Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 06

Jilid 06

ceng 'Baik!  Akan  kucoba  sampai  di  mana  kehebatan  ilmu

pukulan  orang  gila  seperti  kau  ini!"  bentak  Tui hun-leng

sambil merentangkan tangan — tunggalnya, secepat kilat ia hantam dada paman Lui. Angin pukulan menderu, udara serasa sesak, sungguh mengejutkan daya pukulannya. Paman Lui tetap tersenyum, ia berdiri tegak kukuh bagaikan bukit, walaupun serangan musuh amat dahsyat, akan tetapi ia seperti tidak menghi¬raukannya.

Pukulan Tui-hun-!eng tampaknya segera akan bersarang di dada paman Lui, tapi pada detik ter¬akhir itulah mendadak pikulan telapak tangan ber¬ubah menjadi cengkeraman. Segara ia hendak men¬cengkeram bagian mematikan di perut paman Lui.

Tian Pek ikut tegang melihat kelihaian serang¬an tersebut, ia tak menduga hanya dengan satu ta¬ngan ternyata Thi-hun-leng Sum Keng mampu melancarkan serangan yang beraneka ragam dalam waktu sekejap.

Tapi paman Lui tetap berdiri tegak, ia sama sekali tak gugup oleh ancaman maut tersebut. Ia tunggu begitu cengkeraman lawan mendekat dada¬nya, mendadak ia bergerak, begitu cepatnya sampai Tian Pek tidak dapat mengikuti dengan jelas.

Dia merasakan pandangannya jadi kabur dan tahu2 paman Lui telah lolos dari cengkeraman mu¬suh, berbareng itu pula telapak tangan kanan pa¬man Lui bagaikan golok membacok jalan darah "Hong-hu-hiat" di belakang kepala kakek botak itu, sedang kaki kirinya mendepak Wi sui-hiat ba¬gian perut, satu jurus dua gerakan, cepat dan lihainya luar biasanya.

Paman Lui bertarung dengan tangkas, serang¬an dibalas dengan serangan lebih hebat, pukulan dan tendangan digunakan sekaligus. Tian Pek amat tertarik, ia mengikuti perta¬rungan itu dengan cermat.

Dalam pada itu si kakek botak sempat me¬lompat jauh ke samping, ia berhasil lolos dari Suatu pukulan paman Lui yang maha dahsyat, ia menjadi murka, matanya merah membara dan mu¬kanya menyeringai seram.

Tanpa bicara, kembali si kakek botak menerjang maju.

Pertarungan sengit segera berkobar pula, dua orang itu sebentar bergebrak sebentar berpisah, semuanya dilakukan dengan gerak cepat dan jurus serangan ampuh.

Tian Pek sampai kabur pandangannya menyak¬sikan pertarungan itu, iapun kegirangan hingga niatnya menolong orang judi terlupakan. Matanya terbelalak, mulutnya melongo, tanpa berkedip dia ikuti semua jurus pertarungan yang dikeluarkan kedua orang itu. Pepatah bilang: "Bisa menyaksikan jago lihai bertempur, lebih untung daripada berguru selama tiga tahun".

Tian Pek sangat mendambakan ilmu silat yang tinggi untuk membalas dendam Kematian ayahnya, sayang selama ini tak pernah bertemu dengan guru yang pandai, ilmu silat yang sempat dipelajari-pun tak lebih cuma silat kampungan yang kasar, untuk menjagoi dunia persilatan tentu saja masih terpaut jauh sekali Untung paman Lui menyekap nya di dalam gua batu itu, bahkan memberinya kitab paling sakti di kolong langit itu, walaupun cuma meraba-2 dalam kegelapan toh akhirnya ke¬pandaian tersebut berhasil dikuasainya.

Sekalipun tenaga dalam yang dia miliki seka¬rang sudah mencapai tingkatan tinggi, apalagi te¬lah digembleng pula oleh suara seruling maut dan pukulan dahsyat Leng hong Kongcu yang tak ke¬nal ampun, tapi sayang ia belum tahu cara bagai mana menggunakan ilmunya.

Kini terpampang kesempatan yang sangat baik baginya untuk menikmati pertarungan antara dua tokoh silat sakti, tentu saja dia terkesima dan lupa daratan, setiap gerak tipu kedua jago sakti itu be¬nar benar membuatnya keranjingan.

Baik paman Lui maupun Tui hun leng Suma Keng sama tergolong jago lihai dari dunia Kangouw, tenaga dalam mereka sempurna dan Kungfunya ting¬gi, walaupun mereka sama2 dihargai di Pah to-san¬ceng, tapi dalam hati masing2 saling tidak mau kalah.

Hanya semasa damai saja mereka bisa rukun dan berteman, dikala pertengkaran tak bisa dihindari lagi, maka merekapun saling menyerang tanpa ke¬nal ampun.

Untung saja jumlah musuh yang menyerang ke perkampungan malam ini banvak jumlahnya, apalagi sang Cengcu dan bawahannya sama turun ke gelanggang sana sehingga tak ada yang menaruh perhatian pada pertarungan dua jago tua ini.

Pertarungan bertambah seru, baik paman Lui maupun Tui hun leng Suma Keng sama2 mengeluarkan seluruh kepandaiannya, pertarungan berjalan cepat dan ganas, hanya dalam sekejap berpuluh ge¬brakan sudah dilewatkan.

Tian Pek terkesima sambil memondong Hoan Soh yang tak sadar, suasana gempar di sebelah sana seakan2 tak terdengar olehnya, iapun lupa dirinya masih berada di tempat yang berbahaya.

"Besar amat nyalimu! Tidak lekas lari, tunggu apalagi di sini?!' demikian Tian Pek mendengar ben¬takan tertahan mengiang di tepi telinganya, lalu ujung baju seperti ditarik orang Tian Pek kaget dan cepat berpaling, dia lihat bayangan seseorang lagi kabur ke tempat kegelapan.

Baru Tian Pek ingat kalau dirinya masih berada dalam sarang naga dan gua harimau, apalagi Hoan Soh yang pingsan masih berada dalam pelukannya, cepat dia kabur mengikuti bayangan kecil tadi.

Bayangan itu sangat apal dengan jalan2 di dalam perkampungan ini, jalan yang di tempuh rata2 adalah jalan yang remang2 dan sepi.

Cepat dan gesit gerak tubuhnya, hanya sebentar saja bayangan itu membawa anak muda itu keluar dari perkampungan menuju hutan lebat di depan sana. Mata Tian Pek yang kini awas dalam kegelapan itu segera dapat mengenali bayangan di depan seperti Wan-ji yang masih ke- kanak2an itu

Sekarang bayangan orang itu sudah berhenti di atas bukit kecil, di tengah embusan angin malam, rambutnya yang panjang tertiup angin, siapa lagi dia kalau bukan Tian Wan- ji.

"Eeh, siapa itu yang kau pondong?" tanya si nona dengan mata terbelalak.

"O, dia adalah teman baruku, namanya Hoan Soh" jawab Tian Pek terus terang. "Nona, kau ..."

"He, dia she Hoan? Dia pasti salah seorang musuh keluargaku, coba kulihat siapa dia?"

Sambil berkata ia lantas melompat maju dan mencengkeram muka Hoan Soh.

Kaget Tian Pek, dia mengira Wan-ji hendak menyerang Hoan Soh, cepat ia menyingkir ke sam¬ping menghindarkan tubrukan itu. Meski Hoan Soh belum lama dikenalnya, na mun ia merasa cocok setelah ber-cakap2 dalam pen¬jara, sudah tentu ia tak membenarkan  temannya di¬lukai orang

Tian Pek menghindar dengan cepat, tapi Wan-ji bertindak lebih cepat lagi. sekali sambar, tahu2 ikat kepala Hoan Soh kena diraihnya hingga terlepas. "Haah.....!" jerit Tian Pek kaget.

Wan-ji juga berseru terkejut, dia lantas men¬cibir dan mendengus gusar "Huh, rupanya seorang gadis, pantas kau membelanya mati2an. Cemburu adalah sifat pembawaan setiap perem¬puan, apalagi yang memondong gadis itu adalah kekasihnya, tentu saja hati Wan ji panas sekali Rupanya sewaktu ikat kepala Hoan Soh tersambar lepas tadi, maka tampaklah rambutnya yang hitam panjang, ternyata dia adalah seorang gadis yang menyamar jadi lelaki.

"Aku. aku benar2 tidak tahu, aku ti..tidak tahu kalau

dia seorang gadis. " seru Tian Pek gelagapan. "Huh, tak perlu berlagak pilon!" ejek Wan ji mukanya masam dan bibirnva tetap mencibir.

Dasar perempuan, makin besar cintanya pada seorang lelaki, makin besar pula rasa cemburunya, apalagi kalau dia anggap kekasihnya berlagak bodoh. tentu saja makin panas hatinya

Walaupun Wan-ji masih polos, namun ia tetap perempuan yang punya rasa cemburu, kesan selama berkumpul waktu Tian Pek sakit sudah membekas dalam hatinya, diam2 ia mencintai pemuda itu, kini melihat seorang gadis lain berada dalam pelukan pemuda itu, tentu saja timbul rasa syiriknya.

"Huh, tadinya tak tahu, tapi sekarang kan su¬dah tahu kalau dia adalah perempuan?" serunya lagi dengan tak senang hati.

Dengan perkataan ini jelas dia suruh Tian Pek menurunkan Hoan Soh dari pondongannya. Dasar Tian Pek adalah pemuda lugu yang tak tahu perasaan anak dara, ia tak bisa menangkap maksud orang, ia melirik sekejap Hoan Soh yang masih pingsan, kemudian memandang pula sekitar tempat itu, lalu bergumam: "Lukanya teramat parah, aku harus menyembuhkan dulu lukanya."

Seraya berkata, tanpa menyelami lagi bagaimana perasaan Wan-ji, dia lantas membawa Hoan Soh ke dalam gua.

Rupanya waktu itu mereka berada di depan gua di mana ia pernah disekap paman Lui selama beberapa hari.

Tindakan Tian Pek ini makin menjengkelkan Wan-ji, sungguh ia tak mengira anak muda itu akan membawa seorang gadis ke dalam gua. "Kau.....?" teriaknya dengan tercengang, ingin menghalangi, tapi lantas teringat sesuatu, sejenak dia berdiri tertegun, akhirnya dengan men¬dongkol dia meninggalkan anak muda itu berduaan dengan gadis lain. Cepat nian gerak tubuhnya, hanya sekejap saja bayangan tubuhnya sudah lenyap di balik hutan sana.

Tian Pek tidak memperhatikan perubahan air muka Wan-ji dan Kepergiannya, yang diperhatikan olehnya sekarang hanyalah keadaan luka Hoan Soh. Setelah membawanya masuk ke gua, ia baringkan gadis itu dipembaringan batu yang pernah diguna¬kannya, kemudian pernapasannya diperiksa, ia me¬rasa napas gadis itu sangat lemah sehingga boleh dibilang tak jauh dari liang kubur.

Dalam keadaan begini, Tian Pek tidak memi¬kirkan soal pembatasan antara laki2 dan perempu¬an lagi, sesungguhnya iapun tak sempat berpikir sampai ke situ, menolong orang lebih penting. Isi perut gadis itu sudah terguncang oleh pu¬kulan sakti si kakek botak, sekarang Tian Pek ber usaha menggeser kembali isi perutnya ke tempat semula, semua jalan darah penting' di tubuh anak dara itu diurut dengan seksama.

Soh-kut-siau-hu memang ilmu yang tiada ta ranya,  dalam waktu singkat saja Hoan Soh mulai merintih dan tersadar kembali dari pingsannya. Tian Pek sendiri karena baru pertama kali ini menolong orang, banyak tenaganya yang terkuras hingga ke¬adaannya sangat lelah.

Hoan Soh menarik napas panjang, ia membuka mata terasa suasana amat gelap, tiada sesuatu yang tertampak, ia tidak tahu di mana ia berada sekarang Lapat-lapat ia masih ingat bagaimana ia dilukai pu¬kulan seorang Tosu buta, lalu pemuda yang senasib dalam penjara telah menolongnya dari ancaman maut, bagaimana selanjutnya ia tak tahu lagi karena ke¬buru jatuh pingsan......

Di mana aku berada sekarang? ingatan ini terlintas dalam benaknya. "Aneh, siapa yang mem¬bawaku ke sini?"

Ia coba bergerak sedikit, ia merasa dada dan lambungnya tidak sakit sekalipun baru saja terluka ¬siapa yang menyembuhkan lukanya itu? Pelbagai pertanyaan berkecamuk dalam benaknya, apalagi di dalam gua yang gelap gulita, hampir saja gadis itu mengira dirinya sedang bermimpi.

Ketika meraba rambutnya yang terurai, gadis itu baru teringat bagaimana dirinya menyusup ke perkampungan Pah-io-san ceng bersama tiga kakak lelakinya untuk balas dendam bagi kematian ibunya, bagaimana ia menyaru sebagai lelaki dan bagaimana mereka berangkat di luar tahu ayahnya.

"Jika lukaku sudah baik, apa yang kutunggu lagi?" kembali ia berpikir. "Kalau sekarang tidak kabur, bukan mustahil urusan bisa runyam nanti?"

Ia coba memandang sekitar tempat itu, meski Tian Pek yang ada di sampingnya tidak terlihat olehnya, tapi setitik cahaya ditemuinya di mulut gua sana.

Rupanya Tian Pek sedang bersemadi  mengikuti pelajaran kitab pusaka itu, waktu itu hawa murni nya sedang berputar kembali kepusar hingga sama sekali tidak mengeluarkan suara, sampai suara napaspun tak kedengaran, tak heran kalau Hoan Soh tidak tahu hadirnya anak muda itu.

Pada saat Hoan Soh hendak keluar gua, waktu itu pula Tian Pek menyelesaikan latihannya, dia lan¬tas menegur; "Hoan heng eh, salah, nona Hoan, engkau hendak ke mana?"

Hoan Soh terperanjat, agaknya dia tak men duga bahwa di dalam gua yang gelap itu masih ada orang lain, bukannya berhenti, dara itu malah cepat melayang keluar gua.

Maklum, seorang anak perawan mendadak me¬ngetahui dirinya berada dalam gua yang gelap, dan tiba2 mendengar suara lelaki, tentu saja dia jadi panik dan sedapatnya ingin menghindarkan segala kemung¬kinan.

Tian Pek yang polos tentu saja tak berpikir sampai ke situ, dia cuma menguatirkan keadaan Hoan Soh dan kuatir kalau gadis itu ketemu musuh lagi setiba di luar gua. padahal lukanya baru saja sembuh, maka tanpa berpikir anak muda itu segera menyusul keluar. 

Angin berembus sepoi, bintang dan bulan su¬dah lenyap dari angkasa, ufuk sebelah timur sudah mulai memutih, sebentar lagi fajar akan menyingsing Ketika Tian Pek melompat keluar, Hoan Soh belum pergi jauh, dia berdiri di atas bukit dengan gaya yang menggiurkan, sekalipun pakaiannya ada¬lah dandanan orang lelaki, namun semakin menam¬bah kegagahannya di antara keayuannya

"O, kiranya Tian-heng yang menyelamatkan aku!" seru Hoan Soh dingin, "banyak terima kasih atas bantuanmu"

Dengan gaya wajar tanpa kikuk sedikitnya, dan lantas menjura kepada anak muda itu.

"Tak usah banyak adat!" cepat Tian Pek balas memberi hormat "Luka nona nona Hoan baru sembuh? Sebaiknya

jangan banyak bergerak"

"Jangan kuatir, aku sudah sehat kembali!" de¬ngan ketus Hoan Soh menjawab, lalu melangkah pergi. "Eeh . . nona, tunggu sebentar!" tiba2 Tian Pek mengejar dari belakang.

"Memangnya kenapa?" dengan marah Hoan Soh berpaling, "Apa Tian-heng mengharapkan imbalan diriku karena engkau telah sembuhkan lukaku?"

Sungguh kata2 yang tajam dan menusuk pera¬saan, Tian Pek menjadi heran apa sebabnya sikap si nona mendadak berubah sedingin ini. Pikirnya: "Aku toh tidak menyalahi kau, kenapa kau bersi¬kap ketus padaku? Apakah aku salah karena telah menolong kau ?"

Selagi anak muda itu masih melengak, tiga sosok bayangan orang mendadak muncul dari sudut hutan sana.

Sungguh cepat gerak tubuh mereka, hanya se¬kejap tahu2 sudah tiba di depan Tian Pek, mereka mengenakan baju ringkas warna Jingga, tiga bilah pedang serentak mengancam di dada anak muda itu, bukan saja cepat dalam gerakan, ancaman itu¬pun datang di luar dugaan, sebelum Tian Pek sem¬pat berpikir sesuatu dia sudah terkepung dan terancam pedang ketiga orang pendatang itu.

Mereka berusia antara dua puluh sampai tiga puluhan tahun, muka tampan dan sorot matanya terang, dengan pandangan tajam serta nafsu mem¬bunuh yang tebal ketiga orang itu mengawasi Tian Pek lekat2.

ketiga orang pemuda ini tak dikenal Tien Pek, hanya pemuda yang berada di tengah yang pernah dijumpainya, yaitu orang yang bertempur melawan Tosu buta semalam, dari sini bisa ditebak kalau ketiga orang ini bukan orang dari Pah to-san-ceng.

"Toako." cepat Hoan Soh berseru, "dia bukan antek Pah to-san ceng. . " "Anak muda, siapa gurumu? Kau berasal dari mana? Dan apa sebabnya kau melarikan adikku?" serentetan pertanyaan diajukan oleh lelaki yang pa ling tua usianya di antara ketiga pemuda itu. "Lekas kau mengaku terus terang agar tidak menjadi setan penasaran

Betapa mendongkol Tian Pek mendengar tegur itu, ia telah mengorbankan hawa murninya untuk menolong orang, bukan terima kasih yang diperoleh, malahan orang menggertaknya secara kasar.

Dasar Tian Pek juga pemuda angkuh dan tinggi hati, tentu saja ia tak sudi tunduk di bawah ancaman

orang, ia semakin membandel, seolah2 ancaman tersebut sama sekali tak diketahui olehnya,

Ketiga pemuda berpakaian ringkas itu saling melirik dengan sinar mata menghina, mereka hanya mendengus dan tiada yang sudi buka suara.

Anggota yang termuda berwatak paling berangas¬an, ia tak tahan menyaksikan keangkuhan Tian Pek, dengan gusar ia berteriak: 'Toako, coba lihat pa¬kaian yang dikenakan bocah ini, sudah terang dia ini kaki tangan musuh, kita bereskan saja dia sece¬patnya, buat apa banyak omong?"'

Mulut bicara, tanganpun segera bergerak, ujung pedangnya langsung menusuk ke dada Tian Pek.

Tian Pek memang mengenakan mantel hitam yang melambangkan perkampungan Pah-io-san-ceng yaitu pemberian seorang anggota pengawal lawan sewaktu dia dipergoki berada: dalam keadaan polos tempo hari.

Sementara itu ujung pedang musuh telah me¬nyambar tiba dengan kecepatan luar biasa, sedetik kemudian pedang itu telah merobek dada baju anak muda itu. Merasa dadanya sakit, segera Tian Pek mela¬kukan serangan balasan, telapak tangannya meng¬hantam batang pedang lawan sekuatnya.

Robeklah mantel hitam yang dipakai Tian Pek tersambar ujung pedang musuh, untung tidak sam¬pai melukai otot tulangnya, darah bercucuran dari lukanya, tapi pedang lawan juga tergetar ke samping Pendekar muda itu tak menyangka kalau lawan yang masih muda belia itu memiliki tenaga dalam sekuat ini, ia merasa telapak tangan sendiri kese¬mutan dan sakit, hampir saja pedang terlepas dari genggamannya.

"He, hebat juga kau, rasakan pedangku ini!' teriak pendekar muda itu dengan penasaran.

Diiringi bentakan, pedangnya berputar satu lingkaran dengan kilatan cahaya emas, dengan jurus Poat-cau-heng- eoa (membabat rumput mencari ular), dia babat pinggang lawan.

Tian Pek mengegos ke samping, berbareng itu telapak tangannya direnggangkan, dengan gerak¬kan Poat-in-hian- jit (menyingkap awan tampak sang surya ), dia balas mebalas dada lawan.

Kedua pemuda lain sama sekali sak menyangka kalau ilmu silat Tian Pek sedemikian tangguh, se¬kalipun dikerubuti tiga orang bersenjata tetap dapat balas menyerang. Sementara itu pemuda pertama tadi telah me- lancarkan kembali sebuah babatan kilat ke arah pinggang Tian Pek, merasakan berbahayanya serangan itu, cepat Tian Pek bertindak, tangan kiri dan tangan kanan serentak menolak ke depan, dengan angin pukulannya memaksa senjata lawan terguncang ke samping, menyusul sebuah tendangan kilat dilepaskan mengarah perut musuh. Terpaksa pemuda itu melompat mundur untuk menghindari tendangan musuh, sebelum ia sambung dengan serangan balasan, tiba2 Tian Pek juga melompat mundur, serunya dengan lantang: "Percuma aku layani manusia tak tahu diri macam kalian Hm, hanya pandai main kerubut, selamat tinggali" — Tanpa menunggu jawaban, segera Tian Pek hendak melayang pergi.

Tiga pendekar muda itu adalah jago pedang tersohor di sekitar daerah Tinkang, orang Kangouw menyebut mereka sebagai Hoan-si-sam-kiat ( tiga orang gagah keluarga Hoan

).

Malam ini mereka membawa anak buahnya me¬nyatroni Pah-to-san-ceng, meskipun perkampungan yang amat disegani orang itu berhasil mereka obrak-abrik, akan tetapi tiada keuntungan apapun yang berhasil mereka dapatkan.

Dari dua puluh tiga orang jago yang dibawa mereka, kini tinggal mereka bertiga yang masih hidup, selebihnya sudah dibunuh habis oleh pihak lawan. menyadari bahaya yang mengancam mereka, dengan hati yang berat merekapun undurkan diri dari perkampungan musuh.

Mereka tidak langsung mengundurkan diri dan pulang kandang, sebab Tui - hong - kiam Hdn Kiat sempat menyaksikan adik perempuan mereka dilarikan seorang pemuda tatkala ia bergebrak melawan si Tosu buta, kejadian ini se¬gera dilaporkan kepada Toako dan Samtenya yang bernama Coh-citig kian (pedang tik kenal ampun) Hoan Cun serta Mo in-kiam (pedang gumpalan awan) Hoan Ing.

Karena menguatirkan keselamatan adik perem¬puannya, merekapun masih berkeliaran di bukit sebelah belakang perkampungan untuk melakukan pencarian.

Kebetulan mereka melihat seorang anak muda benda bersama adik perempuannya, maka dengan cepat mereka bermaksud merobohkan Tian Pek. Mereka tak menduga ilmu silat Tian Pek sedemi¬kian lihainya, bukan saja usaha mereka gagal malahan pihak lawan sempat lolos dari situ.

Pada mulanya keluarga Hoan dan keluarga Buyung berteman akrab, tapi dalam suatu pertikaian urusan perempuan hubungan menjadi retak, waktu itu banyak berita sensasi tersiar diluaran, karena malunya Hoan hujin (nyonya Hoan) melakukan bunuh diri hingga mengakibatkan permusuhan di antara kedua keluarga.

Hoan-toaya ada maksud mengesampingkan persoalan itu daripada menerbitkan hal2 yang tak diinginkan, ia ambil keputusan untuk melupakan sakit hati itu. Maksudnya memang baik, yaitu agar urusan jadi selesai dan mereka  pun bisa hidup dengan damai. Sayang putra-putrinya tak dapat me¬lupakan kematian sang ibu, setiap saat mereka me¬rencanakan pembalasan dendam.

Kebetulan karena ada urusan penting Hoan-toaya berangkat ke selatan, kesempatan yang baik ini segera dimanfaatkan oleh keempat putera-pute¬rinya untuk melakukan balas dendam kesumat. Mereka pimpin jago2 perkampungannya dan menyergap perkampungan Pah-to sam-ceng di te¬ngah malam buta, sayang mereka salah menaksir¬kan kekuatan musuh, bukan saja sakit hati tak ter¬baiat, kekuatan yang mereka bawapun kocar kacir tak keruan, Ketika mereka jumpai Tian Pek mengenakan mantel dengan lambang Pah to sang-ceng, segera anak muda itu hendak dibunuhnya, tapi dugaan mere¬kapun meleset, Tian Pek yang dianggap enteng ter¬nyata memiliki ilmu silat yang tinggi. Betapa penasarannya ketiga orang itu melihat Tian Pek hendak kabur, serentak mereka membentak sambil memburu, ketika masih berada di udara, tiga bilah pedang diiringi kilatan cahaya tajam langsung mengurung tubuh Tian Pek dari tiga arah.Setelah mempelajari isi kitab Thian- hud-pit-kip, ilmu silat Tian Pek mengalami kemajuan yang pesat, tenaga dalamnya amat tinggi, cuma sayang ia tak pernah memperoleh petunjuk dari guru pandai, se¬lain itu pengalaman tempur juga belum banyak, maka ilmu sakti yang dilatihnya tak dapat di man-faatkan dengan leluasa.

Baru saja ia meloncat ke udara, bayangan pedang disertai kilatan cahaya tajam lantas mengurung sekujur badannya. "Tahan dulu, para kakak . .. ." syukurlah segera terdengar seruan nyaring. Mendengar seruan Hoan Soh itu, ketiga jago keluarga Hoan itu merendek sebentar di udara.

Tian Pek sendiri sudah nekat, pada waktu itu juga ia melepaskan serangan balasan dengan jurus Hong-ta-ku-ho (hembusan angin merontokan bunga teratai) serta Pah-in- lam-sau (macan tutul sembunyi di bukit selatan), serangan hebat dan dahsyat, se¬kaligus ia menyerang tiga jurus.

Ketiga jago keluarga Hoan amat terperanjat, mimpi pun mereka tak menyangka serangan anak muda yang tak menarik ini bisa sedemikian hebat nya, cepat mereka putar pedang untuk melindungi dada, berbareng menyusut mundur beberapa langkah ke belakang, namun mereka masih tetap mengepung Tian Pek di tengah.

"Anak muda, hebat juga ilmu silatmu," seru si "pedang tak kenal ampun" Hoan Cun dengan dahi berkerut.

Mo-in kiam Hoan Ing mendengus. ia tuding Tian Pek dengan ujung pedangnya, serunya; "Hm, sekalipun bebat kepandainmu, itu tidak berarti kau bisa kabur dari kepungan kami dengan begitu saja Hayolah, bersiap2lah untuk menyambut kematian¬mu!"

"Engkoh bertiga, jangan salah paham, kanan jangan menuduh orang tanpa dasar" seru Hoan Soh-

ing cepat "Dia. Tian-siauhiap adalah tuan penolongku,

dialah yang membantu aku lolos dari penjara, dia . . dia pula yang telah menyembuhkan luka.....luka yang kuderita!"

Hoan Soh sebenarnya bernama Hoan Soh-ing, ketika saling menyebut nama dalam penjara, dara itu baru sempat menyebut Hoan Soh sehingga Tian Pek mengira "pemuda" itu bernama Hoan Soh.

Biasanya dia gagah berani sepeti lelaki, lagak lagunya juga terbuka dan tidak malu2 seperti anak gadis umumnya. Tapi entah mengapa sekarang ia bicara dengan rada kikuk3.

Dengan pandangan tak percaya ketiga kakak¬nya memandang sekejap pada adiknya dengan ragu, seperti percaya dan juga seperti tidak percaya. "Apakah betul keteranganmu?" Hoan Cun ber¬tanya dengan sangsi.

"Pedang tak kenal ampun" tersohor karena ke¬sadisannya, ketika pertanyaan tersebut diajukan, so¬rot matanya memandang wajah Tian Pek sehingga membuat orang jadi tak tahu siapa yang ditanya, Tian Pek atau adik perempuan?

Padahal pertolongan yang diberikan Tian Pek hanya atas dorongan rasa simpatik dan kasihan, ia tak menyangka perbuatannya malah mendatangkan begitu banyak peristiwa yang ruwet, karena penasar¬an dan mendongkol ia cuma mendengus saja dengan menahan perasaannya.

"O, Toako! Apakah kaukira adikmu berbo¬hong?" tanya Hoan Soh ing dengan rawan. Ketiga jago pedang keluarga Hoan masih menatap tajam Tian Pek tanpa berkedip, tapi mau-

tak-mau mereka mesti percaya pada apa yang dikatakan adiknya itu, malahan Hoan Cun menyesal karena sikapnya yang terlalu banyak curiga mungkin akan menyinggung perasaan halus adik perempuannya.

"Pedang tak kenal ampun" Hoan Cun berwatak kaku dan aneh, tapi dia amat sayang terhadap adik perempuannya, apalagi setelah mendengar suara adik¬nya yang rawan itu.

"Kalau memang betul begitu, aku pun takkan banyak bicara lagi, biarkan dia pergi!" katanya ke¬mudian sambil tarik pedangnya.

Kedua saudaranya sudah tentu tak berani banyak bicara, mereka pun tarik kembali senjatanya dan menyingkir.

"Hayo kita pergi!" seru Hoan Cun kemudian. Tanpa pamit berangkatlah keempat orang itu me¬ninggalkan Tian Pek yang berdiri melongo sendirian. Kembali timbul perasannya yang menyesali hidup¬nya ini: "Ai, nasibku memang jelek, semua yang kujumpai selalu orang2 yang sukar diajak bicara, maksudku menolong orang, siapa tahu malah mendatangkan kedongkolan melulu, sungguh sebal."

Memandangi bayangan Hoan Soh-ing yang men¬jauh, tiba2 anak muda itu merasa berat hati ditinggal pergi, ia berdiri tertegun sampai lama sekali tetap tak tahu apa yang harus dilakukannya. "Mau lari? Hm, tidak gampang kawan!" tiba2 didengarnya di hutan sana ada orang mendengus. "Memangnya kalian anggap perkampungan Pah ¬to san-ceng adalah rumah kalian sendiri? Mau da¬tang lantas datang, mau pergi lantas pergi? Hm, jangan mimpi di siang hari bolong ..." Dingin ucapan tersebut, berbareng dengan per¬kataan itu lantas muncul belasan orang dari balik hutan yang lebat, beberapa orang itu berpakaian ringkas semua, senjata terhunus dan tampangnya garang, hanya sejenak empat bersaudara dari keluarga Hoan yang pergi belum jauh itu sudah terjebak dalam kepungan mereka.

Sekilas rasa kaget terbayang di wajah keempat orang itu, mereka segera berhenti dan lintangkan pedangnya di depan dada, kemudian mereka mengurung Hoan Soh-ing di tengah, tampaknya ketiga pemuda itu rela berkorban asal adik perempuannya selamat.

Tersirap darah Tian Pek demi mengetahui siapa yang muncul itu. Orang yang berjalan paling depan berbadan tinggi besar dengan pakaian sutera yang mentereng, mukanya merah, hidung besar dan mata bersinar tajam, orang itu tak lain adalah ketua Pah to-san ceng, Buyung Ham. Sebenarnya Tian Pek tidak kenal jago lihai she Buyung ini, tapi pakaian yang dikenakan orang itu tidak berbeda dengan cabikan kain yang di¬tinggalkan mendiang ayahnya, maka timbul suatu perasaan aneh di dalam hatinya, Sudah tentu Tian Pek tak berani menuduh Ti¬seng jiu Buyung Ham sebagai pembunuh ayahnya, tapi ia yakin dari orang inilah jejak pembunuh itu akan diketahui.

Sementara Tian Pek termenung, di sana Ti-seng jiu Buyung Ham telah membentak keras; "Bo¬cah bernyali besar, mengapa tidak cepat lemparkan pedangmu dan menyerah? Hm, jangan kalian ang¬gap Pah-to-san-ceng adalah tempat umum yang boleh dikunjungi setiap orang. Hayo cepat menye¬rah! Memangnya kalian hendak menunggu sampai aku turun tangan sendiri?"

"Bangsat tua, tak perlu berlagak!" teriak Hoan Cun dengan gusar. "Jangan kau kira dengan jumlah kalian yang lebih banyak maka kami lantas jeri, ketahuilah tiga jago keluarga Hoan tidak kenal apa artinya takut!"

Ti-seng-jiu tertawa tergelak mendengar perkataan itu, sahutnya: "Bocah yang tak tahu diri. ke-matian sudah di ambang pintu, masih berani berkaok2 dan omong besar? Bila tahu diri lekas menyerah, mengingat hubunganku dengan ayah kalian mungkin akan kuberi jalan hidup, tapi kalau kalian tetap membandel hm, Siau-koh-san ini akan

menjadi liang kubur kalian."

Empat bersaudara dari keluarga Hoan menyadari apa yang diucapkan Ti-seng-jiu bukan gertak sambal belaka, apa yang telah dikatakannya tentu akan dilaksanakan, apalagi memandang tampangnya yang bengis penuh nafsu membunuh, bulu roma me¬reka jadi berdiri.

Dilihat pula di belakang Buyung Ham berdiri sepuluh tokoh Pah-to-san-ceug serta berpuluh jago lainnya, semuanya melototi mereka, jelas urutan sangat gawat, bukan mustahil jiwa mereka akan me¬layang di sini

Tapi rasa jeri hanya sebentar terlintas di dalam hati mereka, ketika terbayang kembali Kematian ibu mereka yang dibikin malu oleh Buyung Ham, seketika darah bergolak, rasa takut mati seketika tersapu lenyap.

"Bangsat tua!" jerit Hoan Cun dengan penuh kebencian "Bila mampu boleh coba kau tangkap tuan muda."

Ti-seng-jiu mendongkol, ia tidak bicara lagi. ia segera memberi tanda kepada anak buahnya yang berada di belakang, lima enam orang di antaranya segera menerjang ke depan.

Kesepuluh tokoh besar Pah-to-san-ceng rata2 adalah jago kelas satu di dunia persilatan, mereka berilmu tinggi dan berpengalaman luas, menurut anggapan mereka tak mungkin ada orang berani mengganggu keamanan perkampungan tersebut dengan hadirnya mereka di sana, siapa tabu dugaan mereka meleset, bukan saja ada yang berani menyerbu perkampungan Pah-to-san-ceng, malahan kawanan penyerbu itu pun berani membakar perkampungan itu, peristiwa ini dianggap sebagai suatu penghinaan bagi mereka, sejak tadi hati mereka sudah panas, maka begitu sang majikan memberi tanda, serentak mereka menyerbu ke depan.

Sudah tentu mereka pantang main kerubut. Gin-siau-toh- hun Ciang Su-peng mendahului menjura kepada rekan2nya dan berkata: "Saudara sekalian, izinkanlah kakakmu yang sudah tua ini untuk bertarung pada babak pertama, tentunya kalian tidak merasa keberatan bukan?" — Dia lantas keluarkan seruling peraknya dan siap tempur.

'Eh, Ciang-heng" tiba2 Si Tosu buta tampil ke depan sambil tertawa, "ilmu seruling pembetot sukmamu sudah tersohor di seluruh kolong langit ini, apa gurunya Ciang- heng bersusah payah pula turun gelanggang? Untuk menghadapi beberapa orang kawanan tikus itu kurasa lebih baik serahkan saja kepadaku si buta yang reyot ini."

Tapi sebelum Tosu buta itu turun tangan, si kakek botak menyela pula dari samping: "To-heng tak usah membuang tenaga percuma, serahkan saja babak pertama ini kepadaku!"

Kakek botak itu adalah Tui-hui; leng Suma Keng, habis berkata dia lantas melepaskan suatu pukulan dahsyat dengan jurus Heng-sau-cian-kun (menyapu habis selaksa prajurit).

Hoan Soh-ing bertindak cekatan, dia melancar¬kan hantaman balasan lewat samping Tui-hong-kiam Hoan Kiat sementara Tui-hong-kiam sendiri putar pedang hingga menciptakan selapis dinding pertahanan untuk membendung angin pukulan lawan yang maha dahsyat itu.

Berbareng itu Coh ceng kiam Hoan Cun dan Mo-in kiam Hom Ing meluncur ke depan, pedang mereka ibarat ular sakti keluar dari gua, satu dari kiri dan yang lain dari kanan langsung menyergap kedua sisi Tui hun-leng Suma Keng. Kerja sama keempat orang bersaudara ini amat bagus dan sangat rapat, kontan pukulan gencar Tui-hun-leng dapat dibendung.

Rupanya kerja sama yang sangat lihai ini merupakan ilmu barisan pedang Kun-goan-sam cay kiam- tin keluarga Hoan yang maha dahsyat, setiap hari keempat kakak beradik itu saling berlatih dengan rajinnya, tak heran kalau permainan barisan pedang mereka sangat cepat dan juga berdaya te¬kan kuat.

Tui-hun-leng sendiri terhitung jago kenamaan di wilayah barat laut, ilmu silatnya tinggi, tabiatnya keji tak kenal ampun, bersama To-kah-hui mo (iblis terbang berkaki tunggal) Kaki mereka disebut Say gwa siang jan (sepasang manusia cacat dari luar perbatasan .

Sekarang ia hendak pamerkan kelihaiannya di hadapan Ti-seng-jtu Buyung Ham, maka sekali serang dia lantas lepaskan pukulan dahsyat, ia pikir empat pemuda yang masih ingusan itu tentu akan terpukul roboh, tak terduga kerja sama ilmu pedang keempat orang itu amat rapat, ia jadi kecelik dan rada kelabakan malah dikerubuti lawan.

Begitu merasakan tibanya dua tusukan pedang dari samping, Tui-hun-leng menyadari gelagat jelek,

untung pengalamannya amat luas, begitu merasa keadaan tidak menguntungkan, cepat ia melompat mundur. Tidak kepalang gusar Tui-hun-leng Suma Keng, mendadak ia mengeluarkan sebuah genta tembaga  berwarna kuning. Genta kuning itu sama sekali tidak istimewa bentuknya persis seperti genta yang biasanya digu¬nakan tukang obat kelilingan, hanya saja bentuknya lebih besar.

Ketika genta tadi dibunyikan hingga menerbit¬kan suara kelintang-kelinting yang nyaring, maka terasalah suatu kekuatan gaib memancar keluar da¬ri balik suara tersebut, suaranya serasa memekak¬kan telinga dan mengilukan, membikin hati orang berdebar dan darah tersirap. Kawanan jago persilatan lainnya cepat mundur ke belakang, rupanya mereka pun berusaha menghindari pengaruh suara genta, dari sini dapat diketahui bahwa genta kecil ini pasti luar biasa, apalagi Suma Keng barjuluk Tui huu leng (Genta pengejar sukma) tentu julukan ini bukanlah omong kosong belaka.

Air muka tiga pendekar pedang keluarga Hoan berubah hebat begitu melihat genta tembaga yang dikeluarkan musuhnya, segera mereka teringat pa¬da seseorang tokoh yang amat lihai.

Dalam pada itu Suma Keng telah membunyikan genta mautnya berulang kali, suaranya nyaring ibarat setan pembetot sukma, berbareng itu pula secepat kilat ia menubruk musuhnya

Betapa terperanjatnya ketiga pendekar pedang muda itu, cepat mereka gunakan gerakan Sam-seng cay hui (tiga bintang di dalam satu tempat) untuk menahan serangan musuh.

Tiga pedang bergabung menjadi satu garis, getaran ujung senjata seketika menimbulkan tiga kuntum bunga warna perak menyongsong sambaran Tui hun-leng. Hoan Soh ing tidak tahu kelihaian musuh, pada waktu yang sama ketika tiga pedang kakak¬nya menyerang dia pun melepaskan dua pukulan gencar dengan jurus Kiam-lim giok tiap (kupu ke¬mala hutan pedang) untuk mengimbangi Sam-cay-kiam-tin ketiga kakaknya. Telapak tangannya yang putih bersih bagaikan kemala, seperti sepasang kupu2 putih berkelebat ki¬an kemari terus mengancam jalan darah penting di sekitar ulu hati musuh.

Suma Keng menjadi gemas, ia bersuit nyaring bagaikan sambaran kilat cepatnya "genta pengejar sukma" bergetar menciptakan serangkaian cahaya keemasan yang menyilaukan mata disertai suara ke¬lintang kelinting nyaring.

"Ting! Ting! Tingl" ditengah suara kelintingau yang memekak telinga, terjadilah benturan keras hingga mengakibatkan letupan api.

Ketiga pedang Hoan si sam-kiat kontan ter¬getar ke samping, ketiga orang itu juga terhuyung mundur lima- enam langkah ke belakang, untung tidak cidera, walau begitu air muka merekapun menjadi pucat, sinar matanya pudar.

Tui hun leng tidak berhenti sampai di situ sa¬ja, belum lagi kaki menginjak kembali ke tanah ia terus menubruk ke arah Hoan Soh-ing, genta mautnya diguncang hingga menimbulkan suara dentingan yang memekak telinga.

Tenaga serangan Hoan Soh ing seketika lenyap, ia merasa suara genta musuh memekak telinga dan membikin jantung berdebar, kosentrasinya buyaar, ia tak mampu menghimpun tenaga lagi untuk me¬lakukan perlawanan.

Dalam pada itu gulungan cahaya kuning telah menerjang tiba dengan cepatnya, sinar itu menyilaukan dan suara genta membisingkan sehingga lawan menjadi bingung, badan jadi lemas, kepala pusing,

Hoan Soh tidak tahan, ia menjerit dan roboh ter¬jengkang. Genta maut Suma Keng. memang luar biasa lihaynya, dengan jurus, Ci Hun To Pok (hilangkan sukma mencabut nyawa ), bukan saja berhasil menjebol pertahanan Kun goan-sam cay-kiam-tin, malahan Hoan Soh-ing akan dicelakainya 'Tahan!" mendadak suara bentakan nyaring .menggelegar di udara, menyusul sebuah pukulan dahsyat menggulung tiba.

Cepat Suma Keng melompat mundur, tahu-tahu seorang pemuda sederhana berada di depannya.

Pemuda ini ialah Tian Pek. Rupanya irama genta maut Suma Keng telah menyadarkan kembali anak muda ini dari lamunan¬nya, ketika ia lihat Hoan Soh in terancam bahaya, ia sangat terkejut, bagamianapun gadis itu adalah gadis pujaannya, sejak perkenalan pertama ia sudah merasa suka kepada nona ini.

Sudah tentu ia tak tinggal diam melihat gadis itu terancam bahaya, dalam keadaan demikian ia telah melupakan segala tindakan kasar yang baru diterimanya dari ketiga kakak si nona, apa yang terpikir olehnya sekarang adalah bagaimana caranya menolong gadis itu dari bahaya maut.

Tanpa pikir panjang lagi ia lantas membentak, sambil melayang ke udara, pukulan dahsyat segera dilancarkan.

Semula Suma Keng mengira dia disergap oleh seorang tokoh silat yang lihay, begitu mengetahui siapa orangnya ia menjadi gusar dan kaget, rupanya yang menyerang ini adalah pemuda yang me¬nyebabkan salah paham antara dia dan si Lui gila itu. Dengan gusar ia lantas membentak: "Bocah keparat! Katanya kau ini kerabat Lui Ceng- wan, kenapa berulang kali kau memusuhi perkampungan ini? Apakah kau sudah bosan hidup?"

Tian Pek bukan anak bodoh, dari nada pem¬bicaraan lawan in tahu Suma Keng bermaksud menfitnah paman Lui di depan umum. Sebagai pemuda jujur, tentu saja ia tak dapat menyangkal bahwa dia tak kenal paman Lui. apalagi banyak budi yang diterimanya dari paman itu, untuk mengakui punya hubungan dengan paman Lui, ia pun menyadari betapa sulitnya posisi paman Lui di Pah-to-san- ceng, karena itu untuk beberapa saat ia cuma bisa berdiri mematung dengan mata terbelalak seputah katapun tak mampu bicara.

Dalam pada itu, ketiga pendekar muda kelu¬arga Hoan telah berhasil menguasai kembali perasa¬annya yang kaget, mereku jadi malu bercampur menyesal setelah mengetahui kembali Tian Pek yang menyelamatkan jiwa adik perempuannya.

Hoan Soh-ing berdiri dengan tertegun, ia me¬mandang Tian Pek dengan muka merah dan entah apa ysng harus dikatakannya. Ti-seng-jiu Buyung Ham mengerut dahi de¬ngan wajah muram .

''Sahabat cilik, ilmu- silatmu sungguh hebat!" demikian Gin-siau-toh huh Cian Su-peng tampil ke depan sambil berseru. "Bolehkah kutahu siapa namamu? Berasal dari perguruan mana?"

Gin-siau-toh hun menyadari akan hebatnya ilmu silat anak muda itu, sebab ia pernah menjajal kemampuannya dengan ilmu seruling lm-mo-toh-hun-siuu-hoat tempo hari, tidak sembarang orang mampu tahan serangan suara serulingnya jika tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna, maka dia ingin tahu asal usul lawan muda ini.

Sebelum Tian Pek menjawab, tiba2 seorang ber¬teriak: '"Ciang-heng, apa gunanya banyak omong, bekuk saja bangsat cilik ini, masakah nanti dia tidak mengaku terus terang?''

Cepat sekali gerak tubuh orang itu, ibarat segulung asap hitam tahu2 menyambar tiba, selagi masih mengapung di udara, kelima jari tangannya bagaikan cakar elang terus mencengkram Keng ci-biat di lengan kanan Tian Pek.

Anak muda itu merasakan pandangannya menjadi gelap, serangan belum sampai, namun desir angin yang berembus serasa menyayat badan, ia sadar kalau musuh ini sangat lihay, ia tak berani menyambut secara kekerasan, cepat ia mengegos sambil balas menahan dengan tangan kirinya.

Orang itu bergelak tertawa, serunya: "Robohlah kau!" Sambil berputar di udara tiba2 orang itu me¬nubruk maju, tangan kirinya segera mencengkeram pergelangan tangan Tian Pek.

Aneh gerak serangan orang itu, cepat Tian Pek tarik kembali serangannya.sambil melompat mundur, untung dia bertindak cepat, hampir saja tangan kena dicengkeram musuh.

Sekalipun begitu, tak urung pergelangan ta¬ngan - kirinya terserempet oleh serangan mutub, rasa sakit pedas menyayat badan, tulangnya seperti mau patah, separo badannya se-akan2 lumpuh.

Anak muda itu terperanjat, ia lihat lawan itu adalah kakek berkaki buntung satu dan bercam¬bang, mukanya bengis sekali. Kakek bengis iui tak lain adalah Tok kah hui mo Li Ki, rekan Suma Keng yang sama2 dipang¬gil sebagai "Sepasang manusia cacat dari luar per¬batasan".

Orang ini bukan saja ganas dalam perbuatan, banyak pula akal busuknya yang keji.

Ketika dilihatnya Tui-hun-leng yang lihay se¬kali gebrak sampai terpental oleh Tian Pek, ia jadi melengak juga, tapi sebigai orang yang cerdik segera diketahui olehnya pemuda yang lihay ini hanya sempurna dalam tenaga dalam, sedang ge¬rak serangan yang ampuh boleh dibilang sama se¬kali belum paham.

Segera ia mendapat akal, ia hendek menggu¬nakan kesempatan yang baik ini untuk membekuk lawan dengan ilmu Siam-tian-tui-hong-kim-na-jiu (ilmu cengkeraman kilat pemburu angin yang maha dahsyat).

Maka pada waktu Gin-siau-'oh-hun bertanya jawab dengan Tian Pek, segera ia membentak dan secepat kilat meluncur ke depan terus menyerang Keng ci-hiat Tian Pek dengau jurus Kim-pah-loh-jiau (macan tutul emas unjukkan cakar).

Tapi Tian Pek sempat menghindar dan melan¬carkan terangau balasan yang cukup dahsyat. Tok-kah-hui-mo tak mau adu keras, ia melayang ke atas. tiba2 tangan kirinya melancarkan pukulan lagi dengan gerakan Hun-wan-liat- hau (menyayat monyet membunuh harimau). 

Menurut perkiraan iblis berkaki tunggal ini. ke dua serangan berantai yang dilepaskan itu cukup untuk merobohkan musuhnya, Siapa tahu ia salah terka, pemuda yang tampaknya Iamban dalam gerakan ini ternyata memi¬liki kegesitan yang luar biasa, sekali mengegos tahu2 semua ancamannya berhasil dipunahkan. Tok-kah-hui-mo semakin kalap, ia meraung dan secara beruntun melancarkan lagi serangan berantai dengan jurus Cia-kwan-tuim-go.in (potong urat tutuk perut), Toan-C'u- csy-meh (memotong otot memutus¬kan nadi) serta Oh-kui- ho-hun (setan lapar mener¬kam sukma).

Jangan kira iblis tua ini cuma berkaki satu, kenyataannya kegesitan maupun kecepatan geraknya sangat luar biasa, kalau tidak, tak mungkin orang menyebut "iblis terbang berkaki tunggal" kepadanya. Salah satu ilmu yang paling diandalkan iblis kaki satu ini adalah Kim-na-jiu (ilmu cengkeram) yang diberi nama "sambaran kilat pemburu angin", kecepatannya ibarat embusan angin atau sambaran kilat, luar biasa dahsyatnya dan sukar untuk meng¬hindarnya. Tapi perkiraannya kembali meleset, pemuda yang dianggap pasti akan dirobohkan ini ternyata sanggup menghindarkan semua serangannya dengan mudah.

Diam2 semua orang merasa heran, mereka sempat menyaksikan anak muda itu berdiri tenang, ke tika serangan berantai yang dilancarkan Tok-kah-hui mo itu tiba, semuanya dapat dihindari, jelas pemuda itu tidak menggunakan gerakan yang aneh, tapi ke nyataanya ia dapat lolos dari ancaman, inilah yang membuat mereka tercengang. Sikap pemuda itu ibaratnya seorang guru yang sedang memberi pelajaran silat kepada muridnya, sudah tentu sebagai guru dia tak perlu kuatir serangan muridnya akan bersarang di tubuh sendiri sebab semua jurus telah apal di luar kepala, dia hanya mengamati perakan muridnya apa benar utau keliru.

Melihat gelagatnya, ilmu silat pemuda ini se¬akan2 jauh lebih hebat daripada Tok-kah-hui-mo Li Ki yang sudah tersohor selama puluhan tahun di dunia persilatan. Tentu saja Tok-kah-hui-mo terlebih kaget, sam¬bil melepaskan serangan berantai (dalam hati ia ber¬pikir: "Sialan, aku benar2 ketemu setan, masa ilmu cengkeraman-mautku gagal membekuk anak ingusan begini? Sungguh tidak masuk diakal Wah, kalau aku gagal membekuk keparat ini, ke mana akan kutaruh wajahku ini?"

Takut nama baiknya ternoda, Tok-kah-hui-mo semakin gencar menyerang, ia menggunakan serangan yang paling keji dan mematikan.

Padahal cara Tian Pek menghindari setiap se rangan itu dilakukan di bawah sadarnya, dalam hati sama sekali tidak tahu di mana letak kehebatannya. Sudah tentu semua itu lantaran ilmu Thian-hud-pit-kip yang telah dikuasainya sehingga tenaga dalamnya mengalami kemajuan pesat, mata makin awas dan pendengaran makin tajam

Sekalipun begitu, Tian Pek lupa melancarkan serangan balasan, dia hanya berkelit, menghindar dan berputar mengikuti gerak serangan musuh, se¬dang mata terbelalak mengawasi dan menyelami se tiap gerak serangan Tok-kah- hui-mo yang ganas dan ampuh.

Tian Pek memang bukan anak bodoh, ia da¬pat memanfaatkan kesempatan yang baik ini untuk kepentingan sendiri, jangan dianggap dia hanya ber¬kelit dan menghindar terus, kenyataan secara diam2 ia sedang belajar gerakan sakti musuhnya. Sudah tentu Tok-kah-hui-mo tak menyangka kalau ilmu silatnya yang paling diandalkan itu su¬dah disadap oieh Tian Pek secara diam2, ia menye¬rang terlebih gencar dan hanya sekejap dua tiga puluh jurus sudah dilancarkan.

Kawanan jago persilatan yang hadir disekitar gelanggang itu, rata2 adalah tokoh kawakan yang sudah berpengalaman, meski begitu belum pernah mereka saksikan pertarungan seaneh ini. Tanpa disadari, semua orang alihkan perhatian¬nya ke tengah gelanggang se- akan2 sedang menonton keramaian sehingga lupa kalau pertarungan yang sedang berlangsung sebenarnya adalah pertarungan yang menentukan mati hidup.

Sementara itu Tui-hun-leng yang licik sedang putar otak untuk mencari akal guna menjebak la¬wannya, ia merasa kehilangan muka karena serangan anak muda tadi dapat memaksa dia melompat mundur. Walau begitu, tapun tak sudi mengerubuti Tian Pek bersama Tok-kah-hui-mo, karena perbuatan demikian hanya akan turunkan gengsi dan merosotkan bobot kedudukan mereka berdua. Tiba2 sorot matanya tertuju ke arab keempat muda-muda  keluarga Hoan yang sedang mengikuti jalannya pertarungan dengan mata terbelalak dan tercengang itu, satu pikiran cepat melintas dalam benaknya.

Pikirnya: "Bukankah kesempatan baik terben¬tang di depan mata? Kenapa tidak kubereskan dulu keempat bocah itu, habis itu baru kubereskan bocah tolol itu?" Sambil tertawa dingin selangkah demi selangkah ia menghampiri keempat bersaudara keluarga Hoan itu, bentaknya: "Empat ekor tikus kecil, apa kalian anggap tempat ini panggung sandiwara? Hayo se¬rahkan nyawa kalian. !"

Dentingan suara genta maut yang keras dan memekakkan telinga menyadarkan Hoan Cun ber tiga, dengan terkejut mereka berpaling, dilihatnya Tui hun leng sedang maju menghampiri, cepat mereka lintangkan pedangnya dan menyurut mundur Hoan Soh ing masih terus mengikuti jalannya pertarungan di tengah gelanggang se-akan2 kehadiran Suma Keng sama sekali tidak terasa olehnya. Genta maut itu terus berbunyi, mendadak Suma Keng membentak keras, dia melakukan gerakan se akan2 hendak menerjang maju. Tiga pendekar pedang dari keluarga Hoan ter¬kejut, mereka mundur lagi selangkah ke belakang. Tupi Suma Keng tidak melakukan serangan, rupanya dia cuma menggertak belaka, ketika dili hatnya ketiga orang itu ketakutan setengah mati, ia jadi senang dan tertawa terbahak2. Malu dan marah ketiga pendekar muda keluarga Hoan itu karena merasa dipermainkan orang, mereka saling pandang sekejap, pada waktu musuh masih tertawa senang itulah pedang mereka menye¬rang bersama, sekaligus mengancam jalan darah Sian ki-hiat di tenggorokan., Sam- yang-hiat di dada serta K i -hay-hiat di lambung iblis tua itu. Ilmu pedang ketiga orang itu adalah serang¬kaian ilmu pedang Tui hong kiam hoat yang am¬puh, kepandaian tersebut mengutamakan kecepatan dalam gerakan serta kerja sama yang rapat, maka Sam-ca-y kiam tin mereka cukup disegani orang dan jarang ada tandingannya.

"Kurang ajar, kalian sudah bosan hidup?" ben¬tak Suma Keng.

Sambil mengegos dan sedikit mendak ke ba¬wah, dia hindarkan diri dari ancaman pedang yaug datang dari depan, menyusul mana genta Tui hun-li'iig dia tangkiskan serangan lain.

"Tring!"' dengan sempoyongan Tui- hong kiam Hoan Kiat tergetar mundur lima-enem langkah, untung tak sampai terjungkal, kendatipun begitu tangannya terasa panas kesemutan, hampir saja pe¬dangnya terlepas dari genggaman.

Suma Keng tertawa, genta maut diguncang lebih kencang dan menimbulkan irama sadis yang memekak telinga, dengan jurus Ceng leng-keng-liong (getaran genta mengejutkan naga) dia mem¬buru ke depan dan langsung menghantam kepala Tui-hong kiam. Serangan gencar itu tak mungkin bisa dihin¬dari oleh Hoan Kiat, sedangkan kedua orang sau¬daranya jauh tertinggal di belakang, tampaknya ja¬go kedua keuarga Hoan itu akan mati di tangan lawan . .Untung Hoan Soh-ing berpaling tepat pada waktunya, ketika dilihatnya maut mengincar Jiko-nya, ia menjerit kaget sambil melompat maju, ke dua telapak tangannya langsung menahas ke tubuh musuh,

Bersamaan itu pula, Hoan Cun seria Hoan Ing juga membentak keras, pedang mereka menyergap terentak ke depan, yang satu menusuk iga kiri se¬dang yang hia menusuk punggung Suma Keng.

Mendadak genta Suma Keng menekan ke ba¬wah, Hoan Kiat bersuara tertahan, dia masih sem¬pat mendak ke bawah untuk menghindar, namun tidak urung ia merasakan pundak kanan se akan2 kejatuhan martil seberat ribuan kati, sakitnya tidak kepalang, kontan ia terguling hingga jauh ke sana.

Selesai menghajar Tui-hong-kiam, Suma Keng tarik kembali gentanya dan menangkis kedua pedang yang menyergap tiba dari belakang, "Tring, Tring . . . !” getaran keras mengguncang pergi kedua pedang lawan.

Bukan saja sergapan mereka gagal, Hoan Cun dau Hoan Ing sampai tergetar mundur dengaa sem¬poyongan.

Suma Keng memang lihay, setelah melukai Hoan Kiat dan menghindari sergapan Hoan Cun dan Hoan Ing iapun sempat putar badan dan menghindarkan pukulan Hoan Soh-ing yang dahsyat.

Ia bergolak tertawa, telapak tangannya segera mencengkeram dada Hoan Soh-ing. Kepandaian Hoan Soh ing paling lemah, kalau ketiga kakaknya tak mampu mengimbangi keganasan Tui-hun leng, apalagi cuma dia sendiri. Ketika serangannya mengenai tempat  kosong, tahu2 suara genta yang memekak telinga berdentang di sisi telinganya, sebelum ia bertindak sesuatu, cengkeraman musuh telah tiba di depan dada. Pucat wajahnya, gadis itu menjerit kaget dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

"Hei, kunyuk she Suma! Kau berani mengga¬nas terhadap seorang anak dara? Cepat hentikan perbuatanmu itu!" tiba2 bentakan nyaring mengge¬ma dari kejauhan, walaupun suara itu tidak ter¬lampau keras, namun setiap katanya kedengaran dengan jelas. Suma Keng terperanjat, cepat ia tarik kembali, serangannya dan berpaling. Sebelum mengetahui siapa yang bersuara itu tiba2 sesosok tubuh yang tinggi besar menerjang tiba di depannya, cepat Suma Keng menahan dengan genta mautnya. Ketika orang itu dapat berdiri, ia baru tahu orang ini adalah kawan sendiri, yakni Tok-kah-hui mo Li Ki Tok-kah-hui-mo yang kosen itu berada dalam keadaan payah, muka pucat, bibir terkatup rapat, tampaknya menderita luka dalam yang cukup parah, kejadian ini sangat membingungkan Suma Keng sehingga untuk sesaat ia berdiri dengan melenggong. !Aa, masa rekanku ini dipukul keok oleh pe¬muda ingusan itu?" pikir Suma Keng dengan heran betapapun ia tak perciya dengan keajaiban demikian. Cepat ia pandang pemuda itu, dilihatnya Tian Pek berdiri dengan mata terbelalak, sinar matanya mencorong terang.

Suma Keng terperanjat, sekarang ia baru percaya tenaga dalam yang dimiliki anak muda itu su¬dah mencapai puncaknya, sebab hanya orang memiliki Lwekang tinggi saja yang mempunyai sinar mata setajam itu. Kendatipun demikian, ia tak percaya kalau Tok-kah-hui-mo Li Ki yang kosen, telah dikalahkan oleh pemuda itu. Sebenarnya apa yang terjadi? Kiranya Tian Pek kian lama kian tertarik oleh kesaktian serta keam¬puhan serangan Tok-kah-hui-mo hingga ia lupa me¬lancarkan serangan balasan sebaliknya hanya me¬ngawasi saja setiap serangan musuh. Dalam keadaan begitu, teatu saja Tok-kah-hui-mo tak mengira kalau pihak musuh lagi menyadap kepandaian silatnya, dia merasa cara bertempur Tian Pek belum pernah dialaminya selama puluhan tahun mi.

Makhluk tua itu berpengalaman luas, ia menjadi heran dan curiga mengapa setiap serangan selalu dipat dihindarkan lawan. Lama kelamaan, akhirnya diketahui juga, rupanya pihak musuh sedang menyadap ilmu silatnya tanpa disadarinya, tentu saja kejadian ini membang¬kitkan marahnya. "Kurangajarl" pikirnya, "rupanya kau sedang menyadap ilmu silatku, sialan! Memangnya aku ne¬nek moyangmu? Tampaknya kalau tidak kuberi ha¬jaran setimpal kepadanya, aku bakal menderita ke rugian besar!"

Karena penasaran bercampur mendongkol, Tok-kah-hui- mo Li Ki segera menghantam muka anak muda itu dengan jurus Kay-bun-kian-sau (buka pintu memandang bukit), suatu jurus serangan jarak de¬kat yang lihay. Cepat Tian Pek berkelit ke samping sehingga mukanya tak sampai termakan oleh serangan iblis tua itu. Walau begitu, tajam juga angin pukulan itu, Tian Pek merasa pipi rada sakit, ia tertegun dan tak menduga kalau serangan tersebut hanya pan¬cingan belaka.

Baru saja Tian Pek mengegos ke samping, iblis tua itu putar badan secepat kilat, segera ia menjotos Ciang-ki-hiat di sisi telinga kiri Tian Pek, Cepat dan ganas sekali serangan ini, hampir saja Tian Pek tak mampu menghindar, sedapat nya ia merida k ke bawah. "Hahaha .... robohlah kau sekarang .... " seru Tok-kah-hui-mo sambil bergelak, berbareng telapak tangannya membacok ke dada Tiau Pek.

Bukan saja Tok-kah-hui-mo sendiri yakin se¬rangan itu akan mengenai sasaranunyu, kawanan jago lainpun percaya anak muda itu tak bakal lo¬los dari maut. Tian Pek sendiripun lerkesiap, baru saja ia menunduk, desiran angin tajam menyambar lewat di atas kepalanya, menyusul pukulan yang dahsyat juga menggulung ke arah dadanya. Cepat Tian Pek merangkap telapak tangannya ke depan dada, kali ini dia menangkis dengan jurus Hud-co-jamsian (Budha suci memberi hormat) suatu geraksn dari Thian- hud-ciang yang tangguh. "Duk!" benturan keras terjadi, Tian Pek ber¬diri dengan badan bergetar keras, sebaliknya Tok-kah hui-mo terpental sejauh enam-tujuh langkah ke belakang.

Lantaran iblis tua itu cuma berkaki satu, wa¬taknya juga tidak mau pakai tongkat, kalau ber¬jalan hanya main loncat saja, maka getaran puku¬lan Tian Pek ini membuatnya ter-huyung2 sampai di depan Suma Keng, kalau tidak dipegang rekan¬nya ini pasti dia terguling ke tanah.

Tok-kah-hui-mo menjadi malu, apalagi peristiwa ini berlangsung di depan sang Cengcu dari Pah-to-san-ceng, ia menjadi kalap, dengan menggeram gusar ia hendak menerjang pula. Cepat Tui-hun-leng Suma Keng merintangi re¬kannya, lalu alihkan pandangnya ke arah hutan di  depan sana, mukanya yang semula diliputi rasa penasaran kini berubah jadi pucat dan penuh rasa kejut dan takut.

Tanpa terasa Tok-kah-hui-mo ikut memandang ke sana, maka tertampaklah seorang tukang loak kelilingan dengan menunggang keledai muncul dari hutan sana. Tukang loak itu sudah tua, rambut maupun alis matanya sudah putih, jenggot kambingnya juga putih perak, tampaknya umurnya sudah delapan sembilan puluh tahunan, badan knrus kecil dan mukanya penuh keriput, tapi sorot matanya men¬corong terang menggidikkan orang. Dia memakai baju dan celana satin putih, se¬patu kain dan kaos kaki warna putih pula, rambutnya yang telah beruban diikat dengan benang me¬rah sehingga menjadi kuncir kecil. Dengan tenangnya kakek itu duduk di atas keledai kecil, beberapa tumpuk kain termuat di belakang punggung binatang itu, sambil ayun cambuk ia manghalau keledainya agar berlari le¬bih cepat. Tapi keledai itu tak mau maju ke, depan,-malahan menyepak dan munbur ke belakang, mung¬kin takut pada orang yang berkerumun di atas bukit hingga tak berani maju ke depan.

Melihat keledainya tak mau maju, kakek itu tampak gelisah, ia membentak dan menyabat dengan cambuknya. Keledai kecil itu letap membangkang, malahan berpekik keras, meski badanya cuma lebih besar sedi¬kit daripada anjing, tapi suaranya keras menggema. "Binatang sialan!" tukang loak itu raenggerutus "kenapa tak mau jalan? Memangnya takut di situ banyak orang.?" Ia cambuki keledai itu, lalu menggerutu pula: "Keledai busuk, kakek masih ada urusan penting, tahu? Jika kau tidak lekas lari mungkin urusan bisa runyam!"

Munculnya kakek tukang loak ini membuat muka kedua manusia cacat, yaitu Suma Keng dan Li Ki menjadi pucat dan berkeringat dingin, diam2 Suma Keng berpikir: "Tak aneh kalau aku merasa suara orang itu sudah kukenal, ternyata memang dia ini orangnya! Wah, aku benar2 lagi sial, kenapa bisa bertemu dengan dia di sini. Tok-kah-hui- mo tak kalah kagetnya, malahan boleh dibilang jauh melebihi Tui-hun-leng, iapun sedang berpikir: "Habislah riwayatku sekali ini, aku pasti akan dibuat lebih kehilangan muka .

Bukan saja sepasang manusia cacat dari luar perbatasan ini dibikin ketakutan, malahan air muka belasan jago lihay dari Pah-to-san-ceng serta Ti-seng-jiu sendiripun berubah hebat. Ti-seng-jiu Buyung Ham adalah tokoh keluarga persilatan terkemuka di dunia persilatan dengan anak buah beratus orang, disegani dan dihormati, walau begitu air mukanya juga menunjuk rasa jeri pada tukang loak tua ini, hal ini boleh dibilang kejadian aneh. Tian Pek segera berpikir: "Entah siapa kakek ini? Rasanya sudah beberapa kali kubertemu de¬ngan dia di tengah jalan semenjak aku mengawal barang tempo hari, jelas pekerjaannya bukan cuma menjual kain, siapa tahu kalau diapun tokoh silat yang lihay? Kalau tidak, tak mungkin ia selalu mun¬cul di tempat yang banyak jago silatnya . . “

Selagi Tian Pek keheranan, tiba2 keledai kecil yang ditumpangi kakek itu kabnr ke depan dengan kencangnya, arah yang dituju tak lain adalah tempat berkerumunnya para jago Pak to san ceng.

Kakek tukang loak itu tampak panik, dengan kelabakan berteriak keras; 'Waduh, saudara sekalian, teman sekampung, bantulah aku! Wah, celaka. keledaiku kaget

dan kesetanan! O tolong.. . aku bisa terbanting ke tanah. Wah, celaka. . habislah riwayatku. "

Begitulah kakek itu kerepotan seolah2 benar2 akan terjatuh dari punggung keledai. Cepat sekali lari keledai itu, bagaikan terbang saja binatang itu membedal dan menerjang kerumun¬an orang banyak Tak seorangpun yang berani mengalangi larinya keledai itu, malahan mereka pada menyingkir jauh2 "Aduh, kenapa tidak memberi pertolongan?" kembali kakek itu berteriak kaget. "Apa kalian mau menyaksikan kakek terbanting mampus? Tolong. ..- kenapa hati kalian begitu kejam. O. hati kalian

memang busuk, kejam. "

Tiba2 ia menjerit kaget lagi, badannya yang duduk di atas punggung keledai merosot ke bawah dan tampaknya ia bakal terlempar jatuh ke tanah. Segera Ti-seng-jiu Buyung Ham maju ke depan, ia memberi hormat dan menyapa dengan sikap munduk2: "Bukankah engkau orang tua ini Sin-lu tiat tau (keledai sakti peluru baja) Tang locianpwe? Wan-pwe Buyung Ham menyampaikan salam hormat padamu!"

Setelah disapa, kakek itu mendadak tertawa cekikikan, aneh juga, bukan saja keledai kecil itu lantas berhenti, malahan berhentinya persis di depan Ti-seng-jiu, si kakek masih duduk tenang di atas keledai, se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu peristiwa apapun. Mendengar ucapan Buyung Ham tadi, air muka para hadirin seketikapun berubah hebat.

Waktu kakek tukang loak ini muncul tidi, yang terkesiap hanya tokoh2 yang tua saja, sedangkan yang lebih muda tetap bersikap tenang, sebab me¬reka tak kenal siapakah kakek ini. Lain halnya sekarang, setelah Buyung cengcu menyapa, muka semua orang lantas tahu kalau ka¬kek itu tak lain adalah Sin-lutiat-tau Tang Cian-li yang sudah tersohor sejak lima puluh tahun yang lalu, kontan suasana menjadi sepi, semua orang tak berani bersuara. Asal-usul tokoh lihay ini jarang diketahui umum, orang hanya tahu jago tua ini bukan saja lihay ilmu silatnya, kecerdikannya juga luar biasa. Konon le¬ngan kiri Suma Keng dan kaki kanan Li Ki adalah dikutungi Sin lu-tiat-tan Tang Cian-ll.

Satelah peristiwa tersebut, Tui-hun-leng Suma Keng serta Tok-kah-hui-mo Li Ki pulang dan me¬laporkan musibah yang menimpa mereka kepada gurunya masing2

Tentu saja dalam laporan tersebut mereka me¬rahasiakan perbuatan ganas yang mereka lakukan, mereka hanya mengisahkan bagaimana anggota ba¬dan mereka dikutungi Sin-lu-tist-tan dan bagaimana pula musnh menghina nama guru mereka, tentu pula di sana-sini diberi tambahan bumbu, hal ini meng¬akibatkan guru mereka judi murka dan segera ma¬suk ke Tionggoan untuk melakukan pembalasan dendam.

Guru kedua manusia cacat itu terhitung jago kelas atas pada jaman itu, tapi mereka sadar akan kekuatan sendiri masih belum mampu merobohkan Sin-lu-tiat tan. Karena itulah mereka lantas mengundang pentolan iblis dari kalangan hitam untuk bersama2 menghadapi tokoh lihay itu, jumlah mereka mencapai belasan orang banyaknya. Merekapun membuat tantangan kepada Sin-lu tiat-tan untuk beradu kekuatan di puncak Tay-heng san pada hari Tiong yang.

Pertandingan yang berlangsung di puncak Ki-ko-hong itu merupakan pertempuran paling besar bagi dunia persilatan waktu itu, hampir seluruh umat persilatan dari delapan penjuru dunia sama berkumpul di atas gunung itu. Sin-lu- tiat-tan ternyata sangat lihay, dalam per tarungan itu bukan saja kedua guru dari Tui-hun-leng dan Tok-kah-hui-mo berhasil dirobohkan, ma¬lahan jago lihay dari kalangan Hek-to yang hadirpun mati atau terluka parah oleh ketiga biji peluru sakti dan ke-64 jurus pukulan Ki-heng-ciang si kakek penunggang keledai, yang lebih hebat lagi ternyata tak seorangpun di antara lawannya yang mampu ber¬tahan sampai sepuluh gebrakan.

Sejak peristiwa itu, nama besar Sin-lu-tiat-tan makin menggetarkan Kangouw tapi sejak itu pula jejaknya lenyap tak berbekas. Sungguh tak nyana Sin-lu-tiat-tan Tang Cian- h yang maha lihay itu kini muncul kembali di hutan sini, tidak heran kalau semua orang dibikin kaget Begitulah si kakek tukang loak itu sedang ter¬tawa ter-bahak2, dia melirik sekitarnya, lalu ber¬kala kepada Ti-seng-jiu: "Wah, kau ,salah lihat, jangan kira aku menunggang keledai maka kau lan¬tas anggap aku adalah si keledai sakti. Kalian sebut aku peluru baja? Hahaha, yang benar aku cuma peluru tahu, aku paling takut melihat orang berke¬lahi hihihi,

jangan begitu ah!"

Perlahan ia jalankan keledainya menghampiri keempat bersaudara keluarga Hoan, waktu itu Hoan Can, Hoan Ing dan Hoan Soh-ing sedang sibuk menolong Hoan Kiat yang teriuka oleh pukulan Tui-hun-leng.

Mo-in-kiani Hoan Ing memapah tubuh saudara nya yang luka, Hoan Cun mengurut jalan darah penting disekitar badannya, sedangkan Hoan Soh-ing memberi minum obat mujarab Kakek aneh itu melihat sekejap ke arah Hoan Kiat, kemudian omelnya: "Coba lihat, mengerikan tidak kalau suka berkelahi, untung kalau cuma ter-luka, jika mampus apa tidak konyol?"

Lalu ia pandang Suma Keng dan Li Ki, tegur¬nya lagi: "Hayo mengaku, siapa yang melukai bo¬cah ini?"

Pucat wajah kedua manusia cacat itu. mereka ketakutan setengah mati sampai badanpun menggi¬gil, mereka tak berani bohong, tapi juga takut untuk mengaku, yang dapat dilakukan kedua orang itu hanya saling pandang dengan inenyengir. Dalam pada itu sorot mata si kakek lantas beralih ke arah Tian Pek, tiba2 ia tertawa lebar.

Tiau Pek tak tahu kenapa kakek tukang loak ini tertawa padanya, sebab tiap kali mereka ber¬jumpa di tengah jalan, kakek itu selalu tertawa le¬bar padanya. "Eh, engkoh cilik!" tiba2 kekek itu menegur, "agaknya kita memang ada jodoh, ke mana pun kita selalu bertemu!"

"Memang kejadian yang sangat kebetulan!" ja wab Tian Pek sambil tersenyum, "ke mana kupergi, di sitn pula Losianseng juga berada!" Kakek itu tertawa, ia turun dari keledainya dan menghampiri tiga bersaudara keluarga Hoan, tiba2 ia tuding bahu kanan Hoan Kiat dan berkata: "Bahu kanan ini terluka persis pada jalan darah Peng-houg- hiatnya, kalau tidak cepat diobati, bisa jadi tubuhnya akan Poau sui (mati setengah bagian)."

Waktu itu Hoan Cun sedang kepayahan dan keringat membasahi tubuhnya, dia sudah berusaha untuk membebaskan jalan darah adiknya yang tertutuk, namun usahanya selalu gagal, ini membuatnya gelisah dan panik. Mendadak kakek itu menuding dengan jari ta¬ngannya, Hoan Cun berdekatan dengan kakek itu. ia merasakan angin dingin mendesir lewat di sisi tubuhnya, ini membuatnya terkejut.

Untung pemuda itu tidak bertindak gegebah, sebab segera ingat kepandaian itu sangat mirip de ngan ilmu Leng-gong-hut-hia. (membebaskan jalan darah lewat kebasan dari jauh) yang jarang terlihat. Tiba2 Hoan Kiat bersin sekali lalu sadar kem¬bali dari pingsannya. Baru sekarang Hoan Cun bergirang, pikirnya: "Wah, untung aku tidak bertindak gegabah, kalau tidak, entah bagaimana jadinya?"

Di samping itu iapun sangat kagum atas ilmu sakti si kakek, setengah harian dia berusaha membebaskan jalan darah adiknya, namun usahanya sia2, tak tahunya kakek tua itu cuma sekali tuding, lalu semuanya jadi beres. Setelah kakek itu turun dari keledainya tadi, Tian Pek jadi tertegun, ia lihat sebilah pedang ter gantung di pelana keledai itu, karena tadi tertutup oleh kaki si kakek, maka ia tidak melihatnya, sekarang setelah kakek itu turun dari keledainya pe¬dang itupun tertampak jelas. Hati tergetar seketika. Pedang itu tidak asing lagi baginva, sarung kulit ikan hiu dengan kemala hijau melapisi gagang pe dang, bukankah pedang itu adalah Pedang Hijau pusaka warisan ayahnya yaug dibawa kabur orang ketika sedang dilihat An- lok Kongcu tempo hari. Tian Pek tak dapat menguasai emosinya lagi, terutama karena pedang itu penting sekali artinya baginya, tanpa pikir ia lantas melompat ke sana dan menyambar pedang itu. "Losianseng. pedang ini kan milikku ....?" berbareng iapun berteriak. Gerak tubuh Tian Pek sangat cepat, tapi ka¬kek itu ternyata lebih cepat, sebelum anak muda itu mencapai sasarannya, kakek tadi sudah lompat kembali ke atas punggung keledainya sambil berseru: "Eeeh, engkoh cilik, apaan kau ini? Kenapa kau hendak rampas pedang- pusakaku?"

"Hm," Tian Pek menjengek, bentaknya marah: "pedang mi jelas milikku, sepanjang jalan kau selalu mengikuti jejakku, rupanya kau memang ingin me¬rampas pedang iui. Sekarang setelah kau mendapat¬kan, kau malah sengaja dipamerkan di hadapanku?" Sambil berteriak marah Tian Pek terus menge jar, namun kakek itu tidak tinggal diam. dia mem-bedal keledainya dan kabur dari situ. Kali ini Tian Pek bertindak lebih cekatan, dia kuatir ketinggalan lagi, dengan ilmu Pat-poh-kan sian (delapan langkah mengejar tonggeret) ia melayang ke atas dan mendadak melontarkan pukulan dahsyat ke punggung kakek.

"Aduh mak, tolong!" kakek itu menjerit panik, tubuhnya tampak bergerak ke sana kemari macam orang ketakutan dan akan terperosot. Tapi pukulan Tian Pek ternyata mengenai tem¬pat kosong.

"Tolong, tolong!" kakek itu menjerit. "Eng koh cilik ini mata gelap setelah melihat barang pu¬saka. Wah, tolonglah aku engkoh cilik ini mau rebut barangku! He, begitu banyak orang berkumpul di situ, kenapa tak seorangpun yang mau membantu aku?"

"Hei, kakek, tidak perlu kau pura2 dungu dan berlagak edan!" bentak Tian Pek dengan mendong¬kol, sambil mengejar ia lepaskan dua kali pukulan berantai. Lalu ia mendamperat: "Bila kau tidak tanggalkan pedang pusaka itu, sampai ke ujung langitpun Siauya akau mengejar terus!"

"Aduh! Tolong .... tolong. " tanpa berpaling lagi kakek

itu kabur secepat terbang. Betapa penasarannya Tian Pek meayaksikan tingkah laku kakek itu, beberapa kali ia melancar kan serangan, tapi selalu mengenai tempat kosong, tiap kali kakek itu goyangkan badannya ke sana ke mari dengan lagak orang panik. Ketika Tian Pek menghajar pantat keledai itu, tapi juga tidak mendatangkan hasil,  sebab ke¬ledai itupun ber-jingkrak2 sehingga pukulannya luput.

Dalam waktu singkat dua orang dan seekor keledai itu sudah berada puluhan tombak jauhnya dari tempat semula, sebentar lagi mereka akan lenyap di balik hutan sana. Beberapa jago Pah-to-san-ceng bermaksud me-ngejar anak muda itu, tapi Ti-seng-jiu lantas menghalangi niat mereka itu.

Hanya sekejap saja Tian Pek dan kakek itu sudah makin jauh meninggalkan terapat itu, akhirnya bayangan merekapun lenyap di balik pepohonan......Empat lima puluh li sudah Tian Pek melaku¬kan pengejaran di belakang kakek itu, tapi mendadak ia kehilangan jejak kakek itu di balik hutan lebat sana.