Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 24

Jilid 24

Wan-ji tak tahu kelihayan musuh, serangan Ciong-nia-ci- eng segera ditangkis-nya dengan gerakan Ni-hong-soh-liu (hembusan angin menggoyangkan ranting liu yang ramping).

Sebelum kedua tangan beradu. Wan-ji merasakan embusan hawa panas menyapu ke mukanya, sekujur tubuh nona itu gemetar keras, ia merasa kulitnya bagaikan terbakar dan tulangnya terasa linu dan sakit sekali. "Celaka . . . . " keluh Wan- ji di dalam hati, ia ingin menghindar, tapi sayang, kemauan ada tenaga tak sampai, terasa lemas dan terkulai ke tanah, ia jatuh pingsan.

Melihat musuh sudah roboh, Ciong-nia-ci- eng tertawa seram, ter-kekeh2 tak sedap didengar, tangannya yang  kurus kering tinggal kulit membungkus tulang tiba2 dipercepat dan menghantam batok kepala Wan-ji.

Gembong iblis itu sungguh keji dan tak kenal kasihan, jika pukulan itu sampai bersarang di tubuh Wan-ji, niscaya gadis cantik itu akan hancur ....

"Tahan . . . . !" mendadak terdengar bentakan menggelegar, menyusul segulung tenaga pukulan yang maha dahsyat menerjang Oong-nia-ci-eng.

Terkesiap si elang sakti, pukulan Ku-kut-ciang cukup lihay, namun ia tak berani menyambut pukulan tersebut dengan kekerasan.

Waktu itu telapak tangannya sudah dekat di atas kepala Wan-ji, tapi angin pukulan yang dahsyatpun sudah dekat pinggangnya, dalam keadaan begini iblis tua itu harus lebih dahulu menjaga keselamatan sendiri. Cepat dengan gerakan Kang-sitiau (loncatan mayat hidup), tanpa kelihatan bergerak, tahu2 ia melompat satu tombak kesamping.

Kiranya Tian Pek yang telah memaksa mundur Ciong- nia-ci-eng dan menyelamatkan jiwa Wan-ji, setelah musuh terdesak mundur, cepat ia merangkul tubuh si nona, ia terkejut setelah menyentuh tubuh Wan-ji yang panas separti terbakar, tanpa pikir ia tutuk tujuh Hiat-to penting di tubuh Wanji agar urat nadi nona itu tidak sampai terganggu.

Dalam pada itu paman Lui, Buyung Hong, Leng-hong Kongcu, Toan-hong Kongcu beserta Mo-gwa-sin-kun Hek- lian Ing, yaitu kakek berambut panjang yang datang bersama Leng-hong Kongcu itu, telah memburu maju, merekalah yang paling memperhatikan keselamatan Wan-ji.

Setelah tahu Wan-ji terluka parah, paman Lui menjadi murka, dengan pukulan Thian-hud-ciang ia hantam Ciong- nia-ci-eng.

Meskipun serangan itu cukup lihay, tapi Ciong-nia-ci-eng sama sekali tak gentar, ia tertawa dan menyambut serangan tersebut dengan Ku-kut-ciang.

Sebelum serangan tiba, paman Lgui merasakan  emibusan hawa panahs lebih dulu, ia terkejut, ia tahu angin pukulan lawan beracun, ia tak berani menyambut dengan kekerasan, cepat ia mengegos ke samping.

Hampir bersamaan waktunya Leng-hong Kongcu dan Buyung Hong juga menerjang maju, tapi merekapun terdesak mundur oleh angin pukulan lawan yang dahsyat.

Toan-hong Kongcu tak mau ketinggalan, dengan ilmu jari Kun-goan-ci andalan keluarganya, cepat ia menutuk Sam-yang-hiat musuh.

Tak gentar Ciong-nia-ci-eng menghadapi kerubutan musuh yang begitu banyak, ia tertawa seram, Ku-kut-ciang dikambangkan sedemikian rupa hingga dalam sekejap terasalah hawa panas bergolak.

Im-san-ci-long tidak tinggal diam menyaksikan Ciong- nia-ci-eng dikerubut onang banyak, ia membentak, dengan Ciang-jin-jiat-bok, bacokan telapak tangan yang setajam pisau, langsung ia membacok bahu Toan-hong Kongcu.

Sebagai pernah disinggung di atas, Im-san-ci-long merupakan manusia paling licik di antara rekan-rekannya, setelah mengetahui Toan-hong -Kongcu tak lain adalah ketua perkumpulan pengemis, timbul niatnya untuk membekuk pemuda itu lebih dulu, kemudian baru memaksa perkumpulan pengemis untuk menuruti segala perintah dan kemauannya.

Tapi ia lupa akan sesuatu, ia tidak memperhitungkan kekuatan piliak pengemis, baru saja ia menyerang Toan- hong Kongcu, serentak Hong-jam-sam-kay ikut terjun pula ke arena untuk membantu ketuanya.

Tay-cong-ci-ju maupun Sah-mo-ci-hu juga melompat maju untuk menolong rekan2nya; tapi mereka lantas dibendung oleh kawanan jago persilatan yang lain, dalam waktu singkat terjadilah pertarungan yang sengit.

Sementara itu Tian Pek dengan merangkul pinggang Wan-ji dan telapak tangan menempel pada Lu-tiong-hiat di dada si nona, dengan cara penyembuhan seperti yang tercantum didalam kitab Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit- kip, tiada hentinya ia salurkan hawa murni ke tubuh nona itu untuk mengusir hawa panas beracun yang sudah telanjur menyerang tubuhnya.

Sekujur tubuh Wan-ji ketika itu panas bagaikan dibakar, mukanya merah, matanya terpejam, bibirnya setengah merekah, alisnya bekernyit, meskipun bersandar lemas dalam rangkulan Tian Pek, napasnya kedengaran memburu.

Walaupun si cantik berada dalam pelukannya namun tiada ingatan jahat dalam benak Tian Pek, ia menyadari keadaan Wan-ji yang gawat, ia tahu bila dia lepas tangan niscaya jiwa nona itu sukar tertolong.

Sebab itulah ia tidak menghiraukan pertempuran sengit yang terjadi, pikirannya hanya tertuju untuk mempertahankan hidup bagi nona itu.

Tapi manusia bukanlah malaikat, siapa yang dapat menahan kobaran hawa nafsu? Apalagi Tian Pek adalah pemuda yaug masih berdarah panas, sedangkan Wan-ji adalah nona yang cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, pula sebelum itu mereka berdua sudah pernah saling menyukai, sekarang tubuh keduanya berdekapan, mustahil kalau pikiran Tian Pek samsa sekali tidak terpengaruh.

Pada mulanya Tian Pek hanya bermaksud menvembuhkan luka nona itu, tanpa pikir dia menerjang ke muka dan memeluk tubuh Wan-ji yang akan roboh, setelah menutuk tujuh tempat jalan darahnya, ia menempelkan telapak tangannya pada Lu-tiong-hiat di dada si nona. 

Tapi lama kelamaan bau keringat dan bau harum khas perempuan mulai terendus oleh pemuda itu, kecantikan wajah yang mempesona, tubuh yang halus dan empuk serta gesekan badan yang memantulkan hawa panas membuat pemuda itu mulai berdebar dan hampir saja tak mampu menguasai diri ....

Memandangi wajah yang cantik, tanpa terasa pemuda itu terbayang kembali kejadian masa lampau ketika ia dibacok luka oleh Tan Peng di hutan, kemudian ditolong Buyung- hujin dan tetirah di Pah-to-san-ceng. Wan-ji yang polos dan lincah setiap hari membuatkan obat baginya, menyuapinya kuah jinsom, melayaninya dengan mesra, siapa yang tak kau merasa bahagia bila mendapatkan rawatan yang begitu hangat dari seorang nona ketika

menemui kesulitan . . . .

"Engkoh . . . Tian-siauhiap . . . " suara panggilan seseorang menyadarkan Tian Pek dari lamunannya, cepwat ia berpaling, kiranya Kanglxam-te-it-bi-jin Kim Cay-hong entah sejak kapan sudah berada di sampingnya dan sedang mengawasi dirinya dan Wan-ji yang tak sadar itu. Belum lagi Tian Pek menjawab, kembali Kim Cay-hong berkata: "Bagaimana nona Wan-ji?"

Sorot mata gadis itu seperti menampilkan rasa cemburu, namun Tian Pek tak sempat berpikir lain dengan alis terkerut sahutnya: "Cukup parah . . . "

Mendadak jeritan ngeri memotong ucapan yang belum selesai itu, serta merta kedua orang itu berpaling ke sana, tertampaklah beberapa orang telah terkapar bermandikan darah.

Kiranya ilmu silet Hek-to-su-hiong memang tangguh dan keji, sekalipun kawanan jago yang mengerubuti mereka lebih banyak jumlahnya, namun mereka memang bukan tandingannya keempat manusia jahat tersebut.

Anak murid perkumpulan pengemis paling banyak jatuh korban, tiga Tosu dari Bu-tong-pay sudah dua orang terluka, sedangkan Tiam-jong-siangkiam kehilangan seorang rekannya, Jit-poh-tui-hun tewas secara mengenaskan dan Hou-bok-cuncu dari ruang Lo-han-tong di Siau-lim-si terluka oleh Ku-kut-ciang Ciong-nia-ci-eng.

Kejut dan cemas Tian Pak, betapa gusarnya menyaksikan keganasan keempat gembong iblis itu menyebarkan mautnya.

Sayang pada waktu itu dia sedang menyembuhkan Wan- ji. ia tak ingin melepaskan tangannya karena dilihatnya peluh sudah mulai membasahi tubuh nona itu, penderitaannya sudah berkurang dan panas badannya kian menurun, jika dia lepas tangan maka usahanya sejak tadi akan sia2 belaka.

Namun iapun tak dapat membiarkan kawanan jago menjadi korban keganasan musuh tanpa menolongnya, keadaan yang serba susah ini membuat pemuda itu menjadi gelisah.

Dikala itulah tiba2 ia lihat Tay-tong-ci-ju sedang menggunakan ilmu Sok-kim-mo-kang dan beruntun mendesak mundur paman Lui.

Walaupun dengan susah payah paman Lui me)akukan perlawanan dengan mengerahkan segenap tenaga pukulan Thian hud-ciang, namun bagaimanapun juga ia tidak mampu menangkis serangan Tay-cong-ci ju.

Pada saat kritis itulah Ciong-nia-ci-eng berhasil menghajar mati dua anggota perkumpulan pengemis, sambil tertawa seram tiba2 dia melompat ke atas terus menghantam Pek-hwe-hiat di ubun2 paman Lui.

Betapa gelisahnya Tian Pek melihat paman Lui terancam bahaya, cepat ia serahkan Wan-ji ke tangan Kim Cay-hong seraya berseru: "Tolong rawatlah dia, tempelkan telapak tanganmu pada Lu-tiong-hiat dan salurkan hawa murni untuk mengusir racun panas dari tubuhnya . ...

Sementara itu sekuat tenaga paman Lui telah melancarkan bacokan maut untuk mendesak mundur si tikus, beruntun tiga kali ia berganti tempat, maksudnya agar dapat meloloskan diri dari jangkauan tangan musuh, sayang tetap gagal melepaskan diri dari cengkeram maut Ciong-nia- ci-eng.

Dengan tubuhnya yang kaku seperti mayat, Ciong-nia-ci- eng mengejar terus ke manapun paman Lui mundur, suatu ketika ia berhasil merebut posisi yang menguntungkan, paman Lui mati langkah dan tak mampu menghindar lagi, serentak ia mengerahkan tenaga pukulannya, menghantam dengan Ku-kut- ciang. Tian Pek tak sempat memberikan bantuan, terpaksa dia membentak nyaring: "Berhenti!"

Bentakan itu disertai tenaga sakti yang hebat, seperti bunyi guntur membelah bumi, seketika itu juga seluruh ruangan berguncang keras, telinga semua orang mendengung.

Bentakan auman singa ini bukan saja membuat Ciong- nia-ci-eng segera menghentikan serangannya, namun juga semua orang yang sedang bertempur berhenti pula.

Dengan langkah lebar Tian Pek maju ke tengah, sorot matanya setajam sembilu, menyapu pandang sekejap kawanan jago ygang sedang memaindangnya denganh terkejut, dia memasang kuda2 dan berdiri sekokoh bukit karang, lalu katanya dengan lantang: "Kalian menyebut dirimu Hek-to-su-hiong, sudah kusaksikan sendiri bahwa kalian memang keji, kalian sudah melukai sekian banyak orang. Hm, kalau tidak tahu batunya, terpaksa orang she Tian akan hajar adat kepada kalian!"

Keempat manusia bengis itu tertawa ter-bahak2, suara mereka keras sekali dan sedikitpun tak pandang sebelah mata kepada musuhnya.

Maklumlah, dengan dikerubuti puluban jago lihay saja mereka berempat bisa malang melintang ibaratnya harimau ditengah gerombolan domba, Tian Pek hanya seorang pemuda yang berusia likuran, tentu saja ancamanuya dianggap sebagai lelucon yang sangat menggelikan.

Si rase dari gurun menjengek, si tikus dari gudang tertaawa dingin, elang dari bukit tandus tertawa ter kekeh2, tiga macam suara yang tak sedap dan mendirikan bulu roma. Di antara mereka hanya si serigala dari Imsan yang tidak tertawa, sebab ia merasakan firasat jelek, dia mengulapkan tangannya mencegah ketiga rekannya tertawa lebih jauh, kemudian ia berkata kepada Tian Pek: "Saudara cilik, apakah kau ini pedang hijau tak

berperasaan` Tian-siauhiap yang pernah melawan Hay- gwa-sam-sat dengan tenaga seorang diri..

"Betul, itulah aku " jawab Tian Pek.

Pengakuan ini sangat mengejutkan keempat gembong iblis ini, sebab sewaktu mereka mendarat di Tionggoan. dari seorang kawan mereka diberitahu bahwa di dunia persilatan sekarang terdapat seorang jago dengan senjata pedang hijau dia bernama Tian Pek dan pernah menandingi kerubutan Hay-gwa-sam-sat.

Menurut perkiraian Hek to-su-hiong, pedang hijau Tian Pak pastilah tokoh sakti yang sudah berumur, tak tahunya jago yang disegani Lam-hay-bun hanya seorang pemuda ingusan.

Oleh sebab itulah ketika Tian Pek muncul dan menyebutkan namanya setelah memukul mundur Tay-tong- ci-ju, mereka tidak menaruh perhatian, merekapun tak menyangka pemuda inilah si Pedang Hijau yang menjadi lawan tangguh Lam hay bun.

Tatkala Tian Pek muncul untuk kedua kalinuya dan membentak dengan tenaga dalam yang dahsyat, ketiga manusia bengisg itu masih beluim menaruh perhahtian, sekalipun mereka tahu juga tenaga Lwakang pemuda itu memang sangat tinggi. Sebab berdasarkan usia Tian Pek yang begitu muda, tak nanti ia mampu melebihi keempat manusia bengis yang sudah tersohor itu.

Untunglah Im- san-ci-long yang teliti segera teringat pada cerita yang pernah didengarnya, sesudah terbukti anak muda itu benar si Pedang Hijau Tian Pek, mau-tak-mau mereka merasa keder. Tapi dasar mereka sudah terbiasa jumawa, kendatipun cerita tentang pertarungan Tian Pek melawan Hay-gwa- sam-sat cukup menggetarkan hati, mereka masih tak mau percaya dengan begitu saja karena kejadian itu tak disaksikan sendiri.

Memang begitulah sifat manusia, sebelum melihat sendiri, ia tak akan takluk dan tak tahu betapa tingginya langit dan tebalnya bumi, sebab itu meski agak kaget Im- san-ci-long mendengar pengakuan pemuda itu, sesaat kemudian kejumawaannya lantas timbul lagi.

Ia tertawa dingin dan mengejek: "Hehehe. . . kalau begitu inilah kesempatan baik bagiku untuk belajar kenal dengan seorang jago muda!"

Sebelum Tian Pek menjawab, dengan Ciang-jin-jiat-bok yang dahsyat ia menabas tubuh anak muda itu.

Tian Pek tersenyum, Thian-hud-hang-mo-ciang dilontarkan untuk menyambut pukulan lawan.

"Blaang!" di tengah benturan keras Im-san-ci-long tergetar mundur lima langkah dengan sempoyongan, sebaliknya Tian Pek masih berdiri tegak sedikitpun tak bergeser dari tempatnya.

Melihat kelihayan musuh Ciong nia-ci-eng membentak keras, Ku-kut-ciang dikerahkan sekuatnya dan serentak menghantam, di antara embusan angin puyuh tertampaklah selapis cahaya merah menyilaukan mata menghiasi angkasa.

Semua orang menjerit kaget. sebelum ini tak pernah mereka saksikan tenaga pukulan yang begini dahsyat.

Tian Pek semakin bersemangat, timbul keinginannya untuk mengadu tenaga, ia berpikir: "Akan kubuktikan apakwah Thian-hud hang-mo-ciang yang kuyakinkan ini benar2 tiada tandingan di kolong langit

. . . . . . !"

Tenaga sakti Soh-kut-siau-hun-thian-hud-lik disalurkan sekuatnya, lalu dengan jurua Hud-kong-bu ciau (sinar Buddha memancar terang) dia sambut serangan lawan dengan kekerasan.

"Blaang!" benturan keras menggelegar, di antara jerit kaget kawanan jago yang berkumpul di tepi arena, tertampaklah dua gulung angin pukulan yang dahsyat itu menjulang ke angkasa, lalu menyebar keempat penjuru dan menyapu rontok talang ruang besar itu, debu pasir beterbangan. suasana jadi kalut dan semua orang merasa sesak napas.

Di tengah beterbangannya debu pasir, tertampaklah Ciong nia-ci eng dengan jubah yang menggelembung dan rambut awut2an beruntun mundur tiga langkah, lalu berdiri tegak, namun jelas kelihatan masih bergoyang dan setiap saat bisa roboh.

Tian Pek juga mundur selangkah, badan agak bergetar, mukanya merah dan ujung bajunya ber kibar.

Cepat Ciong- nia-ci-eng mengatur pernapasan dan berusaha mengendalikan pergolakan darah, setelah itu ia tertawa mengejek: "Saudara cilik, bagaimana rasanya pukulan Ku kut-ciang?" .

Ketika untuk pertama kalinya telapak tangan Tian Pek beradu dengan tangan Ciong-nia-ci eng, anak muda itu merasakan hawa panas menyerang tubuhnya dan seluruh persendiannya seperti terguyur air mendidih, tapi ia dapat salurkan hawa murninya untuk mendesak keluar aliran hawa panas itu, setelah mengetahui peredaran darahnya tetap berjalan lancar, kepercayaan kepada diri sendiri lantas bertambah.

Maka waktu Ciong-nia-ci-eng mengejek, iapun menyahut: "Apanya yang hebat? Kukira cuma begitu2  saja!"

Ucapan ini membuat Corg-nia-ci-erg tertegun dan heran, ia tak percaya pemuda itu sanggup menangkis Ku-kut-ciang yang maha hebat itu tanpa cidera. Setelah menghimpun tenaga dan tertawa aneh, segera ia berkata lagi: "Kalau kau benar2 jantan, beranikah menyambut satu pukulan lagi?"

Tian Pek tersenyum: "Jangankan cuma satu pukulan, sepuluh atau seratus pukulan akan kusambut semua!"

Jahe yang tua biasanya lebih pedas, demikian pula keadaan Ciong- nia- ci-eng, kendati ia merasa tenaga sudah agak berkurang, ia yakin keadaan Tian Pek tentu jauh lebih payah, pemuda itu bisa bersikap tenang tentu cuma pura2 berlagak begitu, sebab umumnya barang siapa bisa bertahan sampai akhir pertarungan, dia yang akan keluar sebagai pemenang.

Oleh sebab itulah, Ciong-nia- ci-eng tak sudi dipandang lemah, sambil menghimpun kembali tenaganya ia berseru lantang: "Baik sambut lagi pukulan ini "

"Eh, tunggu scbentar!" tiba2 Tian Pek memberi tanda berhenti.

"Kau takut?" ejek Ciong-nia-ci-eng sambil menarik kembali tangaanya yang siap melancarkan serangan.

Tian Pek tersenyum: "Ha, selama hidupku tak pernah kukenal apa artinya takut. Aku cuma ingin mengucapkan beberapa patah kata lebih dulu"

"Perkataan apa? Cepat katakan!" "Aku telah berjanji dengan seseorang bahwa aku tak akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi, karena itu aku merasa tidak leluasa untuk bertempur dengan kau . . . .

kuharap "

Tiba2 si tikus tertawa ter-kekeh2, katanya: "Hahaha, buat apa berputar kayun kalau bicara? Terus terang saja mengaku bahwa kau takut!"

"Ah, belum tentu . . . . " jengek si anak muda sambil melirik hina.

Im-san-ci-long mengira Tian Pek sedang mencari alasan untuk mengulur waktu, Dikiranya: "Mungkin isi perutnya sudah terluka oleh pukulan Ku-kut-ciang, maka ia mencari alasan untuk mengulur waktu sambil menyembuhkan lukanya '

Berdasarkan dugaan ini, tiba2 gia mendapat akail, cepat timbruhngnya: "Saudara cilik, jangan kau menolak tantangan kami dengan berbagai alasan, ketahuilah kami berempat baru saja kembali ke daratan Tionggoan dan belum menginjakkan kakinya ke dunia persilatan, maka jika saudara cilik punya kepandaian hebat, keluarkan saja dan jangan sungkan, kami tak akan menganggap dirimu mencampuri urusan dunia persilatan!"

Mendengar ucapan tersebut, Tian Pak mengernyitkan alis, dengan tajam ia pandang wajah musuh2nya, kemudian berkata: "Apa perkataanmu itu dapat mewakili pendapat kalian berempat?"

"Kenapa tidak?" sahut si rase dari gurun.

Tiba2 Tian Pek menengadah dan berpekik nyaring, suaranya keras erkumandang membuat anak telinga orang merasa sakit. Empat manusia bengis itu tertegun, mereka tak habis mengerti apa sebabnya pemuda itu berpekik panjang.

Tian Pek berhenti berpekik, se-olah2 dengan pekikan itu dia sudah melampiaskan semua rasa kesal yang mencekam hatinya selama ini, ujarnya dengan gagah: "Baiklah, kalian berempat boleh maju bersama!"

Kembali keempat manusia bengis itu tertegun, Im-san-ci- long yang tak berhasil menangkap maksud ucapan itu bertanya dengan keheranan: "Saudara cilik, apa yang kaukatakan?"

"Aku seorang diri hendak menantang duel kalian berempat manusia bengis dari golongan hitam ini!"

Mendengar jawaban tersebut, bukan saja Hek-to su hiong tertegun, hampir semua jago yang hadir sama melongo keheranan.

`Bagi sebagian jago yang pernah menyaksikan pertarungan antara Tian Pek melawan Hay-gwa-sam-sat, kejadian ini tidak terlampau mengherankan mereka tapi sebagian besar di antara mereka belum tahu betapa lihaynya Kungfu anak muda itu.

Barusan mereka telah menyaksikan kelihayan keempat manusia bengis itu dikerubut begitu banyak orang dan tak mampu menggalahkan merekai, maka dapat dihbayangkan betapa tercengangnya demi mendengar Tian Pek menantang duel keempat musuh.

Kim Cay-hong maupun Buyung Hong pernah menyaksikan Tian Pek bertempur melawan Hay-gwa-sam- sat, meski tegang mereka tak terlalu menguatirkan keselamatan anak muda itu.

Lain dengan Hoan Soh-ing, ia belum pernah menyaksikan pemuda itu bertarung melawan ketiga "malaikat maut" dari luar lautan, sekarang mendengar tantangan pemuda itu, kecuali diam2 merasa pemuda itu agak bodoh iapun berkuatir bagi keselamatannya.

Sementara itu Wan-ji juga sudah sadar kembali, setelah hawa beracun ditubuhnva didesak oleh tenaga dalam Tian Pek, lalu digantikan pula oleh Kim Cay-hong, keadaannya boleh dibilang sudah mendingan. Iapun heran melihat Tian Pek menantang keempat manusia bengis untuk berduel, serunya: "Engkoh Tian . . . kau . . . jangan gegabah..." Setelah terluka, tubuhnya masih sangat lemah sampai bicarapun lirih sekali, Belum selesai ia berkata, dengan gusar Ciong-nia-ci-eng membentak, sambil

mengerahkan Kut-kut-ciangnya, sekuatnya ia hantam tubuh lawan.

Cahaya merah yang menyilaukan serta deru angin pukulan yang menyayat badan bergulung2 menyapu ke depan.

"Bagus!" seru Tian Pek tak mau kalah, dia keluarkan jurus Hwe-cing-yau-hen (menyapu bersih hawa iblis) dari Thian-hud-ciang- hoat untuk menangkis.

"Blang!" benturan keras terjadi, Ciong-nia-ci-eng terdesak mundur, isi perutnya terasa guncang, pandangannya kabur. Sekarang ia baru tahu bukan saja Lwakang anak muda itu tidak terganggu, sebaliknya jauh lebih hebat daripada tadi, diam2 ia mengakui pemuda ini memang tidak boleh diremehkan.

Dalam pada itu, setelah serangannya berhasil memaksa mundur Ciong nia ci-eng, secepat kilat Tian Pek memutar tubuhnya, dangan jurus Hongceng-lui-beng (angin guntur menggelegar) dia hantam kepala Im-san-ci- long. Serangan itu tajam dan kuat, serigala dari Imsan ini tak berani menyambutnya dengan kekerasan sambil miringkan kepala dan melangkah ke samping ia meloloskan diri dari ancaman tersebut, lalu dengan Ciang-jin-jiat-bok ia tabas bahu kiri musuh.

Tian Pek menjejak kakinya ke tanah dan melompat ke udara, dari sana ia hajar Tay-cong ciju dengan jurus serangan Hud-cou-ciang-cok (Budha suci naik tahta).

Cepat si tikus menyurutkan badannya tiga kaki lebih pendek, berbareng ia balas mengancam tubuh anak muda itu.

Dengan gerakan Say-cu-yen-tan (singa menggeleng kepala), sambil goyang kepala Tian Pek melompat ke atas dan mengitar di udara, semula ia mcmbumbung tinggi lalu turun ke bawah, mendadak kakinya  menendangan pinggang Sah-mo-ci-hu.

Rase dari gurun pasir cepat putar badan, dengan tasbihnya dia ketuk jalan darah dengkul Tian Pek.

Pemuda itu tarik kembali kakinya seraya melayang turun, dalam sekejap mata itulah ia sudah melancarkan serangan kepada tiap2 gembong iblis itu.

Hebat rekali serangan berantai ini dan gaya pemuda itu, baik gerakan tubuh, gerakan langkah, ketajaman mata serta ketepatan serangan, semuanya merupakan suatu rangkaian kerja sama yang manis dan arah yang dituju adalah tempat2 mematikan di tubuh lawan.

Hek-to-su-hiong, empat gembong iblis yang jumawa dan disegani orang pada tiga puluh tahun berselang bukan saja dibikin kalang kabut oleh seorang pemuda dalam satu gebrakan bahkan mereka keteter hebat, hal ini segera membangkitkan rasa gemas mereka. Mereka telah berlatih tekun selama tiga puluh tahun di luar lautan, mereka yakin kemunculan mereka ini pasti akan menggemparkan dunia persilatan, tapi sekarang mereka baru sadar bahwa apa yang mereka bayangkan hanya khayalan belaka.

Begitulah, dengan penuh kemarahan dan penasaran, keempat orang itu membentak keras lalu menyerang lagi dengan hebatnya.

Semangat Tian Pek ber-kobar2, tujuannya menyerang empat orang itu sekaligus tak lain adalah untuk memancing keempat musuh ini menyerang bersama, sekarang setelah pancingannya berhasil, iapun lantas mainkan pukulan2 Thian-hud-cianghoatnya sedemikian rupa untuk melayani mereka.

Keempat manusia bengis itu sudah lama tersohor, biasanya mereka angkuh dan tak pandang sebelah mata kepada lawan, sekalipun turun tangan sendirian juga belum tentu ada orang yang mampu menahan sepuluh gebrakan, biarpun yang dihadapi adalah seorang jago silat kelas tinggi.

Tapi sekarang mereka mengerubuti musuhnya, seorang dan sudah mengerahkan segenap tenaga, namun serangan mereka selalu dipatahkan oleh pemuda ini.

Lama2 mereka tambah penasaran, sambil membentak keras, jurus serangan yang digunakan makin ganas dan tak kenal ampun, hampir seluruh kepandaian mereka dikeluarkan untuk melayani Tian Pek.

Yang paling hebat adalah pukulan Ku-kut-ciang si elang, setiap kali dia melancarkan serangan segera terpancar cahaya merah yang menyilaukan mata, angin pukulan menderu, di mana serangannya menyambar lewat di sanalah debu pasir beterbangan. Pantaslah pukulan Ku-kut- ciang itu sukar ditandingi, malahan Wan-ji serta paman Lui yang berilmu tinggipun tak mampu menahan serangannya.

Tapi Tian Pek adalah pemuda yang lain daripada yang lain, Lwekangnya diperoleh dari latihan menurut kitab Soh- kut-siau-hun-thian-hud-pi-kip, kemudian ketika berada di "lembah kematian", Liu Cui-cui telah memberinya obat mujarab Ci-tam-hoa dan membantunya dengan tenaga dalam, semua itu membuat Tian Pek se-akan2 sudah mencapai tingkatan lik-we-put-hun (tak mempan dibakar dengan api, Jim-sui-put-jin (tenggelam dalam air tidak mati) Tang-put-wi-an (di musim dingin tak kedinginan), He-put- wi su

(di musim panas tak kepanasan), Pi-kok-put-ki (tanpa beras tidak lapar) serta Yong-gan-put to (selalu awet muda).

Kalau tidak begitu, mustahil Tian Pek mampu menahan panasnya pukulan Ku-kut-ciang tanpa mengalami cidera apapun?

Semua ini jangankan Hek to su hionhg tidak tahu, bahkan Tian Pek sendiripun tidak menyadari kelihayannya sudah mencapai tingkatan maha sakti. Andaikata Tian Pek mengetahui kekuatan serta kemampuannya yang sebenarnya, tentu dia tak sudi menyerah kalah kepada "Ciu- kongkong",'Ciu Ji-hay, salah satu dari Hay gwa- sat itu.

Padahal tempo hari secara beruntun anak muda itu berhasil melukai nenek berambut putih dan Hud-in Hoatsu, kemudian meskipun dalam beradu tenaga dengan kakek berjenggot panjang sampai tumpah darah, namun darah itu bukan darah sembarang, justeru itulah darah kotor yang masih ketinggalan di dalam perutnya.

Darah beku den darah biasa tidak sama, darah baru tidak boleh sampai keluar, misalnya seorang terlampau keras menggunakan tenaga atau terjatuh hingga luka parah dan muntah darah, maka keadaan orang itu berbahaya sekali, jika tidak segera mendapat pertolongan, sekalipun tidak mati tentu juga akan cacat seumur hidup.

Berbeda dengan darah beku, darah itu harus dimuntahkan keluar supaya badan bisa bertambah segar. Darah beku dalam perut Tian Pek itu adalah akibat ia makan Ci tam-hoa.

Ci tam hoa merupakan sejenis obat penambah tenaga yang bersifat panas, bila orang biasa minum obat itu niscsya akan mati kepanasan. Keistimewaan tergebut tak diketahui oleh Cui cui, karena yang dipikirkan nona itu hanyalah demi engkoh Tian, ia tak tega kekasihnya tersiksa, maka ketika pemuda itu pingsan, iapun melolohkan obat mujarab yang disimpannya itu untuk kekasihnya.

Walau begitu baik Tian Pek maupun Cuicui sama2 tidak menyadari masih ada segumpal darah beku yang tertinggal di perut Tian Pek, baru kemudian waktu pertarungan dengan ketiga "malaikat maut " di mana ia mendapat goncangan keras, darah beku yang masih tertinggal dalam perutpun tertumpah keluar.

Andaikata yang dimuntahkan waktu itu adalah darah baru tentu anak muda itu tak mungkin bisa tinggalkan istana keluarga Kim dan kabur kelembah kematian, lebih2 tak mungkin mampu membinasakan Sam-cun-teng Siau- siang-bun serta bertarung melawan Kanglam-ji-ki yang  lihay itu.

Jika membandingkan satu persatu kungfu anggota Hek- to-hau-hiong dan Hay-gwa-sam-sat, maka mereka tiada yang lebih kuat daripada si kakek berjenggot panjang, tapi tidak di bawah kelihayan si nenek berambut putih dan Hud- in Hoatsu. Jika bergabung, Hek-to-su-hiong jelas lebih tangguh daripada Hay-gwa-sam-sat. Jadi kekalahan Tian Pek di tangan Hay-gwa-sam-sat sebenarnya adalah kekalahan yang penasaran.

Kembali pada pertarungan Tian Pek melawan Hek-to-su- hiong, hanya sekejap saja mereka sudah bertempur hingga tiga puluh gebrakan lebih.

Kian lama pertarungan itu berlangsung makin cepat sehingga akhirnya sukarlah melihat jelas bayangan tubuh kelima orang itu. Kawanan jago di seputar arena hanya sempat melihat lima gulung hawa pukulan yang keras menggumpal menjadi satu.

Para penonton sama menyurut mundur ke belakang sehingga akhirnya berdiri di bawah emper rumah, dengan mata terbelalak mereka saksikan pertarungan dahsyat itu.

Dalam waktu singkat tujuh puluh gebrakan sudah lewat, pertarungan sudab berlangsung ratusan jurus. Banyak orang menguatirkan keselamatan Tian Pek, jantung mereka berdebar keras, mereka kuatir kalau pemuda itu kalah.

Bu-lim-su-toa-kongcu juga mengikuti jalannya pertarungan itu dengan mata terbelalak, meski masing- masing dengan perasaan yang ber-beda2.

Siang lin Kongcu dan An-lok Kongcu yang berambisi untuk merajai kolong langit mcrasa putus asa setelah menonton pertarungan ini. Sedangkan Toan-hong Kongcu yang berambisi akan kursi "Bulim-bengcu" serta merebut hati Wan-ji, sekarang se-olah diguyur air dingin.

Hanya Leng-hong Kongcu saja masih tersenyum angkuh, senyuman bangga. Orang yang angkuh bila merasa ada alasan untuk menarik sesuatu keuntungan, biasanya ia akan ikut bangga, Sekarang Tian Pek unjuk kebolehanya di depan umum, ia lantas membayangkan pemuda she Tian itu adalah Cihu (kakak ipar) sendiri, dan sang Cihu pasti akan membantu adik iparnya.

Kini sang Cihu melabrak empat iblis itu. siapakah gerangan jago di dunia ini yang memiliki kemampuan sehebat itu, bukankah ini berarti bahwa pimpinan dunia persilatan akhirnya berada di tangan orangw Pah-to-san- cenya?

Sementara itu pertarungan yang sedang berlangsung sudah mencapai puncak ketegangan.

Diantara beterbangannya debu pasir tiba2 terdengar suara benturan keras, kemudian bayangan manusia yang sedang bertempur itu sama memencarkan diri ke empat penjuru.

Hek-to-su-hiong berdiri di empat sudut, sedangkan Tian Pek berdiri di tengah gelanggang dcngan sikap sekukuh bukit karang.

Batok kepala Im-san-ci-long yang botak sudah basah oleh keringat, sampai2 cambangnya yang lebatpun basah kuyup, biji matanya melotot, telapak langannya menyilang di depan dada sambil menatap musuh tanpa berkedip.

Suasana jadi hening, tak terdengar suara apapun, tak seorangpun yang buka suara, kawanan jago di seputar arena sama tahan napas, mereka tahu meski keadaan hening, justeru keheningan itulah menunjukkan suatu pertarungan yang lebih hebat akan segera berlangsung lagi.

Di tengah kesunyian itulah, lima orang yang saling berhadapan sedang mengatur napas sambil menghimpun tenaga, mereka sedang memikirkan siasat yang paling jitu untuk mengalahkan lawan dengan satu kali gebrak.

Rembulan telah bergeser ke barat, bintang jarang2, fajar hampir tiba. Namun tak seorang pun menaruh perhatian pada perubahan cuaca, perhatian mereka sama tertuju pada gelanggang pertarungan yang akan berlangsung kembali.

Akhirnya Ciong-nia-ci-eng bergerak lebih dulu, sambil membentak ia melancarkan Ku-kut-ciang, cahaya merah disertai deru angin pukulan segera menyapu ke depan dan membacok kepala Tian Pek.

Tay-cong-ci-ju tak mau ketinggalan, kedua tangannya yang panjang bagaikan dua ekor ular menyapu ke bawah dan mengancam tumit anak muda itu.

Berbareng Im-san-ci-long juga bertindak cepat, telapak tangannya yang tajam seperti golok dengan ilmu Ciang-jin- jiat-bok menusuk iga kiri dan menabas lambung Tian-Pek.

Sedangkan si Rase dari gurun memutar biji tasbihnya menjadi sebuah lingkaran cahaya, kemudian menutuk Hong-wi, Sin-tong dan Ki-kut, tiga Hiat-to penting. Hebat sekali serangan gabungan yang dilancarkan keempat orang itu, tertampaklah tiga gulung hawa pukulan dahsyat diiringi biji tasbih sekaligus menyergap atas, tengah dan bawah, Tian Pek terancam dari muka dan belakang, kanan dan kiri.

Menyaksikan kejadian itu, banyak orang yang berada di sekitar arena menjerit kaget.

Tiba2 Tian Pek bersuit nyaring, ia balas dengan jurus Hud-kong-bu ciau dari ilmu Thian hud-hang-mo-ciang, bayangan telapak tangan segera menyelimuti udara bagaikan awan hitam, dengan kecepatan gerak, kelihayan jurus serta keampuhan tenaga pukulan yang dahsyat, ia balas memyerang musuh yang berada didepan, belakang maupun kanan dan kiri.

Setika itu juga Hek to-su hiong terdesak mundur lagi ke belakang, Segera keempat orang bengis itu berputar pula di sekitar Tian Pek dengan mata melotot, mereka mengatur kembali hawa murninya yang terbuang sambil memeras otak mencari cara lain untuk merobohkan lawan.

Berbicara sesungguhnya, pertarungan ini tidak lebih ringan bagi Tian Pek daripada waktu melawan Hay-gwa- sam-sat, sebab Hay-gwa-sam-sat, kecuali si kakek berjenggot panjang yang berilmu tinggi, boleh dibilang si nenek rambut putih dan Hud-in Hoat-su berada di tingkatan yang lebih rendah.

Lain halnya dengan Hek-to-su-hiong,  meskipun Lwekang mereka masib kalah setingkat daripada si kakek berjenggot, tapi lebih tinggi daripada si nenek rambut putih serta Hud-in Hoat-su, ditambah pula keempat orang ini memiliki ilmu andalan yang berbeda satu sama lainnya, muka begitu bekerja sama terlihatlah serangan hebat yang rapat dan semuanya tertuju pada bagian mematikan di tubuh lawan.

Di antara empat orang ini, Ciong-nia-ci-eng dan Tay- cong-ci-ju paling susah dihadapi, tiap kali Ciong-nia-ci-eng menyerang dengan Ku-kut-ciang, segera terasa hawa yang panas yang menyengat badan, meski Tian Pek tidak takut, namun setiap saat dia harus mengerahkan tenaga dalam untuk menolak hawa panas tersebut.

Selain itu, kedua lengan Tay-cong-ci-ju yang luar biasa panjangnya itupun menjemukan, bukan saja jurus serangannya aneh, kadang2 serangan di tengah jalan tiba2 berobah arah dan menyergap tubuh bagian bawah, ini menyebabkan Tian Pek harus menyediakan perhatian khusus untuk mengatasinya.

Walau demikian, Sah-mo-ci-hu dan Im san-ci-long juga bukan lawan yang empuk, ilmu bacokan segera membawa desing angin tajam yang menderu, bacokan itu setajam mata pisau. Kendatipun Tian Pek bisa menangkis semua serangan, namun telapak tangan sendiripun terasa sakit.

Sedangkan Sah-mo-ci-hu dengan tasbihnya khusaus dapat menghancurkan tenaga dalam lawan, angin pukulan tak dapat membendung ancaman tersebut, terpaksa Tian Pek harus mengandalkan ilmu langkah Cian-hoan-biau- hiang-poh dan Bu-sik-bu-siang-sin-hoat untuk menghindarinya. Dengan begitu, boleh dibilang pertarungan yang dihadapi Tian Pek sekarang adalah pertarungan paling sengit yang pernah dialaminya.

Makin lama Tian Pek merasa makin payah, padahal keempat jago golongan hitam itupun merasa gelisah.

Dalam keadaan begitulah kedua pihak saling gebrak pula tiga puluhan jurus lagi.

Suatu ketika, mendadak Hek-to-su-hiong mengubah siaaat pertarungan mereka, tampak Im-san-ci-long mengatakan sesuatu dengan bahasa Mongol yang tak diketahui Tian Pek, lalu serangan keempat orang itu tidak segarang tadi lagi, mereka hanya mengitari pemuda itu dengan cepat.

Tian Pak tak paham bahasa Mongol, tapi ia mengerti musuh pakai siasat lain, semua perhatian dan hawa saktinya lantas dihimpun umtuk menjaga segala kemungkinan.

Sementara itu keempat manusia bengis berputar kian lama bertambah kencang, tiba2 Im-san-ci-long bersuit, telapak tangannya yang tajam seperti golok membacok badan Tian Pek.

Tian Pek tai berani gegabah, cepat ia menghimpun tenaga dalamnya dan dilontarkan ke muka. Kali ini ternyata Im-san-ci-long berbuat licik, ia menghindari bentrokan ini dan melayang mundur.

Hal ini agak diluar dugaan Tian Pek, serangannya mengenar tempat kosong, dari belakang mendadak datang sergapan musuh.

Dengan gerakan Hwe-tau-peng-gwat (berpaling dan memandang rembulan) pemuda itu putar badan, berbareng dengan itu ia melancarkan pula suatu pukulan dahsyat. Orang itu adalah Tay-tong-ci-ju, sebagaimana rekannya ketika sergapannya meleset cepat ia menghindarkan  diri dan melompat mundur.

Pada saat melesetnya pukulan anak muda itu, Ciong-nia- ci-eng menggunakan kesempatan itu dengan baik, ia menyerang dengan Ku-kut-ciang yang panas menyengat badan.

Tian Pak menghindar dengan gesit, sambil mengelak dia melepaskan lagi pukulan balasan.

Tapi Ciong-nia-ci-eng juga segera menghindar mundur, menyusul Sah-mo-ci-hu lantas menyerang pula secara bergiliran dan begitu seterusnya.

Demikianlah dengan taktik bergerilya keempat manusia bengis itu menghadapi musuhnya, tapi Tian Pek cukup cerdik, beberapa gebrakan kemudian ia lantas mengetahui tujuan musuh, tampaknya ia hendak diperas tenaga dalam, kemudian baru musuh menyerang secara total.

Memahami taktik lawan, Tian Pek pun tersenyum, ia berpikir: "Cara kalian ini justru memberi kesempatan padaku untuk mengatasi "

Sebagaimana diketahui, tenaga dalam Tian Pek diperoleh dari kitab Soh-hun-siau-kut-thian-hud-pikip, untuk mengatur napas ia tak perlu bersemadi tapi cukup menarik napas panjang dan semua kepenatan akan lenyap dengan sendirinya.

Keadaan ini berbeda dengan sistem mengatur napas dari golongan lain, andaikata Hek-to-su-hiong menyerang secara ber-tubi2 tentu Tian Pek tak ada kesempatan untuk ganti napas, tapi mereka bertarung secara bergerilya, sekalipun disertai kerja sama yang lihay toh masih ada kesempatan yang tersisa bagi anak muda itu untuk ganti napas.

Dengan demikian, bukan saja tujuan mereka berempat untuk melelahkan Tian Pek tidak berhasil, malahan sebaliknya memberi kesempatan bagi lawannya untuk menghimpun tenaga baru . .. ..

Siapa sangka, baru saja pikiran itu terlintas, mendadak si rase dari gurun melompat keluar gelanggang, kemudian melepaskan tiga biji tasbih ke arah musuh Berbarersg itu juga, ketiga rekannya serentak menyerang dari tiga arah yang berlawanan.

Nyata Hek-to-su-hiong memang licin dan keji, tiga orang di antaranya ditugaskan untuk membendung jalan lari Tian Pek dan si rase dari gurun melancarkan serangan dengan biji tasbihnya.

Tian Pek terkesiap, iapun memahami tujuan lawan, cepat tiga pukulan dilancarkan untuk mendesak mundur ketiga lawannya, tapi getaran tenaga ketiga orang itu membuat Tian Pek tak sempat bergeser, sementara itu tiga biji tasbih tahu2 sudah meluncur tiba.

Tian Pak terkejut, ketiga biji tasbih itu menyambar tiba dengan formasi segi tiga, dua biji menyerang ke arah dada dan sebiji mengincar batok kepala.

Seperti pernah disinggung di depan, biji tasbih milik Sah- mo-ci-hu ini terbuat dari kayu tho hitam yang khusus tumbuh di gurun, bukan saja keras seperti baja, bisa berputar seperti gangsingan.

Karena bentuknya yang khas ini maka bila bertemu dengan rintangan, terutama angin pukulan, bukannya terhenti malahan menyambar makin cepat dan lihay.

Untuk menghadapi ancaman seperti ini, biarpun seorang tokoh maha sakti, kecuali menghindar memang tiada jalan lain.

Tian Pek memang hebat, ia bisa memaksa mundur ketiga orang musuhnya, tapi tak dapat menghindar getaran tenaga lawan yang membalik, ditambah pula biji tasbih yang meluncur datang tak bisa drpukul mencelat, kejadian ini membuat anak muda itu menjadi mati langkah . . . .

Kawanan jago di tepi arena kaget, terutama Buyung Hong, Kim Cay-hong, Wan-ji serta Hoan Soh-ing, beberapa orang nona itu sama menjerit melengking.

"Cras!" percikan darahpun muncrat.

Ilmu langkah Bu sik-bu-ciang-sin-hoat dari Tian Pek sungguh hebat, walaupun di saat kritis pemuda itu berhasil menghindari sergapan dua biji tasbih yang pertama, namun biji tasbih ketiga sempat melukai lengan kirinya.

Tian Pek merasa lengan kirinya jadi dingin, biji tasbih itu menyambar lewat, baju dan dagingnya robek, darah bercucuran dengan deras.

Selagi Tian Pek melengak, Im-san-ci-long tidak me- nyia2kan kesempatan baik itu, tanpa bersuara dia menabas punggung lawan.

"Duck!" bacokan telapak tangannya itu menghajar telak di punggung Tian Pek, dengan sempoyongan pemuda itu tergetar lima-enam langkah ke depan. Pandangannya menjadi gelap, darah dalam dadanya bergolak, tubuhnya bergontai dan akan roboh.

Jeritan kaget berkumandang dari sekitar arena, semua jago terperanjat, begitu pula paman Lui, Tay- pek-siang-gi serta Ji-lopiautau, serentak mereka menerjang maju.

Buyung Hong, Kim Cay-hong, Wan-ji dan Hoan Soh-ing tidak ketinggalan, sembari menjerit merekapun menubruk ke tengah arena. . . . .

Dalam pada itu Im-san-ci-long sedang tertawa ter- bahak2, telapak tangan terangkat, serangan kedua telah disiapkan, sementara ketiga manusia bengis yang lainpun menyeringai seram dan mendekati Tian Pek.

Suasana sangat gawat, tampaknya Tian Pek akan binasa di tangan keempat orang itu.

Tian Pek yang sempoyongan itu tiba2 membentak keras, suatu pukulan dahsyat tanpa terduga mendadak dilontarkan ke tubuh si rase dari gurun.

Waktu itu Soh-mo-ci-hu sedang kegirangan sebab serangannya berhasil melukai musuh ketika datang serangan ia menjadi kaget, dalam keadaian tak siap manha mungkin baginya untuk menghindar?

"Duk!" dengan telak pukulan itu mengenai dada rase dari gurun, kontan ia terguling dan muntah darah, dadanya sakit seperti dipalu.

Berhasil menghantam Sah-mo-ci-hu sampai muntah darah, secepat kilat Tian Pek berputar badan, sebelum Im- san-ci-long sempat menyerang, dengan gurus Heng-tam- toan-hong (awan tebal menyelimuti puncak) dari Tay-kim- na-jiu-hoat pemuda itu mendahului bertindak . . . "Plaak!" pergelangan tangan Im-san-ci-long yang hendak membacok tahu2 sudah kena dicengkeram.

Sebenarnya Tian Pek tidak bermaksud mencelakai jiwa Hek-to-su hiong, dia cuma berharap mereka berempat tahu- diri dan mengundurkan diri, apa mau dikata "Manusia tak ingin melukai harimau, justeru sang harimau ingin mencaplok manusia", karena pikiran baiknya itu dia sendiri yang terluka malah.

Sekarang kemarahan anak muda itu sudah memuncak, ia tidak kenal ampun lagi, begitu pergelangan tangan Im-san- ci-long tercengkeram, serta merta ia puntir lengan itu dengan keji. "Krak!" Im-san-ci-long menjerit kesakitan, lengan kanannya sudah patah.Pucat wajah si rase dari Im- san itu, dengan sempoyangan ia terlempar mundur.

Sekarang semua orang baru melenggong, tak seorangun yang menduga dalam keadaan terluka parah, hanya dalam satu gebrakan saja dua orang musuh, yang tanguh telah dilukai Tian Pek.

Sementara itn Tian Pek telah menyeka darah di ujung bibirnva lalu selangkah demi selangkah menghampiri Ciong-nia-ci-eng dan Tay-ceng-ci-ju.

Kedua fokoh silat yang biasanya garang dan sombong menjadi ngeri menyaksikan keperwiraan pemuda itu, dengan muka pucat mereka mundur ke belakang.

"Mau kabur?" jengek Tian Pak. "Hm, jangan harap kalian akan pulang dengan hidup!"

Wajah Tian Pek tamak kereng, ia mendekati Ciong-nia- ci-eng dan Tay-cong-ci-ju.

Tidak kepalang rasa takut kedua orang itu, mereka terpengaruh oleh perbawa Tian Pek, sambil menggigil mereka mundur terus.g "Mau kabur kei mana?" ejek anhak muda itu, suatu pukulan maut segera akan

dilancarkan.

Pada saat itulab tiba2 terdengar gelak tertawa nyaring menggema di angkasa, menyusul beberapa sosok bayangan manusia melayang tiba secepat terbang.

Gerakan orang2 itu cepat dan gesit, sebelum kawanan jago melihat jelas, lima orang sudah muncul di arena.

Dua orang yang pertama adalah seorang pemuda sastrawan berbaju putih serta seorang nona cantik bak bidadari dari kahyangan Sedang tiga orang berikutnya adalah seorang kakek berjenggot panjang, seorang nenek berambut putih dan seorang Hwe-sio setengah baya, gemuk dan pendek.

Tampang beberapa orang ini tak asing lagi bagi kawanan jago, mereka ialah Lam-hay-siau-kun Liong-sin Taycu, Lam-hay-liong-li Liong Cu-ji dan Hay-gwa-sam-sat.

Lam-hay-siau-kun menggetarkan kipas peraknya dan tertawa, tegurnya kepada Tian Pek:

"Saudara Tian, apakah kau akan mencampuri urusan dunia persilatan lagi?"

"Engkoh cilik, apakah taruhan kita tempo hari masih berlaku?" tegur si kakek berjenggot panjang alias Ciu Ji-hay dengan tertawa:

Di dunia persilatan, janji seorang jego silat melebihi segalanya, lebih2 pemuda jujur seperti Tian Pek, tidak nanti ia ingkar janji. Teguran itu kontan membuat muka anak muda itu jadi merah, sahutnya dengan tergagap: "Apa yang telah kujanjikan tak pernah kuingkari. Tapi sebelumnya mereka berempat telah menerangkan bahwa mereka bukan orang persilatan, lagipula tindak-tanduk mereka kelewat kejam ”

Lam- hay-liong-li mengerling sekejap ke arah pemuda itu, lalu nenukas: "Ah, Tian kongou kelihatan seperti orang jujur, tak kusangka kaupun pandai bergurau! Kalau mereka berempat bukan orang persilatan, masa dapat main silat? Jelas sekarang kau sendiri yang mengingkar janji, sudah berjanji tapi tak di tepati, huh, kehormatan dunia persilatan di Tionggoan telah dibikin malu oleh perbuatanmu "

Ucapan ini tajam dan penuh nada sindiran, habislah kesabaran Tian Pek, tiba2 ia membentak: "Tutup mulut! Andaikata kau bukan seorang nona, tentu kuhajar. . , ,"

Mendadak pemuda itu membungkam, bagaimanapun juga ia merasa telah berjanji untuk tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, dan pertarungannya melawan Hek-to su-biong merupakan bukti yang tak bisa disangkal, jika ia sampai bertarung pule melawan nona itu, bukankah perbuatannya ini sama seperti menampar mulut sendiri.

Wan-ji yang baru sembuh dari lukanya cepat memburu ke sisi pernuda itu dengan langkah yang masih lemah, sambil memegang lengan kekasihnya yang berdarah ia bertanya lirih:

"Engkoh Tian, bagaimana lukamu? Tidak apa2 bukan?"

Tian Pek merasa hangat, perhatinn Wan-ji, membuat anak muda ini terharu, cuma ia segan mengutarakan suara hatinya didepan orang banyak, maka sambil tertawa hambar sahutnya: "Jangan kuatir adik Wan, luka ini tak seberapa!"

Dalam pada itu Wan-ji sudah memeriksa lengan Tian Pek yang terluka, ternyata dalam waktu singkat luka itu sudah tak berdarah, malahan telah pulih seperti sediakala, apa yang tertinggal sekarang hanya bekas luka yang memanjang belaka, kejadian ini membuat ia terkejut bercampur girang.

Nona ini tak tahu Tian Pek pernah minum Ci-tam-hoa, sejenis obat mujarab berumur ribuan tahun, ia mengira Lwekang kekasihnya amat sempurna hingga sudah mencapai tingkatan kebal terhadap segala senjata, dengan girang ia lantas berseru "Engkoh Tian, lukamu telah sembuh..”

Saking gembira, ia peluk lengan Tian Pek dan digoncangkannya, mukanya yang pucat kini kelihatan bersemu merah, muka yang memerah, bisa diketahui betapa gembiranya nona itu.

Sikap mesra Wan-ji didepan orang banyak ini membuat Tian Pek menjadi kikuk, tapi ia tak leluasa untuk melepaskan diri dari rangkulan si nona, terpaksa ia hanya diam saja.

Sebagian besar kawanan jagopun tidak menunjukkan perasaan apa2 atas sikap mesra Wan-ji itu, mereka menganggap inilah rejeki Tian Pek, tapi ada juga beberapa orang yang merasa tak enak. .

Buyung Hong secara resmi adalah bakal isteri Tian Tek, ia menyadari duduknya perkara setelah melihat sikap adiknya yang mesra ini, sekarang ia baru mengerti apa sebabnya tempo hari Wan-ji pergi tanpa pamit setelah mendengar berita tentang pertunangannya dengan pemuda itu, sekarang ia baru sadar sebenarnya adiknya juga amat mencintai Tian Pek.

Namun nona itu tidak merasa cemburu, lain dengan Kim Cay-hong, ia merasa kecut, sebenarnya ia menguatirkan Tian Pek, bahkan ingin menghambur kedepan, tapi pendidikan keluarganya yang keras membuat nona ini membatalkan maksudnya. Dan sekarang Wan-ji telah melakukan apa yang tak berani dilakukan olehnya dan hal itu mendapat sambutan baik dari Tian Pek, diam2 ia menyesal tiada keberanian seperti Wan-ji.

Hoan Soh-ing lebih pendiam, ia merasa cinta Wan-ji terhadap Tian Pek ternyata sedemikian mendalam, ia bersyukur rasa cintanya selama ini belum sampai dikemukakan.

Toan-hong Kongcu cemburu, air mukanya berubah, rasa iri membakar hatinya. Sedangkan Lenghong Kongcu terbelalak, padahal Tian Pek adalah bakal suami encinya, mengapa adiknya mencintai pula pemuda itu?

"Huuh, tak tahu malu!" tiba2 Lam-hay-liongli mendengus.

Wan-ji berpaling dengan gusar, hardiknya: "Siapa yang kaumaki?"

Dengan gusar Lam-hay-liong-li menjawab: "Hm, masa kau tidak tahu siapa yang kumaki?"

Wan-ji tambah murka, dengan Soh-hun-ci ia serang jalan darah Sim-gi-hiat di tubuh Lam hay-liong-li.

Serangan jari itu memang lihay, sayang keadaannya masih lemah, tenaga serangannnya kurang kuat, sekali ditangkis oleh Lam-hay-liong-li, dia sendiri yang tergetar mundur beberapa langkah.

“Budak ingusan yang tak tahu dgiri, tampaknya ikau sudah bosanh hidup!" seru Lam-hay liong li dengan tertawa dingin, telapak tangannya di angkat dan siap menyerang.

Tunggu sebentar!" cepat Tian Pek mengadang di depan Lam-hay-liong-li. "Kautahu nona Wan-ji belum sembuh dari lukanya, mengapa " "Jadi kau ingin ikut campur?" jengek Lam-hay liong-li.

"Hm. jangan kaugunakan alasan tersebut untuk memeras diriku, masakah kau tidak tahu aturan bahwa memukul orang yang sedang terluka adalah pantangan bagi orang persilatan?"

Muka Lam-hay-liong-li menjadi merah . . . .

Lam-hay-siau kun yang sejak tadi membungkam segera maju ke muka, katanya kepada Tian Pek: "Anda tidak berhak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, sekarang silakan kau mundur dari sini!"

"Apa yang kau maksudkan?" seru Tian Pek, dia mengira musuh hendak mencelakai Wan-ji lagi, bila demikian maka ia bertekad akan mengalanginya walau apapun yang bakal terjadi.

Lam-hay-siaukun tidak menjawab pertanyaannya, sambil tersenyum ia berpaling ke arah kawanan jago yang berkumpul di situ dan berkata: "Tujuan pertama dari perguruan kami masuk ke daratan Tionggoan adalah ingin mempersatukan dunia persilatan di bawah satu komando, agar pelbagai pertikaian yang sering terjadi antara sesama umat persilatan dapat dihindarkan. Banyak kawanan jago yang sudah menggabungkan diri untuk ber-sama2 membentuk satu keluarga besar, tak tersangka pada saat keluarga besar hampir terbentuk, tiba2 muncul manusia berambisi yang berusaha merusak rencana kami. Baiklah, untuk menghindari segala pertikaian kami menetapkan pada tanggal sembilan bulan sembilan nanti di Siau-lim-si Siong-san akan kami adakan Eng-hiong-tay-hwe, setiap orang yang tak mau tunduk kepada kami dipersilakan menghadiri pertemuan itu, nanti bila kenyataannya ada tokoh lain yang lebih hebat daripada kami, dengan senang

hati Kami akan menarik diri dari Tionggoan." Ketika dilihatnya semua orang sama memperhatikan ucapannya dengan mata terbelalak, ia tertawa bangga dan berkata lebgih jauh: "Sebaliiknya jika kunghfu kami terbukti lebih lihay daripada yang lain, maka tak ada perkataan lain lagi, sejak detik itu dunia persilatan akan diperintah oleh Lam-hay bun, barang siapa berani menentang perintah hami, maka dengan segala daya upaya akan kami basmi penentang2 tersebut!"

Mendengar perkataan itu, semua jago merasa terkejut, rupanya pihak Lam-hay-bun sudah merasa yakin akan menguasai dunia persilatan hingga dengan terus terang mereka berani mengemukakan ambisinya dan Mengancam penentang2nya.

Bilamana dunia persilatan benar2 dikuasai oleh Lam- hay-bun, maka nasib jago persilatan lebih sukar untuk dibayangkan. Diantara sekian banyak jago, Sin-kun-tah- ciang Bu Ceng-cui dan Hou-bok cuncia dari Siau-lim-pay paling kaget, bahwa Lam hay-siau kun mengatakan pesta pertemuan besar para orang gagah itu akan diadakan di Siau lim si, jangan2 kuil suci itupun sudah dikuasai mereka?

Lam-hay-siaukun tidak menghiraukan kawanan jago itu kaget atau tidak, ia tertawa dan berkata lagi: "Setiap orang gagah yang merasa dirinya anggota dunia persilatan berhak untuk menghadiri pertemuan itu!"

Lalu sambil berpaling ke arah Tian Pek dia menambahkan: "Hanya kau seorang yang tidak berhak menghadirinya!"

Berbicara sampai di sini ia ter-bahak2, kepada Hay-gwa- sam-sat dan Hek to su-hiong ia berseru: "Hayo kita pergi."

Dengan gerakan cepat pemuda itu berlalu lebih dulu disusul oleh Ciong-nia ci eng dan Tay cong-ci ju yang masing2 mengangkat Sah-mo ci-hu serta Im-san ci-long yang terluka, dan paling akhir adalarh Hay gwa-sam sat.

Waktu mau pergi, Lam-hay-liong-li sempat melemparkan kerlingan ke arah Tian Pek, kerlingan itu diliputi perasaan "benci" dan "cinta", ini membuat Tian Pek terperanjat, ia sedang pusing oleh masalah cinta, ia paling takut pada kerlingan begitu dari kaum perempuan, maka cepat ia tunduk kepala menghindari kerlingan Lam-hay- liong-li tadi.

Setelah Lam-hayw-siaukun dan roymbongan pergi jxauh, kawanan jago yang berdiri tertegun itu ramai membicarakan apa yang baru terjadi.

Ji-lopiautau, paman Lui dan Tay-pek-siang-gi berkumpul menjadi satu rombongan.

Melihat paman Lui berkerut dahi. Ji lopiantau lantas berkata: "Tampaknya Lam-hay-bun sudah yakin dengan kekuatannya, dia berani menantang dunia persilatan?"

"Kukira urusan ini tidak sederhana!" ujar Tay pek siang- gi, "aku kuatir selanjutnya dunia persilatan bakal terlanda lagi oleh pembunuhan yang mengerikan!"

Wajah paman Lui tampak murung, dia geleng kepala dan berkata: "Kita jangan kuatirkan kekuatan Lam-hay bun, yang kita sedihkan adalah tak dapat bersatunya kawan2 Bulim karena pandangan yang berbeda, jika tidak bersatu, niscaya mereka bisa mengobrak-abrik kekuatan kita dengan mudah."

"Apa yang dikatakan Lui sinting memang benar" ujar si pengemis pemabuk sambil menenggak araknya. "Orang kuno berkata, bersatu kita teguh bercerai kita runtuh.

Untuk mendobrak kekuasaan Lam-hay-bun di daratan Tionggoan kita memang harus bersatu dan menanggulanginya ber-sama2. Eh Lui sinting apa salahnya kalau sekarang juga kita mengadakan persekutuan yang didasari dengan sumpah setia? Dengan persekutuan ini akan lebih mudah bagi kita untuk menentang kekuatau Lam hay bun!"

Paman-Lui tidak menanggapi usul tersebut, dia hanya tersenyum. Sebagai seorang tua yang berpengalaman dia tahu kemampuan orang2 yang hadir ini tidak cukup untuk melawan Lam-hay- bun, ditambah pula Bu lim su-kongcu masing2 memiliki ambisi untuk menjadi pemimpin, tapi tidak becus melawan Lam hay-bun. Cuma ia sungkan untuk biceara terus terang, maka dia hanya tersenyum saja.

Kebetulan pengemis sinting Coh Liang menghampiri mereka, ia menimbrung. "Apapun yang terjadi, pokoknya kita orang2 persiiatan di daratan Tionggoan harus melakukan perlawanan hingga titik darah penghabisan, lebih baik mati sebagai pahlawan daripada hidup sebagai pengecut!"

"Eh pengemis tua, semangatmu yang tinggi itu memang terpuji, tapi apakah kau pernah berpikir di antara sekian banyak jago yang hadir ini, kecuali saudara Tian seorang siapa lagi yang mampu menandingi kelihayan Hay-gwa- sam-sat dan Hek-to-su-hiong?" seru si orang mati-hidup dengan melotot, "mendingan kalau jago mereka hanya itu2 saja, kalau Lam-hay-bun keluarkan pula jago2 lihay simpanannya, lalu apa daya kita?"

Paman Lui mernandang sekejap ke arah Tian Pek, wajahnya makin murung, namun mulutnya tetap membungkam.

Di tengah keheningan, tiba2 An-lok Kongcu mendekat pula dan berkata: "Saudara Tian, kemajuanmu dalam ilmu silat sungguh luar biasa pesatnya dan bikin orang kagum. Asalkan saudara Tian dapat menandingi kelihayan Hay- gwat-sam-sat dan Hek-to-su-hiong, se-jelek2nya kami rasanya masih sanggup menghadapi jago mereka dari kelas dua dan kelas tiga?

"Ah, saudara In Ceng terlalu memuji, aku tak berani menerimanya," cepat Tian Pek menyahut seraya menjura. "Bukannya aku tak bersedia menyumbangkan pikiran dan tenaga, hakikatnya aku sudah diikat oleh janji dan tak mungkin mencampuri urusan dunia persilatan lagi, alangkah baiknya kalau kalian jangan mencantumkan diriku dalam daftar"

Siang-lin kongcu yang menghampiri pula cepat menimbrung: "Saudara Tian kenapa kau musti memegang janji segala? Dengan bertempur lagi kaupun dapat menuntut balas atas kekalahanmu tempo hari."

"Saudara Kim, maksudmu hendak menyanjung ataukah hendak menyindir diriku?" kata Tian Pek dengan kurang senang. "Se-jelek2nya Tian Pek, setiap ucapan yang sudah kuutarakan takkan kuingkari Hei, apakah kausuruh aku menjadi manusia munafik yang lain di luar dan lain di dalam?"

Teguran ini membuat wajah Siang-lin Kongcu menjadi merah, buru2 dia menerangkan:

"Harap jangan salah paham, aku berkata demikian hanya demi kepentingan prang banyak!"

"Ah, aku punya akal!" tiba2 orang mati-hidup berseru sambil berkeplok tangan.

Seruan itu sangat keras, se-akan2 telab menemiukan sesuatu yahng penting, dengan tercengang semua orang berpaling, tertampaklah orang hidup mati lagi melepaskan selembar kedok kulit manusia, segera kelihatan seraut wajah yang putih dengan jenggot yang jarang2 dan bukan lagi muka yang kaku mirip orang mati.

Tindakan orang hidup mati ini membuat orang tertegun, siapapun tidak menyangka selain ini Tay-pek-siang-gi mengenakan topeng kulit manusia, terutama Ji-lopiautau, Buyung Hong dan Tian Pek sekalian yang sudah cukup lama bergaul dengan meraka berdua, kenyataannya tiada yang tahu akan rahasia tersebut.

Orang hidup-mati tidak menghiraukan keheranan orang lain, dengan wijah ber-seri2 serunya kepada Tian Pek: "Siau-in-kong, asal kaupakai topeng kulit manusia ini, maka siapapun tak akan mengenali dirimu lagi, kau bisa ikut menghadiri pertemuan para enghiong pada tanggal sembilan bulan sembilan nanti, dengan leluasa kau bisa hajar orang2 Lam-hay bun sampai kocar-kacir "

Siapa tahu Tian Pek tak mau menerima topeng itu, dengan hambar ia berkata: "Orang lain mungkin tak tahu siapakah diriku, tapi aku Tian Pek tak sudi melakukan hal yang bertentangan dengan suara hatiku!"

Ucapan ini tegas dan nyaring, membuat semua orang diam2 mengangguk.

Paman Lui menghela napas panjang, bisiknya: ''Ai, persis, tak ubahnya seperti mendiang ayahnya, cocok sekali watak mereka berdua "

"Hmm! Manusia yang tak dapat melihat keadaan sebenarnya dia adalah manusia yang picik kan bodoh!' jengek Hoan Soh-ing tiba2.

Badan Tian Pek tergetar, ia merasa tertusuk oleh perkataan itu.

Sejak mengikat tali persahabatan dengan Hoan Soh-ing di dalam penjara Pah-toh-san-ceng dahulu, ia telah menganggap nona itu sebagai sahabat yang paling karib, tapi sekarang Hoan Soh-ing menyalahkan pula tindakannya, padahal ia merasa semua perbuatannya dilakukan berdasarkan suara hati nurani, jujur dan tidak merugikan orang lain, salah paham ini membuat hatinya sakit.

"Hoan . . . . . . nona Hoan!" katanya kemudian, "aku menganggap setiap perbuatanku didasarkan suara hati, bagian manakah ysug kauanggap tidak benar?"

Perlu diketahui, sampai kinipun Hoan Soh-ing masih berdandan sebagai seorang laki2, dalam gugupnya Tian Pek tak tahu harus menyebut saudara atau nona, Sehabis berkata ia terbelalak menatap wajah si nona yang cantik itu sambil menantikan jawaban yang memuaskan. Tindakannya ini membuat muka nona itu jadi merah jengah.

Tapi bagaimanapun nona itu mempunyai watak seorang laki2, dengan cepat ia dapat mengatasi kejengahan tersebut, ia tertawa, sahutnva: "Tak dapat dibantah lagi kalau dewasa ini kungfumu terhitung paling tinggi di antara sekian banyak jago yang hadir di sini, hanya engkau seorang yang dapat menentang kelihayan jago2 Lam-hay-bun, dan hanya engkau seorang yang bisa menangkan mereka serta menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka, tapi kenyataannya sekarang kau tidak manfaatkan kemampuanmu dengan

se-baik2nya, sebaliknya lebih suka terikat oleh janji kosong, bukankah perbuatan seperti ini adalah perbuatan yang bodoh dan tak dapat dibenarkan"

Ucapan tersebut cukup tegas dan masuk diakal, ini membuat kawanan jago sama mengangguk kepala, sementara Tian Pek sendiri tertunduk malu. Pemuda itu berada dalam keadaan serba salah, sebagaimana dikatakan Hoan Soh-ing, menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka adalab tindakan paling penting yang harus dilakukan, scbagai seorang jago dari kaum pendekar, ia berkewajiban menyumbangkan tenaganya. Tapi, sebagai seorang laki2 sejati ia tak ingin mengingkari setiap janji yang telah diucapkan, untuk sesaat anak muda itu termangu bingung.

Sementara itu suasana yang semula gaduh karena diramaikan oleh pelbagai pendapat kawanan jago itu, kini menjadi hening sepi, perhatian semua orang dialihkan ke wajah Tian Pek dan menantikan jawabannya, se-akan2 nasib dunia persilatan hanya bergantung kepada keputusan anak muda itu.

Tian Pek tertunwduk sambil termyenung, ketika ia menengadah dan melihat semua orang sedang menatapnya dan menantikan jawabannya, segera sadarlah pemuda itu bahwa kedudukannya saat ini penting sekali, nasib dunia persilatan benar2 terletak di atas bahunya. ini membuat otaknya berputar dan segera terlintas satu akal bagus.

Segera ia berkata: "Aku Tian Pek tidak lebih hanya seorang yang masih hijau, atas perhatian serta kepercayaan para Cianpwe, sungguh membuat aku merasa terharu dan berterima kasih. Sebagai seorang anggota dunia persilatan, sudah menjadi kewajibanku untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bencana, untuk itu sekalipun harus terjun ke lautau api atau mendaki ke bukit golok, tidak nanti kuelakkan tugas ini!."

Ia berhenti sebentar, ketika dilihatnya semua orang sedang memperhatikan ucapannya, ia melanjutkan lagi kata2nya: "Tapi aku sudah menyanggupi orang lain untuk tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi, sebagai Bu- lim-cianpwe tentunya anda sekalian maklum kita harus pegang janji. Dalam keadaan demikian seperti apa yang sudah diucapkan saudara . . . . eh, nona Hoan, bila aku tidak membantu, tentunya aku akan dianggap tidak setia kawan, sebaliknya jika aku melanggar janji dengan menghadiri pertemuan para jago itu, maka perbuatan ini berarti melanggar janji. Baik

tidak setia kawan maupun melanggar janji merupakan perbuatan vang tak kuinginkan, maka bisa dibayangkan betapa sulitnya kedudukanku sekarang?"

Sampai di sini, semua orang merasa bingung, tak tahu apa yang dimaksudkan anak muda itu, tapi karena tak mengerti, merekapun semakin menaruh perhatian.

"Aku mempunyai suatu cara baik," Tian Pek melanjutkan kata2nya, "tapi sebelum kulaksanakan harus mendapat persetujuan lebih dulu dari paman Lui!"

Sinar mata semua orang serentak beralih ke arah paman Lui, hal ini membuat paman Lui jadi terharu sekali hingga mengembeng air mata, dari sikap Tian Pek, yang tegas2 pegang janji dan gagah perkasa, se-olah2 ia merasa telah bertemu dengan mendiang ayahnya, se-akan2 bayangan Pek-lek-kiam Tian In-thian telah muncul di depan matanya.

Ketika mendengar pertanyaan anak muda itu, tanpa mempertimbangkan lagi apa yang hendak diucapkan pemuda itu, sahutnya: "Nak, lanjutkan ucapanmu!"

Tatapan mata paman Lui yang penuh sayang menambah rasa keyakinanan serta kepercayaan pada diri sendiri Tian Pek ia merasa apa yang telah diputuskan tak bakal salah lagi, maka lanjutnya: "Seperti apa yang dikatakan saudara An-lok Kongcu In Ceng, ilmu silatku memang mengalami kemajuan yang pesat, tapi tahukah saudara sekalian mengapa kungfuku bisa memperoleh kemajuan yang sedemikian pesatnya" Semua orang bungkam dan tampak heran, siapa yang tahu dari mana Tian Pek memperoleh ilmu silat yang begitu tinggi dan lihay?

Sementara orang masih tercengang, Tian Pek melanjutkan kata2nya lebih jauh: "Aku bisa, maju lantaran paman Lui menghadiahkan sejilid kitab paling aneh di kolong langit ini, yakni Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip kepadaku!"

Suasana seketika menjadi gempar, semua orang jadi lupa akan tujuan yang sebenarnya untuk apa Tian Pek mengemukakan rahasia ini, bahkan beberapa jago lihay yang tak tahan seperti Mo-gwa-sinkun (Orang gagah dari luar gurun) Hek- lian Ing, Tiat ih hui peng (rajawali terbang bersayap baja) Pa Thian ho, Tiat-pi-to liong (naga bungkuk berpunggung baja) Kongsun Coh, Tiat-se ciang (pukulan pasir besi) Lu Lak-sun, Tiat-pay-hwesio (padri tameng baja) Hoat Tang, Thian-ya-ong-seng (manusia latah dari ujung langit) Tio Kiu-ciu, Ciukay (pengemis pemabuk) Pui Pit, Hong-kay (pengemis sinting) Coh Liang, dua bersaudara keluarga Kim dari gunung Bong-gu-san, Sin-kun tah cing, (pukulan sakti penghantam sumur) Bu

In-hui, Hou-bok-cuncia dari ruang Lo-han-tong, Ngo-im- liongcu (tangan sakti panca suara) Siau Tong dari Hoat-hoa lam-cong, Hian sging-cu dari Bu itong, Tiamcong-him-kiam Ho Thian-hiong, Thiau-san-it-hok Tiong Bong serta Bu-lim- su-kongcu, segera mereka memburu maju dan be-ramai2 membuka suara.

"Sekarang kitab pusaka itu ada di mana? Cepat keluarkan dan perlihatkan kepada kami!"

"Keluarkan dan perlihatkan kepada kami!" "Betul, kitab itu ada di mana ?" "Keluarkan kitab itu . . . . " begitulah bergemuruh teriakan yang beraneka macam itu.

Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip merupakan kitab pusaka aneh yang maha dahsyat, sejak seratus tahun berselang banyak jago silat yang menemui ajalnya karena memperebutkan kitab tersebut, kemudian meskipun kitab itu lenyap dari peredaran dunia persilatan, namun turun temurun orang persilatan masih tetap mengincar kitab yang luar biasa itu.

Tidaklah heran, begitu Tian Pek menyebut kitab itu, serentak kawanan jago persilatan itu jadi lupa daratan.

Paman Luipun membelalakkan matanya karena heran, ia tak habis mengerti apa sebabnya dalam keadaan seperti ini Tian Pek malahan membeberkan rahasia itu?

Perlu diketahui, daya pikat kitab pusaka itu sudah mencapai tingkatan yang membawa sial, setiap orang yang memiliki kitab tersebut akan menjadi pusat perhatian dan incaran setiap umat persilatan dan perebutan yang bakal terjadi dapat menimbulkan badai pembunuhan yang tiada berakhir.

Padahal suasana dalam dunia persilatan dewasa ini sangat kritis, mereka sedang menghadapi ambisi Lam-hay- bun yang ingin merajai Tionggoan, setelah rahasia besar ini tersiar, bukan saja soal persatuan akan tipis sekali harapannya untuk terwujud, malahan mungkin akan menimbulkan tragedi yang mengerikan, itulah sebabnya tindakan Tian Pak ini dianggap sementara orang sebagai tindakan yang tidak rasionil.

Benar juga, Khong-tong-su-co (empat manusia jelek dari Khong-tong) yang per-tama2 tak dapat menahan diri, dengan menyeringgai dan mata memiancarkan cahaya aneh, Toa-co (manusia jelek pertama) yang berjuluk Thian- jan (cacat alam) segera maju ke depan dan meraih saku anak muda itu.

"Hayo, jangan omong saja, cepat keluarkan kitab itu!" hardiknya.

Tian Pek tak mengira kawanan jago yang anggap dirinya dari golongan lurus ini ternyata mempunyai watak serakah yang begitu besar, bahkan tak segan2 main rampas dengan kekerasan.

Sementara ia masih termenuntg, tahu2 tangan Thian-jan sudah menyambar tiba.

Keadaan tidak memberi kesempatan bagi Tian Pak untuk berpikir lagi, jari tangannya langsung mengetuk cakar Toa- co dengan jurus Heng-soat-toan-hong dari ilmu cengkeraman Toa-kin-na-jiu -hoat.

Seperti terpagut ular, Thian-jan menarik kemli tangannya dan melompat mundur.

Sekalipun mundur dengan gerakan cukup cepat, tak urung jalan darah Ce-ti pada punggung tangannya keserempet juga oleh serangan anak muda itu, saking sakitnya ia jadi mendelik dan meringis.

Sesudah memukul mundur Thian-jan dari Khong-tong- su-co barulah Tian Pek berkata dengan serius: "Saudara2 sekalian, harap kalian dengarkan dulu kata2ku lebih lanjut!"

Sekarang semua orang baru ingat kehebatan pemuda itu, Hek-to-su-hiong yang lihaypun dihajar sampai terluka oleh anak muda itu, apalagi mereka, sudah jelas tak ada kesempatan bagi mereka untuk main rampas dengan kekerasan, maka suasana menjadi agak tenang.  Setelah melihat kawanan jago itu tak berani maju lagi, Tian Pek berkata pula: Demi memegang janji, tak mungkin bagi orang she Tian untuk ikut menghadiri pertentuan  orang gagah itu, tapi akupun tak dapat berpeluk tangan membiarkan orang2 Lam-hay-bun malang melintang di daratan Tionggoan, maka sebagai sumbangsihku ini, ingin kuwariskan ilmu silat yang tercantum dalam kitab pusaka Sohkut-siau-hun-thian-hud-pit-kip ini kepada saudara sekalian agar kalian memiliki kemampuan untuk melawan

kelaliman orang Lam-hay-bun. Asal kalian lihay, bukankah tanpa kemunculan dirikupun musuh dapat kalian tumpas"

Semua orang tertegun dan membungkam, siapapun tak mengira Tian Pek berjiwa begini besar dan tidak keberatan untuk membeberkan pelajaran silat yang maha sakti itu kepada orang lain.

Tian Pek berkata lagi: "Akan tetapi, Soh-kut-siau-hun- thian-hud-pit-kip ini adalah hadiah yang kuterima dari paman Lui, subelum kuajarkan kepada saudara sekalian terlebih dahulu harus kumintakan persetujuan paman Lui."

Berbicara sampai di sini, anak muda itu lantas berpaling dan memberi hormat kepada paman Lui dan berkata: "Paman, budi kebaikanmu kepada keponakan tak bisa dilukiskan lagi dengan kata2, akan tetapi untuk menyelamatkan dunia persilatan dari bencana besar, tentunya kau tak akan menyalahkan tindakan sembrono keponakanmu ini bukan?"

Dengan air mata bercucuran karena terharu, paman Lui membangunkan anak muda itu, sahutnya: "Bangunlah keponakanku, tindakanmu ini membuat paman merasa bangga bercampur gembira, meskipun selama hidupku tak pernah menikah, tapi bisa memiliki keponakan yang bijaksana seperta kau, matipun aku puas. Selain itu akupun ikut berbangga untuk saudara angkatku, bagi mendiang ayahmu yang telah tiada, meskipun ia mati dengan tak jelas, tapi arwahnya di alam baka pasti akan terhibur dan gembira melihat kebijaksaan serta kebesaran jiwamu yang telah melaksanakan cita2nya di waktu hidupnya."

Ketika dilihatnya Tian Pek ikut mengucurkan air matanya, paman Lui berkata lebih jauh: "Tindakanmu ini cocok sekali dengan suara hatiku. Cuma kuanjurkan kepadamu alangkah baiknya Sohkut-siau-hun-thian-bud-pi- kip itu jangan kau perlihatkan secara umum agar tidak menimbulkan pertikaian lagi, maklumlah, kitab itu memang kitab yang membawa celaka, jika bukan orang berimam tebal tak boleh kau perlihatkan. Untuk

menjaga segala kemungkinan, bolehlah kau ajarkan ilmu silatnya saja kepada mereka."

Selesai paman Lui bicara, banyak orang yang merasa berterima kasih atas kebesaran jiwa jago tua itu, tapi ada pula di antaranya yang merasa kecewa, sebab dengan ucapannya itu berarti tinda harapan lagi bagi mereka untuk melihat bentuk kitab yang dinamakan kitab paling aneh di kolong langit ini.

Kembali Tian Pek memberi hormat kepada paman Lui, lalu ia berkata kepada kawanan jago itu dengan suugguh2: "Setelah paman Lui berkata begitu, maka kitapun harus melaksanakan seperti apa yang beliau katakan. Nah, asalkan kalian bersedia menerimanya, akupun takkan menyembunyikan kesaktian ilmu tersebut barang satu juruspun, cuma kitab aslinya takkan diperlihatkan kepada kalian, sebab kitab itu memiliki daya pikat yang terlampau basar, sekalipun seseorang memiliki imam yang teguh belum tentu sanggup mengendalikan diri!" Tentu saja bagi mereka yang belum pernah melihat Soh- kut-siaai-hun-thian-bud-pi-kip tak akan percaya pada ucapan itu malahan dengan curiga mereka membatin: "Huh, di luar saja kaubilang akan membeberkan ilmu itu secara terbuka, tapi di dalam hati keberatan memperlihatkan kitab itu "

Akan tetapi bagi orang yang pernah melihat kitab itu, seperti Tay-pek-siang-gi, merela percaya penuh ucapan Tian Pek memang benar, maka sewaktu melihat orang sama sangsi, cepat ia berseru: "Apa yang dikatakan Siau-in-kong memang benar, kami bersaudara beruntung pernah melihat kitab itu, tapi nyaris ludes tenaga latihan kami selama berpuluh tahun . . , . "

Sambil menyeka air mata terharu, paman Lui berkata lagi: "Jarak waktu sekarang sampai bulan sembilan saat diselenggarakan pertemuan itu masih tiga bulan lebih, jika kalian percaya penuh kepada kami, ikutilah petunjuk Tian- Pek dan pelajarilah ilmu sakti Buddha langit ini ber-sama2!"

Kembali orang bersorak-sorai karena kegirangan, banyak di antaranya yang merasakan kesempatan baik ini sukar dicari, sebaliknya bagi mereka yang berwatak rakus diam2 menyusun rencana busuk untuk mencuri atau merampas kitab pusaka itu.

Manusia umumnya memang tamak. Di kala seorang secara sukarela mengundang orang lain untuk bekerja sama, maka di pihak lain ada segelintir manusia tamak yang mulai menyusun rencana busuk.

Maksud Tian Pek dengan tindakannya itu pada dasarnya memang baik, tapi mimpipun ia tak menyangka di balik kesemua itu tersembunyi badai besar yang mengerikan. Bila badai itu menyapu jagat, maka banjir darahpun akan berlangsung, entah berapa banyak jago lagi yang akan menjadi korban. .

Sementara itu, ketika paman Lui mengusulkan untuk mengadakan persiapan guna meneritna pelajaran dari Tian Pek, maka Toan-hong Kongcu dan An-lok Kongcu sebagai tuan rumah segera mempersiapkan segala sesuatu yang diperlukan, mereka mengurus masalah penginapan, soal makananpun diatur oleh anak murid perkumpulan pengemis.

Di tengah kesibukan itu, diam2 para jago ketujuh aliran besar sama mohon diri Hou-bok-cuncia dan Sin-kun-teh- sing Bu In-hui ingin cepat pulang ke Siau-lim-si untuk memberi laporan, sedangkan jago2 dari perguruan lain mau pulang untuk mengundang teman2 lain.

Beberapa hari kemudian dunia persilatan dibikin gempar oleh tersiarnya beberapa macam berita, seluruh jagat terasa bergolak dan orang jadi tak tenang rasanya.

Berita pertama yang mengetarkan Kangouw adalah tantangan Lam-hay-bun untuk berduel dengan kawanan jago seluruh dunia pada bulan sembilan tanggal sembilan nanti di Siau-lim-si.

Untuk menyelenggarakan pertemuan besar Enghiong- tay-hwe ini bukan saja mengundang kawana Bu-lim dan Bu-lim-su-kongcu, bahkan orang2 persilatan di tepi perbatasanpun ikut diundang.

Berita kedua yang lebih menggemparkan membuat orang lupa pada peristiwa pertama yang akan menentukan nasib dunia persilatan itu.

Kiranya maksud baik Tian Pek akan mengajarkan ilmu dari Soh-kut-siau-hun-thian-hud-pit-kip ciptaan Ciah-gan longkun pada dua ratus tahun yang lalu itu telah tersiar luas di dunia persilatan.

Ketika berita itu tersebar, semua jago Kangouw bergolak, hampir semua orang lupa soal Eng-hiong-tay-hwe, mereka tidak lagi memikirkan nasib dunia persilatan, tapi ber- bondong2 berangkat ke Hin-liong-tin untuk melihat kehebatan kitab pusaka itu.

Hanya beberapa hari saja semua rumah penginapan di kota kecil Hin-liong-tin telah dipenuhi oleh jago2 persilatan, malahan banyak di antaranya tidak kebagian tempat penginapan dan terpaksa menginap di luar kota, mondok di kuil, bahkan ada pula yang berdiam di hutan terbuka.

Peristiwa ini memang luar biasa dan belum pernah terjadi, karena jago persilatan yang berkumpul di situ jumlahnya kelewat batas, suasana jadi tegang dan sering terjadi pertengkaran dan perkelahian.

Tian Pek, pemuda yang polos dan berjiwa besar itu tak pernah menyangka maksud baiknya itu, akan menimbulkan bencana sebesar ini.

Hakikatnya pada malam hari pertama di situ sudah terjadi peristiwa yang tak diinginkan.

Malam itu setelah Sin-liong-taycu mengumumkan akan diadakannya Enghiong-tay-hwe di Siongsan dan berlalu dari sana bersama begundalnya, semantara itu haripun terang tanah.

Setelah sibuk seharian, selesai bersantap malam semua orang lantas pergi beristirahat ke tempat masing2. Guna bersiap menerima pelajaran dari Tian Pek pada keesokan harinya.

Malam itu Tian Pek dan paman Lui mendapat satu kamar, Tay-pek-siang-gi dan Ji-lopiautau bersatu kamar. Buyung Hong dan Wan-ji menempati kamar yang lain, ketiga kamar ini letaknya berjajar pada sebuah serambi yang sama.

Setelah berada di dalam kamar, baru habis minum secawan air teh, tiba2 kamar Tian Pek diketuk orang, karena kamar tak terkunci, paman Lui lantas berseru: "Masuk!"

Pintu didorong orang dan muncul Buyung Hong. Ia mengenakan baju panjang warna hitam dengan ikat pinggang sutera, rambutnya terurai di bahu, kulituya yang putih bersih kelihatan kontras sekali dengan baju berwarna hitam. Agaknya ia baru membersihkan badan, meskipun tidak memakai pupur namun di bawah cahaya lampu mukanya tampak menawan hati.

Setelah masuk kamar, Buyung Hong melirik sekejap ke arah Tian Pek, lirikan yang penuh rasa cinta mesra, lalu ia memberi hormat kepada paman Lui.

Sebagai seorang tua, paman Lui lantas tahu kedua calon suami isteri itu hendak bicara urusan pribadi, ia merasa tak enak hadir disitu, setelah berdehem, ia berkata:

"Kalian duduk2lah disini, aku mau keluar sebentar!"

Tapi Buyung Hong yang cerdik segera paham maksud paman Lui, dengan muka merah cepat ia berseru: "Paman, kau jangan pergi, justeru ada urusan penting hendak kurundingkan dengan paman!"

"Urusan apa?" tanya paman Lui sambil berpaling.

"Titli tak bermaksud menyalahkan dia karena tindakannya membocorkan rahasia kitab itu," kata Buyung Hong sambil melirik Tian Pek "Tapi yang pasti hal ini sudah menimbulkan kecurigaan sebagian kawanan jago itu!" "Ai, biar curiga juga percuma," sahut paman Lui sambil menghela napas, "bagaimanapun kitab itu memang tak boleh diperlihatkan kepada mereka, justeru karena ingin menyelamatkan dunia persilatan dari malapetaka, maka Tian hiantit bersedia mengajarkan ilmu silat yang maha sakti itu kepada mereka. Berbicara sesungguhnya, tindakan Tian-hiantit ini sungguh luar biasa sekali, kalau masih ada yang tamak, diberi segobang minta seringgit, ya apa boleh buat lagi, itu menandakan mereka tak tahu diri!"