Hong Lui Bun Jilid 28

Jilid 28

Dibabak lain Ai-pong-sut Thong cau yang melawan Lo-hu sin-kun merasa payah dan beratpertarungan mereka tidak kalah s eng it. Lwekang mereka seimbang, kedua nya memiliki Ginkang istimewa lagi, maka gerak gerik mereka dalam kecepatan yang luar biasa sehingga mirip duajalur asappanjang yang b erg elut secara ketat, hakekatnya sukar membedakan bayangan mereka.

Aipong-sut adalah Tianglo satu-satunya dari hong lui-pang yang masih hidup, tekadnya menuntut balas dendam perguruan yang sudah terbenam dua puluh tahun lama nya. Seorang lagi adalah gembong persilatan yang menjagoi kalangan Bulim di Lam- hay, diapun bertarung mati-matian demi mempertahankan kebesaran namanya yang telah dibinanya puluhan tahun. Hanya sekejap keduajago kelas wahid ini telah beri hantam lima puluh jurus. makin lama gerak gerik mereka makin cepat laksana setan, setiap gerakan kaki dan tangan disertai kekuatan yang hebat sehingga terkadang mereka berpencar untuk saling tubruk lagi.

Mau tidak mau Ai-pong-sut. Berpikir: "Lo hu sin-kun merupakan lawan tertangguh yang pernah kuhadapi selama hid up, kalau berjalan terlalu lama, pertempuran ini kapan berakhir, kalau tidak menggunakan akal, celaka kalau aku berlaku lena." diam-diam diperhatikan permainan lawan serta mencari daya upaya untuk mematahkan serangannya.

Makin beri hantam Lo-hu-sin-kun juga tersirap darahnya, usianya juga sudah amat lanjut. namun dengan kekuatan lwekang yang diyakinkan lebih dari setengah abad ternyata tak berhasil mendesak lawan, kalau tidak menggunakan ilmu jahat simpanannya, jelas sukar dia mencapai kemenangan. Serta merta kedua kakinya menjejak bumi, tubuhnya melejit ke udara, pinggang ditekuk tubuh berputar, laksana kilat menubruk tubuh dengan menukik sepuluh jarinya tertekan laksana cakar, gaya tubrukannya mirip elang menerkam kelinci kiranya dia sudah kembangkan Hwei eng-sha-cap lak-sek, ilmu andalannya yang sudah terkenal.

Tiga puluh enamjurus pukulan elang ini dilandasi tenaga dalam dan Ginkang yang tinggi, bila sudah dikembangkan lawan takkan diberi, kesempatan balas menyerang. Sebaliknya bila permainan dihentikan setengah jalan awak sendiri bis a terancam bahaya karena timbulnya aliran sungsang dalam tub uhny a sehingga melukai isiperut sendiri, maka sekali pukulan sudah dilancarkan, maka dia pantang mundur dan berhenti, kalau lawan tidak roboh maka diri sendiri yang akan terjungkaL Selama hidup baru dua kali Lo-hu-sin-kun menggunakan ilmunya ini, disamping ganas pukulan ini memang teramat kejam.

Saat mana tubuhnya menubruk kebawah serangannya laksana kilat lawan dibendung oleh keseb atan gerak tangannya,

Disamping Ginkang tinggi Lwekang Ai-pong-sut juga tangguh, pengalaman tempurnya luas, tapi selama hidup juga baru sekali ini dia menghadapi permainan seperti ini, karuan dia keripuhan gugup, Untung Ginkang nya tidak kalah dibanding lawan, secara nekad dengan seluruh kekuatan dia berkelit syukur selamat, namun nya liny a sudah ciut, ha nya tiga jurus makin dilawan keadaannya makin terdesak. Namun makin tua jahe makin pedas, setelah beruntun mengalami bahaya, ternyata perlawanannya makin mantap dan akhirnya tersimpul dalam benaknya akal untuk mematahkan serangannya.

Ternyata kelihayan tiga puluh enamjurus pukulan elang ini terletak pada serangkaian serangan yang dilancarkan dari tubrukan di udara secara berantai gerak tubuh juga lincah dan tangkas sehingga lawan terdesak keripuhan. Tapi untuk menubruk kebawah, setiap kali Harus ada senggang waktu yang sama, dan untuk mempertahankan tubrukan menukik ini, cuma gaya tubrukannya itu tidak boleh keburu nafsu dan terlalu rend ah, maka serangannya selalu mengincar seputar kepala, pundak dan dada atau punggung pokoknya diatas perut.

Setelah tahu rahasia permainan lawan Ai-pong-sut tertawa dingin. Mendadak dia menjatuhkan diri terus mengembangkan Te-tong kui, kaki dan sikut bekerja, tubuh berputar sekencang roda bergelundungan kian kemari.

Akal yang digunakan melawan musuh oleh Ai-pong-sut memang membuat Lo-hu-sinkun bingung dan mati kutu, karena jarak kedua pihak menjadijauh, betapapun gencar dan telak serangannya juga susah mencapai sasaran lagi. Setelah menubruk turun naik beberapa kali lagi, hatinya menjadi tidak sabar, maka serangan mencengkeram dia robah menjadi tepukan dengan kekuatan pukulan telapak tangan dia hendak memukui lawan muntah darah, Padahal menubruk dari udara harus berulang kali berputar danjungkir balik diudara. sementara Te tong-kui adalah ilmu tunggal Ai-pong-sut Thong cau yang belum pernah diajarkan kepada siapapun, maka permainannya sekarang justru leluasa. Perkembangan justru menjadikan kedua lawan setanding ini bertarung dalam kedudukan sama kuat juga.

Jian-li-tok-heng dan Tay-bok-it-siu adalah musuh bebuyutan, sejak muda mereka sudah sering labrak permainan lawan sudah terlalu apal, mereka tahu dalam jangka pendek tak mungkin merobohkan lawan, maka serang menyerang dilakukan dengan setengah tenaga, maka permainan mereka tidak begitu tegang malah. Lawan menyerang segera dipatahkan dengan jurus lihay,  memangnya permainan mereka tiada yang dilancarkan sepenuh tenaga, seperti main perak saja mereka serang menyerang silih berganti, tidak layak kalau dikata mereka adujiwa, lebih mirip kalau mereka sedang latihan.

Padahal mereka juga mengkonsentrasikan pikiran, kelihatannya bertempur secara santai, namun benak mereka tidak pernah mengabaikan kesempatan, bila ada kesempatan ingin mereka merebut peluang untuk meroboh kan lawan, maka kedua lawan itutiada yang berani lena.

Lima puluh jurus telah lewat, mendadak Tay-bok-it-siu menghardik permainan telapak tangan juga berobah laksana hujan derasnya, dia memberondong sengit, ternyata dia bertekat melancarkan Loh-ce-ciang -hoat yang mempunyai keistimewaan menjatuhkan lawan, perobahan pukulan bintang jatuh initeramat ruwet, serangan kilat betapapUn cUkup membuat lawan gUgup,

Jian li-tok-heng takpernah memandang remeh permainan lawan, serangan ini tidak membuatnya jeri, ditengah tawa dinginnya, dia kerahkan tenaga ditumitnya, Ginkang nya yang tinggi dikembangkan sepenuh tenaga, laksana burung burung camar yang menerobos gelombang badai ditengah samudra raya. bira ada peluang, pukulan kilatnya balas menyerang.

Berkat keuletannya, perobahan mulaiterjadipada permainan mereka, semula kedua orang ini bermain secara lambat dan santai seperti berlatih saja, mendadak terjadi adu kecepatan dengan serang an, kilat sehingga sukar dirasakan dengan jurus apa lawan menyerang.

Dengan Kim kong put-hoay-sin-kang yang digdaya Liok Kiamping melawan Hian-ping-im-sat, kedua pihak sudah menguras b any a k tenaga, namun Liok Kiamping, ha nya bertahan tidak pernah balas menyerang, sudah tentu keadaannya lebih mending, walau Hamping Lomo kerahkan seluruh kekuatannyajuga tak berhasil mendesak lawan, maju setengah langkahpun tidak mampu.

Diam-diam Liok Kiam-ping menerawang pertempuran, dia insyaf dalam waktu singkat musuh sukar ditundukan, terpaksa dia pergencar tenaga pertahanan sambil memperhatikan permainan lawan- Dia menduga Ham-ping Lomo pasti punya jurus lihay yang mematikan belum dilontarkan, padahal jiwanya yang jahat dan banyak akalnya pernah kecundang lagi, kalau tiadapun bekal yang meyakinkan tak mungkin dia berani meluruk ke sini Hendak adu jiwa lagi. '

Melihat Hian-ping-im-sat tak mampu menundukkan lawan, sementara tenaga sendiri makin terkuras malah, keringat sudah basah dijidatnya. Sebagai jago kawakan silat yang licik, dia juga tahu kalau pertempuran bertahan seperti ini terus, padahal tenaga sendiri hampir habis, bila Liok Kiam-ping balas menyerang, dirinya mana kuat melawan. Mumpung masih kuat dan lawan masih bertahan, lekas dia merobah permainan-

Ditengah loroh tawanya dia mundur serta menarik balik serang an Hian-ping-im-sat. lalu menyurut mundur tiga langkah. Dengan bekal Lwekangnya yang tangguh, ha nya memejam mata sebentar sambil mengatur napas. tenaga dalamnya sudah pulih sebagian besar, semangat besar.

Mendadak dia bergerak dengan Bit-cong-pau-hoat, secara aneh dia menyelinap maju sambil angkat kedua telapak tangan memukul kearah Liok Kiam-ping. Pukulannya ini mengunakan delapanpuluhprosen kekuatannya. begitu dahsyat perbawanya lima tombak sekitar gelanggang seperti disapu badai lalu. Dia pikir lawan masih muda, betapapun keuletannya tak sekuat dirinya, bila disergap secara lihay, jelas takkan kuat melawan gempurannya.

Kenyataan justru terbalik dari perhitungannya.

Melihat iblis laknat ini menarik pukulan Ham-ping-im-sat, Liok Kiam-ping menduga lawan akan melancarkan serangan gelombang kedua yang lebih keji, mumpung lawan mengkonsentrasikan diri, lekas diapun mengerahkan kekuatannya siap menyambut.

Bila pukulan lawan dilancarkan, Kiam-ping mendengus geram, tenaga pusar dikerahkan, tenaga dalam sudah disalurkan kedua lengan, kaki, sepasang kuda-kuda, lutut setengah tertekuk tubuh mengendap turun, Kiam-ping juga kerahkan delapan puluh prosen tenaga nya menyongsong pukulan lawan.

"Glegar." ada pukulan dahsyat ini menimbulkan pusaran angin lesus yang membumbung ke angkasa. cukup lama baru keadaan mereda. Liok Kiam-ping tergentak mundur selangkah, darah hampir tumpah dari mulutnya. Sementara Ham-ping Lomo terjengkang dua langkah, kakinya melesak satu dim kedalam tanah, sekuatnya dia bertahan supaya darah segar yang sudah hampir menyembur ditelannya lagi.

Sungguh tak pernah terbayang dalam benak Ham-ping Lomo, dengan tenaga latihan hampir sepertiga abad, ternyata dirinya tetap bukan tandingan pemuda didepannya ini. Sungguh hatinya lebih sedih, lebih pilu dari pada mati seketika. Betapapan Cerdik pandai otaknya, tapi dirangsang oleh amarah yang tak terkendali, sehingga kesadarannya hilang. tak terpikir lagi bahwa dirinya sudah terluka dalam meski ringan- Dengan melotot gusar dia membentak: "Kuraci, rasakan lagi pukulan Lohu."

sebetulnya Liok Kiam-ping juga kagum akan pukulan Ham- ping Lomo yang dahsyat ini, belumpernah dia melawan musuh setangguh ini, melihat orang menyerang dengan berang, tak ayal Kiam-ping kerahkan tenaga balas menyerang dengan sepuluh bagian kekuatannya.

"Plak" laksana letusan granat yang menggoncang bumi. Tubuh Ham-ping Lomo yang gede tinggi terlempar delapan kakijauhnya, dengan lunglai roboh terkapar ditanah. Darah mengalir deras dari mulutnya, jelas tidak ringan luka dalamnya.

Liok Kiam-ping tertolak mundur tiga langkah tubuh nya sempoyongan, darah sudah menyembur ketenggorokan, lekas dia menarik napas lalu menelannya pula. Dengan bekal Lwekangnya sekarang, luka-luka ini sebetulnya tidak menjadi Halangan baginya, sekali terjang dia mampu menambah sekali pukul menamatkan jiwa lawan- Tapi sebagai seorang ksatria, pemuda berjiwa pendekar seperti Liok Kiam-ping tidak sudi melakukan perbuatan kotor dan hina, kalau dia mau sepuluh Ham-ping Lomo juga saat itu sudah amblas jiwanya.

Hanya satu tekadnya, yaitu mengalahkan musuh secara jantan, biar orang mengaku kalah lahir batin- Mumpung iblis tua itu bersamadi menyembuhkan luka-luka dalam tubuh nya, Liok Kiam-ping juga kerahkan hawa murninya untuk menyembuhkan luka ringannya. Disamping Lwekangnya tinggi, diapun menguasai ilmu pengobatan, setelah hawa murninya berputar satu lintasan, rasa sakit danpegal ditubuhnya sudah tidak terasa lagi.

Sementata itu Ham-ping Lomo sudah membuka mata, dilihatnya Liok Kiam-ping masih berdiri tegak didepannya tanpa bergerak. senyum menghias wajahnya, seketika mencelos hatinya. Betapapuan licik dan licin hatinya, dalam keadaan seperti dirinya dia hanya menghela napas rawan dan gegetun-

Sebetulnya Liok Kiam-ping sudah tidak ingin meneruskan pertempuran, namun terbayang akan dendam perguruan yang tertunda duapuluh tahun, darah mulai mendidih pula dalam benaknya, sambil angkat alis dia menyeringai: "Dendam dua puluh tahun yang lalu di Tay-pa-san tentu masih segar dalam ingatanmu, cayhe mewarisipesan leluhur, belumpernah melupakan sakit hati ini, sejak dahulu hutang darah dibayar dengan darah, hari ini aku harus menuntut hutang darahmu."

Ham-ping Lomo menyengir sadis, katanya: "Lohu akan mengabulkan keinginanmu, namun belum pasti kau mampu menagih hutangku dulu." suaranya ren ah dan sumbang.

Mendengar suara orang yang bergetar, Liok Kiam-ping tahu luka dalam orang teramat parah, bahwa orang masih nekad melawan seperti binatang yang mengamuk dalam perangkap. namun kemenangan yakin dipihak dirinya. maka Kiam-ping tertawa ejek. katanya: "cayhe sih terserah saja, apa keinginanmu boleh kau katakan saja. Iblis tua aku akan memberi keadilan kepadamu.”

Ham-ping Lomo insaf situasi sekarang menyudutkan dirinya, luka dalamnya Cukup parah, tenaga juga sudah banyak terkuras, meski sekuatnya dia masih mampu mengendalikan kondisi badan dengan mempertaruhkan keperkasaan dirinya sejak puluhan tahun yang lalu, kalau tidak bis a mengalahkan musuh, sungguh hati amatpenasaran. Maka timbul satu tekad dalam benaknya yaitu mengadujiwa. syukur bisa gugur bersama.

otaknya secara kilat sudah memperoleh akal bagaimana dia harus menghadapi lawan, ditengah seringainya dia tertawa terkial-kial, suaranya membuat orang merinding. Belum lenyap gema tawanya, dengan kecepatan yang luar biasa mendadak Ham-ping Lomo mengembangkan kedua lengan, disaat tubuhnya meluncur dengan tubrukan harimau kedua tangannya terangkap didepan muka terus menggempur dengan seluruh kekuatannya kepada Liok Kiam-ping.

Setombak sekitar gelanggang, udara seketika membeku, rasa dingin membuat siapa pun menggigil. Agaknya Ham-ping Lomo sudah kerahkan Ham-ping ciang dengan sisa tenaganya. Betapapun tinggi Lwekang Liok Kiam-ping, dia tersirap kaget oleh perbawa serang an lawan-Untung otaknya cerdik, sebat sekali dia kembangkan Ling hi-pou, sekali berkelebat dua kali lompatan, seperti layar berkembang perahu laju ditengah hembusan angin lalu, dengan Wi-liong- ciang Liok Kiam-ping siap balas menyerang. Kali ini dia tidak mengejar keuntungan, dia harus mengalahkan musuh bangkotan ini dengan tenaga asli kepandaian sejati.

Kedua orang ini sama-sama jago paling top didunia saat ini, masing-masing membekal kepandaian hebat yang tiada taranya, mereka saling merebut kesempatan untuk merobohkan lawan, sungguh merupakan pertempuran yangjarang terjadi.

Sementara itu Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay dengan permainan Pat kwa-ban-seng-to yang disertai permainan tinju kiri menghadapi duajago Ham-ping- kiong. Semula permainannya yang lihay masih mampu mengimbangi serangan kedua lawan, namun tiga puluh jurus kemudian, permainannya sudah diselami musuh, maka mereka lebih banyak menyerang dari pada bertahan- Lima puluh jurus kemudian, keadaannya sudah terdesak dibawah angin, untung dia memiliki tenaga kuat, dalam waktu dekat masih mampu mempertahankan diri.

Si gede Siang Wi dengan kekebalan tubuh nya mengamuk dengan Nu-kang-cap-pwe-bak, murid-murid Lo-hu- kiong dihajarnya kocar kacir, tanpa kenaltakut dia terjang sana hajar sini. Karuan murid-murid Lo-hukiong lari berpencar menyelamatkan diri. Hal ini justru membuat riang si gede, sambil tertawa besar dia berkaok-kaok: "Hei sahabat, kenapa lari, perlahan sedikit, tunggu aku." Hayo gebrak lagi tiga ratus jurus," "dengan langkah lebar dia mengudak orang-orang Lohu-to yang melarikan diri. Mendadak dua orang membentak bersama: "Keparat, jangan pongah, lihat serangan-" empat jalur angin pukulan melanda dari ka nan kiri.

Si gede tidak peduli apakah lihay, mendadak dia putar tubuh sambil menyerampang dengan pentung besinya. Penyerangnya adalah duajago kosen Ham-ping- kiong. Melihat si gedepunya tenaga raksasa, mana mereka berani menangkis tongkatnya, namun mereka juga tahu permainan tongkat orang sederhana, ditengah jengek tawa mereka, empattelapak tangan mendadak ditarik sambil menggeser kaki berputar, kembali mereka menyelinap kekanan kiri lawan- Sekarang pukulan dirobah tutukan, dua jari mereka serempak menutuk Jian-kin-hiat dipundak.

Melihat serangan lawan tidak menerbitkan angin, si gede memandang enteng, tanpa berkelit tangannya malah terbalik, dengan jurus Lam-king-goat-bak mendadak menjojok kesebelah kiri. Terasa pandangan kabur, bayangan orang disebelah kiri tahu-tahu sudah lenyap. Maka Jian-kin kiat dipundak kirinya dengan telak terkena tutukan lawan- Tapi dia hanya merasa sedikit linu dan gatal, seketika dia tertawa geli, katanya: "Kalian sudah tua bangka, bukan bini mud aku, kenapa main gelitik segala.

Ucapannya yang lucu menggelikan lagi, karuan kedua jago Ham-ping-kiong itu malah tertawa terpingkel-pingkel.

Mulut bicara ternyata kaki tangan si gede tak pernah berhenti, tapi sikapnya jelas agak simpatik terhadap jago Ham-ping- kiong disebelah kiri, maka pentungnya lebih sering menyerang lawan disebelah kanan, kali ini dia kerahkan tenaga hingga pentungnya menderu keras.

Ginkang kedua jago Ha m-ping- kiong jauh lebih tinggi, maka mereka berkelit kian kemari seperti kucing mempermaikan tikus, meski mereka sering diserang, tapi si gede tak mampu menyentuh pakaian mereka. apalagi mereka lebih berpengalaman, kerja sama dengan baik lagi, lama kelamaan si gede merasa pusing sendiri.

Dengan Te tong-kui Ai-pong-sut Thong cau menghadapi tiga puluh enam jurus pukulan elang Lo-hu-sin-kun, makin lama perbawanya makin kentara. Walau dia tidak mampu balas menyerang, tapi dalam kelincahannya dia bergerak. Lo- hu-sin-kun yang meng emb a ngkan pukulan elang itu lama kelamaan merasa lelah dan kehabisan tenaga. Maklum, pukulan elang sebanyak tiga puluh jurus ini Harus, dilancarkan secara berantai tak boleh teri hambat, supaya lawan kececar dan terdesak tak mampu balas menyerang. Padahal daya serang nya tidak boleh terlalu kendor dan sasaranpun tidak boleh rend ah, kalau harus menyerang secara beruntun tubuh nya harus mumbul turun berulang kali, putaran tubuhnyapun tak boleh berhenti.

Diantara tenggang waktu d is a at dia turun naik itu, Ai- pong-sut dengan kelincahan tubuhnya sedang bergulingan kearah lain bebas dari sasarannya.

Karena itu betapapun licin permainan Lo-hu-sin kun, merobah tepukan menjadi cengkraman atau tab as an tetap tak mampu melukai Ai-pong-sut Thong cau. Pada hal tiga puluh enamjurus sudah hampir habis, namun Ai-pong sut sudah tidak sabar lagi. Sebagai jago kelas tinggi yang sudah terkenal puluh an tahun, betapapun malu harus bertempur sambil bergulingan di tanah, apalagi diserang melulu namun diamati kutu, tak habis-habis otaknya berpikir mencari akal bagaimana mematahkan serangan lawan, kecuali menggunakan Te-tong-kui.

Disaat dia bergulingan itulah, mendadak dadanya terasa ganjal sesuatu benda bulat, ternyata tangan yang mendekap dada kebetulan meraba pelor besi didalam kantongnya, seketika tergerak hatinya, rasa senang menghias wajahnya, diam-diam diapun menyesali diri sendiri kenapa lena dan bodoh, lupa akan senjata ampuh yang sudah angkat namanya digelanggang persilatan ini. Dengan sepasang bandulannya ini bukankah lebih cocok dan ampuh untuk melawan serangan musuh dari udara.

Sementara itu Lo-hu-sin-kun sedang melancarkan jurus Thi- ih lui-to (sayap besijatuh ditanah), tekanan napas terakhir didalam dada mendadak dia sedot pula sehingga tubuh yang seharusnya melorot turun berhasil diangkatnya kembali, dengan kecepatan bagai kilat menyambar, mendadak menyergap.

Untung sebelum mengeluarkan kedua bandulannya. Ai- pong-sut sudah perhatikan dulu gerak gerik lawan yang sedang menyerang secara berantai dengan pukulan elang nya. Melihat Lo hu-sin-kun menubruk dengan seluruh kekuatannya, lekas dia menggelinding keluar lalu melej it sehingga bebas darijangkauan angin pukulan lawan-

Disaat tubuh melejit itulah, tangan kanan terangkat, sejalur bayangan hitam gemerdep segera meluncur kearah Lo-hu-sin- kun yang sedang melayang turun.

Padahal, Lo-hu-sin-kun amat yakinjurus terakhir yang dilancarkanpasti berhasil membunuh atau membuat lawan  luka pa rah. Tak nyana selicin belut lawan berhasil lolos keluar sehingga dirinya kehilangan s as a ran, diam-diam hatinya sudah mengeluh, betuljuga angin kencang terasa melesat dari kiri.

Untung dia memiliki Lwekang tangguh, permainannya sudah seiring denganjalan pikirannya, meski terancam bahaya sedtkitpun tidak gugup, disaat ujung kakHampir menyentuh bumi, kedua lengannya dikembangkan keluar dengan gentakan tenaga besar sehingga tubuh yang sudah melorot itu terangkat naikpula tiga kaki. Luncuran bayangan hitam secepat kilat itu kebetulan lewat dibawah kakinya. Walau indah gerakan tubuhnya untuk menyelawatkan diri, namun keringat dingin telah membasahi sekujur badan.

Tak nyana sebelum rasa kejut hilang., Ai-pong-sut tidak memberipeluang lagi kepadanya kembali tangan kiri terayun, bayangan hitam kembali meluncur dengan deru suaranya  yang keras menerjang tiba. Padahal tubuhnya baru saja terangkat mumbul, hawa murni dalam tubuhnya baru timbul setelah dia ganti napas, dalam keadaan kepepet begini jelas sukar dia menyelamatkan diri daripelor besi lawan-

Apapun Lo-hu-sin-kun memiliki latihan dan gemblengan luar biasa yang tidak dimiliki orang lain, disaat yang paling kritis itu mendadak dia menghardik: "He." mengh embus napas mengeluarkan suara, kedua kaki s a ling pijak. dengan sisa tenaga murni dalam tubuhnya, sekuatnya dia memaksa tubuhnya doyong miring kekiri. Pelor besi lawan menyerempet kuping untung tidak terluka, namun s a king kaget dan ngeri, pandangan menjadi gelap. hampir saja dia terjungkaljatuh. Sekilas disaat dia berdiri melenggong, mendadak didengarnya suara "Duk" yang keras menyusul sesosok tubuh ditengah jeritan yang melengking terlempar satu tombakjauhnya. Da rah beri hamburan diudara dan tercecer ditanah, sungguh mengerikan.

Ternyata setelah tongkat Bok-bin-sin-po terlempar, dengan Hu-kong-king-inpou ajaran tunggal perguruannya, nenek galak ini melawanpukulan Kim-soa-ciang Kim-ji-tay-beng dengan gigih. Langkahnya memang aneh dan hebat sehingga dia mampu mengimbangipermainan lawan-

Suatu ketika dia coba menangkis pukulan lawan, terasa tenaganya amat besar,jelas dirinya bukan tandingan, maka dia hanya membela diri saja karena didesak dan di rangsak oleh Kim-ji-tay-beng. Tiga puluh jurus kemudian, serangan Kim- ji- tay-beng semakin gencar dan berat sehingga dia susah bernapas. Sudah puluhan tahun pengalaman tempurnya, belum pernah dia didesak seperti ini, kalau terus terdesak begini, dirinya pasti celaka, makin dipikir makin kuatir, karena kuatir jadi makin jeri, dengan sendirinya gerak geriknya makin kacau dan lamban-

Pertarungan dua jago tak boleh lengah, kalah menang hanya ditentukan dalam sedetik saja. karena kehilangan inisiatif, rasa jeri sudah menghantuHatinya lagi, maka permainannya makin tidak karuan, adalah jamak kalau dia dirobohkan-

Peng a la man tempur Kim-ji-tay-beng juga sudah puluh an tahun, melihat saatnya sudah matang, kesempatan tidak disia- siakan lagi, mendadak dia menghardik sekali, tubuhnya melambung keudara. Gerakan tubuhnya meleset miring dari pinggir, kedua tangannya terayun kedepan dan belakang, dengan jurus Seng-tong-kik-say (bersuara ditimur menggempur barat) seranganpun melanda sedahsyat serudukan kepala kerbau.

Bok-bin-sin.p sedang pesona kaget oleh gerakan lawan, mendadak bayangan berkelebat, tahu-tahu angin kencang menerjang dari kiri, mukanva seperti diiris oleh sampukan angin pukulan ini. Sudah tentu nenek tua ini tidak berani ayal, dengan gugup dia membanting tubuh ke kanan sambil memutar tubuh, dia pikir serangan inHarus dihindari dulu. Tak nyana dikala tubuh berputar itulah, sinar emas berkelebat dari sebelah kanan, dengan telak Jam-sin-hiat di bawah ketiak telah terpukul telak.

Serangan Kim Ji-ta y-beng menggunakan sepenuh tenaga, pukulannya seberat ribuan kati. Karuan Bok-bin-sin.p terpukul terbang keudara, isi perutnya remuk darah menyembur disaat tubuhnya masih terapung diudara. "Bluk," begitu terbanting jatuh, jiwanyapun melayang.

Setelah membunuh Bok-bin-sir. Kimji-tay-beng menentramkan hati mengatur napas, matanya menjelajah ajang pertempuran, dilihatnya Tan Kian-thay terdesak oleh kedua lawannya, jiwanya terancam bahaya. Lekas dia memburu kesana sambi membentak: Jitong-cu, Jangan kaget, sementara mundurlah kau, biar kubereskan kedua kurcaci ini." mungkin di buru dendam adiknya yang masih terluka, terhadap orang-orang Ham ping- kiong bencinya bukan main, sudah tentu kedua orang ini tidak diberi ampun lagi.

Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay mengundurkan diri, setelah napasnya teratur, sambil menenteng golok besarnya dia memburu kearah si gede yang lagi dipermainkan kedua musuhnya. Seorang diantaranya segera dia bacok dengan golok tunggalnya. Kini keadaan banyak berobah.

Sebetulnya pihak Ham-ping-kiong dan Lohu-to berjumlah lebih banyak, Hong-lui-pang yang berkekuatan berapa orang itujelas bukan tandingan, namun amukan si gede ternyata merobohkan beberapa jago lawan hingga jumlah musuh banyak susut, tapi kalau pertarungan dilanjutkan Hong-lui- pang tetap dipihak yang kalah. Untung Liok Kiam-ping dan Ai- pong-sut tiba tepat pada saat genting, sehingga keadaan menjadi berimbang, apalagi setelah Kim-ji-tay-beng berhasil membunuh Bok-bin-sin-p, Lo-hu-sin-kun sang suhengpun pecah nya linya.

Disaat dia tersirap kaget dan mundur sempoyongan, mendadak Ai-pong-sut menggelundang tiba seperti bola, kedua kakinya menjejak bagian bawah tubuh Lo hu-sin-kun. Serangan lihay dan tak terduga ini jelas tak mungkin diluputkan lagi, itu berarti tulang patah otot keseleo.

Tak nyana kedua kaki Ai-pong-sut yang menjejak ini ternyata seperti menyerang setumpuk kapuk kapas yang empuk, hingga jejakannya seperti sirna tak berbekas, tahu gelagatnya agak ganjil, dengan sekuat tenaga dia menggelundang minggir terus melejit jauh secepat kilat..

Ternyata kedua kaki Lo-hu-sin-kun berpijak ditanah, beg itu lawan menjejak tiba jelas tak sempat berkelit lagi, lekas dia kerahkan Bong gu-kang melindungi tubuh bagian bawah. Bila Bong gu-kang (ilmu weduk kerbau) dikembangkan seluruh kekuatan tenaga daldam dipusatkan pada satu tempat, sehingga kulit dagingnya menjadi lunak, lembut, seempuk daging kerbau, betapapun besar kau memukulnya, tenagamu akan sirna tak berbekas.

Tapi kalau melawan senjata tajam sudah tentu tidak berani, maklum lwekangjenis inHanya peranti membela diri tak bis a melukai lawan- Beg itu Ai-pong-sut melonjak berdiri, Lo-hu- sin-kun yang sudah slap segera membalikan sepasang telapak tangannya menepuk kedua kaki Ai-pong-sut. Serangan ini dilandasi tenaga yang sudah disimpan sejak tadi, betapa dahsyat pukulannya, kalau kedua kaki Ai-pong-sut terpukul telak. bukan saja kaki putus, jiwapun melayang seketika.

Aipong-sut cerdas tangkas, reaksinyapun reftek, lekas dia kembangkanpula Te-tong-kui dengan jurus penolang jiwa Kian-kun-sam-coan, sebat sekali tubuhnya berputar pergi.

"Blang" tepukan tangan Lo-hu-sin-kun menjadikan tanah di mana barusan Ai-pongsut berada berlobang besar, debu pasir beterbangan akibat pukulan dahsyat ini, matHidup hanya terpaut segaris, betapapun tabah dan luas peng a la man Ai- pong-sut, tak urung mukanya pucat, napas memburu, bulu kuduk mengkirik pula.

Tapi dia seorang tokoh kosen yang ternama, dimedan laga pantang menyerah atau mundur. Lekas dia tenangkan diri sekali lompat dia menerjang pula sepenuh tenaga. Dalam segala hal kedua lawan ini setanding, maka pertarungan mereka juga terhitung yang paling sengit, gerak gerik mereka juga paling cepat dan tangkas, setiapjurus serangan pasti mematikan. Tidak jarang pula terjadi adu jotosan dan tamparan.

Sementara itu hampir seratus jurus Liok Kiam-ping melabrak IHam-ping Lomo, kedua pihak kerahkan seluruh tenaga, sedikitpun tidak berani lengah. Meski sudah kerahkan seluruh kemampuannya, namun Ham-ping Lomo tetap tak berhasil mendesak lawannya, makin tempur perasaannya makin tak karuan.

Mendadak dia incar Liok Kiam-ping yang saat itu sedikit lena karena harus meng era hkan tenaga pula. Mendadak pakaiannya melembung seperti balon yang berisi angin, "Wess" ledakan lirih tapi suaranya memanjang, seiring dengan ledakan itu udara seketika menjadi dingin beku, ternyata Ham- ping-lomo kerahkan hawa dingin dari latihannya yang sudah puluhan tahun dengan meledakkan tubuh sendiri, maka jalur- jalur hawa dingin menyembur dari berbagai urat nadi tubuhnya, pakaian remuk tubuhpun koyak-koyak. Itulah muslihat paling keji dari Hian-ping-im-sat, meng himpun seluruh hawa dingin yang mengeram dalam tubuh sejak latih an puluhan tahun, lalu didesak keluar dengan tekanan tenaga dalam yang dahsyat hingga meledak lewat urat nadi dan Hiat- to disekujur badan-

Ham ping- lomo sudah memperhitungkan, Kim-kong-put- hoay-sin-kang Liok Kiam-ping memang kuat menahan Hian- ping-im-sat, namun bila serangan mendadak disaat hawa pelindung Liok Kiarn-ping belum bersiaga, dalam waktu singkat kalau Liok Kiam-ping tak sempat menjaga diri, akhirnya pasti ajal oleh serangan gelapnya ini.

Memang disergap oleh serangan yang tak masuk nalar ini, Liok Kiam-ping tidak sempat kerahkan hawa s a kti pelindung badan, begitu tersapu hawa dingin hampir saja diajatuh pingsan- Untung Lwekangnya tinggi, sejak tadi dia sudah perhatikan gerak gerik lawan,

Begitu melihat lawan menunjukkan gerakan yang mencurigerakan, lekas dia kembangkan Ling-hi-pou deagan jurus Lian-hoan you-pou (melangkah berantai) sejauh setombak). Betapa sigap reaksinya, namun dia sudah menghirup sedikit hawa dingin beracun, seketika dia bergidik dan menggigil kedinginan, langkahnyapun sempoyongan- Syukur Kiam-ping mahir pengobatan, disaat tubuh mengigil dan belumj atuh pingsan dia berhasil mendesak hawa dingin itu kesuatu tempat, lalu mengerahkan Kui-sip-tay-hoay menutup berbagai Hiat-to besar disekujur badan, terutama jantung yang dilindungi. Lalu dengan lunglai dia bersimpuh ditanah.

Belum lama dia duduk bersimpuh "Bluk" tubuh kekar Ham- ping Lomo yang kejam itupun roboh berdentam karena ledakan bawa dingin beracun dalam tubuhnya. Tujuannya adalah mengajak lawan gugur bersama.

Setelah hawa murni dingin dalam tubuhnya buyar, berarti seluruh kekuatannya suduh ludes. keadaannya tak ubahnya seperti orang lumpuh, maka perlahan diapun terjungkal roboh. Untuk menyembuhkan luka-luka dalamnya, harus diobati secara intensip selama lima tahun, namun Kungfunya takkan bisa dipelajari lagi,

Jiwa sudah diambang maut, tenaga habis, keadaan sudah payah, tapi jiwa yang jahat masih tak lupa ingin melukai atau membunuh musuhnya. Dilihatnya Liok Kiam-ping duduk lunglai takjauh didepannya seperti orang semaput, Ham-ping Lomo tahu, pemuda inipun sedang tersiksa oleh hawa dingin beracun serangannya, maka mengera hkan sisa tenaganya, dia mulai merangkak kedepan- Dari jarak lima kaki lambat laun makin dekat, tiga kaki, dua kaki, kini tinggal satu kaki lagi, bila dia ulur tangan boleh dikata sudah dapat menyentuh Liok Kiam-ping.

Dengan seringai getir perlahan dia angkat tangannya yang berat mengincar Bing-bun-hiat Liok Kiam-ping terus hendak digabloknya sekali. Meski perlahan bila tangannya menyentuh Bing-bun-hiat, maka jiwa Liok Kiam-ping pasti melayang seketika.

Untung tenaga Ham-ping Lomo sudah habis dan lemah, gerakannya lambat, disaat genting itu, Liok Kiam-ping sudah mendesak hawa dingin itu kebawah kakinya, mendadak dia tersentak sadar, musuh tak jauh dari dirinya, betapapun tak boleh lena, seketika pikiran jernih, perlahan dia membuka mata. Ternyata sebuah telapak tangan gede sudah terangkat dan tinggal dua senti diatas Bing-bun-hiatnya, saking kejut dia berteriak sambil menjatuhkan diri terus menggelundung pergi.

Celakanya karena dia harus mengerahkan tenaga, hawa dingin yang didesaknya turun itu ternyata berontak mumbul pula keatas, hawa dingin seketika membuatnya menggigil tak tertahankan lagi. Untung otaknya masih bekerja, masih teringat olehnya Soat-lian yang tersimpan dikantong bajunya, sambil menahan rasa sakit, perlahan dia gerakan tangan merogoh saku mengeluarkan sekelopak Soat-lian terus dimasukan kedalam mulut.

Soat lian adalah obat mujarab yang tumbuh ditengah salju tahan dingin. Tapi Hawa dingin beracun yang diyakinkan Hamping Lomo memang teramat jahat, meski Soat-lian sudah masuk tenggorokan, namun sesaat belum mau lumer dan tertahan dileher. Dengan susah payah Liok Kiam-ping harus kerahkan Lwekang untuk mendorong dan mendesaknya lambat tapi berhasil hawa dingin itu didesaknya kesudut pula.

Kini khasiat Soat-lian sudah bekerja sehingga Lwekang yang dikerahkan berjalan makin lancar mengalir ke berbagai badan, tubuhnya yang menggigit kedinginan mulaHangat dan bertahan pada suhu biasanya, sementara hawa dingin merembes keluar dari pori-pori berobah uap putih. Hampir dua jam Liok Kiam-ping harus berjuang secara gigih mengusir hawa beracun dalam tubuhnya bila dia membuka mata lagi, segera dia bangkit berdiri, lututnya masih goyah, maklum tenaganya terkuras amat besar.

Bila dia menoleh kepinggir, melihat jenazah Ham-ping Lomo, tanpa merasa dia menghela napas sedih, hatinya tidak tega melihat kematian orang tua jahat ini.

Ternyata setelah gagal dalam usahanya membunuh Liok Kiam-ping disaat ajal sendiri sudah didepan mata. Ham-ping Lomo tahu jiwanya tak mungkin diselamatkan lagi padahal sebagai gembong iblis yang ditakuti selama puluhan tahun, mana dia mau menjadi tawanan musuh. Setelah menghela napas panjang dia gigit putus lidah sendiri, bunuh diri, darah mancur dari mulutnya.

Dalam pada itu Kim-ji-tay-beng yang menggantikan Tan Kian-thay sedang menghadapi dua jago Ham-ping-kiong dengan gigih. Tenaga dalamnya luar biasa, diburu amarah lagi, maka serangannya tidak kenal ampun, tampak sinar gemerdep kuning berkeleb atan menindih badan, Kim-soa- ciang memang bukan olah-olah lihaynya.

Kedua jago Ham-ping-kiong tahu kelihayan Kian-soa-ciang, tapi kedatangan Kim-ji-tay-beng memang diluar dugaan, serangannya gencar lagi dahsyat sehingga mereka kehilangan pegangan dan kesempatan membela diri. Kalah menang pertarungan jago kelas tinggi hanya ditentukan faktor waktu dan kecermatan, terpaut serambut sudah fatal akibatnya, setelah terdesakoleh kecepatan serangan lawan, untuk mengembalikan posisi yang lebih lumrah sudah tidak mungkin lagi. Apalagi Kim-ji-tay-beng sudah kebacut benci dan dendam. Mendadak dia menggeram sekali, dua kaki melangkah maju dengan memb anting berat tubuhnya lantas melejit keudara, mencapai ketinggian yang dikehendaki dia menekuk ping gang membalikkan tubuh, dua kaki memancal keatas, sehingga tubuhnya menukik turun dengan kepala dibawah, laksana meteor jatuh dia menubruk turun-

Dua telapak tangan memukul serentak dari sudut yang tidak terkira. Kedua jago Ham-ping-kiong itu sudah kerahkan seta ker tenaga ny a berkelebat kepinggir delapan kaki jauhnya, meski selamat, namun saking kaget dan ngeri, tubuh basah kuyup oleh keringat dingin-

Tak nyana belum lagHilang rasa kagetnya, angin pukulan sudah mendera tiba pula dari belakang, seperti bayangan bergerak mengikuti bentuknya, Kim-ji-tay-beng menguntit dibela ka ng ny a .

Seperti diketahui kemahiran Kim-ji-tay-beng dengan Kim- soa- ciang menyerang lawan dengan tubuh terapung diudara, sekaligus tanpa ganti napas dia mampu menubruk sembilan kali, kemanapun lawan menyingkir tetap tak bis a lolos dari serangannya.

Kedua jago Ham-ping-kiong tidak tahu seluk beluk ilmunya yang ampuh ini, setelah melompat kepinggir, mereka kira jiwanya sudah selamat, paling tidak harapan untuk melarikan diri sudah terbentang didepan mata. Tak nyana sebelum has rat timbul dalam dalam benak mereka, punggung masing- masing sudah kena pukulan telak.

Ditengah jeritan menyayat hati dua tubuh kedua orang orang itu terlempar lima kaki, darah menyembur dari mulut mereka, "Bluk, Bluk" keduanya terbanting untuk tak bangun lagi.

Deng an seluruh tenaganya Ai-pong-sut sedang melabrak Lo-hu-sin-kun yang setanding dengannya, pertarungan mereka juga tidak kalah sengit, ditengah deru angin kencang, tak j a rang terdengar benturan telapak atau tinju mereka yang beradu.

Saat mana mereka sudah bergebrak mendekati dua ratusjurus. Keringat sudah membasahi jidat Ai-pong-sut. Demikianpula napas Lo-hu-sin-kun sudah memburu.

setelah merobohkan kedua jago Ha mping-lo- mo, sambil bertolak ping gang Kimji-tay-beng melepas pandang keseluruh gelanggang pertempuran, leg a hatinya karena kemenangan akan segera tercapai. Hanya Ai-pong-sut Thong cau saja yang masih bertarung gigih dan kelihatan mulaipayah. Darisamping dia menonton dengan tenang, dilihatnya bolamata Lo hu-sin- kun berputar dia tahu orang sedang Cari kesempatan untuk melarikan diri. Grmbeng jahat yang terlalu keji ini, Kim-ji-tay- beng sudah kebacut benci, dia bertekad takkan membiarkan mereka lolos, maka dia bersiaga.

Sepuluh jurus telah lalupula, beruntun Lo-hu-sin-kun menyerang limajurus, Ai-pongsut didesaknya mundur tiga langkah. Mendadak dia menjejak kaki, tubuhnya melambung mundur setombakjauhnya. Tapi sebelum tubuhnya turun dan kaki belum menyentuh bumi. Mendadak didengarnya bentakan nyaring: Jangan lari sahabat." segulung angin pukulan tahu- tahu melanda tiba menindih dirinya, pada hal tubuhnya masih terapung, lekas dia gunakan daya berat sehingga tubuhnya melorot turun ditengah jalan, begitu kaki menyentuh bumi, tenaga dikerahkan dikedua tangan terus menyongsong gempuran musuh. Setelah ledakan dahsyat terjadi, kedua orang tergetar mundur selangkah. Dalam keadaan tergesa- gesa, Lo-hu-sin-kun harus menyelamatkan diri, sehingga tenaga pukulannya tidak sepenuh hati. maka akhir adu pukulannya ini mereka seimbang.

Tak nyana begitu tubuhnya tergentak mundur, dari belakang menerjang tiba pula segulung tenaga raksasa, dia tahu Ai-pong-sut menggencetnya dari belakang.

Ditengah gerungan gusarnya, lekas dia gunakan Hu-kong- king-in-pou melayangkan tubuhnya keluarjangkauan pukulan lawan- Sebetulnya Kim-ji-tay-beng segan menyerang lagi, namun mengingat Lo hu-sin-kun sudah keliwat takaran melakukan kejahatan didaerahnya, dirinyapun disergap berulang kali, celakanya sang adik terluka parah, matHidupnya masih merupakan teka teki. Dendam lama ditambah sakit hati baru membakar amarahnya, maka dia tidak hiraukan aturan Kangouw lagi, Sambil angkat alis, segera dia menubruk ketengah arena.

Maka tiga orang serang menyerang lebih seru, mereka ada la hja go top dunia persilatan, permainan bebas sesUai jalan pikiran, ditengah berkelebatnya bayangan mereka yang sa ling tubruk dan melompat, membuktikan betapa tinggi taraf kepandaian sungguh mena k upka n.

Permulaan Lo-hu sin-kun masih mampu mengimbangi keroyokan kedua lawannya dengan kelihayan Hu-kong-king-in- pou (langkah cahaya melampaui sinar). Tidak jarang diapun balas menyerang. Tapi dua puluh jurus kemudian, serangan kedua lawannya makin lihay dan selalu mengunci gerakannya. Lohu-sin-kun dituntut mengkonsentrasikan seluruh pikiran dan semangatnya untuk melayani mereka, namun keadaannya sudah terdesak hingga tak mampu balas menyerang.

Sebetulnya sUkar ditemukan tokoh silat kosen dalam dunia Kangouw sekarang yang mampu melawan keroyokan Ai-pong sut dan Kim-ji-tay-beng lebih dari dua puluh jurus.

Betapapun tinggi Lwekang Lo-hu-sin-kun, apalagi tenaganya sudab banyak terkuras setelah beri hantam dengan Ai-pong-sut, lambat laun tenaganya lemah, permainannya makin kacau. Namun mengingat jiwa sendiri terancam dan sang sumoay sudah ajal ditangan musuh, maka dia nekad adujiwa untuk menuntut balas kematianBok-bin-sin-popula, maka tak heran kalau dia kuat bertahan dua puluhanjurus.

Namun hal ini disebabkan serangan Ai-pong-sut dan Kim-ji- tay-beng tidak sepenuh hati. Tiga puluh jurus kemudian tetap belum mampu merobohkan Lo-hu-sin-tun perasaan mereka mendelu, kalau kejadian ini tersiar dikalangan Kangouw, pamor mereka akan tersapu bersih, dihadapan murid-murid Hong-luipang sendirijuga sukar menelan rasa malu ini.

Sekilas mereka adu pandang, tanpa janji keduanya lantas pergencar serangan- Bahwa Lo hu-sin-kun kuat bertahan dua puluhanjurus adalah luar biasa, namun berulang kali jiwanya sudah terancamjuga, berdasarkanpengalaman meski terdesak dibawah angin dia masih mampu bertahan sambil meng era hkan Bong- gu-kang, seluruh Hiat-to mematikan terlindung oleh ilmu weduk kerbau ini. Mendadak Kim-ji-tay-beng melompat tinggi, secepat kilat tubuhnya menukik turun pula dengan serangan Tui-poh-cui- long (mendorong ombak mengejar gelombang), kedua tangannya secara beruntun menepuk bergantian. Sementara itu Lo-hu-sin-kun harus menghindari serangan Ai-pong-sut yang lihay, sebelum gerak tubuhnya brputar, angin kencang sudah menindih tiba, bergegas dia menurunkanpundak berkelit kekanan, sehingga serangan berhasil dihindari.

Diluar tahunya serangan sepasang telapak tangan Kim-ji- tay-bng ternyata hanya serangan gertak sambel yang didepan, serangan telak berada dibelakang mengikuti gerak perobahan lawan yang menyingkir kepinggir. maka telapak tangan Kim-ji- tay-beng secara tepat menepuk Jian-kin-hiat dipundak ka nanny a.

Bong-gu-kang meski untuk melindUngi Hiat-to, namun terkena pukulan berat seperti ini, ternyata tidak menunjukan reaksi yang diharapkan. Begitu tepukan telak kesasarannya, tak urung Lo hu-sin-kun mengerang kesakitan, segera pecah ny a liny a. Langkahnya mundur sempoyongan. Tapi setiap manusia mempunyai gerak reftek dalam mengejar kehidupan, meski sudah terluka pa rah, makin besarpula niatnya melarikan diri.

Mungkin dimabuk rasa senang bahwa lawan yang tinggal satu ini tahan dibekuk hid up, hid up, tak pernah terbayang oleh mereka bahwa dalam keadaan kepepet dan hampir kehabisan tenaga, Lo-hu-sin-kun masih mampu melontarkan serangan sedahsyat ini, tanpa janji serentak mereka melompat kepinggir.

Tak nyana begitu serangan dilontarkan, sebelum jurus kedua disusulkan, Lo-hu-sinkun kembangkan IHu-kong sam- king, salah satu gerakanpaling lihay dari ilmu ginkangnya, hanya sekali berkelebat, laksana kilat tubuhnya sudah meluncur tiga tombak jauhnya. Hampir meledak dada Kim-ji-tay-beng, matanya membara, padahal diapun ahli Ginkang, maka diapun mengudak dengan kecepatan tinggi seraya membentak: "Belum ada yang kalah dan menang, kenapa sahabat mau lari," habis perkataannya kakinyapun sudah melompat jauh, namun gerakan musuh lebih dulu beberapa kati lompatan bayangannya sudah menyelinap masuk kedalam hutan dan sukar disusul lagi. Terpaksa Ai-pong-sut beramai berpeluk tangan membiarkan musuh yang satu ini lolos.

Menolong kawan sendiri memang lebih penting, maka beramai mereka saling bimbing masuk kedalam perkampungan, yang masih segar dan kuatsegera mengurus jenazah para saudara yang gugur.

Liok Kiam-ping sudah dipapah kedalam kamarnya, hawa beracun dingin dari pukulan Ham-ping Lomo memang teramatjahat, walau sebagian besar hawa beracun sudah terdesak keluar, tapi karena dia kehabisan tenaga, dalam waktu dekatjelas diapun sukar memulihkan kondisinya semula.

Mendengar Liok Kiam-ping sudah pulang sudah tentu girang Siau Hong bukan main, bergegas dia berlari masuk kedalam kamar, hidupnya sudah pasrah kepada perjaka pujaan hatinya sejak kecil, melihat keadaan Kiam-ping yang begitu pa rah, taktertahan air matanya bercucuran, untung Jian-li-tok-heng keburu menariknya, kalau tidak dia sudah menubruk kedalam pangkuan Liong Kiam-ping, hal ini bisa mengakibatkan Jau-hwejip-mo bagi Liok Kiam-ping yang sedang samadi dan pantang diganggu.

Dengan halus Jian-li-tok-heng membujuk dan memberi penjelasan kepada Siau Hong, namun gadis jelita ini berkukuh ingin menunggu disamping Liok Kiamping.

Hampir setengah hari Liok Kiam-ping baru sadar dari samadinya, keadaannya sudah jauh lebih segar, perlahan dia turun dari pembaringan- Siau Hong menjerit girang terus menubruk kedalam pelukannya, saking girang air mata berlinang dikedua kelopak matanya.

Setelah makan malam orang banyak berkumpul, Liok Kiam- ping mendengarkan laporan mereka satu persatu, disadari bahwa kini mereka berada disebuah gua besar dibelakang gunung untuk menghindari pertumpahan darah yang tak ada faedahnya dengan pasukan negeri. Ternyata menjelang petang, pasukan besar dari kota karisidenan yang berjumlah ratusan orang telah mengepung Kwi-hun ceng dengan memasang sepucuk meriam didepan pintu gerbang perkampUngan, panglima pemimpin pasukan besar itu mengancam supaya mereka menyerah kalau tidak perkampungan akan dibumi Hanguskan.

Saat itu Liok Kiam-ping masih dalam keadaan tak sadarkan diri, maka Ai-pong-sut ambil keputusan supaya seluruh warga Hong-luipang lewat jalan rahasia mengosongkan perkampungan ngungsi kedalam gua, dibelakang gunung ini.

Liok Kiam-ping tidak sedikit para saudara anggota Hong-lui- pang yang rebah berjajar didalam gua, mereka terluka pa rah atau ring an, yang gugur telah dikebumikan.

Kondisi Liok Kiam- ping masih teramat lemah, padahal rombongan mereka tak boleh tanpa pimpinan, situasi masih cukup genting, setelah dirundingkan bersama diputuskan Ai- pong-sut dan Kim-ji-tay-beng membantu sang Pangcu menyembuhkan luka-luka dalamnya secara kilat, Liok Kiam- ping masih akan menolak. tapi dibawah desakan orang banyak terpaksa dia izinkan Aipong-sut memeriksa dirinya.

Dibawah pemeriksaan cermat Ai-pong-sut sekujur badan Kiamping tiada luka-luka, namun denyut nadinya terasa lemah seperti arus yang tersumbat, dia tahu sang Pangcu terlalu capai, tenaga murninya berkurang ditambah amarah membakar hati sehingga hawa murni yang buyar susah dihimpun kembali, cukup lama dia semaput lagi. Maka Kiam- ping dipapah duduk bersila, Ai-pong-sut dan Kim-ji-tay-beng duduk dikanan kirinya, telapak tangan mereka menekan Khi- hay-hiat di kiri kanan badannya, perlahan mereka mulai menyalurkan hawa murni ketubuhnya.

Sejam kemudian, uapputih mengepul di atas kepala mereka.. Lwekang kedua orang ini sudah terlatih dengan sempurna, dari aliran murni lagi, maka dengan mudah dua jalur hawa murni mereka bersatu padu dalam tubuh Kiam-ping terus berputar keseluruh tubuhnya.

Satu jam lagi kedua arus tenaga hebat yang mengalir dalam tubuh Liok Kiam-ping baru berhasil menjebol seluruh rintangan dan menerjang ke dalam Khi - hay – hiat pula, terus mengalir kedalam pusar, hawa racun dingin dalam tubuhnya justru mengeram disini, maka terjadilah perang tanding antara hawa dingin dan hangat, beberapa kali tubuh Liok Kiam-ping melonjak-lonjak. Sayang tenaga Kiam-ping sendiri belum pulih, hawa dinngin cukup meresap keseluruh tubuhnya, maka tak kuasa dia menguasai dua jalur hawa hangat itu untuk mendesak keluar hawa ding

Tiba-tiba Ai-pong-sut mengerang tertahan, tenaga dalam dikerahkan seluruhnya. Demikian pula Kim-ji-tay-beng juga menambah tenaganya, tangan kiri memelukpunggung Ai-pong sut dengan cara gabungan jembatan langit untuk menyalurkan hawa murni mereka menjadi satu kekuatan yang tangguh.

cara yang ditempuh Kim -ji-tay-beng memang besar manfaatnya, terasa oleh Liok- Kiam-ping masuknya segulung hawa panas yang lebih kuat, menindas dan memberantas hawa dingin yang masih tersisa didalampusar. Kering at sudah berketes-ketes diselebar muka Liok Kiam-ping, air mukanya yang semula pucat mulai bersemu merah. Setanakan nasi kemudian, hawa murni dalan tubuhnya sudah mulai lancar, lewat Koan-goan, masuk Tlong-kek menjebol Seng-si-koan dan berakhir kedalam pusar pula. Di bawah bantuan Ai-pong- sut dan Kim-ji-tay-beng, atiran darah Kiam-ping makin lancar sehingga samadi mereka mencapai puncak pati rasa. Kembali satu jam telah lewat, rasa sakit disekujur badan Liok Kiam-ping sudah tidak terasa lagi, seorang diri dia sudah mampu menggerakkan tenaganya, ini menandakan kesehatannya sudah pulih seluruh nya.

Waktu dia membuka mata, dilihatnya Ai-pong-sut dan Kim- ji-tay-beng masih samadi, dia tahu untuk menolong dirinya kedua orang ini sudah memeras segala tenaga hingga hawa murni merekapun terbuang.

"Ping.-ko," seru Siau Hong girang sambil menggenggam tangan Kiam-ping "kau sudah sehat kembali, tadi kita semua menguatirkan dirimu."

Liok Kiam-ping tersenyum, katanya: "Adik Hong, membuatmu gelisah saja. Sekarang aku sudah sembuh." lalu dia beranjak kesana menghampiri Gin-jitay-beng yang terluka oleh hawa racun pukulan dingin, satu persatu dia memeriksa keadaanpara korban yang lain serta memberikan obat

"Terakhir dia menghampiri Gin-jitay-beng pula lalu memapahnya duduk. dia duduk dibelakang orang, dengan tenaga murninya dia siap memberi pertolongan. Tapi sebelum tangannya menekan Bing-bun hiat Gin-jl-aybeng, seorang berkata d belakangnya: "Pangcu kau sendiri baru sembuh, tak boleh mengerahkan tenaga lagi, biarlah serahkan kepadaku saja."

Tanpa menoleh Liok Kiam-ping kenal suaranya yang bicara adalah Jian-li tok-heng, tanpa menunggu jawabannya, segera dia gantikan tempat duduk Kiam-ping. Kiam-ping juga tidak banyak bicara, malah dia jelaskan bagaimana Jian-li-tok-heng harus memberi pertolongan, lalu menyingkir dari tempat itu.

Setelah bersusah payah sehari semalam, mereka sudah payah dan letih, maka semua pergi beristirahat.

Hari sudah terang tanah, baru orang banyak bangun dan duduk membundar didalam gua merundingkan persoalan pelik yang mereka hadapi. Liok Kiam-ping membuka perundingan, katanya: "Peristiwa tak terduga ini menyangkut mati Hidup Hong lui-pang kita selanjutnya, mohon perhatian para saudara untuk memikirkan cara bagaimana kita mengatasi kejadianpelik ini, kita harus bersatupadu menjernihkan persoalan sekalian mengembalikan nama baik Pang kita yang sudah berkenan dihati masyarakat."

Kim-ji tay-beng berkata: 'Menurut perhitungan waktunya, amat jelas pasukan negeri ini kemungkinan mendengar hasutan pihak Ham-ping-kiong dan Lo hu-to, atau ada persekongkolan gelap diantara mereka."

Berkerut alis Jian li-tok-heng, katanya: "Kukira itu hanya gejala yang kebetulan saja, dibalik persoalan ini ada liku-liku yang amat rumit. Padahal Hong-lui-pang kita cukup baik didalam tata laksana kepentingan bersama, kaum Bulim juga mengagumi kita, dengan pihak pemerintahan juga kita punya hubungan dan pengertian yang baik. Maka kehadiran pasukan negeri yang mengepung perkampungan seperti Hendak menangkap kawanan bandit sungguh sangat disesalkan, aku tidak habis mengerti."

Sejak tad i Ai-pong-sut tenggelam dalam alam pikirannya, mendadak dia menoleh kepada Kim-ji-tay beng tanyanya: "Belakangan ini bagaimana keadaan dan kabar cabang-cabang kita dibagian luar."

Kim-ji-tay-beng menghela napas, sahutnya: "Berita yang kita terima sungguh amat menguatirkan, situasi cukup genting, menurut penyelidikan, beberapa pimpinan cabang yang menduduki jabatan penting ternyata banyak yang ditahan dan diawasi gerak-geriknya, padahal tiada tuduhan dosa apa yang pernah mereka lakukan."

Itu yang terjadi dalam wilayah ciat-kang, diluar propinsi bagaimana keadaannya ?" tanya Liok Kiam-ping.

"Sejauh ini belum diperoleh kabar, diketahui bahwa komunikasi dua a rah dari pusat dengan berbagai cabang diluar daerah telah terputus seluruhnya." Demikian penjelasan Kim ji-tay beng.

Coh-siang-hwi lb Tiau hiong Cerdik dan pandai berpikir, dengan terse nyum dia angkat bicara: "Menurut keadaan dapat disimpulkan, persoalan memang ditangani langsung oleh pihak penguasa, karena itu aku usul hal ini Harus diselidiki mulai dari kantor kabupaten, tahap demi tahap kita selesaikan baru menentukan langkah apa yang harus kita tempuh."

Ai-pong-sut Thong cau keplok tangan, dia menyatakan setuju. Thi-pi-kim-to Tan Kian-thayjuga berpendapat untuk menyelesaikan peristiwa ini Harus membereskan pangkalnya lebih dulu, diapun menyatakan akur. Demikian pula Gin-jay- beng, P-lik-jiu ciu Khay, si gede Slang Wi menyatakan siap menunaikan tugas.

Dengan tersenyum Jian-li tok-heng berkata dengan nada prihatin: "Tugas ini menyangkut kepentingan mati Hidup Hong-lui-pang kita, betapapenting dan besarpengaruh dari tugas penyelidik ini, sekali-kati tidak boleh kepergok supaya tidak mengejutkan pihak sana. akibatnya bis a mendatangkan bencana yang lebih besar."

Dengan tertawa Coh-siang-hwi ih Tiau-hong berkata: "Kalau demikian kunci persoalannya berada di kabupaten di sana pasti berkumpul orang-orang pandai, penjagaan ketat, bentrokan mungkin sukar dihindarkan, maka kuajurkan semua yang bertugas harus mengenakan kedok hitam untuk sementara menyembunyikan asal usul sendiri." "

Thipi-kim-to Tan Kian thayjuga berkata: Jikalau dikuntit diluar kesadaran kita, bukan mustahil jejak kita konangan. Untuk menjaga segela kemungkinan, kurasa sepanjang perjalanan menuju ketempat kita dalam wilayah pegunungan ini perlu diadakanpenjagaan dan penceg ata n. " Liok Kiam-ping menyatakan akur oleh usul Tan Kian-thay. Maka mereka membagi tugas dan siap berangkat. Liok Kiam- ping dan Jian-li-tok heng seperjalanan meluruk kekantor kabupaten sementara Ai-pong-sut Thong cau, Kim-ji-tay-beng dan Gin-jl-ay-beng berpencar ditempat yang telah ditentukan untuk mencegat penguntit.

Liok Kiam-ping bersama Jian-li-tok-heng langsung berangkat kekota Un-ciu, Gnkang mereka tinggi, badan bergerak secepat panah dalamjangka satujam mereka sudah tiba kota Un-ciu. Senja mend ata ng, penduduk kota mulai memasang lampu, jalan raya penuh sesak hilir mudiknya kuda kereta danpejalan kaki. Kiam-ping berdua sudah apal jalan dikota ini, namun mengingat waktu masih pagi, maka mereka putar kayun menyusuri jalan-jalan raya sambil menonton keramaian. Tanpa terasa kentongan satu telah tiba, jalan- jalanjuga mulai sepi, maka Kiam-ping berdua menuju kesuatu tempat sepi mengenakan kedok muka langsung melompat tinggi keatas rumah bagai segulung asap meluncur ketembok kota.

Sekilas Liok Kiam-ping menerawang keadaan, lalu melompat j uh meluncur kearah timur, Jian-li-tok heng terus mengikuti dibelakangnya. Gedung kabupaten memang berada disebelah timur kota, hanya sekejap mereka sudah tiba disebelah kanan lapangan di depan gedang

Kabupaten. Didepan pintu gerbang ada tiang bend era besar tinggi mengibarkan bend era kebesaran bupati, penjagaan tampak keras dan ketat, peronda hilir mudik. Tapi gedung Sebesar itu ternyata sepi lengang, gelap lagi, membuat orang mengkirik.

Liok Kiam-ping siap menerjang, lekas Jian-li-tok-heng menekanpundaknya, bisiknya: "Gelagatnya agak ganjil, jangan gegabah, kami brpencar dari depan dan belakang, saling bantu danjaga keselamatan." lalu dia jemput sebutir batu dan ditimpukkan kearah dinding Sebelah kiri. "Tak" Suara lirih menimbulkan reaksi yang tak terduga, dari kanan kiri Sudut tembok mendadak menerjang keluar dua bayangan.

"Lekas masuk." bisik Jian-li-tok-heng sambil menarik Liok Kiamping, mereka meluncur ke a rah kanan melompati tembok menyelinap kedalam. Beg itu berada didalam tembok mereka lantas brpencar, Kiam-ping membelok ke kiri terus menyelinap ketempat gelap. penjagaan dalam gedung ternyata juga amat keras, jelas bahwa perslapan mereka cukup matang, hal ini menandakan adanya pihakpengalaman ikut menangani persoalan ini, seorang Bupati biasanya tidak ikut campur urusan tetek bengek. Ginkang Kiam-ping teramat tinggi untuk diketahui jejaknya oleh para penjaga itu. Saat mana dia berada di belakarg sebuah gunungan, mendadak didengarnya suara lirih dari sebelah kanan di mana terdapat sebuah lobang.

Sigap sekali Kiam-ping menyelinap ketempat gelap lalu pasang kuping, didengarnya seorang mondar-mandir didalam lobang itu, secara gesit Kiam-ping melompat kedepan lobang lalu melongok kedalam. Tampak seorang opas berusia empatpuluhan memegang sebatang golok besar sedang bolak balik. Waktu orang itu membalik badan membelakangi dirinya. Kiam-ping incar Hiat-to dipunggungnya terus menutuk dari kejauhan.

orang itu mengeluh periahan lalu meloso jatuh lemas tak bergerak lagi. Setangkas kera Liok Kiam-ping menyelinap kedalam lobang. Dia tutuk pula hiat-to orang lalu menunggu dipinggir sambil memeluk dada. Lekas sekali opas itu sudah sadar, ingin berdiri tapi badan lemas, waktu dia mendongak seketika dia terbeliak kaget. Liok Kiam-ping tertawa dingin, katanya:

"Saudara menjabat apa dalam kabupaten ini? Siapa biang kelad ipenyerbuan pasukan negeri ke Kwi-hun ceng ? Bicaralah terus terang, aku tidak akan mengganggu jiwamu." "Hamba hanya seorang opas yang bertugas dalam kota, hari ini atas perintah ditugaskan jaga malam di sini, penyerbuan ke KwHun ceng konon lantaran laporan seorang pengkhianat yang kemaruk jabatan, maka perintah rahasia dari kota raja terpaksa harus kita jalankan. Bagaimana dudu kperkara sebenanya, aku tidak begitujelas."

Mendengar "laporan pengkhianat" Liok Kiam-ping melenggong dibuatnya, namun hal ini tak sempat dia pikirkan, katanya: "Saudara bicara sejujurnya, aku tak perlu mempersulit dirimu, masih ada urusan lain harus kubereskan. sementara kau tidur saja di sini, Hiat-tomu akan terbuka sendiri." setelah tutuk Hiat-to penidur orang Kiam-ping berputar ke kiri lalu lompat keatas pohon, sejenak dia meneliti keadaan lalu kembangkan Ling-hi-pou melesat kesebelah dalam.

Betapa cepat luncuran tubuh Liok Kiamping, penjaga dan peronda yang tidak pernah belajar silat hanya melihat berkelebatnya bayangan orang, tiada yang tahu apakah bayangan yang mereka lihat manusia atau burung, ada pula yang kucek-kucek mata mengira pandangannya kabur, Hal ini dianggap biasa, apalagi malam gelap maka mereka tidak ambil perhatian.

Dalam berapa kali lompatan berjangkit Liok Kiam-ping sudah meluncur kederetan rumah-rumah bagian dalam. Ditempat gelap dia mendekam menunggu kesempatan sambil memeriksa keadaan sekelilingnya.

Dalam pada itu setelah berpisah dengan Liok Kiam-ping, Jian-li-tokheng berputar ke kanan memasuki serambi panjang, pengala-mannya luas, sedikit banyak tahu seluk-beluk gedang- gedang pemerintahan, maka dia memilih tempat-tempat gelap dan sepi, namun tidak jarang dia kepergok oleh penjaga yang takpernah diduga sembunyi ditempat yang tidak menyolok, namun dengan kesebatan gerakannya, beberapa orang berhasil dia robohkan dengan menutuk Hiat-tonya. Jian li-tok-heng maju lebih lanjut memasuki bilangan belakang, sekalijejak dia melesat keatas wuwungan seberah gedung besar, perlahan dia merambat kepinggir payar lalu menggelantung terbalik dengan kedua ujung kaki menggantol genteng, dengan jungkir balik begini dia mengintip kedalam rumah.

Tampak seorang berusia lima puluhan berpakaian preman duduk dibelakang sebuah meja besar, diatas meja bertumpuk berkas-berkas dan buku serta alat-alat tulis, mungkin laki-laki inilah Bupati adanya. Tak jauh disamping meja berduduk seorang laki-laki berpakaian pelajar berusia tigapuluhan, mungkin dialah sekretaris Bupati.

Didengarnya Bupati sedang bertanya: "Sudah berapa hari Yong- toksi menggerebek Kwi hun-ceng, belum juga berhasil menduduki-nya, kurasa dibelakang persoalan in ada yang tidak beres. Bagaimana menurut pendapat-mu Bong hucu?"

Laki-laki usia tiga puluhan itu membungkuk badan serta menjawab hormat: "Kurasa Kwi-hun-ceng adalah tempat berkumpulnya orang-orang gagah, terhadap pasukan negeri mereka tidak berani bertindak melawan juga hanya untuk membela diri, jelas mereka tidak bermaksud jahat, tapi keadaan mendesak sebelum persoalannya dibikin terang, mereka takkan mau menyerah."

Menurut laporan dan sudah kuperiksa bahan-bahanyang kuterima, selamanya belum pernah mereka melanggar hukum meski termasuk suatu organisasi besar, juga tergolong lurus, tapi perintah rahasia dari kota raja menugaskan kita menangkap dan menumpas mereka, sungguh  membuat heran.

Padahal menurut apa yang saya baca dari buku, kaum persilatan umumnya paling memegang teguh kepercayaan dan kesetiaan hanya menggunakan kebijaksanaan dan kebajikan kita memberi penjelasan baru bisa menundukkan mereka. kalaupakai kekerasan kurasa akibatnya akan fatal bagi kita. Kurasa Yong-toksi belum mampu menunai-kan tugas nya, lebih baik tarik saja pasukannya, utus saja beberapa petugas yang cekatan untuk mengawasi gerak gerik mereka, disamping suruh orang berunding dengan mereka."

"Kalau bertahan terus begini, bukan saja membuang waktu tenaga dan finasial secara sia-sia, kalau melampaui waktu yang ditentukan kitapun akan ketimpa salah dari atasan. Bagaimana pendapat Tayjin."

Berkerut alis orang tua itu, katanya kemudian setelah merenung: "Memangnya aku sedang pusing lantaran kejadian ini, baiklah jalankan saja sesuai usul Bong-hucu, mandat kuserahkan kepadamu untuk membereskannya"

Bong-hu cu berdiri serta menjura, katanya: "Terima kasih akan kepercayaan yang diberikan kepadaku, aku akan bekerja sekuat tenaga, namun mengutus siapa untuk berunding dengan mereka kurasa perlu mengundang ong cong bu-thau (kepala opal) untuk membicarakan hal ini" lalu dia menoleh keluar dan berseru: "Kiat Him, lekas panggi ong- cong bu- thau." seorang mengiakan diluar pintu lalu langkahnya makinjauh.

Tak lama kemudian cong- bu-thau ong An-dian sudah melangkah masuk. setelah memberi hormat kepada Bupati dia berdiri dipinggir. Bong-hucu segera menjelaskan rencananya."

Kepala opas ong An-dian mengunjuk sikap kurang senang katanya: "Menurut apa yang kudengar kumpulan macam bandit seperti mereka tidak boleh dikasih hati, apalagi kita bertindak atas perintah atasan, perundingan kurasa takkan membawa hasiL"

Sang bupati berkata: "Menurut situasi yang bertahan begini, batas waktu bakal tiba, tak berani aku bertanggungjawab. Bagaimana menurut pendapat cong-bu- thaw dengan Cara apa baru berhasil membereskan persoalan ini?" ong An-dian menjura, katanva: "Menurut pendapatku. selekasnya beri laporan keatas bahwa kawanan berandal itu melawan, tenaga kita kurang dan mohon bantuan beberapa jago silat kosen supaya usaha kita berhasil. Perlu saya laporkanpula, menurut laporan petugasjaga, sudah ditemukan jejak mata-mata musuh yang menyelundup kegedung kita ini, kepandaiannya lihay, bukan mustahil dia utusan kawanan brandal yang hendak mengganas di sini."

Bupati dan Bong-hucu berjingkrak kaget, terutama sang Bupati setelah memberi pes an bergegas dia mengundurkan diri. Maka ributlah gedung Bupati, obor dipasang orang bergerak hilir mudik.

Jian li-tok-heng tertawa geli, tugas nya sudah tercapai, maka dia melejit naik keatas genteng, untuk bergabung dengan Liok Kiam-ping dia malah berlari kearah depan-

Begitu dia berdiri di wuwungan, orang-orang di bawah lantas melihat jejaknya, maka ributlah teriakan-teriakan tangkap ma ling, tangkap pembunuh.

Berkepandaian tinggi nyali Jian- li-tok-heng besar, dia tidak hiraukan keributan dibawah, sambil meluncur dia malah bersuit panjang, suaranya melengking tinggi, maksudnya memberitahu kepada Liok Kiam-ping supaya mengundurkan diri.

Sudah tentu para pengejarnya ketinggalan jauh dibelakang. Liok Kiam-ping yang sedang sembunyi ditempat gelap sudah tidak sabar lagi, untung sebelum dia bertindak suitan Jian-li- tok heng sudah kumandang diudara, tahulah dia bahwa tugas Jian- li-tok-heng sudah selesai, maka diapun melompat keluar dan berlari kencang keluar gedung, Hanya sekejap bayangan kedua orang ini sudah lenyap ditelan kegelapan-

Diluar gedung Liok Kiam-ping bergabung dengan Jan-li-tok- heng, dengan Ginkang tinggi mereka terus meluncur keluar kota. Kira kira satu li kemudian, terasa dibelakang mereka ada dua bayangan orang mengejar dengan kencang. Gerak gerik kedua pengejar itu cukup lincah dan tangkas, jaraknya bertahan dua puluh an tombak jauhnya dibelakang Kiamping berdua. Namun seorang yang dikanan mungkin Lwekangnya lebih lemah, lama kelamaan dia ketinggalan dibelakang, napasnya yang ngos-ngosan juga terdengarjelas darijauh.

Sebagai jago-jago silat top sudah tentu mereka meluncur bagai bintang jatuh, bagi yang berkepandaian rendah, pastitakpercaya kalau yang dilihatnya adalah bayangan manusia yang berlari kencang.

Lekas sekali mereka sudah lima li jauhnya, baru saja membelok keselatan hampir memasuki pegunung an Liok Kiamping berdua melompat jauh terus menghilang. Pengejar yang tinggal seorang itu bersuara heran, setiba didepan hutan dis celingukan.

Mendadak didengarnya seorang berseru diatas batu tinggi: "Sahabat, tengah malam buta, untuk apa kau keluyuran di sini, tiada jal nan di sini kecuali ke neraka, silakan kembali saja." sebelum habis bicara, mendadak segulung tenaga pukulan menyapu datang dari samping.

Pengejar ini berkepandaian tinggi, mendengar angin menerjang datang, dia menyingkir kekiri sambil membundar lengan terus digentak keluar memapak serangan. Blang" keduanya menyurut selangkah kebelakang.

Bila bayangan berkelebat mana muncullah seorang kakek tua pendek bundar berkedok, katanya sambil gelak tawa: "Siapa nyana Lo-hu-sin kun yang berkuasa di Lam-hay ternyata bertindak seperti panca longok mengintip gerak gerik orang meminjam kekuasaan pemerintah, menindas rakyat apa tidak malu kau."

Lohu-sin-kun melenggong, setelah diperhatikan lantas tahu siapa pencegatnya, jengeknya dingin: "Kawanan tikus yang malu dilihat orang, berani memutar balik persoalan, seorang diri berani kau mencegat jalanku, cari mampus ya" Pencegat ini adalah Aipong-sut, bentaknya: "Siapa cari mati, hayolah buktikan."

Habis bicara mendadak kedua tangannya menyodok dan menggenjot, Lo-hu-sin-kun tertawa dingin, sebat sekali dia miring tubuh, berbareng tangannya menggenjot naik, agaknya dia sengaja menjebak Ai-pong-sut. Padahal kekuatan mereka berimbang, setelah menghindar jotosan keras lawan baru Lo- hu-sinkun balas menyerang. Karuan Ai-pong-sut tersirap, namunpengalamannya cukup membuat hatinya tabah, dua tangan yang kebacut memukul kedepan ditariknya terus menyikut sambil melompat mundur, tenaga jotos an lawan berhasil dipunahkan sebagian, namun demikian dia terdesak mental setombakjauhnya, untung lompatannya sejurusan dengan pukulan lawan sehingga tidak terluka. "Bluk" dengan keras pantatnya beradu dengan tanah. Lo - hu - sin - kun segera menubruk majupula.

"Berhenti." seorang mendadak menghardik dengan suara yang menggetar bumi, jelas Lwekangnya hebat luar biasa, seiring dengan berkelebatnya bayangan putih, tinju seorangpun telah menyelonong tiba.

Terasa oleh Lo-hu-shi-kun, betapa dahsyat pukulan ini, tersipu dia mengembangkan Hu-kong-king-in-pou, meski berhasil menyelamatkan diri, setelah berdiri teg a kpula, matanya terbeliak kaget. Maklum kedudukannya di Bulim boleh dikata sudah cukup top. jago kosen dalam Bulim yang mampu menandingi dirinyajuga bisa dihitung dengan jari. Tapi serangan orang ini mampu membuat dadanya sesak. hal ini belum pernah terjadi, betapa takkan mengejutkan hatinya.

Waktu dia angkat kepala dilihatnya seorang berpakaian jubah putih berkedok hitam tengah meluncur turun dari lamping gunung yang curam sana, langkahnya enteng seperti terbang berjalan diudara. Itulah Ginkang tingkat tinggi, yang tiada taranya, Ling-hi-pou yang sudah termashur sejak  ratusan tahun lalu. Setinggi ini Ginkang lawan Jelas dirinya harus memeras keringat dan mempertaruhkan jiwa raga. Namun dengan berani dia maju selangkah, jengeknya: "Entah siapakah cianpwe ini, bolehkah cayhe tahu gelaranmu yang mulia' Pendatang ini bergelak tawa, katanya:

'cianpwe apa, dihadapan Sin-kun aku hanya ingin menjajal beberapa jurus kepandaian sekaligus menyelesaikan persoalan lama.'

Lo-hu-sin-kun melengak. namun kejap lain dia sudah tertawa besar, katanya: 'Sudah dua puluh tahun Losiu tidak keluar dari Lo-hu-to, persoalan lama apa yang kau maksud aku tidak mengerti, apa kau tidak salah a lamat.'

'Sin-kun bersimaharaja di Lam-hay seorang Cikal bakal dari suatu aliran namamu besar disegani, mana mungkin aku keliru mencari musuh. Maklum setelah jadi pemimpin besar sin-kun sudah melupakan masa lalu.'

"Permusuhan dalam Bulim sudah jamak kalau hutang darah dibayar darah,' demikian seru Lo-hu-sin-kun berang, , kalau tidak lekas jelaskan persoalannya, Losiu tiada tempo cerewet di sini.'

Orang berkeduk itu terkial-kial, suara tawanya bergelombang mengalun dia lam pegunungan, desisnya dengan tekanan penuh dendam: "Peristiwa pengeroyokon di Tay-pa-san dua puluh tahun yang lalu, kurasa belum kau lupakan bukan?'

Lo-hu-sin-kun melenggong, sebetulnya peristiwa itu pernah membuatnya menyesal, tapi urusan sudah terjadi, cerewet juga tidak ada gunanya, katanya: 'Agaknya kau pimpinan besar Hong-lui-pang, menurut pendapatmu, bagaimana kita selesaikan persoalan lama itu?' 'cara apapun boleh saja, yang terang hari inHarus dibereskan sampai tuntas.' "Betul, Cekak dan gamblang. Baiklah Losiu akan iringi kehendakmu, nah, silakan turun tangan.' lalu dia bergaya dan pasang kuda-kuda,

Liok Kiam-ping tertawa, katanya: 'Selamanya cayhe tidak berani mendahului, silakan serang saja.'

"Baiklah, Losiu bertindak lebih dulu, Lihat serang an.' tangannya merogoh pinggang melolos sebatang ruyung emas berbentuk mulut ikan gurami, sekali sendal ruyung lemas ini menjadi kaku, menutuk lurus kemuka Liok Kiam-ping.

Kejadian hanya sekejap. melolos ruyung menyerang dengan gerakan lincah dilakukan sekaligus. memang tidak malu Lo-hu sin kun sebagai gembong silat yang disegani. Di sinilah letak kecerdikan dan kemahirannya, tadi dia sudah saksikan sendiri betapa hebat ilmu Liok Kiam-ping, pukulannya kokoh kuatjelas sukar dilawan, maka dia menggunakan senjata. pikirnya hendak mengalahkan musuh dengan permainan ruyungnya yang lihay.

Ruyung emasnya ini dibuat khusus dan istimewa, panjangnya ada lima kaki, sebesar buah pir yang keseluruhannya dibuat dari emas murni. Dengan lincah dia menuding sambil menggentak sehingga ujung ruyung emas yang berbentuk seperti mulut ikan mendadak terpentang, mulut yang terpentang iniperanti mengunci atau meng gig it senjata lawan, namunjuga bis a digunakan menutuk hiat-to.

Liok Kiamping tidak kira lawan bersuara seranganpun telah mengancam dirinya, cepatnya tak kalah dari berkelebatnya kilat, terasa sinar emas mengaburkanpandangan, angin menderu sudah mengancam mukanya. Betapa tinggi kepandaian Liok Kiam-ping, tak urung mencelos juga hatinya, lekas dia berjongkok kekanan menghindari tusukan, berbareng tangan kanan merogoh kebelakang melolos cui-le-kiam.

Tenaga dikerahkan pada ujung pedang, sekali gerak Cahayapedang mulur setengah kaki balas menutul kearah lawan- Beg itu tusukan ruyungnya luput, ujung pedang lawan sudah balas menusuk dirinya, lekas tangan kanan menarik, tangan kiri menekan badan ruyung, berbareng turun berputar maka ruyungnya menyamber kepinggang Liok Kiam-ping, gerakan sebat serangan laksana angin puyuh sasaranpun tepat.

Liok Kiam-ping tertawa ringan, kaki menjejak tubuh melambung keudara. sekali jumpalitan tubuhnya anjlok kebelakang Lo-hu-sin-kun. Permainan pedangnya lincah dan enteng. kaki mendesak maju, pedangnya menus uk ci-tong- hiat dipunggung Lo-hu sin-kun.

Dua kali serangan ruyungnya luput, kembali dirinya diancam tusukan dari belakang, lekas Lo-hu-sin-kun kembangkan Hu-kong-king-in-pou, sekali berkelebat dia menyingkir delapan kaki, kini ruyungnya diputar kencang melancarkan Hian-tampian-hoat yang keseluruhnya terdiri sembilan kali sembilan delapan puluh satu jurus. Ruyung emasnya bergerak laksana ular sakti yang hidup terbang diudara menggubat Liok Kiam-ping dengan gemerdep cahaya emasnya.

Liok Kiam- ping membentak sekali, cahaya pedangnya molor lebih panjang lagi satu kaki. diapun kembangkan Ling hi-pou, gerak geriknya setangkas tupai bertompatan kian ke mari diantara samberan ruyung lawan- Dengan ketangkasannya takjarang dia balas menyerang dengan pedang pusakanya, setiap kali dia balas menyerang, Lo hu-sin kunpasti dibuatnya mundur dengan permainan kacau balau.

Yakin dirinya lebih unggul Kiam-ping pusatkan perhatiannya, kini dia bermain santai tapiperbawa serangannya bertambah besar malah. Tiga puluhjurus kemudian, pecah nyali Lo hu-sin-kun, saking kepepet terpaksa dia keluarkan permainan cambuknya yang baru dicipta sendiri bernama Soan-hong pian-hoat (ilmu ruyung angin puyuh) dengan kecepatan luar biasa dia serang Liok Kiam-ping dengan sengit.

Terasa oleh Kiam-ping ruyung lawan seperti berobah ribuan banyaknya, ribuan batang ruyung sekaligus memberondong dari berbagaipenjurusehingga napas terasa sesak. Tahu permainan ruyung lawan sang at lihay, kembali Uok Kiam-ping jejak kaki melejit tinggi, dengan kelincahan tubuhnya, tenaga dalam yang tangguh, cui le-kiam sampai meneorong benderang menyilaukan mata. Dengan Ling- hi-pou Liok Kiam- ping berjalan di udara, maka lawan dicecarnya pontang panting.

Betapapun lihay Lo hu-sin-kun, kapan pernah menghadapi musuh setangguh Liok Kiam ping, terasa mata berkunang- kunang, pandang makin gelap saking silau, hakikatnya dia tidak melihat lagi di mana musuhnya berada. Tapi dengan Hu- kong-king-in-pou yang tunggal juga dalam Bulim, semula dia masih kuat melawan- Tapi limajurus kemudian, tidak demikian keadaannya.

Mendadak Liok Kiam-ping tambah tenaga, perbawa ilmu pedangnyapun berlipat ganda. maka cahaya pedang yang cemerlang berkembang, hawa pedang melingkup gelanggang

Dada Lo-hu-sin-kun betul-betul seperti ditindih benda ribuan kati beratnya, napas sesak gerak gerikpun seperti teri halang, begitu merasa gelagat jelek baru dia sadar dan berteriak kaget dan ngeri. Tapi pedang sudah menabas turun. Ditengah jerit kesakitan yang menyayat hati, lengan kirinya ternyata sudah tertabas buntung tepat dipundaknya, saking kesakitan sekujur badan bergetar, namun dia kertak gigi yang berkerutukan, tubuhnya sempoyongan. Lekas dia tutuk beberapa Hiat-to dipundaknya. Tangan kanan terayun ruyung emasnya segera dia timpuk kearah Liok Kiam-ping. Setelah menimpuk senjatanya sekuat tenaga, lekas dia hilang dari tempat itu. Setelah menabas lengan Lo-hu-sin-kun, terhitung terlampias dendam perguruan, baru saja dia menarik napas setelah kerahkan tenaga nya melancarkan ilmu pedangnya, wajahnya juga pucat dan napaspun ngos-ngosan Begitu ruyung ditimpukan, secara reftek dia miring kan tubuh ke kanan, namun gerakannya kalah cepat, lengan baju kirinya tergores belong.

Jian-li-tok-heng kuatir keadaan Liok Kiam-ping, maka dia tidak mengejar Lo hu-sin-kun yang melarikan ke dalam hutan- Untsung Liok Kiam-ping hanya terlalu banyak menggunakan tenaga, setelah istirahat sejenak tenaganya sudah pulih pula. Kejap lain bersama Jian-li-tok-heng, Ai-pong-sut bertiga mereka meluncur kearah barat hilang dibalik rimbunnya pepohonan.

Tidak lama setelah ketiga orang ini pergi, dari semak rumpus dilereng gunung sana, menongol keluar seraut wajah lebar beralis tebal mulut lebar, setelan celingukan dia berdiri sambil menarik napas lega, pandangannya tertuju kearah Liok Kiam-ping bertiga pergi.

Lakl-laki yang sembunyi disemak rumput ini bukan lain adalah kepala opas kota Un ciu ong An-dian adanya. Dia sudah saksikan sendiri betapa tinggi kepandaian para penyatron malam ini. seluruh jago-jago yang ada dikabupaten tiada yang kuat melawan sejuruspun, apa lagi Lo hu-sin-kun yang menjadi tulang punggungnya sudah buntung dan melarikan diri. namun sejauh ini dirinya sudah menguntit jejak musuh. rasanya enggan putar balik, apa lagi dia punya pedoman keras, kalau tidak berani masuk gua, bagaimana dapat menangkap anak harimau. Maka percaya akan kecerdikan sendiri dia bertekad menguntit jejak musuh. Segera diapun berlari kearah ke mana tadi Liok Kiam ping bertiga pergi.

Satu jam kemudian dia sudah makin tinggi naik gunung  dan berada dipedalaman yang belukar. dilihatnya ketiga bayangan di depan itu masih terus meluncur dengan tangkas dan cepat seenteng burung terbang. Tahu Lwekang Liok Kiam-ping amat tinggi, maka kepala opas ong An-dian tidak berani menguntit terlalu dekat, dia hanya melongok dari kejauhan, ke mana mereka pergi dia terus saja menguntit saja dibelakang.

Waktu itu dia sudah mencapai sebuah puncak dan mulai membelok kearah puncak yang lain- Mendadak sebuah bentakan kereng mengejutkan hatinya: 'Sahabat, tengah malam buta keluyuran diatas pegunungau menguntit orang lagi. kalau tahu diri menyerah saja." Yang menegor adalah Kim-ji-tay beng, begitu melompat mencegat langsung dia hantam kepala orang dengan Kim-soa-ciang.

Kepala opas ong An than adalah murid didikan Kong-tong- pay yang mempunyai kepandaian lumayan, setengah  hidupnya bekerja di kalangan pemerintahan, menjadiopas  atau polisi jaman sekarang, pengalamannya tentang kuntit menguntit jejak orang amat luas, apa lagi kali ini yang dikuntit adalah orang berkepandaian tinggi, maka dia sudah bertindak secara hati-hati, sudah tentu sebelumnya diapun sudah mempersiapkan diri bila dirinya kepergok.

Mendengar bentakan dia sudah berhenti lalu melompat sehingga pukulan lawan luput sambil melompat itulah dia ayun kedua tangannya menimpukkan segenggam pasir hitam kearah tubuh Kim-ji-tay-beng...

Setelah memukul dan luput Kimji-tay-beng sudah slap menubruk pula, mendadak kabut hitam bertaburan didepan matanya. Dia tahu lawan menaburkan senjata rahasia ringan dan lembut sejenis pasir besi beracun lekas dia menjengkang tubuh terus bersalto kebelakang sejauh lima tombak. Tanah berumput dimana tadi dia berdiri seketika mengepulkan asap hitam dan hang us oleh taburan pasir besi yang lihay beracun itu. Karuan tersirap darah Kim-ji tay-beng "Sungguh berbahaya, kurcaci ini tidak boleh diampuni." dengan amarah yang  meluap segera dia menubruk kearah depan, Tapi bayangan lawan sudah tidak kelihatan, dengan penasaran dia masih mencari dan mengobrak-abrik tempat itu, namun musuh sudah ngacir apa boleh buat terpaksa dia kembali ke tempat penjagaannya.

Sementara itu di didalam goa besar, orang banyak duduk bersimpuh diatas tanah, wajah mereka kelihatan prihatin-

Setelah menghela napas, Liok Kiam-ping membuka suara lebih dulu: "Belum lama Hong lui-pang berdiri, tak nyana sudah ada orang yang mengkhianati kita, sehingga terjadilah musibah ini, kejadian ini amat mengecewakan dan  membuatku menyesal sekali."

Selanjutnya Jian-li-tok heng berkata: "Menurut nada pembicaraan mereka, pengkhianat itu adalah anggota di bagian luar.

Suma-Ling-kong berkata: "Markas besar adalah pusatpemerintahan dari organisasi kita, tempat dimana wibawa ditegakkan, disiplin tinggiperaturan ketat. kalau betul ada pengkhianat pasti mudah diketahui, apalagi penguasa setempat sebelum ini tidak tahu, dan ada niat menggerebek kita, maka dapat dibuktikan bahwa pengkhianat itu bukan dari anggota luar di markas besar."

Coh-siang-hwi fh Tian hiong berkata: "Dokumen yang memuat Daftar anggota luar disimpan secara rahasia oleh seorang Thocu,jelas tidak mungkin bocor, dari peristiwa ini dapat dirasakan bahwa tata laksana organisasi kita perlu diadakanperombakan."

Selanjutnya Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay juga akan bicara: "Anggota luar tersebar di beberapa daerah, banyak yang baru didirikan seluruh anggota yang masukj elas sukar diseleksi seCara tuntas, padahal Cabang tersebar luas dimana- mana, lalu dari cabang mana kita harus mulai penyelidikan ini.'

Ai-pong-sut seperti biasa mengerut alisnya yang sudah putih jarang-jarang, katanya:

'Urusan sudah mendesak jikalau diselidiki ulang, jelas temponya tidak keburu, memangnya apa yang bisa kita lakukan sekarang"

'Ucapan Tianglo memang betul,' ucap Liok Kiam-ping. Jikalau hal ini diselidiki dari anggota bagian luar, bukan saja memakan waktu, membuang tenaga, kemungkinan bisa membuat kapiran malah.'

Kim-ji-tay beng berseru: 'Diselidiki tidak bisa, daripada kita duduk berpeluk tangan- kurasa langsung kita luruk ke Kabupaten dan tanya langsung kepada Bupati, seperti orang Sakit, kalau tahu macam apa penyakitnya, dengan mudah kita akan memberikan obatnya baru lebih lanjut kita pikirkan langkah apa yang harus kita lakukan."

P-likjiu ciu Thay keplok tangan, Serunya: "Nah. begitu lebih pantaS. Cara paling mudah juga mudah dilakukan-'

It cu-kiam Koan Yong berkata: "Situasi Cukup mendesak. bagi kita tidak boleh ulur waktu Supaya urusan tidak tertunda dan akibatnya bisa Celaka bagi Hong-lui-pang kita."

Ai-pong-sut berkata lagi: "Kudukung ucapan Sipg tongcu (maksudnya Koan Yong), kamHarus bekerja lebih Cermat dan teliti. sekarang tidak boleh terburu nafsu, lebih penting kita segera bicarakan cara bagaimana kita hadapi persoalan ini lalu mengambil langkah tepat."

Mendadak Jian-li-tok-hang menepuk paha, katanya tegas: "Soal ini tak perlu ditangani dari dalam organisasi kita sendiri, kalau perintah rahasia ini datang dari kota raja, maka kita harus mulai penyelidikan ini darisana, kurasa jalan yang kita tempuh lebih pendek dan tepat mengenai sasaran, hasilnya tentu juga lebih tuntas."

Ginjitay-beng yang diam saja sejak tadi, berseru gusar: "Betul. kalau surat perintah itu datang dari kota raja, mari kita serbu ke kota raja dan hancurkan istana raja."

si gede Siang Wi ternyata tidak mau ketinggalan, dengan gelak tawa diapun berkata:

"Menghancurkan kota raja, hahaha. suruh Baginda menarik tentaranya kan beres. Kalau dia melawan serahkan kepadaku, biar kuhajar pantatnya dengan pentungku ini."

Maka ramailah suasana, semua mengajukan diri untuk menunaikan tugas ini kekota raja. Karena si gede menyebut nama "Baginda", Liok Kiam-ping lantas ingat kejadian yang pernah dialami di kota raja dulu, segera dia bisik-bisik dengan Ai-pong sut, lalu berkata dengan tawa lebar: "Kejadian tak boleh diulur panjang, waktu sudah mendesak biarlah aku sendiri yang pergi ke kota raja. Perjalanan akan disertai Tianglo, maka segala urusan di markas besar kupercayakan kepada para Tongcu untuk mengurusnya. Sebelum mendapat kabar, kuharap tidak terjadi bentrokan langsung dengan pas ukan negeri, bila terpaksa boleh menyingkir saja danpertahankan sisa kekuatan kita yang tak seberapa ini."

Bahwa Liok Kiam-ping akan menempuh perjalanan jauh lagi, karuan Siau Hong gUgup dan gelisah, katanya dengan air mata berlinang: "Ping-koko. kau mau pergi lagi?'

Terpaksa Liok Kiam-ping harus membujuknya, untung Siau Hong cukup dewasa danpandai melihat suasana, kepentingan umum harus diutamakan, maka dia berkata: "Baiklah, kau harus jaga dirimu, hati-hatilah dijalan."

Setelah istirahat Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut bebenah, lalu pamitan dengan orang banyak dari belakang gunung mereka berputar ke utara" Ginkang mereka tinggi berjalan dipegunungan yang beri hutan lebat tidak menjadHalangan bagi mereka. Selama tiga haritiga malam mereka terus melakukanperjalanan, menjelang fajar hari keempat mereka sudah tiba disekitar kota Ling- an.

Ling an adalah ibukota dynasti Song selataan, letaknya dimuara ci-ong-kang, tembok kotanya tinggi lebar, penduduknya padat. pusatperdagangan kehidupan makmur merupakan, kota penting ditenggara kora raa.

Di kota inijuga ada markas Cabang Hong-lui-pang mereka, maka Liok Kiam-ping merasa perlu mencari tahu situasi di kota ini sekaligus mencari informasi tentang anggota mereka yang tercerai berai, meski menyerempet bahaya juga berani dilakukan. Bahwasanya kalangan pemerintah yang ditunjang para opas adalah orang-orang biasa yang tidak pandai silat, maka mereka tidak terpandang dalam hatinya, namun supaya tidak menimbulkan efek yang tidak diinginkan, slang hari itu mereka istirahat diluar kota yang sepi.

Magrib telah tiba, penduduk mulai memasang lentera. cuaca sudah gelap. maka Liok Kiam-ping berdua leluasa mengembangkan Ginkang lewat daerah yang sepi terus meluncur kedalam kota.

Didalam kota amat ramai, ditengah hilir mudiknya pejalan kaki Kiam-ping berdua mencampurkan diri ditengah orang banyak. arahnya kemarkas tentara dikota ini. Markas besartentara kota Ling- an merupakansentralpimpinan daerah pas ukan negeri diwilayah tenggara, maka gedungnya besar dan meg ah serta angker, tiang berdera yang berada dikedua pinggir menjulang tinggi puluhan tombak. Didepan pintu berderet dua baris pasukan berseragam biru tua dengan senjata teri hunus, sikap kereng dada membusung.

Pasukan ronda hilir mudik terdiri beberapa group, Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut menyelinap kesebuah gang kecil yang takjauh letaknya dari markas besar itu, kedok hitam dikenakan sambil memberi tanda mereka berputar kebelakang mengitari tembok tinggi. Baru setengah iingkar mereka meny us uri tembok tinggi, kebetulan dilihatnya dahan pohon besar yang menjorok keluar tembok. Kiam-ping tertawa riang, tanpa janji keduanya melompat tinggi mencapai dahan lalu melompat keataS pohon dan tiba dibagian dalam.

Tembok tinggi itu memagari Sebuah taman besar yang rimbun dan teratur baik. Mereka tidak perhatikan keadaan Sekelilingnya. langSung berlompatan diantara bayang-bayang pohon menuju kesebuah gedung besar berloteng.

Dibawah rimbunnya dedaonan pohon, bayangan orang tampak bergerak, derap langkah mereka amat lembut, Segalanya Serba tegang dan Sunyi. Entah peronda atau petugas jaga, tiada yang bertugas dengan baik, namun Kiam- ping berdua tidak ambil peduli tidak konangan dan menimbulkan keributan terpaksa mereka berputar agakjauh lewat pucuk pohon menyelinap ke balik tembok dengan Ginkang tinggi.

Setengah jam kemudian gedung besar berloteng itu sudah didepan mata. Tinggi gedung loteng ini ada enam tujuh tombak. berdiri gagah dan angker ditengah gelup, seperti raksasa yang hendak menerkam orang saja.

cahaya lilin terang benderang didalam gedung seperti slang hari, bayangan orang bergerak-gerak. sering terdengar suara keras dan lantang. Tanpa banyak pikir Kiam-ping berdua melesat ke kiri kanan dan hinggap dipagar loteng terus mendekam diatas belandar.

Bagi orang biasa, jarak setinggi enam tombak tak mungkin dicapai, tapi bagi Kiam-ping berdua biasa saja, seperti berjalan di tanah lapang, tanpa membuang tenaga. sedikit menutul tubuhnya melesat seperti anakpanah, tangan meraih belandar kakitangan bekerja seperti kera sehingga tubuhnya bergelantung dibawah pohon, setelah membuat lubang dijendela kertas lalu mengintip kedalam. Ternyata itulah ruang kerja yang berukuran sedang saja, perabot serba antik, alas tulis lengkap diatas meja, tapi tiada bayangan seorangpun. Suara percakapan lantang itu berkumandang dari luar kamar sedang ini, agaknya masih ada kamar lain disebelahnya. Demi Hong-lui-pang dan keselamatan para kawan, sebetulnya Liok Kiamping segan masuk kekamar orang, tapi keadaan mendesak. terpaksa dia menyongkel jendela melayang masuk. Selama hid up barupertama kali ini dia menyelundup kekamar orang tanpa idzin, semula hatinya kurang tentram tapi lekas dia tekan perasaannya..

Dengan berindap dia menuju kebelakang pintu, perlahan dia menarikpintu hingga terbuka segaris serta mengintip keluar, diluar adalah serambi lebar, kanan kiri diapit kamar, kemungkinan kamar- kamar kerja daripara menteri. Suara percakapan kumandang dari salah satu kamar ditengah serambi sana.

Melihat sekitarnya tiada orang, sekali berkelebat Liok Kiam- ping meluncur kearah datangnya suara. Gerak geriknya memang enteng seperti barung walet, sekali berkelebat lantas lenyap. Dengan cerdik Kiam-ping memasuki sebuah kamar kecil disamping kamar besar ditengah, dari kamar kecil ini ada jendela penghuhung dipajangi Vas bunga kembang.. dari balik Vas kembang inilah Liok Kiam-ping mengintip kekamar sebelah.

Dalam ruang besar ini terdapat sebuah meja tinggi besar, dibelakang meja duduk lima orang yang tampangnya miripperwira tinggil usianya rata sekitar lima puluh lebih. Disebelah bawah lagi duduk dua baris yang berdiri belasanperwira kelas rendah,jadi bentuk meja duduk mereka mirip leter "T", kelihatanperundingan sedang berjalan.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).