Hong Lui Bun Jilid 24

Jilid 24

Karuan Tho-hoa Shtsu kegirangan, mumpung bodhi-soa ditangan kanan baru diayun setengah jalan, tangan kiri sudah bergerak pula menaburkan segumpal bayangan hitam juga dengan kecepatan lebih kencang menggulung kedepan-

Kabut hitam seketika memenuhi udara hingga pandangan teraling menjadi remang-remang. Bo-dhi-soa adalah pasir beracun yang amat jahat, merupakan senjata rahasia ampuh yang ganas, bila tubuh orang tersambit sebutir pasir saja, jiwa sang korban takkan bisa ditolong, apalagi sekarang udara dipenuhi pasir sebanyak itu, betapa hebat perbawa serangannya sungguh bukan kepalang hebat dan menakutkan.

Tak nyana dua kaki kabut hitam itu mendekati tubuh Liok Kiam-ping,  seperti  menumbuk  rintangan  dinding  baja yang tidak kelihatan, kabut hitam itu tertahan dan perlahan-lahan rontok kebawah.

Liok Kiam-ping sudah mengincar dengan tepat, mendadak kedua tangannya diulur serta mencengkram dengan menggunakan daya lengket dia menggapai kearah Bo- dhi- soa, maka pasir-pasir yang berjatuhan hampir menyentuh tanah itu sebagian tersedot ketelapak tangannya

Kapan Tho-hoa Siusu pernah saksikan Sin-kang (ilmusakti) sehebat ini, dia kira tenaga serangan sendiri yang kurang besar dan kuat sehingga daya terjang Bo-dhi-soa tidak memadai menjebol pertahanan lawan, Maka dengan kekuatan lebih besar dan gencar dia tambahi serangannya. Tak nyana pasirnya seperti kecemplung kedalam lautan lenyap tanpa bekas. Betapapun licik dan licinjiwanya, seketika dia berdiri melenggong meluruskan kedua tangan- Mumpung lawan melenggong itulah, Kiam-ping menutul ujung kakinya hingga tubuhnya melejit maju setombak lebih dekat, sebelum kakinya hinggap lagi dipinggir para-para kembang, tangan kanan sedikit terayun, segumpal bayangan hitam lantas meluncur kearah Tho hoa Siusu.

Tho-hoa Siusu tengah melongo, mimpipun tak menduga lawan bisa bergerak seceepat ini, beg itu lawan melompat senjata rahasiajuga sudah meluncur dengan desing suaranya yang keras, bagai anak panah Hoakay-hiat didadanya di jadikan sasaran utama.

Lekas dia pasang kuda-kuda mengendapkan tubuh, 'Wut' bayangan hitam melesat lewat diatas kepalanya. Dia pandai mendengar suara membedakan benda, maka dia tahu senjata rahasia yang menyerang dirinya ini jelas adalah Bo dhi-soa miliknya, kenapa bisa meluncur keluar dari telapak tangan lawan, mungkin .. belum habis dia menduga serangan kedua yang sama telah rnenyerang Bu-coat-hiat diperutnya. Lekas dia angkat kaki kiri, dengan kekuatan kaki kanan dia miring kan tubuh kekanan, Bodhisoa menyamber lewat pundaknya. Disaat tubuhnya berkelit inilah, serangan ketiga Bo-dhi-soa Liok Kiam-ping sudah memecah udara, tenaga luncurannya jauh lebih besar dan keras dibanding dua serangan terdahulu boleh dikata menyerang tiba bersamaan dengan serangan kedua.

Apapun Tho-hoa Siusu tidak menduga bahwa Liok Kiam- ping mampu menyerang dirinya dengan Bo dhi-soa yang dilandasi tenaga dalamnya yang murni, hanya sedikit menggetar telapak tangan, bayangan hitam lantas melesat keluar, maka tiga gelombang serangan boleh dikata hampir bersamaan, hanya arah sasarannya saja yang berbeda.

Maka terdengarlah keluhan tertahan. Tho-hoa Siusu bermuka pucat, kaki kanan terkena sebutir pasir, tiga mili melesak ke dalam dagingnya, seketika kaki kanannya lantas kaku dan mati rasa.

Pikirannya masih waras dan mengerti apa yang telah terjadi, lekas dia merogoh keluar sebuah botol kecil warna putih dari dalam kantingnya, baru saja dia tuang sebutir pil dan dijejalkan kedalam mulut.

Liok Kiam-ping sudah kebacut benci akan keculasan manusia yang satu ini, mana dia berpeluk tangan melihat lawan berusaha menyelamatkan jiwa. Sekarang dia menggerakan kedua tangan, dengan gaya Boan-thian-hoa-hi (Hujan kembang memenuhi udara) dua gumpal bayangan hitam laksana hujan badai menggulung kearah Tho-hoa Siusu, betapa hebat dan mengejutkan perbawa serangannya .

Rasa pegal dan linu kaki kanan Tho-hoa Siusu belum hilang meski sempat menelan sebutir pil penawarnya, namun gerak gerik tubuhnya jauh lebih lamban dan tak mampu melompat lagi, pada hal serangan sudah menggulung tiba. Tapi secara reftek upaya menyelamatkan jiwa masih tetap dilakukan juga, tanpa pikir bahwa tubuhnya masih setengah terapung diudara, langsung dia memberatkan badan menjatuhkan diri kebawah "Blang" tubuhnya terbanting keras kebawah paya-paya kembang. Agaknya rasa sakit menyiksanya luar biasa, begitu tubuh menyentuh tanah dia melolong keras dengan jeritan yang mengerikan.

Waktu Kong-tong-koay-khek dan lain-lain memburu kedepannya, baru mereka melihat jelas, wajah Tho-hoa Siusu sudah tak bisa dikenali lagi karena selebar mukanya kini sudah berobah hitam dengan bintik-bintik hitam legam memenuhi kulit mukanya, air hitam mulai meleleh dari setiap bintik hitam diwajahnya.

Kiranya bersamaan waktu dia menjatuhkan diri kebawah, pasir beracun ditangan Liok Kiam-ping juga secara telak mengenai selebar mukanya. Mendadak tubuhnya mengejang, kedua tangan mencakar tanah, kedua kaki memancal berkelejetan dua kaliterus tak bergerak dan makin lunglai, ternyata jiwanya sudah melayang.

Bodhi-soa memang teramat ganas, masuk daging racunnya tak bisa ditawarkan dengan obat apapun meski obat penawar perguruan sendiri juga harus menggunakan kadar yang setimpal, dalam jangka satu jam tidak boleh terlambat. Liok Kiam-ping ping in melenyapkan penjahat yang sudah keliwat takaran melakukan kekejaman, maka kali ini dia betul-betul mengerahkan segala kemampuannya, maka pasir-pasir beracun yang melesak amblas kekulit daging pemiliknya mengakibatkan Tho-hoa Siusu tak sempat lagi menolong jiwa sendiri dengan ob at pena war yang dipegangnya.

Mungkin mimpipun tak pernah terpikir dalam benaknya, bahwa ajalnya berada dibawah senjata rahasia beracun yang dilatihnya sendiri sekian tahun lamanya, Tuhan memang ma ha adil, karma telah menjatuhkan fonis akan jiwanya.

Bahwa Tho-hoa Siusu tewas dimedan laga, jelek-jelek orang datang untuk membantu pihaknya, betapapun tabah dan tebal muka Kong-tong-koay-khek Seng fh-hun, tak urung dia menyeringai sadis. katanya: "Liok Pangcu, caramu main brantas secara keji ini, apakah tidak keterlaluan. Tho-hoa Siusu ajal memang harus disesalkan kepandaian sendiri yang tidak becus, tapi dia orang luar, lukanya sudah cukup parah, tapi kau masih juga menyerangnya hingga jiwanya melayang. Apakah perbuatanmu ini tidak bakal menimbulkan kemarahan kaum Bulim."

Liok Kiam-ping berkata serius: 'kau saksikan sendiri pertandingan ini, dia memang sengaja mencari jalan kematiannya, cayhe menggunakan Caranya untuk membalas kejahatanna, di Hotel dia membunuh orang pihakmu, dengan Bodhi-soa tega membunuh kawan sehaluan, betapa jahat jiwanya seperti ular berbisa, maka kematiannya adalah setimpal dengan perbuatannya. Kiam-ping berdiri dalam percaturan Bulim, aku bertindak berdasarkan keadilan,  tentang segala akibatnya boleh aku menanggung seorang diri."

Ki-kong Lo-toa dari Sip-san-siang-koay terkekeh dingin, katanya: "Tuan berjiwa keji, bertangan gapah, memangnya begitulah keadilan yang kau tegakkan."

"Memberantas kejahatan adalah berbuat kebajikan, manusia seperti Tho-hoa Siusu, kejahatannya sudah keliwat takaran, korban ditangannya tak terhitung banyaknya, siapapun wajib melenyapkan jiwanya. Hari ini secara kebetulan saja meminjam tanganku untuk melenyapkan dia karma memang sudah menentukan nasib hidupnya, tadi dia menyerang tanpa mematuhi aturan Bulim, jlkalau yang menjadi korban adalah Cayhe, lalu apa yang akan kau katakan?"

Ki Ping Loji dari Sip-sin-siingkoay ikut tertawa dingin, katanya: "Bertarung dimedan laga memang berdasarkan kuat menang lemah mati, kematian Tho-hoa Siusu memang harus salahkan kemampuan sendiri yang tidak becus. Tapi Liok- pangu bertekad membunuhnya dengan cara keji, tak usah kau menggunakan alasan menegakan keadilan segala, apa Liok- pangcu jeri menghadapi tuntutan balas." Berdiri alis Liok Kiam-ping, katanya: "Cayhe berkelana di Kangouw, berpedoman aturan perguruan, dengan segala tekad dan kemampuan rela membela keadilan dan kebenaran, umpama wibawa perguruan hancur lebur, Cayhe berani berkorban asal tidak pernah bertindak secara keliru."

Kong -tong-koay-khek Seng ih-hun membentak: ”Jelas kau ini berjiwa culas dan telengas, masih berani bicara tentang keadilan Bulim, apa tidak malu kau hidup didunia fana ini. Baiklah, didalam Ui-yap-san-ceng akan kucabut nyawamu."

Ai-pong-sut Thong Cau bergelak tawa, katanya: "Kalian kawanan tikus masih punya kemampuan apa boleh keluarkan saja, buat apa petingkah saja."

Ki Ping menyeringai kelam, katanya kepada Liok Kiam-ping: "kalian justru mengudal ludah tidak mau mengaku salah. ingatlah sepasang tinju kalian takkan kuat melawan empat tangan- Maka menurut pendapat Losiu, lekas serahkan saja Wi-liong-pit-kip. kejadian hari ini, kami bersaudara mau menjadi penengahnya mendamaikan kedua pihak, yakin Seng- lota ngkeh juga sudah berusia lanjut, berjiwa bajik dan luhur, urusan ini tentu mau dilerai sampai disini saja, kuharap kalian berpikir secara damai, kesempatan masih ada."

Melotot mata Liok Kiam-ping, katanya "Wi-liong-pit-kip adalah milik perguruan kita, simbol kebesaran yang tiada taranya, umpama Cayhe tidak becus juga pantang membiarkan pusaka itu terjatuh ketangan orang luar. Dari ribuan li aku meluruk kemari untuk menuntut balas sakit hati perguruan, meski menghadapi gunung golok. lautan api, Kiam-ping akan kerahkan segala kemampuan untuk membalas budi luhur perguruan-. Maksud baik kalian terpaksa Kiamping tak bisa menerima:"

Ki Kong berjiwa angkuh dan terlalu mengagulkan diri, tak tahan dia menahan a ma rah, bentaknya: "Anak setan-. tutup mulutmu, dengan sekedar ajaran tunggal perguruan berani kau membangkang kehendak Lohu. Bedebah, kalau berani Hayo lawan Lohu diatas Ceng-tiok-tin kalau kau bisa mengalahkan sepasang tangan Lohu, urusan hari ini boleh anggap tiada sangkut paut dengan kami, Kalau sebaliknya kenapa?" Jengek Aipong-sut Thong Cau.

"Seluruh barang yang kalian hawa harus ditinggalkan, lalu mencawatlah ekor dan enyah dari sini."

Jikalau pihak Cayhe yang kalah, jangan kata hanya barang yang kami bawa, batok kepala kami berdua juga akan kamipersembahkan." demikian kata Liok Kiam-ping.

Ki Kong menyeringai lebar, katanya: "Bocah sombong, kemarilah ikut Lohu," lalu dia mendahului beranjak kearah Ceng-tiok-tin (barisan bambu hijau).

Liok Kiam-ping tak bicara, diapun beranjak ke sana. orang- orang lain juga ikut berpindah kesebelah timur.

Setiba dipinggir Ceng-tiok-tin, Sip-sin-siang-koay berdiri di selatan, Liok Kiam-ping di sebelah utara, kedua pihak jadi berhadapan.

Ceng-tiok-tin merupakan barisan bambu runcing sebanyak delapanpuluh satu batang sebesar jari, ditancapkan dalam tanah menurut arah langkah berputarnya jam, panjang bambu empat kaki dua dim, bagian atasnya runcing setajam golok. bagian bawahnya enam dim terpendam didalam tanah, kelihatannya berdiri kokoh dan teguh.

Tapi dibandang Bwe-hoa-tin dari Siau-lim-si, Ceng-tiok-tin jauh lebih sukar dan banyak ragamnya, karena besarnya Bwe- hoa-tin ada empat dim, bagian atasnya datar dan rata, gampang barpijakan menggunakan tenaga. Bicara tentang Ceng-tiok-tin, jangan kata bersilat adu pukulan, maju mundur dan berlompatan, sekilas lena bila terjatuh pasti tubuh akan belong dan tertusuk mampus. Kaum persilatan yang punya Kungfu tinggi, tidak banyak yang berani bertandang diatas Ceng-tiok-tin. Siang-koay memiliki kepandaian tunggal perguruannya, tingkat kepandaiannya tinggi, terhitung tokoh ternama dalam Bulim, sayang sepak terjang mereka lebih menjurus kearah sesat, sifat merekapun tamak dan sadia, hingga ketenaran mereka menjadi luntur, belakangan malah dikategorikan sebagai penjahat ulung.

Ki Kong membenci kepongahan Liok Kiam-ping, maka dia puntak hiraukan peraturan Bulim, katanya "Bedebah, naiklah." lalu dia melompat lebih dulu hinggap secara enteng diatas pucuk bambu.

Dalam waktu yang sama Liok Kiam-ping juga melompat tinggi hinggap diatas sebatang bambu. Berdiri diatas bambu hanya boleh menggunakan ujung kaki, apalagi tak boleh menekan terlalu keras dan berat.

Sementara itu Ki Kong sudah beranjak dua langkah diatas barisan bambu runcing, dari selatan berputar kearah barat. Sementara Liok Kiam-ping menggeser langkah kearah timur, tapi dia beranjak lurus melewatitiga batang batang bambu lalu melintang menggeser pula empat langkah.

Ki Kong mempercepat langkah dan melebar kaki, sedikit menutul dia angkat tubuhnya keatas berbareng tangan kanan merogoh dengan Siang-yang-toa-kin-toh-cianghoat langsung mencengkram pundak kanan Liok Kiam-ping.

Tubuh Liok Kiam-ping menggelinjang kekiri, kakinya sudah melampaui empat batang bambu gerak geriknya enteng dan sebat.

Melihat Liok Kiam-ping tidak menyambut serangannya hanya berkelit saja, hidang Toa-koay Ki Kong mendangus, kakinya menutul tubuhnya bergerak lembut mendesak maju dengan jurus Hay-te-lau-gwat (merogoh bulan didasar laut) kembali dia menyerang dengan telapak tangan berantai, telapak tangan kiri menyelonong keluar, mengikuti gerakan tubuh yang meluncur kebawah, telapak tangannya menepuk kebawah iga kanan Liok Kiam-ping, berbareng telapak tangan kanan merogoh pula terus disendal keluar. Liok Kiam-ping membuang tubuhnya kebelakang sebelah sebelah kanan, pundak kanan ditekan turun, namun pinggangnya ditekuk kekiri, dengan gaya indah dia berkelit, serangan Lo-koay hanya terpaut satu dim hampir mengenai tubuhnya.

Lekas Toa-koay tarik serangannya, telapak tangan terangkat naik bersamaan gerakan tubuhnya yang mumbul, dengan serangan membelah dengan telapak tangan tunggal yang dilandasi tenaga besar memukul hoa-kay-hiat di dada Liok Kiam-ping.

Kedua lawan bergebrak dalamjarak dekat, serang menyerang dilakukan dengan gerak cepat dan singkat, jelas serangan itu akan mengenai sasaran.

Lwekang Liok Kiam-ping lebih unggul dari kebanyakan orang, meski terancam dia tidak gugup, tampak dia ayun kedua tangan keatas, tubuhnya menjengkang kebelakang, diatas Ceng-tiok tin ternyata dia berani mengembangkan gerakan Kim-le-to-jeng-poh (ikan gabus melompat balik melawan arus), dengan enteng tubuhnya berjumpalitan ke belakang, dikala tubuhnya jungkir balik setinggi tujuh kaki, kedua kaki dan satu tangannya berpelukan sehingga tubuhnya mengkeret bagai bola, beg itu melorot turun sebelah ujung kakinya beruntun menutul dipucuk tujuh bambu runcing.

Toa-koay yakin serangannya pasti dapat merobohkan atau sedikitnya melukai lawan, atau mendesaknya jatuh kebawah, waktu menyerang dia gunakan seluruh tenaganya. Tak nyana lawan berkepandaian tinggi bernyali besar, berani menggunakan gaya ikan meletik balik melawan arus menghindari serangannya, padahal gerak serangannya sudah terlanjur dilontarkan-jelas dia sudah melanggar kode etik pertempuran dalam gelanggang silat.

Apalagi jago-jago silat setingkat mereka yang diutamakan adalah dapat menyerang dapat membela diri dan bila perlu membatalkan serangan ditengah jalan demi keselamatan jiwa sendiri, kalau lawan tidak berkelit, maka lawan akan memperoleh kesempatan balas menyerang lobang kelemahan sendiri.

Beruntun dia menyelonong maju tiga batang bambu baru berhasil menguasai keseimbangan tubuhnya, namun keringat dingin sudah membasahi tubuhnya, lekas dia mengatur napas menghimpun tenaga dan semangat dalam hati dia sudah bertekad untuk melancarkan Cin-pou-kan-bak (melangkah maju menyusul pukulan) yang mempunyai tiga gerakan berantai dari permainan Hun-liong-sam-sian-jiau (naga menunjukan cakar tiga kali dibalik mega) untuk adu jiwa dengan Liok Kiam-ping.

Tenaga dalam dia kerahkan ditelapak tangan, ditengah hardikannya, dia mendesak maju kesamping Liok Kiam-ping, gerak perta ma dengan jurus Siang-cian-heng-tui (mendorong melintang sepasang tangan), seiring dengan gerakan badan kedua tangannya diabitkan kekiri dan kekanan dengan tenaga besar, bila tubuh orang kes amber tenaga dorongannya, pasti terjungkaljatuh ketanah.

Melinat Lo-koay mulai nekad dan bertempur seperti mengajak adu jiwa, Liok Kiam-ping tak berani ayal lagi, dengan gaya burung camar berputar diudara kakinya beruntun berpindah kedudukan dipucuk bambu membalik kepinggir, Lo- koay mendadak lengan kanannya dia menggertak dengan gerakan enteng, seiring dengan tubuh yang miring tangan kanan menjulurkan duajari, ia menutuk ke Thay-yang-hiat dipelipis kiri Lo-koay dengan jurus Kim-ke-to-ih (ayam alas menyisik bulu).

Kearah kanan Toa-koay memiringkan kepala merendahkan pundak. telapak Kiri balas menyerang denganjurus Phoat-hun- kian-jin (menyingkap mega melihat mentari) pinggir telapak tangannya menepis urat nadi Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping juga menekan pundak menarik tangan, kaki kanan mundur selangkah, telapak tangan kiri menepuk lengan Toa-koay denganjurus Thi-so-heng-jo (rantai melinta ng menahan perahu) .

Toa-koay dipaksa menutul kaki diujung bambu. tubuhnya melompat keatas, ditengah udara menggeliat pinggang tubuh berputar dengan jurus Jong-eng-pok-tho (burung elang menyambar kelinci) kedua tangan memukul kepunggung Liok Kiam-ping didorong oleh tubuh yang menukik turun.

Mendengar angin pukulan Liok Kiam-ping sudah waspada. diapun menjejak kaki tubuhnya meluncur lurus datar beberapa dim diatas ujung bambu runcing, mencapai jarak tertentu tubuhnya menggeliat sekali melampaui lima batang bambu hingga mencapai pinggir bambu diarah tenggara.

Toa-koay sudah kerahkan tenaga murninya, tubuh yang terapung dari menukik turun seenteng asap meluruk tiba, kedua tangan di depan dari belakang denganjurus pukulan bundar berantai dilontarkan. Gaya pukulan seperti itu mengandung tenaga pusaran seiring dengan gerakan kedua tangan yang membundar maju mundur, jelas merupakan pukulan berat, sebelum kaki menginjak bambu, pukulan tangan kanan sudah dilontarkan,

Liok Kiam-ping membuang tubuh kekanan, telapak tangan kiri menabas pergelangan Toa-koay dengan jurus palang besi melintang tegak.

Terpaksa Toa-koay menarik telapak tangan kanan, kaki kiri merogoh kedepan, telapak tangan kiri disodorkan kedepan memukul Thay-gi-hoat ditulang rusuk kiri Liok Kiam-ping, tenaga keras serangan keji.

Sebelum tangan Toa-koay tiba, Liok Kiam-ping sudah rasakan tekanan angin keras, lekas dia membalik tubuh bersalto kebelakang sambil menghimpun tenaga dalam daripusar langsung disalurkan kedua lengan mencapai kedua telapak tangan, meminjam tenaga pusaran telapak tangan kanan memukul miring dengan Toa-cui-pi-jiu menggempur Seng- hong- hiat ditubuh Toa-koay.

Lekas Toa-koay menarik mundur kaki kiri, meluputkan diri dari pukulan telapak lawan-telapak tangan kanan bergerak dengan jlo-jlok-bwe (meraih ekor burung). tangannya menyapu keketiak kanan Liok Kiamping yang kosong.

Liok Kiam-ping miring kan tubuh, maka dua telapak tangan saling bentur "Plak" tidak begitu keras, namun kedua pihak tergetar mundur tiga batang bambu.

Diatas bambu runcing kecil ini sedikitpun pantang menggunakan tenaga berat, mereka kuat berdiri dengan  ujung kaki tanpa memberati bambu yang terpinjak dibawah kaki mereka lantaran menggunakan tenaga murni, kaki juga hanya menutul seperti menjamah sekejap saja lantas pindah kedudukan, tapi karena Liok Kiam-ping balas menyerang meminjam daya pusaran angin pukulan lawan sehingga dalam adu tenaga kali ini dengan sendirinya tenaganya dikorting sebagian.

Diam diam Liok Kiam-ping membatin, Lwekang iblis tua ini memang cukup mengejutkan, kalau bertempur cara begini, mungkin akan makan dua ratusan jurus baru bisa membekuk lawan-Jikalau waktu berkepanjangan padahal pihaknya hanya berdua, tenaga jelas kalah kuat, maka dia merasa perlu menggunakan Kungfu simpanannya yang lihay supaya tidak dirugikan lebih dulu. Maka permainan kedua tangannya segera berobah, mendesak maju selangkah sete1ah dirasa cukup dekat telapak tangan kanan membundar serta berpadu ditengah terus melancarkanjurus Liong-kip-sin-gan.

Lwekang Kiam-ping sekarang sudah mencapai puncak sempurna, begitu dia melancarkan Wi-liong clang, sudah tentu perbawanya bukan olah-olah hebatnya. Tampak telapak tangan bertaburan, secara aneh menakubkan memberondong ke Hiat-to besar diseluruh tubuh Toa-koay. Sebetulnya Toa-koay Ki-kong juga menyiapkan serangan lihay hendak merangsak lebih dulu, tak nyana mendadak dilihatnya lawan merubah gerak serangan, seketika dirinya dirabu ribuan telapak tangan yang memberondong dari segala jurusan. Lekas dia kembankan Ginkang tunggal Yap-ceng-cap- pwe-hoan-can (burung walet jumpalitan delapan belas kali), selicin belut tubuhnya berputar seperti gangsingan sambil melompat dari pucuk bambu kepucuk bambu yang lain sebanyak empat batang, syukur dia masih sempat menyelematkan jiwa. Tapi kejut hatinya sudah bukan kepalang, sekujur badan merinding dan berdiri bulu kuduknya.

Sejurus serangannya luput Liok Kiamping tidak berhenti bergerak. langkahnya bersilang mengembangkan Ling-hi-pou- hoat, gerakannya seperti setan gentayangan melompat terbang, sebelah tangannya menyerang dengan jurus Liong- hwi-kiu-thian

Belum lagi Toa -koay berdiri tegak. angin kencang sudah mcnerpa tiba dari belakang, lekas dia menjatuhkan tubuhnya kedepan,ujung kaki mengerahkan tenaga melesat kedepan kembali dia berhasil menyelamatkan diri.

Beruntun dirinya terdesak mundur, padahal kedudukan dan tingkat Kungfunya didunia persilatan, kapan dia pernah dibuat malu begini rupa, saking kaget, heran dan marahnya, tiba-tiba timbul niatjahat dalam benaknya, diam-diam dia kerahkan tenaga dalam dikedua lengan. seketika dari bawah pergelangan tangannya mulai berobah hijau lalu gelap dan hitam. Ditengah hardikannya, kedua tangan didorong lurus kedepan.

Ternyata dia sudah menggunakan Ko-bok-ciang yang teramat ganas dan beracun, pukulannya sekaligus mengeluarkan uap hitam, bila pakaian atau kulit daging manusia kesentuh sedikit saja, akan terbakar hangus, paling ringan terluka bakar, namun bukan mustahil jiwa bisa melayang seketika karena pukulan kayu kering ini dilatihnva dengan racun yang ganas. Agaknya Toa-koay sudah nekad untuk membunuh Liok Kiam-ping dengan ilmu simpanannya yang amat ditakuti kaum persilatan ini.

Liok Kiam-ping sudah bersiaga, dia tahu sampai dimana kelihayan Ko-bok-ciang lawan, melihat telapak tangan lawan berobah hitam mengeluarkan uap hitam berbau bacin lagi, lantas dia tahu bahwa Lo-koay mulai kerahkan seluruh kemampuannya dengan pukulan beracun hendak merobohkan dirinya. karuan geram hati Liok Kiam-ping, perlahan dia kerahkan Kim - kung-put- koa y-s in- ka ng-

Dua kaki disekitar badan Liok Kiam-ping., uap hitam lawan seperti tertahan oleh dinding kaca berhenti ditengah udara. Kim-kong-put-hoay-sin-kang ilmu digjaya dari aliran Hud yang tiada taranya. Ko-bok-ciang-kang memang ganas dan hebat, namun mana mampu menjebol kesaktiannya, maka terdengar desis geseran halus. daripertahanam hawa sakti Liok Kiam- ping dengan uap hitam yang mendesak makin keras dalam perg ulatan yang cukup sengit, namun lambat laun uap hitam sirna tak berbekas.

Ternyata Toa-koay masih belum kapok kembali dia kerahkan tenaganya serta menyerang lebih gencar dan kuat, uap hitam itu laksana kepulan asap hitam yang bersuhu panas bergulung-gulung kearah Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping berdiri tegak penuh wibawa, ilmu sakti juga sudah dia kerahkan mencapai puncaknya. Bila kabut menggulung dekat ditubuhnya lantas mengeluarkan desis suara yang ramai lalu tertolak balik sirna tertiup angin lalu.

Bahwa Ko-bok-ciang tak berhasil serta kehilangan keampuhannya, Toa-koay insyaf dirinya bisa celaka, baru saja timbul niatnya menarik balik serangan- Mana Liok Kiam-ping memberi kesempatan padanya berbareng dengan bertautnya kedua alis, mendadak dia maju selangkah, kedua tangan mendadak menepuk dari bawah keatas, dengan jurus Liong- jiau-king-thian, yang menjadi sasaran adalah dada Toa-koay. Amarah sadah melandasi serangan Liok Kiam-ping, maka dia kerahkan sepenuh tenaganya. Sebelum menarik seluruh kekuatan Ko-bok-ciang, Lo-koay takkan mampu mengerahkan tenaga serta balas menyerang dengan kepandaian lain,"blang" suaranya tidak keras, tapi secara telak iga bawah Toa-koay sudah terkena sekali pukulan- Ditengah jeritannya tubuhnya terpental terbang tiga kaki.

Untung Lwekangnya tangguh, sekuatnya dia tahan darah yang sudah menyembur keluar tenggorokan, disaat tubuhnya terpukul terbang sekaligus dia menggeliat ping gang hingga badannya mumbul lebih tinggi dan jatuhnya diluar ceng-tiok- tin. Bila daya luncuran tubuhnya mengendor, hawa murnijuga sudah ludes, pandangan seketika menjadi gelap. badanpun terbanting jatuh ditanah, jelas luka-lukanya tidak ringan-

Sebagai adiknya Ki Ping sudah tentu amat prihatin akan keselamatan sang engkoh lekas dia memburu kesamping Toa- koay serta memapahnya duduk, sebuah pil merah segera dia jejalkan kemulut Toa-koay, lalu membetulkan letak duduknya supaya samadi menyembuhkan luka dalamnya.

Saat Toa-koay melayang jatuh, Liok Kiam-ping juga melompat enteng hinggap di tanah.

Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun adalah bangkotan silat yang pandai melihat gelagat, melihat Liok Kiam-ping membekal ilmu sakti yang tiada taranya, ko-bok-ciang yang paling ganas ternyata tak mampu melukai, gelagatnya pihak sendiri makin terdesak maka dia membatin: "Usianva masih muda, tiada sesuatu keistimewaan ditubuhnya, apa betul dia sudah meyakinkan ilmu mencapai taraf membalik sederhana kembali ke murni." entah kenapa mendadak bulu kuduknya berdiri, seketika dia menjublek. pandangannya lurus mengawasi langit.

Tiga babak sudah menentukan kalah menang sepantasnya pertandingan boleh dihentikan. Namun Liok Kiam-ping berdua tetap berdiri dipinggir dengan tenang dan angker, mereka menunggu kesudahan dan jawaban musuh.

Mendadak Lo-ji Ki Ping menghardik beringas: "Anak keparat, keji amat kau, Sip-can-siang-koay tidak bermusuhan tiada dandam dengan kau, berani kau turun tangan secara keji kepada engkohku hingga luka parah, umpama ada tabib sakti dapat menyelamatkan jiwanya, juga selama hidup dia akan lumpuh atau menjadi cacat. sip-san-siang-koay selamanya tak pernah berpisah. Nah, anak keparat boleh kaupun sempurnakan juga jiwaku.”

Amarah menggejolak dadanya karena sedih melihat keadaan saudara tuanya yang parah, tanpa menunggu reaksi Liok Kiamping, dia jejak kedua kakinya melompat maju, kedua tangan menyerang bersama kearah Liok Kiam-ping sekuat tenaganya.

Ternyata Lo-koay Ki Kong terluka dalam yang amat parah oleh pukulan Liok Kiam-ping. Sip-san-siang-koay terhitung jago top di bulim, sejak muda berkecimpung di Kangouw, kapanpernah kecundang sedemikian mengenaskan, kembali Lo-ji KiPing amat sedih dan dendam daripada kematian saudaranya, seperti orang gila dengan kalap dia menerjang.

Sudah tentu Liok Kiam-ping tidak tahu dan tidak pernah menduga bahwa Ko-bok-ciang yang jahat luar biasa itu, waktu ditarik dan dikendorkan, ternyata tak punya hawa pertahanan bila menghadapi serangan balasan lawan, kalau Kiam-ping tahu seluk beluknya tentu pukulannya tadi tidak beg itu berat. Tapi rasa sesal telah mengetuk sanubarinya, elek-jelek orang datang membantu pada permusuhan apa-apa dengan dirinya, jikalau sampai menjadi cacat seumur hidup, bagi seorang pesilat, hal ini berarti akan buntu jalan hidup selanjutnya..

Melihat Ki Ping menyerang dengan kalap lekas dia kerkelit kekiri. Ternyata Ki Ping tidak berhenti, menutul kaki dia melompat keatas mengejar gerakan lawan, kedua tangannya kembali menggempur Liok Kiam-ping dari arah depan. Pukulan ini cepat lagi barat, hampir saja mengenai tubuh Liok Kiam- ping. Untung Lwekangnya tinggi, ketenangannya juga luar biasa, disaat pukulan lawan hampir mengenai tubuh, dia kembangkan Ling-hipou hoat, Sekali berkelebat, dia sudah lolos dari jangkauan tenaga gempuran lawan. Tapi dia tidak balas menyerang-

Melihat Liok Kiam-ping, berkelit melulu, Ai-pong-sut menjadi kurang senang dan naik pitam. Bila Ki Ping menyerang pada jurus ketiga, dia sudah tidak tahan sabar, bentaknya: "Pangcu mundur saja, biar Losiu tamatkan pula jiwanya." sembari bersuara tubuhnya sudah melompat tinggi, kedua tangannya menepuk lurus kebatok kepala Ki Ping.

Kedua pihak sama-sama menyerang dari udara, tenaganya jauh, lebih kuat dari pukulan biasanya, "Byaar" ledakan terjadi dikala pukulan kedua pihak beradu, keduanya melorot jatuh dari udara,

Jago-jago silat sekosen mereka sudah tentu pandai meminjam tenaga menggunakan tenaga, meminjam daya tolak benturan kedua pukulan mereka. sekalian tubuh mereka melayang miring anjlok diluar gelanggang.

Ai-pong-sut terlempar lima kaki melayang enteng ketanah. sebaliknya Ki Ping tertolak tujuh kaki. setelah hinggap ditanah masih gentayangan dua langkah baru berdiri tegak.

"Lo-ji," seru Ai-pong-sut Thong cau." tidak sukar kalau kau ingin adu jiwa. Nanti Lohu akan mengabulkan keinginanmu. Tapi kenyataan terpapar didepan mata. luka-luka lotoa tidak ringan, lebih penting kau memberi pertolongan kepadanya. jikalau kau bertindak hanya memburu emosi, bukan saja ditertawakan orang jiwa saudaramu juga bisa celaka. Hari masih panjang, lain kesempatan boleh kau meluruk ke Kwi- hun-ceng, Losiu akan selalu menanti kedatanganmu. Lo- ji, insyafilah keadaanmu sendiri." Ki Ping melenggong mendengar nasehatnya, apapun dia tidak mau mengakhiri pertikaian ini begini saja, maka dia terkekeh-kekeh, katanya: "Lain kesempatan apa, selanjutnya Sip-san-siang-koay akan hapus dari percaturan Kangouw. Hari ini Lohu harus adu jiwa dengan kalian, para tua bangka, sambut seranganku." maju selangkah kedua tangan bergerak satujurus, segulung tenaga pukulan dahsyat menerjang kearah Ai-pongsut Thong cau. Agaknya amarahnya betul-betul berkobar, serangannya menggunakan setaker kekuatannya.

Setelah mengalahkan, Hoat-liau Siansu dari Siau-lim-pay tadi, tenaga Ai-pong-sut sudah banyak terkuras, dalam waktu dekat jelas tak mungkin pulih seperti sedia kala.. Melihat Loji. Ki Ping menyerang seperti Harimau menyerbu ketengah gerombolan kambing, dia tahu dirinya tidak untung kalau melawan secara keras, lekas dia melangkah minggir kekanan, mulutnya masih berusaha menyadarkan lawan: "Lo-ji, apa betul kau ingin adu jiwa.jiwa engkohmu sudah tidak kau pikirkan lagi"

"Hari ini Sip-san-sang-koay bertekad membuat perhitungan dengan kau umpama lidahmu tumbuh kembang teratai, Lohu tetap tidak akan mengampuni jiwa kalian," mulut bicara kaki tangan tidak berhenti, sebat sekali dia menyergap maju mencegat kedepan Ai-pong-sut, secara aneh kedua tangannya merogoh dengan jurus Hun-liong-sian-jiau, yang diincar adalah Hoa-kay-hiat di dada Ai-pongsut Thong cau.

Ai-pong-sut menyurut mundur selangkah menghindar, telapak tangan kiri membundar balik dengan gerak Kim-si-toa- jan-hoan (benang emas berbalik membelitpergelangan) menabas urat nadiJi-koay Ki Ping.

Ji-koay Ki Ping dipaksa menekuk sikut, merendahkan tenaga sambil miring dan maju selangkah berbareng tangan kanan menyapu miring kebelakang, Tam-jong-ciang langsung menepuk kepundak kanan Ai-pong-sut. Ai-pong-sut tahu permainan pukulan lawan amat aneh menakjupkan, lekas dia menyelinap miring kepinggir sambil membuang pundak. tangan kanan terangkat dengan jurus Yap-te-jay-hoa (memetik kembang dibawah daon), merangkap kedua jari telunjuk danjari tengah menutuk Ki-ti-hiat ditubuh Ki Ping seCara terbalik.

Amarah Ki Ping sudah tak terbendang maka dia bertekad menggunakan serangan keji, namun beberapa jurus serangannya selalu dipUnahkan oleh Aipong-sut, maka niat jahatnya makin berkobar, maka tekadnya lebih besar untuk memboyong seluruh kemampuan latihannya adu jiwa dengan Ai-pong-sut.

Niatnya baru berkelebat dalam benaknya, sementara tutukan jari Ai-pong-sut sudah mengancam Hiat-tonya, lekas dia merangkap kedua tangan sambil berputar setengah lingkar, mendadak kedua tangan terbuka terus menepuk dengan jurus Hing-toan-jik-lim-jun (memotong miring berisan emas). Pukulannya ini mengandung tiga unsur tenaga yang berbeda, lengan melintang, jari menutuk dan tepukan telapak tangan, bila pukulannya sudah dilontarkan, untuk menyambut, mematahkan atau menghindar serba sukar dan tidak mungkin memang lihai serangan yang satu ini.

Melihat permainan adu jiwa lawan Ai-pongsut menggeram gusar, segera dia kembangkan Ginkang tunggalnya, beruntun kakinya bergerak saling berputar, secara aneh dia menyelinap pergi, tenaga sudah dikerahkan dikedua lengannya terus memapak serangan lawan

Kali ini dua pukulan telapak tangan beradu secara telak. keduanya mundur tuuh kaki. Ki Ping kalah setengah tingkat dalam ketangguhan Lwekangnya tapi Ai-pong-sut sudah susut tenaga dalamnya, maka hasil adu tenaga ini kelihatan berimbang. Demi menuntut balas sakit hati sang Engkoh, Ki Ping sudah tidak hiraukan keselamatan sendiri maka dia menubruk maju pula dengan serangan makin sengit. Serangan makin ganas dan dahsyat.

Darah terasa bergolak didada Ai-pong-sut dia tahu dirinya sudah terluka sedikit, lekas dia kembangkan kelincahan gerak tubuhnya melayani serangan Ji-koay yang menggila.

Tampak bayangan kelabu berkelebat kian kemari, selulup timbul diantara sambaran pukulan yang menderu kencang, cukup sengitjuga jalannya pertempuran.

Waktu sudah banyak terbuang, jikalau pertempuran seperti ini berkepanjangan, jelas tidak menguntungkan pihaknya, lekas dia maju selangkah lalu menjura kepada Kong-tong- koan-khek, katanya: "cayhe ada sebuah permintaan yang mungkin kurang pantas, entah Seng-lo-tangkeh sudi memberi muka kepadaku."

Pihaknya sudah kalah beruntun, mimik Kong-tong-koay- khek kelihatan kaku dan sinis, mendengar pertanyaan Liok Kiam-ping kelihatannya dia melengong, namun sebagai bangkotan penjahat, segera dia bergelak tawa, katanya: "Liok- pangcu ingin tanya apa boleh katakan saja. Losiu slap mendengarkan."

Bertaut alis Liok Kiam-ping, katanya:

"Urusan hari ini lebih baik kau saja yang menyelesaikan dengan aku, waktu sudah banyak terbuang, urusan tak boleh ditunda. aku yang tidak berguna mohon petunjuk beberapa jurus untuk mengakhiri permusuhan kedua pihak."

Karena ditantang secara langsung oleh Liok Kiam-ping, merah muka Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun, apalagi dihadapan sekian banyak anak muridnya mana boleh dia menyurut mundur. Tapi dia mempunyai rencana lain dalam hati dia, mencaci bocah keparat yang tidak tahu diri ini, kematian sudah didepan dada masih berani petingkah, Maka dia bergelak tawa, katanya: "Ilmu sakti Liok-pangcu memang mandraguna, kepandaanmu lebih unggul dari kebanyakan orang bahwa kau inginjajal kepandaian, memang kebetulan bagi Lohu. Tapi Lohu punya sekedarpermainan yang mungkin kurang enak dipandang, aku akan mohon petunjuk Liok- pangcu di dalam Kiu-bong-hwi-goan-kiu."

Sementara itu empat buah Kiu- bang- gin sudah digotong keluar oleh murid-murid Kong-tong-pay lalu dipasang ditempatnya.

Seng lh-hun menuding kebawah paya-paya kembang, katanya menoleh: "Kalau sekiranya memenuhi selera LiokPangcu, boleh kita ganti permainan yang lain."

Watak Liok Kiam-ping angkuh, kapan dia pernah tunduk kepada orang lain, sejak menjabat Pangcu Hong-lu-pang, dia lebih tinggi hati, walau tahu Kiu-bong-gun-goan-giu belum pernah dilihat dan tak tahu seluk beluknya, tapi kepandaian tinggi membuat nyalinya besar, katanya dengan wajah serius: "Sebagai murid Hong-lui-bun, dihadapan para leluhur cayhe sudah bersumpah mendarma baktikan diriku demi  kepentingan Hong-lui-pang demi menegakkan keadilan Bulim, dan menjaga wibawa dan kebesaranperguruan gunung golok atau lautan api takkan mundur setapakpun. Kalau Seng-lo- tangkeh sudah memilih permainan ini, cayhe rela melayani, silakah Lo-tangkeh." lalu dia belitkan bagian bawah jubahnya dipinggang. langsung melompat masuk kebawah paya-paya kembang. Berdiri disebelah selatan.

Sementara Kong- tong-koay-khek Seng ih-hun berdiri disebelah utara. Kedua pihak menjura serta berkata: "Silakan' lalu keduanya bergerak bersama memukul melintang kearah Kiu-bin-giu yang tergantung digelanggelang rantai.

Empat buah bola besar berat itu seketika terayun dengan suaranya yang menderu, paya-paya kembang yang terbuat dari kayu seketika berg eta r mengeluarkan suara kriyat kriyut. Empat buah bola bergigi dan berpisau runcing tajam itu terayun pulang pergi dengan kekuatan yang cukup mengejutkan Liok Kiam-ping berkepandaian tinggi, tapi dia tak berani gegabah, sepenuh perhatian dia layani permainan lawan

Begitu bola bergerak kedua pihak lantas bergerak mengikuti arah bola terayun, keduanya saling samber dalamjarak setengah kaki disebelah bola, arahnya lurus untuk menghindari hantaman Kiu-bong-giu secara telak Disaat dua bola bersilang lewat, kedua orang itu baru mulai bergerak saling hantam.

Seiring dengan gerakan menyelinap ketengah Kong-toay- khek seng lh bun miringkan tubuh kesebelah kiri, kedua tangan memukul kesebelah kanan- Liok Kiam-ping pasang kuda-kuda menurunkan tubuh, padahal dua bola berat bergigi dan berpisau itu sudah terayun balik. terpaksa mereka melompat minggir kesamping utara dan elatan di mana kedua bola yang lain berada.

Sebat sekali Liok Kiam-ping bergerak. disaat tubuhnya hinggap kebawah, kebetulan berada disebelah kanan bola, muka menghadap keluar paya-paya kembang, mendadak dia melangkah keluar setindak tangan kiri terayun kebelakang. bola yang berada disebelahnya telah dipukulnya terayun lurus kebelakang.

Begitu bola terdorong pergi, orangnyapun melompat keluar dari arah barat, gerak geriknya yang sebat dan tangkas, jelas tak mampu diimbangi oleh jago silat umumnya. Kini empat buah bola itu sudah bergerak semua, gelang-gelang kecil diatas tambang yang mengikat bola besar itu gemerincing sehingga suasana menjadi berisik.

Kini kedua pihak mengeluarkan kemampuan sejati, mereka melompat pergi datang diantara samba ran empat bola yang pergi datang secara cepat dan ketat, bila bayangan mereka melompat dekat, keduanya lantas saling serang dan membela diri. Bertempur dengan cara menghindar tumbukan bola lalu saling serang hakikatnya tak boleh bergerak secara lambat atau lena, hatipun harus selalu ingat dan awas akan gerak laju dan arah bola-bola tajam itu, mendadak maju lain saat mundur, menyerang atau membela diri secara bergantian, jelas pertempuran ini jauh berbeda dengan adu kepandaian umumnya.

Dalam sekejap mereka sudah saling labrak puluhan jurus, bukansaja sulit mengembangkan Ginkang dalam samberan bola- bola yang samber menyamber itu, tenagapun harus diperhitungkan celakanya perhatian harus selalu ditujukan pada gerak gerik lawan, sudah tentu mereka ingin selekasnya merobohkah lawan dalam adu tenaga, pukulan dan ketangkasan

Liok Kiam-ping tahu Kiu-bong-giu sudah diyakinkan Kong- tong koay-khek Seng Ih-hun dengan baik, bukan saja permainannya sudah leluasa dan matang, dia masih mahir memainkan Pat-sian-ciang yang lihay, maka dia memperingatkan diri sendiri supaya tidak memandang enteng lawan, bila lawan lolos dari sepasang telapak tangan sendiri, bukan saja malu terhadap leluhur danpara anggota bagaimana dia harus bertanggungjawab sebagai seorang pimpinan. Maka Kiam-ping kembangkan Ling-hi-pou-hoat, diam-diam Wi-liong- ciang-hoat juga disiapkan, sudah bulat tekadnya untuk tidak memberi ampun kepada Kong-tong- kony-khek seng ih-bun.

Kebetulan kedua pihak kini berada dipusat pusaran keempat bola. Seng Ih bun bergerak dari selatan keutara, sebaliknya Liok Kiam-ping dari utara keselatan, keduanya jadi berada tepat ditengah sudut bersilangnya bola-bola itu,  kontan Kong-tong-koay-khek menyodok miring kearah bayangan Liok Kiam-ping, berbareng kakinya merebut maju kepinggir, kedua tangan terayun serong ke timur, dengan miring tubuh bergaya memukul harimau.

Liok Kiam-ping melompat tiba mengikuti ayunan sebuah bola, gerak geriknya setangkas tupai seringan angin, agaknya Kongtong-koay-khek Seng ih-bun tidak berani mengadujiwa, sebelum serangan mengenai sasaran, lekas dia tarik balik serangan sebelum dia sendiri kesambar bola yang datang dari ping gir. Gerak geriknya memang cekatan namun tenaga serangannya tadi cukup keras, hingga dalam menyelamatkan diri kali ini dia tampak keripuhan

Namun gerakan Liok Kiam-ping kali ini juga cukup berbahaya, semula dia menghadap ke barat membelakangi timur, saat mana sepasang tangan Kong-tong-koay khek Seng ih-hun sudah menyerang tiba, sementara depan dan belakang diancam ayunan bola, jelas dia takkan bisa menyelamatkan diri, kalau tidak terluka oleh pukulan lawan, pasti roboh keterjang bola. Untung dalam keadaan terdesak timbul akalnya, sebat dia mengegos tubuh keutara sambil menggeser selangkah. syukur dia selamat, namun jiwanya hampir saja melayang kalau terlambat sedikit saja.

Karena serangan kedua tangannya luput, Kong-tong-koay- khek terancam samberan bola yang datang dari belakang, lekas dia menyilang langkah menyingkir keselatan- Dalam hati dia maklum, berdasar kepandaian silat dan kekuatan Lwekang, bertempur ditempat datar elas dirinya bukan tandingan Liok Kiam-ping, Dirinya sudah sekian tahun berlatih secara tekun ditengah ayunan bola-bola yang dapat mengancamjiwa orang ini, betapapun tinggi kepandaian seorang, jelas takkan leluasa bergerak ditengah ayunan bola, jikalau tidak memiliki ketangkasan luar biasa. Tapi dia masih mempunyai permainan rahasia yang belum dikeluarkan bila permainan nakal ini tidak lekas dikembangkan, jelas tidak mudah dia merobohkan lawan yang masih mud a belia ini.

Dua puluh tahun yang lalu dia pernah melukai dan mengeroyok ciangbunjin mereka yang sudah tua hingga tewas, permusuhan jelas tak mungkin dilerai atau didamaikan lagi, sekarang apa pula, halangannya bertindak lebih kejam lagi. biar adu jiwa saja dengan bocah ini dan membunuhnya secara licik bila perlu. Pikiran jahatnya timbul wajahnyapun beringas diliputi nafsu membunuh. Saat mana bola dibelakang Liok Kiam-ping baru saja menyamber lewat, disaat orang menyingkir dan merobah gerakan itulah mendadak Kong-tong- koaykhek menyergap dengan tangan kanan menepuk keperut Liok Kiam-ping. Tangan kiri menyerang dengan jurus Tay-beng-can-ji (burung rajawalipentang sayap) merogoh keatas sebelah kiri, dengan tangan kiri ini dia menabas tambang besar yang mengikat Kiu- bong-giu sehingga bola itu tersendal balik, sementara bola dibelakangnya juga sudah terayun tiba.

Maka dia menurunkan pundak kekiri, bola dibelakangnya menyamber lewat diatas pundak kanan, dengan kedua jarinya dia dorong lagi bola itu hingga terayun lurus ke muka Lloh Kiam-ping. Maka Liok Kiam-ping sekaligus diserang dari tiga haluan, kalau kelit kekanan, harus menghadapi bola yang terayun datang dari barat, kiri harus melawan bola yang disendal datang oleh Kng-tong-koaykhek Seng Ih-hun.

Terpaksa Liok Kiam-ping gunakan gerakan Thi-pan-kio (Jembatan besi) yang lemas menjengkang tubuh kebelakang datar dengan tanah, namun sebelum Kong-tong-koay-khek mengundurkan diri, dia masih terancam oleh serangan keji lainnya, lekas dia gerakkan tangan kiri mengunci pergelangan Kong- tong-koay-khek seng Ih-hun, tubuhnya terus anjlok pula kebawah, karena bola yang disendal balik lawan sudah menyamber kemukanya.

"Bagus." dia menghardik sekali, merangkapjari telunjuk danjari tengah dia menjojoh ketengah bola yang kosong sehingga bola itu berhasil disampuknya kepinggir oleh kekuatan dua jarinya, terayun balik ke arah datangnya semula.

Sementara posisi Kiam-ping tetap tidak bergeming atau berkisar, bola yang menyamber lewat daripundak kanan Kong- tong koay-khek menyerempet punggung kirinya sehingga serangan telak kedua bola ini terhindar, sudah tentu pertahanan Kong-tong-koay-khek Seng Ih hun menjadi terbuka lebar.

Betapa lincah dan tangkas gerak tubuh Liok Kiam-ping, kesempatan sebaliknya tidak di abaikan, lawan tak boleh lari, serempak kedua tangan merogoh keatas, denganjurus Liong- jiau-king-thian mengincar Hoakay-hiat didada Seng Ih-hun. Gaya pukulan dan gerak tububnya bukan saja cepat, serangan telak juga tepat, merupakan salah satut gerak tipu Wi-liong- pit-kip yang lihay, puluhan tahun yang lalu jurus inipun sudah menjagoi Kangouw, maka ingin berkelitpun Kong-tong- koay- kbek seng Ih-hun sudah terlambat.

Ujung jari sudah menyentuh pakaiannya, tenagapun hampir dikerahkan- Melihat lawan merobah gerakan, mendadak pandangan sendiri menjadi kabur, tahu-tahu serangan lawan sudah mendera didepan mata, untung Kong- tong- koay-khek mempunyai kemahiran luar biasa didalam menghadapi saat gawat seperti ini, badan bagian atas dia miringkan, sambil angkat kedua tangan, mengikuti daya pukulan Liok Kiam-ping, dan melompat sambil menyelinap dicelah antara samberan dua bola, sekaligus meluputkan diri dari pukulan telak lawan- Sayang betapapun luas pengaIaman dan sikap reaksinya, tak urung dia tersapu juga oleh pukulan Kiam-ping, tulang rusuk bagian atasnya seketika sakit luar biasa.

"Plak" tubuhnya mela yang pergi. sambil menahan rasa sakit, berdasar pengalaman tempur dan kemahirannya main ditengah barisan bola ini, tangan kanannya menarik tambang besar, tubuhnya kembali meny elinap pergi dari celah-celah samberan bola dan melayang turun. Ditengah suitan panjang, dia sudah tidak pikirkan keselamatan sendiri, mendadak dia angkat tubuhnya sambil merangkap dua jari menutuk kearah bola yang terayun datang dari belakang, hingga bola ini terayun lebih cepat menyongsong bola yang datang dari depan. Murid-murid Keng-tong-pay yang menonton dari luar paya- paya kembang mendadak ada yang menjerit kaget: "Susioksuco, jangan.' cepat dia menarik tambang besar yang dipegangnya hingga bola yang terayun itu ketarik naik satu kaki lebih tinggi. Sementara tambang bola yang ditutul Seng Ih-hun dan terayun tiba itu teriris oleh pisau tajam dibola yang ketarik mumbul, maka bola berat berduri dan bpisau tajam itu jatuh menggelindang ditanah.

Mendengar teriakan murid Kong-tong-pay itu, Liok Kiam- ping sudah waspada, lekas dia mendahului lompat keluar dari paya-paya kembang sambil menoleh kebelakang. Mendadak didengarnya sebuah ledakan keras disertai jeritan yang menyayat hati. Ditengah kepulan asap tebal, darah muncrat disertai tulang dan daging.

Kong-tong-koay-khek seng Ih-hun tampak roboh celentang ditengah genangan darahnya sendiri, kedua kakinya sebatas paha hancur lebur karena ledakan tadi, keadannya amat mengerikan

Ternyata didalam bola bandulan berat ini di isi bahan peledak. agaknya Kong-tong koay-khek Seng Ih-hun sudah bertekad gugur bersama Liok Kiam-ping, maka dia nekad mendorong bola supaya saling tumbuk dan meledak.

Bila rencananya ini berhasil, umpama tidak mati pasti Liok Kiam-ping luka parah, untung seorang murid berteriak sambil menarik ujung tali yang menggantung bola sehingga bola itu terangkat, tujuannya hendak menolong kakek gurunya terhindar dari bahaya benturan dan besar ibu jari kaki itu ternyata tergores putus oleh pisau tajam dibola yang lain dan jatuh tepat dibawah kaki Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun, maka kedua kakinya hancur luluh sebatas paha karena ledakan keras itu, orangnya seketika roboh semaput. 

Liok Kiam-ping sendiri juga kaget dan ngeri hingga dia berdiri menjublek sekian saat. Untung murid Keng-tong-pay tadi menjerit kaget sehingga dia sempat melompat keluar, kalau tidak tentu diapun ikut cidra. Namun melihat keadaan Kong-tong- khek Seng Ih-hun yang begitu mengenaskan, tak tega hatinya, lekas dia menghampiri serta berkata kepada murid-murid Keng-tong-pay yang merubung maju: 'Luka-luka Seng-lotangkeh amat berat, tidak boleh banyak bergerak, apalagi terkena racun belirang, kalau tidak lekas dlobati kadar racun lekas merembes kedalam badan, cayhe sedikit paham ilmu pengob atan, bila kalian percaya kepada cayhe, lekas ambilkan air putih, cayhe akan membantu sekuat tenaga untuk menolong jiwa seng- lo- tangkeh."

Sejak Pi-san-khek The Hong meninggal, Sam-jay-kiam juga gugur, maka murid-murid Kong-tong sudah tiada jago yang bisa diagulkan, kepandaian mereka bertaraf rendah, mana berani melabrak Liok Kiam-ping apalagi mereka juga kehabisan akal tak tahu bagaimana harus menolong Seng ih hun. syukur Liok Kiam-ping menyatakan kesediaan dirinya memberikan pertolongan-

Maka murid-murid Khong-tong menjadi ribut, ada yang lari mengambil air dan mengeluarkan obat-obatan dan kain pembalut serta pelengkapan lainnya. Dengan teliti Liok Kiam- ping membersihkan bagian luka-luka lalu membubuhi obat mujarab untuk penawar racun serta menutuk beberapa Hiat-to menghentikan darah keluar, dirogohnya sebutir Soat-lian lalu dibagi dua, separo untuk Seng Ih-hun sisa separo yang lain diberikan kepada Toa-koay Ki Kong.

Wajah Kong-tong-koay-khek seng Ih-hun pucat pasi, masih semaput, sudah tentu dia tak bisa menelan Soat-lian yang sudah masuk tenggorokan, maka Liok Kiam-ping pegang dagungnya lalu dipencet hingga mulut terbuka lalu didorong dengan sekumur airjernih. Sayang darah keluar banyak. luka- luka parah lagi, sehingga kasiat Soat-lian berjalan lamb at..

Baru saja Liok Kiam-ping bersimpuh hendak mengerahkan hawa murni desalurkan ketubuh orang supaya membatu kasiat orat. Mendadak didengarnya dua suara bentakan terus. Dua orang yang lagi baku hantam disebelah sana tampak terpental mundur, Ai-pong-sut Thong cau dan Ji-koay Ki Ping mundur lima langkah. Ternyata kedua orang ini adu pukulan..

Kalau Ji-koay Ki Ping merasa kedua lengannya linu dan lemas, sementara dada Ai-pong-sut agak sesak dan tersengal napasnya. Mendadak Ji-koay Ki Ping menggeram sambil angkat kedua tanganya lurus kedepan, telapak tangannya mulai berobah hijau.

Sekilas melirik Liok Kiam-piang tahu Jikoay siap melancarkan Ko-bok-ciang yang lihay untuk mengakhiri pertempuran, kuatir Aipomg-sut lidak kuat menghadapi ilmu pukulan jahat ini, lekas dia melompat ketengah gelanggang, seraya berseru: "Tianglo boleh mundur saja." Kim-kong-put hoy-sinkang dikerahkan melindungi sekujur badan, sementara kakinya bergerak mendadak kearah Ji-koay Ki Ping.

Walau Ko-bok-ciang beracun dan jahat, namun dua kaki di sekitar tubuh Liok Kiam-ping segera buyar tertiup angin tak berbekas. Karuan Ji-koay mengkirik dan berdiri bulukuduknya.

Dengan tersenyum Liok Kiam-ping berkata: Ji-tangkeh, selesailah sampai di sini saja. Kami tidak bermusuhan sebelum ini, aku masih punya separo butir soat lian, silakan berikan kepada Lo toa, yakin luka-lukanya bisa lekas disembuhkan-' habis bicara kedua lengan bajunya dikebas naik turun, kabut hitam segera buyar, di mana tangannya terayun, selarik sinar putih lantas meluncur kearah Ji-koay.

Bahwa Ko-bok-ciang tak mampu melukai lawan, hati Ji- koay Ki Ping sudah ketakutan, di saat keripuhan lawan sudah menimpukan separo butir Soar-lian kearah dirinya, lekas dia meraihnya, untung dia lebih sabar dibanding saudara tuanya, kepalanya juga lebih pandai berpikir, segera dia bergelak tawa, katanya: "Liok-pangcu memiliki ilmu sakti, Losiu benar- benar terbuka hari ini, kesalahan memang dipihak kami, karena tamak dan mudah percaya hasutan orang sehingga Lotoa terluka berat, memang setimpal sebagai imbalannya. Ternyata Siau-hiap berbudi luhur memberi obat lagi, sungguh tak terhingga Lo-siu terima kasih gunung tetap menghijau, air tetap mengalir, biarlah kelak kita bertemu lagi.”

”Silakan Siau-hiap" setelah memberi hormat dia bopong Lo- toa Ki Kong, beberapa kali lompatan dia sudah lenyap dibalik wuwungan.

Mengawasi bayangan orang Liok Kiam-ping menghela napas, lalu dia membalik serta duduk dipinggir Seng lh bun, kedua telapak tangannya menekan Bing-bun-hiat dipunggung Seng ih-hun serta menyalurkan hawa murni kedalam tubuh orang.

Beberapa kejap kemudian, wajah pucat Seng Ih-hun mulai bersemu merah, perlahan orang nyapun siuman, begitu membuka mata melihat Liok Kiam-ping yang sedang mengobati dan menolong dirinya, tak tertahan airmata bercucuran air mata duka bercampur haru..

Deng an mendelu Liok Kiam-ping berkata: "cianpwe masih harus banyak istirahat, semoga lekas sembuh, selamat tinggal." lalu dia ajak Ai-pong-sut meninggalkan tempat itu.

Dengan langkah seperti terbang Kiam-ping langsung turun gunung menuju ke Liang-ping, ditengah jalan dia prihatin akan luka-luka Ai-pong sut, tanyanya prihatin: "Bagaimana luka- luka Tianglo, apakah perlu diobati, dulu baru melanjutkan perjalanan lagi?"

Ai-pong-sut Thong cau bergelak tawa, katanya: "Luka-luka seringan ini, Losiu masih kuat menahannya Pangcu, waktu sudah mendesak. kita perlu menempuh perjalanan."

Dibawah gunung menemukan kuda tunggangan mereka terus dibedal kearah timur. Hari sudah sore, pejalan kaki.sudah jarang maka mereka berani membedal kuda sepertri mengejar angin. Jarak tiga puluh li mereka tempuh dalam setanakan nasi, hari itu mereka sudah kembali kehotel Eng-an. Pemilik dan kacung hotel sudah tahu mereka pulang dari Ui-yap-san-ceng maka pelayanan luar biasa.

Setelah membersihkan badan dan makan Ai-pong-sut naik keranjang duduk bersamadi menyembuhkan luka dalamnya.

Setelah sehari penuh bertempur, menempuh perjalanan jauh lagi, meski Liok Kiam-ping memiliki Lwekang tangguh juga merasa lelah, namun dia merasa perlu menjaga keselamatan Ai-pong-sut, maka dia duduk disebelahnya.

Waktu berjalan tanpa terasa mendadak Ai-pong-sut membuka mata, lalu berkata perlahan: "Pangcu. kenapa kau belum tidur, jangan karena Losiu kesehatanmu sendiri terganggu." "

Liok Kiam-ping tersenyum katanya mengangguk: "Ya, marilah istirahat, keadaanmu sudah jauh lebih baik."

Lekas sekali fajar telah menyingsing. Pagi-pagi benar mereka sudah menempuh perjalanan menuju ketenggara. Dua hari kemudian mereka tiba di Po-ke mulai memasuki jalan raya yang menuju ke Thong- koan keadaan di sini makin sulit dilewati.

Thong-koan adalah kota penting didaerah utara padang rumput, sebagai daerah penting disepanjang tembok besar, membelakangi gunung Hoa-san lagi, keadaannya memang serba alamiah. sejak dahulu kala tempat strategis ini sudah sering menjadi rebutan dua pasukan besar yang ingin menyerbu ke Tlonggoan.

Liok Kiam-ping berdua kepingin lekas pulang keselatan, pemandangan panorama yang indah sepanjang jalan terutama disekitar tembok besar tidak diperhatikan lagi. Tapi perjalanan memang amat susah, apalagi kuda lebih sukar jalan, terpaksa mereka turun dan menuntunnya. Untunglah mereka berhasil mencapai puncak yang bersaiju, bagi yang bernyali kecil tentu tak berani lewat daerah sini. Setelah tiba dibalikpuncak, kota Thong-koan sudah kelihatan. Saat mana mentari sudah condang ke barat, mereka tengah mencongklang kuda supaya menempuh perjalanan lebih cepat.

Mendadak dari arah hutan di sebelah belakang mereka mendengar suara tawa lirih, meski suaranya lirih, namun jelas terdengar oleh kuping Liok Kiam-ping, jelas orang sengaja tertawa dengan tekanan tenaga dalam.

Tanpa janji Kiam-ping berdua menoleh namun suasana sepi, tiada bayangan manusia. Namun karena mereka memiliki kepandaian tinggi kejadian tadi tidak diperhatikan, setelah beradupandang sambil tertawa mereka keprak kuda melanjutkan perjalanan Tapi selanjutnya mereka sedikit pecah perhatian ke belakang.

Puluhan tombak kemudian tawa lirih itu terdengar lagi, suaranya lebih keras, jelas jaraknya lebih dekat. Ai-pong-sut berjalan disebelah belakang dan sudah waspada, sekilas berhasil ditangkap oleh lirikan matanya berkelebatnya bayangan kelabu melesat kedalam hutan- Sebagai kawakan Kangouw dia tentu jelas segala seluk beluk kaum persilatan, maka dia berseru lantang kedalam hutan: "Sahabat siapa, kalau ada keperluan boleh silakan keluar dan bicara beri hadapan kenapa sembunyi-sembunyi seperti panca longok, kami tidak sudi melayani orang yang tidak genah."

Maka terdengarlah suara dangin dari dalam hutan, seorang berkata: "Sahabat, kalau berani, mari ikuti diriku." maka melesat lah sebuah bayangan kelabu meluncur dipucuk pohon, menginjak dahan melayang diatas daun pohon, selincah kera setangkas burung terus meluncur keatas puncak gunung disebelah kiri.

Liok Kiam-ping membisiki apa-apa ditelinga Ai-pong-sut, mendadak dia membentak: "Baik, memangnya kau mampu lari ke mana." sebelah tangan menekan pelana kuda tubuhnya mencelat mumbul lima tombak. ditengah udara dia menggeliat sambil memancal kedua kaki, dengan gaya indah tubuhnya meluncur setengah bundar, hinggap dipinggir hutan- Hanya sedikit tutul kembali badannya melambung lebih tinggi terus mengudak kearah mana bayangan kelabu tadi menghilang.

Kiam-ping kerahkan seluruh tenaganya mengembangkan Ling-hi-pou-hoat, gerak tubuhnya berkelebat seenteng asap melayang, hanya beberapa kali lompatan berjangkit bayangannyapun lenyap.

Aipong-sut menentukan arah, lalu dia keprak kudanya sambil menuntun tunggangan Kiam-ping menuju kekota Tong- koan lebih dulu.

Thong- koan terletak dipusat Ui-ho, kota persimpangan yang ramai perdagangan, penduduknya padat, salah satu kota besar yang penting diwilayah utara.

Saat itupelita mulai dipasang, penduduk kota berduyun- duyun di jalan raya, entah pedagang yang menjajakan dagangannya, atau pejalan kaki yang berbelanja, lampu- lampu sudah dipasang terang benderang, ramainya bukan main-

Sambil menuntun kedua ekor kudanya Ai-pong-sut putar kayun di jalan raya, akhirnya dia berputar satu lingkar lalu menemukan hotel Hok-yang dan menetap di situ.

Pelayan menerima kudanya terus dibawa keistal, pelayan lain mengajaknya memilih kamar kelas satu.

Sekarang mari kita ikutipengejaran Liok Kiam-ping, sambil lari kencang kakinya berlompatan diantara pucuk pohon, setiba diatas puncak selepas mata memandang, bayangan kelabu tadi sudah tidak kelihatan. Padahal dinilai taraf Ginkangnya sekarang yang sudah sempurna, dalam kalangan bulim sekarang, jago yang mampu menandangi dirinya bisa dihitung dengan jari. Padahal bayangan kelabu tadHanya sepuluhan tombak lebih didepan Kiam-ping, umpama dalam waktu singkat tak berhasil mengejarnya sedikitnya masih bisa mengawasi gerak geriknya. kenyataan bayangan itu sudah lenyap entah kemana., dari sini dapat disimpulkan bahwa kepandaian orang itu juga amat tinggi.

Seingatnya jago-jago kosen yang pernah bergebrak dengan dirinya, rasanya tiada yang memiliki kungfu setaraf bayangan kelabui ini. Maka boleh diduga bahwa kemungkinan dia seorang gembong iblis yang sudah lama mengasingkan diri. Tapi Kiam-ping kebacut angkuh, apalagi sejak menduduki Hong-lui-pang Pangcu, belum pernah dia merasa jeri menghadapi apapun. Setelah membulatkan tekadnya. kembali dia celingukan memeriksa sekelilingnya. Kiri kanan adalah ngarai terjal yang berbahaya, batu-batu cadas beraneka bentuknya, tak mugkin ada jalan yang bisa dilewati orang disana, hanya bagian tengahnya saja ada hutan yang rimbun keadaan di sini agak datar dan bisa diselidiki.

Suasana sepi. lengang, mentari terus merambat kearah barat, hanya deru angin pegunungan yang sering membuat ribut hingga daon-loon pohon dan rumput liar yang tumbuh tinggi gemulai ditiup angin, yang bernyali kecil pasti tak berani maju lebih lanjut.

Liok Kiam-ping bernyali besar, sedikitpun dia tidak risau atau kuatir meski berada didaerah terpencil lagi serba sukar dan belukar, agaknya bayangan kelabu dari tokoh silat lihay itu betul-betul menarik perhatiannya. Setelah meneliti keadaan dia segera mengembang Ginkang kesuatu arah yang di rasa betul, tetap menginjak dahan dan daon-daon pohon meluncur dengan kecepatan tinggi. Setelah memutari ping gang gunung kini dia berada didaerah yang permai dan sejuk.

Tampak dibelakang hutan rimbun sana terdapat sebuah bangunan gedung atau perkampungan besar, perkampungan yang terpencil dipinggir gunung, seperti seekor mahluk raksasa mendekam dibawah gunung. Di sebelah kiri gedung terdapat sebuah aliran sungai kecil, airnya mengalir deras dari lembah gunung sana kearah selatan,jembatan panjang yang terbuat dari bambu tampak liku-liku, panorama di sini ternyata cukup memukau. Sebelah kanan terdapat sebuah jalanan kecil yang berlandaskan batu gunung melingkar dari bawah terus keatas, mungkin itulah jalan yang menjurus keluar gunung. Bahwa ditengah gunung belukar dan terpencil begini terdapat sebuah gedung besar dan megah, bukan saja menyolok mata, kehadiran gedung digunung inipunpatut dicurigai.

Baru saja Liok Kiam-ping turun didepan gedung tengah dia celingukan, dari dalam pekarangan mendadak didengarnya tawa dingin orang, lalu berkata: "Bagaimana ? Setelah tiba di sini kenapa takut. Memangnya Pat-pi-kim-liong adalah seekor kura-kura." suaranya sudah dikenal entah di mana, namun sulit dia mengingatnya.

Orang sudah menyindir secara pedas, watak Liok kiam-ping memangnya tinggi hati, mana dia rela diremehkan, setelah melenggong dia lantas bergelak tawa, katanya: "Saudara dari mana, berani memancingku ke mari kenapa tidak berani unjuk diri. Memangnya menyambut tamu dengan sindiran tajam beg itu."

Suara serak dan tua yang lain segera berkumandang:  "Lohu beramai sudah sejak tadi menunggumu di sini. memangnya kau sudah tuli, kenapa salahkan orang lain." suaranya lembut namun terdengar jelas, pembicara menggunakan ilmu mengirim gelombang panjang.

Liok Kiam-ping sudah perhatikan arah suaranya, maka dia tahu orang berada di pekarangan belakang. Segera dia melangkah lebar ke dalam, setelah melewati pendopo, hatinya tercengang heran- Gedung sebesar ini ternyata sunyi senyap tidak kelihatan bayangan orang, tapi pajangan dan prabot rumah serba baru antik dan mengkilap bersih. Tapi Liok Kiam- ping tidak hiraukan segala keganjilan di sini, dia tetap beranjak kesebelah belakang.

Setelah menyelinap kesamping melewati sebuah pintu belakang dia tiba dipekarangan belakang, di sini ternyata ada kebon kembang kecil, pemandangan serba baru, rumput hijau tumbuh lembut seperti permadani, bunga-bunga berkembang semerbak. bentuk dan gaya bangunannya serba modern, namun suasana nan tentram seperti dialam dewata.

Liok Kiam-ping beranjak maju sambil celingukan, kini dia beranjak disebuah jalan berbatu sempit yang diapit pepohonan bambu tinggi setombak lebih, bila angin menghembus lalu, dari daon-daon bambu bertaburan serbuk putih laksana halimun beterbangan diudara. Liok Kiam-ping setengah melamun sambil memperhatikan keadaan sekelilingnya sehingga tidak begitu ambil perhatian akan taburan serbuk putih yang mengenai tubuh dan pakaiannya, semula punggung tangan dan mukanya yang terkena serbuk putih itu terasa gatal-gatal, tapi Hanya sebentar sudah lenyap tak terasa lagi.

Keluar dari jalanan sempit ini, didepannya terbentang sebuah lapangan, baru saja dia beranjak beberapa langkah. Didengarnya kesiur angin yang meluncur dari berbagai penjuru, gerak geriknya cepat dari tangkas.

Bila Liok Kiam-ping angkat kepalanya, sepuluh tombak didepannya, berjajar belasan orang yang bertubuh tinggi pendek. gemuk dan kurus tidak merata dan merekapun berbeda, namun usianya sudah tujuh puluhan- Ternyata Kim- kong-ci Hong Kiat, Tay-bok it-siu dan Tang -ling-sin-kun ada diantara mereka.

Ditengah barisan adalah seorang kakek berusia sembilan puluhan, rambut dan jenggot sudah memutih saiju, namun sorot matanya berkilat penuh wibawa.

Liok Kiam-ping maju dua langkah, baru saja dia akan bersuara. Kakek tua ditengah barisan sudah terkekeh, katanya: "Anak ntuda, anggaplah usiamu memang panjang, ternyata kau mampu lolos dari Jit-pou-tui-hun-san, tapi di sini jangan ha rap kau bisa meloloskan diri."

Liok Kiam-sing tertawa besar, katanya: "Selama hidup cayhe membedakan tegas budi dan dendam, kapan pernah takut dan undur setapakpun menghadapi tantangan. Agaknya kalian ingin menyelesaikan urusan lama, jelaskan saja, cayhe pasti melayani dengan senang hati."

Kakek ubanan itu terbahak-bahak. katanya: "Tuan memang pemuda yang supel dan menyenangkan- Tentu kau sudah tahu maksud kami, hari ini kau masuk jaring, maka jangan salahkan kami bertindak keji kepadamu."

Liok Kiam-ping balas menjengek: "Kalau tidak salah dugaanku, kalian tentu datang dari Ham-ping-kiong ? Tuan siapa, memangnya tak berani memperkenalkan diri ?"

"Anak muda," kakek ubanan tertawa bingar, kau memang cerdik, dugaanmu tidak salah, siapa Lohu, boleh kau lihat ini," lalu dia merogoh kantong mengeluarkan sebuah mainan batu jade warna hijau tua, diatas mainan berbentuk mainan kalung itu bertuliskan dua huruf "Ham-ping". Itulah Ham-ping- giok- ling yang pernah ditakuti dan disegani duapuluh tahun yang lalu.

Melihat Ham-ping- giok-ling, maka Liok Kiam-ping yakin bahwa kakek tua ubanan didepannya ini pasti Ham-ping-leng- mo.

Didengarnya Ham-ping-leng-mo berkata lebih lanjut: "Sejak kau keluar kandang, dengan bekal kungfu perguruanmu yang tak seberapa itu, kau mengaduk keributan di Kangouw hingga terjadi Hujan darah, tahun lalu kau membunuh ceng-san-biau- khek, sayang Lohu sedang tetirah hingga tak bisa turun gunung menyelesaikan persoalan ini terpaksa kukeluarkan perintah dengan kebesaran Ham-ping- giok- ling ini, mengutus murid didikku mencarimu keberbagai penjuru, berapa kali kau berhasil lolos dari kejaran, malah tidak sedikit jago-jago kami yang kau lukai, hari ini syukur kau mengantar kematian. maka jangan salahkan kalau Lohu bertangan gapah merogoh jantungmu demi memberantas kejahatan di Bulim." Mendengar orang menyinggung ceng-san-biau-khek. maka terbayang oleh Liok Kian-ping akan dendam kematian leluhur perguruannya ciang-kiam-kim-leng dan Lui Kou-ok yang gugur dikeroyok musuh secara keji seketika berdiri kedua alisnya, katanya dengan rada rawan:

"Hong- lui bun berada di selatan, perguruanmu di utara, satu dengan lain tak pernah bermusuhan, saling hormat dan menghargai, dua puluh tahun yang lalu, kalian beritikad jahat ingin merebut pusaka kebesaran kita Wi-liong-pitrkip. tak segan-segan Sekongkol dengan lima perguruan lain secara keji dan picik main keroyok dan membunuh ciangbunjin kita yang terdahulu, perbuatan kotor kalian sudah menimbulkan kemarahan masal. Tak nyana dua puluh tahun kemudian ceng-san-biau-khek kembali membunuh Lui Kou-ok cianpwe yang sudah terluka parah serta merebut Wi-liong-pit-kip. Dandam dan sakit hati perguruan kita tak terlampias, maka menghukumnya secara setimpal sesuai perbuatannya. Sekarang kau sendiri sudah muncul, maka tiba saatnya kematian ciang-kim-kim-ling di Tay-pa-san yang kalian keroyok dua puluh tahun yang lalu diselesaikan."

Ham- ping- leng- mo adalah gembong iblia yang paling laknat diantara pentolan-pentolan iblis, hanya membanting kaki cukup membuat kalangan persilatan jeri kepadanya, apalagi bila Ham-giok-ling muncul, kaum persilatan peduli aliran putih atau golongan hitam akan pusing tujuh keliling dibuatnya.

Sejak muda dia terlalu mengagulkan diri dan anggap wibawanya besar, kapan ada orang berani berdebat dan bicara lantang dengan dirinya, apalagi dicercah seperti Liok Kiam-ping sekarang. Baru pertama kali ini terjadi sejak dia hidup, karuan amarahnya meluap. alia berdiri mata melotot, bentaknya murka: "Tutup mulutmu anak muda, jangan berdebat saja, hari ini kau sudah tidak kuasa akan jiwa ragamu sendiri memang sebentar akan kuberikan keadilan kepadamu, berapa jurus kau berani melawan pukulan Lohu?" "

Liok Kiam-ping tertawa besar, katanya: "Ya, memang itulah keinginan Cayhe. Berapa banyak kau memukul seluruhnya pasti kusambut.'

Jago-jago kosen yang berdiri di kanan kiri Ha m-ping-leng- mo menggeram gusar dan mengepal tinju, semua melotot gusar kearah Pat-pi-kim-liong. Maka munculah tiga orang dari samping Ham-ping-leng-mo. sebentar mereka berbisik-bisik seorang lantas berkata kepada Liok Kiam-ping: "Anak muda,jari tanganku protol, istanaku hancur, dendam ini tak pernah Lohu lupakan, hari ini akan kubuat badanmu hancur lebur baru terlampias dendam kami."

Yang tampil ini adalah Kim-kong-ci Hong Kiat, Tay-bok-it- siu dan Tang-ling-sin-kun, Liok Kiam-ping menyeringai dingin:

"Kukira siapa, kalian jago-jago yang pernah keok ini juga berani petingkah, sepatutnya kalian bertobat dan mengasingkan diri keatas gunung demi jiwa tua kalian, ternyata tidak kapok masih berbuat jahat. Hari ini tak boleh kuberi ampun lagi, boleh kalian maju bersama, untuk menghemat waktu dan tenagaku."

Hong Kiat bertiga termasuk jago kelas wahid di bulim, meski taraf kepandaian mereka kalah setingkat, namun dengan gabungan tiga orang, yakin masih kuat bertahan dan menyelamatkan diri, sekilas mereka saling pandang lalu menyeringai dengan maju bersama, ditengah bentakan menggelegar serempak mereka menyerang satujurus.

Pukulan gabungan tiga jago top sudah tentu bukan olah- olah hebatnya, ternyata Liok Kiam-ping berdiri tegak tidak berkelit atau menyingkir, bertolak pinggang sambil tersenyum lebar malah.

"Bocah keparat ini memang ingin mampus." demikian damprat tiga lawannya dalam hati, tenaga pukulan ditambah lagi dua bagian. Bolamata Liok Kiam-ping mendadak mencorong seperti nyala lampu senter dimalam gelap. diam- diam dia sudah kerahkan ilmu saktinya. Bila pukulan lawan hampir menyentuh tubuhnya mendadak dia, angkat kedua tangannya, secapat kilat balas memukul sekali. Begitu tenaga dahsyat beradu "Blang" menimbulkan ledakan hebat.

Hawa bergolak dalam arena dua tombak mengeluarkan desir keras balon gembes, jago-jago yang menonton dipinggir gelanggang terdesak mundur setindak. pakaian mereka berkibar seperti diterjang angin badai, semua terbelalak kaget dan tersirap darahnya. celaka adalah tiga orang yang memukul serempak itu mengalami tekanan tenaga yang dahsyat hingga tubuhnya terdesak doyong kebelakang, namun sekuatnya mereka bertahan sehingga enam kaki mereka- amblas kedalam bumi.

Sementara Liok Kiam-ping masih berdiri santai ditempatnya sambil, tersenyum lagi, sesentipun tak pernah tergeser dari tempatnya, Adu kekuatan gebrak pertama ini jelas tiga orang tua bangkotan itu sudah kalah tenaga, karuan mereka menggerutu dan mengumpat dalam hati: "Darimana datangnya ilmu sakti bocah ini, Lwekangnya maju secepat ini, sungguh luar biasa." Tengah mereka bimbang dan mengatur napas dan menghimpun tenaga, dua orang tampil pula kemuka berjajar dengan mereka bertiga.

Liok Kiam-ping tertawa hina, katanya:

"Kawanan tikus, boleh kalian maju main keroyok seperti dulu, agaknya memang itulah modal kemenangan kalian- Hari ini kalian akan tahu dan saksikan apa itu Kungfu sejati." Pernyataan pongah dengan sikap takabur lagi, karuan orang orang Ham-ping-kiong berjingkrak gusar.

Lima orang tua itu menggeram bersama segera mereka berpencar dengan gerakan gesit mengurung Liok Kiarn-ping dengan posisi Ngo- heng-tin. Liok Kiam-ping hanya melirik hina, katanya tak acuh: "Barisan macam ini sudah sering cayhe melihatnya. Memangnya Ngo-heng-tin dapat berbuat apa terhadapku."

Kim-kongci Hong Kiat membentak:

"Anak muda, jangan membual saja, kalau tempo hari kau tidak pura-pura mampus, tentu badanmu sudah hancur lebur. Hari ini tubuhmu sudah terkena Toh-bing-tui-hun-san yang beracun, dalam dua jam tubuhmu akan membusuk menjadi cairan darah. Anak muda pikirkan dulu nasibmu, dengan cara apa kau ingin mampus."

Bercekat hati Liok Kiam-ping, lekas dia kerahkan hawa murni dari pusarnya, hawa panas segera tersalur keseluruh badan menembus tiga puluh enam Hiat-to besar dan kembali kepusar pula, ternyata berjalan lancar tanpa gangguan sejenak dia melenggong otaknya bekerja, lekas sekali dia sudah tahu duduknya persoalan, maka segera dia tersenyum, katanya: "Maksudmu serbuk putih yang bertaburan dari atas pohon dan mengotori sekujur badanku ini."

Hong Kiat tertawa senang dan puas, katanya: "Agaknya kau sudah meras akan sendiri, maka lekas kau pasrah nasib saja, kami akan membereskan kau secepatnya, daripada kau tersiksa dan menderita."

"Racunmu yang tak berguna ini memangnya dapat berbuat apa atas diriku. Setan tua, agaknya kau sudah makin gila dan sia-sialah akal muslihatmu."

Sudah tentu jago-jago Ha m-ping-kiong yang hadir melengak dan bingung, pada hal mereka juga maklum, sikap yang ditujukan Liok Kiam-piag sekarang, sedikitpun tidak kelihatan keracunan, tapi Toh-bing-tui-hun-san jelas bertaburan dibadannya, tapi entah kenapa kadar racunnya ternyata tak bekerja dan punah karena apa, bocah ini memang serba ganjil dan gaib. Mendadak Liok Kiam-ping bergelak tawa katanya: "Bagaimana, kalian sudah insyaf belum akan dosa dan kesalahan. Hahahaha." nada tawanya amat pongah dan menghina.

Sudah tentu kelima lawannya menjadi riai dan naik pitam, ditengah gerungan mereka, maka bariaan mulai bergerak. Serempak kaki mereka bergerak. bayangan lima orang segera berputar cepat mengelilingi Liok Kiam-ping, gelombang pukulan yang bertenaga dahsyat bertubi-tubi melanda kearah Liok Kiam-ping dari berbagaipenjuru. Hawa udara menjadi kalut dan bergolak saking kuat dan keras samberan angin pukulan yang saling gubat ditengah arena menjadi pusaran angin puyuh yang dahsyat membumbung tinggi keangkasa.

Liok Kiam-ping menarikan sepasang tangannya, bergerak secepat kilat, beruntun dia lontarkan empat kali pukulan keempat penjuru. Tapi setiap pukulannya seperti dibendang oleh arus angin puyuh yang dahsyat itu hingga punah tak berbekas. Pukulannya malah mengeluarkan letupan-letupan kecil beruntun seperti petasan renteng berbunyi.

Makin hantam Liok Kiam-ping merasakan posisinya makin terjepit, betapapun dahsyat tenaga pukulannya, selalu tertolak balik oleh pergolakan hawa udara dari hasil gubatan tenaga pukulan kelima lawannya. Jikalau cara begini terus cara tempurnya, dalam jangka tiga jam pasti dirinya kehabisan tenaga dan mandah diringkus menjadi tawanan musuh.

Melihat kepungan mereka berhasil membendung pukulan lawan dan mengurungnya hingga tak berkutik, sudah tentu kelima orang itu amat senang dan bangga, mereka berlomba mengerahkan setaker tenaga, menyerang dengan segala kemampuan, barusan gabungan pukulan mereka sedemikian keras dan kuatnya, bukan lagi debu yang tersedot membumbung keudara, tapi pasir dan krikilpun mulai terangkat keudara dan berputar kencang membumbung makin tinggi keudara seperti sebuah saka besar yang menyanggah langit.

Terasa oleh Liok Kiam-ping tekanan angin puyuh yang menggubat tubuhnya makin kuat, lambat laun bernapaspun terasa berat dan sukar. Walau Seng-sokoan dalam tubuhnya sudah tembus, tenaga dalamnya takkan pernah habis dan berkurang, namun lama kelamaan dia merasa kepayahanjuga karena napasnya sesak.

Sungguh tak habis pikir bahwa kelima orang ini mampu menggabung kekuatan sedahsyat dan setangguh ini. Makin bertempur mereka makin cepat lagi bergerak dan gencar menyerang, kelihatannya mereka juga sudah kerahkan seluruh kemampuan, Setanakan nasi kemudian, kelima musuhnya  juga sudah mandi keringat, hati mereka mulai gugup dan kurang tentram. Karena mereka amat bernafsu dan menyerang sekuat tenaga maka bila pertempuran

Berjalan lebih terus lagi akhirnya mereka sendiri juga akan roboh lemas. Sementara kedua tangan Liok Kiam-ping masih bergerak lincah seperti tidak pernah merasa lelah karena kehabisan tenaga.

Bagai kilat pandangan tajam Hamping leng-mo, kini dia sudah melihat gelagat yang makin tidak menguntungkan bagi kelima orangnya, maka perasaannya ikut menjadi berat dan prihatin.

Kembali semasakan air telah berlalu. Mendadak timbul kecerdikan Liok Kiam-ping batinnya: ”Keuletan dan kehebatan barisan lima orang ini terletakpada gabungan tenaga mereka yang terkontrol dalam satu gerakan sehingga berpusar menjadi satu kekuatan, kekuatan daya putar inilah yang memunahkan tenaga pukulan dirinya, kenapa aku tidak menggunakan cara kebalikannya untuk melawan daya putaran musuh." Segera dia kerahkan sepuluh bagian tenaganya, kedua tangan bertepuk lalu menepuk perlahan, berbareng badannya berputar kearah berlawanan dari daya putaran gabungan tenaga kelima lawannya. Ternyata upayanya memang membawa perobahan besar, maka terjadilah pergesekan dan benturan dahsyat dari dua arus -kekuatan yang saling tumbuk. "Blang blung" yang keras menggetar bumi, kelima orang lawannya tergetar keras hingga tak kuat berdiri tegak. semua tersurut mundur beberapa langkah dari kedudukan semula.

Orang-orang Ham-ping-kiong lainnya yang menonton dari luar kalangan juga sudah melihat gelagat jelek bagi pihaknya, sikap dan mimik mereka kelihatan kuatir dan tegang, semua siap siaga untuk bertindak sembarang waktu.

Mendadak terdengar Kim-kong-ci Hong Kiat berteriak: "Robah barisan-" belum lenyap suaranya, bayangan lima orang tahu-tahu sudah berobah gaya dan gerakan, secara aneh dan menakjupkan satu sama lain saling selulup dan samber menyamberpergi datang namun tidak langsung menyerang musuh, hanya membikinpandangan lawan kabur dan kepala pusing, agaknya mereka merobah strategi pertempuran, dengan kelembutan siap mengatasi gerakan sambil menunggu kesempatan bertindak.

Dengan bekal kepandaian yang dimiliki Liok Kiam-ping sekarang untuk membobol kepungan dan meloloskan diri bukan soal sulit Tapi tidak sudi berbuat demikian, dia malu menggunakan kekuatan sendiri, menyambut tantangan cara apapun dari musuh-musuhnya. Maka dia mengincar salah satu posisi diarah depannya, sembilan bagian tenaga yang sudah dihimpun dilontarkan lewat tepukan sebelah tangannya. "Byaaarrr." ledakan yang dahsyat Sekali, bumi bergetar seperti keterjang lindu.

Ternyata pukulan Liok Kiam-ping kali ini berarti melawan lima pukulan gabungan musuh musuhnya. kebetulan barisan gabungan lima orang ini terletak pada kumpulan tenaga yang menjadi daya putaran besar untuk memunah kan pukulan musuh, jikalau musuh yang mereka lawan mempunyai Lwekang yang lebih rendah, hakikatnya mereka takkan mampu melawan, begitu terbungkus didalam putaran gabungan tenaga, lawan kalau tidak mati sesak napasnya, pasti lunglai kehabisan tenaga karena tergulung pergi datang oleh putaran arus pukulan yang besar. kecuali itu, daya tenang menundukan gerakan yang mereka lakukan sekarang juga hebat manfaatnya, bila lawan turun tangan, peduli kepada siapa serangan ditujukan, keempat orang yang lain pasti memberi reaksi dengan serangan serentak.

Kumat sifat angkuh Liok Kiam-ping, beruntun dia melontarkan lima jurus pukulan lagi.

Kelima musuhnya sudah merasakan pukulan dahsyat lawan tak tertahankan, namunsekuat tenaga mereka terus melawan dan bertahan- Lima jurus kemudian tiba-tiba Liok Kiam-ping merobah gaya silatnya, diam-diam telapak tangan kiri menggunakan daya lengket mendadak jarinya mencengkram kearah kiri. Seorang laki-laki tua berbaju panjang mendadak tersuruk maju dua langkah kedalam lingkaran, sebelum dia menguasai diri dan berdiri tegak. Telapak tangan kanan Liok Kiam-ping sudah terangkat memukul kearah yang sama dengan tenaga sepuluh bagian.

"Blang" bayangan orang seketika mencelat terbang delapan kaki jauhnya "Bluk" terbanting keras ditanah. Betapapun tinggi Lwekangnya, sambil kertak gigi dia menahan sakit dan menelan kembali darah yang sudah menyembur keluar, namun mukanya sudah pucat pasi, jelas sudah terluka dalam yang amat parah.

Jago-jago kosen yang menonton disekitar gelanggang berobah dingin mukanya, beramai mereka melompat maju. Lekas Hong-kiat juga hentikan gerakan barisan dan menyurut mundur, dilihatnya orang tua yang rebah ditanah mengerut alis dan kening, agaknya menahan derita yang luar biasa, darah meleleh diujung mulutnya, rintihannya perlahan.

Sementara itu jago-jago Ham-ping-kiong yang lain sudah berdiri jajar berbentuk setengah lingkar, semua berwajah beringas gusar menatap Liok Kiam-ping tanpa berkedip. agaknya mereka menunggu perintah siap bergerak bersama.

Ternyata Ham-ping-leng-mo juga pesona kaget oleh pukulan dahsyat Liok Kaim-ping tadi, tapi sebagai benggolan iblis. sekilas berpikir dia sudah mendapatkan akal, pikirnya: "Kalau hari ini tidak berhasil mengganyang bocah ini, Ham- ping-kiong takkan bisa berdiri di Kangouw, buat apa aku mematuhi peraturan Kangouw segala. lalu dia panggil Hong kiat serta bisik-bisik padanya, akhirnya dia bergelak tawa, katanya: "Anak muda kau memang hebat, beranikah kau melawan Thian-kan-it-goan-tin dari Ham-ping-kiong kami." 

Berdiri alis Liok Kiam-king katanya mengejek: "Memang cayhe ingin belajar kelihayan ilmu tunggal Ham-ping-kiong, kalian boleh maju bersama."

Ham-ping-leng-mo amat gemas, tanpa bersuara dia mengulap sebelah tangannya. Maka bayangan  orang bergerak. dua belas jago kosen Ham-ping-kiong segera bergerak terbagi menjadi empat mengepung Liok Kiamping ditengah lingkaran- Setiap kelompok tiga orang, satu sama lain saling mengerahkan ilmu sakti mereka berdiri berjajar.

Laki-laki tua ditengah barisan sebelah timur mendadak membentak: "Awas anak muda sambut serangan." kedua tangan terangkat lurus lalu membundar serta disendal, segulung tenaga menderu seperti badai menggulung kearah Liok Kiam-ping. Dua orang teman dikanan kirinya berbareng menggapai kosong diudara terus menekan, kelihatannya hanya gerakan kosong, padahal secara langsung tiga orang ini telah bergabung melontarkan pukulan dahsyat yang mengejutkan. Angin belum sampai deru suaranya sudah melanda tiba mengiris kulit. Mendengar suaranya Liok Kiam-ping sudah siaga, lekas dia kerahkan seluruh tenaganya dikedua lengan memukul kearah lawan. Maka dua kekuatan dahsyat dua pihak bertemu ditengah udara. Benturan keras menggelegar, kedua pihak tertolak sempoyongan.

Sebelum Liok Kiam-ping menurunkan lengannya, sultan sudah melengking dibelakangnya. Lekas dia memutar tubuh, kedua tangan ditarik lalu dilepaskan pula, kembali dentuman keras menggoncang bumi. Belum lenyap suaranya, dua jalur tenaga dahsyat sudah menggencet tiba dari kiri kanan- Sebat sekali Kiam-ping mengegos, dua belas bagian tenaganya di kerahkan dikedua tangan menepuk kekanan kiri.

”Byaar, byaar" tergencet oleh tekanan tenaga yang tertutul balik, tubuh Liok Kiamping terlempar mumbul lima kaki diudara, dada terasa sesak kepala sedikit pening, hampir saja dia terjungkal roboh.

Untung otaknya cerdik pandai, meski terdesak tidak gugup, mumpung tubuhnya mumbul keatas sekalian dia kerahkan tenaga, kedua kaki memancal kekanan kiri sehingga tubuhnya terangkat tiga kakipula lebih tinggi, kedua lengan menggaris miring hingga tubuhnya rebah datar diudara leksana seekor burung raksasa yang pentang sayapnya berputar diudara, Kiam-ping tahu kalau dirinya melorot turun pasti dirinya akan digempur pukulan dahsyat dari kiri kanan dan  depan belakang, lebih celaka kalau dirinya digencet pukulan dari empat penjuru sekaligus, umpama dirinya kerahkan seluruh kekuatannya melawan secara keras, hanya beberapa gebrak. umpama tidak terpukul luka parah juga pasti dirinya mati lemas saking lelah.

Menuruti adatnya yang keras dan tak mau kalah, apapun akibarnya dia tetap akan melawan sampai titik darah terakhir. Tapi lawan mengeroyok tanpa memegang aturan bulim jikalau dirinya hanya menuruti adat dan melawan secara keras, bukankah berarti masuk perangkap musuh. Sebetulnya sebagai insan persilatan demi nama dan kedudukan. siapapun rela mengorbankan jiwa raga, namun berkorban secara membabi-buta adalah perbuatan yang bodoh. Apalagi dia insaf dirinya sedang memikul tugas berat dan mulia demi menegakkan kembali wibawa dan kebesaran nama perg uruan, menuntut balas sakit hati leluhur perguruan pula maka dia pantang mati apalagi berkorban secara konyol.

Akhirnya Kiam-ping bertekad untuk berjuang pakai otak. semangat tempurnya berkobar. Selingkar dia berputar terbang. mendadak kedua kakinya memancal terus meluncur kearah timur laut, kedua tangannya menggempur dengan kekuatan gugur gunung, apalagi tubuhnya menukik dan menerjang turun, perbawa serangannya lebih dahsyat, yang diincar adalah orang terakhir yang berkedudukan dipaling timur.