Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 18

Jilid 18

Sudah lama Ji-lopiauthau tak pernah turun tangan sendiri, itulah sebabnya orang segera akan tahu bahwa barang kawalannya kali ini pasti sangat penting dan berharga, sebab kalau tidak, tak nanti Piauthau tua ini akan turun sendiri.

Di sebelah kiri Ji-lopiauthau adalah seorang lelaki gemuk berpakaian dinas, rupanya seorang petugas pemerintah.

Sedangkan di sebelah kanannya mengikuti pula laki2 kurus kering, tampangnya seperti kunyuk dan berdandan seorang opas.

Kedua orang kurus-gemuk ini cukup terkenal namanya di sebelah utara sungai Hoang-ho, sebab mereka adalah Ban-leng-koan (pembesar gemuk) The Pek-siu serta Sik-kau (kunyuk batu) Ho Leng-san. Pengawalan disertai opas, jelas barang-barang ini milik pemerintah. Waktu itu permulaan musim panas, sekalipun udara belum sekering dan sepanas pertengahan musim, namun peluh telah membasahi tubuh orang-orang itu.

Sebuah topi rumput lehar hampir menutupi wajah Ji- lopiauthau yang penuh berkeriput, ketika tiba2 ia lihat sebuah hutan terbentang di depan, dengan dahi herkerut ia berkata kepada anak buahnya: "Sampaikan perintah kepada segenap anggota rombongan, suruh mereka tingkatkan kewaspadaan dan bersiap untuk menjaga segala kemungkinan!"

Hutan belantara merupakan sarang dan tempat operasinya kaum penyamun, Ji-lopiauthau sudah lama bekerja sebagai pengawal barang, otomatia pengalamannya pun amat luas, begitu melihat hutan, lantas perintahkan anak buahnya untuk siap siaga.

Si "kuda kilat" Lan Sam yang mendapat pesan itu cepat membedal kudanya ke depan rombongan, sambil melarikan kudanya ia berseru lantang: "Perhatian! Congpiauthau ada perintah, semuanya bersiap menghadapi segala kemungkinan!"

Suara senjata dicabut dari sarungnya bergema di sana- sini, di antara kilatan cahaya senjata menyilaukan, kawanan Piausu itu telah mempertingkat kewaspadaan mereka.

Suasana tegang menyelimuti rombongan itu, begitu ketat dan rapatnya penjagaan seakan-akan menghadapi suasana genting.

Senyum lega dan bangga menghiasi wajah Ban-leng- koan yang gemuk, tiba2 ia berpaling kepada Ji-lopiauthau dan berkata tertawa: "Hahaha, bagaimana pun memang lebih mantap kalau pengawalan ini dipimpin langsung oleh Ji-lopiauthau, melihat kesiap-siagaan anak buah Lopiautau yang cekatan ini, sungguh lega hatiku." "Betul!" sambung Sik-kau atau si kunyuk dengan cepat, "tidak aeperti pengawal barang tempo hari, rombongan dipimnin oleh seorang Piausu muda yang baru terjun ke dunia persilatan, eh, Tian Pek begitulah kalau tidak salah namanya. Sepanjang perjalanan, hatiku selalu berdebar, selalu kuatir dan tidak tenteram!"

Menyinggung Tian Pek, mendadak Ban-leng-koan  sambil picingkan matanya dan memandang hutan di depan, lalu dengan suara lirih la membisikkan sesuatu ke telinga Ji- lopiauthau: "Disinggung oleh saudara Ho, aku jadi ingat kembali kejadian masa lampau. Kalau tidak salah, ketika barang kawalan Tian Pek dibegal, peristiwa itu juga berlangsung di hutan ini..... Ai, kukira kita kudu hati2, jangan sampai sejarah terulang lagi."

Dengan wajah serius, Ji-lopiauthau mengangguk, namun ia tidak menjawab.

Meskipun bisikan Ban-leng-koan itu diucapkan dengan suara rendah, kebetulan seorang Piausu yang bernama Ciu Toa-tong dengan julukan "kerbau dungu" yang berada di sebelah dapat mendengarnya, kontan ia mendengus.

Kiranya pada pengawalan yang dulu sebetulnya dia yang mendapat tugas memimpin rombongan, tapi akhirnya Ji- lopiauthau mengutus Tian Pek, atas kejadian tersebut ia masih sakit hati, apalagi setelah mendengar bahwa barang kawalan itu dibegal dan Tian Pek lenyap tak berbekas, untuk itu dia selalu mencari kesempatan untuk melampiaskan rasa dongkolnya.

Maka tatkala Ban-leng-koan menyinggung kejadian itu, dia lantas menjengek: "Huuh! Dasar orang muda, mana bisa diserahi tugas penting? Tempo hari sudah kukatakan dia takkan mampu memikul tugas berat itu, tapi Congpiauthau tidak percaya, akhirnya terjadi musibah itu, malahan di tengah jalan ia lalaikan tugas dan kabur dengan begitu saja, sampai sekarang kabar beritanya tidak ketahuan. "

Selagi si kerbau dungu Ciu Toa-tong masih mengomel, tiba2 Ji-lopiauthau pasang telinga dan mendengarkan sesuatu, kemudian dengan terkejut bercampur heran ia menghardik: "Toa-tong, tutup mulutmu!"

Bentakan Ji-lopiauthau ini mengandung rasa kuatir, jangankan orang yang berpengalaman, sekalipun seorang yang tak berpengalaman pun akan tahu pasti ada sesuatu yang tidak beres.

Si kerbau dungu Ciu Toa-tong sudah lama mengikuti pemimpinnya berkelana, sudah tentu ia pun tahu akan seriusnya keadaan, sebab kalau bukan masalah yang penting, belum pernah Ji-lopiauthau menunjukkan sikap luar biasa begini.

Sambil menahan rasa dongkolnya ia pun pusatkan perhatian untuk memeriksa keadaan di situ, sesaat kemudian, paras mukanya herubah hebat.

Kiranya para peneriak jalan di depan telah masuk ke dalam hutan, lalu suara mereka lenyap tak berbekas, seakan-akan beberapa orang itu tertelan begitu saja oleh hutan.

Kalau peneriak jalan sudah bungkam dan jejaknya lenyap tak berbekas, itu tandanya telah terjadi sesuatu peristiwa besar, atau kemungkinan jiwa beberapa prang itu telah amblas.

Ban-leng-koan serta si kunyuk masih belum tahu apa yang terjadi, mereka jadi heran tatkala mendengar Congpiauthau menghardik Ciu Toa-tong.

"Eeh, apa yang terjadi?" tanya mereka. Ditatapnya sekejap kedua orang opas itu, kemudian dengan wajah serius Ji-lopiauthau berkata: "Tayjin berdua, bersiap-siaplah menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan!"

Tanpa menunggu reaksi kedua orang itu, dia putar kudanya dan memberi tanda agar rombongan berhenti.

Ji-lopiauthau memang tidak malu sebagai jago kawakan, di bawah perintahnya dalam waktu singkat, semua kereta barang itu lantas membentuk satu lingkaran, muka dan belakang kereta2 itu satu dan lainnya disambung dengan rantai hesar, dengan begitu terciptalah sebuah barisan bundar yang bersambungan.

Separoh Piausu yang berada dalam rombongan diperintahkan untuk melindungi kereta barang, sementara Ji-lopiautau sendiri dengan membawa sebagian Piausu yang lain segera membedal kudanya masuk ke hutan sana.

Sekarang Ban-leng-koan dan Sik-kau baru tahu apa yang terjadi, namun mereka agak lega juga setelah Ji-lopiauthau mengatur barisan pertahanan, ketika melihat Piausu itu meninjau ke hutan, mereka pun melarikan kudanya dan menyusul dari belakang.

Begitulah Ji-lopiauthau, kedua opas dan sekawanan Piausu yang berjumlah tiga puluhan orang segera membedal kudanya menuju ke hutan belantara itu.

Sunyi, hening, tak sesosok bayangan manusia pun tampak di dalam hutan itu, kecuali embusan angin yang menggoncangkan ranting pohon, tiada suara apa pun yang terdengar.

Jangankan bayangan musuh, kedelapan orang peneriak jalan pun tak diketahui ke mana lenyapnya, untuk sesaat semua orang jadi heran, tercengang dan tidak habia mengerti.

Apabila kedelapan orang itu sudah menembus hutan, sepantasnya suara mereka masih kedengaran di depan sana, sehaiiknya kalau terbunuh, sepantasnya ada mayat mereka serta bangkai kuda, atau sekalipun kuda itu dibegal, suara teriakan manusia, ringkikan kuda dan jejak telapak kaki akan kelihatan dan kedengaran.

Tapi, kenyataannya suasana dalam hutan tetap sunyi senyap, sedikit pun tak ada suara apa pun, seakan-akan tak pernah terjadi sesuatu.

Bagi orang yang belum berpengalaman, suasana sehening ini tentu akan dianggap aman, tapi dalam pandangan Ji-lopiauthau sekalian yang sudah berpengalaman, mereka sadar bahwa di balik kesunyian ini justru terselip keseraman, kengerian dan kemisteriusan. Dalam suasana semacam inilah hawa nafsu membunuh menyelimuti segala penjuru, malaikat elmaut setiap saat mengintai di balik pepohonan itu dan siap mencabut nyawa mereka.

Ji-lopiauthau terhitung jago kawakan yang berpengalaman dalam soal begini, tapi sekarang ia tidak habia mengerti oleh kenyataan yang terbentang di depan mata, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Ban-leng-koan maupun si Kunyuk Ho Leng-san menyadari pula betapa gawatnya keadaan, saking takutnya dengan muka pucat mereka saling pandang dengan melongo.

Kawanan Piausu lainpun terbelalak kuatir, seluruh perhatian mereka tertuju ke dalam hutan..... Suasaua tetap hening, tiada suatu gerakan atau tanda yang mencurigakan.

Lama-kelamaan Ban-leng-koan tak tahan, ia membedal kudanya menghampiri Ji-lopiauthau, kemudian bisiknya lirih: "Lopiauthau, apa yang terjadi?"

Di tengah suasana hening dan tegang, pertanyaannya itu semakin menambah seram keadaan.

Ji-lopiautau tidak menjawab, walaupun dalam hati telah mengambil keputusan, bagaimana pun juga peristiwa ini akan diselidiki sampai jelas, sebab dia adalah Congpiauthau, tak mungkin baginya untuk melanjutkan perjalanan dengan begitu saja tanpa mengghiraukan keselamatan kedelapan orang anggata rombongannya.

Karena itu dengan memberanikan diri ia membedal kudanya memasuki hutan, sementara anak buahnya diperintahkan untuk bersiap siaga penuh.

Setelah Congpiauthaunya masuk ke hutan, kawanan Piausu lainnya rerpaksa memberanikan diri menyusul dari belakang dengan rasa tegang.

Andaikata mereka diharuskan menghadapi pertarungan terbuka, sebagai laki-laki yang hidupnya memang bergelimangan di tengah kilatan golok dan ceceran darah, tak nanti orang2 itu takut. Tapi kini, suasana tetap sepi dan tak satu manusia pun yang tampak, keadann seperti ini justeru mendatangkan rasa tegang, seram den ngeri dalam hati orang-orang itu.

Suasana dalam hutan cemara itu tetap hening, tiga puluhan orang itu dengan hati yang kebat-kebit bergerak menembus hutan dan akhirnya muncul di ujung hutan sebelah ujung sebelah sana, hutan seluas beberapa lie itu sudah dilewati tanpa terasa, namun tiada sesuatu yang kelihatan dan tiada kejadian apa pun yang muncul.

Jalan raya terbentang di depan sana, namun suasana di jalan raya itu pun sunyi senyap tak kelihatan bayangan seorang pun.

Kemanakah perginya kedelapan orang peneriak jalan itu? Seolah-olah mereka lenyap ditelan bumi, hilang tanpa bekas.

”Keparat, benar2 ketemu setan.. " gerutu si kerbau dungu Ciu Toa-tong yang berwatak berangasan.

Baru dia menyumpah, tiba2 dari arah belakang berkumandang suara teriakan gegap gempita, seakan-akan beribu prajurit berkuda menyerbu di medan tempur.

Suara hiruk-pikuk itu muncul dari belakang, semua orang terperanjat dan segera beramai memutar kuda dan menyerbu kembali ke dalam hutan.

Baru saja mencapai tengah hutan, tiba-tiba terjadi hujan anak panah yang amt deras, anak panah berhamburan dari empat penjuru dan semua tertuju kepada  rombongan Piausu itu.

Belasan orang Piausu yang berada di barisan depan segera terpanah dan roboh terjungkal.

Ji-lopiauthau sadar telah terjebak, dengan gusar bercampur gelisah serunya lantang: "Sahabat, siapa kalian? Apa maksudmu menjebak kami dengan siasat busuk ini? Kalau punya nyali hayo unjukkan diri untuk bertemu dengan diriku!"

Gelak tertawa nyaring segera terdengar berkumandang dari pucuk pepohonan, begitu keras suara tertawa itu  hingga anak telinga terasa sakit. Terkejut kawanan Piausu itu, dari suara gelak tertawa nyaring itu bisalah diketahui orang itu memiliki tenaga dalam yang amat sempurna.

Sementara kawanan Piausu itu masih terkejut dan panik, terdengar angin berkesiur, berturut-turut delapan orang laki2 berpakaian ringkas melayang turun dari atas pohon.

Kain hitam mengerudungi raut wajah setiap orang itu, yang tampak hanya matanya yang bersinar tajam, dandanan mereka aneh dan mengerikan.

Karena orang2 itu mengerudungi wajahnya, dengan kain hitam, Ji-lopiauthau menyangka mereka adalah jago2 kalangan hitam yang dikenalnya, segera ia melarikan kudanya maju ke depan, serunya dengan lantang: "Akulah Tiat-ciang-cing-ho-siok (telapak Baja menggetarkan utara sungai Huang-ho) Ji Kok-hiong adanya, bolehkah kutahu siapakah sahabat sekalian?"

Salah seorang yang berpakaian ringkas itu tertawa terbahak2: "Hahaha, tak perlu kau tahu siapa kami, pokoknya hari ini jangan kau harap akan lolos dengan selamat!"

Sejak tadi si kerbau dungu Ciu Toa-tong tiada tempat pelampiasan, mendengar ucapan tersebut, amarahnya tak terkendalikan lagi.

"Bajingan, besar amat nyalimu, berani kalian mengincar barang kawalan Yan-keng Piau-kiok? Jangan omong besar, sambut dulu pukulan Ciu-toayamu ini!"

Ia terus menerjang ke depan, suatu pukulan segera menghantam kepala laki2 berkerudung itu.

Ciu Toa-tong disebut kerbau dungu oleh karena otaknya bebal tapi tenaganya kuat, ilmu andalannya adalah Tiat-se- ciang (pukulan pasir besi) yang sudah dilatihnya selama puluhan tahun, pukulannya cukup dahsyat.

"Ehm!" orang berkerudung itu mendengus, "rupanya kau sudah bosan hidup!"

"Blang!" terjadi adu pukulan, Ciu Toa-tong menjerit kesakitan, tubuhnya yang besar mencelat dari punggung kudanya dan menumbuk pohon hingga roboh tak berkutik.

Betapa terkejutnya kawanan Piausu itu, mereka mengerti Ciu Toa-tong memiliki ilmu silat yang tangguh, dan sekarang hanya satu gebrakan saja tubuhnya lantas mencelat dan tewas, dari sini dapat diketahui bahwa Kungfu lawan berkerudung itu memang luar biasa lihaynya.

Selesai menghajar si kerbau dungu, orang itu tertawa terkekeh-kekeh, katanya: "Hehehe, tadinya aku mengira dia memiliki ilmu silat yang luar biasa sehingga berani membual. Huuh, tak tahunya cuma sebangsa kecoak yang tak tahan sekali gebuk! Kalau begitu, kalian yang sok anggap Piausu jempolan tak lebih cuma gentong nasi belaka? Hayo, siapa lagi yang sudah bosan hidup? Silakan maju untuk menerima kematian!"

Marah dan kejut setelah menyaksikan seorang Piausunya dibunuh oleh lawan hanya dalam satu gebrakan, sambil menarik muka ia maju ke depan dan berkata: "Hm, sobat, engkau tak sudi memberitahu asal-usul, sekarang seorang anak-buahku kau bunuh secara keji, tampaknya kau memang hendak memaksa Lohu minta petunjuk beberapa jurus padamu!"

Ia melompat turun dari kudanya, kedua tangannya berputar, telapak baja andalannya segera siap melabrak musuh. Baru saja Ji-lopiautau siap menyerang, tiba2 dari belakang seorang berteriak: "Congpiautau, menyembelih ayam kenapa mesti memakai golok? Biar aku yang bereskan keparat ini untuk membalaskan dendam kematian Ciu- toako!"

Piausu ini bernama Ki-bu-pah (raksasa tangguh) Ciu Leng, dia bertenaga besar dan disegani orang, perawakannya tinggi besar, se-hari2 ia adalah sobat kental Ciu Toa-tong, tentu saja ia marah sekali setelah Ciau Toa- tong tewas di tangan orang, maka sekarang iapun memburu ke depan.

Ji-lopiautau cukup kenal kungfu anak-buahnya, dia tahu walaupun Ki-bu-pah mempunyai tenaga raksasa, namun seorang kasar dan dungu, tak nanti bisa menandingi lawan, cepat jago tua ini berusaha mencegah.

Tapi dasar Ki-bu-pah memang berangasan, apalagi sudah dipengaruhl oleh rasa dendam, begitu sampai di tengah gelanggang, tanpa banyak bicara telapak tangannya lantas menghajar batok kepala dan dada musuh dengan jurus Beng-ciong-kik-lo (dentingan lonceng pukulan genderang).

"Bajingan, bayar nyawamu untuk Ciu-toako!" hardiknya.

Orang berkerudung itu tertawa dingin, ia tidak menghindar maupun berkelit, malahan sambil memutar tubuhnya, dengan suatu gerakan aneh, tahu2 ia menyelinap ke belakang Ki-bu-pah yang kalap.

Gagal dengan tubrukannya, cepat Ki-bu-pah putar badan, namun terlambat, pada waktu itulah orang berkerudung itu sudah melepaskan pukulan maut ke punggungnya.

Ki-bu-pah mati langkah dan tak sempat menghindar. Ji-lopiautau terperanjat, cepat ia memberi pertolongan, ia potong tangan musuh yang menghantam punggung Ki-bu- pah itu.

Tujuan Ji-lopiautau hanya ingin menolong Ki-bu-pah tak terduga mendadak seorang berkerudung yang lain segera menerjang maju dan menangkis serangan tersebut.

"Blang!" terjadi benturan keras, Ji-lopiautau tergetar sempoyongan dan lengan terasa kaku.

Sementara orang berkerudung itu tetap berdiri tegak ditempatnya, sama sekali tidak tergetar oleh benturan itu.

Melulu satu gebrak saja dapatlah Ji-lopiautau meraba keampuhan musuh, dia tahu kungfu kedelapan orang berkerudung itu rata2 sangat lihay, itu berarti pula bahwa keselamatan rombongannya hari ini terancam bahaya.

Sementara itu, serangan orang berkerudung yang lain telah bersarang telak di punggung Ki-bu-pah.

Untungnya karena bantuan Ji-lopiautau tadi sehingga pukulan musuh tidak telak mengenai tubuh Ki-bu-pah, dia cuma mencelat saja dan tumpah darah.

Merah padam wajah Ji-lopiautau, hanya dalam satu gebrakan dua orang Piausunya telah satu tewas dan satu terluka parah, kejadian ini sungguh suatu pukulan berat bagi rombongannya, apalagi bila mendengar suara pertarungan yang sedang berlangsung di luar hutan sana, ia sadar kereta barangnya sedang dibegal orang.

Ia menjadi kalap, sambil membentak nyaring, beruntun dia melancarkan pukulan berantai yang hebat ke arah orang berkerudung itu.

Walaupun pada mulanya orang itu terdesak mundur oleh serangan gencar Ji-lopiautau, namun ia tidak panik, suatu saat ia lancarkan tendangan berantai dan dua pukulan maut. Dari posisi terdesak ia mulai balas menyerang sehingga Ji-lopiautau berbalik terdesak mundur.

Selama malang melintang di dunia Kangouw belum pernah Ji-lopiautau mengalami keadaan yang begini mengenaskan, sekarang bukan saja keteter hebat oleh serangan gencar orang berkerudung itu, malahan jiwanya juga terancam.

Kawanan Piausu lainnya menjadi kuatir dan panik, mereka cemas melihat sang Congpiautau terancam bahaya, entah siapa yang mulai dulu, serentak kawanan Piausu itu berteriak terus menyerbu maju.

Kedelapan orang berpakaian ringkas itu pun serentak bergerak, mereka tidak memakai senjata, dengan tangan kosong dalam waktu singkat kawanan Piausu itu sudah dibikin kocar-kacir dan lintang-pukang.

Pertarungan ini berlangsung tak seimbang, sekalipun jumlah Piausu itu berkali lipat lebih banyak, akan tetapi mereka semua bukan tandingan kedelapan orang berkerudung Itu.

Ban-leng-koan The Pek Siu serta si kunyuk Ho Leng-san ketakutan setengah mati, kaki mereka gemetar, hati ingin kabur, apa mau dikata kakinya tidak menurut perintah lagi. Mereka cuma bisa berdiri dan terkencing2......

Ji-lopiautau sendiri pun sadar Kungfunya lebih cetek dibandingkan musuh, ia berusaha melepaskan diri, namun musun terus mencecarnya, apa boleh buat, terpaksa ia harus memberikan perlawanan mati-matian.

Sesaat kemudian, sebagian besar kawanan Piausu itu sudah tewas atau terluka..... Mendadak dari balik hutan menggema suara suitan nyaring, menyusul mana muncul lagi lima orang berkerudung.

Melihat tibanya bala bantuan musuh, kawanan Piausu itu semakin mengeluh, delapan orang musuh saja kewalahan apalagi ditambah bala bantuan.

Ji-lopiautau menghela napas panjang, keluhnya: "Ai, rupanya takdir telah menentukan demikian, habislah riwayatku hari ini. "

Di luar dugaan, ternyata kelima orang berkerudung itu tidak ikut terjun ke dalam gelanggang, mereka hanya menyampaikan perintah dengan bahasa isyarat agar kedelapan orang itu segera mengundurkan diri.

Betul juga, serentak kedelapan orang berkerudung itu melancarkan pukulan dahsyat dan mendesak mundur kawanan Piausu itu, lalu melompat mundur dan kabur ke dalam hutan.

Ji-lopiautau serta para Piausunya cepat memburu keluar hutan, terlihat rekan2nya yang ditugaskan menjaga barang kawalan telah terkapar semua,dalam keadaan tewas dan luka parah, sedangkan puluhan kereta barang itu sudah hilang.

Merah membara mata Ji-lopiautau, bersama sisa Piausunya yang masih hidup, sekuat tanaga mereka melakukan pengejaran.

Kedua orang opas kenamaan dari ibukota, Ban-leng- koan serta si kunyuk berdiri mematung sambil melelehkan air mata.

Barang kawalan itu penting sekali artinya dengan segenap anggota keluarga mereka sebagai tanggungan, bila dibegal orang, sekalipun mereka tak mampus di medan pertempuran, kembali ke kota pun mereka takkan hidup.

Bagi Ji-lopiautau, kecuali keselamatan keluarganya sebagai tanggungan, pekerjaan ini pun menyangkut soal nama baiknya, tidaklah heran kalau dia ngotot mengejar para pembegalnya meskipun sudah kalah habis2an.

Kawanan Piausu lainnya dengan taruhan nyawa juga menyusul dari belakang, mereka sudah terlalu banyak berutang budi kepada Congpiautaunya, sebagai balas budi merekapun rela mengorbankan diri.

Dari pihak pembegal, kecuali kedelapan orang berpakaian ringkas itu masih terdapat pula empat orang berkerudung yang jelas adalah kaum wanita, karena potongan tubuhnya yang ramping, lalu ada lagi seorang Hwesio berkepala gundul yang berkerudung juga.

Ketiga belas orang ini bertugas memotong kekuatan para pengejar serta membinasakan Para Piausu yang coba mendekat, sementara beberapa orang pembegal lagi dengan kecepatan penuh melarikan kereta2 barang itu.

Di antara para pengejar, Ji-lopiautau yang telah beruban itu mengejar paling kencang.

Keadaan jago tua ini lebih mirip banteng terluka, matanya merah berapi, sambil mengejar setiap kesempatan telapak tangan bajanya lantas menghantam kawanan pembegal itu.

Di antara kawanan Piausu itu, memang Kungfu Ji- lopiautau paling lihay, bukan saja pukulannya yang dahsyat, ginkangnya juga paling tinggi, dia mengejar terus, ini membuat kawanan pembegal itu sukar melepaskan diri.

Lama2 habislah kesabaran Hwesio berkerudung yang sedang kabur itu, tiba2 la berhenti dan putar badan, ia berjongkok dengan tangan menempel tanah sehingga gayanya mirip seekor katak, ia berkaok2 nyaring, lalu telapak tangannya diayun ke depan, ia melepaskan pukulan dahsyat ke dada Ji-lopiautau.

Terkejut Ji-lopiautau oleh pukulan hebat itu, ingin menangkis namun terasa tak bertenaga, ingin menghindar namun tak sempat, tampaknya jago tua ini sukar lolos dari ancaman maut itu.

"Mampuslah aku. !" keluhnya dalam hati.

"Blam!" terdengar suara menggelegar, keras sekali suara itu membuat telinga jadi mendengung, debu pasir berhamburan.

Ji-lopiautau menyangka jiwanya pasti melayang, ia pejamkan matanya dan pasrah nasib, siapa tahu setelah terjadi suara keras itu, ia masih selamat tanpa kurang suatu apa pun.

Dalam kaget dan herannya ia membuka matanya.....

Tian Pek, benar-benar Tian Pek, si anak muda tampan itu tahu-tahu sudah berdiri di depannya.

Ketika ia berpaling ke arah hwesio berkerudung tadi, ia lihat kain penutup wajahnya telah terlepas sehingga tampak mukanya yang pucat seperti mayat, orang itu sudah mundur beberapa kaki ke belakang, dengan matanya yang terbelalak lebar, ia menatap lawan.

"Hm, kiranya kau!" dengus Tian Pek kemudian. "O, rumapanya kau!" Hwesio itu pun berseru.

Ji-lopiautau sendiri tak pernah menyangka jiwanya akan ditolong oleh Tian Pek. Ia pernah menolong anak muda itu, Tian Pek juga pernah menjadi Piausu selama beberapa hari di dalam perusahaannya, jago tua ini cukup mengetahui sampai di manakah taraf kepandaian silat pemuda itu.

Tapi sekarang, kenyataan berbicara lain, benar2 Tian Pek yang telah menyelamatkan jiwanya dari ancaman maut tadi, untuk sesaat Ji-lopiautau jadi tertegun.

Sementara kawanan Piausu yang masih hidup serta The Pek-siu dan Ho Leng-san juga terbelalak dengan mulut melongo. Mereka kenal Tian Pek dan mengetahui pula ilmu silatnya amat cetek, tapi sekarang, begitu tampil dan lantas memukul mundur Hwesio berkerudung itu dan menyelamatkan sang Congpiautau, tak heran semua orang jadi terkesima.

Belum lama berselang, mereka masih mengejek ketidakbecusan Tian Pek, sekarang anak muda ini muncul dan di luar dugaan ilmu silatnya ternyata luar biasa.

Hwesio itu tidak asing bagi Tian Pek, sudah dikenalnya, sebagai Hud-eng Hoatsu, satu diantara ketiga tokoh maut dari laut selatan, yang aneh ialah Hwesio ini telah melakukan pembegalan dan menggunakan pula kain untuk menutupi wajahnya.

Hud-eng Hoatsu sendiripun segera mengenali Tian Pek sebagai pemuda yang pernah dihajar sampai terluka oleh si nenek rambut putih di lembah pemutus sukma dahulu.Makanya ia tertegun setelah adu pukulan tadi, sebab bagaimanapun juga Hud-eng Hoatsu tidak percaya pemuda she Tian ini sanggup menyambut Ha-mo-kang (ilmu katak) andalannya itu.

Ha-mo-kang adalah ilmu sakti di luar samudera sana dan sudah lama lenyap dari peredaran dunia persilatan, bukan saja besar daya pukulannya, di balik serangan tersimpan pula daya isap yang kuat, jangankan menangkis, sekalipun ingin menghindar juga sukar, ilmu kepandaian ini terhitung sejenis ilmu hitam yang maha dahsyat.

Tiat-ciang-cin-ho-siok terhitung jago kawakan di dunia Kangouw, ia pun tidak berani menyambut serangan keras lawan keras ini, tapi sekarang seorang pemuda yang berusia likuran sanggup menerimanya secara mantap, bagaimanapun Hwesio itu tetap tak percaya.

Kejut dan gusar Hud-eng Hoatsu, tiba2 ia berpekik nyaring.

"Kookk.... kookk.......!" sambil berkaok seperti katak, dengan keras kedua telapak tangannya menyodok ke depan.

Serangan maut ini dilancarkan Hud-eng Hoatsu dengan sepenuh tenaga, dapat dibayangkan betapa dahsyat daya penghancur yang terpancar keluar, gulungan itu langsung menerjang Tian Pek.

Kelam air muka anak muda itu, ia mendengus, bentaknya: "Bangsat gundul, tampaknya kau ingin mampus!"

Dengan ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang yang baru saja dilatihnya, tangan pemuda itu berayun ke depan.

Ketika dua gulung tenaga pukulan yang maha dahsyat saling bentur di udara, terjadilah suara gemuruh bagai bunyi guntur.

"Blang!" bumi serasa bergoncang, debu pasir menyelimuti angkasa, lidi cemara yang tumbuh di sekitar gelanggang sama rontok ke tanah bagaikan hujan.

Di tengah remang2 cuaca, Hud-eng Hoatsu yang gemuk seperti babi itu mencelat ke udara bagaikan layang2 putus benangnya, dengan menerbitkan suara keras ia terbanting di atas tanah. Kedelapan orang berpakaian ringkas serta ke empat gadis berkerudung serentak menjerit kaget, buru2 mereka menghampiri Hud-eng Hoatsu dan memayangnya bangun.

Darah kental meleleh keluar di ujung bibir paderi gemuk itu, mukanya jadi pucat pasi, matanya setengah terpejam, jelas isi perutnya sudah terluka sangat parah.

Salah satu di antara keempat gadis berkerudung itu mendadak melepaskan kain kerudungnya sehingga terlihatlah taut wajahnya yang cantik, dengan mata mendelik ia tatap sekejap ke arah Tian Pek, katanya: "Besar amat nyalimu berani melukai Hud-eng Hoatsu sampai muntah darah. Hm, siapa namamu?"

Cantik memang gadis itu, cuma sayang di antara kejelian matanya membawa sifat genit dan jalang yang merangsang, melihat itu Tian Pek menyahut dengan hambar: "Aku Tian Pek, bukan saja Hud-eng Hoatsu kulukai, bila barang begalan kalian tidak segera dikembalikan, kalian pun harus kutahan di sini!"

Seorang gadis lainnya maju menghampiri Tian Pek, iapun menarik lepas kain kerudungnya, sambil melotot katanya: "Bagus, kau berani memusuhi orang Lam-hay-bun. Tapi hati2lah kau, orang Lam-hay-bun akan menuntut balas pada tiga turunanmu!"

Sambil berbicara ia lantas berpaling kepada rekan2nya dan menambahkan: "Hayo, kita pergi... "

"Hehehe, mau pergi? setelah membunuh orang dan membegal barang, lantas mau kabur dengan begitu saja? Tidak mudah sobat!"

Serentetan suara ini muncul beberapa tombak di luar gelanggang sana, tidak tampak orang yang bicara, tahu2 dari udara melayang turun seorang manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah.

Semua orang berpekik kaget, seram sekali tampang manusia aneh ini, apalagi ilmu meringankan tubuhnya sungguh mencapai puncak kesempurnaan.

Kepongahan kedua gadis yang sudab membuka kerudungnya tadi kontan tersapu lenyap setelah menyaksikan kemunculan manusia aneh bermuka hijau ini, sebagai gantinya air muka mereka berubah jadi pucat karena takut.

Kedelapan orang berpakaian ringkas serta kedua gadis lainnya juga mengunjuk rasa kaget, sekalipun wajah mereka berkerudung sehingga tidak nampak perubahan itu, tapi  dari kerlingan mata mereka yang panik dapat diketahui bahwa rasa takut mereka tak kalah hebatnya dari pada kedua rekannya itu.

Di satu pihak ketakutan, di pihak lain Ji-lopiautau merasa terkejut bercampur girang, ia tak menyangka hanya beberapa bulan saja ilmu silat Tian Pek telah mendapat kemajuan sedemikian pesatnya, apalagi setelah mengetahui manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu membantu pihaknya, sadarlah jago tua ini bahwa bintang penolong telah tiba.

"Tian-hiante, jangan lepaskan orang2 itu!" serunya cepat. "Barang kawalan engkoh-tuamu yang dibajak amat penting artinya. "

Kedua gadis cantik itu tidak pedulikan kata2 Ji-lopiautau yang ditujukan kepada Tian Pek, sesudah terkejut menyaksikan kemunculan manusia aneh bermuka hijau itu, mereka lantas saling pandang sekejap, kemudian mengerling kepada kedelapan orang laki2 dan kedua gadis lainnya, setelah itu dengan langkah gemulai mereka menghampiri manusia aneh itu.

Salah seorang di antaranya memberi hormat dan menyapa: "Ai, kiranya Kui.... 0, Liu cici, tahukah Cici bahwa Siau-kun (tuan muda) kami sangat merindukan diri Cici sehingga mirip orang linglung? Kalau majikan muda kami mengetahui Cici berada di sini. "

Sementara gadis itu bercakap2, kedelapan orang laki2 berpakaian ringkas itu sudah mengangkat Hud-eng Hoatsu yang terluka dan dibawa pergi dengan cepat.

Manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu tak lain adalah Liu Cui-cui, ia mendesis, damperatnya: "Huuh, siapa yang sudi menjadi Cici kalian. "

"Tian-hiante, jangan biarkan bajingan itu kabur. "

mendadak Ji-lopiautau berseru lagi.

"Jangan kuatir saudara tua, mereka tak nanti bisa kabur!"

Seraya membentak, Tian Pek melambung ke udara, tahu2 dia sudah mengadang jalan lari kedelapan orang berkerudung itu.

Supaya maklum, bahwa kedelapan laki2 berkerudung itu adalah Mo-kui-to-pat-yau (delapan siluman dari pulau setan), kungfu mereka sangat tinggi, kecuali Lam-hay-siau- kun, Lam-hay-liong-li beserta Hay-gwa-sam-sat dan beberapa tokoh penting lain, kungfu kedelapan orang ini terhitung kelas satu.

Di antara kepandaian yang dimiliki mereka ilmu meringankan tubuh termasuk paling mereka andalkan, tapi sekarang Tian Pek bisa melampaui kelihaian mereka, tak heran kalau mereka jadi melengak. Sadarlah Mo-kui-to-pat-yau bahwa mereka telah bertemu musuh lihay, bila tidak menyerang dengan pukulan mematikan, niscaya sukar untuk meloloskan diri.

Mereka saling pandang sekejap, empat siluman mundur ke belakang, sedang empat yang lain maju dua langkah ke muka, tangan mendayung berbareng ke belakang, inilah Bu- ci-ciang (pukulan hantu) dari pulau setan.

Empat gulung tenaga pusaran bagaikan gangsingan bergabung menjadi satu, di udara terus menggulung ke tubuh Tian Pek.

Menghadapi serangan aneh ini, Tian Pek merasa kepalanya jadi pening dan mata ber-kunang2, ia merasa di tengah gulungan hawa yang berputar seperti gangsingan itu se-akan2 muncul sebuah kepala raksasa seperti kepala setan yang berambut panjang dan bertaring, sambil melotot seram dan memutar cakar setannya yang besar langsung menerkamnya.

Betapa terperanjat pemuda itu, ia tahu ilmu silat musuh pastilah sejenis ilmu hitam yang mengerikan dan tak boleh dianggap enteng.

Memang itulah inti kelihaian ilmu pukulan siluman atau Bu-ci-ciang tersebut, bila digunakan dengan gabungan empat siluman, maka aliran hawa yang berpusing akan menciptakan suatu pemandangan yang mengacaukan pikiran serta konsentrasi lawan, dalam keadaan lengah inilah kebanyakan musuhnya terluka tanpa sadar.

Tian Pek sudah berpengalaman menghadapi pertarungan sengit, sudah banyak jago persilatan yang pernah dijumpainya, tapi belum pernah menyaksikan pemandangan seaneh ini, dia mengira musuh bisa menggunakan ilmu sihir atau sebangsa ilmu hitam yang membingungkan pikiran. Dalam kaget dan seramnya cepat dia melepaskan pukulan dahsyat ke arah kepala setan yang besar dan mengerikan itu.

Ilmu pukulan Thian-hud-hang-mo-ciang memang maha sakti dan maha dahsyat, aliran hawa pukulan yang sangat kuat seketika meluncur dan menghantam kepala setan itu.

"Blang!' benturan keras menggelegar, bayangan semu kepala setan itu seketika terhajar punah dari pandangan mata, empat siluman itu sendiri terlempar ke belakang dengan sempoyongan dengan mata terbelalak lebar.

Berhasil dengan serangan yang pertama, Tian Pek melambung ke udara, tiba2 ia berjumpalitan dengan kepala di bawah dan kaki di atas dia menukik ke bawah dengan jurus Hud-sou-ciang-cok (Buddha sakti turun tahta), dengan dahsyat ia menghantam kepala keempat siluman yang lain.

Empat siluman yang lain terkejut, mereka tak mengira seorang bocah berusia likuran ternyata memiliki ilmu silat yang sangat lihay, hanya dengan suatu pukulannya berhasil membuat kocar-kacir ke-empat orang saudaranya, bahkan sekarang menerkam pula ke arah mereka dengan jurus serangan yang lebih dahsyat.

Tak seorangpun di antara mereka berani menyambut ancaman itu dengan keras lawan keras, cepat mereka gunakan ilmu langkah Kui-biau-hong (setan melayang di tengah angin) Syuur! Syuur! Syuur! bagaikan sukma gentayangan mereka kabur pontang-panting ke belakang.

Sejak Ji-lopiautau minta kepadanya untuk mengejar pembegal itu, dalam hati Tian Pek telah mengambil keputusan untuk menahan beberapa orang itu, maka demi dilihatnya keempat orang siluman itu kabur terbirit2, cepat ia bertindak, bagaikan burung melambung kembali ke udara, dari situ dengan jurus Hud-kong-bu-liat (sinar sang Budha memancar cerah), salah satu jurus serangan Thian- hud-hang-mo-ciang, ia menyerang ke bawah.

"Blangl Blang!" benturan keras berkumandang susul- menyusul.

Setiap kali suatu benturan keras terjadi, seorang siluman itu terjungkal ke tanah, debu pasir beterbangan, dalam waktu singkat delapan orang itu sudah terhajar pontang- panting dan beberapa kali mesti jatuh bangun.

Sudah kenyang kawanan Piausu dari Yan-keng-piau-kiok itu disiksa oleh kedelapan siluman ini, sekarang kedelapan orang itu dihajar habis2an, mereka jadi amat gembira dan ramai dengan suara sorak-sorai dan cemooh.

Ji-lopiautau sendiri manggut-manggut sambil menghela napas, kalau tidak menyaksikan semua kejadian ini dengan mata kepala sendiri, tak nanti ia percaya di dunia ini terdapat kungfu selihay ini.

Ia pun heran, hanya setahun tidak berjumpa, entah darimana Tian Pek mendapatkan ilmu silat selihay ini?

Jangankan orang lain, sampai2 Liu Cui-cui sendiripun tertegun melihat serangan Tian Pek yang melambung sambil menukik dan melepaskan serangan berantai itu.

"Aneh benar!" pikirnya. "Jangan2 engkoh Pek masih memiliki ilmu tangguh lain yang sengaja disembunyikan? Atau mungkin ada penemuan lain?"

Bahwasanya Tian Pek dapat memainkan Thian-hud- hang-mo-ciang, semua ini adalah berkat petunjuk gadis ini, jurus Hud-kong-bu-liat memang harus dimainkan dengan gerakan melambung dan melepaskan pukulan ke bawah, tapi sekarang bukan saja pemuda itu bisa melambung sambil menyerang bahkan serangannya berubah menjadi serangan berantai, tak heran kalau gadis itu jadi tercengang. Padahal Tian Pek tidak punya ilmu simpanan apa2, hanya karena bakatnya yang baik serta tekunnya memahami sesuatu, apa yang dilihatnya segera diingatnya dengan baik, lalu apa yang didapatkan itu lantas dipraktekkan, dan hasilnya terciptalah jurus serangan yang aneh dan sakti.

Maklumlah, Tian Pek adalah pemuda yang gila silat, dahulu ia tak pernah menemukan guru pandai, hal ini menimbulkan kebiasaannya mencuri belajar jurus serangan orang lain di kala pertarungan sedang berlangsung.

Dahulu ia pernah mencuri belajar Ki-na-jiu dari Tok-kak- hui-mo (iblis terbang kaki tunggal)

Li Ki, yang kemudian dipraktekkan sewaktu bertempur melawan Kui-kok-in-su (kakek pertapa dari lembah selatan), di mana salah seorang jago sakti Kanglam-ji-ki ini sempat dibikin kaget dan panik.

Kemudian iapun pernah mencuri belajar Tui-hong-kiam- hoat dari keluarga Hoan, yang mana sewaktu dipraktekkan melawan Hiat-ciang-hwe-liong (telapak darah naga api) dia malah disangka anggota keluarga Hoan.

Sedangkan ilmu gerakan Leng-gong-teng-siang (lintas udara pentang sayap) yang barusan ia praktekkan adalah hasil sadapannya sewaktu menyaksikan gerak melambung Tiat-ih-hui-peng (rajawali terbang sayap baja) salah satu di antara Kim-hu¬tiat-siang-wi itu.

Kepandaian melambung di udara itulah yang tiba2 menimbulkan ilham, ketika dipraktekkan ternyata hasilnya memang luar biasa.

Beberapa kali ia pernah menyaksikan Tiat-ih-hui-peng bertempur, setiap kali bertempur sayap bajanya segera dikebaskan untuk melambung ke udara, di atas kedua tangannya lantas didayung berulang kali untuk mempertahankan posisinya, sementara kakinya disentakkan sebagai pengemudi arah.

Maka kini dia mempraktekkan pula sistim tersebut dengan kedua tangannya sebagai sayap, berada di udara tangannya lantas mendayung berulang kali untuk bergerak ke depan. Setiap kali hendak berganti arah, kakinya segera disentakkan ke bawah dengan daya pantulan dari serangannya dia bertahan melambung terus di udara.

Dengan menirukan cara bertempur Tiat-ih-hui-peng inilah, tidak heran kalau kedelapan siluman dari pulau setan itu dibikin kocar-kacir.

Tentu saja faktor lainpun sangat mempengaruhi kesuksesannya ini, apabila seseorang tidak memiliki tenaga dalam yang sempurna sehingga dapat menghimpun hawa murninya untuk melambung dan menukik berulang kali tak nanti ia sanggup menirukan cara tersebut, apalagi bila tenaga dalamnya masih cetek, sudah pasti ia tak dapat menirukan cara itu.

Hanya sayang pertarungan ini adalah pertarungan pertama yang dilakukan Tian Pek setelah mempelajari ilmu baru, banyak kekuatan pukulannya yang terbuang dengan percuma, kalau tidak, dengan ilmu Thian-hud-hang-mo- ciang yang maha sakti, jiwa kedelapan orang itu pasti sudah melayang.

Keempat gadis berkerudung itu adalah Tho-hoa-su-sianli (empat dewi bunga Tho), mereka adalah jago kelas satu, dalam perguruan Lam-hay-hun, mereka terperanjat, air muka jadi pucat. Mereka menyadari bila Mo-kui-to-pat-yau terus dihajar cara begitu, cepat atau lambat kedelapan orang itu pasti akan terhajar sampai mampus, dan bila kedelapan orang itu mampus, mereka berempat pun tak akan bisa lolos dari bencana.

Maka cepat mereka saling memberi tanda, dari kantung kulit masing2 mereka sama meraup segenggam bubuk racun bunga Tho terus dihamburkan ke arah tubuh Tian Pek.

Empat gulung kabut tipis berwarna merah yang berbau harum seketika menyebar, bagaikan rangkuman bunga merah yang indah menawan, kabut tersebut langsung mengurung sekitar tubuh anak muda itu.

Tiba2 Tian Pek mencium bau harum semerbak yang sangat aneh......

"Engkoh Pek, cepat menyingkir!" tiba2 Lui Cui-cui memberi peringatan dengan kuatir. "Hati2, itulah kabut racun bunga Tho andalan mereka!"

Tidak cuma berteriak, gadis itupun cepat bertindak, ujung bajunya dikebutkan berulang kali dengan ilmu Hiang- siu-biau-hong (ujung baju harum berembus angin), angin puyuh yang menderu2 segera menyapu ke depan dan meniup kabut merah yang berbau harum itu sehingga tersebar jauh ke belakang sana.

Tian Pek sendiri segera waspada demi mendengar peringatan Cui-cui itu, ia menahan pernapasannya, kemudian dengan gesit melayang turun ke atas tanah.

Masih untung dia bertindak cepat, kalau tidak niscaya Tian Pek sudah roboh oleh kabut racun bunga Tho yang berwarna merah itu.

Tatkala dia berpaling, sempat terlihat kabut racun yang tersebar oleh pukulan Hiang-siu-biau-hong itu telah menyelimuti permukaan tanah seluas belasan kaki di sisi gelanggang. Kabut berwarna merah itu perlahan-lahan terus menyebar, di mana kabut itu tiba, rerumputan yang hijau dan segar seketika jadi layu, pepohonan yang rindang jadi kering dan rontok.

Ada beberapa orang Piausu kurang cepat menghindar, ketika tersambar oleh kabut merah itu, sekujur badan seketika merah membara seperti terbakar, sambil menjerit mampuslah mereka dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Memang lihay luar biasa kabut racun bunga Tho itu, semua orang bargidik ngeri, banyak di antaranya malahan berdiri mematung dengan bulu kuduk berdiri.

Kurang lebih setanakan nasi buyarlah kabut warna merah itu, lenyap pula bayangan tubuh ke delapan siluman dari pulau setan tadi, empat dewi bunga Tho beserta Hud- eng Hoatsu yang terluka parah. Rupanya kawanan pembegal itu sudah kabur pada kesempatan tersebut.

Melihat musuh sudah kabur, Ji-lopiautau menghela napas sedih, para Piausu mengerut dahi dengan wajah kesal, Ban-leng-koan serta Sik-kau melelehkan air mata karena cemas.

Tentu saja Tian Pek tahu sebabnya orang2 itu sedih, yaitu lantaran barang kawalan mereka dibegal orang, sekalipun demikian ia menghampiri juga Ji-lopiautau sambil memberi hormat, "Engkoh tua!" sapanya, "baik- baikkah selama ini? Oleh karena Tian Pek selalu dirundung malang, maka selama ini tak sempat menjenguk engkoh tua, harap sudi kiranya memberi maaf!"

Meskipun gembira karena dapat bertemu lagi dengan Tian Pek, apalagi si anak muda pulang dengan membawa ilmu silat yang maha tinggi, namun Ji-lopiautau tak mampu tertawa, maklum, dalam keadaan seperti ini tiada gairahnya untuk memikirkan persoalan lain kecuali memikirkan barang kawalannya yang hilang itu.

"Engkoh tua, engkau begini sedih dan gelisah, mungkinkah barang kawalanmu itu adalah barang yang sangat berharga?" tanya Tian Pek.

Ji-lopiautau menghela napas panjang, jawabnya: "Ai, Tian-hiante, terus terang kukatakan padamu, barang kawalanku kali ini memang sangat berharga. Bayangkan saja, 30 laksa tahil emas murni uang gaji untuk seratus delapan karesidenan Ki-lam-hu bukan suatu jumlah yang kecil, bila barang kawalanku ini sampai hilang, seluruh harta kekayaanku dibuat ganti rugi pun belum cukup!"

Mengetahui pentingnya barang kawalan ini, diam2 Tian Pek ikut gelisah.

Cui-cui yang berada di sisinya tiba2 tertawa dan berkata: "Kalau sudah hilang, semestinya dilakukan pencarian, hanya gelisah melulu apakah barang2 yang hilang itu bisa terbang kembali dengan sendirinya?"

Tian Pek bertepuk tangan sambil tertawa: "Betul, betul! Kalau tidak diadakan pencarian, darimana barang itu bisa kembali? Kalau dugaanku tidak meleset, sarang penyamun pasti berada di sekitar sini. Engkoh tua, hayo segera lakukan pencarian. Kami berdua akan membantu untuk mencari kembali barang kawalanmu ini!"

Ji-lopiautau sudah menyaksikan sendiri betapa lihaynya ilmu silat yang dimiliki Tian Pek serta Cui cui, dia tahu asal kedua orang ini mau membantu, tidak susah baginya untuk merampas kembali barang kawalannya.

Dengan wajah berseri dia lantas berseru: "Asal kalian berdua bersedia memberi bantuan, legalah hatiku. " "Engkoh tua, jangan sungkan2. Sewaktu orang she Tian luntang lantung tanpa tujuan di dunia persilatan tempo hari, engkoh tua juga sudah banyak membantu diriku? Kini engkoh tua mendapat kesulitan, sudah sewajarnya aku pun membantu dirimu!"

Ji-lopiautau menggeleng kepala berulang kali: "Bila Hiante yang membantu, tentu saja aku tak banyak bicara, akan tetapi saudara ini. "

Dia berpaling ke arah Cui-cui dan menjura: "Saudara, engkau dan Lohu tak pernah saling mengenal, tapi engkau bersedia memberi bantuan padaku, sudah semestinya Lohu mengucapkan terima kasih banyak2 kepadamu!"

Tian Pek melirik sekejap ke arah Cui-cui, lalu menyela: "Engkoh tua, kau tak perlu sungkan2, sebenarnya ia pun bukan orang luar, dia adalah. "

Maksud Tian Pek akan memperkenalkan Cui cui kepada Ji-lopiautau, tapi mendadak ia membungkam, rupanya ia ingat Cui cui menggunakan topeng dan tak suka identitasnya diketahui orang, takut anak dara itu tak senang hati, maka ia pun urung bicara lebih lanjut.

Cui-cui tersenyum, katanya: "Aku adalah Kui-bin-jin (manusia muka setan), harap Lopiautau banyak2 memberi petunjuk di kemudian hari!"

Ji-lopiautau terhitung jago kawakan, dari tingkah-laku dan nada bicara Cui-cui dia tahu wajahnya yang mengerikan itu pasti samaran belaka, namun dia pun tidak membuka rahasia tersebut, sambil tertawa ia mengucapkan terima kasih.

Setelah Cui-cui bilang begitu, tentu saja Tian Pek tak dapat berterus terang, ia lantas mengalihkan pokok pembicaraan, katanya: "Suatu urusan kalau ditunda2 mungkin akan terjadi perubahan, kita tak boleh membuang waktu lagi, lebih baik sekarang juga kita merundingkan cara mencari kembali barang kawalan itu!"

Tentu saja Ji-lopiautau menyambut usul itu dengan senang hati, semua orang lantas berkumpul membicarakan masalah itu.

Rupanya Cui-cui punya perhitungan sendiri, menurut pendapatnya, asal mengikuti bekas roda kereta apa susahnya untuk menemukan sarang bandit itu?

Tentu saja semua orang membenarkan usul itu, maka berangkatlah kawanan Piausu itu melakukan pengejaran dengan mengikuti bekas roda kereta.

Bekas roda kereta itu bergerak menuju ke kota

tapi menjelang masuk ke kota, bekas roda itu berbelok ke samping, ketika senja tiba, sampailah mereka di depan sebuah bangunan gedung yang megah dan luas.

Dinding tembok yang mengitari bangunan itu tingginya mencapai dua tombak sehingga sekilas pandang mirip sebuah benteng kecil, di luar dinding pekarangan terlindung sebuah sungai, di atas benteng tampak bayangan manusia bergerak kian kemari, jelas penjagaan sangat ketat.

Bekas roda kereta lenyap ke dalam bangunan itu, untuk menyerbu ke dalam gedung jelas tak mungkin karena jembatan penyeberangan telah digantung, sementara sungai itu lebarnya belasan tombak, tak mungkin sungai selebar itu dapat diseberangi dengan sekali lompat.

Ji-lopiautau kelihatan bingung, ucapnya: "Bukankah tempat ini adalah Pah-to-san-ceng Ti-seng-jiu Buyung Ham? Masakah Leng-hong Kongcu telah bekerja sama dengan kaum iblis dari Lam-hay-bun dan membegal barang kawalanku?" Tian Pek sendiripun tercengang mendengar ucapan itu, ia mengamati bangunan itu dengan lebih seksama. Benar juga, bangunan itu memang perkampungan Pah to-san-ceng yang pernah disinggahinya.

Kenangan lama terlintas kembali dalam benaknya, pemuda itu teringat lagi cara bagaimana dia dibawa ke perkampungan itu oleh nyonya setengah baya yang baik hati ketika ia jatuh pingsan di dalam hutan, bagaimana ia dibaringkan di kamar Leng-hong Kongcu, dihina dan dicemooh oleh Leng-hong Kongcu yang keji dan Tian Wan- ji yang lincah, Buyung Hong, si nona baju hitam yang telanjang bulat di depan matanya, Hoan Soh-ing yang dikenalnya dalam penjara, kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip pemberian paman Lui..... dan kejadian lain, semua kenangan lama itu se-olah2 asap yang telah buyar,

kalau masih ada yang tersisa dalam hatinya juga sudah samar2 dan tidak jelas lagi.

Untuk sesaat lamanya, anak muda itu hanya berdiri ter- mangu2, is tak tahu apa yang mesti dilakukan. "

"Lau-Sam!" tiba2 Ji-lopiautau berteriak, "Ambil kartu namaku!"

Si kuda kilat Lau Sam segera mengiakan dan mengeluarkan sebuah kartu nama dari buntalannya, lalu dengan hormat diangsurkan.

"Lopiautau, buat apa kartu mama itu?" tanya Cui-cui dengan tertawa.

"Lohu pernah kenal orang yang bernama Buyung Ham itu, tak kusangka ia telah mengirim orang untuk membegal barang kawalanku, sekarang Lohu akan mengunjungi perkampungannya menurut aturan dunia persilatan, ingin kulihat apa yang akan dia lakukan lagi." Dengan mendongkol dia lantas berpaling kepada seorang Piausunya yang bernama To pit-him (beruang bertangan banyak) Gui Thian-sang, serunya: "Gui-losu, tolong sampaikan kartu nama ini kepada Buyung Ham, katakan bahwa Tiat-ciang-cin datang menyambangi..."

To-pit-him Gui Thian-seng menerima kartu nama itu dan menuju ke perkampungan dengan langkah lebar.

"Kukira lebih baik tidak memakai tatacara

segala," sela Cui-cui "Belum tentu Buyung Ham bisa mengambil keputusan, juga belum tentu dia akan menjumpai dirimu!"

"Hm. sekalipun Buyung Ham orang sombong, aku tidak percaya dia tidak menggubris lagi peraturan dunia persilatan. Gui-suhu, pergilah!"

Cui-cui tidak mencegah lagi, ia cuma tertawa saja.

Dengan langkah lebar To-pit-him menuju ke tepi jembatan, serunya lantang: "Hei, orang2 Pah-to-san-ceng, dengarkan baikk2. Tiat-ciang-cing-ho siok Ji-lopiautau dari Yan-keng-piaukiok datang berkunjung, harap kalian buka pintu dan menyambut."

To-pit him adalah seorang yang berperawakan tinggi besar, teriakan dengan tenaga dalam yang kuat, suaranya berkumandang sampai puluhan lie jauhnya.

Tapi suasana dalam perkampungen tetap sunyi, tak tampak sesosok bayangan manusia pun.

To-pit-him mengulangi teriakannya beberapa kali, namun tiada jawaban yang terdengar, malahan bayangan yang semula tampak mondar-mandir di atas benteng itu sekarang pun menyembunyikan diri di balik kegelapan. Suasana jadi sepi, se-olah2 perkampungan itu adalah sebuah perkampungan yang kosong.

Lama2 To-pit-him menjadi tak sabar, ia keluarkan sebatang Gwat-ya-piau dan disambitkan pada talijembatan gantung itu.

"Blang!" terdengar suara hiruk-pikuk, jembatan gantung itu ambruk ke bawah karena tali pengangkatnya putus.

To pit-him tak malu sebagai seorang laki2, dengan membawa kartu nama itu selangkah demi selangkah dia menaiki jembatan gantung itu.

Di dalam benteng tetap tiada gerak-gerik atau suara yang mencurigakan, suasana masih sepi dan ....

Ketika To-pit-him mencapai tengah2 jembatan gantung itu, suasana masih tetap hening, walaupun secara samar2 terasa ada sesuatu firasat yang tidak enak.

Tian Pek tertegun menyaksikan kejadian itu, ia kagum dan terharu kepada kesetiaan serta kegagahan To-pit-him yang rela berkorban bagi Congpiautau perusahaannya.

Tampaklah To-pit-him sudah hampir menuruni jembatan gantung itu dan tiba di depan pintu gerbang, mendadak dari atas benteng perkampungan berkumandang suara desingan tajam, menyusul terjadilah hujan anak panah.

To-pit-him meraung keras, kedua tangannya bekerja cepat untuk melindungi tubuhnya, hujan anak panah gelombang pertama berhasil dipatahkan olehnya.

Namun hujan panah tidak berhenti sampai situ saja, malahan makin lama anak panah yang berhamburan ke bawah bertambah gencar.

Dalam sakejap mata To-pit-him dibikin kerepotan, ia terjebak dan jiwanya terancam bahaya. Ji-lopiautau, Tian Pek, Cui-cui serta kawanan Piausu lainnya tidak berdiam diri begitu saja, serentak mereka memburu ke bawah benteng dan memberikan pertolongan.

Sayang To-pit-him sudah telanjur terpanah oleh belasan batang anak panah, sekujur badannya bermandikan darah dan persis seperti landak, sekali pun sudah roboh namun kartu namanya masih tetap dipegangnya erat2.

Cepat Ji-lopiautau memburu maju, sambil melancarkan serangan untuk memukul rontok hujan anak panah itu, tangannya yang lain menyambar tubuh To-pit him dan diseretnya ke tempat yang aman, serunya: "Saudara Gui, aku telah menyusahkan dirimu, bagaimana keadaanmu?"

Kendatipun jiwanya berada di ujung tanduk, To-pit-him tetap tersenyum, sekuat tenaga dia serahkan kembali kartu nama itu kepada Ji-lopiautau, kataoya dengan lemas: "Engkoh tua, meskipun tugas ini gagal kuselesaikan, namun Siaute tidak sampai memalukan nama perusahaan kita, kartu nama itu kuserahkan kembali kepadamu, harap engkoh tua memilih orang lain yang... yang ....leb... lebih cocok. "

Darah segar berhamburan dari mulutnya, segera ia terkulai lemas dan mengembuskan napas terakhir.

To-pit-him adalah seorang ahli senjata rahasia. orang Kangouw sebut dia sebagai "beruang bertangan banyak" oleh karena tubuhnya yang tegap serta kepandaiannya melepaskan Am-gi tapi sekarang jiwanya justeru berakhir oleh hujan anak panah yang deras, betul2 mati secara mengenaskan!

Ji-lopiautau tak dapat menahan harunya, air mata jatuh berderai membasahi wajahnya, diam2 ia berdoa: "Saudara Gui, beristirahatiah dengan tenang, aku akan membalaskan sakit hatimu." Setelah membaringkan jenazah To-pit-him ke atas tanah, ia menyeberangi sungat dan menyerbu ke dalam benteng.

Mungkin ada yang merasa heran, bila mereka sudah tahu kepergian To-pit-him hanya mengantar nyawa belaka, mengapa Ji-lopiautau serta Tian Pek sekalian tidak mengalangi atau membantu dari samping?

Di sinilah terletak betapa penting arti nama dan kehormatan seorang jago silat, seringkall mereka anggap remeh keselamatan sendiri, mereka lebih mementingkan kepercayaan orang lain kepadanye serta memegang janji daripada keselamatan jiwa sendiri.

Mendingan bila mereka tidak menerima sesuatu pesan atau titipan dari orang lain, sekali mereka sudah menerima pesan orang, maka biarpun harus terjun ke lautan api atau naik ke bukit golok, mereka tak akan mundur. Tak dapat memegang janji bagi mareka berarti merusak nama baik sendiri.

Itulah sebabnya To-pit-him Gui Thian-seng tak gentar mengorbankan jiwanya sekalipun dia tahu jiwanya terancam.

Lalu, apa sebabnya Ji-lopiautau serta Tian Pek sekalian tidak maju bersama ataupun memberikan bantuannya?

Dalam hal ini menyangkut pula soal gengsi, sebelum orang minta tolong atau minta bantuan kepadanya, maka mereka tak berani membantu atau menolongnya, sebab jika mereka sampai berbuat begitu, bukan saja tak akan mendapat terima kasih bisa jadi berbalik orang akan marah karena dianggap menghinanya.

Begitulah kebiasaan orang persilatan pada waktu itu, memang aneh kedengarannya bagi orang awam, tapi benar2 kejadian yang jamak bagi jago silat jaman dahulu. Begitulah Ji-lopiautau telah menerjang ke dalam benteng itu, dilihatnya mayat bergelimpangan di mana2, tampaknya para pemanah tersembunyi yang berada di atas benteng itu sudah disapu bersih oleh para Piausu serta Tian Pek sedangkan kawanan jago itu terus menerjang masuk ke dalam perkampungan.

Meski Ji-lopiautau sudah kehilangan barang kawalannya dan menyangkut nama baik serta keselamatan keluarganya, pula banyak Piausunya menjadi korban, namun jago tua itu tak ingin menimbulkan pembunuhan banyak, sebab bagaimanapun juga ia merasa punya hubungan baik dengan Ti-seng-jiu Buyung Ham.

Ketika dilihatnya mayat bergelimpangan di mana2 dia jadi kuatir kalau Tian Pek dan para Piausunya yang berdarah panas melakukan pembantaian dan akan mengakibatkan makin rumitnya keadaan, maka cepat ia memburu masuk ke dalam perkampungan itu.

Malam telah tiba, perkampungan Pah-to-san¬ceng yang luas itu diliputi kesunyian dan kegelapan, tiada sinar lampu, begitu sepi dan gelap hingga suasana terasa misterius dan mengerikan.

Secepat angin, Ji-lopiautau melintasi wuwungan rumah dan menyerbu ke dalam, seringkali ia dihadang dan disergap lawan dari tempat kegelapan, namun jago tua itu bertempur sambil bergerak maju, ia berusaha menghindari pertumpahan darah. Ia terus menuju ke arah suara pertarungan yuang terdengar bergema dari dalam gedung.

Beruntun ia melintasi tiga halaman yang lebar namun tak sesosok bayangan manusia pun yang ditemukan. Bukan  saja orang-orang Pah-to-san-ceng tak ada yang muncul malahan tiga puluh orang Piausu yang dibawa Tian Pek dan Cui-cui juga tak kelihatan batang hidungnya. Rasa curiga makin menyelimuti hati Ji-lopiautau, sambil meneruskan perjalanan menembus gedung satu ke gedung yang lain, ia mulai menggerutu: "Aneh, sungguh aneh, ke mana perginya mereka? Jangan-jangan sudah tertawan semua?"

Tapi ingatan lain melintas pula dalam benaknya: "Ah, tidak mungkin kungfu Tian Pek dan manusia muka setan itu sangat lihai, masa mereka bisa tertawan sekaligus tanpa melawan?"

Beberapa halaman kembali sudah dilalui, namun belum nampak juga sesosok bayangan manusia pun.

"Kecuali Ti-seng-jiu Buyung Ham yang pernah kujumpai, beberapa orang jago Pah-to-san-ceng pernah kukenal.Kenapa tak seorang kenalan pun yang kutemui? Aneh, benar2 aneh apa yang telah terjadi?" pikirnya lebih jauh.

Setelah menembus dua gedung kecil, akhirnya sampailah Ji-lopiautau di sebuah halaman luas yang mirip sekali dengan sebuah taman bunga.

Suasana tetap sunyi, taman ini mestinya sangat indah, tapi sekarang, dalam kegelapan malahan mendatangkan perasaan seram.

Ia pun tidak mengalami sergapan lagi, se-olah2 sudah berada di dalam kota mati.

Kesunyian yang luar biasa ini sungguh sangat mengerikan, jangankan orang lain, Ji-lopiautau yang berpengalaman juga dibuat bergidik.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benak Ji- lopiautau, pikirnya: "Kalau tak ada orang mau muncul, apa salahnya kalau aku yang menyapa lebih dulu, kemudian melihat gelagat selanjutnya. " Berpikir demikian dia lantas berdehem dan berseru: "Hai

. . . " baru saja dia bersuara, serentak terdengar kumandang suaranya bergema dari segenap penjuru, dari balik kolam, dari bangunan kosong sana, bersahutan sampai lama sekali

"Ciit! Ciit! Ciit!" mendadak seekor burung terbang dalam kegelapan sehingga Ji-lopiautau terkesiap dan berkeringat dingin.

Dengan mata melotot ia mengawasi sekeliling  tempat itu, namun tidak terjadi sesuatu apa pun.

Perlahan rasa kaget dan seram yang mencekam perasaan jago tua itu mulai mereda, tapi sebelum usahanya menyapa diulangi kembali, mendadak "kraak", sebuah jendela perlahan-lahan terpentang.

Berikut terbukanya jendela itu, terdengar suara helaan napas sedih memecahkan kesunyian. Helaan napas itu se- olah2 muncul dari dalam kuburan, begitu sedih dan memilukan suara helaan napas itu hingga membuat bulu roma orang pada berdiri.

Dengan perasaan takut Ji-lopiautau berpaling, di bawah remang-remang cahaya rembulan muncul seorang perempuan berambut panjang dan bermuka pucat seperti mayat, rambutnya begitu panjang terurai sahingga sebagian besar mukanya tertutup.

Sekujur badan Ji-lopiautau dingin menggigil, pikirnya: "Malam ini benar2 ketemu setan di sini. "

Memang tak salah kalau perempuan itu mirip setan, bukan Saja mukanya begitu pucat seperti mayat, rambut panjang terurai, matanya juga mendelong tanpa berkedip, gerak-geriknya kaku seperti mayat hidup.

Bagaimanapun juga Ji-lopiautau memang tak malu disebut sebagai jago kawakan, meskipun hatinya merasa takut, namun tak nampak gugup dan bingung. Ditatapnya gadis itu tanpa berkedip.

Jendela itu teraling oleh terali besi yang kuat, setelah mendorong daun jendela dari balik terali itu, setan perempuan tadi memegangi terali besi dan memandang langit dengan termangu2, mukanya yang pucat ditempelkan pada terali, sekalipun persis di depannya berdiri seorang, namun ia seperti tidak melihatnya.

Lama sekali setan perempuan itu termangu2, akhirnya dengan suara yang amat sedih ia bersenandung dengan nada sedih.

Yang disenandungkan adalah syair "rindu" gubahan penyair Li Pek, memilukan suaranya.

Sekarang lopiautau baru yakin perempuan di depannya bukan setan, tapi benar2 manusia, seorang gadis yang patah hati karena ditinggal kekasih.

Selang sesaat kemudian, Ji-lopiautau berusaha memberanikan diri, ia maju sambil berdehem, tegurnya: "Nona, apakah kau orang perkampungan ini?"

Gadis itu sama sekali tak memandang ke arahnya, ia tetap menengadah memandangi bintang dan rembulan dengan ter-mangu2.

"Engkoh Pek. Oo, engkoh Pek, di mana kau sekarang?"

gumamnya dengan lirih. "Tahukah kau betapa adik Hong merindukan kau?. "

"Engkoh Pek? Adik Hong? Siapakah mereka?" pikir Ji- lopiautau dengan tercengang, "tapi engkoh Pek pasti nama kekasihnya atau suaminya, dan adik Hong tentulah namanya sendiri. " Sementara itu nona tadi bergumam lagi dengan sedih: "0, engkoh Pek, engkau telah pergi selama dua ratus sembilan puluh sembilan hari, enam puluh enam hari lagi akan genaplah setahun. Tahukah kau selama hampir setahun ini, berapa banyak air mata yang telah membasahi wajahku?

..... , Oo, engkoh Pek, mengapa kau tak datang lagi menjengukku?"

Air mata meleleh keluar dengan derasnya membasahi pipi yang pucat dan halus itu.

Ji-lopiautau tertegun, ia melongo oleh tingkah laku anak dara itu: "Tampaknya nona ini memang mencintai kekasihnya, sampai waktu kepergian kekasihnya juga teringat dengan jelas. "

Pada saat itulah, tiba2 terdengar suara dengusan berkumandang tak jauh di belakangnya.

Ji-lopiantau terperanjat, musuh muncul di belakangnya tanpa diketahui olehnya, itu berarti ilmu meringankan tubuh orang itu sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Dengan rasa ngeri jago tua itu berputar ke belakang, kedua tangannya disilangkan dl depan dada, waktu memandang ke depan, terlihatlah tiga orang kakek telah berdiri di depan sana.

Kakek yang ada di tengah berusia lima puluh tahunan, mukanya putih bersih, wajah lebar dan mulut besar, bajunya halus terbuat dan sutera, dandanannya persis seorang hartawan, tangan kirinya membawa sebuah seruling perak yang bersinar mengkilap.

Kakek di sebelah kanan botak tak berambut, lengan kirinya buntung, sedang tangan kanannya diangkat ke atas dan memegang sebuah genta tembaga, usianya sudah enam puluhan. Dan orang yang ada di sebelah kiri juga berusia sekitar enam puluhan, kakinya cuma tinggal satu, meskipun demikian ia sanggup berdiri tegak tanpa ditopang oleh tongkat, ia bertangan kosong, tidak mambawa senjata.

Di antara ketiga orang kakek itu, dua di antaranya sudah dikenal oleh Ji-lopiautau, sebab mereka adalah Say-gwa- siang-jan (sepasang manusia cacat dari luar perbatasan) yakni Tui-hun-leng (genta pengejar sukma) Suma Keng yang buntung tangannya serta Tok-kak-hui-mo (iblis terbang berkaki tunggal) Li Ki, dahulu kedua orang ini merupakan dua gembong iblis yang tersohor di kalangan Lok-lim di wilayah barat laut.

Tatkala Ji-lopiautau masih sering mengawal barang ke wilayah barat dulu, ia pernah berjumpa dengan kedua orang ini, karena ciri khas yang dimiliki kedua orang itu, kesannya terhadap mereka sangat mendalam, karena itu hanya sekilas pandang saja dia segera mengenalinya.

Meskipun jago tua ini tak kenal hartawan kaya setengah baya itu, namun dari dandanannya serta seruling perak yang dibawanya, ia dapat meraba identitasnya.

"Orang itu tentulah Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng yang tersohor di dunia persilatan karena irama iblis Im-mo- siau-hoatnya yang lihay!" demikian ia berpikir.

Dia tahu ketiga orang ini adalah jago tangguh yang paling diandalkan dalam Pah-to-san-ceng.

Cepat ia memberi hormat, sapanya: "Kukira siapa yang muncul, rupanya adalah Suma-heng dan Li-heng! Kalau dugaanku tak keliru, saudara yang ini tentulah Gin-siau- toh-hun, Ciang Su-peng, saudara Ciang yang tersohor karena permainan serulingnya, betul bukan?" Gin-siau-toh-hun Ciang Su peng mendengus: Tiat-ciang- cin-ho siok Ji Kok-hiong, Congpiautau dari Yan-keng-piau- kiok ternyata tidak bernama kosong, sekilas pandang saja segera kenal kami. Hm, kagum. kagum!"

"Hahaha, nama besar kesepuluh tokoh utama istana keluarga Buyung sudah tersohor di mana2, tentu saja Lohu kenal kalian ..."

"Istana keluarga Buyung?" tukas Gin-siau-toh-hun sambil mendengus, tiba2 ia menengadah dan tertawa terbahak2: "Hahahaha, istana keluarga Buyung sudah punah dari muka bumi ini, yang ada sekarang tinggal cabang perguruan Lam-hay¬bun di kota Ce-lam! Tua bangka, jangan sembarangan bicara kalau tak tahu urusannya!"

Ji-lopiautau tercengang, ucapan semacam itu keluar dari mulut jago tangguh perkampungan Pah-to-san-ceng, hampir saja jago tua ini tidak percaya pada pendengarannya sendiri.

"Sungguhkah perkataanmu itu?" tanyanya kemudian. "Hehehe, setan tua, apa gunanya kami bergurau dengan

kau? Kaukira saudara Ciang suka berbohong!" kata Suma Keng sinis.

"Lalu di mana Ti-seng-jiu Buyung-cengcu. "

"Itu bukan urusanmu, tak perlu kau banyak bicara?" bentak Tok-kak-hui-mo.

Setelah ketiga orang itu memberikan keterangan penegasannya, sekalipun tidak percaya, mau-tak-mau Ji- lopiautau harus percaya juga, ia merasa banyak persoalan yang tak masuk di akal, tapi kenyataan memang demikian.

Misalnya saja ketiga tokoh ini, mereka adalah tiga jago di antara kesepuluh tokoh sakti andalan keluarga Buyung, kalau memang istana keluarga Buyung sudah berganti tuan, mengapa mereka bertiga masih tinggal di sini? Mungkinkah ketiga orang ini telah menghianati Buyung Ham dan kini takluk kepada pihak Lam-hay-bun?

Dia lantas bertanya: "Jadi.... jadi kalian bertiga telah takluk ... telah menggabungkan diri pada Lam-hay-bun?"

Kata "takluk" memang tak sedap didengar, bahkan menusuk perasaan orang, maka Ji-lopiautau segera menggantinya dengan ucapan "menggabungkan diri".

Kendatipun demikian, kata tersebut sudah terlanjur diucapkan, jelas tak mungkin ditarik kembali, kata2 itu segera mendapat reaksi yang cukup besar dari ketiga orang itu.

Air muka Gin-siau-toh-hun Ciang Su-peng, Tui-hun-leng Suma Keng serta Tok-kak hui-mo Li Ki seketika berubah hebat, mata mereka melotot dan hawa napsu membunuh melintas di wajahnya.

"Ji-loji, kalau kau sudah tahu jadi lebih bagus lagi," kata Ciang Su-peng kemudian. "Kini Lam-hay-bun sudah menyapu jagat, tak lama lagi seluruh daratan Tionggoan akan terjatuh ke dalam kekuasaannya. Hehehe, tua bangka, sekalipun kau ingin menggabungkan diri juga belum pantas!"

Sekalipun Ji-piautau cukup sabar, setelah dipanggil "tua bangka" terus menerus, meledak juga amarahnya, apalagi setelah mengetahui ketiga orang ini secara tak tahu malu telah mengkhianati majikannya yang lama.

Segera serunya dengan gusar: "Lohu belum ingin mengkhianati umat persilatan dengan menjilat pantat musuh. Hehehe, tidak malukah kalian perbuatan kalian meninggalkan Buyung cengcu ini tersiar di duniapersilatan?" Tui-hun-leng Suma Keng menengadah dan tertawa terbahak2: "Hahaha, tua bangka, tak perlu banyak bacot, malam ini jangan harap kau bisa tinggalkan tempat ini dengan selamt!"

Gusar sekali Ji-lopiautau, ia muak menyaksikan kepongahan Tui-hun-leng. "Huuh, sekalipun bakal mati di sini, jangan harap perbuatan terkutuk kalian bisa mengelabui umat persilatan umumnya, akhirnya toh pengkinanatan kalian akan tersiar juga."

"Tua bangka, jangan bacot seenaknya!" kata Tok-kak- hui-mo sambil mendengus. "Agar kau bisa mampus dengan mata meram, akan kujelaskan duduknya persoalan, dengarkan baik2!"

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan: "Pada puluhan tahun yang lalu Buyung Ham telah bersekongkol dengan saudara2nya untuk membunuh Pek-lek-kiam Tian In-thian, atas perbuatan yang terkutuk itu dia telah kehilangan haknya untuk menduduki kursi pimpinan dunia persilatan. Sekarang Lam-hay-bun telah membongkar rahasia ini, mereka akan menegakkan keadilan dan kebenaran, untuk menenteramkan suasana dalam tiga tahun  mendatang dunia persilatan akan dipimpin olehnya, selain itu kitab Bu- hak-cin-keng akan disebarluaskan agar bisa dipelajari oleh setiap pencinta ilmu silat di dunia ini. Tiga tahun mendatang akan dibuka pertemuan besar Enghiong-tay-hwe di puncak barat Hoa-san, pada waktu itulah setiap orang berhak mengikuti pertandingan untuk merebut kursi pimpinan persilatan. Hehehe, bila dunia persilatan telah bersatu. "

Ia berhenti dan sengaja tertawa terbahak2 lalu sambungnya: "Sayang seribu sayang, tua bangka she Ji ini tidak punya rejeki untuk menghadiri pertemuan tersebut!" "Benar, sebab malam ini adalah malam terakhir kau tua bangka she Ji ini hidup di dunia ini!" sambung Tui-hun- leng.

Bersamaan dengan selesainya ucapan itu, Suma Keng segera melompat ke atas.