Hong Lui Bun Jilid 09

Jilid 09

Sementara itu Hwe-hun-cun-cia memutar badannya sekencang roda, Jik-yam-ciang dikerahkan sampai puncak kehebatannya, suhu panas terasa membakar kulit dan mengeringkan hawa, sejauh ini dia tetap tabah dan ketat mempertahankan diri, betapapun berbahaya serangan ketiga lawannya, meski agak terdesak dia masih tetap bertahan, apalagi kedua tangannya masih bebas bergerak meski tiga jarinya putus, namun membelah mencengkeram, membacok dan menutuk. pusaran hawa panas laksana mega api yang membumbung keudara, sehingga kelihatannya dari pertempuran inipun ditelan kobaran api yang menyala.

Lekas sekali gedung telah menjadi puing-puing dan jago merah juga sudah padam tapi, mereka masih terus berhantam puluhan jurus lagi. Siang Wi jadi tidak sabar, teriaknya: "Tua bangka kecil, kubunuh kau.” suaranya bagai petir menggelegar, hingga Hwe-hun-cun-cia tergetar pekak dan linglung sesaat, pada saat itulah Kim-ji-tay-beng telah menegak telapak tangan membelah batok kepalanya dengan kecepatan luar biasa, berbareng Gin-ji-tay-beng juga menepuk telapak tangannya ke Khi-hay-hiat di bawah lambung Hwe- hun-cun-cia.

Belum telapak tangan mereka mendarat desir angin kencang telah menggetar genderang telinga Hwe-hun-cun-cia, lekas dia menarik napas mendekuk dada dan perut. Mega merah tampak berkembang "Plak, plok" ke dua telapak tangannya memapak dua serangan lawan yang mematikan, begitu sikutnya menekan kebawah mengikuti gerakan badan seperti mendadak dia mempunyai belasan tangan saja, beruntun dia telah melancarkan sepuluh kali pukulan dari peluang yang diperolehnya dalam adu kecepatan-

Pentung Siang wi juga menderu keras menyodok Bing-bun- hiat dipunggung Hwe-hun-cun-cia dengan jurus Hun-kay-bu- san (mega tersingkap kabut buyar). Hwe-hun-cun-cia berhasil mendesak Kim-gin-hu-hoat mundur puluhan langkah, mendengar deru pentung yang menyodok datang, sengaja dia menyerong langkah satu tindak sambil membalik tubuh menyampuk kebelakang. "Plang" telapak tangan kirinya berhasil mengemplang pentung Siang Wi.

”Hoooo!" Siang wi memekik, menekuk lutut pasang kuda- kuda merendahkan badan sekuatnya dia menyendal ujung tongkat, kontan mega merah kena disengkelitnya mumbul secara mentah-mentah Hwe-hun-cun-cia telah dilemparnya tujuh tombak tingginya.

Hwe-hun-cun-cia memperlihatkan kelincahan gerak tubuhnya, sambil menukik turun dia membentak: ,Siang Wi, apa yang kau lakukan ? Memangnya kau tidak mengenalku lagi ?'

Siang Wi melenggong, katanya tergagap: "Tapi bocah cilik kau... " sampai di sini mendadak dia membelalakkan bola matanya bukan menatap Hwe-hun-cun-cia tapi melongo kearah belakangnya, yaitu diantara puing-puing gedung yang terbakar habis rata dengan bumi. 

Hwe-hun-cun-cia menggeser jauh ke sana baru membalik badan, begitu matanya menangkap esuatu ditengah puing- puing gedung yang terbakar habis itu, seketika dia berjingkat eperti dipagut ular beracun, seluruh urat syarafnya menjadi tegang.

Diantara tembok dan belandar yang belum terbakar habis, dibelakang sebuah dinding yang ambruk separo, muncul cabaya bundar kehijauan yang remang-remang, ditengah keremangan cahaya hijau itu kelihatan sesosok bayangan hitam. Seiring dengan bergeraknya cahaya hijau remang- remang itu sisa api yang masih menyala disekitarnya seketika padam, seperti takut oleh cahaya hijau remang-remang itu. "Pi-tok-cu." pekik Hwe-hun-cun-cia tersirap kaget.

Dengus dingin masih berkumandang, mendadak cahaya remang-remang dari pantulan sebuah mutiara telah melambung keudara setinggi enam tombak lalu meluncur turun dihadapan Hwe-hun-cun-cia. Lekas Hwe-hun-cun-cia menyilang kedua tangan didepan dada sambil pasang kuda-kuda, bentaknya. "Siapa kau "

Cahaya mutiara yang remang-remang itu mendadak sirna, dig anti selarik sinar putih berkilat, tampak Liok Kiam-ping dengan memegang pedang panjang dua kaki lebih, tangan kiri memegang sebutir mutiara hijau sebesar telur angsa tergenggam ditengah jari-jarinya.

Siang Wi adalah orang pertama yang berjingkrak kegirangan, serunya: "Bocah cilik, hahaha ternyata kau tidak mati. Aku sigede ini sampai menangis karena mengira kau telah mati."

Liok Kiam-ping mengangguk. katanya:

”Hwe-hun-cun-cia, masih mau lari ke mana kau?" Memancar bayangan ketakutan disorot mata Hwe-hun-cun-

sia, sungguh tak pernah terpikir olehnya bahwa Lui hwe-pi-lik

yang dahsyat itu ternyata tidak mampu membinasakan anak muda ini, dari sorot matanya yang memancar penuh dendam, nyali sendiri menjadi ciut dan ngeri. Mendadak dia mengumpat dengan pekik menggila, dua butir benda bundar hitam laksana paluru melesat dari tangannya menerjang kearah Liok Kiam- ping.

Liok Kiam-ping juga menghardik rendah sebat sekali dia bergerak laksana bayangan setan, bayangan pedangnya tampak bergetar tujuh warna cahaya bertaburan diudara dengan desir hawa pedang yang berputar, dua butir granat  api petir itu berhasil dibelit oleh cahaya pelangi itu terus dilempar keluar jatuh d iatas jembatan gantung diluar perkampungan-

Dua kali ledakan dahsyat menghancur lebur jembatan gantung yang terbuat dari balok-balok besar itu.

Ditengah bentakan Liok Kiam-ping, cahaya pelangi itu kontan mengubat kedepan dengan jurus Hong siap-bik-hong (pelangi meluncur dilangit biru), hawa pedang yang mengembang dilandasi cahaya warna warni itu mengurung sekujur badan Hwe-hun-cuncia.

Hwe-hun-cun-cia makin mengamuk dengan pekik suaranya yang buas, menekuk sikut melintang tangan, perawakannya yang tegap kekar berdiri tegak tak bergeming, di dalam suatu peluang yang teramat pendek, beruntun dia menenuk delapan kali, asap merah bagai gelombang pasang, suhu panas yang mampu menghanguskan kulit badan menerjang kearah Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping tertawa lantang, tangan yang tertekuk tampak berputar, sekaligus dia gunakan variasi permainan pedangnya. menciptakan pertahanan cahaya keremangan di depan badannya, pukulan membara lawan yang membakar kulit itu berhasil dibendung diluar garis serta sirna tercerai berai. Dimana ujung pedangnya mendengung menggetar deras, maka kuntum demi kuntum sinar pedang seperti memberondong Hiat-to didepan dada lawan-

Kembali Hwe-hun-cun-cia berteriak seperti lembu kesakitan- sebat sekali dia menyurut dua langkah, bayangan telapak tangannya juga berhamburan seperti bunga saiju pertahanannya cukup ketat dan rapat melindungi seluruh Hiat- to ditubuhnya, sementara kaki masih sempat pula menendang. Dengan mengamuk dia melancarkan serangannya, maka perbawanya jelas tidak seperti biasanya tapi karena terlalu lama bertempur. tenaga dan Lwekangnya banyak dikorting badannya terluka pula, betapapun gerak geriknya sudah tidak setangkas tadi.

Liok Kiam-ping terkekeh dingin, ujung pedang menyelonong lurus serta dipelintir sekalian "Blek" telapak tangan lawan berhasil ditusuknya bolong, sebelum darah mengucur keluar, tujuh jalur cahaya warna warni telah menjadi tabir cahaya benderang menjulang keudara. Hwe-hun-cun-cia memekik kesakitan- kaki kanannya yang menendang itu ternyata juga tertabas buntung oleh pedang lawan dalam samberan kilat tadi, Lebih celaka lagi telapak tangan kiri yang tertoblos bolong itu juga termakan tajamnya pedang hingga tersayat-sayat, darah dari kulit dagingnya berceceran diatas salju, saking kesakitan seluruh badan menjadi lemas dan terjatuh di atas tanah.

Badannya yang terbungkus jubah merah itu tampak menggelinding dua kali, lekas tangan kanannya mencomot segenggam salju untuk menyumbat pergelangan kirinya yang buntung, sementara paha kiri yang buntung juga digosok- gosok dipermukaan salju, pikirnya dengan salju yang dingin membekukan darah dan daging supaya rasa sakit hilang atau berkurang dan darah segar tidak terlalu banyak mengalir, tapi salju yang dingin itu bukan berhasil menahan rasa sakit dan menghentikan keluarnya darah, rasa sakit justru bertambah menyiksa.

Setelah merintih dua kali, tangan kanan menyanggah badan, dengan sebelah kaki kanan dia melompat berdiri, rambut panjang yang semrawut menutupi muka yang menyeringai pucat buas dan kesakitan, hingga tampangnya yang memang jelek bertambah seram menakutkan- 

Wajah Liok Kiam-ping dilembari hawa membunuh, tenang dan dingin dia mengawasi Hwe-hun-cun-cia, dua perasaan sedang memerangi batinnya, pikirannya menjadi kacau, terbayang olehnya waktu didalam rumah makan tempo hari, pengemis cilik itu ternyata amat cocok dengan dirinya, namun dendam keluarga menuntut dirinya harus turun tangan sendiri mencabut jiwa musuh besar ini. Terbayang akan betapa kejam dan mengerikan kematian ayahnya seperti yang diceritakan ibunya sebelum ajal, rasa benci bertambah menyala terhadap Hwe-hun-cun-cia yang satu ini, pikirnya: Jika bukan lantaran kau, aku pun takkan bisa menjadi manusia seperti sekarang ? Tapi imbalan yang harus kupertaruhkan juga tidak kecil artinya... " mendadak dia menggembor keras panjang, melimpahkan segala rasa hatinya, entah duka lara, amarah dan penasaran, gema suaranya mengalun tinggi dan jauh sampai lama masih berkumandang diudara.

Merah berapi Hwe-hun-cun-cia pandang Liok Kiam-ping, seperti patung batu tanpa bergeming sedikitpun.

Liok Kiam-ping sebaliknya menghiasi wajahnya dengan air mata yang meleleh, maju setapak dia membentak. "Apa pula yang ingin kau katakan ?'

Mendadak pandangan Hwe-hun-cun-cia seperti ditutupi halimun, seolah-olah dirinya berada di kegelapan, menghadapi dua bola sinar terang yang kelap kelip laksana bintang kejora. namun sinar kelap kelip itu cukup membuat bola matanya terasa pedas dan sakit, namun dengan lekat dia tetap mengawasinya dan tidak rela memejam mata. Mendadak terbayang olehnya akan cucu perempuannya, mulutnya lantas menggumam: "Ping-ji, anak sayang...

Menghadapi musuh laknat yang barusan sudah mengamuk gila sungguh ingin rasanya Kiam-ping menelannya bulat-bulat. sekarang pertama kali dia saksikan kerut mukanya ya menua, kasap dan pucat, rambut yang awut-awutan, rasa iba lantas timbul dalam benaknya "Aih, yang mati sudah mati. terhadap orang tua yang sudah tanpa daksa kenapa aku harus membuat perhitungan untung rugi? Keadaannya mirip d ia n ditengah tiupan angin badai, sekejap lagi juga akan padam dan tamat riwayatnya, biarlah diampuni saja jiwanya."

"Ah tidak. Dendam orang tua sedalam lautan- selama beberapa tahun ini betapa derita hidup yang kualami, apakah tidak patut aku menuntut balas kepadanya ? Aku harus membunuhnya, tak boleh dilepaskan-"

Dua macam jalan pikiran yang berbeda bergelut dalam lubuk hatinya, tapi akhirnya dia berpaling dan berjalan pergi tanpa bersuara lagi. "ciangbun,' kata Gin-ji tay-beng. "kenapa kau mengampuni dia ?'

Kiam-ping geleng-geleng kepala, setelah menghela napas dia bertanya: 'Mana Le Bun ? kenapa tidak kelihatan bayangannya ?"

Kim-ji-tay-beng menjawab: 'Dia mencarimu kearah sana. ciangbun, bagaimana kau bisa selamat dari ledakan granat lidah api ?”

Liok Kiam-ping hendak menjawab, tiba-tiba terdengar jeritan yang mengerikan, setelah terdengar suara gedebukan Siang Wi berkaok-kaok: "celaka, bocah cilik, lekas kemari, paman Hwe-hun mati"

Waktu Kiam-ping menoleh dilihatnya Hwe-hun-cun-cia sudah menggeletak ditanah batok kepalanya pecah, darah dan otaknya berceceran diatas saiju, jelas dia bunuh diri dengan memukul pecah kepala sendiri.

Kim-ji-tay-beng berkata: "ilmu sakti ciangbun mulai memperlihatkan perbawanya yakin sebentar lagi akan menggemparkan dunia. dia tahu jiwa sendiri takkan bisa diselamatkan maka rela bunuh diri... "

Liok Kiam-ping menghela napas, katanya: "Kau tidak tahu, karena dia sekarang merasakan betapa derita orang yang tersiksa karena kaki tangan buntung, maka dia terbayang kepada para korbannya yang telah mati, mungkin jiwa bajiknya menginsyafkan dirinya maka... "

Siang Wi menyela: "Bocah cilik, Sumoaymu yang manis itu, disebelah sana tadi aku melihatnya ..

"Hayo kita menyusulnya kebelakang, masih ada Ang-kin- cap-pwe-ki... "ujar Kiam-ping, lalu mendahului beranjak ke sana.

"Betul," seru Gin-ji-tay-beng, "sampai sekarang belum kulihat bayangan mereka.” Beramai mereka lompat kebelakang gedung, setelah mengitari runtuhan tembok, terasa perkampungan sebesar ini ternyata sunyi lengang, tiada sesuatu suara seperti tiada kehidupan di sini, sinar apipun tidak kelihatan, setiap penghuni perkampungan ini seperti pulas dalam mimpi,  namunjuga tidak terdengar suara gerosan mereka.

"Eh. memangnya penghuni perkampungan iri sudah mampus seluruhnya ?" demikian omel Gin-ji-tay-beng, "kenapa tidak kelihatan seorangpun ?”

Kim-ji-tay-beng berkata: "Memangnya aku juga heran, kenapa tiada seorangpun ke luar menolong kebakaran. meski tiada kelihatan sinar api, tak mungkin mereka tidur selelap ini?"

---ooo0dw0ooo---

Liok Kiam-ping diam saja terus beranjak kedepan, dia juga sedang pikirkan keadaan yang aneh ini, terbayang olehnya waktu dirinya masih berada didalam aula yang terbakar, Hwe- hun-cun-cia melemparkan granat lidah apinya. Ledakan dahsyat menggelegar disamping tubuhnya, secara reflek dia melompat kebelakang, tapi karena getaran dahsyat dari ledakan itu dia jatuh semaput. celakanya tanpa terasa dia roboh diatas balok besar yang sudah menyala. Entah berapa lama kemudian, terasa ubun-ubun kepalanya seperti diketuk perlahan sehingga badannya bergetar sekali, tapi orangnya juga lantas sadar. Begitu dia membuka mata segera dia menemukan dirinya berada dalam pelukan seseorang, tabir cahaya hijau yang remang-remang membungkus tubuhnya.

Pada hal seluruh gedung itu sudah ditelan jago merah, nyala api mengeluarkan suara gemeratak. tapi api dan asap seperti menyingkir bila menyentuh cahaya remang-remang hijau itu, seperti sengaja ditahan di luar garis oleh selapis kaca, suhu panas juga tidak terasakan sama sekali. Kini dia sudah sadar seratus presen, tapi wajah orang itu tetap belum dilihatnya, tapi dia sadar telapak tangan orang itu menekan punggungnya. Bau arak wangi menyengak hidung, tapi bergerakpun dia tidak berani, kuatir orang tahu bahwa dirinya sudah siuman, celaka bila orang turun tangan keji menepuk Bing-bun-hiat,jalan darah mematikan ditubuhnya.

Dia terus bernapas pelan dan merasa, sambil mengerahkan seluruh tenaganya, dia sudah siaga bila perlu dalam keadaan tak terduga dia akan menyerang atau turun tangan lebih dulu. sekaligus berusaha membebaskan diri dari tekanan telapak tangan orang dibelakang punggungnya.

Tak nyana, baru saja dia kerahkan tenaga dan sikutnya hampir menyodok Ki-tihiat dilengan atas lawan, kupingnya mendengar orarg menegur dengan suara rendah berat: 'Kau sudah siuman anak muda ?"

Telapak tangan itupun ditarik dari punggungnya, begitu dia membuka lebar kedua matanya pula, dilihatnya dirinya rebah telentang dipangkuan seorang Hwesio, wajah Hwesio ini tampak angker dan berwibawa, siapa lagi kalau bukan Hwesio malas takang gares yang kepalanya penuh borok.

Kiam-ping menjerit kaget, bergegas dia merangkak bangun, serunya: "Locianpwe, ternyata engkau.'

Hwesio malas tertawa, katanya: "Beberapa hari tidak ketemu kau, Kungfumu ternyata memperoleh kemajuan lipat ganda, tidak sia-sia mata lamurku ini meramalkan saatnya kau akan menonjol. He, dalam sekejap lagi yakin gembong- gembong iblis jahat dari angkatan tua itupun bukan lagi tandinganmu."

Biasanya Hwesio malas ini berkelakar dan bicara malas- malasan- Kini sikapnya tampak serius dan tekanan suaranya tandas, entah apa sebabnya. Maka dengan ramah dan merendah dia tertawa, katanya: "Locianpwe, bagaimana kaupun berada di sini ?" Hwesio koreng menghela napas, katanya:

"Ditengah jalan aku bertemu Tok-sin-Kiong-bing, dikalangan Bulim tersiar luas bahwa seorang jenius Bulim telah ditemukan mereka, beramai-ramai gembong-gembong iblis itu hendak memungutnya menjadi murid, dengan melenyapkan seluruh aliran putih dan lurus, didesak oleh keadaan terpaksa aku merasa perlu untuk menerimanya menjadi murid, siapa nyana aku datang terlambat setindak, kebetulan kupergoki Tok-sin..."

"Tok-sin ?" Liok Kiam-ping menjerit "di mana cianpwe bersua dengan dia?"

"Dikaki Thian-thay-san dipropinsi ciat-kang. Dia membual katanya orang itu sudah dia temukan- Kini dia sekap didalam sebuah gua untuk mempelajari beberapa teori ajaran mereka beberapa orang, didalam gua itu, konon terdapat pelajaran tunggal serba mulejijat dari peninggalan Hou-hun Siang jin, gembong silat nomor satu dari golongan sesat."

Setelah menghela napas, lalu melanjutkan:

"Sudah sepuluh tahun aku tidak bertemu dengan Tok-sin, entah beberapa tahun ini Kungfu beracun apa yang berhasil diyakinkan sehingga badannya serba kebal dan lihay, hanya beberapa patah kata dia ajak aku bicara, tahu-tahu aku sudah keracunan oleh binatang beracun peliharaannya, setelah seratus jurus, kadar racun sudah merembes kedalam tulang dan urat nadi, karena tidak kuasa mengendalikan diri terpaksa aku melarikan diri .."

Dengan menyengir sedih dia melanjutkan: "Sejak aku Hweshio tua ini keluar dari Lo-han-tong tahun itu, selamanya belum pernah mencawat ekor melarikan diri, tapi kali ini... ai." setelah mengoceh napas suaranya lebih berat. ”Bakatmu cukup baik meski tidak terhitung jenius yang sukar ditemukan selama ratusan tahun, tapi kau merupakan pilihan juga. Jin- tiok-ji-meh dalam tubuhmu sudah tembus. maka kemajuan sehari umpama orang lain seribu hari, tapi manusia berlatih silat tidak boleh disamakan seperti membangun jembatan, sekali lompat lantas ingin mencapai taraf yang tiada taranya, oleh karena itu aku memandang perlu untuk menyalurkan Lwekang yang kuyakinkan selama hidup ini dengan cara Kay- ting tay-hoat dari Siau-lim, membantu kau memupuk dasar untuk membangun Kim-kong-put-hoan-sin-kang, bila tiba saatnya badanmu akan terlindung oleh hawa murni. selaksa jenis racunpun takkan mampu mencelakai jiwamu, bila telah beratus tahun jiwamu akan copot dari raganya dan terbang kesorga .."

Liok Kiam-ping bingung, dia tidak tahu apa maksud perkataan Hwesio malas, diapun tidak tahu apa itu Kim-kong- put-hoay-sin- kang segala. maka dia bertanya "Cianpwe, seluruh omonganmu ini.”

Hwesio malas mencegah perkataan selanjutnya, katanya: "Aku sudah terkena racun Tok-sin, tiada suatu cara atau obat mustajab apapun dapat menyembuhkan diriku, karena itu aku ingin menyembuhkan diri dengan Bo-thi-sian-kang yang belum sempurna kuyakinkan, sayang kebentur lagi dengan peristiwa Hwe-hun-cun-cia yang menimpuk granat lidah api sehingga pertahanan hawa murni yang telah kuhimpun disekitar jantungku tergetar buyar, maka kini usiaku tinggal dua jam lagi, setelah dua jam aku akan mati..”

”Dimana tadi kau bersamadhi ? Kenapa pula bisa berada diaula ini ? oh, ya, bagaimana pula mutiara ditangan cianpwe..."

Hweshio malas mengerut kening, katanya: ”Jangan tanya terlalu banyak. sekarang akan kuajarkan teori dari ajaran rahasia Kim-kong-put-hoay-sin-kang aliran Hud-bun yang tulen kepadamu. Lalu seluruh Lwekangku akan kusalurkan kedalam tubuhmu, setelah kau siuman, berusahalah menemukan Tok-sin, bunuh dia, lebih penting lagi kau harus menyelidik jenius silat yang belum pernah ada sejak seratusan tahun yang lalu, siapa she dan namanya, sekuat tenaga kau harus merebutnya, atau minimal berusaha supaya dia kelak tidak terjeblos kejalan sesat..." lalu dia serahkan mutiara ditangannya kepada Liok Kiam-ping, katanya: "Inilah Pit-hwe- cu (mutiara pencegah api), salah satu dari sepuluh mutiara besar yang tersakti didunia ini, kau harus menyimpannya baik- baik..." maka dia mulai menurunkan ilmu Kim-kong-put-hoay- sin-kang, secara teliti, sabar memberikan penjelasan dan contoh.

Cepat sekali Liok Kiam-ping sudah memahami dan hapal diluar kepala, katanya menghela napas: "Kalau sepuluh tahun aku lebih dini masuk Siau-lim, sekarang tentu sudah berhasil kuyakinkan kungfu kebal yang tiada taranya, ilmu sakti mandraguna yang tidak akan mampu melukai diriku, jiwakupun tidak akan ajal hari ini karena keracunan oleh Tok- sin ?" air mata tak tertahan meleleh membasahi pipi. Setelah kau berhasil, kuminta kau banyak memberi bimbingan dan pengawasan terhadap murid-murid Siau-lim kita, tegakkan keadilan dan kebenaran kaum persilatan-.. " mendadak sekujur badannya mengejang terus gemetar, lekas dia berkata, suaranya mendengung: "Lekas pejamkan matamu."

Masih segar dalam ingatan Liok Kiam-ping, waktu dirinya menolong Lui Giok dulu orangpun dalam keadaan luka parah dan keracunan, tak nyana beberapa tahun kemudian dalam keadaan yang sama, hari ini dia bertemu dengan Hwesio malas. Kedua orang ini sama-sama rela mengorbankan jiwa sendiri menyalurkan tenaga kedalam tubuh supaya dirinya memperoleh kemajuan, tanpa terasa darah seperti mendidih, hatinya amat haru, teriaknya: "cianpwe jangan kau... "

Hwesio malas membentak: "Aku berusaha demi kesejahteraan umat persilatan, jikalau jenius silat yang jarang ada seratusan tahun ini terjatuh ketangan kawanan sesat dan berhasil meyakinkan ilmu jahat mereka, apakah Siau-lim-pay, Bu-tong-pay, Hoa-san-pay, Khong-tong-pay dan Hong-lui-bun bisa tetap hidup jaya ?"

Mulut Liok Kiam-ping sudah terbuka hendak bicara, dilihatnya sekujur badan Hwesio malas bergidik, tubuhnya terguncang keras, perlahan mukanya seketika menjadi hitam, maka tak berani dia banyak mulut lagi, sementara telapak tangan Hwesio malas telah menekan Pek-hwi-hiat tepat dibatok kepalanya.

Tetesan air sederas hujan lebat gemerujuk diatas badannya, setelah mengalami proses penggemblengan seperti Gatotkaca yang digembleng menjadi perkasa mempunyai otot kawat tulang besi, maka gelombang panas terasa mengalir sederas arus sungai, tenaga dalam yang menggejolak merembes keseluruh sendi tulang pembuluh darah dan menguap lewat pori-pori... Akhirnya Kiam-ping jatuh pingsan-

---ooo0dw0ooo---

Setelah siuman pula, didapati tangannya masih menggenggam Pit-hwe-cu, sementara Hwesio malas tidak kelihatan bayangannya, namun disamping tubuhnya menggeletak seperangkat jubah Hwesio yang penuh, tambalan dan sepasang sepatu rumput, agaknya sengaja ditinggalkan untuk dirinya, Kiam-ping lantas menduga bahwa Hwesio malas telah meninggal.

Kiam-ping masih bingung sampai taraf mana kebolehan dirinya sekarang, tapi jurus yang dilancarkan baru dari pancaran cahaya berobah menjadi kalem dan mantap. cukup satu jurus saja, maka Hwe-hun-cun-cia yang dua puluh tahun yang lampau diagulkan sebagai salah satu Liok-toa-thian-cu buntung kaki tangannya, permainan jurus secepat dan ganas ini, meski mengandal ketajaman Jit-jay-kiam sehingga mengaburkan pandangan mata, tapi kalau bekal lwekang si penyerang sendiri belum memadai juga takkan mampu mengembangkan jurus pedang taraf tinggi itu.

Kiam-ping kegirangan bahwa taraf kepandaiannya sekarang telah maju berlipat ganda. maka dia membatin: "Aku akan berantas seluruh orang-orang jahat itu.'

Tabir malam telah menyelimuti jagat alam semesta sedemikian sepi, bintang-bintang kelap kelip diangkasa raya. Hembusan angin terasa dingin menyegarkan badan-

Bola mata Liok Kiam-ping tampak menyala ditengah kegelapan, pandangannya tetap jelas dan terang seperti ditengah siang hari, setiap tempat atau sudut gelap tetap bisa dijelajalinya deeganjelas. Mendadak berobah air mukanya, serunya: 'Nah, disana." secepat kilat dia melejit ke sana. ditengah udara tangan kirinya seperti meraih sesuatu, tampak sesosok mayat orang melesat terbang kedalam tangannya. "Ha, ciu Bun-thong.' Kim-ji-tay-beng menjerit.

Dingin suara Liok Kiam-ping: 'Mati keracunan-'

"Mereka mati semuanya." Gin-ji tay-beng mendesis seram, suaranya gemetar mukapun berobah.

Bercucuran air mata Kim-ji-tay beng, katanya sedih: "Mereka mati keracunan oleh Tok-sin, kalau tidak ada seorangpun dalam dunia ini mampu membunuh mereka sekaligus."

"Tok-sin... Kiong-bing.. ' Liok Kiam-ping mendesis, mendadak dia lempar mayat serta menggembor sambil angkat kedua tangannya: "Le Bun, Le Bun ..'

Suaranya terhanyut oleh angin lalu dari tersiar sampai jauh, namun ditunggu-tunggu tidak mendapat jawaban- Badannya mendadak berputar, udara mendadak menjadi wangi, bayangan berkelebat, tiba-tiba jejaknya menghilang. Siang-wi mengedip mata serta menguceknya beberapa kali, tapi kenyataan Liok Kiam-ping sudah lenyap. serunya: "Bocah cilik, kenapa kau menghilang ?”

Gin-ji-tay-beng juga tersirap serunya:

”Ginkang ciangbun kenapa mendadak sehebat ini mencapai taraf Sip-heng-bu-sing ( menyerap langkah tanpa bayangan), pergi datang bagai angin lalu ? Mungkin... "

Kim-ji-tay-beng berkata: "Tadi kulihat sorot mata ciangbun meski biasa, tapi setiap merem melek seperti memancarkan cahaya gemeredep laksana kilat, jelas dia berhasil meyakinkan entah ilmu sakti apa pula..."

"Ilmu sakti apakah didunia ini yang dapat membuat bola mata memancarkan cahaya, sungguh mengejutkan-.." Gin-ji- tay-beng setengah percaya.

Seperti paham tidak paham Siang Wi mengawasi mereka, serunya: "Apa yang sedang kalian ributkan ? Kenapa tidak lekas mencari bocah cilik, perutku sudah mulai lapar, tak boleh pergi tanpa urus perutku." segera dia pentang langkah berlari lebih dulu.

Mengawasi mayat yang tertumpuk dari kawan-kawan sendiri Gin-ji-tay-beng menghela napas: "Bekal Kungfu mereka memang belum patut untuk menunaikan tugas berat. Ai, selama puluhan tahun, betapa berat tugas yang dipikul setiap anggota Hong-lui-bun, akhirnya mereka mengalami nasib begini.”

Kim-ji-tay-beng berkata: "Mumpung sudah keluar. aku akan undang kawan kawan lama serta para Tiang lo kita yang sudah mengasingkan diri untuk tampil pula kedalam kancah perjuangan demi mendirikan dan memulihkan kekuasaan perguruan kita. biarlah kita melakukan tugas bakti dikalangan Kangouw, demi kesejahteraan umat manusia umumnya, supaya pupuk dasar yang gemilang kita bangun pula sehingga cemerlang dikolong langit.” Kejap lain mereka sudah mengejar Ki-ling-sin.

Setelah dua kali menggembor tidak mendapat jawaban, hati Kiam-ping makin gelisah, tanpa memberi pesan lagi segera dia kembangkan Ginkangnya tinggal pergi.

Badannya terapung setinggi enam tombak diudara, hawa murni sambung menyambung terus berputar diseluruh badannya, sehingga badannya menjadi ringan seperti burung yang terbang, setiap kali lompatan mencapai delapan tombak baru badan melayang turun, begitu kaki menginjak tanah sekali menarik napas pula, tubuhnya sudah melamblung pula kedepan, pada saat itulah mendadak kupingnya menangkap suatu gerakan suara yang sudah amat dikenalnya, tampak sebuah benda putih berbulu melompat keatas terus menyusup kedalam pelukannya. Waktu Kiam-ping menunduk, itulah kucing pelacak yang semula berada ditangan Le Bun. karuan kagetnya bukan main, tanyanya: "Mana Le Bun?" setelah terucap pertanyaan baru dia sadar, seekor binatang mana bisa diajak bicara.

Dua kali kucing pelacak mengeong lalu melompat turun ketanah, ekor panjang dengan bulu yang mekar itu tegak berdiri. Lekas Kiam-ping mengendap hawa murni tubuhpun meluncur turun, maka dilihatnya ujung jubahnya yang menggeletak diatas tanah, lekas dia membungkuk dan memegang pedang terus dicabutnya.

"Cui le-ki-kiam," tiba-tiba dia memekik sedih, "Sreng" pedang mestika dia cabut, seketika cahaya-pedang memancar keudara seperti lembayung menembus kelangit. Begitu tangan kanan terayun, cahaya pedang melebar seperti memenuhi angkasa, suara geludukpun menggeletar, selarik sinar terang melesat diudara dan "Trap" sebuah dinding tinggi sebuah rumah lima tombak didepan sana ditembaknya ambruk.

Ditengah mengepulnya debu Kiam-ping berdiri menjublek didalam rumah, ternyata tanpa sengaja barusan dia telah mengembangkan Gi-kiam-ci-sut, taraf tertinggi dari ilmu pedang.

Dalam keadaan risau dan gelisah karena kehilangan  Le Bun, saking gusar dan sedih, tanpa sadar sekenanya Liok Kiam-ping mengembangkan jurus Gin-ho-can-can seperti yang terukir digagang pedang terus menimpukkan cui-le-ki-kiam. Tak nyana begitu dia kerahkan hawa murni seiring dengan gerakan gaya pedangnya, seluruh semangat dan darah daging seperti senyawa dengan pedang besar panjang empat kaki lebih ini melesat kedepan.

Setelah tembok ambruk rumah runtuh baru dia sadar gerakan jurus itu merupakan Gin-kiam ci-sut (ilmu mengendalikan pedang) hawa pedangnya bukan saja kuat, hebat juga tajam sekali, hingga seluruh bangunan rumah itu runtuh seperti digoncang gempa, hancur lebur rata dengan tanah, betapa dahsyat jurus pedang ini, sungguh Kiam-ping melenggong kaget dan tidak berani membayangkan akibatnya bila dia lancarkan jurus pedang ini kepada sesama manusia.

Sekejap dia berdiri melongo, mendadak pedang berat itu dia lempar keangkasa, ditengah desir angin tajam cahaya lembayung seperti menembus angkasa, sementara badannya juga ikut melambung keudara mengejar cahaya benderang  itu. Begitu kaki tangan bekerja, terdengar pula angin ribut menimbulkan damparan angin badai, nyata ditengah udara Kiam-ping kembangkan Liong-hwi-kui-thian, bayangan telapak tangan yang rapat ketat seperti tabir telapak tangan yang sengaja dianyam rapi dan teliti, dalam sekejap itu secara beruntun tanpa ganti napas dia sudah berhasil melancarkan tiga puluh enam jurus. Begitu selesai gerakan tangannya, secara sukses berarti dia telah mewarisi ilmu Liong-jiu-king- thian itu.

Beruntun gerak tubuhnya berobah sembilan gaya, dari jurus Liong-jiau-king-thian berhasil dirobah menjadi Wi-liong- ting-gak, angin pukulannya melanda keempat penjuru sehingga runtuhan puing-puing rumah disapu bersih dari tempatnya semula.

Gerakannya belum berhenti sampai disitu, kedua telapak tangannya bergerak pula, tubuhnya terapung tiga kaki. di mana kedua tangannya terayun dengan melompat keluar, maka terbitlah segulung tenaga dahsyat seperti gunung meletus gelombang badai mengamuk, rumah disebelahnya lagi yang berjarak tiga tombak diterjangnya runtuh dan ambruk, genteng beterbangan, kayu dan balok yang patah serta debu membumbung keangkasa, suara menjadi gemuruh.

Pada saat itulah cui-le-kiam yang menjulang tinggi keangkasa sudah meluncur, dengan desing suaranya yang keras, menukik lurus tetap diatas kepalanya. Kiam-ping tepuk kedua tangan, dengan mudah dia tangkap pedang berat itu serta anjlok turun ditanah. Saking girang dia sampai menangis, karena Wi-liong-ciang telah berhasil diyakinkan dengan sempurna.

Kim-ji-tay-beng berlari mendatangi lebih dulu, serunya: "ciang bun kau tidak apa-apa"

"Tidak apa. apa," ujar Kiam-ping menggeleng, 'Le Bun pasti diculik oleh Tok-sin, Aku harus segera mengejarnya."

Gin-ji-tay-beng juga memburu tiba, serunya "ciangbun, apa kau kuat lawan dia ?”

"Pupuk dasar Kim-kong-put-hoay-sin-kang telah kupelajari dengan baik, selaksa racun tidak mempan kepadaku, aku yakin pasti dapat membunuhnya" demikian ujar Kiam-ping tegas.

Gin-ji tay-beng tersirap terbalik, serunya: "Kim-kong-put- hoay-sin kang ? Bukankah itu Lwekang tinggi dari aliran Hud, darimana ciangbun bisa mempelajarinya "

"Dengan Ginkangku sekarang yakin dapat menyusul Tok- sin-" kata Kiam-ping, "kalian tunggu aku di sini saja." Kim-ji-tay-beng berkata: "Perkampungan ini menjadi sepi, barusan aku sudah memeriksa kesegala pelosok. seluruh penghuni perkampungan ini tua muda, laki perempuan semua terbunuh, semua mati karena sebatang jarum diatas jidat mereka." Bercekat hati Kiam-ping, tanyanya: "Apa kalian melihat Biau-jiu-sip-coan?"

Kim-gin hu-hoat menggeleng bersama bertanda mereka tidak melihat juga tidak menemukan mayatnya.

Liok Kiam-ping berpikir sejenak. katanya kemudian: "Tok- sin pasti belum jauh, bukan mustahil dia masih berada diperkampungan ini, kalian jaga di sini aku akan memeriksa. lenyap suaranya tubuhnya sudah mencelat sepuluh tombak jauhnya, berlari berlompatan ditengah udara.

Kui-hun-ceng diliputi kegelapan nan senyap. tiada suara atau tak kelihatan bayangan kecil hidup, Kiamping kembali ketempat dimana waktu kecil dia tinggal. terbayang masa kecil dulu, sang waktu ternyata telah berselang tanpa terasa, sekarang dirinya harus sibuk berkelana di Kangouw, memikul tugas berat dan mulia. terlibat dalam pertikaian dan permusuhan yang berkepanjangan. Walau sekarang Kungfunya sudah tambah hebat, namun...

"Aih," dia menghela napas panjang, rumah kecil yang terletak disamping gedung besar masih kelihatan berdiri terpencil di sana, itulah rumah kecil dimana dulu dia tinggal, timbul rasa kesepian dalam lubuk hatinya, didalam dunia yang luas ini, dia hidup sebarangkara. tiada sanak tiada kadang. Maka tanpa disadarinya betapa tersiksa batinnya setelah dia ditinggalkan Le bun, perasaan sepi dengan gejolak yang tak karuan kembali merangsang hatinya jelas dulu tidak pernah dia mengemban perasaan seperti ini. Pikirnya: "Dua anak yatim piatu bertemu dan hidup berdampingan memang merupakan pelipur lara... '

Liok Kiam-ping meluncur turun didepan rumah kecil yang terpencil itu, baru saja dia hendak melangkah maju mendadak sebuah gerakan perlahan yang sedikit menimbulkan suara lirih telah tertangkap oleh ketajaman kupingnya, mendadak dilihatnya sesosok bayangan menyelinap dibelakang pagar bambu disebelah sana, hidungnya mendengus secepat kilat tubuhnya mumbul terus meluncur kedepan- Maka dilihatnya sesosok bayangan dengan tersipu sedang menyelinap kedalam sebuah lobang, kontan dia membentak: 'Lari ke mana."

"Ser" angin tajam menerjang, sebatang panah melesat ketenggorokkannya. Dengan kedua jari dia jepit batang panah, berbareng tangan kirinya menangkap terus ditarik, seperti menangkap sesuatu, sedikit badan berputar setengah lingkar lalu anjlok kebawah, maka bayangan itu menjerit kaget dan panik, tidak menerobos masuk bayangan itu lantas terbetot keluar menggelundung ke samping.

Ternyata Kiam-ping melancarkan ilmu sakti Hi-khong-ciap- in (menerima dan menuntun diudara kosong) yang dipelajarinya tanpa sengaja, orang yang menyelinap masuk kelobang gua itu berhasil dibetotnya keluar oleh tenaga saktinya dari kejauhan- mendengar jeritan kaget itu baru dia menyadari bahwa tawanannya ini ternyata adalah seorang perempuan-Perempuan dengan rambut panjang terurai, maka dia bertanya dengan suara berat: "Siapa kau?"

Perempuan itu menyingkap rambut yang menutupi wajahnya, suaranya ketus, jawabnya berani: "Aku manusia biasa."

Tampak jelas oleh Kiam-ping seraut wajah bundar telur dari seorang gadis belia yang masih bersifat kekanak-kanakan-

Sepasang bola matanya yang bundar hitam jeli memancarkan cahaya seperti mata seekor kancil yang mungil ketakutan karena tertangkap oleh pemburu. Wajah nan jelita dan sudah amat dikenalnya, sorot mata yang  pernah membuat hatinya kesengsem dan rindu, tanpa terasa tercetus jeritannya: "Siau-hong, kaukah." Bola mata sigadis tampak terbeliak lalu mengedip dua kali, tanyanya bimbang: "Kau..."

"Aku ini Kiam-ping, engkoh-pingmu." kata Liok Kiamping setengah tersendat.

Gemetar bibir Siau Hong, cepat dia menerkam kedalam pelukannya, pekiknya kegirangan: "Ping-koko."

Setelah memeluk badan ramping yang montok berisi ini baru mencelos hati Kiam-ping dan sadar tidak patut dia lakukan hal ini, maka dengan tersipu lekas dia kendorkan pelukannya serta melepas pelukannya.

Agaknya Siau Hong juga sadar terlalu diburu emosi, lekas diapun mundur, pipinya merah malu kepalapun tertunduk. Kiam-ping gosok-gosok tangan, katanya:

"Siau Hong, kau baik-baik bukan ? Sekian tahun tidak bertemu, kau sudah tumbuh sebesar ini."

Baru beberapa patah kata pembicaraan mereka diluar berkumandang suara isak tangis yang ramai terbaur dengan gelak tawa orang yang riuh pula.

Sesosok bayangan putih denganjubah panjang sempit, kepala memakai topi tinggal berperawakan tinggi kurus tertangkap disudut mata Kiam-ping, di kepekatan malam, selintas pandang orang akan ketakutan disangka ketemu setan gentayangan. Kiam-ping merangkul Siau Hong yang menjerit ketakutan serta membentak: "Siapa itu?"

"Hehehe, dikota kematian yang dihuni setan gentayangan ini, muncul sepasang manusia hidup, serahkan jiwa kalian perkara beres?" suaranya dingin sumbang menggiriskan-

Seperti berada disatu lembah gunung, hamburan pekik suara dingin bergema di alam mistik menggabung menjadi paduan suara yang gegap gempita mendengung dalam telinganya: "Serahkan jiwamu, mau apa lagi ?" Serahkan nyawamu. Mau apa lagi ?" Bayang-bayang putih yang tidak terhitung jumlahnya mendadak bermunculan disekitarnya makin dekat dan nyata mereka menggerakkan kaki tangan terus merubung maju semakin dekat.

Kiam-ping mendengus hidung, terasa Siau Hong semakin merapat dan memeluk kencang badannya, tubuhnya yang gemetar terasa dingin, dengan penuh kasih sayang dan kasihan Kiam-ping merangkulnya pula kedepan dada, katanya perlahan: ”Jangan takut, mereka takkan berani melukai kau."

Setan putih didepan merogoh kebelakang menurunkan sebatang payung kertas warna putih suaranya dingin memekik: "Serahkan nyawamu, mau apa lagi ?"

Muncul pula sesosok bayangan hitam di belakang Pek-bu- siang, dandanannya mirip tinggi dan perawakannya juga sama, pakaiannya serba hitam, tangan juga memegang sebatang payung kertas warna hitam, jelas dia ini Hek-bu- siang. Hek-bu-siang juga memekik: "Serahkan nyawamu. mau apa lagi?"

Cahaya ungu mulai merembes ditubuh Kiam-ping, sorot matanya yang berkilat kadang-kadang terlihat tiba-tiba lenyap seiring dengan meram-meleknya kedua mata, dengan tenang dan dingin dia saksikan tingkah polah orang-orang yang makin dekat, lebih jelasnya mereka boleh dianggap sebagai bayang- bayang setan.

---ooo0dw0ooo---

Saat mana Kim-kong-put-hoay-sin-kang telah bekerja dan mulai mengembang melar sisi tubuhnya dengan hawa murni yang melindungi tubuhnya Setelah bayang-bayang setan itu mendekat dalam jarak setombak lebih baru dia membentak:" Berhenti Siapa diantara kalian berani maju selangkah lagi, jiwanya akan kurenggut." suaranya seperti benturan logam keras, begitu keras frekwensinya hingga bayang-bayang setan serempak menghentikan langkah, tiada satupun yang berani bergerak gegabah. Kiam-ping bertanya pula: "Siapa yang utus kalian kemari ?"

"Hehehe, hihihi..." berbagai nada gelak tawa berpadu, tampak Pek-bu-siang maju selangkah.

"Huh," Kiam-ping mendengus sambil mengebas dengan lengan baju, serangkum tenaga lembut pelan-pelan mendampar kedepan. Lekas Pek-bu-siang memutar payung putih, dari samping dia menubruk ke arah Kiamping sambil menyendal payungnya keatas sehingga tubuhnya yang terapung tertahan sejenak diudara, mirip para cutis yang bergantung diudara, tapi baru beberapa kaki tubuhnya menerjang kedepan, tiba-tiba ditahan oleh serangkum tenaga lunak itu, seketika dia rasakan tubuhnya seperti terjungkal kedalam kolam lumpur, kaki tangan seperti terbelenggu kencang, bukan saja kaki tangan tak mampu bergerak, bernapaspun terasa berat, karuan kejutnva bukan kepalang, lekas dia kerahkan seluruh kehuttannya meronta sambil balas menyerang dengan telapak tangan. Tapi biru saja telapak tangannya menepuk, sejalur angin sekeras palu godam telah mengetuk dadanya.

Ditengah jeritannya, darah menyembur, tubuhnyapun melayang seperti burung yang ketembak diudara jatuh tiga tombak jauhnya "bluk” jiwa melayang seketika.

Pukulan dahsyat Kiam-ping yang hebat cukup menciutkan nyali kawanan setan itu, semua berdiri terlongong tiada satupun yang berani maju lagi.

Ketenangan mencekam. Siau Hong tiba-tiba bertanya perlahan: "Ping koko, kenapa kau menggantung tiga bilah pedang ? Apakah setiap pedang mempunyai ilmu yang berbeda ?” Liok Kiam-ping mengangguk. tanyanya:" Apa kau pandai bersilat?" Siau Hong geleng-geleng, tertawa menunduk dengan malu-malu.

Kiam-ping membentak pula: "Siapa mengutus kalian kemari? Kalau tidak menjawab temanmu itu sebagai contohnya." tangannya menuding kemayat Pek-bu-siang.

Hek-bu-siang tidak juga jeri setelah melihat jiwa temannya melayang percuma, mendengar ancaman Kiam-ping dia mendengus ejek. payung dikembangkan terus menubruk maju, ujung payung yang runcing malah menerjang ke Jit- kian-hiat didada Kiam-ping, pesat laksana geledek menyamber, tangkas dan telak pula sasarannya.

Kelima jari Liok Kiamping berkembang memapak tutukan payung lawan, ditengah jalan, mendadak dirobah dengan jurus Liong-jiau-king-thian dari Wi-liong-ciang. "Plak" kelima jarinya tepat memukul ujung payung lawan, tapi seketika mendesis angin-angin tajam, puluhan batang jeruji payung- payung menjepret dan melesat bagai panah ke berbagai Hiat- to Liok Kiam-ping.

"Kawanan tikus mampus." ditengah bentakan Kiam-ping, ujung pedang sudah bergerak, menaburkan tabir cahaya yang rapat menangkis puluhan jari-jari payung yang terbuat dari baja itu. hingga tersapu rontok di tanah.

Karena pukulan keras menggetar payung hingga seluruh lengannya lemas dan linu, karuan bukan kepalang kaget hatinya, namun masih sempat dia menekan tombol digagang payung hingga kerangka payung menjepret bagai anak panah menyerang musuh. Berbareng dia jumpalitan kebelakang melarikan diri, tak nyana baru kaki menginjak tanah, "Siut." angin pedang yang tajam mendesing tahu-tahu menyamber tiba. Lekas dia menarik napas, sementara kaki merobah beberapa kali posisi dari kedudukan, tubuhnya ikut berputar seiring dengan gerakan kedua telapak tangannya yang melancarkan Ham-Sat-cin-khi. Sayang baru saja tubuhnya membalik, pandangan matanya mendadak terbentur oleh bola cahaya yang mencorong terang bagai surya, cahaya merah yang menyilau mata membuat silau pandangan dan pedas matanya Ham-sat-cin-khi yang dilancarkan ibarat saiju kecemplung bara, seketika sirna tanpa bekas, belum sempat dia membalik tubuh pula, cahaya pedang yang dingin telah membelit tubuh.

"Hoaaa... "jeritan ngeri menjelang nyawa terenggut bergema diangkasa. Darah dan daging muncrat ke berbagai penjuru, anggota badan yang protol juga berceceran.

cukup sejurus Jit-lun-jut-seng dilancarkan Kiam-ping berhasil membabat Hek-bu-siang menjadi empat potong, padahal kejadian sedemikian cepat, pedangnya juga hanya berkelebat sekali, karuan bayang-bayang setan itu menjerit jeri terus mundur kebelakang.

Pada saat itulah pekik nyaring memilukan mendadak kumandang disebelah belakang, seperti datang dari ujung langit seperti pula kumandang dari neraka, yang jelas suara pekik itu bergema diangkasa raya sukar diraba asal juntrungannya. Begitu pekik setan ini bergema, bayang- bayang itupun mulai bergerak lagi sambil berjerit tangis, makin lama makin tambah, mereka yang sudah mundur kini berlompatan majupula semakin dekat.

---ooo0dw0ooo---

Terasa oleh Kiam-ping, Siau Hong yang berada dalam pelukannya gemetar makin keras, pelukannya juga makin kencang, cepat dia menunduk memberi hiburan beberapa patah kata. Disaat dia menunduk sekejap itu, matanya menangkap secercah senyuman licik namun lekas sekali sirna tak membekas. Kiam-ping bertanya: "Siau Hong adakah sesuatu yang menyenangkan hatimu ?" Bergetar tubuh siau Hong, lekas dia menggeleng, katanya: "Ping koko, aku takut..."

Timbul suatu pikiran aneh dalam benak Kiam-ping. dalam hati dia mendengus. "Hehehe, kota setan istana iblis."

"Hehehe, setan-setan menari-nari." Bayang-bayang hitam kembali merubung maju, sedang kakek pendek dengan kepala sebesar ember bertanya dengan suara dingin: "Kota iblis dan istana setan mana boleh didatangi manusia hidup. Hek-pek- bu-siang, hayo tangkap dia dan serahkan kepadaku ""

Pekik dan jerit tangis setan kembali berceloteh, suara gemetar memberi laporan: "Hek-nek-bu-slang sudah berpulang keneraka. tak bisa hidup lagi..."

Liok Kiam-ping tertawa terkial-kial, bentaknya beringas: "Kalian menyaru setan menyamar iblis, kapan akan berakhir? Memangnya kalian sudah bosan hidup? Hayo maju, biar kusikat kalian kawanan setan iblis."

Tubuh pendek kecil kakek kepala besar itu mendadak melayang, kedua telapak tangannya secara aneh dan cepat memukul dua belas jurus, membelah, menjotos dan menempiling kearah Liok -Kiam-ping.

Melihat serangan cukup ganas, Kiam-ping berputar untuk menghindar diri, tak nyana Siau Hong memeluknya terlalu kencang tak mau lepas sehingga gerak geriknya tidak leluasa serangkum bau wangi tiba tiba terendus dari rambutnya menusuk hidung, seketika berobah hebat air muka Kiam-ping. Mendadak dia membentak keras, begitu lawan menubruk tiba cahaya pedangnya berkelebat, dengan jurus Liat-jit-yam-yam dia menciptakan lapisan cahaya pedang dengan arus hawa murni yang melapisi bayangan pedang.

Begitu serangan dilancarkan sikakek pendek melihat lawan dipeluk kencang seorang gadis, seperti tidak tahu cara bagaimana harus melawan, lekas dia menambah tenaga pukulannya. luncuran tubruknya juga dipergencar. Tak nyana ditengah bentakan mengeledek, selarik sinar pedang berkelebat sekali lantas lenyap. tiba-tiba bola cahaya laksana surya memancarkan sinarnya yang benderang, bola matanya seketika sakit seperti tertusuk pisau, saking kaget, lekas dia pejam mata berbareng kakinya menendang beruntun. Kuping mendengar deru angin sementara kedua telapak tangan berpencar, telapak tangan kiri laksana gada mengepruk turun.

"Bu-ing-tui bagus." Bentak Liok Kiam-ping memuji tendangan tanpa bayangan lawan-

Serangan pedangnya laksana kilat, ujung pedang tegak diatas, gagang pedang berada dibawah, secara melintang dia menggaris satu kali "Sret, sret" Liat-jit-kiam berhasil menggaris sobek dua jalur dibaju lawan, dibarengi hardikan nyaring:

"Enyahlah." berbareng kakinya balas menendang secepat angin lesus. Ham-yang-hiat dibagian lutut  lawan ditendangnya, kakek kate itu menjerit sekali, tubuhnya mencelat terbang lima tombak dan jatuh terbanting tidak bangun lagi.

Dengan robohnya kakek kate ini suasana mendadak menjadi sepi, bayang-bayang setan kembali mundur dalam jarak cukup jauh, maka kumandanglah sebuah suara dingin berseru: "Yu-Ling Kongcu tiba."

"Yu-ling-kongcu?" Kiam-ping menjengek tiba-tiba dia menunduk dan tanya: "Kau kenal Yu-ling Kongcu ?"

Terasa tubuh Siau Hong bergetar, meski Siau Hong menggeleng, tapi dalam hati dia membatin: “Terserah apa yang ingin kau lakukan, pendeknya Kim-kong-put-hoay- sinkang telah berhasil kuyakinkan, racun tak mempan, takut apa lagi ?"

Waktu dia angkat kepala, tampak seorang pemuda berpakaian jubah bulu dengan memegang kipas lempit beranjak mendatangi, wajahnya putih bersih, alis tebal gelap. gayanya mirip pemuda pemogoran.

Pandangan Liok Kiam-ping beralih kepada seorang aneh yang berdiri disamping si pemuda, pikirnya: "Ada manusia seburuk ini didunia ?"

Orang ini hanya punya mata tunggal, memancarkan sinar yang menyedot sukma orang, katanya dingin: "Kau bocah ini datang dari mana ?"

"Tuan tentu bukan kaum kroco, sebutkan dulu namamu," jengek Liok Kiam-ping. orang itu menyeringai tawa, katanya:

"Akulah rajanya racun, kau bocah ingusan yang baru keluar kandang, masakah Lohu yang terkenal Tok-sin Kiong-bing juga tidak dikenal lagi "

Terbelalak mata Liok Kiam-ping, bentaknya gusar: ”Jadi delapan belas mayat itu kau yang membunuh ?"

Tok sin terkekeh, katanya: "Selaksa racun berkumpul ditubuhku, siapa berani melanggar diriku?"

Berobah sadis wajah Kiam-ping, tanyanya: "Tadi ada seorang gadis apakah kau yang menculiknya ?” “

Tok-sin menyeringai pula, ujarnya: "Ho jadi genduk itu milikmu? Sekarang dia sudah menjadi gundik Yu-ling Kongcu."

"Apa ?" pekik Liok Kiam-ping, bentaknya beringas: "Berani kau mengusik seujung rambutnya, biar kau rasakan ketajaman pedang saktiku?”

Yu-ling Kongcu tertawa lirih, katanya:

"Kongcu ini baru datang di Tionggoan, belum pernah aku melihat pemuda segagah kau. Hehe, agaknya memang berisi. Hek-pek bu-siang kujuga terbunuh ditanganmu, kenapa tidak kau mencari tahu lebih dulu, siapa berani menyentuh anak buahku, siapa bisa lolos dari tanganku?" lalu dia menoleh dan berkata pula, "Kiong-toasiok. benar tidak perkataanku?” Tok-sin Kiong-bing terkial-kial. katanya: "Anak muda, kau telah terkena racunku, paling lama kali masih bisa bertahan setengah jam lagi, masih berceloteh lagi ?" Liok Kiamping tertawa besar, katanya:

Jangan mimpi disiang hari bolong, racunmu yang tidak seberapa ini, cayhe tidak peduli, kedua muridmu itu sebagai bukti, memangnya Liok Kiam-ping semudah itu terbunuh kalian ?”

Beringas mata Tok-sin, mendadak dia menjerit: Jadi kau ini Liok Kiam-ping ? Pat-pi-kim- liong dari Hong- lui- bun ? Serahkan jiwamu." mendadak jari-jari tangannya mencakar- cakar, mulut komat kamit seperti memanjat doa, akhirnya berteriak: "Anak muda, robohlah."

"Belum tentu." jengek Liok Kiam-ping pedang tegak didepan dada, seluruh hawa murni dalam tubuh kembali tersalur merata, Kim-kong-put-hoay-sin-kang aliran Hud telah melapisi tubunnya dengan selapis hawa murni.

Setelah sekian lama mulut Tok-sin berceloteh tetap tidak melihat Liok Kiam-ping roboh, mendadak dia menghardik bengis: ”Ing-ing."

Sebuah tangan tanpa bersuara telah menekan punggung Liok Kiam-ping, demikian pula Tin-siau-hiat didepan dadanya juga kena dicengkram oleh Siau Hong. Maka Tok-sin tertawa dingin, katanya: "Anak muda, kau tidak mengira bukan.”

Waktu Kiam-ping menunduk. dilihatnya wajah Siau Hong menampilkan mimik yang sukar dilukiskan, tanyanya dengan rasa menyesal: “Siau Hong, kenapa kau berbuat demikian ?”

"Apa kau masih kenal Siau Hong?” "Jadi kau bukan Siau Hong ?”

"Aku berirama Ing-ing, aku menyamar...” ”O, jadi kalian tahu kalau aku kemari?” waktu dia melirik dilihatnya Yu- ling- kongcu sedang menggoyang kipas, sementara sorot mata Tok-sin Kiong-bing semakin buas dan mendekat. Serunya dengan terbahak-bahak:

"Kau kira tidak tahu kalau dia ini Siau Hong palsu ? Memangnya Pat-pi-kim- liong manusia bodoh yang berotak tumpul ?"

Kiong-bing menatapnya dengan tatapan melotot-penuh tanda tanya.

Liok Kiam-ping berkata pula: "Hweslo malas dari Siau-lim apakah kau yang mencelakai?”

Sebelum Tok-sin menjawab, Yu-ling Kongcu sudah tanmpil kemuka, katanya: “Terus terang saja, akulah yang memukul hwesio keparat itu hingga luka parah, dalam dua jam jiwanya pasti melayang, sekarang yakin tidak tertolong lagi,”

"Bagus, dendam ini boleh diperhitungkan sekalian.”

”Jadi ada bagianku ? Hahaha, sejak kedatanganku dari Go cui-ho sampai disini, belum pernah kulihat orang segagah dan pandang kematian seperti berpulang keharibaan yang Kuasa seperti dirimu." padahal dua Hiat-to mematikan ditubuh Liok Kiam-ping sudah terancam ditangan Siau Hong, tapi wajah tenang air muka tidak berobah, nada perkataannya tetap lantang, sikapnya wajar berani bicara angkuh lagi, maka hatinya amat kagum.

"Terima kasih akan pujianmu, bila cayhe belum ingin mati, siapapun dengan menggunakan cara keji pun jangan harap dapat membunuhku." lalu dia menunduk dan berkata, "Kuyakin kaupun dipaksa untuk melakukan tugasmu ini, cayhe tidak akan menuntut balas kepadamu lekas kau menyingkir saja..." perkataan tegas suara terang, Kiam-ping memang bicara setulus hatinya. Melihat kedua tangan ing-ing seperti hendak dilepaskan, cepat Tok-sin membentak: "Ing-ing" bagai gerakan setan, kelima jari terpentang terus menerkam datang.

Liok Kiam-ping menghardik keras, pedangnya menggaris lurus, selarik lembayung melesat bagai ular perak. Ing-ing kertak gigi, tenaga dikerahkan dikedua telapak tantgan terus menggaplok kedua Hiat-to mematikan ditubuh Liok Kiam-ping, tak nyana begitu dia kerahkan tenaga, tenaga lunak yang liat tiba-tiba timbul dari badan Liok Kiam-ping menerjang balik kepada dirinya. Karuan Ing-ing menjerit kaget, sekujur badan seperti digenjot keras, tubuhnya membal terbang tiga tombak dan jatuh semaput.

Pukulan Tok-sin sekeras gunung ambruk menindih kepala lawan- Namun kilat pedang Liok Kiam-ping menggaris miring menampar tenaga pukulan lawan hingga sirna tanpa bekas, baru saja pedang didorong hendak menusuk kedepan. Tok-sin memang tidak malu sebagai kawakan Kangouw, Lwekang, pengalaman dan Gingkangrya memang sudah tangguh, begitu melihat cahaya pedang menyerang, saking kaget danjeri lekas dia menarik serangan sembari memutar badan mundur ketempat semula. Tanyanya dengan nada kejut: Jadi kau sudah berhasil mengambil ketiga batang pedang sakti itu" Dan berhasil meyakinkan Hu-deh-lo-khi (hawa sakti pelindung badan ?"

"Kalau benar mau apa ? Sekarang kau sudah takut ? Hong- lui- bun kita punya permusuhan sedalam lautan dengan kau, nah serahkan jiwamu."

Hati mulai jeri, tapi lahirnya Tok-sin bersikap wajar, sambil terkekeh dingin kelima jarinya terbuka, serangkum asap hijau segera menyebar terus menerjang kearah Liok Kiam-ping.

Terbang melayang lengan baju Liok Kiam-ping, segulung angin berpusar meluncur keluar dari lengan bajunya, jengeknya dingin: “Hanya begini saja kemampuanmu.” Sejak malang melintang di kangouw dan disegani kawan atau lawan, kapan Tok-sin pernah diremehkan seperti ini, karuan rona mukanya berobah, sekali tepuk dada, seekor ular kecil warna hijau segera melenting keluar. tampak dia ayun tangan, ular kecil itu terbang melesat diudara terus menerjang ke arah Liok Kiam-ping secepat kilat.

Tampak oleh Kiam-ping ular kecil ini tumbuh sayap kecil dari kulit daging merah, maka ular ini dapat terbang dan terapung di udara, lekas dia kembangkan gaya pedangnya, begitu pedangnya dipelintir sinar pedang lantas mengincar ular kecil yang menerjang tiba.

Agaknya ular kecil ini sudah terlatih baik, menghadapi serangan balasan tiba-tiba tubuhnya melengkung terus melenting setengah lingkar, secara lincah dia menghindar dari tusukan pedang, terus mengegos sekali membelit pergelangan tangan Kiam-ping.

Toksin menjebir bibir bersuit nyaring, sekalian dia copot jubah besarnya, hingga kelihatan tulang-tulang rusuknya yang kurus kering, diatas tubuhnya penuh dirambati ular kelabang, kalajengking, laba-laba dan berbagai binatang beracun lainnya, semua bergelantung menggigit kulit dagingnya, kelihatannya memang amat menggiriskan- Begitu dia menggetar tubuh belasan ekor binatang berbisa ditubuhnya itu semua mencelat ke udara, mengikuti ular terbang kecil itu semua meluruk kebadan Liok Kiam-ping.

Binatang berbisa ini sudah terpelihara sejak lama dengan menghisap darah badannya, maka gerak geriknya semua gesit dan cekatan, seperti berlomba saja mereka berebutan mengincar sasaran ditubuh Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping menggentak tangan, hawa pedangnya bertambah tebal membungkus tubuh-dimana sinar pedang berkelebat. "Cras." Ular terbang yang mendahului menerjang itu kena ditabasnya kutung menjadi dua. Tak nyana ular terbang yang tinggal separo tubuhnya itu masih melenting terbang kedepan sambil pentang mulut menggigit dadanya.

Tok-sin sudah membuka lebar mulutnya hendak tertawa. tapi sebelum suaranya keluar dari tenggorokan, dilihatnya ular hijau itu tahu-tahu terbalik jatuh, lalu dengan rasa ketakutan merambat kembali.

Gerak gerik Liok Kiam-ping selincah terbang, sinar pedangnya berputar melindungi badan, tiga kali maju tiga kali mundur. di mana pedang bergerak kepalapun terpenggal, setiap binatang berbisa yang memanggut datang pasti rontok dengan badan terbelah. Tiba-tiba Kiong-bing menjerit tanya: "Kau membawa Hat-liong-po-giok ?"

Seketika berobah air muka Tok-sin, kaki tangannya tampak menggigil, maka terdengarlah suara keretekan yang ramai memanjang, seiring dengan suara yang nyaring itu, tubuhnya yang kurus kering itu lambat laun mengkeret satu kaki lebih kecil, telapak tangannya menjadi hitam legam, bau amis menyerang hidung. Perlahan dia maju selangkah, telapak tangan kanan tegak didepan katanya: "Lekas serahkan Hiat- liong-po-giok. aku tidak akan membunuhmu.”

“Membunuhku ? Memangnya kau mampu ? Saat kematianmu sebaliknya sudah di ambang mata.”

Kiong-bing menggeram rendah, tangan kiri sedikit tertekuk, telapak tangan kanan segede kipas mendadak membelah dengan menyertai segulung hawa hitam menerjang kedepan terus memenuhi udara.

Liok Kiam-ping tahu hawa hitam ini pasti beracun jahat, kaki melesat mundur sambil berputar ujung pedangnya menciptakan beberapa sinarperak gemerdep. setiap kuntum menerjang keluar, menyusup lewat dari tenaga pukulan tangan lawan terus mengiris dari samping dengan jurus Jit- lun-jit-seng.

Laksana segumpal angin dingin yang melayang ditengah udara, kakinya mengincar lima kaki, Kiong-bing merobah dua posisi terius menyelinap kesamping lawan, sehingga terhindar dari pancaran langsung cahaya surya yang cemerlang dari pedangnya. Berbareng telapak tangannya beruntun menggempur belasan jurus, didalam jurus sembunyi tipu, dalam tipu mempunyai variasi pula-, cepat lincah dan lihay menggaplok Hiat-to mematikan Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping memutar badan membungkuk punggung, pedangnya menyelonong dari bawah ketiak kiri, disinilah letak keanehan darijurus Liat-jit-yam-yam, mutiara diatas pedang memancarkan cahaya terang secara aneh seiring dengan jurus ini dikembangkan, terciptalah bola matahari yang benderang menyilaukan mata, maka ujung pedang secara lincah telah menusuk kedalam dada Tok-sin Kiong bing.

Kiong-bing menjerit aneh, dadanya mendcadak mendekuk. mata tunggalnya terpicing, mendadak tubuhnya mumbul keudara, kedua kakinya terus menjejak keubun-ubun dikepala Liok Kiam-ping

Liok Kiam-ping ganti mencelos hatinya, tak nyana bahwa Kiong-bing memiliki Ginkang setinggi ini, bukan saja mampu meluputkan diri dari jurus serangan pedang yang lihay masih mampu balas menyerang lagi, lekas Kiam-ping berjongkok seperti orang bercokol dipunggung kuda, sementara pedang ditarik turun melindungi dada ujungnya siap menunggu diatas kepala. Dengan menjengkang menekuk lutut, dia menggetar jurus Liat- jit-kiam-hoat yang ketiga yaitu Sip-yang-say-loh.

Mata kuping Kiong-bing teramat tajam dan jeli, dimana ujung kakinya menutul seluruh tubuhnya lantas melayang jauh tiga tombak tapi tangannya sempat menaburkan segenggam puyer. Serangan pedang dilancarkan Kiam-ping lantas kehilangan jejak musuh, baru sekarang dia benar-benar meresapi kehebatan jurus pedang ini dan kagum kepada cianpwe ciangbun yang dahulu menciptakan Ki-kiam-wi-liong ini.

Maklum ilmu pedang ini serbaguna dan sempurna, semakin tinggi kepandaian lawan, maka pancaran cahaya, mutiara diatas pedang semakin terang, bila mata lawan tak berhasil dibikin silau, maka jurus serangan itu sendiripun takkan berhasil.

Melihat lawan menaburkan puyer putih, Kiam-ping tahu pasti sebangsa bubuk beracun, jarak sedemikian dekat, Tok- sin menaburkan disertai tenaga Lwekang pula, maka badannya terkena sedikit taburan puyer putih, Tok-sin tertawa gelak-gelak disaat itulah mendadak Liok Kiam-ping melompat dengan kecepatan luar biasa, ditengah gemuruh suara guntur dan badai, selarik lembayung benderang dengan suaranya yang nyaring melesat kearah Kiong-bing.

"Gi-kiam-king-khong (naik pedang melesat diudara)." Yu- ling Kongcu memekik kaget, dengan kecepatan yang sukar dilukiskan dlapun ikut meluncur kesana.

cahaya pedang berkelebat hanya sekejap lantas sirna,  maka terdengar Tok sin menjerit ngeri, kaki tangannya putus terbabat, sementara Liok Kiam-ping terdengar mengerang tertahan, tubuhnya terpental jatuh setombak lebih. Begitu badan menyentuh tanah, lima jari tahu-tahu sudah mengancam tiba menutuk berbagai Hiat-to didepan dada.

Karena tertabur sedikit bubuk racun, Liok Kiam-ping diburu amarah maka dia mencabut cui-le-kiam serta melancarkan jurus pertama Gin-to-cau-cau dan berhasil membabat buntung kaki tangan Tok-sin. Namun telapak tangan Tok-sin sebelum tertabas juga berhasil memukul dadanya, itulah pukulan yang dilandasi kekuatan dahsyat sebelum ajalnya, maka Kiam-ping seperti diterjang kekuatan raksasa bagai letusan gunung berapi, tubuhnya terpental terbang. Sebelum sempat berdiri tegaki Yu-lihg Kongcu menambahi pula dengan kelima tutukan jari, kembali mulutnya mengerang, tubuhnya jumpalitan tiga kali baru berdiri tegak.

Berobah air muka Yu-ling Kongcu, katanya: "Kau sudah meyakinkan Kim-kong-put-hoay-sin kang dari aliran Hud ?"

Jeritan menyayat hati keluar dari mulut Kiong-bing yang masih meronta-ronta, suaranya terdengar gemetar: "Kongcu, kemarilah kau."

"Ada apa ?”

“Thian-tok-bun di In-lam ada semacam ilmu sakti aneh dapat memecahkan Kim-kong-put-hoay-sin-kang, waktu Kongcu datang beberapa waktu yang lalu aku belum sempat beritahu kepadamu soalnya aku sendiri belum tahu letaknya...”

"Aku tahu, kali ini ayah suruh aku ke Tionggoan mencari paman memang disuruh tanya kepada paman cara bagaimana untuk membuka tujuh lapis pintu Thian-tok-bun serta kunci rahasianya, mempelajari ilmu mukjijat itu, karena tahun besok ayah sudah akan berduel dengan Pek-bi-sin-ceng di Im-san musim semi yang akan datang..."

Kiong-bing tarik napas dua kali, katanya: “Maka sekarang aku akan beritahu kepada kau. Thian-tok-bun terletak diselatan kota Tayli, gambarnya tertera diatas Hiat-liong-po- giok. bila kau berdiri diujung timur tempat itu, bila sinar surya terbit dan cahayanya tepat menyinai batu jade itu...” dia batuk dua kali, diujung cakar naga didalam gambar naga darah itu... disitulah .. letak dari pintu besarnya...”

Lekas Yu-ling Kongcu tekan punggung Kiong-bing menyalurkan tenaga dalam mempertahankan hawa murninya, tanyanya: “cara bagaimana untuk membuka pintu besar itu ?

"Hiat-liong-po-giok...” beruntun dia menarik napas dua kali, "tuntutkan-.. sakit hati... ku..." Terbayang senyum sinis diwajah Yu-Iing Kongcu, katanya: "Bila ada Hiat-liong-po-giok. berbagai racun didalam tidak akan berani melanggarmu. Betul?"

Agaknya Kiong-bing mendapat firasat bahwa Yu-ling Kongcu mengandung maksud jahat, dengan suara berat dia berkata megap-megap: "Untung dahulu ayahmu ikut membantu hingga aku berhasil membunuh ciangkiam-kim- ling. pulang dan laporkan kepada ayahmu, aku  berterima kasih kepadanya.."

Setelah terpukul dadanya, tertutuk pula Hiat-tonya, kontan Kiam-ping rasakan dadanya sesaka dia tahu Kungfu kedua orang ini merupakan jago kelas wahid di Bulim, kuatir terluka dalam yang parah, lekas dia salurkan hawa murni, setelah berputar satu kali keseluruh tubuh baru dia sadar akan kemukjijatan Kim-kong-put-hoay-sin-kang,  kenyataan memang segala racun tidak mampu melukai, pukulan dahsyat dan tutukan lihay juga tidak mempengaruhi kesehatannya.

Mendengar suara Kiong-bing, Kiam-ping tersirap. lekas dia melompat maju, tanyanya: "Siapa yang membunuh ciang - kiam - kim-ling ?"

Kontan Yu-ling Kongcu mengebut lengan baju seraya menghardik: "Kembali "

Kiam-ping menegak telapak tangan membelah: "Memangnya kau mampu "Plak" benturan keras menggeliat pundak kedua pihak. Yu ling Kongcu menggerung rendah, dalam sekejap dia lontarkan dua puluh jurus pukulan, cepatnya seperti kitiran dahsyatnya laksana damparan ombak memukul karang, setiap gerak serangan yang setu kejurus yang lain hakikatnya tidak kelihatan titik kelemahan.

Kiam-ping juga kembangkan kelincahan tubuh, kedua telapak tangannya menari selincah burung walet, Liong-hwie- kiu-thian dilancarkan, sekaligus dia memukul tiga puluh enam jurus. Sejak Hweslo malas menyalurkan tenaga dalamnya menggunakan Kay-ting-tay-hoat kedalam tubuhnya dibawah kobaran api besar, Lwekangnya sekarang sudah susah diukur tingginya secara reflek dan lancar dengan mudah dia sudah mampu mengembangkan Wi- liong- ciang seluruhnya.

"Plak. plak. plak. plok." ledakan-ledakan kecil yang nyaring semakin santer dan keras hingga menimbulkan pusaran hawa yang makin kencang, saiju seluas setombak lebih tersapu bersih hingga tampak tanah dan pasir.

Karuan hadirin disekitar gelanggang berdiri melongo, jantung serasa pecah nyali ciut, semua berdiri mematung.

Secara beruntun Yu-ling Kongcu harus menyambut tiga puluh enam jurus pukulan, hingga kedua tangannya terasa pegal kesakitan, pundak menurun langkah menyurut dua undak. Kembali Liok Kiam-ping mendesak: "Siapa pembunuh Ciang-kiam-kim-ling ?"

Waktu dia menegas kesana, ternyata Tok-sin Kiong-bing sudah mati sesak napas karena digencet oleh dua tenaga raksasa yang beradu.

Sekilas Liok Kiam-ping menatap dingin kepada seluruh penonton diluar gelanggang, lalu pandangan dia tujukan kepada Yu-bing Kongcu, bentaknya: "Mereka itu adalah telur- telur busuk yang kau bawa kemari ?"

Yu-ling Kongcu terkekeh tawa, katanya:

"Tak pernah terpikir dalam benakku, di Tionggoan juga ada lawan setangguh kau apakah kau ini jenius silat Bulim yang sukar diperoleh semenjak ratusan tahun ini ?”

"Aku tidak peduli jenius silat segala." jeng ek Liok Kiam- ping, "sekarang serahkan adik Bun kepadaku."

"Pernahkah kau mendengar Yu-ling-giamlo dari Go cui-ho

?" tanya Yu-ling- Kongcu dengan angkuh, ”sesuatu yang diinginkan oleh Yu-ling Kongcu kapan pernah tidak tercapai ?” Sementara itu Ing-ing yang pingsan d ita nah sudah siuman, melihat keadaan Kiong bing yang menggiriskan, berteriak kaget: "Susiok."

Yu-ling Kongcu terkekeh pula, katanya:

"Tugas seringan itu juga tidak becus kau lakukan, untuk apa kau masih hidup didunia ini ?” dimana kipas lempitnya berputar segulung hawa dingin berputar terus menggulung kedepan-

Liok Kiam-ping menghardik: "Tidak semudah itu." telapak tangannya bergerak dengan jurus Wi-liong-ting-gak. mantap dan kokoh, kuat dan rapat seperti jala memenuhi udara, ditengah gemuruh suara yang sayup,sayup menerjang kearah Yu-ling Kongcu.

Sebat sekali Yu-ling Kongou ber-putar-putar mengegos dari terjangan utama, miring tubuh sambil menggempur balik dengan segulung kekuatan menangkis gelombang akhir dari tenaga pukulan lawan- "Daar." badannya tergoncang keras hingga limbung, kedua kakinya melesak kedalam tanah dua dim, pakaiannya berderai seperti dihempas angin badai sampai koyak-koyak.

Liok Kiam-ping juga merasakan tenaga perlawanan berat dan sekokok gunung balas menahan tenaganya, tanpa kuasa dia menyurut setengah tindak baru tegak pula. Hatinya sudah dibakar amarah. wajahnya dilembari nafsu membunuh, maju setapak lebar mulut menggerung: "Rasakan pukulanku sekali lagi." dari arah yang berbeda kedua tangannya menggaris bundar sementara tenaga murni telah dipusatkan ditelapak tangan terus menggempur. Pusaran-pusaran hawa kecil bertambah melebar dan deras cukup kuat untuk merobohkan gugusan gunung menerjang kearah Yu-ling Kongcu.

Yu-ling Kongcu tertawa enteng, badannya melambung tinggi tiga tombak menghindarkan diri dari terjangan dahsyat ini, di udara dia ayun tangan kanan "Cret" tiga batang jari kipasnya mendadak melesat keluar, dua diantaranya rneng incar kedua mata Liok Kiam-ping, sementara sebatang lagi melesat ke tenggorokan Ing-ing.

"Haaak." jeritan Ing-ing terputus seperti tenggorokannya keselak, jari kipas lempit telak mengenai tenggorokkan Ing ing. darah tampak mengalir deras, rebah tak berkutik pula.

Bukan kepalang gusar Liok Kiam-ping, lengannya diulur seperti tangan kera saja, tahu-tahu Cui-le-kiam telah dilolosnya, di bawah pancaran sinar bintang yang kelap kelip. pedang panjang tebal dengan punggung lebar seperti tanduk badak ini laksana kilat menyamber berkilauan berputar laksana arus...

Hanya sedikit menggerakkan pergelangan tangan, kedua barang jari kipas itu telah diirisnya menjadi beberapa keping, jiwa Ing-ing jelas tak tertolong lagi. hati agak menyesal, maka dia berkata: "Pedangku ini sudah kulolos jikalau kau tidak serahkan Le Bun, hati-hatilah batok kepalamu." nada bicaranya ternyata tenang dan kalem, tapi mengandung wibawa yang menciutkan nyali orang.

Sekilas Yu-ling Kongcu melenggong, segera wajahnya mengulum senyum, kata-nya:

"Baiklah tugasku ke Tionggoan ini boleh di kata sudah berhasil, tiada sesuatu yang perlu kukuatirkan lagi, seorang perempuan kenapa harus kuributkan." lalu dia mendongak serta bersiul aneh, maka jerit dan pekik kawanan setan yang aneh memilukan itu bersahutan pula, lekas dia membentak: "Gusur perempuan itu kemari."

Sambil menggendong kedua tangan dengan santai dia melangkah dua tindak. kaki terangkat dengan lirih dia tendang punggung kakek kate membuka tutukan Hiat-tonya lalu membentak: "Goblok. enyah dari hadapanku, Tersipu-sipu kakek kate itu merangkak bangun serta munduk-munduh sambil mengiakan, lalu melompat jauh lenyap ditelan kegelapan-

Liok Kiam-ping membatin: "Keparat ini memang lihay, usianya masih muda mampu memimpin jago-jago lihay sebanyak itu, siang tadi aku pasti bukan tandingannya, tapi sekarang aku yakin sedikit lebih unggul, dalam seratus jurus jiwanya pasti dapat kutamatkan-" lalu terbayang waktu dirinya masih berada dibawah kobaran api besar. setelah menghela napas dia membatin pula, ”Jenazahnya terbakar habis tak berbekas, sehingga aku tak mampu menunaikan tugas baktiku sebagai tanda terima kasihku kepada beliau. Walau aku sudah berhasil menuntut balas sakit hatinya, tapi tugas berat yang akan datang menindih diatas tubuh ku.”

Sementara itu enam bayangan orang tampak berlari mendatanpi secepat terbang.

Liok Kiam-ping bercekat hatinya, teriaknya: . Kalian-.. " ternyata enam orang yang datang semua mengenakan jubah hitam alis putih jeng got panjang semua kakek tua, setiap orang memanggul satu orang. Tampak Le Bun, Kim-ji-tay- beng, Gin-ji-tay-beng, Siang Wi, Biau-jiu-sip-coan dan seorang perempuan-

Yu-ling Kongcu tertawa ramah, katanya: "Inilah Yu-ling- Liok-lo, hehehe, meski tuan berilmu tinggi, tapi anak buahmu juga begitu saja, sebaliknya didalam Yu-ling-kiong kami, jago- jago silat tak terhitung banyaknya, satu lebih unggul dari yang lain, kekuatan kami cukup kuat untuk menguasai dunia." merandek sejenak lalu menyambung, ”enam orang yang kau inginkan sudah kukeluarkan, lalu mana barang yang kuinginkan ?"

"Kau ingin apa?" "Hiat-liong-po-giok..." "Jangan kau mimpi..." "Kungfumu tinggi, tapi sebilah pedangmu memang mampu sekaligus membunuh keenam orangku ini ? sebaliknya berani kau bergerak. orang-orang yang kau kenal baik ini bakal melayang jiwanya, lalu aku akan kumpulkan mereka dengan keroyokan sekian banyak orang, jangan harap kau dapat mengalahkan kami, bila tiba saatnya .."

Otak Liok Kiam-ping bekerja secara kilat, dia tahu umpama dirinya sekaligus melancarkan tiga jurus ilmu mengendali pedang, paling hanya dapat membunuh dua orang diantara enam Yu-ling-Liok-lo, sementara jiwa Le Bun berenam masih susah diselamatkan-

Lebih parah lagi Yu ling Kongcu cukup tangguh, dalam belasan gebrak jelas dirinya takkan mampu merobohkan dia, kalau dapat membekuk dia dan dijadikan sandera untuk barter tawanan baru jiwa keenam kawannya itu dapat diselamatkan- Pada hal Siang Wi berenam semua lunglai, agaknya pingsan kalau tidak tertutuk Hiat-tonya tentu terbius racun, dalam hati dia lantas mengomel: "Kalian adalah kawakan Kangouw tapi juga kecundang begini mengenaskan ? Ai, bagaimana aku harus bertindak ?" berbagai persoalan berkecamuk dalam benaknya, akhirnya dia menghela napas, katanya: "Kalau aku sudah serahkan hiat-liong-po-giok, sebaliknya kau ingkar janji, apa yang harus kulakukan ?"

Yu-ling Kongcu tepuk dada, katanya lantang: "Yu-ling Kongcu adalah putra jago nomor satu dari aliran sesat diseluruh jagat Yu-ling-giam-lo, memangnya setiap patahku kau anggap apa ?..."

Belum habis dia bicara, sesosok bayangan hitam tampak melesat datang dari jarak enam tombak. sebuah suara dingin kumandang: "orang-orang Yu ling-Kiong kalian semua adalah manusia jahat yang ingkar janji cuh, masih bermulut besar dihadapan umum."

Waktu Kiam-ping menoleh kearah datangnya suara, seketika dia memekik kaget . "Tok-sin Kiong-bing." Yu-ling Kongcu juga menjerit kaget "Kau..."

”Hahahaha... "galak tawa sadis bergema diangkasa seiring dengan luncuran tubuhnya. Tampak orang inipun bermata tunggal, bibir tebal, rambut panjang tidak terurus, wajahnya tampak sadis dan buas, siapa lagi kalau bukan Tok-sin Kiong- bing. Melihat mayat ditanah seketika mendelik liar matanya, wajahnya makin kelam, pekiknya: "Siapa yang membunuh dia

?"

Yu ling Kongcu maju dua langkah, katanya sambil menjura kepada Kiong Bing: "Kiong-toasiok. bagaimana kaupun datang kemari ?”

Kiong Bing tertawa besar bernada sedih katanya: "Adikku ikut kau ke Tionggoan memandang muka ayahmu maka dia mau bekerja, tak nyana kau justru berpeluk tangan melihat keadaannya begini mengenaskan, memangnya kau tidak takut aku menuntut kepada kau ?" suaranya sedih, dendam dan penasaran, dingin dan bengis pula.

"Paman Kiong,” lekas Yu-bing Kongcu berkata dengan tawa kering, kebetulan kau datang Ji-siok terbunuh oleh Pat-pi-kim- liong Siautit memang sedang berusaha menuntut balas kematian Ji-siok."

Berkilat mata Kiong-bing, maju dua langkah dia menekan suara: "Anak muda, apa betul yang dikatakan ?”

Bahwa Tok-sin Kiong Bing muncul lagi satu sungguh membuat Liok Kiam-ping kebingungan, susah dia membedakan kedua Kiong-bing ini, setelah cukup lama mengamati tetap tidak bisa membedakan mana tulen siapa yang palsu, dalam hati dia membatin: "Jikalau mereka muncul bersama, mungkin aku masih bisa membedakan mana Tok-sin Kiong-bing yang tulen,”

Yang benar kedua Kiong-bing dulu ikut mengeroyok ciang- kiam-kim-ling, tapi kedua orang ini muncul secara beruntun sehingga ciang-kiam-kim-ling melenggong sekilas, tapi sekilas itu sudah cukup untuk Kiong-bing menggunakan racun tanpa bayangan-

Mengandal persamaan wajah mereka inilah maka Kiong- bing bersaudara sering berganti posisi dan menyerang silih berganti mengaburkan pandangan lawan, gerak gerik mereka seperti setan saja, Ginkang mereka sudah merupakan jago top lagi sehingga banyak tokoh-tokoh kangouw terjungkal ditangan mereka, memang pantas kalau akhirnya mereka diagulkan sebagai salah satu dan Liok-toa-thian-cu.

Melihat Liok Kiam-ping mendelong kearahnya, tak bersuara pula, saking gusar dia terloroh tawa katanya: "Bocah kemaren sore seperti dirimujuga berani menantang kepada Tok-sin Kiong-bing ?”

Dengan nada tak acuh Liok Kiam-ping bertanya pula: "Apakah betul kau ini Tok sin ?”

"Memang nya perlu diragukan ?”

"Dulu waktu ciang-kiam-kim-ling terbunuh, apa kau juga mengeroyoknya ?"

Tok-sin Kiong Bing melengak, katanya kemudian ”Oo, jadi kau inilah ciangbunjin Hong-lui-bun yang baru... "

"Betul, diriku inilah." sahut Liok Kiam-ping mengangguk.

Menghijau kaku muka Tok-sin Kiong-bing, otot hijau diatas jidatnya merongkol besar, kulit dagingnya yang merongkol kelihatan jelas diatas kulit dagingnya yang berbeda warna, begitu seram dan sadis, “Saudara kembarku itu apakah kau yang membunuhnya ?"

"Betul, kawanan setan komplotan siluman, siapapun patut mengganyangnya"

"Anak muda, ternyata kau juga kejam telengas, akan kusayat-sayat kulit dagingmu sampai hancur lebur." Sementara itu diam-diam Yu-bing Kongcu sedang memikirkan satu hal: “Apakah persoalan Hiat-liong-po-giok harus kuperbincangkan ? Posisiku jelas lebih menguntungkan, kenapa kuatir bocah itu takkan menyerahkan kepadaku, tapi siluman tua ini ada disini, bila tahu aku yang menggetar mati adiknya dengan Im-jiu, sulit untuk melawan serangannya yang nekad lalu bagaimana baiknya?

Beberapa persoalan berkelebat dalam benaknya, akhirnya dia mengulum senyum licik, maka dia maju selangkah dan berkata kepada Kiong-bing: "Paman Kiong, bocah ini kebal segala racun, racunmu yakin takkan berguna terhadapnya, tadi Kiong-jisiok juga pernah manyerangnya dengan ular terbang, tapi disabat hancur malah."

Kong-bing melongo, serunya setengah percaya: "Apa ? Ular terbang juga tidak mampu melukai dia ?" lalu dia mengerut alis. serunya bengis: "Anak muda, apa kau memiliki Hiat-liong- po giok ?"

Tangan kanan Yu-bing Kongcu memegang pundak Kiong- bing, katanya perlahan:

"Betul, batu jade mestika itu memang berada ditangannya, malah diapun tahu rahasia cara membuka kamar batu Thian- tok-bun-.. “

"Apa betul?" Kiong-bing menegas dengan suara tinggi. Seringai sadis menghias wajah Yu-bing Kongcu, katanya:

"Dibawah pancaran sinar matahari pagi, batu jade itu akan

memperlihatkan gambaran naga terbang... " mendadak dia menghardik, tenaga yang dikerahkan ditelapak tangan segera menggaplok Bing-bun-hiat dipunggung Kiong Bing.

Sepenuh perhatian Tok-sin Kiong-bing mendengarkan cerita Yu-bing Kongcu tentang rahasia besar kaum persilatan, sungguh tak pernah terbayang bahwa Yu-bing kongcu bakal membokong dirinya dengan cara sekeji ini. belum lenyap  suara hardikannya. punggungnva telah digaplok dengan tenaga raksasa. Dengan jeritan mengerikan tubuhnva mencelat dua tombak., "Bluk" begitu muka menyentuh tanah darahpun menyembur dari mulutnya: