Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 23

Jilid 23

Pengemis pemabuk juga menimbrung sambil ter-bahak2: "Hahaha, Lui sinting, jangan kau kira si pengemis pasti miskin, melulu cupu2ku ini saja tak pernah kuisi dengan sembarangan arak. Tidak percaya? Buktikan sendiri, di cupu2 ini masih ada sepuluh kati arak Kui-ciu-mo, hayolah kita minum tiga ratus cawan..."

Dia lantas membuka tutup cupu2 itu dan di-goyangkan di hadapan tamunya, bau barum segera menyebar ke udara dan terbukti isi cupunya memang arak wangi kelas satu.

Pengemis tuli yang ada disampingnya tiba2 pegang lengan rekannya dan menggoyang tangannya berulang kali sambil unjuk muka murung dan menirukan gaya orang sempoyongan, maksudnya minta pengemis  pemabuk jangan minum, sebab kalau minum bisa mabuk lagi.

Dengan isyarat tangan pengemis pemabuk memberitahukan kepada pengemis tuli bahwa bukan dia yang akan minum, melainkan hendak mengundang paman Lui untuk minum.

Setelah mengetahui muksudnya, pengemis tuli mengangguk, lalu kepada paman Lui ia tuding sini, ulur leher dan melototkan mata, sampai sekian lama ia berblcara dengan bahasa isyarat.

Paman Lui tak tahu aps yang dimaksudkan untunglah pengemis pemabuk segera memberi penjelasan, barulah paman Lui tahu bahwa pengemis tuli mengundang tamu2nya unluk makan ayam pengemis", semacam masakan khas kaum jembel.

Paman Lui ter-bahak2, sambil mengangguk kepada pengemis tuli, sahutnya: "Hahaha, jangan kuatir, hari ini kami pasti akan bersantap sampai kenyang!"

Begitulah, sambil bergurau mereka menyusuri lorong itu, akhirnya mereka berbelok pada suatu tikungan dan sampailah di suatu tanab lapang yang luas.

Sekeliling adalah tanah persawahan yang tak bertepian, tepat didepan sana adalah sebuah bangunan besar, model bangunan itu mirip sebuah kuil, namun tiada patung pemujaan di situ, mirip pula tempat sembahyang abu keluarga, tapi tidak nampak pula tempat abunya.

Halaman luas di depan gedung itu sudah penuh dengan pengemis, ketika melihat Hong-jan-sam kay datang dengan membawa tamu, mereka lantas menyingkir dan berdiri dengan sikap hormat. Setelah melewati halaman pekarangan, mereka masuk ruang tengah yang besar, dalam ruangan berduduk puluhan orang pengemis tua yang terbagi menjadi dua kelompok, masingZ kelompok duduk di atas lantai, tampaknya mereka termasuk kaum Tianglo yang berkedudukan tinggi.

Di dinding tepat ruangan tergantung sebuah lukiisn yang besar, lukisan itu menggambarkan seorang pengemis tua yang berbaju tambal sulam, bermuka kecil, beralis panjang dan berambut kaku seperti duri landak, maskipun duduk bersila, namun wajahnya berwibawa.

Di atas lukiian itu tertera beberapa huruf yang berbunyi: "Cikal-bakal perkumpulan Tiong-ciu-sin-kay Tang Tiau- tong"

Di bawah tertera pula tulisan yang berbunyi: "Dipersembabkan oleh murid Kay-pang angkatan kedua, Tan-cing-biau-jiu Ce Pek-tik".

Memang tak malu orang yang bernama Ce Pek-sik itu berjuluk Tan-cing-biau-jiu atsu pelukis ulung, sebab dilihat dari lukisannya yang setinggi beberapa kaki itu memang sangat hidup dan sedap dipandang, bisa diketahui bahwa kepandaian melukisnva amat sempurna.

Di depan lukisan itu terdapat meja sembahyangan dan teratur sesajian bebuahan, asap dupa menyelimuti udara dan menambah khitmadnya suasana.

Di kedua sisi meja sembahyang itu masing2 ber-duduk An-lok Kongcu yang terkenal romantis serta Toan-hong Kongcu yang susah dicari jejaknya, dari tingkat kedudukan mereka rupanya kedua Kongcu ini menempati kursi utama.

Hal ini membuat Tian Pek melenggong, apa-iagi dilihatnya pula seorang nona cantik di samping Toan-hong Kongcu sedang memandangnya lekat, ia tambah melongo. Kiranya nona cantik itu bukan lain ialah Wan-ji yang jatuh cinta padanya itu.

Tergetar perasaan Tian Pek, timbul perasaan aneh demi menyaksikan Wan-ji duduk di sampiug Toan-hong Kongcu. perasaan aneh yang belum pernah dialami sebelumnya.

Wan-ji lincah dan polos, dia mencintai Tian Pek, adalah omong kosong jika dibilang Tian Pek tidak tahu. Tapi oleh pelbagai pihak, akhirnya ia dijodohkan kepada Buyung Hong, enci Wan-ji sendiri, tentu saja sejak itu Tian Pek terpaksa memendam cinta Wan-ji itu di lubuk hatinya.

Walaupun demikian, ketika menyaksikan nona itu  duduk di samping Toan-hong Kongcu, serta merta timbul perasaan cemburu dalam hati Tian Pek, inilah penyakit umum setiap lelaki, tidak terkecuali jago muda itu,

Untunglah Tian Pek masih memiliki kemampuan orang lain, segera terpikir olehnya bahwa Wan-ji memang setimpal kalau dijodohkan kepada Toan-hong Kongcu, apabila kedua orang itu dapat hidup berbahagia, bukankah sama juga dengan mengurangi kepusingan sendiri menghadapi urusan perempuan?

Di pihak lain, Toan-hong Kongcu sendiripun tertegun, rupanya ia tak menduga Tian Pek bakal muncul di situ.

Berbeda dengan An-lok Kongcu yang periang  dan berhati terbuka, lantaran dia berambisi merajai dunia persilatan, tujuannya bergaul memang untuk mengumpulkan pembantu yang kuat, iapun tahu Tian Pek adalah jago yang luar biasa, sejak mula ia sudah berminat menarik pemuda ini ke pihaknya, maka mehhat  kemurculan Tian Pek, dia lantas bangkit dan maju ke muka, ia pegang tangan Tian Pek dan berkata dengan hangat: "Saudara Tian, sama sekali tak kusangka kita akan berjumpa di sini, selamat bertemu! Selamat bertemu!"

Dalam pada itu Wan-ji juga berbangkit dan memberi hormat kepada paman Lui serta encinya.

Paman Lui agak melongo setelah tahu penyelenggara pertemuan besar kaum pengemis ini adalah keturunan kedua pemuka persilatan, lebih2 tak mengra Wan-ji bisa muncul lebih dulu di sini.

"Wan-ji!" ia lantas menegur, "Kenapa kau berada di sini?"

Wan-ji tertawa, sahutnya: "Keponakan datang kemari karena diundang sebagai tamu!"

Ketika berbicara matanya mengerling sekejap ke arah Tian Pek.

Se-bodoh2 pemuda itu, iapun tahu Wan-ji sedang menjelaskan kepadanya bahwa bukan datang ber-sama2 Toan-hong Kongcu ....

Hong-jan-sam-kau lantas memperkenalkan tamu2nya kepada kawan jago yang hadir, saat itu-lah paman Lui teringat akan sesuatu, beberapa tahun berselang tersiar berita di dunia persilatan bahwa Cing-tiok-siu  (kakek bambu hijau), ketua perkumpulun pengemis yang dulu, entah apa sebabnya telah menyerahkan pucuk pimpinan perkumpulaunya kepada Toan-hong Kongcu ini setelah melihat kcnvataan di depan mata ini ia baru yakin berita tersebut ternyata memang benar.

Teringat akan soal ini, tanpa terasa paman Lui mengamati Toan-hong Kongcu beberapa kejap. Jago tua ini ingin tahu, keistimewaan apakah yang dimiliki pemuda yang tumpak lemah-lembut itu, sehingga dapat menarik perhatian Cing-tiok-siu dan dibebani tugas untuk memimpin perkumpulan pengemis yang tak terhitung jumlah anggotanya itu.

Apa yang terlihat kemudian telah mengecewakan paman Lui, ia lihat meskipun Toanhong Kongcu duduk di kursi utama, namun hatinya tak tenang, matanya jelilatan ke kiri- kanan, duduknya tak tenang dan gelisah tampaknya. Tampangnya memang tampan, namun sedikitpun tak ada wibawa sebagai seorang pernimpin besar.

"Ai, bagaimana dengan Cing-tiok-siu itu?" pikir paman Lui sambil menghela napas, “Mengapa mencari ahliwans begini jelek "

Sementara paman Lui masih melamun, tiba2 Toan hong Kongcu berkata sambil beikerut dahi:

"Aneh, kenapa sampai sekarang orang yang kita undang belum kunjung tiba?"

Baik Hong-jan-sam-kau maupun kawanan pengemis berusia lanjut itu, semuanya mengunjuk wajah gelisah dan cemas, terdengar pengemis sinting menyahut: "Tecu sekalian telah menyampaikan semua undsngan ke alamat yang benar, malahan dari merekapun sudah mendapat balasan. Aneh, sungguh aneh sekali, kenapa sampai waktunya belum datang juga?"

"Jangan2 terjadi sesuatu di luar dugaan?" ujar pengemis pemabuk dengan wajah seriua, saat ini ia kelihatan segar dan sama sekali tak terpengaruh oleh arak.

"Ah, jangan2 si pengirim surat kita kurang rapat menjaga rahasia sehingga ketahuan orang dan mereka turun tangan lebih dulu .... " kata An lok Kongcu sambil mcnghantam paha sesdiri dengan kitab bututnya.

Sebelum An-lok Kongcu melanjutkan kata2nya, mendadak Toan-hong Kongcu mengerling ke arah-nya dan memberi kode, melihat kode itu An 1ok Kongcu segera membungkam kembali.

Ji-lopiautau bukan anak kemarin sore, melihat sikap orang2 ini, dia lantas menyikut tubuh paman Lui  sendiripun sudah merasakan keganjilan itu, ia tahu baik kedua Kongcu itu maupun para pengemis dari Kay-pang hakikatnya tidak ingin menerima mereka sebagai tamu.

Sebagai seorang jago yang gagah perkasa, tentu saja paman Lui tak tahan menghadapi sikap dingin tersebut, ia lantas berbangkit dan berseru: "Kalau perkumpulan pengemis sedang menghadapi urusan, biarlah kami mohon diri saja!" — Habis berkata lantas berpaling kepada Ji- lopiauthau, Tay-pek-siang-gi. Tian Pek serta Buyung Hong dan berkata: "Hayo kita pergi!"

Tanpa menunggu lagi ia putar badan dan berlalu lebih dulu dan situ.

"Paman Lui, akupun ikut pergi . . . "tiba2 Wan-ji berseru sambil berbangkit.

Cepat An-lok Kongcu berbangkit dan meng-alangi kepergian mereka, katanya: "Lui-tayhiap, saudara Tian, duduklah sebentar, masih ada persoalan yang hendak kami rundingkan!"

Hong-jan-sam-kau juga berusaha menahan ke-pergian paman Lui.

Tapi sesuai watak paman Lui yang keras, sekali bilang pergi siapapun tak bisa menahannya lagi.

Tiba2 si pengemis pemabuk berseru dengan mata melotot: "Mau pergi boleh saja, tentunya kalian tidak keberatan mencicipi dulu dua ekor ayam pengemis dan satu cupu arak Mo-tay-ciu milikku ini?” "Setan arak, maksud baikmu kuterima di dalam hati saja, kesempatan kan masih banyak, lain kali saja!" tampik paman Lui, dengan langkah lebar ia menuju ke pintu luar.

Cepat si pengemis sinting melayang ke depan pintu dan mengadang jalan pergi paman Lui, dengan lagak marah bentaknya: "Lui sinting jadi kau tak pandang sebelah mata kepada kami tiga pengemis tua?"

"Hehehe. bila demi kalian tiga pengemis tua sekalipun kedua ketiakku ditusuk pisau, jika aku Lui Ceng-wan berkerut dahi, anggap saja bukan se-orang lelaki, akan tetapi

. . . .hmm!" Tiba2 paman Lui mendengus dingin dan menambahkan: "Kalau suruh orang she Liu duduk di bangku dingin dan menghadapi muka masam anak muda dan semuanya itu hanya untuk meneguk dua-tiga cawan arakmu, huh, lebih baik kupergi saja dari sini!"

Hong-jin-sam-kau menjadi serba salah, mereka melirik sekejap ke arah Toan-hong Kongcu yang duduk dikursi utama, mereka tahu kesombongan

Toan-hong Kongcu telah membuat paman Lui tak senang hati.

Walaupun demikian, mereka bertiga tak mampu berbuat apa2, sebab bagaimanapun Toan-hong Kongcu adalah Ciangbunjin mereka, sekalipun kedudukan Hong-jan-sam- kau amat tinggi, sudah tentu mereka tak dapat menegur ketuanya dengan begitu saja, untuk sesaat mereka jadi tertegun sendiri.

Toan-hong Kongcu sejak tadi diam saja, tiba2 ia berkata: ' Mau datang boleh datang, mau pcrgi biarkan pergi! Kaum peudekar di daratan Tionggoan banyaknya tak terhitung, tambah beberapa orang tak terlampau banyak, berkurang sedikit juga tak menjadi soal, kenapa kita mesti menahan orang dengan paksa!" Dengan gusar paman Lui berpaling, sambil tertawa dingin serunya: "Hehehe, tolong tanya, manusia2 macam apakah yang bisa dikatakan sebagai kaum pendekar dari daratan Tionggoan?"

Tay-pek-siang-gi ikut berkata dengan nada ketus: "Hmm, tampaknya kita harus tetap tinggal di sini ingin sekali kusaksikan manusia macam apakah yang dianggap sebagai kaum pendekar dari daratan Tionggoan?"

Jangankan orang lain, Ji-lopiautau yng paling sabarpun merasa gemas.

Sebagai jago silat yang tiap hari bergelimpangan di ujung golok, pada hakekatnya yang mereka cari hanyalah soal "nama", dan sekarang Toan-hong Kongcu mengucapkan kata2 sama sekali tak pandang sebelah mata kepada mereka, tak heran kalau mereka jadi naik darah.

Padahal dengan kedudukan Toan-hong Kongcu sekarang, tidak semestinya ia bersikap begitu picik dan berjiwa sempit, sebagai seorang "Bengcu" yang diangkat lantaran dia adalah ketua Kay-pang yang besar, dalam usaha menentang penjajahan Lam-hay bun di daratan Tionggoan, mestinya ia memperlakukan sopan tiap jago yang berkumpul, sebab tujuannya menyebar Bu lim-tiap (surat undangan Bu-lim) ialah mengumpulkan kekuatan untuk menyelamatkan dunia persilatan.

Apa mau dikata, hatinya telah dibakar lebih dulu oleb rasa cemburu, tidaklah heran kalau sikap maupun ucapannya tadi sedemikian ketus dan tak sedap didengar.

Soalnya secara diam2 ia mencintai Wan-ji, namun setiap ada kesempatan untuk berkumpul dengan nona idamannya ini, kesempatan tersebut selalu dirusak oleh kehadiran Tian Pek, hal ini membuatnya dendam dan cenburu terhadap saingan cinta ini. Tatkala Lam-hay-bun menyerang dan menjajah daratan Tionggoan, pada kesempatan yang baik ini ia terpilih sebagai Bu-lim-bengcu yang akan memimpin umat persilatan untuk menentang kehadiran Lam-hay-bun. terlepas dari berhasil atau tidak-nya perjuangan itu, dengan usianya yang semuda itu ternyata dapat menduduki kursi paling tinggi di dunia persilatan, sedikit banyak kejadian ini merupakan kebanggaan baginya.

Selagi usahanya mencapai puncaknya, secara kebetulan ia bertemu dengan Wan-ji, dengan segala bujuk ravu akhirnya ia berhasil mengundang Wan-ji untuk menghadiri pertemuan ini, maksudnya agar nona itu menyaksikan kegagahan serta wibawanya di depan umum, kemudian akan mencari kesempatan untuk meminang nona itu agar menjadi isterinya.

Apa mau dikata, sebelum kawanan jago persilatan yang diundang berdatangan dan sebelum upacara pengangkatan sumpah dimulai, Tian Pek dan psman Lui sekalian keburu tiba lebih dulu.

Mendingan kalau mereka cuma hadir, ternyata Wan-ji segera mengalihkan kerlingan matanya ke tubuh Tian Pek, hal ini membuat Toan-hong Kongcu merasa kepalanya seperti diguyur air dingin, rasa cemburunya kontan berkobar. Sebab itulah ia jadi kehilangan wibawa sebagai seorang "Beng-cu", malahan sikap dan ucapannya lantas menyinggung perasaan orang lain.

An-lok Kongcu lebih pandai bergaul, ia merasakan gelagat yang tidak mengenakkan, ia kuatir kedua belah pihak jadi sama ngotot sehingga bukan saja gagal untuk mempersatukan umat persilatan, malahan bibit permusuhan bisa terikat lebih dalam. Cepat ia maju ke depan dan berkata: "Aku minta jangan kalian ribut dan cekcok hanya karena soal sepele, bicara sebenarnya, kali ini Siaute dan Toan-hong Kongcu sengaja mengundang para pahlawan untuk berkumpul di sini adalah karena ada persoalan yang gawat dan besar sekali pengaruhnya bagi mati-hidup dunia persilatan kita"

An-lok Kongcu bukan saja sudah menjadi penengah untuk mendamaikan kedua pihak yang berselisih, ia pun telah meningkatkan kedudukannya sendiri di mata orang. Tatkala melihat semua orang telah pusatkan perhatian untuk mendengarkan perkataannya, tanpa terasa timbul rasa bangganya.

Dengan tenang ia lantas menyambung pula: "Pembantaian serta perbuatan keji orang2 Lam-hay-bun setelah menginjakkan kakinya di sini telah membuat banjir darah daratan Tionggoan, itulah sebabnya kami Bu lim-su- kongcu sengaja mengundang kawan2 dari tujuh aliran besar serta rekan2 dari pelbagai daerah untuk berkumpul di sini dan merundingkan masalah ini, tujuan yang terutama tentu saja untuk mengusir orang2 Lam-hay-bun, selain itu kita juga akan membalas dendam bagi rekan2 persilatan yang telah menjadi korban, kedua untuk menegakkan kembali kewibawaan umat persilatan yang kini telah porak poranda. "

Baru ssja An-lok Kongcu berkata sampai di sini, tiba2 Toan-hong Kongcu berdehem dan menimbrung: "Selaku ketua perkumpulan kaum pengemis aku akan memimpin operasi pembalasan dendam ini!"

Ucapan yang sombong dan takabur, sungguh tiada ubahnya seperti anak kecil yang tak tahu diri. Kontan air muka An-lok Kongcu berubah, bahkan Hong jan-sam-kay sebagai Tianglo perkumpulan pengemispun tampak melenggong mendengar ucapan itu.

Hanya sejenak An-lok Kongcu lantas tenang kembali, ia tertawa dan menyahut: "Benar, dewasa ini memang Toan- hong Kongcu yang memimpin perkumpulan ini, tapi setelah kawan2 dari pelbagai daerah berkumpul semua di sini seperti yang di-rencanakan, tentu saja akan diadakan perombakan kembali susunan kepemimpinan ..."

Ucapan ini tiada ubahnya telah mengurangi bobot Toan- hong Kongcu.

Dengan wajah tak senang Toan-hong Kongcu lantas berpaling dan menegur: "Eeh, saudara In Ceng, kenapa kau berkata begitu? Bukankah sebelumnya kita sudah merundingkan persoalan ini masak-masak?"

An-lok Kongcu tertawa dan menyahut. "Yang kita bicarakan kan keadaan dewasa ini, andaikata kawan-kawan dari pelbagai daerah sudah berkumpul dan diantara mereka terdapat tokoh yang memiliki kemampuan serta kewibawaan yang melebihi saudara Sugong, tentu saja kita akan melakukan pemilihan kembali!”

Walaupun kedua Kongcu itu cuma saling berdebat, tapi bagi pendengaran paman Lui yang berpengalaman, ia lantas dapat meraba ada hal-hal yang kurang beres di antara mereka.

Segera ia tertawa dan berkata: “Hahaha, kalau begitu pertemuan ini pastilah suatu pertemuan besar yang jarang dijumpai, setelah orang she Lui disini, sepantasnya pertemuan besar ini tak boleh kulewatkan dengan begitu saja! Saudara Ji dan dua saudara Tay-pek, bagaimana pendapat kalian?” “Ya, pertemuan besar yang jarang ditemui ini tak boleh dilewatkan dengan begitu saja, kita harus ikut menghadirinya!” sahut Ji-lopiautau dan Tay pek siang-gi berbareng.

Paman Lui berpaling pula kepada Tian Pek, Buyung Hong dan Wan-ji, tanyanya pula : “Tian hiantit, bagaimana pendapat kalian?”

Sebagai angkatan yang lebih muda, tentu saja Tian Pek, Buyung Hong dan Wan-ji tak berani mengomentari apa- apa, mereka pun setuju saja.

Maka sambil ter-bahak2 paman Lui berpaling kepada Hong-jan-sam-kay dan berkata: "Hahaha, asal perkumpulan kalian tidak mengusir tamu, tentu saja kami bersedia tetap tinggal di sini!"

Sementara itu Hong-jan-sam-kay sedang dibuat kikuk oleh sikap ketua mudanya yang tak becus, mendengar ucapan tersebut mereka pun lantas mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, sahutnya: “Bagus, nanti kami tiga pengemis tua pasti akan menjamu kau Lui sinting untuk menikmati Kiau hun-toa-cay (sayur lengkap kaum pengemis).,. .!" Habis bicara, mereka lantas memerintahkan anak buahnya menyiapkan hidangan.

Ji-lopiautau ikut ter-bahak2 katanya: "Aku sudah mengarungi utara maupun selatan sungai besar, sudah kucicipi sayur Kanton, sudah pula kucicipi masakan Sujwan, tapi belum pernah rasakan masakan sayur lengkap kaum pengemis, Hahaha, bukan saja mata akan terbuka, perutpun akan ikut puas."

Si-hoat-jin dari Tay-pek-siang-gi melotot dan berseru: 'Ji- lopiautau, kau jangan bicara seenaknya, kapan orang lain mengundang kau makan? Yang diundang pengemis2 itu kan cuma Thian-hud-ciang Lui-tayhiap seorang!" Pengemis sinting Coh Liang cepat menimbrung: "Eeh, sebetulnya kau orang hidup mati atau Orang mati yang hidup? Aku si pengemis tua tak bisa membedakan dengan jelas mana kakaknya dan adik-nya. Ah, sudahlah, kalau mengundang tentu saja semuanya kuundang, memangnya kami menganggap kalian ini orang mampus sungguh2?"

Sejenak kemudian, berpuluh pengemis masuk ke dalam ruangan, ada yang membawa nasi, ada yang membawa sayur, hanya sekejap sepuluh meja "Sayur lengkap kaum pengemis" telah dihidangkan.

Kesepuluh meja ini dihidangkan di dalam ruangan, sedangkan meja perjamuan di luar halaman sukarlah dihitung.

Buat paman Lui, Ji lopiautau dan Tay-pek-siang-gi yang berpengalaman, apa yang mereka lihat tidaklah mengherankan, Tapi Tian Pek belum lama berkelana, Buyung Hong dan Wan-ji adalah anak pingitan. mereka heran pada perjamuan besar kaum pengemis yang luar biasa ini.

Sayur lengkap kaum pengemis yang dimaksudkan Hong- jan-sam-kay tadi memang hidangan yang lain daripada  yang lain.

Pada setiap meja dihidangkan delapan piring dan delapan mangkuk yang terdiri dari masakan ayam, itik, ikan dan daging. Tapi yang aneh ialah di tengah meja terdapat pula sebuah baki tembaga yang digosok mengkilap, dalam baki itu terdapat gundukan benda yang tidak diketahui apa isinya. pula tak diketahui bagainana caranya menyikat santapan yang mirip dangan gumpalan tanah lumpur itu?

Sementara hidangan disiapkan, beberapa kelompok jago persilatan hadir pula di sana. Orang yang datang lebih duluan adalah Siang-lin Kongcu beserta Kanglam-te-it-bi-jin Kim Cay-hong, mereka memimpin belasan jago tangguh. di antaranya terdapat pula Kim-hu-siang-tiat-wi (sepasang pengawal baja dari istana Kim).

Baju wasiat Tiat-ih-sin-ih yang merupakan alat melayang bagi Tiat ih hui peng (rajawali sakti bersayap baja) Pa Thian-ho masih tetap dikenakan tapi lengan kirinya terkulai lemas ke bawah, agaknya lengan kirinya itu sudah cacat  dan tak dapat dipakai lagi. 

Tiat pi-to-liong (naga bungkuk berpunggung baja) Kongsun Coh sendiri berwajah pucat, punggung bajanya yang tersohor itu masih dibalut dengan kain putih, tampaknya luka bekas tusukan di punggungnya belum sembuh benar2.

Sementara itu rombongan kedua adalah Leng-hong Kongcu Buyung Seng-yap dengan lima-enam orang jagonya, di antaranya terdapat kakek berambut panjang yang dipanggil Hek-lian sam kok oleh Leng-hong Kongcu. Orang itu bernama Mo-gwa-sin kun (pendekar sakti dari luar gurun) Hek-lian Ing, jago lihay yang pernah melukai si pengemis pemabuk dengan ilmu jari Tan-ci-sin-thong.

Thian-ya-ong-seng (manusia latah dari ujung langit) Tio Kiu-cu tampak hadir juga, ditinjau dari sorot matanya yang tajam serta muknnya yang merah, jelas tutukan ilmu Soh- hun-ci si nenek berambut putih, yaitu salah satu di antara Hay-gwa-sam-sat, tak sampai mencelakainya.

Rombongan ketiga dipimpin oleh Hoan Soh-ing yang gemar berdandan sebagai laki-laki itu, yang ikut hadir hanya Kim-si ji gi (dua bersaudara dari keluarga Kim), sedangkan ketiga bersaudara Hoan-si sam kiam tak tampak batang hidungnya.

Selain itu hadir pula anak murid perguruan Hoat-hoa- lam-cong yang terdiri dari Ngo-im-liong-Jiu (tangan sakti panca suara) Siau Tong serta Jit-poh-tui-hun (tujuh langkah pencabut nyawa) Poan Kui. Anak murid Siau-lim-pay yang terdiri dari Sin-kun-tah-cing (pukulan sakti penghantam sumur) Poh In-hui serta Hou-bok-cuncia, kepala ruangan Lo-han-tong, lalu hadir pula Bu-tong-sam-to dari Bu-tong- pay, Kho-tong-su-co (empat manusia jelek) dari Khong- tong-pav, Tiam-cong-siang-kiam dan gunung Tiam-cong beserta Thian-san-it-ho (bangau sakti dari Thian-san) Ciong Beng yang mewakili perguruan Kun-lun-pay.

Kecuali wakil dari Go-bi-pay yang belum nampak hadir, hampir seluruh jago lihay ketujuh aliran persilatin telah hadir semua, dari sini dapat diketahui himpunan kekuatan kawanan jago yang hadir inipun cukup kuat.

Paman Lui, Tian Pek dan lain2 menanyakan lebih dulu keadaan Leng-hong Kongpu, setelah mengetahui semuanya baik2, mereka pun berlega hati.

Kebanyakan tamu yang hadir ini adalah jago2 persilatan yang tidak terikat oleh adat, mereka makan minum sepuasnya. takaran minum si pengemis pemabuk, paman Lui dau Thiat-pi-to-liong paling kuat. hampir boleh dibilang setiap cawan begitu dituang lantas diminum habis. dalam waktu singkat puluhan kali arak Kui-ciu-mo-tay simpanan  si pengemis pemabuk sudah terminum habis.

Setelah dipengaruhi alkohol, jago persilatan ini mulai membual tentang kekosenan sendiri, ada yang menyinggung perbuatan orang2 Lam-hay-bun yang kejam, rata2 mereka mengepal tinju dan siap mengadu kekuatan dengan musuh.

Di antara orang banyak hanya Tian Pek sendiri yang masih tetap sadar sebab ia paling sedikit minum arak, ia pun satu2nya orang yang paling tahu akan kslihayan orang2 Lam-hay-bun, pemuda itu berpikir: "Mo-in-sin-jiu Siang Cong-thian. Hiat-ciang-hwe-liong Yau Peng-kun derta Tok- kiam-leng-coa Gi Hun-lam adalah jago2 berilmu tinggi, mereka-pun mati di tangan jago2 Lam-hay-bun, kalau beberapa orang inipun ingin coba2 hanya akan mengantar kematian belaka ..."

Bnyung Hong dan Wan-ji ssma sekali tidak minum arak, mereka hanya tertarik oleh gumpalan lumpur kuning di tengah baki tembaga, mereka heran bagaimana caranya melahap hidangan tersebut.

Sudah tentu mereka malu untuk mulai dulu, sesudah melihat orang lain mcngetuk lumpur kuning itu hingga retak, dari dalam bungkusan lumpur itu muncul daging ayam yang harum semerbak, barulah mereka tahu isi lumpur kuning itu ternyata tak lain adalah seekor ayam vang masih utuh.

Seperti juga orang lain, mereka berdua lantas mengetuk lumpur kering itu dan mencicipi daging ayamnva, ternyata empuk, wangi dan lezat sekali, belum pernah mereka cicipi hidangan selezat itu.

Wan-ji yang polos segera berseru: "Aduh Cici, enak benar daging ayam ini! Bagaimana ya cara membuatnya?"

"Nona makanlah rada banyak!" kata si pengemis sinting sambil tertawa, "inilah yang dinamakan ayam pengemis, hidangan khas perkumpulan kami, tak mungkin dapat kau temukan di rumah makan seluruh negeri!"

Wan-ji mcncibir tak percaya, melihat itu pengemis pemabuk meneguk secawan arak, lalu berkata: "Nona, jangan kau meremehkan hidangan ayam pengemis ini, sengaja belajarpun tiada gurunya, biarlah kaberi kursus kilat padamu, setiba di rumah boleh kau mengolahnya sendiri." Ia menggulung lengan bajunya, kemudian melanjutkan: "Semua orang bilang jadi pengemis tak usah memakai modal, padahal untuk mencuri ayam-pun harus memakai segenggam beras. Nih, comotlah segenggam beras, lalu periksalah ayam siapa yang berkeliaran di jalan, tengok dulu ke kiri dan ke kanan apakah ada yang mengawasimu, kalau sudah aman, letakkan beras di telapak tangan dan berikan kepada ayam itu, tapi ingat jangan kau sebar beras itu di tanah, hanya pencuri bodoh yang menyebarkan berasnya ke tanah. Pernah mendengar pepatah yang mengatakan: 'Gagal mencuri ayam malah hilang segenggam beras"? Nah, ucapan itu khusus ditujukan buat pencuri2 goblok ..."

Semua orang bergelak tertawa mendengar banyolan itu, suasaua jadi ramai.

"Esh, jangan tertawa dulu, jangan tertawa dulu!" kata si pengemis pemabuk.

Wan ji diam saja dan menahan rasa gelinya.

"Bila ayam itu menotol beras di tanganmu cepatlah sambar leher ayam tadi dan kempit kepala ayam itu di bawah sayapnya, tanggung ayam itu takkan bersuara lagi," sambung si pengemis pemabuk lebih jauh "Setiba di tempat yang tak ada orang, bungkuslah ayam itu dengan lumpur, kemudian kumpulkan ranting kayu dan daun kering untuk memanggang ayam tadi, kurang lebih setanakan nasi kemudian ketuklah lumpur yang sudah kering itu sampai pecah, dan kaupun bisa menikmati ayam pengemis seperti yang dihidangkan di depanmu sekarang!"

"Jadi bulunya tidak dicabuti dulu?" tanya Wan-ji dengan terbelalak.

"Tidak perlu!" jawab pengemis pemabuk "Juga tidak disembelih?" "Tidak:"

"Tidak dicuci?" "Tak ada waktu!"

"Lantas isi perut ayam itu ?"

"Tentu saja ikut terpanggang di dalamnya!" Kontan saja Wan ji berseru: "Wah, jijik !"

"Hahaha, kalau takut jijik, tidaklah cocok untuk menjadi pengemis...." sahut pengemis pemabuk dengan ter-bahak2.

Gelak tertawa keras kembali bergemuruh.

Tiba2 Toan-hong Kongcu bangkit berdiri, kemudian berseru dengan lantang: "Tenang! Tenang! Harap tenang semuanya!"

Semua orang berhenti tertawa dan alihkan perhatiannya ke arah pemuda itu, senentara Toan-hong Kongcu sendiri sengaja memandang jauh ke luar sana.

Waktu itu malam sudah tiba; bintang bertaburan di angkasa. perjamuan

kaum pengemis di halaman luar sudah bubar. sekian banvak pengemis yang mula2 berkumpul di situ kini entah sudah pergi ke mana? Yang tertinggal hanya dua-tiga orang pengemis bertongkat hambu hijau yang mondar-mandir melakukan perondaan.

Toan-hong Kongcu alihkan kembali tetapannya  ke dalam ruangan, dengan lagak scorang "Beng-cu" ia berkata: "Hari ini sengaja ku undang kehadiran anda, berkat kesudian anda sekalian jauh2 datang kemari, kejadian ini sungguh suatu kebanggaan bagiku dan juga kebanggaan bagi perkumpulan pengemis kami. " Tiba2 Tian Pek mendengus, jari tangannya di-celupkan ke dalam cawan arak, lalu menjelentik beberapa kali ke depan.

Desing angin tajam memecah angkasa mengejutkan orang, menyusul di luar berkumandang suara dengusan tertahan disertai suara benturan keras.

Tian Pek sekarang sudah menguasai isi Su-kut-tiau-hun- thian-hud-pit-kip, tenaga dalamnya mendapat kemajuan pesat, sekalipun ia cuma mencelupkan jarinya ke dalam cawan arak lalu menjentikkan tetesan arak itu dengan ilmu Tan-sui-seng-wan (butiran air menjadi peluru), tapi serangan itu membawa desing angin tajam yang men-deru2, kontan saja semua orang yang hadir dibuat tertegun ber- campur kagum.

Setelah butiran arak itu menyambar keluar ruangau, menyusul terdengar dengusan berat, suasana dalam  ruangan lantas jadi gaduh.

Serta merta si pengemis pemabuk dan pengemis sinting meluncur keluar, di luar jendela terdengar suara gemuruh keras, menyusul terdengar suara bentakan gusar pengemis pemabuk serta pengemis sinting: “Sobat, siapa kau dan datang dari mana? Berani amat menerbitkan keonaran di tempat orang2 miskin ini?"

Seorang lantas bergelak tertawa, suaranya keras, melengking dingin: "Hehehe, daratan Tiong-goan sekarang sudah menjadi jajahan orang, apakah kalian yang suka makan sayur sisa orang lain ini berani bertingkah lagi?"

Mendengar ucapan itu, serentak semua orang ikut melayang keluar. Di bawah cahaya bintang dan rembulan, tertampaklah empat orang kakek berdiri bsrjajar di depan Hong-jan-sam- kay.

Orang pertama berdandan orang Mongol,  berjubah hijau, selempang merah dan bersepatu kulit kerbau yang besar, alisnya tebal, matanya bengis dan membawa tasbih.

Orang kedua tinggi besar, cambang memenuhi wajahnya, kepala botak mengkilap, ia memakai jubah panjang dan longgar.

Orang ketiga adalah kakek hitam kurus kering, pendek lagi agak bungkuk, batok kepalanya agak kecil tapi sepasang telinganya kelewat besar, ia memakai baju warna abu2. Potongan badan begini persis seperti tikus wirok di dalam gudang. Tepat di atas jidat kakek bertampang tikus ini tumbuh sebuah uci2 besar, entah tonjolan daging itu sudah ada semenjak lahir atau baru saja benjut kebentur pinggiran pintu?

Sedangkan orang yang terakhir mirip mayat hidup, berhidung seperti paruh elang, mata juling dan mukanya pucat menyeramkam, berdiri kaku bagaikan tonggak, sama sekali tidak berbau hidup.

Keempat orang ini bukan saja bertampang jelek, aneh dan menyeramkan, bahkan perkataan mereka sombong, sikap angkuh, dan lagi sorot matanya rata2 tajam seperti mata pisau, jelas mereka jago2 silat berilmu tinggi.

Sewaktu menyambar keluar jendela tadi, pengemis pemabuk dan pengemis sinting telah merasakan kelihayan angin pukulan lawan. terasa betapa kuatnya tenaga pukulan orang2 itu sehingga darah di dalam rongga dada bergolak, untung bala bantuan segera datang sehingga mereka tak perlu kuatir. Segera pengemis sinting berkata sambil ter-bahak2: "Hahaha, sobat, kalau kedatangan kalian khusus untuk mencari kaum pengemis seperti kami, apa salahnya kalau sebutkan dulu nama2 kalian, agar kami orang2 miskin mendapat tahu siapakah tamu kami ini!"

Dengan tatapan menghina kakek tinggi besar yang bercambang itu melirik si pengemis sinting, sahutnya: "Huh cuma kami berempat saja tidak kenal, dari sini sudah terbukti kalian pengemis2 sialan cuma katak2 di dalam sumur belaka!"

"Baik katak di dalam sumur atau katak di lautan, paling penting sebutkan dulu nama kalian; Atau barangkali nama kalian terlampau jelek sehingga malu untuk disebutkan?" ejek pengemis pemabuk.

Ejekan itu kontan menggusarkan kakek kurus jangkung yang berwajah seram, dengan pancaran sinar mata ke- hijau2an ia tertawa dingin, katanya: "Hehehe, ketahuilah, nama kami berempat tak akan diberitahukan kepada orang hidup, pada saat kalian mengetahui siapa kami berempat, ketika itulah nyawa kalian akan melayang ke akhirat!"

"Eh, hati2 kalau bicara, angin malam terlalu keras, awas lidah keseleo. . . ." ejek pengemis sinting dan pengemis pemabuk berbareng.

Kakek jangkung kurus dengan wajah seram itu mendadak memotong: "Ciong-nia-ci-eng (elang dari Oong- ni )!"

"Im-san-ci-long (serigala dari Im-san)?" sambung si kakek tinggi besar dan bercambang.

"Tay-cong-ci-ju (tikus dari gudang)" seru kakek kurus kecil bermuka hitam. "Sah-mo-ci-hu (rase dan gurun pasir)!" akhirnya si kakek berdandan Mongol juga berseru.

"Hahaha, setelah ngibul setengah harian, tak tahunya yang datang hanya sebangsa tikus dan serigala belaka " ejek pengemis sinting sambil ter-bahak2.

Baru saja pengemis itu habis berkata, kakek kecil kurus atau si tikus, mementangkan telinganya lebar2, kemudian menghardk: "Kere busuk, rupanya kau sudah bosan hidup!"

— Telapak tangan-nya lantas terangkat, secepat kilat ia membacok kening musuh,

"Bagus!" seru pengemis sinting, dengan jurus Kiau-hua- su-hong (empat penjuru mengemis), dia sambut serangan itu dengan kekerasan.

"Plak Plak!" terjadi bentrokan nyaring, pengemis sinting tergetar mundur lima langkah.

Melihat kejadian itu semua orang terperanjat. Berbicara tenaga dalam si pengemis sinting sebagai salah seorang Tianglo perkumpulan pengemis, kemampuannya pasti dapat diandalkan, tapi sekarang hanya satu gebrakan saja ia telah tergetar mundur oleh kakek kurus kecii itu,

Ketika keempat kakek aneh dan jelek itu menyebutkan nama masing2 tadi, kawanan jago muda masih tak seberapa kaget sebab mereka tidak tahu kelihayan orang2 itu, tapi jago golongan tua kontan terkesiap demi mendengar nama2 tadi.

Meskipun selama dua tiga puluh tahun belakangan ini nama keempat orang kakek itu tak pernah kedengaran lagi, namun tiga puluh tahun yang lalu mereka adalah jago2 golongan hitam yang tersohor dan sempat menggemparkan seluruh dunia persilatan. Bukan saja ilmu silat mereka lihay, oleh karena berasal dari luar daratan, aliran Kungfu merekapun berbeda dengan aliran kungfu di daratan Tiorggoan, siapapun tak tahu asal- usul perguruan mereka, tapi karena perbuatan mereka yang kejam dan buas, setiap kali muncul lantas menggemparkan, maka orang lantas menyebut mereka sehagai Hek-to-su hiong (empat menusia buas dari golongan hitam).

Kemudian karena perbuatan mereka semakin se- wenang2, bukan saja merampok, membunuh juga memperkosa, orang persilatan jadi marah sekali, kawanan jago dari golongan putih lantas ber-satu padu untuk menumpas iblis2 ini.

Akhirnya dalam suatu pertarungan berdarah di puncak Hong-san, keempat iblis ini berhasil diusir pergi dari Tionggoan.

Mengingat kejahatan keempat orang itu, mestinya keempat orang itu akan dibunuh saja, tapi Ko-sui Taysu dari Siau-lim-pay menyarankan ke-empat orang itu setelah diberi peringatan lantas di usir pergi.

Siapa tahu tiga puluh tahun kemudian keempat orang ini muncul kembaii di Tionggoan berbareng dengan terjadinya penyerbuan pihak Lam-hay-bun, bahkan dari nada bicara mereka dapat diketahui bahwa keempat gembong iblis ini sudah berkomplot dengan pihak Lam-hay-bun.

Sementara para hadirin berdiri dengan kuatir sedang pengemis sinting yang kena didesak oleh Tay cong-ci ju masih berdiri termangu, tikus sakti itu sudah maju ke depan dan berseru lantang: "Keparat manakah telah menyambut kedatarganku dengan kacang hijau tadi. Hayo cepat menggelinding keluar untuk menyambut kematian !"

Kiranya uci2 besar di jidatnya itu adalah hasil selentikan jari sakti yang dilancarkan Tian Pek tadi, arak yang dipakai untuk menyerang itu disangkanya sebagai kacang hijau, malahan detik itu dia belum tahu siapakah yang mengerjainya.

Mendengar teguran tersebut pelahan Tian Pek tampil ke depan, dengan senyum dikulum sahutnya; "Aku Tian Pek. akulah tadi yang memberi tanda kenang2an kepadamu, tapi kau jangan salah sangka bukan kacang hijau yang kuberikan padamu, aku hanya menjentikkan setitik arak saja ....

kuharap kau sudi menerimanya dengan senang hati!"

Sungguh gusar sekali Tay-cong-ci-ju mendengar ucapan Tian Pek yang menyerupai sindiran itu, segenap hawa murninya dihimpun, sambil memutar telapak tangannya segera ia bacok tubuh anak muda itu.

Serangan dengan punggung telapak tangan ini berbeda dengan ilmu pukulan pada umumnya, tenaga serangan  yang terpancar ternyata sangat mengejutkan.

Sekilas pandang Tian Pek lantas mengetahui tenaga pukulan si tikus ini tidak berada di bawah ketangguhan Hay-gwa-sam-sat, meski demikian ia tidak menghindar, ia malahan sengaja hendak menghancurkan kesombongan lawan, maka dengan menyalurkan tujuh bagian tenaga sakti Thian-hud-ciang-mo-ciang dia sambut pukulan lawan.

"Blang!" benturan keras menggelegar, pancaran tenaga menerbitkan angin taupan yang menerbangkan debu pasir, sekali ini Tay-cong-ci-ju terdesak mundur lima langkah, sebaliknya Tian Pek dengan gagahnya tak bergeming di tempat semula.

Daun telinga Tay cong ci ju yang luar biasa besarnya itu tampak bergoyang, matanya melotot, mimpipun tak tersangka olehnya bahwa seorang pemuda yang masih ingusan ternyata sanggup menghantam dia sampai mundur. Pelbagai ingatan terlintas dalam benaknya, terbayang kembali ketangguhannya di masa silam di mana dia malang melintang di dunia persilatan tanpa tandingan, meskipun kemudian tak bisa tanoapkan kaki di daratan Tionggoan dan harus menyingkir ke luar samudera karena dikerubut puluhan jago lihay, dua-tiga puluh tahun lamanya ia sudah berlatih secara tekun. Menurut perkiraannya, setelah beegabung dengan Lam-hay-bun dan menyerbu ke Tionggoan, niscaya dunia persilatan bisa ditaklukkan oleh kelihayannya.

Apa mau dikata, baru pertama kali unjuk kelihayannya sudah kecundang di tangan scorang pemuda ingusan, sungguh kejadian yang mengenaskan.

Setelah tertegun sejenak. iblis inipun mengerahkan ilmu lainnya yang lebih lihay, ilmu itu disebut Mo-kang (ilmu iblis). Hawa murni disalurkan mengelilingi sekujur tubuh, seketika persendian tulang bergemerutukan, tahu2 tubuhnya mengkeret setengah bagian lebih pendek daripada semula.

Padahal ia memang tak terlampau tinggi, dengan ilmu itu badannya kini jadi tinggal tiga kaki tingginya, tangannya mendadak terulur lebih panjang, bahkan warnanya jadi hitam.

Bisa dibayangkan betapa lucu dan anehnya bentuk tubuhnya, badannya cebol dengan muka hitam, daun telinga seperti kuping gajah, lengan panjang bagaikan gorila, tampangnya sekarang tidak lagi mirip tikus melainkan lebih mirip monyet.

Sesudah memasang kuda2nya, tangan Tay-song-ci-ju setengah terpentang, seperti mengepal seperti juga tidak, karena dia mengerahkan hawa murni dengan kuat, matanva yang kecil memancarkan sinar tajam, dengan wajah yang mengerikan pelahan ia menhampiri Tian Pek, sikapnya sungguh menakutkan.

Semua orang terperanjat, begitu pula Tian Pek, ia pun heran.

Umumnya bila seorang sedang menyalurkan hawa murninya, maka anggota tubuhnya akan mengembang semakin besar, belum pernah terlihat tubuh berbalik menyusut kecil, entah kungfu apakah vang dilatih kakek kecil ini?

Ia tak berani gegabah lagi, cepat hawa sakti Thian hud- hang-mo-ciang nya dikerahkan seprnuhnya kuda2nya diperkuat dan bersiap menghadapi segala kemungkinan.

Ratusan orang yang hadir di sini, namun suasananya seketika jadi hening. dengan mata terbelalak semua orang mengikuti jalannya pertarungan antara Tian Pek melawan Tay-cong-ci-ju, antara mati dan hidup segera akan diketahui.

"Tahan!" mendadak Im-san-ci-long yang tinggi kekar dan bercambang itu maju ke depan serta mengadang jalan rekannya.

Setelah mengedipi Tay-cong-si-ju ia berkata kepada para jago: "Kami berempat ini, hehehe, Hek-to-su-hiong (empat pengganas dari golongan hitam) tentunya sudah pernah kalian dengar bukan? Nah, malam ini kami mewakili Lam- hay-bun untuk mengajak kalian untuk berunding, bila kalian sudi memberi muka kepada kami dengan menggabungkan diri ke dalam Lam-hay-bun, dengan sendirinya kita akan menjadi sahabat dan urusan pun akan beres dengan sendirinya. Sebaliknya kalau kalian merasa derajat kami kurang besar dan tak sudi memberi muka, tentu saja akan lain ceritanya! Siapa pemimpin kalian? Silakan maju untuk memberi jawaban . . " Kedengarannya ucapannya sungkan dan bersahabat, tapi kenyataannya bernada keras atau sama dengan suatu ultimatum bagi para jago yang berkumpul ini.

Sebagai ketua perkumpulan pengemis, apalagi mengaku sebagai penyelenggara pertemuan ini, Toan-Long Kongcu tak bisa diam lagi, meskipun ia tahu maksud kedatangan keempat orang itu tidak baik, tapi keadaan sudah mendesak, mau tak-mau ia harus tampil ke muka.

Setelah tenangkan diri, lalu ia berkata: "Aku Toan-hong Kongcu, ketua perkumpulan pengemis sekarang, bila ada persoalan silakan bicara saja. kami akan mendengarkan dengan seksama!"

Semula Im-san-ci long menyangka yang bakal tampil ke muka pasti seorang jago tua yang sudah punya nama, sungguh geli hatinya setelah menyaksikan kemunculan seorang pemuda tampan yang masih ingusan begini.

Ia tertawa ter-kekeh2, sambil menuding kawanan jago yang berkumpul di situ ia berkata: "Apakah kau dapat mewakili sekian banyak orang yang hadir ini?"

Jelas sekali nadanya memandang hina kemampuan anak muda itu.

Merah wajah Toan-hong Kongcu, ia melirik sekejap kawanan jago yang hadir itu, bicara sebenarnya, iapun tidak yakin bisa mewakili semua orang yang hadir, terutama rombongan paman Lui dan Tian Pek yang kedatangannya bukan atas undangan perkumpulan pengemis melainkan hanya secara kebetulan saja.

Ciong-nia-ci-eng, si elang dari Ciong-nia, yang selama ini hanya berdiri kaku bagaikan mayat hidup, tiba2 buka suara dsngan suara yang menyeramkan: "Long-heng, jangan kau meremehkan orang, jelek2 dia adalah salah seorang di antara Su-toa-kongcu yang tersohor di Tiongoan, apa yang ia ucapkan ibaratnya bulu ayam yang dapat di-gunakan sebagai tanda perintah!"

Mendengar ucapan tersebut, kontan keempat manusia bengis dari kalangan hitam itu tertawa ter-bahak2, suaranya keras dan memekak telinga.

Toan-hong Kongcu ter sipu2 dan merah jengah, ia tergagap dan tak sanggup bicara lagi.

Siang-lin Kongcu, An-lok Kongcu serta Leng-hong Kongcu serentak maju ke depan, dengan suara lantang Leng-hong Kongcu segera menegur: "Eeh, bila kalian berempat ada urusan, lebih baik bicara saja blak2an, apa gunanya bersilat lidah melulu?"

Im-san-ci-long masih ter-bahak2, lama sekali ia baru berhenti tertawa dan berkata: "Anak muda, apakah kau juga termasuk salah seorang Bu-lim-su-kongcu yang tersohor itu?"

Sebelum Leng-hong Kongcu menjawab, Siang-lin Kongcu serta An-lok Kongcu telah menyahut hampir berbareng: "Benar. Bu-lim-su-kongcu telah berkumpul di sini, bila kalian ada urusan silakan saja bicara."

"Bagus! Bagus! Kalau Bu-lim-su-kongcu yang tersohor itu sudah berkumpul di sini, berarti tidak sia2 pula perjalanan kami ke sini!" kata Im-san-oi-long sambil mengangguk. "Berikut ini kami berempat secara bergilir akan mendemontrasikan suatu atraksi yang lain daripada yang lain, selesai pertunjukan ini bila kalian Bu-lim-su- kongcu dapat pula menyajikan atraksi yang serupa, tanpa banyak bicara kami berempat akan mengaku kalah dan segera berlalu dari sini, sebaliknya kalau kalian Bu-lim-su- kongcu tak mampu menirukannya, maka hendaklah kalian berikut anak buah kalian segera mengundurkan diri dari dunia persilatan, selanjutnya bila hendak melakukan sesuatu harus memberitahu dulu kepada kami. Nah, bagaimana? Berani bertaruh tidak?"

An-lok Kongcu yang lebih cerdik daripada rek»n2nya segera dapat menebak maksud musuh, ia tertawa dan berkata: "Tidakkah kalian berempat merasa dirugikan dengan cara bertaruh semacam ini?"

Meskipun tampang Im-san-ci-long Long Hiong kelihatan kasar dan kaku, sebetulnya dia adalah paling licik di autara rekan2nya, tentu saja ia dapat menangkap maksud ucapan lawan, tapi ia tetap ber-pura2 bodoh, katanya: "Ah, di dalam pertaruhan ini tak ada orang yang bakal merasa rugi, sekarang lihat dulu atraksiku ini!"

Ia maju ke muka, lalu mengayunkan telapak tangannya ke depan, sasarannya adalah pohon besar di depan sana.

"Krakl" bagaikan pisau tajam mernotorg sayur, pohon sebesar paha itu seketika tertabas kutung jadi dua bagian dan tumbang ke samping.

Ilmu Ciang-jin-jiat-bok (mata telapak tangan membacok kayu) Im-san-ci-long ini memang sudah mencapai puncak kesempurnaan, meskipun jaraknya cukup jauh dan bacokan itu dilakukan dengan ringan, namun pohoh sebesar itu dapat dibacok kutung, bahkan bekas bacokan tersebut kelihatan rata sekali, dari sini dapatlah diketahui Lwekangnya sudah mencapai tingkat yang sempurna.

Perlu diketahui, Hek-to-su-hiong adalah rombongan yang kedua jago Lam-hay-bun yang masuk ke Tionggoan, setelah lapor kepada Lam-hay-siau-kun, dapat diketahui sebagian besar dunia persilatan sudah berhasil mereka tundukkan, kini tinggal perkumpulan pengemis yang anggotanya teramat banyak masih mcmbangkang den ada tanda akan melakukan perlawanan. Hek-to~su-hiong lantas minta izin kepada Lam-hay- liong-li untuk mehksanakan tugas penumpasan ini, berangkatlah mereka dengan tugas yang baru, Menurut perkiraan mereka tindakannya ini pasti akan berhasil dan membuat pahala begi perguruan Lam-hay-bun.

Beberapa hari berselang mereka melihat anak murid perkumpulan pengemis sibuk melepaskan merpati pos bahkan anggota perkumpulan pengemis berdaiangan dari segala pelosok serta berkumpul di Hin-liong-tin, semakin bergairah lagi mereka ketika diketahui banyak jago persilatan yang berdatangan pula ke sana.

Diam2 merekapun melakukan penguntitan dan penyelidikan, maksudnya setelah berhasil menyelidiki keadaan musuh baru kemudian turun tangan melakukan penyergapan dan menaklukkan perkumpulan kaum jembel ini.

Apa mau dikata jejak mereka ternyata diketahui Tian Pek, malahan Tay-cong-ci-ju kena dilukai dengan sentilan arak yang maha sakti, kemudian pengemis pemabuk dan pengemis sinting menyusul keluar, dalam keadaan begitu tak sempat lagi bagi mereka berempat untuk menyingkir, terpaksa mereka pun unjukkan diri.

Di antara keempat orang itu, Im-san-ci-long terhitung paling licik, kalau tidak masa orang menyebutuya sebagai serigala dan Im-san?

Sebagai orang yang berpengalaman, ia tahu kebanyakan jago persilatan yang diundang perkumpulan pengemis adalah2 jago2 berilmu tinggi, kalau main kekerasan, bisa jadi mereka tak sanggup menghadapi kerubutan berpuluh jago tangguh itu.

Maka sewaktu Tay-cong-ci ju ribut dengan pengemis sinting serta Tian Pek, iapun putar otak dan mencari akal, Akhirnya ia berhasil menemukan siasat yang cukup bagus, dia hendak mendemonstrasikan kelihayan Kungfu mereka untuk menundukkan musuh, dengan cara demikian tenaga yang dipergunakan amat kecil tapi hasilnya besar.

Ketika Tay-cong-ci-ju marah2 dan akan beradu jiwa dengan Tian Pek, cepat ia mengalanginya, kemudian dengan kata yang tajam ia menyindir Bu lim-su-kongcu dan akhirnya mendemonstrasikan ilmu Ciang-jin-jit-bok.

Begitulah, setelah ia membabat kutung pohon besar dari jarak jauh, sambil tertawa ia berkata kepada keempat Kongcu itu: "Hehehe. permainan ini cuma permainan snak kecil yang tak ada artinya, harap kalian jangan mentertawakannya. Nah, bagaimana dengan kalian?"

Selesai berkata ia lantas tertawa dingin tiada hentinya, bangga sekali sikapnya karena ia yakin keempat orang pemuda di hadapannya sekarang belum memiliki tenaga dalam sehebat itu.

Sudah tentu Bu-lim-su-kongcu saling berpandangan bingung, mereka tidak menyangka Im-san-ci-long bakal mengajukan persoalan sulit itu. Mereka tahu tenaga dalam sendiri memang belum se-tingkatan lawan.

Im-san-ci long tertawa pula. ia berkata lagi: "Hehehe, jika kalian sungkan2 dan tak mau turun tangan, muka pertarungan babak pertama ini akan dianggap sebagai kemenangan bagiku, kami akan meneruskan babak kedua "

Di antara Bu-lim-su-kongcu. An lok Kongcu kaya dengan akal muslihat, Siang-lin Kongcu penuh perhitungan dan Toan-hong Kongcu paling licik, banya Leng-hong Kongcu terhitung paling angkuh dan berangasan. Ketika dilihatnya ketiga Kongcu lainnya tetap membungkam, ia jadi tak tahan, sekalipun tiada keyakinan dapat memapas kutung pohon besar dari jarak jauh, ia tak sudi menyerah dengan begitu saja.

Sambil melangkah ke muka ia berkata: "Biarlah aku Leng-hong yang tak becus ikut coba2 ilmu menabas pahon dengan tangan."

"Hshaha. silakan saja!" seru Im-san-ci-long sambil ter- bahak2, mukanya mengunjuk sikap menghina dan meremehkan.

Leng-hong Kongcu melangkah ke muka, ia pasang  kuda2 dan tarik napas panjang, kemudian hawa murni disalurkan ke telapak tangan, ia mengincar sebatang pohon dan siap melancarkan tebasan. . .

"Tunggu sebentar!" tiba2 Thian-ya-ong-seng Tio Kiu-ciu melayang ke tengah arena, dia menjura kepada Im-san-ci- long dan berkata: "Kepandaian Ciang-jin-jiat-tok yang kau demonstrasikan memang lihay, melihat atraksi itu aku orang she Tio menjadi getol dan ingin coba2, biar aku saja yang melakukan demonstrasi balasan pada pertarungan pertama ini!"

Tanpa menanti jawaban dari lm-san-ci-long mendadak ia berputar seperti gangsingan dan "Sreet!" tahu2 ia melancarkan suatu bacokan.

"Blang!" sebatang pohon besar yang berada dua tombak jauhnya tertabas patah, ketika kutungan pohon itu jatuh ke tanah ternyata sama sekali tak tumbang melahan tetap berdiri kaku di tanah.

Suatu demonstrasi yang hebat, suatu bacokan telapak tangan yang cepat dan tajam, tak malu Thian-ya-ong-seng menjadi jago kawakan yang tersohor.

Ketika bekas bacokan itu dilihat, tampaklah bekas itu rata seperti dibacok dengan golok, bahkan bacokannya agak miring runcing, tidak heran ketika jatuh ke tanah bukannya tumbang melainkan menancap di tanah.

Dari sini terbuktilah demonstrasi yang dilakukan Thian- ya-ong-seng ini jauh lebih tangguh satu tingkat daripada permainan Im-san-ci-long tadi.

Untuk sesaat Im-san-ci-long jadi tertegun dan berdiri melongo, dia tak mengira kepandaian Ciang-jin-jiat-bok yang dilatihnya selama tiga puluh tahun ternyata dikalahkan orang secara mengenaskan.

Selang sejenak ia baru menegur dengan mata mendelik: "Siapa kau? Sebutkan namamu!"

"Aku Thian ya-ong seng Tio Kiu ciu!"

Thian-ya-ong-seng memang tokoh yang tersohor di duna persilatan, cuma tiga tahun belajar silat, tapi sewaktu ia terjun ke dunia Kongouw, ketika itu Im-san ci-long telah meninggalkan Tionggoan, sebab itulah setelah Thian-yu ong seng sebut julukannya, Im-san-ci-long tetap tidak tahu jago macam apakah orang ini. Dengan mata melolot bentaknya: “Lalu kau mewakili siapa?"

"Kau sendiri? Kau mewakili siapa?" sahut Thian-yu-ong- seng dengan nada yang sama.

Sesungguhnya Im san-ci-long juga tak dapat mewakili Lam-hay-bun, pertanyaan itu membuatnya naik darah, telapak tangannya segera menegak, teriaknya: "Bangsat, kubacok mampus kau!"

"Hahaha, jangan kaukira aku orang she Tio jeri padamu," sahut Thian-ya-ong-seng sambil tertawa latah. "Tapi sebelum pertarungan dimulai, aku ingin bertanya dulu kepadamu, apa yang kau katakan tadi masih berlaku tidak?" Im-san-ci-long tertegun. Bcnar juga, tadi ia telah mengucapkan kata2 yang tegas, betapapun ia tak dapat menjilat kembali ludah sendiri. Akhirnya dengan gemas ia berseru: "Baik, anggap saja pertarungan pada babak ini bisa kalian lampaui. Hu-heng!" — Dia lantas berpaling kepada Tay-cong-ci-ju dan berseru: "Sekarang giliranmu untuk tunjukkan kebolehanmu!"

Tay cong-ci-ju bernama Hu Ciat. tanpa bicara mendadak tubuhnya disusutkan sehingga lebih pendek dua kaki, ia mengerutkan badannya dengan ilmu Sut-kin-mo-kang (ilmu iblis pengerut otot), kedua lengannya yang panjang diangkat dan tubuhpun mulai berputar dengan cepat.

Sesudah tubuhnya yang kecil itu berputar seperti gurdi, segera timbul pusaran augin yang menerbangkan debu pasir, begitu hebat pusaran angin itu hingga pasir yang ikut berputar mencapai ketinggian dua tiga puluh kaki, suaranya gemuruh dan memekak telinga. 

Ketika debu pasir yang beterbangan itu sudah membentuk suatu tiang hawa berwarna hitam, di atas tanah tahu2 muncul sebuah liang seperti sumur yang dalam sekali, sementara Tay-cong-ci-ju sendiri lenyap tak berbekas.

Tatkala semua orang ter-heran2 dan berdiri tertegun, tahu2 Tay-cong-ci-ju yang lenyap itu melompat keluar dari liang yang dalam itu.

Kiranya ia telah menggunakan gerak putaran yang menyerupai gurdi itu, dengan kekuatan tangannya dia bor permukaan tanah hingga berlubang sedalam setombak lebih,

Semua orang tercengang, mereka tidak tahu Ciu-te-tah- tong (membuat liang di tanah) sdalab kepandaian khas yang membuatnya tersohor sebagai Tay-cong-ci-ju, si tikus gudang.

Menurut cerita, sepanjang hidupnya sudah terlampau banyak kejahatan yang dilakukan Tay-cong-ci-ju, tapi pernah satu kali ia melakukan perbuatan mulia.

Peristiwa ini terjadi pada tiga puluh tahun ber-selang, ketika itu perdana menteri Ho Kun adalah menteri yang paling korup sepanjang sejarah, selama ia menjabat perdana menteri hingga dihukum pancung, harta kekayaaan yang berhasil dikumpulkannya mencapai empat ratus juta tahil, jumlah tersebut lebih besar daripada kas negara.

Itu masih belum termasuk barang antik serta barang2 mestika lain yang tak ternilai jumlahnya.

Padahal waktu itu di daerah lembah sungai Tiangkang sedang dilanda bencana alam, beratus laksa orang menderita kelaparan dan sudah mencapai keadaan yang amat kritis, ternyata sang menteri yang lalim ini sama sekali tidak membagikan beras yang berada di gudang pemerintah untuk rakyat yang kelaparan, beras itu dibiarkan membusuk dan dihabiskan tikus gudang daripada dibagikan kepada rakyat jelata.

Ketika itulah, entah apa sebabnya tiba2 timbul kebajikan Tay-cong-ci-ju, dia lantas menggunakan kepandaian Ciu-te- tah-tong tersebut untuk memasuki gudang kerajaan secara diam2, dalam bebcrapa bulan saja ia telah mencuri habis semua persediaan beras itu dan dibagikan kepada rakyat yang menderita.

Karena perbuatan inilah, julukan Tay-cong-ci-ju menjadi tersohor baik di wilayah utara maupun di selatan sungai Tiangkang. Setelah berlatih pula selama tiga puluh tahunan di pulau setan, ilmu Ciu-te-tah-tong tersebut dengan sendirinya bertambah hebat.

Ketika si tikus melompat keluar dan melihat semua orang mengunjuk rasa kaget, ia merasa bangga sekali, katanya "Saudara cilik, sekarang tiba giliran kalian untuk memperlihatkan kemampuan kalian."

Kali ini bukan saja Bu-lim-su-kongcu dibuat terbelalak dan melongo, bahkan semua orang yang hadir juga terkesiap.

Sebenarnya, meski ilmu Ciang-jin-jiat-bok sukar dilakukan, tapi bagi seorang jago yang tenaga dalamnya sudah mencapai kesempurnaan, secara paksa masih dapat menirukan kepandaian itu. Berbeda dengan ilmu Ciu-te-tah- tong ini, untuk membuat liang di atas tanah seseorang harus memiliki tangan yang kuat dan tenaga berpusing yang kencang, sebab bila salah satu di antara kedua syarat ini tak terpenuhi, jangan harap bisa membuat liang sedalam beberapa kaki di permukaan tanah yang keras.

Melihat kawanan jago itu sama merasa kesal dan pasrah, Tay-cong-ci-ju jadi lebih bangga lagi, mata tikusnya yang tajam menyapu pandang sekeliling, lalu katanya: "Jika tiada orang yang berani meju lagi, maka babak kedua akan dianggap sebagai kemenangan bagi pihak kami! Nah, Morga Akang, sekarang tiba giliranmu."

"Morga" adalah nama orang Mongol tadi, sedangkan Akang artinya saudara. Kakek berdandan sebagai orang Mongol atau tersohor sebagai Sah-mo-ci-eng itu segera tampil ke depan.

Tapi tiba2 Tay-pek-siang-gi melompat maju. Orang mati- hidup. orang pertama dari kedua bersaudara itu segera berseru: "Tunggu sebentar! Kami bersaudara yang tak becus ini bersedia mencoba membuat lubang tikus ini!"

Tanpa menunggu jawaban Tay-cong-ci-ju lagi, kedua orang lantas berdiri dengan punggung menempel punggung, lengan mereka diluruskan sebatas pundak, telapak tangan menegak bagaikan sekop.

"Loncat!" seru si orang mati hidup dengan lantang, kedua orang itu segera melambung ke udara, keempat kaki mereka lantas saling tahan menjadi satu dan membentuk garis lurus.

Sekejap itulah kaki mereka saling pancal, dengan tenaga lejitan, dengan kepala di bawah dan kaki di atas secepat kilat mereka meluncur ke bawah dan menembus permuksan tanah yang keras itu.

"Creet! Creet!" suara tanah terbelah mendesis di udara, sebentar saja kedua orang itu sudah menerobos masuk ke dalam tanah.

Semua orang menyaksikan tumpukan tanah di kedua samping liang tersebut kian lama kian membukit, bagaikan dua ekor tikus saja. mereka berdua membuat liang sepanjang dua tombak mengitari arena itu, kemudian setelah lingkaran tersebut bertemu satu dengan lainnya, mereka lantas timbul dari dalam liang.

Ilmu apaan ini? Tak seorangpun yang paham. Meskipun baru muncul dari dalam liang, air muka mereka tidak berubah menjadi merah, napas tidak tersengal dan peluh tidak membasahi tubuh, se-olah2 tak pernah melakukan suatu pekerjaan apapun, tentu saja hal ini memancing tampik sorak orang banyak.

Tay-cong-ci-ju tampak tertegun, tegurnya kemudian: "Eeh ilmu silat aliran manakah yang kalian gunakan itu?" Orang mati hidup melotot, jawabnya: "Kalau kepandaianmu bernama Lo-ju-tah-tong (tikus membuat lubang), maka kepandaian kami ini bernama Lo-ju-coan- tong (tikus mengebor lubang), bila kau tidak puas, silakan saja mengulangi kembali atraksi kami ini!"

Pada dasarnya tiap ilmu silat mempunyai aliran yang berbeda, apa yang bisa dilakukan orang lain belum tentu bisa dilakukan oleh dirinya sendiri, begitu pula dengan atraksi yang dilakukan oleh Tay-pek-siang-gi ini.

Meskipun tenaga dalam mereka tidak sesempurna Tay- cong-ci-ju, sebaliknya Tay-cong-ci-ju di suruh mengulangi atraksi yang dilakukan Tay-pek-siang-gi juga belum tentu mampu.

"Tak perlu banvak omong lagi!" tiba2 Sah-mo-ci-hu, si orang Mongol itu berseru. "Lihatlah kehebatanku ini!"

"Krak!" mendadak jarinya meremas, untaian tasbih yang dibawanya dipatahkan menjadi dua bagian, ketika tangannya menyentak ke atas, tali kuning yang mengikat ke

108 biji tasbih tadi mendadak menegak seperti sebatang toya.

Bila seorang jago persilatan berhasil melatih tenaga dalamnya hingga mencapai puncak kesempurnaan, tidaklah sulit bagi mereka untuk menegangkan seutas tali yang dipegangnya.

Tapi apa yang didemonstrasikan Sah-mo-ci-hu sekarang berbeda dengan keadaan umumnya, sebab seisi tali kuning yang terbuat dari bahan lunak itu kecil dan lembek, di antaranya terdapat pula 108 biji tasbih yang semuanya terbuat dari kayu Oh-tho yang kuat seperti baja, bulat licin dan hanya dihasilkan di gurun pasir saja, untuk menegangkan biji2 tasbih pada seutas tali, pekerjaan ini jauh lebih sukar daripada menegangkan seutas tali biasa. Sebab itulah, meskipun apa yang dipertunjukkan "Rase dari gurun pasir" ini tampaknya tiada sesuatu yang luar biasa, pada hakikatnya demonstrasi ini jauh lebih hebat daripada kedua rekannya tadi.

Setelah biji2 tasbih itu menegang seperti Toya, si "rase dari gurun pasir" lantas berputar satu kali dan memperlihatkan biji2 tasbih itu kepada para hadirin, katanya: "Coba perhatikan biji tasbih ini!"

Tiba2 dia menggelembungkan perut dan mengerahkan hawa murni, jubah hijau maupun selempang merah di tubuhnya serta-merta mengembang besar, bentaknya nyaring: "Loncat!"

Bersama dengan menggelegarnya bentakan itu ke 108 biji tasbih itu tiba2 meluncur ke udara, hanya tali tasbih saja yang masih menegak di tangan orang Mongol itu.

Kemudian, "siut-siut . ', tahu2 biji tasbih itu berjatuhan masuk kembali pada talinya. lalu melayang pula ke udara dun begitulah naik-turun ber-turut2 tiga kali.

Pada saat orang ramai bersorak memuji, tiba2 terdengar seorang mendengus.

Meskipun tertawa ejekan itu tidak keras suaranya, tapi di tengah sorak-sorai itu ternyata kedengaran jelas, siapapun dapat mendengar suara jengekan itu.

Mendongkol si "rase, dari gurun pasir" mendengar ejekan itu, segera demontrasinya di-akhiri. Sambil menarik kembali biji2 tasbihnya ia membentak: 'Siapa yang mentertawakan diriku? hayo tampil ke depan!'

Pelahan muncul seorang pemuda tampan, senyum manis menghias bibirnya, meski usianya masih amat muda, namun ia kelihatan agung berwibawa dan gagah perkasa. Semua orang mengenalnya, sebab dia tak lain adalah Tian Pek, jago muda kita.

Rase dari gurun pasir ini sudah menyaksikan kelihayan Tian Pek ketika menghajar mundur Tay-cong ci-ju tadi, kini anak muda ini maju lagi, mau-

tak-mau ia terkejut. segera telapak tangannya di- lintangkan di depan dada, siap menghadapi segala kemungkinan.

Tian Pek tetap santai, sambil tertawa ringan ia berkata: "Numpang tanya, berapa banyak jumlah biji tasbih anda?"

Sah-mo-ci-hu melengak, tak tersangka pemuda itu hanya menanyakan persoalan yang sama sekali tak penting. Segera jawabnya: "Biji tasbihku ini berjumlah 108 biji, ada apa saudara cilik menanyakan hal ini?"

"Kukira jumlah itu tidak benar!" kata Tian Pek.

"Tak bener bagaimana maksudmu?" Rase dari gurun itu semakin heran. "Sudah hampir lima puluh tahun lamanya biji tasbih ini kubawa dalam saku, masakah berapa jumlahnya tidak kuketahui?"

Tian Pek masih tersenyum "Walaupun kau tahu persis jumlah sebenarnya, tapi menurut pandanganku, jumlah biji tasbihmu sekarang tidak ada 108 biji!

Setelah disinggung Tian Pek, jago Mongol itu baru sadar dan segera memeriksa biji tasbihnya, betul juga, jumlah tasbih yang 108 biji itu sekarang telah berkurang belasan biji.

Rase dari gurun terperanjat. ia tak menyangka biji tasbihnya dapat dirampas orang dikala ia sedang mengerahkan tenaga dalamnya. Ia mulai sadar bahwa tokoh muda di hadapannya sekarang ini sebenarnya adalah jago tangguh yang tak boleh di buat main.

Mula2 Sah-mo-ci-hu merasa malu, tapi segera ia menjadi gusar, sambil membentak satu biji tasbih segera disambitkan ke muka anak muda itu. Dengan desing tajam biji tasbih itu terus menyamber ke depan.

Cepat Tian Pek mengebaskan telapak tangan-nya, ia bermaksud memukul rontok biji tasbih itu. tak terduga biji tasbih itu tiba2 berhenti sebentar di tengah jalan, bukan saja tidak rontok, malahan dengan membawa suara desingan lebih tajam terus menyambar tiba terlebih cepat.

Sungguh kejadian di luar dugaan, biji tasbih yang dilepaskan "rase dari gurun pasir" itu dapat menembus tenaga pukulan Tian Pek, untung ilmu langkah Cian-hoan- biau-hiang-poh dan Bu-sik-bu-siang sim-hoat anak muda itu sudah mencapai puncak kesempurnaan, serta merta badannya berputar sambil melejit ke samping, dengan membawa suara desingan tajam biji tasbih itu menyambar lewat di sisi tubuhnya.

Rase dari gurunpun terkejut, ia tak menyangka dalam jarak sedekat ini anak muda itu bisa menghindarkan sergapan Tui-mia-sin-cu (mutiara sakti pengejar nyawa) yang luar biasa tadi.

Kejadian ini semakin menggusarkan hatinya, tiba2 ia membentak: "Saudara cilik, kau memang hebat. Ini, rasakan lagi tiga biji mutiaraku ini!"

Berbareng itu tiga biji tasbih dalam formasi Sim-seng- cay-hou (tiga bintang diluar rumah) kembali menyambar ke dada anak muda itu.

Ketika menghadapi serangan pertama kali tadi, oleh karena Tian Pek tidak mengetahui keistimewaan tasbih maut musuh, ia menangkis dengan kebasan tangan yang mengakibatkan nyaris kecundang. Satelah ada pengalaman itu, kali ini dia tidak menangkis lagi, dengan Bu-sik-bu- siang-sim-hoat, sekali mengegos ia sudah lolos dari ancaman.

Cara Tian Pek menghindar itu bukan ssja tak dilihat jelas Sih-mo-ci-hu, bahkan hadirin sebanyak itupun tak seorangpun yang mengetahuinya.

Kejut dan gusar si rase, sudah tiga puluh tahun lannnya ia perdalam ilmu senjata rahasianya itu di Mo-kui-to, dengan 108 biji Tui-mia-sin-cu inilah ia pikir akan mampu menjagoi Kangouw. Siapa tahu baru pertama kali muncul sudah dikalahkan oleh seorang pemuda ingusan Dalam gugup dan cemasnya, serentak Tui-mia-sin-cu yang masih tersisa dihamburkan semua dan mengurung Hiat-to penting di sekujur badan pemuda itu.

Di tengah hujan biji tasbih itu, tak jelas bayangan tubuh Tian Pek, tahu2 semua tasbih itu mengenai tempat kosong.

"Keparat Mongol yang tak tahu malu. engkoh Tian tidak membalas seranganmu, kau terus bertingkah sesukamu, sekarang rasakan sendiri Tui-mia-sin-cu ini!"

Berbareng dengan bentakan itu, desingan tajam mendadak menyambar ke muka Sah-mo-ci-hu.

Terkejut si rase, ia tak sempat menyerang Tian Pek lagi, sebab ia tahu betapa lihaynya Tui-mia-sin-cu sendiri. Cepat ia jatuhkan diri ke tanah. ia menggelinding sejauh satu tombak lebih kemudian baru melompat bangun, walaupun sambaran kedua biji Tui-mia-sin-cu itu dapat dihindarkan namun baju dan mukanya kotor juga oleh debu pasir.

Semua orang lantas berpaling, ternyata orang yang melepaskan dua biji Tui-mia-sin-cu itu adalah Wan-ji. "Darimana nona itu bisa mendapatkan biji tasbih?" demikian semua orang ber-tanya2 di dalam hati.

Kiranya biji tasbih itu didapatkan Wan-ji ketika si rase mendemonstrasikan kepandaiannya tadi, Waktu biji2 tasbih beterbangan di angkasa, timbul suatu pikiran nakal nona itu, diam2 dia gunakan daya "mengisap" dari ilmu Soh-hun- ci untuk menyedot beberapa biji tasbih yang beterbangan itu tanpa diketahui pemiliknya.

Pada waktu itu si rase sedang girang bercampur bangga, tentu saja tak tersangka olehnya ada orang main gila padanya. Sementara para hadirin lagi terpesona oleh kelihayan rase Mongol itu, perhatian mereka tcrtumpah pada biji tasbih yang sedang beterbangan, karenanya merekapun tak tahu diam2 Wan-ji telah turun tangan.

Hanya seorang yang mengetahui perbuatannya, yakni Tian Pek dari samping ia dapat melihat jelas semua kejadian itu, ia jadi geli melihat si rase tidak menyadari biji tasbihnya telah berkurang belasan biji.

Ketika Sah-mo-ci-hu merasa malu dan gusar serta menyerang Tian Pek, barulah Wan-ji melancarkan serangan balasan kepada musuh dengan cara yang sama.

Meski Tui-mia-sin-cu milik Sah-mo-ci-hu, tapi iapun tak berani menangkisnya, dalam gugup ia tidak pikir soal  gengsi lagi, dengan gerakan menggelinding ke samping dia hindarkan ancamnn tersebut.

Sementara itu Ciong-nia-ci-eng, si elang dari Ciong-nia, yang sejak tadi hanya berdiri kaku seperti mayat, menjadi gusar, karena kedua biji Tui-mia-sin-cu yang dilepsskan seorang nona cantik telah membuat rekannya pontang- panting. "Budak ingusan, kau cari mampus!" bentaknya sambil menghantam muka Wan-ji dengan pukulan Ku-kut ciang (pukulan tulang kering).

Ciong-nia-ci-eng disebut pula Ciong-eng-siu (si kakek elang), ilmu pukulan Ku-kut-cing-nya lihay sekali, untuk melatih ilmu sakti ini, mula2 kedua telapak tangan harus dipanggang dengan api, ber-bareng itu mesti mengerahkan kekuatan sendiri untuk melawan panasnya api itu. Bila berhasil dengan latihannya, maka kedua telapak tangan akan berubah jadi hitam hangus, jika pukulan itu bersarang di tubuh orang, niscaya korbannya akan mati dengan badan hangus, karena kelihayan itu maka pukulan itu dinamai Ku- kut-ciang.

Kebetulan sekali di Mo-kui-to terdapat gunung berapi, sepanjang tahun api menyembur keluar dari kawahnya, panasnya Te-sim-hwe (api pusar bumi) ini berpuluh kali lebih hebat daripada panasnya api tungku, di tepi kawah gunung berapi itulah selama tiga puluh tahun Ciong-nia-ci- eng berlatih, sebab itu ilmu pukulan Ku-kut-ciangnya sudah mencapai puncak kesempurnaan, bukan saja telapak tangannya tinggal tulang2 putih belaka, sampai badanpun ikut kisut dan kaku seperti mayat hidup.
Terima Kasih buat para gan / ganwati yang telah meningglakan opininya di kolom komentar :). Sekarang ada penambahan fitur "Recent comment"yang berada dibawah kolom komentar, singkatnya agan2 dapat melihat komentar terbaru dari pembaca lain dari fitur tersebut. Semoga membantu :).