Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 08

Jilid 08

Menyaksikan telapak tangan yang merah itu, tiba2 Tian Pek teringat akan sejenis pukulan beracun yang bernama Ang-seh-hiat-heng-ciang (pukulan darah pasir merah), konon barang siapa terkena pukulan beracun itu, maka badannya akan terasa panas bagai dibakar, isi perutnya akan menjadi hangus dan mati konyol. Ilmu ini hanya di dengar saja dan baru sekarang disaksikan dahsyatnya pukulan tersebut, dan hawa pjnas yang dirasakan dari benturan tadi, diam2 Tian Pek merasa ngeri juga akan akibatnya.

Tiba2 terbayang akan bantuan yang pernah diberikan An-lok Kongcu kepadanya, bagaimanapun ia pernah berutang budi kepada orang, kalau sampa1 timbul kesalahan pahamannya dengam anak buah orang, bila berjumpa lagi kelak pasti akan terasa tidak enak. Maka ia pikir tidak perlu melayani orang ini dan lebih baik tinggal pergi saja? Kalau ada urusan toh lain kali masih bisa dibicarakan secara baik2.

Selagi Tian Pek berpikir begitu, pukulan Ang-seh-hiat- beng-ciang yang maha dahsyat si kakek telah menggulung tiba pula dengan hebatnya.

Dalam keadaan terancam terpaksa Tian Pek menangkis, kemudian dengan meminjam tenaga pukulan orang dia terus melayang ke sana sambil berseru: "Maaf sahabat, aku tak dapat menemani lebih lama!" — Dengan cepat ia menerobos keluar jendela.

"Mm kabur kemana?" bentak si kakek muka merah sambil mengejar.

"Lihat serangan!" mendada dari depan menyambar tiba tiga titik cahaya langsung menyerang muka Tian Pek selagi anak muda itu masih mengapung di udara.

Tian Pek cepat berjumpalitan di udara dengan gerakan in-li-huan (berjumpalitan di awan) sehingga tubuhnya mengapung lebih tinggi ke atas, maka terdengarlah suara "Crett Crett Crett!", tiga batang "paku penembus tulang" menancap di belandar jendela, untung anak muda itu berkelit cepat, kalau tidak tubuhnya pasti sudah tertembus oleh serangan maut itu. Setelab melayang turun ke bawah, Tian Pek menengadah, tapi ia menjadi terkejut, tahu2 angin keras menyambar tiba menindih kepalanya bagai gugur gunung dahsyatnya.

Tian Pek terkejut, ia tak tahu benda apa yang menyambar tiba itu, cepat dengan gerak Su-liang-poat-ciin- kin ( empat tahil menyampuk seribu kati ), ujung pedangnya meraih ke atas untuk menyampuk.

Tapi "wuut", tahu2 benda besar itu melayang di atas kepalanya, waktu ia menoleh, ternyata seorang Hwesio gemuk dengan membawa sebuab tameng baja yang amat besar seperti sebuah daun pintu.

Hwesio gemuk itu berperawakan tinggi besar, mukanya penuh bercambang, kepalanya gundul kelimis dengan delapan titik bekas diselomot dengan mata melotot sedang memandangnya dengan tercengang.

Tiba2 anak muda itu teringat akan seseorang, menurut berita dalam dunia persilatan katanya dalam Kangouw terdapat seorang Hwesio bertenaga raksasa yang bernama Tiat-pay Hwesio ( paderi lempengan baja ), senjatanya adalah sebuah lempengan baja seperti tameng ribuan kati yang besarnya seperti daun pintu, tubrukan serta sambaran lempengan bajanya itu jarang bisa dihadapi orang, pantas kalau Hwwsio lempengan baja jadi kaget melihat Tian Pek mampu menyambut serangan dahsyat itu dengan ujung pedangnya.

Sementara itu seiuruh jalan raya sudah dikerumuni berpuluh orang jago persilatan, rumah makan itu tcrkepung rapat dan tak mungkin bisa lolos dengan mudah.

Tian Pek jadi rada bingung, pada saat itulah mendadak dua titik cahaya tajam menyambar ke Tay yang hiat di pelipis anak muda itu. Cepat Tian Pek rendahkan tubuhnya ke bawah, itu pedang mestikanya dengan jurus Ki hwe liau thian (angkat obor membakar langit) dia sambut kedua titik sinar itu.

"Cring! Cring" terdengar dering nyaring pelahan, kiranya dua bandul Li hai ca-liu-seng-cui (bandul berantai) yang menyambar tiba terpapas kutung oleh pedang hijau Tian Pek dan mencelat jauh ke sana.

Tapi segera terdengar bentakan gusar beberapa orang, cahaya tajam kembali menyambar tiba, dua pedang dan sebilah golok berbareng menusuk dan membacok arak muda itu.

Tian Pek putar badan mengikuti gerak pedang, setelah menciptakan sinar hijau berkilauan, pedang mestikanya menabas ketiga senjata musuh.

Rupanya orang itu mengetahui sampai di mana kelihayan pedang mestika itu, cepat mereka tarik serangan dan melompat mundur.

"Wutt!" kembali segulung angin pukulan yang kuat menghantam tubuh anak muda itu.

Tian Pek sedang putar pedangnya, maka tak sempat ditarik kenbali, terpaksa dia angkat telapak tangan kiri dan langsung memapak datangnya pukulan itu.

"Plak!" benturan keras terjadi. Tian Pek hanya bergetar sedikit, sebaliknya kakek yang melakukan sergapan tersebut terhajar mundur dengan sempoyongan, ia memandang Tian Pek dengan kaget dan heran.

Kakek ini adalab jago yang tersohor namanya di wilayah Lu-lam karena telapak tangannya yang ampuh laksana baja, orang persilatan menjuluki dia sebagai Tiat ciang (pukulan telapak tangan baja), Lu Lak-sun, llmu pukulan andalannya disebut Tiat-seh ciang (pukulan pasir besi) tiga puluh tahun sudab dia mendalami pukulan sakti itu, dalam anggapannya di kolong langit jarang ada orang yang mampu menahan pukulan mautnya itu.

Ketika ia lihat Tian Pek yang masih muda secara beruntun dapat menangkan lima orang lawan, dia mengira kehebatan anak muda itu hanya karena mengandalkan ketajaman pedang, tenaga dalamnya pasti belum kuat.

Ketika ia lihat Tian Pek sedang menyerang, kesempatan itu dia gunakan uotuk melancarkan sebuah pukulan dahsyat.

Siapa tahu dugaannya ternyata meleset, bukan saja Tian Pek sanggup menahan pukulan dahsyatnya dengan tangan kiri, malahan dia sendirilah yang tergetar mundur beberapa langkah, keruan ia kaget dan keheranan.

Msnurut perkiraannya, dengan usia Tian Pek yang masih muda ini, sekalipun semenjak masih berada dalam rahim ibunya ia sudah belajar juga tenaganya takkan melebihi dirinya, tapi fakta membuktikan lain, tentu saja si Telapak Tangan Baja terkejut.

Tian Pek merasa perutnya semakin lapar, belum sempat makan sudah dikerubut, akhirnya ia menjadi gusar juga, dengan sorot mata yang tajam ditatapnya belasan jago silat itu dengan Pedang Hijau bergetar.

Sebenarnya anak muda itu belum menyerang, tapi jago2 yang mengepungnya itu menyangka Tian Pek akan menyerang mereka, buru2 mereka pada mundur lebih dulu dengan rata jeri

Tian Pek tertawa geli, tak disangkanya musuh yang kelihatannya garang ternyata bernyali kecil.

Tertawa anak muda itu menyadarkan jago itu dari sikapnya yang memalukan. Dengan muka merah beberapa orang di antaranya segera membentak, dengan garang terus menerjang, sinar golok, pedang dan senjata lain sama menyambar ke tubuh Tian Pek.

Dalam keadaan gawat, cepat Tian Pek gunakan Hong- cam keng-cau (angin payuh membabat rumput kering) pedang mestika berputar membentuk dinding cahaya hijau yang menyilaukan mata, segera terdengar suara "crang- cring" beberapa kali, senjata beberapa orang di antaranya tertabas kutung dan sama berteriak kaget sambil melompat mundur.

Hanya dua kali Tian Pek menyaksikan Tui-hong-kiam Hui Kiat menggunakan jurus Ki-hong-keng-cau tatkala terjadi pertarungan sengit di perkampungan Pah-to-san- ceng, akan tetapi ia sudah dapat menyadapnya dengan baik sekalipun belum sempurna benar, tetapi gayanya dan jurus itu sudah hampir mirip, Tian Pek sendiri tidak menyangka jurus serangan ini akan demikian hebatnya.

Berhasil dengan jurus pertama, selagi anak muda itu siap melancarkan serangan kedua, mendadak terdengar seorang membentak: "Berhenti!" — Suaranya keras nyaring memekak telinga.

Tian Pek brrpaling, ia libat si kakek muka merah tadi sedang melangkah keluar dari pintu rumah makan, seorang pemuda tampan mengikuti dibelakangnya.

Setelah berhadapan, kakek itu menuding Tian Pek dan menegur: "Kau anak murid siapa? Apa hubunganmu dengan Hoan-toaya dari Tin-kang? Hendaklah lekas bieara terus terang agar tidak terjadi salah paham."

"Aku tidak kenal Hoan-toaya dari Tin-kang, juga tak pernah berjumpa dengan orang itu!" jawab Tian Pek. "Mengenai perguruan, maaf, aku tak dapat menjelaskan!" Sebagai pemuda jujur yang tak biasa berbohong serta tak kenal akan liku2 kelicikan orang persilatan apa yang terpikir oleh Tian Pek langsung diutarakan tanpa tedeng aling2.

Memang ia gemar belajar silat, tapi dia tidak pernah angkat guru kepada siapapun, kepandaiannya sekarang adalah hasil penyadapannya dari ilmu silat orang lain, sudah tentu ia sendiri tak tahu siapa gurunya.

Mendengar keterangan tersebut, si kakek muka merah tertawa ter-bahak2, seruuya: "Bocah yang takabur, kau tahu siapa aku?"

"Maaf, aku tak kenal Lo… anda," mestinya Tian Pek hendak membahasai kakek itu sebagai Locanpwe, tapi melihat sikap orang yang memandang hina kepadanya, mendadak ia berganti nada, nada yang tidak sungkan2 lagi.

"Anak kecil yang tak tahu diri, baru saja muncul lagaknya sudah takabur," seru pula kakek itu lagi dengan tertawa. "Hm, aku tidak percaya bahwa Lak-jiu-tong-sim bisa mampus ditanganmu. Nih, banyak bicara juga tiada gunanya, sekarang aku hanya akan menguji kau dengan tiga kali pukulanku, kalau kau mampu mempertahankan diri, maka kau bebas bergerak di wilayah Kangsoh dan Shoatang sini. Nah, anak muda, kau setuju?!"

Tian Pek tidak kenal siapa kakek muka merah ini, padahal kakek ini adalab teorang jago kosen yang aniat iersohor di propinsi2 Kangsoh dan Shoatang. Hiat-ciang- hwi-liong ( naga api pukulan bcr-darab ) Yau Peng-gun.

Bukan saja ilmu pukulan Ang-seh-hiat-heng-ciang andalannya sudah mencapai tingkatan sempurna bahkan macam2 senjata rahasia mes unya juga tiada tandirgan di dunia Kangouw, lebih2 senjata aodal-nmnya, yaitu senjata aneh berbentuk telapak tangan manusia, cuma ukurannya lebih besar dan terbuat dari baja uiurni Besar manfaat senjata berbentuk aneh ini, selain untuk menutuk jalan darah, dapat juga dipakai merebut senjata lawan, selain itu ujung jari tengah senjata mesin sunggub sangat lihay, apabila tombol rahasianya dipencet, maka senjata rahasia itu akan menyergap musuh secara telak.

Senjata aneh yang serba guna ini diberinya bernama Sian-jin-ciang (telapak tangan sang dewa), selama malang melintang disekitar propinsi Kangsoh dan Shoatang belum pernah menemukan tandingan. lambat-laun ia menjadi angkuh dan suka pandang rendah orang lain.

Sebagai seoraag jagoan yang tak terkalahkan ia jarang mau tunduk kepada orang, entah bagaimana kemudian, tahu2 dia diserap oleh An-lok Kong-cu dan ditempatkan di kota Hin-liong-tin ini sebagai pos perlindungan perkampungan In-bong-san-ceng yang terletak di kota Soh ciu, dimana An-lok Kong-cu sendiri bertempat tinggal.

Hari ini dia mendapat laporan bahwa Lak jiu tong-sim Hui It-tong telah terbunuh oleh seorang pemuda berpedang di hutan utara kota, sudah tentu ia tidak percaya atas laporan tersebut.

Babwa Hui It-tong bisa dibunuh orang. apalagi oleb seorang pemuda ingusan, berita ini tentu saja sangat meragukan, Lak-jiu-tong-sim juga seorang Jago andalan An lok Kongcu, ilmu silatnya luar biasa lihaynya, kakek muka merah sendiripun tak berani mengatakan ilmu silatnya lebih unggul daripada Hui It tong. tapi tokoh lihay itu bisa mati di tangan seorang pemuda?

Sebab itulah dengan setengah percaya setengah tidak cepat ia memerintahkah anak buahnya untuk mengikuti gerak-gerik anak muda itu, sementara dia kirim pula seorang khusus melaporkan kejadian ini kepada An-lok Kongcu di Sohciu. Kemudian ia mendapatkan laporan pula bahwa pemuda bersenjata pedang itu sudah tiba di Hin-liong-tin. maka dia lantas membawa muridnya, Giok-bin lo-cia (Lo Cia muka putih) Song Siau-hui serta sekalian jago lihay lainnya untuk mencari anak muda itu.

Setelah pertarungan berkobar, ia lihat Tian Pek menggunakan ilmu pedang Tui-hong-kiam-hoat dan keluarga Hoan, disangkanya pemuda itu ada hubungan dengan keluarga Hoan, sebab dia tahu An-lok Kongcu mempunyai hubungan yang akrab sekali dengan keluarga Hoan, takut terjadi salah paham, maka dia lantas menegur.

Siapa tahu Tian Pek telah menyangkal, bahkan ucapannya kasar dan jumawa sekali, maka meledaklah amarah Hiat-ciang-hwe-liong, dia lantas menantang anak muda itu untuk beradu pukulan sebanyak tiga jurus.

Dasar Tian Pek adalah pemuda yang tinggi hati, diapun tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi, betapa panas bati anak muda itu setelah mendengar tantangan tersebut, dianggapnya kakek itu memandang rendah dirinya. Maka dengan angkuh dia menjawab: 'Baik! Kuterima tantanganmu, coba katakan caranya!"

Lalu ia masukkan pedang ke sarungnya dan pasang kuda2 menanti serangan musuh.

"Bagus! Bocah bagus, kau memang punya nyali!" teriak Hiat-ciang hwe-liong dengan gusar.

Sambil membentak bahunya terangkat hingga tubuhnya melengkung ke depan, rambut yang putih pendek seperti duri landak makin kaku bagaikan kawat, muka yang merah makin membara, dia membentak: '"Awas, bocah bagus, inilah pukulanku yang pertama!" Sambil angkat telapak tangannya Hiat-ciang-hwe-liong mengerahkan tenaga pukulan Ang seh hiat heng-ciang hingga lima bagian, segera pukulan dahsyat menghajar  dada Tian Pek.

Diam2 anak muda itu terperanjat, dari cara pengerahan tenaga yang berbeda dengan umum serta pancaran hawa merah membara dari telapak tangan musuh, dia tahu ilmu andalan si kakek muka merah ini adalah sejenis ilmu pukulan beracun. Namun sifat angkuhnya membuatnya pantang takut, biar tahu lihay, ia tak sudi menghindar, ketika kakek muka merah itu mendorong telapak tangan ke depan, cepat iapun menghimpun hawa murninya dan menyambut datangnya ancaman tersebut dengan pukulan pula.

"Plak", benturan keras terjadi, pusaran angin kencang memancar, debu pasir beterbangan.

Di tengah getaran keras itu, Tian Pek hanya merasakan tubuhnya bergeliat, namun ia masih tetap berdiri tak bergerak, sementara segulung hawa panas serasa menembusi telapak tangannya dan menyusup ke dalam tubuh. Terasa bawa panas membara bagaikan dibakar, aneh sekali rasa panas itu, bukan saja membuat tenggorokan jadi kering, kepala pun terasa pusing.

Hiat-ciang-hwe liong sendiri terdesak mundur juga dua langkah. Hal ini disebabkan dia cuma memakai lima bagian tenaga dalamnya, sedang Tian Pek sudah mengerahkan sepenuh tenaganya.

Semakin memuncak rasa gusar Hiat-ciang-hwe-liong. matanya melotot, segera ia meraung pula; "Bocah keparat! Terima pula pukulan berikut ini!'

Sambil meraung kakek itu menarik telapak tangan kanannya ke belakang, menyusul telapak tangan kirinya tsrus didorong ke depan, kali ini dia sertakan delapan bagian tenaganya, tentu saja kekuatannya jauh lebih hebat daripada serangan yang pertama tadi.

Kebanyakan jago silat yang berpengalaman jarang ada yang mau bertarung menggunakan tenaga sepenuhnya pada pertempuran permulaan, seringkali mereka cuma menggunakan tenaga sebesar empat-lima bagian untuk mencoba kekuatan musuh, kemudian baru perhebat pada serangan berikutnya.

Sebab itulah tenaga pukulan kcdua yang digunakan Hiat- ciang-bwe-liong lebih kuat daripada pukulan pertamanya, dengan demikan akan kehebatan makin lama bertarung makin perkasa dan bukan sebaliknya.

Tian Pek masib muda dan kurang pengalaman, pada pukulan pertamanya dia sudah mengerahkan seluruh tenaganya, waktu pukulan kedua Hiat-ciang-hwe-liong menggulung tiba pula ia baru merasa tidak kuat menahan serangan maha dahsyat itu.

Dasar sifatnya memang keras kepala dan pantang menyerah, meskipun tahu serangan itu maha dahsyat dan tak mungkin bisa dilawan dengan kekuatannya, namun ia tak sudi menghindar, seperti pada serangan pertama tadi, dia sambut pukulan dahsyat itu dengan tangan kirinya.

"Blang!" kembali benturan keras yang memekak telinga, ketika kedua gulung angin pukulan saling membentur. begitu dahsyat pancaran angin pukulan itu membuat jago2 yang berada di sekitar situ tak sanggup berdiri tegak dan sama terdesak mundur.

Hiat-ciang-hwe-liong yang berperawakan tinggj besar sama sekali tidak bergerak dari kedudukan semula, sebaliknya Tian Pek sekali ini tergetar dua langkah ke belakang. Kalau cuma mundur saja masih mendingan, yang lebih celaka lagi hawa pukulan yang mengalir masuk membuat telapak tangan kiri anak muda itu kepanasan seperti dibakar, keringat membasahi sekujur badannya, kepalanya terasa pusing, hampir saja ia jatuh terjungkal.

Meski kedua pukulan dahsyat yang disambut Tian Pek secara beruntun itu membuat isi perutnya terbakar luka, namun dia tetap bertahan, tubuhnya tetap tegak bagaikan bukit, hal ini tentu saja membuat gempar para jago yang ikut menyaksikan itu.

Dengan mata terbelalak karena heran bercampur kaget, puluhan jago persilatan yang berkumpul disitu sama meleletkan lidah sambil membatin: "Hebat benar bocab ini, tak tersangka dia sanggup menerima dua kali pukulan berantai Hiat-ciang hwe-liong yang tak pernah ketemu tandingan itu"

Rupanya Hiat ciang hwe-liong sendiripun dapat menyadari gawatnya keadaan, ia sudah telanjur omong besar akan merobohkan Tian Pek dalam tiga kali pukul,  kini dua kali sudab berlangsung, jika pukulan ketiga juga  tak mampu merobohkan lawan, maka tamatlah nama baiknya. Iapun tahu tenaga anak muda itu sudah mulai lemah, ia tidak memberi kesempatan bernapas lagi pada lawan, segera ia membentak pula: "Pukulan ketiga! Robohlah kau, anak muda!"

Di tengah bentakan itu, Hiat ciang-hwe-liong angkat kedua telapak tangannya sambil mengerahkan segenap kekuatan yang dimilikinya terus menghantam dada Tian Pek.

Kebesaran nama Hiat-ciaug-hwe-lioug memang tidak omong kosong, kedahsyatan pukulan yang dilancarkan ini ibaratnya bendungan yang dadal, membanjir dengan hebatnya menekan lawan.

Seketika Tian Pek mcrasakan sambaran hawa panas, dada terasa sesak dan susah untuk bernapas. sadarlab anak muda ini bahwa pukulan musuh terlampau berat baginya untuk disambut dengan kekerasan seperti tadi, akan tetapi dasar dia memang kepala batu, dia tak mau tunjuk kelemahan di depan orang banyak, dia tetap mengerahkan segenap tenaga pada kedua telapak tangan dan menolak ke depan.

"Blang! Krak! Krak!" di tengah benturan keras, debu pasir beterbangan hingga pemandangan di sekitar gelanggang jadi buram dan kawanan jago yang berada disekitar gelanggang tak tahu jelas apa yang terjadi.

Selang sesaat, angin reda dan debu hilang, keadaan di depan jadi jelas kelihatan kembali, tampak Hiat-ciang-bwe- liong masih tetap berdiri saling berhadapan dengan Tian Pek, tak seorangpun di antara mereka ada yang roboh.

Suasana menjadi gempar lagi, semua orang sama terkcsiap, mereka tak mengira kekuatan anak muda itu bisa sedemikian hebatnya. "Siapakah gerangan anak muda ini? Cara bagaimana ia latih ilmu silatnya hingga mampu menahan tiga kali pukulan Yau-locianpwe?" demikian mereka membatin.

Semua orang kaget, diam2 juga kagum, belum pernah terjadi adu kekerasan yang begini hebatnya dalam dunia persilatan, apalagi yang terlibat dalam pertarungan ini adalah Hiat-ciang-hwe-liong, seorang tokoh kosen yang sudah punya nama besar sejak belasan tahun yang lalu, sebaliknya lawannya cuma seorang pemuda yang sama sekali tak terkenal. Orang lain kaget, Hiat-ciang-hwe-liong jauh lebih kaget, ia tak menyangka kalau tiga kali pukulan dahsyat yang dilancarkan olehnya dapat disambut oleh pemuda itu dengan kekerasan.

Ketka pukulan kedua dilancarkan dengan tenaga delapan bagian tadi, ia sudah merasakan anak muda itu pasti tak mampu menahan pnkulannya yang ketiga.

Siapa tahu dugaan itu ternyata meleset, ketika pukulan ketiga dengan sepenuh tenaga dilontarkan, bukan saja pemuda itu tetap menerimanya dengan keras lawan keras, malahan orang sama sekali tak roboh.

Hiat ciang hwe liong tabu sampai di manakah kekuatan sendiri, ia tahu pukulan yang dilontarkan itu paling sedikit berkekuatan ribuan kati, apalagi pukulan Ang seh hiat-heng ciang yang kuat, panas dan beracun, jangankan manusia yang terdiri dari darah daging, sekalipun batu padas juga akan hancur, pohon besar juga akan tumbang bila terlanggar tenaga pukulannya.

Sudah beratus orang jago yang pernah ditemuinya semenjak ia terjun ke dunia persilatan. tap1 belum pernah ia temui seorang pemuda ingusan tak dikenal yang kosen dan ulet, bukan saja pukulan dahsyatnya gagal merobohkannya, malahan dapat menandinginya dengan sama kuat, tentu saja jago tua ini terkesima heran dan kaget.

Tapi setelah diamatinya dengan seksama, ia baru menemukan ada kelainan pada anak muda itu, mukanya kelihatan merah membara seperti terbakar, sinar matanya pudar, meski tetap melototinya, namun sinarnya sudah buram.

Tahulah Hiat ciang-hwe-liong bahwa anak muda itu telah terluka isi perutnya oleh pukulan hawa panasnya yang dahsyat dan kini berada dalam keadaan tak sadar. Sebabnya ia tidak roboh mungkin karena tenaga pantulan yang membalik dari dinding di belakang anak muda itu sehingga tubuhnya tertahan untuk sementara.

Karena pikiran itu, dia lantas menegur: "He, anak muda, bagaimana rasanya ketiga pukulanku ini?"

Tian Pek tetap diam saja, tidak menjawab juga tidak bergerak.

"Hahaha!" Hiat-ciang-hwe-liong terbahak-bahak dengan bangganya, "kukira kau tak mampu lagi menjawab pertanyaanku bukan? Hahaha, dan kenapa kau tidak rebah saja?"

Sambil mengejek, secepat kilat ia menubruk maju dan langsung menutuk Bi-sim-hiat di tubuh anak muda itu.

Ada dua maksud tujuan tindakannya ini. Pertama, jika Tian Pek sudah mati, maka mayatnya harus dirobohkan sehingga ia dapat memerintahkan anak buahnya untuk membereskan jenazahnya. Kedua, kalau Tian Pek tidak mati dan hanya terluka parah, maka tutukan ini akan mengirim anak muda itu ke akhirat.

Perlu diketahui, Hiat-ciang-hwe-liong Yau Peng-gun adalah jago silat yang tersohor kekejamannya, belum pernah ia ampuni jiwa musuhnya, bila terjadi pertarungan, maka ia pasti akan membunuh lawannya.

Sebab ia mempunyai prinsip hidup yang aneh, baginya kalau berbaik hati kepada musuh berarti bertindak kejam terhadap diri sendiri, bila membabat rumput tidak se- akar2nya, angin musim semi berembus dan rumput itu akan tumbuh kembali.

Dengan prinsip hidupnya inilah ia tak mau berbuat baik hati kepada lawan hingga mendatangkan bencana bagi dirinya di kemudian hari. Tampaknya jika tutukan maut itu kena sasarannya niscaya Tian Pek akan mati konyol.

"Setan tua, kau berani?'' tiba2 suara bentakan nyaring menggelegar di udara.

Berbareng bentakan tersebut, sejalur bayangan hitam meluncur tiba dan menyabat jalan darah Im-tok-hiat di lengan kanan Hiat-ciang-hwe-liong.

Ilmu silat kakek itu memang hebat, meskipun menghadapi sergapan dia tidak menjadi gugup, tubuhnya yang sedang menerjang ke depan mendadak melejit ke udara, kemudian dengan gerak In-li-hoan (jumpalitan di tengah awan) dia mengerem gerak tubuhnya yang sedang meluncur itu dan melayang kembali ke tempat semula.

"Tarr! Aduuh! Bluk!" serentetan suara nyaring terdengar serta berkelebatnya bayangan orang, tahu2 seorang nooa cantik berpakaian sutera halus sudah berdiri tegak di tengah2 antara Tian Pek dan si kakek.

Kiranya suara "Tarr!" tadi adalah bunyi cambuk kulit sepanjang tiga depa yang dilemparkan anak dara itu untuk menyerang pergelangan tangan kanan Hiat-ciang-hwe-liong dan menolong Tian Pek, tapi tiba2 kakek itu melejit di udara dengan gerakan yang indab, maka cambuk tersebut menyambar ke sana dan menyerempct telinga Hwesio gemuk tadi.

Tiat-pay Hwesio ini bertenaga raksasa, tapi sayang dia adalah manusia kasar dan dungu, waktu itu ia sedang mengikuti jalannya pertarungan, ketika telinganya secara tiba2 terasa sakit, cepat dia meraba dan betapa kaget dan marahnya setelah mengetahui daun telinganya terkupas sebagian dan berlepotan darah, kontan dia menjerit:  "Aduh!' Sedangkan suara "Bluk!' yang terakhir adalah suara benturan ujung cambuk yang menancap dinding tembok, cambuk itu menembusi dinding yang keras itu hingga tiga- empat inci dalamnya, dapat dibayangkan betapa dahsyatnya tenaga dalam yang dimiliki penyambit cambuk itu.

Apalagi setelah semua orang tahu kalau penyergap itu adalah seorang dara muda yang cantik jelita, hampir sebagian besar jago persilatan yang hadir itu sama terbelalak lebar matanya.

Pudahal cambuk adalah kenda yang lemas, tapi disambitkan oleh anak dara itu cambuk menjadi lurus dan keras bagaikan anak panah, bukan saja telah melukai seorang jago lihay, malahan terus menembus dinding tembok yang keras sedalam empat lima inci, bila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, tak mungkin bisa melakukannya-Nona itu berusia enam-belasan, mukanya cantik dengan mata yang jeli, hidung mancung serta bibir yang kecil mungil menawan, giginya putih  bersih, rambutnya disanggul model keraton, di balik kecantikannya tersembunyi keagungan. terutama sekali sifat ke-kanak2annya yang jelas masih kelihatan diwajahnya sehingga anak dara itu kelihatan polos, lincah dan menawan hati.

Betapa gusarnya Hiat-ciang-hwe-liong setelah mengetahui yang datang hanya seorang anak dara yang cantik, tapi ia sendiri telah dibikin kalang kabut, bahkan seorang anak buahnya juga dilukai.

Dengan gusar ia lantas membentak: "Budak liar darimana? Berani kau campur urusan pribadiku? Hm, kautahu tidak aku ini Hiat-ciang-hwe-liong ... ?" "Jangan temberang kakek muka merah!' jawab si gadis dengan bertolak pinggang sambil menuding hidung lawannya. "Coba jawab dulu pertanyaanku. Kau sudah tua bangka, masakah kau tidak pegang janji, bicaramu tidak ditaati?"

"Hm, budak liar. rupanya kau tak pernah mendapat didikan!" teriak Hiat-ciang-hwe-liong, "berani kau bicara tak sopan dihadapanku? Kalau kau tidak tahu adat jangan salahkan aku bila kuhajar kau."

"Huh, tua bangka sialan yang tak bisa dipercaya omongannya? Jangankan kau tak mampu menghajar diriku, suatu pukulanku saja kukira belum tentu kau sanggup menerimanya, asal kau mampu menyambut pukulan nonamu, enam propinsi di utara dan selatan sungai boleh kau jelajahi dengan bebas, tanggung takkan ada orang yang berani mengganggu dirimu ...

"Tutup mulut.... !" bentak Hiat-ciang-hwe-liong semakin gusar, rupanya ia merasa ucapan gadis itu persis menirukan nada ucapannya terhadap Tian Pek tadi, dia menggosok telapak tangan dan siap menerjang maju.

"Budak kurang ajar, kau berani melukai telinga Hudya, hayo bayar kerugian kepadaku dengan jiwamu," demikian terdengar bentakan mcnggelegar.

Berbareng itu, Tiat-pay Hwesio lantas putar tameng baja yang beratus kati beratnya itu terus menghantam batok kepala si nona.

Nona itu tersenyum simpul, ia tetap berdiri santai di tempat semula, bukan saja tidak menaruh perhatian pada serangan dahsyat lempengan baja itu, bahkan melirikpun tidak. Ketika lempengan baja itu sudah dekat batok kepalanya, mendadak ia merendahkan tubuhnya, kemudian entah memakai gerakan apa, tahu2 ia sudah menerobos keluar dari bawah, menyusul tubuhnya melejit ke atas, dengan gerak Yan-cu-hoan-sin (burung Walet putar badan) ia berjumpalitan di udara terus melayang turun dan tepat berdiri tegak di atas lempengan baja lawan.

"Hei, Hwesio dogol," ejeknya sambil tertawa cekikikan "kutahu kau memang tak becus berkelahi, rupanya kau kehabisan senjata, maka kau bongkar daun pintu kuilmu untuk digunakan sebagai senjata!"

Tiat-pay Hwesio ber-kaok2 gusar, lempengan bajanva diputar kencang bagaikan baling2, maksudnya bendak melemparkan tubuh gadis itu agar jatuh.

Siapa sangka bukan saja anak dara itu tidak terlempar, sebaliknya dia malahan main loncat, menari dan berjingkrak di atas lempengan baja itu dengan riang gembira

Sambil berloncatan kian kemari, ia tertawa ngikik tiada hentinya: "Hihihi, sungguh menyenang-kan, sungguh menyenangkan . . . !"

Sunguh tontonan yang menarik, seorang Hwesio gede mcmutar lempengan baja sebesar daun pintu bagaikan baling2 dan seorang gadis cantik berloncatan kian kemari di atasnya sambil cckikikan, bila orang tak tahu duduknya persoalan pasti akan menganggap di sini sedang berlangsung permainan akrobatik-

Pada waktu itu, bukan saja kawanan jago yang dibawa Hiat-ciang hwe liong telab berkumpul, malahan rakyat jelata juga berkerumun untuk menonton keramaian meski tadi mereka sudah kabur ter-birit2 ketika terjadi pertarungan sengit tadi. Sekalipun Tiat pay Hwesio adalah seorang manusia kasar dan blo'on, lambat laun ia dibikin kheki juga setelah setengah harian tak sanggup merontokkan gadis itu dari atas lempengan bajanya, akhirnya ia tahu sekali pun cara  itu dilanjutkan sampai pagi juga belum tentu bisa bikin jatuh nona itu

Maka akhirnya ia putar lempengan baja tersebut dengan tangan sebelah, sementara tangan yang lain langsung menyodok ke selangkangan anak dara itu sambil memaki: "Neneknya, jangan kauanggap Hudya mudah dipermainkan! Hayo turun!"

Bagi seorang gadis, serangan macam itu di-anggap sebagai suatu serangan kotor dan rendah. merah padam selembar wajah si nona, kali ini ia tak dapat tertawa lagi.

Dengan gerak Thio Hui-pian be (Thio Hui merosot ke bawah kuda), gadis itu angkat kaki sebelahnya untuk menghindari tonjokan maut lawan, kemudian mengerahkan tenaga ia tekan lempengan baja tadi. lalu melayang turun ke sana.

Sungguh menarik kejadian selanjutnya, karena tenaga tekanan kaki si nona, Tiat-pay Hwesio tak sunggup menahan lempengan baja sendiri yang berat, apalagi lempengan baja itu hanya dipegang dengan satu tangan, begitu terlepas dari pegangan langsung saja lempengan baja itu menjatuhi kaki sendiri.

Lempengan baja itu memang berat, jatuhnya karena tekanan anak dara tadi, walaupun kaki Hwesio itu terlindung oleh sepatu, tak urung juga kesepuluh jari kakinya hancur tertindih senjata sendiri.

Itulah yang dinamakan senjata makan tuan, sambil menungging Hwesio dogol itu ber-kaok2 ke-sakitan. Sementara itu dengan tenangnya nona cantik itu sudah berdiri di depan Hiat-ciang hwe liong, ujarnya sambil membetulkan rambutnya yang kusut: "Eeh, kakek tua muka merah, tentunya kaupun orang yang punya nama dan berkedudukan baik di dunia persilatan, masa sebagai seorang tokoh kenamaan kau tidak pegang janji?"

Lagak angkuh dan rasa gusar Hiat-ciang-hwe-liong tadi kini sudah lenyap tak berbekas, sebaliknya dia lantas tersenyum sebisanya dengan sikap ramah dan menghormat.

Sekarang ia tak berani pandang enteng anak dara itu lagi, terutama sekali setelah menyaksikan gerak tubuh Ni-gong- huan-ing (melintas di angkasa dengan bayangan semu) yang dipraktekkan si gadis waktu mempermainkan Tiat-pay Hwesio, karena ia kenal gerak tubuh ini adalah suatu kepandaian rahasia yang tak pernah diwariskan kepada orang luar dari suatu keluarga persilatan yang besar.

Tidaklah mungkin gadis ini bisa menguasai gerak tubuh sakti itu tanpa mempunyai hubungan yang erat dengan keluarga persilatan besar yang dimaksud itu, betapa besarnya pengaruh keluarga persilatan itu, jangankan Hiat- ciang hwe-liong sendiri, sekalipun An-lok Kongcu juga belum tentu berani cari gara2 pada keluarga itu.

"Nona!" ucapnya kemudian, "cukup kiranya kalau engkau mengetahui bahwa aku mempunyai nama dan kedudukan lumayan di dunia persilatan-Coba jelaskan, perkataan apa yang telab kuucapkan dan kauanggap tidak pegang janji?"

Hiat-ciang hwe-liong memang jago kawakan yang licik, sekalipun dia ada maksud untuk mengalah kepada gadis itu, akan tetapi pembicaraannya tetap angkuh demi menjaga gengsi. "Hm!" anak dara itu mendengus, "kakek keriputan, tak perlu kau tempeli mukamu sendiri dengan emas, kaupun tak usah berlagak pilon! Sebelum pertarungan dimulai tadi, bukankah kau telah berjanji akan mengaku kalah bila Tian- siauhiap sanggup menerima tiga pukulanmu?"

Hiat-ciang-hwe-liong ter-bahak2. "Hahaha! Rupanya nona sudah mengikuti semua pembicaraanku dengan engkoh cilik ini. Baik, baiklah! Kalau nona sudah mengatakan begitu, akan kulepaskan engkoh cilik ini pergi dari sini!"

"Nah, begitu baru pantas, kalau sudah berani buka suara maka sepantasnya berani pegang janji. Hayo suruh orang2mu menyingkir!"

Habis berkata gadis itu lantas bersiul nyaring, seekor kuda berwarna merah yang tinggi besar muncul dari belakang kerumunan orang banyak, setibanya di sisi gadis itu dengan kepalanya kuda itu meng-usap2 badan majikannya dengan mesra sekali.

Melenggonglah berpuluh lelaki yang menyaksikan kejadian itu, meski tidak sedikit di antaranya yang tergolong lelaki bangor dan tergiur oleh kecantikan anak dara itu, namun tak seorangpun yang berani mencari penyakit, apalagi setelah menyaksikan pemimpin mereka, Hiat-ciang- hwe-liong juga segan kepada si nona.

Dalam hati orang2 itu menjadi dongkol demi mslihat sikap kuda merah itu begitu mesranya dengan si nona, memangnya manusia kalah daripada kuda, demikian gerutu mereka.

Dengan kasih sayang gadis itu membelai bulu suri kudanya, kemudian dengan sekali berkelebat ia sudah berada di kaki tembok sana untuk mencabut cambuknya, entah bagaimana caranya tahu2 ia sudah melayang kembali ke tempat semula, semua gerak-geriknya dilakukan amat cepat, suatu bukti entah betapa sempurnanya Ginkang yang dimilikiaya. Setelah mengambil kembali pecutnya, nona itu menarik kudanya ke samping Tian Pek. Waktu itu

Tian Pek masih berdiri kaku di tempat semula dengan muka merah membara.

"Engkoh Pek, engkau teriuka?" ucap dara itu dengan lembut dan sedih melihat keadaan anak muda itu.

Tian Pek tetap diam saja.

"Engkoh Pek, parahkah lukamu? Mengapa kau tidak menjawab?" kembali gadis itu berbisik.

Tian Pek tetap bungkam dan tidak bergetak, biji matanya juga tak berputar sama sekali.

Betapa sedih anak dara itu menyaksikan keadaan Tian Pek, matanya jadi merah dan hampir meneteskan air mata.

Akhirnya dengan gemas ia berkata: "Hm, pasti kakek sialan ini yang melukai kau. Baik! Akan kubalaskan dendammu nanti pada kakek sialan ini setelah kubawa kau pulang dulu kerumah untuk merawat lukamu."

Dengan mata melotot ia melirik sekejap ke arah Hiat- ciang-hwe-liong, lalu loncat ke atas kudanya, ia tarik Tian Pek ke atas pelana.

Dengan tangan sebelah memeluk tubuh anak muda itu, si nona cemplak kudanya dan siap berlalu.

"He, nona, tunggu sebentar!" tiba2 Hiat-ciang-hwe-liong maju selangkah ke depan sambil berseru.

"Ada apa?" tanya si nona dengan muka tak senang, alis matanya bekernyit "Memangnya kau menyesal dan ingkar janji? Tua bangka celaka!" Hiat-ciang-hwe-liong menyengir, ucapnya: "Nona,jangan kau sebut aku tua bangka celaka segala, sedikitnya kau harus meghormati aku dan jangan berbuat kurang sopan terbadap orang yang lebih tua daripadamu bukan?"

"Sudah, tak usah banyak bicara, apa lagi yang hendak kaukatakan?" tukas gadis itu tak sabar.

"Budak cilik yang tak tahu diri, jangan kelewat batas sikap angkuhmu!" teriak Giok-bin-lo-cia dengan marah, segera ia hendak melabrak si nona.

"Anak Hui, jangan turut campur!" cepat Hiat-ciang-hwe- liong mcncegah. Lalu katanya pula kepada anak dara itu: "Nona, kctahinlah bahwa aku mengalah kepadamu lantaran mengingat orang tua-mu kalau engkau tak suka banyak bicara, akupun tak akan banyak omong, pemuda she Tian ini sudah tcrkena pukulan Ang-seh hiat-heng-ciang yang beracun, jika dalam tiga hari tidak memperoleh obat penawarnya, maka dia akan mati dengan tubun hangus. Nah. karena aku mau berbuat baik, untuk membuktikan maksud baikku, akan kuberikan sebutir obat penawar, asal pemuda itu sudah minum obatku dan beristirahat selama beberapa hari, maka lukanya akan sembuh dengan sendirinya!"

Sambil berkata is keluarkan sebuah botol kecil dan mengambil sebutir pil warna hijau, lalu di selentikkan ke arah gadis itu.

Sambil tersenyum nona itu menjepit obat tersebut dengan kedua jarinya.

Pil itu kecil sekali bentuknya tapi diselentikkan Hiat- ciang-hwe-liong dengan tenaga yang keras pil yang kecil itu meluncur secepat kilat, tapi anak dara itu sanggup menjepitnya dengan tepat dan jitu dengan dua jari, untuk itu bukan saja dia harus tajam dalam penglihatan, tenaga dalam serta gerak japitannya juga harus tepat dan sempurna pula.

Sekarang Hiat-ciang-hwe-liong baru benar2 kagum atas kelihayan si nona, sambil menghela napas ia berpeling ke arah muridnya, mau-tak-mau Song Siau-hui merasa kalah dan menunduk malu.

Gudis itu mengamati pil itu sekejap, lalu ia berkata: "Cara bagaimana kutahu obat ini benar2 obat penawar? Seandainya kau beri sebutir obat racun kepadaku . . . ?"

Bicara sesungguhnya, Hiat-ciang-hwe-liong memang bukan sungguh2 hendak menolong jiwa Tian Pek, yang benar ia berbuat begitu karena takut pada pengaruh keluarga si gadis yang besar dan kuat itu.

Ia menduga pasti ada hubungan yang luar biasa antara gadis itu dengan Tian Pek, terutama sikap mesra yang diperlihatkan anak dara itu. Ia maklum, bila Tian Pek sumpai mati di tangannya. niscaya anak dara itu akan menuntut balas padanya.

Karena itulah dia lantas putar haluan mengikuti arah angin, ia sengaja menolong anak muda itu agar di kemudian hari gadis itu tak mencari perkara lagi padanya,

Siapa tahu, bukan rasa terima kasih yang didapat, ia malah dicurigai sengaja memberi obat racun, keruan ia mendongkol, segera ia menjengek; "Nona, kalau aku tidak bermaksud menolong jiwanya, biarpun tidak kuberi obat racun juga dia tetap akan mampus. "

"Oh, kalau begitu aku mesti berterima kasih kepadamu, begitukah kakek sialan?" kata gadis itu sambil cekikikan.

Sekarang ia percaya obat yang diberi Hiat-ciang-hwe- liong itu adalah obat penawar, maka tanpa menunggu jawaban orang lagi ia lantas mencemplak ke atas kudanya dan pergi dari situ.

Dalam sekejap mata bayangannya sudah lenyap di balik kegelapan sana, betapa mendongkol-nya Hiat-ciang-hwe- liong menyaksikan tingkah laku nona itu, terutama sebutan "kakek sialan" yang terakhir itu . . . .

Udara cerah, sang surya memancarkan sinar emasnya yang cerlang cemerlang.

Seekor kuda merah yang tinggi besar sedang berlari kencang di jalan raya.

Penunggang kuda itu adalah seorang gsdis cantik jelita serta merangkul seorang pemuda tampan yang berada dalam keadaaan tak sadar.

Banyak orang memandang heran pada penunggang kuda itu. Betapa tidak? Seorang gadis cantik merangkul seorang pemuda di siang hari bolong. sudah tentu kejadian ini sangat menarik perhatian.

Untungnya kuda itu berlari dengan cepatnya, hanya sekilas pandang saja kuda itu sudah lewat jauh ke sana meninggalkan debu yang beterbangan memenuhi angkasa.

Sambil membedal kudanya kencang2, berulang kali anak dara itu meuundukkan kepalanya memandang pemuda yang berada dalam pelukannya dengan rasa kuatir dan kasih sayangnya. Bila dalam keadaan sadar pemuda itu menyaksikan kemesraan dan rasa kuatir yang ditunjukkan si gadis cantik ini kepadanya, niscaya dia akan merasa dirinya orang yang paling bahagia di dunia.

Sayang pemuda itu pingsan, sepanjang perjalanan ia tak dapat menikmati kehangatan serta kemesraan yang ditunjukkan gadis itu, malahan mukanya semakin merah membara, napasnya makin memburu, dadanya turun naik makin keras dan jiwanya sudah berada ditepi jurang kematian.

Cemas dan gelisah anak dara itu menyaksikan keadaan pemuda itu yang semakin payah, ia dapat merasakan suhu badannya yang kian meninggi, ia merasa se-akan2 sedang memeluk segumpal bara.

Akhirnya ia tak dapat menahan perasaan kuatirnya, lari kudanya diperlambat dan akhirnya ber~benti.

"Apa yang mesti kulakukan sekarang?" pikirnva dengan gelisah, "jelas tak mungkin kubawa pulang ke rumah. tapi  di tengah jalan yang begini sunyi ke mana aku mesti mencari tabib untuk menyembuhkan sakit engkoh Pek?''

Setelah ter-mangu2 sejenak, gadis itu berpikir lebih jauh: "Aku memang bodoh. jika kubekal beberapa biji Toa hoan- wan dari rumah, pasti aku tak perlu repot2 melakukan perjalanan cepat "

Teringat pada obat Toa-hoa-wan milik keluarganya. tiba2 gadis itu teringat pula akan obat penawar pemberian si kakek muka merah itu.

"Kenapa aku melupakan obat penawar pemberian kakek itu?" kembali ia berpikir, "kenapa tidak kuminumkan dulu obat ini kepada engkoh Pek untuk menolong jiwanya lebih dulu ?"

Berpikir sampai di sini, ia coba mengawasi sekitar tempat ini, maksudnya mau mencari rumah penduduk untuk minta air putih bagi engkoh Tian.

Tapi lempat itu jauh dari keramaian dan tiada rumah penduduk, yang terbentang sejauh mata memandang hanya rumput serta ladang belaka. Ia melihat sebuah bukit kurang lebih lima-enam li di sebelah kiri sana, gadis yang cerdik ini segera membedal kudanya menuju ke arah bukit kecil itu.

Walaupun dia tak berpengalaman dan jarang keluar rumah, namun otaknya memang encer, ia pikir di atas bukit yang tinggi itu tentu bisa memandang ke seluruh peujuru dengan lebih leluasa?

Kuda merah yang ditunggangi anak dara itu adalah seekor kuda jempolan yang disebut Ci hua liu (kuda cepat berbulu merah) sekalipun mendaki bukit yang tinggi tetap t;dak menjadi alangan baginya, hanya sekejap saja lima- enam li sudah di tempuhnya.

Berdiri di puncak bukit itu, si nona dapat memandang keadaan sekitar situ dengan lebih leluasa. Dilihatnya jauh di belakang bukit sana suatu lembah yang permai dengan pepobonan yang rindang, sebuah bangunan mengintip di balik pepohonan itu, meskipun masih bclasan li jauhnya, akan tetapi kecuali bangunan itu tidak nampak lagi ada rumah penduduk yang lain.

Apa boleh buat, terpaksa ia membedal kudanya menuruni bukit itu dan menuju ke arah bangunan tersebut.

Kuda Ci-hoa-liu memang kuda jempolan. bukan saja dapat berlari cepat di tanah yang datar, sekalipun lari mendaki bukit atau menelusuri lereng-pun kecepatannya tak berkurang, sekejap kemudian ia sudab membawa kedua orang itu sampai di depan rumah tadi.

Gadis itu menurunkan pemuda yang belum sadar itu, tapi setelah mendekati rumah itu ia jadi melenggong.

Bangunan itu aneh sekali bentuknya, atap ber-bentuk bundar warna merah. dinding pckarangan terbuat dari batu putih, daun pintu juga berwarna putih, pada ambang pintu warns putih tertulis tiga huruf besar: "Si-jin ki" (rumab kediaman orang mati).

Bangunan tersebut memang aneh sekali, bukan saja dibangun membelakangi bukit, bentuk bangunannya mirip kuil tapi bukan kuil. seperti kuburan tapi bukan kuburan, untuk sesaat gadis itu menjadi serba susah dan ragu2 apakah harus masuk ke sana atau tidak?

Ilmu silat si nona memang tinggi, tapi ia jarang berkelana di dunia persilatan, tentu saja tak pernah menjumpai pula bangunan seaneh ini, makanya untuk beberapa waktu gadis itu cuma berdiri tertegun. Betapa cerdiknya ia menjadi bingung juga menghadapi bangunan aneh ini.

Tak mungkin di dunia ini ada tempat seaneh ini, siapa yang mau memberi nama "Sin-jin-ki" untuk rumahnya? Sekalipun tempat itu adalah kuburan juga tak akan ditulis dengan kata2 begitu.

Tapi kenyataan terbentang di depan mata, mau tak-mau si gadis harus mempercayai kejadian aneh ini.

Selagi gadis itu berdiri tertegun, tiba2 pemuda yang berada dalam pelukannya gemetar keras, alisnya terkerut rapat, tampaknya sedang menahan pcnderitaan yang sangat hebat.

Gadis itu tersadar dari lamunannya, ia pikir menolong orang lebih penting daripada memikirkan urusan lain, peduli amat penghuninya orang hidup atau orang mati, paling penting masuk dulu dan urusan belakang.

Begitulah kalau seorang gadis sudah jatuh cinta, kekuatan cinta membuatnva bersedia untuk berkorban apapun juga, sekalipun gadis itu adalah seorang puteri jago kenamaan yang selalu dimanja oleh orang tuanya, tapi dorongan cinta membuat dia melupakan se-gala2nya, lupa akan marabahaya yang mungkin akan mengancam jiwanya. Tanpa berpikir panjang ia lantas menerobos ke dalam bangunan aneh yang bernama "kediaman orang mati" itu.

Ia membiarkan kudanya makan rumput di kaki bukit dengan bebas, sambil menggigit bibir ia pondong Tian Pek yang tak sadar itu dan mendekati pintu, serunya dengan suara lantang: "Adakah orang di dalam?"

Dia ulangi teriakan tersebut sarnpai beberapa kali, suaranya berkumandang jauh, namun tiada seorangpun yang menjawab.

Akhirnya ia memberanikan diri dan mendepak daun pintu warna putih itu yang segera terbuka.

Dibalik pintu adalah sebuah halaman kecil bunga beraneka warna tumbuh dengan segarnya dalam halaman itu, suasana hening sepi, keheningan yang menimbulkan rasa seram.

Sebuah jalan setapak beralas batu putih membentang lurus ke depan menghubungkan rumah berloteng kecil berwarna merah tadi, pintu loteng tertutup rapat se-olah2 menyimpan teka teki yang mistenus di dalamnya.

Jangankan seorang nona cilik berusia enam-tujuh belassn yang tak pernah keluar rumah, sekalipun seorang jago kawakan yang berpengalaman luaspun akan bergidik berada di tempat begini.

Tapi nona itu sama sekali tak gentar, sambil memondong Tian Pek yang tak sadarkan diri, selangkah demi selangkah ia menghampiri bangunan loteng yang serba misterius itu.

Pintu loteng itupun terbuat dari kayu putih pintunya tertutup rapat, di atas pintu ada tulisan pula yang berbunyi: "KEDIAMAN ORANG MATI, ORANG HIDUP DILARANG MASUK". "Hei, orang mati! Ada orang hidup datang ber-kunjung!" teriak nona itu.

"Yaok Yaook kuk kuk !" bunyi burung aneh menggema memecah kesunyian, seekor burung terbang melintasi atap loteng dan melayang ke belakang bukit.

Hampir saja gadis itu menjerit kaget, jantung berdebar keras, selang sesaat belum nampak juga bayangan orang. akhirnya gadis itu mendepak pelahan pintu loteng.

Pintu itu tidak terkunci dan segera terpentang lebar, di balik pintu adalah sebuah ruang kecil yang longgar.

Perabot dalam ruangan itu amat sederhana, tapi lantainya bersih sekali. tidak perlu ditanya lagi, semua ini pastilah hasil pekerjaan si "orang mati" itu.

Gadis itu tambah waspada, matanya terbelalak dan siap menghadapi segala kemungkinan.

Tepat di tengah ruangan ada sebuah meja panjang yang juga terbuat dari kayu putih, dua buah kursi terletak di kedua sisi meja. Tampaknya baik pintu, jendela serta bahan bangunan lain yang ada disini semua terbuat dari sejenis kayu yang sama, tidak dicat atau dipelitur sehingga terciptalah semacam bau yang khas, bau itu mengingatkan orang pada bau yang terdapat di toko peti mati,

Sekali lagi gadis itu memeriksa setiap sudut ruangan dengan seksama, setelah yakin di sekitar sana tak ada yang mencurigakan, baru ia membaringkan Tian Pek di atas kursi, sebab tangannya mulai terasa kesemutan dan pegal.

Setelah menaruh pemuda itu di atas kursi, nona itu mengembus napas lega, pikirnya: "Tempat ini dinamakan kediaman orang mati, kenapa tidak terlihat seorang matipun?" Kembali dia awasi sekeliling ruangan itu. kebetulan angin berembus mengibarkan kain tirai di dinding bagian tengah, tampaklah dibalik kain tirai terdapat sebuah ruangan lagi dan entah apa isi ruangan itu?

Karena itu rasa ingin tahu, si nona memberanikan diri mendekati tempat itu dan menyingkap tirai tadi, maka tampaklah sebuah meja sembahyang teratur rapi di sana, di atas meja sembahyang berdiri sebuah papan kecil yang juga terbuat dari kayu putih, empat sisinya diukir secara indah, sedang di tengah papan kecil itu terukir beberapa  patah kata: "Tempat abu Injin Pek lek-kiam Tian-tayhiap, Tian In- thian!"

Hampir saja nona itu berseru kaget, dia masih ingat ketika engkoh Tian dirawat di rumahnya tempo hari, tiba2 paman Lui meloncat masuk ke dalam kamar ketika anak muda itu sedang bercerita asal usulnya, waktu itu paman Lui mencengkeram tangan engkoh Tian sambil bertanya: "Apa hubunganmu dengan Tian In thian ?"

Dan kini di kediaman orang mati muncul pula meja abu Tian In thian, jangan2 antara engkoh Tian dengan Tian In- thian memang mempunyai hubungan yang erat?

Kiranya tak perlu dijelaskan lagi siapa anak dara ini, ialah Tian Wan-ji adanya!

Rupanya gadis ini diam2 jatuh cinta pada Tian Pek, setelah kembali ke kamarnya akibat dibuat mendongkol karena Tian Pek bersikap mesra terhadap Hoan Soh-ing, kemudian ia dengar Tian Pek telah mengejar Sin-liu-liat-tan Tan Can-li, ia menjadi kuatir, maka diam2 ia kabur dan rumahnya dengan membawa Ci-hoa liu, kuda merah mestika miiik ayahnya.

Walaupun dia berasal dari keluarga cendekia dan sejak kecil disayang orang tuanya dan memiliki ilmu silat yang tinggi, tapi belum pernah melakukan perjalanan di dunia Karigouw, selain itu iapun tak tahu ke mana perginya Tian Pek, untunglah secara kebetulan ia berhasil menemukan Tian Pek di kota Hin-liong-tin.

Waktu itu dia sedang bersantap di atas loteng, sedang Tian Pek di bawah, maka kedua orang tidak saling bertemu.

Setelah terjadi ribut2 barulah Wan-ji melongok ke bawah. Betapa gembiranya nona itu setelah mengetahui salah seorang di antaranya adalah Tian Pek, ia lihat betapa gagahnya anak muda itu menghadapi kerubutan belasan orang dengan pedang hijaunya.

Karena tak ingin mengganggu orang yang berkelahi, gadis itu tidak lantas unjuk diri, baru setelah Tian Pek terluka karena beradu kekuatan dengan Hiat-ciang-hwe liong dan kakek itu hendak mencelakai jiwa anak muda itu, cepat ia turun tangan menyelamatkan Tian Pek dengan menyambitkan cambuk kudanya.

Dan kini tanpa disengaja pula sampailah mereka di Si- jin-ki, sempat pula menyaksikan meja abu Tian In-thian, ia makin yakin kalau antara Tian Pek dengan Tian In-thian pasti mempunyai hubungan yang erat, sudah tentu hal ini membuatnya prihatin.

Boleh dibilang gadis itu sudah lupa maksudnya hendak mencari air untuk minum obat engkoh Tian, perhatiannya kini tercurahkan pada meja abu itu.

Meja abu itu sangat bersih, ada sesajian buah2-an dan bunga yang teratur dengan rapi di atas meja, hiolo dengan sisa abu dupa terletak di tengah meja ini menandakan kalau selalu ada orang bersembahyang di situ secara teratur.

Di depan meja abu sana terdapat sebuah jalan samping yang luasnya lima kaki, di samping kiri—kanan jalan serambi itu terdapat kamar tidur, pintu kamar terbuat pula dari kayu putih.

Pada pintu kamar sebelah kiri tertempel secarik kertas putih yang bertuliskan: "Hoat-si jin", sedang-kan di pintu kamar sebelab kanan tertempel kertas dengan tulisan "Si- hoat-jin".

Selain itu, di samping kanan-kiri pintu masing2 tertempel pula sebuah "Lian" dengan kertas warna putih, lian itu bcrtuliskan: "Utang budi tak dapat membalas, lebih baik mati daripada hidup".

Sedang Lian yang lain bertulisan: "Punya dendam tidak menuntut balas, malu untuk hidup".

Selanjutnya tepat di atas pintu tertulis kata2 yaisg berbunyi: "Membslas dendam dan membayar budi".

Sekarang Wan-ji dapat meraba duduknya persoalan, jelas 'SI-JIN-KI" (kediaman orang mati) bukanlah dihuni oleh orang mati sungguh2 melainkan orang hidup yang berutang budi kepada Tian-taybiap, karena tak mampu membalaskan dendam bagi kematian Tian tayhiap, mereka lantas menganggap diri sendiri sebagai orang yang sudah mati.

Ia menjadi heran macam apakah manusia yang bernama Hoat-si-jin (orang mati hidup) dan Si hoat-jin (orang hidup mati) itu?

Dia mendekati kamar sebelah kiri dan mendorong pintu hingga terbuka, ia lihat isi ruangan itu sederhana sekali, kecuali sebuab meja dan sebuah kursi tiada perabot lain, juga tidak nampak pembaringan sebagai layaknya sebuah kamar tidur, hanya di sudut ruangan sana ada sebuah peti mati.

Peti mati itu juga terbuat dari kayu putih dan tertutup rapat sekali, lama Wan-ji mengamati ruangan tersebut, karena tak menemukan sesuatu akhirnya gadis itu mengundurkan diri dan masuk ke kamar sebelah kanan.

Apa yang dilihat di kamar kanan ini sama sekali tak berbeda dengan keadaan di kamar sebelah kiri, kecuali sebuah meja dan kursi, juga cuma terdapat sebuab peti mati.

Mau-tak-mau mengkirik juga Wan-ji, jantung-nya berdebar keras,

Bangunan sebesar ini sama sekali tiada penghuninya dan di dalam kamar kecuali dua peti mati besar tidak nampak benda lain, ditambah pula gedung itu dinamakan "kediamun orang mati", suatu nama yang menimbulkan rasa ngeri bagi yang mendengarkan, tidaklah heran kalau gadis cilik itu jadi ketakutan.

Sampai sekian lamanya ia berdiri ter-mangu2 di depan kamar itu, ia tak tahu apa yang harus dilakukannya?

"Dukk"'!" mendadak "terdengar suara keras di luar ruangan, Wan-ji terperanjat dan hampir saja menjerit, cepat telapak tangan kiri siap melindungi dada, sementara telapak tangan kanan siap menghadapi serangan musuh, cepat ia melayang keluar kamar itu.

Ia libat Tian Pek sudah terjungkal dari kursi dan terkapar di lantai, tanpa berpikir Wan-ji melayang ke sarnping anak muda itu dan memeriksanya

Dilihatnya muka Tian Pek tetap merah membara, napasnya kini semakin lemah hingga hampir tak terdengar, dahinya berkerut dan darah meleleh keluar dan ujung bibirnya.

Wan-ji amat terperanjat, cepat ia periksa tubuh anak muda itu, tapi tidak menemukan sesuatu tanda luka baru, anak dara itu baru menyadari akan keteledoran sendiri. Tentulah anak muda itu terguling dari kursinya sewaktu ia melakukan penggeledahan ke dalam kamar tadi, diam2 ia memaki ketidak becusan sendiri urusan yang penting tidak dibereskan dulu, sebalik-nya mengurusi hal tetek bengek.

Cepat ia angkat anak muda itu ke atas kursi, kemudian ia keluarkan pil bijau pemberian kakek muka merah itu, karena tidak menemukan air matang akhirnya gadis itu mengunyah obat tersebut di mulutnya sendiri, kemudian dengan bibir menempel bibir, pelahan ia meloloh obat yang telah hancur itu ke mulut Tian Pek.

Maklum, usia Wan-ji masih amat muda, hatinya masih suci bersih dan pengetahuannya mengenai hubungan antara lelaki dan perempuan masih sangat minim, ia tak tahu kalau perbuatan mesra itu pantang dilakukan oleh anak dara seperti dia melainkan hanya suami-istri yang boleh berbuat begitu.

Selain itu, karena dia terlalu mencintai Tian Pek, dalam keadaan terpaksa tanpa pikir ia meloloh anak muda itu dengan obat yang telah bercampur dengan air liurnya.

Malahan dia kuatir engkoh Tian tercintanya tak dapit menelan hancuran obat itu karena masih pingsan, maka dengan mengerahkan hawa murninya, dia lantas menguruti dada anak muda itu.

Ketika tangannya meraba dada Tian Pek, mendadak Wan-ji merasa seperti menyentuh sebuah benda. gadis itu heran, benda apa yang berada di dalam baju pemuda itu? Karena rasa ingin tahu dirabanya dada Tian Pek dan mengeluarkan benda itu, kiranya benda itu adalah sejilid kitab yang bersampul warna-warni.

Melihat kitab yaag indah itu Wan ji tertawa geli, pikirnya: "Engkoh Tian masih seperti anak kecil saja, sudah jejaka masih suka baca buku komik begini?" Tanpa sengaja Wan ji membalik2 halaman kitab itu. Tapi apa yang dia lihat? Ternyata gambar gadis bugil melulu dengan pose yang menggiurkan.

"Ah, brengsek kau!" Wan ji menggerutu dengan muka merah karena jengah, ia lupa bahwa Tian Pek belum lagi ssdar, segera ia lemparkan buku itu ke atas dada Tian Pek.

"Bluk." buku itu terjatuh ke lantai.

Pada saat itulah mendadak terdengar seorang membentak: "Siapa yang berani memasuki kediaman orang mati!?"

Berbareng dengan bentakan tersebut, sesosok bayangan menerjang masuk ke dalam ruangan dengan cepat luar biasa. Belum lagi Wan-ji sempat membalik tubuh, tahu2 segulung angin pukulan yang dahsyat menerjang tiba dari belakang.

Wan-ji kuatir pukulan dahsyat itu melukai Tian Pek yang pingsan, ia tidak menghindar atau berkelit, dengan gerakan To coan-im-yang (memutar balik im dan yang), sambil berputar kedua telapak tangan terus di dorong ke depan untuk menyambut ancaman tadi.

"Ah, rupanya Siau-in-kong (tuan penolong kecil)!" seru penyerang itu.

Tatkala Wan-ji putar badan, orang itu sempat melihat wajah Tian Pek dengan jelas, maka ia berseru kaget dan lekas2 hendak menarik kembali pukulannya.

Tapi sayang agak terlambat- "Blang"!" benturan keras terjadi, Wan-ji merasakan sekujur badannya bergetar keras, lengannya kaku kesemutan.

"Hebat benar tenaga pukulan orang ini!" pikir Wan-ji dengan terperanjat. Pendatang adalah dua orang aneh yang berpakaian belacu putih dengan ikat pinggang tali rami, mukanya pucat menyeramkan tanpa emosi dan kaku seperti orang mati, mereka berdiri di kiri kanan depan Wan ji, gerak gerik mereka persis seperti mayat hidup.

Kedua orang aneh itu memancarkan sorot mata yang tajam, mereka mengamati mulai dari Wan-ji, lalu beralih ke wajah Tian Pek, kemudian dari wajah Tian Pek beralih kembali pada wajah si nona-

Wan-ji kuatir kalau kedua orang aneh itu bermaksud jahat terhadap Tian Pek, maka walaupun tahu ilmu silat sendiri bukan tandingan lawan, tapi demi melindungi keselamatan pemuda itu diam2 dia kerahkan tenaga dalamnya dan siap siaga.

Gadis itu sudah bertekad bila kedua orang aneh itu menunjukkan suatu gerakan yang tidak menguntungkan Tian Pek, maka dia akan melakukan serangan balasan dengan segenap kekuatannya.

"Aih, cukup parah luka yang diderita Siau-in-kong!" terdengar manusia aneh yang berdiri di sebelah kiri itu berseru, entah ditujukan kepada siapa perkataannya itu?

"Oleh karena itulah kita tak boleh mati!" sambung manusia aneh yang berada di sebelah kanan-"Hidup kita di dunia ini masih banyak gunanya "

Diam2 Wan-ji merasa heran, kedua orang aneh itu seperti sedang bicara sendiri, akan tetapi sinar matanya tertuju kepada dirinya dan engkoh Tian, sungguh aneh dan apa maksudnya?

"Perempuan cilik, apakah kau yang meiukai Siau-in- kong?" tiba2 orang aneh sebelah kiri menegur dengan bengis. Wan-ji balas bertanvac "Siapa kalian? Untuk apa aku melukai engkoh Tian . .. ?

"Ciat!" mendadak manusia aneh yang sebelah kanan membentak keras terus melayang ke atas-tangan kirinya dikebaskan menyingkirkan Wan-ji, sementara tubuhnya langsung mnnubruk Tian Pek yang masih tak sadar.

"He, apa yang hendak kau lakukan?" teriak Wan ji kuatir, ia takut orang aneh itu meiukai pujaan hatinya Sambil membentak, tangan kanannya menangkis lengan manusia aneh itu dengan gerak Lek poat-cian-kun (menyingkirkan rintangan sekuatnya).

Karena kuatir, serangan tersebut dilancarkan Wan ji dengan mengerahkan segenap tenaganya, jangankan lengan manusia, sekalipun baja juga akan bengkok.

Tapi msnghadapi tenaga pukulan Wan-ji yang dahsyat itu, manusia aneh itu seperti tidak menggubris atau memandang sekejappun, ia tetap melayang ke depan Tian Pek.

"Plok!" dengan telak pukulan Wan-ji itu mengenai lengan kiri manusia aneh itu, ia merasa telapak tangan sendiri se-akan2 menghantam baja yang sangat kuat, separoh badan sendiri menjadi kesemutan, tanganpun sakit luar biasa, ia tergetar mundur lima-enam langkah.

Dalam pada itu manusia aneh tadi sudah menubruk tiba di depan Tian Pek, telapak tangannya yang besar dan berbulu segera direntangkan lebar2 terus menekan ulu hati anak muda itu.

Betapa kaget dan kuatir Wan ji, ia berteriak:

"Siluman tua, kalau kau berani menyentub engkoh Tian, nonamu akan beradu jiwa dengan kau!" Sambil membentak, kedua tangan lantas didorong ke depan dengan jurus Wi-ing-jut kok (burung kenari keluar sarang), dia menghantam dengan sekuat tenaganya.

"Nona cilik jangan sembrono !" bentak manusia aneh

yang lain, sebelah tangannya terus bergerak dan membuat Wan-ji teralang oleh selapis dinding tenaga pukulan yang tak kelihatan, kontan tubuh nona itu terpental balik dan "blang", puuggungnya membentur dinding dengan keras.

Wan-ji merasakan padangannya menjadi gclap, hampir saja ia jatuh tak sadarkan diri, cepat dia himpun hawa murninya dan mengatur pernapasan. Ketika ia membuka matanya kembali, terlihat telapak tangan manusia aneh yang pertama tadi sudah ditempelkan di jalan darah Mia- bun-hiat di tubuh Tian Pek.

Mia bun-hiat merupakan jalan darah kematian di tubuh manusia, apabila orang aneh itu memencet tempat penting tersebut, niscaya Tian Pek akan mati konyol.

Wan-ji menjadi kuatir bercampur panik, tanpa terasa air matanya jatuh bercucuran. Tapi setelah diperhatikan dengan lebih seksama, legalah gadis itu, rupanya orang aneh itu tidak bermaksud mencelakai Tian Pek melainkan sedang menggunakan tenaga dalamnya untuk mengurut jalan darabnya.

Selang sejenak, warna merah membara yang menghiasi wajah Tian Pek tadi sudah jauh berkurang, malahan pelahan sedang membuka matanya.

"Busyet! aku malah mengira dia akan mencelakai jiwa engkoh Tian," demikian pikir Wan-ji, dia lantas bersandar di dinding dan menggunakan kesempatan itu untuk mengatur pernapasannya. Orang aneh yang kedua juga telah menghampiri Tian Pek, tiba2 ia tertegun, sorot matanya tertuju pada kitab berwarna-warni yang tergeletak di bawah kaki anak muda itu.

Cepat dipungutnya kitab tersebut, setelah dipandang sekejap ia menjerit kaget: "Hah! Soh kut-siau-hun-thian- hud-pit-kip! Kak coba lihat "

Sambil berseru kaget ia memandang ke arah-kakaknya, tapi ketika dilihatnya orang aneh itu sedang mengurut jalan darah Tian Pek dengan sepenuh tenaga, malahan uap tipis mengepul keluar dari ubun2nya, kata2 yang akan diutarakan cepat ditelan kembali. Tapi pada wajahnya yang kaku dingin itu jelas kelihatan emosinya yang sukar ditahan, sinar matanya berkilat, sampai kedua tangan yang memegang kitab itupun gemetar.

Wan-ji yang sedang atur pernapasan sambil bersandar dinding juga terperanjat ketika didengarnya orang aneh itu meneriakkan nama "Soh-hun-siau-kut-thian hud-pit-kip"", ia pernah mcndengar nama kitab itu waktu ayahnya ber- cakap2 dengan para jago anak buahnya.

Da tahu kitab tersebut merupakan hasil karya Ciah-gan- long-kun, seorang tokoh aneh yang hidup dua ratus tahun yang lalu, kitab itu terkenal sebagai kitab paling aneh di kolong langit ini, barang siapa berhasil mendapatkan kitab tersebut dan mempelajari isinya, maka ilmu silatnya akan merajai dunia Kangonw.

Tapi sekarang Wan-ji jadi sangsi, masakah begini isi kitab yang dikatakan kitab sakti luar biasa itu? Masakah gambar perempuan bugil dengan pose yang merangsang itu merupakan rahasia pelajaran ilmu silat yang maha hebat?

Sambil berpikir nona itupun nengawasi gerak-gerik manusia aneh itu. Dengan tangan gemetar orang itu sedang mem-balik2 halaman kitab, makin jauh ia membaca kitab itu, air mukanya semakin aneh, sebentar berkerut kening, kemudian bibirnya mencibir, lalu sinar matanya mencorong terang, lain saat mukanya yang pucat seperti mayat berubah juga dan bersemu ke-merah2an.

Sejenak kemudian sekujur tubuhnya mulai gemetar keras, agaknya orang aneh itupun tak mampu mcnguasai gejolak perasaannya, akhirnya dia pejamkan matanya . ,

Di pihak lain, kabut tipis yang menguap dari ubun2 manusia aneh yang sedang mengobati Tian Pek itu kian lama kian bertambah tebal. akhirnya kabut bergerombol di atas ubun2nya dan menciptakan tiga kuntum cendawan putih, dipandang dari kejauhan ketiga gumpalan kabut tersebut mirip tiga kuntum bunga teratai putih.

Wan-ji makin terbelalak matanya, sebentar ia memandang manusia aneh yang sedang membaca Soh hun siau kut pit-kip, lain saat ia memandang orang aneh yang sedang mengobati Tian Pek, ia terperanjat menyaksikan menggumpalnya uap di atas kepala orang itu menjadi tiga kuntum bunga teratai putih yang aneh itu, dia tahu inilah tandanya seorang mempunyai tenaga dalam yang ssmpurna, inilah ilmu Lwekang yang disebut Sam-hoa-cip- teng (tiga bunga menghimpun di atas kepala).

Tiba2 ia merasa ada sorot mata yang tajam sedang menatap padanya, cepat ia berpaling, tam-paklah manusia aneh yang membaca Soh-kut-siau-hun thian-hud pit-kip tadi sedang memandangnya dengan sikap yang aneh, padahal mata orang itu telah dipejamkan untuk mengatasi gejolak perasaannya, tapi kini telah membuka mata pula.

Muka orang itu sudah bcrubah menjadi merah membara, sekujur badannya gernetar keras, dengan melotot orang itu mengawasi dada serta bagian perutnya, bahkan selangkah demi selangkah menghampirinya.

Wan-ji masih polos dan belum tahu urusan, mimpipun ia tak menyangka bahwa tanda itu menunjukkan seorang lelaki yang sedang terangsang napsu berahinya dan ingin mencari sasaran pelampiasan napsunya, dia mengira orang itu sudah gila dan hendak membunuhnya.

Manusia aneh itu sebenarnva terhitung seorang tokoh kosen yang mempunyai tenaga dalam yang serpurna, baik ilmu silat yang sudah terlatih puluhan tahun maupun kekuatan batinnya boleh di katakan sudah tergolong top, siapa tahu iapun tak sanggup mempertahankan diri oleh daya rangsangan yang dibacanya dari kitab Soh-hun-siau- kut tersebut, kekuatan batin yang diyakinkan selama puluhan tahun tidak mampu lagi membendung rangsangan napsu berahi yang berkobar dengan dahsyatnva apalagi melihat lawan jenis berada di depannya, rangsangan napsu semakin bergelora dengan hebat.

Ia menjadi lupa daratan, lupa akan nama baik serta kedudukannya sendiri, lupa kalau di situ masih hadir saudaranya dan puteta tuan penolongnya. Kini napsu berahi yang membara telah menguasai seluruh jalan pikirannya, bagaikan harimau lapar yang menemukan anak domba, dengan buas ia menerkam mangsanya.

Wan-ji menjerit kaget, cepat dia himpun Lwe-kangnya pada kedua telapak tangan, dengan jurus Pi-bun-sia-kek (tutup pintu menolak tamu), ia hantam dada manusia aneh yang sudah kalap itu.

"Bluk!" manusia aneh itu sama sekali tidak menghindar ataupun berkelit, dengan telak pukulan dahsyat si nona mengenai sasarannya. Pukulan Wan-ji ini sedikitnya berkekuatan beberapa ratus kati, sekalipun batu karang yang keraspun akan terhajar hancur bila terlanggar pukulannya.

Tak tersangka manusia aneh itu hanya bergeliat sedikit, ia tetap menerjang ke depan, kedua tangan terpentang terus menubruk si nona.

Wan-ji tak mampu berkelit lagi, tubuhnya dirangkul dengan kencangnya, begitu erat hingga seperti jepitan besi, daya tekan di dadanya membuatnya hampir tak dapat bernapas, saking cemas karena tidak sanggup melawan lagi, akhirnya ia jatuh pingsan.

Manusia aneh yang dirangsang oleh napsu berahi semakin kalap, sesudah berhasil memeluk mangsanya, ia mulai menarik pakaian Wan-ji sambil mengeluarkan dengusan napas yang kehausan, haus akan pelampisan napsu.

Dalam waktu singkat pakaian yang dikenakan anak dara itu sudah terkoyak oleh jari tangannya yang kuat bagaikan cakar baja, tubuh Wan-ji mulai telanjang, anggota badannya yang terlarangpun ter-bentang di depan mata.

Sementara itu dengus napas manusia aneh itu semakin memburu, mukanya makin merah membara dan beringas mengerikan, tampaknya Wan-ji sukar terhindar dari nasib buruk, sebentar lagi kesuciannya pasti akan ternoda oleh orang itu.

Untunglah pada saat gawat itu terdengar orang membentak, secepat kilat manusia aneh yang sedang menyembuhkan luka Tian Pek itu menerjang tiba, secepat kilat ia tutuk Cing-cu-hiat di punggung rekannya. Kontan manusia aneh yang merangkul Wan ji itu roboh terkulai. Tidak sampai di situ saja, serentak orang itu menutuk pula jalan darah Tiang jian-hiat, Leng tay-hiat serta Seng- bun-hiat, tiga Hiat-to panting di tubuh saudaranya, habis itu ia mengangkatnya ke kamnr tidur sebelah kiri dan melemparkannya ke dalam peti mati di situ.

Kemudian dengan gerak cepat iapun membawa Wan-ji ke kamar lain dan dimasukkan ke dalam peti mati yang serupa.

Sehabis menyingkirkan kedua orang itu barulah dia pungut kitab Thian-hud-pit kip tadi serta di-simpan dalam bajunya, kini keadain se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu apapun, lalu dia melanjutkan mengurut jalan darah penting di badan Tian Pek. Sejenak kemudian, pelahan anak muda itu siuman kembali.

Begitu membuka matanya, pertama yang terlihat oleh Tian Pek adalah manusia aneh seperti setan iblis ini, seketika ia melenggong.

"Tian-siauhiap, masih kenal padaku?" orang aneh itu lantas menegur.

Segera Tian Pek teringat kembali pada kedua orang manusia aneh yang pernah dijumpainya di hutan siong sana serta gagal membunuh diri dengan membenturkan kepala pada pohon itu.

"Bagaimana caranya aku bisa sampai di sini?" tanyanya kemudian dengan bingung. "Dan dimana rekanmu itu?"

Manusia aneh itu menggeleng, jawabnya "Rekanku sedang keluar dan belum pulang, mengenai bagaimana caranya kau bisa sampai di sini, hal ini harus ditanyakan kepada dirimu sendiri!"

"Bertanya kepada diriku sendiri?" Tian Pek menjadi bingung pula. Lapat2 dia masih ingat bagaimana dirinya beradu pukulan dengan seorang kakek muka merah di suatu kota, kemudian ia tak sadarkan diri karena tak kuat menahan hawa panas yang menyengat tubuhnya. Mengapa sekarang dirinya bisa berada di kamar manusia aneh ini?