Hikmah Pedang Hijau (Wu Qing Bi Jian) Jilid 17

Jilid 17

Lama2 habislah kesabaran nenek keriputan itu, alisnya bekernyit, dengan suara serak seperti itik ia berteriak keras2: "Keledai gundul yang cebol, biasanya kau sok ngibul, kenapa sekarang tak mampu membereskan seorang bocah kerempeng begitu? Hayo cepat keluarkan semua Kungfu simpananmu, bereskan bocah itu, nyonya besar masih ada urusan lain." Si kakek berjenggot tiba2 menyela: "Bocah itu tidak tahan sekali hantam lagi, masa kau tidak melihatnya, nenek bangsat!? Yang benar kedua macam senjata bocah itu memang susah dihadapi. "

"Ah, banyak omong, coba lihat, biar nyonya besar yang bereskan bocah itu!" teriak nenek keriput sambil mendelik.

"Dia menyingsing lengan baju lalu bersiap melompat maju.

"Eeh, tunggu sebentar!" teriak Kian-kun-ciang In Tiong- liong yang berada di samping. "Masa kalian sudah lupa dengan janji kita sebelumnya? Apakah kalian hendak mengingkari janji dan mau cari kemenangan dengan main kerubut? Bila demikian semua orang yang hadir di sini pasti juga takkan tinggal diam."

Dengan lagak apa boleh buat terpaksa nenek keriputan itu urung bertindak, dengan tak sabar dia berseru: "Bangsat gundul! Sebetulnya kau mampu memenangkan pertarungan ini tidak !"

"Nenek sialan, kenapa kau gelisah sendiri?" jawab paderi gemuk pendek itu dengan mata melotot. "Pokoknya bocah ini akhirnya kukirim ke langit barat. !"

Heran juga Tian Pek menyaksikan tingkah laku ketiga orang itu, jelas ketiga orang itu berasal dari satu golongan, tapi aneh, meraka saling mencaci-maki sendiri, siapa gerangan mereka bertiga?

Kian-kun-ciang In Tiong-liong menyatakan bahwa sebelum bertarung telah mengadakan perjanjian, janji apakah itu? Kenapa dari pihak In-bong-san-ceng tak  seorang lagi yang tampil kedepan walau pun sudah dua orang jago mereka yang terbunuh? Kenapa orang2 itu tak ada yang membantu? Makin dipikir semakin heran, maka akhirnya pemuda itu menjawil seorang laki2 di sampingnya dan bertanya: "Hei, apa yang terjadi ini?"

Laki2 itu berpaling. tapi setelah mengetahui pemuda itu adalah Tian Pek, dengan gemas dia melotot, kemudian dilihatnya pula dandanan pemuda itu tak keruan, dengan sinis dia mencibir, lalu tanpa mengucapkan sepatah katapun dia alihkan kembali pandangannya ke tengah gelanggang.

Ketika laki2 itu berpaling, Tian Pek sendiripun segera mengenalinya sebagai Liang Giok yang kakaknya, Liang Bong, telah dibunuhnya ketika terjadi pertarungan di tepi sungai Yan-cu-ki, karena itulah meski sikap orang mendongkolkan hati, ia tetap bersabar.

Dalam pada itu, Tok-kiam-leng-coa Ji Hoa-lam telah melancarkan serangan terlebih keji dan mengerikan, baik pedang beracun maupun rantai bajanya diputar sedemikian rupa hingga menimbulkan desingan angin tajam, rupanya iapun menyadari, jika dia sampai kalah, maka reputasi perkampungan In-bong san-ceng pun ikut berantakan.

Serangan gencar yang dilancarkan Tok-kiam-leng-coa itu membuat si Hwesio gemuk jadi kelabakan dan keteter, suatu ketika tiba2 telapak tangannya menghantam ke muka, kemudian ia berjumpalitan mundur ke belakang.

Sekilas pandang orang akan menyangka Hwesio itu terjungkal lantaran terluka, Tok-kiam-leng- coa tidak me- nyia2kan kesempatan yang baik itu, ular rantai baja di tangan kirinya segera menutuk wajah si Hwesio, sementara pedang beracun di tangan kanan menusuk ulu hati lawan dengan jurus Liu-seng-kan-gwat (bintang meluncur mengejar rembulan).

Sungguh berbahaya posisi Hwesio gemuk itu sebab tubuhnya belum tegak berdiri, tampaknya serangan maut yang dilancarkan Tok-kiam-leng-coa segera akan bersarang telak di tubuhnya yang gemuk.

Tiba2 terdengar kakek berjenggot panjang berseru sambil tertawa tergelak: "Hahaha, keledai gundul! Kau memang hebat, kalau sejak tadi kau gunakan cara seperti ini, bukankah kemenangan sudah kau raih tanpa bersusah payah?"

Semua orang tertegun keheranan mendengar ucapan tersebut, bukankah si Hwesio gemuk jelas bakal kalah? Kenapa kakek berjenggot itu malahan bersorak gembira?

Sementara itu rantai ular baja telah mengancam muka si Hwesio gemuk, pedang biru juga telah mengancam dadanya ....

Pada saat itulah tiba2 Hwesio gemuk itu melejit ke atas, kakinya berlutut, kedua tangannya menempel tanah, dengan menggembungkan perutnya yang buncit hingga menyerupai seekor katak, ia ber-kaok2 dua kali dan mendorong telapak tangannya ke depan. . .

"Blang! Blang!" desingan angin puyuh menggulung ke depan, debu pasir beterbangan, hebat sekali pukulan yang dilontarkan itu.

"Ilmu silat apa itu ?" semua orang menjerit kaget.

Belum habis seruan tersebut, "bluk", dengan telak pukulan si Hwesio gemuk bersarang di tubuh Tok-kiam- leng-coa Ji Hoa-lam, tanpa ampun lagi tubuhnya bagaikan layang2 yang putus benangnya mencelat beberapa tombak jauhnya. Baik pedang beracun maupun rantai ulur berbisa yang digunakan untuk menyerang ikut mencelat pula jauh, waktu tubuh jatuh ke atas tanah, jiwanya sudah melayang. Betapa terkejutnya kawanan jago itu, untuk beberapa saat lamanya suasana jadi hening dan tak seorangpun berani buka suara.

Per-lahan2 Hwesio gemuk itu bangkit berdiri, katanya sambil tertawa: "Coba iihat, bagaimana hasilnya? Tidak jelek bukan, nenek busuk?"

"Hehat! Hebat! Rupanya kau bangsat gundul ini memang masih punya ilmu simpanan!" sahut si nenek keriputan sambil tertawa lebar.

Setelah jago yang terakhir ikut tewas, kakek berjenggot panjang lantas berpaling ke arah An-lok Kongcu dan ayahnya, lalu berkata: "Tentunya kalian tak dapat bicara apa2 lagi bukan? Nah, mulai detik ini perkampungan In- bong-san-ceng telah berada di bawah kekuatan Hay-bwe- sam-sat!"

An-lok Kongcu berpaling sekejap ke arah ayahnya, Kian- kun-ciang In Tiong-long, air muka mereka berdua pucat pias seperti mayat, tanpa mengucapkan sepatah kata mereka menunduk, jelas sekali luar biasa sedih mereka.

Mendadak si nenek keriput berteriak kepada para ksatria yang hadir: "Hayo, siapa lagi yang tidak puas? Silakan maju untuk menerima kematian!"

Pemuda berbaju putih itu lebih jumawa lagi, sambil menggoyangkan kipas peraknya ia herkata: "Toan-hong Kongcu, Siang-lin Kongcu serta An-lok Kongcu telah menggabungkan diri dengan kekuatan kami, di antara empat kelompok besar didaratan Tionggoan tinggal Leng- hong Kongcu saja yang belum menyatukan sikapnya, Hei! Leng hong Kongcu, bagaimana dengan keputusan kalian? Mau lansung menyerahkan perkampungan Pah-to-san-ceng kalian di bawah kekuatan kami ataukah hendak mengutus dulu beberapa orang untuk mengantar nyawa?,, Leng-hong Kongcu yang berperasaan dingin melirik sekejap ke arah kawanan jagonya, rupanya ia minta pertimbangan jago2nya apakah diantara mereka ada yang berani menerima tantangan musuh.

Kawanan jago dari perkampungan Pah-to-san-ceng di hari biasa selalu garang dan tinggi hati, kini sama tunduk kepala rendah2, tak seorangpun berani beradu pandang dengan Leng-hong Kongcu, tampaknya mereka takut kalau dirinya akan terpilih untuk menandangi tantangan musuh.

Terdengar pemuda berbaju putih tadi mengejek, "Huh, Leng-hong Kongcu yang bernama besar kiranya tak lebih hanya manusia keroco yang tak berani bertindak tegas. Hayo, cepat jawab, mau menyerah kalah ataukah hendak melakukan perlawanan?"

Sejak kecil sampai dewasa, belum pernah Leng-hong Kongcu menerima cemoohan orang lain dihadapan umum. Ia tahu jagonya sama ciut nyalinya setelah menyaksikan kelihayan musuh, selain itu iapun tahu kendatipun mereka maju, paling2 juga hanya mengantar kematian belaka.

Walaupun demikian, sudah tentu dia tak mau menyerah dengan begitu saja sebelum melakukan perlawanan, sebab menyerah kalah adalah tindakan yang paling memalukan. Sebab itulah ia menjadi serba susah, wajah berubah jadi merah padam, ia tak tahu apa yang harus dilakukan ....

Mendadak sesosok bayangan berkelebat tiba dari luar gelanggang, setelah berputar satu lingkaran di udara, dengan enteng orang itu melayang turun. Gesit dan cepat gerakan orang ini, indah pula gayanya.

Kiranyn pendntang ini adalah seorang latah berusia setengah baya. "Keponakanku, baik2kah selama berpisah?" tegur orang itu setibanya di tengah gelanggang.

Betapa girang Leng-hong Kongcu setelah mengetahui bahwa orang ini tak lain adalah Thian-ya-ong-seng Tio Kiu ciu. cepat sahutnya; "Baik2-kah paman Tio selama ini?"

Thian-ya-ong-seng mengangguk, lalu ia berpaling ke arah pemuda berbaju putih itu dan berkata dengan angkuh: "Bilamana kalian berminat, aku orang the Tio ingin belajar kenal dengan jago kosen dari lautan!"

"Apakah kau mewakili perkampungan Pah-to-san-ceng? Kalau begitu, pilihlah dua orang lagi, agar kita dapat bertanding sebanyak tiga partai!"

"Aku orang she Tio hanya ingin nantang kalian dengan nama Thian-ya-ong-seng, aku tidak mewakili sesuatu aliran ataupun perguruan manapun!"

"Bocah latah! Lalu buat apa kami membinasakan kau?" sela si nenek keriput dari samping.

"Sekalipun menang juga tak ada gunanya, paling2 hanya membuang tenaga percuma!"

"Hahaha, nenek tua, apakah kau tahu sumpahku di masa lalu?" seru si manusia lalah dari ujung langit sambil tergelak.

"Sumpah atau tidak juga tidak ada gunanya, yang penting kau mewakili mereka atau tidak, sehingga bila kau mampus maka kamipun bisa mendapatkan hasil yang lumayan."

Sejak malang melintang di dunia persilatan, belum pernah Thian-ya-ong-seng berjumpa dengan manusia yang lebih latah daripadanya, ucapan si nenek membuatnya gusar, tapi ia lantas tertawa malah: "Sejak dulu aku orang she Tio telah bersumpah, barang siapa dapat menangkan aku, maka aku akan mengangkat orang itu sebagai guruku. Sudah tiga puluh tahun aku malang melintang di dunia persilatan, tapi belum pernah kutemui lawan tangguh yang mampu mengalahkan aku. maka jika satu diantara kalian berempat sanggup mengalahkan diriku, segera aku mengangkatnya sebagai guru, inikan imbalan yang baik bagi kalian?"

"Hehehe, bocah latah, kau memang hebat!" si nenek keriputan tertawa seram. "Tapi sayang kau telah melupakan sesuatu, andaikata salah seorang di antara kami berhasil membinasakan dirimu, setiba di akhirat lalu kau akan mengangkat siapa menjadi gurumu?"

Untuk beberapa saat lamanya Thian-ya-ong-seng berdiri tertegun, sungguh tak disangkanya dirinya yang terkenal latah selama puluhan tahun, akhirnya bertemu dengan seorang yang berpuluh kali lipat lebih latah daripadanya.

Sebelum jago latah ini sempat mengucapkan sesuatu, nenek keriput itu berkata pula: "Eeh, bocah latah, kau tak perlu ter-mangu2, ketabuilah kami bertiga disebut Hay-gwa- sam-sat, sedangkan Siauya ini ... !" — Sambil berkata ia menuding si pemuka baju putih itu.

Semua orang sama heran, nenek itu berani memaki kepada siapapun, tapi sikapnya terhadap pemuda berbaju putih itu ternyata sangat menghormat.

"Siauya ini tak perlu dibicarakan dulu, biarlah bicara mengenai kami bertiga ini, barang siapa berani bertempur melawan kami, maka dia tak mungkin hidup lagi di dunia ini. Bocah latah, sekarang tentunya kau mengerti bukan? Kalau kau berani menantang kami, maka jiwamu pasti melayang, lalu untuk apa mengangkat guru segala? Kau cuma omong kosong belaka?" Betapa gusarnya Thian-ya-ong-seng demi mendengar perkataan itu, ia tak tahan lagi, sambil membentak telapak tangannya terus menghantam si nenek.

Rupanya nenek itu tak menyangka musuh akan menyerang secara tiba2, serangan tersebut dilancarkan dengan cepat pula. Untung pengalamannya cukup luas, mendadak tubuhnya berputar dan tahu2 dia sudah terlepas dari ancaman lawan.

Thian-ya-ong-seng tidak memberi kesempatan kepada musuh untuk berganti napas, sebelum musuh itu berdiri tegak. dengan jurus Heng-kang-toan-liu (menyodet sungai membendung air) serta Long-ki-liu-sah (tanah terkikis oleh gulungan ombak) secara beruntun tiga serangan berantai dilontarkan.

Dalam keadaan tak siap, si nenek terdesak hingga rada kerepotan.

Ilmu pukulan Tui-hong-ki-heng-ciang ciptaan Thian-ya- ong-seng memang mengutamakan gerak cepat, apalagi ia dibikin marah akibat ejekan musuh, jurus serangan mematikan dilancarkan secara beruntun, dalam waktu singkat dia telah menyerang belasan kali.

Nenek itu terdesak hebat. bukan saja ia tidak memperoleh kesempatan untuk melancarkan serangan balasan, bahkan secara beruntun terdesak mundur, bisa dibayangkan betapa gemas nenek itu.

Sepanjang pertarungan itu si kakek berjenggot panjang itu hanya membungkam saja, dengan sinar mata tajam ia mengikuti gerak serangan manusia latah tersebut, mau-tak mau ia kagum juga oleh kelihayan musuh. Pemuda berbaju putih itupun heran dan tercengang, kipas peraknya berulang kali diketukkan pada telapak tangannya . .

Hanya Hwesio cebol itu yang tak acuh, sambil berkeplok tertawa ia berteriak: "Hei, nenek busuk, siapa suruh kau mengibul, sekarang kau baru tahu rasa kecundang di tangan orang lain, hahaha . . . "

"Sialan. bangsat gundul, nyonya besar keteter hebat, kau malahan nonton doang," maki nenek itu sambil berkelit menghindari pukulan musuh.

Thian-ya-ong-seng benci pada kelatahan nenek keriput itu, dia ingin menundukkan nenek tersebut, maka setelah di atas angin, ia melancarkan lagi tiga kali serangan berantai dengan jurus Hoan-kang-to-hay (menjungkir sungai membalikkan samudera), Hu-tong-to-hwe (menyeberangi air mendidih mengarungi lautan api) serta Pau-hi-bong- hong (hujan lebat angin puyuh)

Bayangan telapak tangan ber-lapis2 menyelimuti angkasa, nenek itu terkepung di tengah angin pukulan yang men-deru2.

Sekarang si kekek berjenggot baru terperanjat' sedangkan Hwesio gemuk itu tak bisa tertawa lagi' wajahnya menampilkan rasa heran.

Nyata mereka tidak menduga di dalam dunia persilatan Tionggoan masih terdapat jagoan yang berilmu tinggi, tapi kedua orang itu pun taat pada peraturan persilatan, sekalipun nenek itu keteter hebat mereka tidak terjun membantu.

Sebenarnya ilmu silat nenek keriput itu sangat lihay. dia terdesak oleh karena dia terlampau pandang enteng rmusuhnya sehingga kena didahului. Sedang lawan justeru Thian-ya-ong-seng yang lihay dan berpengalaman, seperti halnya main catur, kalau sudah kalah satu langkah, dengan sendirinya langkah selanjutnya jadi terpengaruh.

Beberapa kali nenek itu berusaha merebut kembali posisinya yang terdesak, namun setiap kali usahanya itu menemui kegagalan, akhirnya dia sendiri semakin terdesak.

Dalam keadaan demikian, tiba2 si pemuda berbaju putih ketuk2 kipas peraknya pada telapak tangannya dengan berirama, kemudian ia bersenandung nyaring: "Bukit menjulang samudra membentang jalan terasa buntu. "

Demi mendengar syair tersebut, mendadak si nenek berpekik nyaring, suaranya keras melengking menembus awan.

Di tengah pekik nyaring itulah si nenek memutar badannya secepat gasingan, ia berputar terus menembus bayangan telapak tangan Thian-ya-ong-seng dan mengapung ke udara.

Bayangan putih kelabu itu melambung empat tombak tingginya di tengah udara si nenek kembali berpekik nyaring, di tengah lengkingan yang memekak telinga itu mendadak si nenek menukik ke bawah, dengan dahsyat kedua telapak tangannya membelah batok kepala lawan.

Thian-ya-ong-seng, sesuai julukannya, dia adalah seorang yang latah, meski tahu betapa dahsyatnya pukulan si nenek, nanun ia tidak berusaha menghindar, dengan jurus Thian-ong-to-tah (Raja langit menyanggah pagoda) dia sambut ancaman tersebut dengan keras lawan keras.

"Blang!" benturan keras menggelegar, bumi se-akan2 berguncang.

Begitu dahsyatnya gulungan angin puyuh yang timbul oleh benturan tersebut, bukan saja debu pasir beterbangan, malahan ranting dan daun pepohonan yang berada belasan kaki di sekitar gelanggang ikut berguguran oleh embusan angin keras.

Akibatnya banyak jago silat yang tak sanggup mempertahankan diri banyak diantara mereka terdorong mundur dengan terperanjat.

Meski Thian-ya-ong-seng seorang yang cerdik, cuma sayang tenaga dalamnya masih kalah satu tingkat dibandingkan si nenek, apalagi si nenek menghantam dari atas, tentu saja posisinya lebih menguntungkan.

Akibatnya setelah terjadi bentrokan kekerasan itu, Thian- ya-ong-seng tergetar mundur lima-enam tombak jauhnya dengan sempoyongan, air mukanya kontan jadi pucat seperti mayat, hampir saja roboh.

Nenek itu melayang turun ke atas tanah, dengan wajah gusar ia menghampiri lawan. pelahan2 telapak tangannya diangkat, jari telunjuknya ditegangkan, tampaknya dia akan mengerahkan ilmu jari Soh-hun-ci yang lihay.

Sejak tadi Tian Pek mengikuti jalannya pertempuran, kini ia merasakan Thian-ya-ong-seng sedang terancam bahaya, cepat ia melompat masuk kedalam gelanggang sambil mambentak: '

Tahan!"

Nenek rambut putih itu melengak, tapi setelah mengetahui pendatang ini cuma seorang pemuda, ia tertawa.

"Eh, bocah cilik!" serunya, "Apakah kaupun bosan hidup? Berani kau merintangi kehendak nenek?"

"Nenek sudah tua, kenapa masih berwatak berangasan begini. Kau sudah menangkan pertarungan, orang bilang siapa menang dia jagoan, kalau nenek sudah menang kan tak perlu membunuh orang?"

"Bocah busuk, apakah kau tahu peraturan Hay-gwa-sam- sat?" bentak si nenek.

"Cayhe tidak tahu," jawab Tian Pek.

Waktu itu tenaga jari yang dikerahkan si nenek belum buyar, hawa sakti masih menyelimuti seluruh badannya, rambutnya yang beruban serta bajunya yang longgar bergoyang seperti terembus angin, malahan jari tangannya yang terjulur itu membengkak besar, dengan tertawa seram ia berkata kepada Tian Pek: "Kalau belum tahu peraturan kami, biarlah kuberitahukan padamu! Selamanya Hay-gwa- sam-sat tak pernah memberi kesempatan hidup kepada orang yang berani berkelahi dengan kami Nah, tahu tidak? Sekarang, cepatlah enyah dari sini!"

Tian Pek juga pemuda yang tinggi hati dan berwatak keras, mendingan kalau nenek itu berbicara dengan ramah dan halus justeru sikapnya yang sebentar tertawa sebentar marah ini telah mengobarkan api amarah Tian Pek, segera ia balas membentak: "Aku tak peduli siapa kau dan peraturan Hay-gwa-sam-sat segala, pokoknya kalian tak boleh melanggar peraturan persilatan, aku takkan mengizinkan kau membunuh orang yang sudah terluka!"

"Haha, jadi kau hendak turut campur urusanku?" ejek si nenek sambil tertawa seram. "Bagus! Kalau begitu kehendakmu, pasti akan kupenuhi keinginanmu untuk mampus!"

Tiba2 ia tinggalkan Thian-ya-ong-seng, serangan jari tangannya yang telah disiapkan langsung dilontarkan ke dada Tian Pek. Anak muda itu bukan orang bodoh, tentu saja iapun tahu sampai di manakah kelihayan ilmu jari si nenek, apalagi sewaktu nenek itu menghampirinya dengan wajah seram, desiran angin tajam dingin telah memancar lebih dulu dari ujung jari musuh dan membuat pemuda itu tak berani bertindak gegabah.

Serentak ilmu pukulan Lui-ing-hud-ciang yang baru dipelajarinya disiapkan menghadapi segala kemungkinan.

Dalam pada itu, Thian-ya-ong-seng yang terluka parah sudah agak mendingan keadaannya setelah mengatur pernapasan, betapa malu dan menyesalnya ketika mengetahui bahwa sang penolong yang menyelamatkan jiwanya tak lain adalah Tian Pek yang pernah dikalahkannya dahulu.

Ia tahu Tian Pek pasti juga bukan tandingan si nenek, segera ia berseru: "Tian-siauhiap, cepat mundur! Biar aku orang she Tio yang menghadapi dia!"

Ia memburu maju dengan sisa tenaga murni yang dimilikinya, suatu pukulan maut segera dilontarkan.

Nenek itu tertawa seram, ujung jarinya yang tertuju ke dada Tian Pek tahu2 ditarik kembali, kemudian berputar setengah lingkaran hingga angin tajam itu berbalik mengarah pinggang Thian-ya-ong-seng.

Melihat si nenek malahan mengalihkan ancamannya kepada Thian-ya-ong-seng, cepat Tian Pek membentak, pukulan sakti Lui-ing-hud-ciang serentak dilontarkan.

Lui-ing-hud-ciang adalah ilmu dari benua barat, meskipun tiada menimbulkan deru angin sewaktu dilepaskan, namun memiliki daya tekanan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak samudra. Waktu itu Soh-hun-ci ci nenek lagi ditujukan Thian-ya- ong-seng, dia tak pandang sebelah mata terhadap musuh yang sudah terluka ini.

Nenek itu terkejut ketika desir angin pukulan yang dilontarkan Tian Pek menyambar tiba, ia merasa daya tekanan yang terpancar dari serangan itu aneh sekali, kendati begitu, ia masih tidak menggubrisnya, ia tidak percaya pemuda ingusan memiliki ilmu silat yang luar biasa? Sebab itulah Soh-hun-ci masih terus menutuk ke tubuh Thian-ya-ong-seng.

"Hei, nenek tua, awas! . . ." tiba2 si Hwesio setengah baya memperingatkan. "Pukulan yang digunakan pemuda itu adalah Lui-ing-hud-ciang yang maha sakti.

Kejut si nenek setelah mendengar peringatan tersebut, serentak ilmu jari Soh-hun-ci ditarik kembali, dengan berputar setengah lingkaran, dengan jurus serangan Heng- sau-ngo-gak (menyapu rata lima bukit). dia kurung Thian- ya-ong-seng serta Tian Pek di baWah angin jari saktinya.

"Blang! Bluk!" dua suara keras terdengar, sambil menjerit kesakitan Thian-ya-ong-seng mencelat ke belakang dan roboh telentang.

Sebaliknya si nenek mendengus tertahan karena tubuhnya tergetar oleh pukulan sakti Lui-ing-hud-ciang Tian Pek, dengan sempoyongan nenek itu terdorong mundur lima-enam langkah. ...

Tian Pek sendiripun merasakan sakit luar biasa pada telapak tangannya. rasanya seperti ditusuk jarum, ia tergeliat, sekuatnya ia bertahan.

Hanya sekejap telapak tangannya sudah bengkak, diam2 ia terkesiap: "Lihay benar Soh-hun-ci ini!" "Hei. bocah, kau murid siapa . . . ?" Hwesio gemuk setengah baya itu melompat maju dan menegur.

Belum gempat Tian Pek menjawab, si nenek sudah meraung gusar dan menubruk ke arahnya dengan kalap getaran mundur yang diterimanya barusan dianggapnya sebagai suatu penghinaan.

Tian Pek tak berani gegabah, dia angkat telapak tangannya, tapi tahu2 telapak tangannya sukar digerakkan dan tak bertenaga.

"Celaka! keluhnya dalam hati.

Untunglah pada saat yang gawat itu terdengar dua orang membentak nyaring, lalu muncul dua bayangan tubuh yang kecil ramping menerjang ke dalam gelanggang.

Serentetan cahaya tajam berwarna hijau serta desir angin pukulan serentak menerjang si nenek.

Memang lihay nenek rambut putih itu, walau pun mendadak datangnya ancaman maut itu, ternyata dengan enteng dan cekatan ia mampu menghindari serangan pedang dan pukulan tersebut.

Dengan berjumpalitan di udara ia berputar satu lingkaran, lalu melayang turun di kejauhan sana.

Ketika ia berpaling ternyata penyerang itu adalah seorang gadis cantik jelita serta seorang manusia aneh bermuka hijau berambut merah.

Memang betul gadis cantik serta manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah itu tak lain adalah Tian Wan-ji serta Liu Cui-cui, demi menyelamatkan jiwa Tian Pek, mereka telah turun tangan bersama.

Sementara itu nenek berambut putih itu menjadi murka setelah gagal melukai Tian Pek, apalagi setelah dia sendiri yang terdesak mundur malah. Sambil meraung untuk kesekian kalinya dia menerjang musuh dengan kalap.

"Hong-koh, hati2 dengan makhluk muka hijau berambut merah itu!" tiba2 si pemuda baju putih memperingatkan. "Tangkap dia dalam keadaan hidup, yang lain bantai saja sampai habis "

Walaupun sedang gusar, si nenek tetap patuh pada perintah pemuda baju putih itu, di tengah udara tutukan maut menuju Wan-ji, sementara tutukan yang menuju pada Lui Cui-cui berubah menjadi cengkeraman, dengan mementang kelima jarinya dia mencakar si nona.

Wan-ji mengegos kesamping, dengan dua jari saktinya ia balas menutuk Hiat-to penting Sim-hi-hiat serta Ki-hay-hiat si nenek dengan Soh-hun- ci yang sama.

Hampir bersamaan waktunya Liu Cui-cui menabas tangan kanan si nenek dengan jurus Sia-gwe-teng-hui (rembulan condong memancarkan sinar), cahaya pedang hijau segera menyelimuti angkasa.

Kaget juga nenek berambut putih itu, ia tak menyangka ilmu iari dan ilmu pedang Wan-ji dan Cui-cui sedemikian hebatnya terutama ilmu jari Wan-ji ternyata mirip sekali dengan Soh-hun-ci andalannya sendiri.

Serentak dia melejit ke udara dan melayang turun di kejauhan sana.

"Hei, anak perempuan, dari siapa kau belajar ilmu jari ini?" hardiknya lantang.

"Nenek busuk, itu bukan urusanmu, tak usah banyak bacot" sahut Wan-ji kasar, "Ingat saja baik2, bila kau berani melukai seujung rambut engkoh Tian, maka akan kucabut nyawamu!'' "Hehehe, bagus, bagus sekali perkataanmu." si nenek tertawa seram. "Selama ini aku tercatat sebagai manusia yang tak pakai aturan, tak nyana hari ini aku bertemu dengan budak ingusan yang lebih tak kenal aturan. Nona cilik, coba jawablah pertanyaanku ini, siapa pemuda itu? Apa hubunganmu dengan dia? Dan kenapa kau menguatirkan keselamatan jiwanya "

Sebeium Wan-ji menjawab, Liu Cui-cui telah membentak gusar, Pedang Hijau terus menusuk ulu hati nenek itu.

Rupanya ia sakit hati karena melihat telapak tangan Tian Pek membengkak dan mukanya pucat, ia jadi marah dan segera menyerang.

Tajam dan kencang deru angin pedang itu, cahaya hijau menyebar di udara, menyelimuti sekeliling tubuh lawan.

Memang lihay sekali ilmu pedang Liu Cui-cui, malahan boleh dibilang audah mencapai puncak kehebatannya, sungguh serangan yang mengejutkan.

Dengan terperanjat cepat nenek itu berkelit, tapi sayang kurang cepat, "bret!" ujung bajunya tertabas pedang hingga robek

Tampaknya Wan-ji juga sudah melihat keadaan Tian Pek yang terluka, sebelum nenek itu sempat berdiri tegak, dengan marah dia menyerang lagi, dua selentikan maut dilepaskan.

Dalam pada itu Liu Cui-cui juga menyerang pula, dengan jurus Han-seng-peng-gwat (bintang kecil mengejar rembulan), Pedang Hijau diputar sedemikian rupa hingga menciptakan selapis cahaya tajam yang menyilaukan mata, ia terus cecar si nenek. Setelah dikerubut dua musuh tangguh, si nenek baru sadar akan kehebatan lawannya, kepongahannya lenyap, sebagai gantinya rasa kaget dan panik menghiasi wajahnya yang penuh keriput, dia tak menyangka di kolong langit ini masih ada manusia berilmu pedang selihay ini, apalagi tutukan Soh-hun-ci Tian Wan-ji tak boleh dipandang enteng, dalam waktu singkat dia terdesak terus menerus.

Berada dalam keadan seperti ini, dia tak berani menangkis dengan kekerasan, apa yang bisa dilakukan tidak lebih hanya berkelit dan menghindar melulu, Jerit kaget, sorak puji dan helaan napas kagum menggema di sekeliling gelangggang, meskipun para penonton terdiri dari kawanan jago silat terkemuka, sebagian besar sudah sering menjelajahi utara maupun selatan, belum pernah mereka menyaksikan permainan ilmu pedang sedahsyat itu.

Lebih2 si pemuda baju putih itu, iapun kejut dan gelisah, lama2 ia tak tahan lagi, serunya dengan lantang: "He, Siu- kongkong, Hud-eng Hoatsu! Kenapa kalian cuma berdiri saja? Tidak maju sekarang mau menunggu sampai kapan lagi?"

Si kakek berjenggot panjang seram. si Hwesio gemuk tersentak bangun dari lamunannya, serentak mereka terjun ke gelenggang pertarungan, yang satu langsung membendung serangan Liu Cui-cui sedahg yang lain menghadang tutukan maut Tian Wan-ji.

Memang lihay ilmu pukulan si kakek berjenggot panjang, bukan saja gaya serangannya aneh, tenaga pukulannya juga mengerikan, ketika kedua telapak tangannya mulai menyerang, debu pasir ikut beterbangan, banyak ranting pohon tumbang terkena pukulan. deru keras dan dentuman nyaring menciptakan irama maut yang mengerikan. Lui Cui-cui bukan lawan empuk, ilmu pedang saktinya terhitung jenis ilmu pedang tingkat tinggi, ditambah pula Bu-cing-pek kiam adalah pedang pusaka yang tiada taranya ketika diputar kencang, terciptalah selapis cahaya hijau tebal menyilaukan mata, pedang itu berkelebat kian kemari mengancam tempat berbahaya di tubuh musuh.

Kawanan jago yang menonton di pinggir sama terpesona. pertarungan antara kakek berjenggot melawan manusia aneh bermuka hijau dan berambut merah alias Liu Cui-cui ini sungguh luar biasa.

Pemuda baju putih itupun berdiri tertegun kipas peraknya dicengkeram erat2, jelas terlihat betapa gelisahnya.

Dalam pada itu, si Hwesio gendut yang bernama Hud- eng Hoatsu juga terlibat dalam pertarungan seru melawan Wan-ji.

Ilmu pukulan si Hwesio gemuk sangat hebat angin pukulannya men-deru2, Wan-ji yang kecil dan ramping boleh dibilang terkurung di tengah angin pukulannya.

Untung ilmu meringankan tubuh, Leng-gong-hoan-ing. yang dikuasai Wan-ji sudah mencapai kesempurnaan, ditambah pula selama seratus hari ia digembleng oleh Sin- kau (monyet sakti) Tiat Leng, semua ini membuat kungfunya mendapat kemajuan yang amat pesat.

Kendatipun ia terkurung oleh pukulan musuh yang gencar. hal ini tidak mengurangi kecepatan serta kelincahan gerak tubuhnya, dia melejit, melambung, melompat dan melayang diantara deru angin pukulan yang kencang.

Bukan saja indah menawan gaya tubuhnya, malahan kadangkala sempat pula melepaskan Soh-hun-ci untuk mengancam Hiat-to kematian di tubuh musuh. Menghadapi keadaan seperti ini, mau-tak-mau Hwesio gemuk terpaksa pasang matanya awas2, setiap saat dia harus berkelit dan menghindar dengan gerakan cepat, dengan begitu maka sementara ini pertarungan berlangsung dalam keadaan seimbang.

Dengan diambil-alihnya kedua lawan tangguh, si nenek berambut putih mendapat kesempatan lagi untuk menghadapi Tian Pek, terpaksa anak muda itu melakukan perlawanan yang gigih kendatipun tangannya yang terluka sakitnya tidak kepalang.

Ilmu silat Tian Pek saat ini sudah terhitung tangguh, sayang dia bertindak kurang hati2 sehingga dalam pertarungan pertama tadi tangannya lantas terluka.

Karena tangannya terluka secara otomatis permainan Lui-ing-hud-ciang yang lihay itupun mengalami kemunduran, ia tak bisa melancarkan lagi serangan dengan sepenuh tenaga.

Selain itu, pakaiannya yang dibuat dari robekan selimut sangat mengganggu kegesitan tubuhnya, tidaklah heran di bawah serangan gencar si nenek, ia terdesak hebat hingga kelabakan setengah mati.

Begitulah, pertarungan berlangsung dengan serunya membuat perhatian semua orang berpusat ke gelanggang. Semuanya tercengang dan berdebar.

Kalau permainan pedang manusia aneh bermuka hijau alias Liu Cui-cui sangat lihay dan tiada taranya hingga semua orang merasa heran, hal ini memang dapat dimengerti.

Akan tetapi Tan Pek adaiah pemuda yang dikenal oleh banyak orang, anak muda itu belum lama terjun ke dunia persilatan, namun setiap kali muncul ilmu silatnya selalu mengalami kemajuan pesat, kepandaiannya kian lama kian bertambah hebat, inilah yang mencengangkan orang, hampir saja mereka tak percaya dengan kenyataan tersebut.

Jika para jago tangguh dari empat keluarga besar juga dikalahkan si nenek rambut putih dengan cara yang mengenaskan, malahan Thian-ya-ong-seng yang dianggap jago paling tangguh pun terluka parah. Tapi Tian Pek yang masih muda dan cetek pengalaman dengan suatu pukulan malah berhasil memaksa mundur nenek rambut putih itu, bahkan sekarang masih sanggup bertarung puluhan gebrak, siapa yang tak heran dengan kenyataan ini?

Banyak pula yang kenal siapa Wan-ji, setelah menyaksikan si nona sanggup bertarung seimbang dengan Hud-eng Hoatsu, semua orang jadi tercengang dan kaget pula.

Diantaranya Leng-hong Kongcu dan anak buahnya jelas paling bingung dan tidak habis mengerti, Mereka tahu ilmu silat Wan-ji didapatkan atas ajaran ayahnya sendiri, yakni Ti-seng jiu Buyung Ham, sekalipun sudah tergolong lumayan, tapi kalau ingin menandingi Hud-eng Hoat-su yang telah berhasil merobohkan belasan jago dari keempat keluarga besar, hampir boleh dibilang tak mungkin terjadi.

Akan tetapi faktanya memang demikian, bukan saja dia sanggup menandingi Hud-eng Hoatsu yang disegani itu, malahan dia sanggup melawannya dengan sama kuat, siapa yang tak heran menyaksikan peristiwa ini?

Di antaranya Leng-hong Kongcu yang paliag tidak mengerti, pikirnya: "Hanya berapa bulan tidak bertemu, tampaknya Kungfu Moaymoay (adik perempuan) sudah memperoleh kemajuan yang pesat, entah darimana ia mempelajari Kungfu selihay ini?" Sementara ia masih melamun, keadaan di tengah kalangan telah mengalami perubahan besar, diantaranya posisi Tian Pek paling terdesak, di bawah serangan gencar si nenek, jiwanya benar2 sudah terancam bahaya.

Ketika melancarkan serangan jurus Hong-ceng-lui-beng (angin berembus guntur menggelagar), oleh karena lambungnya mesti dikembangkan kemudian baru mendorong telapak tangannya ke depan, kendatipun hasil serangan yang hebat itu dapat memaksa si nenek menyurut mundur tiga langkah kebelakang, namun karena kejadian itu pula tali pengikat bajunya yang tak keruan itu jadi putus, otomatis kain penutup badanpun melorot kebawah.

Dalam ketegangan mendadak terjadi pertunjukan "bugil", karuan para penonton sama tertawa ter-bahak2

Suasana jadi gaduh. Tian Pek sendiri jadi kelabakan, dengan wnjah merah jengah ia berusaha meraih kainnya yang merosot itu sambil menahan serangan musuh

Tapi nenek itu malahan memanfaatkan kesempatan tersebut dengan baik, ia melontarkan serangan sambil tertawa mengejek: "Hei, bocah cilik, tak ku sangka kau semiskin ini sehingga beli bajupun tak mampu. Huuh, awak sendiri kere, kenapa suka mencampuri urusan orang lain, lihatlah nenekmu akan mampuskan kau!"

"Wees! Wees«!" beruntun ia menyerang tiga kali.

Berat tenaga serangan nenek itu, Tian Pek ingin menghindar ke samping, apa mau dibilang kakinya kurang leluasa bergerak lantaran terganggu oleh tali baju yang melorot itu, dalam keadaan seperti ini terpaksa dia harus menyambut datangnya ancaiman itu dengan keras lawan keras. "Blum! Bluum! Bluum!" beruntun teijadi tigu kali benturan keras.

Tian Pek merasa isi perutnya terguntang, darah dalam rongga dadanya bergolak, pandangannya jadi gelap dan hampir saja ia tak tahan.

Setelah tipa kali seranpan, nenek itu kembali latah, ia tertawa ter-kekeh2, tangan terangkat, segera ia menghantam lagi batok kepala Tian Pek.

Waktu itu Tian Pek sudah dalam keadaan payah, ia merasa daya tekan telapak tangan nenek itu bagaikan gunung menindih kepalanya, buru2 ia angkat kaki hendak menghindar

Apa lacur, dia lupa kainnya yang merosot ke bawah masih melilit kedua kakinya, baru saja dia bergeser, tubuhnya langsung sempoyongan dan nyaris jatuh tertelungkup.

Melihat ada peluang baik, nenek itu memburu maju terus menghantam pula.

Tian Pek sudah mati langkah, terpaksa dia angkat telapak tangannya untuk menangkis dengan keras lawan keras.

"Blang!" daya pukulan yang dilontarkan si nenek sekali ini jauh lebih dahsyat, Tian Pek seketika itu merasakan dadanya seperti digodam oleh martil sebesar ribuan kati. napasnya jadi sesak, mata ber-kunang2, tanpa ampun dia muntah darah dan terjungkal .... 

Dalam keadaan sadar tak sadar ia sempat mendengar gelak tertawa si nenek yang serak itu, menyusul angin pukulan yang lebih berat untuk ketiga kalinya menerjang dadanya. Tian Pek mengeluh: "Habislah riwayatku, tak sangka aku Tian Pek harus mampus disini "

Pada detik terakhir itulah se-konyong2 cahaya pedang berwarna hijau menyilaukan berkelebat menyusul lantas terdengar bentakan nyaring dan tibanya gulungan angin tajam menyambar nenek itu.

Apa yang terjadi tak sempat oiketahui Tian Pek, ia telah jatuh pingsan dan tidak tahu apa2 lagi.

o oO 0O0 Oo o

Entah sudah berapa lama, akhirnya Tian Pek sadar kembali.

Lamat2, ia tak tahu dirinya masih hidup ataukah sudah kembali ke alam baka, suara pertama yang sempat terdengar olehnya adalah tetesan air yang menciptakan serentetan irama merdu.

Air itu menetes tiada hentinya. . ."Tiing. . .Ting! Tang. .

.Taang!" merdu kedengarannya, nikmat dirasakannya, se- olah2 perpaduan aneka ragam alat musik yang memainkan nyanyian surga.

Yang lebih aneh lagi, ternyata diantara dentingan irama itu lamat2 terdengar pula suara nyanyian yang amat merdu, nyanyian itu lembut dan enak didengar, membuat siapapun yang mendengan se-akan2 terbuai ke alam impian indah.

Tian Pek tidak tahu dirinya berada dalam mimpi ataukah memang kenyataan?

Ia berusaha mengetahui di manakah sekarang dia berada? Ia coba ingat kembali segala apa yang pernah dialaminya tapi bagaimanapun jugs ia tak berhasil mengingat berada dimanakah ia saat ini? Akhirnya ia membuka matanya. . .pemandangan pertama yang dilihatnya adalah langit nan biru.

Ia berpaling ke kiri, di sana sebuah bukit karang yang tinggi batu karang yang berbentuk aneh berserakan di suna siiu, rumput dan aneka warna bunga tumbuh di sekitarnya se olah2 menciptakan suatu pemandangan yang indah, tempat berteduh yang harmonis.

Tinggi sekali tebing karang itu, air terjun kecil berada disampingnya memuntahkan butiran air yang deras, ber- liuk2 di antara celah2 karang yang tak rata dan berubah menjadi beberapa pancuran air, suatu pemandangan alam yang indah mempesona.

"Aneh! Siapakah yang membawaku ke sini? Siapa yang membaringkan aku di tempat seindah ini?

Tempat apakah ini? Siapakah yang menaruh bunga indah ini di sekeliling tubuhku?"

Ia berpaling ke sebelah kanan, di situ terbentang sebuah telaga yang jernih, mendadak ia melenggong.

Kiranya ia melihat seorang nona jelita berambut  panjang, dengan tubuh yang putih berada dalam keadaan telanjang bulat sedang bermain air di telaga sana sambil bernyanyi.

Mula2 gadis itu berendam di air, tapi sekarang ia telah berenang ke tepian kemudian per-lahan2 bangkit dari dalam air yang cetek.

Tian Pek jadi melongo, biarpun ia seorang pemuda yang alim, diberi tontonan gratis yang memerangsang ini, mau- tak-mau jantungnya ber-debar2 juga.

Gadis telanjang itu tidak merasa bahwa ada sepasang mata sedang menikmati keindahan tubuhnya yang bugil dan merangsang itu, dia masih bernyanyi kecil sambil memetik setangkai bunga teratai putih dan diselipkan pada sanggulnya.

Waktu itulah, tampaknya anak dara itu baru merasakan adanya sepasang mata yang sedang mengawasinya, ia berpaling dan menemukan Tian Pek sedang memandangnya dengan mata terbelalak.

Tiba2 anak dara itu berseru kegirangan: "O, engkoh Pek, akhirnya kau sadar kembali!"— Dengan kegirangan anak dara itu berlarian mendekati Tian Pek.

Mata Tian Pek terbelaiak lebar, betapa tidak ia saksikan gadis yang telanjang bulat itu kian mendekat dan semua bagian tubuhnya terpampang jelas, terutama payudaranya yang berguncang keras dikala anak dara itu sedang berlari, serta pahanya yang putih mulus, perutnja yang kecil dan. . .

.Tiada perasaan jengah atau kikuk di wajah gadis itu, malahan dengan tertawa riang ia lari menghampiri Tian Pek.

Sekarang anak muda itu dapat melihat jelas raut wajah gadis itu, siapa lagi dia kalau bukan Liu Cui-cui.

Sedari kecil Liu Cui-cui hidup di suatu pulau terpencil dan jauh ditengah samudera, ia tak mengenal adat istiadat daratan Tionggoan yang serba kolot ia pun tak mengerti apa artinya malu, apa artinya kikuk, hatinya sepolos tubuhnya, suci murni tiada setitik kotoran dan tiada sedikitpun dosa orang hidup ini.

Apa yang dilakukan anak dara itu hanyalah sewajarnya menurut apa yang dia inginkan dan apa yang dia senangi.

Setiba di depan Tian Pek yang masih melongo, ia rentangkan tangannya lebar2 terus jatuhkan diri ke dalam pelukan anak muda itu dengan penuh kemanjaan. "O, engkoh Pek . . . engkoh Pek sayang, akhirnya kau sadar kembali. . . ." teriaknya penuh kegirangan. "Mulai sekarang, kau harus menemani aku bermain. . . menemani aku berenang . O. tahukah kau. sudah dua bulan aku menjaga di sisimu? Bayangkan, betapa kesalnya kuhidup sendirian dipulau karang yang terpencil dan sepi ini. "

Tian Pek tidak berkutik, rangkulan dan pelukan mesra gadis telanjang ini mengobarkan napsu berahinya.

Bagaimanapun Tian Pek bukan pemuda bangor, rangsangan birahi itu dapat dikendalikannya. iapun memohon: "Cui-cui, cepatlah berpakaian. . .Aduh, kenapa aku berbaring di sini. tempat apakah ini?"

Meski sedapatnya Tian Pek mengendalikan perasaannya yang bergolak, tapi digeluti dalam keadaan polos, betapapun cara bicaranya menjadi gelagapan.

Cui-cui mencibir dan berbangkit, ia membusungkan dadanya yang montok dan mengomel: "Huh, berpakaian apa segala? Sejak kecil aku dibesarkan di pantai, tiduran di semak rumput, selalu juga begini, tidak pernah memakai baju."

"Itu kan waktu masih kecil," kata Tian Pek sambil tertawa, "di masa kanak2 tentu saja kau boleh telanjang sambil berlarian, tapi sekarang kau sudah dewasa. apa tidak malu kalau telanjang bulat di depan orang?"

"Huuh, apa cuma kanak2 yang boleh telanjang? Beberapa bulan yang lalu akupun bermain di pantai dalam keadaan telanjang begini."

"Itu pulau kosong tanpa penghuni, biar telanjang juga tak ada yang lihat, berbeda dengan daratan Tionggoan,dimana2 penuh manusia, betapa pun kau harus berpakaian. " "Huh, omong kosong," tukas Cui-cui dengan wajah cemberut. "Siapa bilang pulau itu kosong? Di sana juga ada nelayan, justeru di tempat inilah malah sepi tanpa seorangpun yang ada disini!"

Tian Pek melongo dan tak mampu menjawab lagi, ia hanya bisa memandangi anak dara itu dengan terbelalak.

Ketika gadis itu berdiri, payudaranya persis berada di depan mata Tian Pek, tubuh yang halus merangsang segera membangkitkan semacam perasaan aneh dalam hati anak muda itu, ia merasa peredaran darahuna bergerak terlebih cepat, napas ter-engah2, wajahnya merah panas, matanya melotot semakin bulat. . . .

Melihat keadaan anak muda itu Cui-cui tertawa cekikikan: "Eeh, engkoh Pek! Kenapa kau pandang aku dengan sorot mata seperti itu?"

"O. . kau. kau cantik sekali." sahut Tian Pek seperti orang mengigau,

Berbungalah hati Cui-cui mendengar pujian itu, perempuan mana yang tak senang dipuji cantik oleh lelaki?

"Benarkah aku cantik? Kalau memang begitu, janganlah memaksa aku untuk berpakaian, biarkan aku berada dalam keadaan polos begini!" pintanya.

Ucapan ini mengingatkan Tian Pek pada kejadian yang di alaminya di Pah-to-san-ceng dahulu ketika ia merobek pakaian sendiri karena terpengaruh irama seruling Gin-siau- toh-bun Ciang Su-peng. Waktu itu iapun merasa manusia adalah makhluk di alam bebas, bertelanjang bulat adalah pembawaan yang asli, pakaian hanya hiasan buatan manusia, tanpa busana malah terasa lebih bebas, lebih murni, lebih alamiah .... Akhirnya pemuda itu mengangguk, sahutnya dengan lirih: "Benar, kau lebih cantik telanjang bulat daripada berpakaian, aku .... aku "

Cui-cui tertawa cekikikan, tiba2 ia melompat kesana dan menyembunyikan diri di belakang batu padas, serunya: "Baiklah asal kau sudah tahu, aku tak mau badanku kau lihat terus, aku ngeri melihat matamu itu "

Diiringi suara cekikikan tahu2 gadis itu muncul kembali, hanya sekarang dia telah mengenakan sebuah jubah panjang yang tipis bening dan memancarkan sinar mengkilap.

Cui-cui keluar dari balik batu dengan kepala tertunduk, sekuntum bunga putih menghias rambutnya, membuat anak dara itu ibarat bidadari dari kahyangan.

"Ai, cantik benar dia," pikir Tian Pek dengan perasaan kagum, "bila kupunya teman hidup secantik dia, menetap di suatu tempat yang terpencil dan jauh dan keramaian, alangkah bahagianya."

"

Sementara itu Cui-cui telah mendekati Tian Pek sambil membetulkan rambut yang kusut terembus angin, ia berkata: "Engkoh Pek, hayo duduklah dan cobalah mengatur pernapasan, coba apakah luka dalammu telah sembuh, kalau sudah sehat kembali, aku ada sebuah benda bagus akan kuperlihatkan kepadamu!"

"Barang bagus apa. Sekarang saja perlihatkan padaku, kan sama saja?" pinta Tian Pek.

"Tidak, kau mesti atur pernapasan dulu!" seru Cui-cui dengan manja. "Bila terbukti lukamu telah sembuh baru barang itu akan kuperlihatkan padamu. Terpaksa Tian Pek mengalah, ia berduduk' baru sekarang ia tahu dirinya menggunakan pakaian terbuat dari bahan yang sama seperti apa yang dikenakan Cui-cui.

Bahan pakaian itu sangat halus, lagipula memancarkan sinar mengkilap, entah terbuat dari bahan apa?

"Cui-cui, darimana kau dapatkan baju ini? Bagus amat warna dan bahannya!" ia berseru.

"Waktu kau sakit, aku mengumpulkan sutera ulat di bukit ini dan menenunnya, karena tiada jarum dan benang, maka kujahit dengan tali sutera yang kasar, Coba, tidak jelek kan baju ini?"

Tian Pek tersenyum dan mengangguk, dalam hati ia memuji anak dara itu, bukan saja wajahnya cantik. ilmu silatnya tinggi, ternyata akalnya juga banyak dan pandai membuat kerajinan tangan.

"Cui-cui, kau memang pintar," pujinya kemudian. "Kutahu tidak gampang membuat pakaian semacam ini, mungkin tidak sedikit waktu yang kau gunakan membuat pakaian ini."

"Tidak lama, cuma enam puluh hari?"

"Apa? Enam puluh hari!" seru Tian Pek terperanjat, "Jadi sudah dua bulan aku tak sadarkan diri?"

"Dua bulan lebih!" Cui-cui menegaskan dengan tertawa "Masa kau lupa ketika kau jatuh pingsan, waktu itu masih musim dingin, sekarang kan sudah musim semi?"

Ia mendengus, dengan agak murung bercam-pur kesal tambahnya: "Masih kurang lama pingsanmu itu? Tahukah kau, betapa kesepiannya aku selama dua bulan ini? Seorang diri aku menemani kau yang tak sadar .... merawat dirimu, O. . .engkoh Pek, dapatkah kau merasakan betapa sedihnya aku selama ini?"

Tian Pek tidak memperhatikan kemurungan Cui-cui, ia hanya teringat pada sakit hati ayahnya belum terbalas, serunya mendadak dengan gelisah: "Wah, kita tidak bisa nongkrong terus disini, hayo kita lekas berangkat ..." Sambil berseru dia lantai berbangkit.

"Engkoh Pek, mau kemana kau?" seru Cui-cui sambil menarik tangannya.

"Mencari keempat keluarga besar dan membalas sakit hati ayahku!"

"Engkoh Pek, kau tak perlu balas dendam lagi, empat keluarga besar telah bubar, Cing-hu-sin Kim Kiu, Kian-kun- ciang In Tiong-liong, Kun-goan-ci Sugong Cing, Ti-seng-jiu Buyung Ham serta Pak-ong-pian Hoan Hui, semuanya sudah mati dibunuh orang "

"Cui-cui, jangan bicara tak keruan!" sela Tian Pek tidak percaya. "Empat keluarga besar bukan orang sembarangan, mereka adalah tokoh dunia persilatan yang berpengaruh dan berkedudukan tinggi, kawanan jago lihay yang mereka pelihara tak terhingga jumlahnya, mana mungkin tokoh2 selihay itu mampus semua dibunuh orang "

Cui-cui tak senang karena Tian Pek tidak percaya pada keterangannya.

Engkoh Pek, jadi kau anggap kubohongi kau?" serunya dengan mendongkol. "Tahukah kau, selama dua bulan terakhir ini telah terjadi perubahan yang amat besar di dunia persilatan? Bukan saja majikan keempat keluarga besar telah tewas dibunuh orang, malahan ketua dari sembilan aliran besar, para pemimpin golongan putih mau pun hitam serta para pentolan Lok-lim, baik dari kalangnn daratan mau pun lautan banyak yang tewas dan menyerah, dunia persilatan pada saat ini telah terjatuh ke dalam cengkeraman seorang gembong iblis!"

"Bagaimana dengan Bu-lim-su-kongcu?" tanya Tian Pek. "Bu-lim-su-kongcu tak lebih hanya kawanan keroco yang

tak berarti lagi."

"Lalu siapakah gembong iblis itu?" Tian Pek makin terkejut. "Masa ilmu silatnya begitu hebat, sehingga dalam dua bulan ia berhasil menaklukkan seluruh jago dunia persilatan."

"Ai, sekalipun kuceritakan juga kau tidak tahu dia sudah lama berdiam di Mo-kui-to (pulau setan) dilaut selatan, orang menyebutnya sebagai Hay-liong-sin (dewa raga laut), disebut pula sebagai Lam-hay-it-kun (Datuk sakti dari laut selatan), sedangkan namanya yang asli adalah Liong Siau- thiam!"

Tian Pek termenung dan meng-ingat2 nama itu, benar juga ia merasa asing sekali dengan nama itu dan rasanya belum pernah mendengar nama itu, maka dengan sangsi ia bertanya lagi: "Cui-cui, masakah dengan mengandalkan kekuatan Hay-liong-sin seorang, dunia persilatan dapat ditaklukkan dan di kuasai olehnya?"

Cui-cui tertawa, tuturnya: "Tentu saja tidak cuma dia seorang, masih ada anak buahnya yang tangguh, seperti Lam-hay-liong-li (naga perempuan dari laut selatan), Tho- hoa-su-lian (empat dewa bunga tho), Mo-kui-to-pat-yau (delapan siluman dari pulau setan) serta Hay-gwa-sam-sat (tiga malaikat dari luar samudera) yang pernah kau temui serta si pelajar berbaju putih dan berkipas perak itu."

"Siapakah pelajar baju putih yang membawa kipas perak itu?" tanya Tian Pek dengan mata terbelalak. "Pemuda itu adalah putera tunggal Lam-hay-it-kun, namanya Lam-hay-siau-kun (pemimpin muda dari laut selatan) Liong Hui, ia disebut juga sebagai Liong-sin-thaycu (pangeran naga sakti), sekali pun dalam penyerbuannya kedaratan Tionggoan memakai nama besar ayahnya, pada hakikatnya Hay-liong-sin sendiri tak pernah tampil kedaratan Tionggoan ini, semua pertarungan dan semua rencana di kepalai Liong Hui sendiri. Ya, boleh dikatakan dunia persilatan dewasa ini sudah menjadi milik keluarga Liong!"

Sekarang mau tak-mau Tian Pek mempercayai cerita Cui-cui, katanya: "Tak kusangka, benar2 tak kusangka, hanya dalam waktu dua bulan lebih ternyata dunia persilatan telah mengalami perubahan sebanyak ini."

Tak tega Cui-cui melihat kekesalan Tian Pek, ia coba menghibur: "Engkoh Pek, lebih baik jangan kita urus dulu keadaan di dunia luar, biarpun dunia mau kiamat, yang pasti tempat kediaman kita ini tetap aman sentosa, tanpa izinku siapa pun tak dapat memasuki tempat ini. Engkoh Pek. tenangkan hatimu, buang jauh2 segala persoalan, cobalah mengatur pernapasan, periksa dulu keadaan lukamu apakah sudah sembuh atau belum?"

"Cui-cui, sekarang kita berada dimana " kembali Tian

Pek bertanya dengan hati tak tenang.

"Engkoh Pek, kau tak perlu bertanya, kalau kuceritakan, tiga hari tiga malam pun tak akan selesai, aturlah pernapasan lebih dulu, kemudian akan kuperlihatkan suatu benda bagus padamu!"

Terpaksa Tian Pek menahan berbagai tanda tanya, kemudian ia duduk bersila, atur pernapasan dan mulai menjalankan latihan seperti apa yang dipelajarinya dari kitab Soh-kut-siau hun-thian-hud-pit-kip. Benar juga, hawa murni dalam tubuhnya bisa mengalir dengan lancar, bukan saja tidak menemui rintangan apa2, malahan badan terasa lebih segar dan lebih bertenaga.

Ia mengakhiri latihannya dan membuka matanya: "Cui- cui, hawa murniku telah mengalir tanpa rintangan, aku pikir lukaku telah sembuh!"

Wajah Cui-cui mulai berseri. betapa girangnya anak dara itu setelah mengetahui luka pemuda itu telah sembuh.

"Sebenarnya luka engkoh Pek tak seberapa berat dan takkan pingsan begini lama," ia menerangan. "Tapi Siaumoay sengaja memberikan sejenis obat mujarab Ci- tam-hoa (bunga Wijaya kusuma) kepadamu "

"Apakah Ci-tam-hoa itu?" tanya Tian Pek,

"Ci-tam-hoa adalah sejenis obat mujarab yang tumbuh di puncak Hoa-san, bukan saja dapat menambah tenaga dalam dan menyembuhkan racun yang mengeram di tubuh seseorang, malahan bisa menambah umur membuat orang awet muda dan tahan lapar. Cuma obat ini pantang bagi mereka yang bertenaga dalam rendah, sebab daya kerja obat ini terlampau keras, bila orang biasa minum obat itu, maka isi perutnya akan terbakar dan mengering, darah kental akan meleleh dari ketujuh lubang inderanya dan kemudian orang itu akan mati dalam keadaan mengerikan " Setelah

berhenti sebentar, gadis itu menyambung lebih jauh: "Kebetulan Siaumoay memiliki setangkai Ci-tam-hoa yang selalu kubawa tak tersangka engkoh Pek sendiri menderita luka yang cukup parah, setelah Siaumoay berhasil pukul mundur Hay-gwa-sam-sat dan menolong engkoh Pek kemari, kugunakan Ci-tam-hoa ini untuk menolong kau. Kutahu engkoh Pek memiliki dasar tenaga dalam yang kuat, sekalipun obat ini panas hawanya, namun engkoh Pek pasti sanggup tahan." Sungguh haru dan berterima kasih perasaan Tian Pek setelah mendengar keterangan ini, serunya: "Cui-cui, kau sangat baik kepadaku . . .entah cara bagaimana harus kubalas budi kebaikanmu ini."

Cui-cui tersenyum, ia terhibur mendengar kata2 tersebut, rupanya iapun tahu pemuda itu terharu oleh perbuatannya.

"Engkoh Pek!" katanya kemudian, "aku tidak mengharapkan apa2 darimu, aku cuma berharap agar engkoh Pek tak akan melupakan diriku, kuharap engkoh Pek akan selalu mengingat diriku sepanjang masa. "

Sesudah hening sesaat, ia melanjutkan: "Setelah kuberikan obat Ci-tam-hoa kepadamu, tiba2 sekujur badanmu merah membara, suhu badanmu meningkat dan panasnya melebihi bara, aku jadi panik, lima-enam hari lewat dengan begitu saja, sementara panas badanmu tak menurun dan kau tetap berada dalam keadaan tak sadar. waktu itu aku benar2 panik sekali . , . Ai, kutakut salah memberikan obat kepadamu sehingga mengakibatkan hal yang lebih fatal, apa boleh buat, dalam keadaan demikian aku hanya bisa memberikan sari hawa dinginku. "

Sekalipun Cui-cui adalah seorang gadis polos masih bersifat ke-kanak2an, malahan di-hari2 biasa tak pernah merasa malu, namun berbicara sampai di sini, tak urung merah juga pipinya.

Tian Pek bukan orang bodoh, ia dapat meraba maksud perkataan itu, apalagi dia adalah seorang gadis yang pengorbanannya ini sungguh sangat besar artinya, kalau bukan cinta yang suci, tidak nanti ia bertindak begitu.

Dengan pandangan yang mesra ditatapnya wajah Cui-cui tanpa berkedip, ia genggam tangannya yang putih lembut, lalu bisiknya: "Adik Cui, adikku sayang, engkau terlalu baik kepadaku engkau terlalu baik kepadaku " Pancaran sinar kemesraan dari mata Tian Pek disambut dengan penuh kebahagian dalam hati Cui- cui, ia merasa susah-payahnya selama dua bulan lebih sebagai "ayam betina yang mengeram telur" akhirnya mendapatkan ganjaran yang setimpal.

Dengan malu2 dan muka merah ia tunduk rendah2, lalu ia menyusup kedalam pelukan Tian Pek sambil berbisik: "Engkoh Pek, tentunya kau sudah mengerti bukan mengapa aku bertelanjang bulat dihadapanmu? Selama dua bulan ini tiga jam setiap hari aku mesti telanjang bulat dan. . .dan berbaring di atas tubuhmu. Tadi baru saja kulakukan cara penyembuhan Toa-in-lian-siang (menyembuhkan luka dengan sari perempuan) bagimu, karena berkeringat maka aku membersihkan badan dalam telaga, tahu2 engkoh Pek telah sadar. O, engkoh Pek, tahukah kau bahwa aku telanjang bulat justeru lantaran kau . . . . ? Aku berkorban demi menyembuhkan lukamu. . .?"

Betapa terharu dan terima kasihnya Tian Pek sukar dilukiskan, dalam keadaan seperti ini, ia tak bisa berbuat apa2 kecuali merangkul Cui-cui dengan penuh kemesraan dan kehangatan ....

Cui-cui terbuai dalam kehangatan cinta, ia balas memeluk erat2 serta menyandarkan kepalanya didada Tian Pek yang bidang ....

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Tian Pek terhentak bangun dari lamunan ia mendorong tubuh Cui- cui dan berbisik: Cui-cui, tadi kau berjanji mau menunjukkan suatu benda bagus kepadaku. Benda apakah itu? Sekarang perlihatkan padaku!"

"Oya, kalau engkoh Pek tidak mengingatkan hampir saja aku lupa. Nih? Lihatlah, benda inilah yang hendak kuperlihatkan padamu." Sambil berkata ia lantas mengeluarkan sejilid kitab yang berwarna-warni.

Hampir saja Tian Pek tertawa geli, katanya: "Ah, kau ini ada2 saja, itu kan kitabku yang bernama Soh-kut-siau-hun- thiat-hud-pit-kip? Jadi kitab ini kau anggap sebagai barang bagus tadi?"

Merah jengah wajah Cui-cui: "Engkoh Pek,bukan kitab Soh-hun-siau-kut ini yang kumaksud, coba bukalah halaman kitab ini!"

Tian Pek melongo, ia tak mengerti kenapa sianak dara suruh dia membuka kitab itu pikirnya: "Aneh, kenapa aku mesti membuka halaman kitab ini? Bukan baru sekali kulihat lukisan didalamnya, paling sedikitpun sudah berpuluh kali kunikmati isinya, tulisannya pun sudah beratus kali kuraba dengan tangan, jangankan melek mata, sekali pun tutup mata aku apal isinya."

Tapi ia tahu Cui-cui pasti mempunyai maksud tertentu, kalau tidak tak namnt ia bicara dengan ber-sungguh2. Maka walaupun tahu isi kitab itu adalah gambar telanjang Thian- sian-mo-li yang merangsang? toh dibuka juga halaman yang pertama.

"Apanya yang menarik lukisan ini?" serunya tidak habis mengerti, "sudah puluhan kali aku melihatnya "

Belum habis pemuda itu berkata, Liu Cui-cui telah membuka lagi jubahnya hingga telanjang bulat, kemudian sambil menggoyangkan pinggul dan badan meng-geliat2 seperti seekor ular kecil, merangsang sekali gaya tubuh itu, apalagi dilakukan dalam keadaan telanjang dengan bentuk badan yang indah, hampir saja Tian pek tak sanggup mengusai diri. Air muka Cui-cui sekarang mirip benar perempuan yang haus cinta, gerak-geriknya menggiurkan penuh gairah, ia kini bukan lagi gadis yang suci murni, tapi mirip perempuan cabul.

Mula2 Tian Pek agak kaget, lalu gusar, menyusul nafsu berahi lantas berkobar.

Cepat sekali munculnya nafsu berahi itu, bukan saja rasa kaget dan marah tak dapat mengatasi kobaran api berahi itu, bahkan peredaren darahnya semakin bergolak, terasa aliran hawa panas muncul dari pusar menuju selangkangan, hampir saja ia tak tahan.

Untungnya Cui-cui segera menghentikan gaya merangsang tersebut dan mengenakan kembali jubahnya.

"Engkoh Pek, bukankah gayaku barusan sangat indah

....?" kata si nona dengan tersenyum.

Hilang rasa kaget dan sirap kobaran api birahi, sekuat tenaga Tian Pek berusaha mengendalikan perasaannya. katanya kemudian dengan kesal, "Ai, adik Cui. kau adalah gadis suci, kuharap selanjutnya janganlah kau lakukan lagi gaya jelek yang memalukan ini. " 

Cui-cui tertawa: "Engkoh Pek, berbicaralah yang sejujurnya, masa kau hanya melihat kulitnya dan tak dapat merasakan isi serta makna yang sebenarnya?"

Tian Pek melongo tidak mengerti. ia memandang kembali lukisan pertama yang tertera dalam kitab Soh-kut- siau-hun-pit-kip.

Thian-sian-mo-li dalam lukisan tersebut berdiri dengan sikap yang merangsang, dengan guncangan payudara dan goyangan pinggul yang cukup bikin hati berdebar, terutama mimik wajahnya yang genit dan jalang persis tak ubahnya seperti apa yang dipraktekkan Cui-cui barusan. Maka dengan tercengang ia bertanya: "Adik Cui, gerakan yang kau praktekkan bukankah gerakan Thian-sian-mo-li seperti lukisan dalam kitab ini? Makna apa lagi yang terselip dibalik gaya yang merangsang itu?"

"Engkoh Pek, tahukah kau siapa guruku?" tanya Cui-cui dengan ber-sungguh2.

"Tidak kau terangkan, darimana aku tahu?" "Guruku ialah Thian-sian-mo-li!"

"Ah, ti. . .tidak mungkin! Thian-sian-mo-li hidup pada dua ratus tahun yang lalu, mana ia bisa hidup sampai sekarang. "

Cui-cui mengerling sekejap ke arah Tian Pek, kemudian sahutnya, "Kenapa kau selalu mencurigai perkataanku? Masa aku membohongi kau? Dan lagi bagaimana pun juga tak akan kugunakan guruku sebagai bahan bohongan!"

Melihat anak dara itu tak senang hati. cepat Tian Pek memotong: "Cui-cui tak perlu kita persoalkan dulu masalah ini, coba terangkan dulu apa makna yang tertera dalam lukisan tersebut!"

"Gaya yang tertera dalam kitab itu tak lain adalah sejenis ilmu aneh yang dimiliki guruku, ilmu itu adalah Coa-li-mi- hun-toa-hoat (ular sakti perawan pembingung sukma), menurut keterangan guruku ilmu ini lihaynya luar biasa, betapapun lihay ilmu silat seseorang, tak nanti bisa melawan keampuhan daya rangsangan ilmu tersebut, sekalipun dia adaalah seorang pederi saleh yang sudah mati rasa juga takkan sanggup mengendalikan diri. "

Tiba2 Tian Pek teringat kembali pada cerita paman Lui tatkala menyerahkan kitab tersebut kepadanya dalam gua di bukit Siau-kun-san tempo hari, ia bercerita bagaimana Cia- gan-longkun dipengaruhi oleh seorang perempuan iblis sehingga mengalami kelumpuhan dalam latihan.

Maka sambil menghela napas panjang, katanya: "Bagaimanapun lihaynya Coa-li-im-hun-toa-hoat dari gurumu itu toh kepandaian tersebut bukan ilmu yang murni, tapi ilmu hitam golongan jahat,. "

Pemuda itu tidak meneruskan kata2nya, sebab ia merasa bila ucapannya dilanjutkan, bisa jadi Cui-cui akan mengira dia tidak menghormati gurunya.

Betul juga dugaannya, Cui-cui jadi mendongkol dan tak senang setelah mendengar perkataan itu, matanya melotot dan mukanya cemberut.

"Apa itu ilmu hitam?" serunya, "orang beradu silat yang dituju adalah kemenangan, siapa menang dia kuat, siapa kalah dia lemah, apa dilawan dengan rangsangan atau dilawan pakai golok dan pedang, toh tiada berbedaannya. .

."

Jika Tian Pek diam saja niscaya kemarahan Cui-cui akan mereda, bila pemuda itu cerdik dan tahu perasaan perempuan, ia pasti akan mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain. Apa mau dikata, Tian Pek memang lugu dan tak tahu perasaan perempuan, sekalipun diketahui Cui-cui tak senang hati, toh ia berbicara lagi dengan blak-blakan.

"Tentu saja jauh sekali bedanya," katanya, "misalnya saja seorang akan pergi ke suatu tempat. ia tidak melewati jalan yang lurus tapi memilih jalan yang berliku-liku, sekalipnn di mulai bersama, tapi selisihnya kan jauh sekali. "

"Aku tak suka pada obrolanmu, aku tak mau membicarakan soal2 begitu dengan kau," seru Cui- cui cepat, "sekarang aku akan memberitahukan satu hal padamu, ketahuilah bahwa di dalam seratus delapan buah lukisan Thian-sian-mo-li ini tersimpan serangkaian ilmu gerak tubuh yang lincah serta serangkaian ilmu langkah yang tak terhingga perubahannya. Ilmu pukulan itu adalah Thian-hud-hang-mo-ciang (Budha suci penakluk iblis), sedang ilmu gerakan tuhuh bernama Bu-sik-bu-siang-sin (tiada berwarna tiada berwujud) dan ilmu langkahnya disebut Cian-hoan-biau-hiang-poh (embusan angin harum beribu perubahan), ke-tiga2nya adalah ilmu yang maha sakti, apabila seorang memainkan jurus Thian-hud-hiang- mo-ciang dengan menggunakan pedang, maka akan terciptalah ilmu pedang Thian-hud-hang-mo-kiam. Barang siapa berhasil menguasai ilmu2 sakti itu, dia akan menjagoi kolong langit tanpa tandingan. Engkok Pek. coba pikirlah, bukankah aku telah memperlihatkan suatu benda yang bagus bagimu? Hm, tak tersangka kau malahan ber-olok2 dengan kata2 yang tak sedap, aku bermaksud baik, kau malah menganggap yang bukan. bukan!"

Tian Pek jadi semakin terkejut, setelah Cui-cui selesai bertutur, ia mengembus napas panjang seraya berbisik: "Sungguhkah itu? Mengapa aku . . ." Ia hendak mengatakan: '"Mengapa sudah sekian lama kuapalkan kitab Soh-kut-siau-hun-pit-kip, tapi tidak dapat kupecahkan rahasia ini?"

Tapi sebelum ia sempat melanjutkan kata2nya itu, Cui- cui telah mencibir.

"Huuh, engkoh Pek ini bagaimana, selalu tidak percaya pada perkataanku. Baik, anggap saja semua perkataanku hanya omong kosong saja dan tak perlu dibicarakan lagi."

Dengan perasaan tak senang ia lantas putar badan dan berlalu.

Tian Pek adalah pemuda yang keranjingan belajar silat, sakit hati ayahnya baru bisa dibalas bila ia dapat mempelajari ilmu silat yang maha tinggi, apalagi setelah mengetahui orang Lam-hay-bun yang menjajah daratan Tionggoan rata2 berilmu tinggi, bila dia ingin melabrak mereka untuk menegakkan keadaan dan kebenaran dunia persilatan, maka lebih dulu dia harus memiliki ilmu silat yang lihay.

Maka demi dilihatnya gadis itu ngambek dan mau pergi, cepat ia menghalangi dan memberi hormat.

"Cui-cui, jangan marah," katanya, "anggaplah aku yang salah, aku benar2 mempercayai ucapanmu sekarang berilah petunjuk kepadaku. Ai, maklumlah aku tak pandai bicara, sekarang aku sudah minta maaf kepadamu, tentunya kau bersedia untuk memberi maaf bukan?"

Tian Pek memang tak pandai berlagak, kali ini ternyata bisa berbicara dengan lucu, ditambah pula gaya memberi hormatnya yang lucu, kontan Cui-cui tertawa geli.

Melihat nona itu tertawa, Tian Pek ikut tertawa, katanya dengan cepat: "Cui-cui, apakah gaya rangsanganmu tadi merupakan salah satu jurus serangan Thian-hud-hiang-mo- ciang?"

"Bukan!" sahut Lui Cui-cui. "Gerakan tadi adalah salah satu jurus Coa-li-mi-hun-hoat yang disebut Giok-te-biau- hiang (tubuh indah menyiarkan bau harum). Menghadapi gerakan Giok-te- biau-hiang ini lawan akan menyerang dengan suatu pukulan miring ke bawah, maka akan terciptalah jurus pertama dari Thian-hud-hiang-mo-ciang yang bernama Hud-cou-hiang-toh (Buddha suci turun tahta), jika segera menggeser langkah serta mengelak ke samping akan menjadi gerakan Bu-sik-bu-siang serta gerakan Cian-huan-biau-hiang!"

Walaupun soal kecerdikan Tian Pek tidak seberapa hebat, tapi bagaimanapun dia adalah jago yang memiliki dasar ilmu silat yang kuat, begitu dijelaskan oleh Cui-cui, diapun lantas mengerti.

"Jadi kalau begitu. untuk berlatih Thian-hud-hiang-mo- ciang ini harus ada dua orang yang bekerja sama?" tanyanya.

"Kali ini kau memang cerdik! Dalam kitab Soh-hun-siau- kut-pit-kip ini tersimpan tiga jenis ilmu silat yang maha sakti dan harus dilatih dua orang bersama, bahkan harus dilatih bersamaku, bukannya aku membual, meskipun dunia ini sangat lebar, tapi kecuali aku seorang, jangan harap ada orang kedua yang bisa melakukannya "

Dengan mata yang jeli dan senyum yang misterius anak dara itu melirik sekejap ke arah Tian Pek, kemudian tambahnya: "Malahan didunia ini juga cuma engkoh Pek saja yang bisa melatih Thin-hud-hiang-mo ini!"

"Kenapa bisa begitu?" tanya Tian Pek dengan tercengang.

Cui-cui tahu, pemuda itu pasti takkan percaya dengan keterangannya, maka ia melanjutkan kata2 nya: "Engkoh Pek, tentunya kau tidak percaya bukan? Guruku sudah wafat, dikolong langit dewasa ini tiada orang kedua yang bisa menggunakan ilmu Coa-li-im-bun-toa-hoat dari Thian- sian-mo-li ini kecuali aku. Dan andaikata semua ini bukan demi kebaikan engkoh Pek, tidak nanti aku bersedia mengorbankan tubuhku "

Baru sekarang Tian Pek mengerti duduknya persoalan, cepat ia menjura dalam2 kepada gadis itu,

"Cui-cui sekarang aku sudah paham, sekarang aku sudah paham!" serunya. "Bukankah selain kau dan aku yang bisa melatih ilmu Thian-hud-hiang-mo ini, bahkan kalau tak ada kitab Soh-kut-siau-hun- pit-kip inipun tak bisa terlaksana dengan baik, bukankah begitu? Ai, rupanya Thian sengaja mengirim kau untuk membantu aku. Hayolah sekarang juga bantu aku melatih ilmu itu!"

"Tak susah bila ingin kubantu dirimu, tapi engkoh Pek, setelah ilmu itu berhasil kau kuasai, bagaimana caramu akan berterima kasih padaku?"

"Terserah padanmu. asal aku berhasil melatih ilmu sakti itu, apa yang kau inginkan pasti kuturuti!"

"Engkoh Pek, kau sendiri yang berjanji, kelak jangan kau ingkari."

"Jangan kuatir Cui-cui, perkataan seorang laki2 tidak nanti dijilat kemkali. Nah, lekaslah bantu aku berlatih ..."

Tiba2 Cui-cui menengadah dan tertawa ter-bahak2, tertawa latah sehingga Tian Pek melongo bingung.

Mendadak si nona melepaskan pakaiannya sehingga telanjang bulat, kemudian sambil mengerling genit katanya: "Hayolah engkoh Pek sayang, kita mulai berlatih ilmu. . ."

0O0 0O0 0O0

Suara roda kereta gemeratak dan ringkikan kuda yang panjang berkumandang memecahkan kesunyian di sebuah jalan raya berdebu, serombongan kereta pengawalan barang per-lahan2 bergerak melintasi jalan itu.

Puluhan kereta besar yang tertutup rapat bergerak dikawal selusin manusia berpakaian ringkas, sebuah panji bersulamkan sebuah telapak tangan tertancap disudut kereta dan berkibar tertiup angin gunung hingga menerbitkan suara gemerisik.

Sebagian besar Piausu yang mengawal barang itu berperawakan tinggi besar dan bermata tajam, sekilas pandang dapat diketahui bahwa mereka adalah kawanan jago silat pilihan.

Itulah rombongan Piausu dari perusahaan Yan-keng- piau-kiok, tentu saja bagi mereka yang berpengalaman, cukup melihat lambang telapak tangan yang tertera pada panji kereta, orang segera akan tahu bahwa kereta kewalan itu adalah barang kawalan dan Tiat-ciang-cin-ho-siok (telapak baja menggetarkan utara sungai Hoangho) di Pakkhia.

Di depan rombongan kereta besar yang kelihatan berat itu bergeraklah belasan orang Piausu, di antaranya adalah seorang Piausu tua yang berusia enam puluhan, dia inilah Ji-lopiauto atau lebih terkenal sebagai Tiat-ciang-cing-ho- siok itu.