Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 22

Jilid 22

"Hehehe, engkoh cilik!" ia berseru sambil tertawa seram, "di antara tiga tua bangka, dua orang sudah terluka, sekarang dengan pukulan ini akan kucabut jiwamu!" Setelah melukai dua orang lawannya, sedikit lengah Tian Pek juga terluka oleh pukulan si kakek, darah terasa bergolak di dalam dada, walaupun begitu ia tidak gentar, ia berkata: "Beium tentu bisa Cianpwe, kekuatan kita seimbang, adu pukulan ini entah akan dimenangkan siapa''"

“Hehehe, engkoh cilik, jangan paksakan diri," kakek berjenggot itu berkata dan telapak tangannya yang besar itu terus menekan ke bawah "Jelas kau sudah terluka dan muntah darah,"

“Kukira Locianpwe sendiripun tahu keadaan sendiri, isi perutmu sudah terguncang dan peredaran hawa murnimu tidak lancar lagi!" balas Tian

Pek sambil menghimpun tenaga sepenuhnya dan per- lahan diangkat ke atas.

Apa yang diucapkan Tian Pek memang tepat mencerminkan keadaan si kakek, hawa murninya sudah tergetar buyar oleh pukulan dahsyat anak muda itu, sekarang didengarnya pemuda itu membongkar rahasianya, hawa napsu membunuhnya segera timbul, sambil menyeringai seram ia berkata: "Sebenarnya aku ingin menyudahi pertarungan ini; setelah menang-kalah diketahui, tapi sekarang . . . hehe, engkoh cilik, kematianmu tak dapat dihindarkan lagi."

Berbicara sampai di sini, hawa murninya segera disalurkan keluar, telapak tangannya yang besar itu bagai gugur gunung dahsyatnya membacok batok kepala Tian Pek.

Baik Buyung Hong maupun Tian Wanji dan Kim Cay- hong yang baru sadar dari pingsannya serentak menjerit kaget demi menyaksikan serangan maut itu, cepat mereka menerjang ke tengah gelanggang. Tapi terlambat, tangan Tian Pek telah beradu dengau musuh.

Di tengah getaran keras itu, Buyung Hong, Wan-ji dan Kim Cay-hong terguncang balik ke tempat semula oleh angin pukulan yang memancar ke empat penjuru itu.

Tian Pek muntah darah, namun tidak roboh, sambil mengangkat telapak tangannya ia berteriak: "Hei, orang tus, hayo maju lagi!"

Kakek berjenggot itupun bergeliat, akhirnya ia tak tahan dan muntah darah juga, ketika dilihatnya Tian Pek masih kuat untuk menantang bertempur lagi, mendadak air mukanya berubah jadi tenang, rasa gusarnya berganti dengan rasa kagum, sambil acungkan jempol ia berseru: "Engkoh cilik, kau benar2 hebat! Aku amat kagum padamu!"

Tian Pek adalah pemuda yang suka lunak dan tak doyan keras, bila orang kasar kepadanya maka iapun akan bertindak lebih kasar, tapi sekarang kakek berjenggot itu memujinya, ia jadi tak tega untuk melanjutkan pertarungan adu jiwa itu, terutama bila mengingat betapa kedua orang itu sudah dilukainya, ia merasa dendam sakit bati ayahnya telah terbalas, apa gunanya mesti beradu jiwa dengan orang lain?

Maka iapun menarik kembali telapak tangannya, lalu sambil menjura katanya: "Aku mengaku kalah, Locianpwe

.... selamat tinggal!" tanpa berpaling lagi ia lantas berlalu dari situ.

Tindakan ini benar2 di luar dugaan kakek berjenggot panjang itu, ia tak mengira anak muda itu akan berlalu dengan begitu saja, untuk sesaat dia jadi tertegun .... Baru beberapa langkah Tian Pek berlalu, tiba2 ia merasa darah dalam rongga dadanya bergolak sekuat tenaga ia bertahan, kemudian cepat2 kabur keluar pagar pekarangan.

Di belakangnya ia mendengar suara seruan Buyung Hong, Tian Wan-ji, Kim Cay-hong serta paman Lui sekalian, namun ia tak berpaling lagi dan kabur menuju ke luar kota.

Perasaannya sekarang terasa aneh sekali, kalut, se-olah2 banyak masalah y«ng menyelimuti benak-nya, tapi setelah dipikir dengan seksama terasa kosong pula, tiada sasuatu persoalan apapun.

Ia tahu dalam pertarungan melawan Hay-gwa-sam-sian tadi hawa murninya telah dipergunakan kelewat betas, lagipula isi perutnya sudah terluka parah, dia bisa bertahan sampai sekarang tanpa roboh tak lain adalah berkat tekadnya menahan diri agar tidak sampai roboh di depan mata orang banyak, maka ia tak pedulikan panggilan siapapun, sambil mempertahankan sisa hawa murni yang di milikinya sekuat tenaga ia kabur ke depan.

Pemuda itupun tahu, bila sekarang ia hentikan larinya maka dia pasti akan roboh, dan sekali roboh maka kemungkinan besar tak kan sanggup merangkak bangun lagi, sebab itulah walaupun ia mendengar suara panggilan dari rekan-rekannya namun ia sama sekali tidak menggubris.

"Seorang laki2 sejati lebih baik menderita dari pada dikasihani orang!" inilah prinsip hidup dan keangkuhan Tian Pek.

Setelah meninggalkan Lam-keng, ia terus lari menyusur tepi sungai, melewati dua belas gua karang dan menuju "Bong-hun-koh" (lembah kematian). Didengarnya suara air sungai yang mendebur, dilihatnya batu berumput di mana ia pernah berbaring ketika diobati Cui-cui, akhirnya ia tak tahan dan jatuh di atas batu itu dan tak sadarkan diri.

Entah sudah lewat berapa lama tiba2 ia merasa lubang hidungnya gatel2 geli "Waaji. ... waaji!" ia bersin beberapa kali, segera kesadaran-pun pulih kcmbali.

Sang surya telah muncui di ufuk timur, kicauan burung yang merdu berkumandang di angkasa ternyata malam sudah lewat dan fajarpun tiba.

Tiba2 dilihatnya Liu Cui-cui berduduk bersandar di sebelahnya dan sedang mempermainkan sehelai bulu burung yang indah, dengan tertawa sedang mengkili lubang hidung Tian Pek dengan bulu burung itu.

Cepat Tian Pek merangkak bangun, serunya: "He, kau.. "

Cui cui tertawa, ia membuang bulu burung itu dan menjawab: "Kita ditakdirkan dua sejoli, kemanapun kau pergi disitulah aku akan muncul. Nama besar dan kejayaan mirip asap akan buyar dalam sekejap, budi dendam hanya impian, apa gunanya kau mencampuri urusan dunia persilatan lagi? Marilah kita mencari tempat yang jauh dari keramaian untuk hidup bahagia hingga akhir tua nanti? Engkoh Pek, sekarang engkau tak bisa menolak lagi!"

Tiba2 Tian Pek merasa masih ada urusan lain, maka katanya: "Aku . , ."

Cui cui lantas menyela: 'Eigkoh Pek, sakit hati ayahmu telah terbalas, engkau tidak terikat lagi oleh masalah apapun, inilah kesempatan yang terbaik untuk ber sama2 mengasingkan diri, marilah kita hidup bagaikan sepasang burung merpati! Tatkala dilihatnya Tian Pek masih termangu-mangu tanpa menjawab aambil tertawa ia menggoda: "Jangan2 engkoh Pek merasa berat untuk meninggalkan Wan-ji, Buyung Hong serta Kang-lam-te-it-bi-jin?"

Merah muka Tian Pek karena isi hatinya tertebak, jawabnya dengan ter-gagap2: "Aku dengan Buyung siocia telah telah terikat …”

Cui-cui tertawa: "Kakak beradik itu sama2 mencintai dirimu, ambil yang satu harus ambil pula yang lain, tak mungkin bagi engkoh Pek untuk meninggalkan salah satu diantaranya. Andaikata mereka bertiga sama2 menaruh cinta kepada engkoh Pek dan rela meninggalkan sanak keluarga tanpa mempersoalkan sakit hati, apa salahnya kalau kami semua mendampingi engkoh Pek secara ber- sama2. Pikiranku sudah terbuka, aku merasa sepantasnya aku berlapang dada dan hidup bersama mereka dalam suasana kadamaian. Engkoh Pek, engkau jangan pandang rendah diriku. Siaumoay bukanlah Kuntilanak, lebih2 bukan orang yang suka cemburu. ."

Mendeng itu, Tian Pek menghela napas panjang, katanya: "Sungguh tak kusangka kau bisa berpikir sebaik ini bagiku tapi aku. "

Buat orang persilatan, janji tetap janji, setiap perkataan berbobot melebihi gnnung, seringkali seorang ksatria berubah jalan hidupnya hanya lantaran sepatah kata, bahkan sampai matipun takkan dilanggarnya.

Demikian pula keadaan Tian Pek sekarang, waktu pertarungannya melawan Hay-gwa-sam-sat, kendatipun secara beruntun ia dapat merobohkan Hud in Hoat-su dan nenek berambut putih, tapi akhirnya menderita kekalahan di tangan kakek berjenggot panjang, menurut peraturan maka dia harus memegang janji dan mengundurkan diri dari keramaian dunia persilatan.

Akan tetapi pada hakikatnya dia pribadi masih mempunyai banyak persolan yang belum dibereskan, budi dan dendam ayahnya, dan lagi masalah cintanya dengan beberapa orang gadis. semua pwrsoalan ini tak mungkin ditinggalkannya dengan begitu saja tanpa ada penyelesaian, terutama persetujuannya atas pinangan paman Lui yang telah menjodohkan dia dengan Buyung Hong, bagaimanapun juga tak mungkin persoalan ini dibiarkan begitu saja.

Untuk sesaat pemuda itu jadi binpung dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, andaikata dia dengan Liu Cui-cui tak ada kenyataan sebagai suami-isteri, mungkin saja persoalan ini mudah di-selesaikan, tapi kenyataan berbicara lain, dan lagi Liu Cui cui sendiripun telah menunjukkan sikap yang bijaksana hal ini mcmbuatnya semakin bimbang.

Sementara Tian Pek kebingungan, mendadak mata Cui- cui yang jeli mengerling sekejap sekitar tempat itu, kemudian tegurnya "Siapa di situ? Berani mencuri dengar pembicaraan nonamu? Hayo unjukkan diri untuk menerima kematian!"

Tian Pek melengak, ia tak menyangka ketajaman mata serta pendengaran Liu Cui-cui jauh jauh lebih lihay daripadanya, ia sendiri sama sekali tidak mendengar sesuatu apapun, tapi si nona ternyata tahu ada orang bersembunyi di sekitar sana.

Betul juga, begitu Cui-cui menegur, dari balik pohon besar tak jauh dari tempat mereka berada melayang keluar sesosok bayangan. Orang itu berdandan perlente sekali, meskipun di tengah kegelapan sulit untuk melihat raut wajahnya, tapi dapat diduga bahwa orang ini adalah seorang pemuda cakap.

Sesudah munculkan diri dari tempat persembunyirtnnya, orang itu tertawa ter-bahak2, lalu berkata: "Hahaha, kurang ajar, benar2 kurang ajar! kalianlah yang bsr-kaok2 di sini mengganggu tidurku. sebelum sempat kutegur kalian, malahan kau vang menegur diriku lebih dulu. Apa tumon!" Habis itu ia lantas putar badan dan berlalu dari situ.

Cui-cui mendengus, entah dengan gerakan apa, tahu2 ia sudah bergerak ke depan dan mengadang jalan pergi orang itu.

Terkejut orang itu menyaksikan betapa gesit gerakan lawan, ia tak mengira Cui cui memiliki Ginkang sehebat itu, iapun tak tahu apa makcud Cui-cui mengadang jalan perginya? Cepat dia meng-himpun tenaga pada telapak tangan dan siap menghadapi segala sesuatu.

Sementara itu Tian Pek telah memburu datang, di bawah cahaya bintang ia dapat mslihat jelas wajah orang, mendadak ia berseru kaget: "He, kiranya kau!"

Orang itu menengadah dan tertawa ter-bahak2: "Hahaha, kenapa? Tidak kau sangka bukan? Padahal sejak tadi  kutahu kau yang berada di situ. Hah! Bu-cing-kiam-kek (jago pedang tak kenal ampun) ternyata punya rejeki gede, begitu banyak nona cantik yang mengejar dirimu, apalagi mempunyai seorang nyonya yang begini bijaksana, hahaha. kukira bertambah lagi tiga isteri dan empat selir juga tidak menjadi soal."

Tian Pek bukan anak bodoh, ia dapat merasakan sindiran itu. wajahnya jadi merah, dengan tergagap ia menjawab: "Hoan Soh ... Hoan-heng, su . . . . sudah lama kita tak tak berjumpa, tak tersangka engkau sudah pandai bergurau! . . ."

Memang tak salah, orang ini ialah Hoan Soh-ing, puteri Hoan Hui, cuma saat ini ia berdandan sebagai laki2, lagipula di depan Cui-cui, tentu saja Tian Pet tidak ingin membongkar rahasia penyamaranya itu, maka sengaja ia sebut Hoan-heng kepadanya.

Cui cui sendiri bukanlah orang bodoh, ia segera tertawa dingin, sambil menuding Hoan Soh-ing ia berkata: "Hehehe, kau tak perlu berlagak di depanku, kau anggap aku tak dapat melihat dirimu? Hm, sejak tadi akupun tahu kau ini sejenis betina seperti diriku pula!"

Kali ini Hoa Soh ing yang menjadi jengah, merah wajahnya, ia tak mengira gadis cantik di depannya ini ternyata memiliki ketajaman mata yang luar biasa! Mestinya dia hendak menggoda orang, sekarang justeru orang lainlah yang mengejeknya, untuk sesaat nona Hoan ini jadi melongo dan tak mampu menjawab.

Setelah ada pengalaman dengan Wan-ji tempo hari, Tian Pek pikir Cui cui pasti akan cemburu dan bisa jadi akan berkelahi dengan Hoan Soh-ing maka cepat ia berseru: "Adik Cui, jangan kau banyak curiga, sejak dulu dia memang suka berdandan sebagai laki2. !"

Mendadak Cui-cui tertawa cekikikan, ibarat musim dingin tiba2 berubah jadi musim semi yang hangat.

Puas dengan tertawanys, ia berkata: "Engkoh Pek, jangan kuatir, kan adik telah berjanji takkan cemburu, maka jangan kuatir adik akan rewel, kalau sudah ada Wan-ji, Buyung Hong dan Kim Cay-hong, apa salahnya bila sekarang bertambah seorang lagi ” Mendadak dari malu Hoan Soh-ing menjadi gusar, bentaknya: "Perempuan tak tahu malu!"

Air rauka Cui-cui berubah hebat, seketika tangannya diayun ke depan, "Plok!" ia gampar muka Hoan Soh-ing sehingga timbul bekas telapak tangan yang merah.

Tamparan Cui cui ini cepat sekali, bukan saja Hoan Soh ing tak sanggup menghindar, bahkan Tian Pek juga tak sempat mengalanginya.

Tindakan ini benar2 di luar dugaan siapapun, seketika Hoan Soh-ing tertegun dan tak tahu apa yang harus dilakukan.

Semenjak kecil Hoan Soh-ing dibesarkan di lingkungan yang dimanjakan, di rumahnya pelayan dan dayang tak terhitung jumlahnya, jangankan ditampar orang, berbicara kasar saja tak ada yang berani.

Ayahnya, Pah ong pian Hoan Hui, namanya sejajar dengan keempat pemuka dunia persilatan, usianya sudah lebih setengah abad dan mempunyai tiga putera dan seorang puteri, anak gadisnya selalu dimanja, disayang, dipandang sebagai mutiara, apa yang diinginkan tak pernah ditolak sehingga terpeliharalah watak manja yang berlebihan, kalau tidak begitu, tak nanti sang ayah membiarkan puterinya sepanjang hari berdandan sebagai laki2.

Bukan saja Hoan Hui sendiri, bahkan Hoan si-sam kiat (tiga orang gagah keluarga Hoan) yang tersohor di dunia persilatan juga mengalah tiga bagian kepada adiknya ini.

Dan kini, gadis yang terbiasa dimanja ini digampar oleh Cui-cui, kendatipun pada mulanya ia tertegun, tapi sesaat kemudian iapun naik darah, sambil membentak gusar, segenap tenaga dalamnya dihimpun lalu dia melancarkan bacokan maut ke tubuh Cui-cui.

Apabila Hoan-si sam-kiat di dunia persilatan terkenal ilmu pedangnya yang lihay, maka Hoan Soh-ing meskipun seorang gadis, kungfunya justeru terletak pada ilmu pukulannya. Liok-eng ciang-hoat keluarganya telah dikuasai dengan cukup sempurna.

Begitu pukulan itu dilepaskan, bayangan telapak tangan seketika berseliweran.

Diiringi deru angin pukulan yang tajam, serangan itu segera mengurung sekujur badan Cui-cui.

Walaupun ilmu pukulan Liok-eng-ciang-hoat yang ia yakinkan sudah cukup sempurna, tapi di-bandingkan dengan kungfu Cui-cui jelas ibarat langit dan bumi, Cui-cui jauh lebih lihay daripadanya.

Di tengah sambaran angin yang men-deru2, tiba2 Cui-cui nendengus, tangannya terangkat untuk menangkis. ' Bluk! seketika Hoan Soh-ing tergetar mundur lima langkah.

Hoan Soh-ing meniang memiliki jiwa seorang laki2, nona yang tinggi hati dan manja ini belum lama berselang telah mengalami bencana besar, keluarganya terbantai dan ia harus melakukan perjalanan siang malam menuju ke Lam-keng untuk minta bantuan kepada sahabat ayahnya, yakni Siang-lin Kongcu, guna balas dendam bagi kematian ayahnya serta menolong ketiga saudaranya.

Waktu lewat dua belas gua karang, karena lelah dan lagi hari sudah gelap, ia beristirahat di bawah pohon dengan maksud keesokan harinya melanjutkan perjalanannya menuju istana keluarga Kim.

Siapa tahu tanpa sengaja ia meadengar pembicaraan Tian Pek dengan Cui-cui, semula ia tidak bermaksud unjuk diri, apa mau dikata jejaknya di-ketahui Cui-cui, terpaksa ia keluar.

Dasar lagi sial, baru dua-tiga patah kata ia sudah digampar Cui-cui dengan keras, bayangkan saja betapa gusar dan penasarannya nona manja yang sedari kecil belum pernah mengalami penghinaan macam itu, tak heran ia menyerang lawan dengan sepenuh tenaga.

Ilmu pukulan Liok-eng-ciang-hoat keluarganya memang ampuh, terutama jurus Liok-eng-peng-hun yang terhitung sebuah pukulan mematikan, tapi kenyataannya serangan yang dahsyat itu ternyata tak mampu menahan tangkisan lawan.

Ia jadi sedih sekali sehingga hampir saja melelehkan air mata, lengannya kaku kesemutan, darah di dalam rongga dadanya ikut bergolak keras.

"Sudahlah, jangan berkelahi lagi, kalian kan sana-sama orang sendiri.. cepat hentikan pertarungan ini" dengan panik Tian Pek berusaha melerai.

Setelah berhasil memukul mundur Hoan Soh-ing, Cui- cui berdiri sambil bertolak pinggang, tampangnya persis seperti nyonya judas, cuma iantaran mukanya cantik, maka meskipun judas tetap menimbulkan daya tarik.

Ia mencibir lalu berkati: "Hm, meskipun pikiranku sekarang sudah terbuka dan tidak kularang engkoh Pek mencari tiga gundik dan empat selir, tapi aku ingin membikin mereka tahu bahwa aku sebenaroya adalah isteri pertama . . ."

Mendadak ia merasa kata2 itu tak pantas di-ucapkan, dengan muka merah ia lantas tertawa cekikikan.

Tian Pek jadi serba salah dan tak tahu apa yang mesti diucapkan. Jangankan cari gundik dan selir, kendatipun ia bermaksud demikian, orang lain juga belum tentu mau. Tapi sekarang Cui-cui yang polos telah bicara terus terang kan lucu jadinya persoalan ini?

Perlu diketahui, sejak kecil sering Cui-cui menyaksikan percekcokan antara Lam-hay-it-kun dengan Kui-bin-kiau- hwa, menurut pengertiannya perempuan yang suka cemburuan dinamai "harimau betina', bila seorang perempuan sudah dicap demikian, maka hal ini adalah kejadian yang memalukan.

Karena itu ia berusaha bersikap lunak dan lapang dada, padahal dalam hati kecilnya cemburu sekali, ditambah lagi ia tidak paham adat istiadat maka seringkali apa yang diucapkan tak dipertimbangkan apakah itu akan menyinggurg perasaan orang atau tidak.

Ketika ia mengatakan ingin menjadi istri pertama, tiba2 ia teringat pada kenangan manis di sampan kecil di sungai Hwai tempo hari, mukanya menjadi merah, jantungnya berdebar dan tak sanggup melanjutkan kata2nya.

Hoan Soh-ing berwatak keras, apalagi keluarganya baru saja tertimpa malang, ia tsk tahan oleh godaan Cui-cui itu, ia tahu kungfunya maasih jauh dibandingkan lawan, maka dengan muka pucat ia melolos ruyung delapan belas ruas dan siap bertarung lagi.

Ruyung ini bukan sembarang ruyung, inilah senjata andalan Pah-ong-pian Hoan Hui yang terkenal di dunia persilatan, Pah-ong-pian tidak mewariskan kepandaian ini kepada ketiga puteranya, tapi malah diajarkan kepada puterinya.

Tian Pek jadi panik ia mengira Hoan Soh-ing telah nekat dan hendak mengadu jiwa. Ia tahu Soh-ing pasti bukan tandingan Cui-cui, selain itu ia pun kuatir Cui-cui turun tangan keji sehingga Hoan Soh- ing bakal rugi besar, buru2 ia maju ke muka.

“Hoan Soh.." ia bingung sebutan apa yang harus diucapkan,  terpaksa  ia  berkata  sekenanya:  "Jangan  .  ..  .

jangan salah paham, kalian jangan salah paham      Cui-Cui

. . . Cui-cui "

Cui-cui bagaimana? Dasar tidak pandai bicara, seketika ia tak tahu apa yang mesti diucapkan.

Hoan Soh-ing ternyata tak menyerang lagi, ia pegang pangkal ruyung, mendadak ia hantam batok kepala sendiri. Kiranya nona ini hendak membunuh diri.

Tian Pek terperanjat, cepat ia merampas ruyung itu dengan gerakan Hwe-tiong-ji-li (memetik buah di tengah api), suatu jurus Kin-na-jiu yang lihay.

"Nona Hcan, kenapa kau ?"

Belum habis Tian Pek berkata, Hoan Soh-ing lantas menangis tersedu-sedan, sambi1 mendekap mukanya ia lari masuk ke dalam hutan.

"Nona Hoan! Nona Hoan . .!' cepat Tian Pek memburu ke sana sambil berteriak, selain hendak menjelaskan kesalah pahaman itu, iapun kuatir, kuatir nona itu berbuat nekat lagi.

Liu Cui-cui yang polos jadi tertegnn ia tak menyangka hanya satu katanya menyinggung perasaan gadis itu hingga hampir saja terjadi peristiwa yang tragis.

Maklumlah, ia tidak paham adat istiadat Tiong-goan, ia tak menyangka penghinaan seperti itu sukar diterima oleh gadis manapun juga. Begitulah Tian Pek terus mengejar di belakang Hoan Soh-ing. Berbicara tentang ilmu meringankan tubuh pemuda itu dengan Bu sik-bu-sian sin-hoat dan ilmu langkah Cian-ho-li-biau-hiang-poh tidak sulit baginya untuk menyusul Hoan Soh-ing.

Tapi ketika ia sudah hampir mendekati gadis itu, mendadak dan atas pohon menggelinding turun segulung bayangan hitam dan langsung menerjang kaki Tian Pek.

Gerakan bayangan hitam ini cepat luar biasa dan cuma tiga kaki besarnya, hitam menggumpal entah barang apa?

Tian Pek terperanjat, dengan cepat ia hentikan gerakannya dan melayang ke samping, waktu ia memandang lagi, ia lihat gumpalan hitam itu dengan gerakan melejit telah bangkit berdiri di depan Tian Pek.

Benda hitam ini bukan binatang seperti dugaannya semula, dia adalah seorang manusia, betul2 manusia tulen, cuma tingginya hanya tiga kaki, kepalanya besar dan kakinya pendek.

Si cebol yang dekil ini dengan ingus meleleh dari lubang hidungnya sampai ke mulut, sambil menyeringai ia melototi Tian Pek.

Segera Tian Pek mengenal si cebol ini, dia bukan lain adalah Sam-cun- teng Siau-song-bun si setan cilik alias si paku tiga inci.

Melihat manusia yang menjemukan ini Tian Pek berkerut kening, sebelum ia buka suara, Sam-cun-teng telah menyeka ingusnya dengan ujung baju, lalu sambil menyengir ia berkata: "Keparat! Hari ini kau kepergok lagi dengan Siau-thayya (tuan besar cilik) Hehehe, kali ini biarpun kau berlutut dan mtnyembah sepuluh kali kepada Siauthayya juga takkan kuampuni jiwamu." Perkataan ini sungguh tidak tahu malu, padahal  beberapa bulan yang lalu ia bukan tandingan Tian Pek, apalagi sekarang Tian Pek telah mendapatkan penemuan aneh sehingga menjadi tokoh nomor satu di kolong langit ini, tapi si cebol ini menganggapnya seperti dulu, malahan menantangnya pula, sungguh tidak tahu tingginya langit dan tebalnya bumi?

Tian Pek mendengus, dengan nada menghina tegurnya: "Di manakah kedua gurumu?"

Tian Pek paling benci kepada segala macam kejahatan, sejak tahu dari cerita Sin-kau Tiat Leng bahwa Kanglam-ji ki adalah murid murtad yang membunuh gurunya, ia lantas dendam dan membencinyn sampai merasuk tulang, karena itu ia ingin tahu jejak Kanglam-ji-ki daripada melayani tantangan si cebol.

Sungguh mendongkol Sam-cun-teng karena tantangannya tak digubris, ia menggelengkan kepalanya yang besar itu, kemudian berkata: "Kau tak perlu tanya kedua Lothayya, kan sebentar lagi Siauthayya akan cabut nyawamu!"

Habis berkata, dengan jurus Siau kui-jui mo (setan cilik mendorong gilingan) ia berputar ke sisi Tian Pek, secepat kilat ia mencengkeram lengan kiri lawannya.

Tian Pek menjadi gemas, sambil miringkan bahunya ke kiri, ia melangkah maju setindak, telapak tangannya membalik ke belakang ia tabok punggung si cebol.

Jangan meremehkan tubuh Sam-cun-teng yang kerdil, kelincahannya justeru mengagumkan, mendadak kedua kakinya yang pendek itu menjejak tanah terus  melayang tiga kaki ke sana, dengan jurus yang sama kembali ia cengkeram lengan kiri Tian Pek. Serangan Sam-cun-teng ini bukan saja lebih cepat dan lebih aneh daripada beberapa bulan yang lalu ketika terjadi pertarungan di tepi Yan-cu-ki,

bahkan serangannya sekarang membawa deru angin dingin yang menusuk tulang, angin dingin keluar dari kesepuluh jari tangancya, membuat Tian Pek terkesiap.

Cepat Tian Pek mengegos ke samping, dengan jurus Hong-cebg lui-beng (angib berembus guntur menggelegar), setajam golok telapak tangannya membacok batok kepala Sam-cun teng yang besar dan cekak itu.

Sam-cun-teng berpekik nyaring, kepalanya yang gede itu menggeleng, dengan gesit ia menyelinap lewat, cengkeramannya kembali ditujukan lengan kanan Tian Pek, untuk ketiga kalinya ia menyerang dengan jurus Siau-kui tui mo.

Dalam waktu singkat kedua orang sudah ber-gebrak beberapa kali, dengan gesit Sam-cun-teng selalu bergerak ke kiri dan ke kanan secepat kilat, jurus serangan yang dipakai juga melulu Siau-kui-tui mo tadi

Diam2 Tian Pek terperanjat, ia heran mengapa si cebol bisa selihay ini, padahal dengan kungfunya sekarang, bukan saja tokoh silat kenamaan bisa dikalahkan dalam dalam tiga gebrakan, bahkan Hay-gwa-sam-sat yang lihay juga bisa di- hadapinya sekaligus bertiga.

Tapi sekarang, tujuh delapan gebrakan sudah lewat, bukan saja si cebol tak bisa dikalahkan. malahan gerakan si cebol hakikatnya cuma satu gerakan yang tak berbeda, dia sendiri menjadi repot menghadapi kelincahan lawan.

Tian Pek terkejut, tapi Sam-cun-teng jauh lebih terkejut lagi. Ia pun tak menyangka ilmu silat anak muda itu telah memperoleh kemajuan yang begini pesat. Sesudah dihajar oleh Tian Pek di tepi Yan-cu-ki tempo hari, mestinya dia berharap kedua gurunya akan tampil untuk mslabrak Tian Pek, tak tersangka mendadak muncul seorang kakek buntung dan membikin kedua gurunya ketakutan dan lari ter-birit2, walaupun bingung karena tidak tahu sebab musababnya, terpaksa Sam-cun-teng ikut kabur.

Sam cun-teng tidak tahu kakek buntung itu sebenarnya adalah kakek-gurunya, sepenjang jalan sering ia berpaling ke belakang dan tampaknya mereka pasti akan disusul oleh Sin kau (monyet sakti) Tiat Leng.

Andaikata Sin-lu tiat-tan Tang Ciang-li tidak muncul niscaya ketiga orang itu mampus di ujung tongkat Sin-kau Tiat Leng. Karena peristiwa itu pula akibatnya kedua tokoh aneh yang sudah puluhan tahun malang melintang di utara dan selatan sungai Tiangkang telah berduel hingga akhirnya sama2 tewas.

Setelah lolos dari kematian, diam2 Kanglam-ji-ki dan Sam-cun-teng kembali ke lembah setan di bukit Gan-tan- san. Sam-cun-teng menggerutu karena gurunya tidak mewariskan ilmu yang tinggi kepadanya sehingga membuat dia kehilangan muka, iapun menuduh kedua gurunya bernyali tikus, ketakutan pada seorang kakek cacat yang tak berkaki dan lari ter-birit2, dari nadanya jelas si cebol tak puas dengan kedua gurunya, bahkan berniat meninggalkan lembah setan untuk mencari guru lain.

Ketika itu Kanglam-ji-ki sedang ketakutan setengah mati ksrena mengetahui gurunya masih hidup, setelah direcoki terus oleh muridnya, mereka tak tahan, sejak itu Ci-hoat- leng kau (monyet cerdik berambut merah) Siang Ki-ok lantas mewariskan ilmu pukulan Kui-pok-ciang kepada si cebol, sedangkan Kui kok-in-siu (pertapa dari lambah setan). Bun Ceng-ki menurunkan ilmu langkah Kui-biau- hong (embusan angin setan). Sementara mereka sendiripun menekuni isi kitab Bu-kek-pit kip yang mereka rampas dari tangan gurunya.

Ketika mereka yakin ilmu silatnya sudah cuknp tangguh untuk melawan Sin-kau, tersiarlah berita di dunia persilatan bahwa gurunya telah tewas karena duel dengan Sin lu-tiat- tan.

Untuk membuktikan kebenaran berita tersebut, mereka bertiga lantas berangkat ke "dua belas gua karang" di Lam keng. Betul juga. Mereka temukan mayat Sin-kau Tiat Leng terkapar di dalam sebuah gua.

Betapa girangnya Kanglam-ji-ki, mereka merasa bebas dari ancaman, saat itulah kembali Sam-cun-teng ribut ingin membalas dendam kepada Tian Pek.

"Apa susahnya?" kata Ci-hoat leng-kau Siang Ki-ok sambil tertawa. "Jangan kaukira ilmu pukulan Kui pok ciang yang kuwariskau padamu itu cuma tiga jurus, pada hakikatnya ketiga jurus pukulan itu punya kekuatan yang hebat, cukup dengan jurus pertama Siau-kui tui-mo saja bocah yang bernama Tian Pek itu pasti dapat kau bunuh!"

Ucapan tersebut mengkili-kili hati Sam-cun-teng, ia semakin bernapsu untuk mencari Tian Pek.

Tetapi sekarang, setelah bertemu dengan pemuda yang di-cari2, sekalipun jurus Siau-kui tui-mo sudah diulangi sampai tujuh kali, jangankan membunuhnya, untuk menjawil ujung bajupun tak mampu.

Sam-cun-teng lebih kaget dan marah lagi setelah mengetahui musuhnya tidak bertarung dengan sungguh2, setiap jurus serangannya hanya dielak seenaknya saja tanpa memakai tenaga. Akhirnya si cebol yang penasaran ini membentak keras, pukulannya berubah, kedua telapak tangan terentang, dengan gaya "burung walet menembus awan" ia seruduk dada Tian Pek dengan kepala.

"Jurus apa ini. . .?" pikir Tian Pek tercengang.

Sepintas pandang gerakan ini lebih mirip dengan orang nekat yang akan bunuh diri dengan menumbukkan kepalanya di dinding tetapi justeru di balik kenekatan ini tersembunyi daya serangan yang dahsyat. inilah jurus kedua dari Kui-pok-ciang yang bernama Kui-ong ciong-ceng (raja setan menumbuk lonceng).

Kelihatannya gerakan menerjang ini sederhana, tapi di balik kesederhanaan ini tersimpan lima perubahan, kepala, tangan dan kaki dapat digunakan bersama, dengan begitu maka serangan ini berlipat lebih hebat dibandingkan serangan dengan memakai kedua belah tangan.

Kehebatan ini bertambah lagi karena Sam-oun teng memang terkenal sebagai si cebol yang berkepala baja, sejak kecil ia melatib ilmu Yu-cui-koan-teng, sejenis ilmu yang dapat membuat kepala manusia jadi keras seperti baja, tiap tumbukan kepalanya ibarat pukulan martil seberat ribuan kati, bisa dibayangkan bagaimana akibatnya bila tubuh manusia tertumbuk?

Sedang kedua kakinya yang tersembunyi di belakang pada ujung sepatunya terpasang dua batang pedang pendek, bila melancarkan tendangan, serta merta pedang pendek menjulur dan khusus dapat menghancurkan kekebalan lawan yang melatih sebangsa ilmu Tiat-poh-san atau Kim- ciong-cau.

Tian Pek tidak tahu kelihayan lawan, ketika kepala orang menumbuk tiba, dengan jurus Siok hong-Wi-lui (angin puyuh sambaran beledek), dibacoknya kepala lawan yang besar itu.

Mendadak Sam-cun-teng menengadah ke atas, tubuhnya yang sedang meluncur tiba2 melambung lebih tinggi, berbareng itu telapak tangan yang terentang tadi dengan ujung jari yang tajam terus menusuk Tay-yang-hiat di pelipis pemuda itu.

Hebat sekali perubahan serangan ini, Tian Pek terperanjat, cepat ia tarik kepalanya ke bawah sehingga tusukan maut lawan menyambar lewat di atas kepala.

"Sungguh berbahaya. "demikian pikir Tian Pek.

Sam-cun-teng tidak memberi kesempatan bagi musuh untuk berganti napas, tubuhnya yang masih melambung di udara mendadak melejit ke atas, kedua kakinya terus menendang.

"Cret Cret!" dua bilah pedang pendek pada ujung sepatunya menyambar ke muka den mengancam mata Tian Pek.

"Celaka! . . : . " keluh Tian Pek, untung ia menguasai ilmu langkah Cian-hoan-biau-hang-poh yang tangguh tatkala ujung pedang menyambar tiba di depan mata, tahu2 bayangan berkelebat lewat, jejak anak muda itu lenyap dari pandangan.

Merasa tendangannya mengenai tempat kosong Sam- cun-teng berputar di udara dan melayang turun ke bawah dengan tertegun.

Dengan jelas tendangannya hampir bersarang di mata musuh, lawan pasti kelabakan dan tak tahu bagaimana caranya menghindar, mengapa jejaknya tiba2 lenyap tak berbekas? Mungkinkah pemuda itu bisa kabur masuk ke bumi? Dengan terbelalak hcran Sam-cun-teng celingukan ke sana kemari, pada saat itulah suara tertawa dingin mendadak menggema di belakangnya.

Tak terkira rasa kaget si cebol, serentak ia berpaling, Tian Pek yang di cari2 ternyata berdiri di belakangnya sambil tertawa dingin.

Kejut dan marah Sam-cun teng, ia berpekik nyaring, ia terjang lagi dada Tian Pek dengan kepalanyn, jurus yang dipergunakan masih teiap "raja setan menumbuk lonceng".

"Kau cari mampus!" bentak Tian Pek dengan gusar, ia tidak sungkan2 lagi, dengan jurus Sau-cing-yau-hun (menyapu bersih hawa siluman) yang disertai hawa pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang dihajarnya batok kepala Sam cun-teng.

Hebat serangan ini, Sam-oun-teng terkejut, ia merasa gelagat tak mcnguntungkan, tapi sudah terlambat. "Bluk!'' tak ampun lagi Sam-cun-teng ter-sapu oleh pukulan dahsyat itu, darah dan otak berceceran, untuk selamanya si cebol  tak pernah bangun lagi.

Melihat musuh sudah mampus dengan kepala hancur, Tian Pek merasa gemas dan menyesal. Ia gemas karena hampir saja matanya buta termakan oleh tendangan cebol itu. Menyesal karena ia telah membunuh seorang jago persilatan lagi, padahal semenjak kalah bertaruh dari Hay gwa-sam-sat ia telah berjanji takkan mencampuri urusan dunia persilatan.

"Ai, entah perbuatanku ini termasuk melanggar janji atau tidak?" demikian ia berpikir.

Sementara Tian Pek masih termenung tiba2 terdengar lagi pekikan nyaring tajam dan menyeramkan ibarat jeritan setan di tengah malam buta. Mcnyusul dari semak2 pohon sana muncul dua sosok bayangan hitam, dari situlah Sam- cun teng muncul tadi, gerakan orang2 itu cepat luar biasa, tahu2 sudah berada di depannya.

Diam2 Tian Pek menghela napas dingin, dari Ginkang orang dapatlah diketahui betapa lihaynya Kungfu mereka.

"Siapa gerangan kedua orang ini?" begitulah Tian Pek membatin, tatkala diamati lebih seksama, ternyata mereka adalah seorang kakek bermuka seperti kunyuk berambut merah dan seorang lagi seorang kakek gemuk berbaju tebal.

Siapa lagi mereka kalau bukan Ci-hoat-leng-kau Siang Ki-ok dan Kui-kok-in-siu Bun Ceng-ki, guru si cebol tadi.

Dengan bengis dan penuh kebencian, kedua orang aneh itu melototi Tian Pek tanpa berkedip.

Tadi Tan Pek menyesal karena telah membunuh murid kesayangan orang, akan tetapi bila teringat bagaimana kedua orang ini berkhianat pada gurunya, bahkan menyiksanya secara keji darah Tian Pek tersirap, timbul niatnya untuk membinasakan kedua orang durhaka ini.

"Bocah keparat!' segera si monyet berambut merah memaki dengan penuh kebencian, “Kau telah membunuh murid kesayangan kami! Kau telah menghancurkan harapan kami! Kalau tidak kucincang tubuhmu, rasa benci dan dendam ini tak terhapus dari hati kami. Bangsat, terimalah ajalmu!"

Kui-kok-in-siu juga tertawa dingin dengan seram, suaranya mirip lolongan serigala atau jeritan setan, bulu kuduk Tian Pek terasa berdiri.

"Keenakan dia jika kita mencincang tubuhnya!" serunya dengan tajam, "akan kusiksa dia dengan cara2 yang paling keji, biar dia rasakan hidup susah matipun tidak, habis itu baru kucincang tubuhnya kemudian kugunakan santapan bagi anjing!"

Bukan menjadi jeri, Tian Pek malah tertawa ter-bahak2. "Hahaha, sekalipun kalian berbuat lebih keji, tetap kalian tak bisa mencuci bersih dosa kalian yang telah berkhianat dan menyiksa guru sendiri!"

Ucapan ini di luar dugaan kedua orang itu, wajah mereka yang bengis. segera terlintas rasa kaget, setelah saling pandang sekejap, nafsu membunuh yang menyelimuti wajah mereka kian menebal, hampir berbareng kedua orang itu berpekik.

"Bangsat cilik, kau jangan ngaco belo! Siapakah guru kami kaupun tak tahu, berani kau menuduh yang bukan2, kematianmu sudah di depan mata, tapi mulutmu yang kotor masih juga memfitnah orang "

Tian Pek tertawa: "Bila tak ingin orang tahu kecuali diri sendiri tak pernah melakukan. Tentunya kalianpun pernah membaca, masa arti dan kata kata ini tidak kalian pahami”

Kedua orang terperanjat.

"Hayo katakan siapa..siapakah guru kanm?"

Ci-hoat-leng-kiau menjerit. "Bila kau tak sanggup mengatakanuya akan kusiksa kau dengan cara yang paling keji!"

"Sin-kau Tiat-leng! Kukira sama ini tak bakal salah bukan?" ejek Tian Pek sambil melirik menghina.

Bagaikan dipagut ular, kedua orang itu gemetar keras, kulit wajah mereka berkerut, jelas sangat ketakutan.

Tapi sesaat kemudian segera Kui-kok-in-siu membentak dengan gusar: “Suheng, apa gunanya ribut dengan setan cilik ini? Hayo kita bekuk dan mampuskan dia!" Ci-hoat-leng-kau dapat merasakan betapa seriusnya urusan ini karena menyangkut mati-hidup mereka, bila Tian Pek tahu rahasia ini dan menyiarkannya di dunia persilatan, maka Kanglam-ji-ki tak kan diampuni oleh setiap umat persilatan.

Untuk menghindari hal yang tak diinginkan, timbul sifat mereka untuk membinasakan Tian Pek, asalkan pemuda ini lenyap dengan sendirinya rahasia mereka akan terpendam selamanya.

Maka habis Kui kok-in-siu berkata Ciam-hoat-leng kau tidak berbicara lagi, hawa saktinya segera dihimpun hingga terdengar ruas tulangnya bergemerutukan

Kui-kok-in-siu sendiri berdiri dengan mengepal tangan lalu dikendurkan lagi, kemudian mengepal dan mengendur pula beberapa kali, jelas iapun sedang menghimpun tenaga.

Suasana jadi tegang, kebetulan awan hitam mcnyelimuti angkasa dan mengalangi sinar bintang di langit, udara jadi gelap gulita dan terasa menyeramkan.

Tiam Pek menyadari betapa gentingnya keadaaan, partarungan sengit tak terhindar lagi. Bukannya ia takut menghadapi pertarungan, justeru dengan wataknya yung jujur dan mulia, ia amat mengutuk pengkhianatan kedua orang ini terhadap gurunya, sekalipun tahu bukan tandingan orang juga akau dihadapinya dengan mati2an.

Satu hal yang merisaukau pemuda ini adalah janjinya dengan Hay-lam-bun, ia telah berjanji akan mengundurkan diri dari dunia persilatan, bila pertarungan ini dia layani dan berita ini sampai terdengar oleh Hay-gwa-sam-sat, bagaimana dia akan menjawab? Sebab itulah meski diam2 ia sudah bersiap menghadapi pertarungan, pemuda ini masih mencoba menghindari terjadinya pertarungan ini.

"Aku telah berjanji dengan orang takkan mencampuri urusan dunia persilatan lagi, jangan kalian paksa aku main kekerasan. Tapi kalau kalian memaksa juga untuk bertempur, silakan meninggalkan bukti yang menyatakan bahwa kalianlah yang mamaksa aku turun tangan dan aku akan..”

Bangsat, tak perlu banyak bacot lagi!" bentak Ci-hoat- leng-kau.

Kui-kok-in-siu juga membentak dengan gusar: "Hari ini, kau yang akan mampus di tangan kami, buat apa minta bukti segala."

Sambil menjerit Ci-hoat-leng-kau segera menerkam ke depan, ia langsung menghantam kepala Tian Pek dengan jurus serangan yang baru berhasil dilatihnya.

Hampir sama waktunya, Kui-kok-in-siu yang gemuk juga mengebas lengan bajunya hingga kelihatan tangan kanannya yang seram bagaikan cakar setan, dengan ilmu pukulan Im-hong-ciang yang belum lama  diyakinkannya dia imbangi serangan kawannnya dengan memotong Cian- keng-hiat di bahu kiri Tian Pek.

Kedua orang ini sudah menekuni ilmu silatnya selama puluhun tahun, kerja sama mereka sangat rapat tenaga pukulan merekapun sangat mengejutkan.

Tian Pek terkesiap dan kagum pada ketangguhan musuh, serangan orang tidak dia layani, pertama ia tidak merasa yakin akan menang. kedua bila ditanya Hay-gwa sam sat ia pun tidak punya bukti yang bisa menunjukkan bahwa ia turun tangan karena ddesak, maka dengan andalkan ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh, semua serangan musuh dihindari dengan begitu saja.

Kedua orang itu tertegun, tapi kungfu mereka memang lebih hebat daripada Sam-cun-teng, sekalipun ilmu langkah Tian Pek sangat bagus namun cukup satu perputaran  badan, mereka lantas melancarkan pukulan lagi.

Angin pukulan men-deru2, debu pasir beterbangan, sebagaimana tadi, kembali Tian Pek meng-egos tanpa balas menyerang.

Dengan kalap kedua orang itu mencecar lawan, mereka berpekik nyaring, dengan jurus mematikan mereka mengurung pemuda itu.

Meski ilmu langkah Cian-hoan-biau-hiang-poh sangat gesit, tapi lama2 keteter juga Tian Pek, mau-tak-mau ia harus balas menyerang.

Se-konyong2 terendus bau harum menyusul terjadi benturan keras, "blang", tahu2 Kanglam-ji-ki mundur dengan sempoyongan.

Kejut luar biasa Kanglam-ji-ki, mereka merasakan tenaga lawan terlalu kuat dan sukar dilawan, namun sebisanya mereka bertahan.

Waktu mereka berpaling, pendateng ternyata adalah seorang manusia aneh, bertubuh kecil pendek, berwajah seram, merah rambutnya, mukanya berwarna hijau pula.

Merasa tak kenal Ci-hoat-leng-kau Siang Ki-ok mencaci maki dengan mata melotot: "Keparat, siapa kau? Berani mencampuri urusan Kanglam-ji-ki!"

"Bangsat! Rupanya kau sudah bosan hidup? Mau apa kau campuri urusan kami?" Kui-kok-in-siu juga marah2. Manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu jelas adalah Liu Cui-cui yang bertopeng, dengan suara aneh ia balas berteriak: "Kunyuk, buat apa banyak bicara? Sambut pukulanku ini!" Kedua tangan terentang, serentak  ia menyerang ke kiri dan ke kanan.

Kanglam-ji-ki menyambut pukulan itu dengan keras lawan keras. "Blang, blang!" kedua orang itu tergetar mundur.

'Hehehe, cuma begini sa]a kalian berani omong besar!?" ejek Cui cui sambil tertawa aneh,

Gusar sekali kedua orang itu, mereka berpekik nyaring, sambil mengerahkan segenap kekuatan mereka terkam Cui cui dengan ganas.

Tapi Cui-cui masih tertawa terkekeh, seperti kupu2 menyongsong angin dua tangannya yang putih bersih mengebas pelahan ke depan.

"Blang! Blang!" kembali terjadi benturan keras, kali ini Kanglam-ji-ki tergetar mundur lima-enam langkah.

Setelah berulang kali tergetar mundur, sadarlah kedua orang itu bahwa kungfu mereka masih kalah jauh dibandingkan lawan, kejumawaan mereka tersapu lenyap, rasa takut dan ngeri lantas timbul.

Kembali Cui-cui tertawa mengikik, ejeknya: "Hayo,  maju lagi! Kenapa berhenti"'

Pelahan ia angkat tangannya keatas, di antara tangannya yang halus dan putih tiba2 terpancar sinar putih menyilaukan.

"Hih, Tay im-sin ciang!' Kanglam ji ki menjerit kaget dengan air muka berubah hebat. "Hehehe, takut?' ejek Cui-cui pula, pelahan telapak tangannya lantas menolak ke tubuh kedua orang itu. Segera segulung angin pukulan dahsyat mendampar ke depan,

Pucat wajah kedua orang itu, mereka ingin kabur, tapi gulungan angin pukulan yang kuat itu ibaratnya sebuah kurungan baja yang besar telah mengurung mereka hingga tak mampu berkutik.

Semenjak terjun ke dunia persilatan dan mengalami berbagai pertempuran, belum pernah Kang lam-ji-ki menghadapi kejadian seperti ini, kehebatan musuh membuat mereka ketakutan dan peluh dinginpun bercucuran.

Siapapun tak mengira kedua tokoh sakti yang jumawa dan tak pernah takut pada langit dan tak gentar pada bumi ini, akhirnya ketakutan setengah mati dan tak mampu berbuat apa2.

"Cui-cui !" mendadak Tian Pek berseru.

Seruan tersebut segera mengingatkan Cui-cui bahwa engkoh Pek tidak suka melihat dia membunuh orang, agar tidak membuat Tian Pek tak senang hati, segera ia tarik kembali pukulannya dan buyarkan tenaga kurungan yang lihay itu, katanya: "Mengingat engkoh Pek, kuampuni jiwa anjing kalian untu kali ini, hayo cepat enyah dari sini!"

Bagaikan mendapat pengampunan, Kanglam-ji-ki tidak berani mengucapkan sepatah katapun, mereka langsung putar badan dan melarikan diri ter-birit2, begitu ketakutannya sampai mayat murid kesayangan mereka, Sam-cun-teng, yang masih menggeletak itupun tak sempat diurus lagi. Menyesal Tian Pek melihat Cui-cui melepaskan Kanglam-ji-ki, berulang kali ia menggerutu: "Cui-cui, kenapa kau lepaskan kedua orang itu?"

“Eh, aneh," jawab Cui-cui dengan terbelalak heran, "bukankah engkoh Pek tak suka menyaksikan aku membunuh orang?"

"Tapi kedua orang itu adalah murid durhaka yang telah mencelakai guru sendiri, manusia berhati binatang macam mereka itu tidaklah pantas dibiarkan hidup di dunia ini"

"Wah, susah!" keluh Cui-cui. "Ada kalanya kau tak suka melihat kubunuh orang, sekarang kau malah suruh aku membunuh orang, sebetulnya kau inginkan aku berbuat bagaimana?"

"Berbuat bagaimana maksudmu?" teriak Tian Pek dengan mendongkol. "Asalkan kau tidak menimbulkan kesulitan bagiku sudah lebih dari cukup! Baru saja kau membuat kheki nona Hoan, sekarang melepaskan pula murid durhaka yang pantas di-bunuh itu "

Hebat perubahan air muka Cui-cui, meskipun tak terlihat karena tertutup topeng, dari sikapnya sudab kentara, ia berteriak: "Baik, aku tak akan mendatangkan kerepotan lagi bagimu, biarlah aku pergi!" Sekali berkelebat, tahu2 bayangannya sudah lenyap dari pandangan.

Tian Pek tertegun, ia tak menyangka Cui-cui akan pergi begitu saja, ia tak menduga ucapannya tadi telah melukai hati nona itu.

Supaya maklum, kendatipun sikap Cui-cui sudah lebih supel dan terbuka, pada hakikatnya ia cuma bertujuan membuat Tian Pek senang, padahal rasa cemburunya masih amat tebal. Dan sekarang, setelah melihat munculnya seorang nona lagi yang bernama Hoan Soh-ing. dia jadi mendongkol, tak di-ketahuinya berapa banyak nona lain yang menjadi kekasih Tian Pek.

Mendingan bila sikap Tian Pek mesra padanva, ternyata pemuda itu malah membantu Hoan Soh-ing, keruan Cui-cui makin mendongkol, tapi ia masih bersabar dan berusaha menyenangkan kekasihnya dengan melepaskan Kanglam-ji- ki, tak tersangka justeru perbuatannya itu kembali membuat pemuda itu tak senang hati, malahan menegurnya, sebagai gadis yang angkuh, ia tak tahan sehingga berlalu dengan begitu saja.

Tian Pek sendiri tidak mengalangi kepergian Cui-cui sebab dia sendiripun mendongkol. Setelah bayangan Cui- cui lenyap dan pandangan pemuda itu masih bergumam tersendiri: "Mau pergi biar pergi. Uh, memangnya kenapa

..."

Kendatipun begitu, sedikit banyak pemuda itu merasakan kehampaan dan kesepian.

Langit yang gelap entah sejak kapan telah remang2, sinar ke-emas2an telah muncul di ufuk timur, fajar hampir menyingsing.

"Kuak! Kuak!" bunyi seekor burung belibis yang ketinggalan induknya memecah kesunyian di pagi itu, setelah beterbangan mengitari pohon lalu meluncur jauh ke sana.

Tian Pek menarik napas panjang, ia merasakan kehampaan dan kesepiannya seperti apa yang dialami burung itu ..

Dewasa ini ia sebatang kara, tanpa sanak tanpa keluarga, sejak kekalahannya di tangan Cu Ji-hay, kakek berjenggot panjang dari Hay-gwa-sam-sat itu ia tak dapat menancapkan kaki di dunia persilatan, iapun merasa malu untuk kembali ke Pah to-san-ceng, meski di situ masih ada calon isterinya. Tapi ia percaya, walaupun mereka tak ada ikatan apa2. Tian-hujin yang menyayangi-nya seperti anak sendiri, serta paman Lui yang menyayanginya pula tentu akan menerima dia untuk berdiam di situ.

Tapi apa yang harus dilakukannya bila mereka mohon bantuannya untuk balaskan dendam kematian Buyung- cengcu? Lalu, Wan-ji sudah di-temukan, tak mungkin kukawini mereka kakak ber-adik sekaligus, padahal jelas Wan-ji sangat men-cintaiku, bagaimanapun juga kehadiranku tentu akan menyakitkan hati Wan-ji, ia pasti tak betah berdiam di rumah dan mungkin akan minggat lagi.

Pada dasarnya Tian Pek adalah pemuda yang jujur dan pegang janji, selalu memikirkan kepentingan orang lain, sebab itulah kesulitan yang dihadapinya selalu lebih banyak daripada orang lain. Seandainya dia adalah pemuda yang cuma mementingkan diri sendiri, apa yang dihadapinya tentu bukanlah masalah yang sulit, tapi bagi pandangan Tian Pek, justeru masalah ini masalah yang pelik. Masalah pelik ini selalu berkecamuk dalam benaknya, ia kebingungan dan tak tahu ke mana harus pergi.

Tanpa tujuan ia terus berjalan di antara pegunungan yang sunyi, tiada kicauau burung, tak ada suara manusia, yang ada cuma embusan angin serta bayangan sendiri.

Tiba2 dari lereng bukit sana muncul beberapa sosok bayangan, orang2 itu berjalan dengan ter-gesa2, ketika melihat Tian Pek, mereka lantas memburu datang:

'Hiantit. ..!"

"Siau-in-kong. !"

"Engkoh Tian !" Masih jauh orang2 itu lantas berteriak, kiranya mereka adalah pamnan Lui, Tay-pek-siang-gi, Ji lopiautau serta Buyung Hong.

Beberapa orang itu payah sekali keadaannya, napas mereka ter-engah2 dan peluh membasahi sekujur badan. Begitu berhadapan, paman Lui yang berambut awut2an segera menegur: "Hiantit, kenapa seorang diri kau kabur kemari?"

"Betul Siau-in-kong! Payah sekali kami mencari jejakmu " sambung Tay-pek-siang-gi.

"Engkoh Tian . . . ." Buyung Hong juga berseru dengan cemas. Kegelisshan nona berwatak angkuh ini jauh melebihi siapupun ketika kehilangan calon suammya, tapi setelah bcrjumpa dia hanya bisa menyebut "Engkoh Tian" belaka, kendatipun demikian seruan itu sudah meliputi pelbagai perasaannya yang bercampur aduk.

Tian Pek menghela napas dan menggeleng, walaupun masih murung, hatinya terasa hangat, sebab dari sikap beberapa orang ini ia merasa dirinya tidaklah sebatangkara lagi, tapi masih banyak orang yang menguatirkan keselamatanya, meng-hormat serta menyayanginya.

Begitulah manusia, manusia tak terlepas dari kasih sayang, kendatipun dia adalah seorang enghiong, seorang pahlawan.

Di antara sekian banyak orang yang hadir, pengetahuan dan pengalaman Ji-Iopiautau paling luas, ia pandai sekali melihat gelagat serta perubahan sikap seseorang, ia pun pandai menebuk hati orang. Dari sikap Tian Pek yang murung, kesal dan geleng kepala sambil menghela napas, tahulah orang tua ini apa yang menjadi beban pikirannya. Setelah berdehem ringan, iapuu berkata: "'Tian hiante, sedikit kekalahan yang kau terima janganlah selalu kau pikirkan. Kendatipun tenaga dalam si kakek berjenggot itu lebih tinggi setengah tingkat, tapi Hiante masih muda dan masa depan masih cemerlang? Asal kau berlatih dengan tekun, tentu kemajuanmu akan melampaui siapapun. Waktu itu, bukan saja Hiante bisa mengalahkan kakek berjenggot itu, sekalipun dunia persilatan muugkin jaga akan berada dibawah kekuasaan Hiante..Hahaha!”

Tian Pek tahu tujuan Ji lopiautau hanya untuk menghibur hatinya yang duka. Tapi dalam keadaan begini, justeru semakin ada orang menghiburnya,

ia merasa semakin malu, cepat ia menjura dan berkata: " Terima kasih Lokoko. gara2 Siaute tak becus.."

“Siau-in-kong, buat apa kau ucapkan kata2 yang tak bersemangat begini?" si orang mati-hidup dari Tay pek- siang-gi yang berwajah kaku tiba2 menyeletuk. "Bila Siau inkong tak becus, bukankah kami beberapa orang tua bangka ini menjadi gentong nasi belaka?"

"Betul! " sambung si orang hidup-mati dengan mata melotot 'Padahal bicara sesuugguhnya, kekalahan Siau inkong bukan lantaran ceteknya kungfu yang dimiliki. Siapa yang tak lelah setelah bertarung melawan kerubutan tiga orang? Coba saja suruh mereka bertarung satu lawan satu, aku Si-boat-jin

berani bertaruh, kakek berjenggot panjang itu pasti bukan tandingnya Siau-inkong!"

"Terima kasih atas pujian Cianpwe sekalian" kata Tian Pek kemudian seraya menjura. "Bagaimanapun juga aku Tian Pek sudah berjanji, maka setelah dikalahkan orang, sudah tentu aku harus memegang janji dan mungundurkan diri dari dunia persilatan!" "Ai, Tian-hiantit kita ini memang berwatak persis ayahnya vang telah meninggal," keluh paman Lui sambil menghela nspas sedih, "setiap perkataan yang telah diucapkan sampai matipun takkan diingkari."

“Tapi bagaimanapun juga Tian-hiante tak boleh mengundurkan diri dari dunia persilatan," seru Ji-lopiautau dengan cemas, "Semua kekuatan Lam hay-bun kini sudah mendarat di Tionggoan, jago mereka rata2 lihay, bukan saja sering melakukan kejahatan, merekapun membantai kawan kita secara keji, di dunia persilatan dewasa ini kecuaii Tian- hiante seorang, hakikatnya sukar menemukan jago lain yaug mampu menandingi mereka. Tian-hiante. bila kau sampai mengundurkan diri dari dunia persilatan, sama artinya kau telah termakan oleh siasat licik orang2 Lam hay-bun, apakah kau senang melihat daratan Tionggoan dijadikan arena pembantaian oleh orang2 Lam-hay bun?"

"Buul, apa yang dikatakan Ji-lopiautau tepat sekali," seru Tay-pek siang-gi. "Siau-inkong, bagaimanapun juga,  kita tak perlu pegang janji dengan munusia2 biadab Lam-hay- bun itu, toh mereka keji dan tak pakai aturan persilatan lebih dulu, kenapa kita mesti pegang janji.”

"Bukan begitu soalnya," tukas paman Lui, "sebagai umat persilatan, sebagai kaum pendekar sepantasnya kita menunjukkan sikap yang jujur dan gagah perkasa, kalau kita tak jujur darimana bisa memperoleh kepercayaan? Bila perkataan yang kita ucapkan tak ditaati, lalu apa gunanya kita hidup sebagai pendekar? Apakah orang lain mau menghormati kita? Bukankah perbuatan itu tak ada bedanya dengan perbuatun pengecut yang licik dan licin?"

Kagum Tian Pek setelah mendengar perkataan itu, demikian pula dengan yang lain, mereka merasakan kebenaran dan ucapan ini. Paman Lui berkata lagi setelah berhenti sebentar: "Persoalan inipun harus kita rundingkan dengan cermat dan matang. Hayo berangkat, kita pulang dulu ke Pah-to san- ceng!"

Habis berkata ia lantas melangkah lebih dulu.

Di antara sekian orang, Buyung Hong paling gembira setelah mengetahui tujuan mereka adalah Pah-to-san-ceng, sambil memandang Tian Pek dengan wajah berseri, ajaknya: "Hayo kitapun berangkat!"

Karena merasa apa yang diucapkan paman Lui memang benar, Tian Pek pun tidak berkata lagi, pada kesempatan berjalan berdampingan dengan Buyung Hong, ia bertanya: "Dimana Wan-ji?"

"Dia sudah pulang lebih duluan!" sahut Buyung Hong sambil tertawa.

Mendengar jawaban itu, kembali Tian Pek menghela napas panjang.

Buyung Hong mengira luka yang diderita Tian Pek akibat pukulan kakek berjenggot itu belum sembuh, ia lantas menatapnya dengan penuh perhatian: “Engkoh Tian, adakah sesuatu yang kurang beres?"

"O, tidak apa2! . , . . " cepat Tian Pek menggeleng. Berbicara ssbenarnya, dengan tenaga dalam yang dimilikinya sekarang, luka serangan itu bukan masalah baginya, cukup mengatur pernapasan sebentar luka itu akan sembuh. Justeru masalah Wan-ji yang membuat ia pusing, ia tahu Wan-ji amat mencintainya, tapi bagaimana mungkin ia dapat mengatakan persoalan ini kepada Buyung Hong? Dengan kekuatan lari mereka, menjelang tengah hari mereka sudah berada di Hin-liong tin, kota perbatasan antara propinsi Kangsoh dan Anhui.

Tian Pek teringat kembali pada pengalaman dulu ditolak memasuki rumah makan. Ia berkata kepada rekan2nya: "Kota ini adalah daerah kekuasaan Hiat-ciang-hwe liong Yau Peng-kun, seorang anak buah An-lok Kongcu, padahal Hiat ciang-hwe-liong sudah mampus di tangan Hay-gwa- sam-sat, entah siapa yang menggantikan kedududukannya di sini?"

“Hiat ciang-hwe-liong Yau Peng-kun sudah mati?" seru Ji-lopiautau kaget. "Padahal kutahu ilmu pukulan Ang-se- hiat-heng-ciang-nya sudah mencapai tingkatan paling tinggi. senjata Sian-jin-ciang-nya jarang ada tandingannya, obat mesiunya juga luar biasa, masa dia mampus di tangan Hay- gwa-sam-sat?"

"Yau Peng-kun hanya lihay dalam soal senjata rahasia yang mengandung mesiu, sedangkan iimu silatnya cuma biasa2 saja," kata paman Lui "Cuma dia memang sombong, sudah lama aku ingin bertemu, aayang sekarang tak ada kesempatan lagi!"

Bsgitulah, sambil ber~cakap2 mereka pun memasuki kota itu, mendadak terlihat banyak kawanan pengemis yang menggendong karung dan berkeliaran di jalanan.

Kswanan pegemis itu sama membawa tongkat penggebuk anjing, langkah mereka ter-gesa2 menuju ke satu arah yang sama, bahkan pengemis yang berlari di depan rumah makanpun tidak minta minta, ketika bertemu pengemis yang lewat mereka saling memberi tanda dengan kerdipan mata kemudian ikut ke sana.

Sebagian besar rombongan Tian Pek ini adalah jago2 kawakan, sekilas pandang mereka lantas tahu orang2 Kay- pang sedang mengadakan pertemuan di kota ini, mereka tak menghiraukan dan melanjutkan perjalanan masuk ke kota.

Hanya Buyung Hong, dia jarang keluar rumah, kejadian ini menarik perhatiannya, dengan heran ia bertanya: "Aneh benar, kenapa begitu banyak pengemis yang berkumpul dikota ini?"

"Nona," sahut Ji-lopiautau setengah berbisik: "Lebih baik jangan mencampuri urusan orang, mereka adalah orang Kay-pang, perkumpulan terbesar kaum jembel."

"Kaum pengemis juga punya perkumpulan?" pikir Buyung Hong, ia semakin tercengang, namun tidak bertanya lagi.

Walaupun pengemis itu berpakaian dekil dan pepuh tambalan, rata2 tubuh mereka tegap dan bertenaga besar, mukanya kereng, matanya tajam, siapapun akan tahu mereka semuanya berilmu silat tinggi.

Masing2 pengemis itu menggembol karung goni di punggungnya, ada yang memiliki tiga ada pula yang empat, yang paling banyak tujuh buah, paling sedikit dua buah.

Tongkat Tah-kau-pang yang mereka bawapun ber-beda2, ada yang berwarna hijau, ada yang berwarna kuning dan ada pula yang berwarna hijau muda.

Buyung Hong kurang berpengalaman, sudah tentu ia tak tahu apa arti dari karung goni serta tongkat Tah-kau-pang itu, berbeda dengan paman Lui. Jo-lopiautau serta Tay-pek- siang-gi, mereka mengetahui dengan jelas apa arti ksrung goni serta warna tongkat itu, sebab dari tanda2 itulah mereka mengetahui tingkat kedudukan pengemis2  itu dalam perkumpulannya.

Kalau Buyung Hong merasa heran, maka Ji lopiautau sekalian diam2 ber-tanya2, sebab dari sekian banyak pengemis yang berkeliaran, mereka melihat banyak pengemis yang membawa tujuh buah karung goni, itu menandakan kedudukan mereka sudah mencapai tingkatan Tianglo (tertua), dari sini dapat ditarik kesimpulan bahwa pertemuan yang akan diselenggarakan pastilah pertemuan besar yang penting artinya.

Meneruskan perjalanan lebih ke depan, mereka bertemu semakin banyak pengemis yang bergerombol, ketika tiba di suatu persimpangan jalan mereka pada berbelok masuk ke sebuah lorong yang panjang dan sempit.

Tian Pek tak dapat menahan rasa ingin tahunya, ia lantns berbisik: "Menurut apa yang kuketahui, perkumpulan kaum pengemis selamanya berada di bawah pengaruh Toan-hong Kongcu, kenapa hari ini mereka berkumpul di wilayah kekuasaan An-lok Kongcu? Jangan2 telah terjadi sesuatu yang luar biasa?"

"Benar dugaan Hiantit" sahut paman Lui seraya mengangguk. "Hayo berangkat, kita lihat apa yang terjadi!" Selesai berkata ia mendahuluhi menyusuri lorong panjang itu. Terpaksa Ji-lopiautau, Tay-pek Siang-gi dan lain2 mengikutinya.

Lorong ini memang panjang sekali, sudah lima puluh tombak mereka memasukinya tapi belum juga sampai di ujung lorong.

Selagi mereka berjalan ke depan tiba2 di suatu persimpangan jalan muncul tiga orang pengemis dengan Tah-kau-pang melintang di depan dada, mereka mengadang di tengah jalan.

Salah seorang pengemis yang membawa empat karung goni mengangguk dan berseru: "Berhenti! Tampaknya tuan yang berduit juga jago dunia persilatan, masakah tidak kalian lihat di ujung lorong situ sedang diadakan pertemuan kaum pengemis kami?"

Paman Lui ter-bahak2: "Kami justeru adalah sahabat kaum pengemis, sengaja kami datang ke sini untuk ikut memeriahkan pertemuan ini!"

Ucapan tersebut membuat ketiga pengemis itu tertegun, mereka melototi paman Lui, sementara air mukanya berubah tak menentu, jelas mereka merasa curiga.

Potongan paman Lui memang dekil, rambutnya awut2an, cambangnya lebat, kecuali jubah hijau-nya masih tampak agak bersih, boleh dibdang ia-pun mirip seorang pengemis.

Lama ketiga orang pengemis itu mengamati paman Lui, akhirnya salah seorang pengemis berjenggot panjang yang berada di ujung kiri tertawa dingin dan berkata: "Hebehe, mata yang celi tak nanti kemasukan pasir, sobat! Kalau kau ingin berbohong di hadapan kami, itu artinya matamn sudah buta. Hm, pertama kau tidak membawa penunjuk tingkat, kedua kaupun tidak membawa tanda pengenal. Hanya dengan beberapa patah kata saja lantas kau ingin bertemu dengan Cousuya? Huh, jangan mimpi!"

Ji lopiautau terperanjat, cepat ia maju ke muka dan menegasi, “Ah, jadi perkumpulan kalian mengadakan upacara kebaktian disini?"

Ketiga pengemis itu tidak menjawab, mereka hanya tertwa dingin.

Paman Lui jadi mendongkol, serunya lantang, "Lohu adalah Lui Ceng-wan, Tianglo kalian Hong-jen-san-kay saja tak berani bersikap kurang ajar kepadaku, kalian angkatan muda berani takabur? Hm! Sungguh menjengkelkan!" Tanpa menggubris lagi ia terus menerjang masuk dengan langkah lebar.

Tiga pengemis itu membentak, tiga batang Tah-kau-pang serentak beegerak, dua batang tongkat menyodok Hiat-to penting di dada paman Lui, sedangkan toya yang ketiga mengancam batok kepala,

Sebagaimana diketahui, lorong itu sempit tapi panjang, kaarena ketiga pengemis itu turun tangan bersama lorong lantas tersumbat oleh putaran toya mereka, dalam keadaan bertangan kosong, jika paman Lui nekat dan menerjang terus, niscaya dia akan dilukai oleh ketiga toya itu.

Paman Lui bukan jagoan lihay kalau cuma serangan itu saja tak bisa dihindari, sudah puluhan tahun ke-27 jurus Thian-hud ciang-nya tersohor di dunia persilatan, cuma sayang ketiga orang pengemis ini masih muda. meski paman Lui sudah menyebutkan namanya, ketiga pengemis itu masih tidak tahu manusia aneh yang dihadapi mereka sebenarnya adalah Thian-hud-ciang Lui Ceng-wan.

Tatkala ketiga batang Tah-kau-pang yang menyambar bagaikan angin puyuh dan hujan badai itu hampir  mengenai tubuh paman Lui, tiba2 paman Lui menghardik: "Mundur !"

Sekali ujung bajunva mengebas ke depan angin puyuh yang tajam kontan menghajar ketiga pengemis itu hingga (trgetar mundur lima enam langkah, hampir saja toya kuning mereka terlepas dari cekalan.

Sunggub kaget ketiga pengemis itu, bukan saja mereka merasa telapak tangan jadi sakit, separoh badan terasa  kaku, hawa murni dalam perut serasa bergolak, mereka menjerit kaget: "Hati2, ada sasaran keras hendak menerjang maju" Setelah teriakan itu, serentak dari empat tempat melompat keluar belasan pengemis lagi.

Pengemis yang muncul ini rata2 membawa lima buah karung goni dengan tongkat bambu, ini menunjukkan mereka adalah tokoh pengemis angkatan kedua.

Berbareng itu pula di atap rumah terdengar suara gendewa dipentang orang, ketika Tian Pek sekalian menengadah, tertampaklah berpuluh jago Kay-pang telah berdiri di sepanjang atap rumah dengan mementang gendewa dan peluru siap dibidikkan.

Semua oreng terkesiap, mereka tak mengira pihak pengemis telah mempersiapkan diri di sekitar itu, bukannya mereka takut menghadapi serangan peluru itu, tapi bertarung di lorong yang sempit jelas tidak menguntungkan, apalagi jika mereka dihujani peluru dari atas, tentu mereka akan kerepotan.

Buru2 Tian Pek berseru: “Aku ini Tian Pek sengaja datang kemari untuk menyambangi Toan-hong Kongcu, tolong kalian sudi melaporkan kunjungan kami ini kepadanya!"

Baru lenyap suaranya, seorang pengemis tua berkarung goni lima buah segera tertawa dingin dan menjawab: "Kami sudah merasakan kelihayanmu sewaktu berada di lembah kematian dahulu, dan sekarang kami harap kalian jangan sembarangan berkutik dulu!"

Kiranya pengemis ini pernah ikut serta dalam pertarungan melawan "sepasang pengawal baja" dari istana Kim di "Lembah kematian", dulu oleh karena Tian Pek juga ikut dalam pertarungan itu, dan lagi banyak korban yang berjatuhan dipihak Kay-pang, maka ia kenal dengan pemuda kita. Setelah mengucapkan kata2 tadi, pengemis itu keluarkan beberapa utas tali dari karungnya dan dilemparkan ke hadapan Tian Pek sembari berkata lagi: "Asal kalian bersedia menyerah dan membelenggu diri sendiri, kami tak akan menyusahkan kalian, setelah bertemu dengan Cousuya nanti, cukup sepatah ksta beliau lantas kalian akan kami lepas. Tapi kalau membangkang . . .Hmm! Hmm!"

Setelah mendengus ia melirik sekejap ke atap rumah dan melanjutkan dengan nyaring: "Terpaksa kami akan mcmpersilakan kalian mencicipi bagaimana rasanya Bak-cu (peluru daging)!"

Tian Pek naik pitam, begitu pula jago lainnya semuanya mendongkol dan gemas.

Paman Lui tertawa dingin, katanya: "Hehehe. selama ini perkumpulan pengemis bisa tancapkan kaki di dunia persilatan adalah lantaran kalian tak mencampuri urusan orang, maka anggotanya bisa tersebar luas sampai ke- mana2, bila cara kalian main menjebak begini, hmm, kukira sebentar saja perkumpulan pengemis akan hancur musnah di tangan kalian!"

Pengemis bertongkat bambu itu balas tertawa dingin, katanya: "Huh, kematian sudah di depan mata masih berani bicara besar! Mulai sekarang aku akan menghitung sampai angka kelima, kalau angka lima sudah kusebut dan kalian belum juga menyerahkan diri akan kuperintahkan mereka menghujani kalian dengan seribu peluru!"

Selesai bicara dia lantas angkat jari tangannya ke atas sambil berteriak; "Satu ... !"

Paman Lui masih berdiri tak acuh, Tian Pek pun tidak menunjukkan reaksi apa2.

"Dua !" pengemis itu menekuk jari yang kedua. Paman Lui masih berdiri sekukuh bukit, sementara Tian Pek dan lain2 sudah siap siaga.

"Tiga !" kembali pengemis itu berseru sambil menekuk

jari tangannya yang ketiga. Serentak kawanan pengemis yang berada di atas rumah memasang gendewa masing2 dengan peluru besi.

"Empat .... !" begitu disebutkan hitungan ke-empat, segera gendewa berisi peluru besi itu diarahkan ke bawah, tertuju sasarannya.

Paman Lui masih diam saja, sedangkan Tian Pek, Buyung Hong, Ji lopiautau serta Tay-pek-siang-gi sama berkeringat dingin dan ingin melabrak musuh.

Bila hitungan kelima si pengemis bambu hijau itu disebutkan, tak bisa dihindarkan lagi pertarungan dahsyat pasti akan berkobar.

"Tahan ...,!" untunglah pada saat terakhir terdengar seorang membentak keras, menyusul munoul tiga sosok bayangan.

Ketiga orang itu adalah tiga pengemis tua ber-usia enam puluhan, mereka adalah tiga Tianglo perkumpulan pengemis yang terkenal sebagai Hong-jan-sam-kay.

Dari kejauhan, pengemis sinting Coh Liang lantas bcrseru dengan lantang: "Hei, Lui sinting! Baik2kah selama ini?"

"Hahaha, kau sendiri kan tersohor sebagai orang sinting!" sahut paman Lui sambil ter-bahak2.

Si pengemis tuli memandang kawanan jago itu dengan sinar mata mencorong, sementara pengemis pemabok memicingknn mata dan berkata sambil ter-bahak2: "Hahaha, belasan tahun tak ketemu, kegagahan Lui sinting masih sama juga seperti dulu!"

Paman Lui tersenyum getir: "Sudahlah, kalian tak usah memuji, andaikata watakku masih berangasan seperti dulu, cara kalian menyambut kedatanganku ini mungkin sudah menimbulkan banjir darah "

Pengemis sinting Coh Liang melihat anak buahnya masih berada dalam siap siaga dengan pedang terhunus dan gendewa tertuju pada sasaran. dia lantas menghardik: "Mau apa kalian berada di sini? Hayo mnudur semua! Hm, kalian benar2 tak tahu diri, hanya kalian ini masa mampu menahan Thian-hud-ciang Lui Ceng-wan, Lui-tayhiap, yang termashur pada puluhan tahun yang lalu?"

Dengan sikap hormat serentak pemanah yang berada di atap rumah serta kaum pengemis yang memenuhi lorong sempit pada mengundurkan diri semua.

Sepeninggal pengemis2 itu, si pengemis sinting baru berkata kepada Paman Lui: "Maklumlah, anak buah kami tak ada yang kenal kau, harap kau jangan marah kepada mereka!"

Setelah orang minta maaf, paman Lui tak bisa ngotot lagi, iapun berkata: "Bicara tentang hubungan persahabatan kita yang sudah berusia puluhan tahun, kenapa kalian mesti sungkan2 kepadaku? Eh, omong2, kalian kaum pengemis biasanya hidup tersebar kenapa sekarang berkumpul di kota kecil ini?"

Sesuai julukannya, pengemis tuli tak dapat mendengar pembicaraan orang lain, ia sendiripun tak pandai bicara, maka sejak tadi dia cuma membungkam saja, sedangkan pengemis pemabuk tampak setengah melek setengah meram dan jarang pula bicara. Maka selama pembicaraan berlangsung hanya si pengemis sinting saja yang melayani tamunya ber-cakap2.

Atas pertanyaan tersebut, ia menjawab: "Ai, soal ini panjang sekali kalau diceritakan, tempat ini bukan tempat untuk berbicara, hayo, kita bicara di dalam sana!"

Paman Lui tertawa, katanya: "Mau undang kami sih boleh saja, tapi kau harus tahu, kumi belum bersantap siang karena baru saja sampai di sini. Sedangkan kaum pengemis kalian biasanya makan dari minta2, kukira lebih baik kami bersantap dulu di restoran kemudian baru berkunjung lagi!"

Sehabis berkata dia lantas hendak berlalu.

Cepat pengemis sinting menyambar lengan paman Lui, serunya: "Ah, perkataan macam apa ini? Meskipun kami ini miskin, untuk menjamu beherapa orang saja bukan soal. Hayo jalan! Kalau kau menampik lagi, itu namanya tidak menghormati teman!"
Sepi Banget euyy. Ramaikan kolom komentar dong gan supaya admin tetap semangat upload cersil :). Semenjak tahun 2021 udah gak ada lagi pembaca yang ninggalin opininya di kolom komentar :(