Hong Lui Bun Jilid 22

Jilid 22

Baru pukulan dilontarkan, tampak oleh Gin-jitay-beng pundak orang b ergerak. untung pengalaman tempurnya amat luas, segera dia tahu lawan akan menggunakan tipu licik yang jahat, terutama dia tahu Biausan-si-sat memiliki kepandaian menimpuk pisau terbang, maka Sebelumnya sudah siaga.

Begitu sinar dingin melesat lekas dia menurunkan pundak kanan, sementara samberan pukulannya menyamber ke kiri, berbareng tenaga dipusar dikerahkan hingga tubuhnya setengah terbalik, kedua kaki menekuk dan menjejak, tubuhnya melayang setombak lebih kesebelah kiri.

Dikala pukulan menyapu kekiri itulah di dengarnya Nyo Hou mengerang tertahan, ternyata pundaknya kesapu pukulan hingga terhuyung tiga langkah. Untung dia bertindak nekad, di saat terancam jiwanya menimpukan pisau terbang, kalau tidak pukulan Ginjitay-bang yang kena pundaknya itu pasti menamatkan jiwanya.

Belum lenyap rasa kagetnya. mumpung Gin-jiay-bang melayang kesebelah sana, kembali Nyo Hou menimpuk sebatang pisau tanpa menyaksikan apakah timpukannya dapat melukai musuh, segera dia bersuit memanggil saudaranya lalu mendahului lompat keatas genteng dan lari kejalan raya.

It-cu-kiam Koan-yong sedang melabrak Nyo Hong, orang ketiga dari Biau-san-si-sat, dalam tiga puluh jurus mereka tetap berimbang, namun permainan pedang Koan Yong lebih lihay hingga lawan dicecarnya makin terdesak mundur. Permainan pedang panjang Koan Yong memang peranti untuk menyerang musuh, tiada pertahanan, maka begitu dikembangkan, lawan yang kira-kira setaraf kepandaiannya pasti sukar membendang gelombang serangan yang memberondang seperti ombak lautan, apalagi Nyo Hong tidak bersenjata, taraf kepandaiannya setengah tingkat lebih rendah, karuan dia tak kuat melawan lagi.

Lima puluh jurus lemudian, Nyo Hongjelas tak kuat melawan lagi. It-cu-kiam melancarkan jurus Heng-sau- Jian- kun, pedang menyambar daritengah menyapu ping gang Nyo Hong, gerak pedang bagai melayang tertiup angin, sehingga perbawa serangan initampak lihay dan menakupkan.

Sudah tentu Nyo Hong tak berani ayal, dia tahu sapuan pedang ini amat lihay, lekas dia menjengkang tubuh kebelakang, berbareng kakinya menutul bumi, dengan gerakan ikan gabus melompat melawan arus tubuhnya meluncur kebelakang hampir satu tombak. Melihat lawan lolos dari samberan pedangnya, ditengah jalan Koan Yong menghentikan gerakan lalu melompat maju mengejar, kali ini pedangnya membabat kedua kaki Nyo Hong dengan jurus Sim-lui-si-te.

Baru saja Nyo Hong menginjak tana h, pedang sudah menyambar tiba, secara reflek dia mencelat keatas, "Sret" alas sepatunya terpapas hilang, karuan rasa kagetnya bukan main, langsung dia melompat minggir sejauh mungkin. Kali ini dia tak berani ayal lagi, sambil melayangkan tubuh sebelah tangannya bergerak. selariksinarputih melesat dari tangannya melesat kearah It-cu-kiam Koan Yong.

Pedang Koan Yong sudah bergerak hendak menyerang pula, mendadak dilihatnya selarik sinar putih melesat kemukanya., dia tahu lawan menimpuk pisau terbang, karena jarak teramat dekat, berkelit tidak mungkin, lekas diaputar pedangnya hingga pisau terbang disampuknyajatuh. Disaat itulah Nyo Hong berkesempatan melompat tinggi meluncur keluar pagar.

Dalam babak lain Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay yang melabrak Nyo Hun juga tengah beri hantam sengit, Tan Kian- thay mengeluarkan Pat-kwa-to-hoat dari perguruanSan-seng- bun yang kokoh dan berat, melabrak Nyo Hun yang bergerak lincah dan tangkas, sebetulnya mereka cukup berimbang, untung Tan Kian-thay mengkombinasikan permainan golok dengan tinju tangan kiri, begitu golok menyambar tahu-tahu tinju mengancamjiwa lawan, sehingga Nyo Hun yang lincah dan licin ini merasa kewalahan juga, serangan dan permainannyapun diperhitungkan dengan cermat kalau tidak mau tertabas golok berat lawan- Dengan menggunakan kelincahan tubuhnya Nyo Hun mengharap dapat menguras tenaga lawan baru akan balas merangsaknya, maka permainannya meski cukup terdesak. tapi dia masih bertempur setengah santai. Pengalaman tempur Tan Kian-thay lebih matang, dia tahu tujuan lawan hendak membikin lelah dirinya, sudah tentu dia juga harus memperi hitungkan kondisi sendiri, lekas dia pusatkan perhatian, melawan dengan tabah dan mantap. hingga lima puluh jurus kemudian, tiba-tiba timbul akal dalam benak Tan Kian-thay, mendadak dia menghardik sekali, golok ditangan kanan mencacar lima jurus, sementara tinju kirinya menghantam tiga kali.

Nyo Hun kira lawan sudah bernaftu merobohkan dirinya, diam-diam dia senang dalam hati, tetap menggunakan kelincahan tubuhnya dia berkelit kian kemari sambil melompat dan menyelinap setangkas kera, tapi rangsakan lawan memang teramat gencar, beruntun dia harus mundur lima langkah secara zig-zag.

Tan Kian-thay tidak memberi angin, serangannya bertubi- tubi, meski Nyo Hun kembangkan ginkangnya, namun kesempatan balas menyerang sudah tak berhasil direbutnya. Dalam keadaan tercecar dia masih kuat bertahan dua puluh jurus. Saat itulah Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay mulai memperlih atkan gerakannya yang lambat, kacau dan ngawur, napasnyapun mulai memburu. Waktu itu dia tengah menggunakan tipu Poat-hong-pat-bak (delapan kali pukul menyibak angin) sekuatnya dia ayun goloknya membelah kepala Nyo Hun, deruan angin menggulung, perbawanya memang hebat, selintas pandang seperti ingin gugur bersama.

Nyo Hun kembangkan kelincahan gerak-geriknya, sekali berkelebat dia menyelinap kebelakang Tan Kian-thay. Kebetulan golok berat lawan yang membelah kena tempat kosong, serangan tak mungkin ditarik balik lagi. Nyo Hun sudah mengincar benar, mendadak dia ayun kedua telapak tangannya menggaplok ci-tong-hiat dipunggung Tan Kianthay.

Diluar tahunya Tan Kian-thay sengaja memancing serangannya ini, kupingnya mendengar gerak kedua tangan Nyo Hun, lekas dia mengendap tubuh kedepan, ujung golok menopang tanah segesit tupai dia melompat berputar kekiri, berbareng tinju tangan kirinya memukul pergelangan kiri Nyo Hun

Nyo Hun sudah girang bahwa serangannya bakal berhasli, maka dia sedikit lena, tahu-tahu bayangan orang berkelebat, "Plak" pergelangan tangan kiri seperti terpukul martil, sakitnya bukan kepalang. Gusar dan benci membara dalam rongga dadanya, nafsu jahatpun timbul, sambil gertak gigi menahan sakit, tangan kanan beruntun menimpuk tiga kali, tiga batang pisau terbang meluncur beriring.

Bahwa pancingannya berhasil memukul tangan musuh, tiba-tiba didengarnya Nyo Hong yang melawan It-cu-kiam bersuit dua kali, lalu didengarnya pula suara  pakaian melambai tampak Giniji-tay-beng, It-cu-kiam dan para Hiangcu mengudak keluar tembok. Tahu perobahan telah terjadi lekas Tan Kian-thay menjejak kaki ikut mengudak kesana. Diluar tahunya tindakan ini telah menolong jiwa sendiri, karena tiga batang pisau timpukan yo Hun seluruhnya jatuh menubruk tembok.

Sudah tentu Nyo Hun cepat angkat langkah seribu juga. Bila Gin-jay-beng, beramai memburu tiba ketempat Liok Kiamping, musuh yang mengepung diluar juga membanjir masuk, hingga arena pertempuran dipagari kepala manusia.

Sambil bertolak pinggang Siu-Jan menyapu pandang, dilihatnya seluruh orang-orang Hong-lui-pang sudah terkepung, maka dengan terkekeh pongah dia berkata: "Begini lebih baik, kalian kumpul jadi satu, menghemat tenaga Lohu malah."

"Mengandal permainan badut kalian, orang she Liok tidak perlu merasa kuatir, hutan golok barisan pedangpun tak terpandang olehku, hayojah kalian boleh majU seluruhnya."

"Bocah jumawa, dalam wilayah kerajaan yang terlarang, memangnya kaU boleh mengganas, pasukan kerajaan sudah mengepung tempat ini, sedikit beting kah kalian akan dihujani anak panah. Menyerah saja dan ikut Lohu masuk ke istana, curahkan isi Hatimu kepada ongya, mungkin hukumanmu tidak berat, kalau membangkang, hehehe..."

"Kalau membangkang kenapa?"

"Hong-lui-pang ditumpas, keluarga kalianpun tak luput dari hukuman, semua akan dihukum cacah dan gantung."

"Kau kira kami gentar dan tunduk oleh obrolanmu" "Inilah perintah dan hukum, berani kalian melawan?"

”Jangan sewenang-wenang, meminjam perintah palsu untuk menindas kita, perbuatanmu lebih rendah dari kawanan rampok, jikalauperbuatan kotormu diketahui Baginda, yakin ongya kalianpun takkan bisa menyelamatkan batok  kepalamu."

"Kunyuk keparat, kematian didepan mata masih berani bertingkah, malam ini jangan harap kau bisa lolos serahkan jiwamu." demikian bentak Siu-Jan lalu memberi kedipan mata kepala Pa-kim Tayhud.

Sebat sekali kedua orang ini brputar kekanan kiri, empat tangan merabu kearah Liok Kiam-ping dari dua a rah.

Kedua orang ini sudah benci dan d end am, tanpa hiraukan kedudukan dan rasa malu, segera maju bersama mengeroyok Liok Kiam-ping, besar tekad mereka untuk membinasakan Liok Kiam-ping yang dianggapnya sebagai duri didepan mata.

Dua gulung angin mengamuk melanda dari samping menggencet ketengah. Menghadapi keroyokan dua musuh tangguh sudah tentu Liok Kiamping tidak berani ayal, dia kembangkan Leng-hi-pou hingga gerak geriknya laksana bayangan setan, begitu melayang lima kaki kedepan, dia menghindari gencetan dahsyat itu, berbareng menggentak kedua lengan kekiri kanan dengan landasan tenaga besar. "Blum, byar." dua kali ledakan yang berbeda volume suaranya, tiga orang yang adu tenaga tersurut mundur setapak.

Mumpung ada kesempatan segera Gin-jitay-beng membentak: "Kawanan tikus yang main keroyok. Rasakan pukulan Lohu." segulung tenaga pukulan bagai gugur gUnung menerjang punggung Siu-Jan Karena gusar dan benci akan perb uatan musuh yang licik dan kotor, maka diapun membokongnya setelah bersuara lebih dulu, pukulannya amat dahsyat.

Lekas Siu-Jan menggeser tujuh kaki kesamping, begitu membalik badan dia balas menampar kearah Gin-ji-tay-beng. Bahwa gempuran luput Gin-jay-bong sudah siaga menyambut serangan musuh, begitu Siu-Jan menampar dia mendengus sambil pasang kuda-kuda, kedua tangan ditepukkan dengan seluruh kekuatannya. Begitu pukulan beradu menimbulkan goncangan keras Hwe-giam-lo Siu-Jan tertolak mundur tiga langkah. Sementara Gin-jitay-berg tergeliat mundur satu langkah.

Melihat dirinya lebih unggul, berkobar semangat tempurnya, beruntun dia merangsak dua jurus pula. Siu-Jan menggertak gigi, beruntun dia sambut lagi dua pukulan lawan dengan tangkis tenaga, kembali dua ledakan suara menggelegar diudara. Beruntun Siu-Jan tersurut beberapa langkah baru berdiri tegak pula, darah mendidih dirongga dadanya, muka pucat pasi, mungkin lukanya tidak ringan lagi.

Melihat Gin-jl-ay-beng membantu dirinya, Liok Kiam-ping tidak ayal lagi, kedua tangan menggempur tiga jurus kepada Pa-kim Tayhud. Lawan masih muda tapi Pa-kim Tayhud tahu tenaga dalamnya amat tangguh, semula dia tidak berani melawan adu tenaga, namun pukulan Liok Kiam-ping cepat dan merabu gencar, dia tidak diberi kesempatan memilih- caranya sendiri, terpaksa dia pusatkan pikiran, kerahkan setaker tenaga, mengadu kekuatan tiga pukulan- "Blang, blang, blang" tiga kali ledakan keras. Pa-kim Tayhud mundur tiga langkah, sedang Liok Kiam-ping hanya menggeliat saja.

Kedua orang ini terhitung jago kosen kelas tinggi, tenaga dalamnya amat kuat, begitu angin pukulan mereka beradu, menimbulkan pergolakan hawa yang menggoncangkan bumi dan pepohonan disekitar gelanggang. Penonton yang memagari arena terdesak mundur satu tombak.

Pa-kim Tayhud sebagai seorang guru silat yang kenamaan didaerahnya, selama hidup dia terlalu mengagulkan diri, karena undangan pihak kerajaan dia datang ke Pakkhia, tapi berulang kali dia kecundang oleh orang orang Hong-lui-pang, kini dihadapan orang banyak kembali dia asor dalam adu kekuatannya, Liok Kiam-ping mendesaknya keripuhan, karuan gusar dan penasaran membakar hatinya. Jenggotnya tampak bergerak mengejang, sambil menghardik murka, dia kerahkan dua belas bagian tenaganya menggempur kearah Liok Kiam- ping dengan dorongan kedua telapak tangan-

Insaf bila pertempuran malam ini tidak lekas dibereskan, para Hiangcu kemungkinan bisa celaka. melihat padri Tibet ini menyerang dengan nekad. Tahu lawan bermaksud adu jiwa, tegak alis Liok Kiam-ping, nafsu membunuh sudah membakar hatinya, lekas dia kerahkan Kim-kong-put-hoay sin-kang, lalu berdiri siaga, bila angin pukulan lawan sudah menerjang tiba hampir menyentuh tubuh, mendadak dia gunakan tenaga  daya lengket, kedua tangan semula diangkat lurus kedepan terus ditarik serta menuntunnya kebelakang, pukulan dahsyat lawan sudah dipunahkan separo, tangan yang terayun kebelakang itu mendadak diabitkan kedepan balas menggempur dengan kekuatan besar.

Melihat pukulan dahsyat dirinya dipunahkan kepinggir, Pa- kim Tayhud melenggong kaget. Pada saat itulah dirasakan angin kencang sudah menindih dada. "Bluk" tubuh Pa-kim Tayhud yang gede tinggi itu ditumbuk terbang delapan kaki dan "Blang" terbanting keras ditanah, dadanya sesak seperti dipukul godam, untung Lwekangnya tangguh, sekuatnya dia masih kuat menahan semburan darah dari.mulutnya, namun keandaannya sudah hampir sekarat.

Akibat dari pukulannya itu Liok Kiam-ping sendiri juga tersurut tiga langkah, darah seperti berontak dalam tubuhnya, jelas diapun terluka tidak ringan.

Sudah tentu akhir pertempuran ini membuat Siu-Jan berjingkrak lebih gusar, lekas dia membentak: "Hayo semua maju, malam inijangan biarkan satu diantara kawanan kunyuk ini meloloskan diri."

Seruannya mendapat sambutan gegap gumpita dari anak buahnya yang mengurung gelanggang barisan terdepan segera menyerbu sambil angkat senjata mereka, sudah tentu orang-orang Hong-lui-pang juga tidak mau menyerah, mereka bertarung sengit dan nekad.

Lekas Liok Kiam-ping menggeram sekali tanpa hiraukan luka dalamnya, dia ayun tangannya menggempur kearah Siu- Jan, biang keladi dari keonaran ini. Luka- luka nya sebetulnya enteng, diburu amarah, maka gempurannya ini tanpa meninggalkan sisa tenaga. Siu-Jan sudah merasakan kehebatan pukulannya, kali ini tak berani menangkis, lekas dia berkelit delapan kakijauhnya, syukur terhindar dari serempetan pukulan dahsyat itu.

Amarah Liok Kiam-ping makin berkobar karena serangannya luput, rasa bencinya terhadap Siu-Jan meresap ketulang sungsum karena lawan tidak kenal aturan, melanggar tata tertib dunia persilatan dengan rangkaian muslihat jahat, mengerahkan pasukan kerajaan lagi, maksudnya menumpas pihak Hong-lui-pang mereka, betapa keji dan jahat maksudnya, sungguh ingin sekali pukul membinasakan kurcaci Hina dina ini. Kiam-ping bergerak dengan seluruh kemampuan, sebelum Siu-Jan berdiri tegak dia tambahi sekali pukulan pula. Apapun Siu-Jan tidak mengira di saat dirinya berkelit, serangan kedua lawan sudah menerjang secepat ini, untung lwekangnya tinggi, pikiran cerdik tabah dan tidak gugup, mendengar deru angin menerjang tiba, lekas dia menjatuhkan diri menggelundung lima kaki jauhnya.

Pukulan Liok Kiam-ping dilancarkan sebatas dada, maka dia tidak mengincar bagian bawah, begitu Siu-Jan menjatuhkan diri, dari mendorong dia robah gerakan tangannya menekan kebawah, namun lawan sudah menggelundang pergi. "Blum." tanah terpukul belong setengah kaki, tanah muncrat setombak jauhnya, celaka adalah anak buahnya yang kecipratan tanah.

Sebelum Liok Kiam-ping menambahi serangan lagi, Biau- san-si-sat sudah menubruk maju mengepung dirinya. Kalau dulu mereka bertahan lalu balas menyerang, tapi sekarang mereka justru bergilir menyerang lebih dulu. Su-siang-tin yang mereka kembangkan berempat, maka rangsakan bergilir, ini sungguh merobah situasi mereka yang terdesak dulu. Tak menduga bahwa barisan empat gajah lawan ternyata juga memilikiperbawa yang cukup mengejutkan ini. sesaat Liok Kiamping takjub dibuatnya.

Tapi dia berkepandaian tinggi, ketabahannya sudah teruji, pukulan secara bertubi merabu gencar kesekujur badannya, lekas dia kerahkan tenaga dalam bertahan, kedua tangan juga tidak berhenti menyerang, maka terdangarlah rentetan suara benturan menimlbulkan bergolakan hawa disekitar gelanggang.

Beruntun terancam bahaya dan dia selalu lolos, karuan disamping jeri dan syukur, gusar Hwe-giam-lo Siu-Jan tak kepalang, melihat Biau-san-si-sat mampu membendang serangan Liok Kiam-ping lega juga hatinya, lekas dia membalik menubruk kearah G in-jitay- beng . Saat itu Gin-jay-beng sedang menghadapi keroyokan dua laki-laki seragam hitam, pukulannya yang kuat dan deras membuat kedua lawannya berputar pontang panting, disaat dia hampir merobehkan kedua lawan, sejalur angin keras menerjang dari samping. Lekas dia tarik serangan sambil berkelit minggir, sempatjuga sebelah tangan nya balas menampar kearah penyerang.Jarak mereka cukup dekat, begitu saling bentrok terdengar "Plak" kedua pihak tersurut selangkah. Melihat yang menyergap dirinya Siu-Jan, menyala mata Gin-ji-tay-beng. sambil menggerung gusar dia membalik tangan seraya menubruk pula.

Bahwa sergapannya luput, malah dirinya tertolak mundur oleh tamparan lawan, sudah tentu tak karuan perasaaa Hwe- giam-lo Siu-Jan- Melihat lawan menggempur pula dengan amarah membara, sudah tentu dia tak berani menyambut, pukuian lawan tadi sudah terukur oleh nya, maka dia kembangkan kesebatan langkah nya berputar dan berlompatan diantara samberan telapak tangan perak lawan-

Kedua laki-lakipengeroyoktaditelah ganti napas, kini mereka keluarkan golok besar terus melabrak majupula. Kekuatan Gin- jitay-beng kira-kira setanding dengan Siu-Jan, Siu-Jan sudah dihajar oleh Liok Kiam-ping, sedikit banyak hatinya sudah jeri semangat tempurnya tidak segagah tadi, maka Gin-jay-beng berhasil menguasai arena pertempuran, tapi setelah kedua lawan ini mengeroyoknya, karuan keadaan terbalik, meski gusar namun otaknya masih berpikir dengan dingin, dari menyerang dia merobah pertahanan diperketat.

Tahu gelagat tidak menguntungkan, bila tidak lekas berusaha membebaskan diri dari tekanan yang makin berat ini, jiwa bisa celaka, untung pengalaman tempurnya selalu memberi dorongan semangatnya, meski tak berani balas menyerang secara gencar, namun dia bisa mengkonsentrasikan pikiran- melawan dengan tabah, dan wajar. It-cu-kiam Koan Yong melawan empat jago pakaian ketat, untung permainan pedangnya ganas dan lihay, sinar pedangnya bagai lembayung yang mengubat tubuhnya, sementara gerak-geriknya selincah naga menusuk. menabas, membelah dan menyapu, setiap jurus mengandung tipu berbahaya, keadaannya ternyata lebih mending. Tapi tiga puluh jurus kemudian, permainan pedangnya mulai kendor dan lamban, namun dalam waktu singkat dia masih kuat bertahan.

Begitu musuh menyerbu Tan Kian-thay sudah menggenjot roboh seorang lawan dengan tinju kiri, tiga musuh yang menyerbu, tiba menjadi jeri melihat nasib temannya, maka mereka tak berani mendesak terlalu ketat, seranganpun menjadi kepalang tanggung. Apalagi permainan golok Tan Kian-thay juga menciutkan nyali mereka, hingga serangan mereka yang bergilir juga selalu kandas ditengah jalan- Lima Hiangcu yang lain setiap orang melawan satu musuh, tiada yang bersuara, semua giat berjuang mempertahankan mati hidup, sedikit lena jiwa pasti melayang.

Ditengah kegaduhan denting senjata yang bentur memercikan lelatu api, mendadak kumandang sebuah jeritan keras, seorang laki-laki baju hitam terpukul terbang oleh telapak tangan perak Gin-jitay-beng, darah menyembur dari mulutnya, begitu menyentuh tanah orangnya tak bergerak lagi.

Bong Siu sudah siaga dipinggir arena, sebetulnya sejak tadi dia sudah siap turun tangan membalas pukulan Liok Kiam-ping dengan sergapan mematikan, namun rangsakan Biau-san-si- sat cukup gencar dan hebat, permainan Liok Kiam-ping juga mantap dan melayani secara wajar, maka sulit dia terjun kearena.

Dengan jelas dia melihat Gin jitay-beng memukul mampus anak buahnya itu, maka sambil membentak dia angkat lurus kedua tangannya, Gun-goan khi-kang segera terlontar dari kedua telapak tangannya, sebelum tiba tenaga pukulannya, hawa panas sudah melanda lebih dulu.

Gin-jitay-beng sedang curahkan perhatian melayani serbuan Siu-Jan dan seorang baju hitam, serangan balas sudah jarang dan sukar dia lancarkan, mendadak terasa datang nya samberan hawa panas seperti lahar gunung api dari samping, seketika dadanya sesak.

Pengalaman memberi tahu bahwa gelagat jelek mengancam jiwanya, lekas dia tutup seluruh Hiat-to ditubuhnya, dengan Ginkang yang luar biasa dia bergerak laksana burung bangau menjulang ke langit tubuhnya menjejak lurus setombak tingginya. Hamburan angin panas bagai amukan badai dipadang pasir menggulung lewat dibawah kakinya dalam hati diam-diam dia merasa leg a dan syukur sempat menyelamatkan diri. Padahal Gun-goan-khang teramat ganas, melukai lawan tanpa dirasakan sebelumnya, syukur reaksinya menghadapi perobahan cukup cekatan, Ginkangnya luar biasa, namun isi perutnya sudah terluka sedikit. Bong Siu sendiri juga belum sembuh luka dalamnya. maka pukulan itu tidak dilancarkan sepenuh tenaga, kalau terkena telak tentu jiwanya sudah melayang. Tapi di saat tubuh masih terapung itulah, disaat dia ganti napas mendadak tenaga dipusar seperti buntu, hingga badannya anjlok seperti bintang jatuh.

Siu-Jan orangnya picik, culas dan kejam, melihat ada kesempatan dalam hati dia bersorak girang, lekas dia maju setapak. kedua tangan terbalik, keatas terus menepuk kepunggung orang. Belum lagi Gin-jitay-beng tancap kakinya ditanah, deru angin sudah menerjang tiba dari belakang, jelas dia takkan mampu menangkis atau berkelit, jiwanya tinggal segaris diambang elmaut.

Pada detik kritis itulah mendadak kumandang sebuah hardikan, sejalur tenaga lunak menyongsong tiba dari samping, hingga tubuh Gin-ji-tay-beng yang sempoyongan hampir jatuh itu seperti terpapah hingga satu tombak jauhnya. Berbareng segulung tenaga keras lain menangkis pukulan Siu- Jan- "Daaar." ledakan keras membuat Siu-Jan terjengkang tiga langkah.

"Ser, ser," dua bayangan orang segera meluncur turun hinggap ditengah arena. Karuan Siu-Jan blingsatan, setelah berdiri tegak baru dia tnelihat didepannya berdiri dua orang lakl-lakitua tua tinggi pendek dengan rambut dan jenggot beruban, berjubah panjang. Kedua orang tua ini sudah tentu bukan lain adalah Ai-pong-sut Thong cau dan Jianli-tok-heng.

Sebetulnya kedua orang tua inipun sudah tiba sejak tadi, sengaja mereka sembunyi diatas genteng menunggu situasi, mereka ikuti langkah Liok Kiam-ping yang memimpin Giniji- tay-beng dan lain- lain melabrak musuh disaat jiwa Gin-ji-tay- beng terancam bahaya baru mereka dipaksa turun tangan.

Jian-li-tok-heng mendorong tubuh Gln-ji-tay-beng kepinggir sementara Ai-pong-sut menangkis pukulan Siu-Jan. Sudah tentu munculnya kedua orang ini memberi pukulan batin bagi Siu-Jan, sesaat dia berdiri bingung dan melongo.

Ai-pong-sut Thong cau terkial-kial, katanya: "Sebetulnya Siu-tangkeh terhitung jagoan Bulim yang patut disegani, di kotaraja namamu juga disegani, sayang kau sewenang- wenang, berkomplot melakukan kejahatan, menggunakan kekuasan menindas rakyat, bila kebobrokanmu ini dilaporkan ke istana, Ka-cin-ongpun takkan bisa melindungimu.'

Ai-pong-sut Thong cau dan Jian-li-tok-heng berpakaian serba baru dengan bahan mahal serta berwibawa, sikapnya gagah dan garang lagi, maka Siu-Jan menduga kedua orang ini kalau bukan pembesar yang sedang berkuasa di istana, pastilah veteran yang sudah mengundurkan diri, sebelum asal usul lawan diketahui, terpaksa dia bersabar dan menjawab dingin: 'Mereka adalah kawanan jahat yang sering melakukan perampokan dan pembunuhan, buronan yang harus ditangkap oleh kalangan pembesar, cayhe mendapat perintah untuk membekuk mereka, tuan justru mengacau tugasku, memangnya kalian juga komplotan mereka, lekas sebutkan nama kalian."

Mumpung ada kesempatan, lekas Gin-ji-tay-beng bersimpuh ditanah terus bersamadi mengerahkan lwekang menyembuhkan luka dalamnya. Kuatir orang mengalami sergapan, lekas Jian-li-tok-heng mundur kesampingnya, menjaga keselamatannya. Tindakannya ini lantas  menimbulkan dugaan dalam hati Siu-Jan, segera dia mendamprat pula sebelum Thong cau menjawab pertanyaannya: 'Ya, kalian memang sekomplotan, agaknya Lohu kurang hormat.'

Dengan lantang Ai-pong-sut berkata: 'Tindakan kalian dengan Cara kotor dan hina ini pasti menimbulkan kemarahan kaum persilatan, Lohu berdua sudah berani datang, memangnya tidak gentar menghadapi kawanan tikus terkutuk seperti kalian."

Mendadak seorang laki- laki baju hitam melangkah maju lalu berbisik ditelinga Siu Jan. Hwe-giam-lo Siu-Jan lantas terkekeh dingin, katanya: 'Agaknya kalian memang pandai sembunyi, lohor tadi kalian berada diThian-tam, tiga orang kami kau bunuh, malam ini jangan harap kau bisa lolos dari keadilan," habis bicara segera dia keluarkan Giam-ong-poan (potlot raja akirat) yang jarang dipakai sudah angkat namanya kejenjang taraf tertinggi dalam dunia persilatan, maju tiga langkah segera dia kembangkan Hong- lui-poan-hoat mengetuk batok kepala Jian-li-tok-heng.

Giam-ong-poan termasuk senjata garis luar, panjang dua kaki lebar tiga dim, bentuknya mirip sebatang panah perintah yang besar, dapat digunakan sebagai golok, pedang, potlot atau alat tutuk yang mematikan. warnanya hitam gemerdep. bagi seorang ahli akan tahu sekali pandang bahwa senjata ini bukan terbuat dari besi biasa, pedang golok biasa pasti tak mampu menabasnya putus. Gusar dan penasaran sudah membakar hati, maka serangannya mengandung perbawa deru guntur dan samberan kilat. Jian-li-tok-heng tahu betapa lihay permainan gaman lawan, segera dia kembangkan Ginkang dengan langkah enteng menggeser delapan kaki Sambil berputar,jurus Tui-hun-kan-gwat (mengejar mega memburu rembulan) dari pukulan kilat telapak tangannya, menepuk dengan gaya melintang ke Jian-kin-hiat dipundak kiri Hwe-giam-lo Siu-Jan-

Sebelum serangan mengenai sasaran, bayangan lawan sudah berkelebat hilang, berbareng pukulan keras lawan sudah menggulung tiba kepundak kiri, lekas dia menyurut kaki kiri setapak. gamannya melintang miring menyontek kedua pergelangan tangan lawan dengan jurus Beng-kung-toan-llu (memutus arus disungai melintang).

Jian-li-tok-heng menekuk sikut menurunkan tangan, dengan enteng dan berputar kekanan, kedua tangannya menyodok ke ciangbun-hiat dibawah ketiak Hwe-giam-lo Siu- Jan-Bahwa serangan gamannya luput, pukulan lawan malah menindih tiba, lekas Siu-Jan gunakan kelembutan langkahnya seperti air mengalirpergi, Glar.-ong-poan menderu keras merabu segencar hujanbadai ketubuh lawan-

Kini kedua orang serang menyerang dengan gerak cepat, bayangan hitam gaman Siu-Jan menggugus tinggi seperti gunung yang dita buri telapak tangan yang bermain selincah naga membelitpohon, keduanya berkutet dengan seru hingga susah dibedakan satu dengan yang lain-

Dalam sekejap kedua orang sudah serang menyerang belasanjurus. setelah Gin-jitay-beng mengakhiri semedinya, Ai-pong-sut segera menantang kepada Bong Siu: "Kita nganggur dari pada menonton lebih baik terjun ke arena, hayolah kau layani beberapa gebrak pukulanku?"

Bong Siu menjengek dingin: 'Kalau kau pingin digebuk, boleh saja, hayo maju', tenaga dikerahkan dikedua lengan, siap menyambut pertempuran- Ai-pong-sut, tahU tenaga lawan amat besar, menerawang situasi yang tidak menguntungkan pihaknya, maka dia tidak akan main kekerasan, namun harus mengakhiri pertiarungan secepat mungkin- Disana dia menepekur mencari akal Mendadak didengarnya lolong jeritan, tampak seorang Hiangcu roboh terkapar mandi darah.

Karuan Gln-jay-beng terjingkrak berdiri dengan mata menyala, sambil memekik nyaring dan terjun ketengah rombongan musuh terus main gasak dan ganyang, dimana telapak tangan perak dan kaki melayang beberapa jiwa orang telah direnggutnya. Melihat darah nafsunya makin menggila, kaki tanganpun mengamuk merenggut beberapa jiwa pula, sudah tentu keadaan menjadi kacau balau oleh amukan Gin- jitay-beng.

Mumpung keadaan kacau itulah Ai-pongsut Thong cau lontarkan pukulannya kea rah Bong Siu. Bong Siu sedang mengawasi orang-orangnya yang dibabat roboh oleh amukan Ginjutay-beng, diserang secara mendadak karuan dia gelagapan, dalam sesingkat ini tak sempat dia gunakan Gun- goan-kh-kang melawan, lekas dia berkelit minggir, belum sempat balas menyerang serangan lawan sudah menindih tiba pula.

Ternyata begitu melancarkan serangan, sebelum gaya permainannya sebelumnya, dia sudah berkelebat pula keposisi lain, membuntuti gerak-gerik lawan yang berkelit, sebelum lawan sempat balas menyerang, dia sudah mendahului dengan serangan yang mematikanpula. 

Ginkangnya memang luar biasa, setelah dikembangkan sungguh laksana bayangan berkelebat susah diraba kearah mana dia bergerak Lwekang Bong Siu memang tangguh, namun luka dalamnya belum sembuh, tenaga sudah jauh berkurang, maka dia terdesak kerepotan dan ikut berputar mengikuti gerakan lawan yang berkisar seperti rod a. Dengan ketahanan tenaga dalamnya yang tangguh. Liok Kiam-ping mainkan kedua telapak tangannya menyambut keras rangsakan Biau-san-si-sat, gempur-menggempur secara adu tenaga sudah tentu menguras banyak tenaga, semula dia masih kuat dan bergerak secara wajar. Tapi lima puluh jurus kemudian, luka dalam tubuh yang semula tidak pa rah tak tahan oleh permainan berat yang menggunakan tenaga besar, luka ringan makin berat, tenagapun makin surut dan lemah, napas sudah terse ngkal berat. Namun dia kukuh pendapat dan keras kepala, meski tahu adu tenaga cara demikian akhirnya akan merugikan diri sendiri, namun dia masih terus merangsak musuh.

Mendadak didengarnya beberapa kali bentakan, dia mendengar suara Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng yang telah menyusul tiba, lega dan senang hatinya, maka otaknyapun berpikir lebih jernih. otaknya cukup cerdas, sekilas pandang dia rasakan situasi masih amat genting bagipihaknya, maka segera dia merobah strategi permainannya. Dengan mengembangkan Leng-hi-pou, dia berkelit kian kemari dengan berbagai gaya dan gerakan yang aneh, lucu dan menakubkan, namun tak pernah dia abaikansetiap kesempatan untuk balas menyerang lawan-

Pada saat itulah, pekik orang yang dikenal suaranya mengejutkan dirinya, tampak seorang Hiang cu roboh terkapar tak bernyawa lagi. Kematian Hiang-cu itu membangkitkan amarahnya pula, memdadak dia memekik keras, suaranya menggetar langit dan bumi, yang lwekangnya rendah seketika menungging sambil menutup kuping.

Belum lenyap gema pekik suaranya, dia melompat tiga tombak. mencapai ketinggian lompatnya dia berputar lalu menukik turun, di mana cahaya emas berkembang Liat-jit- kiam sudah diloloskan keluar, mumpung tubuh menukik dia lancarkan Jit-lun-jut-seng. Tampak cahaya kuning emas yang cemerlang laksana kilat menyambar keatas kepala Nyo Liong. Nyo Liong kepala barisan, tampuk pimpinan dari barisan empat gajah ini. bila kepalanya terbunuh tentu barisan akanpecah sendirinya, maka dia incar lawan yang satu ini dengan keampuhan jurus pedangnya.

Memangnya Nyo Liong sudah terpengaruh oleh pekik suaranya, mendadak melihat lawan melambung keudara, menyusul bola matahari yang padang menyilau mata menukik turun sederas air terjun raksasa. Cahaya benderang itu hakikatnya membuat dia tak bisa melihat bayangan musuh, karuan pecah nyalinya, tanpa ayal segera dia kerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya melompat dan berkisar terus menggelundung pula, syukur lolos dari ancaman elmaut. Begitu berdiri lagi tangannya terayun balik menimpuk sebatang pisau. Begitu serangan luput Liok Kiam-ping sudah menjaga kemungkinan ini, sebelum Gerak pedangnya mencapai gerakan sepenuhnya, dia kuras tenaga dipusar sambil mengembangkan Leng-hi-pou sekaligus menggunakan Eng-wi-kiu coan di mana kedua kakinya bergerak turun naik, tubuhnya laksana roda kereta yang berputar kencang melayang setombak kepinggir.

Dua batang pisau terbang melesat bersilang dibawah tubuhnya. Ternyata setelah Nyo Liong lolos dari ancaman elmaut menimpuk pisau terbang, Nyo Hong juga sempat sambitkan pisau terbangnya, gerak mereka secara reftek ternyata mengandung kerja sama yang ketat dan mengejutkan-

Liok Kiam-ping memang sengaja melayang keluar  kalangan, namun sebat sekali Biau-san-si-sat sudah memburu dari posisi masing-masing berusaha mengepungnya pula. Tapi kecepatan mereka ternyata masih diungguli oleh Kiam-ping, sebelum lingkaran mereka terbentuk. Mendadak Liok Kiam- ping berputar memapak Nyo Hou yang memburu tiba, terus menyerangnya dengan pedang, Bola surya yang bend era ng langsung menerjang kepala. Kejadian mendadak serangan deras lagi, betapapun tinggi Lwekang Nyo Hou,juga kelabakan dibuatnya, untung dia tidak gugup, ketabahannya memang patut dikagumi, lekas dia mengerem daya luncur tubuhnya sambil mendoyong tubuh terus menggelundung delapan kaki, syukur jiwanya selamat.

Liok Kiam-ping juga jeri menghadapi barisan pisau terbang Biau-san-si sat, begitu pedangnya luput, dia tak berani membiarkan tubuhnya mengendap rendah mendekati bumi,

Sekali jejak dan pancal kembali tubuhnya melejit mumbul b-putar diudara melayang keluar ling ka ran-

Dalam pada itu It-cu-kiam Koan Yong baru saja habis melancarkan it-cu-kiam-hoat, hingga serangannya sed ikit terhenti, untuk balas menyerang pula menjadi sulit, maka dia terdesak oleh rangsakan lawan malah, keringat sudah membasahi jidat napaspun memburu. 

Disaat dia kerepotan melayani serangan musuh, mendadak sejalur tenaga kencang menerjang tiba dari pinggir, untuk meluputkan diri dari serangan lawan didepannya, tak mungkin dia menggeser langkah, beg itu terjangan angin tiba secara reftek dan hanya bis a miringkan tubuhnya. "Blang" lengan kiri terpukul telak, tubuhnya terlempar lima kaki, tulang pundak kirinya keseleo, saking kesakitan dan mengerang sambil kertak gigi, langkahnyapun sempoyongan hampir jatuh.

Melihat ada kesempatan lakilaki baju hitam disebelah kiri angkat golok lalu membacok. Dengan amukannya Gin-jay- beng kembali merobohkan lima orang baju hitam, sekilas matanya melirik, dan mendangar it-cu-kiam Koan Yong mengerang kesakitan, dilihatnya seorang musuh sedang membacoknya pula, karuan dan menggerung gusar: "Bangsat curang." lenyap suaranya orangnyapun menubruk tiba. Telapak tangan kananya membelah tegak kearah tangan kanan laki-laki baju hitam yang memegang golok, sementara tangan kiri menggenjot Yu-bun hiat, satujurus dua gerakan, cepat dan ganas. Kepandaian laki-laki baju hitam masih rendah, meski cepat bacokannya juga kalah cepat dibandang gerakan Gin-jitay- beng, sebelum goloknya membelah kepala Koan Yong tahu- tahu lengan sendiri sudah tertabas buntung oleh telapak tangan musuh, celaka lagi Hiat-to dipunggungjuga kena tinju, seketika jiwa melayang tanpa mengeluarkan suara.

Setelah merobohkan musuh lekas Gin-jitay-beng menyelinap kepinggir Koan Yong serta menarik lengan dan menekanpundak. "Krak" sekali gentak dansambung lagi tula ng yang keseleo. Lalu tanyanya "Bagaimana rasanya ?"

It-cu-kiam Koan Yong membuka mata lalu tersenyum, sahutnya: "Pasti tidak apa-apa, cuma dalam waktu dekat tidak leluasa bergerak. Padahal luka lengan kirinya cukuparah, meski dlobati dalam setengah bulan pasti takkan bisa sembuh.

"Syukurlah, hayo maju bersama kita bantai kawanan kurcaci ini. "lalu Gin-jitay-beng mendahului menyerbu.

Ternyata yang menyergap It-cu-kiam Koan Yong adalah Seng-ci-ciang Hou Kong-ting, orang ini berjiwa rendah, telengas dan banyak muslihatnya, sehingga dia mendapat kepercayaan penuh dari Siu-Jan, kepandaiannya memang bagus, kalau orang banyak baku hantam setengah harian. sengaja dia berpeluk tangan dalam rombongan orang banyak, setelah melihat It-cu-kiam kehabisan tenaga, baru dia tampil memungut keuntungan, sergapannya itu memang lihay dan bernafsu.

Tak nyana, diluar perhitungannya, It cu-kiam Koan Yong masih sempat memutar miring tubuhnya dalam posisi yang sudah amatsulit, dengan sendirinya pukulan telapak juga hanya menyerempet saja kelengan kiri lawan. Lebih mengejutkan lagi Ginjuay-beng menerjang tiba disaat yang menentukan, sekali gebrak bukan saja menolong jiwa Koan Yong, Sekaligus membinasakan seorang anak buahnya. Betapa gagah danperkasa sepak terjang Gin-jitay-beng mcmbikin ciut nya linya. Disaat musuh melenggong Ginjuay-beng angkat kedua telapak tangannya, begitu sinar perak berkelebat baru Hou Kong-ting tersentak kaget dari lamunannya. Gin-jitay-beng sudah teramat gemas kepada musuh yang picik dan licin, maka serangannya tidak tanggung-tanggung lagi, Hou Kong- ting dirabunya dengan sengit hingga membela dirisaja, untung tiga orang baju hitam segera menyerbu datang dengan bacokan golok kepundak Ginju tay-beng.

"Hiiaat. "Gin-jitay-beng menggembor keras, sebat sekali dia menyelinap perg keluar kalangan, kedua tangan bertepuk sekali. lalu didorong maju serta membelok kekanan yang dia near adalah musuh bergolok. Permainan dengan gerak yang menyesatkan pandangan lawan memang cukup menakupkan, laki-laki itu merasa pandangan kabur, sebelum golok ditarik balik, gempuran musuh sudah memukul dada "Blang" Ling-tai- hiat di dada seperti ditumbuk bend a ribuan kati, pandangan seketika gelap berkunang, da rah menyembur dari tenggorokan, badanpun terlempar dua tombak roboh tak bangun lagi.

Ginjutay-beng amat geram menghadapi kekejaman musuh serta kelicikannya, maka serangannya mematikan musuh. Setelah merobohkan seorang musuh, kakinya tidak berhenti, dengan jurus Peksho-can-ji (bangauputihpentang sayap), kedua tangannya terkembang ke kanan kiri menggempur kedua laki-laki baju hitam.

Kedua orang itu sedang takjup oleh permainannya yang lihay, baru saja mereka melompat keluar kalangan, tahu-tahu gempuran Gin-ji-tay-beng sudah tiba, satu bergerak sedikit lambat, tubuhnya terpukul terbang setombak lebih, begitu ambruk tak berkutik lagi. Seorang lagi sempat miringkan tubuh, maka dia hanya tersodok sempoyongan lima langkah menerobos kepungan orang banyak terus ngacir entah ke mana. Song-si-ciang Hou Kong-ting disambut oleh It-cu-kiam Koan Yong. Tahu luka di lengan kiri lawan cukupparah, hingga gerak-geriknya tampak terganggu. maka Hou Kong-ting kembangkan kegesitan tubuhnya, berputar dan menyerang mengitari lawan. It-cu-kiam terpaksa ikut berputar dan terdesak dengan napas memburu bagai dengus kerb a u.

Dalam dua gebrak Gin-ji-tay-beng merobohkan tiga orang baju hitam, kini melihat It-cu-kiam Koan Yong terancam bahaya, lekas dia membentak serta memburu tiba: "Koan- sing-tong silahkan mundur dan istirahat, "bangsat ini biar kubereskan. "belum habis dia bicara, kedua langan sudah menggempur dengan kekuatan menggugurkan gunung kearah Seng-si-ciang Hou Kong-ting. "Blang". Seng-si-ciang Hou Kong-ting pontang panting tujuh kaki, muka pucat napas berat,jelas lukanya parah, serasa terbang arwahnya, lekas dia menyurut mundur ketempat gelap terus mabur dari tempat itu.

Gin-ji-tay-beng tertolak setapak oleh tenaga yang teritul balik, sebetulnya dia sudah siap mengudak. mendadak didengar sebuah jeritan mengerikan, seorang Hiang-cu terkapar binasa. Karuan amarahnya memuncak, bentaknya dengan beringas: ""Kawanan kurcaci yang harus diganyang, malam ini biar kalian rasakan kelihayan Gini-oh-ciangku ini, seperti banteng ketaton dia menyerbu ketengah orang banyak lalu menggasak dengan serabutan. seumpama harimau lapar terjun ditengah kelompok kambing.

orang-orang baju hitam yang berkepandaian rendah dan tengah bertempur itu mana kuat melawan pukulannya, di mana telapak tangan perak menyambar "Blang" seorang telah dipukulnya remuk kepalanya "Bluk" kembali kaki menendang seorang menungging memeluk perut sambil mengeluh kesakitan,jatuh untuk tidak bangun kembali isi perutnya tertendang remuk. Tan Kian-thay sedang menggasak tiga orang berpakaian hitam, goloknya dimainkan dengan tang kas, lawan mengeroyok sambil memperhatikan permainan goloknya, tak nyana tinju kiri mendadak menggenjot dagu seorang lawan hingga terpukul Ko. namun dua temannya menjadi lebih waspada, jumlah musuh memang teramat banyak gugur satu majU satu setiap lobang ditambal ataU diganti lagi oleh seorang temannya. Tiga puluh jurus kemudian Tan Kian-thay jadi tidak sabar, pengalamannya luas, menerawang situasi malam ini, dia insyaf untuk meloloskan diri jelas tidak mudah, bukan mustahil situasi yang lebih genting akan segera mengancam mereka bersama, maka pertempuran harus segera diselesaikan-

Maka golok dan tinjunya bergerak lebih gencar, tangan kiri menyerang dengan jurus clong- thian-bau, tinjunya menjotos Tay-yang-hiat dipelipis laki-laki sebelah kiri. Karena menghadapi serangan mendadak laki-laki itu agak tertegun, untung dia sudah bersiaga sejak tadi. lekas dia menekuk badan seperti orang menjura layaknya, berbareng pundak diturunkan hingga tinju kiri lawan berhasil dihindarkan.

Tapi tak pernah terpikir bahwa golok baja ditangan Tan Kian-thay yang gagal membacok temannya sekalian diputar balik dengan jurus Sim-lui-sin-te, dari kanan dia menabas laki- laki disebelah kiri bagian bawah, gerakan goloknya aneh dan mendesis kencang. Di mana sinar golok menyambar "cras, eras," dan kaki sebatas lutut laki-laki sebelah kiri tertabas buntung, da rah muncrat orang itupun melolong kesakitan terbanting menggelepar, saking kesakitan dan mengejang dan meronta-ronta.

SemangatTan Kian-thay tambah menyala setelah menjatuhkan satu lawan pula dengan goloknya, kini diaputar balik pula goloknya membabat dan lawan yang sudah ketakutan, sayang sebelum Tan Kian-thay meneruskan serangannya. bayangan merah berkelebat, menyusul segulung angin pukulan telah menindih mukanya. Begitu berat tekanan pukulan ini Hingga Tan Kian-thay sesak napas, tahu lawan yang menyergap brkpandaian tinggi, lekas dia kerahkan setaker tenaga melompat minggir kesamping. Tan Kian-thay sudah bergerak cukup Cerdik dan dan memilih arah yang diperi hitungkan, reaksinyapun Cekatan, sayang dia kalah cepat hingga dan keserempet oleh samberan tenaga pukulan orang hingga teri huyung beberapa langkah.

Bila dia melihat jelas siapa pembokongnya. seketika dia berdiri kaget. Seorang padri Tibet yang berperawakan gede dengan tampang yang menakutkan berdiri setombak didepannya, bolamatanya melotot sebesar jengkol tengah menatap kepadanya. Pembokong ini ternyata Pa-kim Tayhud adanya. Seperti diketahui padri yang satu ini terluka parah setelah adu pukulan dengan Liok Kiam-ping, untung tenaga dalamnya amat ampuh, dapat menolong diri tepat waktunya, segera dia samadi mengerahkan hawa murni menyembuhkan luka sendiri, sekarang keadaannya sudah mending dan tidak berakibat fatal lagi.

Disaat dia membuka ke duamatanya, dia saksikan Gin-jitay- beng dan Thi-pi-kim- to berhasil merobohkan dua musuh hingga pihaknya terdesak ketakutan, maka tidak hiraukan luka-luka yang belumsembuh benar, lekas dia lontarkan pukulan mencegah Tan Kian-thay mengganas dengan goloknya, selamatlah kedua laki-laki baju hitam.

Tahu Lwekang sendiri bukan tandingan lawan, namun keberanian Tan Kian-thay memang luar biasa, dalam situasi yang mendesak begini, meski jeri juga harus nekad, maka dia menjengek dingin: "Hebat benar Lwekang Taysu, ternyata kau juga pandai berbuat curang, membokong seperti perbuatan manusia rendah yang tidak tahu malu, memangnya kau tidak takut nama baikmu runtuh ?"

Pa-kim Tayhud bergelak tawa katanya: "Bagiku menolong jiwa orang lebih penting, turun tangan tidak perlu kasihan- Apa lagi dalam situasi seperti malam ini, siapa kuat dia menang, anak muda, hayolah serang, permainan apa yang kau mampu kembangkanpasti kusambut bertangan kosong."

Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay juga tokoh yang sudah punya nama dalam kalangan Kavgouw, kapan dia dihina dan diremehkan dihadapan umum, segera dia membentak gusar: "Baik, lihat serangan-" dengan jurus Lat-pi-hoa Sau (Sehuat lengan membelah gunung).Bacokan golok ternyata Serangan gertak Sambal, ditengah jalan golok dari membacok berobah menusuk, ujung golok menusuk kedada lawan-

Pa-kim Tayhud berkepandaian tinggi, memang tidak malu dia diagulkan sebagai jago silat kosen, golok sudah mengancam dada, namun dia tetap tak berkelit atau menyingkir, bila Tan Kian-thay merobah bacokan menjadi tusukan baru kaki kanan menyurut setengah langkah, kelima jari kanan terkembang mencengkram Hoan-meh-hiat ditangan kanan Tan Kian-thay. Dia balas menyerang untuk menyelamatkan jiwa sendiri, maka gerakannya amat lihay, disaat cengkramannya hampir mengenai sasaran- Mendadak Tan Kian-thay menghardik sekali, tenaga dikerahkan Sepenuhnya ditangan kiri, dengan jurus menjojoh langSung naga kuning, Sementara tinjunya melayang dengan deru keraS menggenjot dada si padri.

Jikalau Pa-kim Tayhud tidak menarik serangan merobah gerakan, umpama tangan Tan Kian-thay cacad seketika, tapi dadanya yang kena tinju lawanjuga pasti terluka parah kalau tidak mampus seketika.

Serangan balasan Tan Kian-thay yang ajak musuh gugur bersama ternyata berhasil menggertak si padri Tibet. Lekas dia menekuk sikut menarik serangan berbareng langkah berputar setengah bundar, hingga serangan kedua pihak tidak mencapai sasaran Namun hal ini telah membangkitkan amarah dan sifat liarnya, mendadak kedua tangannya melingkar yang lain menyodok dengan tarikan keras, sebelum Tan Kian-thay membuat ancang-ancang, telapak tangannya sudah menyodok kepunggung orang. Untung dia membekal luka dalam hingga pukulannya ini Hanya sekuat delapan bagian dari kekuatan biasanya. Namun perbawanya sudah cukup mengejutkan.

Sebelum berdiri tegak deru pukulan lawan yang gemuruh sudah menekan, untuk berkelit atau melompat pergi tidak keburu lagi, untung dalam terdesak timbal akalnya, memangnya dia sudah teri huyung kedepan sekalian menjatuhkan diri terus menggelundung setombak lebih.

Pada hal reaksinya cukup cepat, tak urung dia tersapu setombak lebih oleh tenaga pukulan yang deras, celakanya lengan kiri menyentuh batu waktu badannya terbanting kebumi, "Krak" tulang lengannya patah, saking kesakitan dia menjerit sekali lalujatuh semaput.

Pa-kim Tayhud memburu maju hendak menambah sekali pukulan dibatok kepalanya. Mendadak didengarnya pekik panjang seperti teriakan naga diangkasa, mendadak Liok Kiam-ping meluncur turun dari udara laksana naga terbang menghadang didepan Pakim Tayhud.

Seperti diketahui dengan seluruh kekuatannya Liok Kiam- ping mengembangkan Ginkang Eng-wi-kiu-coan melawan barisaan pisau terbang Biau-san-si-sat. Setelah dia menggunakan cara menyerang dari luar garis lingkaran mereka, rangsakan Biau-san-si-sat ternyata menjadi kendor dan permainan pisau terbang mereka seperti tidak berfungsi lagi, gerak gerik menjadi kacau, dari menyerang menjadipihak yang dicecar malah. Berhasil memperdayai musuh untuk menyelesaikan pertempuran lebih cepat, dia rela mengorbankan tenaga dalam yang terkuras, serangan dipergencar, Liat-jit-kiam menyerang dengan jurus Liat-jit- yam-yam menabas leher Nyo Hong. Bola bundar yang menyala benderang membikin pandangan yo Hong silau, cahaya nya yang panas dan terik seperti membakar tubuhnya, dalam keadaan terdesak dan kepepet, dia berusaha menjatuhkan diri terus menggelundung pergi, sebetulnya dia bis a menyelamatkan diri.

Pada detik itulah mendadak Liok Kiam-ping mendengar jeritan Tan Kian-thay, dia duga kawannya itu terluka parah kalau belum binasa, seketika alisnya tegak. hawa nafsu berkobar dirongga dada, ditengah jalan pedangnya dirobah dengan jurus Jik-yang-say-loh menerbitkan jalur-jalur kuning emas laksaan banyaknya. seluruhnya menabas miring ke arah Nyo Hong. Betapa cepats amberan pedangnya, karena dia menguatirkan keselamatan Tan Kian-thay, sebelum tubuh Nyo Hong jatuh menyentuh bumi, di mana tajam pedang menyambar, kedua pahanya sudah ditabas buntung.

Paha tertabas sudah tentu jiwa belum melayang, namun sakitnya cukup membuat, Nyo Hong terguling-guling sambil menjerit-jerit. Sudah tentu tiga saudaranya tidak berpeluk tangan serempak mereka ayun tangan menimpuk senjata rahasia, tiga batang pisau melesat bersama kesatu sasaran dari tiga arah yang berbeda.

Tak sempat perhatikan keadaan lawannya, sekali menjejak tanah Liok Kiam-ping menjulang keatas tiga tombak tingginya, sekaligus meluputkan diri dari samberan tiga batang pisau terbang, lalu meluncur turun kehadapan Pa-kim Tayhud. Dengan mendelik bundar Liok Kiam-ping menatap Pa-kim tayhud, desisnya geram:

"Betapa terhormat kedudukan Taysu di Bulim namun berlaku kejam bermain curang, apa kau tidak malu. Baiklah kau sambut beberapa juius permainan pedangku.'

Saking malu Pa-kim Tayhud, Menjadi gusar semprotnya: "Dalam arena pertempuran siapa kuat dia menang, hakikatnya dalam Bulim tidak kenal salah dan benar, siapa berkepandaian lebih tinggi dia benar, hukum rimba berlaku, apalagi aku menunaikan tugas menangkap kalian kawanan pemberontak, kunyuk keparat, memangnya kau mampu lolos dari tanganku "

"Kepala gundul yang tidak tahu malu, sia-sia kau belajar ajaran agama berbuat mesum menculik perempuan, meminjam kekuatan kerajaan kau sewenang-wenang menyembunyikan diri, memutar balik kenyataan, kaum Budhis ikut malu karena perbuatanmu yang kotor, kaum persilatan juga akan mencampakkan manusia durjana macam dirimu. Kedokmu sudah terbongkar, masih berani bermulut besar, bila kau berani kembali kedalam istana, hukum kerajaan tidak akan mengampuni dosamu.' '

Tampang Pa-kim Tayhud yang memangnya beringas bertambah jelek dan mengerikan setelah dicaci maki, kulit mukanya yang kasar legam menjadi lebih gelap dan buruk.

Sementara itu it-cu-kiam Koan Yong sudah memapah Tan Kian-thay, wajahnya pucat pias, napas nya masih sengal- sengal keringat sederas hujan diatas jidat dan sekujur badan.

Melihat keadaan orang Kiam-ping tahu luka dalamnya amat parah, lekas dia keluarkan sebutir Soat-lian, sembari berkata dia jentik pil obat itu: "Terimalah Koan-siang-tong, berikan obat ini kepada Tan-tongcu, biar duduk samadi menyembuhkan luka."

Lekas It-cu-kiam Koan Yong raih obat yang meluncur kearahnya terus dijejalkan kemulut Tan Kian-thay serta memapahnya duduk semadi.

Baru Llok Kiam-piig merasa lega, mendadak Pa-kim Tayhud menghardik: "Lihat serangan." belum hilang suaranya angin pukulan sudah menderu tiba laksana damparan angin puyuh. Ternyata serangan dilontarkan dulu baru dia bersuara.

Kiam-ping slap menyambut pukulan lawan, namun sudah tidak keburu lagi, lekas dia kerahkan Kim-kong-put-hoay-sin- kang, tubuhnya berkelebat minggir hingga terhindar dari pukulan telak musuh. Pada hal tubuhnya terlindung ilmu sakti pelindung badan, tak urung dia masih tersuruk oleh serempetan pukulan dahsyat lawan. Lekas dia menarik napas mengerahkan tenaga, syukur dirinya tidak terluka, maka dia balas membentak:

"Sekarang kau pun sambut pukulanku." saking gusar pukulannya ini sung guh bukan olah-olah hebatnya.

Angin puyuh berputar sederas badai, hawa udara seluas tiga tombak bergolak seperti mendidih.

Pa-kim Tay-hud tahu lawan pasti menyerang sepenuh tenaga sehinga angin badai yang menerjang sedahsyat itu. Maka dia tidak berani ayal, lekas dia pusatkan pikiran kerahkan tenaga, merendahkan tubuh pasang kuda-kuda, seluruh kekuatan dikerahkan, ditengah bentakannya tenaga pukulanpun dilontarkan memapak pukulan lawan.

Adu kekuatan kali ini sungguh luar biasa hebatnya hingga bumi tergoncang, dua jalur kekuatan menciptakan pusaran angin kencang yang membumbung tinggi keangkasa hingga seluruh arena menjadi dingin seketika.

Padri Tibet sempoyongan tujuh langkah dadanya yang kekar bidang turun naik, kulit mukanya pucat berganti merah lalu menghijau, dengan keampuhan tenaga dalamnya dia berusaha menekan da rah yang hampir menyembur dari mulutnya, padahal luka dalam yang belum terobati ditambah luka yang lebih parah lagi.

Liok Kiam-ping sendiri juga tergetar dua langkah oleh tenaga ritul yang hebat, jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Sebagai maha guru silat didaerahnya yang diagungkan kapan Pa-kim Tayhud pernah kecundang begini mengenaskan, sungguh tak nyana latihan Lwekang selama enampuluh tahun masih terluka oleh kekuatan anak muda yang belum genap dua puluh tahun, betapa hatinya takkan sedih dan penasaran, beringas dan gregeten lagi, ingin rasanya mengkremus lalu menelannya bulat-bulat.

Tampak bola matanya mendelik keluar, otot hijau diatas jidatnya merongkol bagai cacing, bila dia pentang lebar mulutnya darah segera menyembur keluar, kedua lengan terpentang lurus, kakinya beranjak selangkah, seperti singa yang sudah keok. namun karena lapar masih ingin menyobek mangsanya dan menggaresnya dengan lahap. Mendadak tangan kanan tertekuk lalu terangkat pula, secercah cahaya kemilau segera meluncur dari lengan bajunya langsung menungkrup kebatok kepala Llok Kiam-ping.

Lick Kiam-ping tahu lawan keluarkan Hiat-te-cu, senjata rahasia besar berantai yang lihai dan ganas peranti mencaplok batok kepala manusia. Lekas dia berputar melayang keluar menyingkir setombak jauhnya tak terduga cahaya gemerdep itu melayang ditengah udara mendadak melorot jatuh ditengah jalan.

Ternyata luka- luka dalam Pa-kim Tay hud teramat parah, sisa tenaganya sudah tidak mencukupi untuk melontarkan Hiat-te-cu lagi, apalagipikirannya sudah tidak karuan hingga senjata rahasia ini tidak terkendali pula, hingga ditengah jalan seperti balon bocor mendadak melayang jatuh ketanah, tapi daya luncurnya betul-betul cepat luar biasa.

Untung lawan sudah lemah, padahal Hiat-te-cu belum pernah gagal dan tak terlawankan oleh siapapun atau dengan cara apa pun, kalau Kiam-ping harus menghadapinya langsung mungkin sukar dia terhindar dari ancaman maut.

Rasa kaget Kiam-ping juga belum hilang, terasa tokoh selihay dan setinggi Pakim Tayhud merupakan jago yang jarang di temukan selama hidup, padahal sudah terluka parah, namun seperti binatang terluka masih mengamuk dengan nekad, maka diapun tak berani lena, dengan sepenuh perhatian dia layani labrakannya. Dari tempat gelap mendadak menubruk keluar dua laki-laki setengah umur, tujuannya membokong Tan Kian-thay yang sedang samadi ditanah. Gerak gerik mereka cukup tangkas dan lincah, jelas memiliki kepandaian yang cukup tinggi. It-cu- kiam yang berjaga dipinggir menyambut dengan gerungan gusar, pedang terayun dia hadang kedua musuh terus menyerangnya dengan sengit. Kalau da lam keadaan biasa, It- cu-kiam Koan Yong masih tidak pandang kedua orang ini sebelah matanya, namun tulang lengan dipundaknya masih belum leluasa bergerak. sehingga gerak geriknya kurang lincah, dikeroyok lagi maka permainannya menjadi kacau dan tak karuan, hingga dia terdesak oleh serangan kedua lawan yang bertubi-tubi.

Dengan langkahnya yang ajaib Ai-pong-sut ajak Bong Siu bermain petak, gerak geriknya aneh dan lucu berputar seperti bola menggelinding, namun dia lebih banyak merangsak musuh dari pa da lawan menyerang dirinya, namun serangannya selalu kandas ditengah jalan, hal ini memang disengaja untuk mempermainkan Bong Siu supaya lawan  repot dan tak sempat balas menyerang dirinya.

Dinilai kekuatan Lwekang, mereka seimbang, cuma ketahanan Bong Siu lebih ampuh, sementara Ai-pong-sut lebih unggul da lam ginkang dengan permainannya yang lucu, jadi kedua pihak mempunyai kelebihannya. Sayang Bong Siu  sudah terluka dalam lebih dulu, betapapun tenaga dalamnya sudah dikorting, dalam pertempuran ini dia lebih banyak membela diri dari pada merangsak lawan, karena terdesak tiada kesemptatan dia ganti napas untuk melontarkan Gun- goan-khi-kang, ilmu khusus yang diyakinkan sejak enampuluh tahun lalu.

Tiga puluh jurus kemudian, gerak gerik Ai-pong-sut makin kencang, malah mulutnya juga mengoceh: ’Jelas matamu melek, kau justru ’pura-pura’ picak bekal kepandaian cakar kucing begini juga bermimpi hendak merajai kaum persilatan di Tionggoan, kuanjurkan lekas kau mencawat ekor dan pulang ke daerahmu saja, mungkin masih banyak tahun untuk menikmati hari tuamu, kalau bandel, kau bisa celaka di sini."

"coba lihat, jurus Siang-tui-ciang ini masih cukup lincah kau lancarkan, tapi harus maju tiga dim lagi baru terhitung matang latihanmu, maka perlu kuanjurkan kepadamu sipicak palsu ini, mumpung ada kesempatan lekas pulang saja melatih ulang ilmumu ini."

Memangnya Bong siu sudah gusar dan penasaran, mendengar ocehan si kate buntek ini, betapapun sabarnya,, akhirnya naik pitam juga. Mendadak dia membentak sekali, kedua lengan dilandasi kekuatan terus menepuk-nepuk ke berbagai Hiat-to besar disekujur badan Ai-pong-sut Thong cau.

Melihat akalnya berhasil memancing ama rah lawan, diam- diam Ai-pong-sut merasa senang, maka dia bertahan tanpa balas menyerang, dengan kesebatan badannya dia berputar dan menggelindang seCepat bola.

Dalam sekejap lima puluh jurus telah tercapai pula. Karena terlalu bernafsu menyerang hingga menguras tenaga, maka luka dalam Bong Siu kumat lagi, keringat sudah membasah kuyup sekujur badan, napaspun makin berat.

Melihat kesempatan telah tiba Ai-pong-sut tidak sia-siakan waktu, mumpung dia berputar, sambil berkelit, diam-diam dia sudah keluarkan kedua pelor bandulannya. Sementara ituBong Siu sudah terengah-engah, gerak- geriknya mulai berat. Maka Ai-pong-sut mengincarnya lalu mendadak ayun tang an kanan, pelor besinya segera meluncur mengepruk Hoa-kiat-hiat didepan dada Bong siu.

Mendengar derusuara luncuran pelor Bong Siu sudah siaga, lekas dia geser kaki kiri sambil mundur setapak tangan kanan terulur menepuk kearah bayangan hitam yang meluncur kearahnya. Ternyata pelor Ai-pong-sut itu seperti hidup dan punya mata, baru saja Bong Siu angkat tangannya, benda hitam gemerdep itu mendadak membelok kekanan, tetap meluncur kearah dadanya pula, Disaat Bong siu bingung dan bimbang, mendadak didengarnya

Ai-pong-sut membentak sekali lagi: "Nah. sambut lagi yang satu ini." deru angin kencang disertai luncuran bayangan hitam yang gemerdep meluncur dari kanan- sementara bandulan yang pertama seperti merandek sejenak menunggu kawan untuk kerja sama. bertolak dari arah berlawanan.

Kali ini dua pelor menyerang bersama dalam keadaan terluka dan lemah tenaga untuk menyelamatkan diri dari timpukan ke dua pelor besi ini sudah tidak mungkin bagiBong Siu. Untung dia berkepandaian tinggi, dengan miring tubuh dia hindarkan samberan bandulan yang meluncur dari kanan, baru saja dia hendak menjejak kaki melambungkan tubuh keudara, pelor besi yang lain sudah meluncur tiba dari belakang dan telak mengenai lengan kirinya.

"Krak" itulah suara tulang lengan kirinya yang patah, pelor besi ternyata menembus lengan orang hingga tinggal kulit daging nya yang masih gandeng hingga lengannya kontal- kantil dipinggir pundak.

Bong Siu alias akipicak yang tidak picak ini melolong seperti serigala yang terluka, suara nya yang mengerikan menggiriskan siapapun yang mendangarnya. Mempertahankan jiwa lebih penting, maka dia tidak hiraukan orang lain, sebat sekali dia berkelebat keluar arena, hanya beberapa kali lompatan bayangannya. sudah lenyap dari pandengan ditelan tabir malam.

Dengan melambaikan kedua tangan Thong cau menarik balik kedua pelor besinya, maksudnya hendak mengejar musuh. Tapi pada saat itulah dilihatnya tiga sinar putih berbareng melesat kearah Lick Kiam-ping. Ternyata setelah Nyo Hong tertabas buntung kakinya, tiga saudaranya membentak bersama, dengan beringas mereka menubruk kerarah Llok Kiam-ping. Sebelum tiba pisau terbang sudah disambitkan lebih dulu. Mereka bertekad membalas dendam maka timpukan pisau terbang menggunakan setaker tenaga.

Saat Llok Kiam-ping sedang adu kekuatan dengan Pa-kim Tayhud, kesempatan berkelit jelas tiada, terpaksa dia kerahkan Kimkong-put-hoay-sin-kang, siap menyambut ketiga pisau terbang itu secara keras.

Melihat keadaan gawat Llok Kiam-ping, Ai-pong-sut mana mau berpeluk tangan, kedua pelornya segera diaputar arah terus ditimpukkan pula menerjang dua batang pisau terbang, mulutpun berteriak: "Pangcu jangan kuatir, lekas menyingkir dari timpukan pisau sebelah kiri, dua yang lain biar Lohu yang membereskan." "Tring, tring,' dua kali, sinar putih kontan terpukul jatuh ditanah.

Mendengar seruan Ai-pong-sut rasa senang hati Kiam-ping bukan main, secara reftek dia berkelit kesebelah kiri, pisau menyerempet lewat diatas pundaknya, untung tidak melukai kulit badannya. berhasil merontokan pisau lawan, Ai-pong-sut putar kedua pelornya pula sebelum Biau-san-sam-sat menimpuk dengan pisaunya, yang diincar adalah Nyo Llong. Ai-pong-sut gusar karena musuh membokong di saat lawan menghadapi elmaut, dengan serangan pisau terbang gabungan berusaha membunuh musuh, betapa keji dan jahat maksudnya, maka dia timpukan kedua pelor dengan tenaga penuh, pelor melesat secepat kilat menyambar.

Tak pernah terpikir oleh Biau-san-sam-sat bahwa pelor besi lawan dapat dikendalikan sesuka hati, maju mundur berputar atau tolak balik bergerak sesuai keinginan sang penimpuk. sekilas lena Nyo Llong seketika menjerit karena lengan kanannya disambar putus, ditengah jeritan yang menyayat hati dia sempoyongan, untung Nyo Hun berkelit lebih dini hingga dia selamat, namun nyalinya sudah pecah.

Tampak kedua tangan Ai-pong-sut mendorong dan melambai, pelor yang melukai Nyo Llong mendadakputar balik, setelah meluncur setengah lingkar, secepat memburupula kearah Nyo Hun pula.

Dengan telapak tangan kilat Jian-li-tok-heng menghadapi Glar.long-poan Siu Jan, kedua pihak dahulu mendahului dengan serangan cepat, gerak gerik mereka amat tangkas dan gesit, yang tampak hanya bayangan telapak tangan yang bertaburan ditengah samberan potlot yang menari dengan deru angin kencang.

Pertarungan amat seru, lima puluh jurus kemudian, Jian-li- tok-heng sudah kembangkan seluruh kemampuan Ginkang yang pernah dia yakinkan, sehingga gerak tubuhnya sedemikian enteng dan berkelebat kian kemari, kedepan belakang dan mengelilingi musuh hingga mengaburkan pandangan- Lwekang SiuJan memang cukup tinggi, tapi bila ilmu potlotnya itu dikembangkan memerlukan landasan tenaga yang kuat, sehingga deru anginnya gemuruh seperti guntur menggelegar dikejauhan, karena itu makin lama bertempur, diapun merasa makin payah.

Namun otaknya memang pandai berpikir Secara licik dan jahat, melihat Jian-li-tok-heng menguasai situasi malah rangsakan senjata nya yang gencar justru menguntungkan lawan, maka dia kendorkan permainan mulai pusatkan perhatian, kini setiap jurus permainannya betul-betul diperhitungkan

Namun betapa cerdiknya Jian- li-tok-heng, melihat perobahan gerak lawan dia sudah tahu ke mana kiblatnya, sudah tentu dia tidak memberi angin maka pukulan telapak kilatnya dia lancarkan secepat kilat betul, bayangan telapak tangannya menyambar kian kemari, hanya sayang tidak memancarkan cahaya, namun perbawa pukulannya betul-betul tak kalah cepat dan hebatnya dengan kilat sungguh an-

Maksud Hwe-giam-lo Siu Jan mengendorkan serangan memang ingin menghimpun tenaga mengatur napas lalu cari kesempatan merobohkan lawan dengan jurus tunggaL Tak nyana kesempatan yang pendek inij ustru dipungut Jian- li- tok-heng untuk mencecar dirinya, karuan dia kerepotan dansibuk membela diri, Delapan jurus kemudian, napas nya betul-betul sudah sesak, badan lelah, namun dia masih nekad mengadu jiwa..

Melihat kesempatan sudah hampir tiba, diam-diam Jian- li- tok-heng sudah jepit dua biji teratai besi dijari tangan kiri, sementara tangan kanan menyerang dengan jurus Hwi-hun-tui tian (mega terbang mengejar kilat) menggablok kepundak kiri SiuJan, SiuJan menarik mundur kaki kiri menghindar gablokan keras ini, tubuhnya lalu berputar balik, pikirnya hendak menusuk lawan dengan potlot bajanya, pada saat itulah tangan kiri Jian-li-tok-heng terangkat, selarik sinar kemilau melesat langsung ke Yok-kin-hiat dibawah dada SiuJan-

SiuJan tegakan potlotnya hendak mengetuk jatuh, namun selarik sinar putih yang lain ditimpukan kebelakang namun meluncur tiba lebih dulu. Memang itulah kepandaian khusus Jian li-tok-heng yang sudah kenamaan puluhan tahunTian-to- im-yang (memutar balik positip dan negatif) , selama kelana di Kangouw, jarang dia lancarkan kemahirannya ini, namun sekali turun tanganpasti takpernah gagaL Secara reflek SiuJan berkelit kekanan-

"cret" pundak kirinya ketimpuk biji teratai besi amblas kedalam dagingnya. Kontan dia menjerit ngeri, tubuhnya sempoyongan tiga langkah sembari menimpuk potlot kearah Jian- li- tok- heng, kencang sekali luncuran potlot baja yang berat panjang ini, dilempar dengan sisa tenaga dalam hati murka pula.

Agaknya Jian- li-tok-heng tidak kira bahwa lawan masih senekad ini, sekilas melenggong potlot lawan sudah meluncur satu kaki didepan dadanya, untuk menyingkir jelas tidak sempat untung dia berlaku Cerdik, lekas dia menjatuhkan tubuh terus gunakan gerakan ikan gabus melompati arus, tubuhnya mencelat lurus kebelakang setombak. syukur jiwanya selamat. Namun Giam-ong-poan menyerempet kepala nya hingga ikat kepala nya mencelat terbang tak urung diapun bergidik ngeri. Bila dia berdiri tegak pula, matanya menyapu kesekitar gelanggang, bayangan SiuJan ternyata sudah lenyap.

Agaknya setelah menimpukan senjatanya, di saat Jian- li- tok-heng repot menyelamatkan diri, dia ngacir lebih dulu Jian- li-tok-heng masih Celingukan, mendadak diluar tembok kumandang sempritan panjang dan pendek dua kali, jarak suara nya sekitar belasan tombak, ternyata sempritan sahut menyahut dari depan belakang dan kanan kiri disekitar rumah dan hotel, menyusul bayangan puluhan orang berlompatan keatas tembok terus lari terbiri-birit. Dalam sekejap seluruh anak buah siuJan sudah pergi seluruhnya, yang ditinggal hanya mayat-mayat dan mereka yang terluka tak mampu jalan.

Sudah tentu pihak Hong-lui-pang tidak tinggal diam, serempak mereka memburu keatas tembok tapi baru berdiri tegak. mendadak suara jepretan gencar berbunyi diluar sana. Hujan panah menyambut mereka yang memburu keluar, karuan mereka sibUk menangkis dan melompat balik kedalam.

Tengah Liok Kiam-ping dan lain- lain berunding, bagaimana mereka akan menghadapi perkembangan ini. Mendadak suara Siu-Jan yang serak dingin kumandang: "Kalian sudah umpama kura-kura dalam jaring, lekas lempar senjata dan menyerah, ikut Lohu masuk istana, bila pasukan besar kerajaan tiba, maka kalian akan mampus dengan tubuh hancur lebur."

Liok Kiam-ping bergelak tawa, serunya lantang: ”Jago yang sudah keok, sukma yang lolos dari elmaut, jangan membual belaka, kalau berani boleh kau lakukan apa kemampuanmu. "

"Baik, kalian tunggu saja." ancam Siu-Jan.

Keadaan menjadi sepi, gencatan senjata mendatangkan kesunyian yang mencekam perasaan. Liok Kiam-ping dan lain-lain tahu bila mengulur waktu situasi akan makin tidak menguntungkan pihaknya, akhirnya diputuskan untuk bertindak dengan cara racun dilawan dengan racun. Ai-pong-sut dan Jian-li-tokheng ditugaskan sebagai pelopor membawa dua barisan orang yang tak seberapa jumlahnya. dengan biji teratai besi dan pelor belibis mereka harus bisa menghancurkan barisan panah musuh, sementara Liok Kiam-ping bersama Giniji-tay-beng berada dibagian belakang melindungi orang banyak.

Jian li-tok-heng berdiri membetulkan pakaiannya, kedua tangannya menggenggam beberapa biji teratai besi. lalu mendahului lompat keatas tembok, Suara jepretan terdengar ramai diluar. Anak panah selebat hujan deras memberondang kearahnya. Jian- li-tok-heng kerahkan tenaga di kedua tangan yang dia putar serta menimpukan dua genggam biji teratai besi dengan Boan-thian-hoa-hi (hujan kembang memenuhi langit).

Benturan keras yang menimbulkan suara gemerincing disertai kembang api ditengah,udara merontokan anak panah dari busur besi. Sebat sekali Jia n- li-tok-heng sudah melesat kedepan laksana hembusan angin kencang. Tak nyana baru saja kakinya menyentuh tanah, tubuh mumbul tiga kaki, bidikan panah yang lebat sudah memberondang kearah dirinya. Terpaksa dia ayun pula kedua tangannya menimpukan biji teratai besi, suara gemerincing disertai pancaran kembang api, rontoknya anak panah dan busur beserta biji teratai besinya terdengar ramai, namun hanya sekejap. keadaan kembali Hening lelap.

Gerak gerik Jian-li-tok-heng agaknya sudah diawasi musuh, ke mana dia melompat anak panah pasti memberondong kearahnya, betapapun kuat dan banyak senjata rahasianya juga kewalahan melawan bidikan panah yang meluncur keras, terpaksa dta melompat balik keatas tembok dan turun  diantara orang banyak yang sedang menunggunya: Padahal mereka siap bergerak. namun Jian- li-tok-heng geleng-geleng kepala sambil menghela napas.

Ai-pong-sut Thong cau mendahului lompat keatas tembok, kedua tangan terayun sepasang pelornya dia timpukkan kearah hujanpanah, tiga kaki didepannya panah rontok tersapu pergi. Tapi tak sedikit pula panah yang menyambar lewat menancap ditanah pekarangan dalam. Hanya beberapa kali gerakan merontokan hujan panah, Ai-pong-sut sudah tahu gelagat, dengan sepasang pelornya jelas takkan mampu membendang bidikan panah sebanyak ini, soalnya dia harus kerahkan tenaga mengendalikan kedua pelornya, disamping harus mengembangkan Ginkang. Bila ada seorang lagi ikut menerjang maju, pada hal tiga kaki disekitarnya sudah tak mungkin bisa menyelamatkan diri. Terpaksa diapun melompat balik kedalam tembok.

Liok Kiam-ping melihat cuaca, waktu hampir menjelang kentong keempat, bila terlambat dan hari terang tanah, jelas lebih sulit mereka keluar kota. Dengan mengerut alis dia mendengus, katanya: "Keadaan sudah mendesak. terpaksa kita harus berjuang bersama sekuat tenaga. " setelah beberapa babak pertempuran sengit, luka dalamnya bertambah parah, untuk mengembangkan Ginkang tertinggi dengan mengendalikan Pok-kiam-hwi-hing dia memerlukan hawa murni yang tangguh, kalau tenaga cadangan kandas ditengah jalan, akibatnya bisa celaka.

Setelah dipikir-pikir, dia merogoh sebutir Soat-lian terus ditelannya, duduk samadi mengerahkan tenaga murni. Soat- lian memang obat mujarab, ilmu pengobatannya sekarang juga sudah cukup lihay, dengan tenaga murni dia dorong kasiat obat bekerja lebih cepat hingga tersalur keseluruh badan.

Setengah jam kemudian samadinya sudah selesai, bukan saja luka dalamnya sembuh, tenaga dan semangatnya bertambah gairah. Kiu-yap-ci-lan didalam tubuhnyapun menunjukan kasiatnya, sehingga Lwekangnya bukan susut malah bertambah tangguh. Mendadak dia melompat berdiri, wajahnya bersemu merah, sorot matapun terang. Setelah dia memberi tanda dan berpesan seperlunya kepada orang banyak. dia cabut cui-le-kiam lalu memberi aba-aba: "Serbu." lalu dia mendahului bergerak dibelakang Ai-pong-sut  dan  Jian- li-tok-heng.

Begitu hinggap diatas tembok sepasang pelor Ai-pong-sut sudah ditimpukan kearah barisan pemanah yang sempat juga melepaskan bidikannya, namun anak panah rontok empat kaki disekitar badannya. Meski ada beberapa batang yang lolos kebelakang, juga dipukul jatuh oleh Jian- li-tok-heng dengan biji teratai besi. Mereka langsung lompat ke rumah penduduk dan berlari kearah timur. Liok Kiam-ping membuka jalan sambil putar kencang pedangnya, dibelakang orang banyak terus mengikuti langkahnya. Jarak mereka tinggal delapan tombak dari barisan panah musuh yang terakhir, namun panah bidikan barisan terahir ini ternyata jauh lebih kencang dan deras, untuk maju lebih lanjut agak terhalang.

Liok Kiam-ping mengincar tempat kedudukan musuhnya, mendadak dia memekik tinggi suaranya menembus langit menggetar bumi, genderang telingapun pecah bagi yang berkepandaian rendah. Mendadak dia jejak kedua kaki terus melambung tujuh tombak ketengah udara, ditengah udara dia memutar pedangnya laksana naga mengamuk menerjang kearah barisan panah musuh, gerakan cui-le-kiam yang dilandasi Lwekang memancarkan Cahaya benderang seluas tiga kaki. Tampak Cahaya benderang meluncur pesat laksana meteor jatuh berputar diangkasa, dalam sekejap beberapa tombak telah dicapainya. Hakikatnya tiada yang melihat jelas bentuk bayangan Liok Kiam-ping yang terbungkus cahaya benderang.

Mendadak terdengar jeritan-jeritan di sertai berhamburnya darah serta kaki tangan dan kepala manusia dari kanan, kiri tidak sedikit panah yang melesat kedalam lingkaran cahaya tapi semuanya mental balik dan berjatuhan tanpa guna. Tapi jumlah musuh terlalu banyak. dalam waktu singkat berat juga bagi Liok Kiam-ping membabat habis mereka.

Setiap pedang berputar beberapa jiwa melayang dengan badan yang tidak utuh, hanya beberapa gebrak dia melabrak musuh, mayat sudah bergelimpangan- Karuan pembidik yang lain segera ngacir melempar busur dan panah berlompatan menyelamatkan diri. Beruntun sembilan kali Liok Kiamping melayang berputar diudara, disaat dia harus ganti napas baru dia meluncur turun. Sementara itu orang banyak sudah ratusan tombak meninggalkan kepungan pemanah, baru lega hati mereka.

Luka-luka It-cu-kiam Koan Yong dan Tan Kian-tha memang cukup parah, maka sukar mereka mengembang ginkang, maka mereka membelok di gang- gang rumah penduduk terus menuju ke a rah yang terdekat untuk mencapai jalan raya.

Sambil menenteng cui-le-kiam, Liok Kiam-ping berjalan paling akhir. Mendadak didengarnya derap kuda yang ramai, jelas barisan kuda memburu kearah ke sini. Lekas Liok Kiam- ping memberi perintah: "Kalian terus maju, biar aku yang membendung pasukan kuda itu." lalu dia melintang pedang berdiri dijalan raya.

Lekas sekali rombongan kuda itu sudah memburu tiba, jumlahnya ada belasan kuda. Kuda dilarikan kencang, setiba didepannya mendadak tali kekang ditarik hingga kuda meringkik sambil berjingkrak berdiri dengan kaki belakang.

Setelah kuda berdiri tenang, Liok Kiamping melihatjelas, ada empat kuda berada paling depan, penunggangnya adalah Wisu berseragam kebesaran menyoreng golok, usia mereka rata sekitar empat puluhan, namun sorot matanya tajam menyala, pelipisnya menonjol, jelas mereka memiliki latihan dasar yang kuat tenaga dalam maupun luar. Seorang yang ditengah segera angkat kedua tangan lalu menyapa: "Selamat bertemu Siauhiap. Ka-cin-ong-hu kali ini keliru memakai orang sehingga nama baik beliau ternoda, maka Ka-cin-ong amat menyesal dan merasa simpati akan nasib kalian, biang keladi dalam penggrebekan yang menyalah gunakan kekuasaan malam ini sudah ditahan dan menunggu hukuman sesuai dosanya. Padahal urusan menyangkut jiwa manusia, didaerah kota raja lagi, urusan tidak boleh terbengkelai ditengah jalan, maka hamba diutus kemari untuk mengundang Siauhiap untuk membicarakan persoalan ini."

Liok Kiam-ping juga tahu bahwa urusan cukup genting, maka diapun berkata: "cayhe beramai berjuang untuk menyelamatkan diri, sudah tentu dalam pertarungan tak kenal kasihan, Entah ongya ada pesan apa harapsuka memberi petunjuk"

Wisu disebelah kanan lantas bicara:

"Hal itu sudah diketahui oleh ongya, perlu dimaklumi, undangannya tidak bermaksud jahat terhadap Siauhiap sekalian. soalnya kejadian dalam wilayah kota raja, bila pihak penguasa mengusut perkara ini, nama baik onghu juga akan terseret, maka Siauhiap diundang untuk merundingkan Cara penyelesiannya."

Jelasnya pihak istana akan lempar batu sembunyi tangan, pihaknya akan ditahan dengan alasan pembuat onar dan diserahkan kepada yang bewenang. Kalau hal ini ternyata berarti Hong-lui-pang selanjutnya akan hancur dan lebur, apalagi jikalau urusan berbuntut panjang, bencana dikelak kemudian pasti akanselalu mengganggu.

Sebaliknya bila pihak istana yang harus menanggung  segala akibat peristiwa inijuga tidak mungkin. Maka urusan harus diselesaikan dengan biang keladinya, yaitu Siu-Jan dan kamprat-kampratnya. Dosa mereka teramat besar, bila pihaknya terlibat, nama baik mereka juga tak bisa dicuci bersih lagi. Setelah merenung sejenak. mendadak dia teringat akan batu jade berbentuk hati pemberian orang tua she Liong, katanya dengan tersenyum: "Sebetulnya cayhe ingin beri hadapan dengan ongya kalian, supaya dapat kulaporkan langsung seluk beluk persoalannya, sayang hari. hampir terang tanah... " sebelum mengakhiri ucapannya, matanya menyapu pandang kedalam rombongan berkuda.

Dari belakang rombongan tiba-tiba menerobos seekor kuda, penunggangnya adalah seorang tua yang berpakaian perlente, dengan tertawa lebar dia berkata lantang: "Aku ada di sini, Siauhiap ingin omong apa, silakan katakan saja."

Liok Kiam-ping menduga orang tua ini pasti Ka-cin-ong adanya, lekas dia menjura hormat, katanya: "Mohon suruhlah mundur anak buahmu, supaya cayhe dapat bicara terus terang." sikapnya serius dan tulus.

Tanpa sangsi laki-laki tua mengulap tangan, maka rombongan berkuda itu mundur belasan langkah jauhnya.

Liok Kiam-ping segera merogoh batu jade berbentuk hati itu serta mengaCungkan tinggi dengan kedua tangan: 'Ongya kenal benda ini ?'

Sudah tentu Ka-cin-ong tahu dan kenal batu jade hijau berbentuk hati itu, karena mainan kalung ini sering tergantung dileher SriBaginda, boleh dikata setiap hari dia melihatnya, namun entah bagaimana bisa berada ditangan pemuda ini, dia duduk terlongong dipunggung kuda.

Liok Kiam-ping maju selangkah lebih dekat, dengan suara perlahan dia bercerita bagaimana mainan kalung batu jade ini bisa berada ditangannya, lalu dia angsurkan batu jade.

Ka-cin-ong terima batu jade itu sambil bergelak tawa, katanya: "Kalau begitu anggaplah aku yang banyak curiga dalam hal ini. Bila sidang pagi tiba, biar kulaporkan persoalan ini kepada Baginda, yakin persoalan akan beres tanpa merugikan pihak siauhiap. Siauhiap memang generasi muda yang paling menonjol, cerdik pandai dan berbakat jadi pemimpin, bagaimana kalau mampir ke istanaku."

Liok Kiam-ping menjura, katanya:

"cayhe orang awam yang tidak punya kemampuan apa- apa, syukur ongya sudi percaya kepadaku, kelak bila leluasa pasti akan mampir keistana. Maaf, urusan penting menunggu penyelesaian, sekarang juga, cayhe mohon diri." setelah menjura pula segera dia berlari ke arah barat.

Setelah meninggalkan Ka-cin-ong Liok Kiam-ping kembangkan ginkang kearah barat, cepat sekali dia sudah keluar dari pintu kota terus membelok ke utara, waktu itu sudah dekat kentongan lima, Cuaca sudah remang-remang. Diluar kota penduduk desa sudah sibuk memikul kayu bakar atau dagangan apa saja berduyun menuju ke kota maka jalanan semakin ramai.

Bila mengembangkan Ginkang menarik perhatian orang, maka Kiam-ping memperlambat langkah, namun karena menguatirkan keselamatan orang banyak maka langkahnya jelas masih lebih cepat dari orang jalan.

Bila fajar menyingsing diapun tiba di Tay-hud-si, setelah diperiksa, kecuali It-cu-kiam Koan-Yong dan Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay yang terluka, empat Hiangcu gugur dimedan laga, kerugian masih lebih enteng dibanding korban yang jatuh dipihak musuh.

Liok Kiam-ping memang pemimpin bijaksana, terhadap anggotanya tidakpandang bulu, tinggi rend ah dianggap sama, maka dia mendapat dukungan seluruh anggota bahwa anak buahnya ada yang terluka dan binasa, perasaannya jadi tertekan, wajahnya tampak sedih dan masgulpula.

Ai-pong- sut lebih tua dan tab ah, segera dia tertawa memecah kesunyian: "Bong siu dan Siu-Jan kerahkan seluruh kekuatan hendak menumpas kita, akibatnya justru mereka yang runtuh total, namaburukjabatan jatuh badan terluka lagi, yakin selanjutnya mereka takkan berani bertingkah pula terhadap kita.'

Jian- li-tok-heng tersenyum, katanya: "Kukira tidak demikian. Siu-Jan terkenal sebagai orang licik dan culas, perbuatannya serba jahat, setelah dia kocar kacir dikota raja, bukan mastahil mereka akan membalas kecabang kita diberbagai tempat. Yang paling dikuatirkan mereka meminjam kekuatan penguasa, dengan fitnah lalu menggrebek secara diam-diam, jelas kita tidak akan biaa menduga sebelumnya. Entah siapa pembesar yang mengejar tadi, bagaimana pula menyelesaiannya dengan Pangcu.' Liok Kiam-ping tersenyum, katanya:

"Peristiwa ini sudah diketahui oleh Ka-cin-ong, dan dia sendiri bertanggung jawab untuk menyelesaikan hal ini  kepada Baginda. Muslihat Siu-Jan terbongkar, yang harus kita kuatirkan memang berbagai cabang yang kekurangan tenaga, untuk ini kita harus cepat mengambil langkah seperlunya, betapapUn kita harus berjUang supaya para kawan yang gUgur meram dialam baka." habis bicara dia menghela napas panjang. Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong berkata:

"Pangcuperlu menjaga kondisi badan, tak usah kau bersedih hati, bagi kita yang hid up dalampermainansenjata, mati hidup sudah takterpikir lagi, demi membela keadilan dan kebenaran kaumpersilatan, gugur dimedan lagapatut dibanggakan. Sekarang markas pusatsedang kosong, kurasa kita perlu segera berangkatpulang sambil menyebar berita keberbagai cabang, sementara menghentikan keg lata n, sedapat mungkin menyembunyikan diri, bila situasi genting berlalu baru mulai beraksi lagi. Bagaimana pendapat Pangcu."

"Memang begitulah maksud hatiku." ucap Liok Kiam-ping lega, "mari kita segera berangkat."

ooooodowooooo Dibawah terik matahari dimusim rontok yang panas ini, puluhanpenunggang kuda sedang membedal tunggangan menuju kearah selatan. seolah-olah mereka lupamatahari sedang memancarkan cahayanya yang paling panas, namun tujuan mereka kekota Ki-ling belumjuga tercapai.

"Rombong an besar ini bukan lain adalah orang-orang Hong-lui-pang dibawah pimpinan Liok Kiam-ping, setelah meninggalkan kotaraja, lewat cin-hay, Jiang-ciu, G-kic lalu memasuki, wilayah Soa-tang. Tengah hari tadi mereka sudah istirahat di kota Lip-seng, Suma Ling-khong kangen kepada sang ibunda, setelah mendapatpersetuuan Liok Kiam-ping dia mohon diri menempuh perjalanan seorang diri. Setelah makan kenyang dan Cukup istirahat rombong an besar ini melanjutkan perjalanan keselatan, menjelang petang, mereka sudah berada di karesidanan Ki-poh masuk kota lalu menginap dihotel Pek-hok.

Setelah makan malam, mendadak Liok Kiam-ping teringat akan janjinya kepada pihak Kong-tong-pay, kaum persilatan menguta makan menepati janji dan dapat diperCaya, dengan wataknrya yang kaku dan jujur, betapapun malu bila ingkar janji. Maka dia kumpulkan orang banyak serta memberi penjelasan, urusan menyangkut kepentingan dan kebesaran nama Hong-lui-pang, waktu yang dijanjikan sudah hampirtiba, maka dendam perguruan harus segera dituntut. Setelah dibicarakan, lalu diputuskan Liok Kiam-ping harus segera meluruk ke Kong-tong ditemani Ai-pong-sut. Sementara rombong an lain tetap menuju keselatan kembali ke Un Ciu, pulang ke Kui-hun-ceng sebagai markas pusat mereka.

Keesokan harinya baru mereka melanjutkan perjalanan dan berpiaah, Liok Kiam-ping berdua menuju kebarat, sementara rombong an besar tetap menuju keselatan

Menempuh perjalanan bersama Ai-pong-sut yang pengalaman danpandai memilih jalan dekat Liok Kiam-ping tidal kapiran disepanjang jalan. Selama tiga hari dua malam mereka menempuh perjalanan tanpa bermalam, hanya sekedar istirahat setiap tiba waktunya makan, kalau mereka membekal kepandaian dan Lwekang tinggi maka badan tetap kuat, namun kuda tunggangan mereka yang kepayahan, terpaksa hari itu mereka bermalam di Tiang-an. Setelah mendapatkan hotel Jui-lay, mereka cari makan di restoran cui- sian-lou yang tak jauh letaknya dari hotel mereka menginap.

Mereka memilih tempat duduk yang dekat jendela, pelayan segera menghidangkanpesanan mereka. Dengan lahap Liok Kiam-ping makan minum tanpa banyak bicara.

Pada saat itulah. tangga loteng berkereot oleh langkah kaki dua orang tua yang berwajah berperawakan sama, mirip satu dengan yang lain, usia kedua orang tua kembar ini sudah tujuh puluh tahun, wajahnya bersih, namun sorot matanya berkilat tajam, sekilas pandang siapapun tahu bahwa Lwekang mereka sudah amat tinggi.

Dengan langkah lebar dan berat mereka naik keatas loteng, sekilas mereka menjelajah keadaan loteng lalu duduk dimeja tengah, sikapnya angkuh dan pongah. Dibelakang kedua orang tua ini ikutseorang laki-laki berusia empat puluhan memanggul pedang, sikapnya amat hormat dan munduk- munduk kepada kedua orang tua ini.

Melihat tampang kedua orang tua ini, hati Ang-pong-sut diam-diam merasa keki, namun sikapnya wajar, dengan jari yang dibasahi arak dia menulis diatas meja: "Perhatikan percakapan ketiga orang itu.'

Melihat kedua orang ini Liok Kiam-ping juga sudah menduga bahwa mereka memiliki kepandaian tinggi, mendapat peringatan Ang-pong-sut lagi, maka dia khusus perhatikan tingkah pola mereka, kalau sikapnya kelihatan biasa dan wajar, padahal dia sudah pasang kuping dengan mengerahkan tenaga murninya. Dengan taraf latihan lwekangnya yang tinggi, bila dia kerahkan tenaga murni. dalam jarak sepuluh tombak ada daon jatuh pun bisa didengarnya jelas, bila kali ini dia mengerahkan kemampuannya, nyamuk terbang dalam ruang restoranpun dapat ditangkapnya.

Sejenak hening, laki-laki tua yang duduk disebelah atas mendadak tertawa enteng, katanya: 'Loji, kerja sama kami dalam soal dagang kali ini, menurut pendapatmu, adakah sesuatu yang tidak sempurna?'

Laki-laki yang duduk didepannya segera menjawab: 'Hanya waktunya yang terburu-buru, ada hal Seng ih-hun biasanya bekerja cermat dan sempurna, menghadapi persoalan takkan mundur dan gugup, apalagi kedua pihak belum bentrok atau beri hadapan, namun dia sudah gugup dan ketakutan demikian rupa, kurasa hal ini patut kita selidiki dan perhatikan, bukan mustahil dibelakang persoalan ada udang dibalik batu?'

Laki-laki disebelah atas mendengus, katanya: 'Memangnya mereka berani betingkah dan merancang muslihat terhadap kami berdua.'

"Bila tiba saatnya, sebelum persoalan diselidiki jelas kurasa jangan terburu nafsu turun tangan, kalau gegabah tentu merugikan kita sendiri. '

Laki-laki setengah umur yang duduk disamping lekas berdiri dan menjura, katanya tertawa nyengir: 'cianpwe berdua semoga mendapat berkah. Kali ini Suhu mengundang kalian untuk kerja sama, tujuannya adalah untuk menuntut balas kematian The Hong Suheng dan para Sute yang terluka, pasti tiada tujuan lain, mengingat waktu yang dijanjikan sudah diambang mata kuatir musuh datang lebih dulu dan kita tak kuat menghadapinya, maka Tecu diperintahkan untuk mengundang cianpwe berdua, tujuannya jelas hanya untuk menuntut keadilan demi menyelesaikan persoalan ini secara adil." Laki-laki tua yang duduk disebelah atas bertanya: "Apakah benda itu masih ditangan lawan kalian"

Laki-laki setengah umur tertawa, sahutnya: "Hal ini tak perlu disangsikan, Cuma "

"cuma bagaimana ?" tanya laki-laki tua yang lain

Sengaja berkerut alis laki-laki setengah umur, katanya rawan: "Kabarnya lawan masih berusia muda, namun kekuatan Lwekangnya amat mengejutkan, belakangan ini seorang diri dia melukai Bong Siu, memukul Pa-kim Tayhud luka parah. Membuat onar di kota raja nama dan kebesarannya sudah menggetar dunia, dalam kalangan Bulim sekaran mungkin sukar dicari tandingannya."

Laki-laki yang lebih tua agaknya berwatak lebih berangasan, mendadak dia mendelik, bentaknya: "Umpama sejak dalam kandungan dia sudah meyakinkan Lwekang, dalam usia semuda itu, latihannya paling juga baru tiga puluhan tahun. Aku yakin Bong Siu dan lain-lain pasti gegabah dan memandang enteng lawan, atau terbokong oleh keroyokan musuh. Jikalau kebentur ditangan Lohu, dalam tiga jurus jangan harap dia bisa menyelamatkanjiwa, Loji, mumpung malam ini bulan purnama, kita terus melanjutkan perjalanan saja." beberapa saat kemudian setelah kenyang makan minum membayar rekening, mereka segera berangkat.

Agaknya laki-laki tengah umur itu tahu watak kedua orang tua yang suka diumpak dan dibombong, sengaja dia membuat mereka gusar supaya malam ini juga lekas melanjutkan perjalanan, hasutannya memang berhasil