Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 12

Jilid 12

Sin-kau Tiat Leng menghela napas panjang, bibirnya bergetar seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi tak tahu darimana ia mesti mulai berbicara, untuk sesaat jago tua itu jadi gelagapan sendiri.

Tang Cian-li segera berkata lagi: "He, monyet tua, bagaimanapun Tian In-thian sudah mati, sedangkan kita juga tak akan hidup lama lagi di dunia ini, masa ada sesuatu yang hendak kaurahasiakan?" Setelah didesak berulang kali, akhirnya Sin-kau menghela napas dan berkata: "Ai, kalau diceritakan, mungkin kaupun tidak percaya, selama hidupku kuanggap ilmu silatku paling top dan tiada tandingannya di dunia ini, tak tersangka aku menderita kekalahan satu jurus di tangan Tian In-thian!"

"Aku psrcaya penuh pada perkataanmu, sebab bila Tian In thian masih hidup, tentu akupun bukan tandingannya," kata Sin-lui.

"Setan tua penunggang keledai. jadi kau anggap ilmu silatmu jauh lebih lihay dibandingkan ilmu silatku?" kontan Sin-kau mencaci maki.

Tang Cian-li tidak menyangka rekannya sedemikian besar ambisinya ingin menang, ia tersenyum getir dan berkata: "Bila ilmu silatku lebih tinggi daripadamu, tak nanti hasil pertarungan ini berakhir dengan sama2 terluka. Sudah hampir mampus saja, kenapa mesti ribut urusan yang tak ada gunanya. Hayo, lanjutkan saja ceritamu!"

Setelah rasa marahnya agak mereda, Sin-kau melanjutkan kisahnya.

"Beberapa puluh tahun yang lalu, Tian In-thian berkunjung ke tempat pertapaanku di Le-kun-san, dia bilang hendak meminjam sebentar mutiara sakti penolak air milikku, meskipun permintaan itu di ajukan secara halus dan sopan, akan tetapi mutiara penolak air itu adalah benda mestikaku, memangnva benda tersebut boleh dipinjam orang seenaknya? Selain itu, ia tidak mengemukakan alasannya, hanya menjamin mutiara tersebut pasti akan dikembalikan, bahkan ia menjamin dengan nama baik Kanglam jit-hiap!

"Ketika kuketahui bahwa Tian In-thian tak lebih cuma seorang pendekar muda yang baru menonjol di dunia pcrsilatan, aku lebih2 tak sudi meminjamkan benda mestika itu kepadanya. Pikirku, jika mutiara penolak air kupinjamkan, maka di dunia persilatan pasti akan tersiar berita se-olah2 aku keder pada nama kebesarm Kanglam~jit hiap. Karena itulah kuajukan syarat dengan adu kepandaian, bila dia berhasil mengalahkan aku, maka mutiara penolak air itu akan didapatnya, sebaliknya bila dia kalah, maka jangan harap bisa meninggalkan Le-kun-san dengan hidup. "

"Akhirnya kau si monyet tua ini dibikin keok oleh Tian In-thian, bukan?" sela Tang Cian-li tiba2.

"Setan tua, dengarkan dulu!" kata Sin-kau dengan mendongkol, "setelah syaratku disetujui, maka selama tiga- hari-tiga-malam kami bertarung sengit di depan gua Kiu-ci- tong Le-kun-san, keadaannya persis seperti apa yang kits alami sekarang, cuma ia tidak terluka waktu itu. Ketika pertarungan sudah berlangsung sampai puncaknya, pedang hijaunya berhasil meninggalkan goresan di depan dadaku. tapi hanya merobek satu jalur panjang pada pakaianku dan tidak sampai melukai kulit dagingku, kutahu dia sengaja memberi kelonggaran padaku, akan tetapi hal ini bagiku jauh lebih tersiksa daripada ia membinasakan aku. segera aku berteriak: 'Tian In-thian, mengapa tidak sekalian kau bunuh aku. Cepat binasakan aku!'"

"Akhirnya, Tian In-thian tidak membunuh kau?" kembali Tang Ciang-li mcnyela.

"Omong kosong!" jerit Sin kau dengun penasaran, "bila dia membunuh diriku waktu itu, hari ini tentu aku tak akan bertarungan denganmu hingga

sama2 terluka begini, justeru karena ia tidak membunuhku, maka aku terlebih menderita, seperti yang dijanjikan, mutiara penolak air itu kuserahkan kepadanya, kutantang pula untuk bertempur lagi tiga tahun mendatang di tempat yang sama.”

Kembali "monyet sakti" ini berhenti sebentar, kemudian melanjutnya: "Setelah dia pergi, aku lantas menutup diri untuk meyakinkan beberapa macam ilmu sakti. Ai, siapa tahu ketika latihanku mencapai tingkat yang paling kritis, dua orang muridku telah membawa lari kitab pusaka 'Sin- kang-pit-kip', hal mana membuat aku mengalami kelumpuhan total, setelah kakiku kukutungi, kedua mund murtad itu kabur membawa kitab pusaka, malahan sebelum pergi mereka menyumbat guaku dengan harapan agar aku mati kelaparan di dalam gua "

Sebelum Sin-kau menyelesaikan kisahnya, kembali Tang Cian li menyela: "Sejak kepergian Pek lek-kiam Tian In- thian, iapun tak pernah muncul kembali untuk mengembalikan mutiaramu, begitu bukan?"

"Tentu saja Tian In-thian tak pernah muncul kembali!" sahut Sin-kau sambil menggigit bibir dan menahan emosi, "sejak gagal berlatih ilmu dan kedua kakiku kukutungi sendiri, dengan susah payah aku mempertahankan hidupku dalam gua itu, untung ilmu silatku tidak punah, setelah lukaku sembuh, gua itu kudobrak dan muncul kembali ke dunia persilatan. Tujuanku yang terutama adalah mencari kedua mund murtad itu dan membinasakan mereka. Kedua akan kucari Tian In-thian untuk membalas dendam atas kekalahan yang kuderita tempo dulu. Ai, siapa tahu gara2 kepergok kau si tua bangka, bnkan saja kugagal membinasakan kedua murid durhaka itu, maksudku membalas dendam juga buyar”

"Sungguh aku menyesal karena telah mengalangi niatmu membinasakan kedua muridmu itu, tapi kejadion sudah telanjur begini, menyesalpun tak ada gunanya. Mengenai Tian In-thian tidak mengembalikan mutiaramu sesuai janjinya, hal ini bukan lantaran dia ingkar janji, tapi maksud tujuannya pinjam mutiara tersebut adalah untuk mencari satu partai harta karun di dasar telaga Tong-ting- ou, di sana Tian In-thian telah mati dikerubut belasan orang, kalau orangnya sudah mati, dengan sendirinya mutiara itu tak dapat dikembalikan kepadamu? Kukira setelah Tian In-thian mati, urusanmu dengan dia tentu juga impas, adapun urusan kita berdua, jika kau monyet tua ini tetap tak puas, mari kita lanjutkan kembali pertarungan ini!"

Sin-kau melengak: "Tenaga murni kita sudah buyar, isi perut kita terluka parah, keadaan kita sekarang tiada ubahnya seperti orang biasa, apanya yang bisa ditandingkan lagi?"

"Locianpwe berdua tak usah kuatir" sela Wan-ji, "asal kupulang ke rumah dan mengambil obat mujarab milik ayahku, niscaya jiwa kalian dapat di-selamatkan!"

Wan-ji adalah gadis yang polos, kendatipun ia tak tahu kehadiran kedua kakek ini akan menguntungkan atau merugikan dirinya dan Tian Pek tapi ia merasa tak tega membiarkan kedua orang itu tersiksa. Habis berkata, ia lantas menarik tang-an Tian Pek untuk diajak pulang mengambil obat-

Sin-kau adalah seorang tokoh yang berwatak aneh, baginya bila utang budi harus dibalas, ada dendam mesti di tuntut, maka ketika dilihatnya

Wan-ji yang cantik berulang kali mengusulkan akan mengambil obat, ia jadi sangat terharu.

"Anak perempuan yang baik hati, kemuliaan-mu sungguh mengagumkan hatiku!" katanya kemudian. "Dahulu kuanggap di dunia ini tiada orang yang baik, tak tersangka hari ini kujumpai seorang yang benar2 berjiwa mulia seperti dirimu, tampaknya pandanganku harus berubah. "

Tang Cian-l tertawa, dia ikut beikata: "Nona, tak perlu repot kau, sekalipun ayahmu memiliki obat mujarab juga tak mampu menandingi kemanjuran Si-mia-san (puyer penyambung nyawa) yang diminum si monyet tua tadi serta Toa-hoan-wan milikku, jika obat maha manjur yang telah kami minum ini tak dapat menyelamatkan jiwa kami, apa lagi obat lainnya?"

Wan-ji kurang percaya, ia berpaling ke arah Sin-kau. dilihatnya "monyet sakti" itupun mengangguk membenarkan, ia menjadi sedih katanya: "Kalau begitu, jadi jiwa kalian tak dapat ditolong lagi?”

"Nona tak perlu berduka," hibur Tang Cian-li, "mati- hidup manusia telah ditentukan oleh takdir, apalagi kami sudah hidup selama hampir seabad, hidup kami sudah lebih dari cukup, kami sendiri tidak sedih, kenapa kau malahan murung sendiri?"

Sin-kau seperti mau mengatakan suatu, tapi Tang Cian-li telah melanjutkan ucapannya: "He, aku ada usul yang bagus, dengan caraku ini bukan saja ada orang yang akan mengurusi mayat kita, bahkan kitapun bisa melanjutkan kembali pertarungan kita yang belum selesai ini."

"Setan tua penunggang keledai, sekalipun tidak kaukatakan juga kutahu apa rencanamu itu!" seru Sin-kau dengan memutar biji matanya, "bukankah kau hendak mengusulkan agar kita masing2 menerima seorang murid untuk mewarisi ilmu silat kita, kemudian suruh mereka pula yang mengurusi jenezah kita serta melanjutkan pertarungan kita yang belum selesai ini? Huh, suruh mereka mengurus jenazah kita memang bisa saja, tapi kalau suruh mereka saling beradu silat, jelas sukar terlaksana." "Hahaha, monyet tua, kau memang cerdik, orang bilang monyet adalah binatang yang pintar, setelah kubuktikan sekarang baru kuakui bahwa uoapan itu memang benar. Cuma sayang pintarnya monyet tua macam kau agak keblinger, usulku cuma sebagian saja yang bisa kautebak, sedang sebagian yang lain tetap ketinggalan!"

"Hm, coba terangkan," jengek Sin-kau.

"Ditinjau dari sikap mereka yang begitu mesra, tentu saja tak mungkin kita menyuruh mereka saling bertarung mati2an, tapi kita kan dapat mendidik mereka dengan berbagai ilmu kemudian suruh mereka mendemontrasikan ilmu itu di hadapan kita? Siapa lebih cekatan dan lebih banyak menguasai ilmunya, dia dianggap menang. Coba, bagus tidak usulku ini?"

"Kalau begitu, jadi kaupilih yang laki2?" tanya Sin-kau. "Tentu saja, Tian In-thian adalah musuh besarmu, tentu

saja kau tak akan sudi memberi pelajaran ilmu silat kepada puteranya!"

Lama sekali Sin kau mengamati wajah Tian Pek dan Wan-ji tanpa berkedip, setelah itu baru berseru: "Setan tua, kau curang, tentu saja kau bakal menang, jelas tenaga dalam yang dimiliki anak laki2 ini jauh lebih kuat daripada yang perempuan!"

"Tapi dalam ilmu meringankan tubuh yang perempuan kan lebih hebat daripada yang laki2? Kedua pihak memiliki keistimewaannya masing2, itu berarti kedudukan kita seri, siapapun tidak menarik keuetungan dari yang lain."

Sin kau kembali termenung sebentar, akhirnya dia manggut: "Baik, aku setuju dengan usulmu itu, tapi, berapa lama lagi kita bisa hidup? Nah, setan tua penunggang keledai, kita harus tetapkan batas waktunya!' "Kurasa takkan lebih seratus hari lagi!"

Diam2 Sin kau menghitung, kemudian ia berseru tegas: "Bagus, akupun kira2 cuma tahan seratus hari lagi, kalau begitu kita tetapkan batas waktu selama tiga bulan, akan kusaksikan ilmu silat dari utara atau dari selatan yang lebih unggul?!"

"Kalau setuju, hayo kita bertepuk tangan tiga kali!" Tang Cian-li meronta bangun, dengan sempoyongan ia menghampiri Sin-kau dan "Plok! Plok!" kedua kakek itu saling bertepuk tangan sebanyak tiga kali. Tepukan mereka sudah tak bertenaga, nyata mereka sudah tiada ubahnya seperti orang biasa.

Mendengar hubungan mereka dikatakan mesra, air muka Tian Pek dan Wan-ji menjadi merah jengah. tetapi ketika dilihatnya kedua kakek itu sama2 tak mau mengalah kendatipun dekat ajalnya, seketika merekapun melengak.

Setelah tiga kali tepukan dilakuka dan kedua kakek itu berpaling memanggil, Tian Pek dan Wan-ji baru saling pandang, kemudian menhampiri kedua kakek itu.

"Anak muda, hayo ikut padaku!" seru Tang Cian-li kepada Tian Pek.

Habis berkata, dengan sempoyongan ia menuju ke tepi panggung batu itu, lantaran tenaga dalamnya sudah buyar dan isi perutnya terluka, ia tak mampu lagi melompat turun panggung yang tinggi itu.

Ia kelabakan sendiri mengitari panggung batu itu, dia menghela napas, lalu meminta: "Anak muda, harap kaugendong aku turun dari panggung batu ini."

Baru sekarang Tian Pek yakin jago tua itu tidak ber- pura2, Sin-lui tiat tan yang tersohor betul2 telah menjadi manusia biasa yang cacat dan seluruh ilmu silatnya punah, pemuda ini membatin dengan cara bagaimana ilmu sakti kakek ini akan diajarkan kepadanya?

Walaupun ragu namun Tian Pek tidak membantah perintah kakek itu, dia segera menggendong Tang Cian-li dan membawanya loncat turun dari panggung batu, menurut petunjuk kakek itu, akhirnya mereka menyusup masuk ke dalam sebuah gua rahasia di balik lereng sana.

Bagaimanapun juga Tian Pek ingin tahu nama2 pembunuh ayahnya, selain itu iapun ingin memperdalam ilmu silatnya, maka meski ragu ia turuti segala kehendak si kakek.

Menanti bayangan kedua orang itu sudah lenyap dari pandangan, Sin- kau yang cacat baru menegur: "Anak perempuan, bagaimaaa caranya kita tinggalkan tempat ini?"

Kaki palsu serta tongkat penyangganya telab patah, tentu saja "monyet sakti" itu malu untuk minta digendong seorang gadis, maka dia ajukan partanyaan tersebut.

Tak terduga air muka Wan-ji hanya berubah merab sedikit, tapi dengan tegas dia segera menjawab: "Tampaknya kau tak sanggup berjalan sendiri, biarlah kugendong kau pergi dari sini! Tapi kemana kita akan pergi?"

Cara bicara Wan-ji tidak seramah Tian Pek, tapi justeru sikap semacam inilah yang cocok dengan watak Sin kau.

'Di sekitar sini banyak sekali gua rahasia, bolehlah kita mencari sebuah gua," katanya dengan tertawa, "tapi jangan mencari gua yang terlalu jauh letaknya. sebab tiga bulan kemudian dengan mata kepala sendiri ingin kusaksikan kau mengalahkan ahliwaris si tua bangka penunggang keledai itu. " "Ah. ogah!" seru Wan-ji cepat, "Gua di sekitar sini gelap lagi kotor, mana kubetah tinggal di gua begini selama tiga bulan?"

"Masa kau tidak ingin belajar ilmu sakti?" tanya Sin-kau dengan melengak.

"Kan boleh juga dilakukan di atas panggung batu ini!" kafa Wan-ji.

"Wah, tidak bisa, belajar silat harus dirahasiakan, kesatu harus menghindarkan diintip orang, kedua bisa juga akan terganggu oleh sesuatu. Bila kuwariskan beberapa macam ilmu silat yang maha sakti yang aku sendiri tidak berhasil melatihnya, tanggung ahliwaris keledai tua itu pasti bukan tandinganmu."

Habis berkata dia bersenyum misterius pada si nona.

Sudah tentu Wan ji tak percaya, katanya: "Kalau kau sendiri tak bisa, cara bagaimana akan kau ajarkau padaku? Apalagi ilmu silatmu sudah punah, kau pun terluka sekarang"

"Sebetulnya kau ingin belajar atau tidak.. .?" teriak Sin- kau dengan melotot.

"Tidak" jawab Wan-ji terns putar badan dan melangkah pergi.

"Heh he..jangan pergi dulu!" seru Sin-kau, ia memohon dengan sangat. "Kau menyaksikan sendiri aku telah mengikat janji dengan keledai tua itu, kami sudah bertepuk tangan tiga kali masa kau hendak pergi begitu saja? "

Tidak tega Wan-ji menolak permohonan orang yang ber sungguh2 itu, ia kembali ke sisi Sin-kau seraya berkata: "Kalau ingin kuturut kemauanmu, maka kau harus menurut kehendakku, kita berlatih di panggung batu ini . “ Sin-kau tampak serba susah, ia termenung sebentar, lalu menjawab: "Anak manis, kautahu rahasia ilmu silat sakti tak boleh didengar pihak ke tiga, lagi pantang diganggu kejadian yang tak terduga, hilangnya kedua kakiku ini merupakan contoh yang nyata, jangan kau kuatir aku akan berbuat jahat padamu, tujuanku hanya mcwariskan ilmu silatku kepadamu agar dapet mengalahkan ahliwaris si keledai tua itu . . "

Sesudah berhenti sebentar, ia membujuk lebih jauh:  "Nah turutluh perkataanku, bawalah aku ke sebuah gua rahasia, di sana akan kuwariskan ilmu silat yang maha sakti kepadamu, selain waktu berlatih, kau boleh bebas pergi ke manapun, setuju?"

"Ai, sebenarnya aku tak berminat belajar silat, akan tetapi akupun tak tega menolak permintaanmu, tampaknya aku terpaksa mesti menuruti

kehendak hatimu ini!" jawab Wan-ji.

Ia lantas berjongkok di depan Sin-kau dan siap menggendongnya, girang sekali "monyet sakti" itu, cepat ia merangkul leher gadis itu dan mendekam di atas punggungnya.

Begitulah, dengan dipanggul oleh Wan-ji berangkatlah mereka menuruni panggung batu untuk mencari tempat yang cocok buat belajar silst.

Akan tetapi meskipun sudah mencari beberapa buah gua, ternyata tempat2 itu tidak cocok dengan kehendak hati Sin- kau.

Akhirnya sampailah mereka di sebuah gua di sisi sepotong batu padas raksasa, dengan agak mendongkol Wan-ji mengomel: 'Kali ini tak boleh di-tolak lagi,  jelek atau bagus kita akan nenetap di gua ini, kalau kau tak senang, lebih baik mencari orang lain saja, aku ogah nienggendong kau terus menerus . . " sampai akhir ucapannya itu, Wan-ji tak dapat menahan rasa gelinya lagi, ia tertawa sendiri dan Sin-kau diturunkan di mulut gua.

Dengan sorot matanya yang tajam seperti mata monyet, Sin-kau memperhatikan sekejap sekeliling gua tersebut, lalu dengan dahi berkerut gerutunya: "Wah, gua ini lebih jelek daripada kedua gua yang kita periksa tadi, coba, angin keras ini, bisa jadi gua ini bukan gua yang buntu . .”

"Ah, peduli amat, pokoknya aku tak mau cari gua lain lagi, jika kau takut angin, akan kubawa kau ke dalam sana dan pasti tak ada anginnya!" lalu Wan-ji berjongkok lagi siap menggendong orang tua itu.

"Ai. tak tersangka aku si manyet sakti Tiat Leng yang pernah malang melintang tiada tandingan di dunia ini, sebelum ajalku masih harus di-buat jengkel oleh anak perempuan macam ini!" demikiau Sin-kau menggerutu.

Serentak Wan-ji berbangkit lagi dan berseru dengan marah, "Kalau kau tak senang dengan aku, biarlab aku pergi dari sini dan batal semuanya! Hm, jangan kaukira aku ingin belajar ilmu silatmu supaya kau tidak mendongkol melulu, lebih baik kita berpisah menempuh jalannya masing2." — Habis berkata ia berlagak hendak melangkah pergi.

Cepat Sin-kau berseru: "Eeh, anak perempuan, mau ke mana kau? Jangan marah dulu, hayo kemari, aku turut semua kemauanmu!"

"Kalau mau nurut, maka selanjutnya tidak boleh lagi memanggil anak perempuan segala, namaku Tian Wan ji, bila perlu panggil saja namaku,” demikian kata si nona. "Baik! Aku turut perintah!" Sin-kau manggut2. "Anggaplah selama hidupku baru pertama kali ini jeri kepada orang lain . "

"Keliru, bukan untuk pertama kalinya, paling sedikit di dunia ini sudah ada dua orang yang kau takuti, kecuali diriku, ada pula Tian In-thian, si pedang geledek dari Kanglam-jit-hiap yang pernah mengalahkan dirimu."

Kontan Sin-kau mendelik dengan mendongkol:

"Tidak! selama hidup tak pernah kutakut pada orang kedua, dengan kepandaianku sekarang, aku mampu mengalahkan Tian In thian, apalagi kalau

aku diberi waktu untuk meyakinkan pula beberapa macam ilmu saktiku, huh, jangankan melawan, mungkin satu jurus saja Tian In-thian tak tahan"

"Ckk . . .cckk, jangan ngibul!" ejek Wan-ji "Masa engkau benar2 sehebat itu? Padahal sekarang seorang kakek saja tak mampu kaukalahkan."

Ucapan ini kontan membungkamkan Sin-kau, tapi sekilas terbayang rasa bencinya terhadap Sin-lu tiat-tan bertambah mendalam.

Rupanya Wan-ji sendiripun merasa ucapannya kelewat batas dan mungkin menyinggung perasaan orang. ia jadi tak tega.

Sambil berjongkok dihadapannya dia coba menghibur: "Sudahlah, urusan yang sudah lewat biarkan lewat, mari kita hadapi saja masalah yang akan datang, sekarang mari kugendong kau mencari tempat yang tak ada anginnya!"

Sin-kau Tiat Leng tidak bicara lagi, ia menggelendot di punggung Wan-ji dan membiarkan gadis itu menggendongnya ke dalam gua. Gua itu aneh sekali bentuknya, meskipun mulutnya tidak begitu besar, namun lorong dibalik gua itu panjangnya bukan kepalang, sudah puluhan tombak Wan-ji menembusi gua itu, bukan saja belum mencapai ujungnya, bahkan semakin ke dalam semakin banyak jalan bercabang yang ditemui. Dari tiap mulut gua yang ditemuinya terasalah embusan angin yang menderu kencang.

Diam2 mereka merasa gelagat tidak enak, tapi keduanya tetap membungkam.

Tampaknya Sin-kau sudah cukup kenal tabiat Wan-ji, meskipun cantik wajahnya dan baik hatinya, namun berwatak lebih keras dari pada batu karang.

Iapun sadar apabila banyak cincong, bisa jadi si nona akan marah dan mungkin dia akan di tinggalkan dengan begitu saja di gua ini.

Padahal kakinya buntung, tongkat penyanggah badannya sudah patah, sejengkalpun ia tak mampu melangkah, bila ditinggalkan dengan begitu saja kan bisa berabe?

Oleb sebab itulah, meskipun ia merasa gelagat kurang baik, terpaksa ia membungkam dan membiarkan Wan-ji menggendongnya ke depan.

Wan ji sendiripun dapat merasakan pula bahwa gua itu tidak cocok digunakan untuk berlatih silat, tapi berhubung telanjur mengatakan akan tetap berada di gua ini, tentu saja ia malu untuk menjilat kembali kata2nya.

Ginkang Wan-ji cukup hebat, apalagi tubuhnya ramping dan kecil serta mendapatkan didikan Nia-gong-hoan-ing ( mengrjar udara bayangan setan) dari Buyung Ham, dengan sendirinya gesit dan lincahnya gerak-gerik Wan-ji.

Maka ia terus menerobos masuk ke dalam gua, kendatipun suasana remang2 dan permukaan tanah tinggi- rendah tak menentu, namun ia mampu bergerak maju dengan kecepatan tinggi.

Setanakan nasi kemudian, mereka sudah beberapa li memasuki gua, sekalipun suasana gelap gulita dan jalannya ber-liku2 tidak rata, namun gadis itu tahu bahwa perjalanan yang di tempuh sudah amat jauh, sementara ujung gua belum nampak juga.

Timbul pikiran kedua orang untuk mengundurkan diri dari tempat itu, sekalipun niat tersebut tidak sampai diutarakan, akan tetapi langkah Wan-ji sudah mulai lambat daripada tadi.

Suatu ketika, tiba2 gadis itu menjerit kaget. "Wan-ji, ada apa?" cepat Sin-kau menegur, sejak tenaga dalamnya punah, ketajaman mata dan telinga jadi mundur juga.

"Coba lihat, di sini ada mayat manusia."

Ketika mereka menghampiri barulah Sin-kau dapat melihat sesosok mayat yang bermandikan darah berdiri bersandar dinding gua.

Mula2 mereka mengira mayat tersebut berdiri bersandar dinding, akan tetapi setelah diamati dengan saksama. tampaklah pada ulu hati mayat tersebut tertancap sebatang senjata rahasia yang berbentuk seperti piau tapi tidak mirip Piau, seperti cundrik tapi juga bukan cundrik, yang pasti sekitar senjata itu mengkilap ke-biru2an.

Bagi jago silat yang berpengalaman, sekilas pandang saja segera akan tahu bahwa senjata tersebut pasti beracun, panjang senjata itu kira2 belasan senti dan menancap dari hagian dada hingga tembus ke punggung, jadi mayat itu bukan mati bersandar di dinding, justeru mayatnya tak sampai roboh lantaran badannya terpantek di dinding. Wan-ji tertegun, akhirnya ia berkata: "Rupanya orang ini mati karena terserang oleh senjata rahasia beracun, karena terpantek di dinding maka tu buhnya tak roboh. Darah yang menodai badannya tampak masih baru, mungkin mati belum lama. Apakah engkau kenal senjata rahasia yang digunakan si pembunuh ini?"

Sin kau mengamati sekejap benda itu, kemudian menggeleng: "Sudah puluhan tahun aku berkelana di dunia persilntan, tapi belum pernah ku jumpai senjata rahasia macam ini, yang jelas tenaga serangan orang ini kuat sekali dan lagi senjata rahasia ini beracun keji!"

"Locianpwe kenal tidak dengan korban ini?" tanya Wan- ji pula.

Sin-kau coba mengamati mayat itu, ia lihat orang itu mengenakan baju sutera halus berwarna hijau, memakai ikat kepala dengan sebiji mutiara di teagahnya, pakaian orang ini mewah, tubuhnya kekar berotot, alisnya tebal dan mukanya berewok, sekilas pandang dapat diketahui bahwa dia adalah seorang jago silat. Walaupun sudab mati, mukanya masih kelihatan seram dan gagah perkasa.

Karena tidak kenal orang itu, Sin-kau menggeleng: "Aku jarang sekali bergerak di daerah Tionggoan, apalagi puluhan tahun terakhir ini tak pernah kuinjak dunia persilatan, entahlah siapa orang ini?"

Milihat kematian laki2 yang mengerikan dengan darah berlumuran di dadanya, Wan-ji merasa gua ini penuh bawa pembunuhan dan menyeramkan. Namun lahirnya ia tetap berkata dengan angkuh: "Locianpwe, aku yakin dalam gua ini ada hal yang aneh, siapa tahu kalau pembunuhnya masih bersembunyi di sini, bagaimana kalau kita melanjutkan perjalanan ke dalam sana?' "Terserah pada nona, toh bagaimanapun juga bukan kehendakku masuk ke sini," sahut Sin-kau sambil tertawa.

Wan-ji mendongkol, ia tidak menggubris kakek itu lagi, dengan gemas langkahnya dipercepat. Tak jauh dua sosok mayat kembali mereka temui, dandanan maupun potongan badan kedua mayat ini tidak berbeda dengan korban pertama, cuma punggung mereka tertancap senjata rahasia beracun dan roboh tertelungkup, karena itulah mukanya tidak kelihatan.

Darah meleleh dari mulut dan berlepotan di tanah, lkat kepala seorang terlepas jauh di sana dan kelihatan rambutnya yang kusut masai.

Wan-ji bergidik menyaksikan adegan seram itu, tapi ia tak mau menyerah, apalagi hatinya lagi mendongkol, dengan cepat ia menerobos pula lebih jauh ke dalam gua.

Sin-kau tetap membungkam, diam2 iapun bergidik, ia pikir sekarang ilmu silatnya telah punah, sedangkan gadis itu kurang berpengalaman, bila ada sergapan gelap niscaya mereka tak mampu melawan dan akan mengalami nisib seperti mayat2 tadi.

Tidak jauh sampailah mereka di depan sebuah dinding batu, embusan angin di situ agak lemah, dengan sangat ber- hati2 Wan-ji menghampiri dinding batu itu.

Ada sebuah pintu batu di samping dinding itu, agaknya sebuah ruangan, Wan-ji trus melangkah masuk.

"Awas! !" teriak Sin-kau.

Wan-ji terperanjat dan berhenti, dari kegelapan mendadak meluncur keluar sebuah tangan hitam terus mencengkeram ke muka si nona. Saking terkejut Wan-ji menjerit kaget dan lompat mundur. berbareng ia angkat tangannya hendak balas menyerang.

Sin-kau telah punah ilmu silatnya, tapi dia berpengalaman luas, segera ia berseru: "Wan-ji, jangan gugup! Hanya sesosok mayat belaka!"

Gadis itu mengamati lawannya dengan seksama, memang benar ucapan si monyet tua itu, hanya sesosok mayat yang berdiri di depannya, sebilah pedang Siang-bun- kiam yang memancarkan cahaya hijau tergeletak di tanah.

Sekarang ia baru tahu, rupanya korban ini bersembunyi di belakang pintu dan menyergap musuh dengan pedang, tapi sergapan itu berhasil di-hindarkan, sebaliknya ia terbunuh oleh sebuah pukulan berat yang mematikan.

Sebuah lubang berdarah tertera di dada laki2 yang mati ini, tampaknya lubang besar inilah penyebab kematiannya, dari bukti ini Sin-kau berdua yakin ilmu silat si pembunuh pasti sangat tinggi.

Dalam ruangan dekat dinding sana menggeletak pula sesosok mayat, bersenjata Poan-koan pit, luka besar tertera di dada, kematian yang dialami orang ini tak berbeda dengan korban di belakang pintu, cuma wajah mayat ini masih menunjuk rasa ngeri dan takut, ini membuktikan bahwa sang korban sangat jeri terhadap pembunuhnya. Senjata Poan-koan-pit yang dipegang tak semput dipakai, sebelum melakukan perlawanannya ia sudah dihantam mati.

"Kedua koiban ini mati dipukul dengan ilmu pukulan keras apa?" tanya Wan ji.

"Tampaknya mereka dibunuh oleh sebangsa Kim-kong-ci atau It-ci-sian (tenaga jari sakti), Kim-kong-ci atau It-ci-sian si pembunuh ini jelas telah mencapai puncak kesempurnaan," jawab Sin-kau dengan prihatin.

"Ah, Cianpwe, lihatlah!" kembali si nona berseru. "coba lihat, di sini ada dua peti batu permata"

Dalam ruangan batu itu terdapat dua buah peti besi berukuran setengah meter persegi, tutup peti terbuka hingga tampak isinya yang berupa mutu manikam yang tak terhingga jumlahnya.

Sin-kau memang tokoh yang aneh, dia tidak tertarik sedikitpun oleh dua peti intan permata itu.

Wan-ji sendiri adalah puteri salah seorang empat keluarga besar, intan permata semacam itu sudah sering dilihatnya di rumahnya, maka iapun tidak tertarik.

Wan ji menurunkan kakek itu ke lantai, kemudian menghampiri peti batu permata itu dan memeriksanya satu demi satu, dilihatnya batu permata di dalam peti tersebut bukan barang sembarangan, mutiara dan intan yang ada di situ rata2 amat besar dan berkilat, malahan jauh lebih besar daripada benda yang tersimpan di rumahnya. Terutama kedua peti ymg berukir indah itu terang serupa dengan peti besi yang terdapat di rumahnya.

Wan ji makin heran, ia tertegun dan berpikir: "Aneh, jangan2 benda mestika ini dicurinya dari rumahku."

Sementara ia melamun tiba2 Sin-kau berseru: "Wan ji, daripada kita lari ke sana kemari, alangkah baiknya kita berdiam ssja di ruangan ini, biarlah kuwariskan ilmu silatku di sini."

Seruan tersebut menyadarkan Wan-ji dari lamunannya. dengan dahi berkerut ia berkata: "Apa? Kita harus tinggal bersama dua sosok mayat ini? Aku tidak mau!" "Memangnya kenapa? Kalau kau jijik bercampur dengan mereka, seret saja mayat itu keluar kan beres?"

"Kalau ingin membuang mayat itu, kau saja yang lakukan," kata si nona.

Sin-kau menyengir menghadapi kebandelan anak dara itu, ucapnya: "Wan-ji kalau aku bisa berjalan sendiri, aku tak akan suruh kau menggendong diriku "

"Kalau begitu, tidak perlu banyak omong lagi, pokoknya aku tak mau menyentuh mereka, lebih baik kita pergi dan mencari tempat lain saja!"

Setelah mengembalikan batu permata itu ke dalam peti, ia menggendong Sin-kau dan berlalu dari ruang batu itu.

Belum jauh mereka lanjutkan perjalanan, sampailah kedua orang itu di mulut gua. Ternyata gua ini menembus perut bukit dan mempunyai pintu masuk yang berbeda, malahan jaraknya dari ruang batu ke mulut gua ini dekat sekali.

Menghirup udara segar di tempat terbuka serta memandang cahaya sang surya yang gemilang, Wan-ji berdua merasa dada jadi lega, rupanya fajar telah menyingsing, sudah dua-tiga jam Wan-ji berdua menyusuri gua itu.

Keadaan Sin-kau sudah payah, setelah bertempur selama tiga hari tiga malam melawan Tang Cian-li, kemudian masih harus melakukan perjalanan setengah malaman digendong Wan-ji, kesehatannya telah jauh lebih menurun, sekalipun ia sudah makan bubuk Si mia-san, ia merasa lapar dan dahaga, sekeluar dari gua, ketika melihat sebuah selokan yang mengalirkan air jernih, ia segera berseru: "Oo

.... air. Air! Aku sangat haus, aku ingin minum!" Wan-ji sendiri juga merasa lapar dan dahaga, tanpa di suruh lagi ia menghampiri selokan itu dan menurunkan Sin- kau untuk minum ber-sama2.

"Jangan minum air itu!" tiba2 seorang berseru dengan nyaring, "lebih baik mati dahaga daripada minum air selokan itu! Masa kalian tidak tahu akan kata2 tersebut bila sudah berani memasuki 'lembah pemutus nyawa'!"

Betapa kaget Sin kau serta Wan-ji demi mendengar teguran itu, mereka menengadsh dan terlihat seorang pemuda tampan berdiri di lereng bukit di seberang sana.

Pemuda itu baru berusia dua puluhan, badannya jangkung, tegap dengan wajah yang cakap, sekalipun dandanannya sederhana mirip dandanan petani, namun tidak mengurangi ketampanannya.

Sembil bergendong tangan ia berdiri di lereng bukit itu, sikapnya yang santai dan tenang menambah gayanya yang mempesona.

"Eh, bocah. jangan kau sembarang omong," sera Sin kau dengan mata melotot. "Kalau berani bergurau atau sengaja menakut2i aku, hmm, jangan menyesal bila kubikin kau mampus tak terkubur."

Wan-ji geli mendengar kecongkakan Sin kau, ia merasa orang tua ini terlalu jumawa, ilmu silat sendiri saja telah punah, terluka dan badan cacat, tapi bicaranya masih garang dan tak mau kalah.

Padahal dilihatnya pemuda itu tampan dan berilmu silat, sinar matanya tajam dan badannya tegap, bila benar terjadi pertarungan, hanya satu gebrak saja "monyet tua" ini pasti akan terkapar.

Karena merasa geli, air yang terkumur di mulutnya tersembur keluar, ia tertawa cekikikan. Terkesima pemuda itu menyaksikan kecantikan Wan ji, melihat si nona tertawa geli, ia berkata pula dengan heran: "Jadi kalian tidak percaya dengan peringatanku? Coba lihatlah ke sebelah sana."

Seraya berkata dia menuding ke hulu sungai kecil itu.

Mengikuti arah yang ditunjuk, tampaklah di samping selokan terpancang sebuah papan kayu putih, di atas papan tertulis beberapa huruf: "Air selokan ini beracun keras,  tujuh langkah pencabut nyawa, jangan sekali2 diminum!"

Air muka Wan ji kontan berubah pucat, jeritnya kuatir: "Wah, celaka, aku sudah banyak minum air ini, bagaimaaa sekarang?"

"Wan-ji, jangan gugup!" hibur Sin-kau dengan tenang. "Siapa tahu kalau dia cuma membohongi kita?"

"Aku tak berbohong, peringatanku tadi hanya timbul dari maksud baik, jika kalian tidak mau percaya, ya apa boleh buat?"

"Coba lihat, betul bukan perkataanku?" kata Sin-kau sambil berpaling ke arah Wan-ji dan tertawa, "sekali tebak saja kutahu orang itu sengaja me-nakut2i kita, kalau air sungai ini benar2 beracun jahat, kenapa perut kita tidak merasakan apa2?”

“Betul juga,” pikir Wan ji, “kalau air sungai kecil ini beracun, kenapa perutku tidak merasakan gejala apa2?” Diam2 ia mengagumi Sin-kau yang sudah berpengalaman dan tidak mudah tertipu itu.

"Aku tidak bohong!" kembali pemuda itu menegaskan ucapannya, "racun yang terkandung di dalam air ini benar2 sangat istimewa, bukan saja tidak berbau, tidak berwarna, bahkan tidak terasa apa2, baik manusia maupun hewan yang minum air ini, asalkan tidak bergerak, maka tiada perasaan apa pun yang dalamnya, tapi kaiau berdiri dan berjalan, maka tidak sampai tujuh langkah, ususmu akan rantas dan mati !"

Sin-kau tertawa ter-bahak2: "Hahaha, kalau dulu Coh Cu-kian (pujangga di jamas Sam Kok) bisa membuat syair dalam tujuh langkah, sekarang aku bisa putus usus dalam tujuh langkah. wah, itulah kejadian yang pantas dicatat dalam sejarah. Sayang aku tidak punya kaki sehingga tidak mampu berjalan sediri. andaikata kakiku utuh, niscaya akan kulangkah tujuh tindak untuk membuktikan apukah benar ususku akan rantas atau tidak?"

"Engkau tidak berkaki tapi kakiku kan utuh!" sambung Wan ji, jangankan tujuh langkah, tujuh puluh atu tujuh ratus langkahpun akan kulalui. Hm, air sudah kenyang kita minum, peduli amat dengan urusan tetek-bengek ini."

Segera ia menggendong pula si "monyet sakti" dan akan meninggalkan sungai kecil ini ,

Tapi mendadak dengan gerakan enteng bagaikan burung walet melayang di udara, pemuda tampan itu melompat dari turun lereng seberang sana dan hinggap di depan Wan- ji.

Katanya dengan sungguh2: "Nona, kuanjurkan agar jangan keras kepala, ketahuilah aku tidak bermaksud bohong, setiap perkataanku adalah kata2 sejujurnya, selokan ini bernama Sui gin-han-cwan (sumber air dingin berwarna perak) dan sudah ter-sohor kelihayannya. Jangan kau anggap perutmu masih segar setelah minum air itu, sekarang kau memang belum merasakan apa2, tapi lama kelamaan ususmu akan rantas dan akhirnya putus. Ketahuilah air ini sungai mengandung air rasa, bobot air rasa sangat berat dan sanggup merantas usus dan merusak isi perut, bila orang tetap diam, maka air perak itu bergerak agak lambat, tapi kalau orangnya bergerak, maka air rasa juga cepat bergerak ke dalam usus, dengan sendirinya luka yang timbul juga makin cepat. Untung aku membawa obat penawarnya, Nah, kuhadiahkan kalian seorang sebungkus .

. . ."

Sebelum Wan ji buka suara, dengan cepat Sin kau menggoyangkan tangannya.

"Sudahlah, tak usah banyak omong, cepat pergi dari sini!" serunya tidak sabar "Jangankan air itu tak beracun, sekalipun kami sudah keracunan juga tak perlu kau turut kuatir : . . . !"

Berbicara sampai di sini, ia mendesak Wan-ji agar cepat2 pergi.

Wan-ji merasa pemuda itu bukan orang jahat, tetapi ia tak berani menerima obat pemberian orang yang tak dikenal ini, maka ketika pemuda itu mengangsurkan dua bungkus obat tadi, ia tidak menerimanya, tapi berkata: "Terima kasih atas maksud baikmu, biarlah kami terima di hati saja!" Habis berkata segera ia melompat ke sana dan akan pergi.

Tapi baru saja bergerak, tiba2 Wan-ji merasakan perutnya melilit dan sakit luar biasa, ia anjlok ke bawah mendadak, untung Ginkangnya cukup lihay sehingga tidak sampai jatuh terjengkang.

Air muka Wan-ji berubah pucat. perutnya semakin sakit seperti disayat dengan pisau, akhirnya dengan dahi berkerut jeritnya: “Oo, Locianpwe, kita benar2 keracunan . . !"

Karena Wan-ji anjlok dari atas, Sin-kau yang sudah kehilangan tenaga dalamnya tak mampu ber-tahan lagi, isi perutnya juga mengalami goncangan keras. Tanpa ampun lagi, pandangannya jadi gelap, perut kesakitan seperti di sayat2, akhirnya iapun tak sadarkan diri. Cepat pemuda tampan tadi memburu maju, katanya: ' Nona, sekarang tentunya kau percaya perkataanku bukan? Hayo cepat makan obat penawar ini!"

Perutnya yang sakit terasa tak bisa ditahan lagi, dalam keadaan begitu Wan-ji tidak peduli lagi apakah obat penawar pemuda itu benar2 obat penawar atau bukan, bungkusan itu segera diterima, dibuka lalu isinya ditelan.

Dalam waktu singkat tubuhnya lantas terasa nyaman, rasa sakit yang melilit tadi berhenti dan jadi segar kembali.

Sekarang gadis itu baru percaya bahwa pemuda ini memang bermaksud baik kepada mereka, dengan sorot mata penuh rasa terima kasih ditatapnya sekejap pemuda itu.

Karena pandangan si nona. hati pemuda itu berdebar keras, Dari sakunya kembali ia keluarkan sebungkus obat penawar lagi dan diserahkan kepada Wan-ji. katanya: "Nona, kakek yang kau gendong ini pingsan, minumkan obat penawar ini kepadanya, niscaya dia akan segera sadar kembali "

Wan ji tidak ragu lagi sekarang, ia percaya penuh perkataan pemuda itu, obat penawar diterimanya, ia baringkan Sin-kau ke tanah, kemudian melolohkan bubuk obat itu ke dalam mulutnya.

Sesaat kemudian, Sin-kau sadar kembali dan pingsannya, dengan mata melotot ia berteriak keras: "Aduh, perutku sakit”

Melihat Sin-kau juga sudah tertolong, Wan-ji berkata kepada pemuda itu: "Terima kasih atas bantuanmu apakah boleh kutahu siapa nama Kongcu? Bila perkataanku tadi menyinggung perasaanmu harap sudi dimaafkan" "Nona terlalu rcudah hati, aku bernama Sugong Siang- cin”

"Oo. jadi engkaulah Toan-hong Kongcu?" seru Wan-ji dengan terkejut, "jadi engkaulah yang disebut Toan hong si Kongcu yang suka gentayangan, salah satu di antara Bu lim-su kongcu?"

"Tepat sekali tebakan nona!" sahut pemuda itu sambil tertawa, malu aku disanjung oleh kawan persilatan sebagai salah satu dari Su-kongcu, padahal aku tidak lebih hanya seorang pemuda yang suka gentayangan kian kemari seorang diri tanpa tujuan tertentu!"

Tertegun Wan-ji menatap pemuda di hadapannya, ia merasa pemuda ini sungguh ganteng dan menawan hati, sekalipun pakaian yang dikenakan amat sederhana, namun memiliki daya pesona yang kuat.

Makin dipandang Wan-ji merasakan jantungnya makin berdebar keras, pujinya di dalam hati;

"Oo..alangkah tampannya pemuda ini, tampaknya di dunia saat ini belum ada pemuda setampan dia”

Teringat pada engkoh Tian yang dicintainya, seketika merah padam wajahnya, cepat ia tundukkan kepala dan tak berani lagi memandang pemuda itu.

"Aku tak boleh punya pikiran pada pemuda lain" demikian ia menggerutu pada diri sendiri.

Kalau Wan-ji berdebar oleh ketampanan Toan-hong Kongcu, sebaliknya Toan-hong Kongcu juga tidak kurang terpesonanya oleh kecantikan Wan-ji.

Sudah banyak gadis cantik yang dijumpai Toan-hong Kongcu, namun tak seorangpun yarg dapat melawan kecantikan Wan-ji. Ia merasa kecantikan gadis ini bak bidadari yang turun dari kahyangan, matanya yang jeli, hidungnya yang mancung, bibirnya yang mungil tubuhnya yang semampai dan kulit badannya yang putih halus, benar2 suatu perpaduan yang indah mempesona.

Untuk sesaat lamanya Toan-hong Kongcu berdiri ter- mangu2, kecantikan gadis itu serta kerlingan matanya membuat ia terkesima, hampir lupa pada keadaan di sekitarnya,

Semua gerak gerik kedua muda-mudi itu tak lepas dari pengawasan Sin-kau, karena wataknya yang aneh, ia tidak suka dingan pat-gulipat orang muda semacam ini, segera ia berdeham lalu berseru: "Wan-ji, kalau sudah mengucapkan terima kasih, marilah kita berangkat!"

Merah muka Wan ji, tapi sebelum ia buka suara, Toan- hong Kongcu telah berseru pula: "Sudah kuketahui nama harum nona, tapi belum tahu tempat tinggal nona sarta apa hubunganmu dengan orang tua itu, bolehkah aku mengetahuinya?"

Belum Wan-ji menjawab, dengan melotot Sin-kau segera berseru: "Anak muda yang tak tahu diri, jangan kaukira dengan sedikit budimu itu akan memperoleh balasan yang lebih besar. Hm, bila berani banyak bicara lagi, jangan salahkan aku tidak sungkan2 lagi!"

"Hei, kenapa kau begini bengis?" omel Wan-ji. "Toan- hong Kongcu telah menyelamatkaii jiwa kita, Kongcu inipun sangat sopan kepada kita, masa kau membalas air susu dengan air tuba!"

Lalu iapun berkata kepada Toan-hong Kongcu: "Aku sama sekali tiada hubungan apa2 dengan orang tua ini, kami hanya berjumpa secara kebetulan saja! Aku she Tian bernama Wan-ji, rumahku di Ce-lam dan terkenal sebagai perkampungan Pah-to-san-ceng, bila Kongcu ada waktu, silakan hampir dan bermain beberapa hari di rumahku "

Toan-hong Kongcu terkejut setelah mengetahui asal-usul anak dara ini. "O, jadi nona masib sanak keluarga Ti-seng- jiu Buyung-cengcu?" demikian ia bertanya.

"Ya, beliau adalah ayahku!" jawab Wan-ji sambil tertawa.

Toan-hong Kongcu jadi melengak: "Tapi. . .kenapa nona she Tian? "

Sin-kau tidak sabar lagi. ia jadi berang din menukas: "Anak muda, sudah selesai belum obrolan kalian' Kalau ngoceh melulu. jangan salahkan aku tidak sungkan2 lagi. .”

Wan-ji jadi tak senang hati, ia akan mendamperat, tapi Toan-hong Kongcu keburu berkata sambil tertawa: "Air muka Locianpwe ini lesu dan kuyu. sinar matanya buyar dan buram, bukan saja terluka dalam yang parah, bahkan kematian sudah berada di depan mata. tak tersangka masih juga pemberang begini "

Perkataan yang sederhana ini cukup menggusarkan hati Sin-kau, hampir saja dadanya meledak saking mendongkolnya.

Segera ia membentak: "Bagus, anggaplah matamu memang tajam, tenaga dalamku memang sudah buyar dan nyawaku akan melayang, tapi dengan kondisi seperti ini aku masih sanggup membereskan jiwa anjingmu. Nah, sambutlah seranganku ini, jurus Hoan ciu lam-hay (dayung sampan di laut selatan)!"

Tindakan aneh kakek itu bukan saja mencengangkan Toan hong Kongcu, Wan ji juga melengak. Pikirnya: "Tenaga dalamnya telah punah, bagaimana caranya dia akan bertempur . . " Ia berpaling ke arah Sin-kau, dilihatnya kakek itu masih duduk di tanah tanpa bergerak sedikitpun.

"Eh kautahu bila jurus seranganku ini kumainkan, maka dengan cepat akan kuhantam dulu hiat-to maut di kanan telingamu," teriak Sin-kau masih tetap berduduk di tanah. "Di tengah serangan ini banyak pula gerak perubahannya, bila kau tidak menghindar maka jalan darah kematian di telingamu akan terhajar telak dan jiwamu pasti melayang! Sebaliknya bila kau menghindar, kedua kepalanku tidak kutarik, cuma sikut segera bergerak menyongsong jalan mundurmu, kalau kau berkelit ke kiri maka jalan darah Sim gi-hiatmu akan tersikut, sebaliknya kalau menghindar ke kanan maka jalan darah Seng-bun hiat akan menumbuk sikut kiriku, itu berarti berkelit ke kiri atau ke kanan hanya jatah kematian bagimu. Sebaliknya kalau kau merasa sanggup untuk membendung tenaga pukulan Ceng-goan- cing-khi yang sudah kulatih enam puluh tahun. umpama kau menangkis dengan jurus Po-in kian-jit (menyingkap kabut melihat sang surya), maka waktu itulah kedua kepalan kutarik kembali dan .... Nah, bayangkan saja, kau punya nyawa serep berapa lembar? Mampus tidak kau oleh jurus serangan dayung sampan di laut selatan ku ini?"

Setelah mendengar ocehan si kakek barulah Wan ji dan Toan hong Kongcu mengerti maksud-nya, ternyata kakek itu hanya menyerang Toan-hong Kongcu dengan suatu jurus ampuh yang di lontarkan dengan uraian saja.

Kendatipun tenaga dalam yang dimiliki Sin-kau ini sudah punah, lagi »erangannya hanya di-utarakan dengan kata2 akan tetapi baik Wan ji maupun Toan hong Kongcu amat terperanjat.

Jurus serangan Hoan-ciu lam-hay yang dipergunakan kakek itu memang benar2 tangguh, jangankan ditangkis, dihindaripun sukar. Lebih2 Toan-hong Kongcu, keringat dingin membasahi tubuhnya, biasanya ia yakin ilmu silat-nya tinggi, namun bila benar2 menghadapi jurus serangan si kakek tadi, memang betul hanya ada jalan kematian baginya.

Dengan dahi berkeringat dan jantung berdebar segera ia berkata: "Locianpwe, ilmu silatmu memang ampuh, aku merasa tak sanggup memecahkan jurus seranganmu itu."

Satu pikiran tiba2 terlintas dalam benak Wan-ji, cepat ia menimbrung: "Huh, apanya yang lihay, toh jurus serangan itu masih bisa dihindari, asal kita loncat ke depan lalu mengegos, bukankah ancaman itu akan terhindar? Kemudian dengan ..”

"Hahaha, tak usah kemudian apa segala!?" tukas Sin-kau sambil tertawa "Tanyakan saja kepadanya, mampukah ia menghindari seranganku itu dengan meloncat ke depan?"

Dengan wajah ber-sungguh2 Toan-hong Kongcu menggeleng: 'Perkataan Locianpwe memang benar, baik melompat ke muka ataupun menjatuhkan diri bergelinding hasilnya tetap nihil. Kuakui jurus serangan itu memang sangat ampuh, sungguh ber-untung aku tak sampai mati ditanganmu, atas kemurahan hati Locianpwe kuucapkan terima kasih, selamat tinggal!"

Setelah memberi hormat ia lantas melayang ke seberang selokan itu, hanya dua-tiga lompatan saja bayangannya lantas menghilang di balik batu padas sana.

Dengan ter mangu2 Wan-ji memandangi lenyapnya bayangan punggung Toan-hong Kongcu. akhirnya ia berkata kepada Sin-kau: "Wah, Locianpwe, kau memang hebat. hanya dengan mulut saja Toan-hong Kongcu yang termashur dapat kau bikin kabur " "Wan-ji, sekarang percaya bukan dengan kehebatanku?" kata Sin-kau dengan bangga, "asal kau dapat berlatih lima bagian saja ilmu silatku, maka dunia persilatan akan kau jelajahi tanpa tandingan!"

"Huh, apanya yang hebat?" ejek Wan-ji mendadak, "sekalipun berhasil melatih sampai sepuluh bagian, buktinya seorang kakek penunggang keledai saja tak dapat kau kalahkan."

Betapa mendongkolnya Sin-kau demi mendengar olok2 itu, dia ber-kaok2 gusar: "Hei, anak perempuan, tak perlu kaubikin panas hatiku, sampai detik ini kekuatan kami masih seri, menang kalah belum ada kepastian, lagi pula ....

lagi pula aku telah berjanji dengan setan tua itu untuk bertanding lagi. aku punya keyakinan akan mengalahkan dia !"

"Ah, sudahlah, kalau aku ogah berlatih ilmu silatmu, apa yang bisa kau lakukan?" ejek Wan ji« "Pula, sekalipun sudah kupelajari ilmu silatmu, tapi aku tak sudi bertanding dengan engkoh Tian, lalu bagaimana caramu mengalahkan dia?"

Tertegun Sin-kau mendengar perkataan itu, akhirnya dengan air muka kecewa ia berkata: " Tentunya, tentunya kau takkan ingkar janji bukan? Kau sudah menyanggupi permintaanku, masa sekarang kau hendak membatalkan janji ini secara sepihak?"

Geli Wan-ji menyaksikan kepanikan orang, ia tertawa cekikikan, katanya: "Hihihi, kapan pernah kusanggupi permintaanmu? Dan kapan pula aku setuju belajar silat darimu? Sejak awal sampai akhir kan kau yang mengoceh sendiri. "

"Jadi, jadi kau tak mau belajar ilmu silatku lagi?" seru Sin-kau dengan air muka berubah hebat. "Memangnya aku senang belajar silatmu?" ejek Wan-ji lebih lanjut. "Huh, umpama kakek celaka penunggang keledai itu berhasil kau kalahkan atau kepandaian kalian bergabung menjadi satu, apa itu berarti tidak ada tandingannya di kolong langit ini?

Huh, kukira bila ada jago nomor satu di dunia ini maka dia tak lain adalah Pek-lek-kiam Tian In-thian, sebab bagaimanapun Tian-tayhiap tak pernah kalah, yang pasti kau pernah keok ditangannya "

"Mati aku !” jerit Sin-kau saking kekinya, dada jadi sesak, darah segar tersembur dari mulutnya, ia roboh terjengkang.

(xxxxx)

Sementara itu di gua yang lain Tian Pek telah mendapat ajaran ilmu pukulan Lui-im-hud-ciang dari si keledai sakti, bahkan iapun mengetahui kisah pembunuhan yang menimpa ayahnya di masa lampau.

Ayah Tian Pek, Pek-lek-kiam (pedang geledek) Tian In- thian adalah seorang pendekar besar yang amat lihay, bukan saja ilmu silatnya sangat tinggi, iapun berbudi luhur dan berjiwa besar, dengan pedang hijau Bu-cing-pek-kiam dia malang melintang tanpa tandingan di kolong langit, oleh karena wataknya yang jujur dan lebih mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, maka banyak orang yang suka dan kagum kepadanya, tapi juga ada yang membenci dan dendam kepadanya.

Yang tak terduga lalah Tian In-thian bukan mati di tangan musuh, tapi justeru menemui ajalnya di tangan keenam saudara angkatnya sendiri.

Waktu itu bersama keenam saudaranya mereka tersohor sebagai Kanglam-jit-hiap (tujuh perdekar Kanglam). Selain Ti-seng-jiu Buyung Ham, saudara angkatnya yang lain ialah Kian-kun-ciang (Pukulan sapu jagal) In Tiong- liong, Cing-hu-sin (dewa kecapung hijau) Kim-Kiu. Kun- goan-ci (Jari sakti) Sugong Cing, Pak-ong-pian (cambuk raja bengis) Hoan Hui serta Gin-san-cu (kipas perak sakti)

Liu Tiong-goan.

Kalau Tian In-thian mengutamakan kepentingan umum dan berjiwa ksatria, maka keenam saudaranya jauh bertolak ke belakang, mereka sering mengeluh dan menggerutu kalau diajak saudaranya menghadapi pertarungan sengit demi kepentingan umum, kemudian mereka merasa tiada keuntungan apa2 yang diperoleh selama ini, maka timbul rasa tidak puas dalam hati masing2.

Kalau hanya sampai di situ saja mungkin urusan tak akan bertambah serius, jasteru karena watak Tian In-thian yang aneh dan lebih mengutamakan kepentingan umum itulah, seringkali ia bertindak tanpa mempedulikan keberatan2 saudara angkat lainnya, pedomannya asal tindakan itu tidak melanggar peraturan persilatan dan demi kepentingan umum, maka semuanya akan dilaksanakan tanpa pamrih.

Oleh sebab beberapa hal itulah, rasa tidak puas dalam hati keenam orang saudara angkatnya kian menjadi.

Kendatipun begitu, mereka tak berani membangkang ataupun melakukan perlawanan secara terang2an, sebab nama Kanglam-jit-hiap semakin tenar dan harum, betapapun mereka tak berani ribut dengan pimpinannya sendiri.

Suatu ketika tanpa sengaja Ti-seng-jiu Buyung Ham menemukan sebuah peta harta karun di sebuah gua rahasia dipuncak Ay-lau-san, menurut keterangan yang tertera di peta itu dapat diketahui bahwa pada dasar telega Tong-ting- oh terpendam satu partai harta pusaka yang telah berusia ribuan tahun, barang siapa berhasil mcndapatkan harta itu maka dia akan jadi kaya raya di dunia ini.

Betapa girangnya Buyung Ham sukar dilukiskan, teringat betapa menderitanya selama berkecimpung di dunia persilatan selama ini, timbul niatnya uutuk mendapatkan harta karun itu dan mengundurkan diri dari keramaian dunia, betapa bahagianya hidup mewah di kemudian hari.

Maka berangkatlah Buyung Ham menuju ke tepi Tong- ting-oh untuk mencari harta karun itu. Apa mau dikata, di sana sudah banyak sekali jago silat yang bergerombol di seputar telaga itu.

Sebagai seorang cerdik Buyung Ham tak berani bertindak gegabah, ia tidak langsung mencari harta karun sebaliknya ia melakukan penyelidikan yang saksama di sekitar sana.

Akhirnya berhasil diketahui olehnya bahwa berita tentang adanya harta karun di dasar Tong ting-oh telah bocor dan diketahui oleh umum, jago silat yang berdatangan ke situ banyak sekali jumlahnya.

Kemudian didengar pula bahwa kecuali harta karun konon ada pula sejilid kitab pusaka Bu hak-cin-keng, sepotong batu pualam Pi-sui-giok-pi serta tiga biji obat mujarab Toa-lo kim-wan.

Menurut kabar ceritanya, kitab pusaka Bu hak cin-keng adalah peninggalan Jik-siong-cu, seorang tokoh silat setengah dewa yang memiliki kepandaian tinggi, dalam kitab tercatat pelbagai ilmu yang sukar ditemukan di dunia ini, barang siapa berhasil mempelajari ilmu silat yang tercantum dalam kitab itu maka dia akan menjagoi dunia tanpa ada tandingannya. Sedangkan Pi-sui-giok-pi (batu kemala penolak air) bukan saja mampu menolak air, dengan membawa benda mestika tersebut maka makhluk berbisa tak berani mendekat, bagi mereka yang bersemadi dan berlatih ilmupun tidak takut akan menghadapi bahaya-bahaya kelumpuhan, malahan katanya menambah kekuatan dan mempercepat latihannya.

Tentang pil Toa-lo-kim-wan lain lagi kehebatannya, konon bila orang biasa yang makan obat itu, maka rambut yang beruban akan menjadi hitam kembali, mereka yang giginya sudab ompong bisa tumbuh lagi giginya, akan awet muda dan tak kenal tua.

Sebaliknya bila orang persilatan yang makan pil itu, maka tenaga dalam mereka akan seperti mendapat tambahan enam puluh tahun latihan, kalau tiga butir dimakan sekaligus akan panjang umur dan mendekati seperti dewa.

Bayangkan, siapa yang tidak tergiur oleh ke-tiga macam benda mestika yang sangat bermanfaat bagi umat persilatan ini? Apalagi masih terdapat batu permata yang tak  terhingga jumlahnya, siapa saja yang berhasil mendapatkan harta itu berarti akan menjadi manusia yang palin kaya di dunia dan jago silat tanpa tandingan di kolong langit.

Tidak mengherankan apabila dunia persilatan lantas bergolak dan berkumpul di seputar telaga Tong ting oh.

Cemas dan girang Ti-seng jiu Buyung Ham setelah memperoleh berita itu, ia girang karena peta pusaka sudah didapatkannya, tapi merasa cemas karena berita tentang harta kekayaan itu telah bocor ke seluruh dunia persilatan.

Ia sadar dengan kekuatannya sendiri tak mungkin bisa menghadapi jago persilatan sebanyak itu. Ada lagi satu hal yang terpenting, sekalipun ia mempunyai peta pusaka, namunn tak pandai berenang, itu berarti tak mnngkin baginya untuk masuk ke dasar telaga.

Karena tak berdaya, terpaksa Ti-seng-jiu Buyung Ham berunding dengan keenam saudara angkatnya.

Ti seng-jiu Buyung Ham adalah orang licin tentu saja dihadapan keenam saudaranya ia tak berani mengungkapkan keserakahannya akan mengangkangi sendiri kekayaan tersebut, sebaliknya dia pakai alasan bahwa peta pusaka itu di dapatkan tanpa sengaja, karena tak berani mengangkangi sendiri penemuannya itu, maka diajaknya keenam saudara lainnya untuk menikmati bersama.

Pek-lek-kiam Tian In-thian yang berbudi luhur menentang usul keenam saudaranya untuk mendapatkan harta tersebut demi kepentingan sendiri, ia usulkan agar harta karun itu digunakan menolong rakyat jelata di beberapa propini yang tertimpa bencana alam.

Waktu itu rakyat di sekitar daerah itu sedang mengalami penderitaan yang hebat, mereka kekurangan bahan makanan, sedang pihak pemerintah tak mampu memberikan pertolongannya, setiap hari ada be-ribu2 orang mati kelaparan.

Benta sedih itu sangat menyentuh perasaan Tian In- thian, maka dia ingin menggunakan harta karun untuk membeli bahan makanan dan menolong rakyat yang menderita.

Dingin hati Buyung Ham mendengar usul tersebut, ia sadar harapannya untuk memperoleh batu permata itu demi kepentingan prihadi tak mungkin terlaksana lagi, tapi ia tak menyerah begitu saja, ia mengusulkan agar ketiga macam benda mestika itu dibagi rata .... Tapi kelima saudara lainnya menganggap sama  sekali tak ada manfaatnya untuk mengambil harta kekayaan itu dengan pertaruhan nyawa, padahal tiada keuntungan apa2 bagi mereka, maka mereka sama menasehati Tian In-thian agar membatalkan niatnya itu.

Akan tetapi Tian In thian tetap bersikeras dengan pendiriannya, untuk mengatasi sergapan dari jago2 silat lainnya dia mengusulkan agar ketiga macam benda mestika itu dipersembahkan saja kepada dunia persilatan,  sedangkan mutu manikam itu digunakan untuk menolong rakyat yang tertimpa bencana alam, menurut pendapatnya umat persilatan hanya mengincar ketiga macam benda mestika itu saja, maka bila ketiga benda itu diserahkan kepada mereka, bukan saja niat mereka menggali harta karun takkan digangggu, bisa jadi malahan akan memperoleh bantuan mereka

sehingga tujuan mulia dari Kanglam-jit-hiap akan terwujud.

Buyung Ham semakin dingin hatinya, ia lantas mcndukung usul kelima saudara lainnya untuk batalkan maksud mereka menggali harta karun.

Tapi Tian In-thian bertekad akan mewujudkan tugas mulia itu. ia tak peduli lagi pikiran ke enam saudara angkatnya dan meneruskan rencananya,

Keenam saudaranya tak berani membantah keputusan Tian In-thian itu, maka berangkatlah mereka menuju ke tepi telaga dan berunding dengan para jago yang berkumpul di situ.

Alhasil usul Tian In-thian memperoleh persetujuan dari kawanan jago silat, segera dibentuk suatu panitia yang terdiri dari tokoh2 Bu-tong-pay Go-bi-pay, Siau-lim-pay dan perguruan besar lainnya untuk ber-sama2 menyelam ke dasar telaga dan membantu Kanglam-jit-hiap mencari harta karun.

Apabila harta karun ditemukan, maka mutu manikam yang berhasil didapatkan akan digunakan menolong rakyat yang kelaparan sementara ketiga macam benda mestika itu akan diperebutkan dalam suatu pertemuan besar para jago yang akan diadakan di puncak Kun-san, dalam pertemuan itu akan diadakan pertarungan secara adil, barang siapa tangguh maka dialah yang akan berhak mendapatkan ketiga macam benda mestika itu, untuk ini Kanglam jit-hiap juga harus ikut serta.

Setelah hasil perundingan itu diumumkan, semua orang dapat menerima usul tadi, bahkan Buyung Ham yang sudah putus asa merasa ada harapan lagi untuk momenangkan ketiga macam benda mestika itu.

Begitulah peta harta karun itupun diserahkan kepada panitia dan dipelajari bersama, alhasil ditemukan bahwa harta pusaka itu berada di dasar telaga Tong-tlng-oh yang amat luas dan dalam itu.

Berhubung di antara Kanglam-jit-hiap hanya Gin-san-cu (kipas perak sakti) Liu Tiong ho saja yang mahir menyelam, maka diutuslah jago ini untuk melakukan pencarian.

Dua hari dua malam lamanya Gin-san-cu berada di  dasar telaga untuk melakukan pencarian, tapi ketika muncul kembali di permukaan air, dia menderita luka yang cukup parah.

Kiranya dasar telaga itu be-ratus2 kaki dalam-nya, bukan saja daya tekanan air sangat besar, arus didasar telaga pun sangat deras, Liu Tiong-ho yang mahir menyelampun hampir kehilangan nyawanya di sana. Secara beruntun jago lain yang merasa punya kepandaian berenang juga menyelam ke dasar telaga untuk melakukan penyelidikan, hasilnya semua orang menderita luka cukup parah, malahan banyak di antaranya yang tidak berhasil mencapai ke dasar telaga itu, ada pula yang penasaran dan berulang kali berusaha mencapai dasar telaga, akibatnya nyawa mereka melayang ke akhirat.

Gagal dengan cara ini, jago2 itu berusaha dengan pelbagai cara yang lain, kembali berpuluh orang jadi korban di dasar telaga tanpa hasil apapun-Setelah mengalami kegagalan demi kegagalan, akhirnya mereka jadi putus asa, banyak diantaranya segera berlalu dari sana.

Lama2 orang yang berkumpul ratusan orang itu pergi semua, bahkan Kanglam-jit-hiap sendiripun lepaskan harapan untuk menggali harta karun itu.

Beberapa tahun kemudian, meski terkadang masih juga ada satu dua rombongan jago silat yang datang ke situ untuk mencari harta karun, tapi kebanyakan mereka kalau bukan pulang dengan luka parah, tentu nyawa mereka ikut terkubur di dasar telaga.

Sejak itu tak seorangpun yang berani lagi mencari harta karun di dasar telaga Tong-ting oh.

Malahan dalam dunia persilatan lantas timbul kata2 ejekan yang ditujukan kepada para pencari harta karun: "Kalau ingin kaya, pergilah ke telaga Tong-ting-oh!"

Lima atau enam tahun kemudian, kebanyakan orang sudah melupakan harta karun di dasar telaga Tong-ting-oh itu.

Pada waktu itulah Tian In thian mendapat tahu bahwa Sin-kau (monyet sakti) Tiat Leng yang bercokol di Le-kun san di bilangan propinsi Hunlam memiliki sebutir "mutiara penolak air" yang sakti, katanya dengan membawa mutiara tersebut bukan saja air akan memisah dengan sendirinya, pakaianpun tak akan sampai basah.

Berita tersebut menggerakkan ingatan Tian In-thian, ia merasa bila mutiara penolak air itu bisa dipinjam, niscaya harta karun di dasar telaga Tong-ting-oh bisa diperoleh dengan mudah.

Seorang diri berangkatlah Tian In thian kedaerah suku Miau dan mendaki Le-kung-san untuk meminjam mutiara mestika, di situ dia melakukan pertempuran selama tiga- hari tiga-malam melawan Sin-kau, akhirnya ia berhasil menangkan pertaruhan itu dan mendapatkau mutiara penolak air.

Serta merta ia kembali ke wilayah Kanglam untuk mengumpulkan keenam saudara angkatnya, dan ber-sama2 berangkat menuju Tong-ting-oh.

Tak disangka karena usahanya inilah Tian In thian harus menemui ajalnya dibunuh oleh keenam saudara angkatnya sendiri.

Maklum, dalam usaha pencarian harta karun ini, Kanglam-jit-hiap bertindak secara rahasia, jarang orang yang tahu tindakan mereka itu, tak heran kalau kematian Tian In-thian di tangan keenam saudara angkatpun tidak diketahui orang luar.

Lewat beberapa tahun kemudian, semua orang telah melupakan kejadian itu, sedang keenam saudara angkat itupun sama menikah dan punya anak, mereka hidup terpisah dan boleh dibilang jarang berkumpul.

Sebab itulah orang lain mengira Tian In-thian mati dibunuh musuh, tiada orang menyangka dia justeru dicelakai oleh keenam saudara angkatnya sendiri. Dengan modal harta karun yang berhasil di-dapatkan dari dasar telaga itulah, Ti-seng-jiu Buyung Ham, Kian-kun- ciang In Tiong-liong, Cing-hu-sin Kim Kiu serta Kun-goan- ci Sugong Cing membeli tenaga jago persilatan untuk memupuk kekuatan sendiri dan akhirnya terbentuklah empat keluarga besar dunia persilatan.

Pak-ong-pian Hoan Hui yang berdiam di kota Tin-kang tidak mengumpulkan jago persilatan, kendatipun demikian kekuatan serta kekuasaannya tidak di bawah keempat saadara-angkatnya.

Hanya Gin-san-cu Liu Tiong-ho saja yang kabur keluar lautan dan tak tahu kabar beritanya, mungkin mengasingkan diri karena menyesal telah membunuh saudara angkatnva sendiri.

Peristiwa ini jarang diketahui orang, sekali pun sahabat karib mendiang Tian In-thian seperti Tay-pek-siang-yat Lui Ceng-wan serta Bu-ing-sin tau (pencuri sakti tanpa bayangan) Hoa Jing-coan dan lain2 siang-malam melakukan penyelidikan hasilnya tetap nihil.

Begitulah akhirnya Sin-lu-tiat-tan berkata: "Hanya aku saja yang mengetahui peristiwa itu, inipun kuselidiki dan kubuktikan kebenarannya selama ber-tahun2, apabila tidak bcrtemu dengan Sin-kau dan ia tidak berceritera tentang ayahmu pinjam mutiara penolak air miliknya, mungkin sampai kinipun aku tak tahu caranya ayahmu mengangkat harta karun itu dari dasar telaga”

Tian Pek tidak mencucurkan air mata, akan terapi ia melotot beringas setelah tabu jelas kisah terbunuhnya ayah.

Sin-lu-tiat-tan menghela napas panjang, ia tahu betapa benci dan dendam si anak muda, maka katanya dengan lembut: "Sayang aku bertindak menuruti nafsu dan melayani monyet tua itu hingga akibatnya sama2 terluka. dalam kcadaan begini aku tak mungkin bisa membantu kau membalas dendam, hidupku tinggal beberapa hari lagi, ilmu silat yang kuwariskan kepadamu juga tak bisa terlalu banyak, sekarang lebih baik tekan duhulu rasa sedihmu, mumpung aku masih bernapas, akan kuwariskan semua ilmuku padamu. Nah, sekarang dengar baik2 kunci ilmu saktiku ini!"

"Ucapan Locianpwe sangat tepat, seorang ksatria sejati tak boleh sedih, aku harus dapat mengendalikan perasaan sendiri, silakan Locianpwe menguraikan ilmu silatmu, akan kuperhatlkan dengan saksama!"

Maka Sin-lu-tiat-tan lantas mewariskan segenap ilmu silatnya yang paling ampuh kepada anak muda itu serta teori cara bagaimana merebut kemenangan bila berhadapau dengan musuh.

Tian Pek berbakat bagus untuk berlatih ilmu silat, selain itu iapun memiliki dasar tenaga dalam yang kuat hasil pelajaran dari Thian-hud-pit-kip, maka tak heran kalau kemajuannya pesat sekali.

Kecerdikan Tian Pek memang lain daripada yang lain, hampir semua pelajaran dapat dipahaminya dengan cepat, hal ini sangat menggirangkan hati Sin-lu tiat tan sampai lupa pada keadaan sendiri yang payah, segenap tenaga dan pikiran yang dimilikinya dicurahkan untuk mendidik anak muda itu.

Sayang waktu yang tersedia minim sekali, hari itu adalah hari ke sembilan puluh Sin-lu-tiat-tan menurunkan ilmu silatnya kepada Tian Pek, karena terlalu banyak memeras tenaga dan pikirannya, genap tiga bulan keadaan jago tua itupun makin payah, keadaannya tak ubah seperti pelita kehabisan minyak. Tian Pek keranjingan belajar ilmu silat, sayang selama  ini tak pernah ketemu guru yang pandai. kendatipun Lui Ceng-wan telah menghadiahkan Soh-kut-siau-hun-thian- hud-pit-kip kepadanya, itupun harus dilatih sendiri dengan jalan meraba, betul atau salah dan bagaimana kemajuan yang dicapai, ia sama sekali tidak tahu.

Dan kini ia berjumpa dengan Sin-lu-tiat-tan yang lihay, setiap patah kata yang diwariskan kepadanya merupakan intisari paling tinggi suatu ilmu silat, bisa dibayangkan betapa rajin dan tekunnya pemuda itu mempelajari ilmu silat tersebut, kecuali makan dan minum, boleh dibilang dia lupa tidur dan lupa beristirahat, seluruh perhatiannya ditujukan pada ilmu, keadaan Sin-lu-tiat-tan yang makin lemahpun tidak diperhatikan olehnya.

Dalam gua itu sudah tersedia bahan makaran dan air minum, selama tiga bulan hampir Tian Pek tak pernah keluar gua, ia mempelajari semua ilmu silat yang diwariskan kepadanya, pada hari yang ke sembilan puluh, hampir sembilan puluh persen ilmu kepandaian itu telah dikuasainya.

Hari itu juga keadaan Sin-lu-tiat-tan semakin payah, untuk berbicarapun sudah tak mampu, setelah beristirahat lama sekali baru orang tua itu buka mata seraya berkata: "Aku hanya mampu mewariskan ilmu silatku sampai di sini saja, untung kau memiliki kitab Thian-hud-pit-kip yang ampuh, asal kau berlatih terus dengan tekun dan rajin, tidak susah untuk mencapai tingkatan  melebihi diriku aku

.... aku rasa jodoh kita hanya sampai di sini saja, keluarlah kau . . dari gua ini. "

Ucapannya kian lama kian lemah dan lirih, akhirnya tinggal mulutnya saja yang berkomat-kamit namun tak terdengar lagi suaranya. Tian Pek melenggong, saat itulah baru dia memperhatikan keadaan Sin lu-tiat-tan yang payah, dilihatnya sorot mata kakek itu sudah buram, mukanya pucat dan dadanya bergelombang naik-turun, tahulah anak muda ini bahwa saat ajalnya sudah tak jauh lagi.

"Locianpwe, kau kenapa kau .” teriak Tian Pek kuatir.

Sin-lu-tiat-tan tarik napas panjang2, dia membuka matanya kembali, dengan susah payah ia berkata: "Tak usah urus diriku lagi, ingat saja baik2 jangan bertindak gegabah dalam pembalasan dendammu, giatlah berlatih ilmu dan perbanyak mengikat tali persahabatan dengan jago di dunia, bila perlu umumkan peristiwa berdarah yang menimpa ayahmu pada dunia persilatan "

Sebelum kakek itu menyelesaikan kata2nya, tiba2 di luar gua berkumandang suara gaduh, terdengar seseorang berseru dengan lantang: "Pasti berada di sini! Coba lihat bekas telapak kaki di mulut gua ini, sudah pasti ada orang pernah masuk sini!"

"Hayo geledah saja! Mari masuk ke dalam, hayo!" beberapa orang lantas menanggapi dengan ramai.

Suara langkah kaki yang ramai menggema di luar gua, jelas ada beberapa orang telah memasuki gua itu.

Tian Pek jadi gelisah, dia kuatir kehadiran beberapa orang itu akan mengganggu ketenangan Sin lu-tiat tan menjelang ajalnya. Cepat ia bertindak keluar gua, serunya dengan lantang: "Siapa itu di luar? Jangan sembarangan terobosan di sini!"

Belum habis ia berseru, mendadak seorang membentak: "Serang!"

Berpuluh titik cahaya tajam diiringi suara desingan langsung menyambar ke muka Tian Pek. Gusar Tian Pek menghadapi serangan tanpa alasan itu, segera ia ayunkan tangannya ke depan, "trang! trang!" terdengar dentingan nyaring, tiga batang piau perak yang menyambar tiba tergetar mencelat menumbuk dinding gua, tenaga sakti anak muda mulai memperlihatkan kehebatannya.

Pemuda itu benci kepada penyerang yang keji itu, setelah merontokkan senjata rahasia musuh, cepat telapak tangannya menghantam pula ke depan, berbareng Tian Pek ikut menyusup keluar gua.

Gulungan angin pukulan bagaikan taupan mendampar dengan hebat, dua kali jeritan ngeri menggema di udara, menyusul tiga sosok bayangan melayang keluar.

"Blang, blang!" kedua sosok tubuh yang melayang masuk ke dalam gua itu terhempas di tanah, sementara Tian Pek sendiri juga meluncur keluar secepat terbang,  telapak tangan kanan siap di depan dada dan telapak tangan kiri melindungi tubuh dari ancaman musuh.

Dilihatnya puluhan orang berkerumun di situ, salah seorang di antaranya dikenali sebagai Siang-lin Kougcu yang tampan.

Di sisi Siang-lin Kongcu berdiri Kanglam-te-it-bi-jin (gadis paling cantik di wilayah Kanglam) Kim Cay-hong.

Di belakang kakak beradik itu berdiri Kim na-siang tiat- wi (sepasang pengawal baja keluarga Kim), yaitu Tiat-pi-to- liong (Naga bungkuk berlengan baja) Kongsun Coh serta Tiat-ih-hui-peng (Rajawali sakti bersayap baja) Pah Thian- ho.