Hong Lui Bun Jilid 25

Jilid 25

Saking marah serangan ini betul-betul dahsyat bukan kepalang. Tapi begitu dia mulai balas menyerang, seluruh barisan juga ikut mulai bergerak. Tampak bayangan orang didepan matanya, bentuk tubuh lawan mendadak lenyap. "Blum" di mana angin pukulannya menggempur, tanah dan batu beterbangan, tanah seperti dikeduk sedalam satu kaki dalam arena setombak luasnya.

Liok Kiam.ping sendiri tertolak oleh daya membal yang keras sehingga daya lajunya teri henti, maka tubuhnyapun melorot turun. Belam lagi dia berdiri tegak. suara gernuruh telah melanda dari sekelilingnya menindih tubuhnya Kiam-ping menjublek menghadapi damparan angin besar yang menerjang dirinya, tak tahu bagaimana dia harus balas menyerang. Padahal serangan sudah tiba, tiada tempo buat dia memutar otak, mendadak dia kerahkan Kim-kong put- hoay-sin-kang, biarlah bertahan dulu sementara.

Letak kelihayan barisan musuh adalah dua belas pukulan mereka dapat digabung menjadi satu jalur kekuatan yang makin ketat dan menciut ketengah gelanggang, pukulan biasa dengan Lwekang kepalang tanggung hakikatnya tak mungkin bisa balas menyerang atau melawan, maka betapapun tinggi Lwekang seseorang, akhirnyajuga akan menyerah kehabisan tenaga barisan musuh memang lihay luar biasa.

Untung Liok Kiam-ping berulang kali ketiban rejeki, badannya dilindungi ilmu sakti dari aliran Hud, dalam waktu pendek dia masih mampu bertahan menyelamatkan jiwa, jikalau orang lain, mungkin sudah mati sesak napas atau jatuh pingsan oleh tekanan hawa pukulan lawan.

Akan tetapi Kim-kong-put-hoay-sin-kung yang sakti tiada bentuknya ini takkan kuat bertahan lama karena tekanan hawa yang makin mengecil ruang lingkupnya, apalagi jarak terlalu dekat. Hanya setengah jam Liok Kiam-ping sudah mandi keringat, namun dia masih bertahan dan berkutet sekuat tenaga.

Dasar otaknya encer, sambil melawan otaknya bekerja mencari akal bagaimana memukul dan membuat barisan musuh berantakan Maka perlahan dia mengendorkan pertahanan ilmu saktinya, maka terasa arus pukulan yang deras makin mengecil ini sumber kekuatannya datang dari arah timur seperti damparan ombak laut yang bergulung- gulung, setelah mengitari pertahanan ilmu saktinya ternyata berputar balik lalu bertolak maju pula.

Baru sekarang Liok Kiam-ping teringat bahwa barisan ini di namakan Thian-kan, pasti sumber tenaganya datang dari timur, jikalau dirinya turun tangan dari sumbernya, kemungkinan dapat menemukan jalan pemecahannya .

Kini Kiam-ping kerahkan seluruh kekuatan, arus tenaga lawan yang menggencet keras itu menjadi terdesak mengeluarkan letupan-letupan lirih mundur dua kaki. Mumpung arus tenaga lawan belum lagi menggencet maju, mendadak Kiam-ping kerahkan dua belas bagian tenaganya menggempur kearah timur sebanyak enam jurus pukulan- Kali ini Liok Kiam-ping menyerang dengan seluruh kekuatannya, maka perbawa pukulannya bukan olah-olah dahsyatnya. Begitu gelombang pasang menggulung seperti amukan angin puyuh kearah timur, maka terjadilah ledakan- ledakan kecil seperti bunyi petasan- "Blang" seorang laki-laki tua di sebelah timur terpukul mundur lima kaki. Begitu orang tua disebelah timur ini terpukul pergi tekanan arus besar seketika susut sebagian besar.

Bahwa pukulannya berhasil melukai seorang sesuai rencananya. berkobar sifat gagah Liok Kiamping. semangat tempurnya makin berkobar, segera dia melompat maju melesat keluar dari lobang pertahanan lawan, berbareng kedua tangan memukul pula kearah seorang laki-laki tua yang berada diarah timur pula.

"Blang" ditengah benturan keras diselingi jeritan yang mengerikan, tubuh orang tua itu terbanting setombak jauhnya, darah menyembur tinggi beterbaran diudara, lukanya amat parah, begitu ambruk tak bergerak lagi.

Namun belum sempat Liok Kiam-ping, lolos dari barisan yang jebol diarah timur ini, bayangan orang berkelebat, seorang jago Ham-ping-kiong yang lain telah melompat maju menanbal kedudukan kawannya yang roboh. Agaknya orang inijuga sudah terlatih dan mahir mengikuti gerakperobahan barisan, karena dia sudah dapat menyesuaikan perobahan barisan ikut berputar dengan lincah.

Tekanan arus pukulan dahsyat mulai bergolak menggencet tubuh Liok Kiam-ping dari berbagai penjuru. Benci Liok Kiam- ping sudah bukan kepalang, terpaksa dia kembangkan pula Kim-kong-put-hoay-sin-kang mengincar sasaran mendadak dia mendesak maju selangkah, secepat kilat dia memukul pula sekuat tenaga.

Lolong jeritan terdengar lagi. bayangan seorang terpukul terbang setombak jauhnya, roboh untuk tidak bangun lagi. Begitulah secara beruntun setelah terdengar pukulan mengenai sasaran satupersatu lawan menjerit kesakitan serta jatuh terguling. Setiap korban pukulan pasti menyemburkan darah hingga berceceran ditanah, keadaan amat mengerikan- Hanya beberapa kejap. dua belas musuh yang membetuk barisan gabungan tinggal lima orang saja yang masih melawan-

Namun saking bernafsu merobohkan musuh, Liok Kiam- ping sendiri juga kehilangan banyak tenaga, mukanya pucat, napasnya tersengal. Tapi dirinya pantang berhenti dan menyerah. Rasa bencinya terhadap orang-orang Ham-ping- kiong sudah merasap ketulang sungsum. matanya melotot gusar, sambil kertak gigi dia sudah siap menggunakan serangan terakhir yang paling ampuh.

Mendadak didengarnya Ham-ping-leng mo membentak: "Anak muda, kejam betul hatimu, hari ini tak terampun jiwamu." Dari jarak jauh dia, menggerakan kedua tangan satu lingkar lalu disodok kedepan, telapak tangannya menepuk kearah Liok Kiam-ping. Sebelum tenaganya mengenai sasaran, hawa dingin sudah menerjang tiba lebih dulu.

Seluruh hadirin yang kesampuk angin pukulan dingin ini tiada yang tidak menggigil kedinginan Ternyata gembong iblis ini sudah melontarkan Han-ping-ciang-kang yang ganas dan beracun.

Setelah kehilangan banyak tenaga. sepantasnya Liok Kiam- ping berkelit meluputkan diri dari pukulan dingin yang dahsyat ini namun wataknya terlalu keras kepala apalagi menghadapi musuh perg uruan, sedikitpun dia tidak mau mengalah. Sambil kerak gigi dia kerahkan sisa tenaganya menyongsong pukulan lawan

Dua gelombang pukulan beradu ditengah udara. Ledakan keras seperti letusan gunung beradu menggelegar, kedua orang tertolak mundur selangkah. Setelah banyak terkuras tenaga murninya, Liok Kiam-ping masih kuat adu pukulan dengan gembong iblis ini, sungguh luar biasa kemampuannya. Mukanya tambah pucat, sekuatnya dia tekan darah yang bergolak didadanya, matanya mendelik dan siap siaga menanti serangan lawan

Bukan main rasa kaget Ham-ping-leng-mo, bahwa Liok Kiam-ping mampu melawan pukulan Lwekang yang sudah diyakinkan hampir enampuluh tahun lebih, ternyata dia tidak mampu mengalahkan anak muda yang sudah banyak terkuras tenaganya, sungguh bukan olah-olah tangguh Lwekang bocah ini. Jikalau adu kekuatan dalam keadaan biasa, gelagatnya dirinya juga bukan tandingan bocah ini. Kini mumpung ada kesempatan, lawan sudah terkuras tenaganya, yakin sudah terluka dalam pula, kalau hari ini tidak diganyang sekalian, selanjutnya Ham-ping-kiong tidak akan aman dan tentram.

Amarah menunjang niatjahatnya, lekas dia kerahkan tenaga mengatur pernapasan, diam-diam mulai mengerahkan Hian-ping-im-sat, ilmu yang barusaja berhasil diyakin kan setelah dirinya tetirah sekian tahun lamanya, telapak tangannya berobah mengkilap seperti batu jade yang terbungkus kabut putih yang bergulung-gulung dari tengah telapak tangannya.

Pukulan dangin ini berintikan sumber hawa dingin yang amat keji, disedot dan diserap lewat urat nadi, bila tenaga di kerahkan, hawa yang diserapnya akan membeku menjadi Sekeping es dengan tenaga timpukan dapat menyerang lawan dalam setiap gerakan, bila lawan tersambit kepingan es, urat nadi akan buntu dan membeku badanpun kaku dan jiwa melayang, tiada obat untuk menyembuhkan atau menolong jiwanya, jahatnya bukan main-Hanya tenaga sakti dari aliran Hud saja yang mampu menahan serangan dingin ini, tapi jikalau landasan tenaganya kurang kokoh juga pasti kalah oleh kekuatan musuh, maka akibatnya akan lebih fatal.

Ham-ping-leng-mo tahu bahwa Liok Kiamping meyakinkan ilmu sakti dari aliran Hud, yaitu Kim kong-put-hoay-sin-kang yang mampu menahan serangan gelombang dari ilmu yang dilatihnya, maka sejak tadi dia tak berani melancarkan ilmu simpanannya, terlebih dulu dia suruh anak buahnya mengeroyok Liok Kiamping, sekaligus menguras tenaganya.

Ternyata Liok Kiam-ping bernyali besar, hakikatnya dia tidak pandang sebelah mata kepada musuhnya, wataknya yang angkuh kapan mau menyerah kepada musuh, maka dia gampang ketipu diluar dasarnya.

Setelah beradu pukulan dengan Ham-ping leng-mo, sebetulnya dia sudah terluka dalam yang amat parah, meski Lwekangnya tidak ukuran lagi tingginya, tak urung wajahnya tetap pucat pasi, napaspun memburu.

Betapa luas pengalaman dan tajam pandangan Ham-ping- leng- mo sekali pandang lantas hati maklum, mana dia mau mengabaikan kesempatan baik ini, maka dia pergencar mengerahkan Hian-ping-im-sat. Sudah tentu tujuannya sekali gempur meroboh kan lawan-

Begitu tangan bergerak. dua gulung hawa beruap putih laksana panah melesat kearah Liok Kiam-ping. Deru angin yang mendesing keras membawa desis angin yang membising telinga.

Liok Kiam-ping terpesona kaget oleh serangan lawan yang mendadak dan aneh ini, Tapi dia cerdik pandai, melihat sikap serius iblis tua ini dalam mengerahkan tenaga dan ilmunya, dia maklum bahwa lawan akan menyerang dengan ilmu keji beracun, malah lebih jahat dari pukulan Heksat-kang.

Walau menyadari dirinya sudah agak terluka dalam, tidak boleh sembarang mengerahkan ilmu sakti, namun ingin hid up adalah kodrat manusia bewatak seperti Liok Kiam-ping yang tidak mau menyerah dan terima ajal. Maka dia kerahkan kekuatan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, apapun yang bakal terjadi, lawan dulu biar akibatnya ditanggung belakangan- Uap putih dari pukulan lawan yang melesat deras itu sudah dua kaki didepan badan- Ternyata terbendung berhenti dan bergolak  diudara. karuan Ha rn-ping- leng-mo membatin: "ilmu sakti bocah ini memang hebat, setelah luka dalam dia masih mampu melawan sembilan bagian tenaga dingin Lohu kalau lawan dalam keadaan segar bugar, Ham-ping-im-sat yang semula dibanggerakan dan yakin dapat mengalahkan musuh manapun hari ini takkan berguna terhadap pemuda yang satu ini, kalau sekarang tidak turun tangan keji, pasti kelak akan menjadikan bibit bencana.”

Benaknya bekerja secepat kilat, sementara tangannya tak teri henti menyerang sambil menambah tenaga.

"Bless" uap putih itu bergulung-gulung, ditengah desis suaranya yang ramai, mendadak uap putih yang bergolak makin keras itu berhasil mendesak maju satu kaki Liok Kiam- ping tampak menggertak gigi, sckuatnya dia kerahkan sisa tenaganya dia menahan sambil membusung dada. Ternyata uap putih berhasil didesaknya mundur satu kaki pula. Namun demikian sudah menunjukan tenaga Liok Kiam-ping yang makin lemah, keringat sebesar kacang mulai menghiasi jidatnya lalu berketes-ketes mengalir keleher dan wajahnya.

Uap putih mendesak maju setengah kaki pula  Sebentar  lagi sudah jelas Kiamping takkan kuat bertahan. Sekonyong- konyong dalam saat genting itulah kumandang sebuah suara bentakan lantang: ”Jangan kuatir Pangcu " lenyap suaranya orangnya tiba, sesosok bayangan kelabu meluncur turun digelanggang.

Jago-jago yang hadir seluruhnya tumplek perhatian menyaksikan pertarungan sengit yang susah ditonton selama puluhan tahun ini, sehingga mereka melupakan keadaan sekelilingnya. Maka bentakan lantang ini menyentak mereka dari lamunan, ingin mencegat juga sudah kasep. Apalagi gerakan pendatang ini amat cepat, Sebelum kedua kaki menginjak tanah, dua bayangan hitam dengan desing suaranya yang tajam melesat kearah kedua telapak tangan Ham-ping-leng-mo.

Mendengar suara Ai-pong-sut Thong- cau seketika menyala semangat Liok Kiam-ping, sisa tenaga dalam tubuhnya dikerahkan seluruhnya memperkeras ketahanan ilmu saktinya, hingga uap putih lawan didesaknya mundur pula menjadi dua kaki seperti semula.

Baru saja Ham-ping-leng-mo pusatkan pikiran dan tenaganya untuk menambah kekuatan Hian-ping-im-sat. Mendadak dua bayangan hitam dengan desing suaranya yang tajam melesat bagai kilat kearahnya. Mendengarkan suara membedakan senjata, dia tahu sejenis pelor besi yang menyerang dirinya, namun desing suaranya justru lebih keras dari biasanya.

Sudah tentu menyelamatkan diri sendiri lebih penting, mendadak dia tarik kedua tangan sambil melangkah minggir kekiri, disaat mengegos itulan dia menarik balik kekuatan Hian-ping-im-sut. Tak nyana begitu dia mengegos kekiri, dua bayangan hitam yang meluncur datang itu untuk membelok dan tetap menerjang kearah dirinya. Baru sekarang dia sadar bahwa kedua bayangan hitam ini mungkin adalah Yam-yam- tam yang sudah lama terkenal itu. Bukankah Tay-bok-it-siu kecundang oleh sepasang bandulan besi.

Sambil tertawa dang in dia mengelinjang tubuh. 'Sret" tiba- tiba tubuhnya melesat tinggitujuh tombak keudara, ditengah udara dia menekuk pinggang seraya menjejak kaki, dengan gaya yang indah gemulai tubuhnya melesat sepuluh tombak jauhnya.

Pelor belibis milik Ai-pong-sut memang bisa membelok dan mengejar musuh karena dikendalikan oleh tenaga dalam, tapi paling tinggi hanya dapat mencapai satu tombak. Begitu Ham- ping-leng-mo melambungkan tubuhnya, maka Yan-yam-tam tak mampu mengejarnya. Lekas Ai-pong-sut menggapai dengan kedua tangan, dua pelornya dia tarik kembali. Setelah membersihkan badan dan sekedar istirahat, di Hotel Hok-eng, Ai-pong-sut keluar jalan-jalan, pikirnya hendak mencari warung untuk mengisi perut, setelah makan malam dia pikir akan segera menyusul Liok Kiamping. Waktu dia membelok kesebuah gang, mendadak di kaki tembok dipojok jalan sana dia menemukan tanda rahasia tanda rahasia Hong- lui-bun, tanda itu menyatakan keadaan gawat dan mohon bantuan, mungkin sudah beberapa hari tanda rahasia itu di sana, karena kehujanan hingga kelihatannya sudah agak buram.

Lupa mengisi perut Ai-pong-sut langsung menuju kearah yang ditunjuk dalam tanda rahasia, hatinya gugup setengah mati: 'Sejak tadi Pangcu mengejar jejak musuh, belum ada kabar beritanya, sekarang orang kita sendiri memberi tanda SoS, persoalan yang satu belum beres timbul persoalan yang lainpulapula, agaknya tiada kehidupan tentram dan sentosa dalam kalangan Kangouw.

Dengan perasaan tertekan danprihatin dia terus bergerak kearah tanda yang dilihatnya disepanjang jalan, akhirnya dia membelok beberapa kali dan tiba ditanah tega la n diluar kota a rah selatan.

Daerah tegalan di sini rungkut dengan semak-semak yang subur menghijau, hari sudah menjelang mag rib, halimun mulai timbul, orang jalan makin jarang dan keadaan makin sepi dan belukar.

celoteh burung gagak riuh dan ramai dipucuk pohon, sayang sekali tanda bahaya perguruan lernyata putus sampai di sini, sekeliling tiada jalan lagi, pada hal Lwekang Ai-pong- sut tinggi, pengalaman luas, namun dia berdiri kebingungan- Sekilas dia menerawang sekelilingnya, mendadak dia lompat tinggi kepucuk pohon, dengan kelincahan tubuhnya dia mengembangkan Ginkang berlompatan dari pucuk kepucuk pohon yang lain-Matanya memang tajam, dilihatnya dipinggir sebuah tanah gunduk disebelah kirisana, lapat-lapat seperti kelihatan bayangan sebuah biara yang dkelilingi tegalan-

Pada hal gunung di sini amat liar tiada bangunan apa - apa disekitarnya. Kehadiran biara bobrok ini rasanya terlalu menyolok. Kalau tanda bahaya berhenti di sini, kenapa tidak menyelidiki tempat itu. Segera dia melesat seperti terbang ke sana.

Pintu biara sudah roboh separo, pigurapun sudah kropos dan takjelas tulisan apa yang terukir diatasnya, mungkin sudah terlalu lama tidak dihuni dan diurus orang, maka cat pintunyapun sudah luntur, galagasi bertebaran di  tepi dipinggir daon pintu, kembali dia menemukan tanda bahaya perguruannya. Penemuannya membuat hatinya girang seperti kafilah yang menemukan oase dipadang pasir, diam diam dia bersyukur bahwa perjalanannya kali ini tidak sia-sia, apapun harus diselidiki, mungkin sekaligus dapat membongkar muslihat licik musuh kenapa Liok-pangcu dipancing musuh.

Dengan rasa senang dan lega namun tak lepas dari kewaspadaan dia menjejak kaki, secepat kilat dia melesat kedepan pintu. Perlahan dia ulur tangan lalu mengetuk dua kali dengan tanda rahasia perguruan-

Dari dalam biara mendadak menerjang keluar sesosok bayangan menghadang didepan sambil berseru: "Tunggu sebentar: Ibu jari dan jari telunjuk teracung membundar didepan dada.

Aipong-sut melihat jelas, orang ini berusia tigapuluhan, berpunggung harimau berpinggang biruang, tampak gagah dan cekatan, gerak tanda yang diperlihatkan ini jelas sebagai seorang wakil Thocu dari salah satu cabang: Maka Ai-pong-sut mengangguk, kelima jarinya terbuka lurus tangan kanan terangkat menyentuh pundak kanan lalu diturunkan-

Melihat gerakan itu Ai-pong-sut lantas merangkap kedua tangan menjura dan terangkat diatas kepaia, serunya memberi hormat kepada Ai-pong-sut: "Tecu Li Eng-siu wakil Thocu cabang Thong- koan menyampaikan sembah hormat kepada Tianglo."

Ai-pong-sut Thong- cau mengulap tangan, katanya dengan tertawa: 'Li-hu-thocu tak usah banyak hormat, apakah disiniterjadiperistiwa genting, apakah tanda sos diluar itu kalian yang meninggalkan.'

Seketika merah mata Li Eng sin, mendengar pertanyaanAi- pong sut, katanya dengan sedih: 'Demi karunia Suco dan kebaikan Pangcu, Tecu diangkat sebagai wakil Thocu di Thong-koan, membantu Thocu cui-pi-jiu Lau Bunja mengatur segala kepentingan Hong Lui-bun kita didaerah Thong-koan ini, disaat aktifitas kita makin maju, mendadak kami memperoleh perintah kilat dari pusat bahwa segala kegiatan diluar harus segera dibekuk, maka kami segera menunaikan tugas dengan baik.

"Disaat kita sibuk memberikan info kepada kader-kader kita yang sedang bertugas diluar mendadak puluhan jago-jago kosen Ham-ping-kiong yang datang dari Bok-pak malam- malam menyerbu ke markas, mereka main bunuh, tumpas dan bakar, banyak anggota kita yang gugur, terluka parah, demikianlah nasib Lau-thocu yang terluka parah ditangan orang-orang Ham-ping-kong."

Perawakan Li Eng-siu memang kekar dan gagah, namun  dia seorang yang tak kuat menahan emosi, beri hati lemah, membayangkan betapa mengenaskan keadaan para saudaranya yang gugur dan terluka air matapun bercucuran, sambil terisak dia meneruskan ceritanya: 'Waktu itu kebetulan Tecu mendapat tugas diluar daerah, sehingga tidak  mengalami tragedi yang mengenaskan- Dikala aku kembali, markas sudah menjadi puing mayat bergelimpangan, keadaan amat mengenaskan, seluruh harta milik dan dokumen telah dirampas musuh." Ai-pong-sut Thong cau bersuara heran dan gemas. 'Hari itu juga para korban dikebumikan, sambil mengutus orang minta bantuan kemarkas pus at, disamping mengumpulkan sisa anggota yang masih hidup untuk merundingkan langkah selanjutnya, tak nyana hasil penyelidikkan menunjukan bahwa para anggota lain yang masih selamat juga sudah diluruk keruman mereka, seluruh keluarganya juga diganyang habis-habisan, ayam anjingpun tiada yang hidup, Demikian pula Kawan-kawan yang diutus minta bantuan kemarkas atau kecabang lain kedapatan mati ditengah jalan Maka untuk menyelidiki asal usul dan tempat berpijak musuh, kami tak berani jauh meninggalkan daerah ini, terpaksa siang malam menyembunyikan diri sambil melacak jejak musuh.

Berapa orang kami sebar untuk membuat tanda tanda rahasia diberbagai pelosok kota. dengan harapan ada kawan kita yang melihat tanda mohon bantuan itu segera datang memberi pertolongan. Agaknya harapan kita terkabul dengan kehadiran Tianglo disini. Tecu akan berjuang sekuat tenaga, mohon Tianglo pimpin usaha kita untuk menuntut balas bagi kematian para saudara.'

Selama mendengar cerita darah Ai-pongsut sudah mendidih gusar, mata melotot muka merah padam rambutnya yang jarang jarangan berdiri. Tapi sebagai seorang kawakan, dia tahu gugup tiada gunanya, katanya setelah menghela napas panjang: 'Li-hu-thocu tak usah terlalu bersedih hati, musuh tangguh disekeliling kita, dalam menghadapi situasi segenting inipantang emosi, kita harus menghadapinya dengan pikiran dingin, cermat dan sabar. Entah bagaimana hasil penyelidikan Li-hu thocu tentangjejak musuh ? Siapa pemimpin mereka ?'

Li Eng-siu membungkuk hormat dan memberi keterangan: 'Musuh tidak punya tempat tinggal tetap. namun diketahui ada tiga tempat di kota sering mereka kumpul di sana, tapi kumpul sebentar lantas berpencar pula, maka dapat diduga mereka pasti mendirikan markas darurat diluar kota.' Ai-pong-sut mengangguk maklum, diperjalanan diluar kota tadi bukan mereka juga dipancing musuh, bukan mustahil kejadian itu ada hubungahnya dengan peristiwa disini, maka dia bertanya 'Pernah kau selidiki sebelah barat luar kota. Tak heran sampai sekarang Pangcu belum juga kembali.'

'Haya, jadi Pangcu juga telah datang, dimana sekarang beliau? Musuh menyerbu kaki tangannya di daerah barat kota, penjagaan amat ketat, sudah berapa kali Tecu menyelidik kesana, tapi akhirnya mundur teratur menghadapi penjagaan mereka yang keras, malah hampir saja jiwa Tecu melayang."

Ai-pong-sut Thong cau berkata: 'Waktu lewat daerah barat siang tadi PangCu dipancing musuh, sampai sekarang belum tiba, agaknya mereka sudah berencana sehingga kami terjeblos dalam perangkap mereka. Urusan amat genting dan tak boleh ditunda lagi, sekarang mari kita bersiap menyambut atau menyusul PangCu.'

Li Eng-siu mengiakan, segera dia mendahului bergerak dengan kelincahan tubuhnya menuju kebarat. Sebagai orang setempat, dia Cukup apal seluk beluk daerah sini, apalagi mereka menguatirkan keselamatan sang Pangcu, maka sekuat tenaga mereka menggenjot langkah berlari bagai terbang naik kepuncak barat.

Satu jam kemudlan mereka sudah tiba diluar kota. Maju lagi tiga li mereka tiba dipinggir sebuah hutan- Disaat mereka Celingukan memeriksa keadaan sekitar Ai-pong-sut mendahului bergerak hendak masuk ke hutan. Mendadak terdangar kesiur angin yang cukup keras, dari suaranya seperti ada tiga jenis senjata rahasia yang menyerang dari tiga jurusan-

Ai-pong-sut menghardik gusar: "Bangsat berani mati." melompat selangkah, kedua lengan bajunya dikebaskan- Tiga senjata rahasia yang menyerang tiba dipukulnya jatuh ditanah. Sekejap itu, keadaan dalam hutan hening.

Ai-pong-sut Thong cau yang sudah kenyang berkelana di kangouw menjadi bingung dan tak habis mengerti. Namun keadaan di sini tidak jelas, lawan ditempat gelap. bila musuh sudah bersiap didalam hutan, amat berb ahaya bila dirinya nekad masuk kedalam. Tapi bila mengulur waktu, betapapun tinggi Lwekang Liok Kiam-ping, seorang diri mungkin menghadapi bahaya apa lagi seorang diri mana kuat melawan keroyokan musuh banyak. bila dirinya datang terlambat, mungkin biaa menyesal seumur hid up,

Karena bimbang langkahnya merandek. Dengan penuh perhatian dia periksa keadaan dalam hutan, tampak bayangan orang bergerak jelas perangkap sudah diatur di umpama dirinya dapat menerobos penjagaan musuh yang ketat, Li Eng- siu yang berkepandaian rendah tak mungkin mengikuti langkahnya. Untuk mengejar waktu, Cara yang paling tepat adalah melayang dari pucuk pohon, disamping lebih Cepatjuga agak kecil ancamannya.

Setelah berbisik-bisik sekejap mereka kerahkan tenaga, sambil bergandeng tangan mereka melompat tinggi keatas pohon, dari dahan pohon yang satu melompat kepucuk pohon yang lain- Kepandaian silat Li Eng-siu memang tidak beg itu tinggi, namun ginkangnya ternyata cukup memadai dibawah bantuan Ai-pong-sut lagi, maka dia bergerak leluasa.

Tak nyana gerak gerik mereka sudah diawasi oleh musuh dalam hutan, begitu mereka beraksi, maka terdengarlah suara "ser, ser' dan keresekan dahan dan daon, senjata rahsia yang tak terhitung banyaknya, dari bawah pohon memberondang kearah mereka-

Gerakan mereka diatas pohon memang terlihat jelas dari bawah, maka seranganpun datang bertubi-tubi. Ai-pong-sut masih bisa mengebas lengan bajunya, senjata rahasia yang menyerang dapat disampuknya jatuh, sementara kaki masih terus melesat kedepan. Tapi lain keadaan Li Eng-sin yang terpencar kesebelah kanan, terpaksa dia memutar golok tunggal ditangannya, maka terdangarlah dering ramai senjata rahasia yang dipukulnya jatuh beri hamburan, namun serangan dari bawah memang cukup gencar, apalagi goloknya cukup berat, diatas pohon yang sukar mengerahkan tenaga, maka gerakannya menjadi teri halang, bukan maju dia malah dihadang mundur.

Sudah tentu Ai-pong-sut tidak tega tinggal pergi seorang diri tanpa pikirkan keselamatan Li Eng-siu. pikirnya: 'Arahnya sudah kutemukan di sini. kalau dia ikut akan membuat beban diriku, lebih baik suruh dia mengundurkan diri keluar hutan dan menunggu dalam persembunyian, denganpikirantenang baru aku bis a menghadapi musuh tangguh.' segera dia, berputar arah melompat mendekati Li Eng-sin serta membisikinya, kembali kedua orang lompat berpencar, Li Eng- sin melompat mundur lalu melayang turun diluar hutan-

Maka Ai-pong-sut mengembangkan Ginkang tinggi, diantara daon-daon pohon tubuhnya meluncur seperti burung walet melesat jauh kedepan, setiap dahan yang diinjaknya berpantul tubuhnya lantas melambung keatas seperti panah yang dijepret dengan pegas, beruntun kedua lengan bajunya bekerja, seluruh Am-gi yang menyerang dirinya rontok beri hamburan- Hanya beberapa lompatan, dia sudah meluncur tiga puluhan tombak jauhnya.

Memikirkan keselamatan Liok Kiam-ping, dia percepat langkah kakinya, Ginkang dikembangkan sampai keliwat batas kekuatan kakinya, tubuhnya meluncur seperti segumpal mega, laksana meteor terbang diangkasa melesat diatas pohon, dalam sekejap lima puluh tombak telah dicapainya pula.

Disaat tubuhnya meluncur dengan kecepatan tinggi itulah, mendadak selarik sinar putih meluncur tinggi dari celah-celah dedaonan yang lebat, lekas Ai-pong-sut mengeram langkahnya sambil berkisar setombak kepinggir. 'Daar' ledakan yang disertai Cipratan kilat api menimbulkan kepulan asap biru dan hijau, sehingga daon-daon dipucukpobon seperti disambarpetir, disamping hangus juga menimbulkan bau yang tidak sedap dicium.

Betapapun tinggi Lwekang dan Kungfu Ai-pong-sut tak urung kagetnya setengah mati, untung dia sempat  menyingkir. Dia tahu pelor beracun musuh amat ganas bila badannya kecipratan sedikit saja, kulit daging pasti akan lecet terbakar

Tengah Ai-pong-sut kebingungan, dua larik sinar putih kembali melesat dari kiri kanan- Ditengah udara kedua pelor api itu meledakpula secara beruntun. Lekas Ai-pongsut menggenjot tubuh menyingkir beberapa tombak jauhnya. Baru saja tubuhnya meluncur turun, sinar biru tampak berkelebat tiga kaki didepannya, kali ini tanpa sempat berpikir, tubuhnya pasti akan hancur lebur dan terbakaroleh ledakan pelor musuh.

Untung lah disaat gawat itu timbul akalnya. mumpung tubuhnya melorot turun, meminjam gerakan Ginkangnya yang tinggi ditengah udara dia jungkir balik sehingga kepala dibawah kaki diatas, kedua tangan terulur kedua telapak tangan terangkap ketengah dengan jurus hwi-yan-jeng-lim ( burung terbang menyusup kehutan). Maka tubuhnya menyelinap turun kedalam rimbunnya dahan-dahan pohon-

Baru saja tubuhnya ditelan rimbunnya daunpohon, sinar biru itupun sudah meledak menimbulkan kebakaran yang menjalar kesekitarnya, asap biru dan hijau tehal melingkupi udara sekitar kejadian, baunya amis dan memualkan, senjata rahasia yang satu ini memang jahat dan beracun.

Begitu kaki menyentuh bumi Ai-pong-sut kembangkan kelincahan gerak tubuhnya kaki tangan bekerja, selicin belut dia menyusup ketempat di mana bayangan beberapa orang sedang bergerak. Dia tahu betapapun kuat daya ledakan dan daya bakarpelor api musuh juga takkan berani ditimpukan dalam jarak dekat, apa lagi orang-orang musuh pasti ada disekitar sini, maka dia berlaku cerdik mendesak ketempat lawan supaya mereka tak berani menyerang pula  dengan pelor tapi Langkahnya memang tepat dan manjur, musuh merasa diluar dug a an, serempak mereka lompat menyingkir. Sudah tentu Ai-pong-sut tidak biarkan musuh menyingkir, dengan kencang dia mengudak lawan yang dicarinya. Dalam sekejap mereka sudah menerjang keluar hutan.

Didepan adalah sebuah ngaraipendek yang bercabang. Keadaan menjadi sunyi senyap tanpa bayangan seora ngpun, entah kemana orang-orang Ha m-ping-kiong, dalam waktu sekejap mereka sudah tidak kelih atan bayangannya.

Saat itu senja sudah menjelang, cahaya rembulan bening red up, puncak gunung mulai dibungkus halimun, angin mulai me ngh embus kencang, kadang-kadang terdengar gerungan atau auman binatang buas. Bagi yang bernyali kecil pasti tak berani beranjak setapakpun dari tempat itu. Ai-pong-sut sendiri juga berdiri melenggong.

Tapi waktu amat mendesak. tiada waktu untuk berpikir, namun dia yakin sarang musuh pasti takjauh dari tempat ini. Mendadak dia putar tubuh terus berlari keatas puncak disebelah kanan. Puncak gunung d sini mencakar langit, tinggi lagi curam seumpamaburung bangau berdiri diantara gerombolan ayam, bagi yang berkepandaian atau Ginkangnya rend ah jangan harap bisa naik keatasnya.

Ai-pong-sut mengincar arah terus mengembangkan Ginkang tinggi, setangkas kera selincah tupai dia berlompat diatas batu-batu cad as yang runcing dan tajam. Tubuhnya laksana bayangan kelabu yang menjulang tinggi bagai asap mumbul keudara, dalam sekejap dia sudah tiba dibibir puncak.

Padahal Lwekangnya cukup tangguh, namun untuk manjat k.epuncak ini ternyata cukup menguras tenaga hingga napasnya agak memburu. Istirahat sejenak segera dia layangkan pedangnya keempat penjuru, gunung gemunung terbentang didepan mata, kecuali Hembusan angin yang membawa pergolakan mega, tiada sesuatu yang bisa dilihat dari tempatnya"

Mendadak disebelah utara diantara puncak dan batu-batu gunung, dilihatnya ada beberara bayangan hitam bergerak cepat laksana pelor yang meluncur secara berjangka. Bila dia melihatjelas bayangan itu berbentuk manusia, lekas sekali beberapa bayangan itu sudah lenyap ditelan gelap dibalikpohon. Dunia kembali menjadi Hening dan beku.

Tanpa pikir segera Ai-pong-sut kembangkan Ginkangnya meluncur turun dari atas puncak. langsung mengudak kearah utara. Kejap lain bila dirinya sudah hampir mencapai tujuan, mendadak hati Aipong-sut menjadi bimbang malah.

Ternyata daerah ini merupakan ngarai ngarai yang berbahaya dengan dinding-dinding gunung yang tegak. dibawahnya bertaburan batu-batu aneh yang sukar diinjak kaki manusia, atau binatang buaspun sukar hidup ditempat ini, apa lagi bersembunyi di sini.

Tengah Ai-pong-sut celingukan dan memeriksa keadaan, mendadak dari sebelah belakang kumandang luncuran senjata yang melesat kearah dirinya. Mendengar suara Ai-pong-sut dapat membedakanjenis senjata yang menyerang dirinya, dia tahu yang menyerang tiba ini termasuk senjata rahasia yang berbobot berat, jumlahnya pasti lebih dari tiga, lekas dia mengepos miring, meminjam tenaga tutulan ujung kakinya, dia gunakan gaya Hu-goa-gian-gu (mendekam melihat kerbau) seluruh tubuhnya mendekam kedepan.

Lima bintik sinar dingin membawa ekor cahaya biru melesat kedepan dengan formasi barisanBwe-hoa. Ternyata itulah lima batangJam-sin-ting. Sinar biru menandakan bahwa pakupenembusjantung itu berlumuran racunjahat.

Sigap sekali Ai-pong-sut sudah mencelat berdiripula seraya menoleh kearah datangnya serangan. Keadaan tetap sepi lengang. tiada bayangan manusia, atau setan dia tahu dirinya mungkin terkepung dan gerak gerik sendiri selalu dibawah pengawasan musuh, maka hal ini lebih disimpulkan lagi bahwa tempat ini tidak jauh lagi dari sarang musuh. tapi musuh sembunyi seperti kura-kura, kemana dan bagaimana dirinya harus turun tangan.

Yang penting sekarang adalah memancing mereka serta mengajaknya bicara. Mendadak dia kerahkan tenaga, kaki mengenjot tubuhpun melesat kearah datangnya serangan. Beg itu tubuhnya terapung, dari kanan kiri kembali meny amber dua jalur tenaga keras, sebelah kiri ada tiga titik sinar perak. yang menyamber dari kanan adalah panah pendek bidikan iangan menyerang tiba dari atas dan bawah. Agaknya penyerang Am-gi ini memiliki tenaga dalam luar biasa, maka luncuran Am-gi ini terasa kuat dan deras.

Baru saja tubuh Ai-pong-sut terapung, senjata lawan dari dua arah sudah melesat tiba, sedikit lena pasti badan cidera, untung Ai-pong-sut memiliki Ginkang tinggi dan latihan yang sudah matang. Lekas dia menarik napas panjang, tenaga dikerahkan dari pusar, dalam keadaan sudah tidak mungkin selamat, dia menjejak kaki sehingga tubuhnya mumbulpula tiga kaki lebih tinggi,jiwanya selamat.

Namun amarah telah melembari hatinya, begitu kaki menutul bumi, sigap sekali dia memutar tubuh, laksana angin lesus cepatnya dia menubruk kearah kanan.

Gerakan Ai-pong-sut sudah teramat cepat, namun bokongan musuh menyerang lebih cepat lagi. Baru saja dia bergerak. angin kencang sudah meluncur pula dibelakang, sambil bersuara heran, tubuhnya yang sudah kebacut menerjang kedepan seketika direm sambil menekuk ping gang dan melompat miring kesamping, angin kencang melesat daripundak kirinya.

Sigap sekali dia sudah membalik badan. dibelakangnya hanya batu-batu aneh saja yang kelihatan, deru angin gunung makin ribut, bayangan orang tidak kelihatan- Namun pengalaman Ai-pong-sut memang amat luas, sekilas dia menerawang sekililingnya, maka benaknya membatin: "Pembokong itu jelas sembunyi disekitar sini, kenapa tidak kelihatan bayangannya ? Tapi satu hal dapat dipastikan- pembokong itu pasti tidak leluasa juga bergerak, maka lawan hanya menyerang bila dirinya bergerak. entah dari depan belakan atau kiri kanan, maka dapatlah diduga bahwa persoalan terletak pada batu-batu gunung yang aneh-aneh itu.

"Tapi setelah aku bergerak baru lawan menyerang, kalau aku tidak bergerak. mana bisa aku memeriksa gerakan musuh?" sekilas dia mengerut kening, maka tersimpul sebuah akal dalam benaknya.

Diam-diam dia mengerahkan tenaga, tiba-tiba tubuhnya berkelebat secepat roda menggelundung dia berputar kebelakang. kecepatannya memang amat mengejutkan.

Musuh yang ssembunyi itu memang tak berani bertindak, karena hal itu akan memperlihatkan posisi mereka sembunyi. Hanya sekejap Ai-pong-sut sudah berputar kepinggir sebuah batu besar. Diam-diam dia perhatikan batu besar itu jelas bukan tumbuh secara alamiah, tapi memang dibuat manusia, cuma buatannya sedemikian api sehingga selintas pandang orang tidak akan bisa membedakan, tapi setelah diperhatikan orang akan menemukan sebuah celah lobang dipermukaan tanah. Waktu dia, kerahkan tenaga mendorong, batu itu bergerak. hatinya makin curiga, tekadnya untuk membongkar rahasia musuh makin besar. Segera dia pasang kuda-kuda kedua tangan mendadak mendorong batu besar itu.

"Pletak" ditengah suara pecahan keras, batu itu sudah terpukul jatuh separo dan mengeluarkan suara berdentam, jelas bagian bawah tanah kosong. Ai-pong-sut menduga dibawah batu ini mungkin terdapat sebuah kamar bawah tanah yang cukup besar, segera dia jemput batu besar serta dibantingnya keras berulang kali dentam suaranya makin nyaring menandakan bahwa memang benar dibawah ada ruang kosong.

Akhir kali dia angkat batu besar hendak membantingnya pula. Mendadak seorang membentak dibelakang: "Sahabat berhenti saja, hematlah tenaga dan sambutlah ini." belum habis bicara terdengar pula suara "ser, ser, ser", senjata rahasia menyerang dirinya pula. 

Ai-pong-sut lompat delapan kaki kesebelah kanan, namun sebelum kakinya berdiri tegak dari kiri terdengar pula bentakan:

"Sambut lagi yang ini." serumpun cahaya perak laksana hujan memberondang kepada dirinya.

Ai-pong-sut masih terapung, sinar perak itu sudah dekat ditubuhnya. Dia kerahkan tenaga dikedua lengannya, mendadak dia menepuk kedua tangan ke tanah "Blang " batu gunung dibawahnya terpukul hancur beterbangan dengan debu membumbung keudara.

Meminjam daya pantul pukulan keras nya itu, tubuhnya melenting mumbul lima kaki, di tengah udara menekuk ping gang menjejak kaki, tubuhnya meliuk setengah bundar dengan g indah meluncur dua tombak jauhnya.

Bila dia berdiri tegak pula, maka dilihatnya sekelilingnya sudah berdiri delapan orang setengah umur berseragam ketat, mereka menduduki posisi pat-kwa diatas sebuah batu besar, dirinya terkepung diantara kedelapan orang ini. Masih sempat Ai-pong-sut meneliti lingkaran musuh, setiapjarak dua langkah dari kedudukan setiap orang itu terdapat sebuah batu yang menonjol keluar daripermukaan bumi setinggi satu kaki lebih.Jarak setiap batu dan bentuknya sama satu dengan yang lain. Jadi batu-batu ini diatur dengan barisan Pat-kwa yang lihay.

Ai-pong-sutjuga seorang kawakan Kangouw, selintas pandang lantas dia tahu bahwa posisi Pat-kwa ini memang sudah diatur sebelumnya, tapi sebelum dirinya meraba seluk beluk lawan, betapapun dia tidak mau dijadikan bulan-bulanan serangan mereka dan mandah diserang belaka, apapun dirinya harus berjuang memancing tahu asal usul mereka

Dia tahu mata barisan terletak dia rah selatan yang dinamakan Kian-kiong, sengaja dia bergelak tawa kearah selatan, serunya:

"Para sahabat, tengah malam mencegat perjalananku, entah apa maksud kalisn coba jelaskan."

orang yang menduduki posisi Kian-kiong di selatan ini berusia paling tua, sudah lebih lima puluhan tahun, dia terkekeh dingin, katanya: "Inilah daerah terlarang Ham-ping- kiong, kita bertugas atas perintah maka kami Harap tuan datang dari mana dan kembalilah ke asal tempatmu, urusan lain kami tidak tahu."

Diam-diam Ai-pong-sut bersyukur dalam hati bahwa dirinya berhasil menemukan sarang musuh, dilihat gelagatnya untuk maju lebih lanjut, dirinya harus mengalahkan dulu delapan orang ini.

Maka sambil bergelak tawa dia berkata: "Ada sebuah persoalan Lohu bertandang kemari, sebelum berhasil mana boleh pulang dengan tangan kosong, jikalau kalian tidak keberatan, tolong tunjukan jalan, kalau tidak.. "

Belum habis bicara orang tua itu sudah membentak: Jangan berlagak tua bangka, Ham-ping-kiong kapan pernah takut terhadap musuh, mumpung ada kesempatan lekas pulang saja, kalau membandel di sinilah kuburanmu, kalau sudah mampus, menyesalpun sudah terlambat."

Berdiri alis Ai-pong-sut, katanya: "Konon Ham-ping-kiong merajai kaum Bulim di daerah utara, mendapat sanjung puji dari golongan hitam maupun aliran putih, namun menurut pandanganku tak lebih hanya komplotan bajingan tengik belaka. Main cegat dari keroyok segala, memangnya beginilah orang-orang Ham-ping-kiong menyambut tamunya." lalu dia menambahkan "Umpama kalian tidak mau menunjukkan jalan, maka jangan sesalkan bila Lohu menerjang dengan  kekerasan- Nah para sahabat sambutlah." Diam-diam dia mengincar sebuah tonggak batu kecil terus menjejaknya tubuhnya melompat empat tonggak batu yang lain, kaki lantas menutul batu besar yang terletak di Le-kiong, tenaga murni dari pusar dikerahkan dengan, jurus Hun-liong-tam-jiau (naga mengulur cakar dibalik mega) memukul kearah laki-laki tua di selatan itu. Pukulannya menerbitkan segulung angin deras.

Laki-lakitua diselatan segera melangkah miring berganti posisi diatas tonggak batu yang lain, sambil berkelit dia merogoh turun, dua jarinya menepis keurat nadi dipergelangan tangan Ai-pong-s ut.

Lekas Ai-pong-sut menarik lengan kanan, kaki kanan  terulur kekiri belakang, berbareng telapak tangan kiri menerobos lengan kanan, menyerang dengan Tam tui ciang ketulang rusuk kanan lawan- Daya pukulannya deras dan keras dilandasi tenaga dalam.

Laki-laki tua diselatan ini ternyata juga seorang yang ahli menilai serangan, begitu Tam-tui-ciang tiba lekas dia menjorok selangkah sambil memutar tubuh hingga arahnya terbalik, berpindah langkah menggeser kedudukan, kedua tangan didorong bersama kelambung Ai-pong-sut.

Tidak leluasa Ai-pong-sut menyambut secara keras pukulan lawan dengan sebelah tangan, tubuh bergerak mengikuti tangan yang berputar melintang kekiri melampaui empat tonggak batu, kaki kirinya bpindah kebatu besar yang berada diposisi Tinkiong.

Laki-laki yang bertugas di Tin-kiong segera membentak: "Sambutlah." dengan jurus IHekshou-sin you (macan kumbang meliuk ping gang), kedua tangannya menggempur kearah dada. "Serangan bagus." Ai-pong-sut menyambut dengan hardikan keras, dengan gaya Tong-cu-pat-hud dari bawah membalik keatah, jari-jari kedua tangan terayun kebawah, menyelinap ditengah kedua tinju lawan lalu mendadak terpentang melebar.

Lakl-laki setengah umur yang menduduki Tin kiong sudah slap menarik serangan merobah gerakan.

Ditengah jalan mendadak Ai-pong-sut menarik tangan kiri, tenaga tarikan telapak tangan kiri untuk membuang pundak kiri kebelakang pula, sementara tangan kanan bergerak dengan Kim-pau- ciang tetap memukul lawan- G-akperobahan Ai-pong-sut sungguh teramat cepat dan tangkas, jelas laki-laki yang menduduki Tin-kiong ini bakal terpukul jatuh dari batu besar yang didudukinya.

Tapi pada saat yang genting, itu, Ai-pgong-sut juga merasa adanya segulung tenaga dahsyat menyerang tiba dari belakang. Didengarnya seorang menghardik: "Sambut seranganku'

Demi keselamatan diri sendiri, Ai-pong-sut dipaksa menarik balik tenaga dan pukulannya. Disaat mengganti tenaga itulah tenaga murni yang berpusat di pusarnya di kerahkan lewat telapak tangan kiri, berbareng kaki kiripindah kedudukan kesamping kiri, dengan jurus Giok-bong-to-hoan-siu (ular sanca membalik tubuh), hingga sergapan musuh tidak mengenai tubuhnya. Penyergap dirinya di posisi Ke-kiong tadi.

Melihat kawannya yang menduduki posisi Tin-kiong bakal terpukul jatuh, sengaja laki-laki tua yang menduduki posisi Le- kiong ini tak hiraukan keselamatan diri sendiri menyergap Ai- pong-sut menolong temannya. Namun demikian, laki-laki setengah umur itu tetap tergentak mundur tiga langkah baru berdiri tegak pula.

Benci Ai- pong-sut bukan kepalang kepada laki laki setengah umur ini, dengan kedua tangan segera dia menyelinap mengirim serangan, kedua telapak tangannya mencengkeram d menabas tulang pundaknya.

Laki laki tua ini tak berani melawan, lekas dia melompat danjungkir balik dengan gaya burung jumpalitan, kedua tangannya bergerak mengendalikan keseimbangan tubuhnya beruntun dia harus melompatiJui-kiong dan tiga tonggak batu lagi baru berhasil berdiri pula.

Sebat sekali Ai-pong- sut sudah berputar arah begitu serangannya luput kaki kanan menutul tonggak batu, tubuhnya melompat maju ketonggak ketiga dikedudukan Kan- kiong serta menyerbu kedepan laki-laki setengah umur yang berala disebelah batu.

Laki laki setengah umur disebelah barat memang sudah siaga melihat Ai-pong-sut melompat datang, mulutnya menggeram, kakinya menggeser bpindah kedudukkan, tubuhn malah mendesak mau lalu menyerang dengan jurus yu-liong tamjiau (naga berenang ulur cakar), hanya dengan sebelah telapak tangan dia menepuk keulu hati Aipong sut.

Diam-diam Ai-pong sut mengeluh, kenapa malam ini dia menghadapi jago-jago kosen tangguh, tiada satupun lawan lemah, lekas dia menyingkir ke kanan menduduki tonggak ketujuh di IHeng-kiong, namun menggerakkan tubuh kearah kanan, kedua tangan terbalik, telapak tangan kiri terbentang keluar menabas urat nadi telapak tangan kanan sebat Sekali memukul Hoa kay hiat didada lawan-

Laki laki yang menduduki Kan kiong lekas merendahkan telapak tangan namun tenaga pukulannya malah didorong kedepan, sebat sekali dia berputar badan berkisar ke belakang kanan Aipong-sut, dengan gaya Say cu youthau (singa menggeleng kepala), kedua tangan miring didorong keluar, meny era ng ping gang belakang Aipong-sut.

Kaki kiri Ai-pong-sut menutul ketonggak batu kelima dari Heng-kiong di belakangnya berbareng kedua tangan ditarik kebelakang, ujung kaki kanan menutul tonggak batu lalu mendadak diputar ke belakang, tenaga penuh dipusatkan dikedua tangan, tubuhnya mengendap kebawah dengan Siang-tui-ciang menggempur pundak lakl-laki yang berada di Kan-kiong.

Laki laki setengah umur di Kan-kiong segera menubrukkan badan kedepan dengan gaya Bing-hou hu- jun (harimau galak mendekam dibalik cagak) sehingga pukulan Ai-pong sut luput, lalu dengan Thi-gu-king-to (kerbau besi meluku sawah) tangannya merogoh kemaluan Ai-pong sut Thong cau.

Aipong sut Thong cau melihat serangan ini, diam-diam dia kerahkan Shian-thian-ciu lat tenaga dikerahkan diujung kaki, tubuhnya melambung keatas terus jumpalitan mundur kebelakang.

Padahal tempat itu bukan tanah lapang, orang mana beleh sembarangan lompat dan jungkir balik. maju mundur tanpa meninggalkan tonggak batu, setiap langkah berpindah kedudukan harus menggunakan Kungfu asli, sasaran tepat injakanpun harus penuh perhitungan, karena batu- batu yang ditata menurut kedudukan dan bentak barisansudah diperhitungkan dengan baik setiapjarak tepat satu langkah, tak beleh kurang atau lebih meskHanya satu senti. Kedepan atau melompat kekiri kanan boleh dilakukan dengan tubuh terapung keatas hingga beberapa tonggak dilampaui, namun untukjungkir balik ke belakang, betapapun murni kepandaianmu, jelas sukar sekali untuk mengincar kedudukan secara tepat.

Karena didesak oleh serangan laki- laki setengah umur di Kan-kiong terpaksa Ai-pong-sut mengembangkan permainan berbahaya, disaat tubuh terapung, tubuhnya berputar setengah lingkar, kaki tepat hinggap diatas tonggak batu keempat diKun-Kiong.

cara bertempur diatas barisan Pat-kwa seperti ini, meski pihak menjaga barisan hanya berjaga tidak menyerang, namun bila kau memasuki daerah penjagaannya, maka kau akan menghadapi pencegatan dan didesak mundur supaya tidak menerobos ke luar kepungan,

Tapi laki-laki setengah umur yang berjaga di Kun-kiong justru menyingkir tiga tonggak batu ke arah barat, dengan gerakan berat Kim-kiau Cian, dia incar Ai-pong-sut terus menyerangnya. Dalam waktu yang sama laki-laki yang berada di Kan-kiong juga menyusul tiba dengan jurus Sin-liong-to-kak (naga sakti membuang sisik) menyerang Nau-hu-hiat di belakang batok kepala Aipong-sut. Serangan dari dua arah ini dilakukan secara ketat dan keras, gaya serangan Kim-kian-cian dari laki-laki tengah umur dari Kun-kiong lebih cepat, maka tenaga pukulannyapun tiba lebih dulu.

Ai-pong-sut menggerakan tubuh kedepan, dengan gerakan Sik-tam-pian menjojoh lengan kanan laki-laki setengah umur di Kun-kiong, bila Ki-ti-hiatnya kejojoh, pasti lengan kanannya cacat seumur hid up,

Mendadak. terdengar laki laki tua diarah selatan membentak: "Kembangkan barisan"

Delapanorang yang berjaga diempat penjuru serempak mengiakan, seluruhnya bergerak melangkah maju setindak kekanan lalu berputar gerakan berkeliling ke kiri. Mendadak ditengah bentakan keras, empat bayangan orang tampak menyerang maju, masing-masing memukul sejurus pukulan ke arah tengah. Daya pukulan empat orang ini menggencet dari empat penjuru,perbawanya memang sehebat gelombang pasang lautan teduh, hawa udara seketika bergolak. menyesakkan napas lagi.

Kungfu Ai-pong-sut amat tinggi, nyalinya besar, pengalaman luas, tadi dia merasa perlu menyimpan tenaga maka serangannya tidak menggunakan banyak tenaga, namun hany mengembangkan ketangkasan gerak tubuhnya saja. Kini digencet kekuatan sedahsyat ini dari empat penjuru, meski sudah tua, tak urung timbul juga emosinya, tidak mau kalah. Segera dia kerahkan tenaga murni dari pusar lalu disalurkan kedua lengan, berkelebat sambil  menyingkir, hingga teri hindari dari serangan telak. namun kedua tangannya sudah bergerak dengan gentakan terpencar ke kiri kanan, begitu kekuatan dan lawan saling bentrok terjadilah ledakan dahsyat yang menggetar bumi.

Namun delapan pengepungnya itu tetap bcrputar seperti tidak terjadi apa-apa. Sebaliknya Ai-pong-sut menjadi sesak napasnya seperti terpukul god am dadanya. Baru sekarang dia sadar kalau barisan ini memang lihay dan menakupkan, tidak boleh dipandang enteng lagi. Untung dia membekal Lwekang tangguh, sedikit kerahkan hawa murni kondisi badannya sudah normal kembali.

Tengah dia menepekur mencari jalan bagaimana menjebol kurungan lawan-

Hardlkan kembali kumandang, empat jalur pukulan meluncur dari empat sudut, kekuatannya lebih dahsyat lagi, kemungkinan pukulan dilontarkan dari empat orang yang lain- Thong cau tidak sempat memikirkan Cara mengatasi serangan musuh sebat sekali dia menggeser kaki menyingkir ketempat yang dirasa aman lalu melompat tinggi Mengapungkan tubuhnya, dia kira pukulan empat orang dari sudut yang berlawanan itu akan saling tumbuk sendiri. Tak nyana begitu menyelonong ketengah barisan, pukulan dahsyat itu secara aneh sirna tak berbekas.

Ternyata serangan keempat orang itu tidak menggunakan seluruh tenaga, begitu dilontarkan lantas ditarik balik, tenaga disalurkan sesuai perlawanan lawan,jadi menyerang mengikuti situasi. Begitu Ai-pong-sut melompat tinggi keudara, empat orang itu segera membatalkan tenaga pukulan yang slap disalurkan dan melompat balik ketempat semula meneruskan langkah barisan yang terus brputar.

Sudah tcntu Aipong-sut mengikuti gerak gerik lawan yang maju mundur bergantian. Begitu dia meluncur turun hinggap ditanah, empat musuh yang lainpun sudah melanjutkan serangan Ai-pong-sut dipaksa melompat tinggi lagi untuk menyelamatkan diri. Mau tidak mau dia harus berpikir: ’Jikalau musuh ganti berganti menyerang bertubi-tubi, umpama kepandaianku setinggi langit juga akhirnya akan terluka parah dan kehabisan tenaga," betapapun dia tidak sudi menyerah, berdasarkan ketajaman pengamatannya. sekilas menerawang mendadak dia memperoleh akal untuk membobol kepungan lawan meski dirinya harus menyerempet bahaya. "Menangkap rampok harus membekuk pentolannya, barisan ini dikendalikan laki laki tua itu, pantasnya aku merobohkan dia atau membekuknya lebih dulu.’

Setelah bulat tekadnya segera dia merogoh keluar sepasang bandulannya, setelah mengincar sasarannya mendadak dia ayun tangan kanan, selarik sinar hitam secepat kilat melesat kearah laki laki tua itu.

Dalam keadaan terpepet, sebetulnya serangan nekad inipun untung-untungan, karena timpukan menggunakan seta ker tenaga makapelornya itu meluncur bagaipanan cepatnya membawa deru kencang lagi.

Laki-laki setengah umur itu sudah siaga, dia minggir kepinggir, pikirnya akan mengikuti gerakan lawannya meneruskan putaran barisan Tapi mimpipun tak pernah terpikir olehnya bahwa sepasang buntalan belibis Aipong-sut ini seperti punya mata, begitu dia miring kekiri, bandolan itu ternyata bisa membelok mengejar tubuhnya.

"Plak" dengan telak pundak kirinya terhantam keras hingga tulang pundaknya remuk. saking kesakitan dia mengerang panjang, tubuhnya sempoyongan minggir kekanan lima langkah, Karena pikirkan keselamatan Liok-Kiam-ping, Ai- pong-sut ingin selekasnya mengakhiri pertempuran maka serangan dilontarkan lagi secara keji.

Namun kesiur angin tajam mendadak menyambar dari belakang. sambil mendengus mendadak dia menggapai tangan, pelor belibisnya segera ditariknya kembali, sementara tubuh berputar menghindar terjangan angin pukulan dari belakang, lantan balas menggertak kebelakang, sinar hitam itu melesat kebelakang.

Terdengar satu kali jeritan pula disertai darah yang muncrat, maka robohlah sesosok mayat yang pecah mukanya dan batok kepalanya.

Bahwa dua kali timpukan bandulannya berhasil melukai dan membinas akan musuh, sudah tentu makin berkobar semangat tempur Ai-pong-sut. Kini dia gerakan tangan kiri, buntalannya yang lain kembali ditimpukan kearah yang berbeda. Di mana sinar hitam menyambar, maka didengarnya jeritan menyayat hati bergema ditanah peg unung an sepi ini. Dalam sekejap lima musuh sudah dirobohkan. Sisa tiga orang lagi segera bersuit panjang terus melompat turun kepinggir ngarai dan lenyap dibalik kabut.

Ai-pong-sut tarik sepasang buntalannya terus menerjang kemana tadi ketiga orang itu tadi melarikan diri. Tapi setiba dia dipinggir ngarai, bayangan ketiga orang itu sudah tidak kelihatan.

Dia tahu letak ngarai ini agak ganjil, tanpa sebab tak mungkin ketiga orang Ham-ping-kiong tadi lenyap disini. Maka dengan diaperiksa keadaan sekitarnya.

Kira-kira tiga tombak dari tempat semula, dia temukan sebuah batu besar roboh miring ditanah membelakangi dinding gunung, dibelakang batu ternyata menganga separo lobang gua yang gelap gulita.

Ai-pong-sut tersenyum puas, dengan kedua tangan dia kerahkan tenaga mendorong batu besar itu kepinggir, maka tampak sebuah lobang yang gelap setinggi manusia, dengan seksama dia periksa mulut gua, lalu mendengarkan dengan seksama, didalam gua didengarnya suara jengkrik mengerik dalam jarak yang cukup jauh. Maka Ai-pong-sut keluarkan ketikan apinya menyuluh kedalam gua.

Tinggi gua ini ada beberapa tombak, dindingnya licin halus mengkilap seperti kaca, elas dibikin oleh tangan-tangan ahli, entah betapa dalam dan jauh gua ini, sebelah dalam gelap gulita, kemungkinan gua rahasia ini tembus kesuatu tempat yang jauh letaknya. 

Pengalamannya cukup luas, maka dia tahu didalam gua seperti ini tidak boleh menggunakan ketikan api, maka dia putar tubuh keluar, diantara semak-semak dia mengambil ranting pohon yang kering serta rumput dijadikan obor panjang. Setelah obor menyala kembali dia melangkah kedalam gua.

Setelah membelok dua kali, keadaan dalam gua semakin lebar dan sejuk.

Ai-pong-sut tahu dirinya berada dalam gua musuh yang banyak terdapat perangkap dengan alat rahasia keji, sekali lena jiwa dapat amblas secara percuma, maka dia keluarkan sepasang bandulannya, dengan kedua bandulannya ini tidak sedikit perangkap dan alat rahasia dalam gua yang dirusak dan dihancurkan. dengan ginkangnya yang tinggi tiga kali dia meluputkan diri dari semburan air beracun dan hujan panah. Maka makin dalam dia tak berani gegabah sedikitpun.

Kini dia dihadang oleh gua bercabang. Kearah mana dia harus meneruskan perjalanan, sesaat dia berdiri bingung. Padahal waktu sadah mendesak terpaksa dia nekad bertindak. menyerempet bahaya pula. Maka dia beranjak kegua disebeIah kanan.

Lorong gua ini belak-belok, hanya beberapa tombak sudah membelok entah kekiri atau kekanan, ternyata setelah putar kayun sekian lamanya dia berputar balik ditempat semula. Tapi keluarnya dari gua yang ditengah. Maka tanpa sangsi segera dia melangkah masuk kegua sebelah kiri. Gua di sini ternyata beri hawa lembab dingin, baunya juga apek. gemericik air bergema didalam gua, tapi entah di mana letak a lira n air, susah dia menemukan di mana letak sumber air. Lebih penting membantu dan menolong Liok Kiam-ping yang mungkin menghadapi kesulitan, maka dia tidak ingin membuang waktu, dengan langkah enteng dan terus maju kedepan kira-kira puluhan tombak kemudian-

"Blang" mendadak suara gaduh berkumandang disebelah belakang. Ternyata lorong bercabang dibelakangnya sudah tertutup oleh sebuah papan besi yang besar dan anjlok dari atas, begitu rapat hingga hawa di sini seketika terasa sesak dan beku.

Jalan mundur sudah buntu, terpaksa harus maju terus. Ai- pong-sut percepat langkahnya, dengan kecepatan ginkangnya dan seperti berlomba dengan waktu. Untung lorong gua disini lurus dan datar, maka Ai-pong-sut tidak begitu payah mesti berlari tancap gas.

Kira-kita setengah jam lamanya Ai-pong-sut berlomba dengan waktu, dari arah depan sudah terasa hembusan angin sejuk yang menyongsong mukanya, maka dia tahu bahwa dirinya sudah akan tiba diujung lorong. Disaat hati merasa lega dan senang mendadak didengarnya suara gemuruh lagi. Ternyata mulut lorong didepan sana juga tertutup rapat oleh papan besi.Jalan mundur sudah buntu, jalan keluarjuga tersumbat, betapapun tinggi Lwekangnya, hatinya menjadi gelisah setengah mati, saking kebingUngan dan kehabisan akal, dia sampai berdiri menjublek.

Entah berapa lama dia melamun, mendadak terasa kakinya basah dingin, seketika dia tersentak sadar dari lamunannya. sambil berjongkok dia periksa keadaan, ternyata air mengalir masuk entah dari mana, yang jelas lantai gua ini mulai digenangi air, arus air ternyata, amat deras, dalam sekejap tinggi air sudah mencapai mata kaki, arus air yang merembes semakin keras dan deras. Bila air dituang masuk terus seperti ini, hanya sekejap pasti seluruh lorong ini bisa tenggelam dalam air. Ai-pong-sut dipaksa untuk berdaya mencari jalan keluar, dari pada menuuggu ajal. Segera dia memburu kedekat papan besi yang menyumbat mulut gua serta memeriksa dengan teliti.

Papan besi ini amblas beberapa kaki didalam tanah, sebelah atasnya juga rapat, demikian kiri kanan dinding gunung. waktu dia dorong sekuat tenaga. walau rada bergeming, tapi dia tahu tidak mungkin kuat menjebol papan besi ini. Dengan putus asa dia mundur beberapa langkah serta menepekur menyesali nasib sendiri.

Sementara itu genangan air sudah mencapai perut, gerak geriknya di air sudah tidak leluasa lagi. Entah kenapa hatinya seperti berjingkrak. entah dari mana datangnya tenaga mendadak dia melompat maju seraya erahkan setaker tenaga memukul kearah papan besi ini. Lwekangnya tangguh. pukuian setaker tenaga ini entah betapa beratnya. "Blum" seperti ada ledakan gempa, papan besi itu hanya melesak keluar sedikit, namun lantas ketempat semula. Sayang dia tidak membawa golok atau pedang, dia yakin bila dirinya membawa senjata tajam pasti dalam mengeduk tanah atau dinding gunung, untuk lolos keluar mungkin tidak begitu sukar.

Tambah dia kebingungan itulah, mendadak tangannya menyentuh kedua bandulan besi yang dia simpan dalam kantong bajunya, seketika dia berjingkrak girang serta ingin mencobanya. Setelah pelor besinya dikeluarkan dia pasang kuda-kuda, tenaga dikerahkan dikedua lengan mendadak dia ayun tangan kanan, salah satu pelor besinya meluncur bagi kilat menyambar,

"Blang" papas besi ternyata berhasil dihantamnya melesak mundur setengah kaki. Melihat usahanya mulai membawa hasil Ai-pong-sut tidak sia-siakan kesempatan, kembali dia ayun tangan kiri, "Blang" dekuk dipapan besi karena hantaman pelor besi itu kini mulai retak. pelok besi itupun mereka diatas diatas papan batu"

Lekas Ai-pong-sat menyoreknya keluar lalu mundur,  hatinya mulai girang dan timbul secercah harapan, maka beruntun dia timpukanpula kedua pelornya. "Blang Blum." papan besi itu kini betul betul jebol dan bolong sebesar mulut mangkok.

Setiap tangan Ai-pong-sat berpegang pada lobang diatas papan besi itu, pelan-pelan dia kerahkan tenaganya lalu mendadak menyendalnya "Tak" bagian tengah papan besi ternyata sempal sebagian hingga terbukalah sebuah lobang lebar dua kaki. Tanpa ayal Ai-pong-sat segera menerobos keluar.

Saat mana rembulan sedang memancarkan cahayanya yang gemerlang menyorot masuk kemulut gua. Angin sejuk menghembus sepoi, Ai-pong-sut berdiri sejenak menentramkan hati dan napasnya.

Kejap lain dia sudah berlari-lari pula mengembangkan Ginkang sambil mengawasi keadaan sekelilingnya, didapatinya dirinya seperti berada didasar sebuah lembah, setajam mata memandang hanya bagian barat laut saja yang kelihatan ada titik sinar lampu, yang tersembunyi dibalik daon-daon pohon.

Agaknya cuaca sudah merambat ketengah malam, urusan tidak boleh ditunda maka dia mempercepat langkahnya, laksana mengejar meteor dia meluncur kearah sinar api itu.

Setelah dekat baru dia melihatjelas, didepannya berdiri sebuab pekampungan besar. Dibalik tembok tinggi yang memagari perkampungan ini sayup-sayup didengarnya suara bentakan dan denting senjata, agaknya pertempuran sudah berlangsung didalam. Tanpa ayal segera dia menjejak bumi melompat tinggi keatas tembok. lalu berlari kencang menyusuri tembok kearah barat, kebelakang perkampungan. Ginkang Ai-pong sut memang tinggi, hanya beberapa kali lompatan, dia sudah melayang turun ditengah arena, secara tepat menolong Liok Kiam-ping yang sudah payah bertahan. Rasanya hampir meledak dada Ai-pong-sut melihat kelicikan musuh mengeroyok sang Pangcu, begitu tiba dia lantas timpukkan kedua bandulannya sekaligus menghancurkan usaha Ham-ping- long- mo yang mengatur muslihat keji Hendak menguras tenaga Liok Kiam-ping dengan cara bergilir dalam arena pertempuran

Syukur Ham- ping- long- mo sendiri juga sudah kerahkan seluruh tenaganya dalam melawan pertahanan Liok Kiam-ping yang tiada taranya, padahal tenaga dalamnya juga sudah banyak tersalur. bila tidak lekas dihentikan, kemungkinan dia sendirijuga akan terluka parah darah akan bertolak balik, getaran adu tenaga ini akan menimbulkan luka dalam pula bagi dirinya.

Begitu-Ai-pong-sut melontarkan bandulannya, Ham-Ping- leng-mo tahu kekuatan pelor besi yang tiada bandingannya ini, lekas dia menarik Ham-pin-im-sat, berbareng kedua kaki menjejak tanah hingga tubuhnya melesat tinggi tiga tombak kedua bandulan itu melesat lewat dibawah kakinya.

Sebetulnya Liok Kiam-ping juga sudah bertahan dengan sisa tenaga yang sudah lemah, mendengar bentakan Ai-pong- sut seketika lega hatinya, maka sisa hawa murni yang terhimpun seketika luber. Begitu hawa murni buyar, orangnyapun lantas meloso jatuh lemas.

Tapi pikirannya jernih, musuh didepan mata, apapun dia pantang semaput, lekas dia kerahkan sisa tenaga dan semangatnya, dengan membalik setengah meronta dia merangkak bangun lalu duduk dan mulai samadi.

Betapapun Hian-ping-im-sat memang teramat jahat dan beracun. Liok Kiam-ping melawan dengan sekuat tenaga, maka kadar racun sudah meresap keisi perutnya, untung dia memiliki Lwekang tangguh, jantung mampu dilindungi sendiri dari getaran maupun racun, meski kesadarannya semakin layap- layap tapi dia mempunyai daya rasa. Jikalau orang lain mungkin saat itu jiwanya sudah melayang.

Namun demikian susah Liok Kiam-ping mencapai ketenangan lahir batin, agak lama dia merasa hawa dingin masih bekerja dalam tubuh dan hampir terjang kebagian lain dalam tubuhnya.

Bandulan besi Ai-pong-sut terbatas untuk menyerang keatas, begitu iblis tua itu melambUng tinggi menyelamatkan diri, bandulannya tak kuat ditimpukkan lebih tinggi lagi, terpaksa dia menarik balik kedua bandulannya.

Mumpung ada kesempatan dia sudah putar tubuh hendak menarik keadaan Liok Kiam-ping.

Kelima jago top yang menonton dipinggir gelanggang sudah saling memberi tanda kedipan mata, serempak mereka menubruk maju.

Lima bayangan orang sepuluh jalur angin pukulan, betapa dahsyat perbawa pukulan gabungan ini, ternyata Ai-pong-sut yang dijadikan sasaran- Tapi dia seorang ahli silat yang kawakan, melihat kelima musuh serempak menyerang dirinya secara reftek dia bisa melompat jauh menyelamatkan diri. Tapi bila dia menyingkir, Liok Kiam-ping bakal celaka.

Terpaksa dia kertak gigi, kekanan dia melangkah dua  tindak mengadang didepan Liok Kiam-ping, sisa tenaga dia salurkan kedua lengan lalu menyongsong pukulan gabungan lima orang itu.

"Byaaarr." pukulan dahsyat bagai gugur gunung kelima lawannya ternyata berhasil dihadangnya hingga tercerai berai keempat penjuru, sirna tanpa bekas. Sementara Ai-pong-sut terlempar mundur kekanan setapak lebar, baru berdiri tegak pula. Diam-diam dia menerawang keadaan dilihatnya Ham-ping- leng-mo sudah selesai samadi, pelan-pelan kedua matanya sudah mulai terbuka, karuan hatinya mengeluh dan kuatir. Maklum mereka berdua dalam keadaan payah diperkampungan musuh, tenaga musuh lebih banyak dan kuat lagi. Agaknya iblis tua ini belum terluka, tadi hanya kebanyakan keluar tenaga maka dia merasa perlu samadi sekejap memulihkan tenaganya, jelas musuh takkan mau membebaskan mereka berdua.

Padahal Liok Kiam-ping dalam keadaan payah dan belum pulih tenaganya, jelas bukan tandingan musuh lagi, jikalau berhantam pula secara keras, pasti ajal secara konyol. Maka jalan utama yang harus ditempuh sekarang adalah melarikan diri, biar cari suatu tempat sepi dan tersembunyi, sementara menyembuhkan luka-luka pula.

Setelah bulat pikirannya, Ai-pong-sut gerakan pula kedua tangan menimpuk kedua bandulannya, laksana kilat menyerang dua orang ditengah musuh. Bila jarak tinggal satu kaki didepan musuh, mendadak kedua pelor itu membelok ke kanan kiri.

Kelima gembong silat Ham-ping-kiong ini tahu betapa lihay pelor bandulan ini, tanpa berjanji mereka melompat mundur menyelamatkan diri.

Melihat ada kesempatan d isaat musuh menyurut mundur, lekas sekali Ai-pong-sut meraih Liok Kiam-ping yang sedang samadi, tangan kiri menggapai kedua pelor itu serta disimpannya didalam lengan baju, kejap lain dia sudah melambung tinggi keudara, dipinggir kuping Liok Kiam-ping dia berbisik: 'Kita menyingkir lebih dulu.'

Sebetuinya keadaan Liok Kiam-ping masih lemah, diantara setengah sadarsaja, mendengar seruan Ai-pong-sut secara reflek dia bergerak ikut lompatan Ai-pong-sut menjulang tinggi keatas tembok. Gerakan nekad kedua orang ini teramat mendadak dan tak terduga lagi, karuan jago-jago Ham-ping-kiong itu tertegun bingung, bila Liok Kiam-ping berdua hinggap diatas tembok. baru mereka sadar, serempak mereka menggembor sambil lompat memburu.

Mendadak Ha m-ping-leng- mo terkial-kial sambil mengulap tangan, serunya: "Bocah itu sudah terkena Hian ping- im-sat Lohu, jikalau tidak punya obat penawar khusus, dalam dua jam jiwanya pasti melayang karena urat nadinya akan membeku, kalian tidak perlu terburu-buru, bagilah kalian menjadi dua rombongan dan lacaklah jejak mereka disekitar gunung ini, yakin mereka tidak kuat lari jauh, bila menemukan jejak mereka, jangan digrebek dulu, berikan tanda, Lohu akan segera tiba ditempat itu, kalian harus hati-hati pelor besi itu memang lihay luar biasa."

Jago-jago Ham -ping - kiong mengiakan.

Enam bayang orang segera bergerak menuju kearah yang sudah ditentukan-

Sambil memluk ping gang Liok Kiam-ping, Ai-pong-sut kembangka Ginkangnya berlari bagaipanah meluncur, untung Liok Kiam-ping masih punya sedikit rasa, dapat bergerak mengikuti langkahnya meminjam tenaga, mengerahkan tenaga, maka luncuran tubuh mereka masih cukup mengejutkan. Dalam sekejap mereka sudah tiba didepan ngarai. Ai-pong-sut mengeluh dalam hati. Ternyata ngarai di sini sudah putus jalan seperti bergantung diudara, tiada jalan lain menembus keluar, dalam keadaan biasa bukan soal mereka melompat turun dengan Ginkang tinggi, namun keadaan sendiri sudah payah, harus melindungi Liok Kiam- ping lagi. Padahal luka-luka Liok Kiam-ping perlu segera di tolong. ke mana bisa menemukan tempat yang tepat untuk menolongnya. Pada hal dia tahu jago-jago Ham-ping-kiong sebentar pasti akan mengejar tiba. Untunglah disebelah depan perkampungan dilihatnya tetumbuhan amat rimbun dan lebat sinar mentari sukar tembus kesebelah bawah, dia pikir mungkin di sana dia bisa berteduh sementara, namun dia masih ingat waktu dirinya disergap waktu datang tadi, hatinya jadi bimbang, tapi dalam keadaan kepepet begini, tiada tempat lain untuk sembunyi, apalagi waktu tak boleh ditunda lebih lama lagi, terpaksa harus berani menyerempet bahaya dan bekerja melihat gelagat.

Setelah berkeputusan lekas dia lompat kebawah karang membimbing Liok Kiam-ping pelan-pelan menyusup kedalam hutan-

Racun dingin dalam tubuh Liok Kiamping sudah meresap kedalam sendi tulang, sekujur badannya menggigil kedinginan. Karuan Ai-pong-sut Thong can semakin gopoh, dan gelisah, tanpa pilih arah dia main terjang saja masuk kedalam hutan.

Hutan tua dan lebat ini terdiri dari pohon-pohon tua dan besar, mungkin karena sudah terlalu tua hingga banyak diantaranya yang sudah keropos kering.

Tergerak pikiran Ai-pong-sut, lekas dia bopong Liok Kiam- ping terus memilih salah satu pohon besar kropos yang bagian tengahnya belong, setelah mendudukan Liok Kiam-ping lekas dia merogoh keluar Soat-lian serta dijejalkan kemulut Liok Kiam-ping.

Liok Kiamping masih menggigil keras, keadaannya sudah makin lemah, tidak sadarkan diri. Soat-lian adalah obat mujarab, namun Kiam-ping tak punya tenaga untuk menelan obat sakti ini sehingga kasiat obatnya belum bisa bekerja. Terpaksa Ai-pong-sut tutuk beberapa Hiat-to disekitar mulut dan lehernya sehingga obat mulai tertelan kedalam perut, kejap lain dia dudukan Liok Kiam-ping menghadap kedinding pohon, dua tangannya menekan Bing-bun-hiat, hawa murni sendiri dia salurkan ketubuh Liok Kiam-ping bantu melancarkan kasiat obat. Lekas sekali kasiat Soat-lian sudah meresap keseluruh urat nadi, sendi tulang dan Hiat-to, pernapasan sudah mulai lancar, tubuh yang menggigil makin berkurang. Wajahnya yang pucat pasi mulai semu merah dan orang nyapun sudah siuman.

Dia tahu Ai-pong-sut sedang bantu dirinya menuntun hawa murni supaya kasiat obat bekerja secara efektif didalam  tubuh, maka dia unjuk senyum dan mengangguk perlahan maksudnya sekarang dia sudah mampu bersamadi sendiri. Baru saja Ai-pong-sut hendak menarik kedua tangannya.

Mendadak dari luar hutan terdengar derap langkah kaki orang yang berserakan menginjak daon-daon kering, malam sunyi, maka keresekan ramai ini amat menusuk pendengaran, dengan bekal lwekang mereka berdua, dalam jarak puluhan tombak. daon jatuhpun dapat didengar jelas.

Mendengar suara dan arahnya Ai-pong-sut lantas tahu, yang datang ada dua orang, sekarang masih ada diluar garis hutan sebelah luar.

Terdengar seorang berkata sinis "Menurut laporan petugas jaga disini, kedua orang tadi pernah muncul disini, kenapa sekarang tidak kelihatan bayangannya, mungkin sembunyi di lobang-lobang pohon sekitar sini ?"

Seorang lagi suara serak berkata: "Daerah sekitar sini sudah diperiksa dengan teliti, namun tidak menemukan jejak mereka, padahal luka-luka bocah itu, katanya teramat parah tak mungkin dia bisa lari jauh. Bukan mustahil mereka sembunyi dalam hutan ini ?"

"Kukira tidak mungkin, kalau betul mereka masuk hutan, kenapa petugas jaga dalam hutan tidak memberi tanda peringatan- Maka menurut pendapatku, kejadian ini agak ganjil, lebih baik kita lepas dulu tanda peringatan mengundang orang banyak kemari untuk menggeledah hutan ini bersama, kurasa mereka takkan bisa lolos lagi." "Aku heran, kenapa belakangan ini kau makin ciut nyalimu. Didaerah terlarang kita sendiri memangnya kau tidak berani memeriksa sendiri."

”Jangan bilang begitu, soalnya Kungfu kedua orang itu amat tinggi. bukankah tempo hari Kim-kong-ci Hong Kiat. Tay- bok itsiu dan Tang- ling sin-kun dan lain- lain kecundang di tangan mereka hanya karena terlalu takabur, apa salahnya kita bertindak hati-hati.' Percakapan mereka cukup keras, maka Ai-pong-sut dapat mendengar jelas.

Tapi keadaan Liok Kiam ping sekarang cukup kritis, tidak boleh terganggu, apapun dia harus memancing kedua orang ini ketempat lain

Segera dia berbisik dipinggir telinga Liok Kiam-ping, lalu melompat keluar dari lobang pohon. Dengan mengendap dan melompat jauh seperti kelinci dia meluruk kearah datangnya suara. Dia berputar keluar hutan, lalu membalik kearah ngarai dan berlari bagai terbang. Disaat melompat keatas ngarai itulah sengaja dia memberatkan langkahnya.

Kedua jago kosen Ha m-ping-kiong tadi sudah bergerak kedalam hutan, mereka tersentak kaget oleh suara berisik ini, lekas mereka memburu keluar dan melongok kearah datangnya suara. Tanpa janji keduanya bersuara heran.

Tampak segulung bayangan kelabu bergerak cepat mumbul keatas dari bawah bukit, mereka masih ingat bentuk badan yang buntak adalah Ai-pong-sut Thong cau. Suara serak itu berkata: 'Lekas kejar'

Dengan kencang mereka mengudak kearah Ai-pong-sut melarikan diri.

Sambil lari At-pong-sut pasang kuping, mendengar lambaian pakaian mereka, dia tahu bahwa kedua orang ini, sudah menyusul datang, tubuhnya yang berlari naik keatas tiba-tiba membelok kekanan, sengaja dia memperlambat langkah lalu berlari pula dengan santai. cepat sekali suara lambaian pakaian kedua orang dibelakang makin keras, dari suaranya Ai-pong-sut memperkirakan jarak mereka tinggal sepuluhan tombak lagi, maka dia percepat lagi langkahnya, bagai terbang dia lari menyusuri bibir ngarai terus keselatan.

Kedua jago Ha m-ping-kiong mengejar kencang. Kejar mengejar terus berlangsung dari selatan membelok kebarat lalu berputar keutara lagi.

Satu jam kemudian, Ai-pong-sut memperkirakan, mereka sudah lomba lari sejauh dua puluhan li, kini dia tiba ditanah tegalan yang datar, mendadak Ai-pong-sut memperlambat langkah lalu berhenti serta membalik badan, sambil menunggu dia menatap tajam.

Lekas sekali kedua orang itupun sudah memburu tiba, berdiri jajar Ai-pong-sut melih at jelas tampang kedua orang ini, usia mereka sudah lebih dari enampuluh yang kiri berpakaian jubah hitam panjang yang long gar, perawakan tinggi, maka pakaiannya itu kelihatan lucu dan ganjil. Kedua alisnya gompyok tebal menjuntai turun, seperti bergantung diatas matanya, tampangnya yang beringas kelihatan lebih sadis.

Yang sebelah kanan bertubuh lebih gemuk, mukanya bundarpenuh daging, matanya yang sipit bundar sebesar kelengkeng memancarkan cahaya hijau, jelilatan seperti maling, jelas menandakan bahwa orang ini berjiwa munafik, banyak muslihatnya.

Dengan tersenyum Ai-pong-sut berkata: ’Kalian mengejar Lohu, memangnya sudah memilih tegalan yang berpanorama indah ini untuk tempat istirahat kalian "

Laki-laki yang bertubuh tinggi itu terkekeh tawa, katanya: "Setan buntek kematian didepan mata masih tidak tahu diri. Disini tempat apa memangnya boleh kaupetingkah sesuka udelmu sendiri. Di mana kau sembunyikan bocah itu, lekas terus terang, Lohu akan memberi ampun kepadamu. Kami tahu pukulan Hian-ping im-sat itu dalam waktu pendek memang belum dapat menyusahkan dirinya'

Ai-pong-sut bergelak tawa, katanya: "Asal kalian mampu mengalahkan sepasang tangan Lohu, apapun kehendak kalian boleh terserah saja. tapi apa kalian yakin dapat mengalahkan aku? Kukira..." sampai di sini sengaja dia merandek

Laki-laki yang kurus lebih gopoh, tanyanya: "Kau kira kenapa?"

Ai-pong-sut tertawa tak acuh, katanya:

"Gampang saja, asal kalian tinggalkan batok kepala kalian, urusanpun bereslah."

Laki-laki yang gemuk berkata: "Setan tua, jangan takabur, katakan saja di mana bocah itu sembunyi, Lohu berdua berani bertanggung jawab akan keselamatanmu kalau membandel, terpaksa... "

Ai-pong sut tertawa dingin, jengeknya: 'Terpaksa bagaimana? "

Laki-laki kurus menyeringai: 'Terpaksa akan kami bikin kau sekarat saja, mati tidak hiduppun sukar, menyesalpun sudah kasep. Dalam wilayah kekuasaan Ham-ping-kiong belum pernah ada korban yang utuh jazadnya, setan tua, kalau kau tahu diri, lekas mengaku saja.'

Berdiri alis Ai-pong-sut, katanya: "Sudah kukatakan bila kalian mampu mengalahkan kedua tanganku, apapun kehendak kalian, terserah. Tapi jika kalian yang kalah?'

'Kau yakin dapat mengalahkan kami berdua?" jengek laki- laki kurus.

"Kenyataan akan membuktikan"

Laki laki gemuk itu seret temannya mundur beberapa langkah lalu berbisik-bisik, keduanya lalu berpencar ke kanan kiri, keduanya membentak bersama: "Setan tua, kau ingin mampus." ""empat pukulantelapaktangan menggencet dari kiri kanan kearah Ai-pong-sut.

"Serangan bagus." Seru Aipong-sut Thong cau, Ginkang yang tinggi dikembangkan, hanya berkelebat sekali dia sudah teri hindar dari gencetanpukulan kedua lawannya, kedua tangannya membundar lalu ditepukan kearah kedua lawan- Gerakan yang enteng ternyata menimbulkan gelombang pukulan yang dahsyat menggulung kearah jago-jago Ham- ping kiong itu.

Pukulan tiga pihak beradu dengan dahsyah. "Blang," Tubuh Ai-pong sut limbung saja, tapi kedua jago Ham-ping kiong itu tertolak mundur selangkah. Karuan tersirap darah  mereka, Tak nyana setan buntak ini memiliki Lwekang setangguh ini.'

Tanpa janji mereka beradu pandang pula lalu berpencar pula mulai menyerang seCara berputar, maju mundur bergantian, saling isi, kerja sama Cukup mantap dan serasi, mereka bertahan lebih banyak. Namun juga melancarkan serangan telak.

Bahwa pukulannya kuat menandangi gabungan pukulan lawan lega hati Ai-pong-sut, baru saja dia menyiapkan pukulan selanjutnya, kedua lawan sudah bergerak dengan perobahan permainan, untung Gingkangnya lebih tinggi, untuk berputar dan bermain petak dia, yakin tidak akan kalah.

Tiga puluh jurus kemudian gerak tubuh mereka makin Cepat dan tangkas, bayangan kelabu tampak seliweran diantara dua bayangan hitam, selicin belut setangkas kera, kecepatannya memang mengejutkan.

Ai-pong-sut perhatikan permainan lawan dia tahu kedua orang ini sudah biasa berlatih dengan suatu rumus yang mirip Liang-gi-tin hoat, bila berhasil menyelami seluk beluk permainan mereka, lalu mendadak menyergap salah seorang diantaranya serta merobohkan, sisa yang satu akan mudah dibereskan.

Tapi persoalannya terletakpada bagaimana dia menemukan titik kelemahan permainan mereka,

Saat mana Ai-pong-sut sedang berkelit dan Bik-khong-ciang yang dilontarkan laki-laki tinggi dari belakang, kakinya menggeser kekanan, baru saja membalik badan hendak balas menyerang, namun deru angin kencang sudah menerjang tiba pula dari sayap kiri.

Dia tahu orang tua gendut menyergap pula mumpung ad a kesempatan, bila dia meluputkan diri darijurus serangan ini, orang tua tinggi dibelakang tentu akan membarengi dengan serangannya pula.

Setelah menguasai situasi mendadak dia menjatuhkan badannya ketanah lalu mengembangkan Te- tong-kui, seperti bola menggelundumg dia menggelindang kedepan laki-laki tinggi. Padahal lawannya ini sedang menerjang maju kedepan, kedua tangan sudah siap menggempur, sungguh tak nyana lawan tiba-tiba menyelonong tiba dari bawah, malah kecepatannya mengejutkan. Saking kagetnya dia berusaha mengerem dan mengendalikan tubuhnya yang terperosok maju, namun Ai-pong-sut sudah berada di depan kakinya. "Plak" keras sekali suaranya, tulang betis laki-laki tinggi telah dipukulnya patah dan remuk. Ditengah jeritan yang mengerikan tubuhnya terlempar setombak lebih. Saking kesakitan-sekujur badan sampai menggigil.

Berhasil merobohkan la kl- laki tinggi Ai-pong-sut tidak kenal kasihanpula, segera diaputar balik menggelundung kearah laki-laki gendut pendek. Mendengar jeritan kawannya sigendut ini sudah tahu gelagat jelek. untung dia lebih cermat dan teliti, tanpa ayal segera dia kembangkan ketangkasan gerak tubuhnya angkat langkah seribu. Ai-pong-sut sudah menduga hal ini, sebelum orang melangkah jauh, mendadak dia ayun tangan kanannya, segulung sinar hitam meluncur dari tangannya. Laki-laki gendut pendek itu ternyata licik dan licin, waktu membalik tubuh dia sudah merogoh keluar sebutir Ling-hwe-tam. begitu mendengar angin kencang mengejar dibelakang, kontan dia ayun tangannya. "Daar," selarik cahaya api mendesis panjang membumbung tinggi ke angkasa.

Sekilas Ai-pong-sut melengak oleh perbuatan lawan- merandek sekejap inilah, lawan sudah melompat lagi sehingga jaraknya mencapai belasan tombak. Betapapun cepat luncuran pelor besinya, jarak belasan tombak tak mampu dicapainya lagi, melihat musuh sudah lari jauh lekas dia menggapai tangan, pelor besi ditariknya kembali.

Segera dia menghampiri laki laki tinggi dan membentak: "Sahabat, kau harus tahu diri. Kehadiran Ham -ping-kiong keselatan kali ini, kecuali bermaksud cari perkara dengan Hong-lui-pang kita, pasti masih ada tujuan lainnya. berapa banyak orang yang datang, bicaralah terus terang, Lohu pasti tidak akan bertindak kasar kepadamu."

Laki-laki kurus tinggi menjengek dingin:

"Lohu sudah kecundang dan jatuh ditanganmu, mau bunuh atau sembelih boleh terserah, aku pasti takkan mengerut alis.Jangan harap kau bisa mengorek keterangan apapun dari mulutku."

Ai-pong-sut tersenyum, katanya: "Seorang laki-laki Harus pandai melihat gelagat, apa gunanya kau keras kepaia, badan tersiksa lagi, masih ada kesempatan untuk kau bicara, kalau terlambat menyesalpun sudah kasep."

Lakl-laki tinggi hanya mendengus serta memejam mata. Dengan tertawa Ai-pong-sut Thong cau berkata: "Baiklah,

coba  kau  rasakan  bagaimarra  kelihayan  Siu-im-ni-meh." dia

ulur dua jari tangannya lalu menutuk dari bawah keatas di berbagaHiat-to besar ditubuh orang terakhir dia menutuk Bing bun-hiat.

Semula laki-laki tinggi tidak merasakan apa- apa, dalam hati dia membatin, siu-im-ni-meh bukankah sudah lama putus turunan di Kangouw, selama hidup belum pernah dia melihat apa lagi merasakan kelihayannya, apakah lawan sengaja hendak menggertak dan menakuti aku, padahaldia tidak memiliki ilmu tunggal yang keji ini. Menurut kabar yang pernah didengarnya, bila tertutuk dengan cara yang disebut diatas, sekujur badan akan merasa sakit dan tersiksa luar biasa.

Laki-laki beri hati baja juga akhirnya akan merintih menjerit dan meronta. Kenapa dirinya tetap dalam keadaan biasa setelah di tutuk. hal ini menambah tebal dugaannya bahwa lawan hanya menggertak saja, maka sikapnya lebih tak acuh.

Disaat Ai-pong-sut menunggu hasil tutukannya yang bakal kumat ditubuh orang, mendadak didengarnya lengking panjang dari sebuah suitan tinggi datang dari arah gedung besar sana. Suitan keras tinggi itu berulang kali dan makin dekat jaraknya, volume suaranya juga makin keras dan kuat, jelas pendatang ini memiliki Lwekang yang tangguh.

Ai-pong-sut menduga: "Mungkin karena tanda bahaya yang ditimpukan laki-laki gendut tadi maka iblis tua itu terpancing kemari." segera dia cengkram laki-laki tinggi serta dibawanya lari kearah ngarai.

Hanya sekejap ratus an tombak telah dicapainya, suitan keras dibelakangjuga sudah berhenti, mungkin sudah tiba di mana tadi Ai-pong-sut mengalahkan kedua lawannya. Kebetulan Ai-pong-sut menemukan sebuah lobang dibawah batu gunung, dia tutuk Hiat-to bisu tawanannya lalu melempar laki laki tinggi ini kedalam lobang. Kali ini baru lakilaki tinggi ini betul-betul merasa tersiksa. Sebetulnya meski sudah ditutuk terbalik dari bawah keatas aliran darah dalam tubuhnya belum bertolak balik, namun karena badannya dibuang dan terbanting cukup keras, maka aliran darahnya seketika bertolak mundur.

Seketika napasnya sesak. jantungnya berdenyut cepat seperti sekujur badan kesakitan seperti dirambati semut serta di grogoti, semula dia masih kuat bertahan sambil kertak gigi..tak nyana makin lama rasa sakit makin menyiksa, seluruh tulang badannya berkeretekan sepertHampir copot, keringat berketes-ketes, sekujur badan menggigil lalu mengejang.

Melihat orang masih bandel tak mau merintih atau minta ampun, makin membara gusar Ai-pong-sut, kakinya segera melayang menendang tubuh orang dua kali, baru terlampias rasa dongkolnya.

Padahal derita sudah cukup kenyang dirasakan laki-laki tinggi, saking kesakitan dia sampai kehabisan tenaga, maka hanyamatanya saja yang bisa menatap tajam kearah Aipong- sut Thong cau. Karena ditatap tajam makin berkobar amarah Aipong-sut, segera dia angkat tangannya hendak menampar muka orang, mendadak dia ingat dirinya telah menutuk Hiat- to pembisu orang, tak heran orang tak mampu bersuara. Lekas dia menepuk pantat orang membebaskan tutukannya lalu berdiri disamping menunggu dengan sabar.

Walau tutukan Hiat-to sudah dibebaskan namun rasa sakit dalam badan masih belum lenyap. sesaat lamanya dia masih tidak mampu bersuara, hanya mulutnya megap-megap. Hampir setengah jam lamanya baru laki laki tinggi ini, mampu mengeluarkan suara dengan gagap dan lemah: "Tolong... dulu...Hiat-... to... ku." lalu kepala menganggUk berulang kali, gigipun bergemerutuk. keadaanmya amat mengerikan.

Ai-pong sut tertawa lebar, segera dia menepuk-tepuk beberapa kali dibadan orang membuka tutukan Hiat-tonya. Begitu tutukan dibuka aliran darah yang bertolak mundur segera berhenti, rasa sakitpun mulai hilang, namun tutukan siu-im-ni meh memang terlalu keji, sesaat lamanya dia masih lemas dan takmampu bicara. cukup lama kemudian baru dia bersuara lemah: "Setelah tetirah sekian tahun lamanya, Ham-ping lojin membawa anak buahnya hijrah ke Selatan dengan tujuan menegakkan  kembali kebesaran Ham-giok-ling dan merajai dunia persilatan, tujuan pertama merangkul para sahabat Bulim yang dahulu pernah diajak kerja sama, lalu dengan sekuat tenaga menumpas Hong lui-pang dengan maksud membrantas kawanan jahat dari membekuk pemimpinnya dulu. Hal ini untuk melicinkan jalan dari rencana Ham-ping Lojin untuk merebut Bulim Beng-cu yang akan diadakan di Ui-san-lunkiam tak lama lagi.