Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 10

Jilid 10

Lain keadaannya dengan sekarang, pemuda itu berada dalam keadaan sadar, pikirannya seratus persen segar waras, sekalipun dia dapat menangkap maksud kerlingan mata keempat dayang itu, namun untuk sesaat dia tak mempunyai keberanian untuk melepaskan pakaian sendiri.

Pada saat itulah tiba2 di luar ruangan itu menggema suara langkah orang, menyusul seorang berseru dengan suara merdu: "Perjamuan telah di siapkan di ruangan depan, selesai bersihkan badan tamu agung dipersilakan untuk menghadiri perjamuan!"

"Hihihi . . . dia. . .dia belum lagi membuka pakaiannya .

. . ." seru keempat dayang itu sambil tertawa cekikikan.

"Ah, masa? Sudah sekian lama kalian tidak melayani . .

.." berkata sampai disini, orang di luar itu tiba2 mendorong pintu dau melangkah masuk,

Ketika dilihatnya Tian Pek masih berdiri terkesima dengan pakaian lengkap, sambil tertawa ia lantas mengomel: "Ah, kalian berempat memang keterlaluan, bukannya membukakan pakaian tamu, kalian malahan ter- buru2 melepaskan pakaian sendiri, makin lama kalian memang semakin tak becus bekerja . Yang masuk ini juga seorang dayang muda, tapi kalau dibandingkan keempat dayang cilik tadi usianya lebih tua sedikit. bukan saja pakaiannya lebih indah dandanan pun lebih terpelihara, dari sini bisa diketahui kalau kedudukannya pasti jauh lebih tinggi dibandingkan keempat dayang cilik itu.

Sambil mengomel, dayang itu lantas menghampiri Tian Pek dan hendak membuka pakaian anak muda itu.

Keruan Tian Pek tercengang, untuk sesaat ia menjadi bingung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan. Sementara tangan gadis itu sudah hampir menempel dadanya, Tian Pek terkejut, cepat dia berusaha mengelak kesamping.

Tapi gadis itu ternyata tidak lemah dan juga cerdik, agaknya sebelum melakukan gerakan tersebut ia telah memperhitungkan ke arah mana anak muda itu mungkin akan menghindar, maka baru saja Tian Pek berkelit ke samping, cepat ia menghadang di depan anak muda itu, sementara jari jemari yang lentik langsung menyambar leher baju dan membuka kancing pakaian Tian Pek.

"Hihihi, mungkin tuan tamu baru pertama kali ini berkunjung kemari!" kata dayang itu sambil tertawa cekikikan, " makanya engkau tidak terbiasa dengan pelayanan kami, maaf jika kami bekerja bagimu!"

Sambil bicara dayang itu, tidak berhenti bekerja setelah sebuah kancing baju Tian Pek dapat dilepaskan, dengan suatu gerakan yang manis dan lincah dia putar badan untuk melepaskan pakaian yang dikenakan anak muda itu.

Pakaian yang dikenakan Tian Pek ini adalah mantel hitam perkampungan Pah-to-san-ceng yang berlambangkan seekor macan tutul, mantel tersebut cuma mempunyai sebuah kancing pada bagian pinggang maka begitu ditarik oleh dayang itu, sebagian baju yang dikenakan itupun tersingkap.

Terperanjat Tian Pek menghadapi kejadian itu, tak terduga seorang dayang dari keluarga Kim saja memiliki Kungfu yang begini tangguh,

Sementara itu dayang tadi telah menarik pakaian Tian Pek kemudian putar ke belakang, andaikata pemuda itu bermaksud mencelakai dayang ini, maka pekerjaan tersebut bisa dilakukan dengan mudah sekali.

Tentu saja Tian Pek tak ingin berbuat demikian,  sekarang dia adalah tamu, biarpun sudah diketahui Kim Kiu, ayah Siang-lin Kongcu adalah musuhnya, tapi sebelum terjadi pertikaian ia tak sudi melukai seorang dayang lebih dahulu.

Oleh karena pertimbangan inilah, walaupun perbuatan davang itu membikin Tian Pek merasa malu sehingga mukanya berubah merah padam, namun ia tidak berusaha untuk melepaskan tangan dayang itu, hanya dengan gelagapan ia berkata: "Nona, lebih baik kalian keluar saja dari sini, biarlah aku mandi sendiri saja.

"Plok!" belum habis dia berkata, tiba2 sejilid kitab berwarna warni terjatuh dari dalam baju anak muda itu.

"Ha, buku bacaan apa itu?" seru dayang tadi dengan mata melirik, "wah, tampaknya menarik sekali, coba kulihat, apa isinya!"

Sanmbil berkata dayang itu terus hendak menjemput kitab itu.

Kaget Tian Pek, ia tahu Thian-hud-pit-kip itu harus dirahasiakan, apalagi sekarang ia justeru berada di sarang pembunuh ayahnya, disini banyak berdiam jago lihay dari dunia persilatan, bila kitab itu dilihat orang tentu akan dijadikan sasaran perebutan.

Karena itu, dalam gugupnya cepat dia mendorong tubuh anak dara itu dengan kuat. Lantara tak terduga dayang itu menjerit kaget dan "plung" ia tercebur ke dalam bak mandi.

Air muncrat, seketika dayang itu basah kuyup, cepat dia merangkak naik dari dalam bak sambil menyemburkan air.

Dalam pada itu Tian Pek telah ambil dan simpan kembali kitabnya, sesudah itu barulah dia memandang ke arah si dayang yang tercebur ke dalam bak mandi itu dengan sorot mata menyesal.

Keempat dayang cilik tadi bergelak tertawa, mereka berkeplok tangan sambil mengikik, saking gelinya sampai menungging dengan memegang perut.

"Empat setan cilik, apa yang kalian tertawakan?" teriak dayang tadi dengan mendongkol, kemudian ia melirik sekejap kearah Tian Pek, dia melampiaskan kemarahannya kepada keempat dayang cilik itu: "Setan cilik, hayo cepat tarik aku keluar dari sini, cepat ganti dengan air baru dan layani tamu se-baik2nya!"

Agaknya keempat dayang cilik itu sangat jeri terhadap dayang yang tercebur ke dalam bak itu, mereka segera berhenti tertawa dan menarik dayang itu ke atas, lalu menguras air dalam bak dan mengisinya dengan air yang baru.

Sebelum selesai mereka mengisi bak mandi lagi, tiba2 dayang tadi berkata: "Tamu ini adalah tamu agung Kongcu- ya kita, rasanya kurang hormat kalau kita bersihkan badannya dengan Lan-giok-teng; pancurkan Un-hiang-sui (air hangat) saja agar tamu kita ini bisa mandi dengan lebih nikmat!" Tercengang keempat dayang cilik itu, mereka seperti mau mengucapkan sesuatu, tapi setelah menyaksikan air muka pemimpin mereka yang kereng, mereka tak berani membantah dan segera tundukkan kepala.

Seorang lantas membuka kran air yang ada disamping kiri aana, air bersihpun segera mengalir keluar dari pot bunga yang dibawa patung gadis telanjang tadi dengan derasnya. hanya sebentar saja air dalam bak mandi lantas penuh kembali.

Tian Pek sama sekali tidak memperhatikan tingkah laku dayang2 itu, dia hanya memperhatikan tubuh dayang yang basah kuyup hingga tampak lekukan tubuhnya yang indah dan berisi itu.

Bentuk tubuh dayang itu memang cukup cantik, hanya keadaannya mengenaskan sekali, Tian Pek tidak tega, ia minta maaf: "Nona, harap suka maafkan kekasaranku tadi, terus terang aku tidak sengaja berbuat begitu terhadapmu, soalnya kitab itu tidak pantas kau lihat, karenanya kuharap nona bisa memaklumi keadaanku!"

"Ah, tak apalah, tugas dari kami harus melayani segala kebutuhan tuan2, jika pelayanan kurang memadahi, mau dipukul atau dimaki terserah kepada tuan2, nasib kami sendiri yang kurang beruntung, hingga sejak dilahirkan sudah ditakdirkan menjadi budak orang!"

Ucapan tersebut diutarakan dengan nada dingin, bahkan tajam sekali.

Tian Pek merasa bersalah, maka dengan sungguh- sungguh ia berkata: "Sejak kecil aku sudah terbiasa hidup sengsara dan telantar, tidak biasa bagiku segala sesuatunya dilayani orang, maka kuharap kalian keluar saja, biar kumandi sendiri." Dayang itu ragu2 sejenak.. akhirnya dia menjawab: "Kalau tuan tamu menghendaki demikian, baiklah kami turut perintah saja, mungkin tuan tamu merasa pelayanan kami kurang baik dan kami diperintahkan keluar, terpaksa kami keluar dari sini."

Kepada keempat dayang yang sudah telanjang dan masih berdiri tertegun, ia menambahkan: "Hayo kenakan pakaian, mari kita pergi!"

Keempat dayang cilik itu tak berari membangkang perintah, cepat mereka kenakan pakaiannya dan mengurndurkan diri.

Sesaat meninggalkan ruangan itu, kembali dayang tadi berpesan: "Cepatan dikit tuan tamu bersihkan badan, Kongcu-ya kami sudah menunggu di ruang perjamuan!"

Sebelum Tian Pek menjawab, ia lantas menyelinap keluar kamar mandi itu.

Pintu ruangan menutup kembali secara otomatis, setelah bayangan kelima dayang itu lenyap dari pandangan, Tian Pek menggeleng kepala.

Ia tidak merasa benci atau sakit hati karena ucapan si dayang yang kasar tadi, sebaliknya ia menaruh simpatik padanya, sama2 manusia, mengapa ada yang hidup mewah dan berkuasa, tapi ada pula yang hidup sengsara dan harus menjadi budak? Sungguh tidak adil. 

Cepat2 Tian Pek bersihkan badannya, ia tidak mengenakan pakaian baru yang disediakan keluarga Kim, tapi masih tetap mengenakan pakaian rombeng itu. Keluar dari kamar mandi. dilihatnya keempat dayang cilik itu masih menanti di depan pintu. Maka iapun mengikuti keempat dayang itu menuju ke ruang perjamuan.

Jauh dari ruangan perjamuan itu, lapat2 ia sempat mendengar pembicaraan serta gelak tertawa kawanan jago yang hadir di ruangan itu, sebagian besar mereka sedang membicarakan dirinya-

Terdengar seorang berkata dengan suara lantang: "Sepintas lalu, anak muda itu tidak nampak sesuatu keistimewaannya, tak nyana ilmu silatnya lumayan juga, sampai2 Kun-kang-liong Liang Peng tak tahan suatu pukulannya!"

"Benar! Ilmu silatnya memang luar biasa" sambung yang lain, "dan lagi gaya silatnya beraneka ragam, entah bagaimana cara melatihnya? Padahal usianya masih sangat muda."

Terasa bangga juga Tian Pek mendengar orang sedang memuji dirinya. Tapi segera terdengar pula seorang berseru dengan suara lantang: "Kalian tak perlu mengibul dan me- muji2 kehebatannya, bukankah dia juga tidak mampu menahan sekali pukul Tiat-ih-hui-peng (rajawali sakti bersayap baja) Pa-jiya "

Sementara itu Tian Pek sudah melangkah masuk ke dalam ruang perjamuan, puluhan pasang mata orang segera teralih ke arahnya.

Semua orang terbeliak dan merasa pangling, sebab ketika datang pemuda itu berambut kusut dan muka kotor, tapi sekarang pemuda ini menjadi begitu gagah dan tampan sekali, sungguh seorang pemuda tampan yang jarang ada bandingannya. Sekalipun dia masih mengenakan mantel hitam yang rombeng, namun tidak mengurangi kegantengan dan kegagahan anak muda ini.

Pembicaraan para jago segera terputus oleh kegagahan Tian Pek yang mempesona ini, semua terbungkam dan terbelalak lebar mengawasi Tian Pek.

Kanglam-te-it-bi-jin Kim Cay-hong pun mengawasi anak muda itu dengan kesima, terpancar sinar aneh dari sorot matanya.

Dalam pada itu Siang-lin Kongcu telah berbangkit menyambut kedatangan tamunya, setelah persilakan tamunya duduk, lalu iapun memperkenalkan tamu lain yang hadir.

Meja perjamuan diatur dengan model tapal kuda, kawanan jago yang ikut hadir dalam perjamuan berjumlah belasan orang banyaknya, semuanya bersinar mata tajam dan bersikap kereng, jelas terdiri dari tokoh2 piliban.

Terdengar Siang-lin Kongcu memperkenalkan satu persatu sambil menunjuk orangnya: "Saudara ini adalah Tiat-pi-to-liong (Naga bungkuk berpunggung baja) Kongsun Coh, Kongsun-cinnpwe!"

Kakek itu berbadan bungkuk, bermata tajam dan berkening tinggi, jelas seorang jago silat kelas tinggi. Cepat Tian Pek memberi hormat.

"O, Kongsun-ciapwe, sudah lama kukagumi nama anda!" ucapnya.

"Hahaha. engkoh cilik tak perlu sungkan2!" sahut Tiat- pi-to-liong sambil bergelak tertawa, suara- nya nyaring membuat seluruh ruangan se-olah2 ber- getar keras. "Dan yang ini adalah Tiat-ih-hui-peng (rajawali sakti bersayap baja) Pa Thian-ho, Pa-cianpwe!" ketika memperkenalkan jago tua ini, Siang-lim Kong¬cu sengaja memperberat nada suaranya.

Setelah berhenti sebentar, ia menambahkan lagi: "Hahaha, tadi Tian-heng sudah berjumpa dengan Pa- locianpwe bukan? Itulah yang dinamakan tidak berkelahi tidak saling mengenal, semoga selanjutnya kalian berdua dapat bergaul lebih akrab!"

Merah padam wajah Tian Pek setelah mendengar perkataan itu, ia merasa gusar karena perkataan tersebut dirasakannya sebagai suatu penghinaan, suatu cemoohan, tapi anak muda ini berusaha untuk menahan diri, mengendalikan emosinya agar jangan sampai meledak. 

"Wahai Tian Pek! Hanya seorang tukang pukul saja engkau tak mampu mengatasinya, bagaimana mungkin kau mampu menuntut balas terhadap majikannya . . ?" demikian di dalam hati ia mengomeli dirinya sendiri.

Karena pergolakan emosinya Tian Pek sama sekali tidak memperhatikan lagi orang yang diperkenalkan Siang-lin Kongcu kepadanya, sekalipun jago2 itu semuanya jago kelas satu dan terkenal di dunia persilatan.

Untuk sesaat anak muda itu jadi lupa daratan, dia hanya berdiri termangu dengan darah bergolak dalam rongga dadanya, sopan santun dalam pesta perkenalanpun terlupakan olehnya.

Tiba2 terdengar orang mendengus di sisi sana. suaranya tidak keras, namun nadanya dingin mengejek.

Menyusul seorang lantas berseru dengan ketus: "Huh! Bukan saja tidak punya kepandaian sejati, juga tak tahu sopan santun dunia persilatan, begitu saja berani menduduki kursi utama. Hmm! Benar2 manusia tak tahu diri!"

Meja perjamuan ini berbentuk tapal kuda, Siang-lin Kongcu duduk pada kursi utama persis di tengah2 yang melengkung itu, Kim Cay-hong duduk di sebelah kursinya dan kursi kosong di sebelah kanan disediakan bagi Tian Pek, sementara tokoh2 lain duduk pada kursi samping kanan-kiri, dari sini dapat diketahui bahwa kedudukan yang disediakan bagi Tian Pek itu lebih terhormat

Biasanya kawanan jago silat yang diundang keluarga Kim selalu ditempatkan pada kedudukan yang utama oleh Siang-lin Kongcu sebagai tanda bahwa ia sangat menghormati tamunya ini.

Akan tetapi jago silat kawakan yang sudah berpengalaman biasanya menolak kalau dipersilakan duduk pada kursi utama, sebaliknya selalu mohon diberi kursi baru pada urutan yang terakhir, hal ini melambangkan dia menaruh hormat kepada rekan-rekan lainnya yang masuk lebih dulu.

Tian Pek masih muda dan sama sekali tidak paham tata adat tersebut, begitu masuk dia terus digandeng Kim- kongcu don diajak menempati kursi kehormatan utama itu, menyusul lantas diperkenalkan kepada tokoh2 lainnya dan yang terakhir membuat anak muda itu jadi kikuk ketika diperkenalkan kepada Pa Thian-ho sehingga lupa pada adat yang sepele itu.

Sebenarnya Tian Pek tidak perlu malu lantaran dikalahkan Tiat-ih-hui-peng, jago persilatan manapun takkan memandang rendah kekalahannya itu. sebab bagaimanapun juga dalam pandangan kawanan jago itu Tian Pek tak lebih hanya seorang muda yang baru muncul di dunia persilatan.

Sebaliknya Tiat-ih-hui-peng Pa Thian-ho adalah tokoh persilatan yang sudah puluhan tahun merajai dunia Kangouw, dia memiliki Kungfu yang luar biasa, terutama baju pusaka Thiat-ih-po-ih yang dipakainya bila dikembangkan bisa melayang terbang diangkasa bagaikan burung, ini merupakan senjata penyergap musuh yang sukar dilawan.

Kebanyakan orang sudah merasa kagum atas kehebatan Tian Pek ketika ia sanggup menerima pukulan Pa Thian-ho tanpa terluka ditepi sungai Yan-cu-ki, jadi sebenarnya tiada orang yang berani mentertawakan dia.

Sayang Tian Pek tak dapat berpikir sampai kesitu, dia anggap kejadian itu sangat memalukan, diam2 ia sangat mendongkol.

Ketika mendengar suara jengekan tadi, barulah Tian Pek tersadar dari rasa malu dan dongkolnya. Cepat ia berpaling, kiranya orang yang menyindir dirinya itu tak lain adalah seorang pemuda tampan berbaju hitam.

Usia pemuda tampan ini baru dua puluhan, mukanya putih bersih, alis panjang dan bibir merah, matapun jeli. Bukan saja wajahnya tampan, ilmu silatnya pasti juga lihay, ini terbukti dari posisi duduknya diantara jago2 lainnya.

Kiranya pemuda baju hitam ini adalah murid kesayangan Cing-hu-cin Kim Kiu, namanya Beng Ji-peng, sejak kecil hingga dewasa ia berdiam di-tengah2 keluarga Kim dan amat disayang Oleh Kim Kiu melebihi rasa sayangnya terhadap putera sendiri, yaitu Kim Lin. oleh karena itu segenap ilmu silatnya telah diajarkan kepadanya. Tidaklah heran kalau ilmu silatnya amat lihay kendatipun usianya masih sangat muda, terutama  dalam hal senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau, senjata rahasia mata uang yang paling diandalkan Cing-hu-lin, boleh dibilang sudah dikuasainya dengan sempurna.

Kecuali dalam hal Lwekang saja masih belum sempurna, Beng Ji-peng sudah merupakan jago muda yang disegani, untuk itu orang persilatan telah memberi julukan Giok-bin- siau-cing-hu (kecapung hijau kecil bermuka kemala) kepadanya!

Usia Giok-bin-siau-cing-hu ini hampir sebaya dengan kakak beradik Kim Lin atau Kim Cay-hoan dan Kim Cay- hong, dengan Siang-lin Kongcu ia lebih kecil dua tahun dan setahun lebih tua daripada Cay-hong.

Sejak kecil mereka hidup bersama hingga dewasa, hubungnn mereka seperti saudara sekandung.

Setelah usia mereka meningkat dan sudah mengerti urusan kehidupan manusia, diam2 Beng Ji-peng menaruh hati terhadap Kim Cay-hong dan menganggap Kim Cay- hong sebagai kekasihnya.

Kim Cay-hong juga bersikap baik padanya, se-hari2 dia biasa memanggil engkoh Peng padanya tapi Giok-bin-siau- cing-hu tidak puas sampai disitu saja, sebab ia merasa kebaikan anak dara itu hanya terbatas pada hubuugan persaudaraan belaka, ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkannya, yaitu kasih mesra orang muda.

Sebagai puteri kesayangan Cing-hu-sin, sejak kecil Kim Cay-hong sudah terbiasa dimanja, apa yang diinginkan anak dara itu tak pernah dialangi oleh siapapun, apalagi sikapnya suka bergaul dan berteman dengan siapapun, terutama terhadap kaum mudanya, semua ini seringkali menimbulkan rasa cemburu bagi Giok-bin-siau-cing-hu. Hari ini kehadiran Tian Pek ternyata sangat menarik perhatian si nona, sekalipun Kim Cay-hong tak pernah bicara dengan anak muda itu, akan tetapi sinar matanya selalu memandang tak berkedip terhadap Tian Pek, bahkan sinar matanya jauh berbeda daripada biasanya, hal ini menyebabkan Giok-bin-siau-cing-hu tambah kuatir.

Semenjak dalam perjalanan pulang dan setelah berada di rumah, Giok-bin-siau-cing-hu mengawasi terus tingkah-laku gadis itu, diam2 ia merasakan firasat yang tidak enak, sikap istimewa yang ditunjukkan Kim Cay-hong lain daripada yang lain, ia jadi kuatir kalau gadis pujaannya sampai direbut oleh anak muda yang linglung itu.

Apalagi didengarnya orang sama memuji kehebatan Tian Pek, dia lantas nyelutuk dengan rasa tak senang: "Huh, bagaimanapun dia kan tak mampu menahan pukulan Pa- jiya!?"

Dan kini, dilihatnya Tian Pek sama sekali tidak menolak sebagai lazimnya jago2 silat lain bila dipersilakan duduk di kursi utama, dia lantas manfaatkan kesempatan itu untuk ber-olok2 pula, tujuannya ingin membikin malu pemuda itu, di samping itu iapun hendak menggunakan kesempatan ini untuk menantang Tian Pek untuk berduel, ia yakin dengan sebilah pedang dan sekantong Cing-hu-kim-ci-piau pasti dapat mengusir atau membinasakan Tian Pek, menghilangkan duri didalam daging ini.

Tian Pek sendiri sejak mula sudah mendongkol dan ditahannya sebisanya, sekarang di-olok2 pula, seketika meledaklah emosinya.

Segera ia menjura kepada para hadirin, kemudian berkata: "Bukan kehendakku sendiri datang kesini, jika kedatanganku tidak diterima saudara sekalian dengan baik. maka biarlah kumohon diri sekarang juga!" Sambil berbangkit dari tempat duduknya, ia siap meninggalkan ruang perjamuan.

Cepat Siang-lin Kongcu maju menghanginya, katanya sambil tersenyum: "Ah, Tian-heng, harap jangan berpikir demikian, masa kami tak suka akan kedatanganmu? Coba lihatlah, perjamuan sudah disiapkan, bagaimanapun juga harap engkau suka minum barang tiga cawan arak lebih dulu, dengan demikian sekadar terpenuhilah kewajibanku sebagai tuan rumah."

Diam2 Tian Pek menghela napas, pikirnya: "Orang persilatan sama mengatakan bahwa Siang-lin Kongcu paling simpatik dalam memupuk persahabatan, ucapan ini memang sedikitpun tak salah, dilihat dari kehalusan budinya serta keramah tamahannya memang semua itu muncul dari lubuk hatinya yang bersih, dia tak mungkin adalah seorang licik yang suka menjebak orang."

Dalam hati berpikir demikian, diluar segera jawabnya: "Maksud baik Kim-heng kuterima didalam hati saja! Bicara sesungguhnya, aku memang masih ada urusan penting yang harus dikerjakan, biarlah lain hari saja aku akan berkunjung pula ke sini."

Selesai berkata dia lantas berbangkit dan melangkah keluar ruangan.

Bahwasanya keluarga Kim berani memakai nama "Keluarga nomor satu di Kanglam", sudah tentu caranya menjamu tamu memang lain daripada yang lain, baik hidangannya maupun araknya, semuanya kelas satu dan pilihan.

Tapi biarpun perut Tiak Pek sangat lapar, seleranya sekarang sudah lenyap dan tetap erkeras hendak pergi. Mendadak Beng Ji-peng berdiri dan menjengek: "Hm, mau pergi boleh pergi, uutuk apa berlagak disini, memangnya keluarga Kim kekurangan tamu agung semacam kau?!"

"Suheng! Apa-apaan kau ini? Koko berusaha menahan tamu, sebaliknya kau malah mengusir tamu," tegur Kim Cay-hong dengan kurang senang-

Siang-lin Kongcu pun melotot sekejap ke arah Beng Ji- peng. lalu dengan sungguh2 ia menarik tangan Tian Pek seraya berkata: "Tian-heng, harap engkau jangan gusar atau tersinggung. Suteku ini memang berangasan tabiatnya, atas kelancangan dan kekasarannya harap engkau sudi memberi maaf, Silakan duduk Tian-heng, sekalipun engkau masih ada urusan penting rasanya tak ada salahnya kalau minum secawan dua cawan arak lebih dahulu, masa cuma permintaanku yang kecilpun tidak kau kabulkan? Itu namanya Tian-heng memandang rendah Siang-lin!"

Tapi sekali Tian Pek menyatakan mau pergi, sukar lagi ditahan, meski beberapa tokoh angkatan tua ikut menahannya, namun dia tetap tidak mau.

"Hei, orang muda jangan maju mundur tak menentu, ambillah keputusan yang tegas!" seru Tiat-pi-to liong tiba2, dia terkenal setan arak, maka ia menjadi tidak sabar dan ingin lekas makan minum. "Memangnya kau kuatir arak ini beracun? Maka kau tak berani meminumnya?"

Manjur sekali perkataan ini, panas hati Tian Pek, cepat  ia menjawab: "Baik, karena ucapan Kongsun-cianpwe ini. mau-tak-mau aku Tian Pek harus minum tiga cawan dan tak akan lebih, setelah itu aku akan segera angkat kaki dan sini, akan kubuktikan Tian Pek bukan pemuda yang bernyali tikus dan takut mati!" Habis berkata dia lantas mengangkat cawan araknya dan kepada hadirin dia berseru: "Cianpwe sekalian, marilah minum secawan sebagai tanda hormatku kepada para Cianpwe!"

Sekali tenggak dia mendahului menghabiskan isi cawan tersebut.

"Eh, masa kau juga anggap aku sebagai Cianpwe?" goda Kim Cay-hong sambil tertawa cekikikan, iapun menghabiskan secawan arak.

Begitu arak masuk perut, seketika Tian Pek merasa perutnya panas seperti dibakar, se-olah2 ada cairan baja mendidih dituang ke dalam perutnya, ia pikir jangan2 di dalam arak benar2 ada racunnya.

Tapi segera terpikir pula hal ini tak mungkin terjadi, sedangkan Siang-lin Kongcu belum mengetahui asal- usulnya yang sebenarnya, tiada alasan baginya untuk mencelakainya, selain itu sebagai salah satu di antara Bu- lim-su-kongcu tidaklah mungkin ia melakukan perbuatan serendah itu dihadapan tokoh persilatan sebanyak ini.

Karena pikiran ini, nmaka ditengah seruan para hadirin yang sedang menghabiskan isi cawan masing2 segera ia angkat cawan kedua sambil berseru pula: "Aku Tian Pek terlalu muda dan kurang pengetahuan, jika tadi aku salah bicara atau salah bertindak, maka cawan yang kedua ini anggaplah sebagai penghormatanku bagi kawan2 persilatan yang seangkatan."

"Nah, beginilah seharusnya!" Kim Cay-hong  menanggapi pula sambil tertawa manis, alangkah menggiurkan kerlingan matanya yang menggetar kalbu.

Tian Pek pura2 tidak tahu, sekali tenggak dia menghabiskan pula isi cawan yang kedua itu. Giok-bin-siau-cing-hu Beng Ji-peng makin panas hatinya, sungguh ia ingin merogoh kantong senjata rahasia dan menghajar saingan cintanya itu hingga mampus.

Tian Pek tidak menyangka bahwa senyum dan kerlingan Kim Cay-hong itu telah mendatangkan kesulitan baginya. Tatkala isi cawan kedua masuk perutnya, Tian Pek makin terperanjat, ia merasa isi perut seperti dibakar, semacam hawa panas terus mengalir dari perut menuju kebagian bawah dan menimbulkan rangsangan napsu berahi . ..

Tian Pek yakin Siang-lin Kongcu tak nanti mengerjainya di depan orang banyak, maka iapun tidak memikirkan munculnya hawa panas itu, malahan dia mengira gejala itu timbul lantaran dia minum arak dalam keadaan perut kosong.

Tapi Kim Cay-hong yang teliti telah melihat gelagat yang tidak beres itu. Sebagai tuan rumah, dia tahu sampai dimana kadar alkohol yang terkandung dalam arak Li-ji- hong yang disuguhkan itu? jangankan seorang pemuda gagah seperti Tian Pek, sekalipun anak dara yang tak biasa minum arakpun dua tiga cawan takkan mendatangkan pengaruh apa2 baginya.

Tapi sekarang, kenyataan membuktikan lain, baru dua cawan arak ditenggak Tian Pek, mukanya berubah menjadi merah membara, bahkan matanya memancarkan cahaya yang aneh, tubuhnya juga sempoyongan, memangnya apa gerangan yang terjadi?

Baru saja gadis itu bersuara heran dan belum sempat menanyakan sebab musababnya, Tian Pek telah angkat cawannya dan minum habis isi cawan yang ketiga kalinya itu.

"Arak bagus, arak enak ...,.!" seru anak muda itu. Ia merasa sekujur badan semakin panas bagaikan dibakar, begitu tinggi suhu badannya hingga dia setengah tak sadar, diam2 ia merasakan gelagat tidak baik, mendadak perutnya terasa sakit keras, segera ia tahu telah dikerjai orang.

Ia tak menyangka Siang-lin Kongcu yang berkedudukan begitu terhormat di dunia persilatan ternyata sudi melakukan tindakan yang begini rendah dan kotor.

Terbayang bilamana ia terjatuh ke tangan musuh, akibatnya pasti sukar terbayangkan, dia mati tak menjadi soal, tapi keturunan keluarga Tian akan ikut musnah dan dendam kesumat kematian ayahnya pun tak bisa terbalas lagi.

Dengan marah dan kecewa dia lantas berseru: "Arak bagus ... arak keluarga Kim yang sangat bagus . . . cukup tiga cawan ....hahaha . . .tiga cawan mampu merantas usus.

. . ."

Berbicara sampai disini, ia sempoyongun lalu roboh tak sadarkan diri . ..,

o—0O0—o o—0O0—o

Entah selang berapa lama, ketika ia menemukan dirinya berbaring disebuah tempat tidur yang sangat indah. Baik seprai, selimut, maupun kelambu semuanya terbuat dari bahan yang mahal, sekalipun kalah tenangnya jika dibandingkan dengan kamar tidur Leng-hong Kongcu dari keluarga Buyung namun dalam hal kemewahan boleh dibilang jauh melebihinya.

Setelah sadar dari pingsannya, Tian Pek merasakan tenggorokannya kering dan haus sekali, perutnya tetap serasa dibakar. ia mengeluh pelahan: "Oh air. . .air . . ."

Seorang anak laki2 yang cakap dan seorang anak perempuan yang cantik berdiri di depan pembaringan, mereka tak lain adalah Beng-beng dan Lan-lan, melihat Tian Pek sudah sadar dari pingsannya, dengan wajah berseri cepat mereka lari keluar seraya berteriak: "Bibi. .

.bibi, dia sudah sadar kembali!"

Suara merdu mengiakan, seorang nona cantik lantas masuk ke ruangan itu, dia bukan lain adalah Kanglam-te-it- bi-jin Kim Cay-hong.

Hari ini dia cuma mengenakan baju sutera yang tipis dengan rambut digelung di atas kepala, ia tidak memakai perhiasan apa2, mukanya juga tidak memakai bedak, walaupun begitu sedikitpun tidak mengurangi kecantikannya.

Setiba didalam ruangan, ia menghampiri sisi pembaringan, dilihatnya Tian Pek betul sudah sadar kembali, matanya yang jeli memancarkan sinar berkilau, lesung pipitnya kelihatan nyata dan sekulum senyum menghiasi bibirnya.

Tian Pek adalah pemuda jujur dan polos, jarang ia tertarik oleh kecantikan dara ayu seperti apapun, tapi sekarang tak urung jantungnya berdebar keras.

"Tian siauhiap!" terdengar Kim Cay-hong menegur sambil tertawa, suaranya merdu bagaikan kicauan burung, "kau sudah sadar?.' Siau-hong! Cepat ambilkan air teh?"

Waktu itu Tian Pek memang merasa haus sekali, belum sempat ia mengucapkan sesuatu, agaknya Kim Cay-hong telah mengetahui apa yang diharapkan anak muda itu, maka diperintahnya orang mengambilkan air teh.

Tirai lantas tersingkap dan seorang dayang berbaju putih muncul sambil membawa secangkir air teh.

Sekilas pandang Tian Pek kenal dayang itu sebagai dayang yang mau jemput kitab Soh-kut-siau-bun-pit-kip yang terjatuh dan kemudian terdorong masuk kedalam bak mandi itu.

Tapi ia tidak berpikir lagi, segera ia menghabiskan isi cangkir itu, tapi rasanya masih haus, dengan lidahnya ia menjilat sekitar bibirnya yang kering.

Tertawa geli Kim Cay-hong menyaksikan tingkah laku anak muda itu, katanya: "Tentu kau sangat haus."

Dia berkata pula kepada dayang baju putih: "Siau-hong, ambilkan secangkir lagi!"

Bukan saja cantik wajahnya, gadis ini juga cerdik, apa yang dipikirkan orang lain sebelum diutarakan ia telah dapat menebaknya.

Tapi sebelum Siau-hong melangkah keluar, Beng-beng dan Lan-lan telah muncul dari luar dengan membawa sebuah teko porselen yang indah sambil berseru: "Ini air tehnya sudah datang. . .air

tehnya sudah datang!"

Cepat Siau-hong maju menyambut teko itu, omelnya: "Ai, jalan pelan2, kalau tekonya yang pecah tidak menjadi soal, bila kaki kalian tersiram air panas, bisa susah!"

"Enci Hong, jangan menghina orang!" sahut Beng-beng dengan penasaran, "Sekalipun tekonya kulemparkan kepadamu juga airnya takkan tumpah keluar?"

Teko itu benar2 terus dilemparkan ke depan, keruan Siau-hong menjerit kaget, jika sambitan senjata rahasia dia dapat menghindar, tapi teko ini adalah benda hadiah Sri Baginda, kalau pecah, tentu akan didamperat majikan tua.

Untung Kim Cay-hong bertindak cepat, ketika diiihatnya Siau-hong kelabakan, dengan tersenyum omelnya: "Beng- beng? Kau memang nakal sekali!" Tangannva segera diayun ke depan, teko yang sedang meluncur itu tiba2 tertolak ke atas oleh angin pukulannya, ketika teko itu meluncur kembali ke bawah, dengan sigap Siau-hong menyambar pegangan teko tadi.

Air panas dalam teko memang tak sampai berhamburan, meski demikian Siau-hong sudah dibuat terperanjat hingga berkeringat dingin.

Tian Pek berbaring di pembaringan dan dapat mengikuti semua kejadian itu dengan jelas, diam2 ia menyesal, kalau seorang gadis dan anak kecil juga memiliki ilmu silat  selihay itu, apa lagi bapaknya?

Siau-hong lantas tuang air teh ke cangkir dengan tangan masih terasa lemas dan agak gemetar. Pada saat itulah tirai tersingkap dan empat dayang cilik baju hijau melangkah masuk.

Salah seorang di antaranya segera berlutut di depan Kim Cay-hong sambil berkata: "Lapor Sio-cia, Kongcu telah tiba!"

"Cepat amat beritanya!" omel si nona.

Baru selesai perkataannya, Siang-lin tCongcu telah melangkah masuk diiringi Tiat-pi-to-hong serta Tiat-ih-hui- peng.

"Tian-heng, engkau telah sadar?" sapa Siang¬lin Kongcu sambil mendekati pembaringan, sikapnya sangat simpatik.

Tapi Tian Pek tidak menggubris, malahan ia melengos ke arah lain.

Siang-lin Kongcu tidak memusingkan sikap angkuh Tian Pek itu, malahan dengan suara yang hangat ia berkata lagi: "Ketahuilah Tian-heng, engkau telah salah merendam dirimu dengan air dingin Han-Cwan-sui, hawa yang dingin menyumbat jalan darahmu, kemudian engkau minum tiga cawan arak, peredaran darahmu makin bergolak hingga akhirnya jatuh pingsan, tapi kejadian ini tidak terlalu menguatirkan, sekalipun badanmu untuk sementara menjadi lemas, untung saja kami punya obat penawar yang mujarab, tak sampai tiga hari engkau akan pulih kembali seperti sediakala "

Siang-lin Kongcu hendak melanjutkan lagi, tapi dengan nada dingin Tian Pek menyela: "Hm, masa begitu kebetulan!"

"

Dingin sekali ucapan anak muda itu, nadanya amat tajam dan menusuk perasaan, melengak juga

Siang-lin Kongcu yang terkenal ramah tamah dan sabar. Tapi segera ia tahu pikiran orang, katanya pula dengan tertawa: "Bisa kumaklumi kalau Tian-heng bercuriga, apalagi setelah Tiat-pi-to-liong bergurau, tentulah Tian-heng menganggap kami benar2 telah mencampuri arak itu dengan racun, jangankan Tian-heng, bahkan aku sendiripun bingung oleh kejadian ini, kemudian barulah kudengar laporan Siau-hong yang mengatakan Tian-heng tidak biasa dimandikan orang dan buka sendiri kran air di dalam kamar mandi itu, maka aku lantas menduga Tian-heng telah salah membuka kran, air hangat yang seharusnya dipakai telah salah memakai air dingin."

Selesai berkata, Siang-lin Kongcu tertawa ter-bahak2, berulang kali dia minta maaf pula.

Tiat-pi-to-liong ikut ter-bahak2, katanya: "Ha-haha, dengan peristiwa ini, kamipun dapat menyaksikan sampai dimana keberanian engkoh cilik, sungguh perbuatan yang mengagumkan." Kakek bungkuk ini termasuk jago persilatan terkemuka, gelak tertawanya yang nyaring menggetar seluruh ruangan, berulang kali dia acungkan jempolnya memuji kejantanan Tian Pek.

Tiat-ih-hui-peng juga ikut berkata: "Kukira lebih baik jangan kau pikir yang bukan2, ketahuilah Siang-lin Kongcu adalah ksatria muda yang berjiwa luhur. simpatiknya maupun keramah-tamahannya sudah tersohor di seantero jagat, sekalipun dia sakit hati padamu juga tak nanti meracuni kau, maka semua ini hanya terjadi secara kebetulan saja, bagaimanapun juga engkau harus mempercayainya!"

Perlu diketahui, Tiat-pi-to-liong serta Tiat-ih-hui-peng sama2 disebut Kim-hu-siang-tiat-wi (dua pengawal baja dari istana keluarga Kim), kedudukan mereka dalam keluarga Kim sangat tinggi, nama besar mereka di dunia persilatanpun sangat terhormat, dengan derajat mereka itu tentu saja mereka takkan bicara bohong.

Sekalipun demikian Tian Pek yang keras kepala tetap tidak percaya.

"Memang aku Tian Pek tak biasa dilayani orang," demikian katanya, "tapi air dalam bak mandi itu bukan aku sendiri yang mengisinya, tentu saja aku mempercayai apa yang diucapkan Cianpwe berdua, selain itu akupun percaya bahwa Kim-kongcu adalah seorang laki2 sejati yang tak suka mencelakai orang dengan cara yang licik, setelah aku pikirkan kembali, kurasa kejadian ini mungkin hanya kebetulan saja, bisa jadi aku masuk angin dan tiba2 pingsan, atau mungkin aku tak kuat minum arak sehingga baru tiga cawan sudah mabuk?"

Perkataan Tian Pek itu tidak menuduh siapaa, tapi setiap orang dapat menangkap maksud ucapannya itu. Siang-lin Kongcu termasuk tokoh persilatan yang berkedudukan tinggi, sudah tentu ia tak tahan mendengar sindiran Tian Pek yang tajam itu. Jangankan Siang-lin Kongcu, Kim Cay-hong juga melengak setelah mendengar perkataan itu, lebih2 kedua kakek "pengawal baja" itu, mereka menjadi gusar dan segera hendak bertindak.

Tapi Siang-lin Kongcu tetap tenang2 saja, dia tidak marah oleh sindiran Tian Pek. ia lantas berpaling dan berkata kepada Siau-hong, si dayang berbaju putih, katanya dengan dingin: '"Membohongi majikan, melayani tamu dengan angkuh, tahukah berapa besar kesalahan yang kau lakukan? Hm, perbuatan semacam itu tak dapat diampuni, apakah perlu kukatakan pula?"

Berubah hebat air muka Siau-hong demi mendengar perkataan itu, dia tertegun sejenak lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia mengundurkan diri dan ruangan itu.

"Blang!" dari luar segera terdengar suara benturan keras, lalu suara benda berat terjatuh, kemudian suasanapun hening kembali.

Dari suara tersebut Tian Pek dapat menduga apa yang telah terjadi, betapa terperanjatnya anak muda itu, ia berpikir. "Masa beberapa patah kata Siang-lin Kongcu tadi sudah cukup membuat dayang itu membuuuh diri? Ah, tak kusangka begini keras peraturan rumah tangga keluarga Kim ..."

Bagi pandangan Tian Pek, peristiwa itu dianggapnya sebagai suatu kejadian yang amat menggetarkan hati, tapi bagi anggota keluarga Kim kejadian itu sama sekali bukan apa2, se-akan2 tak pernah terjadi sesuatu, malahan air muka beberapa orang itu tetap tenang. Sesaat kemudian, Siang-lin Kongcu berdiri dan berkata: "Beristirahatlah baik2, tiga hari lagi kutanggung Tian-heng akan sehat kembali seperti sediakala!"

Habis bicara tanpa berpaling lagi ia berlalu dari situ dengan membawa Kim-hu-siang-tiat-wi serta keempat dayang cilik itu.

Sementara itu Beng-beng dan Lan-lan entah sudah kemana perginya, mungkin bermain di luar-

Dengan begitu, dalam ruangan hanya tinggal Kim Cay- hong dan Tian Pek berdua saja.

Memandangi anak muda itu, dengan rawan Cay-hong berkata "Kutahu tindakan kakakku ini akan dianggap suatu penghormatan besar bagi orang lain, tapi bagi dirimu mungkin kebalikannya, tentunya kau merasa tidak senang dengan peristiwa itu?"

"Aku tak tahu apa yang kau masudkan, coba terangkan?" sahut anak muda itu.

Ia sudah telanjur dendam pada keluarga Kim, setelah menyaksikan peristiwa tadi, ia tambah benci dan muak, sekalipun menghadapi Kanglam-te-it-bi-jin atau perempuan tercantik di Kanglam, sikapnya tetap ketus.

Kim Cay-hong tidak menghiraukan keketusan anak muda itu, dengan suara halus ia berkata: "Engkau harus mengerti, Siau-hong bukanlah seorang dayang biasa, dia adalah pembantu rumah tangga kami yang mempunyai kedudukan tinggi, tapi sekarang hanya disebabkan dia salah melayani tamunya, kakak telah menghadiahkan kematian baginya, andaikata kejadian ini berlangsung dihadapan jago persilatan yang lain, maka mereka pasti akan merasa terharu dan amat berterima kasih, mereka pasti akan berbakti mati2an kepada keluarga kami. Sedang kau, kau sama sekali berbeda. "

Kim Cay-hong hendak melanjutkan kata2nya, tapi Tian Pek lantas tertawa dingin dan memotong: "Aku tidak sekejam itu, memancing rasa terima kasih orang dengan korbankan jiwa orang lain. Jika menginginkan aku berbakti kepadanya dengan mengorbankan nyawa orang, hal ini malah menimbulkan rasa benciku."

"Itulah sebabnya kenapa kukatakan kau berbeda dengan orang lain!" seru Kim Cay-hong. "Cuma didalam peristiwa ini engkohku tiada maksud membeli simpatimu, dia bertindak demikian berdasarkan kebijaksanaan dan keadilan."

"Hmm!" Tian Pek mendengus.

Kim Cay-hong adalah gadis yang cerdik, berhadapan dengan dia, tanpa bicarapun dia dapat membaca isi hati orang, dan cukup dengan pandangannya orangpun akan tahu apa yang dia harap agar dikerjakan.

Karenanya dengusan Tian Pek telah mengejutkan dia, ditatapnya anak muda itu dengan tercengang, kemudian ujarnya lagi: "Setelah kau pingsan sehabis minum arak hari itu, Siau-hong membohongi kakak bahwa kau sendiri yang mengisi Te-sim-han-cwan-sui di bak mandi itu, sekaiipun dia tinggi kedudukannya dalam keluarga kami. Dengan perbuatannya membohongi majikan menunjukkan dia tidak setia kepada majikan, dosa semacam itu tak dapat diampuni. Selain itu dengan bersungguh hati engkohku ingin mengikat tali persahabatan dengan kau, tapi Siau- hong mencelakakan tamunya, perbuatan seperti ini sama artinya tidak menghormati tamu majikannya. Oleh sebab itulah, setelah ditegur oleh engkohku, dia jadi malu, untuk menebus kesalahannya hanya ada satu jalan saja yang bisa ditempuh, yakni bunuh diri dengan perbuatannya itu bukan saja ia telah menebus dosa bahkan telah menunjukkan pula keberanian yang bertanggung jawab, tindakannya ini mengagumkan dan bukan kesalahan kakakku, karenanya aku jadi heran melihat engkau begitu benci kepada engkohku, aku lantas berpikir bila tiada alasan lain, tak mungkin engkau bersikap demikian, benar tidak ucapanku ini?"

Memang lihay Kim Cay-hong menganalisa persoalan itu, diam2 Tian Pek merasa kagum sekali pada kecerdasannya. Anak muda ini tidak berani bicara lebih jauh dengan gadis itu, dia kuatir jika pembicaraan dilanjutkan maka sebelum dia mengetahui latar belakang musuhnya, rahasia sendiri mungkin akan terbongkar lebih dahulu, kalau sampai terjadi begitu, niscaya rencananya untuk membalas dendam akan berantakan.

Maka setelah termenung sebentar, ia pun alihkan pokok pembicaraan ke soal lain: "Kalau memang air dingin Te- sim-han-cwan-cui itu beracun, kenapa kalian pasang di kamar mandi, jangan-jangan . . ."

Sebelum anak muda itu menyelesaikan kata2nya, Kim Cay-hong lantas menyela dengan tertawa: "Ah, kau ini ada2 saja! Bila kami mau mencelakai orang, apakah perlu kami pancing orang itu masuk ke kamar mandi? Ketahuilah, air itu khusus disediakan bagi ayahku untuk berlatih ilmu."

"Ayahmu?" seru Tian Pek dengan mata terbelalak, "masa ayahmu berada di rumah? Kenapa selama ini tak pernah kulihat ayahmu?"

"Ayahku tentu saja tinggal di rumah, cuma beliau kurang leluasa bergerak. maka jarang menemui tamu!" sahut Kim Cay-hong dengan heran.

"Lalu dia berdiam di mana?" tanya Tian Pek pula. Kim Cay-hong tidak lantas menjawab, ditatapnya anak muda itu dengan heran, sahutnva kemudian: "O, Tian- siauhiap kenal dengan ayahku?"

Tian Pek tertawa pedih, ucapnya: "Nama besar Cing-hu- sin Kim Kiu sudah termashur di seluruh jagat, siapakah yang tak kenal nama kebesarannya?"

"O, jadi kau cuma mendengar nama tapi tak pernah berjumpa?"

Tian Pek mengangguk tanda membenarkan.

"Memang benar!" ucap Kim Cay-hong pula, "sudah puluhan tahun ayahku tak pernah melakukan perjalanan keluar, usiamu masih muda, tak mungkin pernah bertemu dengan ayahku!"

"Kenapa begitu?''

Kim Cay-hong tidak menjawab, terpancar sinar matanya yang ragu dan heran, katanya kemudian: "Tian-siauhiap, tampaknya engkau menaruh perhatian khusus terhadap ayahku?"

Merah muka Tiau Pek, ia tahu pertanyaan sendiri terlalu menonjol dan telah menimbulkan curiga orang.

Cepat ia menggelengkan kepala dan menyahut: "Ah, aku cuma bertanya lantaran ingin tahu saja, coba bayangkan! Ayahmu kan seorang tokoh yang ternama dan berkedudukkan tinggi di dunia persilatan, kenapa puluhan tahun berdiam di rumah dan tak pernah berkecimpung di dalam dunia persilatan?"

Rasa curiga Kim Cay-hong lantas lenyap, terlihat rasa sedih menghiasi wajahnya yang cantik, ucapnya dengan muram: "Belasan tahun yang lalu ayahku mengidap suatu penyakit aneh, setelah sembuh dari sakitnya maka kedua kakinya menjadi lumpuh dan tak bisa bergerak lagi. Oleh karena itu beliau jarang keluar rumah, selama ini dia hanya beristirahat di ruang Gi-cing-wan di belakang gedung sana!"

Sekarang Tian Pek baru tahu sebab musababnya mengapa tokoh lihay itu tidak kelihatan. Diam2 ia sudah punya pendirian, maka ia tidak bertanya lagi, Sejak itulah Tian Pek merawat lukanya di gedung keluarga Kim, setiap hari Kim Cay-hong berkunjung ke situ. Sementara Siang-lin Kongcu sendiri karena sibuk dengan tamunya, ia jarang menyambangi Tian Pek.

Dengan cepat 3 hari telah lalu, senja hari ketiga, sakit Tian Pek sudah sembuh, sebenarnya dia ingin pamit dan pergi, kebetulan Siang-lin Kongcu tak berada di rumah, Kim Cay-hong berusaha menahannya. tapi anak muda itu bersikeras akan pergi juga.

Dari sikap Kim Cay-hong yang berat melepaskan pemuda itu, dapatlah diketahui bahwa selama dua hari berkumpul, diam2 gadis yang mendapat julukan "Perempuan paling cantik di seluruh wilayah Kanglam" ini telah jatuh cinta kepada Tian Pek-

Sebaliknya anak muda itu sendiri sama sekali tidak menaruh perhatian apapun terhadap gadis

cantik yang menjadi pujaan kebanyakan orang itu,

sikap Kim Cay-hong yang lembut dan perkataannya yang hangat sama sekali tidak menggerakkan perasaan Tian Pek, malahan memandangpun enggan.

Manusia memang makhluk yang aneh, semakin sukar mendapatkan sesuatu, semakin besar pula hasratnya untuk mendapatkannya. Semakin tawar sikap anak muda itu, semakin bergairah anak dara itu mendekatinya, rasa cintapun makin menebal. "Engkau kan baru sembuh, kenapa ter-buru2 pergi dari sini?" tanya Kim Cay-hong sambil menatap wajah anak muda itu dengan pandangan lembut, "masa kau tak sudi tinggal beberapa hari lagi di rumahku?"

"Tidak mungkin!" jawab Tian Pek dengan tegas, "sekarang juga aku harus pergi, aku masih ada urusan penting lainnya yang harus segera diselesaikan!"

"Mungkin rumahku tidak baik atau pelayanan kurang memuaskan hatimu. .." tanya si nona dengan sedih.

"Aku tak pernah berkata begitu!" tukas Tian Pek cepat, "aku cuma tidak bisa tinggal lebih lama lagi di sini."

"Masa menginap semalam lagi kau pun tak mau. ?"

pinta Kim Cay-hong dengan air mata meleleh.

Melihat wajahnya yang sedih dan air mata yang berlinang sehingga mirip butiran embun di atas kelopak bunga, mau-tak-mau hati Tian Pek terguncang.

"Ai, hal ini , . .. .tak mungkin.. ." katanya dengan menyesal.

Tian Pek bukan pemuda yang bodoh, bukan pula pemuda yang tak berperasaan, iapun dapat meresapi kasih mesra yang diperlihatkan Kim Cay-hong kepadanya, tapi dendam yang terpendam dalam hatinya membuatnya tak dapat menerima cinta kasih si nona.

Maka dengan perasaan yang kusut ia panggul Pedang Hijau dan melangkah pergi tanpa berpaling lagi.

Anak muda itu menyadari akan posisinya saat ini, ia sadar bila tidak cepat2 pergi, bisa jadi dia tak tega lagi tinggalkan gedung keluarga Kim. Ia tahu bila dirinya tidak mampu menguasai perasaannya dan jatuh cinta pada puteri musuh maka itu berarti untuk selamanya dia akan terikat dan tak dapat lagi menuntut balas.

Baru dua langkah Tian Pek berjalan, tiba2 Kim Cay- hong menarik tangan pemuda itu sambil ber-seru dengan sedih: "Tunggulah sebentar lagi, dengarkan dulu sepatah kataku kepadamu !"

Belum sempat Tian Pek menjawab, mendadak terdengar bunyi ujung baju berkibar tersampuk angin, menyusul sesosok bayangan orang lantas menerobos masuk lewat jendela.

Orang ini tak lain adalah murid kesayangan Cing-hu-sin. saudara seperguruan kedua Kim bersaudura yaitu Giok-bin- siau-cing-hu Beng Ji-peng adanya!

Waktu itu Beng Ji-peng mengenakan pakaian ringkas warna hitam pekat, mukanya yang tampan tampak pucat, dengan mata melotot ia membentak: "Sumoay, biarlan dia pergi dari sini!"

"Hm, siapa yang suruh kau campur urusanku? " sahut Kim Cay-hong dengan tak senang. "Lebih baik cepat kau enyah dari sini, tak perlu kau mencampuri urusanku."

Beng Ji-peng melengak, tak diduganya Sumoay yang sejak kecil dibesarkan bersama ini dapat bicara padanya sekasar ini.

Sikap Kim Cay-hong yang kasar ini semakin mengobarkan rasa gusarnya, teriaknya dengan mendongkol: "Saat ini Suko tidak di rumah. kalau bukan aku lantas siapa yang akan mengurusi kau? Akan membiarkan kau bikin malu keluarga Kim. ?"

"Plok!" tempelengan telak bersarang di muka pemuda itu, dengan muka pucat karena menahan marahnya. Kim Cay-hong berteriak: "Perbuatan apa yang memalukan? Koko sendiripun tak berani memaki begitu padaku."

Beng Ji-peng tak menyangka Kim Cay-hong akan menamparnya, untuk sesaat ia berdiri tertegun, pipinya yang putih segera tertera lima jalur jari tangan yang barwarna merah.

Dengan muka pucat hijau ditatapnya beberapa kejap si nona, kemudian kepada Tian Pek ia berkata: "Anak busuk! Kulau malam ini kau tidak tinggalkan gedung keluarga Kim, tuan muda akan suruh kau mampus tanpa terkubur."

Habis berkata ia lantas melayang keluar ruangan itu. Tian Pek tertawa dingin. "Hehe, karena kau menantang,

maka malam ini aku sengaja akan menginap lagi di sini, ingin kulihat apa yang bisa kau lakukan!"

Sayang Beng Ji-peng sudah pergi, ucapan tersebut tak terdengar oleh yang bersangkutan.

Kim Cay-hong yang berada di sisinya segera berseru: "Tian-siauhiap jangan kuatir, selama aku berada di sini, tak nanti dia berani ganggu seujung rambutmu!"

"Aku tak ingin membonceng kekuasaan nona, aku percaya masih sanggup menghadapi dia."

Kim Cay-hong mengawasi anak muda itu sejenak, akhirnya dia menghela napas panjang dan menggeleng kepala, katanya kemudian: "Bukannya kupuji diri sendiri, setiap orang yang bertemu dengan aku, tak seorangpun yang tidak memuji kecantikanku, mereka berusaha menyanjung, menjilat agar aku tertarik dan ingin mempersunting diriku, tapi tak pernah kugubris mereka, aku tak pernah tertarik kepada mereka. Tapi sejak kujumpai Tian siauhiap, entah mengapa aku. .,.." Berbicara sampai disini tiba2 mukanya berubah jadi merah dan bungkam. Sekalipun dia adalah seorang gadis persilatan yang lebih suka berbuat bebas dan berbicara terbuka, tapi bagaimanapun dia tetap seorang nona, dengan sendirinya ia malu meneruskan ucapannya,

Tian Pek mengakui kecantikan si nona memang tidak ada bandingannya, apalagi si nona sendiri jatuh cinta padanya, sayang gadis ini adalah puteri musuh besarnya, tak mungkin baginya untuk menerima cintanya, hal ini mungkin sudah suratan nasib.

Karena itu, untuk beberapa saat lamanya Tian Pek hanya berdiri termangu tanpa mengucapkan sepatah katapun.

Selagi mereka sama2 berdiri termangu dan membungkam, tiba2 terdengar gelak tertawa yang nyaring berkumandang di luar jendela, suara tertawa itu keras sekali hingga menggetar dinding ruangan.

Menyusul terdengar seorang berseru: "Keponakan yang baik, kudengar engkau telah membikin malu keluarga Kim, apakah lantaran bocah keparat itu."

Air muka Kim Cay-hong dan Tian Pek berubah seketika, serentak mereka melompat keluar.

Dengan muka pucat karena marah, Kim Cay-hong langsung memaki dengan suara melengking; "Beng Ji-peng, apa maksudmu menfitnah orang dengan kata2 yang kotor? Hm, mulai hari ini kita putus hubungan, aku Kim Cay-hong tidak mengakui kau sebagai Suheng lagi!"

Tian Pek sendiripun tak kalah mendongkolnya, sambil tertawa iapun menyindir: "Hahaha, kukira kau masih ada ilmu simpanan, hingga berani omong besar seberti tadi. Huh, tak tahunya kau pergi mencari bala bantuan dan mengharapkan orang lain yang turun tangan bagimu." Hati Beng Ji-peng sudah panas ketika dimaki Kim Cay- hong, apalagi sekarang disindir lagi oleh

Tian Pek, keruan tak terbendung lagi gusarnya, segera ia berteriak: "Anak busuk she-Tian, bukan maksudku mencari bantuan, kuundang kehadiran kedua Ciandwe ini untuk bertindak sebagai saksi, jangan kau anggap istana keluarga Kim adalah tempat yang boleh kau main gila sesukamu, cukup seorang tuan Beng saja dapat mencabut jiwa anjingmu."

Mengapa Giok-bin-siau-cing-hu begitu benci terhadap Tian Pek? Tidak sukar menjawab pertanyaan ini. Tentu saja karena camhuru yang mengakibatkan terjadinya peristiwa ini, Sejak kehadiran Tian Pek di gedung keluarga Kim, terutama dua hari beruntun setelah pemuda itu sakit, boleh dibilang Kim Cay-hong senantiasa menjaga anak muda itu disisi pembaringannya, ia menyuapkan obat, memberi minum, sikapnya begitu mesra dan penuh perhatian, semua ini membikin panas hati Beng Ji-peng.

Sudah ber-tahun2 pemuda she Beng ini mencintai adik seperguruannya, tapi selama ini belum pernah ia cicipi adegan mesra semacam itu sekali¬pun ia sakit. Bisa dibayangkan betapa cemburu dan gusar anak muda itu, kalau bisa dia ingin menghajar Tian Pek sampai mampus sehingga saingan ini tersingkir.

Beng Ji-peng berusaha menasihati Sumoaynya agar menjauhi anak muda itu, tapi Kim Cay-hong tak mau menurut perkataannya. kemudian ia menyaksikan pula Tian Pek hendak pergi, tapi gadis itu merasa berat untuk melepaskannya, malahan menarik tangannya.

Adegan itu kontan membuat darahnya tersirap ia tak mampu menguasai dirinya lagi dan segera tampil kemuka. Siapa tahu Kim Cay-hong bukannya menuruti perkataannya, malahan membantu Tian Pek dan menyerangnya dengan kata2 pedas, dengan dongkol dia menuju ke ruang depan dan mengundang Tiat-pi-to-liong serta Tiat-ih-hui-peng, kedua kakek "pengawal baja" istana keluaga Kim.

Cemooh dan hinaan Tian Pek seketika memuncakkan hawa amarahnya, apalagi setelah Kim Cay-hong memutuskan hubungan persaudaraan, ia tambah kalap.

Tanpa bicara lagi dia berpekik nyaring. ia mencabut pedangnya, dengan jurus Sin-liong-jut-sui (naga sakti muncul dari air), pedangnya langsung menyambar dan menusuk perut Tian Pek.

Dengan tenang Tian Pek berkelit, berbareng iapun hendak melolos pedang hijaunya.

Tentu saja Beng Ji-peng tidak memberi peluang bagi musuhnya untuk melolos senjata. beruntun ia melancarkan tiga kali serangan berantai dengan jurus Wu-in-pit-gwat (awan hitam menutupi rembulan), Siau-ki-lam-thian (sambil tersenyum menunjuk langit selatan) serta Hian-niau-hua-sah (burung hitam mencakar pasir), semua mengarah Hiat-to penting di tubuh musuh.

Karena serangan berantai musuh, Tian Pek kehilangan kesempatan, terpaksa dia harus berkelit, melompat dan menyingkir untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut.

Meskipun cukup gesit dia mengelak, namun akhirnya toh tetap terlambat satu tindak, bajunya terpapas sebagian, hampir saja paha kanannya ikut tertabas oleh sambaran pedang Beng Ji-peng itu.

Terperanjat Tian Pek, dalam pada itu iapun sempat melolos pedang pusakanya. Kim Cay-hong terperanjat melihat Tian Pek hampir terluka, tapi setelah menyaksikan Tian Pek lolos dari ancaman dengan selamat, hatinya merasa lega, dengan penasaran ia berteriak terhadap Beng Ji peng: "Huh! Begitukah caramu menghadapi lawan? Apa kau sengaja hendak bikin malu keluarga Kim?"

"Perbuatan apa yang pernah kubikin malu keluarga Kim?" teriak Beng Ji-peng. "kau sendiri yang bikin malu keluarga Kim, perbuatanmu yang pantas dikatakan perbuatan memalukan.'"

Merah padam wajah Kim Cay-hong karena marah, sekujur badan gemetar, dengan benci ia berteriak: "Kau tak perlu mencampuri urusan pribadiku, caramu bertempur tanpa menunggu lawan melolos senjata, tahu2 kau menyerang lebih dulu, begitukah kepandaian yang berhasil kau yakinkan selama ini? Hm, nama baik ayah pun ikut ternoda oleh perbuatan rendahmu itu!"

"Tutup mulut!" bentak Beng Ji-peng dengan kalap, "kalau dia mampus, itu salah dia sendiri yang tak becus, kalau dia tak mampu mencabut pedangnya sendiri, memangnya perlu orang lain yang memberikan pedang kepadanya?"

Cekcok mulut antara kakak beradik seperguruan berlangsung makin tajam, siapapun tak mau mengalah.

Tian Pek sendiri tetap bersikap tenang, "sret" begitu Pedang Hijau terlolos, terpancarlah cahaya kemilauan di ambang senja.

Sementara itu malam telah tiba, lampu telah dipasang dan baberapa orang pelayan laki2 maupun perempuan membawa pula beberapa buah lampu lentera mengitari gelanggang, ini membuat suasana tempat itu jadi terang benderang bagaikan di siang hari. Air muka para pelayan yang mengitari gelanggang itu tiada yang menunjuk rasa kaget atau kuatir, malahan rata2 menunjuk rasa gembira karena sebentar lagi akan berlangsung suatu pertarungan seru, ini suatu tanda bahwa kaum hamba keluarga Kim juga sudah terbiasa dengan pertarungan orang Kangouw ini.

Pelahan Tian Pek menggetar pedang mestikanya hingga memancarkan cahaya hijau, kemudian sambil melangkah ke tengah gelanggang, serunya dengan lantang: "Nona Kim, silakan menyingkir kesamping, berilah kesempatan bagi Tian Pek untuk menghadapi orang kosen pada malam ini!"

"Hahaha, bagus, bagus sekali!" teriak Tiat-pi-to-liong. "Hayo maju!"

Begitulah watak aneh sepasang "pengawal baja" itu, bukannya melerai, mereka malahan menganjurkan berlangsungnya pertarungan.

Sebelum Kim Cay-hong sempat buka suara, Beng Ji-peng mengejek pula dengan nyaring: "Hei, cecunguk cilik, sekarang kau telah memegang pedang, jika mampus tentu kau tak dapat bilang apa2 lagi bukan? Nah, anak busuk, serahkan jiwamu!"

Berbareng dengan perkataan tersebut, Beng Ji-peng segera meloncat ke udara, pedangnya berputar menciptakan selapis cahaya terus merabas kepala Tian Pek.

Tian Pek tidak berani gegabah, dari gerak tubuh musuh yang enteng, gesit dan lincah serta jurus pedangnya yang ganas, ia tahu Kungfu lawan cukup tangguh,

Belum tiba serangan itu, hawa pedang yang tajam dan dingin serasa menyayat tubuhnya, cepat ia pusatkan perhatiannya, dengan jurus Koan-te-hoan-thian (menggulung bumi membalik langit) pedangnya menangkis ke atas.

Pedang Hijau Bu-cing-pek-kiam memang pedang mestika yang amat tajam, mengikuti gerakan itu terciptalah selapis cahaya hijau yang menyilaukan mata dalam sekejap cahaya pedang yang terpancar oleh serangan Beng Ji-peng tadi tergulung lenyap.

Beng Ji-peng sendiri tentu saja dapat merasakan pedang lawan adalah senjata mestika, namun ia tidak berusaha menghindar, sebab ia hendak manfaatkan tenaga tekanan dari udara untuk memperbesar daya serangannya atas lawan ia himpun tenaga pada pergelangan tangan, dengan sekuat tenaga ia menabas ke bawah.

"Cring!" benturan nyaring terdengar, kedua senjata saling bentur dan menimbulkan percikan bunga api, terciptalah pemandangan menakjubkan di udara-

Kedua orang sama2 merasakan lengan kaku kesemutan, nyata tenaga kedua orang sama kuat.

Sudah tentu posisi Beng Ji-peng lebih menguntungkan, sebab dia menekan ke bawah, namun dia harus melayang turun beberapa kaki di sebelah sana, sedang Tian Pek tetap berdiri tegak di tempatnya, cepat kedua orang memeriksa senjata masing-masing.

Pedang hijau Bu-cing-pek-kiam tetap mulus tiada cacat apapun, sebaliknya pedang hitam Beng Ji-peng pun tetap bercahaya tajam, ternyata senjata itupun tidak mengalami kerusakan apa2.

Meskipun pedang hitam yang digunakan Beng Ji-peng bentuknya jelek dan tiada keistimewaan, namun senjata itu sebenarnya terbuat dari inti baja yang berusia laksaan tahun dari dasar laut, tajamnya luar biasa dan keras pula. Sebab itulah meski Beng Ji-peng sutelah melihat pedang yang dipakai Tian Pek memancarkan sinar tajam dan pasti pedang mestika, namun ia tidak gentar, bahkan memperkuat tenaga tabasannya, ia justeru ingin mengutungi pedang Tian Pek lebih dahulu.

Siapa tahu pedang mestika lawan bukan saja tidak cedera malahan mampu menandingi kekerasan senjatanya, hal ini sungguh di luar dugaan Beng Ji-peng.

Tian Pek sendiripun terperanjat, dia tak mengira pedang baja yang jelek bentuknya milik lawan ternyata sanggup menandingi ketajaman pedang mestikanya.

Tapi justeru dengan terjadinya peristiwa ini, maka kedua pihakpun mempunyai perhitungan sendiri tentang kekuatan musuh, merekapun tahu kemenangan tak mungkin dapat diraih dengan mengandalkan ketajaman pedang mestikanya.

Pertarungan lantas dilanjutkan dengan mengandalkan ilmu silat sejati yang dimiliki masing2.

Tampaklah pedang hijau Tian Pek berputar di udara menerbitkan sinar bagai bianglala membelah udara, sebaliknya pedang hitam Beng Ji-peng menyambar kian kemari bagaikan naga hitam mengaduk samudera, cahaya hijau dan hitam saling bergumul, membuat suasana gelanggang berubah seram, hawa pedang yang tebal menyelimuti sekujur badan kedua orang muda itu.

Pertarungan berlangsung kian cepat, dalam waktu singkat empat puluhan gebrakan sudah lewat.

Tiat-pi-to-liong mengikuti pertarungan itu sambil mengelus cambangnya, kadang2 dia berteriak memuji, memberi penilaian terhadap jurus serangan mereka. Sementara Tiat-ih-hui-peng menonton dengan serius, ia mengawasi jalannya pertarungan dengan sorot mata tajam, tapi mulutnya tetap bungkam tanpa memberi komentar.

Gadis paling cantik di seluruh wilayah Kanglam diam2 menguatirkan keselamatan pujaan hatinya, dia tahu ilmu silat Suhengnya telah hampir mewarisi seluruh kemahiran ayahnya, selama ini jarang ada yang mampu menandingi dia.

Kawanan pelayan baik laki2 ataupun perempuan yang mengerumuni seputar gelanggang, sama menonton dengan mata terbelalak, memang seringkali mereka menyaksikan pertarungan seru, akan tetapi belum pernah melihat pertarungan tegang dan sengit begini.

Sementara itu pertarungan sudah meningkat tegang dan menentukan mati dan hidup.

Beng Ji-peng lebih mahir melancarkan serangan, gerak- geriknya juga lebih lincah, serangannya lebih ganas, selalu mengincar bagian2 mematikan di tubuh Tian Pek, saking gemasnya, sekali tusuk dia ingin menembusi dada lawan cintanya ini.

Sebaliknya Tian Pek lebih sempurna dalam hal tenaga dalam, dia lebih mengutamakan ketenangan dan kemantapan, jurus2 serangannya terang dan kuat, anggun dan wibawa se-olah2 seorang tokoh suatu aliran besar.

Setelah pertarungan berlangsung sekian saat, Beng Ji- peng mulai heran, dengan jelas ia lihat betapa sederhana ilmu pedang yang dipakai Tian Pek, hanya ilmu pedang Sam-cay-kiam-hoat yang sangat umum dan dipelajari banyak orang, biarpun lawan menyelingi pula beberapa jurus serangan yang aneh, itupun tidak membuat ilmu pedangnya jadi lebih tangguh. Kendatipun demikian, namun serangan Ji-peng yang cepat dan dahsyat tak pernah berhasil menambus pertahanan lawan, bahkan setiap kali serangan mematikan yang tampaknya tak mungkin bisa dihindarkan musuh, tanpa gugup sedikitpun tahu2 Tian Pek dapat mematahkannya dengan jurus yang amat sederhana.

Tentu saja hal ini amat mengejutkan dia. Sudah tentu Beng Ji-peng tak menduga kalau Tian Pek telah mempelajari isi kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip yang hebat itu, apalagi semua urat nadi penting di tubuh lawan ini telah tertembus semua sehingga Lwekangnya kuat luar biasa.

Walaupun dalam hal tenaga dalam lebih tangguh daripada Ji-peng, akan tetapi Tian Pek kalah bagus jurus pedangnya, kecuali serangkaian iliran pedang Sam-cay- kiam-hoat yang sederhana, boleh dibilang dia tak memiliki kepandaian yang lain.

Untung sudah lama ilmu pedang ini dilatihnya dengan tekun, walaupun jurus serangannya sederhana dalam permainannya telah berubah menjadi cukup lihay.

Tian Pek dapat memahami bahwa untuk menang seseorang harus memiliki jurus serangan yang aneh dan diluar dugaaan musuh, bila lawan sudah mengetahui akan jurus serangannya, percumalah dia melepaskan serangan itu, sebab akhirnya tak mampu melukai musuh,

Karena itulah, setiap kali mendapat kesempatan yang baik ia lantas mencoba untuk menyerang dengan jurus Tui- hong-kiam-hoat yang berhasil di sadapnya dulu, sayang permainanya belum matang hingga kurang keampuhannya.

Maka kedua pihak tetap bertahan dalam keadaan seimbang meskipun sudah bertarung sekian lama, sukar untuk menentukan siapa lebih tangguh di antara kedua jago muda itu dalam waktu yang yang singkat. Sementara itu pertarungan telah berlangsung hampir mendekati seratus gebrakan, akan tetapi menang-kalah belum juga bisa ditentukan, lama2 Beng Ji-peng menjadi tidak sabar.

Kebetulan waktu itu pedang Tian Pek sedang menyabat kepala lawannya dengan jurus Lip-sau-ih-yu (berdiri tegak menyapu jagat), cepat Beng Ji-peng mendak ke bawah, setelah lolos dari sambaran pedang itu, pedang baja hitamnya dengan jurus Sui-tiong-lau-gwat (menangkap rembulan di dalam air), dia babat tubuh bagian bawah Tian Pek.

Dengan cepat Tian Pek melayang ke udara, pedang balas menutul Hoa-kay-hiat pada ubun2 Beng Ji-peng dengan jurus Han-seng-peng-gwat (bintang tajam mengejar rembulan).

Menurut peraturan, bila terancam oleh serangan tersebut, biasanya dia akan menggunakan jurus Hui-hong-hud-liu (pusaran angin menyapu pohon liu) atau Bun-hong-si-sui (kawanan lebah bermain di atas putik) untuk meloloskan diri dari ancaman.

Akan tetapi Beng Ji-peng tidak berbuat begitu, sebab ia penasaran dan ingin merebut kemenangan dengan menempuh bahaya, bukannya menghindar atau berkelit, dengan cepat dia menerobos maju ke depan, dengan jurus Ban-hoa-cam-hud (selaksa bunga menyembah Buddha) dia tangkis pedang musuh kemudian sambil mendesak maju dia bacok dada Tian Pek.

Gerakan ini amat berbahaya, jika Tian Pek memiliki Ginkang yang tinggi dan bisa melompat tiga depa lebih keatas, lalu ujung pedangnya tetap menusuk ke bawah dengan gerakan yang tak berubah, niscaya jalan darah Hoa- kay-hiat pada ubun2 Beng Ji-peng akan tertembus. Rupanya setelah pertarungan berlangsung seratusan gebrakan, Beng Ji-peng melihat gerak gerik musuh amat lamban, menurut perkiraannya tak mungkin Tian Pek bakal melayang ke udara untuk menyergap dirinya, maka iapun mengambil keputusan untuk melakukan serangan berbahaya.

Lalu, apakah Tian Pek mampu melayang lebih tinggi dan melakukan sergapan dari situ? Mampu! Dia mampu melakukan hal ini. terutama sesudah tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang pesat, hanya saja ia tidak tahu sampai di manakah kemajuan yang dicapainya, selain itu iapun kekurangan pengalaman tempur, makanya setelah melepaskan tusukan tadi, dia mengira Beng Ji-peng pasti akan berkelit ke samping.

Siapa tahu bukannya mundur, Beng Ji peng malahan mendesak maju dan langsung membacok dadanya, dalam keadaan demikian tidak sempat lagi untuk menghindar, tampaknya dadanya pasti akan berlubang.

"Hei, Siau-hu-cu! Masa begitu caramu bertarung?" teriak Tiat-pi-to-liong dengan lantang, cepat ia menerjang maju ke depan, rupanya jago tua ini melihat gelagat jelek.

Tapi belum sempat jago tua itu menerjang masuk ke tengah gelanggang. keadaan telah mengalami perubahan mendadak.

Kiranya dalam gugupnya Tian Pek telah menghimpun segenap tenaga pada pergelangan tangannya, kemudian dengan sekali sentakan, "trang!" pedang beradu, Beng Ji- peng merasakan tangannya kesemutan, tanpa ampun lagi pedangnya terlepas dari cekalan.

Dengan kesempatan itu Tian Pek terus putar pedang Bu- cing-pek-kiam ke depan, tahu2 ujung pedang yang tajam telah menempel di tenggorokan musuh. Pucat wajah Beng Ji-peng, bukan saja usahanya merebut kemenangan mengalami kegagalan total, bahkan dia sendiri yang kecundang, bisa dibayangkan betapa sedih perasaan anak muda itu, selama hidup baru kali ini dia mengalami kekalahan secara mengenaskan.

Tian Pek sendiri tak menyangka tenaga dalamnya telah mencapai tarap sedemikian tingginya, dan dapat digunakan menurut kehendaknya Setelah berhasil menggetar jatuh pedang lawan, bahkan ujung pedangnya terus mengancam pula tenggorokan pemuda she Beng itu, untuk sesaat dia berdiri tertegun dan tidak melanjutkan tusukan maut.

Bagaikan embusan angin cepatnya Tiat-pi-to-liong menyusup maju kedepan dan berdiri di antara kedua anak muda itu, sambil tertawa ia berkata: "Hahaha, engkoh cilik. kau memang hebat! Kemenanganmu ini kau raih secara gemilang dan mengagumkan ... Hahaha, di antara kalian kan tiada permusuhan apapun? Maka pertarungan ini  hanya saling mengukur kepandaian saja, silakan kau tarik kembali senjatamu."

Tiat-pi-to-liong Kongsun Coh adalah kakek bermuka merah dan bercambang, tubuhnya meski agak bungkuk tapi kekar dan gagah, suaranya keras bagaikan bunyi guntur, berwibawa dan disegani orang.

Tian Pek bukan pemuda pengecut, ia tak sudi membunuh orang yang tak mampu melawan, selain itu, sebelum yakin benar Cing-hu-sin Kim Kiu adalah pembunuh ayahnya, dia tak ingin membuat onar dalam gedung ini, maka setelah mendengar perkataan Tiat-pi-to- liong, cepat ia tarik kembali pedangnya dan mundur ke belakang.

"Kalau Locianpwe sudah berkata begitu, tentu saja Wanpwe menurut saja," Lata Tian Pek, Lalu ia berpaling dan berkata kepada Beng Ji-peng: "Asal kau tahu rasa dan selanjutaya tidak congkak lagi "

"Anak busuk, jangan latah!" bentak Beng Ji-peng mendadak. "Nih, rasakan kelihayan tuanmu ini!"

Di tengah bentakan Giok-bin-siau-cing-hu itu ia ayun tangan ke depan, segumpal cahaya hijau yang menyilaukan mata segera menyambar kearah Tian Pek.

Rupanya setelah dikalahkan oleh Tian Pek, karena malunya Beng Ji-peng jadi nekat, diam2 ia merogoh sakunya dan meraup segenggam senjata rahasia Cing-hu- kim-ci-piau andalan perguruan, di kala musuh tidak siap, segera ia menyergapnya dengan gerakan Boan-thian-boa-uh (hujan bunga memenuhi angkasa).

"Suheng, kau berani main curang. . . ?" jerit Kim Cay- hong dengan kuatir.

"Ji-peng, kau.. . " Tiat-pi-to-liong juga membentak. Sebagai tamu keluarga Kim saja Tian Pek sedia menurut.

sedangkan Beng Ji-peng sebagai orang sendiri malahan tidak memberi muka kepadanya, bahkan menyergap lawan dikala tidak siap, tentu saja ia sangat gusar.

Di tengah bentakan keras segera ia menghantam ke depan, segulung angin pukulan langsung menyambar ke arah cahaya hijau yang sedang berhamburan itu.

Senjata rahasia Cing-hu-kim-ci-piau andalan Cing hu-sin ini dibuat secara khusus dan dilancarkan dengan cara yang khusus pula, kendatipun angin pukulan yang dilancarkan Tiat-pi-to-liong sangat kuat, akan tetapi pukulan itu belum sanggup untuk merontokkan semua senjata rahasia itu.