Hong Lui Bun Jilid 26

Jilid 26

Kabarnya lima aliran besar yang lain sudah setuju adanya gagasan ini, secara diam-diam mereka juga sudah menyiapkan diri, mengundang berbagai pihak untuk menyergap dan menggeroyok secara bergiliran, bila rencara sudah matang akan langsung menyerbu ke Kwi-hun-ceng dan merebut markas Honglui-pang."

Mendengar lima partai besar juga setuju melakukan perbuatan yang melanggar kebenaran hendak menyerbu ke markas besar, bukan kepalang gusar Ai-pong-sut, bentaknya 'Apa betul keteranganmu. '

Mendelik laki laki tinggi, katanya: 'Lohu salah seorang Huhoat dari ham-ping-kiong, dikalangan Kangouw terhitung seorang tokoh ternama, sampai di sini saja  keteranganku, mau percaya atau tidak terserah, kalau masih curiga boleh kau menyiksaku lagi, Lohu tak kan bicara lagi." "

Sikap keras- kepala orang malah menimbulkan rasa simpati Ai-pong sut kepadanya katanya dengan sikap sungguh- sungguh: 'Saudara jangan salah paham, persoalan yang menyangkut keruntuhan bulim begini kedengarannya amat menusuk perasaan- Baiklah hal ini kesampingkan dulu, namun sebagai musuh yang berhadapan, terpaksa aku harus bikin susah kau lebin lama lagi, kuharap selanjutnya kau bisa membedakan baik dan buruk, jangan membantu kejahatan lagi, mengasingkan diri lebih baik untuk kelanjutan hidup tuamu.' lalu dia tutuk pula beberapa Hiat-to ditubuh orang serta menambahkan, 'tutukanku ini khusus, dalam lima tahun jangan kau menggunakan banyak tenaga, akibatnya bisa membuat urat nadimu pecah dan jiwa takkan tertolong. Lima tahun kemudian akan sembuh sendirinya, dalam jangka lima tahun ini jangan kau berusaha mengobati sendiri, akibatnya biaa lebih fatal. Baiklah saudara sekarang boleh silakan.'

Laki-laki kurus tinggi menghela napas:

'Tak nyana Tiang pekssiang-boan dapat berkenalan dengan sahabat seperti dirimu sebelum insyaf akan perbuatannya, baiklah selama-gunung tetap menghijau, air terus mengalir, kelak kita bertemu lagi.' lalu dengan tertatih-tatih dia merangkak berdiri lalu melompat keluar dengan langkah berat, kejap lain bayangannya telah lenyap ditelan kegelapan-

Baru sekarang Ai-pong-sut teringat bahwa laki-laki kurus ini adalah Siu-boan Beng Liang, sementara laki-laki gendut itu pasti Pui-boan Bun Tie- hiong. Sudah lama kedua orang ini angkat nama, kungfu mereka berbeda dan memiliki keunggulannya sendiri. Tak nyana mereka juga dirangkul oleh Hamping-kiong, dari sini dapat dibayangkan bahwa jago-jago kosen lainnya juga pasti, juga amat tinggi bukan dari golongan rendah.

Baru saja Ai-pong-sut hendak melompat keluar dari lobang dibawah batu. Mendadak di dengarnya suara Ham-ping- leng- mo dikejauhan: "Bun-huhoat, sebetulnya berapa jauh tempat kejadian tadi, kenapa hanya sekejap bayangan mereka sudah lenyap, apa kau tidak salah arah."

Pu boan BunTlo-bong berkata serak:

"Kiong cu jangan kuatir, tadi memang betul di sini, pasti tidak keliru, mungkin lawan mendengar suitan Kiong-cu lalu lari menyembunyikan diri disekitar sini.'

Ham-ping- long- mo mendengus, katanya: 'Lekas bncar dan geledah tempat ini, jangan biarkan dia lolos."

Pui-boan mengiakan- Maka langkah kaki berpencar ke berbagaipenjuru, suaranya jelas makin mendekat.

Karuan Ai-pong-sut berkeringat dingin, hatinya gugup, pikirnya: "Tenagaku seorang pasti bukan tandingan Ham-ping- leng-mo, apalagi dikeroyok Puboan Bun Tlo-hiong pasti tak kuat aku melawan mereka."

"Sebetulnya seorang gagah tak mau dirugikan didepan mata, tapi dalam situasi. yang mendesak begini, jalan mundur buntu, didepan ada musuh tangguh, jejakku pasti konangan, lebih baik aku menyingkir saja secara untung untungan Yam- yan-tam sudah kusiapkan, bila perlu bisa digunakan. Sedikitnya seorang lawan harus kurobohkan lebih dulu." sambil merogoh keluar kedua pelornya dia menggeremet keluar mendekam dipinggir lobang siap bertindak bila musuh muncul.

Ham-ping leng mo bersama Pui-boanBunTlo hiong berjajar sedang memeriksa sekitar dinding gunung dan kebetulan tiba, didepan mulut lobang. Ai-pong-sut mengincar dengan tepat, tanpa suara mendadak dia ayun tangan, dua jalur sinar hitam melesat bagai panah kearah kedua orang ini.

Lwekang Ham- ping-leng-mo amat tinggi, mendengar angin menderu dia tahu ada orang membokong, ditengah jengek tawanya, lengan baju kanan mengebut, timbullah serangkum angin puyuh membelit kedua sinar hitam itu.

Lekas Ai-pong-sut ulur tangan kiri serta menariknya sekuat tenaga, syukur kedua pelornya masih sempat ditariknya. Tapi keringat dingin sudah membasahi tengkuknya. Tapi pelor yang lain masih tetap menyerang kearah Pui boanBun Tlo hiong.

Melihat sanjata rahasia menyambar tiba, jelas Bun Tlo- hiong berkelit kepinggir, baru saja hendak balas menyerang, ternyata senjata rahasia musuh yang sudah menyambar lewat putar balik ikut membelok kekanan. "Duk" dengan telak pundak kirinya terpukul, tulang pundaknya remuk ditengah jeritannya dia terjungkal roboh sambil menggigil kesakitan-

Dihadapannya lawan mampu melukai salah seorang Huhoatnya, sungguh penasaran dan bukan kepalang gusar Ham- ping- leng- mo. Mendadak dia mendesak maju selangkah, tenaga disalurkan sepenuh dikedua tangan terus menggempur kemulut lobang. Betapa dahsyat kekuatan pukulan iblis tua ini, tampak gumpalan angin badai bergolak sehingga selebar mulut lobang tersumbat. "Blum" ditengah ledakan yang menggetarkan, batu besar diatas lobang itu tergempur hancur dan runtuh menyumbat mulut lobang. Ditengah taburan tanah dan batu, bayangan lawan ternyata tidak kelihatan.

Tengah Ham-ping- leng- mo berdiri bingung dan curiga, mendadak disisi kiri didengarnya seorang bergelak tawa serta berkata lantang: "Buat apa marah sebesar ini. Batu tak berdosa kau pukul sampai Hancur, kelihatannya kau memang perusak nomor wahid didunia ini. Ampun, ampun."

Setelah menimpukan kedua pelornya, mumpung lawan berkelit tadi diam-diam Ai-pong-sut sudah menyelinap keluar. Karena dia me ng god a dan mencemooh, karuan makin berkobar ama rah Ham-ping- leng- mo, alia berdiri jenggot bertebaran, matanya melotot, mendadak dia memba lik sambil kirim pukulan pula kearah Ai-pong-sut.

Setelah bersuara Ai-pong-sut segera menyingkir, maka disaat pukulan Ham-ping-leng-mo menerjang tiba, dia sudah setombak lebih jauhnya diaebelah kanan.

Kembali terjadi ledakan keras diaertai batu danpasir muncrat kemana-mana. Batu cadas di mana tadi Ai-pong-sut bersembunyi telah dipukulnya pecah menjadi beberapa potong. Hati Ai-pong-sut bersyukur dirinya lolos dari elmaut, namun mulutnya masih usil.

"Buat apa ngamuk. Lohu masih banyak urusan tiada tempo meladanimu, sementara kutitip batok kepalamu. Selamat bertemu." tanpa menunggu reaksi lawan, dia bersiul panjang terus melompat jauh kedepan-

Baru saja siulannya berbunyi, dari arah depan takjauh di sana tahu-tahu mendapat sahutap siulan yang lebih keras seperti menjulang ke langit. Mendangar sahutan suitan nyaring ini bersorak Ai-.pong-sut dalam hati dia tahu bahwa Liok -Kiam-ping sudah berhasil menyembuhkan luka-luka dalamnya. Segera dia tancap gas berlari kearah datangnya suitan.

Ham-ping-leng-mo sudah kebacut marah, mana dia berpeluk tangan membiarkan lawan lari, dengan kesebatannya tubuhnya berkelebat bagai segumpal asap mengejar dengan kencang. Lwekang iblis tua ini amat tangguh betapapun tinggi Ginkang Ai-pong- sut, mana mampu larijauh, hanya beberapa kali lompat berjangkit, dia sudah melayang jauh ke depan Ai- pong-slut serta mencegat didepannya.

Melihat lawan mampu mencegat jalannya, Ai-pong-sut juga tidak banyak bicara, sambil kertak gigi dia ayun kedua tangan menimpukkan kedua pelor besinya. Padahaljarak amat dekat, kedua pelor itu ditimpukkan secara mendadak lagi, betapapun tinggi Lwekang iblis tua ini takkan mampu llos. Tapi kenyataan berbeda, baru saja pelor besi ditimpukan, iblis tua itu sudah melompat minggir setombak lebih jauhnya.

Ai-pong-sutjuga tidak memberi kesempatan lawan, begitu pelornya luput segera dia menggentak tangan memutar lengan, seperti benda hidup saja, kedua pelornya itu terkendali dengan baik, membelok arah terus mengejar kearah bayangan Ham-ping-lengmo Kali ini Ai-pong-sut keluarkan seluruh kemampuannya, maka kedua pelornya itu menderu kencang laksana kilat menyambar. Tapi Lwekang Ham-ping-leng-mo memang luar biasa dan mengejutkan, mendangar pelor lawan mengejar dibelakang, diam-diam dia kerahkan tenaga dikedua lengan, sedikit menutul tubuh terapung sambil membalik, kedua lengan baju dikebut menangkia kedua pelor. Thi-sin-sin-kang yang melancarkan ini mengandang tenaga ribuan kati, betapa dahsyat luncuran kedua pelor besi, ternyata berhasil dikebutnya mumbul beberapa kaki lebih tinggi.

Hampir saja Ai-pong sut tidak kuasa mengendalikan kedua pelornya, lekas dia menggapai tangan menarik balik kedua pelornya. Tengah mencari akal bagaimana meloloskan diri dari lib atan musuh. Deru angin keras tahu-tahu sudah menindih tiba. Terutama hawa dingin yang teramat ganas telah melanda tiba lebih dulu.

Ai-pong-sut tahu Ham-ping-ciang iblis tua ini teramat dahsyat bila kurang cermat menghadapi, salah-salah biaa celaka dirinya. otak bekerja kaki tak berhenti, sekuatnya dia kembangkan kelincahan tubuhnya, bagai kilat beruntun dia melompat kekiri kanan sejauh dua tombak, Syukur jiwanya Selamat. Namun napas Sedikit Sesak tubuh agak kedinginan.

Melihat pukulan kedua tangannya luput lagi Ham-ping leng- mo makin gusar, kedua lengan berputar Satu lingkar lalu digentak pula kedepan, kini kekuatannya dipusatkan pada Sejalur arus dingin menggulung kearah Ai-pong-sut. Perbawa pukulan kali ini berlipat lebih hebat dari pukulan yang terdahulu.

Sudah tentu Ai-pong-sut tidak berani ayal, lekas dia kembangkan gerak langkah berantai untuk menyelamatkan jiwa, selicin belut dia berkiaar kian kemari melesat minggir.

Makin besar gusar Ham-ping-leng-mo, sambil menghardik kalap kedua tangannya menepuk kearah Ai-pong-sut Thong cau. Pada hal Ai-pong-sut Thong cau sudah kerahkan seluruh kekuatannya baru berhasil menyelamatkan diri dari rangsakan lawan, rasa kejut belum hilang, serangan dahsyat sudah menindih tiba pula. Mau menyingkir sudah terlambat, terpaksa dia mengelak pukulan telak lalu melontarkan pukulan menangkis srempetan angin pukulan lawan- Sebat sekali dia melejit kepinggir, kedua tangan mengerahkan setaker tenaganya sambil kertak gigi memukul kearah angin pukulan lawan yang menderu ketubuhnya.

Ditengah ledakan dahsyat tampak tubuh Ai-pong-sut Thong cau menggelundang jatuh seperti bola lima kaki jauhnya, darah mendidih dirongga dadanya, tubuhnyapun menggigil kedinginan- Dia insaf Ham-ping ciang amat kuat dan jahat, lekas dia kerahkan hawa murni, Syukur darah yang bergolak berhasil ditekan dan dilancarkan kembali, diam-diam hatinya girang karena dirinya tidak terluka Sedikitpun.

Mendadak didengarnya iblis tua membentak keras pula, kedua tangannya terjulur lurus kedepan, kabut putih merembes keluar dari telapak tangannya, tubuh bagian atas melengkung maju, otot hijau dijidatnya tampak merongkol, uap putih tampak mengepul dibatok kepalanya. Kejap lain iblis tua menggentar kedua tangan. duajalur kabut putih menerjang keluar dari kedua telapak tangannya.

Ai-pong-sut sadar bahwa Ham-ping-leng-mo sudah menyerahkan Hian-ping im-sat yang jahat beracun. Lekas dia kembangkan pula kelincahan tubuhnya berlari sipat kuping. Tak nyana gerakannya yang cukup kencang itu masih diungguli kecepatan lawan- Baru saja tubuhnya meluncur kedepan, tiba-tiba bayangan orang berkelebat didepan, kembali Hamping-leng-mo sudah mencegat didepan- Terasa, damparan arus dingin dantajam mengiria kulit sudah mengurung dirinya. Jelas kali ini dia tidak akan selamat dari. serangan Hianping-im sat. Untunglah pada detik yang genting itu, dari a rah samping mengh embus pula sejalur hawa hangat, berbareng bayangan putih berkelebat didepan mata, hawa dingin seketika sirna sepecti es batu ketimpah sinar mentari, tahu-tahu Liok Kiam- ping sudah berdiri ditengah arena, wajahnya tampak kereng gagah menatap iblis tua.

Seperti diketahui Hawa dingin dari pukulan IHian-ping- im- sat sudah meresap ketubuh dan urat nadi Liok Kiam-ping, kalau orang lain tentu jiwanya sudah ajal, Tapi Liok Kiam-ping berulang kali mengalami periatiwa aneh yang menguntungkan dirinya, bukan saja ilmu pengobatan sudah tinggi meski keadaan dirinya sudah dalam sekarat terkena racun dingin- namun diam-diam dia kerahkan Kui-sik tay-hoat, sekuat tenaga dia menutuk urat nadi yang menembus keotak sehingga hawa dingin beracun itu terbendang sampai dileher.

Waktu Ai-pong-sut membawanya kedalam lobang pohon serta memberi Soat-lian dan menyalurkan kekuatan hawa murni sehingga kasiat obat bekerja, segera dia samadi menyalurkan kekuatan tenaga dalamnya mengusir hawa dingin yang menggangu tubuhnya, sementara itu Ai-pong-sot memancing Tiang-pekssiang-boan ketempat lain-

Dalam jangka setanakan nasi lamanya Liok Kiam-ping harus berjuang mati-matian mengusir hawa dingin beracun dari tubuhnya, untung dia menelan Soat-lian kadar racun telah punah hawa dinginpun menguap keluar menjadi kabut putih yang bergulung-gulung diatas kepalanya, lambat laun wajahnya yang semula putih makin bersemu merah dan akhirnya segar kembali. Akhir kali dia hanyutkan tenaga dalamnya keseluruh badan siaa racun dalam tubuhnya menguap lewat pori-pori menjadi keringat. Setelah tenaga murni putar balik kedalam pusar terhitung dia selesai menyembuhkan diri, baru saja dia berniat melompat turun. Mendadak didangarnya siulan panjang yang menusuk kuping dari arah ngarai pendek sana. Mendangak siulan itu dia tahu bahwa Aipong-sut sedang menghadapi bahaya, maka tanpa ayal segera dia kerahkan hawa murni serta ditekannya keluar tenggorokan menjadi siulan keras mengalun tinggi keudara hingga terdangar cukupjauh. bagai selarik bayangan panah dia melesat kearah ngarai. cepat sekali dia sudah tiba ditujuan dan kebetulan menolong Aipong-sut dari bahaya Hiam-ping- im-s at.

Liok Kiam-ping kerahkan Kith-kong-put-hoay sin-kang mendesak pergi kekuatan hawa dingin Hian-ping-im-sat. Sedetik Kiam-ping tiba terlambat, Ai-pong-sut tentu sudah binasa oleh serangan iblis tua.

Setelah pukulan lawan sirna, Liok Kiam-ping sempat menoleh dan bertanya: "Bagaimana keadaan Tianglo sekarang?"

Melihat Liok Kiam-ping telah tiba segera Ai-pong-sui melompat berdiri, serunya bergelak tawa: "Tidak apa-apa, Losiu masih kuat menahannya. "

Ham ping-leng-mo sendiri merinding dibuatnya, batinnya: "Entah setan atau manusia bocah keparat ini, jelas tadi dia terpukul oleh Hian-ping im sat, tanpa obat buatan sendiri tak mungkin sembuh, kenapa keadaan segar bugar malah."

Tengah iblis tua ini berdiri melenggong Liok Kiam-ping maju dua langkah, katanya dingin: "Hian ping-im-sat sudah kurasakan kelihayannya, ternyata hanya begini saja, kau masih punya ilmu jahat apa lagi, boleh keluarkan saja, malam ini kami Harus membereskan pertikaian ini." dengan tajam dia tatap iblis tua.

Mengkirik bulu kuduk Ham-ping-leng mo melihat Liok Kiam- ping muncul dihadapannya tanpa kurang suatu apa, padahal Hianping- im-sat merupakan ilmu pukulan jahat yang paling dia andalkan sebagai modal gerakannya, ternyata terhadap bocah yang satu ini tak manjur, belum ada dua jam pukulan yang mengenai tubuhnya sudah dipunahkan- Entah bocah ini tumbuh dari otot kawat balung besi atau sebagai robot baja.

Tapi kenyataan dia adalah manusia biasa, terdiri dari darah daging pula, barusan juga dia saksikan sendiri orang terhuyung melarikan diri, walau dibopong lari situa keparat itu, pukulan beracun dingin itu jelas meresap ketubuhnya, kini dia menjublak di tempatnya, benaknya tak habis mengerti, sehingga pertanyaannya Liok Kiam-ping seperti tidak didangarnya.

Setelah dia beradu pandang dengan Liok- Kiam-ping baru dia tersentak sadar.

Padahal sebagai gembong iblis yang disegani dalam Bulim kapan dia pernah bersikap linglung seperti barusan, melihat rona muka Liok Kiam-ping yang serius Jantungnya berdebar keras, tapi tak malu dia sebagai gembong iblis yang munafik, segera dia merobah sikap. serunya bergelak tawa: "Kau baru saja lolos dari telapak tanganku, syukur kau telah muncul, agaknya belum kapok, biar sekarang kuantar jiwamu ke akhirat." pelahan dia menggerakan kedua tangan sambil menghimpun delapan bagian tenaganya terus mendera kearah Liok Kiam-ping.

Latihan Lwekang Ham-ping-leng-mo sudah lebih dari enampuluh tahun, tokoh Bulim paling top sekarang yang berani melawan sekali pukulannya beberapa gelintir saja. Maka Hanya delapan bagian tenaganya, namun perbawanya sudah mengejutkan. Damparan angin pukulannya menggulung dahsyat seperti amukan badai saiju.

Liok Kiam-ping tidak menduga lawan melontarkan pukulan tanpa memberi peringatan lebih dulu. Menangkis pukulan lawan sudah terlambat, lekas dia menyingkir delapan kaki kepinggir. Pukulan mengenai batu cadas dibelakangnya sehingga menimbulkan ledakan dan getaran dahsyat. Rasa benci terbayang dikedua alis Liok Kiam-ping, tangan sudah dilandasi kekuatan siap menyerang, katanya menyeringai dingin:

"Siapa nyana gembong iblis terbesar aliran sesat yang kenamaan juga pandai membokong, nah sambutlah pukulanku." perlahan dia menepuk kedua telapak tangannya, serangkum tenaga lunak mendorong kedepan- Semula seperti tiada terjadi apa apa.

Karuan Ham-ping-leng-mo keheranan:

"Mungkin bocah ini main licik" secara tak acuh dia seenaknya saja dia tepukan sebelah tangannya menyongsong gerakan Liok Kiam-ping.

Tak nyana begitu dua pukulan saling beradu, tenaga pukulan Liok Kiam-ping ternyata bertambah makin kuat, terpaksa Ham-ping-leng-mo gerakan kedua tangannya sambil menambah kekuatan pula, namun gempurannya ternyata sirna. Padahal tenaga Liok Kiam-ping makin besar.

Ternyata Liok Kiam-ping menggunakan daya tempel, pertama dia sedot kekuatan lawan serta dipunahkan lalu mengerahkan tenvaga getaran menambah kekuatan pukulan send iri untuk menekan lawan-

Ham-ping-leng-mo segera tahu gelagat yang tidak menguntungkan ini, lekas dia kerahkan setaker tenaganya dikedua lengan, diapikir dengan enampuluh tahun latihan Lwekangnya siap mengadu pukulan dengan Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping sudah merasakan kekuatan musuh amat hebat, bila dia sibuk melawan, daya tempel susah dikembangkan lekas dia kerahkan tenaga dalam dipusatkan dipusar, kedua lengan mendadak menggentak keluar. Timbullah amukan angin pukulan yang melanda kedepan-

Betapa besar keyakinan Ham-ping-lengmo terhadap kemampuan sendiri. melihat serangan orang dia lantas tahu bahwa lawan sudah menyerang dengan seluruh kekuatannya. Mana dia berani ayal, ditengah gerungan geram diapun kerahkan seluruh kekuatannya menepuk serangan lawan-

Gempuran dahsyat kedua pihak kembali beradu. Ledakan dahsyat menimbulkan pusaran angin lesus seperti tonggak raksasa membumbung tinggi keudara, hawa sekitar gelanggang seperti bergolak hingga menimbulkan deru yang ribut, batu kerikil berlompatan, debu membumbung tinggi keangkaSa.

Lenyap Suara ledakan tampak Ham-ping-leng-mo menyurut Selangkah kebelakang, jantungnya. berdetak lebih berat. Sementara Liok Kiamping hanya limbung sedikit saja.

Sebagai orang tua dikalahkan anak muda, sudah tentu tak terlampias amarah dan dangkol Ham-ping leng-mo. Benci dan dendam bergelut dalam hatinya sehingga membakar sifat liarnya. Sambil meraung gusar dia kerahkan dua belas bagian tenaganya menggempur pula pada Liok Kiam-ping.

Karena lawan memiliki kekuatan tangguh, merupakan lawan yang jarang dihadapi, maka Liok Kiamping mengobarkan semangat tempur, waspada dan siaga pula, kedua tangannya juga menyerang sekuat tenaga.

Seng-si-koan Liok Kiam-ping sudah tembus, kasiat Kiu-yat- lan-ci menambah besar tenaganya pula, maka tenaga dalamnya tak pernah terkuras habis, seperti sumber air saja terus mengalir keluar.

Betapapun tinggi latihan Ham-ping-leng-mo takkan kuat mengisi tenaganya terus menerus maka dalam gebrak permulaan ini, dia sudah kelihatan dipihak yang asor.

Setelah terjadi ledakan dahsyat pula, tampak tubuh Ham- ping-leng-mo yang tinggi besar itu terlempar lima kaki jauhnya. dadanya tampak turun naik dengan keras, darah hampir saja menyembur dari mulutnya. Untung Lwekangnya tinggi. sedikit kerahkan hawa murni pulihlah keadaannya. Tapi dia berdiri menjublek oleh perbawa pukulan Liok Kiam ping.

Berhasil mengalahkan lawan gairah semangat tempur Liok Kiam-ping, lawan tidak diberi kesempatan ganti napas. Sambil menggerung rend ah dia mendesak dua langkah, dua tangan beruntun bergerak. sekaligus dia lontarkan tiga belas jurus pukulan.

Sekali bentrok Ham-ping-leng-mo dipukul mencelat mundur, kali ini mana berani dia menangkia, lekas dia kembangkan keliucahan gerak kakinya yang ajaib, berkiaar sambil berputar menyingkir, tubuhnya selincah burung camar mengarungi gelombang samudra. dan tak mau roboh meski keterjang ombak. tubuhnya selulup diantara samberan bayangan pukulan, sekaligus dia balas menyerang denganJai- giok-ciang sebanyak sebelas jurus.

Liok Kiam-ping kembangkan Leng-hi-pou-hoat sampai puncaknya, tubuhnya melayang bagai asap. jago kosen sekalipun juga sukar mengikuti gerak geriknya.Jadi kedua pihak lama bergerak cepat dan menyerang secara kilat, tipu lawan tipu, jurus menandingi jurus, seranngan datang dari posisi dan a rah yang tak mungkin dilakukan orang biasa.

Pertandingan jago kosen umumnya hanya mengadu kecepatan dan bagusnya tipu serangan, setiapjurus tak boleh dilancarkan sepenuh hati, begitu melihat lawan siap menyambut atau menangkis serangan, segera harus merobah dengan serangan lain, maka kedua bayangan mereka mundur maju, berkutet lalu berpencar, kelihatannya seperti dua bayangan kelabu s a ling gubat menjadi rangkaian rantai yang mengambang diudara. Hakikatnya sulit diikuti pandengan mata bagaimana mereka turun tangan.

Bahwasannya mereka menggunakan ilmu tingkat tinggi yang serba gaib, cepatnya gerakkan laksana kilat dengan tipu- tipu yang mematikan lawan, perbawanya laksana gugur gunung, maka lima tombak sekeliling gelanggang ditaburi debu dan daon-daon kering, hawa tertekan dan terkekang hingga menimbulkan suara letupan lirih.

Pertempuran kali ini memang berlangsung secara mengejutkan, sekejap saja seratus jurus telah dicapai. Satupihak berjuang demi mencaci bersih dan menegakkan nama perguruan, menuntut balas dendam leluhur. Pihak lawannya bertempur demi mempertahankan gengsi ratusan tahun sebagai gembeng ibits dari aliran sesat.

Makin bertarung makin sengit, makin kaiap dan beringas, akhirnya bayangan mereka tidak kelihatan lagi.

Mendadak "Blang" bayangan kedua orang tampak terpental mundur.

Bolamata Liok Kiam-ping setajam api las menatap lawannya. Rambut ubanan Ham-ping-leng- mo tampak awut- awutan, mukanya beringas, dadanya turun naik, mungkin dalam adupukulan barusan, tidak kecil kerugiannya, rasa benci dan penasaran menggejolak seperti ingin menelan Liok Kiam- ping bulat-bulat. Kekalahan inijustru membakar sifat buas dan liarnya. Lwekang dikerahkan, suara bentakan dilontarkan oleh dorongan tenaga pusar, begitu kedua lengan membundar, dengan kaiap dia menepuk kearah Liok Kiam-ping. Arus besar laksana letusan gunung melanda dengan amukan dahsyat.

Walau berulang kali mendapat rejeki besar, Lwekang Liok Kiam-ping sekarang sudah maju pesat dantangguh, namun menghadap arus pukulan sehebat ini baru pertama kali ini, maka dia tidak berani lena sedikitpun. Maka tenaga murni yang sudah dipersiapkan segera dilontarkan melalui kedua telapak tangannya yang menyongsong pukulan musuh. Pukulannya ini bukan keras dan deras, namun sebaliknya lunak dan lembut.

Kelihatannya daya pukulannya itu lunak tak bertenaga, namun begitu kedua pukulan saling bentur, ternyata timbul daya tahan yang kuat, ulet dan mengandung daya tolak yang kokoh menahan arus pukulan lawan-

Setelah terjadi ledakan dahsyat yang menggoncang bumipula, arus hawa berputar keras yang meliputi setombak luasnya bergulung-gulung membumbung makin tinggi keangkasa, pinggir arus berputar itu mengeluarkan suara gesekan yangmenusuk telinga..

Tertolak oleh daya membal benturan keras ini Ha m-ping- leng-mo tergetar mundur satu langkah baru berdiritegakpula, tubuh Liok Kiam-ping hanya bergontai sekali.

lblis tua itu tahu bahwa tenaga dalamnya kalah dibanding lawan, meski dirinya mengumbar sifat liar dan kejamnya, ternyata tak berani mengadu kekuatan lagi. Tapi umpama sudah kebacut naik kepunggung harimau, memangnya apa yang bisa dia lakukan kalau tidak bertempur mati-matian, sekilas dia menenangkan pikiran, akhirnva dia bertekad bulat, diam-diam Hian-ping-im-sat dikerahkanpula, dia sudah berkeputusan mengadu jiwa pada gebrak terakhir, dengan Liok Kiam-ping.

Hati Liok Kiam-ping lega bahwa dirinya tetap lebih unggut sedikit, dilihatnya bola mata lawan jelilatan, wajahnya menampilkan rona serius, maka dia tahu saking malu iblis tua ini gusar dan hendak mengamuk. akan melontarkan serangan jahat yang terakhbir, maka diapun sudah kerahkan Kim-kong- put-hoay-sin-kang siap-siaga.

Dalam sekejap tubuh Ha m-ping-leng mo sudah dibungkus oleh kabut putih, kedua telapak tangannya dari merah berobah putih seperti es, mengkilap dan tembus cahaya, ditengah gerungannya, dua jalur as ap putih sebesarpipa ledang timbul dari telapak tangannya melesat dengan kecepatan yang makin kuat. Lima kaki menjelang mengenai tubuh Liok Kiam-ping, ternyata daya luncurannya makin keras lagi seperti kilat cepatnya. Untung Liok Kiam-ping sudah siap. kalau menghadapi serangan mendadak sekeras ini, hendak kerahkan tenaga menangkis juga mungkin terlambat. Tap itak pernah terbayang olehnya bahwa Ham-ping leng-mo membekal lwekang sehebat ini. padahal Hian-ping-im sat adalah sejenis ilmu yang sukar diyakinkan dan berbahaya bagi yang meyakinkan, tapi olehnya berhasil dilatihnya hingga mencapai taraf yang setinggi ini, Karena serangan memang teramat hebat, meski sudah mengerahkan ilmu sakti melindungi tubuh, sedikitpun dia tidak berani lena, selturuh perhatian dia curahkan untuk menghbadapi serangan lawan sambil balas menyerang..

Dengan desing suara yang melengking tajam dua jalur arus putih itu meluncur ke depan Liok Kiam-ping namun dalamjarak dua kaki, seperti tertahan oleh dinding baja yang tidak kelihatan, asap yang bulat berputar ituseketika buyar berpencar keempat penjuru, sirna tak berbekas.

Ham-ping-leng- mo tahu Liok Kiam-ping memiliki ilmu sakti pelindung badan, namun dia yakin Hian-pin-im-sat adalah ilmu sesat yang paling ganas didunia ini, apalagi ilmu Sakti pelindUng tubuh bekerja mengandal tenaga latihan yang dipupuk secara kokoh dari dasar permulaan, sedikitpun tidak boleh dipaksakan, apalagi mengingat usia lawan masih muda, apapun takkan kuat menahan damparan serangan sekuat tenaga darinya yang bertubi-tubi. Diam-diam hatinya lega dan keyakinan makin berkobarpula.

Maju selangkah pula dia kerahkan pula tenaga menambah dua bagian pukulannya. Maka jalur asap yang semula sebesar pipa ledang kini tambah besar lagi dalam sekejap seiring dengan geraknya maju selangkah, jalur asap itu juga mendesak satu kaki lebih dekat ketubuh lawan.

Liok Kiam-ping sudah tahu iblis tua ini bertekad adu kekuatan dan melontarkan serangan terakhir sebelum tenaga habis, Iekas dia konsentrasikan segala pikiran dan semangat, tenaga dikerahkan pula untuk melandasi pertahanan ilmu saktinya sambil berusaha mencari akal bagaimana mematahkan serancan musuh.

Hian-ping-im-sat sudah dilancarkan menurut kemampuan Ham- ping- leng- mo. kedua telapak tangannya ganti berganti menggempur, hawa putih yang remang-remang itu bergolak mengurung dua kaki disekitar tubuh Liok Kiam-ping.

Sambil melawan Liok Kiam-ping membatin: "Adu kekuatan tenaga dalam yang diyakinkan secara gaib seperti ini sedikitpun tidak boleh mengharap keuntungan, tapi Harus betul-betul berdasarkan ketrampilan yang ada, iblis tua ini tidak segan menguras seluruh kesaktiannya ingin adu jiwa dengan aku, berapa lama dia kuat bertahan dalam mengerahkan tenaga simpanannya, akhirnya juga pasti kewalahan sendiri, lebih baik aku bertahan secara ketat saja, bila ada kesempatan baru balas menyerang." maka perhatiannya dia tumplek untuk mengembangkan ilmu saktinya.

Satu jam kemudian, tepukan kedua tangan iblis tua ternyata makin kendor sendiri kelihatannya gerak tangannya tidakpernah kendur, tapi setiap harus ganti napas maka pukulannya sudah kelihatan berat.

Setengah jam lagi, bukan saja tepukan kedua tangannya kelihatan berat, malah kelihatan gemetar pula, namun dia tetap kertak gigi menyerang dengan sengit.

Melihat waktunya sudah tiba, senakin tebal keyakinannya, tenaga tetap disalurkan melawan serangan lawan- Beberapa kejap lagi perbawa serangan Hian-ping-im-sat iblis tua itu sudah makin lemah, hawa putih yang bergolak itu juga makin buyar, kecepatannya juga menurun.

Kini tiba lah saatnya Liok Kiam-ping tidak menunda waktu lagi, segera dikerahkan seluruh kekuatannya. Kim-kong-put- hoay-sinkang bekerja maksimal, tiga langkah dia mendesak maju sehingga tekanan hawa putih dari pukulan lawan terdesak mundur dan buyar lebih cepat.

Didesak oleh aksi Liok Kiam-ping yang mendadak ini, Ham- ping-leng- mo menjadi kelabakan dan mundur pontang panting, sekuat tenaga dia bertahan sehingga kedua kakinya amblas tiga dim kedalam tanah, sekujur badan menggigil, keadaannya sudah amat berbahaya. 

Disaat Liok Kiam ping angkat tangan memukul ke arah lawan dengan sekuat tenaga, tampak segumpal angin deras laksana badai menerjang iblis tua. Padahal Ham-ping leng-mo sudah tidak punya tenaga ak mampu melawan,jelasjiwanya bakal amblas oleh pukulan hebat ini.

Pada saat genting itulah, lambaian pakaian orang terdengar makin dekat, lima bayangan orang meluncur turun dari udara berdirijajar, sepuluh tangan kontan menggempur ke arah Liok Kiam-ping.

Ledakan adupukulan kali ini tidak sedahsyat tadi, namun akibatnya menimbulkan puluhan arus hawa yang semrawut keberbagai penjuru sehingga hawa seperti dipecah belah. Itulah akibat perlawanan Liok Kiam-ping seorang melawan pukulan lima orang sekaligus.

Memangnya Liok Kiam-ping membenci cara tempur lawan yang main keroyok. melihat yang datang ini adalah jago-jago kosen Ham-ping-kiong, makin berkobar amarahnya, ditengah serangan dinginnya, dia putar kedua lengan terus menepuk lurus ketengah, yang d linear adalah laki-laki yang berdiri ditengat diantara lima orang yang baru datang. Saking murka pukulan menggunakan sepenuh tenaga.

Kelima jago kosen Ham-ping-kiong itujuga pandai menilai keampuh an pukulannya, tak berani mereka melawan, serempak berlompatan minggir keempat penjuru sebagai jago kosen sudah tentu gerak-gerik mereka amat tangkas, begitu menyingkir lantas balas memukul pula. Belum lagi pukulan Liok Kiam-ping dilontarkan sepenuhnya, pukulan lawan dari berbagai jurus itu sudah menerjang tiba pula karuan amarahnya memuncak. Sambil bersiul rend ah dia jejak kedua kaki sehingga tubuhnya terbang mumbul, Ginkang tingkat tinggi dengan gaya Eng-swa-kiu-coan dari Leng-hi- pou-hoat dikembangkan tubuhnya terbang laksana seekor garuda berputar diudara. Dimana dia menggubat kedua tangan dengan gerakan membunder, jurus Liong hwi kiu- thianpun dilancarkan seiring dengan tubuh yang menukik kebawah, yang ditubruk adalah salah satu jago kosen Ham- ping-kiong.

Wi-liong-pit kip merupakan ajaran tunggal warisan jaman kuno, bukan saja sakti dan dijaya, pada jaman ini yakin tiada bandingan. Bayangan telapak tangan menggugus gunung dari atas mengurung bayangan tubuh jago Ham-ping-kiong itu belum sempat melihat gaya apa serangan yang mendera kearah dirinya. pundak kiri sudah kena pukulan- "Plak" tubuhnya yang tinggi mencelat lerbang setombak tingginya "Bluk" terb anting keras diatas tanah, Tulang pundak remuk sudah kesakitan ketambah tubuh terb anting lagi, karuan sakit ditambah sakit. Keringat dingin gemerobyos. Lengan kirinya lemas semampai tak bergerak jelas sudah cacat seumur hidup,

Memangnya Liok Kiam-ping sudah kebacut murka, sejurus berhasil merobohkan seorang musuh, nafsunya makin berkobar, lawan takkan diberi ampun lagi. bagai naga mengegos badannya sebat sekali dia menyelinap ke kiri menubruk seorang jago kosen Ham ping kiong lagi, "

Empat jago Ham-ping kiong yang lain sudah tentu meningkatkan kewaspadaan begitu Liok- Kiam-ping bergerak, mereka segera melompat menyingkir tiga tombakjauhnya. Karena tubrukannya luput makin berkobar angkara murka Liok Kiam-ping, dia pikir kalau urusan disini tidak lekas dibereskan, bila bala bantuan Ham-ping-kiong datang lebib banyak, walau tidak perlu takut, tapi akan lebih banyak memeras keringat Ditengah kurungannya, dia salurkan seluruh kekuatannya berputar badan dengan mendadak dia menubruk kearah kanan. Ling-hi-pou juga ajaran orang sakti jaman dahulu, begitu Liok Kiam-ping kerahkan kekuatannya, maka tubrukannya ilu cepatnya melebihi kilat menyambar, maka jago Ham-ping kiong yang dijadikan sasaran itu menjadi gelagapan karena sebelum sempat dia melompat mundur musuh sudah menubruk tiba seraya menyerang dengan jurus Liong-hwi-kiu-thian.

Sebelum otak jago Ham-ping-kiong ini bekerja, sebelum timbul keinginan melarikan diri, "Blang" tahu-tahu punggungnya sudah kena pukulan telak, tanpa mengeluarkan suara darah kontan menyembur dari mulutnya, tubuhnyapun mencelat terbang setombak jauhnya. "Bluk" kepalanya menumbuk batu hingga pecah beri hamburan, jiwa seketika melayang,

Sudah tentu giris tigajago Ham-ping-kiong yang lain, namun melihat kawan sendiri ajal secara konyol meski jeri, tapi sifat setia kawan membaur dendam mereka, apalagi mereka insaf kalau tidak melawan juga akhirnva pasti akan menjadi korban lebih konyol, maka niat melarikan diri semula sudah mereka buang jauh, satu sama lain saling memberi tanda, dari tiga orang ini lantas merubung maju. Disamping d end am membara merekapun berjuang demi Hidup sendiri maka serangan serempak ini dilancarkan dengan nekad dan lihay.

Hal ini benar-benar diluar dugaan Liok Kiam-ping, karena disergap secara mendadak, dia terdesak mundur dan sementara mengembangkan kelincahan tubuhnya, dengan leluasa masih mampu dia meluputkan diri dari serbuan ketiga lawam. Tapi ketiga jago Bulim ini memiliki kepandaian tunggal yang tinggi, gabungan serangan mereka yang berbeda, bukan saja kerja sama dengan baik dan serasi, juga ketat dan rapat, terutama kekuatan gabungan mereka amat mengejutkan- Ling-hi-pou dikembangkan, Liok Kiam-ping berlompatan diantara samba ran pukulan ketiga lawannya, kepandaiannya masih cukup berkelebihan melawan keroyokan tiga musuhnya, tapi dalam waktu dekat sukarjuga dia balas menyerang.

Setengah jam lamanya, serangan ketiga orang ini tidak menjadi kendor, tapi malah makin sengit. Seumpama seorang nekad mengadujiwa, sepuluh orangpun susah melawan, apalagi tiga orang mengeroyok sekaligus.

Liok Kiam-ping menjadi gelisah, pikirnya: "Bertempur lebih lama, kalau aku tidak lancarkan sergapan lihay, tentu sukar mengalahkan mereka, tapi dalam dua jurus sukar merobohkan sekaligus, waktunya jelas tidak menguntungkan dirinya. "Dasar otaknya encer, sambil melawan dan menangkis. hatinya merancang cara bagaimana mematahkan serangan musuh.

Mendadak dia tertawa panjang, gerak permaianannya berobah, tenaga murni dipusar dikerahkan kedua tangan siap dilontarkan- Dengan landasan kekuatan tenaga dalam sendiri satupersatu dia akan merobohkan lawan- Langkahnya ini memang lebih berat, makan tenaga namun lebih baik dari pada me ngulur waktu.

Setelah berketetapan segera dia mempercepat gerakan tubuh, kedua tangan terpentang kekanan kiri. "Wut, Wut dia memukul mundur dua lawan yang menyergap dari samping menyusul berputar sambil membalik tubuh, dengan kecepatan tinggi kedua tangan memukul maju kedepan.

Terdengar seorang mengerang tertahan, tubuh seorang mencelat dua tombakjauhnya, roboh untuk tidak bangun lagi.

Barusaja Liok Kiam-ping hendak lancarkanpulajurus mematikan, mendadak hardikan kalap kumandang dan sosok tubuh secepat kilat menerjang dari depan dan belakang.

Seperti diketahui lwekang Ham-ping-leng-mo memang amattangguh, walau mengadu pukulan menguras tenaga dengan Liok Kiam ping karena bernafsu melancarkan Hian- ping-im-sat, tapisetelah memperoleh peluang beriatirahat, lekas sekali kondisinya sudah pulih sebagian besar. Sebagai bangkotan silat yang berpandengan tajam, tahu mengadu kekuatan dirinya takkan bisa menang, untung kelima orangnya menyusul tiba pada waktunya hinggajiwanya selamat. Apalagi melihat anak buahnya satupersatu d ig any a ng oleh pemuda lihay ini, sudah luluh semangat tempur

Sambil samadi menyembuhkan luka dalam nya, dia perhatikan perkembangan diarena, bila perlu dia akan bertindak memungut keuntungan- Diluar sadarnya perb uatan liciknya ini sudah diperhatikan juga oleh Ai-pong sut dari samping, sudah tentu orang tidak berpeluk tangan.

Setelah Liok Kiam-ping mengembangkan ilmu silatnya meroboh kan lagi tiga jagonya,

seketika dingin perasaan iblis tua. Diam-diam membatin: 'Kalau tidak menyingkir sekarang, nanti bisa celaka diriku." mendadak dia berputar terus menjejak kaki meluncur balik kearah datangnya tadi.

Melihat gembong iblis ini merat tanpa hiraukan keselamatanjiwa anak buahnya yang menolong nyawanya, gusar Ai-pong-sut bukan kepalang, sambil menghardik dia melompat jauh mengejar.

Liok Kiam-ping melenggong oleh kejadian diiuar dugaan ini. Kuatir keselamatan Ai-pong sut terancam dibawah tangan Ham- ping-leng-mo, tak sempat melukai musuh segera, dia mengudak dibelakang kedua orang. Sebagaijago wahid, sudah tentu kejar mengejar berlangsung amat cepat dan seru, kecepatan mereka susah dibayangkan.

Tiga bayangan kelabu yang tidakjelas bentuknya seperti meteor jatuh meluncur dalam arah yang sama.

Liok Kiam-ping sudah kembangkan Ling-hi-pou, lamb at laun baru dia merasa sedikit unggul, namun karena dia bergerak paling akhir, makajaraknya dengan Ham-ping- lengmo tetap dua puluhan tombak. Tapi beberapa kali lompat berjangkit, dia menarikjarak lebih dekat beberapa tombak, kini berjajar dengan Ai-pong sut.

Aipong-sutjuga memiliki Ginkang yang dibanggakan, seumur hidup kapan dia pernah dikalahkan orang, baru sekarang setelah terjadi lomba lari. baru dia takluk lahir batin. hatinya tidak habis memuji. Demikian pula Liok Kiam-ping amat kagum dan memuji dalam hati. Mereka beradu pandang lalu tersenyum ewa.

Pada saat itulah, bayangan didepan mendadak berkelebat, jejak iblis tua mendadak lenyap dari pandangan mata. Waktu mereka mengudak tiba ketempat itu, dicari kian kemari, tetap tidak menemukan jejaknya Gunung belukar sunyi senyap tiada bayangan Seorangpun. 

Liok Kiam-ping membanting kaki mengeluh gegetun, pada hal dUrjana besar itu sudah dalam cengkraman tangannya, bila tersusul yakin dirinya mampu mengalahkan dia dan membekuknya, sayang dalam sekejap ini musuh berhasil lolos tak karuan parannya.

Aipong-sut juga kertak gigi saking murka, hampir saja dia mencaci maki. Syukur dia lebih berpengalaman dan tabah, setelah amarahnya reda dia berpikir dengan kepala dingin. sejenak berpikir, akhirnya dia tertawa katanya: "Daerah pegunungan yang penuh jurang dan batu cadas begini, pasti ada jalan tembus kelain tempat, iblis tua itu lebih apal daerah ini dan sementara sembunyi di sini. pasti tak bisa larijauh, marilah kami periksa sekali lagi, menurut pendapatku. persoalanterletakpada batu-batu yang semrawut ini, atau ada lorong bawah tanah."

Memangnya Liok Kiamping kehabisan akal, maka dia mulai memeriksa dengan cermat. Mereka putar balik mulai  pencarian dari pinggir jurang sebelah sana. Batu-batu runcing dalam bentuk yang beraneka ditengah hembusan angin gunung yang kencang. cukup lama mereka meneliti setiap jengkal tanah disekitar mereka, namun tidak menemukan tanda-tanda apapun.

Mendadak Ai-pong-sut bersuara heran perlahan lalu dirogohnya keluar sebutirpelor besinya, sambil jongkok dia mengetuk tanah dibawah kakinya beberapa kali, Ketukannya ternyata menimbulkan gema hampa didalam bumi, seketika girang hatinya, dia kira dugaannya tidak meleset, maka sambil setengah jongkok tangannya terus bekerja mengetuk tanah hingga kebibir jurang, sampai disini tak bisa maju lebih jauh.

Ai-pong-sot bimbang sejenak. dia tahu kunci persoalan ini pasti berada ditengah dinding jurang, namun sukar menemukan mulutnya, sekitarnya tiadajalan untuk turun kebawah, cara satu-satunya hanya melompati ngarai pendek mencari jalan keluarnya digunung belakang, waktu dia mendongak dinding gunung yang curam disebrang tegak menembus mega, jangan kata tiada tempat berpijak burungpun sukar hinggap di sana.

Tengah dia menepekur, Liok Kiam-ping sudah berdiri disamping kanan, setelah mendapat penjelasannya, dia menimang-nimang, yakin dirinya mampu bekerja dengan tersenyum dia berkata: "Tianglo tunggu saja di sini, biar aku mencobanya." tanpa menunggujawaban Ai-pong-sut,  dia mulai bergaya mengerahkan hawa murni lalu menggember pendek. ujung kaki menutul tubuhnya segera melejit mumbul setinggi sepuluhan tombak mendadak kedua tangannya menggaris, dua kaki memancal, tubuhnya lantas rebah datar ditengah udara berputar satu lingkar, kakinya sempat menutul dinding gunung dibawah ngarai, sehingga tubuhnya mumbul lagi lebih tinggi.

Terbang berputar ditengah udara, begini Hanya berlandaskan kekuatan tenaga murni dari pusar, tidak boleh mengg na kan tenaga kasar, namun gaya permainannya ini paling juga hanya dipraktekkan sembilan kali puta ran dengan Ling hi-pou sebatas taraf tertinggi. Untuk naik lebih tinggi lagi jelas tidak mampu.

Dalam lokasi genting seperti ini kecuali Liok Kiam-ping yang punya kemampuan luar biasa begini, siapapun takkan mungkin melesat terbang diudara, orang lain jangan kata mempraktekkan, mencoba pun pasti tidak berani. Ai-pong sut biasanya teramat bangga dengan Ginkang sendiri, melihat demontrasi Ginkang Liok Kiamping, disamping kagum dia takluk lahir batin.

Sementara itu beruntun Liok Kiam-ping sudah berputar sembilan kali, dikala tubuhnya sudah hampir melampaui  ngarai curam itu, disaat tenaga murninya sudah hampir habis, kedua lengannya menggaris sambil menekuk ping gang  hingga tubuhnya berputar arah dan hinggap dengan ringan dibibir jurang, bila dia menunduk melihat betapa dalam jurang dibawahnya, tanpa merasa mengkirik bulu kuduknya.

Waktu dia membalik kedalan memandang kearah ngarai sebelah sana, hatinya diam-diam bimbang: "Daerah ini merupakan hutan belantara. mustahil dapat menemukan sebuah rahasia dibawah tanah. Kalau bertolak balik rasanya penasaran, dendamperguruan dua puluh tahun kapan baru akan terbatas."

Urusan sudah terlanjur sejauh ini, apapun harus mencobanya.

Segera menjejak kaki tubuhnya meluncur bagaipanah kearah hutan dibawah bukit sana, kakinya menutul enteng diantara dahan-dahan pohon, gerakan tubuhnya indah dan cepat. Hanya beberapa kali lompatan dia sudah berada ditengah hutan belantara. Selayang mata memandang, la utan pohon menghijau ini tak berujung pangkal, padahal sekelilingnya sepi lengang. Yang terdengar hanya deru angin lalu saja. Liok Kiam ping menerawang sejenak. dia bertekad tanpa masuksarang mana mampu menangkap anak harimau, maka dia berkeputusan untuk menjelajah setiappelosok hutan ini, ingin dia tahu kemana iblis tua itu menyembunyikan diri.

Menyusuri kaki gunung dia terus mencari ke arah barat, dengan dia meneliti keadaan daerah yang dilalui, namun tiada sesuatu apapun yang ditemukan.

Tiba di ujung barat dia membelok arah keselatan, allu membelok pula menuju ke tengah hutan- sekonyong-konyong suara keresekan yang perlahan berkumandang dari dalam hutan di sebelah bawah.

Lwekang Liok Kiam ping tinggi, mata kupingnya tajam, daon terbang dalam jarak sepuluh tombakpun disa didengarnya dengan jelas, maka suara keresekan dalam hutan di dengarnya dengan diam-diam dia tersenyum lega.

Maju belum ada sepuluh tombak. mendadak desing suara ramai dalam arena lima tombak melaju kearah dirinya, ratusan batang anak panah melesat ke atas dari dalam hutan- Untung sejaktadi dia sudah meningkatkan kewaspadaan, kaki menutul pucuk pohon, tubuhnya terapung di udara. Kedua lengan bajuna menari kencang, hujanpanah itu berhasil dirontokkan berhamburan.

Hujanpanah ternyata cukup keras dan kerap. gelombang demi gelombang sampai sepuluh kali. Bukan saja keras dan bidikannya rapat dan banyakjumlahnya. Padahal Liok Kiam- ping terapung di udara, menghadapi brondongan panah ini, mau tidak mau dia melengak heran juga. Untung dia berkepandaian tinggi, nyalinya besar, tenang dan tabah, sedikit kerahkan tenaga tubuhnya agak merandek, kaki kanan menjejak kaki kiri, maka tubuhnya melambung lebih tinggi tiga tombak. Bidikan panah yang lebat dan banyak itu menyambar dari bawah kakinya Dibrondong panah sebanyak itu, gusar Kiam-ping bukan kepalang, ditengah udara dia menekuk pinggang hingga tubuhnya berputar arah serta membalik setengah lingkar, dengan gaya indah tubuhnya melayang tujuh tombak kepinggir. Tak nyana baru saja kakinya menutul pucuk pohon, brondongan anakpanah yang deras dan lebat menyerbu dirinyapula. Hakikatnya musuh tidak memberi kesempatan dia ganti napas.

Karuan Liok Kiam-ping murka sekali, meski tahu dirinya sudah terkepung musuh, namun apa boleh buat, sambil bersiulpanjang tubuhnya melejit mumbul pula, secepat kilat tubuhnya melayang delapan tombak. Kali ini dia tidak berani ayal, ditengah udara dia berputar tubuh sehingga tubuhnya melesat keluar lingkaran yang dapat dicapai bidikan panah.

Sebagai orang pintar, sudah tentu dia tidak mau dijadikan sasaran bidikan panah melulu, sekilas hatinya berpikir, dia bertekad untuk membekuk pimpinan barisan pemanah lebih dulu, mumpung tubuhnya melorot turun mendadak dia kerahkan tenaga, tubuhnya yang menukikturun mengincar bagian pohon yang tidak begitu lebat dahannya menerobos kebawah.

Aksi Liok Kiam-ping ini agaknya diluar dugaan musuh, bayangan orang segera berpencar melarikan diri. Liok Kiam ping sudah incar beberapa lalu melontarkan pukulannya, jeritan dan jeritan menyayat hati, beberapa orang roboh binasa oleh pukulan jarakjauhnya. 

Baru saja Kiam-ping hendak mengudak kearah lain, mendadak dari empat penjuru di dengarnya suara ledakan keras, menyusul asap dan jago merah tampak menyala besar membumbung keangkasa. Ditengah kepulan asap tebal dan berkobarnya sijago merah beruntun terdengar pula beberapa kali ledakan, bunyi kayu dijilat api menjadikan suasana amat ribut dan gaduh. Liok Kiam-ping tahu gejala tidak menguntung kan, lekas dia melompat naik kepucuk pohon- Selayang pandang, betapapun tinggi Kungfunya melihat apa yang terjadi, seketika mengkirik hatinya, seketika dia menjublek tak bergerak.

Ternyata empat penjuru hutan disekitar dirinya tengah ditelan sijago merah, angin menghembus kencang lagi, sehingga amukan sijago merah makin besar dan merambat cepat ketengah. Ditengah kepulan asap tebal tercium bau belirang dan minyak bakar, tak heran api menjalar begitu cepat.

Menyaksiltan keadaan ini Liok Kiamping yakin dalam waktu satu jam hutan belantara ini pasti Habis terbakar, Mengejar hidup sudah menjadi kodrat setiap manusia., apalagi pemuda sepandai Liok Kiam-ping, sudah tentu dia tidak berpeluk tangan menunggu ajal..

Syukur dalam setiap keadaan gawat Liok Kiam-ping selalu dapat menggunakan otaknya dengan dingin, sekilas menerawang keadaan, seketika tersimpul senyuman lega di wajahnya.

Mendadak dia mencabut Liat-jit-kiam, sekali lompat dia terus berlari terbang kearah utara. Beberapa kali lompatan dia sudah tinggal lima tombak dari daerah kebakaran. Sigap sekali Liat-jit-kiam ditarikan, dahan-dahan pohon dibabatnya runtuh, robohnya pohon-pohon raksasa itu menimbulkan suara gemuruh ditengah kobaran api. Entah berapa banyak pohon- pohon raksasa itu berhasil di robohkan Liat-jit-kiam, dia sarungkanpula, dengan tenaga raksasanya, dahan-dahan pohon itu dia lempar ketengah kobaran api.

Dengan sendirinya daerah di mana pohon dibabatnya roboh menjadi tanah lapang seluas beberapa bau, maka jago merah yang mengamuk melalap pepohonan berhenti diluar kalangan lapang an- Akan tetapi asapnya yang tebal cukup membikin Liok Kiam-ping sesak napas dan kepanasan lagi. Lekas Liok Kiam-ping duduk bersimpuh ditengah tanah kosong itu, dia mulai kerahkan Kim-kong-put-hoay sin-kang, tiga kaki disekeliling tubuhnya hawa panas dan asap tebal itu tersibak mundur, seperti tertahan oleh dinding baja yang tidak kelihatan-

Suara gemuruh lambat laun menjadi reda dan akhirnya berhenti, hanya kepulan asap saja yang masih kelihatan- Sang waktu terus berjalan, tanpa terasa hari sudah terang tanah.

Waktu Liok Kiam-ping bukamata, baru dia sadar fajar telah menyingsing, berarti semalam suntuk dia terkepung ditengah kobaran api, betapun tangguh Lwekangnya, tak urung dia merasa kelelahan juga, semula dia berniat samadi memulihkan tenaga, namun dia kuatirkan keselamatan Ai-pong-sut Thong Cau, mungkin orang menunggu dengan gelisah, mungkinjuga mengalami kesulitan, namun dia juga tahu dirinya masih berada di daerah berbahaya, lena sedikitpun tidak boleh.

Setelah dia menyelesaikan latihan pernapasan, terasa semangatnya sudah pulih, baru saja dia menggerakan langkah hendak berlalu. Mendadak diluar hutan didengarnya langkah orang yang ramai, makin lama makin keras seperti menuju ketempat Liok Kiam-ping.

Didengarnya seorang bicara dengan serak seperti bunyi gembreng: "Entah kenapa cong-tangkeh seperti makin penakut, dalam lautan api sebesar ini, besi baja juga lumer, umpama keparat itu memiliki kepandaian setinggi langitjuga takkan kuat menahan kobaran api, coba lih at pohon sudah hangus, batupun menjadi bubuk.jangan kata manusia binatang buas sampai semut sekalipun tiada yang bisa selamat, kenapa kita disuruh meriksa kemari kukira bocah itu tinggal abu tulangnya saja, apakah tidak sia-sia perjalanan kami.' seorang laki bicara dengan nada runcing:

'Kenyataan mungkin demikian, tapi Kungfu bocah yang satu ini memang luar biasa. berapa kali terjebak dalam keadaan yang tidak mungkin hid up, tapi kenyataan dia masih segar bugar sampai sekarang. Berapa jago kita yang gugur ditangannya. Bahwa Tangkeh suruh kami ke mari pasti punya alasannya, sebagai pelaksana perintah, kukira kita perlu bertindak hati-hati'

Keduanya lantas diam cukup lama, hanya langkah suara mereka yang terdengar makin dekat.

Suara gembreng serak itu kembali memecah kesunyian- "Sungguh sial, sudah susah payah semalam suntuk, kami masih disuruh memeriksa daerah seperti ini. Eh, Coang- huhoat, bukankah mereka sudah berangkat.'

Suara runcing menjawab: "Soal itu aku sendiri kurang jelas. Cong- tangkeh suruh kami memeriksa daerah ini, lalu langsung kembali kemarkas cabang di Kang pak untuk bergabung dengan pasukan ind uk. "

Agaknya orang bersuara serak itu berangasan, katanya uring-uringan: 'Sontoloyo, kiranya mereka sudah sekongkol lebih dulu. celaka, kami yang disuruh bekerja berat, kami memang harus waspada, kecuali bocah itu, orang tua kate itujuga tidak gampang dilayani.'

Suara runcing berkata: "Kukira tidakjadi soal, kakek kate itu masih mampu kami berdua membereskan dia. Hari sudah terang tanah, lekas kita periksa ala kadarnya, aku kuatir kita terlambat, menyusul mereka"

Langkah berat itu makin dekat tinggal lima tombak dari persembunyian Liok Kiam-ping.

Waktu dia melongok keluar tampak kedua orang ini sudah berusia tujuh puluhan, keduanya berpakaian serba hitam, yang disebelah kiri bertubuh tinggi. tulang pipinya menonjol tinggi kedua matanya cekung. bibir nya tipis. jelas dia seorang culas yang banyak akalnya.

Yang sebelah kanan bertubuh lebih gemuk. perawakannya juga tinggi, mukanya bundar, alisnya putih pendek. matanya besar dari gaya jalannya yang kasar kelihatan dia bewatak berangasan.,

Sebat sekali Liok Kiam-ping menyelinap kebelakang batu besar. Kedua orang itu tanpa sadar gerak geriknya diintip orang, mereka masih terus maju dengan langkah lebar. Suasana memang hening, mimpipun mereka tidak menyangka bahwa korban yang mereka cari ternyata sedang mengintip mereka.

Begitu kedua orang itu melewati batu besar, bagai setan gentayangan Liok Kiam-ping melompat keluar dari batu besar merunduk tanpa suara kebelakang mereka, berbareng kedua lengan berputar lalu disodokkan kedepan- Dengan jurus Liong- kiap-sin-gan kedua tangannya menepuk punggung musuh.

Sergapan dilontarkan disaat musuh tidak siaga, mendengar angin pukulan kedua orang itu tak sempat membalik atau menangkis, terpaksa mereka melompat berpencar ke kanan kiri.

Tapi menghadapi Wi-liong ciang yang digdaya, walau cepat mereka berkelit, tak urung pundak mereka keserempetjuga oleh angin pukulan- "Plak, Plok" tampak kedua orang itu tersuruk tiga langkah, sakitnya bukan main-

Mereka kaget dan tersirap darahnya karena insyaf pembokong memiliki kungfu tinggi, mereka punya maksud sama ingin tahu siapa pembokong nya, serempak keduanya membalik badan serta melotot gusar. Tapi seketika mereka menjublek. awah seperti copot dari badan kasar mereka, jantung berdebar keras, dalam hati mereka membatin:

"Mustahil bocah ini masih hidup setelah ditelan lautan api. Memangnya dimana dia menyembunyikan diri ? Kecuali masuk kedalam tanah..."

Liok Kiam-ping mendengus sambil maju mendesak. katanya serius: "Tempat apakah ini ? Kemana Hamping leng-mo? Bicaralah terus terang, jiwa kalian akan kuampuni." Mendengar suara Liok Kiam-ping baru kedua orang itu tersentak sadar dari lamunanannya yang bersuara runcing tertawa dipaksakan, katanya: "Kami Hanya menjalankan perintah dan baru saja tiba ditempat ini. Ke mana cong tangkeh pergi mana kami tahu, kalau Siauhiap mendesak ingin tahu, kami berdua tak boleh berpeluk tangan." bicaranya kalem, tapi nadanya ketus.

"Tadi kudengar kalian baru berpisah dengan iblis tua itu, kenapa begitu Cepat menjadi lupa ? Tempat apa yang dimaksud dengan "didepan" dalam pembicaraan kalian tadi? Ada tujuan apa pula harus ke sana ? Kuharap kalian bicara terus terang daripada awak sendiri kesiksa, kalian akan menderita percuma."

Laki-laki tua agak gemuk itu sudah tak sabar lagi, dengan alls tegak dia bersuara dengan suara serak: "Buat apa Cerewet saja, memangnya dengan tenaga kami berdua tidak mampu membereskan keparat ini."

’Kalian tidak mau mendengar nasehatku baiklah boleh maju bersama. Menyingkat waktu dan menghemat tenaga." ujar Liok Kiam-ping tertawa.

Laki-laki tua bersuara runcing tahu gelagat tidak menguntungkan pihaknya, diam-diam dia memberi kedipan mata kepada kawannya, otaknya bekerja mencari akal, sementara kedua orang ini berdiri menjublek kahabisan akal.

Liok Kiam-ping berseru kereng: 'Sudah takut kalian? Lekas mengaku terus terang saja, kalau hilang sabarku, kalian akan merasakan kelihayanku."

Tanpa pedulikan sikap temannya, suara serak itu berkata: "Bocah keparat ingin mampus, lihat serangan." kedua tangannya memukul dengan tenaga dahsyat kearah Liok Kiam-ping. Sudah tentu langkahnya ini membuat gugup dan kuatir laki-laki suara runcing, karena kepepet terpaksa dia harus mengiringi serangan kawannya. Mendadak dia ikut menyergap dari kiri. Kedua rangannya menggapai lalu menggulung keluar dengan dorongan dahsyat, perbawa pukulannya jelas tidak lebih asor dari serangan temannya.

Liok Kiam-ping menyeringai dingin, Ling hipou dikembangkan, sekali berkelebat dia menyingkir tiga tombakjauhnya. Katanya tertawa: "Biar cayhe mengalah tiga jurus, tiga jurus kemudian kalian harus waspada."

Sudah tentu kedua lawannya gnsar karena dlolok-olok. terutama laki laki agak gemuk itu, saking gemas giginya sampai berkerutukan- Begitu sejurus serangannya luput, tanpa bicara dia menubruk maju sambil melontarkan pukulan dengan kedua tangan- Demikianpula temannya mendesak maju sambil memukul sejurus dari kanan. orang ini ebih Cermat dan pandai mengunakan otaknya, tahu bahwa pukulannya takkan mengenai sasaran, maka dia tidak mengerahkan tenaga sepenuhnya.

Liok Kiam-ping memang berkelit dengan Ling- hipou. Tapi disaat badannya berkelebat itulah segulung tenaga tahu-tahu menguntit gerakannya menerjang dari belakang. sebat sekali dia kerahkan tenaga diujung kaki mengembangkan gerakan lihay dari Ling-hi-pou beruntun dia ganti tiga posisi langkah sambil berputar dan berhasil menyelamatkan diri. Karena takabur hampir saja dia kecundang oleh bokongan musuh, karuan berkobar amarahnya engeknya dingin: "Masih ada sejurus lekas turun tangan- cayhe tidak bisa menunggu lama."

Kedua jago Ham-ping-kiong itu berdiri menjublek, sekilas mereka beradu pandang serempak menghardik keras terus menubruk dari kanan kiri, empat telapak tangan memukul dengan kekuatan dahsyat menerjang kearah Liok Kiamping. Kali ini mereka mengerahkan dua belas bagian kekuatan, maklum kalau pukulan mereka dahsyat luar biasa.

Liok Kiam-ping tetap gunakan Ling-hi-pou, dengan gaya santai dia melayang pergi luput darijangkauanpukulan lawan, sekali berkelebat pula dia menyelinap diantara bayangaii kedua musuhnya. Tujuannya membekuk mereka hidup-hidup maka dia tidak ingin melukai lawan, kalau mau sejak tadi kedua orang ini sudah dihantamnya mampus.

G-ak tubuhnya enteng dan lincah berlompatan kian kemari, kedua jago Ham-ping kiong diajak mainpetak meski sudah kerahkan seluruh tenaga dan kembangkan kemampuan, ujung baju lawan ternyata tidak mampu disentuhnya.

Duapuluhjurus kemudian, kedua jago Ham-ping- kiong itu makin ciut nyalinya, gerak kaki tangan makin lambat, melihat saatnya sudah tiba Liok Kiam-ping tidak mau membuang waktu, sekali berkelebat dia menyelinap ke belakang lakl-laki gemuk. dengan ujung jari dia menutuk darijarakjauh. Laki laki gemuk mengerang tertahan, "Bluk" tubuhnya roboh mencium tanah.

Karuan pecah nyali orang tua itu, lekas dia putar tubuh hendak lari. Sudah tentu Liok Kiam-ping tidak tinggal diam, kaki menjejak segera dia melejit jauh, baru saja langkah pertama orang itu bergerak, Hiat-to dipunggungnya sudah tertutuk oleh Kiamping, seketikamata gelap tubuhpun tersungkur jatuh.

Kiam-ping tahu kalau ingin tahu seluk-belukpersoalannya harus dikompes dari keterangan orang tua ini. Maka tanpa ayal dia memburu maju serta membuka Hiat-tonya, dengan mengancam Bing bun hiatnya dia berkata kereng: 'Kau juga orang ternama dalam Bulim, kenapa tidak tahu diri. Kuharap kau suka bicara terus terang, kalau membandel biar nanti kau rasakan Siu im cek-meh." "

Semula tersirap darah orang tua ini mendengar Siu-im-cek meh, namun melihat usia orang masih begini muda, padahal Siu im-cek meh, adalah ilmu tutuk ajaran tokoh silat lihay seratus tahun yang lampau, konon sudah putus turunan, bocah ini tak mungkin memiliki ilmu keji ini, mengira orang hanya menggertak maka dia hanya mendengus hidung lalupejam mata tak mau bicara. Liok Kiam-ping mengulang pertanyaannya dua kali, orang tetap diam tak peduli, karuan amarahnya berkobar, Dua jarinya segera bekerja kilat menutuk belasan Hia-to ditubuh orang terpaksa dia gamplok orang pantat orang lebih keras, dia berdiri santai mundur beberapa langkah menanti reaksi tutukannya.

Semula orang tua itu masih tidak merasa apa-apa setelah beberapa Hiat-tonya tertutuk. beg itu melihat Liong Kiam-ping mundur agakjauh, merasa ada kesempatan, mendadak dia kerahkan tenaga hendak melompat berdiri. celaka karena dia mengerahkan tenaga, mendadak darah dalam tubuhnya bertolak belakang sekujur badan sakit linu dan pegal seperti diiris-iris, denyut nadinya keras, darah yang mengalir seperti barisan semut yang ribuan.

Bukan saja sakit, tapi juga gatal, lebih celaka lagi tubuh lemas tenaga tak mampu di kerahkan, keringat berketes- ketes, namun dia masih kertak gigi sambil bergulingan. Liok Kiamping tersenyum saja sambil mengawasi dengan sadis, kini korbannya mulai mengejang dan kelejetan, mulutnya megap- megap. ternyata sukar bicara, beberapa kejap lagi, keduamatanya mendelik, kepala mengangguk kearah Liok Kiam-ping, mulutnya yang megap megap mulai berdarah, namun kini bisa bersuara tergagap: "To... long... buka .. dulu Hiat... to... ku aku... mau... bicara"

Kuatir orang hanya bermain sandiwara dan berpura-pura, usahanya bukan mustahil bisa gagal, maka dia tutuk dulu Hiat-to pelemas tubuhnya, baru jarinya menutuk pula beruntun membuka siu-im-cek-tek.

Mungkin tutukan yang mengakibatkan aliran darah bertolak belakang ini teramat berat dan menderita, bila berlangsung sedikit lama, tenaga sikorban akan terkuras terlalu besar maka beg itu tutukan dibebaskan, orang tua itu menjadi lunglai dan jatuh semaput malah. cukup lama kemudian baru siuman sambil merintih-rintih begitu membukamata dia berusaha berduduk. namun kaki tangan masih lemah tak mampu merangkak. tahu Hiat-to pelemasnya juga dikuasai lawan, maka dia menghela napas panjang, katanya: "Sayang setua ini kungfuku bukan tandiganmu, setelah jatuh ditanganmu yah aku pasrah nasib saja. Kau ingin tanya apa?"

Liok Kiam-ping bicara dengan serius:

"Untuk membalas sakit hati cayhe harus melanglang buana, segala Cara kuhalalkan, setiap langkahku penuh bahaya, terpaksa aku harus bertindak secara tegas, jadi bukan sengaja aku mau menghina atau menyiksamu. Kau bertugas ditempat ini? Ham-ping- leng- mo memancing cayhe kemari' Dimana dia menyembunyikan diri? Muslihat apa yang telah dirancangnya?'

Setelah menghela napas, orang tua itu berkata: "Tempat ini di namakan Eng-jiu-gay, merupakan salah satu markas Cabang Ha mping- kiong. Sejak berhasil meyakinkan Hian- ping-im-sat Ham-ping Lojin bertekad untuk membekuk dan mengalahkan Siauhiap. Maka beliau sengaja memancing kau kemari. Dibawah sini ada jalan rahasia dibawah tanah yang menembus kengarai buntung dibalik gunung sana. Ham-ping Lojin sekarang sudah masuk kota mengerahkan tenaga meluruk keselatan- Kemana tujuannya dan apa rencananya, cayhe tidak jelas, kemungkinan akan bergabung dengan lima perg uruan besar hendak mengeroyok dirimu." -

Bahwa persoalan menyangkut pula kelima pergururuan besar. membuat Liok Kiam-ping bimbang dan curiga, katanya dengan menegakkan alisnya: "Nanti dulu, lima perguruan besar tiada permusuhan dengan kita, kenapa bergabung hendak mengeroyok aku ? Apakah dibalik persoalan ini ada muslihat keji orang lain ?'

'Lohu hanya tahu kulitnya saja, duduk persoalan yang sebenarnya aku tidak jelas." sahut orang tua itu. "Ham-ping Lojin mengerahkan seluruh kekuatannya ke selatan, apakah hendak menyerbu dan menduduki markas besar Honglui-pang kita ? "

"Apa yang kuketahui sudah kupaparkan secara jelas, terserah bagaimana Siauhiap akan bertindak. "

"Kalau demikian, baiklah, kau boleh pergi" lalu dia buka Hiat-to pelemas orang tua terus melangkah pergi ke ngarai di belakang gunung.

Sekali lagi Liok Kiam-ping telah bertindak gegabah dan lalai, karena hanya ingin menepati janji tidak membunuh orang tua ini Hampir saja dia mati dan terjebak oleh muslihatnya.

Lekas sekali dia sudah menemukan mulut gua yang lebarnya cukup untuk masuk satu orang, karena tetumbuhan disekitar mulut gua sudah terbakar hang us, maka keadaan dalam gua terlih at jelas, menguatirkan keselamatan Aipong- sut, tanpa ragu sedikitpun Liok Kiamping lantas menyusup kedalam gua.

Dalam gua, lembab dingin dan gelap. bau gosong masih merangsang hidung. Untung Lwekang Liok Kiam-ping tinggi, mata kuping tajam luar biasa, mesti ditempat gelap matanya bisa melihat jelas seperti ditempat terang, Kungf u tinggi nyali besar, dengan langkah lebar dia menyelusuri goa panjang itu.

Melihat Liok Kiamping masuk kedalam gua, orang tua itu seketika unjuk senyum sadis, perlahan dia berdiri, lalu membuka tutukan hiat-to orang tua gemuk. setelah bisik-bisik, kedua orang ini menguntit jejak Kiam-ping.

Panjang gua ini setengah li, jalan satu-satunya yang menembus ke ngarai buntung, di ujung kedua mulut gua dipasangi pintu rahasia yang dikendalikan dengan alat rahasia. Setelah mengundurkan diri dari gua panjang ini, Ham-ping- leng- mo sudah menyumbat mulut guanya. Sementara alat rahasia disebelah sini rusak karena terjadinya kebakaran, yang ada hanyalah gua kosong serba gelap dan hangus.

Hal ini tidak diketahui oleh Liok Kiamping, dia tetap berjalan cepat kuatir ketinggalan, kedua kakek kurus gemuk antek Ham ping Lomo terus menguntit, menjelang sampai dimulut gua mereka saling bisik lagi. Dari dalam bajunya kakek kurus tua itu mengeluarkan Pi-lik-ling hwe-tam (granat geledek berapi) sisa dari granat yang sedianya membumi Hangus kan seluruh hutan belantara ini terus dilempar kedalam gua.

"Blaam." "ledakan keras dan gemuruh menggoncangkan bumi, tanah dan batu diatap gua runtuh sedahsyat gugur gunung. Waktu Liok Kiamping memburu balik dan tiba di tempat kejadian, mulut gua sudah tersumbat dan buntu, setitik sinarpun tidak kelihatan- Walau Lwekangnya luar biasa tinggi, pengalaman tempur juga amat luas, kini dia betul-betul mati kutu dan menjublek ditempatnya. Jalan mundur sudah buntu, harapan untuk keluar hanya maju terus pantang mundur.

Setiba dimulut gua bagian ngarai buntung, Kiam-ping coba dorong daonpintu, ternyata bergemingpun tidak. karuan hatinya gelisah. Menyesal kenapa bertindak secara ceroboh, mau mundur sudah buntu, betapapun tangguh Lwekang dan gagah perwira dirinya, kalau lama terkurung disini juga akhirnya mati kelaparan-

Tapi Liok Kiam-ping pemud a yang cerdik panda i, tidak kenal putus asa, pikirnya.:

Pintu sebesar dan seberat ini, untuk buka tutup pasti dikendalikan dengan alat rahasia. Kalau ada tombol untuk membuka pasti berada didalam gua ini, dengan ketekunan dan kesabaran pasti dapat kutemukan." semangatnya berkobar, dengan penuh perhatian dia lantas mencari dan mencari. Walau gua ini gelap gulita, tapi bukan jadi soal bagi Liok Kiam-ping yang dapat melihat ditempat gelap. akhirnya ditemukanj uga dua kuntum kembang hiasan teratai yang bagian bawahnya ada garan pegangan yang bergantung di atas dandang sebelah kanan.

Liok Kiam-ping coba menekan kembang teratai besi itu, rasanya seperti terpalu di atas dinding, diputar dan dipelintir sekuat tenaga juga tidak bergeming, Tapi kembang teratai kedua ternyata bisa dia gerakan dan diputar beberapa kali lingkaran, namun akhirnya berhenti dan mati tak mau bergerak pula. Terpaksa Liok Kiam-ping memutar pula kearah terbalik. Diluar dugaan dibalik dinding terdengar suara gemuruh seperti ada roda raksasa bergerak. seiring dengan gemuruhnya suara itu daon pintu gua yang besardan berat itu bergerak mundur, kekanan kiri.

Girang Liok Kiam-ping bukan main, segera dia tambah tenaga serta menariknya lebih keras, maka daonpintu bergerak lebih cepat dan amblas kedalam dinding gunung.

Ternyata hari sudah terang tanah, sinar pagi menyilau mata, berdiri diatas ngarai buntung Liok Kiam-ping memicing mata, lalu menarik napas panjang.

-ooo0dw0oooo-

Dua ekor kuda tengah dilarikan kencang dari arah kota Tong-koan kearah selatan yang menuju ke Ling po, mereka adalah seorang pemuda gagah cakap dan seorang laki-laki tua tambun berusia delapanpuluhantahun. Seperti diburu tugas penting layaknya mereka membedal kuda dengan sikap gelisah dan kuatir.

Pembaca tentu sudah meraba, tua dan muda penunggang kuda ini bukan lain adalah Liok Kiam-ping dan Aipong-sut Thong cau. Setelah tahu Ham-ping Lomo dengan para begundalnya meluruk keselatan hendak menyerbu markas pusat Hong-lui-pang mereka, kedua orang ini lupa makan dan tidur, selama beberapa hari ini menempuh perjalanan pulang ke KuHun-ceng. Untuk menghemat waktu, mereka lewatjalan peg unung an yang lebih dekat.

Setelah singgah di kota Lam- Jiang, mereka meneruskan ke timur Jik-nam, menjelang magrib hari ketiga baru mereka memasuki kota Hap-pui di Propinsi An-hwi. Bukan saja mereka sudahpenat danpayah, kuda sudah ganti berulang kali juga kepayahan pula. Terpaksa malam ini mereka harus menginap di Thay-an-khekscin di kota Hap-pui.

Hap-pui adalah kota penghasil beras, perdagangan di kota ini amat makmur, waktu itu magrib telah tiba, penduduk mulai pasang lampu, pejalan kaki makin ramai dijalan raya, makin gelap keadaan makin ramai.

Setelah members ihkan badan mereka keluar kamar mencari makan- Keramaian yang meliputi seluruh kota tidak menjadi perhatian mereka. Mereka berjalan kebarat sambil celingukan, didepan rumah makan cui-bingkek mereka berhenti, baru saja hendak melangkah masuk, sekilas ujung mata Ai-pong-sut menangkap gerakan seorang yang mencurigakan lenyap ditengah orang banyak. Terasa oleh Ai- pong-sut bayangan orang seperti sudah dikenalnya, namun sukar teringat dimana dan kapan dia pernah kenal orang tadi, namun hal ini tidak masuk dalam perhatiannya, hal ini juga tidak diberitahUkan kepada Liok Kiam-ping, sambil tertawa- tawa mereka beranjak masuk naik keloteng serta mencari duduk yang dekat jendela.

Beberapa hari menempuh perjalanan, perut betul-betul sudah ketagihan, mumpung ada kesempatan maka mereka pesan menu kesukaan mereka dan makan minum sepuasnya. Mereka makan tanpa banyak bicarajuga tidak peduli orang- orang sekelilingnya.

Padahal perhatian Liok Kiam-ping tidak pernah lepas terhadap seorang pemuda berpakaian ringkas yang duduk dimeja dekat undakan loteng sebelah kiri, memakai topi beludru lebar seperti topi yang biasa dikenakan penunggang kuda dipadang rumput, waktu makan topi ditariknya turun hingga menutupi wajah, matanya juga sering melirik kearah Liok Kiamping, gerak geriknya seperti takut dipergoki orang.

Pengalaman Liok Kiam-ping sebetulnya belum cukup matang, namun melihat sikap pemuda ini, dalam hati diasudah merasa ada sesuatu yang patut dicurigai, maka sering dia meliriknya. Betul juga secara diam-diam pemuda itu menggerakan kedua tangannya dengan suatu gaya aneh sebagai pertanda rahasia dari anggota Hong-luipang mereka bila berhadapan dengan sang Pangcu, lalu dia berdiri membayar rekening dan turun ke bawah.

Dari gerak gerik pemuda tadi Liok Kiam-ping memperoleh firasat bahwa Hong-lui-pang mereka agaknya memang sedang mengalami ketegangan, bahaya sedang mengancam jiwa mereka, kalau tidak tak mungkin mereka bertindak begitu rahasia dan hati-hati. Maka dia berbisik kepada Ai-pong.sut, kejap lain merekapun sudah berada dibawah loteng.

Begitu berdiri diambang pintu, Liok Kiam-ping bermata tajam, dia melihat tanda rahasia Hong lui-pang yang memberi petunjuk supaya menuju kearah timur. Maka Liok Kiam-ping berdua terus berjalan menu menuju ke arah yang ditunjuk, lekas sekali satu li sudah mereka capai, kini mereka berada didepan sebuah hutan jauh diluar kota.

Baru saja Liok Kiam-ping hendak menyelinap kedalam hutan, mendadak terdengar suara bentakan dari beberapa orang yang lagi bertarung. Bergegas Kiam-ping berdua memburu kedalam. Tampak anggota Hong-luipang yang tadi makan minum direstoran tadi sedang dikeroyok oleh tiga orang persilatan, topi besar pemuda tadi sudah terlempar ditanah, ditengah samberan pukulan tiga pengeroyoknya, pemuda itu sudah pontang panting, napas memburu. keringat gemerobyos, langkahnya enteng dan sempoyongan, jelas beberapa kejap lagi pasti tak kuat bertanan lagi. Kiam-ping dan Ai-pong-sut amat benci main keroyok. hampir meledak dada mereka saking gusar, si tua berangasan Ai-pong-sut segera membentak: "Anggota Hong-luipang jangan kaget dan takut, serahkan ketiga kurcaci ini kepadaku." sebat sekali dia menyelinap terjun ke arena pertempuran, Dimana kedua tangannya terkembang, 'Plak, Plok" dua kali pukulan disertaijerit kesakitan, dua diantara lakl-laki pengeroyok itu sudah terpukul terbang tiga tombak jauhnya. Sisanya yang satu lagi menyurut mundur, usianya sekitar empatpuluh tahun tapi Thay-yang-hiatnya menonjol tinggi, sorot matanya juga bercahaya. jelas seorang jago Lwekang, dari sikap dan permainannya tadi kelihatan bahwa dia dari golongan lurus.

Dengan tersenyum Ai-pong-sut Thong cau berkata: "Kalian bertiga bukan kaum kroco, menghadapi seorang pemuda juga tak kenal aturan Bulim, apa kalian tidak takut ditertawakan orang."

Dua laki-laki yang terpukul jatuh sudah berdiri dan merubung maju lagi seorang yang berusia paling tua menjengek, katanya: "Kalian tentu anggota Hong luipang juga menghadapi manusia macam kalian, kenapa harus mematuhi aturan Kangouw segala?"

Ai-pong-sut makin keheranan, namun sebagai jago kawakan Kangouw otaknya lebih bisa berpikir, katanya tetap sabar 'Sahabat, membunuh orang memang mudah bagi kalian, api mata kalian tidak buta, otak juga berpikirjernih, tentu kalian sadar, apa yang kalian lakukan- Lohu baru pulang dari perjalanan jauh, keadaan Hong-lui-pang kita belum kuketahui, apakah kalian sudi memberi keterangan?"

Seorang laki tertawa gelak-gelak. katanya: "Kalau takut diketahui orang, lebih baik tidak berbuat. Hong lui-pang bertindak secara keji, perbuatan kalian sudah menimbulkan amarah masal, seluruh kaum persilatan siapa tidak ingin mengganyang kalian, umpama tumbuh sayap juga kalian takkan bisa lolos."

"Kenapa kau berkata demikian' Ai-pong-sut bertanya keheranan

"Aku menjalankan tugas. bagaimana duduk persoalannya, nanti kalian akan tahu, kalau tahu diri lekas bunuh diri saja, supaya tidak tersiksa."

Serasa hampir meledak dada Ai-pong-sut, betapa  tinggi dan disegani nama besarnya di Bulim, kapan pernah dia dicaci dan diremehkan seperti ini, desisnya dengan nada berat: "Sahabat jangan memfitnah, kalau banyak bacot lagi, jangan menyesal kalau orang she Thong berlaku keji kepada kaliau."

Tiga orang itu berseru bersama: "Kematian didepan mata masih beranijual lagak, baiklah biar kami bertiga anta rjiwamu keakhirat." Habis berkata serempak ketiga orang ini bergerak tangkas mengepung Ai-pong-sut dari tiga jurusan- Agaknya pukulan Ai-pong-sut tadi memang hanya menggunakan tenaga luar saja. hingga dua orang yang dipukulnya jungkir balik tadi tidak terluka.

Karena didesak terpaksa Ai-pong-sut bertindak. katanya menyeringai: "Baiklah, sebelum kuhajar kalian, agaknya belum kapok."

Tiga orang itu menggertak bersama, enam telapak tangan memukul serempak dari tiga a rah. Kekuatan pukulan mereka ternyata lumayanjuga, tapi Ai-pong-sut tidak pandang sebelah mata, sebelumjelas asal-usul ketiga lawannya, dia tidak akan balas menyerang, maka dia hanya kembangkan ketangkasan gerak tubuhnya berputar, melompat dan menyelinap diantara samberan pukuian musuh.

Tiga jurus kemudian Ai-pong-sut sudah tahu permainan ketiga orang ini adalah Humo-ciang-hoat ajaran murni Bu- tong-pay. Sebagai jago silat kawakan, sudah tentu kepandaiannya tinggi, Hu-mo ciang-hoat bukan ilmu yang harus ditakuti olehnya, dendam Hong-lui-pang dengan Bu- tong-pay boleh dikata sudah terpendam sejak lama, kini ketiga murid Bu-tong-pay ini cari gara-gara lagi, rasa sengit sudah menjalari hati Ai-pong-sut. Tapi dia dapat berpikir panjang, beruntun Bu-tong-pay mengalami kekalahan dan kerugian yang fatal, tak mungkin mereka berani mencari permusuhanpula dengan Hong-lui-pang kalau tidak yakin menang atau sudah punya tulang punggung yang kuat pasti takkan berani bermulut kotor dan mencari permus uh an- Pasti ada udang dibalik batu. Atau ada sangkut pautnya dengan perguruan lain- Tapi sejak Hong luipang berdiri, seluruh anggota bersatu padu, seia sekata, besar tekad kita untuk menuntut balas dendam perguruan, selama ini ta kpernah ada sengketa dengan berbagai perguruan besar kecil manapun, maka kejadian ini perlu diusut"

Makin dipikir makin besar rasa curiganya, maka dia berkata mema ncing: "Agaknya saudara murid murid Bu tong-pay. Butong-pay adalah perguruan ternama, sepak terjangnya terus terang dan jujur, jikalau kalian tidak menjelaskan persoalannya, jangan menyesal kalau Losiu kebacut turun tangan-"

Sayang ketiga orang itu sudah keranjingan setan, meski ludah Ai-pong sut kering juga mereka takkanpatuh nasehatnya, serangan malah makin gencar dan keji.

Karuan Ai-pong-sut naik pitam, bentaknya: "Kawanan kurcaci yang tidak tahu tingginya langit tebalnya bumi, biar kalian rasakan betapa lihaynya telapak tanganku." lenyap suaranya melayang telapak tangannya disertai gelombang angin deras. Dua kali pukulan telak membuat dua diantara ketiga laki-laki itu terpental mundur lima kaki. Lengan mereka terasa lemas dan linu, darah bergolak didada, betapa kaget dan ngeri hati mereka setelah berdiri tegak dengan mendelong mereka mengawasi Aipong sut. Orang ketiga yang berada ditengah dan belum pernah terkena pukulan lebih cerdik, otaknya lebih encer, dia tahu kalau mereka bertiga tidak lekas menyingkir jiwa bisa terancam bahaya, apalagi tugas mereka hanya membuntuti dan mengawasi gerak gerik musuh, tugas sudah terlaksana, kalau berlama-lama di sinijiwa bisa celaka, lekas dia bersiut tiga kali terus menimpukan segenggam Thi-lian ca (biji teratai besi), sekali jejak tubuhnya melambung keatas menutul pucuk pohon terus melesat jauh melarikan diri, kedua temannya mengikuti jejaknya.

Jarak kedua pihak amat dekat sergapan senjata rahasia ini sebetulnya sukar terjaga, Tapi Ai-pong sut lebih pengalaman begitu lawan bersiul dia sudah tahu kalau orang memberi aba- aba kepada kawannya untuk melarikan diri, maka dia sudah siap siaga. Melihat lawan menyerang dengan timpukan segenggam senjata rahasia, segera dia kembangkan

Ginkangnya yang tinggi, sekali berkelebat setombak lebih. Baru saja dia berniat mengejar Liok Kiam-ping keburu mencegahnya.

Kata Liok Kiam-ping: "Marilah urusan kita rundingkan lebih dulu."

Terpaksa Ai-pong sut batalkan niatnya, mereka bertiga segera bersimpuh ditanah rumput.

Liok Kiam-ping buka suara: "Menurut laporan Pang-yu (anggota) ini, ternyata ada seorang yang menggunakan Wi- liong-ciang-hoat melakukan pembunuhan besar-besaran terhadap kaum persilatan sehingga tak sedikit jatuh korban- jelas tujuannya hendak menjebloskan Hong-lui-pang kita kedalam lumpur kenistaan, sehingga menimbulkan kemarahan masal kaum persilatan, sayang partai-partai besar bertindak kurang teliti dan mud ah diadu domba, kini mereka sudah sepakat untuk bergabung mengutus jago-ago lihay mencegat pulang kita. "Terpaksa Jin-hong-tong Tongcu, Kim-ji tay-beng mengutus beberapa orang keperbagai cabang untuk memberi peringatan, beberapa orang diutus pula untuk memapak kedatangan kita ditengah jalan, sayang perintah bocor hingga beberapa jago kita dicegat dan dikeroyok sehingga tak sedikit jatuh korban-

"Untung Pang-yu ini cukup cerdik, tahu situasi amat tegang, kuatir rencana gagal, sengaja dia sembunyi didalam kota dengan menyamar, tujuannya menunggu kedatangan kita, sayang waktu dia keluar dari restoran tadi, gerak- geriknya sudah menimbulkan curiga ketiga orang tadi maka dia dikuntit sampai disini, untung jiwanya selamat."

"Menurut penyelidikan, beberapa jago musuh yang sekarang berkumpul dikota Hap-pui ada puluhan orang, mereka sedang menunggu kedatangan kita, jelas setiap langkah kita bakal mengalami Hambatan dan kesulitan yang berbahaya." demikian kata Pang-yu itu.

Berdiri alis Aipong-sut. ketanya berat: "Kalau harus bergebrak secara keras, kita tidak perlu gentar terhadap mereka. Tapi sebelum pengganas itu tertangkap. aku tetap akan dicap sebagai biang keladi dari kematian sekian banyak jago-jago silat, kan penas a ran kalau aku dijadikan kambing hitam, kalau permusuhan makin mendalam, dan memancing kemarahan masal, akibatnya tentu amat fatal bagi kita.

Liok Kiam-ping menghela napas, katanya gegetun: 'Sayang mereka mengagulkan diri sebagai perguruan lurus, orang baik. ternyata bertindak tanpa menggunakanpikiran, tak malu main keroyok lagi, jikalau mereka tak memberi muka, kitapUn tak perlu main sembunyi lagi, lawan saja sampai titik darah penghabisan-"

Ai-pong-sut tabah dan pikirannya lebih panjang, katanya setelah merenung: "Pangcu, menghadapi segala persoalan harus sabar, persoalan ini besar akibatnya, kita harus menghadapi dengan waspada dan hati-hati tempat ini bukan untuk bicara, marilah kita pulang dulu ke kota.

Liok Kiam-ping mengangguk. maka mereka beriring keluar dari hutan balik kekota dari arah datangnya tadi.

Baru saja mereka tiba diluar kota pintu timur, mendadak terdengar suitan panjang dari dalam kota. Lwekang mereka tinggi mata tajam, dari kejauhan mereka sudah melihat bayangan orang yang bergerak dari berbagai arah meluruk kepintu kota. Tapi langkah Kiam ping bertiga tidak berhenti, mereka terus maju kearah kota, setelah makin dekat tampak orang terdiri dari lima baris ada Tosu, Hwe-sio dan preman dari berbagai perguruan menghadang jalan mereka. Liok Kiam-ping tidak kenal takut, kapan dia pernah gentar menghadapi keroyokan, kumpulnya banyak orang mengadang jalannya ini justru menimbulkan rasa benci dan marah.

Setelah kedua pihak beri hadapan dengan jarak dekat, dari barisan Hwesio, yang terdepan tampil seorang Hwesio tua berusia tujuh puluhan denganperawakan yang tegap dan kereng. Ai-pong-sut kenal Hwesio tua ini adalah Hoan-pun Siansu, padri agung dari Siaulim si yang menjabat ketua Lo- han-tong, kedudukannya hanya dibawah Hong-tiang Siaulim-si saja, pada hal jarang dia keluar dari tempat tugas nya, apalagi keluar dari Siau-lim-si dan hari ini mereka harus beri hadapan sebagai musuh.

Setelah bersabda Hoat-pun Siansu berkata kepada Liok Kiam-ping: "Apakah Sicu ini adalah Patpi-kim-liong Liok Kiam- ping ketua Hong lui-pang yang baru- baru ini menggetarkan dunia persilatan?"
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(