Hong Lui Bun Jilid 03

Jilid 03

Semua ini seperti tidak dirasakan tapi ada seorang menyaksikan dengan jelas. Ternyata tak jauh dari tempat si pemuda, yaitu diatas gunung-gunungan, pada batu yang menyeruak kedepan, duduk seorang berpakaian jubah hitam, anehnya bukan saja jubahnya bitam, kepala nyapun  dibungkus kain hitam, sampaipun cadar yang menutupi muka juga hitam, jadi orang ini laki, perempuan, tua atau muda tidak jelas. Jadi serba hitam, tapi ada sedikit keistimewaannya, yaitu dia sedang memegang sebatang seruling panjang yang ditiup didepan mulutnya, tapi seruling panjang ini bukan warna hitam lagi, melainkan sebatang seruling pualam warna putih. Bunyi seruling terus berganti nada seiring jari-jari tangannya yang bergerak turun naik, demikian pula  perobahan rona muka si pemuda berganti berulang kali. Mengawasi pemuda yang mukanya berlepotan darah dengan lengan terluka pula, betapa tersiksa keadaannya sekarang, diam-diam orang hitam itu menggerakkan tubuhnya, wajah yang terlindung dibelakang cadar hitam itu kelihatannyapun berdenyut.

Diam-diam dia merasa sayang dan kasihan terhadap anak muda ini, dia tidak tahu, kenapa pemuda yang berwajah cakap ini ternyata memiliki hati yang kotor dan tamak, agaknya dia sudah melihat kecakapan wajah pemuda ini, meski selebar mukanya berlepotan darah.

Tidak bisa disangkal lagi bahwa kedatangan pemuda ini ke Te-sat-kok pasti bertujuan sama dengan orang-orang terdahulu yang menyelundup ke lembah ini, karena seratusan tahun ini, sudah muncul ratusan orang. entah seorang diri, atau berombongan mereka punya maksud tujuan sama, tanpa perhatikan peringatan berani masuk kemari, tapi tiada seorangpun yang bisa keluar pula sesuai harapan mereka. Kalau bukan terkurung mati karena tersesat dalam barisan batu pasti jadi gila karena kehilangan pikiran waras oleh permainan serulingnya. Pendek kata orang-orang ini tidak perlu diberi belas kasihan, karena mereka yang datang kemari punya hati yang kotor, tamak dan loba, hina dan mungkin, juga rendah budi.

Dari balik cadarnya dengan jelas dia saksikan pemuda itu sudah terlukai roboh, kedua tangan sedang merenggut pakaiannya, wajahnya yang kotor berlepotan darah tampak merah padam, makin lama berobah menampilkan suatu ekspresi yang aneh, seolah-olah amat menderita, tapijuga seolah-olah...

Wajah yang terlindung dibalik cadar kelihatannya berdenyut pula, bergetar karena menahan suatu perasaan gejolak hati. Mendadak pemuda itu menggelepar beberapa kali seperti ayam yang telah digorok lehernya, aneh bin ajaib, tiba-tiba tubuhnya malah kuat berduduk pula.

Saking kagetnya tiba-tiba orang berjubah hitam itu menyadari tanpa disadari tiupan serulingnya telah berhenti, seruling tergenggam kencang ditangannya, sungguh dia tidak habis mengerti kenapa hatinya yang selama ini tenang tentram sekarang berobah, tak tega turun tangan meski melihat orang ini berani melanggar larangan memasuki Te-sat- kok. Entah mengapa tiba-tiba dia menghela napas dan bergerak berdiri.

Pemuda berlepotan darah itu kini sudah bersimpuh dan mulai bersamadi. pemuda inipun tidak habis herannya, kenapa setelah mendengar irama seruling tadi, jantungnya bisa bergejolak. hawa panas yang memang bersemayan ditubuhnya seperti dibakar makin meninggi saja suhunya sehinggga menimbulkan goncangan hebat, tubuhnya seperti luluh dan tergembleng hebat.

Dia amat benci, benci terhadap peniup seruling yang menambah siksa deritanya, entah itu derita lahir maupun batin. Mendadak dia membuka mata, seketika dia berjingkrak berdiri, karena lima langkah di depannya, entah sejak kapan telah berdiri seorang jubah hitam bercadar hitam memegang sebatang seruling pualam. Melihat seruling pualam itu, seketika dia paham bahwa orang inilah yang telah mempermainkan dirinya, kontan berkobar amarahnya, mundur setapak mulutnya sudah siap melontarkan perkataan-

Tapi reaksi orang hitam itu lebih cepat, sebelum dia melihat jelas cara bagaimana orang bergerak. bayangan orang sudah mencelat dekat didepan matanya, dari balik cadarnya mendesis keluar pertanyaan dingin: "Siapa kau?"

Suaranya lebih dingin dari es, tidak membawa bau kehidupan, sepertijuga pakaian hitamnya terasa seram dan membuat orang mengkirik. Tegak alis si pemuda, kedua matanya mencorong, setelah menggerung, dia maju selangkah dan balas bertanya, "Siapa kau?"

Orang hitam melengak, agaknya dia tidak kira orang bakal balas bertanya kepada dirinya, namun lekas sekali dia sudah mendengus serta mengayun lengan baju nya, segulung angin menyambar ke arah si pemuda.

Pemuda itu menggeram rendah sambil merangkap kedua telapak tangan terus di tepuk kedepan-

"Pyaaar" dua kekuatan pukulan bertumbuk di udara menimbulkan goncangan keras, batu-batu seperti disapu lesus porak poranda dahan kering rontok daon-daon melayang.

"Tahan-' Ditengah bentakan merdu, bayangan hitam tampak melayang, tapi pemuda itu tergentak mundur beberapa langkah, darah menyembur sejadi-jadinya.

---ooo0dw0ooo---

Malam nan dingin, semakin larut, suasana hening lelap. hanya deru angin saja yang menghuni may apa daini. Bulan sabit memancarkan secercah cahayanya yang guram.

Diatas batu yang menonjol, duduk tegak seorang berbaju hitam. Ditengah kepekatan tabir malam ini tubuh orang hitam itu seperti mengandung bau magis. Lama dia duduk dalam gaya yang sama, kedua matanya menatap rembulan yang bercokol diangkasa.

Wajahnya yang setengah tertutup cadar kelihatan begitu mulus, lembut namun juga kelihatan sinis, kaku dan dingin tak ubahnya bulan sabit yang berada diangkasa itu. Tiba-tiba dia menghela napas panjang, seperti desis angin didalam lembah salju yang dingin Tiba-tiba bayangan hitam bergerak tanpa mengeluarkan suara melayang turun ditanah, lalu dengan langkah lembut beranjak kedalam tumpukan batu-batu yang gelap. Tiba di ujung tumpukan batu di depan menghadang sebuah ngarai, di sini bayangan hitam itu berhenti, kembali dia menghela napas rawan tangan merogoh saku mengeluarkan sapu tangan hitam. kembali dia bergerak melompat turun keatas sebuah batu besar di samping ngarai, dibelakang batu terdapat sebuah gua batu yang gelap gulita.

Lekas sekali bayangan hitam itu sudah berada didalam gua gelap itu, hembusan angin menyongsong kedatangannya hingga jubah hitam yang dipakainya berderai.

"Tik, tik. tik... " Suara air bergema didalam ruang batu seluas tiga tombak persegi tiada pajangan tiada perabot lain kecuali sebuah dipan terbuat dari batu putih, diatas dipan itu rebah celentang seorang pemuda dengan mata terpejam, wajahnya kelihatan pucat sekali. Tetesan air terus berbunyi dalam irama tetap dan dalam tempo yang sama, sang waktu terasa berlalu dalam keheningan kecuali pertanda titikan air yang kedengarannya makin membeku dalam kamar batu nan dingin ini.

Entah berapa lamanya, rasanya sudah lama, tapijuga hanya sekejap -saja, akhirnya pemuda itu mulai membuka mata. sejenak pandangannya lengang, tiba-tiba pula bola mata itu mengerling lalu berputar, akhirnya pandangan membulat seperti melihat sesuatu yang dingin-

Ternyata diatas langit-langit kamar batu ini dipasang sebutir mutiara bulat sebesar bola pingpong, mutiara ini memancarkan cahayanya yang temaram, remang-remang redup dan nyaman, tapi seluruh ruangan tampak jelas keadaannya.

Dari sinar mutiara, yang remang-remang ini Ping-ji meneliti keadaan kamar ini, akhirnya dia tertegun, karena kamar ini tiada pajangan atau perabot lain, kecuali dipan dimana dirinya tidur, kalau dia sendiri tidak hadir dalam kamar ini, dia mau percaya dan curiga bahwa kamar ini pernah dihuni manusia.

Sebetulnya dikatakan tiada pajangan juga tidak benar, karena kamar batu ini sebetulnya sudah mengidap berbagai pemandangan yang bercorak ragam amat indah dan aneh. Ternyata seluas langit kamar batu ini bergantungan berbagai bentuk stalaknit yang menakjubkan, seperti liur naga yang bergelantungan, ada yang runcing bulat, ada yang bundar telor dan masih banyak lagi yang sambung menyambung hingga menyentuh tanah menyerupai tonggak.

Ping-ji tidak tahu ditempat apa dirinya berada, diapun bingung kenapa dirinya bisa berada ditempat ini. Samar-samar dia masih ingat setelah dia adu pukulan dengan ciangbunjin Bu-tong-pay, dalam keadaan luka parah dia meninggalkan gunung itu, diluar sadarnya dia kesasar masuk selat berbatu- batu karena merasa dongkol akan tulisan peringatan yang diukir diatas batu, maka dia nekat menerjang masuk lebih jauh dan tiba disebuah taman kembang, seolah-olah dirinya berada di taman firdaus yang semerbak.

Di sana dia melihat gardu antik tetumbuhan serta bunga bunga yang belum pernah dia lihat seumur hidup, seperti di alam dewata layaknya. lebih menarik lagi bahwa di lembah itu tiada jejak manusia, namun segala sesuatunya teratur rapi. Dikala dia tenggelam dalam rasa keheranan, tiba-tiba irama seruling itu menggelitik sanubarinya pula hingga dia tak kuasa mengendalikan perasaan dan akhirnya bergulat dan menggelepar seperti cacing kekeringan, begitu bunyi seruling itu terhenti, diapun sadar kembali. Lekas dia duduk bersimpuh dan siap bermeditasi, tapi tiba-tiba dilihatnya seorang baju bitam cadar hitam berdiri didepannya, hanya beberapa patah percakapan dia lantas melontarkan Liong-kiap-sin-gan dari ajaran wi-liong-ciang menyerang orang. Tapi terasa juga olehnya pukulan si orang hitam ternyata keras dan tajam, ternyata tidak kalah dahsyat dari Wi-liong-ciang yang dia lancarkan-

Ingin dia mundur. tapi tenaga sudah tidak mengizinkan, belum dua pukulan beradu kekuatan dia merasa seluruh darah tubuhnya bertolak belakang, tanpa kuasa dia menyemburkan darah pula.

Mengawasi bentak batu-batu aneh di langit-langit kamar, Ping-ji melamun menelusuri pengalamannya, tapi benaknya ternyata hambar dan kosong, sekosong kamar batu ini.

Tiba-tiba dia merasa sekujur badannya dingin dia menggigil sampai giginya berkerutuk. hawa dingin itu masih terus merembes ketubuhnya dari bawah badannya, dengan kaget segera dia meraba kebawah. Seketika mulutnya yang terbuka megap-megap tak mampu mengeluarkan suara, ternyata tangannya meraba ditempat yang dingin seperti es, baru sekarang dia sadar bahwa dirinya tidur diatas batu berbentuk dipan yang dingin.

Serta merta dia menarik napas menyalurkan hawa murni, terasa perasaannya nyaman dan segar, seolah-olah dia tak terluka apa-apa, hawa panas yang menggejolak dirongga dadanyapun telah lenyap. sebaliknya hawa hangat yang lunak masih mengalir pelan-pelan didalam tubuhnya.

Saking girang bergegas dia duduk. diwaktu pandangannya menyapu keadaan sekelilingnya, seketika dia melenggong. Ternyata lima kaki disebelahnya terdapat sebuah tonggak batu yang putus setinggi lima kaki, di atas batu itulah duduk tegak seorang baju hitam.

Orang hitam ini mengenakan cadar hitampula, tangannya memegang seruling pualam panjang tiga kaki, duduk tak bergerak. dua sorot matanya tampak bercahaya dari balik cadarnya, jelas terasa bahwa bola mata yang menyala ini tengah menatap dirinya. Hanya sekejap Ping-ji berpikir, dia maklum bahwa orang ini adalah lawan yang saling gempur sejurus pukulan dengan dirinya namun dia tidak mengerti di mana sekarang dirinya berada, setelah bimbang sejenak akhirnya dia berdiri maju selangkah.

Sebelum dia buka suara orang hitam itu sudah menegur dingin: "Siapa namamu ?"

Mengerut alis Ping-ji, batinnya: " Kenapa sikap orang ini kaku dingin, bicarapun seperti tidak punya perasaan-" Tapi kejap lain kembali dia melongo, karena sebetulnya dia tidak bisa menjawab, seperti pertanyaan yang diajukan ceng-Ciok Tojin, akhirnya dia hanya geleng-geleng saja.

'Anak sombong, pura-pura tuli bisu ya, hm.' Bentak orang hitam itu. Tiba-tiba sebelah tangannya bergerak, segulung angin dingin menerpa kearah Ping-ji

Sekilas melengak tahu-tahu angin deras telah menerpa datang, lekas Ping-ji melangkah minggir sambil menangkis dengan kedua tangan mulutpun berseru:

"cianpwe, berhenti."

Melihat dia melawan orang hitam makin gusar, tiba-tiba dia bangkit menyelipkan seruling dipinggang, lalu mengayun tangan-

Ping-ji sudah mengalah pada pukulan pertama, kini melihat orang menyerang pula, diapun naik pitam, tangan sudah bergerak hendak melawan, tiba-tiba dia menyadari sesuatu, lekas dia tarik diri serta melompat minggir lima kaki hingga pukulan orang hitam menyerempet lewat. orang itu menggeram sambil melangkah setapak. sepasang lengan bajunya menggulung, seluruh kamar batu seketika seperti didera oleh angin lesus dingin. Kembali Ping-ji undur dua langkah, mengendap tubuh terus melompat keudara, teriaknya: " Kalau cianpwe tidak pakai aturan terpaksa aku mencacimu."

Orang hitam melenggong, tapi segera menghentikan aksinya, agaknya dia tidak menduga Ping-ji kali ini bersikap sesabar ini dan memanggil dirinya cianpwe.

Melihat orang hitam menghentikan serangan, lekas Ping-ji melayang turun, katanya serius sambil membetulkan pakaiannya: "Terus terang cianpwe, cayhe... "

Tiba-tiba orang hitam angkat tangannya mencegah dia melanjutkan kata-katanya lalu, mengulap tangan suruh dia mundur kepinggir tanpa berpaling dia berkata dengan tekanan berat: "Selama ratusan tahun, bukan tidak ada orang yang mampu masuk ke Te-sat-kok dan menembus Kiu-kiong-ngo- heng-tin, tuan memiliki kemampuan setinggi ini, tentunya kau juga seorang kosen kenapa tidak keluar saja."

Ping-ji terbeliak, dia tahu pasti seseorang telah masuk kemari juga diluar tahu dirinya dapatlah dia membayangkan bahwa pendatang ini pasti memiliki Kungfu tinggi.

Tiba-tiba didengarnya gelak tawa berkumandang dari balik sebuah batu, lekas dia berpaling, kebetulan dilihatnya bayangan seorang melayang turun-

Dibawah penerangan sinar mutiara, tampak pendatang ini mengenakan jubah hijau kelihatannya amat bebas sederhana, tapi mukanya ditutupi saputangan hijau, hanya kelihatan kedua bola matanya saja. Begitu berdiri tegak dia bergelak tawa dan berkata.: "Terima kasih akan pujianmu, kepandaian yang kupelajari dari samping pintu sebetulnya tidak patut dipuji." kedengarannya merendah pada hal dia amat membanggakan kemampuan sendiri, Ping-ji mengerut alis.

Didengarnya orang hitam menjengek hidung, katanya " Kalau tuan dari aliran lurus perguruan ternama, buat apa menyembunyikan muka bertindak sembunyi-sembunyi ?" , Semula pendatang itu melengak. tapi lekas dia sudah bergelak tawa, katanya: " Kalau cayhe malu dilihat orang, apakah tuan tidak melebihi... hahaha .. setali tiga uang ..

Gelak tawanya menimbulkan getaran keras sehingga kamar batu ini seperti digoncang gempa, batu-batu yang bergantungan di langit-langit sama rontok berhamburan. Sebelum gema suaranya sirna tamujubah hijau itu sudah berkata pula, kali ini dengan sikap serius: "cayhe tidak ingin putar lidah, kedatanganku ini ingin merundingkan sesuatu, entah bagaimana pendapat tuan ? Nadanya memohon tapi mendesak orang untuk menerima permohonannya.

Orang hitam hanya mendengus tanpa memberi komentar, tapi Ping-ji yang berada di samping naik darah, jari-jarinya mengepal keras, ingin rasanya dia gasak orang tidak tahu aturan ini, meski persoalannya sendiri dengan orang hitam belum beres.

Sijubah hijau juga tidak hiraukan Pingji, matanya jelilatan lalu berkata dengan nada kering: "Nama besar Te-sat-kok sudah menggetar Kangouw ratusan tahun lamanya, Tokko cu cianpwepun disegani kaum persilatan, namanya bak geledek disiang hari bolong, aku yang rendah tidak becus... kudengar didalam Te-sat-kok banyak terpendam harta benda... maka... jikalau kau sekedar kasih pinjam.. entah bagaimana pendapat Tokko cianpwe...heheheh ..”

Tokko cu menjengek dingin, ”Hm, tak nyana, tuan malu memperlihatkan muka, tapi berani bicara blak-blakan juga."

Merandek sejenak lalu melanjutkan, "Selama ratusan tahun Te-sat-kok telah membuka lebar pintunya untuk menyambut orang-orang Kangouw yang berhati tamak, kalau tuan punya keinginan, boleh juga aku orang tua mengiringi kehendakmu." Lalu dia menoleh memandang Ping-ji sekejap.

Berobah air muka Ping-ji karena dilirik sedemikian rupa, akhirnya dia menghela napas serta menunduk. Dari percakapan ini dia baru tahu bahwa didalam Te-sat- kok ternyata ada terpendam harta benda yang jarang ada didunia ramai, hingga orang-orang yang tamak lalu meluruk kemari, maka orang hitam inipun anggap dirinya orang sejenis, tak heran kalau orang segera melabrak dirinya. Memang salahnya sendiri, disamping melanggar larangan sikapnya angkuh pula, maka logis kalau orang marah kepadanya.

Memperoleh jawaban si orang hitam, si jubah hijau tertawa gelak-gelak riuh, katanya: "Terima kasih akan pujian cianpwe, tapi tak usah cianpwe marah, kedatanganku kali ini, bahwasanya tiada sangkut pautnya dengan persoalan- persoalan yang terjadi di Kangouw."

Matanya mengerling kearah Ping-ji lalu berkata: "Harta benda yang tersimpan di Te-sat-kok mungkin tak terhitung banyaknya, tapi cayhe tidak akan meraihnya barang sebutirpun, tapi aku mendengar bahwa Liat-jit, cui-ie dan Sit- lay tiga pusaka juga tersimpan dalam lembah ini, maka sengaja cayhe datang dari jauh, mohon cianpwe tidak kikir kepadaku... ""

Belum habis dia bicara orang hitam telah menukas: "Huh, kau bicara seenak udelmu sendiri, kalau Te-sat-kok tidak menjadi perhatianmu, tapi Te-sat-kok tidak pernah membiarkan tamunya mondar mandir sesuka hati, kuanjurkan lebih baik kau tinggalkan batok kepalamu. Mari silakan-"

Berikut bola mata si jubah hijau, katanya dengan tawa kering: " cianpwe pandai bicara, tapi seorang Kuncu lebih suka berunding daripada berkelahi. Kalau cianpwe sudi memberikan apa yang kuminta, terus terang aku rela menukarnya dengan tiga pusaka Hian-ping-kiong, supaya masing-masing pihak tidak dirugikan-"

Mendengar "Hian-ping-kiong" bergetar tubuh orang hitam, jengeknya: "o, jadi kau datang dari Hian-ping-kiong, sungguh kurang hormat. Tak nyana setelah puluhan tahun tidak berkecimpung di Kangouw, "hian-ping-kiong" ternyata telah menelorkan tokoh muda selihay kau, sepatutnya aku harus memberi selamat kepada Ham-sim-lo-koay"

Waktu mendengar "hian-ping-kiong, Pingji yang mendengar percakapan dari samping juga tersentak kaget, terasa nama itu seperti amat dikenalnya, tapi entah di mana dia pernah tahu nama itu, maka mulutnya menggumam mengulang nama hian-ping-kiong.

Kembali si jubah hijau terbahak-bahak senang dan puas, amat bangga pula. Akhirnya dia mengebas lengan baju serta berkata pula: 'Terima kasih akan pujian cianpwe, berkat doa cianpwe pula, guruku sampai sekarang masih sehat dan gagah, bila nanti beliau turun gunung, pasti akan mampir kemari memberi salam hormatnya pula kepada cianpwe." Lalu dia menjura berulang-ulang.

Dengan dingin Tokko cu berkata: "Mana berani aku menerima kedatangannya, gurumu sudah hidup bahagia di Pak-hay-sian kiong, bahwa dia masih tidak melupakan teman lama yang ada di gunung ini, sungguh aku harus malu diri, bila ketemu gurumu tolong sampaikan teirma kasihku." Habis bicara kembali dia menoleh kearah Ping-ji, dilihatnya Ping-ji menengadah, sikapnya hambar dan bingung sambil membuih bibir seperti orang membaca mantram.

Sijubah hijau ikut melirik kearah Pingji, melihat keadaan orang kembali dia terbahak-bahak. katanya kemudian: "Mana berani, mana berani, tapi baiklah pasti akan kusampaikan pesan cianpwe kepada beliau... lalu permintaanku tadi, kukira tiada persoalan-.. haha... "

Si orang hitam tertawa dingin, katanya: "He. memang tidak malu tuan sebagai murid Ham-sim-leng-mo. Ada guru memang ada murid. Hehehe... "

"Terima kasih, terima kasih." Sijubah hijau berderai tawa, lalu dengan sikap serius dia berkata: "Terus terang cianpwe, kami memang amat memerlukan sekali maka kami memberanikan diri mengajukan persoalan ini, atas kemurahan hati cianpwe, sungguh tak terhingga terima kasih kami. Guruku beserta setiap warga Hian-ping-kiong pasti berhutang budi dan takkan melupakan kebaikan cianpwe selama- lamanya. Kelak bila tenaga kami diperlukan, seluruh kekuatan Hian-ping-kiong siap menunaikan tugas. Kalau tidak... terserah bagaimana cianpwe akan bertindak ?'

"Hm, gelombang sungai yang dibelakang mendorong yang didepan, yang tua sudah lembek, yang masih muda mumpung perkasa." Sampai di sini tiba-tiba dia menarik muka, 'Tapi setiap penguasa Te-sat-kok memang punya tabiatnya yang tersendiri, meski jiwa sudah lanjut, tapi tabiat itu sudah merupakan tradisi yang tak boleh dirobah lagi.'

---ooo0dw0ooo---

"Aku sudah berusaha sekuat mungkin dengan cara-cara yang normal, agaknya cianpwe masih belum mau memaklumi kesukaran kami, mungkin... agak... hehe."

"Tuan memang bertindak sopan lebih dulu baru akan menggunakan kekerasan- Sayang aku tua bangka ini justru tidak mau disuguh arak kehormatan, lebih senang arak hukuman-" Lalu dia menoleh pula ke arah Ping-ji dan menambahkan: "Hayolah maju, biar aku menjajal sampai dimana kelihayan ilmu tunggal setan tua itu yang diturunkan kepadamu, berani bertingkah di Te-sat-kok Hm."

Mencorong mata sijubah hijau, katanya sambil terkekeh ringan: "Tidak berani. tidak berani, cianpwe tak usah marah, aku ini ibarat mutiara sebesar beras mana berani menandingi terangnya sinar rembulan." Kedengarannya merendah, pada hal nadanya sombong, di mulut dia menyebut cianpwe, tapi terhadap diri sendiri tetap membahasakan "aku", jelas dalam hati dia tidak anggap lawannya terlalu tangguh. Sudah tentu si orang hitam juga tahu maksud perkataan orang, dengan menekan suaranya dia berkata: "Manusia munafik macam dirimu memang jarang ada, baiklah, biar aku mencoba betapa lihay Kungfu dari aliran Pak-hay." Lalu pandangannya berputar dilihatnya Ping-ji tetap mendongak dengan pandangan terlongong seperti tidak memperhatikan kejadian sekitarnya, dengan mengerut alis dia lantas membentak: "Keledai dungu, kau pura-pura mampus ya?"

Sijubah hijau memang cari kesempatan untuk pamer kepandaian sendiri, segera dia menyela dengan tawa gelak- gelak: " Kenapa cianpwe naik pitam, bagaimana kalau aku yang mewakili ?" Lengan baju kanan segera di kebut kearah Ping-ji yang berdiri melamun-Tiba-tiba orang hitam menghardik:

"Tak usah kau turun tangan-" Serulingnya menuding langsung menutuk Ki-ti-hiat dibawah ketiak sijubah hijau.

Jubah hijau kaget, lekas dia kebut lengan bajunya kesamping sambil menggeser langkah menyingkir kekiri, baru dia terhindar dari tutukan seruling. Walau demikian tak urung mencelos hatinya, karena dia tidak menduga bahwa Tokko cu ternyata bertabiat seaneh ini, maksud baiknya membantu ternyata ditampik. Tengah dia melenggong tiba-tiba terasa segulung angin menyampuk mukanya, ditengah gugupnya lekas dia menjengkang tubuh mencelat kebelakang, berbareng lengan bajunya mengebas melontarkan segulung angin dingin. 

Begitu dia berdiri tegak pula seketika mulutnya bersuara heran, ternyata pemuda yang dianggap keledai dungu tadi kini sedang menatapnya dengan melotot gusar, jelas serangan angin itu dilontarkan oleh pemuda ini.

Sekilas melongo akhirnya sijubah hijau tertawa gelak-gelak. katanya: "Hehe, ternyata saudara inijuga seorang ahli,  selamat bertemu." Dengan gaya lembut segera dia membungkuk sambil menjura. Ping-ji mundur selangkah balas menghormat seraya menjawab: "Tidak berani."

Mendengar sijubah hijau menyebut "hian-ping-kiong", Ping- ji merasa seperti sudah kenal nama ini, tapi dia bingung, kapan dia mendengar dan apa arti ketiga huruf itu maka sekian lama dia berdiri terlongong.

Kini setelah melihat perawakan dan dandanan orang segera dia teringat pertanyaan ceng-ciok Tojin, segera dia maju selangkah dan tanya, ”Jadi kau ini ceng-san-biau khek itu?"

Jubah hijau tertawa bingar, katanya:

"Agaknya saudara sudah kenal baik akan julukanku itu. Kepandaianmu juga tidak rendah, entah murid siapa kau? Siapa pula namamu ?"

Tiba-tiba orang hitam menukas: "Te-sat-kok bukan rumah makan atau penginapan, bukan tempatnya untuk pertemuan orang luar. Hm."

Ping-ji merah mukanya, sikapnya kelihatan rikuh dan kikuk. Tapi ceng-san-biau-khek malah bergelak tawa, katanya: "Ah, mana berani. Tapi dapat berkenalan dengan seorang sahabat di Te-sat-kok juga merupakan peristiwa baik, setimpal buat kenangan, kurasa cianpwe sendiri juga pasti merasa senang bukan ?"

Tokko cu menyeringai, jengeknya: ,Hm, aku orang  tua tidak gila hormat, sudah jangan cerewet, marilah selesaikan dulu persoalan kita, nanti boleh kau bersahabat dengan setan atau dedemit." Sambit bersiul segera dia kerjakan serulingnya menutuk Sin-hong-hiat didada ceng-san-biau-khek.

Ceng-san-biau-khek mengebut lengan baju sambil melangkah minggir selangkah, mulut berteriak: "Kenapa cianpwe mendesak begini rupa... aku..." Kebutan lengan bajunya ternyata sekaligus menggulung seruling Tokko cu yang menutuk tiba. Tapi Tokko cu cukup lihay menggunakan serulingnya, sebelum lawan berhasil menggulung serulingnya, senjatanya itu sudah menyerong kesamping menutuk Kui-imhiat dibawah tetek kanannya. Serangan ini lihay dan keji. Ping-ji yang menyaksikan dari sampingpun sampai bercekat hatimya. Batinnya: "Perangai orang hitam ini ternyata aneh, barusan masih bicara baik-baik, kenapa sekejap mata telah melabrak orang, mungkin ceng-san-biau-khek takkan mampu menandinginya."

Ternyata ceng-san-biau-khek seperti tidak menghiraukan tutukan seruling lawan, hanya tubuhnya saja yang tiba-tiba menyelinap. luput dari tutukan seruling panjang Tokko cu, tiba-tiba tangan kirinya merogoh tujuannya meraih cadar hitam di muka si orang hitam, tapi ditengah jalan dirobah gerakan menukik turun hendak merampas seruling panjang Tokko cu, gerakannya aneh variasinya banyak sehingga orang sukar menduga sebelumnya.

"Kurang ajar." Bentak Tokko cu. Tiba tiba serulingnya berputar dengan suara lengking tajam menutuk Ki-bun-hiat di ketiak kiri lawan- Sebelum ceng-san-biau-khek menarik diri dan membataikan serangan, serulingnya telah menyelonong kesamping pula menutuk seng-kay-hiat didadanya.

Ceng-san-biau-khek terlalu takabur, dia kira dengan gerak serangannya yang lihay, secara tidak terduga lagi pasti dapat merebut seruling lawan, kenyataan justru berlaian dengan kehendaknya. Bukan seruling lawan kena dia rampas, senjata lawan malah mengancam jiwanya. lekas dia mengebut lengan baju sambil memutar tubuh meluputkan diri.

Tak nyana bayangan putih berkelebat di depan mata, seruling lawan kembali telah mengancam dada pula, saking kejutnya lekas dia menarik napas mendorong tangan sambil merendahkan tubuh, sebat sekali tubuhnya sudah mencelat mundur kebelakang. Maklum sejak dirinya berkelana di Kang ouw, dengan bekal Kungfunya yang lihay dan aneh serta ginkang yang tinggi, belum cukup setengah tahun dia sudah terkenal di Kangouw hingga dijuluki ceng-san-biau-khek (Pendekar kelana jubah hijau), memang julukannya patut dicatat sebagai orang yang selain memiliki gelar ternama itu, terutama Ginkangnya, taraf kepandaiannya memang cukup berlebihan untuk memperoleh gelar ternama itu.

Waktu dia mengembangkan Ginkang Dat swat-hu-ping (menginjak salju sebelum jadi es) melayang kebelakang, mendadak dirasakan segulung tenaga besar menindih kearahnya, lekas dia menarik napas ditengah udara. kedua lengan baju mengebas bersama, beruntun dia bersalto dua kali baru berdiri pula,

Dilihatnya orang hitam tetap duduk bersimpuh diatas batu, bergerakpun tidak. walau bagaimana rona wajahnya yang terlindung dibalik cadar hitarn itu, tapi dari gerak-gerik dan sikapnya dapat dirasakan betapa sinis dan tak kenal kompromi sikapnya.

Berkerut alis ceng-san-biau-khek. sorot matanya tampak berkilat, batinnya: "Tua bangka ini memang sukar dilayani. Hm, kalau aku tidak memperlihatkan kelihayanku, mungkin sikapnya tetap takabur. Memangnya Hian-ping-kiong boleh dipermainkan ?" Sembari memutar otaknya matanya melirik kesamping. Dilihatnya Ping-ji masih menatapnya lekat-lekat, sorot matanya menampilkan mimik aneh, seperti kagum, kepingin tapi juga melongo heran- Hatinya tergetar, lekas dia memalingkan muka dan tertawa enteng, katanya: "Tokko cianpwe memang tidak bernama kosong. Aku yang rendah memang tidak becus, ingin aku pengajaran beberapa jurus, mohon cianpwe sudi memberi petunjuk."

Orang hitam menjengek dingin: "He, kau masih muda tapi termasuk pemuda pilihan- segala permainan di Kangouw agaknya sudah kau kuasai dengan baik. Baiklah, biar aku saksikan betapa lihay ilmu ciptaan Ham sim-lo-koay yang terakhir."

Dengan tersenyum ramah ceng-san-biau-khek berpaling kearah Ping-ji, katanya: " Harap saudara suka mundur sedikit meluangkan tempat, biar aku menunjukkan ketidak becusanku, hehe."

Tanpa bersuara lekas Ping-ji mundur beberapa langkah, dengan tajam dia awasi ceng-san- biau-khek.

Kini sikap ceng-san-biau-khek tidak lagi cengar-cengir, agaknya dia mulai serius dan pusatkan konsentrasinya, hanya sepasang mata yang kelihatan diluar sapu tangannya kelihatan berkilat, melangkah setindak pelan pelan kedua tangannya terangkat. Kedua telapak tangannya tampak menjadi putih meletak. mengeluarkan uap putih pula Ping-ji kaget sekali, lekas dia menoleh ke orang hitam, dilihatnya orang tetap bersimpuh diatas batu, tak bergerak tidak menunjukkan reaksi atas aksi ceng-san-biau-khek.

Entah kenapa mendadak hatinya merasa kuatir bagi keselamatan orang hitam, dia tidak tahu bagimana mungkin Kungfu ceng-san-biau-khek selihay dan ampuh begitu, kelihatannya berbeda dengan aliran silat yang ada di Tionggoan, padahal dia tidak tahu apakah si orang hitam yakin dirinya kuat menandingi pukulan lawan, atau... jantung nya berdebar-debar.

Kedua tangan ceng-san-biau-khek telah terangkat setinggi dada, lurus kedepan, telapak tangannya seputih kapur, bersemu hijau bening, uap putih yang dingin mengeluarkan desis suara.

Mendadak bergetar tubuh Tokko cu, desisnya: "Hian-ping- ciang."

Kepala Ping-ji seperti dipukul godam mendengar "Hian- ping-ciang", segera dia membentak: "Apa Hian-ping-ciang ?" Telapak tangan ceng-san-biau-khek yang mengeluarkan uap putih tamppak gemetar, dengan suara serak tenggelam dalam teng gorokan dia menjawab: "Betul." cepat sekali tampak kedua tangan itu didorong kedepan disertai bentakan menimbulkan segulung angin dingin-

Sebuah hardikan nyaring yang lain memecah kesunyian pula menyusul suara ledakan keras dari beradunya dua kekuatan dahsyat, batu berloncatan, bayangan orangpun terpental. ceng-san-biau-khek tersuruk mundur beberapa langkah, bola matanya mendelik bundar, merah dan dironai rasa kaget dan heran-

Ping-ji sebaliknya mendelik gusar, alisnya menatap ceng- san-biau-khek. Sinar mata ceng-san-biau-khek kini tampak lesu dan lemah, mendadak tangannya menuding Ping-ji serta berkata dengan suara bergetar: "Wi liong-ciang ?" Tiba-tiba mulutnya menguak keras menyemburkan darah segar hingga cadar hijau yang menutupi mukanya basah oleh darah dan mengotori jubahnya. Mendadak dia menjejak kaki sambil putar tubuh terus angkat langkah seribu.

"Bangsat, lari kemana kau ?' Ditengah hardikan keras, Ping- ji melambung kencang secepat pelor ditembakan mengudak ke arah ceng-san-biau-khek.

"Kembali." Tiba tiba sebuah suara lemah terkiang ditelinga Ping-ji, "biarlah dia pergi."

Mendengar panggilan ini, Ping-ji menekuk tubuh lalu mengerem luncuran tubuhnya dengan enteng dia melayang turun kebawah. Begitu dia menoleh dilihatnya orang hitam itu duduk lemah diatas batu, keadaannya seperti amat payah, tubuhnya menggigil.

Bergegas Ping-ji memburu maju sambil ulur tangan memapahnya, katanya: " cianpwe kau terluka ?" Terasa tubuh orang begitu lemah dan lembut, dingin pula. Begitu dijamah tangan Ping-ji, tubuh orang hitam seperti kena stroom, mendadak dia menghardik "Enyah, enyah dari sampingku."

Karuan Ping-ji melongo, mukanyapun berobah, bola mata orang hitam tampak bercahaya dibalik cadar hitamnya. dirinya ditatap seperti musuh bebuyutan saja. Rasa terhina segera merangsang sanubari Ping-ji ujung mulutpun menjengek. cepat dia menjura lalu membalik tubuh berlari keluar.

Lekas orang hitam angkat tangan, kulit mukanya tampah berkerut merut, suaranya lemah: "Kau... "Tapi bayangan Ping- ji sudah lenyap dikegelapan. Akhirnya dia menghela napas rawan, suaranya sedih: "oh Thian-" Tangan kanan terangkat menarik cadar mukanya. Dalam keadaan remang-remang cahaya mutiara tampak wajahnya bundar telur, putih molek dan rupawan, alis-nya lentik melengkung bak bulan sabit, bola matanya bening, seperti air embun dikelopak bunga, bibirnya tipis mungil, hidungnya mancung, sayang darah tampak meleleh diujung mulutnya, mukanya pucat pias.

---ooo0dw0ooo---

Fajar telah menyingsing pula, sinar mentari yang kemuning menembus kabut tebal menerangi alam semesta.

Dibawah sebuah pohon cemara yang besar dan tua, tampak duduk semedhi seorang pemuda berpakaian hijau. Angin sepoi-sepoi menyampuk mukanya, melambaikan pakaian dan rambut kepalanya yang belum tersisir.

Sang waktu terus berjalan, entah berapa lamanya, sang suryapun telah merambat makin merambat makin tinggi, tiba- tiba Ping-ji membuka sepasang matanya, sambil mengebas lengan baju segera dia bangkit. Menyongsong datangnya angin pagi dia menarik napas panjang nan segar, dadanya terasa penuh berisi, lalu pelan-pelan dia menghembuskan napas serta beranjak kedepan- Ah kiranya dia berhenti di pinggir jurang dipucuk ngarai.

Lama Ping-ji terpesona memandangi keindahan alam pemandangan terbentang didepan mata, angin pegunungan pagi memang semilir dingin. otaknya masih juga diganggu oleh nama Hian-ping-ciang, nama ini seperti melekat dalam sanubarinya, takkan terlupakan selama hidupnya, karena orang aneh yang pernah ditolongnya itu mati karena pukulan Hian-ping-ciang, Wi-liong-pit-sin itu pun berhasil direbut oleh orang yang membekal pukulan Hian-ping-ciang itu.

Waktu mendengar ceng-san-biau-khek menyebut Hian- ping-kiong, hatinya sudah mulai curiga, keyakinannya makin tebal setelah melihat ceng-san-biau-khek melontarkan pukulan Hian-ping-ciang, bahwa orang berkedok yang merebut Wi- liong-pit-sin dari tangan orang aneh itu adalah ceng-san- biaukhek tanpa ayal segera dia menyerang dengan jurus Liong-kiap-sin-gan, ternyata walau sudah terluka, ceng-san- biau-khek masih mampu melarikan diri.

Kejadian selanjutnya justru amat membingungkan dia, berusaha menolong orang berbaju hitam, jelas dia terluka parah tapi dirinya malah diusir, sungguh dia tidak habis mengerti kenapa orang hitam itu berwatak seaneh itu. Banyak persoalan sekaligus merangsang benaknya, dia tidak tahu persoalan mana harus dia beres kau lebih dulu. Maka dia melamun menghadapi pemandangan alam penuh kabut yang terbentang didepan matanya.

Mendadak sebuah pikiran seperti mengetuk sanubarinya. waktu dia angkat kepalanya tampak di kejauhan biara-biara besar nan megah seperti diselimuti kabut saja, sekali keplok segera dia putar badan terus melompat pergi berlari-lari dengan enteng dan kencang.

Tak jauh dari tempat dimana tadi Pingji berdiri. dari belakang sebuah batu besar, tiba-tiba muncul seseorang. Diapun mengenakan jubah hijau, tapi mukanya ditutupi sapu tangan hijau. Langsung dia maju kearah di mana barusan Pingji berdiri, meneliti ke adaan sekelilingnya lalu menunduk kebawah. Tampak jelas sebuah tapak kaki sedalam satu dim melesak di dalam batu gunung yang keras, diulurkan tangan meraba dan mengukur, lalu bergegas dia berdiri. Sepasang matanya yang tidak terlindung tutup mukanya tampak memancarkan cahaya dingin, sinar jahat dan sadis akhirnya dia mengebas lengan baju lalu melangkah lebar kearah mana tadi Pingji pergi.

Kabut telah lenyap. cahaya mentari terasa makin terik. Dua Tojin tampak beranjak keluar dari Siang-jing-koan, tiga huruf emas yang diukir diatas sebuah pigura raksasa tampak kemilau ditimpah matahari. Kedua Tosu itu sama mengenakan jubah kuning emas, masing-masing memegang kebut bergagang batu pualam. Yang jalan disebelah kiri berusia lebih lanjut, wajahnya kelihatan welas asih, arif bijaksana, wajahnya merah seperti muka orok yang genap sebulan, sikap dan langkahnya seperti orang yang sudah mencapai perjalanan tinggi dalam kedewaan. Mereka terus beranjak kedepan menuruni undakan batu yang menjulur jauh ke sana, siapapun tidak bersuara.

Tojin tua yang ada di kiri sering menghela napas sambil mengerut alis, kadang mendongak mengawasi mega lalu menunduk beranjak dengan langkah tetap. Mengiringi langkahnya yang mantap Tojin yang lain berjenggot panjang menyentuh dada juga sering mengerut alis, bola matanya bundar seperti mata harimau.

"ciangbun." Tojin sebelah kanan akhirnya buka suara, "jangan kuatir, Jik-ciok Sute orang baik, orang baik pasti panjang umur, luka-lukanya pasti dapat disembuhkan,"

"Semoga demikian," ujar ceng-ciok Tojin sambil menghela napas, "Ah, sungguh tak nyana pemuda itu memiliki Kungfu sehebat itu, orang-orang tua seangkatan kita harus malu diri." "Kemarin ceng-siong dan Ji-gi melaporkan bahwa bocah itu telah masuk ke Te-sat-kok. Hm, biarlah Tokko cu si nenek galak itu mengganyangnya." Demikian ujar Pek-ciok Tojin dengan gemas.

"Tapi persoalan belum tentu benar, bukban mustahil orang lain yang masuk kesana."

"Suheng, kenapa kau menjadi begini lemah. umpama betul dia tidak masuk ke Te-sat-kok. sejurus pukulan Siau yang- ciang Susiok tanggung telah membuatnya luka parah, berapa lama dia kuat bertahan hidup ? Umpama manusia besi juga takkan tahan menerima pukulan itu.

Ceng-ciok Tojin mengerut kening, katanya: "Persoalan tidak semudah yang kau kira. Menurut penjelasan Susiok kemaren, anak muda itu agaknya membekal Wi-liong ciang yang dahulu merupakan ilmu kebanggaan Kiu-thian-sin-liong, kalau dugaan itu benar, maka urusan pasti akan berbuntut panjang."

Agaknya Pek-ciok Tojin juga mendengar, lama dia tidak bersuara, akhirnya ceng-ciok Tojin berkata: "Apa yang diucapkan Susiok memang tidak salah, dulu waktu Kiu-thian- sin-liong malang melintang di Kangouw, siapa mampu menandingi dia, sayang kita telat dilahirkan hingga tak pernah menyaksikan keperkasaannya." Lalu menghela napas gegetun.

Mereka terus melangkah tak berbicara lagi, diujung jalan berbatu yang liku-liku, muncul sederetan rumah gubuk yang dikitari hutan bambu. Dengan angkat kepala ceng-Ciok Tojin dan Pek-Ciok Tojin mempercepat langkah memasuki hutan bambu menuju ke arah gubuk itu.

Sekonyong-konyong, ceng-Ciok Tojin dan Pek-Ciok Tojin menghentikan langkah, roman muka merekapun berobah. Tampak dari rumpun bambu sebelah kiri, dijalanan berbatu sana, pelan-pelan beranjak mendatangi seoraug berjubah hijau, dia bukan lain adalah pemuda yang kemaren melukai Jik-Ciok Tojin. Diam-diam Pek-Ciok Tojin membatin: "Setan alas, katanya dia masuk ke Te-sat-kok, kenapa nenek galak itu tidak mengganyangnya ? Badannya kelihatan segar bugar semangatnya menyala bukan saja luka-lukanya sudah sembuh. Lwekangnya seperti lebih tangguh lagi." Lekas sekali pemuda itu sudah tiba didepan mereka dan mengadang jalan-

Dengan muka berubah ceng-Ciok Tojin maju selangkah sambil putar kebut, sapanya:

"Hahaha Siauhiap memang orang dapat dipercaya. Baiklah, segala sesuatu terserah pada kehendakmu, Pinto akan mengiringi keinginanmu." Lekas Pek-Ciok Tojin maju selangkah berjaga di samping sang Suheng menjaga segala kemungkinan-

Tapi diluar dugaan Ping-ji juga tidak maju mendekat, lima kaki didepan mereka dia berhenti dan berkata lantang sambil goyang tangan: "Totiang tidak usah bersitegang leher, kedatangan cayhe kini bukan mau menuntut balas kejadian kemaren, tapi bukan berarti bahwa persoalan itu impas  sampai disini, akan datang satu hari aku tetap akan membuat perhitungan. "

Ceng-Ciok Tojin dan Pek-Ciok Tojin sama melongo. mereka tidak mengerti apa maksud si pemuda maka mereka memandang dengan sorot heran dan curiga.

Ping-ji angkat alis, katanya lantang: "Aku ingin tanya, ceng san-biau-khek dari aliran mana ?"

Kembali ceng-Ciok Tojin melongo, tapi segera dia mengerut alis, Pek-Ciok Tojin malah menjengek. maju selangkah dia berkata gusar sambil menuding: "Anak sombong Bu-tong-san bukan hotel atau restoran yang kau dirikan, mau datang boleh sesuka udel sendiri. mau pergi boleh sambil kentut. Hm, ketahuilah, kau tidak akan membuat perhitungan, tapi kamilah yang akan menuntut balas kepadamu. marilah maju. Serahkan jiwamu, diakhirat boleh kau tanya siapa itu nama dan asal  usul ceng-san-biau-khek."

Kelam wajah Ping-ji, maju selangkah mengacung tangan, katanya gusar: "Hidung kerbau tua bangka. aku tidak mencari setori jangan kau kira aku takut, huh, majulah."

Ceng-Ciok Tojin berteriak dengan membuka kedua tangan dia mencegat ditengah, katanya gugup: "Ada persoalan boleh dirundingkan, jangan berkelahi." Sekilas dia melotot kepada Pek-Ciok lalu berputar kearah Ping-ji, katanya: "Apa yang diucapkan Siauhiap barusan memang benar, baiklah berkat kebaikan Siauhiap kami pihak Bu-tong haturkan terima kasih. Umpama Siauhiap tiduk meluruk kemari, tahun depan dikala hari raya Jong-yang Pinceng akan pimpin anak murid Bu-tong bertandang kerumahmu."

"Tentang ceng-san-biau-khek," katanya menyambung setelah menelan ludah, "Pinto hanya tahu, dia keluar kandang kira-kira permulaan tahun, jadi belum ada setengah tahun. dengan kepandaiannya yang hebat beruntun telah mengalahkan dua belas jago Thian san-pay sekte utara, dengan tangan kosong dia menjatuhkan dua raksasa dari tiga raksasa anak buah Tok-lian-cun-cia yang berberkuasa di Biau- kiang, hingga namanya terkenal diseluruh Kangouw, tapi karena dia selalu mengenakan jubah dan kedok hijau, Kungfunya juga merupakan kombinasi dari inti sari semua aliran silat di Tionggoan, maka jarang orang tahu asal usul perguruannya, hanya sedikit yang Pinto ketahui semoga Siauhiap tidak kecil hati."

Pingji menepekur sejenak. katanya kemudian dengan angkat kepala: "Mohon tanya Totiang, partai mana dalam Kangaow yang punya Kangfu bernama Hian-ping-ciang ?" Berobah air muka ceng-Ciok Tojin dan Pek-Ciok Tojin, serempak mereka berteriak: "Ha, Hian -ping- ciang ?" ”Ya, Hian-ping-ciang. Dari aliran mana ?" Ping-ji menegas. "Kemaren ceng-san-biau-khek pernah meluncurkan sejurus pukulan Hian-ping-ciang, akibatnya dia

terpukul luka parah oleh jurus Liong- kiap-sin-gan hingga muntah darah dan melarikan diri."

”Liong-kiap-sin-gan dari Wi- liong- ciang ?” Pek-ciok Tojin mendesis dengan mata terbelalak. jadi... kau adalah ahli waris Kiu-thian-sin-liong ?"

Ping-ji melongo, batinnya:"Kiu-thian-sin-liong? Siapa itu Kiu-thian-sin-liong?"

Tiba-tiba didengarnya ceng-ciok Tojin menjerit kaget serta berseru: 'Susiok. Tecu ceng-ciok dan Pek-eiok menyampaikan sembah hormat.'

Lekas Ping-ji menoleh, dilihatnya seorang Tojin pertengahan umur berwajah merah sedang beranjak pelan- pelan mendekat, dengan tersenyum dia papah ceng-ciok dan Pek-ciok. Kembali Ping-ji melongo, batinnya:

"Orang ini masih muda, bagaimana mungkin menjadi Susiok Bu-tong ciangbun ? Em, ya, mungkin Lwekangnya sudah sempurna, hingga wajahnya tetap kelihatan muda.'

Lekas sekali Tojin setengah umur itu sudah berada didepannya serta menegakkan telapak tangan menyapa: 'Pinceng Hwi-bing, sebagai Tiang-lo satu-satunya dari Bu-tong yang masih ketinggalan hidup, sungguh beruntung bahwa Pinceng dapat menyaksikan dan membuktikan kehebatan Siauhiap. Tak terlupakan kejadian masa lalu, garumu Kiu- thian-sin-liong Sa-locianpwe seorang diri mampu menandingi keroyokan delapan ciangbun dan tujuh puluh dua murid- muridnya, peristiwa itu pernah menjadikan lembaran sejarah yang terbesar selama ini, hari ini kulihat siauhiap juga cerdik pandai, berbakat lagi, yakin tidak akan menurunkan derajat para leluhur yang telah mangkat lebih dulu. ini akan merupakan keberuntungan generasi muda yang akan datang." Lalu sambil mengelus jenggot dia melanjutkan: "Aih, jago- jago muda bermunculan pada setiap angkatan, yang tua sudah lemah, yang muda lebih mengungkuli. Entah bagaimana keadaan Sa-locianpwe sekarang, sudilah Siauhiap menyampaikan salam hormatku kepada belian-"

Melihat Tojin setengah umur ini, Pingji lantas tahu bahwa orang inilah yang tempo hari berdiri dibelakang ceng-Ciok hingga dirinya terluka parah. Mendengar bahwa Kiu-thian-sin- liong seorang diri melawan keroyokan delapan ciangbun besar dan murid-muridnya, maka tahulah Ping-ji bahwa Kiu-thian- sin-liong adalah guru si orang aneh pemilik Wi-liong-pit-sin. orang aneh itu pula yang telah mencipta dirinya menjadi seorang jago kosen setelah dirinva digembleng dan disaluri Lwekang latihannya selama puluhan tahun, hingga dalam waktu singkat dirinya dipaksa untuk menjadi tokoh silat kelas wahid.

Tapi Tojin setengah umur menyangka dirinya adalah ahli waris langsung dari Kiu-thian-sin-liong, maka dia jadi ragu- ragu, akhirnya dia berkata tak acuh: "oh, banyak terima kasih akan maksud baik Totiang, selama ini guruku memang baik- baik -saja."

Sedikit berobah air muka Tojin setengah umur, tapi segera dia tertawa lantang: "Berkat kemurahan Thianlah, sehingga kami yang lebih muda akan dapat melihat kehebatan angkatan tua yang masih panjang umur. Ha haha." Dia tertawa sambil mendongak. tawanya lantang, tapi Ping-ji merasakan nada suaranya agak getir, menandakan hatinya tidak tentram dan ngeri.

Maklumlah, dahulu seorang diri Kiu-thian-sin-liong melawan keroyokan delapan ciang bun dan tujuh puluh dua murid- muridnya, akhirnya dia tetap dipihak yang unggul hingga inti kekuatan kaum Bulim aliran luues boleh di kata tertumpas dalam peristiwa besar itu, siapa tidak ngeri danjeri mendengar nama Kiu-thian-sin-liong. Kini Hwi-bing Tojin mengira pemuda dihadapannya ini adalah ahli waris yang mampu melancarkan Wi liong- ciang ciptaan Kiu-thian-sin-liong dulu, betapa hatinya takkan kaget. Apalagi pemuda ini bilang gurunya Kiu-thian-sin- liong masih hidup sehat, maka tak kuasa dia menahan rasa kaget dan takutnya.

Melihat sang Susiok pucat dan jeri, berkerut kening ceng- ciok Tojin, pikirnya:

'Ai, nasib Bu-tong kita memang lagi sial, gembong- gembong iblis bakal bermunculan lagi, bagaimana kita harus bertindak? Ai, kehidupan kaum persilatan mungkin takkan aman tentram lagi.'

Tengah perasaan mereka dirundung rasa takut, jeri dan kuatir, dari kejauhan mendadak terdengar jeritan menyayat hati. Karuan mereka sama berobah air mukanya sekejap saling pandang. Akhirnya ceng-ciok Tojin membanting kaki seraya berteriak 'Siang-jing-koan-.' Dia mendahului mengebas lengan baju terus berlari secepat angin dari arah datangnya tadi.

Ditengah jalan mereka bersua seorang Tojin yang lagi berlari mendatangi dengan langkah sempoyongan jatuh bangun, darah tampak mengotori muka dan sekujur badannya. Melihat ceng-ciok Tojin lari mendatangi kontan dia tersungkur roboh dan kebetulan jatuh dalam pelukan ceng- elok Tojin yang meraihnya, 'Lapor... ciang bun Siang-jing- koan... dirampok... Bik-lo-kim tan direbut orang baju... hijau berkedok."

Seperti disamber, geledek ceng-ciok Tojin mendengar laporan Tojin yang terluka parah ini. "Bangsat." Teriak Pek- Ciok Tojin mengepal tinju, aku bersumpah akan mengganyang cenn-sin-biau-khek. ya pasti dia," tiba-tiba Ping-ji berteriak di belakang. Tanpa banyak bicara segera dia berlari kearah Siang jing-koan.

Hwi-bing, ceng-Ciok din Pek-Ciok sama tertegun, mereka melenggong mengawasi bayangan Ping-ji. Dengan nada bimbang Hwi-bing mendesis: "ceng-san-biau-khek?" Pek-Ciok Tojin mengangguk, katanya:

"Tadi bocah itu bilang, dia menggunakan Hian-ping-ciang." "Ho, Hian-ping-ciang  ?"  Seru Hwi-bing  kaget, ”Hian-ping-

ciang dari golongan Pak-hay yang sudah putus turunan itu...?"

---ooo0dw0ooo---

Musim dingin. Bunga salju beterbangan di angkasa, bertaburan menyelimuti mayapada.

Lok-yang, sebuah kota besar yang ramai, dikala hujan salju selebat ini, tiada nampak manusia berkeliaran dijalan raya, hanya dua tiga orang saja yang terbungkuk- bungkuk menempuh perjalanan dideru angin dingin. Hujan deras ini berlangsung tiga hari tiga malam, penduduk kota menyekap diri dirumah, perdagangan sepi, tiada pembeli, tiada yang penjual, hanya penguasa hotel saja yang bisa duduk ungkang- ungkang dikamarnya yang di hangati api unggun sambil menghitung berapa keuntungan yang bakal diperolehnya dari para tamu yang tak mungkin meninggalkan penginapan-

Meski hujan salju itu amat lebat, akan datang saatnya reda, demikianlah setelah angin ribut berlangsung sampai hari ketiga tengah malam, hari keempat pagi, sang surya telah mulai menampakkan dirinya diufuk timur. Suasana yang paling ramai sudah tentu dihotel, para tamu bergegas menyiapkan barang bawaannya, kuasa hotel, kasir sampai pelayan berjajar di ambang pintu mengantar para tamunya berangkat menuju arahnya masing-masing .

Seorang kacung sedang sibuk menyapu dan membersihkan pintu, dia bekerja sambil menggerutu menyesali nasibnya yang kedinginan diluar pintu.

Tiba-tiba suara kelinting kuda berbunyi dan seekor kuda berhenti dibelakangnya, lekas kacung ini berpaling. Tahu-tahu dibelakangnya berdiri seorang pemuda yang bermantel putih bulu panjang, wajahnya putih cakap beralis lentik, meski hawa dingin tetap kelihatan wajahnya yang gagah dan kereng. Dengan senyum geli sipemuda mengawasi sikacung yang kotor mukanya karena lumpur dan debu, disampingnya berdiri seekor kuda putih, seluruh tubuhnya seputih salju-

Setelah melongo sesaat baru sikacung ingat akan tugasnya, bergegas dia melangkah maju, menyambut dengan tawa meringis lucu: "Tuan, kau... mau cari penginapan?"

Melihat ulah sikacung yang lucu ini Pingji tertawa geli, katanya: "Hm, ya. Adakah kamar kelas satu yang bersih disini

?”

Si kacung segera membusung dada, kata nya: 'Ada, tentu ada. Bukan aku suka membual, Eng-hiong-kek kita ini tiga puluh li disekitar Lokyang tiada bandingannya, tiada orang tidak tahu segala servis kami nomor satu dibanding hotel-hotel kelas tinggi lainnya. Apalagi tiada orang yang tidak kenal Bu- jiya kita Tuan, jika kau menginap dihotel kita, kutanggung kau akan kerasan dan bisa bersenang-senang dengan santai, bukan saja bersih, juga memenuhi syarat-syarat kesehatan, menu yang kami sediakan yakin memenuhi selera tuan-.. hehehe...' Lalu dia terima tali kendali kuda dan berkata pula sambil miring kepala: 'Tuan, kau tidak membawa apa-apa ?"

Ping-ji geleng kepala sambil berkata:

"Rawat kudaku baik-baik dan beri makan sampai kenyang."

Sementara itu dua pelayan telah memburu keluar menyambutnya, pemuda ini hanya berpesan beberapa patah serta merogoh kantong memberikan sekeping uang perak lalu beranjak keluar pula, katanya mau jalan-jalan- Sementara itu kuda putihnya sudah dituntun kekandang belakang oleh kacung cilik tadi,

Kalau orang lain kedinginan dan suka tutup pintu mengeram dalam selimut tebal, sementara itu Ping-ji sedang beranjak sambil membusung dada, dengan langkah berlenggang dia putar kayun seperti mengukur jalan raya kota Lok-yang saja. Kedua tangannya digendong dibelakang, mengawasi cuaca buruk diangkasa diam-diam dia menghela napas, gumamnya sendiri: "Aih, tahun lalu bukankah aku masih seorang gelandangan ? Waktu itu cuacapun seburuk ini, tapi aku hanya mengenakan pakaian tipis, banyak tambalan lagi, untunglah aku ditolong perempuan petani itu, syukurlah tekadku besar sehingga aku tidak mati kedinginan atau kelaparan." Ping ji masih terus mengayun langkah tanpa tujuan, pikirannya bekerja pula: "Sungguh aku tidak tahu cara bagaimana aku harus berterima kasih serta membalas budi kebaikan orang aneh yang tak kuketahui nama dan asal usulnya itu, aku digembleng dan dipaksanya menjadi diriku seperti sekarang, tanpa dia hari ini aku tidak akan seperti ini, Tapi dia telah meninggal. Hm, ceng-san biau-khek keparat itu. Awas kau. " Demikian desisnya sambil mengacungkan tinjunya.

Sejak peristiwa di Siang-jing koan, di mana diketahui ceng- san-biau-khek telah mencuri Bik-lo-kim-tan obat sakti pelindung Bu-tong-pay, segera dia mengudak jejaknya sampai dibawah gunung, bukan maksudnya membantu pihak Butong menangkap pencuri atau merebut balik obat mujarab itu, tapi dia ingin menghajar dan membekuk ceng-san-biau-khek untuk membalas dendam serta merebut balik Wi-liong-pit-sin.

Dikala termenung diatas ngarai dibelakang gunung Bu-tong tempo hari dia sudah bersumpah, meski mengudak sampai keujung langit juga dia akan menemukan ceng-san-biau-khek. menuntut balas kematian si orang aneh. Ini tugas utama yang tidak boleh ditawar lagi. Persoalan lain boleh di kesampingkan- oleh karena itu, meski dia sudah berhadapan dengan ceng- ciok Tojin, terhadap orang-orang Bu-tong yang membunuh ibundanya, sementara tidak dipersoalkan- Tapi di Bu-tong-san dia mengejar sampai di Tong-ting-ouw, jejak ceng-san-biau- khek tidak pernah ditemukan, maka selanjutnya dia berkelana di Kangouw.

Sebagai insan persilatan, pengembaraannya memang mendatangkan banyak kesulitan, keuntungan tapi juga kesulitan, namun semua itu malah menambah perbendaharaan pengalamannya. Sepanjang jalan tidak pernah dia mengabaikan setiap kesempatan untuk menyelidiki jejak ceng--an-biau-khek, namun yang dludaknya ini seperti lenyap dari permukaan bumi, entah dimana dia menyembunyikan diri.

Suatu hari dia mendengar suatu berita yang menggelikan tapijuga menjengkelkan dirinya, kejadian tidak lama satelah dia meninggalkan Bu-tong-san, waktu itu dia sedang makan disebuah restoran, entah dari mana datangnya berita angin itu, namun lekas sekali telah tersiar luas dlkalangan Kangouw. Dari seorang tamu yang telah mabuk disebuah restoran dia mendengar berita begini:

Entah bagaimana Wi-liong-pit-sin muncul pula di kangouw dan berhasil direbut oleh ceng-san-biau-khek yang pernah menjatuhkan dua murid lihay Tok-pi-cun-cia dari Biau-kiang, serta berhasil meyakinkan ilmunya. Entah karena persoalan lain seorang diri dia meluruk ke Bu-tong, melabrak Bu-tong ciangbun dan Jik-ciok Tojin, sebelum ada kesudahan pertempuran itu, tiba-tiba muncul pula seorang pemuda murid Bu-lim-it-ki yang bergelar Kiu-thian-sin-liong, berjubah hijau bernama julukan Pat-pi-kim- liong (Naga emas berlengan delapan), akhirnya dengan wi-liong-ciang, Pat-pi-kim-liong berhasil memukul luka parah ceng-san-biau-khek, namun berhasil melarikan diri, sebelum merat ceng san-blau-khek berhasil mencuri sebutir Bik-lo-kim-tan, obat mujarab yang merupakan urat nadi pihak Bu-tong-pay.

Sudah tentu pihak Bu-tong gempar dan gusar, anak muridnya segera dia perintahkan mengejar dan merebut kembali obat itu, mati atau hidup harus membawa ceng-san- biau-khek keatas gunung. Bersama itu undangan pun disebar kepada delapan perguruan besar untuk Cancut taliwanda membekuk Pat-pi-kim- liong, karena berita tersiar luas bahwa Kiu-thian-sin-liong telah muncul pula di kalangan Kangouw.

Mendengar cerita urakan yang tidak karuan parannya itu, Ping-ji geli tapi juga dongkol. Pikirnya ia sejak kapan aku berobah jadi Pat-pi-kim- liong segala. Syukur julukan ini enak didengar, maknanya juga baik. Tapi dia amat kaget karena berita yang tersiar luas di kalangan Kangouw ternyata secepat itu, walau kabar angin itu lebih banyak merupakan bualan, namun ada beberapa bagian yang boleh dipercaya. Agaknya karena terdesak keadaan Bu-tong-pay menggunakan cara lama, dengan gabungan kekuatan orang banyak seperti dulu mengeroyok Kiu-thian-sin-liong.

Setelah bimbang sejenak. akhirnya Ping-ji melangkah keutara. Waktu dia lewat di ou-ling, dia mendengar pula berita lain yang mengejutkan, konon Han-sim-leng-mo iblis tua dari Pak- hay yang sejajar dengan Kiu-thian-sin-liong pada delapan puluh tahun lalu membawa serombongan murid, cucu murid dan buyut muridnya berbondong keselatan mau menyerbu Tionggoan, maksudnya mau membuat perhitungan dengan Kiu-thian-sin-liong.

Perlu diketahui bahwa ceng-san-biau-khek ternyata adalah murid Ham-sin leng-mo secara kebetulan ceng-san-biau-khek- dipukul luka parah oleh Pat-pi-kim- liong, murid tunggal Kiu- thian-sin-liong.

Pendek kata, bercorak ragam berita yang simpang siur di kalangan Kangouw. Maka perguruan besar sama sibuk menulis undangan disebar ke berbagai penjuru, suasana menjadi tegang, maklum Ham-sin-leng-mo dari Pak-hay dulu pernah membuat onar besar di Tionggoan. Demikian pula kaum Liok- lim (kalangan begal) juga menyebar Liok-lim-tiap untuk menyambut kedatangan Ham-sin-leng-mo. Karena sebelum ini Ham-sin-leng-mo sudah mengirim muridnya untuk menyampaikan Ham-kut-ling, perintah kebesaran Hian-ping- kiong.

Mendengar berita ini diam-diam Ping-ji girang, pikirnya: "ceng-san-biau-khek ternyata adalah salah seorang jagoan dari Hian-ping-kiong, agaknya setelah lolos dari Bu-tong-pay langsung dia pulang ke Pak-hay mengadu gurunya serta menghasutnya keluar...

Ping-ji mempercepat perjalanan, pada hal hujan salju  cukup lebat, tapi cuaca buruk tidak menghalangi tekatnya,  hari itu dia tiba di kota Lok-yang, kota kuno yang pernah menjadi pusat pemerintahan kerajaan-kerajaan di zaman dulu.

Sebagai kota kuno yang pernah menjadi ibu kota kerajaan, maka kota Lok-yang masih meninggalkan bekas-bekas kejayaannya, jalan-jalan raya dalam kota dibuat dari balok kayu besar, lebar dan bersih.

Sekarang Ping-ji sedang mengayun langkah diatas jalan raya yang sudah dilampiri salju, otaknya terus bekerja mengunyah kenangan lama...

Tanpa terasa hari sudah petang, toko-toko atau rumah- rumah di sepanjang jalan raya sudah mulai menyulut dian atau pelita. Hembusan angin kencang menyampuk Ping-ji menyadarkan lamunannya, segera dia angkat kepala melihat cuaca, pikirnya: "Ah, hari sudah petang, buat apa aku keluyuran tanpa guna dijalan raya nan dingin ini." Maka dia memutar balik haluan-

Jalan raya sepi lengang, hanya deru angin menyelimuti kesunyian alam ini.

Mendadak di ujung jalan raya jauh didepan sana berkumandang suara kelintingan disertai derap kaki kuda yang dicongklang pelan-pelan, Ping-ji angkat kepala, dilihatnya dari arah depan mendatangi sebuah kereta kuda yang lewat disamping tubuhnya. Ping-ji sempat melirik sekejap kereta itu ditarik tiga ekor keledai, tirai kereta diturunkan rendah, kereta itu muat apa tidak terlihat, tapi sekilas itu sudah jelas bagi Ping-ji untuk melihat kusir kereta adalah seorang laki-laki tua berdandan orang kampungan. Tiba-tiba tergerak hatinya, karena lirikan sekejap tadi dia melihat kusir kereta kampungan itu mengangkat kepalanya memandangnya, jelas orang kampungan tapi sorot matanya ternyata tajam berkilat. Waktu Ping-ji menoleh lagi, tampak kereta itu sudah pergi menjauh dan lenyap ditelan kabut, namun dijalan raya bersalju meninggalkan dua jalur panjang.

Agak lama Ping-ji menjublek ditempatnya, dengar rangsangan curiga akhirnya pelan-pelan dia beranjak kembali kehotelnya, otaknya masih juga bekerja, terbayang olehnya sehari semalam di dalam Te-sat-kok. Pikirnya: "Tokko cu yang nyentrik itu memang sukar diselami jiwanya, tapi aku harus berterima kasih kepadanya, karena terlentang diatas balok dipan yang dingin sehari semalam itu, terasa Lwekangnya lebih tangguh dari sebelum ini." Lalu dia menarik napas panjang, celingukan sekejap. yakin sekelilingnya tiada orang lain yang memperhatikan dirinya, segera dia mempercepat ayunan langkahnya.

Luncuran tubuhnya secepat anak panah meluncur, dalam sekejap tinggal setitik bayangan saja dan lenyap dari pandangan.

Lekas sekali dia sudah tiba di depan hotel lalu mengendorkan langkahnya, dengan langkah lebar dia beranjak masuk- Tiba saatnya pasang pelita, seorang pelayan bertugas didepan pintu menyambut tamu, dibawah penerangan lampu angin, dilihatnya penyambut tamu ini adalah kacung yang tadi menerima kudanya, dengan senyum manis segera dia maju menghampiri.

Agaknya kacung cilik itu sedang sibuk dengan pekerjaannya, begitu ujung matanya menangkap bayangan orang masuk buru-buru dia berlari keluar menyambut dengan mulut menyerocos. Tapi serta melihat yang datang adalah Ping-ji seketika dia, berdiri melongo, cepat dia menunduk dengan malu.

Ping-ji tersenyum geli, katanya: "Bagaimana kudaku ?"

Kacung cilik itu bernama Siau-tang, dengan gelagapan dia menjawab: "Sudah... sudah dimandikan dan diberi makan tuan-"

Ping-ji tertawa lebar, katanya: "Banyak terima kasih, rawatlah baik-baik, nah terimalah ini untuk beli arak." Lalu dia rogoh sekeping uang diberikan kepada Siau-tang.

Karuan Siau-tang kegirangan, dengan munduk-munduk dia menyatakan terima kasih, ludahnya berhamburan- Waktu dia angkat kepala lagi, dilihatnya pemuda ganteng ini berdiri  tegak dengan kepala terangkat memandang lurus kedepan pintu.

Sebuah kereta ditarik tiga keledai berhenti didepan pintu, atap kereta bertumpuk salju, ketiga ekor keledai itupun berkeringat napasnya juga ngos-ngosan, jelas baru saja menempuh perjalanan jauh yang melelahkan-

Bergegas siau-tang berlari keluar menyambut, tirai kereta tersingkap beruntun turun dua muda-mudi yang berpakaian tebal dilihat tampangnya kedua muda mudi ini adalah kakak beradik, pemudanya bertampang kampungan, sikap dan tindak tanduknya seperti orang jujur, tapi yang pemudi ternyata berwadah jelita, berpakaian gaun panjang warna hijau gelap. ini terlihat dari balik mantelnya yang tersingkap lebar karena tidak terkancing. Rambutnya dikepang dua, panjang terurai lembut didepan dada, kini dia sedang menunduk membetulkan pita merah diujung kuncirnya.

Kusir kereta adalah laki-laki tua petani berusia lima puluhan, mukanya kuning seperti malam, berkumis pendek, berjubah sutra dengan warna yang sudah luntur, cemetinya dia tancap disela-sela tempat duduk terus melompat turun melangkah lebar ke dalam sini. Lekas Siau-tang memburu maju sapanya: "Tuan-tuan silahkan masuk. silahkan-"

"Ciangkui ada tidak " Petani itu batas bertanya.

Mengira orang adalah teman baik ciangkui Siau-tang menyambut lebih hormat, sahutnya: 'Sayang sekali tuan, Jiya ada urusan kebetulan keluar pintu. Kalian mau istirahat saja atau mau nginap. hotel kita menyediakan kamar bagus dan bersih, tanggung memuaskan-"

'Laki-laki tua itu menghentikan langkah katanya sambil mengerut kening: 'Kalau begitu aku batal menginap. hari belum malam masih dapat aku menempuh perjalanan ke kota depan-

Siau-tang jadi gugup, teriaknya: 'Tuan, kenapa terburu- buru. Hari sudah malam, cuaca buruk lagi, kau... hai Kwi- siansing."

Si kasir alias Kwi-siansing agaknya mendengar ribut-ribut diluar, bergegas dia memburu keluar. Lekas Siau-tang berkata: "Kwi-siangsing, tuan ini adalah teman Jiya kita... "

Laki-laki tua menukas, "Kebetulan lewat sini, maksudku hanya mampir sambil menengok Bu-ciangkui saja. Kalau dia ada.."

"Tuan, kenapa sungkan. Jiya memang tidak dirumah, para pelayan jelas takkan berani kurang hormat kepadamu. Kenyataan kau sudah berada di sini dan tak sudi mampir, bila Ji-ya pulang, kita pasti kena marah," Demikian kata si kasir dengan mata kedip-kedip.

Setelah batuk-batuk lalu melanjutkan: "Apalagi cuaca sedingin ini, keledaimu pasti tak tahan jalan jauh."

Laki-laki tua itu bimbang dia celingukan keluar dan kedalam. Melihat sikap orang agak tergerak. lekas Siau-tang lari keluar hendak menarik kereta kedalam. "Ayah. Kita pulang saja." Demikian ucap nona jelita itu, agaknya dia tidak senang menginap diluaran.

"Maksudku juga demikian, tapi kalau hujan salju lebih deras lagi, celakalah kita ditengah jalan-" Demikian ujar laki-laki tua sambil mengerut kening, dan lagi pakaian kita kurang tebal, kau bisa kedinginan dan masuk angin-"

"Memangnya ? Hujan selebat itu menempuh perjalanan bisa sakit. Tuan, legakan hatimu, lekas Siau-tang, bawa kereta kedalam dan kasih keledai makanan secukupnya." Agaknya si kasir lebih cerdik, segera dia bertindak sehingga ketiga ayah beranak itu terpaksa menginap di hotelnya. "Silahkan tuan, dibilangan belakang ada kamar tersendiri." Sambil menyilahkan si kasir mendahului menunjuk jalan.

Lewat pintu mereka tiba dipekarangan, langsung masuk ruangan besar, keadaan di sini panas dan penuh sesak. meja kursi di duduki para tamu yang belum berangkat, diantara mereka terdiri piausu, pedagang, ada pula kawanan begal atau pencoleng yang sedang main kartu alias judi.

Melihat gadis jelita lewat ruang besar kawanan pejudi itu sama bersiul dan berteriak-teriak dengan celoteh tak karuan, dengan muka merah nona itu menunduk terus berjalan- Hanya sekilas laki-laki muka kuning layangkan pandangannya keruang besar terus mengerut kening. Tapi pemuda dibelakangnya mendelik pandang keseluruh hadirin, sesaat dia berdiri lalu lekas-lekas menyusul laki-laki tua muka kuning kebelakang.

Sang kasir bawa mereka ke pekarangan dalam, dilihatnya Ping-ji sedang berdiri dibawah pohon menikmati kembang sakura yang lagi mekar. Ala kadarnya sang kasir menyapa kepadanya serta terus membawa para tamu kekamar yang disediakan- Waktu di sapa Ping-ji menarik sorot matanya dan menoleh sekilas dia melongo melihat ketiga tamu ini laki-laki tua muka kuning juga memandangnya dengan sorot keheranan, hanya sedikit mengangguk terus beranjak kebelakang, Ping-ji pun asyik menikmati kembang  sakura. Tapi dengan penuh perhatian dia ikuti langkah sang kasir yang menempatkan para tamunya didua kamar dideretan belakang, setelah mengatur segala sesuatunya lalu mohon diri keluar menuju kedepan.

Ingin Ping-ji kembali kekamarnya terus tidur, tapi setelah merasakan segarnya angin malam yang dingin ini, rasa kantuknya telah lenyap. maka sambil menggendong tangan dia mondar mandir dipekarangan, pikirnya gundah, menerawang nasib hidupnya sejak dia ketemu orang aneh dan diberi ajaran Kungfu yang tiada taranya, sehingga sejarah hidupnya banyak berobah, hampir larut malam dia masih terlongong dipekarangan bunyi keriut suara daun pintu terbuka pelan-pelan menyentak lamunannya, waktu dia menoleh dilihatnya seraut wajah jelita menongol dari balik pintu, tapi begitu melihat dirinya berdiri dipekarangan, lekas wajah jelita itu mengkeret masuk dan menutup pintu pula.

Ping-ji terpesona, terbayang betapa jeli bola mata cewek jelita ini, rambutnya yang hitam legam dikepang dua, "Bola matanya mirip sekali dengan Siau-hong, sayang kuncir, Siau- hong tidak sepanjang itu." Demikian Ping-ji  melamun, akhirnya dia tertawa geli sendiri, pikirnya: , Kenapa sih aku ini, melenggong didepan pintu kamar seorang gadis he." Bergegas dia menuju kekamarnya. Diwaktu dia menutup daun pintu kamarnya, ujung matanya menangkap suatu gerakan bayangan kearah pekarangan depan- Dari perawakan bayangan itu Ping-ji tahu ,bahwa pemuda tanggung itu yang bergerak kedepan secara sembunyi-sembunyi.

Setiba didepan ranjang timbul rasa curiganya, pikirnya: "Malam selarut ini, mau kemana dia ? Tingkah laku mereka memang agak aneh." Lalu terbayang akan gadis kuncir besar itu, "Selama setahun ini, Siau-hong tentu tambah besar, kuncirnya mungkin juga sudah sepanjang itu. Ah, kapan aku bisa meluangkan waktu untuk menjenguknya. Tanpa terasa sudah hampir dua tahun, aku dilibat segala urusan tetek bengek" Karena belum kantuk dia duduk dipinggir ranjang, membesarkan pelita serta mengeluarkan sejilid buku serta membacanya dengan asyik.

Tengah Ping-ji asyik menghapalkan ayat-ayat ajaran Nabi, tiba-tiba didengarnya suara ribut-ribut diruang besar, semula dia tidak ambil peduli, tapi keributan semakin keras dan gaduh, suara caci maki tercampur tempik sorak pula. Belakangan suara tempik sorak berganti suara gemerincing pecahnya perabot dan meja kursi yang porakporanda orang banyak sama menjerit kaget dan ketakutan- Akhirnya keributan ini menarik perhatian Ping-ji, pelan-pelan dia menutup buku serta melangkah keluar. Langsung dia menuju keruang besar, di mana suara keributan makin jelas.

Waktu Ping-ji memasuki ruang besar, dilihatnya pemuda tanggung yang datang bersama laki-laki tua muka kuning itu sedang bertolak pinggang serta menuding seorang didepannya, bentaknya gusar: "Bayar dulu baru enyah dari sini."

Laki-laki yang dituding itu berperawakan kekar, dada lebar, tangan merongkol, alisnya tebal, sambil menyeringai dia balas memaki: "Bocah keparat. Berani kau bertingkah di sini, memangnya kau berani menghina kita orang-orang Hwe-hun- bun ..

"Mendengar laki-laki kekar ini tepuk dada menyebut nama Hwe-hun-bun, hadirin sama berobah air mukanya, seperti melihat setan saja, tidak sedikit yang segera kabur dari situ. Masih, ada enam laki-laki yang tetap berada ditempatnya, jelas mereka adalah komplotan laki-laki kekar.

Sesaat Ping-ji berdiri melongo, pikirannya tergerak, dia heran entah kenapa orang banyak mengundurkan diri begitu laki-laki kekar itu menyebut nama Hwe-hun-bun, sehingga dia tidak sempat mengikuti perkembangan yang sekejap ini, pemuda tanggung itu itu sudah digampar mukanya hingga bengap. kawanan bajingan itupun merubung dan menghajarnya pergi datang, tapi si pemuda memang bandel, meski muka dan tubuhnya sudah babak belur tapi dia tetap tidak menjerit, atau merintih, untung sang kasir lekas keluar melerai. Gadis kuncir itupun telah berlari keluar dan meratap sambil menangis: "Lepaskan adikku, kalian orang besar, kenapa menganiaya bocah."

Ditengah gelak tawa latah laki-laki kekar, dia menghampiri si gadis serta ulur tangannya yang gede merenggut dagu si gadis serta menatapnya dengan memicing mata, seringainya sadis dan bajul, desisnya: "cewek seayu ini, kenapa  tidak sejak tadi kau kemari, urusan kan lekas beres ? Hehehe, Yahaha."

"Saudara ini." Sang kasir segera menarik muka dan berseru lantang, bertindaklah yang genah. Ditempat Bu-jiya, siapapun di larang membuat onar."

Mendengar nama Bu-jiva, agaknya laki-laki kekar itu melanggong dan sesaat berdiri kaku, tapi kembali dia tertawa latah, ajarnya: "Baiklah, tuan kasir, didepan Bu-jiya tolong jelaskan duduk persoalannya. Genduk ayu, ikutlah kekamarku. Hahaha." Tangannya berpindah hendak menangkap lengan si gadis lekas, si gadis menyurut mundur sambil menjerit minta tolong.

Berdiri alis Ping-ji, nafsu membunuh telah melembari wajahnya, diluar dugaan sebuah suara tiba-tiba terkiang dipinggir telinganya: ”Jangan tuan menyusahkan diri." Ping-ji kaget serta menoleh kebelakang, seketika dia melenggong, dibelakang tiada tampak bayangan seorangpun, tiba-tiba sebuah suara serak berkata ditengah kerumunan orang banyak: "Tuan-tuan harap sudi memberi kelonggaran- Anak- anak masih kecil tidak tahu urusan, memang mereka yang salah, biar aku mohon maaf saja, harap tuan-tuan suka memberi ampun padanya." Waktu Ping-ji pandang kemuka pula, laki-laki kusir kereta muka kuning itu tengah munduk-munduk memberi hormat kepada kawanan bajingan, air mata bercucuran, air liur meleleh, jelas putra putrinya yang digoda dan dihajar orang, tapi dia malah minta ampun dan maaf kepada kawanan pengeroyok itu.

Berderai gelak tawa kawanan bajingan, ada yang memaki, menghina, dan menyindir tapi laki-laki tua itu menunduk sambil mundur sambil menggandeng putra putrinya maksudnya mau meninggalkan ruang besar ini, tapi laki-laki kekar segera menghadang, desisnya dengan menyeringai sadis: "Mau ngacir ? Memang semudah ini urusan diselesaikan-"

'Maksudmu... 'Bayangan gelap melambari wajah laki-laki tua muka kuning, lekas dia mengerut alis, tangannya melepas gandengan putrinya lalu meraba keikat pinggang, agaknya hendak mengetatkan yang tapi sejenak dia bimbang lalu membatalkan niatnya.

'Keluarkan uangmu, dan ganti kesalahan anakmu." laki-laki kekar berkata serakah, seperti kucing yang mengendus bau ikan, sikapnya garang dan menantang.

"Yah, mereka yang salah, duitku malah yang direbut." Demikian teriak pemuda tanggung penasaran-

"Bandel, apa yang telah kupesan di rumah." Laki-laki tua muka kuning berwajah kampungan mendelik, lalu berpaling kepada putrinya serta mengomel pula, budak tidak tahu diri, disini tempat apa, berani kau kelayapan di sini."

"Yah, mereka . mereka... " Nona berkuncir itu sesenggukan-.

"Tahumu nangis melulu." Damprat pula laki-laki kampungan itu, "Memangnya ada orang baik disarang judi." Berkerut alis Ping-ji. Dilihatnya laki-laki kekar itu melangkah maju seraya ayun tangan "Plak" kontan laki-laki kampungan digamparnya dua kali. "Siapa bukan orang baik. Katakan, biar kurobek mulutmu."

Darah tampak meleleh diujung mulut laki-laki kampungan, dengan air mata meleleh dia munduk-munduk menyurut mundur tanpa berani bersuara atau membalas dia tarik tangan putra putrinya hendak pergi. "Berhenti." Hardik laki-laki kekar.

Mendelik mata Ping-ji, amarahnya sudah membakar dada, sambil mengebas lengan baju pelan-pelan dia berdiri, tiba-tiba tergerak hatinya, waktu dia menunduk, tampak diatas meja menancap sebuah benda sehingga lengan baju kirinya terpaku dipermukaan meja. Sekilas melenggong Ping-ji jemput benda yang berbentuk cakar garuda, seperti terbuat dari besi tapi bukan besi, warnanya-legam, panjang satu dim lebih, ditengah telapak cakar terukir sebuah huruf "Sun". Waktu dia angkat kepala dilihatnya laki-laki tua kampungan sedang geleng- geleng, mulutnya seperti menggumam: "Kalah tidak bayar, main pukul, menganiaya putra putriku, kalian kira aku takut, yang benar aku memberi muka kepada Bu-jiya, kalau tidak.. Hm."

"Hoho, jangan main gertak dengan nama Bu-jiya.” Jengek laki-laki kekar.

"Terserah bagaimana pendapatmu, yang terang aku tidak akan melawan-' Demikian ujar laki-laki kampungan- kata- katanya menimbulkan gelak tawa kawanan bajingan itu.

Laki-laki kekar itu tertawa paling keras tiba-tiba dia melangkah maju pula, tinju sebesar kepala segera dilayangkan mengenjot muka laki-laki kampungan, lawan menyurut mundur Meluputkan diri. 'Sudah tentu laki-laki kekar jadi sengit amarahnya makin besar, sambil menggerung dia mengudak seraya menampar deraan telapak tangannya segede kipas. "Plak, plok" dua kali tamparan keras berkumandang disusul jeritan yang mengerikan-

Tampak laki-laki kekar terhuyung jatuh celentang. darah meleleh dari mulutnya, kedua pipinya bengkak membiru, mulutnya merintih- rintih.

Hadirin tiada yang tahu apa yang telah terjadi, semua mendelong mengawasi laki-laki kampungan itu, pelan-pelan dia angkat tangan kanan yang kurus kering serta pelan-pelan membuka jari-jarinya, delapan jari tangan yang berlepotan darah jatuh dilantai satu persatu. "cukup aku protoli jari-jari iblismu sabagai imbalan perbuatanmu"

Sudah tentu ciut nyali kawanan bajingan itu, muka pucat badan gemetar, tampang yang semula garang dan sadis tadi entah kemana perginya, mimik wajah mereka lebih mirip anjing yang kena gebuk dan mencawat ekor, hati mereka kebat kebit, tiada yang tahu giliran siapa diantara mereka bakal menerima nasib seperti pentolan mereka, maklum mereka pun tadi ikut mengeroyok pemuda tanggung itu.

Diluar dugaan laki-laki kampungan merogoh kantong mengeluarkan sebentuk uang perak terus dilempar kedepan laki-laki kekar yang masih merintih- rintih, katanya:

"Ambil uang itu sebagai ongkos obat. Jangan kau kebentur ditanganku lagi, hukumannya lebih berat." Siapapun tiada yang menduga bahwa urusan akan berakhir begini saja.

Lega hati kawanan bajingan, dilihatnya laki-laki kampungan pergi menggandeng putra putrinya, serempak tanpa berjanji mereka saling berebut memunguti uang yang berceceran dilantai, setelah dikuras bersih beramai-ramai membimbing laki-laki kekar meninggalkan tempat itu.