Hong Lui Bun Jilid 06

Jilid 06

Serangan secepat kilat ini, jelas mampu menusuk bolong tenggorokan orang dan tamat riwayatnya, tak nyana Tokko cu yang menonton disamping mendadak menjerit memberi peringatan, sehingga lawan tersentak sadar dan mampu meluputkan diri.

Lekas dia tarik napas, seluruh tubuh doyong kedepan, dengan gaya tetap dia dorong pedangnya tetap menusuk tenggorokan- tak nyana tiba-tiba pandangannya kabur, lima jalur angin kencang dari jari-jari lawan mencengkram Yang-ko, Pian-ie, Un-liu, Toalin, dan Lau-kicng lima hiat-to ditelapak  dan pergelangan tangannya. Dalam keadaan tubuh terjengkang kedepan, tak mungkin pula dia bisa merobah gerakan, begitu tangan lemas jari terlepas, pedang panjangpun terampas oleh lawan- Maka telapak tangan kiri Liok Kiam-ping yang menepuk turun itu melingkar setengah bundar, secara menakjubkan menepuk dadanya.

"Blang" untung dia sempat sedikit mendak sehingga tepukan telapak tangan Kiam-ping mengenai pundak kanan ceng-san-biau-khek. tampak bayangan hijau mencelat,  laksana layang-layang putus benang tubuhnya mencelat mabur beberapa tombak dan "Bluk" terbanting keras rebah celentang. Liok Kiam-ping tenangkan diri mengendalikan gejolak hatinya, sesaat lamanya baru pandangannya pulih seperti sedia kala. dilihatnya ceng-san-biau-khek yang celentang mandi darah disana, dengan geram dia mendengus keras. Waktu dia menelan air liur, terasa bagian lehernya sakit, serta merta dia angkat tangan meraba, tangannya berlepotan darah.. Ternyata ujung pedang lawan tadi juga sempat menyentuh kulit lehernya hingga tergores lecet. Karuan Kiam- ping bergidik merinding, kembali dia mengawasi ceng-san- biau-khek yang pingsan, dengan langkah lebar lekas dia menghampiri Tokko cu.

Tubuhnya yang semampai lemas menggelendot didahan pohon, wajahnya pucat pias, namun tubuhnya yang agung dan suci seperti memancarkan cahaya bening sehingga kelihatan dia lebih anggun dan asri.

Berdegup jantung Liok Kiam-ping melihat bibirnya yang terkatup menjengkit keatas menahan sakit. Disadarinya bahwa jantungnya berdetak lebih keras dari biasarya, maklum sekarang dia menghadapi gadis jelita yang masih suci murni, tapi bukan lagi seorang Bulim cianpwe yang berkedok. Agak lama dia megap-megap baru kuasa mencetuskan suaranya: "Kau... bagaimana luka-luka mu ?"

Tokko cu hanya tertawa ewa sahutnya lirih: "obatmu mujarab luka-lukaku sudah mengering, darah tidak keluar lagi" Lalu dia menyingkap rambutnya yang menjuntai lemas dari sanggulnya, gaya dan gerakannya nan lembut sungguh indah mempesona.

Lok Kiam-ping coba tersenyum sewajarnya, katanya: "Itulah obat mujarab buatan Siau-lim-pay, semula memang kukira amat mujarab maka kuberikan kepadamu, karena aku sendiri belum pernah memakai..." dia bicara sejujurnya, ”serangan pedangnya tadi sungguh teramat lihay, pedangnya ternyata mampu memancarkan cahaya benderang laksana surya sehingga mataku tak mampu terbuka, untung kau memberi peringatan- kalau tidak...” Kiam-ping angkat pundak serta geleng-geleng lalu meraba lehernya pula.

Tokko cu geli melihat tingkah lucu dan kikuk Liok Kiam- ping, tapi dia hanya mengangguk saja, tadi akupun tak mampu membuka mata karena jurus pedangnya yang aneh itu.” Lalu dia mengawasi pedang panjang lencir ditangan Kiam-ping, diatas gagang pedang ada dicatat tiga jurus pelajaran ilmu pedang, Suhu pernah menjelaskan bahwa ketiga jurus pedang ini merupakan kombinasi intisari ilmu pedang dari berbagai cabang persilatari yang paling top... " sampai di-sini baru dia sadar telah kelepasan omong, maka lekas dia tutup mulut, sungguh dia sendiri tidak habis mengerti, kenapa hari ini dia banyak bicara, pada hal selama didalam Te-sat-kok belasan tahun dia amat pendiam dan bersikap eksentrik, tapi sejak pemuda yang satu ini  menerobos masuk ke Te-sat-kok entah kenapa perangainya berobah, pada hal dulu dia tinggi hati, angkuh, dingin dan sekarang...

---ooo0dw0ooo---

Tanpa terasa dia menghela napas, terbayang olehnya betapa gurunya memberi pesan kepadanya disaat dekat ajalnya, dirinya diwajibkan menjaga ketiga pedang pusaka, tapi pemuda gagah, teguh dan perkasa ini ternyata telah terukir didalam relung hatinya yang sebelum ini telah tersumbat olel segala perasaan keduniawian-

Kini otaknya tengah menerawang, dengan mendelong dia mengawasi pemuda ganteng ini, perasaan mulai bersemi dalam lubuk hatinya, bayangan sang perjaka telah terukir dalam benaknya. Entah mengapa tiba-tiba mukanya yang pucat itu bersemu merah, dengan tertawa lirih dia menunduk malu hingga tampak barisan giginya yang putih rajin: "Senyumannya laksana bunga mekar." demikian batin Kiam-ping, meski dia hanya mengenakan jubah hitam." Selama hidup baru pertama kali ini Kiam-ping menyaksikan senyuman semanis dan mekar seperti ini, tanpa sadar dia menghela papas panjang, puas dan lega..

"Siapa namamu ?" tanya Tokko cu dengan suara nyaring lembut.

"Aku she Liok bernama Kiam-ping, tapi kau boleh panggil Kiam-ping padaku, karena aku suka orang memanggilku demikian," sahut Kiam-ping sambil menatapnya lekat-lekat.

"Berkat pertolonganmu tempo hari, seingatku aku belum sempat berterima kasih kepadamu, apakah kau masih salahkan kelakuanku yang sembrono itu ?"

Merah wajah Tokko cu, katanya menggeleng: "Semula aku kira kau adalah manusia tamak yang mengincar harta pusaka dalam lembah, maka... "

Lekas Kiam-ping memberi penjelasan:

"Tanpa sengaja aku masuk ke sana, tapi waktu itu ku kira betul-betul adalah seorang cianpwe yang sudah terkenal di Kangouw, karena kulihat ceng-san-biau-khek agak jeri terhadapmu." Diam-diam dia merasa heran oleh perobahan sikap gadis rupawan ini, tindak tanduknya jauh berobah dibanding waktu masih berada didalam lembah. Diam-diam Kiam-ping membatin: "Mungkin dia sengaja bersikap kereng dan ketus karena mengenakan kedoknya itu, pada hal dia seorang nona yang baik hati.'

Apa yang diduganya memang benar, setiap gadis tentu punya kedok muka yang palsu ada kalanya seorang gadis aleman, binal, malu-malu semua itu hanya untuk menjaga gengsi, mempertahankan harga diri, akan tetapi bila mereka sudah berada didekat apa lagi dalam pelukan sang perjaka yang dicintai, secara tidak sadar mereka akan menanggaikan kedok palsu mereka. Begitu menyinggung ceng-san-biau-khek, serta merta Tokko cu lantas menoleh kesana tiba-tiba dia berjingkat, karena ditanah hanya ketinggalan ceceran darah dan sejilid buku tua, bayangan ceng-san-biau-khok ternyata telah lenyap entah kemana. 'Dia sudah lari, disaat kami... " terbayang betapa mesra tadi dirinya berdiri berhadapan, tanpa merasa dia menoleh kearah Liok Kiam-ping dengan muka jengah. Kebetulan Liok Kiam-ping juga tengah menatapnya. begitu pandangan bentrok lekas dia melengos sambil tertawa Cekikik.

Lekas Liok Kiam-ping menghampiri ketempat ceng-san- biau-khek rebah tadi, segera dia berjongkok memungut buku tipis yang kuno itu begitu melihat tulisan diatas sampul buku seketika dia menjerit girang: "Wi-liong-pit sin."

Tokko cu juga melenggong, lekas dia memburu maju dan bertanya: "Apa ? Wi-liong-pit-sin ?"

Gemetar jari-jari Liok Kiam-ping dengan terbalik dia mulai membuka lembaran buku

Wi-liong-pit-sin, halaman ada sebuah potret orang dan dibawahnya ada tulisan, langsung dia membuka lembaran keempat dimana tercantum jurus keempat dari Wi-liong-pit- sin-Wi Bong-ting-yak." dengan rasa haru dan senang dia memekik.

"Tokko cu bertanya: Jadi kau adalah murid Kiu-thian-sin- liong ? Bergelar Pat-pi-kim- liong ?"

Liok-Kiam-ping menjawab dengan anggukkan kepala, langsung membalik halaman terakhir, tampak di-sini ada tulisan berbunyi: "Aku inilah ciangbunjin generasi kedua dari Hong-lui-bun. orang-orang Kangouw menjuluki Ki-kiam-wi- liong padaku, dengan ilmu pukulan wi- liong aku malang melintang diselUruh jagat, namun tiada seorang lawanpun yang mampu melawan aku lima jurus pukulan.

"Musim rontok tahun itu, waktu aku lewat Tong-pek-san kebetulan bersua dengan Thian-to-sin-liong yang datang dari Thiantiok ( India ) daripadanya aku memperoleh Lian-jit, cui ie dan Jit-jay tiga mutiara, lalu kupaksa pawang pedang yang paling jempolan pada masa ini- In-tiong-cu untuk menggemleng sebilah pedang mestika. Untuk menundukkan dia terpaksa aku menggunakan Wi-liong-hiong-khong menutuk Jie-kan-hiat didadanya, namun dia berhasil meloloskan diri juga..."

Diam-diam Liok Kim-ping bergirik sendiri, tak pernah terbayang olehnya ada manusia sehebat ini didunia, setelah terkena tutukan didada dengan jurus Wi-liong-hiong-khong masih mampu melarikan diri. Karena Jit-kian-hiat adalah salah satu dari tiga puluh enam Hiat-to besar yang mematikan di tubuh manusia, sedikit tergetar saja dapat mengakibatlan kematian jiwa manusia.

Tiba-tiba terasa lehernya gatal dan nyeri, dua jalur hawa panas seperti menyembur kulit lehernya, tapi Kiam-ping diam saja dan tidak menoleh, karena dia tahu Tokko cu juga ikut membaca buku yang dibentangnya dibelakang, deru napas hidungnya menyebur lehernya.

Tiba-tiba dia menarik napas panjang, seolah-olah dia ingin menghirup seluruh bau harum yarg tersiar diudara kedalam dadanya, bau harum yang menyejukkan teruar dari badannya yang manis dan lembut.

Tokko cu heran dan tidak mengerti kenapa Kiam-ping berulang kali tarik napas dalam tanyanya: " Kenapa sih kau?"

"Ah, tidak apa-apa." Liok Kiamping tersipu-sipu, "aku hanya ingin mengganti napas segar yang harum diudara..." tiba-tiba dia menoleh, melihat orang menunduk malu-malu, seketika Kiam-ping sadar telah kelepasan omong. Segera dia simpan Wi-liong-pit-sin lalu berkata: "Nona, kau...siapa namamu ?"

Tokko cu angkat kepala, dengan berani dia balas menatap. suaranya lirih: "Nama hanyalah tanda pengenal untuk seseorang saja. Boleh kau memanggilku Tokko cu -saja, tentang,..." dia merandek lalu menambahkan.. "Pedang ini memang pantas menjadi milikmu, masih ada dua batang lagi tertinggal di Te sat kok, semua akan kuserahkan kepadamu. Dulu suhu pernah berpesan waktu dia meninggalkan ketiga batang pedang ini, supaya aku menyerahkan kepada ciangbunjin Hong lui bun. Semoga selanjutnya kau dapat malang melintang di Kangouw menguasai Bu lim..."

Sinar matanya memancarkan cahaya aneh, tapi akhirnya dia menghela napas rawan, katanya sendu: "Kepintaranmu pasti dapat mengangkat namamu, semoga kau baik-baik saja. Ah, ada orang datang, Aku mau pergi..." segera dia jemput cadarnya, dengan gesit terus berlari pergi kearah lembah gunung sana.

Melihat orang pergi, lekas Kiam-ping mengejar seraya memanggil: "Nona, tunggu sebentar."

Tokko cu berhenti dan menoleh, pandangannya penuh tanda tanya.

Dengan memberanikan diri Kiam-ping bertanya: "Nona apakah mau kembali ke-Te-sat-kok ? Maukah kau berkelana di Kangouw bersamaku ?"

Tokko cu manggut- mang gut, tapi lekas dia geleng-geleng pula.

Kiam-ping mendekat dua langkah, tanyanya: "Nona ada ganjelan hati apa ? Dari sorot matamu aku merasakan banyak persoalan menguatirkan diriku..."

Tokko cu tertawa, tawa yang sendu, dan dingin, maklum tawanya tersembunyi dibalik cadarnya.

Liok Kiam-ping berkata pula: "Tidak sepantasnya kau mengenakan jubah hitam ini, kaupun tak usah mengenakan cadar, karena... karena kau begitu cantik. Dan lagi kaupun masih begini muda... " Lama Tokko cu menjublek, akhirnya geleng kepala, tanpa bersuara pelan-pelan dia memutar tubuh terus tinggal pergi, bayangannya lenyap dikejauhan-

Diwaktu orang membalik tubuh jelas tampak oleh Liok Kiam-ping, air mata berkaca-kaca dipelupuk mata si gadis. Diam-diam dia menarik napas panjang, terasa bukan kepalang masgul hatinya, mendadak dia mendongak serta menggembor sekuatnya, suaranya mengalun tinggi ditengah udara, kejap lain dia sudah melangkah lebar menyongsong kedatangan puluhan penunggang kuda yang mendatangi.

---ooo0dw0ooo---

Hari sudah mulai gelap. rombongan berkuda itu membedal kencang kedepan, jarak masih cukup jauh, lekas Kiam-ping membuka jubah luarnya untuk membungkus pedang mestika lalu berdiri tegak dipinggir jalan menunggu kedatangan belasan penunggang kuda itu.

Secepat lesus rombongan berkuda itu telah tiba, dalam jarak beberapa tombak mereka telah berhenti. Biau-jiu-sip- coan mendahului lompat turun terus berlutut dan menyembah, serunya lantang: "Murid-murid Hong-lui-bun menghadap ciang-bun...'

Sementara itu, para penunggang kuda yang lain juga sudah melompat turun, semua berdiri tegak berbaris lurus, serempak merekapun berlutut dalam gerakan yang rapi menyembah kepada Liok Kiam-ping. Gemuruh suara mereka yang lantang: "Ang-kim-cap-pwe-ki murid Hong-lui-bun menghadap ciangbun, semoga ciang bun sehat dan panjang umur... "

Kedua kakek berambut uban bermuka merah berbareng menjura kepada Kiam-ping satu diantaranya yang mengikat rambut dengan gelang emas berkata: "Mohon ciangbun keluarkan Hiat-liong-ling dan mengangkat tinggi supaya semua murid-murid mengenalinya, selama hidup ini kita bakal menjadi pengikut ciangbun, untuk menunaikan tugas bakti warisan ciangbun yang dahulu."

Liok Kiam-ping sadar dari lamunannya yang hambar, katanya dengan melenggong: "Kau ini kah Hu-hoat... "

Laki-laki tua bergelang emas dekat kepalanya menjura, sahutnya: "Hamba Kimji-toa-beng (elang besar sayap emas) Kongsun cin-khing sebagai coh-huhoat, atas perintah warisan ciangbun yang terdahulu kami menyambut dan menjunjungmu... "

Mata Liok Kiam-ping melirik kearah ke kiri si tua yang rambutnya diikat gelang perak. katanya: "Dia pun Huhoat "

Laki-laki bergelang perak dikepalanya menjura, katanya: "Hamba Gin-jiay-beng (elang besar sayap perak) Kongsun cin- giok. berkat kemuliaan hati cianghun yang dulu diangkat sebagai Yu-huhoat... "

Maka Liok Kiam-ping merogoh Hiat-liong-ling serta diangkatnya tinggi, serunya: "Boleh kalian periksa apakah betul ini?"

Sorak sorai lebih gemuruh dari tadi bergema ditanah tegalan yang terbentang luas, ditengah tempik sorak orang- orang Hong-lui-bun itu, tampak King-ji-tai-beng dan Gin-ji-tay- beng berlinang air mata, serempak mereka berlutut didepan Liok Kiam-ping.

Tersipu-sipu Liok Kiam-ping memapah mereka berdiri, katanya gugup "cayhe masih membutuhkan bantuan kalian, terutama tenaga kalian kedua Huhoat, lekaslah berdiri jangan banyak peradatan."

"Terima kasih, kami patuh perintah ciangbun- sahut coh- yu-hu-hoat. Demikian pula delapan belas penunggang kuda seragam biru laut, berdiri serta menjura pula, tegak lurus membusung dada, tampak betapa gagah perkasa sikap dan semangat mereka. ---ooo0dw0ooo---

Sementara itu tabir malam telah menyelimuti jagat raya. bulan sabit telah bergantung dilangit timur, memancarkan cahaya peraknya yang redup, Berhadapan dengan para pahlawan gagah yang penuh semangat semua patuh dan menghormati serta menyanjung dirinya, bukan kepalang haru dan senang serta lega hati Liok Kiam-ping, yakinlah dia bahwa sejak kini kebesaran nama Pat-pi-kim- liong bolehlah dipertahankan dan terus ditegakkan di kalangan Kangouw. Kebesaran nama, kedudukan dan Kungfu yang tinggi merupakan impian setiap insan persilatan- Juga perempuan cantik." demikian batin Liok Kiam-ping, karena raut wajah Tokko cu yang cantik rupawan, gerak geriknya yang lembut gemulai tak pernah lepas dari ukiran sanubarinya.

Suasana hening, Kiam-ping berdiri tegak menengadah, terbayang olehnya betapa sengsara kala dulunya menjadi gelandangan- namun kehidupan melarat dan siksa derita itu telah menggembleng dirinya, kesempatan telah memberikan harapan dan mengangkat nasib dirinya kejenjang kehidupan yang lebih lumrah baik, dari sekarang dia memperoleh apa yang selama ini selalu diimpikan olen setiap insan persilatan, dirinya telah menjadi ciangbunjin Hong-lui-bun-

Semua itu merupakan hasil dari kesabaran keteguhan dan perjuangan yang gigih melawan kesengsaraan dan penghinaan, walau semua siksa derita itu sudah lalu, tapi bagaimana dengan yang akan datang ? Dia maklum itupUn memerlukan perjuangan gigih dan tabah, karena dia sadar banyak urusan yang harus dia bereskan-

Sambil mengawasi bulan sabit yang tergantung diatas cakrawala. mengepal tinju Liok Kiam-ping, batinnya: "Ayah, ibu, sudahkah kau melihat? Putramu sekarang sudah menjadi seorang ciangbunjin, selanjutnya bila musuh-musuhmu bertekuk lutut dibawah kakiku, yakin kalian akan menyaksikan dengan tersenyum tentram, yakin itu tidak akan lama lagi... " demikian dia berdosa dan bersumpah dalam hati.

Selesai dia mengheningkan cipta didengarnya Kim-ji-tay- beng berseru lantang:

"Ciangbunjin, harap terimalah perintah warisan ciangbunjin generasi yang terdahulu... "

"Ooh," Liok Kiam-ping bersuara pendek. dia terima s eg ulung kain sutra putih yang diangsurkan- Kim-ji-tay-beng dengan kedua tangan, pelan-pelan dia buka gulungan kain sutra itu.

Setetes noda darah, lalu setetes lagi tapi noda darah ini sudah kering, sudah berobah warna kehitaman, jelas noda darah ini sudah cukup lama, setelah dia membeber seluruh gulungan kain sutra diatasnya tampak beberapa baris huruf- huruf yang ditulis dengan tinta darah, seketika dia merasa hidmat dan bergidik, sekilas dia pandang orang-orang didepannya, dilihatnya merekapun tengah menatapnya penuh perhatian, tatapan penuh harapan supaya dia membacakan secara keras- Maka Liok Kiam-ping mulai tarik suara: "Aku sebagai ciangbun generasi ketujuh Hong-lui bun, ciang-kiam- kin-ling sedang sekarat diatas pegunungan Tay-pa-san, yang paling kurindukan hanyalah Hiat- liong- ling dan Wi-liong-pit- sin perguruan kita. Selanjutnya bila siapa memiliki Hiat- liong- ling maka dialah sebagai pewaris ciangbun generasi kedelapan perguruan kita, ketentuan ini harap menjadikan undang- undang bagi seluruh murid-murid perguruan.

"Seorang diri aku meluruk ke Tionggoan karena kurang hati-hati dan tidak mengenal kelicikan orang Kangouw, tanpa diduga aku terbokong oleh orang jahat, sekarang racun telah menggeragoti badanku, racun sudah meresap kedalam urat nadi hawa murni sudah buyar, aku yakin jiwaku takkan tertolong lagi, maka kutulis pesanku ini kepada seluruh murid- murid Hong-lui-bun, betapapun harus menemukan Hiat liong- ling atau siapa pun yang memilikinya, biarlah dia memimpin kita untuk menuntut balas.

"Musuh besarku adalah Tok-sin-kiong-bing, Ham-sim-leng- mo, Hwe-hun-cun-cia dari Heng-bu-san, Ngo-hu-cu dari Lam- hay, Kong-tong-koay-kiam, Lo-hu-sin-kun dari Lohu-san, maka ciangbunjin yang akan datang harus... " pesan itu hanya sampai di sini, lebih kebawah lagi adalah genangan darah yang mengental, jelas menulis sampai di sini ciang-kiam-kim- ling sudah kehabisan tenaga, jiwapun melayang.

Liok Kiam-ping menarik napas panjang, dilihatnya orang- orang didepannya semua berlinang air mata, maka dengan tekanan berat dia berkata: "Aku bersumpah akan menuntut balas atas kematian ciang kiam kim-ling, kita ganyang semua manusia kurcaci." Lalu dia meninggikan suaranya, " manusia jahat dikalangan Kangouw terlalu banyak dan ada dimana- mana. Murid-murid dari aliran lurus terlalu takabur dan terlalu sewenang wenang, congkak dan bertingkah, bila selanjutnya kita menegakkan kebenaran di dunia ini, tanpa pandang bulu siapa menjadi penghalang kita gasak seluruhnya."

Bulat dan penuh tekad sorot mata mereka Kim-ji-tay-beng angkat suara: "Ciang bun harus membawa Hiat-liong-ling  pergi ke Tesat kok di Bu-tong-san untuk mengambil Ki kiam- wi-liong peninggalan Cosu kita yang berupa tiga batang pedang mestika, meyakinkan ilmu pedang sakti yang tertera digagang pedang, lalu... "

Liok Kiam-ping buka buntaiannya terus memegang pedang panjang.

Liat jit-kiam ditangan Liok Kiam-ping panjang tiga kaki enam dim, batang pedangnya lencir, tipis laksana perak. cahayanya kemilau, digagang pedang dihiasi sebutir mutiara yang menyolok mata, Kiam-ping tahu mutiara ini dinamakan Liat-jit (terik surya). Dibalik gagang pedang yang lain terukir tiga orang kecil, setiap orang memegang sebatang pedang, gayanya satu dengan yang lain berbeda, disamping gambar ukiran dibubuhi huruf-huruf kecil sebagai keterangan-

Mata Kiam-ping amat tajam, meski dibawah penerangan bulan sabit tapi dia dapat melihat jelas gambar ukiran itu, apalagi mutiara terik surya juga memancarkan cahaya benderang dikegelapan, beruntun dia membaca huruf-hurup keterangan itu sebagai berikut: Jit-lun-jut-seng Liat-jit-yam- yam dan Sip-yang-say-loh."

"Ciangbunjin, jadi kau sudah pernah ke Te-sat-kok ?" tanya Kim-jt-tay-beng heran-

Liok Kiam-ping geleng-geleng, jarinya menjentik batang pedang maka berdering lah suara nyaring, katanya: "Pedang ini kurampas dari tangan Ceng-san-biau-khek. tapi aku pun bertemu dengan Tokko cu, ia bilang suruh aku pergi ke Te- sat-kok mengambil dua pedang yang lain- Dalam dua bulan aku sudah harus berhasil mempelajari tiga jurus ilmu pedang yang terukir di sini, lalu aku harus membereskan satu persoalan, kala itu boleh kita bertemu lagi. Sekarang kalian muncul di Kangouw dan beritahu kepada semua murid-murid perguruan kita suruh ia mereka menyelidiki jejak Tok-sin- kiong-bing tentang musuh yang lain sih masih bisa meluruk ketempat tinggal masing-masing, bila tiba waktunya boleh kita mulai merancangkan rercana kerja selanjutnya."

"Ciangbunjin," kata Kim-ji-tay-beng, urusanmu adalah urusan kita, kukira kita harus sama sama..."

"Tidak usah," tukas Kiam-ping, ”ini urusan pribadi, aku harus membereskan sendiri, dua bulan lagi kita bertemu di..." berpikir sejenak lalu menyambung, ”kita bertemu di Kui-hun- ceng, letaknya tigapuluh li diluar kota Un-ciu dipropinsi Ciat- kang, sekarang aku harus balik ke Jian-liu-ceng, karena janjiku belum terlaksana."

Kim-ji-tay-beng tertawa keras, katanya: "Thi-Ciang Lau Koan ni sudah mampus terpukul pecah batok kepalanya oleh Gin-sat-ciang Loji, tentang Thi-jiau-kim- pian dan It-tio-licng juga sudah dibebaskan oleh Biau-jiu-sip- coan-.."

Lekas Biau-jiu-sip-coan tampil katanya:

"Lapor Ciang bun, hamba sudah jelaskan segala sesuatunya kepada mereka, maka sekarang Thi-jiau-kim-piau pergi ke Heng-kik mencari Thi-ji-tiau, demikian pula It-tio-licng Bu-jiya ikut ke sana pula.

Liok Kiam-ping manggut-manggut, katanya: "Baiklah, kita bertemu dua bulan lagi"

"Ciangbunjin sekarang mau ke mana ?" tanya Kim-ji-tay- beng.

"Aku akan langsung pergi ke Te-sat-kok, akan kuluruk Bu- tong pula, karena mereka masih hutang kepadaku..."

"Walau sudah dua puluh tahun Bu-tong-pay kehilangan pamor, tapi Ciang bun seorang diri, kita bersaudara mendapat perintah Ciang bun terdahulu, betapapun harus melindungi keselamatan ciang bun, maka..."

Liok-Kiam-ping sudah berpikir, maka katanya: "Baiklah, kalian berdua boleh ikut aku masuk ke Te-sat kok, sementara saudara-saudara yang lain boleh menungguku di Kui- hunceng." Lalu dia pandang orang banyak serta berpesan: Jagalah diri kalian baik-baik."

"Ciangbunjin juga harus hati-hati." serempak mereka menjawab.

Liok Kiam-ping segera membalik tubuh terus pergi menyusuri jalan raya kearah tenggara Kim-gin-hu-hoat segera mengintil dibelakangnya. Malam semakin larut, derap kuda yang ramai kembali memecah kesunyian, lambat laun makinjauh dan tak terdengar lagi.

---ooo0dw0ooo---

Hari itu cuaca cerah sehabis turun hujan saiju. Tempatnya dibawah gunung Butong-san diwilayah ouw pak.

Seorang diri dengan berjubah putih yang melambai tertiup angin, pagi-pagi sekali Liok Kiam-ping sudah menempuh perjalanan, langkahnya enteng dan gesit laksana terbang, jauh dibelakangnya dua orang tua berusaha mengudak kedepan, tapi sejauh mana jarak mereka tetap ketinggalan beberapa tombak.

Lekas sekali Kiam-ping sudah tiba dikaki Bu-tong-san, mendongak mengawasi gumpalan mega, segera dia menoleh dan berkata: "sudah sampai Bu-tong-san, marilah kita naik keatas."

Kim-ji-tay-beng berkata: "Ciangbunjin apakah Liat-jit-kiam- boat sudah berhasil kau yakinkan ?"

"Ketiga jurus ilmu pedang itu memang merupakan ilmu pedang sakti mandraguna, dikala gerakan pedang berlangsung, cahaya benderang dari mutiara terik surya dapat dipancarkan untuk menyilaukan pandangan mata musuh. Entah bagaimana pula kesaktian dua pedang mestika yang  lain "

Gin-ji-tay-beng segera menimbrung: Jit-jay-kiam panjang dua kaki delapan dim bobotnya sepuluh kati, Cui-le-kiam panjang empat kaki enam dim beratnya empat puluh dua kati. Dahulu Ciangbunjin generasi perguruan kita Cosuya Ki-kiam- wi-liong dengan sebatang pedang Cui-le-kia m malang melintang diseluruh jagat tiada tandingan, beliau pernah dijuluki malaikat pedang pada jaman itu.' Liok Kiam-ping melenggong, katanya:

'Masa ada pedang seberat itu ? Bagaimana jurus permainannya bisa dilancarkan ?'

Kim-ji-tay-beng berkata: "Ki-kiam merupakan pedang yang punya kesaktian paling hebat diantara ketiga pedang mestika itu, bila gaya pedang dikembangkan hawa pedang seakan- akan memenuhi angkasa, kekerasannya mampu membelah batu, lunak dapat menggempur batu menjadi bubuk. Bila Jit- jay-kiam-hoat berhasil diyakinkan- baru boleh melangkah lebih maju meyakinkan Cui-le-kiam-hoat, menurut pesan para Ciangbunjin terdahulu, pelajaran harus dimulai dari dasarnya baru meningkat ketaraf yang lebih tinggi.”

Liok Kiam-ping mang gut- mang gut, tanyanya: "Apakah kalian juga mahir Wi- liong-ciang ?"

Kim-ji-tay-beng berkata: "Waktu di Tay-san hamba mempelajari Kim-sa ciang, sementara adikku memperoleh pelajaran Gin-sa-ciang dari negeri Thian-tok. kedua ilmu pukulan ini merupakan dua diantara sepuluh ilmu pukulan dijagat ini yang paling besar perbawanya, Kim-sa-ciang nomor empat, Gin-sa-ciang nomor lima."

Hakikatnya Liok Kiam-ping tidak pernah mendengar sepuluh ilmu pukulan paling top didunia, maka dia tanya: "Bagimana urutan itu bisa ditentukan diantara kesepuluh ilmu pukulan itu ?"

Kim-ji-tay-beng berkata dengan tertawa: "Menurut keputusan para ahli urutannya adalah demikian: Wi-liong, Han-ping, Jik-yan, Kim-sa, Gin-sa, lima macam ilmu pukulan ini merupakan ilmu telapak tangan paling lihay diseluruh jagat. Lima jenis ilmu pukulan yang lain adalah Tay-lik-kim-kong- ciang dari Siau-lim-pay, Boh-giok-ciang dari Bu-tong, Hu-mo- ciang dari Kong-tong, Bok-lian-ciang dari Hoa-san, Wi-liu-ciang dari Ceng-seng. Sementara Pan-yok-Ciang dari Kun-lun, Hwi- hong-ciang dari Tiam-jong juga termasuk ilmu pukulan yang lihay pula, tapi karena kedua ilmu pukulan ini dikombinasikan dengan kekuatan tutukan jari, maka tidak dimasukkan kedalam sepuluh ilmu pukulan paling top didunia, demikian pula ilmu pukulan dari aliran Sia-pay juga dicantumkan."

Liok Kiam-ping manggut-manggut, batinnya Ham-sim-leng- mo meyakinkan Hian-ping- ciang, Hwe-hun-cun-cia pasti meyakinkan Jik-yan-ciang. Tak heran para Ciangbun yang terdahulu tiada yang pernah melancarkan Wi-liong-ciang habis sampai jurus keenam, paling hanya sampai jurus kelima saja, jago-jago kosen yang paling top masa itupun sudah terpukul mati. Padahal bekal Lwekangku sekarang paling mampu meyakinkan sampai jurus keempat yaitu Wi-liong-ting-gak, agaknya aku harus lebih rajin dan keras berlatih"

Angin dingin menghantam dari puncak gunung membawa beberapa kuntum kembang salju yang berjatuhan dimuka Kiam-ping, tiba-tiba dia menarik napas panjang, lalu katanya: "Hayolah naik." tiga bayangan orang meluncur secerat kilat, sekali melesat beberara tombak dicapai, hanya sekejap mereka sudah tiba dilamping gunung.

Coat-kiam-gan sudah kelihatan disebelah depan. namun batu ukiran itu kini diganti lebih besar dari yang dihancurkan Kiam-ping tempoh hari, huruf-urufnyapun bergaya lebih indah. Empang yang berair jernih dulu kini sudah beku permukaannya oleh timbulan salju.

Mengawasi batu cadas besar berukir itu Liok Kiam-ping menjengek. katanya: "Biar kuberi sedikit tanda kenangan pula." Dimana sebelah tangannya terayun keras huruf 'Coat' yang terukir diatas batu seketika hapus, debu beterbangan, saijupun rontok berhamburan-Kini gantinya adalah telapak tangan yang mendekuk dalam lima dim seperti sangat diukir ditempat itu.

Kim-ji-tay-beng menyeringai sinis, katanya: 'Dahulu kawanan Tosu hidung kerbau itu terlalu angkuh di kalangan Kangouw selalu mengagulkan diri sebagai jagonya aliran lurus, hari ini biar mereka rasakan betapa nikmatnya mencium salju dengan ceceran darah sepanjang beberapa li." Mendadak dia menghardik, telapak tangannya tiba-tiba ditegakkan, tampak seluruh telapak tangannya mendadak berobah kuning mirip emas kemilau. Bagitu sebelah tangannya menepuk serta menggosok, terdengar suara mendesis, tepat pada huruf "Kiam" diatas batu cadas itu, hurufnya hilang debu kembali sama rontok, akhirnya huruf ukiran berganti sebuah tapak tangan berwarna kuning emas.

Sebelum Kim-ji-tay-beng menarik tangannya, Gin-ji-tay- beng juga membentak sekali, telapak tangan kiri menepis miring "Plak" suaranya nyaring, huruf "Gan" dipaling bawah juga terkikis habis dan tertinggal bekas telapak tangan berwarna putih perak. Dengan mendongak dia bergelak tawa, sertanya: "Selama dua puluh tahun belum pernah aku seriang hari ini, nanti akan kubunuh kawanan hidung kerbau sebanyak mungkin biar darah mengalir jadi sungai"

Tampak oleh Liok Kiam-ping bola mata Kongsun cin-giok memancarkan cahaya buas penuh dendam, terutama telapak tangan berwarna putih perak yang teracung diudara kelihatan sedemikian menggiriskan. Sepanjang jalan ini diam-diam Kiam-ping perhatikan kedua orang ini, ternyata kedua bersaudara ini memiliki watak yang berbeda, Kongsun cin- khing orangnya ramah dan kalem, tapi perangainya keras dan teguh pendirian, seorang jujur dan lembut, diluar, keras didalam.

Sebaliknya Gin-ji-tay-beng lebih tumpul agak lamban dan berangasan, wataknya keras dan gampang marah, seorang kasar yang jarang menggunakan otak, jadi tanpa akal, apa yang dipikir atau diinginkan harus segera dilaksanakan, kalau dibanding hatinya lebih senang dan ketarik terhadap Kim-ji- tay-beng tapi dia maklum bahwa kedua orang ini sedia dan rela berkorban demi dirinya, loyalitas mereka terhadap dirinya dan untuk Hong-lui-bun boleh tidak usah disangsikan-

Setelah memberikan tanda mata Kiam-ping memberi aba- aba lalu mendahului meluncur keatas. Tapi baru beberapa langkah, lantas terdengar bentakan ramai dari atas gunung, beberapa bayangan orang tampak muncul berlompatan turun.

Dari kejauhan Kiam-ping sudah melihat, kawanan Tosu itu dipimpin oleh Pek-ciok Tojin diantaranya ada tiga orang laki- laki berpakaian preman, semuanya ada enam berlari turun secepat meteor jatuh

"Nah, itu yang mengantar kematian telah datang." "demikian seru Gin-ji-tay-beng sambil menyeringai sadis. Telapak tangannya saling gosok seraya menggumam: "Sudah dua puluh tahun tidak pernah membunuh orang, tulang belulang ini menjadi risi dan gatal rasanya...

Diam-diam Kiam-ping merinding mendengar pernyataan, pikirnya: "Mana ada manusia didunia ini yang punya hobby membunuh orang ?" maka dia berpaling, katanya:

"Yu-huhoat, kalau tidak perlu tidak usah turun tangan keji, supaya tidak melanggar hukum alam."

Sekilas Kim-ji-tay-beng memandangnya heran, katanya: "Ciangbun, dunia persilatan serba keji dan jahat, berbagai manusia jahat dan telengas ada dimana-mana, siapapun bila berhati baik dan mulia, sedikit lena pasti dia mengalami bahaya dan salab-salah dicelakai orang. Demikianlah Ciang bun terdahulu sudah menjadi contoh yang nyata, sehingga beliau dikeroyok oleh Liok-toa-thiancu dan meninggal di Tay- pa-san. jikalau sekarang Ciang bun sendiri tidak tega turun tangan, bagaimana musuh besar kita itu harus diberantas."

Merinding sekujur badan Liok Kiam-ping tiba-tiba terbayang betapa mengenaskan kematian Ibunya, maka dia kertak gigi dan mendesis penuh kebencian "Betul, hutang darah harus dibayar dengan darah. Sikat." Lenyap perkataannya Kim-gin-hu-hoat segera bertindak. laksana dua anak panah mereka sudah memapak kedepan- Ditengah udara Gin-ji-tay beng membentang kaki tangan seperti hurung terbang. ditengah udara dia menghardih sekeras guntur, tangan kiri bergerak menimbulkan deru kencang terns menukik turun.

Salah satu orang yang berlari turun itu tiba-tiba menjerit kaget: "Hah, Gin-si-ciang."

Belum habis dia bicara, ditengah gelak tawa Gin-ji-tay- beng. tangannya sudah membelah, darah kontan muncrat, salah satu Tosu yang memburu tiba tidak sempat berkelit, kepalanya terkepruk pecah, sekali menjerit jiwapun melayang.

Sementara itu Kim-ji-tay-beng juga terapung di tengah udara, laksana elang raksasa dia menubruk kepada Pek-clok Tojin, Pek-ciok Tojin menggeram gusar, kontan dia kebut lengan bajunya menerbitkan segulung angin pukulan dahsyat menggempur Kim-ji-tay-beng yang menerjang turun. Tapi Kim ji-tay-beng hanya mengayun sebelah tangannya, begitu cahaya kuning berkelebat, disertai deru angin dan suitan nyaring, tampak Pek-clok Tojin seperti didera oleh gelombang badai, ditengah erangan tertahan tubuhnya terpental jatuh lima kaki, lengan baju kanannya ternyata lenyap terbelah oleh pukulan telapak tangan lawan, dengan duduk tertegun dia mengawasi lengannya yang terluka menjadi kuning emas persis dalam bentuk telapak tangan, karuan dia menjerit kaget: "Kim-sa-ciang.Jadi kau inilah Kim-ji-tay-beng ?"

Kim-ji-tay-beng terloroh-loroh, katanya, 'Sudah dua puluh tahun Lohu tidak kelana di Kangouw, ternyata kau masih ingat diriku Hahaha, serahkan jiwamu."

Lenyap suaranya, sebuah suara kereng rendah tiba-tiba mencegah: "Kongsun Huhoat tunggu sebentar, biar aku tanya sesuatu kepadanya."

---ooo0dw0ooo--- Mendengar seruan ciangbunjin, lekas Kim-ji-tay-beng menarik tangan membalik tubuh, sahutnya: "Tunduk pada perintah ciangbun."

Begitu melihat yang berdiri didepannya adalah Liok Kiam- ping, Pek-ciok Tojin tampak kaget, matanya terbelalak. serunya "Pat-pi-kim- liong ? ciangbunjin Hong-lui-bun... "

Liok Kiam-ping tertawa, katanya: "Bukankah aku pernah bilang akan meluruk ke Bu-tong pula, karena masih ada perhitungan dendam diantara kita yang belum beres" tiba-tiba dia menarik muka, "Siapa yang melukai ibuku ? Apa kau juga ikut turun tangan ?"

Berubah air muka Pek-ciok Tojin, katanya: "Bik-lo-kim-tan adalah obat mujarab perguruan kita, betapapun tidak boleh diberikan kepada orang luar... "

Beringas muka Liok Kiam-ping, serunya: "Bu-tong adalah salah satu dari sembilan partai besar yang berhaluan lurus, sebagai beragama harus mengutamakan cinta kasih dan bijaksana. ibuku terluka parah, beliau datang mohon pengobatan kepada kalian Tosu-tosu busuk, bukan saja kalian tidak memberi malah mengeroyok dan melukainya tanpa mengenal belas kasihan- Apakah kalian manusia yang berperi kemanusiaan ? Patut tidak kalian dibunuh ?”

Tiga laki-laki tua yang berdiri disamping sana sekilas melirik kearah Pek-ciok Tojin, kata satu diantaranya: “Nama besar Tayhiap sudah menggoncangkan Kangouw, tapi kaupun tidak boleh melulu menyalahkan pihak kita, Bik-lo-kim-tan adalah pelindung perguruan, betapapun tidak boleh sembarangan diberikan kepada orang, tentang kematian ibunda mu... "

Liok Kiam-ping terloroh-loroh, teriaknya: ”Jadi anggapmu ibuku pantas mati, begitu ? Siapa kau sebutkan namamu ?" Berobah air muka laki-laki tua itu, katanya kereng: "Lohu Tin-sam-siang Lau ciau kim murid preman Bu-tong, tahun ini berusia lima puluh dua, selamanya belum pernah ada anak muda seangkuh macammu berani kurungajar terhadapku..."

"Berani kau menghina ciangbun kita ." Lukas Gin-ji-tay beng yang berangasan, "Hehe, Lohu sudah tujuh puluh tiga, kapan pernah melihat keparat macammu berani menghina ciangbun Hong-lui-bun kita ? kunyuk, kaupun harus mampus."

Merasa bagai orang tua Tin-sam-siang Lau ciau-khim wajib memberi tegoran kepada Liok- Kiam-ping, tak nyana sikap Gin-ji-tay-beng yang kasar lebih pedas lagi mencercah dirinya, karuan gusarnya bukan main, bentaknya: "Siapa kau ?"

"Kau sudah pantas mampus dua kali." jengek Gin-ji-tay- beng, begitu menegakkan telapak tangan, telapak tangannya itu tiba-tiba melar makin gede dan telapak tangannyapun berobah memutih perak mengkilap.

"Gin sa ciang (pukulan pasir perak)". Desis Lau ciau-khim gemetar dengan muka berobah, jadi kau ini Gin-ji-tay beng "

"Betul, nah serahkan jiwamu keparat damprat” Gin-ji-tay- beng. Tangan bergerak mengikuti gaya tubuhnya, secepat kilat orangannya menggempur kepala lawan dengan sebelah tangan saja.

Melihat serangan ganas Lau ciau-khim lekas miringkan tubuh sembari menangkis dengan kedua tangan, dia lontarkan Boh-giok-ciang ajaran Bu-tong-pay yang lihay dengan jurus Jan-kim-gick ( mematah emas merebuk glok ), begitu kedua tangan terpencar keduanya menekan kiri kanan dada lawan-

Gin-ji-tay-beng tertawa latah, tangan kanannya menggeruk keluar, secepat kilat kelima jarinya telah mencengkeram lengan kiri lawan, sementara telapak tangan kiri membelah turun maka terdengarlah suara rkrak," lengan kiri lawan ternyata telah ditabas buntung mentah-mentah oleh telapak tangan Gin-sa-ciang. Padahal tubuhnya masih terapung ditengah udara, begitu kedua tangannya terpencar pula perubahan gerak tanganya sungguh gerakan menakjubkan dimana sinar perak  berkelebat, sebelum lawan menjerit kesakitan, telapak tangannya telah mengepruk pecah pula batok kepala lawan- Ditengah hamburan darah yang muncrat, dia menyeringai lebar, ditengah loroh tawanya dia sudah jumpalitan turun di samping Kim-ji-tay-beng.

Beberapa gerakan berantai itu dilaksanakan dalam waktu singkat boleh di kata diselesaikan sekaligus, maka orang lain hanya mendengar suara ganjil, tahu-tahu tampak Gin-ji-tay- beng telah melompat terbang kembali seperti seekor burung.

Setelah tegak berdiri Gin-ji-tay-beng. Mencemooh: " Kiranya juga begini saja Tin-sam-siang (mengejar tiga propinsi). Siapa pula berani menghina ciangbun kita, biar ia rasakan sekali pukulan Gin-sa-ciang ku"

Seluruh lengan Pek-ciok Tojin linu Pegal tak mampu digerakkan, matanya terbeliak kaget dan ngeri mengawasi Lau ciau-khim roboh terkapar, segera dia berpaling dan berkata: " Lekas kau kembali ke biara dan laporkan bahwa Pat-pi-kim- liong ciangbunjin Hong-lui-bun meluruk dan mengganas"

Tojin yang lain mengiakan, baru saja dia hendak bergerak tiba-tiba telinganya serasa pekak oleh sebuah bertakan: Jangan bergerak. aku sendiri akan keatas menemui ciang bun- kalian, demikian pula Hwi-bing Tiang lo akan kutantang bertanding"

Tapi Tojin itu memang bandel tanpa hiraukan ancaman, cepat dia berlari keatas. "Keparat," maki Kiam-ping, "mengabaikan peringatan, dalam jarak dua tombak akan kubikin kau mampus di bawah Wi-liong-ciang."

Ternyata Tojin itu takut mati, lekas dia berhenti dan menoleh, wajahnya pucat, panik. tegang dan ketakutan, sorot matanya menampilkan belas kasihan melirik kearah Pek-ciok. Liok Kiam-ping mengulum senyum sadis, seolah-olah terbayang betapa mengerikan kematian ibunya. Maka hatinya makin mantap. katanya menoleh: ”Mereka kuserahkan kepada kalian, aku akan naik keatas gunung lebih dulu." tiba-tiba tubuhnya melejit empat tombak. terus meluncur keatas gunung dengan kecepatan kilat.

Masih sempat dia mendengar gelak tawa Gin-ji-tay-beng seperti berpesta pora saja, disertai deru aneh yang keluar dari permainan Gin-sa-ciang, Kiam-ping tidak menoleh, karena dia maklum bagaimana nasib orang-orang itu.

Jalan kecil liku-liku tidak menjadi halangan baginya, ternyata sepagi ini salju telah tersapu bersih diundakan batu, hanya gundukan saiju dikedua sisi jalan lebih meninggi.

Mendadak luncuran Liok Kiam-ping merandek lalu  melayang turun- Sekilas matanya melirik. dilihatnya dua Tojin berdiri ditengah jalan sambil menyoren pedang, sambil mendengus dia bertanya: "Apakah ciangbun kalian diatas gunung ?”

Kedua Tojin muda ini berdiri dalam posisi menyudut, seorang memegang pedang ditangan kiri yang lain memegang dengan tangan kanan, pedang menjulur lurus kebawah, meski melihat kedatangan Liok Kiam-ping serta mendengar tegurannva, tapi mereka diam tidak bergerak. dengan tenang menatap Liok Kiam-ping.

Liok Kiam-ping melengak malah, katanya dengan tawa lebar: “Apakah kalian ini yang dinamakan Liong-gi-kiam-tin ?" melihat kedua Tojin itu tetap tidak bergeming, pelan-pelan Kiam-ping maju kedepan mereka, ”apa kalian mau menjajal  Wi liong-ciang ku ?" sebat sekali tiba-tiba dia menyelinap maju sejauh satu kaki begitu kedua tangannya bergerak langsung dia menjojoh di it-kam hiat didada mereka.

Begitu cepat gerakan Liok Kiam-ping, di kala kedua Tojin merasa pandangannya kabur, belum sempat mereka bergerak. dada mereka sudah terkena telak tanpa dapat menrang kis atau melawan, ditengah jeritan mereka tubuh besar itu mencelat terbang tiga tombak jauhnya, darah berceceran sepanjang jalan undakan sehingga salju pun menjadi merah. Dua batang pedang mereka terbang ke udara dan amblas kedalam saiju tak jauh disamping tubuh mereka.

Tanpa hiraukan kedua korbannya Kiam-ping langsung enjot tubuhnya, sekali berkelebat tiba-tiba bayangannyapun sudah lenyap tanpa meninggalkan bekas.

Sepanjang jalan ini Kiam-ping tidak menghadapi rintangan lagi, secepat terbang dia sudah tiba diluar hutan cemara, pandangannya tiba-tiba benderang, ternyata dirinya sudah tiba didepan Siang-jing-koan- Didepannya terbentang sebuah lapangan yang luas. sebuah biara kuno dengan hiasan serba antik berdiri ditengah lapangan, bangunan megah bersusun dan berlapis memanjang kebelakang sampai tak kelihatan ujungnya.

Ditengah lapangan luas itu, sebuah barisan pedang dalam sikap besar telah siap menyambut kedatangannya, puluhan Tojin bersenjata pedang sudah menduduki posisi masing- masing dalam bentuk sebuah barisan, deretan Tojin paling depan sedang bergerak pelan-pelan kekiri sementara para Tojin dideretan belakang cepat-cepat menggeser ke kanan- Bak umpama sebuah jala besar, setiap gerakan dari setiap sudut akan menjadikan padat setiap posisi yang kosong, setiap gerakan, cahaya pedang pasti menambal lobang kelemahan yang kentara, sehingga lawan yang terkepung d idala m barisan takkan mampu membobol keluar.

Berdiri dipinggir hutan diam-diam Liok Kiam-ping kaget dan heran, pikirnya: "Barisan pedang serapat ini, umpama lalat juga sukar terbang keluar. He, aku jadi ingin tahu lebih dulu siapa gerangan yang terkurung didalam barisan?"

Dalam pada itu lekas sekali barisan pedang makin mengkeret kedalam, tapi setiap kali setelah berputar dua lingkaran mereka pasti harus mundur setapak. "o, agaknya orang yang terkepung didalam memiliki sejurus ilmu tunggal yang lihay? Sehingga mereka jeri dan harus mundur menghindar " dikala Kiam-ping membatin itu, mendadak didengarnya suara hardikan, seseorang tampak melambung tinggi ditengah kepungan namun, sedianya akan jumpalitan keluar barisanpedang,

"ceng-san-biau khek." Kiam-ping tersentak heran, untuk apa dia meluruk ke Bu-tong-san pula ? Jubah hijau ceng-san- biau-khek tampak melambai, ditengah udara tubuhnya melompat miring. baru saja tubuhnya hampir lolos dari kepungan barisan, tiba-tiba terdengar sebuah bentakan ramai, sepuluh Tojin mendadak ikut melompat tinggi ke udara, dimana pedang mereka bergerak. laksana pagar cahaya yang kokoh, mendesak ceng-san-biau-khek jumpalitan mundur kembali.

Diam-diam Kiam-ping geleng geleng, pikirnya: "Aku tak habis mengerti cara bagaimana dia bisa sembuh secepat ini ? Pukulanku hari itu cukup membuat isi perutnya tergoncang lepas dari kedudukan semula, kenapa sekarang sudah sembuh seperti sedia kala ?" Tiba-tiba kakinya menjejak bumi, laksana anak panah tubuhnya melesat kedepan, ditengah udara berputar lurus lalu berpaling ketempat dimana barusan dirinya berdiri.

"Hehe, kiranya Hwi-bing Totiang." Demikian jengek Kiam- ping, ”beginikah orang-orang Bu-tong yang suci dan murni, pandai juga kau menyergap orang dari belakang ?"

Lekas Hwi-bing menjura, katanya: "Bu-liang-siu-hud, ternyata Sicu masih segar bugar, dalam musim sedingin ini masih senggang kau keluyuran diatas Bu-tong-san, apakah tujuanmu mencari ceng-san-biau-khek?""

Kiam-ping tertawa dingin, katanya: “Tempo hari kau memberi persen sekali pukulan Siau-yang-sin-kang, sekarang tulangku jadi gatal, maka ingin kau memberi persen pula sekali pukulan, bagaimana pendapat Tiang lo ?"

Kembali Hwi-bing Totiang bersabda lalu berkata: "Sicu harus maklum, waktu ibumu meluruk kemari, Pinto masih belum keluar pada hal kau tidak tahu seluk beluk persoalannya, tapi... "

Liok Kiam-ping naik pitam, serunya marah: "Seorang perempuan tua luka-luka minta obat tidak diberi malah dihajar sampai mati beginilah perilaku orang-orang beribadah yang mengutamakan cinta kasih ? Ketahuilah Liok Kiam-ping memeluk harapan yang tak terhingga, meresapi siksa derita kehidupan yang terbatas, tujuanku tidak lain hanya ingin mencari dan menemukan ibundaku, tapi kalian telah menghapus dan melenyapkan semua harapanku, kini aku dipaksa menjadi anak yatim piatu, coba kau pertimbangkan pantas tidak aku menuntut balas hutang darah ini ?" Dengan wajah dingin tiba-tiba dia mendesis berat: “Nah, rasakan dulu pukulanku.”

Segulung angin dahsyat tiba-tiba timbul dari kebasan lengan bajunya, damparan angin pukulan dahsyat ini menimbulkan pusaran beberapa jalur angin lesus, pohon- pohon cemara disekelilingnya sampai bergetar seperti ditiup badai.

Hwi-bing Totiang tidak menduga lawannya menyerang secepat ini, sekilas dia mengerut alis, pelan-pelan telapak tangan kanan disorong kedepan, segumpal angin panas seketika meluber disekitar depan tubuhnya laksana dinding saja menerjang kearah serangan lawan-

"Blang" ledakan keras menyebabkan daon-daon cemara rontok. badan Hwi-bing tampak limbung sekali, tiba-tiba tubuhnya mendak kebawah terus menubruk maju, sekaligus dia melontarkan dua belas pukulan- Liok Kiam-ping sendiri juga tergetar mundur lima langkah sambil berputar merobah posisi tiga kali baru mampu membendung dan meluputkan diri dari berondongan dua  belas pukulan lawan- Mendadak dia membentak sekali, tubuhnya melejit keudara, ke dua tangan menari menciptakan bayangan tangan sederas hujan, rapat dan ketat menepuk kepala Hwi-bing dari berbagai penjuru, Hwi-bing kabur pandangannya, bayangan telapak tangan lawan seperti menutup buntu semua gerak geriknya, terutama pusaran hawa deras disekeliling tubuhnya, ketat dan menghimpit ketengah sehingga tubuhnya terbelit kencang. Hwi-bing insyaf, kecuali mundur, tiada peluang lagi untuk menyingkir dari rangsakan pukulan tangan yang lihay ini. Maka dia kerahkan setaker Lwekang latihannya, kedua sikut menjaga seluruh Hiat-to didepan dada, kakinya melesat mundur kebelakang. menghindar dari pukulan telapak tangan sekeras samberan guntur.

Jubah kuning emas yang dipakainya sudah melembung seperti berisi angin, Siau-yang-cin-to yang berhasil diyakinkan selama puluhan tahun d idala m gua ini dikerahkan, melindungi seluruh tubuh, kekuatan hawa yang tipis menyerupai uap putih merembes keluar dari seluruh pori-pori tubuhnya.

Tidak tanggung-tanggung Liok Kiam-ping sekaligus merabu musuhnya dengan tiga puluh satu pukulan- sayang hawa murninyapun telah kandas, dia maklum karena Lwekangnya belum cukup, maka dia belum mampu melancarkan Hwi-liong- kiu-thian sampai habis pada tiga puluh enam jurus pukulan, itu berarti dia sudah sukses meyakinkan Wi-liong-ciang sampai dengan jurus terakhir. yaitu Liong-jiau-king-thian-

Kalau tiga jurus Wi- liong- ciang- hoat di lancarkan secara berantai, karena gerakan pukulan itu sambung menyambung laksana rantai baja yang berhasil membelenggu lawan sehingga tidak mampu melawan lagi sampai mati, yaitu mati karena tergetar oleh himpitan tenaga raksasa yang mampu menggugurkan sebuah gunung.

Tapi kali ini dia berhadapan dengan musuh tangguh yang lebih tinggi dari ceng-san-biau-khek.jadi lawan mampu memanfaatkan peluang yang paling singkat, untuk melancarkan pertahanan Lwekangnya yang kokoh dan kuat, pada hal diri sendiri sudah kehabisan hawa murni, adalah maklum kalau dia menjadi terdesak dibawah angin, namunjuga hanya sekejap sampai dengan lawan harus ganti napas pula

Banyak persoalan berkelebat dalam benaknya, di kala tubuhnya anjlok kebawah itu, diapun sudah selesai melancarkan tiga puluh satujurus pukulan, tapi lawan hanya bermuka merah saja, bahwasanya belum lagi dia kalahkan-

Maka tanpa ayal segera dia menggembor seraya melolos Liat-jit-kiam dari punggungnya, langsung digerakkan dengan jurusjit-lun-jut-seng, cahaya air yang kemilau laksana air, sinar dingin gemerlap. selarik sinar tajam dengan deru angin kencang menyabet keleher lawan-

Hwi-bing harus mundur sejauh dua tombak baru berhasil menyelamatkan diri, ternyata kekuatan Siau-yang-cin-to diluar tubuhnya hampir buyar terserang oleh kekuatan lawan-Sudah tentu bukan kepalang rasa kagetnya, mendadak terasa himpitan tenaga raksasa sudah mengendor, sementara pukulan lawan sudah habis, lekas dia menarik napas kedua tangan naik turun lalu melingkar sekali, siau-yang-cin-to yang berhasil diyakinkan dirobah menjadi segulung hawa panas terus dilontarkan sekuat tenaga. Tak nyana baru saja dia berhasil menghimpun hawa murni, mendadak dilihatnya bola matahari nan besar benderang lagi melambung keatas begitu terang cahaya bola bundar itu sehingga kedua matanya silau tak mampu melihat lagi. Entah kenapa rasa takut dan ngeri mendadak timbul dan menghantui sanubarinya. Sambil menggeram, lekas dia himpun seluruh kekuatannya didorong kearah bola bundar bercahaya laksana sinar surya yang baru terbit itu.

"Sret" tubuh Kiam-ping tampak bergoyang, pedangnya tergetar keras dan tak mampu lagi melancarkan jurus permainannya karena diterjang oleh tenaga dahsyat sepanas lahar. Kedua kakinya malah melesak sedalam dua dim ketanah. Untung dia masih mampu menabirkan cahaya pedangnya sehingga gempuran dahsyat tenaga lawan dapat dipunahkan.

Pukulan hawa panas itu terbendung oleh tabir cahaya pedangnya sehingga membumbung ke angkasa, kembang saiju dipucuk-pucukpohon cemara seketika lumer dan beterbangan, daun-daun cemarapun rontok berhamburan.

Ujung pedang Liok Kiam-ping menuding serong kebawah, kedua matanya menatap tajam lawan dengan tabah dia menekan perasaan dan mengatur pernapasan serta mengendalikan darah yang bergolak. dengan mencelos dia mengawasi tapak kakinya yang ambles kedalam tanah.

Hwi-bing Tojin juga sedang mengatur napasnya yang sengal-sengal, katanya menarik suara: "Kiam-hoat apakah yang kau lancarkan ?"

Liok Kiam-ping menyeringai dingin, sahutnya: "inilah Liat- jit-kiam-hoat. Sekarang boleh kau rasakan betapa nikmatnya menghadapi kematian, Pernahkah kau membayang  kan betapa derita ibuku dikala meregang jiwa karena dipukul luka parah ? oleh karena itu seluruh hidung kerbau Bu-tong-pay patut diganyang habis.” kaki kiri melangkah sedangkan kedua mata menatap ujung pedang "cret" tiba-tiba tubuhnya berputar, dia melontarkan jurus Liat-jit-yam-yam.

Hwi-bing Totiang sudah kerahkan hawa murni kembali keTan-thian, matanya dipicingkan- tiba-tiba dilihatnya lawan mulai menggerakkan pedangnya yang memancarkan pula cahaya seterang sinar surya mencorong kearah matanya. Meski dia sudah memicing mata, tapi yang dilihat hanyalah benderangnya terik sinar matahari, tiada benda lain yang tampak lagi. Seolah-olah dirinya berada ditengah padang pasir yang kering kerontang terik matahari bergantung di cakrawala, begitu panasnya sampai mulutnya kering dan teng gorokan dahaga. Lebih celaka lagi sekujur badan mendadakjuga panas seperti dipanggang sehingga menguapkan asap. Mumpung belum kasep mendadak dia membentak sekali, Sam-wi-cin-hwe dalam tubuhnya yang dilatih selama tiga puluh tahun segera dikerahkan menggempur kebola matahari yang mencorong benderang itu. begitu seluruh kekuatan hawa murninya dikerahkan, pikiran seketika menjadi jernih pula, maka didengarnya jeritan ceng- ciok Tojin tak jauh disamping tubuhnya. tapi dia sudah tidak mampu menarik hawa api yang terpusat dipusarnya.

Jeritan panjang yang menyayat hati mendadak kumandang dari hutan cemara. Disusul sesosok bayangan putih meloncat terbang sejauh lima tombak dan "Bluk" terbanting ditanah. "

Asap hijau tampak mengepul didalam hutan disusul bunyi keretakan dari nyala api yapg membakar dahan dahan pohon dan daun. Lekas sekali nyala api berkobar makin besar ketiup angin pegunungan yang deras, hawa semakin panas, asap membumbung tinggi ke angkasa.

Begitu pedang Liok Kiam-ping menusuk. cahaya pedang sudah berputar kencang berhasil memapas kutung sepasang pergelangan tangan musuh, namun dia sendiripun keterjang angin pukulan sedahsyat gugur gunung sehingga tubuhnya mencelat jatuh beberapa tombak. Tak jauh diluar hutan sebelah kiri terdapat sebuah selokan gunung, Kiam-ping terpukut mencelat oleh gempuran seluruh kekuatan Hwi-bing Tojin sehingga matanya berkunang-kunang. Kebetulan tubuhnya melayang jatuh kedalam selokan, begitu tubuhnya ketiup angin dingin dalam selokan otaknya menjadi jernih, seketika dia sadari pula betapa berbahaya keadaan dirinya sekarang. Lekas dia himpun seluruh tenaga murni, kedua tangan membalik kebelakang, beruntun kedua kaki memancal pula, sehingga tubuhnya berhasil tergeser beberapa kaki diditengah udara. Sayang napasnyapun sudah habis dan tak mampu mengerahkan tenaga lagi, jelas kelihatan didasar selokan menanti batu-batu runcing yang tak terhitung banyaknya, karuan terbang arwahnya saking ngeri rasa kejutnya bukan main-

Maklumlah meski Kiam-ping pernah memperoleh saluran Lwekang Lui Gi-ok yang dilatihnya puluhan tahun, tapi karena kedua urat nadi Jin-tok ditubuhnya belum tertembus maka hawa murni tak mampu berputar menyeluruh keseluruh  tubuh, adalah jamak kalau dia tidak mampu bergerak bebas ditengah udara. Padahal hawa murni dalam tubuhnya sudah habis, dikala tubuh sudah melayang turun itu, dilihatnya didepan ada sebuah batu besar yang menonjol keluar sejauh tiga kaki, maka dia menghardik sekali dengan seluruh sisa tenaganya dia menusukan pedang kearah batu besar itu.

"Cras" Liat-jit-kiam memang tajam mandraguna, pedang panjangnya itu hampir setengah amblas kedalam batu, meminjam daya pantulan diatas pedang, lekas Kiam-ping menarik napas sehingga tubuhnya mampu melambung jumpalitan meluncur ke bibir ngarai disebrang sana.

Memandang dasar selokan yang penuh bertaburan batu- batu runcing, diam-diam Liok Kiam-ping bergidik sendiri, namun bola matanya merah menyala, begitu dia angkat kepala memandang ke arah hutan, seketika dia berdiri melongo dan ragu-ragu.

Ternyata ceng-ciok Tojin tidak menduga bahwa Sang Susiok berada didalam hutan, maka dia kira Liok Kiam-ping sengaja menyalakan api didalam hutan, karena dia hanya melihat bayangannya mencelat keluar dari dalam hutan- Maka sambil membentak dia melolos pedang terus melompat dari sebrang selokan, bentaknya gusar: "Kenapa Sicu datang ke Bu-tong... " melihat noda darah yang mengotori jubah putih Liok Kiam-ping tiba-tiba dia tertegun, air mukanya berobah, tanyanya "Bagaimana Hwi-bing Susiok ? Kau... "

Memandang kobaran api yang makin besar didalam hutan- Liok Kiam-ping menyeringai dingin: "Dia sudah mampus didalam hutan itu.."

"Apa ?" ceng-ciok Tojin seketika melotot “apa betul ?" tanyanya tersirap.

Liok Kiam-ping manggut-manggut, baru mulutnya terbuka, mendadak terdengar beberapa kali bentakan ditengah lapang disertai jeritan, lekas dia berpaling tampak beberapa Tosu roboh terkapar sehingga kepungan berlobang, lekas sekali ceng-san-blau-khek menerjang keluar dari lobang itu.

Ceng-san-biau-khek lari sipat kuping begitu mendapat peluang meloloskan diri, tak nyana begitu dia angkat kepala mendadak dilihatnya bayangan putih berkelebat, tahu-tahu Pat-pi-kim- liong sudah berdiri mcncegat didepannya, melihat betapa kereng dan garang sikapnya menyoreng pedang dengan tubuh berlepotan darah lagi, karuan kaget dan serasa terbang arwahnya, lekas dia putar tubuh lari kearah lain.

Dua kali lompat berjingkat Liok Kiam-ping sudah meluncur tiba di tanah lapang, dilihatnya ceng-san-biau-khek telah terkepung pula didalam barisan pedang para Tosu Bu-tong- pay. Kiam-ping enjot tubuh melejit empat tonbak dan meluncur turun dari tengah udara masuk kedalam barisan- Bentaknya: "Anak keparat, kau lari kemana kau?"

Ditengah udara dia melangkah dua tindak telapak tangan terayun, pedang bergerak mengikuti gaya badannya, telapak tangan kiri terus berputar me lontarkan jurus Liong-kiap-sin- gan bayangan telapak tangan bertaburan semua meluruk kearah ceng-san-biau-khek. Sementara itu ceng-ciok Tojin juga sudah memburu dekat, langsung dia menubruk sehingga lobang barisan segera dapat ditambal dengan mata mendelik merah dia membentak keras: "Bentuk Kiu-cu-lian-hoan-kiam-tin (barisan pedang berantai sembilan jago)"

Pedang melintang lurus didepan dada, kaki lantas menggeser kekanan serta berputar, makamulai dia menggerakkan barisan pedang. Melihat Liok Kiam-ping memburu tiba serta menyerang, lekas ceng-san-biau-khek menegakkan kedua tangan, beruntun diapun menggempur dengan kekuatan pukulannya, hawa seketika menjadi dingin hampir membuat seluruh hadirin bergidik kedinginan, keadaan menjadi seperti berada dilembah es yang berhawa dingin. sepasang telapak tangannya ternyata mengeluarkan uap putih yang merembes dengan suara mendesis sehingga hawa udara seperti bergolak. jelas dalam menghadapi mati hidup ceng- san-biau-khek telah melancarkan Hian-ping-ciang.

Liok Kiam-ping mendengus, tubuhnya lebih mendoyong turun selangkah, tenaga dia tambah dua bagian lagi. "Blang" dua angin kekuatan bertarung ditengah udara, terdengar seorang mengeluarkan suara dari teng gorokan seperti suara babi akan disembelih, tapi langkahnya tersurut lima tindak.

Suara siut-siut dari samberan pedang yang kemilau mulai terdengar disekitar arena ternyata barisan pedang telah mulai bergerak dua bilah pedang tajam tahu-tahu telah menyelonong masuk mengincar dua Hiat-to mematikan dipunggung Ceng-san-biau-khek yang mundur gentayangan, serangan kilat sasaran tepat dan telak.

Perlu diketahui setelah mengadu kekuatan dengan Liok Kiam-ping tempo hari Ceng-sanbiau-khek dipukul jatuh dan semaput, lukanya cukup parah karena isi perutnya tergetar luka, apa boleh buat demi menyembuhkan luka dalamnya dia meluruk ke Bu-tong-san mencuri Bik-lo-kim-tan, walau obat mujarab itu berhasil dicuri dan ditelannya, tapi karena sedikit kurang hati-hati, jejaknya konangan, apalagi sejak peristiwa yang terdahulu Bu-tong-san sekarang dijaga keras dan ketat, maka dia tidak mampu meloloskan diri dan terkepung didalam barisan pedang,

Padahal dua hari dia menyembunyikan diri diatas gunung, setelah yakin luka-lukanya agak sembuh, mumpung hari belum terang tanah pikirnya dia akan melarikan diri kebawah gunung, tak nyana jejaknya konangan oleh murid Bu-tong-pay dan sekarang terkurung didalam Kiu-cu-lian-hoan-tin-

Kini lagi-lagi dia beradu pukulan dahsyat dengan Liok Kiam- ping, saking keras goncangan yang timbul dari akibat pertarungan kekuatan mereka, mata seketika berkunang- kunang, hampir saja dia jatuh semaput lagi, untung pikirannya masih tetap jernih, lekas dia gigit lidah, rasa sakit membantu membangun semangatnya pula, terasa dua jalur pedang telah mengancam Hiat-to dipunggungnya pula. Sigap sekali dia menegakkan tubuh, berbareng pedangnya menyampuk kebelakang, baru saja dia berhasil mematahkan serangan sepasang pedang, tak nyana begitu barisan sudah bergerak. dua batang pedang lain tahu-tahu menyelonong pula dari bawah keatas menusuk kedua ketiaknya, tusukannya sama keras, tepat dan ganas pula, sehingga sukar dia mempertahankan diri atau menyingkir.

"Sret" ketiaknya tergores luka panjang. darah seketika bercucuran. Karuan ceng-san-biau-khek menjerit kalap seperti binatang buas yang ketaton dan panik, begitu membalik tubuh, beruntun dia lancarkan delapan jurus serangan pedang, seperti orang kalap mau mengadu jiwa saja dengan nekat dia menangkis semua pedang yang menusuknya dari berbagai arah. sementara barisan pedang berhasil didesaknya mundur dua kaki.

Giginya berkerutuk saking gusar dan gemas, tiba-tiba dia menoleh, sambil meraung keras langsung dia merangsak kepada Liok Kiam-ping, pedang panjang terayun. menggaris keras, Dengan kalem Liok Kiamping angkat Liat-jit-kiam, ditengah dengus suaranya tubuhnya mengendak miring, dimana batang pedangnya berputar lalu melintir dengan sebuah lingkaran bundar, ujung pedangnya tiba-tiba menutuk ke Thian-tok-hiat di tenggorokan lawan-

Itulah jurus Jit-lun-jut-seng ilmu pedang yang dipelajarinya dari gagang pedang terik surya yang sekarang dipegangnya. Pedang lawan telah ditabasnya kutung, cahaya kemilau yang memancar dari batang pedang seterang sinar surya telah membuat silau mata lawan pula.

Seperti diketahui Ceng-san-biau-khek sendiri juga mahir jurus ini. dia tahu kearah mana ujung pedang lawan mengancam dirinya, tapi begitu mata sendiri tak bisa melihat dan tak mampu dibuka lagi, terpaksa sekuatnya dia menjejak kaki mencelat mundur kebelakang, berbareng sebelah tangannya menepuk kedepan melindungi tenggorok. tubuhnya masih terapung diudara, tahu-tahu telapak tangannya sudah tertusuk tembus oleh pedang Liok Kiam-ping, tenaga tusukan lawan masih menyelonong maju tetap mengenai Thian-toh- hiat dilehernya.

Darah segar tampak menyemprot, sebelum sempat bersuara, jiwa lantas melayang seketika. tapi sebelum tubuhnya jatuh menyentuh tanah, kedua batang pedang telah menyambar bersilang. karuan batok kepalanya terpapas pecah dan separo meninggalkan badan,

Kejadian teramat cepat, hanya sekilas saja, begitu darah muncrat ke mana-mana, bayangan pedang yang bertaburan itu masih terus menyambar, Liok Kiam-ping merasakan bahwa ruang lingkup barisan pedang ini makin menciut.

Hakikatnya Kiam-ping tidak sempat menggunakan otaknya, Liat-jit-kiam segera dimainkan lebih kencang lagi melancarkan jurus kedua, Liat-jit-yam-yam, tabir cahaya benderang seketika membungkus tubuhnya, disertai dering benturan benda keras yang ramai, pedang panjang beberapa Tojin telah ditabasnya kutung menjadi dua. Bola besar bercahaya terang sang surya tiba-tiba terbit dari puteran pedang panjang ditangan Liok Kiam-ping, sudah tentu mata mereka silau dan tak bisa lagi, serempak mereka menyurut mundur dengan perasaan ngeri, tapi cahaya pedang sudah mengancam dada mereka.

Ujung pedang Liok Kiam-ping sudah mengancam Bit-kian- hiat, hiat-to mematikan didepan dada, tapi dilihatnya wajah banyak orang begitu ngeri dan kaget, semua memejam mata. Walau para Tojin itu tak leluasa membuka matanya karena pancaran cahaya terang yang luar biasa, kelihatan sikap mereka sama sengaja memejam mata menunggu kematian-

Perasaan hambar dan kosong mendadak merangsang sanubarinya, jiwa besar, hati bajik yang terpendam didalam lubuk batinya tiba-tiba bersemi memperlihatkan pengaruh nya.

Mendadak dia bersiul panjang tubuhnya, melambung empat tombak tingginya meluncur kebawah gunung, kebetulan menyongsong Kim-gin-hu-hoat yang sedang melayang naik kemari. Tiga bayangan orang dalam sekejap telah lenyap dibelakang batu karang.

Para Tosu diatas gunung seperti baru sadar dari mimpi, rambut mereka semrawut, waktu meraba batok kelapa, bagian tengahnya ternyata sudah gundul kelimis. Ditanah bersalju berserakan untaian rambut mereka. Maka pekik kaget keluar dari mulut mereka, paduan pekik bergema diatas gunung.

Liok Kiam-ping lari berlompatan dilereng gunung, dibelakangnya Kim-gin-hu-hoat berlari pula dengan kencang. Kim-ji-tay-beng tertawa gelak-gelak. katanya: "ciangbun, beberapa jurus pedangmu sungguh menyenangkan, kalau aku yang melakukan, para hidung kerbau itu pasti tidak kuampuni semua."

Gin-ji-tay-beng juga berkata: "Bila ciangbun melancarkan Liat-jit-kiam-hoat yang dapat melawan kehebatanya kurasa terlalu sedikit. Tapi kuanggap kau terlalu welas asih, Liok-toa- thian-cu yang menguasai dunia, siapa tidak berlaku keji, korban ditangan mereka tak terhitung banyaknya, bila Ciangbun ingin menuntut balas bagi kematian Ciangbun kita yang dahulu, maka tidak usah kau menaruh kasihan terhadap musuh."

Liok Kiam-ping berkata: ”Jadi Tok-sin, Ham-sim-leng-mo, Hwe-hun-cun-cia, Go-hucu, Khong-tong-Koay-kiam dan Lo-hu- sinkun diagulkan sebagai Liok-toa-thian-cu (enam saka penunjang langit)?"

”Berarti tokoh silat tertinggi sepuluh tahun yang lalu memang mereka, jikalau Ciangbun ingin diagulkan sebagai tokoh kosen nomor wahid diseluruh jagat, menurut pendapatku kau perlu menggembleng diri dalam percaturan dunia persilatan- Maklumlah untuk mencapai cita-cita harus menghalalkan segala cara, untuk ini Ciangbun perlu lebih perhatian-"

"Untuk mencapai cita-cita harus berani menghalalkan segala cara" beberapa patah kata ini bergema direlung hati Liok Kiamping, batinnya: “Apakah betul? Menghalalkan segala cara demi mencapai cita-cita ?"

Gin-ji-tay beng berkata pula: "Kalau kau bijaksana terhadap orang, orangpun akan membalas dengan tindakan bijaksana. Walau kau beranggapan tidak patut menggunakan cara Licik kepada musuh, tapi musuh tetap akan berbuat jahat terhadapmu. Begitulah nasib yang telah menimpah ciangbun kita yang dahulu hingga menemui ajalnya."

Benak Liok Kiam-ping terus mengunyah beberapa patah tadi, terkenang olehnya pada waktu dirinya masih berada di Kui-hun-ceng, dengan sikap baik dan ramah dia selalu menghadapi orang, tapi nasib yang menimpanya justeru caci maki dan hantam pukul secara keji oleh Ti Thian-bin.. Pada  hal waktu itu dirinya masih seorang bocah ingusan yang tidak pandai main silat, tapi dirinya serlng mengalami pukulan dan tutukan hiat-to serta siksaan lain, betapa dirinya mengerang kesakitan sambil bergulingan ditanah becek yang berbatu. Akhirnya dia mengepal tinju, desisnya penuh dendam: "Betul, demi mencapai tujuan, cara apapun boleh dihalalkan.”

Karena jalan pikiran yang sedikit menyeleweng ini, tak terhitung orang-orang jahat didunia ini yang mampus ditangannya oleh ketiga batang pedang sakti itu, namanya menjulang dan menggetarkan dunia, namun bencana di Tionggoan pun mulai bersemi, hal ini baiklah kita kisahkan dibagian belakang.

---ooo0dw0ooo---

Cepat sekali langkah mereka, sekejap mata mereka sudah melampaui beberapa bukit dan tibalah mereka didepan Te-sat- kok.

Sebuah ngarai seperti pintu angin saja menjulang tegak. diatas batang ngarai itulah berukir tiga huruf besar berbunyi "TE SAT KOK", disebelah bawah kirl terdapat pula sebarls ukiran huruf lebih kecil yang berbunyi “berhenti sampai disini”

Memandang ukiran huruf itu Gin-ji-tay-beng terkekeh dingin, katanya: “Dari mana nenek peyot itu mengambil peraturan busuk ini, limapuluh tahun yang lalu aku juga pernah kemarl karena keki aku hendak menghapus ukiran huruf itu, tak tahunya aku dipersen dua tamparan dlkanan kiri pipiku. Lima tahun kemudian aku pulang dari Thian-tok, Gin- sa-ciang sudah berhasil kuyakinkan, sungguh tak nyana tahu- tahu dia sudah berobah menjadi kekasih ciangbun kita yang sudah almarhum, akhirnya ketiga batang pedang sakti itupun diserahkan kepadanya. Tahun itu ciangbun dicelakai oleh Tok- sin yang berkomplot dengan gembong gembong iblis lain, aku kemarl mencarinya tidak ketemu hingga aku berputar kayun ditengah batu...” Jelas bagi Liok Kiam-ping bahwa orang ternyata belum tahu bahwa Tokko cu yang tulen sudah mati, dan penghuni Te-sat- kok yang sekarang adalah gadis jelita. Terlngat kepada gadis molek itu seketika terbayang wajah nan sayu dan pucat, namun senyumnya semekar bunga. Bahwa segera juga dia akan berhadapan dengan dia, jantungnya mendadak berdegup keras. Tak nyana kupingnya mendadak mendengar pekik aneh Kim-ji-tay-beng.

Menuding kearah dinding gunung yang menjulang disebelah kanan Kim-ji-tay-beng berkata: “ciangbun, kau lihat apa itu ?"

Liok Kiam-ping memandang kearah yang dituding, tampak sebuah laba-laba sebesar telapak tangan dengan kulit kembang ceplok-ceplok sedang merayap diatas dinding, tidak jauh dibawah laba-laba menempel pula sebuah topeng tembaga hijau dengan taring panjang yang menjijikkan, sebatang pedang bengkok berbentuk mirip ular mendampingi laba-laba kembang itu, ujung pedang tegak diatas, gagangnya dibawah, diujung pedang yang runcing terdapat gantolan yang berkembang kekanan kiri mengeluarkan cahaya perak gemeredep. Sekilas dia melongo, tanyanya: "Ada apa sih ?"

Kim-ji-tay-beng seperti bicara sendiri

"Tak nyana mereka pun berada disini," melihat Liok Kiam- ping menatap dengan penuh tanda tanya, tersipu-sipu dia menjawab:

"Ciangbun, maksudmu siapa yang meninggalkan tanda- tanda itu ? Tok-sin-kiong-bing, Lo-hu-sin-kun, Khong-tong- koay-kiam, semua itu adalah tanda perintah mereka pada enam puluh tahun yang lalu, dimana tanda itu muncul berarti mereka sudah mencampuri persoalannya, siapapun dilarang turut campur.."

”Jadi mereka sudah masuk ke Te-sat-kok hendak mencari pedang pusaka? Lekas masuk” Liok Kiam-ping bersuara kaget. "Ciangbun tak usah tergesa, ketiga kurcaci yang muncul di sini bukan Sam-toa thiancu yang malang melintang enam puluh tahun yang lalu. mungkin hanya murid didik mereka. coba lihat laba-laba itu seluruhnya berkembang ceplok-ceplok, tapi diatas kepala nya tidak kelihatan ada huruf "ong" (raja), dulu setiap menggunakan perlntah nya, Tok-sin-kun mengukir huruf "ong" itu diatas kepala laba-labanya yang dinamakan Sin-ci-ling. melambangkan bahwa dia rajanya atau moyangnya setiap racun di dunia ini.

"Topeng setan tembaga hijau itu bagian tengahnya juga tidak terdapat mata bundar, biasanya Lo-hou-ling milik Lo-hu- sin-kun punya tiga mata, tapi topeng ini hanya ada dua mata." setelah merandek lalu menyambung, “Tentang Khong-tong- koay kiam yang berbentuk ular itu, ujung pedangnya yang bercabang itu disepuh emas kuning, jadi bukan perak. maka ini pertanda bukan dia sendiri yang datang kemari. Beberapa angkatan muda mereka ini kurasa tidak perlu dibuat takut. Lo- toa, dulu -kau pernah digebuk oleh cakar setan Lo-hu-sin-kun, memangnya nyalimu sudah pecah."

Kim-ji-tay-beng tertawa, katanya: "Memang aku ingin kau putar lidah, memangnya aku tidak kenal tanda-tanda itu ? ciangbun, kita masuk tidak ?"

"Tentu harus masuk, hayo." ajak Liok Kiam-ping. Lalu mendahului melesat kedalam.

Kim-gin-hu-hoat saling pandang sekejap Kim-ji-tay-heng bertanya: "Apakah perlu kita menggunakan Thian-te-ci-kio (jembatan bumi dan langit) ?”

Gin-ji-tay-beng mengangguk seraya ulur tangan kanan telapak tangan menekan pundak sang kakak demikian pula Kim-ji-tay-beng ulur tangan kiri menekan pundak adiknya. Kedua orang saling pegang pundak lalu bergerak serempak melompat terbang ke dalam lembah.

---ooo0dw0ooo--- Di dalam Te-sat-kok.

Pecahan batu berserakan ditanah, begitu melompat masuk Liok Kiam-ping lantas melihat keadaan yang ganjil ini. Pikirnya:

“Oooh.jadi secara kekerasan mereka menghancurkan barlsan batu-batu, bukankah mereka harus membuang banyak waktu dan tenaga ? Entah dia sudah pulang atau belum ?"

Mengikuti jejak kaki dia terus berlompatan masuk kedalam, hampir menggunakan seluruh kekuatannya, maka tubuhnya meluncur bagai selarlk sinar putih lenyap dibalik tumpukan salju.

Pertama kali datang dulu Kiam-ping dalam keadaan luka parah, bila Tokko cu tidak menuntunnya keluar dengan irama seruling jelas dia bisa mati terkurung dalam barlsan barlsan batu. Sekarang barlsan batu sudah porakporanda, pecahan batu berserakan ditanah saiju. Beberapa tombak kemudian, waktu dia berpaling, dilihatnya Kim-gin-hu-hoat sedang mengejar datang dengan saling memegang pundak. katanya dengan tertawa: "Apa yang sedang kalian lakukan ini ? "

Kim-ji-tay-beng menjelaskan: "Diantara Kungfu yang pernah kami yakinkan ada sejenis ilmu yang dapat menyalurkan tenaga sendiri ketubuh orang lain, sekarang untuk menghadapi musuh kuat, maka kami menggunakan Thian-te-ci-kio.”

Liok Kiam-ping hanya angkat pundak. tanpa bicara lagi dia meneruskan perjalanan kedalam Te-sat-kok terletak diperut gunung, luas dan besar, empat penjuru dipagari dinding ngarai, mega putih tampak memotong puncak ngarai yang terjal hingga sinar mataharl tidak kelihatan. Deru angin dingin menghembus kencang dari dasar lembah, gema suara keras seperti gunung ambrol diterjang angin badai terdengar didepan, disusul gelak tawa latah yang berkumandang. Liok Kiam-ping menggerung perlahan, tubuhnya meluncur seperti meteor mengejar rembulan, setiap kali lompatan lima tombak dijangkaunya, tampak bayangan putih berkelebat lantas lenyap dari pandangan mata biasa, Setelah memutar beberapa kali, lantas didengarnya sebuah suara kasar berat berkata: "Lim-heng, sekarang giliranmu, aku mau istirahat sejenak. Maknya, siapa nyana lembah ini ada permainan anak- anak yang menyulitkanjuga. Kalau tahu begini sepantasnya aku pinjam Lui-hwe-pit-le dari ong-hun-jit-sian  Leng-heng, biar lembah ini kuledakkan hancur lebur."

Lenyap suara yang ini disusul suara dingin: “Siang-heng, mungkin kau tak berpikir bila kau meminjam Lui-hwe-pit-le kepunyaan Leng-heng, malah kami bisa turun kedasar lembah mengambil ketiga pedang sakti itu? Apakah telah kau bayangkan bila seluruh lembah ini teruruk batu-batu gunung, jangan kata mau mencari pedang, jiwa sendiri juga pasti melayang, Hehehe,pada hal aku Ngo-tok-koay-mo untuk mendapatkan ketiga batang pedang mestika ini sudah jauh lari ke Tiang-pek san menangkap seekor mahluk aneh, asal kita berhasil menghancurkan barisan batu ini, aku punya akal untuk menemukan tempat penyimpan ketiga batang pedang mestika itu."

Baru dia bicara habis sebuah suara lagi berkata sinis: "Kedengarannya mudah dilaksanakan kalau mendengar ucapan Lim heng, pada hal Tokko cu si nenek tua itu berwatak aneh dan eksentrik, Lwekangnya juga teramat tangguh, jikalau tidak mampu melawan ceng-hun-cap-ji-siau (dua belas seruling mega hijau), kita akan berputar kayun di sini sampai mampus sendiri. Khusus untuk tugas kedatanganku kemari kali ini guruku Khong-tong-koay-kiam ada mengajarkan aku serangkaian ilmu pedang dan satu cara, asal kita bertiga bisa bersatu padu, yakin kuat untuk bertanding Lwekang dengan nenek tua itu, malah aku yakin dia bukan tandingan kita." Suara kasar serak semula berkata pula: "Aku Ki-leng-sin Siang Wi, pasti tidak sama dengan kalian- tiga mengeroyok satu, bicara terus terang bila bukan lantaran Siau-moay merengek minta sebilah pedang, aku juga tidak sudi datang kemari...

Belum habis dia bicara Ngo-tok-koay-mo menjengek dingin: "Maksud Siang heng, bahwa maksud tujuanku dengan Beng- heng memalukan?"

”Hanya kau seorang yang patut disebut Kuncu ? Kenapa tidak kau pikir, bila kita tidak mampu mengurung nenek itu, makhluk aneh milikku mana dapat menemukan ketiga pedang itu? Demikian pula gurumu Lo-hu-sin-kun juga pasti akan marah kepadamu ? Maka kuharap Siang-heng berpikir lagi sebelum mengambil keputusan..."

Ki-leng-sin Siang Wi mungkin berpikir tak perlu dia mengambil sikap bertolak belakang dari keinginan teman- teman lain, maka dia berkata: "Baiklah, anggap aku yang salah, aku minta maaf kepada kalian-Beng-heng silahkan kau jelaskan akalmu itu ?"

Sekarang Liok Kiam-ping baru jelas asal usul tiga orang di dalam lembah, mendengar nama julukan Ang-hun-jit-sian, segera dia teringat kepada pengemis cilik, seiring dengan jalan pikirannya diapun membayangkan sorot mata Tokko cu yang sendu, badannya yang kurus lemah... Pikirnya: "Aku akan membuatnya hidup bahagia. Dara remaja seusianya kenapa harus mengasingkan diri di atas pegunungan ? Hingga sang waktu yang serba sepi dan tawar, disini menggeragoti masa remajanya yang punya harapan cerah dihari depan ?" Dadanya sesak oleh keberanian, Tokko cu yang hidup sengsara dan kesepian seperti berada dihadapannya, maka dia membusung dada beranjak kedepan-

Sekonyong konyong alunan irama seruling bergema didasar lembah, seringan daun melayang, mengalun diudara dingin dalam lembah. Ki-ling-sin Siang Wi segera pentang bacot dengan suara serak: "Hai, keparat siapa didalam dan meniup kentut apa Jelek sekali, aku si gede tidak suka dengar..." suaranya bagai guntur, dalam lembah bergema suaranya yang kasar, tapi irama seruling tetap mengalun lembut dan jelas.

Alunan lembut irama seruling itu menampilkan perasaan seorang gadis merana yang dirundung duka, perasaan Liok Kiam-ping amat terketuk oleh makna irama seruling itu, seolah-olah dia sudah mengantar sukmanya kedalam irama seruling itu, ingin dia menggabung dua perasaan yang dimabuk cinta meresapi rasa rindu selama ini. Dalam hati dia berkata: "Tokko cu, hidup dalam pengasingan sebatangkara, pada hal jiwanya harum semerbak." dikala Liok Kiam-ping terbuai oleh rasa kesedihan yang tidak terbendung. sayup,sayup seperti didengarnya isak tangis Tokko cu yang menyedihkan, hatinya seperti disayat-sayat, mendadak dia menggerung gusar terus melompat terbang kedepan seraya berterlak: "Nona, aku telah tiba, Liok Kiam-ping telah datang."

Gerakannya secepat kilat, mendadak pandangan terasa kabur, “cret” selarik angin pedang dengan serangan keji telah meluncur tiba mengancam Khi-hu, coat-bin Yu-bun dan Thiong-kok empat Hiat-to. Kiam-ping menghardik sekali, serempak kedua tangannya. bersilang langkahnya pun berhenti seketika seperti terpaku ditanah. Tubuh bagian atas sedikit doyong "Wut" kontan dia memukul sekali menimbulkan gelombang angin keras mematahkan serangan pedang lawan.

Ditengah jengekan lawan, tahu-tahu sinar pedang berkelebat, membundar setengah lingkar terus mengiris maju dari samping yang diincar adalah King-bun, go-siok dan Li- siaut iga Hiat-to besar, tipunya aneh serangan ganas luar biasa.

Kiam-ping menarlk napas mendekuk dada, badannya melambung mundur tiga kaki, di mana dia gerakkan kedua tangannya, kontan dia lontarkan jurus Liong-kiap-sin-gan. Ditengah taburan telapak tangan menerbitkan deru badai yang memutar sehingga napas sesak. gerakanpedang lawanpun sampai mendengung dan tertahan diluar kalangan- Beruntun kakinya maju beberapa langkah.

Dalam sekejap dia menyerang delapan belas jurus pukulan hingga lawan didesaknya beberapa tombak kebelakang.

Sedikit gerakan tangannya mengendor, lantas dia mendengar pekik aneh yang melengking didepannya, ternyata seekor laba-laba hitam yang besar sekali dengan membawa sejalur gelagasi besar putih mengkilap meluncur turun dari udara menubruk dirinya.

Sambil menggeram Kiam-ping membalik telapak tangan menepuk segumpal angin menyongsong laba-laba hitam. Sementara kakinya dengan tangkas menyurut mundur enam kaki, kedua matanya memperhatikan musuh- karena terdampar angin pukulan, laba-laba hitam beracun itu mengeluarkan suara aneh pula, ditengah udara jungkir balik dua kali lalu jatuh ditanah.

Sebuah suara dingin berkata: "Siapa berani melukai laba- laba hitamku? Hm, kau bocah ini memangnya sudah bosan hidup?"

Tampak oleh Kiam-ping didepannya berdiri tiga orang, yang ditengah memegang sebilah pedang bengkak- bengkok mirlp ular, ujungnya bercabang seperti lidah ular, dengan pandangan gusar mereka melotot kepadanya.

Lelaki muda yang berdiri disebelah kanan bermuka culas dan gelap. mulutnya seperti ketarlk kebawah dagu, tangannya memegang sebatang bumbung bambu, benang laba-laba yang putih mengkilap itu ternyata menjulur keluar dari bumbung bambu itu, tahulah Kiamping bahwa orang pasti yang bernama julukan Ngo-tok koay-mo (iblis aneh panca racun).

Dengan dingin dia mengalihkan pandangannya ke lelaki yang berdiri disebelah kiri, diam-diam dia terkejut, ternyata lelaki ini berperawakan delapan kaki tingginya, pinggangnya lebar pundaknva besar, kepalanya sebesar kerbau, kedua pahanya sebesar batang pohon, telapak tangannya yang terbuka selebar kipas dengan jari jemarl sebesar pisang, seluruh perawakannya mirip raksasa.

Ki-ling-sin si raksasa malaikat sedang memegang pentung panjang warna kelabu, katanya dengan tertawa kepada Liok Kiam-ping: "Hahahaha. Kenapa kau bocah ini ikut nangis sesedih ini, apa kau belum minum susu ?"

Baru sekarang Kiam-ping terlngat barusan dia menangis dan belum sempat mengusap air mata, tapi diapun melihat diujung mata si gede juga bergantung dua butir air mata yang belum sempat diteteskan, karuan dia tertawa geli, katanya: "Kau sigede kecil ini kenapa juga berlinang air mata ? Apa kau juga belum minum susu ?"

Ki-ling-sin tersipu-sipu, lekas dia membersihkan mukanya, katanya bergelak tawa:

"Bocah cilik, apa kaupun hendak cari pedang mestika ? Sayang disini sudah ada tiga orang, sebetulnya aku juga senang melihatmu, kuberi sebatang juga tidak menjadi soal, tapi..."

Belum habis dia bicara lelaki yang memegang pedang aneh sudah menukas: "Buat apa Beng-heng banyak bicara dengan dia. Sekali pentung kepruk pecah saja kepalanya."

Ki-ling-sin geleng kepala malah, katanya: "Guruku suruh aku memanggil kalian Wi-heng (saudara sekerabat), tapi tidak menyuruh aku tunduk kepadamu bocah cilik ini aku  melihatnya suka, aku tidak akan mengemplang dia..”

Ngo-tok-koay-mo mendengus: “Siapa kau bocah keparat ini?, memangnya kau tidak melihat tanda kebesaran kami dimulut lembah ?" Melihat tampangnya yang jelek dan culas, hati Kiam-ping sudah sebal, kini makin kaku sikapnya: "Kau bedebah ini siapa? Kematian didepan mata masih membual ?”

orang she Beng tertawa aneh, katanya menyindir: "He, mendengar obrolanmu ini, seolah-olah kau ini seorang cianpwe di Bulim yang sudah terkenal saja, sayang belum pernah kudengar ada tokoh lihay mirlp tampangmu ini.” setelah melirik hina lalu menambahkan, “Kukira lebih baik kau pulang saja masuk kedalam pelukan ibu gurumu."

Belum habis dia bicara sebuah suara serak sadis berkata: "Anak muda yang tidak tahu diri, memangnya matamu picak terhadap ciangbunjin Hong-lui-bun yang bergelar Pat-pi-kim- liong Liok Kiam-ping juga tidak kenal. Bola mata kalian memang patut dikorek keluar untuk umpan anjing saja."

Dengan kaget Beng Hing menoleh ke sana, dilihatnya dua lelaki berambut uban dengan tangan bergandeng tangan tengah berlompat terbang mendatangi, melihat telapak tangan mereka yang kuning dan putih itu seketika berobah air mukanya serunya: "Kim-gin-hu-hoat, jadi kau ini adalah ciangbunjin Hong-lui-bun ?”

"Bocah keparat tidak bernama macam diriku mana berani terlma,"

Liok Kiam-ping terbahak-bahak. "kalian memang asing mendengar nama julukan Pat-pi-kim- liong, maka cayhe bermaksud bantu kalian supaya selalu teringat kebeneran Pat- pi-kim- liong." dengan muka masam dia menuding Ngo-tok- koay-mo, kau harus dibuntungi sebelah lengannya." dengan sikap kereng diapun menoleh kepada Beng Hing, kau juga harus diprotoli sebelah kupingmu." mengawasi Ki-ling-sin yang berdiri kebodoh-bodohan- Dia menghela napas lega. katanya: "Tentang kau, gede cilik, sungguh aku harus minta maaf, terpaksa kau harus pulang dan laporkan kepada gurumu bahwa pedang mestika sudah diambil oleh Pat-pi-kim-liong” Perlahan tangan Ngo-tok-koay-mo mengelus seekor kalajengking biru yang merambat dipucuk bumbungnya, katanya dengan terkekeh dingin: "Hong-lui-bun? ciang-kiam- kim-ling sudah mampus sejak lama setelah terkena racun tanpa bayangan perguruanku. Boleh dari mana pula kau menerobos keluar tahu-tahu menjadi ciangbun segala ?”

Kim-gin-hu-hoat menggertak gusar, serempak mereka melejit mumbul, Kim-gin-sa-ciang mengeluarkan deru badai membawa gulungan tenaga raksasa berpusar kedepan menimbulkan pergolakan hawa dahsyat.

Meluncur segesit belut kaki Ngo-tok-koay-mo menyurut mundur beberapa kaki, berbareng bumbung bambu ditangan kirl dia lempar keatas udara. dari dalam bumbung beterbangan tawon-tawon beracun ta lkterh b itung jumlahnya, maka suara yang membising telinga segera kumandang diudara. Mendadak Kim-ji-tay-bang berteriak:

“Tawon beracun dapat berbuat apa atas diriku, coba saksikan-" dimana tangan kanan bergerak, cahaya emas gemeredep. deru pukulannya ternyata juga lain dari yang lain, beruntun dia memukul delapan kali, pusaran angin pukulannya ternyata berhasil merontokkan tawon-tawon beracun.

Gin-ji-tay-beng bergolak tawa, kekuatan Gin-sa-ciang ternyata berbeda pula perbawanya, udara seperti dibungkus oleh halimun tebal, tampak setiap kali tinjunya bergerak keluar, tawon-tawon beracunpun berontokan tak terhitung jumlahnya.