Hong Lui Bun Jilid 02

Jilid 02

Sebaliknya Lan-ciok Tojin mirip seekor elang yang gagah pentang sayap. terbang di angkasa, tapi kedua sayapnya telah putus, bukan saja tidak mampu terbang, dia harus menelan kekalahan dan derita pula, disamping merintih hatinyapun hancur luluh.

Karena sepasang tangan yang selama hidup ini menunjang kebesaran namanya di kalangan Kangouw kini sudah putus, padahal sepasang tangan ini sudah memberikan anugrah tertinggi bagi sejarah hidupnya didunia persilatan- Tapi hari ini dia terjungkal di bawah tangan anak muda, kalah total, kalah dengan mengenaskan-

Manusia siapa yang tidak cinta pada "nama", bukan kaum persilatan saja orang sekolahan pun demikian, demi mengejar nama dia tekun belajar, siang malam untuk menempuh ujian ketingkat yang lebih tinggi, karena "nama" itu pula bisa mendatangkan kebesaran, gengsi, dari nama itu pula manusia bisa memperoleh apa yang dia inginkan-

Bagi kaum persilatan demi nama dia akan menggembleng diri, karena nama merupakan simbol, mahkota kejayaan, melambangkan harapan yang terbentang dan kemenangan- Karena nama yang sudah lanjut masih merasa jamannya tak pernah kendor, yang masih muda pantang mundur seperti anak kambing yang tidak takut melihat harimau, sama-sama maju, sama-sama runtuh pula, yang ambruk biarlah roboh yang akan datang h ayolah maju melewati jejak-jejak berdarah, walau suatu ketika orang lainjuga akan menginjak jejaknya yang berdarah, tetapi asal kau dapat menduduki singgasana itu, matipun relalah. itulah sebabnya kenapa kaum persilatan memandang nama itu jauh lebih penting dari harta benda, sampaipun lebih berhaga dari jiwa raga, karena nama itu telah menghabiskan seluruh inti kekuatan hidup mereka, walau nama itu sendiri ada kalanya terdapat perbedaan besar dan kecil

Begitu Lan-ciok melihat wajah nan beringas, maka dia menyadari bahwa semua harapannya telah ludes, dari kedua sorot mata yang mengandung kebencian itu, berselubung rasa jijik, cemooh dan penghinaan, tatapan setajam pisau mengiris jantung menusuk hati, hatinya lebur. Harapan tidak bersemayam pula dalam relung hatinya, maka dia takkan melihat lagi wajah-wajah yang membuatnya amat kecewa, wajah yang berlinang air mata, karena dia sudah bertekad untuk mengakhiri riwayat hidupnya. Dia bunuh diri dengan menggigit putus lidah sendiri.

Air mata masih berlinang dipelupuk mata Ping-ji. lama dia berdiri melongo. Terbayang bahwa dirinya ternyata mampu mengalahkan jago-jago Bu-tong-pay yang sudah menggetarkan kalangan persilatan, betapa hatinya takkan riang. Kapan dia pernah membayangkan bahwa hari ini dirinya juga telah terjun didalam percaturan dunia. Semua ini adalah anugrah yang dia peroleh dari orang aneh itu.

Sebatang lilin disulut menerangi orang lain, tapi justru menamatkan riwayat sendiri, orang aneh itu ibarat sebatang lilin, demi perguruan tak segan-segan dia mengorbankan diri dan menyempurnakan seorang anak muda yang masih awam, itulah loyalitas.

Teringat akan ayahnya yang mati mengenaskan, ibu yang hidup merana, rasa dendam kembali menyala dalam sanubarinya. Untuk mencari kedua orang tuanya, dia mengalami berbagai kesukaran, siksa derita, tapi yang didapatkan adalah sang ibunda yang sudah sekarat, ibunya terluka parah dan meregang jiwa, maka dendam berdarah bersemayam dalam hatinya.

Dari kejadian ini Ping-ji meresapi bahwa tugas yang dipikul selanjutnya teramat berat, mencari pembunuh ayahnya, merebut kembali Wi-liong-pit-sin, kembali ke Kuihun-ceng, meluruk ke Bu-tong, membangun Hong-lui-bun kembali, dan masih banyak lagi.

Rentetan tugas terpapar didepan matanya, dia harus menempuh perjalanan yang sukar dan banyak aral rintang, duri-duri tersebar sembarang waktu akan melukai dirinya tapi dia harus berani melangkah lebar, maka: "Aku bersumpah, semua itu akan kupikul seorang diri, sekarang kedua lenganku bertenaga pundaku cukup keras dan kuat." Dengan kertak gigi dia membusung dada, sambil mengayun tinju dia melangkah keluar.

Ditanah lapang dalam hutan, bertambah sebuah pusara. Didepan pusara seorang pemuda sedang berlutut sesenggukan- "Ibu, Istirahatlah dengan tenang, setelah anak memberantas orang-orang yang menganiaya dikau, aku akan datang pula sembahyang di sini. Yakinlah anak akan mampu melaksanakan keinginanmu. Ibu, tentramlah dialam baka" dengan sedih Ping-ji menyembah, setelah menyeka air mata pelan-pelan dia berdiri, dengan langkah berat dia meninggalkan tempat itu. Tiba-tiba dia teringat apa-apa, langkahnya berhenti merogoh kantong mengeluarkan sebuah kotak biru.

Begitu dia membuka kotak biru, bau harum segera merangsang hidung, dalam kotak didasari kain sutra putih, terdapat sebutir pil obat warna kuning emas, pil itu dijemputnya, di bagian dalam tutup kotak terdapat sebaris tulisan yang berbunyi "pusaka pelindung Bu-tong-san", lalu disebelah bawah kiri terdapat empat huruf agak kecil berbunyi Bik-beng-kiam-tan. "Ow, jadi pil obat ini adalah pusaka Butong-pay, tak heran mereka mengudak mati-matian- Ibu, karena pil obat ini kau berkorban jiwa, namun kau sendiri tak kuasa mengecap jerih payah sendiri, betapa penasaran hatimu." Sekilas dia termenung mengawasi pusaka ibunya, lalu memasukkan pil itu kedalam mulut dan ditelannya. Rasa harum manis seketika timbul dari perutnya, badan hangat, semangat menyala, lekas dia duduk bersimpuh, sesuai ajaran orang aneh dia mulai samad i, pelan-pelan dia kerahkan hawa murni menyusuri tubuh menguap melalui pori-pori.

Sesaat kemudian dia membuka mata terus melompat bangun, kontan dia merasakan perbedaan yang menyolok terjadi pada dirinya, gerak geriknya ternyata amat enteng dan lincah, hawa murni terus timbul dari pusarnya, dia maklum bahwa pil pusaka itu telah menimbulkan kemukjijatan didalam tubuhnya setelah didorong oleh latihan Lwekang yang diajarkan orang aneh itu. Tiba-tiba dia membentang mulut mengeluarkan gemboran panjang, tubuhnya melambung ke udara, ditengah udara menekuk pinggang hingga tubuhnya meluncur secepat anak panah terbang kedepan- Gemboran suaranya terdengar jauh menimbulkan gema yang bergelombang ditengah hutan didalam lembah pegunungan- Kabut masih tebal. fajar telah menyingsing, masih pagi sekali.

Muncul setitik hitam bayangan dari ujung undakan dikaki gunung, cepat sekali titik hitam itu bergerak, setiap kali lompatan puluhan undakan dicapainya. Siapa sepagi ini telah berlari-lari mengembangkan Ginkang ? Hanya sekejap orang itu sudah tiba di lamping gunung, tampak dia berhenti celingukan seperti bimbang, lalu menarik napas panjang.

Kabut mulai sirna, lekas sekali tampak raut muka orang ini, dia bukan lain adalah Ping-ji yang sedang meluruk ke atas Bu- tong-san- Sekilas matanya menyelidik, tampak di pinggir sebuah empang disebelah kanan berdiri sebuah balok batu besar, diatas papan batu terukir coat-kiam-giam tiga huruf, gaya tulisannya kuat dan indah. Ping-ji tahu arti ketiga tulisan- dia harus menanggalkan pedang diatas batu itu. Seketika mulutnya menyeringai ejek. gumamnya: "Hidung- hidung kerbau terlalu takabur, sayang aku tidak membawa pedang, kalau tidak aku justru akan menenteng pedang menerjang keatas gunung, coba hidung-hidung kerbau itu bisa berbuat apa terhadap diriku. tiba-tiba dia layangkan sebelah tangannya, sejalur angin kontan menyapu kearah batu besar itu.

"Pyaar" dengan suara gemuruh batu besar itu pecah beterbangan, runtuh kedalam empang. Batu besar itu semplak sebagian besar. Ditengah taburan pecahan batu-batu itu, dari tengah kabut sana terdengar bentakan orang, beruntun meluncur dua bayangan orang, ternyata dua Tojin telah muncul, tangan menenteng pedang beronce emas, berdandan rapi, mereka mendelik gusar mengawasi Ping-ji.

Ping-ji mendengus hina, menegakkan alis, dia berdiri tenang menggendong kedua tangan- sikapnya begitu santai, tak acuh terhadap kedua Tojin itu. Karuan kedua Tojin tambah gusar melihat sikap angkuh Ping-ji, Tojin sebelah kanan segera melangkah maju, sambil menuding dengan, pedang dia membentak: "Siapa kau. berani kau bertingkah di Bu-tong- san, lekas sebutkan namamu, menyerah -saja, kalau tidak. He he " Habis berkata dia melangkah mundur pula ketempat semula.

Tapi dilihat pemuda itu sedang geleng-geleng kepala lalu manggut-manggut pula, tangannya berputar-putar sambil senandung membawakan syair-syair yang melukiskan pemandangan, naga-naganya pemuda ini terpesona oleh pemandangan alam nan indah permai sehingga tidak perhatikan tegoran si Tojin-

Sudah tentu Tojin itu gusar, sambil angkat pedang kembali dia membentak: "Kunyuk kurang ajar, di hadapan Toya masih pura-pura pikun dan tuli, rasakan pedangku." Pedang sepanjang tiga kaki itu tiba-tiba memancarkan sinar kemilau menusuk ke punggung si pemuda.

Tak nyana, tahu-tahu pedangnya menusuk tempat kosong, hingga kakinya tersuruk maju. Lekas dia kendalikan tubuh seraya melompat minggir ke kiri. Setelah berdiri tegak pula dilihatnya si pemuda masih berdiri tegak ditempat semula, mulutnya tetap bersenandung, sikapnya meremehkan- Karuan si Tojin makin naik pitam, tanpa hiraukan s erua n temannya segera dia menubruk maju pula dengan memutar pedang, kali ini sinar pedang nya bertabur dengan suara gemuruh seperti geluduk bunyi dikejauhan, kecepatan serangannya laksana kuda dibedal bersama di medan perang.

Tiba-tiba sebuah siulan merdu terbit dari tengah taburan pedang, getaran suaranya seperti menggoncangkan bumi, Tojin lain yang menonton dipinggir juga seperti tersedot sukmanya. Belum lenyap siulan merdu itu, tiba-tiba disusul jeritan menyayat hati, tampak tubuh Tojin menyerang dengan pedang mencelat tinggi kearah batu besar dipinggir empang. "Blang" batok kepalanya menumbuk batu dan pecah berderai, kaki tangannyapun hancur lebur terbang keempat penjuru, ada yang tersangkut diatas pohon, ada yang kecemplung keempang.

Darah meleleh diatas batu mengalir ketanah dan air.

Melihat adegan yang mengerikan betapa Tojin yang satu tidak ngeri dan gusar. Dengan meraung buas dia menerjang: "Kunyuk serahkan jiwamu." hebat sekali dia melompat kedepan Ping-ji, pedangnya teracung menutup pertahanan, lalu melotot gusar.

Dalam segebrak dia menyaksikan saudaranya terbunuh dengan mengenaskan, maka dia tahu bahwa dirinya menghadapi musuh tangguh, meski hati amat gusar mau tidak mau dia keder juga menghadapi ketenangan si pemuda. Pelan-pelan pemuda itu mengebas lengan baju, matanya mendelik, bentaknya:

"Hidung kerbau, kematian didepan mata, masih berani bermulut kotor, serahkan juga nyawamu."

Sebelum pedang si Tojin bergerak dia sudah ayun tangan, segulung tenaga menerjang kedada lawan-

Kontan si Tojin merasa suatu arus besar menerjang dirinya, lekas dia putar pedang seraya melompat mundur. Tapi sebelum dia berdiri tegak segulung angin yang lain telah mengudak tiba pula, saking kaget lekas dia berkisar sambil menekuk pinggang menegakkan telapak tangan menyongsong serangan lawan-

Tiba-tiba dia rasakan sekujur tubuhnya tergetar linu, darah panas segera menerjang ke tenggorokan- Lekas dia bersalto pula kebelakang, begitu berdiri tegak terasa lutut goyah dan tak bertahan lagi sempoyongan mundur beberapa langkah tanpa kuasa mengendalikan diri. Dengan blingsatan dia angkat kepalanya mengawasi lawan, kuatir dirinya disergap pula.

Tapi lawan bukan pengecut seperti yang diduganya, tetap berdiri ditempat semula lawan mengawasinya dengan senyum jejek. Rasa malu seketika membakar amarahnya, karena dia tidak tahu siapa pemuda berwajah ganteng, datang dari mana, memiliki Kungfu aneh dan selihay ini, jelas dirinya takkan melawan dan bukan tandingan- Apalagi terbayang kematian temannya yang luluh seperti bergedel, karuan nyalinya pecah, kaki tangan gemetar dan lunglai. Lekas dia tenangkan diri, setelah menarik napas beberapa kali, dia tahu- tahu dirinya tidak kurang suatu apa, maka dia membetulkan pakaian serta melintang pedang didepan dada, serunya lantang:

"Kungfu saudara memang lihay, entah siapa saudara ini sudilah memperkenalkan diri ?" Sengaja dia mengulur waktu supaya bala bantuan lekas datang. Ping-ji tidak hiraukan pertanyaannya, bentaknya: Jangan cerewet. Kau ini yang kelima, serahkan jiwamu." Kedua lengan bajunya mengebas kemuka si Tojin. Kontan si Tojin ras akan pandangannya kabur, lekas dia ayun pedang memapas lengan baju orang tapi hanya sekejap tahu-tahu dia rasakan kuping kanannya perih panas. Karuan dia berjingkrak mundur, tahu usahanya mengulur waktu tak berhasil terpaksa dia nekat melawan, Liu-in-kiam-hoat yang mempunyai tiga puluh enam jalan segera dia kembangkan- Latihan ilmu pedang Tojin yang satu ini memang cukup sempurna, Ginkangnya juga lumayan, gerak geriknya enteng lincah. gerak pedangnyapun mahir, tapi setiap serangannya cukup ganas dan mematikan-

Variasi permainannya juga amat rumit, menabas, mengetuk. menjungkir, menusuk, menggulung dan menutuk dengan berbagai gerakan yang beraneka ragam. Tapi betapapun lihay dan cepat sarangkaian serangan pedangnya, jangan kata melukai lawan menyentuh ujung bajunya saja dia tidak nampat malah setiap tangan lawan terayun, telapak tangan berlapis-lapis membrondong kearah dirinya. "Trang" tahu-tahu pedangnya bergetar keras, telapak tangan pecah berdarah, hampir saja pedang tak kuasa dipegangnya.

Karuan dia makin gugup dan panik, sembari melawan tiba- tiba dia bersuit, merobah permainan pedang dia balas mencecar lebih sengit. Dia pikir bersuit mengundang bala bantuan, maka sengaja dia bermain petak sambil mengerahkan setaker tenaga merangsak lebih gencar.

Diluar tahunya lawan juga sudah tahu akan maksudnya, belum habis benaknya berpikir, kenapa bala bantuan belum juga datang, serangkum angin telah menyampuk muka, kembali dia merasa kuping kirinya perih panas pula, mau tidak mau tergerak hatinya, lekas dia jumpalitan mundur kebelakang, sambil ulur tangan meraba. Ternyata tangan nya meraba tempat basah dan kental lengket waktu dia tegasi ternyata tangannya berlepotan darah, entah bagaimana kedua telinganya ternyata sudah terbang entah kemana. Karuan serasa arwah terbang dari raganya.

Pada saat itulah, sebuah siulan panjang berkumandang dari atas gunung, karuan hatinya girang dan semangatnya tergugah pula, Tapi sebelum dia sempat melakukan sesuatu mendadak dia merasa tengkuknya kesemutan segulung angin menerjang dada, belum sempat dia bersuara tubuhnya sudah mencelat terbang. Tubuhnya melambung tinggi melampaui pohon, terus meluncur, ditengah udara si Tojin masih sadar dan berusaha mengendalikan tubuh dengan jumpalitan sayang begitu dia kerahkan tenaga, seluruh tubuh ternyata sudah lemas lunglai, baru sekarang dia benar-benar takut menghadapi kematian, ingin berteriak tapi tidak keluar suara, kupingnya masih sempat mendengar beberapa bentakan dan tawa dingin lalu... "Blang" batok kepalanya menumbuk batu, remuk redam... darahnya muncrat, tubuhnya hancur, jatuh ditanah, mengalir kedalam air. Air empang itu kini sudah menjadi merah menyolok.

Terdengar Ping-ji tertawa panjang, serunya lantang: "Bagus, bagus datang dua lagi, kebetulan malah."

Di kala Ping-ji memukul terbang Tojin kelima, berkumandang bentakan dua orang, maka muncullah dua Tojin membawa pedang merekapun berjubah hijau mulus, dandanan rapi berwajah tampan bersih dan rambut tersisir rapi diatas gelung kepalanya.

Melihat kematian dua saudara seperguruan yang begitu mengenaskan, sungguh tak terperikan ngeri dan gusar mereka, "Sret" serempak mereka mencabut pedang, masing- masing ditangan kanan dan kiri, pelan-pelan mereka mulai bergaya dan pasang kuda-kuda, dengan langkah yang berlawanan mereka siap melancarkan Liang-gi-kiam-hoat kebanggaan Bu-tong-pay.

Agaknya kedua Tojin ini datang setelah mendengar suitan minta tolong saudaranya, tak nyana sebelum mereka tiba Tojin itu sudah ajal, tahulah mereka bahwa penyatron berkepandaian tinggi, maka tidak segan mereka mempersiapkan diri dengan Liang-gi-kiam-boat untuk  melawan musuh tangguh.

Melihat betapa tegang persiapan kedua Tojin lawannya itu, diam-diam Ping-ji geli dan prihatin, dengan serius dia berseru:

"Liang-gi-kiam-hoat memang bagus. Biarlah Cayhe membuka mata. Nah mulai." Pelan-pelan dia ayun kedua tangan, dua jalur angin kencang masing-masing menerjang kedua Tojin itu.

Begitu kedatangan kedua Tojin ini, Ping-ji sudah berniat sekali pukul menewaskan mereka, tapi serta melihat gaya permulaan kedua jago pedang didepan mata ini, dia jadi urung turun tangan serta ingin menjajal dan membuktikan sampai di mana kehebatan ilmu pedang Bu-tong pay, beruntung juga bagi ke dua Tojin ini. bahwa jiwa mereka masih tertunda beberapa saat lagi menghadapi raja akhirat.

Ping-ji mengembangkan ketangkasan tubuh, dan ingin meminjam kesempatan ini menyelami permainan Liang-gi- kiam-hoat sebagai pupuk dasar awak sendiri bila kelak harus mempelajari ilmu pedang, karena itu dia biarkan kedua Tojin ini merangsak sekuat tenaga, pada hal bila menuruti kata hatinya hanya segebrak kedua orang ini tentu sudah mampus, Maklum sebelum dia menelan Bik-bong-kim-tan saja Lan-ciok Tojin bukan tandingannya, apa lagi sekarang setelah khasiat obat itu sudah bekerja di dalam tubuhnya ?

Tapi sebuah suitan panjang berkumandang lagi dari kejauhan, melihat rona muka kedua lawan dia tahu mereka kedatangan bantuan pula, maka dengan sejurus Liong kiap- sin-gan, begitu kedua tangan dia tarik mundur, lalu  dikebaskan pula, kedua Tojin inipun dipukulnya mencelat menumbuk batu. Jiwa merekapun melayang seketika mengikuti saudaranya. Begitu membalik tubuh sekalian dia gerakkan pula kedua tangannya menggempur dua Tojin yang baru tiba.

Dua Tojin yang baru datang inipun bersenjata pedang dan bergerak dengan Liang-gi-kiam-hoat, melihat gempuran dahsyat ini, lekas mereka menghardik sekali terus berpencar kekanan kekiri, permainan pedang dikembangkan menepis pergelangan tangan Ping-ji. Sejurus dua gerakan serangan pedang mengandung unsur Liang-gi-su-siang, didalamnya disadari tenaga im-yang pula, lihaynya bukan main, jelas tingkat kepandaian kedua Tojin yang belakangan ini setingkat lebih tinggi dari dua yang duluan- Ping-ji rasakan sinar pedang berkelebat menyilau mata, tahu-tahu kedua pedang lawan sudah membendung serangan tangannya, karuan dia mencelos, diam-diam dia memuji: "Liang gi-kiam-hoat memang tidak bernama kosong.

Lekas dia tarik tangan tangan merobah gerakan, begitu lengan bajunya mengebut tangannya terangkat beberapa dim, ditengah udara membuat garis lingkar lalu kedua tangan terjulur kedepan, kelima jari terkembang, secepat kilat mencakar kedua Tojin itu.

Jurus ini adalah ciptaannya sendiri karena terdesak dan merupakan gerakan reftek yang belum pernah dia selami sebelum ini, namun ternyata membawa manfaat bagi diri nya, sehingga kedua lawan terdesak mundur untuk melindungi kedua mata mereka.

Bahwa pedang sendiri tidak mampu melukai lawan, malah kebasan lengan bajunya disertai cakaran tangan yang aneh dan lihay bergegas kedua Tojin ini menjengkang kebelakang, pedang mendatar melindugi muka.

Melihat serangan mendadak berhasil memukul mundur lawan, Ping-ji mendesak lebih gencar kedua lengan menekuk kedalam terus terayun keluar, dia menepuk keluar segumpal tenaga lunak sekaligus menggempur kedua Tojin itu. Kembali kedua Tojin melongo, tapi bagaimana juga mereka adalah murid pergu-ruan ternama yang memiliki kepandaian silat tinggi, hanya sekejap mereka sudah berhasil menenangkan hati, serempak mereka menegakkan pedang didepan hidung sebelah jarinya menjentik batang pedang sekali, dikala suara berdering masih kumandang diudara dari kiri kanan kembali mereka bergerak melingkar, memunahkan tenaga pukulan Ping-ji, Maka terdengar mereka bersiul bersama saling memberi aba-aba, dua batang pedang tahu- tahu sudah bertukar arah sama membelok kedada Ping-ji, bila ujung pedang tinggal beberapa dim dari sasaran, kembali mereka angkat ujung pedang menusuk kemuka Ping-ji, sebelum Ping-ji menarik serangan balas menyerang. sinar pedang berkelebat pula, kali ini menabas kalian kiri pundak Ping-ji.

Tabasan, tusukan dan menj ungkit tiga gerakan dilancarkan dalam waktu sekejap sekaligus ini menandakan bahwa kedua Tojin memang cukup ahli dibidang permainannya. Kenyataan serangan mereka memang bukan olah-olah lihaynya.

Melihat arah sasaran terakhir pedang lawan adalah kedua pundaknya, bertaut alis Ping-ji, namun dia tidak berani ayal, lekas dia merendah tubuh menurunkan pundak sambil miring dia melayangkan kedua lengan bajunya menangkis pedang sementara sepasang tangan yang terselubung d id alamnya menjentik batang pedang.

Meski berhasil mematahkan serangan lawan, tak urung telapak tangan Ping-ji berkeringat dingin, karena gebrakan tadi tak ubahnya sebagai gerakan untuk menolong diri dikala pihak sendiri terdesak, sedikit lena dan kurang perhitungan, kedua tangan sendiri kemungkinan protol oleh tabasan  pedang lawan- Tapi keadaan memang sudah mendesak, terpaksa dia menyerempet bahaya.

Tapi menghadapi perlawanan Ping-ji, kedua Tosu itu juga terkejut, beberapa gebrak sudah, tapi mereka masih belum berhasil menyelami permainan silat Ping-ji dari aliran mana, bukan saja aneh dan lihay, perbawanya juga tidak asor dibanding ilmu silat dari aliran besar yang digjaya dijaman ini. oleh karena itu mereka sudah bergerak turun sekalian hendak menabaS, tapi menduga gerakan lawan kemungkinan masih ada serangan susulan lain, maka mereka^adi sibuk sendiri menarik- pedang dan berpencar kedua samping.

Melihat mereka menarik diri, kebetulan malah bagi Ping-ji, terdengar mulutnya menghardik, kedua tangan ditarik tubuhnya malah berputar dengan kaki kanan sebagai poros, dimana lengan bajunya mengebas pula dibarengi suitan tubuhnya lantas melambung ditengah udara kedua tangannya menari gencar menimbulkan taburan telapak tangan hingga menyilaukan mata, kedua Tojin itu seperti sudah terjaring didalam taburan telapak tangannya, itulah jurus Llong-hwi-kiu- thian dari Wi-liong-ciang.

Melihat serangan hebat dengan gaya aneh lagi, serasa pecan nyali kedua Tos u itu mereka sudah siap menarik diri, tahu-tahu gelombang pukulan telah menindih turun, dalam gugupnya Tosu sebelah kiri memberi aba-aba kepada temannya terns melompat ke pinggir.

Tapi ditengah udara Ping-ji meliukkan pinggang, dengan menukik dia menubruk ke Tojin sebelah kiri malah. Laksana elang menerkam anak ayam, disertai serangan dahsyat pula, kontan kedua Tosu itu rasakan napas sesak mata berkunang- kunang, saking gugup mereka angkat pedang menusuk keatas. Tapi sekujur badan mendadak tergoncang keras, "Trang" pedang panjangnya putus jadi dua dan "Prak" batok kepalanya terpukul remuk darah muncrat dan kembali "Bluk" jazatnya terkulai roboh.

Hampir bersamaan terdengar juga jeritan menyayat hati, "Bluk" dan "Bles". Ternyata Tojin yang seorang lagi mencelat terbang dengan jeritan mengerikan, tubuhnya menerjang kebatu pilar, disusul selarik sinar kemilau, begitu tubuh membentur batu pedang pun melesat hingga tubuhnya terpantek diatas batu besar, darah meleleh dari punggung, setetes demi setetes...

Ternyata Liang-gi-kiam-hoat merupakan permainan dua pedang yang saling isi dan tambal. satu sama lain mengandung gerakan mengunci yang berlawanan pula, bagi lawan yan-kurang cermat memang sukar melawan apalagi berkepandaian lebih rendah, setelah beberapa gebrak, Ping ji sicerdik ini sudah berhasil menyelami titik kelemahan dari permainan kedua Tos u ini, maka dalam benaknya dia mencari akal cara bagaimana memecahkan Liang-gi-kiam-hoat kedua Tosu ini. Maka dia gunakan Liong-hwi-kiu-thian, taburan telapak tangannya mengaburkan pandangan kedua lawan, sesuai dugaan, satu di antara kedua Tojin memang gugup dan melompat mundur, ini justru masuk perangkap yang diharapkan, karena perbawa Liang- gi kiam-hoat menjadi kendor dan dirinya memanfaatkan kesempatan baik ini.

Ping-ji memang bertindak teramat berani, secara berantai dia pukul mati Tojin yang menyingkir itu. Sebelum Tojin yang lain sempat mengerjakan otaknya, kembali dia susuli jurus Liong-kiap-sin-gan, tubuh orang dikebutnya mencelat lalu disusul timpukan pedang yang memantek tubuh orang diatas batu.

Menghadapi ceceran darah dan mayat bergelimpangan dalam keadaan yang mengerikan, Ping-ji berdiri lengang dengan pandangan kosong, daging mukanya tampak berkernyit. Memang siapa tidak ngeri dan merinding melihat pembunuhan sadis ini. Tapi tiba-tiba bayangan sang ibu berkelebat dipelupuk matanya, darah yang meleleh diujung mulut, sorot mata penuh harap dan lengan yang buntung... akhirnya dia membanting kaki sambif kertak gigi desisnya.

"Kenyataan yang tak dapat dipungkiri, hutang darah itu harus kutagih dengan cucuran darah mereka pula. Ini baru permulaan, hm, tunggu saja." Lalu dia mendongak sambil melolong keras dan panjang, suaranya seperti benda keras beradu menjulang tinggi menembus angkasa. Sebelum pekik suaranya lenyap dia gerakan kedua lengan hingga tubuh- melejit tinggi, ditengah udara dengan gaya lembut dia meluncur pula kedepan terus meluncur keatas gunung.

---ooo0dw0ooo---

Bu-tong-san sudah bermandikan cahaya mentari pagi. Tak jauh dibelakang gunung Bu-tong terdapat sebuah selat  sempit, didalamnya terdapat sebuah Thian-hian- kok. saat mana, didepan selat berdiri serombongan orang yang tak terhitung jumlahnya. Diantara mereka ada yang berpakaian jubah imam ada pula yang berpakaian Busu. orang-orang gagah yang menyoreng pedang. ada pula yang berpakaian anak sekolahan- Ada yang sudah tua ubanan, jenggot panjang menyentuh dada, ada juga yang berwajah putih halus dengan alis tegak mata bersinar tajam. Meski dandanan mereka berlainan, tapi mereka berdiri khusuk dengan muka serius, semua menampilkan rasa tegang dan gelisah.

Sinar pagi menyinari wajah-wajah mereka tidak pernah menoleh atau memejam mata, semua perhatian ditujukan kearah sebuah mulut gua diatas dinding gunung. Sebuah batu besar persegi panjang dan tinggi satu tombak. menutup rapat mulut gua itu.

Tidak jauh dari mulut gua, berdiri segi tiga, tiga orang Tosu usia lanjut dengan jenggot menyentuh dada. Jubah hijau mereka diberi plisir warna kuning, semua memegang kebut, dari dandanan mereka jelas dapat dinilai mereka ketiga Tojin ini mempunyai kedudukan tinggi dan nama tenar, karena mereka menghadapi rombongan banyak orang yang berdiri dimulut selat.

Tosu tua yang berpakaian dan bersikap seperti dewa memang bukan lain adalah ciangbunjin Bu-tong-pay sekarang, yaitu Ceng-ciok Tojin. Dua Tosu dibelakangnya bukan lain adalah Pek-ciok Tojin dan Jik-ciok Tojin-

Waktu merambat, sang suryapun merambat makin tinggi. Melihat sang surya yang baru terbit. Pek-clok Tojin berpaling kepada Jik-ciok Tojin disebelah kanannya, katanya dengan suara serak kaku: "Masih setengah jam lagi."

Mendengar bisikan Pek-ciok Tojin, Jik-ciok Tojin menoleh seraya manggut, mulutnya terbuka hendak bicara.

Mendadak sebuah suitan keras berkumandang dari ngarai dibawah selat sana, mendengar suitan keras ini seketika berobah air mukanya, mulut yang hampir bicara ditelannya kembali. Begitu suitan sirap. melayang turun bayangan seorang ketanah lapang didalam selat.

Pandangannya mendadak terang, dilihat nya pendatang ini masih berusia muda. berwajah cakap dengan alis tegak menaungi sepasang mata besar tajam, mengenakan baju pendek warna pupus, sikapnya santai dan berjalan berlenggang.

Mendengar suitan serta melihat wajah muda dan ganteng pemuda ini, diam-diam Jik-ciok Tojin merasa bahwa anak muda ini pasti bukan orang sembarang orang. Bahwa dalam saat segenting ini, pemuda berpakaian pelajar ini mendadak muncul, pasti ada tujuan dan maksud tertentu. Maka sambil mengerut alis, menenteng kebut dia sudah bergerak hendak mencegat.

Tiba-tiba beberapa bentakan berkumandang dari bawah pula, tiga Tojin yang menenteng pedang tampak berlari mendatangi dari arah selat sebelah sana. dua diantaranya sudah maju mencegat si pemuda, seorang lagi langsung lari kearah Jik siok To jin-

Dengan napas memburu Tojin ini memberi laporan: "Murid generasi ke 53 Ji-hun memberi lapor kepada Susiokco. Tecu bersama Siang-hun dan King-hun Suheng pagi ini meronda dibelakang gunung, tiba-tiba mendengar suitan s.o.s dari gunung depan, lekas kami memburu ke sana, ternyata di coat- kiam-giam telah terjadi pembunuhan atas murid-murid perguruan kita, darah berceceran, mayat bergelimpangan, seorang Suheng malah terpantek diatas batu, Tecu bertiga tidak berani ayal, mengingat urusan cukup genting maka laporkan kejadian ini kepada Susickco harap dimaklumi." Habis bicara dia membungkuk terus mundur kesamping.

Berkerut alis Jik-ciok Tojin mendengar laporan itu, tangannya mengulap memberi tanda supaya Tosu muda itu mengundurkan diri, lalu dia menoleh kearah Ceng-ciok Tojin, maksudnya hendak minta petunjuk kepada ciangbun Suhengnya.

Tak nyana dilihatnya ciangbun Suhengnya Ceng-ciok Tojin bersikap serius, seluruh perhatian tertuju kearah gua diatas dinding yang tertutup batu persegi raksasa itu, bahwasanya seperti tidak mendengar atau melihat suitan dan kedatangan Tosu yang memberi laporan-

Jik-ciok Tojin maklum keadaan ciangbunjin, karena dalam saat dekat ini, situasi bakal terjadi perobahan yang gawat dan menentukan akan kejayaan Bu-tong-pay mereka selanjutnya, malah boleh dikata, mati hidup berdirinya Bu-tong-pay selanjutnya akan ditentukan dalam waktu dekat ini.

Maka sesaat setelah dia bimbang dan hendak membalik tubuh, sebuah jeritan seperti lolong serigala kumandang dari sana waktu dia angkat kepala, tampak seorang Tojin terpukul remuk separo batok kepalanya, mayatnya menggeletak mandi darah, seorang Tojin muda lain yang bersenjata pedang sedang didesak kerepotan oleh pemuda sekolahan yang baru datang itu jelas jiwanyapun terancam elmaut.

Jik-ciok Tojin membentak sekali, tubuhnya segera melambung tinggi, ditengah udara dia ayun kedua tangannya menimbulkan gempuran angin dahsyat menerjang kearah si pemuda. "Blang" kontan dia rasakan tubuhnya bergetar, tubuh yang meluncur kedepan seperti terhalang terus anjlok turun kebawah, setelah bersalto dua kali baru Jik-ciok Tojin berdiri tegak.

Bersamaan dengan itu, sebuah jeritan kumandang pula, jeritan mengerikan yang bisa menyedot sukma orang. Tampak Tojin berpedang itu kedua tangannya sudah buntung, berguling-guling ditanah berbatu, pedang panjangnya itupun putus dua menggeletak ditanah.

Pemuda itu membulatkan matanya menatap dengan pandangan gusar, lengan kirinya tergores luka beberapa dim, darah mengalir membasahi lengan bajunya.

Sambil mengayun kebut Jik-ciok Tojin menghampiri, bentaknya menuding: "Hai, anak bawang, kau di suruh siapa berani bertingkah di Bu-tong-san, lekas sebutkan nama gurumu, jiwamu masih boleh diampuni kalau tidak-hm." Kedengarannya mulutnya garang, pada hal hati Jik-ciok Tojin amat kaget dan bingung, karena apa yang barusan dialami, dan bocah ini masih mampu melukai kedua tangan orang dihadapannya, jelas kepandaian orang tidak lebih asor di banding kemampuannya sendiri. Maka setelah dia melontarkan ancamannya, diam-diam dia sudah kerahkan tenaga, siap siaga menghadapi labrakan lawan-

Ternyata setelah menghabisi empat jiwa Tojin di coat-kiam- giam, Ping-ji terus langsung naik keatas gunung, diatas gunung biara besar kecil tersebar di mana2, tapi keadaan disini sepi lengang tidak kelihatan bayangan orang, karuan dia keheranan, maka dia keluyuran kian kemari, dua Tosu yang ronda kepergok ditengah jalan, jelas mereka bukan tandingannya, hanya segebrak jiwa merekapun amblas. Karena tidak hapal jalan Ping-ji akhirnya tiba dibelakang gunung, di atas sebuah tebing dia melihat jauh diselat sana berkumpul banyak orang, maka dia bersuit panjang terus melesat terbang kearah sana. Dikala tubuhnya berlompatan kearah selat itulah, dirinya dicegat kawanan Tosu bersenjata pedang maka dia membela diri dengan melontarkan pukulan setelah mengalami beberapa kali pertempuran, pengalaman nya bertambah, hatipun makin tambah, tapi dua Tojin yang menghadangnya ini memang berkepandaian cukup tinggi, maka masih memerlukan sedikit menguras tenaga baru berhasil membereskan mereka.

Dengan pukulan dahsyat dia berhasil mengepruk remuk batok kepala seorang Tojin dikala dia menyerang Tojin yang seorang lagi, didengarnya bentakkan keras disusul terjangan segulung tenaga angin yang keras menindih dirinya, terpaksa dia menggerakkan tangan memapak serangan-

Begitu adu pukulan baru hatinya mencelos, dia mundur setengah langkah baru berdiri tegak pula, pada saat yang sama selarik sinar kemilau dari sembilan pedang telah mengaris tiba, dalam gugupnya lekas dia menggeser setengah langkah pula kesebelah kanan, menghindari tabasan pedang, namun gerakannya agak terlambat, lengan kirinya tergores luka beberapa dim, untung dia cukup tangkas, kalau tidak mungkin lengannya sudah buntung.

Sekilas ujung matanya menangkap gerakan Tojin berpedang tadi, karuan amarahnya membara dengan satu gerungan sambil menahan sakit kedua tangannya berputar melontarkan jurus Llong-kiap-sin-gan, gempuran dahsyat menerjang kearah Tojin itu.

Tojin itu sedang girang bahwa serangan pedanbnya berhasil melukai lawan tahu2 segulung tenaga dahsyat telah melanda dadanya, ter-sipu2 dia menudingkan pedang, tak nyana pedangnya mendadak tergetar patah dua, tubuhnyapun keterjang sempoyongan beberapa langkah, "Bluk" dia jatuh terduduk ternyata kedua tangannya putus dan remuk sebatas pergelanan tangan-

Saking sengit. Ping-ji sudah siap mengganyang Tojin yang satu ini, tapi dilihatnya Jik ciok Tojin sudah berada dibelakangnya dia urungkan niatnya, dengan gusar di tatapnya Jik-ciok Tojin.

Mendengar ucapan Jik-ciok Tojin, makin membara amarah Ping-ji, namun didapati Jik-ciok Tojin ternyata berdandan mirip dengan Lan-ciok Tojin, maka dia tahu bahwa Tojin yang dihadapinya ini pasti punya kedudukan lebih tinggi paling tidak setaraf dengan Lan-ciok Tojin, kepandaiannya juga pasti lihay, maka dia kendalikan amarah, bentaknya: "Hidung kerbau. Siapa suruh kau merintangi tuan mudamu, lekas sebutkan namamu, boleh nanti kuampuni jiwamu, kalau tidak. h m." Dengan bertolak pinggang dia balas menatap garang.

Bahwa si pemuda tidak menjawab pertanyaannya malah balas menyindir dengan nada yang sama dengan dirinya tadi, sudah tentu Jik-Ciok Tojin naik pitam, damprat nya: "Bocah kurang ajar, bertingkah dan takabur, lihat pukulan-" Sembari bicara dia tancapkan kebut dibela kang punggung lalu menyilang kedua tangan melontarkan pukulan Boh-giok kun yang terkenal ajaran Butong-pay murni. Pukulan tinjunya menerbitkan segumpal badai menerjang kedada Ping-ji.

Lekas Ping-ji menggeser setengah langkah sambil menurunkan tubuh hingga angin pukulan itu lewat diatas kepalanya, namun berbareng dia melingkarkan kedua lengan terus didorong kedepan, segulung tenaga bagai lidah petir menyambar keperut Jik-ciok Tojin.

Jik-ciok Tojin menggembor sekeras guntur, tubuhnya menjengkang kebelakang terus melesat undur, disaat tubuhnya terapung dia menekuk pinggang sembari menggerakkan lengan, kembali sejurus pukulan lihay dari Boh- giok kun dia lontarkan-

Melihat pukulan angin lawan menindih kepala lekas Ping-ji menunduk kepala sambil miringkan tubuh bergerak setengah lingkar, berbareng menegakkan tubuh mengayun kedua tangan, menciptakan tabir pukulan yang deras dengan tepukan beruntun dari bawah menerjang keatas menyongsong, pukulan Jik ciok Tojin-

Jik-ciok Tojin merasakan kelihayan pukulan lawan, angin tajam itu seperti hendak membelah perutnya saja, karuan darahnya tersirap. lekas dia menghirup napas mengerahkan hawa murni, ditengah udara, tubuhnya bertolak balik seraya membentak: "Berhenti." Tabuhnya meluncur tiga tombak baru melayang turun, bola matanya jelilatan mengawasi Ping-ji.

Baru dua gebrak Jik-ciok Tojin sudah melompat mundur dan berkata demikian pula, Ping-ji waspada, apalagi lawan menatapnya tajam main selidik, maka dia tertawa bingar katanya: " Kenapa? Tojin bangkotan, kau menunggu bantuan

?"

Berubah rona muka Jik-ciok Tojin, tapi dia menahan amarah, katanya " Kenapa tuan bilang begitu. Ada satu hal Pinto ingin bertanya, entah bagaimana pendapat tuan ?"

Sikap lawan berobah, mau tanya entah soal apa, maka menegak alis Ping-ji, jengeknya: "Tosu tua hendak tanya apa, lekas katakan, jangan buang waktu."

Mengkerut alis Jik-ciok Tojin, dengan wajah serius dia berkata: "Apakah tuan adalah ceng-san-biau-khek yang baru- baru ini terkenal di Kangouw ?"

Tiga bulan yang lalu muncul seorang pemuda ganteng dikalangan Kangouw, berkepandaian tinggi berpakaian jubah hijau, bukan saja berkepandaian tinggi, Lwekangnya tangguh, Ginkangnya tinggi, selama tiga bulan telah mengalahkan banyak gembong-gembong silat di Bulim, maka kaum persilatan entah golongan hitam atau aliran putih sama mengagumi tapi juga tidak sedikit yang mendendam padanya. Karena dia senang berpakaian hijau, jejaknya tidak menentu pula maka kaum persilatan memberi julukan ceng-san-biau- khek (Pendekar gelandangan jubah hijau). Kini Jik-ciok Tojin menghadapi lawan muda berwajah ganteng, memiliki kepandaian lihay, asal usul perguruannya juga susah diketahui. berpakaian hijau pula,jik-ciok jadi curiga, maka dia ajukan pertanyaan.

Tapi Ping-ji yang ditanya malah menarik alis, bentaknya:" Tojin keparat jangan ngawur peduli jubah hijau, atau jubah putih, serahkan jiwamu." Dengan sengit dia cecar Jik-ciok Tojin dengan pukulan gencar.

Sudah tentu Jik ciok Tojin amat kaget, tak terbayang bahwa pemuda ini ternyata berwatak kasar dan keras, pertanyaan tidak dijawab malah menyerang sengit, lekas diapun lontarkan dua jurus pukulan menangkis sejurus serangan Ping-ji: "Dar " ditengah ledakan keras, kedua orang tertolak mundur. Jik-ciok Tojin mundur dua langkah, karuan kejutnya bukan kepalang. Sementara Ping-ji hanya merasakan dadanya sesak lekas dia menjejak kaki melompat mundur tiga kaki jauhnya. Anggaplah dia dipihak yang beruntung, kalau dia keras kepala tetap bertahan pada posisinya semula darahnya pasti bergolak dan bertolak belakang. dadanya bisa remuk hingga darah akan keluar dari tujuh lobang panca indranya.

Maklum saking kagetnya begitu tertolak mundur Jik ciok Tojin sudah menekuk pinggang memasang kuda-kuda terus melontarkan pukulan Boh-giok-kun, kali ini bukan saja dia mengerahkan seluruh kekuatannya, sebaliknya Ping-ji hanya menggunakan tidak sepenuh tenaganya, adalah jamak kalau Ping-ji yang dirugikan. Dasar berwatak keras, bahwa diri nya hampir kecundang sudah tentu hal ini membakar sifat liar Ping-ji, sambil menggerung dia gerakkan kedua tangan seraya menarik napas,

"Lihat serangan-" Ditengah bentakan, tubuhnya terapung keatas, ditengah udara dia kebas sepasang lengan baju kebelakang hingga tubuhnya meluncur seperti pesawat jet, tubuhnya melengkung kedua tangan bergerak. Suara ”plak-plok" yang nyaring berkumandang di angkasa, damparan angin pukulan sedahsyat guntur menyambar menerpa kearah Jik-ciok Tojin-

Jik-ciok Tojin sudah lama kelana di Kangonw pengalamannya luas, kalau tidak ribuan, juga ratusan kali bertempur menghadapi lawan tangguh, namun belum pernah dia menghadapi lawan muda setangguh ini, serangan lawan menuntut dirinya untuk memboyong seluruh kemampuannya dan telah memeras seluruh tenaganya, kini lawan menyerang sedahsyat guntur, bila dia angkat kepala, bayangan telapak tangan sebanyak itu mengaburkan pandangannya.

Pengalaman berkata dan sudah menjadi kenyataan bahwa Kungfu bocah memang lihay maka dia tidak berani melawan secara kekerasan, dia undur dua langkah sembari memutar badan, sebelah tangan menepuk balik sementara tangan yang lain didorong miring keatas balas menggempur kearah Ping-ji.

Pukulan Jik-ciok Tojin memang tangguh dorongan telapak tangannya berhasil menahan lawan hingga tubuhnya mencelat lebih tinggi tiga kaki. namun Ping-ji menarik napas menyalurkan hawa murni, "wut" dengan kepala dibawah kaki diatas dia menukik turun, ditengah rentetan suara tepukan, jik-ciok Tojin kembali dirabu oleh bayangan telapak tangan-

Baru saja Jik-ciok Tojin sempat ganti napas, tiba-tiba terasa tenaga raksasa kembali menindih dirinya, karuan kejutnya kali ini bukan olah-olah, belum sempat dia balas menyerang, pukulan lawan sudah menindih tiba "Biang" dengan telak batok kepalanya kena tamparan keras, seketika kepala pusing mata berkunang-kunang.

Pada saat itu, pula terdengar suara ribut-ribut, tampak serombongan orang berlari dan berlompatan datang. Yang terdepan adalah seorang Tosu tua berjubah emas, ditengah hardikannya dia mengayun tangan kiri, segulung angin pukulan sedahsyat gugur gunung menggulung kearah Ping-ji yang sedang meluncur turun, berbareng tangan kanan terulur meraih Jik-ciok Tojin yang hampir roboh.

Berhasil memukul Jik ciok Tojin, Ping-ji sadang melayang turun. tiba-tiba terasa segulung tenaga menerjang kearah dirinya, karuan tergetar hatinya, terasa terjangan tenaga pukulan yang satu ini sedahsyat gugur gunung, hampir tak kuasa dia melawannya. Lekas dia ayun tangan kiri lalu disusul tangan kanan menempel telapak tangan kiri serta mendorong kedepan, begitu pukulan lawan tertahan baru tubuhnya melayang enteng.

Tojin jubah emas segera serahkan Jik ciok Tojin kepada orang-orang dibelakangnya, tiba-tiba tubuhnya bergetar, segulung angin keras tiba-tiba menindih tubuhnya, lekas dia mundur setapak. seraya membentak: Lekas pergi." Kedua tangan mendorong ke depan "Pyaar Dua pukulan dahsyat beradu menimbulkan pusaran lesus menerbangkan debu dan pasir.

Waktu Ping-ji pentang matanya, tampak didepannya berdiri seorang Tosu tua berpakaian jubah kuning emas, dengan topi keimanan yang gagah dan berwajah agung, jenggotnya panjang mencapai perut, dengan pandangan kaget dia menyelidik kearah dirinya, dibelakangnya berjubel banyak Tosu menonton adu kekuatan barusan-

Diam-diam tegak alis Ping-ji, batinnya: "Tosu ini mungkin ciang bunjin Bu-tong-pay sekarang, Lwekangnya jelas lebih tangguh dari beberapa Tosu yang lain-"

Dugaannya memang benar, Tosu tua berjenggot panjang ini memang adalah Ceng ciok Tojin yang sekarang menduduki ciang bunjin Bu-tong-pay.

---ooo0dw0ooo--- Diwaktu Ping-ji melabrak Jik-Ciok Tojin diam-diam ceng- Ciok Tojin sudah memperhatikan, dilihatnya pemuda ini membekal kesaktian yang ampuh, permainan silatnya memang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa, hingga Jik-Ciok Tojin yang memiliki tingkat kepandaian silat tinggipun tak mampu menandinginya, karuan makin heran hatinya, diam-diam dia mengelus jenggot dan menghela napas gegetun. Sejak Bu-tong-pay didirikan oleh Thio Sam-hong sampai kini sudah turun temurun melalui belasan generasi, pada hal setiap generasi pasti menelurkan jenis-jenis silat yang tiada taranya, sehingga Kungfu Butong-pay bukan saja makin jaya, malah banyak ilmu peninggalan cikal bakal mereka pun makin berkembang baik keseluruh penjuru dunia. Maka selama ratusan tahun tampuk pimpinan Bu-tong-pay berada ditangan jago-jago kosen yang paling menonjol diantara murid didik mereka, hingga dikalangan Kangouw, kebesaran Bu-tong-pay tetap sejajar dengan Siau-lim-pay, diagulkan sebagai aliran ilmu silat murni.

Namun sejak delapan puluh tahun yang lalu, di kala muncul seorang aneh didunia persilatan, dengan ilmu silatnya yang mujijat dia merajai seluruh Kangou dari golongan hitam maupun aliran putih, para dedongkot silat di Tionggoanpun tidak dipandang sebelah mata, dipaksa oleh situasi yang amat mendesak. maka delapan perguruan besar di Tionggoan berserikat memusuhinya.

Dalam suatu kesempatan, orang aneh itu telah dikerubut selama tiga hari tiga malam akhirnya orang aneh itu lari dengan luka parah, namun para ciangbunjin kedelapan perguruan besar itupun sama gugur, hanya ciangbunjin Bu- tong-pay generasi ke 49 Than-yu Tojin seorang saja yang berhasil meloloskan diri pulang ke Bu-tong-san, pada hal Thian-yu Tojin sendiri sudah teringser isi perutnya, setiba di Bu-tong-san luka-lukanya tak bisa disembuhkan, tak lama kemudian diapun meninggal. Sejak peristiwa itu, kekuatan inti dari kaum persilatan di Tionggoan boleh dikata sudah ludes, ilmu-ilmu tunggal mereka putus turunan, sehingga pelajaran silat mereka dari generasi kegenerasi yang lain makin rendah tingkat dan mutunya.

Demikian pula yang dialami oleh Bu-tong-pay, apalagi calon-calon murid yang benar-benar pandai sukar diperoleh, hingga kejayaan di masa Cikal bakal mereka tak mungkin dikejar pula. Akhirnya ciangbunjin yang pegang kuasa menganjurkan Bu-tong-pay harus tutup pinto dan giat memperdalam Kungfu, untuk menebus kewibawaan mereka di kalangan Kangouw.

Dikala Goan-hak Tojin ciangbunjin generasi ke lima puluh pegang tampuk pimpinan di Bu-tong-san, pada suatu peristiwa gugur gunung, di dalam sebuah gua dibelakang gunung, mereka menemukan sebuah kotak batu, waktu di buka, ternyata didalamnya menyimpan sejilid buku pelajaran Siau- yang-cin-keng, itulah karya ciptaan It-sengcu ciangbunjin gererasi ke dua puluh tiga. Karuan bukan kepalang senang murid-murid Bu-tong-pay, waktu buku itu diperiksa ada halaman terakhir pada catatan pesan It-sengcu yang memperingatkan, karena ilmu ciptaannya itu merupakan karya terbesar selama hayatnya, yang mana telah menghabiskan cucuran keringat dan darah, maka dianjurkan supaya ilmu sakti ini disalurkan kejalan benar, calon murid yang akan belajar ilmu ini harus dipilih yang benar-benar berbakat dan berbudi luhur dan bajik.

Kebetulan masa itu kejayaan Bu-tong pay sudah makin merosot, setelah Goan-kak Tojin pulang, diapun tak mampu mempelajari ilmu yang tercatat didalam buku itu, maklum usia sudah tua, tenagapun tidak memadai, setelah dirundingkan, akhirnya pilihan jatuh pada seorang Sutenya yang masih berusia muda, namun memiliki kecerdasan dan bakat yang luar biasa untuk memperdalam ilmu temuan itu di dalam Thian-sin-kok dibelakang gunung Bu-tong, batas waktunya dua puluh tahun, selama dua puluh tahun ini, dia harus berhasil menyelami pelajaran ilmu pedang, ilmu pukulan dan ajaran Lwekang yang termuat didalam Siauyang-cin-keng itu.

Tiga tahun sejak kejadian gugur gunung itu, Goan-kak Tojin meninggal dunia, sebelum ajal tak lupa dia tetap memberi wejangan kepada murid-muridnya supaya giat berlatih demi menggemilangkan kembali kejayaan Bu-tong- pay di masa lalu, diapun menyatakan penyelasannya karena tak bisa menunggu dan melihat keberhasilan Sutenya.

Sejak ceng-Ciok Tojin memegang tampuk pimpinan di Bu- tong-san, diapun terus memperdalam ilmu, murid-muridnya lebih banyak mengekang diri d idala m kesibukan belajar Kungfu daripada mencampuri pertikaian didunia persilatan.

Sayang sekali, dunia persilatan yang aman tentram sekian tahun, kini mulai bergolak pula, terjadi beberapa kali huru hara dan kemelut yang cukup menghebohkan- Agaknya aliran- aliran besar persilatan seperti berlomba saja, masing-masing sudah berhasil mengeduk pula pelajaran tingkat tinggi dari warisan para cikal bakalnya yang pernah hilang, sudah tersiar luas berita di kalangan Kangouw, bahwa perguruan-perguruan silat itu sudah siap menampilkan diri pula didalam percaturan dunia persilatan-

Yang paling merisaukan pihak Bu-tongpay adalah bahwa Wi-liong-pit-sin yang dahulu pernah menimbulkan gelombang perpecahan di kalangan Kangouw, akhir-akhir ini  telah menjadi rebutan berbagai pihak pula. Banyak orang yakin siapa dapat merebut buku itu dan mempelajari ilmu yang tercantum didalamnya, maka dia akan menjadi jago silat tanpa tandingan dikolong langit ini.

Maka diam-diam ceng-Ciok Tojin mengutus beberapa muridnya ikut terjun ke Kangoaw menyelidik kebenaran berita itu bila ada kesempatan boleh merebutnya, di samping itu diapun tidak melupakan Sang Suslok yang masih meyakinkan ilmu di Thian-sin-kok dalam waktu dekat sudah akan menamatkan pelajarannya dan keluar gua.

Bahwa usaha murid-muridnya yang turun di Kangouw belum berhasil, berita yang tersiar di kalangan Kangouw simpang siur pula.

Tahu-tahu pada suatu hari datang seorang perempuan yang buntung lengannya dengan luka parah ke Bu-tong-san, tanpa banyak basa basiperempuan ini minta diberi Bik-lok im- tan, obat mujarab turun temurun sejak beberapa generasi yang merupakan obat pelindung Bu-tong-san pula.

Sudah tentu ceng-Ciok Tojin menolak, karena pil obat itu bukan saja tak mungkin dibuat lagi, kasiatnya juga luar biasa, obat itupun tinggal sebutir saja, karena tidak ada kecocokan paham maka perempuan buntung itu melabrak dan mengamuk, akhirnya karena merasa kewalahan perempuan  itu melarikan diri, siapa nyana, malam itu perempuan itu telah menyelundup kedalam biara serta mencuri- Bik-lo-kim-tan itu, tiga murid Bu-tong-pay terluka dalam usaha mempertahankan obat sakti itu, maka ceng-Ciok Tojin menugaskan Lan-Ciok Tojin untuk mengejar dan merebut balik pil obat itu.

Kejadian selanjutnya sudah kami kisahkan dibagian depan cerita ini. Tak nyana belum lagi satu peristiwa berhasil diatasi, pagi hari itu ceng-ciok Tojin sudah harus mengumpulkan seluruh murid-murid Bu tong pay menuju ke Thian-sin-kok untuk menyambut sang Susick yang bakal keluar dari pertapaannya, tiada hujan tak ada angin, tahu-tahu seorang pemuda menerjang datang membuat keributan, tanpa alasan beberapa muridnya telah terbunuh,jik-Ciok Tojinpun terluka parah, betapapun sabar dan bajik sifat ceng ciok Tojin, menghadapi persoalan yang bertubi-tubi ini, tak tahan dia mengendalikan emosi.

Setelah memperhatikan sekian saat, disadarinya bahwa pemuda didepannya ini, meski kelihatan sopan dan ramah, mirip anak sekolahan yang tidak pandai silat, tapi kenyataan dengan mata kepalanya sendiri dia saksikan Jik-ciok Tojin kecundang ditangannya, ilmu silatnya yang hebat sungguh membuatnya kagum dan gegetun pula. setapak dia maju, kebut terayun, katanya setelah membungkuk tubuh: "Pinto ceng-Ciok. sebagai ciangbun, dari Bu-tong-pay, rasanya kita masih asing dan belum kenal siapa sebetulnya Siauhiap ini, murid siapa ?" Karena dia curiga pemuda ini adalah ceng-san- biaukhek yang belakangan ini mengangkat nama di kalangan Kangouw, maka dia ajukan pertanyaan tadi.

Mendengar pertanyaan sopan dan ramah agak kendor amarah Pingji. diam-diam diapun puji sikap Tojin tua ini, memang tidak malu sabagai pimpinan, namun dia geleng- geleng, katanya: "Aku tidak punya nama, juga tidak punya guru."

Semula ceng-Ciok Tojin tertegun, akhirnya berobah air muk. dia kira orang tidak mau jawab pertanyaannya, maka sambil menarik muka suaranya kereng: "Lalu untuk apa kau kemari?" nadanya tinggi, jelas dia naik pitam, maklum seorang yang memiliki Kungfu setinggi itu, mana mungkin tidak punya guru, tidak punya nama lagi. Siapa pun tidak akan percaya mendengar jawaban Ping-ji, maklum kalau ceng-Ciok Tojin naik pitam, karena jawaban itu dianggapnya menghina pula.

Bahwa jawabannya tidak dipercaya. Ping-ji juga marah, mendengar tegoran yang bernada mengancam pula, makin membara amarahnya, diapun maju setapak dan membentak gusar: "Aku justru ingin tanya kau, beberapa hari yang lalu betulkah ada perempuan lengan buntung obat ?"

'Memangnya kenapa ?" "cong elok Tojin balas tanya sambil mengerut alis.

Ping-ji maju setapak pula, suaranya mendesis bengis: "Siapa yang memukulnya luka parah ? Katakan " nadanya kaku, keras sorit matanya menyala gusar. Tiba-tiba Tojin tua dibela kang ceng-Ciok Tojin melompat keluar seraya meraung gusar, bentaknya menuding: "Binatang kurang ajar, dihadapan ciangbunjin berani bertingkah, siapa sih yang memelihara binatang tidak tahu pendidikan seperti kau?" tiba-tiba lengan bajunya mengebas melontarkan segulung angin kearah Ping-ji.

Dengan gusar Ping-ji sedang melotot kepada ceng-Ciok Tojin, tiba-tiba Tos u tua yang kemari ini berjubah kuning ini melompat maju seraya menyerang, saking gusar dia mundur setapak memasang kuda-kuda memberatkan tubuh, sekali tarik napas dia dorong kedua tangannya, kembali dia lancarkan Liong-kiap-singan, jurus pertama dari ilmu pukulan yang tertera d idala m Wi-liong-pit-sin-

"Pyuuur" terjadilah pusaran angin les us membumbung tinggi keangkasa, batu pasir beterbangan. Ping-ji rasakan jantungnya melonjak. segulung hawa hangat menggulung naik dari pusar, lekas die tarik napas serta menekan darah, lalu menyalurkan kembali ke tempat asalnya.

Lekas sekali pasir dan debu yang beterbangan itupun telah tersapu pergi oleh hembusan angin lalu. Dilihatnya Tosu tua itu sebelah tangannya menekan dada, sorot matanya kaget, heran dan bingung, amarahnya mendadak memuncak pula, sambil meraung Ping-ji melompat keatas dan siap memukul pula.

"Berhenti." Tiba-tiba ceng-Ciok Tojin berseru, berbareng dia menggerakkan tangan melontarkan segulung angin pukulan mencegah Ping-ji beraksi.

Ping-ji masih terapung dludara, lekas dia jumpalitan kebelakang meminjam dorongan pukulan lawan terus melayang turun dengan enteng.

ceng-Ciok mengulap tangan sambil berpaling, katanya: "Pek-Ciok. kau mundur." Lalu dia memberi tanda kepada Ping- ji, katanya: "Siauhiap. tunggu sejenak. dengarkan dulu penjelasan Pinto."

Tegak alis Ping-ji, katanya tidak sabar:

"Kau sudah tua bangka masih banyak mulut, kalau kalian ingin main giliran, tuan muda ini juga tidak gentar, boleh maju satu-satu."

Berobah roman ceng-Ciok Tojin, katanya "Siauhiap. jangan kau terlalu menghina." Bahwa ceng-Ciok Tojin menahan sabar dan mengalah supaya pertempuran ini tidak dilanjutkan karena dia harus menunggu sang Susiok yang sudah akan berakhir tapanya di dalam gua, sebentar lagi beliau akan keluar, maka keadaan diluar pantang ribut dan berisik, tak nyana pemuda ini disamping kurang ajar, temberang dan bertingkah pula, sungguh tak tahan dia menahan sabar, saking marah mukanya merah padam, sekujur tubuh bergoncang.

Ping ji juga berobah air mukanya, bentaknya bengis: "Kau mau apa?" Setelah menyeringai lalu mendesis pula, "kalau hari ini kau tidak serahkan orang yang melakukan penganiayaan, sarangmu ini akan kuobrak-abrik sampai lebur.'

Wajah yang merah padam itu makin buruk lagi kelihatannya. bibir ceng-Ciok Tojin gemetar, sebelum dia buka suara, Pek-ciok Tojin dibelakangnya sudah tampil kedepan pula sambil menuding Ping-ji, bentaknya:

"Binatang keparat, marilah lawan dulu sepasang tanganku." Kedua tangan sudah bergerak mau menggempur.

"Tahan-" Bentakan keras berwibawa menghentikan aksi Pek-ciok Tojin- Ping-ji yang sudah siap siaga juga tertegun, segera dia menoleh kearah ceng-Ciok Tojin-

Tampak Tojin yang satu ini menampilkan sikap kereng dan berwibawa, desisnya kepada Pek-ciok Tojin: "Pek-Ciok, kau mundur, jangan banyak mulut lagi."" Begitu bentrok dengan pandangan ceng-Ciok Tojin, wajah Pek-Ciok berdenyut pucat bibirnya juga gemetar, lalu menunduk dan mengundurkan diri. Di antara sesama saudara perguruan sebetulnya tabiat Pek-ciok paling baik, tapi melihat pemuda yang satu ini memang terlalu kurang ajar, sikapnya kasar dan temaha pula, amarahnya jadi tak terbendung lagi, apa lagi dia penasaran karena ciangbun Suhengnya entah kenapa hari ini kelihatan lembek, maka hilang kesabarannya, dia siap melabrak musuh, sayang ciangbunjin mencegah dirinya bertindak. karuan hatinya amat kecewa.

Sekilas ceng-Ciok melirik Pek-Ciok, rona mukanya jadi guram, tapi segera dia angkat alis dan berkata pada Ping-ji: "Siauhiap. apa kau yakin mampu melawan sepuluh jurus serangan Pinto ?"

Hadirin gempar, Ping-jijuga tertegun, tapi cepat dia menjawab: "Bagaimana caranya

Tampak serius wajah ceng-Ciok Tojin, katanya: " Kala u siauhiap mampu melawan sepuluh jurus serangan Pinto, boleh terserah apa kehendak Siauhiap... " lalu dia membalik kearah orang banyak dan berkata:

"Kalau tidak Siauhiap harus tinggal di sini, menebus dosa kematian murid Bu-tong itu."

Bergegas Pek-Ciok Tojin melangkah maju pula, serunya dengan gelisah: " ciangbun... kau...

"Aku tahu . . " ceng-Ciok mencegah dia bicara lebih lanjut, kau mundur... " lalu dia menegakkan alisnya yang memutih panjang, mata menatap Ping-ji dengan pandangan damai.

"Bagus." tiba-tiba Ping-ji tertawa b ingar suaranya lantang gagah, baiklah aku turuti kehendak ciangbun, kalau aku kalah aku tidak akan mengerutkan kening." "Kau tidak menyesal ?" ceng elok menegas. "Seorang laki-laki harus boleh dipercaya tak pernah aku tahu apa artinya menyesal."

"Bagus." Puji ceng-Ciok Tojin, kedua kaki berdiri rapat tegak. sebelah telapak tangan tegak didepan dada, telapuk tangan yang lain miring datar did^pan hidung. sikapnya seperti orang sembahyang, gagah serius menatap pemuda yang jadi lawannya. Memang ceng-Ciok sebagai ciangbunjin, tindak tanduk nya memang perkasa dan berwibawa.

Diam-diam mencelos hati Ping-ji melihat lagak ceng-Ciok Tojin, segera diapun merangkap kedua tangan-

"Ciangbun,' tiba-tiba Pek-Ciok jadi bandel kembali, dia melompat maju berusaha membujuk ciangbun Suhengnya.

Ceng-Ciok Tojin tidak hiraukan Sutenya katanya kepada Ping-ji: Jurus pertama Pinto bernama To-tiang-mo-siau, gaya permulaan dari Hu-mo-kun, tuan harus hati-hati.” Perlahan- lahan kedua tangan bergerak bersilang didepan dada lalu didorong bersama kedepan segulung angin deras melanda kedada Ping-ji.

Sebetulnya ceng-Ciok Tojin juga tahu, sebagai ciangbunjin tanggung jawab dirinya teramat besar, tapi melihat pemuda yang belum dikenal ini memiliki Kungfu luar biasa, salah seorang Sutenya yang tangguh juga bukan tandingan, maka dia tidak hiraukan bujukan Pek-Ciok, ingin dia mencoba sampai di mana kehebatan pemuda ini, Pada hal sebagai seorang ciangbunjin Butong-pay menghadapi bocah tak bernama yang baru keluar kandang sudah menurunkan derajatnya, maka untuk mengambil muka sengaja dia menerangkan jurus yang akan dia lancarkan-

Ping-ji merasa hapal melihat gaya yang dilakukan ceng-Ciok Tejin, mendengar penjelasannya pula, diam-diam dia memuji dan kagum kepada ciangbunjin yang satu ini. Pada saat itulah, terasa dorongan kedua tangan orang telah menimbulkan tindihan berat kedadanya. Lekas dia menggeser setengah tapak kekiri, kedua lengan saling gubat terus disapukan keluar bersama, ternyata gerakan enteng ini menimbulkan kekuatan dahsyat memapak pukulan ceng-ciok Tojin.

"Bless" dua jalur angin berpusar membumbung keangkasa mengeluarkan desingan rendah.

Ping-ji rasakan tubuhnya bergetar, segulung hawa hangat mendadak merembes ke luar dari pusarnya, lekas sekali berputar dua kali keseluruh tubuh, sedetik dia memejam mata, sekuatnya dia bertahan tidak bergeming, tapi damparan kuat menerjang juga kepada dirinya, hingga tak kuasa dia mempertahankan diri pula, mundur setengah langkah.

"Setelah menarik napas dalam Ping-ji membuka matanya, tampak ceng-Ciok Tojin berdiri dengan muka sedikit pucat, kakinya juga menyurut setindak.

Terasa oleh ceng-Ciok Tojin waktu melontarkan pukulannya, perlawanan Ping-ji ternyata amat tangguh, malah sisa tenaga perlawanan terasa sempat menerjang balik hingga tanpa kuasa dirinya terg entak mundur maka dengan kaget  dia menatap anak muda didepannya, susah diukur betapa tinggi Kungfu dan Lwekang anak muda ini, ternyata mampu menandingi tenaga pukulan yang dia latih sekian puluh tahun.

Wajah Ping ji merah seperti orang habis minum arak. pandangannya nanar mengawasi ceng-Ciok Tojin. Terasa ada segulung hawa panas yang selulup timbul bergolak dirongga dada dan perutnya, rasanya cukup menyiksa, dia tidak habis mengerti kenapa pukulan ceng-Ciok Tojin demikian dahsyat, maka tatapannya mengandung rasa kaget pula.

Terdengar ceng-Ciok Tojin menghardik pula, Jurus kedua Mo-yam-kiam-sing." Kaki melangkah setapak pula, tangannya terayun keatas terus ditepuk turun mengincar Thay-yang dan Thay-im dua hiat-to mematikan dikedua pelipis Ping ji. Lekas badan Ping-ji doyong kebelakang, dan belum sempat dia menjejak kaki. Mendadak ceng-ciok sudah menghardik pula lebih keras Jurus ketiga Go meh yan-you (mengusir iblis membabat siluman), segumpal angin tajam menerjang pula dada dan perut Ping-ji. Dicecar secara beruntun, sibukjuga Ping-ji, lekas dia mengerut perut tubuhnya tiba-tiba membalik terus menggelinding kekiri tiba-tiba mulutnya bersuit, tubuhnya melenting pinggang tertekuk. ditengah udara kedua lengan bajunya dikipat kebelakang, seiring dengan kebasan lengan baju itu, terdengarlah suara nyaring seperti anak-anak main keplokan, maka bertaburan bayangan telapak tangan diudara, ratusan bayangan tapak tangan seperti memenuhi udara, semuanya berjatuhan kearah ceng-Ciok Tojin yang mengundurkan diri dari segala jurusan.

ceng-Ciok menggembor, diapun mengebas lengan bajunya, memapak bayangan telapak tangan itu, ditengah pusaran angin les us, tiba-tiba diapun melejit keudara. Maka terlihat dua bayangan orang seperti dua burung besar sedang bertarung diudara, susah dibedakan mana bayangan ceng- Ciok Tojin, siapa Ping-ji. Yang terang deru angin makin menggoncang bumi menimbulkan pergolakan yang dahsyat.

Semua Tojin, besar kecil tua muda yang menonton diluar gelanggang sampai menyurut mundur, sesak napas, semua menonton dengan mata mendelik. Seolah-olah mereka lupa akan kehadirannya, mereka berdiri seperti orang linglung, maklum kapan mereka pernah menyaks ikan pertempuran sekeras dan sedahsyat ini apalagi yang berhantam adalah ciangbunjin melawan seorang anak muda.

Bahwa seluruh perhatian ditujukan kepada pertempuran dua jago yang lagi berlaga diarena, maka tiada orang yang memperhatikan bahwa dinding batu dibelakang mereka juga mulai menunjukkan perobahan. Terutama batu raksasa yang menyumbat mulut gua tampak bergoncang. hingga tanah- tanah kuning, lumut, pepohonan rambat sama rontok berjatuhan. Hanya sekejap saja, batu raksasa yang menyumbat gua itu ternyata telah luluh menjadi bubuk berhamburan ditiup angin yang menghembus kencang dari luar selat, dari mulut gua yang gelap pekat itu, pelan-pelan tampak beranjak keluar seseorang laki-laki setengah umur dengan rambut panjang terurai kusut masai, tapi wajahnya tampak merah segar.

Wajahnya yang merah itu mengulum senyum sabar,  setelah kedua telapak tangan saling digosok-gosok, sepasang matanya setajam api menyapu pandang kesekitarnya, mendadak dia mengerut alis.

Ternyata dia telah menyaksikan dua jago yang lagi berlaga ditengah arena.

Sementara itu seluruh hadirin masih tumplek perhatian menonton pertarungan, dua bayangan orang masih berkutet, hantam menghantam, tendang menendang, tipu dilawan tipu jotosan dilawan pukulan, angin menderu melanda orang-orang yang menonton dalam jarak agak dekat.

Tiba-tiba terdengar suara serak rendah tertekan: Jurus sembilan." Dan "Blang" ledakan keras ini mengakibatkan pergolakan hawa yang benar-benar dahsyat seperti gunung meletus, disertai erangan tertahan, maka dua bayangan berpencar, masing-masing melayang turun ketanah.

Tampak gelung rambut ceng-Ciok Tojin sudah serong kepinggir, kedua tangannya tampak gemetar, wajahnya juga menampilkan perobahan yang ruwet dan sukar diraba perasaannya. Sementara nafas Ping-ji tampak tersengal- sengal, mukanya merah padam, mata setengah terpejam memancarkan sinar aneh tubuhnyapun berdiri dengan limbung seperti orang mabuk.

Mengawasi mimik orang, rona muka ceng-Ciok Tojin pun ikut berobah tidak menentu. Mendadak dia menggerung sekali, kaki maju setapak, kedua tangannya terangkat tinggi diatas membuat bundaran terus ditaburkan kemuka Ping-ji, sementara mulutnya membentak:"Jurus sepuluh, sambut "

Wajah Ping-ji tampak berdenyut, alisnya pun ber taut, seperti terluka dan menahan sakit, begitu ceng-Ciok Tojin melayangkan serangannya, melihat sikap Ping-ji, tergerak hatinya, gerakan merandek dan baru saja dia hendak urungkan serangannya. Mendadak di dilihatnya Ping-ji membuka mata, ditengah gerungan rendah tenggorokannya, kaki kiri melangkah mundur setengah tapak. kedua tangan didorong pelan-pelan, segulung tenaga kembali menerpa kearah ceng-ciok Tojin-

Padahal ceng-Ciok Tojin sudah menggunakan serangan, mendadak diserang sedahsyat ini, saking kejutnya, tak sempat kerahkan kekuatan melawan, tiba-tiba tubuhnya bergetar, darah segar sudah menerjang keteng gorokan. Mendadak didengarnya jeritan kaget banyak orang, berbareng segulung badai hangat timbul dibelakangnya, lekas dia membuka mata. Dilihatnya bola mata Ping-ji merah membara, wajahnya kaget dan heran langkahnya terhuyung mundur, tapi sekuat tenaga dia bertahan berdiri, meski limbung dia tidak terjatuh, namun menumpahkan darah segar.

Melihat keadaan Ping-ji. ceng-ciok Tojin tak habis herannya, seketika dia berdiri melongo, mendadak tubuh sendiri bergetar dan bergidik, karuan dia mengerut alis. Didengarnya pek-ciok Tojin berkata gemetar disamping: "ciangbun, kau terluka?"

Dengan hambar ceng-ciok Tojin menggeleng, tatapannya lurus ke muka Ping-ji, dengan payah dia bersuara sambil ulur tangan: "Siauhiap."

Tiba-tiba Ping-ji angkat kepalanya, sorot matanya membulat terang penuh dendam dan kebencian, dengan kertak gigi akhirnya mulutnya mendesis: "Selama hayat masih di kandung badan, suatu hari aku pasti akan minta pelajaran Kungfu Bu-tong-pay kalian yang lihay." Setelah membanting kaki dengan membusung dada segera dia melangkah pergi.

Mengawasi bayangan orang, pelan-pelan ceng-ciok Tojin turunkan tangannya, perasaannya makin hambar dan mendelu. Mendadak suatu pikiran berkelebat dalam benaknya, mendadak dia membalik tubuh. Tampak dibelakangnya berdiri seorang laki-laki setengah umur dengan rambut panjang terurai kusut, dilihatnya pula wajah orang menampilkan mimik heran, sorot matanya juga bingung dan menyesal, mulutnya komat kamit seperti sedang berdosa, entah apa yang di ucapkan tidak jelas karena suaranya amat lirih.

Kulit muka ceng-ciok Tojin seketika berkerut keriput, bibirnya gemetar keras, ternyata tak mampu dia bersuara, sesaat kemudian baru dia melompat maju seraya berseru: "Suslok." Tapi tak kuat dia mempertahankan diri, tubuhnya tersungkur ketanah.

---ooo0dw0ooo---

Hari masih pagi, namun mega tebal menyelubungi puncak gunung, sehingga cuaca menjadi suram. Ditengah kesuraman itulah. tampak bayangan seorang sedang melangkah sempoyongan dengan tubuh setengah terbungkuk seperti orang mabuk, langkahnya terseyot-seyot, apalagi mukanya tampak merah ada kalanya langkahnya tersaruk batu sehingga tubuhnya hampir tersungkur, untung tidak sampai menubruk bumi.

Saat itu, pikirannya masih jernih, cuma dia tidak mau membuka matanya, angin dingin menerpa dirinya, seketika dia menggigil kedinginan, tapi dia tidak menghentikan langkah terus maju dengan langkah makin berat.

Dua Tojin muda sedang duduk beradu punggung didepan sebuah gubuk bambu membelakangi batu karang, disamping mereka menggeletak masing-masing sebilah pedang. Agaknya hembusan angin dingin telah mengusik lamunan Tojin sebelah kiri, dia menggerakkan tubuh, seperti mau berdiri, tapi akhirnya dia tetap tak bergerak. hanya mulutnya saja yang bergerak: "Suheng coba kau lihat."

Tojin dibelakangnya tidak bergerak, juga tidak memberi reaksi Terpaksa dia menggoyang kedua pundaknya memanggil lebih keras: "Suheng, Suheng."

Tojin dibelakangnya tetap tidak bergerak. hanya mulutnya saja bersuara dalam tenggorokan. Karuan Tojin muda itu naik pitam, bergegas dia melompat berduduk. tapi suhengnya malah roboh kedalam pelukannya dengan lunglai. Ternyata Tojin Suhengnya ini telah pulas dimabuk mimpi di pagi hari nan sejuk dingin.

Sang Sute gregeten dan dongkol, tapi juga geli melihat Suhengnya yang mendengkur seperti babi. "Suheng, Suheng.' Teriaknya pula.

Tojin yang digoncang tubuhnya hanya mengigau dengan malas saja. Karuan Tojin muda itu mengerut alit, tapi segera dia tertawa geli, lalu dia menunduk mendekatkan mulutnya ketelinga Suhengnya serta berteriak: 'Suheng, lekas lihat, tuh dari sana datang seorang perempuan-" Perkataan 'perempuan' sengaja dia ucapkan dengan suara panjang dan bernada tinggi.

Sang Suheng yang pulas itu kembali mengigau sekali, mendadak dia berjingkrak bangun seraya berteriak: "Apa, di mana ?"

Tojin muda itu terpingkel-pingkel, tangannya menuding kekiri. Dengan mata terbelalak Sang Suheng mendleh kearah yang ditunjuk. tapi kosong melompong, kecuali batu-batu gunung tiada benda lain, angin menghembus rerumputan yang mulai kering. Dengan tanda tanya dia menatap Sutenya mulutnya cemberut dongkol. Tojin -muda baru mengomel: "Sejak tadi kupanggil kau, siapa suruh kau pulas. sudah pergi."

Sang Suheng tiba-tiba berdiri terus hendak mengudak. karuan sang Sute gugup lekas dia menariknya: "Mau kemana

?"

Suheng melotot, katanya: "Hayo kejar.""

Tojin muda tertawa nyengir sambil melelet lidah, katanya: "Aku hanya ngapusi kau .. . coba lihat tampangmu, haha, seperti... " sambil berkata sengaja dia mengerut hidung dan mengendus-ngendus diudara, " kucing mencium bau ikan-"

Sang Suheng angkat tangannya mau memukul, lekas Tojin muda itu mengkeret mundur, serunya: "Nanti dulu, jangan-" Lalu dia batuk-batuk, Aku tidak ngapusi, aku memang melihat seorang menuju ke Te-sankok sana, tapi dia bukan perempuan."

Mendengar "bukan perempuan" sang Suheng jadi lemas, lekas dia merebahkan diri serta memejam mata pula tidak hiraukan ocehan sutenya. Terpaksa sutenya menggoncang tubuhnya pula, katanya: "Hai, perlu tidak memberi laporan kepada ciangbun- ini bukan kejadian sembarangan, siapa tidak tahu aturan busuk Tok-ko-cu, siapa masuk Te-sat-kok. jangan harap dia bisa keluar."

Tetap memejam mata sang Suheng mendengus hidung, katanya: "Sekarang ngantuk sekarang tidur, peduli siapa dia, asal bukan bapakmu, peduli amat akan dirimu?" Lalu dia membalik tubuh mendengkur lagi.

Tojin muda itu angkat pundak apa boleh buat, tiba-tiba dia berbangkis lalu menggeliat, segera diapun merebahkan diri disamping sang Suheng, didalam impian mereka menunaikan tugas.

Hembusan angin dingin didalam selat itu tak pernah berhenti . Bayangan orang itu masih terus beranjak kedepan dengan sempoyongan- Tak jauh didepannya terdapat sebuah batu karang bergantung, diatas karang inilah terukir tiga huruf besar berbunyi "TE SAT KOK", disamping kiri bawah tertulis pula "Berhenti di sini' huruf-hurufnya lebih kecil. Dalam keremangan tampak huruf-huruf itu kelihatan agak ganjil. Tapi orang itu tidak perhatikan huruf-huruf itu, karena langkahnya masih sempoyongan dengan badan terbungkuk, bertahan dan berusaha maju terus mencari jalan keluar.

Batu diatas ngarai bertulis tiga huruf besar itu sudah ditinggalkan jauh dibelakang diluar tahunya bahwa dia makin masuk ke pedalaman, jadi berlawanan dengan maksudnya hendak meninggalkan Bu-tong-san, tapi dia masih terus maju. Hembusan angin makin membuatnya kedinginan, alisnya bertaut makin dalam, tapi sekuat tenaga dia bertahan, karena dia tahu dirinya harus berani menanggung resiko dan menahan segala derita ini, hembusan angin itu hanya membuat dia menggigil, tapi tekad dan semangatnya tidak pernah padam, semangat juangnya masih tetap menyanggah badannya sehingga dia kuat bertahan sejauh ini.

Masih segar dalam ingatannya, setelah beradu pukulan pada jurus kesembilan tadi, kontan dia rasakan darah bergolak dirongga dadanya, segulung hawa hangat merembes dan mengalir keseluruh tubuh, Ping-ji kira dirinya sudah terluka parah. tapi setelah beradu pukulan lebih lanjut terasa olehnya, tenaga murninya bukan menjadi ludes, ternyata kekuatannya malah bertambah. Mengikuti pertambahan tenaga murni ini, sekujur badannya juga terasa panas seperti di bakar, hampir saja dia terjungkal roboh, dia yakin jurus kesepuluh ceng-ciok Tojin dirinya pasti tidak mampu melawannya pula, tapi tekadnya yang besar tetap mempertahankan dirinya, syukur jurus kesepuluhpun telah berlangsung.

Sungguh hatinya amat kecewa karena dirinya kini benar- benar terluka dalam, dia tidak habis heran bagaimana mungkin pukulan jurus terakhir ceng-ciok Tojin, ternyata berobah sedahsyat itu, hingga dia tergetar muntah darah, tapi setelah dia melihat seorang berdiri dibelakang ceng-ciok Tojin, baru dia peroleh jawaban- Maka dia bersumpah, suatu ketika dia akan meluruk ke Bu-tong pula, oleh karena itu dia insyaf bahwa dia harus menerima segala akibat ini, menegakkan badan meninggalkan Thian-hian-kok.

Tapi tak pernah terpikir, dalam benaknya bahwa sekarang dia sedang melangkah masuk ke Te-sat-kok. lembah di mana dirinya akan mengalami sesuatu sehingga merobah sejarah hidupnya.

Bagi orang-orang Bu-tong, demikian pula kaum persilatan lainnya, mereka beranggapan Te-sat-kok bisa mengangkat nama hingga terkenal di Kangouw, hidup senang seperti di sorga, padahal lembah itu, merupakan ahirat yang bakal mengebumikan jenazah mereka.

Seperti apa yang mereka ketahui, didalam Te-sat-kok katanya memendam suatu rahasia sejak ratusan tahun lalu. konon didalam lembah ini terpendam harta pusaka yang tak ternilai harganya, siapa dapat mengeduknya, kekayaannya akan melebihi raja, cukup memperoleh sebagian saja, akan cukup digunakan foya-foya seumur hidup, tapi yang membuat kaum persilatan ngiler adalah tiga batang pedang pusaka yang tiada tandingannya di dunia. Tapi orang tahu mereka hanya bisa memiliki semua ini dalam impian belaka. Karena selama ratusan tahun ini, sering terbetik berita banyak orang yang masuk ke Te-sat-kok, tapi tiada satupun yang pernah keluar dengan bernyawa.

Pendek kata semua berita itu, entah yang baik, yang mujur atau yang jelek dan bernasib buruk- masih terus tersiar luas dikalangan Kangouw. Tapi pemuda yang terbungkuk- bungkuk ini ternyata tak pernah mendengar berita itu, dia tidak tahu kemana arah tujuannya. Hanya satu tekadnya jauh-jauh meninggalkan Bu-tong-san, oleh karena itu, meski keadaannya makin payah, namun dia tidak mau berhenti, sebelum dia kehabisan tenaga, meski merambatjuga dia akan menempuh perjalanan-

"Tiba-tiba kakinya kesandung batu, tubuhnya tersuruk kedepan dan "Bluk" dengan keras dia tersungkur roboh, mata berkunang, kepala pusing tujuh keliling.

Sambil menggeliat kesakitan dia memeluk kepalanya yang benjol membentur batu, sekarang dia tidak kuasa maju lagi, dia harus berhenti, karena pandangannya gelap tidak bisa melihat apa-apa. Maka ditempat itu juga dia duduk bersimpuh mulai samadi, mata dipejam pikiran di konsentrasikan, mulai dia mengatur napas, menyalurkan hawa murni dan menggelarakan latihan Lwekangnya, sehingga rasa panas dan sesak dirongga dadanya terbaur, tapi hanya beberapa saat saja, akhirnya dia menghentikan latihan, dengan menghela napas dia duduk lesu.

Ternyata diwaktu dia latihan Lwekang, terasa gumpalan hawa panas didalam tubuhnya itu, ternyata kuat menahan hawa murni yang dia kerahkan keseluruh tubuh, bukan makin tertekan lembek malah makin kuat dan melebar, menerjang keseluruh sendi tulang, urat nadi ke sekujur badannya, tanpa mendapat perlawanan atau rintangan-

Dia tidak tahu apa sebabnya bisa terjadi demikian, dalam keadaan putus asa ini mendadak dia teringat ajaran cara mengatur napas yang diajarkan orang aneh itu, yaitu gaya yang menekan kepala dengan telapak tangan, maka dia tengelam dalam pemikiran-

Hujan rintik-rintik, air hujan membasahi seluruh tubuhnya. air mengalir dari atas kepala menuruni pipi jatuh dibibirnya, terasa sedikit asin, segera dia membuka mata. Mega mendung yang tadi tebal kini sudah menipis, cuacapun sedikit terang. Lama kelamaan dia merasa nyaman dan segar malah setelah kehujanan, maka dia mengganti posisi duduknya lalu memejam mata pula. Tiba-tiba dia merasa sakit diatas jidatnya yang tadi terluka kebentur batu. Dengan kaget dia bangkit berdiri, matanya celingukan tak tahu apa yang harus dilakukan. Karena diguyur air hujan, pikirahnya sedikit jernih, tapi setelah dia tenangkan pikiran, dia menemukan apa-apa yang amat mengejutkan dirinya.

Menurut perkiraannya dia sudah jauh meninggalkan Bu- tong-san, tapi kenyataan setelah dia periksa keadaan disekelilingnya, didapatinya dirinya berada disebuah lembah yang berbatu-batu kecuali batu tiada benda lain, disadarinya bahwa tanpa disadari dirinya telah masuk kesebuah lembah batu.

Rasa pilu hendak merangsang benaknaya, dia tidak tahu apakah dunia ingin menyingkirkan dirinya, atau dirinya yang sudah bosan hidup didunia fana ini, dia hanya merasa bahwa dirinya sebatang kara.

Tiba-tiba dari kejauhan sayup,sayup sampai terdengar suara seruling, setelah hujan udara terasa segar dan bersih, maka suara seruling itu terdengar jelas meski hanya sayup- sayup sampai. Dari irama seruling itu dia merasakan pahit getirnya kehidupan, gejolak hatinya yang sebatang kara ini, seperti-juga keadaannya sekarang, maka tanpa terasa kakinya melangkah menuju kearah datangnya suara seruling, melangkah melewati tumpukan batu yang berserakan-

Irama seruling bagai isak tangis, yang menyedihkan itu, melimpahkan perasaan seorang yang terasing dari kehidupan ramai, sedang mengisahkan kehidupan nan sunyi kepada alam yang terbentang dihadapannya seperti seorang janda yang hidup menyendiri sedang mengigau didalam impiannya, atau seorang nyonya muda yang terjaga bangun mengenang sang suami yang berada dimedan laga, air mata membasahi bantal

..

Tanpa terasa dia mempercepat langkah, mendadak irama seruling yang mengalun di udara itu berhenti, seketika dia merasa hatinya seperti diiris pisau tajam, sekujur badan gemetar dan berdiri bingung, sesaat dia celingukan, didapatinya dirinya berada diantara batu-batu, yang berserakan, ternyata setelah putar kayun setengah harian, dia berputar kembali di tempatnya semula. Karuan dia terbelalak bingung. Dia tidak tahu tempat apa ini, namun dari irama seruling tadi dia yakin pasti ada orang bertempat tinggal disekitar tempat sini.

Batu-batu besar kecil disekitarnya ini, kelihatannya berserakan, namun kalau mau diteliti, besar kecil batu-batu itu letaknya seperti sudah diatur sedemikian rupa, maka dia lebih yakin lagi bukan saja tempat ini dihuni orang, malah orang itu adalah seorang kosen yang tengah mengasingkan diri, dia berani meyakinkan diri bahwa tokoh kosen itu hanya seorang diri karena dari suara serulingnya, dia dapat menangkap arti dari perlimpahan perasaan hatinya yang merana hidup sebatang kara d itempat pengasingan-

Menilai situasi yang dihadapinya ini kembali dia menarik kesimpulan, bukan saja orang kosen itu hidup sebatang kara, diapun tidak mau diganggu, maka timbul rasa penyesalan dalam benaknya, dia siap mengundurkan diri. Tapi ujung matanya tiba-tiba menangkap sesuatu.

Waktu dia menoleh, diatas batu sebelah kanan ternyata terukir beberapa huruf. lekas dia mendekat, tampak tulisan itu berbunyi: "Tidak percaya akan peringatan, kau akan menyesal setelah kasep." Disebelahnya terukir pula huruf berbunyi:

"hanya menempuh jalan kematian-" Setiap goresan huruf sedalam tiga mili, gayanya indah kuat.

Setelah melihat beberapa hurup ukiran itu, niat semula mau mengundurkan diri menjadi batal, hatinya gusar, desisnya menyeringai: "Sombong dan takabur." sudah tentu dia tidak tahu dan tidak melihat ukiran huruf-huruf besar dimulut Te- sat-kok tadi. "Hm,” sebuah jengek dingin tiba-tiba berbunyi dibelakangnya, secara reflek dia membalik tubuh. tapi dibelakang kosong melompong tiada makhluk hidup, kecuali batu-batu melulu. Karuan hatinya mencelos, dengan kesigapan gerakannya, ternyata dirinya masih tidak mampu melihat baangan orang itu dapatlah dibayangkan betapa tinggi kepandaian orang itu.

Mengingat jengek dingin tadi, mau tidak mau dia merinding sendiri, karena tawa dingin itu persis tawa setan di malam sunyi, nadanya kaku dingin, umpama sebatang tonggak es, secara langsung menusuk ulu hatinya Tapi dia membusung dada seraya menjengek, katanya temberang: "Manusia mana dikolong langit ini yang mampu merintangi langkahku. Huh." Terasa seluruh badan hangat, pergolakan hawa panas dalam tubuhnya seperti sudah mengamuk. rasa dingin tadi entah sudah sirna sejak kapan-

Maka dengan membusung dada mendongak kepala dia melangkah lebar kedepan- Tapi setumpukan batu mengadang jalan, kiri kanan ada celah-celah, kesana dirinya bisa menyelinap. tanpa ragu segera dia menyelinap kesebelah kiri terus melangkah lebar pula. Setelah membelok sekali pandangannya tiba-tiba terbuka, karuan dia berdiri menjublek, karena yang terbentang dihadapannya sekarang adalah pepohonan cemara yang tinggi tua menutup langit, pemandangan di sini ternyata berbeda pula.

Setelah tenangkan hati dia melangkah pula, akhirnya dia tiba dipinggir sebuah empang bunga teratai sedang mekar didalam empang, tiba-tiba serangkum bau kembang yang wangi merangsang hidung, sesaat semangatnya lebih menyala, waktu dia angkat kepala disebelah empang panjang ini ternyata adalah taman kembang, disana sedang mekar berbagai macam jenis - kembang, lekas dia melangkah kesana, Setelah pandangannya makin terpesona heran, karena jenis-jenis kembang yang tertanam di sini tiada satupun yang dikenal atau pernah dilihatnya.

Tiba-tiba matanya terbeliak kepusat gerombolan kembang sana, dimana tumbuh sekuntum kembang putih yang masih merupakan kuncup, entah kuncup kembang apa, tapi warnanya serba putih, kini kuncup itu dilihatnya sedang bergerak, kelopak kembangnya sedang mekar, bau harum seketika memenuhi udara, pikirannya tiba-tiba menjadi jernih, tanpa terasa dia melangkah maju lalu ulur tangan hendak memetiknya.

Tiba-tiba suara seruling, itu berbunyi pula, dengan kaget dia menarik tangan sambil celingukan, mirip maling yang kuatir konangan, bunyi seruling itu hanya menggunakan satu nada, namun mengalun lembut bak air mengalir.. Terasa setelah diperhatikan suara seruling datang dari sebelah kanan, maka segera dia menuju kesana. Pandangannya terbelalak delapan langkah didepannya berdiri sebuah gardu, bentuknya molek, gagah dan bercat merah kuning.

Waktu dia mendekat dan memeriksa, didalam gardu ada meja batu, alat-alat tulis lengkap diatas meja, kursi-kursi segi enam setengah bulat ternyata juga terbuat dari batu-batu putih, setiap segi dari batu putih itu terukir lukisan indah laksana hidup, Begitu dia angkat kepala dia makin kejut dan heran, tepat ditengah langit-langit gardu ternyata dihiasi sebutir mutiara bundar sebesar tinju, sedang memancarkan cahayanya yang merah Jingga, disekeliling mutiara itujuga dikelilingi berbagai jenis permata manikam yang beraneka ragam bentuk dan warnanya. Demikian pula setiap sudut gardu dipasangi sepasang mata kucing sebesar telur burung, warna nyapun berbeda, dan masih banyak lagi, setiap  permata itu nilainya mungkin cukup lebih untuk membeli sebuah kota, apalagi sekarang seperti dipamerkan sekaligus.

Dikala dia termangu-mangu mengawasi permata-permata itu, alunan seruling yang datangnya seperti dari angkasa kembali menyusup telinganya memutus lamunannya pula. Dengan bingung dia celingukan, didapatinya pula tak jauh dari gardu terdapat sebuah gunung-gunungan, bunyi seruling seperti dari belakang gunung-gunungan, maka dia melangkah ke sana.

Tak nyana sebelum dia beranjak dua langkah, bunyi seruling tiba-tiba berobah nada melengking tinggi, suaranya mengandung nafsu membunuh, sekaligus seperti menindih dirinya dari berbagai penjuru. Dengan kaget dia menyurut selangkah, pusatkan perhatian dan pasang mata, tapi sejauh ini dia belum melihat bayangan manusia, tapi suara seruling yang mengandung nafsu jahat itu seperti gelombang ombak terus melanda kearah dirinya.

Bunyi seruling yang diliputi pembunuhan ini seperti memenuhi seluruh tubuhnya, sementara hawa panas d idala  m tubuh yang tak terkendali itu tengah melebar, merayap dan mengalir keseluruh urat nadi, sendi tulang dan menguap melalui pori-porinya. Tapi semua ini seperti tidak dirasakan, karena dia sudah dalam keadaan setengah sadar, dari berdiri dia sudah duduk bersimpuh, kulit dagingnyapun makin berkeriput dan mengejang.