Hong Lui Bun Jilid 20

Jilid 20

Dalam pada itu Liok Kiam-ping yang mengembangkan Leng-hi-pou-hoat cukup beberapa kali tutul kaki tubuhnya melambung makin tinggi hinggap dilantai kedua gedung besar tinggi itu. Baru saja kakinya hinggap di pinggir jendela, serangkum tenaga besar sudah membelah mukanya. Padahal tubuhnya masih terapung diudara, kedua kakijuga belum berdiri tegak, serangan sudah tiba, betapapun tinggi Lwekangmu juga takkan kuat menahan pukulan telak ini, untung Kiam-ping cerdik dan cermat, cekatan lagi, kedua tangan menggentak terbuka, badan yang sudah melorot kebawah secara kekerasan seperti disedotnya keatas pula hingga mumbul tiga kaki, sekali raih pula kedua tangan menangkap payon, kedua kakinya menendang pula, segera dia hinggap diatas daon jendela yang terbuka, betapa lincah gerak geriknya.

Baru saja dia pernahkan diri, serangan angin kencang menyambar lewat dibawahnya tiba-tiba didengarnya dibalik jendela suara orang keheranan, seorang padri baju kuning tiba-tiba muncul d lambang jendela, kepalanya melongok keluar lalu celingukan dengan pandangan kaget dan heran

Ternyata padri ini bersiaga didalam rumah, dilihatnya bayangan orang melayang kearah jendela, lekas dia kerahkan tenaga lalu mernukul dengan kedua tangannya. Terasa pandangan mendadak kabur, bayangan yang diserangnya tahu-tahu lenyap. tinggi loteng ini ada beberapa tombak, dibawah juga tetap sunyi tiada suara gaduh jatuhnya sesuatu, karuan dia menjerit heran dan tidak percaya, lekas dia memburu ke jendela dan berdiri melongo.

Liok Kiam-ping geli akan kecerobohan padri dungu ini, segera dia melompat turun, kedua kakinya menendang dan menjejak ke batok kepala sigundul ini. Padri jubah kuning sedang melongo mendadak bayangan berkelebat pula didepan mata, segulung angin besar menyerang kepala, belum sempat dia melihatjelas penyerangnya, lekas dia melompat mundur kedalam kamar.

Karena tendangan kakinya luput Liok Kiam-ping melayang turun kedalam kamar. Kontan dia gerakan kedua lengannya pula menyerang padri jubah kuning. Lwekangnya tangguh pukulannya ini mampu meremukan batu gunung, maka perbawanya sedahsyat amukan gelombang badai.

Padri jubah kuning baru berdiri tegak. bayangan seorang mendadak melayang masuk disusul pukulan dahsyat menindih dada. Kamar diatas loteng ini tidak begitu luas, berkelit kepinggir tidak leluasa, padahal pukulan sudah tiba, lekas dia angkat kedua tangan sambil kerahkan seluruh kekuatan memapak pukulan lawan

"Duk, krak" benturan keras diselingi suara tulang patah, pergelangan tangan padri jubah kuning remuk. badannyapun seperti di lempar menumbuk dinding lalu membal balik pula tersungkur roboh sambil muntah darah, begitu menyentuh lantai badan terkulai untuk tidak bangun lagi.

Liok Kiam-ping tidak pedulikan korbannya, lekas dia memburu kearah kamar sebelah. Kamar ini besar dan mewah, suasana hening, tiada bayangan lain kecuali Siau Hong yang terlena diatas sebuah kursi besar beralas bulu tebal, rambutnya tak karuan, wajahnya pucat dan terkulai lemas, jelas dia tertutuk Hiat-tonya.

Sigap sekali Liok Kiam-ping sudah melompat kedepannya, jarinya segera bekerja cepat menutuk beberapa Hiat-to ditubuh Siau Hong. Sebelah telapak tangan menekan Bing- bun-hiat menyalurkan hawa murni kedalam tubuh Siau Hong.

Tak lama kemudian Siau Hong sudah bersuara perlahan lalu pelan-pelan membuka mata, sesaat lagi baru dia melihat jelas siapa yang berada didepannya, Liok Kiamping sedang memanggil-manggil lirih namanya, sungguh bukan kepala girang dan sedih hatinya, seperti anak kecil yang aleman sudah lama berpisah mendadak melihat orang dekatnya, sambil menjerit segara dia menubruk kedalam pelukan Liok Kiam-ping sambil sesenggukan.

Jangan kira Liok Kiarn-ping memiliki Lwekang tinggi membekal ilmu sakti, di arena pertempuran segagah naga mengamuk. gembong-gembong iblis yang mati ditangannya tak terhitung lagi, namun menghadapi sifat aleman Siau Hong, ternyata dia bingung dan gundah hatinya.

"Sudah adik Hong jangan bersedih, sekarang kami masih berada disarang harimau, musuh tangguh berada disekitar kita, mari berusaha keluar dulu dari tempat ini, kelak kita rencanakan lagi menuntut balas supaya teria mpias rasa penasaran ini."

Siau Hong gadis pingitan yang pandai membaca, maka dia cukup tahu diri, soalnya bila tidak kuasa menahan gejolak perasannya maka sekedar melampiaskan rasa rindu belaka, setelah diberi ingat oleh Kiam-ping, cepat diapun sadar akan situasi yang masih cukup gawat ini. Dari jendela mereka melompat turun secara bergilir, Kiam-ping melompat duluan baru Siau Hong mengikuti.

Setelah hinggap diatas tanah Liok-Kiam-ping mendongak sambil membuka mulut memekik panjang seperti alunan naga diangkasa, suaranya menembus hutan menggelegar dimaya pada.

Mendadak. sesosok bayangan orang dengan kecepatan mengejar angin meluncur dari arah timur. Hanya sekejap Ai- pong-sut sudah meluncur turun hingga didepannya. Pekik panjang Liok Kiam-ping memang isyarat yang sebelumnya sudah dijanjikan

Sementara itu Jian-ii-tok-heng sedang kejar mengejar main petak dalam hutan sambil melabrak Pa-kim Tayhud. jaraknya dengan Pa-kim Tayhud tetap dipertahankan sejauh satu tombak. jarak yang tak mungkin terjangkau oleh pukulan dahsyat macam apapun yang dilontarkan lawan dari belakang. Dengan ketangkasan gerak badannya kadang-kadang dia berlari diatas tanah, bila terdesak dia melambung keatas pohon lalu menyembunyikan diri, Pa-kim Tayhud disergapnya dari belakang dengan pukulan keras, namun sebelum mengenai sasaran dia sudah melayang pergi pula. Bila Pa-kim Tayhud mencaci maki sambil mengejar, sementara dia sudah menyelinap kebelakang pohon, celakanya mulut Jian-li-tok- heng tidak mau berhenti mengoceh: "Dengan kemampuan yang tidak seberapa ini berani meluruk ke Tionggoan, lekas mencawat ekormu kembali ke Lun-pu-si di Tibetmu, mengasingkan diri menghapus nama, mungkin kau masih bisa panjang umur, kalau bandel kau akan mampus di sini tanpa ada liang untuk menguburmu Hweslo gundul, aku bermaksud baik, jangan kau salah tampa. Bukankah dalam ajaran agamamu juga ada peringatan yang mengatakan, insafilah kesalahanmu, kembalilah kejalan benar, falsafat yang baik ini harus kau resapi benar, jangankan melawan takdir malah, kau bisa kualat dan menyesalpun kasep."

Pa-kim Tayhud dicaci maki, di goda dan dicemooh, karuan gusarnya bukan main, tampangnva yang kasar dan berwarna merah itu kini lebih membara lagi seperti warna darah yang mengkilap. Sementara kakinya tak pernah kendor mengudak dengan kencang.

Tengah kedua orang ini saling kejar, dari arah Ling-hong- kek terdengar beberapa kali jeritan, beberapa ekor anjing agaknya terbinasa pula. Seketika Pa-kim Tayhud seperti dikemplang kepalanya, pikirnya kaget:

"Mungkin anjingku terbunuh mati seluruhnya, itu berarti Ling-hong-kek terancam bahaya. Keributan di sini sudah berlangsung sekian lama, kenapa Hwe-giam-lo SiuJan dan lain-lain tiada yang muncul, memangnya mereka sembunyi kemana? Padahal karena anjurannya aku meluruk ke Kwi-hun- ceng menuntut balas, meski Ling-hong-kek daerah terlarang, namun di saat musuh menyerbu tiba, memangnya pantas mereka menyingkir malah, pasti ada sebabnya kenapa mereka tidak turut membantu Mungkin mereka juga kesamplok musuh atau menghadapi bahaya lainnya?" makin dipikir makin gundah, hatinya tidak karuan rasanya. Yang benar, mana dia mengira bahwa SiuJan sudah dikalahkan Liok Kiam-ping dan kini sedang mengatur rencana busuknya?

Karena menguatirkan keadaan Linghong-kek, dirinya perlu segera balik ke sana, lekas dia kerahkan tenaga mempercepat langkah mengudak Jian-li-tok-heng, begitujarak agak dekat, kedua telapak tangannya terus didorong, gumpalan tenaga dahsyat menerjang kedepan.

jian-li-tok-heng sedang lari sambil melompatjauh ke depan, mendadak deru angin kencang mengudak dari belakang, dia tahu padri Tibet ini sudah dibuat gusar betul-betul, tujuannya memang memancing amarah nya supaya, dirinya lebih leluasa mempermainkan dia, sebelum angin pukulan mendera tiba dia sudah melayang keping gir terus menyelinap kebelakang tiga pucuk pohon-

Diluar sadarnya, kali ini dia ketipu malah. Setelah melontarkan pukulannya, Pa-kim Tayhud tidak lagi mengejarnya dia malah lari terus kedepan menuju keluar hutan, kearah di mana Ling-hong-kek berada.

Begitu Jian- li-tok- heng membalik badan pula, ternyata Pa- kim Tayhud sudah meluncur dua puluhan tombak disebelah depan- Sudah tentu dia tidak berpeluk tangan dan tidak akan membiarkan padri asing ini pergi apapun harus dipermainkan lagi beberapa kejap. lekas dia menyelinap dari jarak dekat berusaha mencegat orang, serunya: "Hweslo, kalah belum menang pun tidak kenapa lari." Ginkangnya memang lebih tinggi maka cepat sekali dia sudah memperpendekjarak mereka, setelah dikejarnya mencapai jarak lima tombak mendadak dia ayun tangan menimpukan dua butir biji teratai besi kedepan Pakim Tayhud.

Mendengar suara Pa-kim Tayhud tahu serangan lawan tiba, lekas dia mengerem daya luncuran tubuhnya, baru saja dia mau berputar kesebelah kanan, timpukan biji teratai besi kedua lawan sudah menyamber tiba pula. Karuan amarahnya tak tertahan lagi, akhirnya dia nekad menghentikan langkah serta membalik badan, kedua tangan dilandasi seluruh kekuatan menggempur Jian-li-tok-heng yang sedang memburu tiba.

Tujuan Jian-li-tok heng menahannya di sini, supaya tidak balik ke Ling hong kek. setelah menimpukan senjata rahasia segera dia menghentikan langkah serta mengawasi saja dengan tersenyum. Begitu Pa-kimTayhud membalik terus menghantam, cepat dia berkelit kepinggir.

Kali ini Pa-kim Tayhud betul-betul gemas dibuatnya, hawa nafsu sudah menghantui hatinya, sambil menggerung dia memburu maju seraya mengembangkan ciam-liong- seng- thian kedua kakinya yang sudah terapung itu menutul pucuk dahan hingga tubuhnya melejit lima kaki lebih tinggi, ditengah udara dia membentang kedua tangan serta memancal kaki, laksana naga terbang tubuhnya melesat lurus. Dipucuk dahan yang lemas dan tak mungkin bisa menggunakan tenaga dia mampu mengem-bangkan Ginkangnya, kecuali Pa-kim Tayhud memiliki Lwekang dan latihan yang tinggi, siapapun takkan mampu melakukannya.

Melihat daya serangan lawan cukup kuat Jian-li-tok-heng tahu lawan sudah dibuat gusar, serangan kali ini menggunakan seluruh tenaganya, lekas dia kembangkan Ginkang tunggalnya, melesat minggir sejauh mungkin- Diluar tahunya di kala daya luncuran tubuh Pa-kim Tayhud hampir habis, di saat tubuhnya sudah melorot kebawah, mendadak kedua tengannya seperti menggapai laksana sepasang sayap burung, kedua kaki sama injak, sehingga tubuhnya melesat maju lebih jauh lagi.

Masih dalam jarak setombak lebih mendadak Pa-kim Tayhud mendorong tangan kanan, segumpal cahaya putih tahu-tahu sudah menindih diatas kepala. Ternyata saking sengit disaat mengejar dia sudah keluarkan Hiat-te-cu. Sudah tentu Jian-li-tok-heng kaget dan pecah nyalinya, namun dia tahu kekuatan Hiat-tocu hanya mampu mencapai setombak, tapi Pa-kim Tayhud mampu melancarkan Hiat-tocu dalam setombak lebih, betapa dahsyat tenaga yang dikerahkan sungguh amat mengejutkan, dimakluminya pula am-gi sejenia Hiat-te-cu bila sudah dilancarkan, jarak seluas satu tombak sudah dibawah incarannya, kearah manapun sudah tiada peluang untuk meloloskan diri. Untung dikala kepepet otaknya yang encer segera memperoleh akal. Secara mentah-mentah dia memberatkan badan sehingga tubuhnya anjlok terus menyelinap ketengah rumpun pohon yang lebat.

Sebelum kakinya menyentuh bumi, suara ribut sudah terjadi dipucuk pohon diatas kepalanya, ranting daon beterbangan, sekilas sempat dilihatnya daban-dahan pohon disekitar dirinya sudah terbabat gundul, karuan mengkirik hati Jian-li-tok-heng. Setelah menggelundung pergi dan melompat tinggi kebeberapa pucuk pohon yang lain dia bergelak tawa serta mengolok: "Kepala gundul kalau marah ternyata menakutkan. Apa salahnya pohon-pohon di sini hidup subur, kenapa kau membabatnya roboh, memangnya kau tidak takut ketimpa dosa."

Pa-Kim Tayhud diam saja, mulutnya menggeram, diam- diam dia bersiap pula hendak menerjang maju.

Sekonyong-konyong didengarnya pekik nyaring yang mengalun tinggi menembus hutan dan udara dari arah Ling- hong-kek. Nadanya tinggi berisi, jelas orang yang memekik memiliki Lwekang tangguh, kemungkinan murid-muridnya yang berada di Linghong-kek sudah disikat musuh seluruhnya. Sekilas melenggong lekas dia memutar balik terus memburu kearah Ling-hong-kek.

Mend engar pekik suara itu, Jian-li-tok- heng tahu bahwa Liok Kiam-ping sudah berhasil menolong Siau Hong, segera diapun memburu kearah yang sama. Setelah memekikan suaranya Liok Kiamping segera raih pinggang Siau Hong terus dibawanya melompat jauh keluar diikuti Ai-pong-sut, cepat sekali mereka sudah melayang puluhan tombak. Ginkangnya memang sudah mencapai taraf tertinggi, meski memeluk Siau Hong, dengan mengerahkan tenaganya, daya luncurnya ternyata tetap mengejutkan-

Jian-li-tok-heng menguntit dibelakang Pa-kim Tayhud seperti berlomba menuju ke Ling-hong-kek tapi Liok Kiam-ping bertiga sudah melayang pergi lebih dulu, jaraknya ada tiga puluhan tombak.

Kala Pa-kim Tayhud tiba didepan gedung, dipelataran menggeletak mayat seorang muridnya dan dua ekor anjing. dia tahu dirinya, terlambat datang. sehingga segala rencananya gagal total. Lekas dia ayun langkah pula mengejar kearah Liok Kiam-ping bertiga.

Jian-li tok-heng juga tahu bahwa bayangan yang bergerak didepan adalah gaya Liok Kiam-ping, maka tanpa berjanji kedua orang itu berlomba lari pula menyusul ke sana.

Liok Kiam-ping sudah meluncur seratusan tombak. dia melampaui sebuah balairung, baru saja hendak meluncur turun ketanah, mendadak sebuah bentakan nyaring menggelegar: "Bangsat, tinggalkan orang yang kau bawa."

Suara lambaian yang ramai meluncur dari berbagai penjuru, puluhan orang muncul mencegat didepan mereka.

Karuan Liok Kiam-ping mencelos kaget, dilihatnya yang mencegatnya dua tombak disebelah depan adalah sebarisan orang, pemimpinnya adalah dua orang tua beruban, sebelah kiri berusia delapan puluhan tahun, kedua matanya terpejam, namun sikapnya kelihatan kereng dan berwibawa, mungkin orang tua inilah yang bergelar Bong-siu (aki buta), disebelah kanannya adalah Hwe-giam-lo SiuJan, di kanan kiri mereka masing-masing berdiri Biau-san-si-sat dan Seng si-ciang Hau Kong-ki, dibelakang mereka masih berdiri pula serombongan jago-jago Bulim dengan perawakan campuran, semua berpakaian seragam, mata menyala Thay-yang-hiat menonjol, jelas mereka juga memiliki kepandaian yang tidak boleh dipandang rendah, menghadapi pencegatan dengan jumlah sebesar ini, mau tidak mau Kiam-ping mengkirik juga.

Liok Kiam-ping cukup cerdik, sekilas berpikir, dia lantas tahu apa yang terjadi, segera dia tertawa lantang, serunya: "Kukira siapa, ternyata Siau-tangkeh sendiri, memangnya janjimu tadi sudah kau jilat kembali, Kau kerahkan bantuan sebanyak ini memangnya ingin main keroyok "

Hwe-giam lo terkekeh, katanya: "Tadi Losiu hanya berjanji tidak akan mencampuri urusanmu di Ling-hong-kek saja, bila kau mencari onar ditempat lain dalam wilayah istana ini, maka aku tidak boleh berpeluk tangan Lemparlah senjata dan menyerah saja biar ongya sendiri yang akan menjatuhkan hukuman kepadamu."

Habis dia bicara bayangan merah mendadak berkelebat tiba. Pa-kim Tayhud sudah meluncur tiba disamping. Matanya mendelik mukanya beringas, baru saja dia hendak buka suara menegor Hwe-giam-lo.

Hwe-giam-lo lebih licin, melihat tampang mukanya dia sudah tahu duduk persoalannya, lekas dia memapak selangkah serta berkata menjura dengan tertawa: "Karena ada urusan lain, maka Losiu beramai datang terlambat, sementara kawanan tikus berhasil kami cegat di sini. apapun yang terjadi malam ini tak boleh membiarkan mereka keluar dari istana. Harap Taysu tunggu sejenak. Setelah Losiu beramai membekuk kawanan tikus ini. Boleh terserah bagaimana kau akan menghukum mereka." jelasnya dia meng umpak tapi juga menghasut. Maklum tokoh kosen seperti Pakim Tayhud yang punya kedudukan tinggi, mana dia mau meminjam tangan orang untuk membekuk musuh.

Maka dia terloroh-loroh, katanya: "Kenapa Siu-tangkeh bilang begitu, kawanan tikus ini membuat onar di Ling-hong- kek, anggaplah aku kurang hati-hati dan kepandaian Lun-pu-si kurang becus. Tapi Lolap seorang diri tetap tidak akan membiarkan mereka lolos dari sini."

Mendangar percakapan mereka Liok Kiam-ping menarik kesimpulan bahwa pertempuran dahsyat takkan bisa dihindarkan lagi, Situasi setegang ini sudah tidak lagi menarik urat syaraf bagi Liok Kiam-ping, namun kehadiran Siau Hong serta keselamatannya mau tidak mau akan merupakan beban dan menjadi pikirannya juga.

Liok Kiam-ping kumpul ditengah kepungan musuh, dengan suara berbisik mereka berunding lalu ketiganya berdiri menghadap ketiga jurusan, Siau Hong berada ditengah mereka. Liok Kiam-ping serahkan cui-le kiam kepada Siau Hong supaya gadis ini siaga sendiri dan bila perlu turun tangan untuk membela diri. Sementara Kiam-ping bertiga sudah mencopot jubah luarnya serta digulung dan diikat dipinggang, siap tempur.

Maka kakek uban yang berdiri di sana sambil memejam mata berkata: ”Siu-sute, sekarang waktunya sudah hampir pagi sebentar lagi dinas pagi sudah tiba, untuk turun tangan sudah tidak leluasa lagi."

Hwe giam-lo mengiyakan perlahan lalu membentak kepada Liok Kiam-ping: "Bangsat, masih punya pesan apa boleh kau sampaikan kepadaku, kalau tidak Lohu beramai tidak kenal kasihan lagi kepadamu."

Liok Kiam-ping terbahak-bahak katanya: "Kalian sampah persilatan yang tidak tahu malu menculik gadis remaja berusaha memperkosa dengan obat mesum lagi, diluar tahu pihak penguasa berbuat sewenang-wenang, beginikah kalian anggap awak sendiri orang gagah kaum persilatan- Apalagi kawanan tikus seperti kalian, siapa saja yang tak pernah lolos dari cengkraman tanganku, dengan tenaga orang banyak kalian masih mimpi hendak mengeroyokku, sungguh menggelikan, orang gila yang mimpi dimabuk kepayang. Karena boroknya dikorek dihadapan umum sudah tentu Hwe-giam-lo SiuJan naik pitam dampratnya gusar: "Kunyuk, yang tidak tahu mampus, kematian sudah didepan mata masih berani mengoceh tak karuan, kalian memang tidak boleh diberi ampun," kedua tangan diputar kekanan kiri lalu berpadu didepan dada, perlahan didorong kearah Liok Kiam-ping.

Tekadnya besar membalas kekalahannya tadi, maka kali ini dia menyerang dengan seluruh kekuatannya.

Liok Kiam-ping menerawang: ”Jumlah mereka banyak. kekuatannya jelas lebih besar, untuk mencapai kemenangan harus menyelesaikan pertempuran secara cepat, maka serangannyapun tidak kenal ampun lagi." Melihat betapa dahsyat pukulan kedua tangan lawan, Kiam-ping tidak ayal lagi, lekas dia tarik napas kerahkan tenaga dikedua tangan, dengan sepuluh kekuatannya menepuk maju menyongsong pukulan lawan- Beberapa kali Liok Kiam-ping ketiban rejeki dan selalu mujur, maka Lwekangnya sekarang sudah jarang ada tandingan di Bulim, dengan sepuluh bagian kekuatannya ini. perbawanya sudah laksana gugur gunung.

"Byaar," ledakan menggelegar mengakhiri adu kekuatan ini. Liok Kiam-ping tergeliat sedikit. Sementara Hwe-giam-lo SiuJan tergentak mundur tiga langkah. baru saja dia berdiri tegak Liok Kiam-ping mendesak setapak^kedua tangannya kembali menepuk pula.

Pukulan kedua ini lebih kuat deras dari tangkisan pertama tadi. berkelit sudah tidak sempat lagi bagi Hwe-giam-lo SiuJan, kalau menangkis dengan pukulan juga jelas dirinya bakal kecundang lebih parah, disaat dia bimbang itulah. Mendadak didengarnya seorang membentak dibelakang: ”Jangan gentar sute."

Segumpal damparan angin kencang laksana amukan lesus mendampar kearah tenaga pukulan Liok Kiam-ping Kembali terjadilah ledakan lebih dahsyat, bumi goncang, kedua orang tertolak selangkah, deru napas kedua orang mendadak menderu sesak dan berat. Tiga tombak disekitar arena seperti disibak oleh kekuatan angin lesus yang mendadak meledak tercerai berai.

Penonton disekitar gelanggang seperti ditindih dadanya sehingga menyurut mundur lebih jauh. Pertempuran adu kekuatan sedahsyat ini memang belum pernah terjadi.

Bong Siu bergelak tawa, katanya: "Kawanan kunyuk yang malu dilihat orang, ternyata kau memang sedikit berisi, sayang malam ini harus tewas disini."

Liok Kiam-ping balas menjengek: "Siapa nyana Bong Siu dari barat yang diagulkan sebagai Bulim cianpwe ternyata juga menjadi pesuruh yang tunduk perintah orang, menyerang secara membokong lagi, apa pula kemampuanmu hayolah keluarkan, kalian maju bersama juga akan kutandingi seorang diri."

"Bocah sombong, bila kau mampu lolos dari sepasang tangan Lo-siu, malam ini boleh kau pergi dari sini dengan bebas, kalau tidak maka kau harus menyerah dan dibelenggu menunggu hukuman," sembari bicara dia sudah menghimpun tenaga dan semangat, perlahan kedua tangan bergerak lalu membentak: "Sambutlah pukulan Lohu."

Liok Kiam-ping tetap kerahkan sepuluh bagian tenaganya menyambut dengan keras. Kedua orang terhuyung tiga langkah oleh kekuatan lawan Bong Siu berkunang-kunang. Sementara napas Liok Kiam-ping memburu.

Kelihatannya kedua pihak sudah sedikit cidera, untung Lwekang kedua orang sudah mencapai taraf tinggi, istirahat sejenak. gejolak darah dirongga dada sudah berjalan normal lagi.

Seluruh hadirin menonton sambil menahan napas, rasa tegang mengencang detak jantung mereka, suasana hening lengang. Terutama Siau Hong, jantungnya seperti hendak melompat keluar, saking tegang napas ikut memburu dan berat.

Liok Kiam-ping tahu pihaknya malam ini pihaknya serba sulit, maka diinsyafinya bahwa pertempuran adu tenaga akan merugikan pihak sendiri, tapi wataknya angkuh dan  tinggi hati, dihadapan umum betapapun dia tidak mau asor dibawah orang lain

Setelah mengatur napas dan kendalikan kekuatannya, mendadak dia menghardik: "Sambut juga pukulanku." kedua tangan membundar lalu menjojoh, kali ini dia kerahkan dua belas kekuatannya, pukulannya ternyata tidak menimbulkan gelombang angin deras seperti tadi.

Tak pernah terpikir oleh Bong Siu bahwa lawan ternyata memiliki kekuatan setangguh ini, jarang dia berhadapan dengan lawan sehebat dia, konon lawan masih muda belum genap dua puluh tahun, bagaimanapun dia latihan dan meyakinkan ilmujuga tak mungkin bisa mencapai taraf setinggi ini, memangnya tokoh kosen siapa yang menitis dibadannya, di saat hatinya bimbang dan menimang-nimang itulah. Hardikan Liok Kiam-ping disertai pukulannya menyentak kaget lamunannya.

Tenaga pukulan lawan semula masih lunak dan enteng, namun kian lama tambah besar dan mendampar hebat laksana guntur menggelegar. Betapa dahsyat tenaga pukularnya sungguh belum pernah selama hidup di lihatnya. Seluruh hadirin tiada yang tak terpesona dan melelet lidah oleh kedahsyatan pukulan Liok Kiam-ping.

Walau tahu kekuatan pukulan lawan teramat dahsyat, namun sebagai seorang tokoh besar yang disegani didalam Bulim, sudah tentu Bong Siu malu untuk menyingkir. Terpaksa dia menekuk lutut serta melangkah mundur setengah langkah, tenaga dari pusar dikerahkan dikedua lengan lalu menangkis dengan pukulan keras juga. Ledakan sedahsyat guntur membuat seluruh hadirin pekak dan tersibak mundur, akibat dari benturan kedua kekuatan sungguh bukan olah-olah hebatnya. Badan kedua jago yang berlaga ini seperti dilempar gempa sejauh delapan kaki.

Siau Hong menjerit kaget serta memburu ke sana. Tapi Ai- pong-sut lebih cepat sekali raih dia sudah pegang lengan Liok Kiam-ping yang hampir jatuh serta memapahnya berdiri.

"Bluk" Bong Siu terlempar duduk lalu bersamadi menekan darah yang hampir menyembur, namun darah sudah meleleh di ujung mulutnya.Jelas luka-lukanya cukup parah. Hwe-giam- lo SiuJan dari lain-lain memburu maju merubungnya.

Liok Kiam-ping juga menelan kembali darah yang sudah hampir menyembur keluar meski merasa kepala pusing, namun daya ingatnya masih tetap jernih, setelah dipapah Ai- pong-set sekalian dia duduk bersimpuh, dari dalam kantong bajunya dia merogoh ke luar selembar kelopak Soat-lian terus dikulumnya. Setelah itu dia mulai samadi mengerahkan Lwekang.

Soat-lian adalah obat mujarab, begitu masuk mulut lantas mengeluarkan sari manisnya dan tertelan kedalam mulut, lekas sekali luka dalamnya sudah diobati. Memangnya Lwekang Kiam-ping amat tangguh, dengan mengerahkan tenaga menyalurkan hawa murni sekali putaran, luka-luka dalamnya boleh dikata sudah sembuh sama sekali.

Demikian pula Kiuyap-ci-lan didalam tubuhnya mulai menunjukan kasiatnya setelah mengalami gembleng dan adu kekuatan barusan, dibantu kasiat Soat-lian lagi, makin terbaur dan senyawa dengan jiwa raganya, tenaga bukan saja pulih Lwekangnya malah maju setingkat

Hanya sekejap semangatnya sudah pulih, segera dia melompat bangun dengan gairah, sorot matanyapun lebih mencorong dibanding sebelum terluka tadi. Bong Siu juga menelan beberapa butir obat untuk menyembuhkan luka dalamnya, tapi kasiat obatnya tidak seampuh Kiu-yap-ci-lan dan Soat-lian. maka dia agak terlambat dan saat itu masih samadi.

Melihat wajah Liok Kiam-ping cerah dan bergairah, Siau Hong tahu bahwa luka dalamnya sudah pulih, rasa kuatirnya tadi seketika sirna, tanyanya penuh perhatian:

"Ping-ko, bagaimana luka-lukamu ? Apa sudah sembuh ? keadaanmu tadi sungguh menakutkan. "

Liok Kiam-ping tertawa, katanya: "Luka-lukaku sudah sembuh, tapi kita masih dalam kepungan musuh, apapun harus cari akal untuk menjebol kepungan lebih dulu." lalu dia memberi tanda kepada Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng, katanya perlahan: "Sekarang kita maju bersama... " belum habis dia sudah mendahului bergerak.

Memangnya Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng sudah tidak sabar lagi. melihat Liok Kiam-ping memberi aba-aba, serempak merekapun menyerbu.

Bong Siu masih bersamadi, ketiga musuh tangguh ini sudah beraksi terpaksa Hwe-giam-lo menyuruh Biau-san-si-sat maju mencegat Liok Kiam-ping. Sementara dia dan Pa-kim Tayhud masing-masing menghadapi Ai-pongsut danJian-litok-heng.

Begitu maju ketengah arena Biau-san-si-sat lantas mengepung Liok Kiam-ping ditengah, mereka bergerak mengelilingi makin lama makin cepat, lama kelamaan bayangan tubuh mereka sudah tidak kelihatan, demikian arena putaran mereka makin mengecil.

Berdiri ditengah kisaran bayangan musuh, perasaan Liok Kiam-ping menjadi gundah dan risau, mendadak dia maju setindak. tangannya memukul kearah Nyo Llong. tertua dari Biau-san-si-kiat yang kebetulan berputar didepannya. Diluar tahunya keempat saudara Nyo ini menggunakan Su- siang-tin (barisan empat gajah) yang mengutamakan tenang mengatasi aksi, kalau lawan tidak bergerak diri sendiri harus diam, maka begitu Liok Kiam-ping melontarkan pukulan dengan kedua tangannya, orang ketiga dari Biau-san-si-sat Nyo Hong melontarkan pukulan dari belakang memukul punggung

Liok Kiam-ping menggeram rendah, kedua lengan terkembang, dengan sebelah tangan dia menangkis pukulan Nyo Hong. "Blang" Nyo Hong tertolak mundur setapak lebar.

Meminjam benturan keras ini tubuh Liok Kiam-ping mencelat mumbul tiga kaki, tubuh yang terapung berputar lurus dan datar, melesat setombak jauhnya, dia kira dengan lompatan sejauh ini dirinya sudah tolos dari kepungan keempat lawannya.

Tak nyana waktu dia angkat kepala dan melihat seputarnya. Biau-san-si-sat tetap berdiri diempat penjuru sekaku batu, d irinya jelas masih dalam kepungan mereka, karuan hatinya heran dan bingung.

Tapi Liok Kiam-ping cukup cerdik, melihat bentukan dan keadaan keempat lawannya dia lantas tahu bahwa barisan ini akan bergerak bila disentuh, maka gerakan selanjutnya dia amat berhati-hati. Kali ini dia melompat lagi dengan gaya ciam-llong-seng-thian setinggi tiga tombak ditengah udara dia mengeliat serta berputar mengembangkan Ginkang yang tiada taranya, kedua tangan terkembang laksana seekor burung raksasa yang pentang sayap. Dalam hati dia sudah bertekad dengan mengincar satu sasaran untuk menggempurnya dari atas udara.

Tak nyana Su Siang-tin memang hebat dan lihay, begitu dia bergerak, Biau-san-si-sat juga lantas beraksi, mereka berlompatan dari satu pojok ke pojok lain, gerak gerik mereka sudah terlatih dan mahir sekali. Karuan Kiam-ping kebingungan malah, dalam kurungan yang bergerak begini dia jadi kehabisan akal kesasaran mana dia harus menyerang.

Padahal ginkang Ing-wi-kiu-coan paling banyak hanya bisa dikembangkan sembilan kali putaran, setelah itu harus anjlok turun kebumi berganti napas. Liok Kiam-ping sudah terbang berputar lima kali, keadaan cukup mendesak. dia pantang bimbang lagi, sekilas berpikir segera dia pilih Nyo Hou yang berada paling dekat untuk dijadikan sasaran serangannya, kedua kaki memancal, dengan badan menukik dia menepuk dari atas.

Tak nyana sebelum dia lontarkan pukulannya Nyo Hong menubruk datang dari kiri kanan-Gerak gerik mereka teramat aneh dan cepat, hampir susah dikelit dan dihindari.

Bahwa serangan gagal awak sendiri terancam serangan musuh malah, lekas dia punahkan tenaga pukulannya, kedua lengan menggentak naik keatas, sehingga tubuhnya menggeliat mumbul tiga kaki kesamping, syukur sempat meluputkan diri.

Waktu berhantam di Kwi-hun-ceng tempo hari Ai-pong-sut Thong cau harus banyak memecah perhatiannya sehingga padri Tibet lawannya sempat memungut keuntungan daripada dirinya, dalam hati selama ini dia merasa penasaran, maka begitu menubruk maju dia papak Pa-kim Tayhud serta melabraknya dengan sengit.

Pa-kim Tayhud sendiri juga sedang uring-uringan, memangnya rasa dongkolnya tidak terlampias mendadak bayangan berkelebat segulung angin pukulan sudah menyapu mukanya. Daya serangan cukup deras, membalik tangan menang kia sudah tidak sempat, lekas dia melompat pergi ke sebelah kanan.

Menghadapi musuh besar sudah tentu Ai-pong-sut tidak menyia-nyiakan kesempatan, segera dia kembangkan Ginkangnya yang tinggi, bagai bayangan setan mengikuti gerak gerik lawan- Sekali gempur pula dengan kedua tangan dia cecar lawan dengan damparan angin dahsyat.

Pa-kim Tayhud belum berdiri diatas ke dua kakinya, dari belakang pukulan lawan sudah menderu tiba, karuan dia makin beringas, ditengah gerungan gusarnya kedua tangan terkembang, badannya yang besar dengan jubah kedodoran itu melayang tinggi setombak ditengah udara dia menekuk pinggang sambil menendang dengan badan membalik.

Dua jurus pukulan Ai-pong-sut membuat lawannya berkelit secara runyam, rasa dangkol hatinya sedikit teria mpias, maka sifat humornya segera kambuh, setelah tawa berkakakan dia berseloroh: "Sampah persilatan padri jahat yang ingkar ajaran agama, dengan bekal kepandaianmu yang cukup mahir main lari dan menyingkirjuga berani bermuka-muka di Tlonggoan. Gundul tua malam ini adalah saat terbaik kau bertobat dan minta ampun, untung beberapa peng awalmu itu sedang menunggumu diperjalanan ke akhirat, sebentar kuantar jiwamu untuk menyusul mereka"'

Karena terapung diudara Pa-kim Tayhud tidak bisa bersuara, terpaksa dia hanya melotot sambil mendangus saja, di mana kedua tangannya menggaria kebawah, dia memutar balik tubuhnya terus balas menubruk. Serangan yang dilancarkan dengan rasa gusar memang tangguhnya luar biasa.

Ai-pong-sut berada diaebelah bawah sudah tentu tidak berani menyambut secara keras, lekas dia geser kedua kaki kekanan, dengan sebat dia berkiaar kebelakang Pa-kim Tayhud seperti gerakan gangsing yang berputar, kedua telapak tangan terus menggempur dan merogoh bagian bawah badan lawan-

Bahwa tubrukan kedua tangan mengenai tempat kosong, mendadak tenaga merogoh dan menyapu datang kebagian bawah tubuhnya, lekas kedua kaki memancal berbareng tinjunya menjotos kebawah, meneruskan daya tubrukan dia menjerit minggir setombak kesebelah kiri.

Serangan Ai-pong-sut kali ini tidak maksud melukai lawan, tujuannya hanya memaksa turun lawannya, maka sebelum mengenai sasaran kedua tangan ditarik. tubuh berputar kembali dia berkelebat kebelakang Pa-kim Tayhud. Kedua telapak tangannya ditarikan sekencang angin ribut, beberapa hiat-to ditubuh Pa-kim Tayhud dirabunya dengan gencar. Bayangan merah seketika terbungkus oleh bayangan telapak tangan yang tak terhitung banyaknya.

Tak pernah terpikir oleh Pa-kim Tayhud bahwa orang tua pendek gemuk yang satu ini gerak-geriknya ternyata begitu tangkas, sedikit lena dirinya terdangar oleh rangsakan lawan tapi sebagai maha guru silat suatu aliran, Kungfunya memang mempunyai kelebihan sendiri dalam alirannya, lekas dia sudah balas menyerang enam jurus pukulan, keadaan sekarang berimbang.

Hwe-giam-lo SiuJan adalah manusia licik dan munafik, dia langsung menubruk kearah Siau Hong, tangan kiri bergerak dengan Kim-liong-jiu mencengkram pundak kanan Siau Hong. Siau Hong berkelebat mundur sambil mengayun cui-le-kiam dengan jurus Pak-coa-toh-sim menuruk urat nadi dipergelangan tangan Sinar pedang berkelebat, cahayanya ternyata mencorong selebar satu kaki, sekilas pandang bagi seorang ahli pasti tahu bahwa pedang itu adalah gaman sakti peninggalan jaman kuno.

Cengkraman Hwe-giam-lo itu hanya pancingan reaksi saja, begitu sinar pedang bergerak dia sudah menekuk sikut menarik pergelangan, untung gerakannya masih cukup tangkas, namun keringat dingin sudah membasahi jidatnya, hatinya rasa kagetpun menggelitik hati. Lekas dia kembangkan gerakan tubuhnya, secepat kilat jari tangan kanan menggantol urat nadi Siau Hong yang memegang senjata, gerakannya cukup gesit dan aneh, jelas dia yakin bahwa cengkramannya pasti berhasil.

Jian-li-tok-heng bekerja lebih cermat dan seksama, diam- diam dia sudah menerawang situasi malam ini tidak menguntungkan pihaknya, hatinya sudah siaga bukan memikirkan cara bagaimana mengejar kemenangan tapi berusaha supaya tidak kalah dan fatal, maka sejak tadi dia selalu memperhatikan keadaan Siau Hong dan tak berani meninggalkannya terlalu jauh, supaya bisa memberi bantuan bilamana perlu.

Melihat Siau- Hong terancam oleh cengkraman Hwe-giam- lo segera dia menghardik: "Bangsat tua, stop " dengan jurus cian-bwe-jiu (gerakan tangan menggunting kembang Bwe), jari tangannya menjojoh urat nadi dilengan kanan Hwe-giam- lo SiuJan.

Hwe-giam-lo sudah senang bahwa cengkeramannya pasti berhasil, tak nyana bahwa Jian-li-tok-heng juga sudah mengancam lengannya dengan ujung jari, kalau tidak menarik serangan, lengan sendiripun pasti celaka, maka dia tidak sempat melukai musuh. Lekas dia menurunkan pundak serta miringkan tubuh sambil berputar, jari telunjuk dan tengah tangan kanan terangkap balas menutuk ci-tong-hiat dipunggung Jian-li tok-heng, menarik serangan merobah gerakan cepat tepat dan pas, gerak geriknyapun mahir dan wajar.

Sebelum serangan dilancarkan penuh, angin tajam sudah mengancam punggung, lekas Jian-li-tok-heng melangkah maju dengan kaki kiri, gerakan dirobah Pek-ho-can-ji, telapak tangan kiri menepuk cong-hiat-hiat dibelakang batok kepala lawan, gerakan sekaligus dari seorang ahli kungfu yang benar- benar berisi.

Lekas Hwe-giam-lo menarik leher sembunyikan kepala, tutukan jari tangan kanan berobah mencengkeram, ke atas balas menyodok urat nadi tangan kiri Jian-li-tok-heng yang menyerang tiba, sementara tangan kiri dengan Im-ciang menepuk ki-bun-hiat dibelakang iga, satu jurus dua gerakan, serangan kali ini bukan saja lihai juga menakjubkan.

Jian li-tok-heng menekuk lutut sehingga tubuhnya setengah jongkok sambil menarik serangan, sementara tangan kanan menepuk serangan tangan kiri lawan dengan jurus Latf-pi- hoa-san

"Plak" kedua tangan mereka beradu jian-li-tok-heng tergetar keras, tubuhnya bagian atas tergeliat mundur, kakinya mundur setengah langkah. Hwe-giam-lo SiuJan berkedudukan disebelah bawah, getaran pukulan keras ini membuatnya jatuh duduk diatas genteng, tangan kirinya sakit sekali seperti tulang pergelangannya patah.

Memperoleh angin Jian-li-tok-heng makin bersemangat dan gagah, mendesak selangkah kedua tangannya mengepruk kebatok kepala Hwe-giam-lo siuJan, serangan kedua tangan ini menghimpun seluruh tenaganya, sudah tentu perbawanya cukup mengejutkan

Hwe-giam-lo sedang kesakitan dan hendak melompat berdiri, ingin menuntut balas rasa sakitnya ini, mendadak pukulan lawan sudah menindih tiba pula, lekas dengan gerakan keledai malas berguling dia menggelundang  setombak jauhnya.

Padahal pukulan Jian-li-tok-heng teramat keras, karuan genteng kaca dibawah kakinya pecah hancur berantakan.

Dalam pada itu Liok Kiam-ping melayang tiga tombak kepinggir, begitu kedua kakinya hinggap dibumi, Biau-san-si- sat tahu-tahu sudah berada disekelilingnya pula, mereka tetap bergerak cepat mengelilingi dirinya.

Memangnya wataknya keras dan tinggi hati, sudah tentu tak mau dirinya dipihak yang didesak dan terancam dalam barisan, ditengah bentakannya kedua tangan terpentang kekiri kanan masing-masing menempur Nyo Liong dan Nyo Hou saja, kedua pukulannya dilancarkan dan Nyo Hun didepan dan menubruk maju pula. Sudah ia tak sempat melukai lawan, ia berputar dengan tangkas dan kedua tangannya dibuat menangkis tubrukan kedua musuhnya ini.

"Blang, blang", Loji dan Losi dari Biau-san-si-sat terpukul mundur. Kiam-ping siap mengudak tapi Nyo Llong dan Nyo Hong sudah menambal kekosongan posisi mereka, kekuatan pukulannya bertambala dahsyat ditambah daya tubrukannya kedepan Lekas Liok Kiam-ping ayun kedua tangannya menangkis secara keras kearah damparan pukulan lawan- Tapi pukulan menangkis baru dilontarkan, sementara deru angin kencang sudah menderu pula dari kanan kiri. Akhirnya Liok Kiam-ping berdiri ditengah tak bergerak, gerak tubuhnya berputar ditempat, ia terus menggempur kekanan dan belakang.

Seranganya yang cukup tangkas ini didesak pula oleh keempat musuh sehingga terdesak dibawah angin, segera ia tarik tangan setelah melontarkan serangan susulan lawan sudah mencegat dirinya lebih dulu. celakanya gerak mereka makin menciut, badan terasa beku dan menyesak napas. Liok Kiam-ping terus menggempur dengan kedua tangannya secara kilat.

Serangan kilat secara keras adu tenaga lagi paling menguras tenaga, betapapun tangguh Lwekang Liok Kiam- ping, jelas takkan kuat bertahan terlalu lama. Semasakan air kemudian, napasnya sudah menderu berat, keringat sudah membasahi jidatnya.

Ai-pong-sut masih terus melabrak Pa-kim Tayhud dengan gusar dan dandam, dengan ketangkasan tubuhnya, dia cecar lawannya sehingga Pa-kim Tayhud didesak mundur berulang kali, namun dari padri Tibet inipun berjuang sekuat tenaga sehingga keadaan masih bertahan sama kuat. Mereka sama menyerang secara kilat, setiap serangan menggunakan seluruh kekuatan pula, maka benturan pukulan yang dahsyat terus menggelegar dengan suaranya yang keras menggoncang bumi, hawa bergolak ditengah arena, genteng kaca beterbangan kesegala penjuru.

Dua bayangan merah dan kelabu seperti saling gubat lalu naik turun saling gontok. hakikatnya sukar dibedakan denganjurus serangan apa mereka menggempur musuhnya. cara adu tenaga yang dilakukan kedua lawan setandang ini berbeda lagi, namunjuga menguras tenaga. Ratusanjurus kemudian, keringat sudah berketes-ketes dijidat meleleh keleher Ai-pong-sut.

Mata Pa-kim Tayhud beringas, jenggotnya basah, napasnya ngos-ngosan seperti babi yang akan disembelih. Tapi kedua orang ini tiada yang mau mengalah, keduanya masih terus baku hantam dengan sengit.

Setelah Hwe-giam-lo SiuJan dipukulnya menggelundung pergi Jian-li-tok-heng sudah siap menerkamnya pula. Mendadak dirasakan sejalur tenaga lunak menggulung dari belakang, deru angin pukulan lunak ini membawa bau busuk. Jian-li. tok-heng hanya menyedot sedikit bau busuk ini, rasanya sudah mual hampir tumpah, maka dia berpikir mungkinkah ini Sip hu-ciang (pukulan mayat busuk) yang pernah kudangar dan belum pernah kulihat itu. Konon pukulan ini mampu membuat busuk mayat korbannya dalam sekejap. bagi yang menyedot hawa busuknya saja, bisa tumpah- tumpah dan semaput."

Apapun Jian-li-tok-heng tidak menyangka bahwa lawannya sudah meyakinkan pukulan jahat yang paling beracun didunia ini, untung dia bersiaga dan hanya menyedot sedikit hawa busuk. kalau sampai tumpah dan semaput, akibatnya tentu amat fatal. Tanpa pikir dia melompat tinggi mencari kedudukan yang lebih tinggi menanjak angin, sambil menahan napas...

"Tindakannya memang berhasil. Hawa busuk beracun ini didesak keluar dengan tenaga dalam melalui ujung jari yang dijentikan atau diseling dalam pukulan telapak tangan, maka daya pukulannya cukup tangguh, sementara hawa beracunnya tertolak balik oleh hembusan angin lalu.

Padahal Jian-ti-tok-heng bergerak tanpa perhitungan, namun sekaligus dia sudah memperoleh kedudukan yang menguntungkan, karena hawa beracun itu tidak mampu melawan angin, celaka adalah anak buah Hwe-giam-lo sendiri yang berdiri dibawah, beberapa prang tampak meloso jatuh. terus terguling jatuh dari atas genteng.

Musuh tak berhasil dirobohkan malah orang sendiri yang keracunan, karuan Hwe-giam-lo makin gusar danpenasaran, lekas dia hentikan serangan pukulan hawa busuk beracun, mengerahkan hawa murni memulihkan tenaga Maklum setiap kali pukulan beracun dilancarkan, tenaga dalam sendiri akan dikorting beberapa puluh prosen sesuai daya tahan dan lama dari pukulan itu dilancarkan, untuk memulihkan kekuatan harus mengerahkan hawa murni dan bersamadi cukup lama. Anak buahnya yang lain segera berlompatan turun, disamping menyingkir juga menolong beberapa temannya yang keracunan, Hwe-giam-lo sudah menghimpun semangat menyusun kekuatan pula.

Betapapun gencar pukulan Liok Kiam-ping yang terkepung didalam Su-siang-tin tetap tak mampu menjebol atau merobohkan keempat lawannya karena kerja sama Biau-san- si-sat cukup ketat dan rapat, beruntun dia menggempur hampir seratus jurus tetap tak mampu memecahkan barisan lawan

Padahal dengan bekal Lwekang Liok Kiam-ping sekarang, jarang ada tokoh silat di Bulim yang mampu menandanginya, setiap pukulannya mampu menghancurkan batu menggugurkan gunung. Sayang Su-siang-tin merupakan daya cipta bersama dari Biau-san-si-sat, kelihatannya mereka memukul secara bergiliran dengan tenaga individu, pada hal setiap salah seorang mereka menyerang, gabungan tenaga mereka berempat sebagai landasannya, itu berkat kerja sama ketat dan serasi serta gerakan berputar mereka dari satu kedudukan kelain kedudukan secara berantai, maka semakin cepat mereka berputar mengelilingi musuh kekuatannya tambah besar.

Sudah tentu Liok Kiam-ping tidak tahu seluk beluknya, dengan gencar dia terus menggebuk musuhnya dengan kekuatan penuh, lama kelamaan dia kehabisan tenaga sendiri, hingga serangan yang semula gencar menjadi lamban- Sejenak dia menentramkan hati mengatur napas, pikirannya menjadi jernih, untung daya kekuatan barisan lawan mengutamakan tenang mengatasi aksi, gerakan mereka merupakan reaksi dari gerakan lawan, cepat atau lambat balas menyerang setiap ada kesempatan

Serangan Liok Kiam-ping sudah jauh lebih lambat, maka reaksi Su-siang-tinpun mengendor. Tapi keadaan tetap tegang.

Otak Kiam-ping memang encer, sejenak dia menerawang, lekas sekali dia sudah menyimpulkan sesuatu, meski agak nyerempet bahaya, rasanya lebih mendang daripada main gempur tanpa membawa hasil sedikitpun.

Mendadak dia berhenti dan berdiri tegak mengerahkan hawa murni. Secara reflek Kim-kong-put-hoay-sin-kang telah bekerja membungkus dirinya dengan hawa sakti. Kedua tangan sudah bersilang tegak didepan dada penuh dilandasi kekuatan, setelah mengincar kedudukan lawan mendadak dia melompat maju seraya memukul kearah Nyo Liong. Kali ini seluruh tubuhnya sudah dilindungi Sinkang, cukup dia memperbesar tenaga, hawa sakti itupun bekerja semaksimal mungkin, sebat sekali dia ikuti gerak gerik Nyo Liong dari belakang. Mendadak tangan terayun memukul sejurus pula.

Begitu pukulan dilancarkan, Nyo Hong dibelakangnyapun sudah menepuk tiba dengan pukulan dahsyat. Melihat lawan tidak berkelit Nyo Hong yang memukul dengan kedua telapak tangan bersorak girang dalam hati, tak nyana satu kaki sebelum pukulannya mengenai tubuh Liok Kiam-ping, tangannya tak mampu maju lagi seperti ditahan suatu tenaga sekokoh dinding.

Jelasnya tenaga pukulannya sirna tak berbekas, seperti batu kecemplung laut, hanya desis suara yang mengerik saja yang terdangar. Karuan Nyo Liong mengkirik seram dan pecah nyalinya, ilmu macam apakah yang dilancarkan lawan, memangnya dia pandai sulap dan ilmu hitan ?

Pada saat itulah, "Blang" dengan telak pukulan Liok Kiam- ping mengenai Nyo Liong tubuhnya yang besar mencelat terbang setombak lebih terbanting diatas genteng.

Sejurus serangannya berhasil Liok Kiamping tidak kepalang tanggung lagi, memutar miring badannya, kedua tangan kembali menepuk kearah Nyo Hou yang menerjang tiba.

Su-siang-tin dipimpin oleh Nyo Liong tenaganya sebagaiporos kekuatan dari barisan empat gajah ini, setiap serangan balasan selalu dibawah pimpinannya, begitu Nyo Liong kepuku jatuh, barisan jadi pecah, kekuatannyapun buyar.

Karena itu dikala Liok Kiam-ping memukul Nyo Hou, Nyo Hun yang berada di belakangnya juga memukul dengan kedua tangannya, tapi kekuatan pukulannya jauh lebih rendah dibandang pukulan gabungan tadi Pukulan musuh hanya menimbulkan sedikit reaksi dipunggung Liok Kiam-ping, lekas sekali sudah sirna oleh tangkisan hawa saktinya. Karuan Biau- san-si-sat melongo dan ciut nyalinya.

Diantara Biau-san-si-sat, kepandaian dan Lwekang Nyo Hou paling tinggi, orangnya juga lebih cerdik, begitu melihat saudara tuanya terpukul jatuh, maka dia insyaf

Su-siang-tin takkan mampu mengurung lawan lagi, maka dia sudah kaget dan siaga. Begitu kedua adiknya gagal merobohkan lawan, Liok Kiam-ping sudah balas menepuk dengan kedua tangan, mana dia berani menangkisnya, lekas dia mengegos pergi lima kaki.

Sementara Nyo Liong sudah berdiri, mendadak dia menghardik, "Lihat pisau." tangan terayun, selarik sinar kemilau meluncur lurus mengarah dada Liok Kiam-ping.

Dari cerita Jian-li-tok-heng, Liok Kiam-ping tahu bahwa Biau-san-si-sat memiliki kepandaian menimpuk pisau terbang secara bergabung pula, kekuatan barisan pisau terbang empat bersaudara ini amat ganas dan lihay, biasanya jarang dilancarkan bila tidak dipaksa. Mendangar Nyo Liong menghardik lekas dia berputar menatap tajam, selarik sinar dingin laksana kilat menyambar tiba, mendangar suara dia dapat membedakan, senjata apa yang menyerang, bahwa Nyo Liong sudah menyerang dengan pisau terbang, maka para saudaranya, pasti akan ikut menghujani dirinya dengan senjata rahasia yang sama, maka Kiam-ping tidak berani lena sedikitpun. Lekas dia kembangkan Leng-hi-pou untuk meluputkan diri.

Tak nyata sebelum dia berdiri tegak, dua jalur angin telah menyambar pula dari ka nan kiri, jelas dirinya sudah terancam oleh bidikan kedua pisau terbang ini, untung Lwekangnya tinggi dan bekerja menurut jalan pikirannya, mendadak dia membentang kedua lengan serta menghantam kebawah sehingga tubuhnya mencelat naik lima kaki, duajalur sinar kemilau menyambar dari bawah kakinya secara bersilang, namun mendadak melesat mundurpula balik kearah datangnya.

Kiranya, pisau terbang yang diyakinkan Biau-san-si-sat berbeda dengan Am-gi umumnya, pisau terbang mereka dikendalikan dengan tenaga dalam, namun karena batang pisau cukup lencir panjang, tak bisa brputar atau melingkar balik, terpaksa ditimpukan dan disedot balik saja.

Liok Kiam-ping terapung diudara, sesaat dia melenggong menyaksikan ilmu tunggal yang aneh dan menakjupkan ini, lekas dia menggeliat pinggang menggerakkan kaki tangan, di mana kedua lengannya menggaris kebawah tubuhnya melayang turun setombak jauhnya, sekalian dia merogoh kebelakang melolos Liat-jit-kiam serta melompat maju pula.

Bahwa pukulan hawa beracun Hwe-giam-lo bukan saja tidak berhasil merobohkan lawan malah orang sendiri yang menjadi korban, maka-gusarnya sudah memuncak, sekilas dia melirik kepertempuran Kiam-ping dan Ai-pong-sut, keadaan mereka masih amat tangguh. Biau-san-si-sat dan Pa-kim Tayhud belum mampu merebut kemenangan, jikalau malam ini tak mampu merobohkan dan membekuk mereka, maka dirinya jelas takkan mampu bercokol lebih lama di kota raja, maka tanpa menghiraukan peraturan Bulim, lekas dia membentak: "Kalian lekas maju, malam ini jangan biarkan mereka lolos dari sini." lalu dia mendahulul menubruk kearah Jian- li-tok- h eng .

Dipinggir gelanggang masih ada belasan Wisu atau guru silat dalam istana yang menontonpertempuran, mereka sedang asyik dan pesona oleh kesaktian ilmu Liok Kiam-ping, bentakan Siu-Jan mengejutkan mereka serempak semua melolos senjata terus merubung maju.

Melihat muka Siu-Jan beringas, jian- li-tok- heng yang pemikir ini lantas tahu bahwa pertempuran malam ini susah dibereskan, apalagi dia harus melindungi Siau Hong, maka gebrak selanjutnya dia tidak berani adu kekuatan, dengan Ginkang yang tinggi dia melayang keluar kalangan. Baru saja dia hendak balas menyerang, serombongan Wisu mendadak menyerbu tiba. Karuan dia naik pitam, dampratnya: "Kawanan tikus tidak tahu malu, berani main keroyok. baiklah jiwa kalian takkan kuampuni." dengan melontarkan Sian-tian-ciang dia songsong kedatangan kawanan Wisu itu dengan gempuran dahsyat.

Gerak geriknya selincah ikan berenang didalam air, badannya menyelinap pergi datang diantara samberan sinar golok dan pedang musuh, sementara kedua tangannyapun tidak nganggur. beberapa lawan balas dipukulnya jatuh bangun.

Hwe-giam-lo sudah marah dan serangannya sepenuh tenaga. Ditambah beberapa kawannya, maka rangsakan mereka cukup menjadikan tekanan berat. Tapi Jian- li-tok- heng justru menyerang lebih gencar dan mengamuk seperti banteng ketaton, meski dikeroyok keadaan tetap berimbang alias sama kuat Jian- li-tok-heng juga menyerang para pengeroyoknya dengan rasa gusar, maka perbawanya juga cukup hebat, namun tiga puluh jurus kemudian, keadaannya mulai berbeda.

Lwekangnya setaraf dengan Hwe-giam-lo dengan bekal pengalamannya, meski cukup payah menghadapi keroyokan namun dia masih cukup kuat bertahan, namun rangsakan lima pengeroyoknya memang perlu diperhitungkan, akhirnya dia terdesak semakin payah.

Disaat dia bertahan mati-matian itulah, mendadak terdengar jeritan menyayat hati, seorang gurusilat mencelat terbang karena punggungnya termakan pukulan sejauh beberapa tombak, darah menyebur dari mulutnya sehingga genteng kaca menjadi merah.

Siau Hong berdiri dibelakang Jian li-tok-heng, kini Jian- li- tok- heng terkepung musuh, sudah tentu Siau Hong terpencil malah, dua laki-laki agaknya ingin memungut keuntungan, dari kanan kiri mereka menyergap datang.

Memangnya Siau Hong sudah benci setengah mati  terhadap kawanan Busu dari istana, matanya mendelik gigi gemeratak. melihat musuh main keroyok lagi maka amarahnyapun terbakar, cui-le-kiam segera dia sendal menusuk lurus kearah lakl-laki yang menyergap dari kiri.

Laki-laki disebelah kiri ini cengar cengir sambil melintang golok menangkis pedang, dikira gadis cantik terang lemah, sekali ketuk juga pasti pedangnya terlempar terbang. Tak nyana begitu senjata beradu "Trang" golok sendiri tahu-tahu patah menjadi dua. Karuan cengir tawanya seketika menjadi kaku, arwah serasa terbang dari raganya, sambil miring tubuh lekas dia mencelat jauh kepingir.

Siau Hong benar-benar gemas, baru saja pedangnya bergerak hendak mengudak. terasa angin tajam memburu tiba dari kanan- Lekas dia tarik pedangnya berkelit sambil membalik pedang menyongsong tabasan golok lawan-

Tapi Lwekang orang yang satu ini lebih tinggi, melihat pedang Siau Hong mampu membuat putus goloktebal kawannya, segera dia tahu pedang lawan gaman pusaka yang tajam luar biasa, maka ia tidak berani membenturnya, pergelangan ber-putar goloknyapun dipelintir dari menabas dirobah menepis miring, yang diincar adalah pinggang Siau Hong.

Tangkisannya luput golok lawan malah membacok pinggang, lekas Siau Hong melangkah mundur setapak. berbareng ujung pedang didongak keatas dengan jurus Sip-li- to-so menusuk pundak kanan lawan- Baru setengah jalan serangannya, tahu-tahu angin kencang menyerang dari belakang, ternyata lelaki yang putus goloknya membuang sisa goloknya terus menubruk dengan pukulan tinjunya.

Lekas Siau Hong menurunkan pundak. Menarik pergelangan, kaki kiri menjejak tubuhnya berkelit kekanan, tangan kanan balik menabas dengan jurus So-cin-pwe-ki (So cin memanggul pedang) kepada lelaki yang menyergap daribelakang. sebelum serangannya berhasil, laki-taki bergolok disebelah pinggir sudah melompat maju pula menyerangnya.

Lekas Siau Hong kembangkan Hian-li-kiam-hoat, dengan berani dan tabah dia lompat sana terjang sini dari samberan golok dan pukulan tangan kedua lawannya, untung cui-le-kiam ditangannya tajam luar bias a. Kedua musuhnya jeri terhadap senjata ampuh ini, maka dalam waktu singkat Siau Hong masih kuat bertahan-

Ai-pong-sut Thong cau masih baku bantam dengan Pa-kim Tayhud, kekuatan mereka berimbang, serang menyerang adu tipu adu kekuatan, tenaga mereka sudah terkuras banyak, maka gerakan mereka mulai lamban dan kelihatan lelah. Mendadak enam orang merubung datang ikut mengepung Ai- pong-sut, maka sinar golok, pedang dan tombak samber menyamber sederas hujan merabu ke badannya yang gemuk pendek. serangan gencar ini memangpatut dibuat kaget dan jeri.

Kalau dalam keadaan biasa Thong cau boleh tidak pandang sebelah mata terhadap mereka, tapi disamping menghadapi Pa-kim Tayhud yang setaraf, tenaganyapun sudah lemah, maka terasa betapa payah dia harus melayani serbuan keenam orang ini.

Untung keadaan Pa-kim Tayhud sendirijuga lebih payah, melihat enam orang merubung maju segera dia mengundurkan diri kepinggir lalu duduk bersimpuh mengerahkan hawa murni berusaha memulihkan kondisi. Tekananjauh berkurang maka sekuatnya Ai-pong-sut masih mampu melayani keroyokan keenam guru silat ini. Namun dia hanya bertahan tiga puluh jurus, selanjutnya keadaan bertambah payah, lebih banyak bertahan daripada  menyerang, gerak geriknya lamban dan selalu berkelit saja menghindari serangan.

Hatinya sudah gelisah, kalau keadaan seperti initerus berlangsung, pihak mereka pasti akhirnya binasa semua atau menjadi tawanan musuh, daripada berkorban secara percuma terpaksa harus nekad menerjang kepungan meskHarus menempuh bahaya.. Lekas dia merebahkan diri diatas genteng terus melancarkan Te-tong-tui, untung genteng di atas istana datar dan luas, genteng kaca di sinipun cukup rapi, maka cukup leluasa dia mengembangkan ilmu tendangannya sambil bergulingan diatas genteng.

Tangan dan sikut serta kakinya bekerja dengan baik sekali, tubuhnya yang gendut seperti bola yang bisa membal saja bergelundungan kian kemari. Kecepatannyapun cukup mengejutkan- Keenam lawannya dirabu dengan tend a ng an berantai sampai mencak-mencak kerepotan dan lompat mundur sehingga arena lebih besar dan lebih leluasa bagi gerak geriknya. Tapi lama kelamaan ke enam lawannya mulai berlaku cerdik, serempak mendadak mereka menubruk maju bersama.

Setiap lawannya terdesak mundur Ai-pong-sut rebah diam diatas genteng mengatur napas menghimpun tenaga, begitu keenam lawannya merubung maju pula segera dia bergerak pula. Sulit keenam lawannya yang bertaraf menengah menyelami permainan Te-tong-tui yang aneh dan lihay, mereka jadi bingung dan tak tahu bagimana harus melawan, setiap Ai-pong-sut menggelundung datang tersipu mereka melompat menyingkir. Sehingga keenam orang ini satu sama lain seperti berlomba menyelamatkan diri tanpa sadar untuk melawan dan berdaya untuk mengalahkannya, hal ini meng untung kan Ai-pongsut untuk menyusun kekuatannya kembali. Hanya sekejap dia beristira hat sambil bergulingan, semangat dantenaganya sudah lekas pulih.

Bila keenam orang itu merangsak maju pula, diam-diam Ai- pong-sut sudah kerahkan tenaga dan mengembangkan tipu terlihay dari Te-tong-tui yang dinamakan bersuara ditimur menggempur barat. Gerak geriknyapun bertambah cepat dan tangkas. Jelas dia menggelundung ketimur, namun secepat kilat mendadak melenting kebarat, sehingga orang sukar menjajagi ke mana a rah serangannya.

"Aduh." sekonyong-konyong seorang melolong kesakitan, seorang lelaki kekar terpental roboh diatas genteng. Kedua lututnya tersapu patah, saking kesakitan dia melolong seperti babi disembelih, keringat bertetesan diatas jidat sesaat kemudian dia berkelejetan terus jatuh semaput.

Sejurus serangannya telak merobohkan musuh, baru saja Ai-pong-sut akan meneruskan permainannya, Pa-kim Tayhud yang selesai bersamadi melihat orang pihaknya menjadi korban segera mencelat berdiri sambil menghardik, kedua tangannya mengembangkan Thian-liong-toa-pat-sek terus menerjang maju. Kedua telapak tangannya menepuk kebadan dan kepala Ai-pong-sut. Deru pukulannya laksana hujan bayu, perbawanya amat mengejutkan.

Melihat kedahsyatan serangan lawan, lekas Ai-pong-sut menggelundung kesamping, berbareng dia perhatikan di mana lawan akan menaruh kedua kakinya, dia siap bertindak dengan sergapan mematikan.

Diluar tahunya Pa-kim Tayhud juga sudah berencana didalam bertindak. meminjam tenaga tepukan kedua tangannya, sekalian dia mengerahkan tenaga mukjijat dari Thian-liong-toa-pat-sek, tubuhnya mendadak mencelat balik sambil menggeliat dia memutar tubuh, sehingga tubuhnya laksana naga melingkar diudara. Kembali telapak tangannya menepuk deras kearah Ai-pong-sut. Daya serangannya jauh lebih keras lagi.

Ternyata Thian-liong-toa-pat-sek adalah lawan utama dari Te-tong-tui yang dia kembangkan. Kalau pertempuran begini dilanjutkan berarti dirinya akan selalu dipihak yang diserang dan kemungkinan besar jiwa bisi celaka, maka segera mencelat berdiri pula diatas kedua kakinya. Lima orang sisa pengeroyoknya tadi segera merubung maju pula sambil angkat pedang dan golok.

Setelah sedikit memulihkan tenaga dan semangatnya, gerak gerik Ai-pong-sut mulai tangkas pula, dengan kesebatannya dia pergi datang diantara sambaran golok dan tombak serta pedang, namun karena harus bersiaga oleh sergapan Pa kim Tayhud dari sebelah atas, jadi kelihatan keadaan tetap dalam keadaan terdesak.

Sudah setengah malam dia bertempur, kekuatannya boleh dikata sudah hampir habis, tadi waktu melancarkan Te-tong- tui berkesempatan memulihkan sedikit tenaga, kinHarus menghadani Pa-kim Tayhud yang dibantu lima orang lagi, maka keadaannya makin gawat s Tigapuluhjurus kemudian, keadaannya sudah makin payah, napas sesak keringat gemerobyos Tapi dia tetap bergelut mati-matian.

Begitu mengeluarkan Liat-jit-kiam, baru saja kaki Liok- Kiam-ping menutul genteng, deru angin dibelakang sudah menerpa tiba. Tanpapikir dia balikanpedang terus menabas.

"Tring" sebatang pisau terbang telah dipukulnya mabur beberapa tombak jauhnya. Baru saja dia melejit ke sana memburu musuh, angin kencang mengudak tiba pula dari belakang, tapi sebelum dia membenturnya jatuh dengan pedang, samberan senjata musuh telah ditarik mundur. Baru Liok Kiam-ping sempat menerawang keadaan sekitarnya, dua larik sinar putih dari kanan kiri meluncur dengan gerakan zig- zag melesat tiba.

Berkelit keempat penjuru serba susah, dipukul jatuhjuga susah, terpaksa hanya melambung keudara, namun baru saja dia melejit sinar putih sudah melesat ting gi diatas kepalanya, lekas dia mengembang kedua tangan sehingga daya mumbulnya direm, berbareng kedua kaki memancal tubuhnya rebah datar ditengah udara, sehingga dua batang pisau terbang meluncur lewat diatas dan bawah tubuhnya, pisau diatas menyerempet sobek bajunya, sungguh amat  berbahaya. Kecuali Liok Kiam-ping memilik Lwekang tinggi, siapapun sukar terhindar dari samberan pisau terbang yang lihay tadi.

Disamping kaget sudah tentu gusar Liok Kiam-ping bukan main, mendadak dia bersuit keras, segera dia kembangkan Ing-wi-kiu-coan dari Leng-hi-pou yang paling top, tubuhnya berputar di tengah udara laksana elang melayang terus menukik menerkam kelinci, serangannya adalah batok kepala Nyo Hou yang ditempiling dengan dahsyat.

Nyo Houtahu diri, insaf dirinya bukan tandingan, lekas dia melompat menyingkir sambil menerobos pergi dari lingkaran pukulan lawan- Hal ini justru menjadi Harapan Liok Kiam-ping diwaktu pedangnya membelah turun, telapak tangan kiripun sudah siap. begitu dia incar di mana Nyo Hoa beranjak. mendadak dia tepukan telapak tangannya.

Tapi pada saat sama "Ser" angin menyambar kencang dibawah kakinya, terpaksa Kiam-ping batalkan tepukan tangannya, kedua kaki memancal tubuhnya meluncur lurus kedepan melampaui tubuh Nyo Hou, turun setombakjauhnya..

Sambitan pisau terbang Nyo Hun menyambar lewat dibawah Liok Kiam-ping segera di raih oleh Nyo Hou. Sementara Nyo Liong membentak dengan aba-aba rahasianya, berempat serempak mereka merubung maju pula. Maka sinar putih samber menyamber dari empat penjuru kearah Liok Kiam-ping yang terkepung ditengah

Kini melangkah dengan Leng-hi-pou, pedangnya bergerak secara lincah, pisau terbang yang meluncur tiba diketuknya pergi, pertahanannya Cukup kokoh tak tertembuskan tapi pisau terbang itu tiada yang terketuk jatuh, setiap tertangkis pasti mental balik kearah pemiliknya, sehingga keempat lawannya tak pernah kehabisan senjata, kalau tidak terpegang oleh pemilik semula pasti juga disambar saudaranya yang lain-

Perlu diketahui setiap saudara Nyo memiliki lima batang pisau terbang, meski setiap kali menyerang hanya mampu digunakan sebatang. namun bila tak keburu menarik balik pisau pertama dengan mudah mereka akan menggunakan yang kedua, maka begitu permainan dikembangkan mereka tidak akan pernah kehabisan senjata karena pisau itu akan terus ditimpukan silih berganti. Barisan pisau terbang yang diyakinkan Biau-san-si-sat, selama ini jarang dikembangkan, kaum persilatan hanya pernah dengar belum pernah menyakslkan yang pernah menyakslkan juga hanya beberapa gelintir orang saja, selamanya belum pernah gagal apa lagi dlkalahkan selama berkecimpung di Kangouw menghadapi musuh tertangguhpun mereka paling hanya menggunakan dua batang, lawan pasti sudah gugur dibawah pisau terbang mereka. Tapi ma lam ini mereka sudah keluarkan empat batang, selama hidup juga baru pertama kali ini dikembangkan.

Untung Liok Kiam-ping berapakali ketiban rejeki sehingga Lwekangnya sekarang sudah bertaraf paling tinggi, walau harus menangkis dan menghadapi serbuan pisau terbang yang gencar, keadaannya masih tetap wajar dan kuat, sayang dia lebih banyak bertahan dari pada menyerang.

Dengan cui-le-kiam Siau Hong, kembangkan Hian-li-kiam- hoat, setelah dididik oleh Kiam-ping, kepandaiannya sudah cukup lumayan, kalau satu lawan satu kedua lelaki itu jelas bukan tandingannya, namun kedua lawan ini mengoceh dan merabu dengan serangan gencar, semula dia labrak kedua lawannya dengan gencar, tapi setelah Hian-li Kiam-hoat habis dilancarkan, gerak geriknya menjadi lamban, apa lagi tenaga dalamnya makin menipis sehingga makin lama makin terdesak dibawah angin-

Namun demikian dia sudah bertahan sebanyak tujuh puluh jurus, namun napas memburu, keringatpun sudah membasah kuyup sekujur badannya.

Mendapat kesempatan kedua lelaki itu mempergencar serangannya. Saat itu Siau Hong baru berkelit dari tabasan golok musuh, pukulan telapak tangan lelaki yang lain juga sudah menyerobot tiba dari pinggir. Terpaksa dia menutul kaki melejit pergi, pada hal da lam keadaan lelah, dia harus melompat beruntun dua kali, sudah tentu gerak geriknya menjadi lebih lambat. "Plak," langkahnya gentayangan karena pundaknya tersapu oleh pukulan tangan lawan tubuhnya tergentak mundur beberapa langkah baru berdiri tegak lagi. Tulang pundaknya seperti remuk. sakitnya bukan main-

Lelaki bergolok itu diam-diam merunduk dari belakang terus membacok dengan serangan ganas. Rasa sakit hampir membuat Siau Hong semaput, mendadak dirasakan angin tajam mengancamjiwa lagi, diam-diam dia sudah mengeluh dalam hati. Untuk berkelit sudah tidak sempat lagi, jiwanya jelas susah diselamatkan lagi.

Jian-li-tok-heng yang menghadapi keroyokan enamjago kosen walau merasa kepayahan, tapi pengalamannya paling luas. Ginkangnyajuga amat tinggi, maka dalam beberapa kejap dia masih bermain wajar. Memaklumi diri, berada disarang musuh, ada musuh tanpa aku, maka sambil berhantam diam-diam dia sudah siapkan beberapa biji teratai besi, siap bertindak bila perlu.

Dia tahu kepandaian Siau Hong terbatas, pengalaman tempurnya juga cetek, bila gadis harus ditolongnya ini sampai roboh danjatuh lagi ketangan musuh, berarti nama besar Hong-lui-pang akan runtuh total, maka sambil melayani keenam lawannya, tak lupa dia selalu perhatikan keadaan Siau Hong.

Melihat Siau Hong diancam bacokan golok, kontan dia membentak. tanpa hiraukan keadaan diri sendiri yang kepepet mendadak dia melambung keudara sambil menimpuk., biji teratai besi ditangannya seluruhnya dia timpukkan kearah laki- laki bergolok itu.

Bahwa goloknya akan membelah batok kepala gadis ini, pahala besar akan diperoleh, terbayang olehnya pangkat akan dijabatnya pula, karuan senangnya bukan main sehingga dia lupa daratan, memangnya dia juga tidak menduga bahwa Jian-li-tok-heng mampu memecah perhatian menolong Siau Hong, mengancamjiwanya dengan senjata rahasia. Bila dia tersentak kaget ternyata sudah terlambat. Lengan kanan, ping gang dan lehernya sekaligus ketimpuk lima biji teratai besi. Rasa sakit membuatnya menjerit kesakitan, goloknya jatuh berkerontang diatas genteng, orangnyapun roboh tersungkur,

Menghadapi perobahan diluar dugaan, disamping kaget Siau Hong segera sadar bahwa jiwanya tertolong dari renggutan elmaut. Dilihatnya Jian-li-tok-heng melambung turun hinggap disampingnya, katanya perlahan 'Nona Siau Hong, bagaimana keadaanmu ?"

Siau Hong tertawa manis, sahutnya "Tidak apa- apa hanya terkejut -saja."

Disaat mereka tanya jawab, 'Hwe-giam-lopimpin anak buahnya merubung majupula. Maka mereka mulai baku hantam pula lebih sengit. Walau berdampingan dengan Siau Hong, namun karena kepandaian terlalu rendah, maka Jian-li- tok-heng harus bekerja lebih keras, selalu bertindak melindungi keselamatan Siau Hong, sudah tentu keadaannya lebih payah.

Menghadapi Pa-kim Tayhud seorang yang selalu menggempur dengan tenaga dahsyat, Ai-pong-sut sudah kepayahan, apa lagi masih diserang oleh lima lawan yang lain, karuan keadaannya lebih berat. Akhirnya disadarinya bahwa melayani dengan pukulan berat cara yang betul, umpama tidak terpukul luka parah juga akhirnyamati kelelahan sendiri, lekas dia pusatkan pikirannya, kini dia kembangkan ring an tubuhnya, dari menyerang dia mulai bertahan, dengan ketangkasannya dia berkelit dan menyingkir dari serbuan lawan-lawanya. sudah tentu setiap peluang baik tidak diabaikan, namun serangannya juga hanya sejurus tanpa menggunakan tenaga ampuh. cara yang ditempuh ternyata membawa manfaat bagi dirinya, bukan saja tidak terdesak seperti tadi, tenaganya bisa dipertahankan untuk jangka lebih panjang, sudah tentu dia tidak lupa memutar otak mencari akal, untuk menjatuhkan lawan- Sementara Pa-kim Tayhud pimpin orang-orangnya merabu dengan gencar, tapi menghadapi gerakan lawan yang segesit kera, dalam waktu simgkat mereka kewalahanjuga dibuatnya.

Ai-pong-sut menerawang keadaan, terang tanah sudah akan tiba tak lama lagi, jelas mereka tak boleh bertahan lama bertempur disini, betapapun pertempuran harus di akhiri secepatnya dan meninggalkan tempat ini. Padahal dalam kepungan serapat ini dan tekanan cukup berat, mana mungkin meloloskan diri.

Sang waktu berjalan tanpa kenal kasihan kokok ayam sudah terdengar dikejauhan, karuan hatinya makin gelisah.

Pukulan dahsyat Pa-kim Tayhud bagai gugur gunung menindih kepalanya, disaat hati gelisah, sedikit lena tindihan a ng in pukulan itu sudah dekat diatas tubuhnya, berkelit ke kiri kanan jelas tidak keburu, secara reftek dia gunakan langkah sempoyongan menyurut mundur, syukur masih sempat menyelamatkan jiwa. Karena langkah sempoyongan itulah, tiba-tiba didengarnya suara berdering nyaring didalam bajunya, meski suara lirih tapi sudah menyentuh kesadarannya. Begitu dia memeriksa keadaan, rasa girang segera terunjuk diatas alisnya yang tegak.

Mumpung berkelit dengan berputar badan mendadak dia merogoh keluar Yam-yam-tam dari kantong bajunya, dia incar seorang laki-laki dibelakang, lalu melangkah setindak, begitu jarak agak dekat, pelor besinya segera dia timpuk.

Jarak terlalu dekat, laki-laki itu sedang menyerbu dengan bernafsu, mana menyangka lawan bakal menyergap dengan pelor besinya yang sudah terkenal di Kangouw.

Terdengar jeritan keras menggetar udara ditengah malampekat. Begitu roboh dipermukaan genteng darahnya sudah berceceran mengalir kebawah.

Bahwa pelornya berhasil merobohkan musuh, semangat juang Ai-pong-sut berkobar pula. Dua lingkaran lagi dia berputar pelor besinya ditimpuk lagi. "Pluk" batok kepala seorang laki ditimpuknya pecah, tanpa mengeluarkan suara korbannya jatuh terguling, da rah dan otaknya berceceran diatas genteng.

Sisa orang pengeroyok menjadi ciut nyalinya, meski tidak berani mundur, tapi serangan mereka sudah jauh lebih kendor dan hati-hati. Sebaliknya. Pa-kim Tayhud melotot gusar, jengotnya yang sudah basah oleh keringat tampak bergerak- gerak kaku, Beruntun malam ini dia kecundang secara beruntun, meski awak sendiri tidak terluka, namun para muridnya yang dijadikan pengawal pribadanya juga runtuh total, demikian pula anjing-anjing peliharaannya yang dibawanya dari Tibet terbunuh semuanya, betapa hatinya takkan penasaran.

Melihat Ai-pong-sut Thong cau unjuk kegagahannya, dengan yam-yam-tam beruntung merobohkan dua orang yang mengeroyoknya bersama dirinya, bila hal ini tersiar di dunia persilatan, di mana selanjutnya dia harus menaruh muka ? Bukankah nama besar Lun-pu-si ikut runtuh pula ? Saking malu menjadi gusar, nafsu membunuhnya makin berkobar, mumpung tubuh sedang berputar, diapun merogoh kedalam kantong dadanya, terus menggayun tangan, selarik sinar putih kemilau segera melesat kearah Ai-pong-sut, Ternyata diapun keluarkan Hiat-te-cu, senjata rahasia tunggal dari perguruannya yang lihai.

Sebelum mengeluarkan pelor besinya Ai-pang-sutjuga sudah pikirkan akibatnya, Dia tahu Hiat-te-cu amat ganas dan mengerikan bila dilancarkan dalam setombak terjangkau oleh kehebatan senjata rahasia ini, namun didalampertempuran yang serabutan begini, bukan musuh.

Karena itu dia kembangkan ketangkasan langkahnya berputar diantara rombongan musuh yang merabunya berpencar juga dengan gaman mereka, sehingga Pa-kim Tayhud harus berpikir dua belas kali sebelum melancarkan Hiat-te-cu. Pelor besinya justru bergerak dengan leluasa, namun dia juga tidak berani menggunakan tenaga sepenuhnya, kuatir sedikit pecah perhatian, diri sendiri kena sergapan yang fatal, untuk berkelit mungkin tidak keburu lagi. Meski leluasa menyerang musuh betapapun dia tetap berlaku waspada.

Untuk menyelamatkan jiwa ketiga sisa pengeroyoknya menyingkir agakjauh kepinggir gelanggang sehingga Pa-Kim Tayhud memperoleh banyakpeluang melancarkan Hiat-te- cunya.

Ai-pong-sut juga sudah punya perhitungan matang, melihat lawannya berputar dengan kedua pundak terangkat lengan terayun kebelakang sinar putih lantas berkelebat, langsung dia menjatuhkan diri menggelundung pergi setombak jauhnya. Maka terdengar suara gaduh dan gemuruh. genteng kaca pecah beterbangan selebar satu tombak dengan percikan kembang api, pecahan kaca menyambar ke kekuatan serangan Hiate-cu memang cukup mengejutkan.

Walau sebelumnya sudah siaga dan menggelindang pergi dan selamat, tapi melihat betapa hebat perbawa serangan itu, mau tidak mau mengkirik juga bulu kuduknya.

Liok Kiam-ping kerahkan tenaga murninya menempur barisan pisau terbang Biau-san-si-sat betapapun manusia berdiri darah daging, setelah bertempur setengah ma lam, lawan yang dihadapi musuh tangguh lagi, apa lagi sekarang dikeroyok empat, lama kelamaan dia susah memberi perlawanan-

Disamping pintar Kiam-ping, juga berbakat, sudah tentu dia tidak ingin selalu terkepung oleh barisan lawan, benaknya bekerja secara kilat, mendadak dia teringat permainan kombinasi ilmu pukulan dengan ilmu pedang, dalam keadaan terkepung begini terpaksa dia harus berani menempuh bahaya Setelah memukul pergi sebatang pisau terbang yang meluncur tiba, mendadak dia menerobos kepinggir, ujung pedangnya menusuk kearah Nyo Hong, berbareng telapak tangan kiri menggenjot, segulung angin kencang menyapu dari belakang Nyo Hun.

Kedua jurus serangannya dilancarkan serempak Biau-san- si-sat terlongong sejenak. terutama Nyo Hun dan Nyo Hong, lebih penting mereka berkelit dan menyelamatkan diri, tak sempat menarik balik pisau terbang sendiri, lekas mereka melompat keluar kalangan.

Tapi pada saat itulah dua batang pisau terbang telah disambitkan oleh Nyo Hou, Tak sempat melukai lawan lekas Liok Kiam-ping melompat mumbul keatas, disamping menyelamatkan diri sekalian pedangnya meluncur laksana lembayung menus uk kearah Nyo Liong.

Mumpung Liok Kiam-ping mumbul keatas itulah. Nyo Hong, dan Nyo Hun sudah melompat majupula menduduki posisi masing-masing, Liok Kiam-ping tetap terkepung ditengah mereka.

Liok Kiam-ping amat gusar, kedua kaki menjejak tubuhnya meluncur terus ke udara. Amarahnya sudah tak terkendali lagi, maka serangannya sudah tidak perhitungan lagi, tekadnya besar untuk mematahkan barisan pisau terbang lihay ini, Mumpung tubuhnya berputar datar, pedang ditangan kanan menyabet kepinggir membelah Nyo Hong, sementara dengan tekanan tenaga raksasa tangan kirinya menggempur Nyo Hou.

Nyo Hong sedang berkisar kedepan, mendadak angin keras menindih turun, cahaya terang menyilau mata pula, seketika dia mengeluh dalam hati. Tapi dalam kepepet otaknya yang cerdik memperoleh akal, lekas dia, timpukan sebatang pisau terbangnya keatas, sambil melompat minggir sejauh mungkin-

Liok Kiam-ping sedang lancarkanseranganpedangnya, mendadak samberan angin kencang dari luncuran sebatang pisau menembus udara melesat keatas, karuan gerakannya sedikit merandek sambil miring tubuh.

Karena dia miring tubuh inilah sehingga Nyo Hong sempat melompat keluar kalangan.

Baru telapak tangan Kiam-ping bergerak Nyo Houjuga sudah siaga, lekas diaperkuat tenaga kakinya hingga tubuhnya menubruk kedepan lebih pesat, meminjam sapuan tenraga lawan dia melompat lebih jauh beberapa tombak.

Pada saat itulah pisau terbang Nyo Liong dan Nyo Hun sudah meluncur tiba. Meminjam tenaga tolak pukulan tangan kirinya tubuh Kiam-ping melayang keudarapula, Tapi Biau-san- si-sat tetap mengepungnya, kini gerak langkah mereka bertambah kencang. Secara beruntun dan berantai ganti berganti mereka terus merabu Liok Kiamping dengan timpukan pisau terbang. Kedua pihak bergerak adu kecepatan- Maka hanya cahaya benderang saja yang samber menyambar, siapa lena pasti termakan samberan sinar tajam itu. Pertempuran makin tegang.

Liok Kiam-ping dan kawan-kawan masih terus berjuang dengan gigih.

Mendadak bunyi genta yang ditabuh bertalu lembut kumandang dari istana dalam. Itulah genta tanda berkumpul, panggilan kilat, bahwa genta berbunyi sepagi ini, sudah tentu Hwe-giam-lo dan kawan-kawannya amat terkejut, mereka bertanya-tanya:

"Mungkin ada musuh yang membuat onar di istana ?" "Harap kalian berhenti." dari kejauhan kumandang seruan

yang kuat berisi.

Liok Kiamping berempat memangnya sudah kepepet dan hampir kehabisan tenaga, seruan itu justru sesuai Harapan, kalau kawanan Wisu semua mundur dan berdiri ke belakang Hwe-giam-lo, merekapun berkumpul menghadap kearah datangnya suara.

Siu-Jan sudah buka mulut hendak bicara mendadak dilihatnya dua bayangan orang meluncurpesat laksana bintang terbang, gerak tubuhnya tangkas dan lincah,jelas kedua orang yang mendatangi ini memiliki Ginkang tinggi. Hanya sekejap kedua bayangan itu sudah meluncur tiba didepan mereka. Hadirin baru jelas melihat yang datang ini adalah dua pengawal raja yang bergaman golok tebal.

Begitu kedua orang ini tiba, Siu-Jan segera tampil kedepan, sambil menjura dia menyapa, "Tayjin berdua untuk keperluan apa kelihatan terburu-buru. Genta berbunyi didalam istana, tentu ada keonaran terjadi. Losiu sedang pimpinan anak buah mencegat kawanan bangsat yang trobosan di istana, bila sudah kubekuk mereka pasti akan kugusur dan laporkan kepada ongya..."

Belum habis dia bicara kedua Wisu bergolok tebal itu sudah mendengus dingin kata seorang: "ongya justru sedang kuatir karena hal ini. Maka kami disuruh kemari tanya duduk perkaranya kepada Siu-tangkeh dan Pakim Taysu, perintah kilat diajukan supaya kalian segera masuk memberi laporan- Diperintahkan pula bila penyatron memang tidak sengaja membuat kegaduhan, harap lekas suruh orang mengantar mereka keluar istana, dilarang mempersulit mereka."

Liok Kiamping bertiga saling pandang sejenak. mereka tahu rencana berhasil, maka mereka mengulum senyum lega.

Sudah tentu perkataan kedua orung Wisu bergolok itu laksana pentung mengemplang batok kepala Siu-Jan, tahu bahwa kedoknya sudah terbongkar, malam ini jelas tak mungkin menahan orang-orang Hong-lui-pang di sini, sebetulnya sudah ingin berlaku nekad menahannya secara kekerasan, namun dihadap kesaksian kedua pejabat tinggi istana bergolok tebal ini, betapapun tak berani membangkang perintah secara terang - terangan Walau hati kaget dan jeri, namun sikapnya tetap berlaku wajar, dengan bergelak tawa segera dia menjawab: 'Losiu memang ingin segera memberi laporan kepada ongnya, silakan Tayjin berangkat lebih dulu, setelah Losiu menyelesaikan urusan di sini, segera aku masuk memberi laporan kepada ong-ya.

Lalu dia berpaling kearah Liok Kiam-ping, katanya: 'Malam ini kalian memang mujur, dapat pergi tanpa kurang suatu apa, tapi dosa kalian memang terlalu besar, kaum persilatan sudah sudah ingin menumpas kejahatan yang kalian lakukan- Tiga hari lagi di saat rembulan bercokol ditengah cakrawala, kita selesaikan persoalan malam ini di Ban-siu-san, pada waktunva bila kalian tidak datang kita akan meluruk ke Kwi-hun-ceng dan akan kami bumi Hanguskan seluruh perkampungan itu.' "

Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya:

'Muslihatmu sudah terbongkar, masih berani membual, sungguh tidak tahu diri. Baik, cayhe pasti menepati pertemuan di Ban-siu-san” lalu dia peluk pinggang Siau Hong mendahului meluncur pergi. Ai-pong-sut dan Jian-li-tok-heng juga bergerak di kanan kirinya. 

Dengan tertawa Siu-Jan berkata kepada Biau-san-si-sat: "Tolong kalian bersaudara mengantar mereka sampai dipintu gerbang istana." lalu dia memberi kedipan mata kepada mereka. "Setelah mengiakan empat bersaudara Nyo itu segera melayang pergi dengan kecepatan tinggi.

Ternyata seperti biasanya pagi-pagi Ka-cin-ong sudah bangun setelah membersihkan badan dia masuk kekamar mau ganti pakaian untuk mengadakan sidang pagi, dikamar pakaiannya itulah mendadak dia menemukan secarik kertas diatas meja tulisannya. Itulah tulisan atau laporan yang ditinggaikan Jianli-tok-heng, dalam laporan dipaparkan kejahatan dan intrik yang dilakukan Hwe-giam-lo Siu-Jan dengan Pa-kim Tayhud, di luar tahu ongya melakukan penculikan gadis dan berusaha memperkosanya dengan obat mesum. Demi menolong gadis yang tak berdosa itu, waktu yang mendesak tak mungkin memberi laporan langsung kepada ongya, mohon maaf sebesar-besarnya bahwa mereka langsung bertindak di istana.

Ka-cin-ong berwatak keras, jujur dan benci kejahatan, apalagi kejahatan perkosaan, kalau betul anak buahnya melakukan perbuatan terkutuk dan kotor ini, bila bocor dan diketahui orang-orang yang menentang politiknya, bukankah akan meruntuhkan nama baik dan kedudukannya, karena itu dia menabuh genta serta memberi perintah membebaskan para penyatron, kalau tidak Liok Kiam-ping pasti takkan bis a pergi dengan leluasa.

Biau-san-si-sat apaljalanan di istana, terpaksa Liok Kiam- ping mengikuti langkah mereka, sepanjang jalan mereka berlompatan diwuwungan rumah, lalu melompat turun menyusuri taman kembang yang panjang dan luas langsung menuju kegerbang istana.

Biau-san-si-sat sengaja hendak menjajal Ginkang Liok Kiam-ping bertiga, diam-diam mereka saling mengedip mata terus mempercepat langkah, laksana panah terbang mereka meluncur pesat sekali.

Sejak kecil mereka dibesarkan diatas pegunungan hidup didalam gua yang curam dan terjal, tenaga kaki mereka jauh lebih kuat dari kaum persilatan umumnya, apalagi mereka latihan tekun dan rajin, dalam bidang khusus mereka memiliki kelebihan orang lain-

Kali ini mereka, diundang ke Tionggoan pikirnya punya kesempatan untuk pamer kepandaian, merebut nama mencapai kedudukan tinggi, apapun tak terpikir sebelumnya bahwa malam pertama mereka menggebrak melawan musuh, barisan pisau terbang kebanggaan merekapun tak memperoleh hasil yang diharapkan, memangnya hati lagi kesal dan penasaran, mumpung ditugaskan mengantar mereka keluar, kini mereka kembangkan kekuatan kaki, hendak meninggalkan musuh jauh dibelakang biar malu dan melampiaskan rasa dongkol mereka.

Mereka lari dengan sepenuh tenaga, kecepatannya memang amat mengejutkan, tubuh mereka laksana empat gumpal asap meluncur dengan kecepatan kilat menyambar. Bagi yang berpandangan kura ngjeli pasti sukar membedakan bentuk badan mereka.

Cukup lama Biau-san-si-sat mengayun langkah kilat, lekas sekali mereka sudah dekat tembok yang dekat dengan pintu gerbang, secara diam-diam mereka pasang kuping mendengarkan gerakan dibelakang, mereka kira Liok Kiam- ping berempat sudah jauh ditinggal dibelakang maka sambil tertawa pongah mereka saling pandang.

Tak nyana baru saja mereka berhenti, terasa angin kesiur menyambar disamping badan, ternyata Liok Kiam-ping sudah melompat tinggi melampaui kepala mereka meluncur keatas tembok.

Liok Kiam-ping bergelak tawa, katanya:

"Kalian tak usah mengantar jauh-jauh, tolong sampaikan kepada Siu-tangkeh, perjan Jian, di Ban-siu-san esok lusa, cayhe beramai pasti datang. Selamat bertemu" habis berkata dia pimpin Ai-pong sut dan Jian-li-tok-heng melompat keluar. Lompatan-nya mencapai beberapa tombak jauhnya.

Kecepatan gerak tubuh dan jarak lompatannya yang jauh dan enteng sungguh membuat Biau-san-si-sat berdiri melenggong, sesaat lamanya mereka tak mampu bersuara, Akhirnya Nyo Liong mendengus gemas lalu mendahului putar tubuh lari balik kedalam istana.

Belum ada seratus tombak Liok Kiamping berempat meninggalkan istana, mendadak dibelakang terdengar bentakan lalu disusul benturan senjata beradu, suasa bentakan seperti amat dikenal, diduga Coh-siang-hwi Ih Tiau- hiong mencegah musuh yang menguntit mereka. Tapi mereka juga tahu kepandaian Coh-siang-hwi memang tidak tinggi, namun otaknya encer, ginkangnya tinggi, pasti tidak sukar dia memancing musuh kearah lain, maka mereka terus maju kedepan, tanpa menguatirkan keselamatannya.