu. Kali ini mereka mendapat kenyataan, air baknya lukisan itu memang tidak sama. Ada yang sudah lama sekali, ada yang belum terlalu lama, ada yang seperti masih baru. Kenyataan itu terlihat pada warna hitamnya, ada yang gelap dan kumal, ada yang masih terang. Pula yang sukar untuk dibedakan lama dan barunya.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(