Hong Lui Bun Jilid 23

Jilid 23

Setelah ketiga orang itu turun keloteng, Ai-pong-sut segera mengedip mata kepada Liok Kiam-ping, lekas dia menyelesalkan rekening terus pulang ke hotel. Setiba didalam kamar, Ai-pong-sut Thong cau berkata perlahan: ”Kedua orang tua diatas restoran tadi adalah Sip-san-siang-koay yang sudah terkenal tiga puluh tahun yang lalu, sepasang saudara kembar ini selalu membuat pusing kaum persilatan, entah golongan putih atau aliran hitam, kenyataan mereka memang memiliki kepandaian yang luar biasa, tiada seorangpun yang tahu asal-usul perguruannya, keahlian mereka adalah Ko bok- ciang (pukulan kayu kering) yang beracun, bila badan terpukul sedikit aja, badan akan kering menghitam dan jiwa melayang, tiada obat dapat menawarkan racun mereka, wataknya nyentrik dan jahat lagi, sepak terjang mereka tidak pernah membedakan salah benar, siapa kuat dia menang, itulah pedoman hidup mereka. Meski berwatak angkuh dan tinggi hati, namun jarang mereka melakukan kejahatan, ya tingkah lakunya saja yang tidak kenal kompromi dan selalu bertolak belakang dengan pendapat umum, karena itulah mereka di juluki Slang-koay. Yang tua bernama Ki Kong, berwatak berangasan, sering naik darah, adiknya bernama Ki Ping sifatnya lebih sabar, tabah dan cerdik tapi dia sering terpengaruh oleh watak saudara tuanya yang berangasan, apa kehendaknya pasti dituruti." demikian tutur Thong cau, dari percakapan mereka tadi dapat disimpulkan bahwa Kong-tong- koay-khek Seng Ih-hun pasti mengundang mereka dengan menyogok serta hasutan yang menimbulkan ketamakan mereka, jadi jelas kedatangan mereka adalah untuk menghadapi kami. Dari sini sudah jelas pula untuk menghadapi Seng Ih-hun, kita pasti akan bertempur antara mati dan hid up, oleh karena itu mereka juga berusaha mengerahkan tenaga, yakin tidak sedikit gombong iblis yang mereka undang untuk membantu. Karena itu tiba saatnya kau harus tabah, hati-hati dan waspada, jangan sampai kau menjadi korban muslihat jahat mereka seperti nasib cousu kita Hweithian-sin-mo yang ajal ditangan musuh."

Berdiri tegak alis Liok Kiam-ping, katanya: "Nasehat Tianglo patut kuperhatikan, tapi jiwa raga Kiam-ping hanya untuk Hong-lui-pang, kedatanganku kali ini demi menuntut balas sakit perguruan, menegakan keadilan Bulim, aku bersumpah dengan Kungfu yang kuyakinkan membuat perhitungan dengan dengan musuh sampai tuntas, meski menghadapi lautan golok lautan minyak juga tidak akan undur setapak."

Ai-pong-sut terharu, katanya: Jiwa ksatria PangCu patut dipuji dan dijadikan teladan semoga insan persilatan akan memperoleh berkahnya, kau bakal memperkokoh kekuatan dasar Hong-lui-pang kita, bila cousu kita tahU dialam baka, yakin beliau-beliau akan meram dengan tentram dan lega. Tapipohon besar mendatangkan angin ribut, semakin tinggi kedudukan menimbulkan sirik hati orang lain- Dunia persilatan serba kotor, semoga Pangcu bertindak secara teliti dan sabar, segala persoalan besar kecil tak boleh dihadapi secara gegabah, semoga Pangcu tidak mengabaikan harapan seluruh anggota kita.'

"Petuah Tianglo akan terukir dalam sanubari Kiam-ping selama hidup,' ujar Kiam-ping.

Esok harinya, fajar baru menyingsing mereka sudah menempuh perjalanan tetap naik kuda, arahnya belok ke utara.

Hari kedua menjelang magrib, tiba diTiang-bu. Maju lebih kedepan mereka akan memasuki wilayah Kam-slok. Pengalaman Ai-pong-sut amat luas, dia tahu lebih maju mereka sudah akan memasuki wilayah kekuasaan Kong-tong- pay, untuk menjaga tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, dia mengajurkan untuk istirahat semalam, menghilangkan lelah, mengumpulkan tenaga dan semangat.

Kiam-ping setuju, maka mereka mencari hotel dan menginap. Menjelang tengah malam, mereka sedang samadi. Mendadak lambaian pakaian terdengar melayang diatas genteng dari kejauhan semakin dekat.

Liok Kiam-ping pasang kuping, yang datang empat orang, kepandaian mereka kelas rendahan, dalam hati dia tertawa geli, segera dia kerahkan Khikang lalu berunding dengan Ai- pong-sut menggunakan ilmu gelombang panjang, segera dia melompat turun dari ranjang, sekali berkelebat menyelinap keluar pintu.

Dipekarangan mendadak terdengar suara 'kiotak.' suara batu yang dijatuhkan, jelas orang-orang itu mencari tahu keadaan dibawah. Menyusul dua bayangan melompat turun dari atas genteng. Begitu kaki menyentuh bumi sigap sekali mereka sudah menyusup ketempat gelap dibawah jendela.

Orang ini menempel kuping dijendela mendengarkan dengan seksama, dalam kamar keadaan Sekeliling pekarangan hening lelap.jarum jatuhpun terdengar, karuan dia berpikir: "Konon kepandaian lawan amat tinggi, dalam jarak Sepuluh tombak daon jatuh dapat didengarnya, kenapa begini gegabah, kami sudah berada di sini tetap tiada reaksi apa-apa. Memangnya mereka salah lihat atau keliru menilai kepandaiannya?"

Kedua orang ini mendekam lagi sesaat lamanya, mereka cukup sabar, lalu dengan ujung golok ditangan mereka mencungkil jendela hingga terbuka. Bayangan berkelebat, salah seorang telah melompat masuk kedalam. Beberapa kejap kemudian, orang yang masih menunggu dibawah jendela tetap tidak mendengar suara apapun didalam, seketika mengkirik bulu kuduknya, tapi tak berani bersuara memanggil atau bertanya. Setelah dipikir akhirnya diapun menjejak kaki ikut melompat kedalam kamar.

Disaat kedua orang dibawah melompat kedalam kamar. Dua orang baju hitam yang berjaga diatas genteng mendadak merasa pinggangnya kesemutan, badan lantas kaku tak bisa bergerak. "Blak, bluk ' dua kali kedua orang ini terjungkal jatuh ketanah, mendadak mereka pentang mulut terus bergelak tawa seperti orang gila. Kiranya Kiam-ping telah menutuk Hiat-to mereka yang menimbulkan rasa geli dipinggang.

Sudah tentu keributan dipekarangan ini membuat kaget seluruh penghuni dan pengurus hotel, beramai-ramai mereka keluar dan merubung kedua orang ini. Kiam-ping sembunyi ditempat gelap lalu menyelinap kembali kekamarnya. Tampak kedua orang baju hitam yang melompat kedalam kamar menggeletak lunglai dilantai, jelas tertutuk Hiat-tonya oleh Ai- pong-sut.

Kiam-ping buka hiat-to salah seorang, orang itu membuka mata terus berjingkat duduk. matanya celingukan bingung.

Dengan tersenyum Liok Kiam-ping berkata: "cayhe tidak kenal kalian berdua, tak bermusuhan tiada sakit hati, untuk apa tengah malam buta rata kalian meluruk kemari membawa golok segala. Bicaralah terus terang, aku pasti tidak menyakitimu."

Laki-laki ini bingung kenapa dirinya menggeletak dilantai dan kenapa mendadak siuman tahu lawan berkepandaian tinggi, lari jelas tidak mungkin. Tapi urusan menyangkut jiwa dan keluarga, betapapun dia sukar bicara. Maka dia hanya geleng kepala tanpa bicara.

"Agaknya kalau tidak disiksa kalian tidak mau mengaku, baiklah kau rasakan dulu tubuh yang digeragoti semut." lalu Thong cau mengedip mata kepada Liok Kiam-ping.

Kiam-ping acungkan jari telunjuk dari kejauhan beruntun dia menutuk dua belas Hiat-to ditubuhnya, terakhir dia mencengkram perut orang. Semula laki-laki baju hitam hanya merasa badan mengejang dan kesemutan, tapi setelah rasa kejang hilang, rasa kesemutan itu makin keras dan melebar keseluruh badan, tubuh seperti digigit ribuan semut, gatal dan linu membuat keringatnya membanjir keluar, hanya sekejap dia sudah tidak tahan, meronta dan meratap: "Hohan-

..kasihanilah...baiklah aku bicara."

Sekali jari telunjuk Kiam-ping menjentik, rasa sakit dan gatal ditubuh laki-laki itu seketika lenyap. Setelah napas yang tersengkal agak reda baru laki-laki itu bicara: "Kami berempat diutus oleh cousu Kong-tong-koay-khek untuk menyelldiki jejak kalian, supaya..." mendadak dua jalur sinar kilat menyambar masuk dari jendela, laki-laki itu menggerang sekali, tubuhnya tersungkur terus mati. Temannya yang tertutuk Hiat tonya dan meringkal dilantai itupun mampus seketika.

Kejadian mendadak dan tak terduga, betapapun tinggi kepandaian Liok Kiam-ping juga tak sempat memberi pertolongan, disaat dia memeriksa penyebab kematian kedua orang ini, orang banyak dipekarangan mendadak menjerit kaget dan bubar tunggang langgang.

Liok Kiam-ping membanting kaki, bentaknya: "Bangsat keji, tak segan kau membunuh orang sendiri, membunuh orang menutup mulut, Siau-ya takkan memberi ampun kepadamu."

Lekas Ai-pong-sut mencegah dia mengejar, katanya: "Takperlu dikejar, apalagi dia sudah pergi jauh, mengejar hanya membuang waktu dan tenaga. Urus saja penguburan mereka."

Untung pengurus hotel sudah biasa menghadapi kejadian- kejadian seperti ini, apalagi Liok Kiam-ping mau keluar ongkos untuk pengub uran keempat orang ini, pihaknya tidak dirugikan malah mendapat untung dari sisa uang yang diterima, maka persoalanpun selesai sampai di situ.

Dalam pemeriksaan Liok Kiam-ping tadi, sekujur badan para korban tidak ada luka-luka hanya bagian ci-tong-hiat dipunggung terdapat tanda hitam sebesar kacang tanah hingga kulit daging sekelilingnya membengkak hijau, darah hitam tampak mengalir keluar dari tanda hitam yang membengkak itu.

Pengalaman Ai-pong-sut mengenai berbagai jenis senjata rahasia khusus dari berbagai perg uruan cukup luas, kalau tidak mau dikatakan cukup apal, setelah memerlksa luka-luka itu akhirnya dia manggut dan mendesis: "Mungkinkah dia" "Apa benar ada gembong iblis lihay yang muncul " tanya Liok Kiam-ping.

Ai-pong-sut Thong cau mengangguk. katanya: "Empatpuluh tahun yang lalu pernah muncul pendekar aneh yang bertabiat eksentrik, golongan hitam atau aliran putih tiada yang pernah kontak dengan dia, sepanjang tahun dia senang mengenakan jubah putih, mengasingkan diri di Hay-sim-san di Jing-hay, tiada orang pernah melihat wajah aslinya, maka umum memberijulukan Pek-ih-koay-khek (orang aneh berbaju putih). Belakangan karena memperebutkan semacam mestika Bulim, dan membunuh banyak orang dengan cara yang terlampau keji Hingga menimbulkan kemarahan umum serta mengeroyoknya, namun dengan bekal kepandaiannya yang mengejutkan dia berhasil lolos, malah tidak sedikit jago-jago kosen dari berbagai golongan yang binasa dan terluka, maka sejak itulah permusuhanpun semakin mendalam." .

"Suatu ketika dia kepergok di Tiam-jong-san dan dikeroyok oleh seratusan jago-jago kosen berbagai cabang persilatan, kali ini orang aneh berjuang mati-matian sampai titik darah terakhir, namun karena dikeroyok sekian banyak. tak mampu dia meloloskan diri dari kepungan sekian banyak orang terpaksa dia taburkan Bo-dhi-son yang amat beracun, tak sedikit jago-jago kosen dari berbagai cabang itu yang gugur, orang aneh itu sendiri juga terluka parah, syukur dia berhasil meloloskan diri. Sejak kejadian itu tak pernah lagi muncul jejak orang aneh itu.

"Konon Bo-dhi-son berasal dari Thian-tok, dibuat dengan serbuk besi yang lembut dicampuri racun jahat, bila disambitkan tidak mengeluarkan suara, bagi yang terluka dan keracunan tiada obatnya untuk menolong jiwanya. Pendatang ini dalam jarak tiga tombak mampu mengincar Hiat-to setepat ini, Lwekangnya jelas amat mengejutkan, untung tidak dalam melesak kedaging, maka berani kuduga yang datang pasti bukan orang aneh itu." lalu dia menghela napas dengan perasaan masgul.

Watak Liok Kiam-ping memang amat angkuh, kapan dia pernah tunduk kepada orang lain-Berdiri alisnya, sambil menggereget dia, berkata: "Kepandaian orang itu memang lihay, namun cara turun tangan begini tidak patut dipuji, Kiam- ping jadi ingin menghadapinya," ternyata Lwekangnya yang tinggi sudah merasakan adanya sesuatu suara yang mencurigakan diluar, maka sengaja dia memancing supaya pendatang itu unjukan diri. Pancingannya ternyata berhasil, tiba-tiba seorang tertawa dingin lalu melayang turun secarik kertas.

Kiam-ping ulur tangan menangkap terasa berat, diam-diam dia rasakan tenaga lawan yang tangguh, bila dia baca kertas itu, dimana ada tulisan tinta hitam yang berbunyi: "Selamat bertemu didepan' di bawahnya tertanda satu huruf 'Ho' atau bangau.

Cukup lama Ai-pong-sut Thong cau dan Liok Kiam-ping berdiri melenggong, mereka tak habis mengerti tokoh macam apa orang yang menggunakan nama "Ho" ini, namun dia sudah menunggu didepan, akhirnya juga pasti bertemu, asal sepanjang jalan ini beri hati-hati pasti takkan kurang suatu apa.

Waktu itu sudah sekitar kentongan kelima, fajar hampir menyingsing, karena sedang musim panas, maka sebagian besar tamu-tamu hotel suka menempuh perjalanan dipagi Hari, hawa sejuk dan nyaman, maka hari masih petang mereka sudah berg eg as melanjutkan perjalanan- Demikian pula Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut sudah melanjutkan perjalanan ke barat laut.

Tengah hari mereka beristirahat di King-jwan, bila maju pula lebih lanjut kesebelah barat, mereka mulai memasuki daerah pegunungan, jarang kendaraan atau pejalan kaki lewat di sini, umpama ada kereta lewat juga jalannya amat lambat karena jeleknya jalan pegunung an yang berbatu.

Bila mereka sudah memutari pinggang gunung, jalan pegunungan makin susah ditempuh, padahal gunung gemunung seperti berlapis dan bersusun makin tinggi, deru angin disertai pekik binatang dan lolong serigala terdengar jelas mendirikan bulu roma dan menciutkan nyali.

Namun Kiam-ping berdua bernyali besar, menghadapi pedalaman yang makin belukar dan menakutkan ini, sudah terlalu biasa bagi mereka, perjalananpun tidak teri hambat karenanya, cuma mereka memperlambat laju kuda mereka, namun sepanjang jalan ini mereka tetap santai berjalan sambil berbincang. Bila mereka sudah melampaui sebuah puncak tinggi, kini mereka berada ditengah kabut lebat, jubah panjang mereka melambai tertiup angin. Satujam kemudian puncak ini sudah jauh ditinggal kebelakang, didepan mencegat sebuah selat sempit, mulut selat ditumbuhi rumput liar setinggi manusia, jelas jarang ada manusia pernah menjelajah tempat ini.

Kira-kira ratusan tombak kemudian, mendadak terdengar derap lari kuda kumandang di sebelah belakang.

Dua ekor kuda berlari kencang bagai mengejar angin menyusul dari belakang, dalam sekejap sudah melesat lewat kedepan. Salah seorang diantaranya waktu lewat dua tombak didepan mereka sempat menoleh ke arah Kiam-ping berdua sambil menyeringai dingin, lekas sekali kuda mereka sudah dibedal jauh.

Didalam selat sempit yang rusak jalannya namun bisa membedal kuda secepat terbang, dapatlah dibayangkan bahwa penunggang kuda itu sudah ahli dan biasa mengendalikan kuda didaerah pegunungan.

Ai-pong-sut Thong cau seperti memikirkan sesuatu, tiba- tiba dia hentikan kudanya lalu menoleh kebelakang, mulutnya bersuara lirih, katanya: "Pangcu, tempat ini belukar hanya ada satu jalan di sini, puncak tinggi mencegat jalan didepan dan dibelakang, kedua kuda tadi cukup menyolok, mungkinkah musuh yang mengintai gerak gerik kami untuk menjebak kami disebelah depan '

Liok Kiam-ping tertawa dingin, katanya: "Biar perangkap atau jebakan yang di buat kawanan rase atau serigaia, kenapa dibuat takut."

Belum habis dia bicara mendadak suara sinis membentak: "Kalau tidak takut boleh kau rasakan' mendadak melesat keluar serangkum hujan hitam dari hutan kiri dengan daya luncuran yang kencang disertai desisangin yang ribut, jelas kepandaian pembokong cukup tinggi.

Tanpa berjanji Kiam-ping dan Thong cau angkat tangan menggempur kearah bayangan hitam itu. Kedua orang ini memiliki kekuatan pukulan yang hebat, apalagi mereka bergabung dengan pukulan dahsyat, sudah tentu perbawanya bukan olah-olah hebatnya. Empat jalur pukulan seperti berpadu ditengah terus mendera sederas hujan badai sehingga gumpalan hujan hitam itu terpukul buyar keempat penjuru. Menyusul terdengar suara gemuruh dari robohnya sepucuk pohon besar didepan mereka. Beg itu dahsyat pukulan gabungan mereka sehingga pohon besar itu seperti dibetot hingga roboh seakarnya.

Terdengar seorang memuji didalam hutan: "Pukulan bagus, selamat bertemu didepan" sesosok bayangan orang menjulang tinggi lurus keatas terus merambat makin tinggi diatas dinding gunung yang curam, hanya sekejap bayangannya sudah lenyap. Liok Kiam-ping berdua tertawa saling pandang, segera mereka keprak kuda pula.

Mereka maklum bahwa dalam selat sempit ini mereka bakal menghadapi banyak rintangan dan bahaya namun mereka tidak gentar, bekal kepandaian mereka yang tinggi membuat nyali mereka keliwat besar, bahwasanya Kiam-ping tidak pandang sebelah mata lawan-lawannya.

Syukur Ai-pong-sut Thong cau luas pengalaman, selalu dia yang memberi petunjuk dan memberi peringatan kepada Liok Kiam-ping bagaimana dia harus bertindak menyelamatkan diri, kini kudanya membuntut dibelakang, dia duduk berputar arah mengawasi belakang supaya tidak dibokong.

Suasana cukup tegang, namun mereka terus maju tanpa gentar. Kira-kira setanakan nasi kemudian, dasar lembah ini makin sempit, dinding gunung menjulang lurus tinggi, keadaan di sinijelas teramat berbahaya.

Lwekang mereka tinggi, mata kuping tajam, mendadak dari sebelah atas puncak mereka mendengar desis suara perlahan. Tanpa berjanji keduanya saling menoleh lalu tersenyum, diam- diam mereka bersiaga.

Sekonyong-konyong ledakan dahsyat yang menggetar bumi meruntuhkan batu-batu gunung sepuluh tombak didepan mereka hingga selat sempit itu tersumbat, jelas mereka  takkan bisa mundur kebelakang.

Ai-pong-sut Thong cau berdiri diatas pelana kudanya, dia melihat jelas keadaan, lekas dia berseru: "Awas Pangcu, lekas terjang keatas dinding sebelah kanan."

Belum lenyap suaranya, dua bayangan orang sekencang panah meluncur berpencar kearah dua dinding yang tegap dan curam.

Barusaja tubuh mereka melambung keatas, hujan panah selebat hujan telah membrondong tiba, kuda tunggangan Ai- pong-sut menjadi korban lebih dulu, sambil meringkik panjang, tubuhnya terjungkel roboh berkelejetan, darah berceceran, kuda itu jelas tak tertolong lagi jiwanya.

Sementara kuda tunggangan Liok Kiam-ping membedal keranjingan saking kaget dan ketakutan- Tapi Hanya sejauh belasan tombak mendadak kaki depan terpeleset, kaki belakang terangkat, cepat sekali bayangannya sudah lenyap ditelan semak rumput, kiranya dibawah semak rumput ada dipasang lobang jebakan yang dalam.

Bukan kepalang gusar hati Liok Kiam-ping melihat betapa keji musuh mengatur perangkap. bolamatanya membara. Demikian pula Ai-pong-sut Thong cau juga tidak kalah sengit dan dendam. Tapi bayangan musuh ternyata tidak kelihatan, memangnya kepada siapa mereka harus melampiaskan rasa penasaran ini.

Selat dibawah itu jelas tak mungkin dilewati lagi, terpaksa mereka merambat naik lewat dinding gunung yang terjal itu, seperti cecak tapijuga laksana kera mereka merambat dan melompat diantara akar-akarpohon dan rotan. Ginkang mereka sudah mencapai puncak sempurna, maka gerak gerik mereka betul betul mengejutkan-

Tapi panah dari bibir jurang disebelah atas ternyata masih terus dibidikan kebawah selebat hujan- Untung jurang ini teramat tinggi, hingga bidikannya menceng atau nyeleweng dari sasaran yang diincar, umpama kebetulan melesat kearah sasaran yang tepat juga dengan mudah dipukujatuh oleh Kiam-ping dan Thong cau.

Dengan mudah kedua orang ini terus merambat seratus tombak. bentuk lembab itu ternyata makin berobah, dinding gunung ternyata makin menyempit didasarnya. Sekilas Liok Kiam-ping menerawang keadaan, tiba-tiba timbul akalnya, segera dia berbisik kepada Thong cau: "Tianglo sementara disini memancing perhatian musuh, aku akan menyusup kesebelah bawah sana merambat didinding cadas itu." setelah mengincar suatu tempat dia kerahkan seluruh Lwekang, tenaga disalurkan dari pusar kedua kaki.

Segera dia melesat miring hingga tubuhnya meluncur tujuh tombak jauhnya. Ditengah jejak udara dia pentang kedua tangan serta menggeliat ping gang, disaat tubuhnya hampir melorot turun kedua kaki memancal pula, hingga tubuhnya melambung lebih jauh lima tombak. Beruntun sembilan kaki putaran tubuhnya mumbul makin tinggi mencapai bibir jurang. Sekilas dia awasi keadaan sekitarnya terus berkelebat kearah gerombolan musuh yang membokong.

Melihat Liok Kiam-ping sudah mencapai tujuan, Ai-pong-sut tak mau tinggal diam lagi sengaja dia memperlihatkan diri menarik perhatian musuh, mulutpun mencaci maki: "Kura- kura, anak kelinci semua. Kalau berani Hayo turun melawan Lohu tiga ratus jurus kalian sembunyi diatas seperti cucu kura- kura belaka."

Sudah tentu para pembidik panah itu tiada yang menduga bahwa elmaut sudah mengancam jiwa mereka. Begitu meluncur tiba Liok Kiam-ping lantas membentak. kedua tangan didorong didepan dada dengan seluruh kekuatannya, amarah memang sudah membakar dadanya, maka terdangarlah jerit dan pekik orang-orang yang terenggut jiwanya, entah kaki tangan protol atau batok kepala yang terpental, hujan darahpun menggiriskan..

Sisa pemanah yang masih hid up sudah tentu menjadi ngeri dan jeri, beramai mereka lempar busur dan panah lari sipat kuping. Namun Kiam-ping sudah kebacut ngamuk hingga yang terlambat lari menjadi korban pukulannya, mayat-mayat bergelimpangan diatas pegunungan yang jarang diinjak manusia. Sayang Kiam ping terlampau diburu amarah sehingga tiada satupun musuh yang lolos jiwanya, sebetulnya menawan seorang dapat diminta keterangannya.

Sambil bersiul panjang, tubuhnya laksana meteor terjun kedalam lembah terus meluncur keluar lembah terus lari secepat terbang kearah depan. Karena hambatan kali ini, hingga senja telah tiba baru mereka tiba di Si-cap-li-po.

Tempat itu merupakan sebuah desa kecil, penduduknya sekitar dua ratusan keluarga, sepanjang jalan desa itu hanya ada satu hotel kecil yang menjual juga makanan- Maju kedepan lagi sudah memasuki wilayah Liang-ping, letaknya sudah diwilayah kekuasaan Kong-tong-pay.

Setelah berunding mereka makan malam di Hotel kecil itu, mumpung terang bulan mereka mengembangkan Ginkang malam itu juga menuju ke Liang-ping. Jarak hanya belasan li, dengan Ginkang mereka yang tinggi dalam beberapa kejap sudah mereka capai langsung masuk kota.

Saat itu sudah menjelang tengah malam jalan ray a sudah sepi, untung hotel Eng-an masih buka, maka mereka minta kamar lalu bermalam. Baru saja fajar menyingsing, pelayan sudah menggedorpintu kamar mereka serunya: "Tuan ada tamu berkunjung."

Liok Kiam-ping melenggong, mereka tiba tengah malam, tiada orang tahu, didaerah barat daya sini Hakikatnya mereka tidak punya sanak kadang, dari mana datangnya tamu? Tapi orang sudah datang, mungkin ada persoalan yang ingin dibicarakan, maka dia berkeputusan, biarlah ditemui dulu lihat siapa yang datang, segera dia buka pintu.

Seorang laki-laki berusia lima puluhan, bejubah panjang menjura kepada Liok Kiam-ping, katanya tertawa: "Liok- pangcu sudi berkunjung kedaerah kita sungguh merupakan kehormatan besar bagi warga penduduk setempat, cayhe bertugas atas perintah menyampaikan kartu penunggu balas an-" lalu dia mengangsurkan sebuah kartu merah besar.

Mau tidak mau Kiam-ping cukup kagum oleh cara kerja mereka yang cekatan, dengan tersenyum dia terima kartu itu serta membukanya. "Besok sore sebelum jam lima, kami tunggu kedatangan tuan diperkampungan kita, harap datang tepat waktunya. Tertanda Kong-tong koay-khek seng lh-hun.

Liok Kiam-ping segera bergelak tawa, katanya: "Entah apa kemampuan cayhe, syukur kalian sudi mengundang kami, tolong sampaikan jawaban ini, tiba saatnya kami pasti akan datang dan mohon petunjuk." Laki-laki jubah panjang menjura pula lalu berkata: "Selamat bertemu." putar tubuh terus pergi.

Ui-yap-ceng (perkampungan daon kuning) terletak dibawah Kong-tong-san, tiga puluh li dibarat laut Liang-ping, pintu gerbang perkampungan tampak terbentang lebar, enam belas lakl-laki berpakaian ringkas tampak berdiri jajar menjadi dua baris didepan pintu, semua bertubuh kekar tegap. semangatnya kelihatan menyala, jelas tenaga luar dalam mereka sudah terlatih cukup kokoh dan tangguh.

laki-laki itu membusung dada menggendong kedua tangan, biji mata mereka menatap lurus kedepan perkampungan, tiada yang b ergerak semua mematung kaku. Keadaan terasa sepi lengang, tiada suara apapun sehingga terasa keadaan cukup menegangkan.

Menjelang tengah hari,jalanraya dari Llang-ping tampak dibedal kencang dua ekor kuda mendatangi, secepat angin lesus menuju kepintu gerbang perkampungan- Yang didepan adalah seorang Suseng mud a berwajah genteng dan cakap. jubah putihnya melambai, bercokor dipunggung kuda kelihatan gagah perkasa. Dibelakangnya adalah seorang tua berjubah pula dengan rambut dan jenggot ubanan, muka merah bolamatanya tampak meneorong terang, jelas Lwekang dan Gakangnya amat tangguh..

Kedua orang ini bukan lain adalah Liok Kiam-ping dan Ai- pong-sut Thong cau yang meluruk datang untuk menuntut balas. Setiba didepanpintu gerbang di mana terdapat lapangan luas, serempak mereka melompat turun.

Dari dalam perkampungan segera melangkah keluar dua laki-laki berusia limapuluhan merekapun mengenakan jubah panjang sepatu rendah berkaos kakiputih, langsung mereka menghampiri serta menjura, sapanya dengan tertawa: "Liok- pangcu memang dapat dipercaya, Suslok kami sudah menunggu diruang tamu, kami diutus untuk menyambut kedatangan kalian-" berbareng mereka memburu maju menerima tali kekang kuda Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut lalu menambat kuda ditempat yang sudah tersedia dipinggir pintu, lalu berkatapula dengan menjura: "Silakan ikut kami." lalu mendahului melangkah kedalam pintu.

Begitu melangkah masukpintu gerbang perkampung an, pandangan Liok Kiam-ping mendadak menjadi terang, keadaan didalam ternyata luas dan terbuka. Taman kembang didepan matanya ini mungkin luasnya ada belasan bau, pohon-pohon tua tumbuh subur tersebar, gunungan, empang teratai dengan ikan emas, serta gardu pemandangan berloteng, memang merupakan tempat pesiar yang indah dansejuk hawanya. Dibelakang kebon berdiri rumah-rumah dengan bentuk bangunan yang megah dan gagah.

Mereka terus menyusuri jalan panjang yang berliku dengan pohon-pohon rindang berjajar disepanjang jalan, lebarjalan hanya lima kaki, dalam jarak lima langkah dikedua sisi jalan berdiri laki-laki kekar berusia muda yang kelihatan kereng dan gagah, jumlahnya ada puluhan banyaknya, semuam memegang golok besar berpunggung tebal, pandangan lurus kedepan dengan sikap serius lagi.

Sekilas pandang Liok Kiam-ping hanya tersenyum menghadapi keadaan didepan mata, dia tahu lawan hendak menggertak dan mencoba kebesaran nyali mereka berdua untuk menjaga segala kemungkinan, diam-diam dia kerahkan Kim-kong-put-hoay-sinkang, lalu menoleh kepada Ai-pong-sut dengan tersenyum.

Langkah mereka tetap tegap dan gagah, mereka terus memasuki jalan sempit yang diapit pohon yang sengaja ditanam dengan formasi tetap.

Ai-pong-sut juga sudah maklum tujuan lawan, maka dia tidak ambi peduli, setelah Liok Kiam-ping menoleh kepadanya dengan tertawa, segera dia mengangguk tanda maklum, seperti tak acuh dan tidak terjadi apa-apa dia melangkah lebar kedalam. Baru beberapa langkah mereka melewati barisan manusia bergolok tebal besar itu, mendadak terdengar gerungan ramai dari kanan kiri, di mana sinar kilat menyambar, golok- golok besar itu sudah membacok laksana samberan kilat. Mungkin mereka bergerak penuh perhitungan atau sudah sekian lama latihan mereka cukup matang, dua dim diatas batok kepala kedua orang tamunya, golok-golok itu mendadak berhenti.

Tapi lain keadaan dua golok yang membacok diatas batok kepala Liok Kiam-ping, begitu mereka menghentikan bacokan golok. mendadak terasa datangnya suatu arus tenaga besar yang ritul balik tenaga bacokan golok besar itu hingga membal naik keatas hingga hampir terlepas dari pegangan pemiliknya. Karuan dua orang penyergap itu pucat membesi dengan hidung kedutan, berdiri kaku dengan pandangan terlongong.

Sudah tentu mereka tidak habis mengerti bahwa Liok Kiam- ping telah melindungi badannya dengan Kim -kong-put-hoay- sin-kang betapa hebat pertahanan tenaga saktinya, jangan kata hanya golok biasa, senjata pusakapun belum tentu dapat melukai dirinya.

Barisan golok itu akhirnya mereka tinggaikan dibelakang, keadaan didepan berobah lagi. Tampak sebuah pendopo besar, diatas sebuah pigura besar yang dipantek diatas dinding dalam pendopo itu bertuliskan tiga huruf emas gaya kuno "Yo-sim-tong".

Baru saja mereka tiba didepan pintu besar pendopo, mendadak kumandang gelak tawa lantang yang ramai. Seorang laki-laki tua berusia delapan puluh tahun dengan wajah merah, rambut, jenggot dan alis sudah memutih saiju, namun semangatnya masih kelihatan gagah dan perkasa sudah beranjak turun dari undakan menyambut keluar.

Setiba didepan pintu pendopo orang tua kekar besar ini lantas merangkap kedua tangan sapanya dengan tawa lebar: "Kalian berdua berani berkunjung ketempat kita, sungguh menambah semarak gedung besar ini, Losiu baru saja menerima tamu hingga terlambat menyambut, harap dimaafkan" dibelakangnya memang berbondong keluar belasan orang-orang persilatan dengan pakaian yang  seragam, langkah enteng dan gesit, kelihatannya adalah murid-murid kalangan Kong-tong-pay sendiri.

Tahu bahwa orang tua gagah didepannya ini adalah Kong- tong-koay-khek Seng ih-bun hati Liok Kiam-ping agak mendelu, namun sikapnya tetap wajar, katanya: "Kedatangan cayhe berdua memang terlalu sembrono, buat apa Seng-lo- tangkeh begini sungkan."

Kong tong-koay-khek Seng ih-bun bergelak tawa, katanya: "Bagus-bagus, di sini bukan tempat untuk bicara, silahkan kalian masuk sambil minum arak barang dua cangkKir." lalu dia mengulap tangan sambil menyurut selangkah kepinggir.

Ai-porg-sut sedikit angkat tangannya dipinggir telinga, Liok Kiam-ping lalu mendahului melangkah kedalam pendopo. Pendopo seluas ini Hanya diduduki lima orang, hingga terasa sepi dan kosong.

Didalam pendopo duduk empat orang yang berjajar disebelah kiri, kecuali Sip-san-siang-koay, seorang adalah pemuda yang berusia dua puluh lima tahun, selintas pandang kelihatan wajahnya cakap bersih, seperti dari keluarga baik- baik, namun bila diteliti, akan terasa sorot matanya memancarkan sinar sadis, jelalatan lagi, hingga orang akan menarik kesan bahwa pemuda ini bukan saja licik, juga  banyak muslihatnya.

Seorang lagi adalah Hwesio bertubuh pendek gemuk berisi, alis tebal matajalang, tampangnya bengis menakutkan, usianya sudah mencapai tujuh puluhan-Dua orang murid Keng-tong lagi berdiri meluruskan tangan di kanan kiri meja.

Begitu Liok Kiam-ping masuk kedalam pendopo, empat orang didalam itu tetap duduk ditempatnya tanpa bergeming, melirikpun tidak sudi kepada Liok Kiam-ping berdua, sikap mereka kelihatan temaha.

Kong-tong-koay-khek Seng in bun memburu maju dua langkah berdiri ditengah mereka, mempersilakan Liok Kiam- ping berdua duduk disebelah kanan, lalu memperkenaikan mereka.

Baru sekarang Liok Kiam-ping tahu, bahwa pemuda berjubah sekolahan ini ternyata Tho-hoa Siusu Hun Ho, jago muda harapan Bulim yang baru muncul dan tenar belum lama ini kalangan Kangouw. Kungfunya tinggi, dengan Bo dhi-soa yang beracun dia telah menggetar Bulim, tindakannya tercela, culas, kejam dan pandai mengatur muslihat, setiap kali melakukan kejahatan selalu meninggalkan tanda kembang sakura, lambang kebesarannya yang sudah memusingkan golongan lurus maupun alira n hitam.

Didalam penginapan kota Liang-ping, pembunuhan yang terjadi malam itu mungkin adalah perbuatan pemuda ini. Namun Liok Kiam-ping diam saja tidak mengungkat urusan  itu.

Padri pendek kekar itu adalah Hoat-liau Siansu yang dahulu menjadi pengawas Siau-lim-si, tiga puluh tahun yang lalu namanya pernah menggetar Bulim dan disegani karena terlalu besar mengumbar emosi Hendak mendirikan alira n cabang lain dari Siau-lim-pay, terpaksa dia diusir dari Siau-lim lalu kelana di Kangouw, wataknya memang pongah, tinggi hati dan keras kepala sepak terjangnya agak kejam dan selalu diburu oleh keinginan hati sendiri.

Sip-san-siang-koay tampak melenggong dan adu pandang begitu melihat Liok Kiam-ping berdua, karena dirumah makan itu mereka pernah bertemu muka dengan Liok Kiam-ping berdua mereka tidak sangka dengan pengalaman dan ketajaman pandang mereka, kali ini ternyata meleset penglihatan, karuan mendelu dan risi Hati mereka, tanpa  sadar berbareng mereka mendengus ejek menghina. Baru saja Liok Kiam-ping berduduk langsung dia menjura kepada Kong-tong-koay-khek, katanya tertawa: "Kiam-ping masih muda cetek pengetahuan, berkat kebaikan dan pesanpara cianpwe leluhur kita, ada satu persoalan yang rasanya janggal ingin kami mohon petunjuk kepada Seng- lotangkeh, semoga kau orang tua tidak kikir memberi penjelasan-"

Kong-tong-koay-khek Seng lh-hun tersenyum lebar, katanya: "Liok-pangcu datang khusus untuk menyelesaikan persoalan lama, nanti pasti akan kuberikan pertanggungan jawab supaya beres. Kebetulan yang hadir hari ini adalah jagoan gagah yang jarang bertemu, marilah Losiu persilahkan kalian menikmati secangkir arak sebagai selamat datang. lalu tangan kanan bergerak kearah luar, dari pintu luar para murid yang bertugas segera bekerja cepat, menyiapkan meja perjamuan terdiri dua meja dikiri kanan, cepat sekali kedua meja itu sudah terisi penuh berbagai ma cam hidangan lezat.

Sebagai kaum persilatan sudah biasa hidup bebas secara terbuka, tanpa sungkan merekapun mencari duduk diantara kedua meja di kanan kiri itu. Liok Kiam-ping dan Ai-pong-sut Thong cau dipersilahkan duduk dimeja sebelah timur.

Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun memegangi poci perak datang menghampiri kedepan meja, katanya kepada Liok Kiam-ping dengan tertawa: "Hidup diatas pegunungan yang terpencil lagi belukar. segalanya serba kasar dan mungkin pelayanan kami kurang komplit, Sengaja Losiu haturkan secangkir arak ini, silakan minum sebagai pelepas dahaga." lalu dia angkat poci dan didorong kedepan dengan kedua tangan-

Liok Kiam-ping menyambut dengan tertawa: "Seng-lo- tangkeh jangan terlalu sungkan, cayhe mana berani menerima penghormatan sebesar ini." Cangkir dipegang terus diangkat keatas, mendadak terasa cangkirnya seperti ditindih suatu benda berat yang tidak kelihatan hingga menekan ke bawah. Kiam-ping melengak sekilas, dia tahu orang sengaja hendak menjajal tenaganya, lekas dia kerahkan Kim-kong-put-hoay- sinkang dipusatkan keujung jari-jarinya terus menyongsong kemulut poci.

King-kong-put-hoay-sin-kang adalah ilmu mujijat aliran Hud yang tiada taranya. Kini keinginan timbul tenagapun bekerja. begitu dia kerahkan dengan landasan tenaga dalam di ujung jarinya, kekuatannya boleh dikata mampu mencoblok besi seperti menusuk tahu, meminjam cara menyentuh benda menyalurkan tenaga yang sakti, dia kerahkan tenaga lewat cangkirnya terus diangkat menyongsong mulut poci.

Tampak kedua tangan Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun yang memegang poci terangkat ke atas. Meski sudah kerahkan setaker tenaganya, juga tak mampu menindihnya turun lagi. Anehnya arak panas sepoci penuh ternyata setetespun tiada yang mengalir keluar.

Karuan gugup dan gelisahnya bukan main, pada hal otot hijau sudah merongkol di jidatnya, mukanya sudah merah padam, tegel hijau dibawah kakinya gemeretak pecah dan retak. Jago-jago kosen yang hadir dalam pendopo itu tiada yang tidak merasa takjup dan kagum menyaksikan adu kekuatan yang luar biasa ini, terutama kekuatan tenaga dalam Liok Kiam-ping membuat mereka amat kagum.

Maklum poci lebih besar, tenaga lebih mudah dikerahkan pada kedua tangan yang memegangnya, apalagi menindih turun dari atas ke bawah, tenaga yang disalurkan lebih mudah dimanfaatkan- Liok Kiam-ping justru disebelah bawah, hanya memegang cangkir yang jauh lebih kecil, namun hanya dengan kekuatan dua jari ternyata mampu menahan arak dalam poci Hingga setetespun tiada yang mengalir keluar, betapa hebat kekuatan tenaga dalamnya, siapa takkan terkejut dibuatnya.

Kuatir bila kejadian memalukan berlangsung lebih lama akan bikin tuan rumah lebih runyam meski kejadian tuan rumah lebih runyam, meski kemudian tuan rumah sendiri yang menjadi biang keladinya betapapun pihak sendiri hanyalah tamu yang diundang, sebelum bertanding secara resmi dan terbuka, maka Liok Kiam-ping perlu dianjurkan untuk bertindak penuh perhitungan, maka dengan gelak tawa Ai- pong-sut berkata: "Seng-lo-tangkeh agaknya memang ingin melayani tamunya secara baik, Pangcu, apa halangannya kau iringi kehendak tuan rumah."

Memang Liok Kiam-ping sendiri juga merasa urusan bakal runyam bila diteruskan, mumpung ada kesempatan dia manggut serta mengendorkan tenaganya, maka arakpun mengalir keluar dari mulut poci dan tepat mengisi penuh secangkir.

Jamak tangan Liok Kiam-ping bergetar keras, perlahan dia tarik mundur cangkirnya, tapi arak dalam cangkirnya tiada setetespun yang muncrat keluar. cangkir langsung diangkat terus ditenggaknya habis. Setelah mengucap terima kasih langsung dia duduk ditempatnya pula.

Betaparun tebal muka Kong-tong-koay-khek, tak urung dia merah padam saking malu, dengan sikap risi dan kikuk dia kembali ketempat duduknya.

Hoat-liau Siansu dari Siau-lim-si mendadak berdiri, serunya lantang dengan tertawa:

"Liok-pangcu membekal Sinkang luar biasa, namanya sudah menggetar dunia, hari ini Lolap dapat beri hadapan dengan jago kosen, betapa senang dan bahagia hatiku, mumpung ada kesempatan, sengaja kuhaturkan secangkir arak ini Kepada Liok-pangcu." lalu dia tuang secangkir arak penuh diangkatnya cangkir itu terus dilempar kearah Liok Kiam-ping.

cangkir arak itu seperti terbang diatas nampan yang tidak kelihatan, terbang lurus dengan cepat dan enteng. caranya ini menggunakan ilmu mengantar benda diudara kosong yang dilandasi kekuatan Khikang yang hebat, latihannya agaknya memang sudah mencapai taraf yang tinggi.

Liok Kiam-ping tertawa lebar katanya:

"cayhe angkatan muda yang masih cetek pengalaman, mana berani mendapat penghormatan besar dari Lo-siansu, namun untuk kehormatan terpaksa harus menerima perintah, namun tak berani kami memberi balasan apa-apa, maka  cukup sekian saja." sembari bicara telapak tangan kiri sedikit terangkat, segulung tenaga lunak yang tidak kelihatan segera menyongsong cangkir yang meluncur tiba, hingga cangkir itu seperti tertahan ditengah jalan, bergantung diudara, Mendadak kelima jari tangan kanannya menekan dan mencengkram keudara, maka sejalur arak segera mumbul dari dalam cangkir itu, mengikuti gerakan tangan Liok Kiam-ping yang ditarik mundur, seperti seutas rantai perak. arak itu meluncur pula kearahnya, mulut sudah menunggu lebar terus disedotnya masuk ke dalam mulut. Sementara tangan kiri menepuk kedepan pula hingga cangkir itu meluncur balik kepemiliknya .

Hoat-liau Siansu seorang Hweslo kosen dari siau-lim-pay. Lwekangnya tinggi, tenaganya hebat, dia pikir ingin pamer kekuatan untuk menarik balik gengsi dan muka Kong-tong- koay-khek yang mendapat malu barusan, tak nyana  dirinyapun kalah seurat oleh kekuatan sakti anak muda ini, padahal dalam kalangan Bulim, bukan saja namanya disegani, kedudukkannyapun amat tinggi, mana dia bisa menerima kekalahan ini tapi kenyataan lawan lebih lihay, tanpa sebab tiada alasan dia mengumbar amarah, saking gemas dia hanya kertak gigi saja.

Setelah Hoat-liau Siansu duduk pula, maka Ai-pong-sut Thong cau berdiri serta menjura kepada Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun, katanya: "Seng-lo-tangkeh untuk memperebutkan Wi-liong-pit-kip dua puluh tahun yang lalu, kau tidak segan melanggar aturan Bulim, dengan kasar mengeroyok ciangbunjin kita secara kotor dan licik, hingga beliau meninggal di Tay-pa-san- Lantaran kematian ciangbunjin hingga perguruan kita runtuh total dan terpaksa harus menghapus nama dalam percaturan dunia persliatan, sudah dua puluh tahun kita menanggung malu."

"Padahal, Hong-lui-pang kita tak pernah bermusuhan dengan Kong-tong-pay kalian, seng-lotangkeh ternyata tak segan-segan melakukan kejahatan karena diburu sifat loba dan tamak. Sudah dua puluh tahun d end am ini tak terbalas, hari ini kami bersama Pangcu kita yang masih muda ini berkunjung kemari untuk menyelesaikan persoalan lama, semoga seng-lo-tangkeh bis a memberikan keadilan kepada kami.

Kong-tong-koay-khek Seng ih-hun bergelak tawa, katanya: "Tahun itu kami berenam kebetulan lewat Tay-pa-san, ditengah jalan kebetulan bersua dengan ciangbun kalian ciang-kiam-kim-ling Locianpwe, karena kami dengar dan tahu bahwa Wi-liong-pit-kip merupakan ilmu sakti yang dijaya, maka kami bermaksud meminjamnya untuk dibaca sekedarnya, namun ciang-kiam-kim-leng cianpwe bukan saja menolak malah mencaci kami, terpaksa kita turun tangan secara keras. Tapi peristiwa sudah duapuluh tahun berselang, dendam permusuhan apapun rasanya sudah boleh dilupakan atau tak dirasakan lagi."

"Tahun lalu, muridku yang tertua Pi-san-khek The Hong bersama sutenya Ti Thian-bin yang melangsungkan pernikahan-nya tetah terbunuh di Kui-hun-ceng kalian- Setelah itu di Tayli dalam propinsi Hun- lam, Sam-jay-kiam perguruan kita yang sudah terkenal itupun mengalami pembunuhan keji oleh Hong-lui-pang kalian hingga satu mati dua luka parah. Liok Pangcu, pepatah bilang, dendam ada mulanya, hutang ada penagihnya."

"Bila Hong-lui-pang ingin menuntut balas sepantasnya langsung membuat perhitungan dengan Losiu yang bertanggungjawab langsung akan peristiwa ini, kenapa tanpa membedakan salah benar lantas main bunuh kepada murid- muridku yang tak berdosa, Liok-Pangcu, memangnya kau tidak takut ditertawakan sesama Bulim."

Berdiri alis Liok Kiam-ping, katanya: "Baik saya jawab sanggahanmu. Pi-san-khek The Hong membantu Ti Thian-bin merebut dan menduduki Kwi-hun-ceng, memeras perempuan untuk dijadikan selir, dihadapan umum mempermainkan Sumoayku lagi, maka kematiannya hanya boleh kau salahkan perbuatannya yang tidak senonoh dan kotor."

Jawaban Liok Kiam-ping diucapkan dengan nada tinggi tegas dan kereng, meski bermuka tebal, tak urung Kong-tong- koay-khsk Seng Ih hurt menjadi malu dan gusar. mukanya pucat menghijau. sikapnya kikuk dan serba runyam.

Loji dari Sip-san-siang-koay mendadak terkekeh dingin, katanya: "Seng-lo-tangkeh, buat apa kau ajak mereka perang mulut, permusuhan memang sudah mendalam mana mungkin didamaikan lagi, namun kedua pihak sudah jatuh korban, boleh merasa lega dan himpas, apalagi urusan terjadi gara- gara Wi-liong-pit-kip. maka menurut hemat Loslu, buku yang tidak membawa berkah ini, kelak pasti akan mendatangkan bencanapula bagi kalian, bagaimana kalau titipkan saja kepada Losiu bersaudara untuk menyimpannya, tanggung takkan hilang dan pasti selamat, selanjutnya kedua pihak berjabatan tangan, damai dan akur, bukan penyelesaian begini lebih baik.

Ai-pong-sut Thorg cau terbahak-bahak. katanya: "Penyelesaian baik apa, Wi-liong-pit-kip adalah pusaka perguruan kita yarg menjadi simbol kebesaran ciangbunjin pula, siapa pun jangan harap biaa menyentuhnya, apa lagi manusia yang berhati jahat dan rendah mertabatnya. Hari ini kami sudah bertekad menuntut balas dendam kematian ciangbunjin kita secara tuntas, bahwa kami sudah berani meluruk ke Ui-yap-san-ceng ini, memang sudah bertekad untuk gugur di sini. Loji, kukira batalkan saja niat serakahmu."

Toa-koay Ki Kong menarik alia, katanya dengan nada berat: "Agaknya kalian tidak akan tunduk sebelum dihajar adat, Loji memberi nasehat secara baik, kalian justru meniatkanya. Baiklah, putuskan saja persoalan ini dengan kepandaian masing-masing."

"Memang itulah maksud kedatangan kami berdua," seru Ai- pong-sut, "umpama kalian kerahkan seluruh penghuni perkampungan ini mengeroyok kami, kami juga tidak akan mundur setapakpun."

Melihat Sip-san-siang-koay mulai naik itam, diam-diam Kong- tong-koay-khek Seng Ih-hun menjadi girang. apalagi seruan Ai-pong-sutjustru dapat digunakan alasan untuk membakar mereka pula, maka dengan tertawa dia berkata: "Bicara bertanding mengadu kekuatan, kalian hanya dua orang, seorang ksatria bukan tandingan orang banyak. tapi kami takkan main keroyok. lalu bagaimana pertandingan ini dilangsungkan serahkan kepada kalian untuk menentukan-"

Bertaut alis Liok Kiam-ping, katanya gagah: "Tamu harus patuh akan kehendak tuan rumah, apapun cara yang kalian gunakan pasti kamHadapi."

Tho hoa-siu-su Hun Ho yang sejak tadi tak bicara mendadak menjengek dingin, katanya: "Liok-pangcu gagah perkasa memang mengagumkan, cayhe ada satu cara yang cukup adil, entah Liok-pangcu sudi menerima usulku ini." lalu dia berbisik-bisik dipinggir telinga Kong-tong-koay-khek Seng lh-hun.

Liok Kiam-ping mengangguk, serunya: "coba diterangkan-" Sebelum  bicara  Tho-  hoa-siu-su  tertawa  riang, karanya:

"Menurut pendapat cayhe, kita adakan lima babak pertandingan, bertanding secara bebas tanpa batas, terserah menggunakan Kungfu apapun boleh, pihak mana yang menang tiga babak terhitung pihak mana yang menang."

Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya: ”Jikalau kami berdua beruntung menang?"

Kong-tong-Roay-khek Seng Ih-hun segera menjawab: 'Ui- yap-san-ceng akan kuserahkan seluruhnya kepadamu. Tapi jika kami yang menang ?"

Berkilat mata Liok Kiam-ping, katanya tegas: "Kami berdua akan serahkan batok kepala di sini."

"Bagus, waktunya sudah banyak terbuang, marilah kalian ikut Losiu." kata Kong-tongkoay-khek Seng Ih-bun, lalu dia mendahului melangkah keruang belakang.

orang banyak berjalan beriringan., Setelah melewati beberapa pekarangan dan rumah, baru mereka tiba dilapangan latihan- Luas lapangan latihan ini ada enam ratusan tombak. dua sisi lapangan terdapat dua rak senjata yang berisi segala jenis persenjataan, diarah timur dan barat terdapat paya-paya kembang setinggi tombak.

Paya-paya kembang ditimur dibagian bawahnya adalah tanah berpasir, dibagian depannya berjajar empatpiring besar warna merah, diatas setiap piring raksasa ditancap enam belas bongkot dupa wangi kayu cendana buatan pabrik Lo-han di Hay-tam, jadi jumlah seluruhnya ada enampuluh empat bongkot, setiap dupa panjang tiga kaki enam dim, setiap bongkot sebesar mulut cangkir, setiap bongkot dupa diikat benang merah.

Ditengah pasir, menurut kedudukan Patkwa digali enampuluh empat lobang kecil sebesar mulut cangkir, j a rak setiap lobang satu dengan yang lain satu langkah, entah kekiri kanan, maju atau mundur jaraknya sama.

Didalam paya-paya kembang disebelah barat, digantung empat bola besi sebesar semangka dengan tambang besar, kedua sampingnya ada kupingnya untuk dipegang, dipasangi drat untuk tutup hingga bagian dalamnya bisa diisi pasir, bobotnya bisa ditambah atau dikurangi, bagian luar dari bolaini dipasangi pisautajam dan runcing kecil-kecil Sepanjang tiga dim, jumlahnya sembilan batang setiap bola.

Tambang besar itu merupakan anyaman kawat baja yang lembut, diatasnya digantung ratusan kelinting kecil, bila bola bergerak kelintingan itu akan berbunyi dengan suaranya yang mengaburkan konsentrasi, seorang yang meyakinkan ilmu weduk sekalipun. bila kesenggol oleh bola besi ini pasti bolong atau putus anggota badannnya tubuhpun akan ketumbuk terbang mencelat.

Ai-pong-sat berpengalaman luas, sekali pandang kedua barisan ini, dia lantas tahu itulah barisan dupa wangi kepandaian tunggal dari Siau-lim-si dan Ku Hong-hwi-goan-ki yang hanya pernah didengarnya saja. Barisan ini lebih sulit dihadapi dan bahaya dari pada bertempur dengan pisau terbang, pukulan atau golok dan pedang.

Dibelakangnya lagi adalah ceng-tlokstin yang terdiri delapanpuluh satu batang bambu hijau. Barisan orang-orang itu akhirnya berhenti dibarak sebelah barat yang sudah disediakan.

Dalam mengadu Lwekang dengan Liok Kiam-ping tadi Hoat-liau Siansu merasa asor, maka kali ini dengan kemahiran latihan ilmu tunggal Siau-lim yang tidak sembarang diturunkan kepada murid-muridnya, dia ingin balas mengalahkan lawannya, maka dengan tertawa dia berkata kepada Liok Kiam-ping: "Babak pertama, Lolap ingin mohon beberapa jurus petunjuk kepada Sicu diatas barisan dupa Lohan ini?"

Ai-pong-sat lebih menguasai situasi dan apal akan permainan barisan dupa sejenis ini

apalagi dia tahu keadaan hari ini serba pelik, dia harus membela Kiam-ping supaya dia menghemat banyak tenaga untuk babak kedua dan selanjutnya. Maka dengan bergelak tawa dia berkata: "Ilmu lihay dan aneh dari Siau-lim-si jarang diajarkan kepada murid didiknya sekalipun memang pernah menggetarkan Bulim. Hari ini Losiu dapat beri hadapan dengan jago kosen, terhitung terbuka mataku, biarlah aku mempertaruhkan jiwaku yang sudah tua ini untuk mengiringi beberapajurus diatas bariaan dupa ini. Hweslo gede, silahkan turun gelanggang, mohon kau bertindak secara kalem -aja."

Sementara itu Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun sudah perintahkan murid- murid Kong-tong-pay yang bertugas dilapangan menancapkan bongkot- bongkot dupa itu kedalam lobang- lobang yang sudah tersedia diatas pasir, lalu mengundurkan diri berdiri jauh dibelakang.

Betapapun bagus buatan dupa wangi kayu cendana itu, namun hanya diikat benang merah kecil ditancap diatas pasir yang tidak dalam lagi, jikalau seorang harus bermain silat diatas dupa yang berdiri dipasir itu, kalau tidak memiliki lwekang dan Ginkang tinggi, siapa berani mencobanya.

Sebetulnya berhantam diatas bambu entah bertangan kosong atau bersenjata tajam sudah termasuk kepandaian khusus yang lihay dan jarang ada di Bulim, tapi bambu ditancap ditanah yang keras, dipucuk bambu orang masih bisa mengerahkan tenaga menggunakan kekuatan- Tapi berbeda dengan bongkot dupa yang diikat benang kecil ditancap diatas pasir belaka, sedikit menggunakan tenaga, kalau tidak bikin dupa- dupa itu patah, pasti dia akan roboh, dan bila dupa patah atau roboh akibatnya bisa fatal.

Karena Ai-pong-sut yang menantang. maka Hoat-liau siansu mengerut kening, katanya dengan tawa enteng: "Lo sicu, bahwa kaujuga minta petunjuk diatas dupa Lohan yang wangi ini, memang kebetulan bagi Lolap marilah Sicu.- silakan."

Ai-pong-sutjuga berkata: "Silakan-" hampir berbareng kedua orang ini melayangkan tubuhnya keudara. Agaknya Hoat-liau Siansu dari Siau-limsi ingin pamer kepandaian, tadi dia berdiri dia rah selatan, begitu tubuhnya terapung langsung meluncur kearah barat, kakinya hinggap dibongkot dupa paling pinggir, begitu kaki menutul ujung dupa tubuh lantas berputar diatas dupa, kaki kiri bergantung dengan gaya Kim-ke tok-lip (ayam emas berdiri kaki satu), dua tangan terangkat didepan dada berganti dengan gaya Thong- cu-pai- hud (anak kecil menyembah kepada Budha). Betapa lincah. enteng dan tangkas gerak tubuhnya membuktikan bahwa Lwekangnya memang amat tinggi.

Begitu tubuhnya terapung Ai-pong-sat lantas tahu kemana arah luncuran Hoat-liau, dalam keadaan seperti ini mana mau dia dianggap lemah, lekas dia kerahkan tenaga simpanan, ujung kaki sedikit menutul, tubuh bagian atas tidak bergeming, dua tangan terangkap. hanya meminjam kekuatan gerak kedua sikutnya, tubuhnya mumbul keatas pula meluncur enteng dibarat daya hinggap diatas bongkot dupa paling sudut. Tubuhnya berputar secara otomatis tanpa meminjam tenaga kaki dan tangan- Begitu dia berputar balik kebelakang maka mereka beri hadapan satu dengan yang lain-

Melihat kesebatan gerak badan Ai-pong-sut yang lihay juga, diam-diam Hoat-liau siansu kaget dan heran, lekas dia menurunkan ping gang, kaki kiri menggeser kekiri menutul perlahan diujung dupa yang disebelahnya, hingga tubuhnya setengah berputar, dua tangan yang terangkap didepan dada terbuka, tinju kiri menindih pergelangan tangan kanan berhenti sejajar dengan dada, muka miring menatap Ai-pong- sut Thong cau, dengan demikian Hoat-liau Siansu sudah membuka jurus permainan menurut pembukaan ilmu pukulan Siau-lim-pay siap menunggu serangan, sebat sekali kaki kirinya sudah beranjak kebongkot dupa yang lain berbareng berputar kekiri.

Ai-pong-sut tetap meluruskan kedua tarngannya menggeser kekanan, diatas pucuk dupa dia berpindah posisi dengan menutul ring an kedua kakinya, tubuhnya gemulai laksana tangkai teratai yang ditiup angin, kelihatan lamb an padahal sebat, seperti berat padahal ringan, dengan bergontai beruntun dia berkisar kearah kanan. Maka kedua orang berputar berlawanan berpindah posisi.

Kini Ai-pong-sut tepat disebelah barat, sementara padri Siau-lim Hoat-liau berada ditimur.

Hoat-liau Siansu mendahului beranjak maju selangkah sambil merangkap kedua tangan, mendadak telapak tangannya memukul keluar begitu melontarkan serangan dia sudah gunakan Pay-san im-ciang langsung menggempur Ai- pong-sut. Kedua telapak tangannya seperti menerbitkan pukulan angin kencang bagai gugur gunung dahsyatnya.

Ai-pong-sut juga mendesak maju, jarak mereka hanya terpaut satu bongkot dupa, ternyata dia tidak menyingkir juga

, tidak berkelit, kedua tangan dilandasi kekuatan Lwekangnya menyongsong pukulan lawan-

Begitu angin pukulan kedua pihak bentrok. kedua pihak sama tergetar, kelihatannya enteng saja getaran yang timbul dari akibat hentrokan pukulan mereka, padahal bila mereka adu kekuatan ditanah biasa, pasti sudah sempoyongan mundur beberapa langkah.

Diam-diam Ai-pong-sut Thong can kaget dan heran, sekarang diinsyafi bahwa Hoat-liau Siansu padri dari Siau-lim ini memang membekal kepandaian tunggal yang cukup lihay, jikalau dirinya tidak mempunyai latihan enampuluh tahun, adu pukulan kali ini mungkin dirinya sudah terjungkal jatuh ditengah barisan, maka gebrak selanjutnya dia bertindak lebih cermat dan hati-hati.

Lekas dia menggeser kekiri selangkah, lalu mendesak maju lebih dekat, dengan demikian kedudukannya sekarang berada dipinggir kanan si padri, kedua tangan terpentang dengan jurus Kim-tiau-jan-ji (garuda emas pentang sayap) telapak tangan membelah miring kearah pundak kanan Hoat-liau Siansu.

Hoat-liau Siansu juga melangkah kekiri selangkah, tapi tubuhnya sudah setengah berputar, telapak tangan kiri menyelonong naik keatas, kaki kanan menutul ujung bongkot dupa berbareng kaki kiri terangkat keatas, telapak tangan melintang membelah turun.

Inilah Teng-san-gua-hou-sek (naik gunung menunggang harimau) sebetulnya hanyalah langkah pembukaan, namun keduanya adalah jago kelas wahid, bila bergerak saling serang, tak mungkin saling tangkis dan mengunci secara sungguhan, soalnya kedua pihak takkan mau menyerang dengan tipu sesungguhnya, namun cukup jurus dilancarkan, bila lawan sempat memunahkan serangannya dengan tipu bagus, segera dia akan merobah permainan secara singkat dan tegas.

Dengan gaya menunggang harimau Hoat-liau Siansu sekalian memiring tubuh keluar, bila kaki kirinya meluncur turun dia berbalik menutulkan kaki kebongkot dupa disebelah belakang, sekalian dia merendahkan tubuh hingga tubuhnya bergerak mengikutipermainan pukulan tangannya, tubuhnya berputar laksana angin lesus, dari kiri berputar balik kearah kiri, kedua telapak tangan melintang didorong kekiri, kali ini dia bermain dengan cui- pi-jiu ajaran murni pukulan Siau-lim- pay.

Pukulan ini amat berat, telapak tangan tegak mampu menyabat buntung lengan orang, apa lagi gerak serangannya secepat angin memukul ketulang rusuk Ai-pong-sut Thong cau.

Tahu lawan kali ini melontarkan serangan ganas, lekas Ai- pong-sut kerahkan hawa murni dalampusarsambil mengkeretkan perut melompat kedepan, dengan ringan dia melompat minggir menyelamatkan diri. Begitu Hoat-liau Siansu melontakan pukulannya, Ai-pong- sut lantas berkelit, hingga pukulan mengenai tempat kosong maka dia dipaksa untuk menggeser langkah kebongkot dupa yang lain, beruntun dia pindah posisi tiga langkah, kelihatannya seperti mengudak gerakan Ai-pong-sut, padahal dia dipaksa oleh serangan sendiri untuk mengendalikan diri.

Baru saja Ai-pong-sut melompat ke sana, Hoat-liau Siansu sudah berada dibelakangnya pula. dalam keadaan tetap membelakangi lawan, Ai-pong-sut menutulkan kaki kiri kebongkot dupa, secara diam-diam di kerahkan sedikit tenaga, hingga hawa sekujur badannya terangkat mumbul, begitu tenaga pukulan tiba, tubuhpun membelok kekiri seenteng asap melayang diudara, bila kaki kanannya hinggap dibongkot dupa yang lain, kini dia sudah berputar arah sama sekali, kedudukannya berbalik dipinggir kiri Hoat-liau Siansu. Dengan gaya permulaan permainan Kim-na-jiu yang mempunyai 36 jurus permainan, dia merangkap keduajari menyerang dengan jurus Kim-bong-ji-jui (kumbang emas bermainpuntul) menutuk Gwa-yang-hiat Hoat-liau Siansu, gerakannya enteng serangan lihay dan lincah.

Lekas Hoat-liau siansu mengganti langkah dengan kaki kanan maju selangkah, kepala miring kekiri, hingga pukulan kemuka dikelit bebas, sekalian telapak tangan kiri terbalik keluar, dengan gaya Kim-si-to cian-hoan (lutung emas berbalik meng unci tangan) berbalik dia mencengkerampergelang an tangan Ai-pong-sut Thong cau.

Begitu tutukan keduajari luput, lekas Ai-pong-sut membawa dirinya mengendap kebawah, kaki kiri dikeluarkan dari belakang, lengan kanan merendah turun kebawah, maka lengan kiri sudah di abitkan dengan gerakan burung merak pentang sayap. lengan baju tangan kirinya yang lebarpanjang menerbitkan segulung angin berbalik menggulung dari punggung kanan padri Siau-lim itu. Kalau Hoat-liau Siansu tidak lekas menarik diri, hampir saja jiwanya melayang ditangan Ai-pong-sut Thong cau dengan serangannya yang lihay ini.

Kini kedua orang berpencar pula, lalu berpindah posisi saling putar kedudukan. Lekas sekali sepuluh jurus telah lewat. Padri melawan preman yang mengembangkan Ginkang ini terus bertarung dengan segala kelincahan kaki tangan dan entengnya tubuh, mereka keluarkan segala kemahiran dan ilmu simpanan mereka yang jarang dipamerkan didepan umum, kedua pihak memiliki keunggulan sendiri-sendiri. Para penonton diluar arena tiada yang manvaksikan dengan pandangan takjup pesona dan melongo.

Bahwa Ai-pong-sut Thong cau ternyata memiliki kepandaian aneh yang lihay, Hoat-liau Siansu insaf bila pertempuran cara begini sampai berkepanjangan, sedikit lena pasti fatal akibatnya bagi diri sendiri oleh pukulan lawan yang lihay.

Selanjutnya Ai-pong-sut Thong cau betul-betul pamer kemahiran gerak tubuhnya dengan Ginkang yang tiada taranya, kini dia tidak perlu setiap langkah menutul bongkot dupa, tapi mampu melangkah kosong diudara namun maju mundur tetap leluasa, beruntun dia melompati empat bongkot dupa berlari kearah timur laut, kebetulan Hoat-liau Siansu juga bergerak kearah yang sama.

Tujuannya memang ingin menyerang secara ganas, kebetulan melihat Ai-pong-sut menubruk tiba, segera tangan ka nanny a merogoh dengan Yam-gi-slok-jan, salah satu jurus permainan cap-pwe-lo-han, telapak tangan tegak miring menabas kepundak kiri Ai-pong-sut.

Lekas Ai-pong-sut menurunkan pundak kekanan,  sementara kaki beruntun berpindah di beberapa pucuk bongkot dupa berputar kesebelah kanan, lalu berbalik mengiprat tangan menepuk kepundak belakang Hoat-liau Siansu dengan jurus To-cian-bwe-hoa (menggunting terbalik kembang sakura). Lekas Hoat-liau Siansu juga merobah gerakan dengan Hong-hun-to-gwat memanggang mega menyanggah rembulan,jarinya menuding IHoan-meh-hiat Ai- pong-sui Thong cau. Lekas Ai-pong-sut menarik langkah berputar badan hingga bayangan kedua orang kembali berpencar kearah yang berlawanan.

Mau tidak mau Ai-pong-sut agak kaget dan kagum, Hoat- liau Siansu memang tidak malu pernah mendapat didikan murni dari siau-lim-pay. Kungfunya memang luar biasa, selama hidup boleh dikata baru sekali ini dia betul-betul menghadapi musuh tangguh, jikalau tidak dihadapi dengan kepandaian tunggal sendiri, bukan mustahil dirinya bakal dikalahkan lawan. Hati berpikir kaki tanganpun bergerak. beruntun dia menerjang dua kaki denganJit-sing-pou (langkah tujuh bintang) yang terbalik gerakannya.

Dia sudah bertekad menggunakan Liong-sing-pat-ciang yang berhasil diciptakan setelah diselami enampuluh tahun dan belum pernah dia gunakan dalam pertarungan untuk menghadapi Hoat-liau Siansu.

Liong-sing-pat-ciang adalah delapan jurus permainan berantai susul menyusul, namun harus dilancarkan sekaligus tanpa ganti napas, manfaatnya besar, serangannya aneh, perbawanya besar dan kuat, bila dikembangkan lawan a kan sukar menjaga dan melawan. Tapi Liong-sing-pat-ciang jelas sukar dikembangkan diatas barisan seperti bongkot dupa Lo- han begini, ada lima jurus diantaranya harus dimainkan secara lincah dengan gerakan mengendap dibawah sekali sentuh harus segera mengerahkan tenaga" maka mengembangkan Liong-sing-pat-ciang (delapan jurus pukulan bentuk naga) sebetulnya amat berbahaya, juga sukarnya bukan main- Tapi dengan kecepatan langkah dan gerak kakinya Ai-pong-sut Thong cau tutul menutul diatas bongkot dupa laksana kecapung menutul air teras merabu Hoat liau Siansu.

Sebagai murid didik Siau-lim-pay, sudah tentu Hoat-liau Siansu memiliki kemampuan yang luar biasa. Kungfunya sudah mencapai taraf tinggi, dibekali pengalanan luas lagi, hanya melihat permainan lawan segera dia tahu jurus apa atau tipu apa yang akan dilancarkan lawan, kini dia melihat Ai-pong-sut merabu dalamjarak dekat sambil melangkah tujuh bintang, pada hal dibelakang permainan langkah yang tangkas dan Cepat itu tersembunyi gerak langkah naga melingkar, diam- diam hatinya kaget.

Mungkinkah lawan melancarkan Liong-sing-pat-ciang yang pernah didengar dan belum pernah disaksikan, menurut cerita salah seorang teman seperguruannya, Liong-sing-pat-ciang hanya bisa dihadapi dengan cappwe-lo-han-jiu dari Siau-lim- pay dan mungkin masih bisa mengalahkannya Thong-sian-pat- hoat dari ajaran murni Kun-thau Siau-lim yang termashur itu. Tapi waktu dia meninggalkan Siau-lim-si dulu, kedua ilmu ini baru berhasil dipelajari separo atau kulitnya saja, hari ini dia dipaksa menghadapi Liong-sing-pat-ciang, terpaksa dia nekad dan berani menghadapi resiko didepan mata. Kini kedua lawan bertemu lagi ditengah barisan bongkot dupa.

Kaki kiri Ai-pong-sut Thong Cau menutul bongkot dupa, jelas dia meng g una kan gaya sian-jin-ci-to (sang dewa menunjuk jalan), namun gaya yang indah  ini menyembunyikan tipu Hun-liong-tam-jiau (naga ulurcakar dibalik mega) yang cukup cepat dan fatal bila mengenai sasarannya, apalagi yang diserang adalah Hoa-tay-hiat ditubuh Hoat-liau Siansu.

Bila serangan begini sudah di lancarkan yang diutamakan adalah serangan telak tak kenal kompromi, hanya sekali dansekejap. namun harus melihat gelagatpula, bila lawan menangkis dan melawan dengan tipu lain, maka gerakannya itu akan berobah dalam belasan variasi yang mengaburkan pandangan, maka serangan ini sekaligus juga menunggu reaksi lawan lalu bertindak secara telak.

Sudah tentu Hong-liau Siansu tahu betapa lihay pukulan ini, tenaga sedikit dikerahkan dikaki kiri, tubuhnya berkelebat kekiri, kaki kanan menendang kekanan, begitu tubuh bagian atas ketarik kekiri, dia kelit dulu pukulan dari a rah depan, agaknya dia segan melawan pukulan sisa Ai-pong-sut, disinilah letak kelicinannya, namun telapak tangan kiri justru merogoh keluar mengancam lengan kanan Ai-pong-sut malah.

Permainan pukulan telapak tangan Siaulim yang satu ini memang jauh berbeda dengan pukulan telapak tangan umumnya, apa lagi Thong-sian-pat-hoat sesungguhnya adalah Kungfu tunggal Siau lim-pay yang hebat, setiap jurus setiap gerakan mengandung perobahan yang tak habis-habis, makin cepat serangan dilancarkan semakin cepat pula ditarik balik, kelengan kanan lawan padahal hanya gerakpancingan belaka, mendadak dia malah menarik telapak tangan kiri, berbareng tubuh bagian atas dia tarik kekiri, sebat sekali telapak tangan kanan sudah membalik dengan jurus To-tiam kim-teng (menyulut terbalik lampu emas) dalam gaya Hong-pi-ciang memukul rusuk Ai-pong-sut. Pukulannya membawa deru angin kencang dan deras sekali.

Melihat pukulan lawan dengan cara mematahkan serangannya, Ai-pong-sut lantas tahu bahwa lawan menggunakan Thong-sian-pat-hoat untuk menghadapi ilmu tunggalnya. Karena jurus serangannya luput, kaki kanan menutul balik ke belakang pada bongkot dupa disebelah kiri. tenaga dikerahkan dari pusar, disalurkan kedua lengan, tubuhnya seringan daonjatuh berputar diatas dupa, kecuali menarik tangan diapun menyurutkan badan, bila ujung bajunya yang lebar panjang itu diabitkan, laksana roda kereta yang menggelinding secepa kilat menyerang dari sayap kanan Hoat-liau siansu. Berkelit sambil balas menyerang dilaksanakan berbareng, cepatnya susah diikuti pandangan mata.

Melihat gaya permainan lawan serba cepat dan kilat, kaki kanan yang semula menjajag kekiri sekalian dia gunakan cara yang berbahaya, kaki kiri tetap tidak bergeming, hanya mengguna kan kekuatan tenaga pusar kaki kanan dia tarik balik sambil miring kan tubuh, hingga tubuhnya terpelintir kearah lain, lalu mendadak berjongkok. seperti orang yang mendadak kejeblos dilobang yang tak kelihatan, kaki kanan menutul bongkot dupa didepan, hingga dia sempat menarik kaki kiri, dua telapak tangannya terpentang. telapak tangan kanan memukul miring kebelakang dengan Toa-cui-pi-iu berbalik dia menyapu kedua lengan Ai-pong-sut Thong cau.

Ai-pong-sut Thong- cau tetap menggunakan langkah naga melingkar, menarik gerakan berantai, hingga kedua pihak tanpa berjanji bergerak jurus lawan jurus tipu lawan tipu, yang lain menendang lawan balas menyepak, namun kedua pihak berkelit pula bersama, kini yang satu berkisar ketimur yang lain kebarat, keduanya berputar mengelilingi arena.

Begitu Hoat-liau Siansu berada di timur, sebat sekali Ai- pong-sut Thong cau berputar tubuh dengan gerakan terbang menubruk maju, beruntun dia melompat lima bongkot dupa mengejar dibelakang Hoat-liau Siansu, dua jari tangan kanan dengan jurus

Siang-liong-tam-cu (dua naga merogoh mutiara) menutuk ke Gick-im-.la ditubuh Hoat-liau Siansu.

Hoat-liau Siansu membelakangi lawan, pada hal kakinya sudah berada diatas dupa paling pinggir, belum lagi tubuhnya membalik, angin tutukan sudah menyerang tiba, lekas dengan gerak Gick-bong-hoan-sin (ular sanca membalik tubuh) dia berputar kekiri sambil mengipat kepala, hingga tutukan jari Ai- pong-sut menyerempet bawah kupingnya, berbareng dia kerjakan telapak tangan kiri dengan Kim-jijiu (jepitan tangan emas ) meng unci kepusar Ai-pong-sut Thong cau.

Jurus ini mengandung perobahan yang cepat dan keji, meng and a ng tenaga besar pula, siapapun yakin bahwa Ai- pong-sut Thong cau kali inipasti terluka dan kecundang oleh serangan lihay Hoat-liau Siansu ini. Diluar tahunya Liong-sing-pat-siang Ciptaan Ai-pong-sut memang sudah teruji sebagai ilmu pukulan tingkat tinggi sedikit meng gonjot tubuh mendadak dia melambung ke atas dipermukaan dupa, ujung kakinya menendang kepala Hoau- tiau Siansu yang gundul.Jurus serangan balasan ini teramat berbahaya namun juga lihay, jikalau sedikit kurang tenaga yang dikerahkan, atau terlambat sedikit -aja, bukan saja permainannya itu bakal gagal, kemungkinan besar dia sudah terluka dan roboh oleh kelihayan lawan-

Mimpipun Hoat-liau Siansu tidak menduga bahwa lawan yang gendut ini berani main lompat diatas udara dengan permukaan dupa yang gampang roboh ini, lekas dia berputar kekiri beruntun kakinya berpindah ke beberapa bongkot dupa, dengan kemahiran silat dan langkah yang terlalu apal diatas dupa ini, namun ujung sepatu Ai-pong-sut sempat menyerempet kulit kepalanya yang gundul, hampir saja dia terjungkal jatuh kebawah.

Sampai dengan babak ini, Hoat-liau Siansu sudah terhitung kalah setengah jurus, namun bermain diatas dupa adalah kemahirannya, disamping wataknya yang angkuh dan tinggi hati, mana dia mau terima kalah, malah sebaliknya membakar amarah dan sifat liarnya.

Tubuh Ai-pong-sut yang melambung kearah timur meluncur lewat diatas kepala lawan, diatas dupa tidak boleh sembarang lompat tinggi danjauh, karena kakinya tak mungkin pinjam tenaga terlalu besar, semua gerakan seenteng kecapung itu hanya diandasi tenaga dalam yang murni, setelah beruntun melampaui lima bongkot dupa baru dia meluncur turun.

Nafsu Hoat-liau Siansu sudah membakar emosinya, cepat dia barputar sambil mendesak maju, sigap sekali dia berkelebat di mana Ai-pong-sut akan menghinggapkan kakinya, kali ini tak kepalang tanggung dia menggunakan Pan- sian-ciang menggebuk punggung Ai-pong-sut. Waktu Ai-pong-sut berspekulasi menggunakan Liong-sing- pat-ciang, dia sudah menduga dan mempersiapkan diri bila Hoat-liau Siansu balas menyergap dari arah belakang, maka begitu kakinya menutul bongkot dupa. secara reftek dia sudah menggeser tubuhnya kepinggir. Bagi pertempuran jago lihay, bagi yang berada disebelah depan, sedikit pikiran tergerak. secara reftek kedua pundak akan bergerak. bila yang mengudak seorang kosen, tenaga pukulannya dilancarkan mengikuti gerak badannya, mana mungkin dia bisa meloloskan diri dari pukulan lawan, Namun Ai-pong-sut ternyata mempunyai bekal pengalaman dan gemblengan yang luar biasa didalam pertempuran ditempat seperti ini, maka Hoat- liau Siansu sedikitpun tidak melihat adanya tanda-tanda gerak perobahan lawan-

Bila Hoat-liau Siansu kebacut melontarkan pukulannya, dengan lincah Ai-pong-sut sudah berkisar balik kepinggir kiri lawan, kedua lengannya membundar dengan jurus ong-liong- ban-cu (naga hitam melilit Saka), kedua telapak tangannya membelah rusuk kiri Hoat-liau Siansu.

Begitu pukulan Hoat-liau Siansu luput, serangan kedua Ai- pong-sut sudah tiba, pada hal tubuhnya mendesak terlalu dekat, berkelit sudah terlambat, dalam keadaan terdesak terpaksa dia gunakan Lian-tay-payhud (menyembah Budha dipanggung teratai), dengan pukulan berat laksana barisan gunung yang kokoh dia nekad mengadu kekuatan dengan Ai- pong-sut untuk gugur bersama. Tekad Hoat-liau yang nekad ini memang berani dan lihay, dalam detik yang berbahaya ini maka dia harus berani bertindak secara berbahaya pula, kedua telapak tangan mendadak menggencet masuk terus didorong bersama ke luar, angin pukulannya sudah memyampuk muka Ai-pong-sut, mendadak terdengar suara "He" ditengah gentakan suaranya dia gunakan pukulan berat Siau-lim-pay yang harus dibarengi dengan bentakan dan mengerahkan tenaga bersama melontarkan pukulannya. Ai-pong-sut Thong cau melancarkan gurusJiong-liong-kian- bwe (naga sakti menggulung ekor) meng gunakan kedua tangannya angin pukulannya juga sudah menyentuhjubah lawan, hanya tinggal mengerahkan tenaga, maka Hoat-liau Siansupasti akan toboh binasa ditengah barisan dupanya sendiri. Tak nyana Hoat-liau siansu justru nekad mengajak dirinya gugur bersama dengan serangan balas an yang mematikan, tidak berusaha mematahkan serangannva malah balas menyerang dengan jurus mematikan pula. Betapapun luas pengalaman dan tabah hati Ai-gong-sur, dalam keadaan seperti ini, terpaksa dia harus menyelamatkan jiwa sendiri.

Pada hal gebrak ini berlangsung teramat cepat, kalau dituturkan cukup panjang memenuhi Halaman buku ini, pada hal kejadian hanya dalam waktu sekejap belaka.

Untuk menolong diri lekas Ai-pong-sut menurunkan tangan menarik serangan, tenaga pukulannya secara mentah dia kisar kepinggir sementara telapak tangan kiri merogoh keatas di tengah pukulan kedua tangan lawan berbareng telapak tangan kanan membalik dengan jurus Hun-liong-sam-sian untuk mematahkan Liang-tay-pay-hud lawan-

Hati Hoat-liau sudah dilembari keinginan jahat, kini dia tidak ingin menang, maka jurus serangannya amat keji dan telengas.

Tak nyana baru saja pukulan dilontarkan, Ai-pong-sut Thong cau sudah melaucarkan Hun-liong-sam-sian- Secara mendadak dia menarik serangan hingga kedua telapak tangan ditekan kebawah dengan Pay-san im-ciang, dengan seluruh kekuatannya dia menggempur lambung Ai-pong-sut. Gaya serangannya ini bukan olah-olah lihaynya, telapak tangan Ai- pong-sut Thong cau sudah kebacut terbalik keatas begitu pukulannya mendadak menepuk turun, siapapun takkan mungkin menolong diri, jelas lawan bakal terpukul jatuh kebawah barisan dupa. Hebat memang kepandaian Ai-pong-sut ketenangannya luar biasa meski menghadapi bahaya, dalam keadaan kepepet yang tidak mungkin menolong diri, secara lembut dia berhasil menekuk tubuh miring keatas, bukan saja separo tenaga pukulan lawan sudah punah, sekaligus dia balas menyerang denganjurus Kim-liong-to-kak (naga emas melempar sisik), kedua lengannya dengan deru angin kencang menyambut keluar. Menghindar sambil balas menyerang, cepatnya luar biasa.

Mimpipun Hoat-liau Siansu tidak menduga, dalam keadaan yang tersudut dan tak mungkin begitu lawan masih mampu berbuatsejauh itu, apalagi cepat pula. Padahal melihat serangannya hampir mengenai sasaran, hatinya sudah senang hingga gerakan sedikit kendor, perhatianpun lena,  bila pukulan balasan lawan menderu tiba, sadarpun sudah terlambat.

"Blang" suaranya tidak keras, namun secara telak pundak kirinya kena pukul. Tubuhnya mencelat jatuh dibawah bongkot dupa malah terhuyung lagi Hingga barisan bongkot dupa itu diinjak-injak porak peronda. Sampil menahan sakit dengan sikap bengis dia membentak kepada Ai-pong-sut: "Thong- lo tangkeh memang berilmu sakti, selama Lolap masih bernapas, tiga tahun lagi pasti menuntut balas kekalahanku hari ini." lalu dia berputar kearah Kong-tong-koay-khek Seng lh hun katanya dengan tertawa getir: "Kedatanganku kali ini semula dengan harapan besar untuk membantu melenyapkan bencana yang mengancam perkampunganmu, tak nyana aku malah terjungkal mendapat malu, hari ini malu aku tetap tinggal disini, biarlah Lolap mobon pamit dulu." tanpa menungga reaksi Kong-tong-koay-khek Seng Ih-hun dia sudah melompat jauh keluar, beberapa kali lompatan pula, tubuhnya yang sudah lenyap diluar perkampungan.

Setelah Hoat-liauSiansu pergi, betapapun picik dan licik Kong-tong-Koay-khek Seng lh-hun juga tak tahan menahan malu dan gusar, sesaat alisnya berkerut, tapi tak malu dia sebagai gembong Kangouw yang culas, hanya sekejap sikapnya sudah wajar seperti tidak terjadi apa-apa, katanya tertawa: "Thong- lo-tangkeh memang berkepandaian tinggi, Losiu sungguh kagum..."

Sebelum habis dia bicara, Tho-hoa-siu-su sudah menimbrung sambil maju selangkah, "kalah menang adalah kejadian biasa, babak selanjutnya biar Siaute yang mencoba." lalu dia berpaling kearah Thong cau, serunya:

"cayhe punya kepandaian yang tidak becus, mohon petunjuk beberapa jurus main senjata rahasia diatas paya- paya kembang itu kepada Locianpwe." lalu dia buka telapak tangannya kearah Ai-pong-sut menunjukan segenggam Bo- dhi-soa yang rata- rata sebesar kacang hijau.

Mendengar orang menantang Ai-pong-sut main senjata rahasia dipaya-paya kembang itu, Liok Kiam-ping tahu lawan hendak mencelakai jiwa Ai-pong sut dengan Bo-dhi-soa yang jahat itu. karena senjata rahasia itu rata-rata dapat disambitkan sejauh lima tombak dan jarang gagal, padahal dalam jarak tiga tombak saja sulit mengelitnya, kuatir terjadi yang tidak dlinginkan segera dia tampil ke depan, katanya: "Pernah kudengar Bodhi-soa selama puluhan tahun amat ditakuti kaum Bulim, cayhe tidak tahu diri ingin menjajal kemahiran seorang kosen untuk membukamata menambah pengetahuan."

Berdiri alis Tho-hoa-siu-su, katanya dingin: "Terlalu berat ucapan Liok-pangcu, kepandaian cayhe yang tidak patut ditonton ini, kebetulan mendapat petunjuk seorang lihay, Pangcu sudi member ipetunjuk. mana cayhe berani tidak menerimanya." lalu dia menjura serta membuka kedua tangan, "Silakan Pangcu "

Kaki menjejak tangan, terpentang dengan gaya bangau menjulang kelangit tubuhnya melambung lima tombak tingginya, ditengah udara bersalto sekali mendemonstrikan keindahan tubuhnya yang menggeliat enteng lalu meluncur turun kearah selatan paya-paya kembang, dengan tersenyum lebar dia membalik ke arah sini, Ginkangnya memang sudah, matang. Liok Kiam-ping mendengus hidung, diam-diam menarik napas, tenaga dikerahkan dari pusar, tak kelihatan  dia menggerakan badan, mendadak tubuhnya mumbul keudara hingga tujuh tombak tingginya setelah mencapai ketinggian baru berhenti, kakinya terangkat dan bergerak seperti orang naik tangga, tubuhnya meluncur miring kebawah berhenti di sebelah utara Tho-hoa siu-su Ginkang langkah enteng diudara kosong yang dipertontonkan Liok Kiam-ping betul-betul membuat seluruh hadirin terbeliak kaget dan kagum.

Tho-hoa-siu-su sendiri juga melenggong, namun wataknya angkuh tak mau kalah, apapun harus bertarung dulu, apalagi dia yakin Bo-dhi-soa yang dimiliki mempunyai kehebatan yang tak dimiliki orang lain, umpama tidak bisa menang, kalau hanya melindungi diri yakin masih mampu. Rasa takut seketika sirna, sebat sekali langkahnya berkisar dari timur ke tenggara, langkahnya enteng dan lincah.

Dengan santai Liok Kiam-ping beranjak kearah barat laut membelok ke utara, kelihatannya dia bergerak lambat, pada hal cepatnya luar biasa, dia hanya menggunakan separo tenaga namun kecepatannya sudah sebanding dengan Tho- hoa-siu-su, dalam waktu yang sama mereka tiba dibarat dan timur lalu berdiri beri hadapan pula.

Setelah kedua orang berputar satu bundaran ditengah paya-paya kembang, langkah mereka makin cepat. Yang seorang berloncatan seperti kecapung seindah burung Camar melawan gelombang samudra. Sebaliknya yang lain melangkah enteng dan santai seperti orang bertamasya layaknya menikmati keindahan alam, langkahnya cepat lembut laksana mega mengambang seperti air mengalir berkepanjangan. Lama kelamaan bayangan mereka semakin kabur dan remang-remang hampir tidak kelihatan, kini yang terlihat tinggal dua bayangan putih berkelebat turun naik menyusuri ping gir paya-paya, susah dibedakan lagi mana Liok Kiam- ping, yang mana Tho-hoa-siu-su, saat itu bayangan mereka membelok dipojok paya-paya kembang yang luasnya hanya setombak lebih, hingga jarak kedua pihak semakin dekat Di saat keduanya beri hadapan mendadak Tho-hoa-siu-su memperlambat gerak langkahnya berbareng tubuh setengah diputar sambil mengayun lengan dan menghardik pelahan: "Lihat serangan-" segumpal bayangan hitam bertaburan dari tangannya, berbagai Hiat-to penting ditubuh Liok Kiamping menjadi sasaran utama.

Padahal Tho-hoa-siu-su baru menghardik perlahan setelah Bo-dhi-soa ditangannya ditimpukan, hingga suara terdengar pasirpun sudah menyerang tiba dalam waktu yang sama.

Sejak mula Liok Kiam-ping sudah waspada, melihat orang memperlambat langkah, lantas dia tahu bahwa lawan akan bertindak, maka dia sudah mempersiapkan diri, Bila gumpal hitam dari pasir lawan meluncur tiba. Ditengah jengek dinginnya, dia menjengkang tubuh bagian atas kebelakang, bobot tubuh seluruhnya dipusatkan diujung kakinya yang berdiri dipinggir paya-paya kembang, maka Bo- dhi-soa meluncur lewat didepan mukanya.

Tangkas luar biasa Liok Kiam-ping menggentak kedua lengan keatas hingga pinggangnya terangkat, sedikit paha mengerahkan tenaga, badannya lantas terbalik bagai gangsingan berputar. Disaat tubuh masih berputar itulah tangannya sempat memetik sebatang ranting pohon, begitu tubuh berdiri tegak dia balas menghardik: "Sambut serangan." tanganpun terayun. Selarik bayangan kelabu bagai anak ranah mini melesat kearah Tho-hoa-siu Su.

Bahwa serangan Bo- dhi-soa pertama luput, Tho-hoa-siu-su dibuat takjub oleh cara Liok Kiam-ping mendemonstrasikan keindahan gerak tubuhnya, baru saja dia menyiapkan serangan kedua, Liok Kiam-ping sudah menghardik dan balas menyerang dengan luncuran bayangan kelabu.

Sebagai ahli senjata rahasia, setelah dia mendengarkan dengan cermat, ternyata tak mampu dia membedakan senjata rahasia jenis apa yang digunakan Liok Kiam-ping untuk menyerang dirinya, karuan kejut dan curiga pula hatinya. Sekilas dia melenggong itulah, bayangan kelabu itu sudah melesat tiba, lekas dia miring kan tubuh sambil meraih tangan menangkap Am-gi lawan, namun karena daya luncurnya kuat luar biasa, telapak tangannya tergetar pedas dan sakit.

Waktu dia membuka telapak tangan, kiranya hanya secuil ranting kembang kecil panjang satu dim lebih, karuan hatinya merasa dingin dan bergidik, maklum ranting kembang sekecil itu bobotnya juga amat ringan, orang biasa menimpuknya juga takkan terlempar jauh, namun waktu dia meraih ranting sekecil ini terasa betapa besar tenaga lemparan lawan, ini menandakan bahwa orang memiliki Lwekang yang betul-betul mengejutkan.

Untung dalam pertandingan ini dirinya tidak mengadu tenaga, malah dari lemparan ranting kembang ini dapat diduga bahwa lawan tidak punyapermainan senjata rahasia yang patut dibuat takut, kalau tidak mana mungkin balas menyerang dengan hanya ranting kembang? Maka Tho-hoa- siu-su berpikir jikalau aku tidak keluarkan kemahiranku, mungkin hari ini aku takkan mampu mengalahkan dia."  setelah hati berkeputusan, niat jahatpun timbul dalam hatinya.

Kaki menutul kembali dia meneruskan langkahnya meluncur kedepan. Kembali kedua orang ini berputar mengelilingi pingggir paya-paya kembang,jaraknya separo dari seluruh lebar paya-paya kembang, makin lari makin cepat, kini susah dibedakan lagi bayangan mereka.

Liok Kiam-ping insaf bahwa lawan berani menantang adu senjatai rahasia serta menggunakan Bo-dhi-soa, tentu mempunyai kepandaian khusus yang hebat, apalagi Bo-dhi- soa sendiri teramat ganas, maka jarak dirinya dengan lawan tidak boleh terlalu dekat maka sejauh ini dia hanya kerahkan tujuh bagian, tenaganya saja, sisa yang lain untuk bersiaga menghadapi segala kemung kinan, apalagi dia tahu lawan manusia culas dan telengas.

Saat itu dari tenggara dia sedang meluncur kearah timur, ujung kakinya baru menutul pinggir paya-paya kembang. Tho- hoa-siusu sudah mengincar tepat, mendadak dia menghardik dari arah barat laut, tangan kiri bergerak dengan jurus Hay-te- tam-gwat (merogoh tembulan didasar laut). maka segenggam Bo-dhi-soa melesat lurus menyusuri langit-langit paya-paya kembang terus menukik turun setelah jarak dekat menggulung bagian bawah tubuh Liok Kiam-ping, senjata rahasia sudah ditimpukan baru dia bersuara, dari sini dapat dinilai betapa jahat hatinya.

Untung Liok Kiam-ping sudah mempersiapkan diri, melihat Bo-dhi-soa menggulung tiba, tumitnya sedikit menutul, tubuhnya terapung lima kaki menghindar serangan bagian bawah. Tak nyana baru saja tubuhnya terapung. Tho-hoa-siu- su kembali mengayun tangan kanan, segenggam Bo-dhi-soa yang lain telah ditaburkan, kali ini daya luncurnya jauh lebih kencang.

Kejadian amat mendadak perobahanpun tak terduga, bila orang lain mungkin takkan bisa menyelamatkan diri dari ancaman elmaut ini. Untung Liok Kiam-ping memiliki kelebihan yang luar biasa dari manusia umumnya setelah berulang kali dia mendapat penemuan aneh, rejeki selalu nomplokpada dirinya, kini lwekangnya boleh dikata sudah tiada taranya, menghadapi elmaut dia masih berlaku tenang, segera dia mengempeskan pusar menggentak kedua tangan hingga tubuhnya yang mulai melorot kebawah dia tarik mumbul pula lima kaki lebih tinggi, gumpalan pasir itu melesat lewat dibawah kakinya, sungguh berbahaya sekali. Serangan gelap Tho-hoa-siu-su yang menggunakan cara licik dan melanggar aturan Bulim telah membangkitkan amarah Liok Kiam-ping, apalagi dia tahu lawan yang satu ini sering mengganas dengan pasir beracunnya itu, maka timbul keinginan membunuhnya demi keselamatan umat manusia umumnya, apalagi meraka yang tidak berdosa supaya tidak konyol ditangannya.

Diam-diam dia kerahkan tenaga sembari mengembang kedua lengan, tubuhnya melambung datar, beg itu kedua kaki memancal, seperti naga yang mengegot tubuhnya meluncur turun tepat disebelah utara. Bentuk para-para kembang ini memanjang sempit, paling lebar hanya tiga tombak. maka Kiam-ping kerahkan Kim kong-put-hoay-sin-kang untuk menahan Bodhi-soa, secara tidak terduga dia balas  menyergap pula, baru akan bisa mengalahkan lawan-

Tapi Kim- kong-put-hoay-sin-kang hanya mampu menahan serangan Bo- dhi-soa dalam jarak dua tombak, kurang dari dua tombak Kiam-ping tidak yakin dapat menahannya. Maka dia harus bertindak di kala kedua pihak berganti posisi, satu diutara yang lain diselatan, sengaja harus mengincar kedudukan yang tepat lalu dia melayang turun tepat diutara para kembang.

Dua kali serangan gagal, Tho-hoa Siusu sudah melengak heran, lekas dia bergerak maju kedepan dan tepat berada di selatan.

Sebelum lawan bergerak pula Liok Kiamping sudah mengayun tangan kanan seraya membentak: "Awas." segulung angin kencang meluncur kearah Tho-hoa Siusu.

Lekas Tho-hoa Siu-su mengebut lengan baju, "Plak" setangkai ranting kering dikebasnva mencelat beberapa tombak jauhnya. Sebelum dia berputar arah, ranting kedua sudah meluncur tiba pula dari arah depan, Menyusul ranting ketiga dan keempat memberondong secara beruntun. Terpaksa Tho-hoa Siusu menarik kedua lengan bajunya, maka suara plak-plok beruntun memecah kesunyian, ranting kayu beterbangan.

Untung Liok Kiam-ping hanya berusaha mencegah gerak majunya, serta memancing kemarahnya, padahal tiada niatnya melukai lawan, maka ranting kayu selalu ditimpukan tepat dari depan.

Tho-hoa Siusu makin cepat menarikan kedua lengan bajunya, sementara serangan ranting Liok Kiam-ping juga makin gencar, saking kerepotan Tho-hoa Siusu sampai merasa lelah dan memburu napasnya. Hanya sekejap Tho-hoa Siusu terdesak mendelik gusar wajahnya merah padam, mendadak dia menghardik sekali, tubuhnya menyurut mundur meluputkan diri dari serangan telak yang datang dari depan- Berbareng dia ayun tangan, segumpal bayangan hitam meluncur lurus kearah Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping sudah siap siaga maka dia tidak merasa jeri, Kim- kong-put-hoay-sin-kang dikerahkan mencapa ipuncaknya, tubuhnya tidak berkelit tidak bergerak. dengan cermat dia menatap lurus kedepan.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).