Hong Lui Bun Jilid 21

Jilid 21

Fajar sudah hampir menyingsing, orang-orang kota bangun lebih pagi, jalan raya sudah mulai tampak orang berlalu lalang, peronda danpenjaga-penjaga kotajuga masih bekerja dan siap kembali kepangkalan, walau Kiam-ping tidak perluperlu kuatir kebentur mereka, namun untuk menempuh perjalanan cepat jadi agak terganggu. Karena itupula tekad mereka untuk lekas keluar kota lebih besar.

Syukurlah akhirnya mereka tiba diluar kota, tiba ditempat yang dijanjikan, baru saja Kiam-ping hendak memanggil Suma Lingkhong untuk pulang bersama ke Tay-hud-si, mendadak diatas tembok kota lima puluhan tombak dari tempat mereka berdiri seperti ada bayangan seorang melompat turun kebawah tembok, hanya sekali berkelebat lantas lenyap.

Liok Kiam-ping menguatirkan keselamatan Suma Ling- khong yang seorang diri menunggu di tempat ini, bila musuh tahu jejaknya lalu mengeroyok dan membekuknya, tentu tentu anggota Hong-lui-pang lain yang bertugas didalam kota akan terancam pula keselamatannya, maka Kiam-ping menyuruh Jian-li-tok-heng tinggal di sini menunggu dan mencari jejak Suma Ling-khong, bila perlu jejak mereka sepanjang jalan harus dilenyapkan, demikian pula harus peri hatikan adakah mata-mata musuh yang menguntit mereka. Lalu Liok Kiam- ping gendong Siau Hong bersama Ai-pong-sut kembali ke Tay- hud-si.

Padri-padri penghuni Tay-hud-si sedang sembahyang pagi, suara mantram mengalun jernih dipagi nan cerah dan segar, mendengar mantram yang lembut ini rasa penat seketika tak terasa lagi.

Sungkan masuk daripintu depan, Liok Kiamping berputar kesamping melompat masuk melompati pagar tembok. Setelah masuk kamar, istirahat sekedarnya, maka Siau Hong menceritakanpengalamannya sejak di culik.

Setelah dibawa kekota raja dia disembunyikan didalam Ling- hong- kek, beberapa kali padri-padri Tibet itu hendak merenggut kesuciannya, entah dengan bujukan atau rayuan selalu tidak berhasil. Ternyata Bong Siu dan Hwe-giam-lo tidak ambil peduli akan maksud cabul kawanan pa dri Tibet itu, memang ingin memancing kedatangan Liok Kiamping dengan kehadiran Siau Hong didalam istana. Tapi Pa-kim Tayhud tidak sabar lagi, sering mereka mendesak Bong Siu dan Hwe-giam- lo untuk segera bertindak. entah bagaimana akhirnya mereka mau menahan sabar, bila dalamjangka dua hari Liok Kiam- ping tidak keburu menolongnya, akibatnya sungguh tidak berani dibayangkan. Siau Hong mengakhiri ceritanya dengan tangis sesenggukan diatas kursi ma las.

Liok Kiam-ping merasa kasihan dan sedih pula, namun kuatir diketahui kawan padri dalam kuil ini, tentu bikin runyam keadaan, maka dia membujuk dan menghiburnya.

Mendadak daon jendela terpukul perlahan dan membuka, tampak cob-siang-hwi ih Tiau-hiong melompat masuk dengan pakaian pelayan warung arak.

Setelah berpisah dengan Liok Kiam-ping, seorang diri dia bergerak didaerah Ta-mo-siang, tahu jejak pihaknya sudah menarik perhatian orang-orang istana, maka dia menduga, dijalan-jalan raya pasti dyaga oleh mata-mata musuh yang mengawasi gerak-gerik pejalan kaki. Saat itu kentongan ketiga baru lewat namun penduduk kota raja masih banyak yang keluyuran dijalan raya. toko-toko masih buka, hotel dan restoranpun tak ketinggalan, suasana terang benderang, untuk mengembangkan ginkang jelas tidak leluasa. Pengalaman coh Siang-hwi Cukup luas, Cerdik dan Cekatan lagi, sedikit menaruh perhatian dia lantas menemukan beberapa orang yang sembunyi dipojok jalanan yang gelap. Diemper toko dan sepanjang jalan, gerak gerik mereka patut dicurigai. Maka dia pilih gang sempit dan lorong sepi, setelah putar kayun kian kemari akhirnya dia tiba didaerah yang tak jauh dari Ta-mo-siang-nya, sambil menyambar sebuah kranjang dia melompat keluar pagar lalu berjalan berlenggang dari gang sempit diujung timur.

Topi sengaja dia tarik rendah, langkahnya lebar, berjalan diantara kerumunan orang-orang kota yang mondar mandir, mulutnya bernyanyi kecil. Lekas sekali dia sudah tiba didepan Su-hay-ju, seketika hampir saja dia berdiri kaku saking kaget.

Ternyata didepan pintu besar hotel masing-masing berduduk didepan lelaki berseragam ketat, disekitar hotel bayangan orangpun bergerak selepas mata memandang, jumlah orang yang mengurung hotel ini sedikitnya ada empatpuluh orang Demikian pula diruang besar, dikamar kasir semua dijaga orang-orang penting.

Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiong bernyali besar, tabah dan teliti, seperti tak terjadi apa-apa dia jinjing kranjang ditangannya melangkah masuk kedalam sambil mendengus nap berat. Laki-laki yang duduk diujung pintu serempak melototi kepadanya. namun lekas sekali mereka sudah melengos kearah lain, seperti tidak sudi berurusan dengan pelayan yang berbau apek.

Coh-siang-hwi langsung masuk kedalam menuju kebilik barat, secara kasar dia berteriak: "Siangkong hidangan sudah kuantar."

Sebelum pintu terbuka dia sudah mendorongnya terbuka serta menyingkap kerai menyelinap masuk

Semua anggota Hong-lui-pang yang menyaru kacung buku melongo, baru saja mereka hendak menegor lekas Coh-siang- hwi angkat jarinya mendesis didepan mulut mencegah mereka bicara, Tidak lama dia berada didalan kamar. Dari, penjelasan kedua rekannya itu dia mendapat kabarjejak Kim-gin tay-beng yang menginap di Hotel Bok-jun tak jauh dari sini, maka begitu keluar dari Su-hay-jun, dia langsung menuju ke Hok- jun khek-can-

Kira-kira seratus tombak dia menuju keutara, dari kejauhan sudah tampak sederetan kereta barang yang diparkir didepan hotel Bend era IHong-jang Piaukiok berkibar ditiup angin, tampak merah dan angker bendera piaukiok itu.

Coh-siang-hwi amat teliti, didepan hotel dia adakan pemeriksaan lebih dulu. Setelah yakin tiada sesuatu yang mencurigakan baru dia melangkah masuk kedalam hotel.

Dalam hati dia menduga mereka mungkin sudah berhasil mengelabui orang-orang istana yang bertugas ditempat ini. Diujung serambi yang membelok kekanan, kebetulan dia bersua dengan Thi-pi-kim-to Tan Kianthay yang sedang berjalan. Lekas dia memburu maju sambil memberi tanda ulapan tangan sekalian dia melempar segulung kertas.

Sekilas pandang Tan Kian-thay sudah kenal samaran Coh- siang-hwi, tahu urusan agak ganjil lekas dia raih gulungan kertas itu lalu dibeber dan dibaca, akhirnya dia manggut.

Karena tugasnya selesai lekas Coh-siang-hwi berputar keluar hotel. Dijalan raya dia tidak balik dari arah datangnya tadi tapi mengembangkan ginkang menuju ketempat gelap.

Kentongan ketiga baru saja lewat Coh-siang-hwi Ih Tiau- hiong sudah menyembunyikan diri dibawah pohon rimbun didepan istana Ka-cin-ong. Sayup-sayup didengarnya suara ribut didalam dia menduga Liok Kiam-ping tentu sudah turun tangan, sebetulnya besar niatnya ikut menerjang masuk membantu, namun mengingat tugasnya disini amat penting, terpaksa dia menahan sabar.

Kentongan keempat sudah lewat, Liok Kiamping beramai belum juga keluar, karuan hatinya makin gelisah. Suara ribut- ribut dalam mendadak juga hening dan sepi, karuan rasa gugupnya bertambah besar. Sudah tentu diluar tahunya saat itu Liok Kiamping sudah jauh menjelajah kedekat Ling hong- kek.

Coh-siang-hwi menunggu dengan rasa tidak karuan- Mendadak dilihatnya empat bayangan orang dengan kecepatan kilat serta lincah melesat keluar dari dalam istana. Waktu dia tegasi, dilihatnya yang keluar adalah Liok Kiamping menggendang siau Hong, dibelakangnya adalah Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng tahu usaha mereka berhasil, sungguh girangnya bukan main

Baru saja dia hendak bersuara memanggil, mendadak dilihatnya sesosok bayangan orang laksana burung terbang bergerak mengintil dibelakang Liok Kiam-ping dalam jarak tiga puluhan tombak. Coh-siang-hwi tertawa dingin, pikirnya: "Bong Siu memang teramat Culas dan licik agaknya dia ingin menjaring kita semuanya. Sayang malam ini kau membentur ditangan ih Thiau-hiong, jangan harap keinginanmu bisa terkabul.. segera dia kambangkan coh-sian-hwi (terbang diatas rumput) laksana panah meluncur dia melesat ke sana mencegat bayangan hitam itu. Hanya beberapa kali lompatan puluhan tombak sudah dicapainya. Kontan dia ayun tangan menimpukkan segenggam pasir kearah bayangan hitam yang menguntit itu.

Bayangan itusedang meluncur pasti tidak menduga bakal disergap. namun dia berusaha mengerem daya luncurannya serta melompat tinggi kesamping, waktu dia menoleh pandang kearah penyergapnya, baru dia melihat jelas dandanan Coh- siang-hwi, karuan dia menggerutu dalam hati: "Dalam waktu begini kenapa aku kesamplok dengan orang rendahan, mungkinkah pihak mereka sudah menanam orang-orangnya di kota raja ?" lalu dia membentak: "Berdiri, Kunyuk bernyali besar, berani kau membokong tuan besarmu."

Memangnya Coh-siang-hwi orang apa, tanpa hiraukan tegoran orang dia tetap melangkah lebar kedepan. Sudah tentu laki-laki baju hitam itu merasa teri hina, amarahnya membara, mungkin sudah biasa dia berbuat sewenang- wenang didalam kota, segera meloncat kedepan mencegat ih Tiau-hiong seraya mengayun golok, bentaknya: "Keparat, memangnya kau sudah makan nyali Harimau berani melawan perintahku." coh siang hwi melirik hina, jengeknya:

”Jalan raya tempat umum, siapapun boleh berjalan dengan bebas, di kota raja kau berani main Cegat, memangnya mau rampok atau, begal ?'

Saking gusar laki-laki itu bergelak tawa, serunya: "Keparat, jangan pura-pura pikun, kau kira tuan besarmu gampang kau apusi, bicaralah jujur, kalau bohong awas .."

"Awas apa ?" tantang Coh-siang-hwi.

"Kau akan kuringkus dan kugusur kepenjara."

"Memangnya aku melanggar hukum, berani kau menangkap aku."

"Keparat berani melawan, rasakan golokku." golok  besarnya segera menabas leher Coh-siang-hwi.

Sudah tentu cob-siang-hwi tidak pandang sebelah mata, sengaja dia bersikap gugup dan ketakutan, langkahnya sempoyongan dua tindak, kebetulan dia dapat meluputkan diri sementara mulutnya berteriak-teriak: "Tolong rampok membunuh orang, Tolong ada begal disini"

"Keparat, sampai pecah tenggorokanmu juga tak berguna. damprat laki-laki baju hitam, kembali goloknya membelah dari atas.

Coh-siang-hwi menggeliat tubuh lalu berkelit kekiri, mulutnya masih mengoceh: "Rampok kejam, bila kena bacokanmu, bukankah badanku terbelah jadi dua." mendadak dia menggeser ke kiri tubuhnya setengah jongkok sambil berputar, tangan kanan menekan kepantat laki-laki baju hitam. Gerak geriknya Cekatan.. Bacokan golok mengenai tempat kosong, karena terlalu bernafsu laki-laki itu menggunakan tenaga besar sehingga tubuhnya ikut terseret maju, baru dia berusaha mengerem tubuhnya "Plak" pantatnya kena ditabok sekali karuan tubuhnya mencelat kedepan, walau Coh-siang-hwi tidak menggunakan banyak tenaga, tapi rasa sakit pedas membuat dia berdiri meringis.

Karena pantatnya dihajar sudah tentu laki-laki itu makin gusar, bentaknya: "Keparat, ternyata kau juga berisi, serahkan nyawamu."

Baru saja goloknya terayun hendak menubruk maju, mendadak dari hutan sebelah kiri kumandang suara serak berat berkata: "Siau-hoa-pan (Macan kumbang cilik), kenapa kau, jangan biarkan penyatron melarikan diri," suaranya sudah amat dikenal.

Belum lenyap suaranya sesosok bayangan orang sudah meluncur turun disamping mereka. sekian melirik Coh-siang hwi melihat jelas, pendatang ini adalah Seng-si-ciang Hou Kongki. Maka tahulah dia bahwa musuh mengerahkan seluruh kekuatannnya untuk mengejar jejak mereka, menduga Liok Kiam-ping beramai sudah pergi jauh, maka dia harus berusaha meloloskan diri.

Hou Kong-ki menyeringai dingin: "Anak muda, tidak kecil nyalimu berani mencegat petugas hukum, lekas ikut Lohu kembali ke istana, hukumanmu boleh diperingan, kalau membangkang, hm, hehehe.”

"Kalau membangkang kenapa ?" "Kau akan mampus di sini.'

"Ah, apa iya, kukira tidak."

"Bedebah, kau ingin mampus." damprat Hou Kong-ki, kedua tangannya memukul dengan tenaga dahsyat kearah Coh-siang-hwi. Selicin belut Coh-siang-hwi menerobos lewat dari bawah melompat setombak jauhnya, Seng-si-ciang (pukulan mati hidup) Hou Kong-ki bersuara heran, tak nyana bocah yang sepele ini ternyata memiliki ketangkasan luar biasa, kembali dia maju dua langkah, kedua tangan kembali memukul, daya pukulannya lebih besar dan hebat.

Baru saja ujung kaki Coh-siang-hwi menginjak tanah, belum lagi berdiri tegak, pukulan kedua lawan sudah mendera tiba. Jelas terlambat sedikit dia bakal terluka parah. Untung dia memiliki ginkang tinggi, Cukup menutul sedikit tubuhnya sudah melambung dua tombak, di tengah udara kembali tubuhnya melejit seperti ikan yang melenting dari permukaan air, sehingga tubuhnya mumbul lebih tinggi hinggap dipucuk pohon. Beg itu dia mengembangkan ginkangnya Seng-si-ciang Hou Kong-ki betul-betul terlongong dibuatnya.

Sekilas dia melenggong itulah, begitu menutul pohon tubuh Coh-siang-hwi sudah melambung tinggi pula kedepan, beruntun beberapa kali lompatan sudah mencapai belasan tombak.

Seng-si-ciang Hou Kong-ki termasuk orang ternama, sudah tentu dia pantang berpeluk tangan membiarkan lawan lolos dari hadapannya. Sambil menggerung gusar segera dia melompat juga ke atas pohon terus mengudak kencang.

Coh-siang-hwi tahu seng-si-ciang Hou Kong-ki pasti mengejar dirinya, maka sengaja dia berputar ke selatan. gerak geriknya segesit kelinci yang lari ketakutan mencari perlindungan, dari beberapa lompatannya dapat dinilai betapa sempurna latihan ginkangnya, hanya sekejap dia sudah meluncur seratusan tombak jauhnya. Lwekang Seng-si-ciang cukup tangguh, melihat lawan bergerak tangkas dan gesit, lekas diapun mengembangkan Ginkang. Namun sudah setaker tenaga dia kerahkan, Coh-siang-hwi masih puluhan tombak disebelah depan. Karuan makin berkobar amarahnya, tanpa pikirkan akibatnya segera dia kerahkan dua belas tenaganya, kini langkahnya lebih enteng dan Cepat, sehingga jarak kedua pihak ditarik lebih pendek tinggal belas an tombak lagi, namun napas Hou Kongki sendiri juga sudah sesak dan sengal-sengal, badan basah kuyup oleh keringat.

Kini Coh-siang-hwi berlarian kearah barat, didepan lapat- lapat terlihat kemilau Cahaya refteksinar dipermukaan air. Menurutperi hitungan kecepatan larinya, dia menduga dirinya sudah hampir tiba diujung akhir dari Lam-hay. Karuan hatinya girang. langkahnya dipercepat, hanya sekejap dia sudah meluncur dekat ketempat yang dituju. Selepas mata memandang permukaan air melulu, suasana hening sepi tiada bayangan manusia, menyusuri pesisir dia berlari terus kebarat lalu menuju kesemak-semak daon welingi yang berbentuk selat. Semak-semak welingi tumbuh subur setinggi manusia, dari pinggir sini menjurus kesebrang sana.

Ih Tiau-hiong kerahkan tenaga murninya, segera dia kembangkan Ginkang Ting-bing-to-cui, tubuhnya meluncur seringan kupu ketengah semak welingi. Ujung kakinya menutul pucuk daon welingi, daya pantulnya tubuhnya terus melejit majupula secara berganda. Hanya beberapa kali lompat berjangkit seratus tombak telah dicapainya gerak geriknya tidak kalah cepat berlari ditanah datar. Memang tidak malu dia dijuluki

Coh-siang-hwi, kenyataan memang dia mampu meluncur secepat angin diatas rumput.

Setiba dipinggir semak-semak welingi, selepas mata memandang sekitarnya belukar melulu, menyaksikan betapa hebat Ginkang orang, yakin diri sendiri tidak mampu melakukan, terpaksa dia berdiri melongo dan menghela napas gegetun, akhirnya dia membanting kaki laluputar balik.

Baru saja Coh-siang-hwi selesai menceritakan pengalamannya, kerai tiba-tiba tersingkap  Jian-li-tok-heng dan Suma Ling-khong melangkah kekamar. Sebelum duduk mulut Jian-li-tok-heng sudah mengomel: "Kawanan kunyuk itu memang licin dan licik, kalau aku terlambat datang, Suma-hiante tentu ketipu mereka..." setelah berpisah dengan Liok Kiam-ping, Jian-li-tok-heng menyelinap masuk kehutan.

Di sini dia berhenti sejenak dan menunggu, tak lama kemudian tiga bayangan hitam secara beruntun meluncur tiba dari depan, jarak setiap bayangan ada dua puluh tombak, gerak gerik mereka tangkas langkah ringan, jelas mereka mereka memiliki Kungfu yang boleh diandalkan.

Bayangan terdepan setiba didepan hutan mulutnya mendadak bersuara heran, kedua kaki menjejak. tubuhnya lantas meluncur kearah Liok Kiam-ping pergi. Sebelum tubuhnya meluncur pula mendadak dari samping kanan hutan menerobos keluar seorang, pedang panjang berkelobat terus menabas turun. Bayangan hitam itu memang Cekatan, melihat pedang terpaut lima dim di atas kepalanya, lekas dia kerahkan Jian-kin-tui sehingga tubuhnya melorot kebawah terus mengegos pula kepinggir.

Disaat tubuhnya berputar bayangan hitam itupentang kelimajarinya dengan jurus

Tam-tui- ciang menepuk kepundak penyergapnya . Penyerang ini ternyata bukan lain adalah Suma Ling-khong.

Suma Ling-khong pasang kuda-kuda merendahkan tubuh sehingga pundaknya tidak kena tepukan lawan, pedang ditangan kanan dari membelah diganti menggiris lengan bayangan hitam.

Gerakan pedangnya enteng dan lincah, secepat kilat menyambar, lengan lawanjelas pasti teriris oleh tajam pedangnya. Mendadak dari kiri membelah segulung tenaga keras membentur tangan kanan Suma Ling-khong yang memegang pedang sehingga tertolak mundur keatas. Bayangan hitam yang datang duluan segera berputar seperti gangsingan menerobos pergi dari bawah sinar pedang, mumpung Suma Ling-khong terjengkang kebelakang, Ujung kakinya dengan gaya ikan lele melompati pintu naga tubuhnya meluncur setombak jauhnya,

Melihat dua lawan mengeroyoknya, karuan Suma Ling- khong naik pitam, matanya mendelik gusar, kini dilihatnya jelas kedua orang baju hitam berusia lima puluhan, pendatang dulu berperawakan lebih gemuk.

Suma Ling-khong tenangkan hati menghimpun tenaga, dia tahu sebentar lagi akan terang tanah, urusan tidak boleh diulur panjang, dia harus berusaha meloloskan diri  secepatnya, baru saja dia a ngkat pedang hendak melabrak lawan- Bayangan hitam ketiga telah meluncur tiba pula dipinggir gelanggang.

Perawakan orang ketiga ini agak kekar tinggi, rambut dan alisnya sudah memutih, usianya diatas enampuluh, matanya cekung hidangnya betet, bolamatanya bersinar biru, jelas lwekangnya amat tinggi. Begitu dia tiba kedua orang baju hitam yang datang duluan segera menjura dan memberi hormat lalu berdiri dikanan kirinya.

Laki-laki berub an ini terkial-kial dengan nada dingin, suaranya lebih jelek dari pekik kokok-beluk, wajahnya yang tirus tampak menyeringai seram dan sadis, siapapun akan mual melihatnya. Setelah puas tertawa dia berkata sinis: 'Tikus bernyali besar, tengah malam buta rata berani kau mencegat petugas hukum yang menjalankan tugas, kalau tahu diri lekas laporkan di mana pangkalan kawanan bangsat Hong- lui-pang, Losiu akan ampuni jiwamu kalau membangkang jiwamu tidak terampun lagi."

Suma Ling-khong balas tertawa lantang, serunya: "Mohon maaf, kiranya kalian petugas hukum yang sedang dinas tengah malam buta rata makan angin bercapek lelah, sungguh petugas teladan yang patut dipuji. Bicara tentang di mana pangkalan orang-orang Hong-lui-pang, terus terang saya ini orang awan yang tidak tahu apa-apa, kalian petugas hukum tentunya cukup mampu untuk mencarinya sendiri."

Laki-laki muka tikus merasakan jawaban Suma Ling khong bernada menyindir, seketika merah mukanya, dengusnya: "Kurcaci busuk, agaknya kau sudah bosan hidup," kedua tangan terangkat kedua tangan menepuk bersama kedepan, segulung tenaga kencang menerjang kearah Suma Ling- khong.

Seumpama kambing-kambing kecil yang tidak takut harimau. Suma Ling-khong tidak pedulikan betapa lihaynya lawan, lekas dia mas ukan pedang, dengan kedua tangan dia balas memukul sekuat tenaga menangkis pukulan lawan- "Plak" benturan keras mengakibatkan Suma Ling-khong tergentak tiga langkah, da rah dalam tubuhnya agak mendidih.

Laki-laki tua muka tikus tertolak setengah langkah. Karena adu pukulan dirinya lebih asor Suma Ling-khong agak grogi, hatinya bimbang di saat dia kebingungan- Laki-laki muka tikus tidak memberi kesempatan lagi kepadanya, kedua tangan bersilang, disertai gerungan keras dia dorong pula kedua tangan dengan dua belas bagian tenaganya memukul kearah Suma Ling-khong. Perbawa pukulannya jauh lebih  dahsyat dari jurus pertama tadi.

Sekilas tenaga Suma Ling-khong sudah terlambat mau berkelit, dada terasa sesak seperti ditindih barang berat, jelas dia bakal terluka pa rah oleh pukulan dahsyat ini. Untunglah pada saat gawat itu, dari hutan disampingnya mendadak meluncur segulung kekuatan deras menyongsong pukulan dahsyat laki-laki muka tirus. "Byaar" ledakan yang terjadi dari benturan kedua pukulan laksana gemuruh halilintar, menimbulkan pusaran hawa yang membumbung tinggi keudara. Setelah melontarkan pukuian menangkis serangan laki-laki muka tirus Jian li-tokheng sudah melompat ketengah gelanggang sambil bergelak tawa. Serunya: "Sungguh tak nyana Hou-san-it-siu ternyata juga mengabdi diri kepada kerajaan. ong-losu, caramu main berantas tanpa memberi peringatan lebih dulu apakah tidak terlalu picik, apa tidak takut merusak nama baikmu selama ini ?"

Hou san-it-siu adalah namajulukan laki-laki muka tirus, namanya ong Tang, dari perguruan Tiang-pekspay, Lwekang ajaran perguruannya sudah diyakinkan mencapai taraf tertinggi, tiga puluh tahun yang lalu namanya sudah menggetar Kangouw, namun karena sifatnya yang eksentrik menimbulkan kebencian khalayak ramai, sehingga dia susah bercokol lagi dipercaturan dunia persilatan- Dua puluh tahun yang lalu, karena suatu peristiwa, perb uatannya dianggap kotor hina dan memalukan sehingga diusir dari perguruan, maka selanjutnya dia menyembunyikan diri. Diluar tahu orang luar dia terjun kealiran Micong di Tibet memperdalam ilmu. Kali ini atas undangan Bong Siu dan Pa-kim Tayhud sengaja dia datang membantu untuk membrantas orang-orang Hong- lui-pang. Kaum persilatanjarang yang tahu seluk beluknya.

Sungguh tak nyana bahwa Jian li-tok-heng membongkar asal-usulnya, karuan dia melenggong, tapi lekas sekali dia sudah bergelak tawa, katanya: "Entah sudara dari a lira n mana, ternyata masih mengenal Losiu, sudikah kau memperiihatkan wajah aslimu ? Atau sudi kiranya sebutkan nama gelaranmu ?"

Ternyata Jian - li - tok - heng mengenakan cadar hitam menutupi mukanya, dengan gelak tawa dia berkata: "Bagus, bagus. Asal kau dapat mengalahkan kedua tanganku, siapa diriku boleh nanti kuberi tahu kepadamu."

Memangnya watak Hou-sau-it-siu eksentrik, karuan dia naik pitam: "Sahabat, agaknya memandang rendah orang she ong, terpaksa biarlah kita tentukan dengan adu kepandaian saja." lalu dia bersiap mengerahkan tenaga. Jian- li-tok-heng berdiri dengan sikap jumawa, hakikatnya tidak kelihatan dia bersiap atau memasang kuda-kuda. Di sinilah dia memperlihatkan kematangan pengalamannya, sebelum bergebrak. dia tidak ingin memperlihatkan aliran kepandaian silat sendiri kepada lawan.

Ditunggu-tunggu lawan lawan tetap berdiri tak acuh, Hou- san-it-siu menjadi tak sabar, serunya: "Kenapa ? Hayo serang."

Makin berkobar amarah Hou-san-it-siu sung guh tak terpikir olehnya bahwajiwanya sendiri sudah eksentrik, ternyata lawan yang dihadapinya justru lebih nyentrik lagi ? Karena itu, betapapun dia jumawa dan tinggi hati. mau tidak mau harus berlaku waspada, apalagi dalam adu kekuatan pukulan tadi sedikitpun dirinya tidak memperoleh keuntungan-

Segera dia mengkonsentrasikan pikiran dan batin, seluruh kekuatan Lwekang dikerahkan dikedua lengan, ditengah hardikan rendah: "Lihat pukulan." kedua tangan mendadak menjotos kedada Jian-li-tok-heng. Sebelum pukulannya mengenai sasaran, suara angin mengamuk sudah menunjukkan perbawa pukulannya .

Melihat lawan menghimpun tenaga Jian-li-tok-heng tahu bahwa serangannya pasti sepenuh tenaga, apalagi deru pukulannya seperti angin ribut, maka Jian-li-tok-heng tidak berani ayal, lekas dia menyurut selangkah, kedua tangan menbundar didepan dada lalu kerahkan tenaga menangkis kearah pukulan lawan

Dua kekuatan beradu. Tubuh bagian atas Jian-li-tok-heng terjengkang sedikit, kaki kanan mundur setengah langkah Hou-san-it-siu tertolak mundur tiga langkah berat baru berdiri tegakpula. Bahwa latihannya puluhan tahun ternyata sia-sia, karuan amarahnya makin memuncak. padahal dia sudah berlatih sepuluh tahun dengan rajin, hari ini pertama kali mengadu kepandaian setelah keluar kandang, ternyata dirinya kecundang ditangan lawan yang tidak dikenal, karuan mukanya merah padam, sehingga mukanya yang tirus kelihatan jelek dan seram.

Adu pukulan menang seurat, kemenangan jelas dipihaknya, maka Jian-li-tok-heng bergelak tertawa: "Dengan bekalmu yang tak seberapa ini berani menahan orang. Nah, sambutlah sejurus pukulan Lohu."

Sembari bicara tenaga dikerahkan dikedua tangan serta ditekan keluar dengan gerakan enteng, gayanya seperti menggempur dengan keras, padahal tenaga tidak disalurkan

Sekali kena pukulan Hou-san-it-siu sudah teramat jeri, sudah tentu dia tidak berani menangkis, lekas menjejak mundur selangkah, ternyata samberan tenaga lawan mendadak sirna, karuan dia melongo kaget, batinnya: "Pukulan macam apakah ini ?"

Mumpung lawan mundur dan melenggong, mendadak Jian- li-tok-heng mendesak setapak lebar, kali ini tenaga pukulannya betul-betul dilontarkan dengan tepukan dahsyat, perbawa pukulannya betul-betul lebih mengejutkan dari pukulan yang tad i.

Sedikit lena pukulan dahsyat sudah menindih tiba, balas memukuljelas tidak keburu, lekas Hou-san-it-siu gunakan Bit- cang-pou (langkah menyesatkan jejak) berkelebat hilang dari tempat berdirinya.

Gerak tubuhnya ternyata cukup tangkas mengejutkan, langkahnya itu memang kepandaian tunggal yang tidak sembarang di ajarkan kepada orang aliran Bit-ciong, padahal Jian li-tok-heng juga tokoh yang mahir menggunakan kesebatan tubuhnya, pandangannya yang tajam ternyata tidak sempat mengikuti gerakan lawan, tahu-tahu orang sudah lolos dari damparan angin pukulannya. Tahu keadaan agak ganjil lekas Jian-li-tok-heng melompat mundur lima kaki jauhnya. Hoa-san-it-siu terkekek pongah, tangan bergerak. kembali ia menubruk dengan serangan gencar. Dengan kesebatan Bit- ciong-pou yang mengaburkan pandangan, dia bergerak dengan kecepatan luar biasa, sejauh ini dia tidak berani main keras lagi.

Maksud Jian-li-tok-heng semulaingin memukul mundur lawan, lalu menyusul ke dalam Tay-hud-si, menghadapi langkah lawan yang mengaburkan pandangan, sukar juga dia meninggalkan lawan, kecuali diapun ikut bergerak sebat untuk melabraknya dengan sengit.

Baku hantam kedua orang ini makin cepat, bayangan mereka berkelebat saling gubat, hingga susah diikuti dan dibedakan bayangan mereka. Tenaga pukulan Jian-li-tok-heng lebih kuat, dalam melancarkan serangan dan menyambut serangan lawan, dia lebih banyak aktif dari lawannya, setiap peluang tidak pernah diabaikan, segera balas menyerang dengan serangan telak. ins af tenaga lebih asor, Hou san-it-siu tidak berani melawan dengan kekerasan, hanya lena sekilas saja, rangsakan lawan yang hebat telah menyudutkan dirinya keposisi yang terdesak.

Dalampada itu Suma Ling-khong tengah menyaksikan dengan takjup, Mendadak didengarnya seorang membentak: "Kawan, kau jangan nganggur saja." sebelum Suma Lingkhong memberi jawaban, empat gulung angin pukulan sudah memberondong tiba dari kanan kiri, betapa hebat sergapan yang diluar dugaan ini, cukup mengejutkanjuga.

Begitu mendengar bentakan, belum sempat Suma Ling- khong perihatikan lawan yang menyergap. pukulan sudah menderu tiba, lekas dia menjejak kedua kaki, tubuhnya melejit setombak ditengah udara dia menggeliat pinggang hingga tubuhnya berputar setengah lingkar, dengan gaya yang indah dia meluncur dua tombak jauhnya.

Hatinya geram karena dua lawan membokong secara licik dan kejam, segera dia memekik keras, tangan meroboh pedang panjang dipunggung. sekali gentak dengan gerakan membundar dia menusuk Jian- kin- hiat dipundak laki-laki baju hitam yang perawakan pendek gemuk dengan jurus Pekcoa- toh-sin.

Bahwa pukulan derasnya luput, tahu-tahu pedang lawan sudah menusuk dari kanan, lekas dia menurunkan pundak sambil menyurut mundur. Seorang baju hitam yang lain hendak memungut keuntungan, mumpung gerak pedang Suma Ling-khong berputar, dari pinggir mendadak dia menggempur pula dengan sekali pukulan.

Belum lagi tusukan pedangnya dilancarkan sepenuhnya, pukulan angin lawan telah menerpa tiba, lekas dia geser kaki kanan hingga tubuhnya setengah miring, tusukan pedang kedepan dengan sendirinya ikut bertolak balas menabas pergelangan lawan yang membokong ini.

Sebat sekali laki-laki gemuk pendek sudah membalik badan, kembali dia menubruk dengan jurus Siang-tui-ciang menggempur Ling-tai-hiat dipunggung Suma Ling-khong. Mengikut gerak pedangnya yang menabas miring, kaki kanan Suma Ling-khong menutul hingga tubuhnya minggirtiga langkah. Gerak pedangnya bukan saja lincah juga cepat dan kuat, bolak balik dia cecar kedua lawannya dengan serangan mematikan. Sinar pedangnya gemerdep diantara samberan pukulan tangan yang gencar, meski dikeroyok dua, dia masih melayani lawannya dengan seimbang.

Sementara itu, dengan keunggulan tenaganya Jian-li-tok- heng terus mencecar lawannya, dalam hati dia membatin: 'Kentongan kelima sudah lewat, sebentar lagi akan terang tanah, bertempur cara begini, mungkin harus seratus jurus baru dapat membekuk lawan." tiba-tiba timbul akal dalam benaknya, setelah lawan dia rangsek dengan serangan membadai, mendadak gerakannya menjadi lamban, kaki tangan kelihatan kaku dan berat. Disaat melangkah dan memutar badan sengaja dia melimbungkan tubuh, napaspun mulai memburu.

Hou-san-it-siu kira setelah merangsak gencar lawan mulai kehabisan tenaga, tak terpikir olehnya bahwa orang sedang mengembangkan gerak langkah aneh ciptaan sendiri yang dia cangkok dari cui-pat-sian- Karena senang, Hou-san-it-siu kembangkan Bit-clong pou sekuat tenaganya, gerak tubuhnya berkelebat laksana kilat menyambar, boleh dikata membuat pandangan orang kabur, tenaga serangannyapun mulai keras dan berani.

Tahu lawan sudah terpancing oleh muslihatnya, makin kacau gerak gerik Jian-li-tok-heng, tubuhnya limbung kian kemari, ada kalanya dia membuat kakinya meleset beberapa langkah baru berdiri pula.. Meski gerakannya sudah pontang panting, namun Hou-san-it-siu tetap tak mampu menyentuh ujung bajunya, apa lagi menjamah badannya.

Waktu itu Jian li-tok-heng sedang meluputkan diri dari tendangan dan Cengkraman bersama dari hou-san-it-siu yang sudah bernafsu meroboh kan dia, dengan terus sempoyongan dia mundur dua langkah. sebelum dia berdiri tegak. Hou-san- it-siu sudah menerjang tiba, kedua tangan menggempur dengan dua belas bagian tenaganya secara beruntun.

Mendengar deru angin Jian-li-tok-heng sudah bersiaga, tahu Hou-san-it-siu menggempur dengan setaker tenaga, lekas dia bergerak dengan Jit-sing-lian-hou-pou, sebat sekali badannya berkelit kekanan, disaat tubuhnya roboh hampir menyentuh tanah, setangkas tupai mendadak tubuhnya berputar laksana gangsingan, dengan kecepatan yang tak terukur, dia menyelinap kepinggir kanan Hou-san-it-siu, di mana kedua tangannya menjojoh kebawah iga dan ketiak lawan

Bahwa lawan sudah dicecarnya pontang panting, Hou-san- it-siu sudah kegirangan karena lawan akan dipukulnya roboh, celakanya begitu serangan kebacut dilontarkan, bayangan lawan mendadak lenyap. sebagaijago silat kenamaan dia lantas insaf posisi sendiri yang tidak menguntungkan, menarik serangan jelas tidak sempat. saking bernafsu menyerang tubuhnya ikut tersuruk kedepan, baru saja dia hendak kendalikan diri, angin kencang sudah mengancam lambungnya.

Jikalau pukulan lawan kena dengan telak kalaujiwanya tidak mampus seketika pasti juga sekarat, Untung Lwekangnya tinggi, meski terancam bahaya tidak gugup, sekalian dia kerahkan tenaganya menerjang maju selangkah, dengan sendirinya, sasaran pukulan Jian-li-tok-heng menjadi serong, kekuatannyapun sirna sebagian, namun pantatnya tetap kena dengan telak.

Ditengah jeritan mengerikan tubuh Hou-san-it-siu yang keras itu terbang setombak jauhnya, tulang rusuk pantatnya patah, setelah terbanting ditanah dia meronta-ronta sambil merintih kesakitan

Mendengar jeritan Hou-san-it-siu, kedua laki-laki baju hitam yang bergebrak dengan Suma Ling-khong segera melompat keluar kalangan pertempuran, berbareng mereka memburu datang memberi pertolongan, melihat luka-luka Hou-san-it-siu amat parah, lekas mereka menggotongnya pergi tanpa bersuara sepatahpun.

Suma Ling-khong hendak mengudak. lekas Jian-li-tok-heng mengulap tangan mencegahnya, setelah ketiga orang itu tak kelihatan bayangannya, lekas mereka kembali ke Tay-hud-si.

ooooo)dow(ooooo

Setelah Jian-li-tok-heng menceritakan pengalamannya, sementara itu hari sudah terang tanah, setelah bertempur semalam suntuk. mereka merasa badan penat,perut lapar dan dahaga setelah makan ala kadarnya, mereka beristirahat, waktu bangun tidur hari sudah menjelang lohor. Dengan suara lirih Liok Kiam-ping berkata: "Bahwa semalam kita berhasil lantaran bekerja menurut rencana dan situasi memang menguntungkan- Bahwa muslihat musuh menjebak kita tidak terlaksana, bukan mustahil selanjutnya mereka akan lebih jahat dan membalas dengan segala daya, secara terbuka Hwe-giam-lo Siu-Jan sudah menyatakan tantangan untuk berduel, membuktikan bahwa mereka siap mempertaruhkan seluruh kekuatan mereka untuk menumpas kita. Yang menjadi kapiran adalah Kongsun Tongcu dan lain- lain belum lolos keluar kota situasi berobah cukup cepat dan genting, tiada cara untuk mengadakan kontak dengan mereka, hal ini cukup membuat kita prihatin-'

"Hm," Ai-pong-sut bersuara dalam mulut, lalu katanya: "Peristiwa ini sudah diketahui oleh Ka-cin-ong, umpama dia tidak mengadakan pengusutan secara teliti, paling sedikit cukup menyiutkan nyali mereka, hingga selanjutnya tak berani sewenang-wenang lagi, hakikatnya mereka seperti ma can kertas, kuat diluar lemah didalam, tantangan duel itu hanya gertak sambel belaka."

Setelah menepekur Jian-li-to-heng angkat bicara: "Kurasa tidak seluruhnya betul, melihat betapa kuat dan ketat penjagaan dalam kota, mata-matanya tersebar luar, dari sini dapat disimpulkan bahwa Siu-Jan sudah punya suatu kekuatan meski kecil didalam kota raja, bilaintrikjahat mereka belum terbongkar, yakin mereka masih berani bertindak. "

Berdiri tegak alis Liok Kiam-ping, desisnya: ”Jikalau mereka masih berani berlaku sewenang-wenang, demi keselamatan, kejayaan dan nama baik Hong-luipang kita, betapapun akan menghadapinya dengan berani.”

Ai-pong-sut Thong cau berkata: Jikalau kebentur padri Tibet lagi, akan Losiu hajar mereka dengan sepasang Yam- yam-tuiku." agaknya setelah dua kali gebrak tak berhasil merobohkan lawan, hatinya amat penasaran Coh-siang-hwi Ih Tiau-hiongjuga berkata: "Kali ini mereka sudah lama mempersiapkan diri maka kekuatannya cukup tangguh. setelah mengalami kekalahan sekali pastitakkan berpeluk tangan, apalagi kota raja adalah daerah kekuasaan mereka, jikalau bertarung terang-terangan, pihak kami jelas tidak periu gentar, yang harus dikuatirkan mereka meng gunakan cara kotor, tidak menghiraukan aturan Bulim lagi, maka keadaan kita jelas cukup kritis. Sesuai yang diutarakan oleh Pangcu, lebih baik kita berusaha membantu Kongsun Tongcu beramai keluar kota, balik kekuatan kita berkumpul, menghadapi sesuatu perobahanpun tak perlu takut, disamping itu tenaga harus dipencar untuk mencari berita, mata-mata mereka tersebar diseluruh pelosok kota, banyak orang mulut usil, jejak kita gampang konangan bila dapat sedikit mengetahui seluk beluk musuh, betapapun kita lebih mudah menghadapinya."

Jian-li-tok heng menyatakan akur, katanya: "Konon Bansiu-san berada dibarat kata, daerah luas itu tak ada jeleknya kita periksa bersama, supaya besok sudah ada persiapan untuk bergerak."

Setelah makan slang, beramai mereka berangkat secara berpencar.

Ai-pong-sot Thong cau dan Jian-li-tok-heng adalah kawan seperjalanan yang cocok, mereka menyamar sebagai pedagang kelilingan, berangkat lewat pintu selatan-

Liok Kiam-ping sendiri mengenakan jubah biru yang sudah luntur warnanya, memakai kacamata putih yang bundar dan melorot dipucuk hidung dengan berkumis panjang, tangan memegang galah bergantung secarik kalin panjang yang sebagai tanda pengenal sebagai tabib dan peramal kelilingan, Coh-siang-hwi sebagai pembantu atau penyambung lidah berangkat pada rombongan bedua.

Semula Siau Hong ribut ingin ikut, namun setelah dibujuk orang banyak. terpaksa dia mau tinggal di Tay-hud-si. Liok Kiam-ping berangkat dari pintu barat, dengan langkahnya yang ditirunya dari tabib kelilingan umumnya, keadaannya memang mirip sekali, sambiljalan lewat Celah kacamatanya yang bundar, takpernah lena keduamatanya melirik kekanan kiri, disetiap sudut kota terutama dipos-pos penjagaan pintu kota, tidak sedikit orang-orang yang patut dicurigai sebagai kaki tangan musuh. Sambil menenteng galah, tangan yang lain pegang kipas, kelakuannya yang tengik, Liok Kiam-ping berienggang keluar kota, ternyata gerak geliknya yang sengaja dibuat-buat meniru tabib kelilingan itu tidak menarik perhatian mereka.

Setelah menyusuri dua jalan raya. makin kebarat keadaan makin sepi, namun pemandangan alam di sini semakin permai, hawapun sejuk.

Ternyata daerah barat yang terdapai sebidang hutan luas ini, bukan saja pepohonan tumbuh subur dan rindang, di sana sini tampak gedung berloteng atau villa antik yang dlbangun ditengah hutan, jelas penghuni setiap gedung itu kalau bukan pejabat pemerintah pasti Hartawan besar yang kaya raya, boleh dikata merupakan daerah elite.

Maju lagi kearah selatan terdapat sebuah danau buatan, dipinggir danau sebelah timur terdapat sebuah restoran berloteng. Liok Kiam-ping menuju restoran itu langsung naik keloteng. Setelah menempati sebuah kursi, dia menurunkan kacamatanya.

Mendadak pandengannya tertuju kearah sebelah kanan, di mana terpaut tiga meja duduk seorang tua, mengenakan jubah panjang dengan sepatu tinggi, wajahnya putih berjenggot pendek halus yang sudah memutih, matanya besar tajam dengan alis lentik tegak, sikapnya kelihatan gagah dan kereng. Namun wajahnya kelihatan agak pucat, sorot matanya pudar, sering batuk-batuk. Sekilas pandang Liok Kiam-ping lantas tahu bahwa orang tua ini mengidam penyakit dalam yang cukup parah, kalau tidak lekas dlobati bisa membahayakan jiwanya, tak urung dia melirik beberapa kali.

Agaknya orang tua itujuga sudah memperi hatikan kedatangannya, melihat wajahnya yang bersih, hatinya merasa kagum akan ketampanannya, bila pandangan mereka bentrok, lakl-laki tua lantas tersenyum dan menyapa: "Tuan ini agaknya juga penggemar alam, punya hobby yang sama, bagaimana kalau duduk kemari beromong-omong '

Memangnya Liok Kiam-ping sedang risau dan kesepian, sudah tentu dengan senang hati dia menghampiri lalu duduk dihadapan orang tua. Setelah saling memperkenalkan diri, orang tua ini mengaku she Liong. Semula mereka hanya ngobrol tentang pemandangan alam dan soal-soal obyek turis, lambat laun mereka membicarakan pengalaman mengembara di Kangouw. Terasa oleh Liok Kiam-ping bahwa orang tua she Liong ternyata luas pengetahuan dan pendidlkan tinggi. Demikian pula orang tua she Liong mengagumi sikap gagah Liok Kiam-ping secara tutur katanya yang ramah dan sopan, ternyata pengetahuannya juga tidak cetek.

Dalam percakapan itu, orang tua she Liong sering batuk- batuk dan berludah keluar jendela. Maka Liok Kiam-ping menyatakan ingin memeriksa penyakitnya, ternyata orang tua memberi tanggapan yang ramah dan membiarkan dirinya diperiksa. Bila Liok Kiam-ping sudah memeriksa danyut nadi pergelangan tangan kiri orang tua, maka dia berseru kaget: "Agaknya cayhe salah lihat, semula Lo-tiang ( kau orang tua ) kusangka seorang pembesar yang lagi Cuti, ternyata seorang kosen dari Bulim..." lalu dengan tersenyum dia meneruskan, "agaknya Lo-tiang terlalu menguras tenaga dalam bermain cinta sehingga kehabisan hawa dan tenaga murni, seumpama dian yang sudah hampir kehabisan minyak. kalau tidak lekas dlobati...' "

Orang tua she Liong gelak-gelak, katanya riang: "Betul, betul, Liok-siansing boleh katakan saja terus terang...” Liok Kiam-ping cerdik pandai, namun dia tidak banyak bicara lagi, dari pemeriksaan urat nadi diketahui bahwa orang tua ini sebetulnya memiliki Kungfu yang tinggi, namun dia tidak banyak bicara soal ini, dari dalam kantongnya dia mengeluarkan sebutir Soat-lian suruh orang tua she Liong menelannya, lalu dia duduk dibelakang orang, telapak tangan kanan menekan Ling-tai-hiat.

Begitu Soat-lian masuk mulut lantas tertelan kedalam  perut, rasanya yang getir harum lantas diketahui bahwa obat ini amat mujarab, hawa hangat lantas timbul dari pusar, hanya sekejap sekujur badan merasa segar, napas enteng dan panjang, tulang tulang yang semula terasa linu telah sirna.

Setengah jam kemudian, Liok Kiam-ping mengakhiri pengobatannya katanya menjura:

"Penyakit Lo-tiang sudah sembuh sembilan puluh prosen, selanjutnya dilarang dekat dengan kaum hawa, minumlah banyak obat-obatan yang menambah tenaga, pasti usia bisa bertahan lebih lama cayhe masih ada janji, sampai disini pertemuan ini, cayhe mohon diri, semoga bertemu lagi dilain kesempatan-"

Orang she Liong gelak-gelak, katanya: "Selama hidup orang she Liong memang gemar belajar silat, pengalamanku boleh dikata Cukup luas dalam hal ini, sungguh tak nyana Liok- siansing masih begini muda, namun memiliki taraf kepandaian setinggi ini." lalu dia merogoh kantong mengeluarkan sebuah kantong cilik sutra berlapis bulu yang disulam indah dengan warna warni yang bagus, katanya tertawa: "Barang dalam kantong ini meski mestika yang beri harga, yakin takkan terpandang oleh Siansing, tapi bagi kelanamu di Kangouw kelak yakin akan membawa banyak manfaat. orang she Liong mengagumi bakat dan kepandaianmu, semoga kelak masih ada kesempatan bertemu lagi. sudilah kau terima tandamata ini." habis bicara tanpa menunggu jawaban Liok Kiam-ping, dia putar turuh terus turun loteng dan beranjak lebar menyusuri pinggir danau kearah selatan-

Terasa amat mendalam makna ucapan orang she Liong, maka Liok Kiam-ping simpan kantong sutra berbulu itu kedalam bajunya, setelah bayar rekening dia berangkat menuju kearah Tlong-lam-hay.

Saat itu hari sudah petang, menjelang magrib keadaan ternyata sudah sepi, maka Liok Kiam-ping tidak segan mengembangkan Ginkang menyusuri pinggir danau, begitu pesat luncuran tubuhnya, bayangannya laksana segumpal asap yang terbang susah diikuti mata telanjang orang biasa.

Hanya setanakan nasi lamanya, dia sudah tiba diujung Lam-hay. Langkahnya diperlambat, dengan keadaan yang serupa dia berlenggang dijalan Tiang-an barat, tak jauh dari Si-pay-lou dia menemukan sebuah warung arak kecil, setelah makan malam dia minta kamar dan menutup pintu. Kantong sutra pemberian orang she Liong segera dia keluarkan serta menuang isinya, ternyata didalam hanya ada sebuah batu jade mainan berbentuk hati, ditengahnya bertuliskan empat huruf yang berbunyi ”seperti Tim datang sendiri”.

"Tim" artinya aku, membahasakan diri seperti sebagai raja. Dari tulisan empat huruf itu Liok Kiam-ping menarik kesimpulan bahwa orang tua she Liong tadi adalah Baginda raja yang berkuasa sekarang, yaitu Kaisar Kian Long. Seperti diketahui ayah Baginda raja Kian Liong yang berkuasa sekarang yaitu Yong cin dahulu pernah belajar silat dikuil Siau- lim, setelah tua dan mangkat, Kian Liong diangkat sebagai ahli warisnya, sudah tentu Kungfunya juga tidak lemah.

Tengah Kiam-ping menepekur, mendadak didengarnya seorang bicara dengan suara melengking: "Lo-liok, lekas sedikit, kalau terlambat, kau bisa di caci maki dan hukum pentung." Seorang serak suara menjawab: "Dalam kota raja yang terlarang, menghadapi beberapa orang juga begitu tegang. Bukankah Siu congya sendiri yang memimpin operasi kali ini, memangnya kawanan itik itu bisa terbang kelangit. Hayolah habiskan lagi dua kati arak ini, terus terang kesempatan jarang ada, kalau arak belum masuk perut, rasanya tiada gairah kerja."

”Jangan gegabah. Kau tahu situasi cukup tegang. makaJangan kau melalalkan tugas, hari masih panjang, kesempatan minum masih ada. Betapa tinggi Kungfu Siu- congnya, orangnya pandai lagi, namun kali ini tampak dia begitu serius memimpin seluruh gerakan kali ini. Soalnya musuh memang teramat tangguh dan hebat, terpaksa selaruh kekuatan dikerahkan-" demikian ucap suara melengking, "hayolah, kalau kau masih malas berjalan, biar aku berangkat lebih dulu."

"Ya, ya, baiklah," orang yang bersuara serak agak gugup, "tunggu sejenak biar kuhabiskan dulu sepoci ini." lalu terdengar tenggorokannya menenggak arak dengan bernafsu, setelab berkecek mulut dia memuji arak bagus.

Langkah mereka lekas sekali menuju ketangga loteng terus beranjak keluarwarung merangkap penginapan sederhana ini.

Mau tidak mau Liok Kiam-ping membatin: "Mungkin jejak Ginjutay-beng dan lain-lain sudah konangan mereka, maka malam-malam mereka mengerahkan bala bantuan untuk mengeroyok Ginjutay-beng beramai ? Atau bukan mustahil Tay-hud-si tempat kita berpijak diketahui mereka, sekarang mereka slap menggerebek tempat itu." setelah direnungkan dia berkeputusan untuk mencari tahu dudukpersoalannya lebih dulu, bila perlu biar bertindak lebih dulu saja. Segera dia keluar pintu, dengan dandanan semula dia beranjak kearah Tak-mo-siang.

Sekarang mari kita ikuti perjalanan Ai-pong-sut Thong cau dan Jian-li-tok-heng yang berputar dari selatan lalu masuk kota dari pintu barat. Disekitar Ban-siu-san mereka putar kayun sebentar lalu membelok kearah Thian-kio, mendadak ditempat yang tersembunyi mereka menemukan tanda rahasia Honglui-pang mereka. Sebagai kawakan Kangouw, mereka tetap bersikap tenang dan wajar, mereka menuju kearah yang ditunjukan oleh tanda rahasia.

Tak lama mereka berjalan, dari arah depan dilihatnya Tlo Ping salah seorang pembantu mereka yang terpercaya sedang berjalan gopoh dari depan- Jian-li-tok-heng sudah hampir menyapa, untung dari kejauhan Thio Ping sudah memberi tanda serta menuding kebelakang, maka Jian-li-tok-heng lantas melihat tiga orang laki-laki pakaian ketat tengah menguntit dibelakang Thio Ping, dibelakang ketiga laki-laki menguntit pula dua laki-laki setengah umur berjubah panjang, jaraknya sekitar dua tombak.

Kelihatannya kedua orang setengah umur ini berjalan santai sambil tuding sana tunjuk sini seperti menikmati pemandengan alam sekitarnya, namun langkah mereka tidak pernah kendor. jaraknya tetap bertahan sekitar dua tombak dibelakang ketiga orang berpakaian ketat.

Sekilas pandang Jian-li-tok-heng lantas tahu, Thio Ping sedang dikuntit orang. setelah memberi tanda kedipan mata kepada Ai-pong-sut. mereka batuk bersama dua kali lalu putar tubuh berjalan cepat disebelah depan Thio Ping malah.

Kepandaian Thio Ping biasa saja, namun dia cerdik pandai dan pemberani, hari ini tugasnya mencari orang disekitar Thian-kio, tugas yang diemban cukup berbahaya, maka Setiba ditempat yang dituju, segera dia membuat tanda rahasia gawat, setengah hari lamanya dia putar kayun hampir menjelajahi seluruh Thian Kio namun, bayangan Liok Kiam- ping dan lain- lain tiada yang ditemukan, tengah kebingungan, ternyata dirinya sudah menarik perhatian orang, sehingga ke manapun dia pergi selalu dikuntit lima orang itu. Tapi tugas belum selesai, betapapun dia tidak mau tinggal pergi, maka dia ajak kelima orang itu bermain petak. lama kelamaan, meski dia cukup tahan akhirnya merasa bingung dan gugup, dia tahu dirinya harus berusaha meloloskan diri dari kuntitan musuh.

Mendadak didengarnya suara orang batuk-batuk. waktu dia angkat kepala dilihatnya Jian-li-tok-heng dan Ai-pong-sut Thong ciau berada disebelah depan, karuan hatinya lega

Sambil merunduk jalan didepan Jian-litok-heng dan Ai- pong-sut bisik-bisik, akhirnya mereka melangkah lebar menuju timur kearah Thian-lam. Thio Ping membuntuti dibelakang mereka.

Dalam sekejap satu li sudah mereka tempuh, keadaan semakin sepi dan belukar, di sini jarang ada orang melancong, pinggir jalan juga dipagari pepohonan yang lebat dan rimbun, keadaan di sini memang lebih sejuk dan segar.

Bila mereka memanjat ketanjakan sebuah bukit rendah, sekilas Jian-li-tok-heng menoleh kebelakang ketiga laki laki itu masih mengekor dibelakang, namun dua orang jubah panjang tidak kelihatan lagi, agaknya menyembunyikan diri entah dimana.

Kini mereka menyusuri jalan pegunungan kecil, daerah ini agaknya jarang dikunjungi orang, pepohonan lebih rungkut dan belukar.

Mendadak Jian-li-tok-heng mendengus geram, begitu membalik tubuh dengan langkah cui-pat sian dia menyelinap dari samping Thio Ping menerjang kebelakang, gerak geriknya selemah daon teratai yang ditiup angin lalu, badannya langsung menumbuk orang ditengah. 

Aksinya teramat mendadak, ketiga orang itupun sedang berjalan dengan langkah Cepat, kejadian yang tak terduga ini membuat mereka kaget setelah Jian-li-tok-heng menabrak tiba, sebelum sempat buka suara laki-laki ditengah itu sudah meloso roboh dengan pinggang tertutuk Hiat-tonya. Kedua teman orang itu, berjingkat mundur sambil bersiaga, maka sikutan dan tendangan Jian Ii-tok.heng tidak berhasil merobohkan mereka, Bentak orang yang dikanan: "Berdiri, Kalian bernyali besar melukai orang didaerah terlarang, memangnya kau kira kami tidak mampu membekukmu."

Jian-li-tok-heng bergelak tawa, katanya: "Barusan Losiu terpeleset hingga tersuruk kedepan, untung tidak menabrak kalian, temanmu ini Hanya pingsan sebentar, keadaan hanya kebetulan, kenapa aku disalahkan. Apalagi sejak tadi kalian menguntit kami, entah apa maksudnya, tolong dijelaskan."

"Siapapun boleh melancong di sini, memangnya kau ini opas atau begal, perlu aku memberitahu siapa aku kepadamu. Sebaliknya kau melukai orang, berikan tanggung jawabmu." bentak orang disebelah kiri.

Sementara itu Ai-pong-sot sudah mendapat penjelasan dari Thio Ping, ternyata jejak mereka sudah konangan, sekeliling hotel sudah dikepung dan diawasi, padahal kebanyakan orang-orang Hong-lui-pang sudah mengundurkan diri dari kota serta berkumpul ke Tayhud-si tapi di kota masih ada Gin- j.taybeng, dan Thi-pi-kim-to Tan Kian-thay dan beberapa jago kosen yang lain yang tinggal dalam hotel, keadaan mereka cukup gawat, maka Thio Ping merasa harus segera melaporkan hal ini.

Sudah tentu mendelik gusar Ai-pong-sut setelah mendapat laporan Thio Ping disamping gemas diapun dongkol akan kelicikan dan kekejaman musuh yang bermusuhan hendak menjaring Hong- lui-pang, maka dia memberi bisikan kepada Thio Ping supaya keluar dari pinto En-tin-bun, setelah  berputar lewat clok-an-bun langsung menuju kebarat dan lurus ke Tay-hod-si.

Setelah Thio Ping pergi, kebetulan Ai-pong-sot melangkah maju waktu laki-laki di di sebelah kiri habis mengoceh. Segera dia menanggapi, "Saudara kukira mata mu tidak picak, tugas apa yang kalian lakukan? Langkah apa pula yang akan kami lakukan ? Kukira kau juga sudah maklum, bicaralah terus terang, kami tidak akan menyiksamu, kalau membangkang rasakan bila kau sekarat bagaimana rasanya."

Ternyata laki-laki itu balas menjengek: "Kalian sudah terkepung di sini masih berani petingkah, berani kalian meninggalkan Thiantam, coba saja rasakan bogem kita."

Jian-li-tok-heng tergelak-gelak. katanya: "Kurcaci yang tidak tahu di untung, memangnya kalian setimpal-..." belum habis bicara tangannya sudah terayun menyambit biji teratai besi mengincar kedua laki-laki pongah itu.

Kepandaian kedua orang ini teramat rendah, jarak dekat, mereka tengah mendengar perkataan lawan, serangan secara mendadak lagHingga mereka tersentak kaget bila angin tajam sudah menyambar tiba, belum sempat berkelit mereka sudah mengeluh terjungkal roboh tak bernyawa lagi.

Setelah kedua orang inipun roboh binasa oleh biji teratai besi, kuatir kedua laki-laki setengah umur yang sembunyi dalam hutan menyusul tiba, lekas dia tarik Thong cau melompat kedalam hutan- Memangnya mereka ahli ginkang dengan kecepatan gerak tubuh laksana meteor mengejar rembulan, mereka lari berlompatan berputar dari arah lain mengitari bukit langsung balik kearah Bak-mo-siang.

Saat itu tiba saatnya memasa ng lampu, keadaan di Bak- mo-siang masih ramai, restoran penuh dikunjungi orang-orang yang lapar, tetabuan dan nyanyian terdangar di setiap restoran dari para pengamen atau pelacur yang sengaja disewa untuk menemani para tamu. 

Dibandang siang tadi, pejalan kaki dijalan raya jauh lebih berjubel, ditengah keramaian terasa juga ketegangan, seperti keheningan menjelang datangnya hujan badai, hawapun terasa panas. Sebagai kawakan Kangouw, melihat keadaan di sini sesaat mereka melenggong bingung. Ternyata seratus langkah disekitar hotel di mana semula orang-orang Hong-lui-pang menginap. barisan tentara bertombak atau bergolok tajam kemilau tampak berjaga dan memeriksa, setiap orang yang lewat diperiksa indentitas dan arah tujuannya. Lebih jauh disebelah depan lagi, adalah orang-orang persilatan yang menyembunyikan diri, dari tampang dan sikap mereka, mudah sekali ditebak bahwa mereka jago-jago kelas satu di Bulim.

Dikanan kiri pintu hotel berduduk delapan guru silat dari istana, sementara Sengsi-ciang Hou Kong-ting duduk ditengah ruang besar, keduamatanya melotot lurus menatap keluar. Sementara dari kantor hotel sering terdengar tawa orang yang keras dan berisi, jelas petugas juga berada di sana.

Gelagatnya kekuatan musuh dikerahkan, untung Gin-jitay- beng sudah perintahkan anak buahnya mengundurkan diri keluar kota, kalau seluruhnya terjebak dalam kepungan, urusan tentu cukup berabe.

Disaat mereka berdua sembunyi disuatu tempat gelap. mendadak dilihatnya Liok Kiam-ping melangkah tiba dengan gayanya yang tetap dibuat-buat supaya samarannya benar- benar mirip tabib kelilingan, ternyata kawanan tentara itu hanya mendengus jijik kearahnya. Maka dengan leluasa Liok Kiam-ping menuju ke hotel lalu membelok ke kiri masuk kedalam gang kecil, sekali berkelebat dia menyelinap masuk dari pintu samping serta membelok kelorong.

Agaknya orang-orang Siu-Jan sudah peri hatikan sebelah depan dan sekitar hotel, dalam jarak seratus tombak sudah mereka jaga dan awasi, tapi bagian belakang hotel ternyata agak diabaikan, hanya beberapa petugas saja yang berjaga di sini, maklum betapapa ketat penjagaan, mereka juga harus memikirkan kepentinganpenguasa hotel, tamu-tamu keluar masuk seperti sedia kala, bila Liok Kiam-ping menyelinap keserambi sebelah timur, sayup,sayup dia sudah mendengar gelak tawa Gin-jitay-beng. Lekas dia menuju kearah pintu terus menyelinap ke dalam kamar.

Sementara itu, Gin-jitay-beng, It-cu-kiam Koan Yong, Thi- pi-kim-to Tan Kian-thay dan lima Hiangcu lagi sedang makan minum dibawah lilin yang benderang, sambil bercakap dan berkelakar diam-diam mergka berundang mencari akal untuk meloloskan diri.

Mereka juga tahu sejak pagi tadi jejak mereka sudah konangan oleh Seng-si-ciang Hou Kong-ting, maklum berita Hong-jang piaukiok tutup usaha sudah tersiar luas, setelah mereka mencari berita kepihak kalangan Piaukiok membuktikan bahwa berita itu benar, sudah tentu jejak rombongan piausu ini menarik perhatian dan patut dicurigai, maka tanpa ayal Siu-Jan perintahkan anak buahnya meng awas Hotel serta menjaganya ketat.

Pagi itu Tan Kian-thay dengan beberapa orang keluar hotel, ditengah jalan mereka kesamplok dengan serombongan laki- laki berpakaian ketat, dari dandanan mereka yang cukup menyolok, sikapnya garang melotot kepada rombongan mereka lagi. Tan Kianthay cukup berpengalaman, dia tahu gelagat agak ganjil, lekas dia kumpulkan orang-orangnya lalu diambil putusan, membawa beberapa tenaga yang dapat diandaikan tenaganya dia berputar kayun menyusuri beberapa jalan raya laluputar balik kearah hotel. Sementara orang-orang lain diperintahkan pergi ke Tay-hud-si. Hanya Thio Ping seorang yang ditugaskan pergi ke Thian-kio, ditempat yang sudah ditentukan menunggu kedatangan Liok Kiam-ping dan lain- lain-

Waktu Tan Kian-thay kembali ke hotel, orang-orang yang bertemu ditengah jalan tadi ternyata tersebar disekitar hotel, hal ini membuktikan rasa curiganya tadi, lekas dia membusung dada beranjak masuk dengan langkah tegap.

Tujuannya adalah menarik perhatian musuh kepada dirinya supaya saudara-saudaranya yang lain lolos dengan selamat tiba di Tay-hud-si. Sikapnya yang tenang seperti menguasai situasi ini justru diluar dugaan Siu-Jan dan kamrat-kamratnya.

Situasi yang genting diluar dilaporkan kepada Gin-jitay- beng, maka mereka tak berani bergerak secara gegabah, bila musuh tidak menyerbu atau mengusik mereka, maka merekapun takkan beraksi, sambil menunggu tugas Thio Ping, semoga selekasnya bertemu dengan Liok Kiam-ping serta datang menolong.

Pada hal hari sudah magrib, Thio Ping tidak kunjung pulang memberi kabar, maka mereka menduga urusan pasti gagal, akhirnya mereka berkesimpulan untuk bergerak nanti malam sebelum bertindak malam itu sengaja mereka berpesan hidangan yang luar biasa untuk makan minum dan brpesta, sudah tentu maksudnya untuk berunding mencari akal.

Begitu Liok Kiam-ping menerobos masuk lewat jendela dengan samarannya yang serba aneh dan lucu, karuan orang banyak melengak heran dan kaget, setelah Liok Kiam-ping menurunkan kacamata topinya, baru orang banyak mengenali dirinya, serempak semua berdiri memberi hormat.

Liok Kiam-ping mendekati meja perjamuan meraih sebuah cangkir lalu membalik kearah luar jendela, setelah menenggak habis teh dalam cangkir, cangkir beling itu lantas diremasnya pecah berkeping-keping. Mendadak lengan kanannya terayun ke arah sepucuk pohon besar diluar jendela.

Terdengar tiga kali jeritan, dari atas pohon yang rimbun daonnya beruntun jatuh bayangan empat orang, begitu terbanting di tanah masih berkeleetan beberapa kejap baru jiwanya melayang.

Sudah tentu orang banyak berdiri menjublek. pada hal betapa tinggi lwekang Ginjutay-beng, namun musuh sembunyi dalam jarak sepuluh tombak diatas pohon tanpa mereka ketahui, maka dapat dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang yang sembunyi diatas pohon. Tanpa hiraukan para korbannya Liok Kiam-ping berkata kepada orang banyak

"Diluar terjaga ketat oleh pasukan kerajaan gelagatnya malam ini terpaksa kita harus berani bertindak baru bisa menyelamatkan diri, sekarang mumpung pimpinan mereka belum tiba, lekas kita beraksi lebih dulu pasti berhasil melabrak kepungan." lalu dia menanggaikan jubah luarnya langsung berlompat keluar jendela.

orang banyak sejak tadi sudah menyiapkan buntalan, serempak mereka bersiap keluar. Tapi pada saat itulah didengar seorang berkata dengan suara sinis: "Begini saja kalian mau pergi, apa tidak terlalu mengabaikan sahabat." dari tempat gelap serempak melompat keluar enam orang.

Waktu Liok Kiam-ping angkat kepala, tampak dibawah potion berdiri jajar enam orang, Seng-si-ciang Hou Kong-ting berdiri ditengah. Liok Kiam-ping bergelak tawa, ujarnya:

"Kukira siapa, kiranya Hou-tangkeh yang ke mari, kami rakyat awam yang mematuhi Hukum. tidak mencuri bukan maling, entah mengapa tengah malam buta tangkeh main cegat.”

Seng-si-ciang Hou Kong-ting terkekeh dingin, katanya: "Atas perintah Ka-cin-ong Losiu diutus ke mari untuk mengundang tuan dan kawan-kawan ke istana untuk mempertanggung jawabkan peristiwa semalam. "

Liok Kiam-ping mendengus ejek: ”Meminjam kekuasaan sewenang-wenang menculik perempuan, tahu salah tidak berani menyelesaikan urusan secara jantan lalu berbuat curang menggunakan kekuasaan, berani memalsu perintah Ka-cin-ong pula, aku heran setua ini kau hidup ternyata tidak tahu malu, pantasnya nama busukmu tercoret dari kalangan persilatan-"

Berkerut alis Hou Kong-ting, caci maki pedas membuat- bolamatanya melotot, hingga wajahnya yang beringas kelihatan lebih seram menakutkan, bentaknya: "Tengah malam menyelundup ke istana hukumannya adalah mati, masih berani mengoceh tak karuan," kata Hou-tangkeh, "kalau tahu diri lekas menyerah, mungkin hukuman bisa diperingan, ketahullah hotel ini sudah terkepung rapat oleh pasukan besar tumbuh sayap juga jangan harap bisa terbang,"

"cayhe beramai mematuhi Hukum tak pernah melanggar aturan, sebagai rakyatjelata juga tahu hidup berdampingan. Kau tua bangka ini sebagai penegak hukum justru main tindak dan sewenang-wenang. Kalau mampu, hayolah bekuk kami dengan kemampuanmu." rasa gusar Liok Kiam-ping sudah memuncak. mumpung, Siu-Jan dan lain- lain belum tiba, maka mereka harus lekas meninggalkan tempat ini, maka sebelum Hou Kong-ting menjawab dia sudah menyerang dengan sebelah tangannya. Sebelum, tenaga pukulan tiba deru angin sudah melanda sedahsyat badai mengamuk.

Seng-si-ciang Hau Kong-ting sudah buka mulut hendak balas memaki, melihat lawan menyerang dengan pukulan keras, lekas dia pasang kuda-kuda dengan menekuk lutut merendahkan tubuh, tenaga dikerahkan seluruhnya dikedua tangan langsung menyongsong pukulan-

"Byaaar." Dua jalur pukulan beradu menimbulkan ledakan dahsyat. Tubuh Hou Kong-ting terlempar setombak jauhnya, jatuh duduk ditanah, darah bergolak didadanya, napas sesak, kedua tulang lengan sampai jari-jarinya putus dan remuk, mukanya pucat berkeringat, jelas lukanya tidak ringan-

Segera Liok Kiam-ping memberi tanda supaya orang banyak dalam kamar lekas keluar dan berangkat, sebelum mereka melompat keatas tembok. mendadak seorang berkata lantang: "Para sahabat, urusan belum beres, kenapa mau pergi ." lenyap suaranya tampak Biau-san-si-sat meluncur turun di tengah gelanggang.

Melihat Biau-san-si-sat tiba, maka Liok Kiam-ping tahu sebentar Siu-Jan dan lain- lain tentu juga datang, untuk mengejar waktu lekas dia memberi aba-aba: "Semua serbu." lalu dia mendahului memukul dengan tenaga dahsyat kearah Biau-san-si-sat.

Dinilai lwekang Biau-san-si-sat, mereka tidak memiliki kepandaian yang berarti, lihay mereka dalam permainan gabungan yang merupakan barisan pedang yang rapat dan ketat, gerak gerik mereka serasi dan terlatih baik sekali  Hingga lawan tak sempat balas menyerang karena kerepotan melayani rangsakan mereka.

Demikianpula kali ini mereka berpencar dengan kepungan barisan kepada Liok Kiam-ping cuma keadaan kali ini berbeda dengan kemaren malam, soalnya orang-orang Hong-lui-pang kali ini maju bersama, jumlahnya lebih banyak dari mereka, jelas mereka takkan bisa mengeroyok Liok Kiam-ping, apalagi arena pertempuran terlalu sempit, posisinya jadi berdesakan, salah bergerak bukan mustahil teman sendiri termakan senjata, jelas mereka tak mampu mengembangkan barisan-

Begitu Biau-san-si-sat berpencar, Gin-jitay-beng segera melabrak Nyo Hou, sementara To-pi-kim-to Tan Kian-thay mencegat Nyo Hong, It-cu-kiam Koan Yong menghadapi Nyo Hun.

Melihat pihaknya tak mampu bergabung yo Liong tahu mereka takkan bisa mengemban barisan, padahal kepandaian sendiri terbatas, menghadapi kepandaian Liok Kiam-ping yang tangguh sudah tentu tak berani dia melawan secara keras, untung Lwekangnya paling tinggi diantara saudaranya, lekas dia melompat lima tindak. meski cepat dan cekatan reaksinya, tak urung dia keserempet oleh angin pukulan Liok Kiam-ping hingga tersurut setindak baru berdiri tegak, hatinya tersirap kaget.

Liok Kiam-ping menyeringai dingin, segera dia kembangkan Leng-hi-pou-hoat, gerak geriknya bagai setan gentayangan, sekalian dia gerakan kedua tangan terus menyodok. sejalur angin kencang menerpa ke arah Nyo Liong dari arah Samping.

Baru saja berhasil menyelamatkan diri dari pukulan pertama, belum tegak berdiri, pukulan kedua yang keras telah menerpa tiba pula, bergegas dia menjejak kaki Seraya menjengkang kebelakang, meminjam daya dorongan angin pukulan lawan dia gunakan gerakan ikan meletik, tubuhnya meluncur lurus Setinggi Satu kaki dipermukaan tanah, gerak geriknya memang lincah cekatan.

Ginjutay-beng yang mencegat Nyo Hou melabraknya dengan sengit. Diantara empat bersaudara ini, Lwekang Nyo Hou paling tinggi, melihat gerakan Gin Jay-beng membawa getaran angin Serta telapak tangannya berobah perak kemilau, dia tahu orang tua ini memiliki Lwekang tangguh, Gini-a-ciang merupakan pukulan ampuh yang ganas pula, begitu turun tangan lantas merangsak dengan kecepatan tinggi, dia harap lawan dapat didesaknya dibawah angin- Memangnya Gin-a-ciang yang dimainkan Gin-jay-bong mengutamakan kecepatan dan kelincahan, lawan yang satu ini agaknya mencocoki seleranya, maka permainan telapak tangannya makin gencar saja.

Gempur menggempur dengan tenaga keras kedua orang ini jelas menguras tenaga, ditengah samberan sinar perak yang menderu keras membuat lingkungan dua tombak disekitar gelanggang hawa bergolak. debu beterbaran, daon pohon rontok beri hamburan, betapa cepat gerak gerik mereka hingga susah dibedakan bayangan mereka yang sesungguhnya.

Dua puluh jurus kemudian, gerakan yo Hou mulai lambat dan berat, lama kelamaan lebih sering bertahan daripada merangsak sengit.

Lwekang Gin-ji-ay-bong memang amat tinggi, makin tempur makin gagah, ditengah berkelebat bayangan tubuhnya, pukulan telapak tangan pasir peraknya semakin menimbulkan pergolakan yang lawan terdesak dibawah angin-

It-cu-kiam Koan Yong menghadapi Nyo Hong, orang ketiga dari Biau-san-si-sat, kepandaian mereka seimbang, terus juga berhantam secara kilat, gerak-gerik Nyo Hong sedikit lebih lincah tapi permainan pedang It-cu-kiam menang dalam menyerang, bila ilmu pedang dikembangkan, sinar pedangnya melintas diangkasa, membuat udara bergelombang.

Untung langkah Nyo Hong cukup cepat, pukulan tangannya menimbulkan suara keras, ditengah samberan pedang ia berkelit, menyelinap. melompat secara bebas dan cekatan, sejauh mereka masih sama kuat alias seri

Kalau Nyo Hun yang menghadapi Thi-pi-kim-to Tan Kian- thay berbeda keadaannya, kalau yang satu bergerak pergi datang selincah kera, yang lain mantap dan kuat, Pat-kwa-to kan dikombinasikan dengan pukulan lengan kiri yang lihay, cepat dan tangkas gerak gerik nyata dia dicecar pontang panting dan menyapu balas menyerang.

Para Hiang-cu Hong-lui-pang bertiga menyerbu ketengah arena, melabrak orang-orang baju hitam yang baru masuk dari luar, satu sama lain beri hantam dengan seru. orang- orang Hong-lui-pang menyadari posisi mereka yang terjepit.

Kalau tidak bergerak cepat lolos dari kurungan, setiap saat jiwa terancam bahaya, maka mereka bertempur dengan gagah.

Suara pertempuran gegap gumpita itu, terdengar seorang mengerang kesakitan, tampak badan Nyo Liong tersaruk dua langkah keserempet angin pukulan Liok Kiam-ping, darah sudah merembes keluar dari bibirnya, mukanya pucat, tubuhnya gontai.

Ternyata menghadapi kelincahan Nyo Liong yang tinggi Ginkangnya, hingga serangan lihaynya selalu dikelit lawan, untuk mengejar waktu, timbul hawa membunuhnya mendadak dia memutar kedua tangan satu lingkar lalu menyodok keluar dengan jurus Liong-kiap-sin-gan.

Wi- liong- ciang-hoat adalah ajaran kuno yang digdaya, sejak kecil Nyo Liong hidup di Biau-kiang daerah terpencil yang masih liar, kapan pernah menyaksikan pukulan dahsyat yang tiada taranya, terasa ribuan bayangan telapak tangan seperti memberondang sekaligus kesekujur badan. Karuan pecah nyalinya, lekas dia menjejak mundur dengan kelincahan tubuhnya, padahal lompatannya mundur berjangkit dua kali, namun tak urung damparan angin pukulan musuh masih membuatnya dadanya sesak darah yang menyembur ke tenggorokan ditelannya pula.

Insaf luka sendiri tidak ringan, mana dia berani ayal, lekas dia jejak kaki, tubuhnya melejit tinggi keatas rumah.

Liok Kim-ping siap mengejar, mendadak sesosok bayangan menusuk. daripuncakpohon dengan sambaran laksana bintang jatuh, kedua tangannya menindih kepala dan dadanya. Betapa dahsyat tenaga pukulan yang dilancarkan menukik disertai daya luncur kencang ini, hakikatnya Liok Kim-ping tidak sempat berpikir, lekas dia kembangkan kesebatan langkahnya, tubuhnya berkelebat minggir beberapa kaki lolos dari jangkauan tenaga pukulan dahsyat ini.

Bila dia membalik badan maka dilihatnya yang membokong ini bukan lain adalah Hwe-giam-lo Siu-Jan, saking gusar Kiam- ping malah tertawa: "Memang hebat serangan Siu-tangkeh yang main sergap secara curang ini, janjimu sendiri belum kau tepati, kenapa sudah menjilat ludahmu pula, hari ini main keroyok dengan bantuan pasukan besar segala. Apa sih maksudmu ."

Siu-Jan terkekeh dingin, jengeknya: "Liok-pangcu, jangan mendapat angin kau tidak mau mengalah kepada lawan, Nyo Liong jelas kau kalahkan, kenapa kau masih akan membunuhnya. Apa salahnya Lohu turun tangan menolong jiwanya. Bicara soal kejadian malam ini, sebagai petugas yang menjalankan perintah, jauh berbeda dengan janji pribadi besok malam, bila kalian mau ikut Lohu kembali ke istana, ongya sendiri yang akan memeriksa persoalan ini."

Liok Kiam-ping tahu lawan sengaja menindas pihaknya dengan alasan hukum, maka dia menjengek: "Menculik orang menuntut balas segala adalah kalian yang melakukan, sebagai petugas hukum kerajaan, kau boleh bekerja secara terang- terangan, kenapa kalian justru bertindak secara pengecut, main sergap dan intai, mengepung dengan pasukan segala. Umpama kau kerahkan selaksa pasukan juga kita takkan gentar. Kalau tahu diri lekas tarik anak buahmu dan jangan jiwa mereka yang kau korbankan."

Berdiri alis Hwe-giam-lo Siu-Jan, dampratnya gusar: "Bedebah, kalian berani melawan petugas hukum, baiklah, jangan menyesal kalau Lohu bertindak secara tegas demi menegakkan hukum yang berlaku. Disini terlalu sempit, kalau beranHayo ikut aku keluar. "lalu dia mendahului melompat ke luar tembok.

Liok Kiam-ping tahu mereka hendak main keroyok denganjumlah yang lebih besar, tapi wataknya memang angkuh, sejak dia menjabat Pangcu Hong-lui-pang, kapan dia pernah di kalahkan lawan, bahwa lawan sudah menantang, umpama masuk ke sarang naga juga pasti di bunuhnya, tanpa ayal segera dia ikut melompat ke atas tembok. Satu di depan yang lain dibelakang, kedua orang ini mengembang kelincahan, hanya beberapa kali lompat jauh mereka sudah berada disatutanah lapang yang luas. Hwe-giam-lo berdiri tegak ditengah lapang.

cepat sekali Liok Kiam-ping juga sudah melompat tiba, sebelum dia berdiri tegak, dari tempat gelap mendadak menerobos puluhan orang mengepung Liok Kiam-ping, situasi Cukup tegang dan mendebarkan. Sebetulnya dikepung belasan orang Liok Kiam-ping juga tidak merasa gentar, bahwa Bong Siu akipicak dari barat serta Pa-kim Tayhud dari Tibet juga muncul dan berdiri di kanan kiri Siu-Jan benar- benar mengejutkan hatinya.

Pengalaman tempur Liok Kiam-ping sekarang sudah cukup matang, sengaja dia tertawa lantang, serunya: ,Entah apa kemampuanku ini sehingga bikin capai para cianpwe menungguku ditempat ini, tapi baiklah bila kalian ada maksud maju bersama, cayhe juga tidak akan mundur."

Bong Siu maju selangkah, bolamatanya yang putih terbeliak, katanya: "Anak muda, jangan setelah mendapat kemenangan lantas congkak. Semalam kita belum puas, sekarang Lohu akan mengiringi babak pertama."

"Boleh -aja, hayolah kau boleh menyerang lebih dulu." tantang Liok Kiam-ping tertawa.

Bong siu amat penasaran bahwa kemaren malam dia kecundang, maka kali ini dia kerahkan Gun-goan-kang yang jarang pernah dia gunakan selama hidup, kedua lengan terangkat lurus didepan dada, Lwekang sudah tersalur keseluruh tubuh, diserta Hardikan mengguntur dia dorong kedua tangannya, damparan angin lesus yang menderu hebat berkisar kearah Liok Kiam-ping.

Liok Kiamping insyaf orang tua ini sudah bertekad menuntut kekalahannya kemaren dengan pukulan yang ampuh, maka Kim-kong-put-hoay-sin-kang dia kerahkan, Lwekang tersalur dari pusar terus bergerak dengan serangan Liong- kiap-sin-gan.

Ternyata begitu dua kekuatan beradu tubuh Liok Kiam-ping hanya sedikit tergentak saja. Tenaga pukulannya yang dahsyat seperti batu kecemplung laut tak berbekas, sementara damparan pukulan sirna oleh ketahanan kesakitan Kim-kong- put-hoay-sinkang, satu li disekeliling tubuhnya, hawa seperti meletus karena gesekan keras oleh tekanan dahsyat.

Gun-goan-kang dilontarkan berdasar kekuatan murni seorang perjaka yang belum pernah kawin, pukulan biasa takkan mampu menahan atau mematahkannya, maka pukulan Liok Kiam-ping tersibak buyar keempat penjuru.

Untung Liok Kiam-ping sudah mengerahkan Kim-kong-put- hoay-kang hingga tubuhnya terlindung dan memunahkan kekuatan pukulon Gun-goan-kang, kalau tidak jelas dia akan kecundang. otaknya cerdas, sekilas menepekur, lekas sekali dia sudah menyadari keanehan pukulan lawan, maka selanjutnya dia tidak mau mengadu kekuatan, namun tenaga sakti pelindung badan tidak pernah kendor.

Bahwa pukulan Gun-goan-kang tidak mampu merobohkan lawan Bong siu juga melengak heran, betapapun dia tidak habis mengerti dalam usia semuda ini Kiam-ping pernah meyakinkan ilmu mujijat dari aliran Hud tertinggi. Maka kedua kali dia menggerakan tangan, kali ini dia menyerang dengan sepenuh tenaga.

Angin bergolak ditengah udara, laksana amukan badai yang lebih dahsyat, hingga para penonton dipinggir gelanggang tersedak mundur. Kali ini Liok Kiam-ping sudah punya pegangan, sejak tadi dia sudah mendapat cara untuk melayani pukulan lawan, kedua tangan lawan terangkat, sigap sekali dia sudah menyingkir delapan kaki kepinggir, meluputkan diri dari damparan telak pukulan lawan- Mendadak kedua tangan melingkar terus menepuk. serangan balasan dilontarkan dari arah kanan- Tapi serangan belum berhasil merobohkan musuh, Bong Siu hanya bergeming sedikit saja

Namun demikian amarah Bong Siu sudah berkobar, biji matanya melotot, rambut kepalanya tegak kaku. mendadak dia menarik napas panjang, tenaga tersalur sepenuhnya di kedua lengan menggempur kearah Liok Kiam-ping.

Desiran angin yang keras dan banyak laksana letusan gunung seketika menindih badan-Liok Kiam-ping luruskan kedua tangan, dengan tenaga lengket dia tarik kedua tangannya kebelakang terus dituntun keluar. Perawakan Bong siu yang gede kekar tampak terhuyung maju tiga tindak, bila tenaga pukulan lawan sudah hampir sirna, mendadak Liok Kiam-ping balas menepuk dengan kedua tangan-

"Blang." Bong siu tergentar mundur tiga langkah kembali ketempat semula baru tegak pula, umpama seorang kakek yang disengkelitj atuh oleh bocah cilik, pada hal Gun-goan- kang sudah dia yakinkan puluhan tahun, ternyata tak mampu merobohkan lawan, celakanya awak sendiri hampir celaka malah.

Pada hal Gun-goan-kang teramat menguras tenaga, setelah tiga jurus lekas dia menarik diri menghimpun Semangat mengendalikan tenaga. lwekangnya memang sudah tinggi, sedikit menghimpun tenaga dan mengatur napas, semangatnya sudah segar kembali. sebaliknya Liok Kiam-ping tetap berdiri menggendong tangan sambil tersenyum simpul.

Bong siu memang kawakan Kangouw yang licin, walau hatinya penasaran, tapi lahirnya dia masih tersenyum ramah, katanya: "Anak muda, tidak lemah lwekang mu, marilah kau sambut lagi beberapa pukulan Lohu." mulut bicara kaki bertindak, dengan keeepatan berantai dia serang Liok Kiam- ping tujuh pukulan tiga tendangan

Menghadapi rangsakan hebat dan gencar lawan, Liok Kiam- ping tetap tersenyum lebar, dia kembangkan Leng-hi-pou- hoat, badannya turun naik dan berlompatan diantara samberan pukulan dan tendangan. Beruntun diapun balas menyerang sembilan pukulan lima tendangan. Rangsakan Bong siu baru terbendung dan dipunahkan.

Kali ini kedua pihak bergerak dengan kecepatan luar biasa hingga susah dibedakan bentuk bayangan mereka, laksana dua ekor naga yang bergelut saling gubat, beruntun terdengar suara bak-buk yang ramai, angin pukulan berderai keempat penjuru menimbulkan kepulan debu dan pasir.

Kapan hadirin pernah saksikan adu kekuatan sedahsyat danselihay ini, kecepatan gerak kedua lawan ini susah diikuti dengan pandangan telanjang, padahal dalam sekejap mereka sudah beri hantam lima puluh jurus Keringat sudah membasahi jidat Kiam-ping napas Bong siu mulai tersengal. Lambat laun serangan dan tangkisan kedua pihak semakin lambat.

Makin lama situasi takkan menguntungkan pihaknya, maka Liok Kiam-ping menerawang situasi, bila berjalan lama, bukan saja tenaga sendiri terkuras, untuk mengalahkan lawan juga harus lima ratas jurus kemudian, apalagi salah seorang dari pihak Siu-Jan ikut terjun ketengah gelanggang, maka dirinya pasti kalah. Maka jalan paling baik adalah lekas mengakhiri pertempuran-

Keinginan timbul segera dia menjejak kaki tubuhnya melejit setombak lebih, ditengah udara dia menekuk pinggang memancal kaki Hingga tubuhnya menukik turun sambil mengembangkan kedua lengan, terus menyerang dengan jurus Liong-hwi-kiu-thian- Dibawah serangan pukulan Wi- liong-ciang yang dijaya ini, Bong Siu seperti ditindih lapisan telapak tangan yang berkelebatan-

Seketika Bong Siu rasakan ribuan telapak tangan memberondong kearah tubuhnya dalam waktu sekejap. Lwekangnya melebihi orang lain, meski tahu perbawa pukulan ini teramat dahsyat dan perobahannya sukar dijajagi, lekas dia kembangkan ketangkasan langkahnya, beruntun berputar tiga lingkar baru lolos dari tindihan pukulan dahsyat.

"Blum." ledakan keras menggetar bumi, tanah di mana tadi Bong Siu berdiri terpukul amblas sedalam satu kaki lebih. Meminjam daya tolak dari pukulannya, seringan burung gerak badan Liok Kiam-ping melayang turun kepinggir. Baru saja ujung kaki menyentuh tanah, jurus Liong-jiau-king-thian telah dilontarkan lagi dengan kekuatan gugur gunung kepunggung Bong Siu.

Baru saja Bong Siu merasa lega dan bersyukur bahwa ia lolos dari serangan maut lawan, belum lagi berdiri tegak. pukulan sedahsyat gugur gunung lawan telah menerjang tiba pula, mendengar kesiur angin dia sudah siaga, lekas dia melompat tinggi ke udara sambil melayang maju tiga kaki, namun gerakannya sedikit terlambat, punggungnya sempat tertekan oleh daya pukulan dahsyat lawan, sakitnya bukan kepalang, namun dia kertak gigi.

Gerakan Kiam-ping memang cepat luar biasa, dengan satu kisaran lebar, dia sudah berkelebat kesebelah depanBong Siu kedua tangan sekarang bergerak dengan serangan jurus Wi- liong-tin-gak yang sakti.

Sedetik sebelum serangan dilontarkan, dari samping didengar gerungan keras, dua jalur angin keras melanda dari kanan kiri, Bila Liok Kiamping tetap melontarkan jurus saktinya itu, Bong Siu jelas ajal seketika, namun awak sendiri juga  tidak luput dari ancaman kedua pukulan dahsyat itu.

Sudah tentu menolong jiwa sendiri lebih penting, ditengah jalan dia tarik serangan, meminjam daya tolak tarikan kedua lengannya dia melayang mundur kebelakang, pada hal sebat sekali dia menarik atau membatalkan serangan, namun demikian Bong Siu tergetar sempoyongan oleh sisa tenaga pukulannya yang tak terkontrol lagi.

Wi-liong-king-thian memang jurus terampuh dari Wi-liong- ciang, perbawanya bukan olah-olah hebatnya. Dua puluh tahun yang lalu, Kiu-thian-sin-liong pernah sekaligus merobohkan sembilan ciangbunjin dari sembilan parta perguruan silat kenamaan dengan jurus ini, enam mati tiga luka parah, tragedi yang menyedihkan ini merupakan peristiwa yang tecatat dengan tulisan tinta emas dalam lembaran sejarah persilatan- Betapapun tinggi Lwekang Bong Siu juga bukan tandingan kekuatan gabungan sembilan ciangbunjin, untung Liok Kiam-ping dipaksa menarik serangan, hingga dia hanya tersaruk lima langkah, tapi luka-lukanya tidak ringan.

Peryergap yang menolong Bong Sin bukan lain adalah Hwe- giam-lo Siu-Jan dan Pa-kim Tayhud, karuan amarahnya tak terkendali lagi, sindirnya: "Kalian tokoh lihay dari Bulim, sebagai Cikal bakal dari suatu aliran lagi, perbuatannya ternyata begini rendah, membokong dengan serangan jahat. Marilah kalian maju bersama, biar aku tamatkan riwayat kalian berdua."

Dicaci dan dicemooh karuan Siu-Jan dan Pa-kim Tayhud murka dan malu, mata mendelik gusar seliar binatang buas. Serempak mereka menggerung sambil siap menerjang. Mendadak beberapa bentakan nyaring mengurungkan niat mereka, puluhan bayangan orang meluncur turun kedua pihak musuh yang beri hadapan-

Sekilas Liok Kiam-ping melihat Gin-jlay-beng menyusul kemari setelah menggasak para musuhnya. Seperti dituturkan disebelah depan Nyo Liong melarikan diri setelah terluka oleh samberan angin pukulan Liok Kiamping, lalu Liok Kiam-ping mengejar Siu-Jan ketempat ini, di dalam pekarangan hotel Gin-ji-tay-beng masih terus bertarung dengan yo Hou, memangnya Biau-san-si-sat sudah merasa payah, melihat saudara tua mereka lari pula, maka semangat tempur mereka makin luluh. Tapi Gin-jiay-bing pergencar serangannya yang mematikan, Nyo Hou sebagai orang yang terkuat dari Biau- san-si-sat juga masih setingkat dibawah Gin-jlay-beng, mengalahkan lawan jelas tidak mungkin, namun untuk membela diri jelas masih mampu. Karena itu meski Gin-jitay- beng sudah pergencar serangannya tetap belum mampu merobohkan lawan-

Saking bernafsu menggasak musuh, mendadak dia melompat delapan kaki keudara, ditengah udara tubuhnya berputar laksana burung raksasa, lalu dengan sergapan kilat dia menukik turun, Kedua tangannya bergerak dengan kilau peraknya yang mengaburkan pandangan- yo Hou menjadi pusing dan berkunang-kunang merasa angin menindih tiba, dia tahu dirinya takkan kuat menangkis, lekas dia menjatuhkan diri kepinggir sejauh satu tombak. Ginjutay-beng tertawa ejek. meminjam tenaga pukulan sendiri dia layangkan tubuhnya kesana sambil pentang kedua tangan, berbareng kedua kaki menjejak hingga tubuhnya melesat maju mengudak musuh, dengan jurus bulu besi terpentang diudara, dia menubruk turun dari belakang batok kepala Nyo Hou.

Jurus ini merupakan permainan Ginji-tay-beng yang sudah terkenal puluhan tahun, selama hidup jarang digunakan, menyadari malam ini mereka terkepung musuh, kuatir keselamatan Liok Kiam-ping terancam dikeroyok musuh disebelah luar, dia wajib memberi bantuan kesana, maka dia merasa perlu secepatnya menyelesaikan pertempuran ini. Perbawa serangannya kali ini memang cukup mengejutkan, gerak tubuhnya laksana burung raksasa disertai sultan yang mengerikan lalu menukik turun dengan samberan kilat.

Baru saja kaki Nyo Hou menyentuh tanah, badan belum tegak lurus, sultan melengking sudah menyambar tiba,  berkelit ke manapun serba sulit, jelas jiwanya bakal melayang ditangan musuh. Untunglah meski terdesak dan terancam dia tidak gugup, meminjam tutulan kakinya sekuatnya, dia bikin tubuhnya doyong kedepan, lalu secepatnya mengebas tangan kebelakang, selarik sinar dingin melesat kelengan Gin-j-ay- beng.

Agaknya dia bertekad gugur bersama musuh, umpama jiwa sendiri ajal oleh pukulan lawan, paling sedikit lawanjuga harus mengorbankan lengan kanannya.
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(